August 14, 2017

Terror Infinity – Volume 10 / Chapter 11.2

 

Techoi sangat berhati-hati. Dia tetap dalam modus berserk yang mendorong indra yang hingga ke tahap ekstrim. Jadi Zheng juga berhati-hati untuk tidak mengeluarkan keinginan untuk menyerangnya. Kemampuan menyelinapnya berasal dari sebuah simulasi, yang jauh dari sempurna. Begitu ia mengekspos niat membunuhnya, siapapun yang berada dalam modus berserk akan bisa merasakan itu. Dia membutuhkan sebuah kesempatan dan tempat yang cocok.

Keduanya sampai di gang ini dalam waktu hampir satu menit. Zheng semakin cemas. Mungkin Techoi tidak perlu terburu-buru karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi tidak dengan Zheng. Dia mengkhawatirkan Lan dan lainnya. Bahkan jika dia tidak peduli dengan mereka, poin yang berkurang akibat kematian mereka juga akan membunuhnya. Jadi dia tidak punya banyak waktu di sini.

Zheng tidak bisa menahan kecemasan ini lebih lama lagi, begitu ia kehilangan ketenangannya, ia tidak bisa melakukan serangan mendadak. Namun dia tidak punya pilihan selain mengikuti dari belakang dalam kefrustasian ini.

Untungnya, kesempatan itu datang begitu cepat. Seekor creeper berada di dinding di depan Techoi. Itu adalah creeper normal yang belum memakan terlalu banyak orang untuk bermutasi lebih lanjut, sehingga tidak terlalu besar.

Techoi tidak mengeluarkan senjata apapun saat melihat creeper itu. Dia perlahan-lahan terlihat sangat gembira. Zheng bisa melihat lapisan cahaya pada tinjunya, seperti sepasang sarung tinju yang terbuat dari cahaya.

Creeper itu melompat ke Techoi. Dia mundur setengah langkah, di luar jangkauan cakarnya. Kemudian empat lengannya menyerang terus menerus dengan kecepatan yang hampir tak terlihat oleh mata. Serangan-serangan ini menghancurkan cakar creeper itu menjadi serpihan. Kemudian dia melompat dan melakukan tendangan ke lengan creeper ini. Juga terdapat lapisan cahaya yang menutupi kakinya. Lengan creeper itu patah.

Rangkaian serangan itu terjadi kurang dari satu detik. Kombinasi empat lengan, Muay Thai dan lapisan cahaya membuat creeper itu tidak berdaya.

Techoi mencibir. Dia memegang kepala creeper itu dengan tangannya. Lapisan cahaya menutupi lututnya kemudian ia menghantamkan lututnya ke kepala creeper. Otaknya berceceran ke mana-mana. Pada waktu bersamaan ia melakukan serangan lutut, sebuah tangan perlahan-lahan meraih kepala Techoi dari kegelapan. Tangan ini melesat tiba-tiba ketika Techoi membunuh creepr itu dan menariknya ke dinding.

Zheng sudah menunggu saat yang tepat ini. Techoi lengah saat ia mengira telah membunuh creeper itu. Zheng menarik Techoi menembus dinding dan masuk ke dalam rumah itu. Matanya juga menjadi sangat merah.

(Harus menyelesaikan pertarungan secepat mungkin.)

Begitu ia mendapatkan kesempatan, Zheng mengerahkan semua kekuatannya ke Techoi. Dia menggigit punggung Techoi ketika mereka menembus dinding. Lengannya menggenggam tubuh Techoi dan meremukannya. Lengan Zheng empat kali lebih besar dari ukuran normalnya saat ini. Dia bisa mendengar suara benturan tulang dari rusuk Techoi ini.

Techoi tahu hidupnya tergantung pada langkah ini. Sebuah kekuatan besar menyambarnya sehingga ia mengeluarkan semua Qi tempurnya sekaligus. Sebuah lapisan cahaya menutupi seluruh tubuhnya. Hanya dengan lapisan cahaya tipis ini mampu mendorong lepas gigitan Zheng. Meskipun begitu Zheng berhasil mengoyak sebuah bagian di punggungnya.

Zheng tidak bisa membiarkan Techoi bebas. Kekuatannya sangat hebat dan tekniknya jauh melampaui Zheng. Sebagian besar waktu, Zheng bertarung hanya dengan naluri, yang cukup ketika ia bisa melampaui kekuatan musuh. Namun, jika kekuatan mereka berada pada tingkatan yang sama, ia tidak bisa mengalahkan seseorang ahli Muay Thai dengan mudah. Lengannya mengunci Techoi dengan erat dan ia memancarkan Red Flame dan Qi korosifnya. Jika Zheng tidak bisa membunuhnya dengan cepat, maka tidak ada lagi bangunan untuk bersembunyi ketika beruang dan klonnya tiba.

Lapisan cahaya itu bisa menahan Red Flame tetapi tidak dengan korosif Qi. Secara perlahan menipis kemudian Techoi mulai menjerit kesakitan saat api berhasil mencapai tubuhnya.

Mereka menerobos satu per satu dinding dan memasuki ke jalanan. Tidak ada kehidupan lain di jalanan, bahkan tidak ada zombie satupun. Techoi berada di ambang kematian. Bagian-bagian tubuhnya yang bersentuhan dengan Zheng terbakar menjadi arang. Api itu kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya. Zheng juga mentransferkan Qi ke dalam tubuhnya dan mengkorosi dia dari dalam.

Dalam sekejap, Zheng melepaskan Techoi dan berguling ke samping. Sebuah kekuatan menyerangnya diikuti oleh suara tembakan. Suara ini begitu familiar baginya, suara senapan sniper Gauss. Apakah tim Devil juga mengkloning Zero?

Dia segera memeriksa cederanya. Tembakan itu melewati samping kakinya tapi shockwave nya tetap mampu melukai kakinya. Di tanah di belakangnya terdapat sebuah lubang besar.

(Tembakan berikutnya perlu beberapa detik.)

Zheng dengan cepat menenangkan diri. Dia melompat ke Techoi, mencengkram wajahnya dengan satu tangan kemudian menariknya ke dalam sebuah gang bersamaan itu Techoi menjerit, meninggalkan jejak darah yang mendidih akibat luka bakar. Segera, jeritannya menghilang di dalam gang itu.

Di atas sebuah bangunan sejauh seribu meter, seorang pria ramping dengan sepasang kacamata anehnya berkata. “Pemimpin, itu terlalu jauh. Meskipun kacamata ini bisa melihat menembus asap, tapi itu tidak cukup jelas. Tembakan tadi meleset.”

Clone Zheng menjawab. “Tidak apa-apa. Dia telah terjebak di daerah ini. Begitu ia bergerak, Francis dan saya akan menyerangnya. Aku tidak akan hanya menonton kali ini. Idiot itu tidak paham mengapa aku membiarkan dia dan Francis pergi bersama. Jika dia ingin pergi sendiri, setidaknya bersiaplah untuk meledakan dirinya dengan Battle Qi sehingga kematiannya tidak akan begitu sia-sia! Richard, bunuh siapapun yang kamu lihat selain tim kita!”

Richard tertawa kemudian membelai senapannya. “Jangan khawatir. Aku akan masuk ke modus berserk sebelum menembak di waktu berikutnya. Saya pikir tidak ada seorangpun bisa bertahan dari kekuatan senapan Gauss ini. Saya katakan…”

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah panah mengenainya dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Panah itu datang dari bawah gedung, menembus dinding dan lantai sampai akhirnya menembus tubuhnya. Tubuhnya berubah menjadi serpihan bubuk sebelum dia bisa bereaksi. Senapan Gauss tergeletak di samping.

 

Translator / Creator: isshh