October 3, 2017

Suling Naga Part 4

 

 

“Baiklah, sekarang begini saja, Bi-kwi,” kata pula Iblis Akhirat dengan suara gemas dan dia mengepal tinju. “Kami bertiga akan bertapa bersama-sama. Kami akan mencoba untuk menciptakan sebuah ilmu yang  baru dengan pengerahan tenaga dan pikiran kami bertiga digabung menjadi satu. Sementara itu, engkau latihlah sumoi-mu agar dia kelak dapat membantumu. Setelah dia pandai dan kami menemukan ilmu baru, kami akan mengajarkan ilmu itu kepadamu. Kemudian, kita berlima akan pergi mencari Pendekar Suling Naga. Jika kita masih juga tak mampu merampas pusaka itu dan membunuhnya, biarlah kami yang mati di tangannya!”

 

Girang sekali hati Bi-kwi. Keputusan yang diambil tiga orang gurunya itu mendatangkan banyak keuntungan dan kesenangan baginya. Pertama, tentu saja ia girang jika sampai dapat menerima ilmu baru yang tentu hebat sekali kalau diciptakan oleh penggabungan tiga orang sakti itu.

 

Ke dua, hatinya lega karena tentu dia akan terbebas untuk waktu lama dari mereka bertiga, tidak perlu melayani mereka yang sedang bertapa. Kini ia mulai merasa bosan dan muak kalau harus melayani tiga orang gurunya yang sudah tua dan sama sekali tidak menarik hati lagi itu. Ia dapat menghibur diri dengan mencari pria-pria-muda yang tampan di dusun-dusun sekitar pegunungan itu!

 

Dan yang ke tiga, di luar pengawasan tiga orang suhu-nya, dia dapat makin bebas untuk menyelewengkan pelajaran ilmu-ilmu silat kepada sumoi-nya yang secara diam-diam dibencinya karena dianggap sebagai saingan itu. Tetapi, hatinya yang penuh kepalsuan itu membuat ia berpura-pura ketika ia menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang gurunya.

 

“Budi suhu bertiga sudah bertumpuk-tumpuk terhadap diriku dan sekarang suhu akan bersusah payah pula menciptakan ilmu baru untukku. Sampai mati pun budi ini tidak akan kulupakan dan aku berjanji akan menanti sampai suhu bertiga berhasil, walau pun aku akan hidup kesepian. Dan aku berjanji kelak akan mempelajari ilmu baru itu dengan sempurna.”

 

“Hemm, tak perlu kesepian karena ada sumoi-mu, Bi-kwi,” kata Hek Kwi-ong.

 

“Aku akan mengerahkan semua tenaga untuk melatih sumoi dengan baik, suhu,” jawab Bi-kwi.

 

Demikianlah, semenjak pulangnya Bi-kwi yang menderita kekalahan dari Sim Houw si Pendekar Suling Naga, Sam Kwi lalu mengurung diri dalam sebuah ruangan tertutup di mana mereka tekun bertapa, mengerahkan semua kepandaian untuk menggabungkan pikiran mereka untuk menciptakan sebuah ilmu yang baru dan ampuh. Mereka tidak pernah keluar, dan setiap hari Bi-kwi sendiri yang memasukkan makanan dan minuman untuk mereka dari sebuah lubang di pintu. Ada kalanya ia menyuruh sumoi-nya, Can Bi Lan untuk menyuguhkan makanan dan minuman itu.

 

Bi Lan adalah seorang anak perempuan yang sama sekali belum memiliki pengalaman tentang ilmu silat. Akan tetapi sejak ia mengalami peristiwa yang amat mengguncang batinnya, melihat betapa ayah dan ibunya tewas disiksa gerombolan, kemudian melihat pula dirinya terancam bahaya yang mengerikan, lalu betapa Sam Kwi membunuhi semua anggota gerombolan dan menyiksanya dengan sadis, terjadi perubahan pada batinnya.

 

Ia merasa seperti seorang yang bangkit kembali dari kematian, dan hal ini membuat ia memiliki keberanian yang luar biasa. Dan melihat betapa banyaknya orang jahat di dunia, betapa hidup ini penuh dengan ancaman bahaya maut dan bahaya penghinaan, ia pun bertekad untuk mempelajari ilmu silat dari tiga orang gurunya.

 

Biar pun diam-diam ia merasa tidak suka dan takut kepada suci-nya, akan tetapi karena tiga orang gurunya menyerahkan ia untuk dilatih oleh suci-nya, Bi Lan juga menerima keputusan ini tanpa banyak membantah. Bahkan ia menurut secara membuta segala latihan yang diberikan Bi-kwi kepadanya.

 

Ia tidak mempedulikan kedua telapak tangannya sampai rusak-rusak karena setiap pagi dan petang suci- nya menyuruhnya berlatih mengeraskan tangan dengan menggunakan kedua telapak tangan untuk memukuli pasir panas yang dicampur bubuk besi. Mula-mula memang telapak tangannya luka-luka dan melepuh, akan tetapi anak ini memiliki tekad yang besar sehingga akhirnya ia dapat mengatasi semua kesulitan.

 

Ilmu-ilmu Sam Kwi yang diajarkan oleh Bi-kwi, oleh si Iblis Cantik ini memang sengaja diselewengkan sehingga jurus-jurus yang diajarkan itu sudah tak sempurna lagi, bahkan dikacau dengan gerakan-gerakan lain sehingga ilmu silat yang dipelajari oleh Bi Lan tidak lagi murni!

 

Bukan hanya ilmu silat. Bahkan saat anak itu mulai diberi pelajaran semedhi dan melatih tenaga dalam, latihan ini pun diselewengkan oleh Bi-kwi. Akibatnya, tenaga dalam yang dihimpun oleh Bi Lan adalah tenaga yang sesat dan lebih celaka lagi, latihan-latihan ini membuat batinnya terguncang dan pikirannya menjadi kacau!

 

Bertahun-tahun, sewaktu tiga orang kakek itu bertapa dan menggabungkan diri untuk bersama-sama menciptakan ilmu baru, Bi Lan mempelajari ilmu-ilmu yang disesatkan oleh Bi-kwi. Banyak sudah ilmu silat yang dipelajarinya, akan tetapi tidak satu pun yang murni!

 

Akan tetapi, anehnya, anak yang kini mulai tumbuh menjadi seorang gadis itu, melalui latihan-latihan yang keliru, berhasil menghimpun tenaga yang aneh pula, yang kadang-kadang timbul dengan hebatnya akan tetapi tiba-tiba pula lenyap membuat dia sama sekali tidak bertenaga. Ilmu silatnya juga aneh, hanya menurutkan naluri dan perasaan saja, karena semua ilmu silat yang dipelajarinya itu tidak lengkap dan diselingi gerakan-gerakan ngawur yang membuat jurus-jurusnya kadang-kadang malah membahayakan  diri sendiri. Akibatnya, Bi Lan menjadi seorang gadis yang ilmu silatnya aneh, tenaga dalamnya juga aneh.

 

Yang mengesalkan hati Bi-kwi adalah ketekunan gadis itu, yang selalu menuruti segala perintahnya sehingga tidak ada alasan baginya untuk memarahinya. Dan yang lebih menjengkelkan dan mengkhawatirkan hatinya lagi adalah melihat betapa Bi Lan kini tumbuh menjadi seorang gadis yang amat cantik manis!

 

Ia sengaja memberi pakaian-pakaian tua kepada gadis itu, pakaian-pakaiannya sendiri yang sudah tua, dan sengaja dipotong sedemikian rupa sehingga pakaian itu menjadi aneh, lapuk dan bahkan ada yang tambal-tambalan. Akan tetapi celakanya bagi Bi-kwi, pakaian buruk apa pun yang melekat pada tubuh Bi Lan menjadi pantas dan indah!

 

Hal ini adalah karena Bi Lan tumbuh menjadi seorang gadis dewasa, atau remaja, dan tubuhnya mulai mekar indah sehingga tentu saja segala macam pakaian menjadi pantas dan menarik. Apa lagi, gadis ini sejak kecil memang suka sekali akan kebersihan, sering kali membersihkan tubuhnya dan mencuci rambutnya sehingga walau pun pakaiannya buruk namun nampak bersih dan segar selalu.

 

Kedua pipinya yang tidak pernah mengenal bedak, karena dilarang oleh Bi-kwi, nampak segar kemerahan seperti kulit buah apel. Sepasang matanya lebar dan jeli, rambutnya hitam panjang dan gemuk. Terutama sekali sepasang lesung pipit di kanan kiri mulutnya membuat gadis itu bertambah manis kalau tersenyum. Sayang, guncangan batin dan pikirannya akibat latihan-latihan yang sesat itu membuat Bi Lan  juga memiliki kebiasaan aneh. Kadang-kadang dia tersenyum-senyum seorang diri, kadang-kadang menangis. Pendeknya, gadis ini menunjukkan gejala bahwa otaknya agak miring!

 

Semua kejengkelan hati Bi-kwi karena melihat betapa sumoi-nya menjadi semakin cantik dan mengalahkan dirinya, terhibur juga oleh kenyataan bahwa sumoi-nya seperti orang gila itu. Sesungguhnya gejala-gejala kegilaan inilah yang menyelamatkan nyawa Bi Lan. Andai kata ia tidak demikian, tentu kebencian Bi-kwi akan menjadi-jadi karena iri akan kecantikannya dan bukan tidak mungkin iblis betina itu akan membunuhnya!

 

Sambil terus menanti tiga orang gurunya yang masih juga belum keluar dari tempat pertapaannya, Bi-kwi setiap hari berlatih silat memperdalam ilmu-ilmunya. Dia tidak mempedulikan kepada Bi Lan yang dianggapnya seorang gadis yang miring otaknya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di samping kelainan pada pikirannya yang terguncang itu, juga terjadi perubahan yang aneh, yaitu otak Bi Lan mampu menangkap dan mencatat segalanya dengan kuat sekali.

 

Ia tidak tahu bahwa setiap kali ia berlatih silat, Bi Lan menonton dan gadis ini mampu mengingat semua jurus itu dan kalau sedang seorang diri, Bi Lan melatih diri dengan gerakan-gerakan yang dilihatnya dari suci-nya ketika berlatih. Dengan demikian, hampir semua gerakan ilmu silat yang dimainkan Bi-kwi diam- diam dikuasai oleh Bi Lan!

 

Pada suatu hari, Bi-kwi baru pulang setelah lewat pagi hari, Wajahnya muram, alisnya berkerut dan hatinya penuh diliputi kejengkelan dan kemarahan. Semalam ia bertemu dengan seorang pria muda jauh  di selatan. Hatinya tertarik dan dengan berbagai usaha ia membujuk pria itu setelah pria itu diculiknya dan dibawa ke tempat sunyi, agar pria itu mau menyambut hasrat hatinya.

 

Tetapi pria itu bahkan memaki-makinya, menolaknya dan menyebutnya perempuan hina tak tahu malu. Karena bujukan kasar dan halus ditolak oleh pria itu, setelah semalam suntuk ia gagal membujuk, akhirnya ia membunuh pria itu dan pulang dengan hati kesal karena kekecewaan.

 

Tidak ada orang lain kecuali Bi Lan seorang yang dapat dijadikan tempat pelontaran kemarahan hatinya. “Siauw-kwi…!” Ia memanggil.

 

Bi Lan datang berlari-lari dengan muka dan kepala masih basah. Ia tengah berada di sumber air dan mandi saat suci-nya memanggil. Tergesa-gesa ia mengenakan pakaian dan dengan muka dan rambut masih basah ia pun datang menghampiri suci-nya. Melihat betapa wajah sumoi-nya itu berseri-seri, dengan senyum yang manis dihias sepasang lesung pipit itu, melihat sepasang pipi kemerahan dan segar sekali, hati Bi-kwi menjadi semakin panas!

 

“Siauw-kwi, sudah lama kita tidak berlatih silat. Hayo, siapkan dirimu untuk berlatih silat denganku!”

 

Sepasang mata itu terbelalak, nampak ketakutan. “Aihh, suci yang baik. Jangan pukul aku lagi. Apa pun perintahmu akan kutaati, akan tetapi jangan memukuli aku dalam latihan. Aku sudah kapok!”

 

Bi Lan memang merasa tersiksa sekali kalau diajak berlatih, karena namanya saja berlatih, akan tetapi pada hakekatnya ia menjadi bulan-bulan pukulan dan tendangan suci-nya sampai tubuhnya babak belur dan matang biru, sakit-sakit semua kalau sudah selesai berlatih.

 

“Ihhh…? Kau berani membantah? Hayo cepat bersiap!” bentak Bi-kwi.

 

Sebelum Bi Lan menjawab, dia sudah menerjang maju dengan tamparan ke arah pipi sumoi itu. Kemarahannya karena iri hati melihat pipi yang halus merah dan segar itu membuat dia menampar pipi itu dengan kuat sekali.

 

Bi Lan segera menggerakkan lengan kirinya dengan gerakan refleks untuk menangkis tamparan itu.

 

“Plakkk!”

 

Pipi kanannya yang kena tampar oleh tangan kiri Bi-kwi yang bergerak cepat sekali dan tangkisan itu membuat tubuh Bi Lan terhuyung.

 

“Auhh…!” Gadis itu mengeluh dan mengusap pipi kanannya yang menjadi merah sekali.

 

Melihat betapa pipi itu menjadi makin merah dan bahkan semakin segar menarik, hati Bi-kwi semakin marah.

 

“Lihat serangan!” katanya dan ia pun maju menerjang dengan jurus-jurus yang paling sulit.

 

Bi Lan mencoba untuk mengelak, berloncatan ke sana-sini seperti diajarkan suci-nya, dan menangkis pula. Akan tetapi, kaki Bi-kwi menendang dengan sebuah jurus dari Ilmu Tendang Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin) yang lihai itu dan paha Bi Lan terkena tendangan. Tubuhnya terlempar ke belakang.

 

“Brukkk!”

 

“Aduhhh…!” Gadis itu terbanting keras dan mengeluh, lalu bangkit berdiri. Tangan kiri mengusap pipi, tangan kanan mengusap paha. “Sudah, suci. Pipi dan pahaku sakit!”

 

“Hayo lawan! Kalau tidak latihan, mana engkau bisa maju? Lawan atau engkau akan kujadikan sasaran pukulan dan tendanganku!” bentak Bi-kwi.

 

Hati gadis ini mulai merasa senang karena dapat menumpahkan kemarahannya kepada sumoi-nya itu. Kembali dia menerjang dan menotok pundak sumoi-nya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menampar ke arah kepala.

 

“Wuuutt… dukkk!”

 

Kini Bi Lan dapat mengelak dan menangkis dengan baiknya! Bi-kwi merasa penasaran. Yang digunakannya untuk menyerang tadi adalah sebuah jurus pilihan dari ilmu silatnya, tapi sumoi-nya ternyata mampu mengelak dan menangkis dengan baiknya, seolah-olah sumoi-nya mengenal jurus itu dengan baik. Ia lalu menyerang lagi, kini menggunakan sebuah jurus dari Hek-wan Sip-pat-ciang, itu ilmu silat tangan kosong yang hebat dari Hek Kwi-ong. Lengan Bi-kwi dapat mulur dengan panjang ketika ia melakukan gerakan jurus ini.

 

“Wuuuttt… plak! plak!”

 

Kembali Bi Lan dapat menangkis dua kali dengan baiknya sehingga jurus itu pun tidak berhasil. Bi-kwi menahan seruannya. Sumoi-nya mampu menangkis jurus itu? Sungguh aneh dan sulit dapat dipercaya. Jurus pilihan dari Hek-wan Sip-pat-ciang itu merupakan jurus ampuh dan sukar dilawan, akan tetapi sumoi- nya yang mempelajari silat dengan kacau-balau itu kini dapat menyambutnya seolah-olah sudah mengenal jurus itu dengan baik.

 

Dia mengeluarkan lagi beberapa jurus dari ilmu silat ini, akan tetapi ternyata Bi Lan mampu mengelak dan menangkis dengan baik, bahkan gerakan-gerakannya juga amat tepat seolah-olah gadis itu telah mempelajari Hek-wan Sip-pat-ciang dengan sempurna! Bi-kwi menjadi terkejut dan heran. Ia lalu menyerang lagi, kini menggunakan ilmu yang dipelajarinya dari Iblis Mayat Hidup, yaitu Ilmu Hun-kin Tok- ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) yang amat dahsyat.

 

“Plak-plak… wutttt…!”

 

Kembali Bi Lan mampu menghindarkan diri dari jurus ini, dan gerakannya juga tepat sekali!

 

“Ehhh…!” Bi-kwi begitu terheran-heran sampai-sampai menghentikan serangannya dan memandang sumoi-nya dengan sinar mata berapi. “Dari mana kau mengenal ilmu-ilmu itu?” bentaknya.

 

Bi Lan yang merasa senang karena beberapa kali mampu menghindarkan diri dari gebukan dan tendangan, tersenyum manis sekali. “Siapa lagi kalau bukan engkau yang mengajarku, suci? Bagaimana, baikkah gerakan-gerakanku?”

 

Bi-kwi terpaksa mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa sumoi-nya ini tidak akan mampu berbohong maka jawaban sumoi-nya itu sungguh membuat ia terheran-heran dan juga khawatir sekali.

 

“Kalau begitu, coba temani aku berlatih, jangan sembunyikan apa-apa, segala yang kau ketahui harus kau keluarkan. Dan kau juga boleh membalas serangan kepadaku, jangan hanya membela diri, mengerti? Awas, kalau tidak, engkau pasti akan kuhukum dengan tamparan dan pukulan!”

 

Bi Lan tersenyum dan senyum gadis ini memang manis sekali karena senyumnya keluar dari hati yang polos dan wajar, walau pun terasa aneh sekali karena ia diancam malah tersenyum. Hatinya merasa girang karena ia diperbolehkan membalas serangan dan ia ingin memperlihatkan kemajuannya kepada suci-nya itu.

 

Melihat Bi Lan hanya tersenyum-senyum dan tidak segera bergerak, Bi-kwi membentak, “Siauw kwi, kenapa hanya senyum-senyum? Hayo serang!”

 

“Serang bagaimana, suci? Kaulah yang bergerak dulu, baru aku akan tahu gerakan apa yang harus kulakukan,” jawab Bi Lan.

 

Mendengar jawaban ini, Bi-kwi lalu menerjangnya dengan tendangan Pat-hong-twi yaitu semacam ilmu silat tendangan yang dulu dipelajarinya dari Im-kan Kwi Si Iblis Akhirat. Tendangan itu hebat sekali, merupakan bagian dari Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin, datangnya susul-menyusul dan amat cepatnya.

 

Akan tetapi, Bi Lan mengenal ilmu ini dan ia pun cepat mengelak dan hal ini mudah dilakukan karena ia telah lebih dulu mengetahui ke mana kaki lawan itu akan bergerak. Bahkan ia lalu membalas dengan tendangan yang sama setelah semua jurus tendangan suci-nya dapat dielakkan. Karena tendangan mereka sama, maka mereka pun beradu tulang kaki beberapa kali.

 

“Dukkk! Takkk!”

 

Bi Lan meloncat ke belakang, meringis dan mengusap tulang kering kakinya. “Aduhh… tulang kakimu keras sekali, suci. Kakiku sampai sakit semua dibuatnya!”

 

Akan tetapi Bi-kwi sudah tidak memperhatikan lagi sikap sumoi-nya, bahkan ucapan itu baginya  merupakan ejekan karena tadi semua tendangannya menurut Ilmu Tendangan Pat-hong-twi tidak berhasil. Hal ini berarti bahwa sumoi-nya sudah hafal akan ilmu itu.

 

“Jangan cerewet, sambutlah ini!”

 

Ia pun kini maju menyerang dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, menukar-nukar jurus dari ketiga orang suhu-nya. Akan tetapi ia semakin terheran-heran karena semua jurus itu, biar pun diselang-seling, telah dikenal oleh Bi Lan yang dapat menghindarkan diri, bahkan membalas dengan serangan yang sama!

 

Saking herannya, Bi-kwi mengeluarkan ilmunya yang paling ampuh, yaitu Kiam-ciang (Tangan Pedang). Ilmu ini dapat membuat kedua tangannya seperti pedang telanjang, dengan tangan mampu membacok dan menusuk lawan dengan kekuatan dahsyat. Akan tetapi, kembali Bi Lan dapat mengelak ke sana-sini dan menangkis!

 

Akhirnya Bi-kwi yang memang hanya ingin menguji, mengetahui dengan pasti bahwa sumoi-nya memang telah mengenal semua ilmunya, menguasainya dengan cukup baik, maka dia pun meloncat ke belakang sambil membentak, “Tahan dulu!”

 

Bi Lan tersenyum senang. “Wah, kalau diteruskan aku akan celaka, suci. Engkau hebat sekali, gerakanmu demikian cepat dan kuat,” kata Bi Lan sejujurnya.

 

Akan tetapi suci-nya tidak peduli akan pujian ini melainkan memandang dengan sinar mata penuh selidik. “Hayo katakan, dari mana engkau mempelajari semua ilmu tadi?” bentaknya. “Aihh, suci, dari siapa lagi kalau bukan darimu sendiri?”

 

“Bohong! Tentu tiga orang guru kita yang telah diam-diam mengajarmu. Hayo katakan, betulkah begitu?”

 

“Suci, bukankah ketiga suhu sedang bertapa, bagaimana bisa mengajarku? Hi-hik, suci, engkau mau membohongi aku, ya? Tidak, aku hanya belajar kalau melihat engkau lagi berlatih, lalu kutiru. Bagaimana, baik atau tidak?”

 

Diam-diam Bi-kwi terkejut. Adik seperguruannya ini hanya menonton kalau ia berlatih, dan sudah dapat menirukannya demikian baiknya? Sungguh luar biasa sekali! Dan kini Siauw-kwi telah menguasai semua ilmu silatnya! Ini berbahaya sekali. Ia mendapatkan sebuah pikiran, kemudian melangkah maju dan tiba- tiba tangan kirinya menampar muka adiknya, tanpa gerak silat sama sekali.

 

Bi Lan nampak bingung, akan tetapi karena tamparan itu biasa saja, dia dapat pula mengelak dan pada saat dia mengelak itu, Bi-kwi menyambut dengan pukulan tangan kanan yang menampar.

 

“Plakk!” Kini pipi kiri Bi Lan kena ditamparnya dengan keras dan gadis itu mengaduh.

 

Hati Bi-kwi menjadi girang. Ia maju lagi, memukul, menampar dan menendang tanpa gerakan silat tertentu, ngawur saja, akan tetapi malah hasilnya baik sekali. Tubuh Bi Lan bertubi-tubi menjadi sasaran tendangan, pukulan atau tamparan yang membuat gadis itu jatuh bangun dan tubuhnya menjadi babak belur!

 

Bi Lan mencoba untuk mempergunakan ilmu-ilmu silat yang selama ini dipelajarinya dari Bi-kwi. Akan  tetapi ilmu silat itu memang telah disesatkan oleh Bi-kwi, dan karena Bi-kwi mengenal semuanya, pertahanan dirinya sama sekali tiada artinya karena tidak sejalan dengan jalan serangan Bi-kwi yang ngawur.

 

Bi-kwi tidak peduli biar pun Bi Lan sudah mengaduh-aduh dan minta berhenti. Ia terus menghajar untuk melampiaskan kemarahan hatinya, kemarahan karena kecewa oleh pemuda yang semalam diculiknya, kemudian kemarahan karena melihat betapa Bi Lan tanpa disadari telah menguasai semua ilmu silatnya.

 

Bi-kwi menghajar terus. Baiknya tubuh Bi Lan sejak kecil sudah digembleng oleh Sam Kwi, biar pun ilmu silatnya diajarkan oleh Bi-kwi, sehingga tubuh itu memiliki kekebalan dan tidak sampai menderita luka dalam oleh hajaran Bi-kwi yang keras itu. Betapa pun juga, karena ditendang dan dipukuli semena-mena, akhirnya gadis itu rebah terkulai dan pingsan!

 

Baru Bi-kwi menghentikan pemukulannya karena dia khawatir kalau-kalau sumoi-nya tewas. Dan kalau hal ini terjadi, tentu tiga orang suhu-nya menjadi marah sekali dan ia tidak berani mempertanggung jawabkannya. Diambilnya seember air dan disiramkan ke atas kepala Bi Lan.

 

Bi Lan membuka kedua matanya. Melihat Bi-kwi memegangi ember, ia tersenyum dan berkata, “Aih, suci main-main, ya? Masa aku disiram air begini? Lihat, basah semua!”

 

“Hayo bangkit, anak malas! Persediaan kayu sudah hampir habis dan musim hujan akan tiba. Kalau engkau malas, akan kuhajar lagi!”

 

“Baik, suci.” Dan larilah Bi Lan ke dalam hutan. Ia mulai mencari kayu untuk mengisi gudang yang besar itu sehingga mungkin selama satu bulan ini dia harus setiap hari mencari kayu!

 

Pada hari ke tiga, pagi-pagi sekali Bi Lan sudah pergi meninggalkan tempat tinggal ketiga suhu-nya untuk memasuki hutan. Ia harus bekerja keras, akan tetapi ia memang suka sekali pergi ke hutan seorang diri. Di tempat ini ia merasa aman, jauh dari suci-nya yang galak, yang selalu main pukul saja terhadap dirinya.

 

Di tempat ini ia dapat melihat binatang-binatang hutan yang lucu, bunga-bunga indah, pohon-pohon besar, sehingga hatinya terhibur dan merasa gembira sekali. Sering kali ia berkejaran dengan kelinci sambil tertawa-tawa, atau bernyanyi-nyanyi menirukan suara burung dan kadang-kadang ia pun melatih ilmu silat seperti yang baru ditontonnya dari suci-nya di atas hamparan rumput hijau yang segar dan basah oleh embun.

 

Pada pagi hari itu, karena masih terlalu pagi, Bi Lan berjalan-jalan dan tersenyum-senyum melihat burung- burung berloncatan dari dahan ke dahan sambil berkicau ramai menyambut datangnya pagi yang sangat cerah. Matahari baru saja muncul dengan sinarnya yang merah kekuningan, seperti warna emas kemerahan. Sinar matahari yang masih lembut itu menerobos melalui celah-celah daun dan ranting, menerobos di antara kabut sehingga nampak indah sekali, berupa garis-garis terang di antara kabut yang keputihan.

 

Bi Lan menirukan suara burung berkicauan, mulutnya yang kecil mungil dengan bibir kemerahan segar itu meruncing ketika ia menirukan suara burung. Kemudian, melihat larinya tiga ekor kelinci, ia pun mengejarnya. Larinya cepat, loncatannya ringan karena gadis ini sudah mempelajari ginkang yang hebat walau pun dengan latihan pernapasan yang terbalik seperti yang diajarkan suci-nya. Akan tetapi karena tiga ekor kelinci itu lari cerai-berai, Bi Lan menjadi bingung, lari ke sana-sini sambil terkekeh-kekeh.

 

Memang bukan maksudnya untuk menangkap kelinci-kelinci itu, hanya untuk mengajak mereka bermain- main. Gadis yang sejak kecil ikut dengan Sam Kwi ini, yang kemudian dilatih oleh suci-nya secara menyesatkan dan keras, tak pernah mendapat kesempatan untuk berkawan, maka sekarang ia mencari sendiri kawan-kawannya di antara binatang-binatang di hutan.

 

Setelah tiga ekor kelinci itu menghilang ke dalam semak-semak, Bi Lan lalu bersilat di atas lapangan rumput. Ia bersilat dengan penuh perhatian, dengan pengerahan tenaga dan berturut-turut ia bersilat ilmu silat yang dilihatnya suka dilatih oleh suci-nya!

 

Bi Lan sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, sejak ia menirukan suara burung lalu mengejar-ngejar kelinci dan sekarang berlatih silat, ada dua sosok bayangan orang yang membayangi dan mengintainya. Dua bayangan orang itu menjadi bengong dan kadang-kadang saling pandang dengan sinar mata penuh kekaguman dan keheranan. Melihat gerakan dua orang itu, mudah diduga bahwa mereka adalah dua orang berilmu tinggi, karena mereka membayangi Bi Lan dengan kecepatan luar biasa dan dengan keringanan tubuh sedemikian rupa sehingga jejak kaki mereka pun tidak mengeluarkan suara.

 

Dua orang itu adalah sepasang kakek dan nenek yang sudah tua sekali. Kakek itu berpakaian serba kuning, berjenggot dan berambut putih, jenggotnya berjuntai sampai ke dada, sepasang matanya mencorong aneh dan sikapnya lemah lembut. Akan tetapi ada satu hal yang amat menarik, yaitu bahwa  lengan kiri kakek itu buntung di atas siku sehingga lengan baju kirinya tergantung lemas terkulai.

 

Usia kakek ini tentu sudah mendekati delapan puluh tahun, atau sedikitnya tujuh puluh delapan tahun usianya. Akan tetapi wajahnya masih nampak kemerahan, tanda bahwa kesehatannya masih amat baik.

 

Nenek itu pun mengenakan pakaian warna kuning, berkembang biru muda, dan seperti si kakek, pakaiannya sederhana dan dia pun sudah tua sekali, sedikitnya tujuh puluh tahun usianya. Rambutnya  juga sudah putih semua, akan tetapi wajahnya masih penuh kelembutan dan masih nampak garis-garis bekas wajah yang cantik jelita. Di balik jubah wanita tua ini nampak tersembul sebuah pedang dengan sarung pedang yang indah.

 

Kakek ini bukanlah orang biasa, melainkan seorang tokoh dunia persilatan yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Di dunia persilatan, dia dijuluki Si Naga Sakti Gurun Pasir! Nama julukan ini tidak kalah besarnya dibandingkan dengan nama julukan para pendekar keluarga Pulau Es! Nama pendekar tua ini adalah Kao Kok Cu.

 

Ada pun nenek itu adalah isterinya yang dahulu bernama Wan Ceng atau juga Candra Dewi karena wanita ini diangkat saudara oleh seorang puteri Bhutan dan wanita ini pun bukan orang sembarangan karena ia masih terhitung cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Apa lagi setelah menjadi isteri Pendekar  Sakti Gurun Pasir, ilmu kepandaian wanita ini meningkat dengan pesat dan kini ia juga termasuk seorang tokoh yang sakti.

 

Di dalam KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES telah diceritakan bahwa putera tunggal suami isteri sakti  ini yang bernama Kao Cin Liong dan sejak muda menjadi panglima yang amat terkenal di kota raja, telah menikah dengan Suma Hui, cucu Pendekar Super Sakti.

 

Atas desakan isterinya, Kao Cin Liong telah mengundurkan diri dari kedudukannya dan tidak lagi menjadi panglima. Kao Kok Cu dan isterinya yang merasa sudah terlalu tua, menghendaki agar Kao Cin Liong dan isterinya tinggal di tempat mereka, yaitu jauh di utara, di sebuah dataran yang indah dan subur di tengah- tengah padang pasir di mana mereka mempunyai sebuah gedung istana kuno yang dinamakan Istana Gurun Pasir.

 

Akan tetapi kedua suami isteri muda itu tidak mau karena merasa tidak betah tinggal di tempat sunyi itu. Mereka memilih tetap tinggal di dekat kota raja di mana keduanya berdagang rempah-rempah  dan keadaan mereka cukup makmur. Suami isteri tua Kao Kok Cu tidak dapat memaksa dan mereka merasa kesepian. Oleh karena itu, mereka berdua lalu banyak melakukan perjalanan merantau, menikmati tempat- tempat indah di seluruh tanah air.

 

Demikianlah, pada pagi hari itu, mereka berdua merantau sampai di sebuah di antara puncak Pegunungan Thai-san di mana mereka lalu melihat Bi Lan. Malam tadi mereka bermalam di lereng gunung dan pagi itu, pagi-pagi sekali, mereka sudah naik ke puncak untuk menikmati keindahan matahari terbit. Akan tetapi, mereka melihat Bi Lan dengan gerak-geriknya yang amat aneh, membuat suami isteri tua itu tertarik dan diam-diam mereka membayangi gadis muda yang cantik namun gerak-geriknya aneh itu.

 

Pada saat melihat Bi Lan memoncongkan mulut menirukan suara burung-burung yang sedang berkicau, nenek Wan Ceng menutupi mulutnya menahan ketawa, dan sepasang suami isteri itu ikut merasa gembira, menganggap bahwa gadis itu manis dan lucu sekali, dapat menikmati keindahan alam di tempat sunyi seperti itu, kenikmatan yang sudah jarang terdapat dalam batin kebanyakan manusia. Kemudian, melihat betapa Bi Lan mengejar-ngejar kelinci sambil tertawa-tawa, hanya mempermainkan kelinci bukan sungguh- sungguh menangkap, melihat gerakannya yang demikian cepat, tanda bahwa gadis itu memiliki ginkang yang lumayan, mereka tercengang.

 

Mereka terus membayangi gadis itu dan ketika Bi Lan mulai berlatih silat, nenek itu mencengkeram lengan suaminya. Keduanya bengong mengamati setiap gerakan gadis itu, dengan mata terbelalak karena mereka mengenal ilmu silat yang tinggi dan aneh, walau pun mereka berdua maklum bahwa ilmu-ilmu yang dimainkan gadis itu termasuk ilmu yang sesat, penuh dengan gerak tipu dan mengandung hawa pukulan yang aneh-aneh.

 

Tapi, yang membuat mereka terheran-heran adalah saat mereka melihat betapa makin lama wajah gadis itu menjadi semakin merah, kemudian tiba-tiba menjadi pucat dan pernapasan gadis itu terengah-engah tidak karuan. Akhirnya gadis itu menghentikan gerakan-gerakan silatnya dan segera berjungkir balik, berdiri dengan kepala di atas tanah dan mengatur kembali pernapasannya.

 

Melihat hal ini, tentu saja kedua orang suami isteri itu terkejut dan khawatir sekali. Mengatur pernapasan selagi terengah-engah dan kelelahan dengan cara membalikkan tubuh seperti itu amatlah berbahaya! Akan tetapi aneh, gadis itu agaknya sudah terbiasa dan sebentar saja pernapasannya sudah normal kembali dan gadis itu kini berjungkir balik, berdiri lagi, lalu duduk di atas rumput hijau sambil tersenyum-senyum, akan tetapi mukanya masih pucat.

 

“Anak baik, caramu mengatur pernapasan terbalik!” Wan Ceng tak dapat lagi menahan kekhawatiran hatinya dan nenek ini sudah meloncat ke luar dan menghampiri Bi Lan.

 

Gadis itu mengangkat mukanya, terkejut sekali. Senyumnya tiba-tiba menghilang dan matanya terbelalak. Alisnya berkerut dan tiba-tiba dia meloncat bangun lalu menyerang dengan tangan kanan ke arah nenek itu, mencengkeram ke arah dada dengan gerakan yang ganas dan dahsyat sekali.

 

“Hemmm…!” nenek Wan Ceng dengan mudah mengelak.

 

Namun gadis itu menyerang terus sebagai lanjutan serangannya tadi dan serangkaian serangan yang terdiri dari pukulan dan cengkeraman yang ganas dilancarkan ke arah lawan. Nenek Wan Ceng terkejut, tetapi dengan tenang dia menghindarkan diri dengan loncatan ke sana sini dan kadang-kadang menangkis dengan kibasan tangannya.

 

Melihat betapa gadis itu menyerang isterinya seperti orang mengamuk, kakek Kao Kok Cu juga meloncat dekat dan berkata dengan suaranya yang tenang, halus dan penuh wibawa, “Nona, tenanglah, kami datang bukan dengan niat buruk!”

 

Akan tetapi tiba-tiba saja Bi Lan berbalik menyerang kakek itu kalang-kabut, dan kini ia menggunakan tendangan-tendangan berantai yang ganas sekali. Tentu saja serangan-serangan yang masih mentah itu tiada artinya bagi Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, dan dengan sedikit menggerakkan tubuhnya, tendangan-tendangan itu hanya mengenai angin belaka. Pada waktu kakek itu menggerakkan kakinya,  kaki Bi Lan yang tidak menendang kena disapu dan tubuhnya terpelanting jatuh ke atas rumput lunak.

 

Akan tetapi, gadis itu meloncat bangun lagi dan kini ia menyerang lagi dengan lebih dahsyat,  mengeluarkan semua ilmu yang dipelajarinya saat menonton suci-nya berlatih. Ilmu-ilmu itu adalah ilmu- ilmu yang hebat, ilmu silat yang menjadi kebanggaan Sam Kwi, kini dikeluarkan semua oleh Bi Lan untuk menyerang kakek dan nenek itu!

 

Karena tertarik akan keistimewaan ilmu-ilmu itu, kakek Kao Kok Cu dan Wan Ceng sengaja membiarkan gadis itu menerjang kalang-kabut. Baru setelah melihat betapa pernapasan gadis itu memburu dan terengah-engah, mereka merasa kasihan dan sebuah totokan jari tangan kakek itu membuat Bi Lan roboh dengan tubuh lemas, tidak mampu menggerakkan kaki tangannya lagi.

 

Bi Lan berusaha untuk bangkit, akan tetapi setelah maklum bahwa kaki tangannya tidak dapat digerakkan, ia memandang kepada nenek Wan Ceng dan berkata, “Jangan pukul aku lagi, ahhhh… aku sudah lelah sekali…”

 

Kakek dan nenek itu merasa kasihan sekali dan mereka lalu berjongkok dekat tubuh Bi Lan. Kakek Kao Kok Cu bertanya, suaranya halus dan penuh kesabaran, “Nona, kenapa engkau menyerang kami?”

 

“Kenapa…?” Bi Lan memandang bingung.

 

“Aku tidak tahu kenapa tapi suci yang menyuruhku, ia bilang bahwa kalau ada orang-orang datang ke tempat ini harus kubunuh mereka, karena kalau tidak, merekalah yang akan membunuhku. Karena itu aku menyerang kalian.”

 

Suami isteri itu saling lirik. “Dan kau lihat bahwa kami sama sekali tidak mengganggumu tadi, bukan? Kami tidak ingin membunuhmu, menyerangmu pun tidak. Adalah engkau yang menyerang kami dan sekarang terpaksa kami merobohkanmu. Nah, lihat, kami membebaskanmu,” kata Wan Ceng sambil membebaskan totokan dari tubuh Bi Lan.

 

Begitu terbebas, Bi Lan berjungkir balik dan mengatur pernapasan seperti tadi. Melihat ini Wan Ceng hendak mencegah, tetapi suaminya menyentuh lengannya dan memberi isyarat agar isterinya jangan mengganggu gadis itu. Mereka berdua hanya memandang penuh perhatian kepada Bi Lan dan tak lama kemudian secara aneh sekali gadis itu telah mampu memulihkan pernapasannya walau pun mukanya masih pucat sekali.

 

“Nah, sekarang engkau percaya bahwa kami tidak berniat buruk kepadamu, bukan?”

 

Bi Lan menatap wajah nenek itu dan agaknya wajah dua orang tua itu mendatangkan kesan baik di dalam perasaannya karena ia merasa aman berada di dekat mereka. Ia menggeleng bingung, “Aku tidak tahu, suci-ku yang menyuruhku.”

 

“Siapakah suci-mu itu?” “Ia disebut Bi-kwi…”

 

“Setan Cantik?” Nenek Wan Ceng bertanya, alisnya berkerut mendengar julukan seperti itu.

 

Kini Bi Lan sudah merasa gembira kembali, ia tersenyum dan nampaklah oleh suami isteri itu betapa manisnya wajah gadis ini kalau tersemyum, dan nampak pula bahwa pada dasarnya gadis ini memiliki wajah yang membayangkan kelembutan walau pun dipenuhi dengan bekas-bekas penderitaan batin.

 

“Hi-hik, memang suci cantik sekali, akan tetapi ia pun jahat seperti setan.” “Nona, siapakah yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?” Kao Kok Cu bertanya. “Siapa lagi kalau bukan suci,” jawabnya pasti.

 

Kakek dan nenek itu saling berpandangan dengan amat heran. Kalau suci-nya yang mengajarkan, berarti suci itu lebih gila lagi dari pada nona ini. Ataukah suci itu sengaja menyelewengkan pelajaran-pelajaran itu untuk mencelakai gadis ini? Mungkinkah ada seorang suci berbuat demikian? Namun mengingat akan nama julukannya, yaitu Bi-kwi (Setan Cantik), jelas bahwa suci itu tentu seorang tokoh golongan sesat, dan tidaklah aneh kalau seorang tokoh sesat melakukan perbuatan sejahat itu.

 

“Ke mana guru kalian? Kenapa suci-mu yang mengajarmu, bukan gurumu?” Kao Kok Cu yang merasa tertarik sekali melanjutkan pertanyaannya.

 

Kini Bi Lan sama sekali tidak merasa curiga lagi kepada kakek dan nenek yang bersikap manis itu, dan ia pun menjawab sejujurnya.

 

“Tiga orang guruku sedang bertapa, jadi yang mewakili mereka mengajarku adalah suci Bi-kwi.” “Tiga orang ? Siapakah guru-gurumu itu?” Kao Kok Cu bertanya lagi.

 

Dia semakin heran mendengar bahwa gadis ini mempunyai tiga orang guru. Pantas ilmu silatnya tadi bermacam-macam dan aneh-aneh, dan jelas membayangkan sifat ilmu silat kaum sesat.

 

“Guru-guruku adalah orang-orang hebat!” kata Bi Lan bangga.

 

Memang gadis ini, biar pun dalam keadaan terganggu pikirannya karena salah latihan, tidak pernah dapat melupakan budi kebaikan tiga orang gurunya ketika menolongnya, ketika membalaskan dendam ayah bundanya dengan membunuh semua orang jahat yang mengakibatkan tewasnya orang tuanya itu, dan membantunya mengubur jenazah mereka, juga mengambilnya sebagai murid.

 

“Mereka terkenal dengan julukan Sam Kwi.”

 

“Hemm, Tiga Iblis?” Nenek Wan Ceng bertanya, heran karena ia dan suaminya belum pernah mendengar nama ini.

 

Memang sesungguhnyalah, dua orang kakek dan nenek ini sejak muda sudah jarang berkecimpung di dalam dunia persilatan, hidup terpencil di gurun pasir di utara, maka mereka tidak banyak tahu tentang tokoh-tokoh kaum sesat. Apa lagi karena Sam Kwi juga menyembunyikan diri dan bertapa selama sekian tahun setelah mereka dikalahkan oleh Pendekar Super Sakti dan baru sekarang mereka muncul lagi ketika mereka ingin menguasai Liong-siauw-kiam, Pedang Suling Naga yang tadinya berada di tangan susiok mereka.

 

“Ya…, ya, Tiga Iblis!” kata Bi Lan dengan nada suara gembira walau pun pandang matanya agak kecewa melihat betapa nenek itu tidak mengenal nama guru-gurunya. “Tiga orang guruku itu adalah Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, dan Iblis Mayat Hidup. Kepandaian mereka hebat sekali!”

 

Suami isteri tua itu saling pandang dan Kao Kok Cu memancing dengan ucapan halus, “Nona, kami melihat bahwa nona adalah seorang yang baik, akan tetapi mengapa menjadi murid tiga orang yang menurut julukannya adalah tokoh-tokoh golongan sesat?”

 

Bi Lan mengerutkan alisnya. “Aku tidak mengerti pertanyaanmu. Aku tidak tahu apa itu yang kau namakan golongan sesat, akan tetapi tiga orang guruku amat baik kepadaku, menolongku dari tangan gerombolan orang jahat yang telah membunuh ayah ibuku, bahkan membunuh semua gerombolan itu dan membantuku mengubur jenazah ayah ibuku.”

 

Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu dan isterinya kini dapat mengerti bahwa gadis ini adalah seorang di antara sekian banyaknya korban perang pemberontakan di selatan, dan dapat menduga bahwa gadis ini diselamatkan oleh tiga orang tokoh sesat itu dan kemudian menjadi murid mereka. Akan tetapi gadis ini menerima pelajaran ilmu yang sesat sehingga keracunan dan membuat pikirannya terguncang dan tidak waras.

 

Mungkin hal ini bukanlah kesalahan tiga orang yang berjuluk Sam Kwi itu, melainkan kesalahan suci gadis ini yang berjuluk Bi-Kwi. Sukar dibayangkan apa yang dilakukan oleh datuk-datuk atau tokoh-tokoh kaum sesat yang aneh-aneh, maka mereka pun sukar menduga apa yang telah terjadi di antara keluarga perguruan sesat yang semua memakai julukan setan atau iblis itu.

 

“Siapakah namamu, anak yang baik?” tanya Wan Ceng dengan suara mengandung iba. Ia melihat gadis ini seperti setangkai bunga indah bersih yang karena keadaan terpaksa hidup di tengah-tengah lumpur kotor.

 

Bi Lan tersenyum memandang wajah nenek itu. “Tiga orang Suhu-ku bersama suci menyebutku Siauw-kwi. Hi-hik sebetulnya sekarang aku bukan seorang anak kecil lagi, bukan? Namaku sendiri adalah Can Bi Lan.”

 

“Bi Lan, dengarlah baik-baik, apakah engkau percaya kepada kami? Engkau lihat, kami sama sekali tidak berniat buruk dan juga tidak melakukan apa-apa yang buruk terhadap dirimu.”

 

Bi Lan tersenyum dan memandangi dua orang tua itu, lalu mengangguk-angguk. “Aku percaya kepada kalian. Aku belum pernah bicara panjang lebar seperti ini dengan orang lain, dan kalian baik sekali.”

 

Wan Ceng menjadi gembira dan makin bersemangat mendengar ucapan gadis itu. Dia memandang suaminya. Suami yang sudah bergaul selama lima puluh tahunan dengan isterinya ini sudah maklum apa yang terkandung di dalam hati isterinya tanpa si isteri mengatakannya. Dia mengangguk sebagai tanda setuju.

 

“Bi Lan, kami melihat bahwa engkau menderita luka dalam, menderita keracunan yang amat membahayakan kesehatanmu karena engkau telah keliru dalam latihan ilmu silat, terutama sekali dalam latihan sinkang dan pernapasan. Kini kami bermaksud hendak mengobatimu sampai sembuh. Maukah engkau?”

 

Bi Lan memandang ragu dan bingung.

 

“Aku tidak sakit apa-apa,” katanya, “dan andai kata sakit tentu suhu-suhu-ku dan suci akan mampu menyembuhkanku. Pula, bagaimana aku bisa keliru berlatih kalau suci sendiri yang mengajarku?”

 

Nenek itu adalah seorang wanita yang amat cerdik. Tadi ketika bicara dekat dengan gadis itu, ia dapat melihat bekas-bekas pukulan yang masih meninggalkan tanda-tanda membiru pada leher dan pipi gadis itu, mungkin pada bagian tubuh lain yang tertutup pakaian. Karena ia dapat menduga bahwa tentu ini perbuatan sang suci yang katanya jahat dan kejam itu, ia lalu tiba-tiba bertanya, “Bi Lan, siapa yang memukulimu sampai engkau menderita babak-belur dan ada bekas-bekas di leher dan mukamu?”

 

Ditanya secara mendadak itu, Bi Lan yang memang pada dasarnya berwatak jujur dan polos, yang masih belum ternoda oleh pengaruh lingkungan masyarakat, bahkan pada hakekatnya belum ketularan watak jahat para gurunya dan suci-nya, menjawab terang-terangan sambil tersenyum, “Ahhh, suci yang melakukan ini. Katanya ini perlu dalam latihan, ia memukuli dan menendangku dalam latihan-latihan silat.”

 

Sekarang ganti Kao Kok Cu yang berkata, “Nona telah tertipu oleh suci-mu itu. Ia telah memukulimu, mungkin karena benci hanya tidak berani membunuhmu, maka ia sudah melatihmu secara terbalik dan tersesat. Dengan latihan-latihan ini, kalau kau teruskan, engkau mungkin akan mati dalam satu dua tahun ini.”

 

“Mati adalah suatu hal yang amat menyenangkan,” Bi Lan menjawab sambil menahan ketawanya, dan sikap ini jelas membayangkan sikap orang yang pikirannya tidak waras.

 

“Ehhh, mengapa begitu ?” tanya Wan Ceng mendengar ucapan yang biasanya hanya diucapkan oleh para pendeta yang berlagak sudah tahu akan keadaan sesudah mati.

 

“Hi-hi-hik, aku sendiri tidak tahu, nek, yang berkata demikian adalah suci.”

 

“Suci-mu lagi!” kata Wan Ceng, diam-diam merasa marah terhadap orang yang menjadi suci gadis ini. “Coba, kau bernapas yang dalam, lalu tahan sebentar.”

 

Bi Lan masih tersenyum-senyum, akan tetapi ia menuruti permintaan nenek itu. Setelah menarik napas panjang dan dalam, ia menahan hawa itu di dalam dadanya.

 

“Cukup, apa yang sekarang kau rasakan? Bukankah ada kelainan dan rasa nyeri di punggungmu?” Tanya Wan Ceng sambil mengerutkan alis putihnya.

 

Nenek itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sudah banyak pengalamannya tentang keracunan dan luka di sebelah dalam tubuh. Ia sendiri pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), maka dapat dikata dia adalah seorang ahli tentang keracunan.

 

Bi Lan memandang dengan heran dan mengangguk. “Benar, ada rasa seperti ditusuk di punggungku. Nenek apakah engkau bermain sihir sehingga tahu apa yang kurasakan?”

 

“Tidak, Bi Lan. Itu tandanya bahwa engkau benar-benar menderita luka dalam yang jika tidak cepat disembuhkan akan membahayakan nyawamu. Dan kami yakin bahwa hal itu timbul karena kesalahan dalam latihan dan agaknya suci-mu itu sengaja mengusahakan supaya engkau tewas karena latihan- latihanmu. Maukah engkau kami obati sampai sembuh?”

 

Gadis itu mengamati wajah kedua orang tua itu dengan sikap ragu-ragu. Akhirnya dia berkata, “Tiga orang suhu-ku adalah orang-orang paling sakti di dunia ini, kemudian disusul oleh suci Bi-kwi. Apa yang kalian dapat lakukan, tentu dapat dilakukan pula oleh mereka. Coba perlihatkan dulu kepandaian kalian, baru aku akan percaya bahwa kalian adalah orang-orang yang lebih pandai dari mereka, dan aku mau kalian obati.”

 

Kao Kok Cu dan isterinya mengerti bahwa pengaruh Sam Kwi dan Bi-kwi telah tertanam demikian dalam terutama di dalam hati gadis ini sehingga gadis ini percaya sepenuhnya kepada mereka. Maka hati gadis  ini perlu diyakinkan dengan demonstrasi kepandaian agar dapat percaya dan mau ditolong. Mereka saling pandang dan kakek itu kemudian mengangguk.

 

“Bi Lan, bukankah tadi kami sudah memperlihatkan bahwa kami jauh lebih pandai dari padamu?” “Kalau hanya mengalahkan aku, suci pun dapat seribu kali mengalahkan aku.”

 

“Baiklah. Kau lihat pohon di depan itu? Apakah kau kira guru-gurumu atau suci-mu akan dapat merobohkan pohon itu tanpa memukul keras, tanpa menggugurkan setangkai pun daunnya?”

 

Bi Lan memandang. Pohon itu besarnya seperti tubuh manusia. Ia tahu bahwa ketiga orang gurunya, juga suci-nya, amat lihai dan tentu akan mampu merobohkan pohon itu. Akan tetapi tanpa memukul keras? Tanpa menggugurkan daunnya? Mana mungkin? Ia pun lalu menggeleng kepala.

 

“Nah, kau lihatlah!” kata Wan Ceng.

 

Dan nenek ini lalu menghampiri pohon yang dimaksudkan itu. Sebentar ia mengerahkan tenaga, mengumpulkan tenaga sinkang di kedua tangannya, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya pada batang pohon itu. Tidak kelihatan ia memukul dan pohon itu pun tidak terguncang sama sekali. Tetapi, diam-diam nenek ini sudah mengerahkan hawa pukulan Selaksa Racun, pukulan kaum sesat yang amat hebat dan yang selama ini tak pernah ia gunakan walau pun nenek ini selama puluhan tahun telah menghimpun tenaga sinkang yang amat kuat. Hanya nampak tubuhnya sendiri yang tergetar keras, kemudian nenek itu meloncat mundur dengan muka agak pucat dan peluh membasahi dahi dan leher.

 

Melihat ini, Bi Lan terkekeh. “Hi-hi-hik, apa yang telah kau lakukan tadi, nek ? Aku sama sekali tidak melihat pohon itu roboh.”

 

“Bi Lan, coba kau dorong pohon itu,” kata Wan Ceng sambil tersenyum.

 

Bi Lan maju dan dengan tangan kirinya mendorong batang pohon itu. Tiba-tiba pohon itu pun tumbang dan ternyata batang di mana nenek tadi menempelkan tangannya telah remuk dan kehitaman seperti terbakar!

 

Bi Lan terkejut sekali dan melompat ke belakang, matanya terbelalak. Akan tetapi ia lalu mengerutkan alisnya. “Nek, mungkin kau bermain sihir, akan tetapi kepandaianmu itu tidak kelihatan hebat.”

 

Nenek itu nampak tak senang dan penasaran, akan tetapi suaminya memberi isyarat dengan pandang mata, lalu pendekar tua itu berkata, “Nona, tadi hanya main-main. Kau ingin menyaksikan kehebatan kami berdua? Nah, lihat, dengan kaki dan tangan kami, kami akan membersihkan sekitar tempat ini.” Berkata demikian, kakek itu dengan sebelah lengannya lalu menerjang sebatang pohon besar.

 

“Kraaakkk!” terdengar suara dan pohon itu pun tumbang.

 

Wan Ceng segera mengerti akan maksud suaminya. Seorang gadis yang masih belum berpengalaman seperti Bi Lan ini tentu akan lebih tertarik melihat kekuatan yang kasar dan kelihatan dahsyat. Maka dia  pun menerjang sebongkah batu besar, ditendangnya sehingga batu besar itu terlempar jauh.

 

Suami isteri ini kemudian mengamuk, menumbangkan pohon-pohon di situ, melempar-lemparkan batu besar, bahkan Wan Ceng mencabut pula sebatang pohon berikut akar-akarnya dan melemparkan sampai jauh. Sebentar saja terbukalah tempat yang cukup luas, setelah ditumbangkan tujuh batang pohon besar dan belasan bongkah batu.

 

Melihat ini, Bi Lan terbelalak lalu bertepuk tangan, tidak habisnya memuji kedahsyatan sepasang suami isteri yang tua itu. “Hebat, kalian hebat! Mungkin tidak kalah oleh guru-guruku dan suci!” katanya.

 

“Nah, engkau sudah percaya ? Sekarang kami akan berusaha mengobatimu. Duduklah bersila di sini, Bi Lan,” kata Wan Ceng. “Tempat terbuka ini akan kami jadikan tempat tinggal kami untuk sementara agar supaya dalam waktu beberapa lama ini kami dapat mengobatimu.”

 

Bi Lan tidak membantah lagi dan ia pun duduk bersila di atas rumput. Kakek dan nenek itu juga duduk di depan dan belakangnya, bersila seperti ia sendiri.

 

“Kendurkan semua urat syarafmu, dan sama sekali jangan melawan. Ingat saja bahwa kami bermaksud baik, bahwa kami kasihan kepadamu dan ingin mengobatimu,” kata Wan Ceng yang duduk di depannya.

 

Tiba-tiba Bi Lan merasa betapa tengkuknya ditepuk dari belakang oleh kakek itu dan ia pun tidak ingat apa- apa lagi.

 

Kakek dan nenek yang sakti itu lalu bekerja keras. Mereka menotok jalan-jalan darah di kepala gadis itu, membuka jalan-jalan darah yang tersumbat karena akibat salah latihan. Wan Ceng menempelkan telapak tangan pada dada gadis itu, sedangkan Kao Kok Cu pada punggung gadis itu, menyalurkan tenaga sinkang untuk memulihkan kesehatan di dalam dada Bi Lan.

 

Sementara itu, dengan pengetahuannya tentang keracunan, Wan Ceng mengusir hawa beracun yang berada di dalam tubuh gadis itu. Mereka berdua tidak berani tergesa-gesa, tidak berani sekaligus mengobati gadis itu karena hal ini akan berbahaya sekali bagi Bi Lan. Tubuh gadis itu sudah terbiasa dengan keadaan tercekam hawa beracun yang dihimpunnya sendiri melalui latihan-latihannya yang tersesat, dan kalau sekaligus dibersihkan, perubahan ini akan menimbulkan guncangan yang membahayakan.

 

Karena itu mereka mengambil keputusan untuk mengobati gadis itu secara bertahap. Mereka kemudian menghentikan pengobatan itu, dan dengan urutan tangan, Kao Kok Cu memulihkan jalan darah sehingga gadis itu pun siuman dari pingsannya.

 

Begitu siuman, Bi Lan mengeluh, lalu memegangi kepala dengan kedua tangannya. Ia membuka mata memadang kepada kakek dan nenek yang sekarang sudah duduk di depannya, dan teringatlah ia bahwa mereka adalah dua orang yang kasihan kepadanya, yang mengobatinya karena menganggap ia menderita luka dalam.

 

“Aduhh… kepalaku berdenyut-denyut, nyeri rasanya!” Ia mengeluh.

 

Nenek Wan Ceng menaruh tangannya di pundak gadis itu, suaranya menghibur, “Bi Lan, jangan khawatir, hal itu bahkan membuktikan bahwa kini jalan darahmu ke arah kepala mulai membaik. Tadinya, banyak jalan darah ke kepalamu tidak lancar jalannya, terhambat oleh hawa beracun yang timbul karena  kesalahan latihanmu. Kini kami berani memastikan bahwa setelah pengobatan beberapa kali, jalan-jalan darah itu akan lancar kembali.”

 

Bi Lan percaya dan ia pun tersenyum. “Kalau benar omonganmu, aku beruntung sekali bertemu dengan kalian.”

 

Dengan girang dia pun meloncat ke atas. Akan tetapi dia segera mengeluarkan seruan kaget. Dan dipandangnya kakek dan nenek itu dengan sinar mata penuh keraguan.

 

“Ahhh…! Tubuhku terasa berat dan kedua kakiku kehilangan tenaga, juga tubuhku tidak dapat bergerak ringan seperti biasanya!” Ia lalu mencoba untuk meloncat ke atas, akan tetapi belum juga tinggi tubuhnya sudah meluncur turun kembali.

 

“Ahhh, bagaimana ini? Aku tidak mampu meloncat tinggi lagi!”

 

Kini Kao Kok Cu yang bangkit dan berkata dengan suara tenang, halus dan berwibawa, mengundang kepercayaan bagi pendengarnya. “Nona, jangan khawatir. Memang, untuk menghalau hawa beracun dari tubuhmu, otomatis tenaga khikang yang sudah berada di tubuhmu ikut pula berkurang. Tenaga sinkang-mu sudah keracunan, dan kalau kami membersihkan hawa beracun itu, berarti tenaga sinkang-mu juga akan ikut terusir. Akan tetapi jangan kau khawatir, kami akan menggantikannya dengan tenaga sinkang yang murni. Dengan dasar tenaga sinkang murni, engkau akan mampu memainkan ilmu-ilmu silatmu tadi secara tepat dan baik, juga tangguh dan tidak akan merusak kesehatanmu sendiri. Percayalah, kami berdua berniat baik dan mungkin engkau akan terkejut dengan perubahan-perubahan pada dirimu dan engkau tidak akan mengerti. Percaya sajalah dan engkau tidak akan menderita kerugian bahkan selain mendapatkan kesembuhan, juga akan memperoleh ilmu yang benar.”

 

Lambat laun keraguan lenyap dari dalam batin Bi Lan walau pun tadinya masih bingung. Apa lagi ketika nenek itu merangkulnya dan berbisik, “Bi Lan, engkau pantas menjadi anakku, bahkan cucuku. Bagaimana kami dapat timbul niat mencelakaimu? Kami suka sekali kepadamu.”

 

“Akan tetapi, apakah aku harus terus-menerus berobat ke sini? Bagaimana kalau suci sampai tahu? Tentu ia marah-marah dan aku akan dipukuli lagi!” Bi Lan nampak jeri.

 

“Tentu saja engkau harus setiap hari datang ke sini,” kata nenek Wan Ceng. “Dan lebih baik, sebelum kau sembuh benar, jangan bicara apa-apa tentang kami kepada suci-mu itu. Kalau sudah tiba saatnya, kami yang akan menghadapinya. Akan tetapi, dapatkah kau setiap hari datang ke sini?”

 

“Kami akan tinggal di sini untuk sementara waktu, membangun sebuah pondok di sini untuk mengobatimu setiap hari,” kata Kao Kok Cu.

 

“Tetapi, aku mendapat tugas dari suci untuk mencari kayu setiap hari, untuk memenuhi gudang kayu kami. Tentu saja aku dapat datang ke sini setiap hari, akan tetapi bagai mana dengan kayu yang harus kukumpulkan?”

 

Wan Ceng tersenyum sambil menuding ke arah pohon-pohon yang tadi tumbang dan roboh. “Di sini terdapat banyak kayu, tak perlu kau pusingkan. Tiap hari engkau datang ke sini, berobat dan pulangnya membawa kayu. Syukur kalau di waktu malam kau dapat pula datang ke sini, lebih sering lebih cepat pula engkau sembuh dan pulih. Percayalah, Bi Lan, engkau akan tertolong lahir dan batin yang akan merubah seluruh jalan hidupmu kalau engkau menurut semua kata-kata kami.”

 

Bi Lan nampaknya masih bimbang, tetapi dia mengangguk. Bagaimana pun juga, harus diakuinya bahwa selama ini dia memang sering mendapat gangguan dalam tubuhnya, bahkan pernah sehabis latihan dia muntah darah. Dan sikap suci-nya terhadap dirinya juga amat galak. Maka, melihat sikap baik dua orang kakek nenek ini, ia segera percaya sepenuhnya walau pun dia sendiri belum menyadari betapa pentingnya pengobatan itu bagi dirinya.

 

Demikianlah, mulai hari itu, setiap hari Bi Lan pergi meninggalkan puncak memasuki hutan dan membiarkan dirinya diobati oleh kakek dan nenek itu. Wan Ceng memesan kepada Bi Lan agar sikapnya terhadap suci-nya biasa saja.

 

“Ingatlah, Bi Lan. Keracunan di tubuhmu dan tidak lancarnya jalan darah ke kepalamu sudah membuat sikapmu menjadi aneh seperti orang yang miring otaknya. Engkau suka tertawa-tawa sendiri, bicara seorang diri. Kebiasaan ini, andai kata engkau sadar pun, di depan suci-mu harus terus kau lanjutkan. Jangan sampai suci-mu melihat perubahan pada dirimu sebelum engkau sembuh benar.”

 

Kemudian Kao Kok Cu memesan agar gadis itu menghentikan semua latihan sinkang dan pernapasan seperti yang diajarkan Bi-kwi, dan dia memberikan suatu cara berlatih semedhi untuk menghimpun hawa murni di dalam tubuh gadis itu. “Latihan ini selain akan membantu cepatnya seluruh hawa beracun meninggalkan tubuhmu, juga akan menghimpun tenaga baru untuk menghentikan tenaga sesat  yang sudah terhimpun selama bertahun-tahun dalam dirimu.”

 

Setelah mengalami pengobatan, Bi Lan lalu membawa kayu yang sudah dikumpulkan oleh kakek dan nenek itu. Kakek Kao Kok Cu dan isterinya sudah membangun sebuah gubuk darurat dari  kayu-kayu pohon yang mereka robohkan dan dengan tekun mereka berdua mengobati Bi Lan. Di samping mengobati, kakek dan nenek itu juga membantu gadis itu menghimpun tenaga sinkang yang baru dan murni.

 

Sungguh beruntung sekali nasib Bi Lan sehingga tanpa disengaja ia berjumpa dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, dan telah menarik perhatian suami isteri pendekar sakti ini sehingga ia bukan saja tertolong dari cengkeraman maut yang ditanamkan oleh Bi-kwi di tubuhnya, juga gadis itu telah mendapat latihan menghimpun sinking. Bahkan suami isteri itu mulai pula memberi petunjuk-petunjuk dalam ilmu silat tinggi kepadanya!

 

Penyembuhan perlahan-lahan tentu saja tidak dapat terasa oleh Bi Lan. Ia tidak merasa betapa kini otaknya menjadi bersih dari hawa beracun, jalan darahnya lancar dan dia bertambah cerdik! Dia pun kini memperoleh kegembiraan hidup, wajahnya selalu berseri kemerahan, mulutnya yang kecil itu selalu tersenyum manis dan ia kini menjadi seorang dara yang berwatak gembira dan jenaka sekali.

 

Setelah mengalami pengobatan selama tiga bulan lebih setiap hari tanpa berhenti dan terus-menerus, akhirnya ia sembuh sama sekali dan mulai hari itu, kakek dan nenek yang makin lama makin merasa sayang kepada gadis itu, memberi pelajaran ilmu silat tinggi kepada Bi Lan! Melihat bakat besar yang ada pada diri gadis itu, Kao Kok Cu ingin mengajarkan ilmu yang tangguh, juga isterinya. Maka mereka lalu berunding, kemudian mereka memberi tahukan kepada Bi Lan yang sudah menghadap mereka.

 

“Bi Lan, setelah melihat engkau sembuh sama sekali, maka mulai hari ini kami ingin mengajarkan ilmu silat kepadamu. Akan tetapi kami tidak mungkin dapat mengajarkan ilmu kepada orang yang bukan murid kami,” kata Wan Ceng.

 

Pada dasarnya Bi Lan adalah seorang gadis yang cerdik. Apa lagi setelah sembuh dari gangguan hawa beracun, dan setelah jalan darahnya ke kepala sudah lancar kembali. Kesadaran membuat ia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek dan nenek itu.

 

“Aku telah menerima budi kecintaan dari kakek dan nenek berdua, telah memperoleh pengobatan dan petunjuk yang penuh kasih sayang selama berbulan-bulan. Ucapan terima kasih saja masih belum ada artinya dibandingkan dengan budi ji-wi. Oleh karena itu, apabila ji-wi sudi menerimanya, biarlah aku menyatakan diri menjadi murid ji-wi.” Ia memberi hormat sambil berlutut dan menyembah-nyembah.

 

Wan Ceng segera memeluk dan menariknya bangkit berdiri. “Bagus, engkau memang anak yang baik, Bi Lan. Sejak pertama kali berjumpa kami sudah dapat menduganya dan kalau tidak demikian, untuk apa kami bersusah payah selama ini?”

 

Ia lalu menoleh kepada suaminya karena bagaimana pun juga, nenek ini tidak berani mendahului suaminya untuk menerima gadis itu sebagai murid mereka walau pun tadi mereka telah berunding.

 

“Bi Lan, kami menerimamu sebagai murid. Akan tetapi kami tidak akan lama lagi tinggal di sini. Setelah engkau sembuh, kami hanya ingin mengajarkan masing-masing satu macam ilmu kepadamu, dan setelah itu, kami akan kembali ke utara. Kami sudah tua dan kami akan menghabiskan sisa usia kami dengan hidup tenang di sana.”

 

Kembali Bi Lan berlutut. “Suhu, subo… teecu akan ikut ke utara. Biarlah teecu yang akan merawat kesehatan suhu dan subo berdua sebagai balas budi teecu…”

 

Kao Kok Cu tersenyum, kemudian berkata halus, “Muridku, jangan sekali-kali engkau mengikatkan dirimu dengan budi, karena kalau engkau mengikatkan dirimu dengan budi berarti engkau mengikatkan pula dirimu dengan dendam. Budi dan dendam tidak dapat terpisahkan, sebagai perwujudan dari diri yang merasa diuntungkan dan disusahkan. Anggaplah saja bahwa segala yang dilakukan orang lain kepadamu, dan segala yang kau lakukan kepada orang lain, adalah suatu kewajaran yang tidak perlu ada ekornya yang mengikat diri. Mengertikah engkau?”

 

Tentu saja Bi Lan tidak mengerti! “Teecu selanjutnya mohon petunjuk suhu, karena apa yang suhu katakan tadi berada di luar jangkauan pengertian teecu.”

 

“Bi Lan, engkau tidak boleh begitu mudah melupakan yang lama setelah menemukan yang baru!” tiba-tiba Wan Ceng berkata sambil tersenyum pula. “Begitu engkau sudah menemukan kami sebagai guru baru, engkau lalu akan begitu saja meninggalkan tiga orang gurumu yang lama, yang menurut ceritamu juga telah bersikap baik kepadamu. Bagaimana pun juga, semenjak kecil engkau adalah murid Sam Kwi, dan kami berdua menjadi gurumu hanya untuk memulihkan sinkang-mu, dan memberi pelajaran ilmu silat untuk melengkapi kepandaianmu, atau katakan saja sebagai pengganti tenaga-tenaga sinkang yang telah lenyap bersama hawa beracun dari tubuhmu ketika kami melakukan pengobatan. Karena itu, sungguh tidak bijaksana kalau engkau kemudian meninggalkan mereka begitu saja tanpa mereka setujui.”

 

“Subo, walau pun Sam Kwi merupakan guru-guruku, akan tetapi kenyataannya mereka tidak pernah secara langsung mendidik teecu sehingga teecu diserahkan kepada suci yang bahkan telah mengajar teecu secara menyesatkan.”

 

“Sudahlah, Bi Lan. Bukankah ketiga orang gurumu sedang bertapa? Bagaimana pun juga, engkau tidak mungkin ikut bersama kami sebelum mendapatkan ijin dari ketiga orang gurumu. Bukan berarti kami tidak suka kalau engkau ikut dengan kami ke utara. Dan sekarang perhatikan baik-baik, kami akan mengajarkan ilmu kepadamu, semacam dari suhu-mu dan dariku sendiri semacam,” kata nenek Wan Ceng.

 

Pendekar sakti itu bersama isterinya lalu mulai mengajarkan ilmu silat tinggi kepada Bi Lan. Gadis ini memang memiliki bakat yang amat baik, dan juga bagaimana pun juga, ia telah memperoleh dasar yang kuat juga dari Sam Kwi dan Bi-kwi, maka dengan tekun ia mengikuti petunjuk kedua orang suami isteri itu dan berlatih dengan penuh semangat. Bahkan kini ia makin sering datang ke tempat itu di waktu malam, dan baru pulang kalau sudah memperoleh petunjuk-petunjuk selanjutnya dari kedua orang kakek dan nenek itu.

 

Tanpa terasa, enam bulan telah lewat semenjak Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya tinggal di dalam hutan sebuah puncak Pegunungan Thai-san itu. Kao Kok Cu telah memberi pelajaran Ilmu Silat Sin- liong Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti), sedang nenek Wan Ceng mengajarkan Ilmu Ban-tok Ciang-hoat (Ilmu Silat Selaksa Racun).

 

Karena ketekunannya, ditambah daya ingatannya yang amat kuat, Bi Lan akhirnya bisa menguasai kedua ilmu silat ini. Dari kakek dan nenek itu ia pun mendengar tentang diri mereka, nama mereka, bahkan dia diperkenalkan pula dengan nama putera mereka, bekas panglima Kao Cin Liong dan isterinya Suma Hui, juga diperkenalkan dengan nama para tokoh pendekar sakti di dunia persilatan.

 

Terhadap Bi-kwi, Bi Lan bersikap biasa saja, bahkan ia masih pura-pura seperti orang gendeng. Juga pada saat suci-nya menurunkan pelajaran dan latihan, ia masih berlatih seperti yang diajarkan suci-nya. Akan tetapi tentu saja kini dia sudah memiliki dasar sinkang yang murni dan sama sekali tidak menghimpun tenaga melalui pernapasan dan cara semedhi yang diajarkan secara kacau dan terbalik oleh suci-nya.

 

Di dalam kamarnya sendiri atau di luar, dia tekun melatih diri dengan pernapasan dan semedhi seperti yang diajarkan oleh kakek dan nenek dari Istana Gurun Pasir. Bahkan dia masih pura-pura gendeng dan linglung kalau Bi-kwi melampiaskan kebenciannya dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan melalui latihan ilmu silat.

 

Ia akan mempertahankan semua ini, bukan sebab takut kepada suci-nya, bukan karena berbakti kepada suci-nya yang tidak pernah berlaku baik terhadap dirinya, melainkan karena ingin menanti sampai ketiga orang suhu-nya keluar dari pertapaan mereka. Saat itu baru ia akan melaporkan semua perbuatan suci-nya itu kepada Sam Kwi dan minta pertimbangan dan keadilan. Kalau tiga orang suhu-nya itu tidak membelanya, dia akan meninggalkan mereka semua.

 

Biar pun Bi Lan sudah berlaku cerdik, namun kepura-puraan ini akhirnya menimbulkan kecurigaan hati Bi- kwi yang juga termasuk wanita yang cerdik sekali. Ia teringat bahwa beberapa bulan yang lalu, sumoi-nya itu sudah menunjukkan gejala-gejala keracunan dengan muka yang pucat, tubuh yang kadang-kadang menggigil, pandang mata yang jelas menunjukkan ketidak warasan otaknya.

 

Akan tetapi akhir-akhir ini ia melihat betapa wajah sumoi-nya makin segar saja. Kedua pipinya kemerahan seperti buah apel masak, matanya jernih dan jeli, penuh kegairahan hidup, senyumnya semakin manis dan membuat ia semakin iri hati saja, dan tidak ada lagi nampak gejala-gejala seperti dahulu. Walau pun dalam ilmu silat sumoi-nya masih bersilat dengan kacau dan kalau ia pukuli dan tendangi masih tidak mampu membalas, akan tetapi hatinya mulai curiga.

 

Karena melihat betapa sumoi-nya amat rajin pergi mencari kayu atau memikul air dari sumber yang agak jauh, maka pada suatu hari, masih pagi-pagi sekali ketika ia melihat sumoi-nya pergi untuk mencari kayu, diam-diam ia membayangi dari jauh.

 

Baru teringat olehnya betapa banyaknya sumoi-nya membutuhkan kayu untuk masak. Bahkan di waktu malam, kini sering sekali sumoi-nya membuat api unggun besar yang menggunakan banyak sekali kayu bakar. Kalau ditanya, sumoi-nya mengatakan bahwa hawanya amat dingin dan banyak nyamuk maka ia membuat api unggun besar.

 

Ia tidak curiga karena memang menurut perhitungannya, hasil himpunan tenaga sinkang sumoi-nya yang dilakukan dengan terbalik dan kacau-balau itu bukan hanya membuat sumoi-nya tidak akan dapat menahan hawa dingin, bahkan hawa beracun di tubuhnya kadang-kadang bisa mendatangkan rasa dingin sekali. Akan tetapi sekarang, setelah rasa kecurigaannya semakin besar, ia memperhatikan hal ini dan akhirnya ia mengambil keputusan untuk membayangi kalau sumoi-nya pergi mencari kayu.

 

Ia membayangi dari jauh sekali sehingga Bi Lan sama sekali tidak tahu bahwa ia sejak tadi dibayangi oleh suci-nya. Ketika melihat Bi Lan berhenti di dalam hutan, ia mengintai dari balik semak-semak yang cukup jauh di depan sebuah gubuk kayu yang sederhana. Sepasang mata Bi-kwi berkilat penuh kemarahan pada saat melihat munculnya seorang kakek dan seorang nenek dari dalam gubuk itu dan melihat pula betapa Bi Lan berlutut di depan mereka.

 

Kemarahan membuat Bi-kwi tak dapat menahan diri lagi. Ia meloncat dan dengan cepat sekali telah tiba di dekat sumoi-nya.

 

“Pengkhianat, kiranya engkau hanya seorang bocah pengkhianat yang tidak mengenal budi! Suhu bertiga pernah menyelamatkanmu, memeliharamu dan kami bersusah payah mendidikmu hanya untuk kau balas dengan pengkhianatan ini?”

 

Bi Lan meloncat bangun dan memandang suci-nya dengan muka agak pucat karena terkejut melihat suci- nya mendadak berada di situ, hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya. Namun, dua kali tarikan napas panjang saja sudah membuat dia tenang kembali.

 

“Suci, aku tidak mengkhianati siapa-siapa.”

 

“Mulut busuk, jangan sembarangan ngoceh! Bukankah aku telah berpesan bahwa siapa saja yang kau temukan di daerah ini harus kau bunuh? Tetapi apa yang kau lakukan sekarang? Engkau malah berhubungan dengan mereka ini. Pengkhianat harus mampus dulu kau sebelum kubunuh mereka!”

 

Bi-kwi sudah menyerang dengan ganasnya, sekali ini bukan sekedar hendak menghajar sumoi-nya seperti yang sudah-sudah, namun serangannya ditujukan untuk membunuh!

 

Dia cerdik dan maklum bahwa kalau dia menggunakan jurus ilmu silatnya, kebanyakan sumoi-nya telah menguasainya dan akan mampu menghindarkan diri. Maka sekali ini ia menyerang tanpa menggunakan jurus-jurus ilmu silat, namun pukulannya mengandung hawa pukulan maut karena tangan yang menyerang diisinya dengan tenaga Kiam-ciang (Tangan Pedang) dan tangan itu menyambar ke arah dada Bi Lan dengan kecepatan kilat!

 

Terdengar suara bercuit nyaring ketika tangan itu menyambar dada dan Bi-kwi sudah membayangkan betapa dada sumoi yang dibencinya ini akan tertusuk tangannya, dan ia akan mencengkeram di dalam dada, menarik keluar jantungnya kalau berhasil. Ia tidak takut lagi dimarahi tiga orang suhu-nya karena sekarang dia memiliki alasan kuat untuk membunuh Bi Lan.

 

“Wuuuttt… plakkk…!”

 

Dan Bi-kwi terkejut setengah mati. Bukan hanya sumoi-nya mampu mengelak, bahkan tangkisan tangan sumoi-nya tadi ketika mengenai lengannya, membuat tangannya yang menyerang terpental kembali dan ada hawa tenaga yang lunak akan tetapi kuat sekali keluar dari tangan sumoi-nya! Rasa kaget, heran dan juga penasaran membuat ia jadi marah sekali.

 

“Bagus! Keparat jahanam, kau berani melawanku, he?” Dan ia pun menerjang lagi.

 

Akan tetapi Bi Lan sudah cepat-cepat meloncat ke belakang nenek itu yang mengangkat kedua tangan ke atas.

 

“Sabarlah, nona…!” kata nenek Wan Ceng kepada Bi-kwi.

 

Dari tadi ia sudah tahu bahwa tentu inilah wanita cantik yang disebut Bi-kwi itu. Kalau saja hal ini terjadi  dua tiga puluh tahun yang lalu, melihat seorang wanita yang demikian kejam dan jahat, tentu tanpa banyak cakap lagi nenek Wan Ceng sudah turun tangan menentang dan membasminya. Akan tetapi sekarang ia adalah seorang nenek tua isteri yang bijaksana dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka sikapnya tenang saja pada saat ia mengangkat kedua tangan melindungi Bi Lan dan menyabarkan Bi-kwi.

 

Akan tetapi sebaliknya, Bi-kwi sudah menjadi marah bukan main. Melihat ada orang berani tinggal di tempat yang dianggap masih wilayah kekuasaannya itu saja sudah membuatnya marah, apa lagi mengingat bahwa kakek dan nenek ini agaknya menjadi sahabat sumoi-nya.

 

“Tua bangka yang bosan hidup!” bentaknya.

 

Bi-kwi sudah meloncat ke depan menyerang nenek Wan Ceng dengan pukulan maut dari Ilmu Silat Kiam- ciang!

 

“Dukkkk…!”

 

Sebuah lengan dengan gerakan Ilmu Silat Kiam-ciang juga telah menangkisnya dan keduanya tergetar. Akan tetapi Bi Lan yang menangkis itu agak terhuyung, sedangkan Bi-kwi hanya melangkah mundur dua tindak. Dengan sikap tegak dan pandang mata menyinarkan perlawanan, Bi Lan berkata dengan suara tegas dan berani.

 

“Suci, jangan kau menyerangnya! Mereka ini tinggal di sini karena mereka hendak menolongku, menyelamatkan aku dari bahaya maut yang menjadi akibat perbuatanmu yang keji! Engkau telah sengaja memberi latihan yang terbalik dan tersesat sehingga latihan-latihan itu menghimpun hawa beracun  di dalam tubuhku. Mereka menaruh iba kepadaku dan menyelamatkanku, karena itu engkau tidak boleh menyerang mereka!”

 

Bi-kwi tertegun sejenak, hatinya terlampau kaget. Pertama, sumoi-nya berani membela nenek itu dan bahkan dapat menangkis serangannya yang dahsyat tadi dengan jurus yang sama dan ia merasa pula betapa sumoi-nya kini memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, hampir dapat menyamai tenaganya. Pula, ia melihat sikap Bi Lan demikian tegas dan sama sekali tidak terbayang lagi sikap gendengnya, padahal kemarin masih bersikap seperti orang gendeng.

 

Sebagai seorang gadis yang cerdik, ia pun segera dapat menduga bahwa sumoi-nya itu agaknya pada hari-hari yang lalu telah berpura-pura gendeng untuk mengelabuinya. Pikiran ini membuatnya menjadi semakin marah.

 

“Mereka tidak berhak mencampuri urusan kita dan mereka harus mampus!” bentaknya.

 

Ia siap untuk menerjang lagi, siapa saja di antara mereka bertiga yang berada paling dekat akan diserangnya. Ia sudah mengambil keputusan untuk membunuh ketiga orang ini.

 

Sebelum Bi Lan menjawab, nenek Wan Ceng berkata halus, “Bi Lan, minggirlah dan biarkan kami menghadapi iblis betina ini.”

 

“Baik, subo,” kata Bi Lan.

 

Ia pun meloncat ke pinggir, membiarkan nenek itu menghadapi suci-nya. Ia tahu akan kelihaian suci-nya dengan pukulan-pukulan yang keji dan ampuh, maka dia pun ingin sekali melihat bagaimana kedua orang gurunya yang baru itu menghadapi suci-nya. Hanya jika ia teringat betapa nenek itu sekali cengkeram saja dapat membuat sebatang pohon menjadi hancur di sebelah dalamnya dan tumbang, diam-diam ia bergidik dan tak terasa lagi ia menyambung, “Subo, harap suka maafkan suci dan jangan menghajarnya terlalu keras!”

 

Nenek itu melirik kepadanya dan tersenyum maklum bahwa murid barunya itu merasa ngeri dan khawatir kalau-kalau dia akan membunuh suci-nya itu. Dia pun mengangguk. Lalu ia menghadapi Bi-kwi dan  dengan suara masih halus berkata, “Nona, tentu engkau ini yang berjuluk Bi-kwi, suci dari Bi Lan. Ingat, nona, engkau telah bertindak keji dan hendak membunuh sumoi-mu sendiri perlahan-lahan, dan sekarang engkau mendengar sendiri betapa Bi Lan masih memintakan ampun untukmu. Maka, sadarlah, nona, ingat bahwa kekerasan hanya akan menyeretmu sendiri ke lembah kesengsaraan.”

 

“Sudah mau mampus masih cerewet! Terimalah ini!” Dan Bi-kwi sudah memotong kata-kata nenek itu dan menyerang dengan amat hebatnya, ia masih terus mempergunakan Kiam-ciang karena menganggap bahwa ilmu ini yang paling ampuh untuk melakukan penyerangan mendadak.

 

Bi-kwi sudah merasa girang sekali ketika melihat betapa nenek itu hanya menangkis dengan gerakan lambat saja, tidak mengelak. Ia sudah membayangkan bahwa ia akan berhasil membikin patah atau bahkan buntung lengan nenek itu dengan tangannya yang dapat menjadi seampuh pedang.

 

Bi Lan yang mengenal keampuhan Kiam-ciang, mengerutkan alisnya dan memandang dengan khawatir juga, biar pun ia sudah yakin akan kesaktian subo-nya. Tak terelakkan lagi, tangan Bi-kwi bertemu dengan lengan kanan nenek Wan Ceng.

 

“Dukkk!”

 

Terdengar pula bunyi kain robek. Ternyata lengan baju nenek itu robek seperti dibacok pedang, akan tetapi tangan itu sendiri berhenti ketika bertemu dengan kulit lengan, dan Bi-kwi terhuyung ke belakang seperti terdorong oleh tenaga yang amat kuat.

 

Bi-kwi terkejut bukan main. Ilmunya memang telah berhasil merobek lengan baju nenek itu, akan tetapi ketika tangan yang dimiringkan tadi bertemu dengan lengan, ia merasa betapa kulit lengan itu lembut dan lunak, serta tenaga Kiam-ciang itu membalik dan membuatnya terhuyung. Di lain pihak, diam-diam nenek Wan Ceng juga terkejut karena tak menyangka bahwa tangan gadis cantik itu sedemikian ampuhnya sehingga dapat menjadi tajam seperti sebatang pedang saja.

 

Bi-kwi telah menerjang lagi. Tiba-tiba nenek itu mendapat pikiran untuk memberi contoh kepada Bi Lan bagaimana caranya mempergunakan ilmu silat Ban-tok Ciang-hoat yang telah diajarkannya kepada Bi Lan untuk menghadapi serangan-serangan Bi-kwi. Melihat namanya, yaitu Ilmu Silat Selaksa Racun, tentu merupakan ilmu silat kaum sesat yang mengandung racun.

 

Memang asal mulanya demikian. Dahulu, di waktu dia masih gadis, nenek Wan Ceng pernah menjadi murid seorang nenek iblis yang berjuluk Ban-tok Mo-li dan dari wanita sesat ini Wan Ceng menerima ilmu- ilmu silat yang mengandung racun amat jahatnya. Akan tetapi, setelah ia menjadi isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, ia telah menjadi seorang pendekar wanita dan tidak mau lagi menggunakan ilmu silat yang pukulannya mengandung hawa beracun.

 

Dengan bantuan suaminya, ia kemudian merubah Ban-tok Ciang-hoat dari ilmu pukulan beracun menjadi ilmu pukulan yang mengandung sinkang lembut akan tetapi di balik kelembutan itu terkandung tenaga yang amat hebat seperti yang pernah diperlihatkan kepada Bi Lan ketika tangannya mencengkeram batang pohon. Kini, Ban-tok Ciang-hoat hanya tinggal namanya saja yang mengerikan, akan tetapi sudah menjadi semacam ilmu silat yang lihai dan bersih, tidak lagi menggunakan racun. Ilmu inilah yang oleh nenek itu diajarkan kepada Bi Lan. Kini, menghadapi serangan-serangan Bi-kwi, nenek itu lalu sengaja memainkan ilmu silat ini untuk memberi contoh kepada Bi Lan.

 

Melihat ini, Kao Kok Cu maklum akan niat isterinya dan dia pun berbisik kepada Bi Lan, “Lihat baik-baik gerakan subo-mu ketika menggunakan ilmu silat itu.”

 

Bi Lan mengangguk. Gadis yang cerdik ini pun segera maklum akan maksud subo-nya. Dia berterima kasih sekali karena kini dia dapat lebih jelas melihat bagaimana cara mempergunakan ilmu silat itu untuk menghadapi serangan suci-nya dengan ilmu-ilmu silat yang sudah dikenalnya pula.

 

Hal ini amat penting baginya karena semenjak sekarang dia harus dapat membela diri terhadap serangan- serangan suci-nya. Mengandalkan ilmu-ilmu silat yang diperolehnya dari suci-nya untuk membela diri, tentu kurang meyakinkan dan kurang kuat, karena tentu saja dia kalah latihan, juga kalah kuat tenaga dalamnya yang dahulu dilatihnya secara keliru.

 

Perkelahian antara Bi-kwi dan nenek Wan Ceng itu memang seru bukan main. Bi-kwi amat lihai dan ia sudah berlatih secara matang. Ilmu-ilmu silat dari tiga orang gurunya sudah diresapinya benar, juga sudah dilatihnya secara matang. Betapa pun juga, kini ia melawan nenek Wan Ceng yang telah menjadi isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka ia menemukan seorang lawan berat dan andai kata nenek itu masih belum setua itu, dua puluh tahun yang lalu saja, tentu Bi-kwi akan sulit memperoleh kemenangan.

 

Akan tetapi, kini nenek itu sudah tua. Selain tenaganya berkurang juga daya tahannya menurun, apa lagi semangatnya untuk berkelahi dan mencari kemenangan telah lemah. Maka setelah lewat seratus jurus lebih, nenek itu mulai kelelahan.

 

Nenek Wan Ceng merasa sudah cukup memberi contoh kepada muridnya, dan dia pun maklum bahwa jika ia melanjutkan menghadapi gadis yang amat lihai itu dengan tangan kosong saja, keadaannya akan menjadi berbahaya.

 

“Singgggg…!”

 

Tiba-tiba nampak sinar menyilaukan mata dan sebatang pedang yang mengeluarkan hawa mengerikan telah berada di tangan kanan nenek itu. Bi-kwi sendiri terbelalak dan bergidik, maklum bahwa nenek itu telah memegang sebatang pedang yang ampuh dan mengandung hawa aneh.

 

Itulah Ban-tok-kiam! Dulu pernah pedang ini oleh nenek Wan Ceng diberikan kepada puteranya, putera tunggal yang bernama Kao Cin Liong. Akan tetapi setelah Kao Cin Liong menjadi seorang panglima, ia mengembalikan pedang itu kepada ibunya karena ia harus membawa pedang kekuasaan yang menjadi lambang kedudukannya.

 

Pedang Ban-tok-kiam ini adalah sebatang pedang yang dulu diterima oleh nenek Wan Ceng dari gurunya, nenek iblis Ban-tok Mo-li dan pedang ini adalah sebatang pedang yang terbuat dari pada baja pilihan. Yang mengerikan adalah bahwa senjata ini sudah direndam sampai puluhan tahun dalam ramuan racun-racun yang sangat kuat, maka diberi nama Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun). Sedikit saja tergores pedang ini sudah cukup membuat korbannya tewas!

 

Melihat isterinya mencabut Ban-tok-kiam, Kao Kok Cu cepat meloncat ke depan dan menarik lengan isterinya. “Kau istirahatlah,” katanya halus.

 

Wan Ceng sadar bahwa tidak semestinya ia menggunakan pedang itu. Maka dengan muka merah dia pun melangkah mundur di dekat Bi Lan sambil menyimpan kembali pedangnya.

 

Sementara itu Kao Kok Cu sudah menghadapi Bi-kwi sambil berkata, “Nona, hentikan kemarahanmu dan tidak perlu kau melanjutkan serangan-seranganmu. Kami datang ke tempat ini bukan bermaksud buruk, melainkan hendak mengobati Can Bi Lan…”

 

“Mampuslah!”

 

Bi-kwi yang masih marah dan penasaran karena tidak mampu mengalahkan nenek itu, kini sudah menerjang maju, menghantam dengan Kiam-ciang ke arah kepala kakek itu.

 

“Bi Lan, lihat baik-baik!” kata kakek itu.

 

Dia pun sengaja mengelak lalu bersilat dengan Ilmu Silat Sin-Liong Ciang-hoat untuk memberi contoh kepada murid barunya bagaimana menggunakan ilmu silat itu untuk menghadapi Bi-kwi. Kalau dia mau, tentu saja dengan sekali gebrakan dia akan mampu merobohkan Bi-kwi. Tingkat kepandaiannya terlampau jauh lebih tinggi dari pada tingkat Bi-kwi. Akan tetapi Pendekar Naga Sakti ini tidak mau berbuat demikian karena dia ingin memberi petunjuk kepada Bi Lan.

 

Gadis ini pun mengerti dan diamatinya dengan baik gerakan-gerakan suhu-nya ketika menghadapi Bi-kwi.

 

Bi-kwi agaknya maklum bahwa ilmu kepandaian kakek ini jauh lebih tinggi dari pada si nenek, maka ia pun mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk menyerang kakek itu. Berturut-turut ia menggunakan ilmu-ilmu dari ketiga orang suhu-nya. Ilmu Tendangan Pat-hong-twi dari  Iblis Akhirat dan Hun-kin Tok-ciang dari Iblis Mayat Hidup, lantas diakhiri Ilmu dari Raja Iblis Hitam yang disebut Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapan belas Jurus Ilmu Silat Lutung Hitam).

 

Akan tetapi, semua ilmu itu seperti permainan kanak-kanak saja ketika dihadapi oleh kakek lengan satu itu dengan Sin-liong Ciang-hoat. Semua pukulan dan tendangan dapat dihalau dengan mudah dan setiap kali kakek itu balas menyerang dengan jurus dari ilmu silatnya, Bi-kwi terkejut dan langsung terdesak hebat. Bahkan kalau kakek itu melanjutkan serangannya, tentu Bi-kwi akan terkena pukulan atau cengkeraman. Tetapi Kao Kok Cu sengaja tidak melanjutkan serangan balasannya, karena dia hanya ingin memperlihatkan saja kepada muridnya bagaimana caranya mengalahkan Bi-kwi dengan ilmu silat itu.

 

Diam-diam Bi Lan girang bukan main. Jelas nampak olehnya semua itu dan mulailah ia melihat kelemahan- kelemahan pada ilmu-ilmu silat yang dimainkan suci-nya, dan ia pun kagum bukan main karena kalau tadi subo-nya hanya membuktikan bahwa subo-nya dapat menandingi suci-nya tanpa terdesak, sekarang suhu- nya benar-benar menguasai keadaan dan kalau suhu-nya menghendaki sudah sejak tadi Bi-kwi roboh!

 

Hal ini dirasakan pula oleh Bi-kwi. Di samping rasa kagetnya, ia juga merasa penasaran sekali. Tadi melawan si nenek, sukar sekali baginya untuk dapat menang dan nenek itu ternyata mampu mengimbanginya. Nenek itu saja dia tidak mampu mengalahkan, dan kini, kakek itu ternyata memiliki kelihaian yang sama sekali tidak pernah disangkanya.

 

Hanya dengan sebuah lengan, kakek itu telah menutup seluruh lubang sehingga sama sekali ia tak mampu menyerang dengan berhasil. Bahkan tiap kali kakek itu membalas, ia bingung dan hampir terkena kalau saja kakek itu tidak menghentikan serangannya di tengah jalan. Jelaslah bahwa kakek itu sengaja mempermainkannya.

 

Ia, Bi-kwi, kini dipermainkan seorang kakek tua renta! Padahal ialah orang yang telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian Sam Kwi! Untuk kedua kalinya dalam hidup, dia merasa terpukul lahir batin. Pertama pada waktu ia melawan Pendekar Suling Naga, dan kedua kalinya sekarang inilah! Hampir Bi-kwi menangis saking jengkel dan marahnya.

 

Makin penasaran rasa hatinya dan semakin besar harapannya agar tiga orang gurunya berhasil menciptakan sebuah ilmu yang akan dapat dipakai menghadapi lawan-lawan tangguh seperti kakek ini dan Pendekar Suling Naga. Tetapi pada saat itu, kemarahan membuat ia lupa diri dan tiba-tiba ia mencabut pedangnya.

 

“Srattttt…!”

 

Wanita ini jarang mempergunakan pedang karena kedua tangannya saja sudah cukup untuk merobohkan dan membunuh lawan. Tadi kalau si nenek yang tangguh itu terus menyerangnya dengan pedang yang mengerikan itu, tentu ia pun akan mengeluarkan pedangnya. Sekarang, merasa tidak sanggup menandingi kakek yang luar biasa itu, ia mencabut pedangnya. Padahal ini hanya untuk gertakan belaka.

 

Dengan pedang di tangan, ia tidak akan menjadi lebih lihai. Bahkan tanpa pedang ia dapat memainkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari gurunya. Satu di antara ilmu Iblis Akhirat, yaitu Toat-beng Hui-to, merupakan senjata rahasia pisau terbang yang tidak dapat dilakukannya dengan pedang dan ia masih belum mempersiapkan pisau-pisau yang cocok untuk dipakai dalam ilmu melempar pisau yang dapat terbang membalik itu.

 

Melihat gadis itu mengeluarkan pedang, Kao Kok Cu mengerutkan alisnya dan berseru nyaring, “Tak baik main-main dengan senjata! Lepaskan pedang!”

 

Pada saat itu, Bi-kwi sudah membacokkan pedangnya. Kakek itu menangkis dengan tangan kanan, menyambut begitu saja pedang telanjang itu dengan jari-jari tangannya. Nampak pundak kiri kakek itu bergerak dan tahu-tahu lengan baju kiri yang kosong itu meluncur ke depan dan menotok pinggang Bi-kwi. Bi-kwi mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya lemas dan pedangnya terpental, terlepas dari tangannya dan dia tidak kuat berdiri lagi, lalu jatuh bertekuk lutut!

 

Bi Lan memandang dengan bengong penuh kagum. Setelah dikehendakinya, ternyata kakek itu mampu merobohkan Bi-kwi dan sekaligus membuat pedang terlempar. Bukan main!

 

Akan tetapi Bi-kwi yang tidak tahu diri menjadi semakin berang sampai mata gelap dan ia lalu meloncat berdiri lagi dan menggunakan tangan untuk menghantam dada kakek itu.

 

“Desss…!”

 

Bukan kakek itu yang roboh, melainkan tubuh Bi-kwi yang terjengkang dan terbanting keras sebelum pukulannya mengenai dada, karena kakek itu telah menggerakkan tangan kanannya yang melakukan gerakan mendorong ke depan sehingga tubuh wanita itu diterjang angin pukulan yang amat kuat.

 

Tetapi bantingan ini tidak membuat Bi-kwi menjadi jera. Ia sudah melompat bangun lagi. Mukanya menjadi pucat saking marahnya dan sambil mengeluarkan suara melengking, tubuhnya sudah meluncur deras ke atas dan ke depan, ke arah kakek itu dalam sebuah serangan maut yang amat hebat. Dalam serangan ini dua buah tangannya menyerang dua bagian tubuh, juga kedua kakinya melakukan tendangan!

 

“Hemm…!” Pendekar Naga Sakti mengeluarkan seruan dari hidung dan menggerakkan tangan kanan, disusul lengan baju kirinya yang kosong menyambar ke depan.

 

“Desss…! Brukkk…!”

 

Tubuh Bi-kwi terbanting lebih keras lagi dan kini agaknya ia merasa pening karena ia merangkak dan tidak dapat segera bangkit.

 

Bi Lan menjatuhkan diri berlutut di depan Kao Kok Cu. “Harap suhu suka mengampuni suci Bi-kwi.” Gadis ini menoleh ke arah suci-nya, lalu membentak. “Suci, engkau tidak tahu siapa yang kau lawan! Beliau adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Apakah kau masih berani kurang ajar lagi?”

 

“Ahhh…!” Bi-kwi terkejut bukan main, merasa seperti disambar halilintar kepalanya. Ia mengangkat muka memandang kakek itu, melihat ke arah lengan baju kiri yang kosong dan ia pun teringat.

 

Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Pendekar Naga Sakti dari Istana Gurun Pasir, ayah kandung bekas Panglima Kao Cin Liong, nama yang dalam kebesarannya tidak kalah oleh nama Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan ia tadi sudah mati-matian menyerangnya!

 

“Aihhh…!” katanya lagi. Dia pun melompat bangun lalu melarikan diri, kembali ke tempat guru-gurunya. Hatinya merasa gentar, juga malu, juga marah dan penasaran.

 

Setelah Bi-kwi pergi jauh, Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Siancai… suci-mu itu memang lihai dan ilmu kepandaiannya sudah tinggi, agaknya sukar dicari bandingannya untuk waktu ini. Akan tetapi sayang, batinnya tidak semaju lahirnya sehingga ilmu kepandaian itu disalah gunakan untuk mengumbar kejahatan.”

 

“Akan tetapi sekarang engkau tak perlu takut lagi menghadapinya, Bi Lan. Engkau tadi sudah melihat betapa Ban-tok Ciang-hoat mampu membendung semua serangannya, dan dengan Sin-liong Ciang-hoat engkau tentu akan mampu membela diri dan bahkan mengalahkannya,” kata Wan Ceng.

 

Suami nenek itu mengangguk. “Benar, dalam hal ilmu silat, engkau tidak perlu khawatir karena kemampuanmu sekarang masih dapat diandalkan untuk membela diri dari serangan-serangan suci-mu, andai kata ia berniat buruk. Akan tetapi, engkau tidak boleh ikut dengan kami sebelum memperoleh ijin dari guru-gurumu. Sekarang kami akan pergi. Engkau kembalilah ke tempatmu, usahakan agar dapat berdamai dengan suci-mu. Kalau engkau sudah tidak melihat jalan lain, tentu saja setiap waktu engkau  boleh mencari kami ke Gurun Pasir. Akan tetapi, engkau baru dapat menemukan tempat kami itu kalau engkau lebih dahulu mencari putera kami yang bernama Kao Cin Liong dan yang kini tinggal di kota Pao-teng di sebelah selatan kota raja. Dia berdagang rempah-rempah di sana dan mudah dicari rumah orang yang bernama Kao Cin Liong. Nah, selamat berpisah, Bi Lan. Mudah-mudahan kedamaian dan kebahagiaan akan selalu menyertaimu dalam hidupmu.”

 

Nenek Wan Ceng merangkul muridnya. Nenek ini sudah merasa sayang sekali kepada murid ini sehingga agak berat rasanya harus berpisah darinya. “Bi Lan, bawa dirimu baik-baik dan aku masih merasa khawatir atas keselamatanmu. Karena itu, ini kuberi pinjam Ban-tok-kiam kepadamu. Jangan pergunakan ini kalau tidak terpaksa sekali, dan kelak kau dapat kembalikan kepadaku kalau kau mengunjungi kami di utara.” Nenek itu menyerahkan pedang yang mengerikan tadi, yang kini tersembunyi di dalam sarungnya yang indah.

 

Sebetulnya, di dalam hatinya Kao Kok Cu tidak setuju isterinya menyerahkan pedang itu kepada Bi Lan. Pedang itu amat berbahaya, dan dapat menimbulkan bencana kalau dipergunakan secara sembarangan. Akan tetapi karena isterinya telah memberikannya, dia pun tidak mau mencela.

 

“Bi Lan, lebih baik kau sembunyikan pedang itu agar jangan sampai diketahui suci-mu. Kalau terpaksa membawanya, sembunyikan di balik baju, karena banyak orang yang akan berusaha merampasnya kalau mereka tahu akan Ban-tok-kiam itu.” Akhirnya dia memberi nasehat.

 

“Bi Lan, berhati-hatilah!” Nasehat terakhir Wan Ceng terdengar penuh keharuan.

 

Bi Lan menjatuhkan dirinya berlutut untuk menghaturkan terima kasih dan hatinya juga merasa berduka sekali harus berpisah dari dua orang gurunya ini. Selama setengah tahun ini berdekatan dengan mereka, dia melihat betapa bedanya watak antara ketiga orang gurunya dan suci-nya, dibandingkan dengan kakek dan nenek yang halus budi dan berwatak mulia ini. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar angin menyambar dan ketika ia mengangkat muka memandang, ia hanya melihat bayangan dua orang itu berkelebat dan lenyap dari situ.

 

Ia terkejut dan penuh kagum, termangu-mangu, kemudian memberi hormat lagi sambil berlutut, “Teecu  Can Bi Lan takkan melupakan budi kebaikan suhu dan subo.”

 

Setelah beberapa lama termenung, baru sekarang Bi Lan sadar bahwa sesungguhnya pertemuannya dengan kakek dan nenek itu merupakan suatu peristiwa luar biasa yang telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman bahaya maut. Bahkan bukan itu saja, melainkan ia kini telah memperoleh bekal, menguasai ilmu-ilmu yang dapat melindungi dirinya dari pada ancaman Bi-kwi.

 

Gadis ini kemudian kembali ke puncak tempat kediaman guru-gurunya. Dan sebelum menampakkan diri di puncak, ia lebih dahulu menyembunyikan Ban-tok-kiam di dalam jepitan dua buah batu besar yang hanya dikenalnya sendiri, tak jauh dari bawah puncak. Sebelum menyembunyikan pusaka ini, ia lebih dahulu berlari cepat mengelilingi tempat itu dan menyelidiki bahwa tidak ada seorang pun tahu akan perbuatannya itu.

 

Setelah merasa yakin bahwa senjata itu sudah disembunyikan di sebuah tempat yang rahasia, ia lalu menenteramkan hatinya agar tenang dan berlari mendaki puncak. Ia sudah siap andai kata suci-nya akan menghadang dan menyerangnya. Ia sudah tahu bagaimana harus melawan suci-nya dan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat tadi ia lihat mampu menundukkan suci-nya.

 

Akan tetapi apa yang dilihatnya di tempat tinggal Sam Kwi amat mengejutkan hatinya, walau pun juga amat menggirangkan. Ia melihat bahwa tiga orang gurunya itu kini telah keluar dari tempat pertapaan mereka dan sekarang tiga orang kakek itu sudah duduk berdampingan di atas bangku-bangku baru mereka, sedangkan Bi-kwi nampak duduk di atas bangku yang berhadapan dengan mereka.

 

Melihat dari jauh betapa tiga orang gurunya itu kini sudah nampak tua-tua sekali, hati Bi Lan diliputi keharuan. Biar pun tiga orang kakek itu berjuluk Tiga Iblis, biar pun ia tahu bahwa mereka itu amat kejam dan suka melakukan hal-hal yang jahat, namun bagai mana pun juga, mereka bertiga itu bersikap baik sekali kepadanya, melimpahkan budi yang amat besar kepadanya, maka mana mungkin ia membenci mereka?

 

Tidak sama sekali, ia tidak membenci mereka. Bahkan ada rasa sayang dalam hatinya terhadap mereka dan kini melihat betapa mereka sudah nampak tua dan lemah, sudah tujuh puluh tahun lebih usia mereka, hatinya diliputi keharuan.

 

Tidak dapat kita sangkal lagi, apa bila kita mau mempelajari segala macam watak manusia melalui pengamatan terhadap diri sendiri, karena watak masyarakat, watak manusia, watak dunia adalah watak kita juga, akan nampaklah kaitan-kaitannya yang tidak terpisahkan dari penilaian dan rasa suka dan tidak suka dengan ke-aku-an yang selalu mendambakan kesenangan, sang aku yang selalu mengejar-ngejar kesenangan. Penilaian akan sesuatu atau pun akan seseorang, baik buruknya, juga tak terlepas dari pengaruh sang aku.

 

Betapa baik pun seseorang menurut pendapat orang sedunia sekali pun, kalau si orang baik itu merugikan kita, maka otomatis kita akan berpendapat bahwa orang itu tidak baik dan kita tidak suka kepada orang itu, bahkan membencinya. Sebaliknya, biar pun orang seluruh dunia berpendapat bahwa seseorang amatlah jahatnya, tetapi kalau si orang itu menguntungkan kita, baik keuntungan lahir mau pun batin, maka sukar bagi kita untuk berpendapat bahwa dia jahat, sebaliknya kita akan menganggapnya orang yang baik dan kita menyukainya.

 

Dengan demikian jelas bahwa penilaian itu tergantung sepenuhnya dari pertimbangan pikiran, dan pertimbangan pikiran selalu didalangi oleh si-aku yang senantiasa diboboti oleh untung dan rugi. Dengan demikian, maka semua penilaian adalah palsu dan bukan merupakan kenyataan sejati.

 

Karena itu, tidaklah aneh kalau Bi Lan menganggap bahwa tiga orang kakek yang oleh umum dinamakan Tiga Iblis itu sebagai orang-orang yang baik dan disayangnya. Siapakah yang mengatakan bahwa harimau itu buas dan jahat? Tentulah mereka yang merasa terancam keselamatannya oleh binatang itu. Kelompoknya dan anak-anaknya tidak akan menganggap demikian!

 

Dengan cepat Bi Lan berlari menghampiri mereka dan setelah tiba di depan tiga orang gurunya, ia pun menjatuhkan diri berlutut di depan mereka. Sebelum berjumpa dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, belum pernah Bi Lan memperlihatkan rasa sayang dan hormatnya kepada tiga orang kakek ini, karena memang pendidikan mereka terhadap Bi Lan tidak demikian. Mereka itu adalah datuk-datuk kaum sesat yang sama sekali tidak pernah peduli tentang segala macam peraturan dan sopan santun sehingga bagi mereka merupakan hal yang biasa saja kalau murid mereka Ciong Siu Kwi atau Bi-kwi selain menjadi murid pertama juga menjadi kekasih mereka!

 

“Aihh, suhu bertiga sudah selesai bertapa? Harap sam-wi suhu berada dalam keadaan baik-baik dan sehat,” berkata Bi Lan dengan kegembiraan yang wajar karena memang hatinya gembira melihat tiga orang kakek itu nampak sehat walau pun muka mereka agak memucat karena kurang mendapatkan sinar matahari selama berbulan-bulan.

 

Melihat ulah Bi Lan ini, Sam Kwi memandang heran, termangu dan saling pandang oleh karena belum pernah mereka melihat murid itu demikian sopan.

 

Akan tetapi Bi-kwi segera menuding ke arah sumoi-nya dan berkata, “Inilah pengkhianat itu, suhu! Ia telah berhubungan dengan orang luar, bahkan telah berkhianat mengangkat Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya menjadi guru-gurunya pula! Bukankah ini merupakan tamparan bagi muka suhu bertiga? Murid pengkhianat ini harus dibunuh sekarang juga untuk membersihkan muka suhu bertiga dari penghinaan!”

 

Ketiga orang kakek itu saling pandang. Tadi mereka keluar dari pertapaan dan yang menyambut mereka adalah Bi-kwi yang segera menceritakan tentang diri Bi Lan atau Siauw-kwi yang katanya berkhianat itu. Kini mereka dengan pandang mata ragu lalu bertanya, diucapkan oleh Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat.

 

“Siauw-kwi, benarkah keterangan Bi-kwi itu? Engkau telah menjadi murid orang-orang lain tanpa seijin kami? Apakah engkau tidak puas menjadi murid kami?”

 

Mendengar pertanyaan yang nadanya penuh ancaman dari Im-kan Kwi yang biasanya amat sayang kepadanya dan bersikap sebagai kakek sendiri, Bi Lan menarik napas panjang menenangkan hatinya yang terguncang, lalu dia berkata dengan suara tegas karena sudah mengambil keputusan untuk melawan tuduhan-tuduhan suci-nya dengan membuka rahasia suci-nya.

 

“Sam-wi suhu tentu sudah tahu akan isi hati teecu….”

 

Kembali ketiga orang datuk sesat itu saling pandang karena sikap dan ucapan Bi Lan benar-benar telah berubah. Gadis itu nampak halus dan lembut biar pun sinar matanya memancarkan kegembiraan dan kelincahan yang tadinya tak pernah mereka lihat. Tiga orang kakek itu benar-benar menyaksikan perubahan yang luar biasa pada diri murid mereka itu.

 

“Teecu merasa berhutang budi kepada sam-wi, teecu merasa amat sayang dan kasihan kepada sam-wi dan menganggap sam-wi selain guru juga seperti kakek teecu sendiri. Karena itu, mana mungkin teecu akan menghina dan mengkhianati sam-wi suhu?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo