October 3, 2017

Suling Naga Part 14

 

Ketika daun jendela kamar dijebol orang dan beberapa bayangan berloncatan masuk, barulah Bi Lan terkejut. Sebagai seorang gadis yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, begitu terbangun, semua urat syaraf dan otot di dalam tubuhnya sudah siap siaga dan begitu ada orang menubruk ke arah dirinya di atas tempat tidur, cepat disambutnya tubrukan orang itu dengan sebuah tendangan kilat.

“Brukkk…!”

Orang yang menubruknya itu, seorang laki-laki tinggi tegap, terkena tendangan pada dadanya sehingga terlempar dan terbanting jatuh di atas lantai. Bi Lan cepat meloncat bangun. Terkejutlah ia ketika melihat bahwa selain beberapa orang yang tak dikenalnya, di dalam kamar itu terdapat pula orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik, yaitu Bi-kwi dan Bhok Gun! Marahlah Bi Lan karena ia maklum bahwa dua orang itu muncul tentu dengan niat hati yang buruk dan kotor.

“Manusia-manusia jahat, pergilah!” Ia membentak dan ia sudah menerjang ke depan, menyerang Bhok Gun.

Orang ini meloncat ke samping sambil menangkis dan mengejek, “Nona manis, lebih baik menyerah sajalah!”

Akan tetapi, dengan marah Bi Lan menyerang terus, dan kali ini serangannya ditujukan kepada Bi-kwi yang sudah menghadang di depannya. Bi-kwi menangkis dan Bhok Gun sudah menubruk dari samping, bermaksud untuk menotok pundak Bi Lan. Namun gadis ini dapat miringkan tubuh mengelak sambil mencuatkan kakinya menendang ke arah pusar laki-laki itu. Cepat dan kuat tendangannya itu, dan hampir saja mengenai sasaran.

Akan tetapi Bhok Gun melempar tubuh ke belakang sehingga lolos dari tendangan yang berbahaya itu. Pada saat itu, muncul Kim Hwa Nionio. Begitu tangannya bergerak, bulu bulu kebutan di tangannya itu menyambar-nyambar. Pada saat itu, Bi Lan sedang sibuk menghadapi serangan Bi-kwi dan Bhok Gun yang mengeroyoknya. Maka ketika nenek itu menerjang dengan kebutannya, ia tidak mampu menghindarkan diri lagi. Jalan darah di punggung dan pundaknya tertotok dan ia pun roboh dengan tubuh lemas. Semua ini berjalan dengan amat cepatnya sehingga kedatangan Sim Houw sudah terlambat.

“Brakkkk…!”

Daun pintu kamar Bi Lan itu jebol ketika diterjang Sim Houw dari luar. Pemuda ini tadi mendengar ribut- ribut di kamar sebelah, kamarnya Bi Lan! Dia pun cepat mengenakan sepatu, berlari dan menerjang daun pintu kamar temannya itu. Dan Sim Houw berdiri tertegun ketika melihat dan mengenal Bi-kwi dan Bhok Gun, apa lagi melihat betapa Bi Lan telah diringkus dan seorang nenek yang memegang sebatang kebutan memegang lengan gadis itu dan mengancam kepala gadis itu dengan gagang kebutannya.

“Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian mengganggu kami?” Sim Houw berkata dengan sikap tenang, matanya berganti-ganti memandang kepada Bi-kwi, Bhok Gun, dan nenek itu.

“Artinya, orang she Sim, bahwa engkau harus segera mengembalikan Liong-siauw-kiam kepadaku, karena akulah yang berhak atas pusaka itu,” kata si nenek.

“Hemm, siapakah engkau?” Sim Houw bertanya, alisnya berkerut.

Dia mulai membuat perhitungan dengan pandang matanya. Nenek ini tentu lihai sekali dan ancamannya terhadap Bi Lan membuat dia tidak berdaya. Kalau saja Bi Lan tidak diancam seperti itu, tentu dia dapat menerjang dan mengajak gadis itu meloloskan diri dari kepungan. Akan tetapi gadis itu telah ditodong, kalau dia bergerak, tentu nenek itu lebih cepat untuk lebih dulu membunuh Bi Lan.

“Aku adalah Kim Hwa Nionio, murid tunggal dari mendiang Pek-bin Lo-sian…”

“Hemmm…!” Pernyataan ini sungguh mengejutkan hati Sim Houw karena tidak pernah disangkanya bahwa dia akan berhadapan dengan murid kakek itu yang dahulu sudah memperingatkan dia agar berhati-hati terhadap Sam Kwi, tiga orang murid keponakan kakek itu.

“Hi-hi-hik, engkau nampak terkejut, orang muda? Aku adalah muridnya, murid tunggal. Maka engkau tentu mengerti bahwa pedang suling pusaka itu adalah hakku untuk mewarisinya dari suhu, bukan engkau seorang luar. Nah, serahkan pedang pusaka itu kepadaku atau… kebutanku akan menghabiskan nyawa anak perempuan ini!”

“Sim-toako, jangan layani ia! Jangan serahkan pedang pusakamu kepadanya. Biar ia membunuhku, huh, ia takkan berani!”

“Orang she Sim, majulah dan gadis ini akan mampus!” Kim Hwa Nionio menempelkan gagang kebutannya pada ubun-ubun kepala Bi Lan. Sekali tekan saja cukup baginya untuk membunuh gadis itu dan hal ini dimaklumi oleh Sim Houw.

“Baiklah, Kim Hwa Nionio. Engkau bebaskan gadis itu dan aku akan memberikan Liong-siauw-kiam kepadamu.”

“Jangan, sukouw (bibi guru)! Aku pernah ditipunya. Kalau Siauw-kwi dibebaskan, dia akan menyerahkan pedang akan tetapi segera akan merampasnya kembali! Jangan bebaskan dulu bocah setan itu!” teriak Bi- kwi dan ia pun kini mendekati Bi Lan dan mengancam dengan menempelkan pedangnya di punggung Bi Lan.

“Bi-kwi, engkau memang orang yang jahat sekali!” Bi Lan membentak marah.

“Dan engkau seorang murid yang murtad!” Bi-kwi balas memaki.

“Serahkan dulu pedang itu dan kami akan membebaskan gadis ini,” kata pula Kim Hwa Nionio dengan penuh gairah karena ia membayangkan bahwa pusaka itu akhirnya akan jatuh ke tangannya. “Cepat, atau aku akan kehabisan sabar dan membunuh anak ini!”

Sim Houw maklum bahwa dengan tertawannya Bi Lan, berarti dia telah kalah. “Baiklah,” katanya sambil melepaskan tali pengikat sarung pedang itu di pinggangnya.

“Jangan, Sim-toako, engkau akan ditipunya Mereka ini adalah orang-orang yang sangat jahat, yang tidak pantang melakukan segala macam kecurangan. Jangan pedulikan aku, lawan saja dan jangan serahkan pedang!” teriak Bi Lan.

“Diam kau!” bentak Bi-kwi. “Apa kau ingin mampus?”

“Bi-kwi, kau tahu bahwa aku tidak takut mampus!” Bi Lan balas membentak, matanya melotot, sedikit pun ia tidak merasa takut walau pun ia sudah tidak berdaya.

“Kim Hwa Nionio, berjanjilah bahwa engkau akan membebaskan nona Can Bi Lan setelah aku menyerahkan Liong-siauw-kiam kepadamu.”

Bagi seorang datuk sesat seperti Kim Hwa Nionio, berjanji merupakan suatu silat lidah atau tipu muslihat saja, maka tanpa ragu-ragu ia pun berjanji, “Baik, aku berjanji akan membebaskan gadis ini setelah Liong- siauw-kiam kau serahkan kepadaku.”

Meski ia belum percaya benar kepada nenek itu, akan tetapi karena keadaan memaksa untuk menyelamatkan Bi Lan, terpaksa Sim Houw melolos pedang dan sarungnya dan menyerahkannya kepada si nenek.

Melihat nenek itu hendak menyambut, cepat Bi-kwi berseru, “Jangan, sukouw. Suruh seorang anak buah menerimanya.”

Ia pun cepat menyuruh seorang pengawal menerima pedang itu dari tangan Sim Houw. Memang Bi-kwi ini cerdik sekali. Karena yang menerimanya hanya seorang pengawal biasa, Sim Houw tidak dapat berbuat sesuatu dan terpaksa menyerahkan pedang itu. Pengawal itu pun membawanya kepada Kim Hwa Nionio yang menerimanya, kemudian mencabut pedang itu, tertawa-tawa dan mencium pedang suling naga itu.

“Liong-siauw-kiam…, akhirnya engkau kembali ke pangkuan majikan lama…,” dan nenek itu tertawa-tawa, akan tetapi kedua matanya basah. Ternyata saking girangnya nenek itu sampai mengeluarkan air mata.

“Kim Hwa Nionio, sekarang bebaskan nona itu,” kata Sim Houw, sikapnya masih tenang walau pun pedang pusakanya telah dirampas orang.

“Bukan aku yang menangkapnya, mintalah kepada mereka yang menangkapnya untuk membebaskannya,” kata nenek itu dengan sikap acuh.

Hal ini memang sudah dikhawatirkan oleh Sim Houw. Dia memandang dengan muka merah dan membentak, “Nenek iblis, sungguh kau bermuka tebal dan tak tahu malu melanggar janji sendiri!”

“Srattttt…” Pedang suling naga itu sudah tercabut oleh Kim Hwa Nionio.

“Tutup mulutmu yang lancang, orang muda! Yang menawan nona ini bukan aku. Kalau aku yang menawannya, sekarang tentu aku bebaskan. Lihat, siapa yang menawannya sekarang?”

Bi-kwi tersenyum mengejek. “Akulah yang menawannya dan aku tidak berjanji apa-apa kepada orang she Sim ini!”

“Subo, orang ini merupakan bahaya bagi kita. Sebaiknya dia pun dibasmi atau ditawan saja!” kata Bhok Gun.

“Singgg…!”

Tiba-tiba pedang kayu yang berbentuk naga itu menyambar ke arah Bi Lan. Dan berhamburanlah rambut kepala Bi Lan. Tidak kurang dari satu dim panjangnya ujung rambut itu sudah putus oleh sinar Liong-siauw- kiam yang tadi menyambar, diiringi suara ketawa nenek itu, dan dipandang dengan penuh kagum oleh Bi- kwi dan Bhok Gun.

Mereka tak pernah mengira bahwa pedang kayu itu sedemikian hebatnya, dan juga Sim Houw diam-diam terkejut. Dia tahu bahwa tadi nenek itu sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya, dan cara nenek itu mempergunakan pedang suling naga memang luar biasa. Jelas bahwa nenek itu, seperti halnya Pek-bin Lo-sian gurunya, telah mempelajari semacam ilmu tersendiri untuk mempergunakan pedang itu.

“Kalau aku menghendaki, bukan rambutnya melainkan lehernya yang putus, heh-heh!” nenek itu tertawa girang.

Sim Houw maklum bahwa dia telah tertipu. Dia menjadi marah bukan main. “Keparat, kalian memang orang-orang jahat dan curang!”

Dia pun menerjang maju dengan tangan kosong saja, menyerang ke arah nenek Kim Hwa Nionio! Biar pun hanya bertangan kosong, namun dari kedua tangan pemuda itu menyambar hawa pukulan yang sangat hebat, mendatangkan angin yang menyambar dahsyat.

Kim Hwa Nionio terkejut. Cepat ia menggerakkan kebutannya untuk menangkis kedua serangan dengan kedua tangan itu. Bulu-bulu kebutannya yang menjadi kaku karena disaluri tenaga sinkang itu terpental ketika bertemu dengan kedua tangan Sim Houw, akan tetapi pada saat itu, nenek yang lihai ini juga membalas dengan tusukan pedang Liong siauw-kiam yang sudah berada di tangannya, menusuk ke arah leher lawan.

Tusukan ini berbahaya sekali, namun Sim Houw yang memang memancing agar nenek itu menggunakan Liong-siauw-kiam, telah miringkan tubuh dan tangannya diputar untuk menangkap dan merampas pedangnya!

Pada saat itu, Bhok Gun sudah memyerangnya dari belakang dengan tusukan pedang. Serangan ini amat mengganggu pencurahan tenaga dan kecepatan Sim Houw untuk merampas pedang karena dia harus mengelak dari tusukan yang dilakukan Bhok Gun, maka nenek itu dapat menarik kembali Liong-siauw- kiam.

Wajah nenek itu agak pucat karena ia tahu bahwa ia telah terpancing mempergunakan pedang itu dan sekiranya tadi muridnya tidak membantu, besar sekali kemungkinannya pusaka itu akan dapat dirampas kembali oleh Pendekar Suling Naga yang memang lihai bukan main ini! Cepat nenek itu melangkah mundur, menyimpan pedang pusaka di balik jubahnya.

Kini ia maju lagi menyerang dengan menggunakan kebutannya, membantu Bhok Gun yang sudah terdesak hebat oleh Sim Houw. Ketika kebutan itu meledak dan menyerang ke arah kepala, Sim Houw mengakhiri desakannya dengan sebuah tendangan yang mengenai lambung Bhok Gun.

Bhok Gun telah mengerahkan sinkang melindungi lambungnya. Tetapi saking kerasnya tendangan kaki Sim Houw, tubuhnya terlempar dan terbanting keras ke atas meja kamar itu, membuatnya nanar!

Kim Hwa Nionio berkelahi dengan hebatnya melawan Sim Houw. Pendekar ini merasa betapa kamar itu terlalu sempit, maka dia pun meloncat keluar melalui pintu yang tadi diterjangnya. Setelah tiba di ruangan luar kamar, dia telah dikepung oleh para prajurit dan kini Kim Hwa Nionio maju lagi bersama Bhok Gun yang sudah dapat memulihkan keadaannya. Dia tidak terluka, hanya terkejut dan agak nanar saja oleh tendangan tadi.

Dan terjadilah pengeroyokan yang amat seru. Biar pun Pendekar Suling Naga sudah kehilangan senjata pusakanya, namun sepak terjangnya masih amat hebat sehingga biar pun dikeroyok dua oleh Kim Hwa Nionio dan Bhok Gun, masih dikepung oleh dua puluh lebih prajurit, dia sama sekali tidak nampak terdesak. Bahkan setiap kali ada prajurit berani mencoba-coba untuk membantu nenek itu, prajurit ini tentu roboh oleh tamparan atau tendangan kakinya.

Bhok Gun sendiri agak jeri dan hanya menyerang dari jarak jauh mengambil keuntungan dari pedangnya menghadapi lawan bertangan kosong itu. Hanya Kim Hwa Nionio yang berani menyerang pemuda itu dari jarak dekat dan secara bertubi-tubi, dan nenek itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya, karena kalau tidak, keselamatannya pun terancam. Sim Houw memang menujukan serangan-serangannya kepada nenek ini, untuk merobohkannya dan untuk merampas senjata pusakanya.

Hebat memang sepak terjang Sim Houw, Si Pendekar Suling Naga itu. Lawannya, nenek Kim Nwa Nionio adalah seorang yang sakti, mewarisi hampir seluruh kepandaian mendiang Pek-bin Lo-sian, dan dibantu pula oleh muridnya, Bhok Gun yang juga lihai sekali. Guru dan murid itu memegang senjata, akan tetapi Sim Houw yang bertangan kosong dan dikeroyok dua itu sama sekali tidak menjadi terdesak.

Pemuda ini mengamuk bagaikan seekor naga yang bermain-main di antara awan hitam di angkasa. Gerakan-gerakannya mantap dan mengandung tenaga yang sangat kuat sehingga beberapa kali Bhok Gun terpaksa harus agak menjauh karena angin pukulan lawan teramat kuat.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dari Bi-kwi. “Ha-ha-ha, Sim Houw, lihat. Apakah engkau belum juga mau menyerah? Aku akan membunuh Can Bi Lan, menggorok lehernya kalau kau tidak mau menyerah.”

Dengan sudut matanya Sim Houw memandang sambil melayani serangan dua orang pengeroyoknya dan jantungnya hampir berhenti ketika dia melihat betapa Bi-kwi benar-benar telah menempelkan pedangnya yang tajam itu di leher Bi Lan! Pedang yang tajam itu sudah ditekankan dan nampak betapa kulit leher yang putih mulus dan halus itu tertekan mata pedang.

Dia tahu bahwa Bi Lan tertotok, tidak mampu mengerahkan tenaga dan sedikit saja pedang itu ditekan, maka kulit dan daging leher itu akan koyak dan tersayat, urat-urat leher akan putus dan nyawa Bi Lan tidak akan dapat tertolong lagi. Dan dia pun tidak berdaya dalam keadaan seperti itu untuk membebaskan Bi Lan dari ancaman pedang Bi-kwi. Tanpa berpikir panjang lagi dia pun meloncat jauh ke belakang.

“Tahan dulu!” bentaknya.

Kim Hwa Nionio cepat mendekati Bi-kwi. Nenek yang cerdik ini maklum bahwa tentu perhatian lawan kini ditujukan kepada Bi-kwi yang menodong gadis itu, maka Bi-kwi yang harus dijaganya dan diperkuat kedudukannya.

“Nah, begitu jauh lebih baik, Sim Houw. Menyerahlah, karena engkau telah melawan pasukan pemerintah, berarti bahwa engkau telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah! Kalau engkau menyerah dengan baik-baik, mungkin kami masih akan dapat mempertimbangkan agar hukuman kalian ringan saja,” kata pula Bi-kwi dengan sikap seperti seorang pembesar yang baik hati.

Dalam keadaan negara kalut, memang amat mudah bagi seseorang untuk menjatuhkan fitnah. Apa lagi mereka yang berada dalam kedudukan menang dan berkuasa, dengan mudahnya menjatuhkan fitnah ‘memberontak’ kepada orang-orang yang menjadi musuh atau yang tidak disukainya.

“Sim Houw, jangan pedulikan mereka! Serang terus atau kau loloskan diri! Jangan kau pedulikan diriku. Mereka boleh siksa, boleh bunuh, aku tidak takut mati!” teriak Bi Lan dengan marah sekali.

Akan tetapi, mana mungkin Sim Houw bisa meninggalkan gadis itu begitu saja menjadi tawanan orang- orang yang jahat ini? “Baiklah, aku menyerah dan jangan ganggu nona Can Bi Lan.” Dia pun berdiri dengan lemas.

Bi-kwi kemudian menyuruh para anak buahnya untuk mengikat kaki tangan Sim Houw dengan rantai baja yang kuat, lalu beramai-ramai mereka membawa Sim Houw dan Bi Lan menuju ke gedung yang menjadi markas Kim Hwa Nionio dan para pembantunya.

Para tamu, bahkan pengurus penginapan yang tadi mendengar ribut-ribut dan keluar dari dalam kamar, segera bersembunyi lagi ke kamar masing-masing dengan tubuh gemetar ketika mereka tahu bahwa keributan itu terjadi karena pasukan keamanan kota raja sedang mengadakan ‘pembersihan’ di rumah penginapan itu. Mereka hanya berdoa bahwa pasukan itu tak akan memasuki kamar mereka untuk melakukan penggeledahan.

Karena kalau hal itu terjadi, andai kata mereka tidak ditangkap pun, setidaknya mereka akan kehilangan barang berharga dan uang yang berada di dalam kamar mereka! Hal ini sudah diketahui oleh semua orang. Setiap kali anak buah pasukan keamanan itu melakukan penggeledahan, tentu kesempatan itu mereka pergunakan untuk mengambil barang-barang berharga dan uang milik orang yang sedang digeledah tanpa orang itu mampu memprotes. Tidak ditahan pun sudah untung, maka orang-orang yang diambil barang- barangnya itu merasa lebih aman tutup mulut saja.

Bukan hanya barang berharga yang diganggu, juga kalau ada wanita muda dan bersih, tentu tidak akan terbebas dari gangguan tangan-tangan jail para anak buah pasukan itu. Karena itu, setiap kali ada pembersihan, rakyat sudah gemetar ketakutan.

Akan tetapi sekali ini, agaknya para pimpinan itu sudah puas ketika dapat menangkap Sim Houw dan Bi Lan. Terutama sekali Kim Hwa Nionio sudah puas dan girang karena berhasil mendapatkan kembali pusaka yang pernah oleh gurunya diberikan kepada orang lain. Pergilah pasukan itu membawa dua orang tawanannya ke gedung besar itu dan kedua orang tawanan ini dijebloskan ke dalam kamar tahanan yang kuat dan terjaga ketat, dan kaki tangan mereka masih dibelenggu, tubuh mereka ditotok pula…..

********************

Usia pemuda yang memasuki rumah makan dengan langkah yang tegap dan tenang itu paling banyak dua puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar, kulit mukanya agak kehitaman seperti muka yang sering kali tertimpa panas matahari. Akan tetapi wajah itu gagah dan bentuknya tampan, sepasang matanya memandang lurus dan tajam, penuh keberanian dan kejujuran, namun juga mengandung bayangan hati keras.

Pemuda ini membawa sebuah buntalan pakaian dan jubahnya yang lebar serta panjang menutupi apa yang tersembunyi di ikat pinggangnya. Dia segera menghampiri sebuah meja yang masih kosong di sudut dan dari situ dia dapat memandang ke seluruh ruang rumah makan itu yang telah diisi oleh belasan orang tamu yang makan siang di tempat itu.

Pemuda itu adalah Cu Kun Tek, pendekar muda dan gagah dari Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya itu. Seperti kita ketahui, pemuda ini menderita kecewa karena cintanya ditolak oleh Bi Lan, bahkan dia dicemooh. Salahnya sendiri. Dia telah bersikap tolol sekali terhadap Bi Lan, sikap yang tentu menyakitkan hati gadis itu.

Dia menyalahkan dirinya sendiri menghadapi penolakan Bi Lan. Hatinya terasa sakit dan kesepian setelah dia melakukan perjalanan seorang diri, tanpa gadis itu. Dia pergi meninggalkan lembah untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Siapa kira, di tempat itu dia malah jatuh cinta dan sekaligus patah hati karena cinta gagal!

Tiba-tiba dia melihat ada seorang pemuda masuk ke dalam restoran itu dan jantungnya berdebar keras ketika dia mengenal pemuda itu. Pemuda yang pernah menyerangnya mati-matian karena cemburu melihat hubungannya dengan Bi Lan! Pemuda yang gagah perkasa dan lihai bernama Gu Hong Beng, yang agaknya juga jatuh cinta kepada Bi Lan dan ditolak oleh gadis itu. Diam-diam Kun Tek tersenyum dalam hati. Senyum pahit. Pemuda yang baru masuk ini mengalami nasib yang sama dengan dia. Sama- sama ditolak cintanya oleh Bi Lan, sama-sama patah hati.

Di lain pihak, Hong Beng juga melihat dan mengenal Kun Tek. Hatinya berdebar dan dia pun merasa tidak enak sekali. Bukan hanya karena dia menganggap Kun Tek sebagai seorang saingan, tetapi karena dia pernah menyerang pemuda itu secara membabi buta karena cemburu.

Peristiwa itulah yang membuat dia merasa malu sekali dan dia pura-pura tidak melihat Kun Tek, menghampiri meja di sudut lain yang menghadap ke luar sehingga meja Kun Tek berada di seberang kirinya. Dengan demikian, dia tidak usah berhadapan langsung dengan pemuda itu yang agaknya saling mencinta dengan Bi Lan!

Melihat sikap Hong Beng, Kun Tek juga diam saja. Dia pun merasa tidak enak hati. Kini dia dapat membayangkan betapa sakit rasa hati Hong Beng ketika itu, ketika melihat gadis yang dicintanya itu diraba-raba kulit pinggangnya oleh seorang pemuda lain! Dia bisa mengerti akan kemarahan Hong Beng yang langsung menyerangnya seperti orang mabok itu.

Dan kini, dia sendiri dapat merasakan betapa sakitnya hati menderita cinta yang gagal, cinta yang hanya bertepuk tangan sebelah. Perasaan senasib sependeritaan membuat Kun Tek memandang ke arah Hong Beng dengan sinar mata akrab dan bersahabat, berbeda dengan sikap Hong Beng yang merasa tidak enak dan biar pun hanya bersisa sedikit, masih ada perasaan iri terhadap pemuda yang dianggapnya menjadi pilihan hati Bi Lan itu.

Kebetulan sekali, kedua orang pemuda itu tanpa disengaja memesan makanan yang sama, yaitu bakmi goreng, bebek panggang dan arak! Hong Beng sebagai orang yang berasal dari selatan, lebih biasa makan nasi dan memesan nasi, sedangkan Kun Tek tidak, cukup dengan bakmi.

Mereka berdua makan tanpa saling tegur atau lirik dan makanan mereka hampir habis pada saat tiba-tiba restoran itu ramai dikunjungi banyak orang. Akan tetapi, dua orang pemuda itu melihat betapa para pengurus rumah makan itu menjadi pucat ketakutan dan mereka itu berkelompok di belakang meja pemilik restoran dengan tubuh gemetar. Juga para tamu lain memandang dengan ketakutan ke arah orang-orang yang baru saja tiba itu.

Pada waktu Kun Tek dan Hong Beng memandang ke luar, mereka berdua pun terkejut. Mereka mengenal siapa adanya wanita cantik dan pemuda tampan yang memimpin rombongan orang itu. Hong Beng telah mengenal Bhok Gun dan Bi-kwi, pernah bentrok dengan mereka ketika dia menolong Bi Lan. Juga Kun Tek pernah menolong Bi Lan dari tangan Bhok Gun, maka kedua orang pemuda itu diam-diam bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Bhok Gun dan Bi-kwi menyapu ruang rumah makan itu dengan pandang mata mereka penuh selidik. Akhirnya mereka melihat Hong Beng dan Kun Tek. Tentu saja mereka terkejut dan sekali melihat Kun Tek yang pernah menolong Bi Lan dari tangannya, Bhok Gun sudah marah. Sambil menunjuk ke arah pemuda itu, dia memerintahkan anak buahnya yang berjumlah duapuluh empat orang.

“Tangkap bocah itu. Dan kalau dia melawan, keroyok dan bunuh saja!”

Bagaikan anjing-anjing pemburu yang sudah terlatih baik, dua puluh orang lebih itu lalu menyerbu ke dalam ruangan itu. Meja kursi yang menghalang di tengah jalan mereka tendang dan singkirkan sehingga sebentar saja tempat itu menjadi porak poranda. Para tamu yang lain sudah bangkit berdiri dan dengan wajah ketakutan menyingkir ke pinggir, berkelompok bersama dengan pemilik dan para pelayan restoran. Yang masih tetap duduk hanya Hong Beng dan Kun Tek. Kun Tek kelihatan tenang saja ketika banyak orang itu menghampiri dan mengepungnya.

“Orang muda, menyerahlah untuk kami tawan, dari pada kami harus mempergunakan kekerasan!” bentak seorang pengawal yang bermuka kasar penuh bopeng (cacar).

Kun Tek menghirup arak yang masih tertinggal di dalam cawannya, lalu bangkit berdiri dan melempar cawan kosong ke atas meja. “Aku tidak bersalah, maka aku tidak sudi menyerah kepada anjing-anjing serigala!” bentaknya.

Kun Tek menyambar buntalan pakaiannya dan dengan sikap tenang dia mengikatkan buntalan pakaian itu di punggung, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah-olah dia tidak sedang diancam dan dikepung oleh banyak lawan.

Mendengar ucapan Kun Tek dan melihat sikap pemuda yang amat memandang rendah mereka, para prajurit keamanan itu menjadi marah sekali. Mereka ini menjadi semakin tinggi hati saja setelah menjadi anak buah yang dipimpin oleh Bi-kwi dan Bhok Gun, sebab mereka maklum betapa saktinya dua orang pimpinan mereka dan betapa mereka tak pernah gagal menangkap orang. Dalam setiap pembersihan, selalu mereka berhasil baik dan mereka selalu pulang dengan semua kantung di baju mereka penuh barang berharga.

Si muka bopeng yang memandang rendah pemuda di depannya itu, memberi isyarat dan bersama tiga orang kawan lain, mereka menubruk maju hendak menangkap Kun Tek. Akan tetapi, pemuda ini menggeser kakinya, dua tangannya menyambar mangkok dan cawan, kakinya menendang meja. Meja itu terlempar dan menghantam dua orang di antara empat pengeroyok itu, sedangkan yang dua orang lagi, termasuk si muka bopeng, kena dihantam mangkok dan cawan muka mereka.

Keempat orang itu mengaduh-aduh dan terjengkang. Wajah Si muka bopeng yang tadi disambar mangkok itu berdarah dan membuat mukanya semakin buruk lagi. Jika sudah sembuh luka karena tertusuk pecahan mangkok itu, tentu cacat mukanya yang bopeng itu bertambah!

Melihat ini, kawan-kawan empat orang itu menjadi marah dan mereka pun menerjang maju mengeroyok Kun Tek. Tapi tiba-tiba berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Hong Beng sudah menerjang masuk ke dalam arena perkelahian itu.

“Maafkan, aku terpaksa mencampuri, sobat. Mari kita basmi anjing-anjing busuk ini!”

Mendengar ucapan Hong Beng, Kun Tek merasa girang sekali. Dia tidak membutuhkan bantuan, akan tetapi bantuan dari Hong Beng ini menunjukkan bahwa Hong Beng sudah melupakan semua hal yang pernah terjadi dan tidak lagi marah kepadanya.

“Terima kasih, bantuanmu kuhargai sekali!” katanya dan dengan gembira dia pun lantas mengamuk dengan kedua tangan telanjang saja.

Tentu saja dua puluh lebih orang-orang ini bukan lawan tangguh dan mereka segera kocar-kacir oleh amukan kedua orang pemuda perkasa. Bhok Gun dan Bi-kwi segera memasuki gelanggang perkelahian dan keduanya sudah menggunakan pedang mereka, menerjang Kun Tek dan Hong Beng.

Kun Tek dan Hong Beng melayani mereka dengan kelincahan gerakan mereka. Hanya dengan tangan kosong, dan kadang-kadang menyambar pecahan meja atau kaki kursi, mereka berdua bukan hanya mampu menangkis semua serangan lawan, bahkan dapat membalas dengan tidak kalah berbahayanya. Kun Tek yang menghadapi Bhok Gun bahkan tak merasa perlu mengeluarkan pedangnya, pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang oleh ayahnya sudah dipesan supaya tidak sembarangan dikeluarkan kalau tidak terpaksa sekali.

Hong Beng yang sudah melakukan penyelidikan di kota raja dan maklum bahwa dia dan pemuda tinggi besar itu menghadapi pasukan yang melakukan pembersihan, pasukan pemerintah yang entah bagaimana kini bisa dikuasai oleh orang-orang macam Bi-kwi dan Bhok Gun lalu cepat berkata kepada Kun Tek, “Sobat, mari kita pergi!”

“Kenapa kita malah harus pergi? Aku tidak takut akan pengeroyokan mereka!” Kun Tek membantah, merasa penasaran karena mereka berdua sama sekali tidak terdesak.

“Orang-orang ini adalah pasukan pemerintah, tidak baik kita melawan mereka. Nanti aku ceritakan. Percayalah, mari kita pergi!” berkata pula Hong Beng dan dia pun meloncat keluar dari arena pertempuran.

Kun Tek meloncat ke kiri, merobohkan seorang prajurit dan dia pun lari mengikuti Hong Beng. Dengan cepat kedua orang pemuda itu melarikan diri, dikejar oleh pasukan itu. Karena anak buah pasukan mengejar dengan kacau balau, maka gerakan Bi-kwi dan Bhok Gun yang hendak melakukan pengejaran malah terhalang oleh anak buah mereka sendiri. Bi-kwi dau Bhok Gun merasa mendongkol dan marah sekali, juga kecewa.

Mereka segera melapor kepada Kim Hwa Nionio dan itulah sebabnya mengapa kini mereka bergerak lebih hati-hati. Mereka tahu bahwa banyak orang pandai memasuki kota raja dan mereka tidak berani bertindak secara sembrono. Dan itulah pula sebabnya ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki kota raja beberapa hari kemudian, mereka tidak tergesa-gesa turun tangan dan menarik bantuan Kim Hwa Nionio sendiri untuk turun tangan, dan lebih menggunakan akal licik dari pada kepandaian mereka.

Hong Beng terus melarikan diri dan diikuti oleh Kun Tek sampai mereka merasa aman, berbaur dengan orang-orang yang memenuhi jalan raya dan berlalu lalang. Hong Beng lalu mengajak Kun Tek menuju ke sebuah kuil tua.

Semenjak kembali dari Pao-teng mengunjungi Kao Cin Liong, oleh bekas panglima itu dia diberi tahu agar kalau berada di kota raja, dia bermalam atau bersembunyi di kuil itu. Ketua kuil itu, seorang hwesio yang usianya sudah enam puluh tahun lebih dan kini tinggal di situ bersama dua orang hwesio tua lainnya, adalah seorang sahabat dari pendekar Kao Cin Liong.

Dan kini Hong Beng bermalam di situ, diterima baik oleh tiga orang hwesio itu ketika dia menyebutkan nama Kao Cin Liong sebagai paman gurunya. Dengan aman kini kedua orang muda itu memasuki kuil dan Hong Beng langsung membawa kawannya itu ke dalam ruangan yang kecil di belakang kuil.

“Nah, di sini kita bisa bicara dengan aman,” kata Hong Beng sambil memandang wajah Kun Tek.

Kun Tek semenjak tadi memperhatikan tempat itu sambil mengangguk-angguk. “Engkau pandai memilih tempat sembunyi, kawan.”

“Sebelum kita bicara, ingin aku lebih dulu mengeluarkan perasaan tidak enak di dalam hatiku. Aku ingin… minta maaf kepadamu atas peristiwa yang terjadi dalam pertemuan kita yang lalu. Maafkan atas kebodohanku, karena cemburu adalah suatu kebodohan besar, bukan? Maafkan aku.”

Kun Tek tersenyum. “Sudah lama aku memaafkanmu, sobat. Dan kalau dulu aku masih merasa penasaran karena belum tahu, kini aku memaklumi perbuatanmu itu. Aku tahu apa artinya patah hati, betapa pahitnya cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan.”

Hong Beng memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik ke arah wajah Kun Tek. “Kau maksudkan… kau… dan Bi Lan…?”

Kun Tek mengangguk. “Kita senasib, kawan. Supaya kau ketahui saja dan agar engkau tidak menyimpan iri atau cemburu kepadaku. Seperti juga engkau, cintaku ditolak. Nah, kita berdua ini sama-sama dua ekor keledai jantan yang tolol, bukan?”

Hong Beng melebarkan matanya, kemudian dia memegang lengan Kun Tek. “Ahhh, maafkan aku! Engkau seorang laki-laki sejati. Nah, aku Gu Hong Beng sudah lama kagum kepadamu, sobat.”

“Dan aku pun kagum kepadamu. Namaku Cu Kun Tek.”

“Ketika kita bertempur, engkau menggunakan sebatang pedang yang hebat. Kenapa tadi tidak kau pergunakan?”

Kun Tek menepuk pinggangnya di mana pedang itu tergantung, terlindung oleh jubah panjangnya. “Dahulu ayahku berpesan agar kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak boleh mempergunakan pusaka keluarga kami ini. Dahulu ketika melawanmu, aku terpaksa. Engkau lihai bukan main dan agaknya engkau memiliki ilmu- ilmu dari Pulau Es.”

Hong Beng mengangguk, tanpa merasa bangga. “Aku hanya menguasai sedikit saja dari ilmu-ilmu keluarga Pulau Es walau pun suhu-ku adalah seorang anggota keluarga para pendekar Pulau Es. Akan tetapi ilmu pedangmu hebat bukan main.”

“Ahh, ilmu keluarga kami belum apa-apa jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu dari Pulau Es. Nah, setelah kini kita menjadi sahabat, ceritakanlah mengapa engkau mengajak aku melarikan diri tadi, padahal kita belum tentu kalah kalau pertempuran itu dilanjutkan.”

“Ketahuilah, Kun Tek, bahwa wanita tadi adalah Bi-kwi murid dari Sam Kwi…” “Aku pernah mendengar nama Sam Kwi…”

“Ia masih suci dari… eh, Bi Lan. Kau tahu, Bi Lan adalah murid Sam Kwi, akan tetapi ia mengambil jalan lain dari pada jalan sesat guru-gurunya, bahkan Bi Lan telah diambil murid oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir…”

“Hemmm… kenapa kau membawa-bawa nama nona Can dalam percakapan ini?” Kun Tek mencela. Dia tak senang karena nama itu mengingatkan dia akan pengalamannya yang amat pahit.

Hong Beng tersenyum pahit. “Tidak apa-apa, hanya karena memang ada hubungannya. Bi-kwi itu, bersama pria tadi yang bernama Bhok Gun, kini telah berhasil menjadi dua orang di antara kaki tangan pembesar yang bernama Hou Seng, pembesar yang kini merajalela di dalam istana. Banyak pembunuhan dilakukannya, membunuhi pembesar-pembesar yang menjadi saingannya. Agaknya dia berhasil pula menggandeng panglima pasukan keamanan. Buktinya, sekarang pasukan-pasukan itu berkeliaran di kota dan melakukan pembersihan di mana-mana, dipimpin oleh Bhok Gun dan Bi-kwi yang jahat itu. Kita tidak seharusnya menentang pasukan keamanan, sebab hal itu dapat membuat kita dicap pemberontak. Yang kita tentang hanyalah kaum sesat yang kini menjadi kaki tangan pejabat-pejabat tinggi. Di antara datuk sesat itu, aku sedang mencari seorang yang bernama Sai-cu Lama…”

“Hemm, aku pun pernah mendengar nama Sai-cu Lama itu dari ayahku. Menurut ayah, Sai-cu Lama adalah seorang tokoh di antara para pendeta Lama yang sakti di Tibet, dan kabarnya Sai-cu Lama adalah seorang pendekar Lama yang menyeleweng dari pada ajaran agamanya.”

“Memang benar keterangan ayahmu itu, dia amat jahat. Aku tadinya menerima tugas dari suhu-ku untuk melakukan penyelidikan atas diri pembesar bernama Hou Seng itu. Akan tetapi di dalam perjalanan, aku bertemu dengan Sai-cu Lama, dan melihat sepak terjangnya yang jahat. Dia telah merampas pedang milik Bi Lan, bahkan kemudian aku melihat dia menculik anak perempuan, puteri dari bibi guruku. Karena itu, aku kini sedang menyelidiki di mana adanya Sai-cu Lama itu, dan siapa-siapa pula yang menjadi kaki tangan pembesar bernama Hou Seng itu.”

Dengan panjang lebar Hong Beng bercerita tentang keadaan di kota raja seperti yang sudah diselidikinya sehingya akhirnya Kun Tek mengerti dan pemuda ini pun tertarik sekali. “Kalau begitu, pembesar she Hou itu jahat sekali, dan perlu dibasmi!”

Hong Beng menggelengkan kepala. “Tidak semudah itu, sobat. Dia sedang berkuasa di istana, dipercaya oleh kaisar. Sedangkan peringatan para pembesar yang tua dan setia saja diabaikan oleh kaisar. Dan usaha mereka untuk menyingkirkan pembesar bernama Hou Seng ini ditebus dengan kehancuran mereka, dengan pembunuhan-pembunuhan gelap yang menimpa diri mereka yang menentang pembesar itu. Apa yang mampu kita lakukan? Dia dikelilingi oleh pasukan pengawal keamanan yang sangat kuat, bahkan dilindungi pula oleh datuk-datuk sesat. Yang dapat kita lakukan hanyalah menggempur datuk-datuk sesat itu, dan itulah kewajiban para pendekar.”

“Kalau begitu, mengapa tidak kita bayangi saja orang-orang itu? Pasukan berpakaian preman yang melakukan pembersihan di mana-mana itu? Kalau kita bayangi mereka dan kita mengetahui di mana sarang mereka, lalu kita menyelundup ke dalam, tentu kita dapat melakukan penyelidikan.”

“Ahh, benar juga pendapatmu itu!” Hong Beng berseru girang.

Dan kedua orang pemuda ini lalu mengadakan perundingan untuk berusaha melakukan penyelidikan dengan cara membayangi pasukan yang melakukan pembersihan hampir setiap hari itu. Pada suatu hari, dengan membayangi pasukan yang dipimpin oleh Bhok Gun dari jauh, secara sembunyi, mereka diam- diam mengikuti pasukan dan akhirnya mereka dapat menemukan markas Kim Hwa Nionio.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati dua orang itu saat mereka membayangi pasukan itu, mereka melihat bahwa pasukan itu, dipimpin oleh Bi-kwi, Bhok Gun dan seorang nenek yang membawa kebutan, memasuki markas itu sambil membawa dua orang tawanan yang mereka kenal dengan baik. Tawanan itu, seorang di antaranya adalah Bi Lan! Dan Kun Tek juga terkejut melihat tawanan ke dua, karena orang itu bukan lain adalah Sim Houw!

Hampir saja Kun Tek turun tangan pada saat pasukan itu masih menggiring dua orang tawanan itu di tengah jalan. Akan tetapi Hong Beng mencegahnya, berbisik bahwa pasukan itu berjumlah besar, dan di situ terdapat nenek itu yang agaknya lihai sekali. Akhirnya Kun Tek dapat menerima pendapat ini.

“Kau benar. Kalau Sim Houw sampai dapat tertawan oleh mereka, hal itu membuktikan bahwa nenek itu amat lihai, bukan lawan kita. Kalau Sim Houw kalah, apa lagi aku!”

“Siapakah laki-laki yang kau sebut Sim Houw itu?” “Dia? Ahh, dia itu masih keponakanku sendiri…”

“Mana mungkin? Nampaknya dia jauh lebih tua darimu.”

“Memang, tetapi sesungguhnya dia masih keponakanku. Ibunya adalah keponakan dari ayahku. Namun ilmu kepandaiannya hebat bukan main. Bahkan dia telah mengalahkan kakek Pek-bin Lo-sian yang gila itu dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam dari kakek itu.”

“Ahh…?” Hong Beng terbelalak, teringat akan cerita Bi Lan. “Jadi dia itu yang berjuluk Pendekar Suling Naga?”

Kun Tek mengangguk. “Agaknya begitu, karena setelah pusaka itu jatuh ke tangannya lalu muncul julukan itu. Tentu dia, siapa lagi?”

“Sungguh aneh! Dan Bi Lan mencari orang itu untuk merampas kembali Pedang Suling Naga, seperti yang ditugaskan oleh Sam Kwi kepadanya. Berarti bahwa orang bernama Sim Houw itu musuhnya, akan tetapi bagaimana mereka berdua kini bisa berbareng menjadi tawanan pasukan itu?”

“Sudahlah, yang penting kini bagaimana kita dapat menolong mereka. Kita harus dapat menolong dan membebaskan mereka. Nona… Can Bi Lan adalah… ehhh, kenalan kita, dan Sim Houw adalah keponakanku. Kita harus tolong mereka.”

“Benar, Kun Tek. Kita harus dapat menyusup ke dalam gedung itu untuk melakukan penyelidikan. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali. Nenek itu kelihatan lihai dan di dalam gedung itu tentu berkumpul pula orang-orang pandai yang katanya menjadi para pembantu dari Hou Seng.”

Mereka lalu berunding lagi sambil menanti saat baik, yaitu datangnya malam yang akan memudahkan mereka menyusup ke dalam gedung besar itu…..

********************

“Ha-ha-ha, heh-heh, akhirnya engkau kembali juga kepadaku, Liong-siauw-kiam!” nenek itu tertawa-tawa dan menciumi sarung pedang itu dengan hati yang amat girang.

Ia duduk menghadapi meja penuh hidangan dan memang ia merayakan kemenangan dan hasil baik telah berhasil merampas kembali pedang pusaka yang tadinya menjadi milik nenek moyang perguruannya itu.

Sai-cu Lama lalu mengangkat cawan araknya. “Selamat, Nionio, selamat! Pinceng ikut merasa girang sekali. Memang agaknya bintang dari Hou Taijin amat terang cemerlang, sehingga orang-orang yang turut membantunya mendapat nasib yang baik. Buktinya, pinceng sendiri berhasil mendapatkan Ban-tok-kiam. Padahal pedang pusaka ini dahulu pernah menggegerkan dunia persilatan dan menjadi milik isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Apakah tidak hebat?” Dia menepuk-nepuk sarang pedang di punggungnya.

Kim Hwa Nionio menerima ucapan selamat itu dengan meneguk arak dari cawannya. “Semua ini adalah berkat bintang terang Hou Taijin, dan agaknya semua cita-citanya akan tercapai dan kita yang menjadi para pembantunya, tentu akan ikut pula menikmati hasil baik yang dicapainya.”

“Aihh, tiada hasil baik dapat dicapai tanpa rintangan-rintangan dan tanpa susah payah, Nionio. Kita masih harus menghadapi perjalanan yang panjang. Masih ada beberapa hal mendatangkan kegelisahan di hati pinceng. Terutama sekali hilangnya Suma Lian tentu akan membuat Hou Taijin kecewa sekali.”

“Hal itu tidak perlu dikhawatirkan, Sai-cu Lama. Sejak pertama kali kau menyerahkan anak perempuan yang kau tawan itu, aku sudah menduga bahwa Hou Taijin agak ragu ragu untuk mengambil anak itu secara paksa. Agaknya Hou Taijin masih jeri akan nama besar keluarga Pulau Es, dan dua orang selirnya itulah yang membisikkan kekhawatiran itu. Aku sedang berpikir-pikir bagaimana harus memyingkirkan dua orang selir itu, sebab Hou Taijin terlalu percaya kepada mereka. Lama-lama mereka bisa menjadi penghalang kemajuan kita sendiri. Tidak, Lama, kurasa tentang hilangnya Suma Lian itu tidak akan mendatangkan kekecewaan terlalu besar bagi Hou Taijin.”

“Mudah-mudahan begitu,” kata pendeta gendut itu sambil mengunyah daging yang agak alot.

Mereka bercakap-cakap sambil makan minum merayakan kemenangan Kim Hwa Nionio yang berhasil mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam. “Namun, yang membuat pinceng merasa penasaran adalah munculnya kakek jembel gila itu! Dia yang berhasil melarikan Suma Lian dan kakek itu lihai luar biasa!”

“Hemm, aku tidak khawatir. Sampai di mana sih kelihaian seorang tua bangka jembel?” kata Kim Hwa Nionio sambil mengelus Liong-siauw-kiam, seolah hendak memamerkan senjata pusaka itu dan menunjukkan bahwa dengan adanya senjata pusaka itu, ia tidak takut melawan siapa pun juga.

“Sungguh, Nionio. Engkau harus percaya kepada omongan pinceng. Kakek itu memang sudah tua sekali, tetapi dia benar-benar sakti! Dan dia menjadi tamu di rumah keluarga Pouw. Bahkan, selain melarikan Suma Lian, dia pun juga melarikan anak perempuan keluarga Pouw itu. Dia seoranglah yang mengetahui semua rahasia pembunuhan itu. Hemm, pinceng akan selalu merasa khawatir dan tidak enak sebelum dapat memenggal kepalanya!”

“Jangan khawatir, kalau dia berani muncul lagi, aku akan membantumu memenggal kepalanya, Lama.”

“Aihh, engkau terlalu memandang rendah pihak lawan, Nionio, dan hal itu juga membuat hatiku gelisah. Ketahuilah bahwa orang-orang seperti kakek jembel itu amat berbahaya.”

“Subo, ucapan locianpwe Sai-cu Lama memang patut diperhatikan,” tiba-tiba Bhok Gun berkata kepada gurunya. “Memang kini di kota raja bermunculan orang-orang pandai. Bukan saja Sim Houw dan Can Bi Lan yang berhasil kita bekuk, akan tetapi beberapa hari yang lalu muncul pula dua orang pemuda itu yang sudah kami laporkan kepada subo. Mereka pun lihai sekali dan merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan.”

Yang dimaksudkan oleh Bhok Gun adalah Cu Kun Tek dan Gu Hong Beng yang belum lama ini mereka serbu di dalam restoran, akan tetapi mereka gagal karena dua orang pemuda perkasa itu dapat meloloskan diri meninggalkan beberapa orang anak buah mereka yang luka-luka.

“Karena itulah maka aku telah minta kepada Bi-kwi. Ke mana saja sih tiga orang kakek gila yang menjadi gurumu itu, Bi-kwi? Kenapa sampai sekarang belum juga muncul?”

“Suhu bertiga sudah berjanji akan datang, mereka pasti akan datang, sukouw. Harap jangan khawatir,” jawab Bi-kwi. “Dan apa yang dikatakan oleh Bhok suheng memang ada benarnya. Agaknya kini para pendekar bermunculan di kota raja dan mereka itu agaknya sengaja hendak menentang kita. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan sama sekali tidak boleh memandang ringan kepada mereka.”

“Ahh, sudahlah, kita nanti sama-sama hadapi saja mereka itu. Kini yang penting, bagai mana dengan Sim Houw dan Can Bi Lan yang telah kita tawan itu? Sebaiknya, mereka itu diapakan?”

“Orang she Sim itu terlalu berbahaya sekali, sukouw, menurut pendapatku sebaiknya dibunuh saja. Kalau dibiarkan hidup lebih lama lagi, akan berbahaya bagi kita.”

“Aku setuju sekali!” kata Bhok Gun. “Memang orang she Sim itu harus dibunuh. Ilmunya tinggi, selagi dia berada dalam kekuasaan kita, sebaiknya segera dibunuh saja. Akan tetapi nona itu jangan dibunuh dulu. serahkan saja kepadaku, subo. Biar aku yang akan menjinakkannya. Bukankah ia masih sumoi dari Bi-kwi, murid dari para susiok Sam Kwi, berarti orang sendiri? Kalau ia sudah dapat dijinakkan, tentu akan mau membantu kita dan berarti kedudukan kita menjadi lebih kuat.”

“Omitohud…!” kata Sai-cu Lama. “Ingat, nona itu sudah menjadi murid dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Bukan lagi orang segolongan dengan kita.”

Tentu saja kakek yang merampas Ban-tok-kiam ini khawatir sekali kalau gadis itu tetap dibiarkan hidup. Kalau gadis itu mati, dia boleh bernapas lega dan Ban-tok-kiam akan sepenuhnya menjadi miliknya.

“Memang sebaiknya kalau Can Bi Lan itu dibunuh saja, dan sebelum itu, biarlah kalau Bhok Gun hendak menikmatinya dulu,” kata Kim Hwa Nionio sambil tersenyum ke arah murid yang disayangnya itu. Bhok Gun menyeringai girang.

“Hemmm, manusia mana yang hendak membunuh murid kami?” Mendadak terdengar seruan keras.

Bagaikan setan-setan saja, nampak tiga bayangan orang menyelonong masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa orang penjaga yang berusaha mencegahnya, sudah terlempar ke kanan kiri oleh dorongan mereka.

“Suhu!” teriak Bi-kwi dengan girang melihat bahwa yang muncul itu adalah tiga orang gurunya.

“Aih, akhirnya kalian muncul juga, Sam Kwi!” Kim Hwa Nionio juga menyambut dengan wajah girang.

“Aku ingin bertanya, siapa berani mencoba untuk membunuh murid kami Siauw-kwi? Hayo maju dan boleh coba-coba dengan kami yang menjadi gurunya!” kata pula Im-kan Kwi, Si Iblis Akhirat yang biar pun bertubuh kate pendek, namun suaranya besar dan cerewet. “Enak saja membicarakan mati hidupnya murid kami. Hayo siapa berani?”

Si kate itu, bersama dua orang saudaranya, berdiri dengan marah. Mereka memandang kepada semua orang, satu demi satu dengan sikap menantang.

“Omitohud…! Hebat sekali! Inikah Thai-san Sam Kwi yang amat terkenal itu?” Tiga orang kakek yang baru tiba itu menoleh ke arah Sai-cu Lama. “Siapakah Lama ini?” tanya Hek-kwi Ong yang tinggi besar.

“Duduklah, sam-wi sute (tiga orang adik seperguruan), duduklah yang baik. Kita berada di antara orang sendiri. Pendeta ini adalah Sai-cu Lama, seorang rekan kita yang amat baik dan tangguh.”

“Hemmm, kami sudah mendengar namanya. Mudah-mudahan kepandaiannya sebesar namanya,” kata pula Iblis Akhirat yang pendek.

“Suci Kim Hwa Nionio. Siapa yang tadi mau membunuh murid kami Siauw-kwi tanpa perkenan kami tadi?” kini Iblis Mayat Hidup yang tak banyak bicara itu bersuara.

Melihat sikap ketiga orang gurunya yang jelas memperlihatkan ketidak senangan, Bi-kwi cepat-cepat berkata, “Suhu bertiga harap jangan salah mengerti. Kami memang sedang membicarakan tentang diri Siauw-kwi, dan kebetulan sekali suhu bertiga sudah datang sehingga dapat memberi keputusan yang tepat tentang apa yang harus kami lakukan terhadap murid suhu yang murtad itu.”

“Bi-kwi, kau mengatakan bahwa Siauw-kwi murtad. Dalam hal bagaimanakah ia murtad dan mengapa pula sekarang ia menjadi tahanan? Kami tahu bahwa sejak dulu engkau tidak menyukainya, akan tetapi hal itu belum dapat menjadi alasan bahwa engkau boleh membunuh murid kami begitu saja tanpa ijin dari kami!” kata Iblis Akhirat dengan sikap marah.

“Begini, suhu. Karena aku merasa menjadi suci-nya, maka tadinya aku menganggap diriku cukup untuk mewakili suhu bertiga karena suhu bertiga tidak hadir. Siauw-kwi telah murtad dan menjadi pengkhianat. Ia bersekutu dengan Sim Houw yang merampas pedang Liong-siauw-kiam. Ia bersekutu dengan orang she Sim itu untuk menentang kita! Apakah pengkhianatan seperti itu tak patut untuk mendapat hukuman yang keras?”

“Keterangan Bi-kwi itu benar, sam-wi sute. Muridmu Bi-kwi telah gagal merampas Liong-siauw-kiam dan Siauw-kwi telah bersekutu dengan musuh. Akan tetapi akhirnya aku dapat menangkap mereka berdua dan karena aku yang berhasil merampas kembali Liong-siauw-kiam, maka pedang pusaka ini sekarang menjadi hak milikku!”

Tiga orang kakek itu saling pandang dan Iblis Akhirat yang seperti biasa menjadi juru bicara mereka bertiga, berkata, “Hemm, kalau sudah terjatuh ke tanganmu sama saja, suci. Pokoknya pusaka itu tidak jatuh ke tangan golongan lain. Tapi kami masih merasa penasaran dan ingin membuktikan sendiri apakah benar Siauw-kwi telah mengkhianati kami. Bawa mereka berdua itu menghadap!”

Namun, seolah-olah sebagai jawaban dari ucapan Iblis Akhirat itu, mendadak terdengar suara ribut-ribut dan kegaduhan itu datang dari bagian belakang gedung. Makin lama makin gaduh dan muncullah seorang komandan jaga dengan muka pucat dan napas memburu.

“Celaka, Nionio…! Celaka…! Dua orang tawanan itu lolos.”

Mendengar ucapan ini, tanpa banyak cakap lagi Kim Hwa Nionio, Sai-cu Lama, Bhok Gun dan Bi-kwi berloncatan keluar dari ruangan itu. Sam Kwi saling pandang, lalu menyerbu meja makanan, meneguk arak dari guci dan memilih masakan-masakan yang dianggap paling enak. Mereka bersikap seakan-akan mereka tidak ada hubungannya dengan urusan yang menimbulkan keributan itu.

Apakah yang telah terjadi? Ketika Sim Houw dan Bi Lan, dengan tubuh tertotok dan kaki tangan terbelenggu, dijebloskan ke dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat dan terjaga ketat di luar kamar tahanan, Bi Lan yang terkulai lemas itu merasa menyesal sekali.

“Sim-toako, mengapa engkau tidak memenuhi permintaanku? Mengapa kau tidak mau mempertahankan pusaka itu? Dan kemudian, kenapa engkau tidak melarikan diri saja melainkan menyerahkan diri untuk menjadi tawanan? Ahhh, kalau engkau menuruti permintaanku, tentu sekarang engkau masih bebas di luar dan pusaka itu masih tetap berada padamu, toako. Sungguh aku menyesal sekali. Engkau menjadi korban karena kebodohan dan kelemahanku!”

Sim Houw kembali memandang kepada gadis itu dengan pandang mata yang aneh tadi, pandang mata yang membuat Bi Lan merasa bingung dan canggung, “Lan-moi, untuk melindungimu dari bahaya, jangankan hanya pedang pusaka, meski nyawaku pun akan kupertaruhkan.”

Bi Lan membelalakkan sepasang matanya dan sejenak menatap wajah pemuda itu, mencoba untuk meneliti wajah itu di dalam cahaya remang-remang, ingin mengetahui mengapa Sim Houw bersikap seperti itu kepadanya.

“Akan tetapi… kenapa, toako? Kita baru saja berjumpa dan berkenalan, tetapi kenapa kau… kau begitu baik kepadaku? Kenapa kau membelaku mati-matian, mengorbankan pusaka, padahal bagi seorang pendekar, bukankah senjata pusaka itu adalah nyawa kedua? Dan engkau pun mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku. Kenapa…?”

Di dalam pertanyaan itu terkandung perasaan ingin tahu yang amat mendalam sehingga wajah Sim Houw berubah kemerahan. Untung keremangan cahaya menyembunyikan perubahan air mukanya itu sehingga tidak nampak oleh Bi Lan. Gadis itu hanya melihat Sim Houw menarik napas panjang kemudian tersenyum, senyum penuh kesabaran dan pengertian seperti yang dikenalnya dengan baik selama ini.

Tentu saja hati Sim Houw ingin meneriakkan bahwa dia melakukan semua itu karena dia mencinta gadis ini! Ya, dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan, seperti yang belum pernah dialaminya semenjak cintanya gagal terhadap Kam Bi Eng. Di dalam diri Bi Lan, dia seperti menemukan Bi Eng ke dua dan dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan!

Akan tetapi, tak mungkin dia berani menyatakannya. Dia merasa malu kepada Bi Lan dan kepada diri sendiri. Pertama, dia jauh lebih tua dari gadis ini, tidak sepadan. Dia lebih pantas menjadi paman gadis ini! Dan kedua, dia tak mau menderita untuk kedua kalinya, derita yang timbul karena cinta gagal, cinta yang bertepuk tangan sebelah pihak seperti cintanya kepada Kam Bi Eng.

Tidak, dia tidak mau menjadi buah tertawaan Bi Lan dan orang lain dengan pengakuan cintanya, dan dia merasa ngeri menghadapi kegagalan lagi. Lebih baik dia menyimpan rahasia itu dalam hatinya sendiri, membawa rahasia itu di dalam sisa hidupnya sampai dia mati. Akan tetapi pertanyaan Bi Lan demikian mendesak, menuntut keterangan.

Setelah menarik napas panjang sekali lagi untuk menenangkan hatinya yang berdebar, dia berkata, “Kenapa, Lan-moi? Ah, perlukah hal itu kau tanyakan lagi? Kita melakukan perjalanan bersama-sama, kita sudah menjadi sahabat, maka sudah sepatutnya kalau aku melindungimu.”

“Akan tetapi, antara sahabat tidak mungkin sampai orang harus mengorbankan pusaka dan bahkan nyawanya, toako.”

“Begini, Lan-moi. Engkau sebatang kara di dunia ini, engkau tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Dan aku pun hidup sebatang kara. Nasib kita sama. Nah, kalau bukan aku yang melindungi dirimu, habis siapa lagi? Bagaimana aku selanjutnya dapat hidup dengan perasaan tenang kalau aku membiarkan dirimu seorang diri menempuh bahaya besar ini? Tidak, aku tentu takkan pernah dapat mengampuni diriku sendiri. Hidup atau mati, aku harus menemanimu dalam menghadapi ancaman bahaya, Lan-moi.”

Sejenak Bi Lan diam saja seolah-olah kecewa mendengar keterangan itu. Dia seperti merasakan bahwa alasan Sim Houw mempertaruhkan nyawanya tentu karena sebab yang lebih mendalam, bukan sekedar setia kawan seorang sahabat baru! Ia seolah-olah mengharapkan pengakuan yang lain!

“Akan tetapi, toako. Pengorbananmu ini akan sia-sia saja. Engkau tertawan, terbelenggu dan tertotok, tidak berdaya seperti juga aku. Engkau tidak dapat menolongku dan tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri. Bukankah perbuatanmu ini sama saja seperti bunuh diri?”

Sim Houw menggeleng kepala, senyumnya nampak aneh. “Jangan khawatir, Lan-moi. Aku tidak melakukan tindakan secara membabi buta, tetapi sebelum kulakukan sudah kuhitung masak-masak. Satu- satunya jalan untuk menolongmu hanyalah menyerahkan pusaka dan menyerahkan diri. Kalau sudah terbebas dari ancaman mereka, barulah aku akan mampu menolongmu. Totokan ini bukan apa-apa bagiku. Dengan Ilmu I-kiong Hoan-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah) aku dapat mengelak dari totokan itu dan pura-pura lumpuh. Dan belenggu ini pun tak ada artinya.”

Tiba-tiba saja, di bawah pandang mata Bi Lan yang terbelalak, kedua tangan Sim Houw bergerak dan belenggu di pergelangan tangannya pun patah-patah tanpa mengeluarkan banyak suara! Kemudian, dengan hati-hati Sim Houw menotok jalan darah di pundak dan punggung Bi Lan untuk membebaskan gadis itu, dan juga mematahkan belenggu kaki tangannya.

“Jangan bergerak, bersikap pura-pura masih tertotok dan terbelenggu,” bisik Sim Houw yang memasangkan kembali belenggu kaki tangannya yang diturut oleh Bi Lan. “Pihak musuh terlalu banyak dan mereka kuat sekali. Kita harus menanti saat baik. Kalau orang-orang tangguh itu sudah tidur, barulah kita akan meloloskan diri dari sini. Untuk membuka ruangan ini membutuhkan banyak tenaga dan aku khawatir sebelum kita sempat lolos, mereka sudah datang dan kita akan menghadapi kesukaran lagi. Ingat kita berada dalam sarang musuh.”

Bi Lan yang merasa kagum bukan main atas kehebatan ilmu kepandaian Sim Houw, mengangguk dan mentaati petunjuk Sim Houw. Ia tahu bahwa Sim Houw pasti berhasil mengajaknya keluar dari tempat ini, lolos dan bebas!

Akan tetapi, mendadak terdengar suara berkerotokan ketika pintu baja yang berat dan tebal itu dibuka dari luar. Rantai baja yang besar, yang mengikat pintu itu, dibuka dan kuncinya juga dibuka. Daun pintu itu terbuka dan masuklah seorang kepala jaga yang bermuka hitam dan kasar, bermata lebar dan mata itu semenjak dia masuk sudah memandang ke arah Bi Lan dengan sinar mata yang memuakkan gadis itu.

“Aduh, sayang kalau nona manis semulus ini harus dibunuh. Nona, berilah aku ciuman satu kali saja dan aku akan minta kepada Nionio agar engkau jangan dibunuh, tetapi diberikan kepadaku untuk menjadi isteriku. Cium sekali saja, ya?” Dan muka yang hitam kasar itu mendekat, hendak mencium bibir Bi Lan.

Gadis ini menahan diri, akan tetapi mencium bau yang busuk dari mulut orang itu yang semakin mendekat, ia tidak tahan lagi dan tangannya yang memang sudah terbebas dari belenggu itu tiba-tiba menyambar.

“Prakkk…!”

Terdengar tulang patah ketika tangan Bi Lan dengan kerasnya menampar pipi orang itu. Agaknya tulang rahang yang patah-patah dan giginya juga rontok semua. Orang itu mengaduh dan bergulingan di atas lantai seperti cacing terkena abu panas, mengaduh dan memegangi mulutnya yang penuh darah.

Tiba-tiba pada saat para penjaga menjadi kaget dan mereka menyerbu ke depan pintu kamar tahanan, nampak berkelebat dua bayangan dari tempat gelap dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan ketika beberapa orang penjaga terguling oleh amukan dua orang itu. Kiranya yang datang itu adalah Hong Beng dan Kun Tek!

“Nona Can, cepat keluarlah!” berkata Hong Beng sambil kakinya kembali menendang roboh seorang penjaga.

“Sim Houw, aku datang menolongmu, cepatlah keluar!” kata Kun Tek pula yang masih terhitung paman dari Sim Houw dan dia pun merobohkan seorang penjaga lain dengan tamparan tangan kirinya.

Dengan pedang Koai-liong-kiam di tangan, Kun Tek meloncat ke dekat pintu kamar tahanan. Maksudnya untuk membuka pintu itu menggunakan pedang pusakanya. Akan tetapi dia merasa heran dan juga girang melihat bahwa pintu yang amat kuat itu sudah terbuka dan nampaklah Sim Houw dan Bi Lan sudah menerobos keluar dari pintu yang terbuka itu.

Melihat bahwa yang menolongnya adalah pamannya yang dulu masih kecil ketika dia berkunjung ke Lembah Naga Silmuan, Sim Houw menjadi girang sekali. Hampir dia tidak mengenal pemuda tinggi besar itu kalau saja tadi tidak menyebut namanya begitu saja.

Dan Bi Lan juga merasa girang di samping merasa heran mengapa dua orang pemuda yang pernah saling gempur itu kini datang bersama untuk menyelamatkan ia dan Sim Houw. Akan tetapi tidak ada waktu bagi mereka untuk bercakap-cakap dan empat orang itu lalu mengamuk, merobohkan setiap penghadang dan sebentar saja mereka sudah dapat menerobos keluar dari kepungan dan berloncatan keluar dari tembok belakang yang mengurung gedung itu.

Ketika Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya mengejar ke tempat tahanan, mereka tidak menemukan lagi dua orang tawanan itu. Dengan marah dan mendongkol sekali Kim Hwa Nionio hanya dapat mendengar laporan anak buahnya betapa komandan jaga memasuki kamar tahanan dan tahu-tahu telah remuk tulang rahangnya, dan betapa dua orang pemuda yang pernah lolos dari tangkapan mereka, tadi telah datang membantu lolosnya dua orang tawanan. Dengan tangannya sendiri Kim Hwa Nionio menampar kepala dari komandan jaga itu sehingga orang itu roboh dengan kepala retak-retak dan tewas seketika.

“Sam-wi sute, kini percaya betapa baiknya muridmu yang bernama Bi Lan itu?” Kim Hwa Nionio mengomel pada saat ia kembali ke ruangan dalam dan melihat tiga orang sute-nya itu masih enak-enak saja duduk sambil makan minum. “Ia telah melarikan diri bersama Sim Houw dan dibantu oleh pemberontak- pemberontak.”

“Hemm, tidak kusangka anak itu menyeleweng,” kata Iblis Akhirat. “Akan tetapi kami ingin bertemu dahulu dengannya, dan kalau ia tidak menyerah, kami sendiri yang akan memberi hukuman kepadanya!”

********************

“Cepat, kita bersembunyi ke dalam kuil ini,” kata Hong Beng kepada Sim Houw dan Bi Lan yang mengikuti dia dan Kun Tek melarikan diri dari gedung yang menjadi markas besar para pembantu Hou Taijin. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di ruangan dalam kuil itu, aman dan mereka segera duduk menghadapi meja, minum air teh panas yang disediakan oleh para hwesio kuil.

Bi Lan lalu memperkenalkan Hong Beng kepada Sim Houw. “Sim-toako, saudara Gu Hong Beng ini adalah seorang murid dari keluarga para pendekar Pulau Es, dan ilmu kepandaiannya hebat. Dan Hong Beng, Sim-toako ini adalah Pendekar Suling Naga. Kiranya aku tidak perlu memperkenalkan Sim-toako dengan Kun Tek karena agaknya malah ada hubungan keluarga antara kalian.”

Sim Houw dan Hong Beng saling memberi hormat dan Kun Tek berkata, “Sim Houw adalah keponakanku sendiri, biar pun usianya lebih tua dariku. Dan dia telah berjasa besar untuk keluarga kami, bahkan dialah yang telah mengembalikan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang kubawa ini kepada kami.”

Mendengar disebutnya pedang pusaka, Bi Lan hanya memandang dengan muka sedih. “Sungguh celaka, pedang pusaka Ban-tok-kiam kepunyaan subo masih belum bisa aku dapatkan kembali, kini malah pedang pusaka milik Sim-toako terjatuh ke tangan nenek iblis itu!”

“Hemm, mereka itu sudah bersatu semua. Sai-cu Lama yang merampas pedangmu itu sudah berada di sana pula, nona Bi Lan. Juga kami tadi ada melihat tiga orang kakek yang menyeramkan, agaknya mereka baru saja tiba di gedung itu. Melihat keadaan tubuh dan wajah mereka yang amat menyeramkan, aku dapat menduga bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.”

“Melihat mereka, kurasa merekalah yang berjuluk Sam Kwi…,” kata Kun Tek.

Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut mendengar disebutnya nama itu. “Benarkah itu?” tanyanya.

“Aku sendiri belum pernah berjumpa dengan Sam Kwi sebelumnya, akan tetapi pernah mendengar gambaran tentang diri mereka. Yang seorang tinggi besar, berpakaian hitam, tingginya satu setengah orang. Yang ke dua amat pendek, gendut, tingginya tiga perempat orang biasa. Sedangkan yang ke tiga adalah seorang yang seperti tengkorak hidup saja, kurus hanya kulit membungkus tulang, mengerikan!”

“Ah, benar, mereka adalah Sam Kwi, tiga orang guruku,” kata Bi Lan dan gadis ini pun termenung.

Bagaimana pun juga jahatnya, tiga orang kakek itu adalah orang-orang pertama dalam hidupnya yang pernah menyelamatkan dan yang bersikap baik terhadap dirinya.

“Dan mereka memang lihai sekali,” sambungnya ketika melihat betapa tiga orang pria itu semua memandang kepadanya. “Yang tinggi sekali itu adalah suhu Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang tangguh. Lengannya dapat mulur sampai dua setengah kali lebih panjang. Yang amat pendek itu adalah Iblis Akhirat, biar pun pendek akan tetapi tubuhnya kebal dan tendangan Pat-hong-twi yang dikuasainya amat berbahaya, di samping sinkang-nya yang kuat dan senjata Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa) juga tak boleh dipandang ringan. Yang ke tiga, seperti tengkorak itu adalah Iblis Mayat Hidup. Ilmunya Hun-kin Tok-ciang berbahaya, sekali, juga di antara mereka bertiga, Iblis Mayat Hidup inilah yang memiliki Kiam-ciang paling kuat. Harus diingat bahwa dalam usia mereka yang sudah tujuh puluh tahun lebih itu, mereka bertiga telah menciptakan ilmu baru, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun yang amat lihai.”

“Dan engkau telah menguasai semua ilmu itu, nona Bi Lan? Sungguh hebat!” kata Kun Tek.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hong Beng dan Kun Tek kini tiba-tiba saja menyebut ‘nona’ kepadanya. Kenapa ada perubahan sikap mereka itu setelah ia menolak cinta mereka? Nampak kaku, berkurang keakraban mereka, bahkan begitu canggung.

“Memang aku telah mempelajari itu semua, akan tetapi ilmu yang kupelajari masih mentah, saudara Kun Tek, sama sekali tak boleh dibandingkan dengan mereka.”

Ia pun menambahkan sebutan ‘saudara’, mengubah kebiasaannya yang dulu menyebut dua orang pemuda itu dengan begitu saja memanggil nama mereka. Diam-diam gadis ini merasa heran mengapa penolakan cinta itu seolah-olah menciptakan suatu jurang pemisah di antara ia dan dua orang pemuda itu!

“Aihh, untung kedua orang muda gagah ini datang menolong kita, Lan-moi,” kata Sim Houw. “Jika kita berusaha meloloskan diri sendiri dan harus menghadapi mereka semua itu tentu akan repot juga!” Sim Houw lalu memandang kepada dua orang pemuda itu. “Terima kasih kuhaturkan kepada paman Cu Kun Tek dan juga saudara Hong Beng yang telah menolong kami tadi.”

“Bagaimana kalian berdua dapat mengetahui bahwa kami berdua menjadi tawanan di sana?” tanya Bi Lan.

Hong Beng lalu bercerita, betapa dia dan Kun Tek berjumpa di sebuah restoran dan mereka berdua sama- sama menghadapi pengeroyokan Bhok Gun dan Bi-kwi bersama anak buah mereka. Mereka melarikan diri dan mulailah mereka melakukan penyelidikan tentang Hou Taijin, dan dengan jalan melakukan pengintaian, mereka melihat betapa Sim Houw dan Bi Lan digiring sebagai tawanan.

“Karena kami dapat menduga betapa bahayanya menjadi tawanan para iblis itu, maka kami segera mengambil keputusan untuk pada malam ini menyelundup ke gedung itu dan berusaha membebaskan kalian.”

“Untung kalian datang tepat pada saatnya,” kata Sim Houw.

Mendengar betapa Pendekar Suling Naga itu memuji-muji dua orang pemuda itu, Bi Lan merasa tidak senang.

“Hendaknya kalian ketahui bahwa sebelum kalian datang, sebenarnya Sim-toako sudah berhasil membebaskan kami berdua dari pengaruh totokan dan belenggu kaki tangan. Kami memang sudah siap untuk melarikan diri dan tepat ketika terjadi keributan, kalian muncul.”

“Dan tentu saja memudahkan kami meloloskan diri,” kata Sim Houw pula yang ingin menyembunyikan jasa sendiri akan tetapi hendak mengangkat jasa dua orang muda itu. “Akan tetapi, kami masih belum selesai dengan mereka. Aku harus merampas kembali Liong-siauw-kiam, sedangkan Lan-moi harus merampas kembali Ban-tok-kiam.”

“Akan tetapi itu berbahaya sekali,” kata Hong Beng sambil memandang wajah gadis yang pernah menolak cintanya itu. “Ban-tok-kiam dikuasai oleh Sai-cu Lama yang lihai sedangkan Liong-siauw-kiam telah dirampas Kim Hwa Nionio, apa lagi sekarang di sana terdapat Sam Kwi, kedudukan mereka menjadi semakin kuat.”

“Betapa pun besar bahayanya, aku harus mendapatkan kembali Ban-tok-kiam dan aku akan pergi bersama Sim-toako,” kata Bi Lan.

“Biar aku membantu kalian!” kata Hong Beng. “Aku juga!” kata Kun Tek.

“Paman Kun Tek dan saudara Hong Beng, terima kasih atas kebaikan kalian. Tetapi, menyusup ke tempat seperti ini lebih baik dilakukan secara berpencar,” kata Sim Houw.

Mendadak dia berhenti bicara dan memberi isyarat kepada tiga orang temannya untuk diam. Mereka semua diam tak bergerak, mencurahkan ketajaman pendengaran mereka. Lapat-lapat terdengar suara lirih di luar kuil itu.

“Omitohud…, harap sam-wi tidak mencurigai pinceng. Katakan saja kepada nona yang kehilangan Ban-tok- kiam bahwa pinceng datang untuk membicarakan tentang pedang itu.”

Mendengar suara itu, Bi Lan bangkit berdiri. “Ssttt, kalau tak salah…itu sura hwesio yang dulu mengejar Sai-cu Lama…”

“Benar… sepertinya suara Tiong Khi Hwesio…,” berkata Hong Beng yang teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan bersama Bi Lan dan pedang itu terampas oleh Sai-cu Lama kemudian muncul hwesio tua renta itu.

“Kalian masih mengenal suara pinceng? Bagus!” terdengar suara dari luar itu dan Sim Houw sendiri terkejut.

Hwesio di luar itu benar-benar memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya! Maka mereka berempat lalu menyambut keluar. Dan memang benar dugaan Bi Lan dan Hong Beng, diluar berdiri seorang hwesio tua yang berjubah kuning. Itulah Tiong Khi Hwesio, nama baru dari Wan Tek Hoat.

“Locianpwe hendak bicara dengan saya?” tanya Bi Lan sambil memandang tajam dan penuh perhatian. Bagaimana pun juga, dia belum mengenal orang ini dan tidak tahu hwesio ini seorang kawan ataukah seorang lawan.

“Locianpwe, silakan masuk dan kita bicara di dalam,” kata Sim Houw yang tidak ragu-ragu lagi bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti.

Mereka lalu masuk ke ruangan belakang itu setelah tiga orang hwesio penjaga kuil itu dapat diyakinkan bahwa hwesio tua yang baru tiba ini memang telah mengenal para pendekar muda itu. Setelah mengambil tempat duduk, hwesio tua itu kemudian berkata mendahului mereka.

“Pinceng sudah mendengar semua akan peristiwa yang terjadi di gedung markas Kim Hwa Nionio itu. Kalian adalah orang-orang muda yang berani dan pinceng merasa kagum sekali. Pinceng sudah mengenal dua orang di antara kalian.” Dia lalu menunjuk kepada Bi Lan. “Engkau adalah murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng, para majikan Istana Gurun Pasir, dan engkau telah kehilangan Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama. Dan engkau,” dia menunjuk kepada Hong Beng, “engkau adalah murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi pinceng belum mengenal kalian dua orang muda yang lain. Murid-murid siapakah kalian?”

“Locianpwe, saya bernama Sim Houw dan guru-guru saya adalah mendiang ayah saya sendiri yang bernama Sim Hong Bu dan suhu yang bernama Kam Hong,” kata Sim Houw dengan sikap merendah.

“Wah, apakah Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas itu? Kalau begitu bukan orang lain, masih segolongan sendiri.”

“Dan saya bernama Cu Kun Tek, guru saya adalah ayah saya sendiri yang bernama Cu Kang Bu. Sim Houw ini masih terhitung keponakan saya, dan kami tinggal di Lembah Naga Siluman.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Keluarga Cu memiliki nama besar. Sungguh pinceng girang sekali bahwa pinceng mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang muda perkasa, yang mengingatkan pinceng akan masa muda pinceng dahulu. Orang-orang muda, pinceng sudah mendengar bahwa selain Ban-tok- kiam yang dirampas Sai-cu Lama, juga pedang pusaka milik seorang di antara kalian telah dirampas oleh Kim Hwa Nionio.”

“Pedang Sim-toako ini yang dirampas, pedang itu adalah Liong-siauw-kiam dan oleh Sim-toako diserahkan begitu saja karena mereka mengancam akan membunuh saya yang sudah ditangkap lebih dahulu,” kata Bi Lan.

Hwesio itu mengangguk-angguk. “Tadi pinceng sudah mendengar bahwa kalian hendak memasuki sarang itu untuk merampas pedang. Hal itu sama sekali tak boleh dilakukan. Untuk menangkap harimau, orang harus memancing harimau-harimau itu keluar dari sarangnya, bukan memasuki sarang. Itu berbahaya sekali.”

“Saya mengerti maksud locianpwe. Lalu bagaimana baiknya? Saya harus merampas kembali Ban-tok- kiam,” kata Bi Lan.

“Ha-ha-ha, andai kata engkau tidak ingin merampas kembali, aku tentu akan berusaha untuk mengambil kembali dari tangan pendeta palsu itu untuk dikembalikan kepada Wan Ceng,” kata Tiong Ki Hwesio. “Pihak lawan amat kuat. Kalian tentu sudah tahu betapa lihainya Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio. Dan ditambah lagi dengan Sam Kwi, maka kekuatan di pihak mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Itu semua masih ditambah lagi dengan pasukan pemerintah. Kalau sampai pasukan pemerintah dikerahkan, mana mungkin kita mampu melawan pemerintah? Kita bisa dicap sebagai pemberontak, kemudian akan berhadapan dengan bala tentara pemerintah. Kita harus memakai akal dan membagi-bagi tugas. Aku akan memancing keluar mereka dari dalam sarang sehingga kita tidak mudah terkepung.”

Empat orang muda itu serentak tunduk terhadap kakek ini yang kelihatan demikian tegas dan mantap dalam semua rencananya. Akan tetapi di tengah-tengah percakapan mereka, Bi Lan yang selalu ingin tahu dengan jelas memotong percakapan itu dan bertanya,

“Maafkan dulu, locianpwe. Kini di antara kita telah terdapat suatu persekutuan untuk melawan musuh dan terus terang saja, kami orang-orang muda tunduk dan dapat menerima semua akal dan rencana locianpwe. Locianpwe telah mengenal kami semua, tetapi kami sebaliknya belum tahu benar siapa sesungguhnya locianpwe ini. Bukankah sudah waktunya bagi kami untuk mengenal siapa sebenarnya diri locianpwe?”

Mendengar ucapan gadis itu, tiga orang muda itu mengangguk-angguk membenarkan. Memang mereka semua juga sudah menduga-duga siapa sesungguhnya kakek ini, akan tetapi mereka tidak seberani Bi Lan untuk menanyakannya.

Mendengar ucapan gadis itu, Tiong Khi Hwesio tertawa. “Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, kaum wanita lebih teliti dan lebih ingin tahu. Tetapi memang sebaiknya demikianlah, karena kerja sama harus didasari saling percaya yang sepenuhnya. Bi Lan, kalau engkau ini murid dari nenek Wan Ceng, engkau harus menyebut aku susiok (paman guru) karena antara kami ada pertalian persaudaraan. Namun, sudah puluhan tahun aku memisahkan diri ke barat sehingga antara kami tidak ada hubungan lagi.”

“Ahh, kalau begitu, mungkin saya dapat menebak siapa adanya locianpwe ini!” Hong Beng berseru dengan sepasang mata bersinar gembira.

Murid ini di waktu senggang banyak mendengar cerita dari gurunya tentang keluarga para pendekar Pulau Es, maka mendengar bahwa antara nenek Wan Ceng dan hwesio itu terdapat pertalian persaudaraan, dia pun dapat menduga siapa orangnya.

“Benarkah kau dapat menebaknya siapa, Hong Beng?” Kun Tek bertanya, ikut gembira.

“Omitohud, agaknya murid keluarga Pulau Es banyak mendengar tentang diri pinceng. Cobalah, barangkali tebakanmu tepat, orang muda.” Hwesio itu pun membujuknya.

“Sebelumnya harap locianpwe sudi memaafkan saya, akan tetapi bukankah locianpwe, seperti juga nenek Wan Ceng, masih terhitung keluarga Pulau Es pula?”

Hwesio itu mengangguk sambil tersenyum. “Boleh dibilang begitulah, walau pun sebagai keluarga luar.”

“Kalau begitu, agaknya tidak keliru lagi bahwa locianpwe dahulu di waktu muda adalah pendekar yang berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat, dan yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari Bhutan dan…”

“Cukuplah, anak baik. Tak pinceng sangkal, memang dahulu pinceng bernama Wan Tek Hoat, akan tetapi kini pinceng adalah Tiong Khi Hwesio, tidak punya apa-apa lagi, sudah habis semua yang pernah pinceng miliki. Nah, tentu sekarang engkau lebih percaya kepadaku, bukan?” tanyanya kepada Bi Lan. Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan.

“Sejak tadi pun aku sudah percaya kepada locianpwe, hanya ingin tahu saja. Kiranya locianpwe… ehhh, susiok malah masih saudara dari subo.”

“Nah, sekarang kalian semua perhatikan dengan baik-baik. Kita harus mengatur siasat yang sudah direncanakan baik-baik. Ketahuilah bahwa sebelum menghubungi kalian, pinceng sudah bertemu dengan keluarga Pulau Es yang kini telah berada di kota raja, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya, juga Suma Ceng Liong dan isterinya.”

Mendengar ini, empat orang muda itu menjadi girang dan mereka mendengarkan siasat yang direncanakan oleh kakek sakti itu dengan penuh perhatian. Mereka menganggap siasat itu baik sekali, untuk mempertemukan golongan sesat itu dengan para pendekar dan mengadakan pertandingan perkelahian tanpa campur tangan pemerintah.

********************

Para penjaga gedung yang menjadi sarang Kim Hwa Nionio menjadi gempar ketika pada suatu pagi, mereka melihat sebatang pisau menancap di daun pintu gerbang dan pisau itu membawa sebuah sampul putih dengan tulisan berwarna merah, ditujukan ke pada Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio! Bergegas komandan jaga mengambil pisau dan sampul itu, kemudian berlari-lari masuk menghadap Kim Hwa Nionio.

Nenek itu bersama para temannya sudah duduk menghadapi hidangan makan pagi. Di sini hadir Sai-cu Lama, ketiga orang Sam Kwi, Bhok Gun, Bi-kwi dan mereka kelihatan gembira. Malam tadi, berkat kelihaian Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, mereka telah berhasil menyingkirkan dua orang selir yang juga menjadi dua orang pengawal pribadi Hou Seng. Dua orang selir ini dianggap sebagai saingan oleh Kim Hwa Nionio, karena dua orang ini sering kali mempengaruhi Hou Taijin dengan bisikan-bisikan mereka.

Ketika Suma Lian diserahkan sebagai hadiah oleh Sai-cu Lama kepada Hou Seng, dua orang selir ini yang membisikkan agar pembesar itu menerima saja, akan tetapi harus memperlakukan anak itu dengan baik- baik dan jangan diganggu, memperingatkan Hou Taijin bahwa Pendekar Pulau Es masih ada hubungan keluarga dengan kaisar.

Dan masih banyak nasehat-nasehat yang diberikan oleh dua orang selir itu, yang selalu diturut oleh Hou Seng. Oleh karena itu Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama merasa bahwa mereka berdua itu merupakan saingan yang mengkhawatirkan. Bagaimana kalau sekali waktu dua orang selir itu membisikkan agar Hou Taijin tidak mempercayai Kim Hwa Nionio dan teman-temannya lagi?

Dan kesempatan baik mereka peroleh ketika mereka memperkenalkan Sam Kwi kepada pembesar itu. Malam itu, Hou Taijin berkenan menerima mereka bersama Sam Kwi untuk datang menghadap. Seperti biasa, Hou Taijin menyambut pembantu-pembantu baru yang berilmu tinggi itu dengan perjamuan makan. Dan seperti biasa pula, dua orang selir yang pandai ilmu siiat itu tidak pernah meninggalkan Hou Taijin, seolah-olah menjadi bayangannya.

Setelah Sam Kwi diperkenalkan, Hou Taijin merasa gembira sekali. Tiga orang dengan bentuk tubuh dan muka seperti itu, demikian menyeramkan, bahkan mengerikan, tanpa diuji lagi dia sudah percaya bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Maka dari itu, Hou Taijin lalu berkata sambil tersenyum lebar, “Kedatangan sam-wi amat menggembirakan hatiku, karena itu kami ingin menyambut kedatangan sam-wi dengan secawan arak!”

Mendengar ucapan ini, seorang di antara dua selir merangkap pengawal pribadi itu lalu melayani majikan mereka dengan menuangkan secawan arak dari guci yang tersedia, ke dalam cawan pembesar itu yang sudah tersedia pula di atas meja. Juga Sam Kwi sambil tertawa mengisi cawan mereka dengan arak sampai penuh, kemudian mereka semua mengangkat cawan arak masing-masing.

Akan tetapi, sebelum cawan itu menempel di bibir Hou Taijin, Kim Hwa Nionio berseru, “Taijin, tahan!”

Secepat kilat, ia pun menyambar cawan itu dari tangan Hou Seng, kemudian terdengar suara gaduh dan dua orang selir itu telah roboh dan tewas seketika karena mereka telah terkena pukulan maut dari Sai-cu Lama. Pukulan kedua tangan kakek itu tadi langsung menyambar ganas dan tepat mengenai dada mereka, membuat mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, muka mereka menjadi agak kehitaman karena pukulan tadi adalah pukulan beracun!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hou Taijin. Ia terbelalak. “Apa… apa artinya ini…?!”

Ia membentak, khawatir bahwa jangan-jangan para pembantunya ini akan mengadakan pengkhianatan dan pemberontakan. Akan tetapi hatinya lega karena sikap mereka tidak demikian.

Kim Hwa Nionio berkata halus, “Harap paduka maafkan kelancangan kami, akan tetapi kami telah menyelamatkan nyawa paduka dari pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang pengawal pribadi paduka ini,” kata Kim Hwa Nionio dan cawan arak tadi masih berada di tangannya.

“Apa? Mereka ini hendak berkhianat? Ahh, hal itu tidak mungkin! Kalian tentu keliru. Mereka adalah selir- selirku yang setia!”

“Kim Hwa Nionio berkata benar, Taijin. Kami berdua melihat betapa tadi mereka sudah memasukkan bubukan putih ke dalam cawan paduka. Itu tentu racun yang amat jahat!” kata Sai-cu Lama. “Karena itu, selagi Kim Hwa Nionio mencegah paduka minum, saya mendahului mereka dan membunuhnya agar tidak sempat menyerang paduka.”

Hou Taijin masih ragu-ragu dan ketika dia memandang kepada tiga orang tamu baru, Sam Kwi yang sudah tahu akan rencana teman-temannya, mengangguk-angguk. “Kami pun melihatnya,” kata mereka. “Begini saja, Taijin. Tuduhan kami itu perlu dibuktikan agar Taijin dapat percaya.”

Melihat pembesar itu yang masih memandang mayat dua orang selirnya dengan muka pucat, Kim Hwa Nionio lalu berteriak menyuruh dua orang pengawal cepat membawa dua ekor kucing ke situ.

Sebelum kucing yang diminta itu datang, Kim Hwa Nionio berkata, “Taijin, kalau taijin belum percaya, boleh taijin periksa di saku atau ikat pinggang mereka, tentu mereka membawa sebotol kecil bubukan putih.”

Dengan jari-jari tangan gemetar, pembesar itu memeriksa dan benar saja, di tubuh dua orang selirnya, masing-masing terdapat sebuah botol kecil berisi bubukan putih, yang disembunyikan di dalam ikat pinggang mereka. Dia lalu mengambil botol-botol itu dan meletakkannya di atas meja.

“Apakah ini?” tanyanya, suaranya masih agak gemetar karena hatinya masih diliputi ketegangan.

“Racun yang jahat sekali, taijin. Dan sebagian dari racun itu tadi ditaburkan ke dalam cawan taijin ini,” kata pula Kim Hwa Nionio.

Dua ekor kucing yang diminta itu datang. Kim Hwa Nionio membuka dengan paksa mulut kucing itu dan menuangkan arak dari cawan Hou Seng ke dalam mulut kucing. Walau pun kucing itu meronta, percuma saja, arak itu telah memasuki perutnya. Dan seketika kucing itu berkelojotan dan tewas, tubuhnya berubah menghitam!

“Nah, apa akan jadinya kalau saya tadi tidak mencegah paduka minum arak dari cawan itu?” kata Kim Hwa Nionio.

Hou Seng bergidik, kembali memandang kepada dua orang selirnya, sekarang pandang matanya mulai mengandung kemarahan dan kebencian. “Mereka.. mereka nampaknya begitu baik, mencinta dan setia… dan aku telah memberi segala-galanya, tetapi… tapi mengapa…”

“Tidak aneh, taijin. Musuh taijin banyak sekali dan agaknya mereka itu mampu merubah pendirian dua orang ini. Karena itu, taijin harus berhati-hati dan percayalah, selama ada kami, kami akan selalu melindungi taijin dari ancaman bahaya,” berkata Sai-cu Lama dengan suaranya yang halus.

Kini dari dua botol itu dituangkan bubuk putih ke dalam arak, lalu dituangkan dengan paksa ke dalam mulut kucing yang ke dua dan akibatnya, kucing ini pun kejang-kejang berkelojotan dan tewas seketika. Percayalah Hou Taijin dan dua mayat dan bangkai kucing itu lalu disingkirkan, dan perjamuan itu dilanjutkan, walau pun Hou Taijin sudah kehilangan seleranya.

Demikianlah, peristiwa semalam itu tentu saja sudah diatur oleh komplotan Kim Hwa Nionio yang amat cerdik. Melalui para pelayan, mereka berdua memperoleh keterangan bahwa dua orang selir itu selalu membawa sebotol kecil racun. Racun ini selalu mereka bawa karena mereka ingin membunuh diri dengan cepat kalau sekali waktu mereka itu terjatuh ke tangan musuh-musuh Hou Seng, sehingga mereka tidak usah menderita siksaan dan juga tidak ada bahayanya mereka akan membocorkan rahasia suami dan juga majikan mereka itu. Demikian besarnya kesetiaan mereka kepada Hou Seng.

Akan tetapi justru keterangan inilah yang memudahkan Kim Hwa Nionio mengatur siasat keji itu. Ketika Hou Seng hendak minum araknya, tentu saja di dalam arak itu tidak ada apa-apanya. Ia sengaja merampasnya hanya untuk membuat suasana menjadi kalut dan memberi kesempatan kepada Sai-cu Lama untuk membunuh dua orang selir itu.

Walau pun memiliki kepandaian silat yang lumayan, tentu saja dua orang selir itu sama sekali bukan tandingan Sai-cu Lama dan sama sekali tidak mampu menghindar ketika pukulan maut datang menyambar. Dan dalam kegaduhan ini, dengan mudah Kim Hwa Nionio memasukkan bubuk racun ke dalam cawan arak itu. Ketika diminumkan kepada kucing, tentu saja kucing itu tewas seketika. Dan botol bubuk racun itu benar saja dapat ditemukan dan karena memang benda itu adalah racun, ketika diminumkan kucing ke dua, binatang itu pun mati!

Kim Hwa Nionio dan kawan-kawannya menganggap bahwa siasat itu berhasil dengan amat baiknya. Dua orang selir yang mereka anggap saingan yang berbahaya itu telah berhasil mereka singkirkan, dan yang lebih penting, Hou Seng agaknya percaya akan pengkhianatan selir-selirnya sehingga dengan demikian, semua kepercayaan pembesar itu tentu akan jatuh ke tangan mereka! Untuk kemenangan ini, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka telah merayakan kemenangan itu dengan sarapan pagi yang mewah.

Akan tetapi, kegembiraan mereka itu terganggu oleh datangnya pengawal yang dengan muka pucat menyerahkan pisau dan sampul. “Kami tidak tahu siapa yang menancapkan pisau itu di pintu gerbang, karena tahu-tahu ketika kami membuka pintu gerbang, pisau itu sudah menancap di daun pintu, membawa sampul itu.” Demikian laporan pengawal itu.

Oleh karena surat itu ditujukan kepada Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, nenek yang dianggap sebagai pimpinan kelompok pembantu Hou Taijin itu segera membuka sampul dan mengeluarkan suratnya yang bertuliskan dengan tinta merah. Ternyata surat itu adalah tantangan untuk pi-bu (mengadu ilmu silat), seperti yang biasa dilakukan di dunia persilatan. Yang menantang adalah Tiong Khi Hwesio yang menantang Sai-cu Lama, dan Sim Houw menantang Kim Hwa Nionio. Pada hari itu lewat tengah hari, dua orang penantang itu menunggu di tepi hutan di sebelah utara pintu gerbang kota raja!

“Heemmm… keparat!” Kim Hwa Nionio memaki dengan muka merah dan melemparkan surat itu kepada Sai-cu Lama.

Pendeta ini membacanya dan dia pun tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio sudah mengejarku sampai di sini? Ha-ha-ha, dia memang sudah bosan hidup. Dengan Ban-tok-kiam di tangan, dia pasti akan mampus di tanganku sekali ini!” Sambil tertawa-tawa, Sai-cu Lama menyerahkan surat itu kepada Iblis Mayat Hidup yang duduk di sebelahnya.

Sam Kwi membaca surat itu bergantian, kemudian Bhok Gun dan Bi-kwi juga turut membacanya. Ketika surat itu kembali ke tangan Kim Hwa Nionio, Iblis Akhirat, si cebol dari Sam Kwi, yang melihat betapa Kim Hwa Nionio tidak gembira, berkata dengan suaranya yang lantang dan membuyarkan ketegangan yang timbul oleh surat itu.

“Suci, tidak usah takut menghadapi Sim Houw itu. Bukankah Liong-siauw-kiam sudah berada di tanganmu? Dan kami pun akan membantumu.”

Kim Hwa Nionio mengerutkan alisnya. “Siapa bilang aku takut menghadapi orang muda itu? Akan tetapi, aku khawatir kalau-kalau surat tantangan ini hanya suatu perangkap belaka untuk memancing harimau keluar dari sarang!”

“Ha-ha-ha!” Sai-cu Lama tertawa gembira. “Harimau tetap harimau, di dalam mau pun di luar sarang, kita tetap berani dan menang!”

“Apakah engkau akan mengabaikan saja tantangan pi-bu ini, suci?” tanya Iblis Akhirat dengan khawatir, oleh karena mengabaikan tantangan pi-bu amat mencemarkan nama seorang datuk persilatan.

“Pinceng pasti datang memenuhi tantangan Tiong Khi Hwesio, ha-ha-ha!” Sai-cu Lama masih tertawa-tawa memandang rendah lawannya.

Dan dia pun memiliki alasannya untuk memandang rendah. Bukankah dia dahulu kalah oleh Tiong Khi Hwesio dalam perkelahian yang seimbang dan setelah berjalan lama baru akhirnya dia kalah? Kalau kini dia menggunakan pedang Ban-tok-kiam, dia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya itu.

“Mengabaikan tantangan pibu tidak mungkin, akan tetapi…” Kim Hwa Nionio masih kelihatan ragu-ragu.

“Kalau kita semua pergi bertujuh, walau andai kata mereka itu membawa teman-teman, kita tidak perlu takut,” kata pula Iblis Akhirat membesarkan hati suci-nya.

“Aku mengerti akan kekhawatiran subo,” tiba-tiba Bhok Gun berkata. “Dan memang kekhawatiran itu beralasan. Penantang kita adalah musuh-musuh dan bisa saja mereka menggunakan pi-bu ini sebagai pancingan untuk menjebak kita semua. Akan tetapi, subo, justru kita harus dapat memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari perangkap yang mereka pasang ini.”

“Ehh? Maksudmu bagaimana?” tanya Kim Hwa Nionio kepada muridnya yang cerdik itu.

“Mereka menggunakan muslihat memancing harimau keluar sarang? Baik, kita keluar! Akan tetapi diam- diam aku akan menghubungi Coa-ciangkun agar dikerahkan pasukan sebanyak seratus orang untuk mengepung tempat itu dan begitu lawan berkumpul dan kita hendak dijebak, kita kerahkan pasukan untuk menangkap mereka semua. Dengan demikian berarti perangkap kita menghancurkan perangkap mereka.”

Sai-cu Lama mengangguk-angguk. “Wah, Nionio, muridmu ini boleh juga!”

Semua orang menyatakan kagum dan Kim Hwa Nionio dapat menerima usul itu. Mereka melanjutkan makan minum sambil menyusun rencana untuk menghadapi pihak lawan yang mengajukan tantangan.

Tempat yang dipilih dalam surat tantangan pi-bu itu memang sunyi sekali. Di luar kota raja sebelah utara terdapat sebuah hutan yang lebat, dan di luar hutan ini terdapat lapangan rumput. Kalau musim semi tiba dan rumput di situ telah gemuk sekali, banyak penggembala ternak membawa ternaknya ke situ untuk makan rumput. Akan tetapi pada waktu itu, rumput di situ gundul dan kering maka tiada seorang pun pengembala mau membawa ternaknya ke tempat itu dan keadaan di situ amat sunyi.

Matahari amat cerahnya dan cahayanya yang panas menimpa segala yang nampak di permukaan bumi, memberi kehidupan yang segar. Kita adalah mahluk-mahluk yang sama sekali tidak dapat menikmati berkah yang berlimpahan dalam kehidupan ini. Satu di antara berkah-berkah yang berlimpahan adalah sinar matahari!

Tanpa sinar matahari, kita dan segala sesuatu di permukaan bumi ini akan mati! Sinar matahari menyehatkan, menghidupkan, dan memberi segala yang menjadi kebutuhan mutlak kita. Memberi panas, kehangatan, penerangan, kenikmatan yang tiada habis-habisnya. Namun, hanya sedikit di antara kita dapat menikmatinya.

Segala keindahan yang terbentang di depan kita hidup karena sinar matahari. Bahkan pandang mata kita tidak akan ada artinya tanpa sinar matahari. Sedikit saja di antara kita yang dapat menghirup berkah melimpah ini dengan sepuasnya, mereguknya dan menikmatinya. Dan yang sedikit itu pun hanya dapat menikmatinya jarang sekali, di waktu mereka teringat saja.

Dan di samping sinar matahari, masih banyak sekali berkah itu, seperti hawa udara, air, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Namun otak ini sudah terlalu penuh dengan dijejali persoalan-persoalan, dengan masalah-masalah yang kita buat sendiri sehingga hidup di dunia yang begini indah penuh berkah ini tidak terasa lagi sebagai suatu keindahan melainkan berubah menjadi neraka karena kita terbenam ke dalam duka dan sengsara oleh problema-problema buatan kita sendiri itu.

Bayangan makin memendek mendekati kaki, tanda bahwa matahari sudah naik semakin tinggi. Tengah hari pun terlewat dan tak lama kemudian, tempat yang sunyi itu berubah dengan munculnya beberapa orang di lapangan rumput itu. Yang muncul adalah seorang kakek tua renta yang berjubah pendeta hwesio dan berkepala gundul, bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sederhana. Mereka ini adalah Tiong Khi Hwesio dan Sim Houw, dua orang penantang pi-bu itu!

Belum lama kedua orang penantang ini muncul di lapangan rumput yang luas, nampak bermunculan Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama, diiringkan oleh Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi! Kim Hwa Nionio tersenyum mengejek, hatinya girang sekali karena kini nenek itu tidak khawatir akan terjebak pihak musuh.

Ada seratus dua puluh orang pasukan sejak pagi tadi bersembunyi di dalam hutan itu, siap untuk menyerbu setiap saat mereka dibutuhkan! Bahkan Coa-ciangkun sendiri, perwira tinggi yang menjadi sekutu Hou Seng Taijin, memimpin pasukan itu. Tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dan tentang pi-bu itu sendiri, ia pun tidak takut.

Andai kata kemudian ternyata bahwa ia tidak mampu menandingi orang muda she Sim itu, di sebelahnya masih ada Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi yang tentu tidak akan tinggal diam. Apa lagi ketika melihat bahwa yang muncul hanya dua orang penantang itu, Kim Hwa Nionio tersenyum mengejek.

“Ha-ha-ha-ha!” Sai-cu Lama tertawa bergelak setelah berhadapan dengan Tiong Khi Hwesio. “Kiranya engkau sampai juga ke sini. Tiong Khi Hwesio, mau apakah engkau jauh-jauh menyusulku dari Tibet, kemudian mengajukan tantangan pi-bu itu?”

Tiong Khi Hwesio memandang tajam kepada lawannya. “Sai-cu Lama, pinceng memiliki kewajiban untuk menangkapmu karena engkau telah membunuh dua orang pimpinan Lama. Dahulu pinceng merasa kasihan dan membebaskanmu, akan tetapi engkau tidak mengubah kelakuan yang buruk, bahkan menimbulkan kekacauan di mana-mana.”

“Menangkap aku? Ha-ha-ha, jangan sesombong itu, Tiong Khi Hwesio. Dahulu pun, hanya setelah berkelahi mati-matian sampai ribuan jurus, baru engkau dapat sedikit mengungguli aku. Tetapi sekarang, jangan harap lagi! Aku bahkan akan membunuhmu di sini, ha-ha!” Berkata demikian, Sai-cu Lama menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar berkelebat dan berkilat ketika sebatang pedang yang mengandung hawa menyeramkan telah dicabutnya. Itulah Ban-tok-kiam!

“Omitohud, kejahatanmu semakin meningkat saja, Sai-cu Lama. Engkau menggunakan pedang yang kau rampas dari orang lain. Dan justru karena pedang itulah maka pinceng semakin bersemangat untuk mengejarmu. Selama ini pinceng pantang mempergunakan senjata, akan tetapi sekali ini terpaksa, omitohud,…!”

Dan ketika tangan Tiong Khi Hwesio bergerak ke bawah jubahnya, dia sudah mencabut sebatang pedang yang mengandung hawa sedemikian menyeramkan sehingga semua orang merasakan ini. Bahkan Sam Kwi sendiri bergidik ketika melihat pedang itu. Tidak mengherankan karena kini Tiong Khi Hwesio mengeluarkan senjata pusakanya yang selama ini disembunyikannya saja, yaitu pedang pusaka yang bernama Cui-beng-kiam (Pedang Pencabut Nyawa)!

Pedang pusaka ini dahulu milik seorang datuk sesat seperti iblis yang menjadi penghuni Pulau Neraka bernama Cui-beng Koai-ong (Raja Setan Pengejar Nyawa), sebatang pedang yang luar biasa ampuhnya dan akan menjadi lawan yang kuat seimbang sekali bagi Ban-tok-kiam.

Sementara itu, Kim Hwa Nionio sudah berhadapan dengan Sim Houw. “Hemm, orang muda, engkau berhasil meloloskan diri dan kini datang mengantar nyawa, sungguh lucu sekali. Dengan Liong-siauw-kiam di tanganku, bagaimana kau akan mampu menandingi aku?” Nenek itu mencabut Liong-siauw-kiam yang dipegangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang kebutannya. Sepasang senjata ini memang membuat Kim Hwa Nionio menjadi semakin lihai bukan main.

“Senjata pusaka itu milikku dan engkau merampasnya dengan cara licik. Akan tetapi, jangan mengira aku takut menghadapimu, Kim Hwa Nionio.” Berkata demikian, kedua tangan Sim Houw pun bergerak.

Dia telah mengeluarkan sepasang senjata, yaitu sebatang suling emas dan sebatang pedang yang juga memiliki sinar yang menyeramkan sekali. Pedang di tangan kanannya itu bukan lain adalah Koai-liong Po- kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman). Mudah saja diduga dari mana Sim Houw memperoleh sepasang senjata ini.

Sebelum datang ke tempat pi-bu ini, Cu Kun Tek telah menyerahkan dan meminjamkan sepasang senjatanya kepada pendekar ini, senjata yang tadinya memang menjadi milik Sim Houw dan dahulu dikembalikannya kepada keluarga Cu itu, meminjamkannya agar Sim Houw dapat menandingi nenek yang memegang Liong-siauw-kiam.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo