October 3, 2017

Suling Naga Part 18

 

Yo Jin menarik napas panjang. Agaknya berat baginya untuk mengeluarkan isi hatinya. “Kwi-moi, terima kasih saya amat mendalam bahwa seorang seperti saya ini mendapat kehormatan untuk menerima cinta kasih seorang wanita seperti engkau. Hal ini kuterima dengan hati gembira dan ringan seandainya engkau adalah seorang gadis biasa, karena sesungguhnya aku pun sudah jatuh cinta kepadamu. Akan tetapi…”

Siu Kwi mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang menunduk itu dengan hati amat khawatir. “Akan tetapi… apa Jin-ko?”

“Kwi-moi, engkau sudah melihat keadaan saya. Seorang pemuda dusun, pemuda petani yang tidak terpelajar, buta huruf, miskin, dan bahkan kini setelah ayah tiada, saya hidup sebatang kara, tiada sanak kadang, tiada kemampuan. Akan tetapi engkau…”

“Aku… kenapa, Jin-koko?” Siu Kwi mendesak sambil tersenyum hingga nampak deretan giginya yang rapi berkilau tertimpa sinar api unggun.

Yo Jin memandang wajah Siu Kwi dan pandang mata mereka saling bertemu. Masing-masing dapat merasakan kasih sayang terpancar dari pandang mata itu, akan tetapi Yo Jin lalu mengalihkan pandang matanya, kini memandang Sim Houw dan kepada Bi Lan seolah-olah minta pertimbangan dari kedua orang saksi itu.

“Kwi-moi… ahhh, sesungguhnya menyebutmu moi-moi saja sudah tidak pantas bagiku. Sepatutnya engkau kusebut lihiap. Engkau adalah seorang wanita kota, terpelajar, kaya, pandai dan bahkan memiliki kepandaian silat yang luar biasa. Engkau seorang wanita sakti, seorang pendekar wanita yang…”

“Cukup, Jin-ko, cukuplah…!” Siu Kwi memotong sambil menyentuh lengan pemuda itu. “Aku sudah mengenalmu lahir batin, tetapi engkau sungguh belum tahu banyak tentang diriku! Engkaulah yang terlalu berharga untukku, Jin-ko. Engkau seorang pemuda yang bersih, jujur, setia, kuat lahir batin, gagah perkasa, sedangkan aku… aku hanya…”

“Wanita perkasa, pendekar yang sakti…”

“Tidak, tidak…! Engkau hanya tahu satu tapi tidak mengenal dua tiga dan selanjutnya. Biarlah sekarang aku ceritakan dan mengaku kesemuanya, Jin-ko. Keadaanku yang lalu juga akan selalu menjadi ganjalan di hatiku kalau belum kuceritakan kepadamu…”

“Suci! Perlukah itu…?” Bi Lan menegur, khawatir melihat suci-nya akan menceritakan keadaan masa lalunya.

Siu Kwi tersenyum dan mengangguk kepada sumoi-nya. “Mutlak perlu, sumoi. Aku tidak tega membiarkan Jin-koko menggambarkan aku sebagai seorang dewi dari langit, pada hal dalam kehidupanku yang lalu aku hanyalah seorang iblis. Di dalam cinta harus ada kejujuran, kita harus dapat melihat orang yang kita cintai seperti apa adanya, melihat segala cacat dan keburukannya, bukan sekedar melihat kebagusannya saja.”

Sim Houw yang sejak tadi mendengarkan semua itu, menggeleng-geleng kepala dan memandang kagum. “Kalian adalah orang-orang luar biasa, hebat… hebat…”

Yo Jin memandang bingung. “Akan tetapi, Kwi-moi, aku tidak ingin mendengar tentang keburukanmu…”

“Dengarlah baik-baik, Jin-ko, agar engkau tak merasa rendah diri terhadap aku. Engkau hanya mengenal namaku, yaitu Ciong Siu Kwi, akan tetapi kau tidak mendengar hal-hal lain mengenai diriku. Seperti juga engkau, aku tidak mempunyai keluarga. Sejak kecil aku ikut bersama tiga orang guruku yang terkenal dengan julukan Sam Kwi (Tiga Iblis), tokoh-tokoh golongan sesat, penjahat-penjahat yang kejam dan ganas. Dan janganlah mengira bahwa aku seorang pendekar wanita, sama sekali tidak! Aku bahkan dimusuhi para pendekar karena aku memang jahat dan kejam, aku seorang di antara tokoh-tokoh sesat yang dijuluki Bi-kwi (Iblis Cantik).”

“Aku tidak percaya…!” Yo Jin berseru, kaget bukan main mendengar pengakuan yang dianggap mengerikan itu.

“Kenyataannya begitu, Jin-ko. Aku kejam dan jahat, entah telah berapa banyak orang, baik yang bersalah mau pun yang tidak, sudah tewas di tanganku. Aku telah membunuh banyak orang, aku pendukung kejahatan dan penentang kebaikan. Bukan itu saja, aku juga bukan seorang wanita baik-baik, bukan seorang wanita bersih. Sejak remaja aku telah menjadi kekasih tiga orang guruku dan sejak dewasa, entah sudah berapa banyak pria yang kujadikan kekasihku, baik dengan suka rela mau pun dengan paksa! Aku mempermainkan pria-pria itu seperti barang mainan, kalau sudah bosan kucampakkan, atau kubunuh.”

“Tidak… tidaaakk…!” Yo Jin berteriak dengan mata terbelalak karena merasa ngeri, dan juga tidak percaya. “Engkau seorang wanita gagah perkasa, halus budi dan sopan!”

“Itu menurut penglihatanmu, dan memang sejak berjumpa denganmu, aku mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia sesat, untuk merubah kehidupan menjadi seorang baik-baik. Akan tetapi, engkau harus mengenal masa laluku, Jin-ko, agar kalau engkau masih mau memasuki hidup baru bersamaku, engkau masuk dengan mata terbuka, tbukan dengan mata terpejam, dengan suka rela, bukan paksaan. Nah, sekarang akan kulanjutkan, Jin-ko. Baru-baru ini, baru kemarin dulu malam, aku terpaksa menyerahkan tubuhku ini kepada Ok Cin Cu, tosu ketua cabang Pat-kwa-kauw yang menangkapmu, aku tidur dengan dia dan melayaninya selama satu malam…”

“Ahh, tidaaaakk… ahh, Kwi-moi, kenapa engkau menyiksa hatiku seperti ini…?” Yo Jin menutupi mukanya dengan kedua tangan bagaikan hendak mengusir gambaran yang diceritakan Siu Kwi kepadanya itu.

“Yo-toako, suci hanya menceritakan hal-hal yang memang benar terjadi. Akan tetapi ketahuilah bahwa suci terpaksa melakukan hal itu demi untuk membebaskanmu. Ia tidak berdaya menghadapi dua orang tosu itu, maka ia dapat ditipu oleh mereka yang sudah menjanjikan untuk membebaskanmu.”

Yo Jin menurunkan kedua tangannya. Wajahnya agak pucat dan kedua matanya merah ketika dia menatap wajah wanita yang dicintanya. “Kwi-moi, apakah masih ada lagi ceritamu tentang dirimu? Jika masih ada, tuangkanlah semua, jangan disimpan-simpan agar kelak engkau takkan merasa penasaran dan menceritakannya kembali kepadaku.”

Siu Kwi terbelalak. “Jin-ko, masih belum cukupkah itu? Masih belum cukupkah kotoran yang menodaiku sehingga engkau dapat melihat bahwa akulah yang sesungguhnya tak berharga bagimu?”

Yo Jin tersenyum dan menggeleng kepala. “Kwi-moi, kejujuranmu ini justru menambah cintaku kepadamu. Aku mencinta engkau sekarang ini, seperti keadaanmu sekarang ini. Aku tidak peduli akan keadaanmu yang lampau, apa lagi engkau sudah mengambil keputusan dan untuk merubah jalan hidupmu. Engkau telah melakukan penyelewengan, biarlah aku akan membantumu sekuat tenaga untuk kembali ke jalan benar, Kwi-moi.”

“Jin-koko…!” saking terharu hatinya Siu Kwi menubruk dan hendak mencium kaki Yo Jin sambil menangis.

Akan tetapi Yo Jin menangkapnya dan menariknya sehingga kini wanita itu menangis dengan kepala di atas pangkuannya, menangis sesenggukan bagaikan anak kecil dan rambutnya dibelai sayang oleh Yo Jin.

Melihat peristiwa ini, Bi Lan tak dapat lagi menahan keharuan hatinya sehingga dia pun memandang dengan dua mata lebar akan tetapi air matanya berlinang-linang, kemudian perlahan-lahan menetes turun melalui sepasang pipinya. Hatinya dipenuhi rasa haru, kasihan, akan tetapi juga ikut gembira bahwa suci- nya telah menemukan seorang pria yang sungguh-sungguh mencintanya lahir batin. Ia tidak tahu betapa dari samping, Sim Houw memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kasih sayang.

Setelah tangisnya mereda, Siu Kwi mengangkat kepalanya dari pangkuan Yo Jin dan bangkit duduk. Tangisnya terhenti dan dengan muka yang basah air mata, rambut yang kusut, dia memandang kepada Yo Jin dengan malu-malu, kemudian tersenyum dan berkata lirih, “Aihh, aku seperti anak kecil saja…”

“Aku cinta dan kasihan kepadamu, Kwi-moi,” kata Yo Jin yang kini memandang kepada wanita itu dengan sinar mata lain, mengandung rasa iba. Alangkah sengsara kehidupan wanita ini di masa yang lalu dan dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk mencoba membahagiakan Siu Kwi dalam kehidupan mendatang.

“Sudahlah, kini kita hentikan percakapan tentang masa lalu dan kita bicara saja tentang hal-hal yang berada di depan kita, meninggalkan segala yang sudah lewat di belakang kita,” kata Bi Lan dan Sim Houw mengangguk-angguk setuju.

“Kalian memang bijaksana sekali,” kata Siu Kwi, “dan aku merasa girang bahwa kalian telah menjadi saksi pengakuanku kepada Jin-ko. Baiklah, sekarang kita bicara tentang masa depan. Sumoi, engkau dan Sim- taihiap hendak pergi ke manakah dan bagaimana bisa kebetulan bertemu dengan aku sehingga kalian bisa menolong aku dan Jin-koko?”

Sikap Siu Kwi sudah biasa lagi dan walau pun mukanya masih merah dan basah, rambutnya masih kusut, namun ia sudah dapat menguasai hatinya, bahkan kini setelah ia membuat pengakuan di depan Yo Jin yang diterima dengan baiknya oleh pria itu, ada sinar kebahagiaan yang cerah pada wajahnya, terutama pada sinar matanya.

Tadinya, ada perasaan gelisah kalau ia teringat akan masa lalunya dan membayangkan betapa Yo Jin akan berbalik membencinya kalau mendengar akan masa lalunya. Kalau hal seperti itu terjadi, kiranya akan sukar baginya untuk dapat merubah hidupnya!

Kebaikan tidak dapat dinamakan baik lagi kalau dilakukan dengan kesadaran bahwa hal itu baik. Keinginan hati untuk berbuat baik membuat perbuatan itu sendiri menjadi tidak baik, palsu dan munafik. Kebaikan tidak dapat diperbuat dengan sengaja. Kebaikan tak mungkin dapat dipelajari atau dilatih. Yang dapat dilatih hanyalah kepura-puraan saja. Kebaikan adalah wajar bagai sinar matahari, seperti harumnya bunga. Kebaikan adalah suatu sifat yang terpencar dari suatu kepribadian yang bersih. Kebaikan adalah suatu tindakan yang timbul dari batin yang penuh kasih.

Keinginan untuk menjadi sesuatu, agar sesuatu itu kelihatan agung, misalnya menjadi orang baik, otomatis mengotorkan kebaikan itu sendiri. Keinginan buat menjadi sesuatu selalu mendatangkan kepalsuan, karena pamrih atau keinginan yang menyembunyikan keuntungan bagi diri sendiri itu selalu mempunyai tujuan. Keinginan akan memperoleh buah atau hasilnya ini menjadi terpenting, sedangkan perbuatan baik itu sendiri hanya dijadikan alat untuk mencapai hasil yang menguntungkan atau menyenangkan itu!

Hal ini akan nampak jelas kalau kita mau mengamati diri sendiri setiap saat, pada saat keinginan timbul, keinginan yang dianggap suci dan luhur sekali pun. Kita buka mata batin, kita amati dan akan nampaklah bahwa ada setan bersembunyi di sudut belakang keinginan luhur itu, yang menanti datangnya hasil baik untuk diterkamnya.

Yang penting bukan ingin menjadi orang baik, tetapi sadar akan keburukan-keburukan dalam perbuatan kita. Kesadaran akan kekotoran ini timbul dalam pengamatan kita secara serius terhadap diri sendiri lahir batin. Kesadaran akan perbuatan-perbuatan buruk kita akan menghentikan perbuatan buruk itu, bukan dengan maksud agar menjadi baik! Karena kalau menghentikan perbuatan buruk itu menyembunyikan pamrih supaya menjadi baik, maka yang menjadi baik juga masih keburukan itu sendiri yang berganti baju atau bersalin warna belaka.

Cinta kasih dan kebaikan selalu ada, karena cinta kasih dan kebaikan adalah suatu kewajaran yang tidak dibuat-buat, bukan hasil dari latihan, tanpa teori-teori muluk. Akan tetapi, cinta kasih dan kebaikan tidak nampak sinarnya karena batin kita penuh dengan debu kotoran yang diciptakan oleh pikiran yang membentuk si-aku yang selalu dipenuhi keinginan-keinginan. Singkirkan semua debu kotoran itu, dan cinta kasih dan kebaikan akan memancarkan sinarnya dengan terang dan wajar.

Sejak kecil kita diajarkan untuk melakukan hal-hal baik sehingga dengan otomatis kita selalu berusaha untuk berbuat baik karena ada pahala di ujung perbuatan baik. Pahala itu dijanjikan kepada kita oleh kebudayaan kita, melalui tradisi dan agama. Pahala itu dapat dinamakan kehidupan tenteram, kebahagiaan, sorga, nirwana dan sebagainya lagi, juga nama baik atau keuntungan materi yang nampak lebih jelas. Maka berlomba-lombalah kita untuk melakukan perbuatan baik, yang pada hakekatnya hanya berlomba untuk mendapatkan pahala itulah!

Jadi, apa artinya melakukan perbuatan baik, atau menjadi orang baik, kalau dibaliknya tersembunyi pamrih mengejar pahala? Apa artinya kita menolong orang dan memberi sesuatu, kalau dalam perbuatan itu kita mengharapkan balas jasa dari orang yang kita tolong, atau kita mengharapkan pujian, nama baik dan sebagainya? Kalau begini, jauh lebih benar kalau kita tidak melakukan perbuatan baik dari pada melakukan perbuatan baik yang semu, palsu dan berpamrih!

Lebih baik kalau kita mengamati diri sendiri dan melihat adanya kepalsuan-kepalsuan dalam kebaikan kita ini. Karena hanya dengan pengamatan yang mendalam dan menyeluruh maka terjadi perubahan, terjadi penghentian segala yang palsu itu. Dan kalau sudah tiada keinginan untuk memperoleh pahala, kalau sudah tidak ada keinginan menjadi orang baik, maka semua perbuatan kita adalah wajar! Bukan baik buruk lagi, melainkan wajar.

Dan tentu saja kewajaran ini merupakan pencerminan dari pada kepribadian kita. Kalau pribadi sudah bersih dari pada segala macam debu kekotoran berbentuk keinginan-keinginan demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri, maka yang tinggal hanya kewajaran di mana sinar cinta kasih dan kebaikan akan menerangi semua perbuatan itu.

Karena itu, bukankah jauh lebih baik kalau pelajaran berupa keinginan menjadi orang baik ini dirubah dalam kehidupan anak-anak kita, dirubah menjadi pengamatan terhadap kepalsuan-kepalsuan diri sendiri tiap saat? Agar kebaikan dan cinta kasih menyinarkan cahayanya secara wajar dengan pembersihan diri dari dalam?

Pada saat Siu Kwi mengajukan pertanyaan itu kepada Bi Lan, gadis ini lalu menjawab dengan wajah gembira. “Memang kami bertemu denganmu hanya karena kebetulan saja, suci. Aku sedang melakukan perjalanan ke utara, ke gurun pasir untuk mencari suhu dan subo.”

“Perdekar Naga Sakti Gurun Pasir ?” tanya Siu Kwi dan suaranya mengandung rasa kekaguman. Pernah ia sebagai Bi-kwi, bertemu dengan mereka dan merasakan sendiri kesaktian mereka yang menggiriskan.

“Benar, suci. Aku hendak mengembalikan pedang Ban-tok-kiam milik subo ini. Sedang Sim-toako ini berbaik hati untuk mengantarku ke sana. Di dalam perjalanan, ketika kami tiba di hutan itu, kami mendengar tangismu dan sungguh kebetulan sekali kita dapat saling bertemu di sana.”

Siu Kwi menarik napas panjang. “Memang di dunia ini terjadi banyak sekali peristiwa secara kebetulan saja. Baru kini aku dapat menyadari betapa besar kekuasaan Thian yang seolah-olah sudah mengatur segala yang nampak dan tidak nampak dalam alam semesta ini. Pertemuan dengan Jin-ko juga hal yang kebetulan saja.”

Sim Houw mengangguk-angguk. “Memang tepat sekali apa yang baru dikatakan oleh Ciong-lihiap. Nampaknya saja kebetulan karena tadinya kita tak tahu sama sekali, tapi sesungguhnya sudah ada garisnya sendiri-sendiri. Baik buruknya garis itu sepenuhnya berada dalam tangan kita masing-masing, karena hal-hal yang nampaknya tidak ada hubungan sama sekali itu sebenarnya masih berupa suatu rangkaian yang tergantung dari keadaan kehidupan kita sendiri, yang ditentukan oleh kita sendiri dengan segala ulah kita.”

Siu Kwi menghela napas panjang. “Ah, betapa menariknya mempelajari soal kehidupan. Dulu, aku sama sekali tak peduli akan sebab akibat, tak peduli akan isi kehidupanku…”

“Sudahlah, suci, kita tadi berjanji akan meninggalkan masa lalu. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan dan ke mana kalian hendak pergi?”

Siu Kwi memandang kepada Yo Jin yang juga sedang menatap wajahnya di bawah sinar api unggun. Wajah Siu Kwi nampak cantik dan manis luar biasa dalam pandangan mata Yo Jin. Dua pasang mata itu bertemu dan meski pun mulut mereka diam saja, namun mereka seperti saling mengenal isi hati masing- masing dan sudah mengadakan persetujuan dengan pandang mata mereka.

“Aahh, kami… akan memulai suatu kehidupan baru, sumoi. Aku akan meninggalkan seluruh kehidupan lama yang pernah kulalui dengan segala kekerasannya, melupakan segala-galanya dan belajar menjadi seorang isteri yang baik dan setia, dan kalau Thian menaruh kasihan kepada seorang seperti aku, aku ingin menjadi seorang ibu yang bijaksana bagi anak-anak kami. Kami akan pergi dan tinggal di sebuah dusun yang jauh dan baru, dan aku… ahh, maaf Jin-ko, aku lupa belum minta persetujuanmu dalam hal ini…”

Yo Jin tersenyum, memandang dengan sinar mata mengandung penuh kasih sayang dan pengertian. “Aku setuju saja dengan rencanamu, Kwi-moi. Memang sebaiknya kita pergi jauh dari sini untuk melupakan hal- hal lalu dan agar jangan terjadi lagi hal-hal yang buruk.”

Malam itu dilewatkan oleh empat orang muda ini dengan bercakap-cakap dan baik Bi Lan mau pun Sim Houw diam-diam merasa heran, kagum dan juga girang sekali melihat betapa sikap Siu Kwi yang dulu terkenal dengan julukan Bi-kwi (Setan Cantik) berubah sama sekali! Sinar matanya yang menjadi lembut penuh kasih sayang, terutama kalau ditujukan pada Yo Jin, suaranya yang menjadi halus merdu dan bebas dari kebencian, gerak-geriknya, pendeknya orang akan pangling dan tidak mengenalnya lagi sebagai Siu Kwi beberapa bulan yang lalu!

Sudah lajim di antara kita manusia, perbuatan sesat mendatangkan akibat yang buruk bagi kita sendiri, dan kalau sudah demikian, timbul penyesalan dan janji bertobat di mulut atau di hati. Akan tetapi, bertobat seperti ini sering kali tidak ada hasilnya sama sekali dan tak lama kemudian kita akan terjerumus lagi ke dalam kesesatan yang sama!

Kesesatan dilakukan orang karena orang ingin meneguk kesenangan dari perbuatan itu dan bertobat karena penyesalan setelah timbul akibat buruk bagi diri sendiri bukanlah bertobat yang sesungguhnya lagi. Tobat macam ini tak akan bertahan lama, dan setelah penyesalan sebagai akibat buruk itu menipis. rasa bertobat pun ikut pula menipis dan tidak lama kemudian, daya tarik untuk meneguk kesenangan kembali mendorong kita untuk melakukan perbuatan yang sama.

Seperti orang minum arak. Kalau kemudian mabok dan sakit-sakit seluruh badan, mulut dan hati menyatakan bertobat tidak akan minum arak lagi. Akan tetapi, setelah rasa sakit-sakit itu hilang, kita akan lupa karena membayangkan enak dan nikmatnya minum arak, dan kita pun minum lagi. Demikian seterusnya seperti lingkaran setan yang tidak pernah putus.

Yang penting bukanlah bertobat karena menyesal menerima akibat buruk, melainkan pengamatan terhadap diri sendiri setiap saat. Pengamatan ini akan mendatangkan kesadaran dan kebijaksanaan, dan pengamatan ini akan merubah diri seketika, saat demi saat, sehingga tidak terjadi pengulangan- pengulangan.

Kebaikan bukanlah suatu yang menjadi kebiasaan, melainkan harus dihayati detik demi detik dengan pengamatan terhadap diri sendiri. Yang penting itu membersihkan diri dari kotoran, bukan keinginan untuk bersih. Keinginan untuk bersih saja tidak membuat kotoran menjadi lenyap. Kalau kotoran sudah lenyap, untuk apa ingin menjadi bersih?

Sesal dan tobat pun tidak ada kalau segala perbuatan kita didasari cinta kasih, bukan lagi menjadi pelaksanaan dari keinginan untuk mengejar dan memperoleh kesenangan, karena perbuatan didasari cinta kasih ini tanpa pamrih sehingga apa pun yang menjadi akibat dari perbuatan ini tidak akan menimbulkan penyesalan apa pun.

Pada esok harinya, pagi-pagi sekali, Bi Lan dan Sim Houw berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka. Siu Kwi menggandeng tangan Bi Lan dan diajaknya sumoi-nya itu agak menjauh dari Sim Houw dan Yo Jin karena dia ingin bicara empat mata dengan sumoi-nya itu. Setelah berada cukup jauh sehingga percakapan mereka tidak akan terdengar orang lain, Siu Kwi lalu merangkul adik seperguruannya.

“Sumoi, aku mengucapkan selamat kepadamu!” “Ehh, untuk apa, suci?”

“Engkau telah memperoleh seorang pacar yang pilihan! Aku ikut merasa girang, adikku. Sim-taihiap adalah seorang pria pilihan yang amat mengagumkan hatiku. Engkau tentu beruntung sekali!”

Wajah Bi Lan berubah merah. Heran ia mengapa suci-nya dapat menduga dengan tepat bahwa ia memang diam-diam jatuh cinta sampai ke ujung rambutnya kepada Sim Houw! Akan tetapi, mengingat sikap Sim Houw yang tidak pernah menyatakan cintanya, dia menjadi sedih dan menarik napas panjang.

“Aihh, aku tidak seberuntung engkau, suci.”

“Ehh? Salahkah rabaanku bahwa engkau mencinta Sim-taihiap?”

Bi Lan langsung tertunduk dan wajahnya merona merah, sementara pada bibirnya yang memang sudah berwarna merah merekah senyuman manis. Perubahan ini tidak lepas dari pengawasan Siu Kwi, akan tetapi segera alisnya berkerut ketika melihat senyum di bibir sumoi-nya pelan-pelan memudar.

“Ehh? Apakah yang terjadi, sumoi-ku yang jelita?”

Seperti tanpa semangat dan hanya bicara untuk dirinya sendiri, terdengar suara lirih dari bibir Bi Lan, “Aku memang jatuh cinta padanya, tapi agaknya dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja…, atau bahkan… kawan biasa…”

“Apa? Dari mana kau punya pikiran itu? Apakah dia pernah menyatakan demikian?” Siu Kwi bertanya karena penasaran. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman, dia dapat melihat mata Sim Houw yang penuh dengan cinta kasih setiap kali menatap sumoi-nya.

“Sim-toako tidak pernah berkata begitu, tapi… tetapi dia juga tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku,” Bi Lan menjawab, masih terdengar lirih tanpa semangat.

Siu Kwi tertawa dan merangkul sumoi-nya. “Anak bodoh! Tanpa pengakuan mulut pun, apakah engkau tidak dapat mengerti dan melihatnya? Aku sudah melihat dengan jelas sekali betapa Sim-taihiap amat mencintamu!”

“Ehhh…?” Bi Lan terbelalak memandang wajah suci-nya penuh selidik.

“Percayalah, sumoi. Dia amat mencintamu, dan mungkin dia terlalu rendah hati untuk membuat pengakuan. Akan tetapi aku yakin bahwa dia cinta padamu, jelas nampak dalam pandang matanya kepadamu, suaranya, dan sikapnya. Hanya wanita yang buta saja yang tidak akan dapat melihat cintanya kepadamu, sumoi!”

Wajah Bi Lan menjadi semakin merah akan tetapi kini wajah itu berseri dan mulutnya tersenyum manis sekali. Ia percaya akan keterangan suci-nya, karena ia tahu benar bahwa enci-nya adalah orang yang sudah memiliki pengalaman luas dalam menilai pria.

“Terima kasih suci!” Bi Lan merangkul dan mencium pipi suci-nya. Kini wajahnya yang manis nampak berseri penuh kebahagiaan. “Keteranganmu itu sungguh amat berharga, mendatangkan cahaya yang menerangi seluruh hati dan perasaanku. Terima kasih!”

Pada saat mereka berangkulan ini, terasa oleh masing-masing betapa keduanya saling mengasihi dan menyayang seperti kakak beradik sendiri saja. Dan Siu Kwi tidak dapat menahan air mata yang membasahi sepasang matanya ketika melihat Bi Lan pergi bersama Sim Houw. Akan tetapi, ketika ia merasa ada tangan menyentuh pundaknya dengan lembut. Ia pun membalik dan merangkul Yo Jin, menyembunyikan mukanya di dada pria yang dicintanya itu.

Cinta asmara memang hebat, kuasanya terhadap perasaan manusia amat besarnya sehingga cinta asmara mampu mendatangkan sorga atau pun neraka dalam kehidupan seseorang. Luar biasa…..

********************

Mereka menemukan sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi di lereng bukit itu. Sudah hampir dua pekan mereka berpisah dari Siu Kwi dan Yo Jin dan kini mereka sudah tiba di deretan bukit-bukit yang tak terhitung banyaknya dan yang nampaknya tak pernah habis itu, gunung-gunung besar kecil yang bertaburan di sepanjang perbatasan sebelah utara.

Tembok Besar nampak seperti seekor naga yang berlika-liku dan naik turun bukit-bukit dan gunung- gunung, amat indah dan megahnya. Mereka belum lagi melewati Tembok Besar yang sudah nampak jauh di utara dari tempat mereka berhenti untuk melewatkan malam.

Setelah makan malam dan membersihkan diri di sumber air di belakang kuil tua, makan yang cukup lezat walau pun yang mereka makan hanyalah bekal roti dan daging kering bersama air jernih, karena perut lapar dan tubuh lelah, Bi Lan dan Sim Houw duduk di ruangan belakang kuil tua itu. Ruangan itu merupakan bagian yang masih paling baik di antara bagian lain yang sudah rusak dan banyak yang sudah runtuh. Mereka sore tadi sudah membersihkan tempat itu sehingga enak untuk dipakai beristirahat. Sim Houw sudah mengumpulkan kayu bakar yang diambilnya dari dalam hutan, ditumpuk di situ untuk dipakai malam nanti, pengusir nyamuk dan hawa dingin.

Setelah menumpuk beberapa potong kayu bakar, Bi Lan lalu membuat api dan sebentar saja ruang yang tadinya sudah mulai gelap itu menjadi terang kemerahan dan hawanya yang tadinya dingin menjadi hangat. Hal ini mendatangkan perasaan gembira di hati Bi Lan.

Ia memandang wajah Sim Houw yang juga duduk di dekat api unggun di depannya. Memandang sampai lama jarang berkedip, mulutnya tersenyum seperti orang sedang mengejek.

Tadinya Sim Houw tidak menyangka sesuatu pun karena selama melakukan perjalanan bersama dara ini, hubungan mereka akrab dan setiap hari entah berapa puluh kali dia melihat dara yang memang lincah jenaka ini tersenyum. Dan memang wajah itu paling manis kalau tersenyum, muncul lesung pipit di kanan kiri mulutnya.

Namun ketika melihat bahwa dara itu menatap sejak tadi hampir tak pernah berkedip, dia pun merasa canggung dan kikuk sekali, menjadi salah tingkah. Ingin mengalihkan pandang mata, merasa sayang karena pada saat itu wajah Bi Lan nampak cantik jelita dan manis seperti wajah seorang bidadari dalam dongeng, akan tetapi kalau dipandang terus dia merasa malu dan khawatir kalau dianggap kurang sopan.

Dicobanya mengalihkan perhatian dengan menambah kayu bakar pada api unggun, akan tetapi karena matanya tidak mau diajak pindah, dia tidak melihat bahwa tangannya terjilat api.

“Uhhh…!” Dia menarik tangannya. Untung dia bertindak cepat dan dua jari tangannya hanya terjilat dan terasa panas saja, belum sampai melepuh.

“Ehh, kau kenapa, Sim-koko? Tanganmu terbakar?’ tanya Bi Lan kaget dan cepat ia menangkap lengan kiri pemuda itu untuk diperiksa.

“Ahh, hanya terjilat sedikit, tidak terluka…”

Bi Lan merasa lega melihat bahwa tangan itu tidak melepuh, hanya hangus sedikit. “Sakitkah, koko?”

Melihat kesungguhan sikap Bi Lan yang amat memperhatikan dan mengkhawatirkan tangannya itu, diam- diam Sim Houw merasa gembira sekali. Tetapi dia menggelengkan kepalanya dan dengan lembut menarik kembali tangannya karena dia merasa malu diperlakukan seperti anak kecil oleh Bi Lan. “Tidak, Lan-moi, hanya panas sedikit saja. Salahku sendiri kurang hati-hati.”

Hening sampai agak lama. Sim Houw kini menunduk dan dia masih merasa bahwa gadis itu terus memandangnya, seolah-olah terasa olehnya sinar mata yang hangat itu menatapnya.

“Sim-koko, ada satu hal yang sudah lama menjadi pertanyaan bagiku dan ingin sekali aku mendengar jawabannya secara terus terang darimu.”

Sim Houw mengangkat mukanya dan memandang dengan penuh keheranan, dan sinar matanya menyelidiki wajah dara itu seperti hendak menjenguk isi hatinya. “Pertanyaan apakah itu, Lan-moi?”

“Sim-ko, perjalanan menuju ke Istana Gurun Pasir merupakan perjalanan yang amat jauh, sukar dan berbahaya, bukankah begitu?”

Sim Houw mengangguk-angguk. “Benar sekali, Lan-moi, dan juga amat jauhnya.”

“Nah, inilah yang membuat aku terheran-heran dan tiada habisnya kupikirkan. Kenapa engkau bersusah payah mengantar aku ke sana, Sim-ko? Perjalanan ini mengandung resiko, berbahaya dan sukar, kenapa engkau yang bukan apa-apa denganku, berani mengambil resiko dan mengantarkan aku? Kenapa, Sim- ko?”

Mendengar pertanyaan ini dan melihat betapa sinar mata dara itu memandang padanya dengan amat tajam penuh selidik, wajah Sim Houw berubah merah. Untung sinar api unggun itu juga berwarna merah sehingga menyembunyikan kemerahan mukanya, dan dia pun menundukkan muka memandangi api unggun, seakan-akan hendak mencari jawabannya dari nyala api itu.

“Bagaimana, Sim-ko? Jawablah dengan terus terang,” kata Bi Lan dan gadis ini yang sudah tahu dari Siu Kwi bahwa pemuda ini sebenarnya cinta kepadanya, memandang dengan hati tegang akan tetapi juga dengan senyum simpul melihat sikap Sim Houw yang seperti orang kebingungan dan canggung.

Akhirnya Sim Houw menarik napas panjang. “Kenapa hal itu saja perlu kau tanyakan, Lan-moi? Bukankah sudah jelas bahwa kita adalah sahabat baik? Kita sudah banyak mengalami hal-hal yang berbahaya bersama, bahkan sudah bersama-sama terancam bahaya maut. Karena engkau seorang gadis, tentu saja aku tidak ingin membiarkan engkau seorang diri mencari Istana Gurun Pasir yang sedemikian jauhnya, melakukan perjalanan yang demikian berbahaya seorang diri saja. Karena itulah aku mengantarmu, Lan- moi.”

“Akan tetapi,… perjalanan ini selain sukar juga mempertaruhkan nyawa! Engkau tentu memiliki banyak sahabat, apakah terhadap semua sahabatmu engkau akan melakukan hal yang sama? Aku pun mempunyai banyak sahabat, akan tetapi kiranya selain engkau tidak akan ada yang mau melakukan perjalanan berbahaya ini untuk mengantar aku. Alasan bersahabat itu kurang meyakinkan hatiku, Sim-ko!”

“Akan tetapi kita bukan sahabat biasa, Lan-moi, melainkan sahabat yang sangat baik! Melebihi saudara sendiri. Pendeknya, aku tidak ingin melihat engkau terancam bahaya dan aku… aku siap mengorbankan nyawa untuk melindungimu…”

Bukan main girang dan terharu rasa hati Bi Lan. Jelas sudah jawaban itu membuktikan kebenaran keterangan Siu Kwi. Perdekar ini cinta padanya. Akan tetapi ia belum puas. Kenapa tidak secara langsung saja Sim Houw menyatakan cinta padanya? Bagaimana pun juga, tidak baik kalau dia terlalu mendesak, dan dia pun tersenyum manis, dengan penuh keyakinan bahwa senyumnya menciptakan lesung pipit yang tidak pernah gagal mendatangkan sinar kagum dalam sepasang mata pendekar itu.

Ia tidak sadar bahwa malam ini, ditimpa sinar api unggun, senyumnya amat istimewa, membuat Sim Houw terpesona. Pendekar ini terpaksa menundukkan pandang matanya untuk menenangkan hatinya yang terguncang oleh kekaguman.

“Kalau begitu, terima kasih atas kebaikan hatimu, Sim-ko.”

Hening lagi sejenak. Sim Houw termenung memandang nyala api unggun. Bi Lan yang termenung, kadang-kadang mengangkat muka dan memandang wajah orang muda itu. Bukan seorang pemuda remaja lagi. Akan tetapi juga bukanlah seorang kakek tua, melainkan wajah seorang laki-laki. Seorang jantan yang sudah matang, dengan wajah memperlihatkan garis-garis pengalaman dan kepahitan hidup.

“Sim-ko…”

“Hemmm…?” Sim Houw sadar dari lamunan dan menatap wajah Bi Lan.

Sesaat pandang mata mereka bertemu, bertaut dan kini Bi Lan yang menundukkan pandang matanya, merenung ke arah nyala api.

“Sim-ko,” katanya lirih, tetap merenung ke arah api unggun seolah-olah ia bicara kepada api. “Engkau pernah mencinta seorang wanita namun gagal karena dia mencinta pria lain. Sakitkah hatimu, Sim-ko?”

Sim Houw menatap wajah itu penuh selidik, namun tetap saja dia tidak tahu ke mana arah angin pertanyaan dara itu. Dia mengerutkan alisnya dan menjawab dengan tegas. “Sakit hati? Ah, tidak sama sekali, Lan-moi. Kenapa aku harus sakit hati? Ia mencinta pria lain yang lebih baik dari pada aku dan ia hidup berbahagia. Tidak ada alasan bagiku untuk sakit hati.”

“Maksudku bukan sakit hati dan menaruh dendam, Sim-ko. Akan tetapi, apakah engkau tidak patah hati, tidak putus asa dan menderita sakit dalam dirimu?”

Sim Houw tersenyum dan memandang gadis itu yang kini juga menatapnya. Heran dia mendengar pertanyaan itu dan ia pun menggelengkan kepalanya dengan pasti. “Tidak, Lan-moi. Patah hati dan putus asa hanya dilakukan oleh orang yang lemah. Apa pun yang terjadi di dalam hidup, suka mau pun duka hanyalah bagaimana kita menilainya saja. Duka hanyalah gambaran iba hati yang berlebihan. Segala macam peristiwa hidup harus kita hadapi dengan tabah dan ikhlas, tanpa keluhan.”

“Tapi… tapi… apakah kegagalan cinta itu tidak membuat engkau jera, Sim-ko?” “Jera bagaimana maksudmu?”

“Jera dan tidak berani untuk jatuh cinta kembali.”

“Cinta tidak pernah gagal, Lan-moi. Perjodohan bisa saja putus dan gagal. Akan tetapi cinta? Kurasa cinta itu abadi, Lan-moi.”

Bi Lan memandang bingung, tidak mengerti. “Akan tetapi… apakah semenjak engkau gagal… ehhh, maksudku semenjak hubungan cintamu dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri Suma Ceng Liong itu engkau pernah jatuh cinta lagi dengan seorang gadis lain?”

Sim Houw tersenyum, sampai lama tidak dapat menjawab. Memang harus diakuinya bahwa semenjak berpisah dari Kam Bi Eng yang memilih Suma Ceng Liong sebagai jodohnya, dia tidak pernah lagi jatuh cinta, sampai sekarang, karena dia tahu benar bahwa dia jatuh cinta kepada Bi Lan! Akan tetapi untuk mengakui cintanya, dia merasa sungkan dan segan, khawatir kalau-kalau hal itu akan menyinggung perasaan Bi Lan dan juga dia merasa ngeri kalau-kalau hal itu akan memisahkan dia dengan gadis ini.

“Aku sudah tua sekarang, Lan-moi. Siapakah yang begitu bodoh mau menaruh hati kepadaku?” jawabnya menyimpang.

Tiba-tiba Bi Lan tertawa, menutupi mulutnya.

“Hi-hi-hik,” Ia seperti mengajak bicara kepada nyala api unggun karena ia memandang kepada api itu, “coba dengarkan keluhan kakek tua renta ini, menyesali kehidupannya yang tua renta dan sepi. Kasihan sekali dia…!”

“Lan-moi, sudahlah jangan goda aku. Kita bicara urusan lain saja…” “Aku justru ingin bicara tentang cintamu, Sim-ko.”

Sim Houw menarik napas panjang dan dia sungguh tak mengerti akan sikap dan watak gadis ini yang kini begitu tiba-tiba bicara tentang hal yang bukan-bukan!

“Sesukamulah, Lan-moi.” “Kau marah…?”

Sim Houw tersenyum dan memandang dengan wajah berseri. Bagaimana mungkin dia mampu marah kepada dara ini, dara yang dicintanya? Pertanyaan yang aneh-aneh itu merupakan satu di antara keistimewaan Bi Lan, yang demikian lincah dan penuh gairah hidup.

“Tidak, Lan-moi. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah marah kepadamu.” “Kenapa?” Tiba-tiba dara itu mendesak.

“Karena… karena engkau tidak pernah bersalah, engkau wajar dan lincah gembira…”

Kembali Bi Lan mengerutkan alisnya. Sukar benar pria ini mengakui cintanya, pikirnya penasaran.

“Jadi selama ini, sejak engkau berpisah dan gagal dalam hubunganmu yang pertama dengan wanita yang kau cinta, engkau tidak pernah jatuh cinta lagi, Sim-ko?”

Sim Houw tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala, dan tiba-tiba dia memegang tangan Bi Lan, menariknya dengan sentakan keras sehingga dara itu terlempar ke arahnya melalui atas api unggun.

Tentu saja Bi Lan terkejut bukan main, akan tetapi Sim Houw segera memberi isyarat dengan tangannya. Kiranya seekor ular sebesar kelingking, tetapi panjangnya lebih dari dua kaki, telah berada di atas lantai di mana Bi Lan duduk. Ular itu adalah seekor ular berbisa yang amat berbahaya. Dengan sekali menggerakkan tangannya, jari tangan Sim Houw mengetuk ke arah kepala ular yang diangkat tegak. Ular tu terlempar ke dalam api unggun dan berkelojotan.

“Mari…!” kata Sim Houw sambil menyambar tangan Bi Lan dan juga buntalan mereka dan mengajak gadis itu meloncat ke luar kuil dengan gerakan cepat.

Kembali Bi Lan terkejut, akan tetapi hilanglah rasa kagetnya ketika mereka tiba di luar dan ia melihat bahwa di luar kuil telah berdiri belasan orang! Tahulah kini Bi Lan bahwa munculnya ular berbisa tadi pun tidak wajar, melainkan dimunculkan dengan sengaja oleh seorang di antara belasan orang ini untuk menyerangnya. Dan melihat bahwa di antara mereka terdapat orang-orang berpakaian seperti pendeta, ia pun dapat menduga bahwa tentu mereka ini orang-orang Pek-lian-kauw atau Pat-kwa-kauw.

Dugaannya memang tidak keliru. Di bawah penerangan empat buah obor besar yang dipegang oleh empat orang di antara mereka, ia dapat melihat gambar teratai putih dan segi delapan di dada baju para pendeta itu. Jelas bahwa kedatangan mereka ini tentu ada hubungannya dengan dua orang pendeta, yaitu Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin yang telah ia kalahkan bersama Sim Houw.

“Kalian semua tentulah siluman-siluman dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw!” Bi Lan membentak marah. “Siapakah di antara kalian yang tadi melepas ular berbisa?”

Seorang di antara tiga belas orang itu adalah seorang kakek bongkok yang mukanya buruk sekali, seperti monyet karena kecilnya muka itu, hidungnya pesek dan matanya juga sangat kecil. Tubuhnya yang kecil pendek dan bongkok itu dibungkus jubah dan melihat gambar bunga teratai di dadanya, jelas dapat diketahui bahwa dia merupakan seorang pendeta Pek-lian-kauw.

Mendengar pertanyaan Bi Lan, kakek bongkok ini terkekeh dan suara ketawanya juga lucu dan tidak lumrah seperti tubuhnya karena yang kemudian terdengar hanya suara “kek-kek-kek-kek!” seperti leher dicekik dan tubuhnya terguncang-guncang semua.

“Heh-heh-heh!” Suara tercekik-cekik itu disusul kekeh mengejek.

Dia pun menggurat-gurat tanah di depan kakinya dengan ujung tongkatnya. Tongkat itu berwarna hijau dan bentuknya seperti ular, dan memang tongkat itu sebetulnya adalah seekor ular besar yang panjangnya tidak kurang dari lima kaki, warnanya hijau dan anehnya, kadang-kadang ular itu dapat menjadi kaku seperti ketika ekornya digurat-guratkan pada tanah tadi.

“Akulah yang mengirim ular tadi untuk berkenalan denganmu, nona.”

“Kakek iblis jahanam!” bentak Bi Lan dan ia pun sudah menerjang ke depan, mengirim pukulan dengan tamparan tangan kanannya ke arah kepala kakek bongkok itu.

Ia menjadi amat marah sebab dengan mengirim ular berbisa tadi, berarti kakek ini ingin membunuhnya secara keji sekali. Maka, kini ia pun langsung saja menyerang dengan tamparan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya dan karena ia ingat bahwa kakek ini adalah seorang ahli ular berbisa, maka ia pun menggunakan ilmu yang sama kejamnya, yaitu Ilmu Pukulan Ban-tok Ciang-hoat (Ilmu Silat Selaksa Racun)!

Pukulan dengan ilmu ini memang sangat dahsyat. Ilmu ini dipelajari oleh Bi Lan dari nenek Wan Ceng, isteri dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka selain amat kuat, juga mengandung hawa beracun yang berbahaya sekali.

Kakek bongkok itu berjuluk Coa-ong Sengjin, berusia enam puluh lima tahun dan dia masih terhitung sute dari Thian Kek Sengjin. Biar pun dalam hal ilmu silat dan ilmu sihir tingkatnya tidak melebihi tingkat Thian Kek Sengjin, akan tetapi kakek ini memiliki suatu kelebihan. Sesuai dengan julukannya, yaitu Coa-ong (Raja Ular), dia adalah seorang pawang ular yang pandai.

Maka, ketika belasan orang ini, atas pemberi tahuan Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin yang terluka parah oleh Sim Houw dan Bi Lan, mengejar dan mendapatkan dua orang itu, Coa-ong Sengjin segera mengirim seekor ular berbisa yang nyaris menggigit Bi Lan. Pada hal, andai kata Sim Houw tidak menariknya sehingga gadis itu terhindar dari gigitan ular, bagi Bi Lan tidaklah terlalu berbahaya jika ia sampai digigit ular berbisa. Ia telah mewarisi ilmu Ban-tok Ciang-hoat, dan ia telah menerima pelajaran tentang racun- racun dari nenek Wan Ceng sehingga gigitan beracun tentu tidak akan mencelakainya.

Melihat betapa gadis itu dapat lolos dari ‘kiriman’ ular, Coa-ong Sengjin maklum bahwa gadis itu dan temannya yang berjuluk Pendekar Suling Naga merupakan dua orang lawan yang tangguh. Apa lagi melihat keadaan Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin yang terluka parah. Maka, kini melihat gadis itu menyerangnya dengan tamparan yang cepat dan kuat, Coa-ong Sengjin juga mengerahkan tenaganya, tangan kirinya menyambut tamparan itu sedangkan tangan kanannya yang memegang tongkat ular hidup itu menggerakkan ularnya yang menyambar ke depan, ke arah leher Bi Lan!

“Dukkk!”

Dua tangan itu bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Coa-ong Sengjin tergetar hebat. Dia terkejut sekali, akan tetapi melanjutkan serangannya dengan ular di tangan kanan.

Melihat ular yang menyambar ke arah lehernya, Bi Lan sama sekali tak merasa gentar. Ia menggerakkan tangan kirinya untuk menangkap leher atau kepala ular supaya dapat dicengkeram hancur. Untungnya kalau memiliki tongkat hidup, ular itu agaknya memiliki indera yang sangat tajam dan dapat mengelak dengan menarik lehernya ke belakang, melengkung dan mulutnya mendesis-desis mengeluarkan uap beracun.

Biar pun tidak takut terhadap uap beracun itu, Bi Lan maklum bahwa setidaknya, kalau kulit terkena semburan uap itu, tentu akan gatal-gatal, maka ia pun cepat meloncat ke belakang. Coa-ong Sengjin tidak berani memandang rendah setelah tadi pertemuan tangan dengan gadis muda itu membuat tubuhnya tergetar dan terhuyung. Tahulah dia bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat!

Sementara itu, Sim Houw tidak menghendaki Bi Lan untuk tergesa-gesa menyerang musuh yang banyak jumlahnya. Ia dapat melihat bahwa lima orang berpakaian pendeta yang berdiri di depannya itu bukanlah orang-orang lemah. Dengan sikap tenang dia lalu melangkah maju.

“Cu-wi totiang (para bapak pendeta), ada keperluan apakah cuwi malam-malam datang mengganggu kami yang sedang beristirahat melewatkan malam di kuil tua ini?”

“Siancai!” Seorang tosu yang kelihatannya sudah amat tua renta karena rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua, usianya tentu lebih dari tujuh puluh tahun, sedang memegang sebatang tongkat yang panjang, sama dengan tinggi tubuhnya, mengelus jenggotnya yang putih panjang ketika dia mengeluarkan seruan itu dan dialah yang melangkah maju menghadapi Sim Houw.

Sejenak mereka berdiri saling pandang dan Sim Houw juga mengamati kakek itu penuh perhatian. Seorang kakek yang tua dan nampaknya lemah, namun melihat sikapnya yang berwibawa, pandang matanya yang mencorong, dia pun dapat menduga bahwa tentu kakek yang pada dadanya ada gambar Pat-kwa ini merupakan seorang tokoh dari Pat-kwa-kauw yang bertingkat tinggi.

Dugaan Sim Houw juga tepat karena kakek ini merupakan orang ke dua di perkumpulan Pat-kwa-kauw, menjadi wakil ketua. Nama julukannya adalah Thian Kong Cinjin dan sebagai orang ke dua Pat-kwa-kauw, tentu dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

“Orang muda, apakah engkau yang berjuluk Pendekar Suling Naga, dan yang dengan semena-mena telah melukai seorang tokoh kami dari Pat-kwa-kauw, dan juga seorang tokoh sahabat kami dari Pek-lian-kauw?”

Agaknya kakek ini memandang rendah kepada Bi Lan, maka dia sama sekali tidak mempedulikan gadis itu, walau pun tadi dia melihat sendiri betapa gadis itu mampu menandingi serangan balasan dari Coa-ong Sengjin.

“Sim-ko, jelas bahwa mereka ini adalah siluman-siluman yang hendak membalaskan kekalahan Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, dua tosu siluman itu!” Bi Lan berseru.

“Benar, totiang,” jawab Sim Houw. “Saya bernama Sim Houw dan nona ini adalah Can Bi Lan.”

Kakek yang sikapnya halus berwibawa itu mengangguk-angguk. “Benarkah kalian telah melindungi seorang siluman betina dan melukai dua orang rekan kami?”

Sim Houw mengerutkan alis. “Kami berdua membela yang lemah dan benar. Saudara Yo Jin dengan sewenang-wenang ditangkap, bahkan ayahnya dibunuh, karena itu kami membantu tunangannya untuk membebaskannya. Kedua orang totiang Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin bahkan hendak menangkap kami, maka terjadilah perkelahian dan akibatnya mereka berdua terluka. Harap cu-wi totiang memaafkan karena sebenarnya kami sama sekali tidak mencari permusuhan dengan pihak mana pun juga.”

“Hemm, enak saja, heh-heh-heh!” kata Coa-ong Sengjin. “Sudah melukai orang sampai menderita luka parah, lalu minta maaf. Kalian tentu orang-orang yang belum lama ini membasmi para pembantu Hou-taijin. Hayo katakan, siapa di antara kalian yang sudah membunuh Kim Hwa Nionio!”

Ditanya demikian oleh si kakek bongkok, Sim Houw mengerutkan alisnya. Dia tidak merasa heran kalau para tosu Pek-lian-kauw mengenal Kim Hwa Nionio, mungkin ada hubungan baik karena mereka sealiran.

“Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya membantu pembesar durna, maka aku pun membantu para pendekar untuk membersihkan kota raja dari pengaruh mereka. Dalam pertempuran itu, Kim Hwa Nionio memang terbunuh olehku,” jawabnya tenang.

Mendengar ini, lima orang tosu itu, dua dari Pat kwa-kauw dan tiga dari Pek-lian-kauw, menjadi amat marah. Bahkan Thian Kong Cinjin yang memimpin rombongan itu nampak marah dan kelembutannya tertutup oleh kemarahan yang membuat mukanya merah dan matanya terbelalak. Patut diketahui bahwa Kim Hwa Nionio di waktu mudanya amat populer di antara para tosu Pek-lian-kauw dan menjadi sahabat baik mereka.

“Hemm, kiranya yang bernama Suling Naga adalah seorang muda yang sombong dan mudah menjatuhkan tangan maut kepada golongan kami. Sim Houw, Pendekar Suling Naga, sekarang kami datang untuk minta nyawamu guna menebus semua rekan kami yang telah terbunuh atau terluka olehmu!”

“Tidak kelirukah jalan pikiran totiang?” Sim Houw berkata dengan sikap masih tenang sekali. “Semua yang aku lakukan itu bukan berdasarkan permusuhan atau kebencian pribadi, melainkan karena aku membela yang benar dan secara tidak kebetulan sekali yang totiang bela itu berdiri di pihak yang sesat. Jika sekarang totiang hendak membela yang salah, bukankah berarti bahwa totiang juga akan mengambil jalan sesat, tidak sesuai dengan kedudukan totiang sebagai seorang pendeta?”

“Siancai…! Engkau sungguh terlalu sombong, orang muda. Pinto memiliki pandangan dan kebenaran pinto sendiri. Nah, rasakan pembalasan kami!” Berkata demikian, kakek itu menggerakkan tongkatnya yang panjang dan angin besar menyambar ke arah Sim Houw.

Pemuda itu terkejut dan cepat melompat ke belakang. Tongkat tidak mengenai dirinya, akan tetapi anginnya membuat pakaian dan rambutnya berkibar-kibar. Dia maklum akan kelihaian lawannya ini, maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun cepat menghunus pedang Liong-siauw-kiam yang diputarnya menjadi segulungan sinar yang mengeluarkan bunyi mengaung-ngaung.

Melihat ini, Bi Lan tidak tinggal diam. Dicabutnya pedang Ban-tok-kiam dan ia pun turut menerjang maju, yang diterjangnya adalah kakek bongkok yang langsung merasa ngeri sekali melihat pedang di tangan gadis itu.

“Pedang iblis… pedang iblis…!” katanya berkali-kali sambil berloncatan ke sana-sini dan memainkan ular hijau di tangannya untuk mencari peluang memulai serangan.

Tiga orang tosu lainnya sudah mempergunakan senjata mereka masing-masing, yaitu tongkat dan tasbeh untuk mengepung Bi Lan dan Sim Houw. Salah seorang membantu Coa-ong Sengjin dan dua orang membantu Thian Kong Cinjin.

Tingkat kepandaian lima orang itu rata-rata seperti tingkat kepandaian Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, hanya tingkat Thian Kong Cinjin yang paling tinggi. Kakek tua renta ini memang lihai bukan main dan dia merupakan seorang ahli tenaga sinkang yang kuat. Kekuatannya itu masih ditambah dengan kekuatan ilmu hitam sehingga kadang-kadang tongkatnya seperti hidup dan dapat bergerak sendiri!

Menghadapi kakek ini saja Sim Houw harus berhati-hati sekali, apa lagi kakek itu juga dibantu oleh dua orang tosu lain yang lihai pula, maka Sim Houw harus mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Untung di tangannya ada suling Liong-siauw-kiam. Kehebatan permainan pedang suling yang bisa mengeluarkan suara bagaikan orang memainkan lagu dengan suling, membuat tiga orang lawannya gentar dan sukar menembus pertahanan Sim Houw.

Di lain pihak, Bi Lan juga sudah mengamuk dengan pedangnya. Sebenarnya, tingkat kepandaian dua orang pengeroyoknya itu masing-masing sudah lebih tinggi sedikit dari pada tingkatnya, akan tetapi berkat keampuhan Ban-tok-kiam, dua orang lawannya juga amat gentar dan berhati-hati sekali menghadapi sambaran sinar pedang yang luar biasa ampuh dan menggiriskan itu.

Thian Kong Cinjin diam-diam merasa kagum akan tetapi juga penasaran sekali. Di situ masih terdapat beberapa orang murid kepala yang merupakan murid-murid terpandai, akan tetapi makin banyak yang mengeroyok akan membuat gerakannya dan kawan-kawannya menjadi kacau dan tidak teratur. Dia pun teringat akan rencana siasatnya sebelum mereka menyerbu.

Melihat kegagahan dua orang muda itu dia pun lalu mengeluarkan suara melengking, yaitu aba-aba rahasia yang hanya dimengerti oleh kawan-kawannya, sesuai dengan siasat yang telah mereka rencanakan. Mendengar aba-aba ini, lima orang tosu itu segera berlompatan mundur dan pada saat itu, tiga buah obor besar tadi tiba-tiba saja dipadamkan! Keadaan menjadi gelap gulita dan diam-diam lima orang tosu yang sudah merencanakan siasat ini, telah membentuk kepungan segi lima! Mereka dapat bergerak di dalam gelap karena memang sudah mereka rencanakan lebih dulu.

Sim Houw dan Bi Lan terkejut bukan main ketika dari keadaan yang terang kini berubah menjadi gelap dan dalam kegelapan itu, tiba-tiba saja ada sambaran-sambaran senjata dari lima penjuru!

Mereka terpaksa memutar pedang dan menangkis hanya mengandalkan pendengaran mereka saja. Akan tetapi karena sambaran senjata-senjata itu datang dengan gencar, dari arah-arah yang tidak terduga sama sekali, maka paha kiri Bi Lan terkena pukulan tongkat, sedangkan punggung Sim Houw juga terkena pukulan tongkat yang cukup keras. Mereka tidak terluka parah namun pukulan-pukulan itu cukup mendatangkan rasa ryeri.

Sim Houw maklum bahwa jika dilanjutkan, dia dan Bi Lan mungkin terluka berat karena ia tahu bahwa lima orang pengeroyok itu telah mengatur siasat untuk bergerak di dalam gelap, gerakan yang sudah diatur semacam barisan. Belum lagi kalau delapan orang yang lain ikut maju mengeroyok!

Ia pun mendapatkan akal. Dengan mengandalkan pendengarannya, ia cepat mendekati dan mengadu punggung dengan Bi Lan, sambil keduanya memutar pedang di depan mereka. Dengan rabaan dan sentuhan lengan kirinya, Sim Houw memberi isyarat dan memegang tangan kiri dara itu sambil berteriak, “Lan-moi, kita bobol kepungan di kiri!”

Sambil berkata demikian, ia menarik gadis itu ke kanan dan bersama gadis itu memutar pedang di arah kanan. Ketika dia berteriak, kelima orang itu tentu saja memusatkan pertahanan di kiri untuk mencegah mereka melarikan diri. Siapa kira, dua orang yang mereka kepung itu malah menyerbu ke kanan, di mana Coa-ong Sengjin berada.

Kakek bongkok ini berusaha memutar tongkat ular hijaunya, tetapi ular itu terpotong menjadi lima potong disambar Ban-tok-kiam dan Liong-siauw-kiam dan ia sendiri cepat melompat mundur kalau tidak ingin terbabat oleh sinar pedang yang berkilauan itu. Sim Houw terus menarik tangan Bi Lan dan keduanya melarikan diri secepatnya setelah berhasil terlepas dari kepungan.

“Kejar mereka!” Thian Kong Cinjin membentak marah. “Nyalakan obor!”

“Mereka lari ke arah hutan!”

Obor-obor lalu dinyalakan dan tiga belas orang itu melakukan pengejaran. Akan tetapi bayangan dua orang buruan itu telah lenyap. Thian Kong Cinjin tidak kehilangan akal. Dia lalu memecah-mecah rombongannya menjadi tiga. Dia sendiri pergi bersama dua orang, Coa-ong Sengjin bersama empat orang, dan lima orang sisanya menjadi satu bagian. Tiga rombongan ini kemudian melakukan pengejaran dan pencarian dengan cara berpencar, memasuki hutan sambil membawa obor.

Melakukan pengejaran sambil membawa obor merupakan suatu kebodohan. Sim Houw dan Bi Lan yang melarikan diri ke dalam hutan, tentu saja dapat melihat obor mereka dan dua orang ini dapat mengarahkan pelarian mereka menjauhi obor. Bi Lan sedikit terpincang dan Sim Houw juga merasa nyeri pada punggungnya.

Setelah mereka keluar dari dalam hutan, mereka melalui sebuah bukit dan menjelang pagi, keduanya barulah mengaso. Para pengejar tidak nampak lagi. Mereka berhenti di bukit yang berbatu-batu, bersembunyi di antara batu-batu besar untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga sambil mengobati bagian yang memar karena pukulan tongkat.

“Sim-ko, kita belum kalah, tapi mengapa engkau memaksa aku melarikan diri? Kalau dilanjutkan, bukan tidak mungkin kita akan dapat merobohkan dan membunuh seorang dua orang di antara lima ekor monyet itu,” Bi Lan yang merasa penasaran mengeluh karena merasa tidak puas. Pahanya terasa nyeri namun dia belum sempat membalas kepada musuh-musuhnya!

“Justru itulah yang tak kukehendaki, Lan-moi. Kalau keadaan terang, aku masih mampu menahan dan memperingatkanmu supaya tidak sembarangan membunuh orang. Akan tetapi setelah gelap, berbahaya sekali bagi kita, juga berbahaya bagi mereka karena jika engkau mengamuk, aku tidak dapat menanggung keselamatan nyawa mereka pula.”

“Akan tetapi, Sim-ko. Mereka itu berusaha mati-matian untuk membunuh kita! Kenapa engkau masih tidak setuju kalau kita membunuh mereka? Bukankah mereka itu orang-orang yang jahat?”

“Belum tentu, Lan-moi. Mereka memusuhi Ciong-lihiap suci-mu itu, tentu saja karena mereka masih mengira bahwa suci-mu itu seorang yang jahat dan sesat. Kiranya hanya kita berdua sajalah yang yakin benar bahwa suci-mu kini telah berubah sama sekali, tetapi orang lain belum tentu dapat percaya. Dari pada kesalahan tangan membunuh orang yang tidak berdosa sehingga tertanam benih permusuhan yang tiada kunjung habis, lebih baik kalau kita meloloskan diri.”

“Akan tetapi kita melarikan diri! Tentu mereka mentertawakan kita dan menganggap kita pengecut!” Bi Lan membantah dengan penasaran.

“Mereka tidak akan dapat mentertawakan kita, Lan-moi. Mereka sendiri yang telah memperlihatkan sikap pengecut, dengan pengeroyokan dan pemadaman obor.”

Bi Lan kemudian teringat akan percakapan mereka tentang cinta sebelum orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu datang menyerbu. Hatinya masih dipenuhi rasa penasaran!

Pria ini boleh jadi mencintanya, seperti yang dikatakan oleh suci-nya. Dan memang, melihat setiap gerak- gerik Sim Houw, caranya melindunginya, pandang matanya, kata-katanya, ia pun percaya bahwa Sim Houw mencintanya. Akan tetapi mengapa dia tidak pernah mengakuinya? Sudah dipancing-pancing dalam percakapan itu, tetap saja Sim Houw pandai mengelak dan mengalihkannya. Tiba-tiba ia memperoleh akal.

“Aduhhhh…!” Ia berteriak dan menggigit bibir, merintih dan kedua tangannya memegang paha kirinya, memijit-mijitnya perlahan, mukanya berkeriput menahan nyeri.

Sim Houw terkejut bukan main dan cepat dia menghampiri. “Kenapa, Lan-moi? Ada apakah dengan kakimu…?” tanyanya penuh was-was.

“Aduhh… Sim-ko, pahaku ini…ahhh, tadi tidak begitu nyeri, akan tetapi sekarang…”

“Sekarang bagaimana, Lan-moi…?” Sim Houw bertanya dan tanpa disadarinya, saking khawatir, dia meraba paha kiri yang dipijit-pijit Bi Lan itu.

“Nyeri sekali… auuhhh, tak tertahankan nyerinya…”

“Lan-moi, biar aku memeriksanya, jangan-jangan ada tulang yang patah atau urat yang terkilir…” “Ya… cepatlah… aduhhh, pukulan monyet tua bongkok itu keras sekali…”

Sim Houw terpaksa merobek celana di bagian paha kiri dan nampaklah kulit paha yang putih mulus. Dia menggunakan kedua tangannya meraba dan memijit-mijit, memeriksa apakah ada tulang yang patah. Akan tetapi, selain tanda agak biru bekas gebukan, paha itu tidak ada apa-apa, tidak ada tulang yang patah atau urat yang terkilir. Hatinya merasa lega sekali.

“Tidak ada tulang patah dan tidak ada urat terkilir, Lan-moi,” katanya. “Akan tetapi, nyerinya sampai menusuk ke jantung…!” Bi Lan mengaduh.

“Hanya luka memar saja, Lan-moi, akan tetapi mungkin saking kerasnya pukulan, maka menimbulkan rasa nyeri. Biar kuurut sebentar agar jalan darahnya pulih dan luka di bawah kulitnya cepat sembuh.”

Mulailah Sim Houw memijit-mijit paha itu. Tadi hatinya gelisah karena mengkhawatirkan gadis itu. Sekarang, setelah dia yakin bahwa paha itu tidak apa-apa, hanya luka memar saja yang biar pun nyeri akan tetapi tidak terlalu berbahaya, barulah dia melihat betapa indahnya paha yang nampak karena kain celananya dirobek itu.

Dia adalah seorang pria yang normal dan sehat. Usianya pun sudah cukup dewasa, bahkan sudah terlalu dewasa. Maka wajarlah kalau gairahnya bangkit ketika dia melihat mulusnya paha Bi Lan, apa lagi kedua tangannya meraba dan memijit bagian tubuh yang nampak indah itu, merasakan kelembutannya, kekenyalannya dan kehangatannya. Mukanya berubah merah, napasnya agak terengah dan sepuluh jari tangannya yang meraba dan memijit itu mulai gemetar.

Bi Lan yang sejak tadi mencurahkan perhatiannya untuk memperhatikan keadaan pria itu, tentu saja dapat mengetahui perubahan ini. Dan diam-diam hatinya merasa gembira sekali dan senyumnya membayang di bibir. Tentu saja paha kirinya terasa nyeri, akan tetapi tidaklah separah yang diperlihatkannya. Melihat keadaan Sim Houw, jantungnya berdebar dan kini pijitan jari-jari tangan Sim Houw itu terasa lain, membuatnya berdebar dan terangsang.

“Ahh, enak sekali, Sim-ko, nyerinya hilang. Terima kasih…”

“Tak perlu berterima kasih, Lan-moi. Dan syukurlah kalau pijitanku menolong,” kata Sim Houw yang berusaha keras untuk menekan gejolak perasaannya.

“Sim-ko, aku melanjutkan percakapan kita malam tadi. Apakah sampai sekarang engkau masih belum jatuh cinta kepada seorang wanita? Apakah engkau masih belum berani mengaku cinta kepada wanita lain setelah pengalamanmu yang pahit itu?”

Ditanya begini, kedua tangan Sim Houw semakin gemetar sehingga dia menghentikan pijitannya. Sudah berada di ujung bibirnya untuk mengaku cinta kepada Bi Lan, namun ditahannya.

“Aku… aku…”

Saking bingungnya, tak tahu harus berkata apa, dia kembali menggunakan sepuluh jari tangannya memijati paha yang nyeri itu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Tak tahu malu…!”

Baik Sim Houw mau pun Bi Lan terkejut bukan main. Sim Houw cepat menarik kedua tangannya, sementara Bi Lan segera menutupkan bagian celana yang terbuka di paha, dan keduanya meloncat bangun dan membalikkan tubuh.

Kiranya di situ telah berdiri dua orang laki-laki dan melihat bahwa seorang di antara mereka adalah Gu Hong Beng yang berdiri terbelalak dengan mata berapi dan bertolak pinggang, Bi Lan teringat akan penglihatan tadi dan mukanya menjadi merah sekali.

Terbayang kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu. Pernah ia terluka dan Cu Kun Tek mengobati pinggangnya, hampir sama seperti yang dilakukan Sim Houw tadi, hanya bedanya kalau Kun Tek meraba pinggangnya, Sim Houw meraba pahanya. Ketika itu, Hong Beng muncul dan pemuda yang cemburu ini langsung saja menyerang Kun Tek karena menyangka mereka berbuat cabul!

Dan kini, tiba-tiba Hong Beng muncul dan mendengar seruannya tadi yang mengatakan mereka tidak tahu malu dia pun tahu bahwa kembali Hong Beng cemburu dan salah sangka! Maka, ia pun menjadi marah. Dengan muka merah dan mata berapi-api, ia pun melangkah maju.

“Gu Hong Beng, engkaulah laki-laki yang tak tahu malu!” ia membentak dengan marah sekali. “Selalu mencampuri urusan orang dan menjatuhkan fitnah, menuduh orang yang bukan-bukan karena cemburu. Sungguh tak tahu malu, cinta tidak dibalas lalu berubah menjadi cemburu gila!”

Wajah Hong Beng menjadi merah, bukan hanya karena marah akan tetapi juga karena malu. Ucapan itu memang tepat bukan main, seperti ujung pedang yang menusuk dan menembus jantungnya. Karena tepat itulah maka mendatangkan rasa nyeri yang lebih hebat lagi.

Memang ia cemburu, ia iri terhadap Sim Houw. Kenapa Bi Lan demikian akrab dengan Sim Houw? Mungkinkah dara itu, yang menolak cintanya, kini jatuh cinta kepada Sim Houw? Aneh, pikirnya. Dalam segala hal, kecuali barangkali dalam hal ilmu silat, dia tidak kalah oleh Sim Houw. Dia lebih muda, sebaya dengan Bi Lan, juga cukup tampan! Sim Houw terlalu tua untuk Bi Lan. Hal ini membuat dia menjadi semakin penasaran.

Akan tetapi sebelum dia sempat menjawab lagi. Sim Houw yang sudah mengenal Hong Beng sebagai seorang di antara para pendekar muda yang gagah perkasa, bahkan dia mendengar bahwa pemuda ini adalah murid dari keluarga Pulau Es, cepat melangkah maju dan memberi hormat kepada Hong Beng dan pria yang usianya kurang dari empat puluh tahun dan nampak pendiam dan serius itu.

“Saudara Gu Hong Beng, harap jangan salah sangka terhadap nona Can Bi Lan. Kami semalam berkelahi melawan musuh-musuh yang lihai dan nona Can terkena pukulan pada paha kirinya. Kami beristirahat di sini dan aku hanya berusaha menghilangkan rasa yeri yang dideritanya karena luka memar di pahanya.”

“Aku tidak mempersoalkan itu!” Gu Hong Beng juga membentak dengan suara tetap ketus. “Akan tetapi kalian sungguh tidak tahu malu telah mengambil jalan sesat dan membantu, juga melindungi iblis betina Bi- kwi murid Sam Kwi! Sekarang kami datang untuk minta supaya kalian memberi tahu kepada kami di mana tempat persembunyian Bi-kwi agar kami dapat membasminya!”

Bi Lan amat marah mendengar ini. “Hong Beng, tutup mulutmu yang kotor! Kami berdua memang membela dan melindungi suci Ciong Siu Kwi dari gangguan orang-orang jahat. Dan suci sekarang telah menjadi seorang wanita yang baik-baik, jangan kau memakinya sebagai iblis betina.”

“Hemmm, bohong besar Bi Lan, aku tidak menyangka bahwa engkau sekarang telah berbalik pikir dan mencontoh kehidupan suci-mu yang bejat akhlaknya itu. Siapa sudi percaya kebohonganmu bahwa orang macam Bi-kwi dapat berubah menjadi wanita baik-baik? Dan buktinya pun tidak begitu. Baru-baru ini dia bahkan membantu orang-orang jahat untuk memusuhi suhu-ku ini.” Berkata demikian, Hong Beng menunjuk pada laki-laki berusia tiga puluh delapan tahun itu yang sejak tadi memandang tajam tanpa mengeluarkan sebuah kata pun.

“Ahhh…!” Sim Houw dan Bi Lan berseru kaget.

Kiranya pria yang datang bersama Gu Hong Beng ini adalah guru pemuda itu, berarti bahwa pria ini adalah pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es! Sim Houw memandang penuh perhatian dan merasa terkejut sekali. Para pembaca tentu akan terheran pula bagaimana Suma Ciang Bun dapat muncul bersama Gu Hong Beng di tempat itu.

Seperti telah kita ketahui, Suma Ciang Bun yang sedang bersemedhi diganggu oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin yang minta bantuan Ciong Siu Kwi. Wanita ini terpaksa memenuhi permintaan mereka untuk menyelamatkan Yo Jin yang dijadikan tawanan dan semacam sandera untuk memeras Siu Kwi. Dan dalam perkelahian dikeroyok tiga ini, terpaksa Suma Ciang Bun melarikan diri dengan membawa luka.

Belum jauh ia melarikan diri, ia terpaksa beristirahat dan berusaha mengobati lukanya. Dalam keadaan demikianlah dia bertemu dengan Hong Beng, muridnya yang memang sedang mencarinya. Melihat gurunya terluka, Hong Beng lalu membantu suhu-nya untuk mengobati luka itu dan bertanya bagaimana suhu-nya sampai menderita luka.

Ditanya oleh muridnya, Suma Ciang Bun menarik napas panjang. “Dua orang tosu dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw menyerangku. Memang kedua perkumpulan itu selalu memusuhi keluarga Pulau Es. Aku herhasil mengalahkan dan mengusir mereka berdua. Akan tetapi, beberapa hari kemudian mereka datang lagi, kali ini dibantu oleh seorang wanita cantik yang masih muda dan lihai sekali. Dan sekali ini, pengeroyokan mereka bertiga membuat aku terluka dan terpaksa melarikan diri.”

Hong Beng marah sekali. “Hemm, siapakah wanita itu, suhu? Seperti bagaimana rupa dan macamnya?” Pada waktu Suma Ciang Bun menggambarkan keadaan Siu Kwi, Hong Beng menepuk pahanya.

“Ahh, tidak salah lagi! Tentu iblis wanita itu yang membantu para tosu Pek-lian-kauw!” “Kau kenal wanita itu?”

“Ia tentu Bi-kwi, murid Sam Kwi. Ia memang jahat bukan main, suhu, keji dan sangat pantas untuk dibasmi dari permukaan bumi!” Hong Beng kemudian menceritakan semua pengalamannya sejak dia meninggalkan suhu-nya.

Girang hati Suma Ciang Bun mendengar bahwa muridnya telah melakukan banyak hal gagah, bahkan muridnya juga telah bertemu dan bekerja sama dengan para pendekar keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir.

Dengan perawatan Hong Beng, Suma Ciang Bun cepat sembuh kembali dari semua luka-lukanya. Pada suatu hari, Gu Hong Beng meninggalkan gurunya di dalam goa di bukit yang berbatu-batu itu untuk mencari makanan bagi suhu-nya. Ketika dia sedang berjalan seorang diri di tempat sunyi itu, menuju ke sebuah dusun, di sebuah tikungan tiba-tiba dia melihat dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu sedang duduk mengaso di tepi jalan. Agaknya dua orang kakek itu kelelahan, atau sedang sakit.

Hong Beng yang menaruh curiga karena teringat akan cerita gurunya yang diganggu oleh tosu tosu Pek- lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, cepat menghampiri dua orang kakek itu. Mereka memakai pakaian pendeta, akan tetapi bagian luarnya memakai jubah yang tebal karena hawa memang dingin dan agaknya mereka menderita luka. Ketika melihat mereka tidak seperti orang jahat, Hong Beng kemudian menjura dengan penuh hormat. “Kenapakah ji-wi totiang berada di sini dan kelihatannya seperti sedang menderita? Siapakah ji-wi totiang?”

Melihat seorang pemuda yang gagah dan bersikap sopan, dua orang tosu itu sejenak memandang penuh perhatian. Seorang di antara mereka yang tinggi besar dan berperut gendut, segera berkata, “Siancai, siancai… terima kasih atas perhatianmu, orang muda yang baik. Penglihatanmu tajam sekali, karena kami memang sedang sakit, menderita luka-luka dalam yang cukup berat.”

Hong Beng terkejut. “Ahh? Apakah ji-wi totiang baru saja berkelahi dengan orang lain?”

Kakek yang kurus kering mengangguk-angguk. “Memang penglihatanmu tajam sekali, dan tentu engkau seorang yang gagah perkasa, orang muda. Sebelum kita bicara lebih jauh, bolehkah pinto mengetahui siapa namamu dan dari perguruan manakah?”

Melihat sikap dua orang tosu itu seperti bukan orang jahat, dan memang kebanyakan pendeta dan pertapa tentulah orang-orang yang baik, maka dia pun mengaku terus terang. “Saya bernama Gu Hong Beng, guru saya adalah pendekar Suma Ciang Bun…”

“Aihhh!” Si kakek gendut berseru. “Pendekar Suma dari Pulau Es?”

Hong Beng tersenyum, agak bangga. “Memang suhu adalah keturunan keluarga Pulau Es dan siapakah ji- wi totiang?”

Sebelum kakek gendut menjawab, kakek kurus sudah mendahului. “Kami adalah dua orang pertapa yang sudah lama mengasingkan diri dan kadang-kadang saja melakukan perjalanan ke gunung-gunung dan dusun-dusun. Pinto Pek-san Lojin dan ini adalah sute Hek-san Lojin. Dalam perjalanan kami, di satu dusun di balik bukit ini, kami mendengar bahwa ada seorang siluman betina yang membikin kacau dusun dengan menculik dan membunuh pemuda-pemuda tampan. Sebagai orang yang selalu menentang kejahatan, kami berdua lalu melakukan penelitian dan mendapat kenyataan bahwa siluman betina itu adalah Bi-kwi, murid dari mendiang Sam Kwi…”

“Ahh, aku tahu siluman itu!” Hong Beng berseru. “Apakah ji-wi kalah olehnya sehingga terluka?”

“Sayang sekali, sebenarnya kami berdua dapat menundukkan siluman itu. Akan tetapi muncul dua orang yang membantunya sehingga kami terluka. Pembantunya itu bukan lain adalah seorang pemuda bernama Sim Houw, dan pacarnya bernama Can Bi Lan sumoi dari siluman betina itu…”

“Ahhhh…! Pacarnya…?” Hong Beng menegaskan dengan hati panas. Panas karena Bi Lan dan Sim Houw membantu Bi-kwi, juga panas karena mendengar bahwa Bi Lan menjadi pacar Sim Houw.

“Ya, pacarnya. Mereka demikian akrab, dan mereka lihai sekali. Kami kalah dan terluka. Ahhh, kalau taihiap adalah murid dari keluarga Pulau Es, kami harap taihiap akan suka menghadapi mereka, untuk menyelamatkan para pemuda di dusun-dusun wilayah ini.”

“Jangan khawatir, ji-wi totiang, saya dan suhu pasti akan dapat membasmi siluman itu dan kaki tangannya!”

Setelah kembali ke tempat di mana gurunya beristirahat, Hong Beng kemudian bercerita tentang dua orang pertapa itu. Mendengar ini, Suma Ciang Bun menjadi marah sekali. “Hemmm, mula-mula ia membantu para tokoh Pek-lian-kauw dan kini bahkan menculik pemuda-pemuda dusun. Hong Beng, mari kita pergi mencari mereka!”

“Akan tetapi suhu baru saja sembuh…”

“Aku sudah sembuh sama sekali. Mereka itu lihai, kalau engkau yang maju sendiri, aku khawatir engkau akan celaka. Kalau kita maju berdua, tentu mereka akan dapat kita basmi.”

Demikianlah, guru dan murid itu meninggalkan goa dan mulai dengan usaha mereka untuk mencari Siu Kwi, Bi Lan dan Sim Houw. Dan pada pagi hari itu, kebetulan sekali mereka melihat Bi Lan dan Sim Houw dan melihat betapa Sim Houw memijit-mijit paha kiri Bi Lan, tentu saja cemburu, iri hati dan kemarahan membuat Hong Beng tak dapat menahan diri dan segera maju menegur dengan sikap marah.

Mendengar tuduhan Hong Beng terhadap Siu Kwi tadi, Bi Lan segera mengambil sikap membela suci-nya.

“Ia juga menceritakan hal itu kepadaku!” bantahnya. “Memang benar ia telah membantu tosu Pat-kwa- kauw dan Pek-lian-kauw untuk memusuhi Suma-locianpwe, akan tetapi ia melakukannya dengan sangat terpaksa karena pemuda tunangannya ditawan oleh para tosu itu.”

Mendengar mereka berbantahan, Suma Ciang Bun segera melangkah maju. “Sudahlah, tidak perlu berbantahan. Yang penting, harap kalian suka memberi tahu di mana adanya siluman betina itu karena kami ingin membunuhnya.”

Bi Lan marah sekali, juga Sim Houw mengerutkan alisnya. Sikap pendekar keturunan keluarga Pulau Es ini sungguh tidak menyenangkan, dan terlalu terburu nafsu hendak membunuh orang. Tak dapat diajak berunding dengan baik-baik, dan sikap itu agaknya didorong oleh ketinggian hati yang tidak memandang kepada orang lain.

“Suci Ciong Siu Kwi tidak bersalah dan kami tidak tahu ia berada di mana. Andai kata kami tahu sekali pun, tidak akan kami beri tahukan kepada orang-orang yang berniat untuk mengganggunya!” kata Bi Lan dengan suara ketus.

Hong Beng meloncat ke depan. “Bi Lan!” katanya, suaranya kereng. “Antara kita sudah terjalin persahabatan semenjak lama sekali, dan kita sama mengenal masing-masing sebagai pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kelaliman dan kejahatan. Apakah engkau lupa akan hal itu? Ketika kita semua menyerbu para pembantu pembesar lalim Hou Seng, engkau sudah melepaskan Bi-kwi dan kukira hal itu hanya karena engkau mengingat hubungan perguruan dan menaruh hati kasihan kepadanya. Akan tetapi siapa tahu, kini agaknya engkau malah tersesat dan hendak mengikuti jejaknya! Engkau melindungi seorang iblis betina, walau pun iblis itu pernah menjadi suci-mu. Ingatlah Bi Lan, dan sadarlah sebelum terlambat.” Ia lalu memandang kepada Sim Houw. “Sim-taihiap selama ini kuanggap sebagai Pendekar Suling Naga yang terkenal. Kenapa setelah dekat dengan Bi Lan, tidak mau membimbing gadis ini ke arah jalan yang benar?”

“Hong Beng, tutup mulutmu! Engkau tidak berlak mengurus kehidupanku! Aku yakin akan kebenaran suci- ku yang ingin menjadi orang baik, dan kalau engkau tidak setuju, terserah. Tidak perlu memberi kuliah kosong kepadaku!” Bi Lan kini juga sudah marah sekali.

“Bi Lan, engkau tahu bahwa aku sayang kepadamu. Akan tetapi kalau engkau berpihak kepada iblis betina Bi-kwi, terpaksa aku menganggapmu sebagai orang yang akan menyeleweng dan patut dihajar.”

“Keparat, majulah! Siapa takut kepadamu?” Bi Lan juga membentak marah.

Hong Beng maju dan mengirim tamparan yang dielakkan oleh Bi Lan dan gadis ini pun membalas dengan tendangan kilat yang dapat pula dielakkan oleh Hong Beng. Mereka segera terlibat dalam suatu perkelahian sengit, karena keduaya sudah menjadi panas hati dan marah sekali.

Cemburu memang merupakan suatu penyakit yang amat berbahaya. Anggapan bahwa cinta harus dihiasi cemburu adalah anggapan yang menyesatkan. Cemburu timbul dari pementingan diri pribadi, cemburu adalah iri hati karena keinginannya untuk menguasai sesuatu atau seseorang secara mutlak, terganggu. Cemburu mendatangkan kemarahan dan bahkan kebencian, menimbulkan permusuhan.

Cinta kasih adalah sesuatu yang suci murni, dan hanya dengan peniadaan kepentingan diri pribadi maka cinta kasih dapat bersinar. Cemburu adalah kembangnya nafsu, bukan kembangnya cinta.

Hong Beng tadi menganggap bahwa dia mencinta Bi Lan. Akan tetapi karena Bi Lan menolak cintanya, datanglah cemburu dan dia merasa iri hati terhadap setiap orang pria yang akrab dengan gadis yang pernah membuatnya tergila-gila itu. Dan dari kenyataan ini saja mudah dinilai bahwa cintanya terhadap Bi Lan adalah cinta nafsu, cinta karena tertarik oleh kecantikan dan pribadi gadis itu.

Cintanya mudah berubah menjadi cemburu dan kebencian sehingga kini tanpa ragu-ragu lagi dia mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk berkelahi dengan gadis yang katanya pernah dia cinta itu! Berkelahi mati-matian berarti berusaha untuk mencelakai, melukai atau bahkan membunuh!

Mungkinkah cinta kasih yang suci berubah menjadi nafsu ingin membunuh? Kalau cinta nafsu memang mungkin, karena antara cinta birahi dan nafsu membunuh terdapat satu pertalian yang kuat, yaitu keduanya timbul dari pementingan diri sendiri, merupakan nafsu yang selalu menguasai batin manusia.

Melihat betapa gadis itu dapat bergerak dengan lincah, Hong Beng lalu mengeluarkan tenaga sakti yang dilatihnya dengan tekun, yaitu tenaga Hwi-yang Sinkang dari keluarga Pulau Es.

“Dukkk!”

Bi Lan menahan seruannya pada waktu tangannya bertemu dengan tangan Hong Beng karena dari tangan pemuda itu keluar hawa panas yang luar biasa sekali, bagaikan hendak membakar tangannya. Marahlah gadis ini. Dia maklum betapa lihainya murid keluarga Pulau Es ini, maka ia pun cepat meraba gagang pedangnya.

“Singgg…!”

Nampak sinar berkilauan ketika Ban-tok-kiam dicabut. Melihat ini, Suma Ciang Bun terkejut bukan main. Dia jarang melihat pedang Ban-tok-kiam milik nenek Wan Ceng sehingga dia tidak mengenal pedang itu. Akan tetapi dia tahu benar bahwa pedang di tangan gadis itu tentulah sebatang pedang pusaka yang luar biasa ampuh, maka dia mengeluarkan seruan kaget. Juga Hong Beng terkejut. Tentu saja dia mengenal pedang ini dan maklum betapa ampuhnya Ban-tok-kiam, maka dia pun melompat ke belakang.

“Bi Lan, engkau mempergunakan pusaka itu apakah benar-benar hendak membunuh aku?”

Bi Lan tersenyum mengejek. “Hong Beng, kalau engkau menyerangku dengan pukulan-pukulan ampuhmu itu, apakah bukan untuk membunuhku melainkan untuk menari-nari bersamaku?”

Mendengar ejekan ini, Hong Beng maju lagi. “Baik, kalau engkau hendak membunuhku, aku pun tidak takut mati!” Dan dia pun menyerang lagi, akan tetapi terpaksa meloncat ke samping ketika di sambut tusukan pedang yang mengeluarkan sinar yang menggiriskan.

“Gadis kejam menggunakan senjata yang keji!” Tiba-tiba Suma Ciang Bun meloncat ke depan. “Biarkan aku menghadapinya, Hong Beng!”

Akan tetapi, Sim Houw telah menghadang ke depan pendekar itu. “Locianpwe, maafkan saya. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka dan harap locianpwe tidak turun tangan mencampuri.”

Suma Ciang Bun kini menatap wajah Sim Houw. “Sudah pernah aku mendengar berita tentang munculnya pendekar muda yang berjuluk Pendekar Suling Naga. Kalau engkau membela siluman betina, biarlah aku mencoba kelihaianmu.” Berkata demikian, Suma Ciang Bun sudah maju menampar.

Tamparannya mendatangkan angin yang amat kuat. Sim Houw cepat mengelak dan dia pun maklum bahwa pendekar itu memiliki tenaga sakti dari keluarga Pulau Es yang amat berbahaya, maka dia pun kemudian mengeluarkan Liong-siauw-kiam, yaitu suling pedangnya yang ampuh. Melihat senjata itu, Suma Ciang Bun memandang kagum.

“Itukah Liong-siauw-kiam yang terkenal itu? Bagus, hendak kucoba keampuhannya!” Dan dia pun mencabut keluar sepasang pedangnya.

Siang-kiam (sepasang pedang) itu indah sekali, ketika dicabut mengeluarkan sinar putih dan gagangnya dihias ronce-ronce biru dan ketika digerakkan, maka sepasang pedang itu saling berpapasan dan mengeluarkan suara berdencing dan muncratlah bunga api. Ia telah memainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang amat hebat dari Pulau Es.

Sim Houw tentu saja maklum akan kelihaian lawan dan dia pun memutar senjatanya yang istimewa. Akan tetapi, pendekar ini tidak berniat untuk mencelakai lawan. Dia tahu benar bahwa Suma Ciang Bun adalah keturunan keluarga Pulau Es, seorang pendekar tulen dan kalau sekarang berkelahi dengannya, tidak lain hanya karena salah paham gara-gara Siu Kwi.

Tentu saja pendekar ini bersama muridnya mengenal Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi karena sejak dahulu memang Siu Kwi dimusuhi para pendekar dan bahkan sudah beberapa kali bentrok dengan Hong Beng. Tentu saja Hong Beng dan guru nya sama sekali tidak tahu, bahkan tidak akan mau percaya bahwa Ciong Siu Kwi kini sudah bukan Bi-kwi lagi, bukan Setan Cantik, bukan manusia iblis yang jahat, melainkan seorang wanita yang jatuh cinta dan yang sedang berusaha untuk merubah jalan hidupnya, ingin menjadi seorang isteri yang baik dan setia, ingin menjadi seorang ibu yang baik dan bijaksana!

Sim Houw tidak mungkin dapat memusuhi seorang pendekar seperti Suma Ciang Bun dan Hong Beng. Kalau kini dia terpaksa maju, hanyalah karena dia tidak ingin pendekar itu melawan Bi Lan.

Suma Ciang Bun adalah seorang pendekar yang berpengalaman dan berilmu tinggi. Tentu saja gerakan- gerakan Sim Houw yang tidak sungguh-sungguh itu segera dapat diketahuinya. Dia pun mulai meragu, apakah Pendekar Suling Naga ini pantas menjadi musuhnya! Jangan-jangan pendekar ini dan gadis itu membela siluman betina itu oleh karena memang ada dasarnya yang kuat! Dia pun meragu dan tidak sungguh-sungguh pula mendesak dengan siang-kiamnya, karena tentu saja dia segan untuk mendesak lawan yang tidak bersungguh-sungguh menyerangnya.

Berbeda dengan perkelahian yang terjadi antara Bi Lan dan Hong Beng. Dua orang muda itu agaknya sudah dikuasai oleh kemarahan dan keduanya berkelahi dengan mati-matian! Akan tetapi, Hong Beng terdesak hebat karena pemuda ini jeri menghadapi Ban-tok-kiam. Dia banyak mengelak dan hanya kadang-kadang saja membalas dengan pukulan jarak jauh, mengandalkan sinkang yang hebat dari keluarga Pulau Es yang sudah dikuasainya.

Dan agaknya Bi Lan juga merasa betapa dia telah mendapatkan kemenangan karena pedangnya, maka pedangnya itu hanya dipergunakan untuk mengancam saja, dengan kelebatan sinarnya yang bergulung- gulung. Dara ini sendiri lebih condong menyerang dengan tamparan tangan kiri atau tendangan kakinya. Agaknya ia ingin menang melalui serangan kaki atau tangannya, bukan dengan pedangnya.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dari jauh, suara desis yang makin lama makin keras dan terciumlah bau amis binatang buas! Semua orang yang sedang berkelahi itu cepat meloncat untuk menghentikan perkelahian sementara.

Nampak oleh mereka seorang laki-laki kecil kurus bongkok sedang mengeluarkan suara mendesis tinggi sambil kedua tangannya diacung-acungkan ke atas dan di depannya merayap ratusan ekor ular besar kecil bagai sekumpulan bebek yang sedang digembala oleh orang kurus bongkok itu.

Ratusan ekor ular itu mengeluarkan suara mendesis-desis dan binatang-binatang inilah yang mengeluarkan bau amis.

Suara mendesis semakin keras karena ular-ular itu kini merayap dengan cepat ke arah mereka yang tadi berkelahi, agaknya diberi semangat oleh kakek bongkok yang menjadi gembalanya. Di belakang kakek bongkok itu masih nampak lima orang lainnya lagi yang kesemuanya bersenjata tongkat.

Melihat kakek bongkok itu, tahulah Sim Houw dan Bi Lan bahwa dia adalah Coa-ong Sengjin, tokoh Pek- lian-kauw yang semalam telah mengeroyok mereka. Terkejutlah Sim Houw.

“Lan-moi, mari kita pergi!” katanya dan dia pun menangkap tangan Bi Lan dan meloncat jauh lalu mengajak gadis itu berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu.

“Hendak lari ke mana kau?” bentak Hong Beng yang hendak mengejar, tetapi suhu-nya cepat berseru. “Hong Beng, jangan kejar!”

Hong Beng tidak melanjutkan pengejarannya dan menghampiri suhu-nya yang masih memandang ke arah kakek bongkok yang menggiring ratusan ular itu. Kini ular-ular itu seperti binatang-binatang sirkus terlatih saja, mengepung tempat itu bagaikan barisan mengepung musuh.

Melihat betapa penggembala ular itu memakai tanda anggota Pek-lian-kauw di dadanya, diam-diam Suma Ciang Bun menjadi marah. Jelaslah bahwa dua orang muda-mudi tadi sunguh-sungguh sudah bersekongkol dengan siluman betina yang menjadi sahabat dari orang-orang Pek-lian-kauw, pikirnya. Dia pernah dikeroyok tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw bersama siluman betina bernama Bi-kwi itu, dan dua orang muda tadi membela Bi-kwi. Kini terbukti bahwa kakek Pek-lian-kauw dan ular-ularnya ini datang untuk membantu Sim Houw dan Bi Lan, dan mengepung dia dan muridnya.

Tiba-tiba Suma Ciang Bun mengeluarkan bunyi melengking tinggi sekali, suara yang keluar dari mulutnya seperti bukan suara orang, seperti suara suling melengking. Hong Beng yang dahulu pernah mendengar dari suhu-nya bahwa suhu-nya juga mempunyai ilmu pawang ular, yaitu ilmu untuk menguasai ular-ular yang pernah dipelajari dari ibu suhu-nya, memandang dengan hati tegang dan penuh perhatian. Dia sendiri tak pernah mempelajari ilmu itu, tapi dia tidak gentar menghadapi pengepungan ular-ular itu walau pun merasa jijik.

Dia melihat betapa sekarang semua ular yang berada di situ mengangkat kepala seperti sedang mendengarkan suara melengking itu dan menghadap ke arah Suma Ciang Bun. Pendekar itu menggerak- gerakkan dua tangannya yang diangkat ke atas dan lengannya membentuk ular yang mematuk-matuk, hampir sama dengan gerakan Coa-ong Sengjin yang menggembala ular-ular itu. Dan sekarang ular-ular itu berhenti mendesis-desis dan nampak gelisah, bahkan sudah ada yang merayap pergi ketakutan!

Coa-ong Sengjin terkejut bukan main melihat betapa ular-ularnya dapat dikuasai orang lain. Ia pun cepat mengeluarkan suara mendesis tinggi dan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang juga membentuk tubuh ular yang mengangkat kepala, dengan tangan menjadi kepala ular. Ia mengerahkan seluruh ilmu pawangnya untuk menguasai kembali ular-ularnya.

Namun, Suma Ciang Bun juga terus mengeluarkan suara melengking dan menggerak-gerakkan kedua lengannya. Ular-ular itu menjadi panik dan bingung sekali, tidak tahu harus mentaati perintah yang mana di antara keduanya itu karena keduanya memiliki daya tekan yang sama kuatnya. Karena panik, ular-ular itu berlari simpang-siur, saling bertabrakan dan kemudian menjadi ganas dan saling gigit!

“Hoo-hoo, anak-anak bodoh… dengarkan aku, majulah… maju dan serang musuhku…!” Coa-ong Sengjin berteriak-teriak marah.

Tetapi karena ia berteriak-teriak, dengan sendirinya desisnya terhenti dan pengaruhnya atas ular-ular itu pun buyar sehingga pengaruh lengkingan Suma Ciang Bun menjadi kuat sekali, membuat ular-ular itu mentaati dan segera mereka merayap dan lari cerai berai meninggalkan tempat itu seperti sekelompok anjing yang disiram air atau diancam gebukan!

Coa-ong Sengjin menjadi marah bukan main. Dengan sepasang mata berubah merah, dia lalu meloncat ke depan, menangkap seekor ular yang besar dan panjang, dan ular itu segera menjadi jinak di tangannya. Dengan senjata baru berupa ular yang ternyata adalah seekor ular senduk yang sangat berbisa itu, dia melangkah maju menghampiri Suma Ciang Bun.

“Setan, siapakah engkau?” bentaknya.

Coa-ong Sengjin tentu saja tak tahu akan tipu muslihat dan akal busuk yang digunakan oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin untuk mengadu domba antara Sim Houw dan Bi Lan dengan pendekar keluarga Pulau Es ini bersama muridnya. Dia bersama teman-temannya tengah mencari-cari kedua orang muda itu setelah rombongannya yang terdiri dari tiga belas orang dipecah menjadi tiga rombongan kecil oleh Thian Kong Cinjin.

Ketika tadi dia melihat dua orang muda itu sedang berkelahi melawan dua orang lain dia cepat memanggil ular-ular itu untuk mengepung supaya dia dapat segera turun tangan merobohkan Sim Houw dan Bi Lan. Akan tetapi, ternyata dua orang muda itu sudah lebih dahulu melarikan diri dan sekarang ular-ularnya malah dibikin kacau oleh laki-laki tampan yang pakaiannya indah ini!

Suma Ciang Bun memang sudah mengenal Coa-ong Sengjin sebagai seorang tokoh Pek-lian-kauw dari lukisan teratai putih di jubah kakek itu, maka dia pun terus terang menjawab dengan tenang. “Tosu Pek- lian-kauw, aku bernama Suma Ciang Bun dan ini muridku Gu Hong Beng.”

“She Suma…? Keluarga Pulau Es…?” Coa-ong Sengjin membentak dan empat orang temannya juga terkejut mendengar nama keluarga itu.

Suma Ciang Bun mengangguk sambil menahan senyumnya.

“Celaka, kiranya keparat dari keluarga Pulau Es! Bunuh dia dan muridnya!”

Dan dia pun sudah menggerakkan tangannya dan ular cobra itu sudah dilemparkannya ke arah Suma Ciang Bun. Pendekar ini dengan tenang mengulur tangan menangkap ular itu yang segera menjadi jinak pula, kemudian dia melemparkan ular itu kembali ke arah lawan!

Coa-ong Sengjin menerima ularnya kembali, tetapi ular itu segera dibantingnya karena dianggap tiada gunanya dipakai menyerang seorang yang memiliki ilmu pawang ular seperti lawannya. Dengan menggereng keras dia lalu mengeluarkan sebatang rantai dari pinggangnya, dan meluncurlah rantai itu menghantam ke arah Suma Ciang Bun. Kiranya kakek bongkok ini memang ahli mempergunakan senjata rantai dan tidak aneh kalau dia suka mempergunakan ular sebagai senjata, pengganti rantainya.

Suma Ciang Bun menyambut dengan sepasang pedangnya yang sudah disimpannya tadi. Dua gulungan sinar putih berkelebat dan bergulung-gulung ketika dia menghadapi serangan rantai lawannya. Empat orang teman Coa-ong Sengjin yang terdiri dari tiga orang anggota Pek-lian-kauw dan seorang anggota Pat- kwa-kauw maju mengeroyok pula. Hong Beng tidak tinggal diam, cepat ia maju menghadapi dan membantu gurunya.

Kembali di tempat itu terjadi perkelahian yang lebih sengit dari pada tadi. Akan tetapi sekali ini, guru dan murid itulah yang menjadi pemenang dengan mendesak lima orang lawannya. Empat orang pembantu Coa-ong Sengjin itu adalah murid-murid kepala, maka rata-rata mereka sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Tetapi, menghadapi Hong Beng dan gurunya, mereka repot sekali. Belum sampai tiga puluh jurus, dua orang murid kepala roboh, seorang terkena tamparan Hong Beng dan yang kedua terserempet pedang di tangan Suma Ciang Bun. Melihat kejadian ini, tiga orang tosu lainnya cepat menyambar tubuh kawan yang roboh dan melarikan diri.

Kembali Suma Ciang Bun melarang muridnya untuk melakukan pengejaran. “Tak perlu mengejar musuh yang melarikan diri,” katanya. “Kecali kalau musuh lari membawa pergi sesuatu.”

Hong Beng menarik napas panjang. Kemarahannya yang timbul karena cemburu tadi masih belum lenyap dan dia merasa hatinya mengkal dan tidak enak sekali. “Sayang sekali tosu-tosu bedebah itu datang mengganggu, suhu, sehingga Sim Houw dan Bi Lan dapat melarikan diri.”

Suma Ciang Bun tersenyum dan memandang wajah muridnya dengan tajam, kemudian tiba-tiba dia bertanya, “Hong Beng, apakah engkau mencinta gadis itu?”

“Gadis… gadis mana… apa maksud suhu?” Hong Beng terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu dan biar pun dia maklum siapa yang dimaksudkan suhu-nya, saking kagetnya dia menjadi gugup.

“Engkau mencinta atau pernah mencinta Can Bi Lan, bukan?”

Hong Beng menundukkan mukanya yang berubah merah dan dia mencoba tersenyum, senyum pahit, kemudian dia mengangguk. “Teecu tidak dapat berbohong kepada suhu. Memang sesungguhnyalah, teecu mencinta… atau lebih tepat lagi pernah mencinta Bi Lan.”

“Dan menurut ucapan gadis itu tadi, hubungan kalian putus karena gadis itu menolak cintamu karena ia sudah mencinta Sim Houw?”

“Ia memang menolak cinta teecu, suhu, akan tetapi ketika itu ia belum mencinta siapa pun juga. Baru sekarang teecu melihat ia akrab dengan Sim Houw, keakraban yang tidak sopan dan tidak tahu malu!”

Hatinya menjadi semakin panas ketika ia teringat dan membayangkan adegan mesra antara Bi Lan dan Sim Houw tadi.

“Engkau tidak sungguh-sungguh mencintanya, Hong Beng, karena itu lupakan saja gadis itu. Bodoh sekali jika menyiksa diri dan membenamkan diri dalam kebencian dan kedukaan karena cintanya ditolak.”

Wajah Hong Beng menjadi merah. “Teecu juga sudah melupakannya, suhu. Hanya teecu merasa tidak senang dan panas sekali melihat betapa Bi Lan yang dahulunya seorang pendekar wanita yang lihai dan menentang kejahatan, kini setelah bergaul dengan Sim Houw lalu berbalik menjadi sesat dan membela wanita iblis seperti Bi-kwi yang bersekutu dengan orang-orang Pek-lian-kauw.”

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya. “Aku masih merasa heran dengan sikap mereka, Hong Beng. Pendekar Suling Naga itu lihai sekali, akan tetapi tadi ketika melawanku dia tidak berkelahi sungguh- sungguh.”

“Ahh, akan tetapi Bi Lan menyerang teecu dengan mati-matian, sehingga nyaris teecu tewas oleh Ban-tok- kiam di tangannya!” kata Hong Beng penasaran.

“Ban-tok-kiam…?” tanya Suma Ciang Bun karena dia merasa pernah mendengar nama pedang itu.

“Benar, suhu. Pedang yang mengerikan itu adalah Ban-tok-kiam, pedang milik isteri dari locianpwe Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.”

“Apa…?!” Suma Ciang Bun terkejut sekali, memandang kepada muridnya dengan mata terbelalak. “Kau maksudkan pedang milik… bibi Wan Ceng…? Apa hubungannya gadis itu dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?”

“Mereka adalah guru-guru Bi Lan, suhu.”

“Eh? Bukankah kau bilang bahwa Can Bi Lan itu sumoi dari Bi-kwi, dengan demikian murid dari Sam Kwi?”

“Benar, suhu, akan tetapi Bi Lan pernah bertemu dengan Kao-locianpwe dan isterinya, dan menerima gemblengan mereka, bahkan diberi pinjam pedang Ban-tok-kiam. Bi Lan sendiri menceritakan semua ini kepada teecu.”

Ciang Bun menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang. “Sungguh aneh sekali. Bagaimana mungkin paman Kao Kok Cu dan bibi Wan Ceng mau mengambil murid seorang gadis yang telah menjadi murid Sam Kwi?”

“Dan sekarang agaknya watak Sam Kwi dan Bi-wi pun telah menular kepada Bi Lan sehingga ia menjadi seorang wanita sesat.”

“Jangan menuduh sembarangan lebih dahulu, Hong Beng. Bagaimana pun juga, aku masih merasa sangsi. Kalau mereka memang bersekutu dengan pihak Pek-lian-kauw, tentu mereka tadi tidak melarikan diri dan bersama dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw itu mengeroyok kita. Kalau demikian halnya, mungkin kita berdua takkan kuat bertahan.”

Suma Ciang Bun lalu mengajak muridnya meninggalkan tempat itu. Dia bermaksud mengunjungi enci-nya, yaitu Suma Hui yang telah menjadi isteri Kao Cin Liong. Selain untuk menjenguk kakaknya itu, juga untuk bicara dengan kakak iparnya, Kao Cin Liong, tentang keanehan orang tua pendekar itu yang mengambil gadis yang telah menjadi murid Sam Kwi sebagai murid pula, bahkan meminjamkan pedang pusaka sehingga Bi Lan mempergunakan pedang pusaka itu untuk bertindak sesat…..

********************

“Sim koko, kenapa sih engkau selalu mengajak aku melarikan diri? Lama kelamaan aku bisa merasa sebagai seorang pengecut besar. Di tengah pertandingan engkau sudah beberapa kali memaksaku untuk melarikan diri. Untuk yang sudah-sudah engkau selalu mempunyai alasan, dan kini apa lagi alasanmu, Sim-ko? Aku tidak kalah menghadapi Hong Beng yang sombong itu, dan aku amat yakin engkau pun belum tentu kalah oleh gurunya. Kemunculan para tosu Pek-lian-kauw itu pun tidak membuat aku menjadi jeri. Mengapa kita harus melarikan diri seperti dikejar setan?” tanya Bi Lan dengan suara mengandung penasaran dan matanya yang jeli itu menatap wajah Sim Houw dengan tajam penuh selidik.

“Lan-moi, sebetulnya sejak semula aku ingin mencegah engkau berkelahi dengan Hong Beng dan gurunya, tetapi engkau dan Hong Beng demikian bernapsu untuk berkelahi. Ketika para tosu Pek-lian-kauw muncul, kesempatan baik muncul dan aku mengajak engkau pergi. Aku pikir bahwa tidak semestinya kita melayani Hong Beng dan gurunya hanya karena salah paham dengan kita.”

“Salah paham apa? Hong Beng menghinaku!” bentak Bi Lan marah.

Sim Houw tersenyum. “Dia tadi marah-marah karena salah paham, Lan-moi. Pertama, bantuan kita terhadap Ciong-lihiap menimbulkan salah paham sehingga dia menyangka kita membela pihak yang jahat. Kemudian yang ke dua, dia melihat keadaan kita dan kembali dia salah kira, menyangka yang bukan- bukan. Dia bukan sengaja menghina, melainkan bertindak sembrono karena salah sangka dan karena cemburu…”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo