November 29, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 10.1

 

Semua orang mendesah lega saat melihat piramid itu. Mayat-mayat pigmi yang mati memenuhi jalan yang mereka lewati. Tak ada satupun yang yakin apakah pigmi yang berada didekat pusat itu bisa selamat. Jika tidak maka jumlah mereka sendiri bisa saja menyingkirkan tim Zheng. Dewa mengerti mengapa begitu terdapat begitu banyak pigmi di hutan ini.

Jonathan berkata dengan keras. “Oh Tuhan, benar-benar terdapat berlian seukuran bola! Indahnya. Zheng, aku percaya padamu. Kau akan mengalahkan Raja Scorpion dan mendapatkan bala tentaranya beserta harta karunnya! Ha ha.”

Zheng tersenyum. “Aku akan akan mengambil bala tentaranya. Tentang harta karun itu, aku tak terlalu membutuhkannya, jadi aku akan membuangnya.”

Jonathan dengan cepat tersenyum. “Mengapa kita membahas hal ini? Aku akan membantumu mengurus emas dan perhiasan yang tak berguna itu. “

Zheng berjalan menuju piramida. Begitu masuk, ia merasakan beban ditubuhnya, seperti sesuatu miliknya diambil. Perasaan ini begitu mengerikan. Tak hanya itu, namun disaat ia berbalik, semua orang tetap berada dipintu masuk piramida dan tak bisa masuk. Dia mengulurkan tangannya dan merasakan penghalang terang berada diantara mereka.

“Raja Scorpion bangkit. Semua enhancements dan kemampuan yang telah ditukarkan akan diambil dari si penantang. Tentara Anubis akan aktif untuk membunuh semua makhluk hidup dalam jarak 50 kilometer didalam piramida emas hingga Raja Scorpion tewas.”

Pemberitahuan Dewa terdengar dikepala Zheng. Dia melihat Xuan segera mengeluarkan kedua pistol besarnya dan semua orangpun juga mengeluarkan senjata mereka. Lalu permukaan tanah yang berada didepan mereka terangkat dan berubah menjadi prajurit Anubis.

Zheng berseru. Akhirnya ia mengerti tujuan dari Dewa. Dia harus menantang Raja Scorpion dengan kekuatan manusia normal. Yang berarti ia tak bisa menggunakan kekuatan dahsyat dari Tombak Osiris. Ia tak bisa menggunakan teknik gerakan, Red Flame. Selain itu, Dewa telah menyandera teman-temannya. Mereka memiliki senjata api namun kalah jumlah. Karakter film tak bisa dihidupkan kembali jika mereka mati dan jika Xuan meninggal, maka semuanya akan berakhir!

Zheng terbahak-bahak dan berlari secepat mungkin. Dia sudah bisa mendengar suara tembakan muncul dari belakangnya. Dia tak ingin melihat rekan-rekannya meninggal, terutama bagi mereka yang baru saja diterimanya!

Dia sudah terbiasa berlari dengan teknik gerakannya namun rasanya begitu itu aneh ketika ia berlari secara biasa sekarang. Dia hampir kehilangan keseimbangan beberapa kali. Namun, terdapat sedikit energi darah dan Qi tertinggal di dalam dirinya. Mungkin energi ini bukanlah sebuah enhancements. Semuanya itu terbentuk dari latihannya. Bahkan energy miliknya pun begitu lemah, namun itu semua adalah satu-satunya harapan baginya.

Zheng mulai berpikir tentang senjata dan teknik yang dapat ia gunakan. Menggunakan Gatling Cannon sudah tak memungkinkan lagi. Dia hanya memiliki kekuatan seperti orang normal sekarang. Mungkin dia hampir tidak bisa menggunakannya dan bertahan mundur setelah memasuki tahap kedua dari mode yang tidak terkunci.

Selagi memikirkan mode unlocked, dengan cepat ia menggunakannya. Untungnya, mode unlocked itu tak hilang. Dia yakin bahwa Dewa hanya mengambil alih kekuatan dan statistik yang ia tukar. Yang mana berarti ia masih bisa menggunakan teknik Explosion-nya.

Zheng merasa aman. Dia terus berlari disaat ia berada dalam mode unlocked. Tiba-tiba, dia mendengar suara gong terpukul dari jauh. Jika dilihat dari film aslinya, seharusnya suara itu muncul ketika Imhotep sedang memanggil Raja Scorpion. Yang berarti bahwa arena tak berada jauh dari situ.

Kecepatannya dibatasi tanpa adanya peningkatan status, baik itu garis keturunan vampir, qi, maupun teknik gerakannya. Dia tak jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan orang normal selain daripada berada dalam kondisi mode unlocked. Dia memiliki naluri tempur namun tubuh yang jauh lebih lemah ketimbang atlet.

Disaat yang bersamaan, pertarungan antara tentara Anubis dan orang-orang yang lain telah dimulai. Untungnya, koridor menuju pintu masuk piramida begitu sempit dan bagus untuk pertahanan. Mereka hanya perlu mengkhawatirkan bagian depan saja karena penghalang itu berada dipunggung mereka. Tentara Anubis tak bisa menyentuh mereka selama mereka memiliki senjata api. Tetapi, jumlah Anubis begitu besar dan amunisi mereka menurun secara cepat. Jika ini terus berlanjut, mereka hanya bisa bertahan selama beberapa menit saja.

Pistol Xuan begitu kuat. Dia memiliki senjata terhebat diantara semua kelompok tersebut. Dia melihat sekeliling disaat ia menembakannya, lalu menarik bom TNT dari pinggang O’Connell dan berkata. “Berlindunglah.” Dia menyalakan bom itu. Ketika sumbunya sudah hampir habis, dia melemparkan bom itu ke langit-langit dan menutupi kepalanya.

Beberapa ledakan mengguncang koridor secara cepat hingga roboh. Pilar beserta dinding yang roboh itu menghalangi para tentara anubis. Tak ada satupun yang terluka. Tentara Anubis tak dapat menerobosnya selama beberapa saat.

Mereka berdiri dan mendesah lega. Semua orang memandang Xuan dengan hormat, lalu mereka mendengar suara batu hancur, seolah-olah seperti ada seseorang yang menghancurkan batu itu. Hammerings (Prajurit pengguna palu) yang tak terhitung banyaknya yang muncul secara bersamaan serta memberikan mereka perasaan kuatir.

“Itu pasti para prajurit yang sedang menghancurkan pilar dan dinding yang roboh. Dilihat dari keruntuhan, ketebalan barikade ini berjarak antara dua hingga tiga meter. Mereka membutuhkan enam hingga tujuh menit untuk dapat menerobos dengan jumlah dan kekuatan mereka. Jika kau dapat memberikan amunisi kepada kami, mungkin kita bisa bertahan selama delapan hingga sembilan menit. Jadi berdoa saja, agar Zheng bisa membunuh Raja Scorpion tepat waktu. “

Zheng tak tahu apa yang terjadi diluar sana. Yang bisa dipikirkannya hanyalah terus berlari secepat mungkin menuju suara gong. Setelah melewati koridor sempit, ia memasuki sebuah ruangan besar dengan kawah api yang terdapat disekitar ruangan. Imhotep sedang memukul gong ditengah-tengah ruangan tersebut. Seorang wanita dengan rambut panjang berdiri disampingnya.

Menurut cerita, kekuatan Imhotep juga diambil. Jadi Zheng tak takut kepadanya. Dia mengeluarkan kapak dari cincinnya. Namun, hanya mengeluarkan satu item saja sudah menggunakan 1/5 dari qi-nya. Dia langsung menghentikan keinginannya untuk mendapatkan hal lain. Lalu ia berjalan menuju kearah Imhotep dengan kapaknya.

Imhotep memperhatikannya dan tertawa. “Kekuatanmu juga terambil? Kekuatan mulia Anubis mengisi ruangan ini. Kita berdua hanyalah manusia biasa pada saat ini. Saya tak akan takut dengan kekuatan dan kecepatanmu lagi, dan kau juga tak akan takut dengan tubuh ajaib dan kekal milikku. Marilah kita akhiri konflik kita disini! ” Dia membuang palunya dan menarik pedang didinding.

Zheng menarik napasnya dalam-dalam. “Aku tak punya waktu untuk dibodohi oleh dirimu. Apakah kau sudah menyerah untuk membunuh Raja Scorpion? Aku tak akan membunuhmu dan membiarkanmu pergi bersama istrimu. Jika kau menolak, aku tak akan menunjukkan rasa belas kasihan apapun. “

Imhotep terkejut sesaat lalu tertawa terbahak-bahak. “Apakah aku membutuhkan belas kasihanmu? Kau tak lagi memiliki kekuatan. Aku bahkan tak tahu darimana kau bisa mendapatkan kekuatan seperti itu, namun kita sekarang sama-sama manusia normal, dapatkah kau melawan dua orang? Anck-Su-Namun adalah prajurit wanita terkuat di Mesir. Dan keberanianku sebagai imam besar yang terkenal telah melampaui legenda! Kau ingin menantang kami berdua? “

Zheng tak menjawabnya. Dia mengangkat kapak dan melemparkannya kearah mereka. Disaat yang bersamaan, sebuah pintu besar tiba-tiba terbuka. Dua mata hijau terang bersinar didalamnya.

Translator / Creator: fatality