October 3, 2017

Suling Naga Part 5

 

 

Biar pun hati tiga orang kakek itu sudah mengeras dan membatu, namun karena ada rasa sayang kepada murid ini, hati mereka tersentuh pula oleh pernyataan Bi Lan tadi. Mereka maklum bahwa Bi Lan tak  pernah bohong, sama sekali tidak boleh disamakan dengan Bi-kwi yang tidak akan ragu-ragu untuk membohongi nenek moyangnya sekali pun! Mereka ketahui benar kepalsuan, juga kejahatan dan kekejaman Bi-kwi, bahkan hal itu membuat mereka merasa bangga mempunyai murid seperti itu!

 

“Akan tetapi, Siauw-kwi, menurut keterangan suci-mu engkau telah berpaling kepada orang lain, dan mengangkat guru kepada seorang pendekar dan isterinya,” kata Iblis Mayat Hidup penuh teguran.

 

“Maaf, suhu bertiga. Tidak dapat teecu sangkal akan hal itu, akan tetapi ada sebabnya mengapa teecu berhubungan dengan mereka. Ketahuilah bahwa pada suatu pagi, enam bulan yang lalu, ketika teecu  habis dipukuli dan disiksa oleh suci seperti biasa, teecu diharuskan memenuhi gudang kayu. Teecu pergi mencari kayu seperti biasa dan di dalam hutan itu teecu berjumpa dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya. Mereka berdualah yang melihat bahwa teecu keracunan, bahwa kalau tidak diobati, teecu akan menderita dan tewas. Dan semua ini adalah perbuatan suci Bi-kwi! Suhu bertiga telah mewakilkan pendidikan atas diri teecu kepada suci, dan ternyata suci memberi pelajaran yang menyesatkan, sengaja dibalik dan disesatkan sehingga latihan-latihan itu menghimpun hawa beracun dalam tubuh teecu, bahkan mempengaruhi otak sehingga pikiran teecu menjadi bingung dan nyaris gila. Untunglah ada mereka berdua yang mengetahui keadaan teecu. Mereka lalu untuk sementara tinggal di hutan itu, khusus untuk mengobati teecu. Oleh karena mereka telah menyelamatkan nyawa teecu, maka tanpa ragu-ragu lagi teecu mengangkat mereka menjadi guru supaya teecu bisa menerima latihan-latihan yang dapat mengusir hawa beracun itu. Nah, demikianlah kenyataannya dan terserah kepada keputusan sam-wi suhu.”

 

Kini tiga orang kakek itu menoleh dan memandang kepada Bi-kwi yang mendengarkan sambil tersenyum- senyum mengejek.

 

“Huh, anak ini memang tidak mengenal budi!” katanya. “Kalau memang aku tak pernah memberi pelajaran dengan baik kepadanya, mana mungkin dia menguasai semua ilmu silat kita, bisa paham dan juga pandai memainkan Hek-wan Sip-pat-ciang, Pat-hong-twi, Hun-kin Tok-ciang, bahkan Kiam-ciang?”

 

Kembali tiga orang kakek itu menoleh kepada Bi Lan yang menjawab lantang. “Teecu sama sekali tidak pernah diajari ilmu-ilmu itu, suhu, melainkan diajar ilmu-ilmu pukulan yang menyesatkan, penggunaan pernapasan yang terbalik, cara penghimpunan tenaga sinkang yang sengaja disesatkan sehingga teecu keracunan sendiri. Tidak akan teecu sangkal bahwa teecu mengenal dan paham akan semua ilmu-ilmu suhu itu, akan tetapi hal itu teecu dapatkan dari menonton kalau suci latihan seorang diri. Dari nonton inilah teecu lalu belajar sendiri, dan terpaksa teecu keluarkan ketika suci menyerang teecu dengan ilmu-ilmu itu untuk membunuh teecu.”

 

Kembali tiga orang kakek itu saling pandang. Iblis Akhirat lalu bertanya, “Siauw-kwi, kau maksudkan bahwa hanya dengan menonton suci-mu berlatih, dan engkau sudah dapat menguasai ilmu-ilmu itu?”

 

“Benar, suhu.”

 

“Benarkah demikian, Bi-kwi?” tanya pula Iblis Akhirat.

 

“Bohong! Mana mungkin hanya nonton orang bersilat lalu dapat menguasai ilmu silat itu? Ia bohong, suhu!” bantah Bi-kwi.

 

Kini Raja Iblis Hitam bangkit dan dia berkata “Perlu dibuktikan kebenaran omongan kalian. Nah Bi-kwi dan Siauw-kwi, aku memiliki sebuah ilmu silat yang belum pernah kuajarkan kepada siapa pun juga. Kalian lihat baik-baik, aku akan memainkan ilmu silat itu, akan berlatih dan menghabiskan tiga belas jurus ilmu itu. Ingin kulihat siapa di antara kalian yang dapat menguasainya hanya dengan menonton.”

 

Setelah berkata demikian, kakek yang tinggi besar bagaikan raksasa ini lalu bersilat. Gerakannya aneh dan mengandung tenaga sampai menimbulkan angin menderu-deru. Bi-kwi dan Bi Lan segera memperhatikan gerakan-gerakan itu. Memang, semenjak dia keracunan, terjadi perubahan pada otak Bi Lan dan dia kini memiliki ingatan yang luar biasa tajamnya.

 

Setelah selesai memainkan tiga belas jurus ilmu silat aneh yang selamanya belum pernah dilihat oleh dua orang murid itu, Raja Iblis Hitam lalu bertanya, “Siauw-kwi, coba kau mainkan jurus-jurus ilmu silatku tadi.”

 

Bi Lan lalu bangkit berdiri, kedua matanya setengah terpejam karena ia memusatkan ingatannya untuk melihat gambaran-gambaran dari jurus-jurus tadi yang dicatat dalam ingatannya, dan kaki tangannya bergerak-gerak.

 

Ketiga orang kakek itu menonton dan mereka terbelalak kagum melihat betapa Bi Lan benar-benar dapat menirukan semua gerakan Raja Iblis Hitam. Bahkan si pemilik ilmu ini sendiri menjadi bengong. Memang benar bahwa gerakan itu belum sempurna benar, akan tetapi jelas bahwa Bi Lan mampu memainkan tiga belas jurus ilmu silat itu, dan kalau gadis itu diberi kesempatan nonton dia berlatih silat sampai tiga empat kali saja, bukan hal mustahil kalau Bi Lan sudah akan dapat memainkannya dengan baik!

 

“Sekarang giliranmu, Bi-kwi,” kata pula Raja Iblis Hitam setelah Bi Lan menghentikan permainannya.

 

Bi-kwi mengerutkan alisnya, mengingat-ingat, akan tetapi baru bergerak sebanyak tiga jurus saja, ia sudah lupa lagi akan gerakan jurus-jurus selanjutnya. Dia hanya mampu mengingat tiga jurus, itu saja mengandung kesalahan-kesalahan yang amat besar!

 

“Aihh, suhu berat sebelah! Tentu dahulu pernah melatih sumoi dengan ilmu silat itu!” ia merajuk.

 

Hek-kwi-ong tertawa bergelak dan memandang dua orang rekannya, “Siauw-kwi tidak berbohong. Mungkin saja ia mempelajari ilmu-ilmu kita dengan cara menonton suci-nya berlatih.”

 

Ucapan ini saja sudah cukup bagi dua orang kakek yang lain. “Bi-kwi,” kata Im-kan Kwi Si Iblis Akhirat, “kenapa engkau menyesatkan pelajaran silat kepada sumoi-mu? Engkau yang membohong bukan Siauw- kwi!”

 

Tiba-tiba Bi-kwi tertawa terkekeh dan memandang kepada tiga orang kakek itu dengan sikap genit. “Perlukah suhu bertanya lagi? Tentu saja anak ini tidak becus membohong! Mana dia mampu meniru kebiasaan kita? Memang aku telah membohong. Aku iri hati kepadanya, karena dia cantik dan semakin manis saja. Aku sengaja menyelewengkan ajaran-ajaran silat itu agar ia berlatih secara keliru dan menghimpun hawa beracun di tubuhnya, agar dia mati perlahan-lahan tanpa suhu ketahui. Hi-hik, usahaku itu sudah berjalan dengan amat baiknya. Sialan, muncul pendekar brengsek dari Gurun Pasir itu yang menggagalkan segala-galanya. Akan tetapi, bagaimana pun juga, aku selalu setia kepada suhu bertiga, sedangkan sumoi ini diam-diam telah berguru kepada orang lain. Bukankah ini merupakan penghinaan bagi suhu bertiga?”

 

Tiga orang kakek itu sekarang tertawa. “Ha-ha-ha, engkau memang murid yang baik dan membuat kami bangga! Kamu cerdik dan licik, sayang kurang beruntung sehingga gagal, Bi-kwi! Akan tetapi engkau pun murid yang sukar didapat, Siauw-kwi. Engkau berbakat sekali!”

 

Mendengar tiga orang gurunya memuji-muji suci-nya sebagai cerdik itu, Bi Lan tidak merasa heran. Memang tiga orang suhu-nya ini orang-orang yang aneh, dan mungkin saja di dunia mereka, kecurangan dan kelicikan merupakan hal yang patut dibanggakan! Sebaliknya, Bi-kwi merasa tidak senang karena mereka pun memuji-muji Bi Lan.

 

“Sekarang suhu bertiga memilih saja, berat aku ataukah berat sumoi!” Ia menantang. “Wah, berat semua, berat keduanya! ” Tiga orang kakek itu berkata hampir berbareng.

 

“Bi-kwi, jangan engkau berpendapat demikian!” Tiba-tiba Iblis Akhirat berkata. “Ingat, tugasmu masih banyak serta berat dan engkau membutuhkan bantuan sumoi-mu ini. Seorang diri saja, mana kau mampu? Dan kami sudah tua. Apa artinya kami bersusah payah mendidik kalian jika akhirnya kalian tidak mampu membuat jasa sedikit pun untuk kami? Selama setahun ini kami bertapa dan dengan susah payah mempersatukan diri menciptakan serangkaian ilmu silat dan kini kami akan mengajarkan kepada kalian agar kalian dapat bekerja sama melaksanakan tugas.”

 

Bi-kwi girang sekali mendengar ini dan lupalah ia akan rasa iri hati dan kebenciannya terhadap Bi Lan. “Ahh, lekaslah ajarkan ilmu itu kepadaku, suhu!”

 

Bi Lan hanya memandang saja. Sedikit pun ia tak ingin mempelajari ilmu baru itu karena ilmu itu diajarkan hanya untuk ditukar dengan pelaksanaan tugas. Padahal, sebagai murid yang baik, tanpa diberi pelajaran ilmu baru sekali pun, ia siap untuk membalas budi guru-gurunya melaksanakan tugas yang betapa sukarnya sekali pun.

 

“Nah, kalian harus berdamai. Bi-kwi, engkau tidak boleh memusuhi sumoi-mu lagi. Mulai saat ini kalian harus bekerja sama, dan sumoi-mu akan menjadi pembantu yang boleh diandalkan,” kata pula Iblis Akhirat.

 

Bi-kwi adalah seorang yang luar biasa cerdik dan curangnya. Ia tak melihat keuntungan jika memusuhi sumoi-nya. Dan memang benar, setelah sumoi-nya kini ternyata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dapat merupakan seorang pembantu yang amat baik.

 

“Baiklah, suhu. Sumoi, kita lupakan semua yang pernah terjadi dan mulai saat ini, kau jadilah seorang sumoi yang baik.”

 

Bi Lan tersenyum, akan tetapi ia tidak membantah, hanya berkata, “Baik, suci. Asalkan engkau pun menjadi suci yang baik dan tidak menggangguku lagi.”

 

Bi-kwi mengangkat alisnya seperti orang terkejut. “Ehhh, sejak kapan aku menjadi suci yang tidak baik? Coba kau ingat, kalau tidak ada ulahku, apakah engkau kini mampu menjadi orang pandai dan akan menerima pelajaran ilmu baru dari suhu-suhu kita?”

 

Kembali Bi Lan tersenyum. Memang keluarga suhu-suhu-nya itu orang-orang yang aneh sekali dan dia sendiri pun tidak tahu apa yang baik dan tidak baik bagi mereka. Kalau dipikirkan, memang ada benarnya juga ucapan Bi-kwi. Kalau suci-nya itu tidak berbuat sejahat itu, tentu ia tidak akan bertemu dengan Pendekar Naga Sakti dan ia hanya akan menjadi sumoi dari Bi-kwi dengan kepandaian yang tentu saja jauh di bawah suci-nya itu.

 

Melihat keduanya sudah akur, tiga orang kakek itu merasa gembira. “Nah, kini kalian harus berlutut dan mengucapkan janji dan sumpah bahwa setelah mempelajari ilmu baru dari kami, kalian  akan melaksanakan tugas dengan baik. Tugas pertama adalah merampas kembali Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) yang terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak. Tugas ke dua, kalian harus mewakili kami dan mengangkat diri menjadi bengcu di antara kaum kita, dan untuk itu kalian boleh saja mengumpulkan bala bantuan, terutama dari Ang-i Mo-pang seperti yang sudah pernah dilakukan oleh Bi-kwi. Setelah dapat merampas pusaka Pedang Suling Naga dan merebut kedudukan bengcu, barulah tugas-tugas lain menyusul. Bagaimana, sanggupkah kalian dan berani berjanji dengan sumpah?”

 

Bi-kwi dan Bi Lan sudah berlutut, dan Bi-kwi tanpa ragu-ragu lagi berkata, “Aku berjanji dan bersumpah untuk melaksanakan semua perintah suhu bertiga!”

 

“Aku berjanji akan membantu suci, terutama untuk merampas kembali pusaka Liong-siauw-kiam untuk kupersembahkan kepada ketiga suhu Sam Kwi,” kata Bi Lan.

 

Bi Lan tidak tertarik dengan urusan perebutan kedudukan bengcu, akan tetapi ia sudah mendengar dari suhu-suhu-nya ini, juga dari suci-nya, tentang pedang pusaka yang tadinya milik susiok dari Sam Kwi dan yang kini terjatuh ke tangan orang lain.

 

Agaknya Sam Kwi sudah merasa puas dengan janji-janji itu dan mereka lalu mengajak kedua orang murid itu ke tengah lapangan rumput.

 

“Kalian ingat baik-baik,” sebagai juru bicara Sam Kwi, Iblis Akhirat kemudian berkata menerangkan, “ilmu silat yang akan kami ajarkan ini adalah ciptaan kami bertiga selama bertapa setahun lebih dan telah kami kerjakan dengan susah payah. Ilmu ini merupakan inti dari pada ilmu-ilmu kami bertiga, digabungkan menjadi satu. Ada bagian-bagian dari ilmu kami termasuk di dalamnya, dirangkai menjadi tiga belas jurus ilmu silat yang ampuh sekali dan kami kira tidak ada bandingnya di dunia persilatan ini. Karena kami  bertiga yang menciptakan, maka ilmu silat ini kami namakan Sam Kwi Cap-sha-kun. Namanya sederhana, bukan? Akan tetapi keampuhannya hebat!”

 

Biar pun namanya sederhana dan ilmu itu hanya terdiri dari tiga belas jurus, akan tetapi kenyataannya tak mudah untuk dipelajari. Seorang demi seorang lalu tiga orang kakek iblis itu mengajarkan ilmu silat tiga belas jurus. Masing-masing ilmu silat itu memiliki dasar gerakan kaki yang sama, tetapi memiliki kembangan-kembangan yang berbeda.

 

Kedua orang murid itu harus menghafalkan ketiga macam ilmu silat itu sampai dapat memainkannya secara otomatis, kemudian mereka harus menggabungkan tiga belas jurus itu dalam gerakan mereka kalau berkelahi. Karena masing-masing orang memiliki daya khayal sendiri-sendiri, dan selera sendiri-sendiri, juga kecerdikan yang berbeda-beda, maka tentu saja kembangan dari penggabungan tiga macam ilmu silat dari tiga belas jurus yang memiliki dasar gerakan kaki yang sama ini pun jadinya tentu berbeda-beda pula.

 

Biar pun Bi-kwi dan Bi Lan merupakan dua orang wanita yang amat cerdik dan besar sekali bakat mereka dalam ilmu silat, namun setelah berlatih selama setengah tahun baru keduanya dianggap telah menguasai Sam Kwi Cap-sha-kun itu.

 

Setelah dinyatakan lulus, tiga orang kakek itu menguji mereka satu demi satu. Ternyata ilmu gabungan yang dikembangkan menurut daya khayal murid-murid itu sendiri amat hebat. Masing-masing kakek dikalahkan oleh Bi-kwi dalam waktu kurang dari lima puluh jurus saja.

 

Ketika tiga orang kakek itu seorang demi seorang menguji Bi Lan, gadis yang sangat cerdik ini menyembunyikan kepandaian aslinya. Dia dapat mengembangkan Sam Kwi Cap-sha-kun itu dengan baik, bahkan lebih baik dari pada suci-nya, apa lagi karena di dalam ilmu baru itu secara otomatis dimasuki pula dengan unsur ilmu-ilmu silat sakti yang dipelajarinya baru-baru ini dari Perdekar Naga Sakti dan isterinya. Namun ia tidak ingin menonjolkan diri. Ketika diuji, dia menjaga sedemikian rupa sehingga akhirnya dia pun dapat menang dari ke tiga orang Sam Kwi dalam waktu yang lebih lama dari pada suci-nya, yaitu lebih dari lima puluh jurus!

 

Ketiga orang kakek itu gembira bukan main. Dengan tiga belas jurus ciptaan masing-masing, mereka kini sudah tak mampu lagi menandingi murid-murid mereka yang telah menggabungkan tiga macam ilmu silat itu.

 

Juga Sam Kwi bukan kakek-kakek yang bodoh, melainkan jagoan-jagoan tua yang telah banyak pengalaman. Ketika menguji tadi, mereka tahu bahwa dalam hal penggabungan tiga ilmu silat itu, Bi Lan sama sekali tidak kalah oleh Bi-kwi. Kalau Bi Lan hanya mampu menang dari mereka lebih lama dari suci- nya, hal itu terjadi karena gadis ini terlalu berhati-hati dan agaknya masih merasa sungkan untuk mengalahkan guru-guru sendiri. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Bi Lan benar-benar sengaja mengalah agar dalam hal ujian itu tidak sampai melampaui atau mengalahkan suci-nya.

 

Dan akalnya ini berhasil karena Bi-kwi tersenyum-senyum puas. Bagaimana pun juga, kini dia mempunyai senjata ilmu Sam Kwi Cap-sha-kun yang kalau dipergunakannya, lebih hebat dari pada sumoi-nya dan setiap waktu ia tentu akan dapat menundukkan sumoi-nya dengan ilmu itu! Rasa unggul dan menang ini menenangkan hatinya dan untuk sementara membuat kebenciannya berkurang!

 

Penonjolan diri merupakan gejala yang nampak dalam kehidupan kita pada umumnya. Penonjolan diri ini bersemi karena keadaan, karena cara hidup masyarakat kita. Semenjak kecil kita dijejali nilai-nilai, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu, bahkan sejak kelas nol, di sekolah ada sistim nilai dalam bentuk angka, di rumah ada pujian-pujian dan celaan-celaan bagi yang dianggap baik dan buruk, di dalam pergaulan pun nilai-nilai ini menentukan kedudukan seseorang, dalam olah raga timbul juara-juara.

 

Kita hidup menjadi budak-budak setia dari nilai-nilai. Kita hidup mengejar nilai-nilai sehingga dalam olah raga sekali pun, yang dipentingkan adalah pengejaran nilai, bukan manfaat olah raganya itu sendiri bagi kesehatan tubuh. Bahkan, untuk mengejar nilai, kita lupa diri dan olah raga bukan bermanfaat lagi bagi tubuh, bahkan ada kalanya merusak, karena tubuh diperas terlalu keras untuk mengejar nilai!

 

Karena sejak kecil hidup di dalam masyarakat dan dunia yang tergila-gila kepada nilai, maka agaknya sudah kita anggap wajar kalau kita selalu berusaha untuk menonjolkan diri. Kalau tidak menonjol, kita merasa rendah diri, merasa hampa dan hina, merasa bodoh dan tidak diperhatikan. Karena sejak kecil sekali kita diperkenalkan dengan pujian dan celaan, maka sejak kecil sekali pula kita berusaha untuk menonjolkan diri, untuk menarik perhatian orang-orang lain, hanya karena kita sudah haus akan nilai, haus akan pujian.

 

Kalau diri sendiri sudah tidak memungkinkan adanya penonjolan dan penghargaan orang lain atau pujian atau kekaguman, maka kita lalu membonceng kepada kepintaran anak kita, atau teman segolongan kita, atau juga suku atau bangsa kita. Bahkan banyak kita lihat penonjolan diri seseorang membonceng kepada burung perkututnya, atau mobilnya, atau bahkan membonceng kepada senjata pusaka, atau batu cincin istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Semua itu nampak jelas kalau kita mau membuka mata mengamati keadaan diri sendiri lahir batin dan mengamati keadaan sekeliling kita.

 

Demikian pula halnya dengan Bi-kwi. Wanita ini tadinya merasa iri kepada Bi Lan dan membencinya. Hal itu karena penonjolan ke-aku-annya tersinggung, karena ia merasa kalah oleh Bi Lan. Akan tetapi sekarang, karena kekhawatiran akan terkalahkan oleh sumoi-nya itu dalam ilmu silat terbukti bahwa dialah yang lebih unggul, ia yang dapat menguasai sumoi-nya, perasaan iri itu pun menipis dan terganti perasaan bangga dan puas!

 

Setelah merasa bahwa dua orang muridnya itu sekarang cukup boleh diandalkan untuk melaksanakan tugas mereka, Sam Kwi memanggil mereka menghadap.

 

“Bi-kwi dan Siauw-kwi, kami merasa puas dengan kemajuan kalian. Besok kalian kami perkenankan untuk turun gunung dan mulai dengan tugas kalian. Dan untuk kepergian kalian besok pagi, malam ini kami ingin makan bersama kalian sebagai ucapan selamat jalan dan selamat bekerja. Lekas kalian persiapkan untuk pesta kita,” kata Iblis Akhirat.

 

Dua orang wanita itu tersenyum girang, kemudian membuat persiapan untuk membuat masakan. Untuk keperluan ini, di tempat tinggal mereka itu terdapat segala macam bumbu masak. Sayur-mayur tinggal ambil di ladang belakang, sedang keperluan daging dapat dicari seketika di dalam hutan.

 

Tidak lama kemudian, tiga orang kakek itu bersama dua orang muridnya sudah duduk menghadapi bangku-bangku kasar dan makan bersama. Sam Kwi nampak gembira sekali. Iblis Akhirat yang pendek bundar itu banyak tertawa gembira, memuji-muji dua orang muridnya. Bahkan Raja Iblis Hitam dan Iblis Mayat Hidup yang biasanya pendiam, malam itu pun nampak tertawa-tawa. Hari telah mulai gelap ketika mereka mengakhiri makan bersama itu.

 

Tiba-tiba Iblis Akhirat mengeluarkan sebuah guci arak yang disimpannya sendiri. Guci itu berwarna merah dan dia berkata. “Bi-kwi dan Siauw-kwi, sebelum kita menyelesaikan pesta dan pergi beristirahat, kami bertiga ingin memberi ucapan selamat jalan kepada kalian dengan masing-masing dari kita  menghidangkan satu cawan arak!”

 

Bi Lan mengangkat muka memandang kakek itu, alisnya berkerut akan tetapi mulutnya tersenyum. “Akan tetapi, suhu tahu bahwa teecu tidak pernah minum arak! Kalau suci memang biasa minum, akan tetapi teecu…”

 

Tiba-tiba Bi-kwi tertawa dan dengan ramah dan gembira berkata, “Sumoi, apa salahnya sekali-kali mencobanya? Apa lagi kalau suhu-suhu kita yang menghadiahkan, harus kita terima.”

 

Tiga orang kakek itu semenjak tadi memang sudah minum arak. Wajah mereka sudah menjadi merah dan sinar mata mereka yang tertimpa sinar lampu berkilauan.

 

“Benar kata Bi-kwi, Siauw-kwi. Engkau pun harus menerima ucapan selamat jalan kami melalui arak!” Iblis Akhirat menuangkan arak dari gucinya itu ke dalam dua buah cawan arak, lalu memberikan dua cawan itu kepada Bi-kwi dan Bi Lan. “Lagi pula arak ini bukan arak yang keras, melainkan halus dan lezat, harum dan manis. Minumlah!”

 

Sambil tersenyum Bi-kwi sudah minum dari cawannya, sekali tenggak habislah arak itu memasuki perut melalui tenggorokannya. Bi Lan merasa tidak enak jika menolak, maka dia pun minum arak itu sampai habis. Memang benar kata Iblis Akhirat, arak itu tidak terlalu keras, harum dan agak manis.

 

Kini Raja Iblis Hitam dan Iblis Mayat Hidup masing-masing menyuguhkan secawan arak. Tanpa ragu lagi Bi-kwi meminumnya, diikuti oleh Bi Lan. Tetapi setelah menghabiskan tiga cawan arak itu, Bi Lan langsung memejamkan mata, merasa kepalanya berat dan agak pening.

 

Tiba-tiba saja Iblis Akhirat menubruknya dari belakang dan sebelum gadis yang sama sekali tidak curiga ini maklum apa yang terjadi, gurunya itu telah menotok jalan darah di kedua pundaknya. Dia pun menjadi lemas, kaki tangannya tidak dapat digerakkannya lagi.

 

“Suhu, apa yang suhu lakukan ini?” tanyanya heran ketika kini Raja Iblis Hitam yang tinggi besar itu sudah memondong tubuhnya.

 

Tiga orang kakek itu tertawa dan Bi Lan melihat betapa Bi-kwi tidak pusing seperti dia. Namun suci-nya itu bangkit berdiri dan memandang kepada guru-guru mereka dengan alis berkerut. Dan anehnya, suci-nya juga memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian, mengingatkan ia akan sikap suci-nya pada waktu yang sudah-sudah.

 

“Ha-ha-ha, Siauw-kwi. Engkau belum menjadi Iblis Cilik yang sesungguhnya sebelum menjadi milik kami. Malam ini engkau harus melayani kami bertiga, baru engkau benar-benar lulus ujian dan menjadi murid kami yang baik seperti Bi-kwi.”

 

Bi Lan terbelalak. Biar pun ia kurang pengalaman dan kurang pergaulan, tapi nalurinya membisikkan apa arti ucapan gurunya itu. Ia sudah tahu akan keadaan suci-nya, yang selain menjadi murid terkasih, juga suci-nya kadang-kadang tidur dengan guru-gurunya! Karena sudah terbiasa oleh watak Sam Kwi dan Bi- kwi yang aneh-aneh, maka ia pun tidak peduli. Tetapi sekarang, agaknya tiga orang gurunya yang seperti iblis itu hendak mengorbankan dirinya pula!

 

“Tidak…! Tidak…!” Ia berseru dengan perasaan ngeri. “Aku tidak mau! Sampai mati pun aku tidak mau!”

 

Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat tertawa dan baru sekali ini Bi Lan mendengar suara ketawa itu sebagai suara yang amat menyeramkan dan baru sekarang ia melihat betapa wajah tiga orang kakek itu mengerikan dengan sinar mata mereka yang menakutkan pula. Baru sekarang ia melihat betapa buruk dan jahatnya tiga orang gurunya ini.

 

“Heh-heh-heh, Siauw-kwi. Sikapmu begini sungguh tidak pantas, seolah-olah engkau bukan murid kami saja! Sekali waktu, sebagai seorang wanita, engkau tentu juga akan mengalami hal itu, dan tidak ada kehormatan yang lebih besar dari pada melayani guru-gurumu seperti Bi-kwi!”

 

“Tidak! Aku lebih baik mati! Suhu bertiga boleh bunuh aku, akan tetapi aku tidak sudi…!” Bi Lan berteriak- teriak dan berusaha untuk meronta, akan tetapi tangannya tak dapat ia gerakkan.

 

Dalam kengerian dan rasa takutnya, juga dia merasa heran dan tidak dapat dimengerti mengapa tiga orang suhu-nya yang tadinya menyayangnya seperti cucu sendiri, kini tahu-tahu berubah seperti tiga ekor serigala yang hendak menerkamnya. Hampir ia tidak percaya dan meragukan apakah ia tidak berada dalam sebuah mimpi buruk.

 

“Engkau tidak akan mati, akan tetapi melayani kami malam ini, mau atau tidak mau!” tiba-tiba Raja Iblis Hitam membentak dan hal ini juga mengejutkan hati Bi Lan. Di dalam suara ini lenyaplah semua getaran kasih sayang seperti yang biasa dia rasakan dari guru-gurunya ini, yang ada hanya getaran nafsu yang menjijikkan.

 

“Tinggal pilih, melayani kami dengan suka rela atau harus kami perkosa!” bentak pula Iblis Mayat Hidup dan sepasang mata kakek kurus kering ini yang biasanya sudah mencorong itu kini bertambah seperti ada api menyala di dalamnya.

 

Bi Lan terkejut bukan main. Mukanya pucat dan tanpa disadarinya kedua matanya menjadi basah oleh air mata. Ia tidak melihat jalan keluar dan ia sudah tidak berdaya. Kini terbukalah matanya dan baru ia tahu bahwa tiga orang gurunya itu benar-benar bukan manusia lagi, melainkan tubuh-tubuh yang sudah dirasuki roh-roh jahat yang tak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apa pun juga.

 

“Ha-ha-ha, tak perlu menangis, Siauw-kwi. Kami hanya akan memberi satu kehormatan kepadamu, membuatmu dewasa. Sepatutnya kau berterima kasih, bukannya menangis. Dan yang dikatakan mereka tadi benar. Mau tidak mau engkau harus melayani kami malam ini. Tentu saja kami menghendaki engkau melayani kami dengan suka rela. Kami beri waktu selagi kami memuaskan diri minum arak untuk mempertimbangkan. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dan hal itu sungguh amat tidak menyenangkan,” kata Iblis Akhirat sambil tersenyum, akan tetapi bagi Bi Lan, senyumnya tidak ramah lagi melainkan seperti iblis menyeringai.

 

“Bi-kwi, bawa ia ke dalam kamar dan jaga baik-baik sampai kami bertiga selesai minum. Dan heh-heh, jangan khawatir, engkau pun akan mendapat bagian dari kami!”

 

Bi-kwi mengangguk dan mencengkeram punggung baju Bi Lan, lalu dijinjingnya tubuh Bi Lan seperti orang menjinjing seekor keledai yang akan disembelih. Bi-kwi nampak diam saja. Ia tadi termenung dan berpikir keras menghadapi peristiwa yang akan menimpa diri sumoi-nya.

 

Tentu saja ia tidak peduli kalau sumoi-nya diperkosa oleh ketiga orang guru mereka, tidak peduli apa yang akan menimpa diri sumoi-nya yang tidak disukanya. Akan tetapi, dalam menghadapi setiap peristiwa, Bi- kwi selalu memperhitungkan dan mencari kalau-kalau ada hal yang akan dapat menarik keuntungan bagi dirinya sendiri.

 

Ia membayangkan bahwa kalau sumoi-nya sampai diperkosa oleh tiga orang gurunya, maka mulai saat itu sumoi-nya telah menduduki tempat yang lebih tinggi lagi, menjadi kekasih tiga orang gurunya. Sebagai wanita yang sudah banyak pengalamannya dalam mengenal watak pria dalam hal ini, ia membayangkan betapa setelah memperoleh yang baru dan yang muda, tiga orang gurunya tentu akan mengesampingkan dirinya. Dengan demikian, dalam mengambil hati guru-gurunya, ia akan kalah pula oleh sumoi-nya!

 

Jadi, kalau sumoi-nya sampai menjadi korban Sam Kwi, walau pun pada mulanya dia merasa puas bahwa sumoi itu menderita mala petaka itu, akan tetapi pada akhirnya sumoi-nya yang akan mendapat keuntungan dan ia malah menderita rugi! Maka ia lalu membayangkan hal sebaliknya dan mencari kemungkinan agar supaya dia memperoleh keuntungan sebanyaknya dari hal sebaliknya itu.

 

Sumoi-nya sekarang adalah seorang yang cukup lihai, mungkin hanya kalah sedikit olehnya, kalah dalam hal ilmu baru Sam Kwi Cap-sha-kun itu saja. Dengan demikian berarti bahwa sumoi-nya dapat menjadi pembantunya yang sangat berharga, menjadi pembantunya yang tenaganya boleh diandalkan. Dan ia merasa betapa perlunya tenaga seperti itu.

 

Sudah banyak ia mencari pembantu, bahkan Tee Kok ketua Ang-i Mo-pang dapat ditarik menjadi pembantunya, namun kepandaian orang itu bersama kekuatan anak buahnya belum dapat diandalkan benar. Jika ia dapat menguasai sumoi-nya, jika sumoi-nya mau membantunya dengan sungguh-sungguh dalam usahanya merampas Liong-siauw-kiam kembali, tentu hasilnya lebih dapat diharapkan.

 

Dengan kasar ia lalu melemparkan tubuh sumoi-nya yang tak mampu bergerak itu ke atas pembaringan, lalu ia pun duduk di dekatnya.

 

“Hemmm, dapatkah kau membayangkan apa yang akan dilakukan oleh tiga orang tua bangka itu terhadap tubuhmu? Tubuhmu yang muda dan mulus itu akan digeluti, akan dinodai dan dipermainkan sampai mereka bertiga puas! Setelah mereka selesai engkau sudah akan rusak sama sekali dan tak mungkin dapat dipulihkan kembali! Engkau akan merasa terhina, muak dan jijik, akan tetapi setiap kali mereka menghendaki, engkaulah yang harus merangkak kepada mereka seperti anjing kelaparan! Senangkah hatimu membayangkan itu semua?”

 

Air mata sudah jatuh berderai dari kedua mata Bi Lan pada waktu ia mendengar ucapan suci-nya itu. Ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala berkali-kali dengan perasaan ngeri terbayang pada wajahnya. Akan tetapi, ia tahu bahwa suci-nya tidak akan mau menolongnya, maka percuma sajalah andai kata ia akan minta tolong juga. Agaknya pikirannya ini dapat diduga oleh Bi-kwi.

 

“Hayo katakan! Hayo bilang bahwa kau minta tolong padaku!”

 

Bi Lan berbisik, “Tidak ada gunanya. Engkau tentu bahkan akan mengejekku. Engkau tentu girang melihat keadaanku, engkau tentu puas karena melihat aku yang kau benci ini mengalami penderitaan hebat…”

 

“Hemmm, belum tentu,” kata Bi-kwi. “Lihat sumoi macam apa engkau ini, baru aku akan mengambil keputusan. Tak perlu kusangkal, memang aku tidak suka kepadamu, sumoi, karena kehadiranmu hanya merugikan aku. Akan tetapi, jika saja engkau dapat berguna bagiku, tentu saja aku tidak ingin melihat engkau celaka. Ada budi ada balas, tentu engkau mengerti, bukan?”

 

“Apa… apa maksudmu?”

 

“Maksudku, kalau engkau mau melakukan sesuatu untukku, tentu aku pun akan mau melakukan sesuatu untukmu. Ada budi ada balas!”

 

“Apa yang harus kulakukan dan apa yang akan kau lakukan?”

 

“Misalnya, engkau berjanji untuk membantuku mati-matian dan sekuat tenaga untuk merampas Liong siauw-kiam kembali, lalu membantuku sampai aku berhasil menjadi bengcu…”

 

“Bukankah itu tugas kita?”

 

“Tadinya memang begitu, akan tetapi kalau engkau mau berjanji melakukan itu untuk aku, bukan untuk suhu, nah, misalnya engkau mau berjanji melakukan itu, mungkin aku mau membebaskan totokanmu dan mengajakmu lari sekarang juga.”

 

Berdebar rasa jantung di dalam dada Bi Lan. Inilah dia satu-satunya kesempatan. Dan menjanjikan seperti yang diminta suci-nya itu bukan berarti berjanji untuk melakukan hal-hal yang tidak disukainya.

 

“Baiklah, suci, aku berjanji.” “Sumpah?”

 

“Sumpah!”

 

“Baik, tanpa janji dan sumpah sekali pun, kalau engkau mengingkari, setiap waktu aku akan dapat membunuhmu,” kata Bi-kwi. Dia pun cepat membebaskan totokan dari tubuh Bi Lan, kemudian mengajak sumoi itu untuk diam-diam melarikan diri melalui jendela.

 

Tiga orang kakek yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Bi-kwi, tak menduga sama sekali dan mereka masih enak-enak minum arak sambil main tebak jari untuk menentukan siapa pemenang pertama, ke dua dan ke tiga yang berhak menggauli Bi Lan lebih dahulu.

 

Setelah minum arak cukup banyak, arak yang tadi disuguhkan oleh Bi Lan, yang tidak mengandung racun atau pembius melainkan arak yang tua dan amat keras sehingga tadi Bi Lan yang tidak biasa minum arak itu menjadi pening dan setengah mabok, tiga orang kakek itu lalu sambil tertawa-tawa masuk ke dalam dan menghampiri kamar Bi Lan, dengan harapan bahwa murid mereka itu akan menyambut mereka dengan suka rela sehingga mereka tidak perlu mempergunakan paksaan, seperti yang terjadi pada Bi-kwi dahulu.

 

Dapat dibayangkan betapa heran dan juga marah hati mereka ketika melihat betapa kamar itu sudah kosong. Bi-kwi mau pun Siauw-kwi tidak nampak bayangannya lagi! Tanpa mencari pun tahulah mereka bahwa kedua orang murid itu telah pergi tanpa pamit. Mereka lalu duduk berunding.

 

“Tidak mungkin Siauw-kwi bisa membebaskan sendiri totokannya. Aku yang melakukan totokan dan dalam waktu sedikitnya tiga jam ia tidak akan dapat bebas, kecuali kalau ada yang membebaskannya,” kata Raja Iblis Hitam penasaran.

 

“Dan yang dapat membebaskannya hanyalah Bi-kwi, satu-satunya orang yang berada di sini.” “Akan tetapi Bi-kwi tidak akan mengkhianati kita.”

 

“Mungkin Bi-kwi hanya iri dan tidak ingin melihat kita mendekati sumoi-nya, maka ia membebaskannya dan mengajak sumoi-nya pergi tanpa pamit melaksanakan tugas mereka.”

 

“Itu lebih tepat. Mereka tentu akan melaksanakan tugas mereka dan mereka hanya ingin menghindarkan apa yang kita kehendaki malam ini.”

 

“Akan tetapi bagaimana jika mereka benar-benar mengkhianati kita? Habislah harapan kita dan hancurlah semua jerih payah kita.”

 

“Ahh, kita tidak perlu bingung,” akhirnya Iblis Akhirat berkata. “Hanya ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, mereka tidak berkhianat dan hanya menghindarkan maksud kita terhadap Siauw-kwi. Kalau memang benar demikian dan mereka kelak pulang, masih belum terlambat untuk mendapatkan Siauw-kwi yang manis. Dan ke dua, kalau benar mereka itu berkhianat, kita cari mereka dan kita bunuh mereka.”

 

“Bagus, dan kita sudah terlalu lama menganggur di sini, mari kita pergi mencari mereka dan menyelidiki apa yang mereka lakukan.”

 

Demikianlah, pada keesokan harinya, tanpa tergesa-gesa, tiga orang kakek iblis itu pun turun dari Thai-san untuk mencari dua orang murid mereka…..

—  —

 

Dengan cerdik Bi Lan dapat mengambil Ban-tok-kiam ketika ia diajak pergi oleh suci-nya malam itu, dengan alasan bahwa ia hendak kembali sebentar mengambil pakaiannya. Bi-kwi menanti di  bawah puncak tanpa curiga dan dengan menyembunyikan pedang itu di balik bajunya, Bi Lan mengikuti suci-nya yang membawanya lari menuju ke selatan.

 

Perjalanan ini mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati Bi Lan. Semenjak kecil, dalam usia sepuluh tahun, ia telah ikut bersama Sam Kwi yang membawanya tinggal di gunung-gunung dan di tempat-tempat sunyi. Jarang Bi Lan memperoleh kesempatan bergaul dengan orang lain dan ia hanya mengenal keadaan dunia melalui cerita tiga orang gurunya dan suci-nya saja. Paling banyak, ketika ia masih ikut suhu-suhu- nya, ia hanya melihat dusun-dusun dan bertemu dengan penduduk dusun dan pegunungan yang hidup sederhana.

 

Oleh karena itu, setelah kini melakukan perjalanan bersama Bi-kwi, memasuki kota-kota besar, Bi Lan merasa gembira sekali, gembira dan penuh keliaran memandangi rumah-rumah besar di dalam kota, toko- tokonya dan keramaian kota. Mulai teringat pulalah kehidupan di dunia ramai yang ditinggalkan semenjak ia berusia sepuluh tahun itu.

 

Kenyataan yang mengejutkan hati Bi Lan adalah ketika ia melihat kerusakan-kerusakan dan bekas kehancuran sebagai akibat pemberontakan-pemberontakan di selatan. Juga ia harus menahan perasaannya ketika ia dan suci-nya memasuki kota-kota besar, ia melihat betapa pandang mata kaum pria yang ditujukan kepada ia dan suci-nya, hampir semua mengandung kekurang ajaran dan nafsu birahi yang menjijikkan. Ia melihat seolah-olah kaum pria itu, sebagian besar, memiliki mata serigala yang melihat kelinci-kelinci montok lewat di depan hidung mereka!

 

Bi Lan adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun lebih. Biar pun pengalamannya dengan kaum pria dapat dikata nol, akan tetapi naluri kewanitaannya dapat menangkap semua pandang mata kaum pria itu yang membuat gadis ini selain heran juga terkejut dan tidak enak, merasa canggung dan ngeri, seolah-olah dikepung bahaya. Akan tetapi, jauh di dalam batinnya terdapat pula suatu perasaan aneh, perasaan bangga dan senang yang dengan keras ditutupnya. Ia tidak tahu bahwa semua perasaan wanita, semenjak ia dewasa, sama dengan perasaannya itu.

 

Sudah menjadi watak pria yang sesuai dengan naluri dan kejantanan mereka untuk tertarik apa bila melihat wanita muda yang cantik. Pandang mata mereka selalu akan menempel pada penglihatan itu seperti bubuk-bubuk besi menempel pada semberani sehingga pandang mata mereka mengandung kekaguman dan kemesraan. Dan justru naluri alamiah wanita adalah butuh akan kekaguman dari kaum pria ini.

 

Tidak ada wanita yang tidak merasa bangga dan senang dikagumi pandang mata pria, walau pun hukum- hukum kesopanan dan kesusilaan memaksa wanita itu pura-pura tak senang, atau bahkan marah, atau setidaknya akan menyimpan rasa bangga dan senang ini jauh di dalam hatinya sendiri sebagai suatu rahasia pribadinya. Inilah sebabnya mengapa wanita paling mudah jatuh menghadapi rayuan-rayuan mulut manis. Dan kelemahan wanita inilah yang digunakan oleh para pria petualang asmara untuk menjatuhkannya dengan rayuan-rayuan dan pujian-pujian.

 

Bi-kwi mengajak Bi Lan memasuki Propinsi Yunan. Pada waktu itu, pemberontakan telah berhasil dipadamkan dan Propinsi Yunan sudah menjadi tenang dan tenteram lagi. Rakyat di daerah itu yang paling parah menderita akibat perang pemberontakan, kini telah kembali ke daerah masing-masing. Yang kehilangan rumah kini mulai membangun kembali dari bawah dan biar pun masih nampak bekas reruntuhan akibat perang, tetapi agaknya para penghuninya sudah merupakan peristiwa menyedihkan itu dan tidak lagi terbayang ketakutan pada wajah mereka.

 

Pada suatu pagi, tibalah dua orang wanita itu di kota Kun-ming yang merupakan kota terbesar di Propinsi Yunan. Karena dalam perjalanan itu Bi-kwi memilih jalan terdekat, maka jarang mereka melewati kota besar, hanya dusun-dusun dan kota-kota kecil. Maka begitu memasuki kota besar Kun-ming di selatan ini, Bi Lan memandang penuh kekaguman.

 

Ia masih ingat bahwa keluarga orang tuanya juga datang dari Yunan selatan. Ketika perjalanannya membawanya sampai di Propinsi Yunan, mendengar suara percakapan orang-orang di dusun-dusun yang dilewatinya saja sudah mendatangkan keharuan di hatinya, mendatangkan keyakinan bahwa memang ia berasal dari Yunan. Ia mengenal betul logat bahasa daerah Yunan. Walau pun ia sendiri  kini  sudah berlogat lain, namun logat bahasa selatan itu tidak asing baginya, bahasa orang tuanya, bahasanya ketika ia masih kecil.

 

Hari itu masih pagi, akan tetapi jalan-jalan raya di kota Kun-ming sudah ramai oleh mereka yang pergi ke pasar-pasar. Banyak toko yang masih tutup, akan tetapi toko-toko yang sudah buka merupakan  penglihatan yang mendatangkan kagum dan heran di hati Bi Lan.

 

Berkali-kali ia bertanya kepada Bi-kwi arti dari tulisan-tulisan yang terpampang di depan toko-toko atau rumah-rumah besar sehingga Bi-kwi menghardiknya untuk diam. Bi-kwi merasa jengkel karena sejak tadi harus menerangkan arti tulisan-tulisan yang hanya merupakan nama-nama dari toko yang mereka lewati atau kata-kata reklame toko untuk menarik langganan.

 

Memang Bi Lan seorang gadis buta huruf. Ia hanya puteri seorang petani yang tidak sempat menyekolahkannya. Sejak berusia sepuluh tahun ia ikut dengan Sam Kwi, tiga orang datuk sesat yang sama sekali tak peduli akan pendidikannya, malah menganggap bahwa melek huruf merupakan hal yang tidak ada gunanya bagi wanita! Tetapi Bi-kwi sempat mempelajari baca tulis walau pun hanya secara sederhana.

 

Ketika mereka melewati sebuah rumah makan besar yang sudah buka, hidung mereka dilanggar bau masakan yang sedap dan perut mereka segera memberi isyarat bahwa semenjak kemarin siang mereka belum makan apa-apa. Bi-kwi memberi isyarat kepada sumoi-nya dan mereka pun melangkah ke arah restoran itu.

 

Bi Lan tersenyum girang. “Wah, kalau yang ini tidak perlu kau ceritakan, suci. Aku tahu bahwa di sini tentu dijual makanan enak.”

 

Mau tidak mau Bi-kwi tersenyum juga. “Engkau memang gadis tolol. Tak perlu banyak bertanya, lihat saja dan kau tentu akan mengerti sendiri.”

 

Seorang pelayan menyambut dua orang tamu ini dan wajahnya tersenyum gembira ketika dia melihat bahwa tamu-tamunya adalah dua orang wanita yang cantik-cantik dan manis-manis. Dia memandang dengan sinar mata penuh selidik.

 

Seorang adalah wanita berusia tiga puluh tahunan, berpakaian mewah dan indah, sinar matanya genit, wajahnya manis dan bertambah cantik oleh riasan muka, seorang wanita yang matang dan menarik. Orang ke dua adalah jelas merupakan seorang gadis yang baru mekar, berpakaian sederhana sekali, bahkan mukanya tanpa bedak, akan tetapi kulit muka itu jauh lebih halus dan mulus dibandingkan dengan wanita pertama, dan bentuk tubuh gadis belasan tahun itu demikian ramping seolah-olah pinggangnya dapat dilingkari empat jari tangan si pelayan.

 

“Selamat pagi, nona-nona. Apakah ji-wi hendak sarapan?” Bi-kwi mengangguk.

 

“Silakan masuk, ji-wi siocia, silakan duduk.”

 

Pelayan itu membawa mereka ke sebuah meja di sudut, di mana para pelayan dan pengurus rumah makan dapat melihat mereka dengan jelas. Sebaliknya tempat ini pun menyenangkan hati Bi-kwi karena di sini dia dapat duduk sambil melihat ke semua penjuru, juga ke arah jalan raya di depan restoran.

 

Tidak banyak tamu di restoran itu sepagi ini. Hanya ada lima meja yang terisi, di antara tiga puluh lebih meja di ruangan yang cukup luas itu. Bi-kwi lalu memesan makanan dan minuman. Bi Lan tidak pernah membuka mulut, membiarkan suci-nya yang memesan makanan apa saja karena ia tidak tahu harus memilih apa. Akan tetapi ia teringat akan minuman dan berbisik.

 

“Suci, aku minum teh saja, teh panas.”

 

Mendengar ini, pelayan itu tersenyum lebar dan memandang kepada Bi Lan sambil mengangguk. “Kami terkenal dengan teh kami yang harum, nona.”

 

Bi-kwi mengangkat mukanya memandang wajah pelayan itu. Sinar matanya menyambar seperti dua batang anak panah, dan muka yang tadinya menyeringai dalam senyum ramah itu segera berubah dan si pelayan menunduk dan membungkukkan tubuhnya. Dia terkejut melihat sepasang mata yang jeli itu seperti berapi, dan tahu bahwa wanita itu marah, maka dia tidak berani lagi bersikap main-main.

 

“Apakah arakmu juga sebaik tehmu?” tanya Bi-kwi ketus.

 

Pelayan itu membungkuk-bungkuk. “Tentu, tentu… nyonya, arak kami…” “Brakkk!”

 

Bi-kwi menggebrak meja sehingga pelayan itu terkejut. Bi Lan menahan ketawanya karena geli melihat sikap suci-nya dan pelayan itu.

 

“Suci bukan nyonya, masih nona,” katanya karena ia dapat menduga mengapa suci-nya marah-marah disebut nyonya.

 

“Oh… eh… nyo… nona, maafkan saya.”

 

Melihat si pelayan menjadi gagap gugup, Bi Lan tertawa. Suara ketawanya bebas lepas, tanpa menutupi mulutnya karena ia memang tak pernah diajar sopan santun seperti orang-orang kota, seperti wanita- wanita yang dianggap sopan kalau menutupi mulut ketika tertawa. Hal ini tentu saja menarik perhatian para tamu lain yang duduk di situ dan mereka pun menengok, lalu ikut tersenyum melihat betapa seorang gadis, agaknya gadis dusun, tertawa begitu gembira.

 

“Sumoi, diam kau!” Bi-kwi mendesis dan Bi Lan menahan ketawanya. “Dan kau jangan cerewet dan ceriwis!” bentak Bi-kwi kepada si pelayan. “Cepat sediakan teh panas, arak baik dan nasi, daging panggang dan dua mangkok sayur yang paling enak!”

 

Kini pelayan itu tidak berani banyak lagak lagi. Dia membungkuk-bungkuk. “Baik, nona. Baik, nona…”

 

Akan tetapi saking gugupnya, ketika dia meninggalkan meja itu dan menghampiri meja pengurus untuk melaporkan pesanan, ia lupa berapa banyak sayuran yang tadi dipesan Bi-kwi, maka dengan muka kecut terpaksa dia menghampiri lagi meja dua orang wanita itu. Hal ini tak lepas dari perhatian Bi Lan yang merasa betapa orang ini lucu sekali.

 

“Maaf, nona. Tadi… pesanan sayurnya berapa banyak?”

 

Bi-kwi sudah hampir menghardiknya, akan tetapi didahului oleh Bi Lan yang membentak dengan wajah tersenyum geli.

 

“Dua mangkok!” Bentaknya nyaring, amat mengejutkan si pelayan dan kembali menarik perhatian para tamu.

 

Setelah si pelayan pergi, baru Bi-kwi mengomel kepada sumoi-nya. “Tidak perlu engkau tertawa dan berteriak-teriak seperti itu. Apakah engkau ingin menarik perhatian semua orang?”

 

“Maaf, nyo… eh, nona…” Bi Lan menirukan suara dan gaya si pelayan sehingga Bi-kwi terpaksa menyeringai gemas.

 

Bi Lan adalah seorang gadis yang pada hal dasarnya memiliki dasar watak gembira dan lincah jenaka. Kalau tadinya ia bersikap aneh, hal itu adalah karena ulah suci-nya yang memberi pelajaran yang menyesatkan sehingga pikirannya bingung dan agak berubah. Akan tetapi setelah ia menerima pengobatan dari Pendekar Naga Sakti dan isterinya, dan sembuh sama sekali dari pengaruh hawa beracun, dasar wataknya itu pun muncul kembali.

 

Maka, setelah dia berada di dalam kota dan merasa gembira dapat melihat daerah asalnya, kegembiraannya timbul dan melihat ulah pelayan yang demikian lucu, dia pun segera menggodanya.

 

Tak lama kemudian, pelayan itu sudah datang membawa makanan dan minuman yang dipesan, dan Bi  Lan segera menikmati hidangan itu. Memang nikmat, karena selama ini di puncak Thai-san ia makan masakannya sendiri dan masakan suci-nya yang sangat sederhana, asal sudah diberi garam, cukuplah.

 

Dengan lirikan ujung matanya, Bi Lan melihat betapa seorang pemuda yang duduk di sudut ruangan itu, sejak tadi kadang-kadang melirik ke arah mejanya. Pemuda ini belum tua benar, paling banyak dua puluh tahun. Seorang pemuda yang berwajah cerah dan tampan, namun amat sederhana, baik perawakan, muka dan rambutnya yang dikuncir tebal itu mau pun pakaiannya yang hanya terbuat dari kain kasar berwarna biru dan sepatunya dari kulit.

 

Pemuda itu makan bakmi dengan sumpitnya, dan cara makannya juga sopan, tanda bahwa pemuda itu bukan orang yang suka ugal-ugalan walau pun pakaiannya tidak menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar. Di atas mejanya terdapat sebuah buntalan yang agak panjang, mungkin terisi pakaian dan ini saja menandakan bahwa pemuda itu tentu seorang pendatang dari luar kota pula, bukan penduduk di situ dan agaknya dia baru saja masuk kota, terbukti dari bekal pakaian yang masih dibawanya, seperti juga Bi Lan dan Bi-kwi sendiri yang menaruh buntalan pakaian mereka di atas meja.

 

Juga Bi Lan melihat betapa suci-nya beberapa kali mengerling ke arah pemuda itu dan karena inilah sebetulnya maka ia menjadi tertarik dan ikut-ikut melirik. Ia dapat menduga dari sikap suci-nya, bahwa suci-nya sudah kambuh pula penyakitnya, yaitu penyakit mata keranjang. Tentu suci-nya naksir pemuda tampan itu, pikirnya dan kembali ada perasaan tidak enak menekan hatinya. Sejak dahulu, melihat watak suci-nya, ia merasa muak dan tidak senang. Akan tetapi karena hal itu adalah urusan pribadi suci-nya, dia pun pura-pura tidak tahu dan tidak ingin mencampurinya pula.

 

Tiba-tiba seorang pelayan berseru, “Celaka, dia datang lagi… !”

 

Mendengar seruan ini, pengurus restoran menjadi pucat wajahnya, dan semua pelayan juga nampak gugup ketakutan. Pengurus restoran yang kurus itu lalu mengambil uang dari laci mejanya dan menyembunyikannya di bawah tumpukan bungkusan bumbu-bumbu masakan. Beberapa orang tamu yang melihat hal itu menjadi heran, dan ada juga yang menjadi khawatir karena tentu akan terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.

 

Tak lama kemudian, di depan pintu restoran itu sudah muncul seorang laki-laki. Dengan sudut matanya, Bi Lan dan Bi-kwi melirik. Laki-laki itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya nampak tegap dan kokoh kuat. Tetapi yang menyolok adalah pakaian laki-laki ini yang terbuat dari kain yang berwarna serba merah!

 

Lebih menyolok lagi adalah sepasang golok yang dijadikan satu dan masuk dalam satu sarung, tergantung di pinggang kirinya. Di jaman itu, membawa senjara tajam secara demikian menyolok merupakan hal yang aneh, karena pemerintah sudah lama melarang membawa senjata tajam di tempat umum. Hal ini saja menunjukkan bahwa tentu orang berpakaian serba merah ini adalah seorang jagoan.

 

Laki-laki baju merah itu mempunyai sepasang mata yang lebar dan sikap yang galak. Begitu tiba di depan pintu, matanya lalu menyapu ruangan restoran, melihat ke arah para tamu yang hanya enam meja itu, dan agak lama pandang matanya berhenti pada meja Bi Lan.

 

“Hemmm, rakyat lagi hidup sengsara dan kekurangan, kurang makan kurang pakaian, dan kalian enak- enak makan lezat di sini. Sungguh tidak tahu peri kemanusiaan! Hayo setiap orang menyumbang seharga makanan yang dipesannya!”

 

Tentu saja ucapan dan sikap laki-laki ini mendatangkan bermacam reaksi di kalangan para tamu. Ada yang memandang marah, ada yang ketakutan, dan suasana menjadi tegang. Pengurus restoran yang kurus itu tergopoh-gopoh lari menghampiri laki-laki baju merah yang sudah melangkah memasuki restoran, tangannya membawa segenggam uang dan dia membungkuk-bungkuk di depan laki-laki itu.

 

“Harap si-cu (orang gagah) jangan mengganggu para tamu di sini. Kedatangan si-cu kemarin dulu menimbulkan kepanikan dan kalau terus-menerus begini, tamu-tamu dan langganan kami akan takut untuk makan di restoran kami. Harap si-cu maafkan kami dan suka meninggalkan tempat kami, ataukah si-cu juga ingin makan minum? Mari silakan…”

 

“Diam!” hardik orang baju merah itu. “Dan jangan mencampuri urusanku!”

 

“Tapi, si-cu, ini adalah tempat kami mencari nafkah… harap si-cu suka menerima sedikit sumbangan ini. Biarlah kami atas nama para tamu menyerahkan sumbangan ini.” Sang Pengurus itu dengan tangan gemetar lalu memberikan segenggam uang itu kepada si baju merah.

 

Si baju merah melihat segenggam uang itu dan karena uang itu hanya terdiri dari uang kecil, marahlah dia. “Aku bukan pengemis!” bentaknya.

 

Dan sekali tangan kirinya bergerak, dia sudah mencengkeram baju si pengurus restoran bagian dadanya, mengangkat tubuh orang itu dan sekali lempar, tubuh si kurus itu terjengkang dan terbanting, uang kecil segenggam itu jatuh berhamburan di atas lantai. Tentu saja peristiwa ini amat mengejutkan semua tamu.

 

Tiga orang tamu pria yang duduk paling depan merasa takut, dan cepat-cepat mereka membayar harga makanan ke meja pengurus yang kini sudah melangkah ketakutan dan kembali ke belakang mejanya tanpa memunguti uang yang berhamburan tadi, kemudian tiga orang itu hendak melangkah keluar dari restoran. Tetapi tiba-tiba orang baju merah itu sudah menghadang mereka dan memalangkan lengan kanannya di depan pintu.

 

“Bayar dulu kepadaku seharga makanan kalian itu, baru kalian boleh keluar dari sini,” katanya.

 

“Akan tetapi kami sudah bayar makanan kami. Kalau engkau hendak minta sumbangan, seharusnya kepada pemilik restoran, bukan kepada kami!” kata seorang di antara tiga orang itu, sikapnya agak berani karena mereka bertiga dan pengacau itu hanya seorang saja.

 

“Aku mau minta kepada pemilik restoran atau tidak adalah urusanku, kalian tidak perlu mencampuri. Aku datang untuk minta pajak kepada kalian, kalau tidak mau memberi, terpaksa aku akan mengeluarkan lagi makanan dan minuman yang tadi kalian makan!”

 

Ucapan ini biar pun berupa ancaman akan tetapi dianggap tak masuk akal, maka tiga orang itu berkeras menolak. “Engkau sungguh mau enaknya sendiri saja!” seorang di antara mereka mencela.

 

Tiba-tiba si baju merah itu bergerak. Cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu tiga orang itu telah dipukul  dan ditendangnya, masing-masing satu kali dan tepat mengenai perut mereka bagian atas, tepat di bawah ulu hati. Keras sekali pukulan dan tendangan itu, mengguncangkan pencernaan mereka dan tanpa dapat dicegah lagi, tiga orang itu lalu muntah-muntah dan benar saja, semua makanan yang tadi telah mereka makan keluar semua!

 

“Masih belum mau bayar?” bentak si baju merah.

 

Tiga orang itu dengan menahan rasa nyeri dan ketakutan, terpaksa merogoh saku dan membayar kepada si baju merah tepat sebanyak yang mereka bayar kepada pengurus restoran tadi. Tamu-tamu lain dari tiga meja berikutnya cepat-cepat membayar harga makanan, dan tanpa banyak membantah mereka pun membayar kepada si baju merah ketika mereka keluar dan terhadang oleh si baju merah. Kini tinggal pemuda yang duduk sendirian dan dua orang wanita yang masih melanjutkan makan minum.

 

Bi Lan sejak tadi merasa betapa perutnya panas. Ingin sekali ia bangkit dan memberi hajaran kepada si baju merah itu. Akan tetapi ia selalu dididik oleh Sam Kwi dan Bi-kwi agar tidak mencampuri urusan orang lain kalau tidak menyangkut diri sendiri. Biar ada orang membunuh atau menyiksa orang lain, kalau hal itu tidak merugikan diri sendiri, tidak perlu dicampuri, demikian pelajaran yang diterimanya.

 

Biar pun kini ia merasa marah sekali terhadap si baju merah, pelajaran itu yang sudah meresap di hatinya membuat Bi Lan menahan kemarahannya. Apa lagi karena ia pun melihat betapa suci-nya tetap makan minum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di tempat itu. Dan anehnya, ketika melirik ke arah pemuda itu, ia melihat pemuda itu juga masih makan bakminya, perlahan-lahan seolah-olah pemuda itu sengaja memperlambat makan bakminya dan memberi kesempatan kepada dua orang gadis itu untuk selesai lebih dulu dan membayar lebih dulu! Akan tetapi Bi Lan melihat betapa suci-nya juga melakukan hal yang sama, seolah-olah suci-nya ingin melihat pemuda itu selesai lebih dulu dan suci-nya ingin menjadi tamu yang paling akhir meninggalkan tempat itu.

 

Karena dua meja yang dinanti-nantinya itu agaknya sengaja memperlambat makan mereka, akhirnya si baju merah menjadi kehabisan sabar. Sejak tadi dia menanti sambil mengumpulkan uang hasil pemerasannya itu ke dalam sebuah kantong kecil. Dia duduk di atas meja paling depan dan memandanq kepada pemuda dan dua orang gadis yang masih terus enak-enak makan minum seolah-olah dunia ini amat tenteram dan penuh kedamaian!

 

Si baju merah menjadi tidak sabar. Dengan langkah lebar dia masuk ke dalam  ruangan itu dan karena meja Bi kwi dan Bi Lan berada lebih dekat dari pada meja pemuda itu, maka si baju merah berhenti dekat meja mereka. Kedua matanya yang lebar itu melotot memandang kepada Bi-kwi dan Bi Lan secara bergantian. Akan tetapi dia tidak jadi marah ketika melihat bahwa dua orang wanita itu ternyata lebih cantik dari pada ketika dilihatnya dari depan tadi.

 

Tiba-tiba Bi Lan yang sejak tadi merasa marah dan mendongkol kepada si baju merah berkata dengan suara lantang, “Suci, masakan di restoran ini cukup lezat, akan tetapi sayang, ada lalat merah yang mengotorkan tempat ini. Sungguh menjijikkan!”

 

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dan pemuda yang duduk sendirian itu mengomel seorang diri, “Tepat sekali, lalat merah memuakkan!”

 

Tentu saja si baju merah menjadi marah karena dia tahu bahwa yang dinamakan lalat merah itu tentu dirinya. Tetapi dia malah tersenyum menyeringai dalam kemarahannya dan berkata, “Dua nona manis, kalian tidak perlu membayar pajak kepadaku, cukup kalau kalian masing-masing memberi ciuman di bibirku, masing-masing tiga kali saja. Bagaimana?” Dia terkekeh secara kurang ajar sekali.

 

Bi Lan melihat api bernyala di kedua mata suci-nya dan kalau tadi ia marah kepada si baju merah, kini ia merasa khawatir. Tidak perlu diragukan lagi, kalau suci-nya bangkit dan turun tangan, tentu si baju merah ini akan mati dalam keadaan mengerikan. Ia telah mengenal kekejaman hati suci-nya kalau sedang marah dan pada waktu itu, suci-nya marah sekali. Maka ia mendahului suci-nya, bangkit berdiri dan menghadapi si baju merah tadi.

 

Melihat Bi Lan bangkit, si baju merah tertawa girang. “Heh-heh, nona manis. Engkau yang akan memberi ciuman lebih dulu? Bagus, aku senang sekali!” katanya dan dia pun meruncingkan bibirnya yang hitam kasar dan tebal.

 

“Plakkk! Inilah ciumanku!”

 

“Aduhhhh…!” Laki-laki itu terpelanting ketika pipinya terkena tamparan tangan Bi Lan. Dia merasa seolah- olah kepalanya pecah, demikian kuatnya tamparan itu tadi. Tahulah dia bahwa gadis itu mempunyai kepandaian maka berani menamparnya. Kemarahan membuat dia lupa akan rasa nyeri di pipinya yang sudah membengkak merah, hampir sama dengan warna pakaiannya.

 

“Keparat! Berani engkau memukul aku? Tidak tahukah bahwa aku seorang tokoh Ang-i Mo-pang?” bentak laki-laki itu dan dia sudah mencabut keluar sepasang goloknya.

 

Tentu saja Bi Lan sudah mendengar nama perkumpulan Ang-i Mo-pang (Perkumpulan Iblis Baju Merah), karena suci-nya pernah bercerita bahwa perkumpulan itu sudah ditaklukkan oleh suci-nya dan bahkan menjadi pembantunya. Tapi mengapa ada orang kini mengaku tokoh Ang-i Mo-pang dan berani bersikap kurang ajar terhadap suci-nya? Namun pada saat itu, orang baju merah itu sudah menggerakkan sepasang goloknya, diputar-putarnya sepasang golok itu di atas kepala, dengan muka beringas dan sikap mengancam dia hendak menyerang Bi Lan.

 

Pada saat itu nampak cairan putih menyambar ke arah muka si baju merah yang tidak sempat mengelak dan tahu-tahu mukanya sudah kena siram kuah bakso yang panas. Dia gelagapan dan melangkah mundur, mengusap mukanya dan terutama matanya yang terasa pedih itu dengan lengan baju, lalu memandang ke kanan. Kiranya yang menyiram mukanya dengan kuah bakso dari mangkok itu adalah seorang pemuda yang tadi duduk sendirian makan bakmi di meja sebelah dalam.

 

Sepasang mata orang berpakaian merah itu mendelik. Kemarahannya memuncak. Baru kemarahan terhadap gadis di depannya yang sudah menampar mukanya saja belum terlampiaskan, dan kini muncul lagi seorang pemuda yang begitu berani mati menyiram mukanya dengan kuah bakso. Apa lagi ketika dilihatnya bahwa pemuda ini biasa saja.

 

Seorang pemuda yang usianya belum ada dua puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna biru, tubuhnya sedang-sedang saja dan wajahnya bersih dengan kulit putih sehingga nampak cukup tampan. Tidak ada apa-apanya yang istimewa, juga tidak membayangkan seorang yang terlalu kuat atau yang memiliki ilmu silat tinggi.

 

Agaknya, pemuda itu tadi ketika melihat si baju merah mengeluarkan golok dan hendak menyerang Bi Lan, sudah cepat bangkit dari tempat duduknya. Tangan kanannya masih memegang sepasang sumpit dan tangan kiri menyambar mangkok bakso yang sudah dimakannya dan tinggal tersisa kuahnya, lantas bangkit menghampiri laki-laki itu dan menyiramkan kuah bakso.

 

“Kau… kau… keparat bosan hidup!” bentak si tokoh Ang-i Mo-pang dan kini goloknya yang kanan sudah menyambar ke arah kepala pemuda itu.

 

Bi Lan yang sejak tadi memandang dengan heran atas keberanian pemuda itu, kini terkejut. Akan tetapi dia tidak mau mencampuri karena dia melihat betapa pemuda itu bersikap tenang sekali. Pada saat golok itu menyambar ke arah kepalanya, pemuda itu sama sekali tidak nampak takut atau hendak mengelak, sebaliknya malah mengangkat tangan kanannya yang memegang sumpit dan dengan sepasang sumpit itu dia lalu menyambut sambaran golok.

 

“Wuuuuttt… !” Golok menyambar. “Trakkk… !”

 

Sepasang sumpit itu menyambut dan tahu-tahu sudah menjepit golok secara tepat dan luar biasa sekali. Tahu-tahu golok itu telah dijepit oleh sepasang sumpit dan tidak dapat bergerak lagi!

 

Si baju merah terkejut bukan main karena tiba-tiba goloknya terhenti gerakannya. Dia cepat mengerahkan tenaga membetot, namun sia-sia belaka. Goloknya seperti telah dijepit jepitan baja yang amat kuat dan dia sama sekali tidak mampu menggerakkan golok itu, apa lagi melepaskannya dari jepitan. Kini barulah dia dapat menduga bahwa seperti juga gadis cantik itu, si pemuda ini pun ternyata bukan orang sembarangan.

 

Akan tetapi dasar wataknya memang sombong, dia tidak mau mengerti akan kenyataan ini, dan bahkan merasa penasaran. Golok di tangan kirinya juga menyambar, dengan cepatnya dia telah menggerakkan golok kiri itu untuk menusuk perut si pemuda baju biru. Pemuda itu kembali tidak mengelak, akan tetapi tiba-tiba mangkok di tangan kirinya digerakkannya ke depan dan tepat memukul pergelangan tangan kiri lawan. Demikian cepat gerakannya sehingga sebelum golok itu menyambar, pergelangan tangan tokoh Ang-i Mo-pang sudah dihantam mangkok itu.

 

“Dukkk!”

 

Si baju merah mengeluarkan seruan kesakitan dan golok itu terlepas dari tangan kirinya.

 

“Mundurlah kau, kami tidak minta bantuanmu!” Mendadak Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi berseru dengan suara dingin.

 

Pemuda itu agaknya terkejut mendengar suara dingin ini dan dia menarik kembali sepasang sumpitnya, lalu melangkah mundur dan menjura ke arah dua orang gadis itu. “Maafkan saya,” katanya, lalu dia  kembali ke mejanya, melanjutkan makan bakminya yang belum habis! Pemuda itu bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

 

“Hemmm, kau masih bengong di situ, tidak lekas berlutut? Kau harus mencium lantai sampai tiga kali dan minta ampun, baru aku akan membiarkan engkau pergi dari sini!” kata Bi Lan dengan sikap galak dibuat- buat.

 

Akan tetapi, orang yang mengaku sebagai tokoh Ang-i Mo-pang itu agaknya tidak biasa dikalahkan orang sehingga beratlah baginya untuk mengakui kekalahannya. Apa lagi harus berlutut menciumi tanah dan minta ampun kepada seorang gadis muda! Dia tadi memang sudah merasakan kehebatan pemuda itu dan kalau pertempuran dilanjutkan, mungkin dia akan kalah.

 

Akan tetapi gadis ini belum mengalahkannya, baru tadi menamparnya dan hal ini tidak menunjukkan  bahwa gadis ini lihai. Untung bahwa pemuda lihai itu sudah kembali ke tempat duduknya dan agaknya  tidak lagi mencampuri urusan itu. Dia kini memperoleh kesempatan melampiaskan kedongkolan hatinya kepada gadis ini, sekalian membalas tamparan yang membuat pipinya biru membengkak.

 

Dia memang merendahkan tubuhnya, akan tetapi bukan untuk berlutut, melainkan untuk menyambar golok kirinya yang tadi terlepas dan jatuh di lantai. Kini dengan kedua batang golok di kedua tangan,  orang itu lalu menyerang Bi Lan kalang-kabut seperti seekor babi buta. Tentu saja dengan mudah Bi Lan mengelak ke kanan kiri karena baginya, gerakan orang itu masih terlalu lambat.

 

Bi Lan maklum bahwa kalau berhadapan dengan suci-nya, tentu orang ini tidak akan selamat, tentu akan tewas atau setidaknya akan tersiksa dan terluka parah, atau menderita cacad selama hidup. Dia memang tidak suka kepada orang yang jahat, kejam dan bertindak sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya ini dan memang sudah selayaknya kalau orang ini dihajar. Akan tetapi, juga jangan sampai terjatuh ke tangan suci-nya yang amat kejam. Dia merasa ngeri juga membayangkan apa yang akan terjadi dengan orang ini kalau terjatuh ke tangan suci-nya. Karena itu, ia mendahului suci-nya menghajar orang ini agar cepat pergi dan terhindar dari kekejaman tangan suci-nya.

 

Sepasang golok itu menyambar-nyambar dengan ganasnya. Akan tetapi, hanya dengan gerakan kedua kakinya, Bi Lan dapat menghindarkan semua sambaran golok dan tiba-tiba kedua kakinya bergerak bergantian dan terdengarlah seruan kaget si baju merah yang disusul suara sepasang golok berkerontangan terlempar ke atas lantai. Kemudian, sekali tangan Bi Lan meluncur ke depan, ke arah pundak orang itu.

 

“Krekkk!” terdengar suara yang disusul jeritan orang itu yang kemudian terjengkang ke atas lantai dengan tulang pundak patah!

 

“Nah, manusia sombong, pergilah cepat dan jangan ulangi lagi kejahatanmu memeras orang yang sedang makan di restoran!” kata Bi Lan.

 

Orang itu memandang kepada Bi Lan dengan mata terbelalak. Baru sekarang agaknya dia sadar bahwa seperti juga pemuda itu, gadis ini lihai bukan main, sama sekali bukan tandingannya. Maka dia pun merayap bangun, memegangi pundak kanan yang patah tulangnya dengan tangan kiri, sekali lagi memandang melotot kemudian membalikkan tubuh menuju ke pintu sambil berseru, “Tunggu pembalasan Ang-i Mo-pang!”

 

“Heii, berhenti kamu!” Tiba-tiba terdengar suara Setan Cantik, suaranya melengking dan mengandung rasa dingin menyusup tulang sehingga kembali pemuda sederhana yang kini sudah menyelesaikan bakminya itu memutar bangku dan menghadapinya, melihat apa yang akan terjadi.

 

Si baju merah juga kaget dan menghentikan langkahnya di ambang pintu, lalu memutar tubuhnya menghadapi dua orang gadis itu. Dia sudah kalah, mau apa lagi dua orang gadis itu?

 

Setan Cantik masih duduk di atas bangkunya dan dua batang golok milik si baju merah yang tadi terlepas dari tangannya kini berada di depan kaki itu. Dengan kaki kirinya yang bersepatu merah, Bi kwi mencokel sebatang golok dan begitu wanita itu menggerakkan kakinya, golok itu terlempar dan jatuh berkerontangan tepat di depan kaki si tokoh Ang-i Mo-pang.

 

“Kamu sudah berdosa terhadapku, hayo cepat kau tinggalkan tangan kananmu!” bentak Setan Cantik dengan suara dingin.

 

Laki-laki baju merah itu memandang dengan mata terbelalak, masih belum mengerti apa maksud wanita cantik itu.

 

“Apa… apa maksudmu…?” tanyanya, masih penasaran, marah akan tetapi juga jeri.

 

“Ambil golok itu dengan tangan kirimu dan buntungi tangan kananmu, baru kau boleh pergi membawa nyawa tikusmu dari sini,” kata pula Si Setan Cantik. Orang itu terbelalak dan mukanya menjadi pucat.

 

“Suci, kurasa tidak perlu begitu!” Bi Lan juga berkata dengan hati ngeri mendengar tuntutan suci-nya. “Diam! Kau anak kecil tahu apa!” bentak suci-nya kepada Bi Lan.

 

Bi Lan tidak dapat berkata apa-apa lagi karena tentu saja dia tidak mau ribut dengan suci-nya hanya untuk membela orang yang jahat dan kurang ajar itu. Sementara itu, pemuda yang nonton tidak memperlihatkan apa-apa pada wajahnya yang tetap tenang itu.

 

Si baju merah itu memandang dengan muka berubah merah sekali, tetapi kemudian menjadi pucat lagi. Dia merasa terhina dan marah bukan main, akan tetapi juga maklum bahwa kalau dia menyerang lagi, sama halnya dengan membunuh diri. Maka dia lalu mendengus tanpa menjawab, dan segera membalikkan tubuhnya lagi.

 

Akan tetapi dengan gerakan yang cepat bukan main, Ciong Siu Kwi atau Si Setan Cantik itu sudah menyambar golok ke dua dari atas lantai, kemudian sekali tangannya bergerak, golok itu meluncur ke depan, ke arah tokoh Ang-i Mo-pang yang hendak pergi itu.

 

“Crakkk… cappp…!”

 

Golok itu meluncur bagaikan kilat, menyambar dan mengenai lengan kiri si baju merah, dan setelah membabat putus lengan itu sebatas siku, golok masih meluncur terus dan menancap pada daun pintu!

 

“Aduhhhh…!” Si baju merah menjerit dan terhuyung-huyung.

 

Ia lalu membalikkan tubuh dan memandang ke arah buntungan lengannya di atas lantai, kemudian memandang kepada lengan kirinya yang tinggal sepotong dan sambil menjerit panjang dia lalu melarikan diri dari tempat itu, meninggalkan darah yang berceceran di sepanjang jalan.

 

Tentu saja peristiwa ini mengejutkan pengurus restoran dan para pelayan, juga nampak banyak orang menonton di luar restoran itu walau pun mereka hanya berani nonton dari jauh ketika tadi mendengar ada orang berpakaian merah memeras para pengunjung restoran. Akan tetapi Setan Cantik tidak mempedulikan semua itu, malah meneriaki pelayan untuk menambah arak dan menambah satu kilo daging bebek panggang!

 

Wanita ini nampak tenang saja, hanya satu kali melempar pandang ke arah pemuda yang juga masih duduk di tempatnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun atau sikap yang merasa heran. Diam-diam Bi- kwi mendongkol melihat pemuda itu yang bersikap tak acuh, seolah-olah perbuatannya tadi tidak hebat dan tidak ada apa-apanya untuk dikagumi.

 

Melihat para pelayan menjadi sibuk dan terlihat bingung ketakutan memandang ke arah potongan lengan di dekat ambang pintu, Bi Lan lantas berkata kepada mereka, “Harap kalian tidak menjadi bingung. Kami sedang menanti kembalinya orang tadi bersama kawan-kawannya!”

 

Akan tetapi, pengurus restoran itu lalu menghampiri mereka dan dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bi-kwi dengan tubuh gemetar dan muka pucat. “Harap ji-wi lihiap suka mengampuni kami…”

 

Bi-kwi mengerutkan alisnya dan sinar matanya menyambar ke arah muka pengurus restoran itu. “Sekali lagi kau menyebut lihiap, kau akan kubunuh!”

 

Tentu saja pemilik restoran itu terkejut bukan main dan menjadi semakin ketakutan.

 

“Sebut nona kepada suci-ku,” kata Bi Lan yang maklum bahwa ancaman suci-nya tadi bukan ancaman kosong belaka.

 

Suci-nya menganggap semua pendekar di dunia persilatan sebagai manusia-manusia sombong dan sebagai musuh-musuhnya, maka sebutan lihiap (pendekar wanita) yang selalu dimusuhinya merupakan penghinaan bagi dirinya.

 

“Siocia… harap sudi memaafkan saya… kami… kami tidak berani tinggal di sini lebih lama lagi… ijinkanlah kami pergi dari tempat ini…”

 

Kembali Bi-kwi yang menjawab dengan suara kaku, “Siapa yang berani meninggalkan tempat ini akan kubuntungi lengannya juga seperti orang tadi!”

 

Bi Lan cepat mendekati pengurus restoran itu, yaitu seorang laki-laki berusia hampir lima puluh tahun. “Lopek (paman tua), dengarlah baik-baik. Suci hendak tinggal di sini sebentar untuk menunggu kembalinya orang tadi yang tentu akan membawa teman-temannya. Kalian semua tenang-tenang sajalah dan layani permintaan suci. Jangan ada yang keluar dari sini kalau tidak mau celaka.”

 

“Tapi… tapi… dia tadi adalah orang dari perkumpulan Ang-i Mo-pang, aduh akan celaka kita semua…”

 

“Diamlah dan kembali ke tempatmu!” Bi Lan kini menghardiknya karena gadis ini pun merasa jengkel melihat kecengengan orang itu.

 

Dihardik demikian, kuncup pula rasa hati si pengurus restoran dan dia pun bangkit, lalu melangkah kembali ke tempat duduknya dengan muka tunduk, sedangkan para pelayan berkumpul di belakangnya dengan muka pucat. Akan tetapi, mereka melayani pesanan Bi-kwi dengan cepat.

 

“Aku juga minta bebek panggang seperti itu!” tiba tiba terdengar pemuda tadi berseru, suaranya lembut akan tetapi nadanya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia gentar atau heran.

 

Pengurus restoran dan para pelayan tentu saja khawatir sekali dan diam-diam memaki pemuda yang tidak tahu diri itu. Bagaimana kalau nona-nona galak itu marah dan membuntungi lengannya atau membunuhnya?

 

Akan tetapi anehnya, dua orang gadis itu sama sekali tak mempedulikan sikap pemuda itu. Hanya Bi Lan yang mengerling dan melihat betapa pemuda itu juga mengerling kepadanya. Ia pun cepat-cepat mengalihkan pandang matanya. Diam-diam Bi Lan juga menduga-duga siapa adanya pemuda yang lihai itu, dan mengapa pemuda itu agaknya memang sengaja hendak menunggu kelanjutan dari peristiwa ini. Akan tetapi, Bi Lan juga tidak ambil peduli dan ia pun makan bebek panggang bersama suci-nya.

 

Mereka bertiga masih makan dengan santai ketika terdengar suara ribut-ribut di luar pintu restoran.

 

“Inilah restorannya.”

 

“Dan itu potongan lengan A Pai!”

 

Muncullah tiga orang pria berpakaian serba merah. Berdiri paling depan adalah seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus bermuka pucat dan di punggungnya tergantung sepasang golok melintang. Dua orang lainnya bertubuh tinggi besar dan mereka memegang sebatang pedang terhunus dengan sikap galak. Namun, begitu mereka memasuki restoran, melangkahi lengan buntung yang menggeletak di atas lantai lalu memandang ke arah Bi-kwi, tiga orang itu terbelalak.

 

“Ciong-siocia…!” Kakek tinggi kurus muka pucat itu berseru.

 

Bi-kwi masih duduk saja dan kini ia memandang kepada tiga orang itu dengan sinar mata penuh selidik, lalu terdengarlah suaranya yang dingin menyeramkan, “Hemmm, kalian datang untuk membela lengan buntung itu dan ingin menebusnya dengan kepala kalian?”

 

Mendengar suara ini, tiba-tiba kakek itu bersama dua orang temannya menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bi-kwi. “Siocia… ampunkan kami… ahh, siapa tahu bahwa Siocia malah yang berada di sini? Sungguh pertemuan ini merupakan berkah dari langit, karena siapa lagi yang akan menolong kami selain Siocia?”

 

Si Setan Cantik memandang dengan alis berkerut. “Tee Kok! Seorang anak buahmu berani kurang ajar kepadaku dan kini kau datang malah hendak minta tolong? Omongan apa ini? Hayo katakan dahulu siapa pemilik lengan itu dan bagaimana anak buahmu sampai tidak mengenal aku?”

 

“Itulah dia, Siocia. Dia bukan anak buah kami, melainkan anak buah orang yang baru datang sebulan yang lalu. Dia datang dan menalukkan saya, kemudian memaksa untuk mengambil alih kedudukan ketua Ang-i Mo-pang. Sekarang dia bersama belasan orang anak buahnya yang menguasai keadaan. Orang tadi adalah seorang di antara mereka.”

 

Bi-kwi mengangguk-angguk. “Hemmm… begitukah? Siapa dia?”

 

“Dia tidak pernah memperkenalkan namanya, bahkan teman-temannya juga tidak tahu siapa namanya, akan tetapi dia memakai julukan Thian-te Siauw-ong dan minta disebut Siauw-ong! Akan tetapi ilmu kepandaiannya amat hebat, Siocia.”

 

“Apakah dia masih muda?” tanya Bi-kwi sambil menengok ke arah pemuda yang masih duduk di tempatnya semula. “Semuda dia itu?” Ia menuding ke arah pemuda itu.

 

Kakek tinggi kurus muka pucat itu adalah Tee Kok, ketua Ang-i Mo-pang yang lihai! Seperti kita ketahui, kakek ini telah menjadi pembantu Bi-kwi dan dia bersama seluruh anggota Ang-i Mo-pang telah menjadi pembantu Bi-kwi, maka tadi Bi Lan merasa heran melihat ada orang mengaku tokoh Ang-i Mo-pang berani kurang ajar terhadap suci-nya. Setelah mendengar penuturan kakek itu, barulah Bi Lan tahu mengapa terjadi hal yang aneh itu. Kiranya orang yang lengannya dibuntungi suci-nya tadi bukan anggota asli dari Ang-i Mo-pang, melainkan pendatang-pendatang baru yang mengambil alih kedudukan pimpinan di perkumpulan iblis itu.

 

Tee Kok mengangkat muka memandang pemuda itu. “Masih muda, akan tetapi tidak semuda itu. Usianya kurang lebih tiga puluh tahun.”

 

“Hemm, pria-pria muda sekarang ini memang besar kepala, sombong dan berlagak. Pangcu, aku akan segera menemui laki-laki sombong Thian-te Siauw-ong itu, akan tetapi lebih dulu, aku minta engkau suka memberi hajaran kepada laki-laki muda yang jumawa ini!” Kembali ia menuding ke arah pemuda itu.

 

“Suci, perlu apa mencari perkara? Dia toh tidak bersalah apa-apa,” Bi Lan menegur suci-nya karena ia khawatir kalau pemuda yang sama sekali tidak berdosa itu celaka di tangan suci-nya.

 

“Siauw-kwi, diamlah kau! Orang ini telah kurang ajar sekali, sombong memamerkan sedikit kepandaiannya kepada kita, perlu dihajar. Hendak kulihat apakah kepandaiannya juga sebesar kesombongannya! Jika dia mampu mengalahkan Ang-i Mo-pangcu, biarlah kuampuni karena kesombongannya itu beralasan. Akan tetapi kalau dia kalah, biarlah dia membawa mati kesombongannya itu. Pangcu hajar dia sampai mati!”

 

Tee Kok adalah ketua Ang-i Mo-pang, perkumpulan yang tentu saja termasuk golongan sesat. Nama perkumpulannya saja Perkumpulan Iblis Baju Merah! Dan Tee Kok sendiri adalah bekas anggota perkumpulan Hek-i Mo-pang yang terkenal ganas dan jahat.

 

Maka, kini mendengar perintah Bi-kwi yang ditakutinya itu, dia tersenyum menyeringai, lalu bangkit berdiri dan dengan pandang mata memandang rendah dia menghampiri pemuda yang masih duduk dengan tenang itu. Bagi orang yang sudah biasa melakukan kejahatan seperti Tee Kok, perintah untuk menghajar orang tentu saja dianggap amat menyenangkan.

 

Pertama, dia sendiri memang berwatak sadis dan memperoleh nikmat dari menyiksa orang lain. Ke dua, dia memperoleh kesempatan untuk memenuhi perintah orang yang ditakutinya dan menyenangkan orang itu. Ke tiga, dia mengharapkan bantuan Bi-kwi untuk menentang musuh yang merampas kedudukannya, maka kini dia harus lebih dulu membuat jasa.

 

“Orang muda, bangkit dan majulah untuk menerima hajaran dariku, heh-heh!” Tee Kok berkata sambil terkekeh dan dia pun sudah melolos sepasang goloknya. Dia bermaksud untuk menyiksa orang ini, tidak segera membunuhnya karena hal ini tentu akan makin menyenangkan hati Si Setan Cantik.

 

Bi-kwi memang memandang dengan wajah berseri-seri. Sama sekali bukan disebabkan kegirangan hatinya akan melihat betapa pembantunya itu menyiksa dan membantai pemuda itu. Tidak, ia bukan orang yang demikian tolol. Dari gerakan pemuda tadi, ia cukup dapat menduga bahwa pemuda itu bukan orang yang begitu mudah untuk dikalahkan. Dan inilah yang menggembirakan hatinya. Ia akan melihat tontonan yang amat menarik, perkelahian yang seru dan mati-matian.

 

Sebaliknya, Bi Lan nonton dengan hati gelisah dan alis berkerut. Gadis ini sama sekali tidak menyetujui akan sikap dan tindakan suci-nya. Pemuda itu sama sekali tidak berdosa, bahkan kalau tadi pemuda itu maju menentang si baju merah, bukankah hal itu menunjukkan bahwa pemuda itu membela ia dan suci- nya? Kenapa hal itu dianggap suatu kesombongan dan kekurang ajaran oleh suci-nya yang kini demikian kejam untuk menyuruh orangnya membunuh pemuda itu?

 

Tidak, dia tidak setuju dan diam-diam gadis ini pun sudah bersiap untuk mencegah dan melindungi pemuda itu apa bila perlu. Ia kini tidak perlu lagi berpura-pura takut kepada suci-nya. Memang, ia telah berjanji untuk membantu suci-nya, akan tetapi bantuan yang terbatas pada perampasan pusaka Liong- siauw-kiam dan usaha suci-nya untuk menjadi bengcu. Itu saja. Ia tidak akan membantu suci-nya dalam  hal lain, dan jelas tidak akan membantu suci-nya melakukan kejahatan-kejahatan seperti yang hendak dilakukannya terhadap pemuda ini.

 

Pemuda itu bangkit berdiri. Tangan kanannya masih tetap memegang sepasang sumpit. Melihat Tee Kok dan dua orang temannya yang juga berpakaian merah-merah, dia pun melirik ke arah Bi Lan dan berkata, “Eh, seekor lalat merah diusir pergi, malah datang tiga ekor!”

 

Karena merasa bahwa pemuda itu bicara dengan menyangkut dirinya yang menjadi orang pertama yang menggunakan istilah lalat merah, Bi Lan menahan senyumnya, akan tetapi ia segera berkata kepada suci- nya, “Suci pernah bilang bahwa ketua Ang-i Mo-pang yang menjadi pembantunya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau kini mampu mengalahkan pemuda yang tidak terkenal ini dengan sepasang goloknya, sungguh itu namanya nama besar yang tidak sesuai dengan kenyataannya.”

 

Bi-kwi mengerutkan alisnya dan menoleh kepada sumoi-nya dengan sikap marah. Dia merasa tidak pernah memuji-muji kepandaian Tee Kok di depan sumoi-nya dan tahulah dia bahwa sumoi-nya itu sengaja menggunakan taktik mengangkat lalu membanting, yaitu berpura-pura memuji Tee Kok untuk menjatuhkannya. Dan memang taktiknya itu berhasil.

 

Ketika melihat Bi Lan, Tee Kok tidak mengenal siapa wanita muda cantik yang duduk dengan Bi-kwi yang ditakutinya itu. Akan tetapi barusan gadis itu menyebut suci kepada Bi-kwi. Maka, setelah mendengar pujian tentang kelihaiannya, dia tertawa bergelak dan cepat menyimpan kembali kedua goloknya dan menghadapi pemuda itu dengan tangan kosong saja sambil tersenyum lebar kepada Bi Lan! Melihat ini, Bi kwi mengerutkan alis makin dalam dan sama sekali tidak setuju, akan tetapi ia pun diam saja.

 

Bagaimana pun juga, Tee Kok marah sekali kepada pemuda itu yang jelas memakinya sebagai lalat  merah. Baiknya, kemarahannya itu tadi disiram oleh kesenangan hati dipuji oleh seorang gadis cantik yang menjadi sumoi Bi-kwi, maka kini dia dapat menghadapi pemuda itu dengan senyum lebar.

 

“Orang muda, majulah dan mari kau berkenalan dengan kaki tanganku yang sudah gatal-gatal karena beberapa hari lamanya tidak pernah menghajar orang, heh-heh-heh!” katanya dengan sikap jumawa sekali.

 

Pemuda itu tersenyum. “Seekor lalat merah yang sudah kehilangan sengatnya, tinggal suaranya saja mengiang membisingkan.”

 

Tentu saja Tee Kok menjadi semakin marah. “Bocah keparat! Kalau begitu aku tidak hanya akan menghajarmu, akan tetapi juga akan membunuhmu!”

 

Baru saja dia berhenti bicara, tubuhnya sudah menubruk ke depan dengan gerakan cepat dan kuat. Kedua lengannya dikembangkan dan menyerang dari kanan kiri, persis seperti seekor harimau yang menubruk domba. Tee Kok memang ingin menerkam dan menangkap pemuda itu pada kedua pundaknya, karena dia yakin bahwa begitu dia berhasil mencengkeram pundak dan mencengkeram jalan darah di kedua pundak, pemuda itu tentu takkan mampu berkutik lagi.

 

Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak tergesa-gesa menghadapi serangannya. Pertama-tama, sepasang sumpit yang tadi dipegang di tangan kanan, kini dia selipkan dulu di ikat pinggang. Setelah itu, barulah dia menghadapi serangan lawan, sementara kedua lengan lawan sudah dekat sekali dan dua tangan Tee Kok dengan jari-jari tangan terbuka sudah hampir menyentuh kedua pundaknya.

 

Tiba-tiba kedua tangan pemuda itu dari bawah bergerak naik dan kedua lengannya sudah menangkis dua lengan lawan dari bawah, dan begitu menangkis keluar, kedua tangan itu dilanjutkan ke depan menghantam dada.

 

“Dukkk…!”

 

Dada kanan kiri ketua Ang-i Mo-pang terdorong oleh kedua tangan pemuda itu sehingga tubuhnya terjengkang ke belakang. Dia terbanting roboh dan terbatuk-batuk keras oleh karena isi dadanya seperti rontok terkena dorongan kedua tangan tadi. Dia merasa marah dan malu bukan main.

 

Pemuda itu hanya mempergunakan gerakan yang biasa saja. Menangkis dari dalam kemudian mendorong dari dalam seperti itu hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dipelajari oleh semua orang yang berlatih silat. Tetapi hebatnya, justru gerakan sederhana ini sudah berhasil merobohkannya dan membuat dia terbatuk-batuk seperti orang terserang penyakit mengguk, sampai terpingkal-pingkal.

 

Bi Lan yang masih duduk di atas kursinya mengejek. “Eh, pangcu. Engkau ini datang mau menghajar orang ataukah mau demonstrasi caranya orang batuk-batuk?”

 

Pengurus restoran dan para pelayan yang menonton sejak tadi dengan hati penuh rasa takut, hampir tak dapat menahan ketawa mereka. Akan tetapi dengan sekuat tenaga mereka menahan ketawa dan bersembunyi di balik meja dan kursi.

 

Tee Kok bangkit dengan muka merah dan mata melotot. Dalam segebrakan saja dia telah dirobohkan dan dibikin malu. Akan tetapi, orang yang berwatak sombong selalu mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Dia menganggap bahwa kekalahannya tadi hanya terjadi karena dia memandang rendah saja.

 

Pemuda itu tadi merobohkannya bukan dengan ilmu silat yang hebat, hanya dengan gerakan sederhana. Dan andai kata dia tidak memandang rendah dan tidak bertindak sembrono dalam penyerangannya, tidak mungkin pemuda itu mampu merobohkannya. Demikianlah pendapat orang yang selalu mengagulkan diri sendiri dan sikap ini jelas merugikan diri sendiri, membuat dia bertindak ceroboh.

 

“Bocah keparat, bersiaplah untuk mampus!” teriaknya dan dia sudah mencabut lagi sepasang goloknya.

 

Kini dia tidak dapat tersenyum-senyum lagi sambil melirik ke arah Bi Lan seperti tadi. Sepasang matanya ditujukan kepada pemuda itu dan di dalam pandang matanya memancar nafsu membunuh. Akan tetapi pemuda baju biru itu hanya memandangnya dengan sikap tenang dan tahu-tahu sepasang sumpit tadi sudah berada di tangannya, kini di kedua tangan, masing-masing sebatang sumpit bambu kecil itu.

 

Golok kanan Tee Kok menyambar disusul golok kiri, yang kanan menabas ke arah leher sedangkan yang kiri menusuk perut. Semua orang yang menonton perkelahian itu, kecuali Bi-kwi, dan juga Bi Lan yang masih terus siap melindungi pemuda itu kalau perlu, merasa ngeri dan membayangkan bahwa tidak lama lagi pemuda itu tentu akan roboh menjadi mayat dengan tubuh tidak utuh lagi.

 

Akan tetapi, terjadilah keanehan. Sepasang golok di tangan Tee Kok itu, sekian kali menyambar ke arah tubuh pemuda itu, selalu terhenti di tengah jalan dan ditarik kembali seolah-olah ketua Ang-i Mo-pang itu tidak tega melukai tubuh si pemuda baju biru! Dan sebagai lanjutan dari sikap tidak tega ini, kakek kurus pucat itu menyerang semakin hebat saja dan semakin marah walau pun semua serangannya itu kemudian terhenti pula.

 

Hanya Bi-kwi dan Bi Lan yang tahu apa yang telah terjadi dan mereka berdua terkejut, juga Bi-kwi merasa terheran-heran dan Bi Lan merasa kagum sekali. Sama sekali bukan karena Tee Kok merasa tidak tega melukai pemuda itu, tetapi dia terpaksa menahan serangannya sebab jika dilanjutkan, bukan lawannya yang terbacok atau tertusuk golok, melainkan dia sendirilah yang akan celaka.

 

Kiranya, setiap kali dia menyerang, baik dengan golok kanan mau pun kiri, dan sebelum senjatanya mengenai tubuh lawannya, tiba-tiba saja sebatang sumpit telah menghadang dan mengancam dekat sekali dengan jalan darah di pergelangan tangan, siku mau pun bawah pangkal lengan, sehingga jika ia meneruskan serangannya itu, sebelum senjata menyentuh tubuh lawan yang menjadi sasaran, terlebih dahulu ujung sumpit itu akan menotok jalan darahnya! Ke mana pun juga dia menyerang, selalu saja sumpit-sumpit itu membayanginya dan mendahului setiap serangannya.

 

Tentu saja hal ini membuat Tee Kok amat terkejut, keheranan dan juga penasaran lalu menjadi marah bukan main sehingga setiap kali dia terpaksa menarik goloknya lalu dia menyerang lagi dengan lebih ganas! Namun sama saja, agaknya pemuda itu memiliki gerakan yang jauh lebih cepat lagi sehingga sumpit-sumpitnya selalu menodong ke arah jalan darah yang akan melumpuhkan lengan Tee Kok kalau serangannya dilanjutkan.

 

Bi-kwi sejak tadi juga nonton perkelahian itu dan diam-diam wanita ini pun merasa heran dan penasaran sekali. Ia mengenal tingkat kepandaian Tee Kok. Biar pun tidak terlalu tinggi dan dia sendiri akan mampu merobohkannya dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja, akan tetapi melihat perkelahian itu, ia tahu bahwa kalau pemuda baju biru itu mau, dalam segebrakan saja sumpitnya tentu akan mampu melakukan totokan dan merobohkan Tee Kok.

 

Ia memperhatikan dan ingin mengenal ilmu silat yang dimainkan pemuda itu agar dapat mengetahui dari perguruan mana pemuda itu berasal. Namun, pemuda itu bergerak sembarangan saja dan agaknya malah tidak bersilat, hanya kedua lengannya yang selalu bergerak cepat melakukan penodongan dengan sumpit- sumpitnya itu melenggak-lenggok macam dua ekor ular saja.

 

Tentu semacam Ilmu Silat Ular, pikirnya, akan tetapi dari cabang manakah? Sebagai seorang tokoh sesat yang berpengalaman, dan juga sudah banyak bertanding melawan orang-orang dari berbagai partai persilatan, Bi-kwi banyak mengenal ilmu-ilmu silat dari dunia persilatan. Akan tetapi sekarang ia mendongkol sekali karena ia sungguh harus mengaku bahwa ilmu silat yang dimainkan pemuda baju biru itu tidak dikenalnya sama sekali.

 

Sebetulnya, hal itu tidak mengherankan karena ilmu silat yang dimainkan pemuda itu bukanlah ilmu silat biasa, melainkan ilmu silat yang sumber atau asalnya dari keluarga para pendekar Pulau Es! Pemuda itu bukan lain adalah Gu Hong Beng, putera tunggal mendiang Gu Hok, tukang kayu di Siang-nam yang dahulu tewas oleh Bong-ciangkun komandan Siang-nam itu.

 

Seperti telah kita ketahui, Gu Hok dan isterinya tewas, akan tetapi putera tunggal mereka yang bernama Gu Hong Beng dan pada waktu itu baru berusia sebelas tahun, diselamatkan oleh pendekar Suma Ciang Bun, seorang pendekar dari keluarga Pulau Es. Anak itu kemudian menjadi murid Suma Ciang Bun.

 

Selama hampir delapan tahun lamanya Hong Beng digembleng dengan keras dan tekun oleh Suma Ciang Bun. Karena dia memang berbakat baik sekali, maka kini dia telah menjadi seorang murid yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es dengan baiknya.

 

Menghadapi Tee Kok yang gencar menyerangnya dengan sepasang golok, Hong Beng mainkan ilmu yang sebenarnya bersumber pada Ilmu Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang menjadi satu di antara ilmu-ilmu keluarga para pendekar Pulau Es, akan tetapi dimainkan dengan sepasang sumpit. Tentu saja Bi-kwi tidak mengenal ilmu itu.

 

Kini, setelah lewat belasan jurus dan semua serangan Tee Kok dapat dihentikannya dengan todongan sumpit yang siap menotok jalan darah, mendahului kalau serangan golok dilanjutkan, mendadak Hong Beng menggerakkan tubuhnya dengan cepat sekali dan mereka yang nonton perkelahian itu melihat betapa permainan sepasang golok itu menjadi kacau balau, tak sempat menyerang lagi tetapi diputar-putar untuk melindungi tubuhnya.

 

Hal ini dapat terjadi karena tiba-tiba sepasang mata Tee Kok seperti berkunang-kunang rasanya, melihat betapa sepasang sumpit bambu itu berubah menjadi ratusan batang banyaknya. Tiba-tiba saja ada sebatang sumpit berada di depan mata, siap menusuk matanya, lalu tiba-tiba saja menempel pada telinga, hidung, leher, dada dan bagian-bagian anggota tubuh lain yang sangat berbahaya. Sekali saja sumpit itu ditusukkan, biar pun hanya terbuat dari pada bambu kecil, tentu dapat menewaskannya.

 

Tiba-tiba terdengar Hong Beng mengeluarkan suara ketawa tertahan dan tahu-tahu tubuh Tee Kok tidak bergerak lagi, berdiri dalam sikap hendak menyerang. Tubuh itu kaku, matanya melotot, golok kanan diangkat tinggi-tinggi dan golok kiri siap menyapu kaki lawan. Kiranya tubuhnya telah tertotok dua kali berturut-turut dan akibatnya, tubuh itu menjadi kaku seperti sebuah arca yang lucu.

 

Hong Beng tidak berkata apa-apa lagi, lalu berjalan kembali ke kursinya dan duduk sambil minum araknya, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.

 

Melihat sikap ini, wajah Bi-kwi berubah merah sekali. Pemuda itu memang terlalu besar kepala, pikirnya. Memang lihai, dan berhasil mengalahkan Tee Kok secara mutlak, akan tetapi di depannya bersikap begitu acuh, sungguh menggemaskan.

 

Bi-kwi menggerakkan tangannya, dua kali menepuk pundak dan punggung Tee Kok. Tubuh yang tadinya kaku itu roboh terpelanting, akan tetapi dapat bergerak lagi dan kini Tee Kok yang sudah yakin akan kehebatan pemuda itu, tak berani banyak lagak lagi hanya mengharapkan agar Bi-kwi dapat membalaskan kekalahannya.

 

Setelah membebaskan totokan tubuh Tee Kok, Bi-kwi lalu menoleh kepada Hong Beng, sejenak memandang pemuda yang sedang minum itu dan mendadak tangan kirinya bergerak. Sinar putih halus menyambar ke arah telinga kiri pemuda itu.

 

Tentu saja sebagai murid seorang pendekar Pulau Es, Hong Beng tahu akan serangan gelap ini, serangan benda kecil yang agaknya ditujukan untuk melukai daun telinganya. Dia pun tahu bahwa penyerangnya adalah wanita cantik yang suaranya kadang-kadang dapat dingin seperti es itu, sinar matanya kadang- kadang tajam menusuk dan panas membara, kadang-kadang lembut dan dingin sejuk, yang oleh ketua Ang-i Mo-pang disebut Ciong Siocia.

 

Hong Beng tidak mengelak, melainkan menggerakkan sebelah tangannya seperti orang hendak menggaruk-garuk kepala dan pada saat tangannya menuju ke kepala itulah dia menangkap benda kecil itu dengan ibu jari dan telunjuknya. Betapa kagumnya Hong Beng melihat bahwa benda yang dijadikan  senjata rahasia itu hanyalah sebatang biting pencokel gigi! Jika tidak memiliki tenaga sinkang yang kuat dan juga kepandaian tinggi, tak mungkin mempergunakan benda sekecil dan seringan itu sebagai senjata rahasia yang ampuh!

 

“Terima kasih,” katanya seperti kepada diri sendiri. “Akan tetapi gigiku belum ada yang berlubang, tidak membutuhkan tusuk gigi!”

 

Yang dapat melihat semua ini hanyalah Bi-kwi dan Bi Lan dan kedua orang wanita ini tentu saja menjadi semakin kagum. Akan tetapi Bi-kwi semakin marah dan ia sudah melangkah hendak menantang pemuda itu.

 

Bi Lan agaknya maklum akan niat suci-nya, maka lebih cepat lagi dia melangkah dan menghadang di depan suci-nya, berkedip dan berkata, “Suci, janjimu tadi tidak boleh kau langgar sendiri, hal itu akan mencemarkan nama besarmu. Selain itu, bukankah di sana menanti tugas yang lebih penting, untuk membantu Ang-i Mo-pang?”

 

Sejenak, dengan kemarahan meluap, Bi-kwi menentang pandang mata adiknya. Lalu ia pun teringat bahwa tadi ia berjanji bahwa kalau pemuda itu mampu mengalahkan Tee Kok ia akan mengampuni pemuda itu. Kini Tee Kok benar-benar telah dikalahkan, kalau kini ia turun tangan membunuh pemuda itu, berarti ia telah melanggar janjinya sendiri.

 

Memang menurut wataknya, ia tidak peduli akan segala macam janji. Tidak dikenal kehormatan di dunia kaum sesat! Akan tetapi, melihat adiknya seperguruan menentang, dan mengingat bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan, sedangkan kini Ang-i Mo-pang menanti ia turun tangan terhadap orang yang mengambil alih kedudukan dengan kekerasan, maka memang sebaiknya kalau dia melepaskan pemuda ini. Ia menarik napas panjang dan mendengus.

 

“Biarlah kuampunkan dia untuk kali ini. Lain kali kalau dia berani kurang ajar lagi dan bersikap sombong di depanku, tentu kepalanya yang kini kutitipkan kepadanya akan kuambil!” Ia lalu mengibaskan lengan bajunya dan keluar dari rumah makan diikuti oleh Bi Lan.

 

Pengurus restoran dan para pelayan tidak ada yang berani menghalangi walau pun dua orang wanita itu agaknya lupa untuk membayar harga makanan dan minuman. Bagai mana pun juga, dua orang wanita itulah yang telah mengusir orang berpakaian merah tadi, dan juga yang menaklukkan orang-orang Ang-i Mo-pang yang datang kemudian. Tee Kok yang sudah tidak berani berlagak lagi, cepat menjadi penunjuk jalan, mengajak Bi-kwi dan Bi Lan untuk menemui orang yang sudah mengambil alih kedudukannya sebagai ketua Ang-i Mo-pang.

 

Hong Beng hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Bi-kwi tadi. Dia lalu bangkit, dan memanggil pengurus rumah makan itu. “Hitung sekalian dengan makanan dan minuman kedua orang nona tadi. Agaknya karena sibuk mereka lupa membayar, biarlah aku yang membayarnya sekalian.”

 

“Si-cu tidak usah membayar, kami bahkan merasa bersyukur bahwa si-cu kebetulan berada di sini tadi…,” kata pengurus rumah makan.

 

Akan tetapi Hong Beng tetap berkeras membayar harga makanan dan minuman. “Kalian sudah menderita banyak kaget dan rugi, juga harus menyingkirkan benda itu, bagai mana aku tega untuk tidak membayar harga makanan?”

 

Setelah membayar harga makanan, Hong Beng cepat meninggalkan restoran itu karena dia telah mengambil keputusan untuk membayangi dua orang gadis tadi yang agaknya hendak membantu Ang-i Mo- pang yang diambil alih oleh golongan lain. Tentu akan terjadi hal yang amat seru, pikirnya.

 

Hong Beng selama beberapa tahun terakhir ini bersama gurunya tinggal di salah satu di antara puncak- puncak Pegunungan Koa-li-kung, di tepi Sungai Me-kong yang sunyi. Lembah Sungai Me-kong ini amat subur dan di tempat sunyi itu mereka berdua hidup dengan tenteram, mencurahkan perhatian pada latihan silat. Kadang-kadang Hong Beng ditinggal seorang diri oleh gurunya dan ketika untuk terakhir kalinya, beberapa bulan yang lalu gurunya pulang dari perantauan, Suma Ciang Bun menyatakan bahwa muridnya itu sudah belajar lebih dari cukup.

 

“Segala macam ilmu hanya dapat matang dan sempurna kalau dipergunakan dalam kehidupan,” demikian antara lain Suma Ciang Bun berkata kepada muridnya. “Selain mematangkan ilmu dengan praktek menempuh kehidupan yang keras ini, juga apa gunanya engkau bersusah payah mempelajari ilmu-ilmu silat dariku kalau tidak digunakan? Penggunaan ilmu inilah yang terpenting, dan baik buruknya penggunaannya tergantung sepenuhnya kepadamu. Aku memberi sebuah tugas kepadamu, Hong Beng. Sanggupkah engkau melaksanakan tugas yang berat ini?”

 

Hong Beng yang berlutut di depan suhu-nya itu menjawab dengan tegas. “Teecu sanggup melaksanakan segala perintah suhu yang bagaimana beratpun.”

 

“Baik, aku percaya padamu. Selama engkau ikut aku merantau, tentu engkau sudah mengenal keadaan dunia pada umumnya dan engkau tentu dapat berhati-hati dan menjaga diri. Ilmu baca tulis, sedikit banyak engkau telah menguasainya dan hampir semua ilmu silatku telah kuajarkan padamu. Ingat, engkau adalah murid keluarga para pendekar Pulau Es. Sebagai murid Pulau Es, engkau harus dapat menjaga keharuman nama keluarga Pulau Es, dan di mana pun berada, engkau harus menjadi pendekar sejati. Tugas yang kuserahkan padamu ini berat sekali karena engkau harus pergi ke kota raja dan menyelidiki kehidupan seorang perdana menteri.”

 

Biar pun dia memiliki watak tenang dan pemberani, juga pendiam, mendengar ucapan suhu-nya itu, Hong Beng jadi tertegun juga. Menyelidiki seorang perdana menteri di kota raja? Ini hebat!

 

Melihat betapa muridnya terkejut akan tetapi tetap diam saja, Suma Ciang Bun merasa girang dan kagum.

 

“Hong Beng, selama bertahun-tahun ini pemberontakan terjadi di mana-mana. Memang, kami keluarga Pulau Es tidak mau melibatkan diri dengan urusan pemerintahan. Akan tetapi bagaimana pun juga, pemberontakan-pemberontakan itu membuat kehidupan rakyat menjadi sengsara. Setiap kali terjadi pemberontakan dan perang saudara, yang mengalami pukulan paling hebat adalah rakyat jelata. Dan aku sendiri merasa heran. Dahulu, bahkan sebelum menjadi kaisar, Kian Liong merupakan seorang pemimpin yang amat bijaksana dan baik. Sekarang pun nampak betapa kaisar ini mendatangkan banyak kemajuan. Akan tetapi, menurut kabar yang kutangkap, akhir-akhir ini Kaisar Kian Liong dipermainkan oleh seseorang yang kabarnya dapat mempengaruhi kaisar sehingga dari seorang kuli biasa, orang itu terus diberi kenaikan pangkat dan akhirnya dicalonkan menjadi seorang perdana menteri. Hal ini bagiku mencurigakan dan tidak wajar. Nah, inilah tugas yang hendak kuserahkan padamu. Pergilah ke kota raja, selidiki keadaan seorang pembesar yang dicalonkan sebagai perdana menteri. Dia bernama Hou Seng. Selidiki kenapa kaisar dapat jatuh ke dalam kekuasaan orang yang bernama Hou Seng ini dan kalau perlu bertindaklah untuk membasmi segala macam sebab yang menimbulkan adanya kelemahan dalam kendali  pemerintahan Kaisar Kian Liong.”

 

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo