October 3, 2017

Suling Naga Part 6

 

Pemuda itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu mengangguk dan menjawab, suaranya tenang dan tegas, “Teecu akan melakukan semua perintah dan petunjuk dari suhu.”

Kembali pendekar itu merasa kagum terhadap muridnya. Dia tahu bahwa tugas ini berat dan asing bagi muridnya yang pengalamannya hanyalah ketika diajaknya merantau itu saja. Bahkan muridnya itu belum pernah melihat bagaimana macamnya kota raja. Akan tetapi, sikap muridnya demikian tenang menghadapi tugas seberat itu.

Diam-diam selain kagum, dia pun merasa kasihan dan khawatir. Memang, tugas ini amat penting bagi kepentingan rakyat jelata dan perlu pula bagi muridnya sendiri untuk menggembleng diri dan memperdalam pengalaman hidup sebagai seorang pendekar. Akan tetapi, kota raja menjadi pusat di mana terdapat orang-orang pandai dari segala macam golongan.

“Hong Beng, untuk tugas ini, sebaiknya engkau mencari susiok-mu (paman gurumu) yaitu adikku yang bernama Suma Ceng Liong yang kini bersama keluarganya tinggal di kota Thian-cin. Atau lebih baik lagi engkau mencari ci-huku (kakak ipar) bernama Kao Cin Liong yang bersama keluarganya tinggal di kota Pao-teng. Dari mereka itu engkau mungkin sekali akan memperoleh keterangan yang jelas tentang orang bernama Hou Seng itu. Apa lagi ci-hu Kao Cin Liong adalah bekas seorang panglima kerajaan. Justru setelah dia mengundurkan diri timbul kekacauan dan muncullah seorang bernama Hou Seng itu.”

Setelah menerima hanyak nasehat dari suhu-nya, juga menerima bekal sekantong uang dengan pesan bahwa jika dia kehabisan bekal dan tidak terpaksa sekali, jangan sampai merugikan orang lain dengan perbuatan yang jahat, melainkan terus terang saja minta bantuan kepada kuil-kuil atau kepada hartawan- hartawan yang dermawan, akhirnya pergilah pemuda itu meninggalkan puncak di Pegunungan Koa-li-kung di daerah selatan Hu-nan. Dalam perjalanan ini, ketika melewati daerah Siang-nam, tidak lupa dia singgah di kuburan ayah ibunya, yaitu di luar kota Siang-nam di mana dia dahulu dibantu oleh gurunya mengubur jenazah mereka.

Semalam suntuk ia duduk bersila di depan kuburan besar terisi jenazah ayah bundanya itu, tidak menangis atau berduka. Semenjak menjadi murid pendekar Suma Ciang Bun, pemuda ini telah dijejali banyak pengertian tentang kehidupan dan telah biasa membuka mata melihat kenyataan-kenyataan sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh bayangan-bayangan dan emosi-emosi yang membuat orang mudah berduka. Semua peristiwa yang lalu telah pula berlalu, demikian batinnya berbisik.

Dia mengunjungi makam dan berdiam semalam suntuk di situ hanya untuk menghormati peninggalan ayah dan ibunya. Apa lagi, pembunuh-pembunuh ayah ibunya telah dibalas oleh gurunya, sehingga dia tidak mempunyai dendam atau sakit hati lagi.

Harus diakuinya bahwa perantauan seorang diri, terpisah dari gurunya, merupakan hal yang berat dan kadang-kadang menggelisahkan. Akan tetapi ada saat-saat di mana dia merasa bahagia dan gembira, merasa bebas tanpa terikat oleh apa pun juga, hidup sendirian seperti seekor burung yang terbang bebas lepas di udara!

Demikianlah sedikit tentang diri Hong Beng…..

Pada pagi hari itu, dia tiba di Kun-ming dan tanpa disengaja dia memasuki restoran dan melihat Bi-kwi dan Bi Lan kemudian terlibat dalam peristiwa dengan orang-orang Ang-i Mo-pang. Dia belum pernah mendengar tentang perkumpulan itu, akan tetapi dari nama perkumpulan itu ia dapat menduga bahwa Ang- i Mo-pang tentulah sebuah perkumpulan penjahat. Rasa heran dan ingin tahu apakah hubungan antara dua orang gadis cantik dan lihai seperti yang dijumpainya di restoran itu dengan perkumpulan sesat membuat dia ingin sekali membayangi mereka.

Dia bersikap hati-hati sekali karena dia maklum bahwa dua orang wanita itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia pun tidak ingin mencampuri urusan mereka, hanya ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dengan dua orang gadis itu. Ada sesuatu pada diri dua orang gadis itu, terutama pada diri gadis yang disebut Ciong Siocia, yang amat menarik hati Hong Beng.

Selama ini belum pernah dia merasa tertarik pada seorang wanita. Sejak kecil dia hidup dengan gurunya dan belum pernah melihat gurunya berdekatan dengan wanita, bahkan sikap gurunya terhadap wanita amat dingin. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi dirinya dan dia pun belum pernah merasa tertarik kepada wanita.

Ketika dia menjelang dewasa, kalau sekali waktu ada perasaan tertarik ini ketika dia bertemu dengan seorang gadis dalam perjalanan bersama suhu-nya, maka perasaan ini segera ditekannya karena dia malu terhadap gurunya. Tentu saja andai kata gurunya itu memiliki sikap pria wajar terhadap wanita, agaknya dia pun tak akan menekan perasaan itu.

Kini, begitu dia melakukan perjalanan seorang diri, dia bertemu dengan seorang wanita yang amat menarik hatinya, yaitu Bi-kwi! Dalam pandangannya Bi-kwi adalah seorang wanita yang matang, yang amat menarik semua gerak-geriknya, berwibawa, dan ada sesuatu yang membuat dia merasa kasihan. Sesuatu itu mungkin garis-garis di antara kedua mata wanita itu, yang membayangkan suatu kepahitan hidup yang mengharukan hati Hong Beng. Gadis ke dua yang jauh lebih muda itu pun manis sekali, akan tetapi dalam pandangan Hong Beng gadis itu masih kekanak-kanakan, masih mentah…..

— —

Sebetulnya apakah yang telah terjadi dengan perkumpulan Ang-i Mo-pang? Seperti kita ketahui, perkumpulan itu adalah sebuah perkumpulan penjahat yang dipimpin oleh Tee Kok sebagai ketuanya. Tee Kok adalah seorang bekas anggota Hek-i Mo-pang yang dulu terkenal sebagai perkumpulan sesat yang ditakuti orang.

Tee Kok mengumpulkan beberapa orang kawannya bekas anggota Hek-i Mo-pang, lalu ditambah lagi dengan anak buah baru yang terdiri dari orang-orang dari dunia hitam, dia mendirikan Ang-i Mo-pang. Tidak kurang dari lima puluh anak buahnya dan semua anak buah Ang-i Mo-pang memakai pakaian serba merah.

Kemudian muncul Bi-kwi yang menaklukkan dan mengalahkan Tee Kok. Akan tetapi wanita ini tidak mau menjadi ketua perkumpulan itu, melainkan menarik perkumpulan itu sebagai pembantu-pembantunya. Semenjak ditalukkan Bi-kwi, perkumpulan itu malah menjadi semakin kuat, dan anak buahnya selalu bertambah. Dalam hal menerima anak buah baru, Tee Kok selalu bersikap hati-hati sehingga ia dapat memilih anak buah yang benar-benar seorang yang selain memiliki kepandaian, juga memiliki setia kawan dalam dunia hitam.

Tapi sebulan yang lalu, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki muda, berusia tiga puluh tahunan, berpakaian seperti pemuda hartawan dan sasterawan, dan membawa pengikut sebanyak lima orang. Begitu muncul, pemuda yang mengaku bernama Bhok Gun ini segera menyatakan kehendaknya untuk menggantikan Tee Kok menjadi ketua Ang-i Mo-pang! Tentu saja mula-mula orang ini dianggap gila. Akan tetapi begitu pernyataan ini berakhir dengan perkelahian, Tee Kok dan semua pembantunya dikalahkan dengan mudah oleh Bhok Gun!

“Kalau aku mau, apa sukarnya membasmi kalian semua? Akan tetapi aku tidak ingin membunuh kalian karena aku melihat bahwa Ang-i Mo-pang kelak akan menjadi sebuah perkumpulan besar, bahkan yang terbesar, di bawah pimpinanku. Mulai sekarang aku menjadi Pangcu, dan Tee Kok menjadi pembantuku. Siapa yang tidak setuju boleh maju melawan aku!”

Demikianlah, mulai hari itu, sebulan yang lalu, pemuda yang bernama Bhok Gun itu menjadi ketua Ang-i Mo-pang! Tee Kok menjadi pembantunya, bersama kelima orang yang datang bersama Bhok Gun. Pada pagi hari itu, seorang di antara lima pembantu Bhok Gun melakukan pemerasan di restoran itu dan orang yang bernasib sial ini lalu bertemu dengan Bi-kwi yang menyebabkan buntungnya sebelah lengannya.

Melakukan pemerasan merupakan hal biasa saja bagi Ang-i Mo-pang, maka mendengar betapa orang yang telah menjadi rekannya itu dibuntungi orang lengannya di restoran ketika dia sedang ‘bekerja’, Tee Kok cepat mengajak lima orang anak buahnya untuk menyerbu ke restoran. Tak disangkanya bahwa yang dikerjakan oleh rekan barunya itu adalah Ciong Siocia yang amat ditakutinya.

Dapatlah dibayangkan betapa gemparnya para anggota Ang-i Mo-pang ketika mereka melihat Tee Kok pulang bersama dua orang wanita dan seorang di antara mereka adalah Ciong Siocia! Kini di sarang mereka terdapat dua orang pandai yang tentu akan saling memperebutkan kedudukan dan tentu akan terjadi pertentangan yang seru! Karena mereka semua tahu akan kelihaian Ciong Siocia, juga akan kelihaian ketua baru Bhok Gun, mereka tidak akan berpihak, dan hanya menanti siapa di antara keduanya itu yang akan keluar sebagai pemenang.

Memasuki sarang di mana berkumpul berpuluh orang berpakaian seragam merah, Bi Lan merasa agak khawatir juga, karena ia merasa seolah-olah memasuki sebuah hutan penuh dengan serigala buas yang berkeliaran. Tidak demikian dengan Bi-kwi. Wanita ini sudah pernah menaklukkan Ang-i Mo-pang dan ia merasa yakin bahwa Tee Kok dan seluruh anggota perkumpulan itu tidak akan berani mengeroyoknya dan ia hanya akan menghadapi pendatang baru itu saja. Maka ia melangkah memasuki perkampungan Ang-i Mo-pang yang berada di luar kota Kun-ming dengan tenang, bahkan mendahului Tee Kok ketika mereka memasuki gedung utama yang tentu didiami oleh ketua baru itu.

Seorang di antara anak buahnya sendiri sudah cepat memberi kabar kepada Bhok Gun tentang datangnya Tee Kok bersama-sama dua orang wanita, bahkan anak buah yang buntung lengannya dan yang berada di situ pula setelah mengalami pengobatan, juga cepat mengintai dan cepat pula lari kembali ke dalam ruangan besar di mana ketuanya sedang duduk menanti.

“Pangcu, benar siluman perempuan itu yang datang!” katanya dengan tubuh gemetar.

Pria muda itu tersenyum dan tetap duduk di atas kursi yang diberi warna merah pula. Ia sendiri mengenakan pakaian mewah, bukan pakaian merah seperti para anggotanya. Pakaian seorang sasterawan muda yang kaya raya. Dan semenjak Bhok Gun menjadi ketua, ruang yang luas ini pun penuh dengan tulisan-tulisan dan lukisan-lukisan indah, bergantungan di dinding. Ruangan itu pun kini bersih dan rapi, sama sekali tidak dapat disamakan dengan dahulu sebelum dia datang, ruangan itu kotor dan hanya penuh dengan senjata-senjata dan alat-alat penyiksa.

Begitu memasuki ruangan itu, Bi-kwi melihat perubahan besar ini, perubahan yang mencengangkan hatinya. Dia sendiri suka akan kebersihan dan keindahan, karena itu ia pun selalu pesolek dan pakaiannya selalu bersih dan indah.

Pada saat itu dia mendengar suara halus seorang laki-laki, “Kalian semua mundurlah, aku akan menyambut kedatangan nona Ciong yang terhormat!”

Tentu saja tadi ketua baru ini sudah mendengar bahwa yang muncul itu adalah Ciong Siocia yang sebelumnya sudah didengarnya sebagai seorang wanita sakti yang telah menaklukkan Ang-i Mo-pang sebelum dia muncul di situ. Dan mendengar pula bahwa ternyata yang diganggu anak buahnya justru Nona Ciong itulah!

Ketika Bi-kwi dan Bi Lan memasuki ruangan itu, Tee Kok mengikuti dari belakang dengan jantung berdebar tegang. Dia pun maklum bahwa di antara dua kekuasaan ini tentu akan terjadi persaingan dan kalau disuruh memilih, tentu saja dia memilih Bi-kwi.

Nona ini benar menganggap dia anak buahnya sebagai pembantu dan taklukan, akan tetapi tidak menuntut kedudukan ketua, bahkan jarang pula datang ke Kun-ming, hanya kalau ada kepentingan saja baru minta bantuan Ang-I Mo-pang. Sebaliknya, orang she Bhok itu ingin mutlak menguasai Ang-i Mo-pang dan menjadi ketua, bahkan tinggal di situ walau pun dia tidak mengenakan pakaian merah.

Sementara itu, mendengar suara laki-laki itu, Bi-kwi lalu mengangkat muka memandang dengan penuh selidik. Seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, seorang pemuda yang sudah masak, dengan sinar mata tajam dan penuh pengertian, namun sinar mata itu pun liar mengandung kecerdikan, bergerak-gerak terus ke sana-sini.

Wajahnya pesolek dan tampan, dengan mulut yang selalu tersenyum manis. Kulit muka itu tentu dibedaki tipis, rambutnya yang panjang hitam itu mengkilat karena minyak, dan pakaiannya baru dan indah, pakaian sasterawan dari sutera putih yang dihias warna biru dan merah di sana-sini. Sepatunya yang tinggi pun baru mengkilap. Seorang pria yang sungguh tampan dan pesolek, yang akan mudah menjatuhkan hati wanita.

Di lain pihak, Bhok Gun juga mengamati dua orang wanita yang memasuki ruangan dengan sikap tenang itu. Dia pun terpesona melihat kecantikan Bi-kwi. Seorang wanita yang sudah matang, usianya tentu sekitar tiga puluh tahun, wajahnya cantik manis, pakaiannya mewah. Tentu ini yang disebut Ciong Siocia oleh Tee Kok dan para anggota Ang-i Mo-pang.

Akan tetapi, matanya yang sudah berpengalaman itu melirik pula ke arah Bi Lan dan diam-diam dia pun terpesona oleh dara yang walau pun pakaiannya sederhana, namun dia tahu merupakan dara yang menggairahkan, bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar dan belum disentuh lebah atau kupu-kupu yang nakal.

Setelah dua orang wanita itu tiba di depannya, Bhok Gun lalu bangkit berdiri dan menyambut mereka dengan sikap hormat. Dia menjura kepada mereka dan berkata dengan suara halus dan senyum ramah gembira, “Selamat datang di perkumpulan kami Ang-i Mo-pang, ji-wi siocia (dua orang nona)!”

Bi Lan adalah seorang gadis yang pada hakekatnya berwatak gembira dan ramah, maka menghadapi sikap tuan rumah yang tersenyum-senyum ramah dan hormat, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tak membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tangan di depan dada.

Akan tetapi, Bi-kwi hanya mengerutkan alisnya. Biar pun hatinya tertarik oleh gaya laki-laki yang ganteng ini, akan tetapi karena ia sedang marah mencari orang yang berani mengambil alih kedudukan di perkumpulan itu, dia diam saja dan hanya memandang tajam penuh selidik.

Tee Kok yang merasa tidak enak segera berkata sambil berdiri berlindung di belakang Bi-kwi, “Bhok Pangcu, ini adalah Ciong Siocia… ehh, pelindung kami… dan Siocia ingin menemui pangcu dan ingin bicara…”

Bhok Gun memperlebar senyumnya dan kembali menjura kepada Bi-kwi. “Telah kuduga dari tadi bahwa nona tentulah Ciong Siocia. Silakan duduk dan mari kita bicara dengan baik.” Pemuda tampan itu mempersilakan dengan tangannya.

Akan tetapi Bi-kwi tetap berdiri tegak, bahkan kini berkata dengan suara lantang dan ketus, walau pun suara itu dibikin bernada merdu.

“Selamanya aku hanya mengenal Tee Kok sebagai Pangcu (Ketua) Ang-i Mo-pang! Siapakah engkau yang datang menyambut aku dan sumoi?”

Diam-diam Bhok Gun tertegun. Kiranya gadis muda yang sederhana itu adalah sumoi dari Ciong Siocia. Kalau begitu berarti dia akan menghadapi dua orang wanita yang lihai dan dia harus berhati-hati. Akan tetapi wajahnya tetap tersenyum ramah dan dia lalu mengangguk dengan tubuh membungkuk ketika menjawab.

“Aku bernama Bhok Gun dan melihat Ang-i Mo-pang kurang kuat, aku bermaksud untuk memperkembangkannya menjadi sebuah perkumpulan yang paling kuat di dunia. Untuk dapat menjadi perkumpulan yang hebat, tentu saja Ang-i Mo-pang harus dipimpin orang yang mampu, yang pandai, tidak sekedar memiliki beberapa ilmu pukulan seperti Tee Kok. Maka aku datang dan mengambil alih kepemimpinan.”

“Hemm, engkau sungguh lancang! Apakah tidak tahu bahwa Ang-i Mo-pang mempunyai seorang pelindung? Tanpa persetujuanku, bagaimana engkau dapat menjadi pangcu baru?”

Bhok Gun tersenyum dan kembali menjura. “Maaf, Siocia. Kalau begitu setelah kini kita saling berhadapan, biarlah aku minta persetujuanmu!”

Bi-kwi tersenyum mengejek. Bagaimana pun juga, sikap ketua baru yang ramah dan selalu hormat itu menyenangkan hatinya. Kalau benar orang ini memiliki kepandaian yang tinggi dan dapat menjadi pembantunya, hemm, tentu jauh lebih menyenangkan dari pada mempunyai pembantu seperti Tee Kok yang sudah tua dan buruk rupa itu, apa lagi memang ilmu silat Tee Kok tidak dapat terlalu diandalkan.

“Tidak begitu mudah! Menjadi ketua Ang-i Mo-pang berarti menjadi pembantuku, dan aku harus membuktikan dulu apakah kau pantas menjadi pembantuku.”

Semua orang memandang dengan hati tegang. Tibalah saatnya yang menegangkan kini. Gadis sakti itu, yang ditakuti semua anggota Ang-i Mo-pang, telah mengeluarkan tantangannya. Akan tetapi, Bhok Gun sama sekali tidak kelihatan jeri dan masih terus tersenyum-senyum ketika melangkah maju ke tengah ruangan yang luas itu, lalu berdiri tegak dan menjawab, suaranya halus namun ramah dan tegas.

“Silakan, Siocia. Engkau akan mendapat kenyataan bahwa bagaimana pun juga, aku tidak dapat disamakan dengan Tee Kok. Harap saja engkau suka menaruh kasihan kepadaku dan tidak menurunkan tangan kejam.”

“Kita lihat saja nanti!” kata Bi-kwi sambil melangkah menghampiri pemuda itu. “Suci, hati-hati…,” bisik Bi Lan.

Gadis ini melihat betapa sikap pemuda itu amat tenang. Sikap ini saja membayangkan bahwa pemuda itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga demikian yakin akan kekuatannya sendiri.

Bi-kwi hanya tersenyum mendengar peringatan sumoi-nya. Ia pun bukan orang bodoh dan melihat sikap pemuda tampan mewah ini ia pun melihat betapa pemuda ini memiliki sikap yang amat tenang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, seperti yang juga dimiliki pemuda di restoran tadi dan ia dapat menduga bahwa orang ini pun tentu amat lihai. Maka begitu berhadapan, dia mengeluarkan seruan melengking dan menyerang dengan dahsyatnya, memainkan jurus dari Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang dari Raja Iblis Hitam.

“Haiiittt…!”

Lengan Bi-kwi meluncur ke depan dengan cengkeraman ke arah dada lawan. Bhok Gun dengan sikap tenang melangkah mundur untuk menghindarkan diri, akan tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan seruan kaget ketika lengan gadis itu mulur memanjang dan masih melanjutkan cengkeramannya dengan hebat. Lengan Bi-kwi terus mulur dan bertambah panjang tidak kurang dari setengah meter!

Terpaksa Bhok Gun menangkis dengan cepat oleh karena hampir saja dadanya kena dicengkeram. “Dukkk…!”

Keduanya merasa betapa lengan mereka tergetar. Bi-kwi sudah melanjutkan serangan-serangannya dengan mempergunakan Ilmu Silat Hek-wan Sip-pat-ciang yang lihai itu. Namun, ketua Ang-i Mo-pang yang baru itu selalu dapat menghindarkan diri sambil berkali-kali mengeluarkan seruan kaget dan heran. Agaknya dia mengenal jurus-jurus ini karena dia dapat menghindarkan diri dengan gerakan yang amat tepat.

Bi-kwi merasa penasaran dan dia pun cepat menyelingi serangan dengan jurus-jurus Hek-wan Sip-pat- ciang (Delapan belas Jurus Lutung Hitam), diikuti dengan tendangan-tendangan istimewa Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin) dari Iblis Akhirat.

Kembali Bhok Gun mengeluarkan seruan heran, tetapi yang merasa semakin penasaran adalah Bi-kwi karena pemuda itu kembali dapat menghindarkan diri dengan baik sekali dari serangan-serangannya, baik yang dilakukan dengan jurus Hek-wan Sip-pat-ciang mau pun tendangan-tendangan Pat-hong-twi. Pemuda itu seperti telah mengenal semua gerakannya sehingga dapat menghindarkan diri dengan tepat sekali.

Dengan gemas dia kemudian mengeluarkan Ilmu Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) dari Iblis Mayat Hidup. Kedua tangannya mengeluarkan suara berdesing karena ia pun sudah mengerahkan tenaga Kiam-ciang yang amat dahsyat itu.

“Ehhhh…!” Bhok Gun berseru kaget sekali dan dia meloncat mundur. Sudah belasan jurus dia diserang dan dia hanya mengelak dan menangkis terus.

“Nona, kau sambutlah ini!” bentaknya dan kini dia balas menyerang.

Kini giliran Bi-kwi yang merasa heran dan kaget karena serangan-serangan pemuda itu mengandung dasar ilmu silat yang dimilikinya, bahkan terkandung unsur-unsur semua ilmu silat yang dipelajarinya dari tiga orang gurunya. Ia mengelak sambil berloncatan dan balas menyerang. Sampai kurang lebih lima puluh jurus mereka saling serang dan akhirnya Bhok Gun meloncat ke belakang.

“Nona, tahan! Aku mengenal ilmu silatmu. Apakah engkau murid Sam Kwi?”

Bi-kwi berhenti bergerak. Kini ia menghunus pedangnya. Dengan marah ia memandang pemuda itu, lalu telunjuk kirinya menuding ke arah muka lawan. “Orang she Bhok, sebelum mampus di ujung pedangku, katakanlah, siapa sebenarnya engkau dan dari mana engkau mengenal ilmu-ilmuku tadi?”

Akan tetapi, pemuda itu memandang dengan senyum lebar dan tiba-tiba dia berkata dengan ramah sekali. “Sumoi, harap kau suka simpan kembali pedangmu.”

Tentu saja Bi-kwi dan Siauw-kwi terkejut bukan main mendengar ucapan ini. Mereka memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

“Kau bohong!” Bi-kwi membentak. “Ketiga orang suhu kami tidak pernah memiliki murid laki-laki, bahkan tidak mempunyai murid lain kecuali kami berdua!”

“Engkau benar, karena memang aku bukanlah murid ketiga susiok Sam Kwi. Akan tetapi, marilah kita bicara di dalam dan kalian akan mendengar siapa sebenarnya aku dan mengapa aku menyebut kalian sumoi. Marilah.”

Bhok Gun lalu memberi isyarat kepada Tee Kok dan para anggota Ang-i Mo-pang untuk bubaran. Semua anggota itu tentu saja merasa kecewa. Mereka tadinya mengharapkan untuk nonton perkelahian yang seru dan mati-matian. Akan tetapi ternyata perkelahian tadi tak berakhir dengan kalah menangnya seorang di antara mereka, bahkan agaknya mereka itu masih ada hubungan keluarga seperguruan! Akan tetapi, tentu saja mereka tidak berani membantah dan Tee Kok lalu menyuruh mereka semua mengundurkan diri.

Bhok Gun mengajak dua orang gadis itu duduk di ruangan dalam, di bagian belakang. Ruangan ini pun keadaannya amat mewah dan menyenangkan. Jendela-jendela dibuka sehingga hawanya sejuk dan dipasangi tirai sutera sehingga keadaan di dalam kamar tidak nampak dari luar.

Setelah dua orang tamunya duduk, Bhok Gun lalu bercerita dan dua orang gadis itu mendengarkan dengan penuh perhatian, juga dengan hati mengandung perasaan heran. Dengan suara yang halus dan sikap yang menarik, pria yang ternyata memiliki banyak sekali pengalaman itu bercerita.

Kiranya dia adalah cucu murid dari mendiang Pek-bin Lo-sian, kakek yang menjadi keturunan terakhir dari perguruan mereka yang menguasai pusaka Pedang Suling Naga. Selama hidupnya, Pek-bin Lo-sian tak pernah menikah dan dia memiliki seorang murid tunggal yang setelah tamat belajar, diusirnya karena watak murid ini amat curang dan keji terhadap gurunya sendiri. Hampir saja murid ini membunuh Pek-bin Lo-sian ketika dia hendak merampas pusaka Liong-siauw-kiam. Untung bahwa Pek-bin Lo-sian masih memiliki kelebihan dari pada muridnya sehingga murid itu dapat dikalahkan dan murid itu melarikan diri dengan menderita luka-luka.

“Nah, murid dari su-kong Pek-bin Lo-sian itu lalu pergi merantau, memperdalam ilmunya dan akulah murid tunggalnya. Setelah merasa kuat, guruku pergi mencari su-kong untuk merampas Liong-siauw-kiam, akan tetapi ternyata su-kong telah tewas dan pusaka itu telah diserahkan kepada orang lain.”

“Seorang pendekar…,” kata Bi-kwi pahit.

“Benar, seorang pendekar! Dan inilah yang menjengkelkan hati guruku. Su-kong sendiri adalah seorang datuk golongan hitam, semenjak dahulu, kita semua, perguruan kita, memusuhi golongan pendekar yang sombong. Ehhh, pusaka itu oleh su-kong malah diwariskan kepada seorang pendekar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perguruan kita. Guruku kemudian menyuruh aku untuk turun gunung dan pergi mencari pendekar yang kini menguasai pusaka Liong-siauw-kiam itu, membunuh dan merampas pusaka itu.”

Ini merupakan cerita baru yang amat mengejutkan hati Bi-kwi. Kiranya kakek Pek-bin Lo-sian ini masih mempunyai cucu murid yang begini lihai! Dengan begini, sekarang dia mendapatkan seorang saingan tangguh di dalam perebutan pusaka Liong-siauw-kiam! Akan tetapi, ia masih ragu-ragu dan belum percaya sepenuhnya akan keterangan Bhok Gun, maka ia pun mengambil keputusan untuk menyelidiki terus dan baru mengambil tindakan kalau sudah jelas siapa sesungguhnya orang ini.

“Kalau kau ditugaskan untuk mencari Liong-siauw-kiam, kenapa engkau mengambil alih kekuasaan Ang-i Mo-pang?”

“Aih, masa begitu saja engkau tidak dapat menduganya, sumoi?”

“Jangan sebut sumoi! Aku masih ragu-ragu apakah engkau sungguh-sungguh saudara seperguruanku!” kata Bi-kwi ketus.

Bhok Gun tersenyum. “Baiklah, nona. Kita bicara sampai engkau yakin benar. Aku turun gunung dan tidak tahu siapa adanya pendekar yang diwarisi Suling Naga. Ketika aku mendengar tentang Ang-i Mo-pang di kota ini, aku lantas mempunyai akal untuk dapat mengumpulkan pengaruh dan pembantu, yang memang sudah kulakukan pula dengan menaklukkan lima orang perampok yang kujumpai di tengah jalan. Dengan mengepalai sebuah perkumpulan besar seperti Ang-i Mo-pang, tentu aku akan dapat dengan mudah melakukan penyelidikan dan siapa tahu, aku pun membutuhkan bantuan mereka dalam menghadapi musuh-musuhku. Dan ternyata dugaanku tepat, karena Tee Kok tahu siapa pendekar yang mewarisi pusaka itu. Katanya seorang pendekar yang lihai bukan main.”

“Si mulut panjang Tee Kok!” Bi-kwi mengomel.

“Ha-ha-ha, bajingan kecil macam dia mana bisa menyimpan rahasia? Tentang dirimu, dia hanya mengatakan bahwa Ciong Siocia adalah seorang lihai yang melindungi Ang-i Mo-pang, sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa engkau adalah murid Sam Kwi susiok.”

“Dia mana tahu?”

“Akan tetapi dia juga menceritakan bahwa engkau berusaha merampas pedang pusaka suling naga itu, bahkan dia juga membantumu akan tetapi kalian gagal dan dikalahkan pendekar pemegang suling naga. Sama sekali tidak pernah kusangka bahwa di antara kita masih ada hubungan saudara seperguruan. Semua baru kuketahui ketika engkau menyerangku dengan jurus-jurus yang tidak asing bagiku tadi.”

Walau pun kini ia hampir yakin bahwa memang pemuda ini benar cucu murid Pek-bin Lo-sian, akan tetapi ia masih merasa tidak senang kalau dalam usahanya mendapatkan saingan.

Untuk memancing sikap pemuda itu, tiba-tiba ia berkata, “Su-kongmu itu akulah yang membunuhnya!”

Setelah berkata, Bhok Gun memang kaget bukan main sampai meloncat bangun dari tempat duduknya, akan tetapi bukan karena marah. Ia malah tersenyum kagum. “Aih, untung tadi tidak dilanjutkan pertandingan itu, kalau dilanjutkan tentu aku akan kalah. Kalau engkau sudah mampu membunuh su-kong, jelas bahwa ilmu kepandaianmu amat tinggi, lebih tinggi dari tingkatku!”

Tentu saja kata-kata ini hanya pujian saja, karena sebelum mati, Pek-bin Lo-sian sudah menderita luka parah ketika bertanding melawan Sim Houw, juga usianya sudah amat tua sehingga tenaganya sudah lemah. Selain itu, guru Bhok Gun tidak dapat dinilai sebagai murid Pek-bin Lo-sian yang tingkat kepandaiannya kalah oleh kakek itu sendiri. Guru Bhok Gun sudah memperdalam ilmunya selama puluhan tahun.

Akan tetapi Bi-kwi tetap tersenyum mengejek. “Kalau ilmu simpananku tadi kukeluarkan, mungkin kita tidak lagi dapat bercakap-cakap seperti ini.” Yang dimaksudkannya adalah ilmunya yang baru-baru ini ia pelajari dari ketiga orang suhu-nya, yaitu Ilmu Silat Sam Kwi Cap-sha-kun!

“Sudah lama aku mendengar dari guruku tentang ke tiga susiok Sam Kwi. Dan ingin aku mencari dan memperkenalkan diri, namun guruku melarang dan mengatakan bahwa sudah sejak muda susiok Sam Kwi tidak mempunyai hubungan dengan kami. Kini aku bertemu dengan kalian yang menjadi murid-murid susiok Sam Kwi, bukankah hal ini menggirangkan hati sekali? Kita masih saudara seperguruan, dan engkau juga mencari pusaka itu.”

“Dan engkau juga mencarinya. Berarti kita adalah saingan!” kata Bi-kwi.

Bhok Gun tertawa. “Ahh, mana aku begitu bodoh untuk memperebutkan benda begitu saja dengan kalian yang menjadi sumoi-sumoi-ku sendiri? Tidak, kami, yaitu aku dan guruku, mempunyai urusan yang lebih penting lagi dan kita dapat bekerja sama dalam hal ini. Dengan saling membantu, kuyakin cita-cita kita akan dapat terpenuhi semua dan tentang pusaka Liong-siauw-kiam, kalau memang engkau menghendaki, biarlah kelak untukmu. Aku akan membantumu sampai pusaka itu dapat kita rampas, akan tetapi engkau pun mau membantu kami dalam urusan kami.”

“Urusan apakah itu?” Bi-kwi mulai tertarik karena kalau pemuda ini mempunyai urusan yang dianggap lebih penting dari pada pusaka Liong-siauw-kiam, tentu urusan itu amat besar. “Terus terang saja, cita-citaku adalah menguasai Liong-siauw-kiam dan menjadi bengcu dari dunia hitam.” Ia mendahului agar pemuda itu mengetahui di mana ia berdiri.

Bhok Gun mengangguk-angguk. “Cita-cita yang baik dan mengagumkan, dan aku yakin, dengan kepandaian kalian, maka kalian akan berhasil.”

“Aku hanya membantu suci!” tiba-tiba Bi Lan berkata.

Bhok Gun memandang kaget. Karena sejak tadi diam dan hanya menjadi pendengar saja, kehadiran gadis ini seperti bayangan saja, oleh karena itu begitu mengeluarkan suara, mengejutkan hati Bhok Gun. Pemuda ini memandang wajah yang manis itu dan tersenyum lebar.

“Tentu saja, cita-cita suci-mu adalah cita-citamu juga.”

“Aku tidak bercita-cita, aku hanya membantu suci mencapai kedua cita-citanya itu untuk memenuhi janjiku kepadanya,” kata Bi Lan.

Bi Lan pun menentang pandang mata suci-nya dan pemuda itu dengan berani, agaknya untuk menekankan bahwa ia tidak mau terlibat dalam urusan mereka berdua.

Diam-diam Bhok Gun merasa heran sekali. Sumoi muda ini agaknya sama sekali tidak takut terhadap suci- nya, bahkan ada sikap menentang! Kenapa sang suci diam saja? Bukankah dengan kepandaiannya yang tinggi, suci ini dapat menekan sumoi-nya?

“Orang she Bhok, kau lanjutkan ceritamu tentang urusanmu itu,” tiba-tiba Bi-kwi berkata seolah-olah tak suka mendengar sumoi-nya bicara.

“Sumoi, terus terang saja, urusan ini adalah rahasia besar yang tidak boleh kubicarakan dengan siapa pun juga. Tentu saja persoalannya lain lagi kalau kalian mau mengakui aku sebagai suheng. Sebagai adik-adik seperguruan, tentu saja kalian boleh mendengar urusan itu.”

Watak Bi-kwi memang keras. Tadi, melihat sikap lunak dan ramah dari Bhok Gun, dia mau bicara, akan tetapi begitu Bhok Gun memperlihatkan sikap menantang, dia pun bangkit berdiri.

“Orang she Bhok, jangan kira engkau akan dapat memaksaku! Jika engkau tidak mau menceritakan urusanmu, itu pun tak mengapa. Aku pun tidak membutuhkan bantuanmu. Akan tetapi yang jelas, engkau harus meninggalkan Ang-i Mo-pang sekarang juga atau kita akan berkelahi sampai mati!”

Bi-kwi berdiri tegak. Sikapnya menantang, kedua matanya memancarkan sinar berapi. Hidungnya yang kecil mancung itu kembang-kempis seolah-olah mengeluarkan napas yang panas. Sejenak Bhok Gun memandang terpesona. Bukan main wanita ini, pikirnya. Betapa panasnya! Kalau menjadi seorang kekasih, tentu hebat!

“Tenanglah, nona.” Bhok Gun berkata sambil tersenyum lagi, dia menjadi maklum akan kekeliruannya telah bersikap keras tadi dan dia mulai mengenal watak wanita cantik ini. “Coba bayangkan baik-baik. Bila dibantu oleh seorang seperti Tee Kok, apa artinya? Sebaliknya kalau aku membantumu, agaknya tidak akan ada urusan yang tidak beres. Kita berdua, apa lagi bertiga, tentu akan mudah membunuh pendekar yang menguasai Liong-siauw-kiam itu. Maka dari itu, marilah kita bicara lagi dengan baik. Duduklah dan dengarkan ceritaku.”

Melihat pemuda itu bersikap lembut, dan nampak tampan sekali dengan senyumnya yang memikat, hati Bi- kwi menjadi sabar dan tenang kembali. Tetapi ia masih cemberut ketika ia duduk kembali.

“Dengarkanlah baik-baik dan jangan sekali-kali membiarkan urusan ini sampai terdengar orang lain. Kami, yaitu guruku dan aku, telah menjadi pembantu-pembantu utama di luar pengetahuan orang lain, sebagai pembantu-pembantu rahasia, dari Hou-taijin di kota raja.”

Bi-kwi menjebikan bibirhya. Urusan begitu saja dirahasiakan, pikirnya. Apa sih hebatnya menjadi antek pembesar? Bahkan dianggapnya sebagai pekerjaan hina dan rendah! Masa orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi, yang mempunyai kedudukan tinggi pula di dunia hitam, sudi menjadi antek segala macam pembesar?

“Siapa sih Hou-taijin itu?” tanyanya dengan suara jelas mengandung ejekan.

Kini Bhok Gun yang memandang dengan sinar mata penuh keheranan. “Sumoi, ehh, nona! Benarkah engkau belum pernah mendengar tentang Hou-taijin di kota raja?”

Bi-kwi menggeleng. “Aku tak ada urusan dengan segala pembesar brengsek!”

“Ahhh, kalau begitu nona telah ketinggalan jaman! Semua orang membicarakan tentang Hou-taijin! Bayangkan saja, kalau ada orang yang tadinya bekerja sebagai kuli, sebagai pemanggul joli sekarang dapat mencapai pangkat sehingga dicalonkan sebagai perdana menteri kerajaan, apakah orang itu tidak hebat sekali?”

Bi-kwi tercengang juga. Tidak dapat disangkal lagi. Orang itu tentu hebat. Ia mengerti bahwa pangkat perdana menteri hanya satu tingkat di bawah kaisar! Bahkan pernah ia mendengar bahwa urusan kerajaan bahkan dikendalikan oleh tangan perdana menteri, sedangkan kaisar hanya mengangguk setuju atau menggeleng tidak setuju saja. Kalau menjadi pembantu-pembantu seorang calon perdana menteri, ini lain lagi urusannya dan ia pun mulai tertarik.

Melihat sikap Bi-kwi yang mulai tertarik, Bhok Gun melanjutkan ceritanya. “Sekarang pun guruku sudah berada di kota raja. Kami menjadi pembantu-pembantu rahasia dari Hou-taijin. Selain melaksanakan perintah-perintah rahasia, juga kami ditugaskan untuk mempengaruhi seluruh tokoh dunia hitam agar dapat menjadi pendukungnya. Untuk itu, selain hadiah berupa harta benda yang amat besar, juga mereka yang berjasa akan diberi hadiah kedudukan.”

“Hemm, apa artinya harta benda?” kata pula Bi-kwi.

“Tentu saja guruku dan aku tidak butuh harta benda. Apa sulitnya jika kita membutuhkan harta benda? Tinggal ambil saja dari rumah-rumah para hartawan. Akan tetapi bukan itu yang menjadi cita-cita kami, akan tetapi pangkat tinggi! Jika sampai aku kelak menerima anugerah pangkat tinggi, misalnya panglima atau setidaknya kepala salah suatu daerah, bukankah itu jauh lebih berarti dari pada sekedar harta benda? Ingat, tanpa hubungan baik dengan salah seorang pembesar tinggi yang berpengaruh, hanya mengandalkan kepandaian silat saja, tidak mungkin dapat menjadi seorang pembesar yang menduduki pangkat tinggi. Seorang datuk di dunia hitam, walau pun disembah-sembah, akan tetapi hanya oleh golongan hitam saja. Sebaliknya, seorang pembesar tinggi akan dihormat dan disembah oleh semua golongan, dengan kekuasaan yang tak terbatas.”

“Hemm, dan bagaimana engkau akan dapat mempengaruhi para tokoh dunia hitam untuk mendukung pembesar she Hou itu?”

“Tentu saja dengan meraih kedudukan pimpinan dunia hitam!”

“Akan tetapi itulah cita-citaku, merampas pusaka Liong-siauw-kiam dan mengangkat diri menjadi bengcu!” kata pula Bi-kwi dengan alis berkerut.

“Bagus! Aku akan membantumu, sumoi. Aku membantumu merampas pusaka dan membantumu menjadi bengcu, kemudian engkau dengan pengaruhmu membantu aku. Bukankah ini menjadi suatu kerja sama yang amat baik dan saling menguntungkan?”

Bi-kwi benar-benar merasa tertarik sekarang. Tentu saja ia memandang dari segi yang menguntungkan dirinya. Kalau dibantu oleh seorang yang lihai seperti laki-laki ini, tentu saja harapannya lebih besar untuk dapat merampas pusaka dari tangan Pendekar Suling Naga yang sakti itu. Juga dalam mengangkat diri menjadi bengcu, tentu ia akan menghadapi banyak saingan, maka tenaga bantuan seorang seperti Bhok Gun, apa lagi kalau orang ini masih terhitung saudara seperguruannya, tentu saja amat berharga.

“Hemm, aku masih belum yakin apakah dapat bekerja sama denganmu ataukah tidak,” katanya dan sepasang mata yang tajam itu menyambar-nyambar bagai kilat menjelajahi seluruh muka dan tubuh Bhok Gun penuh selidik.

Bhok Gun merasa seluruh tubuhnya seperti diraba-raba yang langsung membuatnya panas dingin. Hebat wanita ini, sinar matanya saja mampu membuatnya terangsang.

“Memang harus dibuktikan dulu apakah kita akan dapat bekerja sama,” katanya sambil bangkit berdiri dan memandang dengan sinar mata penuh gairah dan ajakan. “Mau sama-sama kita buktikan sekarang juga?” Ajaknya dengan ulungan tangan.

Bi-kwi tersenyum. Ia suka kepada pria ini, seorang pria yang berpengalaman dan penuh pengertian. Agaknya, melihat ketampanan wajah dan ketegapan tubuhnya, menjanjikan sesuatu yang akan amat menyenangkan dirinya. Maka ia pun bangkit dan menghampiri pria itu, menoleh kepada Bi Lan sambil berkata, “Sumoi, kita tinggal di sini selama beberapa hari, baru melanjutkan pejalanan.”

Bhok Gun tersenyum. “Jangan khawatir, sumoi-mu akan memperoleh pelayanan yang istimewa.” Dia bertepuk tangan tiga kali dan muncullah dua orang pelayan wanita yang muda dan cantik-cantik.

“Berikan kamar tamu yang terbaik, di sebelah kiri kamarku itu, kepada nona ini dan layani dia sebaik mungkin sebagai seorang tamu agung. Malam ini sediakan hidangan termewah untuk menghormati dua orang tamu agung,” kata Bhok Gun dan dua orang wanita itu membungkuk dengan hormat sambil tersenyum manis.

“Marilah, sumoi… eh, Ciong Siocia!” kata Bhok Gun sambil menggandeng tangan Bi-kwi yang hanya tersenyum dan mereka pun pergi masuk ke dalam.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Dia sudah mengenal watak cabul dari suci-nya dan tahu bahwa suci-nya telah menarik tuan rumah itu sebagai seorang kekasih baru. Ia tidak peduli akan hal ini, hanya merasa tak enak dan canggung harus berada seorang diri di tempat asing itu. Akan tetapi ia pun tidak membantah ketika dua orang wanita pelayan itu dengan hormat mempersilakan dia ke kamarnya yang ternyata merupakan sebuah kamar yang indah dan mewah pula.

Siapakah sebetulnya pembesar bernama Hou Seng yang disebut-sebut oleh Bhok Gun itu? Bukankah kita sudah tahu bahwa pemuda Gu Hong Beng juga membawa tugas dari gurunya, pendekar sakti Suma Ciang Bun, untuk menyelidiki pembesar Hou Seng di kota raja! Siapakah Hou Seng ini dan mengapa dia begitu penting?

Dalam kehidupan kaisar Kian Liong, seperti juga kehidupan para kaisar-kaisar lainnya, terdapat banyak rahasia yang tidak dicatat dalam sejarah. Pada waktu itu, kekuasaan kaisar tak terbatas dan tentu saja yang dicatat dalam sejarah hanya kebaikan-kebaikan seorang kaisar saja. Keburukan-keburukannya selalu disembunyikan dan siapa berani membicarakan apa lagi mencatatnya, tentu akan dihukum mati, mungkin sekeluarganya agar rahasia busuk itu tidak sampai bocor keluar. Karena itu, di dalam sejarah, Kaisar Kian Liong hanya dikenal sebagai seorang kaisar yang amat bijaksana dan baik, dan memang telah banyak jasanya untuk kemajuan pemerintah Ceng-tiauw atau pemerintah Mancu.

Akan tetapi di balik semua itu, sebagai seorang manusia biasa, tentu saja ia memiliki kelemahan- kelemahan. Dan satu di antara kelemahannya adalah bahwa kaisar seorang yang tidak membatasi dirinya dalam kesenangan memuaskan nafsu birahinya. Banyak sudah dia terlibat dalam hubungan jinah dengan wanita-wanita yang bukan isteri atau selirnya. Dan wanita-wanita itu biar pun isteri pembesar dalam istana atau siapa saja, agaknya dengan senang hati akan melayani kaisar yang merupakan orang yang paling berkuasa itu, di samping bahwa memang Kaisar Kian Liong seorang pria yang menarik.

Akan tetapi, setelah kini kaisar itu berusia kurang lebih setengah abad, terjadi suatu keanehan pada dirinya. Keanehan ini memang pada waktu itu banyak hinggap pada para pembesar-pembesar tinggi, yaitu kegemaran akan wanita-wanita muda yang cantik jelita beralih kepada kegemaran mempunyai pelayan- pelayan pria muda yang tampan. Kegemaran tidur dikawani seorang wanita muda berubah menjadi kegemaran tidur ditemani seorang pemuda tampan!

Ketika pada suatu hari Kaisar Kian Liong sedang naik joli untuk pergi ke bagian lain dari istananya yang amat luas itu, untuk mengunjungi sebuah taman bunga mawar yang sedang berkembang dengan indah, tanpa disengaja pandang matanya bertemu dengan seorang pemuda yang tampan dan ketika pandang mata kaisar melihat wajah pemuda ini dari samping, hampir saja kaisar ini berseru kaget. Wajah itu mirip sekali dengan wanita yang pernah membuatnya tergila-gila!

Terkenanglah Kaisar Kian Liong akan peristiwa itu, peristiwa yang terjadi ketika dirinya masih menjadi pangeran, menjadi putera mahkota yang disanjung dan dimanja. Ketika itu dia masih amat muda, baru delapan belas tahun usianya dan semuda itu dia sudah memiliki banyak pengalaman dengan wanita. Dan seperti biasa, kalau orang menuruti nafsu, maka nafsu akan memperhambanya. Makin dituruti nafsu, makin hauslah dia!

Pada waktu itu, ayahnya, kaisar tua, baru saja memperoleh seorang selir dari daerah barat, seorang gadis yang amat cantik. Melihat selir ayahnya ini, hati Pangeran Kian Liong tergila-gila dan dia pun menggunakan segala usaha untuk dapat memetik bunga harum yang telah disimpan ayahnya itu.

Akan tetapi, sungguh tak pernah disangkanya bahwa selir muda itu ternyata amat setia kepada kaisar yang tua, dan biar pun pada waktu itu Pangeran Mahkota Kian Liong terkenal sebagai seorang pemuda yang penuh gairah dan tampan, segala bujuk rayu pangeran itu ditolaknya mentah-mentah! Hal ini lalu membuat hati Kian Liong penasaran bukan main.

Pada suatu malam, dia berhasil memasuki kamar selir ini selagi ayahnya menggilir selir lain. Kembali dia membujuk, merayu dan bahkan hendak mempergunakan kekerasan terhadap diri selir itu. Akan tetapi sang selir tetap menolak dan ketika hendak diperkosa, ia menjerit-jerit! Tentu saja hal ini menimbulkan aib. Pada saat itu, ibunda permaisuri lalu mengambil tindakan. Urusan dibalik, dan selir itu yang dituduh hendak menggoda sang pangeran mahkota, maka akhirnya selir itu pun dipaksa harus membunuh diri dengan menggantung diri!

Demikianlah kekuasaan keluarga kaisar di waktu itu. Bagi keluarga kaisar, tidak ada kesalahan! Kesalahan tidak terdapat dalam kamus keluarga kerajaan. Segala yang dilakukan adalah benar, maka yang bersalah tentu saja si selir, yang hanya merupakan keluarga sampingan atau pendatang dari luar!

Akan tetapi, wajah selir itu tak pernah dapat dilupakan Kian Liong. Dia merasa menyesal sekali tidak dapat memiliki wanita itu. Makin dibayangkan, semakin penasaran hatinya. Belum pernah dia ditolak oleh seorang wanita sebelum itu, dan satu-satunya wanita yang menolaknya itu tentu saja mendatangkan kesan yang amat mendalam di hatinya.

Demikianlah, ketika dia berusia hampir setengah abad, melihat wajah seorang pemikul joli itu demikian mirip dengan wanita yang pernah digilainya, hatinya tergerak. Apa lagi pada saat dia mendengar keterangan bahwa Hou Seng, demikian nama pemikul tandu berusia hampir tiga puluh tahun itu, dilahirkan pada hari yang sama dengan kematian wanita yang dipaksa menggantung diri, yakinlah hati Kaisar Kian Liong bahwa Hou Seng adalah penjelmaan kembali dari selir ayahnya yang digilainya itu!

Mungkin terdorong oleh kepercayaan ini, atau memang dia sudah bosan dengan wanita-wanita muda, maka mulai hari itu, Hou Seng menjadi pelayan dalam yang tidak dikebiri! Menjadi pelayan pribadi kaisar dan menemani kaisar itu dalam kamar tidurnya! Dan mulailah bintang Hou Seng naik dengan gemilang.

Apa lagi dia memang orang yang cerdik sekali. Begitu dia memperoleh perhatian kaisar, tiap ada waktu senggang dia pergunakan untuk memperdalam pengetahuannya tentang ilmu baca tulis, tentang sastera, tentang ketatanegaraan sehingga dia terus menanjak menjadi pejabat tinggi dalam istana. Bahkan akhir- akhir ini ramai diperbincangkan orang di kalangan istana bahwa pembesar Hou Seng ini dicalonkan untuk menjadi perdana menteri, menggantikan perdana menteri tua yang akan mengundurkan diri.

Setiap hasil baik yang dicapai seseorang biasanya memancing datangnya rasa iri hati dari orang lain, terutama kalau orang lain itu berkecimpung di dalam bidang pekerjaan yang sama. Apa lagi kalau hasil baik itu didapatkan dengan cara yang dianggap tidak wajar.

Demikian pula dengan Hou Seng. Banyak rekannya para pembesar, para pamong praja dan para mentri, bahkan panglima, merasa iri hati dan banyak yang membencinya. Seperti biasa pada jaman itu pria yang dijadikan selir rahasia atau teman tidur seorang pria lain, dinamakan Kelinci, julukan untuk seorang seperti Hou Seng. Dia pun diam-diam dimaki orang dengan julukan Kelinci Istana!

Hou Seng bukan tidak maklum bahwa dirinya dibenci banyak orang. Bahkan ada pula yang mengancam untuk membunuhnya kalau ada kesempatan. Oleh karena ini, Hou Seng semakin merapatkan diri dengan kaisar untuk memperoleh perlindungan. Selain itu, dia pun mulai menyusun kekuatannya sendiri agar selain dapat melindungi dirinya, juga dapat membalas, bahkan kalau mungkin menghancurkan dan membasmi musuh-musuhnya!

Sebagai seorang pembesar sipil, tentu saja dia tidak bisa memperoleh perlindungan pasukan bala tentara, kecuali sepasukan kecil pengawal saja. Oleh karena itulah maka dia mulai mengadakan hubungan ke luar istana. Tentu saja yang dapat dikaitnya adalah tukang-tukang pukul, penjahat-penjahat dan ahli-ahli silat yang ingin memperoleh uang banyak dari keahliannya itu.

Akhirnya dia berkenalan dengan Bhok Gun dan gurunya yang melihat kesempatan baik untuk mengangkat diri mereka dengan harapan kelak akan memperoleh kedudukan tinggi melalui kekuasaan Hou Seng. Dan karena guru dan murid ini memang memiliki kepandaian tinggi, segera mereka memperoleh kepercayaan Hou Seng.

Apa lagi ketika Bhok Gun dan gurunya telah membuat jasa besar dengan melakukan pembunuhan secara rahasia terhadap beberapa orang pembesar tinggi yang menjadi musuh-musuh utama dari Hou Seng. Tak kurang dari tujuh orang pembesar musuhnya kedapatan mati dalam kamar masing-masing tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya.

Tentu saja Hou Seng tahu karena dialah yang mengutus Bhok Gun dan gurunya untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Semenjak ini, guru dan murid ini diangkat menjadi pembantu pribadi yang utama dan mereka diserahi tugas untuk mengumpulkan dan mempengaruhi para tokoh di dunia hitam agar mereka suka mendukung Hou Seng dan kalau sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan agar siap siaga!

Demikianlah keadaan sebenarnya dari kehidupan Kaisar Kian Liong yang dirahasiakan dan tidak terdapat dalam sejarah. Di dalam sejarah hanya disebutkan nama Hou Seng sebagai seorang pembesar atau menteri korup yang kelak setelah Kaisar Kian Liong meninggal dunia dan Kaisar Chai Ceng menjadi kaisar, atas tuntutan lebih dari enam puluh orang pejabat tinggi, Hou Seng ditangkap dan diadili, lalu dijatuhi hukuman mati dengan jalan diijinkan menggantung diri, tidak dipenggal kepalanya mengingat betapa orang ini pernah melayani mendiang Kaisar Kian Liong. Hebatnya, kemudian diketahui bahwa harta kekayaan yang disimpan oleh Hou Seng bahkan melampaui jumlah harta kekayaan istana sendiri. Busyet…..

Sore hari itu, setelah mandi dan berganti pakaian, Bi Lan diberi tahu oleh pelayan bahwa hidangan telah disediakan dan bahwa dia diharapkan oleh tuan rumah untuk makan malam di ruangan makan.

Bi Lan mengikuti pelayan wanita itu dan memasuki sebuah ruangan yang bersih dan indah, di mana telah dipersiapkan hidangan di atas meja bundar yang cukup besar. Bau masakan yang masih panas menyambut hidungnya dan tiba-tiba saja Bi Lan merasa betapa perutnya amat lapar. Oleh pelayan wanita ia dipersilakan duduk. Tak lama Bi Lan menanti karena segera terdengar langkah-langkah orang dan ketika ia menengok, mukanya menjadi merah sekali melihat betapa suci-nya datang bersama tuan rumah dalam suasana yang amat akrab dan mesra!

Suci-nya tersenyum-senyum, bergandeng tangan dengan Bhok Gun dan menggerakkan kepala menengadah, memandang pria itu dengan sinar mata penuh kasih. Suci-nya itu bergantung kepada lengan Bhok Gun dengan sikap manja dan mesra, seperti pengantin baru saja! Juga pakaian suci-nya itu baru dan berbau harum ketika sudah tiba dekat. Tanpa diberi tahu pun Bi Lan maklum bahwa telah terdapat persetujuan dan kecocokan antara suci-nya dan ketua baru Ang-i Mo-pang itu!

Mereka berdua duduk bersanding, berhadapan dengan Bi Lan. Bi-kwi yang lebih dulu membuka suara berkata kepada sumoi-nya, “Siauw-kwi, kami telah bersepakat untuk saling bantu, dan memang antara kami masih ada ikatan keluarga seperguruan. Sute Bhok Gun dan aku mau bekerja sama dan engkau menjadi pembantu kami.”

“Benar, sumoi Can Bi Lan, mulai sekarang aku adalah suheng-mu. Kita berdua harus mentaati semua perintah suci Ciong Siu Kwi,” berkata pula Bhok Gun dengan senyum manis kepada Bi Lan.

Diam-diam hati Bi Lan menjadi geli mendengar namanya dan nama suci-nya disebut dengan lengkap. Sambil tersenyum geli ia menoleh kepada suci-nya. Agaknya Bi-kwi maklum akan isi hati sumoi-nya, maka ia pun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh, “Sumoi, kita tidak lagi tinggal bersama tiga orang suhu kita dan sute tidak suka mendengar sebutan Bi-kwi dan Siauw-kwi. Bagaimana pun juga, jika kelak kita menjadi orang-orang berkedudukan tinggi, segala sebutan jelek itu harus ditinggalkan dan mulai sekarang kita harus belajar menjadi orang sopan.”

Hati Bi Lan menjadi makin geli. “Suci, apakah ini berarti bahwa mulai sekarang engkau juga tidak akan melakukan hal-hal yang jahat lagi?”

Bi-kwi dan Bhok Gun saling bertukar pandang, lalu Bhok Gun yang menjawab, “Sumoi, apa sih yang dimaksudkan dengan perbuatan jahat itu? Dia tidak pernah melakukan perbuatan jahat, yang kita lakukan adalah perbuatan yang menguntungkan diri sendiri. Bukankah ini sudah benar dan tepat? Kita berbuat untuk memperebutkan sesuatu yang baik dan menguntungkan untuk diri kita, untuk kehidupan kita. Kalau perlu kita harus menyingkirkan siapa saja yang manjadi penghalang kita.”

Bi Lan sudah hafal akan pendapat seperti itu, pendapat yang selalu ditanamkan oleh Sam Kwi, bahkan semua orang di dunia hitam atau golongan sesat.

“Maksudku bukan itu, suci,” katanya, tetap kepada Bi-kwi karena ia masih enggan harus bicara kepada laki-laki yang mengaku suheng-nya dan yang matanya memiliki sinar seperti hendak menelanjanginya itu. “Biasanya suci tidak peduli akan segala sopan santun, akan tetapi sekarang mendadak hendak merubah cara hidup. Sungguh lucu nampaknya,” katanya sambil tersenyum.

“Sudahlah, engkau masih terlalu muda untuk tahu akan urusan penting,” kata Bi-kwi. “Mari kita makan, perutku sudah lapar sekali!”

Mereka lalu makan minum dan dua orang yang sedang berkasih-kasihan itu menyelingi makan minum itu dengan tingkah dan ucapan-ucapan mesra, bahkan kadang-kadang saling suap dengan sumpit mereka.

Tentu saja hal ini membuat Bi Lan merasa canggung sekali dan ia menundukkan muka saja sambil makan dengan amat hati-hati. Pengalamannya ketika ia diloloh arak oleh tiga orang suhu-nya, kemudian ditawan oleh Sam Kwi, membuat ia berhati-hati dan sedikit pun tidak mau menyentuh arak. Ia tidak khawatir akan racun yang dicampurkan makanan atau minuman karena ia pernah mempelajari tentang racun dari Iblis Mayat Hidup yang ahli racun sehingga ia dapat menolak kalau sampai makanan atau minuman itu dicampuri racun.

Maka ia hanya makan makanan yang telah dimakan oleh tuan rumah, dan dia sama sekali tidak mau minum arak setetes pun. Karena selalu menundukkan muka, ia tidak melihat betapa Bi-kwi dan Bhok Gun kadang-kadang mengamatinya dengan pandang mata penuh selidik dan sikapnya yang hati-hati itu agaknya diketahui pula oleh mereka.

Bi Lan sama sekali tidak tahu bahwa tadi, di dalam kamar Bhok Gun, ketika beristirahat dari kegiatan mereka untuk ‘saling mengenal’ atau melihat apakah mereka bisa ‘bekerja sama’, dua orang itu juga telah menyinggung namanya, bahkan membicarakan tentang dirinya dengan serius.

“Agaknya sumoi-mu itu tidak suka padamu, atau tidak begitu cocok, bahkan nampaknya bercuriga terhadap kita,” kata Bhok Gun.

“Memang antara aku dan ia tidak ada kecocokan. Aku juga heran mengapa Sam Kwi mau mengambil anak macam itu sebagai murid mereka yang ke dua. Hemm, anak itu kelak hanya akan mendatangkan pusing saja bagiku.”

“Hemm, suci yang baik, kalau memang begitu, kenapa tidak dari dulu-dulu kau bunuh saja sumoi yang tiada guna itu?”

Bi-kwi menarik napas panjang dan mengerutkan alis. “Ahhh, kau kira aku begitu bodoh? Memang ada keinginan itu di hatiku, tetapi aku tidak pernah memperoleh kesempatan yang baik. Ketika dia masih kecil, akulah yang disuruh melatihnya. Tapi aku tidak dapat membunuhnya karena Sam Kwi kelihatan sayang padanya. Aku akan mendapat marah besar kalau ketika itu kubunuh. Aku lalu melatihnya, akan tetapi sengaja kuselewengkan sehingga dia tidak dapat mempelajari ilmu silat yang benar, melainkan kacau balau, bahkan latihan sinkang yang kuselewengkan membuat ia hampir gila.”

“Bagus sekali! Ha-ha-ha, engkau sungguh cerdik dan mengagumkan sekali!” Bhok Gun demikian kagum dan girang sehingga dia lalu menghadiahkan beberapa ciuman mesra kepada Bi-kwi yang membalasnya dengan tak kalah bersemangatnya.

Sejenak mereka lupa akan percakapan tadi, akan tetapi ketika teringat kembali, Bhok Gun bertanya, “Lalu mengapa ia kini tidak kelihatan seperti gila lagi?”

Kembali Bi-kwi menarik napas panjang. Biasanya, wanita ini tak pernah memperlihatkan perasaan hatinya. Akan tetapi kini ia berada dalam keadaan santai dan suasana mesra, maka ia pun seperti wanita biasa yang diombang-ambingkan antara suka dan duka, puas dan kecewa tanpa pengendalian diri sama sekali.

“Entah dia yang terlalu beruntung ataukah aku yang terlalu sial. Ketika Sam Kwi sedang bertapa untuk menciptakan ilmu baru, aku mendapat kesempatan sepenuhnya terhadap diri Siauw-kwi. Ia sudah hampir gila karena latihan yang salah. Akan tetapi tiba-tiba saja ia menjadi sembuh dan setelah kuselidiki, ternyata ia bertemu dengan suami isteri yang telah mengobatinya!” Bi-kwi mengepal tangan kanannya dengan gemas. “Dan aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka!”

“Ehh?” Bhok Gun mengangkat alisnya, memandang heran. Kalau kekasihnya ini sampai tidak mampu melakukan sesuatu, tentu suami isteri itu bukanlah orang sembarangan. “Siapakah mereka?”

“Si Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya.”

“Ohhh…!” Sepasang mata Bhok Gun terbelalak dan tentu saja dia pernah mendengar nama pendekar yang sudah seperti nama dalam dongeng itu karena dunia kang-ouw hanya mengenal namanya tanpa pernah melihat orangnya.

“Akan tetapi, apakah setelah itu engkau tak dapat membunuhnya? Kulihat ia melakukan perjalanan bersamamu, berarti engkau mempunyai banyak kesempatan.”

Bi-kwi menggeleng kepala. “Kami berdua mempelajari ilmu baru dari Sam Kwi. Kulihat ia telah menguasai ilmu-ilmu kami dan dapat menjadi seorang pembantu yang cukup lihai. Mengingat akan cita-citaku, aku merasa bahwa dari pada membunuhnya, lebih baik menjadikan dia sebagai pembantuku untuk merampas Liong-siauw-kiam dan kedudukan bengcu. Dan ia sudah berjanji untuk membantuku.”

“Akan tetapi, bukankah sekarang ada aku?”

Bi-kwi mengangguk dan meraba dagu laki-laki itu. “Memang, sekarang ada engkau. Sebaliknya kita bunuh saja anak itu, karena kurasa kelak dia hanya akan menjadi penghalang bagi kita. Wataknya berbeda sekali dengan kita, dan ia tidak pantas menjadi murid Sam Kwi. Bahkan ada kecondongan hatinya untuk memihak musuh-musuh kita, para pendekar. Ia berlagak menjadi pendekar agaknya. Hatinya lemah.”

Bhok Gun mengangguk-angguk, lalu berkata dengan hati-hati, “Bagaimana pun juga, apakah tenaga yang demikian baiknya harus dimusnahkan begitu saja? Ingat, sekarang ini, untuk mencapai cita-cita kita, kita membutuhkan banyak tenaga yang kuat dan lihai. Dan kurasa sumoi-mu itu merupakan tenaga yang amat berharga.”

Bi-kwi mengangguk-angguk. “Itulah sebabnya sampai kini aku belum membunuhnya. Ia telah menguasai semua ilmu Sam Kwi, dan agaknya tingkatnya hanya sedikit selisih dengan tingkatku. Akan tetapi kalau tidak dibunuh dan kemudian ia berdiri di pihak yang menentang kita, bukankah hal itu akan merugikan?”

“Orang-orang pandai jaman dahulu berkata bahwa api adalah musuh yang berbahaya sekali, akan tetapi bisa menjadi pembantu yang amat menguntungkan. Kurasa demikian pula dengan sumoi-mu Can Bi Lan itu. Kalau kita pandai mempergunakan dia, bukan membunuhnya melainkan menundukkannya dan ia dapat membantu kita, bukankah hal itu menguntungkan sekali?”

Sepasang mata wanita itu memandang dengan tajam penuh selidik, kemudian bibirnya berjebi. “Huhh, laki- laki di mana pun sama saja! Aku tahu apa yang terbayang dalam pikiranmu yang kotor itu!”

Bhok Gun tersenyum lebar dan merangkul Bi-kwi, menciumnya dengan mesra sehingga wanita itu dapat tersenyum kembali. “Aihh, benarkah seorang seperti engkau ini masih dapat cemburu?”

“Siapa yang cemburu?!” Bi-kwi membentak.

Memang, ia tidak pernah merasa cemburu. Baginya, mempunyai kekasih bukan berarti mengikatkan diri. Ia boleh bebas memilih pria, sebaliknya ia pun tidak akan melarang kekasihnya mendekati wanita lain. Kalau memang masih sama suka, tentu tidak akan menoleh kepada orang lain.

“Sam Kwi juga tadinya berusaha untuk menggagahi sumoi agar dapat menundukkan hatinya yang keras. Akan tetapi aku mencegah dan melarikan sumoi, karena dengan demikian dia akan berhutang budi dan untuk membalasnya, dia sudah berjanji untuk membantuku.”

“Akan tetapi kini engkau ragu-ragu karena sikapnya yang seperti hendak menentang kita. Habis, bagaimana baiknya? Dibunuh kau tidak setuju. Kutaklukkan ia kau pun tidak setuju.”

“Bukan tidak setuju, hanya saja aku sangsi akan hasilnya. Andai kata engkau mampu menundukkannya dan menggagahinya, aku tidak yakin ia akan mau tunduk. Bahkan mungkin ia akan merasa sakit hati, mendendam dan memusuhi kita. Orang macam ia amat mementingkan kehormatan seperti para pendekar. Kecuali kalau dia menyerahkan diri dengan tulus dan suka rela kepadamu…”

“Hal itu bisa diusahakan! Aku memiliki modal cukup untuk itu, bukan? Kalau ia kurayu, kuperlakukan dengan baik, aku tidak percaya akhirnya ia tidak akan bertekuk lutut dan menyerahkan diri.” Dalam hal ini, Bhok Gun tidak membual karena memang sudah tak terhitung banyaknya wanita yang jatuh oleh rayuannya yang ditambah ketampanan dan kelihaiannya pula.

“Hmm, jangan sombong kau! Sumoi-ku adalah seorang perawan yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan pria dan agaknya belum siap untuk menyerahkan diri kepada seorang pria.”

“Ha-ha-ha, justru yang masih hijau itulah yang paling mudah. Kau lihatlah saja, dalam waktu satu dua hari saja ia tentu akan jatuh ke dalam pelukanku dan selanjutnya akan menjadi boneka yang selalu mentaati segala perintahku.”

“Kita sama lihat saja.”

Demikianlah rencana yang diatur oleh Bi-kwi dan Bhok Gun. Usia mereka sebenarnya sebaya, dan mungkin Bi-kwi lebih tua satu dua tahun. Bukan karena usia maka Bi-kwi minta disebut suci oleh ketua Ang-i Mo-pang itu, melainkan sebutan itu membuat dia merasa bahwa ia lebih unggul dan lebih menang dalam tingkat dan kedudukan.

“Sumoi, pertemuan di antara kita sungguh merupakan peristiwa yang menggembirakan sekali, bukan? Siapa mengira bahwa aku akan bertemu dengan suci dan sumoi, dua orang saudara seperguruan. Kalau tidak melihat gerakan-gerakan silat kalian, tentu aku tidak akan pernah menduga. Bahkan dengan ketiga orang guru kalian pun yang masih terhitung paman-paman guruku, belum pernah aku bertemu.”

Bi Lan mengangguk, lalu berkata sambil melirik ke arah suci-nya. “Bagi suci tentu amat menggembirakan karena kalian dapat bekerja sama untuk merampas kembali pedang pusaka Suling Naga, dan dapat bersama-sama merebut kedudukan bengcu. Akan tetapi aku yang tidak mempunyai keinginan apa-apa, tidak ada artinya.”

“Ehhh, mengapa begitu, sumoi?” Bhok Gun berseru sambil tersenyum, dia memasang senyumnya yang paling menarik. “Bagiku, kegembiraan ini besar sekali, bukan karena kalian yang menjadi saudara-saudara seperguruanku amat lihai, akan tetapi juga kalian merupakan dua orang gadis yang amat cantik jelita seperti bidadari!”

“Hi-hik, sute Bhok Gun ini ganteng dan pandai merayu, bukan, sumoi? Senang sekali punya saudara seperguruan seperti dia ini!”

Bi Lan hanya tersenyum simpul saja mendengar ucapan suci-nya itu, tanpa menjawab, akan tetapi diam- diam mukanya berubah sedikit merah karena percakapan itu, puji memuji ketampanan dan kecantikan, terasa asing baginya.

“Suci dan sumoi, perkenankanlah aku memberi ucapan selamat datang kepada kalian dan terimalah hormatku dengan secawan arak!”

Bhok Gun lalu menuangkan arak dari sebuah guci merah ke dalam dua buah cawan dan dia menyerahkan dua cawan itu kepada Bi Lan dan Siu Kwi. Setan Cantik itu cepat menyambar cawan arak suguhan Bhok Gun, akan tetapi Bi Lan menolak.

“Aku tak biasa minum arak, biarlah aku minum teh ini saja,” katanya sambil mengangkat cangkir teh.

“Aih, sumoi yang manis. Pemberian secawan arak ini merupakan penghormatan dariku, biar pun engkau tidak biasa minum arak, apa salahnya sekarang minum satu dua cawan untuk merayakan pertemuan yang menggembirakan ini? Terimalah, sumoi.”

Bi Lan tetap menolak. “Tidak, suheng. Aku tidak biasa dan minum sedikit saja tentu akan mabok. Aku sudah mendapatkan pengalaman yang pahit sekali dengan minum arak dan mabok, dan aku tidak mau mengulangnya lagi.”

Bhok Gun melirik ke arah Siu Kwi dan tertawa, suara ketawanya lantang dan sepasang matanya bersinar- sinar. “Ha-ha-ha, sumoi yang jelita. Maksudmu tentulah pengalaman minum arak, mabok dan hendak diperkosa oleh tiga orang gurumu? Ha-ha, akan tetapi aku bukan Sam Kwi, sumoi. Aku takkan melakukan hal yang keji itu. Bagiku, cinta harus dilakukan dengan suka rela, bukan paksaan.”

“Suka rela atau paksaan, aku tidak sudi!” Bi Lan berkata ketus dan ia pun bangkit berdiri dan melangkah hendak meninggalkan ruangan makan itu, kembali ke kamarnya.

Akan tetapi dengan beberapa loncatan saja Bhok Gun sudah menghadang di depannya dan laki-laki ini lalu memberi hormat dengan menjura dalam-dalam, merangkap kedua tangan di depan dada. “Maaf, ahh, apakah engkau tidak dapat memaafkan aku, sumoi. Aku memang suka sekali berkelakar dan kalau tadi aku mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan hatimu yang halus, maafkanlah aku. Maafkan aku sebagai tuan rumah, juga sebagai suheng yang menyayangi sumoi-nya dan menghormati tamunya. Aku tidak akan mengulang lagi tentang minum arak.”

Melihat pria itu bersikap dengan sopan dan demikian menghormat, Bi Lan merasa tidak enak kalau melanjutkan kemarahannya. Apa lagi mendengar suci-nya tertawa terkekeh dan berkata, “Aiihh, sumoi, apakah mendadak saja engkau menjadi seorang yang suci dan tidak dapat menghadapi kelakar dan godaan? Hi-hik, kami berdua agaknya malah kedahuluan olehmu. Kami belum biasa hidup sopan santun seperti yang diminta sute, engkau malah agaknya sudah menjadi orang sopan yang tidak sudi mendengar kelakar nakal, hi-hi-hik.”

Bi Lan terpaksa kembali ke tempat duduknya dan dengan sikap serius dia berkata, ditujukan kepada suci- nya, tidak langsung kepada Bhok Gun walau pun kepada pria itulah sebenarnya ucapannya ditujukan, “Aku tidak peduli akan kelakar atau apa saja, akan tetapi asal tidak menyangkut diriku. Kalau menyangkut diriku, aku tidak sudi orang bersikap kurang ajar kepadaku, siapa pun juga orang itu.”

“Maaf, sumoi, aku sama sekali tidak berani kurang ajar kepadamu. Kalau ada seorang laki-laki berani kurang ajar kepadamu, akulah yang akan menghajarnya. Engkau adalah sumoi-ku yang cantik jelita, manis dan sopan, aku harus menjagamu baik-baik.”

“Hi-hi-hik, masih perawan lagi, dan selamanya belum pernah bersentuhan dengan pria, bukankah begitu, sumoi?” kata Bi-kwi mengejek.

“Ahhh, kalau begitu sumoi Can Bi Lan adalah seorang dara yang bagaikan setangkai bunga masih bersih dan suci, belum pernah terjamah tangan, belum pernah tersentuh kumbang, harus makin dijaga baik-baik,” kata Bhok Gun yang sengaja bersikap baik untuk mencari muka.

Akan tetapi dasar dia seorang gila perempuan, ucapan-ucapannya itu malah membuat Bi Lan merasa tidak enak walau pun itu merupakan pujian. Ia tidak mau mencampuri ucapan-ucapan mereka itu dan melanjutkan makan minum yang tadi belum selesai.

“Hemm, aku sih tidak ingin menjadi kembang yang belum tersentuh kumbang, tak ingin menjadi dara atau perawan murni yang belum pernah berdekatan dengan pria, aku tidak mau tidur sendiri kedinginan. Aku ingin kehangatan setiap saat…,” kata pula Bi-kwi dan ia pun bangkit dari tempat duduknya, merangkul Bhok Gun dan mencium bibir pria itu dengan penuh napsu.

Bhok Gun tersenyum dan segera maklum akan maksud kekasih barunya ini, yaitu untuk membangkitkan rangsangan dan birahi di dalam hati Bi Lan. Maka dia pun membalas ciuman itu. Keduanya lalu bercumbu, berangkulan dan berciuman begitu saja di depan Bi Lan, tanpa malu-malu lagi bahkan mereka sengaja melakukan cumbuan-cumbuan yang tidak sepantasnya diperlihatkan orang lain. Bhok Gun menggunakan sumpitnya menggigit sepotong daging dan secara pamer sekali dia menyuapkan daging itu dari mulutnya ke mulut Bi-kwi yang menerimanya sambil terkekeh genit.

Dapat dibayangkan betapa besar rasa malu menekan batin Bi Lan. Selamanya belum pernah ia melihat adegan-adegan seperti itu, dalam mimpi pun belum. Biar pun ia tahu bahwa suci-nya adalah kekasih tiga orang gurunya dan mereka melakukan hubungan suami isteri, namun tiga orang gurunya tak pernah mencumbu suci-nya itu di depannya. Dan ia pun tahu bahwa suci-nya sering kali menculik dan memaksa pemuda-pemuda tampan untuk menggaulinya, namun hal ini pun terjadi di luar tahunya.

Baru kini ia melihat suci-nya bercumbu sebebas itu dengan seorang pria di depannya. Tadinya ia hanya menundukkan muka sambil makan dan tidak sudi memandang, akan tetapi suara-suara cumbuan itu masih saja menusuk telinganya dan akhirnya ia pun bangkit berdiri. Tidak dapat ia bertahan lebih lama lagi. Bukan karena suara-suara dan pandangan-pandangan itu dianggapnya tidak sopan dan cabul, karena semenjak kecil ia digembleng oleh tiga orang guru yang berjuluk Tiga Iblis, yang tidak mengenal sama sekali tentang sopan santun, dan hanya karena memang nalurinya yang halus saja Bi Lan tidak terseret, akan tetapi yang membuat ia tidak dapat bertahan adalah karena adegan itu mendatangkan suatu perasaan yang membuatnya takut sendiri.

Perasaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Yang membuatnya berdebar-debar dan menimbulkan perang di dalam batinnya. Di satu pihak, ada suara hatinya membisikkan bahwa perbuatan yang dilakukan dua orang di depannya itu sama sekali tidak patut dilihat atau didengar, akan tetapi ada perasaan lain membuat ia ingin sekali melihat dan mendengarkan dengan diam-diam. Hal inilah yang menakutkan hatinya dan membuat ia tidak dapat bertahan lagi, lalu ia bangkit berdiri.

“Aku… aku mau beristirahat dulu di kamarku,” tanpa menanti jawaban dua orang yang masih saling rangkul dan saling berciuman itu ia pun meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya, menutupkan daun pintu keras-keras. Ia tidak tahu betapa dua orang itu pun menghentikan permainan mereka.

“Hemm, kurasa usaha kita hampir berhasil,” kata Bhok Gun lirih.

“Hi-hik, ia mulai panas dingin. Kau memang hebat, sute. Akan tetapi awas, kalau sampai engkau berhasil kemudian lebih mementingkan sumoi dan mengesampingkan aku, kau akan kubunuh!”

Bhok Gun tersenyum dan merangkulnya. “Heh-heh-heh, cemburu lagi?”

“Tidak cemburu, akan tetapi ia masih dara, masih perawan murni. Laki-laki tentu lebih suka dan setelah mendapatkan yang muda, lalu melupakan yang tua.”

“Hemm, aku bukan pria seperti itu. Aku lebih menyukai buah yang sudah matang dari pada yang masih hijau dan mentah. Kalau aku menaklukkannya, bukan karena ingin mendapatkan yang hijau dan mentah, melainkan demi kelancaran usaha kita, bukan?”

“Nah, mari teruskan menggodanya sampai ia jatuh,” kata Bi-kwi dan sambil bergandeng tangan mereka lalu menuju ke kamar mereka yang berada di samping kamar yang ditinggali Bi Lan, hanya terpisah dinding kayu di mana terdapat sebuah pintu tembusan yang tertutup.

Dengan jantung masih berdebar dan kedua pipi kemerahan, mukanya terasa panas Bi Lan memasuki kamarnya. Apa yang dilihatnya dan didengarnya di depannya tadi, di ruang makan, benar-benar membuat hatinya tak karuan rasanya. Rasa kedewasaannya tersentuh dan ada dorongan amat kuat dan aneh yang membuat ia ingin mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara pria dan wanita. Gairahnya timbul, demikian pula keinginan untuk mengetahui dan mengalami.

Tetapi kesadarannya bahwa Bhok Gun adalah seorang laki-laki yang tidak baik, yang tidak mendatangkan rasa suka di hatinya, membuat ia menolak keras dan hatinya sudah mengambil keputusan. Kalau kelak tiba saatnya dia harus melayani pria, mencurahkan hasrat yang bernyala-nyala di dalam hatinya dan di seluruh syaraf tubuhnya itu dengan seorang pria, maka pria itu bukan Bhok Gun dan tidak seperti Bhok Gun! Rasa tidak suka kepada Bhok Gun ini menolong dan meredakan gelora batinnya yang dibakar oleh gairah birahi yang wajar dari seorang dara yang mulai bangkit dewasa.

Karena tadi tubuhnya terasa tidak karuan, Bi Lan langsung melempar tubuhnya ke atas pembaringan tanpa berganti pakaian dan tanpa membuka sepatu. Ia menelungkup dan perlahan-lahan mulai menenteramkan hatinya yang bergelora.

Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara orang di kamar sebelah. Langkah dua orang disusul ketawa cekikikan dari suci-nya! Bi Lan mengangkat kepalanya dengan hati-hati agar jangan sampai mengeluarkan bunyi. Suci-nya dan Bhok Gun memasuki kamar itu, kamar sebelah yang hanya terpisah dinding kayu. Baru langkah kaki mereka saja dapat terdengar oleh pendengarannya yang terlatih dan amat tajam. Apa lagi suara-suara lain.

Tanpa melihat saja Bi Lan bisa mendengar betapa mereka berkecupan, betapa mereka berdua menjatuhkan diri di atas pembaringan, berbisik-bisik, terkekeh dan terutama sekali suara erangan kemanjaan dari mulut suci-nya terdengar jelas. Kembali jantung Bi Lan berdebar keras, lebih hebat dari pada tadi. Api yang tadinya sudah hampir dapat dipadamkannya itu kini berkobar lagi, mendatangkan gairah rangsangan yang membuat dirinya gelisah. Ia bangkit duduk, otaknya dijejali gambaran-gambaran yang terbentuk oleh pendengarannya. Agaknya dua orang di sebelah itu mengumbar napsu mereka tanpa dikendalikan lagi.

“Ssttt, suci… jangan keras-keras, nanti terdengar sumoi di sebelah,” terdengar suara Bhok Gun berbisik, akan tetapi dapat didengar oleh Bi Lan dengan jelas sekali.

“Kalau dengar mengapa? Ia pun seorang wanita, ia berhak untuk menikmati. Kalau ia mau, sebaiknya kalau engkau yang memberi pelajaran kepadanya tentang hubungan pria dan wanita, sute. Dari pada ia belajar dari laki-laki lain yang tak dapat dipercaya!”

“Ah, mana ia mau?” terdengar laki-laki itu berkata lagi, sementara jantung di dalam dada Bi Lan berdebar semakin keras.

“Bodoh kalau ia tidak mau. Kenapa malu-malu? Aku membolehkan kalian bermain cinta, pula bukankah kalian masih saudara seperguruanku sendiri? Suatu waktu ia tentu akan menyerahkan tubuhnya kepada seorang pria, untuk yang pertama kali, untuk menjadi gurunya yang pandai dan berpengalaman, mengapa tidak engkau, sute?”

Api yang berkobar di dalam dada Bi Lan semakin besar dan gadis ini cepat bersila dan bersemedhi mengumpulkan kekuatan batin seperti yang telah ia pelajari dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya. Ia masih mendengar percakapan dua orang itu yang semakin memberi bujukan tidak langsung kepadanya dan mendengar mereka bercumbu, akan tetapi kini batinnya menjadi tenang karena cara bersemedhi itu dan ia dapat menguasai napsunya sendiri yang membakar.

Ia menjadi marah. Agaknya suci-nya dan Bhok Gun sengaja, pikirnya. Mereka berdua itu tentu maklum bahwa dia yang berada di kamar sebelah akan mampu mendengar semua percakapan dan perbuatan mereka. Akan tetapi mereka itu agaknya sengaja hendak menjatuhkannya dengan rayuan dan pembangkitan gairah nafsunya.

Bi Lan lalu menyambar buntalan pakaiannya, kemudian berkata dengan suara lantang, “Suci dan suheng, aku akan pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga!”

Suara dua orang di kamar sebelah itu tiba-tiba terhenti dan pintu tembusan itu pun terbuka. Kiranya dua orang itu masih berpakaian lengkap dan semakin yakin hati Bi Lan bahwa mereka tadi hanyalah bermain sandiwara dengan tujuan membangkitkan nafsu birahinya agar mudah dilalap oleh Bhok Gun tanpa memperkosanya, tapi memaksanya melalui pembakaran nafsu birahi supaya ia dapat menyerahkan diri dengan suka rela kepada Bhok Gun. Semua nampak jelas olehnya dan Bi Lan menjadi semakin marah.

“Sumoi, apa yang kau katakan barusan? Kau mau pergi? Pergi ke mana?” teriak Bi-kwi, mengerutkan alisnya karena mulai marah melihat betapa sumoi-nya itu sama sekali tidak dapat dibujuk.

“Suci, aku mau pergi sekarang juga.” “Kenapa?”

“Bukan urusanmu.”

“Bukan urusanku? Eh, bocah sombong, apa engkau telah lupa akan janjimu kepadaku? Apakah engkau sudah lupa bahwa tanpa bantuanku, sekarang engkau sudah bukan perawan lagi, sudah dilalap oleh Sam Kwi dan mungkin sudah mampus?”

“Suci! Aku sudah berjanji untuk membantu mencari pusaka Liong-siauw-kiam. Dan aku akan menepati janji itu. Aku akan pergi mencari pusaka itu dan kalau sudah dapat, akan kuserahkan kepadamu.”

“Dan perebutan bengcu?”

“Kelak kalau sudah tiba saatnya engkau memperebutkan kedudukan bengcu, aku akan membantumu seperti pernah kujanjikan. Aku tidak akan melanggar janji.”

“Tapi ke mana kau hendak mencari pusaka itu?” “Ke mana saja, akan tetapi tidak bersamamu!”

Bi-kwi marah bukan main. Akan tetapi Bhok Gun sudah melangkah maju dan dengan senyum menarik dia berkata, “Sumoi, kalau engkau merasa sungkan bicara di depan suci, mari kita bicara empat mata di tempat terpisah. Maukah engkau? Mari, sumoi…”

Laki-laki ini sudah merasa yakin bahwa siasatnya menggairahkan dan membangkitkan birahi dara itu tentu berhasil dan kini agaknya dara itu sudah tidak kuat lagi bertahan, maka dengan dalih hendak pergi sebetulnya hendak menjauhkan diri dan kalau mungkin bicara berdua saja dengannya karena tentu saja merasa malu terhadap suci-nya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa justru dara itu telah tahu akan siasatnya dan karenanya marah dan benci bukan main padanya.

“Aku bukan sumoi-mu dan kau tidak perlu merayuku. Suci mungkin mudah kau bujuk akan tetapi jangan harap aku akan suka melihat mukamu!” Berkata demikian, Bi Lan sudah meloncat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri keluar dari rumah.

“Siauw-kwi, tunggu…!” Bi-kwi mengejar, disusul pula oleh Bhok Gun.

Ketika tiba di pintu gerbang rumah perkumpulan itu, ada belasan orang anak buah Ang-i Mo-pang sudah menghadang di situ dengan senjata di tangan. Mereka ini diam-diam sudah menerima perintah Bhok Gun bahwa kalau dara itu hendak pergi dari situ tanpa perkenan agar dihalangi.

Melihat belasan orang berseragam marah itu menghadang di jalan, dan obor-obor telah dipasang di kanan kiri pintu gerbang yang menunjukkan bahwa orang-orang ini agaknya memang telah siap siaga, Bi Lan membentak, “Minggir kalian!”

Akan tetapi, tiga belas orang itu tak mau minggir, bahkan melintangkan senjata mereka dengan sikap mengancam. Mereka semua takut terhadap Bi-kwi, akan tetapi nona ini walau pun katanya sumoi dari Bi- kwi, tidak mereka takuti, apa lagi mereka menerima perintah dari Bhok Gun dan Bi-kwi sendiri untuk merintangi nona itu pergi dari situ.

“Keparat, minggir!” Bi Lan membentak marah, sekali ini sambil membentak ia menerjang maju.

Empat orang terdepan menggerakkan senjata untuk menyerang karena mereka sudah menerima perintah bahwa jika nona itu nekat menyerbu, mereka boleh menyerangnya. Akan tetapi, gerakan Bi Lan cepat bukan main, juga kaki tangannya bergerak dengan tenaga dahsyat sehingga sebelum ada di antara empat senjata itu yang mengenai tubuh Bi Lan, lebih dahulu empat orang itu sudah terpelanting ke kanan kiri sambil mengaduh-aduh dan senjata mereka beterbangan terlepas dari tangan.

Hebat bukan main hasil kerja kaki tangan Bi Lan karena keempat orang itu tidak mampu bangkit kembali. Ada yang patah tulang kaki, tangan atau iganya, bahkan seorang di antara mereka yang kena ditempiling kepalanya roboh untuk tidak dapat bangkit kembali selamanya karena kepalanya retak-retak.

Para anggota Ang-i Mo-pang terkejut dan marah. Mereka segera mengeroyok, akan tetapi tentu saja mereka itu bukan apa-apa bagi Bi Lan. Dan begitu gadis itu bergerak dengan cepat, segera tubuh-tubuh mereka terpelanting dan roboh. Biar pun kini banyak anggota Ang-i Mo-pang yang datang berlarian dan mengeroyok, namun mereka seperti sekumpulan nyamuk menyerbu api lilin saja. Sebentar saja belasan orang sudah roboh berserakan dan Bi Lan meloncat dan menerobos keluar dari pintu gerbang.

Akan tetapi, ternyata Bhok Gun sudah berada di depannya di luar pintu gerbang itu. Wajahnya yang tampan itu tersenyum menyeringai, tapi sepasang matanya mencorong penuh ancaman, bengis dan kejam.

“Adikku yang lihai dan manis, memang kepandaianmu hebat. Akan tetapi, bukankah dengan kita bertiga, maka semua pekerjaan akan dapat dilakukan lebih mudah lagi? Sumoi, sebelum terlambat, kembalilah dan mari kita bekerja sama.”

“Aku tidak sudi bekerja sama denganmu!” bentak Bi Lan.

“Siauw-kwi, engkau tidak boleh pergi. Aku melarangmu!” Tiba-tiba Bi-kwi sudah muncul dan berdiri di samping Bhok Gun.

“Kalau aku nekat pergi?” Bi Lan menantang dengan suara dingin dan pandang mata marah. “Aku akan membunuhmu!” bentak Bi-kwi.

Bi Lan tersenyum, bukan senyum buatan, melainkan senyum pahit karena marah. Kini setelah ia hidup di luar lingkungan pengaruh tiga orang gurunya, ia tahu bahwa ia harus dapat berdiri di atas kaki sendiri, harus berani menempuh segala bahaya seorang diri dan tidak mengandalkan siapa pun juga.

“Hemm, ucapan itu sama sekali tidak mengejutkan aku, suci, karena kalau kau akan membunuhku, bukan merupakan hal baru bagiku. Sejak dulu pun, sejak aku masih kecil, kalau ada kesempatan, tentu engkau sudah membunuhku. Jangan menakut-nakuti aku dengan ancaman itu. Kalau memang kau mampu, buktikan omongan itu, karena aku tidak takut padamu!”

Ciong Siu Kwi atau Bi-kwi memang tidak pernah suka kepada sumoi-nya itu. Sejak pertama kali bertemu dan mendengar bahwa Bi Lan diambil murid oleh Sam Kwi, dia sudah membenci dan hendak membunuh sumoi yang dianggap saingannya itu. Apa lagi setelah Bi Lan makin besar dan nampak cantik manis, ia menjadi semakin benci dan kalau saja ada kesempatan memang sudah sejak dahulu ia membunuh Bi Lan.

Dan sekaranglah saat itu tiba. Sam Kwi tidak berada di situ dan di sampingnya ia telah memperoleh seorang pembantu yang sangat baik, lebih baik dan lebih menyenangkan dari pada Bi Lan, yaitu Bhok Gun. Tidak ada lagi gunanya membiarkan Bi Lan hidup lebih lama lagi. Maka, mendengar ucapan Bi Lan yang menantangnya, dia lalu menjadi marah bukan main.

“Hiaaaatttt…!”

Ia mengeluarkan suara melengking nyaring. Tubuhnya sudah bergerak cepat ke depan, tangan kirinya menyambar dengan pukulan Ilmu Kiam-ciang yang membuat tangannya berubah kuat dan dapat membabat benda keras setajam pedang, juga lengannya dapat mulur panjang. Kiam-ciang adalah ilmu andalan dari Sam Kwi, dan Iblis Mayat Hidup merupakan ahli yang paling lihai di antara Sam Kwi dalam penggunaan Kiam-ciang. Sedangkan lengan mulur itu adalah ilmu yang didapat dari Hek Kwi Ong atau Raja Iblis Hitam. Hebatnya bukan main serangan tangan pedang dengan lengan yang dapat mulur itu.

“Hemmm…!”

Tentu saja Bi Lan mengenal baik serangan ini dan ia pun melangkah mundur dua tindak sambil mengerahkan tenaga dan tangan kanannya bergerak menangkis dengan ilmu yang sama, dan dengan pengerahan tenaga sinkang-nya yang kini lebih kuat karena ia sudah digembleng oleh pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.

Dua lengan bertemu dan terdengar suara nyaring seperti bertemunya dua senjata dari baja saja, dan akibatnya tubuh Bi-kwi terdorong mundur dua langkah. Akan tetapi Bi-kwi yang sudah maklum akan kekuatan sumoi-nya itu, tidak menjadi kaget melainkan sudah cepat menyerang lagi, kini mengeluarkan jurus dari Sam Kwi Cap-sha-kun, yaitu tiga belas jurus ilmu silat baru ciptaan terakhir dari tiga orang datuk Sam Kwi itu.

Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar-nyambar, sampai dapat terasa oleh para anggota Ang-i Mo- pang yang berdiri agak jauh sehingga mereka ini amat terkejut dan ketakutan, lalu mundur menjauh. Memang hebat bukan main ilmu ciptaan terakhir Sam Kwi itu, ciptaan gabungan mereka bertiga yang sudah diolah matang pada saat mereka mengasingkan diri. Bhok Gun sendiri memandang kagum karena dia sendiri tentu akan kewalahan kalau menghadapi serangan ilmu yang dahsyat itu.

Akan tetapi tentu saja Bi Lan tidak menjadi gentar menghadapi serangan ilmu ini karena ia sendiri pun sudah melatih diri dengan ilmu ini selama setengah tahun bersama-sama suci-nya itu. Dan dalam hal melatih ilmu ini, ia tidak kalah oleh suci-nya, bahkan ia dapat menguasai ilmu itu lebih sempurna setelah menjadi murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir selama setengah tahun.

Oleh karena itu, menghadapi serangan Bi-kwi, ia pun hapal benar akan semua gerakan dan perubahan Ilmu Sam Kwi Cap-sha-kun itu. Maka dari itu, ke mana pun Bi-kwi menyerang, pukulan-pukulannya selalu dapat tertangkis membalik seperti menyerang dinding baja saja. Bahkan ketika Bi Lan membalas dengan jurus terampuh dari ilmu itu, Bi-kwi hampir saja tak dapat menahannya karena ternyata dia kalah kuat dalam tenaga sinkang-nya.

Bi-kwi terhuyung, dan kalau Bi Lan menghendaki, selagi ia terhuyung itu tentu saja Bi Lan akan dapat mengirim serangan susulan. Akan tetapi Bi Lan tidak melakukan hal itu, melainkan meloncat hendak segera meninggalkan suci-nya. Akan tetapi, pada saat itu Bhok Gun sudah menerjangnya dengan pukulan yang mendatangkan bunyi berdesing.

Bi Lan terkejut sekali. Dia maklum bahwa pukulan ini adalah pukulan sakti semacam Kiam-ciang yang sangat berbahaya. Maka dia pun segera menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke kiri dan sambil mengelak, kakinya melakukan tendangan Pat-hong-twi. Ilmu Tendangan Pat-hong-twi (Delapan Penjuru Angin) ini merupakan ilmu andalan Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat dan kini berbalik Bhok Gun yang terkejut karena kalau tadi dia menyerang, kini tendangan yang datangnya bertubi-tubi itu membuat keadaan menjadi terbalik karena dialah yang kini didesak!

Akan tetapi, Bi-kwi sudah menerjang lagi membantu Bhok Gun sehingga kini Bi Lan dikeroyok dua. Begitu dikeroyok dua, Bi Lan segera terdesak luar biasa. Bi-kwi selalu mengimbanginya dengan ilmu silat yang sama sehingga semua serangan Bi Lan hanya menemui jalan buntu, sedangkan Bhok Gun menyerangnya selagi kedudukannya tidak menguntungkan, maka tentu saja ia mulai terdesak dan terus mundur mendekati pintu gerbang lagi. Agaknya kedua orang itu hendak memaksanya kembali memasuki pintu gerbang.

Bi Lan maklum bahwa kalau ia mempergunakan ilmu-ilmu yang didapatkannya dari Sam Kwi, ia tidak akan mampu menang. Semua ilmunya tentu akan dipunahkan oleh Bi-kwi, sedangkan Bhok Gun menyerangnya dengan ilmu lain yang belum dikenalnya.

Dalam keadaan terdesak itu, Bi Lan teringat akan ilmu silat yang dipelajarinya secara rahasia dari suami isteri dari Istana Gurun Pasir. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika tubuhnya meluncur ke depan, dua orang pengeroyoknya terkejut sekali. Mereka seolah-olah diserang oleh seekor naga yang meluncur turun dari angkasa. Mereka adalah orang-orang yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka mereka cepat mengelak sambil mengibaskan tangan untuk menangkis.

Namun, tetap saja hawa pukulan dari Sin-liong Ciang-hwat yang ampuh itu membuat mereka terdorong keras dan terhuyung ke belakang! Bukan main hebatnya Sin-liong Ciang-hwat yang diajarkan oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu kepada gadis itu.

“Haiiittt…!”

Tiba-tiba Bhok Gun juga berteriak dan nampak sinar merah ketika dia mengebutkan sehelai sapu tangan merah. Sapu tangan ini mengandung debu pembius yang berwarna kemerahan dan dapat membuat orang menjadi pingsan jika menyedotnya. Begitu sapu tangan itu dikebutkan, ada debu merah menyambar ke arah muka Bi Lan.

Akan tetapi gadis ini bukan seorang yang bodoh. Ia sudah banyak mengenal kelicikan dan kecurangan yang biasa dipergunakan di dunia kaum sesat, maka begitu melihat sinar merah sapu tangan itu, dia sudah menahan napas, bahkan lalu meniup dengan pengerahan sinkang ke arah debu merah.

Debu merah itu membuyar dan bahkan membalik menyambar ke arah Bhok Gun dan Bi-kwi. Tentu saja dua orang itu cepat-cepat menghindarkan dengan loncatan-loncatan jauh ke belakang. Keduanya marah sekali dan begitu tangan mereka bergerak, segera jarum-jarum beracun menyambar dari tangan Bi-kwi, sedangkan dari tangan Bhok Gun meluncur paku-paku beracun. Mereka tidak malu-malu untuk menyerang Bi Lan dengan senjata-senjata rahasia beracun dari jarak cukup dekat.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang itu kaget bukan main ketika mereka melihat sinar yang hijau kehitaman berkelebat dan mereka merasa betapa tengkuk mereka meremang. Pedang di tangan Bi Lan itu mengandung hawa yang demikian mengerikan. Dan itulah Ban-tok-kiam!

Seperti kita ketahui, supaya dara itu dapat melindungi dirinya dengan baik, nenek Wan Ceng, isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang sangat menyayangi Bi Lan, telah meminjamkan pedang mujijat itu kepadanya. Dan kini, melihat bahaya mengancam dirinya, Bi Lan sudah mencabut pedang itu dan dengan memutar senjata itu, semua jarum dan paku menempel pada pedang seperti jarum-jarum halus menempel pada besi sembrani.

Memang pedang Ban-tok-kiam, sesuai dengan namanya, yaitu Pedang Selaksa Racun, dapat menarik senjata-senjata rahasia beracun bagai besi sembrani menarik besi biasa. Setelah semua senjata rahasia itu melekat pada pedangnya, Bi Lan lalu menggerakkan pedangnya sehingga pedang itu tergetar dan mengeluarkan bunyi berdesir.

“Wirrrrrr…!” dan semua, senjata rahasia itu meluncur kembali ke arah pemiliknya. “Heiiii…!”

“Aihhh…!”

Dua orang itu berseru kaget dan cepat mengelak, akan tetapi dua orang anggota Ang-i Mo-yang yang berdiri di belakang mereka terkena senjata paku dan jarum beracun itu. Mereka berteriak-teriak kesakitan dan roboh berkelojotan.

Melihat ini Bhok Gun marah sekali. Dia mencabut pedangnya, dan Bi-kwi juga mencabut pedang. “Kerahkan pasukan, kepung dan serbu. Bunuh perempuan ini!”

Lebih kurang tiga puluh orang anggota Ang-i Mo-pang langsung mengurung tempat itu dan membantu Bhok Gun dan Bi-kwi yang sudah memutar pedang menyerang Bi Lan. Bi Lan cepat memutar pedang Ban- tok-kiam dan mengamuk. Akan tetapi, dara ini biar pun sudah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi dan sakti, dia masih kurang pengalaman berkelahi.

Kini ia dikeroyok oleh Bi-kwi dan Bhok Gun saja sebenarnya sudah kewalahan dan baru bisa menandingi mereka karena ia pernah dilatih oleh suami isteri Istana Gurun Pasir dan memiliki pedang Ban-tok-kiam. Apa lagi sekarang dikepung dan dikeroyok demikian banyak lawan. Tentu saja ia menjadi repot sekali.

Biar pun ia berhasil merobohkan sedikitnya enam orang lagi anggota Ang-i Mo-pang, akan tetapi dalam hujan senjata itu, pedang di tangan Bhok Gun melukai pahanya dan sebatang jarum beracun yang dilepas Bi-kwi menancap di pundak kirinya, membuat lengan kirinya seketika terasa kaku. Untung baginya bahwa ia banyak mempelajari ilmu mengenal racun dari Iblis Mayat Hidup dan tubuhnya sudah cukup kuat untuk melawan racun, kalau tidak tentu ia sudah roboh oleh pengaruh racun dalam jarum itu. Biar pun demikian, gerakannya menjadi lemah dan ia semakin terdesak.

Pada saat yang sudah amat berbahaya bagi keselamatan Bi Lan itu, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang masuk ke dalam kepungan. Begitu dia menggerakkan kaki tangannya, kepungan menjadi kacau balau. Bagaikan orang mencabuti rumput-rumput kering saja dan mencampakkannya, dia menangkap setiap anggota Ang-i Mo-pang dan melempar-lemparkan mereka ke kanan dan kiri. Juga setelah kedua kakinya bergerak, setiap tendangan tentu merobohkan seorang lawan.

Ketika Bi-kwi yang sedang mendesak sumoi-nya itu dan siap melakukan pukulan maut dengan tangannya atau tusukan maut dengan pedangnya, tiba-tiba mendengar suara anak buah Ang-i Mo-pang berteriak- teriak dan kepungan menjadi bobol. Ia cepat-cepat menengok dan terkejutlah dia melihat masuknya seorang pemuda yang merobohkan banyak orang. Apa lagi ketika ia mengenal wajah pemuda ini di bawah sinar obor.

Pemuda itu bukan lain adalah pemuda yang pagi tadi dijumpainya di dalam rumah makan! Marahlah Bi-kwi. Walau pun pagi tadi ia merasa tertarik kepada pemuda ini yang selain berwajah tampan juga memiliki kepandaian tinggi seperti diperlihatkannya ketika menghadapi sepasang golok di tangan Tee Kok dengan sumpit dan dengan amat mudahnya mengalahkan Tee Kok, kini Bi-kwi marah sekali. Pemuda usilan ini sekarang datang untuk merugikan dirinya, karena jelas pemuda ini memihak Bi Lan.

“Bocah sial! Kau datang mengantar nyawa!” bentaknya. Ia pun membalik, meninggalkan Bi Lan dan menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

Gu Hong Beng, pemuda itu tersenyum dan cepat mengelak dengan loncatan ke kiri sambil menampar roboh seorang anggota Ang-i Mo-pang. “Bukan mengantar nyawa, melainkan menolong nyawa seorang gadis yang secara curang dikeroyok oleh begini banyak orang!”

Bi-kwi tidak bicara lagi, akan tetapi menyerang kalang kabut, menggunakan pedangnya menusuk lambung sedangkan tangan kirinya menampar ke arah kepala pemuda itu. Hong Beng tidak mau bersikap sembrono. Dia cukup maklum betapa lihainya wanita ini, maka sambil mengelak dari tusukan pedang, dia pun mengangkat tangan kanan untuk memapaki tamparan yang dilakukan lawan, sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya.

“Plakkk…!”

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, hampir Bi-kwi roboh karena hawa dingin yang luar biasa menyusup ke dalam tubuhnya melalui telapak tangan, membuat ia menggigil!

Cepat ia melompat mundur sambil menahan napas dan mengerahkan sinkang. Itulah tenaga Swat-im Sinkang atau Tenaga Inti Salju yang merupakan satu di antara ilmu tangguh dari keluarga Pulau Es! Ketika Bi-kwi melompat ke belakang, kesempatan itu dipergunakan oleh Hong Beng untuk menubruk ke kanan dan merobohkan dua orang pengeroyok Bi Lan.

Setelah ditinggalkan suci-nya, Bi Lan yang sudah luka itu merasa agak ringan, tidak begitu terhimpit lagi walau pun Bhok Gun yang dibantu oleh anak buahnya itu masih mengepungnya dan merupakan lawan berat bagi dara yang sudah menderita luka itu. Dengan Ban-tok-kiam di tangan Bi Lan mengamuk.

Ia juga melihat munculnya pemuda yang membantunya dan ia merasa heran karena ia pun mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang pagi tadi ia lihat di rumah makan. Mengapa pemuda ini bisa berada di sini dan mengapa pula membantunya padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal? Akan tetapi diam-diam ia bersyukur karena dengan munculnya bantuan ini, ia mempunyai harapan untuk meloloskan diri.

“Nona, mari kita pergi dari sini!” teriak Hong Beng setelah merobohkan dua orang anggota Ang-i Mo-pang. “Boleh pergi asalkan kau meninggalkan nyawamu!” bentak Bi-kwi yang telah menyerang lagi.

Hong Beng sudah memperhitungkan ini karena biar pun dia bicara kepada Bi Lan yang diajaknya melarikan diri, diam-diam ia tetap memperhatikan Bi-kwi dan sudah membuat perhitungan untuk membuat gerakan yang mengejutkan. Pada saat Bi-kwi menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba saja Bi-kwi terkejut karena ada tubuh seorang anggota Ang-i Mo-pang melayang dari depan menyambut bacokan pedangnya! Itulah perbuatan Hong Beng yang tadi dengan cepat telah menangkap salah seorang pengeroyok dan melemparkan tubuh orang itu ke arah Bi-kwi.

Akan tetapi, dasar hati Bi-kwi amat kejam dan tidak mengenal kasihan kepada orang lain. Walau pun yang melayang itu adalah tubuh seorang anak buah Ang-i Mo-pang, akan tetapi karena orang itu merupakan penghalang, tanpa mempedulikan apa-apa lagi ia melanjutkan bacokannya.

“Crakkk!”

Tubuh orang itu putus menjadi dua dan Bi-kwi menyusulkan tendangan yang membuat tubuh itu terlempar ke samping.

Pada saat itu pula Bi-kwi menjerit kaget dan marah. Sebatang jarum telah menancap di pergelangan tangan kanannya, membuat tangan itu lumpuh dan pedangnya terlepas. Kiranya Hong Beng yang juga memiliki kepandaian mempergunakan jarum halus yang berbau harum, tidak beracun tetapi dapat menyerang jalan darah, telah menggunakan kesempatan tadi, tertutup oleh tubuh orang yang dilontarkan, menyusulkan serangan dengan sebatang jarum halus ke arah pergelangan tangan Bi-kwi.

Wanita ini marah bukan main, biar pun tangan kanannya lumpuh, ia masih menubruk ke depan menggunakan tangan kanannya, dihantamkan ke arah dada pemuda itu. Hong Beng menyambutnya dengan telapak tangannya.

“Tarrrrr…!” terdengar suara keras dan tubuh Bi-kwi terdorong ke belakang, mukanya pucat dan tubuhnya tergetar.

Ia tadi sudah bersiap-siap menghadapi serangan hawa dingin dari pemuda itu, dengan pengerahan sinkang yang membuat telapak tangannya panas. Namun siapa sangka, ketika telapak tangannya bertemu dengan tangan Hong Beng, ada hawa panas yang luar biasa menyerangnya, seolah-olah membakar telapak tangannya dan menyusup sampai ke jantung. Ia tidak tahu bahwa pemuda itu sekali ini menggunakan ilmu sakti Hwi-yang Sinkang atau tenaga Inti Api yang hebat.

Akan tetapi pada saat itu, Bi Lan sudah hampir tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Ia sudah terlampau lelah dan juga luka di pundak oleh jarum beracun dan luka pedang di pahanya membuat gerakannya semakin lemah. Ketika tiga pasang golok anak buah Ang-i Mo-pang menerjang dari tiga jurusan, ia memutar Ban-tok-kiam dan mengerahkan tenaga terakhir.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo