August 30, 2017

Terror Infinity – Volume 10 / Chapter 14.1

 

Zheng merasakan sebuah gelombang tekanan yang dating ke arahnya. Itu tidak hanya perbedaan dalam hal kekuatan fisik, tetapi juga dalam hal kekuatan mental. Mereka berdua tampak persis dalam penampilan, hanya bekas luka yang membedakannya. Tapi bekas luka itu memberikan aura kejam yang setajam ujung belati. Seseorang akan gemetar ketakutan hanya dengan melihat dia.

Jika Zheng adalah orang yang lebih kuat dari orang normal dan secara bertahap memperoleh kualitas seorang pemimpin, maka klon nya adalah iblis yang sebenarnya. Bahkan Nemesis mulai meraung karena bahaya yang ia rasakan.

“Saya kecewa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau bisa bertahan sampai saat ini dengan apa yang kau miliki. Bagaimana bisa kau tidak mati di beberapa film sebelumnya? Begitu beruntung.” Klon itu mengejek. Ia mengayunkan lengannya ke udara dan Zheng terlempar meskipun tidak ada yang memukulnya secara fisik.

Zheng terlempar mundur beberapa meter. Pukulan itu begitu tiba-tiba tapi tidak kuat sehingga ia bisa segera bangkit. Nemesis mulai menembaki klon itu dengan minigunnya. Semua orang harus berlari seperti bagaimana ia dan beruang itu lakukan.

Namun, klon itu menempatkan pedang di depannya. Api hitam dari pedang itu bertindak seperti perisai pelindung. Peluru-peluru itu langsung menguap setelah menyentuh api itu, meskipun dia memegang pedang dengan tangannya di dalam api.

Zheng tahu bahwa apinya sendiri tidak akan membakar dia tapi itu merupakan sebuah kejutan bahwa api itu bisa memblokir peluru yang datang dari sisi itu seperti api itu memiliki pikiran. Kemampuan kontrol pada api itu yang mengejutkannya.

“Kau tidak tahu apa-apa. Bagaimana kau bisa hidup sampai sekarang? Saya ingin membunuhmu saat aku melihat muka polos itu. Apakah Lori mu masih hidup? Haha, itu sebabnya kau masih begitu kekanak-kanakan. Bagaimana kau bisa menjadi seorang pemimpin dengan apa yang kau miliki saat ini? Dan membawa pacar dan kawan-kawanmu kembali ke dunia nyata? Berhenti bermimpi!”

Klon itu mengayunkan lengannya lagi. Dari nada suaranya, kebencian kepada Zheng begitu ekstrim. Kebencian ini membingungkan bagi Zheng karena melampaui niat membunuh seseorang kepada musuhnya.

Nemesis menembakkan tiga tembakan RPG karena minigunnya tidak berpengaruh. Tiga ledakan terus menerus di posisi klon itu berada lalu seketika daerah itu tiba-tiba dilalap api. Api itu bahkan mencerahkan asap di sekitarnya. Beberapa detik kemudian, api itu diserap oleh api hitam dan klon itu berdiri utuh di sana.

“Zheng, kau tidak tahu apa-apa! Itu sebabnya kau tidak memiliki kualifikasi untuk hidup. Kawan-kawanmu juga akan mati bersamamu!”

Ia mengayunkan pedang ke Zheng. Api hitam memanjang puluhan meter dan turun ke arahnya. Zheng sudah bereaksi sangat cepat tapi api masih mengenai di sepanjang lengannya. Tanah yang terkena api berubah menjadi kaca.

“Ah!” Serangan ini tidak mengenai tulangnya, tapi sebagian dari lengan kirinya tersayat. Lalu api membakar di bagian yang bersentuhan. Bagian luar dari lengannya telah berubah menjadi arang dan rasa sakit itu membuat lengannya mati rasa.

Ketika klon itu bersiap untuk mengayunkan pedangnya lagi, Nemesis meraung dan mulai berlari bersamaan dengan jejak kaki di tanah yang terlihat dalam. Kemudian melompat lebih dari sepuluh meter tingginya dan meraih kaki klon itu. Dia menarik klon itu ke tanah.

Mereka berdua jatuh dan membuat lubang sedalam tiga meter di tanah. Kekuatan Nemesis itu beberapa kali lebih besar daripada Zheng, meskipun masih tidak sekuat Newborn. Dia mencengkram klon itu. Tapi klon itu menekankan tangannya ke dada Nemesis sebelum bisa menyerang lagi. Kemudian mendorong Nemesis ke sebuah rumah. Diikuti oleh suara pukulan dan tawa gila klon itu terdengar keluar dari asap dan debu itu.

Zheng terus mengedarkan Qi dalam tubuhnya. Dia benar-benar kelelahan setelah membunuh dua anggota tim Devil itu. Jika bukan karena kemampuan pemulihan dari Vampire bloodline, dia pasti sudah mati karena pendarahan. Yang bisa ia lakukan adalah hanya memulihkan stamina dengan Qi.

Energi darah memungkinkan dia untuk menggunakan kemampuan sihir, terutama Red Flame. Qi bersifat korosif dan dapat meningkatkan tubuhnya untuk sementara. Ini bekerja seperti cadangan stamina dalam situasi ini.

Beberapa detik kemudian, ia mengepalkan gigi dan berlari ke arah rumah tempat mereka berada. Setengah perjalanan, sebuah tubuh besar terlempar keluar. Nemesis sendiri sudah sekuat itu tapi kekuatan klon ini bahkan lebih tinggi. Dia menendang Nemesis kemudian berubah menjadi kelelawar dan muncul kembali di belakangnya dan menangkapnya. Klon itu kemudian memutuskan lengan Nemesis dengan tangan kosong. Darah menyembur keluar dari luka bersamaan dengan tentakel-tentakel. Namun, mereka langsung menguap setelah mendekat ke tubuh klon ini. Api hitam menyelimutinya lagi.

Ketika klon mengulurkan tangannya ke kepala Nemesis dengan tawa gilanya, Zheng melompati dia. Dia mengaktifkan Red Flame untuk melawan api hitam itu. Mereka berdua berguling di tanah. Kedua api itu saling menjerat dan menjadi satu-satunya dua warna dalam asap ini.

Zheng memperbesar otot-ototnya kemudian menghantam klon di bawahnya. Sebuah telapak tangan menangkis tinjunya, lalu kekuatan yang beberapa kali lebih kuat darinya mendorong tinjunya. Zheng merasa sendi di tangan kanannya terkilir. Sebelum rasa sakit terasa, klon itu memutar lengannya dan tulang-tulangnya keluar melewati kulit dan ototnya.

“Ah!” Zheng menjerit dan melonggarkan cengkeraman dengan lengan kirinya. Klon mejauh dalam kesempatan itu. Pedang yang tiba-tiba muncul di tangannya keluar entah dari mana. Dia menebas ke bawah dan mencincang lengan kanan Zheng sampai putus. Rasa sakit itu membuat Zheng pingsan.

“Itu saja? Hanya ini yang kau miliki? Kamu mengecewakanku. Bagaimana kau bisa menjadi diriku yang asli?” Klon itu melihat Zheng yang terbaring di tanah. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menyeret Zheng. Red Flame dengan cepat memudar di bawah tekanan api hitam dan klon itu juga mematikan apinya. Zheng telah benar-benar menguras energi darahnya pada saat ini, juga hanya ada sedikit Qi yang tersisa. Dia bahkan tidak bisa mempertahankan modus berserknya lagi. Dia membuka matanya dengan susah payah dan memandangi pria dengan wajah yang sama seperti dia.

Klon itu menggeleng jijik. Dia memegang Zheng dengan satu tangan dan menggenggam pedang dengan tangan satunya. Zheng bertanya dengan kesulitan. “Kau menyebut Lori sebelumnya. Apakah kau juga menciptakan dirinya? Bagaimana keadaannya?”

Klon itu mengambil napas dalam lalu berteriak marah. “Beraninya kau menyebut namanya!”

 

Translator / Creator: isshh