October 3, 2017

Suling Naga Part 3

 

 

Teringatlah Sim Houw akan sebuah dongeng tentang Sang Bijaksana Kiang Cu Ge di dalam dongeng Hong-sin-pong, ketika Kiang Cu Ge memancing seperti yang dilakukan oleh gadis itu, dengan sebatang tangkai, sehelai benang dan di ujung benang terdapat pancing yang lurus tanpa umpan! Tentu saja cara ini tak akan mendapatkan ikan! Cara memancing Kiang Cu Ge itu hanya kiasan saja, karena yang dipancing bukanlah ikan melainkan penguasa-penguasa atau pemimpin-pemimpin rakyat yang bijaksana. Dan tentu saja juga dipergunakan untuk melatih konsentrasi karena pencurahan perhatian amat penting dalam ilmu silat.

 

“Eihh, nona, kenapa di ujung tali itu tidak ada mata pancingnya?” Dia pura-pura tidak mengerti dan bertanya heran.

 

Gadis itu juga tadi memandang ke arah Sim Houw dengan penuh perhatian. Tadinya ia menyangka bahwa pria yang dapat meniup suling dengan suara menggetar-getar itu tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi hatinya kecewa melihat betapa pria itu nampak sederhana saja, tidak memperlihatkan sifat-sifat gagah seorang pendekar dan agaknya hanya seorang dusun yang pandai meniup suling saja.

 

Juga dari atas perahunya ia tidak melihat sesuatu yang aneh pada suling yang kelihatan hitam itu, hanya sebatang suling yang bentuknya agak aneh, batangnya berlekak-lekuk seperti tubuh ular. Dan pertanyaan pemuda itu pun menunjukkan bahwa pemuda itu adalah seorang biasa saja yang tidak tahu apa-apa tentang pancingnya.

 

“Hemm, kuberi tahu juga engkau tidak akan mengerti. Sudahlah, engkau jangan meniup suling itu lagi.” “Kenapa, nona?”

 

“Suaranya tidak sedap didengar dan menggangguku! Mengerti? Tidak usah bertanya lagi, sebaiknya kau pergi saja dari sini dan jangan meniup sulingmu karena kalau kau lakukan lagi, aku akan mematahkan sulingmu itu dan membuangnya ke tengah sungai!”

 

Setelah berkata demikian, gadis manis itu menggunakan sebuah dayung dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri tetap memegang tangkai pancing, dan menggerakkan dayung itu. Hanya dengan sebelah tangan saja ia mendayung, akan tetapi hebatnya, perahu itu meluncur menentang arus dan laju bukan main.

 

Sim Houw tersenyum seorang diri. Seorang gadis yang cantik manis, gagah perkasa dan agaknya memiliki kepandaian yang lumayan. Seorang gadis yang agaknya suka pula akan keheningan dan berada di tempat sunyi dan liar itu seorang diri saja! Sinar mata gadis itu demikian tajamnya dan suaranya demikian merdu! Sim Houw tersenyum dalam renungannya sendiri.

 

Akan tetapi dia terkejut ketika melihat berkelebatnya lima orang kakek di tepi sungai dan lima orang itu agaknya mengejar ke arah perginya perahu gadis itu tadi. Entah apa sebabnya dia menduga bahwa lima orang itu membayangi gadis di dalam perahu. Akan tetapi hatinya merasa tidak enak dan ia pun cepat bangkit dan berdiri membayangi lima orang kakek itu.

 

Perahu gadis itu meluncur dengan amat cepatnya, dan lima orang kakek itu pun berlari dengan menggunakan ilmu berlari cepat sehingga Sim Houw menjadi semakin curiga. Akan tetapi, karena tidak mengenal lima orang itu, juga tidak mengenal siapa adanya gadis itu, dia pun hanya membayangi dari jauh saja.

 

Kecurigaan dan kekhawatiran hati yang mendorong Sim Houw untuk membayangi lima orang kakek itu memang tak sia-sia. Dia melihat betapa gadis itu mendayung perahunya menepi di seberang sini. Secara lincah sekali ia meloncat ke darat, menyeret perahunya dan mengikatkan tali perahu pada sabatang pohon. Tepian itu merupakan kaki sebuah bukit kecil dan nun di atas puncak bukit itu nampak sebuah pondok  yang terpencil, dikelilingi ladang sayuran dan di sebelah kanan pondok itu tumbuh pohon-pohon buah dengan suburnya.

 

Dan begitu gadis itu selesai mengikatkan perahunya, tiba-tiba saja lima orang kakek itu berloncatan keluar dari balik semak-semak dan mengepung si gadis yang memandang dengan tajam akan tetapi sikapnya tenang, bahkan senyumnya mengejek. Sim Houw segera mendekam di balik semak belukar untuk nenonton pertemuan antara lima orang kakek dan gadis itu dengan hati tegang. Nampak jelas olehnya betapa sikap lima orang kakek itu membayangkan niat yang tidak baik terhadap si gadis.

 

Melihat sikap lima orang kakek itu, si gadis segera mengerutkan alisnya. Lima orang itu membentuk setengah lingkaran menghadapinya, seolah-olah mengurung. Sikap mereka tidak bersahabat, bahkan alis mereka berkerut dan sinar mata mereka mengandung kemarahan dan ancaman.

 

“Kalian lima orang tua ini siapakah dan mengapa menghadang perjalananku?”

 

Seorang di antara lima kakek itu, yang berjenggot panjang berwarna putih dan agaknya menjadi orang paling tua di antara mereka, memandang tajam. Tangan kiri mengelus jenggot, tangan kanan kini  menunjuk ke arah nona itu dan bertanya, suaranya halus namun tegas dan mengandung kemarahan.

 

“Apakah nona yang bernama Souw Hui Lan?”

 

“Benar sekali, dan siapa kalian?” Gadis yang bernama Souw Hui Lan itu menjawab, sikapnya masih angkuh dan seperti orang memandang rendah, membuat kelima orang kakek itu saling pandang dan mereka menjadi semakin marah.

 

“Engkau murid dari Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Beng-san)?” bertanya pula kakek berjenggot.

 

Kini Hui Lan mengangkat muka dan membusungkan dadanya yang sudah busung itu. “Kalau sudah tahu kenapa kalian berani menghadang perjalananku? Kalian siapa?”

 

“Kami adalah Bu-tong Ngo-lo (Lima Kakek Bu-tong-pai).”

 

Mendengar sebutan Beng-san Siang-eng tadi Sim Houw tidak pernah mendengarnya, tetapi mendengar sebutan Bu-tong Ngo-lo, dia terkejut. Lima orang kakek Bu-tong-pai itu pernah terkenal sekali. Mereka adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai yang selain memiliki ilmu silat yang tinggi juga terkenal sebagai pemberantas penjahat-penjahat, bahkan mereka berlima pernah mengobrak-abrik perkumpulan Hui-to- pang (Perkumpulan Golok Terbang) yang berkedok sebagai perkumpulan para patriot akan tetapi sesungguhnya adalah perkumpulan orang-orang jahat yang amat kejam.

 

Karena perbuatannya membongkar keburukan Hui-to-pang dan membasminya, maka nama Bu-tong Ngo- lo ini dipuji dan dikagumi orang-orang di dunia persilatan, terutama di kalangan para pendekar. Sim Houw sudah banyak mendengar nama lima kakek itu, akan tetapi baru sekarang melihat orang-orangnya dan dia pun menjadi semakin ragu-ragu melihat betapa lima orang kakek ini agaknya memusuhi gadis yang bernama begitu indah dan yang katanya murid Sepasang Garuda dari Beng-San.

 

Sementara itu, mendengar disebutnya nama lima orang kakek itu, si gadis tidak menjadi kaget, bahkan tersenyum mengejek.

 

“Hemmm, tidak peduli lima kakek dari Bu-tong atau dari Neraka, tanpa ijin kami, tidak boleh sembarangan melanggar wilayah kami. Bu-tong-san amat jauh dari sini dan kami tidak pernah ada urusan dengan Bu- tong-pai, kenapa kalian ini lima kakek Bu-tong-pai hari ini menghadang perjalanan orang dan melanggar daerah kami tanpa ijin?”

 

Sim Houw tercengang. Gadis ini masih muda, paling banyak dua puluh tahun usianya dan melihat sikapnya tentulah seorang yang memiliki ilmu kepandaian, tetapi mengapa sikapnya demikian tekebur dan angkuh? Bahkan nama Bu-tong Ngo-lo yang dihormati dan dikagumi para pendekar juga tidak dipandangnya sama sekali.

 

Mendengar teguran itu, kelima orang itu nampak jengah, akan tetapi kakek berjenggot putih panjang segera menudingkan telunjuknya kepada Hui Lan. “Memang kami sudah melanggar daerah orang tanpa  ijin dan hal ini merupakan suatu kesalahan, akan tetapi semua ini gara-gara engkau, nona jahat. Engkau mengatakan tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai, akan tetapi tiga bulan yang lalu engkau telah membunuh seorang murid Bu-tong-pai bernama Ji Kang, dan gurumu membunuh seorang tokoh perguruan kami bernama Kui Siok Cu.”

 

Gadis itu mengerutkan alisnya, mengingat-ingat, kemudian mengangguk-angguk. “Kami memang pernah bertanding dengan dua orang itu, akan tetapi sama sekali tidak ada urusannya dengan Bu-tong-pai. Mereka datang sebagai pelamar yang gagal, sama sekali tidak mewakili Bu-tongpai dan tidak ada urusan dengan perkumpulan itu. Juga kami tidak membunuh siapa-siapa. Jika mereka kalah, menderita luka-luka dan mungkin kemudian tewas, apakah hal itu lalu menjadi alasan kalian untuk menyalahkan kami? Bagaimana kalau dalam pertandingan waktu itu kami yang kalah, luka-luka lalu mati? Apakah kalian juga akan menyalahkan mereka? Hayo jawab!”

 

Sim Houw tidak tahu apa urusan yang telah timbul di antara mereka, tetapi jawaban gadis itu membuatnya menduga-duga bahwa tentu pernah terjadi masalah pribadi di antara murid dan tokoh Bu-tong-pai yang mengakibatkan perkelahian di antara mereka dengan akibat terluka dan tewasnya orang-orang Bu-tong- pai. Dan agaknya kini Bu-tong Ngo-lo datang untuk membalas dendam.

 

Lima orang kakek itu kembali saling lirik. Jawaban gadis itu agaknya membuat mereka sejenak bingung dan tidak mampu menjawab walau pun tidak mengurangi kemarahan mereka. Akan tetapi akhirnya si jenggot panjang berkata, suaranya tegas sekali. “Oho, kiranya selain pandai membunuh, engkau pandai pula berdebat! Kami selamanya tidak akan membela yang salah, melainkan selalu menentang yang jahat dan sewenang-wenang. Kami datang bukan hanya untuk menegur, akan tetapi kalau perlu membasmi gadis pembunuh yang berhati kejam, yang telah menewaskan banyak pemuda gagah perkasa dengan kecantikanmu dan dengan pedangmu!”

 

Gadis itu menjadi marah sekali. “Ngaco! Enak saja kalian bicara! Kalian kira aku takut kepada nama Bu- tong Ngo-lo? Kalian datang mau membasmi aku? Hemm, majulah, hendak kulihat sampai di mana kehebatan kalian, apa sepadan dengan kesombongan kalian!” Hui Lan berkata dengan marah sekali, mukanya merah, alisnya terangkat dan matanya mengeluarkan sinar berapi. Memang, siapakah orangnya yang dapat melihat keangkuhan diri sendiri seperti mudahnya melihat kesombongan orang lain?

 

Dalam perselisihan ini, Sim Houw yang nonton tanpa berpihak itu memperoleh pelajaran yang sangat mengesankan hatinya. Kakek yang lima orang itu, yang namanya sudah terkenal sebagai tokoh-tokoh tua penentang kejahatan, telah menuduh gadis itu sebagai pembunuh kejam dan mereka datang untuk membunuh gadis itu! Sebaliknya, si gadis menuduh mereka sombong dengan sikap angkuh pula.

 

Agaknya sukar mencari orang di dunia ini yang mau membuka mata untuk mengenal diri sendiri, sikap dan isi hati dan pikiran sendiri karena mata itu selalu sibuk untuk meneliti orang lain! Meneliti orang lain hanya akan menimbulkan suka atau benci, sedangkan meneliti diri sendiri akan menimbulkan kesadaran.

 

“Siancai…! Gadis ini adalah setan yang patut dibasmi!” bentak seorang di antara lima orang kakek itu dan orang ini bertubuh tinggi besar dengan muka hitam. Setelah berkata demikian, dia langsung menerjang dan mengirim pukulan dengan tangan kanan yang dimiringkan ke arah kepala Hui Lan.

 

“Wuuuutt…!”

 

Angin pukulan yang amat kuat menyambar. Pukulan itu bukan main-main, melainkan pukulan membacok dengan tangan miring yang dilakukan dengan tenaga sinkang amat kuatnya.

 

Diam-diam Sim Houw terkejut juga dan merasa khawatir terhadap gadis yang masih muda itu. Dia mengira bahwa gadis itu tentu akan mengelak, karena dari gerak-geriknya dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu memiliki gerakan yang gesit sekali. Akan tetapi, heranlah dia ketika melihat betapa gadis itu menggerakkan kedua tangannya, yang kiri menangkis dan yang kanan membalas dengan totokan ke arah pangkal leher.

 

“Dukkk…!”

 

Pukulan tangan kakek itu kena ditangkis dan agaknya gadis itu pun sama sekali tidak terguncang. Tangkisannya mantap dan kuat sehingga dua lengan yang bertemu itu saling terpental, akan tetapi jari tangan kanan gadis itu meluncur ke arah leher dengan kecepatan kilat.

 

“Ihhhh…!”

 

Kini kakek bermuka hitam itu yang terkejut dan cepat dia melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik. Hanya dengan cara beginilah dia dapat menghindarkan totokan pada pangkal lehernya tadi yang amat berbahaya dan merupakan serangan maut. Dia terhindar dari mala petaka, akan tetapi segebrakan ini saja sudah menunjukkan betapa dia terdesak.

 

“Wuuuttt…!”

 

Angin pukulan menerjang Hui Lan dari kanan dan kakek ke dua sudah menyerang Hui Lan dengan cengkeraman ke arah lambung dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan kakek itu juga sudah mencengkeram ke arah kepala. Serangan berganda yang dilakukan dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, amat berbahaya karena jari-jari tangan itu sudah terlatih, kini penuh dengan tenaga sinkang dan dapat mencakar hancur batu karang sekali pun!

 

Namun, Hui Lan tidak menjadi gentar atau gugup menghadapi serangan berbahaya itu. Sekali ini ia tidak menangkis, akan tetapi tubuhnya meliuk dengan lemas dan cepatnya, tubuh bawah ke kiri dan tubuh atas ke kanan, tubuhnya melipat dengan amat lemasnya sehingga dua serangan itu pun luput. Akan tetapi seperti juga tadi, Hui Lan membarengi gerakan mendadak itu dengan gerakan menyerang pula, yaitu dengan kedua tangannya yang kanan menusuk ke arah mata, yang kiri menotok ke arah jalan darah di ulu hati!

 

Kakek kedua itu terkejut dan terpaksa harus meloncat beberapa langkah ke belakang karena sama sekali dia tidak menduga bahwa orang yang menyerangnya itu berbalik menyerang pada saat yang sama atau hanya satu dua detik berikutnya!

 

Dan kini Sim Houw memandang kagum. Gadis ini benar-benar hebat, pikirnya, memiliki tingkat kepandaian yang sama sekali tak pernah diduganya. Yang amat mengagumkan adalah cara gadis itu berkelahi. Menangkis atau mengelak sambil sekaligus menyerang, bahkan membalas kontan serangan lawan. Hal ini merupakan cara berkelahi yang membutuhkan pencurahan perhatian, membutuhkan ginkang yang amat cepat dan juga membutuhkan kesempurnaan gerakan.

 

Serangan yang dilakukan sambil menangkis atau mengelak itu memang berbahaya sekali. Orang yang menyerang tentu daya tahannya menjadi agak lemah, oleh karena pencurahan perhatiannya ditujukan pada serangannya sehingga kalau tiba-tiba lawan yang diserang membarengi dengan serangan, tentu saja dia terkejut dan kedudukannya menjadi lemah.

 

Akan tetapi kini kakek ketiga sudah menerjang lagi sebagai lanjutan serangan kakek kedua. Ketika Hui Lan juga berhasil mengelak dan balas menyerang yang membuat kakek ini terdesak, kakek ke empat lalu menyerang, disusul kakek kelima. Kiranya lima orang kakek itu biar pun tidak mengeroyok secara berbareng telah maju semua secara beruntun!

 

Dan melihat betapa gadis itu terlampau kuat kalau dilawan satu demi satu, akhirnya mereka mengurung dan mengeroyok Hui Lan dengan serangan-serangan mereka yang penuh! Agaknya lima orang kakek itu sudah tidak lagi melihat kenyataan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh tua Bu-tong-pai dan yang mereka hadapi hanyalah seorang gadis berusia dua puluh tahun.

 

Dalam keadaan biasa, andai kata mereka melakukan pibu (pertandingan silat) tentu mereka tak akan mau melakukan pengeroyokan, karena hal itu akan memalukan sekali. Akan tetapi kini mereka datang dengan niat membasmi gadis yang mereka anggap jahat dan berbahaya, maka mereka tidak lagi memakai banyak pertimbangan atau aturan lagi. Mereka datang untuk membunuh dan mengenyahkan kejahatan dari muka bumi, bukan untuk mengadu ilmu dan gadis itu ternyata memang lihai bukan main sehingga perlu  dikeroyok oleh mereka berlima.

 

“Hemm, tidak mudah mengambil nyawaku, tua bangka tua bangka tak tahu malu!” Hui Lan membentak. Nampaklah sinar terang berkilauan ketika ia telah mencabut pedang dari punggungnya.

 

“Singgg…! Singgg…!”

 

Sinar pedangnya menyambar-nyambar, membuyarkan pengepungan lima orang kakek itu.

 

“Siancai…! Inilah pedang yang sudah membunuh banyak orang itu. Terpaksa kami akan menggunakan senjata pula!” Kata kakek yang berjenggot panjang.

 

Lima orang kakek itu serentak meraba ke bawah jubah mereka dan nampaklah senjata berkilauan di tangan. Tiga orang di antara mereka memegang pedang dan yang dua orang lagi masing-masing memegang sebuah rantai baja yang panjangnya ada enam kaki. Rantai itu tadinya menjadi ikat pinggang, sedangkan pedang para tosu Bu-tong-pai itu tadi tersembunyi di balik jubah mereka.

 

Lima orang kakek itu adalah pendeta-pendeta tosu dari Bu-tong-pai. Walau pun mereka bukan para pimpinan Bu-tong-pai, namun mereka adalah murid-murid Bu-tong-pai dan di perkumpulan persilatan yang besar itu mereka termasuk tokoh-tokoh besar.

 

Hui Lan tidak mau banyak cakap lagi. Melihat betapa lima orang kakek itu benar-benar lihai dan kini  mereka semua memegang senjata, dia pun lalu mengeluarkan teriakan nyaring melengking dan tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke depan, didahului sinar pedangnya yang bergulung-gulung.

 

Kembali Sim Houw tertegun kagum. Gadis itu benar-benar lihai. Kini setelah memegang pedang, ternyata gadis itu lebih hebat pula. Ilmu pedangnya aneh dan sangat cepat gerakannya, lebih lihai dibandingkan ilmu silat tangan kosongnya tadi.

 

Sim Houw berusaha untuk mengenali ilmu pedang ini seperti tadi pun dia berusaha mengenal ilmu silat gadis itu, akan tetapi kembali dia gagal. Dia merasa seperti pernah melihat corak ilmu silat dengan gaya seperti yang dimainkan gadis itu, namun dia lupa lagi di mana dia pernah bertemu ilmu silat seperti itu, dan dia sama sekali tidak mengenalnya.

 

Sebaliknya, ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang lima orang kakek itu tidak asing baginya. Dia sudah mengenal ilmu silat dari Bu-tong-pai, dan karena dia tahu betapa indah dan lihainya ilmu pedang dari perkumpulan itu, yaitu Bu-tong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bu-tong-pai), walau pun hatinya merasa semakin tegang, dia memperhatikan dengan penuh perhatian.

 

Ilmu pedang Bu-tong-pai memang hebat, apa lagi dimainkan oleh lima orang ahli yang tingkatnya sudah tinggi. Perlahan-lahan gadis itu mulai terdesak dan kini ia hanya dapat memutar pedangnya menjadi gulungan sinar yang melindungi seluruh tubuhnya saja. Andai kata gadis itu disiram air, atau hujan turun, tentu ia tidak akan basah karena tubuh itu terlindung oleh benteng sinar pedang!

 

Hebatnya, ketika seorang di antara lawannya lengah, yaitu kakek muka hitam, tangan kiri gadis itu mencuat keluar dari gulungan sinar pedangnya dan tangan yang kecil dan nampak lunak itu menampar ke arah kepala kakek ini. Si kakek muka hitam terkejut bukan main karena tidak menyangka gadis yang sudah didesak hebat itu akan mampu melakukan serangan yang demikian tiba-tiba. Tamparan ke arah kepalanya itu sangat berbahaya, maka dia cepat mengelak.

 

“Plakkk!”

 

Tetap saja telapak tangan kiri Hui Lan menyentuh pundak si kakek muka hitam dan dia menggigil seperti orang kedinginan, lalu cepat-cepat berhenti, berdiri dan menghimpun tenaga dalam untuk melawan hawa dingin menusuk yang timbul ketika pundaknya kena ditampar tadi.

 

Melihat ini, tiba-tiba saja Sim Houw teringat dan hampir dia meloncat ke luar dari balik semak-semak. Benar! Hanya ada satu cabang persilatan saja di dunia ini yang dapat memainkan ilmu silat yang sekaligus dapat mengerahkan sinkang keras dan lunak, panas dan dingin, Yang-kang dan Im-kang dan satu-satunya itu adalah persilatan dari keluarga Pulau Es!

 

Dia pernah melihat pendekar-pendekar keluarga Pulau Es dan kini dia ingat benar bahwa corak ilmu silat dan ilmu pedang yang dimainkan gadis bernama Souw Hui Lan ini mengandung sifat-sifat dari ilmu silat keluarga Pulau Es. Dia hampir yakin akan hal ini walau pun dia sendiri tentu saja tidak mengenal ilmu silat keluarga itu secara mendalam. Akan tetapi, setiap cabang ilmu silat mempunyai ciri-ciri khas tertentu dan di antara ciri khas ilmu keluarga para pendekar Pulau Es adalah penggunaan sinkang yang saling  berlawanan itu.

 

Betapa pun lihainya Hui Lan dengan pedangnya, karena dikeroyok lima orang tokoh besar Bu-tong-pai, akhirnya ia kewalahan juga. Si muka hitam tadi sudah pulih kembali dan kini, sudah maju mengeroyok dengan sikap lebih hati-hati. Gadis itu sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk membalas lagi dan mulai repot menghadapi hujan serangan dari lima orang lawannya.

 

Tentu saja dengan memutar terus senjata untuk melindungi tubuhnya akan memeras tenaganya sehingga makin lama ia menjadi makin lelah dan putaran pedangnya makin berkurang kecepatannya. Akhirnya sebuah sabetan rantai baja menyerempet paha Hui Lan.

 

Kain celana paha kiri itu terobek, nampak kulit paha yang putih itu terhias jalur merah ketika terkena sabetan rantai baja. Walau pun gadis itu telah dapat melindungi pahanya dengan sinkang sehingga tidak terluka, namun ia terhuyung dan pada saat itu, sebatang pedang menyambar dari belakang, membabat ke arah lehernya, dan sebatang pedang lain menusuk dari kiri ke arah dadanya.

 

Sim Houw terkejut sekali. Sejak tadi dia bingung tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu benar apa yang menyebabkan permusuhan di antara gadis dan lima orang kakek Bu-tong-pai itu sehingga merasa tidak enak untuk mencampuri perkelahian mereka. Akan tetapi kini melihat nyawa gadis itu terancam maut, tubuhnya sudah menjadi tegang dan hampir dia bergerak meloncat untuk mencegah pembunuhan. Akan tetapi tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat. Bagaikan dua ekor burung raksasa saja dua bayangan itu meluncur dari atas, menyambar ke arah perkelahian itu.

 

“Tringg! Tranggg…!”

 

Kedua orang kakek yang sudah menyerang Hui Lan dengan pedangnya terpental ke belakang dan mereka terkejut sekali. Ketika lima orang kakek itu memandang, ternyata di situ telah berdiri dua orang laki-laki yang nampak gagah perkasa dan sejenak mereka tertegun karena melihat bahwa dua orang pria itu mempunyai wajah yang serupa. Usia mereka antara empat puluh tahun, dengan pakaian ringkas dan sikap gagah.

 

Mudah diduga bahwa kedua orang pria ini adalah sepasang orang kembar. Tidak hanya wajah dan bentuk badan mereka yang serupa, juga pakaian yang mereka pakai, dari potongannya sampai warna dan corak pakaiannya, semuanya serba sama! Keduanya menyarungkan kembali pedang yang tadi baru mereka pakai untuk menolong Hui Lan menangkis dua batang pedang yang mengancam nyawa gadis itu.

 

Hui Lan agak terpincang ketika menghampiri dua orang pria itu. Dengan nada suara manja dia lalu berkata, “Suhu, mereka ini adalah Bu-tong Ngo-lo yang tidak tahu malu mengeroyokku…”

 

“Kami mengerti, mundurlah kau,” kata seorang di antara dua pria kembar itu.

 

Hui Lan melangkah mundur sambil menyimpan pedangnya dan ia mengusap keringat yang sudah membasahi dahi dan leher, bahkan pakaiannya juga kusut dan basah oleh keringat. Perkelahian tadi amat melelahkan tubuhnya dan hantaman pada paha kirinya tadi juga menyakitkan. Robek pada celananya tidak dipedulikan dan kini dengan penuh perhatian Hui Lan menonton kedua orang suhu-nya yang berhadapan dengan Bu-tong Ngo-lo. Kalian akan mampus, demikian agaknya dia berpikir di balik senyumnya yang mengejek.

 

Dua orang pria kembar itu kini melangkah maju dan memandang kepada lima orang kakek itu dengan sinar mata tajam penuh selidik. Kemudian seorang di antara mereka bertanya, suaranya tegas dan mantap, namun halus, “Bu-tong Ngo-lo adalah lima orang tokoh Bu-tong-pai, patutkah mengeroyok seorang wanita muda seperti murid kami? Apa maksud pengeroyokan yang tidak pantas ini?”

 

Lima orang kakek itu saling pandang dan muka mereka menjadi merah. Bagaimana pun juga, mereka merasa malu karena telah maju mengeroyok seorang gadis semuda itu yang pantasnya menjadi cucu murid mereka. Dan yang lebih memalukan lagi, meski mengeroyok, mereka ternyata tidak berhasil merobohkannya!

 

Kakek berjenggot panjang lalu menjawab dengan sikap galak, “Apakah kalian ini yang berjuluk Beng-san Siang-eng, Sepasang Garuda dari Beng-san?”

 

Dua orang pria kembar itu mengangguk.

 

“Bagus!” kata kakek berjenggot panjang. “Kami datang untuk membunuh kalian guru dan murid agar tidak jatuh lagi korban orang-orang tidak berdosa. Kalian adalah orang-orang kejam yang telah melakukan banyak dosa dan harus dienyahkan dari permukaan bumi ini!”

 

Seorang di antara dua pria kembar itu tersenyum. “Hemm, katakan saja bahwa kalian datang untuk membalas dendam, ataukah kalian datang dengan maksud yang sama seperti orang-orang Bu-tong-pai itu?”

 

“Tidak! Kami datang sengaja untuk mencari kalian guru dan murid yang berdosa, untuk menghukum dan membunuh kalian!” Bentak kakek berjenggot panjang. Tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang maju bersama empat orang saudaranya, menyerang dengan senjata mereka dengan dahsyat.

 

Akan tetapi sekali ini lima orang kakek Bu-tong-pai itu berhadapan dengan dua orang lawan yang jauh  lebih lihai dibandingkan dengan Hui Lan tadi. Dua orang pria kembar itu menghadapi lima orang pengeroyoknya dengan tangan kosong saja, walau pun tadi ketika menyelamatkan Hui Lan, mereka menggunakan pedang.

 

Akan tetapi, walau pun tanpa senjata, keduanya dapat bergerak dengan bebas dan lincah sekali. Gerakan mereka memang cepat dan pantas mereka dijuluki Sepasang Garuda. Tubuh mereka berloncatan ke atas dan menyelinap di antara sinar senjata lawan. Mereka juga sempat membalas dengan serangan-serangan mereka yang meski pun hanya dilakukan dengan tangan dan kaki, akan tetapi tidak kalah dahsyatnya dari senjata lawan.

 

Terjadi perkelahian yang amat seru. Sim Houw yang nonton perkelahian itu kini merasa yakin benar bahwa sepasang pria kembar itu memang ahli dalam ilmu silat keluarga para pendekar Pulau Es. Begitu melihat gerakan dua orang laki-laki kembar itu, Sim Houw maklum bahwa tingkat kepandaian mereka masih lebih tinggi dari pada tingkat Bu-tong Ngo-lo dan walau pun dua orang kembar itu tidak memegang senjata, namun mereka tidak akan kalah.

 

Keduanya menguasai ginkang dan sinkang yang amat tinggi, bahkan kadang-kadang mereka berani menangkis pedang dan rantai baja dengan tangan kosong saja! Makin besar keyakinan hatinya bahwa dua orang kembar itu tentu murid para pendekar Pulau Es dan telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari Pulau Es.

 

Dugaan Sim Houw ini memang tidak meleset. Dua orang kembar itu masih cucu luar dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Mendiang Pendekar Super Sakti Suma Han mempunyai seorang puteri dari isterinya yang bernama Puteri Nirahai. Puteri ini diberi nama Puteri Milana yang kemudian menjadi isteri seorang pendekar sakti bernama Gak Bun Beng. Mereka berdua sekarang telah tua sekali dan tinggal di puncak Pegunungan Beng-san, hidup sebagai petani-petani sederhana. Mereka mempunyai sepasang anak kembar yang mereka beri nama Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, yaitu dua orang pria inilah.

 

Gak Bun Beng adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, gagah perkasa dan juga memiliki jiwa patriot. Akan tetapi dia saling jatuh cinta dengan Milana yang mempunyai ibu puteri Mancu. Milana sendiri, sebagai puteri Pendekar Super Sakti, tahu bahwa ia mempunyai ibu puteri Mancu. Bahkan karena tertarik oleh ibunya, ia pernah berapa kali membantu pemerintah Mancu memimpin barisan dan menjadi panglima pasukan untuk membasmi pemberontakan.

 

Setelah semakin tua ia dapat melihat bahwa suaminya mulai diasingkan dan dipandang sebagai musuh oleh banyak orang gagah di dunia persilatan, sebagai seorang pendekar yang berpihak kepada pemerintah penjajah Mancu! Padahal, Milana tahu benar bahwa suaminya sama sekali tak berpihak kepada pemerintah Mancu. Ia dapat melihat betapa terjepitnya kedudukan suaminya yang oleh para pendekar dan patriot dianggap sebagai seorang pengkhianat atau antek penjajah.

 

Karena itulah, maka ia pun menyetujui keputusan suaminya untuk menyembunyikan diri menjadi setengah pertapa di puncak Beng-san. Dia tidak mencampuri lagi urusan dunia. Karena itulah maka kehidupan suami isteri ini menjadi terasing, bahkan nama mereka seperti terhapus di duna kang-ouw dan tidak ada orang mengetahui bagaimana dengan keadaan mereka.

 

Suami isteri Gak Bun Beng dan Puteri Milana ini, tentu saja mendidik anak kembar mereka dengan tekun. Akan tetapi, keduanya yang memiliki tingkat kepandaian tinggi itu dapat melihat bahwa bakat anak kembar mereka dalam ilmu silat tidaklah menonjol. Betapa pun juga, karena ketekunan mereka menggembleng putera-putera mereka, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong dapat juga menguasai sebagian dari ilmu-ilmu ayah bunda mereka dan menjadi orang-orang yang dapat dibilang memiliki ilmu silat yang tinggi dan sukar dicari tandingan mereka.

 

Akan tetapi, setelah sepasang bocah kembar itu menjadi dewasa, Gak Bun Beng dan Milana mengalami kekecewaan yang amat besar. Dua orang pemuda Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong itu tidak mau menikah! Mereka bahkan marah-marah kalau orang tua mereka mengajak mereka bicara tentang pernikahan!

 

Di antara kedua pria kembar ini terdapat hubungan batin yang aneh bukan main, yang menimbulkan perasaan iri hati dan cemburu satu kepada yang lain dalam segala hal. Pakaian pun harus diberi yang serupa, dan mereka tidak boleh dibeda-bedakan karena hal ini akan menimbulkan perasaan iri yang membuat mereka marah.

 

Juga dalam perjodohan. Yang seorang akan menjadi iri hati dan cemburu kalau yang lain dijodohkan dengan seorang gadis. Karena inilah, maka kedua orang pria kembar ini tidak pernah menikah. Pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya akhirnya putus asa. Setelah capai membujuk tanpa hasil, akhirnya mereka pun diam saja dan lebih banyak menyepi di dalam pondok mereka di puncak Beng-san.

 

Betapa pun juga, akhirnya orang mengenal kelihaian kedua saudara kembar itu ketika beberapa kali terjadi peristiwa di mana keduanya terpaksa memperlihatkan kelihaian mereka. Bahkan orang tua mereka pun membujuk mereka untuk sering melakukan perantauan untuk memperluas pengalaman. Akhirnya, orang mengenal mereka sebagai Sepasang Garuda dari Beng-san!

 

Saat mereka berusia dua puluh empat tahun, mereka melakukan perjalanan ke selatan di mana terjadi pemberontakan. Mereka, sesuai dengan pesan ayah ibunda mereka, tidak diperbolehkan mencampuri urusan pemberontakan, artinya tidak boleh membantu pemberontakan juga tidak boleh membantu pemerintah. Mereka melihat pemberontakan dengan sikap pasif saja, hanya mereka turun tangan menolong mereka yang lemah dan pantas diselamatkan.

 

Ketika melihat sebuah keluarga dirampok dan dibunuh oleh gerombolan pemberontak, mereka  turun tangan membela. Namun dua orang saudara kembar ini agak terlambat dan hanya berhasil menyelamatkan seorang anak perempuan dari keluarga Souw itu, sedangkan keluarga itu selebihnya terbasmi dan terbunuh oleh gerombolan perampok.

 

Anak perempuan she Souw itu berusia empat tahun dan semenjak itu, Souw Hui Lan, anak yang sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga lainnya, dibawa oleh Beng-san Siang-eng dan menjadi murid mereka berdua! Bahkan dalam mengajarkan ilmu kepada Hui Lan mereka pun bersaing dan mereka berdua amat menyayang anak ini sehingga memperlakukannya tidak hanya sebagai murid, bahkan  sebagai adik atau puteri mereka sendiri. Tentu saja hal ini membuat Hui Lan menjadi lihai sekali, akan tetapi juga amat manja!

 

Baru lima tahun mereka meninggalkan Beng-san dan akhirnya menetap di bukit di tepi Sungai Wu-kiang itu, tempat yang sunyi terpencil dan amat indah pemandangannya. Beberapa tahun kemudian, setelah Hui Lan berusia tujuh belas tahun, mulailah datang godaan-godaan.

 

Gadis itu menjadi seorang dara yang cantik manis dan gagah perkasa sehingga tentu saja, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum serta mengandung madu yang amat manis, mengundang datangnya kumbang-kumbang berupa pemuda-pemuda yang gagah perkasa dan yang menginginkan jodoh seorang dara perkasa pula. Mulailah berdatangan lamaran-lamaran yang diajukan oleh tokoh-tokoh dunia persilatan terhadap dara itu, baik untuk murid atau anak mereka sendiri.

 

Dan begitu muncul pinangan-pinangan ini, dua orang guru dan seorang muridnya itu lalu menentukan syarat yang amat berat, yaitu calon jodoh Hui Lan harus seorang pemuda yang mampu mengalahkan Hui Lan. Selain syarat berat ini, ditambah syarat yang lebih berat lagi yakni bahwa pemuda calon jodoh Hui Lan itu harus mengajukan guru atau orang tuanya yang mampu mengalahkan Beng-san Siang-eng!

 

Orang yang tergila-gila kepada seorang wanita biasanya suka melakukan apa pun juga, siap untuk berkorban. Demikianlah, banyak pemuda gagah perkasa berdatangan, hanya untuk dikalahkan oleh Hui Lan, dan guru atau orang tua jagoan mereka tak ada seorang pun mampu mengalahkan dua orang pria kembar itu. Dan yang mengejutkan, guru dan murid ini agaknya berdarah panas sehingga dalam setiap pertandingan untuk memenuhi syarat itu, mereka menjatuhkan para peminang dengan pukulan-pukulan maut sehingga banyak di antara para peminang yang kalah dengan membawa luka-luka parah, bahkan  ada pula yang sampai tewas!

 

Seorang pemuda Bu-tong-pai yang pandai, maju pula bersama seorang susiok-nya, dan dia dikalahkan oleh Hui Lan. Juga tosu yang menjadi susiok-nya dan merupakan tokoh Bu-tong-pai, terluka hebat pula oleh Beng-san Siang-eng. Mereka berdua meninggalkan tempat itu sebagai penderita kekalahan, membawa luka dalam yang berat dan akhirnya keduanya tewas setelah menderita sakit beberapa pekan lamanya! Selama tiga tahun kurang lebih, sudah puluhan kali murid itu mengalahkan pelamar dan sudah belasan orang tewas di tangan mereka!

 

Demikian sedikit catatan tentang Beng-san Siang-eng yang bernama Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong itu. Karena itu pula pada hari itu muncul Bu-tong Ngo-lo yang berniat membunuh guru dan murid yang mereka anggap kejam dan jahat itu. Lima orang tokoh dari Bu-tong ini memang bukan hanya datang untuk membalas kematian dua anggota Bu-tong-pai itu, akan tetapi juga untuk mengenyahkan guru dan murid yang dianggap jahat itu agar tidak jatuh korban lagi.

 

Sim Houw mengikuti jalannya perkelahian itu penuh perhatian. Hatinya merasa semakin tegang lagi. Perkelahian itu adalah perkelahian mati-matian di mana Bu-tong Ngo-lo makin lama semakin terdesak hebat oleh dua orang pria kembar itu. Mereka berkelahi untuk saling bunuh, bukan sekedar mengalahkan lawan. Jurus-jurus maut dikerahkan dan diam-diam dia merasa khawatir sekali.

 

Mereka adalah orang-orang gagah, orang-orang berilmu yang agaknya tentu saja bukan termasuk kaum sesat. Dua orang pria kembar itu memainkan ilmu silat Pulau Es, tentu bukan penjahat dan lima orang kakek Bu-tong-pai itu tentu juga bukan orang-orang sesat. Kini mereka berkelahi mati-matian untuk saling bunuh.

 

Dia sendiri tidak dapat berpihak, karena dia memang tidak tahu siapa antara mereka yang bersalah. Akan tetapi, membiarkan saja mereka berkelahi, hatinya merasa tidak tega karena dia tahu bahwa satu pihak tentu akan roboh, terluka parah dan mungkin saja tewas.

 

Tiba-tiba dua orang kembar itu mengeluarkan teriakan nyaring melengking panjang, disusul bentakan seorang di antara mereka, “Bu-tong Ngo-lo, rebahlah kalian!”

 

Hebat bukan main serangan dua orang itu. Biar pun lima orang lawan mereka sudah bersiap siaga, tetap saja terjangan mereka yang dahsyat itu membuat mereka berlima terdorong dan terjengkang. Senjata mereka terlempar dan mereka terbanting keras ke atas tanah dalam keadaan terlentang! Dua orang kembar itu melangkah maju, agaknya siap untuk menurunkan pukulan terakhir, pukulan maut.

 

Tiba-tiba terdengar suara melengking yang aneh, suara suling yang ditiup secara aneh dan suaranya begitu mengandung wibawa yang amat kuat sehingga dua orang pria kembar itu sendiri tertegun dan menghentikan langkah mereka, lalu menengok seperti orang yang terpesona. Mereka berdiri ternganga memandang ke arah seorang pemuda yang tiba tiba saja muncul di situ sambil meniup sebatang suling.

 

Sim Houw yang tadi melihat betapa nyawa lima orang kakek Bu-tong-pai itu terancam maut, cepat meniup sulingnya dan keluar dari tempat persembunyiannya sambil terus meniup sulingnya. Tiupan pertama tadi dilakukan dengan pengerahan khikang dari Ilmu Kim-siauw Kiam-sut hingga suling itu mengeluarkan suara yang mengandung pengaruh dan wibawa amat kuatnya! Dua orang cucu dari Pendekar Super Sakti itu sendiri sampai terpesona dan tertahan dari niat mereka membunuh lima orang Bu-tong-pai yang sudah tidak mampu melindungi diri sendiri itu.

 

Kini Sim Houw sudah berjalan menghadapi dua orang saudara Gak itu, menghalang di antara mereka dan lima orang kakek Bu-tong-pai yang sedang merangkak bangun dengan muka pucat. Lalu Sim Houw menghentikan tiupan sulingnya dan menjura ke arah dua orang pria kembar. Begitu suara suling berhenti, semua orang merasa seolah-olah terlepas dari himpitan yang membuat mereka seperti tidak mampu bergerak tadi.

 

“Ji-wi locianpwe harap jangan menyiksa lima orang kakek ini lebih lanjut. Kasihanilah mereka dan kalau mereka telah melakukan kesalahan, biarlah saya yang mintakan ampun untuk mereka.”

 

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban dua orang pria kembar itu, Sim Houw cepat membalikkan tubuh menghadapi Bu-tong Ngo-lo, “Kalian berlima sudah diampuni oleh dua orang  locianpwe ini, tidak lekas pergi apakah yang ditunggu lagi?”

 

Sambil berkata demikian Sim Houw mengedipkan matanya. Lima orang kakek itu yang sudah maklum bahwa mereka tak akan mampu menang, apa lagi kini sudah menderita luka dalam yang dirasakan di dalam dada, rasa yang dingin sekali, tanpa banyak cakap lagi mereka lalu memungut senjata masing- masing dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit!

 

“Kalian hendak lari ke mana?” Tiba-tiba Hui Lan membentak marah dan siap mengejar.

 

Namun Sim Houw sudah berdiri di depannya sambil mengembangkan kedua lengannya. “Nona, ji-wi locianpwe ini sudah memberi ampun, jangan kejar mereka!”

 

Hui Lan menjadi marah melihat betapa pemuda itu mengembangkan lengan bagaikan hendak memeluknya. Apa lagi ketika dara ini mengenal Sim Houw sebagai penyuling yang tadi dianggap mengganggu ketenangannya, dia pun menjadi semakin marah.

 

“Enyahlah kau!” bentaknya sambil menampar kepala pemuda itu.

 

“Wuuuttt…!” Tamparan tangan halus ini dapat meremukkan batu karang, apa lagi kepala manusia.

 

“Ehhh, ehhh… jangan pukul…!” Sim Houw berseru gugup dan mengangkat sebelah lengannya seperti melindungi kepalanya dengan gerakan amat kaku, sama sekali bukan gerakan silat.

 

“Plakkk!”

 

Akibat tamparan tangan yang mengenai pangkal lengannya itu membuat Sim Houw terlempar dan jatuh bergulingan. Akan tetapi dia bergulingan memotong jalan sehingga gadis itu tak dapat melakukan pengejaran terhadap lima orang kakek Bu-tong-pai yang sudah melarikan diri.

 

“Keparat, engkau ini selalu menggangguku!” Hui Lan meloncat dan hendak menendang tubuh Sim Houw yang masih bergulingan.

 

“Hui Lan, jangan pukul dia!” tiba-tiba terdengar suara Gak Jit Kong dan gadis itu pun menahan gerakan kakinya sehingga Sim Houw terhindar dari tendangan maut.

 

Sim Houw melirik ke arah lima orang kakek Bu-tong-pai dan merasa lega melihat bahwa lima orang kakek itu sudah melarikan diri dengan cepat dan lenyap dari situ. Dia lalu bangkit berdiri, mengebut-ngebutkan bajunya yang kotor terkena debu.

 

Biar pun Hui Lan memiliki kepandaian tinggi, namun ia belum berpengalaman dan gadis yang berwatak manja ini memang tak pernah menghargai orang lain, maka dia pun tidak sadar betapa tamparannya yang amat kuat tadi dapat ditangkis oleh pemuda penyuling ini! Padahal jika teringat, tentu ia akan terkejut melihat kenyataan betapa tamparannya itu tidak meremukkan tulang pangkal lengan pemuda itu.

 

Beng-san Siang-eng mengira bahwa murid mereka tidak menyerang dengan sungguh-sungguh kepada pemuda yang dilihat dari gerak-geriknya, kelihatannya tidak memiliki kepandaian silat ini.

 

Gak Jit Kong lalu bertanya, “Orang muda, kenapa engkau mencampuri urusan kami dan menghalangi kami membunuh lima orang musuh tadi?”

 

Sim Houw menjura lagi dengan sikap hormat. Sejak tadi sulingnya telah diamankannya di balik bajunya, terselip di pinggang.

 

“Ji-wi locianpwe, saya pernah mendengar kata orang, bahwa seorang gagah tidak akan menyerang orang yang tidak melawan dan tidak membunuh orang yang sudah tidak berdaya. Dan saya melihat bahwa mereka itu tadi sudah tak berdaya…”

 

“Omong kosong!” bentak Hui Lan. Kalau kami kalah, mereka tentu akan membunuh kami. Suhu, tidak perlu kiranya berdebat dengan pengacau ini!”

 

Akan tetapi Gak Jit Kong agaknya tertarik. “Orang muda, tahukah engkau bahwa seandainya kami kalah, lima orang Bu-tong Ngo-lo itu akan membunuh kami tanpa ragu lagi?”

 

“Ji-wi locianpwe, Apakah orang harus membalas pembunuhan dengan pembunuhan, membalas kejahatan dengan kejahatan pula? Kalau begitu, apa bedanya antara kita dengan si penjahat?”

 

“Jadi sudah sejak tadi engkau melihat perkelahian antara kami dan mereka?” tanya pula Gak Jit Kong, memandang penuh selidik.

 

“Semenjak tadi saya kebetulan berada disini. Karena ketakutan melihat perkelahian lalu saya bersembunyi di dalam semak belukar, nonton perkelahian. Melihat mereka sudah tidak berdaya dan khawatir ji-wi membunuh mereka, maka saya keluar…”

 

“Kenapa membunyikan suling?” kini Gak Goat Kong mendesak.

 

“Saya tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk mencegah dilanjutkannya perkelahian itu. Karena saya hanya bisa meniup suling, maka dalam kegugupan saya lalu meniup suling saya untuk menarik perhatian. Syukur saya berhasil…”

 

“Siapakah namamu dan engkau dari perguruan silat mana?” Gak Jit Kong bertanya lagi.

 

“Nama saya Sim Houw dan bukan dari perguruan silat, saya hanya bisa meniup suling, tidak bisa apa-apa selain itu, locianpwe.”

 

“Bohong! Engkau selalu mengacau dengan suara sulingmu, tentu engkau pun mengerti sedikit ilmu silat. Biar kuselidiki ia datang dari perguruan silat mana, suhu!” kata Hui Lan. Dan gadis itu sudah meloncat ke depan. Tangan kirinya menyambar, jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri itu menotok ke arah pundak kanan Sim Houw.

 

Sim Houw tahu bahwa jalan darah Kian-keng-hiat-to di pundaknya akan ditotok dan akibatnya sangat hebat karena jalan darah itu merupakan satu di antara jalan darah besar. Namun dia diam saja, sedikit pun tidak berkutik, tidak mengelak atau menangkis, seolah-olah dia tidak tahu bahwa nyawanya terancam oleh serangan itu.

 

“Hui Lan, jangan…!” Gak Goat Kong berseru kaget melihat betapa muridnya hendak membunuh pemuda yang agaknya memang tidak menyadari akan bahaya itu.

 

Tentu saja Sim Houw sadar sepenuhnya, bahkan dia tahu bahwa tidak ada bahaya yang mengancam dirinya. Gadis itu hanya menggertaknya saja dan sama sekali tidak berniat melakukan totokan secara sungguh-sungguh, dan andai kata demikian, dia pun dapat menyelamatkan dirinya dengan ilmu memindahkan jalan darah!

 

Dan benar saja dugaannya. Tanpa dicegah oleh gurunya sekali pun, Hui Lan memang tak mau membunuhnya. Gadis itu hanya ingin memaksanya mengeluarkan ilmu silatnya untuk membela diri agar ia dapat mengenal ilmu silatnya. Melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa dia diserang dengan totokan maut, gadis itu merasa sebal dan totokannya berubah menjadi dorongan atau tamparan pada pundak pemuda itu.

 

“Plakkk…!”

 

Dan tubuh Sim Houw terpelanting! Akan tetapi Hui Lan juga terkejut dan heran sekali, menahan rasa nyeri pada telapak tangannya. Ia tadi merasa seperti menampar benda yang lunak sekali akan tetapi dari dalam kelunakan itu muncul tenaga yang membuat tenaga tamparannya membalik sehingga ia terpukul tenaga tamparannya sendiri yang menimbulkan rasa nyeri. Akan tetapi buktinya, pemuda itu telah terpelanting keras oleh tamparannya!

 

Sebelum Hui Lan sempat menyatakan keheranannya, mendadak kedua orang gurunya berseru. “Hui Lan, hati-hati! Banyak musuh datang!”

 

Gadis itu cepat menggerakkan tubuh menoleh, dan benar saja. Sedikitnya dua puluh orang yang dipimpin oleh seorang wanita cantik tengah berloncatan dengan cepat sekali menuju ke tempat itu.

 

Sim Houw juga sudah bangkit berdiri, mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor dan berdiri di belakang tiga orang itu. Diam-diam dia merasa mendongkol juga karena gadis itu sungguh sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya. Seorang gadis yang selain cantik manis dan gagah perkasa, juga manja, angkuh dan ringan tangan!

 

Dua puluh empat orang itu semua berpakaian serba merah sehingga amat menyolok sekali. Mereka terdiri dari laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai lima puluh tahun, dipimpin seorang kakek berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat.

 

Laki-laki ini berada di depan bersama seorang wanita yang lebih menarik perhatian lagi. Wanita ini cantik dan berpakaian merah, bukan serba merah seperti yang lain, memiliki sepasang mata yang amat  tajam dan gerak-geriknya lincah. Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

 

Sim Houw tidak mengenal semua orang itu. Juga agaknya Beng-san Siang-eng dan murid mereka tidak mengenal wanita cantik yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun itu, apa lagi dua puluh empat orang yang berpakaian serba merah.

 

Wanita itu pun agaknya belum mengenal pihak tuan rumah, karena begitu berhadapan, dia sudah bertanya dengan suara lantang, “Siapakah di antara kalian yang mempunyai julukan Pendekar Suling Naga?”

 

Sepasang Garuda Beng-san itu saling pandang dengan murid mereka. Akan tetapi Hui Lan menggerakkan pundak dan gadis ini sudah marah sekali melihat sikap wanita yang datang bersama segerombolan orang berpakaian serba merah itu. Dia menudingkan telunjuk kanannya sambil membentak, “Dari mana datangnya perempuan liar yang membawa gerombolan bajak atau rampok ini?”

 

Akan tetapi, wanita cantik itu hanya mengeluarkan senyum mengejek, agaknya tidak memperhatikan kemarahan Hui Lan. Sekali lagi ia bertanya, “Siapakah Pendekar Suling Naga?”

 

Dan kini pandang matanya ditujukan kepada Sim Houw dan ditatapnya wajah pemuda itu penuh selidik. Juga dua puluh empat orang berpakaian serba merah itu memandang kepada empat orang itu bergantian dengan sinar mata mengancam. Wanita cantik itu bukan sembarang orang. Ia bukan lain adalah Ciong Siu Kwi yang berjuluk Bi-kwi (Iblis Cantik), murid pertama Sam Kwi (Tiga Iblis).

 

Seperti telah diceritakan di bagian depan Siu Kwi atau Bi-kwi telah mewarisi semua ilmu kesaktian dari ketiga gurunya. Ketika ia pulang menjumpai guru-gurunya, ia melaporkan akan kegagalan dua macam tugas yang dipikulnya. Pertama, dia telah gagal mencari Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es oleh karena pendekar sakti itu sudah tewas. Kemudian tugas ke dua, yaitu mencari Pek-bin Lo-sian untuk meminta senjata pusaka Liong-siauw-kiam juga gagal.

 

Ketika wanita itu menghadap Pek-bin Lo-sian yang menjadi paman guru dari ketiga Sam-kwi, ia mendapatkan kakek tua renta itu dalam keadaan sakit berat dan napasnya tinggal satu-satu! Siu Kwi atau Bi Kwi dengan cara kasar minta pusaka itu dari Pek-bin Lo-sian yang dijawab oleh Pek-bin Lo-sian bahwa pusaka itu telah dia berikan kepada orang lain karena dia tidak suka kalau pusaka itu terjatuh ke tangan Sam Kwi, tiga orang keponakan seperguruannya sendiri yang jahat!

 

Mendengar jawaban ini. Bi-kwi memaksa kakek tua renta itu untuk menunjukkan siapa orang yang diserahi pusaka itu. Namun kakek yang sudah menderita penyakit berat itu hanya tersenyum mengejek, tak mau mengaku. Bi-kwi marah sekali, lalu menggunakan kekerasan terhadap kakek yang sebenarnya masih susiok-kong-nya sendiri. Disiksanya kakek itu, akan tetapi Pek-bin Lo-sian tetap tidak mau mengaku. Tubuhnya yang sudah tua dan menderita penyakit berat itu tidak dapat menahan siksaan yang dilakukan Bi-kwi dan kakek itu pun tewas tanpa menyebut nama Sim Houw yang telah diserahi pusaka Suling Naga atau Siauw-liong-kiam.

 

Seperti diketahui, Bi-kwi pulang dengan hati mengkal dan uring-uringan sebab ia pulang dengan tangan kosong. Akan tetapi ia mendengar berita akan munculnya seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Suling Naga. Sebelum pulang menyampaikan laporan kepada tiga orang gurunya, terlebih dahulu dia menemui perkumpulan Ang-i-mo (Setan Berbaju Merah), yaitu perkumpulan sesat yang telah ditaklukkannya.

 

Perkumpulan itu dipimpin oleh seorang datuk sesat bernama Tee Kok yang berusia lima puluh tahun sebagai ketuanya. Ketika mereka bentrok dengan Bi-kwi, mereka kalah dan Tee Kok merajuk, menyatakan kalah dan menyerah. Melihat kehebatan mereka, Bi-kwi dengan cerdik mengampuni mereka dan menyuruh mereka berjanji untuk membantunya dalam segala macam hal kalau dimintanya, dan Tee Kok menyanggupi.

 

Bi kwi lalu memerintahkan Ang-i-mo untuk melakukan penyelidikan, mencari adanya pendekar yang berjuluk Pendekar Suling Naga dan kalau ada beritanya supaya cepat memberi kabar kepadanya di  puncak Thai-san, di mana ia tinggal bersama Sam Kwi. Setelah itu barulah ia pulang ke Thai-san, di mana ia terpaksa menerima Bi Lan sebagai sumoi atau murid guru-gurunya yang baru, bahkan ia lalu dengan cerdik menyediakan dirinya untuk melatih sumoi-nya itu menggantikan guru-gurunya.

 

Baru beberapa bulan kemudian, datang Tee Kok bersama anak buahnya yang pilihan, berjumlah dua puluh empat orang bersama dia, berkunjung ke Thai-san dan melaporkan bahwa mereka mendengar akan munculnya Pendekar Suling Naga di daerah selatan. Mendengar ini, cepat Bi-kwi meninggalkan Thai-san, bersama dua puluh empat orang itu cepat-cepat melakukan pengejaran dan pencarian ke selatan. Akhirnya, mereka bisa mengikuti jejak orang yang dicari di sepanjang pantai Sungai Wu-kiang dan tiba di kaki bukit yang menjadi tempat tinggal Beng-san Siang-eng bersama murid mereka.

 

Tee Kok dalam pelaporannya kepada Bi-kwi hanya mengatakan bahwa anak buahnya belum pernah ada yang berjumpa dengan pendekar yang dicari, hanya mendapat keterangan bahwa pendekar itu masih muda dan lihai sekali. Maka, ketika mereka tiba di tempat itu, perhatian Bi-kwi dan kawan-kawannya tertarik kepada Sim Houw.

 

Akan tetapi, mereka merasa ragu-ragu karena pemuda itu tadi mereka lihat didorong oleh gadis cantik itu saja terpelanting, mana mungkin orang lemah itu yang dinamakan Pendekar Suling Naga? Karena itu Bi- kwi lalu mengajukan pertanyaan kepada mereka, dengan sikapnya yang angkuh, siapa di antara mereka yang berjuluk Pendekar Suling Naga.

 

Walau pun Hui Lan telah membentaknya dengan ucapan menghina, Bi-kwi tetap tidak peduli dan mengulangi pertanyaannya.

 

“Siapakah Pendekar Suling Naga? Hayo mengaku, kalau tidak kalian berempat tentu akan menjadi setan- setan tanpa nyawa!” Sekali lagi dia menghardik, sekali ini sinar matanya berkilat mengeluarkan ancaman yang mengerikan.

 

Kalau sepasang saudara kembar Gak itu masih bersikap sabar, murid merekalah yang sudah kehabisan kesabaran lagi. “Perempuan hina! Berani engkau mengancam kami di rumah kami sendiri? Apa kau kira aku takut kepadamu dan gerombolanmu, badut-badut berpakaian merah ini? Bukalah matamu dan lihat dengan siapa kau berhadapan!”

 

Bi-kwi memang seorang yang aneh. Iblis betina ini tidak mudah marah, atau tidak mau menurutkan emosi dan kemarahannya, dan kalau pun ada, disimpan di dalam hati saja. Hanya sinar matanya yang menyambar saat ia menjawab, “Tidak peduli siapa orangnya, kalau tidak mau memberi tahu kepadaku di mana adanya Pendekar Suling Naga, tentu akan kami bunuh!”

 

“Keparat! Kami tidak mengenal Suling Naga atau Suling Ular atau Suling Cacing! Akan tetapi kedua orang suhu-ku ini adalah Beng-san Siang-eng!”

 

Maksud Hui Lan memperkenalkan julukan kedua orang gurunya itu adalah untuk balas menggertak supaya wanita itu menjadi terkejut dan gentar. Siapa yang tidak mengenal nama Beng-san Siang-eng?

 

Bi-kwi memang terkejut, akan tetapi bukan terkejut lalu gentar, bahkan terkejut lalu wajahnya berseri dan senyumnya makin mengejek. “Ahh! Ini namanya mencari bandeng tetapi mendapatkan kakap! Jadi kalian inikah Beng-san Siang-eng, keluarga Pulau Es?” katanya sambil memandang kepada dua orang pria kembar itu penuh perhatian.

 

Dua orang pria kembar itu membalas pandang mata tajam itu dengan alis berkerut. Gadis cantik ini masih muda tetapi sikapnya demikian angkuh dan memandang rendah, tentu bukan orang sembarangan.

 

“Kami dua saudara Gak memang masih cucu luar dari kakek kami Suma Han dari Pulau Es. Akan tetapi kami tak merasa pernah berurusan denganmu. Siapakah engkau, nona, dan ada urusan apakah engkau bersama rombonganmu datang ke tempat kami?”

 

Ciong Siu Kwi meraba gagang goloknya dengan sikap angkuh, tanpa mencabut senjata itu, dan memandang kepada dua orang pria kembar itu dengan mata tajam. “Beng-san Siang-eng, aku disebut orang Bi-kwi. Aku datang mewakili guru-guruku, Sam Kwi, untuk mencari Pendekar Suling Naga. Akan tetapi dia tidak ada dan yang ada adalah kalian, cucu dari Majikan Pulau Es. Hemm, sungguh kebetulan sekali karena aku pun memiliki tugas mewakili guru-guruku untuk membunuh semua keluarga Pulau Es setelah Majikan Pulau Es sendiri meninggal dunia!”

 

Dua orang pria kembar itu mengerutkan alis lagi. “Nanti dulu, Bi-kwi. Memusuhi orang dengan niat membunuh bukan merupakan hal yang tidak ada sebabnya. Mengapa guru-guru kalian memusuhi kami orang-orang Pulau Es?”

 

“Kakekmu pernah mengalahkan guru-guruku, dan guru-guruku sudah bersumpah untuk membalas kekalahan itu. Akan tetapi kakekmu sudah mati, maka yang harus menebus dosanya adalah keluarga dan keturunannya. Nah, kini bersiaplah kalian untuk mati, juga bocah perempuan sombong ini. Dan pemuda itu… siapakah dia?” Telunjuk kiri Bi-kwi menuding ke arah muka Sim Houw dan diam-diam hatinya berbisik betapa tampannya pemuda sederhana itu.

 

“Jangan ganggu dia. Kami tidak mengenalnya. Dia seorang yang baru saja datang, dan tak ada sangkut pautnya dengan kami. Jangan kira akan mudah saja membunuh kami, bahkan kalau boleh kunasehatkan supaya kamu yang masih muda ini pulang saja dan biarkan ketiga orang suhu-mu itu yang datang membuat perhitungan dengan keluarga para pendekar Pulau Es,” kata Gak Jit Kong.

 

Gak Jit Kong merasa tidak enak juga jika ia bersama adik kembarnya harus berhadapan dan mengadu ilmu dengan seorang gadis yang masih muda itu. Memang semua tokoh persilatan yang sudah ada nama tentu akan merasa ragu untuk mengadu ilmu melawan seorang gadis muda. Jika kalah amat memalukan, kalau menang pun akan ditertawakan orang!

 

“Beng-san Siang-eng, kematian sudah di depan mata, tidak perlu banyak cakap lagi! Bersiaplah untuk mampus!” bentak Bi-kwi dan nampak sinar berkilat menyilaukan mata ketika wanita ini mencabut pedangnya.

 

“Suhu, biar aku yang menghadapi iblis wanita ini!” Hui Lan juga mencabut pedangnya dan ia meloncat ke depan gurunya, menghadapi Bi-kwi.

 

Dua orang pria kembar itu tidak melarang murid mereka. Memang sepatutnyalah kalau Hui Lan yang menghadapi wanita itu, dan mereka sendiri akan berjaga-jaga karena jika dua puluh empat orang berpakaian seragam merah itu maju mengeroyok, mereka akan menghadapi pasukan merah itu.

 

Tetapi, Bi-kwi yang sudah menghunus pedang itu memandang kepada Hui Lan dengan alis berkerut. “Bocah sombong, engkau bukanlah lawanku. Guru-gurumu itulah lawanku dan engkau nonton saja, jangan tergesa minta mampus, tunggu giliranmu tiba!”

 

Ucapan itu sungguh menghina sekali. Hui Lan mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia sudah  maju menerjang dengan pedangnya. Akan tetapi Bi-kwi tersenyum saja dan hanya nonton ketika dari samping, Tee Kok ketua Ang-i-mo telah menggerakkan sepasang goloknya ke depan menangkis.

 

“Tranggg…!”

 

Nampak api berpijar ketika pedang Hui Lan bertemu dengan golok di tangan laki-laki tinggi kurus bermuka pucat itu.

 

“Ciong Siocia (Nona Ciong), biarkan aku menghadapi gadis ini!” kata Tee Kok.

 

“Matamu sudah menjadi hijau melihat perawan mulus ini, ya? Baik, kalau kau mampu, tangkaplah bocah itu dan boleh menjadi milikmu sebelum kau bunuh!”

 

Biar pun ucapan ini ditujukan kepada Tee Kok. akan tetapi tentu saja Hui Lan menjadi marah bukan main, demikian pula dua orang gurunya karena omongan wanita itu amat kasar dan kotor.

 

“Kalian adalah manusia-manusia busuk!” kata Gak Jit Kong yang segera menghunus pedangnya, diikuti oleh adik kembarnya.

 

“Bagus! Mari kita ramai-ramai membasmi keturunan Pulau Es!” Bi-kwi berseru dan ia pun menerjang maju, disambut oleh sepasang pria kembar yang sudah pula memegang pedang masing-masing.

 

Dan dalam gebrakan pertama, kedua orang she Gak itu terkejut bukan main. Mereka memang sudah menduga bahwa wanita ini tentu jahat dan juga amat lihai, akan tetapi tidak mereka sangka bahwa ketika pedang mereka bertemu dengan pedang Bi-kwi, mereka merasa betapa lengan mereka yang memegang pedang itu tergetar hebat dan ada hawa panas yang menyambar ke arah mereka melalui pedang di tangan gadis itu!

 

Tahulah mereka bahwa gadis itu benar-benar amat lihai. Mereka pun cepat mengurung dengan pengerahan tenaga dan kepandaian mereka. Maka segera terjadi perkelahian yang amat seru di antara Beng-san Siang-eng dan Ciong Siu Kwi atau Iblis Cantik itu.

 

Hui Lan juga segera merasakan ketangguhan lawannya. Sepasang golok lawannya bergerak menyambar- nyambar dari dua jurusan yang berlawanan, seakan-akan hendak mengguntingnya, Ternyata si tinggi  kurus bermuka pucat ini pun mempunyai tenaga sinkang yang amat kuat!

 

Boleh jadi Bi-kwi yang telah digembleng sejak kecil oleh tiga orang gurunya sekaligus kini telah menjadi seorang wanita yang lihai bukan main. Hampir seluruh ilmu dari Sam Kwi telah diresapinya dan ia memang memiliki bakat yang amat baik. Akan tetapi, kini ia melawan dua orang pria kembar yang masih cucu luar Majikan Pulau Es. Maka segera ia mendapatkan kenyataan bahwa tidak akan mudah baginya untuk dapat mengalahkan dua orang pria kembar itu, paling-paling hanya akan dapat mengimbangi ketangguhan mereka. Maka wanita itu lalu memberi aba-aba kepada pasukan Ang-i-mo itu untuk ikut maju dan membantu!

 

Hui Lan merasa terkejut sekali. Baru melawan si tinggi kurus seorang diri saja sudah terasa berat, apa lagi kalau lawannya dibantu oleh anak buahnya yang amat banyak. Tidak disangkanya bahwa si kurus baju merah itu dapat memainkan sepasang goloknya sedemikian lihainya.

 

Ia tidak tahu bahwa Tee Kok adalah bekas anak buah Hek-i-mo (Iblis Pakaian Hitam), yaitu perkumpulan yang dipimpin oleh Hek-i Mo-ong, datuk besar kaum sesat yang dua puluh tahun lebih yang lalu pernah menggemparkan dunia persilatan. Hek-i-mo telah dihancurkan oleh para pendekar, terutama oleh para pendekar Pulau Es.

 

Perkumpulan Hek-i-mo atau Hek-i Mo-pang sudah tidak ada, tetapi masih ada belasan orang anggota yang berhasil meloloskan diri, dipimpin oleh Tee Kok. Dia ini pernah menerima pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi langsung dari mendiang Hek-i Mo-ong, maka tentu saja ilmu silatnya cukup tinggi.

 

Tee Kok ini lalu mendirikan sebuah perkumpulan lain yang diberi nama Ang-i Mo-pang dan semua anggotanya mengenakan pakaian seragam merah dan dia mengangkat diri menjadi ketuanya. Belasan tahun lamanya dia dan anak buahnya merajalela sampai pada suatu hari mereka berjumpa dengan Bi-kwi dan dikalahkan oleh wanita cantik ini! Oleh karena mereka itu segolongan maka ada kecocokan di antara mereka. Bi-kwi tidak membunuh mereka, bahkan meraih mereka menjadi teman dan anak buah.

 

Kini dua puluh orang lebih anak buah Ang-i Mo-pang serentak bergerak mengepung, membantu Bi-kwi dan Tee Kok. Tentu saja Beng-san Siang-eng dan Hui Lan menjadi terkepung dan terdesak hebat. Mereka berada dalam keadaan gawat dan terancam sekali. Akan tetapi dengan semangat meluap-luap, guru dan murid ini melawan mati-matian dan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir.

 

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Lan dan kedua orang gurunya itu, tiba-tiba terdengar suara suling melengking nyaring. Semua orang yang sedang berkelahi terkejut bukan main karena suara suling itu seperti menusuk telinga mereka dan langsung menyerang jantung sehingga jantung mereka terguncang. Bahkan beberapa orang anak buah Ang-i Mo-pang telah terpelanting jatuh dan mengeluh sambil menutupi kedua telinga mereka dengan tangan.

 

Beng-san Siang-eng dan Souw Hui Lan juga cepat meloncat ke belakang, kemudian mengerahkan tenaga sinkang untuk melindungi jantung mereka. Tidak terkecuali Bi-kwi dan Tee Kok yang juga terkena serangan suara melengking itu sehingga mereka pun terpaksa meloncat ke belakang dan menengok ke arah asal suara suling seperti yang dilakukan semua orang yang berada di situ.

 

Kiranya yang mengeluarkan bunyi melengking yang menyakitkan jantung dan menusuk-nusuk anak telinga itu adalah Sim Houw. Pemuda itu sekarang sudah duduk bersila dan menyuling sambil  memejamkan kedua matanya, mengerahkan khikang kuat sekali ke dalam tiupan sulingnya untuk membubarkan perkelahian yang tidak adil itu.

 

Melihat suling berbentuk naga yang ditiup pemuda itu, Bi-kwi terkejut dan tak tertahan lagi ia berteriak, “Suling Naga!”

 

Semua orang terkejut mendengar teriakan ini, termasuk pula Hui Lan dan dua orang gurunya. Mereka pun cepat memandang ke arah Sim Houw dengan perasaan tegang dan penuh keheranan. Mendengar teriakan ini, Sim Houw segera menghentikan tiupan sulingnya dan membuka matanya, lalu bangkit berdiri. Suling itu masih dipegangnya, dipegang pada bagian ekor naga seperti kalau menyuling.

 

Bi-kwi sudah dapat menekan guncangan hatinya. Ia melangkah maju menghampiri Sim Houw, pandang matanya tajam penuh selidik, wajahnya berseri karena ada rasa girang dalam hatinya bahwa akhirnya ia dapat berhadapan dengan orang yang telah menerima Liong-siauw-kiam dari mendiang Pek-bin Lo-sian.

 

Suara suling yang menusuk telinga dan mengguncangkan jantungnya tadi dianggapnya sebagai keampuhan suling itu, bukan karena peniupnya yang mempunyai kepandaian tinggi. Bi-kwi termasuk orang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri dan selalu meremehkan orang lain. Ia sudah mendapat gambaran yang jelas dari Sam Kwi tentang macamnya Pedang Suling Naga, maka melihat suling di tangan pemuda itu ia tidak merasa ragu lagi.

 

“Hemm, jadi engkau inikah yang berjuluk Pendekar Suling Naga? Engkaukah orangnya yang menerima suling pusaka itu dari tangan mendiang Pek-bin Lo-sian di Himalaya?” tanya Bi-kwi dengan suara lantang.

 

Pertanyaan ini menarik perhatian semua orang yang berada di situ sehingga mereka semua seakan-akan telah lupa akan perkelahian tadi dan semua orang lalu memandang kepada Sim Houw.

 

Sim Houw mengamati suling di tangannya dan alisnya berkerut. “Benar, akan tetapi tidak kusanga bahwa Pek-bin Lo-sian telah meninggal dunia.”

 

“Siapa namamu?” Tiba-tiba Bi-kwi bertanya sambil menatap wajah yang tampan itu.

 

“Aku she Sim bernama Houw, dan secara kebetulan saja Pek-bin Lo-sian memberikan suling ini kepadaku dengan suka rela. Mengapa engkau mencari-cari aku?”

 

“Orang she Sim, dengarlah baik-baik. Liong-siauw-kiam itu adalah milik nenek moyang tiga orang guruku yang dikenal dengan julukan Sam Kwi. Pek-bin Lo-sian adalah susiok-kongku sendiri. Orang tua yang tidak tahu diri itu secara lancang telah memberikan pusaka keluarga perguruan guru-guruku kepada engkau, seorang asing. Karena itu, dia layak mati di tanganku. Sekarang, serahkan pusaka itu kembali kepadaku yang berhak memilikinya, dan barulah aku akan mempertimbangkan apakah engkau harus dibunuh ataukah tidak.”

 

Diam-diam Sim Houw terkejut dan marah. Kiranya kakek itu telah dibunuh oleh wanita kejam itu dan tentu saja dia sudah mendengar tentang Sam Kwi. Justru karena tidak ingin pusaka itu terjatuh ke tangan Sam Kwi, murid-murid keponakan Pek-bin Lo-sian itu, maka kakek itu memberikan pusaka itu kepadanya dan berpesan agar dia berhati-hati menghadapi Sam Kwi. Sekarang murid dari Tiga Iblis itu telah muncul dan memang benar gadis ini mempunyai kepandaian yang tinggi, belum lagi dua puluh empat orang pembantunya itu.

 

“Bi-kwi, julukanmu itu tepat sekali. Memang engkau cantik, akan tetapi watakmu seperti iblis yang kejam. Engkau Iblis Cantik bahkan telah membunuh susiok-couw sendiri. Pusaka ini diberikan kepadaku oleh mendiang Pek-bin Lo-sian memang dengan maksud agar jangan sampai terjatuh ke tangan Sam Kwi. Aku menerimanya dari Pek-bin Lo-sian dan hanya kakek itu seorang yang berhak memintanya dari tanganku. Baik engkau mau pun Sam Kwi, tidak berhak.”

 

“Keparat, berani engkau menentang Bi-kwi?” bentak Bi-kwi dan pedang di tangannya tergetar sampai mengeluarkan suara berdengung.

 

“Ciong Siocia, biar kurebutkan pusaka itu untukmu!” teriak Tee Kok.

 

Pria tinggi kurus bermuka pucat ini telah menerjang maju, sepasang goloknya membuat gerakan bersilang, yang satu membacok ke arah pergelangan tangan Sim Houw yang memegang suling sedangkan yang ke dua menyambar ke arah pundak kiri pemuda itu. Sungguh merupakan serangan maut yang berbahaya, sekaligus hendak merampas suling dengan membacok tangan kanan lawan sambil berusaha membunuhnya!

 

Akan tetapi, Sim Houw kelihatan tenang saja menghadapi serangan maut ini. Dengan sedikit gerakan  tubuh dan geseran kaki, dua serangan itu sudah meluncur lewat dan mengenai tempat kosong, dan pada detik berikutnya, ujung suling itu telah membalik di tangannya. Sekarang yang dipegangnya ialah bagian kepala suling naga yang menjadi gagangnya dan kini ekor naga itu yang merupakan ujung mata pedang telah menusuk ke arah paha Tee Kok dengan kecepatan kilat.

 

Tee Kok terkejut dan cepat ia menarik kakinya. Akan tetapi pada saat itu, angin keras menyambar dan ternyata angin itu keluar dari lengan baju kiri Sim Houw yang sudah menyusulkan tamparan ke arah kepala lawan. Tee Kok mengelebatkan goloknya yang kanan untuk membacok tangan kiri lawan, akan tetapi kembali tangan itu mengelak dan melanjutkan serangan dengan totokan jari ke arah dada.

 

“Ehhh…!” Tee Kok terkejut sekali.

 

Demikian cepat gerakan lawan sehingga dalam satu gebrakan saja dia sudah dihujani serangan. Sebagai bekas murid mendiang Hek-I Mo-ong yang lihai tentu saja dia masih bisa menghindarkan diri dari totokan itu dengan cara meloncat ke belakang. Kemarahan membuat dia lupa diri, lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang lawan yang amat tangguh.

 

Dia mengeluarkan suara menggereng. Kedua goloknya diputar-putar membentuk dua lingkaran sinar bergulung-gulung yang menyerang ke arah Sim Houw. Karena agaknya kini mulai sadar akan kelihaian lawan, Tee Kok lantas mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus ilmu sepasang goloknya yang paling ampuh. Untuk dapat merebut suling pusaka itu seperti yang dijanjikannya kepada Bi-kwi, dia harus terlebih dahulu dapat membunuh pemuda ini.

 

“Hemm,” Sim Houw mengeluarkan seruan dari hidungnya.

 

Tiba-tiba sulingnya itu mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup ketika dia memutarnya. Mendengar suara melengking tajam ini, entah bagaimana tahu-tahu dua gulungan sinar golok itu terhenti sebentar seperti tertahan sesuatu dan saat itu, ujung ekor suling naga telah meluncur dan menusuk ke  arah Tee Kok, tepat di antara kedua matanya.

 

Tee Kok mengeluh kaget dan sepasang goloknya bergerak ke depan untuk menangkis dan menggunting suling lawan. Akan tetapi suling itu telah bergerak ke belakang dan pada saat yang sama, sebuah tendangan mengenai dada Tee Kok.

 

“Bukkk!”

 

Tee Kok tidak melihat datangnya tendangan ini karena tadi matanya terancam tusukan pedang suling sehingga seluruh perhatiannya telah tercurah untuk menyelamatkan dua matanya. Sekarang tendangan itu mengenai dadanya yang sudah dilindungi dengan kekebalan, akan tetapi tetap saja tubuhnya terjengkang dan terbanting keras. Tee Kok merasa betapa tulang pinggulnya bagaikan remuk, akan tetapi dia sudah dapat terus bergulingan seperti seekor trenggiling dan sudah meloncat bangun lagi dengan muka semakin pucat dan mata berapi-api.

 

Tentu saja Hui Lan dan dua orang gurunya terkejut bukan main, terkejut dan penuh rasa kagum. Pemuda tukang suling yang tadinya mereka pandang rendah, mereka remehkan sebagai seorang pemuda lemah, ternyata dalam dua tiga gebrakan saja sudah mampu menendang jatuh Tee Kok yang tadi dirasakan sebagai lawan yang amat tangguh oleh Hui Lan.

 

Gadis ini teringat betapa tadi ia pernah mendorong Sim Houw sampai terguling-guling dan teringat akan hal itu, mukanya berubah merah sekali. Tahulah dia kini bahwa tadi Sim Houw hanya berpura-pura saja dan baru kini pemuda itu terpaksa memperkenalkan diri hanya karena melihat ia dan dua orang gurunya tadi terancam bahaya maut.

 

Sementara itu, melihat mereka berkelahi dalam dua tiga gebrakan saja dan melihat pembantunya tertendang roboh, Bi-kwi juga terkejut. Baru terbuka matanya bahwa pemuda yang menerima benda pusaka itu, yang dijuluki orang Pendekar Suling Naga, ternyata adalah seorang yang amat lihai. Ia mengenal tingkat kepandaian Tee Kok yang pernah dikalahkannya itu. Cukup tangguh. Ia sendiri baru akan mampu mengalahkan Tee Kok setelah bertanding sedikitnya lima puluh jurus. Akan tetapi pemuda ini dalam tiga gebrakan saja sudah mampu membuat pembantunya itu terjatuh.

 

“Kembalikan Liong-siauw-kiam kepadaku!” bentak Bi-kwi.

 

Bwi-kwi juga menerjang ke depan, ikut menyerang Sim Houw untuk membantu Tee Kok yang telah siap pula dengan sepasang goloknya. Melihat betapa Bi-kwi yang diandalkan itu maju, besarlah hati Tee Kok. Dia pun sudah maju lagi, memutar sepasang goloknya mengeroyok Sim Houw.

 

Akan tetapi tiba-tiba badan pemuda itu lenyap dan yang nampak hanya bayangannya saja yang  terbungkus gulungan sinar hitam dari sulingnya. Dan dari dalam gulungan sinar itu muncul suara berdengung-dengung dan melengking-lengking yang membuat dua orang pengeroyoknya terpaksa harus mengerahkan sinkang, kalau tidak mau roboh oleh serangan suara mujijat itu. Terjadilah perkelahian yang amat menarik.

 

Hui Lan dan dua orang gurunya terbelalak penuh kagum dan ketegangan. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu sedemikian lihainya sehingga akan mampu menghadapi pengeroyokan dua orang tangguh itu. Padahal tadi, dikeroyok oleh Beng-san Siang-eng saja, Bi-kwi dapat menandinginya tanpa merasa kewalahan. Dan kini, wanita sakti itu bersama pembantunya yang lihai pula, dipaksa harus mengeroyok Sim Houw!

 

Begitu Bi-kwi memasuki gelanggang perkelahian, Sim Houw terpaksa mengeluarkan  kepandaiannya. Suara sulingnya semakin dahsyat, gerakannya semakin cepat dan tiba-tiba terdengar suara nyaring ketika suling itu menghantam pedang Bi-kwi, dilanjutkan dengan menangkis sepasang golok Tee Kok.

 

Suara nyaring itu disusul teriakan kaget dua orang pengeroyok itu, dan semua orang yang melihat perkelahian itu menjadi terheran-heran melihat betapa Bi-kwi terhuyung ke belakang sampai lima langkah sedangkan Tee Kok untuk kedua kalinya terjengkang dan terbanting keras! Padahal, perkelahian itu baru berlangsung paling banyak lima belas jurus saja.

 

Hampir berbarengan, Bi-kwi dan Tee Kok mengeluarkan seruan rahasia dan dua puluh tiga orang anak buah Tee Kok itu serentak maju mengeroyok, dipimpin oleh Bi-kwi dan Tee Kok yang sudah menyerang lagi.

 

Sepasang saudara kembar Gak saling pandang dengan penuh keheranan. Baru kini mereka menyaksikan kepandaian yang demikian hebatnya seperti yang dimiliki pemuda itu. Akan tetapi melihat betapa kini semua anak buah pasukan baju merah itu maju mengeroyok, mereka menjadi marah.

 

“Manusia-manusia curang!” bentak Gak Jit Kong.

 

Bersama adik kembarnya dia pun menerjang ke depan, diikuti pula oleh Souw Hui Lan. Mereka bertiga mengamuk di antara dua puluh tiga orang anak buah Ang-i Mo-pang sehingga mereka tidak memperoleh kesempatan mengeroyok Sim Houw yang sudah dikeroyok lagi oleh Bi-kwi dan Tee Kok.

 

Belasan di antara dua puluh tiga anggota Ang-i Mo-pang itu adalah bekas anak buah Hek-i Mo-pang yang sudah biasa berkelahi, banyak pengalaman, lihai dan kejam. Akan tetapi kini mereka diamuk oleh tiga orang ahli silat keturunan keluarga Pulau Es, maka rusaklah pertahanan mereka dan mereka dibikin kocar- kacir oleh tiga batang pedang yang bergerak cepat dan amat kuat itu. Dalam waktu tidak terlalu lama, sudah ada beberapa orang di antara mereka roboh dan terluka, bahkan ada pula yang tewas.

 

Sementara itu, karena tidak memperoleh bantuan anak buahnya yang diamuk Hui Lan dan dua orang gurunya, Bi-kwi dan Tee Kok kembali terdesak hebat oleh pedang suling di tangan Sim Houw. Untung bagi mereka bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar yang berhati lembut sehingga tidak tega untuk membunuh dua orang yang sebetulnya bukan musuhnya itu.

 

Sim Houw hanya mempermainkan mereka dengan pukulan-pukulan suling yang tidak sampai membuat mereka terluka parah atau sampai tewas. Kini Bi-kwi melihat jelas bahwa kalau perkelahian itu dilanjutkan, dia akan menderita kekalahan, terluka parah atau mungkin juga akan tewas. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi dengan para pembantunya. Orang seperti Bi-kwi ini tidak pernah memusingkan keadaan orang lain. Yang terpenting adalah dirinya sendiri. Kalau ia selamat, masa bodoh dengan orang lain. Maka, gadis yang cerdik ini segera mengambil keputusan sebelum terlambat.

 

Pedang suling di tangan Sim Houw sungguh hebat bukan main. Gerakannya aneh dan dahsyat, mengandung tenaga mujijat dan terutama sekali suara melengking-lengking dan mengaum-ngaum itu membingungkan hatinya.

 

“Aku pergi dulu! Lain waktu masih banyak kesempatan untuk membunuh Pendekar Suling Naga dan merampas kembali pusaka itu!” Setelah berkata demikian, wanita itu meloncat jauh ke kiri dan melarikan diri lenyap di antara pohon-pohon.

 

Melihat ini, Tee Kok terkejut bukan main. Kekagetannya membuat ia lengah dan sebuah tendangan mengenai pahanya serta sinar hitam menyentuh pundaknya. Tubuhnya lalu terpental dan dia roboh terbanting, kemudian bangkit lagi dan memberi aba-aba kepada anak buahnya.

 

“Kita pergi…!”

 

Dia sendiri lalu terpincang-pincang melarikan diri. Golok kirinya lenyap, sedang lengan kirinya sengkleh (lumpuh terkulai) karena tulang pundaknya retak-retak terkena pukulan suling. Anak buahnya yang semenjak tadi memang sudah merasa gentar menghadapi amukan gadis dan dua orang gurunya itu, begitu mendapat aba-aba, cepat menyambar tubuh teman yang luka atau tewas, berbondong-bondong melarikan diri dari tempat itu.

 

Sim Houw, Hui Lan, dan Beng-san Siang-eng hanya memandang saja, tidak melakukan pengejaran. Sedikitnya ada enam orang pengeroyok yang tewas dan banyak yang luka-luka.

 

Setelah semua penyerbu itu lenyap dari pandangan dan tidak terdengar suara mereka lagi, barulah dua orang saudara kembar itu menghadapi Sim Houw dan menjura dengan sikap hormat. “Ah, kiranya engkau adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi. Terima kasih atas pertolongan Sim-taihiap kepada kami bertiga…”

 

Sim Houw cepat-cepat memberi hormat. “Ahhh, ji-wi locianpwe harap jangan bersikap sungkan. Mereka itu memang mengejar dan mencari saya. Ketika tadi aku dikeroyok, bahkan sam-wi yang telah membantu saya. Maaf kalau saya bersikap kurang hormat kepada ji-wi locianpwe yang ternyata adalah keluarga para pendekar Pulau Es yang saya kagumi dan hormati.”

 

“Sim-taihiap terlalu merendahkan diri. Ilmu silatmu sungguh membuat kami merasa kagum sekali. Gerakan pedang suling yang seperti amukan naga itu sungguh dahsyat dan juga lengkingan suara suling itu benar- benar merupakan kekuatan khikang yang sudah mencapai puncaknya. Kemahiranmu bermain suling mengingatkan kami akan seorang pendekar sakti, yaitu Pendekar Suling Emas Kam Hong. Hanya dialah yang kabarnya memiliki khikang seperti yang telah kau perlihatkan tadi.”

 

“Dia adalah guru saya.”

 

“Ahhh, pantas saja! Dan gerakan ilmu pedangmu yang bagaikan naga mengamuk itu mengingatkan kami akan cerita orang tentang Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang hanya dimiliki oleh pendekar Sim Hong Bu dari Lembah Gunung Naga Siluman…”

 

“Dia adalah mendiang ayah saya.”

 

Dua orang saudara kembar itu menjadi girang sekali. “Kiranya begitu? Ah, kalau begitu di antara kita terdapat hubungan yang cukup erat. Bukankah engkau mengenal baik anak paman-paman kami, Suma Ciang Bun dan Suma Ceng Liong?”

 

Sim Houw tersenyum dan mengangguk. Tentu saja! Bahkan wanita yang kini menjadi isteri pendekar Suma Ceng Liong, yaitu Kam Bi Eng, pernah ditunangkan dengan dia, menjadi calon isterinya. Akan tetapi Bi Eng mencinta Ceng Liong dan melihat kenyataan ini, dengan hati rela dia mengundurkan diri, sesuai dengan anjuran mendiang ayahnya yang bijaksana.

 

“Locianpwe, kalau boleh saya bertanya, urusan apakah yang membuat orang-orang dari Bu-tong-pai tadi datang memusuhi sam-wi? Menurut pendengaran saya, orang-orang Bu-tong-pai biasanya adalah orang- orang yang berjiwa pendekar, maka mengherankan sekali kalau di antara sam-wi dan mereka terjadi bentrokan dan permusuhan.”

 

Dua orang pria kembar itu saling pandang dengan Hui Lan. Wajah gadis ini berubah merah sekali dan ia menundukkan mukanya. Gak Jit Kong lalu berkata dengan suara lirih setelah menarik napas panjang. “Semua itu timbul karena pibu dalam pinangan.” Dan dia pun berhenti, agaknya ragu-ragu untuk melanjutkan.

 

Sim Houw tadi sudah mendengarkan percakapan antara Bu-tong Ngo-lo dan tiga orang ini dan dia sudah menduga-duga, akan tetapi belum yakin benar dan hatinya merasa amat tertarik. “Pibu dalam pinangan? Apa artinya itu, locianpwe?”

 

Kembali Gak Jit Kong menarik napas panjang sebelum menjawab. “Sudah kurang lebih tiga tahun, semenjak datangnya lamaran-lamaran terhadap diri murid kami yang sudah mulai dewasa, kami mengadakan semacam sayembara, yaitu, calon suami murid kami haruslah seorang pendekar yang mampu mengalahkannya dan juga dari keluarga yang mampu mengalahkan kami. Kami berpendapat bahwa hanya seorang pemuda yang benar-benar lihai sajalah yang akan dapat menjadi jodoh yang cocok dan kelak dapat membahagiakan murid kami. Dan dalam pibu itu, tentu saja tak dapat dicegah jatuhnya korban di antara mereka, dan salah satu di antara korban itu adalah seorang pemuda Bu-tong-pai dan susiok-nya.”

 

Sim Houw tadi sudah melihat sikap Hui Lan yang manja dan angkuh, juga bertangan kejam, maka kini dia mengerutkan alisnya. Dua orang saudara kembar ini walau pun telah berhasil menggembleng muridnya dengan ilmu silat tinggi, namun agaknya gagal dalam mendidiknya. Dia pun menarik napas panjang, teringat kembali akan keadaan dirinya sendiri, akan tali perjodohannya yang putus.

 

“Maaf, ji-wi locianpwe. Akan tetapi, saya kira perjodohan hanya akan mendatangkan kebahagiaan kalau didasari cinta kedua pihak saja. Tanpa cinta, perjodohan itu tentu akan gagal. Kepandaian atau kedudukan tinggi, harta yang besar, tidak bisa menjamin terciptanya kerukunan dalam perjodohan. Kenapa ji-wi hendak memaksakan hal itu? Bukankah perjodohan itu baru dapat berlangsung dengan baik jika dilandasi cinta kasih dan niat dari kedua pihak saja? Maafkan kelancangan kata-kata saya, locianpwe, saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi ji-wi dan nona. Selamat tinggal, saya harus melanjutkan perjalanan saya.” Setelah berkata demikian, Sim Houw memberi hormat kepada mereka bertiga, kemudian menggunakan ilmunya untuk meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

 

Gak Jit Kong, Gak Goat Kong, dan Souw Hui Lan berdiri termangu-mangu sambil memandang ke arah perginya pemuda perkasa itu. Ucapan pemuda itu seperti masih terngiang dalam telinga mereka. Mereka lalu saling pandang dan menundukkan muka.

 

“Pemuda itu berkata benar.” Akhirnya Hui Lan berkata halus. “Perjodohan hanya dapat mendatangkan kebahagiaan kalau berlandaskan cinta kedua pihak. Ji-wi suhu dan aku telah menipu dan menyiksa diri sendiri. Untung belum muncul seorang peminang yang memiliki kepandaian seperti Sim Houw itu. Kalau sampai kita dikalahkan kemudian aku terpaksa menjadi jodoh orang lain, bukankah kita bertiga akan menderita batin semua? Suhu, kita tidak perlu menipu diri lagi, tidak perlu berpura-pura lagi…”

 

Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong saling pandang dan muka mereka berubah menjadi merah sekali, sinar mata mereka pun membayangkan kegugupan.

 

“Hui Lan, apa maksudmu…?” Gak Jit Kong bertanya lirih.

 

“Suhu berdua secara mati-matian mempertahankan diriku, dengan dalih mencarikan jodoh yang berilmu tinggi, sebenarnya menentang agar tidak ada orang yang lulus ujian atau menang sayembara. Suhu berdua tidak ingin melihat aku menjadi jodoh orang lain. Hal itu hanya berarti bahwa suhu berdua cinta kepadaku.”

 

“Hui Lan…!” Gak Goat Kong berseru.

 

“Hui Lan, tentu saja kami cinta padamu, sayang kepadamu karena engkau adalah murid tunggal kami yang kami sayang seperti anak kami sendiri,” Gak Jit Kong berseru pula.

 

“Tadinya memang begitu, tetapi cinta itu lambat laun berubah, mengalami bentuknya yang asli. Tidak perlu suhu berdua menyangkal lagi. Aku adalah seorang wanita dan naluriku membisikkan cinta kasih suhu berdua itu. Mulanya aku memang tidak berani menyangka demikian, hanya sering kali termenung dan menduga-duga. Akan tetapi sekarang, setelah muncul Sim Houw tadi, aku tahu dan aku yakin.”

 

“Hui Lan, janganlah mengira orang yang tidak-tidak! Kami adalah guru-gurumu, mana mungkin…,” kata pula Gak Goat Kong, seperti juga kakak kembarnya, mukanya tiba-tiba menjadi pucat dan matanya terbelalak.

 

“Mengapa tak mungkin? Suhu berdua adalah pria sejati, dan aku hanya seorang wanita. Dan sekarang aku makin yakin lagi bahwa aku… sebenarnya aku pun tak menghendaki menjadi isteri siapa pun juga karena aku… aku pun semenjak dahulu cinta kepada ji-wi suhu…”

 

“Hui Lan…!” Kini dua orang kembar itu berteriak secara berbareng.

 

Namun Hui Lan tidak peduli lagi. “Ya-ya-ya, aku cinta kepada ji-wi suhu. Sejak masih kecil, aku cinta kepada ji-wi suhu. Mungkin tadinya seperti cinta seorang anak terhadap orang tuanya, seperti adik terhadap kakak, seperti murid terhadap guru. Akan tetapi setelah aku dewasa… aku yakin tidak ada manusia lain di dunia ini yang akan dapat kucinta seperti aku mencinta ji-wi. Aku hanya mempunyai ji-wi di dunia ini, sebagai guru, sebagai saudara, sebagai ayah ibu, sebagai teman dan… sebagai orang yang akan kutemani selama hidupku. Aku tidak akan dapat meninggalkan ji-wi, tidak mungkin menjadi isteri orang lain, dan demikian juga perasaan ji-wi terhadap diriku. Ji-wi suhu, kenapa kita harus berpura-pura lagi, menipu dan mempermainkan diri sendiri?” Dan gadis itu kini menjatuhkan diri berlutut, menutupi mukanya dengan kedua tangan lalu menangis!

 

Dua orang kembar itu saling pandang dengan muka pucat, lalu mereka memandang ke arah Hui Lan yang berlutut dan tunduk menangis, pundaknya terguncang, isak tangis keluar dari muka yang ditutupi.

 

Dan dua orang kembar itu pun mengusap beberapa butir air mata dari pelupuk mata mereka. Hati mereka seperti dikupas dan ditelanjangi oleh murid mereka. Mereka saling pandang dan tahu bahwa semua yang dikatakan Hui Lan itu benar adanya. Dan mengertilah sekarang mereka mengapa selama ini mereka tidak mau melihat gadis lain, tidak mau memikirkan tentang perjodohan mereka.

 

Cinta mereka terhadap Hui Lan tumbuh bersama dengan tumbuhnya anak perempuan berusia empat tahun itu sampai kini Hui Lan menjadi seorang gadis dewasa berusia dua puluh tahun. Cinta mereka tumbuh dan menjadi pohon yang kokoh kuat, berakar dalam-dalam di hati mereka. Karena itu mereka takut kehilangan Hui Lan. Untuk menyatakan terus terang, mereka tentu saja merasa tidak enak hati, malu dan tidak berani.

 

Akan tetapi tanpa terlebih dahulu berunding mereka telah mengambil keputusan untuk menentang siapa saja yang mau menjadi suami Hui Lan, dengan jalan mengadakan syarat dan sayembara yang berat itu. Dan terhadap setiap orang pria yang mencoba untuk memasuki sayembara, meminang Hui Lan, timbul rasa cemburu, benci yang mendorong mereka bersikap keras mengalahkan orang-orang itu!

 

“Tapi… tapi, Hui Lan…,” Gak Jit Kong mencoba untuk membantah dengan muka pucat dan suara gemetar. “Bagaimana mungkin ini? Kata-katamu membuka rahasia yang terpendam paling dalam di lubuk hati kami… dan kami mengaku… memang kami amat mencintamu… kami tidak menghendaki kehilangan engkau kalau engkau menjadi isteri orang lain. Tapi di samping itu, kami juga melihat betapa tidak mungkinnya… bukan hanya karena engkau adalah murid kami, akan tetapi… kami adalah dua orang dan engkau…”

 

Gak Jit Kong tidak berani melanjutkan dan agaknya untuk mencari kekuatan, tanpa dia sadari, tangan kanannya mencari dan menggenggam tangan kanan adik kembarnya. Dan tangan yang saling genggam itu seolah-olah saling mencari bantuan dan mereka pun menggigil.

 

Sejenak Hui Lan masih sesenggukan, kemudian ia mengeraskan hatinya dan mengusap air matanya. Ketika ia melepaskan kedua tangan dan mengangkat muka memandang kepada suhu-suhu-nya, wajahnya juga nampak pucat dan kedua matanya merah basah.

 

“Ji-wi suhu, aku kini berpegang pada ucapan Sim Houw tadi. Bahwa perjodohan harus berlandaskan cinta kasih antara kedua pihak. Kalau ada cinta kasih antara kedua pihak, apa lagi yang tidak mungkin? Kita saling mencinta, hal ini kita sudah sama merasa yakin akan kebenarannya. Dan tentang ji-wi berdua, bagiku hanya merupakan dua tubuh akan tetapi dengan hati, pikiran dan perasaan yang satu. Bagiku, ji-wi bukanlah berdua, melainkan satu. Tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Dan aku… aku hanya akan dapat hidup berbahagia kalau berada di antara ji-wi, kalau selalu berdekatan dengan ji-wi.”

 

Dua orang kembar itu saling pandang dengan dua tangan kanan masih saling genggam. “Akan tetapi… kita… akan menjadi… bahan tertawaan dan pergunjingan orang…”

 

Melihat betapa dua orang suhu-nya itu kini hanya mencari alasan yang lemah saja, Hui Lan tersenyum melalui air matanya. Ia lalu bangkit berdiri, dengan lembut memegang dua tangan yang saling genggam itu, melepaskan genggaman mereka, dan kemudian ia menggandeng tangan kedua orang suhu-nya, Gak Jit Kong di sebelah kanannya dan Gak Goat Kong di sebelah kirinya, lalu ia mengajak dua orang itu berjalan perlahan.

 

“Marilah kita pulang, suhu. Omongan orang lain… ada sangkut-paut apakah dengan kehidupan kita? Kita sendirilah yang tahu bagaimana seharusnya dan sebaiknya bagi kehidupan kita sendiri, bukan? Marilah kita bicarakan hal penting ini di rumah. Mulai sekarang kita tidak boleh menerima pinangan orang lain lagi. Aku akan mengatakan bahwa sekarang aku telah memperoleh jodoh, dan bahwa aku adalah calon isteri suhu berdua.”

 

Dua orang pria kembar itu masih termangu-mangu, akan tetapi senyum kebahagiaan mulai mekar di mulut mereka. Kini mereka tahu bahwa inilah yang selama ini mereka cari dan harapkan, yaitu hidup bersama Hui Lan, bertiga, tak pernah berpisah lagi. Inilah yang membuat mereka kadang-kadang gelisah di tengah malam, membuat mereka menjadi pemarah dan pembenci orang yang datang melamar, membuat mereka bahkan kejam melukai dan membunuh orang. Kini seolah-olah ganjalan yang selama bertahun-tahun menindih batin mereka telah dilepaskan dan mereka merasa dada mereka begitu lapang, begitu ringan, begitu bahagia!

 

“Engkau benar, Hui Lan. Dengan bertiga, kita sanggup menghadapi apa pun juga,” kata Jit Kong. “Kita akan pergi menghadap ayah ibu, kita harus berterus terang,” kata pula Goat Kong.

 

Sejenak kemudian, dengan hati-hati Jit Kong berkata lagi, “Hui Lan, benarkah hatimu sudah yakin?

 

Hui Lan menoleh ke kanan, pandang matanya memancarkan ketulusan hati. “Aku yakin benar, apakah suhu masih belum yakin seperti aku?”

 

“Aku… kami sudah yakin sekali tentang cinta kasih antara kita, dan ketulusan hatimu, kebulatan tekadmu, membuat kami berani dan bersemangat. Hanya ada satu hal yang masih meragukan kami…”

 

Hui Lan membelalakkan matanya dan menoleh ke kiri, melihat betapa Gak Goat Kong juga mengangguk- angguk membenarkan kata-kata kakak kembarnya. “Ji-wi masih ragu lagi? Apa lagi yang diragukan?”

 

“Hui Lan, kami berdua adalah laki-laki yang tidak muda lagi. Kami berusia empat puluh tahun sedangkan engkau… engkau baru dua puluh tahun, pantas menjadi anak kami…”

 

“Suhu!” Hui Lan berseru penuh rasa penasaran. “Cinta kasih tidak memandang umur, tidak memandang kepandaian, kedudukan atau harta. Cinta kasih adalah urusan hati kedua pihak. Umur tidak masuk hitungan.”

 

Jawaban ini agaknya melegakan hati dua orang pria kembar itu. Mereka bergandeng tangan dengan wajah berseri-seri, menuju ke pondok mereka untuk membicarakan urusan mereka itu dengan lebih mendalam lagi.

 

Cinta kasih adalah sesuatu yang ajaib, penuh rahasia. Tidak mungkin menggambarkan bahwa cinta kasih itu begini, atau begitu. Tidak dapat dirumuskan. Tidak dapat menilai cinta kasih seseorang. Hanya orang itu sendiri yang dapat merasakannya. Cinta kasih yang hinggap di hati manusia adalah cinta kasih yang tak terpisahkan dari nafsu birahi.

 

Tidak dapat disangkal pula bahwa cinta kasih antara pria dan wanita mengandung kemesraan sexuil, suatu hal yang wajar karena daya tarik alami antara keduanya ini amat dibutuhkan sebagai sarana pembiakan. Karena tidak terpisahkan dari nafsu birahi yang membutuhkan kemesraan, maka di dalam cinta kasih yang biasa disebut asmara ini terdapat pula cemburu, terdapat pula perasaan ingin memberi, ingin diberi, mencinta dan dicinta, ingin menguasai dan dikuasai, memonopoli dan dimonopoli, serta ada pula perasaan iba, dan kesemuanya ini tentu saja menimbulkan tawa dan tangis, puas dan kecewa, juga penderitaan batin.

 

Anehnya, penderitaan cinta kasih kadang-kadang terasa seperti indah, kadang-kadang malah yang paling buruk, dan agaknya hidup menjadi hampa tanpa adanya cinta, yang sesungguhnya adalah cinta birahi, yang sesungguhnya hanya pelarian manusia karena takut akan kekosongan hati, takut akan kesepian, takut akan kehilangan pegangan, takut karena merasa hidup tidak ada artinya, maka ingin mengisinya dengan cinta birahi. Juga karena dorongan naluri badaniah.

 

Perasaan dua saudara kembar Gak itu tumbuh dari rasa iba terhadap seorang anak perempuan cilik, berusia empat tahun yang hidup sebatang kara. Rasa iba ini menjadi rasa sayang karena anak itu amat menyenangkan hati, berbakat baik dalam ilmu silat dan menjadi penawar rasa kesepian mereka, mengikatkan mereka karena mereka merasa mempunyai seseorang yang patut disayang. Rasa sayang terhadap seorang anak kecil!

 

Akan tetapi karena anak kecil itu adalah anak perempuan, pada saat anak itu tumbuh menjadi semakin besar, rasa sayang itu pun bertumbuh dan berubah, terdorong oleh naluri badani, oleh nafsu birahi yang ditekan-tekan. Ikatan di batin menjadi semakin kuat dan dua orang itu tidak berani lagi menghadapi kenyataan bahwa mereka akan saling berpisah kalau anak itu menjadi dewasa dan menjadi isteri orang lain. Rasa sayang menjadi bertambah besar dan berubah menjadi cinta seorang pria terhadap seorang wanita.

 

Cinta asmara tak dapat disangkal lagi mengandung nafsu birahi, namun cinta bukanlah nafsu birahi semata! Karena cinta asmara sarat dengan Im dan Yang, penuh dengan hawa-hawa yang saling bertentangan, maka dapat melahirkan tawa, atau suka dan duka, puas dan kecewa. Dapat menimbulkan cemburu, iri, dengki, dendam dan benci. Dapat pula menimbulkan iba, mesra, sabar, toleransi dan kesetiaan!

 

Betapa pun juga, dapat kita lihat bahwa cinta asmara memegang peran terpenting, bahkan menguasai kehidupan seluruh manusia di permukaan bumi ini! Bayangkan saja apa akan jadinya kalau hidup ini tanpa cinta asmara! Dunia akan terasa lengang, dan hubungan antara pria dan wanita, hubungan yang menjadi jaminan perkembang biakan manusia, akan tidak ada artinya sama sekali, seperti hubungan antara binatang. Karena itu, hubungan sexuil baru dapat dianggap sebagai suatu hal yang suci kalau di situ disertai dua buah hati yang saling mencinta! Bukan sekedar dua hati yang dibuai oleh nafsu birahi semata.

 

Cinta asmara yang tumbuh dalam hati Hui Lan juga merupakan hal yang tidak terlalu aneh. Semenjak berusia empat tahun, anak ini hidup bersama Beng-san Siang-eng. Dia terhindar dari mala petaka, melihat bagaimana keluarganya terbasmi dan betapa dirinya diselamatkan oleh dua orang pria itu. Ia hidup dan tumbuh bersama dua orang pria yang amat menyayangnya.

 

Kedua orang pria itu merupakan guru-gurunya, juga pengganti orang tuanya, sahabat-sahabatnya, dan hal ini menggugah perasaan kewanitaannya yang halus, yang selalu haus akan kasih sayang, yang ingin dimanja, yang ingin dikuasai. Semua ini didapatinya dalam diri dua orang pria itu, maka tidaklah aneh kalau lambat laun ia jatuh cinta kepada dua orang gurunya yang dianggap sebagai satu orang dengan dua tubuh itu. Mungkin juga keadaan yang sangat istimewa, menjadi isteri dari dua orang yang serupa badan dan batinnya, keanehan dan hal yang tak akan dirasakan wanita lain, menggugah pula rasa ingin tahunya, menggugah gairahnya dan yang seumur hidupnya akan dijadikan sumber kebanggaannya…..

 

—  —

 

Pagi itu matahari bersinar cerah sekali, tanpa adanya pengganggu berupa awan di satu di antara puncak- puncak Pegunungan Thai-san. Puncak yang ini amat sunyi, bahkan dianggap sebagai tempat yang gawat dan amat berbahaya oleh para pemburu binatang sehingga sudah bertahun-tahun lamanya tak ada pemburu yang berani mendaki puncak ini. Puncak yang pada akhir-akhir ini dikenal sebagai puncak maut karena banyak sudah para pemburu yang kedapatan tewas dan mayat-mayat mereka dilempar ke bawah puncak.

 

Menurut kepercayaan para pemburu dan juga para penghuni dusun-dusun di sekitar Pegunungan Thai- san, puncak itu kini dihuni oleh iblis-iblis jahat dan binatang-binatang buas yang amat kuat. Akan tetapi, orang-orang kang-ouw dapat menduga bahwa di puncak itu tentu tinggal datuk-datuk sesat yang berilmu tinggi dan yang menganggap puncak itu sebagai miliknya serta tidak mau diganggu orang lain.

 

Dugaan para ahli silat di dunia kang-ouw yang tidak mudah percaya akan cerita-cerita tahyul ini memang tepat sekali. Puncak itu menjadi tempat pertapaan Sam Kwi dan dua orang muridnya. Sejak murid pertama mereka, yaitu Ciong Siu Kwi yang berjuluk Bi-kwi (Iblis Cantik), pulang dengan laporan yang amat mengecewakan bahwa murid pertama yang amat diandalkan itu kalah oleh Pendekar Suling Naga, tiga orang kakek itu merasa prihatin sekali.

 

Mereka telah mewariskan semua ilmu mereka yang paling tinggi kepada Bi-kwi, dan gadis yang boleh dikatakan memiliki bakat yang besar itu kini boleh dibilang tidak kalah lihai dibandingkan dengan mereka. Akan tetapi, Bi-kwi kalah jauh, demikian menurut pelaporan murid itu. Bi-kwi merengek kepada tiga orang kekasihnya itu agar mereka suka mengajarkan ilmu baru yang lebih hebat supaya kelak ia dapat mencari Pendekar Suling Naga untuk membalas kekalahannya dan merampas pusaka Suling Naga.

 

Tiga orang kakek itu menghela napas kehabisan akal dan Im-kan-kwi atau Iblis Akhirat itu berkata, “Bi-kwi, ilmu apa lagi yang dapat kami ajarkan kepadamu? Raja Iblis Hitam sudah menurunkan Hek-wan Sip-pat- ciang kepadamu, ilmunya yang paling akhir. Aku sendiri sudah mengajarkan Toat-beng Hui-to, golok terbang pencabut nyawa itu, dan Iblis Mayat Hidup sudah mengajarkan Hun-kin Tok-ciang yang hebat itu. Kalau dengan ilmu-ilmu itu kau masih kalah, lalu ilmu apa lagi yang dapat kau pelajari?”

 

“Tentu saja aku tidak sempat mempergunakan semua ilmu itu satu demi satu. Akan tetapi  dia sungguh  lihai, Suhu. Biar dibantu Tee Kok dan dua puluh orang lebih anak buahnya, aku tidak mampu mengalahkannya, bahkan hampir saja celaka di tangannya. Dia lihai sekali. Pusaka suling naga itu dapat menjadi pedang yang mengeluarkan suara mengaum dan juga suara suling itu melengking-lengking mengandung tenaga khikang yang amat kuat,” keluh Bi-kwi.

 

Ketiga orang kakek iblis itu merasa penasaran sekali. Tadinya mereka beranggapan bahwa murid dan kekasih mereka itu merupakan orang yang paling lihai dan tidak akan terkalahkan. Karena itulah maka mereka percaya kepada Bi-kwi untuk melaksanakan tugas berat, yaitu mencari dan menandingi Pendekar Super Sakti dan mencari susiok mereka Pek-bin Lo-sian untuk merampas pusaka Suling Naga. Namun siapa sangka, murid yang dipercaya dan diandalkan ini lalu pulang sambil mengomel, menceritakan kekalahannya terhadap orang yang kini menguasai Siauw-liong-kiam!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo