October 3, 2017

Suling Naga Part 25

 

Tadi sebagai pengganti Hong Beng yang menolaknya ia mengajak Thian Kek Sengjin ke dalam kamarnya. Tetapi ia sama sekali tidak memperoleh kepuasan atau kesenangan bersama tosu ini, bahkan ia merasa muak dan akhirnya ia menyuruh tosu itu pindah ke kamarnya sendiri dengan alasan bahwa kepalanya pusing dan ia mau istirahat dan tidur sendiri.

Dengan sikap penuh kemenangan Thian Kek Sengjin lalu meninggalkan kamar nyonya rumah itu, tidak merasa bahwa sebenarnya dia telah diusir oleh wanita cantik itu karena sikap Sin-kiam Mo-li yang halus. Setelah tosu itu pergi, Sin-kiam Mo-li gelisah tidak mampu pulas karena ia masih teringat kepada Hong Beng dan merasa penasaran.

Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan keluar dari kamarnya, memasuki lorong bawah tanah dan ia mendengar ucapan terakhir dari muridnya. Tentu saja ia marah sekali melihat muridnya berada di situ dan bercakap- cakap dengan tawanannya, apa lagi mendengar ucapan terakhir muridnya yang menyatakan ingin mencuri kunci kamar tahanan itu.

Akan tetapi, Hong Li menghadapi subo-nya dan sinar mata anak ini sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut. Ia menentang mata subo-nya yang mencorong itu dengan membuka matanya lebar-lebar penuh rasa penasaran.

“Subo, kenapa subo menangkap suheng-ku? Suheng Gu Hong Beng ini adalah murid dari pamanku, dan dia datang ke sini karena hendak mencari aku yang hilang diculik orang. Subo harus membebaskan dia agar dapat melapor kepada ayah ibuku bahwa aku berada dalam keadaan selamat dan menjadi murid subo di sini!”

Sin-kiam Mo-li memandang dengan muka merah. Dalam keadaan biasa, tentu ia pun merasa kagum melihat keberanian muridnya. Akan tetapi ia sedang kecewa dan marah karena penolakan Hong Beng, maka kini ia menjadi marah sekali.

“Bocah setan! Engkau malah hendak membela musuh? Dia melanggar daerahku tanpa ijin, bahkan telah menentang orang-orangku. Dan engkau malah hendak mencuri kunci membebaskannya. Anak tak mengenal budi kau!”

Tiba-tiba tangannya menyambar dan biar pun Hong Li berusaha mengelak, tahu-tahu lengannya telah dapat ditangkap dan Sin-kiam Mo-li menyeretnya dan melemparkannya ke dalam kamar tahanan kosong di sebelah kamar tahanan Hong Beng itu, kemudian mengunci pintunya dari luar.

“Nah, kalau engkau berpihak kepada musuh, berarti engkau memusuhi aku dan menjadi anak angkat dan murid yang durhaka dan murtad. Biarlah engkau merasakan hukuman selama beberapa hari di situ!” Setelah berkata demikian, Sin-kiam Mo-li meninggalkan lorong itu. Keinginannya untuk kembali membujuk Hong Beng telah menjadi hilang oleh kemarahannya terhadap Hong Li.

“Ahh, sungguh celaka. Aku tidak mampu menolongmu, bahkan aku yang membuatmu dimarahi subo-mu dan sekarang engkau pun ditangkap dan dihukum,” kata Hong Beng dengan hati menyesal bukan main.

Bagaimana dia tidak akan menyesal? Tadinya, biar pun menjadi murid iblis betina, Hong Li hidup bebas dan gembira. Setelah dia datang dengan usahanya membebaskan Hong Li, dia sendiri tertangkap dan gadis cilik ini ditawan pula karena dia!

“Sudahlah, suheng tidak perlu menyesal dan mengeluh. Aku malah ingin melihat apa yang akan dilakukan subo terhadap diriku, supaya aku memperoleh keyakinan orang macam apa adanya subo dan bagaimana perasaan hatinya terhadap diriku.”

“Hemm, engkau tidak tahu, sumoi. Subo-mu itu adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nionio, seorang di antara tokoh-tokoh pemberontak jahat yang tewas di tangan para pendekar termasuk keturunan

Pulau Es dan Gurun Pasir! Kurasa ia tak bermaksud baik terhadap dirimu, karena ia adalah musuh besar dari para pendekar.”

“Akan tetapi buktinya ia selalu bersikap baik kepadaku, dan baru sekarang ia marah kepadaku. Hal ini pun karena kesalahanku sendiri. Biarlah, aku akan melihat bagaimana sikapnya selanjutnya.”

Dan anak yang berhati tabah sekali ini lalu dengan tenang saja merebahkan diri di atas lantai dingin dan memejamkan matanya! Melihat ini, Hong Beng semakin kagum. Dia pun lalu duduk bersila untuk bersemedhi, mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun juga…..

********************

“Sin-kiam Mo-li…! Aku Bi-kwi murid Sam Kwi datang berkunjung. Keluarlah dan temui aku karena aku tidak ingin melanggar daerahmu!”

Wanita itu adalah Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi, wanita yang cantik. Berbeda dari hari-hari kemarin semenjak ia menjadi isteri Yo Jin, kini ia kembali seperti sebelum itu, seperti pada saat ia masih menjadi Bi-kwi yang sesat dan jahat. Kini ia mengenakan pakaian mewah sehingga membuat dirinya semakin cantik, apa lagi ia menambah pemerah bibir dan pipi, juga penghitam alis. Sebatang pedang tergantung di punggungnya.

Ini merupakan siasat yang telah diaturnya bersama Sim Houw dan Bi Lan. Untuk dapat mendekati Sin-kiam Mo-li dan menyelidiki apakah puteri keluarga Kao benar berada di situ, ia harus kembali menjadi Bi kwi murid Sam Kwi yang jahat, seorang tokoh dunia sesat yang ditakuti orang.

Sekarang ia berdiri di luar hutan pertama dari daerah tempat tinggal Sin-kiam Mo-li dan beberapa kali ia mengeluarkan seruan itu dengan teriakan melengking nyaring karena didorong oleh tenaga khikang. Ia harus pandai bersandiwara, apa lagi di tempat itu terdapat para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang pernah bermusuhan dengannya karena ia membela Yo Jin.

Baru tiga kali ia mengulangi teriakannya, muncullah seorang gadis berpakaian serba hitam yang berwajah manis dan bersikap genit. Gadis ini adalah Hek Nio, seorang di antara tiga gadis pelayan Sin-kiam Mo-li. Ia diberi tugas untuk turun menyambut tamu itu.

Ketika Sin-kiam Mo-li mendengar suara itu, ia teringat bahwa mendiang ibu angkatnya memang bekerja sama dengan Sam Kwi, tiga orang datuk sesat yang terkenal. Karena nama Bi-kwi juga sudah sangat terkenal di dunia kaum sesat, maka Sin-kiam Mo-li menganggapnya sebagai teman segolongan dan ia pun mengutus Hek Nio untuk keluar menyambut, sedangkan Ang Nio dan Pek Nio sibuk bekerja di dapur setelah mereka bertiga semalam suntuk melayani tujuh orang tosu yang tak mengenal lelah itu.

Melihat munculnya Hek Nio, Bi-kwi cepat maju menghampiri dan memberi hormat yang dibalas Hek Nio dengan hormat pula karena pelayan ini pun sudah pernah mendengar akan nama Bi-kwi yang lihai. Ia belum pernah bertemu dengan Bi-kwi, juga majikannya belum, akan tetapi tadi ia telah diberi tahu akan ciri- ciri Bi-kwi oleh Sin-kiam Mo-li yang sudah mendengar pula tentang keadaan diri Bi -kwi.

“Benarkah saya berhadapan dengan Setan Cantik (Bi-kwi) Ciong Siu Kwi?” Hek Nio berkata, sikapnya tetap menghormat.

“Benar, akan tetapi aku ingin bertemu dengan Sin-kiam Mo-li sendiri, bukan orang lain,” kata Bi-kwi hati- hati. Dia sengaja memperlihatkan sikap angkuh, seperti sikapnya dahulu sebelum ia menjadi nyonya Yo Jin.

Hek Nio menjura. “Maafkan, saya adalah pelayan bernama Hek Nio yang diutus oleh majikan saya untuk menyambut tamu. Akan tetapi, bagaimana saya dapat yakin bahwa engkau adalah benar Bi-kwi Ciong Siu Kwi? Kata majikan saya, kalau bukan Bi-kwi yang sesungguhnya, tidak boleh masuk.”

“Huh, apakah Sin-kiam Mo-li begitu bodoh sehingga tidak mengenal mana orang asli dan mana palsu? Mau bukti? Nah, inilah buktinya!”

Tiba-tiba saja, secepat kilat menyambar, tubuh Bi-kwi sudah bergerak ke depan, akan tetapi yang meluncur maju hanya tangannya saja, sedangkan tubuhnya tetap di tempat. Jarak antara ia dan pelayan itu ada satu setengah meter, tetapi lengannya dapat mulur dan tahu-tahu tangan itu telah mencengkeram tengkuk pelayan itu dan mengangkatnya lalu melemparkannya ke atas!

Tentu saja Hek Nio terkejut setengah mati. Ia pun seorang yang sudah memperoleh latihan yang cukup lihai. Pada saat tangan Bi-kwi tadi bergerak ke depan, ia membuat perhitungan bahwa tangan itu tidak akan mencapai dirinya. Akan tetapi siapa kira bahwa lengan itu dapat mulur dan tahu-tahu tengkuknya ditangkap dan tubuhnya dilempar ke atas. Ia segera berjungkir balik dan dapat turun lagi di atas tanah dengan baik sehingga Bi-kwi mengangguk-angguk.

“Pelayan Sin-kiam Mo-li boleh juga!” katanya.

Kini Hek Nio tidak berani main-main lagi. Semua tanda-tanda yang diberikan majikannya memang cocok dengan keadaan tamu ini. Maka dia pun memberi hormat lagi sambil berkata, “Marilah, toanio. Majikan kami telah menanti di ruangan tamu,” katanya sambil membalikkan tubuh dan melangkah ke depan.

Bi-kwi tersenyum mendengar dirinya disebut nyonya besar, dan ia pun mengikuti Hek Nio, akan tetapi dengan hati-hati dan menjaga agar ia selalu menginjak tanah bekas injakan pelayan itu. Di sepanjang perjalanan ini ia membuat cacatan dalam hatinya agar hafal akan jalan-jalan di tempat penuh rahasia itu. Karena ia memang seorang yang amat cerdik, ia sudah dapat membuat peta di dalam ingatannya, dan tahulah ia bahwa rahasia tempat itu berdasarkan hitungan pat-kwa sehingga lebih mudah untuk mengenal rahasianya.

Ketika ia dibawa masuk ke dalam rumah sampai ke ruangan tamu, di situ telah menanti Sin-kiam Mo-li dan tujuh orang tosu. Dua di antara mereka amat dikenalnya, yaitu Ok Cin Cu tokoh Pat-kwa-pai dan Thian Kek Sengjin tokoh Pek-lian-pai!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Bi-kwi pernah bentrok dengan dua orang tosu ini ketika memperebutkan Yo Jin yang ditawan oleh dua tosu itu. Dengan sikap tenang, senyum manis di mulut, Bi- kwi berjalan memasuki ruangan tamu dan langsung saja ia menghampiri Sin-kiam Mo-li yang duduk tegak dengan sikap angkuh. Pandang matanya tajam penuh selidik mengamati wajah Bi-kwi yang cantik.

Bi-kwi segera menjura ke arah Sin-kiam Mo-li dan berkata dengan sikap ramah sekali, “Benarkah aku berhadapan dengan Sin-kiam Mo-li yang terkenal itu? Sungguh sangat mengagumkan, ternyata lebih cantik dari pada yang pernah kudengar!”

Senang juga hati Sin-kiam Mo-li mendapatkan pujian ini dan ia pun bangkit berdiri, mempersilakan duduk sambil berkata, “Kiranya engkau yang berjuluk Bi-kwi? Memang julukan yang pantas, engkau cantik dan engkau cerdik, tentu juga pandai seperti setan!”

Bi-kwi tertawa. “Aih, Sin-kiam Mo-li sungguh pandai memuji, membikin aku merasa malu saja.”

“Siancai…! Murid tercinta dari Sam Kwi tentu saja pandai!” tiba-tiba Thian Kong Cinjin, wakil ketua Pat-kwa- pai berkata sambil tertawa. “Sebelum mati, tentu ketiga Sam Kwi juga telah mewariskan semua ilmu kepandaiannya kepada murid mereka yang sangat tercinta!”

Kakek ini memberi penekanan kepada kata ‘tercinta’ dan para tosu yang berada di situ tertawa, karena mereka semua sudah mendengar bahwa selain menjadi murid Sam Kwi, Bi-kwi juga menjadi kekasih mereka. Akan tetapi hal seperti ini dianggap tidak aneh oleh kaum sesat, maka dengan sikap enak saja, tanpa malu-malu atau kikuk, Bi-kwi menatap wajah kakek itu dengan tersenyum mengejek.

“Apa salahnya? Kalau kedua pihak sudah saling setuju, cinta boleh dimainkan oleh siapa saja, bukan? Tidak benar demikiankah, Mo-li?”

“Hi-hi-hik, sekali ini Thian Kong Cinjin termakan pertanyaannya sendiri yang usil,” kata Sin-kiam Mo-li, senang dan merasa cocok dengan Bi-kwi.

“Akan tetapi nanti dulu! Jangan kita terlalu percaya kepada wanita ini!” Tiba-tiba Ok Cin Cu berkata dengan lantang sambil bangkit berdiri dari bangkunya, memandang kepada Bi-kwi.

“Harap kalian semua ketahui bahwa pinto berdua Thian Kek Sengjin, pernah bentrok dengan Bi-kwi, dan dalam bentrokan itu, dia bekerja sama dengan seorang pendekar! Jangan-jangan kedatangannya ini adalah sebagai mata-mata dari para pendekar yang mengutusnya!”

Semua orang terkejut dan Sin-kiam Mo-li juga bangkit, meraba gagang pedang di punggungnya sambil memandang kepada Bi-kwi dan membentak, “Keparat! Benarkah itu, Bi-kwi?”

Bi-kwi memang sudah memperhitungkan serangan yang datang dari dua orang tosu itu sebelum ia datang ke tempat ini, maka ia pun bersikap tenang saja, malah tersenyum mengejek tanpa bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, kemudian menghadapi Sin-kiam Mo-li.

“Tidak kusangkal bahwa memang pernah aku bentrok dengan dua orang tua bangka tak tahu malu ini, akan tetapi sayang tosu Ok Cin Cu yang terhormat ini sama sekali tidak menceritakan sebab bentrokan. Nah, Mo-li, aku mau bercerita, dan dua orang tosu tua bangka boleh mendengarkan dan membantah kalau ceritaku behong.”

Sin-kiam Mo-li mulai bimbang dan kecurigaannya menipis melihat sikap Bi-kwi yang demikian tenang. Orang yang mengandung niat buruk tidak mungkin dapat setenang itu. “Ceritakanlah sebenarnya!”

“Begini, Mo-li. Pada suatu hari aku mendapatkan seorang kekasih baru yang sangat kucinta. Akan tetapi pemuda kekasihku itu karena suatu percekcokan, telah ditawan orang yang dibantu oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin! Nah, karena aku harus membebaskan kekasihku itu, maka terjadi bentrok antara aku dan mereka berdua sehingga terjadi perkelahian. Engkau tentu tahu sendiri bagaimana sakitnya rasa hati kalau kekasih diganggu orang, Mo-li. Apakah engkau pun tidak akan menjadi marah kalau kekasihmu yang baru saja kau peroleh dan sangat kau cinta, diganggu orang?”

Sin-kiam Mo-li mengangguk-angguk membenarkan. “Akan tetapi, bagaimana kau dapat bekerja sama dengan orang dari golongan pendekar? Benarkah itu?”

“Itu pun ada ceritanya. Biar Ok Cin Cu melanjutkan keterangannya yang bermaksud melemparkan fitnah tadi. Ok Cin Cu, siapakah pendekar yang kau maksudkan bekerja sama dengan aku itu?”

“Ha-ha-ha, jangan pura-pura menyangkal, manis. Dia adalah Pendekar Suling Naga!” “Ahhhh…!”
Sin-kiam Mo-li terkejut karena dia pun sudah mendengar akan kehebatan pendekar ini yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi. Dengan alis berkerut dan mata mengandung kecurigaan ia memandang kembali kepada Bi-kwi.

“Benarkah engkau telah bekerja sama dengan Pendekar Suling Naga dalam bentrokan melawan kedua orang totiang ini, Bi-kwi?”

Bi-kwi masih tetap tenang dan tersenyum simpul mengandung ejekan kepada dua orang tosu itu.

“Tidak kusangkal, tapi hal itu pun ada penjelasannya. Biarlah kulanjutkan ceritaku, Mo-li, dan juga para totiang yang lain agar mendengarkan dan mempertimbangkan secara adil…”

Bi-kwi berhenti sebentar, dan kepada para tosu yang hadir dia memandang bergantian dengan sinar mata bercahaya terang dan senyuman manis sehingga di luar kesadaran mereka, para tosu yang terpesona oleh kecantikan wanita ini mengangguk.

“Sudah kuceritakan tadi betapa kekasih baruku ditawan oleh mereka berdua. Aku lalu berusaha untuk membebaskan kekasihku itu sehingga terjadi bentrokan di antara kami. Kemudian, Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin menemui aku dan mengajukan usul, yaitu Thian Kek Sengjin minta kepadaku untuk membantu mereka berdua untuk menyerang dan melawan seorang pendekar keluarga Pulau Es yang bernama Suma Ciang Bun. Dan aku sudah memenuhi permintaan itu sampai akhirnya kami bertiga berhasil melukai pendekar itu sehingga ia melarikan diri. Hei, Thian Kek Sengjin, tidak benarkah ceritaku ini? Tidak benarkah bahwa aku telah membantu kalian menyerang Suma Ciang Bun dan melukainya?”

Thian Kek Sengjin tidak dapat membantah dan dia pun mengangguk. “Nah, begitu baru laki-laki jujur,” kata Bi-kwi.

Ceritanya bahwa ia membantu mereka mengalahkan pendekar keluarga Pulau Es telah mendatangkan kesan baik dalam hati Sin-kiam Mo-li.

“Selain Thian Kek Sengjin, juga Ok Cin Cu minta kepadaku untuk mau melayani nafsu birahinya semalam suntuk. Kalau aku memenuhi kedua permintaan itu, barulah mereka akan membebaskan kekasihku itu. Dan permintaan Ok Cin Cu itu pun telah kupenuhi dengan hati rela. Hei, Ok Cin Cu, bukankah aku telah melayani dan tidur bersamamu selama semalam suntuk?”

Ok Cin Cu bersungut-sungut. “Tidak ada bedanya tidur ditemani sesosok mayat!”

“Tentu saja, aku tidak cinta padamu dan hatiku sedang kesal karena kalian menawan kekasihku, mana mungkin aku bersikap hangat?” Bi-kwi tertawa dan Sin-kiam Mo-li juga tersenyum.

Melihat bentuk tubuh Ok Cin Cu yang perutnya gendut sekali itu, mukanya pucat kuning dan rambutnya yang putih riap-riapan, wanita mana yang akan timbul seleranya ketika berdekatan dengan dia?

“Nah, aku telah memenuhi permintaan mereka berdua, membantu mereka mengalahkan keluarga pendekar Pulau Es dan melayani Ok Cin Cu semalam suntuk, akan tetapi apa yang mereka lakukan? Mereka tidak mau membebaskan kekasihku, bahkan menyerang dan hendak membunuh aku!”

“Hemmm…!” Sin-kiam Mo-li melirik ke arah kedua orang tosu itu yang diam saja tak dapat membantah.

“Karena aku tidak mampu mengalahkan pengeroyokan mereka dan juga tidak berhasil membebaskan kekasihku, aku berduka sekali. Kebetulan saat itu aku bertemu dengan sumoi-ku, murid ke dua dari Sam Kwi yaitu Siauw-kwi. Nah, pada waktu itu Siauw-kwi sedang berpacaran dengan Pendekar Suling Naga. Mendengar kesulitanku ini, sumoi Siauw-kwi lalu membantuku dan pacarnya, yaitu Pendekar Suling Naga, membantu pula sehingga akhirnya aku berhasil membebaskan kekasih baruku itu. Nah, apakah hal itu berarti aku bekerja sama dengan seorang pendekar untuk menentang kedua orang tosu ini? Pertemuanku dengan dia hanya kebetulan saja dan pendekar itu tidak membantuku, melainkan membantu sumoi-ku Siauw-kwi yang menjadi pacarnya.”

Sin-kiam Mo-li menarik napas lega, lalu menoleh kepada Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin. “Benarkah keterangannya itu, ji-wi totiang?”

“Benar, akan tetapi sumoi-nya yang berjuluk Siauw-kwi dan bernama Can Bi Lan itu sudah bergabung dengan para pendekar!” kata Ok Cin Cu, masih bersungut-sungut karena diam-diam dia merasa jengkel bila mengenang betapa wanita cantik ini pernah melayaninya dengan dingin seperti mayat.

“Memang ada perbedaan antara aku dengan Siauw-kwi. Dia condong bekerja sama dengan para pendekar karena dia tergila-gila kepada Pendekar Suling Naga, bahkan ketika terjadi pertempuran antara kelompok yang dipimpin oleh Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio, dengan kelompok para pendekar, ia pun membantu para pendekar, bahkan bentrok dan berkelahi dengan aku sendiri! Akan tetapi, ketika ia melihat aku berduka karena kehilangan kekasih baruku, ia kemudian membantu dan karena aku ingin sekali mendapatkan kekasihku yang tertawan, tentu saja bantuannya kuterima. Harapanku untuk menyelamatkan kekasihku habis ketika dua orang tosu ini melanggar janji dan menipuku!”

Sin-kiam Mo-li percaya akan keterangan Bi-kwi karena dua orang tosu itu sama sekali tidak membantah. Akan tetapi, hatinya masih merasa tidak senang mendengar betapa Bi-kwi pernah dibantu oleh Pendekar Suling Naga, musuh besarnya karena di dalam pertempuran itu, yang membunuh ibu angkatnya, Kim Hwa Nionio, adalah Pendekar Suling Naga itulah!

“Bi-kwi, apakah semenjak itu engkau tidak pernah lagi berhubungan dengan Pendekar Suling Naga?”

“Huh, untuk apa berhubungan dengan dia? Bertemu pun aku tidak pernah! Sebelum dia membantu Siauw- kwi yang membantuku, pendekar itu dan semua temannya adalah musuh-musuh besarku. Sampai sekarang pun, para pendekar adalah musuh besarku!”

“Ha-ha-ha, pendekar mana, Bi-kwi? Coba sebutkan!” kata Thian Kek Sengjin.

“Tosu bau, pendekar mana lagi kalau bukan keturunan keluarga Pulau Es? Engkau kan telah melihat dengan kedua matamu sendiri betapa aku membantu kalian mengalahkan dan melukai Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es!”

Sikap Bi-kwi yang amat membenci Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin ini memang tidak mengherankan yang lain karena tentu Bi-kwi masih mendendam oleh pelanggaran janji dan penipuan itu.

“Bi-kwi, siapakah kekasihmu itu dan di mana dia sekarang?” Sin-kiam Mo-li bertanya, tertarik melihat betapa seorang seperti Bi-kwi yang terkenal mempunyai kesukaan yang sama dengannya, dapat membela seorang kekasih seperti itu.

Bi-kwi tersenyum lebar. “Aihhh, Mo-li, seperti tidak tahu saja. Mana aku dapat tahan bersama seorang kekasih lebih dari tiga bulan? Aku sudah bosan dan sudah lama dia kusingkirkan.”

Kemudian, agar tidak harus melalui ujian dengan pria lain, apa lagi dengan tosu-tosu buruk di situ yang memandang kepadanya seperti segerombolan bandot melihat rumput muda, ia pun menyambung, “Terus terang saja, Mo-li, sudah beberapa lamanya aku menjauhkan diri dari laki-laki. Aku sudah muak dengan mereka dan sebagai gantinya, aku lebih mendekatkan diriku dengan sesama wanita.”

“Ehhh…?!” Sin-kiam Mo-li membelalakkan matanya memandang rekannya itu. “Apa… apa maksudmu?”

Terdengar Ok Cin Cu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, pantas saja ketika melayani aku, kau begitu dingin! Tidak tahunya kau sudah mengubah kesukaanmu, Bi-kwi. Mo-li, agaknya dalam hal kesenangan dunia, biar pun engkau lebih lihai dari Bi-kwi, akan tetapi kalah pengalaman. Sekarang Bi-kwi sudah menjadi seorang pencinta kaumnya sendiri, suka berhubungan dengan sesama wanita, seperti juga beberapa orang di antara kami lebih suka berdekatan dengan pria-pria muda remaja dari pada dengan gadis-gadis.”

Sin-kiam Mo-li belum pernah mendengar akan hal yang dianggapnya aneh sekali itu, maka dia hanya bengong. Memang pengakuan Bi-kwi bahwa dia sekarang tidak suka kepada pria melainkan suka berdekatan wanita merupakan satu di antara siasatnya.

Ia sedang menyelidiki lenyapnya puteri keluarga Kao, seorang gadis remaja berusia tiga belas tahun, dan sudah mengenal pula orang macam apa adanya Sin-kiam Mo-li. Kalau ia mengaku sebagai orang yang suka menggauli sesama wanita, maka apabila benar-benar Kao Hong Li berada di situ dan masih hidup, lebih banyak kesempatan baginya untuk mendekatinya tanpa dicurigainya! Dan ia memiliki alasan untuk mendekati gadis remaja itu.

“Wah, aneh sekali! Apa senangnya… dengan sesama wanita?” berkata Sin-kiam Mo-li tanpa malu-malu, sedangkan para tosu itu hanya tertawa-tawa saja.

“Ah, engkau belum tahu, Mo-li. Kalau engkau sudah merasakan senangnya, engkau pun akan sependapat dengan aku, tidak lagi suka kepada laki-laki yang memuakkan.”

Suasana menjadi gembira dan legalah hati Bi-kwi karena kini sikap mereka itu ramah dan senang, seolah- olah ia telah diterima di antara mereka dan tidak lagi dicurigai. Akan tetapi, tiba-tiba Ok Cin Cu yang cerdik berkata kepada Sin-kiam Mo-li.

“Mo-li, kalau kawan kita Bi-kwi ini sedemikian membenci pendekar keluarga Pulau Es, bahkan kini membenci pria pula, kenapa tidak suruh dia saja membunuh tikus itu?”

Hati Ok Cin Cu masih penuh dengan kebencian dan dendam kepada Hong Beng karena memang pemuda itu musuh besarnya, terutama sekali melihat betapa nyonya rumah agaknya tergila-gila pada pemuda itu.

Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya. Usul yang baik, pikirnya. Inilah bukti yang paling baik untuk melihat apakah benar Bi-kwi datang dengan iktikad baik ataukah menyimpan rahasia dan menjadi kaki tangan musuh.

“Hemm, baik juga. Pemuda itu sudah berani menolakku, dan berkeras kepala. Memang sebaiknya kalau Bi-kwi yang membunuhnya, akan tetapi tidak sekarang. Yang paling perlu sekarang aku ingin bertanya kepadamu, Bi-kwi. Apakah maksud kunjunganmu yang tiba-tiba ini?” Berkata demikian, sepasang mata yang mencorong itu ditujukan kepada wajah Bi-kwi dengan penuh selidik.

Bi-kwi tadi sudah terkejut setengah mati bahwa ia akan diserahi tugas membunuh seorang pemuda. Tetapi diam-diam ia mencatat kata-kata lanjutan dari Sin-kiam Mo-li yang menyatakan betapa pemuda itu telah menolaknya! Hal ini berarti bahwa Sin-kiam Mo-li jatuh hati kepada pemuda itu, entah siapa dan pemuda itu telah menolak cintanya!

Kini ditanya oleh Sin-kiam Mo-li tentang maksud kedatangannya, ia menjawab dengan lancar dan tenang karena memang sebelumnya sudah diatur terlebih dahulu sebagai siasatnya.

“Mo-li, seperti engkau ketahui juga, tiga orang guruku…” “Juga kekasihnya… heh-heh-heh…” Ok Cin Cu mengejek.

“Benar, juga kekasihku, mereka sudah tewas oleh para pendekar. Akan tetapi, para pendekar keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu semuanya demikian lihai sehingga seorang diri saja, apakah dayaku? Aku ingin sekali membalas dendam, namun tahu akan kelemahan diri sendiri. Oleh karena itu, aku lalu teringat kepadamu, Mo-li. Bukankah engkau murid dari mendiang Kim Hwa Nionio, bahkan kabarnya juga anak angkatnya? Nah, Kim Hwa Nionio juga tewas dalam pertempuran itu. Aku yakin bahwa engkau tentu juga menaruh dendam. Karena musuh-musuh kita sama, maka kurasa alangkah baiknya kalau kita bergabung untuk menghadapi mereka. Karena itulah aku datang ke sini, Mo-li.”

Sin-kiam Mo-li mengangguk-angguk sambil memandang kepada ketujuh orang tosu itu. “Dan bagaimana pendapat kalian, para totiang? Aku sendiri setuju untuk menerimanya sebagai sekutu karena Bi-kwi adalah tenaga yang sangat baik, hal ini sudah banyak kudengar.”

Para tosu itu lalu saling pandang dan dari pandang mata mereka, mereka pun setuju dan senang kalau menerima bantuan seorang seperti Bi-kwi.

“Akan tetapi, tidak mudah untuk bekerja sama dengan kami, Mo-li. Kepada dirimu, kami sudah percaya sepenuhnya. Akan tetapi kalau Bi-kwi ingin bekerja sama dengan kita, sebaiknya kalau ia memenuhi beberapa syarat terlebih dulu,” kata Ok Cin Cu.

Bi-kwi menjebikan bibirnya memandang kepada Ok Cin Cu. Di dalam kehidupan para tokoh sesat, memang tidak banyak dipergunakan tata susila dan sopan santun, sudah biasa mereka itu mengemukakan perasaan hatinya secara terbuka, bahkan perasaan tidak senang pun tidak disembunyikan.

“Ok Cin Cu, tosu tua bangka yang bau! Kalau syarat itu kau yang mengajukan aku tidak akan sudi karena engkau pasti akan menipuku lagi! Biarlah syaratnya ditentukan oleh Sin-kiam Mo-li. Tentu saja kalau aku disuruh melayani laki-laki, betapa pun muda dan gantengnya, aku berkeberatan karena aku sudah tidak dapat lagi melayani pria setelah aku lebih suka berdekatan dengan wanita. Apa lagi disuruh melayani kalian ini, terutama sekali engkau, Ok Cin Cu. Aku tidak sudi! Nah, syarat apa yang diajukan agar kalian percaya kepadaku?”

Biar pun di luarnya Bi-kwi bersikap tenang dan menantang, namun jantungnya berdebar penuh ketegangan karena maklum bahwa ia tentu takkan mampu melakukan perbuatan yang jahat dan kejam, yang berlawanan dengan suara hatinya yang sudah berubah sama sekali itu. Ia dapat menyamar sebagai tokoh sesat, karena hal itu hanya lahiriah saja. Akan tetapi betapa mungkin batinnya dapat berubah menjadi jahat kembali? Lebih baik mati!

“Mo-li, tidak ada bukti yang lebih baik dari pada menyuruh ia membunuh pendekar yang menjadi tawananmu itu. Kalau ia mau membunuhnya, barulah kami percaya padanya,” kata Ok Cin Cu dengan marah karena ucapan Bi-kwi tadi menyinggung harga dirinya sebagai seorang pria.

Sin-kiam Mo-li mengangguk. “Bukti itu pun baik sekali. Bi-kwi, mari ikut bersamaku!”

Bi-kwi menahan guncangan hatinya dan dengan sikap dibuat tenang ia pun mengikuti Sin-kiam Mo-li, diikuti pandang mata dan tawa ketujuh orang tosu itu. Sin-kiam Mo-li membawa Bi-kwi menuruni lorong di bawah tanah.

“Hemm, menjemukan sekali tosu-tosu tua bangka itu!” Bi-kwi mengomel. “Mereka masih tidak mau percaya bahwa aku adalah musuh besar keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Padahal, tiga orang guruku tewas di tangan para pendekar itu. Berilah orang-orang dari keluarga itu kepadaku dan akan kubunuh semua mereka!”

Sin-kiam Mo-li tiba-tiba menghentikan langkahnya di jalan tangga yang menuruni lorong itu. “Ketahuilah bahwa aku memiliki dua orang tawanan dan keduanya adalah anggota keluarga dan murid dari para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir.”

“Ahh…! Benarkah itu, Mo-li? Siapakah mereka?” tanya Bi-kwi terkejut bukan dibuat-buat.

Sin-kiam Mo-li tersenyum bangga akan hasil pekerjaannya. “Pertama-tama, aku sudah berhasil menculik puteri keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir.”

“Benarkah? Hebat! Siapa ia?” Bi-kwi pura-pura bertanya padahal jantungnya berdebar tegang karena ternyata dugaan Bi Lan dan Sim Houw benar. Perempuan iblis inilah yang telah menculik Kao Hong Li itu.

“Ia benama Kao Hong Li, puteri dari pendekar Kao Cin Liong keturunan Gurun Pasir dan Suma Hui keturunan Pulau Es. Akan tetapi tak seorang pun yang menyangka padaku, dan baru-baru ini malah kukirim potongan rambutnya dan hiasan rambutnya kepada keluarga Kao yang mengadakan pesta ulang tahun!”

“Ihhh! Jadi engkaukah yang melakukan hal itu, yang melempar fitnah kepadaku?” Bi-kwi berseru kaget sekali, dan diam-diam ia waspada.

Kalau wanita ini yang melakukan penukaran bingkisan di dalam pesta ulang tahun Kao Cin Liong itu, berarti Mo-li sudah tahu akan kehadirannya dan tentu menaruh curiga akan hubungannya yang baik dengan para pendekar!

“He-he-he, kau kira aku begitu bodoh untuk pergi sendiri ke sana? Ketika mendengar bahwa Kao Cin Liong mengadakan pesta ulang tahunnya, aku lalu mengirimkan dua benda itu untuk membuat mereka gelisah dan berduka. Aku lalu menyuruh seorang teman yang boleh dipercaya untuk mengirim sumbangan itu tanpa dapat diketahui siapa pengirimnya. Dia adalah Sai-cu Sin-touw (Copet Sakti Kepala Singa), seorang kawan baik yang ahli untuk mencuri atau mencopet dengan kecepatan luar biasa. Dan dia sendiri pun membenci para pendekar karena sering kali dia bentrok dengan mereka dan pernah beberapa kali dihajar.”

“Ahhh…!” Bi-kwi bernapas lega.

Tahulah dia kini siapa orang brewok yang menurut para pelayan dalam pesta sudah masuk ke dalam dapur pura-pura mabok, kemudian menaruh racun dalam arak. Kiranya dia itu adalah Sai-cu Sin-touw, kaki tangan Sin-kiam Mo-li. Pantas saja dapat menukar bingkisannya tanpa ada yang mengetahuinya, karena dia memang ahli copet sesuai dengan julukannya.

“Dalam satu atau dua hari ini tentu dia akan segera kembali dan ingin aku mendengar laporannya, hi-hi- hik!”

Celaka, pikir Bi-kwi. Sekarang ia harus mengubah sikapnya, tidak mungkin lagi ia dapat berpura-pura tidak tahu akan penculikan itu.

“Aihh, kiranya dia itu orangmu!” katanya lagi dengan sikap kaget sekali dan memandang pada nyonya rumah dengan mata terbelalak. “Sungguh suatu hal yang amat kebetulan sekali. Apakah barangkali engkau pula yang menyuruh Sai-cu Sin-touw itu melempar fitnah kepadaku?”

Sin-kiam Mo-li memandang tajam. “Dua kali engkau mengatakan melempar fitnah. Apa maksudmu?”

“Ketahuilah, Mo-li. Kao Cin Liong mengirim undangan dan membolehkan siapa saja mendatangi ulang tahunnya. Aku mendengar akan hal itu dan aku ingin sekali tahu apa yang terjadi dan ingin pula melihat- lihat keadaan semenjak tiga orang suhu-ku tewas. Maka aku nekat mendatangi pesta itu. Dan terjadilah fitnah itu. Orangmu itu telah menukar bingkisanku dengan bungkusan terisi rambut dan hiasan rambut itu. Dan tentu saja akulah yang dituduh menculik puteri mereka dan mereka menyerangku!”

“Ehh?! He-he-he, sungguh lucu. Aku belum tahu akan hal itu karena Sin-touw belum kembali. Akan tetapi usahanya itu baik pula karena dia hendak mengacaukan pesta itu, dan karena iseng, dan karena tahu pula bahwa engkau musuh adalah mereka, maka dia sengaja menukar bingkisan itu. Hi-hi-hik, sungguh lucu.”

“Memang dia telah berhasil mengacaukan pesta dengan menaburkan racun ke dalam arak. Lagi-lagi aku yang menjadi pelampiasan amarah mereka. Tentu saja aku terpaksa melarikan diri menghadapi demikian banyaknya pendekar yang marah kepadaku. Dan aku pun lalu lari ke sini untuk berlindung dan bersekutu denganmu.”

Sin-kiam Mo-li terkekeh geli, sedikit pun tidak menaruh curiga kepada Bi-kwi karena wanita ini demikian berterus terang dan tidak nampak khawatir sama sekali. Kalau nanti utusannya itu pulang, tentu ia akan mendengar laporannya dan dia akan tahu apakah Bi-kwi membohong ataukah tidak.

“Ahh, sungguh lucu sekali. Sai-cu Sin-touw memang pandai berulah. Kalau dia pulang aku akan memberi banyak hadiah kepadanya.”

“Akan tetapi mengapa engkau repot-repot menahan anak itu dan tidak kau bunuh saja?” Bi-kwi bertanya, sengaja ia bertanya dengan sikap kejam untuk memperlihatkan betapa bencinya ia kepada keluarga para pendekar itu.

“Aku amat suka kepadanya. Ia anak manis dan berbakat. Dan aku menculiknya dengan menyamar sebagai Ang I Lama sehingga aku muncul sebagai penolong bagi anak itu. Maka aku lalu mengambil ia sebagai muridku, supaya aku dapat lebih lama menikmati kemenangan ini. Dan kelak, kalau saatnya tiba baru aku akan memukul benar-benar, entah dengan cara bagaimana.”

“Akan tetapi, kenapa sekarang kau tawan?” Bi-kwi medesak, heran.

“Dia mulai memberontak dan berpihak kepada seorang tawanan lain yang baru saja datang menyerahkan diri. He-heh, kau tentu tidak akan mampu menduga siapa orang itu. Dialah yang akan kami minta agar kau membunuhnya. Dia datang untuk mencari Hong Li, akan tetapi aku berhasil menangkapnya. Dia tampan dan gagah, dan aku…. hemm, aku suka padanya. Akan tetapi pemuda tak tahu diri itu berani menolak cintaku! Mestinya sudah kubunuh dia, akan tetapi entah bagaimana, aku terlalu sayang untuk membunuhnya, Bi-kwi. Kau tentu tahu bagaimana rasanya hati kalau sudah tergila-gila. Dia bernama Gu Hong Beng, murid dari musuhmu, Suma Ciang Bun tokoh Pulau Es itu.”

“Aihhh! Dia memang musuh besarku! Sudah beberapa kali dia bentrok dengan aku, bahkan ketika terjadi keributan di pesta, dialah yang menyerangku paling hebat, bahkan dia yang mengejar-ngejarku. Kiranya dia juga sudah tiba di sini? Tentu dalam usahanya mengejarku!”

“Aku percaya padamu, Bi-kwi. Akan tetapi para tosu itu tidak percaya, maka sebaiknya engkau bunuh saja dia.”

“Apa sukarnya membunuh seekor harimau sekali pun kalau dia sudah berada di dalam kandang. Mari kita lihat.”

Bi-kwi memutar otaknya untuk mencari akal karena tentu saja ia tidak mau membunuh Hong Beng, meski untuk menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan Hong Li sekali pun.

Moli mengajaknya memasuki ruangan tahanan. Di sana, di dalam dua kamar tahanan yang berdampingan, Bi-kwi melihat seorang anak perempuan berusia kurang lebih tiga belas tahun yang manis sedang duduk bersandar dinding, dan di kamar lain nampak Hong Beng duduk bersila! Bi-kwi menahan perasaannya kemudian ia menghampiri dan tertawa mengejek.

“Hi-hik, kiranya Gu Hong Beng manusia sombong itu kini sudah tak berdaya, di dalam kerangkeng seperti seekor monyet!” Ia tertawa dan suaranya penuh sindiran.

Mendengar suara ini, Hong Beng membuka matanya memandang. Ketika dia melihat bahwa yang mengejeknya itu bukan lain adalah Bi-kwi yang datang bersama Sin-kiam Mo-li, mukanya menjadi merah sekali dan matanya memancarkan sinar berapi-api. Dia meloncat berdiri, bagaikan seekor harimau ingin dia dapat keluar dari kerangkeng untuk menerjang wanita itu. Dia bertolak pinggang dan menuding dengan telunjuk kirinya ke arah muka Bi-kwi.

“Bi-kwi, setan perempuan yang busuk! Perempuan busuk macam engkau ini selamanya akan tetap jahat dan busuk! Ternyata benar dugaanku bahwa engkau bekerja sama dengan Sin-kiam Mo-li untuk menculik adik Hong Li. Terkutuk engkau, Bi-kwi!”

Bi-kwi juga terkekeh mengejek. “Heh-heh, engkau seorang pemuda yang sombong dan goblok!” Kemudian setelah memandang ke arah Hong Li yang juga memandang tanpa bangkit dari duduknya, Bi-kwi berkata kepada Sin-kiam Mo-li, “Hemm, keenakan dia jika dibunuh begitu saja, Mo-li. Membunuh dia apa sih sukarnya? Akan tetapi terlalu enak baginya. Mari kita bicara di sana.” Ia lalu mengajak Mo-li keluar dari tempat tahanan itu sampai tidak nampak oleh Hong Beng.

“Mo-li, sebetulnya amat sayang jika dia dibunuh begitu saja. Aku sudah sering bentrok dengan dia dan tahu betul bahwa dia adalah seorang perjaka emas!”

“Perjaka emas? Apa maksudmu?”

“Aih, kiranya engkau belum banyak pengalaman dalam hal ini walau pun kita tadinya memiliki kesukaan yang sama, Mo-li. Dia seorang perjaka asli yang bertulang baik dan berdarah bersih. Siapa yang pertama kali melakukan hubungan dengan seorang perjaka emas, tentu ia akan menjadi awet muda dan tak pernah dapat kelihatan tua!”

“Hemm, memang tadinya aku sayang kepadanya. Akan tetapi walau pun aku tadinya telah mempergunakan sihir, dia tetap menolak keinginanku.”

“Hemm, mudah saja, Mo-li. Aku dapat menggunakan akal sehingga dia akan berubah menjadi seperti seekor kuda jantan yang jinak dan akan melayani segala keinginanmu dengan senang hati.”

“Ahh, benarkah itu, Bi-kwi? Aku akan berterima kasih sekali kalau benar engkau mampu membuatnya jinak untukku!” kata Sin-kiam Mo-li dengan wajah berseri.

“Akan tetapi, aku mempunyai satu permintaan yang kuharap akan kau setujui sebagai upahku. Aku melihat anak perempuan itu… hemm, ia hanyalah anak dari musuh-musuh kita dan ia sudah tidak mentaatimu lagi. Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak memiliki selera lagi terhadap pria, akan tetapi melihat seorang gadis remaja… hemm, bolehkah aku meminjam tawananmu itu untuk satu malam saja, Mo-li? Dengan demikian, kita berdua dapat bersenang-senang, engkau bersama pemuda yang ganteng dan gagah itu, dan aku bersama gadis remaja itu.”

Mo-li sudah terlalu bernafsu untuk memikirkan hal lain. Apa lagi kini muridnya itu telah berubah, mungkin pula telah membencinya. “Baiklah, begitu pemuda itu mau memenuhi keinginanku, anak perempuan itu boleh kau miliki satu malam. Lakukanlah cepat, aku sudah tidak sabar lagi untuk melihatnya.”

“Mo-li, engkau tentu tahu bahwa tujuh orang tosu itu seperti anjing-anjing yang mengilar melihat kita berdua. Mereka itu seperti hendak berebut dan akan menerkamku kalau saja aku mau melayani mereka. Kalau mereka melihat kita berdua bersenang-senang dan tak mempedulikan mereka, tentu membuat mereka iri dan marah, mungkin mereka akan menyatakan tidak setuju dengan niat kita. Karena itu, sebaiknya hal ini kita lakukan di luar pengetahuan mereka dan caranya terserah kepadamu untuk mengaturnya.”

Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya dan melihat kebenaran ucapan Bi-kwi. Memang tujuh orang tosu itu sudah dilayani oleh tiga orang pelayannya, akan tetapi agaknya tiga orang itu untuk mereka masih kurang dan mereka memang selalu mengincarnya dan juga mengincar Bi-kwi seperti yang dapat ia lihat dari pandang mata mereka terhadap Bi-kwi tadi.

“Jangan khawatir, dapat diatur,” katanya dan ia pun menarik sehelai tali yang tergantung di sudut lorong. Tak lama kemudian, muncul Ang Nio yang mendengar suara panggilan rahasia itu.

“Engkau cepat cari perempuan secukupnya untuk menemani tujuh orang tosu tamu kita itu. Berikan bayaran secukupnya. Aku dan Bi-kwi tidak ingin diganggu malam ini.”

Ang Nio tersenyum girang. Ia dan dua orang kawannya sudah merasa muak dengan tujuh orang tosu yang terpaksa harus mereka layani itu. Kini, Mo-li menyuruh ia mencari tujuh orang perempuan dari dusun di kaki bukit. Jika ia membayar mahal, tentu banyak yang mau dan hal ini berarti ia dan kawan-kawannya akan bebas dari cengkeraman tosu-tosu tua yang rakus itu.

“Sekarang bagaimana, Bi-kwi?”

“Mo-li, sebaiknya kita lakukan usaha penjinakan pemuda itu malam nanti kalau para tosu sudah sibuk bersenang-senang di kamar masing-masing. Sementara ini, kita beri tahukan kepada mereka bahwa pembunuhan atas diri pemuda itu ditunda dulu karena engkau hendak menaklukkan dia terlebih dulu dengan bantuanku.”

Sin-kiam Mo-li merasa agak kecewa bahwa tidak sekarang saja ia dapat mendekap pemuda itu, akan tetapi karena ia tidak mau terganggu oleh para tosu, ia pun setuju. Mereka keluar lagi dari lorong bawah tanah dan memasuki ruangan tamu di mana para tosu itu masih makan minum sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Walau pun mereka mengenakan jubah pendeta, namun sikap mereka jauh dari pada patut untuk menjadi pendeta-pendeta yang hidup saleh.

Melihat munculnya dua orang wanita itu, Ok Cin Cu yang masih mendongkol terhadap Bi kwi segera berkata, “Wah, kalian nampaknya bukan seperti orang-orang yang baru saja membunuh musuh. Apakah tikus itu sudah dibunuh?”

“Begitu melihat Bi-kwi, dia mencak-mencak dan memaki-maki. Jelaslah bahwa dia amat membenci Bi-kwi.” “Tentu saja,” kata Bi-kwi, “sudah beberapa kali aku berkelahi dengan dia dan gurunya.”

“Akan tetapi, aku tak ingin dia mati begitu saja. Terlalu enak dan terlalu mudah baginya. Aku ingin menaklukkannya dulu, mempermainkan dan menghinanya sampat puas, baru aku akan membunuhnya,” sambung Sin-kiam Mo-li.

“Ha-ha-ha, bagaimana hal itu mungkin, Mo-li. Dengan sihirmu pun engkau tidak dapat menundukkan dia malam itu,” kata Thian Kek Sengjin.

“Akan tetapi sekarang ada Bi-kwi yang akan membantuku. Ia mempunyai cara untuk menjinakkan pemuda itu untukku. Biarkan aku bersenang-senang, dan jangan khawatir karena sekarang aku sedang memesan beberapa orang gadis cantik dari dusun untuk menemani kalian bertujuh.”

Mendengar ini, tujuh orang tosu itu menjadi gembira dan mereka tidak lagi menyatakan ketidak cocokan atau kecurigaan mereka terhadap rencana Mo-li dan Bi-kwi.

Malam itu, setelah para tosu memasuki kamar mereka bersama para wanita dusun yang didatangkan Ang Nio, Sin-kiam Mo-li dan Bi-kwi memasuki lorong bawah tanah. Bi-kwi memberi tahu kepada Mo-li bahwa ia memiliki minuman yang akan dapat merampas semangat Hong Beng, membuat pemuda itu lupa diri dan tentu akan menuruti semua permintaan Sin-kiam Mo-li.

“Akan tetapi bagaimana engkau akan dapat memaksanya untuk minum?”

“Serahkan saja kepadaku, Mo-li. Aku mempunyai akal dan engkau sebaiknya jangan ikut mendekat agar Hong Beng tak menjadi curiga. Biarkan aku sendiri menghadapinya dan aku akan dapat membujuknya untuk minum obatku itu.”

“Baik, tetapi jangan sampai engkau gagal, Bi-kwi.” Kata-kata ini mengandung ancaman.

“Jangan khawatir, Mo-li, aku pasti berhasil. Akan tetapi ingat akan janjimu, begitu dia kelihatan menurut, gadis remaja itu harus diserahkan kepadaku.”

“Baik.”

“Nah, sekarang kau menanti dan mendengarkan dari sini saja, sebaiknya aku sendiri yang menghadapinya,” kata Bi-kwi.

Ia lalu memasuki ruangan kamar tahanan dan di bawah sinar lampu lentera yang cukup terang, ia melihat betapa Hong Li rebah terlentang di atas lantai, sedangkan Hong Beng sudah duduk bersila lagi. Di sudut kamar terdapat mangkok-mangkok dan sumpit, sisa makanan yang diberikan kepada mereka oleh Hek Nio.

Melihat kemunculan Bi-kwi, Hong Beng lalu mengerutkan alisnya dan tetap saja duduk bersila. Sin-kiam Mo-li yang bersembunyi, mengikuti semua percakapan mereka dengan penuh perhatian. Ia seorang wanita yang cukup cerdik dan tidak ingin dikelabui, maka meski pun ia sudah percaya kepada Bi-kwi, tetap saja ia mengikuti semua peristiwa di ruangan tahanan itu dengan penuh perhatian. Ia merasa aman dan yakin bahwa hanya ia seoranglah yang dapat membebaskan Gu Hong Beng mau pun Kao Hong Li, karena kunci kedua kamar tahanan itu selalu berada di saku bajunya.

“Perempuan iblis jahanam terkutuk! Mau apa kau masuk ke sini? Mau membunuhku? Silakan, aku tahu bahwa engkau hanyalah seorang pengecut yang beraninya hanya terhadap orang yang sudah tidak berdaya!” terdengar Hong Beng membentak dengan suara marah dan mengandung penuh kebencian sehingga hati Sin-kiam Mo-li menjadi kecil. Bagaimana mungkin Bi-kwi mampu membujuk pemuda yang demikian membenci dirinya?

“Gu Hong Beng, engkaulah laki-laki yang sama sekali tidak mengenal budi,” terdengar Bi-kwi berkata. “Butakah matamu, tidak dapatkah engkau melihat betapa Sin-kiam Mo-li telah jatuh cinta kepadamu? Kalau engkau seorang pemuda yang berakal sehat, tentu engkau memilih hidup dengan menemani Sin-kiam Mo- li bersenang-senang. Mengapa engkau demikian keras kepala, bukankah engkau adalah seorang laki-laki yang dewasa dan normal?”

Sambil berkata-kata dengan suara membujuk ini, di luar tahunya Sin-kiam Mo-li karena Bi-kwi memegang kertas bertulis itu di depan perutnya sehingga Hong Beng saja yang dapat membacanya, Bi-kwi memberi tanda dengan kedipan mata kepada pemuda itu, sementara mulutnya terus membujuk.

Sejenak Hong Beng tertegun. Tulisan itu mudah dibaca karena tulisannya besar-besar dan jelas. Dia cepat membaca.

‘Aku datang untuk membebaskan engkau dan Hong Li. Terus bersikaplah bermusuhan denganku, kemudian minum obat yang kuberikan, lalu engkau pura-pura mabok terbius. Selanjutnya, pura-pura lemas saja dan serahkan kepadaku. Jangan bergerak sebelum kuberi tahukan.’

Hong Beng selesai membaca dan biar pun dia masih belum percaya benar, namun dia tahu bahwa tentu wanita ini datang bersama Sim Houw dan Bi Lan yang juga hendak menyelamatkan Hong Li.

“Sudahlah, perempuan siluman, jangan membujuk lagi, percuma saja!” katanya sambil memberi isarat dengan matanya bahwa dia mengerti. “Lebih baik bunuh saja aku dari pada harus tunduk dan melakukan perbuatan hina itu!”

“Gu Hong Beng, pemuda tolol! Engkau masih muda belia, tampan dan gagah. Apakah kau lebih suka mati konyol dan menolak kesenangan yang dapat kau nikmati? Sekali lagi, maukah engkau menyerah dan menuruti semua keinginan Sin-kiam Mo-li? Ingat, kalau engkau menolak, aku sudah menerima perintah untuk membunuhmu sekarang juga.”

Tanpa menanti sebentar pun, tanpa keraguan sedikit pun, Hong Beng lalu membentak sesuai dengan suara hatinya, juga sesuai dengan permintaan Bi-kwi dalam surat agar dia bersikap bermusuhan.

“Keparat, tulikah engkau? Aku tidak sudi, sekali tidak sudi dan selamanya pun tak sudi. Mau bunuh, lekas bunuh, siapa takut mati?”

Tiba-tiba terdengar suara halus dari kamar tahanan yang ada di sebelah, “Hemm, suara Gu-suheng demikian gagah perkasa, sedangkan suara perempuan ini bagaikan siluman tukang bujuk yang tak tahu malu!” Itulah suara Hong Li yang ikut merasa tegang dan marah.

“Aihhh, adik manis, jangan terlalu galak, nanti kemanisanmu berkurang! Engkau tunggu saja, engkau akan menikmati kesenangan luar biasa dengan aku,” kata Bi-kwi, sengaja berkata demikian untuk lebih meyakinkan hati Mo-li yang mengintai dan mendengarkan.

“Siluman jahat, tidak perlu engkau membujuk atau merayu aku!” Hong Li membentak marah dan Bi-kwi mengeluarkan suara ketawa mengejek.

“Siluman jahat, tak perlu banyak cakap lagi. Jika engkau datang hendak membunuhku, lakukanlah. Aku akan menghadapi kematian dengan kedua mata terbuka! Jangan harap engkau akan dapat membuat aku ketakutan dengan bujukan dan ancaman!”

“Hemm, jadi engkau tetap memilih mampus? Engkau tak takut mati? Hemm, aku masih belum mau percaya. Engkau tentu ingin menggunakan kepandaianmu untuk mencoba menipuku dan membuat aku lengah. Kalau memang benar engkau memilih mati, nah, ini aku bawakan sebotol kecil racun. Beranikah engkau meminumnya? Engkau akan mati dengan tenang, seperti orang pergi tidur saja. Ataukah engkau lebih memilih mati kuserang dengan jarum-jarum beracun dari luar kamar tahanan? Nah, minumlah ini kalau memang benar engkau tidak takut mati, bukan hanya bualan sombong belaka!”

Dari tempat persembunyiannya, Sin-kiam Mo-li terus mengintai dengan jantungnya yang berdebar-debar. Maukah pemuda itu minum obat yang akan membuatnya tunduk dan jinak seperti yang dijanjikan oleh Bi- kwi kepadanya?

“Gu-suheng, jangan percaya omongan siluman itu! Dari suaranya saja aku tahu bahwa ia adalah seorang manusia siluman yang jahat, kata-katanya penuh dengan bujuk-rayu dan tipu. Jangan mau minum racun itu!” terdengar suara Hong Li yang merasa khawatir sekali. Ia tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi di kamar tahanan sebelah, akan tetapi dapat mendengar percakapan mereka.

Akan tetapi Hong Beng, setelah bertemu pandang yang penuh arti dengan Bi-kwi, lalu menerima botol kecil berisi cairan bening itu, dan berkata dengan lantang karena dia pun tahu bahwa sikap Bi-kwi yang penuh rahasia itu menunjukkan bahwa ada orang lain, tentu iblis betina Sin-kiam Mo-li, yang melakukan pengintaian.

“Hemm, siapa takut mati?” Dan dia pun membuka tutup botol dan meminumnya sampai habis. Diam-diam dia merasa geli karena tahu bahwa yang diminumnya itu hanyalah air putih biasa saja, tidak mengandung apa-apa yang mencurigakan!

Kini Bi-kwi yang bermain sandiwara. Suaranya terdengar girang sekali.

“Hi-hi-hik, kau kira aku sedang berpura-pura dengan ancaman kosong? Ha, lihat betapa wajahmu telah menjadi pucat, dan tubuhmu pasti menjadi lemas. Ha-ha-ha, ya, engkau boleh berusaha mengerahkan sinkang-mu, Gu Hong Beng, akan tetapi percuma saja. Semua kemauanmu telah lenyap, dan engkau sekarang menjadi penurut. Engkau akan mendengarkan semua perintah dan mentaatinya tanpa melawan sedikit pun. Ha-ha-ha!”

Dan Hong Beng yang sebetulnya tidak merasakan sesuatu, kini melakukan apa yang dikatakan Bi-kwi. Dengan ilmu sinkang-nya, ia dapat menahan dan memperlambat jalan darah dan membuat mukanya tampak pucat, lalu tubuhnya terhuyung dan jika dia tidak berpegang kepada jeruji, tentu dia sudah roboh. Kepalanya menunduk dan tergantung seolah-olah kepala itu terasa berat dan pening, matanya terpejam.

“Mo-li, ke sinilah dan lihat hasilnya!” Bi-kwi berseru ke belakang.

Sin-kiam Mo-li cepat berlari mendekati kamar tahanan itu. Ia menemukan Hong Beng dalam keadaan tak berdaya, bergantung ke jeruji jendela dan nampak pucat dan lemas. Giranglah hatinya melihat ini.

“Sekarang dia akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, Mo-li.”

“Ahh, terima kasih, Bi-kwi. Aku akan membawanya ke kamarku sekarang juga.” “Aihh, jangan lupa membuka kamar tahanan sebelah, Mo-li.”

“Jangan khawatir. Nih kuncinya, kau buka sendiri. Akan tetapi, jangan sampai ia terluka apa lagi terbunuh. Engkau hanya boleh meminjamnya saja untuk memuaskan seleramu yang gila itu. Aku masih belum selesai dengan anak itu!”

“Baiklah, siapa mau mencelakakannya? Aku… aku sayang pada anak-anak seperti itu, bagaikan kuncup bunga yang mulai mekar, hi-hi-hik!”

Dua orang wanita itu membuka pintu kamar tahanan. Melihat masuknya seorang wanita yang tidak dikenalnya, akan tetapi yang diketahuinya adalah wanita yang tadi dimakinya siluman, yang tentunya sudah membius atau meracuni Gu Hong Beng seperti yang tadi didengarnya, Hong Li menjadi marah sekali. Begitu pintu kamar tahanan itu dibuka dari luar, dara cilik ini menyambut Bi-kwi dengan makian.

“Siluman betina keparat!”

Ia pun sudah menerjang dan menyerang dengan nekat, bagaikan seekor anak harimau yang marah. Akan tetapi, tentu saja serangannya itu tiada artinya bagi seorang wanita selihai Bi-kwi. Dengan cekatan, wanita ini menyambut tubuh kecil yang menyerangnya itu dengan tangkapan tangan kiri sedangkan tangan kanannya sudah menotok pundak Hong Li. Anak itu terkulai lemas dan segera dipondongnya sambil tertawa kecil.

Sementara itu, saat melihat pintu kamar tahanannya terbuka dan melihat Sin-kiam Mo-li masuk, sukar sekali bagi Hong Beng untuk menahan dirinya untuk tidak menerjangnya. Akan tetapi ia teringat akan pesan Bi-kwi. Ia harus berhati-hati karena Bi-kwi bermaksud untuk menyelamatkan Hong Li. Kalau dia sembrono dan hanya menurutkan nafsu hati lalu menyerang Mo-li, jangan-jangan dia membuat kapiran semua rencana Bi-kwi yang belum diketahuinya bagaimana.

Karena itu, ketika Mo-li menyentuh lengan dan pundaknya untuk meyakinkan diri, dia membuat tubuhnya lumpuh dan jalan darahnya berjalan sangat lambat sehingga wanita itu percaya bahwa dia benar-benar berada dalam pengaruh bius yang amat kuat. Ia pun membiarkan saja wanita itu merangkulnya, menciumnya kemudian tertawa kecil dan menuntunnya keluar dari dalam kamar penjara.

Ia bertemu dengan Bi-kwi di luar kamar tahanan, dan melihat Hong Li sudah terkulai lemas dipanggul oleh Bi-kwi. Bi-kwi tersenyum kepadanya.

“Bagaimana Mo-li? Tidak manjurkah obatku?”

“Memang ampuh sekali, dan aku berterima kasih padamu, Bi-kwi,” kata Sin-kiam Mo-li sambil merangkul pinggang Hong Beng.

“Gu Hong Beng…,” kata Bi-kwi dan Mo-li mengira bahwa rekannya itu akan mengejek tawanannya, akan tetapi ternyata panggilan itu oleh Bi-kwi disambung dengan seruan, “… serbuuu…!”

Dan ia sendiri mengirim tamparan keras ke arah kepala Mo-li! Tentu saja Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Cepat ia miringkan tubuhnya mengelak dari tamparan yang amat berbahaya itu. Akan tetapi pada saat itu Hong Beng juga telah menyerangnya. Pemuda ini tadi dirangkul pinggangnya, maka hantaman Hong Beng yang amat dekat itu sukar sekali dielakkan dan biar pun ia sudah membuang diri, tetap saja punggungnya terkena pukulan tangan Hong Beng.

“Bukkk!”

Tubuh Sin-kiam Mo-li terpelanting keras dan ketika ia meloncat berdiri, dari mulutnya keluar darah segar! Wanita ini ternyata kuat sekali karena hantaman itu sama sekali tak membuatnya lemah. Dia bahkan mencabut pedangnya dan memandang dengan mata penuh kemarahan kepada Bi-kwi dan Hong Beng.

“Bi-kwi… manusia hina, khianat dan curang!” bentaknya.

“Hong Beng, bawa dia keluar dari sini, suruh dia menjadi penunjuk jalan. Cepat… biar kuhadapi siluman ini!” kata Bi-kwi sambil melemparkan tubuh Hong Li yang diam-diam telah ia bebaskan totokannya kepada Hong Beng.

Pemuda itu cepat menangkap Hong Li. Dipondongnya gadis cilik itu, kemudian maklum bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan Hong Li, dia meloncat keluar dari tempat tahanan itu.

Mo-li hendak mengejar, akan tetapi Bi-kwi sudah menghadang di depannya dan Bi-kwi juga mencabut pedangnya, menghadang Mo-li sambil tersenyum mengejek.

“Nah, sekarang kita boleh mengadu kepandaian, Mo-li. Akulah lawanmu!”

Saking marahnya, Sin-kiam Mo-li tidak mampu mengeluarkan suara apa pun, bahkan saking marahnya, ia tak ingat untuk berteriak minta bantuan para pelayan dan juga para tamunya untuk mencegah Hong Beng dan Hong Li melarikan diri. Mulutnya menyeringai penuh kebencian, sepasang matanya mencorong seolah-olah ia hendak menelan Bi-kwi bulat-bulat. Ia lantas mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya berubah menjadi sinar berkelebat, tahu-tahu pedang itu telah menyambar dan menusuk ke arah dada Bi-kwi.

“Cringgg…!”

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang bertemu. Bi-kwi merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat. Maklumlah dia bahwa Sin-kiam Mo-li memang sesuai dengan julukannya, Iblis Betina Berpedang Sakti, amat hebat ilmu pedangnya.

Oleh karena itu, sambil melawan dengan pedang, Bi-kwi mengeluarkan ilmu-ilmu tangan kosongnya yang tidak kalah hebatnya. Dia mengisi tangan kirinya dengan ilmu yang disebut Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu dari Sam Kwi yang amat terkenal. Dengan ilmu ini, tangan kirinya kalau dipergunakan untuk menyerang, tiada ubahnya sebatang pedang pula, yang selain amat kuat, juga dapat membabat anggota tubuh lawan sampai buntung, bahkan lengan kiri ini berani menangkis senjata tajam karena telah dilindungi kekebalan Kiam-ciang.

Di samping ini, ia juga merubah-rubah ilmu pedangnya karena memang wanita ini telah mewarisi semua ilmu dari ketiga orang gurunya, yaitu mendiang Hek Kwi Ong si Raja Iblis Hitam, Im kan-kwi si Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup yang ketiganya merupakan datuk sesat yang terkenal dengan julukan Sam Kwi (Tiga Iblis).

Akan tetapi sekali ini Bi-kwi bertemu lawan yang sangat tangguh pula. Sin-kiam Mo-li adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nionio, sudah mewarisi semua ilmu dari nenek sakti itu dan ditambah dengan pengalamannya yang luas, ia merupakan seorang wanita yang amat lihai, bukan saja dalam ilmu silat, melainkan juga memiliki kekuatan batin yang hebat karena ia pernah mempelajari ilmu sihir.

Kalau saja ia tidak menghadapi seorang yang juga sudah matang seperti Bi-kwi, tentu ia dapat menjatuhkan lawan dengan ilmu sihirnya. Bahkan kini pun, dengan mengeluarkan lengkingan-lengkingan tajam yang mengandung kekuatan batin, beberapa kali Bi-kwi merasa jantungnya tergetar dan terguncang hebat yang hampir saja melumpuhkannya. Tetapi, maklum akan kesaktian lawan, Bi-kwi lalu mengerahkan segala kemampuan dan tenaganya untuk melakukan perlawanan dengan amat gigihnya.

Hong Beng memondong Hong Li keluar dari kamar tahanan itu menurutkan petunjuk Hong Li. Ternyata lorong yang membawa mereka ke atas itu tidak terjaga. Tiga orang pelayan Mo-li agaknya sedang asyik melayani tujuh orang tosu bersama wanita-wanita dusun.

Hong Li minta turun dari pondongan karena tubuhnya sudah terasa segar kembali dan gadis inilah yang menjadi petunjuk jalan untuk keluar dari daerah berbahaya itu. Akan tetapi, tiba-tiba Hong Beng teringat akan Bi-kwi. Bagaimana dia dapat melarikan diri dan meninggalkan Bi-kwi di tempat yang berbahaya itu? Selama ini dia telah salah sangka terhadap Bi-kwi, bahkan terhadap Bi Lan dan Sim Houw!

Dia sudah menganggap bahwa Bi-kwi adalah seorang wanita iblis yang tidak mungkin menjadi baik kembali. Akan tetapi, kini dia melihat kenyatan betapa keliru pendapatnya itu, pendapat yang dahulu didorong oleh perasaan iri dan cemburu karena cintanya terhadap Bi Lan gagal. Kini baru nampak olehnya, Bi-kwi telah menjadi seorang wanita yang gagah perkasa.

Hal ini telah dibuktikannya. Bi-kwi rela mengorbankan diri, menghadapi Sin-kiam Mo-li yang demikian lihainya, yang masih dibantu tujuh orang tosu. Bi-kwi mengorbankan diri demi menyelamatkan dia dan Hong Li. Dan bagaimana mungkin dia sekarang melarikan diri meninggalkan wanita itu begitu saja diancam bahaya maut?

“Sumoi, tentu engkau tahu jalan keluar, bukan?”

“Tentu saja, aku sudah hafal jalan di sini dengan semua rahasianya. Jangan khawatir, suheng. Aku akan membawamu keluar dari sini dengan aman.”

“Bukan itu yang kukhawatirkan, sumoi. Engkau sekarang larilah secepatnya keluar dan setelah di luar daerah ini, carilah sepasang pendekar yang bernama Sim Houw dan Can Bi Lan, lalu bawalah mereka masuk untuk membantu kami. Aku harus cepat kembali untuk membantu nona Ciong Siu Kwi.”

“Siapakah itu?” “Wanita tadi…”

“Ahhh,… siluman itu?”

“Tidak, sumoi. Dia hanya pura-pura, termasuk siasatnya agar dipercaya oleh Sin-kiam Mo-li. Ia datang untuk menyelamatkan engkau dan ia datang bersama Sim Houw dan Bi Lan itulah. Sudah, aku tidak dapat bicara banyak, engkau cepatlah lari mencari bantuan mereka. Kalau terlambat, mungkin nona Ciong dan aku akan tewas di tangan Mo-li dan tujuh orang tosu itu!” Tanpa menanti jawaban, Hong Beng melompat dan lari kembali ke arah bangunan besar di tengah hutan dan rawa itu.

Sejenak Hong Li berdiri bingung, akan tetapi ia pun dapat menangkap apa yang terjadi menurut cerita Hong Beng tadi, maka ia pun cepat melompat dan melanjutkan larinya ke luar dari daerah itu. Ia merasa amat khawatir akan keselamatan pemuda yang menjadi suheng-nya itu, dan ia harus dapat cepat menemukan sepasang pendekar seperti yang dikatakan oleh Hong Beng tadi.

Juga kini Hong Li baru melihat kenyataan betapa gurunya, Sin-kiam Mo-li, yang selama ini dianggapnya menjadi ibu angkat dan gurunya, amatlah jahatnya. Maka ia pun tidak ragu-ragu untuk membantu Gu Hong Beng, kalau perlu ia bahkan siap untuk menentang kejahatan subo-nya sendiri.

Perkelahian antara Bi-kwi dan Mo-li berjalan dengan sangat serunya dan selama itu, keduanya masih nampak seimbang. Walau pun Mo-li lebih kuat dalam tenaga sinkang, akan tetapi kekurangan Bi-Kwi diimbangi dengan kemenangannya dalam ilmu silat yang banyak ragamnya, terutama sekali Ilmu Sam-kwi Cap-sha-kun yang merupakan ciptaan terakhir dan hasil kerja gabungan dari ketiga orang tokoh sesat itu.

Akan tetapi, setelah berkelahi selama empat puluh jurus lebih, mendadak bermunculan tujuh orang tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang menjadi tamu di rumah itu. Akhirnya mereka mendengar juga akan perkelahian itu ketika seorang di antara tiga pelayan yang kebetulan mempunyai keperluan ke belakang, mendengar suara denting pedang beradu yang keluar dari lorong rahasia bawah tanah.

Ang Nio, pelayan ini, segera memasuki lorong dan melihat betapa Mo-li berkelahi mati matian melawan Bi- kwi, sedangkan dua ruangan tahanan telah kosong. Ang Nio cepat berlari ke atas memberi tahu kepada tujuh orang tosu itu dan minta bantuan. Ketujuh orang tosu itu cepat berlompatan keluar dari dalam kamar sambil membetulkan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, lalu mereka memasuki lorong bawah tanah.

Melihat betapa Mo-li berkelahi dengan mati-matian melawan Bi-kwi, mereka pun tanpa diminta sudah maju mengepung. Melihat munculnya tujuh orang musuh baru ini, Bi-kwi maklum bahwa ia terancam bahaya maut, namun ia sudah nekat. Ia rela mati, namun hatinya lega karena Hong Beng dan Hong Li tentu sudah dapat keluar dengan selamat.

Ia tidak takut mati, apa lagi mati sebagai seorang gagah yang menentang kejahatan. Suaminya yang amat dicintanya tentu maklum, dan akan merasa bangga pula dengan kematiannya. Maka, dengan penuh semangat, pedang di tangan dan tubuh basah oleh peluh, ia siap untuk mempertahankan nyawanya sampai titik darah terakhir.

Sementara itu, Sin-kiam Mo-li sudah marah sekali kepada Bi-kwi. Demikian besar rasa marah dan bencinya sehingga ia berseru kepada tujuh orang tosu yang membantunya, “Jangan bunuh perempuan keparat ini! Boleh saja buntungi kaki tangannya, akan tetapi jangan buntungi lehernya. Aku ingin menangkapnya hidup-hidup, menyiksanya sepuas hatiku. Pengkhianat keji ini harus mengaku mengapa ia membalik dan membela para pendekar!”

Seruan yang timbul dari kebencian dan kemarahan yang bergelora ini bahkan menolong nyawa Bi-kwi. Kalau saja tidak ada larangan itu, para tosu maju mengeroyok, agaknya tidak sampai sepuluh jurus Bi-kwi akan roboh dan tewas! Akan tetapi, karena dilarang membunuh oleh Mo-li, tujuh orang tosu itu pun menyerang tanpa menggunakan senjata dan mereka tidak melakukan serangan maut, melainkan berusaha merobohkan saja dan menangkapnya. Tidaklah mudah menangkap seseorang yang demikian lihainya seperti Bi-kwi tanpa membunuhnya!

Bi-kwi yang hendak mempertahankan nyawanya sampai napas terakhir, menggunakan seluruh kepandaiannya. Baru sakarang inilah selama hidupnya ia menghadapi lawan yang demikian kuatnya. Delapan orang yang rata-rata memiliki tingkat yang tinggi, dan untuk melawan seorang saja dari mereka sudah sukarlah baginya untuk keluar sebagai pemenang. Apa lagi dikeroyok delapan!

Ia lalu merubah-rubah ilmu silatnya. Bahkan ketika dalam benturan pedang yang amat dahsyatnya pedangnya dan juga pedang di tangan Sin-kiam Mo-li terlempar dan jatuh, ia melanjutkan perlawanan dengan kedua tangan kosong. Mo-li juga tidak mengambil pedangnya karena ia merasa yakin bahwa jika dibantu oleh tujuh orang tosu itu, tanpa pedangnya pun ia akan mampu menangkap Bi-kwi.

Dalam usaha untuk membela diri dan kalau mungkin merobohkan para pengeroyoknya, Bi-kwi menggunakan Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapan Belas Jurus Silat Lutung Hitam) yang merupakan ilmu khas dari mendiang Raja Iblis Hitam. Dengan ilmu silat ini, kedua lengan Bi-kwi dapat mulur sampai dua kali lipat ukuran biasa!

Tentu saja ilmu ini hebat bukan main dan para pengeroyoknya kadang-kadang berseru kaget dan hampir celaka oleh serangan ilmu ini. Untung saja mereka itu berdelapan sehingga yang lain cepat membantu kalau ada yang terdesak.

Juga dalam menghadapi sambaran pukulan atau tendangan lawan, Bi-kwi melindungi dirinya dengan Ilmu Kebal Kulit Baja yang dipelajarinya dari mendiang Iblis Akhirat, juga tendangan Pat-hong-twi yang dapat dilakukan ke arah delapan penjuru dengan secara susul-menyusul dan cepat serta kuat sekali.

Kadang-kadang dia juga mengeluarkan pukulan Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) dari mendiang Iblis Mayat Hidup. Tetapi di samping semua ilmu ini, Ilmu Pukulan Kiam-ciang (Tangan Pedang) masih terus dia gunakan sehingga menggiriskan para pengeroyoknya, walau pun para pengeroyok itu memiliki ilmu yang tinggi.

Sudah berulang kali Bi-kwi menerima tendangan dan pukulan, tapi berkat perlindungan Ilmu Kebal Kulit Baja, ia tidak menderita luka walau pun pakaiannya sudah robek sana dan sini. Seluruh tubuhnya terasa nyeri-nyeri karena biar pun tidak terluka, tetap saja guncangan-guncangan yang diterimanya membuat tubuhnya nyeri semua.

Ia semakin terdesak dan agaknya tidak lama lagi ia akan kehabisan tenaga dan napas dan akan roboh tak berdaya sehingga ia akan menjadi korban kebencian Sin-kiam Mo-li yang ingin menyiksanya habis-habisan sebelum membunuhnya!

Pada saat ia kembali menerima sebuah tendangan yang kuat dari Ok Cin Cu, tosu yang agaknya juga amat membencinya karena pernah dikecewakan oleh pelayanannya yang dingin, hingga tubuhnya terbanting dan bergulingan, dan ia terpaksa menangkis dengan kedua lengannya karena pada waktu ia bergulingan itu datang tendangan bertubi-tubi, muncullah Gu Hong Beng!

Tanpa banyak cakap lagi, Hong Beng menyerbu dan menyerang Ok Cin Cu sehingga tosu ini terpelanting oleh sambaran angin pukulannya yang sangat panas karena ia tadi menyerang dengan pengerahan tenaga Hwi-yang Sinkang, satu di antara ilmu sinkang dari Pulau Es!

Hwi-yang Sinkang (Tenaga Sakti Inti Api) mengeluarkan hawa panas dan sangat kuat sehingga walau pun Ok Cin Cu tidak terkena pukulan secara langsung, tetap saja dia terpelanting! Semua orang terkejut. Dan melihat munculnya pemuda ini, Sin-kiam Mo-li menjadi girang. Kiranya pemuda ini belum lagi melarikan diri! Sekarang ia akan dapat menangkapnya dan menyiksanya bersama Bi-kwi.

“Tangkap pemuda jahanam ini pula!” bentaknya dan ia sendiri sudah menyerang Hong Beng dengan dahsyatnya. Pemuda ini juga amat membenci Sin-kiam Mo-li, maka dia pun mengerahkan tenaganya dan menangkis.

“Desss…!” Keduanya terdorong ke belakang.

Hong Beng merasa lega dan juga kagum melihat betapa Bi-kwi yang dikeroyok delapan orang lihai itu masih dalam keadaan selamat, walau pun pakaiannya sudah compang-camping dan wajahnya sudah pucat, dengan tubuh basah oleh keringat dan tampaknya wanita itu lelah sekali. Namun, melihat Hong Beng, Bi-kwi terkejut.

“Bagaimana dengan Hong Li?” tanyanya sambil meloncat ke belakang menghindarkan serangan dua orang lawan.

“Harap jangan khawatir, ia sudah selamat,” kata Hong Beng. Ia makin kagum karena dalam keadaan nyawanya sendiri terancam bahaya, wanita itu masih teringat kepada anak itu.

“Kenapa kau mencari penyakit dan tidak pergi saja?” kata pula Bi-kwi, agak menyesal mengapa pemuda ini kembali untuk menyerahkan nyawa.

“Ciong-lihiap, aku masih belum begitu tersesat untuk bisa membiarkan engkau sendirian terancam bahaya. Mari kita hajar iblis-iblis ini!” kata Hong Beng.

Bi-kwi terbelalak dan wajahnya menjadi cerah sekali, sepasang matanya bersinar dan mencorong mendengar betapa ia disebut Ciong-lihiap oleh murid tokoh Pulau Es itu. Ia tertawa.

“He-he-he, engkau benar sekali, Gu-taihiap! Mari kita basmi siluman-siluman jahat ini!”

Dan seperti memperoleh tenaga baru, sebuah tendangan kilat mengenai paha Im Yang Tosu, membuat tosu Pek-lian-kauw yang menjadi salah seorang di antara pengeroyok itu terpelanting dan ketika meloncat bangun, kakinya agak terpincang. Dia menyumpah-nyumpah dan menerjang lagi.

Dengan penuh semangat, dua orang itu mengamuk dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka. Namun, delapan orang pengeroyoknya adalah orang-orang pandai yang setingkat dengan mereka, maka perlahan-lahan, mulailah Bi-kwi dan Hong Beng terdesak lagi. Mereka sudah mulai menerima hantaman-hantaman dan hanya karena kekebalan tubuh mereka dan besarnya semangat mereka saja, maka dua orang gagah ini masih terus melakukan perlawanan bagaikan dua ekor harimau yang sudah terluka dan tersudut, pantang menyerah sebelum roboh!

Sementara itu, dengan cepat sekali Hong Li lari menyusup-nyusup keluar dari daerah yang berbahaya karena penuh dengan perangkap-perangkap itu. Berkat kecerdikannya, karena ia sudah hafal benar keadaan di daerah itu, ia mampu berlari keluar di tempat gelap tanpa terancam jebakan dan akhirnya sampai juga ia di luar daerah tempat tinggal gurunya.

Sampai di sini, Hong Li merasa bingung sekali. Ia disuruh mencari dua orang gagah yang hanya diketahui namanya saja, yaitu Sim Houw dan Can Bi Lan. Akan tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka dan tidak tahu bagaimana wajah mereka. Ia tak akan mengenal mereka dan ke manakah ia harus mencari mereka?

Tetapi Hong Li adalah seorang anak yang cerdik sekali. Ia membayangkan keadaannya. Sekarang ia dapat menduga bahwa kalau suheng-nya yang bernama Gu Hong Beng itu datang sendirian untuk menyelamatkannya. Karena itu wanita yang disebut Bi-kwi oleh gurunya itu pasti datang bertiga bersama mereka yang kini harus dicarinya.

Agaknya Bi-kwi itu mengenal subo-nya, maka menggunakan siasat berkunjung kepada gurunya sebagai seorang sahabat dan kemudian bergerak dari dalam. Kalau demikian halnya, sudah pasti kedua orang temannya itu menunggu di luar hutan ini dan sekarang berada di suatu tempat tersembunyi. Mencari mereka tidaklah mungkin karena mereka bersembunyi, maka ia pun lalu mulai memanggil-manggil dengan suara nyaring.

“Dua orang gagah yang bernama Sim Houw dan Can Bi Lan…! Ji-wi (kalian) keluarlah! Sahabat ji-wi Bi-kwi berada dalam bahaya!”

“Sim Houw dan Can Bi Lan…!”

Hong Li berjalan ke sana-sini sambil berteriak-teriak. Usahanya berhasil. Belum sepuluh kali ia memanggil kedua nama itu. Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang lelaki dan seorang perempuan yang dapat dilihatnya dalam cuaca remang-remang yang ditimbulkan oleh sinar laksaan bintang di langit.

“Siapa engkau?” yang wanita menyapanya dengan suara tegas setengah menghardik. “Aku Kao Hong Li…”

“Ahhh…!” Dua orang itu cepat memegang lengannya dengan lembut.

“Kiranya adik Hong Li…! Apa artinya teriakanmu tadi?” tanya yang wanita. “Aku yang bernama Can Bi Lan, aku sumoi dari Bi-kwi itu, dan aku sumoi dari ayahmu…”

“Sumoi dari ayah?”

“Tidak ada waktu untuk bicara tentang itu. Hong Li, katakanlah, apa yang telah terjadi dan bagaimana engkau dapat sampai ke sini?”

“Engkau benar, bibi. Tidak ada banyak waktu untuk bicara. Kalianlah yang dicari oleh mereka yang kini berada dalam bahaya besar. Mereka berdua terancam bahaya maut. Di sana ada… Sin-kiam Mo-li dan tujuh orang tosu itu…”

“Berdua? Suci Bi-kwi dengan siapa?”

“Ia bersama suheng Gu Hong Beng. Tadinya suheng tertawan. Lalu muncul bibi Bi-kwi yang berhasil membebaskan aku dan suheng. Akan tetapi suheng menyuruh aku berlari sendiri dan dia kembali untuk membantu bibi Bi-kwi. Mari, mari cepat, biar aku menjadi penunjuk jalan. Ji-wi harus membantu mereka!”

Tanpa menanti, jawaban, Hong Li sudah melompat ke dalam hutan. Dua orang itu amat kagum dan mereka pun cepat mengikuti jejak Hong Li yang mulai menyusup-nyusup ke dalam hutan itu menuju ke tempat tinggal Sin-kiam Mo-li.

Kedatangan Bi Lan dan Sim Houw sungguh pada saat yang tepat sekali. Ketika mereka tiba di dalam rumah itu, mereka dihadang oleh tiga orang wanita yang bukan lain adalah Pek Nio, Ang Nio dan Hek Nio, tiga orang pelayan dan juga pembantu dan murid dari Sin-kiam Mo-li.

“Mereka adalah pembantu-pembantu Sin-kiam Mo-li,” bisik Hong Li kepada dua orang itu.

“Tunggu! Siapakah kalian dan mau apa?” bentak Pek Nio dengan pedang melintang di depan dada. Bi Lan yang sudah mendengar bisikan Hong Li tadi membentak, “Menggelinding pergi kalian!”

Dan ia pun menerjang ke depan. Tiga orang wanita pelayan itu menyambutnya dengan serangan pedang, akan tetapi begitu Bi Lan menggerakkan kaki tangannya, tiga orang itu berpelantingan ke kanan kiri dan terbanting keras, tak dapat bangkit kembali! Hong Li kagum bukan main melihat ini. Bibi gurunya! Adik seperguruan ayahnya! Demikian lihai!

“Mari, mari ke sini, bibi!” katanya sambil berlari masuk ke dalam rumah itu, diikuti oleh Bi Lan dan Sim Houw. Hong Li membuka sebuah pintu rahasia dan mereka pun memasuki terowongan bawah tanah.

Kalau tadi Bi Lan dan Sim Houw masih heran dan bingung, belum percaya penuh akan keterangan Hong Li bahwa Bi-kwi berada di situ bersama Gu Hong Beng, kini mereka dapat melihat sendiri. Memang Hong Beng bersama Bi-kwi yang sedang dikurung dan terdesak hebat oleh delapan orang pengeroyok itu! Sejenak mereka merasa kaget dan heran sekali.

Hong Beng bekerja sama dengan Bi-kwi menghadapi pengeroyokan delapan orang musuh! Sukar untuk dapat dipercaya karena mereka tahu betapa besarnya perasaan benci dalam hati Hong Beng terhadap Bi- kwi. Agaknya pemuda itu telah sadar sekarang dan hal ini membuat Bi Lan demikian girangnya sehingga ia berteriak nyaring.

“Hong Beng, jangan takut aku datang membantu!”

Sim Houw juga tidak banyak cakap lagi. Begitu tiba di situ, pendekar Suling Naga ini menggunakan pandang matanya yang tajam mencorong itu untuk menelitii keadaan. Dia melihat bahwa baik tingkat kepandaian Hong Beng mau pun Bi-kwi tidak kalah oleh tingkat masing-masing pengeroyok, dan dia merasa yakin bahwa Bi Lan akan mampu mengalahkan setiap dari mereka, kecuali wanita cantik itu yang amat lihai.

Bi Lan akan mampu menahan dua orang lawan, Hong Beng dan Bi-kwi menghadapi dua orang lawan dan dia sendiri akan menghadapi empat orang lawan termasuk wanita itu yang dia sangka tentulah Sin-kiam Mo-li adanya. Maka dia pun sudah mencabut suling naga dari pinggangnya dan bersama dengan Bi Lan dia menyerbu ke dalam arena perkelahian. Ruangan di depan kamar-kamar tahanan itu cukup luas sehingga dia dapat menggerakkan pedangnya yang luar biasa itu dengan leluasa.

Munculnya dua orang ini mengejutkan Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Akan tetapi tidak membuat mereka menjadi gentar. Bagaimana pun juga, mereka berjumlah delapan orang, merupakan kekuatan yang sukar dilawan.

Mo-li maklum bahwa kawan-kawannya adalah tokoh-tokoh pilihan dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, maka munculnya dua orang yang membantu Bi-kwi dan Gu Hong Beng tidak membuat ia menjadi gentar. Ia sudah menyambar pedangnya dan meloncat ke depan menyambut Sim Houw dan karena ingin cepat- cepat menyelesaikan perkelahian ini, tangan kirinya juga sudah melolos kebutan bulu merah bergagang emas. Dan begitu tubuhnya menerjang ke depan, pedangnya menusuk dada Sim Houw dan kebutannya menyambar ke arah muka pendekar itu.

“Tranggg…! Trakkk…!”

“Aihhhhh…!” Sin-kiam Mo-li menjerit ketika tubuhnya terhuyung ke belakang seperti di sambar petir.

“Dia Pendekar Suling Naga…!” teriak Thian Kek Sengjin yang pernah dikalahkan oleh pendekar ini. Demikian pula Ok Cin Cu amat terkejut melihat munculnya pendekar yang membuatnya gentar itu.

Mendengar ini, Sin-kiam Mo-li terkejut. Ia sudah mendengar nama besar pendekar yang baru muncul ini dan kini ia memandang ke arah pedang berbentuk suling naga itu. Akan tetapi ia tidak merasa gentar karena ia dibantu oleh teman-temannya dan bersama tiga orang tosu ia pun menerjang lagi ke depan, sekali ini lebih berhati-hati agar jangan bentrok senjata secara langsung karena ia tahu bahwa tenaga sinkang-nya masih kalah jauh dibandingkan pendekar ini.

Bi Lan sudah menghadapi dua orang tosu, yaitu Ok Cin Cu dan sute-nya, yaitu Lam Cin Cu, dua orang tokoh Pat-kwa-pai. Bi-kwi melawan Im Yang Tosu sedangkan Hong Beng berkelahi melawan Ang Bin Tosu, kedua-duanya dari Pek-lian-pai. Ada pun Sim Houw dikepung oleh Sin-kiam Mo-li yang dibantu oleh Thian Kek Sengjin dan Coa-ong Sengjin dari Pek-lian-pai, dan Thian Kong Cinjin yang merupakan tosu paling tangguh di antara mereka bertujuh, karena tosu ini adalah wakil ketua Pat-kwa-pai.

Hong Li berdiri agak jauh, nonton perkelahian itu dengan pandang mata penuh kagum ditujukan kepada Sim Houw dan Bi Lan. Sekarang sungguh amat mengejutkan pihak Mo-li, pertempuran itu berjalan dengan seimbang!

Andai kata Bi-kwi tidak demikian lelah dan nyeri-nyeri tubuhnya karena tadi menerima banyak pukulan, seperti juga halnya Hong Beng, tentu ia dan Hong Beng sudah mampu merobohkan lawannya yang hanya seorang saja.

Bi Lan yang tadi sudah melihat kelihaian para tosu, sekarang mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, membuat kedua orang pengeroyoknya cukup repot meski kedua orang pengeroyok itu menggunakan tongkat untuk menyerangnya, sedangkan gadis itu hanya bertangan kosong saja.

Hong Beng juga sudah menerima beberapa pukulan keras ketika dia membantu Bi-kwi tadi sehingga gerakannya tidak leluasa, juga tenaganya banyak berkurang. Untung dia memiliki sinkang yang amat kuat dari gurunya, sinkang istimewa dari keluarga Pulau Es.

Maka biar pun lawannya, Ang Bin Tosu dari Pek-lian-pai juga merupakan tokoh lihai, sudah berusaha untuk mengalahkannya, tetap saja kakek tosu sesat itu tidak mampu mendesak Hong Beng. Bahkan ketika Hong Beng memainkan Liong-in Bun-hoat, ilmu silat yang amat tinggi dan sukar dilawan, yang halus namun mengandung kekuatan dahsyat, Ang Bin Tosu terkena dorongan tangan kiri Hong Beng dan kakek ini terhuyung lalu terpaksa meloncat ke belakang.

Pada saat itu, Bi-kwi yang keadaannya lebih parah dari Hong Beng, terdesak hebat dan sebuah sapuan tongkat panjang dari lawannya, yaitu Im Yang Tosu, membuat ia roboh terguling. Memang aneh, tadi ketika hanya berkelahi berdua saja dengan Hong Beng, dia begitu gigih, tetapi setelah datang bala bantuan, Bi- kwi merasa betapa tubuhnya lelah dan lemah.

Hal ini mungkin karena tadi ia tidak melihat adanya harapan dan hal itu membuatnya nekat, dan kini, kelegaan hati melihat kemunculan Bi Lan dan Sim Houw membuat daya tahan batinnya bahkan melemah. Untung Hong Beng cepat menubruk ke depan dan menghantam punggung Im Yang Tosu dengan pengerahan tenaga Swat-im Sinkang yang berhawa dingin.

“Bukkk!”

Punggung itu kena dihantam telapak tangan Hong Beng, keras sekali karena pemuda ini khawatir sekali dan ingin menyelamatkan Bi-kwi yang terancam maut oleh serangan susulan dari Im Yang Tosu yang menghantamkan tongkatnya ke arah kepala Bi-kwi. Pukulan tangan Hong Beng itu demikian kuatnya sehingga tubuh Im Yang Tosu lantas terpelanting keras, menggigil dan tidak mampu bangun kembali, bahkan tak lagi mampu berkutik!

Melihat rekannya roboh, Ang Bin Tosu marah sekali dan dengan teriakan marah dia menubruk ke arah Hong Beng. Ketika itu, Hong Beng yang tadi menggunakan seluruh tenaganya memukul Im Yang Tosu, berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Hong Beng memang sudah amat lelah dan telah banyak menerima pukulan pada saat bersama Bi-kwi menghadapi pengeroyokan delapan orang itu. Maka pengerahan tenaga sekuatnya tadi membuat ia terhuyung dan terengah, dan dalam keadaan seperti itu Ang Bin Tosu menyerangnya dengan pukulan dahsyat dari belakang!

“Desss…!”

Pada saat yang amat berbahaya bagi Hong Beng itu, Bi-kwi menerjang ke depan dan menyambut serangan tosu itu untuk menyelamatkan Hong Beng. Hebat sekali benturan tangan itu. Akibatnya, tubuh Bi- kwi yang sudah amat lelah dan lemah itu terjengkang dan wanita itu pun roboh pingsan. Namun Ang Bin Tosu juga terhuyung ke belakang dan terengah-engah karena benturan tenaga itu sangat hebat, membuat isi dadanya terguncang dan tergetar.

Melihat betapa dia baru terlepas dari bahaya maut karena pertolongan Bi-kwi, sehingga wanita itu roboh tidak bergerak lagi, Hong Beng menjadi marah sekali kepada Ang Bin Tosu.

“Tosu jahat!” bentaknya.

Dan dia pun menerjang tosu yang sedang terhuyung itu. Ang Bin Tosu yang kehilangan tongkatnya, menangkis dengan kedua lengannya, akan tetapi pukulan Hong Beng amat hebatnya sehingga tangkisan itu runtuh dan telapak tangan kiri Hong Beng mengenai dada Ang Bin Tosu. Kakek ini mengeluh dan roboh terjengkang, tak dapat bergerak lagi.

Sementara itu, pedang suling naga di tangan Sim Houw mulai membuat empat orang pengeroyoknya kocar-kacir. Pedang itu menyambar-nyambar, menjadi segulungan sinar yang amat panjang dan kuat, mengeluarkan bunyi melengking-lengking seperti orang bermain suling. Empat orang itu berusaha keras untuk mendesaknya, namun sebaliknya mereka berempat yang terdesak dan permainan senjata mereka menjadi kacau-balau.

Mula-mula Thian Kong Cinjin yang lebih dulu menjadi korban sinar pedang suling naga. Sim Houw melihat betapa di antara empat orang pengeroyoknya, yang paling tangguh adalah wakil ketua Pat-kwa-pai ini dan Sin-kiam Mo-li. Karena itu, ketika mendapatkan kesempatan dia pun menujukan sinar pedangnya mendesak Thian Kong Cinjin. Ketika kakek ini memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya dari sinar pedang, Sim Houw meloncat dan menendang ujung tongkat itu dan pada saat tongkat itu menyeleweng dan terbuka lubang, Sim Houw memasukinya dengan sinar pedangnya.

“Crettttt!”

Robeknya jubah di bagian pundak disusul mengalirnya darah. Pundak itu telah terluka oleh pedang dan seketika lengan kanan Thian Kong Cinjin menjadi lumpuh kehilangan tenaga sehingga tongkatnya pun terlepas.

Pada saat itu pula tiga orang pengeroyok sudah menerjang dengan cepat sehingga Sim Houw harus meloncat mundur dan melindungi tubuhnya dengan sinar pedang sulingnya sehingga serangan senjata tiga orang pengeroyok itu dapat ditangkis semua.

Pada saat itu, Bi Lan berhasil merobohkan Lam Cin Cu dengan tamparan tangan kirinya yang mengenai pelipis tosu itu. Lam Cin Cu roboh tak berkutik lagi. Melihat robohnya sute ini, Ok Cin Cu terkejut dan juga gentar. Dia meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat, apa lagi melihat betapa Im Yang Tosu dan Ang Bin Tosu juga sudah roboh.

Bi Lan kini menerjang ke dalam pertempuran membantu Sim Houw. Tentu saja tiga orang pengeroyok Sim Houw menjadi semakin repot. Tadi saja mengeroyok Pendekar Suling Naga, mereka sudah sangat kewalahan. Apa lagi kini Bi Lan ikut maju membantu kekasihnya. Meski gadis ini hanya bertangan kosong, namun tangan kakinya tak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata.

Yang merasa penasaran dan marah sekali adalah Sim-kiam Mo-li. Dia mengandalkan tujuh orang tosu yang menjadi sekutunya itu dan kini sudah ada tiga orang tosu tewas, bahkan Thian Kong Cinjin juga sudah terluka pundaknya dan tidak mampu melanjutkan perkelahian. Ok Cin Cu yang belum terluka agaknya telah menjadi gentar dan menjauh, sehingga yang membantu Mo-li hanya tinggal dua orang lagi, yaitu Thian Kek Sengjin dan Coa-ong Sengjin dari Pek-lian-pai.

Biar pun para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, kalau Sim Houw menghendaki, dengan ilmu pedang Suling Naga, agaknya sudah sejak tadi dia akan mampu merobohkan seorang atau dua orang di antara mereka kalau dia bermaksud membunuh mereka. Justru karena dia menahan diri agar tidak membunuh lawan maka sukar baginya untuk merobohkan mereka dan baru saja dia berhasil melukai Thian Kong Cinjin.

Kini, masuknya Bi Lan membuat keadaan menjadi lain. Kalau Sim Houw mengendalikan gerakannya supaya jangan membunuh lawan, sebaliknya Bi Lan masuk dan menerjang dengan serangan dahsyat yang penuh niat untuk membunuh lawan! Dan mudah diduga bahwa kebencian Bi Lan dijatuhkan kepada Sin- kiam Mo-li karena wanita inilah yang telah menculik Hong Li.

“Perempuan iblis, bersiaplah untuk mampus!” bentak Bi Lan.

Begitu ia terjun ke dalam pertempuran itu, langsung saja ia menyerang Sin-kiam Mo-li. Wanita ini menyambut dengan sepasang senjatanya, yaitu kebutan dan pedang, yang dengan dahsyat menyambut serangan Bi Lan dengan tusukan pedang dan sabetan cambuk ke arah muka gadis itu.

Bi Lan bukannya tidak tahu akan hebatnya lawan dari gerakan yang amat cepat dan mengandung angin keras itu, maka ia pun cepat mengelak ke samping dan dengan tubuh setengah berjongkok, dari samping kakinya mencuat dalam tendangan kilat ke arah lutut Mo-li.

Perlu diketahui bahwa seperti juga Bi-kwi, Bi Lan telah mewarisi ilmu dari ketiga orang gurunya. Ilmu tendangan Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin) merupakan satu di antara ilmu dari mendiang Iblis Akhirat yang sudah dilatihnya dengan amat baik. Maka tendangan yang datangnya tiba-tiba itu amat dahsyat, tidak tersangka dan juga selain cepat, mengandung tenaga yang kuat sekali.

Sementara itu, melihat betapa kekasihnya kini menghadapi Sin-kiam Mo-li, Sim Houw merasa khawatir. Di antara tiga orang pengeroyoknya, Mo-li merupakan lawan yang paling tangguh. Maka melihat majunya Bi Lan yang menghadapi Mo-li, dan sekarang kekasihnya itu diserang dengan hebat menggunakan kebutan dan pedang, Sim Houw menubruk ke depan sambil memutar pedang suling naga di tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga.

Pada saat itu, Sin-kiam Mo-li sedang menghadapi tendangan dari bawah yang dilakukan oleh Bi Lan dalam posisi setengah berjongkok. Ia mengenal serangan dahsyat dan cepat tubuhnya mencelat ke belakang untuk menghindarkan diri dari tendangan itu. Dan pada saat itu, terdengar suara suling naga melengking ketika Sim Houw memutarnya dan menerjangnya.

Mo-li membalikkan tubuhnya, menangkis sinar pedang Sim Houw dengan pedangnya, sedangkan kebutan merahnya diputar ke belakang untuk melindungi dirinya kalau-kalau Bi Lan menyerang lagi. Namun Bi Lan justru sudah diserang oleh Thian Kek Sengjin. Kakek ini memang lihai sekali, maka Bi Lan harus mencurahkan kepandaiannya untuk menghadapi tongkat kakek itu, sebatang tongkat naga hitam dan mereka terlibat dalam perkelahian yang seru.

“Tranggg…!”

Terdengar Sin-kiam Mo-li menjerit karena pedangnya patah menjadi dua potong ketika bertemu dengan pedang suling naga dan telapak tangan yang memegang gagang pedang itu pun lecet berdarah! Maklumlah Sin-kiam Mo-li bahwa ia bersama kawan-kawannya tak akan menang kalau melanjutkan pertempuran itu. Maka sambil memutar kebutannya untuk melindungi dirinya, ia lantas mengeluarkan teriakan malengking dan tubuhnya meloncat jauh ke luar melalui terowongan itu.

Melihat ini Ok Cin Cu, Thian Kong Cinjin, Thian Kek Sengjin, dan Coa-ong Sengjin, empat orang tosu yang masih hidup, maklum bahwa keadaan amat berbahaya. Mereka pun mengeluarkan suara melengking dan berlompatan untuk melarikan diri.

Pada saat Bi Lan hendak mengejar, Sim Houw memegang lengannya sambil berteriak, “Awas…!”

Mereka berloncatan mundur pada saat terdengar ledakan-ledakan, dan tiba-tiba tempat itu menjadi gelap oleh asap hitam! Kiranya para tosu itu menggunakan alat-alat peledak untuk mencegah pihak musuh melakukan pengejaran.

Bi Lan cepat menarik tangan Hong Li dan mereka bertiarap seperti yang lain, khawatir kalau-kalau asap hitam itu beracun. Tetapi ternyata tidak. Asap itu hanya menggelapkan tempat itu dan tidak mengandung racun.

Pada saat Bi Lan, Hong Beng yang sudah kelelahan dan Sim Houw mengejar keluar, ternyata keempat orang tosu dan Sin-kiam Mo-li telah hilang tak nampak pula jejaknya. Mereka lalu kembali ke dalam ruangan bawah tanah, menggotong keluar Bi-kwi yang masih pingsan. Setelah berada di atas dan di tempat yang bersih dengan hawa yang segar, mereka bertiga memberikan pertolongan kepada Bi-kwi. Akan tetapi ternyata bahwa Bi-kwi hanya kehabisan tenaga, terlalu lelah dan biar pun ia banyak menerima pukulan seperti juga Hong Beng, namun tidak menderita luka yang parah.

Begitu siuman dari pingsannya dan melihat Hong Beng berlutut paling dekat dengannya, Bi-kwi tersenyum kepada pemuda itu dan bertanya lirih, “Apakah aku sudah mati?”

Hong Beng menggeleng kepala dan berkata, “Tidak, engkau masih hidup seperti juga kami semua.” Agaknya baru Bi-kwi teringat dan ia cepat bertanya, “Bagaimana dengan Hong Li?”

“Suci, ia selamat berkat bantuanmu,” kata Bi Lan dan Hong Li segera mendekat.

Melihat betapa Hong Beng, Bi Lan, Sim Houw dan Hong Li semua berada di situ dalam keadaan selamat, Bi-kwi bangkit duduk dan wajahnya menjadi cerah gembira.

“Aihh, kita telah berhasil! Lalu bagaimana dengan mereka? Mo-li dan para tosu itu?”

Ia melihat ke kanan kiri lalu memandang ke arah tubuh tiga orang tosu yang rebah tak bergerak lagi, tubuh Ang Bin Tosu, Im Yang Tosu, dan Lam Cin Cu, sedangkan empat orang tosu lain bersama Sin-kiam Mo-li tidak nampak berada di situ.

“Tiga orang tosu dan tiga orang pelayan tewas, yang lain-lain melarikan diri bersama Sin-kiam Mo-li,” kata Bi Lan.

“Sayang,” Bi-kwi bangkit berdiri. “Iblis itu jahat dan palsu. Dalam kesempatan ini kita gagal membasminya, dan lain kali ia pasti akan menjadi ancaman bagi kita semua.”

Ia memandang kepada Sim Houw dan pandang matanya seperti menegur, mengapa Pendekar Suling Naga itu tidak mencegah mereka melarikan diri karena ia tahu bahwa hanya pendekar ini yang memiliki kemampuan untuk membasmi mereka.

“Ciong-lihiap, mereka mempergunakan alat peledak dan menghilang di balik tabir asap hitam sehingga kami tidak berdaya mengejar mereka,” kata Hong Beng.

Bi-kwi memandang wajah pemuda itu dan menarik napas lega, lalu sambil tersenyum gembira dia berkata. “Di samping berhasilnya usaha kita menyelamatkan Kao Hong Li dari tangan Sin-kiam Mo-li, satu hal yang amat menggembirakan hatiku adalah bahwa kini Gu-taihiap tidak lagi memusuhi aku!”

Wajah Gu Hong Beng berubah merah karena dia merasa tak enak dan malu kalau dia ingat akan sikapnya sendiri di masa lalu terhadap wanita ini, juga terhadap Sim Houw dan Bi Lan.

“Mataku terbuka sekarang dan aku menyadari kesalahanku. Biarlah aku menggunakan kesempatan ini untuk mohon maaf dari kalian bertiga atas sikapku yang tidak adil dan penuh dengan prasangka dan kecurigaan terhadap kalian. Aku telah dibutakan oleh ketinggian hati dan iri…,” katanya sambil memandang kepada Sim Houw.

Sim Houw tersenyum dan mengangguk. “Hidup adalah belajar, saudaraku, sedangkan pengalaman merupakan guru yang sangat baik. Orang yang bisa menyadari kesalahan langkah di masa lalu merupakan orang yang beruntung sekali dan jika ia dapat merubah kesalahannya itu seketika berdasarkan kesadaran, maka dia seorang yang beruntung sekali.”

Hong Li memegang tangan Hong Beng. “Suheng, sebenarnya apakah yang telah terjadi dengan aku? Sungguh sampai sekarang aku masih bingung memikirkan tentang subo… ehhh, Sin-kiam Mo-li itu. Selama ini kuanggap ia seorang yang amat baik kepadaku, bersikap baik dan penuh kasih, seolah-olah aku ini anaknya atau muridnya sendiri yang terkasih. Baru setelah suheng muncul dan aku membela suheng, ia bersikap buruk dan keras kepadaku. Apa sebenarnya yang telah terjadi ketika aku diculik oleh Ang I Lama?”

“Anak baik, akulah yang dapat menjelaskan kepadamu sebab baru saja aku mendengar sendiri dari Sin- kiam Mo-li. Ketika engkau diculik, yang melakukannya adalah seorang kakek berjubah pendeta Lama yang sudah tua, bukan? Dia mengaku bernama Ang I Lama, akan tetapi sesungguhnya penculikmu itu bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li sendiri. Selain memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu sihir, juga Mo-li pandai menyamar. Di tengah perjalanan, ia menipumu dan pura-pura menjadi penolongmu dengan mengusir Ang I Lama.”

“Akan tetapi, mengapa ia harus berbuat demikian, bibi?” Hong Li bertanya penasaran, tidak melihat apa gunanya Mo-li berbuat seperti itu.

“Maksudnya semula adalah untuk sekali bertepuk mendapatkan dua ekor lalat. Pertama, menculikmu untuk menghancurkan hati orang tuamu yang dianggapnya musuh besar karena orang tuamu adalah keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Dan kedua, untuk mengadu domba antara orang tuamu dengan Ang I Lama, seorang pendeta Lama di Tibet yang dihormati oleh para pendeta Lama. Sin-kiam Mo-li adalah anak angkat dan murid terkasih dari mendiang Kim Hwa Nionio yang tewas di tangan Pendekar Suling Naga, yaitu Sim-taihiap ini, ketika para pendekar bentrok dengan Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya.”

“Kalau begitu, tentu dia amat membenciku. Akan tetapi kenapa setelah menculikku, ia tidak membunuhku, bahkan bersikap baik kepadaku, mengambil aku sebagai murid, bahkan sebagai anak angkat?”

“Tadinya memang ia bermaksud membunuhmu, akan tetapi agaknya ia tertarik dan suka kepadamu, Hong Li,” jawab Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi.

“Kukira bukan hanya karena tertarik dan suka,” sambung Bi Lan. “Lebih tepat lagi kalau ia memang merencanakannya, mendidik Hong Li supaya kelak dapat diarahkan untuk memusuhi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir!”

Kao Hong Li mengerutkan alisnya. “Sungguh keji sekali jika begitu. Akan tetapi kenapa kemudian datang seorang kakek bernama Ang I Lama yang persis dengan kakek yang dulu menculik aku dan terjadi perkelahian antara kakek itu dan subo… ehhh, Sin-kiam Mo-li?”

Bi Lan yang kini memberi keterangan. “Gara-gara Mo-li mengaku sebagai Ang I Lama, ayah dan ibumu mencari Ang I Lama ke Tibet dan hampir terjadi bentrokan antara mereka. Akan tetapi orang tuamu tahu bahwa Ang I Lama memang tidak bersalah dan menduga bahwa ada orang lain yang mempergunakan nama kakek pendeta Lama yang saleh itu, maka dengan kecewa dan berduka mereka pulang. Ang I Lama sendiri merasa penasaran karena namanya dipergunakan orang. Dia melakukan penyelidikan dan akhirnya dapat menduga bahwa Sin-kiam Mo-li yang menyamar sebagai dirinya dan datang untuk menegurnya dan membebaskanmu. Akan tetapi dia kalah dan bahkan terluka, lalu tewas di depan para pendeta Lama. Karena kata-kata terakhir darinya menyebut nama orang tuamu, para pendeta Lama menyangka bahwa Ang I Lama terbunuh oleh orang tuamu. Di sini, siasat yang dipergunakan Sin-kiam Mo-li hampir berhasil, yaitu mengadu domba antara orang tuamu dengan para pendeta Lama.”

“Jahat sekali…!” Hong Li kembali berseru penasaran.

“Masih ada lagi,” kini Gu Hong Beng yang melanjutkan. “Orang tuamu mengadakan pesta ulang tahun, dengan maksud mengumpulkan semua tokoh kang-ouw agar supaya mereka membantu mendengarkan di mana kau berada dan siapa yang menculikmu. Ketika semua orang hadir, Sin-kiam Mo-li menyuruh pembantunya untuk mengacaukan pesta itu dengan mengadu domba antara orang tuamu dengan Ciong- lihiap ini, dengan jalan menukar bingkisan Ciong-lihiap ini dengan bingkisan lainnya yang berisi segumpal rambutmu dan hiasan rambutmu. Tentu saja hal itu menggegerkan, dan celakanya, aku sendiri yang tolol percaya sehingga menjatuhkan fitnah kepada Ciong-lihiap…”

“Aihh, Gu-taihiap, harap jangan sebut-sebut lagi urusan itu. Melihat betapa kini engkau merubah sikapmu kepadaku saja sudah mendatangkan kebahagiaan besar di dalam hatiku. Siapa orangnya yang takkan curiga kepadaku mengingat akan masa laluku?”

“Suci, jangan bicara seperti itu! Pada akhirnya semua orang akan tahu bahwa engkau benar-benar telah kembali ke jalan benar,” kata Bi Lan.

“Tepat sekali!” Hong Beng berseru. “Aku tadinya lupa bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tanpa dosa, dan bahwa orang yang pernah bergelimang dosa sekali pun dapat bertobat dan menjadi orang yang baik. Aku telah bersikap bodoh dan tidak adil terhadap Ciong-lihiap, saudara Sim Houw dan Bi Lan. Biarlah dalam kesempatan ini aku mengaku salah dan mohon maaf sebesarnya!”

Tanpa ragu-ragu Hong Beng lalu menjura ke arah tiga orang itu yang cepat membalas. Hanya Bi Lan yang membalas agak ragu, karena bagaimana pun juga hatinya masih panas kalau teringat akan sikap Hong Beng kepadanya.

Mereka lalu bersepakat untuk membakar saja sarang Sin-kiam Mo-li itu. Berkobarlah api membakar rumah yang penuh rahasia itu, membakar seluruh isi rumah berikut jenazah tiga orang tosu dan tiga orang pelayan wanita. Api berkobar besar bagai menyambut munculnya matahari pagi dan empat orang gagah itu lalu mengiringkan Kao Hong Li meninggalkan bukit itu dan kembali ke Pao Teng.

Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui, menyambut kedatangan rombongan yang membawa puteri mereka itu dengan kebahagiaan besar. Suma Hui merangkul puterinya sambil mengucurkan air mata dan suami isteri ini, yang ditemani oleh Suma Ciang Bun, menghaturkan terima kasih kepada Bi-kwi, Bi Lan dan Sim Houw.

Pandangan Suma Ciang Bun terhadap Sim Houw dan Bi Lan yang memang sudah meragukan sikap muridnya, kini menjadi cerah, bahkan dia pun merasa kagum terhadap Bi-kwi. Juga Kao Cin Liong dan isterinya kini tanpa ragu menganggap Bi-kwi sebagai seorang wanita berjiwa pendekar yang gagah perkasa dan pantas dianggap sebagai rekan.

Setelah menyerahkan Hong Li, Sim Houw dan Bi Lan lalu menceritakan kepada suami isteri itu tentang semua rahasia di balik petistiwa yang menodai nama suami isteri itu, juga mengenai siasat yang dilakukan oleh Sin-kiam Mo-li untuk mengadu domba dan menjatuhkan nama keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir.

Legalah hati Kao Cin Liong. Selain puterinya telah dapat ditemukan kembali, sekaligus juga nama keluarganya dapat dibersihkan. Dia pun cepat membuat surat penjelasan dan mengirimkan surat kepada para pendeta Lama di Tibet, menerangkan mengenai perbuatan Sin-kiam Mo-li menculik puterinya dengan menyamar sebagai Ang I Lama dan kemudian melukai pendeta itu sampai tewas.

Sim Houw dan Bi Lan lalu berpamit untuk pergi ke Gurun Pasir, menghadap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, yaitu kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng, mohon doa restu mereka karena mereka telah berhasil melaksanakan tugas yang dibebankan pada mereka oleh kakek dan nenek suami isteri yang sakti itu, dan mohon doa restu agar mereka dapat melangsungkan perjodohan antara mereka.

Beberapa bulan kemudian, pernikahan antara Can Bi Lan dan Pendekar Suling Naga Sim Houw dilangsungkan dengan sederhana. Acara ini dihadiri oleh keluarga Pulau Es dan Istana Gurun Pasir, juga para pendekar dan sahabat-sahabat mereka sehingga cukup meriah. Ketika mereka menikah, Bi Lan berusia dua puluh tahun dan Sim Houw berusia tiga puluh lima tahun.

Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi bersama suaminya, Yo Jin, datang hadir dan karena semua pendekar telah mendengar belaka akan semua jasa Bi-kwi, dan mereka mendengar bahwa sekarang Bi-kwi betul-betul telah menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan menentang kejahatan, maka semua orang bersikap ramah dan hormat kepadanya, melupakan masa lalunya.

Juga kedua saudara kembar, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, datang bersama isteri mereka, Souw Hui Lan, dan putera mereka yang masih kecil. Hadir pula kakek Cu Kang Bu dan isterinya, Yu Hwi, dan putera mereka, Cu Kun Tek yang pernah pula jatuh cinta kepada Bi Lan.

Gu Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun, membantu Kao Cin Liong dan Suma Hui yang menjadi tuan rumah dan wali karena pernikahan itu dilangsungkan di Pao-teng, di rumah suami isteri ini. Bahkan kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng hadir pula di dalam pesta perayaan itu. Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng juga hadir. Bahkan Tiong Khi Hwesio juga hadir.

Dan yang mendatangkan kegembiraaan besar adalah hadirnya kakek sakti Bu-beng Lokai atau Gak Bun Beng, bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian! Tidak ketinggalan pula pendekar sakti Kam Hong dan isterinya, Bu Ci Sian. Di antara para tamu, terdapat pula wakil-wakil dari partai-partai persilatan dan pendekar-pendekar yang terkenal di waktu itu…..

>>>>> T A M A T <<<<<

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo