August 8, 2017

Terror Infinity – Volume 10 / Chapter 10.2

 

Clone Zheng menggeram. Sebuah asap hitam muncul dari telapak tangannya. Pada saat yang sama, Heng memasuki modus berserk. Dia menarik busur hingga berbentuk bulan sabit dan memancarkan tekanan yang tak tertandingi. Clone Zheng tidak bergerak sedikitpun di bawah tekanan ini meskipun jarak mereka begitu jauh. Asap itu secara perlahan menghilang dari telapak tangannya.

Serangan dari Heng ini memberikan sebuah aura keberadaan yang kuat yang bahkan clone Zheng tidak bisa mengabaikannya. Semua orang di sekitarnya juga berhenti di tempat. Item pertahanan mereka tidak bisa memblokir tembakan ini.

Saat itu, seorang gadis turun dari hoverboard itu. Anehnya, ia tidak jatuh ke tanah. Sepasang sayap yang terbentuk dari cahaya mengepak seperti elf. Dia perlahan-lahan terbang menuju Heng.

Tembakan Heng telah siap. Dia sedang menunggu salah satu dari mereka untuk bergerak maka ia akan langsung melepaskan panah. Namun, seseorang dengan berani mendekati dia dalam situasi ini. Hatinya tiba-tiba terganggu saat ia menoleh sejenak ke arahnya. Dia muntah seteguk darah dan panahnya meluncur ke tanah. Dengan sebuah kilatan cahaya, meledakan tanah sedalam satu meter.

Clone Zheng mengambil kesempatan ini dan melemparkan asap ke udara. Asap itu meluas dan menyebar. Segera, beberapa ratus meter di sekitarnya menjadi gelap gulita. Kegelapan ini masih tetap menyebar selama beberapa menit sampai menutupi beberapa ribu meter.

Clone Zheng mendesah lega dan berkata. “Sial, jangan lengah. Tim lain tidak selalu penuh dengan orang lemah. Xuan, pergilah. Tangkap para pemula. Jika mereka terlalu kuat maka bunuh saja mereka. Jika tidak, tangkap mereka sehingga kita dapat mendistribusikan poin dan reward. Pertempuran kita dimulai!”

Zheng tahu ini akan buruk ketika ia melihat asap itu, karena dia tidak bisa melakukan sniping dalam situasi ini. Jika dia hanya bisa bertarung dalam pertempuran jarak dekat, maka ia tidak bisa memblokir mereka. Tim itu benar-benar bisa mengabaikannya dan terbang menjauh.

Zheng mengenali Kitab Orang Mati itu saat klonnya mengeluarkannya. Itu berarti klonnya juga memasuki The Mummy. Ketika ia melihat pembacaan dan asap itu, dia teringat sebuah sihir yang pernah Tengyi sebutkan.

Ini adalah sebuah skill yang tidak bisa membedakan musuh dan sekutu. Karakteristiknya adalah menutup pengelihatan. Jadi itu adalah sebuah sihir mendukung untuk melarikan diri. Dia tidak pernah menyangka klon itu menggunakan sihir ini.

Zheng berdiri dan meletakkan senapan sniper kembali ke dalam cincin. Tiba-tiba, dua hoverboard terbang ke arahnya. Bagian depan hoverboard memiliki serangkaian pisau. Ketika ia menyadari ini, mereka sudah berada seratus meter di depannya dan terus mendekat. Hoverboard itu jauh lebih cepat dari dia dalam hal kecepatan murni.

Zheng mengertakkan gigi. Dia mengaktifkan Qi dan melompat. Tingkat teknik gerakannya saat ini memungkinkan dia untuk dengan mudah melompat setinggi empat meter. Sebelum pisau-pisau itu mengenainya, dia menendang dada pria itu. Reaksi orang itu tidak buruk. Dia menangkis tendangan dengan tangannya tapi kekuatannya tetap mementalkannya.

Pria lainnya di hoverboard adalah seorang kaukasia yang Zheng bidik. Dia melompat turun. Sementara hoverboard milik pria itu jatuh menghantam lantai beton dari atap gedung ini.

Pria kaukasia itu tertawa dan menunjuk ke arah Zheng. “Pemimpin, orang ini tampak persis seperti anda, apa dia wujud asli anda? Aku ingin tahu seberapa kuat dia.”

Clone Zheng berdiri di tengah udara dengan sayapnya mengepak. Dia menatap Zheng dengan dingin dan berkata. “Aku akan menyerahkannya padamu. Saya akan memberikanmu beberapa skill pendukung. Jangan lengah. Kekuatannya hanya segitu tapi kami tetap saja adalah orang yang sama. Beritahu saya jika kau merasa hidupmu dalam bahaya. Saya akan mengakhiri pertempuran ini.”

Pria yang tertendang jatuh juga sudah bangun. Tingginya lebih dari 1,8 meter, memiliki rambut cokelat gelap, kulit kuning gelap, dan otot-otot yang tampak seperti baja. Wajahnya tampak dari asia tenggara. Pria itu melirik Zheng dan berkata. “Pemimpin tidak perlu turun tangan. Aku bisa mengalahkannya sendiri. Francis, apa kau berencana bertarung dengan saya demi dia?”

Francis tertawa keras. “Tentu saja, ini adalah orang yang telah membuka kendala genetik dan terlihat ahli dalam pertempuran jarak dekat. Dia materi latihan yang langka. Techoi, apa lagi yang kau kira harus saya lakukan?”

Techoi mendengus kemudian mengambil sepotong kain dan mulai membungkus tinjunya.

Zheng terus mengawasi mereka dan klonnya di atas. Clone Zheng tertawa. “Diriku yang lainnya, perlu saya beritahumu kemampuan dan enhancement mereka? Ha ha. Techoi adalah orang Thailand yang ahli dalam semua jenis Muay Thai. Enhancementnya adalah Double Head dan Four Arms. Dapat membuka tahap kedua. Dia sangat menakutkan dalam pertempuran jarak dekat sehingga saya tidak akan mendekati dia jika aku jadi kau.”

“Francis adalah orang Eropa yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan sejak ia lahir. Enhancementnya dapat melakukan perubahan bentuk dari Druid. Meskipun dia hanya pada tahap pertama, statistik dan kemampuannya membuatnya setara dengan Techoi dalam pertempuran jarak dekat. Apakah kau benar-benar ingin melawan mereka?”

Zheng tidak menjawab. Dia mengambil pisau diam-diam kemudian memasuki tahap kedua. Pada saat yang sama, Techoi dengan cepat mendekatinya dan melompat dengan serangan lutut ke wajahnya.

Saat pertarungan Zheng mulai, situasi Heng sedikit membingungkan. Dia menatap gadis itu terbang ke arahnya seperti dia telah kehilangan pikirannya. Gadis yang ia pikir telah hilang selamanya karena sifat pengecutnya. Pada akhirnya, dia menyerah pada hidup dan memasuki dunia ini, lalu dia terbunuh dalam The Grudge. Meskipun Heng tidak tahu tentang bagian akhirnya.

Charged shot yang terganggu itu membalikan daya ledaknya ke dirinya dan melukainya dengan kritis. Untungnya Heng melepas panah ke tanah, jika tidak sisa kekuatannya bisa melumpuhkan dia. Tubuhnya menderita sakit luar biasa pada saat ini, seperti luka yang sangat banyak di sekujur tubuhnya mulai merobeknya.

Yanwei memegang sebuah shortbow perak. Itu berbentuk hati seperti busur Cupid. Sebaliknya, busur Heng terasa lebih mengerikan dan lebih kuat dari shortbow tersebut.

Heng membuka mulutnya, tapi tiba-tiba ia tidak tahu harus berkata apa, terutama ketika ia melihat air mata di matanya. Dia ingin meminta maaf tapi ia tidak memiliki keberanian, bahkan sekedar untuk menatap matanya lagi. Dia menatap tangannya kemudian perlahan-lahan menurunkan kepalanya.

“Heng, apakah kau masih ingat aku pernah bilang bahwa aku memiliki indra keenam yang kuat terhadap apa yang akan terjadi, terutama apa yang akan selanjutnya dilakukan oleh seseorang? Tapi aku tidak pernah merasakan bahwa kau akan lari sendirian. Itu adalah pertama kalinya aku salah.”

Sebuah kilat cahaya perak melintas. Sebuah mainan seperti panah perak menembus lengan kanan Heng dan ke sebuah jam di belakangnya.

 

Translator / Creator: isshh