July 2, 2017

Terror Infinity – Volume 10 / Chapter 2.2

 

Gadis itu menatap ayahnya lalu mulai menangis keras. Beberapa polisi menahannya, jadi dia tidak bisa mendekati mayat itu. Tangisannya membuat pilu semua orang yang ada di sekitar.

Warga sipil juga panik melihat seseorang berubah menjadi zombie. Banyak yang mencoba mendorong maju. Mereka ingin masuk ke pos pemeriksaan, menuju dunia yang damai.

Jill tidak memperhatikan para warga sipil. Dia membantu polisi kulit hitam itu duduk tegak dan bertanya. “Apa kalian tidak tiba di sini sangat awal? Kenapa kau masih di sini? Kota ini dalam kekacauan. Makhluk itu ada dimana-mana. Cepat keluarlah.”

“Ya, kami ingin tapi penjaga itu menghentikan kami. Mereka mengatakan bahwa para petinggi ingin kami untuk tetap berada di dalam kota saat ini untuk menjaga ketertiban. Sialan mereka. Seharusnya membawa orang-orang keluar dari sini adalah tindakan yang tepat!”

Saat mereka berbicara, pintu gerbang mulai ditutup. Semua orang termasuk mereka linglung. Kemudian orang-orang bergegas menuju pintu gerbang. Beberapa polisi memblokir orang-orang ini, tapi sebagian polisi juga masih kebingungan.

Seorang pria di atas dinding berkata melalui sebuah megafon. “Dengarkan. Pos pemeriksaan ditutup untuk sementara. Tidak ada yang bisa masuk atau pergi. Tapi yakinlah. Kami melakukan ini untuk keselamatan setiap orang. Silakan tinggal di dalam kota.”

Seorang wanita yang memegang camcorder berteriak balik. “Apa yang kalian inginkan kami tinggal di sini? Monster ada dimana-mana!”

Pria itu melanjutkan. “Kami akan mengambil tindakan yang tepat untuk memberikan kebutuhan hidup dan obat-obatan. Silakan kembali untuk mencegah situasi menjadi tidak terkendali.”

Kerumunan orang semakin gelisah saat mereka mendorong maju. Polisi tidak bisa menahan jumlah orang sebanyak itu.

Ekspresi pria itu menjadi dingin. Dia mengeluarkan pistol dan menembak ke langit. “Kalian punya waktu lima detik untuk pergi!”

Semua warga sipil tercengang dan hanya berdiri di tempat. Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Pria itu berkata kepada tentara bayaran di sebelahnya. “Seperti yang saya katakan, lima detik!”

Tentara bayaran menghela napas dan menyiapkan senjatanya. “Tinggalkan tempat ini dalam lima detik!” Sekitar sepuluh tentara bayaran di sekitarnya mengarahkan senjata mereka ke warga sipil di bawah tembok.

Saat itulah polisi menyadari bahwa mereka tidak bercanda. Jill mendorong mundur warga sipil dan berteriak. “Cepat pergi. Apa yang kalian tunggu? Pergi!”

Polisi juga mulai mendorong oran-orang mundur. Kelompok Zheng menyaksikan kejadian itu dengan tenang. Dia berkata kepada tim. “Bagaimana peluang kita untuk menerobos? Heng, bisakah kau menembak dengan panah enchanted +3 untuk menghancurkan gerbang ini?”

Heng berpikir sejenak. “Saya tidak tahu ketebalan dan kekerasan gerbang ini. Namun, panah enchanted sangat kuat dan memiliki efek disintegrasi. Saya kira seharusnya bisa menembus gerbang itu, terutama dengan peningkatan kekuatan dari charged shot.”

Zheng mengangguk. “Semuanya akan baik-baik saja asalkan kita bisa menghancurkan gerbang itu. Meski rencana kita untuk kembali dengan helikopter, tapi untuk berjaga-jaga, kita akan memikirkan cara untuk keluar melalui pintu depan. ChengXiao, ambilah minigun untuk membuka tembakan. Heng akan menembak setelah pintu gerbang terbuka. Honglu juga bisa memberikan beberapa bantuan dengan sihir. Aku dan Yinkong akan masuk. Lan, bantu aku memindai lokasi orang-orang di dalamnya. Kita akan baik-baik saja selama kita bisa mendekati mereka.”

“Namun, jangan terlalu banyak terlibat konflik dengan karakter film kecuali jika memang harus, terutama karakter penting. Begitu plot berubah, mungkin kita tidak akan bisa menemukan putri ilmuwan itu setelahnya.”

Pada saat ini, tentara bayaran telah melepaskan tembakan. Namun itu tidak lebih hanya gertakan karena mereka tidak ingin membunuh warga sipil.

Kerumunan orang melarikan diri dan polisi juga ikut berlari. Peringatan itu sepertinya ditujukan pada mereka juga karena tentara bayaran juga mengarahkan senjata mereka ke polisi.

Jill berkata kepada para pemain film. “Kemari bantu saya. Kakinya digigit oleh zombie itu.”

Zheng membantu polisi kulit hitam itu dan berkata. “Ayo pergi. Jill, hidupkan van itu.”

Jill mengangguk dan berjalan di depan kelompok itu. Lalu wanita dengan camcorder itu berkata. “Dapatkah anda membawa saya bersama? Saya tidak memiliki senjata dan saya takut bertemu dengan monster-monster pemakan orang itu.”

Zheng tersenyum. “Jika anda bisa terus mengikuti kami.”

Saat itu, Jill berlari kembali ke kelompok itu dengan ekspresi yang mengerikan. “Van kita sudah hilang. Seseorang mungkin mencurinya selama kekacauan ini. Apa yang harus kita lakukan? Di luar ini adalah jalan raya. Kita butuh beberapa jam berjalan untuk kembali ke kota. Tapi, kawasan kota telah dipenuhi monster itu.”

Kata polisi kulit hitam itu. “Ayo kita berjalan, sekitar enam jam berjalan. Ada sebuah gereja di dekat raya. Kita bisa beristirahat malam di gereja. Hal lain bisa diputuskan besok. Bagaimana pendapat kalian? Itu tempat teraman yang bisa kupikirkan.”

Ini adalah plot aslinya. Saat itu hampir tengah malam saat Jill sampai di gereja di film ini. Jadi Zheng mengangguk setuju dan kelompok itu mengikuti polisi kulit hitam itu.

Warga sipil yang berkeliaran ada di mana-mana di jalan, beberapa datang dari kota, dan beberapa meninggalkan pos pemeriksaan. Banyak yang duduk tepat di luar pos pemeriksaan yang menunggu untuk dibuka lagi. Meskipun apa yang mereka tunggu tidak membantu melainkan sebuah bom.

Kelompok itu berjalan dengan tenang selama satu jam kemudian melewati sebuah bengkel kendaraan. Zheng tertawa dan berkata. “Semuanya, coba cari kalau ada mobil yang tersisa.”

Kelompok ini terkejut. Zheng mengeluarkan pisau hutan dari cincin. Dia berjalan ke pintu, membuat potongan, lalu merobek baja. Para veteran, pemula, dan wanita dengan camcorder tidak banyak berpikir tapi ekspresi Jill dan polisi itu berubah. Namun, mereka tidak mengatakan apapun.

Hanya orang-orang yang telah terlatih yang tahu berapa banyak kekuatan yang dibutuhkan untuk merobek sepotong pintu baja dari lubang kecil itu. Itu bukan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang dengan fisik seperti Zheng. Itu mungkin jika Zheng tingginya delapan kaki dan beratnya tiga ratus pound.

Setelah semua orang berjalan di garasi, polisi kulit hitam itu berkata dengan suara rendah. “Jill, darimana kamu menemukannya? Tidak bisakah kamu mencium aroma darah dari mereka? Beberapa dari mereka hidup melewati medan perang. Mereka pasti bertempur lebih banyak dari pada tentara bayaran itu. Kau bisa tahu dari gerakan mereka. Mereka bersikap defensif bahkan ketika mereka berjalan. Apakah kau yakin mereka tidak memiliki kebencian kepada kita?”

Jill juga menjawab dengan suara rendah. “Saya tidak bisa memastikan tapi saya tidak berpikir mereka memiliki kebencian. Tidakkah kamu merasa lebih aman tinggal bersama mereka di kota ini? Saya pikir mereka bukan orang jahat.”

Polisi kulit hitam itu mengangguk. Lalu lampu di dalam garasi menyala, diikuti dengan suara mesin yang mulai menyala. Sebuah truk melaju keluar dari garasi.

Zheng menghentikan mobilnya dan berkata pada polisi kulit hitam itu sambil tersenyum. “Anda tahu di mana gereja itu berada. Duduklah di kursi penumpang. Jill akan menyetir dan anda memimpin jalan. Saya akan menyerahkannya kepada kalian berdua.”

Mereka mengangguk dan duduk di kursi depan. Para pemain dan wanita itu duduk di belakang. Truk melaju menuju kegelapan.

“Aliran listrik kota harusnya sudah dipadamkan sekarang kan?” Gumam Zheng.

Honglu mengangguk. “Itu sudah pasti. Aneh rasanya memiliki listrik dalam situasi ini.”

“Itu sebabnya sangat gelap.”

Translator / Creator: isshh