August 28, 2017

Terror Infinity – Volume 10 / Chapter 13.2

 

Beruang itu bertahan hidup karena ketangguhan jenisnya. Sepertinya tidak terluka terlalu banyak akibat serangan Zheng. Beruang itu berbalik, kemudian menghentakan cakarnya ke tanah dengan cahaya hijau di cakarnya. Sebuah gelombang kejut menyebar dari titik kontak, dan Zheng berlari ke dalam gelombang itu.

Zheng tiba-tiba merasa seperti dipukul dengan palu. Dia berhenti di tempat, bukan karena kemauannya tapi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Beruang itu menamparnya hingga terbang lebih dari sepuluh meter. Dia menabrak sebuah dinding. Dinding yang terlihat tebal itu runtuh juga.

Zheng kehilangan kesadaran selama setidaknya satu detik. Dia merasakan sakit di hidungnya pada saat ia sadar. Dengan tubuh yang sudah ditingkatkan ini, ia bisa menahan serangan beruang itu. Belum lagi ia menerimanya langsung tanpa pertahanan apapun. Dia merasa beruntung masih hidup.

Ketika ia perlahan-lahan berdiri, ia mendengar suara angin dari senapan mesin dan langsung berlari ke samping. Setidaknya empat sampai lima peluru mengenai kakinya tetapi ia juga berhasil keluar melewati dinding. Daerah di luar agak datar dan terbuka. Ia melihat Nemesis mengangkat peluncur roket dan lasernya membidik ke arahnya. Tidak ada tempat untuk sembunyi kali ini.

“One! Saya Zheng!” Zheng tidak punya pilihan selain berteriak. Ia tidak bisa bersembunyi lagi jadi ia harus mengambil risiko ini dan melihat apakah One masih mengingat dia.

Nemesis berhenti sejenak kemudian perlahan-lahan menurunkan peluncur roketnya. Dia tampak ragu-ragu dan mengangkat peluncur roket itu beberapa kali. Akhirnya, ia meraung saat ia berbalik ke arah beruang itu. Serangkaian tembakan dari minigun dan RPG menghalangi beruang itu untuk melarikan diri.

Zheng menghela napas lega. Dia duduk, menyayat kakinya dengan pisau, kemudian mengeluarkan peluru dengan tangannya. Dia tidak menggunakan semprotan hemostasis karena lukanya sudah mulai sembuh. Dia bangkit dan berlari ke arah beruang itu.

Zheng tidak tahu mengapa klonnya masih belum muncul. Mungkin ada sesuatu yang menahannya, atau mungkin dia sedang menunggu kesempatan untuk memberikan serangan vital. Apapun itu, ini adalah kesempatan terbaik. Dia harus membunuh beruang itu sekarang. Jika tidak, ia tidak akan punya kesempatan saat klonnya datang.

Dia membawa meriam udara saat ia berlari. Saat ia mulai dekat, beruang itu menghentakan tanah lagi.

Zheng membidik meriam udara ke muka beruang itu sesaat setelah ia melihatnya. Meriam ditembakkan pada waktu bersamaan dengan datangnya gelombang kejut itu. Dua gelombang itu bertabrakan tapi tembakan meriam tampak jelas lebih kuat. Ini menembus shockwave beruang itu dan terus maju. Namun, tembakan itu kehilangan sebagian dari kekuatannya akibat tabrakan itu dan arahnya sedikit berubah. Tembakan itu mengenai lengan kiri beruang dan dinding di belakangnya.

Beruang itu menjerit. Zheng mendekat dan menikam pisau ke dadanya. Kulit dan ototnya terlalu tebal, pisau itu tidak menusuk cukup dalam untuk mengenai organ dalamnya. Zheng berteriak saat ia menggenggam pisau kemudian mendorongnya secara horizontal. Bahkan jika pisau itu tidak tajam sejak awal, kekuatan Zheng bisa membuka lebar luka ini.

Beruang itu kemudian mengayunkan lengan kanan dan menampar Zheng serta pisau itu menjauh. Dia tampak marah karena serangan itu dengan sepasang mata merahnya. Ia melolong dan berlari ke Zheng yang baru saja mendarat kemudian terus mendorong Zheng ke dalam sebuah rumah. Ia membuka mulutnya untuk menggigit kepala Zheng.

Serangannya tepat sasaran. Selain itu, kepalanya terbentur ke sudut dinding dan membuatnya pingsan selama hampir satu detik penuh. Ketika ia membuka matanya, ia melihat sebuah mulut di depan mukanya. Tubuhnya didorong ke dinding dan tidak bisa bergerak. Sebuah api melalap seluruh tubuhnya dalam sepersekian detik ini. Ketika beruang itu melonggarkan cengkeramannya sedikit, Zheng memfokuskan Qi nya dan meninju dagu beruang itu. Qi korosif itu menghancurkan dagunya dan melemparkannya terbang.

Zheng bernapas dengan berat. Serangan dan dorongan tadi hampir memeras semua udara keluar dari paru-parunya. Namun, tidak ada waktu untuk beristirahat. Dia segera berlari melewati lubang di jalan dan melihat beruang itu mulai bangun. Beruang itu terlihat menyedihkan. Di dagunya hanya tersisa tulang akibat korosi. Sayatan besar di bagian dada yang hampir mengenai organnya. Darah menetes dari lengan kirinya, yang tampak hancur dari dalam.

Rasa takut dan panik menggantikan kebuasan pada matanya. Ketika melihat Zheng keluar, itu berbalik dan berlari bersamaan darah menetes dari tubuhnya.

Zheng tidak bersantai sedikitpun. Dia telah memasuki kondisi mengamuk beberapa waktu lalu. Begitu dia melihat beruang itu berlari, ia melompat ke punggungnya dengan teknik gerakannya dan menggigit lehernya. Kemudian dia menarik sepotong daging. Dia menikam pisau ke punggungnya dan menghentakan dengan kuat, pisau itu juga masuk lebih dalam pada saat yang sama. Beruang itu menjerit kesakitan kemudian jatuh ke tanah disertai dengan sebuah goncangan.

Zheng bangkit dari tanah sambil terengah-engah. Tubuhnya penuh dengan darah hitam. Dia tidak tahu apakah itu adalah darahnya atau milik beruang itu. Tapi dia tidak punya waktu untuk mengurusi cederanya. Dia berjalan ke depan beruang yang sedang kejang-kejang dan mengarahkan meriam udara.

Beruang itu tampak ketakutan. tubuhnya mulai menyusut dan kembali ke bentuk manusia setelah dua detik. Kehilangan dagunya membuat pria kaukasia ini terdengar tidak jelas, namun ia masih sempat berteriak. “Ampuni saya, saya bisa membuat pemimpin…”

Zheng mengabaikannya dan menarik pelatuknya. Dia tampak tenang saat ekspresi pria itu berubah dari mengemis ketakutan menjadi putus asa. Dua detik kemudian, gelombang kejut dari meriam menghantam wajahnya dan menghancurkan kepalanya.

Zheng duduk sambil bernapas berat. Pertarungan itu benar-benar mempertaruhkan nyawanya. Dia berada pada ambang kematian beberapa kali. Pikirannya sangat terkonsentrasi. Sekarang ia harus bersantai sejenak, rasa lelah terasa sekaligus. Terasa seperti seluruh tubuhnya terluka. Rasa sakit itu tak terlukiskan. Dia hampir tidak bisa menggerakan jarinya sekarang.

Sebuah sosok besar muncul di belakangnya. Zheng menoleh dan melihat Nemesis itu berdiri diam di sana. Senjata-senjatanya tidak mengarah padanya. Itu tampak seperti One telah mendapatkan ingatannya kembali, atau setidaknya memiliki sebuah kesan kepadanya. Jika tidak, Nemesis tidak akan menyerah dalam kesempatan yang sangat baik untuk membunuhnya.

“Kau benar-benar layak menjadi diriku yang asli. Kekejaman tersembunyi yang sama. Saya pikir kekejaman ini dipaksakan ke saya ketika dewa meng-kloning saya, tapi tampaknya bukan itu masalahnya.”

Sebuah suara dingin, kemudian seorang pria turun dari tengah udara dengan sayap hitam. Tangannya memegang pedang yang menyala.

 

 

Translator / Creator: isshh