October 3, 2017

Suling Naga Part 20

 

Mau tidak mau Hong Li kini percaya bahwa rumah yang nampak mungil tidak berapa besar ini penuh dengan alat rahasia dan diatur sedemikian rupa sehingga orang luar jangan harap akan dapat masuk, atau kalau sudah masuk jangan harap akan dapat keluar kembali. Tiga orang pelayan itu menerangkan sejelasnya dan Hong Li memang memiliki otak yang cerdas sekali. Dalam waktu sehari saja ia sudah mengenal semua rahasia di dalam rumah itu dan ia merasa kagum sekali, semakin kagum terhadap gurunya atau ibu angkatnya. Dari pengaturan rumah ini saja sudah dapat diketahui bahwa Sin-kiam Mo-li memang amat lihai.

Akan tetapi, ternyata bahwa jalan menuju ke rumah gurunya itu pun tak dapat didatangi orang secara mudah! Jalan itu mengandung rahasia yang lebih rumit dari pada rahasia di dalam rumah dan meski pun dari kaki gunung sudah dapat dilihat rumah mungil di lereng itu, jangan harap bagi orang luar untuk dapat menemukannya! Dia akan tersesat dan hanya berputar-putar di antara pohon-pohon, atau kalau dia salah langkah, dia akan tewas dalam keadaan mengerikan.

Dan diam-diam Hong Li amat cemas. Untuk dapat mengenal jalan naik turun dari rumah itu ke kaki gunung, ia harus mempelajarinya sampai lebih dari sepekan barulah ia dapat turun dan naik sendiri tanpa ditemani pelayan. Ternyata bahwa jalan dari kaki gunung menuju ke rumah itu melalui lorong di antara pohon-pohon yang diatur secara amat rumit menurut garis-garis pat-kwa.

Sejak tiba di tempat itu bersama gurunya, Hong Li mulai dilatih ilmu silat oleh Sin-kiam Mo-li. Tak begitu sukar bagi Sin-kiam Mo-li untuk mengajarkan ilmu-ilmunya yang tinggi karena gadis cilik itu memang sudah mempunyai dasar yang baik sekali. Sebagai cucu keluarga pendekar besar, sejak kecil ia memang sudah mempelajari dasar-dasar ilmu silat tinggi, bahkan ilmu silatnya sudah demikian lihainya sehingga orang dewasa yang ilmu silatnya tanggung-tanggung saja jangan harap akan mampu menandinginya.

Hong Li merasa suka tinggal di tempat yang indah itu, apa lagi sikap gurunya dan tiga orang pelayan itu pun amat ramah kepadanya. Hannya ada satu hal yang membuat ia merasa tidak suka, yaitu tempat itu jauh dari tetangga. Dusun terdekat letaknya belasan li dari situ. Kadang-kadang dia merasa kesepian dan merindukan kehadiran anak-anak lain yang dapat dijadikan teman. Pada suatu pagi, Sin-kiam Mo-li memanggilnya. Hong Li cepat datang menghadap.

“Hong Li, mari kau ikut aku melihat tontonan yang mengasyikkan.”

“Tontonan apakah, subo?” Hong Li bertanya dengan girang mendengar bahwa ia diajak nonton sesuatu yang mengasyikkan.

Disangkanya bahwa gurunya tentu akan mengajaknya ke sebuah dusun atau kota untuk nonton pertunjukan dan hal ini merupakan suatu perubahan yang segar dan penghibur kesepiannya. Akan tetapi gurunya mengajaknya menuju ke kebun belakang di mana terdapat sebuah menara dari bambu di mana subo-nya suka berdiam diri untuk berlatih siu-lian. Menara itu tidak mempunyai anak tangga, dan biasanya Sin-kiam Mo-li hanya mempergunakan ilmunya, meloncat seperti burung terbang melayang menuju ke atas menara di mana terdapat sebuah panggung tertutup dari papan.

“Subo, bagaimana aku dapat naik ke sana?” Hong Li bertanya ragu ketika subo-nya menunjuk ke menara itu dan mengatakan bahwa mereka akan ‘nonton’ dari sana. Biar pun Hong Li sudah berlatih ginkang sejak kecil dan tubuhnya memiliki keringanan dan kegesitan yang mengagumkan, namun kalau disuruh meloncat setinggi itu, dia masih belum mampu.

“Kelak engkau harus bisa melompat sendiri ke atas. Sekarang marilah kubantu engkau!”

Wanita cantik itu lalu menyambar lengan kiri Hong Li dan mereka lalu meloncat ke atas. Baru mencapai setengahnya lebih, tubuh Hong Li tentu akan meluncur turun kembali kalau saja gurunya tidak menariknya ke atas dan Hong Li merasa seperti terbang dan tahu-tahu mereka sudah tiba di depan pondok atau panggung tertutup di atas menara itu.

Dari tempat setinggi itu, Hong Li dapat melihat ke kaki gunung dan nampaklah lorong kecil berlika-liku yang menuju ke sebuah dusun di kaki gunung. Pernah ia datang ke dusun itu ketika ia berlatih melewati lorong yang penuh rahasia itu.

“Hong Li, lihatlah ke sana itu. Kita akan melihat tontonan yang menggembirakan!” kata wanita cantik itu dengan suara gembira dan wajahnya yang berseri, sepasang matanya berkilauan tajam.

Hong Li yang sudah ingin bertanya tontonan apakah yang dimaksudkan subo-nya, kini memandang ke arah yang ditunjuk subo-nya dan ia pun dapat melihat mereka itu. Ada lima orang nampak kecil-kecil dari atas itu, dan mereka sedang merayap perlahan-lahan menuju ke rumah mereka. Kini lima orang itu telah tiba di luar daerah mereka, mulai berhadapan dengan pepohonan yang telah diatur menjadi deretan pertama dari benteng pohon-pohon yang penuh rahasia.

Nampak dari atas betapa lima orang itu seperti sedang berunding, kemudian berpencar mengambil jalan sendiri-sendiri. Agaknya mereka tahu bahwa jalan menuju ke rumah itu tidak mudah, maka mereka berpencar mencari jalan sendiri-sendiri. Melihat gerakan mereka yang lincah dan ringan, mudah diduga bahwa lima orang itu bukan orang-orang sembarangan.

“Subo, siapakah mereka?” tanya Hong Li tanpa mengalihkan pandangannya dari lima orang itu. Dari tempat ia berdiri, mudah dilihat gerakan lima orang itu. Biar pun mereka berpencar, karena dari tempat tinggi itu mereka nampak kecil, maka pandang matanya dapat mengikuti gerakan mereka dengan jelas.

“Mereka adalah lima ekor tikus yang agaknya sudah bosan hidup dan mencari mati di sini,” jawab subo-nya dengan suara mengandung kegembiraan.

Hong Li terkejut dan kini ia menoleh dan memandang kepada subo-nya. Wanita cantik itu nampaknya gembira sekali, sepasang matanya berseri mengikuti gerakan lima orang di bawah sana.

“Apa yang subo maksudkan?” tanyanya dengan heran.

“Mereka itu mencari mati karena melakukan pelanggaran terhadap daerah kita,” jawab pula gurunya dengan sikap masih gembira dan acuh terhadap pertanyaan-pertanyaan muridnya.

“Tetapi… tetapi mengapa, subo? Mengapa Subo membiarkan saja mereka melanggar wilayah kita dan memasuki daerah berbahaya itu?”

Kini Sin-kiam Mo-li menoleh kepada muridnya. “Hemm… aku tidak menyuruh mereka melakukan pelanggaran, bukan? Kalau sampai mereka mampus, itu adalah kesalahan mereka sendiri!”

Sejenak Hong Li tidak mampu membantah. Memang tak dapat disalahkan jika gurunya membiarkan saja lima orang itu memasuki daerah berbahaya dan menghadapi kematian mereka, tetapi, mengapa gurunya demikian kejam membiarkan lima orang menghadapi kematian tanpa mencegahnya?

“Subo, kalau begitu biarlah aku yang akan memberi tahu mereka agar mereka mundur dan tidak melanjutkan perjalanan mereka memasuki daerah ini. Mungkin mereka tidak tahu bahwa daerah ini berbahaya,” katanya pula.

Tiba-tiba gurunya tertawa. “Hemm, Hong Li engkau tidak tahu. Apa kau kira mereka itu tidak tahu? Mereka sengaja memasuki daerah kita karena mereka hendak mencari aku.”

“Ehh? Jadi subo mengenal mereka? Mau apa mereka mencari subo?” “Mereka hendak membunuhku.”

Sepasang mata Hong Li terbelalak kiranya ada permusuhan di antara lima orang itu dan subo-nya. Pantas subo-nya membiarkan saja mereka menghadapi bahaya. Akan tetapi ia masih merasa penasaran sekali.

“Subo, kenapa mereka hendak membunuh subo? Dan siapakah sesungguhnya mereka itu?”

“Beberapa pekan yang lalu ada seorang teman mereka memasuki daerah ini, mungkin dengan niat yang jahat, dan tewas di pasir maut. Kematiannya itu adalah kesalahannya sendiri, akan tetapi teman-temannya agaknya kini datang hendak menuntut balas atas kematian kawan mereka. Mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Cin-sa-pang (Perkumpulan Sungai Cin Sa), orang-orang sombong yang tak tahu diri sehingga berani menantangku.” Di dalam suara wanita cantik ini terkandung kemarahan. “Biar mereka tahu rasa sekarang agar tidak memandang rendah kepadaku.”

Hong Li memandang lagi dan melihat betapa dengan cekatan lima orang itu sekarang berloncatan dan masuk semakin dalam di antara pohon-pohon.

“Gerakan mereka lincah dan cekatan. Bagaimana jika mereka sampai di rumah subo?” “Tidak begitu mudah. Tiga orang pelayanku sudah siap menyambut mereka. Lihat!”

Hong Li memandang dan benar saja, dia melihat tiga bayangan orang berlari turun setelah keluar dari dalam rumah mungil. Jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat wajah mereka, akan tetapi melihat baju mereka itu, yang seorang merah, seorang putih dan seorang hitam, ia pun tahu bahwa mereka itu adalah Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio. Baru sekarang ia melihat betapa tiga orang pelayan itu berloncatan dengan amat cepat. Memang dia telah menduga bahwa mereka sebagai pelayan-pelayan subo-nya agaknya pandai pula ilmu silat, akan tetapi tak disangkanya mereka akan dapat bergerak secepat itu.

Dan kini terjadilah tontonan yang memang menegangkan dan mendebarkan hati Hong Li. Dari tempat yang tinggi itu, ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana.

Mula-mula Ang Nio yang lebih dahulu bertemu dengan seorang di antara lima orang penyerbu itu. Tepat di tengah-tengah setelah orang itu mampu naik sampai ke bagian tengah daerah yang penuh pohon-pohon itu, agaknya bingung dan berputar-putar di sekitar tempat itu.

Hong Li tidak tahu apa yang mereka bicarakan, akan tetapi keiihatan betapa laki-laki itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio dengan gerakan yang cepat. Dan ia melihat betapa Ang Nio mengelak dan balas menyerang, tak kalah cepatnya gerakan pelayan itu. Ia melihat betapa dua orang itu berkelahi dengan gerakan-gerakan cepat dan kini laki-laki itu mengeluarkan senjata sebatang golok besar.

Ang Nio lalu juga mengeluarkan sebatang pedang tipis dan perkelahian menjadi makin seru dan menegangkan hati Hong Li. Biar pun ia tidak tahu secara jelas urusannya, akan tetapi mendengar penuturan subo-nya tadi, tentu saja ia berpihak kepada Ang Nio. Dianggapnya bahwa pria yang menyerbu itu memang tak tahu diri, berani melanggar daerah orang lain, bahkan ia pun tadi melihat betapa pria itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio.

Perkelahian itu tidak berlangsung lama ketika dari tempat Hong Li menonton, terdengar laki-laki itu berteriak dan tubuhnya lalu roboh. Perkelahian itu berlangsung paling lama hanya tiga puluh jurus dan pedang di tangan Ang Nio telah menembus dada lawannya yang roboh dan tewas. Sementara itu, di bagian lain juga terjadi perkelahian antara Pek Nio melawan salah seorang penyerbu. Juga di sebelah kiri, nampak Hek Nio melayani seorang penyerbu lain.

Hong Li memandang dengan hati berdebar. Agaknya, baik Pek Nio mau pun Hek Nio dapat mengatasi perkelahian itu dan dengan pedang di tangan, mereka mendesak lawan masing-masing yang bersenjata golok. Seperti juga tadi, kurang lebih tiga puluh jurus kemudian, lawan mereka itu roboh oleh pedang mereka.

Dari tempat yang cukup jauh itu Hong Li tidak melihat darah mengalir, akan tetapi dia melihat betapa tiga orang telah roboh dan tewas. Kini tinggal dua orang lagi yang secara kebetulan dapat saling bertemu di bawah sebatang pohon besar. Mereka bicara dan menuding ke sana-sini, ke kanan kiri, agaknya saling menceritakan bahwa mereka berdua menjadi bingung dan tidak tahu jalan mana yang akan dapat membawa mereka ke rumah kecil mungil yang tadi nampak dari kaki gunung.

Tiba-tiba mereka terkejut dan membalikkan tubuh. Tiga orang wanita pelayan itu muncul dari balik pohon dan berada di depan mereka, masing-masing menyeret tubuh seorang lawan yang sudah mati! Tentu saja dua orang laki-laki itu menjadi terkejut setengah mati melihat betapa tiga orang kawan mereka tahu-tahu telah menjadi mayat diseret oleh tiga orang wanita cantik itu.

Agaknya mereka pun tahu bahwa mereka berada dalam keadaan berbahaya sekali. Tiga orang kawan mereka sudah tewas oleh tiga orang wanita ini, dan tentu mereka seperti menyerahkan nyawa saja kalau melawan. Tanpa dikomando lagi, dua orang itu membalikkan tubuh melarikan diri turun gunung.

“Hik-hik!” Hong Li mendengar suara subo-nya terkekeh. “Mereka kira akan dapat lolos begitu saja? Bodoh!”

Hong Li memandang kepada dua orang itu yang melarikan diri cerai berai karena lorong itu sempit dan banyak sekali cabang-cabangnya. Ia yang sudah mempelajari rahasia lorong itu segera tahu bahwa mereka berdua mengambil jalan yang keliru!

Mereka bukan menuju turun gunung, melainkan akan terputar-putar saja melalui tempat-tempat yang amat berbahaya. Tentu mereka berdua itu akhirnya akan terperangkap di tempat berbahaya, tidak mungkin lolos seperti kata-kata subo-nya tadi, pikirnya.

Dugaannya memang tepat karena tak lama kemudian terdengar seorang di antara mereka mengeluarkan teriakan mengerikan, walau pun hanya terdengar lapat-lapat dari tempat Hong Li berdiri itu. Ia cepat memandang dan Hong Li mengerutkan alisnya, jantungnya berdebar tegang penuh kengerian. Kiranya seorang di antara dua laki-laki yang melarikan diri tadi, sekarang salah langkah menginjak padang rumput dan segera tubuhnya tersedot karena di bawah rumput yang hijau subur dan indah itu terdapat lumpur yang dapat menyedot mahluk yang bergerak, dan yang terjatuh ke tempat itu.

Dan walau pun dari tempat dia menonton tidak nampak, Hong Li tahu bahwa tentu nampak di permukaan padang rumput itu ekor-ekor ular yang seperti belut, yang tentu kini sudah mengeroyok orang yang terjatuh ke situ. Teriakan-teriakan itu masih susul-menyusul, kemudian sunyi dan padang rumput itu sudah nampak hijau dan indah kembali. Orang itu sudah tenggelam dan kalau digali, agaknya hanya akan ditemukan tulang rangkanya saja!

Hong Li bergidik. Ia sudah melihat kedahsyatan tempat itu ketika ia mempelajari tempat itu dan rahasianya, diberi petunjuk oleh tiga orang pelayan, dan Ang Nio melempar seekor kelinci ke tempat itu. Ia melihat betapa kelinci itu yang bergerak mencoba untuk lari, disedot semakin dalam dan dia pun melihat pula ekor- ekor ular tersembul ketika mereka memperebutkan kelinci yang disedot ke bawah dan lenyap!

Kini Hong Li yang wajahnya menjadi agak pucat karena merasa ngeri, mengikuti larinya orang ke dua dengan pandang matanya. Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Ia merasa kasihan kepada orang itu dan diam diam ia mengharapkan agar orang terakhir itu akan berhasil menyelamatkan diri turun gunung. Kalau saja saat itu ia berada di bawah dan dekat dengan orang itu, tentu, tanpa ragu-ragu lagi ia akan meneriakkan petunjuk agar orang itu dapat menemukan jalan yang benar dan dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat.

Dengan jantung berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan, Hong Li memandang ke arah orang terakhir yang tersaruk-saruk mencari jalan keluar itu. Terdengar pula suara gurunya menahan ketawa. Mau tak mau Hong Li merasa tidak senang dan melirik.

Dilihatnya betapa wajah cantik gurunya itu tampak berseri, matanya penuh kegembiraan mengikuti gerakan orang terakhir itu dan tiba-tiba Hong Li merasa ngeri. Sikap gurunya ini tiada bedanya sikap seekor kucing yang menanti dan melihat seekor tikus yang sudah tersudut! Ia pun kembali menujukan pandang matanya ke bawah.

Orang yang berlari-larian itu kini tubuhnya sudah penuh keringat karena beberapa kali dia menghapus keringat dari muka dan lehernya, memandang ke kanan kiri mencari jalan keluar, lalu lari lagi setelah memilih satu di antara lorong yang bercabang-cabang itu.

“Jangan ke sana…!” Tiba-tiba Hong Li berseru, akan tetapi seruannya tentu saja tidak terdengar orang itu.

Orang itu pun sudah sampai di tempat yang amat berbahaya itu. Tidak lama kemudian, orang itu sudah mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati dan tubuhnya sudah tenggelam sampai ke pinggang di pasir maut! Pasir maut itu adalah sebuah kolam pasir, akan tetapi pasir itu dapat berputar dan menyedot seperti lumpur tadi. Pasirnya licin dan mudah bergerak, sedangkan kolam itu dalam sekali. Sedikit saja orang yang terjatuh ke situ bergerak, maka tubuhnya akan tenggelam semakin dalam!

Hong Li merayap turun melalui tiang-tiang yang menyangga menara itu, tiang-tiang dari bambu yang besar. “Hong Li, hendak ke mana engkau?” Gurunya menegur heran.

“Subo, aku harus menolong orang itu!” kata Hong Li dan ia merasa amat heran bahwa gurunya diam saja, tidak menghalangi dan juga tidak menegurnya lagi. Ia terus merayap turun dan setelah tiba setengah lebih tinggi menara itu, ia pun berani meloncat turun, kemudian ia lari menuju ke tempat oarang itu tenggelam di pasir maut.

“Diam, jangan bergerak sedikit pun!” Hong Li berseru setelah tiba di tepi kolam. “Aku akan menolongmu, jangan bergerak sedikit pun. Makin engkau bergerak, tubuhmu akan semakin tenggelam!”

Laki-laki itu berusia empat puluh tahun lebih. Setelah dekat, kini Hong Li melihat betapa wajah itu kasar dan buruk, sepasang matanya liar tapi pada saat itu, dia berada dalam keadaan putus asa dan ketakutan. Melihat munculnya seorang gadis cilik yang usianya baru belasan tahun di tepi kolam dan mendengar bahwa gadis itu akan menolongnya, laki-laki itu memandang dengan penuh harapan.

“Tolonglah aku… ahhh, selamatkanlah aku…” Suaranya lirih dan gemetar penuh rasa takut.

Ngeri ia membayangkan kematian di depan matanya, kematian yang amat mengerikan. Ketika tadi dia menginjak pasir, kakinya terjeblos sebatas lutut. Dia lalu berusaha untuk mengangkat kakinya, namun semakin ia berusaha, semakin dalam tubuhnya tenggelam sampai kini dia tenggelam sebatas dada, hanya kedua lengannya saja yang mampu bergerak.

Begitu mendengar peringatan Hong Li, dia pun tidak berani bergerak dan benar saja. Setelah dia tidak bergerak sama sekali, tubuhnya berhenti tenggelam semakin dalam. Akan tetapi, napasnya sesak dan tubuhnya dari dada ke bawah yang tertanam di pasir itu terasa panas bukan main.

“Tenanglah dan jangan bergerak,” kata pula Hong Li.

Ia lalu melepaskan ikat pinggangnya yang panjang dan hanya meninggalkan sedikit saja secukupnya untuk mengikatkan celananya dan mempergunakan ikat pinggang itu untuk menyelamatkan orang itu. Ujung ikat pinggang itu kemudian diganduli sebuah batu dan dilemparnya ke arah orang yang tenggelam.

“Tangkap ujung ikat pinggang ini dan jangan bergerak, biar aku yang akan menarikmu keluar! Ingat, jangan bergerak agar tubuhmu tidak tenggelam semakin dalam!”

Orang itu menangkap ujung ikat pinggang, akan tetapi karena dia terlalu bergairah untuk segera dapat keluar, dia menarik ikat pinggang itu dan tubuhnya bergerak maka tubuh itu segera tersedot semakin dalam sampai ke leher!

“Tolol, jangan bergerak kataku!” Hong Li membentak marah.

Mulailah ia mengerahkan tenaganya untuk menarik orang itu keluar dari pasir. Laki-laki itu kini sudah terlampau takut sehingga tidak berani berkutik, bahkan bersuara pun dia tidak berani lagi. Pasir sudah sampai ke dagunya dan turun beberapa sentimeter lagi, tentu mulut dan hidungnya tertutup dan berarti kematian baginya.

Akan tetapi diam-diam hatinya girang dan juga kagum bukan main melihat betapa anak perempuan yang baru belasan tahun usianya itu memiliki kekuatan yang demikian hebat sehingga dia merasa betapa tubuhnya sedikit demi sedikit mulai tertarik keluar!

Dia tadi melibat-libatkan ujung tali itu pada pinggang dan lengannya sehingga biar pun kini kedua lengannya sebagian sudah tenggelam pula, ketika tali itu ditarik, tubuhnya terbetot keluar. Sedikit demi sedikit sampai akhirnya tubuhnya keluar sebatas pinggang!

“Tariklah lagi, nona yang baik, tarik terus…!” Lelaki itu terengah-engah, penuh harapan dan ketegangan. Dan Hong Li menarik terus, keringat membasahi dahi dan lehernya.

“Prattttt…!”

Tiba-tiba ikat pinggang itu putus tengahnya dan tubuh orang yang sudah naik sampai ke pinggul itu tenggelam kembali sampai ke pinggang di mana dia lalu mengeluh panjang pendek dan tidak berani bergerak sama sekali!

“Jangan bergerak, aku akan mencari alat lain untuk menarikmu keluar,” kata Hong Li.

Gadis ini lalu menggunakan tenaganya untuk merobohkan sebatang pohon kecil yang panjangnya ada tiga meter. Ia mengguncang-guncang pohon kecil itu sampai akarnya jebol dan akhirnya berhasil menumbangkannya. Setelah membuangi cabang, ranting dan daunnya, ia menggunakan batang pohon yang besarnya hanya sebetis kakinya itu untuk menolong orang itu.

Batang pohon itu cukup panjang dan ujungnya dapat dipegang oleh orang itu dengan kedua tangan. Lalu Hong Li mulai menarik lagi, perlahan-lahan dan akhirnya ia berhasil menarik tubuh orang itu sampai keluar dari kolam pasir.

Orang itu menjatuhkan diri di atas tanah, terengah-engah dan mukanya yang tadi pucat sekali, sekarang berubah menjadi agak merah. Ia mengeluarkan suara seperti setengah menangis dan setengah tertawa. Kemudian dia bangkit duduk memandang Hong Li dan matanya terbelalak.

“Nona, sungguh engkau hebat sekali!”

Hong Li cemberut. Baru teringat ia bahwa ia sudah menolong musuh gurunya, merasa bagaikan seorang pengkhianat. “Mengapa engkau melanggar wilayah kami? Engkau memang bersalah dan sepatutnya dihukum. Akan tetapi aku kasihan padamu, tidak tega melihat orang terjatuh ke kolam pasir maut. Nah, sekarang pergilah, akan kutunjukkan jalan keluar untukmu.”

Tiba-tiba orang itu menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu Hong Li sudah ditangkapnya. Gadis cilik terkejut, meronta dan hendak melawan, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena laki-laki itu sudah menotoknya, menotok jalan darahnya yang membuat ia tidak mampu berkutik lagi. Hong Li terkejut dan marah bukan main.

“Apa yang kau lakukan ini?!” bentaknya.

Laki-laki itu menyeringai dan secara kurang ajar mengelus dagu Hong Li. “Engkau anak yang cantik dan manis sekali! Sekarang engkau menjadi tawananku dan engkau harus menunjukkan jalan keluar yang akan menyelamatkan diriku. Kalau tidak, aku pasti akan mencekikmu sampai mampus!”

Hong Li terbelalak. Kalau saja ia tadi bercuriga, kiranya tidak akan demikian mudahnya ia tertawan dan tertotok. Ia sama sekali tidak mengira bahwa orang yang baru saja diselamatkannya dari ancaman maut mengerikan berbalik malah bertindak curang dan jahat kepadanya. Namun ia tidak mempunyai waktu lagi untuk berheran dan penasaran karena kini laki-laki itu telah mengikat kedua tangannya ke belakang tubuhnya, menotok jalan darah yang membuat ia tak mampu mengeluarkan suara, akan tetapi kini tubuhnya dapat bergerak lagi.

“Hayo cepat tunjukkan jalan itu kepadaku, kalau engkau menipuku, tentu engkau akan kusiksa sampai mampus!” kata laki-laki itu sambil mencengkeram pundak Hong Li.

Gadis cilik ini merasa penasaran dan marah sekali sampai dua matanya mengeluarkan air mata. Bukan air mata karena takut, melainkan karena marah dan penasaran sekali.

“Sudah, jangan menangis dan cepat tunjukkan jalannya!” laki-laki itu mengira bahwa anak perempuan itu menangis karena takut. Dia mendorong tubuh Hong Li dan anak perempuan ini terpaksa melangkah maju.

Hong Li tahu bahwa dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu, melawan pun tidak akan ada gunanya. Dan ia pun tidak dapat mengeluarkan suara. Sesungguhnya hal ini tidak perlu dilakukan orang itu. Walau pun tidak ditotok, ia pun tidak mau mengeluarkan suara. Untuk apa? Minta tolong kepada suhu-nya dan tiga orang pelayan?

Ia telah mengkhianati mereka, dan ia yakin bahwa gurunya yang berada di menara itu tentu melihat semua peristiwa yang dialaminya ini. Perlu apa minta tolong? Memalukan saja. Biarlah, ia telah bersalah, dan biarlah kini ia menerima hukumannya. Ia melangkah terus, pundaknya masih dicengkeram laki-laki yang mengikutinya dari belakang.

Hong Li tidak membawa laki-laki itu melalui jalan yang akan menyelamatkannya. Sama sekali tidak. Di dalam dadanya kini membawa api kemarahan yang membuat ia ingin membalas perbuatan laki-laki ini yang dianggapnya terlalu jahat.

Mudah saja baginya untuk menjerumuskan laki-laki ini ke dalam perangkap-perangkap maut, akan tetapi ia pun tentu akan ikut terjebak dan mati bersama laki-laki ini. Dan ia tidak takut mati, hanya ia tidak sudi kalau harus mati bersama laki-laki ini. Tidak mau melakukan perjalanan ke alam baka berbareng dengan dia, bahkan dari tempat yang sama. Tidak, dia harus dapat mencari perangkap yang lebih baik.

Akhirnya tibalah Hong Li di jalan buntu! Di depan nampak jurang yang amat curam, yang tidak mungkin dilalui. Di situ terdapat dua jalan bercabang ke kiri dan ke kanan. Kedua lorong ke kanan dan ke kiri ini tertutup daun-daun kering, nampaknya aman dan mudah dilewati.

Akan tetapi, Hong Li yang sudah hafal akan rahasia lorong-lorong itu, maklum bahwa melangkah ke kiri berarti akan membawa mereka jatuh ke dalam sumur yang dasarnya tidak kurang dari lima belas meter dalamnya, di mana terdapat batu-batu meruncing yang akan menyambut tubuh mereka! Di balik daun-daun kering yang ke kiri itu terdapat lubang sumur itu.

Kalau melangkah ke kanan, mereka akan terjatuh ke dalam kolam lumpur yang juga berbahaya sekali karena tubuh akan terus tenggelam semakin dalam dan akhirnya akan tewas pula. Tetapi, tidaklah secepat kalau terjatuh ke dalam sumur itu matinya. Hanya di sana ada ular-ular lumpur yang sebetulnya semacam belut yang gemar makan daging manusia, yang membuat dirinya bergidik ngeri membayangkan betapa tubuhnya bagian bawah akan digerogoti binatang-binatang itu sebelum ia mati.

Ia tahu bahwa jalan satu-satunya adalah melompati sumur sebelah kiri. Sumur itu tidak lebar, paling lebar satu setengah meter saja. Sekali melompat juga akan melampauinya dan selamat. Tidak, ia tak boleh membawa lelaki itu melompat, karena begitu melompat, laki-laki itu tentu akan mudah turun dan keluar dari daerah berbahaya.

Melihat anak perempuan itu berdiri termangu-mangu dan ragu-ragu, laki-laki itu segera mengguncang pundaknya dan membentaknya dengan nyaring, “Hayo cepat tunjukkan jalan!”

Dia pun bingung melihat betapa jalan itu yang bagian depan buntu, menuju ke jurang yang amat curam, sedangkan jalan kanan dan kiri sama saja tertutup daun-daun kering. Dia tahu betapa berbahayanya lorong-lorong di situ dan dia tidak tahu mana jalan yang benar, yang kanan ataukah yang kiri.

Tanpa ragu-ragu Hong Li menudingkan telunjuknya ke kanan! Laki-laki itu nampak lega dan dia pun memperkuat cengkeramannya di pundak Hong Li mendorong tubuh anak itu membelok ke kanan dan menghardik, “Hayo jalan!”

Hong Li sudah hafal benar akan rahasia tempat itu. Paling banyak lima langkah mereka akan terjeblos. Ia memperhitungkan langkahnya dan setelah empat langkah, tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, meloncat ke belakang dan menendang dengan cepat sekali.

Laki-laki itu terkejut, melangkah ke samping akan tetapi ketika cengkeraman tangannya terlepas, dia masih sempat menangkap lagi pundak itu, maka begitu tubuhnya terjeblos, dia membawa Hong Li ikut pula terpelanting dan terjeblos ke dalam kolam lumpur!

“Auhhhhh, toloonggg…!” Laki-laki yang merasa ngeri dan ketakutan itu, perasaan takut yang sudah sejak tadi menghantuinya, tidak dapat menahan lagi mulutnya dan berteriak minta tolong.

Dalam kagetnya tadi, dia melepaskan cengkeramannya dan tubuh Hong Li terpelanting sehingga terjeblos sejauh dua depa di sebelah depannya. Kalau laki-laki itu yang tadi meronta tenggelam sampai dada, Hong Li tenggelam sampai ke pinggang dan mereka kini saling berpandangan. Laki-laki yang terbelalak dengan muka pucat dan berkaok-kaok minta tolong itu melihat betapa tubuh anak perempuan itu nampak tenang- tenang saja, bahkan tersenyum mengejek memandangnya!

Meski Hong Li tidak mampu mengeluarkan suara, namun pandang matanya mengejek sepenuhnya dan rasa puas membayang di sepasang matanya. Gadis cilik ini kehilangan rasa takutnya, lupa akan adanya ular-ular di dalam lumpur, karena girangnya dapat membuat laki-laki yang jahat itu kini tidak berdaya.

Hong Li teringat ketika tiba-tiba ia melihat benda mengkilap bermunculan di permukaan lumpur yang tertutup daun-daun kering itu. Ular atau belut lumpur! Matanya terbelalak dan hampir saja dia menjerit saking ngeri dan jijiknya, apa lagi ketika ada seekor ular atau belut itu yang muncul tidak jauh dari hidungnya, seolah-olah binatang itu ingin berkenalan dulu dengan wajah-wajah para calon korbannya.

Akan tetapi ia menahan perasaan ngeri ini dan menggigit bibir. Tidak demikian dengan laki-laki itu. Dia mengeluarkan pekik yang mengerikan karena memang pada saat itu, ada bagian bawah tubuhnya yang mulai dijilati atau digigit.

Berbareng dengan dengan jeritan laki-laki itu, nampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu tubuh Hong Li telah terlibat kain hitam dan tubuh itu kemudian terbetot naik oleh kain yang melilitnya, kemudian tubuh Hong Li ditarik keluar dari lumpur oleh tangan Sin-kiam Mo-li yang sudah berdiri di tepi kolam lumpur itu, menggunakan sabuk hitam menolong muridnya.

Begitu tiba di tepi kolam, Hong Li menubruk kaki gurunya. “Subo, maafkan aku… tidak… hukumlah aku, subo…,” katanya setengah menangis saking kesal dan marah terhadap laki-laki jahat itu.

Sin-kiam Mo-li tersenyum. “Engkau sudah cukup terhukum, Hong Li.”

Pada saat itu, kembali terdengar teriakan-teriakan mengerikan. Hong Li menengok dan melihat betapa laki- laki itu dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali, menjerit-jerit dan meronta-ronta, akan tetapi karena dia keras meronta, maka tubuhnya cepat sekali tersedot semakin dalam dan lumpur sudah mencapai lehernya!

Hong Li tidak dapat melihat lebih lanjut dan dia pun menyembunyikan mukanya di balik kedua tangannya. Akan tetapi telinganya masih mendengar jeritan-jeritan itu, kemudian pekik itu pun terhenti tiba-tiba, seolah- olah orang itu tiba-tiba dicekik.

Dia tahu apa yang terjadi. Tentu mulut yang berteriak itu kini sudah terbenam ke dalam lumpur. Dia tidak berani menengok. Baru setelah tidak ada lagi suara terdengar dari belakangnya, ia berani menengok dan kolam lumpur itu telah tenang, tidak ada suara apa-apa lagi, tidak ada gerakan apa-apa lagi dan lumpur telah tertutup kembali oleh daun-daun kering.

Hong Li bergidik dan ia tetap berlutut. Tubuhnya agak menggigil, bukan hanya karena kedinginan. Sebuah tangan lembut menyentuh kepalanya dan terdengar suara Sin-kiam Mo-li.

“Hong Li, sejak tadi aku melihat keadaanmu, dan kalau aku menghendaki, sejak tadi aku tentu dapat membebaskanmu dari cengkeraman jahanam itu. Akan tetapi aku sengaja membiarkan saja, hanya membayangi supaya engkau memperoleh pengalaman. Ketika engkau menipunya masuk lumpur, aku lantas tahu bahwa engkau tentu sudah merasa menyesal dan mendapat kenyataan betapa jahatnya orang ini. Nah, pelajaran ini agar selalu kau ingat, muridku. Jangan percaya kepada orang lain begitu saja, dan selalu bersikaplah hati-hati terhadap orang lain, apa lagi yang belum kau ketahui benar bagai mana wataknya.”

“Akan tetapi, subo. Aku sungguh tidak dapat membayangkan bagaimana ada orang sejahat itu. Ditolong malah membalas dengan kekejaman dan kejahatan!”

Sin-kiam Mo-li tertawa, kemudian berkata dengan suara tegas, “Semua orang di dunia ini juga begitu, Hong Li. Setiap orang bertindak demi kebaikan dan keuntungan bagi diri sendiri, karena itu, siapa kalah cerdik, siapa kalah kuat, dia menjadi korban. Engkau harus kuat dan cerdik, dan kalau perlu mendahului lawan sebelum engkau yang menjadi korban. Yang ada bukan baik dan jahat, melainkan cerdik dan bodoh, muridku.”

Diam-diam Hong Li merasa tidak setuju dan heran sekali mendengar nasehat gurunya ini, akan tetapi ia tidak mau membantah. Alangkah bedanya nasehat gurunya ini dari nasehat ayah ibunya!

Ayah ibunya selalu mengajarkan agar ia menggunakan kepandaiannya untuk menolong sesama manusia yang menderita, untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Akan tetapi, gurunya ini agaknya hanya mengajarkan agar ia selalu bersikap cerdik dan tidak mempercaya semua orang, bahkan turun tangan lebih dahulu sebelum menjadi korban kejahatan orang lain.

Gurunya kemudian mengajaknya pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ketika ia memperoleh kesempatan bicara dengan tiga orang pelayan itu, ia memperoleh keterangan bahwa tiga orang penyerbu yang lain, yang telah tewas di tangan mereka, mayatnya tidak mereka kubur melainkan mereka lemparkan begitu saja ke dalam kolam lumpur!

Hong Li hanya menyimpan rasa ngeri dan tidak setujunya, dan mulai saat itu ia lebih banyak menutup mulut, walau pun diam-diam ia merasa heran akan keadaan guru dan tiga orang pelayan itu. Namun ia memang pandai menggunakan kesempatan dan sejak ia mengetahui bahwa tiga orang pelayan wanita itu lihai, ia mulai mengajak mereka untuk menemaninya berlatih silat.

Dan ternyata memang mereka itu lihai sekali dan merupakan teman berlatih yang baik, walau pun dari mereka ia tidak dapat memperoleh ilmu baru. Setidaknya, setiap orang dari mereka itu dapat melayaninya dalam latihan silat.

Mulai hari itu, gurunya sering kali mengajak Hong Li naik ke menara dan menganjurkan muridnya untuk berlatih siu-lian di dalam panggung tertutup di puncak menara. Dan anak itu memang suka naik ke menara karena dari situ ia dapat melihat pemandangan yang luas, dan juga dapat melihat apa yang terjadi di sekeliling tempat tinggal gurunya. Kadang-kadang, meski baru beberapa hari tinggal di situ, kalau sedang berdiri melamun di puncak menara dan memandang gunung-gunung yang jauh, timbul perasaan rindu kepada ayah ibunya.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali saat matahari sudah naik dan menebarkan cahayanya yang keemasan dan masih lembut ke permukaan bumi, Hong Li sudah berlatih silat seorang diri di bawah menara, kemudian naik ke atas menara. Ia masih belum mampu dengan sekali meloncat naik ke atas, melainkan hanya meloncat sampai setengah tiang, menyambar tiang dan memanjat naik.

Kini ia berdiri di puncak, di depan pondok, memandang ke arah timur di mana matahari membuat angkasa di timur cemerlang dan indah bukan main. Beberapa kelompok awan membentuk raksasa-raksasa aneh, akan tetapi warnanya yang biru keabuan itu mulai memudar tertimpa cahaya matahari.

Tiba-tiba perhatian Hong Li tertarik oleh sesosok tubuh yang mendaki kaki gunung dan menuju ke arah rumah gurunya. Orang itu berjalan perlahan dan kini sudah tiba di luar daerah berbahaya yang mengelilingi rumah gurunya. Tadinya disangka oleh Hong Li bahwa orang itu hanya kebetulan lewat saja dan tak akan memasuki daerah berbahaya, akan tetapi ketika orang itu mulai memasuki lorong yang menuju ke daerah yang penuh bahaya, ia pun terkejut dan merasa khawatir sekali.

Siapakah orang itu, pikirnya. Lawan atau kawan? Dan ia merasa ngeri membayangkan betapa akan jatuh korban lagi di tempat berbahaya itu. Bagaimana pun juga, hatinya tak setuju dengan adanya daerah rahasia yang penuh dengan bahaya maut itu. Betapa pun jahatnya lima orang yang menyerbu tempo hari, cara mereka menemui kematian benar-benar amat mengerikan dan terlalu kejam.

Akan tetapi, perasaan khawatirnya segera berubah menjadi perasaan heran dan kagum. Orang yang baru datang itu, walau pun hanya dengan langkah-langkah yang perlahan, namun ternyata orang itu selalu mengambil jalan yang benar! Dari tempat tinggi itu Hong Li dapat melihat dengan mudah.

Dari situ ia dapat melihat keadaan lorong-lorong rahasia itu seperti melihat peta dan ia pun sudah hafal mana yang benar dan mana yang menyesatkan dan berbahaya. Dan orang itu selalu membelok melalui lorong yang benar, seakan-akan sudah mengenal dengan baik jalan-jalan yang penuh dengan rahasia itu.

Langkah-langkahnya teratur dan kakinya bagaikan sudah mengenal tempat berbahaya, selalu berjalan melalui tempat aman dan menghindarkan jebakan-jebakan rahasia yang banyak terdapat di situ. Kalau begitu, tentu seorang sahabat baik gurunya yang sudah sering datang ke sini, pikir Hong Li. Hatinya tertarik sekali dan cepat-cepat ia turun dari menara untuk melihat dari dekat siapa adanya orang yang baru datang itu.

Ia berlari menuju ke rumah dan heranlah ia melihat bahwa orang yang tadi dilihatnya dari menara itu ternyata sekarang sudah tiba di depan rumah. Dari atas nampaknya dia berjalan perlahan, tetapi ternyata sudah tiba di depan rumah dengan selamat, berarti bahwa orang itu benar-benar telah mampu melalui lorong-lorong rahasia yang sangat berbahaya itu.

Dan kini orang itu telah berhadapan dengan gurunya. Juga tiga orang pelayan wanita berada di situ, akan tetapi mereka berdiri agak jauh sambil memandang dengan sikap khawatir. Hong Li lari mendekati tiga orang pelayan itu dan kini ia dapat melihat wajah pendatang itu dengan jelas.

Begitu melihatnya, Hong Li terbelalak dan merasa terkejut bukan main saat ia mengenal bahwa pendatang itu bukan lain adalah Ang I Lama, orang yang dahulu menculiknya dari kebun rumah orang tuanya! Tidak salah lagi. Ia mengenal wajah itu, mengenal tubuh tinggi kurus yang memakai jubah pendeta berwarna merah itu. Melihat munculnya kakek ini, kemarahan muncul dalam hati Hong Li.

Agaknya kakek itu tahu pula akan kehadiran Hong Li dan ia memandang dengan penuh perhatian.

“Omitohud, agaknya inilah anak itu. Ehhh, anak baik, ke sinilah dan mari engkau ikut pinceng pulang ke rumah orang tuamu. Ke sinilah…!” Kakek itu melambaikan tangan ke arah Hong Li.

Anak perempuan ini terkejut bukan main karena biar pun hatinya tidak menghendaki, namun kedua kakinya di luar kehendaknya sudah melangkah menghampiri kakek itu! Melihat ini, gurunya membentak.

“Hong Li, kembali ke tempatmu!” Dan dalam bentakan ini terkandung kekuatan yang agaknya membuyarkan pengaruh panggilan kakek itu.

Hong Li seperti baru dapat menguasai kedua kakinya sendiri dan ia berhenti melangkah, terkejut melihat keadaan dirinya. Dia pun berlari kembali mendekati tiga orang pelayan yang segera merangkulnya.

“Siocia, engkau di sini saja dan jangan bergerak,” bisik Ang Nio.

Hong Li mengangguk dan melepaskan diri dari rangkulan mereka. Ingin ia melihat bagai mana gurunya menghadapi kakek aneh itu. Ia tidak merasa khawatir karena bukankah gurunya pernah menang dari kakek itu ketika merampas dirinya dari tangan kakek itu yang dikalahkannya di dalam kuil tua dahulu?

Sementara itu, Ang I Lama sudah menghadapi Sin-kiam Mo-li dan terdengar suaranya yang lemah lembut, “Sekali lagi, Sin-kiam Mo-li, pinceng minta dengan hormat dan sangat agar engkau suka menyerahkan anak itu kepada pinceng.”

“Ang I Lama, tidak malukah engkau mengeluarkan kata-kata seperti itu? Apakah engkau lupa akan nasib Sai-cu Lama yang menjadi suheng-mu? Hemm, tak kusangka bahwa engkau yang dianggap sebagai seorang pertapa yang memiliki kesaktian, ternyata sama sekali tidak mengenal budi antara saudara, dan tidak setia, bahkan ingin mengkhianati golongan sendiri. Pergilah dan jangan mencampuri urusan pribadiku!” Sikap Sin-kiam Mo-li ketus dan tegas.

“Omitohud… untuk kembali ke jalan benar masih belum terlambat. Kenapa engkau tidak mau melihat kenyataan? Sadarlah dan serahkan anak itu kepada pinceng.”

“Kakek tua bangka! Kini ia telah menjadi murid dan anak angkatku! Dengar baik-baik, ia telah menjadi anakku! Lihatlah baik-baik, aku adalah seekor harimau betina, mana sudi melepaskan anaknya?”

Mendadak Hong Li terkejut bukan main melihat bahwa gurunya telah berubah menjadi seekor harimau yang besar. Harimau itu mengeluarkan auman yang menggetarkan tanah di mana ia berdiri. Hong Li melirik ke arah tiga orang pelayan wanita itu. Mereka juga berdiri dengan mata terbelalak memandang, akan tetapi mereka bersikap tenang saja, agaknya tak merasa heran melihat betapa majikan mereka telah berubah menjadi seekor harimau besar dan buas!

Kao Hong Li bukanlah anak sembarangan. Ia keturunan dua orang keluarga besar yang amat terkenal di dunia persilatan, yaitu ayahnya adalah keturunan dari keluarga Istana Gurun Pasir sedangkan ibunya keturunan keluarga Pulau Es, gudangnya orang-orang sakti. Tentu saja ia, biar pun usianya baru tiga belas tahun, tahu benar bahwa gurunya berubah menjadi harimau hanya merupakan hasil ilmu sihir belaka, bukanlah sungguh-sungguh menjadi harimau!

Betapa pun juga, ia masih belum kuat untuk menembus pengaruh sihir ini, maka dalam penglihatannya, gurunya berubah menjadi harimau, sesuai dengan ucapannya tadi! Dan sekarang, ‘harimau betina’ yang hendak mempertahankan anaknya itu dengan buasnya, sambil mengeluarkan suara mengaum dahsyat, menyerbu, menerjang dan menubruk ke arah Ang I Lama!

“Omitohud, engkau semakin jauh tersesat!” Ang I Lama menggerakkan tubuhnya, jubah merahnya berkibar saat dia meloncat ke belakang dan menghindarkan diri dari tubrukan harimau. Pada saat harimau itu membalik dan hendak menubruk lagi, Ang I Lama yang telah menyambar segenggam tanah, menyambitkan tanah itu ke arah harimau.

“Siancai, kembalilah kepada keaslianmu, Sin-kiam Mo-li!”

Harimau itu hendak mengelak tetapi terlambat. Ketika ada tanah menyentuh tubuhnya, terdengar suara ledakan keras dan harimau itu mengaum, akan tetapi segera lenyap dan berubah kembali menjadi Sin- kiam Mo-li yang nampak terhuyung. Wanita ini marah sekali. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan dari tubuhnya keluarlah asap hitam bergulung-gulung yang segera menutupi tubuhnya sehingga membuat keadaan di situ menjadi gelap.

Diam-diam Hong Li merasa ngeri menyaksikan ini. Sungguh hebat ilmu sihir gurunya, akan tetapi kakek itu pun memiliki ilmu kepandaian tinggi yang ternyata juga sanggup menaklukkan harimau jadi-jadian tadi. Akan tetapi kembali Ang I Lama tidak nampak gugup.

“Omitohud…!” serunya berkali-kali dan dia pun merangkap kedua tangan di depan dada, kemudian mulutnya meniup dan buyarlah asap hitam itu, makin lama semakin menipis dan akhirnya nampaklah kembali Sin-kiam Mo-li yang menjadi semakin penasaran.

Wanita cantik ahli sihir ini maklum bahwa agaknya ia tidak akan mampu mengalahkan kakek itu jika menggunakan sihir, maka ia segera menerjang maju, sekali ini menyerang dengan pukulan tangan terbuka. Bukan main hebatnya pukulan yang dilontarkan oleh dua tangan wanita itu. Angin menyambar dahsyat dan terdengar bunyi bercuitan ketika kedua tangan itu menyambar.

Kembali kakek itu mengelak ke samping kemudian kedua lengannya digerakkan untuk menangkis dari samping.

“Dukkk!”

Kedua pasang lengan itu bertemu di udara. Seperti ada halilintar saja yang menyambar terasa oleh Hong Li akibat dari adu kekuatan dahsyat itu. Angin pukulan membuat dia mundur dua langkah sambil terbelalak memandang. Ia melihat gurunya agak terhuyung, sedangkan kakek itu tetap berdiri tegak sambil tersenyum. Senyum lembut itu sejak tadi tak pernah meninggalkan wajah Ang I Lama.

Sin-kiam Mo-li menjadi semakin marah dan kembali ia menyerang dengan pukulan yang bertubi-tubi. Pendeta Lama itu dengan tenang menyambut, maka terjadilah perkelahian yang hebat.

Gerakan Sin-kiam Mo-Ii amat cepat, berloncatan menyambar-nyambar bagaikan seekor burung yang menyerang seekor ular. Tetapi pendeta itu bagaikan seekor ular melingkar, dengan gerakan tenang akan tetapi mantap menyambut setiap serangan dari mana pun juga datangnya, menangkis sambil balas menyerang. Walau pun dia hanya membalas dengan tamparan-tamparan atau cengkeraman, tapi semua serangannya mengandung kekuatan yang membuat lawannya harus cepat menghindarkan diri.

Biar pun gerakan gurunya itu amat cepatnya, namun Hong Li yang sudah menguasai dasar ilmu silat tinggi dapat mengikuti gerakannya sehingga ia pun dapat melihat betapa tangguhnya kakek yang bernama Ang I Lama itu. Kalau ia tak salah menduga, gurunya kalah dalam hal tenaga oleh kakek itu. Hal ini terbukti betapa gurunya selalu berusaha menghindarkan bentrokan lengan kalau serangannya akan ditangkis lawan, dan tiap kali terpaksa kedua lengan mereka bertemu, tentu tubuh gurunya terdorong ke belakang atau terhuyung.

Dugaan anak perempuan itu memang tepat. Sin-kiam Mo-li merasa betapa dahsyatnya tenaga lawan dan ia maklum bahwa kalau ia harus selalu menghindarkan bentrokan, maka akhirnya ia akan terdesak. Cepat kedua tangannya bergerak ke balik bajunya dan di lain saat, tangan kiri wanita itu telah memegang sebuah kebutan bergagang emas dengan bulu merah, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Kiranya Sin-kiam Mo-li memiliki sepasang senjata yang amat hebat, yaitu kebutan dan pedang. Nama julukannya, Sin-kiam (Pedang Sakti) saja sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli pedang yang pandai, sedangkan kebutan di tangan kirinya itu pun sama sekali tidak boleh dipandang ringan, karena ujung setiap lembar bulu kebutan itu telah dicelup racun sehingga orang yang terkena sabetan ujung kebutan itu tentu akan keracunan!

“Sing-sing… wuuuuttt…!”

Nampak gulungan sinar putih dan merah dari pedang serta kebutan ketika wanita itu menyerang dengan cepatnya ke arah lawan.

“Siancai…!” Ang I Lama berseru.

Cepat dia membuat langkah-langkah yang aneh untuk menghindarkan diri. Beberapa kali dia berhasil mengelak, kemudian tiba-tiba tangannya memegang seuntai tasbeh dan dengan benda ini yang diputar- putar, dia berhasil menangkis kebutan dan pedang.

“Trik! Trik! Tranggg…!”

Nampak api berpijar pada saat pedang bertemu dengan biji-biji tasbeh itu. Dan kembali pertemuan tenaga melalui senjata itu membuat Sin-kiam Mo-li terdorong ke belakang.

Perkelahian berlangsung semakin seru. Kadang tubuh dua orang itu lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka yang menjadi satu. Agaknya tingkat kepandaian mereka memang seimbang, hanya kakek pendeta itu memiliki tenaga yang lebih kuat walau pun mungkin dia kalah dalam hal kecepatan gerakan.

Juga di antara mereka terdapat perbedaan besar dalam hal serangan. Kalau Sin-kiam Mo-li menyerang dengan hebatnya, tiap serangannya merupakan serangan maut yang mengarah nyawa, sebaliknya pendeta itu selalu berhati-hati dalam serangannya dan jelas bahwa dia banyak mengalah dan tidak bermaksud memburuh lawan.

Betapa pun juga, karena kalah tenaga, nampaknya Sin-kiam Mo-li makin terdesak dan terhimpit, dan kadang-kadang terhuyung ke belakang. Kenyataan ini membuat Hong Li memandang khawatir.

“Majulah, bantulah subo,” desaknya berulang-ulang kepada tiga orang pelayan itu.

Tiga orang pelayan itu semua memegang sebatang pedang, akan tetapi mereka tidak berani maju, merasa betapa ilmu kepandaian mereka masih terlampau rendah untuk membantu majikan mereka mengeroyok pendeta Lama yang demikian saktinya. Melihat ini, Hong Li menjadi tidak sabar lagi. Dirampasnya pedang dari tangan Ang Nio dan ia pun berkata, “Kalau begitu, biarlah aku saja yang membantu subo!” Ia pun meloncat ke depan.

Tiga orang pelayan itu terkejut.

“Siocia…!” mereka berseru, akan tetapi karena anak perempuan itu sudah menerjang maju dan masuk ke dalam arena perkelahian mereka pun tak dapat mencegah lagi.

“Lama jahat!” Hong Li membentak dan pedangnya menusuk ke arah lambung pendeta itu.

Ang I Lama terkejut melihat anak perempuan itu menyerangnya dengan pedang. Dia tidak mengelak, membiarkan pedang itu mengenai lambungnya dan berkata, “Omitohud, anak baik, pinceng datang untuk membebaskanmu!”

“Takkk!”

Pedang itu membalik dan Hong Li merasa tangannya nyeri karena pedangnya seperti menusuk baja saja. Sebelum ia mampu mengelak, tiba-tiba tangan kiri pendeta Lama itu telah menangkap pundaknya.

“Mari ikut bersama pinceng, anak baik!” kata pula Ang I Lama.

Akan tetapi Hong Li menjadi marah dan meronta. “Lepaskan aku, pendeta jahat!” dan kembali pedangnya menusuk, kini mengarah dada kakek itu.

“Trakkk!”

Pedangnya patah menjadi dua potong! Dan sekali Ang I Lama menggerakkan tangan kirinya, tubuh Hong Li telah terlempar ke atas dan berada dalam podongan kakek itu.

“Lepaskan anakku!” Sin-kiam Mo-li membentak dan pedangnya lalu membacok ke arah kepala Ang I Lama.

“Tranggg…!”

Tasbeh itu menyambar dan menangkis pedang, membuat pedang terpental.

Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li membentak dan kebutannya kini menyambar ke arah… kepala Hong Li yang dipondong pendeta itu. Tentu saja Ang I Lama terkejut bukan main, sama sekali tidak menyangka bahwa wanita itu akan menyerang anak yang dipondongnya. Dengan agak tergesa-gesa dia pun menggerakkan tasbehnya melindungi Hong Li dan menangkis kebutan.

“Prattt!”

Bulu-bulu kebutan itu sekarang melibat tasbeh dan terjadi tarik menarik. Pada saat itu, Hong Li yang tidak tahu bahwa baru saja nyawanya terancam maut pada saat wanita itu menyerangnya dengan kebutan, kini ingin membantu gurunya. Melihat betapa mereka saling tarik senjata masing-masing, Hong Li menggunakan tangannya, mencengkeram ke arah mata Ang I Lama!

“Siancai…!” Ang I Lama terkejut bukan main.

Anggota tubuhnya tidak akan takut menghadapi serangan seorang anak kecil seperti Hong Li, akan tetapi kalau yang diserang itu matanya, tentu saja mata itu tidak dapat dibuat kebal! Untuk mempergunakan sihir mempengaruhi anak itu, sudah tidak keburu lagi. Terpaksa dia menarik kepalanya ke belakang untuk mengelak.

Pada saat itu, pedang di tangan kanan Sin-kiam Mo-li sudah menyambar dan menusuk lambung pendeta Lama itu. Demikian cepat gerakan ini, dilakukan pada saat yang tepat, menggunakan kesempatan selagi pendeta itu repot mengelak dari cengkeraman tangan Hong Li sehingga tak mungkin dapat dihindarkan lagi.

“Cappp…!”

Biar pun pendeta itu mempergunakan sinkang, namun sudah tidak keburu dan pedang itu menancap sampai dalam dan ketika dicabut, darah pun muncrat dan pada saat itu, Sin-kiam Mo-li telah berhasil merampas kembali Hong Li dari pondongan Ang I Lama.

“Omitohud…!” Ang I Lama menggunakan tangan kiri mendekap luka di lambungnya, lalu membalikkan diri dan lari meninggalkan tempat itu, pergi sambil membawa luka yang dalam di lambungnya!

Sin-kiam Mo-li tidak berani mengejar. Ia tahu bahwa pendeta itu lihai bukan main dan kalau ia tidak memperoleh kesempatan baik tadi, belum tentu ia akan keluar sebagai pemenang. Ia tadi sudah bertindak cerdik bukan main dengan menyerang kepala Hong Li. Memang, ia membahayakan keselamatan nyawa anak itu tadi. Akan tetapi akal itu bagus sekali.

Serangan mematikan itu tentu saja membuat Ang I Lama yang ingin menyelamatkan Hong Li, menjadi kaget dan cepat melindungi sehingga terbukalah kesempatan baginya untuk menyerang. Apa lagi ia dibantu oleh Hong Li. Ia puas dengan dirinya sendiri dan juga girang bahwa ternyata anak angkat dan muridnya itu setia kepadanya. Ia tak berani mengejar karena ia tidak yakin apakah Lama itu menderita luka yang cukup parah.

Dirangkulnya Hong Li dan diciuminya pipi anak itu. “Hong Li, bagus sekali, engkau telah membantuku mengalahkan Lama yang jahat itu!”

“Akan tetapi, subo. Hampir saja aku celaka olehnya. Dia sungguh lihai dan jahat sekali!” kata Hong Li.

“Memang dia lihai dan jahat, maka engkau harus berlatih dengan baik agar kelak dapat mengalahkan orang-orang seperti dia ini.”

“Di bawah bimbingan subo, tentu aku akan dapat menguasai ilmu-ilmu yang hebat, dan kini di dalam perlindungan subo aku merasa aman. Subo, jangan lupa mengajarkan ilmu sihir kepadaku.”

Sin-kiam Mo-Ii tertawa dan menggandeng anak itu, diajak masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Hong Li merasa girang dan puas pula, sama sekali ia tidak tahu bahwa baru saja ia kehilangan seorang penolong yang akan mampu membawanya kembali kepada orang tuanya dan bahkan membebaskannya dari cengkeraman seorang wanita iblis yang sesungguhnya merupakan musuh besar keluarganya!

Sin-kiam Mo-li tidaklah sebaik hati seperti yang dibayangkan Hong Li. Anak perempuan ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak ia diculik dari kebun rumah orang tuanya, terdapat rahasia besar di balik semua peristiwa itu.

Yang melakukan penculikan terhadap dirinya sama sekali bukanlah Ang I Lama yang pada waktu itu masih tekun bertapa di dalam goa pertapaannya. Lalu siapakah yang melakukan penculikan itu? Bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li sendiri! Wanita cantik yang tinggi semampai inilah yang menyamar sebagai Ang I Lama dan melakukan penculikan dengan mempergunakan nama Ang I Lama! Hal ini dapat dilakukannya dengan mudah sekali karena selain pandai ilmu silat, ia pun pandai ilmu sihir dan pandai melakukan penyamaran.

Akan tetapi, mengapa Sin-kiam Mo-li melakukan hal itu dan siapakah dia sebenarnya? Sin-kiam Mo-li adalah anak angkat dari Kim Hwa Nionio! Pada waktu Kim Hwa Nionio bersekongkol dengan Sai-cu Lama, Sin-Kiam Mo-li sedang melakukan perantauan ke daerah pantai selatan. Ia tidak tahu akan persekutuan itu, juga tidak mencampurinya. Ketika ia pulang ke utara, baru ia mendengar bahwa ibu angkatnya, juga gurunya itu, ternyata telah tewas bersama Sam Kwi dan Sai-cu Lama dalam sebuah komplotan yang dihancurkan oleh para pendekar, terutama keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Istana Gurun Pasir.

Tentu saja ia terkejut dan berduka, juga sakit hati. Akan tetapi ia pun maklum siapa itu keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Ia merasa tak mampu menandingi mereka itu dengan berterang, maka ia lalu melakukan balas dendam dengan cara lain.

Setelah melakukan penyelidikan, dia pun menjatuhkan pilihannya kepada Kao Hong Li, satu-satunya anak yang menjadi keturunan dari kedua pihak, keturunan keluarga Pulau Es, juga keturunan keluarga Gurun Pasir. Dan terjadilah penculikan itu.

Ia sengaja mempergunakan nama Ang I Lama yang mahir dalam ilmu sihir dan mudah dipalsu, dengan maksud untuk mengadu domba. Ia harus membangkitkan Ang I Lama sebagai sute dari Sai-cu Lama supaya suka menentang dua keluarga pendekar yang menjadi musuh mereka berdua itu. Akan tetapi ia cukup mengenal watak Ang I Lama yang saleh dan tidak mau menggunakan kekerasan, melainkan hanya bertapa dengan tekun dan tidak pernah mencampuri urusan dunia ramai.

Maka dia mempergunakan siasatnya, menyamar sebagai Ang I Lama untuk mengadu domba. Tadinya, niatnya hanya selain mengadu domba, juga menimbulkan duka pada keluarga itu yang kehilangan puterinya. Mungkin puteri mereka itu akan ia bunuh untuk membalas dendam.

Akan tetapi setelah ia melihat Hong Li yang demikian manis dan tabah, hatinya tertarik dan timbul pikirannya untuk memanfaatkan rasa sukanya itu demi dua keuntungan. Pertama, ia akan merasa puas memiliki murid dan anak angkat yang sangat baik dan berbakat, memenuhi kerinduannya akan seorang keturunan. Kedua, ia akan mendidik anak itu supaya kelak dapat mengikuti jejaknya yang berlawanan dengan jalan hidup musuh-musuhnya, yaitu kedua keluarga pendekar itu!

Hong Li tidak tahu akan semua itu. Ia hanya mengenal gurunya sebagai seorang wanita berilmu tinggi dan pandai sihir yang telah menyelamatkannya dari tangan Ang I Lama!

Walau pun pada hari-hari terakhir ini ia mendapat kenyataan bahwa gurunya dapat pula berwatak keras dan kejam terhadap musuh-musuhnya, seperti yang diperlihatkannya ketika menghadapi lima orang penyerbu dari Cin-sa-pang itu, namun ia menganggap gurunya seorang gagah yang baik hati, terutama terhadap dirinya.

Dan ia pun dengan penuh ketekunan mempelajari ilmu-ilmu dari Sin-kiam Mo-li, seorang wanita cantik yang dalam hal tingkat kepandaian, sama sekali tidak berada di bawah tingkat mendiang gurunya, yaitu Kim Hwa Nionio…..

********************

Dua orang pendeta Lama yang sedang bertapa itu terkejut sekali ketika melihat seorang pendeta Lama lain roboh terpelanting di depan goa mereka, kemudian terdengar suara orang itu mengerang kesakitan. Dua orang pendeta Lama itu segera keluar dari goa tempat pertapaan mereka dan alangkah kaget hati mereka ketika mereka mengenal bahwa yang roboh itu adalah Ang I Lama, seorang tokoh Lama yang amat mereka kenal dan masih terhitung paman seperguruan mereka.

“Susiok…,” keduanya berlutut dan segera memeriksa.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati mereka melihat bahwa paman guru mereka itu terluka pada lambungnya, luka yang kini membengkak besar sekali, tanda bahwa selain luka itu parah, juga bahwa luka itu tidak terawat selama beberapa hari sehingga membengkak. Melihat keadaan luka itu dan wajah paman guru mereka yang membiru, dua orang pendeta ini dengan sedih mengetahui bahwa keadaan paman guru mereka sudah payah dan sukar untuk dapat diselamatkan nyawanya.

“Susiok, apa yang telah terjadi? Mengapa susiok bisa terluka seperti ini?” tanya pendeta pertama. “Susiok, siapa yang melakukan ini?” tanya pendeta ke dua.

Akan tetapi keadaan Ang I Lama telah demikian payah. Napasnya tinggal satu-satu dan sukar sekali baginya untuk mengeluarkan suara walau pun mulutnya bergerak-gerak. Akan tetapi, di dalam batin Ang I Lama, sedikit pun tidak ada rasa dendam terhadap Sin-kiam Mo-li, maka tidak ada sedikit pun niat di hatinya untuk memberi tahu kepada orang lain siapa yang telah melukainya.

Keinginan hatinya adalah untuk memberi tahu kepada Kao Cin Liong dan Suma Hui di mana adanya anak mereka yang diculik orang itu. Akan tetapi sukar sekali mulutnya mengeluarkan kata-kata dan dengan pengerahan tenaga terakhir dia pun memaksa diri untuk menyampaikan isi hatinya itu kepada dua orang pendeta Lama ini.

Akhirnya dapat juga dia mengeluarkan suara lirih sehingga dua orang pendeta Lama itu harus mendekatkan telinga mereka agar dapat menangkap lebih jelas. “… Kao Cin Liong dan isterinya… mereka… cepat… ouhhh…” kakek itu terkulai dan napasnya pun terhenti. Dia mengerahkan tenaga terlalu banyak namun tidak kuat melanjutkan kata-katanya.

Dua orang pendeta Lama itu saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka pun tentu saja mengenal siapa yang bernama Kao Cin Liong itu, seorang yang dikenal baik oleh para pendeta Lama karena pernah memimpin pasukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan di barat. Panglima Kao amat terkenal dan tentu saja mereka kini terkejut dan heran mendengar disebutnya nama panglima itu dan isterinya sebagai pembunuh Ang I Lama!

Kedua orang pendeta itu merasa betapa penting dan gawatnya urusan, maka setelah menyempurnakan jenazah Ang I Lama dengan membakarnya, kemudian membawa abu jenazah itu, pergi meninggalkan tempat pertapaan mereka dan cepat mereka menuju ke Tibet. Di depan para pimpinan Lama, mereka lalu menceritakan pengalaman mereka ketika menemukan Ang I Lama dalam keadaan sekarat sampai meninggal dunia karena luka parah di lambungnya.

Ketika para pimpinan Lama mendengar bahwa pesan terakhir dari Ang I Lama adalah nama Kao Cin Liong dan isterinya, para pimpinan Lama itu saling pandang. Mereka teringat bahwa belum lama ini, suami isteri itu memang datang kepada mereka dan menanyakan di mana adanya Ang I Lama! Mereka melihat sikap isteri pendekar bekas panglima itu jauh dari pada lembut, bahkan agaknya nyonya itu marah sekali terhadap Ang I Lama.

Dan kini muncul dua orang pendeta Lama yang menceritakan bahwa Ang I Lama tewas dengan luka di lambungnya. Pada hal, Ang I Lama adalah seorang pendeta Lama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Tidak sembarang orang akan dapat melukainya, dan pula, pendeta itu adalah seorang yang halus budi dan tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun juga. Siapa lagi kalau bukan suami isteri pendekar itu yang telah membunuhnya? Mungkin karena Ang I Lama masih sute dari Sai-cu Lama seperti yang ditanyakan oleh isteri pendekar itu.

“Hemm, kita tak boleh tinggal diam saja. Tanpa sebab mereka telah membunuh seorang yang hidup bersih dan suci seperti Ang I Lama. Jika hal ini kita diamkan saja, bukankah semua orang lalu memandang rendah kepada kita, para Lama? Kita dapat membiarkan seorang Lama seperti Sai-cu Lama dibasmi dan dibunuh sekali pun tanpa sedikit juga campur tangan. Akan tetapi kalau sampai seorang seperti saudara Ang I Lama dibunuh tanpa dosa, benar-benar merupakan hal yang penuh dengan penasaran. Kita harus bertindak terhadap mereka!”

“Akan tetapi mereka adalah pendekar-pendekar yang terkenal sakti dan budiman! Apa lagi kita semua mengenal siapa adanya Kao Cin Liong, bekas panglima yang gagah perkasa!” kata Lama ke dua.

“Kita tidak perlu takut demi membela kebenaran!” kata Lama ke tiga.

Ketua para Lama menarik napas panjang mendengar pendapat para pembantunya. “Omitohud, semoga Sang Buddha menerima saudara Ang I Lama sesuai dengan amal kebaikannya sewaktu dia hidup. Kita memang tidak boleh tinggal diam, juga kita tidak perlu merasa takut untuk menghadapi ketidak adilan, akan tetapi bagaimana pun juga, kita harus bertindak dengan hati-hati dan tidak menurutkan nafsu amarah. Kita harus ingat bahwa kita berhadapan dengan keturunan orang-orang besar. Kao-taihiap adalah keturunan dari keluarga Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sedangkan isterinya adalah keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es. Kita sama sekali tidak menghendaki kalau kita sampai menanam permusuhan dengan kedua keluarga itu. Karena itu, jalan satu-satunya hanyalah mencari seorang perantara untuk menuntut keadilan kepada keluarga mereka, terutama sekali keluarga Gurun Pasir mengingat bahwa Kao-taihiap adalah putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.”

Mendengar ucapan ketua mereka ini, para pendeta Lama merasa setuju. Bagaimana pun juga, mereka percaya bahwa keluarga para pendekar itu adalah orang-orang yang selalu menjunjung kebenaran dan keadilan. Kalau peristiwa pembunuhan terhadap diri Ang I Lama yang tak berdosa ini sampai dilaporkan kepada Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, tentu orang sakti itu akan bertindak adil walau terhadap puteranya sendiri sekali pun.

Mereka lalu mengadakan perundingan dan mengingat bahwa mungkin sekali urusan yang timbul antara Ang I Lama dan Kao Cin Liong berdua itu ada hubungannya dengan mendiang Sai-cu Lama, maka semua pendeta Lama setuju untuk kedua kalinya minta bantuan sahabat mereka, yaitu Tiong Khi Hwesio. Bukankah Tiong Khi Hwesio yang bersama para pendekar membasmi komplotan Sai-cu Lama?

Karena agaknya urusan kematian Ang I Lama ini merupakan lanjutan dari pembasmian komplotan Sai-cu Lama, maka orang perantara yang mereka anggap paling tepat ialah Tiong Khi Hwesio. Apa lagi ketua Lama mengetahui bahwa antara Tiong Khi Hwesio dan keluarga Gurun Pasir masih terdapat ikatan yang amat erat.

“Kalau tidak keliru, ikatan keluarga antara Tiong Khi Hwesio dan isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir,” demikian katanya.

Kenyataan ini mempertebal kepercayaan para pendeta Lama bahwa Tiong Khi Hwesio memang merupakan orang yang paling tepat sebagai perantara menuntut keadilan ke Gurun Pasir.

Tiong Khi Hwesio kemudian dihubungi. Pendeta ini semenjak kembali dari menunaikan tugasnya yang berhasil baik, telah kembali ke tempat pertapaannya, di dalam sebuah pondok sederhana di puncak sebuah bukit di Pegunungan Himalaya. Dia merasa heran, tetapi juga tidak menolak ketika seorang pendeta Lama menyadarkannya dari pertapaan dan menyampaikan undangan para pimpinan Lama supaya dia suka datang ke Lhasa karena ada urusan yang amat penting.

Setelah hwesio tua ini tiba di depan para pendeta Lama, dia disambut dengan amat ramah. Melihat wajah yang penuh kedamaian dari pendeta ini, para pimpinan Lama merasa tidak enak hati sendiri. Akan tetapi urusan yang mereka hadapi teramat penting maka mereka mengesampingkan semua perasaan tidak enak dan pimpinan para Lama segera menceritakan kepada Tiong Khi Hwesio tentang peristiwa yang terjadi.

Tentang kematian Ang I Lama terbunuh orang, tentang suami isteri Kao Cin Liong yang sebelumnya datang minta keterangan dari para Lama tentang Ang I Lama. Kemudian para pimpinan Lama menyatakan pendapat mereka yang juga merupakan tuduhan mereka bahwa suami isteri pendekar itulah yang membunuh Ang I Lama.

“Saudara Tiong Khi Hwesio tentu sudah mengenal siapa adanya Ang I Lama, yang sudah sejak puluhan tahun hidup bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan dunia sehingga tidak mungkin menanam permusuhan dengan siapa pun juga. Akan tetapi, beberapa hari sebelum dia terbunuh, pendekar Kao Cin

Liong dan isterinya datang ke sini minta keterangan tentang Ang I Lama. Dan melihat sikap mereka, terutama sekali isteri Kao-taihiap, jelas bahwa mereka sedang marah atau tidak suka kepada Ang I Lama yang mereka ketahui adalah sute dari Sai-cu Lama. Tidak lama setelah mereka berdua pergi mencari Ang I Lama, ternyata ia pun sudah dibunuh orang dan sebelum menghembuskan napas terakhir, Ang I Lama hanya dapat menyebutkan nama Kao Cin Liong dan isterinya. Semua ini kami anggap sudah cukup kuat untuk dapat menjadi bukti kebenaran pendapat kami bahwa mereka berdua yang sudah membunuh Ang I Lama. Terutama harus diingat bahwa Ang I Lama memiliki kepandaian yang tinggi, dan hanya orang-orang seperti suami isteri itu sajalah yang kiranya akan mampu membunuhnya.”

Tiong Khi Hwesio mengerutkan alisnya. Tak disangkanya bahwa dia akan menghadapi urusan seperti itu. Memang semua alasan para pimpinan Lama ini masuk di akal, dan bagaimana pun juga, Kao Cin Liong masih terhitung keponakannya sebab ibu kandung pendekar itu, Wan Ceng, adalah adik tirinya seayah berlainan ibu.

Dengan sikap tenang Tiong Khi Hwesio menanti sampai keterangan para Lama itu selesai, barulah dia bicara, sikapnya masih tenang, suaranya halus. “Lalu apa maksud para saudara Lama sekarang mengundang pinceng datang ke sini. Apa yang dapat pinceng lakukan dalam urusan ini?”

“Kami sedang merasa bingung. Urusan pembunuhan ini tidak mungkin didiamkan saja. Akan tetapi kami pun tidak ingin menanam permusuhan dengan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir, maka kami pun teringat kepada saudara Tiong Khi Hwesio yang menjadi saudara kami yang amat baik. Terutama sekali bila mengingat akan adanya tali kekeluargaan saudara dengan mereka, maka kami mengharapkan bantuan saudara untuk menjadi perantara di antara kami dan mereka untuk menuntut keadilan.”

Tiong Khi Hwesio mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. Dalam usia yang sudah tua ini, yang ingin dihabiskannya dalam kedamaian dan ketenteraman, ternyata masih ada saja urusan yang mengejarnya. Akan tetapi, semua itu dianggapnya sudah sewajarnya, maka dia pun tak mengeluh dan tidak pula merasa penasaran atau kecewa.

“Omitohud…, kehendak Thian jadilah! Pinceng akan pergi menemui keluarga itu untuk membicarakan urusan ini.”

Para pimpinan Lama merasa lega. Kalau tidak ada Tiong Khi Hwesio yang menjadi perantara, mereka khawatir kalau-kalau akan terjadi permusuhan yang semakin hebat. Para pimpinan maklum bahwa banyak di antara pendeta Lama yang masih belum dapat menguasai dorongan perasaan sehingga kematian Ang I Lama itu dapat menimbulkan kemarahan dan dendam yang besar.

Beberapa hari kemudian, Tiong Khi Hwesio pergi meninggalkan Pegunungan Himalaya menuju ke timur. Ia berjalan seorang diri seperti orang melamun. Ia melihat kenyataan yang amat aneh dalam kehidupan ini.

Seorang seperti Ang I Lama, bagaimana pula sampai tertimpa mala petaka seperti itu, dibunuh orang? Pada hal, dia tahu benar bahwa Ang I Lama adalah seorang pendeta yang sejak puluhan tahun sudah mundur dari semua urusan dan keramaian dunia, tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun juga, bahkan tidak pernah meninggalkan tempat-tempat yang sunyi dan sepi.

Hidup dan mati adalah urusan Tuhan. Manusia tidak menguasai kedua hal itu. Manusia hanya wajib mengisi kehidupan dan tergantung dari dirinya sendirilah akan bagaimana jadinya dengan hidupnya. Dia sendirilah yang akan mewarnai kehidupannya. Namun bukan dia yang menentukan segalanya.

Betapa pun pandainya seseorang, betapa pun kuatnya seseorang, dia tidak mungkin dapat mempertahankan hidupnya jika Tuhan sudah menghendaki kematiannya. Namun, hal ini bukan berarti bahwa kita lalu begitu saja ‘menyerahkan nasib’ kepada Tuhan. Ini sama saja dengan mempersatukan Tuhan demi untuk kepentingan diri sendiri, bahkan condong untuk memperbudak kekuasaan tertinggi di alam mayapada ini.

Tidak ada kekuasaan apa pun di dunia ini yang akan mau menolong kita kalau kita sendiri tidak mau menolong diri sendiri, karena sesungguhnya di dalam diri kita terdapat pula kekuasaan itu, melalui panca indriya kita, melalui pikiran kita, melalui seluruh urat syaraf di tubuh kita. Semua kekuasaan itu sudah ada pada kita, maka kalau tidak kita pergunakan, tentu saja tidak ada lagi kekuasaan yang akan menolong diri kita.

‘Percaya kepada Tuhan’ atau yang lazimnya disebut iman bukan hanya permainan lidah belaka, seperti yang kita lihat dalam kehidupan kita ini. Iman tanpa perbuatan hanya merupakan kemunafikan terselubung saja. Sebaliknya, perbuatan tanpa iman, dalam arti kata kesadaran sepenuhnya, keyakinan sedalamnya akan kekuasaan tertinggi yang menentutan segala-galanya, maka perbuatan itu akan bisa menyeleweng tanpa kemudi, hanya didorong oleh naluri dan kepentingan diri sendiri, sama saja dengan perbuatan binatang-binatang yang tidak memiliki akal budi dan pikiran.

Kalau kita ingin berhasil, kita harus bertindak. Kalau ingin selamat, harus menjaga diri. Dan apa bila semua itu sudah kita lakukan, namun ternyata akhirnya gagal, maka kita harus mencari sebab kegagalan itu dalam diri sendiri! Karena semua hal baik mau pun kegagalan bersumber dari diri sendiri, bukan karena kesalahan orang lain, dan adalah licik untuk berkeluh kesah dan melontarkan semua ratapan kepada Tuhan, seolah-olah Tuhan yang bertanggung jawab atas kegagalan kita!

Kalau ada kegagalan, tentu ada kesalahan dalam tindakan kita, walau pun mungkin saja mata kita tidak melihat adanya kesalahan itu. Kita selalu condong untuk membenarkan diri sendiri. Kita merasa amat sulit untuk mengoreksi diri, untuk meneliti tindakan sendiri, untuk menemukan kesalahan dalam diri sendiri.

Cara yang ditempuh Tuhan kadang-kadang bahkan sering kali sukar untuk dimengerti oleh akal manusia yang amat terbatas ini. Kita biasanya hanya menerima segala akibat penempuhan cara yang penuh rahasia itu, kalau menyenangkan kita bersyukur, kalau menyusahkan kita mengeluh, karena semua pendapat kita didasari untung-rugi bagi diri sendiri. Padahal, belum tentu kalau sesuatu yang kita anggap buruk menimpa diri kita itu memang benar buruk. Belum tentu!

Banyak sudah buktinya bahwa peristiwa buruk yang menimpa kita itu justru merupakan penghindaran yang luar biasa pada diri kita dari ancaman bahaya yang lebih hebat lagi! Seperti sebuah operasi pada tubuh kita, nampaknya menyusahkan, padahal operasi itu penting sekali untuk melenyapkan penyakit yang jauh lebih ganas yang ada pada diri kita.

Oleh karena itu, orang bijaksana selalu akan menerima segala macam peristiwa yang menimpa dirinya tanpa menilainya sebagai baik mau pun buruk, selalu menerima apa adanya tanpa membanding- bandingkan, dengan penuh kesadaran bahwa segala yang terjadi sudah dikehendaki oleh Tuhan, maka sudah wajarlah!

Orang bijaksana akan selalu mengerti dan yakin bahwa ‘semua kehendak Tuhan jadilah’ sementara dia selalu waspada akan segala perbuatannya, lahir batin, termasuk jalan pikirannya, ucapannya, gerak- geriknya. Tidak menginginkan atau menyesali yang sudah lalu, tidak mengharapkan atau menjauhi hal yang belum datang. Bahkan sama sekali tidak memusingkan masa lalu dan masa depan, melainkan sepenuhnya hidup saat ini, sekarang ini, detik demi detik.

Semua hal inilah yang menjadi isi batin Tiong Khi Hwesio ketika dia berjalan seorang diri dengan tenangnya. Kewaspadaannya membuat ia dapat melihat segala hal yang terjadi di dalam dirinya, di luar dirinya dan apa yang terjadi dalam kehidupan manusia pada umumnya di dunia ini.

Dia melihat kepalsuan-kepalsuan menyelimuti hampir seluruh sendi kehidupan manusia, kebaikan- kebaikan palsu karena kebaikan-kebaikan itu dilakukan orang sebagai cara untuk memperoleh sesuatu sebagai imbalan, kehormatan dipuja-puja, agama dipakai sebagai alat untuk mencapai kemenangan, dipakai untuk menutupi kebencian yang membakar batin terhadap golongan lain, dipakai untuk menangkat diri dan golongan sendiri ke tempat yang lebih tinggi dan bersih, dipakai untuk mencemooh mereka yang dianggap kotor dan lebih rendah.

Kesucian digunakan sebagai kebersihan pakaian yang membungkus diri, yang dianggap akan dapat menyucikan dan membersihkan tubuh yang sebenarnya kotor. Peradaban menjadi hal yang paling tidak beradab, namun menang karena disahkan oleh umum. Kesopanan hanya sebatas kulit, kesopanan terletak pada pangkat, pakaian, senyum dan ucapan belaka.

Tidak pernah lagi ada kesatuan antara pikiran, ucapan dan perbuatan. Apa yang dipikir lain dari apa yang di ucapkan, dan apa yang diucapkan tidak cocok dengan apa yang diperbuat. Kemunafikan dan kepalsuan di mana-mana. Tidak ada lagi cinta kasih yang tulus ikhlas, tanpa memihak, tanpa memilih, yang ada hanyalah cinta nafsu, cinta yang didorong demi kepentingan, demi kesenangan diri pribadi.

Dia bahkan melihat betapa orang-orang melarikan diri ke goa-goa, ke gunung-gunung atau mengubur diri di dalam kelenteng atau kuil-kuil, menyiksa diri, tapi sebagian besar di antara mereka itu melakukan semua itu hanya sebagai cara untuk memperoleh sesuatu yang mereka harap-harapkan, tentu saja sesuatu yang akan menyenangkan hati mereka, akan memberi kepuasan terhadap keinginan mereka.

Atau ada pula yang melakukan hal itu karena ingin melarikan diri dari kehidupan yang membuat mereka muak, berduka, kecewa dan sakit hati. Dan tentu saja pelarian ini pun merupakan cara untuk mencari sesuatu yang lebih menyenangkan! Semua perbuatan manusia sudah menjadi palsu karena selalu menyembunyikan pamrih demi kepentingan dan kesenangan diri pribadi.

“Ya Tuhan, apa akan jadinya dengan kita para manusia ini?” Akhirnya Tiong Khi Hwesio berbisik dalam hatinya. “Mungkinkah kita mampu menanggalkan semua kepalsuan dan kemunafikan itu, melenyapkan semua pamrih mencari kesenangan dan kepuasan diri pribadi itu, dan menanggalkan semuanya sehingga kita dapat menghadap Tuhan dalam keadaan telanjang, dalam keadaan kosong sama sekali? Mungkinkah kita menjadi diam dan kosong hingga menjadi jernih, sehingga sinar-Mu dapat menembus dan memasuki batin. Sehingga kita mengenal cinta kasih yang suci murni?”

Angin bersilir menimbulkan suara bisik-bisik pada daun-daun di pepohonan. Tiong Khi Hwesio menghentikan langkah, menengadah dan memandang daun-daun pohon yang bergoyang-goyang. Bagaikan menari-nari sambil saling bergeseran menimbulkan suara bisik-bisik seperti berdendang dan dia pun tersenyum…..

********************

Sim Houw dan Bi Lan telah tiba di daerah Tembok Besar. Bi Lan telah bersikap biasa kembali, merupakan seorang gadis yang bagi Sim Houw sukar untuk dijajaki isi hatinya. Kadang Sim Houw seperti melihat dengan jelas bahwa gadis itu membalas perasaan hatinya, membalas cintanya. Ada kemesraan yang hangat dalam senyum dan pandang matanya, namun Sim Houw membantah sendiri kenyataan ini. Tak mungkin, katanya.

Bagaimana mungkin seorang gadis remaja seperti Bi Lan, yang usianya tidak akan lebih dari delapan belas atau sembilan belas tahun dapat jatuh cinta kepada dia yang sudah menjelang tua? Usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun! Bi Lan tentu memandang dia sebagai seorang sahabat baik, bahkan mungkin sebagai seorang kakak yang selalu melindunginya!

Kalau dia mempunyai pikiran yang bukan-bukan, bagaimana nanti pendapat Bi Lan? Bukankah dia seakan- akan menjadi pagar makan tanaman, seorang pelindung yang hendak mengganggu gadis yang dilindunginya? Tidak, dia tidak akan melakukan hal itu, sampai mati pun tidak! Kecuali kalau memang Bi Lan cinta padanya, akan tetapi, tak mungkin hal itu terjadi.

Kedukaan kadang-kadang melanda hati Sim Houw, akan tetapi hanya sebentar karena saat melihat kelincahan dan kegembiraan Bi Lan yang jenaka, lenyaplah kedukaannya. Bagaimana pun juga, melakukan perjalanan bersama gadis itu, pahit mau pun manis dialami bersama Bi Lan, merupakan kebahagiaan yang menghapus segala duka dan keprihatinan hatinya. Dia tidak akan memikirkan hal lain, takkan memikirkan hal yang belum terjadi, apa akan jadinya kelak. Yang penting, sekarang Bi Lan selalu berada di sampingnya dan itu sudah cukup baginya!

Musim salju baru saja lewat dan kini mereka memasuki bulan musim semi. Walau pun pemandangan amat indah dan bunga-bunga sudah mulai ada yang berkembang, tetapi musim salju masih meninggalkan hawa dingin menyusup tulang. Sering kali, walau pun sudah mengenakan pakaian tebal dan sudah mengerahkan sinkang untuk melawan hawa dingin, tetap saja Bi Lan merengek kedinginan sehingga terpaksa Sim Houw yang merasa kasihan menghentikan perjalanan untuk membuat api unggun, biar pun pada tengah hari.

Karena itu perjalanan menjadi amat lambat dan baru setelah mereka tiba di daerah Tembok Besar, hawa tidak begitu dingin seperti ketika mereka melalui puncak-puncak pegunungan yang tinggi. Berkali-kali Bi Lan berhenti untuk menikmati pemandangan yang amat ajaib. Tembok Besar itu nampak seperti seekor naga, memanjang dari barat ke timur seperti tiada habisnya. Nampak indah dan kokoh kuat.

Setelah hari menjadi malam baru mereka mencapai Tembok Besar dan hawa kembali menjadi amat dinginnya di malam hari itu. Mereka berlindung di bawah tembok dan Sim Houw segera membuat api unggun, memanggang bekal makanan yang terdiri dari roti kering dan daging kering. Setelah makan dan minum secara sederhana, mereka lalu duduk beristirahat di dekat api unggun.

“Begini sunyi…,” kata Bi Lan dan tubuhnya agak menggigil, bukan akibat kedinginan lagi karena api unggun itu bernyala dengan indahnya, melainkan merasa ngeri juga.

Ia berada di dalam alam yang begitu luasnya hanya bersama Sim Houw, seolah-olah mereka berdua sajalah manusia-manusia yang hidup di dunia ini. Sunyi dan kadang-kadang terdengar suara-suara binatang yang aneh-aneh, yang belum pernah didengar sebelumnya. Ketika terdengar bunyi lolong yang mengerikan dan panjang berkali-kali, seperti saling sahut dari sebelah kanan dan kiri, Bi Lan berbisik.

“Toako… suara apakah itu?”

Sim Houw menatap wajah yang cantik kemerahan di bawah sinar api unggun itu sambil tersenyum. “Itulah suara serigala-serigala yang berkeliaran di daerah ini, Lan-moi.”

“Serigala? Aku pernah mendengar namanya akan tetapi belum pernah melihatnya.”

“Seperti seekor anjing biasa, tidak berapa besar, namun dia adalah anjing liar yang buas. Lebih kuat dan tangkas dari pada anjing biasa karena sejak lahir berada di alam bebas yang mempunyai hukum rimba, sudah biasa dengan perkelahian mati-matian, baik untuk membela diri mau pun untuk mencari makan.”

Bi Lan menarik napas lega. “Suaranya demikian mengerikan, ternyata hanya seperti seekor anjing biasa, sama sekali tidak berbahaya.”

Kembali Sim Houw tersenyum dan suaranya terdengar lembut, bukan untuk menakut-nakuti ketika dia memperingatkan, “Moi-moi, biar pun serigala hanya merupakan seekor anjing biasa, namun dia jauh lebih berbahaya dari pada anjing. Selain kuat dan tangkas, yang paling berbahaya adalah karena mereka licik dan cerdik, juga biasanya hanya menyerbu dengan gerombolan yang cukup banyak. Karena itu, binatang lain yang lebih besar dan kuat, takut menghadapi serigala. Bahkan harimau pun akan lari menjauhkan diri, takut dikeroyok.”

Bi Lan terbelalak dan kembali ia menoleh ke kanan kiri dengan sikap ketakutan. Hal ini menggelikan hati Sim Houw dan dia pun berkata, “Lan-moi, kalau serigala-serigala itu mengenalmu, tentu mereka yang akan menggigil ketakutan.”

“Aku ngeri membayangkan kelicikan mereka. Mereka itu seperti segerombolan orang jahat yang curang dan licik, yang beraninya hanya melakukan pengeroyokan.”

“Memang, dan di dunia kang-ouw, orang-orang macam itu memang ada yang disebut sebagai gerombolan serigala.”

Mendadak suara lolong serigala itu berubah menjadi suara gonggongan dan menyalak-nyalak yang riuh, seolah ada banyak anjing yang marah-marah dan menggonggong secara berbareng, tidak seperti tadi, melolong saling sahut. Mendengar ini, Sim Houw mengerutkan alisnya. Sebagai keturunan ahli-ahli pemburu binatang buas dia pun dapat menduga apa artinya suara riuh rendah itu.

“Celaka, mereka telah menyerbu sesuatu. Mari kita lihat!” kata Sim Houw.

“Ihh, untuk apa melihat? Paling-paling mereka itu sedang mengeroyok seekor binatang buas yang lebih besar.”

“Siapa tahu? Aku khawatir kalau-kalau mereka itu mengeroyok manusia yang perlu kita tolong. Lihat, bulan sudah muncul dan cuaca tidak begitu gelap. Kita dapat mencari ke arah suara hiruk-pikuk itu.”

“Mana ada manusia di tempat seperti ini, toako?”

“Engkau tidak tahu. Biar pun jarang, kadang-kadang ada saja rombongan saudagar yang berlalu-lalang di sini, yaitu mereka yang membawa barang dagangan keluar dan masuk Tembok Besar. Marilah.”

Mereka lalu menggendong buntalan pakaian mereka dan memadamkan api unggun. Dengan Sim Houw berada di depan dan Bi Lan di belakangnya, mereka lalu berloncatan dengan hati-hati, menuju ke arah suara hiruk-pikuk yang terdengar di sebelah timur. Mereka menyusuri sepanjang Tembok Besar karena suara ribut-ribut itu terdengar di sebelah dalam tembok, bukan di luar.

Akhirnya, setelah mendengar betapa suara gonggongan serigala itu kini bercampur dengan suara menguik dan ketakutan sehingga Sim Houw menduga tentu binatang-binatang itu mengeroyok seekor binatang lain yang kuat, mereka tiba di tempat terbuka, di kaki tembok.

Masih nampak ada api unggun kecil menyala di dekat kaki tembok, dan tidak jauh dari situ, di atas rumput yang kuning dan baru bersemi setelah layu selama berbulan-bulan karena musim salju, nampaklah seorang laki-laki sedang dikepung dan dikeroyok oleh gerombolan anjing serigala yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh ekor! Melihat betapa di sekitar tempat itu terdapat banyak bangkai-bangkai serigala berserakan, dapat diketahui bahwa pengeroyok itu tadinya jauh lebih banyak lagi!

Bi Lan hendak meloncat untuk membantu, akan tetapi Sim Houw memegang lengannya. “Sssttt… lihat betapa gagahnya dia. Dia tidak membutuhkan bantuan…”

Bi Lan memandang dan ia pun menjadi kagum. Lelaki itu bertubuh tinggi tegap, berdiri kokoh, kuat di atas tanah. Lengan kanannya ditekuk dengan tangan di bawah pinggang, jari-jari tangan terbuka dan terlentang, lengan kirinya diangkat dengan tangan di depan dada, juga terbuka, kedua kaki terpentang lebar ke kanan kiri. Sedikit pun lelaki ini tidak bergerak walau pun serigala-serigala itu mengepungnya sambil menyalak- nyalak dan meringis memperlihatkan taring-taring yang runcing dan memandang dengan mata yang merah beringas dan buas.

Tiba-tiba dua ekor serigala menubruk dari arah belakang lelaki itu sambil mengeluarkan suara gerengan dahsyat.

“Licik…!” Bi Lan memaki lirih. “Bukk! Desss!”

Laki-laki itu memutar tubuhnya, seolah-olah di belakang kepalanya ada matanya yang melihat gerakan dua ekor binatang itu, kakinya menendang dan tangannya menyambar. Robohlah dua ekor binatang itu, berkelojotan dan berkuik-kuik seperti anjing-anjing kena gebuk.

“Bagus…!” Bi Lan memuji.

“Kau melihat gerakan itu? Dia murid Siauw-lim-pai atau setidaknya menguasai ilmu silat Siauw-lim-pai,” kata Sim Houw, juga kagum.

Laki-laki yang tidak dapat dilihat jelas mukanya karena cuaca tidak cukup terang itu memang gagah sekali. Sedikit pun dia tidak nampak gugup, tenang-tenang saja dia menanti serigala-serigala yang mengepungnya menyerang dari berbagai arah. Namun, setiap kali ada serigala yang menerjangnya, tentu disambut pukulan tangan miring atau tendangan dan sekali pukul atau satu kali tendang saja sudah cukup untuk membuat seekor serigala roboh dan tidak mampu bangun kembali.

Serigala-serigala itu agaknya tidak menjadi jera, mereka kini menerjang dari empat penjuru. Laki-laki itu nampak menggerakkan tubuh ke sana-sini sambil menendang dan menampar dan kini ada delapan ekor serigala yang terpelanting ke sana-sini. Barulah sisa gerombolan itu menjadi jeri, mereka mengeluarkan suara seperti menangis dan mundur-mundur, lalu melarikan diri sambil melolong-lolong, seolah-olah merasa kecewa dan menangisi kesialan mereka malam itu.

Laki-laki itu tidak mengejar, sejenak berdiri tegak memandang ke sekelilingnya. Tidak kurang dari lima belas ekor anjing serigala yang berserakan menjadi bangkai di sekitar tempat itu, ada pula yang masih berkelojotan lemah. Laki-laki itu lalu melompat dan memanjat naik ke atas tembok sambil menatap bulan yang sudah naik agak tinggi di timur.

Sim Houw dan Bi Lan hanya memandang dengan kagum. Betapa gagahnya laki-laki itu, seperti sebuah patung seorang pendekar yang gagah perkasa berdiri di tempat sunyi itu, diterangi sinar bulan. Tiba-tiba lelaki itu bicara dengan suara nyaring, kata-katanya jelas dan satu-satu, teratur seperti sajak.

Melihat kejam dan buasnya serigala mengganggu dan membunuh orang tak berdosa kenapa tidak turun tangan dan membasminya? Penjajah lebih kejam dari pada serigala mencekik dan menindas rakyat jelata

mengapa orang-orang gagah tidak bangkit dan mengusirnya?

Mendengar ucapan itu, Sim Houw dan Bi Lan merasa disindir. Jangan-jangan laki-laki itu memang sengaja menyindir mereka! Memang selama ini Sim Houw mendengar akan adanya orang-orang gagah, terutama dari Siauw-lim-pai, yang mengadakan gerakan, bangkit menentang pemerintah penjajah. Gerakan ini mereka namakan ‘berjuang untuk kemerdekaan rakyat’.

Tentu saja pihak pemerintah menganggapnya sebagai pemberontakan-pemberontakan kecil dan semua gerakan itu ditindas oleh pasukan besar sehingga sampai demikian jauh, belum ada gerakan yang berhasil.

Mereka berdua, Sim Houw dan Bi Lan, tidak pernah mencampuri urusan itu. Dan kalau baru-baru ini mereka membantu para pendekar untuk membasmi komplotan Sai-cu Lama yang menjadi kaki tangan pembesar lalim Hou Seng, maka hal itu mereka lakukan tanpa ada hubungannya sama sekali dengan pemerintahan, melainkan semata-mata karena mereka memusuhi komplotan jahat itu.

Selagi Bi Lan hendak keluar dari tempat persembunyiannya, tiba-tiba saja Sim Houw memegang lengannya dan memberi tanda agar gadis itu tidak bergerak, kemudian dia menuding ke depan. Bi Lan mengikuti arah yang ditunjuk dan kini ia pun dapat melihat bergeraknya beberapa bayangan orang ke arah tembok. Kemudian, nampak lima sosok tubuh yang bergerak dengan gesitnya, berloncatan ke atas tembok besar itu dan di tangan mereka nampak pula senjata tajam berkilauan tertimpa sinar bukan. Akan tetapi bukan itu saja, masih nampak bayangan banyak orang di bawah tembok. Sim Houw dan Bi Lan mengintai dan memandang dengan hati tertarik.

“Lie Tek San, engkau sudah kami kepung! Menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!” Seorang di antara lima penyerbu itu membentak.

Di bawah sinar bulan, nampak lima orang tua yang berpakaian sebagai perwira-perwira kerajaan. Tahulah Sim Houw dan Bi Lan bahwa laki-laki itu telah dikepung oleh pasukan pemerintah, entah berapa jumlah mereka. Sim Houw juga kaget mendengar disebutnya nama Lie Tek San itu.

Dia pernah mendengar bahwa Lie Tek San adalah seorang pendekar gagah perkasa yang melakukan gerakan menentang pemerintah, menentang penjajah Bangsa Mancu. Ia hanya mendengar bahwa Lie Tek San ialah seorang pendekar dari daerah Hok-kian, seorang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang di antara mereka yang berhasil lolos ketika pemerintah menyerbu dan membakar kuil Siauw-lim-si. Biar pun Sim Houw tak pernah mencampuri urusan perjuangan menentang pemerintah, tetapi diam-diam hatinya telah merasa kagum terhadap pendekar itu, maka kini dia memandang dengan hati tegang.

Laki-laki tinggi tegap yang disebut Lie Tek San itu kini menghadapi kelima orang tadi, sikapnya tenang dan tetap gagah. Sejenak dia memandang mereka, kemudian tertawa. “Ha-ha-ha, kalian minta aku menyerah? Dengarlah, Lie Tek San telah bersumpah untuk menentang kaum penjajah, melepaskan bangsaku dari cengkeraman kuku penjajah Mancu dan kalian minta aku menyerah? Ha-ha-ha!”

Pemimpin rombongan itu membentak, “Lie Tek San, berbulan-bulan kami mencarimu. Engkau pemberontak hina, kami harus menangkapmu hidup atau mati dan menyeretmu untuk dihadapkan pada pengadilan yang akan menghukum seorang pemberontak hina!”

Sambil bertolak pinggang, Lie Tek San menjawab, suaranya amat lantang dan ini saja membuktikan bahwa dia memiliki tenaga khikang yang kuat. “Mendengar suaramu, engkau tentu seorang Han. Akan tetapi engkau merendahkan diri menghamba pada penjajah Mancu! Apakah sudah tidak ada lagi darah Han mengalir di dalam tubuhmu? Apakah engkau tidak melihat betapa bangsa kita diinjak-injak selama berpuluh-puluh tahun oleh orang-orang Mancu? Ingat baik-baik. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dengan jumlah yang amat banyak. Menurut sejarah, karena Bangsa Han dipimpin oleh orang-orang yang hanya mengejar kesenangan, dan karena perpecahan antara bangsa sendiri, maka bangsa kita yang besar sampai dapat ditundukkan dan dikuasai, dijajah oleh Bangsa Mancu, suku bangsa yang jumlahnya kecil itu, suku bangsa yang biadab dan terbelakang. Ratusan juta Bangsa Han yang mendiami tanah air yang amat luas dapat diperhamba oleh sekelompok orang Mancu sampai seratus tahun lebih! Mengapa bisa demikian? Tak lain karena adanya anjing-anjing penjilat macam engkau inilah yang sudah membantu penjajah Mancu untuk menginjak-injak bangsa sendiri. Tidak malukah engkau kepada nenek moyangmu dan anak cucumu kelak yang akan mengutuk dan memaki-maki namamu?” Suara Lie Tek San penuh semangat dan kemarahan.

Sim Houw dan Bi Lan yang sedang mencuri dengar, merasa betapa bulu tengkuknya meremang, merasa seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada mereka.

“Lie Tek San pemberontak hina! Engkau melawan pemerintah yang sah!” Si kumis tebal yang menjadi pemimpin pasukan itu, membentak marah.

“Pemerintah penjajah Mancu kau bilang sah? Siapa yang mengesahkan? Anjing-anjing penjilat macam kau? Tak tahu malu!”

“Tangkap pemberontak ini!” Si kumis tebal berteriak.

Mereka berlima telah mengurung orang tinggi besar yang gagah itu dengan golok besar di tangan. Mereka mengurung dengan membentuk ngo-eng-tin (barisan lima unsur). Dengan rapi dan dengan gerakan ringan mereka mengepung dan siap menyerang, menutup semua jalan keluar.

Melihat gerakan dan barisan ini, Lie Tek San berseru nyaring, suaranya penuh teguran dan ejekan.

“Kiranya kalian ini yang terkenal dengan julukan Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga dari Sungai Huang-ho), bukan? Kalian adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, orang-orang Han asli yang telah sudi merendahkan diri menjadi anjing-anjing penjilat para penjajah Mancu. Menjijikkan sekali! Kalian hanya mengotorkan nama Bu-tong-pai yang besar!”

Lima orang itu memang benar Huang-ho Ngo-liong yang namanya terkenal sekali di sepanjang lembah Huang-ho dan mereka adalah murid-murid Bu-tong-pai yang berilmu tinggi. Mendengar makian itu, mereka menjadi semakin marah.

“Lie Tek San manusia sombong, pemberontak hina! Bu-tong-pai tak ada hubungan apa pun dengan kedudukan kami sebagai perwira, dan Bu-tong-pai juga bukan pemberontak macam Siauw-lim-pai!” Si kumis tebal itu menggerakkan goloknya menyerang, diikuti oleh empat orang pembantunya yang semua masih terhitung sute (adik seperguruan) sendiri.

Laki-laki tinggi besar yang baru saja dengan kedua tangan kosong membasmi serigala-serigala yang menyerbunya, kini menghadapi lima orang itu dengan tangan kosong pula. Dengan geseran-geseran kaki yang kokoh kuat dan cepat, tokoh Siauw-lim-pai ini mengelak dan membalas serangan dengan pukulan dan tendangan kaki. Akan tetapi, lima orang itu dapat bergerak saling bantu dengan rapi sekali, merupakan barisan lima orang yang saling melindungi dan saling memperkuat serangan.

Karena maklum bahwa lima orang pengeroyoknya ini sama sekali tak boleh disamakan dengan segerombolan serigala yang menyerang dengan buas tanpa perhitungan hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, melainkan merupakan pengeroyok-pengeroyok yang lihai dan berbahaya, Lie Tek San kemudian mainkan Ilmu Silat Kong-jiu-jip-pek-to (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan Seratus Golok). Tubuhnya bergerak amat gesitnya, menyelinap di antara sambar sinar golok dan berusaha untuk masuk ke dalam barisan dan mematahkan lingkaran yang saling melindungi itu.

Namun, lima orang murid Bu-tong-pai itu ternyata lihai bukan main dan betapa pun kuatnya Lie Tek San berusaha mengacaukan rangkaian lima batang golok itu, usahanya selalu gagal dan barisan lima golok itu menjadi semakin kuat dan berbahaya saja. Beberapa kali hampir saja tubuh pendekar Siauw-lim-pai itu tercium golok kalau saja ia tidak cepat melempar diri dan beberapa kali dia harus bergulingan. Akhirnya Lie Tek San meloncat sambil menggerakkan tangan dan nampak sinar berkilauan ketika ia telah mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang panjang.

Terdengar bunyi berdencingan nyaring saat pedang itu bergerak menangkis golok-golok yang datang bagaikan hujan. Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan kini perkelahian menjadi semakin seru terjadi di atas tembok yang lebar itu.

Si kumis tebal mengeluarkan aba-aba dan kini pasukan yang tadinya hanya mengepung dan menonton, mulai memperketat kepungan, bahkan banyak yang sudah naik ke atas tembok dan menggunakan bermacam senjata mereka, ada tombak, golok atau pedang, untuk mengeroyok Lie Tek San.

Pendekar Siauw-lim-pai itu mengamuk dengan pedangnya. Namun, jumlah pengeroyok terlalu banyak. Pasukan itu terdiri lebih dari lima puluh orang, dan merupakan pasukan istimewa yang bertugas mengadakan pembersihan di perbatasan.

Akan tetapi yang membuat Lie Tek San terdesak adalah Ngo-heng-tin yang dilakukan oleh Huang-ho Ngo- liong itu. Barisan lima orang ini ganas sekali, setelah kini dibantu oleh pasukan, gerakan mereka menjadi semakin tangkas dan kuat sehingga dua kali Lie Tek San tercium ujung golok pada pundak dan pahanya sehingga dua bagian tubuh itu terobek kulit dagingnya dan berdarah. Akan tetapi, biar pun dia telah terluka, Lie Tek San masih mengamuk terus dan sedikitnya sudah ada sepuluh orang anggota pasukan yang roboh oleh pedangnya.

Sementara itu, Sim Houw dan Bi Lan menonton perkelahian itu dengan hati tegang. Sejak tadi, mereka berdua mengadakan perundingan sambil mata mereka tak pernah meninggalkan perkelahian itu.

“Tidak semestinya kita mencampuri urusan perjuangan atau pemberontakan,” kata Sim Houw yang maklum betapa hati Bi Lan condong untuk membantu Lie Tek San. “Sangat tidak enak jika sampai dicap pemberontak kemudian menjadi orang buruan pemerintah. Kehidupan kita tidak akan leluasa lagi.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo