October 3, 2017

Suling Naga Part 22

 

Sambil membelai rambut kepala gadis itu yang terlepas dari sanggulnya dan kini terurai di atas dadanya, Sim Houw pun berkata, “Moi-moi, engkau sudah tahu bahwa aku cinta padamu, akan tetapi aku… ahhh, aku selalu ragu-ragu, hampir tidak percaya bahwa seorang gadis seperti engkau bisa jatuh cinta padaku. Sampai sekarang pun aku masih merasa terheran-heran bagaimana engkau dapat cinta padaku, moi-moi.”

Bi Lan membuka matanya memandang. Sinar matanya berseri dan mulutnya yang berbibir merah basah itu tersenyum. “Sejak dahulu aku cinta padamu, koko. Aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi, bahkan guru-guruku jauh dariku. Sam Kwi jauh dari hatiku karena mereka jahat, sedangkan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir juga jauh. Aku sudah tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai kakak atau adik, tidak berkeluarga. Karena itu, dalam dirimu aku menemukan semuanya itu. Bagiku engkau adalah pengganti orang tua, pengganti guru, juga pengganti kakak, keluarga, dan juga kekasih hatiku.”

“Tapi… tapi kenapa justru aku yang kau pilih?”

Senyum di bibir Bi Lan melebar. Perasaan halus seorang wanita membuat ia merasa bahwa tentu kekasihnya ini meragukan karena tahu ada beberapa orang pemuda pilihan yang juga jatuh cinta kepadanya. Mengapa ia memilih Sim Houw dan bukan seorang di antara mereka?

“Karena engkau tidak hanya memkirkan diri sendiri, koko. Engkau selalu memikirkan kepentinganku dan meniadakan kebutuhanmu sendiri. Engkau tidak pencemburu seperti Hong Beng, dan engkau tidak mengkhayal dan memikirkan wanita lain seperti Kun Tek, walau pun engkau pernah kecewa dan patah hati karena wanita. Cintamu kepadaku murni dan engkau hanya ingin melihat aku bahagia. Karena semua itulah, juga karena aku tertarik kepada pribadimu, kepada wajahmu, kepada perangaimu, kepada… segala- galamu, maka aku cinta padamu.”

Dihujani pujian-pujian itu, Sim Houw jadi terharu sekali dan tanpa disadarinya lagi dia menunduk, mendekatkan mukanya dan entah siapa yang mulai lebih dahulu, akan tetapi tahu-tahu mereka sudah saling dekap dengan eratnya dan bibir mereka saling kecup dengan mesra sampai lama, sampai mereka akhirnya menyudahi ciuman itu dengan napas terengah-engah. Bukan terengah karena kehabisan napas, melainkan terengah karena keduanya merasa tubuh mereka panas dingin dan darah dalam tubuh mereka berdesir dan bergolak.

Suara seperti rintihan keluar dari leher Sim Houw dan dia menyembunyikan mukanya pada leher yang berkulit putih mulus dan hangat itu, di antara rambut yang membelai mukanya seperti benang-benang sutera hitam. Sementara itu, dengan tubuh menggigil, Bi Lan memejamkan matanya, menggelinjang dan jantungnya berdebar, tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas dan dari kerongkongannya juga keluar suara seperti merintih halus.

Sampai agak lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, sampai tiba-tiba telinga keduanya menangkap suara yang keluar dari dalam perut Bi Lan. Suara berkeruyuknya perut yang menuntut isi! Mendengar ini, keduanya lalu sadar dari keadaan yang asyik masyuk itu.

Akan tetapi biar pun hatinya merasa agak geli, Sim Houw cukup bijaksana untuk diam saja dan pura-pura tidak mendengar. Bahkan dia kemudian mempergunakan kekuatan sinkang-nya menekan pada perutnya sendiri sehingga terdengarlah suara berkeruyuk yang sama dengan tadi, hanya yang ini lebih nyaring!

Bi Lan yang tadi merasa canggung dan malu, ketika mendengar keruyuk ke dua dari perut Sim Houw, lalu tertawa. “Hi-hik, ada lomba nyanyi dalam perut kita, koko…!”

Sim Houw juga tertawa dan buyarlah suasana asyik masyuk tadi dan mereka berdua tersadar. Meski mereka kini merenggangkan diri dan suasana masih mesra, sentuhan tangan mereka masih mengandung getaran asmara, namun mereka tidak lagi dikuasai birahi seperti tadi.

Mereka bangkit berdiri. Sim Houw memegang kedua lengan gadis itu. Mereka berdiri saling berhadapan, dekat sekali. Sim Houw mencium dahi Bi Lan, lalu berkata, suaranya halus dan menggetarkan kasih sayang amat besar. “Lan-moi, mulai sekarang kita harus berhati-hati. Kita harus dapat berjaga diri, jangan sampai terjadi kebakaran…”

“Ehhh? Maksudmu?”

“Tadi ketika kita saling berciuman, aku hampir kebakaran…”

Bi Lan tersenyum dan menahan suara ketawanya. Wajahnya menjadi merah sekali. Untung cuaca sudah mulai gelap sehingga dia tak perlu menyembunyikan kemerahan wajahnya.

“Terus terang… tadi aku juga merasa aneh… ehh… kebakaran…,” Bi Lan berkata lirih sambil pelan-pelan menundukkan wajahnya.

“Aku tahu, karena itu, sebelum kita menikah dengan sah, sebaiknya kalau kita berdua berhati-hati, jangan terlalu dekat agar tidak terjadi kebakaran dan pelanggaran.”

“Baiklah, koko…” Bi Lan mengangguk dan semakin kagum terhadap kekasihnya itu. Demikian kuatnya! Kuat lahir batin.

“Bukankah semuanya itu kita lakukan demi kebahagiaan kita sendiri di kemudian hari, Lan-moi?” “Engkau benar.”

Mereka lalu membuat api unggun, dan Sim Houw berhasil menangkap dua ekor ayam hutan. Daging dua ekor ayam hutan inilah yang mengisi perut mereka sebelum mereka akhirnya beristirahat di dalam goa itu, dengan tubuh mereka yang dihangatkan oleh api unggun.

Dunia nampak begitu indah bagi mereka, bahkan keadaan dalam goa yang demikian sederhana, di bawah sinar api unggun, hanya tidur di atas tanah berbatu yang kasar, bau tanah mentah, semua itu nampak amat indahnya. Indah luar biasa.

Keindahan terletak di dalam batin. Batin yang berbahagia membuat segala sesuatu nampak indah menyenangkan, segala penglihatan nampak indah, segala pendengaran menjadi merdu, segala makanan menjadi lezat. Batin yang berbahagia mendatangkan sorga, sebaliknya batin yang keruh mendatangkan neraka. Segala apa pun nampak tak menyenangkan bagi batin yang keruh.

Batin menjadi keruh karena pikiran selalu sibuk berceloteh. Sayang bahwa kita selalu menjejali pikiran kita dengan segala macam persoalan sehingga pikiran tiada hentinya bekerja keras dan sibuk, oleh karena itu, batin tak pernah menjadi bening.

Sim Houw dan Bi Lan yang baru saja mendapat sinar cinta, untuk sejenak pikiran mereka tidak sibuk dan batin mereka tidak menjadi keruh. Akan tetapi hanya sebentar saja karena setelah mereka selesai makan dan sekarang duduk bersila menghadapi api unggun, pikiran mereka mulai bekerja lagi mengingat-ingat akan hal yang telah lalu.

“Sungguh kita beruntung sekali bahwa keadaan berakhir dengan baik di Istana Gurun Pasir,” kata Sim Houw. “Kalau aku teringat betapa tadinya subo-mu sudah marah sekali kepadamu, dan betapa suhu dan subo-mu agaknya sudah tidak percaya lagi kepadamu, sungguh aku masih merasa ngeri. Kalau mereka menghendaki, tidak akan sukar bagi mereka untuk menghukum kita, bahkan membunuh kita sekali pun.”

“Tetapi aku tetap percaya akan kebijaksanaan mereka, koko. Yang menggemaskan adalah orang yang memburukkan namaku di depan suhu dan subo, dan agaknya aku tahu siapa orangnya!”

Sim Houw memandang wajah kekasihnya. Dia pun dapat menduga siapa orangnya, akan tetapi dia tidak mau mendahului Bi Lan. “Siapakah dia, Lan-moi?”

“Siapa lagi kalau bukan Gu Hong Beng?”

Sim Houw pura-pura kaget. “Kenapa engkau menyangka dia?”

“Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan subo kepadaku, terdapat tuduhan bahwa kita telah melakukan perbuatan yang melanggar susila. Siapa lagi orangnya yang akan menyangka kita telah berbuat demikian kecuali Gu Hong Beng yang dipenuhi perasaan cemburu dan iri itu? Dia bersama gurunya yang mendesak dan menyerang kita, dan dialah yang juga menuduh kita secara membuta membela suci Ciong Siu Kwi. Maka aku yakin tentulah dia yang telah memburukkan namaku di depan suhu dan subo.”

Sim Houw menarik napas panjang, maklum mengapa kini pemuda yang gagah perkasa itu, murid dari seorang tokoh keluarga Pulau Es, yang tadinya merupakan seorang sahabat yang setia dan baik dari Bi Lan, kini berubah memburukkan nama Bi Lan. Dia tahu bahwa pemuda itu jatuh cinta kepada Bi Lan, namun ditolak oleh kekasihnya ini, dan agaknya Hong Beng merasa iri hati dan cemburu. Diam-diam dia merasa kasihan karena dia maklum bahwa orang pertama yang tersiksa oleh cemburu bukan lain adalah diri orang yang cemburu itu sendiri.

“Sudahlah, biarkan saja jika memang benar dia yang memburukkan namamu. Mungkin memang dia menyangka kita membela suci-mu secara membuta, mungkin dia mengira bahwa kita telah menyeleweng dari kebenaran. Yang penting, kita yakin benar bahwa kita tidak menyeleweng, bahwa kita telah berbuat benar. Kini kita harus mencurahkan segala perhatian kita untuk mencari adik Kao Hong Li. Dan sesuai dengan pesan suhu dan subo-mu, sebaiknya kita langsung menuju ke kota Pao-teng untuk mengunjungi keluarga locianpwe Kao Cin Liong.”

Bi Lan menyatakan persetujuannya dan mereka pun tidak lagi membicarakan tentang Hong Beng…..

********************

Dengan hati berat oleh kegelisahan dan kedukaan, suami isteri pendekar Kao Cin Liong dan Suma Hui terpaksa meninggalkan Tibet dan daerah Himalaya. Mereka telah gagal menemukan puteri mereka walau pun mereka telah berhasil menjumpai pertapa yang berjuluk Ang I Lama.

Mereka masih menggunakan waktu berbulan-bulan untuk terus melakukan pencarian di daerah itu, tetapi tak pernah dapat menemukan jejak puteri mereka. Jejak satu-satunya hanyalah bahwa puteri mereka diculik oleh seorang berjuluk Ang I Lama dan ternyata kakek pertapa itu tidak menyembunyikan puteri mereka! Ke mana lagi mereka harus mencari?

Akhirnya Kao Cin Liong berhasil membujuk isterinya yang kini menjadi kurus dan pucat karena selalu merasa gelisah dan berduka memikirkan puteri mereka yang hilang, untuk pulang saja ke Pao-teng.

“Jelas bahwa tidak ada jejaknya di barat ini,” katanya kepada isterinya. “Sebaiknya kita pulang saja karena siapa tahu kalau adik Suma Ciang Bun dapat menemukan jejak di sana.”

Mereka pun melakukan perjalanan pulang ke Pao-teng dengan hati yang berat. Mereka merasa lelah lahir batin ketika tiba kembali di rumah mereka. Dan kedukaan mereka ditambah lagi oleh kekecewaan dikarenakan Suma Ciang Bun yang telah lama menanti mereka di situ mengabarkan bahwa dia pun gagal dalam penyelidikannya.

“Aku telah melakukan penyelidikan ke delapan penjuru berpusat dari Pao-teng, akan tetapi tidak seorang pun pernah melihat kakek berjubah merah membawa seorang anak perempuan tiga belas tahun.”

“Agaknya, penculik itu dapat membawa Hong Li keluar dari Pao-teng dan pergi jauh tanpa ada yang melihatnya. Orang itu tentu lihai sekali.” Suma Ciang Bun menerangkan ketika begitu tiba di rumah dan bertemu dengannya, enci-nya, Suma Hui, mengajukan pertanyaan padanya. “Dan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian?”

Suma Hui lemas tidak mampu bercerita, dan Kao Cin Liong yang menceritakan kepada adik isterinya itu tentang kegagalan mereka menemukan Hong Li jauh di daerah Tibet dan Himalaya sana. Suma Ciang Bun ikut merasa kecewa dan berduka, dia mengepal tinju.

“Keparat manakah yang telah berani melakukan penculikan ini? Aku hanya menanti kembalinya Hong Beng dari Gurun Pasir, dan aku akan mengajaknya untuk mencari lagi, entah ke mana.”

“Muridmu itu belum kembali?” Suma Hui kini ikut bicara. “Kenapa demikian lamanya? Jangan-jangan dia tidak berhasil menemukan Istana Gurun Pasir.”

“Tidak mungkin. Sebelum berangkat sudah kuberi gambaran yang jelas tentang letak tempat itu dan jalan mana saja yang harus diambil untuk dapat mencapainya dengan mudah,” kata Kao Cin Liong.

“Kalau begitu, aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya,” kata Suma Ciang Bun. “Telah terlalu lama aku menanti kalian kembali di sini, dan sekarang aku akan menyusul Hong Beng dan bersama dia mencari keponakanku itu sampai dapat.”

Suami isteri itu tidak mencegah, bahkan mereka tidak mampu mengeluarkan pendapat. Dalam keadaan gelisah dan duka, mereka seperti kehabisan akal, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Tidak tahu harus ke mana mencari puteri mereka, kepada siapa harus bertanya atau minta bantuan.

Dalam keadaan duka dan putus asa, orang berada dalam keadaan kosong atau hening. Sayang bahwa keheningan itu merupakan keheningan di luar kesadaran, keheningan sebagai akibat terseret oleh duka, keheningan yang lumpuh. Pada hal, justru kita amat membutuhkan keheningan, karena dari sumber atau dasar keheningan dan kekosongan inilah kita dapat memandang dengan penuh kewaspadaan!

Batin kita tidak pernah mengendap, tidak pernah kosong atau hening, selalu penuh dengan prasangka, pendapat dari keinginan. Karena itu, panca indera kita tidak pernah bekerja dengan sempurna dan hidup, melainkan hanya bergerak karena dorongan batin yang sarat oleh beban itulah. Kalau batin sudah berprasangka, mana mungkin pandang mata kita dapat memandang dengan waspada dan awas?

Semua panca indera kehilangan kepekaannya sebab selalu diselubungi oleh prasangka, pendapat, atau keinginan. Kita tidak lagi melihat kenyataan apa yang ada, melainkan selalu ingin melihat sesuatu seperti yang kita kehendaki, yang kita inginkan sehingga segala kenyataan, jika tidak cocok dengan keinginan kita, nampak buruk, bahkan amat mengganggu mata.

Demikian pula dengan pendengaran, penciuman, perasaan dan semua alat tubuh yang sudah menjadi budak dari pada nafsu kita. Hilanglah semua ketajaman dan kepekaan yang pernah kita miliki ketika kita masih kanak-kanak, ketika pikiran kita belum sarat oleh beban, ketika ‘aku’ kita belum membesar dan merajalela menguasai seluruh diri lahir batin.

Lihatlah mata orang yang baru saja bangun tidur, ketika pikirannya masih mengendap, akan nampak sinar mata yang bening dan cemerlang. Tapi, begitu batinnya disibukkan kembali oleh isi pikiran yang bermacam-macam, lenyap pula keheningan mata, kembali menjadi muram dan hampa, hanya dipermainkan rasa suka duka, puas kecewa. Hanya melihat benda-benda yang disuka atau tak disuka, mendengarkan dengan dasar senang dan benci. Mata seolah-olah menjadi buta dan tidak pernah melihat segala sesuatu seperti keadaan yang sebenarnya, seperti apa adanya!

Ada pula orang yang ingin mempertajam kembali panca indera, melahirkan kembali kepekaannya dengan jalan membius diri dengan candu dan obat-obat pembius lainnya. Memang, untuk sesaat badan akan menjadi kosong dan bebas, dan panca indera akan bebas pula sehingga kita akan dapat menikmati keadaan apa adanya. Akan nampak betapa indahnya setangkai bunga, sehelai daun, sekelompok awan, atau wajah seorang manusia, indah tanpa batasan antara bagus dan jelek, indah yang bukan berarti bagus. Telinga akan menangkap suara-suara yang luar biasa indahnya, bukan bagus tetapi wajar seperti apa adanya dengan segala nada dan iramanya, dengan segala gaungnya, gemanya, antara kosong dan isi dari serangkaian suara itu.

Tapi, semua itu hanya ditimbulkan oleh keadaan kosong atau hening yang dipaksakan, yang timbul karena pembiusan! Seperti orang minum anggur, baru menjilat percikannya saja. Dan akibatnya, orang akan menjadi kecanduan, orang akan selalu lari kembali kepada obat bius untuk bisa memasuki alam yang indah itu lagi! Dan jika sudah begitu, maka hal itu menjadi kesenangan. Seperti biasanya, untuk mengejar kesenangan orang rela berkorban apa pun juga, dan dalam hal ini, mengorbankan tubuhnya yang menjadi rusak oleh pengaruh obat bius.

Dapatkah kita memasuki keindahan itu tanpa bantuan obat bius? Pertanyaan ini berarti, dapatkah kita membersihkan semua debu yang mengotorkan batin kita? Dapatkah kita membuang semua beban pikiran kita? Dapatkah kita membiarkan pikiran hening dan kosong tanpa mengisinya dengan segala kesibukan yang bukan lain adalah si aku yang ingin segala itu?

Dapat atau tidaknya, mari kita MENGAMATI saja. Mengamati diri sendiri, pikiran sendiri, batin sendiri. Kita amati tiap saat tanpa menentangnya, tanpa berusaha menenangkan atau mengosongkannya, sebab jika masih ada usaha mengosongkannya, berarti TIDAK KOSONG. Kalau kita berusaha membuatnya hening, itu berarti bahwa batin kita tidak hening lagi karena terisi kesibukan INGIN HENING.

Dapatkah kita mengamati saja, tanpa pro dan kontra, seperti nonton sandiwara yang terjadi di dalam pikiran kita, tanpa komentar? Yang ada hanyalah pengamatan, bukan ‘aku’ yang mengamati, karena kalau aku yang mengamati, tentu karena aku ingin batin ini hening, aku ingin begini dan begitu. Jadi, yang ada hanya pengamatan, yang ada hanya kewaspadaan.

Kao Cin Liong dan isterinya adalah orang-orang gagah perkasa, pendekar-pendekar budiman, namun mereka juga manusia-manusia biasa dengan segala kelemahannya. Mereka tidak mampu menghindarkan diri dari pada ikatan, dan ikatan dengan puteri merekalah yang membuat mereka kehilangan akal, membuat mereka berduka sekali ketika puteri mereka itu dipisahkan dari mereka.

Mereka kehilangan akal, tak sedap makan tak nyenyak tidur, selalu gelisah dan akhirnya keduanya bersepakat untuk meninggalkan rumah lagi, pergi mengunjungi Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun, di luar kota Cin-an. Kepergian mereka mengunjungi Suma Ceng Liong itu selain untuk menghibur diri, juga untuk mengabarkan tentang kehilangan puteri mereka agar Suma Ceng Liong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu dapat membantu mereka mencari Hong Li, atau setidaknya minta pendapatnya…..

********************

Gu Hong Beng melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat. Ia telah meninggalkan gurun pasir dan kini tiba di luar sebuah dusun yang letaknya di sebelah utara Tembok Besar. Tidak jauh dari tembok itu karena tadi, ketika dia menuruni sebuah bukit, dia telah melihat tembok itu melingkar-lingkar seperti seekor naga di antara pegunungan di selatan.

Melihat sebuah dusun yang berada di tempat terpencil ini, hati Hong Beng menjadi amat tertarik. Siapa tahu dia bisa mendapat arak atau makanan di dalam dusun itu, pikirnya. Amat menjemukan setiap hari makan bekal makanannya, yaitu roti kering dan daging kering. Juga dia ingin sekali minum arak setelah berpekan-pekan hanya minum air saja.

Selagi dia hendak memasuki dusun itu melalui pintu gerbangnya yang rusak tiba-tiba dia mendengar teriakan suara wanita. Hong Beng melihat seorang laki-laki bangsa Mongol sedang memondong tubuh seorang gadis Mongol dan agaknya gadis inilah yang tadi mengeluarkan teriakan.

Hanya teriakan pendek karena kini gadis itu tidak dapat berteriak lagi. Sebuah tangan pemondongnya menutup mulutnya dan biar pun gadis itu meronta-ronta, namun sama sekali ia tidak mampu melepaskan diri dari pelukan laki-laki yang bertubuh besar itu, bagaikan seekor kijang dicengkeram seekor harimau yang buas. Orang Mongol itu lari keluar dari dusun, langkahnya lebar dan agaknya dia telah menculik gadis itu tanpa ada yang mengetahuinya.

Biar pun Hong Beng tidak tahu apa yang telah terjadi, namun melihat seorang gadis dilarikan seorang pria secara paksa, jiwa pendekarnya bergejolak dan dia pun cepat meloncat dan menghadang.

“Berhenti!” bentaknya dalam Bahasa Mongol yang sudah dipelajarinya dengan baik.

Orang Mongol itu memandang dengan mata merah dan beringas. Apa lagi ketika dia melihat bahwa yang menghadangnya ialah seorang pemuda Bangsa Han, bangsa yang dianggapnya sebagai musuh besar semenjak bangsanya kehilangan kekuasaannya di selatan, setelah penjajahan Mongol berakhir.

“Keparat orang Han, minggir kau dan jangan mencampuri urusanku!” bentaknya dalam Bahasa Han yang cukup baik! Memang, Bangsa Mongol banyak yang pandai berbahasa Han, hal ini tidak mengherankan jika diingat bahwa mereka menjajah Tiongkok selama dua ratus tahun!

“Lepaskan gadis itu! Tak pantas seorang laki-laki memaksa seorang gadis yang lemah!” kata pula Hong Beng sambil mengamati orang Mongol itu.

Seorang pemuda yang usianya sekitar tiga puluh tahun, memiliki tubuh raksasa yang membayangkan kekuatan raksasa pula. Otot-otot menonjol keluar dan mengembang di bawah kulitnya yang kemerahan karena terbakar matahari. Dadanya bidang dan kedua lengannya yang berotot itu nampak mengandung tenaga luar biasa.

Hal ini mudah dilihat karena pemuda Mongol itu telah menanggalkan baju atasnya yang kini diikatkan di pinggangnya. Tubuhnya yang kokoh kuat itu penuh dengan keringat yang membuat kulit tubuhnya mengkilat. Wajahnya membayangkan kekerasan hati dan keberanian, namun matanya yang agak kemerahan itu memandang beringas dan liar, dan ada sesuatu yang tidak wajar pada pandang matanya itu.

Karena marah menghadapi Hong Beng, pemuda Mongol itu lupa akan gadis yang ada dalam pondongannya dan menjadi lengah. Tangannya yang menutup mulut gadis itu mengendur dan kesempatan ini dipergunakan oleh gadis itu untuk menggigit tangan itu.

“Ughhhh…!” Orang Mongol itu terkejut dan kesakitan.

Ia lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tanah. Demikian kuat lemparannya hingga gadis itu terbanting dan bergulingan. Hong Beng cepat menangkap dan mengangkatnya bangun. Gadis itu sejenak merasa nanar, tetapi ketika melihat bahwa ia telah ditolong oleh seorang pemuda Han yang tampan, ia merasa lega dan berbisik.

“Dia… dia itu gila…” Setelah berkata demikian, gadis ini lalu melarikan diri secepatnya kembali ke dalam dusun.

Hong Beng melihat betapa gadis Mongol itu cantik dan manis sekali, akan tetapi dia pun terkejut mendengar bisikan itu. Kiranya orang Mongol seperti raksasa ini adalah seorang yang gila, dan hal ini memperbesar bahaya. Melawan seorang gila amat berbahaya, karena tentu saja seorang gila berada di luar kesadarannya, dapat menjadi kuat bukan main, dan juga nekat dan tidak mengenal takut.

Melihat gadis itu melarikan diri, orang Mongol itu berseru keras dan mengejar, akan tetapi Hong Beng sudah melompat di depannya dan menghadang.

“Engkau tidak boleh kejar gadis itu!” kata Hong Beng.

Orang itu berhenti, menatap wajah Hong Beng dengan matanya yang merah kemudian mengeluarkan suara gerengan dari kerongkongannya bagaikan suara binatang buas, lalu dia pun menubruk dengan kedua lengan dipentang lebar, jari-jari tangan terbuka.

Serangan itu datang dengan mendadak dan cepat sekali, akan tetapi Hong Beng sudah siap sejak tadi. Dengan mudah dia mengelak dan menyelinap dari bawah lengan kanan lawannya. Akan tetapi orang itu membalik dan dengan kecepatan luar biasa, kini tangan kirinya menyambar untuk mencengkeram ke arah kepala Hong Beng!

“Hemm…!” Pemuda ini terkejut juga, tidak mengira bahwa lawannya ini demikian cepat gerakannya dan agaknya memiliki ilmu berkelahi yang cukup kuat dan mahir. Kembali Hong Beng mengelak dan menyampok lengan yang menyambar itu dari samping.

“Plakk!” Hong Beng mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga yang bersembunyi di dalam lengan yang ditangkisnya itu.

Melihat betapa orang yang diserangnya itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangannya, orang Mongol itu menjadi semakin marah. Matanya melotot dan merah sekali, dan kini sambil mengeluarkan gerengan-gerengan menyeramkan, dia bergerak cepat menyerang Hong Beng membabi buta! Cepat dan kuat sekali serangannya, dan bertubi-tubi karena setiap kali dielakkan atau ditangkis, dia sudah kembali menerjang dengan lebih dahsyat.

Hong Beng tidak berniat memusuhi orang ini. Dia belum tahu apa yang telah terjadi dan siapa orang ini, siapa pula gadis tadi dan mengapa pula orang ini melarikan wanita itu. Siapa tahu kalau-kalau wanita itu masih keluarganya sendiri? Lagi pula, dia tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang Mongol sebab ia pun tahu bahwa orang-orang Mongol merasa sakit hati kepada orang Han dan kini menganggap Bangsa Han sebagai musuh mereka. Dia tidak ingin mencari gara-gara di tempat ini dan kalau dia tadi turun tangan, semata-mata karena dia ingin membebaskan seorang wanita dari tangan seorang pria yang hendak memaksanya.

Akan tetapi karena orang itu menjadi semakin ganas, serangan-serangannya menjadi makin dahsyat, Hong Beng merasa khawatir juga. Bukan tidak berbahaya kalau sampai terkena cengkeraman karena agaknya orang ini adalah ahli gulat, ilmu berkelahi Bangsa Mongol yang terkenal itu. Dia harus dapat merobohkan orang ini tanpa membuat dia menderita luka berat, pikirnya. Ketika orang itu kembali menubruk, dia menyelinap ke samping dan kakinya menendang ke arah paha dengan maksud agar orang itu roboh dan dia akan melarikan diri.

“Bukkk!”

Hong Beng terkejut sekali karena merasa betapa sepatu kakinya bertemu dengan gumpalan daging paha yang kerasnya seperti besi saja! Kiranya orang ini selain kuat dan cepat, juga tubuhnya kebal! Dia mencoba lagi dengan memukul dan menampar ke arah pundak, dada dan bahu, namun hasilnya sama. Orang itu tidak roboh, jangankan roboh, tergoyang pun tidak oleh tamparan dan pukulannya yang dilakukan cukup keras tadi.

Pada saat itu, banyak orang berlari-lari keluar dari pintu dusun dan ternyata mereka adalah sekelompok orang Mongol. Di depan sendiri berjalan seorang laki-laki setengah tua bersama gadis yang ditolong oleh Hong Beng tadi dan sekarang mereka nonton perkelahian itu dengan wajah tegang.

Karena tidak nampak sikap marah dari mereka, hati Hong Beng menjadi lega. Jelas bahwa mereka itu tidak berpihak kepada si gila dan tidak akan mengeroyoknya karena kalau hal itu terjadi, tentu dia sudah melarikan diri. Akan tetapi, dia menjadi semakin bingung. Bagaimana dia harus mengalahkan orang gila ini tanpa melukainya? Orang itu demikian cepat dan kuat, dan tubuhnya kebal bukan main. Sudah dicobanya pula untuk menampar bahkan menotok, akan tetapi hasilnya sia-sia, agaknya jalan darah orang ini terlindung oleh otot-otot kuat dan daging-daging yang keras.

Karena bingungnya, Hong Beng menjadi sedikit lengah dan tiba-tiba saja orang Mongol itu sudah menubruk dan mencengkeram lehernya! Hong Beng terkejut, membuang diri ke samping akan tetapi biar pun leher dan pundaknya luput, lengan kanannya tetap saja kena disambar dan dipegang oleh tangan kiri orang Mongol itu yang menyusul pula dengan tangan kanannya. Dipegang oleh dua tangan yang demikian kuatnya, dengan jari-jari yang panjang dan besar, Hong Beng terkejut. Dia berusaha menarik tangannya, namun lengannya seperti dijepit oleh jepitan baja yang besar dan kuat.

Agaknya, biar pun dia menarik lengannya sampai copot dari pundaknya, cekalan orang Mongol itu takkan terlepas! Dan kini, orang itu mengerahkan tenaga. Hong Beng merasa betapa lengannya itu diremas dengan kekuatan raksasa. Kiut-miut rasanya, nyeri bukan main. Daging pada lengan itu bisa hancur lebur, tulangnya bisa remuk berkeping kalau dibiarkan!

Dia cepat mengerahkan sinkang-nya melindungi lengan itu, kemudian dia mencari akal untuk dapat merobohkan orang itu dan membebaskan diri dari cengkeraman. Biar pun lengannya sudah dilindungi sinkang, kalau dilanjutkan, lengan itu bisa rusak. Akhirnya dia mendapatkan akal.

“Haiiiittt!”

Hong Beng mengeluarkan seruan nyaring dan tangan kirinya dengan cepat bergerak menyambar. “Dukkk!”

Dengan tangan miring, Hong Beng memukul ke arah belakang telinga kanan orang Mongol itu. Begitu kena pukulan, tiba-tiba tubuh orang Mongol itu terkulai lemas dan pegangannya pada lengan Hong Beng terlepas. Pemuda ini meloncat ke belakang dan tubuh lawannya roboh terkulai dalam keadaan pingsan.

Perhitungan Hong Beng memang tepat. Biar pun pukulannya tidak dapat melukai lawan, akan tetapi pukulan sinkang itu cukup kuat untuk mengguncangkan otak dan membuat lawannya roboh pingsan!

Terdengar seruan-seruan heran dan kagum di antara para penonton yang terdiri dari orang-orang Mongol itu. Agaknya mereka merasa heran bukan main melihat ada orang yang mampu merobohkan raksasa Mongol yang gila itu tanpa melukainya sama sekali, apa lagi membunuhnya.

Orang Mongol setengah tua yang tadi berjalan di depan bersama gadis itu sekarang melangkah maju. Bahasanya cukup baik ketika dia menegur Hong Beng dalam Bahasa Han, “Orang muda, terima kasih atas pertolanganmu kepada Mayani, anak perempuan kami yang tadi akan dilarikan oleh si gila ini. Dia itu adalah keponakanku sendiri, tetapi telah beberapa bulan menderita penyakit gila. Orang muda yang gagah, perkenalkan aku adalah Agakai, ketua dari kelompok suku yang kini berada di dusun itu. Siapakah namamu, orang muda yang gagah?”

Hong Beng memandang kepada kakek setengah tua itu penuh perhatian. Seorang pria yang bersikap anggun dan gagah, kedua matanya bersinar penuh kewibawaan. Bukan laki-laki sembarangan, pikirnya. Dan gadis bernama Mayani yang ternyata adalah anak perempuan kepala suku ini, memang manis sekali.

Gadis itu sekarang memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan mulut tersenyum ramah dan manis.

“Nama saya Gu Hong Beng, dan saya adalah seorang perantau yang sedang dalam perjalanan. Kebetulan melihat nona ini dilarikan orang, maka dengan lancang saya turun tangan membantunya, harap dimaafkan.”

Agakai tertawa. “Ha-ha, engkau sungguh pandai merendahkan diri, orang muda. Mari, kami persilakan engkau untuk singgah sebentar untuk mempererat perkenalan antara kita.”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Dia tadi memang ingin sekali mencari makanan atau arak, tetapi setelah terjadi keributan itu, dia merasa lebih senang jika dapat melanjutkan perjalanannya.

Agaknya kepala suku itu sudah melihat keraguannya, maka dia pun segera berkata, “Gu-taihiap, kami mengundangmu bukan hanya sekedar mempererat persahabatan, tapi kami juga ingin mengundang taihiap menghadiri pesta pertemuan antara kami dengan beberapa orang tokoh pejuang.”

“Tokoh pejuang?” Hong Beng tertarik dan merasa heran. “Siapakah mereka itu?”

“Mereka adalah pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa yang sakti. Mereka merupakan pejuang-pejuang rakyat yang melihat betapa rakyat menderita di bawah pemerintah Mancu, mereka bergerak dan berusaha menentang pemerintah Mancu. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan kelompok kami karena mereka menawarkan kerja sama dengan kami. Kami harap engkau suka hadir, taihiap, karena kami percaya bahwa seorang pendekar sakti sepertimu tentu dapat membantu kami dalam menentukan sikap terhadap ajakan mereka.”

Hati Hong Beng jadi semakin tertarik. Ingin dia melihat siapakah mereka yang disebut pejuang-pejuang itu. Mereka itu adalah pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa! Memang amat menarik hati. Dia juga sudah mendengar tentang para pejuang yang menentang pemerintah Mancu dan diam-diam dia menaruh hati kagum terhadap mereka, meski dia sendiri tidak berminat untuk mencampuri perjuangan yang belum dimengertinya benar.

Hong Beng menerima undangan kepala suku yang bernama Agakai itu, setelah Mayani, gadis Mongol itu membujuk dengan mengatakan bahwa ia ingin mendapat kesempatan membalas pertolongan Hong Beng dengan suguhan arak dan daging. Kelompok orang Mongol itu kembali ke dusun dan si Mongol gila tadi kini dibelenggu kaki tangannya dan dibawa masuk pula ke dalam dusun.

“Kami baru sepekan berada di sini,” kata Agakai kepada Hong Beng pada saat mereka memasuki dusun. “Kami memilih tempat ini, meminjam dari orang-orang Hui, untuk bisa mengadakan pertemuan dengan para pejuang seperti telah kami rencanakan.”

Dusun itu sederhana saja. Agakai berada di tempat itu bersama puterinya yang berusia sembilan belas tahun itu. Dia sendiri seorang duda berusia empat puluh lima tahun, dan dia membanggakan diri sebagai keturunan Jenghis Khan, itu raja besar dari Kerajaan Mongol ketika menjajah di selatan.

Ayahnya, mendiang Tailu-cin, dulu selalu menyatakan sebagai keturunan Jenghis Khan. Betul tidaknya, Agakai sendiri tak tahu pasti. Memang banyak dahulu raja besar Jenghis Khan mempunyai anak, banyak di antaranya di luar nikah dan tidak diakuinya, bahkan mungkin tak diketahuinya, anak-anak yang lahir dari wanita-wanita yang pernah menjadi tawanan perang dan dijadikan isteri untuk beberapa malam saja!

Hong Beng diterima sebagai tamu kehormatan, disuguhi minum susu dan arak, dan disuguhi pula makanan dari daging, yang biar pun aneh bagi lidahnya karena bumbunya berbeda dengan masakan yang biasa dimakannya, namun cukup lezat. Mayani sendiri lalu berdandan, bersama beberapa orang gadis lain lalu mengadakan pertunjukan tari dan nyanyi untuk menghormati pemuda Han yang tampan dan gagah perkasa, yang tadi telah menyelamatkannya dari tangan orang gila itu.

Ngeri ia membayangkan bagaimana akan menjadi nasibnya kalau saja ia tidak ditolong oleh Hong Beng tadi sebab si gila itu, sebulan yang lalu pernah pula melarikan seorang gadis dan tiga hari kemudian, dia ditangkap di dalam sebuah goa sedangkan gadis itu yang diperkosanya secara buas, telah menjadi mayat! Hanya karena raksasa gila itu masih keponakan kepala suku, maka dia tidak dibunuh melainkan dirantai dan disekap di belakang. Akan tetapi, pagi tadi dia dapat melepaskan diri dan hampir saja membuat korban baru atas diri Mayani, saudara misannya sendiri!

Malam hari itu datanglah tamu-tamu lain, yaitu para pejuang yang hendak mengadakan pertemuan rapat dengan Agakai dan anak buahnya. Hong Beng sebagai seorang tamu, tidak keluar menyambut, melainkan tinggal di dalam kamar yang disediakan untuknya. Setelah pertemuan dan pesta itu diadakan pada malam hari itu, barulah Hong Beng dipersilakan keluar dan menghadirinya.

Ternyata yang datang yaitu dua puluh lebih orang-orang yang berpakaian sebagai tosu, dipimpin oleh lima orang tosu tua. Mereka disambut oleh Agakai dan para pembantu ketua suku ini, dan pada malam hari itu, diadakanlah pesta pertemuan itu di pekarangan rumah besar di dalam dusun. Di tempat itu telah disediakan meja kursi dan penerangan lampu yang cukup banyak. Dusun itu sederhana, tidak ada rumah yang cukup besar di situ untuk menjadi tempat pertemuan, maka pesta pertemuan itu lalu diadakan di tempat terbuka.

Lima orang tosu itu duduk di meja besar, disambut oleh Agakai yang duduk pula di situ bersama lima orang pembantunya, yaitu mereka yang dianggap tokoh dalam kelompok mereka. Mayani duduk di barisan belakang ayahnya, tidak ikut dalam rapat, akan tetapi juga tidak menjadi pelayan, melainkan sebagai pendengar saja.

Ketika Hong Beng dipersilakan duduk, pemuda itu memandang kepada lima orang tosu tadi dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dia terkejut karena dia mengenal bahwa dua di antara lima orang tosu itu pernah dilihatnya. Akan tetapi dia lupa lagi di mana dan kapan dia pernah berjumpa dengan dua orang tosu itu dan kedua orang tosu itu pun agaknya tidak memperlihatkan tanda bahwa mereka mengenalnya. Agakai lalu memperkenalkan Hong Beng kepada para tamunya.

“Tamu kehormatan kami yang kebetulan berada di sini adalah taihiap Gu Hong Beng ini yang tadi telah menyelamatkan puteri kami dari ancaman mala petaka. Gu-taihiap, para pendeta inilah pejuang-pejuang yang pernah kami ceritakan kepadamu.”

Hong Beng memberi hormat kepada para pendeta itu yang dibalas oleh mereka, akan tetapi mereka bersikap acuh saja kepadanya. Ketika para pendeta itu bangkit membalas penghormatannya, barulah Hong Beng bisa melihat bahwa di jubah para pendeta itu, di bagian dada, terdapat lukisan-lukisannya. Tiga orang pendeta memiliki lukisan bunga teratai di dada jubah mereka, sedangkan yang dua lagi terdapat lukisan segi delapan.

Diam-diam ia terkejut. Kiranya para tosu ini adalah pendeta-pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai! Memang dia tahu bahwa kedua perkumpulan ini merupakan pemberontak-pemberontak atau menurut istilah mereka adalah pejuang-pejuang, akan tetapi pejuang macam apa!

Mereka tidak segan-segan untuk mengelabui rakyat agar mendukung gerakan mereka, akan tetapi biar pun mereka memusuhi pemerintah Mancu, namun mereka pun terkenal sebagai golongan yang tidak segan melakukan segala macam kecabulan dan kejahatan demi mencapai tujuan mereka!

Orang-orang gagah dari dunia persilatan tidak suka kepada mereka dan selalu menjauhi mereka. Bahkan para pendekar yang berjiwa patriot dan turut berjuang pula menentang penjajah, merasa segan untuk bekerja sama dengan orang-orang dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Hatinya merasa tidak enak dan penuh curiga, akan tetapi Hong Beng hanya duduk diam saja memperhatikan percakapan antara mereka yang sekarang baru mulai berlangsung.

“Selamat datang dan selamat malam, para totiang yang terhormat,” kata Agakai sebagai awal sambutan. “Seperti telah kita sepakati bersama, kami telah berhasil membujuk dan mengusir penghuni dusun ini, orang-orang Hui, untuk meminjamkan dusun ini kepada kami selama beberapa hari agar kita dapat mengadakan pertemuan di sini. Kami masih belum yakin benar akan cerita tentang perjuangan golongan kalian, maka kami minta agar kalian suka menjelaskan lagi supaya kami dapat mempertimbangkan apakah dapat menerima uluran tangan kalian untuk bekerja sama.”

Tosu yang berjenggot panjang dan memegang tongkat berbentuk naga hitam itu, segera mengelus jenggotnya. Agaknya dialah yang menjadi juru bicara kawan-kawannya.

“Siancai…, kami hargai kejujuranmu ini, saudara Agakai. Pertama-tama pinto (aku) ingin menceritakan mengapa kami sengaja memilih saudara untuk bekerja sama. Kami tahu bahwa saudara Agakai adalah keturunan langsung dari Sang Maharaja Jenghis Khan yang maha besar di jaman lampau, karena itu kami merasa yakin bahwa tentu saudara memiliki semangat untuk mendirikan kembali Kerajaan Goan di mana bangsa saudara merajai seluruh Tiongkok. Nah, kami membutuhkan orang bersemangat seperti saudara Agakai untuk menggerakkan seluruh Bangsa Mongol yang jaya untuk menumbangkan kekuasaan Mancu.”

Tentu saja Agakai menjadi bangga dan gembira sekali mendengar ini. Telah tersentuh kelemahannya! Dia memang selalu ingin menonjolkan bahwa dia adalah keturunan dari Jenghis Khan, maka kini ucapan tosu itu seperti mengelus perasaannya dan dia menjadi senang sekali kepada para tosu itu.

“Memang tidak kelirulah kalau totiang beranggapan demikian,” katanya bangga. “Akulah satu-satunya orang di seluruh Mongol yang masih berdarah Jenghis Khan, dan akulah yang akan mampu menggerakkan seluruh bangsaku untuk bangkit lagi.”

“Itulah harapan kami, saudara Agakai. Kami menganggap bahwa gerakan yang datang dari utara lebih banyak harapan untuk berhasil, karena selain dekat dengan kota raja, juga terdapat banyak gunung dari mana kita dapat bergerak secara sembunyi. Tembok Besar tidak merupakan penghalang yang terlalu berat, bahkan para prajurit pamerintah yang melakukan tugas berjaga di Tembok Besar, kebanyakan kurang semangat dan kurang kuat, jauh dari hiburan dan sudah merasa bosan tinggal di tempat yang tandus. Kami membutuhkan bantuan saudara untuk menghimpun tenaga yang kuat, yang setiap waktu dapat kami pergunakan untuk menyerbu ke selatan. Kami sendiri akan bergerak dari dalam Tembok Besar.”

“Nanti dulu, totiang. Selain pemerintah Mancu memiliki pasukan yang amat besar dan kuat, juga Kaisar Kian Liong selalu dibantu oleh para pendekar yang setia dan mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Mungkin saja menandingi pasukan dengan siasat perang, akan tetapi bagaimana akan dapat menandingi para pendekar yang mempunyai ilmu silat tinggi?”

“Ha-ha-ha, tidak perlu khawatir, saudara Agakai. Kami orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai memiliki banyak sekali tokoh yang berilmu tinggi, dan para pendekar itu tak ada artinya bagi kami.”

“Tapi, di sana terdapat para pendekar yang lihai, seperti keluarga Pulau Es…”

“Siancai…!” Tosu berjenggot panjang itu berseru. “Keluarga Pulau Es hanyalah penjilat-penjilat kaisar, takut apa? Kalau ada yang muncul di sini, tentu kepalanya akan pinto hancurkan dengan tongkat ini, seperti kepala arca di sana itu!”

Mendadak kakek itu melemparkan tongkatnya dan sungguh aneh… tongkat berbentuk seekor naga hitam itu tiba-tiba saja seperti ‘hidup’, terbang melayang menyambar ke arah sebuah arca batu yang berdiri sejauh dua puluh meter lebih dari tempat kakek itu duduk. Terdengar suara keras pada saat tongkat menghantam kepala arca, dan pecah berantakanlah kepala arca itu, sedangkan tongkatnya kembali terbang ke arah tangan tosu tua itu!

Hong Beng terkejut dan maklum bahwa tosu Pek-lian-kauw ini menggunakan ilmu sihir bercampur ilmu silat yang amat tinggi!

Sementara itu, Agakai dan para pembantunya memandang dengan mata terbelalak dan mulut bengong. Kemudian terdengar sorak-sorai para anak buah Agakai yang berada di sekeliling tempat pesta itu. Mereka pun melihatnya dan memberi pujian.

Sementara itu perut Hong Beng tentu saja merasa panas mendengar betapa keluarga Pulau Es dimaki sebagai penjilat dan dipandang rendah. Dan pada saat itu, dia pun tiba tiba ingat siapa adanya dua orang tosu yang duduk di situ, yang tadi diingatnya sebagai orang-orang yang pernah dikenalnya.

Kini dia teringat bahwa dua orang itu bukan lain adalah dua orang pendeta yang pernah dijumpainya ketika ia mencarikan obat untuk suhu-nya yang terluka. Dua orang pendeta yang ditemukannya dalam keadaan luka dan menceritakan kepadanya bahwa mereka adalah dua orang yang menentang Bi-kwi, karena Bi-kwi menculiki pemuda-pemuda di dusun, namun mereka berdua kalah karena Bi-kwi dibantu oleh Bi Lan dan Sim Houw! Karena keterangan mereka itulah maka dia bersama suhu-nya lalu pergi mencari Bi Lan dan Sim Houw, bahkan lalu menyerang mereka. Kini timbul keraguan dalam hatinya!

Benarkah keterangan mereka tempo hari? Mungkinkah seorang tosu Pek-lian-kauw dan seorang tosu Pat- kwa-pai muncul sebagai pendekar, sedangkan Bi Lan dan Sim Houw sebaliknya menjadi pembela yang jahat? Pikiran ini membuat dia menjadi makin marah. Jangan-jangan kedua orang pendeta ini dahulu hanya melakukan fitnah saja sehingga berhasil mengadu domba antara dia dan gurunya melawan Bi Lan dan Sim Houw! Kalau benar, celakalah!

Pada saat itu, terdengar tosu tinggi besar perut gendut, seorang di antara dua pendeta yang pernah dijumpai Hong Beng, yaitu yang bernama Ok Cin Cu, tokoh Pat-kwa-pai, berkata kepada Agakai, “Saudara Agakai, sudah menjadi tugas kami masing-masing tosu dari perkumpulan kami untuk menyampaikan berkah dan pelajaran kepada seorang murid wanita baru. Pinto minta agar gadis yang duduk di belakangmu itu malam nanti menjadi murid pinto yang baru dan tinggal bersama pinto dalam kamar pinto.”

Agaknya Agakai telah tahu akan kebiasaan para tosu cabul itu, maka mukanya menjadi merah karena yang dimintanya adalah puterinya! Dia tak peduli akan kebiasaan mereka. Dia bahkan menganggapnya wajar kalau tokoh-tokoh besar itu membutuhkan hiburan karena tugas mereka yang berat dalam perjuangan. Akan tetapi kalau puterinya yang diminta, tentu saja dia tidak dapat memaksa puterinya.

Agakai tertawa. “Totiang, agaknya engkau belum tahu bahwa dia ini adalah Mayani, puteriku sendiri. Aku tak pernah memaksa puteriku, tetapi kalau dia suka melayanimu dan menjadi muridmu malam ini secara suka rela, aku pun takkan dapat melarangnya.”

Dengan ucapan ini, Agakai merasa yakin bahwa puterinya tentu akan menolak. Gadis mana yang suka melayani seorang kakek yang buruk rupa dan berperut gendut seperti tosu itu? Apa lagi puterinya, gadis yang amat pemilih dan selama ini belum pernah mau menerima pinangan pemuda-pemuda yang cukup tampan.

Tosu berjenggot panjang yang memimpin para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai itu mendadak berkata, “Aha! Tentu saja nona Mayani suka melayani dan menjadi murid saudara Ok Cin Cu!”

Begitu ucapan ini dikeluarkan, tiba-tiba Mayani lalu bangkit berdiri, lalu menghampiri Ok Cin Cu dan berkata, “Aku suka sekali melayanimu dan menjadi muridmu, totiang!”

Tentu saja Agakai terkejut setengah mati melihat puterinya demikian patuh dan dengan suka rela menghampiri tosu itu dan menyatakan pula suka melayani dan menjadi murid! Janjinya telah diucapkan, dan disaksikan orang banyak ternyata Mayani dengan suka sendiri mau melayani tosu gendut itu.

“Mayani…!” Dia berseru kaget dan heran.

Tiba-tiba Hong Beng yang sudah tidak mampu menahan kesabarannya lagi karena dia maklum apa artinya sikap Mayani yang aneh itu, ialah bahwa gadis itu tentu terkena pengaruh sihir kakek berjenggot panjang, lalu bangkit berdiri, menggebrak meja dan dari mulutnya keluar suara melengking tinggi yang membuyarkan pengaruh sihir atas diri Mayani karena teriakan melengking itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat.

Mayani tersentak kaget, lalu menjadi bingung mengapa ia berdiri di depan tosu gendut. “Eh, apa yang telah terjadi… ayah…?” tanyanya dan ia pun cepat kembali ke belakang ayahnya.

“Para tosu jahat dan cabul!” bentak Hong Beng dengan marahnya sehingga sepasang matanya berkilat. “Kalian telah menyebar racun fitnah, bujukan dengan ilmu hitam yang amat keji! Saudara Agakai, jangan engkau terkena bujukan iblis mereka ini. Mereka adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang amat jahat, berkedok perjuangan. Hampir saja puterimu terjebak dalam sihir dan menjadi korban mereka yang amat jahat!”

Para tosu itu bangkit berdiri dengan marah dan sekarang Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, dua orang tosu yang berada di situ, juga mengenal Hong Beng.

“Siancai…! Dia ini adalah murid keluarga Pulau Es! Dia mata-mata musuh, dia mata mata pemerintah Mancu!” teriak Ok Cin Cu dengan marah, memutar tongkat hitamnya yang berbentuk ular itu ke atas kepala.

Jika tadinya Agakai terkejut mendengar kata-kata Hong Beng dan memandang kepada para tosu penuh kecurigaan dan kemarahan, kini dia terkejut dan menghadapi Hong Beng, “Gu-taihiap, benarkah engkau murid keluarga Pulau Es?”

Dengan sikap gagah Hong Beng menjawab, “Benar, aku adalah murid keluarga Pulau Es, dan seperti semua orang gagah di seluruh dunia, aku pun menentang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang melakukan kejahatan dengan kedok agama dan perjuangan! Harap saudara Agakai jangan sampai terkena bujukan mereka!”

Akan tetapi, mendengar bahwa pemuda ini murid keluarga Pulau Es, Agakai yang juga sudah terkena pengaruh sihir dari para tosu, segera merasa tidak senang dan curiga. Bagaimana pun juga, ia tahu bahwa keluarga Pulau Es condong membantu pemerintah Mancu karena mereka itu berdarah Mancu pula.

“Tangkap mata-mata ini!” teriaknya kepada orang-orangnya.

Hong Beng terkejut dan tak sempat untuk membela diri dengan kata-kata, maka sekali meloncat dia telah berada di luar tempat pesta itu. Akan tetapi, lima orang tosu itu sudah berloncatan dan mengepungnya.

“Ha-ha-ha, orang muda mata-mata musuh, hendak lari ke mana engkau?” teriak Thian Kek Sengjin yang sudah menggerakkan tongkatnya yang berbentuk naga hitam pula, seperti tongkat tosu berjenggot panjang yang menjadi pemimpin rombongan itu.

“Wuuuttt…!”

Hong Beng mengelak, akan tetapi dia segera dikeroyok dan karena tingkat kepandaian para tosu itu sangat tinggi, yang paling rendah seimbang dengan tingkatnya, tentu saja dia menjadi repot sekali menghadapi pengeroyokan mereka. Apa lagi, di luar kepungan ini masih terdapat para anggota Pek-lian-pai dan Pat- kwa-pai, juga orang-orang Mongol.

Pada saat tongkat hitam berbentuk ular di tangan Ok Cin Cu menyambar lehernya dan sebatang pedang menusuk lambungnya, dia cepat mengelak dan pada saat itu, tosu berjenggot panjang telah mengebutkan sapu tangan hitam di depan muka Hong Beng. Karena dalam keadaan mengelak dan terkepung, Hong Beng tidak mampu mengelak lagi dan begitu sapu tangan itu dikebutkan dan mengeluarkan debu, dia pun mencium bau keras dan roboh pingsan! Kelenger!

Kiranya para tosu itu tidak mau langsung membunuh Hong Beng karena mereka ingin memanfaatkan pemuda ini. Sebagai seorang pemuda murid keluarga Pulau Es, tentu saja dia merupakan orang penting. Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin sudah pernah mempermainkannya dan mereka tahu bahwa Hong Beng merupakan seorang pemuda yang berwatak keras dan mudah ditipu. Tidak ada gunanya membunuh pemuda ini, akan tetapi mungkin dalam keadaan hidup mereka akan dapat memanfaatkan pemuda ini, setidaknya sebagai sandera karena siapa tahu kalau-kalau di belakang pemuda ini masih terdapat keluarga Pulau Es yang hendak menyerbu mereka.

Setelah Gu Hong Beng dibikin tak berdaya dengan dibelenggu kaki tangannya, dan para tosu itu menyerahkannya kepada anak buah Agakai untuk dimasukkan sebuah kamar dan dijaga ketat, dibantu penjagaannya oleh para tosu anggota Pek-lian-kauw, para tosu lalu mengajak Agakai melanjutkan percakapan mereka.

Mayani tidak nampak di situ karena tadi begitu sadar bahwa ia telah bertindak aneh dan bahkan menyerahkan diri untuk melayani tosu gendut, gadis ini menjadi ngeri dan cepat meninggalkan tempat itu. Dia menangis di dalam kamarnya, teringat akan Hong Beng yang pingsan dan ditawan. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya berbalik memusuhi penolongnya itu dan dia merasa penasaran sekali!

Sementara itu, kakek jenggot panjang yang merupakan seorang tokoh Pek-lian-kauw berkata kepada Agakai, “Saudara Agakai, mengingat bahwa engkau agaknya kurang setuju kalau puterimu menjadi murid seorang di antara kami, biarlah pinto membatalkan saja dan puterimu tidak akan menjadi murid kami. Tentu saja engkau tahu bahwa sebagai pengganti puterimu, engkau sepatutnya menyediakan gadis-gadis lain untuk menjadi murid-murid kami berlima malam ini.”

Wajah kepala suku itu menjadi berseri. “Tentu saja! Jangan khawatir, kalau gadis-gadis suku kami tidak berbakat menjadi murid kalian, masih ada gadis-gadis Hui yang dapat kami minta untuk menjadi murid kalian.”

“Sekarang dengarkan rencana kami selanjutnya, saudara Agakai. Seperti kami katakan tadi, untuk daerah utara ini kami mempercayakan kepada saudara untuk menghimpun kakuatan dan mempersiapkan diri. Kalau pasukanmu dibutuhkan, sewaktu-waktu kami akan memberi kabar. Di bagian timur, kami sudah menghubungi para bajak laut Bangsa Korea dan Jepang, dan di barat kami sedang mencoba untuk menghubungi Sin-kiam Mo-li.”

“Sin-kiam Mo-li? Siapakah ia?” tanya Agakai yang tentu saja belum mengenal tokoh-tokoh di dunia kang- ouw.

“Dia seorang wanita yang sakti, jauh lebih pandai dari pada kami semua!” kata tosu berjenggot panjang. “Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nionio yang tewas di tangan para pendekar, terutama keluarga Pulau Es. Karena itu, ia tentu mendendam kepada keluarga Pulau Es dan kami yakin ia akan suka menggabungkan diri dengan kita. Untuk daerah barat, kami akan menyerahkan kepada Sin-kiam Mo- li, tentu saja bila ia suka bergabung seperti yang kami rencanakan. Ia tinggal di tepi Sungai Cin-sa, di kaki Pegunungan Heng-tuan-san. Ia lihai dan cantik jelita biar pun usianya sudah empat puluh tahun, seperti seorang gadis remaja saja!” Para tosu lalu memuji-muji Sin-kiam Mo-li sebagai ahli slat dan juga ahli sihir yang amat pandai.

Tentu saja Agakai menjadi kagum bukan main. Dia telah melihat kelihaian Hong Beng yang dengan mudah merobohkan keponakannya yang gila dan yang memiliki tenaga luar biasa kuatnya itu. Kemudian dia melihat betapa Hong Beng yang lihai itu pun roboh dengan mudah oleh para tosu ini.

Maka, mendengar betapa wanita yang berjuluk Sin-kiam Mo-li itu memiliki ilmu silat dan ilmu sihir yang amat tinggi, lebih lihai dari pada para tosu itu, tentu saja sukar bagi dia untuk membayangkan kesaktian seperti itu. Diam-diam dia merasa girang dapat bekerja sama dengan orang-orang yang demikian pandainya. Agaknya dia akan dapat berhasil membangun kembali Kerajaan Goan-tiauw yang telah jatuh dari bangsanya yang jaya!

Para tosu itu dan para tokoh Mongol yang menjadi tuan rumah, sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi percakapan mereka didengarkan oleh dua orang yang mengintai tak jauh dari tempat itu. Dua orang yang memiliki gerakan amat ringan dan cepat sehingga mereka mampu mendekati tempat pesta pertemuan itu tanpa diketahui orang, bahkan turut mendengarkan percakapan antara para tosu dan Agakai dengan menggunakan pendengaran mereka yang amat peka.

Dua orang ini bukan lain adalah Sim Houw dan Can Bi Lan. Seperti kita ketahui, dua orang ini kembali dari gurun pasir dan melakukan perjalanan cepat sehingga mereka dapat menyusul Hong Beng yang melakukan perjalanan terlebih dahulu. Akan tetapi karena Hong Beng pernah salah jalan sehingga membuang waktu beberapa hari maka akhirnya dia tersusul.

Sim Houw dan Bi Lan sama sekali tidak menyangka di situ akan bertemu dengan Hong Beng. Mereka kebetulan lewat di dusun itu dan tadi mereka mendengar ribut-ribut di dalam dusun. Ketika mereka melihat Hong Beng dirobohkan dan tertawan, mereka tidak segera turun tangan, melainkan melakukan pengintaian untuk melihat apa yang terjadi dan mengapa pula Hong Beng dikeroyok para tosu Pek-lian-kauw dan Pat- kwa-kauw di tempat itu.

Mereka berdua mengintai dan mendengarkan percakapan antara para tosu dan Agakai, kepala suku Mongol itu. Ketika mendengar disebutnya nama Sin-kiam Mo-li anak angkat Kim Hwa Nionio yang mendendam kepada keluarga Pulau Es, diam-diam mereka lalu mencatat dalam hati nama wanita itu dan alamatnya. Kemudian, melihat bahwa yang dibicarakan oleh para tosu dan kepala suku itu adalah urusan pemberontakan, yang mereka namakan perjuangan, maka Sim Houw memberi isyarat kepada Bi Lan untuk meninggalkan tempat persembunyian mereka di atas pohon besar itu.

Baik buruk atau benar salahnya suatu perbuatan tidak terletak di dalam perbuatan itu sendiri, tetapi terletak di dalam pandangan seseorang terhadap perbuatan itu. Kalau si pemandang merasa bahwa perbuatan itu menguntungkan atau menyenangkan hatinya, tentu saja dia akan mengatakan bahwa perbuatan itu baik dan benar. Sebaliknya kalau si pemandang menganggap perbuatan itu merugikan dan tidak menyerangkan hatinya, dia akan tanpa ragu mengatakan bahwa perbuatan itu buruk dan salah.

Inilah sebabnya mengapa orang-orang yang menentang pemerintah Mancu, dinamakan pemberontak jahat oleh pemerintah Mancu dan orang-orang yang tak setuju terhadap perbuatan itu, dan sebaliknya disebut pejuang perkasa oleh mereka yang menganggap bahwa kepentingannya diwakili.

Karena itu, apa yang dinamakan baik oleh seseorang, belum tentu baik bagi orang lain, juga yang dinamakan buruk atau jahat belum tentu demikian bagi pihak lain. Untuk bisa membebaskan diri dari ikatan ini, seyogianya jika kita menghadapi segala sesuatu tanpa penilaian, melainkan membuka mata memandang dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan dan penuh perhatian. Pengamatan yang waspada ini membebaskan kita dari penilaian dan pendapat, tidak terpengaruhi perhitungan untung rugi dalam segala hal yang kita hadapi dan dari pengamatan penuh kewaspadaan ini lahirlah perbuatan- perbuatan yang sehat dan bijak.

“Kita harus bebaskan Hong Beng,” kata Sim Houw setelah mereka keluar dari tempat itu dan berada di belakang sebuah rumah kosong yang sunyi dan gelap.

“Untuk apa bebaskan orang seperti dia?” Bi Lan membantah.

“Ah, jangan berpikir demikian, moi-moi. Ia terjatuh ke tangan para tosu Pek-lian-kauw. Jangankan Hong Beng yang sudah kita kenal sebagai seorang pendekar gagah dan murid keluarga Pulau Es, biar orang lain sekali pun kalau terjatuh ke tangan para tosu yang jahat itu, sudah sepatutnya kalau kita tolong dia.”

Tanpa memberi kesempatan kepada kekasihnya untuk kembali membantah, Sim Houw telah menggandeng tangan Bi Lan kemudian mengajaknya menyelinap di antara rumah-rumah dan menuju ke rumah di mana tadi mereka melihat Hong Beng dibawa masuk dalam keadaan kaki tangan terbelenggu.

Dengan kepandaian mereka yang tinggi, Sim Houw dan Bi Lan berhasil meloncat naik ke atas wuwungan rumah itu, membuka genteng dan mengintai ke dalam. Mereka bisa melihat betapa Hong Beng diikat pada sebuah tiang di dalam rumah itu, dan di situ terdapat belasan orang Mongol dan anak buah Pek-lian-kauw, juga berjaga dengan rapatnya. Dua orang anggota Pat-kwa-pai juga nampak berjalan hilir-mudik mengelilingi rumah tahanan itu.

Sebelum Sim Houw dan Bi Lan mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tiba-tiba Sim Houw menyentuh lengan Bi Lan. Keduanya memandang dengan penuh perhatian ke bawah. Seorang gadis bangsa Mongol memasuki pintu rumah itu dan para penjaga memberi jalan kepadanya, bahkan orang- orang Mongol itu bersikap hormat.

Gadis itu cantik manis dalam pakaiannya yang berwarna merah dan hitam, dan kini ia memasuki kamar di mana Hong Beng diikat pada tiang besar. Lima orang Mongol yang berjaga di situ nampak terkejut melihat masuknya gadis ini, akan tetapi ketika gadis itu menyuruh mereka keluar, lima orang itu tak berani membantah. Setelah saling pandang mereka lalu keluar dari dalam kamar itu.

Gadis itu bukan lain adalah Mayani, puteri Agakai. Setelah sekian lamanya gelisah di dalam kamarnya, akhirnya gadis itu tidak tahan lagi dan nekat mengunjungi Hong Beng dalam kamar tahanannya. Para penjaga tidak ada yang berani melarangnya, juga para anggota Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw tidak mencegah setelah mereka mendengar bahwa gadis itu adalah puteri kepala suku.

Setelah Mayani berada seorang diri dengan Hong Beng, gadis itu mendekati dan air matanya menetes ketika ia melihat betapa pemuda itu terbelenggu kaki tangannya, dan pipi dan lehernya lecet-lecet, juga pakaiannya robek-robek.

Hong Beng sudah siuman, akan tetapi ia masih belum mampu mengerahkan tenaganya karena selain obat bius itu masih memusingkan kepalanya, juga tadi tosu Pek-lian-kauw menotok jalan darahnya sehingga dia tidak mampu mengerahkan sinkang-nya. Andai kata dia sudah mampu sekali pun, belum tentu dia akan dapat membikin putus tali belenggu kaki tangannya yang terbuat dari pada kulit binatang yang amat kuat itu. Kini dia memandang kepada Mayani.

“Nona, kenapa engkau datang ke sini?” tanyanya lirih.

“Aihhh, Gu-taihiap, betapa hancur rasa hatiku melihat engkau dikeroyok dan ditangkap tadi. Akan tetapi, jangan khawatir, taihiap, aku datang untuk menolongmu, lihat aku sudah membawa pisau yang tajam untuk membikin putus tali belenggumu.” Gadis itu mengeluarkan sebuah pisau yang mengkilat saking tajamnya.

Hong Beng tidak kelihatan girang. Walau pun belenggu kaki tangannya putus, dia tetap saja tidak berdaya karena belum mampu mengerahkan sinkang-nya. Dengan tenaga utuh saja dia tidak mampu menandingi para tosu itu, apa lagi setelah jalan darahnya tertotok. Apa artinya belenggunya terlepas kalau dia tidak mampu melarikan diri?

“Aku akan membebaskan dan melindungimu, taihiap. Jika aku mengancam akan bunuh diri, tentu ayah akan membiarkan kita pergi berdua tanpa diganggu. Akan tetapi, lebih dulu aku minta engkau berjanji.”

Hong Beng melihat kemungkinan baru untuk keselamatannya. Mungkin saja gadis ini dapat memaksa ayahnya, dan sebagai kepala suku, ayahnya tentu memiliki kekuasaan untuk membebaskan dia dan Mayani!

“Janji apa, nona?”

“Janji bahwa setelah kubebaskan, engkau akan suka menerima aku menjadi isterimu dan mengajak aku ke mana pun engkau pergi!”

Ucapan ini keluar demikian terbuka dan jujur tanpa malu-malu lagi dari mulut Mayani. Sebaliknya, Hong Beng yang mendengar ucapan ini menjadi tersipu-sipu dan mukanya berubah merah.

“Kenapa harus begitu, nona?” tanyanya, agak heran dengan permintaan tiba-tiba yang dianggapnya aneh ini.

“Sebab aku cinta padamu, taihiap. Nah, kau berjanjilah dan aku akan membebaskanmu, mengajakmu menghadap ayah agar kita berdua diperbolehkan pergi dari sini dengan aman.”

Tentu mudah bagi Hong Beng untuk berjanji dan kemudian meninggalkan gadis ini. Namun dia adalah seorang gagah. Dia tidak mau menipu Mayani, tidak ingin melanggar janjinya sendiri. Maka dia menggelengkan kepalanya.

“Aku… aku tidak bisa berjanji, Mayani,” katanya, diam-diam merasa kasihan kepada gadis ini.

Jatuh cinta dan tidak terbalas! Dia juga sudah merasakan betapa sakitnya hal ini kalau menimpa seseorang! Mayani jatuh cinta padanya, namun dia tidak dapat membalasnya.

“Kenapa tidak bisa, taihiap?”

“Karena aku tidak ingin kelak melanggar janjiku, tidak ingin berbohong kepadamu hanya supaya aku dapat kau tolong. Karena aku… terus terang saja, aku tidak… cinta padamu, Mayani. Aku suka padamu, aku kasihan padamu, akan tetapi aku tidak cinta padamu.”

“Ahhh!” Mayani nampak kaget. “Akan tetapi, bukankah engkau telah menyelamatkan aku dari bencana, dari cengkeraman orang gila itu?”

“Aku menolongmu bukan karena cinta padamu. Gadis mana pun akan kuselamatkan dari cengkeraman orang gila itu, Mayani.”

“Ahhh…!”

Kini Mayani mengusap air mata dengan tangannya. Sungguh tak disangkanya jawaban seperti ini yang akan didengarnya. “Kalau begitu… bagaimana aku dapat menolongmu? Apa yang harus kupakai sebagai alasan menolongmu?”

Hong Beng menarik napas panjang. “Sudahlah, tak perlu engkau menolongku, Mayani. Kembalilah sebelum ada orang mengetahui niatmu dan engkau akan mendapat susah karena ini. Pergilah.”

Sejenak gadis itu bengong, seperti tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Orang ini berada dalam bahaya besar, akan tetapi menolak uluran tangannya untuk menolong dan menyelamatkannya. Kemudian, dengan dua mata masih basah dan merah terpaksa Mayani keluar pula dari kamar itu.

Begitu ia keluar, lima orang Mongol itu cepat menyerbu ke dalam dan mereka nampak lega melihat bahwa tawanan itu masih terbelenggu pada tiang. Mereka tadi sudah merasa khawatir kalau-kalau Mayani melakukan kebodohan dan hendak membebaskan tawanan.

Sementara itu, Sim Houw dan Bi Lan melihat semua peristiwa yang terjadi di dalam kamar itu. Sim Houw lalu memberi isarat kepada Bi Lan. Keduanya lalu melayang ke dalam kamar. Sim Houw lebih dulu, diikuti oleh Bi Lan.

Melihat ada dua orang melayang turun bagaikan dua ekor burung garuda, lima orang Mongol itu terkejut bukan main. Mereka hendak menerjang, tetapi beberapa tamparan dan tendangan dari dua orang itu langsung merobohkan mereka.

Sim Houw cepat membikin putus belenggu pada kaki tangan Hong Beng. Melihat tubuh Hong Beng lemas, Sim Houw maklum. Yang penting melarikan pemuda ini, pikirnya. Totokan orang Pek-lian-kauw mungkin berbeda dan harus dicari dulu bagaimana untuk membebaskannya. Maka setelah dua kali mencoba dan gagal membebaskan totokan, dia lalu menyambar tubuh Hong Beng, memanggulnya dan meloncat keluar dari kamar itu, didahului oleh Bi Lan.

Sesuai dengan rencana mereka tadi, yang sudah diatur oleh Sim Houw ketika mereka mendekam di atas wuwungan, Bi Lan membuka jalan keluar. Beberapa orang penjaga yang terkejut melihat keluarnya gadis yang tak dikenal ini, segera roboh oleh tamparan Bi Lan.

Keadaan menjadi gempar. Para penjaga berteriak-teriak saat dua orang yang melarikan tawanan itu mengamuk dan merobohkan banyak penjaga. Mendengar teriakan-teriakan ini, para pimpinan tosu cepat mendatangi tempat itu bersama Agakai, akan tetapi dua orang penculik tawanan itu telah menghilang di dalam gelap, meninggalkan belasan orang penjaga yang tadi mereka robohkan.

Tentu saja para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw menjadi amat marah. Ada orang berani membebaskan tawanan di depan hidung mereka! Hal ini sungguh membuat mereka merasa malu dan penasaran, maka mereka lalu melakukan pencarian dan pengejaran.

Karena Sim Houw juga menyadari betapa lihainya para tosu yang mampu menawan seorang pemuda seperti Hong Beng, maka dia mengajak Bi Lan berlari terus sampai jauh meninggalkan dusun itu dan akhirnya, pada pagi hari, mereka berhenti di bawah Tembok Besar. Begitu berhenti, Sim Houw lalu mencoba beberapa totokan untuk membebaskan Hong Beng dan akhirnya dia berhasil.

Hong Beng terbebas dari totokan dan setelah melemaskan otot-ototnya yang menjadi kaku, dia berdiri berhadapan dengan Sim Houw dan Bi Lan. Dia merasa canggung sekali, tidak tahu harus berkata apa. Dia pernah memusuhi kedua orang ini, bahkan sampai sekarang pun masih ada perasaan tidak suka.

Bagaimana pun juga, dia dan gurunya pernah berkelahi melawan mereka ini yang pada waktu itu membela Bi-kwi. Kenyataan bahwa dia telah dikelabui oleh dua orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu belum melenyapkan sama sekali keraguannya dan dia masih tetap menganggap bahwa dua orang ini setidaknya pernah menyeleweng dan membela Bi-kwi yang jahat, hanya karena Bi-kwi adalah suci dari Bi Lan.

“Sim Houw,” katanya kaku, “aku tak pernah minta pertolongan kalian, akan tetapi biarlah aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian ini, walau pun jangan mengira bahwa terima kasih ini sudah melenyapkan ketidak cocokan di antara kita.”

Sejak tadi Bi Lan memang sudah tidak senang diajak oleh Sim Houw menyelamatkan Hong Beng. Kini mendengar ucapan yang dirasakannya sangat menyakitkan hati itu, bangkitlah kemarahannya.

Sambil bertolak pinggang dengan tangan kanan, telunjuk kirinya lalu menuding ke arah hidung Hong Beng dan suaranya terdengar lantang dan galak, “Gu Hong Beng manusia sombong! Siapa yang sudi menerima terima kasihmu? Ketahuilah, kalau aku akhirnya menyetujui Sim-koko untuk menolongmu, adalah karena aku tidak ingin melihat engkau mampus di sana. Aku ingin menghajarmu dengan kedua kaki tanganku sendiri. Engkau lancang dan banyak mulut, suka mengadu dan melancarkan fitnah, memburuk-burukkan nama kami di depan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir!”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Tak dapat disangkal lagi, dia mencinta gadis ini. Akan tetapi Bi Lan tidak membalas cintanya, bahkan agaknya gadis itu bermain cinta dengan Sim Houw dan mengejeknya, menghinanya. Di samping rasa cintanya, timbul perasaan penasaran dan juga kemarahan.

Mungkinkah orang mencinta dan sekaligus membenci orang yang sama? Hal ini tidak mungkin sama sekali. Benci timbul dari perasaan tidak suka, dari perasaan dirugikan dan tidak tercapai apa yang diinginkan. Cinta tidak mungkin menimbulkan benci. Yang menimbulkan benci bukan cinta, melainkan nafsu.

Nafsu ini ingin memiliki, ingin disenangkan, dan kalau semua keinginan itu gagal, maka muncullah kecewa dan benci. Baik nafsu mau pun benci adalah penonjolan diri pribadi, adalah pakaian badan, adalah pementingan kesenangan dan kepuasan badan. Cinta kasih tidaklah sedangkal segala macam keinginan badan, cinta kasih bukanlah sekedar kesenangan dan kepuasan jasmani.

“Aku tidak memburukkan atau menyebar fitnah, melainkan menceritakan keadaan yang sebenarnya tanpa dibuat-buat. Bagaimana pun juga, Bi Lan, engkau telah melakukan penyelewengan, membela dan melindungi perempuan jahat Bi-kwi, bahkan engkau juga memusuhi kami orang-orang Pulau Es!”

“Sombong! Orang macam engkau ini mengaku orang Pulau Es? Dan engkau menuduh yang bukan-bukan tanpa menyelidiki kenyataannya. Huh, suci Ciong Siu Kwi jauh lebih baik dari pada engkau. Orang macam engkau ini perlu dihajar!” Berkata demikian, Bi Lan sudah menerjang dan menyerang Hong Beng.

Pemuda yang juga sudah marah ini cepat mengelak dan balas menyerang. Sim Houw memandang bingung. Tadi dia sudah membujuk Bi Lan untuk bersabar, tapi gadis yang sedang marah itu tidak mempedulikannya. Dan melihat sikap Hong Beng, diam-diam Sim Houw juga merasa penasaran. Kenapa pemuda itu juga bersikap demikian kasar? Dia mengerti bahwa di antara mereka itu hanya terdapat kesalah pahaman belaka, dan tetutama karena sama-sama tidak mau mengalah!

Selagi Sim Houw merasa bingung apa yang harus dilakukan menghadapi dua orang yang kini sudah berkelahi dengan seru itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Kalian ini sungguh tidak tahu diri!”

Lenyapnya suara itu dibarengi munculnya seorang laki-laki setengah tua yang gagah dan begitu tiba, laki- laki itu telah menerjang dan menyerang Sim Houw!

Tentu saja Sim Houw terkejut dan cepat melompat ke samping, apa lagi ketika dia mengenal orang ini sebagai Suma Ciang Bun, seorang tokoh keluarga Pulau Es yang pernah pula menyerangnya bersama Hong Beng! Kiranya guru dan murid ini sekarang kembali menyerang dia dan Bi Lan, seolah-olah melanjutkan perkelahian antara mereka yang pernah terjadi tempo hari!

Bagaimana Suma Ciang Bun dapat muncul secara tiba-tiba di tempat itu? Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun meninggalkan rumah enci-nya, Suma Hui atau nyonya Kao Cin Liong, untuk menyusul muridnya yang pergi ke utara, mengunjungi gurun pasir unuk menghadap orang tua Kao Cih Liong, melaporkan tentang hilangnya Kao Hong Li.

Ketika tiba di Tembok Besar itu, kebetulan saja dia melihat muridnya berkelahi melawan Bi Lan dan tentu saja kemarahannya timbul seketika ketika dia mengenal Bi Lan dan Sim Houw. Biar pun dulu dia pernah meragukan apakah kedua orang itu bersalah, kini melihat betapa muridnya kembali sudah berkelahi melawan gadis itu, tentu saja hatinya condong untuk membela muridnya dan karena khawatir kalau-kalau muridnya celaka di tangan Pendekar Suling Naga yang lihai itu, dia mendahului dan menyerang Sim Houw.

“Locianpwe, perlahan dulu…!” Sim Houw kembali mengelak ketika pukulan yang amat dingin menyambar. Dia bergidik. Pukulan ini tentu yang mengandung Swat-im Sinkang, pikirnya, yang dapat membuat darah lawan menjadi beku kalau terkena pukulan dingin ini.

“Mari kita bicara!” ajaknya, dan kembali dia mengelak karena sebuah tendangan kilat menyambar ke arah lututnya.

“Suhu, mereka ini hendak menghajar teecu karena teecu melaporkan tentang mereka ke Istana Gurun Pasir!” teriak Hong Beng yang sudah marah dan yang kini menjadi besar hatinya melihat kemunculan gurunya.

“Hemmm, dua orang muda yang besar kepala!” Suma Ciang Bun mendengus dan dia sudah kembali menyerang.

Seperti juga dalam perkelahian yang pertama melawan guru Hong Beng ini, Sim Houw hanya mengelak dan menangkis, belum pernah membalas karena memang dia tidak ingin bermusuhan dengan pendekar ini tanpa sebab yang jelas.

Hong Beng sudah terdesak oleh Bi Lan, sedangkan Suma Ciang Bun sebagai seorang pendekar maklum pula bahwa kalau Pendekar Suling Naga itu membalas, belum tentu dia akan mampu mengalahkan orang muda yang perkasa ini. Maka, setelah lewat lima puluh jurus, guru dan murid ini mulai merasa sibuk. Hong

Beng sibuk oleh desakan-desakan Bi Lan yang marah, sedangkan gurunya sibuk karena sebegitu jauh, belum sebuah pun dari serangannya dapat menyentuh tubuh Sim Houw!

Tiba-tiba terdengar suara ramai dan bermunculan tosu-tosu di tempat itu. Mereka adalah para tosu Pek- lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Tanpa banyak cakap lagi, para tosu itu kini menyerbu dan menyerang Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang mereka kenal sebagai seorang pendekar keluarga Pulau Es! Tentu saja Hong Beng dan Suma Ciang Bun terkejut, dan Hong Beng berseru kepada suhu-nya,

“Suhu, mereka ini pernah menawan teecu!”

Sementara itu, melihat betapa para tosu yang lihai itu, yaitu lima orang pimpinan disertai belasan anak buah, telah mengepung dan menyerang Suma Ciang Bun dan Hong Beng, Sim Houw lantas memberi isyarat kekasihnya, dan mereka berdua pun segera terjun ke dalam pertempuran, menyerang para tosu!

Sikap mereka ini tentu saja membuat Suma Ciang Bun terkejut akan tetapi juga girang. Dia tadi telah beradu lengan dengan tosu jenggot panjang dan dengan kaget mendapat kenyataan betapa kuatnya lawan. Tosu-tosu itu lihai bukan main dan agaknya dia dan muridnya belum tentu akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi kini Pendekar Suling Naga dan gadis yang galak itu telah membantu mereka menghadapi para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw!

Bi Lan yang berkelahi melawan Hong Beng mengamuk dengan sangat hebat. Ia masih membatasi serangannya karena ia hanya ingin menghajar pemuda itu, bukan berniat membunuhnya atau melukainya secara berat. Ia pun tahu bahwa sikap pemuda itu yang berbalik tidak suka kepadanya karena cintanya ditolak dan karena cemburu, demikian pendapatnya.

Akan tetapi kini, melihat betapa mereka dikepung oleh tosu-tosu yang lihai, Bi Lan lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Biar pun ia tidak memegang Ban-tok-kiam lagi, namun ketika ia mainkan Ban-tok Ciang-hoat yang dipelajarinya dari subo-nya, diseling dengan Sin-liong Ciang-hoat yang didapat dari suhu- nya Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka hebatnya bukan kepalang.

Seorang tosu Pat-kwa-pai yang menjadi lawannya ialah Ok Cin Cu. Tosu ini memegang sebatang tongkat hitam berbentuk ular. Tosu yang mata keranjang dan cabul ini tadi sudah menyerang Bi Lan karena dia tidak dapat melewatkan gadis secantik ini dari pandang matanya. Maksudnya tentu saja agar dia puas dapat mempermainkan gadis ini.

Akan tetapi, kalau pada mulanya dia maju dengan tangan kanan saja sambil tertawa-tawa dan tersenyum- senyum, sekarang dia terkejut dan memainkan tongkatnya untuk melindungi tubuhnya. Tak disangkanya bahwa gadis muda itu lihai bukan main, memiliki serangan pukulan-pukulan yang sangat aneh!

Tosu ini harus berloncatan ke sana-sini. Rambutnya yang putih riap-riapan itu berkibar-kibar. Tongkat hitamnya menyambar-nyambar, akan tetapi tetap saja dia kewalahan dan terdesak oleh gerakan Bi Lan yang tidak dikenalnya.

Suma Ciang Bun diserang oleh tosu berjenggot panjang yang bersenjata tongkat naga hitam dan merupakan pemimpin para tosu. Pendekar ini mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu siang-kiam (sepasang pedang) dan memainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) dan dengan ilmu pedang yang hebat ini barulah dia dapat mengimbangi serangan lawan. Tetapi harus diakui bahwa untuk mendesak dia pun tidak mampu karena kakek berjenggot panjang itu memang lihai bukan main. Di samping itu, Suma Ciang Bun juga harus melindungi muridnya.

Hong Beng juga memainkan pedangnya melawan Thian Kek Sengjin, tokoh sakti dari Pek-lian-kauw yang juga bersenjata tongkat naga hitam. Kakek ini bersama Ok Cin Cu pernah menipunya dan mengadunya dengan Bi Lan ketika kedua kakek itu terluka dan menyembunyikan keadaan mereka yang sebenarnya. Dalam perkelahian ini Hong Beng terdesak oleh tongkat naga hitam. Akan tetapi, karena kadang-kadang suhu-nya datang membantu, dia dapat pula bertahan dan perkelahian ini menjadi perkelahian keroyokan antara guru dan murid itu melawan dua orang tosu.

Sim Houw sendiri melayani dua orang tosu Pek-lian-kauw yang tingkat kepandaiannya sama dengan yang lain. Sim Houw sudah mencabut sulingnya. Melihat senjata ini, para tosu itu terkejut.

“Pendekar Suling Naga…!” seru salah seorang di antara dua tosu yang mengeroyoknya sambil memutar pedangnya dengan cepat.

Temannya yang juga berpedang, menghujankan serangannya kepada Sim Houw. Tapi dengan tenangnya Sim Houw memutar sulingnya. Terdengar suara suling melengking-lengking dibarengi sinar berkelebatan dan dua orang itu segera terdesak hebat! Bukan main kuatnya gerakan pedang suling itu.

Kedua orang tosu itu sampai terhuyung ke belakang dan mereka mengeluarkan seruan kaget. Belum pernah mereka bertemu lawan sehebat ini dan jika mereka tadinya hanya mendengar saja nama besar Pendekar Suling Naga yang dianggap berlebihan, maka baru sekarang mereka menyaksikan bahkan mengalami sendiri kehebatan senjata aneh itu!

Bi Lan juga mengamuk hebat dan lawannya sudah dua kali terkena pukulannya. Karena pukulan itu mempergunakan jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, maka tenaganya membuat lawan itu terpelanting, sedangkan pukulan ke dua yang memakai Ilmu Silat Ban-tok Ciang-hoat membuat pundak lawannya yang terpukul terasa bagaikan terbakar, terasa gatal-gatal dan nyeri bukan main. Itulah pukulan beracun yang amat ampuh.

Ok Cin Cu menjadi gentar. Dia pun cepat melompat jauh ke belakang, hampir berbareng dengan dua orang tosu yang mengeroyok Sim Houw yang juga sudah berlompatan ke belakang. Keduanya terluka sedikit pada bahu mereka terkena sambaran angin pedang suling itu!

Melihat ini, gentarlah hati lima orang tosu itu dan mereka berteriak mengerahkan anak buah mereka, sedangkan dari jauh datang pula rombongan orang Mongol yang akan membantu.

“Moi-moi, mari kita pergi saja!” Sim Houw berseru dengan nyaring dan kepada Suma Ciang Bun dia menjura sambil berkata, “Locianpwe, maafkan kami. Semua ini hanya merupakan salah paham belaka!” Dan dia pun bersama Bi Lan cepat meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, melewati Tembok Besar menuju ke selatan.

Melihat ini, Suma Ciang Bun juga mengajak muridnya untuk segera pergi saja, melewati Tembok Besar pula dan menuju ke selatan, tak ingin menghadapi pengeroyokan banyak orang itu.

Biar pun mereka berempat telah bekerja sama menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, namun di dalam hatinya, Hong Beng masih belum merasa puas. Dia belum yakin akan kebersihan Bi Lan dan Sim Houw, sedangkan Suma Ciang Bun diam diam kagum bukan main akan kelihaian Pendekar Suling Naga…..

********************

“Aihh, tenangkanlah hatimu, enci Hui. Kami sudah pernah merasakan betapa bingung dan susahnya kehilangan seorang anak. Akan tetapi berduka saja tidak ada gunanya, bahkan kedukaan itu akan mengeruhkan pikiran, melemahkan semangat sehingga kita tak dapat bertindak bijaksana dan tepat. Tenangkan hatimu, dan kita bicarakan urusan ini dengan teliti,” demikian Suma Ceng Liong, pendekar sakti keturunan keluarga Pulau Es itu menghibur Suma Hui yang datang bersama suaminya, Kao Cin Liong, dan sambil menangis bercerita akan mala petaka yang menimpa keluarganya dengan lenyapnya Kao Hong Li diculik orang.

“Benar sekali apa yang dikatakan suamiku, enci Hui. Kami dahulu juga merasa amat berduka dan gelisah, apa lagi karena hilangnya anak kami Suma Lian dibarengi dengan tewasnya ibu mertuaku dibunuh orang. Akan tetapi, orang yang benar selalu dilindungi Thian, enci. Aku yakin bahwa keponakanku Hong Li pasti akan dapat ditemukan kembali dalam keadaan selamat dan sehat,” berkata pula Kam Bi Eng, isteri Suma Ceng Liong sambil merangkul kakak iparnya.

Suma Hui menghapus air matanya dan ia memaksa diri tersenyum. “Maafkan aku atas kelemahanku. Akan tetapi, kami berdua sudah mencari sampai jauh ke Tibet, akan tetapi tidak berhasil, bahkan tidak dapat menemukan jejak anak kami. Bagaimana hatiku tidak akan gelisah?”

“Ceng Liong,” kata Cin Liong yang memang akrab dengan ipar-iparnya. “Kami sengaja datang ke sini mengunjungimu, bukan hanya sekedar menghibur diri, akan tetapi juga kami membutuhkan pendapatmu dan bantuanmu agar anak kami itu dapat segera kami temukan kembali.”

Ceng Liong mengangguk-angguk. Dia dan isterinya adalah suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sendiri adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es sedangkan isterinya adalah murid pewaris Ilmu Suling Emas. Kini Suma Lian, puteri mereka, dibawa oleh Bu Beng Lokai, yang masih terhitung pamannya sendiri karena Bu Beng Lokai yang dulu bernama Gak Bun Beng adalah mantu dari kakeknya, Suma Han. Suma Lian dibawa Bu Beng Lokai untuk digembleng.

Kini mereka berdua hidup di rumah mereka yang nampak sunyi, maka kunjungan Suma Hui dan suaminya itu menggembirakan, dan Ceng Liong menganggap sudah menjadi tugasnya untuk bantu memikirkan kehilangan keponakannya, Kao Hong Li itu.

Mereka lalu bercakap-cakap. Suami isteri yang kehilangan puterinya itu menceritakan dengan sejelasnya asal mula terjadinya penculikan terhadap puteri mereka.

“Gambaran tentang penculik itu telah kami dapatkan dengan jelas, bahkan teman-teman Hong Li menceritakan dengan jelas si penculik mengaku bernama Ang I Lama, bertubuh tinggi kurus, pandai silat dan pandai sihir. Akan tetapi ketika kami berhadapan dengan Ang I Lama, ternyata bukan dia penculiknya. Jelas bahwa penculik itu mempergunakan nama Ang I Lama. Akan tetapi siapa dia? Dan ke mana kami harus mencarinya?” Kao Cin Liong menutup penuturannya sambil menarik napas panjang.

Ceng Liong juga menghela napas. “Hemmm, penculik itu selain lihai, pandai ilmu silat dan sihir, juga cerdik sekali. Dia menyamar sebagai Ang I Lama untuk mengelabuimu dan melenyapkan jejaknya. Untuk itu, kita harus menggunakan akal, Kao-cihu (kakak ipar Kao).”

“Akal bagaimana, adikku?” tanya Suma Hui dengan penuh harapan dan gairah. Timbul kembali semangatnya mendengar percakapan itu.

“Cihu harus dapat mengumpulkan orang-orang kang-ouw terkemuka dengan alasan tertentu yang masuk akal. Cihu mengirim undangan agar mereka itu dapat datang dan lebih baik lagi jika mengirim undangan secara terbuka. Siapa saja yang merasa dirinya orang kang-ouw, orang-orang di dunia persilatan, dipersilakan datang. Nah, kalau sudah banyak orang kang-ouw berkumpul, cihu dapat mengumumkan tentang lenyapnya Hong Li diculik orang. Dengan demikian, tentu peristiwa itu akan tersebar luas dan kalau di antara mereka ada yang mengetahui tentang siapa penculik Hong Li dan di mana anak kita itu sekarang, tentu dia akan memberi tahu kepada cihu. Kalau pun tidak, tentu mereka akan membuka mata lebih lebar. Dengan demikian, harapan untuk menemukan kembali Hong Li lebih besar.”

“Ahh, bagus sekali usul itu!” Cin Liong berseru dan wajahnya berseri, matanya berkilat membayangkan kegirangan. “Tidak sampai dua bulan lagi adalah hari kelahiranku yang ke lima puluh! Hal ini tentu merupakan alasan yang baik sekali dan tak dicari-cari untuk mengumpulkan orang-orang kang-ouw.”

“Tepat sekali, cihu! Kita membuat undangan dan juga undangan terbuka yang ditujukan kepada seluruh orang kang-ouw. Aku akan membantu penyebaran surat undangan itu ke seluruh dunia kang-ouw, cihu!”

Gembira hati Cin Liong dan isterinya. Mereka segera kembali ke Pao-teng dan membuat persiapan. Pesta ulang tahun itu tentu makan banyak biaya, apa lagi kalau yang datang berkunjung nanti banyak sekali orang. Tetapi mereka berdua siap untuk menghabiskan semua harta simpanan mereka untuk keperluan itu, karena apa artinya semua harta itu kalau anak mereka tidak dapat ditemukan kembali? Setelah kehilangan Hong Li, barulah suami isteri ini merasa betapa pentingnya anak itu bagi mereka, dan betapa hal-hal lainnya tidak ada artinya lagi!

Hidup merupakan gabungan dari segala macam hal yang multi kompleks. Kebutuhan hidup bermacam- macam yang bergabung menjadi satu. Ada kebutuhan harta, sandang, pangan, kesehatan, kerukunan keluarga, dan seterusnya. Tidak mungkin mementingkan yang satu saja dan meremehkan yang lain. Karena kekurangan satu saja di antaranya, hidup akan menjadi pincang.

Apa artinya mempunyai segala itu kalau anaknya hilang seperti halnya suami isteri itu? Sama saja susahnya kalau yang ditiadakan itu satu di antara kebutuhan-kebutuhan itu. Apa artinya semua ada, keluarga lengkap, kalau badan selalu menderita penyakit? Apa pula artinya kalau sehat, berharta, cukup segala kebutuhan, tetapi tidak rukun dengan keluarganya? Masih banyak contoh-contoh lain lagi, namun kesemuanya itu merupakan akibat kepincangan yang serupa.

Karena suami isteri di Pao-teng itu kehilangan anak mereka, tentu saja hanya hal itu saja yang terasa. Mereka mau mengorbankan milik mereka yang lain asal anak mereka dapat ditemukan kembali.

Dengan cepat, undangan pun disebar dan dalam hal ini, Suma Ceng Liong membantu dengan sekuat tenaga. Tentu saja tak mungkin mengundang semua orang, tetapi yang penting, demikian keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu berpendapat, dari delapan penjuru harus ada tokoh-tokoh yang mewakili daerah masing-masing.

Juga disebar undangan terbuka, tidak untuk nama tertentu, melainkan ditujukan kepada semua orang kang-ouw yang suka datang, dipersilakan untuk datang pula meramaikan pesta hari ulang tahun bekas panglima yang sangat terkenal itu, bukan saja terkenal sebagai bekas panglima besar, juga terkenal sebagai seorang pendekar sakti bersama isterinya yang juga pendekar keturunan keluarga Pulau Es.

Beberapa hari sebelum pesta ulang tahun itu tiba, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng telah berada di rumah Cin Liong di Pao-teng. Ayah bunda Kam Bi Eng yang merupakan suami isteri terkenal sekali dan pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu ilmu dari Suling Emas dan merupakan tokoh ke tiga sesudah keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir yang terkenal, hadir pula atas undangan puteri mereka, Kam Bi Eng. Mereka itu bukan lain adalah pendekar sakti Kam Hong yang kini sudah berusia enam puluh tiga tahun, sedangkan isterinya, Bu Ci Sian kini telah berusia empat puluh delapan tahun.

Mereka berdua ini tinggal tak begitu jauh dari kota Pao-teng, di puncak Bukit Nelayan, yaitu salah sebuah puncak di antara puncak-puncak Pegunungan Tai-hang-san. Mereka berdua ikut merasa prihatin ketika mendengar cerita tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang yang masih belum diketahui jelas siapa adanya.

Selain keluarga Suma Ceng Liong dan keluarga Kam Hong ini, juga telah hadir di rumah itu Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng. Pemuda ini sudah mendengar banyak tentang suami isteri pendekar dari istana Khong-sim Kai-pang, yaitu Kam Hong, akan tetapi baru sekarang sempat bertemu. Hatinya merasa kagum dan dengan girang dia memperkenalkan diri.

Karena para keluarga berkumpul, suasana sudah meriah sekali dan banyak hal mereka percakapkan, dan tentu saja terutama sekali tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang. Oleh karena Hong Beng merupakan murid dari Suma Ciang Bun, maka dia pun diterima oleh keluarga Kao sebagai anggota keluarga sendiri.

Selagi tokoh-tokoh keturunan keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir beserta keluarga Suling Emas ini saling berbincang sebagai sekelompok keluarga, tiba-tiba pembantu memberi tahukan bahwa di luar datang dua orang tamu laki-laki dan perempuan yang masih muda. Kao Cin Liong dan isterinya tidak menanyakan siapa dua orang tamu itu, tetapi karena mereka berada dalam suasana berpesta, sehingga mereka mengharapkan munculnya banyak tamu, segera mereka menyuruh pembantu itu untuk mempersilakan dua orang tamu itu masuk saja ke ruangan besar di mana mereka tadi bercakap-cakap.

Ketika dua orang itu masuk, semua orang memandang, ingin tahu siapakah tamu yang datang agak terlalu pagi itu. Biasanya, yang datang lebih pagi dari hari pesta yang ditentukan, hanyalah anggota keluarga sendiri yang datang dengan maksud membantu tuan rumah mempersiapkan pesta ulang tahun itu.

Ketika melihat munculnya Sim Houw dan Bi Lan, sebagian besar dari mereka yang hadir di situ mengerutkan alisnya, terutama sekali Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun. Mereka berdua sudah bangkit berdiri dan mengepal tinju, akan tetapi ketika teringat bahwa di situ terdapat orang-orang tingkatan lebih tua seperti Kam Hong dan isterinya, guru dan murid ini menahan diri dan duduk kembali.

Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui memandang marah. Mereka sudah mendengar dari Hong Beng dan gurunya betapa Bi Lan yang diambil murid oleh suami isteri dari Istana Gurun Pasir, telah menyeleweng, membela iblis betina Bi-kwi dan bahkan menentang Suma Ciang Bun dan muridnya.

Perasaan tidak senang membayang di wajah tuan rumah dan nyonya rumah. Baru satu kali Kao Cin Liong dan isterinya bertemu dengan Sim Houw dan Bi Lan, yaitu ketika mereka semua di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio menentang dan membasmi Sai-cu Lama dan kawan-kawannya. Demikian pula Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng yang juga membantu dalam pertempuran hebat itu.

Sim Houw juga merasa girang sekali dapat bertemu dengan sekalian orang gagah itu. Kini dia dapat memandang Kam Bi Eng yang telah menjadi nyonya Suma Ceng Liong dengan wajah cerah dan ternyata setelah ada pertalian cinta antara dia dan Bi Lan, kini tidak terjadi sesuatu di dalam hatinya ketika dia bertemu dengan Kam Bi Eng, wanita yang pernah dikasihinya itu.

Akan tetapi, yang membuat Sim Houw menjadi semakin girang dan terharu adalah ketika dia melihat Kam Hong dan Bu Ci Sian di tempat itu. Sebelum memberi hormat kepada yang lain, Sim Houw mengajak Bi Lan untuk menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri ini.

“Suhu dan subo… telah bertahun-tahun teecu tidak pernah menghadap ji-wi, harap ji-wi sudi memaafkan teecu. Teecu harap selama ini suhu dan subo selalu dalam keadaan sehat dan dilimpahi berkah oleh Thian.”

Melihat muridnya, diam-diam Kam Hong dan Bu Ci Sian merasa kasihan akan tetapi juga girang. Mereka masih merasa kasihan mengingat betapa murid yang baik ini, yang tadinya mereka jodohkan dengan puteri mereka, Kam Bi Eng, kemudian ternyata ditolak oleh Bi Eng yang jatuh cinta kepada Suma Ceng Liong. Akan tetapi dengan jiwa besar murid mereka itu dengan suka rela mengundurkan diri dan memberi kebebasan kepada Kam Bi Eng untuk berjodoh dengan pria yang dipilihnya, sedangkan dia sendiri lalu merantau dan baru sekarang guru itu bertemu dengan murid yang pernah menjadi calon mantu itu.

Yang membuat suami isteri pendekar ini prihatin adalah karena mereka mendengar bahwa sampai sekarang murid mereka itu belum juga menikah. Hal ini bagi mereka menjadi tanda bahwa hati murid mereka itu telah terluka karena kegagalan cinta dan pernikahannya dengan Kam Bi Eng, dan mereka berdua turut merasa berdosa atas penderitaan pemuda itu.

“Sim Houw, selama ini engkau ke mana sajakah maka tidak pernah datang menjenguk kami? Dan kami mendengar bahwa engkau mendapat julukan Pendekar Suling Naga! Sungguh kami ikut merasa bangga dan… ehhh, siapakah nona ini?” Kam Hong baru memandang kepada Bi Lan yang berlutut di dekat Sim Houw.

“Locianpwe, nama saya Can Bi Lan…,” jawab Bi Lan dengan sikap hormat.

Ia sudah sering kali mendengar penuturan Sim Houw tentang suami isteri yang sakti ini, yang agaknya hanya boleh disejajarkan dengan suhu dan subo-nya di Istana Gurun Pasir, atau dengan para pendekar Pulau Es.

“Suhu dan subo, adik Can Bi Lan adalah… tunangan teecu dan ia adalah murid dari Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir dan isterinya…”

“Juga murid dari mendiang Sam Kwi!” Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng memotong kata-kata yang diucapkan oleh Sim Houw itu.

Semua orang terkejut dan diam-diam Suma Ciang Bun menyesalkan ucapan muridnya yang lancang itu, namun dia maklum bahwa perasaan dongkol di dalam hati muridnya yang membuat muridnya bersikap lancang seperti itu. Sejenak keadaan menjadi kaku dan tegang, akan tetapi Kam Hong yang menoleh kepada Hong Beng, kini tersenyum.

“Aihh, seorang yang sakti dan bijaksana seperti Kao-locianpwe, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, tidak mungkin salah memilih murid. Dan ia sekarang menjadi tunanganmu, Sim Houw. Selamat! Sungguh kami ikut merasa gembira sekali.”

“Tunanganmu ini cantik dan gagah, Sim Houw. Selamat!” kata pula Bu Ci Sian, lega hatinya karena dengan adanya pertunangan ini, berarti ia pun terlepas dari beban batin yang merasa bersalah terhadap Sim Houw yang patah hati.

“Terima kasih, suhu dan subo,” kata Sim Houw. Barulah dia dan Bi Lan menghadap takoh-tokoh lain dan memberi hormat.

Saat memberi hormat kepada Kao Cin Liong, tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan menyebutnya ‘suheng’ (kakak seperguruan). Mendengar sebutan ini, wajah Cin Liong menjadi merah dan hatinya tidak senang sekali.

“Can Bi Lan,” katanya halus namun mengandung kemarahan, “engkau telah menyebut suheng kepadaku, maka aku berhak untuk menegurmu. Aku banyak mendengar hal-hal yang tidak baik tentang dirimu, dan kalau memang benar, maka berarti aku sebagai suheng-mu akan terkena lumpur dan noda pula. Benarkah engkau pernah bersekongkol dengan wanita jahat Bi-kwi dan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat- kwa-kauw, bahkan engkau dibantu oleh Pendekar Suling Naga sudah memusuhi keluarga Pulau Es?”

Bi Lan mengerling ke arah Hong Beng. Ingin rasanya ia pada saat itu juga menyerang pemuda itu. Ia dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah yang menyebar fitnah, yang memburukkan namanya di depan semua orang. Tapi sentuhan tangan Sim Houw pada lengannya membuat ia menyadari bahwa di hadapan para locianpwe, tidak sepantasnya kalau ia memperlihatkan sikap kasar. Maka ia pun memberi hormat kepada Kao Cin Liong.

“Kao-suheng, tidak akan kusangkal bahwa aku dan Sim-koko pernah membantu dan membela suci Ciong Siu Kwi, akan tetapi untuk urusan itu terdapat alasan-alasannya yang kuat. Sama sekali kami tidak pernah membantu kejahatannya. Ia telah mengubah hidupnya, bertobat dan ia hanya diperalat oleh para tosu jahat yang telah menyandera calon suaminya. Akan tetapi semua hal itu akan kuceritakan lain kali saja, sekarang yang penting, aku hendak menyampaikan kepada suheng sekeluarga bahwa aku dan Sim-koko datang ke sini sebagai utusan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir.”

Mendengar ini, Kao Cin Liong tertegun. Kalau gadis ini sudah diterima orang tuanya, bahkan dijadikan utusan, itu tentu hanya berarti bahwa gadis ini tidak jahat. Sambil mengerutkan alisnya, dia bertanya, “Apakah kalian berdua mengunjungi orang tuaku?”

“Benar, suheng. Kami baru saja datang dari sana dan kami mendapat tugas dari suhu dan subo untuk memberi tahu kepada suheng berdua bahwa kalian telah kejatuhan fitnah yang amat keji, dituduh menjadi pembunuh-pembunuh dari Ang I Lama.”

Bukan main kagetnya hati Kao Cin Liong mendengar ini. “Apa?! Apa maksudmu? Coba ceritakan yang jelas!”

“Suheng, ketika kami berada di istana, muncul seorang hwesio yang telah kita kenal baik karena dia adalah Tiong Khi Hwesio. Locianpwe inilah yang mengabarkan kepada suhu dan subo bahwa Ang I Lama tewas dibunuh orang, dan para pembunuhnya adalah suheng berdua…”

“Gila! Kami tidak melakukan hal itu!” Kao Cin Liong berseru keras. “Itu fitnah keji!” Suma Hui juga berseru marah.

“Locianpwe Tiong Khi Hwesio sudah menjadi utusan para pendeta Lama di Tibet untuk menyampaikan protes kepada suhu dan subo karena mereka semua merasa yakin bahwa suheng berdua pembunuhnya. Menurut cerita locianpwe itu, sebelum tewas, dalam keadaan terluka parah dan di depan para pendeta Lama, Ang I Lama sempat menyebut nama suheng berdua.”

“Ahhh…!” Wajah Kao Cin Liong berubah. Urusan ini bukanlah urusan kecil dan dia mengerutkan alisnya. “Anak kami hilang belum juga ditemukan jejaknya, dan sekarang muncul lagi fitnah keji yang menuduh kami membunuh Ang I Lama!”

“Ahh… aku mengerti sekarang!” Tiba-tiba Suma Ceng Liong yang terkenal cerdik itu berseru. “Pasti ada hubungan antara kedua peristiwa itu, cihu (kakak ipar)! Si penculik Hong Li mengaku bernama Ang I Lama dan kemudian setelah kalian datang ke barat, ternyata bukan Ang I Lama yang menculiknya. Kemudian, Ang I Lama dibunuh orang dan pendeta itu meninggalkan pesan yang menuduh kalian menjadi pembunuhnya. Bukankah jelas bahwa ada pihak ketiga yang sengaja hendak mengadu domba antara kalian dengan para pendeta Lama? Mula-mula Ang I Lama difitnah menculik Hong Li, kemudian karena tidak melihat kalian bermusuhan dengan Ang I Lama, maka fitnahnya dibalik. Pendeta itu dibunuh dan nama kalian yang kini difitnah.”

“Benar! Tentu ada orang yang mengatur semua ini. Akan tetapi siapa?” Kao Cin Liong berseru, penuh rasa penasaran.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo