October 3, 2017

Suling Naga Part 2

 

 

“Ahh, enak saja! Di depan begitu banyak orang, bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Tentu tidak enak dan tidak baik. Sekarang, bantulah aku bagaimana baiknya agar aku dapat menebus rasa malu itu. Wanita itu menarik sekali, kau pun tentu akan setuju jika sudah melihatnya!”

 

“Ha-ha-ha, bunga simpanan di dalam taman yang dipelihara tentu saja cantik menarik. Jangan khawatir, sekarang pun aku dapat menculiknya. Kalau suaminya ribut-ribut akan kubunuh saja!”

 

“Jangan…!” Bong-ciangkun mencegah. “Peristiwa di pasar itu sudah diketahui banyak orang. Jika  sekarang isterinya diculik, tentu semua orang akan menuduhku. Sebaiknya diambil jalan halus agar wanita itu mau datang ke sini dengan suka rela, dan akan lebih menyenangkan lagi kalau ia mau melayani aku dengan suka rela. Aku sudah bosan dengan cara paksaan dan perkosaan.”

 

“Beres!” Kepala penjahat itu membual. “Ciangkun tadi mengatakan bahwa wanita itu memiliki seorang anak laki-laki? Nah, anak buahku akan menculik anak itu, kemudian kami akan minta kepada ibu anak itu datang sendiri menjemput anaknya ke sini. Nah, bukankah dengan ditangkapnya anak itu, si ibu akan dengan suka rela melayani segala hasrat ciangkun? Ha-ha-ha!”

 

Komandan itu tertawa bergelak dengan hati girang sampai perutnya bergoyang-goyang naik turun dan ke kanan kiri. “Bagus, bagus! Laksanakanlah dan hadiah-hadiahnya telah menanti untuk para anak buahmu.”

 

“Aih, kenapa ciangkun berkata demikian? Biarlah wanita itu merupakan hadiah dari kami buat ciangkun! Malam ini juga ia tentu akan datang menyembah-nyembah kaki ciangkun dan minta diajak tidur. Sebagai tebusan nyawa anaknya, ha-ha-ha-ha!” Mereka berdua tertawa-tawa. Coa Pit Hu, kepala penjahat itu, segera berpamit untuk mempersiapkan rencananya.

 

Siang hari itu, Gu Hok dan isterinya menjadi gelisah sekali pada saat mendengar dari beberapa orang anak tetangga bahwa Hong Beng yang sedang bermain-main dengan mereka, mendadak ditangkap oleh empat orang laki-laki yang tidak dikenal. Mulutnya disumbat dan dibawa lari oleh mereka!

 

“Hong Beng diculik penjahat!” demikian Gu Hok berpendapat dengan muka pucat. Dia merasa heran sekali. “Mengapa? Kita adalah keluarga miskin, perlu apa orang menculik anak kita?”

 

Isterinya juga merasa khawatir sekali dan sedikit pun tidak menghubungkan diculiknya anaknya itu dengan peristiwa pagi tadi di dalam pasar. Ia tidak menceritakan peristiwa itu kepada suaminya karena merasa tidak enak, takut suaminya akan marah dan ia tahu bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu terhadap kekurang ajaran seorang perwira seperti Bong-ciangkun.

 

“Apa yang harus kita lakukan? Ke mana kita harus mencari anak kita?” Dengan wajah pucat ibu yang kehilangan anaknya itu mengeluh.

 

Selagi ayah dan ibu ini kebingungan, seorang petani yang menjadi tetangga mereka tergopoh datang memberi tahu bahwa selagi bekerja di ladang, dia dihampiri seorang laki-laki tinggi kurus bermata sipit  yang mengatakan bahwa kalau keluarga Gu Hok menghendaki anaknya kembali dengan selamat, mereka harus menyediakan uang tebusan seratus tail perak dan yang mengantar uang itu untuk menebus anaknya haruslah ibu anak itu sendiri. Tidak boleh dikawali orang dan tidak boleh diantarkan orang lain atau ditemani orang lain. Kalau melanggar, anak itu akan dibunuh! Uang itu harus diantar malam nanti di tanah kuburan yang berada di tepi kota, tempat yang amat sunyi!

 

Tentu saja suami isteri itu menjadi kebingungan.

 

“Celaka!” kata Gu Hok. “Orang miskin seperti kita mana mampu menyediakan uang seratus tail perak?”

 

Akan tetapi sambil menangis isterinya membujuk-bujuknya agar mengumpulkan uang dari mana pun juga. “Biar pun tidak cukup seratus tail, cari dan kumpulkanlah uang itu, aku akan memohon kepada mereka agar suka meringankan beban itu, dan kalau anak kita sudah dikembalikan, biarlah kita cari kekurangan itu sedapat kita.”

 

Karena khawatir akan keselamatan anaknya. Gu Hok lalu mencari pinjaman ke sana sini dan akhirnya ia dapat mengumpulkan uang sebanyak dua puluh tail perak. Isterinya lalu membungkus uang itu dengan kain dan segera pergi meninggalkan rumah. Suaminya khawatir dan hendak menemaninya, akan tetapi isterinya melarang dengan keras.

 

“Suamiku, anak kita terancam nyawanya, kau jangan main-main,” katanya. “Bukankah mereka itu hanya menginginkan aku sendiri yang mengantarkan uang? Tentu mereka curiga, takut jika engkau membawa kawan-kawan dan menggerebek. Biarlah aku yang mengantarkan dan aku akan mohon kasihan kepada mereka.”

 

“Tapi, apakah tidak berbahaya kalau engkau pergi sendiri? Malam-malam begini ke kuburan yang begitu sunyi?” Suaminya meragu.

 

“Jangankan ke kuburan, biar pun ke neraka aku bersedia kalau untuk menyelamatkan anakku!”

 

Terpaksa Gu Hok membiarkan isterinya pergi sendiri dan dia menanti di rumah dengan hati tidak karuan rasanya. Melarang isterinya pergi, berarti dia menaruh nyawa anak tunggalnya dalam bahaya, sedangkan membiarkan isterinya pergi, membuat hatinya merasa khawatir dan tidak enak sekali.

 

Juga dia tak berani secara diam-diam membayangi isterinya karena dia mengerti bahwa penjahat-penjahat itu amat berbahaya dan tentu akan tahu kalau dia mengintai. Hal ini bukan hanya dapat membahayakan keselamatan anaknya yang sedang berada dalam cengkeraman penjahat, melainkan juga dapat membahayakan isterinya karena mereka merasa dikhianati.

 

Dengan perasaan seram ketika memasuki kuburan yang gelap itu, nyonya Gu Hok memberanikan hatinya demi anaknya. Dia menoleh ke kanan kiri di tempat yang amat sunyi itu. Tiba-tiba dia terkejut dan hampir menjerit ketika mendadak muncul sesosok bayangan orang tinggi kurus dari belakang sebuah batu kuburan. Jika saja ia tidak tahu sebelumnya bahwa tentu ada orangnya gerombolan penjahat yang menyambutnya, tentu ia sudah menjerit ketakutan dan menyangkanya setan.

 

“Apakah engkau nyonya Gu Hok?” tanya laki-laki tinggi kurus itu.

 

“Be… benar… aku ibu dari anakku Hong Beng… aku… aku mohon kepadamu, di mana anakku?” “Engkau datang sendirian saja?” tanya suara itu dengan galak.

 

“Benar…”

 

“Membawa uang itu?”

 

“Ampunkan aku, kami tidak mampu mengumpulkan uang seratus tail dan hanya berhasil terkumpul dua puluh tail saja…”

 

“Hemm, mana bisa…?”

 

Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan dirinya berlutut. “Ampunkan kami…, ampunkan anak kami. Aku mohon kepadamu, bebaskanlah anakku. Aku berjanji bahwa kekurangannya kuanggap hutang dan kelak akan kubayar dengan cicilan…”

 

“Wah, mana bisa?”

 

“Aku mohon kepadamu, kasihanilah kami…”

 

“Begini, nyonya. Kalau pembayarannya kurang, aku tidak dapat memutuskan. Engkau harus minta sendiri kepada pimpinan kami.”

 

“Mana dia? Aku akan mohon kepadanya, dan mana anakku?”

 

“Anakmu dalam keadaan sehat, bersama pimpinan kami. Mari kita ke sana dan kau boleh bicara sendiri dengan dia dan mengambil anakmu.”

 

Tentu saja nyonya itu girang sekali. Dengan penuh harapan disertai kecemasan, ia pun mengikuti laki-laki tinggi kurus itu pergi ke sebuah rumah yang agak terpencil, sebuah rumah pondok kecil. Ia terus mengikuti ketika laki-laki tinggi kurus itu memasuki rumah dari pintu belakang dan hatinya gentar bukan main melihat belasan orang laki-laki yang bersenjata tajam berada di sekitar rumah pondok itu. Setahunya, pondok ini adalah rumah milik pembesar yang jarang dipakai, dan ia tidak mengerti mengapa ia dibawa ke pondok milik pembesar.

 

Dan ketika ia bersama orang tinggi kurus itu memasuki sebuah kamar yang besar, dan penerangan yang besar menerangi seluruh kamar itu, membuat ia dengan jelas dapat melihat laki-laki tinggi besar yang duduk di situ sambil menyeringai, jantungnya seperti ditusuk rasanya. Laki-laki itu bukan lain adalah Bong- ciangkun, laki-laki muka hitam berperut gendut yang matanya besar itu, yang pagi tadi mengganggunya di tengah pasar!

 

“Ibuuu…”

 

“Hong Beng, anakku…!” Ibu itu berteriak girang melihat anaknya berada pula di sudut kamar.

 

Akan tetapi, ketika ia hendak lari menghampiri, pergelangan tangannya dicengkeram oleh si tinggi kurus. “Jangan bergerak…!”

 

“Ibu…!” Hong Beng meloncat dan berlari menghampiri ibunya, merangkul ibunya dan si tinggi kurus tidak mampu mencegah ibu dan anak itu saling rangkul.

 

Wanita itu berlutut dan berangkulan dengan anaknya. Si ibu menangis akan tetapi Hong Beng tidak menangis, melainkan memandang ke arah perwira brewokan dan si tinggi kurus itu dengan sirar mata berapi-api.

 

“Kalian telah meculikku, sekarang membawa ibuku ke sini. Sebetulnya kalian ini orang-orang jahat mau apakah?”

 

Tadi ketika ibunya belum dibawa ke situ, Hong Beng memperlihatkan sikap takut-takut, akan tetapi kini melihat ibunya juga diculik, kemarahannya meluap dan dia melupakan rasa takutnya.

 

“Plakkk…!”

 

Sebuah tamparan dari si tinggi kurus membuat Hong Beng terpelanting dan ibunya menjerit.

 

“Anak lancang, apakah kau bosan hidup?” Si tinggi kurus membentak anak yang kini merangkak bangun dengan pipi kiri merah membiru dan agak membengkak itu.

 

Akan tetapi sebelum anak itu dapat bergerak, si tinggi kurus sudah meloncat dan sekali pegang sudah mencengkeram tengkuk anak itu sehingga tidak mampu bergerak lagi.

 

“Jangan… jangan pukul anakku… ahhh, jangan bunuh anakku… Ini, tai-ciangkun, aku sudah membawa uangnya, tetapi masih kurang… kami hanya mampu mengumpulkan dua puluh tail saja… ampunkanlah kami dan anakku, kekurangannya akan kucicil…”

 

Wanita itu bicara dengan air mata bercucuran dan mengeluarkan buntalan berisi uang dua puluh tail perak. Ia berlutut di depan kaki perwira Bong yang tersenyum menyeringai karena setelah berdekatan, ternyatalah olehnya bahwa wanita ini memang mulus dan manis sekali.

 

“Nyonya, kalau saja sikapmu di pasar tadi tidak kasar dan lunak seperti sekarang ini, tentu aku tidak perlu membawa anakmu ke sini. Sekarang, bagaimana? Engkau pilih anakmu mati di depanmu ataukah melayani aku dan menyenangkan hatiku?”

 

Perwira brewok itu mengajukan pertanyaan ini tanpa malu-malu, di depan Hong Beng yang belum mengerti apa yang dimaksudkan laki-laki buruk rupa itu dan di depan si tinggi kurus Coa Pit Hu yang hanya menyeringai. Kedua lengan Hong Beng masih ditelikungnya ke belakang sehingga anak ini tidak mampu meronta.

 

Dapat dibayangkan betapa kaget, takut dan bingungnya hati ibu Hong Beng mendengar ucapan itu. Tidak disangkanya sama sekali bahwa ke situlah tujuan perwira ini menculik anaknya, yaitu untuk memaksanya melayani perjinahan dengan perwira itu. Tentu saja ia tidak sudi! Akan tetapi melihat puteranya dalam cengkeraman si tinggi kurus, ia tidak berani menolak secara kasar dan hendak mencari jalan lain.

 

“Tai-ciangkun, ampunkanlah aku, ampunkan anakku…” Dia berlutut sambil menangis. “Kami akan berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi tuntutan seratus tail itu… asal anakku dibebaskan… Aku mau bekerja keras, dan aku mau melakukan apa saja demi keselamatan anakku… akan tetapi… jangan itu…”

 

“Setan!” Si perwira brewok membentak. Hatinya tersinggung sekali, harga dirinya runtuh mendengar ada wanita berani menolaknya mentah-mentah. “Coa-sicu, bunuh anak itu sekarang juga di depan matanya!”

 

Si perwira brewok mengedipkan matanya dan Coa Pit Hu terkekeh, lalu meloloskan sebatang golok besar yang tajam mengkilat. Golok itu ditempelkannya ke leher Hong Beng. Melihat ini, tentu saja ibu anak itu menjadi pucat, matanya terbelalak lebar dan saking takutnya dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memegang lehernya sendiri seolah-olah dia dapat merasakan bagaimana leher anaknya itu dipenggal.

 

“Tidak… tidak… jangan…!”

 

“Mau kau melayaniku?” Kembali perwira itu membentak dengan senyum mengejek.

 

Ibu muda itu mengangguk-angguk, namun matanya masih terus memandang anaknya sambil bercucuran air mata. Ia tak mampu mengeluarkan suara, tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tak dapat memilih lain. Yang terpenting baginya adalah keselamatan anak tunggalnya. Biar harus mengorbankan nyawa sekali  pun ia rela asal anaknya selamat.

 

“Ha-ha-ha!” Perwira itu tertawa penuh kemenangan. “Coa-sicu, jangan bunuh anak itu dan ajaklah keluar kamar.”

 

Coa Pit Hu menyeringai dan memandang wanita itu. “Tapi… ciangkun berjanji akan memberi bagian kepadaku…”

 

“Ha-ha-ha, kita lihat saja nanti. Kalau aku suka, aku tidak akan membaginya kepada siapa pun juga dan engkau akan kuberi hadiah barang lain, akan tetapi kalau aku tidak suka, boleh saja kuberikan padamu!”

 

Coa Pit Hu tertawa dan menyeret Hong Beng keluar dari dalam kamar itu. Hong Beng berusaha meronta, tetapi karena kedua tangannya ditelikung ke belakang, tubuhnya tak dapat diputarnya dan dia hanya dapat memutar lehernya untuk memandang ibunya. Sebelum daun pintu ditutup oleh orang yang menyeretnya, dia melihat betapa perwira brewok itu menubruk dan merangkul ibunya, lalu ibunya yang lemas dan pucat serta bercucuran air mata itu dipondongnya ke arah pembaringan. Dia masih belum tahu apa yang terjadi, bahkan hatinya agak lega karena ibunya tidak dipukuli atau disiksa.

 

Dari dalam kamar itu tidak terdengar suara tangis sama sekali. Ibu Hong Beng tidak berani mengeluarkan rintihan atau tangisan karena maklum bahwa sekali saja perwira laknat ini memberi perintah, anaknya tentu akan dibunuh di luar kamar! Akan tetapi batinnya merintih dan tangis batinnya membubung tinggi ke angkasa, seperti jerit tangis wanita-wanita lain yang pernah menjadi korban perwira ini di dalam kamar itu.

 

Biar pun tidak terdengar suara apa pun di dalam kamar itu, Hong Beng yang berada di luar dan duduk di atas lantai, merasa tidak enak sekali hatinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan akan terjadi. Melihat betapa Coa Pit Hu, laki-laki tinggi kurus itu tersenyum-senyum sendiri, dia tidak dapat lagi menahan hatinya.

 

“Di mana ibuku? Apa yang terjadi dengan ibuku?”

 

Coa Pit Hu tertawa mengejek. “Ha-ha-ha-ha, ibumu sedang bersenang-senang dengan Bong-ciangkun. Kau diam sajalah di sini dan jangan pergi kemana pun.” Mengenangkan apa yang dilakukan pembesar itu terhadap si wanita mulus, Coa Pit Hu menjilat bibirnya. Dia hampir tidak sabar lagi menanti gilirannya. Waktu terasa seperti merayap perlahan sekali oleh pria ini.

 

Akhirnya, karena lelah menanti, Coa Pit Hu mengantuk di atas kursinya. Hong Beng sendiri tidak dapat tidur, hanya duduk bersandar dinding dengan hati diliputi kecemasan. Tengah malam telah lewat dan tiba- tiba terdengar bentakan Bong-ciangkun.

 

“Coa-sicu, masuklah!”

 

Coa Pit Hu yang sedang terkantuk-kantuk itu terkejut. akan tetapi tersenyum gembira dan dia pun membuka daun pintu.

 

“Nih, untukmu! Perempuan sialan, melayani seperti sepotong mayat saja!”

 

Hong Beng juga menjenguk dan karena daun pintu terbuka, dia dapat melihat ibunya didorong terhuyung dan disambut oleh Coa Pit Hu dengan rangkulan. Ibunya berwajah pucat dan menangis, pakaiannya tidak karuan. Akan tetapi daun pintu sudah ditutup lagi. Dia hanya mendengar suara tangis ibunya diseling suara ketawa Coa Pit Hu dan Bong-ciangkun.

 

Melihat kesempatan baik ini, Hong Beng lalu melarikan diri keluar dari tempat itu. Di pintu gerbang depan terdapat prajurit-prajurit yang berjaga, akan tetapi karena dari dalam tidak terdengar perintah apa-apa, mereka mengira bahwa anak itu memang dilepaskan oleh Bong-ciangkun dan mereka pun hanya memandang sambil tertawa melihat anak itu berlari keluar sambil menangis.

 

Hong Beng terus berlari menuju pulang. Ayahnya terkejut bukan main ketika melihat puteranya memasuki rumah sambil menangis. Ada rasa girang melihat puteranya dalam keadaan selamat, akan tetapi melihat anak itu menangis dan pulang tanpa ibunya, dia terkejut.

 

“Hong Beng…!”

 

“Ayah… ayah…!” Anak itu menubruk ayahnya dan menangis.

 

“Kenapa, Hong Beng? Kenapa? Mana ibumu…?” Hati Gu Hok merasa tidak enak sekali. “Ibu… tolonglah ibu, ayah Ibu… ibu ditahan oleh Bong-ciangkun!”

 

“Ehh? Bong-ciangkun? Kenapa…?”

 

Tentu saja Gu Hok menjadi bingung karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa hilangnya puteranya itu adalah akibat perbuatan seorang pembesar yang berpengaruh itu. Siapa yang tidak mengenal Bong- ciangkun, komandan dari pasukan keamanan kota Siang-nam, yang seolah-olah menjadi raja kecil itu?

 

“Aku… aku ditangkap orang-orang Bong-ciangkun dan ditahan di sana. Malam ini ibu datang bersama penjahat tinggi kurus, lalu ibu ditahan di dalam kamar Bong-ciangkun… dan kulihat… ibu setengah telanjang, ibu menangis dan aku lalu lari…”

 

“Keparat… !” Gu Hok tentu saja sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Agaknya Bong-ciangkun yang mengatur semua itu untuk memaksa dan menggagahi isterinya!

 

Tukang kayu itu marah sekali dan lupa siapa adanya Bong-ciangkun. Dia mengambil sebuah kapak besar yang biasa untuk menebang pohon, lalu berlari keluar.

 

“Ayah…!” Hong Beng berteriak dan mengejar ayahnya.

 

Ayah dan anak berlarian menuju ke gedung keluarga Bong-ciangkun. Karena hari sudah lewat tengah malam, keadaan sunyi sekali dan agaknya tidak ada seorang pun melihat ayah dan anak ini berlari-larian. Akan tetapi, mereka berdua itu tidak tahu bahwa ada sesosok bayangan hitam berkelebat cepat sekali membayangi mereka.

 

Setelah tiba di depan pintu gerbang gedung Bong-ciangkun, Gu Hok yang masih diikuti  puteranya itu berlari masuk. Tentu saja para pengawal segera menghadangnya.

 

“Heii, berhenti! Mau apa kau?!” seorang pengawal membentak sambil melintangkan tombaknya. “Minggir! Aku mau bertemu Bong-ciangkun!”

 

Gu Hok membentak dan mengobat-abitkan kapaknya yang besar dan tajam! Pengawal itu terkejut dan melompat-mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Gu Hok untuk menerobos masuk diikuti Hong Beng.

 

“Heii! Berhenti kau…!”

 

Para pengawal itu mengejar ayah dan anak ini. Akan tetapi Gu Hok yang sudah nekat itu sudah tiba di depan pintu kamar Bong-ciangkun atas petunjuk anaknya dan segera dia mengayun kapaknya menjebol daun pintu. Dengan suara keras daun pintu itu jebol dihantam kapak dan terbuka. Orang-orang yang berada di dalam kamar itu terkejut dan apa yang dilihat oleh Gu Hok membuat tukang kayu ini menjadi pucat wajahnya dan matanya terbelalak.

 

Isterinya menjerit, meronta dan terlepas dari rangkulan orang tinggi kurus itu, lalu lari ke arah suaminya dalam keadaan telanjang bulat! Ia menangis sesenggukan menjatuhkan dirinya berlutut di depan suami  dan puteranya.

 

Melihat keadaan isterinya, Gu Hok marah bukan main dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang maju kearah Bong-ciangkun. Akan tetapi, dari samping si tinggi kurus itu menyambutnya dengan sebuah tendangan keras yang membuat tubuh Gu Hok terdorong mundur keluar dari dalam kamar itu. Sekali lagi Coa Pit Hu menendang dan kini tubuh Hong Beng terlempar keluar.

 

“Ha-ha-ha, bunuh para pengacau itu!” kata Bong-ciangkun kepada para pengawalnya.

 

Isteri Gu Hok menjerit melihat suami dan anaknya ditendang keluar, dan ia pun bangkit, lupa bahwa dia berada dalam keadaan telanjang. Bagaikan seekor harimau betina yang marah, dia menerjang keluar pula untuk melindungi suami dan anaknya. Akan tetapi, seorang pengawal menggerakkan tombaknya.

 

“Ceppp…!”

 

Tombak itu menusuk perut menembus punggung wanita yang mengeluarkan suara jerit mengerikan. Tombak dicabut dan wanita itu pun roboh terkulai. Melihat hal ini, Gu Hok meloncat bangun.

 

“Isteriku…!” teriaknya dan dia pun mengamuk dengan kapaknya.

 

Akan tetapi karena dia hanya seorang tukang kayu biasa saja yang tidak pandai ilmu silat, hanya memiliki tenaga besar saja, mana mungkin dapat melawan pengeroyokan para pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat dan mereka itu memegang senjata tombak yang panjang? Dalam beberapa gebrakan saja, tubuhnya tertembus tombak pula dan dia roboh tewas di dekat mayat isterinya.

 

“Ayahhh…! Ibuuuu… !” Hong Beng menjerit dan menangis.

 

Anak ini lalu nekat menyerang para pengawal itu dengan kedua tangan dan kakinya, memukul menendang asal kena saja. Para pengawal itu tertawa, tidak mempergunakan senjata lagi melainkan menghadapi amukan anak kecil itu dengan tamparan-tamparan yang membuat tubuh Hong Beng terpelanting dan terlempar ke sana-sini. Namun anak itu bangkit lagi, menyerang lagi untuk kemudian disambut tamparan yang membuatnya terpelanting lagi. Ia dipermainkan oleh para pengawal seperti seekor tikus dipermainkan beberapa ekor kucing saja.

 

Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu kini sudah keluar dari dalam kamar. Melihat betapa belasan orang pengawal itu mempermainkan anak laki-laki yang mengamuk seperti gila dan nekat itu, Bong-ciangkun berseru, “Bunuh saja dia dan lempar tiga mayat mereka!”

 

Seorang pengawal yang berkumis tebal dan berwatak kejam lalu mengangkat goloknya dan membacok ke arah leher Hong Beng yang kembali telah terpelanting ke atas lantai.

 

“Singgg… tranggg… aughhhh…!”

 

Bukan leher Hong Beng yang terpental putus, tapi golok itu terpental dan pemegangnya roboh dengan kepala retak dan tewas seketika. Semua orang terkejut bukan main dan ketika mereka memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang laki-laki yang amat gagah perkasa. Laki-laki inilah bayangan yang tadi membayangi Gu Hok dan puteranya.

 

Dia seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bentuk mukanya bulat dengan sepasang matanya yang mencorong tajam. Wajah yang tampan itu berkulit agak gelap. Pakaiannya serba indah dan rapi, rambutnya tersisir rapi pula, seorang laki-laki pesolek.

 

Ketika laki-laki ini memandang ke arah dua buah mayat suami isteri Gu Hok, dan melihat keadaan mayat wanita itu yang telanjang bulat, alisnya berkerut dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat. Pandang mata mencorong itu kini ditujukan kepada Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu yang berdiri di depan pintu kamar, kemudian beralih kepada Hong Beng yang sudah bangkit lagi dengan muka matang biru dan hidung berdarah.

 

“Anak baik, apakah mereka itu ayah ibumu?”

 

“Benar, dan mereka… mereka dibunuh… dua orang jahanam itu dan anak buahnya.”

 

Laki-laki gagah itu mengangguk-angguk. “Tidak aneh kalau terjadi pemberontakan di mana-mana. Pejahat- pejahat pemerintah bertindak sewenang-wenang dan berkomplot dengan para penjahat. Manusia-manusia macam ini memang harus dibasmi!”

 

Coa Pit Hu sudah dapat menenangkan hatinya yang terkejut melihat munculnya orang yang membunuh seorang pengawal itu. Dia menudingkan telunjuknya ke arah muka laki-laki itu dan membentak, “Kurang ajar! Siapakah engkau berani mengantar nyawa di sini? Hayo mengaku sebelum kupenggal kepalamu!”

 

Laki-laki itu tersenyum, senyumnya dingin sekali. “Tidak ada gunanya engkau mengenal namaku karena kalian semua akan mati malam ini!”

 

“Kurang ajar!” Coa Pit Hu marah sekali dan dia sudah mencabut sebatang golok lalu menyerang dengan amat ganasnya. Agaknya dia hendak memenuhi ancamannya tadi, yaitu hendak memenggal kepala orang yang berani menentang dia dan Bong-ciangkun.

 

“Singgg…!”

 

Goloknya menyambar ke leher laki-laki gagah itu. Laki-laki itu hanya menggerakkan tangan, dan telapak tangannya sudah menampar dada Coa Pit Hu sebelah kanan.

 

“Plakkk!”

 

Coa Pit Hu mengeluarkan teriakan panjang. Tubuhnya terpelanting, roboh dan matanya mendelik. Dari mulut dan hidungnya mengalir darah dan dia sudah tidak berkutik lagi karena telah tewas seketika. Jantungnya pecah karena getaran pukulan telapak tangan yang amat dahsyat itu!

 

Melihat ini, Bong-ciangkun memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Akan tetapi dia masih ingat untuk memberi aba-aba, “Serbu dan bunuh penjahat ini!” Lalu dia sendiri membalikkan tubuhnya hendak lari bersembunyi ke dalam rumahnya.

 

“Hemm, pembesar lalim! Jangan harap dapat lolos dari tanganku!” Laki-laki gagah itu menyambar golok yang tadi lepas dari tangan Coa Pit Hu, dan sekali menyambit, golok itu terbang meluncur.

 

“Cappp…!”

 

Pembesar Bong-ciangkun menjerit pada saat golok itu menembus punggungnya sampai dada. Dia pun roboh tersungkur, menelungkup di atas lantai. Darah membanjir keluar dari punggung dan dadanya, dan tubuhnya hanya sebentar saja berkelojotan, lalu tak bergerak lagi.

 

Belasan, orang pengawal menjadi terkejut dan mereka pun lalu mengeroyok kalang kabut. Akan tetapi, tubuh pria yang gagah itu berkelebatan ke sana-sini dan setiap kali tangannya bergerak tentu seorang pengeroyok roboh dan tewas. Sebentar saja sepuluh orang telah roboh. Sisanya hendak lari, tetapi laki-laki itu tidak mau memberi ampun dan dengan lemparan-lemparan tombak atau golok yang berserakan, dia lalu merobohkan mereka yang melarikan diri sehingga tak seorang pun ketinggalan! Tempat itu berubah menjadi tempat mengerikan di mana mayat berserakan dan lantai banjir darah!

 

Hong Beng sendiri yang merasa sakit hati dan mendendam terhadap Bong-ciangkun, sekarang terbelalak dengan muka pucat menyaksikan pembunuhan yang lebih tepat dinamakan pembantaian yang dilakukan laki-laki gagah perkasa itu.

 

Laki-laki itu kemudian berkata kepada Hong Beng yang berdiri di sudut dengan tubuh menggigil dan muka pucat. “Anak baik, mari kita pergi dari sini.”

 

“Tapi… tapi… aku ingin mengubur jenazah ayah ibuku…” Laki-laki itu menarik napas panjang. “Hemm, baiklah!”

 

Dia kemudian mengambil sebatang golok dan dengan golok itu dia memenggal leher Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu. Rambut dari dua buah kepala itu dia ikat menjadi satu, lalu dia menyerahkan dua kepala itu kepada Hong Beng. “Kau bawalah dua kepala ini dan aku akan membawa jenazah ayah ibumu.”

 

Tentu saja Hong Beng terbelalak ngeri. Melihat orang mati saja belum pernah, sekarang setelah menyaksikan belasan orang berserakan menjadi mayat dalam keadaan mandi darah, dia harus membawa dua buah kepala orang! Akan tetapi, karena mendengar bahwa laki-laki perkasa itu akan membawakan  dua jenazah ayah ibunya, terpaksa dengan gemetaran dia menerima dua kepala itu, dipegang pada rambut yang diikat menjadi satu dan dibawanya kepala yang lehernya masih meneteskan darah itu.

 

Laki-laki itu merenggut beberapa helai tirai sutera dari tempat itu, menyelimuti tubuh isteri Gu Hok yang telanjang, kemudian dia mengambil dua mayat itu dengan ringan dan mudah.

 

“Mari kita pergi,” katanya lagi dan dia membawa dua mayat itu berjalan keluar, diikuti oleh Hong Beng yang membawa dua buah kepala orang!

 

Setelah kedua orang ini pergi, barulah para pelayan rumah pondok yang biasanya digunakan Bong- ciangkun untuk menjagal wanita-wanita yang menjadi korbannya itu berani keluar. Melihat betapa mayat- mayat berserakan, di antaranya adalah mayat Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu yang sudah tidak berkepala lagi, tentu saja para pelayan itu menjerit-jerit ketakutan, bahkan ada yang roboh pingsan. Tempat itu segera ramai di datangi orang dan gegerlah kota Siang-nam.

 

Pasukan keamanan datang dan para pembesar di kota ribut-ribut mencari siapa yang telah membunuh Bong-ciangkun dan belasan orang itu. Akan tetapi semua orang yang menjadi saksi telah tewas, maka sukarlah bagi mereka untuk mencari keterangan siapa pembunuhnya.

 

Kegemparan itu makin menghebat ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rakyat yang berdatangan ke pasar menjadi terkejut melihat adanya dua buah kepala digantung di atas pintu gerbang pasar. Itulah kepala Bong-cioangkun dan Coa Pit Hu! Dan di atas tembok pintu gerbang itu terdapat tulisannya, tulisan yang bergaya kuat dan berbentuk indah, ditulis dengan darah yang telah menghitam.

 

BONG CIANGKUN BERSEKONGKOL DENGAN PENJAHAT-PENJAHAT MENINDAS RAKYAT. INILAH HUKUMANNYA AGAR MENJADI CONTOH BAGI PARA PEJABAT LAIN’.

 

Tentu saja kota Siang-nam menjadi gempar dan semua orang menduga-duga siapa gerangan orang yang begitu berani membunuh seorang komandan pasukan keamanan, bahkan membunuh Coa Pit Hu yang terkenal sebagai pimpinan penjahat di sekitar tempat itu, bahkan menggantungkan kepala mereka di atas pintu gerbang pasar tanpa diketahui seorang pun. Dengan hati kecut dan ketakutan, kepala daerah memerintahkan pasukan keamanan untuk menjaga rumahnya dan sebagian ditugaskan untuk mencari pembunuh itu.

 

Sementara itu, si pembunuh pada keesokan harinya telah berjalan seenaknya di luar kota Yang-nam sambil menggandeng tangan Hong Beng. Dia telah membantu anak itu mengubur jenazah ayah ibu anak itu di luar kota Siang-nam, di sebuah lereng bukit yang sunyi, kemudian mengajak anak itu pergi dari situ.

 

Siapakah laki-laki gagah perkasa itu? Kalau saja ada yang mengenalnya, kegemparan di Siang-nam tentu akan bertambah dengan rasa takut dan kagum. Laki-laki itu adalah seorang pendekar sakti yang beberapa tahun yang lalu namanya telah menggemparkan dunia kang-ouw. Dia bernama Suma Ciang Bun.

 

Para pembaca kisah-kisah yang menyangkut keluarga Pulau Es tentu sudah mengenal nama ini. Suma Ciang Bun adalah cucu mendiang Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, majikan Pulau Es. Ayahnya, bernama Suma Kian Lee, putera majikan Pulau Es itu, seorang yang telah mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es, dan ibunya bernama Kim Hwee Li, juga seorang wanita yang sakti. Ayah ibunya kini sudah tua, sudah sekitar enam puluhan tahun usianya. Mereka bertempat tinggal di Thian-cin, sebuah kota di sebelah selatan kota raja.

 

Suma Ciang Bun yang kini berusia tiga puluh tahun ini belum menikah. Semenjak muda remaja, ia memiliki suatu kelainan yang pernah menyiksa batinnya dengan hebat sekali. Kelainan ini amat aneh, akan tetapi banyak dialami pria di dunia ini, yaitu bahwa gairah kelaminnya tidak seperti pria umumnya, tidak ditujukan terhadap wanita tetapi terhadap sejenis kelaminnya sendiri. Gairahnya timbul bukan terhadap wanita, tapi terhadap pria! Tentu saja kelainan itu menimbulkan peristiwa-peristiwa yang aneh dan menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin yang hebat.

 

Tubuhnya saja pria, akan tetapi seleranya seperti wanita. Maka, pernah beberapa kali dia patah hati, mencinta seorang pria, bahkan pernah dia tergila-gila seorang pria, yang ternyata adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria. Hal ini menghancurkan hatinya, apa lagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia benar-benar mencinta orang itu, tak peduli orang itu pria mau pun wanita. Namun segalanya sudah terlambat. Orang itu telah pergi meninggalkannya karena merasa dihina dan disakitkan hatinya. Hal ini dapat dibaca dalam ‘KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES’.

 

Akan tetapi, pengalaman pahit yang telah bertubi-tubi dirasakannya, kemudian nasehat-nasehat terutama dari adik misannya sendiri yang bernama Suma Ceng Liong, dan dari kakak perempuannya yang bernama Suma Hui, dia akhirnya dapat mengetahui dirinya sendiri dan dapat melihat bahwa tak mungkin dia menuruti seleranya yang tidak lumrah itu.

 

Suma Ciang Bun sekarang telah sembuh! Tidak lagi timbul gairah birahinya melihat pria tampan, meski sampai kini dia belum juga dapat menimbulkan gairah birahinya terhadap wanita. Biar pun sudah sembuh, namun Ciang Bun masih belum dapat melenyapkan sifat-sifatnya yang seperti wanita, yaitu pesolek, rapi dan suka akan kelembutan!

 

Sudah bertahun-tahun lamanya Suma Ciang Bun meninggalkan rumah orang tuanya di Thian-cin, hidup sebagai seorang pendekar perantau yang tak tentu tempat tinggalnya. Di mana pun dia berada, pendekar ini selalu mengulurkan tangannya untuk menentang yang jahat dan membela kebenaran dengan gigih. Berkat ilmu kepandaiannya yang hebat, yang membuat dia dapat disebut orang sakti, maka jarang dia menemui lawan yang mampu menandinginya, dan karenanya, namanya amat disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

 

Banyak orang pernah melihat sepak terjangnya yang amat hebat. Akan tetapi karena dia tidak pernah meninggalkan nama, maka orang-orang yang belum pernah melihatnya dan hanya mendengar saja penuturan orang, tidak dapat menduga siapa sebenarnya pendekar sakti itu. Sepasang pedang dengan ronce-ronce biru selalu tersembunyi di balik jubahnya, dan siang-kiam (sepasang pedang) ini jarang sekali dipergunakannya, karena dengan kaki tangannya saja dia sudah sukar dikalahkan lawan.

 

Setelah matahari naik tinggi, Suma Ciang Bun mengajak Hong Beng berhenti mengaso di bawah sebatang pohon besar di tepi jalan yang sunyi. Anak itu sejak pagi tadi, sejak meninggalkan makam ayah ibunya, tidak pernah bicara, hanya menurut saja ketika tangannya digandeng oleh Ciang Bun dan diajak pergi. Tak pernah bertanya hendak ke mana, tak pernah mengeluh meski keringatnya sudah membasahi seluruh pakaiannya dan nampaknya lelah sekali.

 

Maklumlah, semalam suntuk anak itu tidak pernah tidur, apa lagi mengalami hal-hal yang amat menegangkan dan menekan batinnya. Melihat betapa dirinya dikurung, lalu munculnya ibunya, kemudian melihat betapa ayah ibunya tewas di depan matanya, dan dia sendiri dihajar babak belur dan bengkak- bengkak oleh para pengawal yang terdiri dari anak buah penjahat itu, kemudian melihat pula betapa semua orang itu dibantai oleh penolongnya ini. Ditambah lagi sejak kemarin dia tidak mau makan. Perutnya lapar, badannya sakit-sakit, hatinya berduka, akan tetapi anak ini sama sekali tidak pernah mengeluh.

 

Hal ini memang sejak semalam telah diketahui oleh Suma Ciang Bun. Dia datang agak terlambat, yaitu setelah Gu Hok dan isterinya tewas. Dia melihat betapa anak kecil itu mengamuk, nekat dan tak pernah mengeluh biar pun dijadikan bola oleh para pengawal ini. Dan kini, setelah mengubur jenazah ayah ibu Hong Beng, dan mengajak anak itu berjalan terus sampai siang, melihat betapa anak itu sebenarnya menderita lahir batin namun sama sekali tidak mengeluh, Cian Bun merasa semakin kagum. Inilah seorang bocah yang amat hebat, dan pantas menjadi muridnya.

 

“Kita beristirahat dulu di sini. Duduklah,” katanya dan dia sendiri duduk di atas akar pohon yang menonjol  di atas tanah. Hong Beng juga dengan tubuh lemas menjatuhkan diri duduk di atas rumput.

 

“Kau lelah sekali?” tanya Ciang Bun sambil memandang wajah anak itu. Seorang anak laki-laki yang berkulit kuning berwajah jernih dan tampan. Anak itu mengangguk tanpa menjawab.

 

“Muka dan tubuhmu sakit-sakit?” tanya lagi Ciang Bun, menatap muka yang bengkak-bengkak dan matang biru itu. Kembali Hong Beng mengangguk tanpa menjawab.

 

“Perutmu lapar?” Kembali anak itu mengangguk.

 

“Hemm, aku pun lapar sekali. Tapi di tempat sunyi seperti ini, dari mana kita bisa mendapatkan makanan?” “Di rumahku ada telur, ada banyak ayam, dan masih ada beras.”

 

“Rumahmu? Di Siang-nam itu?” Hong Beng mengangguk. “Katakan di mana rumahmu.”

 

“Di jalan kecil belakang pasar, di sebelah kiri toko yang berdagang mangkok piring, rumahku bercat kuning.”

 

“Baik, kau tunggu saja di sini. Aku yang akan mengambil bahan makanan. Kalau kau ikut ke sana, tentu akan timbul keributan karena semua orang telah mengenalmu.” Dan sebelum Hong Beng menjawab, sekali berkelebat tubuh Suma Ciang Bun telah berada jauh sekali dari situ, seperti terbang saja dan tak lama kemudian pun lenyap.

 

Tentu saja Hong Beng memandang dengan melongo. Tadi pun ketika melihat lelaki itu mengamuk dan membantai semua orang, dia sudah terheran-heran dan amat kagum. Akan tetapi karena kedukaan oleh kematian ayah ibunya, dia kurang memperhatikan hal itu. Kini, melihat betapa orang itu seperti terbang  saja pergi dari situ, baru dia mengkirik. Ibliskah orang itu?

 

Dia pernah mendengar mengenai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak pernah bertemu dengan orang yang pandai terbang! Yang pernah dilihatnya hanya orang-orang penjual obat di pasar yang suka bermain silat dan memamerkan kekuatannya, mengangkat besi berat atau bahkan ada yang memukuli dadanya dengan benda keras memamerkan kekebalannya. Tidak pernah dia dapat membayangkan ada orang yang demikian lihainya seperti penolongnya itu. Mulailah dia memperhatikan dan diam-diam dia khawatir sekali. Jangan-jangan orang itu pergi meninggalkannya dan tak akan kembali lagi.

 

Setelah ditinggal seorang diri, baru Hong Beng teringat bahwa dia sekarang sebatang kara. Dan bahwa keselamatannya terancam di Siang-nam. Dia harus pergi dari tempat tinggalnya. Akan tetapi ke mana? Dan apa yang harus dilakukannya? Satu-satunya harapan baginya adalah ikut bersama orang yang menolongnya tadi. Ah, kenapa tidak? Jika penolongnya itu mau, dia suka menjadi muridnya, atau jadi pelayannya sekali pun.

 

Dengan cepat sekali, terlalu cepat bagi Hong Beng sehingga sukar dipercaya, tiba-tiba saja orang itu telah berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di dekatnya, membawa buntalan yang cukup besar. Ketika Suma Ciang Bun menurunkan buntalan itu ke atas tanah, isi buntalan bergerak dan terdengar suara ayam!

 

“Nah, ini kubawakan semua keperluan dari rumahmu,” berkata Suma Ciang Bun yang sudah duduk kembali.

 

Hong Beng membuka buntalan itu dan ternyata di dalamnya, selain terdapat belasan butir telur dan dua ekor ayam paling gemuk, juga terdapat beras yang cukup dan juga beberapa potong pakaiannya yang paling baik. Melihat pakaiannya itu, Hong Beng memandang kepada Suma Ciang Bun dengan sinar mata bertanya.

 

“Kau tentu membutuhkan pakaian pengganti,” kata Ciang Bun. “Apakah kau dapat memasak?” Hong Beng mengangguk. “Akan tetapi tidak ada tungku dan tidak ada api…”

 

Ciang Bun tersenyum. Dia sudah berpengalaman hidup merantau di gunung-gunung dan sebentar saja dia sudah dapat membuat api dan membuat tungku dari batu-batu. Hong Beng segera menanak nasi dari panci yang berada dalam buntalan, dan dua ekor ayam itu pun dipotong dan dipanggang. Tak lama kemudian, dua orang ini makan nasi dan panggang ayam dengan lahapnya, walau pun bumbunya hanya hanya garam dan bawang yang dibawa oleh Ciang Bun dari rumah kecil keluarga Gu.

 

“Nah, sekarang kita bicara,” kata Ciang Bun setelah mereka makan kenyang. “Siapakah namamu dan apa yang telah terjadi maka ayah ibumu tewas di sana?”

 

Hong Beng memandang Ciang Bun dengan tajam untuk beberapa saat lamanya, lalu menceritakan segala peristiwa yang telah menimpa keluarga orang tuanya, dimulai dari peristiwa di pasar ketika ibunya diganggu oleh Bong-ciangkun sampai dia diculik dan ibu berdua ayahnya kemudian tewas.

 

Setelah anak itu selesai bercerita, Ciang Bun mengangguk-angguk. “Hemm, sudah kuduga tentu demikian. Aku sudah banyak mendengar akan kejahatan orang she Bong itu dan aku girang bahwa aku telah berhasil membasmi dia bersama komplotannya. Hong Beng, sekarang ayah ibumu telah tiada, lalu apa rencanamu selanjutnya? Apakah engkau memiliki sanak keluarga?”

 

Hong Beng menggeleng kepala.

 

“Jadi engkau sebatang kara saja?” Anak itu mengangguk.

 

“Hemmm, engkau sebatang kara dan engkau tak mungkin kembali ke Siang-nam. Di sana sudah geger  dan orang-orang mulai mencari keluargamu yang lenyap. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

 

“Kalau paman suka, aku akan ikut dengan paman…” “Ikut aku?”

 

“Ya, menjadi… murid atau pelayan…”

 

Ciang Bun tertawa. Dia semakin kagum kepada anak ini. Tidak banyak cakap, dan cukup sopan.

 

“Aku suka kepadamu, Hong Beng. Kalau engkau mau, aku pun suka sekali mengambil engkau sebagai muridku.”

 

Mendengar ucapan ini, segera Hong Beng menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suma Ciang Bun. “Suhu, mulai saat ini, teecu akan mentaati segala perintah suhu dan teecu berjanji akan menjadi seorang murid yang baik.”

 

Ciang Bun menyentuh kedua pundak anak itu dan menyuruhnya bangkit duduk. Ditatapnya wajah anak itu dan dia merasa senang sekali. “Berapa usiamu Hong Beng?”

 

“Sebelas tahun, suhu.”

 

“Ah, engkau pantas menjadi anakku, keponakanku, atau muridku. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Aku seorang perantau yang tak tentu tempat tinggalnya, kadang- kadang bermalam di dalam hutan, di puncak gunung atau di tepi sungai. Hidupmu akan serba kekurangan dan bahkan kadang-kadang harus berani menahan kehausan dan kelaparan jika ikut aku. Beranikah engkau menghadapi semua kesukaran itu?”

 

Hong Beng mengangguk. “Teecu berani dan apa pun yang akan suhu perintahkan, akan teecu taati tanpa membantah.”

 

Ciang Bun lalu bangkit dan menarik tangan Hong Beng agar berdiri dan merangkul anak itu sambil tertawa. “Ha-ha-ha, jangan khawatir, muridku. Aku belum begitu gila untuk membuat engkau sengsara. Mari kita pergi naik ke puncak bukit di depan itu. Besok, di puncak itu, akan mulai kuajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadamu. Engkau tidak akan menyesal menjadi muridku. Ketahuilah bahwa saat ini, engkau merupakan anak murid keluarga Pulau Es. Kalau engkau tekun belajar, kelak akan sukar orang menandingimu.”

 

Demikianlah, Suma Cian Bun yang selama bertahun-tahun hidup dalam kesunyian dan kesepian, kini memperoleh seorang murid yang seolah-olah membuat hidupnya berarti dan dia berguna bagi seseorang.

 

Kesepian atau kesendirian merupakan suatu hal yang amat ditakuti oleh kebanyakan orang. Sendirian sama artinya dengan kematian atau lenyapnya bayangan tentang diri sendiri yang kita bentuk sendiri. Timbulnya sang aku adalah karena adanya hubungan dengan manusia lain, dengan benda mau pun dengan gagasan-gagasan. Kalau sudah berada sendirian maka sang aku pun tak dapat bergerak lagi, atau kalau pun bergerak, tentu hanya karena dorongan ingin mempertahankan hidup.

 

Itulah sebabnya kita selalu haus akan perhatian orang lain, selalu haus akan kasih sayang orang lain. Orang yang merasa bahwa dia tidak diperhatikan orang, tidak disukai orang, akan merasa sengsara dan hidupnya seolah-olah kosong, dapat mendatangkan penyakit hampa atau frustrasi, karena sang aku yang sudah digambarkan dan dipupuk semenjak kecil menjadi tidak berarti lagi, menjadi diremehkan.

 

Takut akan kesepian atau sendirian ini pula yang mendorong kita untuk mengingatkan diri dengan apa saja yang menyenangkan lahir dan batin. Kalau sudah terikat, kita merasa aman, merasa terjamin. Padahal, ikatan-ikatan inilah yang membuat kita hidup seperti robot. Pengulangan-pengulangan, kebiasaan- kebiasaan, menurut ‘umum’, dan menonjolkan sang aku sama saja dengan hidup di atas awan angan- angan dan oleh karenanya sering kali menemui kekecewaan dan kedukaan karena kenyataan berbeda sama sekali dengan angan-angan dan harapan-harapan.

 

Siapa yang berani meninggalkan hidup dalam dunia angan-angan dan harapan ini, dan berani membuka mata menghadapi segala macam kenyataan hidup, menerima sebagai mana adanya, barulah dia itu benar- benar hidup dan tidak akan terkecoh oleh harapan-harapan yang pada dasarnya hanyalah sang aku yang ingin senang…..

 

Pemuda itu berjalan seorang diri menyusuri tepi Sungai Wu-kiang, sebuah sungai yang mengalir ke arah utara untuk kemudian terjun ke sungai besar Yang-ce-kiang. Sungai Wu-kiang ini mengalir di antara bukit- bukit pegunungan yang amat luas, sunyi senyap dan penuh dengan hutan liar.

 

Dia tidaklah sangat muda lagi. Usianya sekitar dua puluh enam tahun, bertubuh sedang namun tegap. Wajahnya sederhana seperti pakaiannya, hanya sapasang matanya yang mengandung sinar penuh ketajaman itu yang menarik perhatian. Dilihat sepintas lalu, dia mirip seorang petani atau mungkin seorang pemburu karena berjalan seenaknya di tempat yang amat sunyi dan liar itu. Padahal, tempat itu amat berbahaya dan kalau tidak bersama-sama rombongan yang bersenjata lengkap, jarang ada orang berani memasuki daerah ini. Akan tetapi, orang muda itu berlenggang seenaknya dan memandang ke kiri kanan, kadang-kadang tersenyum sendiri kalau melihat kupu-kupu, atau burung, atau kelinci berkejaran.

 

Di tempat yang amat sunyi itu, di mana tidak terdapat manusia lain kecuali diri sendiri, membuat mata menjadi waspada sekali. Pikiran menjadi hening, tidak terisi berbagai masalah seperti jika berada di tempat ramai yang penuh orang. Pikiran tidak mengada-ada, tidak dipenuhi keinginan-keinginan, karena kosong dan hening inilah maka panca indera bekerja dengan amat baiknya, setiap anggota tubuh menjadi amat pekanya. Dan dalam keadaan hening dan waspada ini, maka segala keindahan pun nampak!

 

Biasanya, panca indera kita seperti menjadi tumpul karena dipenuhi oleh keinginan batin yang berupa  nafsu sehingga perhatian hanyalah ditujukan kepada hal-hal yang belum ada dan sedang dikejar atau diinginkan. Akan tetapi, berada di tempat sunyi itu, barulah terasa betapa indahnya segala hal yang ada, betapa bersilirnya angin membawa suara indah melebihi alunan musik yang mana pun juga, bahkan gugurnya setangkai daun kering yang menari-nari ke bawah nampak sedemikian indahnya bagaikan tarian yang menakjubkan. Diri menjadi lenyap, seperti lebur menjadi suatu kenyataan yang ada, bukan lagi boneka yang dipermainkan oleh nafsu dan keinginan.

 

Pemuda itu sangat sederhana, hanya menggendong sebuah buntalan pakaian dan di pinggangnya terselip sebuah benda kecil yang terbungkus oleh sarung dari kain kuning, panjangnya kira-kira tiga kaki. Bagi orang yang tidak mengenalnya tentu mengira bahwa dia itu hanya seorang petani biasa, atau seorang pemburu dan paling hebat tentu seorang perantau yang biasa melakukan perjalanan seorang diri dengan bekal sedikit kepandaian silat untuk melindungi dirinya. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Pemuda ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar yang amat lihai, bahkan yang baru- baru ini memperoleh julukan Pendekar Suling Naga!

 

Bagi para pembaca ‘KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES’, pemuda ini pasti dapat diduga siapa orangnya, sebab dia merupakan salah seorang di antara para tokoh dalam kisah itu. Pemuda ini adalah Sim Houw, seorang pemuda gemblengan yang sudah mewarisi ilmu-ilmu hebat dari dua aliran  yang tadinya saling bertentangan, yaitu Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas).

 

Ilmu yang pertama dia peroleh dari mendiang ayahnya sendiri, yaitu Sim Hong Bu yang mewarisinya dari keluarga isterinya, keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman, di daerah Pegunungan Himalaya. Ada pun ilmu yang kedua itu diperolehnya dari pendekar sakti Kam Hong yang pernah menjadi calon mertuanya, tetapi perjodohannya dengan puteri gurunya ini gagal karena gadis itu mencintai orang lain.

 

Ayahnya, pendekar sakti Sim Hong Bu sudah gugur dalam pertempuran antara para pendekar yang melawan pasukan tentara pemerintah. Ibunya pun telah tewas sehingga dia hidup sebatang kara. Memang masih ada keluarga dari pihak ibunya, yaitu keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman, akan tetapi karena ayahnya telah bercerai dari ibunya dan terjadi pertentangan antara mendiang ayahnya dan  keluarga Cu, dia tidak mau lagi kembali ke lembah itu.

 

Demikianlah sedikit riwayat pendekar yang dijuluki orang Pendekar Suling Naga itu. Baru kurang lebih tiga tahun dia diberi julukan itu setelah beberapa kali dia menghadapi datuk-datuk sesat yang lihai dan terpaksa dia menggunakan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang suling yang dapat dipergunakan sebagai pedang pula. Suling ini terbuat dari kayu yang diukir berbentuk seekor naga, kayu yang telah ribuan tahun usianya dan sudah direndam ramuan obat sehingga menjadi keras bagaikan baja, dan selain dapat ditiup sebagai suling yang suaranya merdu, juga dapat dipergunakan sebagai pedang.

 

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, timbul di dalam pikiran Sim Houw untuk menjenguk keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman. Dia teringat bahwa yang bertentangan dengan ayahnya adalah ayah dari ibunya bersama seorang paman, juga ibunya sendiri.

 

Keluarga Cu terdiri dari tiga orang kakak beradik. Yang pertama ialah Cu Han Bu, yaitu ayah dari  ibunya, ke dua adalah Cu Seng Bu dan ke tiga adalah Cu Kang Bu. Yang dulu menentang ayahnya hanyalah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, keduanya sekarang telah meninggal dunia, sedangkan Cu Kang Bu tidak menentang ayahnya. Dan sekarang, yang tinggal di lembah itu hanya tinggal Cu Kang Bu dan isterinya.

 

Teringat akan paman kakeknya ini, seorang pendekar berjuluk Ban-kin-sian yang gagah perkasa, juga  isteri pendekar ini, seorang wanita bernama Yu Hwi yang mempunyai kepandaian tinggi pula, Sim Houw menjadi rindu. Tidak ada lagi keluarganya di dunia ini kecuali paman kakek Cu Kang Bu itu, maka dia pun lalu berangkatlah ke Pegunungan Himalaya.

 

Akan tetapi, ketika pada suatu pagi dia tiba di lembah itu, dan menyeberangi jembatan tambang yang direntang dari dalam lembah oleh seorang murid keluarga Cu, Sim Houw menjadi terkejut bukan main melihat betapa paman kakek berdua isterinya itu berada dalam keadaan luka parah! Cu Kun Tek, putera mereka yang baru berusia dua belas tahun menjaga mereka dengan sikap murung dan berduka.

 

Lembah Gunung Naga Siluman itu merupakan tempat yang selain sangat indah juga tersembunyi dan tidak mungkin dapat dikunjungi orang kecuali kalau penghuni lembah itu menghendaki. Lembah itu dikurung oleh jurang yang amat curam, dan jalan masuk satu-satunya hanyalah melalui jembatan tambang yang direntang dari dalam lembah dan selalu dijaga oleh murid-murid penghuni lembah itu.

 

Pada waktu itu, Cu Kang Bu yang hanya mempunyai seorang putera memiliki belasan orang murid. Selain untuk menjadi teman puteranya, para murid ini juga untuk melayani segala keperluan keluarganya dan menjaga kebersihan tempat tinggal mereka. Murid-murid ini yang melakukan penjagaan jembatan tambang itu.

 

Ketika Sim Houw muncul dan memperkenalkan namanya, di antara murid-murid itu ada yang sudah pernah mengenalnya, maka tambang yang tadinya tergantung ke dalam jurang lalu ditarik dan direntang. Sim Houw menggunakan ilmunya untuk menyeberang melalui atas tambang yang besar itu. Kalau tidak  memiliki kepandaian dan tidak memiliki keberanian besar, siapa berani menyeberang melalui jembatan yang terbuat dari sehelai tambang itu? Sekali jatuh, nyawa akan melayang dan tubuh akan hancur lebur.

 

Melihat keadaan paman kakeknya suami isteri yang rebah dengan muka pucat, Sim Houw terkejut dan cepat menjatuhkan diri berlutut. Suami yang nampak lemah tubuhnya itu memandang penuh perhatian, lalu terdengar Cu Kang Bu bertanya, “Orang muda, siapakah engkau dan ada keperluan apakah engkau mendatangi tempat kami ini?”

 

Mendengar pertanyaan kakek itu, Sim Houw merasa terharu sekali. “Cek-kong (paman kakek), saya adalah Sim Houw…”

 

“Sim Houw…?” Isteri kakek itu bangkit duduk dan memandang dengan penuh perhatian. Juga kakek itu bangkit duduk.

 

“Engkau Sim Houw putera mendiang Pek In?” tanya kakek yang kini usianya sudah lima puluh tiga tahun itu.

 

Disebutnya nama mendiang ibunya, Sim Houw menjadi semakin terharu. “Benar dan saya menghaturkan hormat kepada cek-kong berdua.”

 

Suami isteri yang sedang menderita luka itu nampak gembira sekali. “Kun Tek, lihatlah, pemuda perkasa ini adalah keponakanmu sendiri, putera tunggal mendiang enci-mu Cu Pek In! Sim Houw, ini adalah anak tunggal kami, bernama Cu Kun Tek.”

 

Sim Houw memandang kepada anak laki-laki itu. Dia hanya pernah mendengar bahwa suami isteri itu memiliki seorang anak laki-laki dan baru sekarang dia bertemu dengan anak laki-laki itu, seorang anak laki- laki yang berusia kurang lebih dua belas tahun dan menjadi pamannya! Dia merasa canggung, akan tetapi Sim Houw segera bangkit berdiri dan menjura kepada anak itu.

 

“Paman kecil, harap engkau baik-baik saja dan banyak memperoleh kemajuan.”

 

Dari ayah bundanya Cu Kun Tek juga sudah banyak mendengar mengenai Sim Houw, maka dia pun membalas penghormatan itu. “Harap engkau tidak terlalu sungkan, karena biar pun aku terhitung pamanmu, tetapi aku jauh lebih muda dan banyak mengharapkan petunjuk darimu.”

 

Diam-diam Sim Houw kagum dan dapat melihat bahwa paman cilik ini adalah seorang anak laki-laki yang cerdas dan ada pembawaan yang gagah perkasa seperti paman kakeknya.

 

“Selama ini engkau ke mana sajakah, anak Houw?” tanya Yu Hwi, isteri Cu Kang Bu itu.

 

“Saya merantau memperluas pengalaman dan tiba-tiba saya merasa amat rindu kepada keluarga di sini, juga tempat ini di mana saya dibesarkan, maka hari ini saya datang menghadap. Harap cek-kong berdua sudi memaafkan bahwa baru hari ini saya sempat singgah. Akan tetapi betapa kaget hati saya melihat bahwa cek-kong berdua agaknya dalam keadaan sakit… dan kalau tidak salah… menderita luka dalam. Apakah cek-kong berdua berkelahi dengan seorang lawan yang amat lihai?”

 

Mendengar pertanyaan ini, suami isteri itu saling pandang dan seperti diingatkan akan sesuatu yang membuat mereka penasaran. Cu Kang Bu menarik napas panjang dan menjawab, “Kalau diceritakan, sungguh membuat orang menjadi jengkel dan penasaran sekali. Seperti yang sudah kau ketahui, Sim Houw, keluarga Cu selalu menjauhkan diri dari keributan, bahkan menempati lembah yang terpencil dan terasing ini, karena tidak ingin terlibat dalam permusuhan. Akan tetapi, kalau memang perkelahian akan terjadi, ke mana pun kita bersembunyi, ada saja yang datang mencari perkara. Dan kali ini yang datang mencari keributan adalah seorang kakek tua renta yang gila…”

 

Sim Houw terkejut dan merasa heran sekali. Seorang kakek tua renta yang gila? Dan seorang kakek gila  ini demikian lihainya sehingga cek-kongnya yang lihai ini, bersama isterinya yang juga amat lihai, kalah dan menderita luka dalam.

 

“Cek-kong, apakah yang telah terjadi?”

 

Kembali Cu Kang Bu menarik napas panjang. “Dua pekan yang lalu, pada suatu siang muncul seorang kakek di seberang jurang dan dia berteriak dengan mempergunakan khikang, minta bertemu denganku. Karena maklum bahwa dia seorang yang memiliki kepandaian tinggi maka aku menyuruh para murid merentangkan jembatan tambang. Kakek itu menyeberang dan ternyata dia sudah sangat tua, dan dia datang mengajukan usul yang aneh.”

 

“Bagaimana usulnya itu?” Sim Houw bertanya dengan hati tertarik sekali melihat Cu Kang Bu menghentikan ceritanya.

 

“Ahh, sungguh aneh dan memalukan. Ia mengatakan bahwa ia memiliki sebuah benda pusaka yang akan diwariskan kepada seorang pendekar yang dapat mengalahkannya. Karena dia bertapa di Pegunungan Himalaya dan dia mendengar bahwa di lembah ini tinggal pendekar-pendekar sakti, dia lalu datang untuk minta dikalahkan agar dia dapat mewariskan pusaka itu kepada kami. Tentu saja aku yang tidak butuh pusakanya, lalu menolak. Akan tetapi dia malah marah-marah dan mengatakan bahwa kalau aku tidak mau melayaninya, dia akan membunuh aku dan seluruh penghuni lembah ini…”

 

“Gila…” Sim Houw berseru heran dan penasaran.

 

Mana di dunia ini ada peraturan seperti itu? Hendak mewariskan pusaka saja dengan syarat harus mengalahkannya, dan kalau orang tidak mau menyambut usulnya yang aneh itu, akan dibasmi seluruh keluarganya!

 

“Memang, agaknya dia telah gila, akan tetapi dia lihai bukan main.” Cu Kang Bu menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Karena ancamannya yang sangat gila itu, tentu saja aku menjadi marah dan akhirnya kami bertanding, bukan untuk memenuhi permintaannya, melainkan untuk menentang niatnya yang hendak membasmi kami itu. Akan tetapi, biar pun isteriku telah membantuku, tetap saja setelah lewat seratus jurus kami berdua terkena pukulannya yang ampuh dan terluka. Tetapi dia tidak membunuh kami, hanya mengatakan bahwa setelah kami sembuh, dia akan datang lagi, karena dia menganggap bahwa aku cukup pantas menerima warisan itu dan dia minta agar aku berlatih serta memperkuat diri agar lain kali aku dapat mengalahkannya. Kemudian dia pergi.”

 

“Orang itu agaknya memang gila dan bisa berbahaya sekali,” kata Yu Hwi. “Bayangkan saja, cek-kongmu ini sudah mempergunakan cambuknya, dan aku pun sudah melawan mati-matian. Kami berdua hanya dapat mengimbangi saja tanpa mampu mengatasinya sehingga akhirnya kami terluka.”

 

“Siapakah nama kakek itu dan di mana tempat tinggalnya?” Sim Houw yang merasa amat tertarik dan penasaran bertanya.

 

“Dia belum sempat memperkenalkan diri dan kami pun tidak tahu di mana dia tinggal,” jawab Cu Kang Bu. “Kami memang tidak tertarik sama sekali untuk berkenalan dengan orang gila itu, apa lagi mewarisi pusakanya.”

 

Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh suara melengking tinggi yang terdengar dekat sekali, seolah-olah suara itu keluar dari mulut seorang yang berada di dalam gedung atau ruangan di mana mereka duduk bercakap-cakap. Lengkingan suara itu lalu disusul kata-kata yang lembut, “Orang she Cu, rentangkan jembatan tambang, aku datang lagi berkunjung!”

 

“Nah, itu dia orang gila itu datang lagi!” Cu Kang Bu berkata dan dia bersama isterinya nampak pucat. Cu Kun Tek yang masih kecil itu bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. Anak ini kelihatan marah sekali.

 

“Ayah dan ibu, kalau dia datang lagi, biarlah kita lawan mati-matian. Bukankah di sini ada Sim Houw yang pernah ayah ceritakan sebagai seorang yang amat lihai? Tentu dia akan membantu kita, bukankah demikian, Sim Houw?”

 

Sim Houw memandang kagum dan tersenyum, lalu mengangguk. “Tentu saja, paman kecil.”

 

Sementara itu, tiga orang murid datang menghadap dengan muka pucat. Jelas nampak betapa mereka ini cemas sekali. “Suhu, kakek gila itu datang lagi…,” kata mereka.

 

“Ada tamu datang, rentangkan jembatan, biarkan dia ke sini,” kata Cu Kang Bu dengan sikap gagah.

 

Dia maklum bahwa selagi dalam keadaan sehat dan segar saja, dia dan isterinya yang maju mengeroyok kakek itu tidak menang dan bahkan terluka parah, apa lagi sekarang dalam keadaan masih belum sembuh benar. Maju melawan kakek itu sama saja berarti mengundang kematian. Tetapi kalau perlu dia tidak takut mati. Lebih baik mati melawan dari pada memperlihatkan rasa takut dan tidak berani merentangkan jembatan.

 

“Suhu, biar teecu rentangkan jembatan dan kalau Si kakek gila itu sudah menyeberang sampai di tengah- tengah, teecu akan lepaskan tambang agar dia mampus terbanting ke dalam jurang,” kata seorang murid yang tinggi besar.

 

“Brakkkk!”

 

Cu Kang Bu menggebrak dipannya dengan mata melotot. “Pengecut! Hayo kau masuk ke dalam Ruangan Bertobat, tiga hari tiga malam tidak boleh keluar untuk mempelajari sikapmu yang pengecut itu sampai dapat kau hapus sama sekali dari batinmu!”

 

Murid tinggi besar itu berlutut dengan muka pucat, mengangguk-angguk. “Baik, teecu menerima perintah dan hukuman.”

 

Kemudian dengan tubuh lemas dia mengundurkan diri untuk memasuki sebuah ruangan di bawah tanah yang dipergunakan untuk menghukum murid-murid yang bersalah. Di tempat ini dia terpaksa harus bertapa selama tiga hari dan tiga malam untuk menebus kesalahannya karena tadi dia telah mengeluarkan kata- kata yang sifatnya pengecut dan curang.

 

“Rentangkan jembatan dan biarkan dia menyeberang!” katanya kepada dua orang murid lain yang cepat mengangguk dan pergi. Pendekar itu lalu berkata kepada isterinya dan puteranya. “Kalian jangan turut campur. Biarlah aku sendiri yang akan menghadapinya dan kalau perlu mengadu nyawa dengannya.”

 

“Akan tetapi engkau pun masih belum sembuh!” seru isterinya dengan khawatir.

 

Sim Houw cepat maju dan berkata, “Cek-kong berdua harap tenangkan hati. Saya kira, dengan bujukan yang halus dan dapat diterima, kiranya dia dapat disadarkan dan dapat disuruh pergi tanpa kekerasan. Saya tidak sakit, maka biarlah saya mewakili cek-kong berdua karena bagaimana pun juga, saya adalah anggota keluarga di lembah ini.”

 

Cu Kang Bu mengangguk. “Akan tetapi engkau harus berhati-hati benar, Sim Houw. Dia memiliki ilmu yang luar biasa anehnya.”

 

“Saya mengerti, cek-kong. Orang yang mampu mengalahkan cek-kong berdua tentulah seorang sakti.” Setelah berkata demikian, Sim Houw melangkah keluar, diikuti oleh Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan juga Cu Kun Tek.

 

Ketika mereka tiba di luar gedung, tidak lama kemudian nampak bayangan berkelebat cepat datang dari depan. Diam-diam Sim Houw terkejut bukan main karena bayangan itu sungguh memiliki ginkang yang luar biasa sehingga tubuh itu seolah-olah terbang saja ketika berlari ke arah mereka. Segera nampak seorang kakek renta berdiri di depan mereka.

 

Kakek itu memang nampak sudah tua sekali. Sukar menaksir berapa usianya, akan tetapi tentu mendekati seratus tahun. Rambut di kepalanya tinggal sedikit, tipis panjang dan tak terpelihara membuat kepala itu nampak kecil. Tubuhnya kurus sekali dan saking kurusnya, nampak seperti tulang terbungkus kulit belaka. Matanya sipit hampir terpejam, mulutnya kempot dengan kedua pipinya cekung ke dalam. Akan tetapi yang luar biasa adalah kulit mukanya. Kulit muka itu putih, bukan pucat melainkan putih seperti dibedaki tebal saja. Jubahnya hitam lebar dan panjang, celananya berwarna kuning.

 

Begitu berhadapan dengan mereka, mata yang sipit itu menujukan pandangannya ke arah Cu Kang Bu dan isterinya, lalu terdengar kakek itu berkata dengan nada suara penuh sesal, “Aihh, kalian belum sembuh! Itulah akibatnya kalau tinggi hati, kuberi obat tidak mau. Sekarang, jangankan bisa mengalahkan aku, baru menandingi seratus jurus seperti tempo hari saja kalian akan mati, lantas siapa lagi yang dapat aku harapkan mengalahkan aku dan mewarisi pusakaku? Aihhh… aku tidak mau pusakaku terjatuh ke tangan mereka, aku tidak mau biar mereka itu murid-murid keponakanku sendiri, aku tidak mau…” Dan suara kakek itu berubah seperti suara orang menangis!

 

Sim Houw melangkah maju menghadapi kakek itu sambil menjura dengan sikap hormat dan suaranya terdengar halus namun tegas, “Locianpwe, kami para penghuni Lembah Naga Siluman tak pernah bermusuhan dengan siapa pun juga, tak pernah mencampuri urusan orang lain, harap locianpwe suka mundur dan meninggalkan tempat kami tanpa mengganggu kami lagi. Jika locianpwe memaksa, terpaksa saya yang akan menghadapi dan melawan locianpwe!”

 

Kakek itu mengeluarkan suara mendengus dan kini mata yang sipit sekali itu ditujukan kepada Sim Houw, memandang dari atas ke bawah.

 

“Heh-heh, kau gagah juga…! Apakah kau murid mereka?” Jari telunjuknya yang kurus panjang itu menunjuk ke arah Cu Kang Bu dan isterinya.

 

“Bukan, locianpwe. Saya adalah cucu keponakan mereka yang kebetulan tengah datang berkunjung.”

 

“Uuh-huh-huh, murid juga bukan, malah hanya cucu keponakan! Dan kau bilang bahwa kau akan melawan aku? Heh-heh-heh, bocah, engkau sombong benar!”

 

“Locianpwe yang sombong, seakan-akan locianpwe pandai mengukur tingginya langit dalamnya lautan. Akan tetapi, tidak ada pertandingan dilakukan tanpa sebab, apa lagi tanpa saling mengenal. Nama saya adalah Sim Houw, dan sudah jelas bahwa saya akan mewakili cek-kong saya berdua isterinya, mewakili keluarga dan penghuni Lembah Naga Siluman untuk menandingi locianpwe, Sebaliknya, siapa pula locianpwe ini dan mengapa locianpwe datang mengacau di lembah kami?”

 

Kakek kurus kering itu terkekeh. “He-he-heh-heh, kau bocah kemarin sore akan tetapi omonganmu berisi! Agaknya dirimu berisi ilmu kepandaian pula. Dengarlah, aku disebut orang Pek-bin Lo-sian (Dewa Tua Muka Putih), seorang pertapa di puncak bukit sebelah utara yang nampak dari sini itu.” Dia menuding ke arah sebuah puncak bukit yang nampak samar-samar dari lembah itu, terhalang kabut mengawan. “Aku sudah tua, sudah mau mati, akan tetapi aku tak akan dapat mati dengan mata terpejam sebelum pusaka yang berada padaku kuserahkan kepada orang yang pantas memilikinya. Dan yang pantas memilikinya hanyalah seorang pendekar yang mampu menandingiku. Kalau aku tidak menemukan orang itu, pusaka itu tentu akan terjatuh ke tangan tiga orang murid keponakanku yang seperti setan, dan aku tidak rela, sungguh tidak rela! Karena itulah aku datang ke sini karena aku mendengar bahwa keluarga Cu adalah keluarga pendekar yang sakti. Akan tetapi ternyata kepandaian mereka hanya begitu saja, sungguh mengecewakan hatiku.”

 

“Locianpwe, mengapa bersusah payah menetapkan syarat begitu aneh dan berat? Jika memang locianpwe tak rela memberikan pusaka kepada orang lain, perlu apa mencari-cari? Kepandaian locianpwe begitu tinggi, siapa yang akan sanggup mengalahkannya? Dan kalau memang locianpwe berhasrat mewariskan pusaka itu kepada orang lain, berikan saja kepada siapa yang locianpwe sukai, tidak perlu dengan syarat yang aneh-aneh. Lagi pula, kami keluarga Lembah Naga Siluman juga tidak kepingin memperoleh pusaka apa pun juga.”

 

Kakek itu menghela napas panjang. “Orang muda, enak saja kau bicara. Kalau aku memberikan kepada sembarang orang, berarti menyuruh dia mampus dan pusaka itu akhirnya akan terampas pula oleh tiga orang murid keponakanku. Mengertikah engkau? Aku sudah menjatuhkan pilihanku kepada penghuni lembah ini, kalau tidak ada yang mampu mengalahkan aku, berarti mengecewakan hatiku dan karenanya akan kubunuh semua!”

 

Sim Houw menjadi marah. “Hemm, watak locianpwe begini aneh dan jahat, pantas saja murid keponakan locianpwe juga jahat seperti setan. Nah, biarlah kini saya mewakili keluarga Cu untuk menghadapi locianpwe!”

 

Sambil berkata demikian, karena maklum bahwa lawannya yang sudah mengalahkan cek-kongnya bersama isterinya tentu amat sakti, dia sudah mencabut keluar sebatang suling dari balik jubahnya. Begitu suling dicabut, nampak sinar emas berkelebat yang dibarengi suara melengking dari suling itu seolah-olah ditiup. Melihat dan mendengar ini, kakek itu terbelalak.

 

“Ihhh…? Itu… itu senjatamu? Sebatang suling emas?” tanyanya kaget dan memandang ke arah sebatang suling terbuat dari pada emas yang berada di tangan pemuda itu.

 

Memang suling ini sebuah suling emas, pemberian pendekar sakti Kam Hong. Sebatang suling yang merupakan duplikat dari suling emas di tangan pendekar itu, yang dahulu digunakan oleh Sim Houw untuk berlatih ketika digembleng oleh bekas calon mertuanya itu.

 

“Aneh…!” Kakek itu berkata, matanya yang sipit itu agak terbelalak lebar dan mulutnya tersenyum. Wajahnya yang tadinya keruh sekarang nampak berseri penuh harapan. “Lihat seranganku!”

 

Tiba-tiba kakek itu telah menggerakkan kedua tangannya dan Sim Houw merasa betapa ada angin yang sangat kuat menyambar ke arahnya dari kanan kiri. Kakek itu telah menyerang dengan pukulan-pukulan yang ampuh, aneh datangnya, melengkung dari kanan kiri. Dari angin serangan itu saja dapat diketahui bahwa kakek itu menggunakan tenaga yang amat kuat!

 

Namun, yang diserang oleh Pek-bin Lo-sian adalah seorang pemuda gemblengan yang sudah matang kepandaiannya. Pemuda ini merupakan satu-satunya orang yang sudah mewarisi dua ilmu kesaktian yang tadinya saling bertentangan, yaitu Ilmu Koai-liong Kiam-sut dari keluarga Cu dan juga Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dari pendekar Kam Hong!

 

Kini dua ilmu itu telah mendarah daging pada dirinya. Hanya ada satu orang lagi yang pandai menggabung kedua ilmu itu, ia adalah Kam Bi Eng, bekas tunangannya, puteri tunggal pendekar sakti Kam Hong yang kini menjadi isteri dari Suma Ceng Liong, cucu dari majikan Pulau Es.

 

Memang terdapat perbedaan antara kepandaian yang dikuasai Sim Houw dan yang dikuasai Kam Bi Eng. Sim Houw, menggabungkan kedua ilmu itu dengan dasar Ilmu Koai-liong Kiam-sut yang dipelajarinya pertama kali dari ayahnya, sebaliknya Bi Eng mendasari penggabungan itu dengan Kim-siauw Kiam-sut yang diwarisi dari ayahnya.

 

Pada saat mereka dipertunangkan, Sim Houw digembleng oleh Kam Hong, bekas calon mertuanya, sebaliknya Kam Bi Eng digembleng oleh Sim Hong Bu, ayah Sim Houw. Kini keduanya telah menguasai penggabungan kedua ilmu itu, akan tetapi sayang, karena tidak adanya cinta kasih kedua pihak, maka pertunangan itu putus dan mereka tidak menjadi suami isteri.

 

Menghadapi serangan aneh dari Pek-bin Lo-sian, dengan tenang akan tetapi dengan kecepatan yang sudah diperhitungkan, Sim Houw memutar sulingnya ke kanan kiri dan ujung sulingnya itu mengancam dua lengan lawan dengan totokan-totokan maut ke arah pergelangan tangan. Kalau serangan kakek itu dilanjutkan, sebelum kedua tangannya menyentuh tubuh lawan, maka lebih dulu kedua pergelangan tangannya akan tertotok suling emas!

 

“Ohhhh…!” Dia terkejut, akan tetapi juga girang.

 

Tadi dia sengaja mengeluarkan jurus serangannya yang sangat ampuh untuk menguji kepandaian pemuda aneh yang bersenjata suling emas itu. Kini ternyata pemuda itu tidak hanya mampu membuyarkan serangannya, bahkan berbalik mengancam kedua lengannya! Dia cepat-cepat menarik kembali kedua tangan itu dan mulailah kakek itu berloncatan dan bergerak cepat, melakukan serangan  bertubi-tubi kepada Sim Houw.

 

Sim Houw juga tak mau berlaku sungkan lagi. Suling emasnya bergerak semakin cepat menghadang setiap serangan sehingga kini kakek itu yang berbalik terserang olehnya. Beberapa kali kakek itu mengeluarkan seruan kaget. Suling itu berubah menjadi sinar keemasan bergulung-gulung disertai suara melengking-lengking seolah-olah suling itu ditiup dan dimainkan orang.

 

Hal ini membuat Pek-bin Lo-sian kagum bukan main. Pernah dia mendengar akan nama Pendekar Suling Emas, dan kini dia merasa seolah-olah berhadapan dengan pendekar yang pernah terkenal di seluruh dunia persilatan itu! Dia tidak tahu bahwa memang yang dihadapinya adalah murid dari Pendekar Suling Emas Kam Hong. Belum sampai lima puluh jurus, kakek itu sudah terdesak oleh gulungan sinar yang melengking-lengking itu.

 

Cu Kang Bu dan isterinya yang menonton pertandingan itu menjadi kagum bukan main. Tidak mereka sangka bahwa putera mendiang Sim Hong Bu dan Cu Pek In kini telah menjadi seorang pendekar yang demikian hebat ilmu silatnya.

 

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan mengguntur. Nampak sinar hitam berkelebat, dan tahu-tahu ia telah memegang sebuah pedang yang aneh sekali. Senjata itu disebut pedang, karena dipegang dan dimainkan seperti orang memainkan pedang, akan tetapi bentuknya adalah seekor naga yang merupakan ukiran indah sekali dan warnanya hitam pekat. Akan tetapi pada tubuh pedang berbentuk naga itu terdapat lubang-lubang seperti pada sebuah suling!

 

Dan ketika kakek itu menggerakkan senjata aneh ini, nampak sinar hitam berkelebat. Terdengar pula suara melengking kacau, sama sekali berbeda dengan lengking suara yang keluar dari suling emas di tangan Sim Houw yang terdengar merdu seperti melagu.

 

“Cringgg…!”

 

Nampak bunga api berpijar ketika senjata aneh itu bertemu suling emas dan Sim Houw merasa betapa tangannya yang memegang suling tergetar hebat. Akan tetapi pemuda ini tidak menjadi gentar. Cepat dia memindahkan suling emas di tangan kiri dan begitu tangan kanannya bergerak ke bawah jubahnya, nampak sinar berkilat menyeramkan, sinar biru yang menyilaukan mata dan terdengar suara mengaum seperti seekor singa.

 

Itulah Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) peninggalan ayahnya! Dan kini dia menggerakkan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri. Bukan main hebatnya karena pedangnya itu memainkan jurus-jurus ampuh dari Koai-liong Kiam-sut sedangkan suling emasnya memainkan jurus- jurus pilihan dari Kim-siauw Kiam-sut!

 

Menghadapi gabungan dua ilmu yang sakti dan ampuh ini, kembali si kakek kurus renta mengeluarkan suara terkejut bukan main dan dalam beberapa jurus saja dia sudah terdesak hebat.

 

Sekarang kakek itu benar-benar kagum bukan main, berkali-kali mengeluarkan seruan memuji, akan tetapi dia pun lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengalahkan pemuda yang amat menarik perhatiannya itu. Dan memang ilmu silat kakek ini aneh sekali. Beberapa kali hampir saja Sim Houw tertipu dan terpancing, akan tetapi berkat keampuhan dua ilmu silat yang digabung itu, serangan- serangan kakek itu selalu gagal.

 

Sim Houw diam-diam merasa bingung juga. Dia tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan kakek ini, maka tadinya dia hanya ingin menandingi dan jika memang mungkin, mengalahkan tanpa melukai kakek itu. Akan tetapi, kini ternyata bahwa ilmu kepandaian kakek ini benar-benar hebat sehingga tidak mungkin kiranya tanpa melukai. Bahkan kalau dia terlalu mengalah, jangan-jangan dia sendiri yang akan roboh akhirnya!

 

Maka, terpaksa ia pun lalu mengeluarkan jurus-jurus terampuh yang digabung sehingga keadaan kakek itu benar-benar terkurung oleh sinar keemasan dan sinar biru yang amat dahsyat. Tiba-tiba sinar biru menyambar dahsyat menyambut pedang naga hitam itu, didukung tenaga sinkang yang amat kuat.

 

“Krekkk…!”

 

Kini patahlah senjata ampuh kakek itu, terbabat Koai-liong Po-kiam yang ampuh dan pada saat itu juga, suling di tangan kiri pemuda itu sudah menotok ke arah tenggorokan dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

 

“Ahhhhh…!” Kakek itu terkejut melihat senjatanya patah sehingga kurang waspada dan tahu-tahu ujung suling sudah meluncur ke arah tenggorokannya.

 

Melihat ini, Sim Houw yang tak ingin membunuh cepat-cepat mengurangi tenaga pada totokannya. Hanya itulah yang mampu dilakukan, karena melihat kedudukannya, tidak mungkin menarik kembali, karena tangan kiri kakek itu dapat saja melakukan pukulan kalau dia menarik kembali totokan sulingnya. Kakek itu pun biar terlambat masih dapat membuang tubuh ke samping.

 

“Tukkk…!” Tetap saja ujung suling masih menotok pundak kirinya.

 

Kakek itu mengeluh, lalu terpelanting! Bukan main girang dan kagumnya rasa hati Cu Kang Bu dan isterinya melihat betapa akhirnya cucu keponakan mereka itu berhasil mengalahkan kakek gila yang amat lihai itu.

 

“Aihh, locianpwe, maafkan saya…!” Sim Houw terkejut dan menyesal, cepat menyimpan sepasang senjatanya dan menjura.

 

“Sudahlah, aku kalah…,” kakek itu mengeluh dan bangkit berdiri, napasnya terengah-engah dan dia menekan pundak kirinya. Jelas bahwa totokan itu telah mendatangkan luka di dalam dadanya. Sampai beberapa lamanya kakek itu menatap wajah Sim Houw, kemudian dia mengangguk-angguk.

 

“Ahhh, tidak kusangka bahwa akhirnya Suling Naga bertemu dengan majikannya. Orang muda, engkaulah orangnya yang patut sekali memiliki Liong-siauw-kiam. Engkau telah memiliki dua ilmu dengan pedang dan suling, dan kalau kini engkau mempergunakan Liong-siauw-kiam, berarti engkau dapat memainkannya dengan dua ilmu itu. Engkau telah mengalahkan aku, pusaka itu akan kuserahkan kepadamu.”

 

“Hemmm, kakek jahat. Pusakamu itu telah patah dua, untuk apa diberikan kepada cucu keponakan kami?” Yu Hwi mencela sambil menuding ke arah senjata hitam yang patah terbabat pedang Koai-liong-po-kiam tadi.

 

Kakek itu tertawa, akan tetapi tiba-tiba menahan ketawanya dan menyeringai kesakitan.

 

“Locianpwe, engkau telah terluka. Marilah kubantu meringankan penderitaanmu,” kata Sim Houw sambil melangkah maju. Akan tetapi kakek itu mundur ke belakang.

 

“Jangan! Aku sudah terluka dan itu adalah resiko pertandingan. Jika engkau yang kalah, engkau bukan hanya terluka melainkan mampus, orang muda! Dan siapa bilang bahwa pusaka itu benda yang patah itu? Heh-heh, kau kira aku begitu bodoh membawanya ke mana saja? Memang sama bentuknya, akan tetapi yang ini adalah buatanku sendiri, yang palsu. Yang asli mana mungkin dapat dipatahkan oleh senjata pusaka yang bagai mana ampuh pun juga? Mari, orang muda, engkau berhak memiliki Liong-siauw-kiam. Mari kau ikut denganku mengambilnya di tempat persembunyianku.”

 

Sim Houw percaya sepenuhnya kepada kakek aneh yang amat lihai itu, maka dia pun mengangguk dan menjawab, “Baiklah, locianpwe.”

 

“Sim Houw, jangan mudah percaya omongannya!” Tiba-tiba Yu Hwi berseru. “Orang macam dia ini mana bisa dipercaya? Jangan-jangan engkau dipancing untuk memasuki perangkap!”

 

Kakek itu memandang kepada Yu Hwi serta mengangguk-angguk sambil tersenyum aneh. “Nyonya ini memiliki kecerdikan yang boleh juga, heh-heh. Terserah kepadamu, orang muda, apakah engkau berani atau tidak ikut bersamaku. Kalau tidak, sungguh aku akan mati dengan mata terbuka karena kecewa dan penasaran.”

 

“Biarlah, cek-kong berdua harap jangan khawatir. Saya dapat menjaga diri,” kata Sim Houw.

 

Dia pun kemudian mengikuti kakek itu yang sudah membalikkan tubuh dan pergi sambil tertawa mengejek. Cu Kang Bu dan isterinya mengikuti dengan pandang mata khawatir, akan tetapi Cu Kun Tek berkata dengan kagum.

 

“Hebat sekali Sim Houw itu. Kalau aku menjadi dia, aku pun pasti akan pergi mengambil pusaka yang dijanjikan kakek itu.”

 

Dua orang itu lalu menyeberangi tambang. Dengan cepat sekali kakek yang mengaku bernama Pek-bin Lo- sian itu lalu berlari seperti terbang. Agaknya ia masih ingin menguji kepandaian Sim Houw. Akan tetapi, setelah berlari secepatnya dan napasnya mulai memburu, dia menoleh ke belakang. Dia melihat betapa pemuda itu berada tepat di belakangnya, sedikit pun tidak tertinggal, bahkan tak nampak letih seperti orang berjalan seenaknya saja. Kakek itu kagum sekali dan menahan larinya, menjadi langkah biasa untuk mengatur pernapasannya. Wajahnya menjadi semakin pucat.

 

“Locianpwe, mengapa harus tergesa-gesa? Tidak baik untuk kesehatan locianpwe yang sedang menderita luka.” Sim Houw berkata dengan sungguh-sungguh karena dia tahu bahwa pengerahan tenaga ginkang tadi memang amat berbahaya bagi kakek yang sudah menderita luka di dalam tubuhnya.

 

“Marilah, kita sudah dekat…!” kata kakek itu dengan napas terengah-engah dan dia mendaki bukit itu. Dan karena luka yang diderita oleh Pek-bin Lo-sian semakin parah, kini kakek itu hampir tidak kuat mendaki bukit itu.

 

Melihat ini, Sim Houw berkata, “Locianpwe terluka, marilah saya membantu locianpwe untuk meringankan penderitaan itu.” Pemuda ini bermaksud untuk mengobati kakek itu dengan pengerahan sinkang-nya. Akan tetapi kakek itu menggelengkan kepala.

 

“Tidak ada gunanya, hanya menghilangkan nyeri sebentar akan tetapi tak akan mampu menyembuhkan.”

 

Sim Houw juga maklum akan hal ini dan dia merasa menyesal sekali. “Maafkan saya, locianpwe. Bukan maksud saya untuk… akan tetapi saya terdesak dan terpaksa…”

 

“Sudahlah, begini lebih baik. Roboh di tangan seorang pemuda seperti engkau tidak membikin hatiku penasaran. Kalau kau mau… kau gendong saja aku sampai ke puncak, aku khawatir akan putus nyawaku sebelum berhasil menyerahkan pusaka itu.”

 

Sim Houw tanpa ragu-ragu lagi lalu menggendong kakek itu di belakang punggungnya. Baru beberapa langkah saja dia berjalan, tiba-tiba kakek yang tadinya nampak loyo itu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah tengkuk Sim Houw.

 

“Tolol kau! Mencari mampus sendiri!” Tetapi tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan kaget karena tengkuk yang dicengkeramnya itu lemas seperti tak berotot atau bertulang sehingga cengkeramannya meleset dan tenaga yang dipergunakannya bagai tenggelam ke dalam air saja.

 

Tahulah dia bahwa pemuda itu tidak setolol seperti yang disangkanya karena diam-diam pemuda itu telah bersiap melindungi dirinya dengan ilmu I-kiong-hoan-hiat, yaitu Ilmu Memindahkan Jalan Darah  yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah memiliki tenaga sinkang yang amat kuat! Dan sebelum dia sempat melakukan hal lain lagi, tahu-tahu tubuhnya sudah tidak dapat digerakkan karena pemuda itu telah menotoknya dan membuat kaki tangannya lumpuh! Diam-diam dia kagum dan girang sekali.

 

“Bagus! Kini barulah yakin hatiku bahwa engkau memang paling pantas menjadi pemilik Liong-siauw-kiam, karena selain lihai engkau pun cerdik sekali.” Dia lalu menunjukkan jalan bagi Sim Houw yang tidak menjawab melainkan berlari dengan cepat mendaki bukit itu sambil menggendong tubuh kakek yang sudah tidak mampu bergerak lagi itu.

 

Setelah kakek itu menyuruhnya berhenti di depan sebuah goa besar, baru Sim Houw menurunkan tubuh kakek itu dari gendongan dan membebaskan totokannya sehingga kakek itu mampu bergerak lagi. “Maafkan saya yang terpaksa menotokmu, locianpwe,” katanya dengan sikap tetap menghormat.

 

Pek-bin Lo-sian terkekeh dan mengangguk-angguk. “Jika engkau tidak cerdik dan tidak melindungi tubuhmu, tentu cengkeramanku akan mematikanmu. Dan memang lebih baik engkau mati kalau tidak mampu melindungi diri dari kecurangan seperti itu. Musuh-musuhmu yang akan kau hadapi puluhan kali lebih curang dari pada yang kulakukan tadi. Tadi aku memang hanya mengujimu. Kalau kau gagal, kau mampus, dan karena kau lulus, maka sekarang aku merasa lebih yakin kau akan mampu mempertahankan Liong-siauw-kiam.”

 

Tiba-tiba kakek itu batuk-batuk dan darah segar keluar dari mulutnya.

 

“Locianpwe, harap kau beristirahat…!” kata Sim Houw dengan kaget karena muntah darah itu menunjukkan bahwa luka yang diderita kakek itu sudah amat berat.

 

“Heh-heh-heh…!” Pek-bin Lo-sian mengusap darah dari bibirnya sehingga ujung lengan bajunya menjadi merah semua. “Kau… kau tunggu… akan kuambil pusaka itu…” Dan dengan terhuyung-huyung dia memasuki goa yang lebar dan dalam itu.

 

Sim Houw menanti di luar dengan hati tegang. Hatinya tidak merasa gembira sedikit pun. Tanpa sebab, tanpa permusuhan apa pun dia telah menyebabkan seorang kakek yang memiliki kesaktian luar biasa menderita luka parah, luka yang dia tahu akan membawa maut bagi kakek itu. Dan sesungguhnya dia sama sekali tidak menginginkan pusaka orang, walau pun sikap dan kata-kata kakek itu tentang pusaka yang disebut Liong-siauw-kiam menarik perhatiannya.

 

Tiba-tiba dia melihat kakek itu keluar lagi, dan cara jalannya semakin terhuyung-huyung, bahkan saat tiba di depan goa, kakek itu terguling roboh dan kembali muntahkan darah segar.

 

“Locianpwe…!” Sim Houw meloncat dan berlutut dekat kakek itu.

 

Akan tetapi kakek itu sudah bangkit duduk bersila, mengusap darah dari bibirnya dan dia mengangkat tinggi-tinggi sebuah benda hitam yang ternyata sama benar bentuknya dengan senjata kakek itu yang pernah patah oleh pedang Koai-liong Po-kiam.

 

“Inilah Liong-siauw-kiam, pusaka ampuh itu yang akan kuserahkan kepadamu, Sim Houw.”

 

Pemuda itu memandang dengan sinar mata ragu-ragu. Benda itu serupa benar dengan senjata kakek tadi, dan tentu saja dia meragukan keampuhannya. Hanya sebuah benda sepanjang kurang lebih tiga kaki, terbuat dari kayu hitam yang diukir membentuk seekor naga, dengan ekor meruncing dan tepinya tajam seperti pedang, di tengahnya yang tebal terdapat lubang-lubang seperti suling. Sebatang Pedang Suling Naga? Jika hanya terbuat dari kayu, mana dapat menjadi senjata yang ampuh? Mana mungkin dapat dibandingkan dengan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam?

 

Agaknya Pek-bin Lo-sian dapat menduga apa yang diragukan pemuda itu. “Sim Houw, coba kau keluarkan pedangmu dan kau babatlah pusaka ini untuk membuktikan bahwa pusaka ini tidak kalah dibandingkan dengan pedangmu itu.”

 

Wajah Sim Houw berubah agak merah karena isi pikirannya ternyata dapat ditebak dengan tepat oleh kakek itu. Dia lalu mengeluarkan Koai-liong Po-kiam dan nampaklah sinar biru berkelebat menyeramkan. Pek-bin Lo-sian sendiri memandang kagum dan mengangguk-angguk.

 

“Pedang itu memang hebat, akan tetapi cobalah kita adu dengan pusaka ini.” Dia lalu mengacungkan Liong-Siauw-kiam itu dan memegang dengan dua tangannya. “Babatlah dan pergunakan tenagamu. Aku sendiri ingin menguji keampuhan pusaka ini!”

 

Sim Houw lalu bangkit berdiri, mengerahkan tenaga serta mengayun pedangnya. Sinar biru berkelebat bagai kilat dan pedang itu membacok Suling Naga itu dengan kuatnya karena didasari tenaga sinkang.

 

“Cringggg…!”

 

Bunga api berpijar keras. Sim Houw merasa betapa pedangnya bertemu dengan benda seperti baja kerasnya sehingga pedangnya membalik. Akan tetapi karena tenaganya sangat besar dan kakek itu sudah lemah, hampir saja pusaka itu terlepas dari kedua tangannya. Sim Houw memandang dan ternyata benda itu sama sekali tidak rusak, lecet pun tidak! Tentu saja dia menjadi kagum bukan main. Jangankan hanya kayu, biar baja sekali pun, jika bukan baja terbaik, tentu akan patah terbabat Koai-liong Po-kiam. Akan tetapi suling atau pedang kayu hitam itu sama sekali tidak rusak.

 

“Heh-heh-heh…!” Pek-bin Lo-sian terkekeh dan mengulurkan tangannya. “Nih, terimalah Liong-siauw-kiam, mulai saat ini menjadi milikmu, Sim Houw.”

 

Sim Houw menerima benda itu. “Terima kasih, locianpwe…”

 

Ketika menerima pedang dia menyentuh jari-jari tangan kakek itu. Dia menjadi terkejut bukan main karena jari-jari tangan itu terasa amat panas seperti api! “Ah, kau… kenapa locianpwe?”

 

Kakek itu tidak menjawab dan kembali muntah-muntah darah. Wajahnya pucat bukan main dan ketika Sim Houw hendak menolongnya, dia menolak dengan tangannya. “Tak perlu ditolong lagi. Kau pergilah, bawalah pusaka yang menjadi milikmu itu, pertahankan dengan nyawamu, dan berhati-hatilah. Ada tiga orang murid keponakanku yang amat lihai mengincar pusaka itu… kau… kau harus dapat melawan mereka…”

 

“Siapakah mereka, locianpwe?”

 

“Sam-kwi… mereka… ahh, sudahlah, cepat pergilah dan tinggalkan aku sendiri.” Pek-bin Lo-sian menggerakkan tangannya mengusir Sim Houw.

 

Terpaksa pemuda itu menjura dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, baru dia pergi dengan berlari cepat sekali turun dari bukit itu sambil membawa Liong-siauw-kiam. Dia adalah seorang pemuda yang berhati-hati sekali karena telah lama merantau di dunia kang-ouw, di mana terdapat banyak sekali kaum sesat yang licik dan curang. Dia dapat menduga bahwa melihat sikap dan perbuatannya, Pek-bin Lo-sian tentulah seorang datuk sesat pula yang mengasingkan diri, maka tadi pun dia tidak sampai kena diserang secara menggelap karena dia sudah siap siaga.

 

Kini pun dia belum mau menelan begitu saja semua keterangan kakek itu dan dia masih memegang pusaka itu dengan hati-hati. Dia sudah mempergunakan kepandaiannya untuk meneliti apakah benda itu dilumuri racun dan setelah mendapat kenyataan bahwa benda itu bersih dari racun, dia tetap masih memegangnya dengan hati-hati, khawatir kalau-kalau di situ tersembunyi senjata rahasia yang akan membahayakan dirinya.

 

Setelah menuruni bukit itu, barulah Sim Houw memeriksa pusaka yang barusan saja diterimanya dari Pek- bin Lo-sian. Dia memeriksa dengan teliti dan merasa kagum sekali. Benda itu benar-benar terbuat dari pada kayu, akan tatapi kayu hitam itu luar biasa keras dan kuatnya, tidak kalah dengan baja asli! Dan ukirannya demikian indah dan halus.

 

Pada waktu dia memegang bagian kepala yang menjadi gagang dan mencoba untuk memainkannya, dia terkejut sendiri dan juga girang. Benda itu enak benar dimainkan sebagai pedang, dengan bobot yang tepat. Dan saat dia mencoba satu dua jurus, benda itu mengeluarkan suara merdu, tidak kalah dengan suling emasnya! Lalu dia mencoba untuk meniupnya, ternyata benda itu merupakan sebuah suling yang suaranya amat merdu!

 

Dengan hati girang luar biasa Sim Houw lalu kembali ke Lembah Naga Siluman. Setelah dia menyeberang dan bertemu dengan Cu Kang Bu dan isterinya, dia menceritakan pengalamannya dan memperlihatkan pusaka itu. Suami isteri itu kagum bukan main dan juga merasa amat gembira.

 

“Ahhh, engkau sungguh beruntung, Sim Houw,” kata Cu Kang Bu dengan kagum sambil mengembalikan pusaka itu. “Ternyata kakek aneh itu tidak membohongimu dan engkau telah mendapatkan sebuah pusaka yang amat hebat.”

 

“Dengan demikian engkau memiliki tiga buah pusaka ampuh, Sim Houw,” kata Yu Hwi dengan suara yang jelas mengandung iri. “Sebuah suling emas, sebuah pedang pusaka Koai-liong Po-kiam dan sekarang pusaka Liong-siauw-kiam!”

 

Cu Kang Bu dapat mendengar suara mengandung iri dari isterinya, maka dia cepat berkata dengan suara lantang. “Tentu saja dan memang dia berhak memiliki semua itu. Suling emasnya adalah tanda bahwa dia murid Pendekar Suling Emas Kam Hong, pedang Koai-liong Po-kiam adalah warisan ayahnya, sedangkan Pedang Suling Naga ini adalah pemberian Pek-bin Lo-sian setelah Sim Houw berhasil menundukkannya. Jadi memang semua itu adalah haknya!”

 

Tetapi, sebelum menghadap suami isteri itu, dalam perjalanannya meninggalkan kakek itu, dan setelah mencoba Liong-siauw-kiam dan tahu benar bahwa pusaka itu memang ampuh, Sim Houw sudah mengambil satu keputusan.

 

“Cek-kong berdua, Liong-siauw-kiam ini bisa digunakan sebagai suling dan juga sebagai pedang. Dengan sendirinya, pusaka ini seperti pengganti suling emas dan Koai-liong Po-kiam menjadi satu. Bahkan penggabungan kedua ilmu akan dapat lebih mantap jika dimainkan dengan pusaka ini, hanya tinggal melatih saja. Karena itu Koai-liong Po-kiam beserta suling emas akan saya tinggalkan di sini, dan saya serahkan kepada cek-kong sekeluarga.”

 

“Ah, apa maksudmu dengan keputusan ini?” Cu Kang Bu yang berwatak keras dan jujur itu bertanya dengan suara lantang dan sinar matanya menatap wajah Sim Houw penuh selidik.

 

“Cek-kong Cu Kang Bu, harap jangan salah mengerti. Saya sudah mendengar bahwa lembah ini  dahulunya bernama Lembah Suling Emas, dan bahwa pusaka suling emas yang terkenal itu berasal dari tempat ini. Juga sekarang lembah ini diganti dengan nama Lembah Naga Siluman, dan pedang pusaka Naga Siluman juga berasal dari tempat ini. Meski suling emas di tangan saya bukan suling emas yang asli, melainkan hanya tiruan saja, akan tetapi biarlah saya serahkan kepada keluarga Cu berikut pedang pusaka Naga Siluman. Dengan demikian terhapuslah sudah semua rasa penasaran dan kedua pusaka itu kembali ke tempat asalnya.”

 

“Akan tetapi…,” Cu Kang Bu hendak membantah.

 

“Aihhh, mengapa engkau malah hendak menolak niat baik dari Sim Houw? Niatnya itu membuktikan bahwa dia adalah seorang gagah sejati, yang tahu akan jalannya sejarah dan mengenal pula sumbernya.”

 

“Keluarga Cu adalah keluarga yang tadinya berhak atas kedua pusaka itu. Dan keluarga Cu masih belum habis, masih ada engkau dan sekarang ada pula Cu Kun Tek, putera kita. Apakah tidak pantas kalau puteramu kelak mewarisi pusaka-pusaka lembah yang turun-temurun dihuni oleh keluarga Cu ini?” kata Yu Hwi dengan penuh semangat.

 

Cu Kang Bu masih mengerutkan alisnya yang tebal. “Sim Houw, apakah tidak ada maksud-maksud tersembunyi di balik niatmu ini? Apakah engkau tidak akan menyesal kelak? Ingat, yang menguasai ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut adalah engkau seorang, jadi kedua pusaka itu memang sudah menjadi hakmu.”

 

Sim Houw mencabut keluar suling emas dari pinggangnya, kemudian meloloskan sabuk pedang Koai-liong Po-kiam dari punggungnya, lalu menyerahkan dua pusaka itu kepada Cu Kang Bu dengan sikap hormat dan wajah penuh keramahan.

 

“Saya menyerahkannya dengan hati ikhlas dan rela, cek kong. Biarlah kedua pusaka ini, walau pun suling emasnya hanyalah tiruan, menjadi pusaka-pusaka keturunan keluarga Cu.”

 

“Wah, aku senang sekali kalau punya dua senjata itu!” Tiba-tiba si kecil Kun Tek berseru girang. “Kelak aku ingin bisa menjadi seperti Sim Houw!”

 

“Hemm, enak saja kau bicara!” ayahnya menegur, “Tanpa mempunyai ilmu-ilmu sakti Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut, mana bisa seperti Sim Houw?”

 

“Jangan khawatir, Kun Tek.” Ibunya menghibur. “Ayahmu dapat mengajar ilmu dengan suling emas, dan aku akan mengajarkan ilmu pedang padamu.”

 

Nyonya ini bukan hanya membual. Ia adalah seorang ahli pedang, bahkan ia memiliki Ilmu-ilmu Kiam-to Sin-ciang, yaitu ilmu yang membuat lengannya dapat digerakkan dengan ampuh seperti berubah menjadi pedang dan golok. Di samping ini, juga ia ahli ilmu Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru) dan ilmu ini dapat pula dimainkan dengan pedang menjadi Ilmu Pedang Delapan Penjuru Angin.

 

Karena melihat kesungguhan hati dan kerelaan Sim Houw, dan juga mengingat bahwa memang bukan keliru alasan Sim Houw yang mengatakan bahwa kedua pusaka itu berasal dari lembah mereka, akhirnya Cu Kang Bu menerima juga penyerahan dua pusaka itu dengan hati girang.

 

“Aku akan menyimpan benda-benda ini sebagai pusaka-pusaka Lembah Naga Siluman dan mudah- mudahan kami akan mampu menjaganya,” katanya dengan hati lega. “Dan banyak terima kasih kepadamu, Sim Houw. Engkaulah yang telah menyatukan kembali keretakan yang pernah terjadi pada mendiang ayah dan ibumu.”

 

Setelah tinggal di lembah itu selama tiga hari, Sim Houw lalu berpamit dan diantar oleh keluarga Cu ayah ibu dan anak itu sampai ke tepi jembatan tambang. Sim Houw lalu meninggalkan lembah itu dan mulai dengan perantauannya.

 

Selama tiga tahun ini, banyak sudah yang dia lakukan demi menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar. Karena dia tidak pernah meninggalkan nama, atau jarang sekali memperkenalkan diri, akhirnya yang lebih dikenal di dunia kang-ouw hanyalah senjata barunya itu dan mulailah dia dijuluki orang Pendekar Suling Naga…..

 

—  —

 

Demikianlah peristiwa tiga tahun yang lalu itu, semua terbayang dalam benaknya ketika Sim Houw beristirahat ditepi Sungai Wu-kiang, duduk di atas rumput hijau tebal yang bersih itu. Alam di sekelilingnya amat indahnya, dan setelah Sim Houw menghentikan lamunannya, dia mulai masuk ke dalam keheningan yang penuh dan maha luas itu.

 

Pagi yang indah cerah, sinar matahari kuning emas yang menerobos celah-celah daun dan dahan nampak seperti garis-garis lurus yang amat indah. Sebagian sinar matahari sempat menimpa permukaan air sungai yang membentuk jalan lurus panjang berwarna kuning kemerahan.

 

Dia merasa betapa kulit pinggul dan belakang pahanya dingin, oleh karena embun yang tadinya menghias ujung rumput yang didudukinya meresap melalui celana, kemudian membasahi kulit pahanya. Semilir angin pagi yang membuat rambut kepalanya berkibar lembut mendatangkan rasa nyaman seperti membelai-belai leher dan dagunya.

 

Dengan kesadaran penuh akan keadaan sekeliling dirinya, Sim Houw melihat keindahan yang tiada taranya. Sukar untuk dapat diceritakan karena kata-kata amatlah terbatas.

 

Kata-kata hanya dapat menceritakan hal-hal yang telah lalu saja, tidak mungkin dapat menggambarkan keadaan SAAT INI. Keindahan dalam keheningan itu hanya dapat dirasakan oleh yang mengalaminya pada saat itu juga. Cerita yang dituturkan kemudian sama sekali berbeda dengan kenyataan pada saat itu.

 

Kenyataan yang demikian indahnya, yang menimbulkan rasa bahagia dan keharuan yang mendalam sehingga tanpa terasa lagi ada air mata membasahi kedua mata Sim Houw. Bukan air mata kesenangan atau air mata kesedihan, melainkan air mata yang muncul ketika batinnya yang paling dalam tersentuh oleh sesuatu yang halus, yang mendekatkan batinnya pada HIDUP yang sejati, bukan kehidupan di dunia fana yang penuh dengan permainan emosi ciptaan sang aku.

 

Sang aku tidak ada pada saat seperti itu, dirinya telah lebur menjadi satu dengan segala sesuatu, dengan alam, dengan keheningan. Berkericiknya air sungai, berkicaunya burung-burung di dalam pohon, semua itu termasuk di dalam keheningan yang maha luas itu. Hening, tapi bukan kesepian. Keheningan yang nyaman karena tidak adanya pikiran, tidak adanya sang aku, namun bukan pula tidur lelap, bukan pula termenung atau tenggelam ke dalam sesuatu. Sadar sesadar-sadarnya, segalanya terbuka, wajar, tanpa pamrih.

 

Seperti otomatis, Sim Houw mengeluarkan suling naga dari balik jubahnya. Benda ini selalu berada pada dirinya, tersembunyi aman tak nampak dari luar diselipkan di ikat pinggang, tertutup baju. Keharuan selalu timbul dalam keadaan seperti itu, dan selalu mendorongnya untuk meniup suling! Getaran batin dapat disatukan melalui suara suling yang ditiup.

 

Segera melayang suara merdu dari suling itu ketika Sim Houw mulai meniup sulingnya. Pemuda ini memang telah menguasai ilmu-ilmu dari Kam Hong yang pernah menjadi gurunya dan juga bekas calon ayah mertuanya. Bukan hanya pelajaran ilmu kesaktian Kim-siauw Kiam-sut saja yang dipelajarinya, melainkan juga ilmu meniup suling, baik meniup dengan mulut biasa untuk menciptakan lagu mau pun tiupan dengan bantuan pengerahan khikang untuk menyerang lawan yang tangguh.

 

Suara suling itu mengalun dan kadang-kadang melengking tinggi sekali sampai tidak tertangkap telinga manusia biasa, kemudian merendah dan menggereng sampai lenyap dari pendengaran pula. Merdu dan sesuai sekali dengan suara-suara yang ada, dengan gemersik daun-daun yang terhembus angin pagi, dengan gemerciknya air di tepi sungai, dengan kicau burung, dengan detak jantungnya sendiri. Getaran hatinya hanyut dalam aliran suara suling yang merdu.

 

Demikian asyiknya Sim Houw meniup suling sehingga seluruh keadaan dirinya lahir dan batin bagaikan masuk ke dalam suara itu. Dia seperti melayang-layang bersama suara sulingnya.

 

“Heiiii…! Bising sekali suara sulingmu!” Mendadak terdengar suara orang menegurnya, suaranya berteriak melengking tak kalah nyaringnya menyaingi suara suling.

 

Sim Houw melihat meluncurnya sebuah perahu di atas air sungai dan di atas perahu itu terdapat seorang wanita muda yang memegang tangkai pancing. Gadis itulah yang berteriak menegurnya. Akan tetapi Sim Houw bersikap tenang, melanjutkan tiupan sulingnya sampai lagunya habis barulah dia menghentikan tiupan sulingnya.

 

Kini perahu kecil itu sudah berada di tepi sungai di depannya dan seorang gadis yang duduk di dalam perahu sambil memegang tangkai pancing itu memandang kepadanya dengan mata melotot. Kemudian gadis itu menuding ke arah Sim Houw dengan tangkai pancingnya sambil berseru marah, “Kebisingan sulingmu itu menggangguku! Kalau mau menyuling jangan di sini, mengganggu aku yang sedang berlatih!”

 

Sim Houw memandang gadis itu penuh perhatian. Seorang gadis yang menarik sekali, wajahnya manis sekali, kecantikan yang asli karena gadis itu tidak merias mukanya. Sikapnya gagah dan rambutnya diikat ke atas dengan pita dan ujungnya digelung secara sederhana. Pakaiannya yang ringkas membayangkan bentuk tubuhnya yang penuh dan padat, di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ronce merah muda.

 

Melihat keadaan gadis ini, Sim Houw sudah dapat menduga bahwa nona di atas perahu itu adalah seorang gadis ahli silat. Apa lagi ketika gadis itu menuding dengan tangkai pancing dan ketika mengangat tangkai itu, ujungnya hanya terdapat sehelai tali tanpa pancing, dia pun dapat menduga bahwa tadi gadis itu sebenarnya bukan memancing, melainkan melakukan semacam latihan dengan bantuan tangkai pancing itu. Dan dia pun kagum ketika dia menduga bahwa tentu gadis itu sedang berlatih semedhi  dengan bantuan tangkai pancing.

 

Banyak macam orang bersemedhi dengan maksud mengumpulkan konsentrasi pada suatu hal saja. Ada orang mengggunakan bantuan api lilin yang dipandangnya terus, atau sebuah gambar lingkaran dengan titik di tengah, atau gambar pat-kwa, ada pula yang menggunakan patung dan sebagainya. Semua itu hanya dipergunakan sebagai alat untuk menujukan seluruh perhatian.

 

Gadis ini agaknya menggunakan tangkai pancing dengan tali yang tak ada pancingnya, tetapi ujungnya diikatkan pada sepotong batu. Dan gadis itu tentu berlatih konsentrasi sambil mencurahkan seluruh perhatiannya pada tangkai pancing yang dipegangnya dan air di mana nampak tali pancing ini tenggelam. Sebuah cara melatih perhatian yang amat aneh akan tetapi juga istimewa.

 

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo