October 3, 2017

Suling Naga Part 19

 

“Kenapa mesti cemburu? Aku bukan pacarnya, bukan kekasihnya, bukan apa-apanya! Sudah dua kali dia mengulangi perbuatannya yang didorong oleh cemburu buta itu. Pertama kali ketika aku terluka dan Cu Kun Tek mengobati punggungku, Hong Beng juga menjadi cemburu dan menyerang Kun Tek kalang-kabut seperti orang gila. Lalu tadi… hemmm, dia kira aku ini siapa? Aku bukan apa-apanya, dia tidak berhak untuk cemburu!”

Sim Houw menarik napas panjang. Diam-diam dia merasa kasihan kepada Hong Beng. Tahulah dia bahwa Hong Beng pernah tergila-gila kepada Bi Lan dan agaknya karena cintanya ditolak, Hong Beng menjadi sakit hati dan cemburu. Memang hal itu buruk sekali, akan tetapi dia tidak terlalu menyalahkan Hong Beng yang masih muda itu.

“Karena engkau menolak cintanya maka dia sakit hati dan cemburu, Lan-moi.”

“Apa dia akan memaksa bahwa aku harus membalas cintanya? Phuhh, memang watak dia buruk sekali. Orang lain yang kutolak cintanya tidak marah-marah dan cemburu macam dia!”

Sim Houw tertarik sekali. “Siapakah dia itu, Lan-moi?”

Bi Lan sedang panas hatinya terhadap Hong Beng dan dia sedang merasa penasaran karena diajak pergi melarikan diri oleh Sim Houw, maka tanpa berpikir panjang lagi ia menjawab, “Kun Tek juga menyatakan cintanya kepadaku dan kutolak!”

Tiba-tiba dara itu berhenti bicara karena dia teringat bahwa Kun Tek masih terhitung paman Sim Houw, walau pun usia Sim Houw belasan tahun lebih tua dari pada pemuda Lembah Naga Siluman itu.

Akan tetapi Sim Houw tersenyum, tidak nampak kaget karena memang dia pun sudah pernah menduganya. “Lan-moi, dua orang pemuda gagah perkasa dan pilihan telah menyatakan cinta kepada dirimu. Akan tetapi kenapa engkau menolak keduanya?”

Bi Lan mengerutkan alisnya. “Habis, kalau aku tidak memiliki perasaan cinta terhadap mereka, apakah aku harus menerima seorang di antara mereka?”

Sim Houw menggeleng kepalanya. “Tentu saja tidak, Lan-moi. Tetapi… apakah selama ini engkau tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang?”

Bi Lan melupakan kemarahannya dan ia tersenyum. “Agaknya nasibku sama dengan engkau, Sim-ko. Seperti juga engkau yang selama ini tidak pernah jatuh cinta lagi kepada seorang gadis, aku pun tidak pernah jatuh cinta kepada seorang pria. Agaknya ada persamaan antara kita. Kalau engkau sekali waktu jatuh cinta kepada seorang wanita, mungkin sekali aku pun akan jatuh cinta kepada seorang pria, siapa tahu?” Dan gadis itu pun lari mendaki bukit di depan dengan cepat.

Sim Houw tertegun sejenak, lalu menggeleng kepala dan mengejar. Dia sungguh tidak mengerti akan sikap Bi Lan. Gadis itu amat menarik hatinya, amat dicintanya semenjak pertama kalinya bertemu. Bi Lan dianggapnya memiliki watak yang amat aneh, dan mungkin keanehan watak gadis inilah yang merupakan satu di antara daya tarik gadis itu baginya.

Kadang-kadang demikian mudah membaca isi hati Bi Lan, seperti membaca sebuah kitab terbuka saja. Akan tetapi ada kalanya, sikap Bi Lan merupakan teka-teki yang sangat sulit baginya, sukar dimengerti. Kadang-kadang timbul harapannya karena dia melihat tanda-tanda bahwa Bi Lan sayang dan cinta kepadanya, akan tetapi dia masih meragukan hal ini. Mungkinkah seorang gadis remaja seperti Bi Lan dapat jatuh cinta kepadanya?

Bi Lan telah menolak cinta kasih pemuda-pemuda hebat yang sebaya dengan gadis itu. Kalau pendekar- pendekar muda seperti Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek saja ditolak cintanya, apa lagi seorang laki-laki yang sudah tua seperti dia! Usianya telah tiga puluh empat atau tiga puluh lima tahun, sedangkan usia Bi Lan baru delapan belas tahun. Dia dua kali lebih tua dari gadis itu, pantas menjadi pamannya! Mungkinkah gadis muda seperti Bi Lan yang menolak dua orang pendekar perkasa dan muda seperti Hong Beng dan Cu Kun Tek, dapat mencinta seorang tua seperti dia?

Sukar untuk dapat dipercaya dan hal inilah yang membuat hati Sim Houw senantiasa meragu dan dia takut untuk menyatakan cinta kasihnya. Takut kalau-kalau pernyataan cintanya hanya akan memisahkan dia dari Bi Lan. Biarlah dia tidak menyatakan cinta, akan disimpannya sebagai rahasianya sendiri saja, asalkan dia dapat berdekatan terus dengan Bi Lan. Dia telah tergila-gila kepada Bi Lan, mencinta Bi Lan dengan seluruh batin dan badannya, sampai ke rambut-rambutnya, dan baru sekaranglah dia mencinta wanita lain setelah dulu cintanya ditolak oleh Kam Bi Eng.

Dilihatnya bayangan Bi Lan sudah sampai di puncak bukit itu, maka dia pun segera mengerahkan tenaganya untuk mempercepat larinya mengejar gadis itu. Mereka sudah tiba di perbatasan utara dan Sim Houw sudah mendengar bahwa daerah tembok besar ini selain sunyi dan liar, juga amat berbahaya karena siapa yang dihadang oleh orang-orang jahat di daerah ini, jangan harap akan bisa mendapatkan pertolongan dari orang lain karena tempat itu sunyi sekali…..

********************

Bekas Panglima Kao Cin Liong yang kini menjadi seorang saudagar rempah-rempah di kota Pao-teng, dikenal oleh hampir semua orang di kota itu. Dia bukan hanya dikenal sebagai seorang pedagang yang berhasil, melainkan juga sebagai seorang dermawan yang selalu membuka kedua tangan untuk menolong orang lain yang kesusahan, juga terkenal sebagai seorang bekas panglima dan seorang pendekar yang berilmu tinggi.

Apa lagi di kalangan dunia persilatan. Semua orang kang-ouw tahu belaka siapa adanya Kao Cin Liong, karena dia adalah putera dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Juga isterinya amat terkenal, karena Suma Hui adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.

Seperti telah kita ketahui, Kao Cin Liong yang kini berusia lima puluh tahun dan Suma Hui yang berusia empat puluh tahun itu, hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu anak perempuan berusia tiga belas tahun yang diberi nama Kao Hong Li. Mudah saja diduga bahwa Hong Li tentu saja memiliki kepandaian silat yang luar biasa.

Ayah dan ibunya adalah pendekar-pendekar kenamaan yang sakti, maka tentu saja sejak anak ini masih kecil, ia telah digembleng oleh kedua orang tuanya sehingga ketika usianya tiga belas tahun, ia telah menjadi seorang anak perempuan yang lincah dan lihai bukan main. Sukar mencari seorang dewasa, biar pria sekali pun, yang akan dapat mengalahkan gadis cilik ini. Bahkan mereka yang ilmu silatnya tanggung- tanggung saja, jangan harap akan mampu menandingi Hong Li.

Di dalam usianya yang baru tiga belas tahun, Hong Li sudah nampak cantik. Mudah dilihat bahwa ia akan menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan menarik dalam waktu beberapa tahun lagi. Tubuhnya tinggi langsing dan padat, penuh dengan tenaga terlatih.

Matanya yang membuka wajahnya nampak cerah. Mata itu paling indah. Lebar dan jeli, bagaikan telaga yang bening. Sikapnya lincah, jenaka, akan tetapi galak. Hal terakhir ini mungkin timbul karena sebagai anak tunggal, tentu saja ada sedikit kemanjaan dalam hatinya. Apa lagi kesadaran bahwa ayah ibunya adalah pendekar-pendekar sakti yang dikagumi dan dihormati orang sedikit banyak mendatangkan ketinggian hati.

Ayah ibunya tidak menghendaki hal ini dan tentu saja mereka tidak suka kalau anak tunggal mereka tinggi hati atau manja. Akan tetapi karena mereka menganggap Hong Li masih terlalu kecil dan kurang pengalaman, maka sedikit ketinggian hati dan kemanjaan itu mereka anggap sebagai hal lumrah yang kelak tentu akan hilang sendiri kalau jiwa pendekar sudah menjadi dasar batin Hong Li.

Peradaban dan kebudayaan sudah membentuk diri kita seperti keadaannya sekarang, yaitu gila hormat dan haus akan pujian! Semenjak kecil kita dijejali kebiasaan untuk mengagungkan nilai-nilai, mengejar nilai-nilai. Anak-anak kecil dipuji kalau melakukan hal-hal yang dianggap baik dan menyenangkan, dicela kalau sebaliknya.

Di sekolah pun para murid diajar untuk memperebutkan nilai-nilai. Kemajuan mereka diukur dengan nilai- nilai. Karena itu, kita berangkat besar dengan pengertian bahwa kita amat memerlukan nilai-nilai baik dalam kehidupan ini, dan betapa senangnya menerima pujian-pujian, betapa tidak menyenangkan menerima celaan-celaan.

Kita lalu menjadi orang-orang munafik dan palsu, yang mengejar pujian-pujian dengan segala cara. Kita selalu ingin memamerkan segi-segi yang dipandang baik oleh orang lain dalam diri kita, hanya untuk mengejar pujian. Kita lalu berangkat dewasa menjadi manusia yang gila pujian dan gila hormat.

Tidak mengherankan kalau Hong Li tidak terkecuali. Ia berangkat besar seperti anak-anak lain yang selalu haus akan pujian dan selalu ingin memamerkan kepandaiannya, ingin menonjolkan keistimewaan yang ada pada dirinya dan yang tidak terdapat pada diri orang lain.

Seperti orang-orang tua yang hidup di alam kita ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui juga tidak terkecuali, selalu mengajarkan kepada anak tunggal mereka tentang kebaikan agar anak mereka selalu berbuat kebaikan dan menjadi ‘orang baik’, selalu menjauhkan perbuatan-perbuatan yang dianggap jahat dan tidak baik. Seperti juga orang-orang tua lain dalam kehidupan kita ini, mereka ingin membentuk anak mereka, bagai membentuk sebuah boneka dari tanah liat, agar supaya menjadi sebaik-baiknya, tentu saja menurut pandangan mereka yang juga menjadi pandangan masyarakat, menjadi pandangan umum sesuai dengan kebudayaan dan peradaban kita.

Tetapi, dapatkah kebaikan diajarkan, dipelajari dan dilatih? Segala yang dapat dipelajari dan dilatih adalah sesuatu yang mati, dan sesuatu yang diusahakan untuk dimiliki tentu mempunyai dasar sebagai pamrih. Kalau kita berbuat kebaikan dengan pamrih, setelah mempelajari dan melatihnya, apakah itu dapat dinamakan kebaikan lagi, ataukah bukan sekedar cara dan usaha untuk mendapatkan pamrih itu, yang dapat saja berupa pujian, kepuasan hati, pahala batiniah dan sebagainya?

Kebaikan yang sengaja dilakukan dengan kesadaran bahwa kita melakukan perbuatan baik, jelas bukan kebaikan lagi namanya, melainkan suatu usaha. Dan tidak berbeda seperti usaha-usaha lainnya, kalau sampai usaha itu gagal mendatangkan hasil, tentu akan mengecewakan.

Misalnya, orang yang menolong orang lain kemudian orang yang ditolongnya itu tidak membalas kebaikannya bahkan merugikan, tentu akan merasa sakit hati dan kecewa. Orang yang melakukan kebaikan, kemudian tidak menerima pujian bahkan dicela, tentu akan marah dan kecewa! Jelaslah bahwa kebaikan-kebaikan seperti itu, yang dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa yang dilakukan itu adalah kebaikan, bukan kebaikan lagi namanya, melainkan hanya sekedar cara untuk menyenangkan hati sendiri memetik buahnya kelak!

Alangkah jauh beda hal ini dengan perbuatan yang dilakukan berdasarkan cinta kasih. Perbuatan ini digerakkan oleh perasaan sayang, perasaan iba, tanpa pamrih apa pun juga untuk diri sendiri, merupakan perbuaran spontan yang wajar. Bukan lagi dinamakan kebaikan karena si pelaku tidak mengingat lagi apakah perbuatannya itu baik ataukah tidak baik. Yang ada hanyalah kewajaran, tanpa pamrih, dan dalam perbuatan seperti ini maka sinar cinta kasih akan meneranginya.

Betapa lucunya namun sangat menyedihkan melihat betapa kita berlomba-lomba untuk menjadi orang baik dengan menyebar segala perbuatan palsu, seakan-akan kebaikan bisa dicapai melalui kepalsuan dan kemunafikan. Lihat betapa bangsa-bangsa berlomba di dunia ini untuk membicarakan dan mencapai perdamaian dengan senjata di tangan!

Kalau ada sinar cinta kasih menerangi batin, maka tanpa perlu diusahakan sekali pun, kedamaian tentu sudah ada, karena tidak akan mungkin terjadi perang! Kalau ada cinta kasih di dalam batin, maka kita tidak perlu melakukan perbuatan yang kita anggap baik lagi, karena setiap perbuatan kita yang berdasarkan cinta kasih adalah suci!

Pada suatu sore, terdengar sorak dan tepuk tangan sekumpulan anak-anak di kebun rumah besar keluarga Kao Cin Liong. Mereka adalah belasan orang anak-anak laki-laki dan perempuan yang berkumpul di kebun itu, mengagumi Hong Li yang sedang bermain silat pedang. Memang indah sekali permainan itu.

Hong Li baru saja menerima oleh-oleh sebatang pedang yang indah dari ayah ibunya yang baru saja kembali dari kota raja. Sebatang pedang yang mewah, bukan pedang pusaka, namun terbuat dari baja yang baik, bentuknya kecil dan cocok untuk dimainkan seorang anak perempuan. Gagangnya terukir indah dan pedang itu sendiri putih bersih berkilau seperti perak. Sarung pedangnya juga penuh dengan ukiran bunga dan kupu-kupu beraneka warna, amat halus dan indah ukirannya.

Dan kini, Hong Li bermain pedang itu di dalam kebun, disaksikan dan dikagumi oleh belasan orang anak- anak. Mereka itu adalah teman-teman bermain Hong Li, anak-anak tetangga. Memang, di dalam hal ini Kao Cin Liong dan isterinya bersikap bebas, tidak seperti orang-orang tua lain yang terkadang memperhitungkan derajat dan kedudukan dalam memilih teman-teman untuk anak-anak mereka.

Biar pun Cin Liong dan Suma Hui adalah suami isteri pendekar yang lihai sekali, bahkan Kao Cin Liong seorang bekas panglima yang terpandang, dan sekarang mereka hidup berkecukupan, namun mereka membiarkan anak perempuan mereka bergaul bebas dengan anak-anak tetangga. Dalam hal membiarkan anaknya bergaul bebas, Kao Cin Liong dan Suma Hui memang menyimpang dari kebiasaan umum.

Biasanya, orang-orang tua akan melarang anak perempuan mereka bergaul bebas, apa lagi setelah berusia tiga belas tahun, usia remaja menjelang dewasa. Agaknya, watak mereka sebagai pendekar- pendekar yang biasa hidup berkelana dan bebas yang sudah membuat mereka tidak berkeberatan melihat anak perempuan mereka bergaul dengan anak siapa saja, laki-laki mau pun perempuan.

Bagaimana pun juga, anak-anak itu bersikap sopan terhadap Hong Li dan menyebutnya siocia (nona). Tentu saja hal ini mereka lakukan karena melihat betapa semua orang menghormati Hong Li sebagai keluarga jagoan dan keluarga kaya pula.

“Bagus…! Bagus sekali…!”

“Kao-siocia seperti bidadari sedang menari!”

“Lihat, pedang itu seperti naga putih melayang-layang…!”

Pujian-pujian ini keluar dari mulut anak-anak yang saat itu sedang menonton Kao Hong Li memamerkan pedang barunya dan juga ilmu silatnya yang memang hebat. Sekecil itu, dia sudah pandai sekali bersilat pedang, bukan hanya indah dipandang, namun di dalamnya mengandung kekuatan-kekuatan yang akan mengejutkan seorang ahli sekali pun.

Tidaklah mengherankan jika diingat bahwa Hong Li telah berlatih Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang dipelajarinya dari ibunya, ilmu pedang yang merupakan satu di antara ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es. Apa lagi ia sudah menguasai dasar-dasar gerakan ilmu pilihan dari Istana Gunung Pasir, yaitu ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat (Naga Sakti). Biar gerakan pedangnya belum matang benar, dan tenaga sinkang yang mendorongnya belum dapat dibilang terlalu kuat, namun gerakan-gerakan itu selain indah, juga baik sekali, karena dilatih sejak ia masih kecil.

Setelah Hong Li berhenti bermain silat pedang dan sinar yang bergulung-gulung dari pedangnya lenyap, anak-anak itu betepuk tangan memuji.

“Ilmu pedang yang jelek sekali!”

Suara ini melengking tinggi mengatasi kegaduhan anak-anak itu sehingga terdengar oleh mereka semua. Tentu saja semua anak itu terkejut dan menengok, sedangkan Hong Li juga menengok ke kanan dengan alis berkerut, hatinya mendongkol mendengar ada orang mengatakan ilmu pedangnya jelek, pada hal semua anak di situ bersorak memuji.

Ketika anak-anak itu menoleh dan memandang kepada seorang kakek yang tiba-tiba saja berada di situ tanpa mereka ketahui kedatangannya, mereka merasa heran dan tidak tahu siapa adanya kakek berkepala gundul yang memakai jubah lebar berwarna merah darah ini. Akan tetapi Hong Li sudah banyak mendengar dari kedua orang tuanya tentang tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw, tentang pendeta- pendeta dan pertapa-pertapa yang memiliki ilmu kepandaian yang hebat, dan betapa di antara para kakek atau nenek yang berpakaian seperti pendeta itu terdapat pula tokoh-tokohnya yang sesat.

Maka, ketika melihat munculnya kakek gundul berjubah merah ini, Hong Li memandang dengan hati agak khawatir, tidak tahu apakah kakek ini seorang baik ataukah jahat, kawan ataukah lawan dari ayah ibunya. Akan tetapi, mendengar betapa begitu muncul kakek itu sudah mencela ilmu pedangnya, agaknya tidak mungkin kalau kakek ini merupakan kawan ayah ibunya.

“Kakek tua, siapakah engkau yang berani mencela ilmu pedangku?” tanyanya dengan alis berkerut dan pedang barunya masih berada di tangan kanan. Ia mengelebatkan pedangnya dan terdengar suara berdesing diikuti sinar pedang berkilat.

Kakek itu tertawa, suara ketawanya juga melengking tinggi dan halus. “Ha-ha-ha, bukan hanya ilmu pedangmu, juga pedangmu itu jelek sekali, Ha-ha-ha!”

Tentu saja Hong Li menjadi makin marah. Pedangnya itu adalah pedang baru oleh-oleh dari ayah bundanya dan pedang itu semenjak kemarin telah menjadi pusat kekaguman teman-temannya, tetapi sekarang dikatakan jelek sekali oleh kakek ini! Ia memandang dengan sinar mata mencorong penuh penasaran dan kemarahan, dan diam-diam ia memperhatikan kakek itu.

Seorang kakek yang usianya enam puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka halus dan gerak- gerik lembut. Sepasang matanya bening seperti mata wanita dengan bulu mata yang panjang melengkung. Tidak dapat disangkal, wajah kakek berkepala gundul ini meninggalkan bekas wajah seorang laki-laki yang tampan sekali.

“Kakek pendeta, engkau ini hwesio dari manakah? Kalau ada keperluan dengan orang tuaku, datang saja lagi besok pagi karena mereka sedang pergi..”

“Omitohud… aku memang tahu bahwa mereka sedang pergi membeli rempah-rempah di seberang sungai. Aku datang bukan untuk mereka, melainkan untuk nonton permainan pedangmu yang jelek.”

Hong Li menjadi marah sekali. Alisnya yang hitam panjang berkerut, sepasang matanya yang lebar itu mengeluarkan sinar berkilat dan mukanya menjadi kemerahan. “Engkau ini kakek pendeta yang sombong dan jahat. Apa salahku maka engkau datang-datang hendak menghina aku?”

“Ha-ha-ha, aku tidak menghina, melainkan hendak nonton ilmu pedang yang jelek.”

“Kalau begitu, apakah engkau berani menghadapi pedangku dan ilmu pedangku yang jelek ini?”

“Omitohud, tentu saja aku berani. Ilmu pedangmu dan pedangmu itu tidak ada artinya, hanya patut untuk pamer dan berlagak saja.”

Bukan main marahnya Hong Li mendengar ucapan pendeta berjubah merah itu. Sejak kecil ia hanya melihat orang-orang bersikap hormat dan kagum terhadap keluarganya, apa lagi terhadap ilmu silat keluarganya. Dan sekarang, kakek kurus ini menghina ilmu silatnya dan berani menantangnya.

“Kakek sombong, kalau begitu hadapilah pedangku ini!” bentaknya dan sekali melompat ia telah menghampiri kakek pendeta itu dengan pedang ditodongkan.

“Ha-ha-ha, bocah lucu, engkau menodongku dengan setangkai bunga mawar?” tiba-tiba kakek itu berkata sambil tertawa. Tangannya membuat gerakan ke arah pedang dan… Hong Li, dan belasan orang anak itu, terbelalak ketika melihat betapa yang berada di tangan Hong Li memang benar-benar setangkai bunga mawar, bukan pedang yang tadi dimainkan dengan indahnya!

Akan tetapi, Hong Li adalah keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Ibunya adalah cucu Pendekar Super Sakti, maka tentu saja ia segera dapat mengerti bahwa kakek pendeta jubah merah ini telah main-main dan mempergunakan ilmu sihir. Hanya sebentar saja dia terkejut dan terbelalak, lalu dia mengerahkan sinkang-nya, memaksa diri untuk bertahan dan tidak hanyut oleh kekuatan sihir.

“Yang kutodongkan adalah pedang baruku! Siapa bilang bunga mawar?” bentaknya dan ia pun menggerak-gerakkan pedangnya.

Karena tentu saja tenaga batinnya belum kuat benar, matanya melihat betapa yang berada di tangan kanannya itu berubah-ubah, kadang-kadang nampak sebagai pedang, kemudian berubah menjadi setangkai bunga lagi. Namun, ia menjadi nekat, bunga atau pedang, tetap saja ia pergunakan untuk menyerang kakek kurus itu!

Dalam penglihatan belasan orang anak itu, nampak lucu sekali ketika melihat Hong Li menyerang kakek itu kalang kabut dengan menggunakan setangkai bunga mawar! Akan tetapi, kakek itu sendiri kagum bukan main. Anak ini tidak mengecewakan menjadi cucu buyut Pendekar Super Sakti dan ilmu pedangnya memang hebat bukan main. Hatinya semakin tertarik dan suka kepada Hong Li.

Menghadapi serangan-serangan gadis cilik itu, ia menggunakan kecepatan gerakannya. Tubuhnya melayang-layang dengan ringan dan lembut, seperti berubah menjadi sehelai bulu yang bergerak ke sana- sini, selalu luput dari terkaman ujung pedang yang sedang dimainkan Hong Li.

“Anak baik, engkau berjodoh dengan Ang I Lama, marilah ikut dengan pinceng!” tiba tiba belasan orang anak itu mendengar suara ini yang diikuti oleh bunyi ledakan keras.

Semua anak ketakutan karena tempat itu berubah menjadi lautan asap. Mereka tak dapat melihat, bahkan mereka terpaksa mundur karena asap itu tebal dan menakutkan sekali. Ketika asap itu perlahan-lahan melayang pergi, anak-anak itu menjadi bingung karena mereka tidak melihat Hong Li dan kakek pendeta jubah merah tadi. Mereka berdua telah lenyap tanpa meninggalkan bekas, seolah-olah ikut terbang pergi bersama asap tebal.

Tentu saja anak-anak ini menjadi ketakutan dan bingung. Mereka berlari-larian pulang sambil menangis melapor kepada orang tua masing-masing tentang peristiwa lenyapnya Kao Hong Li bersama kakek pendeta gundul berjubah merah. Para pelayan keluarga Kao yang mendengar laporan ini pun menjadi bingung dan ketakutan. Keadaan menjadi gempar dan semua orang mencari-cari ke mana perginya Hong Li, namun tidak dapat menemukan jejak anak itu yang lenyap seperti berubah menjadi asap.

Keadaan menjadi semakin geger pada saat Kao Cin Liong dan Suma Hui pulang dari perjalanan mereka ke seberang sungai untuk membeli rempah-rempah. Dua pekan sekali suami isteri itu memang pergi sendiri membeli barang dagangan. Ketika mereka mendengar akan peristiwa aneh yang mengakibatkan lenyapnya anak tunggal mereka, tentu saja sepasang pendekar ini menjadi terkejut dan marah.

Mereka menggunakan kepandaian mereka untuk melakukan pengejaran dan pencarian. Tetapi, sampai semalam suntuk mereka mencari tanpa hasil dan akhirnya, menjelang pagi pada besok harinya, dengan lemas mereka pulang ke rumah. Suma Hui menahan tangisnya, akan tetapi kedua matanya merah dan wajahnya membayangkan kedukaan dan kegelisahan yang mendalam. Akan tetapi Kao Cin Liong nampak tenang saja, biar pun tentu saja dia juga merasa bingung dan gelisah.

“Tenangkan hatimu,” katanya kepada isterinya karena dia tidak tega melihat wajah isterinya demikian penuh duka dan kegelisahan. “Setidaknya kita boleh merasa yakin bahwa anak kita masih dalam keadaan selamat. Kalau penjahat atau siapa saja yang menculiknya itu berniat buruk, tentu hal itu sudah dilakukannya, tidak perlu bersusah-susah melarikannya.”

Suma Hui dapat mengerti pendapat ini. Memang, kalau penjahat itu hendak membunuh Hong Li, tidak perlu dibawa pergi. Akan tetapi, siapakah yang menculik Hong Li? Dan kenapa? Mereka berdua lalu mendatangi anak-anak yang menyaksikan peristiwa itu dan kagetlah hati mereka ketika mendengar bahwa sebelum Hong Li dan kakek jubah merah itu lenyap berubah menjadi asap, terdengar kakek itu berkata, “Anak baik, engkau telah berjodoh dengan Ang I Lama, marilah ikut dengan pinceng!”

Keterangan ini tentu saja amat penting bagi mereka. Jelaslah bahwa pendeta berkepala gundul yang berjubah merah itu adalah Ang I Lama dan dialah yang telah melarikan Hong Li. Kata ‘berjodoh’ yang dipergunakan pendeta itu dapat berarti berjodoh untuk menjadi muridnya, akan tetapi juga untuk maksud yang cabul dan jahat. Mereka berdua tahu betapa banyaknya orang-orang jahat dan keji yang menyembunyikan kejahatannya di balik kedudukan atau pakaian. Betapa banyaknya pencuri-pencuri dan perampok-perampok besar bersembunyi di balik pakaian seorang pembesar, penjahat-penjahat keji bersembunyi di balik pakaian pendeta-pendeta.

“Ang I Lama…? Suma Hui mengulang nama itu sambil mengepal tinju. “Siapakah dia dan mengapa dia melakukan hal ini kepada keluarga kita?” Ia memandang suaminya dengan harapan suaminya akan mengenal nama itu.

Akan tetapi semenjak tadi Kao Cin Liong juga terus mengerutkan alisnya dan memeras ingatannya, akan tetapi dia merasa tidak pernah mengenal nama itu. Maka, menjawab pertanyaan isterinya, dia pun menggeleng kepalanya.

“Aku tidak pernah mengenal nama itu, akan tetapi untunglah bahwa dia meninggalkan sebuah nama. Karena dia seorang pendeta Lama, maka di mana lagi dia berada kalau bukan di Tibet?”

‘Brakkk…!” Tiba-tiba Suma Hui menepuk meja di depannya. “Ahh, tentu saja!”

“Apa… maksudmu?” suaminya bertanya sambil memandang penuh perhatian.

Isteri itu memandang suaminya. “Tentu masih ada hubungannya dengan Sai-cu Lama! Kita ikut membasmi komplotan Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama dan sekarang muncul seorang pendeta Lama lainnya yang menculik anak kita. Apakah kau pikir tidak ada hubungannya antara kedua orang pendeta Lama itu?”

Suaminya mengangguk-angguk. “Sangat boleh jadi, akan tetapi kita tidak mengenal. Ang I Lama itu dan tidak tahu di mana dia berada. Kurasa satu-satunya jalan untuk mencarinya adalah ke Tibet. Di sana tentu kita akan memperoleh keterangan jelas di mana adanya Ang I Lama.”

“Memang agaknya hanya itu jalannya dan marilah kita pergi sekarang saja. Aku tidak tahan berdiam di rumah lebih lama lagi memikirkan nasib anak kita…” Dan kini Suma Hui tak dapat menahan membanjirnya air mata.

Melihat ini, suaminya lalu mendekatinya dan merangkulnya. Memecah bendungan air mata itu dan Suma Hui menangis tersedu-sedu di dada suaminya yang membiarkannya menangis untuk melampiaskan segala perasaan marah, khawatir dan duka yang sejak malam tadi ditahan-tahannya.

Setelah kedukaan Suma Hui mereda, suami isteri ini lalu cepat-cepat berkemas untuk menyediakan bekal perjalanan mencari anak mereka ke Tibet! Perjalanan yang amat jauh dan makan banyak waktu.

Selagi mereka sibuk, datanglah tamu yang tidak mereka duga-duga. Dua orang tamu datang dan mereka ini bukan lain adalah Suma Ciang Bun dan Gu Hong Beng! Melihat adiknya, datang lagi perasaan duka di hati Suma Hui dan dia pun menubruk adiknya sambil menangis.

Tentu saja Suma Ciang Bun terkejut sekali melihat ulah enci-nya. Enci-nya, setahunya, adalah seorang wanita yang keras hati dan tabah bukan main, lebih tabah dari pada dia sendiri. Kalau sekarang enci-nya sampai bersedih dan menangis seperti itu, apa lagi melihat betapa sepasang mata enci-nya sudah bengkak-bengkak bekas banyak tangis, dia khawatir tentu telah terjadi hal yang luar biasa dan hebat sekali.

“Enci Hui, engkau kenapakah? Apa yang telah terjadi sehingga engkau menjadi begini berduka?” Karena enci-nya menangis makin sedih, Suma Ciang Bun mengangkat muka memandang cihu-nya (kakak iparnya) dengan alis berkerut.

Kao Cin Liong merangkul isterinya dan dengan lembut menarik tubuh isterinya dari Suma Ciang Bun, lalu mengajaknya duduk. “Tenanglah dan kebetulan sekali Ciang Bun datang. Mungkin dia dapat membantu kita.” Mendengar ini, Suma Hui menghentikan tangisnya dan memandang kepada adiknya.

“Hong Li telah diculik orang…!”

Tentu saja Ciang Bun terkejut sekali. “Ah! Siapa penculiknya dan kapan terjadinya? Bagaimana dia berani melakukan hal itu?”

Kao Cin Liong yang lebih tenang segera memberi keterangan kepada adik iparnya. “Kemarin sore, ketika kami berdua pergi membeli rempah-rempah di seberang sungai dan Hong Li berada seorang diri di rumah, datang penculik itu. Dia seorang pendeta Lama yang berjuluk Ang I Lama, dan dia menculik Hong Li dengan mempergunakan ilmu sihir seperti yang kami dengar dari anak-anak yang menemani Hong Li pada waktu itu.” Lalu dengan singkat namun jelas, Kao Cin Liong menceritakan tentang peristiwa penculikan itu seperti yang didengarrya jari anak-anak.

“Ang I Lama…?” Suma Ciang Bun mengulang nama itu sambil mengerutkan alis.

“Bun-te, apakah engkau mengenal nama jahanam itu?” tanya Suma Hui penuh harapan.

Suma Ciang Bun yang sudah banyak melakukan perantauan itu termenung. “Seperti pernah kudengar nama itu, akan tetapi entah di mana dan kapan. Nama itu jarang muncul di dunia kang-ouw…”

Pada waktu itu, Kao Cin Liong melihat betapa Gu Hong Beng, murid adik iparnya itu, memandang dengan sinar mata bercahaya. “Hong Beng, apakah kau mengenalnya?” Dia bertanya. Suami isteri ini pernah mengenal Hong Beng, bahkan bersama pemuda ini dan para pendekar lainnya, pernah membantu untuk menghancurkan persekutuan yang mendukung Thai-kam Hou Seng.

“Ang I Lama… apakah tidak ada hubungannya dengan Sai-cu Lama…?” Hong Beng berkata.

“Aku pun berpendapat demikian,” Suma Hui berkata, “akan tetapi, di manakah adanya Ang I Lama dan mengapa dia melakukan hal ini kepada kami?”

“Ahhh…! Sekarang aku ingat, enci Hui!” kata Suma Ciang Bun. “Aku pernah mendengar nama Ang I Lama dan tentu saja ada hubungan antara dia dan Sai-cu Lama, karena Ang I Lama adalah salah seorang di antara para pimpinan pendeta Lama di Tibet. Akan tetapi… menurut yang pernah kudengar, Ang I Lama termasuk pendeta Lama yang bersih dan tidak sudi melakukan kejahatan, apa lagi menculik keponakanku Hong Li.”

“Siapa tahu hati orang? Mungkin saja dia mendendam atas kematian Sai-cu Lama, karena bukankah mereka sama-sama dari Tibet dan sama-sama pendeta Lama? Mungkin atas dasar dendam itulah, dan mengingat bahwa kami berdua juga membantu usaha menghancurkan persekutuan Sai-cu Lama, maka kini Ang I Lama datang untuk membalas dendam dengan cara yang curang, yaitu menculik dan melarikan anak kami,” kata Suma Hui.

“Benar, akan tetapi kita harus bertindak hati-hati, enci. Hal ini harus diselidiki lebih dulu secara cermat agar jangan sampai enci menuduh orang yang tidak berdosa.”

“Tentu saja. Sekarang pun kami sedang berkemas untuk segera berangkat ke Tibet, melakukan penyelidikan tentang Ang I Lama itu!”

“Perjalanan yang amat jauh dan sukar,” kata Suma Ciang Bun.

“Jangankan baru ke Tibet, biar Ang I Lama melarikan diri ke neraka sekali pun, pasti akan kami kejar sampai dapat!” kata Suma Hui dengan gemas.

“Kalau begitu, biarlah kita membagi tugas,” kata Suma Ciang Bun. “Enci dan cihu mencari ke Tibet, dan aku akan mencari di sekitar sini. Siapa tahu yang namanya Ang I Lama itu masih bersembunyi di dekat dan di sekitar daerah ini. Sedangkan Hong Beng biarlah ke Istana Gurun Pasir untuk melapor.”

“Ehh? Ada urusan apa ke sana?” Kao Cin Liong bertanya sambil memandang heran mendengar bahwa adik iparnya itu hendak menyuruh muridnya mengunjungi tempat kediaman orang tuanya yang jarang dikunjungi orang. Dia sendiri merasa tidak suka kalau ketenangan dan ketenteraman kehidupan ayah ibunya terganggu.

Suma Cang Bun menarik napas panjang. “Sebenarnya kedatanganku ini untuk melapor kepada cihu tentang perbuatan sumoi-mu.”

“Sumoi-ku? Sumoi yang mana?” Cin Liong bertanya heran.

“Bukankah cihu mempunyai seorang sumoi? Murid Sam Kwi yang diambil murid oleh ayah ibumu.”

“Ah, maksudmu gadis yang bernama Can Bi Lan itu? Mengapa ia? Bukankah ia pantas sekali menjadi murid ayah ibuku karena sepak terjangnya saat menghadapi persekutuan Sai-cu Lama membuat kagum?”

“Ia telah melakukan penyelewengan sekarang! Bayangkan saja, ia sudah membela dan membantu Bi-kwi yang melakukan kecabulan dan membunuh banyak pemuda. Padahal, Bi-kwi bekerja sama dengan tosu- tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw mengeroyokku sehingga nyaris aku tewas di tangan mereka. Bi Lan itu telah mempergunakan pedang pusaka ibumu, Ban-tok-kiam untuk bersekongkol dengan tosu-tosu jahat itu, melakukan kejahatan, dan membela Bi-kwi. Dan dalam hal ini, ia dibantu pula oleh Pendekar Suling Naga yang lihai.”

Mendengar ini, Kao Cin Liong mengerutkan alisnya. “Hemm, berbahaya sekali kalau begitu. Ia membawa po-kiam (pedang pusaka) dari ibuku, kalau dipergunakan secara keliru, akan merusak nama baik keluarga kami.” Suma Hui diam saja tidak berani memberi komentar karena menyangkut nama baik keluarga suaminya.

“Sayang kita harus pergi ke Tibet untuk mencari anak kita, kalau tidak tentu kita dapat mencarinya dan meminta kembali pedang pusaka itu,” kata Suma Hui dengan hati-hati karena ia khawatir kalau suaminya akan membatalkan niatnya mencari Hong Li untuk mencari Bi Lan berhubung dengan terancamnya nama baik keluarganya.

“Biarlah saya yang akan pergi menghadap Kao locianpwe di Istana Gurun Pasir untuk melaporkan tentang penyelewengan Can Bi Lan dan sekalian mengabarkan tentang diculiknya adik Kao Hong Li oleh Ang I Lama,” kata Hong Beng dengan cepat.

“Ah, kalau begitu baik sekali!” Suma Hui berseru girang, memandang kepada suaminya.

Cin Liong juga mengangguk dan memandang kepada Hong Beng dengan sinar mata berterima kasih. Tidak disangkanya bahwa kehidupannya yang selama ini tenang dan tenteram, dalam satu hari saja berubah menjadi keruh, penuh dengan persoalan yang mendatangkan duka dan kekhawatiran.

Walau pun baru pagi hari itu bertemu, mereka terpaksa harus berpisah lagi pada siang harinya karena mereka harus mulai dengan tugas masing-masing. Kao Cin Liong dan Suma Hui berangkat menuju ke Tibet untuk mencari Ang I Lama dan puteri mereka, sedangkan Suma Ciang Bun pergi mencari jejak pendeta Lama yang melarikan keponakannya. Hong Beng sendiri juga berangkat menuju ke utara, untuk berkunjung ke Istana Gurun Pasir untuk menghadap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya. Kedukaan dan kekhawatiran terbayang di wajah mereka, terutama sekali di wajah Kao Cin Liong dan Suma Hui.

Di dalam hati yang selalu mengejar kesenangan, pasti akan sering kali dikunjungi oleh kesusahan. Tidak mungkin merangkul suka tanpa menyentuh duka, karena suka dan duka adalah sama. Sama-sama menjadi ciptaan pikiran sendiri.

Yang mengandung suka atau duka bukanlah si peristiwa, melainkan pikiran kita sendiri dalam menanggapi peristiwa yang terjadi. Kalau kita dalam menghadapi segala macam peristiwa seperti apa adanya tanpa menghendaki hal-hal yang lain, tanpa menjangkau kesenangan atau mengelak kesusahan, maka yang ada hanyalah kewajaran yang tidak mendatangkan duka apa pun.

Seperti orang menghadapi panas terik matahari, tanpa mengeluh kita lalu menggunakan akal budi untuk berteduh, dan seperti orang menghadapi malam gelap dan dingin, kita pun tidak mengeluh melainkan menggunakan kebijaksana untuk membuat penerangan di dalam gelap dan mempergunakan sarana untuk berlindung dari kedinginan. Tanpa susah atau senang dan kalau sudah begitu, di dalam kegelapan mau pun kepanasan malam dan siang kita dapat melihat keindahan di luar penilaian…..

********************

Kao Hong Li membuka sepasang matanya dan ia merasa bagaikan dalam mimpi. Ia terbangun dan tidak menggerakkan badan terlebih dahulu. Setelah membuka kedua matanya, anak yang cerdik ini memutar otaknya, mengingat-ingat. Ia lalu teringat akan peristiwa aneh yang dialaminya.

Mula-mula yang teringat olehnya adalah ketika ia bermain silat pedang di antara kawan-kawannya, di dalam kebun, disambut pujian para kawannya. Kemudian kemunculan kakek gundul berjubah merah yang lalu melawannya. Tiba-tiba terdengar ledakan itu, dan nampak asap tebal, dan tubuhnya melayang-layang di antara asap yang membuat ia merasa seperti terbang di angkasa, di antara awan-awan. Lalu ia pun lemas tak ingat apa-apa lagi. Ia diculik!

Ingatan ini mengejutkannya. Ia telah dilarikan oleh kakek aneh itu! Kini Hong Li masih belum menggerakkan tubuhnya, mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia rebah terlentang di atas sebuah dipan kayu yang keras dan kasar dan dipan itu terletak di sudut ruangan ini.

Sebuah kamar dari empat dinding yang berlumut dan kotor, dengan daun pintu rusak dan terbuka di sebelah kanan. Tidak kecil juga tidak berdaun di sebelah kanan. Tidak nampak ada orang di situ, hanya ia sendirian saja di atas dipan. Ia telah dilarikan oleh kakek itu ke sini, pikirnya. Entah di mana ini. Kakek yang aneh dan sakti itu tidak ada. Inilah kesempatan baik baginya untuk melarikan diri.

Hong Li mulai menggerakkan kaki tangannya. Lega rasa hatinya karena kaki tangannya bisa digerakkan dengan mudah dan ketika ia bangkit duduk, kepalanya pun tidak terasa pening. Ia dalam keadaan sehat. Dicarinya pedangnya. Tapi tidak nampak di situ. Ia lalu dengan hati-hati turun dari pembaringan itu, perlahan-lahan agar jangan mengeluarkan suara, lalu berindap-indap melangkah menuju ke pintu yang daunnya terbuka lebar karena memang sudah bobrok itu.

Agaknya di luar, senja telah mendatang, namun matahari masih meninggalkan sisa cahayanya sebelum dia menghilang sama sekali. Dengan hati-hati Hong Li mengintai ke luar. Tidak ada orang. Dan di luar sana nampak pohon-pohon lebat. Sebuah hutan! Ia berada di dalam sebuah rumah tua, agaknya bekas kuil, di dalam sebuah hutan lebat. Ia harus cepat melarikan diri!

Tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang, suara yang halus dan sudah pernah didengar, suara Ang I Lama yang menculiknya! “Aha, anak baik, engkau sudah bangun?”

Hong Li cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata kakek itu berada di dalam kamar itu! Pada hal tadi tidak nampak seorang pun di situ. Ah, tentu kakek ini telah menggunakan ilmu sihirnya pula, pikirnya. Hong Li menjadi marah dan ia meraba-raba pinggangnya, lupa bahwa tadi sia-sia saja ia mencari pedangnya, pedang barunya yang indah.

“Aha, mencari pedangmu? Inilah pedangmu, terimalah!” Dia mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubah merahnya dan menyerahkannya kepada Hong Li. Gadis cilik itu cepat menyambar pedangnya, pedang barunya, lalu mengambil sikap untuk menyerang.

“Anak baik, untuk apa engkau mencari pedangmu?”

“Untuk membunuhmu, kakek jahat!” bentak Hong Li. Ia pun menggerakkan pedangnya, menyerang dengan marah dan dengan pengerahan seluruh tenaganya.

“Ha-ha, pedang itu tidak ada gunanya, sudah kukatakan ini kepadamu. Lihat, kau boleh tusuk perutku ini, aku takkan menangkis atau mengelak.”

Hong Li menerjang maju, menggerakkan pedangnya untuk menusuk ke arah perut. Ia melihat kakek itu berdiri tegak saja, membiarkan perutnya ditusuk! Dan pada saat ujung pedangnya hampir menyentuh jubah merah, Hong Li menahan tenaganya dan bahkan menghentikan tusukannya. Tidak bisa ia menusuk begitu saja perut orang yang tidak melawan! Tidak mungkin ia melakukan pembunuhan dengan hati dingin seperti itu.

“Oho, kenapa tidak kau lanjutkan tusukanmu?” kakek itu tertawa. “Lawanlah, jangan diam saja!” bentak Hong Li.

Kakek itu terbelalak, memandang heran, lalu tertawa. “Ha-ha, keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir memang aneh luar biasa. Nah, aku melawan sekarang, hendak kutangkap kepalamu dan akan kubuktikan betapa pedangmu itu tidak ada gunanya!”

Kakek itu kini menggerakkan kedua tangannya, hendak mencengkeram kepala Hong Li dari kanan kiri. Melihat ini, gadis cilik itu menyuruk ke depan, mendului dengan tusukan pedangnya ke arah perut. Kini ia tidak ragu-ragu lagi menusuk karena bukankah musuh menyerangnya dengan hebat pula. Kalau ia tidak mendahului, tentu kepalanya akan remuk oleh kedua tangan yang kuat itu.

“Wuuutt… krekkk…!”

Kao Hong Li terkejut bukan main. Pedangnya telah menusuk perut, akan tetapi rasanya seperti menusuk segumpal baja saja dan pedangnya sekarang patah-patah menjadi tiga potong! Ia membuang gagangnya dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak. Dan melihat betapa kakek itu tersenyum-senyum dan memandang sambil mengejek, ia marah sekali. Dengan nekat kini ia menyerang dengan kedua tangannya yang terkepal.

“Heh-heh-heh, engkau setan cilik yang nakal!”

Kini Hong Li mengalami hal yang membuatnya semakin terkejut dan heran. Tubuhnya terhalang sesuatu yang tidak nampak, seolah-olah ada tenaga yang menahannya dari depan sehingga gerakannya terhalang dan ia tidak dapat mendekati kakek itu! Betapa kuatnya ia menerjang, selalu ia bertemu dengan tenaga itu dan tubuhnya bahkan terdorong ke belakang.

Setelah beberapa kali mencoba dan tidak berhasil, akhirnya Hong Li berdiri terdiam dan hanya menatap kakek itu dengan sinar mata tajam penuh kemarahan. Ia tahu bahwa kakek itu sakti sekali dan ia tidak berdaya, namun Hong Li tidak merasa takut sedikit pun juga.

“Kakek jahat, engkau pengecut besar!” tiba-tiba ia membentak.

Kakek itu yang sedang tersenyum, tiba-tiba menghentikan senyumnya dan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan ada kemarahan membayang pada mata yang tajam mencorong itu. “Hemm. setan cilik, kenapa engkau berani memaki aku pengecut besar?”

“Kalau engkau bukan pengecut, tentu engkau tidak akan memusuhi aku, seorang anak kecil! Kalau engkau memang gagah dan mempunyai kepandaian, tentu engkau akan menantang ayahku atau ibuku, bukan menculik dan melarikan diriku. Beranimu hanya mengganggu anak kecil, akan tetapi terhadap ayah dan ibuku, engkau melarikan diri sampai terkencing-kencing. Huh, pengecut besar tak tahu malu!”

Akan tetapi kini kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, dan engkau setan cilik sangat gagah berani, benar- benar mengagumkan sekali. Engkau memang berjodoh dengan pinceng, anak baik. Namamu Kao Hong Li, bukan? Heh-heh, dan aku bernama Ang I Lama. Engkau lihat sendiri, kepandaianku setinggi langit dan engkau beruntung sekali dapat ikut bersamaku!”

“Huh, kepandaianmu tidak ada artinya kalau engkau berani melawan ayah dan ibuku!” Hong Li berseru mengejek, pada hal di dalam hatinya dia meragu apakah ayah dan ibunya akan mampu menandingi kakek yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai ilmu sihirnya ini.

Menurut penuturan ibunya, kakek buyutnya yang bernama Suma Han berjuluk Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, selain sakti juga memiliki ilmu sihir yang amat hebat. Juga nenek Teng Siang In, isteri dari paman kakeknya yang bernama Suma Kian Bu dijuluki Pendekar Siluman Kecil, memiliki juga kekuatan sihir. Sayang ibunya sendiri tidak pernah mempelajari ilmu sihir dan hanya ahli dalam hal ilmu pawang ular yang pernah ia pelajari sedikit itu.

Karena kakek itu hanya tertawa saja dan tak menjawab, Hong Li lalu bertanya, suaranya masih terdengar ketus akan tetapi sedikit pun ia tidak memperlihatkan perasaan takut, “Kakek jahat, engkau bernama Ang I Lama, seorang pendeta yang mestinya melakukan kebaikan di dunia ini. Akan tetapi kenapa engkau menculik aku tanpa sebab?”

“Ha-ha-ha, sebabnya karena aku suka kepadamu, Kao Hong Li. Engkau akan menjadi muridku dan menemani hidupku yang sunyi.”

“Hemm, kakek jahat, ke mana engkau hendak membawaku?” Hong Li mulai merasa ngeri, membayangkan bahwa ia selanjutnya harus hidup bersama kakek mengerikan ini.

“Ke mana lagi kalau tidak ke Tibet?”

“Tidak, aku tidak mau!” kata Hong Li. “Biar engkau akan membunuhku sekali pun, aku tidak sudi menjadi muridmu, juga tidak sudi ikut bersamamu!” Setelah berkata demikian, Hong Li lalu meloncat keluar dari ruangan itu melalui pintu yang terbuka. Ia bermaksud melarikan diri dengan nekat.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu berkata di depannya, “Hong Li, aku di sini!” Dan tahu-tahu kakek itu telah menghadang di depannya.

Hong Li menengok dan dengan mata terbelalak melihat bahwa kakek tadi masih berada di dalam ruangan itu. Bagaimana mungkin kakek itu berubah menjadi dua orang? Ia lalu memutar tubuh ke kiri untuk melarikan diri melalui lorong di depan kamar, akan tetapi kembali terdengar suara kakek itu.

“Hong Li, aku berada di sini!” Dan di depannya kembali sudah menghadang kakek itu.

Pada waktu dia menengok, ternyata kakek yang berada di dalam kamar mau pun yang pertama kali menghadangnya masih tetap berada di tempat masing-masing. Dengan demikian, kini ada dua orang kakek yang sama! Ia memutar tubuh lagi dan kembali melihat munculnya seorang kakek lain yang sama sehingga sebentar saja ia sudah dikepung oleh banyak orang kakek yang sama!

Hong Li dapat menduga bahwa ini tentu permainan sihir, maka dengan nekat pula ia menerjang ke depan.

“Ha-ha-ha, anak keras kepala berhati baja. Engkau memang nakal!”

Dan tiba-tiba Hong Li merasa banyak tangan menangkapnya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi. Kemudian, kakek itu mengikat kaki tangannya dengan ikat pinggang, lalu memondong tubuhnya dan melemparkannya pula ke atas dipan yang tadi dan sama sekali tidak mampu bergerak karena ikatan kaki tangannya itu kuat sekali. Dan kini ia melihat bahwa kakek yang tadinya banyak itu kembali menjadi seorang saja.

Kakek itu berdiri di dekat dipan sambil menyeringai. “Heh-heh, bagaimana, anak nakal. Apakah engkau sekarang sudah menyerah dan mau ikut bersamaku dengan suka rela?”

“Tidak sudi!” Hong Li membentak, masih galak walau pun kaki tangannya tidak mampu bergerak lagi. “Engkau memilih mati?”

“Ya! Aku tidak takut mati!” kata Hong Li dengan gagah.

Kakek itu memandang kepada Hong Li dengan sinar mata-penuh kagum. “Bagaimana kalau sebelum mati kusiksa dulu? Engkau berani menghadapi siksaan?”

“Tidak perlu cerewet lagi! Mau bunuh, mau siksa, terserah, akan tetapi aku tidak sudi menyerah!”

“Huh, bocah tak tahu disayang! Biar kuberi engkau waktu semalam lagi untuk berpikir panjang. Besok aku datang lagi dan kalau engkau tetap menolak, aku akan menyiksamu sampai engkau merasa menyesal telah pernah dilahirkan di dunia ini!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek itu pun lenyap dari situ.

Hong Li rebah seorang diri dan setelah kakek itu pergi, barulah ia merasa ngeri kalau membayangkan betapa ia akan disiksa sampai mati pada besok hari kalau ia tidak mau menyerah. Tidak, ia harus dapat melarikan diri, pikirnya. Ia tidak sudi menyerah, juga tidak ingin mati konyol.

Mulailah ia berusaha menggerakkan kaki tangannya untuk melepaskan ikatan, namun sia-sia saja. Ikatan itu terlalu kuat sehingga kedua kaki tangannya sama sekali tidak mampu berkutik. Ia teringat kepada ayah ibunya dan tak terasa lagi, dua titik air mata membasahi pelupuk matanya. Sekarang, setelah ditinggalkan kakek itu, ia mulai merasa ketakutan.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya kalau ia membayangkan siksaan yang tak dapat ia perkirakan. Kakek itu terlalu kejam, terlalu jahat. Entah siksaan apa yang akan diterimanya. Kalau ia dibunuh seketika, hal itu tidak ditakutinya, akan tetapi kalau ia disiksa perlahan-lahan, sungguh hal ini amat menakutkan.

Akan tetapi menyerah menjadi murid kakek itu? Tidak, dia tidak sudi! Kakek itu terlalu jahat. Dan kalau ia menolak, ia akan di siksa sampai mati. Tidak, ia belum ingin mati, tidak mau mengalami derita siksaan.

Sampai lewat tengah malam, Hong Li diombang-ambingkan oleh perasaan kebencian dan takut kepada kakek itu. Menyerah salah, menolak juga salah. Ia bingung sekali dan kalau saja sejak kecil ia tidak digembleng sehingga memiliki semangat dan kegagahan, tentu anak yang baru berusia tiga belas tahun ini sudah menangis atau menjerit-jerit. Tetapi tidak, Hong Li hanya diam saja, hanya ada beberapa butir air mata membasahi pipinya dan ia menggigit bibirnya untuk mencegah tangis dan jeritannya.

Tiba-tiba ada gerakan di pintu. Jantung di dalam dada Hong Li berdebar-debar penuh ketegangan. Apakah kakek jahat itu sudah akan memulai dengan siksaannya pada hal malam belum lagi lewat? Hong Li merasa betapa seluruh bulu di tubuhnya meremang saking ngerinya, Akan tetapi, yang muncul bukanlah kakek Ang I Lama yang dibencinya, melainkan seorang wanita cantik!

Usia wanita itu sebaya dengan ibunya akan tetapi pakaiannya mewah sekali. Tubuhnya tinggi ramping dan rambutnya digelung ke atas dengan dihias permata dan emas yang indah. Pakaiannya dari sutera tipis berwarna merah muda dan biru. Walau pun usianya tentu ada empat puluh tahun, namun wanita itu masih nampak muda, dengan sepasang mata yang lebar dan tajam.

Begitu masuk kamar dan melihat Hong Li memandangnya, wanita itu menaruh telunjuk di depan mulutnya sebagai tanda agar Hong Li tidak mengeluarkan suara berisik. Hong Li diam saja, memandang dengan heran, namun juga dengan penuh harapan. Mudah diduga dari sikapnya bahwa kedatangan wanita asing ini tentu bermaksud baik terhadap dirinya.

Ketika wanita itu menghampiri pembaringan. Hong Li mencium bau yang harum seperti bunga mawar dan begitu wanita itu tersenyum kepadanya, ia merasa suka sekali pada wanita ini. Seorang wanita cantik yang ramah, dan tentu datang untuk menolongnya, pikirnya.

“Bibi, engkau siapakah?”

“Sstttt…!” Wanita itu mendesis lirih. “Aku datang untuk menolongmu, akan tetapi aku harus dapat mengalahkan dulu Ang I Lama…”

Hong Li memandang terbelalak, kagum. “Dapatkah engkau mengalahkan dia, bibi?” tanyanya, penuh keraguan mengingat akan kesaktian pendeta Lama yang menculiknya itu. “Tidakkah lebih baik bibi membebaskan aku, lalu kita melarikan diri selagi dia tidak berada di sini?”

Wanita itu menggeleng kepalanya. “Engkau tidak tahu siapa Ang I Lama. Dia akan mengejar dan akhirnya aku harus berhadapan dengan dia pula. Tidak, aku harus lebih dahulu mengalahkan dia, baru aku akan dapat membebaskanmu. Engkau bernama Kao Hong Li, ayahmu Kao Cin Liong putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan ibumu cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, bukan?”

Hong Li mengangguk, tidak merasa heran kalau wanita ini mengenal ayah ibunya, karena ia tahu bahwa nama ayah dan ibunya terkenal sekali di dunia kang-ouw.

“Aku suka dan kagum kepadamu. Engkau tabah dan berani, engkau keturunan para pendekar dan keluarga yang sangat terkenal. Dan aku akan menghadapi Ang I Lama dengan taruhan nyawa untuk menolongmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau aku minta engkau ingat akan pertolonganku dan membalas budi, bukan?”

Kembali Hong Li mengangguk. Kalau wanita ini berani menandingi Ang I Lama dengan mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya, tentu saja ia berhutang budi dan nyawa kepadanya. “Aku akan berterima kasih sekali, bibi.”

Wanita itu tersenyum. Manis sekali dia kalau lagi tersenyum. “Apa gunanya terima kasih untukku? Dengar, Hong Li. Aku akan menandingi Ang I Lama dan kalau aku berhasil mengalahkannya, aku akan membebaskanmu. Akan tetapi, untuk itu aku minta engkau berjanji bahwa engkau akan mengangkat aku sebagai ibu dan guru.”

“Ehh, mengapa sebagai ibu?” Hong Li terheran.

“Aku… aku merindukan seorang anak dan engkau pantas menjadi anak angkatku, Hong Li. Nah, maukah engkau?”

“Menjadi anak angkat dan murid?”

“Bukan itu saja. Engkau harus berjanji mengangkat aku sebagai ibu dan guru, kemudian juga bahwa selama lima tahun engkau akan hidup bersamaku, mempelajari ilmu dan menemani aku sebagai ibu angkatmu.”

Hong Li merasa bimbang. Permintaan yang aneh-aneh. Akan tetapi wanita ini hendak mempertaruhkan nyawa menolongnya dan kalau benar dapat mengalahkan Ang I Lama, memang wanita ini patut menjadi gurunya. Juga apa salahnya mengangkat seorang wanita baik yang menyelamatkannya sebagai ibu?

“Hanya itu?” ia bertanya lagi.

“Hanya itu, juga engkau harus berjanji bahwa selamanya, melindungi aku dari gangguan dan serangan siapa pun juga.”

Tentu saja permintaan terakhir ini tidak berat, bahkan tanpa diminta sekali pun, siapa yang takkan melindungi dan membela ibu angkatnya dari serangan orang lain? Kembali ia mengangguk.

“Baiklah, aku berjanji…”

“Hong Li, urusan ini bukan main-main, melainkan persoalan hidup atau mati bagiku, juga menyangkut kebahagiaan hidupku selanjutnya, karena itu, tidak cukup engkau berjanji. Bersumpahlah!”

Kembali Hong Li terkejut. Selamanya belum pernah dia bersumpah, dan permintaan wanita ini agar ia bersumpah mengejutkannya dan membuatnya bimbang. Tetapi hanya untuk sebentar saja. Janji dan sumpahnya untuk sesuatu yang baik, apa salahnya kalau ia akan diselamatkan dan ditolong oleh wanita ini.

“Baiklah, subo (ibu guru). Saya bersumpah, kalau subo dapat membebaskan aku dari tangan Ang I Lama, aku akan mengangkatmu sebagai ibu dan juga sebagai guru, dan aku akan membela dan melindungimu dari gangguan siapa pun juga!”

Wanita itu nampak girang bukan main, membungkuk dan mencium pipi Hong Li dengan bibirnya. “Anakku sayang, muridku yang hebat! Kau tunggu saja di sini supaya jangan mendatangkan curiga, sementara engkau rebah dalam keadaan terikat dulu. Aku akan menghadang Ang I Lama di luar dan aku akan mengerahkan seluruh kepandaian dan tenagaku untuk mengalahkannya.” Setelah berkata demikian, wanita itu meloncat dan lenyap dari dalam kamar itu.

Hong Li termenung. Hatinya diliputi kebimbangan. Memang, dari gerakannya pada saat meloncat atau menghilang tadi, ia bisa mengetahui bahwa wanita yang belum diketahui namanya itu memiliki kepandaian tinggi. Tetapi, mampukah wanita itu mengalahkan Ang I Lama yang demikian saktinya? Apa lagi kalau diingat bahwa Ang I Lama memiliki ilmu sihir, ia bergidik.

Andai kata saja wanita cantik itu mempunyai ilmu silat tinggi seperti ibunya dan mampu menandingi Ang I Lama dalam perkelahian, akan tetapi bagaimana kalau kakek Tibet itu mempergunakan ilmu sihir? Kalau wanita itu sampai kalah dan tertawan, terluka atau bahkan terbunuh, ia akan merasa semakin menyesal karena berarti bahwa kematian wanita itu adalah karena membelanya!

Waktu terasa merayap lambat sekali bagi Hong Li yang tenggelam dalam ketegangan semenjak munculnya wanita cantik itu. Ia bahkan terkejut ketika muncul Ang I Lama dari pintu. Kakek itu menjenguknya, lalu tertawa melihat betapa dia masih rebah terlentang dengan kaki tangan terikat.

“Ha-ha-ha, sudah cukupkah engkau merenungkan nasibmu? Nanti jika matahari mulai memasukkan sinarnya melalui jendela itu, aku akan datang dan minta keputusanmu, apakah engkau mau menyerah ataukah memilih mati tersiksa. Ha-ha-ha!” Ang I Lama lalu keluar lagi sambil tertawa.

Tiba-tiba saja perhatian Hong Li tertarik oleh suara yang terdengar dari luar kamar itu. Terdengar suara gedebugan dan gerakan orang berloncatan, disusul bentakan Ang I Lama, “Sin-kiam Mo-li, berani engkau menyerangku?”

Kemudian terdengar jawaban yang mendebarkan hati Hong Li sebab ia mengenal suara wanita cantik tadi. “Ang I Lama, tinggalkan tempat ini dan biarkan aku yang mengurus Kao Hong Li karena ia berjodoh untuk menjadi anak angkatku!”

“Ha-ha-ha, Sin-kiam Mo-li, apakah engkau hendak mengantar kematianmu maka berani mencampuri urusanku? Nah, terimalah kematianmu!”

Kembali terdengar suara gedebugan. Hong Li dengan mata terbelalak dan hati berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran mendengar gerakan orang yang sangat ringan dan cepat. Juga lalu terdengar suara berdesing-desing. Ia menduga bahwa yang bersenjata pedang itu tentulah Sin-kiam Mo-li karena bukankah julukannya itu sudah menunjukkan bahwa wanita itu merupakan seorang ahli pedang.

Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Berpedang Sakti), julukan yang mengerikan. Kenapa wanita secantik dan sebaik itu dijuluki Iblis Betina, pikir Hong Li dengan penasaran. Diam-diam ia berdoa agar wanita itu memperoleh kemenangan dalam perkelahian yang terjadi di luar kamar itu.

Tak lama kemudian, di antara suara gerakan orang bersilat itu, terdengar seruan Ang I Lama, “Kiam-sut- mu hebat juga. Akan tetapi lihat, apakah ini?”

Dan terdengarlah suara ledakan-ledakan yang mengejutkan hati Hong Li karena anak itu maklum bahwa tentu pendeta Lama itu sudah mempergunakan ilmu sihirnya. Dia memandang khawatir sekali ke arah pintu dan melihat asap putih mengepul di luar pintu itu. Celaka, pikirnya, mampuskah Sin-kiam Mo-li menghadapi ilmu sihir yang aneh itu?

Akan tetapi, terdengar suara ketawa lembut wanita itu. “Hemm, Ang I Lama, permainan sihirmu ini hanya merupakan permainan kanak-kanak bagiku.” Kembali terdengar suara gedebugan, disusul suara Ang I Lama berteriak seperti orang kesakitan.

“Ahhhh. engkau benar lihai…!” Dan suara perkelahian itu pun terhenti, tanda bahwa di luar kamar tidak ada lagi orang berkelahi.

Hong Li sampai merasa pedas pada matanya karena sejak tadi ia memandang ke arah pintu dengan mata terbelalak, tidak pernah berkedip, dengan hati tegang. Ia tidak tahu bagaimana kesudahan perkelahian itu, akan tetapi mendengar suara-suara mereka tadi, ia merasa yakin bahwa penolongnya tidak kalah meski pendeta Tibet itu menggunakan ilmu sihir. Dugaannya terbukti kebenarannya ketika ia mendengar langkah kaki halus dan muncullah Sin-kiam Mo-li di ambang pintu. Sinar lampu yang tidak begitu cerah menimpa wajah yang nampak cantik itu dan wanita itu tersenyum.

“Subo, kau menang…! Hong Li berseru.

Wanita itu semakin girang. Sejak bersumpah, anak ini telah menyebutnya subo! Ia lalu melangkah menghampiri dipan.

“Subo, bagaimana engkau bisa melawan ilmu sihirnya?”

Wanita itu memperlebar senyumnya. “Sihir merupakan permainan kanak-kanak bagiku, Hong Li. Lihat ini!” Ia menggerakkan kedua tangannya ke arah tangan dan kaki Hong Li dan… ikatan pada pergelangan tangan dan kaki anak itu pun putus-putus dan Hong Li bebas seketika!

Dengan girang dan kagum sekali Hong Li bangkit dari pembaringan, kemudian, sebagai seorang anak angkat dan murid yang tahu diri, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu. “Subo, terima kasih atas pertolonganmu!”

Sin-kiam Mo-li merangkul Hong Li dan mengangkatnya bangun. Hong Li memandang wanita itu dengan wajah berseri.

“Ahh, subo tentu lihai sekali mempergunakan pedang-pedang itu.” Ia menuding ke arah sepasang pedang yang berada di punggung Sin-kiam Mo-li. Sebatang pedang pendek dan sebatang pedang panjang. “Mengingat akan julukan subo, Sin-kiam Mo-li, tentu subo merupakan ahli pedang yang hebat!”

Wanita itu mengangguk-angguk. “Hong Li, engkau takkan kecewa menjadi anak angkat dan muridku.”

Tiba-tiba teringatlah Hong Li bahwa dia sudah bersumpah mengangkat guru dan ibu kepada wanita ini, dan selama lima tahun ia akan ikut dengan wanita ini, bahkan berjanji akan membela dan melindunginya kelak selama hidupnya. Teringatlah dia akan orang tuanya sendiri dan tiba-tiba saja ia menjadi bingung.

Sin-kiam Mo-li memiliki pandang mata yang tajam. Ia melihat kebimbangan menyelimuti wajah anak itu, maka ia pun bertanya sambil mengerutkan alisnya, “Ada apakah, Hong Li?”

Hong Li adalah seorang anak yang berwatak jujur. Ia memandang wajah gurunya dan berkata, “Subo, tiba- tiba saja aku teringat kepada ayah ibuku. Memang benar bahwa aku telah berjanji dan bersumpah kepadamu, dan aku juga akan memenuhi janjiku, selain mengangkatmu sebagai ibu dan guru, juga ikut bersamamu selama lima tahun dan kelak aku akan membela dan melindungimu. Akan tetapi, subo harus tahu bahwa orang tuaku tentu kehilangan aku dan sekarang mencari-cariku. Bagaimana kalau subo membawa aku lebih dulu pulang untuk berpamit kepada orang tuaku? Aku pasti akan memenuhi janjiku, aku hanya tidak ingin membuat mereka berkhawatir dan berduka.”

Akan tetapi Sin-kiam Mo-li menggeleng kepalanya. “Hong Li, permintaanmu ini tentu saja tidak mungkin dapat kupenuhi. Bayangkan saja. Kalau kita bertemu dengan ayah ibumu, apakah engkau kira mereka akan mengijinkan aku pergi membawamu? Dan aku tidak ingin bentrok dengan mereka karena memperebutkan engkau, Hong Li.”

Hong Li dapat mengerti akan alasan subo-nya. “Akan tetapi, bagaimana jika pada suatu hari ayah ibuku dapat menemukan kita, subo?”

“Mungkin saja, karena mereka orang-orang yang lihai. Dan kalau terjadi hal itu, tentu mereka akan memaksa untuk membawamu pergi, dan aku akan mempertahankan. Dan kalau sudah begitu, aku hanya mengharapkan kebijaksanaanmu dan kejujuranmu juga kesetiaanmu akan janji dan sumpahmu.”

“Jangan khawatir, subo” kata anak perempuan itu dengan sikap gagah. “Aku tadi sudah berjanji dan bagiku, janji adalah kehormatan. Seorang gagah akan lebih mengutamakan kehormatan dari pada nyawa. Dan aku yakin bahwa ayah dan ibu juga tak ingin melihat anak mereka menjadi seorang pengkhianat yang melanggar sumpahnya sendiri!”

“Bagus, anakku yang baik dan muridku yang hebat, kelak engkau akan sangat berguna bagiku. Aku girang sekali telah menolongmu, Hong Li. Mari ikutlah aku, kita pulang.”

“Pulang?”

“Ya, pulang.” Sin-kiam Mo-li tersenyum. “Kau kira aku tidak mempunyai tempat tinggal? Marilah, dan engkau pasti akan merasa senang sekali tinggal di rumahku, eh, sekarang menjadi rumah kita.”

Akan tetapi, ternyata bahwa mereka harus melakukan perjalanan sampai puluhan hari untuk dapat tiba di tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, oleh karena tempat itu berada di tepi Sungai Cin-sa di kaki Pegunungan Heng-tuan, di tapal batas sebelah barat dari Propinsi Secuan…..

********************

Dengan melakukan perjalanan yang cepat dan amat jarang berhenti, Kao Cin Liong dan Suma Hui akhirnya tiba juga di Lhasa, di kota terbesar daerah Tibet itu, tempat yang menjadi pusat dari pemerintahan para Dalai Lama, juga menjadi pusat para pendeta Lama. Tempat ini dianggap keramat oleh para pendeta Lama dan oleh seluruh rakyat di Tibet.

Kao Cin Liong adalah seorang yang sudah banyak pengalaman. Pada saat dia masih menjadi seorang panglima kerajaan, dia pernah memimpin pasukan sampai di Tibet, dan sebagai seorang panglima, dia amat dikenal di jaman itu. Maka, kini dia memasuki daerah Tibet tanpa merasa asing.

Isterinya, Suma Hui yang belum pernah melihat kota Lhasa, memandang penuh kagum dan diam-diam merasa khawatir. Tembok kota Lhasa demikian kokoh kuat, dan istana yang menjadi pusat para pendeta Lama itu demikian megah, besar dan indah. Kalau puterinya berada di dalam istana itu, bagaimana dia akan mampu mengeluarkannya? Namun ketenangan suaminya menimbulkan kembali kepercayaan diri dan keyakinannya bahwa mereka berdua pasti akan dapat menemukan dan membawa pulang puteri mereka tercinta, anak tunggal mereka.

Para pendeta Lama yang menjadi pimpinan di situ, banyak di antaranya yang mengenal bekas Panglima Kao Cin Liong dan mereka pun menyambut kunjungan suami isteri itu dengan hormat dan ramah. Suami isteri pendekar itu tak mau menceritakan kehilangan anak mereka. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka memiliki urusan pribadi yang penting dengan seorang pendeta Lama berjuluk Ang I Lama.

“Mohon petunjuk para suhu apakah di sini terdapat seorang suhu yang berjuluk Ang I Lama, karena kami berdua sengaja datang dari jauh untuk mencarinya, untuk suatu urusan pribadi yang penting antara suhu Ang I Lama dan kami,” demikian antara lain Kao Cin Liong menyatakan keperluan kunjungan mereka di tempat suci itu.

“Omitohud… aneh sekali kalau ada tamu mencari Ang I Lama untuk urusan pribadi, karena setahu kami, sudah hampir dua tahun Ang I Lama mengasingkan diri dan tidak pernah berurusan deugan dunia luar. Akan tetapi kalau taihiap ingin mengetahui tempat tinggalnya, Ang I Lama kini berada di dalam goa di puncak Bukit Beruang Putih, tidak jauh dari sini.”

Suma Hui tidak dapat menahan keinginan tahunya. Setelah suaminya mengucapkan terima kasih atas keterangan itu, ia pun bertanya, “Cu-wi losuhu, kalau tidak salah, suhu Sai-cu Lama juga berasal dari sini, bukan?”

Mendengar pertanyaan ini, para pendeta Lama saling pandang dan muka mereka lalu berubah menjadi kemerahan.

“Omitohud…!” Seorang di antara mereka menjura ke arah Suma Hui. “Semoga Sang Buddha mengampuni kami. Memang benar, lihiap, Sai-cu Lama berasal dari sini. Akan tetapi dia sudah murtad dan untung ada Tiong Khi Hwesio yang menolong kami dan menundukkannya. Sahabat kami Tiong Khi Hwesio sudah mengunjungi kami beberapa hari yang lalu dan sudah menceritakan bahwa dia berhasil melenyapkan Sai- cu Lama berkat bantuan para pendekar dan di antara mereka yang membantu untuk membasmi komplotannya termasuk ji-wi. Karena itu, dalam kesempatan ini, pinceng mewakili para saudara kami sekalian menghaturkan terima kasih kepada ji-wi.”

Kao Cin Liong dan isterinya cepat membalas penghormatan itu, dan bekas panglima itu merasa tidak enak melihat sikap para pendeta Lama yang menjadi kikuk ketika disebut nama Sai-cu Lama yang dianggap mengotorkan nama para pendeta Lama di Tibet.

“Harap cuwi losuhu memaafkan kami. Isteriku menyebut nama Sai-cu Lama sebab kami menduga bahwa ada hubungan antara Sai-cu Lama dan Ang I Lama.” Dengan ucapan ini, Cin Liong sengaja memancing keterangan tentang kedua orang pendeta Lama itu.

“Omitohud… dugaan ji-wi memang tepat sekali, Ang I Lama adalah sute dari mendiang Sai-cu Lama, akan tetapi biar pun mereka itu saudara seperguruan, sungguh perbedaan antara mereka seperti bumi dengan langit. Sai-cu Lama menyeleweng dari kebenaran dan tersesat mengingkari ajaran-ajaran agama, sebaliknya Ang I Lama adalah seorang yang benar-benar taat kepada agama, bahkan selalu prihatin dan bertapa untuk mencari penerangan dan kedamaian.”

Akan tetapi, keterangan bahwa ada hubungan saudara seperguruan antara dua pendeta Lama itu, menambah keyakinan hati suami isteri itu bahwa mereka telah menemukan jejak yang benar. Tentu Ang I Lama menculik puteri mereka karena hendak membalas dendam atas kematian suheng-nya, Sai-cu Lama pikir mereka. Mereka tahu bahwa dendam dapat saja membutakan mata batin manusia, dan bukan tidak mungkin kalau Ang I Lama yang katanya tekun bertapa itu tidak dapat menahan dendam sakit hatinya.

Setelah memperoleh keterangan dan petunjuk tentang tempat tinggal atau tempat Ang I Lama bertapa, suami isteri pendekar itu kemudian menghaturkan terima kasih dan pergi meninggalkan istana para pendeta Lama di kota Lhasa itu, dan dengan cepat mereka mendaki bukit yang bernama Bukit Beruang Putih karena dari jauh memang bentuknya bagai seekor beruang. Di musim dingin, puncak itu diliputi salju sehingga nampak bagai seekor beruang putih, dan di musim panas, masih nampak putih karena puncaknya adalah batu kapur yang gundul.

Hari telah siang ketika suami isteri itu akhirnya tiba di depan goa besar, sebuah goa di puncak bukit kapur dan goa itu sudah memakai pintu kayu buatan manusia. Sunyi sekali di situ dan pemandangan alam dari depan goa memang amat indahnya. Nampak dari situ kota Lhasa, bahkan istana para pendeta Lama juga nampak dari situ, kelihatan seperti mainan saja, namun amat indahnya.

Suma Hui berkeringat karena hatinya merasakan tegang. Ia membayangkan akan dapat menemukan puterinya di dalam goa itu, maka hatinya terasa tegang bukan main. Masih selamatkah puterinya? Dan akan mampukah ia dan suaminya merampas kembali puteri mereka kembali?

Menurutkan dorongan hatinya, ingin Suma Hui menerjang dan menghancurkan pintu goa itu. Namun suaminya yang maklum akan keadaan hati isterinya, menggelengkan kepalanya memberi isyarat, lalu dia sendiri mendekati pintu kayu yang tertutup dan berkata dengan suara menghormat, tidak keras akan tetapi karena dia mengerahkan khikang-nya, maka suara itu dapat menembus daun pintu ke dalam goa.

“Locianpwe Ang I Lama, maafkan kalau kami datang mengganggu. Kami suami isteri Kao Cin Liong dan Suma Hui dari jauh di timur datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan locianpwe!”

Keheningan menjawab suara Kao Cin Liong. Suami isteri itu menanti sampai beberapa lama, akan tetapi tidak ada jawaban. Mereka saling pandang dan kemarahan nampak di wajah Suma Hui. Wanita ini lalu melangkah mendekati pintu dan tanpa dapat dicegah suaminya lagi, ia menggedor pintu itu.

“Dor-dor-dorrr…!” Daun pintu itu terguncang, lalu ia berteriak, suaranya nyaring sekali. “Ang I Lama, engkau telah menculik puteri kami! Keluarlah dan kembalikan puteri kami kepada kami atau aku akan menghancurkan daun pintu goa ini!”

Kini segera terdengar suara dari balik pintu itu, “Omitohud… apakah dosa pinceng maka hari ini kejatuhan fitnah yang keji ini…?”

Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang kakek yang berpakaian serba kuning dengan jubah lebar berwarna merah. Usia kakek ini sekitar enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, dengan sepasang mata yang tajam namun lembut sinarnya, dan wajahnya yang nampak sabar dan tenang.

Dengan langkah lambat dia keluar pintu goa dan menghadapi suami isteri itu dengan sinar mata mengandung keheranan. Sejenak matanya memandang kepada suami isteri itu penuh selidik, kemudian dia berkata lagi.

“Omitohud, tadi pinceng mendengar bahwa ji-wi adalah Panglima Kao Cin Liong dan isterinya Suma Hui. Benarkah itu?”

“Saya bukan panglima lagi, locianpwe. Benar saya adalah Kao Cin Liong dan ini isteriku Suma Hui. Kami datang dari Pao-teng, sengaja untuk mencari dan menemui locianpwe.”

“Omitohud… sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi pinceng. Sayang sekali pinceng tidak dapat menyambut dengan kehormatan, akan tetapi, ada urusan penting apakah maka ji-wi jauh-jauh datang mencari pinceng?”

Suma Hui sudah tidak sabar lagi. Tadi ketika kakek itu muncul, ia mengharapkan kakek itu akan disertai Hong Li. Akan tetapi anak itu tidak nampak, maka ia merasa khawatir sekali.

“Bukankah engkau yang berjuluk Ang I Lama?” tiba-tiba ia bertanya dengan sikap ketus.

Sikapnya ini membuat kakek itu memandang heran, akan tetapi dengan lembut dia mengangguk. “Benar sekali.”

“Kalau begitu, jangan berpura-pura lagi dan cepat bawa keluar anak kami Kao Hong Li dan serahkan kembali kepada kami!”

Kini kakek itu memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata penuh keheranan, dan melihat betapa mereka berdua juga memandang kepadanya penuh selidik.

“Omitohud, jadi yang pinceng dengar tadi bukan hanya dalam mimpi? Semula pinceng mendengar bahwa ji-wi datang untuk bicara dan karena sudah bertahun-tahun pinceng bertapa, pinceng terpaksa tidak melayani. Lalu terdengar fitnah keji itu yang memaksa pinceng keluar. Apakah artinya ini? Pinceng sama sekali tak pernah menculik puteri ji-wi atau puteri siapa pun juga. Bahkan selama dua tahun ini baru sekarang inilah pinceng keluar dari dalam goa ini.”

Suami isteri itu saling pandang dengan alis berkerut. Sungguh tidak mereka sangka mereka akan mendengar jawaban seperti ini. Sama sekali tidak menyenangkan! Kalau benar bukan pendeta Lama ini yang menculik Hong Li, berarti mereka telah melakukan perjalanan jauh dengan sia-sia. Bukan itu saja, harapan mereka untuk bisa menemukan kembali anak mereka di situ juga menjadi buyar. Di samping itu mereka akan meraba-raba di dalam kegelapan karena tidak tahu siapa penculik itu dan di mana adanya puteri mereka.

“Ang I Lama, tak perlu engkau membohongi kami! Mana mungkin ada orang tinggal di dalam goa selama bertahun-tahun, tanpa makan dan minum. Jika engkau tidak pernah keluar, berarti engkau tidak pernah makan minum dan hal itu saja sudah membuktikan kebohonganmu!” teriak Suma Hui tak sabar, ngeri membayangkan bahwa benar-benar pendeta ini bukan penculik Hong Li.

“Omitohud, selama hidup pinceng tidak pernah berbohong. Lihat, lihiap, setiap dua tiga hari sekali ada murid Lama yang datang mengantar makanan dan minuman, ditaruhnya di luar daun pintu. Itu kiriman pagi tadi belum sempat kuambil. Biasanya, pinceng hanya mengeluarkan tangan untuk mengambil makanan atau minuman sekedar untuk dapat tetap menghidupkan badan ini.”

Pendeta Lama itu menuding ke dekat pintu, dan benar saja. Di situ nampak sebuah baki terisi beberapa potong roti, madu dan air dalam botol.

Kao Cin Liong menjura. “Maaf, locianpwe, harap diketahui bahwa kami berdua berada dalam keadaan penuh kekhawatiran dan kedukaan. Anak tunggal kami diculik orang yang menurut anak-anak yang menyaksikannya, penculik itu adalah seorang pendeta berjubah merah yang mengaku bernama Ang I Lama, dan menurut keterangan mereka, bentuk muka dan tubuhnya amat cocok dengan keadaan locianpwe. Penculik itu berilmu tinggi dan mempergunakan ilmu sihir ketika melarikan anak kami. Mendengar nama itu kami jauh-jauh dari Pao-teng, melakukan perjalanan berbulan-bulan, menyusul ke sini. Setelah bertemu dengan locianpwe dengan penuh harapan akan bertemu dengan anak kami, tentu saja jawaban locianpwe itu mengecewakan sekali dan kami tidak dapat percaya begitu saja.”

Kakek pendeta itu mengangguk-angguk. “Pinceng dapat mengerti dan dapat merasakan kecemasan ji-wi. Dari rumah yang sangat jauh ji-wi membawa harapan untuk dapat menemukan kembali puteri ji-wi di sini, tentu saja ji-wi tidak mau menerima begitu saja kenyataan yang akan meghancurkan harapan ji-wi. Nah, pinceng persilakan ji-wi untuk menggeledah ke dalam goa ini dan mencari puteri atau jejak puteri ji-wi.”

“Biar aku yang memeriksa ke dalam dan kau menjaga di sini!” kata Suma Hui mendului suaminya. Cin Liong tahu bahwa isterinya masih belum percaya kepada Ang I Lama dan takut kalau-kalau pendeta itu melarikan diri, maka dia pun mengangguk.

Dengan hati penuh ketegangan, juga harapan, Suma Hui kemudian memasuki goa itu. Sebuah goa yang cukup lebar dan di dalamnya bersih sekali, mendapatkan cukup hawa, bukan hanya dari pintu yang kini terbuka, juga dari lubang-lubang di bagian atas yang memasukkan hawa dan cahaya matahari. Lantainya dari batu yang bersih dan halus, dan di dalamnya hanya terdapat sebuah dipan kayu bertilam kasur tipis, kitab-kitab agama, tasbeh dan alat-alat sembahyang.

Suma Hui meneliti goa itu penuh perhatian, bahkan memeriksa keadaan lantai dengan teliti sekali, mencari jejak puterinya, juga mencari kalau-kalau di situ terdapat alat-alat rahasia dan tempat tersembunyi. Akan tetapi, dia tidak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan, juga tidak menemukan jejak atau tanda- tanda bahwa puterinya pernah berada di tempat itu.

Saking kecewa dan bingungnya, kedua mata Suma Hui basah air mata ketika ia keluar dari dalam goa itu. Bagaikan seekor harimau betina kehilangan anaknya, ia menghadapi Ang I Lama dengan sikap marah dan ia membentak. “Ang I Lama, aku tak menemukan anakku di dalam goa ini. Tentu engkau telah menyembunyikan di tempat lain. Hayo kau mengaku dan kembalikan anakku, kalau tidak aku akan memaksamu agar mengaku!”

“Omitohud… pinceng tidak pernah menculik puteri ji-wi dan pinceng tidak berbohong. Lihiap telah menggeledah goa pinceng. Lalu apa lagi yang harus pinceng lakukan untuk meyakinkan hati ji-wi bahwa pinceng tidak pernah menculik puteri ji-wi?”

“Tapi semua saksi mengatakan bahwa engkaulah penculiknya!” Suma Hui membentak marah.

Ia mengharapkan sekali bahwa kakek inilah penculiknya, karena kalau bukan kakek ini, lalu siapa dan ke mana ia harus mencari anaknya? Perjalanan dari rumahnya ke Tibet adalah perjalanan yang amat jauh dan sukar, dan ia tidak mau melihat perjalanannya ini sia-sia belaka.

“Omitohud…, sungguh luar biasa sekali. Semua saksi mengatakan bahwa pinceng yang melakukan penculikan itu. Akan tetapi pinceng tidak melakukannya. Mengapa pinceng harus melakukan perbuatan jahat itu? Pinceng tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun, apa lagi dengan ji-wi,” kata kakek itu sambil menarik napas panjang.

“Maafkan kami, locianpwe,” kata Cin Liong dengan sikap yang masih amat menghormat. “Bukankah locianpwe masih saudara seperguruan dari mendiang Sai-cu Lama?”

“Mendiang…?” Wajah pendeta itu nampak terheran.

“Dia telah tewas ketika berkomplot dengan pengkhianat dan mengacau di kota raja, dan kami yang membantu para pendekar yang menghancurkan komplotannya. Nah, hal ini agaknya merupakan alasan yang cukup kuat andai kata locianpwe melakukan balas dendam dengan menculik anak kami.”

“Omitohud…! Tentang kematian suheng Sai-cu Lama ini pun baru kini pinceng dengar, bagaimana pinceng dapat mendendam? Sungguh menyedihkan bahwa dia meninggal dunia dalam keadaan penuh dosa. Biar pun pinceng benar sute-nya, namun di antara kami tidak pernah ada hubungan, lahir atau pun batin. Andai kata pinceng sudah tahu akan kematiannya sekali pun, pinceng tidak akan mendendam kepada siapa pun juga. Hanya Thian yang menentukan kematian seseorang. Ji-wi atau siapa pun juga tidak mungkin dapat membunuh seseorang tanpa kehendak Thian. Hanya Thian yang dapat membunuh atau menghidupkan seseorang.”

“Tak perlu banyak alasan kosong! Siapa tidak tahu bahwa di antara para Lama jubah merah terdapat banyak yang menyeleweng? Jubah pendetamu, kepala gundulmu, dan pertapaanmu hanya untuk kedok saja, menutupi semua keburukan yang dapat kau lakukan. Ang I Lama, para saksi itu adalah sekumpulan anak yang masih bersih dan jujur. Mereka tidak mungkin membohong. Mereka melihat sendiri betapa penculik itu adalah seorang pendeta yang berjubah merah, dan pendeta itu mengaku bernama Ang I Lama! Jika engkau terus hendak menyangkal, terpaksa aku menggunakan kekerasan!” Berkata demikian, Suma Hui yang sudah menjadi marah sekali karena cemas tidak berhasil menemukan jejak puterinya, segera menggerakkan tubuhnya, dan menyerang dengan hebatnya.

Serangan wanita ini amat hebat dan dahsyat karena ia sedang marah dan ia merasa yakin bahwa kakek yang diserangnya inilah penculik puterinya, maka begitu menyerang ia telah menggunakan sebuah jurus dari Cui beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Roh).

Melihat datangnya serangan dahsyat ini, terdengar Ang I Lama mengeluh dan kakek ini pun cepat meloncat ke belakang. Tubuh kakek ini demikian ringannya seolah-olah dia dapat terbang saja dan ketika pukulan itu datang dengan hawa pukulan yang amat kuat, tubuhnya terdorong ke belakang seperti sehelai kapas yang dipukul saja!

Melihat pukulan pertamanya tidak mengenai sasaran, Suma Hui sudah menerjang lagi, melanjutkannya dengan serangan-serangan yang dahsyat, kini mempergunakan tenaga Hwi-yang Sinkang yang mengeluarkan hawa panas. Kakek itu terhuyung-huyung ke belakang sambil mengatur langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan semua pukulan dan pada saat serangkaian pukulan itu lewat tanpa mengenai tubuhnya, dia pun berseru dengan nada sedih.

“Omitohud… apakah ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es hanya untuk membunuh orang yang tidak bersalah?” Mendengar keluhan ini, Suma Hui merasa disindir, akan tetapi dia menjadi semakin marah dan penasaran. “Singgg…!”

Nampak sinar berkelebat, sinar yang menyilaukan mata dari sepasang pedang yang sudah dicabut oleh wanita perkasa itu.

“Ang I Lama, untuk menemukan kembali puteriku, aku berani menghadapi siapa saja dan membunuh siapa saja!” bentaknya dan ia pun kini menyerang dengan sepasang pedangnya!

Ang I Lama meloncat ke belakang dengan gerakan seperti seekor kera dan dia pun lalu mengeluh, “Omitohud… lihiap terlalu mendesak! Agaknya kegelisahan dan kedukaan telah membuat lihiap menjadi mata gelap.”

Suma Hui tak peduli dan mendesak terus dengan pedang-pedangnya. Kakek itu bersilat dengan gerakan- gerakan lucu, seperti seekor kera, akan tetapi dia berhasil berloncatan menyelinap di antara gulungan kedua sinar pedang.

Memang Ang I Lama adalah seorang ahli silat Sin-kauw-kun (Silat Kera Sakti) yang amat lihai. Dia pun memiliki sepasang pedang dan menjadi ahli bermain siang-kiam, akan tetapi menghadapi amukan Suma Hui, jelas bahwa dia selalu mengalah, dan tidak mau mempergunakan sepasang pedangnya walau pun serangan-serangan wanita sakti itu amat berbahaya bagi keselamatan dirinya.

Menghadapi desakan sepasang pedang yang demikian lihai seperti sepasang pedang di tangan Suma Hui yang kini memainkan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis), satu di antara ilmu- ilmu keluarga Pulau Es yang sangat hebat, mana mungkin hanya mengelak saja? Untuk menyelamatkan dirinya, terpaksa Ang I Lama harus membalas serangan lawan untuk membendung gelombang serangan Suma Hui. Akan tetapi dia membalas bukan dengan maksud mencelakai lawan, melainkan sekedar menahan desakan lawan, dengan cengkeraman-cengkeraman keras untuk merampas pedang dan totokan-totokan untuk melumpuhkan tubuh lawan.

Ketika sepasang pedang Suma Hui mendesak hebat, tiba-tiba dengan gerakan aneh, tubuh kakek pendeta itu menyelinap dan berada di belakang tubuh wanita itu, tangan kanannya menyambar ke arah tengkuk untuk melakukan totokan. Akan tetapi, Suma Hui membalik dan pedangnya menyambar, membabat ke arah lengan yang diulur ke arah tengkuknya tadi. Sinar pedang berkelebat dan Ang I Lama sudah tak sempat lagi untuk mengelak dan walau pun dia sudah menarik kembali lengannya, tetap saja pedang itu menyambar ke arah lengannya dan…

“Crokkk…!” setengah dari lengan itu terbabat buntung!

“Hui-moi, jangan…!” Kao Cin Liong berseru kaget dan meloncat ke depan, memegang lengan isterinya dan menariknya lembut agar isterinya menahan dirinya.

“Omitohud, sungguh berbahaya…!” kata kakek itu.

Dia pun memandang lengan kanannya yang ternyata masih utuh, akan tetapi lengan bajunya yang buntung setengahnya. Kiranya kakek ini, pada saat terakhir ketika pedang membabat, masih sempat menarik lengannya di dalam lengan baju sehingga yang terbabat buntung hanya lengan bajunya saja!

Melihat kenyataan itu, diam-diam Cin Liong terkejut dan girang. Girang karena ternyata isterinya tidak jadi membikin cacat pendeta yang belum tentu berdosa ini, dan terkejut karena maklum bahwa kakek ini sungguh sakti, sudah dapat membuat lengannya mulur dan mengkeret. Ilmu seperti itu dapat membuat lengan mulur sampai dua kali panjang lengan itu, dan dapat membuat lengan itu memendek sampai setengahnya, seperti yang dilakukan kakek tadi untuk menyelamatkan lengannya dari babatan pedang.

“Sudahlah, Hui-moi. Agaknya memang locianpwe ini tidak bersalah karena sejak tadi dia mengalah terus menghadapi serangan-seranganmu. Kalau bukan dia yang melakukan, berarti ada orang lain yang mempergunakan namanya. Aku yakin bahwa locianpwe Ang I Lama tidak akan tinggal diam saja namanya dipergunakan orang lain untuk melakukan kejahatan terhadap kita sehingga mendatangkan fitnah padanya.”

Suma Hui juga telah mengerti bahwa agaknya memang bukan kakek ini yang menculik puterinya. Kalau memang kakek ini memiliki dendam terhadap ia dan suaminya, tentu kakek ini akan melakukan perlawanan, mengingat bahwa tingkat kepandaian kakek ini mungkin lebih tinggi dari tingkatnya. Akan tetapi kakek ini selalu mengalah, tidak balas menyerang dan selalu bersikap lembut. Hal ini membuat hatinya menjadi makin gelisah dan berduka. Tak terasa lagi, dua matanya menjadi basah dan air mata jatuh menuruni kedua pipinya yang agak pucat. Wanita ini sudah menderita kesengsaraan batin sejak puterinya, yang merupakan anak tunggal itu, lenyap diculik orang.

“Habis, ke mana lagi kita harus mencari anak kita…?” Suaranya terdengar demikian memelas, menggetar dan lirih, sepasang matanya yang merah dan basah itu ditujukan kepada suaminya dengan pandang mata yang penuh duka sehingga suaminya merasa terharu dan kasihan sekali. Cin Liong sendiri tidak tahu harus mencari ke mana, maka pertanyaan penuh kegelisahan itu pun tidak dapat dijawabnya.

“Omitohud… mengapa ada orang yang tega memisahkan ibu dari anaknya? Sungguh merupakan perbuatan yang amat kejam. Pinceng dapat mengerti akan kedukaan dan kebingungan hati ji-wi. Karena pinceng juga ingin sekali membantu, maka dapakah ji-wi memberi tahukan, siapa kiranya musuh-musuh ji- wi yang paling besar?”

Kao Cin Liong menggelengkan kepala. “Kami merasa tidak mempunyai musuh-musuh, locianpwe, tetapi tentu saja ada orang-orang yang membenci kami di luar pengetahuan kami. Semenjak saya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai panglima, kami hidup sebagai pedagang dan tidak mencampuri urusan kang- ouw. Kecuali ketika kami membantu para pendekar menghancurkan komplotan Sai-cu Lama yang mengacau di kota raja.”

“Nah, itulah, komplotan itulah. Siapakah saja di antara mereka selain mendiang suheng Sai-cu Lama? Siapa yang menjadi kelompok pimpinan mereka?” Pendeta itu bertanya dan memandang dengan alis berkerut, penuh perhatian.

“Ada banyak di antara mereka, akan tetapi yang menjadi pimpinan terpenting hanya beberapa orang,” jawab Kao Cin Liong sambil mengingat-ingat. “Mereka adalah Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, Iblis Mayat Hidup…”

“Sam Kwi (Tiga Iblis)?” tanya Ang I Lama.

“Benar, locianpwe. Sam Kwi bersama murid mereka yang berjuluk Bi-kwi. Kemudian ada lagi Kim Hwa
Nionio dan muridnya yang bernama Bhok Gun. Itulah mereka yang menjadi komplotan dan pembantu Sai- cu Lama.”

Ang I Lama mengangguk-angguk, sepasang alisnya berkerut sedangkan tangan kirinya meraba-raba dagunya. “Apakah mereka semua tewas dalam pertempuran itu?”

“Semua tewas, kecuali Bi kwi, murid Sam Kwi.”

“Hemmm, apakah tidak mungkin ia yang melakukan penculikan itu?”

Cin Liong menggeleng kepala. “Kiranya tidak mungkin. Kalau ia mendendam, tentu tidak ditujukan pada kami, sebab kami hanya membantu para pendekar yang menghancurkan komplotan itu saja. Pula, tidak mungkin ia dapat menyamar sebagai locianpwe, karena pada waktu melakukan penculikan, menurut saksi, yaitu anak-anak yang menyaksikan, penculik itu menggunakan ilmu sihir dan lenyap di antara gumpalan asap tebal.”

“Sihir? Hemmm…” Kakek itu lalu duduk bersila dan seperti orang bersemedhi, namun kulit di antara kedua alisnya berkerut, tanda bahwa dia tenggelam di dalam pemikiran yang mendalam.

Karena merasa tidak perlu lebih lama berada di tempat itu, Cin Liong lalu menggandeng tangan isterinya yang nampak amat sedih itu, meninggalkan tempat itu, menuruni bukit perlahan-lahan. Dia harus pulang dulu, barulah nanti dari rumah mencari jejak puteri mereka. Juga, dia mengharapkan hasil penyelidikan Suma Ciang Bun, selain itu juga ingin mendengar bagaimana dengan pendapat orang tuanya di Istana Gurun Pasir yang dilapori oleh Gu Hong Beng, murid Suma Ciang Bun…..

********************

Rumah itu tidak besar, merupakan rumah dengan dua buah kamar besar dan tiga kamar dibagian belakang yang menjadi tempat tinggal para pelayan, dua buah ruangan dan sebuah gudang. Kecil akan tetapi nampak indah sekali karena bangunannya dibuat secara artistic. Gentengnya merah dan tembok rumah itu sendiri di cat hijau, hampir tersembunyi di antara daun-daun pohon yang besar. Pohon-pohon yang tumbuh di sekeliling rumah itu pun bukan pohon liar, melainkan diatur tumbuhnya, dan terdiri dari pohon-pohon yang asing dan jarang terdapat di daerah pegunungan Heng-tuan-san itu.

Rumah itu berdiri di lereng paling bawah, yang masih merupakan kaki pegunungan Heng-tuan-san. Tanah disekeliling rumah itu subur sekali karena sungai Cin-sa mengalir di bagian belakang rumah itu, hanya beberapa ratus meter saja jauhnya. Karena daerah itu merupakan daerah tapal batas dari Propinsi Secuan, dan jauh dari jalan raya, maka keadaannya amat sunyi. Sunyi dan indah. Dusun terdekat berada sejauh belasan li dari situ.

Itulah tempat tinggal wanita cantik yang berjuluk Sin-kiam Mo-li. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sin-kiam Mo-li, wanita cantik yang bersikap halus menarik itu, kini telah menjadi guru Kao Hong Li. Seperti kita ketahui, Sin-kiam Mo-li telah berhasil merampas Kao Hong Li dari tangan penculiknya yang mengaku bernama Ang I Lama, kemudian Hong Li berjanji untuk berguru dan mengaku ibu kepada Sin-kiam Mo-li, ikut bersama wanita itu selama lima tahun. Bahkan Hong Li telah disuruh bersumpah!

Ketika ia pertama kali tiba di tempat tinggal gurunya yang juga menjadi ibu angkatnya, Hong Li merasa gembira sekali, melihat betapa tempat itu amatlah indahnya. Rumah itu kecil mungil dan dari jauh, ketika mereka tiba di bawah kaki gunung, rumah itu nampak jelas, seperti rumah boneka yang berwarna-warni, dikelilingi pohon-pohon besar yang indah pula, juga di antara pohon-pohon itu terdapat banyak sekali tanaman bunga yang beraneka ragam dan warna.

Akan tetapi, ketika mereka mulai mendaki bukit, rumah indah itu lenyap tertutup pohon-pohon yang amat banyak dan mereka mendaki melalui lorong-lorong yang amat sulit dikenal kembali karena bentuknya yang aneh-aneh dan banyak pula yang sama.

Lorong-lorong di antara pohon-pohon besar itu juga sering kali membelok, bahkan tikungannya ada pula yang bagaikan berbalik ke arah yang berlawanan. Di sana-sini lorong itu putus dan di depannya hanya nampak jurang lebar menganga, ada pula yang tiba-tiba saja di depan jalan terdapat kolam pasir yang bentuknya aneh, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman. Ada pula lapangan rumput yang hijau dan nampak segar, akan tetapi gurunya memperingatkan agar ia jangan menginjak lapangan rumput itu.

Tadinya Hong Li mengira bahwa gurunya melarangnya agar jangan merusak rumput hijau segar itu, akan tetapi kemudian gurunya memberi tahu bahwa menginjak tempat itu sama saja dengan bunuh diri! Banyak tempat yang tidak boleh diinjak, bahkan ada pula tanaman-tanaman yang memiliki bunga-bunga indah akan tetapi gurunya melarang ia menyentuh bunga dan daun tanaman itu. Tangannya akan melepuh keracunan, kata gurunya.

Sungguh tempat yang indah akan tetapi aneh dan menyeramkan. Akan tetapi setelah mereka tiba di rumah mungil itu, hati Hong Li tertarik dan ia senang sekali menerima sambutan tiga orang pelayan yang usianya rata-rata tiga puluh tahun, pelayan-pelayan wanita yang rata-rata berwajah cantik dan berpakaian bersih rapi.

“Ini adalah anak angkat, juga muridku,” kata Sin-kiam Mo-li memperkenalkan Hong Li kepada mereka. “Aih, siocia, engkau manis sekali!” kata yang berbaju merah.

“Siocia, yang baik, kami akan melayanimu dengan penuh kasih sayang!” kata yang berbaju hitam. “Siocia, siapakah namamu?” tanya yang berbaju putih.

Hong Li memandang mereka seorang demi seorang dengan penuh perhatian. Mereka itu berwajah cantik, tidak seperti pelayan dari dusun, dan pakaian mereka yang rapi itu seperti pakaian seragam. Celana mereka baru, akan tetapi baju mereka, yang memiliki potongan yang sama, berbeda warnanya. Rata-rata mereka bersikap ramah, akan tetapi yang mengherankan, sikap mereka lincah dan sepasang mata mereka tajam, gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka bukanlah wanita-wanita bodoh yang lemah.

Sebelum ia menjawab, gurunya sudah bicara lagi.

“Hong Li, mereka inilah pelayan-pelayan yang juga menjadi teman kita dan penghuni tempat ini. Nama mereka mudah dilihat dari pakaian mereka. Ini Ang Nio (Nona Merah), dan ini Pek Nio (Nona Putih) dan Hek Nio (Nona Hitam). Kalian ketahuilah bahwa siocia (nona) ini adalah Kao Hong Li. Ia belum tahu akan keadaan tempat tinggal kita, maka hari ini kalian ajaklah dia berjalan-jalan dan kalau aku belum memerintahkan, jangan membuka rahasia tentang tempat ini. Belum waktunya dan bisa berbahaya. Nah. aku mau beristirahat. Layanilah Hong Li sebaiknya.” Setelah berkata demikian, Sim-kiam Mo-li meninggalkan muridnya yang segera diajak oleh ketiga orang pelayan itu untuk melihat-lihat keadaan di dalam rumah itu.

Ketika Hong Li diajak masuk ke dalam, dia menjadi kagum dan juga bingung. Kagum karena rumah itu mewah dan memiliki perabot rumah yang serba indah dan mahal, penuh dengan lukisan-lukisan mahal, pot-pot bunga kuno yang antik, juga lantainya ditutup permadani tebal. Akan tetapi yang membuat ia merasa bingung adalah ketika ia harus berputar-putar untuk memeriksa kamar itu yang walau pun tidak berapa besar namun berlika-liku dan memiliki lorong-lorong di antara pot-pot bunga dan perabot rumah.

Gurunya mendiami kamar yang pertama dan ia memperoleh kamar ke dua yang selama ini dibiarkan kosong saja, sedangkan tiga orang pelayan itu tinggal di kamar belakang. Anehnya, dia harus dituntun oleh Ang Nio ketika melihat-lihat di dalam rumah itu.

“Jangan pandang ringan keadaan dalam rumah ini, nona. Tanpa petunjuk kami, nona tidak akan dapat memasuki kamar sendiri,” kata Ang Nio yang melihat betapa Hong Li mengerutkan alisnya karena harus dituntun.

“Ahhh, masa? Kenapa tidak bisa?”

“Keadaan di dalam rumah ini telah diatur oleh toanio (nyonya besar) menurutkan garis-garis pat-kwa (segi delapan), penuh dengan alat-alat rahasia sehingga kalau ada orang luar berani masuk, selain dia terancam oleh jebakan-jebakan, juga sukar baginya untuk mencari jalan keluar.”

Hong Li tidak percaya. Tiga orang pelayan itu lalu membiarkan ia mencari jalan sendiri dan benar saja! Jalan yang diambilnya itu buntu, kalau tidak terhalang meja kursi, pot bunga, tentu menjadi tertutup oleh sebuah pintu yang ketika dibukanya membawanya ke bagian lain yang sama sekali tidak disangkanya. Ia mencoba untuk mencapai pintu kamar yang diberikan kepadanya, namun selalu gagal!

Ketika ia melihat sebuah kursi besar menghalang antara ia dan pintu itu, ia menggeser kursi itu dengan hati girang. Kalau kursi itu disingkirkan, tentu ia dapat langsung saja menghampiri pintu itu dan berarti menang! Akan tetapi, begitu kursi digeser, terdengar suara dan tahu-tahu dirinya telah berada di dalam sebuah kurungan besi! Tiga orang pelayan itu menghampiri sambil tertawa-tawa.

“Sudahlah, nona,” kata Pek Nio sambil menggerakkan alat rahasia dan kurungan itu pun terlipat dan lenyap, sedangkan kursi kembali ke tempatnya semula. “Masih untung nona hanya terjebak dalam kurungan, karena di sini terdapat jebakan yang lebih berbahaya lagi. Mari, kita tunjukkan semua rahasia dalam rumah ini agar engkau dapat bergerak dengan bebas.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo