October 3, 2017

Suling Naga Part 7

 

Terdengar pekik-pekik yang mengerikan dan tiga orang itu roboh bergelimpangan. Akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Bhok Gun dengan kecepatan kilat menusuk ke arah leher Bi Lan tanpa dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh Bi Lan karena pada saat itu gadis ini sedang menghadapi tiga orang pengeroyok tadi.

“Trangggg…!”

Bagaikan kilat sebatang golok melayang dan menghantam pedang di tangan Bhok Gun sehingga tusukan ke arah leher Bi Lan itu menyeleweng dan tusukannya luput karena pedangnya ditangkis oleh golok yang dilontarkan Hong Beng. Di lain saat, tubuh Bi Lan yang terhuyung itu sudah dipondong oleh Hong Beng.

“Nona, kita harus pergi dari sini,” kata Hong Beng. Bhok Gun marah dan pedangnya menyambar ganas. “Cringgg…!”

Pedang Bhok Gun yang menghantam ke arah kepala Hong Beng itu dapat ditangkis oleh Ban-tok-kiam di tangan Bi Lan. Biar pun Bi Lan sudah berada dalam pondongan Hong Beng, namun melihat bahaya mengancamnya dan penolongnya, gadis perkasa ini sudah mengangkat pedangnya menangkis.

Hong Beng meloncat dan merobohkan dua orang penghalang dengan dorongan tangan kanannya, sedangkan lengan kirinya merangkul tubuh Bi Lan yang dipondongnya. Dia juga berhasil merampas sebatang tombak dan dengan senjata ini dia lalu memukul jatuh obor-obor yang menerangi tempat itu sehingga cuaca menjadi hampir gelap karena hanya obor-obor yang terpasang agak jauh dari situ yang masih bernyala. Kesempatan ini dipergunakan Hong Beng untuk meloncat jauh dan melarikan diri di dalam gelap. Dia berlari cepat sekali keluar dari kota Kun-ming, melalui pintu gerbang sebelah timur.

Para penjaga pintu gerbang terkejut melihat seorang pemuda lari keluar memondong seorang gadis yang membawa pedang. Sejenak mereka tertegun, akan tetapi karena pada waktu itu terdapat larangan membawa senjata tajam sedangkan gadis tadi jelas membawa pedang dan juga sikap mereka amat mencurigakan, para penjaga itu lalu melakukan pengejaran.

Tidak lama kemudian, serombongan orang yang di antaranya banyak yang memakai pakaian serba merah nampak berlari-lari keluar pintu gerbang pula. Para penjaga makin kaget dan mereka semua ikut mengejar. Akan tetapi, yang dikejar sudah tak nampak lagi bayangannya karena ditelan kegelapan malam…..
— —

Hong Beng terus membawa lari Bi Lan sampai jauh naik ke lereng sebuah bukit. Bulan sudah naik tinggi dan hal ini amat menolongnya sebab malam menjadi terang sehingga memudahkan dia memilih jalan melarikan diri. Semenjak memasuki hutan ke dua tadi, dia sudah berhasil meninggalkan para pengejar dan sekarang tak nampak seorang pun pengejar di belakang.

Tiba-tiba Hong Beng merasa ada benda dingin sekali menempel tengkuknya, dan ujung sebatang pedang yang tajam runcing menempel tepat di jalan darahnya. Sedikit saja pedang itu ditusukkan, akan tamatlah riwayatnya! Ketika dia teringat bahwa pedang itu adalah pedang hijau kehitaman yang mengeluarkan hawa mengerikan, yang dipegang oleh gadis yang sedang ditolongnya, seketika Hong Beng merasa betapa semua bulu di tubuhnya bangkit satu-satu karena ia merasa seram.

“Berhenti dan lepaskan aku! Jika tidak, pedangku akan menembus tengkukmu!” bentak Bi Lan dengan suara ketus.

Meski ia merasa bahwa orang ini telah menolongnya, mungkin juga menyelamatkannya dari ancaman maut, akan tetapi hatinya panas dan ia marah sekali karena pemuda ini telah berani menyentuh tubuhnya. Bukan hanya menyentuh, malah memondong dan ia merasa betapa lengan itu melingkar di pinggul dan pinggangnya! Kurang ajar sekali orang ini!

Mendengar ucapan yang ketus itu dan merasa betapa todongan ujung pedang itu tidak main-main, Hong Beng terpaksa melepaskan pondongannya.

“Bukkk…!”

Tubuh Bi Lan terbanting, biar pun tidak keras akan tetapi pinggulnya terasa pegal juga karena tubuhnya memang amat lemah. Karena ia sudah kehabisan tenaga, maka ketika pondongan itu dilepaskan, ia terbanting.

“Hemm, kau berani membanting aku, ya? Awas kau, kalau sudah sembuh, akan kuhajar kau!” Bi Lan semakin marah dan dengan pedang masih di tangan kanan, dia gunakan tangan kirinya mengusap-usap pinggul yang tadi menimpa tanah berbatu yang keras.

“Ah, maaf… bukankah kau yang minta agar aku melepaskanmu, nona?”

Karena memang demikian keadaannya dan pihaknya memang keliru, Bi Lan hanya dapat mengomel, “Kau memang laki-laki kurang ajar sekali!”

Hong Beng memandang wajah yang cemberut itu dengan bingung. Bukan main cantik dan manisnya wajah cemberut itu tertimpa sinar bulan yang redup terang kehijauan. “Nona, saat aku datang dan melihat engkau dikeroyok, maka aku segera turun tangan membantumu. Dan karena mereka tadi mengejar, engkau kularikan sampai di sini dan sekarang kau sudah aman. Akan tetapi, kenapa engkau malah menodongku dan malah marah-marah kepadaku?”

“Siapa menyuruh engkau memondongku seperti itu?!” bentak Bi Lan, hatinya masih panas karena malu mengenangkan betapa tadi ia dipondong bagaikan anak kecil dan dilarikan.

“Tapi… tapi… bagaimana aku akan dapat menyelamatkanmu kalau tidak dengan cara memondongmu?” Hong Beng membantah sambil mengerutkan alisnya karena dia mulai merasa marah juga. Sungguh seorang gadis yang tidak mengenal budi, sudah ditolong malah marah-marah dan menyalahkannya!

“Sedikitnya engkau bisa minta ijin dulu apakah aku suka atau tidak kau pondong. Enak saja memondong orang semaunya. Huh, dasar laki-laki tak mengenal sopan santun!” Bi Lan menggigit bibir menahan rasa nyeri di pundaknya, lalu mengomel lagi, “Sudah begitu masih membanting aku lagi, sudah tahu bahwa aku terluka. Laki-laki kejam dan tidak berperi kemanusiaan!” Bi Lan mendengar tentang sopan santun dan tentang peri kemanusiaan dan sebagainya itu selama ia menjadi murid Pendekar Naga Sakti.

Hong Beng merasa betapa mukanya menjadi panas. Dia merasa terpukul, malu dan juga penasaran. Dia malu karena bagaimana pun juga, dia teringat bahwa memang tak pantas seorang laki-laki seperti dia memondong tubuh seorang gadis tanpa perkenan si pemilik tubuh. Akan tetapi dia juga merasa penasaran karena selama hidupnya baru satu kali ini dia bertemu dengan orang yang begini tidak mengenal budi.

“Maafkan, nona, maafkan semua kelancanganku,” katanya dan tanpa pamit lagi dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Bi Lan, gadis yang dianggapnya tidak mengenal budi itu, tidak peduli bahwa gadis itu sejak tadi masih saja duduk di atas tanah, belum mampu bangkit berdiri, sungguh tidak sesuai dengan kegalakannya.

Dan memang Bi Lan tidak mampu bangkit berdiri lagi. Tubuhnya terlalu lemas, bahkan kepalanya terasa pening, matanya berkunang, dan ketika Hong Beng pergi, ia yang sejak tadi menahan diri agar tidak pingsan kini terkulai lemas.

Hong Beng tidak pergi jauh. Di dalam hatinya, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Bi Lan begitu saja. Dia tahu bahwa gadis itu terluka, hanya dia tidak tahu betapa sejak tadi gadis itu mempergunakan kekuatan tubuh dan hatinya untuk bersikap keras dan pura-pura tidak apa-apa.

Biar pun dia perlu memberi ‘pelajaran’ kepada Bi Lan atas kekerasan sikapnya yang galak, akan tetapi dia tidak tega pergi jauh-jauh dan diam-diam dia menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak untuk kembali ke tempat itu, kemudian mengintai untuk melihat bagaimana keadaan gadis itu dan apa yang akan dilakukannya.

Tentu saja dia terkejut bukan main ketika melihat bahwa di tempat yang ditinggalkannya tadi, Bi Lan sudah menggeletak dalam keadaan tak sadarkan diri. Gadis itu telah jatuh pingsan di tempatnya, masih di tempat yang tadi, hanya kalau tadi dia masih duduk, kini ia sudah rebah miring. Mukanya yang tertimpa sinar bulan itu nampak pucat, akan tetapi pedang yang mengerikan itu masih dipegangnya erat-erat!

“Hayaaa…” Hong Beng berseru perlahan dan cepat menghampiri dengan amat hati-hati.

Dia mempergunakan telunjuk kanannya untuk perlahan-lahan menyentuh tangan Bi Lan yang memegang pedang, seperti orang hendak melihat apakah harimau itu sudah mati ataukah belum, takut kalau tiba-tiba dicakarnya. Setelah yakin bahwa gadis itu tidak bergerak lagi dan dalam keadaan pingsan, barulah dia berani mengambil pedang itu dari genggamannya.

Dia harus lebih dulu menyingkirkan pedang, karena dengan pedang itu di tangan, siapa tahu tiba-tiba gadis itu akan menyerangnya dan hal itu amat berbahaya karena dia dapat merasakan bahwa pedang itu adalah sebuah pusaka yang luar biasa ampuhnya.

Kini dia yakin bahwa gadis itu memang pingsan, dan dia menarik napas panjang setelah menaruh pedang di bawah sebatang pohon, lima meter jauhnya dari situ. “Aih, seorang gadis yang berhati baja dan berkepala batu…,” katanya lirih sambil mulai memeriksa pergelangan tangan gadis itu.

Dia kini tidak peduli lagi apakah gadis itu nanti akan marah atau akan mengamuknya, akan tetapi dalam pemeriksaannya dia tahu bahwa gadis itu menderita luka karena hawa beracun yang hanya dapat ditimbulkan oleh senjata rahasia. Dia harus mencari di mana bagian tubuh yang terkena senjata itu. Memeriksa tubuh gadis galak itu, di dalam cuaca remang-remang lagi! Betapa sukarnya dan betapa berbahayanya karena kalau gadis itu keburu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya diraba-raba olehnya, huh, betapa akan mengerikan akibatnya.

Akan tetapi, karena menurut denyut nadi itu si gadis berada dalam keadaan cukup berbahaya kalau hawa beracun itu tidak cepat-cepat dienyahkan, Hong Beng nekat. Biarlah kalau sampai berakibat si gadis itu marah sekali dan menyerangnya nanti, yang terpenting adalah kenyataan bahwa dia tidak berbuat hal-hal yang tidak patut atau tidak sopan. Dia hanya ingin menolong dan menyelamatkan gadis itu sekali lagi dari ancaman maut yang kini datangnya dari hawa beracun yang amat berbahaya.

Mulailah Hong Beng melakukan pemeriksaan. Mula-mula dia hanya meraba-raba kedua lengan dan kaki, kemudian leher. Ketika meraba-raba kaki inilah dia menemukan kenyataan bahwa paha kiri gadis itu terluka, cukup parah dan mengeluarkan banyak darah. Inilah menjadi satu di antara sebab-sebab mengapa gadis itu sampai pingsan, yaitu karena terlalu banyak mengeluarkan darah pula.

Ketika jari tangannya meraba ke pundak, dia terkejut, merasakan betapa kulit pundak kiri gadis itu panas sekali. Tanpa ragu-ragu lagi Hong Beng lalu merobek baju bagian pundak kiri gadis itu dan jari-jari tangannya meraba-raba. Dia mengangguk-angguk. Sebuah jarum beracun kiranya yang menancap sampai masuk ke dalam daging pundak, dan terselip di bawah tulang pundak!

Ketika menjadi murid pendekar sakti Suma Ciang Bun, Hong Beng juga mempelajari ilmu pengobatan, terutama mengenai luka-luka yang diakibatkan oleh senjata beracun atau luka-luka karena pukulan beracun. Maka setelah dia tahu bahwa gadis itu terkena jarum beracun yang kini berada di dalam pundaknya, dia pun tahu apa yang harus dilakukannya. Dia sendiri adalah seorang ahli mempergunakan senjata rahasia jarum, walau pun jarum-jarumnya tidak diberi racun.

Pertama-tama jarum itu harus dapat dikeluarkan, dan juga darah di sekitar jarum itu dikeluarkan. Dia tidak memilikii waktu untuk mempergunakan alat-alat, apa lagi cuaca remang-remang saja dan juga gadis itu harus cepat-cepat ditolong agar racun itu tidak menjalar makin luas. Satu-satunya jalan hanyalah menggunakan kekuatan sinkang-nya untuk menghisap keluar racun dan jarum itu.

Hong Beng adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu akan keanehan watak Bi Lan. Kalau dia sedang melakukan pengobatan lalu gadis itu siuman dan menyerangnya, dia tentu akan celaka. Pukulan seorang gadis selihai ini tidak boleh dibuat main-main. Maka sebelum melakukan pengobatan, lebih dahulu dia menotok beberapa jalan darah yang akan membuat gadis itu tidak mampu menggerakkan kaki tangannya kalau siuman nanti.

Setelah itu, dia merobek baju di bagian pundak itu lebih lebar lagi, lalu dia menempelkan mulutnya pada luka di bawah depan tulang pundak. Kulit yang putih halus dan hangat bahkan mendekati panas itu tidak mempengaruhinya karena pada saat itu Hong Beng mencurahkan seluruh perhatiannya hanya pada satu hal, yaitu untuk mengobati Bi Lan! Dengan pengerahan tenaga khikang, pemuda itu menyedot. Darah yang sudah agak menghitam tersedot dan diludahkan. Sampai beberapa kali dia menyedot.

Tetapi, tiba-tiba bulan tertutup awan tebal dan keadaan menjadi gelap pekat. Terpaksa Hong Beng menghentikan pengobatan itu dan mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun. Tak mungkin melakukan pengobatan dalam cuaca gelap gulita. Api unggun itu perlu sekali untuk mendatangkan cahaya penerangan, untuk melihat warna darah yang dihisapnya dan agar dia dapat melihat bagian tubuh yang terluka itu. Setelah api unggun bernyala besar dan mengusir kegelapan di sekitarnya, kembali Hong Deng menempelkan bibirnya pada pundak itu.

Apa yang dikhawatirkannya tadi terjadilah. Tiba-tiba gadis itu bergerak, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan kaki tangannya! Dan gadis itu lalu menjerit penuh kengerian, lalu jatuh pingsan lagi!

Tentu saja Hong Beng menjadi terkejut dan heran. Menurut perhitungannya, setelah kini hampir semua racun tersedot keluar, sepatutnya gadis itu menjadi hampir sembuh. Akan tetapi kenapa begitu siuman ia menjerit lalu pingsan lagi?

Ia cepat memeriksa denyut nadi, dan ternyata denyutnya lebih kuat dan cepat dari pada biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa gadis itu mengalami guncangan dan kekagetan. Dia merasa semakin heran. Apa yang telah begitu mengejutkan gadis perkasa ini dan mengguncang batinnya sampai jatuh pingsan? Dengan gelisah dia menoleh ke kanan kiri, mencari-cari. Tidak ada apa-apa.

Hong Beng lalu melanjutkan usahanya mengobati Bi Lan. Sekali lagi dia menyedot dan setelah yang keluar darah merah, dia menghentikan sedotannya, menaruh obat bubuk putih yang dikeluarkan dari saku bajunya. Obat luka ini manjur sekali, selain dapat menghentikan keluarnya darah, juga dapat menahan segala macam kotoran masuk ke dalam luka, dan membuat luka cepat mengering. Setelah itu, dia menempelkan telapak tangannya ke atas pundak yang terluka itu, mengerahkan sinkang untuk menyalurkan tenaga dalamnya membantu gadis itu memulihkan jalan darahnya dan mengusir sisa-sisa hawa beracun dari dalam tubuhnya.

Hong Beng sama sekali terlupa bahwa gadis yang diobatinya itu seorang yang amat berbahaya sehingga tadi dia terpaksa menotoknya lebih dulu. Dia lupa bahwa kini, karena dia menyalurkan sinkang ke dalam tubuh gadis itu melalui pundaknya, maka tenaga ini dengan sendirinya melancarkan jalan darah dan membebaskan totokannya sendiri!

Maka, begitu Bi Lan siuman dan gadis itu melihat betapa ia masih rebah terlentang dan pemuda itu masih berlutut di dekatnya dan kini secara kurang ajar sekali menempelkan tangannya ke pundaknya yang telanjang karena bajunya sudah dirobek, maka dengan kemarahan meluap-luap Bi Lan lalu menggerakkan tangannya memukul dada pemuda itu. Kini kaki tangannya dapat bergerak lagi dan saking marahnya, Bi Lan kemudian memukul dengan pengerahan tenaga dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat yang pernah dipelajarinya dari kakek Kao Kok Cu pendekar Istana Gurun Pasir.

“Wuuuuttt… bukkk…!”

Pukulan itu dahsyat sekali, datang dari jarak dekat dan sama sekali tidak disangka-sangka oleh Hong Beng yang sedang mengerahkan tenaga untuk menyalurkan sinkang ke dalam tubuh Bi Lan itu. Akan tetapi dia masih sempat menarik kembali tenaganya karena kalau sampai dia terpukul dengan tangan masih menempel di pundak, maka tenaga pukulan gadis itu akan terus menyusup melalui tangannya ke dalam dada gadis itu sendiri dan mungkin gadis itu akan celaka.

Dia menarik kembali tenaganya dan karena itu sama sekali tidak sempat berjaga diri. Untung dia masih ingat dan sempat untuk mengumpulkan tenaga yang ditariknya itu ke arah dadanya sehingga dada itu masih dapat terlindung terhadap pukulan yang dahsyat itu. Begitu terkena pukulan itu, tubuh langsung Hong Beng terjengkang dan bergulingan, lalu berhenti menelungkup dan tidak bergerak lagi!

Bi Lan meloncat berdiri akan tetapi ia mengeluh dan hampir roboh kembali. Ia berdiri dengan kaki gemetar dan ternyata pahanya yang terluka itu terasa nyeri, perih dan panas. Ia menggerak-gerakkan dua tangannya, terutama lengan kirinya. Lengan kirinya sudah tidak lumpuh lagi dan ia sudah mendapatkan kembali tenaganya.

Tenaganya memang sudah pulih kembali, akan tetapi kakinya tidak mampu bergerak dengan tangkas karena luka di pahanya! Dan pemuda yang dipukulnya itu belum tentu sudah tewas. Kalau bangkit kembali tentu ia tidak akan mampu menandinginya dengan kaki seperti itu.

Dengan terpincang-pincang ia menghampiri tubuh Hong Beng yang masih menggeletak menelengkup tak bergerak-gerak itu. Pemuda itu pingsan oleh guncangan pukulan yang dahsyat tadi. Setelah tiba dekat, Bi Lan mengangkat tangan meraba pinggang dan ia terkejut.

Pedangnya hilang! Tidak ada di pinggangnya, tinggal sarungnya saja. Lalu teringatlah ia bahwa tadi pedang itu masih dipegangnya. Ke mana perginya Ban-tok-kiam? Tentu orang ini yang mengambilnya. Celaka, pedang itu dipinjamkan oleh nenek Wan Ceng kepadanya, kalau sampai lenyap bagaimana dia akan mempertanggung jawabkannya?

Niat hatinya untuk membunuh pemuda itu untuk sementara mereda. Tidak, ia tidak akan membunuhnya sebelum pemuda itu mengembalikan Ban-tok-kiam yang tentu saja telah disembunyikannya. Akan tetapi kalau tidak dibunuh orang ini amat berbahaya.

Bi Lan mendapatkan akal. Orang ini harus dibuat tidak berdaya dulu. Nanti kalau sudah sadar, barulah akan diancam dan dipaksanya mengembalikan Ban-tok-kiam, kemudian baru akan dibunuhnya karena kekurang ajarannya yang luar biasa tadi.

Oleh karena tenaga di kedua tangannya sudah pulih, mudah saja bagi Bi Lan untuk melakukan totokan pada kedua pundak dan kedua pinggang pemuda itu dengan tujuan melumpuhkan kaki tangannya. Akan tetapi, pemuda itu terlalu berbahaya dan lihai, maka Bi Lan masih menambahkan dengan mengikat kedua kaki tangan Hong Beng dengan robekan baju pemuda itu sendiri.

Dengan gemas dia merobek baju pemuda itu, teringat akan baju di pundaknya yang juga robek, dan mempergunakan kain yang kuat itu, setelah dipintalnya, untuk mengikat kedua pergelangan kaki dan tangan. Setelah itu barulah ia membalikkan tubuh pemuda itu terlentang.

Pemuda itu masih pingsan. Agaknya hebat sekali pukulannya tadi. Wajah pemuda itu pucat dan dari ujung bibirnya mengalir sedikit darah. Bi Lan meraba dadanya dan ternyata pemuda itu masih bernapas, jantungnya masih berdenyut dan hatinya pun lega. Pemuda ini tidak boleh mati sebelum pedang pusakanya dikembalikan!

Penerangan api unggun makin menyuram oleh karena api unggun itu kehabisan bahan bakar. Dengan terpincang-pincang Bi Lan mencari tambahan kayu kering dan tak lama kemudian api unggun itu membesar lagi. Ia duduk dekat tubuh Hong Beng yang masih terlentang tak bergerak, seperti tidur, seperti mati. Dan Bi Lan termenung.

Yang terus teringat olehnya hanyalah bagaimana pemuda ini dengan kurang ajar sekali tadi telah merobek bajunya, menciumi pundaknya, mungkin juga dekat payudaranya, Teringat ini, mukanya menjadi panas sekali. Dan teringat pula ia betapa ketika siuman dia melihat pemuda itu seperti hendak memperkosanya, menciumi pundaknya yang telanjang. Ia tidak mampu menggerakkan kedua kaki tangan saking takutnya ia menjerit dan tak ingat apa-apa lagi.

Ketika ia siuman kembali, bagaimana pun juga ia merasa lega karena pakaiannya, terutama pakaian dalamnya, masih melekat di badannya. Akan tetapi pemuda itu masih membelai dan mengelus-elus pundaknya, maka pemuda itu lalu dihantamnya. Pemuda biadab! Ia membayangkan hal yang bukan-bukan dan bulu tengkuknya meremang. Hampir saja, pikirnya dan ia semakin marah.

Di bawah penerangan api unggun, ia melihat seekor nyamuk besar terbang dan hinggap di pipi Hong Beng. Dengan pandang matanya yang tajam ia melihat betapa nyamuk itu menghisap darah dari pipi itu, perutnya yang tadinya kempis putih itu perlahan-lahan berubah menghitam dan mengembung.

Perasaan tidak tega membuat ia mengangkat tangan ke atas, siap untuk memukul mati nyamuk itu. Tetapi perasaan lain mengatakan bahwa tidak sepantasnya ia mengasihani pemuda ini, Perasaan ini memaksanya mengingat betapa pemuda itu telah menciumi pundaknya dengan bibir dan pipi itu! Tangannya melayang turun.

“Plakkk!”

Nyamuk itu mati gepeng dan perutnya pecah, darah merah bergelimang di sekitar bangkai nyamuk itu.

Bi Lan menarik napas panjang untuk menekan perasaannya yang terpecah menjadi dua pihak yang bertentangan. Sepihak merasa puas bahwa ia telah membunuh nyamuk yang sedang menghisap darah pemuda yang sedang pingsan tak berdaya itu, akan tetapi lain pihak menyangkal dan mengatakan bahwa yang ia lakukan tadi adalah untuk melampiaskan panas hatinya, untuk menghukum karena pemuda itu tadi berani kurang ajar kepadanya. Walau pun sudah dibantahnya demikian, tetap saja ada dua macam kepuasan terasa di dalam hatinya, kepuasan karena membebaskan pemuda itu dari gangguan nyamuk dan kepuasan sudah menampar pemuda itu.

Kenyataan ini mengganggu hatinya dan Bi Lan mengalihkan perhatian kepada pahanya yang terluka. Celananya yang kanan melekat pada pahanya. Bagian paha itu terbuka dan nampak luka merah menganga, sudah tidak mengeluarkan darah lagi akan tetapi terasa amat nyeri, pedih dan panas. Untuk memeriksa luka ini, celana itu harus dibuka.

Hal ini tidak mungkin karena di situ ada orang lain, seorang lelaki pula! Merobek celana itu di bagian paha juga tidak mungkin karena pahanya akan terbuka dan telanjang dan hal ini amat memalukan. Bagaimana kalau pemuda kurang ajar itu nanti siuman dan melihat pahanya yang tidak tertutup?

Dengan hati-hati ia menguak celana yang terobek pedang itu untuk memeriksa lukanya. Perlu dicuci, pikirnya, dan harus cepat diberi obat luka. Kalau tidak, bisa berbahaya. Ia meraba-raba bajunya akan tetapi tidak dapat menemukan obat. Teringatlah ia bahwa obat-obatnya berada di dalam buntalan dan buntalan itu tentu saja sudah tercecer ketika ia berkelahi tadi. Semua pakaian bekalnya juga hilang.

Api unggun mulai mengecil dan akhirnya padam, hanya meninggalkan asap putih yang makin mengecil juga. Akan tetapi Bi Lan tidak menyalakannya kembali karena malam telah berganti pagi dan biar pun mataharinya sendiri belum nampak, namun sinarnya telah membakar ufuk timur dan mengusir kegelapan malam. Pagi itu dingin sekali, akan tetapi Bi Lan yang sibuk memeriksa luka di pahanya tidak memperhatikannya. Mulutnya mendesis-desis menahan rasa nyeri yang seperti menyusup ke dalam tulang-tulang, terutama di sekitar pahanya.

“Luka itu harus dicuci bersih dan aku mempunyai obat luka yang manjur.”

Bi Lan yang sedang tenggelam dalam perhatian memeriksa luka di pahanya, terkejut dan cepat menutupkan kembali kain celana robek itu pada pahanya. Mukanya merah dan seperti seekor kelinci ketakutan, ia sudah meloncat ke dekat Hong Beng akan tetapi ia mengeluh karena pahanya terasa semakin perih ketika ia meloncat dan luka di paha itu tergeser dan tergores kain.

Dengan jari-jari tangan mengancam kepala Hong Beng, Bi Lan menghardik, “Hayo kembalikan pedangku, kalau tidak, akan kucengkeram ubun-ubunmu sampai hancur!”

Ketika tadi siuman kembali, Hong Beng merasa betapa kaki tangannya lumpuh, bahkan terikat tali yang terbuat dari bajunya sendiri yang sudah robek-robek. Lalu dia teringat, dan hatinya merasa mendongkol bukan main. Celaka, pikirnya. Ini bukan hanya air susu dibalas tuba, bahkan lebih menjengkelkan lagi. Gadis itu bukan hanya tidak mengenal budi, bahkan jahat dan kejamnya seperti iblis! Dia harus berhati-hati karena nyawanya terancam di tangan gadis yang jahat seperti iblis ini.

Maka, walau pun sudah siuman, dia diam saja dan segera dia mengerahkan tenaga sinkang-nya. Tenaga sinkang yang dimiliki keluarga para pendekar Pulau Es memang hebat bukan main, berbeda dari pada sinkang dari aliran persilatan yang lain. Keluarga Pulau Es itu sudah mampu menguasai latihan untuk menghimpun tenaga sinkang, bahkan untuk mengendalikannya sedemikian rupa sehingga para pendekar Pulau Es dapat membuat tenaga sinkang itu menjadi panas seperti api dan dingin seperti es, juga dapat sekaligus menggunakan dua hawa tenaga yang berlawanan itu dengan kedua tangan.

Dengan penggunaan kedua hawa tenaga itu, akhirnya dalam waktu sebentar saja Hong Beng mampu membebaskan pengaruh totokan Bi Lan. Akan tetapi dia diam saja karena ikatan tali kain itu tidak ada artinya baginya. Dia hanya bersiap siaga, ingin melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh gadis yang jahat dan kejam seperti iblis betina itu.

Akan tetapi ketika dia melirik dan melihat betapa Bi Lan memeriksa luka di pahanya sambil mendesis-desis dan mengeluh dengan suara seperti akan menangis, bagai sikap seorang anak kecil yang cengeng, kemarahannya mencair dan dia pun merasa kasihan. Maka dia lalu memberi nasehat tadi agar luka itu dicuci dan bahwa dia mempunyai obat luka yang manjur.

Namun tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu memang benar-benar jahat. Kini gadis itu mengancam ubun-ubun kepalanya, siap membunuhnya sambil menanyakan pedang pusaka yang juga mengerikan itu. Kini tahulah dia mengapa gadis itu memiliki sebatang pedang yang demikian menyeramkan. Kiranya ia sendiri pun mempunyai watak yang mengerikan.

“Hemm, kau kira aku mencuri pedangmu yang ganas itu? Aku hanya menyimpannya. Pedang itu masih berada di bawah pohon di sana itu.” Hong Beng menunjukkan tempat pedang itu dengan pandang matanya.

Bi Lan menengok dan terpincang-pincang ia menghampiri pohon itu. Dan benar saja, Ban-tok-kiam menggeletak di situ. Cepat pedang itu diambilnya. Pedangnya sudah dia temukan dan kini pemuda itu harus dibunuhnya, untuk menghukumnya atas kekurang ajarannya. Ia pun terpincang-pincang kembali menghampiri Hong Beng yang diam-diam sudah siap siaga membela diri. Akan tetapi dia masih tetap rebah terlentang.

“Dan sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!” bentak Bi Lan sambil mengangkat pedangnya.

Hong Beng tersenyum mengejek. “Hemm, benar saja. Aku telah keliru menolong anak setan yang amat jahat.”

Bi Lan menahan pedangnya. “Siapa yang jahat?”

“Huh, siapa lagi kalau bukan engkau? Aku telah menyelamatkanmu, menolongmu, akan tetapi engkau hendak membalasnya dengan membunuhku. Apa namanya itu kalau tidak jahat seperti iblis?”

“Engkau yang jahat seperti iblis! Memang kau telah menolongku, tetapi pertolonganmu itu berpamrih keji. Semua kebaikanmu itu belum cukup untuk menghapus kekejian dan kekurang ajaranmu terhadap aku. Dibunuh sepuluh kali pun tetap masih belum dapat menghapus dosamu!”

Hong Beng membelalakkan kedua matanya. “Ehh… ehhh… engkau tidak hanya jahat dan kejam, akan tetapi bahkan licik dan pandai membalik-balikan kenyataan. Sungguh tak kusangka. Kau bilang aku jahat dan keji dan kurang ajar? Coba, di bagian mana aku jahat dan keji dan kurang ajar?”

Hong Beng benar-benar merasa penasaran sekali. Ingin dia merenggut lepas tali-tali itu dan menghajar gadis yang keterlaluan ini, akan tetapi dia masih ingin mendengarkan terus karena diam-diam dia merasa terheran-heran bagaimana ada gadis yang begini berani mati dan tanpa malu-malu memutar balikkan kenyataan.

Akan tetapi, sikap Hong Beng itu bahkan membuat Bi Lan menjadi semakin marah. “Hehh, kau laki-laki yang sombong dan engkaulah yang pura-pura suci. Apa yang kau lakukan tadi sewaktu aku pingsan? Engkau telah menciumku…”

“Ehhh…? Bohong seribu kali bohong! Aku tidak pernah menciummu!” bantahnya dan ada suara berbisik menyambung di dalam hatinya, “…walau pun aku ingin sekali kalau mungkin…!”

Heran sekali dia, mengapa ada mulut dapat nampak begitu manis biar pun mulut itu sedang cemberut dalam kemarahan! Dan lebih heran lagi dia, mengapa ada wajah yang begitu jelita tetapi memiliki mata yang demikian jahat dan kejam!

Sepasang mata itu mencorong seperti mengeluarkan sinar berapi. “Apa? Kaulah yang bohong, pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya sendiri. Ketika aku sadar dari pingsan, engkau menempelkan mulut dan hidungmu di pundakku. Apa lagi itu namanya kalau bukan mencium? Apa kau mau bilang bahwa kau hendak menggigit dan memakan daging pundakku? Dan ketika aku siuman untuk ke dua kalinya, engkau… engkau membelai dan meraba-raba pundakku. Keparat!”

Tiba-tiba Hong Beng tertawa sehingga Bi Lan yang sedang marah itu tertegun heran. Gilakah orang ini? Diancam mau dibunuh malah ketawa-tawa.

“Ha-ha-ha, jadi itukah sebabnya mengapa engkau jatuh pingsan lagi, dan kemudian kau menyerangku secara semena-mena?”

Hatinya lega bukan main. Kalau begitu, gadis ini sama sekali tidak jahat! Tadi gadis ini bersikap kejam karena marah dan merasa dihina, mengira dia seorang pria kurang ajar yang mempergunakan kesempatan selagi gadis itu pingsan, sudah berani mencium pundaknya lalu meraba-raba pundak dan mungkin lain tempat lagi! Itulah sebabnya gadis itu menjadi marah dan kejam! Bukan karena memang wataknya jahat.

“Ha-ha, nona, engkau salah kira. Aku tidak mencium pundakmu, juga tidak ingin makan daging pundakmu biar pun perutku memang lapar sekali.”

“Jangan coba menyangkal atau berkelakar. Aku tidak ketawa dan tidak merasa lucu! Kalau tidak mencium, lalu mau apa kau…?”

“Nona, aku memang menempelkan mulutku di pundakmu, akan tetapi bukan mencium, melainkan menyedot darah yang sudah tercampur racun dari luka di pundakmu.”

Bi Lan terkejut dan baru ia teringat bahwa ketika berkelahi, pundaknya terkena jarum beracun suci-nya dan menjadi lumpuh lengan kiri itu.

“Luka…?” Di pundak…?” ia tergagap.

“Terkena jarum beracun. Aku terpaksa menyedot darah yang keracunan itu, sekalian mengeluarkan jarumnya, lalu kugunakan sinkang untuk membantumu memulihkan jalan darahmu, dan menempelkan tanganku di pundak yang terluka itu…”

“Ahhh…!”

Bi Lan kini menggunakan tangan kirinya meraba-raba pundak dan memang masih ada lukanya di situ, luka kecil karena jarum, tetapi menjadi agak besar karena disedot dan kini sudah kering dan sudah tidak terasa nyeri sama sekali.

“Ahhh…!” kembali ia berseru bingung. Pedang yang dipegang oleh tangan kanan itu kini menurun.

“Ahhh…!” Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Menyesal, malu, dan ditambah pula perasaan nyeri di pahanya.

Melihat betapa gadis itu hanya dapat ber-ah-ah-uh-uh dengan canggung, Hong Beng merasa kasihan. “Luka di pahamu itu perlu dirawat, nona. Perlu dicuci bersih dan aku membawa obat luka yang manjur, yang tadi pun sudah kutorehkan pada luka di pundakmu. Aku belum berani merawat luka di pahamu karena khawatir kau…”

Bi Lan menarik napas panjang. Pengalamannya dengan Sam Kwi, kemudian dengan Bhok Gun, membuat ia bercuriga kepada setiap pria dan ia tadinya menduga bahwa pemuda ini pun tiada bedanya dengan yang lain. Akan tetapi ternyata ia salah duga, salah sekali.

“Aihh, aku telah keliru… kukira engkau… kiranya tidak demikian…”

Hong Beng tersenyum. “Hal itu tidak aneh, nona. Memang di dunia ini lebih banyak orang jahat dari pada yang benar. Akan tetapi, tentu engkau sekarang sudah percaya kepadaku, bukan?”

Melihat betapa pemuda itu memandang ke arah pedang Ban-tok-kiam yang masih terus dipegangnya dengan tangan kanan, Bi Lan cepat menyimpan pedangnya itu dengan muka merah.

“Tentu saja, aku telah salah sangka. Biar kulepaskan ikatan dan totokanmu…”

Akan tetapi gadis itu terkejut bukan main ketika ia hendak membuka totokan dan ikatan kaki tangan, tiba- tiba pemuda itu menggerakkan kaki tangannya dan semua ikatan itu pun putus dan pemuda itu bangkit duduk sambil tersenyum.

“Ahh, kau… kau…” Bi Lan tak melanjutkan kata-katanya dan memandang dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi semakin merah. “Tadi… kau kutotok dan kuikat…”

“Baik sekali itu, nona, demi keamanan karena kalau seorang yang dicurigai dibiarkan terlepas, tentu berbahaya.”

“Dan tadi… kuhantam dadamu, keras sekali. Kau tidak apa-apa…?” “Aku roboh pingsan. Memang hebat sekali pukulanmu tadi.”

“Maksudku, kau tidak terluka parah…?” Ucapan Bi Lan kini terdengar penuh dengan nada penyesalan.

Makin gembiralah hati Hong Beng karena dia kini merasa yakin bahwa dia tidak salah mengira ketika pertama kali bertemu dengan gadis ini di restoran. Gadis ini lain dengan suci-nya itu. Gadis ini polos dan murni, hanya agak liar dan penuh curiga.

Dia menggeleng kepala, tidak tega menggoda dan menambah penyesalan dalam hati gadis itu. “Pukulanmu tadi cepat sekali datangnya, dan untunglah aku masih sempat melindungi dadaku. Kalau tidak, tentu sudah berantakan isi dadaku tadi.”

“Ahhh, aku menyesal sekali. Sungguh aku jahat sekali, engkau sudah membantuku dan menyelamatkan aku, akan tetapi aku sejak pertama mencurigaimu. Kuanggap engkau kurang ajar ketika memondongku dan melarikan aku, kemudian engkau untuk kedua kalinya menyelamatkan aku dengan mengobati lukaku, akan tetapi aku malah makin curiga dan menyangka buruk. Ahhh, betapa jahatnya aku…”

“Sudahlah, nona. Salah sangka merupakan kelemahan semua orang. Mungkin karena engkau kurang pengalaman, dan kita belum saling mengenal, maka terjadilah kesalah pahaman itu. Lebih baik kau rawat dulu luka di pahamu, ini ada obat luka yang manjur. Pakailah. Ketika lari ke sini, di bawah itu terdapat sumber air. Mari kuantar…”

Bi Lan bangkit dan ketika Hong Beng mengulurkan tangan, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memegang lengan pemuda itu dan sambil terpincang-pincang, dibantu oleh Hong Beng, mereka menuruni lereng itu dan benar saja, tak jauh dari situ terdapat mata air yang mengeluarkan air jernih dari celah-celah batu dan menjadi anak sungai.

“Cucilah lukamu, aku menanti di sana.”

Hong Beng pergi meninggalkan gadis itu lalu duduk di atas sebuah batu, di tempat yang agak tinggi sehingga nampak oleh Bi Lan betapa pemuda itu duduk bersila di atas batu datar, membelakanginya. Kembali wajahnya terasa panas karena malu. Pemuda itu demikian sopan, akan tetapi tadi hampir dibunuhnya karena dianggapnya kurang ajar! Lain kali ia harus berhati-hati menilai orang dan tidak bertindak secara sembrono.

Dengan hati-hati ia kemudian merobek celananya lebih lebar sehingga luka di pahanya nampak nyata. Luka itu sebetulnya tidak seberapa lebar, hanya terluka oleh tusukan pedang, akan tetapi agak membengkak dan merah sekali. Biar pun terasa amat perih ketika disentuh air, tapi ia menggigit bibir dan tidak mau mengaduh, khawatir terdengar oleh pemuda itu.

Dicucinya luka itu sampai bersih, kemudian ia menaruh obat bubuk putih itu di atas luka itu sampai penuh dan tertutup, kemudian dibalutnya pahanya dengan kain putih dari ikat pinggangnya. Terasa dingin dan nyaman sekarang. Akan tetapi dengan sedih ia melihat celananya yang kini robek dan tak dapat menutupi lagi seluruh kakinya, juga bajunya di bagian pundak kiri sudah robek sehingga nampak kulit leher dan sebagian pundaknya.

Ia melihat bahwa pemuda itu masih duduk bersila di atas batu, menghadap matahari pagi yang sudah mulai muncul dengan sinarnya yang kuning keemasan, cerah sekali. Sedapat mungkin Bi Lan mencoba menutupi paha dan pundaknya yang nampak ketika ia menghampiri pemuda itu.

“Sudah kuobati luka di kakiku,” katanya sambil mengembalikan bungkusan obat luka.

Hong Beng memandang dan melihat betapa gadis itu dengan canggungnya mencoba untuk menutupi robekan celana dan bajunya. Ia segera mengambil bungkusannya dan mengeluarkan satu stel pakaiannya.

“Nona, pakaianmu robek-robek, kau pakailah pakaian ini untuk sementara sebelum kau mendapatkan pengganti yang pantas.”

Bi Lan menggeleng kepala. “Pakaianmu tentu terlalu besar untukku, juga, aku tidak suka memakai pakaian pria.” Ia melihat pakaiannya dan menarik napas panjang. “Kalau saja aku dapat menambal dan menjahit bagian yang robek, untuk sementara dapat dipakai sebelum mendapatkan yang baru…”

“Aku punya jarum dan benang! Dan untuk menambal, kau pergunakan ini.”

Tanpa ragu-ragu lagi Hong Beng merobek kain ikat pinggang yang panjang, berwarna putih, dan menyerahkan robekan kain itu bersama jarum dan benangnya kepada Bi Lan. “Akan tetapi, untuk menjahit pakaianmu, sementara engkau harus berganti dulu, nona. Kau pakailah dulu pakaian ini sebelum pakaianmu dijahit. Maukah kau kubantu? Aku pandai menjahit, dan aku akan menjahit pakaianmu yang robek…”

“Tidak!” kata Bi Lan cepat-cepat. “Aku akan menjahitnya sendiri!”

Hong Beng tersenyum. “Baiklah, kau berganti pakaian dan jahit pakaianmu yang robek. Aku mau mencari bahan makanan untuk kita.”

Setelah berkata demikian, Hong Beng meloncat dan lari memasuki sebuah hutan lebat yang berada di dekat puncak, tak jauh dari lereng itu.

Bi Lan cepat membawa satu stel pakaian Hong Beng dan masuk ke belakang semak-semak belukar. Ia menanggalkan pakaiannya sendiri dan memakai pakaian Hong Beng yang tentu saja terlalu besar untuknya itu sehingga ia harus menggulung kelebihan kaki celana dan lengan baju.

Ia nampak lucu setelah keluar dari balik semak-semak, membawa pakaiannya sendiri kembali ke batu besar tadi dan mulai menjahit serta menambal baju dan celananya sendiri yang robek-robek. Ia sudah biasa menggunakan jarum benang, maka sebentar saja baju dan celananya yang robek-robek itu telah dijahitnya dengan rapi dan rapat. Setelah Hong Beng kembali ia sudah berganti dalam pakaiannya sendiri dan pakaian Hong Beng yang tadi dipakainya telah dilipatnya lagi dengan rapi dan dikembalikan ke dalam buntalan pemuda itu.

Hong Beng dengan wajah berseri memperlihatkan dua ekor ayam hutan yang gemuk, yang dirobohkannya dengan sambitan jarum-jarumnya. “Lihat, ini bahan makanan untuk kita. Aku sudah lapar sekali.”

“Mari kubantu membersihkan bulu-bulu dan isi perutnya. Berikan padaku, akan kucuci di sumber air itu.” “Dan aku akan mempersiapkan api dan menanak nasi, juga mempersiapkan bumbu-bumbunya.”

“Nasi? Bumbu?”

Hong Beng tertawa kemudian ia mengeluarkan beras, panci, garam dan bumbu-bumbu sederhana dari dalam buntalannya, seperti bermain sulap saja. Bi Lan tersenyum dan ia sudah pulih kembali kesehatannya sehingga kegembiraannya juga timbul karena pada hakekatnya gadis itu berwatak periang dan jenaka.

“Bagus, akan makan enak kita hari ini! Perutku sudah lapar bukan main!”

Dan Bi Lan pun lalu berlari-lari kecil menuju ke sumber air. Ketika rasa nyeri pahanya membuatnya menjerit kecil, barulah dia teringat akan kakinya yang sakit dan dia pun melanjutkan lari dengan terpincang- pincang.

Hong Beng memandang sampai gadis itu lenyap di balik pohon-pohon. Menarik dan lucu, menyenangkan sekali gadis itu, pikirnya. Seorang gadis yang sangat baik, yang mungkin selama ini memperoleh pergaulan dengan orang-orang yang tidak patut. Baru dia teringat bahwa dia belum tahu siapa gadis itu, dari perguruan mana dan bagaimana riwayatnya. Mereka belum saling berkenalan, padahal sebentar lagi mereka sudah akan makan bersama. Akan tetapi dia tidak berani bertanya-tanya tentang diri gadis itu. Wataknya demikian aneh, jangan-jangan malah timbul lagi kecurigaannya kalau ditanya namanya.

Matahari telah naik tinggi saat keduanya duduk menghadapi nasi dan panggang daging ayam yang gemuk sambil berteduh di bawah pohon besar. Dengan lahap mereka lalu makan nasi dan daging ayam. Ketika Hong Beng mengeluarkan seguci arak, Bi Lan mengerutkan alisnya dan ia menggelengkan kepala dengan keras pada saat pemuda itu menawarkan arak padanya.

“Tidak, tidak…! Sampai mati pun aku tidak akan minum lagi minuman setan itu!” katanya dan ia lalu minum sedikit air jernih yang sejak tadi sudah ia siapkan di dalam panci.

“Nona, arak amat berguna seperti api. Jika dipergunakan menurut aturan, dia akan baik sekali bagi kesehatan. Akan tetapi kalau dibiarkan menguasai kita dan kita minum tanpa aturan, tentu akan mencelakakan dan merusak kesehatan. Arak ini bukan arak yang keras, sudah dicampur dengan air, kalau diminum setelah perut terisi makanan, akan menjadi penghangat tubuh.”

Pemuda itu lalu menuangkan sedikit arak ke dalam cangkir dan meminumnya sedikit demi sedikit dan kelihatan memang enak sekali. Apa lagi bau arak itu sedap. Tiba-tiba Bi Lan mengulurkan tangan.

“Coba beri aku sedikit saja,” katanya dan jantungnya berdebar khawatir.

Mengapa ia begitu percaya kepada pemuda ini? Bagaimana kalau pemuda ini seperti Sam Kwi atau seperti Bhok Gun dan melolohnya dengan arak sampai mabok? Akan tetapi, ketika Hong Beng mengulurkan tangan dan memberikan cangkir yang sudah diisi sedikit arak, dia menerima tanpa ragu, kemudian meminumnya sedikit demi sedikit, dikecupnya sedikit saja. Dan memang enak! Selain rasanya mengandung sedikit manis dan berbau sedap, juga kalau diminum sedikit tidak mencekik leher dan juga ada hawa panas yang enak memasuki perutnya.

Enak bukan main makan seperti itu. Hanya nasi dengan daging ayam yang dipanggang sederhana, dengan bumbu sederhana sekali, garam dan bawang serta kecap, dimakan panas-panas sambil duduk di atas rumput di tempat teduh, tanpa sumpit atau sendok atau pisau, hanya dengan lima jari tangan saja. Enak! Perut sudah lapar, tubuh lelah dan baru saja terlepas dari ancaman maut dan mengalami hal-hal yang menegangkan, itulah yang membuat hidangan sederhana menjadi lezat bukan main.

Berbahagialah orang yang sehat tubuh dan hatinya, sehat badan dan batinnya, di mana pun juga dia berada. Bagi orang yang sehat badannya, segalanya terasa nikmat. Panca indera yang sehat dapat menikmati segala yang dilihat, didengar, dicium, dimakan dan dirasakan. Tinggal menikmatinya saja! Segala sudah berlimpahan di sekelilingnya.

Akan tetapi, badan sehat harus pula dilengkapi dengan batin sehat. Kalau tidak, maka badan sehat itu pun tidak akan dapat menikmati segala yang ada, karena batinnya mencari dan mengharapkan keadaan yang lain dari pada yang dihadapinya, keadaan lain yang diharapkan dan dibayangkan lebih hebat, lebih baik, lebih menyenangkan dari pada yang telah ada. Pencarian ini, harapan ini otomatis melenyapkan keindahan dari keadaan yang sudah ada itu. Dan timbullah kekecewaan, tidak puas, penyesalan dan kedukaan.

Keadaan Hong Beng dan Bi Lan dapat dijadikan contoh suatu keadaan. Karena tubuh mereka sehat, lelah dan lapar, maka sudah sepatutnya kalau mereka dapat menikmati hidangan sederhana itu. Dan keadaan batin mereka pun pada saat itu sehat. Andai kata tidak demikian dan mereka membandingkan dengan keadaan lain yang hanya berupa harapan, makan dengan hidangan yang lebih lengkap, duduk di kursi dan menggunakan sumpit, dilayani dan segala macam keenakan lain yang tidak ada pada saat itu, dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan dapat makan selahap dan selezat itu!

Jelaslah bahwa segala macam keindahan dan keenakan bukan terletak pada benda di luar diri kita, melainkan tergantung sepenuhnya kepada batin dan badan kita sendiri. Sarana untuk dapat menikmati hidup ini bukanlah kekayaan, kedudukan, kepandaian, atau pun kekuasaan. Sarana yang mutlak hanyalah kesehatan badan dan batin.

Tawa bukan hanya milik orang kaya dan tangis bukan hanya bagian orang miskin. Tawa sebagai cermin suka dan tangis sebagai cermin duka akan selalu datang silih berganti mengombang-ambingkan manusia yang belum sehat badan dan batinnya. Orang yang memiliki segala-galanya dalam arti kata yang sedalam- dalamnya, orang yang mampu menikmati setiap tarikan napas, mampu menikmati setiap teguk air, mampu melihat dan mendengar keindahan segala sesuatu yang nampak dan terdengar, adalah orang yang bijaksana. Orang bijaksana tidak tersentuh dalam arti kata terseret suka duka. Orang bijaksana adalah orang yang sehat badan dan batinnya.

“Tidak mau tambah lagi? Ini nasinya masih, dagingnya juga masih banyak,” Hong Beng menawarkan. Bi Lan menggeleng kepala dan minum air jernih. “Cukup, aku sudah kenyang sekali.”

“Araknya lagi? Sedikit lagi pun tidak apa-apa.”

Kembali Bi Lan menggeleng kepala. “Teruskan makanmu sampai kenyang. Aku sudah cukup, lebih dari cukup.” Ia lalu menggunakan air untuk mencuci kedua tangannya yang masih berlepotan minyak gajih ayam yang gemuk tadi.

Hong Beng kemudian melanjutkan makannya, nampak enak sekali. Bi Lan lalu menatap dan mengamati wajah pemuda itu. Seorang pemuda yang mukanya bersih dan cerah, berkulit kuning dan tampan. Akan tetapi, seorang pemuda yang sederhana. Sederhana lahir batinnya. Bukan hanya pakaian yang berwarna biru dengan sabuk putih itu yang sederhana, juga sepatunya yang sudah hampir butut, melainkan juga muka yang bersih itu tidak pesolek.

Rambut yang hitam gemuk itu tidak berbekas minyak seperti rambut Bhok Gun yang mengkilap dan berbau wangi. Tidak, pemuda ini tidak pesolek meski dalam ketampanan tidak kalah oleh Bhok Gun. Sikapnya membayangkan batin yang sederhana. Selalu nampak rendah hati, padahal, dengan ilmu kepandaian seperti itu, biasanya orang akan menjadi sombong dan besar kepala, tinggi hati. Seorang pemuda yang bahkan terlalu sederhana, akan tetapi justru di situlah letak daya tariknya.

“Sekarang aku sudah yakin benar bahwa engkau tidak mempunyai niat buruk terhadap diriku…” “Terima kasih, legalah hatiku kalau tidak dicurigai lagi,” kata Hong Beng memotong.

“Tapi…” Sepasang mata jeli itu menatap tajam, seolah-olah sinarnya ingin menembus dan menjenguk isi hati pemuda itu. “… lalu kenapa engkau bersusah payah menolongku ketika aku dikepung, dan mengobatiku ketika aku terluka jarum beracun? Kalau tidak ada pamrihmu, untuk apa engkau menolongku? Kita bukan sahabat, bahkan juga bukan kenalan, kenapa engkau membantu aku dan menentang mereka?”

Hong Beng menyuapkan segenggam nasi ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan-lahan sambil mengamati wajah yang manis itu. Seorang dara cantik sekali, cantik manis meski kulit muka yang putih mulus itu tidak berbau bedak dan gincu. Manis, terutama sekali mulut yang kecil mungil itu, dengan lesung pipit di kanan kirinya yang nampak membayang kalau bicara, nampak mengintai kalau cemberut, dan nampak cerah dan jelas kalau tersenyum. Sepasang mata itu bersinar-sinar penuh gairah dan semangat hidup, penuh kegembiraan. Seorang gadis yang manis.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan semua itu? Jawablah agar aku tidak merasa penasaran.”

Hong Beng menelan makanan dalam mulutnya. Sebelum menjawab, dia menghabiskan sisa arak dalam cangkirnya. “Nona, sejenak aku tak mampu menjawab. Pertanyaanmu itu sangat aneh terdengar olehku. Mengapa seseorang menolong orang lain? Mengapa seseorang melakukan gangguan kepada orang lain? Mengapa orang selalu melakukan kebaikan atau keburukan terhadap orang lain? Nona, kalau menurut pendapatmu, anehkah kalau orang menolong orang lain tanpa pamrih?”

“Tentu saja aneh, bahkan tak masuk akal! Segala perbuatan kita tentu terdorong oleh sesuatu pamrih, untuk mencapai sesuatu, atau memiliki tujuan tertentu. Kalau tadi aku memukulmu, hendak membunuhmu, tentu ada sebabnya, bukan? Sebabnya, karena engkau kuanggap jahat. Dan jika sekarang aku mau makan minum bersamamu, duduk bercakap-cakap, tentu ada sebabnya pula, karena kini aku percaya padamu sebagai seorang yang baik. Nah, tentu ketika kau menolongku tadi, ada pamrihnya.”

Hong Beng bengong. Alasan-alasan itu sungguh mengandung kebenaran bagi manusia pada umumnya. Akan tetapi sekaligus membuka mata betapa kotornya kalau setiap perbuatan itu mengandung pamrih.

Katakanlah pertolongannya terhadap Bi Lan berpamrih, maka pamrihnya itu tentu kotor. Apa yang kiranya dapat diharapkannya dari gadis ini? Satu-satunya tentu karena gadis ini manis, dan pamrihnya tentu dikuasai nafsu birahi. Tidak! Sama sekali tidak demikian yang mendorongnya menolong gadis itu.

“Nona, bagiku, apa yang telah kulakukan terhadap dirimu tadi bukanlah perbuatan yang didorong oleh pamrih, melainkan didorong oleh perasaan iba terhadap yang tertindas, dan perasaan menentang terhadap segala macam kejahatan. Perbuatan tadi kuanggap sebagai suatu keharusan, sebagai suatu kewajiban. Andai kata bukan engkau yang tadi terancam maut, andai kata seorang laki-laki pun, atau seorang nenek tua buruk sekali pun, tetap saja aku akan turun tangan dan berusaha menyelamatkannya.”

Bi Lan mengerutkan alisnya dan nampak kepalanya sedikit bergoyang. Agaknya sukar baginya menerima alasan ini. Di dalam dunia Sam Kwi yang dikenalnya sejak ia masih kecil, segala perbuatan tentu ada pamrihnya, pamrih untuk kepentingan diri sendiri, untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri.

Akan tetapi dia lalu teringat bahwa suhu dan subo-nya dari Istana Gurun Pasir pernah mengatakan bahwa seorang yang berjiwa pendekar harus selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong orang-orang yang lemah tertindas, dan menggulung lengan baju menentang orang-orang yang kuat dan jahat.

“Engkau seorang pendekar?” tiba-tiba ia bertanya sambil menatap wajah itu. Hong Beng sudah selesai makan dan sedang mencuci kedua tangannya seperti yang dilakukan Bi Lan tadi.

Hong Beng menggeleng kepala. “Pendekar bukanlah suatu kedudukan atau pangkat, nona. Penilaiannya terserah kepada si penilai, tergantung dari sepak terjangnya dalam kehidupannya. Aku seorang manusia biasa saja yang kebetulan bertemu denganmu di rumah makan itu, dan merasa curiga terhadap orang- orang berpakaian merah itu sebab aku sudah mendengar tentang adanya Ang-i Mo-pang yang kabarnya kini merajalela di Kun-ming. Karena itulah aku diam-diam membayangimu. Ketua Ang-i Mo-pang itu lihai sekali dan juga jahat. Melihat kau dikepung dan terancam bahaya, dengan melupakan kebodohan sendiri aku pun kemudian terjun ke dalam perkelahian dan untung dapat melarikanmu.”

Bi Lan mengangguk-angguk. “Kalau begitu engkau adalah seorang pendekar! Siapakah namamu?”

Girang hati Hong Beng. Sejak tadi dia ingin sekali berkenalan dengan nona ini, akan tetapi tidak berani bertanya nama. Sekarang gadis itu menanyakan namanya, berarti mereka menjadi kenalan dan dia tentu akan mendengar tentang keadaan nona yang menarik hatinya ini.

“Namaku Gu Hong Beng, nona. Dan siapa kau, nona?”

“Aku Can Bi Lan, tapi guru-guruku dan suci-ku menyebut aku Siauw-kwi.”

Hong Beng tertawa. “Aihhh, guru-gurumu dan suci-mu tentu hanya berkelakar. Masa orang seperti nona ini disebut Iblis Cilik?”

“Benar, aku disebut Siauw-kwi. Kami semuanya memakai sebutan Iblis. Aku Iblis Cilik, suci-ku disebut Iblis Cantik, dan tiga orang guru kami dikenal sebagai Tiga Iblis…”

“Kau maksudkan… Sam Kwi…?”

“Benar. Aku dan suci adalah murid-murid Sam Kwi yang terdiri dari Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, dan Iblis Mayat Hidup…”

“Ahhh…! Ohhh…” Hong Beng terbelalak.

“Kenapa kau ber-ah-oh seperti sedang gagu?”

“Aku pernah mendengar bahwa Sam Kwi adalah tiga datuk kaum sesat yang namanya pernah menggegerkan dunia persilatan di barat dan selatan.” “Benar, habis mengapa?”

“Nona…”

“Nanti dulu! Jemu aku jika mendengar engkau menyebutku nona-nona segala macam. Namaku Bi Lan dan engkau boleh menyebutku Bi Lan atau Siauw-kwi, terserah, akan tetapi jangan nona-nonaan!”

Hong Beng mengangguk-angguk. Kini sikap Bi Lan sudah tidak dianggapnya lucu lagi. Pantas sikapnya demikian liar, kiranya gadis ini murid Sam Kwi.

“Bi Lan, kalau suci-mu itu murid Sam Kwi, memang tepat. Akan tetapi siapa mau percaya bahwa engkau murid Sam Kwi? Engkau begini… begini… polos, jujur dan baik. Sukar dipercaya bahwa kau murid Tiga Iblis itu.”

“Percaya atau tidak terserah. Dan bagaimana pun juga, Sam Kwi adalah tiga orang tua yang menyelamatkan aku, menjadi pengganti orang tuaku, guru-guruku, dan juga amat sayang kepadaku.”

Hong Beng menggelengkan kepala perlahan. Sungguh luar biasa.

“Menurut pendengaranku, Sam Kwi adalah tiga orang datuk kaum sesat yang sangat kejam dan jahat. Dan engkau, yang menjadi muridnya, begini baik dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang demikian baiknya. Luar biasa. Apakah kau sejak kecil menjadi murid mereka, Bi Lan?”

Gadis itu mengangguk. Wataknya memang polos dan kasar, walau pun kekasaran yang tadinya liar itu sudah menjadi jinak dan tahu aturan semenjak ia digembleng oleh suami isteri sakti Kao Kok Cu dan Wan Ceng.

“Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku bersama ayah dan ibu melarikan diri dari selatan karena di sana ada perang pemberontakan yang dibantu pasukan-pasukan Birma. Di tengah perjalanan kami dihadang pasukan Birma yang jahat dan ayah ibu tewas oleh mereka. Aku diselamatkan oleh Sam Kwi dan sejak itu aku diambil murid mereka yang ke dua.” Menceritakan ini, Bi Lan teringat akan kematian orang tuanya dan wajahnya diselimuti awan kedukaan.

“Ahh, nasibmu sungguh buruk, Bi Lan. Engkau kehilangan orang tuamu sejak kecil dan terjatuh ke dalam tangan tiga orang datuk sesat yang jahat.”

Betapa pun jahatnya Sam Kwi, Bi Lan tidak menganggap mereka jahat, apa lagi karena ia tahu betapa besar rasa sayang mereka kepadanya dan betapa ia telah diselamatkan oleh mereka. Karena itu, mendengar celaan ini, ia merasa tidak senang dan seketika kedukaannya hilang. Bagi murid Sam Kwi memang tidak boleh tenggelam ke dalam kedukaan, demikian ajaran mereka.

“Ketiga suhu-ku tidak jahat!” bantahnya. “Sudahlah, Hong Beng. Engkau minta aku bicara tentang diriku saja, sedangkan engkau belum bercerita tentang dirimu. Engkau tentu seorang pendekar, bukan?”

Hong Beng menggeleng kepala dan alisnya berkerut. “Tidak banyak perbedaan antara nasibmu dan nasibku, Bi Lan. Ketika aku berusia sebelas tahun, terjadi mala petaka menimpa ayah ibuku. Mereka tewas di tangan pembesar di Siang-nam. Aku sendiri hampir mereka bunuh, akan tetapi muncul seorang pendekar sakti yang menyelamatkan aku dan kemudian aku diambil sebagai murid. Guruku itu bernama Suma Ciang Bun, seorang pendekar keluarga Pulau Es.”

“Ihhh…!” Bi Lan meloncat bangkit ke belakang dan memandang tajam. Melihat sikap gadis itu, Hong Beng terkejut dan dia pun bangkit berdiri.

“Kenapa, Bi Lan?” Hong Beng bertanya heran dan khawatir.

“Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dia adalah musuh besar ketiga orang guruku! Bahkan dahulu suci pernah diutus oleh mereka untuk mencari pendekar itu dan untuk membalaskan sakit hati mereka karena mereka pernah dikalahkan oleh pendekar itu. Akan tetapi sayang, pendekar itu telah meninggal dunia. Jadi engkau termasuk murid Pulau Es?”

“Suhu-ku adalah cucu dari Pendekar Super Sakti yang bernama Suma Han, akan tetapi menurut suhu, Pulau Es sudah lenyap bersama kakek itu. Aku belum pernah melihat Pulau Es. Bi Lan, kuharap engkau sebagai murid Sam Kwi tidak akan memusuhi anak murid Pulau Es yang tidak tahu menahu tentang permusuhan antara tiga orang suhu-mu dengan mendiang Pendekar Super Sakti.”

Bi Lan menggeleng kepala. “Aku tidak pernah berjanji kepada mereka untuk memusuhi keturunan Pulau Es. Akan tetapi suci yang pernah berkata bahwa ia akan membasmi semua keturunan Pulau Es untuk membalaskan kekalahan Sam Kwi. Hemm, kiranya engkau masih murid dari cucu pendekar itu, pantas engkau amat lihai dan engkau pun berwatak pendekar. Hong Beng, aku tidak memusuhimu, hanya terkejut mendengar engkau murid keluarga Pulau Es. Belum kau ceritakan, engkau dari mana dan hendak pergi ke mana.”

“Aku diutus oleh suhu untuk suatu tugas penting di kota raja, akan tetapi aku lebih dulu pergi ke selatan untuk mengunjungi makam ayah ibuku. Malam tadi aku bermalam di makam itu dan pagi tadi kebetulan bertemu dengan engkau dengan suci-mu. Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah?”

“Aku dan suci juga menerima tugas dari Sam Kwi untuk mencari dan merampas kembali sebuah pusaka. Sebetulnya, suci yang melaksanakan tugas-tugas itu, dan aku sudah berjanji untuk membantu suci.”

“Satu lagi pertanyaanku, Bi Lan. Pedangmu itu…! Sungguh mati aku merasa ngeri melihat pedang itu. Sebuah pedang pusaka yang luar biasa, mengandung hawa yang menyeramkan. Apakah pedang itu pemberian Sam Kwi kepadamu?”

Bi Lan meraba gagang pedang di balik bajunya dan tersenyum. Manisnya kalau dia tersenyum! “Bukan, Hong Beng. Ini pemberian atau lebih tepat lagi, dipinjamkan oleh subo kepadaku.”

“Subo-mu? Ahh, maksudmu tentu isteri seorang di antara Sam Kwi.”

“Bukan! Belum kuceritakan tadi kepadamu bahwa selain Sam Kwi, aku masih memiliki seorang suhu dan subo lain yang sama sekali tak boleh disamakan dengan Sam Kwi. Mereka adalah penolong-penolongku dan juga guru-guruku yang sangat kuhormati. Ketahuilah, ketika aku menjadi murid Sam Kwi, yang melatih aku dalam ilmu silat bukan Sam Kwi sendiri melainkan suci-ku, Bi-kwi. Dan suci telah sengaja melatih aku secara keliru, menyelewengkan latihan-latihan itu sehingga aku hampir menjadi gila karena keliru latihan. Untung aku bertemu dengan suhu dan subo itu yang mengobatiku, dan melatihku selama setengah tahun. Dan pada saat kami saling berpisah, subo memberi pinjam pedangnya ini dan kelak aku akan mengembalikannya kepada mereka di Istana Gurun Pasir.”

Kini Hong Beng melonjak kaget, matanya terbelalak memandang wajah gadis itu. “Apa kau bilang tadi? Istana Gurun Pasir? Gurumu itu…?”

“Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya.”

“Ahhh…! Aku telah bersikap kurang hormat…!” Hong Beng lalu menjura kepada Bi Lan.

Gadis itu tertawa. “Hi-hi-hik, apa-apaan kau ini Hong Beng? Apakah penghormatan itu dilakukan karena sebuah nama?”

“Tentu saja. Nama besar dan nama baik mendatangkan perasaan menghormat. Kiranya engkau menjadi murid pula dari locianpwe Kao Kok Cu yang sakti! Luar biasa sekali! Suhu-ku pernah bercerita kepadaku tentang pendekar sakti itu yang membuat hatiku kagum bukan main. Bahkan suhu memesan kepadaku agar supaya aku pergi mencari puteranya yang bernama Kao Cin Liong. Akan tetapi bagaimana pedang milik isteri pendekar sakti itu begitu… begitu… mengerikan?”

“Subo juga mengatakan bahwa pedang ini bukan pedang sembarangan dan memiliki hawa yang mengerikan, namanya Ban-tok-kiam dan subo melarang aku menggunakan pedang ini sembarangan saja, hanya boleh dipergunakan untuk membela diri. Memang hebat dan kurasa umurnya sudah amat tua. Lihat, bukankah pedang ini hebat bukan main?”

Dicabutnya pedang Ban-tok-kiam itu dari sarungnya. Hong Beng langsung merasa bulu tengkuknya meremang melihat sinar pedang yang hijau kehitaman dan mengandung hawa menyeramkan itu. Dengan ngeri dia membayangkan entah sudah berapa banyak darah manusia diminum pedang ini, dan entah berapa banyak nyawa diantar ke alam baka.

“Omitohud…! Pedang yang hebat!”

Tiba-tiba terdengar suara orang dan tahu-tahu di depan Bi Lan sudah berdiri seorang kakek bertubuh tinggi besar gendut, berkepala gundul dan mengenakan jubah yang biasa dipakai oleh pendeta Lama dari Tibet, yaitu jubah yang berkotak-kotak kuning dan merah.

Sukar menaksir berapa usia kakek ini. Selain tubuhnya yang tinggi besar dengan perut gendut itu amat menarik perhatian, juga wajahnya seperti seekor singa, penuh cambang bauk dan brewok, amat berlawanan dengan kepalanya yang dicukur kelimis. Muka itu benar-benar mirip muka singa, dan yang lebih mengerikan lagi, bulu atau rambut di mukanya itu, yang sebenarnya adalah cambang, kumis dan jenggot, berwarna agak kuning dan mengkilap seperti benang sutera emas. Sepasang matanya mencorong dan mulutnya lebar tersenyum penuh ejekan.

Hong Beng merasa terkejut bukan main. Kakek yang melihat pakaiannya tentu seorang pendeta Lama dari Tibet ini dapat muncul begitu saja tanpa diketahuinya, bahkan Bi Lan agaknya juga tidak tahu. Tiba-tiba saja kakek itu muncul di dekat mereka. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek itu tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

“Omitohud… pusaka yang bagus sekali…,” kembali kakek itu berkata sambil kakinya melangkah ke arah Bi Lan.

“Bi Lan, hati-hati…!” Hong Beng berseru dan menerjang ke depan ketika dia melihat pendeta itu membuat gerakan aneh.

Namun terlambat. Nampak bayangan merah dan tahu-tahu jubah lebar kakek itu sudah meluncur dan bagaikan sebuah jala, jubah itu menerkam ke arah Bi Lan. Gadis ini gelagapan karena tidak dapat melihat apa-apa dan tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang amat kuat, dengan jari-jari besar panjang, telah mencengkeram tangan kanannya yang memegang gagang pedang. Seperti akan patah-patah semua jari tangannya ketika dicengkeram tangan itu.

Pada saat itu, Hong Beng yang sudah menaruh curiga namun karena gerakan kakek itu amat cepat sehingga dia kalah dulu, sudah menyerang dengan tamparan yang kuat ke arah leher kakek itu. Kakek itu menggunakan tangan kiri mencengkeram tangan Bi Lan, sedangkan lengan kanannya digerakkan untuk menangkis tamparan Hong Beng.

“Dukkk…!”

Tubuh Hong Beng terpelanting dan dia hampir roboh. Pemuda itu terkejut bukan main dan meloncat ke samping.

Sementara itu, Bi Lan tak mampu mempertahankan pedangnya yang sudah berpindah tangan. Ketika kakek itu menarik kembali jubahnya sedangkan pedang sudah berpindah ke tangan kirinya, Bi Lan menyerang dengan marah, menggunakan pukulan Sin-liong Ciang-hwat. Kakek itu, sambil mengamati pedang dengan mulut menyeringai, hanya mengangkat lengan kanan menangkis.

“Dukkk…!”

Akibatnya, tubuh Bi Lan terdorong ke belakang, akan tetapi juga kakek itu terhuyung.

“Omitohud…! Kalian ini orang-orang muda yang hebat. Dan pedang ini hebat pula. Apa namanya tadi? Ban-tok-kiam? Pedang yang bagus!” Dia mengamati pedang itu dengan wajah gembira sekali.

Hong Beng dan Bi Lan sudah memasang kuda-kuda, menghadang kakek itu dari kanan dan kiri. “Orang tua, kembalikan pedangku!” Bi Lan membentak dan memandang marah.

“Locianpwe, harap suka mengembalikan pusaka itu kepada pemiliknya,” Hong Beng juga membujuk, bicara dengan sopan karena dia dapat menduga bahwa pendeta ini tentu seorang sakti yang agaknya kagum dan tertarik melihat Ban-tok-kiam.

“Ha-ha-ha-ha….!” Kakek itu tertawa dan dua orang muda itu segera terkejut dan cepat mengerahkan sinkang-nya. Suara ketawa kakek itu mengandung getaran hebat seperti auman seekor singa marah!

“Ban-tok-kiam ini hanya pantas berada di tangan Sai-cu Lama, ha-ha-ha-ha…!” Suara ketawanya yang terakhir semakin hebat dan kuat getarannya sehingga dua orang muda itu sampai menahan napas memperkuat pengerahan sinkang mereka.

“Wuutt… singg-singg…!”

Nampak sinar hitam berkelebatan ketika kakek itu menggerakkan Ban-tok-kiam ke kiri kanan. Hong Beng dan Bi Lan terpaksa meloncat mundur karena Ban-tok-kiam memang hebat sekali, apa lagi digerakkan dengan tenaga yang demikian besarnya. Mereka siap siaga untuk merampas kembali pedang itu, namun mereka berhati-hati karena maklum bahwa kakek itu lihai bukan main.

Dan kakek itu sambil tertawa-tawa agaknya memandang rendah mereka dan mengobat-abitkan pedang itu ke kanan kiri seperti orang yang menakut-nakuti anak kecil.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, datangnya dari jauh sekali. Tetapi suara lengkingan itu terdengar begitu jelas dan mendadak saja wajah pendeta Lama yang mengaku bernama atau berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Singa) itu nampak terkejut dan pandang matanya liar diarahkan ke bawah lereng bukit dari mana suara itu datang.

“Demi iblis neraka! Dia sudah datang lagi!” katanya lirih dan tiba-tiba saja dia melompat ke belakang. “Hei, kembalikan pedangku!” Bi Lan mengejar.

Akan tetapi mendadak kakek itu menyambutnya dengan serangan Ban-tok-kiam yang ditusukkan ke arah perut gadis itu. Bi Lan cepat mengelak, akan tetapi kakek itu sudah melompat dan berlari cepat sekali, menghilang ke dalam hutan di sebelah barat lereng itu. Bi Lan bersama Hong Beng melakukan pengejaran, akan tetapi biar pun mereka sudah mencari-cari sampai lama, kakek yang merampas Ban-tok-kiam itu tak nampak lagi bayangannya.

“Celaka…!” Bi Lan hampir menangis. Dia marah sekali dan membanting-banting kaki kanannya sampai tanah di depannya itu melesak ke bawah. “Pusaka pinjaman dari subo itu telah dirampas iblis tua bangka tadi. Celaka…!”

“Tenanglah, Bi Lan. Setidaknya kita sudah mengenal nama julukannya. Sai-cu Lama, nama yang asing bagiku. Dia adalah seorang pendeta, agaknya dia tidak bermaksud buruk, hanya meminjam pusaka itu karena tertarik, dan tidak akan merampasnya begitu saja. Aku percaya bahwa sebagai seorang pendeta, dia akan mengembalikan pusaka itu. Tadi dia pergi karena terkejut mendengar suara melengking itu, entah siapa yang membuatnya begitu kaget dan ketakutan.”

“Kalau aku tidak percaya! Aku tidak percaya kepada segala macam pendeta. Biasanya, jubah pendeta itu hanya untuk kedok supaya kejahatannya tidak nampak.” Gadis itu cemberut. “Buktinya, begitu jumpa dia sudah merampas pedangku. Kalau dia tidak ingin merampas, mengapa tadi dia menyerang kita? Bahkan tusukannya yang terakhir tadi amat berbahaya dan kalau aku tidak cepat mengelak, tentu aku sudah mati. Tidak, dia bukan manusia baik-baik.”

Hong Beng tidak mau membantah karena dia tahu bahwa gadis itu sedang jengkel dan marah. “Aku akan membantumu mencari pendeta itu dan minta kembali pusakamu. Biar pun aku belum mengenal nama Sai- cu Lama, tetapi seorang dengan ilmu kepandaian setinggi itu tentu dikenal di dunia kang-ouw dan aku akan menyelidiki di mana aku dapat mencarinya.”

“Aku harus cepat melapor kepada subo kalau aku tidak mampu merampasnya kembali. Ahhh, subo tentu akan kecewa dan marah kepadaku…” Dengan cemberut Bi Lan dan Hong Beng lalu keluar dari dalam hutan itu.

“Sstttt!” Tiba-tiba Hong Beng berbisik dan menuding ke depan.

Dari tempat mereka berdiri, di luar hutan itu, mereka melihat seorang kakek berkepala gundul sedang berjalan perlahan-lahan menuruni lereng.

“Keparat, tentu dia orangnya…!” Bi Lan berteriak dan cepat gadis ini melompat ke depan dan melakukan pengejaran.

“Bi Lan, nanti dulu…!” Hong Beng berseru dan terpaksa mengejar pula dengan cepat karena dia tidak ingin gadis itu salah tangan. Dari jauh dia sudah melihat bahwa biar pun orang yang baru berjalan menuruni lereng itu juga berkepala gundul, akan tetapi jubahnya yang lebar itu berwarna kuning, bukan kotak-kotak merah kuning seperti yang dipakai oleh Sai-cu Lama tadi.

Kini Bi Lan sudah tiba di dekat kakek gundul itu dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah mengirim pukulan dari samping. Hebat sekali pukulan gadis ini, sebab saking marahnya, ia sudah mengeluarkan satu di antara pukulan yang oleh subo-nya sudah dipesan agar tidak sembarangan mempergunakannya, seperti juga pedangnya, yaitu Ilmu Pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun).

Itulah sebuah pukulan yang dilakukan dengan pengerahan sinkang tertentu, tidak terlalu keras nampaknya, akan tetapi pukulan ini mengandung hawa beracun yang sudah merendam tangan Bi Lan ketika dilatih oleh subo-nya.

“Wuuuttttt…!” Nampaknya kakek gundul itu hanya bergerak sedikit saja, akan tetapi, nyatanya pukulan Bi Lan itu hanya mengenai tempat kosong.

“Bi Lan, tahan dulu…!” Hong Beng yang sudah tiba di situ cepat memegang lengan gadis itu. “Lihat, dia bukanlah pendeta tadi!”

Bi Lan juga sudah tahu bahwa orang itu bukanlah Sai-cu Lama. Dia seorang kakek berkepala gundul, bertubuh sedang dan masih tegap meski usianya tentu sekitar tujuh puluh tahun. Jubahnya warna kuning, melibat-libat tubuh yang memakai pakaian serba putih dari kain kasar. Seorang pendeta yang sederhana, matanya tajam dan mulutnya seperti tersenyum mengejek. Dia berdiri dan memandang dua orang muda di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik.

“Dia juga seorang yang berjubah pendeta, tentu lihai seperti tadi. Mungkin sekutunya! Para pendeta itu memang bersekutu dan saling bantu dalam melakukan kejahatan. Orang tua jahat, kembalikan pedangku!”

Bi Lan kembali menyerang dan melihat sepasang mata pendeta itu demikian tajam dan mulutnya tersenyum mengejek, timbul juga kesan buruk dalam hati Hong Beng dan dia pun membantu Bi Lan menyerang. Kalau Bi Lan kini menggunakan pukulan dari Ilmu Sin-liong Ciang-hoat, Hong Beng yang dapat menduga akan kelihaian pendeta ini, juga sudah menggunakan tenaganya dan menyerang dengan ilmu ampuh dari Pulau Es, yaitu Hong-in Bun-hoat!

Ilmu ini adalah ilmu silat yang sangat halus dan indah gerakannya, sesuai dengan namanya, Silat Sastera Awan dan Angin! Tubuhnya bergerak perlahan, dua tangannya membuat coretan-coretan di udara seperti menulis huruf, akan tetapi jari-jari tangan itu merupakan alat menyerang yang amat ampuh. Kakek pendeta itu nampak kaget juga menghadapi serangan gadis dan pemuda itu.

“Dari mana bocah-bocah tolol ini menguasai ilmu-ilmu ini!” bentaknya.

Dia pun cepat bergerak ke belakang untuk mengelak, lalu mendadak dia mengeluarkan suara melengking panjang. Jari-jari tangannya bergerak bagaikan ujung-ujung pedang membalas serangan dua orang muda itu sehingga Bi Lan dan Hong Beng terkejut dan cepat berloncatan ke belakang karena serangan balasan pendeta itu benar-benar hebat. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hati mereka adalah suara melengking tadi karena mereka teringat bahwa Sai-cu Lama tadi pun seperti orang yang lari terbirit-birit karena terkejut dan takut mendengar suara melengking ini.

Melihat dua orang muda itu tertegun, kakek itu lalu mengangkat tangan kanan ke atas. “Omitohud, kalian ini bocah-bocah sungguh lancang, mempergunakan ilmu-ilmu yang demikian tinggi dan pilihan hanya untuk menyerang seorang tua tanpa sebab. Sungguh keji!”

Wajah Hong Beng sudah menjadi merah sekali karena malu dan menyesal. Memang sungguh tak patut menyerang seorang kakek tua renta, berpakaian pendeta pula, tanpa sebab yang jelas. Akan tetapi Bi Lan memandang kakek itu dengan mata melotot, dia marah sekali.

“Engkau ini kakek berpakaian pendeta, tentu jahat seperti yang lain! Kepala gundul dan jubahmu itu hanya sebagai kedok untuk menutupi kejahatanmu!” Bi Lan berkata dengan suara lantang.

“Omitohud…!” Kakek pendeta itu berkata lirih sambil tersenyum geli. “Betapa cocok pendapatmu itu dengan pendapatku ketika aku masih muda dahulu. Akan tetapi engkau keliru, nona, seperti kelirunya kebanyakan orang. Ada yang beranggapan bahwa semua pendeta adalah manusia-manusia baik karena mereka itu beribadat dan mentaati agama, sebagian pula menyatakan bahwa mereka hanyalah munafik-munafik. Ada yang beranggapan bahwa golongan ini baik dan golongan itu tidak baik. Semua anggapan itu tidak benar sama sekali. Baik tidaknya seorang manusia tergantung dari diri manusia itu sendiri, tidak dari agamanya, golongannya, bangsanya, kedudukannya dan sebagainya. Jika ada seorang beragama yang menyeleweng, bukan agamanya tetapi manusianya itulah yang menyeleweng. Agama, kepandaian, kedudukan, golongan, bangsa, semua itu hanya merupakan pelengkap saja, pelengkap kebutuhan hidup bermasyarakat. Baik buruknya segalanya itu adalah si manusia itu sendiri yang menentukan. Jadi, mungkin saja ada seorang pendeta yang menyeleweng, akan tetapi juga tidak kurang yang benar-benar hidup saleh. Jangan menyama ratakan saja karena setiap orang manusia itu memiliki tingkat kesadarannya masing-masing meski kedudukannya mungkin sama.”

Hong Beng sudah dapat menduga bahwa pendeta ini tidak sama dengan yang tadi, bahkan melihat sikap Sai-cu Lama tadi, yang kelihatan ketakutan mendengar suara melengking yang jelas dikeluarkan oleh hwesio ini, mungkin di antara mereka terdapat suatu pertentangan. Maka dia pun cepat menyentuh lengan Bi Lan dan dia memberi hormat kepada kakek itu.

“Harap locianpwe sudi memaafkan kami orang-orang muda yang kurang pengalaman dan bertindak lancang terhadap locianpwe. Hendaknya locianpwe ketahui bahwa sikap kami itu timbul oleh karena baru saja kami bertemu dengan seorang pendeta seperti locianpwe yang telah merampas pedang pusaka milik sahabat saya ini. Karena itu tadi kami mengira bahwa locianpwe adalah sahabat pendeta itu.”

Kakek itu mengangguk-angguk sambil tersenyum mengejek. Ternyata senyum khas ini adalah kebiasaannya, bukan karena dia memang hendak mengejek. “Seorang pendeta Lama yang mukanya seperti singa?”

“Benar dia!” Bi Lan berseru. “Dia mengaku bernama Sai-cu Lama!”

“Omitohud…! Sungguh masih beruntung bagi kalian yang telah bertemu dengan dia akan tetapi hanya kehilangan pedang saja. Biasanya dia tidak mau bekerja kepalang tanggung, dan jarang ada orang dapat lolos dari tangan mautnya.”

“Tadi pun kami didesaknya dengan pukulan-pukulan maut dan entah apa yang akan terjadi dengan kami kalau dia tidak tiba-tiba melarikan diri setelah mendengar suara melengking yang agaknya dikeluarkan oleh locianpwe,” kata Hong Beng dengan jujur.

“Locianpwe, di mana kami dapat mencari si muka singa itu? Aku harus bisa menemukan dia dan merampas kembali pedangku yang diambilnya tadi,” kata Bi Lan, kini tidak lagi memaki-maki kakek itu karena dia pun sadar bahwa kakek ini bukan sahabat Sai-cu Lama tadi.

“Omitohud… ! Tidak mudah mengejarnya. Pinceng sendiri sudah mengejarnya sejak dari Tibet sampai di sini dan belum juga berhasil menangkapnya. Kalau kalian memang ingin menemukannya, kalian harus pergi ke kota raja karena ke sanalah dia pergi.”

“Kota raja? Wah, perjalanan yang jauh sekali dan kebetulan aku pun hendak ke sana, Bi Lan. Mari kita kejar dia dan kita bersama pergi ke kota raja.”

“Biar pun dia lari ke neraka sekali pun akan kukejar. Aku harus dapat merebut kembali pedang pusaka itu, Hong Beng. Kalau tidak, bagaimana aku akan dapat menghadap subo?”

“Omitohud, muda-mudi yang malang, bertemu dengan manusia iblis Sai-cu Lama. Kalau kalian tidak membawa senjata pusaka yang menarik hatinya, biasanya dia pun tidak mau gatal tangan mengganggu orang tanpa sebab. Pinceng melihat pukulan-pukulan yang luar biasa ketika kalian menyerang pinceng tadi. Orang muda, apakah engkau masih ada hubungan dengan keluarga Pulau Es?”

Hong Beng terkejut dan makin yakinlah hatinya bahwa dia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi, yang demikian tajam pandang matanya sehingga baru satu jurus dia tadi memainkan Hong-in Bun- hoat, kakek ini sudah dapat ‘mencium’ ilmu dari keluarga Pulau Es! Maka dia pun cepat memberi hormat lagi.

“Sesungguhnya, guru saya adalah seorang anggota keluarga Pulau Es, locianpwe.” “Aha! Siapakah gurumu itu, orang muda?”

“Suhu bernama Suma Ciang Bun.”

“She Suma? Ha-ha, benar sekali. Dia tentu putera Suma Kian Lee atau Suma Kian Bu.” Girang sekali hati Hong Beng. Kiranya kakek ini malah mengenal keluarga Pulau Es!

“Suhu adalah putera sukong Suma Kian Lee.”

“Omitohud…! Benar kiranya bahwa dunia ini tidak begitu besar kalau orang mempunyai banyak kenalan. Berpisah dari Suma Kian Lee sejak muda, sekarang tahu-tahu bertemu dengan murid dari puteranya. Dan kau sendiri, nona muda? Dua kali pukulanmu tadi mengingatkan pinceng akan ilmu mujijat dari Gurun Pasir…”

“Mereka adalah suhu dan subo!” Bi Lan berseru. “Suhu adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!”

“Omitohud…! Engkau yang begini muda menjadi murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng? Luar biasa sekali! Ha- ha-ha-ha, makin sempit saja dunia ini. Akan tetapi, nona muda. Kalau engkau benar murid mereka, bagaimana sampai pedang dari tanganmu dapat terampas oleh Sai-cu Lama? Walau pun dia memang lihai sekali, akan tetapi agaknya tidak akan mudah mengalahkan murid suami isteri dari Istana Gurun Pasir!”

Wajah Bi Lan berubah merah karena ucapan itu merupakan celaan kepadanya. Dan harus diakuinya bahwa ia menjadi murid suami isteri sakti itu hanya selama setengah tahun saja. Ia seorang yang jujur dan ia tidak mau menurunkan harga diri dari suami isteri yang amat baik kepadanya itu, maka ia pun cepat berkata,

“Andai kata aku belajar ilmu dari suhu dan subo sejak kecil, tentu sekali tonjok saja si muka singa itu akan mampus di tanganku!” Timbul kembali sifat kasar dan liarnya berkat ajaran Sam Kwi sehingga kakek itu memandang dengan mata lebar. “Akan tetapi sayang, hanya setengah tahun saja aku dilatih oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, dan sebelum itu aku menjadi murid Sam Kwi selama tujuh tahun.”

Kembali kakek itu terbelalak. “Kau maksudkan Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup itu?”

“Eh, locianpwe, agaknya locianpwe mengenal semua orang!” Bi Lan kini bertanya kaget dan heran. “Memang benar mereka itu guru-guruku.”

Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya yang gundul bersih. “Omitohud…!” Dia cepat merangkapkan kedua tangan untuk menghentikan kebiasaannya di waktu muda yang sampai tua masih sukar dilenyapkan itu. “Bagaimana mungkin orang menjadi murid Sam Kwi dan murid pendekar lengan tunggal Kao Kok Cu? Dan kau tadi bicara tentang pedang pusaka? Jangan-jangan pedang Ban-tok-kiam milik Wan Ceng pula yang kau bicarakan itu.”

Kini Bi Lan terbelalak. “Wah, Locianpwe ini orang apa sih? Bagaimana bisa tahu segala hal? Memang benar pedang yang dirampas muka singa itu adalah Ban-tok-kiam milik subo yang dipinjamkan kepadaku!”

“Siancai, siancai, siancai…! Bagaimana Wan Ceng begitu bodoh untuk meminjamkan pedang itu kepada muridnya yang masih begini hijau?”

“Locianpwe, jangan menghina orang!”

“Siapa menghina orang? Pinceng tadi bicara benar. Kau tahu, mala petaka hebat telah terjadi. Kalau tidak memiliki pusaka ampuh, Sai-cu Lama masih tidak begitu berbahaya. Akan tetapi kini Ban-tok-kiam berada di tangannya! Sama saja dengan seekor singa buas tumbuh sayap. Celaka. celaka!”

“Locianpwe, kami mohon petunjuk,” Hong Beng cepat berkata untuk menengahi karena agaknya dia juga tak menghendaki Bi Lan bersikap kasar terhadap kakek yang ternyata selain sakti, juga mengenal banyak tokoh di dunia kang-ouw itu.

“Karena pedang Ban-tok-kiam milik Wan Ceng yang sudah dirampasnya, pinceng pun berkewajiban untuk merebutnya kembali. Nona muda, kalau bertemu subo-mu, katakan bahwa pinceng kelak akan mengantarkan Ban-tok-kiam ke Istana Gurun Pasir kalau telah berhasil merampasnya dari tangan Sai-cu!” Setelah berkata demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ dengan kecepatan yang mentakjubkan!

“Locianpwe, siapa engkau? Bagaimana aku harus melapor kepada subo?” teriak Bi Lan penasaran sambil melihat ke bawah lereng di mana nampak bayangan kakek itu kecil sekali, tanda dia sudah pergi jauh.

“Katakan Tiong Khi Hwesio yang bicara. Ha-ha-ha!” Terdengar suara lapat-lapat disusul suara melengking tinggi nyaring seperti tadi.

Sejenak dua orang itu diam saja, masih terpesona oleh kehadiran kakek pendeta aneh itu. Akhirnya Hong Beng menarik napas panjang. “Sungguh hebat! Dalam sekejap mata saja kita bertemu dengan dua orang kakek yang demikian lihainya. Aku yakin bahwa kalau Sai-cu Lama seorang tokoh jahat sekali, sebaliknya Tiong Khi Hwesio itu tentu seorang tokoh tua di dunia persilatan yang agaknya tidak asing dengan keluarga Pulau Es dan dengan penghuni Istana Gurun Pasir. Bahkan agaknya dia juga mengenal baik subo-mu dan juga sukongku. Sungguh aneh.”

“Kalau saja dia menepati janjinya dan dapat berhasil merebut Ban-tok-kiam. Kalau tidak, bagaimana aku berani menghadap subo?”

“Jangan khawatir, Bi Lan. Bukankah locianpwe tadi mengatakan bahwa untuk dapat menjumpai Sai-cu Lama, kita harus pergi ke kota raja? Mari kita pergi ke sana, sekalian aku harus menunaikan tugas yang diberikan suhu kepadaku di sana.”

“Tugas apakah itu? Kenapa harus ke kota raja?” Bi Lan bertanya.

Karena dia tidak begitu percaya lagi akan kelihaian pendengarannya, yang terbukti dengan munculnya Sai- cu Lama yang tidak diketahuinya, maka Hong Beng menoleh ke kanan kiri sebelum menjawab. Setelah merasa yakin bahwa di situ tidak ada lain orang, dia berkata lirih, “Ini merupakan rahasia, Bi Lan, akan tetapi aku percaya kepadamu. Aku ditugaskan ke kota raja untuk melakukan penyelidikan atas diri seorang pembesar tinggi yang dikabarkan kini mempunyai pengaruh yang amat luas di istana dan bahkan mempengaruhi kekuasaan kaisar, mempengaruhi jalannya pemerintahan. Kabarnya pembesar itu mempunyai niat buruk. Aku harus berhati-hati karena pembesar itu dibantu orang-orang pandai. Bahkan suhu memesan kepadaku agar aku lebih dahulu minta keterangan dari bekas Panglima Kao Cin Liong, yaitu putera tunggal gurumu Kao Kok Cu, dan juga minta bantuan dari susiok Suma Ceng Liong, adik dari suhu. Nah, karena aku pergi ke kota raja dan engkau pun agaknya harus ke sana untuk mendapatkan kembali pedang subo-mu, maka sebaiknya kita pergi bersama. Dengan berdua, kita akan lebih kuat dalam menghadapi kesukaran di perjalanan, bukan?”

Bi Lan mengerutkan alisnya. “Aku sendiri tidak tahu akan pergi kemana setelah aku lari dari suci. Aku hanya mempunyai satu tugas, yaitu mencari pusaka yang telah kujanjikan kepada suci.”

“Pusaka lagi? Pusaka apakah itu?”

“Pusaka itu pun sebuah pedang, akan tetapi pedang pusaka yang menurut Sam Kwi amat penting artinya. Namanya Liong-siauw-kiam, yang usianya sudah ribuan tahun, terbuat dari pada kayu yang diukir menjadi suling berbentuk naga yang indah, keras seperti baja karena direndam obat-obatan rahasia jaman dahulu. Pusaka itu bisa ditiup seperti suling, akan tetapi juga dapat dipergunakan sebagai pedang. Sepasang mata naga itu terbuat dari batu permata yang tak ternilai harganya. Pusaka itu dahulu pernah menjadi lambang raja-raja Bangsa Khitan, dan kemudian jatuh ke tangan Kaisar Jengis Khan dan menjadi pusaka kerajaan. Akan tetapi kemudian jatuh ke tangan susiok dari Sam Kwi yang bernama Pek-bin Lo-sian. Pusaka itu turun-temurun berada di tangan perguruan Sam Kwi, akan tetapi celakanya, Pek-bin Lo-sian tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada Sam Kwi malah memberikannya kepada seorang pendekar!”

“Ehh, aneh sekali!” kata Hong Beng.

“Karena itu, Sam Kwi mengutus suci dan aku untuk mencari pusaka itu dan merampas kembali Liong- siauw-kiam dari tangan pendekar itu.”

“Dan siapakah pendekar itu?”

“Menurut suci, julukannya adalah Suling Naga, mungkin karena dia kini memiliki senjata Liong-siauw-kiam itu, dan katanya dia lihai bukan main. Aku harus mencari Pendekar Suling Naga itu dan merampas pusaka itu seperti sudah kujanjikan kepada suci!”

“Walau pun suci-mu telah mengkhianatimu dan bahkan hampir membunuhmu dengan jarum beracun?” “Janji tetap janji. Ia pernah menolongku dan aku sudah berjanji kepadanya, tetap harus kupenuhi!”

Diam-diam Hong Beng kagum bukan main. Jarang ada orang yang berhati teguh seperti gadis ini. “Baiklah, aku pun akan membantumu mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam. Wah, dengan begini kita harus merampas dua batang pedang pusaka, Ban-tok-kiam dan Liong-siauw-kiam!”

“Kalau kau keberatan, jangan membantu. Aku pun tidak minta bantuanmu, Hong Beng!” kata gadis itu dengan ketus.

“Eh, ehh, mengapa marah? Tentu saja aku suka sekali membantumu, Bi Lan. Nasib kita sama. Kita sama- sama yatim piatu, tidak punya sanak saudara. Dan nasib pula yang mempertemukan kita di sini, sejak di warung nasi itu. Marilah kita bekerja sama dan saling bantu, karena perjalanan ke kota raja bukanlah perjalanan yang dekat.”

Mereka berdua lalu menuruni lereng itu. Hati Bi Lan yang tadinya kecewa dan murung karena kehilangan Ban-tok-kiam, mulai terhibur sehingga dalam waktu beberapa hari saja, sudah pulih kembali sikapnya yang gembira dan jenaka…..

— —

Kalau saja dua orang muda itu mengenal siapa adanya Tiong Khi Hwesio, tentu mereka akan terkejut dan tidak merasa aneh lagi mengapa hwesio itu mengenal tokoh-tokoh keluarga Pulau Es, bahkan mengenal baik kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng.

Tiong Khi Hwesio bukanlah orang sembarangan. Di waktu mudanya, dia pernah menjadi seorang pendekar yang bersama-sama keturunan keluarga Pulau Es pernah membuat geger dunia persilatan. Ketika ia muda dahulu, nama Wan Tek Hoat dengan julukannya Si Jari Maut amat terkenal, bahkan mengguncangkan dunia persilatan dengan wataknya yang keras dan kadang-kadang aneh.

Dia pun bukan keturunan sembarangan. Ayahnya yang bernama Wan Keng In adalah putera nenek Lulu yang kemudian menjadi isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Jadi, pendekar sakti itu adalah ayah tirinya. Ilmu kepandaian Wan Tek Hoat ini hebat sekali, sejajar dengan kepandaian para keluarga Pulau Es.

Ia pernah digembleng oleh Sai-cu Lo-mo, seorang kakek sakti, lalu ilmu kepandaiannya meningkat dengan amat hebatnya pada waktu dia mewarisi kitab-kitab dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauwjin dari Pulau Neraka! Para pembaca seri cerita JODOH RAJAWALI dan selanjutnya dapat mengikuti riwayat Wan Tek Hoat yang amat hebat itu.

Kemudian, setelah mengalami kepahitan-kepahitan cinta asmara yang gagal, akhirnya dia berhasil juga menjadi suami wanita yang sejak semula telah dicintanya, yaitu Puteri Syanti Dewi, puteri negeri Bhutan. Bahkan sebagai mantu raja, Wan Tek Hoat terkenal sekali di Bhutan, membantu kerajaan itu dengan ilmu kepandaiannya, melatih para perwira, bahkan dia pernah berjasa sebagai panglima kerajaan menumpas kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di negara itu.

Dia hidup penuh kasih sayang dengan isterinya, dan suami isteri ini mempunyai seorang anak perempuan bernama Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee. Tentu saja suami isteri ini amat sayang kepada puteri mereka karena mereka itu dikurniai seorang anak setelah usia mereka mendekati lima puluh tahun. Dan mengenai Wan Hong Bwee atau Gangga Dewi ini, dapat diikuti riwayatnya di dalam kisah Para Pendekar Pulau Es.

Di dalam perantauannya, Gangga Dewi bertemu dengan Suma Ciang Bun yang jatuh cinta kepadanya, akan tetapi Gangga Dewi tidak membalas cintanya, bahkan melarikan diri kembali ke Bhutan. Kemudian, Wan Hong Bwee menikah dengan seorang pemuda perkasa di Bhutan yang menjadi murid ayahnya sendiri dan mereka hidup berbahagia karena pemuda itu pun menjadi seorang panglima Bhutan yang terkenal.

Ketika Wan Tek Hoat berusia hampir tujuh puluh tahun, dan isterinya hanya dua tahun lebih muda darinya, Syanti Dewi, isteri tercinta itu, meninggal dunia. Hal ini merupakan pukulan batin yang amat hebat bagi Wan Tek Hoat. Biar pun mereka mempunyai seorang puteri yang sudah mempunyai dua orang anak pula, namun kedukaan Wan Tek Hoat tak tertahankan oleh pendekar ini membuatnya seperti orang gila. Dia tidak mau lagi kembali ke istana, dan hidup seperti orang gila di dekat makam isterinya!

Sampai satu tahun lamanya dia bertapa di dekat makam isterinya, mengharapkan kematian akan segera menjemputnya supaya dia dapat bersatu kembali dengan isteri tercinta. Namun, agaknya kematian belum juga mau menyentuhnya dan dia tetap segar bugar setelah setahun hidup di dekat makam.

Semua bujukan dan hiburan Gangga Dewi bersama suaminya tidak dapat mencairkan kedukaannya. Bahkan dia marah-marah dan tidak ada orang lain kecuali anaknya dan mantunya itu yang berani mendekati makam itu, apa lagi membujuk Wan Tek Hoat yang telah menjadi seorang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun itu. Salah-salah orang yang berani lancang membujuknya akan diserangnya dan celakalah kalau ada orang diserang oleh kakek yang sakti ini.

Akan tetapi pada suatu pagi yang cerah, selagi Wan Tek Hoat seperti biasa duduk termenung di depan makam isterinya, membayangkan segala pengalamannya bersama Syanti Dewi di waktu mereka masih muda, tiba-tiba saja terdengar suara nyanyian seorang laki-laki, suara nyanyian lembut sekali.

Mendengar ada suara orang di dekat situ, muka Wan Tek Hoat sudah menjadi merah dan matanya melotot. Kemarahan sudah menguasai hatinya yang setiap hari tenggelam ke dalam duka itu. Akan tetapi, pendengarannya tak dapat melepaskan kata-kata yang terkandung di dalam nyanyian itu.

Menurut dorongan hatinya yang sudah rusak direndam racun duka selama satu tahun, ingin dia menghampiri orang yang berani bernyanyi-nyanyi di dekat makam itu dan seketika membunuhnya. Akan tetapi, kata-kata dalam nyanyian itu membuat dia tetap duduk terpukau dan mendengarkan.

Mana lebih baik siang atau malam? Mana lebih baik hidup atau mati?
Siapa tahu?
Siapa bilang siang lebih indah dari pada malam? Siapa bilang hidup lebih enak dari pada mati?
Tanpa malam takkan ada siang, tanpa mati takkan ada hidup.
Hidup dan mati tak terpisahkan. Mati adalah lanjutan hidup,
dan hidup kelanjutan mati. Mungkinkah meniadakan kematian?
Seperti meniadakan matahari tenggelam!
Bebas dari segala ikatan lahir batin
berarti hidup dalam mati dan mati dalam hidup selalu senyum bahagia tidak peduli
dalam hidup mau pun dalam mati demikianlah seorang bijaksana sejati!

Setelah mendengar semua kata-kata dalam nyanyian itu, Wan Tek Hoat mengerutkan alisnya dan dia pun meloncat. Sekali tubuhnya melayang, dia sudah tiba di luar tanah kuburan itu dan berhadapan dengan seorang kakek berkepala gundul, memakai jubah hwesio, tangan kiri memegang tongkat, lengan kirinya digantungi sebuah keranjang dan tangan kanannya asyik memetik daun-daun obat yang kemudian dikumpulkannya di dalam keranjang.

Sekali mengulur tangan, Wan Tek Hoat sudah mencengkeram jubah pendeta itu pada dadanya dan dengan mudah dia mengangkat tubuh pendeta itu ke atas, siap untuk memukul atau membantingnya. Akan tetapi, wajah pendeta yang usianya lebih tua darinya itu nampak tersenyum demikian lembutnya, pandang matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget atau takut sehingga timbul keheranan dan kekaguman di hati Wan Tek Hoat.

“Kau bilang hidup dan mati tiada bedanya? Bagaimana jika sekarang kubanting hancur tubuhmu dan nyawamu melayang ke akhirat?” bentaknya dengan suara mengejek.

“Siancai…! Orang lemah batin dan hanya kuat lahir, apakah kau kira kau akan mampu melenyapkan kehidupan? Omitohud, semoga penerangan mengusir kegelapan dalam batinmu. Tubuh ini dapat kau hancurkan, tanpa kau hancurkan pun pada saatnya akan rusak sendiri. Mati hidup bukan urusan kita, akan tetapi mengisi kehidupan dengan kesadaran itulah kewajiban kita. Wahai saudara yang lemah batin, kalau kau anggap bahwa dengan jalan menghancurkan tubuhku ini engkau akan dapat terbebas dari pada duka, silakan. Aku tidak pernah terikat oleh apa pun, tidak terikat pula oleh tubuh yang sudah tua dan rapuh ini. Silakan!”

Mendengar ucapan itu, dan melihat betapa benar-benar kakek yang tua renta ini sama sekali tidak gentar menghadapi ancamannya, seketika kedua lengan Wan Tek Hoat gemetar dan dia pun menurunkan kakek itu kembali, lalu dia menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Saudara yang kuat lahir namun lemah batin, apa manfaatnya bagimu sendiri atau bagi orang lain atau bagi alam ini kalau engkau menenggelamkan dirimu di dalam lembah duka seperti ini? Mengapa kau biarkan racun kedukaan yang melahirkan kebencian itu menguasai batinmu?”

Air mata lalu menetes-netes turun melalui celah-celah jari tangan Wan Tek Hoat. Dia menangis sesenggukan!

Peristiwa ini merupakan hal yang amat luar biasa. Wan Tek Hoat adalah seorang pendekar yang berhati baja. Biasanya, tangis merupakan pantangan besar baginya. Hatinya tak pernah menyerah dan tidak pernah memperlihatkan kelemahan. Di depan orang lain, sampai mati pun dia tentu merasa malu untuk menangis.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo