October 3, 2017

Suling Naga Part 17

 

“Kalau begitu, aku akan membebaskannya dengan menggunakan kekerasan!” kata Siu Kwi. Tubuhnya sudah meloncat ke samping untuk memasuki rumah besar itu mencari pria yang dikasihaninya dan ditawan di tempat itu.

Akan tetapi nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu sudah menodong dada Siu Kwi dari samping. “Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, nona. Sebaiknya engkau bersikap manis dan menurut saja kepada pinto agar tidak perlu pinto menghadapimu sebagai lawan.”

Kesabaran yang semenjak tadi ditahan-tahan oleh Siu Kwi sudah habis. “Tosu keparat!” bentaknya.

Ia pun menerjang dengan sengit. Tangan kirinya memukul dengan jari terbuka ke arah dada lawannya sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah kepala, bagaikan hendak menjambak rambut putih yang riap-riapan itu.

“Heh-heh, liar juga engkau, nona!” kakek Pat-kwa-kauw itu tertawa mengejek dan dari sikapnya ini jelas bahwa dia memandang rendah kepada lawannya yang hanya seorang wanita muda. Tongkat hitamnya diputar untuk menangkis pukulan ke arah dadanya sedangkan tubuhnya melangkah mundur agar cengkeraman ke arah kepalanya itu tidak sampai.

“Uhhhh…”

Sikap memandang rendah dari Ok Cin Cu hampir saja mencelakakan dirinya sendiri ketika tiba-tiba saja kepalanya nyaris kena dicengkeram oleh tangan Siu Kwi yang terus mengejarnya. Lengan wanita itu dapat memanjang dan dapat melanjutkan cengkeraman tangannya walau pun sudah dielakkan! Kalau saja Ok Cin Cu tidak memandang rendah, tentu dia tidak sekaget itu.

Kini, terpaksa ia melempar diri ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali sehingga tubuhnya terhuyung-huyung ketika dia sudah berdiri kembali. Wajahnya yang pucat kuning itu berubah agak merah.

Kini dia tidak berani memandang rendah lagi dan tanpa banyak cakap, dia memutar tongkatnya dan menerjang ke depan. Tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar hitam yang amat kuat. Melihat gerakan tongkat ini, Siu Kwi terkejut juga. Kiranya tongkat itu merupakan senjata pengganti pedang dan permainan pedang lawannya amat lihai.

Diam-diam ia merasa amat menyesal mengapa ia tidak membawa pedang. Semenjak ia bertemu dengan Yo Jin, ia telah menyembunyikan pedangnya dan mengubur senjata itu di dalam hutan tak jauh dari dusun tempat tinggal Yo Jin. Akan tetapi Siu Kwi tidak takut. Ia mengandalkan kelincahan gerakannya dan juga kekebalan yang disalurkan di kedua lengannya untuk menghadapi tongkat lawan dengan tangan kosong. Ia masih tetap memainkan Hek-wan Sip-pat-ciang, ilmu simpanan mendiang Raja Iblis Hitam yang membuat lengannya dapat memanjang.

Akan tetapi ilmu tongkat tosu Pat-kwa-kauw itu benar-benar ampuh dan gulungan sinar hitam itu tidak dapat ditembus Hek-wan Sip-pat-ciang. Wanita yang mempunyai banyak macam ilmu silat itu lalu merubah-rubah gerakannya dan mainkan berbagai ilmu yang dipelajarinya dari mendiang Sam Kwi. Tadi ia sudah mempergunakan ilmu tendangan Pat-hong-twi yang ampuh, mainkan ilmu silat Hun-kin-tok-ciang yang sangat berbahaya, bahkan menggunakan Kiam-ciang (Tangan Pedang). Namun, lawannya memang hebat.

Ok Cin Cu adalah seorang di antara tokoh-tokoh besar Pat-kwa-kauw yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi. Bukan hanya ilmu silatnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, juga kakek ini memiliki tenaga yang kuat. Kalau saja Siu Kwi tidak memiliki ilmu kebal Kulit Baja yang diwarisi dari mendiang Iblis Akhirat, tentu ia sudah roboh karena sudah tiga kali tongkat ular hitam itu berhasil mengenai tubuhnya.

Kini dua orang tosu itu benar-benar kagum dan juga penasaran. Hanya karena mereka merasa bahwa kedudukan mereka sudah tinggi yang mencegah mereka melakukan pengeroyokan. Walau pun kadang- kadang merasa kewalahan, Ok Cin Cu merasa malu untuk minta bantuan kawannya, sedangkan Thian Kek Sengjin juga merasa sungkan untuk turun tangan mengeroyok. Di situ terdapat banyak orang menonton dan apa akan kata dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa mereka berdua mengeroyok seorang wanita muda?

“Takkk…!”

Untuk ke empat kalinya, ujung tongkat ular hitam itu menotok dan mengenai lambung Siu Kwi, namun wanita itu hanya terhuyung mundur sedikit dan kini Siu Kwi yang juga merasa penasaran mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya seperti lenyap menjadi bayangan yang bergerak cepat sekali. Dan angin kuat menyambar-nyambar ganas dibarengi suara bercuitan ketika ia maju menyerang! Ok Cin Cu terkejut bukan main sehingga dia terdesak mundur sampai lima langkah!

“Tahan…!” terdengar bentakan Thian Kek Sengjin.

Tongkat tosu ini meluncur melintang ke depan dan menghadang Siu Kwi yang terpaksa menghentikan gerakan serangannya.

“Nona, aku mengenal ilmu-ilmumu. Masih ada hubungan apakah antara engkau dengan Sam Kwi?” tanya kakek dari Pek-lian-kauw itu.

Siu Kwi tidak ingin memperkenalkan guru-gurunya, tetapi karena lawan sudah mengenal ilmu silatnya, maka dia pun menjawab dengan ketus, “Mereka adalah guru-guruku dan seingatku, baik Sam Kwi mau pun aku sendiri, tidak pernah sekali pun bentrok dengan pihak Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw!”

“Siancai…! Kalau begitu engkau tentu yang berjuluk Bi-kwi!” kakek Pek-lian-kauw itu berseru lagi sambil memandang dengan penuh selidik.

Siu Kwi menarik napas panjang. Nama julukan Bi-kwi telah begitu tersohor dan kotor, bahkan jauh lebih terkenal dari orangnya sendiri. Buktinya, tosu Pek-lian-kauw ini tidak mengenal dirinya, akan tetapi telah mengenal nama julukannya. Dan ia sendiri sudah mengambil keputusan untuk membuang nama julukan itu jauh-jauh, tidak akan pernah memakainya lagi. Akan tetapi kini ia diingatkan bahwa nama julukannya adalah Bi-kwi!

“Nama itu pernah kupakai, sekarang tidak lagi!” jawabnya dengan suara dingin.

“Bagus! Kiranya di antara para antek-antek Hou Seng masih ada juga yang berkeliaran di sini!” berkata demikian, Thian Kek Sengjin sudah menerjang maju lagi dengan tongkat panjangnya yang berbentuk naga hitam. Gerakannya nampak lambat, akan tetapi terasa mendatangkan angin pukulan yang keras dan didahului oleh suara berdesir.

Siu Kwi cepat mengelak, akan tetapi dari samping, Ok Cin Cu menyambutnya dengan tongkat ular hitamnya Wanita ini meloncat dan menghadapi dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, ia lalu memainkan ilmu silatnya yang paling baru, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun!

Ilmu silat ini memang ciptaan Sam Kwi yang paling hebat, diciptakan bersama dengan bersumber dari semua ilmu silat mereka yang pilihan, digabungkan menjadi satu. Dalam ilmu silat ini terkandung gerakan pukulan ilmu silat Hek-wan Sip-pat-ciang, tendangan Pat-hong-twi dan ilmu silat Hun-kin Tok-ciang, juga terkandung Kiam-ciang yang ampuh.

Dua orang tosu itu terkejut menghadapi ilmu silat ini yang memang dahsyat sekali dan beberapa kali mereka sampai terdesak mundur. Namun, mereka adalah orang-orang yang selain memiliki ilmu silat tinggi, juga banyak pengalaman dalam perkelahian, maka dengan berpencar, kedua tosu itu lalu mengurung dan gerakan tongkat mereka dapat membendung kedahsyatan Sam-kwi Cap-sha-kun.

Apa lagi pada waktu Thian Kek Sengjin mulai mengeluarkan bentakan-bentakan dengan suaranya yang parau dan penuh wibawa, mengandung tenaga sakti ilmu hitam dan ilmu sihir, maka beberapa kali Siu Kwi merasa jantungnya terguncang. Oleh karena suara ini gerakannya menjadi kurang sempurna sehingga beberapa kali hampir saja ia menjadi korban hantaman tongkat.

Siu Kwi mulai terdesak. Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba tongkat hitam di tangan tokoh Pek-lian- kauw itu berhasil menghantam pundak kirinya.

“Bukkk…!”

Biar pun tubuh Siu Kwi sudah terlindung ilmu kekebalan, tetap saja ia terpelanting dan hampir terbanting roboh kalau saja ia tidak cepat-cepat membuat gerakan jungkir balik beberapa kali. Siu Kwi menggigit bibir menahan rasa nyeri. Biar pun dia tidak terluka, namun kerasnya pukulan itu seolah-olah merontokkan isi dadanya!

Dan kedua orang kakek itu masih menerjang terus tanpa mengenal ampun. Siu Kwi berusaha mengelak, namun sebuah tusukan dengan tongkat ular hitam dari Ok Cin Cu yang menyambar dadanya ketika ia mengelak, masih saja menyerempet pangkal lengan kanannya sehingga kulit dan sedikit dagingnya robek dan mengucurkan darah!

Maklumlah Siu Kwi bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya dia akan tewas di tangan dua orang kakek sakti ini. Dan kalau dia mati, berarti Yo Jin tidak akan ada yang menolong lagi. Maka, tiba-tiba saja dia melempar tubuh ke atas tanah, bergulingan dan ketika dua orang kakek itu mengejarnya, Siu Kwi menggerakkan kedua tangannya.

Sinar hitam menyambar ke arah muka kedua orang lawannya. Yang disambitkannya itu hanyalah pasir dan tanah, namun tidak boleh dipandang rendah karena yang diserang adalah muka dan sambitan itu didorong oleh tenaga sinkang yang amat kuat sehingga jangankan sampai mengenai mata, sedangkan baru mengenai kulit muka saja sudah dapat mengakibatkan luka-luka.

Dua orang kakek itu terkejut dan cepat-cepat memutar tongkat sambil berlompatan ke beiakang. Kesempatan ini digunakan oleh Siu Kwi untuk melompat jauh dan melarikan diri. Cuaca sudah mulai remang-remang gelap sehingga ia dapat menyelinap hilang di dalam bayangan rumah-rumah dan pohon- pohon. Dua orang kakek itu pun tidak berniat melakukan pengejaran…..

********************

Malam itu gelap dan sunyi sekali di rumah kepala dusun Lui. Agaknya peristiwa sore tadi masih berbekas. Robohnya semua pengawal yang jumlahnya dua puluh orang itu sungguh membuat gelisah hati keluarga Lui, walau pun kemudian ternyata bahwa dua orang tosu sakti itu dapat mengusir ‘siluman’.

Sekarang diam-diam kepala dusun Lui mendatangkan pengawal-pengawal baru yang jumlahnya tak kurang dari lima puluh orang, berjaga-jaga di sekitar perumahan keluarga itu. Terutama sekali di sekitar kamar tahanan terdapat penjagaan yang amat ketat, oleh karena di situlah tempat Yo Jin ditahan dan kepala dusun Lui tidak ingin melihat tahanan ini lolos.

Walau pun dia berada di dalam tahanan, Yo Jin mendengar dari percakapan para penjaga di luar kamarnya tentang siluman betina yang mengamuk dan merobohkan dua puluh orang pengawal akan tetapi kemudian dapat diusir pergi oleh kedua orang tosu. Diam-diam dia merasa heran sekali. Siapakah yang mereka maksudkan dengan siluman betina itu? Benarkah ia itu Siu Kwi? Siu Kwi mengamuk dan mengalahkan dua puluh orang pengawal? Sukar baginya untuk mempercayai berita ini. Siu Kwi demikian lemah-lembut.

Alisnya berkerut ketika dia teringat bahwa wanita itu dituduh sebagai siluman, bahkan ayahnya sendiri pun menganggapnya demikian. Jangan-jangan memang benar! Kini Siu Kwi mengamuk sebagai siluman! Dia bergidik dan cepat-cepat mengusir pikiran ini, lalu membayangkan ayahnya.

Ayahnya dipukul dan disiksa, dan dia merasa gelisah sekali memikirkan ayahnya. Dia menarik-narik belenggu kaki tangannya, namun tiada guna. Hal itu sudah dilakukannya sejak dia ditahan dan sampai kulit pergelangan kaki dan tangannya lecet-lecet dan nyeri bukan main.

Menjelang tengah malam, nampak sesosok bayangan berkelebatan di luar pekarangan perumahan kepala dusun Lui. Bayangan ini adalah Siu Kwi. Setelah sore tadi ia berhasil melarikan diri, ia bersembunyi di dalam hutan dan duduk bersila, memulihkan tenaganya dan memulihkan pula kesehatannya karena hantaman pada pundak dan tusukan pada pangkal lengannya.

Ia sudah mengobati luka di pangkal lengannya. Hatinya gelisah bukan main. Ia belum berhasil membebaskan Yo Jin dan di tempat itu masih terdapat dua orang lawan yang demikian tangguhnya. Hatinya terasa perih jika teringat kepada pria yang dikasihinya.

Tak lama kemudian, ia lalu berlari cepat, kembali ke dusun selatan dan dengan bantuan para tetangga, ia mengurus pemakaman kakek Yo. Karena keadaan, maka terpaksa jenazah itu dikubur secara sederhana sekali. Para tetangga juga melakukannya dengan ketakutan setelah mendengar dari Siu Kwi bahwa kakek itu mati karena dipukuli oleh orang-orang kepala dusun Lui, dan juga bahwa Yo Jin ditangkap oleh mereka.

Maka, setelah selesai mengubur jenazah itu malam itu juga, para tetangga bergegas pulang ke rumah masing-masing, takut kalau sampai tersangkut urusan itu. Dan Siu Kwi lalu melakukan perjalanan kembali ke dusun timur. Bagaimana pun juga, ia harus dapat menyelamatkan Yo Jin, harus dapat membebaskan pemuda itu dari dalam tahanan.

Sampai lama ia berkeliaran di luar rumah keluarga Lui. Dengan susah payah, tadi ia mengisi perutnya. Ia hampir tak dapat menelan nasi, akan tetapi dipaksakannya karena ia maklum bahwa ia membutuhkan tenaga sepenuhnya untuk dapat menyelamatkan Yo Jin. Kalau ia membiarkan perutnya kosong, tentu tenaganya menjadi berkurang.

Kini ia berkeliaran di luar pekarangan, untuk meneliti keadaan. Hatinya terasa girang. Agaknya keluarga Lui menyangka bahwa ia sudah jera untuk datang lagi, sudah takut terhadap dua orang kakek itu, maka kini keadaan di rumah itu sunyi saja, tidak terdapat penjagaan yang ketat. Sunyi dan gelap.

Namun, Siu Kwi bukan seorang bodoh. Ia tidak mau mudah terjebak oleh siasat musuh. Siapa tahu kalau- kalau pihak musuh mengatur jebakan dan sengaja memancingnya. Karena itu ia tidak segera masuk, melainkan melakukan pengintaian dan pemeriksaan dari luar. Ia menanti sampai tengah malam dan setelah melihat bahwa benar-benar tidak terdapat penjaga di sekitar pagar tembok, baru ia meloncat naik ke atas pagar tembok, mendekam di atasnya untuk mengintai ke dalam.

Ia merasa amat heran. Keadaan amat sunyi dan gelap. Benarkah keluarga Lui demikian lengahnya sehingga setelah kemenangan dua orang kakek sore tadi lalu menganggap bahwa ia tidak akan berani muncul kembali? Ataukah setelah ia merobohkan dua puluh orang penjaga itu, lalu tidak ada penjaga lain yang menggantikan karena mereka semua itu lelah dan mengalami patah tulang dan luka-luka? Tentu saja ia tidak dapat menerima kemungkinan ini. Tak mungkin, pikirnya. Andai kata kepala daerah itu lengah, dua orang tosu lihai itu pasti tidak.

Tetapi, mengingat akan Yo Jin, dia tidak peduli lagi. Biarlah mereka mengatur jebakan, ia tidak takut. Ia akan berusaha membebaskan Yo Jin, kalau perlu dengan taruhan nyawa! Setelah meneliti keadaan di dalam dan tidak nampak berkelebatnya orang, dia lalu meloncat turun ke dalam kebun di belakang rumah itu dan menyelinap di antara semak-semak, mendekati bangunan rumah di sebelah belakang. Dia menduga bahwa tentu tempat tahanan itu berada di bagian belakang…..

********************

Yo Jin mendengar percakapan para penjaga di luar pintu kamar tahanan itu dengan hati khawatir.

“Kalau dombanya dijaga, tentu harimaunya tidak berani muncul. Karena itu maka kita harus tetap bersembunyi.” Demikian antara lain dia mendengar seorang penjaga bicara, kemudian terdengar suara mendesis tanda bahwa pembicara itu disuruh diam.

Keadaan lalu menjadi sunyi dan ketika Yo Jin bangkit berdiri dan menjenguk dari jeruji pintu, ia melihat betapa di luar pintu tidak terdapat seorang pun penjaga lagi. Keadaaan amat sunyi karena tempat itu hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung saja. Agaknya lampu-lampu lainnya telah dibawa pergi atau dipadamkan. Suasana sunyi sekali, tidak nampak seorang pun di luar kamar tahanan. Sunyi dan gelap di kebun belakang itu, yang nampak dari dalam kamar tahanan.

Yo Jin menggerakkan kedua kakinya melangkah ke arah pintu. Suara belenggu kakinya terseret memecahkan kesunyian. Dia berdiri di belakang pintu kamar yang terbuat dari besi itu, dan berpegang dengan kedua tangan yang terbelenggu pada jeruji besi, lalu memandang ke luar, termenung. Apakah maksud ucapan penjaga tadi? Diakah yang diumpamakan domba tadi? Dan siapakah harimaunya yang diharapkan akan muncul? Siu Kwi kah?

Jantungnya berdebar tegang. Dia tidak dapat yakin bahwa Siu Kwi yang dimaksudkan harimau itu. Betapa pun, dia tahu bahwa para penjaga itu sedang mengatur siasat untuk memancing dan menjebak seseorang yang disebut harimau, dengan menggunakan dia sebagai domba, sebagai umpannya. Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, Yo Jin meninggalkan belakang pintu, lalu dia memandang ke luar dengan penuh perhatian. Sepasang matanya seperti ingin menembus kegelapan malam di depan sana.

Entah sudah berapa lama dia berdiri memandang keluar itu. Tiba-tiba pandang matanya menangkap berkelebatnya sesosok bayangan hitam. Dia terkejut dan mengikuti dengan pandang matanya. Bayangan itu dengan gesit melompat dan tahu-tahu di bawah lampu gantung, hanya lima meter dari pintu kamar tahanan, berdiri seorang wanita yang bukan lain adalah Siu Kwi!

“Kwi-moi…!” serunya lirih, matanya terbelalak seolah-olah dia tak dapat percaya kepada pandang matanya sendiri. “Kaukah itu…?” Dan dia pun merasa betapa bulu tengkuknya meremang. Kalau wanita ini ternyata benar Siu Kwi, apakah ia benar-benar…siluman? Cara pemunculannya ini…!

“Sssttt…!” Wanita itu menaruh telunjuknya di depan bibir. “Jin-toako, aku datang untuk membebaskanmu…”

Akan tetapi Yo Jin teringat akan percakapan para penjaga dan wajahnya berubah pucat. Celaka, kiranya harimaunya benar Siu Kwi dan tentu kini Siu Kwi telah terperangkap.

“Kwi moi, awas! Ini sebuah perangkap…!” teriaknya. “Kau larilah, pergilah!”

Pada saat itu, tiba-tiba saja nampak sinar terang disusul suara berisik. Dan ketika Siu Kwi membalikkan tubuh memandang, ternyata tempat itu telah dikepung oleh puluhan orang bersenjata lengkap di tangan kanan dan dengan obor di tangan kiri. Agaknya mereka tadi bersembunyi dan serentak memasang obor sambil mengepung tempat itu. Dan muncullah dua orang tosu yang sore tadi telah mengalahkannya!

“Ha-ha-ha-ha, siluman betina ini berani muncul lagi. Benar-benar dia keras kepala dan sudah bosan hidup!” kata Ok Cin Cu dan perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang ketika dia tertawa.

“Ia bukan siluman!” Yo Jin membentak marah dari dalam kamar tahanan.

“Heh-heh-heh, siapa bilang bahwa Bi-kwi bukan siluman? Engkau telah mabok oleh rayuannya, orang muda, heh-heh!”

“Tutup mulutmu yang kotor!” Siu Kwi membentak.

Ia menyerang ke arah Thian Kek Sengjin yang masih tertawa. Hatinya merasa panas mendengar dirinya dihina di depan Yo Jin. Saat tosu Pek-lian-kauw itu mengelak sambil memutar tongkatnya untuk balas menyerang, Siu Kwi sudah mencabut pedangnya dan menangkis. Ia tadi sudah mengambil senjata ini dan begitu menangkis, ia pun menusuk dengan ganasnya.

“Tranggg…”

Bunga api berpijar ketika pedangnya kini ditangkis dari samping oleh Ok Cin Cu yang menggunakan tongkat ular hitamnya. Ketua cabang Pek-lian-kauw itu pun menerjang dengan tongkat naga hitam, untuk membantu kawannya. Kembali terjadi pengeroyokan. Akan tetapi Siu Kwi mengamuk dengan hebat. Pedangnya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyelimuti tubuhnya.

Yo Jin memandang bengong. Baru dia tahu bahwa wanita yang dicintanya itu sama sekali bukanlah seorang wanita lemah, melainkan seorang ahli silat yang amat lihai! Kini dia pun sadar mengapa dalam perkelahian-perkelahiannya, dia selalu menang walau pun dikeroyok, dan kini terjawab pula keanehan ketika para pengeroyoknya mencabut belati akan tetapi tidak sempat menggunakan senjata itu. Tentu Siu Kwi bukan siluman betina, melainkan seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi!

“Kwi Moi…!” keluhnya dengan terharu.

Seorang pendekar wanita telah bersikap demikian baik kepadanya! Kini dia menonton dengan hati yang tidak karuan rasanya. Ada rasa heran, bangga, akan tetapi juga rasa kegelisahan besar melihat betapa kini kekasihnya itu dikeroyok oleh banyak orang.

Para pengawal itu sudah mendengar bahwa banyak rekan mereka sore tadi dilukai oleh wanita ini. Maka, mereka pun tidak tinggal diam dan ikut menyerang. Hasilnya sungguh celaka bagi mereka. Begitu ada para pengawal ikut menyerang, gulungan sinar pedang Siu Kwi semakin melebar dan setiap kali ada sinar mencuat dari gulungan cahaya itu, terdengar pekik disusul robohnya seorang pengawal. Dalam waktu sebentar saja, tidak kurang dari tujuh orang pengawal roboh dan terluka oleh ujung pedang di tangan Siu Kwi! Melihat ini, dua orang tosu itu menjadi marah.

“Kalian semua mundur! Biarkan kami berdua yang menangkapnya!” teriak Thian Kek Sengjin.

Mendengar teriakan ini, para pengawal itu mundur karena mereka pun jeri melihat betapa dalam segebrakan saja, setiap orang rekannya yang berani menyerang pasti roboh terluka. Kini mereka mengepung sambil menonton dua orang tosu itu mengeroyok Siu Kwi!

Seperti sore tadi, kembali lagi Siu Kwi dikeroyok dua. Sekali ini mereka berkelahi lebih mati-matian karena pedang di tangan Siu Kwi kini tidak sungkan-sungkan lagi mengirim serangan maut yang amat berbahaya. Namun, seperti juga tadi, Siu Kwi belum cukup kuat untuk menghadapi pengeroyokan dua orang tosu yang amat lihai itu.

Setelah lewat lima puluh jurus, gulungan sinar pedangnya makin menyempit dan ia pun terdesak terus oleh dua batang tongkat panjang dan pendek itu. Apa lagi seperti tadi, Thian Kek Sengjin mengeluarkan bentakan-bentakan yang mengandung kekuatan sihir untuk melemahkan lawan, maka Siu Kwi hampir tidak mampu balas menyerang lagi, melainkan hanya mengelak dan menangkis sambil mundur.

Yo Jin tidak dapat mengikuti perkelahian itu dengan baik karena selain dia berdiri di belakang pintu jeruji yang sempit, juga jalannya perkelahian itu telampau cepat baginya sehingga ia tidak dapat mengikuti dengan pandang matanya yang menjadi kabur. Dia hanya melihat gulungan sinar putih dari pedang Siu Kwi dikurung dua gulungan sinar hitam, dan kadang-kadang saja nampak tubuh tiga orang itu atau kaki mereka yang menginjak tanah. Namun, hatinya merasa khawatir sekali.

“Bukkk…!”

Sebuah pukulan tongkat Thian Kek Sengjin mengenai punggung Siu Kwi dan sedikit darah keluar dari mulut wanita itu. Ia telah terluka. Maka ia pun tahu bahwa sekali ini ia juga tidak berhasil. Diputarnya pedangnya dengan nekat sambil membalikkan tubuhnya.

Para pengawal yang berada di belakangnya menjadi panik, apa lagi ketika ketika dua orang pengawal roboh. Terpaksa mereka mundur dan membuka kepungan. Siu Kwi menerobos keluar dan meloncat ke dalam kebun, terus meloncat naik ke atas tembok pagar dan melarikan diri. Seperti sore tadi, dua orang tosu itu tidak mengejarnya sama sekali, melainkan tertawa mengejek.

Terhuyung-huyung Siu Kwi lari memasuki hutan. Ketika tiba di tengah hutan, di bagian terbuka, ia pun menjatuhkan diri di atas rumput, menelungkup dan menangis! Ia bukan menangis karena lukanya, melainkan menangis karena tidak mampu manyelamatkan Yo Jin. Kalau ia mengingat kembali betapa Yo Jin berdiri di belakang pintu jeruji dengan kaki tangan terbelenggu dan muka pucat, ia merasa kasihan sekali dan tangisnya makin mengguguk.

Akan tetapi, wanita yang keras hati ini segera dapat menguasai dirinya. Tugasnya masih belum selesai. Yo Jin belum diselamatkan. Dan ia kembali terluka, sekali ini lebih parah karena pukulan dengan tenaga sinkang itu telah mengakibatkan luka dalam, meski tidak amat berbahaya namun membutuhkan pengobatan dengan segera. Diusirnya bayangan Yo Jin yang melemahkan batinnya.

Siu Kwi mengeluarkan obat dan menelan dua butir pil merah. Kemudian ia pun duduk bersila untuk mengumpulkan hawa murni, mengobati luka dan memulihkan tenaganya. Ia terus bersila sampai pagi, kesehatannya berangsur-angsur pulih, dan juga tenaganya mulai pulih kembali.

Matahari mulai meneroboskan cahayanya melalui celah-celah ranting dan daun pohon, namun Siu Kwi masih bersemedhi dengan lelap. Demikian lelapnya sampai ia tidak tahu bahwa di dalam hutan itu muncul dua orang yang sejak tadi mengintainya. Baru setelah dua orang itu melangkah dekat menghampirinya, ia sadar dan cepat ia membuka mata. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mengenal mereka sebagai Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin!

Akan tetapi rasa kaget ini juga dibarengi kemarahan yang meluap-luap karena kedua orang inilah yang telah menggagalkan usahanya untuk membebaskan Yo Jin. Maka ia meloncat dan menghadapi dua orang tosu itu dengan sepasang mata bernyala ganas penuh kebencian.

“Dua tosu jahanam, kalian masih hendak mendesakku? Baik, aku akan mengadu nyawa dengan kalian!” bentaknya dan dia pun sudah langsung memasang kuda-kuda, siap untuk berkelahi mati-matian.

Akan tetapi dua orang tosu itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap bemusuhan, bahkan tersenyum. “Bi-kwi…”

“Namaku Ciong Siu Kwi dan aku tidak mau menggunakan julukan itu lagi!” bentak Siu Kwi memotong kata- kata Ok Cin Cu.

Kakek tinggi besar dan berperut gendut dengan rambut riap-riapan ini tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, harimau hendak berganti bulu domba, ya? Baiklah, nona Ciong Siu Kwi, kami datang bukan untuk mendesakmu, melainkan untuk berdamai denganmu.”

Siu Kwi memandang dengan mata tajam penuh selidik. Tentu saja ia tidak dapat begitu saja percaya kepada orang-orang seperti tosu itu.

“Apa kehendak kalian?” tanyanya singkat, masih bersikap seperti seorang musuh.

“Ha-ha-ha, bukankah engkau menghendaki agar pemuda she Yo itu kami bebaskan?” kini Thian Kek Sengjin, ketua cabang Pek-lian-kauw bertanya.

Mendengar pertanyaan ini, sepasang mata Siu Kwi berkilat. Tentu saja timbul gairahnya mendengar pertanyaan itu. Akan tetapi ia seorang cerdik, dan cepat wajahnya nampak biasa seolah-olah pertanyaan itu bukan merupakan penawaran yang memikat hatinya.

“Hal yang sudah jelas itu mengapa kau tanyakan lagi?” Ia balas bertanya.

Kembali kedua orang tosu itu tersenyum lebar. “Kita adalah orang-orang segolongan dalam dunia persilatan, karena itu, perlu apa kita harus saling bermusuhan? Sebaiknya kalau kita bekerja sama, saling bantu, bukankah hal itu akan lebih menguntungkan kita kedua pihak?” kata pula Thian Kek Sengjin yang lebih pandai bicara dibandingkan Ok Cin Cu.

“Kau maksudkan, kalian akan membebaskan Yo Jin dan sebagai gantinya aku harus melakukan sesuatu untuk kalian?”

“Ha-ha-ha, dia memang seorang wanita yang amat cerdik, toyu!” Ok Cin Cu tertawa girang dan Thian Kek Sengjin mengangguk-angguk.

“Tepat dugaanmu, nona Ciong. Engkau membutuhkan pembebasan Yo Jin, dan kami berdua juga mempunyai kebutuhan yang kami harapkan akan mendapat bantuanmu agar terlaksana.”

“Katakan, apa yang harus kulakukan untuk membantu kalian?”

“Kami berdua mempunyai kebutuhan masing-masing, dan kami akan membebaskan Yo Jin kalau engkau suka memenuhi dua permintaan kami untuk kebutuhan kami itu. Bagai mana, nona Ciong?” tanya pula Thian Kek Sengjin.

“Katakan, apa yang harus kulakukan.” jawab Siu Kwi dan di dalam batinnya, wanita ini tentu saja telah menyetujui permintaan mereka. Demi menyelamatkan Yo Jin, pria yang dicintanya itu, apa pun akan ia lakukan.

Thian Kek Sengjin memandang kepada Ok Cin Cu, kemudian kepada Siu Kwi lagi sambil berkata. ” Biarlah sahabat Ok Cin Cu akan menceritakan sendiri permintaannya. Ada pun pinto ingin engkau membantu pinto menghadapi seorang musuh besar. Kami sudah maju berdua, namun belum dapat menandinginya. Kulau engkau maju membantu kami, aku yakin akan dapat mengalahkan musuh besar itu.”

Siu Kwi terkejut. Kalau dua orang seperti tosu Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw ini saja tidak mampu menandingi orang itu, tentu musuh besar Thian Kek Sengjin itu seorang yang lihai bukan main. Akan tetapi ia hanya membantu mereka berdua, dan hal ini tentu saja tidak berat baginya. Hanya, ia sudah mengambil keputusan tidak akan melakukan perbuatan jahat, maka ia pun ingin tahu lebih dahulu siapa orang yang akan mereka keroyok itu.

“Siapakah orang itu?”

“Dia adalah seorang keturunan pendekar Pulau Es.”

Siu Kwi terkejut sekali dan mengerutkan alisnya. Justru keluarga Pulau Es inilah yang sudah menghancurkan semua cita-citanya, dan walau pun tadinya dia sudah tidak mau memikirkan hal itu dan tidak mau menanam permusuhan dengan siapa pun, akan tetapi sedikit banyak ada perasaan tidak suka terhadap keluarga Pulau Es dalam hatinya. Maka mendengar bahwa musuh besar ketua cabang Pek-lian- kauw ini adalah seorang anggota keluarga Pulau Es, ia pun tanpa berpikir panjang lagi lalu mengangguk.

“Baiklah! Aku akan membantu kalian menghadapi musuh itu, akan tetapi kalian harus membebaskan Yo Jin.”

“Heh-heh-heh, nanti dulu!” Tiba-tiba Ok Cin Cu berkata sambil menyeringai sehingga nampak mulutnya yang tinggal mempunyai beberapa buah gigi yang besar-besar. “Itu adalah syarat yang diajukan sahabat Thian Kek Sengjin, sedangkan syarat dari pinto masih belum. Kalau engkau membantu menghadapi musuh itu, berarti baru separuh dari syarat kami kau penuhi. Engkau tentu tidak ingin kami membebaskan separuh badan orang she Yo itu, bukan? Kau memilih dari pinggang ke atas atau dari pinggang ke bawah yang harus dibebaskan?”

Siu Kwi tak mau menyambut kelakar ini. Tentu saja ia tidak mau mendapatkan setengah saja dari badan Yo Jin. “Katakanlah, apa syaratmu!” katanya cepat dan ketus.

Ok Cin Cu menyeringai dan Thian Kek Seng Jin mentertawakan temannya itu. Tetapi yang ditertawakan itu sama sekali tidak merasa malu, bahkan nampak gembira sekali ketika berkata, “Ciong Siu Kwi, sudah lama sekali pinto mendengar akan nama Bi-kwi yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai sekali dalam hal lain mengenai pria. Nah, ilmu silatmu sudah pinto lihat dan rasakan. Akan teapi pinto ingin membuktikan sendiri kelihaianmu dalam hal yang lain itu. Pinto ingin agar engkau tidur bersama pinto satu malam dan melayani pinto. Baru pinto mau membebaskan Yo Jin seutuhnya!”

Kalau lain wanita yang diajukan itu, tentu ia akan merasa malu dan tersinggung sekali. Akan tetapi, bagi Siu Kwi, hubungan dengan pria bukan merupakan hal yang aneh. Sejak remaja ia sudah melayani Sam Kwi, tiga orang gurunya yang sudah kakek-kakek juga, dan selama ia bertualang sebagai Bi-kwi, entah sudah berapa banyak pria yang dipermainkannya untuk melampiaskan napsunya. Permintaan terang- terangan dari Ok Cin Cu itu dianggapnya biasa saja, walau pun ia merasa terhina karena biasanya ialah yang memilih laki-laki.

Kecuali Sam Kwi, belum pernah ia melayani pria secara terpaksa. Akan tetapi, sekali ini, ia tidak berani marah, ia akan melakukan apa saja untuk pembebasan Yo Jin dan syarat yang diajukan oleh Ok Cin Cu itu, baginya adalah lebih berat dari pada syarat yang diajukan Thian Kek Sengjin. Menyerahkan badannya bagi Siu Kwi tidak ada artinya, karena hatinya sudah ia serahkan sebulatnya kepada satu orang saja, yaitu Yo Jin! Dan dia melakukan hal itu bukan karena penyelewengan, bukan karena pemuasan nafsu, melainkan semata-mata untuk menyelamatkan Yo Jin!

“Baiklah, aku terima syaratmu. Nah, sekarang kalian bebaskan Yo Jin, dan aku akan memenuhi syarat kalian!”

“Ho-ho-ho, jangan tergesa-gesa, nona manis,” Thian Kek Sengjin berseru. “Kami yang mengajukan syarat, maka kami harus melihat syarat-syarat itu terlaksana lebih dulu, baru kami akan membebaskan Yo Jin.”

Betapa mendongkolnya rasa hatinya, terpaksa Siu Kwi menurut. Pagi hari itu juga kedua orang tosu mengajak Siu Kwi untuk membantu mereka menghadapi musuh besar Thian Kek Sengjin. Hari telah siang ketika mereka bertiga tiba dilereng sebuah bukit tandus yang penuh dengan batu-batu besar dan goa-goa. Dan di sebuah di antara goa-goa itulah terdapat musuh besar yang dimaksudkan!

Laki-laki itu sedang duduk bersila di mulut goa ketika Ok Cin Cu, Thian Kek Sengjin dan Ciong Siu Kwi memandang penuh perhatian. Hatinya tertarik untuk melihat orang yang demikian lihainya sehingga dua orang tosu seperti Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin sampai tidak mampu menandinginya.

Laki laki itu belum tua benar, paling banyak empat puluh tahun usianya. Mukanya bulat dengan kulit yang agak gelap, namun bentuk mukanya tampan dan gagah, juga terawat rapi. Rambutnya yang dikuncir mengkilap bersih dan halus karena minyak, wajahnya juga bersih, tidak ditumbuhi brewok karena agaknya ia cukup rajin mencukur kumis dan jenggotnya. Pakaiannya juga baik dan bersih, bahkan agak mewah.

Seorang pria yang pesolek, pikir Siu Kwi. Ia belum pernah bertemu dengan pria ini. Di punggung pria yang duduk bersila itu nampak sepasang pedang beronce biru dan sarungnya terukir indah.

Pria yang gagah ini memang benar keluarga Pulau Es. Bahkan dia masih cucu dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, karena dia adalah Suma Ciang Bun! Seperti kita ketahui, delapan tahun yang lalu, Suma Ciang Bun menyelamatkan nyawa Gu Hong Beng yang kemudian selama tujuh tahun digemblengnya di pegunungan.

Setelah Hong Beng menjadi seorang pemuda yang lihai, Suma Ciang Bun mengutus muridnya itu untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan, pergi ke kota raja untuk melakukan penyelidikan terhadap pembesar Hou Seng. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, akhirnya dengan bergabung bersama para pendekar sakti, Hong Beng membantu runtuhnya kekuasaan yang dibentuk oleh Hou Seng itu.

Sementara itu Suma Ciang Bun sendiri lalu menyepi ke gunung-gunung untuk bertapa. Seperti biasa di sepanjang perjalanannya, kalau melihat hal-hal yang tidak adil, dia pasti turun tangan sebagai seorang pendekar. Sudah beberapa pekan lamanya dia berada di pegunungan tandus itu, menanti kembalinya Hong Beng karena dia sudah berpesan kepada muridnya itu supaya dua tahun kemudian datang mencarinya di pegunungan tandus itu.

Kehadiran Suma Ciang Bun di dalam goa di gunung itu diketahui oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin. Dua orang tokoh besar Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw ini segera mengenal pendekar keturunan keluarga Pulau Es ini karena semenjak dahulu memang kedua aliran ini menganggap keluarga Pulau Es sebagai musuh besar.

Semenjak jaman Pendekar Super Sakti masih muda, kedua aliran ini, terutama sekali Pek-lian-kauw, sudah memusuhi Pendekar Pulau Es. Melihat Suma Ciang Bun, tentu saja Thian Kek Sengjin yang kebetulan berada di situ cepat turun tangan menyerang. Akan tetapi, dia tak dapat menandingi kelihaian Suma Ciang Bun. Bahkan ketika Ok Cin Cu membantunya, dua orang tosu itu tetap saja kewalahan dan malah akhirnya mereka melarikan diri.

Itulah sebabnya, melihat kelihaian Siu Kwi, Thian Kek Sengjin lalu mempunyai akal untuk mengajak wanita itu membantunya dengan janji akan membebaskan Yo Jin dan seperti telah diperhitungkannya, Siu Kwi yang benar-benar jatuh cinta kepada Yo Jin, tak dapat menolak syaratnya.

Dengan hati besar karena mereka kini datang bertiga, Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin tertawa melihat musuh besar itu masih duduk bersila.

“Ha-ha-ha, Suma Ciang Bun! Kematianmu sudah berada di depan mata. Bangunlah dan terimalah kematianmu di tangan kami!” Thian Kek Sengjin berseru dengan suara yang nyaring sedangkan Ok Cin Cu hanya tertawa bergelak. Siu Kwi tidak bertanya, hanya memandang tajam dan mengamati gerak-gerik orang yang sedang duduk bersila itu.

Tiba-tiba saja Siu Kwi berseru, “Awas jarum…!” ketika Suma Ciang Bun menggerakkan tangan kirinya.

Jarum-jarum halus sekali menyambar ke arah mereka bertiga. Dua orang tosu itu amat kaget dan mereka pun cepat meloncat ke pinggir sambil mengebutkan lengan baju. Siu Kwi sendiri meloncat tinggi hingga beberapa jarum yang menyambar ke arahnya lewat di bawah kakinya.

Hebat bukan main serangan jarum-jarum halus itu, yang dilakukan oleh Suma Ciang Bun yang masih tetap duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya. Pendekar itu menyerang mereka hanya mengandalkan pendengarannya saja.

Ketika mereka bertiga sudah berdiri tegak kembali dan memandang, ternyata Suma Ciang Bun kini sudah bangkit, menghadapi mereka dengan alis berkerut. Siu Kwi agak gentar melihat sinar mata yang mencorong itu dan ia dapat menduga bahwa pendekar ini berwatak keras.

Suma Ciang Bun tadi menyerang mereka dengan jarum-jarumnya karena pendekar ini merasa jengkel bahwa semedhinya di ganggu oleh dua orang tosu yang sudah pernah dikalahkannya itu. Namun dia mendengar seruan seorang wanita dan melihat betapa wanita itu dengan gerakan yang luar biasa ringannya sudah meloncat ke atas ketika menghindarkan diri diri sambaran jarum-jarumnya. Tahulah dia bahwa dua orang tosu itu telah datang lagi membawa seorang teman yang amat lihai.

“Siapakah engkau yang membantu Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw? Aku tidak pernah bermusuhan denganmu!” Suma Ciang Bun memandang tajam kepada wanita cantik dan pesolek itu.

Sebelum Ciong Siu Kwi yang merasa bimbang itu menjawab, Thian Kek Sengjin sudah mendahuluinya. “Ha-ha, engkau tidak mengenal Bi-kwi murid mendiang Sam Kwi yang tewas di tangan para pendekar Pulau Es?”

Memang Thian Kek Sengjin ini cerdik sekali. Dia sudah tahu akan keadaan Siu Kwi, maka dia segera menghadapkan wanita yang membantunya itu sebagai musuh besar Suma Ciang Bun. Mendengar bahwa wanita itu adalah murid Sam Kwi yang menjadi tokoh-tokoh besar dari dunia sesat, Ciang Bun tidak merasa heran kalau wanita itu kini membantu musuh-musuhnya.

“Bagus!” serunya marah. “Kalian memang harus dibasmi dan sekali ini aku tidak mau kepalang tanggung!” Berkata demikian, Suma Ciang Bun menggerakkan tangan untuk mencabut sepasang pedangnya. Sekarang sepasang pedang yang mengeluarkan sinar berkilauan telah berada di kedua tangannya dan dia pun sudah berdiri dengan tegak, sikapnya menantang.

Ok Cin Cu sudah melintangkan tongkat ular hitamnya yang dimainkan sebagai pedang, sedangkan Thian Kek Sengjin menggerakkan tongkat naga hitamnya sebagai sebatang tongkat panjang yang ampuh. Melihat ini, teringat akan janjinya, Siu Kwi juga melolos pedangnya ikut mengepung pendekar itu.

Ciang Bun sudah pernah bertanding melawan pengeroyokan dua orang tosu itu dan dia maklum bahwa tingkat kepandaian mereka hanya sedikit selisihnya dengan tingkatnya sendiri. Kalau dia mampu mengalahkan mereka kanyalah karena ilmu silatnya yang luar biasa sehingga dua orang kakek itu menjadi bingung dan kacau dibuatnya.

Tetapi, tenaga mereka tidak lebih kecil dari pada tenaga sinkang-nya walau pun ia telah menguasai dua macam tenaga sakti yang bertentangan dari Pulau Es, yaitu Hwi-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang. Sayang bahwa dia tidak pernah berhasil menguasai dua sinkang itu sampai ke puncaknya.

Biar pun tidak begitu mudah baginya mengalahkan pengeroyokan dua orang tosu itu, namun dia percaya bahwa sekali ini pun dia akan mampu mengalahkan, bahkan juga mungkin merobohkan mereka, kalau saja di situ tidak ada wanita yang memiliki gerakan demikian ringannya.

Untuk menguji sampai di mana kehebatan wanita itu, dia lalu langsung menggerakkan tubuhnya menyerang Siu Kwi dengan pedang kanannya yang menusuk ke arah dada disambung pula dengan gerakan pedang kiri yang dari atas membacok ke arah kepala.

Serangan ini amat cepat dan hebat karena merupakan bagian dari ilmu silat Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis), yaitu jurus yang dinamakan Siang-mo Jio-cu (Sepasang Iblis Berebut Mustika). Jurus ini juga dapat dikembangkan dengan serangan-serangan kanan kiri yang berlawanan atau berbeda arahnya dan dilakukan sambung-menyambung menjadi serangkaian serangan yang amat berbahaya.

Melihat betapa sepasang pedang itu menyerangnya dari depan dan atas, berarti hanya satu jurusan saja, Siu Kwi yang memiliki gerakan cepat itu karena ia telah mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh), cepat membuang diri ke kiri untuk mengelak. Akan tetapi sambil mengelak, ia telah menusukkan pedangnya dari samping ke arah lambung lawan disusul tendangan kilat ke arah lutut. Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, maka Siu Kwi bergerak cepat, begitu diserang, mengelak sambil membalas dengan tidak kalah hebatnya.

“Cringgg…!”

Ciang Bun terkejut melihat kehebatan wanita itu. Tepat dugaannya bahwa wanita itu lihai, buktinya, menghadapi serangannya tadi, dia dapat langsung saja membalas. Dia menangkis dengan pedang kirinya kemudian membabat kaki yang menendang dengan pedang kanan. Akan tetapi Siu Kwi sudah menarik kakinya dan meloncat ke belakang untuk mengatur kedudukannya.

Pada saat itu Ok Cin Cu sudah menyerang dari samping, menusukkan tongkat ular hitam ke arah leher, sedangkan dari belakang, Thian Kek Sengjin juga ikut menyerang dengan babatan tongkat panjangnya ke arah kaki! Ciang Bun cepat memutar tubuh, menangkis tongkat yang menusuk leher, kemudian dia meloncat ke atas membiarkan tongkat lewat di bawah kakinya, tubuhnya terus meluncur ke depan, masih menyerang Siu Kwi!

Kini sepasang pedangnya itu bergerak dari kanan kiri dengan jurus Siang-mo Koan-bun (Sepasang Iblis Menutup Pintu). Gerakannya ini memang merupakan lingkaran sinar pedang yang menutup jalan ke luar lawan. Lawan yang diserangnya tidak akan mampu mengelak ke kanan atau ke kiri lagi sehingga tiada kesempatan untuk balas menyerang.

Namun, Siu Kwi mengenal serangan berbahaya. Ia menggunakan kelincahan tubuhnya, sudah meloncat ke belakang sehingga kembali serangan Ciang Bun yang amat cepat itu luput dari sasaran! Hal ini membuat Ciang Bun penasaran dan pada saat itu, melihat betapa kedua orang tosu telah menerjangnya lagi dari kanan kiri, dia memutar sepasang pedangnya menyambut.

Berkali-kali terdengar bunyi nyaring. Nampak bunga api berpijar ketika pedang di tangan pendekar itu bertemu dengan tongkat lawan. Siu kwi yang melihat betapa pendekar itu agaknya berbalik hendak mendesak kedua orang tosu, sudah cepat menerjang dengan serangan-serangan pedangnya yang sinarnya bergulung-gulung. Tentu saja serangan-serangan wanita ini tidak dapat dipandang ringan dan memecah perhatian Ciang Bun yang terpaksa harus melayani tiga orang pengeroyoknya yang tangguh.

Kalau ada yang menonton pertandingan ini, tentu orang akan merasa kagum bukan main, walau pun cepatnya gerakan mereka membuat mata biasa sukar untuk dapat mengikuti pertandingan, sukar melihat siapa yang terdesak dan siapa yang mendesak. Yang nampak hanya gulungan sinar senjata mereka, dan bayangan tubuh mereka terbungkus gulungan sinar itu, hanya kadang-kadang saja nampak bayangan mereka dan kaki mereka menyentuh tanah.

Suma Ciang Bun adalah seorang keturunan langsung dari keluarga Pulau Es dan dia telah menguasai ilmu-ilmu yang luar biasa tingginya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa yang menjadi penentu terakhir mengenai tinggi rendahnya tingkat seorang ahli silat adalah si orang itu sendiri, bukan ilmunya.

Ilmu silat memang ada yang bagus ada yang buruk, ada yang lambat ada yang cepat, ada yang praktis tanpa kembangan ada yang memakai banyak kembangan. Namun, setelah dikuasai seseorang, tentu saja sifat-sifat itu terseret oleh keadaan orang itu sendiri.

Dan perlu diketahui bahwa sejak kecilnya, bakat ilmu silat Suma Ciang Bun tidaklah begitu menonjol dan kalah jauh kalau dibandingkan dengan keturunan keluarga Pulau Es yang lain. Ilmu-ilmu silat yang dikuasainya memang hebat bukan main, akan tetapi tidak mencapai tingkat yang terlalu tinggi sehingga kini menghadapi pengeroyokan tiga orang yang lihai ini, Suma Ciang Bun mulai terdesak hebat.

Perhitungan Thian Kek Sengjin memang tepat sekali. Dia dan Ok Cin Cu tidak mampu menandingi Suma Ciang Bun dan hal ini membuat dia merasa penasaran bukan main. Dia tidak tahu siapa lagi yang dapat dimintai bantuannya. Pada saat dia dan Ok Cin Cu bentrok dengan Siu Kwi dan melihat kelihaian wanita itu, terutama sekali kecepatan gerakannya, tahulah dia bahwa kalau wanita ini dapat membantunya, maka dia tentu akan mampu mengalahkan pendekar Pulau Es itu.

Betapa pun juga, ilmu-ilmu silat yang dimainkan Suma Ciang Bun memang hebat sekali sehingga walau pun ketiga orang itu mampu mengepung ketat dan mendesak sampai seratus jurus lamanya belum juga mereka bertiga itu mampu mengalahkan Suma Ciang Bun yang masih melawan dengan gigih. Akan tetapi sekarang pendekar itu lebih banyak bertahan dan melindungi diri dari pada menyerang.

Tiba tiba tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu menusuk ke arah leher Ciang Bun dari kiri, dibarengi pula dengan pukulan tongkat naga hitam ke arah pinggangnya dari kanan. Ciang Bun tidak sempat mengelak lagi, terpaksa menggunakan sepasang pedangnya menangkis ke kanan kiri dengan jurus Siang-mo Khai- bun (Sepasang Iblis Membuka Pintu).

Jurus ini tidak hanya menangkis, melainkan dilanjutkan dengan serangan balasan yang hebat. Akan tetapi pada saat dia menangkis, nampak sinar pedang meluncur ganas dari depan, yaitu pedang Siu Kwi yang menyerang ke arah dadanya. Serangan ini demikian cepatnya sehingga Ciang Bun merasa terkejut. Dengan menggunakan pantulan tenaga saat menangkis tongkat naga hitam, pedang kanannya mental dan meluncur, memapaki sinar pedang Siu Kwi dari depan, sedangkan pedang kirinya dengan tenaga sinkang masih menempel tongkat ular hitam.

“Cringgg…!”

Siu Kwi mengeluarkan seruan kaget. Pedangnya hampir saja terlepas dari pegangannya ketika bertemu dengan kerasnya dengan pedang lawan. Tetapi pada saat itu, tongkat naga hitam menyambar dari belakang dan tak dapat dielakkan atau ditangkis oleh Ciang Bun lagi.

“Bukkk…!”

Tubuh Ciang Bun terlempar keras, terbanting dan terguling-guling. Dia menderita luka parah oleh pukulan tongkat yang mengenai punggungnya itu, maka ketika dia terguling-guling, dia sengaja bergulingan dengan cepat, kemudian meloncat dan melarikan diri. Pendekar ini maklum bahwa dia telah terluka dan kalau tidak melarikan diri, tentu tiga orang lawan itu akan membunuhnya.

“Kejar dia…!” Thian Kek Sengjin berseru marah ketika melihat lawan yang sudah terluka itu melarikan diri. “Kenapa mesti dikejar?” Siu Kwi membantah. “Dia sudah kalah dan lari.”

“Kejar! Kita harus membunuhnya!” Thian Kek Sengjin berteriak dan dia pun mengejar diikuti Ok Cin Cu. Dengan demikian Siu Kwi terpaksa ikut mengejar.

“Jangan mencari penyakit!” kembali dia berkata sambil berlari di samping kakek itu. “Jangan mendesak terus. Bagaimana kalau muncul tokoh-tokoh Pulau Es lainnya? Dia hanya tokoh kecil saja! Aku telah banyak bertemu dengan mereka yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari dia!”

Thian Kek Sengjin mencari-cari akan tetapi bayangan Suma Ciang Bun tak nampak lagi. Juga dia mulai jeri mendengar kata-kata Siu Kwi. Baru mengalahkan Suma Ciang Bun sekarang saja sudah demikian repotnya, apa lagi kalau muncul tokoh Pulau Es lainnya yang lebih lihai. Pula, kalau wanita ini tidak mau membantunya, dia dan Ok Cin Cu juga tidak berdaya menghadapi tokoh yang mereka kejar-kejar itu. Maka, biar pun hatinya kurang puas karena ia tidak berhasil membunuh musuhnya, terpaksa ia menghentikan pengejarannya.

Ketika Ok Cin Cu pada malam itu menuntut syaratnya, diam-diam Siu Kwi bergidik memandang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan rambut riap-riapan. Tubuhnya yang kurang terjaga kebersihannya itu mengeluarkan bau busuk. Akan tetapi, dengan terpaksa Siu Kwi menyerahkan dirinya kepada tosu gendut itu ketika sang tosu membawanya ke sebuah pondok kecil di luar dusun.

Ia menyerahkan diri sambil mematikan perasaannya. Dengan tingkat kepandaiannya, hal ini tidak sukar ia lakukan. Yang masuk ke dalam ingatannya hanyalah bahwa ia melakukan pengorbanan untuk pria yang dicintanya. Apa pun akan dia lakukan demi keselamatan Yo Jin. Karena apa yang ia lakukan itu tanpa disertai perasaan sedikit pun, maka bagi Ok Cin Cu wanita ini tiada bedanya dengan sesosok mayat saja. Tentu saja hal ini membuat Ok Cin Cu merasa tidak puas dan kecewa, seperti bercinta dengan mayat atau patung dan diam-diam dia pun marah sekali.

Pada keesokan harinya, dua orang tosu itu berjanji bahwa malam berikutnya mereka akan membebaskan Yo Jin.

“Engkau datanglah ke tempat tinggal Lui-thungcu pada tengah malam dan Yo Jin akan kami bebaskan dengan diam-diam agar bisa kau jemput. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati supaya jangan sampai ketahuan oleh keluarga Lui. Biarlah mereka mengira bahwa engkau dan orang-orang lain yang datang membebaskan Yo Jin. Kami akan pura-pura melakukan pengejaran dan mencari,” kata Thian Kek Sengjin dan tentu saja Siu Kwi menyetujui dengan hati penuh harapan.

Malam itu cuaca amat gelap. Bulan memang belum waktunya keluar dan sedikit bintang yang nampak kadang-kadang tertutup awan hitam yang lewat di bawahnya. Sebelum tengah malam, Siu Kwi telah berada di luar pagar tembok yang mengelilingi kompleks bangunan tempat tinggal keluarga Lurah Lui. Dengan hati berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan ia menanti sambil merenungkan semua yang telah terjadi semenjak ia berjumpa dengan Yo Jin.

Telah terjadi perubahan besar dalam hidupnya, dimulai sejak ia dan sekutunya kalah dan hancur oleh para pendekar. Akan tetapi perubahan besar baru benar terjadi setelah ia berjumpa dengan Yo Jin. Ia telah berkorban untuk Yo Jin. Di luar kehendaknya ia telah membantu dua orang tosu itu memusuhi pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es. Bahkan di luar kehendaknya ia telah menyerahkan tubuhnya kepada Ok Cin Cu. Kedua hal itu terpaksa ia lakukan karena ia tidak melihat cara lain untuk menyelamatkan Yo Jin yang berada dalam cengkeraman dua orang tosu yang tangguh itu.

Hatinya gembira. Betapa pun juga, pengorbanan itu tidak seberapa berat. Apa artinya menyerahkan badan tanpa perasaan dan hati? Dan ia hanya membantu mengalahkan Suma Ciang Bun. Semua hal itu terlupa karena ia membayangkan betapa gembiranya sebentar lagi ia dapat menyelamatkan dan mengajak pergi Yo Jin. Kemudian dia akan hidup berbahagia bersama pria itu.

Satu-satunya halangan, yaitu ayah Yo Jin, telah tewas pula. Sejak siang tadi ia sudah membayangkan hal ini dan sudah mengatur rencana. Ia hendak mengajak Yo Jin pergi dan hidup di sebuah tempat yang baru di mana tak seorang pun akan mengenalnya. Ia akan hidup sebagai manusia baru di tempat yang baru, bukan sebagai Bi-kwi murid Sam Kwi, melainkan sebagai isteri seorang pria sederhana seperti Yo Jin.

Betapa akan berbahagianya mereka, merawat dan mendidik anak-anak mereka. Anak-anak! Ahhh, belum pernah sebelumnya ia membayangkan tentang rumah tangga, suami dan anak-anak.

Suara berdenting ketika tanda waktu dipukul para penjaga, menciutkan hatinya dan membuatnya sadar dari lamunan. Tengah malam telah tiba! Ia pun mendekati pagar tembok dan setelah merasa yakin bahwa keadaan di situ sunyi saja, ia lalu meloncat ke atas pagar tembok, meneliti sebentar keadaan di sebelah dalam yang ternyata juga sunyi seperti keadaan di luar. Maka ia lalu melompat turun dan menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak menuju ke bagian belakang.

“Kwi-moi… aku di sini…!” Mendengar suara Yo Jin itu, bukan main girang rasa hati Siu Kwi. “Jin-koko…!” Serunya lirih dengan suara gemetar dan ia pun berlari ke arah suara tadi.

Agaknya pria yang dikasihinya itu berada di belakang pondok yang menjadi kandang kuda, menantinya. Betapa pun gembira dan tegang rasa hatinya, Siu Kwi tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya. Ia berurusan dengan dua orang tosu yang selain tangguh, juga cerdik dan mungkin saja suka bertindak curang, maka dia selalu bersiap siaga.

Kewaspadaan inilah yang menyelamatkannya. Ketika ia sudah melihat bayangan Yo Jin yang berdiri di belakang kandang kuda, dan ia berlari di antara pohon-pohon di kanan kiri, mendadak saja kakinya terlibat tali sehingga ia terguling. Ia meloncat dan kakinya masih terlibat banyak sekali tali yang agaknya ditarik orang.

Karena memang sebelumnya sudah siap siaga, hanya sebentar saja Siu Kwi terkejut dan secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan dengan beberapa kali bacokan saja, tambang-tambang itu sudah putus semua. Untung ia melakukan hal ini karena kalau tidak, tentu tubuhnya akan terlibat semua dan ia tentu tidak akan mampu melawan lagi!

Tiba-tiba keadaan menjadi terang. Obor-obor di nyalakan dan ternyata tempat itu telah dikepung oleh puluhan orang penjaga yang dipimpin oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin sendiri! Dan di kejauhan, dia melihat betapa Yo Jin dengan kaki tangan terikat, berdiri dan terikat pada sebatang pohon. Tahulah ia bahwa memang dua orang tosu itu telah bersikap curang sekali. Ia sengaja dipancing untuk ditangkap, bukan untuk disuruh menjemput Yo Jin seperti yang sudah dijanjikan. Tentu saja ia menjadi marah sekali dan sepasang matanya mencorong seperti mengeluarkan api.

“Tosu-tosu jahanam yang berwatak hina dan rendah!” bentaknya dan ia pun menerjang dengan pedangnya ke arah dua orang tosu itu.

Akan tetapi, banyak sekali tombak panjang menyambutnya dan sebentar saja ia sudah dikepung dan dikeroyok oleh puluhan orang penjaga yang memegang tombak panjang. Dan kini dua orang tosu itu pun menerjang maju sehingga tentu saja Siu Kwi menjadi repot sekali melayani mereka.

Namun, ia mengamuk seperti seekor harimau betina terluka. Pedangnya berkelebatan dan sudah ada beberapa orang penjaga yang roboh mandi darah. Pedang di tangan Siu Kwi sudah berlepotan darah, akan tetapi dia sendiri pun menerima tusukan tombak dan hantaman tongkat berkali-kali. Pundaknya dan paha kirinya terluka, kulitnya robek dan mengucurkan darah. Pipinya bengkak dan punggungnya juga sudah dua kali menerima hantaman tongkat panjang naga hitam di tangan Thian Kek Sengjin.

“Kwi-moi…, larilah…, selamatkan dirimu…!”

Teriakan melengking ini menyadarkan Siu Kwi. Itulah suara Yo Jin dan ia pun sadar bahwa mengamuk terus berarti mencari mati. Dan kalau ia mati di situ, tentu tidak ada harapan lagi bagi Yo Jin. Selain ia seorang, siapa lagi yang akan membela Yo Jin?

Hatinya berdarah jika membayangkan Yo Jin yang belum juga dapat diselamatkannya. Akan tetapi, dia akan terus berusaha, dan untuk itu, dia harus mampu keluar dari kepungan ini lebih dahulu. Maka, tiba-tiba ia menerjang ke belakang dan membalikkan tubuhnya. Karena yang berada di belakangnya hanya para penjaga, mereka itu menjadi panik ketika tiba-tiba dua orang di antara mereka roboh mandi darah.

Terbukalah pengepungan mereka dan Siu Kwi kemudian menerjang ke arah itu. Para pengepung mundur dan keadaan menjadi kacau balau. Dua orang tosu tidak dapat lagi mendesak Siu Kwi karena mereka terhalang oleh para penjaga yang lari ke kanan kiri. Kesempatan ini dipergunakan oleh Siu Kwi untuk melompat ke luar pagar tembok dan menghilang di dalam kegelapan malam…..

********************

Siu Kwi menangis sesenggukan. Kali ini tangisnya lebih sedih dari pada tangisnya yang pertama kali sebelum ia berjumpa dengan Yo Jin. Selamanya ia tidak pernah menangis dan pertama kali menangis adalah ketika ia merasa kesepian, setelah persekutuannya hancur. Akan tetapi tangisnya sekarang ini sungguh keluar dari dasar hatinya.

Ia menangis sampai terisak-isak dan tersedu-sedan, kadang-kadang menyebut nama Yo Jin. Ia merasa berduka, gelisah, dan menyesal sekali. Bagaimana pun juga, kalau diusut dari semula, ialah yang menjadi gara-gara sampai Yo Jin terpaksa menjadi orang tahanan, bahkan ayahnya tewas dibunuh orang. Jika Yo Jin tidak berjumpa dengannya, tentu dia tidak akan mengalami semua mala petaka ini.

Dan ia sendiri sekarang tidak berdaya sama sekali untuk menyelamatkan Yo Jin. Semua impiannya kemarin kini buyar dan hancur pula, seperti hancurnya semua cita-citanya. Karena kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan ia sendiri sudah menderita luka-luka yang cukup parah, Siu Kwi hanya dapat menangis! Menangis seorang diri di dalam hutan yang sunyi itu.

Pundak dan pahanya masih terluka menganga dan mengeluarkan darah, juga pipinya benjol, bekas pukulan tongkat di punggungnya juga mendatangkan rasa ngilu dan nyeri bukan main. Akan tetapi ia tidak mempedulikan semua itu, tidak peduli akan keadaan dirinya. Yang terpikir olehnya hanyalah Yo Jin!

Dalam keadaan menangis ini, muncullah Siu Kwi sebagai seorang wanita sepenuhnya. Seorang wanita yang normal, mahluk yang lemah dan terbuai perasaan, dan mencari pelarian dari segala derita ke dalam tangis.

Dahulu sekali, tangis merupakan hal yang memalukan baginya, merupakan pantangan karena perbuatan ini dianggapnya memamerkan kelemahan dan cengeng. Akan tetapi sekarang, setelah merasa tidak berdaya dan bingung memikirkan keadaan pria yang dicintanya, yang masih belum mampu ditolongnya, ia pun tak dapat berbuat lain kecuali menangis!

Dan tangisnya ini adalah pencurahan dari semua penderitaan batin yang sejak dahulu selalu ditekan dan ditahannya. Penderitaan batin ketika ia masih kecil kehilangan ayah ibu, ketika dia terpaksa melayani gairah nafsu ketiga orang gurunya, Sam Kwi, yang diterimanya dengan pasrah namun sebenarnya di dasar hatinya timbul pemberontakan yang ditekannya.

Semua himpitan batin itu dulu ia imbangi dengan perbuatan-perbuatan sesat dan kejam sebagai pelariannya. Akan tetapi sekarang, setelah ia melihat betapa kesesatannya tak mendatangkan kebaikan bagi dirinya, setelah dia ingin merubah jalan hidupnya, maka satu-satunya pelarian hanyalah tangis kesedihan.

“Suci…!” tiba-tiba terdengar suara wanita menegurnya.

Siu Kwi mengangkat mukanya yang tadi ditutupi dengan kedua tangannya. Sebuah muka yang membengkak, ujung bibir yang masih berdarah, muka yang basah air mata yang bercucuran dari sepasang mata yang kemerahan. Ketika ia melihat bahwa yang datang menegurnya adalah Bi Lan, Siu Kwi merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk dan ia pun menangis semakin menjadi-jadi sampai mengguguk.

Yang datang itu memang Bi Lan bersama Sim Houw. Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah berhasil menghancurkan komplotan kaki tangan pembesar Hou Seng, dibantu oleh para pendekar keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, para pendekar bubaran dan Bi Lan pergi bersama Sim Houw.

Kedua orang muda ini merasa saling tertarik dan terikat satu sama lain, merasa betapa mereka tak mungkin dapat saling berpisah lagi. Memang, selama melakukan perjalanan menuju ke utara, keduanya belum pernah saling mengaku cinta!

Sim Houw yang sudah tahu bahwa dia kini mati-matian jatuh cinta kepada Bi Lan, merasa sungkan untuk mengakui cintanya. Dia jauh lebih tua dari pada Bi Lan. Usianya sudah mendekati tiga puluh lima tahun, sedangkan Bi Lan belum ada dua puluh tahun! Gadis itu pantas menjadi keponakannya!

Meski dia sungguh mencintanya, akan tetapi kalau dia mengaku akan hal itu, bukankah dia akan ditertawakan, bahkan disangka bahwa semua kebaikannya terhadap gadis ini berpamrih? Tidak, dia tidak berani mengaku cinta, walau pun hatinya sudah yakin akan hal itu.

Di lain pihak, Bi Lan sendiri yang masih hijau dalam soal asmara, hanya melihat Sim Houw sebagai seorang pria yang amat baik kepadanya. Dan ia pun merasa amat suka kepada Sim Houw, kagum dan juga bangga dapat mempunyai seorang sahabat seperti pendekar ini. Yang lebih dari segalanya, dia merasa aman tenteram dan selalu penuh kedamaian kalau berada di samping Sim Houw.

Dalam perjalanan mereka ke utara, mereka pada pagi hari ini memasuki hutan dan mereka merasa terheran-heran ketika mendengar isak tangis sampai ke telinga mereka, terbawa angin bersilir. Karena merasa heran dan curiga, menduga bahwa mungkin saja terjadi kejahatan. mereka kemudian mempergunakan ilmu meringankan tubuh, berindap menghampiri tempat dari mana suara itu datang.

Dan dapat dibayangkan betapa heran dan terkejut hati Bi Lan ketika melihat bahwa yang sedang menangis terisak-isak itu adalah Bi-kwi! Karena itu, segera ia memanggil dan kini, setelah suci-nya itu memandang kepadanya, ia melihat keadaan suci-nya yang luka-luka dan mukanya membengkak, dan kini suci-nya menangis semakin menjadi-jadi.

“Suci… kau… kau menangis…?” Bi Lan menghampiri dan menjadi semakin terheran-heran.

Belum pernah ia melihat suci-nya ini menangis, apa lagi menangis sampai sedemikian sedihnya. “Apakah yang telah terjadi, suci?”

Bagaimana juga, di dalam hatinya, Bi Lan merasa kasihan kepada suci-nya, orang yang melatih dan menemaninya sejak dia kecil, walau pun sikap Ciong Siu Kwi terhadapnya juga tak dapat dibilang manis. Juga ia teringat bahwa tanpa pertolongan suci-nya, tentu dirinya telah ternoda oleh Sam Kwi.

Mendengar pertanyaan ini, Siu Kwi menjadi semakin berduka. Akan tetapi, ia segera teringat, bahwa jika sumoi-nya ini mau membantu, tentu ia akan dapat menyelamatkan Yo Jin! Timbul lagi harapannya, akan tetapi karena khawatir kalau-kalau Bi Lan menolak permintaan tolongnya, ia pun menjadi semakin berduka.

“Sumoi… jangan dekati aku kalau engkau tidak mau ketularan segala kesialan yang menimpa diriku… ahh, rasanya aku ingin mati saja, sumoi…,” katanya sambil mengusap air mata dari kedua pipinya.

Ia pun memandang ke arah Sim Houw yang berdiri tidak jauh dari situ. Apa lagi kalau orang she Sim itu mau membantunya, sudah dapat dipastikan bahwa Yo Jin tentu dapat diselamatkan!

“Suci, sungguh aku merasa heran sekali melihat engkau dapat berduka cita seperti ini. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Aku melihat engkau menderita luka-luka. Apakah engkau berkelahi?”

Siu Kwi menarik napas panjang untuk menghentikan tangisnya. “Aku tidak tahu apakah kemunculanmu ini akan merupakan pertolongan bagiku atau tidak, sumoi. Akan tetapi, biarlah kuceritakan semua kepadamu…” Ia kembali menarik napas panjang.

Bi Lan kini duduk di atas rumput, di dekatnya sedangkan Sim Houw duduk di atas batu. Agaknya pendekar itu pun tertarik untuk mendengarkan ceritanya yang membuat dia sampai menangis sedemikian sedihnya.

“Sumoi, setelah kau membiarkan aku pergi, baru aku merasa betapa sunyi dan merana hidupku, baru aku sadar betapa semua kesesatan yang telah memenuhi hidupku yang lalu tidak pernah mendatangkan kebahagiaan kepadaku. Engkau benar, sumoi, engkau tidak mau mengikuti jejak tiga orang suhu kita yang sesat. Aku ingin merubah hidupku, dan dalam kesadaranku itu, bertemulah aku dengan seorang pemuda petani yang bodoh serta sederhana dan lemah…”

Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Yo Jin, betapa kemudian muncul tiga orang pemuda berandalan yang hendak mengganggunya, dan betapa Yo Jin, pemuda dusun yang lemah dan bodoh itu membelanya mati-matian.

“Bayangkan saja, sumoi! Dia yang lemah dan bodoh, rela dikeroyok dan dipukuli sampai babak-belur, hanya untuk membela aku yang tak dikenalnya. Betapa gagahnya dia! Dan aku… aku pun jatuh cinta kepadanya, sumoi…” Kembali Siu Kwi menangis.

Bi Lan memandang suci-nya dengan mata terbelalak. Aneh sekali mendengar cerita dan pengakuan suci- nya ini. Biasanya, suci-nya mempermainkan pria sesuka hatinya. Pria-pria itu dianggap boneka saja olehnya, atau binatang peliharaan yang dianggap sebagai penghibur. Akan tetapi sekarang, terang- terangan suci-nya mengaku jatuh cinta kepada seorang pemuda dusun yang sederhana, bodoh dan lemah!

“Semua pengorbanannya untuk diriku itu membawa akibat yang amat mencelakakan baginya. Ayahnya sampai terbunuh orang, dan dia sendiri sekarang menjadi tawanan…”
Siu Kwi menceritakan semua hal yang telah terjadi dengan nada suara sedih sekali.

“Aku telah berusaha untuk menyelamatkannya, untuk membebaskannya. Akan tetapi, dua orang tosu ketua cabang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw itu masih terlalu tangguh bagiku. Bahkan mereka sudah menipuku. Mereka berjanji membebaskan Yo Jin kalau aku mau bekerja sama. Thian Kek Sengjin minta aku untuk membantunya melawan dan mengalahkan pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es. Hal ini telah kulakukan dan pendekar itu dapat dikalahkan sampai melarikan diri. Kemudian aku pun memenuhi permintaan Ok Cin Cu untuk melayaninya dan tidur bersamanya selama satu malam. Semua ini kulakukan dengan pemaksaan diri, di luar kemampuanku demi untuk menolong Yo Jin. Akan tetapi, mereka berdua menipuku, tidak memenuhi janji, bahkan aku dikeroyok banyak orang malam tadi sampai nyaris tewas dan menderita luka-luka inilah. Aku hampir putus asa, sumoi. Tidak mengapalah aku mati asal Yo Jin selamat…”

Bi Lan saling pandang dengan Sim Houw. Hampir ia tidak dapat percaya akan cerita suci-nya itu. Ia sudah terlalu mengenal suci-nya sehingga cerita itu seperti tidak masuk akal!

“Suci, sekarang yang terpenting adalah mengobati luka-lukamu dahulu. Luka di pundak dan pahamu itu cukup lebar, dan aku melihat engkau seperti menderita luka dalam pula. Biarlah kami membantu mengobatimu, suci.”

“Tidak! Tidak perlu aku diobati kecuali kalau… ahhh, mana mungkin pula kalian suka membantuku?” Dan tiba-tiba Siu Kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan sumoi-nya! “Sumoi, aku mohon padamu, kau bantulah aku menyelamatkan Yo Jin…”

Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut setengah mati dan cepat-cepat ia memegang kedua pundak suci-nya, membangunkannya kembali.

“Hal itu nanti kita bicarakan, suci. Sekarang biarlah kami mengobatimu dulu…”

“Tidak, sumoi. Jika engkau tidak mau berjanji untuk membantuku menghadapi dua tosu jahanam itu dan menyelamatkan Yo Jin, aku pun tidak perlu diobati dan biarlah aku mati saja.”

Bi Lan kembali menoleh dan memandang kepada Sim Houw. Ia masih saja meragukan kebenaran ucapan suci-nya ini, akan tetapi Sim Houw mengangguk. Pendekar itu dapat melihat bahwa tidak mungkin Siu Kwi berbohong. Apa lagi ketika mendengar bahwa kedua lawan Siu Kwi adalah tosu-tosu dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, tentu saja hatinya condong untuk membantu bekas suci Bi Lan ini. Tentang benar tidaknya cerita Ciong Siu Kwi, hal itu dapat diselidiki nanti.

“Baiklah, suci. Aku berjanji untuk membantumu, akan tetapi dengan syarat bahwa apa yang kau ceritakan semua tadi adalah benar.”

Siu Kwi menarik napas panjang dan mengangguk. “Aku mengerti dan tak menyalahkan jika engkau masih meragukan kejujuranku, sumoi, Akan tetapi engkau pun tentu belum yakin benar akan keputusanku untuk merubah cara hidupku. Aku telah bertemu dengan pria yang kucinta sepenuh jiwaku, dan aku melakukan apa saja demi untuk dia. Kalau ceritaku tidak benar, boleh engkau mengundurkan diri.”

“Sekarang, yang terpenting mengobati luka-lukamu, suci.”

Siu Kwi menurut dan tiba-tiba dia merintih. Baru sekarang dia merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri, luka- luka itu perih dan panas, di dalam dadanya juga terasa nyeri dan tenaganya hampir habis! Kini, setelah ia merasa mendapatkan bala bantuan, baru ia merasakan semua kenyerian ini.

Bi Lan dan Sim Houw lalu merawat Siu Kwi. Dengan obat luka Siu Kwi sendiri yang sangat manjur, luka di paha dan pundaknya dicuci oleh Bi Lan dan diobati lalu dibalut, sedangkan untuk menyembuhkan luka di dalam dada akibat guncangan pukulan tongkat pada punggungnya, ia dibantu oleh Sim Houw yang menempelkan telapak tangan di punggungnya untuk membantu wanita itu menghimpun tenaga dalam dan memulihkan kesehatannya.

Menjelang senja, sembuhlah Siu Kwi. Tubuhnya yang terlatih memang kuat, ditambah lagi semangatnya yang kini besar dan menyala-nyala akibat timbulnya harapan dalam hatinya untuk menyelamatkan Yo Jin. Dan pada malam hari itu juga Siu Kwi mengajak Bi Lan dan Sim Houw untuk membantunya membebaskan Yo Jin.

Bi Lan memang tadi sudah berunding mengenai hal ini, maka Bi Lan pun lalu berkata kepada bekas suci- nya itu. “Suci, bukan hanya karena kurang penuh kepercayaan kami kepadamu, akan tetapi bagaimana pun juga, kami tidak mau bertindak secara sembrono dan melibatkan diri dalam permusuhan, pada hal kami tak mempunyai urusan apa-apa. Oleh karena itu, kami mau saja kau ajak pergi ke dusun itu, hanya saja tidak bertindak sebagai perampas tawanan, melainkan secara damai.”

“Maksudmu bagaimana? Apa pun tindakan yang akan kalian ambil untuk membantuku, terserah. Bagiku yang terpenting adalah keselamatan Yo Jin.”

Diam-diam Bi Lan merasa terharu. Bukan main hebatnya cinta kasih suci-nya terhadap pria yang bernama Yo Jin itu. Dan ia mulai percaya bahwa semua cerita suci-nya itu tidak bohong.

“Kami akan ikut bersamamu menemui lurah Lui dan kedua orang tosu itu. Kita minta dengan baik-baik saja supaya Yo Jin itu dibebaskan. Kemudian kita lihat bagaimana perkembangannya. Kalau perlu, tentu saja kami akan membantumu membebaskan dia dengan jalan kekerasan, tentu saja setelah kami pertimbangkan urusannya.”

Siu Kwi mengangguk-angguk. “Aku tak menyalahkan kalian jika meragukan kebenaran omonganku. Marilah kita berangkat dan kalian lihat sendiri.”

Mereka lalu berangkat menuju ke dusun timur itu, ke tempat lurah Lui di mana Yo Jin ditahan, di bawah pengawasan dua orang tosu yang tangguh. Tidak seperti malam kemarin, malam itu terdapat penjagaan yang ketat sehingga begitu mereka tiba di dusun itu saja, para penjaga sudah melihat dan segera mengenal Siu Kwi. Karena merasa jeri menghadapi wanita itu, para penjaga itu cepat-cepat berlari ke rumah lurah Lui dan melaporkan munculnya ‘siluman’ itu.

Juga para penduduk dusun itu, yang juga sudah mendengar akan adanya siluman yang mengamuk di rumah lurah mereka, kini menjadi ketakutan dan cepat-cepat mereka bersembunyi dan menutup semua jendela dan pintu rumah mereka ketika mendengar teriakan para penjaga yang berlarian bahwa siluman itu muncul kembali.

Demikianlah, ketika Siu Kwi, Bi Lan dan Sim Houw tiba di depan pekarangan rumah lurah Lui, mereka sudah disambut oleh puluhan orang penjaga yang dipimpin oleh dua orang tosu itu. Banyak obor dinyalakan sehingga keadaan menjadi terang sekali.

Pada saat Thian Kek Sengjin dan Ok Cin Cu melihat bahwa Siu Kwi datang bersama seorang gadis muda yang cantik sekali dan seorang laki-laki yang sikapnya sederhana, mereka berdua memandang rendah. Siu Kwi sudah terluka, pikir mereka dan dua orang temannya itu tidak mungkin memiliki kelihaian melebihi Siu Kwi. Pula, di situ terdapat puluhan orang penjaga yang membantu.

“Heh-heh, Bi-kwi, siluman jahat. Engkau berani muncul kembali, apakah engkau ingin menyerahkan nyawamu?” Thian Kek Sengjin berkata sambil melintangkan tongkat naga hitamnya.

“Ha-ha-ha, barangkali engkau rindu pada pinto, nona manis?” kata si gendut Ok Cin Cu.

Siu Kwi menahan gejolak kemarahan yang memenuhi hatinya. Lebih dulu ia harus bisa meyakinkan sumoi- nya dan Sim Houw akan kebenaran ceritanya. “Thian Kek Sengjin dan Ok Cin Cu, aku datang ke sini untuk bicara dengan kalian secara baik-baik. Kenapa kalian berkeras hendak menahan Yo Jin? Dia tidak mempunyai kesalahan apa pun. Dia membelaku ketika Lui-kongcu hendak kurang ajar…”

“Dia ditangkap karena berani kurang ajar memukul Lui-kongcu!” kata Ok Cin Cu.

“Akan tetapi Lui-kongcu yang kurang ajar dan lebih dahulu menyerangnya. Urusan itu amat kecil, akan tetapi kalian sudah memukul ayahnya sampai tewas. Dan kalian masih belum puas. Kalian membujuk aku untuk membantu Thian Kek Sengjin mengalahkan Suma Ciang Bun pendekar keluarga Pulau Es, kemudian Ok Cin Cu bahkan memaksa aku melayaninya selama satu malam, dan kalian berjanji akan membebaskan Yo Jin. Aku telah memenuhi semua permintaan kalian, melakukan hal itu semua. Akan tetapi kalian telah melanggar janji, tidak membebaskan Yo Jin, bahkan menjebak dan hendak menangkap aku. Ji-wi totiang, sebagai pendeta, tosu dan tokoh-tokoh kang-ouw, apa kalian tidak malu atas perbuatan kalian itu? Maka malam ini aku datang untuk minta dengan baik-baik agar Yo Jin cepat dibebaskan, dan aku pun tak akan memperpanjang urusan ini.”

Kedua orang tosu itu tertawa bergelak dan para penjaga juga turut pula tertawa. Riuh rendah suara ketawa mereka dan barulah kebisingan itu berhenti sesudah Thian Kek Sengjin bicara. “Bi-kwi siluman jahat! Engkau adalah pecundang kami, masih berani datang untuk mengajukan tuntutan? Apakah karena kini engkau membawa dua orang temanmu ini? Kami tidak takut dan kalian bertiga tentu tidak akan dapat lolos dari pengepungan kami!”

Lega rasa hati Siu Kwi. Dia sudah membeberkan semua persoalan dalam tuntutannya tadi dan dia pun menoleh kepada Bi Lan dan Sim Houw, “Sumoi dan Sim-taihiap, kurasa sudah cukup aku bicara.”

Sim Houw melangkah maju menghadapi dua orang tosu itu.

“Ji-wi totiang,” katanya halus. “Benarkah apa yang telah dikatakan oleh nona Ciong tadi, bahwa orang she Yo itu kalian tahan tanpa bersalah, dan kalian telah mengingkari janji terhadap nona Ciong?”

“Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami!” bentak Ok Cin Cu marah. “Kalau benar, engkau mau apa?!” Thian Kek Sengjin juga membentak.

“Sim-toako, jelas bahwa suci yang benar. Dua orang tosu bau ini memang jahat sekali!” Bi Lan berseru marah.

“Kepung, tangkap atau bunuh mereka bertiga ini!” bentak Thian Kek Sengjin memberi aba-aba kepada para penjaga yang memang sudah mengepung tempat itu.

“Kalau benar ji-wi adalah Thian Kek Sengjin ketua cabang Pek-lian-kauw dan Ok Cin Cu ketua cabang Pat- kwa-kauw, maka perbuatan ji-wi ini sungguh patut disesalkan dan amat tercela!” kata pula Sim Houw yang nampak tenang saja walau pun para penjaga sudah bergerak mengepung dengan sikap mengancam.

“Bocah sombong! Kepung dan tangkap, biarkan nona manis yang baru datang ini pinto sendiri yang menangkapnya!” bentak Ok Cin Cu.

“Nanti dulu!” Thian Kek Sengjin memberi komando pada anak buahnya. “Pinto merasa penasaran melihat kesombongan bocah ini. Orang muda, siapakah engkau? Pinto tidak ingin membunuh orang yang tanpa nama.”

Sebelum Sim Houw menjawab, Siu Kwi sudah mendahului. “Dia adalah pendekar Sim Houw, Pendekar Suling Naga! Dan ini adalah sumoi-ku Can Bi Lan!”

Mendengar disebutnya nama Pendekar Suling Naga, dua orang tosu itu saling pandang. Mereka pernah mendengar akan munculnya seorang pendekar baru yang lihai. Akan tetapi mereka tidak merasa takut dan sambil berteriak nyaring, Thian Kek Sengjin sudah menggerakkan tongkat naga hitamnya menyerang ke arah Sim Houw, sedangkan Ok Cin Cu yang memandang rendah Bi Lan yang diperkenalkan sebagai sumoi dari Siu Kwi, sudah menubruk dengan tongkat ular naga menotok jalan darah di pundak Bi Lan, sedang tangan kirinya mencengkeram ke arah dada. Serangan ini amat kurang ajar sifatnya sehingga dengan marah Bi Lan lalu mengelak sambil mencabut pedangnya.

Melihat sinar mengerikan dari pedang yang berada di tangan Bi Lan, Ok Cin Cu terkejut dan bergidik. Akan tetapi dia tidak menjadi takut dan cepat menggerakkan tongkat ular hitamnya untuk menyerang. Bi Lan menangkis dan balas menyerang sehingga terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka.

Ok Cin Cu tidak berani memandang rendah lagi. Gadis yang menjadi sumoi dari Ciong Siu Kwi ini memiliki pedang pusaka amat menggiriskan, juga gerakan-gerakannya tidak kalah cepat dibandingkan suci-nya.

Sementara itu, serangan tongkat naga hitam dari Thian Kek Sengjin juga amat dahsyat, membuat Sim Houw maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh. Terpaksa dia pun mencabut pedangnya. Ketika pedang itu tercabut, terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan pula hati Thian Kek Sengjin. Di antara kedua orang ini pun segera terjadi perkelahian yang seru.

Melihat betapa dua orang tosu itu sudah dilawan oleh sumoi-nya dan Sim Houw, Siu Kwi lalu mengamuk, menerjang puluhan orang penjaga yang mengepung. Amukannya memang menggiriskan dan sebentar saja sudah ada delapan orang pengeroyok yang roboh oleh pedangnya. Yang lain menjadi gentar dan Siu Kwi terus menerjang maju dan mendesak para pengeroyok untuk mundur.

Akhirnya dia berhasil memasuki pekarangan, terus dia meloncat ke dalam dan lari ke bagian belakang bangunan rumah keluarga Lui. Di bagian belakang, dia disambut oleh enam orang penjaga. Tetapi, dengan mudah ia merobohkan lima orang dan menangkap seorang yang hendak melarikan diri.

“Cepat bawa aku ke kamar tahanan Yo Jin!” bentaknya sambil menempelkan ujung pedang di dada orang itu.

Pedang itu menembus baju dan menusuk kulit sehingga kulitnya terluka. Tentu saja penjaga itu terkejut dan ketakutan, mengangguk-angguk dan dengan ditodong pedang dia membawa Siu Kwi ke belakang.

Akhirnya Siu Kwi menemukan Yo Jin yang duduk bersandar dinding di dalam sebuah kamar tahanan. Siu Kwi menampar penjaga itu dengan tangan kirinya. Tanpa mengeluh lagi penjaga itu roboh dan Siu Kwi mempergunakan pedangnya untuk menjebol daun pintu kamar tahanan.

“Kwi-moi akhirnya engkau datang…!” Yo Jin berseru girang. “Jin-koko…!”

Ingin Siu Kwi merangkul orang itu, namun perasaan ini ditahannya. Dia pun melepaskan belenggu kaki dan tangan pemuda itu. Baru beberapa hari saja ditahan, tubuh pemuda ini menjadi kurus sekali dan mukanya pucat.

“Jin-koko, engkau lebih baik pulang dulu ke dusun, biar aku akan menyusul ke sana setelah selesai urusan ini!” katanya cepat. Ia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan ditawan musuh lagi ketika ia sedang mengamuk bersama sumoi-nya dan Sim Houw.

“Tapi kau… kau…”

“Jangan khawatir, aku mampu menjaga diri. Pulanglah, koko, aku akan menyusul nanti.”

Yo Jin mendengar suara ribut-ribut orang berkelahi di luar, maka dia pun mengangguk dan tidak membantah lagi ketika tangannya ditarik okh Siu Kwi, diajak menuju ke kebun. Dua orang penjaga berusaha menghadang, namun dengan tendangan kakinya, Siu Kwi merobohkan mereka.

“Cepat, keluarlah dari pintu ini!” kata Siu Kwi dan sekali dorong, pintu kecil di kebun itu pun jebol.

Melihat kehebatan wanita ini, Yo Jin beberapa kali terbelalak. Dia maklum bahwa wanita yang dicintanya ini adalah seorang wanita sakti, maka tanpa bicara apa-apa lagi dia pun lari keluar dan cepat pulang ke rumahnya di dusun selatan.

Setelah melihat kekasihnya itu menghilang dalam kegelapan malam, Siu Kwi melompat kembali ke dalam kebun, lantas berlari ke dalam rumah. Para pelayan ketakutan, dan dengan mudah Siu Kwi menemukan kepala dusun Lui lengkap beserta isteri-isteri dan anak-anaknya di dalam ruangan belakang. Mereka terjaga oleh belasan orang penjaga, namun setelah ia menyerbu dan merobohkan empat orang, yang lain lalu melarikan diri meninggalkan keluarga itu yang berkelompok sambil menggigil ketakutan.

Lurah Lui dan keluarganya sudah mendengar bahwa Siu Kwi yang dituduh siluman itu sebenarnya adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi, dan hanya kedua orang tosu tua itu saja yang mampu menundukkannya. Namun malam ini wanita itu datang bersama dua orang teman yang juga amat lihai dan kini ‘siluman’ itu telah datang dan menemukan mereka!

Siu Kwi masuk dengan pedang di tangan. Melihat betapa pedang itu berlepotan darah, dan wajah yang cantik itu nampak beringas, sepasang matanya seperti mencorong, lurah Lui dan keluarganya menjadi pucat.

Siu Kwi menyapu mereka dengan pandang matanya, lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Lui- kongcu yang mencoba untuk menyembunyikan kepalanya di belakang punggung ibunya.

“Lui-kongcu, ke sini kau!” bentaknya.

“Tidak… tidak…!” Pemuda itu menggigil ketakutan.

“Ke sini atau akan kuseret dan kubunuh kau!”

Pemuda itu hampir terkencing di celananya saking takutnya, akan tetapi mendengar bentakan itu dia lalu merangkak maju dan berlutut di depan Siu Kwi.

“Engkau juga ke sini, lurah Lui!” bentak Siu Kwi.

Lurah Lui bangkit berdiri dan maju. Dengan congkak akan tetapi pucat dia tetap berdiri, tidak berlutut seperti puteranya. Bagaimana pun juga, dia adalah kepala dusun itu dan sudah biasa orang-orang berlutut di depannya, bukan dia yang harus berlutut.

Siu Kwi tidak peduli akan sikap itu. “Kalian berdua yang membikin gara-gara sehingga Yo Jin ditahan dan ayahnya tewas. Kalian berdua yang membuat aku menderita pula. Pertama-tama adalah gara-gara Lui- kongcu ini yang menjadi biang keladinya. Sudah sepatutnya jika aku memenggal kepalamu sekarang juga!” Siu Kwi lalu mengelebatkan pedangnya.

“Ampun… ampun… tidak… jangan bunuh aku… aku tidak berani lagi!” Kali ini Lui-kongcu benar-benar terkencing di celananya.

Melihat ini, Siu Kwi memandang muak. Alangkah jauh bedanya pemuda ini dengan Yo Jin, pemuda pilihannya. Pemuda ini seperti seekor anjing penakut yang takut digebuk, sebaliknya Yo Jin seperti seekor harimau yang pantang menyerah.

“Engkau telah membuat Yo Jin tersiksa, dan engkau laki-laki mata keranjang penggoda wanita dengan mengandalkan kedudukan ayahmu!” Tiba-tiba nampak sinar berkelebat.

Lui-kongcu menjerit dan darah muncrat. Ketika pemuda itu melihat bahwa lengan kirinya buntung sebatas siku dan darah muncrat-muncrat, dia menjerit-jerit dan lari kepada ibunya, lalu menangis menggerung- gerung dan jatuh pingsan.

Melihat ini, mendadak kedua kaki lurah Lui menjadi lemas dan dia pun roboh berlutut karena kedua lututnya seperti kehilangan tenaga.

“Ampun, lihiap… ampunkan kami…,” ratapnya.

Keluarganya semua berlutut minta-minta ampun. Melihat keluarga lurah itu, hati Siu Kwi menjadi agak lemah, hal yang baru sekarang ia alami.

“Baik, aku takkan membunuhmu. Akan tetapi engkau telah menggunakan kedudukanmu untuk bertindak sewenang-wenang, memperalat pendeta-pendeta palsu dan jahat untuk menghina orang, maka engkau harus diberi pelajaran!” kembali pedangnya berkelebat dan lurah Lui menjerit kesakitan karena kaki kanannya terbabat buntung sampai lutut! Kembali darah muncrat-muncrat dan ketika semua orang menjerit ketakutan, wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Di luar, perkelahian masih berlangsung dengan seru. Tetapi, Ok Cin Cu sudah bermandi keringatnya sendiri. Gerakan lawan yang hanya seorang gadis muda itu memang luar biasa sekali dan terutama sekali pedang di tangan wanita itu membuat dia kadang-kadang menggigil.

Bi Lan memang sudah memainkan ilmu pedang Ban-tok Kiam-sut dan karena ilmu itu dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam, maka bukan main hebatnya. Dia menyerang dengan sungguh-sungguh. Ia merasa sakit hati dan benci sekali mengingat betapa tosu ini telah menipu suci-nya, membujuk suci-nya melayaninya dan menyerahkan tubuhnya untuk menebus keselamatan Yo Jin.

Sakit hatinya mengingat akan hal ini dan kebenciannya terhadap tosu tinggi besar perut gendut ini pun memuncak. Maka dia menyerang untuk membunuh sehingga gerakan-gerakannya membuat tosu itu kalang kabut.

Di lain pihak, Sim Houw juga mendesak lawannya dengan hebat. Kalau pemuda ini menghendaki, sudah sejak tadi dia mampu merobohkan dan membunuh lawan. Akan tetapi, Sim Houw tidak ingin membunuh. Dia tahu bahwa ketua cabang Pek-lian-kauw ini berwatak buruk dan jahat sekali, suka melakukan hal-hal terkutuk di balik topeng perjuangan melawan pemerintah penjajah.

Akan tetapi, dia tidak ingin membunuh, hanya ingin memberi peringatan saja. Ketika dia melihat betapa serangan-serangan Bi Lan merupakan serangan-serangan maut yang amat berbahaya bagi ketua cabang Pat-kwa-kauw, dia terkejut.

“Lan-moi, jangan membunuh orang…!” teriaknya memperingatkan.

Pada saat itu terdengar suara keras dan tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu patah menjadi dua, sedangkan sinar pedang Ban-tok-kiam masih terus menyambar ke arah leher kakek gendut itu!

Untung bahwa Bi Lan masih mendengar teriakan Sim Houw dan dia memang patuh sekali terhadap pemuda ini. Dia tahu bahwa sekali saja tergores Ban-tok-kiam, akan sukarlah menyelamatkan nyawa kakek gendut itu, maka ia menyelewengkan pedangnya ke samping, dan berbareng jari tangan kirinya menusuk ke depan.

“Crotttt…!”

Mata kanan Ok Cin Cu tertembus jari tangan Bi Lan. Kakek itu mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting keras.

Saat itu, pedang suling naga mengeluarkan lengking tinggi dan terdengar suara keras ketika tongkat naga hitam juga patah menjadi tiga potong. Pedang itu masih terus menyambar dan pergelangan tangan kiri Thian Kek Sengjin terbabat putus. Kakek ini pun menjerit dan melompat jauh ke belakang.

Mereka berdua cepat-cepat menotok dan mengurut jalan darah masing-masing untuk menghentikan keluarnya darah dari luka, dan tanpa bicara apa-apa lagi keduanya lalu meloncat dan melarikan diri dari tempat itu. Melihat betapa dua orang tosu itu melarikan diri, para penjaga juga menjadi ketakutan dan menjauhkan diri.

Pada saat itulah Siu Kwi muncul. “Di mana mereka?” tanyanya ketika ia tidak melihat adanya dua orang tosu itu.

“Kami sudah memberi hajaran dan mereka melarikan diri,” kata Bi Lan, lega bahwa Sim Houw memberi peringatan pada saat yang tepat sehingga ia tidak perlu membunuh tosu yang menjadi lawannya tadi.

Lega rasa hati Siu Kwi. Kedua orang tosu itu memang jahat, akan tetapi ia pun tidak memiliki nafsu untuk membunuh mereka. “Sudahlah, terima kasih atas bantuan kalian. Tanpa bantuan kalian, tak mungkin aku dapat membebaskan Yo Jin.”

“Di mana ia sekarang…?” tanya Bi Lan yang ingin sekali melihat bagaimana macamnya pemuda yang dapat merobohkan hati suci-nya yang tadinya dianggap tidak mempunyai hati itu.

“Aku tadi telah membebaskannya dan menyuruhnya pulang ke dusunnya lebih dahulu, baru aku akan menyusulnya.”

“Aih, suci, kenapa begitu saja membiarkan dia pergi sendiri? Bagaimana kalau sampai dia tertangkap musuh lagi?” kata Bi Lan. “Mari kita cepat pergi menyusulnya.”

Bi Lan hanya menggunakan dugaan ini sebagai alasan agar ia bisa ikut pergi menyusul karena ia sungguh ingin sekali bertemu dengan pemuda itu. Penasaran!

“Baik, mari kita pergi,” kata Siu Kwi dan mereka bertiga lalu berlari cepat menuju ke dusun selatan.

Sim Houw diam-diam tersenyum. Ia dapat mengetahui bahwa Bi Lan ingin melihat orang yang mampu menundukkan hati seorang wanita seperti Ciong Siu Kwi, yang tadinya terkenal sebagai Bi-kwi yang kejam dan jahat bukan main. Dia pun tidak mengeluarkan pendapatnya karena dia harus membuktikan bahwa semua peristiwa yang diceritakan Siu Kwi itu benar dan hal ini baru terbukti kalau dia sudah bertemu dengan orang yang bernama Yo Jin itu.

Jika semua ini benar, tak percuma dia membantu Siu Kwi dan menanam permusuhan baru dengan pihak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Bagi seorang pendekar sejati, yang terpenting adalah bahwa setiap tindakannya berdasarkan membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan kelaliman. Tidak peduli untuk perbuatannya itu dia akan dibenci atau dimusuhi orang, karena yang jelas, mereka yang memusuhinya tentu bukanlah orang baik-baik.

Dengan cepat tiga orang itu telah tiba di dusun selatan dan langsung mereka pergi ke rumah keluarga Yo. Namun rumah itu kosong dan Yo Jin tidak berada di situ. Dengan hati khawatir Siu Kwi lalu bertanya kepada para tetangga dan mendengar bahwa tadi pemuda itu telah pulang, tetapi begitu mendengar dari para tetangga bahwa ayahnya telah meninggal dunia, pemuda itu berlari keluar lagi sambil menangis.

“Ahhh, kasihan Jin-koko…,” kata Siu Kwi dengan hati terharu. “Aku tahu, ia pasti pergi mengunjungi kuburan ayahnya…”

Dan mereka pun lalu keluar dari dusun itu, menuju ke sebuah tanah kuburan yang amat sunyi karena letaknya di luar kota, di kaki sebuah bukit. Benar saja, mereka menemukan Yo Jin sedang berlutut dan menangis di depan sebuah kuburan yang masih baru.

“Jin-ko…!” Siu Kwi berseru memanggil.

Pemuda itu bangkit, membalikkan tubuh dan dua orang itu saling pandang dalam cuaca yang remang- remang oleh karena malam itu hanya diterangi oleh bintang-bintang yang bertaburan di langit hitam.

“Kwi-moi…!” Suara pemuda itu terdengar parau karena lama dia tadi menangis. “Jin-koko…!”
Siu Kwi melangkah maju dan entah siapa yang bergerak lebih dahulu, keduanya saling rangkul dan keduanya terisak menangis!

Bi Lan berdiri bengong. Benarkah wanita yang menangis di dada laki-laki itu suci-nya? Benarkah ia Bi-kwi yang biasanya demikian kejam dan keras hati? Terdengar Sim Houw batuk-batuk untuk menyadarkan dua orang yang sedang dilanda keharuan itu bahwa di situ hadir lain orang!

Suara batuk itu menyadarkan mereka dan keduanya melepaskan rangkulan. “Kwi-moi, ayah… ayahku…”

“Tenanglah, Jin-ko. Ayahmu telah meninggal dunia dengan tenang. Ia menghembuskan napas terakhir dalam rangkulanku.”

“Ahh, Kwi-moi, apakah yang telah terjadi? Ceritakanlah…”

“Mari kita duduk dengan tenang dan aku akan menceritakan semuanya, Jin-ko.” “Kita duduk di dekat makam…”

“Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja, Jin-ko, dan bicara di rumah?” “Tidak, malam ini aku tidak akan meninggalkan makam ayah.”

“Biar aku membuat api unggun,” tiba-tiba Bi Lan berkata dan dibantu oleh Sim Houw, ia mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun di dekat makam.

Yo Jin agaknya baru sadar bahwa wanita yang dicintanya itu datang bersama dua orang lain. “Kwi-moi, siapakah mereka ini?”

“Mari kita duduk dekat api unggun dan kuperkenalkan kau pada mereka, Jin-ko. Tanpa adanya bantuan mereka, sampai sekarang pun kita belum dapat berkumpul kembali.”

Mereka berempat lalu duduk di dekat makam, dan mereka mengelilingi api unggun yang dibuat oleh Bi Lan dan Sim Houw. Yo Jin duduk di dekat Siu Kwi, berhadapan dengan Bi Lan yang duduk di dekat Sim Houw. Mereka sejenak saling berpandangan.

Diam-diam Bi Lan harus mengakui bahwa laki-laki pilihan suci-nya itu biar pun nampak berpakaian sederhana, memiliki pandang mata yang jujur dan polos, wajah yang bersih dan cukup ganteng biar pun kesederhanaan dan keluguan membayangkan kebodohan. Dan biar pun pemuda ini seorang lemah, dalam arti tidak mengenal ilmu silat, namun bentuk tubuhnya jantan dan kokoh kuat karena terbiasa bekerja berat di ladang.

Betapa pun juga, sampai saat itu Bi Lan masih belum dapat mengerti dan masih amat terheran-heran memikirkan bagaimana suci-nya dapat jatuh cinta pada seorang pemuda tani sederhana seperti ini. Pada hal kalau ia menghendakinya, suci-nya dapat memiliki pemuda-pemuda terbaik dari kota, putera bangsawan atau hartawan atau malah putera ahli-ahli silat kenamaan sekali pun. Suci-nya cantik jelita, mempunyai ilmu kepandaian tinggi, cerdik dan pendeknya, memiliki segala-galanya untuk dapat menarik hati laki-laki mana pun.

“Jin-ko, mereka berdua ini yang telah membantuku untuk membebaskanmu. Gadis ini bernama Can Bi Lan. Ia adalah sumoi-ku sendiri walau pun tingkat ilmu kepandaiannya jauh melebihiku. Dan pendekar ini adalah Pendekar Pedang Suling Naga bernama Sim Houw, seorang tokoh persilatan yang bernama besar dan terkenal sekali.”

Yo Jin dengan secara sederhana, hanya memberi hormat sambil duduk ke arah mereka, berkata lantang, “Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan ji-wi yang mulia, dan semoga Thian yang akan membalas segala budi kebaikan ji-wi.”

Diam-diam Sim Houw kagum juga. Seorang pemuda dusun, petani yang bodoh dan mungkin buta huruf, namun mengerti akan tata susila dan kesopanan, mengenal budi walau pun pernyataan terima kasihnya itu sederhana saja.

“Saudara Yo Jin, harap jangan sungkan. Tidak ada istilah melepas budi di antara kita,” kata Sim Houw. “Engkau sendiri, walau pun tidak mempunyai keahlian silat telah berani membela nona Ciong, bahkan untuk semua itu selain engkau menderita dan menjadi tawanan, juga ayahmu berkorban nyawa. Dibandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan itu, perbuatan kami tidak ada artinya.”

Mendengar ucapan Sim Houw, diam-diam hati Siu Kwi merasa kagum sekali. Baru kini ia melihat dan mendengar sendiri akan sikap seorang pendekar yang rendah hati. Dulu, tiga orang gurunya, Sam Kwi, selalu menekankan kepadanya bahwa para pendekar adalah manusia-manusia sombong yang selalu memusuhi golongan mereka.

Juga dia merasa senang bukan main mendengar betapa Yo Jin dipuji-puji. Tanpa dia sadari duduknya semakin mendekat pemuda dusun itu dan pandang matanya penuh kebanggaan dan cinta kasih ketika ia menatap wajah di sampingnya itu yang diterangi cahaya api unggun.

“Jin-koko adalah seorang laki-laki yang paling gagah perkasa dan paling hebat yang pernah kukenal. Dia sudah mengorbankan dirinya, bahkan kehilangan ayahnya, untuk membelaku. Berkali-kali dia membelaku mati-matian. Sungguh aku telah berhutang budi padanya, berhutang nyawa. Mulai detik ini, aku tak akan mau berpisah darinya, sampai mati… aku akan mendampinginya sebagai isterinya… karena aku… aku cinta padanya.”

Bagi Sim Houw dan Bi Lan yang telah mengenal Siu Kwi, ucapan yang terang-terangan ini tidak mengherankan, akan tetapi wajah Yo Jin menjadi merah padam dan ia merasa malu bukan main. Akan tetapi kejujurannya melenyapkan perasaan malu itu, dan dia pun hendak menumpahkan isi hatinya secara blak-blakan, selagi di situ ada dua orang lain yang amat berharga untuk menjadi saksi.

“Kwi-moi, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak pertemuan kita yang pertama kali itu, aku takkan merasa lega sebelum hal itu kukemukakan di sini. Biarlah Can-lihiap dan Sim-taihiap ini menjadi saksi.”

Siu Kwi memandang kepada wajah pemuda itu dengan sinar mata berseri. Sikap yang jujur dan terus terang dari pemuda ini merupakan satu di antara watak-watak yang amat dikaguminya. “Bicaralah, Jin-ko.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo