August 16, 2017

Terror Infinity – Volume 10 / Chapter 11.3

 

Heng melompat dari menara jam. Dia menggenggam balok-balok yang ada untuk memperlambat jatuhnya. Dia mendarat di tanah dengan lembut. Tubuhnya lebih ringan dari rata-rata orang karena attunement udara dari archer enhancement. Kecepatan larinya juga lebih tinggi dan dia bisa bergerak tanpa suara, hampir menyaingi kemampuan menyelinap Yinkong.

Heng tidak dalam mood untuk membanggakan semua ini. Dia merasa seolah-olah sebuah pisau telah menusuk jantungnya.

Dia dan Yanwei tumbuh bersama. Keluarga keduanya bertetanggaan dan orang tua mereka berteman. Ayahnya adalah seorang peraih medali emas Olimpiade panahan dan ayah Yanwei adalah peraih medali perak. Mereka adalah teman-teman sekaligus rival, tetangga dan rekan kerja.

Heng dan Yanwei bertemu di bawah lingkungan ini ketika mereka masih anak-anak. Hubungan mereka sangat dekat pada satu titik. Heng mewarisi hobi ayahnya memanah sedangkan Yanwei tidak menyukai itu. Dia akan mengabaikan dia selama beberapa hari setiap kali dia melihat dia berlatih. Meskipun kejadian ini berkurang saat mereka tumbuh lebih besar.

Keluarga bahagia itu mengalami perubahan drastis secara tiba-tiba. Orang tua Heng terlibat dalam kecelakaan mobil. Ibunya tewas di tempat sedangkan lengan ayahnya patah dan tidak bisa lagi menggunakan busur. Dia berumur sembilan pada saat itu.

Setelah itu, ayah Heng akan memukulnya sampai ia pingsan untuk setiap masalah kecil. Ini berlangsung beberapa tahun. Seolah-olah itu adalah keisengan nasib, ia terpisah dari Yanwei ketika ia berusia sepuluh tahun. Ayahnya kehilangan pekerjaannya, kemudian menjual rumah mereka dan pindah. Tahun demi tahun akibat kekerasan dalam rumah tangga menempa kepribadiannya. Setiap kali dia merasa dia mungkin akan dipukul, atau melihat darah atau luka, rasa takut akan membuat dia melarikan diri secara naluriah. Kepribadian ini tertanam jauh di dalam dirinya dan membuatnya membenci dirinya sendiri dan dunia ini.

Titik balik terjadi setelah sebuah kompetisi. Dia melihat gadis ini yang tampaknya tumpang tindih dengan ingatannya, namun ia takut untuk memastikannya karena ia telah kehilangan terlalu banyak hal. Ayahnya meninggal karena kanker hati akibat alkohol. Satu-satunya yang masih ia punya hanya busur dan gadis dari ingatannya.

Benang cinta yang mengikat mereka mempertemukan kembali mereka setelah sepuluh tahun. Mereka dengan cepat hidup bersama, saling menjaga, dan berbagi cerita ketidakberuntungan mereka. Mereka saling menghibur luka mereka dan menuju masa depan dengan saling mendukung. Heng merasa telah memperoleh kebahagiaan. Dia telah mengukir Yanwei ke dalam hatinya. Kemudian…

Tubuhnya melarikan diri tak terkendali. Ketika dia menyadari apa yang telah dilakukannya, ia membenci dirinya sendiri. Meninggalkan seorang gadis, yang sangat ia cintai ke sekelompok mafia dan pemerkosa, sementara ia berlari ketakutan. Seperti tubuhnya memiliki pikiran sendiri.

Pada saat ia akhirnya kembali menguasai dirinya dan berlari kembali, Yanwei dan para mafia itu telah hilang. Dia bisa merasakan penderitaan seperti apa yang Yanwei rasakan.

Mungkin rasa sakit fisik bisa ditahan tapi hatinya pasti telah tenggelam dalam air mata keputusasaan. Kalau saja Yanwei tidak pernah mencintainya atau hanya sedikit, tapi Heng tahu bahwa Yanwei juga sangat mencintainya.

Heng berpikir untuk bunuh diri, tapi ia masih belum membalaskan dendamnya. Dia berpikir untuk mencarinya, tapi ia tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung matanya, apakah itu dalam keadaan tenang, atau marah, atau mati.

Dia memutuskan untuk balas dendam, membunuh orang-orang yang dibencinya dengan anak panahnya. Ia hampir selalu menjatuhkan busurnya akibat rasa takut setiap saat. Dia pasti akan pingsan akibat muntah sesudahnya. Tapi ketika dia memikirkan penderitaan dan perasaannya, ia akan terus membunuh orang berikutnya tanpa menyesal. Keputusasaannya kemudian membawanya ke dunia ini setelah ia membunuh mereka semua.

Siapa yang bisa membayangkan bahwa ia akan bertemu denganya lagi di dunia ini? Selain itu, aslinya dia berada dalam tim China.

“Aku tidak meninggalkanmu! Ketika saya masuk tim ini, kau sudah…”Heng ingin meneriakannya keluar tapi ketika dia membayangkan wajah dengan tangisan tanpa ekspresinya, ia tiba-tiba kehilangan keberanian untuk melakukannya. Meskipun ia ingin menjelaskan, kenyataannya adalah bahwa dia telah meninggalkan dia dan menghancurkan masa depan mereka yang bahagia. Dia adalah asal dari semua rasa sakit dan dosa. Kalau saja dia bukan seorang pengecut seperti itu, jika ia bisa membuka tangannya untuk melindunginya, semuanya akan berbeda.

Heng berlari melewati gang-gang. Darah menetes dari seluruh tubuhnya. Panah-panah itu tidak kuat. Mereka lebih tepatnya seperti hukuman atau siksaan. Jika tidak Yanwei bisa membunuhnya dalam satu tembakan panah seperti yang dia gunakan pada lonceng jam itu. Dia menyiksanya untuk meringankan kebencian dan rasa sakitnya.

Sebuah panah membuat sebuah lubang di dinding di sebelah Heng. Sebuah api perak melelehkan beton itu.

“Kenapa kamu berlari? Sama seperti bagaimana kau berlari sebelumnya? Kau pengecut. Yang bisa kau lakukan hanya lari.” Suara Yanwei ini dipenuhi dengan kemarahan dan penghinaan. Dia menembakan api perak lagi.

Heng mengertakkan gigi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Darah mengalir ke bawah sudut bibirnya karena menggigit terlalu keras. Dia terus berlari sambil menelan darahnya sendiri. Dia akan mengubah arahnya setiap kali panah datang. Sebelum ia tahu itu, ia telah memasuki modus berserk.

“Jika kau begitu takut mati, maka mengapa tidak kau tembak saja kepalaku sebelumnya? Kau tidak perlu lari jika kau melakukannya. Cukup tembak kepalaku. Aku telah membuka kendala genetik saya. Apakah kau tidak ingin reward dan poin?” Kata Yanwei saat anak panahnya meluncur ke Heng, namun itu selalu meleset. Air matanya yang mengaburkan matanya melihat bahwa Heng tidak akan menjawab.

Dia melayang ke atas dan melihat ke bawah dari ketinggian sepuluh meter. “Heng, kau ingat tentang indra keenam saya? Ia berfungsi dengan panah. Aku bisa merasakan jalur panah dan kebanyakan aku bahkan tidak perlu membidik dengan mata saya.”

Dia menutup matanya dan membidik ke arah Heng berlari. Saat Heng berbelok, panah menembus kakinya. panah ini tidak memiliki api sehingga hanya membuatnya tersandung dan dia terus berlari.

Heng mengertakkan gigi. Itu sudah dekat dengan jalan-jalan. Yanwei mengerutkan kening saat dia menembak panah berapi ke depan Heng. Panah mengenai pergelangan kakinya dan api mulai membakar ke bagian atas kakinya.

Bang! Agak jauh, api berkobar sekejap dalam asap ini diikuti oleh suara benturan. Heng akhirnya tersenyum lega. Yanwei terbang ke beberapa meter di depannya.

Dia mencibir. “Mengapa kau tidak lari? Kenapa kau bersikap tenang? Jika saja kau setenang ini sebelumnya, kita…”

Heng tersenyum lembut kemudian tiba-tiba menarik tali tersebut dan mengarahkan kepadanya. Tekanan dari charged shot menyelimutinya. Yanwei juga tersenyum lega. Dia membidikan sebuah panah berapi dan berkata lembut. “Ayo kita bebaskan diri kita, Heng.”

“Maafkan saya. Aku mencintai kamu. Teruslah hidup.”

Panah terbang melewati wajahnya dan di liat pandangannya. Ketika ia berbalik untuk melihat Heng lagi, sebuah cahaya perak menutupi hatinya tapi ia tetap tersenyum.

 

Translator / Creator: isshh