October 3, 2017

Suling Naga Part 24

 

Dengan gembira para tosu itu kemudian mengatur rencana bersama Sin-kiam Mo-li, dan mengangkat wanita itu menjadi pemimpin pasukan yang terdiri dari anggota-anggota kedua partai itu bersama rakyat yang dapat mereka bujuk, untuk memimpin pasukan dan bergerak dari barat. Mereka terus bercakap- cakap dengan asyiknya sambil makan minum.

Tak lama kemudian, para tosu yang lihai itu sudah terpengaruh arak. Wajah mereka sudah menjadi merah, mereka tertawa-tawa dan kata-kata mereka semakin terlepas bebas. Tidak lama kemudian Ang Nio yang tadi hanya seorang diri saja melayani para tamu, kini telah dibantu oleh Pek Nio dan Hek Nio yang sudah kembali setelah selesai menyingkirkan semua mayat musuh yang berserakan. Datangnya dua orang pelayan cantik ini menambah kegembiraan para tosu dan mereka lalu berpesta pora dengan gembira…..

********************

Pada waktu para tosu itu membunuhi enam belas orang Cin-sa-pang, ada dua orang bersembunyi dan mengintai dari puncak sebatang pohon besar, agak jauh dari tempat itu. Kedua orang ini adalah Sim Houw dan Bi Lan.

Mereka berdua sempat nonton pembantaian yang dilakukan tujuh orang tosu itu tanpa mampu turun tangan mencampuri karena ketika mereka naik ke atas pohon besar dan mengintai lalu dapat melihat perkelahian itu, hampir semua anggota Cin-sa-pang sudah terbunuh. Kedua orang pendekar ini bergidik penuh kengerian menyaksikan kekejaman itu, akan tetapi mereka juga amat terkejut melihat kehadiran para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw di tempat itu.

“Wah, kiranya mereka baru datang,” kata Sim Houw kepada kekasihnya. “Kalau mereka sudah menggabungkan diri dengan wanita itu, keadaan di sini tentu sangat kuat. Kita tak boleh sembrono memasuki tempat ini, harus menyelidiki lebih dahulu apakah benar nona Hong Li berada di sini seperti yang kita duga.”

Bi Lan mengangguk. “Memang berbahaya sekali tempat ini. Para tosu itu sudah amat lihai dan kalau mereka itu memilih Sin-kiam Mo-li sebagai sekutu, tentu wanita itu pun lihai bukan main. Apa lagi kalau diingat bahwa ia adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nionio yang sakti. Kita memang harus berhati- hati. Lihat itu!”

Keduanya memandang dan kini melihat betapa Sin-kiam Mo-li meninggalkan tempat itu bersama tujuh orang tosu, diikuti oleh pelayan berpakaian merah yang cantik itu. Lalu mereka melihat betapa dua orang gadis lain, yang berpakaian serba putih dan serba hitam, juga cantik-cantik, menyeret mayat-mayat yang berserakan dan melemparkan mayat-mayat itu ke dalam dua kubangan, pasir dan lumpur. Dan mereka melihat dengan hati ngeri betapa mayat-mayat itu disedot masuk dan tenggelam ke dalam kubangan- kubangan itu, kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.

“Hemm, kubangan-kubangan itu sangat berbahaya,” kata Sim Houw. “Merupakan suatu perangkap yang mengerikan, sekali kaki terperosok, akan sukarlah untuk keluar lagi. Dan lihat, kedudukan semak-semak belukar dan pohon-pohon itu, demikian teratur rapi merupakan barisan yang aneh. Aku yakin bahwa tempat ini memang merupakan tempat berbahaya yang mengandung penuh rahasia dan jebakan. Lihat, bukankah pepohonan itu tumbuh secara teratur dan dari sini berbentuk pat-kwa (segi delapan)! Pernah aku mendengar tentang ilmu mengatur barisan yang ditrapkan untuk membuat lorong-lororg rahasia yang menyesatkan dan berbahaya. Agaknya Sin-kiam Mo-li ahli pula dalam ilmu ini. Kita selidiki dulu dari luar, baru besok menyelinap ke dalam dengan hati-hati. Syukur kalau tujuh orang tosu itu sudah meninggalkan tempat ini.”

Dua orang pendekar itu lalu turun dan mulai melakukan penyelidikan di sekitar tempat itu. Dalam penyelidikan inilah mereka melihat belasan anak buah Pek-lian-pai sedang bergerombol dan menanti kembalinya para pimpinan mereka yang kini menjadi tamu Sin-kiam Mo-li. Juga mereka melihat lima buah perahu kosong yang tadi dipergunakan orang-orang Cin-sa-pang untuk menyerbu tempat itu.

“Lihat itu,” Sim Houw tiba-tiba menunjuk ke sebuah jalur air yang berkelak-kelok seperti ular. “Itu merupakan jalan air yang mengalir dari atas bukit menuju ke Sungai Cin-sa ini. Tentu air hujan yang turun di atas bukit itu mengalir melalui jalan air itu dan kiranya jalan itulah yang paling aman.”

“Akan tetapi, perlukah kita demikian berhati-hati sehingga kita harus masuk melalui jalan yang aman dan tersembunyi bagaikan pencuri? Koko, mengapa kita tidak masuk saja melalui jalan biasa, menghadapi semua jebakan dan terang-terangan minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, dan kita minta dikembalikannya Hong Li?”

Sim Houw menggelengkan kepala tanda tidak setuju. “Lan-moi, kita berurusan dengan pembebasan seorang tawanan, maka kita harus berlaku hati-hati supaya jangan sampai kita gagal menyelamatkan nona Hong Li. Kalau kita masuk berterang, maka terdapat banyak bahaya. Sin-kiam Mo-li bisa saja lebih dulu menyembunyikan anak itu sehingga tidak terdapat bukti bahwa ia yang menculiknya. Bahkan dapat saja ia membunuh anak itu untuk menghilangkan jejak. Pula, dengan adanya ketujuh orang tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu, lawan kita akan menjadi semakin berat.”

“Akan tetapi kita dibantu oleh suci! Ahhh, mana suci Siu Kwi? Kenapa ia belum juga muncul?” “Aku di sini, sumoi!”

Sesosok bayangan berkelebat dan Bi-kwi telah berdiri di depan mereka. Wajah wanita ini menjadi agak pucat. “Apakah kalian melihat apa yang kusaksikan tadi?”

Ia bergidik ngeri. Tadi ia memang sengaja berpencar dengan Bi Lan dan Sim Houw. Kalau kedua orang itu melakukan penyelidikan dengan jalan memutar dari barat lalu ke selatan, dan ke timur, Bi-kwi melakukan penyelidikan dari barat ke utara, lalu ke timur dan kini mereka bertemu di sebelah timur tempat itu.

“Pembantaian yang dilakukan oleh ketujuh orang tosu itu terhadap belasan orang yang menyerbu?” tanya Bi Lan.

Bi-kwi mengangguk. “Bukan cuma itu, juga di dekat sungai telah dibantai pula belasan orang. Sedikitnya ada tiga puluh orang yang tewas di tangan Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Ihhh, wanita itu sungguh lihai bukan main, juga memiliki kekejaman yang mengerikan!”

Diam-diam Bi Lan merasa heran dalam hatinya. Suci-nya memang benar telah berubah kalau dibandingkan dengan dahulu. Dahulu, sebelum suci-nya bertemu dengan Yo Jin, perbuatan yang tadi dilakukan oleh Sin-kiam Mo-li itu belum tentu membuat matanya berkedip, apa pula merasa ngeri! Agaknya kini perasaan hati Bi-kwi juga sudah berubah sama sekali sehingga menyaksikan perbuatan kejam dilakukan orang, wajahnya sampai menjadi pucat dan suaranya agak gemetar.

“Dan tujuh orang pendeta itu pun mempunyai kepandaian tinggi. Tadi kami juga sempat menyaksikan pada waktu mereka membunuh belasan orang itu. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan,” kata Sim Houw.

Bi-kwi mengangguk. “Kita harus mengatur siasat, tak boleh bertindak sembrono karena tempat ini penuh dengan jebakan-jebakan berbahaya. Dahulu, tiga orang suhu Sam Kwi pernah bicara tentang lorong rahasia yang mempergunakan bentuk pat-kwa. Sayang aku belum pernah mempelajarinya karena ketika itu kuanggap tidak perlu. Siapa kira kini kita dihadapkan dengan tempat yang dilindungi oleh lorong-lorong rahasia pat-kwa yang sulit dan berbahaya.”

“Sebaiknya kalau kita berunding dulu di tempat penginapan kita. Besok saja kita turun tangan karena sebentar lagi tentu hari menjadi gelap dan lebih berbahaya lagi masuk ke tempat seperti ini. Mudah- mudahan besok para tosu itu telah pergi sehingga gerakan kita akan berhasil tanpa banyak kesukaran,” kata Sim Houw.

Dua orang wanita itu setuju dan mereka pun cepat meninggalkan tempat itu menuju ke kota Teken di sebelah barat, kota yang kecil akan tetapi cukup ramai. Mereka bermalam di satu-satunya rumah penginapan yang terdapat di kota itu. Setelah tiba di tempat penginapan dan makan sore, malam itu mereka bertiga mengadakan perundingan dan mengatur siasat.

“Tidak ada lain jalan yang lebih baik,” akhirnya Bi-kwi berkata setelah mendengarkan pendapat Sim Houw dan Bi Lan, “kecuali menggunakan siasat bersahabat. Kalau kita mempergunakan kekerasan menyerbu, tentu anak itu akan disingkirkan lebih dulu dan kalau sudah demikian, sukarlah bagi kita untuk mencarinya. Tanpa bukti adanya anak itu, kita tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Sin-kiam Mo-li. Maka, mengingat bahwa ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nionio, paling baik kalau aku datang berkunjung sebagai seorang sahabat, sebagai seorang dari satu golongan.”

“Akan tetapi, suci! Siapa bilang engkau satu golongan dengan orang macam Sin-kiam Mo-li yang kini bergabung dengan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw? Mereka adalah orang-orang jahat, dari golongan sesat, sedangkan engkau…”

Bi-kwi melambaikan tangan. “Sudahlah, sumoi. Lupakah engkau siapa aku ini dahulu? Memang aku telah mencuci tangan dan hatiku, akan tetapi semua ini hanya digunakan sebagai siasat saja. Mengingat bahwa aku adalah murid Sam Kwi, mudah-mudahan ia mau menerimaku sebagai tamu, apa lagi mengingat bahwa aku pernah bekerja sama dengan ibu angkatnya. Tentu ia ingin sekali mendengar dari mulutku sendiri yang dulu bekerja sama dengan Kim Hwa Nionio, tentang perkelahian itu dan juga bagaimana ibu angkatnya tewas. Nah, sebagai tamu, aku tentu akan dapat bertemu dengan anak itu kalau memang benar anak itu berada di sana. Ia tentu tidak akan merahasiakan adanya anak itu di sana terhadapku yang sama sekali tidak akan dicurigainya. Dan kalau sudah demikian, berarti kita akan memperoleh dua keuntungan. Pertama, akan ada kepastian apakah anak itu berada di sana dan ke dua, aku sudah mengenal jalan yang aman memasuki daerah itu.”

Sim Houw mengangguk-angguk dan Bi Lan merasa girang sekali. “Ahh, bagus sekali, suci. Agaknya memang itulah jalan terbaik bagi kita. Untung sekali bahwa engkau telah ikut membantu kami, suci.”

“Aihh, sumoi, jangan memuji dulu. Ini baru rencana, simpanlah pujianmu sampai kita berhasil.”

Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam dan diam-diam Sim Houw mau pun Bi Lan melihat kenyataan betapa wanita yang dulunya menjadi iblis betina itu kini benar-benar telah berubah. Apa lagi ketika Bi-kwi bercerita tentang Yo Jin, di dalam kata-katanya itu penuh berhamburan nada cinta kasih yang mendalam terhadap suaminya itu sehingga Bi Lan merasa terharu sekali.

Kebaikan tak mungkin dilatih atau dipelajari. Kebaikan tidak mungkin dilakukan dengan sengaja karena kalau kebaikan dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa perbuatan itu merupakan kebaikan, maka itu bukan lagi kebaikan namanya, melainkan perbuatan yang sudah teratur dan karenanya berpamrih. Dan perbuatan apa pun yang mengandung pamrih, dapatkah dinamakan kebaikan? Yang dinamakan pamrih adalah harapan untuk mencapai sesuatu demi keuntungan diri pribadi, baik itu keuntungan lahir mau pun keuntungan batin.

Segala bentuk perbuatan, yang dinamakan baik mau pun buruk, adalah akibat dari pada keadaan pikiran, keadaan batin. Baik buruknya tiap perbuatan ditentukan oleh keadaan batin. Oleh karena itu, bukan perbuatan yang harus dirubah, yang harus dilatih atau dipelajari karena perbuatan hanya merupakan akibat dari keadaan batin. Yang perlu dirubah adalah batin sendiri, keadaan batin itu sendiri. Bukan dirubah oleh kita, karena kalau demikian, hal itu merupakan suatu perbuatan berpamrih yang lain. Bukan dirubah, melainkan BERUBAH!

Jadi, perbuatan yang dinamakan perbuatan baik tidak terpisah dari keadaan batin kita, demikian pula perbuatan yang dinamakan buruk atau jahat. Batinlah yang menentukan, keadaan batin yang mendorong setiap perbuatan. Kalau batin tenang dan bersih, dapatkah kita melakukan perbuatan yang buruk dan jahat? Sebaliknya, kalau batin keruh dan kacau, mana mungkin kita dapat melakukan perbuatan bersih dan baik?

Dan batin baru dalam keadaan hening, tenang, bersih, berimbang, tegak dan lurus, bersih dan bening, kalau tidak dikeruhkan dan disibukkan oleh pikiran! Pikiranlah yang membentuk AKU dan si aku inilah yang merajalela mengaduk batin, dengan segala keinginannya, mengejar dan mengulang kesenangan, mengelak dan menjauhi yang tak menyenangkan.

Si aku menyeret batin ke dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan antara baik dan buruk, senang dan susah, puas dan kecewa, suka dan duka, dan setiap saat batin menjadi keruh, menjadi sumber dari segala rasa takut, marah, benci, cemburu, tamak, iri, prasangka yang menjadi permainan si aku dan akhirnya hanya duka dan sengsara yang menjadi bunga kehidupan kita.

Untuk dapat menyelami semua ini, kita hanya tinggal menjenguk isi batin kita sendiri, mengamati batin kita sendiri saat demi saat, hidup hanya dalam keadaan sekarang ini, menghapus yang lalu dan menyingkirkan yang akan datang agar kita dapat sepenuhnya hidup di saat ini. Pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin sajalah yang akan dapat membuat kita waspada, tidak lagi menjadi boneka permainan nafsu, tidak ada lagi si aku merajalela dan yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran…..

********************

Belum lama setelah Sim Houw, Bi Lan dan Siu Kwi (Bi-kwi) pergi meninggalkan daerah tempat tinggal Sin- kiam Mo-li, menjelang sore, nampaklah seorang pemuda datang ke tempat itu seorang diri saja. Pemuda yang berusia dua puluh satu tahun kurang lebih, bertubuh tegap dengan muka bersih cerah, tampan, dengan pakaian sederhana warna biru. Pemuda ini adalah Gu Hong Beng!

Bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja dapat muncul di sini?

Kiranya Hong Beng mendengar ketika Kao Cin Liong bercerita kepada Suma Ciang Bun tentang Sin-kiam Mo-li seperti yang diceritakan oleh Bi Lan. Betapa Bi Lan dan Sim Houw hendak melakukan penyelidikan kepada wanita iblis itu yang mencurigakan, dan mengingat bahwa wanita itu adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nionio maka patut dicurigai sebagai penculik Hong Li dengan tujuan untuk membalas dendam kematian ibu angkatnya.

Hati Hong Beng amat tertarik mendengar cerita tentang Sin-kiam Mo-li ini, yang menurut penuturan dalam percakapan itu tinggal di kaki Heng-tuan-san di tepi Sungai Cin-sa tapal batas Propinsi Se-cuan. Penculik itu telah diketahui, dan kini Bi Lan, Bi-kwi dan Sim Houw pergi ke sana! Hatinya merasa tidak puas dan bahkan tidak enak. Bagaimana keluarga Kao percaya kepada tiga orang itu, terutama kepada Bi-kwi?

Tidak sepatutnya dan tak semestinya jika tugas menyelamatkan diserahkan kepada tiga orang yang masih amat meragukan itu. Siapa tahu mereka itu bahkan akan bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li, maklum sama- sama sesat! Dan timbul pula rasa iri di dalam hatinya. Sepantasnya dialah yang pergi menyelamatkan Hong Li dan mempertaruhkan nyawa untuk membela keluarga itu! Bukan orang orang macam Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi!

Pikiran inilah yang mendorong Hong Beng untuk segera berpamit pada gurunya setelah mereka meninggalkan Pao-teng. Kepada suhu-nya dia hanya mengatakan bahwa dia ingin merantau meluaskan pengetahuannya dan minta waktu selama satu tahun, baru dia akan menyusul suhu-nya. Suma Ciang Bun menyetujui kemudian mereka pun saling berpisah.

Setelah melakukan perjalanan seorang diri, Hong Beng mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke barat. Dia ingin mendahului Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi untuk lebih dulu sampai di tempat tujuan dan lebih dahulu menyelamatkan Kao Hong Li.

Maka, pada siang hari menjelang sore itu ketika dia tiba di tempat tujuan, dia segera akan memulai dengan usahanya mencari Hong Li. Dia tidak tahu bahwa baru beberapa jam yang lalu, tiga orang yang hendak didahuluinya itu baru saja meninggalkan tempat itu. Juga dia tidak tahu bahwa kini di rumah Sin-kiam Mo-li terdapat tujuh orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang amat lihai. Kalau saja Hong Beng bertindak lebih hati-hati, tentu dia akan memeriksa keadaan sekeliling dan akan melihat belasan anak buah Pek-lian-kauw yang berada di sebelah selatan hutan.

Dengan penuh semangat, penuh keberanian akan tetapi cukup berhati-hati, Hong Beng memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu. Dari jauh tadi dia telah melihat genteng rumah besar di antara gerombolan pohon di lereng itu dan menduga bahwa itulah rumah Sin-kiam Mo-li yang dicarinya. Dia pun melihat hutan yang pohon-pohonnya tumbuh teratur, bukan seperti hutan biasa dan dia dapat menduga bahwa hutan ini adalah hutan buatan, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.

Dia masuk daerah itu dari bagian yang belum pernah didatangi orang. Jebakan-jebakan di sini berbeda sifatnya dengan yang pernah menjebak orang-orang Cin-sa-pang, walau pun ada pula persamaannya. Ketika Hong Beng memasuki hutan pertama, dia melihat pohon-pohon besar dan tempat itu nampak gelap akan tetapi seperti tak pernah ada bahaya apa pun.

Dengan santai namun cukup waspada, Hong Beng melangkah di antara pohon-pohon besar itu, melalui lorong yang agaknya akan membawanya ke tengah hutan, menuju ke rumah yang gentengnya tadi pernah dilihatnya. Akan tetapi setelah melewati belasan pohon, tiba-tiba lorong itu terhenti dan tertutup oleh pohon besar yang memenuhi jalan.

Hong Beng melihat bahwa di belakang pohon itu penuh semak-semak belukar, berarti bahwa lorong itu memang berhenti sampai di situ saja! Tentu saja dia menjadi sangat penasaran. Melanjutkan perjalanan melalui lorong itu tak mungkin lagi karena semak-semak belukar di belakang pohon itu penuh dengan duri. Pasti ada jalan lain, pikirnya. Dengan hati-hati sekali Hong Beng lalu meloncat ke atas pohon, dengan maksud untuk mencari jalan dengan mengintai dari atas pohon.

Akan tetapi, baru saja dia melihat-lihat ke kanan dan kiri, tiba-tiba hampir dia berteriak kesakitan dan tangannya menggaruk ke arah betis kirinya yang tiba-tiba terasa gatal dan panas sekali. Kiranya ada seekor semut merah yang besar sekali merayap dan menggigit betisnya. Sekali tepuk, semut itu pun mati, tetapi rasa gatal pada betisnya itu semakin menghebat.

“Aduhh…! Aduhh…!” Hong Beng berseru ketika merasa betapa paha dan pundaknya juga terasa gatal panas digigit semut!

Cepat dia meloncat turun dari atas pohon, melepaskan pakaiannya bagian luar dan sibuklah dia membunuhi belasan ekor semut merah yang sudah merayap ke dalam pakaiannya. Untung baru tiga tempat saja tergigit, di betis, paha dan pundak. Akan tetapi semut itu memiliki racun yang ampuh dan berbeda dengan semut-semut lain.

Bekas gigitannya nampak membengkak merah dan rasanya gatal dan panas bukan main. Hong Beng cepat mengeluarkan obat anti racun yang selalu dibawanya, buatan suhu-nya, dan obat berupa minyak itu setelah digosokkan pada bekas gigitan seketika nyerinya hilang. Dia pun mengenakan lagi pakaiannya setelah mengebut-ngebutkannya sampai bersih.

Sambil memandang ke atas pohon, diam-diam dia bergidik. Entah berapa banyaknya semut-semut itu berada di sana, pikirnya. Dia masih belum menyangka bahwa semut-semut itu merupakan jebakan yang sengaja diatur oleh Sin-kiam Mo-li.

Semut-semut itu didatangkannya dari lain tempat, dibiarkan hidup berkembang biak di pohon-pohon besar itu untuk mencegah musuh melakukan pengintaian dari atas pohon. Tentu saja tidak semua pohon menjadi tempat tinggal semut-semut merah beracun ini, hanya pohon di bagian hutan itu saja, karena pohon- pohonnya memang pohon yang disukai semut-semut itu.

Terpaksa Hong Beng kembali lagi, akan tetapi betapa herannya ketika dia mendapat kenyataan bahwa jalan yang dilaluinya sekarang nampaknya seperti bukan lorong yang dimasukinya tadi! Entah apanya yang berubah, akan tetapi lain sama sekali. Ketika ada jalan simpang empat, dia mengambil jalan ke kanan karena jalan ini yang nampaknya paling rapi dan bersih, dan memasuki taman rumput yang indah dan di sebelah sana nampak lagi hutan kecil dengan sebuah telaga kecil di tengahnya.

Hong Beng bersikap hati-hati sekali. Sambil mengerahkan ginkang-nya, dia berjalan di atas lapangan rumput. Baru beberapa langkah dia memasuki taman, mendadak rumput yang diinjaknya itu ambles ke bawah. Ternyata di bawah rumput itu terdapat lubang jebakan berupa sumur dan rumput itu hanya tumbuh di atas sumur dengan akar yang saling berkaitan saja!

Untung bahwa semenjak tadi Hong Beng sudah bersikap waspada. Begitu kakinya yang melangkah di sebelah depan merasa menginjak tempat kosong, cepat-cepat dia segera memindahkan tenaga dan berat tubuh ke kaki belakang sehingga dia mampu menarik kembali kaki depannya.

Dengan sebuah ranting yang dipungutnya di tepi jalan, ia mengorek rumput di depannya dan terbukalah lubang jebakan itu yang lebarnya satu setengah meter persegi! Ketika menjenguk ke bawah, dia bergidik ngeri melihat benda bergerak-gerak di dasar sumur. Ular-ular sedang menanti jatuhnya korban di bawah sana!

“Jahanam keji!” Dia menggerutu dan melanjutkan langkahnya, mengitari sumur itu, akan tetapi kini setiap langkahnya dilakukan dengan lebih hati-hati dan waspada lagi.

Dia melewati dua lagi sumur jebakan yang tertutup rumput, dan pada sumur terakhir, bahkan ketika dia mengorek rumput membuka lubang, terdengar suara berdesing dan dari dalam lubang itu, mungkin alatnya dipasang di bawah rumput, menyambar tiga batang anak panah ke atas. Kalau dia kurang hati-hati, tentu luput terjeblos tetapi sukar untuk terhindar dari sambaran anak panah beracun!

Kembali dia memasuki hutan dengan pohon yang besar-besar dan kini cuaca di dalam hutan agak gelap karena memang matahari sudah condong ke barat dan sinarnya yang tidak begitu kuat agaknya tidak mampu menerobos daun-daun yang lembab. Ketika dia melangkah lagi, dia tidak melihat bahwa di depan kakinya terdapat sehelai tali hitam yang tingginya dua jengkal sehingga kalau ada orang lewat, bagaimana pun juga kakinya tentu akan tersangkut tali.

Demikian pula dengan Hong Beng. Dia sudah waspada, akan tetapi dalam cuaca yang mulai remang- remang di dalam hutan lebat itu, bagaimana dia mampu melihat tali di bawah yang berwarna hitam dengan latar belakang tanah hitam dan rumput hijau tua? Tahu-tahu, kakinya tersangkut dan dari atas turun menimpa batu yang besar sekali! Kiranya tali itu kalau ditarik, mengakibatkan jatuhnya sebuah batu yang besarnya seperut kerbau bunting dan kalau menimpa kepala, tentu kepala itu akan remuk dan tubuh akan ikut menjadi gepeng!

Namun Hong Beng tidak menjadi gugup. Dengan cekatan, dia melompat ke depan dan batu itu jatuh dengan mengeluarkan suara keras sekali ke atas tanah, membuat tanah tergetar dan pepohonan bergoyang-goyang. Agaknya jatuhnya batu ini menimbulkan akibat lain dan mengerjakan alat-alat rahasia yang dipasang di situ karena tiba-tiba saja dari atas pohon-pohon di sekeliling Hong Beng juga berjatuhan batu yang besar-besar!

Kini Hong Beng tidak berani meloncat lagi. Meloncat tanpa mengetahui apa yang akan diinjaknya di tempat lain, amat berbahaya, maka dia pun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, lutut ditekuk dan dia pun siap menanti datangnya hujan batu.

“Darrrr!”

Sebongkah batu besar yang menimpa kepalanya, dihantamnya dengan tangan terbuka dan batu itu pun pecah dan terlempar jauh. Masih ada lagi beberapa buah batu yang menghantamnya, namun semua dapat ditangkis oleh Hong Beng sehingga terlempar ke kanan kiri sedangkan tubuhnya sedikit pun tidak terguncang, hanya kedua kakinya yang ambles ke dalam tanah sampai pergelangan kaki saking beratnya batu yang menimpa dirinya tadi!

Setelah tidak ada lagi batu besar yang melayang turun, Hong Beng melanjutkan langkahnya dengan gagah, sedikit pun tidak merasa takut atau gentar walau pun dia tetap berhati-hati. Sepasang matanya melirik ke kanan kiri, seluruh urat syarafnya siap siaga.

Sementara itu, pergerakan jebakan-jebakan rahasia tadi tentu saja sudah diketahui oleh penghuni lembah itu dan diam-diam, ketiga orang pelayan cantik sudah mengintai dan mengikuti semua gerak-gerik yang dilakukan Hong Beng.

Ketika melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah, Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio menjadi bengong terpesona. Apa lagi ketika mereka menyaksikan betapa dengan tenaganya Hong Beng dapat menghadapi dan mengatasi semua jebakan yang dilaluinya, mereka bertiga memandang semakin kagum.

Tiga orang gadis cantik ini baru berusia dua puluh lima tahun kurang lebih, dan mereka hidup di tempat terasing itu, maka tentu saja kadang-kadang mereka merasa kesepian dan butuh akan kehadiran seorang pria di samping mereka. Kadang-kadang Sin-kiam Mo-li membawa pulang seorang pemuda tampan dan kalau sudah bosan, sebelum dibunuh pemuda itu diberikan kepada mereka bertiga.

Kadang-kadang mereka bertiga pun diperkenankan mencari hiburan di dusun-dusun di bawah pegunungan. Akan tetapi yang mereka dapatkan di sana hanya pemuda-pemuda dusun yang bodoh dan kasar. Maka, begitu melihat ada seorang pemuda yang demikian ganteng seperti Hong Beng, tentu saja mereka terpesona. Apa lagi melihat kegagahan pemuda itu.

“Ehhh, kenapa kalian bengong saja? Kalau dibiarkan, bisa rusak semua alat jebakan rahasia kita dan kita akan mendapat hukuman dan marah besar,” kata Ang Nio kepada kedua orang temannya.

“Hayo kita serang dia!” kata Pek Nio.

“Akan tetapi jangan dibunuh, sayang kalau dibunuh…,” kata Hek Nio sambil menarik napas panjang.

“Tolol, apa kau kira kami pun tidak dapat melihat kehebatan seorang pria? Akan tetapi jangan harap, Hek Nio. Pria seperti ini tentu takkan dilewatkan saja oleh majikan kita!” kata Pek Nio.

“Sudahlah, jika kelak kita memperoleh sisanya pun masih untung!” kata Ang Nio sambil meloncat keluar. “Hayo serbu!”

Hong Beng menjadi terkejut, akan tetapi tidak gugup ketika tiba-tiba nampak tiga sosok bayangan berloncatan keluar dari balik batang pohon dan dia telah dihadang oleh tiga orang gadis yang cantik. Pakaian mereka menarik perhatiannya. Seorang berpakaian serba merah, ke dua serba putih dan ke tiga serba hitam. Akan tetapi, mengenakan pakaian warna apa pun, mereka itu nampak anggun dan cantik.

Betapa pun juga, Hong Beng adalah seorang pemuda yang sudah terbiasa bersikap sopan, apa lagi terhadap wanita. Dia merasa betapa dia telah melanggar wilayah orang lain, memasuki tempat orang tanpa ijin, maka dengan sedikit kikuk dia pun menjura dengan hormat karena dia tidak tahu siapa adanya tiga orang gadis ini.

“Maafkan aku,” katanya lembut. “Bukan maksudku untuk memasuki tempat orang tanpa ijin, akan tetapi sesungguhnya aku ingin bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Benarkah ia bertempat tinggal di daerah ini? Dan siapakah nona bertiga?”

Tiga orang gadis itu saling pandang dan tersenyum manis. Biasanya, mereka bersikap galak, akan tetapi menghadapi seorang pemuda tampan dan gagah, mendadak saja sikap dingin mereka mencair dan berubah hangat dan genit.

“Sobat yang gagah, engkau datang tanpa ijin tetapi membawa pertanyaan-pertanyaan! Apakah ini tidak terbalik? Bukankah sepatutnya kami yang bertanya kepadamu siapa engkau dan apa maksud kedatanganmu ini?” jawab Ang Nio dengan pertanyaan dan suaranya terdengar merdu dan nadanya naik turun seperti orang bernyanyi, bibirnya tersenyum, wajahnya cerah dan matanya bermain dengan lincahnya.

Melihat sikap orang yang manis budi, Hong Beng kembali menjura kepada gadis yang pakaiannya serba merah itu. “Maaf, aku bernama Gu Hong Beng, akan tetapi aku tidak mempunyai urusan dengan nona bertiga. Aku datang untuk mencari Sin-kiam Mo-li, dan sekali lagi aku mengharapkan keterangan nona, apakah Sin-kiam Mo-li tinggal di sini?”

“Sicu (orang gagah) Gu Hong Beng, aku bernama Ang Nio.” “Aku Pek Nio,” kata si baju putih. “Dan aku Hek Nio,” sambung si baju hitam.

Kini Hong Beng merasa dipermainkan. Mana ada orang-orang mempunyai nama yang disesuaikan dengan warna pakaiannya? Tentu nama samaran. Apa lagi melihat betapa tadi mereka bertiga memperkenalkan nama sambil tertawa-tawa kecil, dia menganggap bahwa tiga orang gadis ini tentu sedang mempermainkannya.

“Gu-sicu, ada keperluan apa engkau mencari beliau?” tanya Ang Nio sambil memainkan matanya yang jeli.

Hong Beng mulai mengerutkan alisnya. “Aku rasa tidak ada urusannya dengan kalian bertiga. Katakan saja di mana Sin-kiam Mo-li, karena aku mempunyai urusan pribadi dengannya.”

Ang Nio tersenyum. “Tidak mungkin, sicu. Setiap orang tamu yang hendak berkunjung, haruslah berurusan dengan kami bertiga terlebih dulu. Kami mewakili toanio, dan kami yang berhak menerima atau menolak tamu. Kalau sicu bersikap manis kepada kami, tentu kami akan mengantarmu menghadap beliau.”

“Ada kami bertiga kenapa hendak menghadap toanio?” tiba-tiba Pek Nio dengan sikap genit berkata. “Kami akan dapat membuatmu merasa gembira!”

“Benar, sicu Gu Hong Beng yang ganteng, mari bersenang-senang dulu dengan kami bertiga, besok kami baru akan mengantarmu menghadap toanio,” kata Hek Nio dengan manis pula, dengan pandang mata penuh gairah.

Kerut merut di antara alis mata Hong Beng semakin mendalam. Barulah dia tahu apa artinya sikap manis dari tiga orang gadis ini. Kiranya mereka adalah gadis-gadis tidak tahu malu yang hendak merayunya! Dan agaknya mereka ini murid-murid atau juga pelayan dari Sin-kiam Mo-li. Bangkitlah kemarahannya.

“Kalian perempuan-perempuan tak bermalu! Kalian kira aku ini orang macam apa? Jika kalian memang tidak mau mengantarkan aku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, biarlah aku mencarinya sendiri!”

Berkata demikian, Hong Beng melanjutkan langkah kakinya. Akan tetapi, ketiga orang wanita itu menghadang di tengah lorong dan di tangan mereka masing-masing sudah memegang sebatang pedang.

“Agaknya engkau seorang yang tak tahu dicinta orang! Baiklah, hendaknya kau ketahui bahwa tanpa perkenan toanio, siapa pun juga tidak mungkin dapat mendatangi rumah kami! Apakah engkau memilih mati di tangan kami dari pada menikmati kesenangan bersama kami?” kata Ang Nio.

“Ang-cici, jangan dibunuh, sayang, dia begitu tampan dan gagah,” kata Pek Nio. “Kita tawan dia dan seret ke depan toanio!” kata pula Hek Nio.

Tiga orang wanita itu lalu menerjang Hong Beng. Mereka hanya menyimpan pedang di balik lengan kanan sambil menyerang dengan tangan kiri. Ada yang mencengkeram ke arah pundak, ada yang menampar ke arah leher dan memukul ke arah dada. Gerakan mereka cukup cepat dan gerakan tangan itu pun mengandung tenaga yang kuat.

Akan tetapi, bagi Hong Beng serangan mereka itu tiada bedanya dengan serangan tiga orang anak kecil saja. Sekali dia memutar tubuh dan menggerakkan tangan, dia telah dapat mengelak dan menangkis tiga serangan itu. Bahkan Hek Nio dan Ang Nio yang terkena tangkisan lengan Hong Beng, hampir saja terpelanting jatuh saking kuatnya tenaga tangkisan pemuda itu.

Kini yakinlah tiga orang wanita itu bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, maka mereka pun cepat memutar pedang dan menggunakan senjata mereka untuk kembali menyerang. Setelah mereka bertiga itu menyerang dengan pedang, Hong Beng melihat betapa ilmu pedang mereka hebat dan berbahaya. Teringatlah dia akan julukan majikan mereka, yaitu Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti).

Kalau majikan atau gurunya berjuluk Pedang Sakti, tidaklah mengherankan kalau tiga orang wanita ini memiliki ilmu pedang yang demikian hebat. Tiga batang pedang itu berubah menjadi tiga sinar bergulung- gulung yang menyerangnya dengan dahsyat dari tiga jurusan. Hong Beng harus mengerahkan ginkang-nya untuk membuat tubuhnya dapat bergerak dengan ringan dan cepat, mengelak ke sana-sini menyelinap di antara sambaran sinar-sinar pedang itu.

Memang dalam hal ilmu pedang, tiga orang gadis pelayan ini sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Sin-kiam Mo-li telah melatih jurus-jurus ampuh kepada tiga orang pembantunya ini agar mereka menjadi pembantu dan penjaga yang lihai. Jarang ada orang mampu mengalahkan ilmu pedang mereka, apa lagi kalau mereka itu maju bersama seperti sekarang ini.

Tidaklah terlalu aneh kalau kini Gu Hong Beng, murid dari keluarga Pulau Es, merasa repot didesak oleh tiga gulungan sinar pedang yang lihai itu. Hong Beng maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian ini dengan kedua tangan kosong saja menghadapi tiga batang pedang itu, dia dapat celaka.

Maka, ketika kembali tiga pedang itu menyerangnya dari tiga jurusan, depan, kanan dan kiri, tiba-tiba tubuhnya melayang ke belakang, bukan hanya untuk mengelak, melainkan dia berjungkir balik sampai jauh, kemudian menyambar sebatang ranting pohon yang dipatahkannya. Kini, dengan ranting yang sebesar lengan dan sepanjang pedang biasa, dengan terhias daun-daun, dia menghadapi tiga orang lawan itu dan begitu dia memutar ranting, tiga orang lawannya terkejut.

Biar pun hanya sebatang ranting, karena berada di tangan seorang ahli, maka ranting itu dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh. Tiga batang pedang itu menyambar dan mencoba untuk membabat ranting itu supaya patah. Namun, ranting itu dialiri tenaga sinkang dari Hong Beng yang mempergunakan tenaga Swat-im Sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju).

“Tak! Tak! Tringgg…!”

Tiga batang pedang itu tertangkis dan akibatnya, tiga orang wanita itu mengeluh dan terhuyung ke belakang. Nampak wajah mereka berubah pucat dan tangan mereka agak menggigil. Hawa dingin yang masuk tulang telah menyusup ke dalam tubuh mereka, terutama bagian lengan kanan yang memegang pedang.

Tiga orang pelayan itu merasa kaget dan juga penasaran sekali. Memang tadi pun mereka sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, akan tetapi sungguh sukar mereka dapat percaya bahwa hanya dengan sebatang ranting di tangan, dalam segebrakan saja pemuda itu mampu membuat mereka terhuyung, melalui serangan tenaga sinkang dingin yang demikian kuatnya!

“Bunuh orang berbahaya ini!” bentak Ang Nio.

“Orang tak mengenal kebaikan orang lain!” bentak Pek Nio.

“Engkau sudah bosan hidup!” Hek Nio juga berteriak.

Tiga orang wanita itu kemudian menggerakkan tangan kiri mereka dan sinar-sinar kecil menyambar ke arah Hong Beng. Namun pemuda ini tidak merasa gugup. Dengan amat tenangnya, ranting di tangannya digerakkan sehingga sekaligus jarum-jarum halus yang menyambar dari jarak dekat itu dapat dipukul runtuh semua. Tetapi, tiga batang pedang yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga sinkang itu telah menyerangnya dari tiga jurusan karena tiga orang wanita cantik itu telah membentuk barisan segi tiga.

Hong Beng maklum bahwa tiga orang lawannya tidak boleh dipandang ringan, apa lagi dia berada di sarang harimau, di daerah lawan yang amat berbahaya karena tempat itu penuh dengan perangkap dan jebakan-jebakan rahasia. Dia pun cepat menggerakkan rantingnya untuk menangkis sambil mengelak ke sana-sini, sangat hati-hati oleh karena khawatir kalau-kalau kakinya akan terjeblos.

Dia pun tidak berniat membunuh tiga orang wanita yang tidak dikenalnya itu. Mereka ini, menurut dugaannya, tentulah pelayan pribadi atau murid-murid tokoh yang bernama Sin-kiam Mo-li itu. Dan dia belum melihat bukti bahwa Sin-kiam Mo-li benar orang yang telah menculik puteri keluarga Kao, maka tidak baik jika sampai ia membuat gara-gara membunuh tiga orang wanita ini.

Ketika dia memperoleh kesempatan, ujung tongkat yang terbuat dari ranting sederhana itu berkelebat dengan kecepatan kilat, tiga kali menyambar sehingga pedang tiga orang wanita itu pun terlepas dari pegangan disusul teriakan mereka karena lengan kanan mereka mendadak menjadi kaku tidak dapat digerakkan untuk beberapa detik lamanya. Ujung ranting itu telah menotok jalan darah di lengan mereka secara luar biasa sekali.

Maklum bahwa mereka bukan lawan pemuda yang amat lihai itu, tiga orang pelayan cepat berloncatan dan menghilang di balik semak-semak tanpa mempedulikan pedang mereka. Mereka ingin cepat melapor kepada Sin-kiam Mo-li yang masih bercakap-cakap dengan tujuh orang tosu itu.

Hong Beng hendak mengejar tiga orang wanita itu untuk memaksa seorang di antara mereka mengantarnya bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Tanpa pengantar, dia tentu akan menghadapi jebakan- jebakan rahasia yang berbahaya. Akan tetapi, begitu dia meloncat ke dekat semak-semak, jalan itu buntu dan tidak nampak bayangan tiga orang wanita itu yang sudah menghilang seperti ditelan bumi saja.

Selagi dia kebingungan, mendadak terdengar suara ketawa merdu. Cepat dia bersiap siaga dan memandang. Kiranya di depannya telah berdiri seorang gadis remaja berusia tiga belas atau empat belas tahun. Gadis yang wajahnya manis sekali, kedua matanya lebar dengan sinar berkilat dan bergerak-gerak lincah, tanda bahwa dia seorang gadis remaja yang lincah cerdik dan bengal.

“Hi-hik, engkau merasa bangga telah mengalahkan tiga orang tadi, ya? Hemmm, tak perlu menjadi sombong, karena tanpa penunjuk jalan, jangan harap engkau akan dapat memasuki daerah kami ini, hi-hi- hik!”

Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu meloncat ke kanan di mana terdapat sebuah lorong yang merupakan jalan setapak. Tentu saja Hong Beng tertarik sekali. Dia maklum bahwa ucapan anak itu memang benar, dan kini dia memperoleh seorang penunjuk jalan, yaitu gadis cilik itulah!

“Haiii, berhenti dulu!” teriaknya dan cepat dia mengejar.

Girang hatinya melihat gadis cilik itu tidak begitu cepat larinya. Hong Beng bersikap cerdik. Tak perlu menyusul dan menangkap gadis itu, pikirnya, karena siapa tahu kalau ditangkap dan dipergunakan kekerasan untuk menjadi penunjuk jalan, gadis cilik itu malah tidak mau. Kini, mengikuti saja di belakang gadis itu tentu dia akan sampai juga ke tempat tinggal Sin-kiam Mo-li.

Maka ia pun pura-pura mengejar sambil berseru menyuruh berhenti, akan tetapi sengaja bergerak perlahan sehingga selalu berada di belakang gadis itu, terus mengikuti jejak kakinya, seakan-akan dia tidak pernah dapat menangkapnya! Gadis itu berlari terus, berloncatan ke sana-sini dan selalu diikuti jejaknya oleh Hong Beng.

“Haii, tunggu! Aku mau bicara denganmu!” teriak Hong Beng berkali-kali, teriakan yang merupakan siasatnya untuk membuat gadis itu berlari terus agar dia dapat mengikuti di belakangnya dengan aman.

Tentu gadis ini sudah hafal akan jalan rahasia di tempat berbahaya ini dan mengikuti jejak gadis itu berarti aman.

Gadis cilik itu bukan lain adalah Kao Hong Li. Tadi ia melihat munculnya pemuda itu dan melihat pula betapa pemuda itu mengalahkan Ang Nio, Pek Nio, dan Hek Nio. Timbullah kekhawatirannya karena pemuda itu ternyata lihai sekali. Tentu dia seorang musuh, mungkin seorang tokoh Cin-sa-pang yang amat lihai, yang berani datang seorang diri, tanpa senjata, dan hanya bersenjata ranting kayu namun dapat mengalahkan tiga orang pelayan yang lihai itu.

Melihat ini, Hong Li merasa bahwa ia tak boleh tinggal diam saja. Sebagai murid dari subo-nya ia harus bertindak mencegah musuh ini. Akan tetapi, ia pun maklum bahwa ilmu silatnya masih belum banyak selisihnya dengan tingkat para pelayan tadi sehingga menghadapi musuh ini dengan ilmu silat tidak akan ada artinya. Ia harus menggunakan siasat dan akal, pikirnya. Maka muncullah gadis cilik itu mengejek dan memancing Hong Beng.

Hong Beng merasa girang dan mengira bahwa tentu kini tempat tinggal Sin-kiam Mo-li sudah dekat. Tiba- tiba gadis yang dikejarnya itu berhenti di depannya karena di depan gadis itu membentang sebuah kubangan lumpur yang amat lebar. Kiranya tak mungkin untuk melompati kubangan yang demikian lebarnya.

Akan tetapi di sana-sini nampak terdapat batu-batu menonjol. Batu-batu itu cukup untuk dipergunakan sebagai loncatan, pikir Hong Beng, sama sekali dia tidak khawatir. Dan dugaannya memang tepat, gadis cilik itu melompat ke atas sebuah di antara batu-batu itu. Akan tetapi agaknya batu itu licin sekali sehingga tubuh gadis cilik itu nampak terhuyung dan bergoyang, hampir jatuh.

“Aduh, tolong…!” Gadis itu berseru.

“Jangan takut, aku menolongmu!” kata Hong Beng dan tanpa ragu lagi dia pun meloncat ke arah sebuah batu besar yang menonjol pula, tak jauh dari batu yang diinjak gadis itu, yang nampak ketakutan dan berdiri tegak di atasnya.

Akan tetapi pada saat kaki Hong Beng hinggap di atas batu itu, tiba-tiba saja tubuh anak perempuan itu pun melesat dengan cepatnya ke atas batu lain di dekat seberang. Dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Hong Beng ketika batu yang diinjaknya itu terjeblos ke dalam lumpur bersama tubuhnya. Dia hendak meloncat, namun terlambat karena kedua kakinya sudah terbenam ke dalam lumpur yang seolah- olah mempunyai kekuatan menyedot.

Dia mengerahkan sinkang, meronta. Akan tetapi karena tidak ada lagi tempat kokoh untuk berpijak, kekuatannya ini malah memberatkan tubuhnya dan dia pun ambles sampai dada! Maklumlah Hong Beng bahwa dia telah terjeblos ke dalam lumpur yang berbahaya sekali dan makin kuat dia meronta, makin dalam pula dia terbenam. Maka dia pun bersikap tenang, tidak lagi meronta dan tubuhnya tetap saja terbenam sampai ke dada, tidak turun lagi, akan tetapi juga sama sekali tidak ada jalan untuk menarik tubuhnya ke luar dari lumpur!

Dia memandang ke arah gadis cilik itu dan tahulah dia bahwa dia telah terpancing dan terjebak oleh gadis cilik yang amat cerdik itu karena kini dia melihat gadis itu tadi hanya bersandiwara dan ternyata dia terjebak! Tiga orang wanita dewasa yang lihai tidak mampu menangkapnya, juga perangkap-perangkap berbahaya mampu dihindarkannya. Siapa kira sekarang dia jatuh oleh seorang anak perempuan yang menggunakan akal bulus!

Diam-diam Hong Beng merasa penasaran sekali, juga memaki kebodohan diri sendiri, juga kagum akan kecerdikan anak itu. Masih begitu muda akan tetapi telah memiliki kecerdikan luar biasa. Agaknya anak itu telah memperhitungkan segalanya sehingga dia dengan mudah dapat ditipunya.

Hong Li tertawa-tawa kecil di tepi kubangan lumpur. Melihat lawannya telah terbenam sampai ke dada dan kini diam saja, sama sekali tidak bergerak, ia menggoda, “Hayo berontaklah! Makin kau meronta, semakin dalam kau tersedot, dan sebentar lagi lumpur akan menutupi mulutmu, hidungmu, matamu!”

Hong Beng merasa panas. “Hemm, bocah setan, jangan mengira aku takut mati! Aku hanya menyesalkan kebodohanku, mudah saja dapat tertipu oleh bocah setan macam engkau!”

“Ehh? Kau tidak takut? Tidak merasa ngeri? Kenapa engkau tidak minta ampun padaku dan minta pertolonganku agar aku menarikmu keluar?”

Hong Beng maklum bahwa anak setan itu hanya menggodanya, maka tentu saja dia tidak sudi memberi kepuasan kepada anak itu dengan memperlihatkan rasa takutnya.

“Sudah kukatakan, aku tidak takut mati. Akan tetapi, siapakah engkau ini dan masih ada hubungan apa antara engkau dan Sin-kiam Mo-li?”

“Hemm, siapa aku tidaklah penting. Yang penting siapa engkau dan mau apa engkau memaksakan kehendakmu memasuki daerah ini?”

Kembali Hong Beng kagum. Anak ini masih amat muda, akan tetapi sikapnya sudah dewasa dan cukup berwibawa. Seorang anak yang cerdik sekali, dan juga mempunyai sepasang mata yang tajam dan bening, sama sekali tak nampak bayangan watak jahat dari sepasang mata seperti itu.

“Namaku Gu Hong Beng dan aku datang untuk bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Karena menghalangi keinginanku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, maka aku berkelahi dengan tiga orang wanita itu.”

“Mau apa engkau minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li?” tanya pula Hong Li dan dia makin kagum karena kini tubuh pemuda itu sudah terbenam semakin dalam, sampai ke pundak, akan tetapi orangnya masih tetap nampak tenang saja.

Hong Beng mempertimbangkan pertanyaan ini. Perlukah dia berterus terang kepada anak perempuan ini? Akan tetapi, nyawanya tergantung di sehelai rambut, dan agaknya dia tak akan terbebas dari cengkeraman maut ini, maka apa salahnya kalau dia berterus terang?

Setidaknya, dia tidak akan lenyap begitu saja dan gadis ini menjadi saksi kematian dan kehilangannya. Siapa tahu, dari mulut gadis cilik ini kelak, suhu-nya dan semua orang akan mengetahui nasibnya. Biar mereka semua tahu bahwa dia tewas dalam usahanya menyelamatkan puteri keluarga Kao yang diculik orang.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, siapakah engkau ini sesungguhnya?” Hong Beng bertanya. “Aku adalah anak angkat, juga murid Sin-kiam Mo-li yang kau cari itu.”

Mendengar jawaban ini, lemaslah rasa hati Hong Beng. Celaka, pikirnya, pantas anak ini demikian cerdik dan lihainya. Dan harapan untuk memperoleh pertolongan semakin tipis dan jauh.

“Baiklah biar ceritaku ini merupakan pesan terakhir bagi siapa saja melalui engkau. Aku datang ke sini mencari Sin-kiam Mo-li untuk bertanya apakah ia telah menculik seorang anak perempuan. Kalau benar demikian, aku akan merampas kembali anak perempuan yang terculik itu!”

Mendengar ini, Hong Li nampak terkejut dan matanya terbelalak. Mata yang memang sudah lebar itu nampak semakin lebar, seperti matahari kembar. “Ih, subo tidak pernah menculik orang! Siapakah anak perempuan yang diculiknya itu?”

“Ia puteri dari pendekar Kao Cin Liong, namanya Kao Hong Li. Apakah engkau melihat anak itu di sini?”

Tiba-tiba Hong Li meloncat bangkit dari jongkoknya dan wajahnya berubah, alisnya pun berkerut. “Siapakah engkau sesungguhnya? Masih ada hubungan apa antara engkau dan keluarga Kao itu?” Pertanyaannya penuh nafsu dan mendesak sekali.

Pertanyaan aneh, pikir Hong Beng. Akan tetapi karena dia mengharapkan anak ini kelak menceritakan kepada semua orang tentang dirinya, dia pun menjawab sejujurnya. “Isteri pendekar Kao yang bernama Suma Hui adalah bibi guruku karena guruku, Suma Ciang Bun, adalah adik kandungnya.”

“Ahhh…!” Gadis cilik itu berseru kaget dan tiba-tiba ia bertanya, “Apakah engkau mampu mengeluarkan kedua tanganmu?”

“Apa…? Apa… maksudmu?”

“Cepat keluarkan kedua tanganmu ke atas lumpur supaya dapat aku menarikmu keluar dari situ.”

Tentu saja ucapan ini mengejutkan akan tetapi juga mengherankan dan terutama sekali menyenangkan hati Hong Beng yang secara tiba-tiba memperoleh harapan baru. Dia menarik kedua lengannya yang terpendam, akan tetapi walau pun dia berhasil menarik kedua tangannya ke atas, tubuhnya semakin tenggelam dan kini lumpur telah mencapai dagunya, hanya satu senti saja di bawah mulut! Bau lumpur yang busuk menyengat hidungnya.

Akan tetapi Hong Beng tetap bersikap tenang saja walau pun sedikit lagi, kalau lumpur sudah menutup hidungnya, berarti berakhirlah riwayat hidupnya. Dan pada saat itu, dia merasa ada benda yang licin bergerak meraba-raba kakinya. Dia terkejut dan dapat menduga bahwa di dalam lumpur itu terdapat binatang, mungkin semacam belut, ikan atau ular!

Teringat akan ini dia cepat mengerahkan sinkang-nya dan mengerahkan hawa panas dari Hwi-yang Sinkang untuk melindungi tubuhnya dari gigitan binatang. Dan untung dia melakukan ini karena pada saat itu, banyak sekali ular di dalam lumpur yang telah siap menggigitnya akan tetapi binatang-binatang itu mundur teratur ketika merasa betapa dari tubuh yang terbenam lumpur itu keluar hawa yang amat panas!

Sementara itu, Hong Li sudah memutar otak, bagaimana untuk menolong Hong Beng yang sebentar lagi tentu tewas kalau tidak cepat ditarik keluar. Tidak ada tali di situ. Akan tetapi ia seorang gadis yang amat cerdik. Ditumbangkannya sebatang pohon yang tidak berapa besar namun cukup panjang, dan diseretnya batang pohon berikut cabang dan daun-daunnya itu ke tepi kubangan lumpur.

Kemudian, ia memotong sebagian ikat pinggangnya yang terbuat dari sutera yang kuat. Diikatnya ujung batang pohon itu dengan ikat pinggang, kemudian ujung ikat pinggang ia ikatkan pada sebatang pohon besar yang kokoh kuat. Setelah itu, ia menyeret batang pohon tadi dan melemparkannya ke tengah kubangan sambil berseru kepada Hong Beng yang kini mulutnya sudah mulai tertutup lumpur!

“Tangkap ini dan tarik keluar dirimu melalui batang pohon!”

Tanpa diberi tahu pun, Hong Beng sudah maklum apa yang harus dilakukannya. Sejak tadi ia melihat saja dan bukan main kagumnya melihat usaha anak itu. Dia sendiri tentu akan bingung untuk menolong orang keluar dari lumpur tanpa adanya tali. Akan tetapi anak perempuan itu telah memperoleh akal yang amat baik.

Dia segera menangkap cabang pohon itu dan segera dengan hati-hati dan perlahan-lahan agar jangan sampai cabang itu putus atau ikat pinggang di ujung sana itu putus, dia mulai menarik tubuhnya ke atas. Dan dia berhasil! Perlahan-lahan, mulai nampaklah tubuhnya bagian atas yang berlepotan lumpur.

Kini, perlahan-lahan, dia merayap melalui batang pohon itu, menarik tubuhnya semakin tinggi keluar dari lumpur dan akhirnya, dengan terengah-engah, dia sampai juga ke tepi dan naik ke tepi kubangan lumpur, lalu menjatuhkan diri ke atas tanah saking lelahnya dan tegangnya.

“Ahh, engkau berhasil!” Hong Li berseru gembira.

Hong Beng mencoba membersihkan leher dan bagian bawah mukanya dari lumpur. “Ya, berkat pertolonganmu, adik yang baik. Engkau telah menyelamatkan nyawaku…”

“Tidak, karena aku yang membuat engkau terperosok tadi. Aku hanya ingin menebus kesalahanku saja!”

Hong Beng tersenyum. Benar juga, dan dia semakin kagum akan kejujuran anak ini. “Engkau anak angkat dan murid Sin-kiam Mo-li, kenapa malah menolongku? Siapakah engkau adik yang begini cerdik, lihai dan baik hati?”

“Namaku? Aku… Kao Hong Li!” “Ihhh…!”

Hong Beng meloncat dan lupa akan kekotoran tubuhnya yang terbungkus lumpur. Dia terbelalak memandang gadis cilik itu, penuh keheranan, penuh kejutan dan kekaguman. “Engkau… engkau adik Kao Hong Li? Akan tetapi, bagaimana engkau dapat menjadi anak angkat dan murid Sin-kiam Mo-li?”

Hong Li tersenyum manis. “Amat panjang ceritanya, suheng. Bukankah engkau menjadi suheng-ku karena engkau murid paman Suma Ciang Bun?”

“Ya, panjang ceritanya. Akan tetapi engkau telah berani masuk ke sini tanpa ijin, karena itu engkau harus menyerah sebagai tawanan kami,” tiba-tiba terdengar suara orang.

Ketika Hong Beng menoleh, di situ telah berdiri seorang wanita cantik, bertubuh tinggi ramping dan matanya mencorong. Yang mengejutkan hati Hong Beng adalah ketika dia melihat betapa di belakang wanita itu nampak pula tujuh orang tosu, di antaranya adalah tosu-tosu yang sudah dikenalnya, yaitu para tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang berilmu tinggi.

“Subo, dia ini suheng-ku sendiri…!” Hong Li mencoba untuk mencegah subo-nya.

“Hong Li, masuk kau! Belum juga kau kapok menolong orang yang hendak mengacau di sini!” bentak Sin- kiam Mo-li dengan marah.

Hong Li mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak berani membantah lagi dan sambil mengepalkan tinju, ia pun lari meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam bangunan dan mengunci diri di dalam kamarnya sendiri dengan marah.

Sementara itu, Hong Beng berdiri dengan siap siaga, bingung apa yang harus dilakukan karena setelah mendengar bahwa Hong Li adalah anak angkat dan juga murid Sin-kiam Mo-li, tidak mungkin dia menuduh wanita ini menculiknya. Akan tetapi, kenyataan bahwa Sin-kiam Mo-li datang bersama-sama tujuh orang tokoh Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai itu membuat dia semakin ragu karena dia mengenal tujuh orang ini sebagai orang-orang yang datang dari golongan hitam dan sesat, yang menggunakan agama dan perjuangan untuk menipu rakyat.

“Ha-ha-ha!” Terdengar Thian Kek Sengjin, tokoh Pek-lian-kauw yang bermuka merah itu tertawa. “Kiranya murid keluarga Pulau Es, Suma Ciang Bun, kini menjadi seekor belut yang suka bermain di dalam lumpur!”

“Mo-li, dia ini murid keluarga Pulau Es, kebetulan dia datang mengantar nyawa, biar pinto membunuhnya untukmu!” kata Thian Kong Cinjin, wakil ketua Pat-kwa-pai yang sudah menggerakkan tongkatnya yang panjang.

“Nanti dulu, totiang!” Sin-kiam Mo-li berseru dan kakek itu pun menahan tongkatnya. “Dia melanggar daerahku, dan akulah yang berhak untuk menghukumnya! Dia adalah tawananku!”

Sin-kiam Mo-li mencegah wakil ketua Pat-kwa-pai itu turun tangan, bukan semata-mata untuk mempertahankan kekuasaannya di daerahnya sendiri, melainkan karena dia telah melihat wajah dan bentuk tubuh yang tertutup lumpur itu dan dia merasa amat tertarik. Pemuda ini amat tampan dan gagah! Inilah yang membuatnya ingin menangani sendiri pemuda itu, membuatnya tunduk dan tidak membunuhnya. Sekarang dia melangkah maju menghadapi Hong Beng.

“Nah, orang muda. Apakah engkau sudah tahu akan dosa-dosamu, ataukah aku harus mengingatkanmu dengan kekerasan?” tanya Sin-kiam Mo-li, suaranya amat lembut dan pandang matanya berkilat.

Tujuh orang tosu itu bukan orang bodoh dan mereka pun tersenyum-senyum maklum, akan tetapi Sin-kiam Mo-li tidak peduli akan sikap mereka itu.

Hong Beng maklum bahwa kalau dia mempergunakan kekerasan, dia akan kalah. Baru menghadapi wakil ketua Pat-kwa-pai yang bermuka merah itu saja dia akan menemui lawan tangguh yang sukar dikalahkan, apa lagi di situ terdapat tujuh orang tosu dan agaknya wanita ini sendiri memiliki kepandaian yang tinggi.

Melawan dengan kekerasan berarti mengantar nyawa. Pula, apa gunanya melawan? Bukankah anak perempuan yang dicarinya telah berada di situ dan ternyata sama sekali bukan menjadi tawanan, bahkan menurut pengakuan Hong Li, tidak pernah anak itu diculik oleh Sin-kiam Mo-li? Apa alasannya untuk mengamuk di situ?

Dia pun menjura dengan sikap hormat. “Aku telah melakukan kesalahan, memasuki daerah kekuasaan orang lain tanpa ijin. Semua ini terjadi karena salah sangka. Aku sedang mencari puteri bibi guruku yaitu Kao Hong Li yang kabarnya diculik orang. Ternyata ia berada di sini sebagai muridmu, oleh karena itu, aku kecelik dan mengaku salah. Terserah kepadamu, Sin-kiam Mo-li, kalau engkau hendak menawan aku karena kesalahanku.”

Wanita itu tersenyum dan biar pun usianya sudah empat puluh tahun, akan tetapi ia kelihatan masih muda dan masih cantik menarik. Memang wanita ini luar biasa, dapat menjaga kemudaannya sehingga ia kelihatan seperti baru berusia kurang dari tiga puluh tahun, masih cantik dengan sepasang matanya yang tajam penuh gairah dan semangat, mulutnya yang manis dengan bibir yang padat merah. Kulit mukanya yang masih halus kemerahan belum ada keriput, sedangkan tubuhnya masih padat dan langsing, tinggi ramping dan padat.

“Engkau adalah murid keluarga Pulau Es, seorang pendekar yang gagah perkasa. Dan kesalahanmu tidak kau sengaja, maka tentu saja aku dapat memaafkan. Akan tetapi sebagai balasannya, engkau harus bersikap bersahabat dengan kami. Sekarang tinggal engkau pilih, ehhh, siapa namamu, orang muda?”

“Namaku Gu Hong Beng.” “Nah, Gu-taihiap…”

“Ahhh, harap tidak berlebihan, aku bukan seorang pendekar besar,” kata Hong Beng, merasa malu karena baru saja dia tidak berdaya dan bahkan nyawanya diselamatkan oleh seorang anak perempuan, bagaimana sekarang dia bisa menerima sebutan taihiap (pendekar besar)?

“Engkau memang patut disebut taihiap sebagai pewaris ilmu-ilmu yang hebat dari keluarga Pulau Es,” kata Sin-kiam Mo-li sambil memainkan matanya yang tajam dan jeli.

Kalau menurut keinginan hatinya, ia ingin membasmi semua keluarga pendekar Pulau Es. Akan tetapi kini dipaksanya mulutnya untuk memuji-muji keluarga itu karena ia ingin sekali merayu dan menjatuhkan hati pemuda yang telah membuatnya mengilar dan tergila-gila ini.

“Sekarang tinggal engkau pilih. Kalau memang engkau menyesali kesalahanmu dan beriktikad baik, jadilah engkau tamuku yang terhormat selama satu bulan dan engkau boleh ikut berunding bersama kami mengenai urusan perjuangan yang sangat penting. Sebaliknya, kalau engkau memilih menjadi tawananku untuk menerima hukuman atas kesalahanmu, terserah.”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Andai kata di situ tidak ada tujuh orang tosu itu, agaknya ada keberatan baginya untuk memilih yang pertama, yaitu menjadi tamu wanita aneh ini. Akan tetapi, tujuh orang tosu pemberontak itu berada di situ dan mereka hendak bicara tentang perjuangan! Dia tahu benar apa artinya perjuangan itu bagi para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Memang benar mereka itu selalu bermusuhan dengan pemerintah Mancu, namun di samping ini mereka pun terkenal sebagaai orang-orang sesat yang mengelabui rakyat dan tidak segan melakukan segala macam bentuk kejahatan yang kejam. Akan tetapi, kalau hanya menjadi tamu, apa salahnya. Dia boleh mendengarkan tanpa mencampuri, tanpa melibatkan dirinya.

Dia merasa serba salah, akan tetapi karena keadaan mendesak, dia pun menjura dan berkata, “Aku sudah melakukan kesalahan, oleh karena itu terserah kepadamu. Kalau kesalahanku dimaafkan dan aku dianggap sebagai tamu, aku merasa terhormat sekali dan mengucapkan terima kasih.”

Sin-kiam Mo-li tertawa dan tidak peduli lagi akan sikap tujuh orang tosu yang rata-rata mengerutkan alis tanda tidak setuju. Akan tetapi karena yang menjadi pemilik tempat itu adalah Sin-kiam Mo-li, mereka pun tidak mampu mencegah. Thian Kek Sengjin, tokoh Pek-lian-kauw itu, tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, kami bertujuh adalah tamu kehormatan dari Sin-kiam Mo-li, dan sekarang Gu-taihiap juga telah menjadi tamu kehormatan, berarti di antara kita sudah terikat tali persahabatan yang akrab. Gu- taihiap, terimalah hormat pinto, Thian Kek Sengjin dari Pek-lian-kauw!”

“Pinto Coa-ong Sengjin, sute-nya,” berkata kakek kecil bongkok bermuka monyet yang memegang seekor ular hijau itu.

“Pinto Ang-bin Tosu dari Pek-lian-kauw juga,” kata tosu kecil muka merah.

“Dan pinto adalah saudaranya yang berjuluk Im Yang Tosu,” kata tosu yang wajahnya membayangkan kecongkakan, dengan mata sipit dan mulut tersenyum sinis.

“Ha-ha, kita sudah pernah berkenalan, Gu-taihiap. Pinto Ok Cin Cu dari Pat-kwa-pai dan dia itu Lam Cin Cu sute-ku, dan wakil ketua kami Thian Khong Cinjin. Perkenalkan kami dari Pat-kwa-pai, ha-ha-ha!”

Hong Beng dengan perasaan sangat tidak enak membalas penghormatan mereka dan menjawab, “Kita sama-sama menjadi tamu di sini, bukan berarti ada ikatan apa-apa di antara kita.”

Para tosu itu hanya tertawa dan dengan gembira Sin-kiam Mo-li lalu memberi tanda kepada tiga orang pelayannya yang cepat bermunculan dari belakang pohon karena sejak tadi mereka pun berada di situ, siap menanti perintah pimpinan mereka setelah mereka tadi melaporkan tentang kemunculan pemuda lihai itu.

“Kalian layani Gu-taihiap untuk membersihkan diri. Berikan ia pakaian bersih, kemudian ajak dia menemuiku di ruangan tamu. Sediakan sebuah kamar untuk dia, kamar yang berada di sebelah kamarku. Layani dia baik-baik dan jangan ada yang berani kurang ajar! Awas, dia ini tamuku yang terhormat!”

Tiga orang wanita cantik itu saling pandang dan tersenyum, lalu mengangguk. Mereka sudah cukup mengenal watak guru dan majikan mereka, dan mereka juga tahu bahwa Sin-kiam Mo-li sudah tergila-gila kepada pemuda ini. Ucapannya tadi memperingatkan supaya mereka bertiga tidak berusaha untuk ‘mendekati’ pemuda itu yang sudah diaku sebagai milik pribadi Sin-kiam Mo-li! Sambil tersenyum ramah mereka menggandeng tangan Hong Beng dan diajaknya pemuda itu pergi bersama mereka.

Ingin Hong Beng memberontak ketika kedua tangannya digandeng dengan sikap genit dan manja oleh Ang Nio dan Pek Nio, akan tetapi Hek Nio yang berjalan di belakangnya berbisik, “Taihiap, tanpa bimbingan kami, mana mungkin engkau akan dapat tiba di rumah kami dengan selamat?”

Hong Beng pun melemaskan kedua tangannya dan menurut saja dituntun oleh kedua orang wanita cantik itu. Dia merasa tidak berdaya, dan merasa seperti seekor domba dituntun ke pejagalan. Apa gunanya meronta? Dia sudah menjadi tamu, dan terpaksa harus menerima pelayanan nyonya rumah!

Ia diajak melalui lorong yang berputar-putar, melalui lorong setapak dan kadang-kadang menyeberangi semak-semak, tidak melanjutkan jalan menurut lorong, dan akhirnya Hong Beng yang diam-diam mencurahkan perhatian, dapat mengetahui rahasia jalan itu. Ternyata lorong itu dibuat menurut garis-garis pat-kwa dan selanjutnya, setiap kali membelok atau memilih jalan bercabang, dia menduga terlebih dahulu dan memang cocok. Giranglah hatinya dan dia lupa bahwa dia masih berada di bawah kekuasaan Sin-kiam Mo-li.

Hong Beng diajak ke kamarnya, sebuah kamar yang besar dan mewah, dan dia pun dipersilakan mandi membersihkan lumpur kemudian berganti pakaian kering yang telah disiapkan pula. Akan tetapi dia menolak keras ketika tiga orang gadis cantik itu hendak turun tangan memandikannya!

“Apakah kalian berani hendak bersikap kurang ajar kepadaku? Akan kulaporkan kepada Mo-li!”

Benar saja, ancamannya ini berhasil baik. Tiga orang gadis itu mundur dengan wajah takut dan Ang Nio berkata, “Gu-taihiap tidak perlu marah. Kami bertiga tidak berniat kurang ajar, hanya bermaksud untuk membantu saja. Kalau taihiap tidak mau dilayani, silakan mandi sendiri, akan tetapi yang bersih karena kalau tidak bersih tentu ada bau busuk dari lumpur itu dan kami akan mendapat marah besar.”

Hong Beng merasa diperlakukan seperti anak kecil, dimanja, akan tetapi walau pun dia merasa panas di dalam hatinya, dia diam saja dan segera mandi. Segar rasa badannya, apa lagi setelah mengenakan pakaian bersih dan kering, pikirannya menjadi semakin tenang dan diam-diam dia bertanya di dalam hati, apa sebetulnya yang telah terjadi dengan diri Hong Li maka kini ia dapat menjadi anak angkat dan murid seorang wanita seperti Sin-kiam Mo-li.

Dia teringat akan cerita Kao Cin Liong bahwa tadinya Hong Li diculik oleh seorang pendeta dari Tibet yang berjuluk Ang I Lama yang lihai ilmu silatnya dan pandai ilmu sihir pula. Kemudian, ketika bertemu dengan pendeta itu, Kao Cin Liong dan Suma Hui tidak mampu mendapatkan jejak Hong Li dan ternyata kakek pendeta itu tidak pernah melakukan penculikan. Bahkan kemudian kakek itu kabarnya tewas terbunuh dan para pendeta Lama menuduh suami isteri Kao itu yang telah membunuhnya.

Dan kini, tahu-tahu Hong Li berada di tempat kediaman Sin-kiam Mo-li, bukan sebagai anak yang diculik, melainkan sebagai anak angkat dan juga murid! Ingin sekali dia dapat bertemu dengan anak itu dan mendengar keterangannya. Kalau sudah mendengarkan keterangan anak itu, barulah dia akan bertindak sedapat dan sekuat mungkin untuk menghadapi Sin-kiam Mo-li sebagaimana mestinya.

Apakah Sin-kiam Mo-li penolong anak itu? Kalau benar demikian, tentu saja dia tidak akan memusuhinya. Sementara ini dia akan bersikap biasa saja, sebagai seorang tamu yang dihormati dan menghormati nyonya rumah. Diam-diam dia akan memperhatikan bagaimana hubungan antara Sin-kiam Mo-li dengan tujuh orang tosu itu dan apa saja yang akan mereka bicarakan tanpa mencampuri urusan mereka.

Begitu dia selesai berpakaian, tiga orang gadis pelayan itu telah memasuki kamarnya lagi dan mengatakan bahwa kini mereka bertugas mengantar Hong Beng ke ruangan makan seperti yang diperintahkan majikan mereka. Hong Beng mengangguk dan keluar bersama mereka tanpa membantah.

Hatinya panas kembali dan merasa kesal sekali ketika dia melihat betapa ketiga orang gadis itu mengamatinya penuh perhatian. Bahkan Ang Nio lalu mengembang-kempiskan hidung sambil mendekatinya. Jelas gadis itu mencium-cium ke arah tubuhnya!

“Hemm, taihiap sudah tidak kotor lagi, tidak ada lagi bau lumpur yang busuk dan amis,” katanya lirih. “Sekarang baunya sedap!” sambung Pek Nio dengan genit sekali.

Akan tetapi Hong Beng tidak menanggapi, hanya cemberut saja dan ini sudah cukup untuk membuat mereka diam dan tidak berani melanjutkan godaan. Diam-diam Hong Beng bergidik.

Sin-kiam Mo-li memiliki tiga orang pelayan yang cantik-cantik dan genit-genit. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana kalau dia terjatuh ke dalam kekuasaan tiga orang gadis ini. Mereka bersikap bagaikan tiga ekor harimau kelaparan menghadapi seekor kelinci saja. Tentu dia akan diterkam mereka dan dirobek-robek!

Ketika dia tiba di ruangan makan yang lebar dan mewah juga, dengan perabot yang serba mahal, Sin-kiam Mo-li sudah duduk di situ bersama tujuh orang tosu itu. Sekarang Sin-kiam Mo-li nampak lebih cantik, sudah berganti pakaian dan rambutnya disisir rapi, digelung dan dihias dengan tusuk konde berlian dan jepit rambut batu kemala.

Ketika melihat Hong Beng yang mengenakan pakaian bersih berwarna biru itu, pakaian yang banyak dimiliki Sin-kiam Mo-li untuk diberikan kepada laki-laki yang diculiknya dan menjadi korbannya, wanita ini bangkit berdiri. Sepasang mata yang mencorong itu memandang kagum dan menyapu seluruh tubuh dan wajah Hong Beng tanpa berkedip, membuat pemuda itu merasa salah tingkah dan mengerutkan alisnya, berdiri saja dan balas memandang. Sin-kiam Mo-li tersenyum manis sekali.

“Gu-taihiap, setelah bertukar pakaian dan bersih, ternyata nampak tampan dan gagah bukan main, seperti tokoh Si Jin Kwi!” Ia memuji terang-terangan tanpa malu-malu lagi di depan para tosu yang tertawa-tawa.

Hong Beng mengerutkan alisnya yang hitam tebal itu semakin dalam, dan wajahnya yang putih bersih itu mendadak berubah merah. Dia merasa malu dan juga marah sebab pujian itu melampaui batas, tak patut keluar dari mulut seorang wanita baik-baik, apa lagi di depan banyak orang. Orang macam apakah wanita ini, pikirnya. Dia tidak menjawab, hanya berdiri dengan kikuk.

Melihat ini, hati Sin-kiam Mo-li menjadi semakin gembira. Jelas seorang pemuda yang masih hijau, seorang perjaka yang agaknya belum pernah berdekatan dengan wanita. Pikiran ini membuat jantungnya berdebar dan kalau tidak ditahannya, tentu air liurnya keluar dari tepi mulut seperti seekor sapi kelaparan melihat rumput muda menghijau.

“Gu-taihiap, silakan duduk,” katanya menunjuk ke sebuah bangku di sisi kanannya yang kosong.

Dan karena tidak ada bangku lain yang kosong, semua sudah ditempati para tosu dan Sin-kiam Mo-li, hanya sebuah yang kosong di sebelah kanan wanita itu, dan agaknya memang sudah diatur demikian, terpaksa Hong Beng lalu duduk di situ. Baru saja dia duduk, dia telah merasa betapa lutut kirinya bersentuhan dengan lutut kanan wanita itu. Cepat dengan gerakan halus dia menarik lututnya dan merapatkan kedua pahanya.

Sin-kiam Mo-li tersenyum dan memberi isyarat kepada tiga orang pelayannya. Ang Nio datang membawa seguci arak dan dengan sikap manis ia menuangkan arak merah ke dalam sebuah cawan kosong. Sin- kiam Mo-li menyerahkan secawan arak itu kepada Hong Beng.

“Terimalah cawan arak pertama sebagai ucapan selamat datang, taihiap!” katanya.

Saat Hong Beng menerima cawan arak itu, pemuda ini merasa betapa jari tangan yang halus lunak dan hangat menyentuh jarinya. Dia tidak berani menolak, lalu menghaturkan terima kasih sambil minum arak itu sampai habis. Arak yang manis dan enak. Akan tetapi Ang Nio memenuhi cawannya lagi.

Sin-kiam Mo-li menyodorkan arak dalam cawan itu sambil berkata, “Cawan ke dua ini untuk menghormatimu sebagai tamu kami, taihiap.”

Kembali Hong Beng minum arak itu tanpa membantah. Para tosu tertawa dan suasana menjadi gembira ketika Pek Nio dan Hek Nio datang seperti menari-nari, membawa baki yang berisi mangkok-mangkok penuh masakan yang beraneka macam, masih panas mengepul dan baunya sedap bukan main.

“Aihhh, bukan main sedapnya!” beberapa orang tosu berseru sambil mengecap-ngecap bibir.

Segera masakan di dalam mangkok-mangkok besar itu diatur di atas meja dan Sin-kiam Mo-li mempersilakan mereka makan minum. Hong Beng tidak bersikap malu-malu lagi karena memang perutnya juga sudah lapar sekali. Dia pun turut memainkan sepasang sumpitnya untuk memindahkan potongan- potongan daging dan sayur ke dalam perut melalui mulutnya, disiram oleh arak yang manis dan sedap.

Sebentar saja, sembilan orang itu telah makan sampai kenyang dan para tosu sudah menjadi setengah mabok karena terlalu banyak minum arak. Hong Beng menjaga diri dan hanya minum kalau setengah dipaksa oleh Sin-kiam Mo-li. Wanita ini sendiri, biar pun tidak mabok, namun wajahnya yang putih cantik itu telah menjadi merah sekali dan sepasang matanya seperti berminyak dan mengkilat.

Tiba-tiba ia menuangkan arak ke dalam cawan araknya sendiri yang setengahnya masih terisi, lalu mengangkat cawan arak itu diberikan kepada Hong Beng! Tentu saja pemuda ini ragu-ragu untuk menerimanya. Cawan itu milik Sin-kiam Mo-li, dan tadi masih ada setengahnya! Akan tetapi Sin kiam Mo-li dengan senyum manis sekali dan memandang dengan penuh gairah, berkata dengan suara yang merdu merayu.

“Gu-taihiap, atas nama persahabatan antara kita, demi eratnya persahabatan kita yang mesra, sudilah engkau menerima arak ini, taihiap.”

Bagaimana mungkin Hong Beng mampu menolak? Suguhan arak itu diberikan dengan alasan persahabatan dan kalau dia menolak, berarti dia tidak mau bersahabat! Dan sinar mata wanita itu demikian jeli, demikian penuh permohonan, sehingga dia pun tidak tega lagi untuk menolak! Pemuda ini sama sekali tidak sadar bahwa Sin-kiam Mo-li telah mempergunakan kekuatan sihirnya, mulai merayunya melalui suguhan arak!

Hong Beng minum habis arak itu dan ketika dia meletakkan cawan kosong itu di depan Sin-kiam Mo-li, wanita itu menurunkan tangannya seperti tidak disengaja. Akan tetapi tangan itu kini menutup tangan kiri Hong Beng dan jari-jari tangan yang kecil panjang dan lunak hangat itu mencengkeram punggung tangan Hong Beng.

Seperti orang linglung, Hong Beng mengangkat muka memandang dan melihat betapa cantiknya wajah wanita di sebelahnya itu, yang memandang padanya dengan sepasang mata seperti matahari kembar dan senyum yang lebih manis dan hangat dari pada arak yang diminumnya tadi. Hong Beng merasa betapa jantungnya berdebar keras, jalan darahnya berdenyut-denyut dan belum pernah rasanya dia melihat wanita yang secantik Sin-kiam Mo-li!

Tanpa disadarinya, dia pun membalas senyum itu. Bahkan dia lalu membalikkan tangan kirinya dan jari-jari tangannya bertemu dengan jemari tangan wanita itu. Telapak tangan mereka juga bertemu dengan hangatnya.

“Ha-ha-ha, tiba saatnya bagi kita untuk bermesraan!” terdengar suara seorang di antara tosu-tosu itu.

Ketika Hong Beng menengok, ternyata Ok Cin Cu telah menangkap pinggang ramping dari Hek Nio. Kini gadis berpakaian serba hitam itu telah ditarik ke atas pangkuannya! Hek Nio hanya terkekeh genit ketika tosu itu meraba-raba dan menciumnya.

“Siancai…!” kata Thian Kong Cinjin, wakil ketua Pat-kwa-kauw dengan alis berkerut saat melihat ulah anak buahnya itu. “Kita belum lagi mengadakan rapat pembicaraan tentang perjuangan itu sampai matang. Urusan senang-senang boleh ditunda dulu.”

“Hai, Ok Cin Cu, jangan tamak engkau!” seru Ang Bin Tosu tokoh Pek-lian-kauw kepada tokoh Pat-kwa- kauw itu. “Kita ada bertujuh di sini, dan ceweknya hanya ada tiga orang! Harus dibagi rata!”

“Sebaiknya mereka melayani kita secara bergilir!”

“Diundi dulu, siapa yang paling dulu dan bagaimana cara gilirannya menurut undian!”

Sambil tertawa-tawa, tujuh orang tosu itu memberi usul-usul. Akhirnya Sin-kiam Mo-li yang masih saling berpegang tangan dengan Hong Beng itu berkata,

“Cuwi totiang, harap jangan ribut-ribut. Kita di antara kawan sendiri, bukan? Dengarlah, urusan rapat, sebaiknya dilanjutkan besok siang saja karena malam ini aku… ehhh…,” ia menoleh kepada Hong Beng, “ingin beristirahat dulu. Dan tiga orang pembantuku itu boleh saja melayani kalian, dan memang sebaiknya diadakan undian sehingga tidak terjadi perebutan.”

Ia lalu bangkit berdiri dan menarik Hong Beng bangun. Pemuda ini menurut saja ditarik bangkit seperti orang kehilangan semangat. Memang semangat dan kemauannya telah ditekan dan dikurung oleh kekuatan sihir Sin-kiam Mo-li.

“Tentang undian itu, silakan atur sendiri. Nah, aku mengundurkan diri lebih dulu.”

Sin-kiam Mo-li menarik tangan Hong Beng. Seperti seekor kerbau yang diikat hidungnya dan kini ditarik ke pejagalan, Hong Beng menurut saja walau pun pandang matanya mulai bingung. Apa yang didengar dan dilihatnya di ruangan makan itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Dia merasa ngeri dan muak sekali, akan tetapi sungguh aneh, tidak ada kemauan untuk meronta sama sekali ketika Sin-kiam Mo-li menariknya menuju ke kamar nyonya rumah itu!

Sejak kecil Hong Beng menerima gemblengan dari Suma Ciang Bun. Ilmu-ilmu dari Pulau Es adalah ilmu yang tinggi dan cara melatih sinkang membuat batin Hong Beng kuat sekali sehingga jika memang dia menyadari dan mengerahkan kekuatan batinnya, tidak mudah dia jatuh ke bawah pengaruh sihir. Akan tetapi, ketika dia makan minum dengan Sin-kiam Mo-li, wanita cantik yang cerdik dan dapat menduga akan kekuatan pemuda itu telah mempergunakan sihirnya secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit sehingga tanpa disadarinya, Hong Beng tercengkeram olehnya.

Akan tetapi, begitu melihat suasana yang dianggapnya memuakkan di ruangan makan tadi, di mana para tosu memperebutkan tiga orang pelayan wanita itu, keheranan dan kemuakan menyelinap di dalam benak Hong Beng dan membuat dia bercuriga. Walau pun kemauannya sudah lemah dan dia membiarkan dirinya ditarik oleh Sin-kiam Mo-li menuju ke dalam kamarnya, tetapi diam-diam Hong Beng mulai mengerahkan kekuatan batinnya.

Begitu masuk kamar, Sin-kiam Mo-li menendang daun pintu tertutup dan ia menarik Hong Beng ke tempat tidur, lalu menerkam pemuda itu, mendekap dan menciuminya seperti seekor harimau menerkam domba, penuh dengan nafsu birahi. Akau tetapi, hal ini bahkan mempercepat kesadaran Hong Beng yang meski pun tadi dipengaruhi sihir, namun masih belum disentuh deh nafsu birahi.

“Ihhh…!” Dia membentak, meronta dan meloncat turun dari atas pembaringan.

Sin-kiam Mo-li mengembangkan kedua lengannya ke arah Hong Beng sambil bangkit duduk. Sepasang matanya berminyak, mulutnya mulai merintih-rintih, namun ia masih mencoba untuk mengerahkan kekuatan sihirnya.

“Gu Hong Beng, kekasihku… kita… kita saling mencinta. Ke sinilah, sayang, marilah kita bersenang- senang… bukankah kita telah menjadi sahabat yang amat mesra dan akrab? Ke sinilah, taihiap, kekasihku tercinta…”

Akan tetapi, mendengar ucapan penuh rayuan yang amat asing baginya ini, kesadaran Hong Beng semakin pulih dan dia mengerutkan alisnya, lalu menudingkan telunjuknya dengan marah.

“Sin-kiam Mo-li, sungguh engkau perempuan yang tidak tahu malu, tidak mengenal kesusilaan. Apa yang telah kau lakukan ini? Aku bukanlah laki-laki pelacur seperti yang kau kira! Aku… aku akan pergi dari sini, mengajak pergi nona Kao Hong Li!” Berkata demikian, Hong Beng hendak keluar dari dalam kamar itu.

“Berhenti…!” Tiba-tiba suara Sin-kiam Mo-li sudah berubah.

Ketika ia berkelebat menghadang di depan pintu, Hong Beng melihat betapa wajah yang tadi nampak cantik manis itu sekarang nampak seperti wajah iblis betina yang beringas, sepasang mata itu mencorong penuh kekejaman dan mulut itu menyeringai mengerikan!

“Gu Hong Beng, laki-laki tidak mengenal budi, tidak tahu dicinta orang! Engkau sudah menentukan pilihanmu sendiri. Bukankah engkau memilih di antara dua, yaitu menjadi tamu atau menjadi tawanan? Engkau memilih menjadi tamu dan aku memperlakukanmu seperti seorang tamu agung, akan tetapi apa balasanmu? Engkau malah menghinaku! Jangan harap engkau dapat keluar dari sini, apa lagi membawa muridku!” Berkata demikian, wanita yang marah itu maju menghampiri. “Masih kuberi kesempatan sekali lagi. Engkau mau melayani aku dan bersenang-senang dengan aku selama sebulan ini, ataukah engkau menjadi tawananku dan mungkin akan kubunuh?”

“Cih, perempuan tak tahu malu! Siapa yang takut mati? Lebih baik mampus dari pada menyerah kepadamu melakukan perbuatan hina dan rendah!”

“Keparat sombong!” Sin-kiam Mo-li membentak.

Wanita ini telah menerjang maju dengan pukulan dahsyat, menggunakan tangan kirinya menampar ke arah pelipis kepala Hong Beng. Pemuda ini sudah nekat. Bagaimana pun juga, tidak sudi dia memenuhi permintaan wanita iblis cabul itu dan biar pun dia tahu bahwa dia berada di tempat berbahaya, namun lebih baik dia mati dari pada harus menyerah.

Melihat datangnya pukulan dahsyat itu, dia pun menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga Swat-im Sinkang yang sangat dingin, sedangkan tangan kirinya membarengi tangkisan itu, mendorong ke arah lambung lawan yang terbuka.

“Dukkk…!”

Dua lengan bertemu dan wanita itu cepat meliukkan tubuh menghindarkan dorongan ke arah lambungnya. Ia dapat merasa betapa tangkisan itu mengandung hawa amat dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya. Cepat ia mengerahkan sinkang melawan dan ia pun tahu bahwa pemuda ini benar-benar tangguh, hal yang tidak aneh kalau diingat bahwa pemuda ini adalah murid keluarga Pulau Es yang terkenal memiliki sinkang dahsyat, yaitu Hwi-yang Sinkang yang panas dan Swat-im Sinkang yang amat dingin.

Maklum bahwa menghadapi pemuda ini dengan tangan kosong akan memakan waktu lama dan tidak mudah baginya untuk merobohkannya, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat ke dekat meja dan menyambar sebatang kebutan bergagang emas yang bulunya merah. Begitu dikelebatkannya kebutan ini, nampak sinar merah bergulung-gulung menyambar ke arah Hong Beng.

Pemuda ini lalu melawan sekuat tenaga. Untuk menangkis dan menghindarkan diri dari kebutan berbulu merah yang mengandung racun itu, dia mengeluarkan ilmu silat Hong In Bun-hoat yang gerakan- gerakannya halus tapi mengandung kekuatan sinkang hebat sehingga dapat mendorong pergi ujung kebutan setiap kali ujung kebutan mengancam tubuhnya. Tetapi, karena dia tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang, sebuah tendangan kaki kiri Sin-kiam Mo-li yang dibarengi dengan menyambarnya kebutan itu, menyerempet pinggang pemuda itu sehingga dia terpelanting dan terhuyung.

Marahlah Hong Beng. Dia kemudian nekat dan dengan mengeluarkan suara melengking nyaring, ia menyerang dengan Ilmu Silat Cui-beng Pat-ciang yang hebat. Ilmu ini adalah ilmu sesat dari Pulau Neraka, dimiliki oleh guru Hong Beng dari nenek Lulu dan biar pun ilmu ini hanya terdiri dari delapan jurus, namun dahsyatnya bukan kepalang.

Begitu Hong Beng menyerang, diam-diam Sin-kiam Mo-li terkejut karena kebutannya dapat terpukul membalik, bahkan dadanya nyaris pula terkena pukulan. Untung ia masih sempat membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik, lalu memutar kebutan di depan tubuh untuk menghalau serangan berikutnya.

Tapi Hong Beng tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawannya. Dia mendesak maju dengan jurus berikutnya dari Cui-beng Pat-ciang (Delapan Jurus Pengejar Arwah)! Kembali kebutan merah itu terpukul membalik dan dua pukulan tangan dari kanan kiri mengancam Sin-kiam Mo-li.

Wanita ini terkejut bukan main. Tidak disangkanya bahwa murid keluarga Pulau Es memiliki pukulan yang demikian mengerikan, yang sifatnya ganas dan lebih tepat kalau dimiliki golongan sesat. Karena tidak mengenal jurus-jurus ini, maka ia terdesak dan terpaksa ia kembali melempar tubuh ke belakang, mendekati dinding dan sekaligus ia mencabut sebatang pedang yang tergantung di situ.

Dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri Sin-kiam Mo-li sekarang menyerang Hong Beng. Hebat memang wanita ini kalau sudah memainkan dua buah senjatanya. Pedangnya menyambar- nyambar ganas sedangkan kebutannya membantu gerakan pedang, bahkan kedua senjata itu selain saling bantu dalam serangan, juga saling melindungi. Kalau pedang menangkis, kebutan menyerang dan sebaliknya.

Dan Hong Beng yang bertangan kosong itu terdesak hebat! Ketika dia tersudut dan tidak ada jalan keluar lagi, pemuda ini menjadi nekat hendak mengadu nyawa. Sambil mengeluarkan pekik dahsyat, dia mengerahkan tenaganya dan memukul dengan Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun, yang membuat kedua tangannya menjadi lemas bagai kapas, namun mengandung tenaga dahsyat yang dapat mencabut nyawa lawan dengan sekali pukul.

Namun, pedang di tangan Sin-kiam Mo-li menyambar sedangkan kebutannya menotok ke arah pergelangan tangan yang memukul. Hong Beng tentu saja menarik tangannya karena maklum bahwa ujung kebutan itu beracun dan biar pun dia sudah miringkan tubuh, tetap saja pundaknya tercium pedang sehingga bajunya robek berikut kulit dan sedikit daging di pangkal lengan kirinya! Sebuah tendangan yang menyusul, membuat tubuhnya terlempar ke arah pintu kamar.

“Tukkk!”

Tubuh itu disambut oleh seorang tosu yang sudah menotoknya dengan ujung tongkat sehingga Hong Beng roboh dengan kaki tangan lumpuh dan tidak mampu bergerak lagi.

“Ha-ha-ha, apakah pengantinmu ini banyak bertingkah, Mo-li?” kata Thian Kek Sengjin, tokoh Pek-lian- kauw yang tadi mempergunakan tongkat naga hitamnya menotok Hong Beng yang sudah terluka.

Tosu ini sedang menunggu gilirannya karena ketika menarik undian, gilirannya adalah yang terakhir. Tiga orang tosu memasuki kamar bersama tiga orang gadis pelayan, sedangkan yang tiga orang lagi termasuk Thian Kek Sengjin, menanti giliran mereka. Karena iseng, Thian Kek Sengjin lalu berjalan-jalan menuju ke kamar Sin-kiam Mo-li sehingga dia dapat merobohkan Hong Beng yang kebetulan terlempar ke pintu ketika dia membuka daun pintu karena mendengar suara perkelahian di dalam kamar itu.

“Biar kubunuh saja tikus kecil ini!” kata pula Thian Kek Sengjin sambil menggerakkan tongkatnya. “Jangan!” teriak Sin-kiam Mo-li. “Dia menjadi sandera yang berharga bagi kita.”

Memang wanita itu cerdik. Mendapat tawanan murid keluarga Pulau Es merupakan modal yang baik, karena pemuda itu dapat menjadi sandera yang tentu akan dihargai oleh keluarga Pulau Es. Selain itu, juga diam-diam ia masih mengharapkan untuk dapat mematahkan semangat pemuda ini dan suatu saat dapat menjatuhkan hati pemuda itu serta menariknya ke dalam pelukannya.

“Ha-ha-ha, pendapat itu boleh juga,” kata Thian Kek Sengjin sambil tertawa. “Dan bagai mana jika pinto saja menggantikan pemuda ini untuk menghibur hatimu yang kecewa?”

Sin-kiam Mo-li mengangkat muka memandang tosu itu. Seorang tosu yang meski pun sudah tua, namun nampak masih penuh semangat. Tubuhnya kurus kering, akan tetapi mukanya merah darah dan gerak- geriknya masih tangkas dan gesit, sepasang matanya bercahaya seperti mata kucing. Boleh juga, pikirnya, karena selain hatinya kesal atas penolakan Hong Beng dan ia membutuhkan teman untuk menghiburnya, juga ia melihat keuntungannya kalau berbaik dengan tosu Pek-lian-kauw yang lihai dan mempunyai pengaruh besar di perkumpulannya itu.

Sin-kiam Mo-li tersenyum. “Baiklah, totiang. Akan tetapi bantu dulu aku melempar orang keras kepala ini ke dalam kamar tahanan karena tiga orang pelayanku sedang sibuk melayani para tosu lainnya.”

Tentu saja Thian Kek Sengjin gembira sekali. Dia bukanlah seorang pengejar wanita cantik seperti Ok Cin Cu dan yang lain, akan tetapi baginya jauh lebih menyenangkan menjadi teman tidur nyonya rumah yang meski pun sudah lebih tua, namun jauh lebih cantik menarik dari pada tiga orang gadis pelayan itu, apa lagi kalau dia memperoleh giliran paling akhir! Dia lalu menyambar tubuh Hong Beng, sekali mencongkel dengan tongkatnya, tubuh pemuda itu terangkat naik dan dikempitnya.

“Ke mana ia harus dilempar?” tanyanya sambil menyeringai. Wajahnya yang kemerahan memang tidak begitu buruk seperti para tosu lainnya, maka tidak mengherankan kalau Sin-kiam Mo-li menerimanya.

“Mari ikuti aku,” berkata wanita itu sambil memasuki sebuah pintu rahasia di ruangan belakang.

Pintu ini tersembunyi di balik sebuah almari yang digeser ke kiri dan di belakang pintu terdapat sebuah terowongan yang menuju ke bawah tanah. Kiranya rumah besar itu selain terjaga di sekelilingnya oleh tempat-tempat rahasia penuh jebakan, juga memiliki ruangan bawah tanah yang cukup luas!

Ia memasuki sebuah kamar tahanan di bawah tanah itu, kamar tahanan yang sangat kuat karena dindingnya dilapisi baja dan pintunya juga dari baja dengan ruji-ruji sebesar lengan yang amat kokohnya pada jendela kamar itu. Dengan kasar Thian Kek Sengjin melempar tubuh Hong Beng ke dalam kamar ini yang berlantai batu. Tubuh yang sudah lumpuh kaki tangannya dan tidak mampu bergerak itu terbanting ke atas lantai, lalu daun pintunya ditutup dan dikunci dari luar oleh Sin-kiam Mo-li.

Kebetulan Hong Beng terjatuh dengan muka menghadap keluar, maka Sin-kiam Mo-li memandang kepadanya, kemudian tersenyum dan berkata, “Gu Hong Beng, kalau aku menghendaki, saat ini engkau tentu sudah menjadi mayat.”

“Bunuhlah, tak perlu banyak cerewet. Siapa takut mati?” Hong Beng menjawab. Yang lumpuh hanya kaki dan tangannya, sedangkan anggota tubuh lainnya tidak.

Sin-kiam Mo-li tidak marah, hanya tertawa. Kini ia sudah dapat mengatasi kekecewaan dan kemarahannya. Menghadapi seorang pemuda gagah perkasa dan keras hati seperti murid keluarga Pulau Es ini tidak boleh mempergunakan kekerasan seperti terhadap pemuda lain yang pernah diculiknya, hal ini ia tahu benar. Maka, ia pun ingin berganti siasat.

“Justru karena engkau tidak takut mati maka aku merasa sayang untuk membunuhmu. Nah, kuberi waktu padamu untuk merenungkan semua keadaanmu dan kuharap engkau tidak begitu tolol untuk mempertahankan kekerasan hatimu dan memilih mati secara konyol.” Setelah berkata demikian, Sin-kiam Mo-li tersenyum dan menggandeng tangan Thian Kek Sengjin yang tertawa-tawa ketika mereka berdua bergandeng tangan pergi meninggalkan ruangan bawah tanah itu.

Hong Beng menggeletak di lantai kamar tahanan itu. Sunyi bukan main di situ, tidak terdengar suara apa pun dan tidak terlihat sesuatu yang bergerak. Dia merasa seperti berada di dunia lain! Untung masih ada sebuah lampu lentera tergantung di luar kamar tahanan dan sinarnya memasuki kamar melalui jendela jeruji baja.

Hong Beng maklum bahwa ia tak dapat mengharapkan bantuan dari luar. Mati hidupnya tergantung kepada dirinya sendiri dan selagi dia masih bernapas, dia tidak akan putus harapan. Akan tetapi, bagaimana pun juga, kalau jalan keselamatannya harus melalui penyerahan diri kepada Sin-kiam Mo-li seperti yang dikehendaki wanita cabul itu, dia tetap menolak dan memilih mati!

Dia sudah banyak mendengar dari suhu-nya dan juga dari pengalamannya di dunia kang-ouw mengenai wanita cabul macam Sin-kiam Mo-li. Kalau sudah bosan kepada seorang laki-laki, tentu akan dibunuhnya.

Yang paling penting adalah membebaskan totokan ini, pikirnya. Maka Hong Beng lalu memejamkan dua matanya, mengatur pernapasan dan perlahan-lahan pemuda ini mulai mengerahkan hawa murni di tubuhnya untuk membobol bendungan jalan darah yang tertotok. Totokan di punggung oleh tongkat tokoh Pek-lian-kauw tadi memang hebat dan melumpuhkan kedua kaki tangannya.

Akhirnya, setelah dia mulai dapat mengumpulkan tenaga dan daya totokan itu pun mulai melemah, dia mampu membebaskan diri dari totokan itu dan mampu menggerakkan kembali kaki tangannya. Hong Beng lalu bangkit duduk dan bersila, bersemedhi sekian lamanya sampai tenaganya pulih kembali.

Diperiksanya luka di pundak. Hanya luka lecet, tidak berbahaya dan darahnya sudah berhenti. Dengan robekan ikat pinggang, dibalutnya pundak itu. Kemudian dia bangkit berdiri berjalan-jalan sebentar untuk memulihkan kekakuan kedua kakinya, barulah dia mulai memeriksa kamar tahanan itu.

Dicobanya ruji baja dan pintu, namun dia mendapat kenyataan bahwa dengan tenaga biasa, tak mungkin dia akan mampu lolos dari kamar baja ini seperti yang sudah diduga. Orang macam Sin-kiam Mo-li tidak mungkin demikian ceroboh dalam membuat kamar tahanan. Tiada jalan lain baginya kecuali menanti apa yang akan datang menimpanya. Yang penting, dia sudah dapat bergerak dan masih hidup! Maka dia pun kembali duduk bersila di tengah kamar itu, di atas lantai batu yang dingin.

Entah berapa lamanya dia bersemedhi, Hong Beng tidak tahu karena di dalam kamar tahanan itu tidak pernah dapat didengar suara apa-apa, juga hanya lentera itu yang menerangi cuaca sehingga dia tidak mengenal waktu. Tiba-tiba telinganya yang terlatih mendengar langkah kaki lirih menghampiri kamarnya dan tidak lama kemudian, dari jendela terdengar suara mendesis.

“Sssttt…!”

Hong Beng mengangkat muka dan melihat wajah gadis cilik yang mengaku bernama Kao Hong Li itu sudah menjenguk dari luar jeruji jendela. Cepat-cepat dia bangkit dan menghampiri.

“Suheng, aku menyesal sekali bahwa gara-gara aku engkau sampai tertangkap dan ditawan di sini,” kata Hong Li.

“Nona… ehh, sumoi Kao Hong Li, apakah engkau dapat membuka pintu ini dari luar?”

Gadis remaja itu menggelengkan kepalanya. “Penyimpan kunci adalah subo sendiri dan pintu ini tidak mungkin dibuka tanpa kunci.”

Hong Beng mengerti. “Sumoi, kalau begitu, selagi kini ada kesempatan, ceritakanlah kepadaku semua pengalamanmu secara singkat saja. Bagaimana engkau yang katanya dahulu diculik seorang pendeta Lama, tahu-tahu dapat menjadi anak angkat dari murid Sin-kiam Mo-li.”

Tadi ketika diusir pergi oleh gurunya, Hong Li memasuki kamarnya dan anak ini mulai memutar otaknya. Hatinya merasa tidak senang kepada subo-nya dan timbul rasa penasaran, heran dan juga curiga terhadap subo-nya yang menjamu tujuh orang tosu yang kelihatan begitu kurang ajar, kasar dan ganas. Apa lagi ketika ia teringat kepada Gu Hong Beng, orang yang bahkan menjadi utusan ayah ibunya untuk mencarinya, hatinya dipenuhi rasa khawatir.

Malam itu, diam-diam ia keluar dari tempat tidurnya kemudian melakukan pengintaian. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ia melihat Gu Hong Beng dikempit oleh seorang tosu kurus kering yang berjalan menuju ke lorong bawah tanah bersama subo-nya. Ia menanti sampai dua orang yang tertawa- tawa sambil bergandeng tangan itu keluar dari lorong bawah tanah.

Hong Li bersikap hati-hati sekali, tidak berani segera memasuki lorong itu karena dia khawatir kalau-kalau subo-nya akan kembali. Ia menanti sampai jauh malam. Setelah suasana sunyi, tidak nampak tiga orang gadis pelayan yang ia tidak tahu entah berada di mana, tidak nampak seorang pun di luar kamar, ia lalu menyelinap dan memasuki lorong bawah tanah melalui pintu rahasia yang sudah dikenalnya. Seperti yang sudah dikhawatirkannya, dia melihat pemuda itu telah berada di dalam kamar tahanan yang kokoh kuat itu.

“Aku dulu memang diculik orang, suheng,” Hong Li mulai bercerita. “Penculikku adalah seorang kakek bernama Ang I Lama. Akan tetapi, di tengah perjalanan, aku ditolong dan dilarikan oleh subo yang kemudian mengangkatku sebagai anak dan mengambil aku sebagai murid, setelah minta aku berjanji untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Karena aku merasa berhutang budi, maka aku pun berjanji dan aku menjadi muridnya sampai sekarang.”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Kalau begitu, benarlah bahwa wanita iblis itu bukan penculik Hong Li, bahkan penolongnya! Lalu ia pun teringat akan kematian Ang I Lama yang kemudian dikabarkan bahwa pembunuhnya adalah ayah ibu gadis remaja ini.

“Adik Hong Li, apakah engkau tahu apa yang selanjutnya terjadi dengan Ang I Lama, penculikmu itu?”

“Ah, dia telah datang ke sini untuk merampasku kembali, akan tetapi dalam perkelahian yang amat hebat, akhirnya dia terkena tusukan pedang subo dan dia melarikan diri, sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya lagi.”

Hong Beng mengangguk-angguk, kini mengerti bahwa pembunuh Ang I Lama adalah Sin-kiam Mo-li pula.

“Dengar, adik Hong Li, engkau telah terjatuh ke tangan orang yang amat jahat. Engkau tahu, orang yang menjadi gurumu itu bersekongkol dengan para tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, orang-orang yang amat jahat walau pun mereka berpakaian pendeta. Oleh karena itu sekarang engkau pergilah meninggalkan tempat ini. Selagi ada kesempatan, sumoi. Mereka semua sedang bersenang-senang dan engkau tentu akan mampu keluar dari daerah ini dengan selamat.”

“Pergi? Tapi… ke mana…?” Gadis remaja itu memandang dengan mata terbelalak. “Aku tidak tahu jalan pulang…”

“Pergilah, ke mana saja asal tidak di sini. Perlahan-lahan engkau dapat mencari jalan pulang. Percayalah kepadaku, demi keselamatanmu, pergilah dari sini malam ini juga…”

“Akan tetapi engkau sendiri menjadi tawanan…”

“Jangan hiraukan aku, sumoi. Yang paling penting engkau harus bebas dari neraka ini sebelum terjadi hal yang lebih buruk atas dirimu. Aku akan menanti kesempatan dan berusaha menyelamatkan diri.”

Akan tetapi gadis cilik itu menggeleng kepalanya. “Tidak mungkin, suheng. Aku tidak mungkin pergi dari sini meninggalkan subo.”

“Ehhh? Kenapa tak mungkin?” Hong Beng memandang heran.

“Lupakah kau akan ceritaku tadi? Aku telah diselamatkan subo dari tangan penculikku dan aku sudah berjanji dengan sumpah untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Sebelum lewat waktu itu, tak mungkin aku pergi meninggalkannya.”

“Akan tetapi, ia bukan orang baik-baik. Ia seorang yang jahat sekali, iblis betina yang kejam, ahh, engkau tidak dapat membayangkan betapa kejam dan jahatnya…”

Hong Beng bergidik membayangkan gadis cilik ini menjadi murid seorang wanita seperti Sin-kiam Mo-li. “Engkau pergilah dari sini!”

“Tidak, suheng, bagaimana pun juga aku tidak akan pergi, kecuali kalau subo yang menyuruh aku pergi atau… kalau subo sudah tidak ada lagi. Selama ia masih hidup dan tidak menyuruh aku pergi, aku tidak akan melanggar janji dan sumpahku sendiri!”

Hong Beng memandang kagum. Bagaimana pun juga, anak ini sungguh mengagumkan dan pantas menjadi puteri keluarga Kao, keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir! Masih kecil namun sudah demikian gagah dan teguh memegang janji.

“Baiklah kalau begitu, pergilah keluar dari sini, sumoi, jangan sampai ketahuan orang lain bahwa engkau masuk ke sini.”

“Nanti dulu, suheng, aku harus mencari akal bagaimana untuk dapat membebaskan engkau dari sini. Kalau engkau dapat keluar dari kamar ini, lalu aku mengantarkan kau keluar dari daerah kami, tentu kau akan selamat.” Anak itu mengerutkan alisnya, berpikir mencari akal. Akan tetapi ia tidak dapat menemukan akal itu.

“Aihh…” ia mengeluh dan menggeleng kepala. “Satu-satunya jalan adalah mencuri kunci itu dari subo. Akan tetapi betapa mungkin kalau kunci itu selalu dikantonginya?”

“Memang tidak mungkin, murid murtad!” Tiba-tiba terdengar suara Sin-kiam Mo-li dan wanita itu telah berdiri di ambang pintu!

Hong Li membalikkan tubuhnya menghadapi subo-nya, sedikit pun tidak nampak takut! Bukan kebetulan saja Sin-kiam Mo-li memasuki lorong bawah tanah itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo