October 3, 2017

Suling Naga Part 21

 

“Tapi… betapa mungkin kita memeluk tangan saja melihat orang sedemikian gagahnya terbunuh? Lihat, dia mulai terdesak, terlalu banyak lawan dan juga terlalu banyak darah keluar dari luka di pahanya itu,” Bi Lan berkata.

Sim Houw tak dapat menjawab. Bagaimana pun juga, semua ucapan Lie Tek San yang penuh semangat tadi telah membakar hatinya dan menyentuh perasaan halusnya. Dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan itu.

Memang, Bangsa Han sedang dijajah dan dipermainkan oleh orang-orang Mancu yang sesungguhnya adalah bangsa biadab yang datang jauh dari utara, dari luar Tembok Besar. Andai kata semua orang Han sikapnya seperti Lie Tek San ini dan bangkit, akan bisa apakah orang-orang Mancu itu? Perbandingan rakyat mereka mungkin satu lawan seratus. Sayang, banyak di antara orang Han yang mabok kesenangan dan kemuliaan, tidak segan-segan membantu orang-orang Mancu, memperkuat pemerintah penjajah.

“Sim-ko, lihat… dia terluka lagi. Apakah kita harus membiarkan seorang gagah terbunuh begitu saja oleh gerombolan anjing itu?”

Sim Houw melihat betapa tubuh Lie Tek San terhuyung karena sebatang tombak di tangan seorang prajurit telah mengenai punggungnya. Dia masih mampu melindungi punggung itu dengan sinkang, namun mata tombak itu sudah terlanjur melukainya dan masuk setengah jari dalamnya. Dia membalik tubuhnya dan dengan tendangan kilat ia merobohkan prajurit itu, mencabut tombaknya dan melontarkan tombak itu ke depan, menyerang si kumis tebal.

“Tranggg…!”

Si kumis tebal menangkis dan tombak itu melesat ke samping, mengenai dada seorang prajurit sehingga prajurit itu pun roboh berkelojotan!

“Mari kita bantu dia!” Akhirnya Sim Houw mengambil keputusan.

Sedangkan Bi Lan yang sejak tadi sudah merasa gatal tangan akan tetapi belum mau mencampuri perkelahian sebelum Sim Houw menyetujuinya, begitu mendengar ucapan ini langsung saja meloncat ke depan dan melayang naik ke atas Tembok Besar. Karena dia maklum betapa lihainya Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Huang-ho) yang mengeroyok Lie Tek San, sambil meloncat dia sudah mencabut pedang Ban-tok-kiam dan ia pun mengamuk.

Begitu pedangnya berkelebat, empat lima batang senjata para pengeroyok patah-patah dan kakinya yang terayun ke kanan kiri merobohkan empat lima orang pengeroyok. Kemudian Bi Lan menyerbu lima orang pemimpin pasukan yang mulai mendesak Lie Tek San dengan hebatnya.

“Lan-moi, jangan bunuh orang!” Sim Houw masih mengingatkan Bi Lan.

Gadis ini pun ingat bahwa dia memegang Ban-tok-kiam dan tidak boleh sembarangan membunuh orang. Dan dia pun naik ke situ bukan untuk membunuh orang. Dia tidak pernah bermusuhan dengan anak buah pasukan itu atau pun lima orang perwira yang mengeroyok Lie Tek San. Ia naik hanya untuk menyelamatkan pendekar Siauw-lim-pai yang gagah perkasa itu.

“Larikan dia, toako, biar aku yang menahan mereka!” teriaknya dan pedangnya diputar menyerang lima orang itu.

Huang-ho Ngo-liong terkejut sekali melihat munculnya seorang gadis yang memutar sebatang pedang yang mengandung hawa yang mengerikan, apa lagi melihat betapa dengan mudahnya gadis itu merobohkan beberapa orang prajurit. Juga kemunculan gadis ini disusul munculnya seorang laki-laki yang dengan tangan kosong merampasi senjata para prajurit, dan merobohkan banyak prajurit hanya dengan dorongan tangan yang nampaknya tidak menyentuh lawan! Mereka kemudian bersatu menyambut gadis berpedang yang menyerang mereka.

“Tranggggg…!”

Terdengar bunyi nyaring dan lima orang itu terkejut bukan main. Dua batang golok di antara mereka patah menjadi dua, sedangkan tiga yang lain merasa betapa telapak tangan mereka panas seperti dibakar oleh gagang golok mereka sendiri! Ketika mereka meloncat ke belakang, Sim Houw lalu meloncat ke depan, menyambar tangan Lie Tek San yang masih terhuyung dan agaknya nanar karena luka-lukanya.

“Lie-enghiong, mari kita pergi saja!” Sim Houw menariknya dan membantunya meloncat turun dari tembok.

Lie Tek San maklum bahwa dalam keadaan luka-luka itu, melanjutkan perkelahian sama halnya bunuh diri. Kini muncul dua orang yang menolongnya, maka dia pun tak banyak cakap, membiarkan dirinya ditarik dan diajak lari oleh laki-laki tampan yang tangannya lembut namun mengandung tenaga besar itu.

Sementara itu, Bi Lan terus memutar pedangnya melindungi dari belakang. Huang-ho Ngo-liong berteriak memberi aba-aba. Mereka sendiri pun lalu melakukan pengejaran, namun sinar pedang Ban-tok-kiam membuat mereka bergidik dan gentar. Sementara itu, Lie Tek San yang melihat betapa gadis itu memutar pedang yang mengandung sinar menyilaukan dan hawa yang mengerikan, terkejut dan kagum bukan main.

Akhirnya lima orang Huang-ho Ngo-liong tak melanjutkan pengejarannya karena selain mereka sendiri jeri menghadapi pedang di tangan Bi Lan, juga anak buah mereka sudah merasa gentar dan hanya melakukan pengejaran dari jauh dengan ragu-ragu saja.

Sementara itu, malam telah tiba dan cuaca menjadi gelap…..

“Sebaiknya kita berhenti dulu untuk mengobati luka-lukamu, Lie-enghiong,” berkata Sim Houw ketika mereka melihat bahwa pasukan itu tidak mengejar lagi dan mereka sudah tiba agak jauh dari tempat itu di kaki sebuah bukit.

Mereka berhenti dan Sim Houw cepat mengeluarkan obat luka dan mengobati luka-luka di punggung, pundak dan paha orang gagah itu. Biar pun luka-luka itu terasa nyeri dan perih, namun Lie Tek San sama sekali tidak mengeluh ketika Sim Houw merawatnya. Di bawah sinar api unggun yang dibuat Bi Lan, mereka bercakap-cakap sambil mengobati luka-luka itu.

“Siapakah ji-wi dan bagaimana dapat mengenalku?” tanya Lie Tek San. Ia memandang gadis dan orang muda itu bergantian dengan sinar mata kagum.

“Maafkan kami, terus terang saja sejak engkau dikeroyok gerombolan serigala itu kami sudah mengintaimu, Lie-enghiong. Kami sedang melakukan perjalanan dan kemalaman di sini, lalu kami mendengar suara serigala menyalak-nyalak. Kami datang dan melihat engkau dikeroyok. Kami tidak membantu karena engkau pasti bisa membasmi serigala-serigala itu. Kemudian, kami melihat munculnya lima orang itu yang menyebut namamu. Namamu sebagai seorang pejuang tokoh Siauw-lim-pai telah sering kami dengar.”

“Akan tetapi, ji-wi (kalian berdua) memiliki ilmu silat yang amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku, dan pedang pusaka nona ini… hemm, sungguh luar biasa. Siapakah ji-wi?”

“Nama saya Sim Houw…”

“Ahhh…! Apakah pendekar yang baru muncul dengan julukan Suling Naga? Aih benar, aku sekarang dapat melihat suling di ikat pinggangmu. Sungguh mengagumkan sekali, Sim-taihiap yang masih muda sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw!”

Sim Houw tersenyum. “Lie-enghiong terlalu memuji. Usiamu mungkin hanya beberapa tahun saja lebih tua dari pada usiaku, dan engkau sudah membuat nama besar dalam perjuangan.”

“Dan siapakah nona yang gagah perkasa ini?” tanya Lie Tek San, girang bahwa dia dapat berkenalan dengan seorang pendekar yang mulai terkenal dengan julukan Suling Naga.

“Lie-enghiong, nama saya Can Bi Lan dan saya tidaklah begitu terkenal seperti Sim-toako,” kata Bi Lan tersenyum.

“Akan tetapi… ilmu kepandaian nona hebat, dan terutama pedang itu. Apakah nama pedang pusakamu itu, nona Can?”

Karena yang dihadapinya adalah seorang pendekar dan pejuang ternama, Bi Lan tidak ragu-ragu untuk memberi keterangan yang sebenarnya.

“Pedang ini adalah Ban-tok-kiam…”

“Wahhh…! Pernah aku mendengar dari para suhu di kuil Siauw-lim-si bahwa pedang Ban-tok-kiam ialah sebuah di antara pusaka dari Istana Gurun Pasir! Benarkah pusaka ini milik locianpwe Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir seperti yang pernah kudengar bagai dongeng dari para suhu di kuil?” tanya Lie Tek San girang.

Bi Lan mengangguk. “Pusaka ini milik isteri pendekar itu yang kebetulan sekali adalah subo-ku dan beliau meminjamkan pusaka ini kepadaku. Sekarang kami sedang menuju ke sana untuk mengembalikan pusaka ini.”

Mendengar ini, kembali jagoan Siauw-lim-pai terkejut dan girang sekali. Dia memandang wajah gadis itu penuh kagum, kemudian menatap wajah Sim Houw dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya Tuhan, sungguh tidak kusangka bahwa malam ini aku dapat bertemu dengan orang-orang muda yang sakti! Sungguh aku merasa amat gembira dan terhormat sekali!”

“Ah, aku hanya menjadi murid suhu dan subo dari Istana Gurun Pasir selama satu tahun saja,” kata Bi Lan merendah.

“Dan kami yang merasa amat kagum, girang dan terhormat sudah dapat berkenalan dengan seorang pejuang perkasa. Nama Lie Tek San telah menggetarkan kolong langit dan kami merasa kagum bukan main,” kata Sim Houw dengan suara sungguh-sungguh.

Tiba-tiba Lie Tek San memandang tajam dan bertanya, “Benarkah Sim-taihiap kagum terhadap para pejuang?”

“Kenapa tidak? Bagi kami para pejuang adalah pendekar-pendekar yang menggunakan ilmunya untuk kebaikan.”

Orang gagah itu mengerutkan alis. “Hanya sebegitu sajakah pengertian pejuang bagi Sim-taihiap?”

Tiba-tiba Sim Houw menarik tangan Lie Tek San. Bersama Bi Lan dia sudah mengajak orang gagah itu melompat menjauhi api unggun, bahkan Bi Lan menggunakan kakinya menendang tumpukan kayu terbakar itu sehingga cerai-berai dan padam.

Pada saat mereka berlompatan itu, terdengar suara berdesing dan banyak sekali anak panah meluncur dan menyerang ke tempat di mana mereka tadi duduk. Dan serangan anak panah ini disusul oleh teriakan- teriakan banyak orang dan ternyata tempat itu telah dikepung oleh pasukan pemerintah.

“Tangkap pemberontak-pemberontak hina!” terdengar bentakan nyaring dan suara ini penuh wibawa.

Ketika tiga orang itu memandang, ternyata ada belasan orang perwira, yang dipimpin oleh seorang panglima brewokan tinggi besar yang tadi mengeluarkan suara bentakan itu, sedangkan di luar kepungan mereka terdapat pula puluhan orang pasukan yang bersenjata lengkap!

Obor-obor segera bernyala dan dipegang oleh banyak prajurit sehingga tempat yang terkepung itu sekarang menjadi terang dan nampak jelas wajah-wajah tiga orang yang dikepung itu. Dan kini Sim Houw dan Bi Lan juga dapat melihat wajah para perwira dan panglima itu, dan mereka mengenal pula bahwa yang memimpin pasukan ini adalah Coa-ciangkun, perwira tinggi yang pernah mereka jumpai ketika mereka bersama para pendekar lainnya membasmi komplotan Sai-cu Lama dan Bhok Gun!

Coa-ciangkun inilah yang dahulu memimpin pasukan pemerintah yang akan membantu Bhok Gun dan kawan-kawannya, tetapi oleh pendekar Kao Cin Liong, bekas seorang panglima pemerintah, Coa-ciangkun dibuat tak berdaya sehingga ia tidak berani campur tangan dalam bentrokan antara dua kelompok kang- ouw itu. Dan kini, Coa-ciangkun yang memimpin pasukan mengejar-ngejar Lie Tek San dan telah mengurung mereka bertiga!

Sementara itu, agaknya Coa-ciangkun juga mengenal Sim Houw dan Bi Lan, karena dia berkata dengan lantang, “Ahhh, kiranya pemberontak Lie Tek San bersekutu dengan Pendekar Suling Naga dan gadis ini… hemmm, bukankah engkau gadis yang dikatakan sumoi dari nona Ciong Siu Kwi, murid dari Sam Kwi, yang telah berkhianat itu? Bagus! Kiranya sekarang para pendekar dan juga murid datuk sesat telah menjadi kaki tangan pemberontak. Tangkap mereka, hidup atau mati!” bentak Coa-ciangkun.

Dan pengepungan itu diperketat. Sim Houw dan Bi Lan terkejut dan hendak membantah bahwa mereka bukanlah pemberontak. Namun mereka tahu bahwa akan sia-sia saja mereka membantah, dan pula, perlu apa membantah terhadap perwira ini?

Kini nampak oleh mereka betapa para perwira dan prajurit Bangsa Han yang membantu kerajaan Mancu memang merupakan lawan yang cukup tangguh. Juga prajurit yang mengepung tempat itu amat banyak.

Hebat sekali sepak terjang Lie Tek San. Biar pun dia sudah terluka di tiga tempat dan baru saja diobati, sekarang dia mengamuk seperti harimau terluka. Berkali-kali mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan dahsyat, disambung kata-kata makian.

“Basmi semua anjing penjilat Mancu!”

Terseret oleh sepak terjang Lie Tek San yang penuh semangat, Sim Houw dan Bi Lan juga mengamuk. Namun dua orang ini masih selalu berjaga-jaga agar jangan sampai mereka membunuh lawan. Biar pun lawan amat banyak, namun berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, terutama sekali Sim Houw, mereka dapat merobohkan lawan tanpa membunuh mereka, hanya melukai saja.

Para prajurit gentar sekali menghadapi sinar pedang Ban-tok-kiam dan sinar senjata pedang berbentuk suling Liong-siauw-kiam. Kalau sinar pedang Ban-tok-kiam sangat mengerikan karena mengandung hawa yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin, maka sinar pedang Suling Naga itu pun membuat mereka gentar karena setiap kali bertemu dengan senjata lawan, seperti halnya Ban-tok kiam, tentu senjata lawan patah atau terlempar!

Melihat kehebatan tiga orang itu yang membuat kepungan anak buahnya kocar-kacir, bahkan para prajurit menjadi gentar dan tidak ada yang berani mendekat, Coa-ciangkun terkejut bukan main. Jika saja dia tahu bahwa Lie Tek San sekarang dibantu dua orang pendekar sakti itu, tentu tadi dia mengerahkan sedikitnya dua ratus orang prajurit!

Kini, untuk minta bala bantuan sudah tidak keburu lagi, maka dia pun tidak mendesak anak buahnya ketika belasan orang pembantunya sudah roboh terluka dan tiga orang yang dikepung itu kini melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Dia hanya mencatat dalam laporannya bahwa Sim Houw dan Can Bi Lan, dua nama yang sudah dikenalnya ketika terjadi bentrokan antara para pendekar dengan para pembantu Hou Seng dulu, kini telah menjadi pemberontak, bersekutu dengan Lie Tek San!

Sementara itu, Lie Tek San yang mengenal jalan mengajak dua orang pendekar yang telah menyelamatkannya itu untuk melarikan diri ke sebuah perkampungan besar yang berada di balik bukit. Hari telah pagi ketika mereka tiba di perkampungan itu dan dari cara penduduk perkampungan itu berpakaian, tahulah Sim Houw bahwa tempat itu ialah perkampungan suku Bangsa Hui!

Sebagian besar kaum pria suku Bangsa Hui ini mengenakan sorban putih di kepalanya dan semua orang Hui, hanya sebagian kecil saja yang tidak beragama Islam. Mereka adalah kelompok suku bangsa yang bahasanya hanya sedikit berbeda dengan Bangsa Han, bahkan segalanya tidak berbeda dengan Bangsa Han, kecuali agama mereka.

Suku Bangsa Hui tersebar di daerah utara yang amat luas, sampai ke sudut-sudut barat utara Propinsi Sin- kiang dan sudut timur utara Propinsi Mongol dan Mancuria. Suku Bangsa Hui terkenal sebagai peternak- peternak, pejagal-pejagal dan terkenal pandai pula membuat masakan yang lezat.

Akan tetapi di samping itu, juga mereka terkenal sebagai pejuang-pejuang yang gagah dan gigih. Di mana- mana nampak mereka itu bangkit menentang penjajah Mancu dan banyak pula yang secara terbuka membantu perjuangan Bangsa Han dalam usaha mengusir penjajah Mancu.

Kedatangan Lie Tek San yang menjadi sahabat para penduduk perkampungan Hui itu disambut meriah. Setelah diperkenalkan, Sim Houw dan Bi Lan juga disambut dengan penuh kehormatan. Mereka bertiga dianggap sebagai tamu-tamu agung dan menerima hidangan yang serbaneka dan lezat dan terutama sekali daging domba.

Diam-diam Sim Houw dan Bi Lan kagum sekali melihat mereka. Mereka adalah suku bangsa yang ramah, yang taat beragama, akan tetapi berjiwa patriotik dan gagah, walau pun dalam hanyak hal, terutama sekali kebudayaan dan pendidikan, mereka masih agak terbelakang. Kehidupan mereka sebagian besar sebagai kelompok nomad yang suka berpindah-pindah mencari daerah yang subur.

Mereka bertiga lalu disambut oleh para pimpinan suku bangsa Hui dan Lie Tek San bercakap-cakap dengan mereka, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Sim Houw dan Bi Lan. Yang dibicarakan adalah mengenai perjuangan dan dalam percakapan ini sepasang pendekar itu mendengar banyak sekali hal yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui.

Tentang kegagahan para pejuang, tentang perjuangan mereka yang mulia. Jika tadinya Sim Houw dan Bi Lan menganggap para pejuang tiada bedanya dengan para pendekar, kini setelah mendengar keterangan Lie Tek San, mereka dapat melihat betapa terdapat perbedaan besar sekali.

“Perjuangan para pendekar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, juga dalam membela kaum lemah tertindas dan menentang kejahatan, hanya memiliki daerah yang amat sempit. Para pendekar hanya mengurus masalah perorangan yang tidak begitu besar artinya bagi bangsa dan tidak mungkin para pendekar menyelesaikan masalah perorangan yang teramat banyak. Permusuhan dan dendam pribadi terjadi di mana-mana. Biar pun para pendekar turun tangan mempertahankan kebenaran dan keadilan akan tetapi kejahatan tidak akan pernah berakhir. Keadaan kacau-balau dan munculnya kejahatan itu terjadi karena keadaan, maka yang perlu dirubah adalah keadaan itu sendiri. Perjuangan para pendekar hanya seperti usaha mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, tapi sebaliknya usaha kami para pejuang adalah melenyapkan penyakitnya!” demikian antara lain Lie Tek San berkata penuh semangat.

Para pemimpin suku Bangsa Hui mengangguk-angguk mengerti. Mereka memandang kepada Lie Tek San penuh kagum.

Tetapi Sim Houw, dan terutama sekali Bi Lan, merasa bigung. “Lie-enghiong, apakah bedanya antara keduanya itu?” tanya Bi Lan penasaran karena mendengar betapa tindakan para pendekar tidak dihargai seperti tindakan para pejuang.

Lie Tek San tersenyum. “Besar sekali bedanya. Keadaan masyarakat bagaikan orang sakit yang tentu saja menderita nyeri karena penyakitnya. Kalau hanya rasa nyeri itu saja yang dilenyapkan, tanpa mengobati penyakitnya, maka rasa nyeri itu hanya akan lenyap untuk sementara saja dan akan muncul kembali. Sebaliknya, kalau penyakitnya yang diobati, begitu penyakitnya sembuh, otomatis rasa nyeri itu pun akan lenyap. Bukankah demikian?”

“Apa hubungannya urusan penyakit dengan urusan sepak terjang para pendekar?” Bi Lan mendesak karena masih belum mengerti.

“Can-lihiap (pendekar wanita Can), biar pun engkau memiliki ilmu kepandaian tinggi, agaknya belum begitu luas pengetahuanmu sehingga belum dapat menangkap apa yang kumaksudkan. Para pendekar bertindak menolong sesama manusia, berarti hanya mengurus masalah perorangan yang kecil saja dan selama hidupnya takkan pernah dia mampu menyelamatkan seluruh manusia dari pada tekanan kejahatan. Akan tetapi para pejuang bertindak menolong negara, menolong bangsa dan rakyat pada umumnya. Rakyat kita terjajah, tertindas dan hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan karena diperas dan ditindas oleh penjajah, dan dari keadaan inilah timbul banyak perbuatan yang menyeleweng dari kebenaran. Kaum pejuang bergerak untuk menyembuhkan penyakit ini, penyakit tertindas penjajah. Sekali penjajah lenyap dan rakyat kita hidup merdeka, keadaan menjadi adil dan makmur, maka kejahatan pun akan berkurang atau lenyap dengan sendirinya. Kalau para pendekar hanya menolong perorangan, maka para pejuang menolong seluruh rakyat dan bangsa, bahkan menolong pula anak cucu bangsa kita. Mengertikah engkau sekarang, lihiap?”

Bi Lan menjadi bengong. Baru sekarang inilah dia mendengar tentang persoalan yang begitu besar, menyangkut seluruh rakyat, menyangkut bangsa. Ia hanya mengangguk, pada hal masih banyak hal yang meragukan hatinya karena belum dapat dimengertinya benar.

“Karena itu, banyak sekali para pendekar yang dianggap sebagai pendekar besar dan budiman, tapi sebenarnya mereka itu kosong, bahkan banyak pula yang menyeleweng tanpa mereka sadari karena mereka sama sekali tak pernah memperhatikan tentang kesengsaraan seluruh rakyat, hanya memperhatikan kesengsaraan perorangan bahkan yang tidak ada artinya.”

Sim Houw mengerutkan alisnya, merasa tak setuju mendengar orang gagah ini mencela para pendekar besar yang budiman. “Maaf, Lie-enghiong, setahuku, para locianpwe yang gagah perkasa selalu hidup melalui jalan kebenaran. Siapa yang tidak mendengar akan sepak terjang yang gagah dari keluarga Pulau Es misalnya, atau keluarga Istana Gurun Pasir, juga keluarga besar Siauw-lim-pai dan lain-lainnya?”

“Keluarga Pulau Es?” Lie Tek San menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya. “Siapa yang tidak tahu bahwa mereka adalah keluarga para pendekar yang gagah perkasa dan sakti? Tetapi semua orang pun tahu bahwa mereka itu condong untuk memihak penjajah Mancu! Bahkan di dalam darah mereka terdapat darah keluarga kerajaan Mancu! Mana bisa mereka dibandingkan dengan para pejuang yang setiap saat siap mengorbankan nyawa untuk negara dan bangsa? Tidak, bagaimana pun juga, aku tidak dapat mengagumi keluarga Pulau Es! Siapa tidak tahu betapa isteri pertama dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es adalah seorang puteri Mancu, bahkan seorang panglima terkenal yaitu Puteri Nirahai, dan puteri mereka pun menjadi panglima terkenal yaitu Puteri Milana? Dan isterinya yang ke dua, yaitu Nenek Lulu juga seorang berdarah Mancu! Keturunan mereka memiliki darah Mancu dan betapa pun gagahnya mereka itu, tentu mereka setia kepada Mancu dan membela penjajah yang menindas rakyat kita. Bangsa Han dari suku-suku bangsa lainnya!” Lie Tek San bicara penuh semangat.

Sim Houw dan Bi Lan mendengarkan dengan mata terbelalak. Baru sekarang mereka mendengar ada orang gagah yang terang-terangan berani mencela keluarga Pulau Es!
“Bagaimana dengan keluarga Istana Gurun Pasir?” tanya Bi Lan, suaranya menantang, ingin melihat apakah pejuang itu berani mencela keluarga kedua gurunya.

“Hemmm, tidak banyak bedanya. Bukankah putera tunggal mereka, pendekar Kao Cin Liong, pernah menjadi seorang panglima kerajaan Mancu?”

“Akan tetapi sekarang dia sudah mengundurkan diri!” Bi Lan membantah.

Lie Tek San mengangguk-angguk dan tersenyum. “Maaf, lihiap, bukan maksudku untuk secara membabi- buta mencela para pendekar. Mereka adalah orang-orang sakti yang mengagumkan, tetapi sayang bahwa mereka itu hanya tertarik oleh urusan pribadi. Jika saja orang-orang sakti seperti mereka itu memikirkan nasib rakyat dan bersama-sama maju menentang penjajah, tentu pemerintah penjajah akan segera dapat dihancurkan dan rakyat kita terbebas dari pada cengkeramannya! Memang benar bahwa akhirnya pendekar Kao Cin Liong mengundurkan diri, tetapi kapankah keluarga itu menentang penjajah? Tidak pernah! Bahkan mereka itu, para pendekar yang gagah perkasa itu, baru-baru ini melakukan suatu kesalahan besar sekali ketika mereka membasmi kaki tangan pembesar Hou Seng!”

“Ahhh…!?!” Sim Houw dan Bi Lan terkejut dan berbareng mereka mengeluarkan seruan kaget sambil menatap wajah pejuang itu. Ada pun para pimpinan suku Bangsa Hui sejak tadi hanya mendengarkan saja dan kadang-kadang mengangguk-angguk membenarkan ucapan Lie Tek San.

“Kebetulan sekali kami berdua juga membantu para pendekar membasmi kaki tangan Hou Seng yang amat jahat itu! Kenapa perbuatan itu dianggap suatu kesalahan besar?”

Kembali pejuang itu menarik napas panjang. Mencela para pendekar bukan merupakan tugas yang menyenangkan, tetapi harus dia lakukan untuk membangkitkan semangat mereka yang dianggapnya melempem. “Dipandang secara umum, memang perbuatan menentang dan membasmi kaki tangan Hou Seng itu benar dan gagah, akan tetapi kalau dikaitkan dengan kepentingan perjuangan rakyat yang hendak membebaskan diri dari cengkeraman penjajah, maka perbuatan para pendekar itu sungguh merupakan suatu kesalahan besar yang amat merugikan perjuangan.”

“Ehh, bagaimana mungkin bisa demikian?” Bi Lan penasaran.

“Lihiap, kami sudah menyelidiki keadaan Hou Seng. Dia seorang pembesar yang korup dan berambisi, dia memelihara jagoan-jagoan yang terdiri dari datuk-datuk sesat yang lihai. Dia menyuruh jagoan-jagoannya untuk menculik dan membunuh para pembesar yang menentangnya. Semua perbuatannya sungguh amat menguntungkan perjuangan rakyat. Bukankah dengan demikian kedudukan kerajaan Mancu menjadi makin lemah? Hou Seng merupakan penyakit yang menggerogoti dari dalam, melemahkan pemerintah penjajah. Walau pun aku pribadi amat membencinya, akan tetapi perbuatannya itu justru menguntungkan kita, merusak pihak lawan. Seyogianya dia itu dibiarkan saja, biar dia merusak kedudukan kerajaan penjajah, biar terjadi saling hantam di kalangan mereka sendiri. Akan tetapi, para pendekar muncul, membasmi kaki tangan Hou Seng, dan keadaan di istana kerajaan menjadi aman dan bersih kembali, yang berarti memperkuat kerajaan dan kami para pejuang yang rugi. Di dalam diri Hou Seng kami seolah-olah menemukan pembantu yang amat berharga. Mengertikah sekarang ji-wi yang gagah?”

Sim Houw dan Bi Lan saling pandang dan memang mereka mulai mengerti. Kiranya perjuangan membutuhkan pemikiran yang mendalam. Perjuangan harus menyingkirkan perasaan dan urusan pribadi dan semua harus ditujukan demi kepentingan perjuangan rakyat itu sendiri. Betapa besar dan mulianya! Memang jauh lebih besar dari pada sikap dan tindakan para pendekar yang hanya memikirkan nasib orang yang dihadapinya dan ditolongnya. Betapa kecil bantuan kepada perorangan ini kalau dibandingkan dengan perjuangan yang mengingat akan nasib rakyat jelata!

Akan tetapi, Sim Houw adalah seorang pendekar yang luas pengetahuannya dan dalam pemikirannya sudah banyak pula dia membaca dan merenungkan permasalahan dunia dan kehidupan manusia pada umumya. Menghadapi perbandingan antara pejuang dan pendekar, dia melihat perbedaan lainnya yang membuat para pendekar nampak lebih unggul baginya. Dia pun melihat betapa Bi Lan amat tertarik dan dia tidak akan merasa heran kalau gadis yang masih muda itu akan lebih mudah terseret dan terjun dalam perjuangan dan untuk menyadarkan gadis itu, dia harus mengemukakan pendapatnya sekarang juga.

“Akan tetapi maafkan saya, Lie-enghiong. Saya juga melihat kesalahan besar sekali dilakukan orang dalam perjuangan, yang membuat tindakan pejuang-pejuang menjadi tidak murni lagi.”

Lie Tek San memandang tajam, tetapi mulutnya tersenyum tanda kelapangan hatinya. “Tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada manusia tanpa cacat, Sim-taihiap. Akan tetapi apakah kesalahan itu?”

“Kalau sebagian besar perbuatan para pendekar menentang kejahatan dan menolong orang-orang lemah tertindas timbul dari dorongan hati pada saat dia melihat ketidak adilan itu, pada saat itu pendekar bertindak memberantas kejahatan tanpa pamrih. Sebaliknya tindakan para pejuang merupakan tindakan yang telah direncanakan dan diatur untuk jangka waktu yang lama dan panjang. Dan biasanya, di dalam tindakan berencana ini, terdapat pamrih untuk diri sendiri walau pun nampaknya mereka berjuang untuk membela rakyat. Bukankah perjuangan itu bermaksud mengalahkan pemerintah penjajah yang lama dan bukankah perjuangan itu bercita-cita untuk menang dan kalau sudah menang, para pejuang tentu saja memperoleh kekuasaan dan kedudukan? Nah biasanya, walau pun ketika pejuang-pejuang itu masih melakukan perjuangan, cita-cita mereka murni dan ditujukan untuk membebaskan rakyat jelata dari penindasan. Tetapi, kalau sudah memperoleh kemenangan dan para pejuang itu memperoleh kedudukan dan kekuasaan, mereka menjadi lupa diri. Mereka akan mabok kemenangan, mabok kekuasaan dan hanya menjejali diri sendiri dengan kesenangan yang mereka anggap sebagai hasil dan upah dari perjuangan mereka.”

Para pimpinan suku Bangsa Hui saling pandang, dan Lie Tek San mengangguk-angguk dan menarik napas panjang, wajahnya nampak berduka dan khawatir. “Ah, engkau telah membuka dan menelanjangi kekotoran manusia dalam perjuangan. Sim taihiap! Akan tetapi tak dapat disangkal akan kebenaran ucapanmu itu. Memang terdapat perbedaan antara kemenangan pendekar dan kemenangan pejuang. Kemenangan pendekar dari musuhnya tidak mendatangkan suatu keuntungan, maka tidak akan menyelewengkan hati pendekar itu, dan sebaliknya kemenangan pejuang memang dapat mendatangkan pahala besar yang mudah menyelewengkan hati manusia yang lemah. Akan tetapi, kiranya tak semua manusia seperti itu. Dan kita akan menjadi manusia yang berbahagia kalau teringat akan kelemahan itu sehingga penyakit itu tidak akan menghinggapi batin kita. Mudah-mudahan saja kita tidak akan seperti mereka yang kelak dimabok oleh kemenangan dan kekuasaan.”

Setelah bercakap-cakap dan berjanji kepada Lie Tek San bahwa mereka akan berpikir tentang perjuangan setelah menyelesaikan urusan pribadi mereka, dan setelah mereka mendapat petunjuk tentang letak Istana Gurun Pasir yang mereka cari, Sim Houw dan Bi Lan meninggalkan perkampungan suku Bangsa Hui…..

********************

Istana Gurun Pasir terletak di tengah-tengah gurun pasir, di suatu daerah yang aneh karena di tengah- tengah gurun pasir yang luas itu terdapat sebidang tanah yang subur! Istana tua itu terpencil jauh dari pedusunan. Meski mereka lihai, Sim Houw dan Bi Lan tentu akan mengalami kesukaran menemukan tempat ini sungguh pun Bi Lan pernah mendapatkan keterangan yang cukup jelas dari subo-nya. Untung saja mereka sudah memperoleh petunjuk dari suku Bangsa Hui.

Suami isteri sakti yang tinggal di istana tua dan kuno itu kini sudah menjadi seorang kakek dan nenek yang usianya sudah lanjut. Kakek Kao Kok Cu yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, kini telah menjadi seorang kakek yang usianya hampir delapan puluh tahun. Walau pun dia masih nampak gagah dan sehat, namun dia sudah jarang sekali keluar dari istana tua itu, kecuali untuk keluar ke kebun merawat tanaman sayuran sambil menikmati hawa segar dan sinar matahari yang menyehatkan. Isterinya yang dahulunya merupakan seorang pendekar wanita yang lihai, kini pun sudah menjadi seorang nenek berusia kurang lebih tujuh puluh lima tahun.

Mereka berdua hidup damai di tempat terpencil dan sunyi itu. Masa gemilang kehidupan mereka telah lalu. Dulu mereka adalah sepasang suami isteri yang gagah perkasa dan disegani kawan ditakuti lawan, akan tetapi sekarang mereka hanya sepasang kakek dan nenek yang sudah menjauhkan diri dari keramaian dunia, makin hari semakin lemah dan tua dimakan usia dari dalam.

Yang menemani mereka hanyalah sepasang suami isteri berusia empat puluh tahun lebih dari suku bangsa Mongol peranakan Han, yang menjadi pelayan dan membantu pekerjaan di kebun dan di rumah. Tanah di daerah itu memang subur, bahkan terdapat sumber air sehingga kehidupan empat orang ini cukup makan dari tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam sendiri. Untuk keperluan barang lain, mereka dapat memperoleh dari pedagang-pedagang keliling di balik bukit, atau bertukar barang dengan penghuni dusun di balik bukit.

Agaknya suami isteri tua renta itu memang hanya menanti saat panggilan Tuhan saja dan mereka memilih tempat sunyi ini dari pada kota yang ramai. Berkali-kali putera tunggal mereka, Kao Cin Liong minta agar ayah dan ibu ini suka ikut tinggal bersama keluarganya di kota, akan tetapi kakek dan nenek itu tidak mau, sudah terlanjur betah tinggal di tempat yang sunyi itu. Meski keduanya sudah tua, untuk menjaga kesehatan mereka tidak pernah lupa untuk tetap melatih otot-otot tubuh mereka di samping duduk bersemedhi untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan lain di alam baka…..

********************

Ketika Sim Houw dan Bi Lan tiba di puncak bukit dan melihat istana tua itu di kejauhan, di tengah-tengah gurun pasir, mereka memandang kagum bukan main. Seperti dalam dongeng saja. Sebuah istana yang dari jauh nampak indah sekali, berdiri megah di tengah-tengah padang pasir yang luas dan mati. Dan di sekitar istana itu nampak nyata tumbuh-tumbuhan yang segar dan kehijauan. Benar-benar mentakjubkan.

“Mari kita cepat ke sana!” Bi Lan berteriak girang.

Gadis ini membayangkan bahwa ia akan segera bertemu dengan kakek dan nenek yang telah menjadi guru-gurunya, dan yang telah menyelamatkannya dari maut ketika dirinya keracunan oleh ilmu-ilmu yang sengaja diajarkan secara keliru dan menyeleweng oleh Bi-kwi, suci-nya.

Sim Houw tersenyum, maklum akan ketegangan dan kegembiraan hati gadis itu. Dia sendiri merasa tegang, akan tetapi bukan gembira melainkan khawatir. Istana kuno itu demikian megah dan nama besar suami isteri sakti itu membuat dia merasa seolah-olah kedatangannya akan merupakan gangguan terhadap kehidupan mereka yang tenteram seperti kehidupan sepasang dewa.

Dia khawatir kalau-kalau Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya akan merasa terganggu oleh kunjungannya dan dia merasa terasing. Tapi dia menghibur diri sendiri. Bagaimana pun juga, kunjungannya ini hanya untuk mengantar Bi Lan, dan bukankah Bi Lan merupakan murid dari mereka?

Saking gembiranya dan besar keinginannya untuk segera dapat bertemu dengan suhu dan subo-nya, Bi Lan mengerahkan tenaganya dan berlari cepat menuju ke istana itu, menuruni bukit. Kedua kakinya bergerak cepat ketika berlari di atas pasir dan Sim Houw mengikutinya sambil tersenyum, terbawa oleh kegembiraan Bi Lan. Sekejap saja Bi Lan sudah tiba di depan istana, di dalam pekarangan depan yang penuh dengan tanaman bunga beraneka ragam dan warna.

Seorang laki-laki bangsa Mongol dengan wajah dingin sedang mencangkul, membuang rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar bunga-bunga itu. Laki-laki itu adalah pelayan di istana itu dan dia sama sekali tidak menengok ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki pekarangan. Wajahnya tetap dingin bagaikan arca, sehingga Bi Lan yang tadinya ingin menegurnya dan bertanya, tak jadi membuka mulut, hanya memandang dengan penuh harapan ke arah pintu depan istana itu yang nampak terbuka sebagian.

Sinar matanya berseri gembira ketika yang diharapkannya muncul. Seorang kakek dan seorang nenek, keduanya sudah sangat tua akan tetapi wajah mereka masih nampak segar dan tubuh mereka masih lurus, muncul dari dalam pintu, melangkah ke luar dan berdiri di serambi.

“Suhu! Subo…!” Bi Lan berseru dan cepat ia lari naik ke atas serambi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek dan nenek itu.

Sim Houw melihat betapa kakek dan nenek itu berdiri tegak dengan sikap agung dan berwibawa, maka dia pun cepat mengikuti Bi Lan dan menjatuhkan diri berlutut pula di depan mereka.

“Suhu dan subo, teecu datang berkunjung,” berkata Bi Lan dengan suara mengandung kegembiraan dan keharuan. “Suhu dan subo selama ini dalam sehat saja, bukan?”

Kakek dan nenek itu diam saja. Sampai beberapa lamanya mereka hanya mengamati Bi Lan dan Sim Houw dengan penuh perhatian. Akhirnya terdengar juga nenek Wan Ceng berkata, suaranya lembut akan tetapi dingin dan tidak terkandung kegembiraan seperti yang diharapkan Bi Lan.

“Bi Lan, keluarkan Ban-tok-kiam dan berikan kepadaku.”

Diam-diam Bi Lan terkejut bukan main. Dulu biasanya sikap subo-nya terhadap dirinya amat ramah dan manis, bahkan terkandung rasa sayang di dalam kata-katanya kalau bicara kepadanya. Ia masih ingat benar. Akan tetapi kenapa sekarang di dalam suara subo-nya terkandung nada yang dingin dan seperti orang marah. Akan tetapi ia tidak membantah.

“Baik, subo.”

Dikeluarkannya Ban-tok-kiam dari dalam buntalan pakaiannya. Dengan kedua tangan, diserahkannya pedang pusaka Ban-tok-kiam itu kepada subo-nya. Ketika melakukan ini, ia menengadah dan memandang wajah subo-nya penuh perhatian. Kembali ia terkejut. Wajah subo-nya itu kelihatan tidak senang! Juga wajah suhu-nya yang biasanya penuh kesabaran dan kecerahan agak muram.

Tanpa memandang lagi kepada muridnya, nenek Wan Ceng mencabut Ban-tok-kiam dari sarungnya, kemudian mendekatkan pedang itu kepada hidungnya. Ia mengerutkan alisnya dan berkata dengan galak.

“Hemm, Ban-tok-kiam ternoda darah yang masih baru! Can Bi Lan, darah siapa yang menodai Ban-tok- kiam dan kenapa engkau menggunakannya untuk membunuh orang?”

Gadis itu terkejut dan cepat memberi hormat. “Harap subo sudi mengampuni teecu. Sesungguhnya, belum lama ini teecu mempergunakan Ban-tok-kiam dalam perkelahian. Teecu terpaksa mempergunakannya karena lawan berjumlah banyak dan cukup kuat.”

“Hemm, masih ingatkah engkau apa pesanku dahulu ketika meminjamkan Ban-tok-kiam ini kepadamu?” kembali suara nenek itu terdengar melengking tinggi tanda kemarahan hatinya.

“Teecu masih ingat, subo,” kata Bi Lan, jantungnya berdebar tegang dan merasa tidak enak, tidak mengira bahwa kunjungannya diterima dengan kemarahan oleh suhu dan subo-nya, tidak seperti yang dibayangkannya semula, yaitu melihat suhu dan subo-nya menerimanya dengan gembira. “Subo dahulu memesan agar pedang pusaka itu teecu pergunakan untuk menjaga diri dan hanya mempergunakan jika keadaan terdesak dan teecu berada dalam bahaya.”

“Hemm, bagus kalau kau masih ingat. Apakah saat engkau menggunakan Ban-tok-kiam baru-baru ini, engkau juga dalam ancaman bahaya?”

Ditanya demikian, Bi Lan menjadi bingung. Sejenak ia melirik ke arah Sim Houw yang juga menundukkan muka dengan hati merasa tidak enak.

“Maaf, subo. Teecu tidak terancam bahaya, akan tetapi ada orang lain yang terancam bahaya dan teecu harus menolongnya. Dia dikepung banyak anak buah pasukan yang dipimpin oleh perwira-perwira yang lihai. Akan tetapi teecu berani bersumpah bahwa Ban-tok-kiam tidak teecu pergunakan untuk membunuh, hanya melukai ringan saja…”

“Cukup!” Nenek Wan Ceng membentak. “Walau pun hanya luka sedikit, kalau terkena Ban-tok-kiam, tanpa kau beri obat kau kira mereka itu akan dapat hidup?”

Dengan penuh semangat karena mengharapkan supaya sekali ini dia dibenarkan kedua gurunya, Bi Lan berkata, “Dia adalah seorang pendekar perkasa, seorang pejuang yang gagah berani bernama Lie Tek San. Waktu itu teecu melihat dia sedang dikeroyok di dekat Tembok Besar, maka teecu turun tangan membantunya.”

“Lie Tek San pemberontak dari Siauw-lim-pai itu?” tanya Kao Kok Cu.

“Benar, suhu!” kata Bi Lan gembira karena gurunya ternyata juga mengenal nama besar pejuang itu.

“Hemm, kiranya bocah ini malah sudah membantu pemberontak!” Tiba-tiba nenek Wan Ceng berseru marah, mengejutkan Bi Lan dan Sim Houw. “Dan orang muda ini tentulah yang bernama Sim Houw dan berjuluk Pendekar Suling Naga. Benarkah?”

Sim Houw terkejut dan cepat memberi hormat, lalu memandang wajah nenek itu. “Benar sekali, locianpwe, saya bernama Sim Houw…”

“Dan berjuluk Pendekar Suling Naga?” nenek itu menyambung.

“Hal itu adalah karena saya suka mempergunakan senjata Pedang Suling Naga, maka orang-orang menyebut saya demikian,” Sim Houw mengaku.

“Bi Lan, semenjak kita saling berpisah, kami banyak mendengar hal-hal buruk tentang dirimu! Dan sekarang aku melihat kenyataannya sendiri bahwa bukan saja engkau telah meninggalkan kesusilaan, namun juga engkau sudah menggunakan Ban-tok-kiam untuk membunuh banyak orang, dan engkau bahkan telah menjadi seorang pemberontak.”

“Subo…!” Bi Lan berseru kaget.

“Diam!” bentak nenek Wan Ceng, kini tidak lagi menyembunyikan kemarahannya. “Kami dahulu telah keliru sangka terhadap dirimu, sehingga bersusah payah menyembuhkan dan mendidikmu. Kiranya engkau masih tetap menjadi murid yang baik dari Sam Kwi, tindakanmu memang seperti golongan hitam. Engkau membantu suci-mu yang jahat itu, bahkan membantunya berhadapan dengan keluarga Pulau Es yang gagah perkasa! Sungguh kami merasa ikut malu bukan main. Nah, katakan, tidak benarkah engkau dan Pendekar Suling Naga ini telah membantu suci-mu yang berjuluk Bi-kwi itu melakukan kejahatan dan melawan keluarga Pulau Es? Jawab!”

“Teecu memang membantu suci Bi-kwi, subo, akan tetapi… teecu membantunya hanya karena suci sekarang sudah sadar dan menjadi orang baik. Teecu bukan membantu ia melakukan kejahatan, melainkan melindunginya dari ancaman. Teecu sama sekali tidak menggunakan Ban-tok-kiam untuk kejadian itu…”

“Hemmm, karena keteledoranmu menjaga Ban-tok-kiam, pedang pusaka ini terjatuh ke tangan Sai-cu Lama sehingga Teng Siang In menjadi korban oleh Ban-tok-kiam! Bi Lan, sungguh aku kecewa dan menyesal sekali telah mengambilmu sebagai murid. Maka, sekarang engkau sudah datang dan membawa Ban-tok-kiam yang sudah ternoda, aku akan mencabut kepandaian yang pernah kuberikan kepadamu. Bersiaplah engkau!”

Nenek itu lalu menggerakkan tangannya untuk menotok ke arah pundak Bi Lan. Totokan itu mengarah jalan darah pusat di dekat leher dan kalau terkena tentu gadis itu akan menjadi lumpuh dan kehilangan seluruh tenaga dalamnya, bahkan kemungkinan besar membahayakan keselamatan nyawanya.

“Dukkk…!”

Totokan nenek itu yang tidak berani dielakkan atau ditangkis oleh Bi Lan, kini tertangkis oleh tangan Sim Houw. Dia tadi terkejut sekali dan melupakan segalanya, menangkis totokan maut itu untuk melindungi Bi Lan.

Nenek Wan Ceng melangkah mundur, matanya mencorong ditujukan kepada Sim Houw yang masih berlutut. Tangkisan tadi menyadarkan nenek Wan Ceng betapa kuat tenaga sinkang yang dipergunakan pemuda itu untuk menangkisnya tadi. Ia menjadi marah, merasa ditantang.

“Sim Houw, Pendekar Suling Naga, berani engkau mencampuri urusan antara aku dan muridku sendiri. Apakah engkau menantangku?”

“Maaf, locianpwe, saya masih belum begitu gila untuk berani menantang locianpwe. Akan tetapi, kalau locianpwe bersikeras untuk menghukumnya, biarlah saya saja yang mewakilinya. Hukumlah saya, locianpwe, karena selama ini dia hanya mengikuti jejak saya. Sayalah yang bertanggung jawab sebab sayalah yang bersalah. Locianpwe boleh menghukum atau membunuh saya, akan tetapi mohon bebaskan Lan-moi.”

Sikap dan suara Sim Houw demikian tegas dan mantap sehingga nenek itu terbelalak tidak percaya. “Engkau menyerahkan diri untuk menggantikan Bi Lan, dan engkau tak akan melawan?” tanyanya heran. “Saya bersumpah tidak akan melawan. Hukumlah saya sebagai pengganti adik Bi Lan.”

“Hemm, kalau begitu agaknya memang benar engkaulah yang menjadi biang keladinya sehingga murid kami menjadi jahat dan menyeleweng. Nah, terimalah hukumannya!”

Akan tetapi sebelum nenek Wan Ceng melancarkan pukulan yang lebih hebat dari pada tadi, tangannya telah disentuh suaminya. “Perlahan dulu, aku ingin bicara dengannya,” kata kakek Kao Kok Cu yang lengan kirinya buntung itu.

Wan Ceng memandang heran. Biasanya, suaminya sudah tidak mau peduli lagi dengan semua urusan. Jika sekarang dia mencampuri, itu berarti bahwa suaminya sebenarnya merasa sayang kepada Bi Lan, murid mereka yang hanya setahun berguru kepada mereka itu. Maka ia pun melangkah mundur, membiarkan suaminya yang agaknya akan menghadapi sendiri dua orang muda itu.

Kao Kok Cu melangkah perlahan ke depan. “Orang muda, bangkitlah, aku ingin bicara denganmu,” katanya lirih, namun suaranya penuh wibawa yang memaksa Sim Houw untuk bangkit dan dengan sopan dia mengangkat muka memandang wajah kakek itu.

Dia merasa kagum dan tunduk sekali melihat seorang kakek yang meski lengan kirinya buntung dan pakaiannya sederhana, namun penuh dengan wibawa yang amat kuat ini. Wajah kakek itu nampak bersih dan terang, sepasang matanya seperti mata naga saja, lembut namun mencorong penuh kekuatan.

“Pendekar Suling Naga Sim Houw, apamukah Can Bi Lan ini?”

Ditanya demikian, Sim Houw lalu menjawab dengan sopan, “Bukan apa-apa, locianpwe, kami hanya teman seperjalanan. Saya mengantarnya untuk mencari Istana Gurun Pasir karena ia hendak mengembalikan Ban-tok-kiam.”

“Kalau bukan apa-apa, mengapa engkau hendak berkorban diri, rela dihukum bahkan dibunuh untuk menyelamatkannya?”

Wajah Sim Houw menjadi merah. Beberapa kali dia melirik ke arah Bi Lan yang masih menundukkan mukanya. Menghadapi seorang tokoh besar seperti Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir ini, tentu saja dia harus berterus terang. Berbohong pun tidak akan ada gunanya, dan dia berpendapat bahwa sekaranglah saatnya dia berterus terang kepada Bi Lan pula, sebelum terlambat, yaitu sebelum seorang di antara mereka atau keduanya tewas di tangan suami isteri yang sakti ini.

“Locianpwe, terus terang saja, saya rela berkorban nyawa untuk melindunginya karena saya amat mencintanya.”

Mendengar ucapan itu, kakek dan nenek itu saling pandang. Saat mereka memandang kepada Bi Lan, mereka melihat betapa gadis itu makin menunduk, akan tetapi tetap saja ada dua butir air mata mengalir turun di sepanjang pipi Bi Lan.

Gadis itu merasa terharu bukan main mendengarkan pengakuan Sim Houw. Memang ia sudah dibisiki suci-nya, Bi-kwi, bahwa Sim Houw mencintanya, akan tetapi betapa pun ia memancing pengakuan Sim Houw, selalu gagal dan orang muda itu tidak pernah menyatakan cintanya melalui mulut. Baru sekarang Sim Houw membuat pengakuan, di depan suhu dan subo-nya, dengan suara lantang. Hal ini mendatangkan kegembiraan, kelegaan akan tetapi juga keharuan hatinya sehingga walau pun ia sudah menundukkan mukanya, ia tidak dapat menahan beberapa butir air mata mengalir turun.

Kakek itu kemudian mundur selangkah dan dengan sepasang mata yang mencorong, ia memperhatikan Sim Houw. Pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa orang muda ini benar-benar ‘berisi’, mudah saja nampak oleh pandang matanya yang tajam dalam sikap dan pandangan mata pemuda itu.

“Demi cinta engkau berani melindungi Bi Lan. Aku sudah pernah mendengar akan nama besarmu. Karena itu, ingin aku melihat apakah benar engkau mencintanya, dan sampai di mana pembelaanmu terhadap Bi Lan. Engkau majulah dan lawan aku, baru aku akan mempertimbangkan nanti apakah engkau cukup berharga untuk melindungi Bi Lan. Nah, bersiaplah untuk melayani aku bertanding, orang muda!”

Sim Houw mengerti. Sikap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir ini tidaklah mengherankan karena banyak tokoh persilatan yang sakti mempunyai kelemahan terhadap ilmu silat. Agaknya kakek ini pun ingin menguji kepandaiannya, dan kalau memang merasa bahwa dia memiliki kepandaian cukup, kakek itu tentu akan merasa sayang untuk membunuh atau mencabut kepandaiannya dan mungkin sekali mereka akan dapat mengampuni Bi Lan. Jadi nasib Bi Lan ditentukan oleh perlawanannya terhadap kakek sakti itu.

“Baiklah, locianpwe, saya mentaati perintah!” Setelah berkata demikian, Sim Houw juga melangkah mundur sampai ke pekarangan yang luas di bawah serambi itu.

Sim Houw sudah mencabut senjatanya, yaitu Liong-siauw-kiam atau Pedang Suling Naga, dipegang dengan tangan kanannya dan dia berdiri dengan sikap hormat menanti lawannya yang melangkah lambat menuruni anak tangga itu ke serambi.

Kini kedua orang itu sudah saling berhadapan, keduanya tidak memasang kuda-kuda, seperti halnya dua orang yang hendak bertanding ilmu silat. Hal ini saja menunjukkan bahwa keduanya bukanlah ahli silat sembarangan dan tidak lagi memerlukan kuda-kuda yang khusus. Setiap posisi merupakan kuda-kuda yang baik bagi mereka, karena dari segala posisi mereka dapat saja melakukan gerakan silat, baik membela diri mau pun menyerang.

Sejak tadi, Bi Lan sudah mengangkat muka dan memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia tahu benar betapa lihainya kakek berlengan buntung sebelah itu. Bagaimana pun juga, Sim Houw pasti bukan lawannya dan timbul perasaan ngeri dan takut dalam hatinya. Maka, melihat betapa keduanya sudah berdiri dan siap untuk saling serang, tiba-tiba ia mengeluarkan suara tertahan. Ia pun meloncat turun dari keadaan berlutut tadi dan tahu-tahu ia sudah berdiri di antara Sim Houw dan Kao Kok Cu, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhu-nya sambil menangis!

“Suhu…ahhh, suhu… jangan suhu menyerang Sim-toako. Lebih baik suhu bunuh saja teecu. Dia tentu akan tewas di tangan suhu dan teecu… teecu tidak mungkin dapat hidup tanpa dia suhu. Teecu… mencintanya… ahhh, teecu amat mencintanya…” Bi Lan menangis tersedu-sedu di depan kaki kakek itu.

Sim Houw berdiri dengan muka pucat dan kedua kakinya menggigil. Benarkah apa yang didengarnya itu? Benarkah itu Bi Lan yang mengaku cinta padanya di depan kakek itu? Tanpa malu-malu menyatakan cinta kepadanya, bahkan menangis karena khawatir dia akan terbunuh dalam pertandingan ini? Mendadak dia ingin merangkul Bi Lan, ingin dia menghiburnya, akan tetapi tentu saja dia tidak berani melakukan hal itu di depan kakek dan nenek yang nampaknya masih marah itu.

“Siapa yang akan membunuh orang? Anak bodoh, minggirlah dan biarkan aku menguji kepandaian Pendekar Suling Naga. Setelah itu, kalian berdua boleh pergi,” kata Kao Kok Cu.

Mendengar ini, bukan main girangnya hati Bi Lan dan ia pun cepat mundur dan berdiri di pinggiran untuk menonton. Ia percaya bahwa suhu-nya akan memegang teguh janjinya, tidak akan membunuh Sim Houw!

Tanpa disengaja, ia berdiri di dekat Wan Ceng yang juga sudah turun dari serambi, dan melihat subo-nya, Bi Lan berbisik, “Subo, teecu bersumpah bahwa kami berdua tidak pernah menyeleweng, tidak pernah melakukan kejahatan.”

Nenek Wan Ceng melirik padanya dan menjawab lirih, suaranya masih dingin. “Hemm, akan tetapi apa yang kami dengar tentang dirimu tidak seperti yang kau katakan ini, Bi Lan.”

“Subo, untuk setiap persoalan, teecu pasti dapat menjawab dan memberi penjelasan. Setidaknya teecu berhak untuk membela diri, Subo, dari segala berita yang dijatuhkan kepada teecu.”

“Sudahlah, nanti saja kita bicara lagi,” kata nenek itu yang memperhatikan dua orang yang sudah mulai bergerak saling mendekati.

Bi Lan memandang ke arah Sim Houw dan Kao Kok Cu yang sudah saling mendekati. Sim Houw memegang sulingnya. Kakek itu seperti biasa, tidak memegang senjata apa pun kecuali kedua ujung lengannya. Melihat betapa gagahnya Sim Houw, dan betapa gurunya itu sudah nampak tua dan lemah, agak berkurang kekhawatiran di hati Bi Lan.

Ia tidak khawatir kalau Sim Houw akan melukai gurunya. Ia mengenal benar siapa Sim Houw, tahu benar akan kebaikan hati Sim Houw dan kegagahannya. Sudah jelas bahwa pendekar itu tidak akan mau melukai kakek yang tua renta itu.

“Engkau mulailah, orang muda!” kata Kao Kok Cu.

Tadinya Sim Houw merasa sungkan untuk mendahului, akan tetapi mendengar ucapan kakek itu yang dianggapnya sebagai perintah, dia pun lalu menggerakkan sulingnya dan berkata,

“Baik, locianpwe, saya mulai menyerang!” Berkata demikian, suling itu berkelebat dan menotok ke arah pundak kiri yang tak berlengan itu!

Kakek itu tersenyum dan cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan pundaknya. Orang muda ini amat cerdik, pikirnya, agaknya bisa menduga bahwa justru lengan baju kiri tanpa isi itulah yang berbahaya, maka dalam serangan pertama itu dia menyerang pundak kiri yang berarti melemahkan bagian yang berbahaya dan kuat!

Sambil meloncat ke belakang, kaki kakek itu melayang dengan tendangan yang sangat cepat dan tak terduga datangnya dari samping menyerong ke arah lambung Sim Houw. Namun pemuda ini sudah dapat mengelak dengan baik, bahkan sulingnya telah kembali berkelebat lagi menotok ke arah lutut dari kaki yang menendang. Kao Kak Cu sudah menarik kembali kakinya dan kini tangan kanannya menampar dengan amat dahsyatnya dari atas, mengarah ubun-ubun kepala Sim Houw dan hampir berbareng, ujung lengan baju kiri menyambar dari bawah, menotok ke ulu hati pemuda itu dengan kecepatan luar biasa.

Sim Houw terkejut, akan tetapi dia tidak menjadi gugup. Sudah diduganya bahwa kakek itu merupakan lawan yang amat lihai, maka semenjak tadi pun dia sudah tidak berani memandang ringan, selalu waspada dan setiap urat syarafnya siap siaga menghadapi serangan yang aneh dan hebat.

“Takkkk…!”

Sulingnya menangkis tangan yang menampar dari atas sedangkan totokan ujung lengan baju kiri itu pun disampoknya dengan tangan kirinya sambil memutar tubuh. Sekarang sulingnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung, mengeluarkan bunyi menderu lalu melengking seperti ditiup, mendatangkan angin keras dan hawa yang panas.

Kini Sim Houw mulai mengeluarkan kepandaiannya, memainkan sulingnya dengan ilmu gabungan dari Koai-liong-kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman dan Ilmu Pedang Suling Emas). Kedua ilmu ini telah digabung dan menjadi ilmu yang dinamakan Liong-siauw-kiam-sut (Ilmu Pedang Suling

Naga) dan amat cocok dimainkan dengan pedang suling naga itu sebagai pengganti sepasang senjata yang sudah dia kembalikan kepada keluarga Cu di Lembah Naga Siluman, yaitu sebatang suling emas dan sebatang pedang pusaka Koai-liong-kiam.

“Bagus…!” Nenek Wan Ceng sampai memuji dan memandang kagum sekali ketika ia melihat sinar bergulung-gulung bagaikan seekor naga sedang mengamuk di sekeliling tubuh suaminya. Belum pernah ia melihat ilmu pedang sehebat itu, apa lagi ditambah dengan suara melengking seolah-olah ada orang yang sedang meniup suling dengan amat pandai dan merdunya.

Juga kakek Kao Kok Cu merasa kagum bukan main. Orang ini masih muda, akan tetapi telah menguasai ilmu yang demikian tingginya! Demikian hebatnya ilmu pedang yang dimainkan dengan suling itu.

Suaranya merupakan serangan tenaga khikang melalui suara, menggetarkan jantung dan membuyarkan pencurahan perhatian lawan. Anginnya juga mengandung hawa panas yang dahsyat dan dapat membingungkan lawan, sedangkan suling aneh itu dapat dipergunakan untuk menotok, akan tetapi juga membacok dan menusuk seperti pedang. Di tangan pemuda itu, suling itu bergerak dengan gulungan sinar seperti seekor naga bermain-main di angkasa.

Kakek itu segera terdesak oleh sinar bergulung-gulung itu dan hanya karena dia telah menguasai ilmu yang matang dan mendarah daging maka dia dapat mengenal atau menangkis dengan tepat pada saat terancam bahaya. Beberapa kali usahanya untuk melilit pedang atau suling itu dengan ujung lengan baju kiri tidak pernah berhasil karena begitu terlilit begitu pula terlepas seolah-olah benda berupa suling atau pedang itu licin seperti tubuh ular. Karena terdesak, kakek itu lalu merubah gerakannya dan kini dia mainkan ilmu silatnya yang paling ampuh, yaitu Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Tangan Naga Sakti).

Barulah keadaan mereka seimbang. Sim Houw terkejut bukan main ketika melihat kakek buntung itu memainkan ilmu silat yang luar biasa kuatnya. Dia merasa seperti sedang menghadapi tembok benteng baja yang amat kuat, sama sekali sukar ditembus oleh sinar senjatanya, bahkan setiap kali sulingnya bertemu dengan lengan atau lengan baju kiri, tangannya terasa panas dan lengannya tergetar. Bergidik dia membayangkan ada kekuatan sinkang sehebat itu.

Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara melengking dan tiba-tiba tubuhnya seperti rebah memanjang, bagai seekor naga saja. Begitu bergerak, tangan kanannya mengeluarkan angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya.

Sim Houw berusaha mempertahankan dengan tangkisan putaran sulingnya, tapi tenaga itu mendorong terlampau dahsyat. Itulah ilmu sakti Sin-liong-hok-te yang hanya dapat dilakukan dengan sempurna oleh seseorang yang berlengan sebelah! Sim Houw yang mempertahankan diri, tetap saja terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung!

Kalau kakek itu berniat jahat dan melanjutkan desakannya, agaknya sulit baginya untuk menyelamatkan diri. Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan ilmu terakhir itu, kakek Kao Kok Cu masih menang satu dua tingkat dibandingkan Sim Houw yang kalah tenaga dalam dan kalah pengalaman.

“Orang muda, engkau hebat dan tidak mengecewakan berjuluk Pendekar Suling Naga!” kata kakek Kao Kok Cu sambil melangkah mundur tiga langkah, berarti dia mengakhiri pertandingan itu.

Bukan main girang dan lega rasa hati Sim Houw. Dia pun cepat menyimpan suling, menjatuhkan diri berlutut kemudian berkata, “Terima kasih banyak saya haturkan atas kemurahan hati locianpwe yang telah memberi petunjuk kepada saya.”

Kakek itu menarik napas panjang dan menoleh kepada isterinya yang juga memandang kepadanya dan mengangguk. Tanpa kata, suami isteri yang telah saling mengenal lahir batin ini bermufakat bahwa seorang pemuda yang berilmu demikian tinggi, dengan sikap demikian rendah hati seperti Sim Houw, agaknya sulit dipercaya jika sampai melakukan penyelewengan dan kejahatan!

Bi Lan juga sudah mendekati Sim Houw dan berlutut di sebelah pemuda itu, hatinya lega dan girang bukan main. “Suhu, terima kasih bahwa suhu tidak melukai Sim-toako.”

Kakek itu kini tersenyum dan kembali menarik napas. “Siancai….! Semoga Tuhan akan memberkahi kalian dalam cinta kasih kalian. Mari kita masuk ke dalam dan bicara di dalam. Agaknya banyak hal-hal yang perlu dibicarakan dan dibikin terang.”

“Benar,” kata Wan Ceng. “Aku pun mulai ragu-ragu apakah Bi Lan benar-benar telah melakukan penyelewengan yang mengecewakan hatiku.”

Sim Houw merasa girang sekali, segera menghaturkan terima kasih dan bangkit berdiri bersama-sama Bi Lan. Ketika bangkit, tanpa disengaja, tangan kiri Bi Lan menyentuh tangan kanan Sim Houw dan otomatis kedua tangan itu saling genggam dan mereka berdua mengikuti kakek dan nenek itu masuk ke dalam istana dengan saling berpegang dan bergandengan tangan. Beberapa kali keduanya menoleh dan saling pandang, yang memancing senyum penuh bahagia di kedua mulut mereka.

Mereka dibawa masuk oleh kedua orang tua itu ke dalam ruangan yang luas dan indah walau pun perabot di dalam ruangan itu sederhana. Di sudut terdapat rak senjata dan sebuah almari penuh dengan buku-buku dan di tengah-tengah ruangan terdapat meja kursi terukir dari kayu hitam yang kuno.

Mereka berempat duduk di sekeliling meja itulah dan Bi Lan merasa betapa tubuhnya ditelan oleh kursi yang besar dan cekung itu. Ia merasa dirinya kecil lahir batin di tempat yang megah namun kuno ini, apa lagi di depan suhu dan subo-nya yang baru saja tadi marah kepadanya, bahkan sekarang agaknya hendak minta keterangan secara serius darinya.

Tidak lama setelah mereka duduk, muncul seorang wanita Mongol yang memasuki ruangan itu menghidangkan minuman teh. Setelah wanita yang mukanya dingin seperti arca, persis sikap pria Mongol yang tadi bekerja di pekarangan, nenek Wan Ceng yang merasa penasaran itu mulai dengan pertanyaannya.

“Bi Lan, terus terang saja, kami berdua yang selalu tinggal di tempat sunyi ini baru saja menerima kunjungan dari selatan dan kami mendengar banyak hal yang membuat kami ikut merasa prihatin, terutama ketika kami mendengar tentang sepak terjangmu yang membuat kepalaku pening dan hatiku kecewa, juga menyesal sekali.”

Bi Lan tersenyum memandang wajah subo-nya. Betapa ia merindukan wajah ini, akan tetapi sekarang ia harus bersikap sungguh-sungguh.

“Subo, kenapa subo belum apa-apa sudah mau mempercayai berita tentang diri teecu? Seperti teecu katakan tadi, setiap persoalan tentu teecu dapat menjawab dan memberi penjelasan sampai subo dan suhu mengerti benar-benar bahwa semua akibat itu ada sebabnya dan sebabnya bukanlah karena penyelewengan atau kejahatan teecu. Teecu amat menghormat dan menyayang suhu dan subo, mana mungkin berani melakukan perbuatan jahat? Dan andai kata teecu menyeleweng dan berbuat jahat, mana teecu berani datang menghadap ke sini?”

Kakek Kao Kok Cu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Memang benar juga pendapat Bi Lan ini…”

“Sekarang, jawablah pertanyaanku dengan keterangan yang jujur dan sejelasnya, baru aku akan menilai apakah engkau bersalah atau tidak,” kata nenek Wan Ceng. “Aku mendengar bahwa Ban-tok-kiam dipergunakan orang untuk membunuh Teng Siang In, isteri mendiang paman Suma Kian Bu. Bagaimana bisa demikian kalau Ban-tok-kiam kuserahkan kepadamu?”

Bi Lan mengangguk. “Teecu tidak berdaya ketika Sai-cu Lama merampas Ban-tok-kiam dari tangan teecu, subo. Sai-cu Lama amat lihai dan kepandaiannya terlampau tinggi bagi teecu sehingga pedang pusaka itu dapat dirampasnya dan kemudian dipergunakan untuk membunuh locianpwe itu. Tetapi ketika para pendekar menghadapi komplotan Sai-cu Lama, teecu dan Sim-toako membantu dan kami berhasil merampas kembali Ban-tok-kiam. Teecu mengaku salah bahwa Ban-tok-kiam sampai dirampas orang, tapi hal itu terjadi bukan karena kelengahan, melainkan karena kebodohan dan kelemahan teecu yang tidak mampu menandingi Sai-cu Lama.”

Diam-diam Bi Lan merasa heran mendengar subo-nya menyebut paman kepada tokoh keluarga Pulau Es itu. Ia tidak tahu bahwa nenek Wan Ceng adalah cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, sehingga biar pun usianya lebih tua dari pada mendiang Suma Kian Bu, ia harus menyebut pendekar itu paman.

“Sekarang jelaskan pula bagaimana engkau membela dan melindungi suci-mu yang bernama Bi-kwi yang amat jahat itu. Bukankah ia dahulu bahkan telah menyelewengkan pelajaran silat padamu sehingga engkau hampir menjadi gila dan terancam maut? Aku mendengar bahwa Bi-kwi itu amat jahat, lebih jahat dari pada Sam Kwi, akan tetapi mengapa engkau malah membelanya, bahkan engkau telah membantunya ketika iblis betina itu berkelahi melawan Suma Ciang Bun dan muridnya, berarti engkau membantu seorang jahat melawan keluarga para pendekar Pulau Es. Nah, apa alasanmu?”

“Subo, biar pun teecu pernah menjadi murid Sam Kwi dari sejak kecil dididik oleh datuk-datuk sesat, namun semenjak menjadi murid suhu dan subo, teecu sudah mulai dapat membedakan antara baik dan buruk. Apa lagi setelah teecu bertemu dengan Sim-toako yang selalu membimbing teecu, teecu tidak pernah membantu kejahatan. Biar pun suci sendiri, karena ia jahat, pernah menjadi lawan dan musuh teecu. Kalau teecu membela dan melindungi, adalah karena suci Bi-kwi telah insyaf dan mengubah kehidupannya menjadi orang baik-baik. Ia diserang oleh Hong Beng dan gurunya karena salah paham saja. Mungkin mereka mengira bahwa suci masih tetap jahat, akan tetapi teecu sendiri menyaksikan bahwa suci sudah bertobat. Kalau orang sudah menyesali kesalahannya dan ingin bertobat, apakah kita harus merdesaknya sampai ia tidak dapat memperbaiki kesalahannya lagi, subo?”

Bi Lan lalu menceritakan tentang keadaan Bi-kwi, betapa Bi-kwi telah bertemu dengan seorang pemuda tani yang dicintanya dan cinta itulah yang telah mengubah watak dan sifat kehidupan Bi-kwi. Demi menyelamatkan kekasihnya itulah dia diperas dan dipaksa oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, tokoh- tokoh dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai sehingga Bi-kwi terpaksa membantu mereka menghadapi Suma Ciang Bun. Semua ini ia ceritakan dengan sejelasnya, seperti yang pernah ia dengar dari Bi-kwi sendiri.

“Demikianlah, subo. Ketika teecu melindunginya, ia berada dalam keadaan yang sama sekali tidak bersalah dan tidak melakukan kejahatan. Teecu hanya membela kebenaran, dari mana pun datangnya tanpa pilih bulu. Kalau hal itu subo anggap bersalah dan hendak menghukum teecu, maka teecu hanya dapat menyerahkan diri.” Bi Lan menutup keterangannya.

Nenek Wan Ceng saling pandang dengan suaminya. Diam-diam mereka terharu juga mendengar penuturan Bi Lan tentang Bi-kwi. Suami isteri ini tahu apa artinya cinta dan mereka percaya bahwa cinta kasih akan mampu merubah watak seorang manusia, dari keadaan yang jahat menjadi baik. Cinta kasih mampu menghidupkan kembali kepekaan hati yang tadinya beku dan mati.

Mereka mendengar semua tentang Bi Lan dan Ban-tok-kiam dari kunjungan dua orang secara berturut- turut. Pertama kali datang Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, mengunjungi mereka. Dari suami isteri inilah mereka mendengar tentang kematian Teng Siang In yang menjadi korban pedang pusaka Ban- tok-kiam, dan betapa puteri tunggal suami isteri keluarga Pulau Es diculik pula oleh orang yang menggunakan Ban-tok-kiam membunuh Teng Siang In.

Kemudian, datang pula Gu Hong Beng mengunjungi mereka dan pemuda murid Suma Ciang Bun ini mengabarkan tentang diculiknya cucu mereka, Kao Hong Li, oleh seorang yang bernama Ang I Lama. Dari Hong Beng ini pulalah mereka mendengar mengenai penyelewengan murid mereka, yaitu Can Bi Lan.

Hong Beng yang penuh cemburu dan iri hati itu menceritakan kepada suami isteri tua itu betapa Bi Lan melakukan penyelewengan bukan saja main gila dengan Pendekar Suling Naga, bahkan Bi Lan dan Sim Houw telah membantu iblis betina Bi-kwi, dan menentang keluarga Pulau Es!

Kini, setelah mendengar penuturan Bi Lan, suami isteri ini dapat menarik kesimpulan bahwa memang terjadi salah paham antara Bi Lan berdua Sim Houw dengan Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng.

Setelah saling pandang dan memberi persetujuan dengan isyarat mata, Wan Ceng lalu mewakili suaminya berkata pada Bi Lan. “Setelah mendengar keteranganmu sekarang kami mengerti, Bi Lan. Akan tetapi, kalian sudah terlanjur mendatangkan kesan buruk kepada keluarga Pulau Es. Karena itu engkau harus menebusnya dengan perbuatan yang akan dapat membersihkan namamu, Bi Lan. Ketahuilah bahwa cucu kami, puteri tunggal anak kami Kao Cin Liong, yang bernama Kao Hong Li, telah diculik orang yang mengaku bernama Ang I Lama. Kau wakililah kami, karena kami sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh. Wakili kami dan cari Hong Li sampai dapat! Kalau engkau berhasil mengembalikan Hong Li kepada orang tuanya, maka baru aku mau mengaku engkau sebagai muridku lagi.”

Bi Lan terkejut. Tugas yang amat berat karena ia tidak tahu ke mana anak itu dibawa pergi penculiknya, dan ia pun tidak mengenal siapa Ang I Lama. Akan tetapi, Sim Houw yang berada di dekatnya menyentuh lengannya dan berbisik, “Terimalah saja tugas itu, Lan-moi, kita cari bersama.”

Mendengar bisikan ini, Bi Lan merasa besar hatinya dan dengan penuh semangat ia pun berkata, “Baiklah, subo dan suhu, teecu akan mencari, sampai dapat menemukan kembali adik Kao Hong Li. Teecu baru akan datang menghadap suhu dan subo kalau teecu sudah berhasil dengan tugas itu dan teecu mahon doa restu dari suhu berdua subo.”

“Baiklah, Bi Lan. Kami membekali kalian doa restu dan mudah-mudahan engkau akan berhasil. Sekarang berangkatlah kalian,” kata nenek Wan Ceng.

Akan tetapi Bi Lan tidak bangkit, bahkan memberi hormat sambil berlutut, diikuti pula oleh Sim Houw yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek dan nenek itu. Dua orang kakek dan nenek itu bangkit berdiri, mengira bahwa dua orang muda itu berlutut untuk memberi hormat dan berpamit, tetapi ternyata tidak demikian karena Bi Lan berkata dengan suara penuh permohonan.

“Ada satu permohonan dari teecu kepada suhu dan subo, harap saja suhu dan subo dapat mengabulkan permohonan teecu ini.”

Wan Ceng tersenyum. “Katakanlah.”

“Seperti suhu dan subo mengetahui, teecu hidup sebatang kara, tidak ada orang tua, tanpa keluarga. Ketiga suhu Sam Kwi telah tewas dan bagi teecu, suhu dan subo merupakan pengganti orang tua. Demikian pula dengan Sim-toako yang sudah yatim piatu dan tidak ada keluarga. Oleh karena itu, kami berdua mohon agar suhu dan subo yang sudi menjadi wali kami dan mengesahkan dan merestui perjodohan antara kami.”

Diam-diam Sim Houw merasa girang dan bangga sekali. Gadis ini selain mencintanya juga bersungguh- sungguh dan demikian tabah membicarakan persoalan jodoh itu tanpa lebih dulu bertanya kepadanya. Akan tetapi, apa yang diucapkan gadis itu memang amat disetujuinya, bahkan dia akan merasa berbahagia, kalau kelak kakek dan nenek sakti itu mau mengesyahkan perjodohan antara mereka!

Kakek Kao Kok Cu dan Wan Ceng saling pandang dan kakek itu mengangguk sambil tersenyum. Dia dapat melihat cinta kasih berpancar dari wajah dan sinar mata kedua orang muda itu, maka tidak ada lagi halangan bagi mereka untuk berjodoh, apa lagi karena tidak ada keluarga mereka yang dapat dimintai persetujuan. Akan tetapi Wan Ceng yang cerdik segera menjawab.

“Tentu saja kami berdua suka sekali menjadi wali dan mengesahkan perjodohan kalian yang saling mencinta. Akan tetapi, ingat, kalian mempunyai tugas penting, oleh karena itu, laksanakan dulu tugas itu, baru kalian datang ke sini dan kami akan mengabulkan permintaan kalian.”

Bukan main girangnya hati Bi Lan. Berkali-kali ia memberi hormat dan menghaturkan terima kasih. Juga Sim Houw menghaturkan terima kasih kepada kedua orang tua itu. Akan tetapi ketika mereka hendak berpamit, mendadak terdengar suara nyaring di luar istana itu.

“Kao Kok Cu dan Wan Ceng…! Apakah kalian masih hidup?”

Tentu saja empat orang itu merasa terkejut sekali mendengar suara yang mengandung tenaga khikang yang amat kuat itu, sehingga suara itu memasuki istana dan sampai ke ruangan itu membawa gema yang sangat kuat. Wan Ceng mengerutkan alisnya. Sukar menduga siapa adanya orang yang berani menyebut namanya dan nama suaminya begitu saja itu! Hatinya merasa tak senang, maka ia mendahului suaminya dan berkata kepada Bi Lan dan Sim Houw, “Kalian keluarlah dan lihat siapa orang kasar yang baru datang itu!”

Nenek ini dulu ketika muda memang berwatak keras. Mendengar ada orang berteriak-teriak di luar memanggil namanya dan nama suaminya, ia merasa tidak senang dan merasa tidak perlu keluar sendiri menyambut, maka ia wakilkan kepada Bi Lan dan Sim Houw. Ia tahu bahwa muridnya itu, dan terutama sekali Sim Houw, telah mempunyai kepandaian yang amat lihai sehingga patut mewakilinya menghadapi orang yang bagai mana pun juga.

Bi Lan dan Sim Houw cepat berlari keluar. Ketika mereka tiba di luar istana, keduanya tersenyum lebar dengan hati lega ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang hwesio tua renta yang telah mereka kenal baik. Orang itu bukan lain adalah Tiong Khi Hwesio! Seperti kita ketahui, Tiong Khi Hwesio dahulu memimpin para pendekar muda menghadapi komplotan Sai-cu Lama, maka tentu saja Bi Lan dan Sim Houw mengenal baik pendeta ini.

Sebaliknya, Tiong Khi Hwesio juga mengenal dua orang muda itu. Dia tersenyum ramah dan menudingkan telunjuknya ke arah mereka, “Ehh-ehhh, kiranya kalian berdua juga berada di sini?”

Sim Houw cepat menghampiri hwesio itu dan memberi hormat, sementara itu Bi Lan sambil tertawa cepat masuk kembali ke dalam istana menemui suhu dan subo-nya. Dari luar ruangan ia sudah berteriak, “Suhu…! Subo…! Yang datang adalah locianpwe Tiong Khi Hwesio!”

Akan tetapi kakek dan nenek itu tidak mengenal nama Tiong Khi Hwesio dan mereka saling pandang dengan heran. Hanya saja, oleh karena mendengar bahwa yang datang adalah seorang hwesio, mereka lalu melangkah keluar bersama Bi Lan untuk melihat siapa hwesio yang menyebut nama mereka begitu saja.

Ketika Kao Kok Cu dan Wan Ceng tiba di luar istana, mereka berdua memandang kepada hwesio tua yang berkepala gundul dan berjubah kuning itu. Mereka termangu, tidak mengenal hwesio tua itu. Hwesio yang bermulut sinis, senyum yang mengarah ejekan, sepasang mata yang tajam, mencorong dan tubuh yang masih nampak tegap dan membayangkan kekuatan.

Di lain pihak, Tiong Khi Hwesio memandang kepada kakek dan nenek itu, kemudian melangkah lebar menghampiri. Wajahnya berseri dan terutama sekali matanya ditujukan kepada nenek Wan Ceng, kemudian dia merangkap kedua tangan ke depan dada seperti orang berdoa.

“Omitohud…! Terima kasih kepada Sang Buddha bahwa hari ini pinceng masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Wan Ceng! Ahhh, Wan Ceng, engkau kini sudah menjadi seorang nenek yang tua, tapi masih nampak kelincahanmu dan kegagahanmu!”

Suara itu menggetar penuh perasaan. Betapa takkan terharu rasa hati kakek hwesio ini bertemu dengan wanita yang di waktu mudanya dulu pernah menggetarkan kalbunya, seorang wanita yang sebenarnya adalah saudaranya sendiri, seayah berlainan ibu!

Wan Ceng terkejut sekali dan melangkah maju mendekat, memandang tajam penuh perhatian dan penuh selidik. “Siapakah engkau ini…? Aku… aku tidak mengenal hwesio seperti engkau ini…,” tanyanya ragu.

“Hemmm, Si Jari Maut telah menjadi seorang hwesio, sungguh mengagumkan sekali!” Tiba-tiba terdengar suara Kao Kok Cu berkata dan Wan Ceng memandang kepada hwesio itu dengan mata terbelalak.

“Kau… kau… Wan Tek Hoat…?” Akhirnya ia berseru, suaranya gemetar dan tiba-tiba saja kedua matanya menjadi basah.

Hwesio tua itu mengejap-ngejapkan matanya yang juga menjadi basah. Ia mengangguk-angguk. “Bertahun-tahun aku sudah menjadi hwesio dan nama pinceng adalah Tiong Khi Hwesio.”

“Aihh… Tek Hoat… Tek Hoat… siapa dapat mengira bahwa engkau kini telah menjadi seorang pendeta? Mengapa pula demikian? Dan di mana adanya adik Syanti Dewi?”

Mendadak sepasang mata hwesio itu yang tadinya berseri, kini menjadi muram dan sejenak dia menundukkan kepalanya dan mengerahkan tenaga untuk menahan rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Hanya sebentar saja dia terpukul, kemudian dia sudah dapat mengangkat mukanya lagi memandang kepada nenek Wan Ceng.

“Sudah beberapa tahun lamanya ia meninggalkan aku, meninggalkan dunia, dan sejak itu pula pinceng menjadi hwesio…”

Kalimat ini cukup bagi Wan Ceng. Ia dapat membayangkan apa yang terjadi dan hal ini memancing datangnya air mata yang lebih banyak lagi. Ia dapat mengerti bahwa tentu Wan Tek Hoat yang amat mencinta isterinya, yaitu Syanti Dewi, semangatnya menjadi patah dan masuk menjadi hwesio untuk menghibur dirinya.

“Tek Hoat, kasihan kau…! Syanti Dewi, mengapa engkau begitu kejam meninggalkan dia?”

Suasana menjadi hening dan mengharukan, akan tetapi hanya sebentar karena suara ketawa kakek Kao Kok Cu memecahkan keheningan dan membuyarkan keharuan.

“Ha-ha-ha, kalian seperti dua orang anak kecil saja yang cengeng! Tiong Khi Hwesio, marilah masuk, kita bicara di dalam. Kunjunganmu sekali ini pastilah membawa berita yang amat penting. Sim Houw dan Bi Lan, kalian pun masuk kembali, kita semua bicara di dalam.”

Ucapan dan sikap Kao Kok Cu ini menolong Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng yang tadi dilanda keharuan. Hwesio itu tertawa dan Wan Ceng juga cepat-cepat menghapus air matanya. Sikap mereka telah menjadi biasa kembali ketika mereka melangkah ke dalam istana tua itu.

Setelah mereka semua duduk mengelilingi meja besar di ruangan di mana tadi Sim Houw dan Bi Lan bercakap-cakap dengan suami-isteri tua itu, Kao Kok Cu segera bertanya, “Tiong Khi Hwesio, banyak yang dapat kita bicarakan dalam pertemuan ini karena sudah puluhan tahun kita saling berpisah. Akan tetapi kami kira yang terpenting untuk didahulukan adalah urusan yang jauh-jauh kau bawa ke sini. Ada kepentingan apakah yang mendorongmu datang dari tempat yang demikian jauhnya? Engkau datang dari Bhutan, bukan?”

Tiong Khi Hwesio menggelengkan kepala. “Tidak di Bhutan lagi. Sudah bertahun-tahun pinceng bertapa di Pegunungan Himalaya, dekat Tibet. Dan memang ada hal yang amat penting yang pinceng bawa dari Tibet. Pinceng mengunjungi kalian sebagai utusan dari para pendeta Lama di Tibet.”

Hwesio itu berhenti sejenak dan memandang pada kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian. Ada bermacam perasaan terkandung di dalam pandang mata itu, keraguan, juga kekhawatiran dan perasaan iba.

“Para pendeta Lama di Tibet?” Kao Kok Cu bertanya heran. “Kurasa tidak pernah ada hubungan antara kami dengan mereka!”

“Heran…!” kata pula nenek Wan Ceng. “Aku bahkan sama sekali tidak pernah bertemu dengan pendeta- pendeta Lama dari Tibet. Kepentingan apakah yang membuat mereka menyuruh seorang seperti engkau untuk datang ke tempat sejauh ini, Tek Hoat?” Nenek Wan Ceng merasa kikuk dan enggan untuk menyebut saudaranya ini dengan namanya yang baru, yaitu Tiong Khi Hwesio!

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang. “Sebuah tugas yang sungguh tidak enak bagi pinceng, akan tetapi karena pinceng juga ingin sekali berjumpa dengan kalian, maka tugas ini pinceng lakukan. Masalahnya bukan lain adalah mengenai putera kalian, yaitu Kao Cin Liong…”

“Ada apa dengan dia?” Nenek Wan Ceng bertanya dengan suara penuh kegelisahan.

“Dia bersama isterinya telah membunuh seorang pendeta Lama yang sama sekali tidak berdosa, hanya karena mereka menyangka bahwa Lama itu tentu seorang jahat karena menjadi sute dari mendiang Sai-cu Lama.”

“Ahh! Apakah pendeta itu bernama Ang I Lama?” Wan Ceng bertanya cepat.

“Ehh, kiranya engkau sudah tahu?” Kini Tiong Khi Hwesio yang memandang heran.

“Tentu saja aku tahu!” Wan Ceng berkata dan suaranya terdengar marah. “Dan jangan katakan bahwa orang yang bernama Ang I Lama itu demikian suci dan tidak berdosa seperti yang kau kira, Tek Hoat. Aku tahu kenapa anakku dan mantuku membunuhnya. Ia telah menculik Kao Hong Li, cucuku! Tentu anak dan mantuku melakukan pengejaran ke sana dan dalam perkelahian memperebutkan Hong Li, mereka telah membunuhnya!”

“Omitohud…!” Tiong Khi Hwesio berseru dengan kaget sekali. “Akan tetapi, pinceng sudah lama mengenal Ang I Lama, juga para pendeta Lama menanggung bahwa dia adalah seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun tidak keluar dari goanya, dan tidak mungkin sama sekali kalau dia melakukan penculikan terhadap cucu kalian!”

“Jangan katakan tidak mungkin, Tiong Khi Hwesio,” kata Kao Kok Cu dengan sikap dan suara tenang. “Ingat bahwa Ang I Lama adalah sute dari Sai-cu Lama yang baru saja dibasmi komplotannya, bahkan engkaulah yang menjadi pemimpin para pendekar muda membasminya. Bukan tidak mungkin dia mendendam dan melakukan penculikan itu, karena anakku juga merupakan seorang di antara mereka yang ikut menentang Sai-cu Lama.”

“Wan Tek Hoat!” kata nenek Wan Ceng. “Engkau sudah lama mengenal Ang I Lama, akan tetapi aku telah mengenal Kao Cin Liong sejak dia kulahirkan! Dia dan isterinya tak mungkin membunuh seorang pendeta Lama yang sama sekali tidak berdosa! Apakah engkau lebih percaya kepada pendeta Lama itu dari pada kepada keluarga kami?”

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya. “Omitohud… betapa sukarnya urusan ini. Pinceng sendiri tidak tahu harus berpendapat bagaimana. Memang serba salah…”

“Wan Tek Hoat, apakah setelah engkau menjadi hwesio dan menjadi tua bangka, lalu engkau kehilangan semua kecerdikanmu yang dulu kau banggakan?” Nenek Wan Ceng kini berkata sambil tersenyum mengejek. “Urusan begitu mudah kenapa engkau buat menjadi sukar? Apakah ada yang menyaksikan perkelahian antara anak dan mantuku dengan Ang I Lama yang membuat pendeta Lama itu tewas?”

“Tidak ada. Dua orang pendeta Lama menemukan Ang I Lama dalam keadaan hampir mati dan Ang I Lama hanya meninggalkan pesan dengan menyebut dua nama, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya.”

“Hemm, dan hal ini kau jadikan pegangan bahwa anak dan mantuku yang membunuh Ang I Lama tanpa dosa?”

“Sebelum terjadi pembunuhan itu, beberapa waktu sebelumnya, anak dan mantumu itu telah mendatangi para pendeta Lama untuk menanyakan di mana adanya Ang I Lama. Anak dan mantumu mencari Ang I Lama dan tak lama kemudian, Ang I Lama tewas dengan meninggalkan pesan nama anak dan mantumu. Bukankah hal itu sudah jelas?”

“Kurang meyakinkan. Aku percaya bahwa anak mantuku membunuh Ang I Lama, akan tetapi jelas bukan membunuh orang yang tak berdosa, melainkan membunuh penculik cucuku. Apakah hal itu salah? Tentu saja anak dan mantuku membela anak mereka! Dan ada satu hal lagi menunjukkan kebodohanmu, Wan Tek Hoat. Orang yang menjadi tertuduh adalah anakku dan mantuku, akan tetapi kenapa engkau keluyuran ke sini? Bukankah lebih mudah kalau engkau datangi saja Cin Liong dan menanyakan hal itu? Bukankah engkau mengenalnya dan sudah tahu pula di mana tempat tinggalnya?”

Menghadapi serangan kata-kata yang marah itu, Tiong Khi Hwesio tersenyum dan dia memandang kepada nenek itu dengan penuh kagum. Sudah tua renta, namun nenek ini mengingatkan dia akan seorang gadis yang lincah, jenaka dan galak, yaitu ketika Wan Ceng masih seorang gadis. Agaknya selama puluhan tahun ini, Wan Ceng masih terus mempertahankan wataknya yang keras!

“Jangan salah mengerti, Wan Ceng. Para pendeta Lama mengenal baik Kao Cin Liong ketika dia masih menjadi panglima, dan mereka pun tahu bahwa dia adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Karena itu, mereka merasa sungkan kepada kalian, dan aku pun berpikir bahwa lebih baik kalau urusan ini kusampaikan saja kepada kalian dari pada aku harus menegur sendiri Kao Cin Liong. Lihat, aku jauh-jauh ke sini karena merasa sungkan, juga kangen kepada kalian.”

“Memang urusan ini agak ruwet,” kata Kao Kok Cu. “Kami dapat menghargai sikapmu dan sikap para pendeta Lama yang masih menghargai kami orang-orang tua. Akan tetapi, kami merasa yakin bahwa andai kata Cin Liong benar membunuh Ang I Lama, tentu hal itu dilakukan karena ada hal yang amat memaksa, dan tentu dengan alasan kuat sekali. Anakku bukanlah pembunuh kejam yang membunuh pendeta tanpa dosa. Hal ini hendaknya engkau yakin, Tiong Khi Hwesio. Dan sekarang, biarlah kubebankan tugas menerangkan perkara ini kepada Bi Lan dan Sim Houw pula. Kalian dengarlah baik-baik.” Kakek itu memandang kepada dua orang muda itu yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan sikap menghormat.

“Kami siap melakukan perintah suhu,” kata Bi Lan.

“Kalian berdua sudah mendengar sendiri berita yang dibawa oleh Tiong Khi Hwesio. Tadinya kami mendengar bahwa cucu kami diculik Ang I Lama, dan kini dari Tiong Khi Hwesio kami mendengar bahwa Ang I Lama dibunuh oleh Kao Cin Liong dan isterinya tanpa dosa. Maka, kalau kalian meninggalkan tempat ini untuk mencari dan menemukan kembali Kao Hong Li, kalian kunjungilah rumah Kao Cin Liong di Pao- teng, dan selidiki persoalan ini baik-baik. Temui mereka dan tanyakan apa yang telah terjadi. Syukurlah kalau Hong Li sudah dapat ditemukan oleh orang tuanya, sehingga kalian tidak banyak repot. Kalau pun belum, carilah Hong Li sampai dapat dan juga kami ingin mendengar laporanmu kelak tentang sebab Ang I Lama dibunuh mereka, kalau benar hal itu terjadi. Nah, sekarang berangkatlah kalian!”

Bi Lan dan Sim Houw lalu minta diri kepada tiga orang tua sakti itu, dan meninggalkan Istana Gurun Pasir dengan cepat. Mereka melakukan perjalanan tanpa bicara apa pun. Keduanya nampak berlari cepat sambil termenung sehingga menjelang malam, ketika senja hari, mereka telah berhasil melewati gurun pasir yang pertama dan tiba di lereng sebuah bukit yang sudah banyak ditumbuhi pohon di samping banyak pula batu- batu besar dan goa-goa lebar. Mereka berhenti di sebuah goa yang besar dan melepaskan buntalan masing-masing, lalu duduk melepaskan lelah.

Sunyi sekali di situ. Lebih sunyi lagi terasa oleh Bi Lan karena semenjak meninggalkan Istana Gurun Pasir, temannya seperjalanan itu tak pernah bicara, hanya nampak berlari cepat di sampingnya seperti orang yang melamun. Ia melirik ke arah Sim Houw, melihat betapa laki-laki itu pun duduk termenung, menundukkan muka dan sukar melihat bagai mana bentuk wajahnya karena cuaca sudah mulai remang- remang.

Beberapa kali, seperti juga tadi ketika mereka berdua berlari, Bi Lan menggerakkan bibir untuk bicara, namun lehernya seperti tercekik rasanya dan tak sepatah pun kata keluar dari mulutnya. Ia menelan ludah beberapa kali dan memperkuat hatinya, lalu memaksa diri berkata.

“Sim-toako…!” Betapa sukarnya kata itu keluar dari mulutnya sehingga terdengar seperti bisikan saja. Akan tetapi jelas nampak olehnya betapa Sim Houw terkejut mendengar suaranya, seolah-olah ia tadi telah menjerit keras, bukan hanya berbisik.

“Lan-moi, ada apakah…?” Dia bertanya, menoleh, bahkan kemudian mendekat dengan menggeser duduknya.

Tiba-tiba saja Bi Lan yang semenjak tadi merasa tegang dan penuh harapan, merasa seakan-akan meledak dan ledakan itu pun menjadi tangisan! Segala macam perasaan girang, terharu, bercampur dengan khawatir, harapan dan kekecewaan sejak pemuda itu mengaku cinta kepadanya sampai tadi saat pemuda itu melakukan perjalanan tanpa bicara sepatah pun kata, tercurah keluar bersama air matanya dan ia pun menangis terisak-isak, menyembunyikan mukanya di dalam kedua lengan yang memeluk lutut kaki yang diangkatnya. Tubuhnya terguncang-guncang karena isaknya.

Tentu saja Sim Houw menjadi terkejut bukan main dan tangannya kini sudah menyentuh pundak Bi Lan, dan suaranya terdengar penuh perasaan khawatir ketika dia berkata, “Moi-moi, engkau kenapakah? Kenapa engkau menangis, Lan-moi? Apakah yang telah terjadi? Sakitkah enggkau?”

Bi Lan tidak dapat menjawab karena tangisnya membuat ia tersedu-sedu dan sukar untuk dapat mengeluarkan kata-kata. Sim Houw agaknya tahu akan hal ini maka dia tak mendesak, membiarkan gadis itu menangis sampai segala yang mengganjal hatinya mencair. Akhirnya tangis gadis itu pun mereda dan Bi Lan mulai mengangkat mukanya, menyusuti air matanya dan kadang-kadang ia memandang kepada pemuda itu dengan sepasang mata basah dan merah.

“Bi Lan moi-moi, engkau kenapakah? Sakitkah engkau?” kembali Sim Houw bertanya setelah gadis itu tidak tenggelam ke dalam isak tangisnya lagi.

Bi Lan mengangguk. “Toako, aku memang sakit…,” jawabnya dan kini legalah hatinya bahwa setelah menangis, kata-katanya menjadi lancar.

Sim Houw mengerutkan alisnya, kemudian mencoba untuk memandang dengan penuh perhatian di dalam cuaca remang-remang itu. “Sakit? Sakit apakah, Lan-moi?”

“Sakit… hati! Hatiku yang sakit.”

“Eh?” Sim Houw terbelalak heran. “Sakit hati? Bagaimana rasanya?” Dengan sungguh-sungguh dia memperhatikan, mengira bahwa gadis itu menderita semacam penyakit yang tidak dikenalnya.

“Rasanya?” Bi Lan menelan kembali senyumnya karena merasa geli. “Rasanya… aku ingin marah-marah, ingin mengamuk dan menangis saja.”

“Ahhh…?” Sim Houw masih belum mengerti dan menjadi bingung. “Dan engkau sudah menangis tadi…” “Ya, akan tetapi belum marah-marah, masih belum mengamuk.”

Sekarang Sim Houw baru agak mengerti. Kiranya ada sesuatu yang membuat gadis ini merasa mendongkol dan marah, pikirnya. Dan mengertilah dia apa artinya sakit hati tadi, bukan penyakit badan, melainkan penyakit perasaan.

“Akan tetapi, ada… apakah, moi-moi?”

“Siapa yang tidak sakit hatinya, toako? Sejak meninggalkan istana, engkau diam saja bagaikan patung, atau seakan-akan menganggap aku bukan manusia lagi melainkan patung hidup yang tak dapat bicara. Kenapa engkau bersikap demikian, mendiamkan aku sampai hampir sehari lamanya? Engkau sungguh kejam!”

Baru Sim Houw mengerti dengan jelas sekarang. Diam-diam hatinya lega, akan tetapi mukanya juga menjadi merah karena dia merasa semakin salah tingkah. Lalu dengan suara lirih dan gemetar dia berkata, “Lan-moi, kau maafkanlah aku, Lan-moi. Sama sekali aku bukan menganggap engkau patung, akan tetapi aku… ahh, terus terang saja, aku… tidak berani bicara, Lan-moi. Semua yang terjadi di istana itu… semua bagiku bagaikan sebuah mimpi yang amat indah dan aku takut, kalau-kalau mimpi itu akan buyar dan aku akan sadar kembali dan mimpi itu akan lenyap kalau aku bicara. Aku… sungguh aku tadi ingin sekali bicara, akan tetapi setiap kali menggerakkan bibir, aku merasa takut dan seperti tercekik leherku. Kau maafkanlah aku, moi-moi.”

Bi Lan memandang kepada Sim Houw dan pemuda itu pun memandangnya. Mereka saling pandang di antara keremangan senja sehingga hanya dapat melihat bentuk muka masing-masing. Bi Lan merasa heran sekali. Mengapa keadaan pemuda itu sama benar dengan keadaan dirinya ketika mereka melakukan perjalanan tadi? Ia pun ingin sekali bicara, namun amat sukar mengeluarkan kata-kata!

“Bagaimana sekarang, toako? Apakah masih takut untuk bicara?” tanyanya, setengah menggoda.

“Tidak, moi-moi. Kalau kuingat, memang aku bodoh sekali. Kenyataan yang demikian indahnya membuat aku mabok dan seolah-olah aku tidak percaya akan kenyataan itu. Setelah kini kita bicara, aku tidak takut lagi. Maafkan aku.”

Kembali hening. Keduanya seolah tidak tahu harus berbuat apa dan harus bicara apa. Terutama sekali Sim Houw. Jantungnya berdebar penuh ketegangan yang luar biasa, yang tidak dikenal sebelumnya, tetapi dia tidak mengerti mengapa demikian. Agaknya Bi Lan yang lebih tabah dalam menghadapi keadaan yang menegangkan dan membuat mereka merasa canggung itu.

“Toako…”

“Ya, Lan-moi?”

“Toako, aku ingin sekali mengetahui apakah semua pernyataanmu di depan suhu dan subo itu benar-benar keluar dari lubuk hatimu? Apakah engkau bicara sejujurnya ketika itu?”

“Pernyataan yang bagaimana, moi-moi?” Sim Houw bertanya, hanya untuk mencari ancang-ancang atau batu loncatan menghadapi pertanyaan itu, karena sesungguhnya dia dapat mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Kenapa sekarang orang yang selama ini dianggap sebagai sepandai- pandainya orang, lihai, bijaksana dan cerdik pandai, mendadak saja berubah menjadi orang yang tolol?

“Pernyataanmu bahwa engkau cinta padaku. Benarkah itu, toako, ataukah hanya kau jadikan alasan saja untuk menjawab desakan suhu dan subo?”

“Lan-moi, tentu saja benar! Sama benarnya dengan pengakuanmu bahwa engkau cinta padaku. Bagaimana mungkin engkau masih meragukan cintaku kepadamu, moi-moi?”

“Tentu saja aku ragu-ragu. Kenapa selama ini, selama kita berkenalan, bahkan waktu melakukan perjalanan bersama, mengalami banyak hal yang menegangkan bersama, engkau tidak pernah menyatakan cintamu, baik dalam perbuatan atau dengan ucapan? Kenapa, toako? Apakah cintamu itu baru saja timbul ketika kita berada di Istana Gurun Pasir?”

“Tidak, moi-moi! Aku cinta padamu sejak kita pertama kali bertemu!”

“Kalau begitu, kenapa selama ini engkau diam saja, toako? Kenapa engkau agaknya hanya menyimpan saja perasaan cintamu di dalam hati, bahkan engkau seperti hendak merahasiakannya terhadap diriku? Kenapa?”

Sim Houw sekarang telah siap dengan jawabannya. Ia mengangkat muka, memandang bentuk wajah yang nampak dalam keremangan cuaca itu.

“Karena selama ini aku menjadi pengecut terhadap cintaku sendiri, moi-moi. Aku tidak berani mengakui, bahkan aku selalu menyangkal akan adanya kemungkinan bahwa engkau mencintaku. Aku takut! Karena takut gagal maka aku lebih suka merahasiakan perasaan cintaku…”

“Kau takut kalau-kalau cintamu tidak kubalas?”

“Tidak, moi-moi. Bahkan aku selalu merasa bahwa tak mungkin engkau cinta padaku. Aku takut kalau- kalau aku akan kehilangan engkau, takut kalau aku mengaku cinta, engkau lalu menjauhkan diri dariku.”

“Sim-toako, engkau kuanggap secerdik-cerdiknya orang, namun dalam hal ini engkau sungguh bodoh. Apakah engkau tidak dapat melihat perasaan hatiku terhadap dirimu dalam setiap pandang mataku, kata- kataku dan perbuatanku?”

“Memang ada sekali waktu nampak olehku bahwa engkau seperti mencintaku, namun semua itu kusangkal, kuanggap hanya khayalku belaka, karena tidak patut bagi seorang gadis sepertimu ini mencinta seorang laki-laki seperti aku.”

“Ihhh…! Kenapa, toako? Kenapa tidak patut?”

“Moi-moi, engkau adalah seorang gadis yang masih muda belia, usiamu baru sembilan belas tahun, sedangkan aku… aku sudah hampir setengah baya…”

“Aduh kasihan, ratap seorang kakek-kakek…!” Bi Lan menggoda. “Sim-toako, mengapa engkau begitu merendahkan diri? Berapa sih usiamu maka engkau mengatakan bahwa engkau sudah separuh baya?”

“Usiaku sudah tiga puluh empat tahun!”

“Hemm, bagiku engkau belum tua, tentu saja lebih tua dariku. Dan apakah ada batas usia di dalam cinta?”

“Selain usiaku jauh lebih tua darimu, hampir dua kali lipat, juga aku seorang laki-laki sebatang kara, tidak memiliki apa-apa. Kuanggap diriku sama sekali tidak berharga untuk menjadi jodohmu, moi-moi. Karena perasaan itulah maka aku selalu diam dan merahasiakan cintaku. Tapi di Istana Gurun Pasir, dihadapan dua orang locianpwe yang sakti dan bijaksana itu, bukan hanya sekedar untuk menolongmu, aku merasa harus berterus terang sebagai seorang laki-laki yang berani mengaku dan bertanggung jawab atas segala perbuatan dan ucapannya.”

“Aih, kasihan sekali engkau, toako. Aku… dapat kubayangkan betapa engkau menderita dan aku sendiri… aku sudah tahu sejak lama bahwa engkau cinta padaku, koko…”

“Ahhh? Engkau sudah tahu?”

Bi Lan mengangguk. “Aku diberi tahu oleh suci Ciong Siu Kwi. Ia mengatakan bahwa engkau cinta padaku, hal itu baginya mudah terlihat. Aku menjadi girang sekali, aku menjadi bahagia sekali, koko, apa lagi kalau melihat tingkahmu yang salah langkah… aku tahu bahwa sejak lama engkau cinta padaku.”

“Anak nakal…!”

Sim Houw yang merasa gembira bukan main lalu tiba-tiba merangkul leher Bi Lan dan seperti sudah selayaknya, tahu-tahu Bi Lan sudah rebah di pangkuannya dan mereka saling peluk. Sejenak mereka diam, Bi Lan menyandarkan kepalanya di dada pria yang dicintanya itu. Ia merasa aman tenteram, merasa berbahagia dan puas, dan keduanya seperti terbuai dan terpesona oleh kenyataan yang indah itu, bahwa keduanya saling mencinta, bahwa tubuh mereka saling merindukan seperti juga hati mereka.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo