October 3, 2017

Suling Naga Part 13

 

Bu beng Lo-kai tertawa. “Ha-ha-ha-ha, engkau memang cerdik. Baiklah, mulai sekarang akan kujaga pakaian ini agar tetap bersih.”

“Nah, begitu barulah engkau kakekku yang baik sekali, terima kasih sebelumnya, kek!” Dan Suma Lian lalu memberi hormat kepada kakek itu dengan sikap yang lucu.

“Ahh, apa yang terjadi dengan pakaianmu itu? Kenapa sekarang juga penuh tambalan?” kakek itu berseru sambil memandang ke arah pakaian yang dipakai oleh anak itu. Pakaian itu tadi nampak indah, akan tetapi sekarang penuh tambalan walau pun hal ini tidak mengurangi kepantasan anak itu memakainya.

“Kek, engkau Bu-beng Lo-kai dan aku cucumu. Cucu seorang pengemis tua harus memakai pakaian tambal-tambalan juga, baru cocok!”

Kakek itu kembali tertawa dan mengangguk-angguk, kemudian tiba-tiba dia memandang wajah anak itu dengan sikap serius dan suaranya juga terdengar tegas, tidak main-main lagi, “Nah, sekarang lekas ceritakan, dari mana engkau memperoleh makanan, arak dan pakaian ini!”

Melihat sikap kakek itu, nyali Suma Lian menjadi kecil juga. Ia menundukkan mukanya, jari-jari tangannya mempermainkan ujung bajunya, kadang-kadang mengangkat muka memandang, lalu menunduk kembali.

“Hayo katakan! Kau… mencuri, ya?” bentak kakek Bu-beng Lo-kai.

Dengan pandang mata takut-takut, Suma Lian memandang kakeknya dari bawah bulu mata sambil menundukkan muka, “Kau.. kau marah, kek…?”

“Tentu saja kalau kau membohong! Hayo katakan yang sebenarnya. Kau curi semua itu?” Suma Lian mengangguk.

Bu-beng Lo-kai marah atau berpura-pura marah. Dia bangkit berdiri dan membanting kakinya. “Waduh, celaka! Cucuku menjadi pencuri? Menjadi maling? Tidak, kau harus kembalikan semua ini kepada….”

Tiba-tiba ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena teringat bahwa semua makanan tadi, juga araknya, sudah masuk ke dalam perutnya! Mana mungkin bisa dikembalikan lagi? Suma Lian yang cerdik anaknya dapat menduga isi pikirannya dan dengan suara mengandung kemenangan anak itu pun berkata,

“Makanan sudah kita makan, mana bisa dikembalikan, kek?”

“Baiklah, akan tetapi pakaian ini… mana pakaianku yang butut tadi?” Dia menjenguk ke bawah tebing dan kembali menjambak rambutnya. “Hayaa… celaka, pakaian itu sudah kuhanyutkan tadi!”

“Punyaku juga, kek. Dan lagi, kalau dikembalikan pun, yang punya tentu sudah tidak mau menerimanya, sudah kutambal-tambal…”

Bu-beng Lo-kai teringat bahwa pakaian yang sudah dipakainya itu, selain tidak dapat dilepaskan karena pakaian bututnya sudah hilang, juga sudah penuh tambalan, tidak mungkin dikembalikan. “Masih ada yang baru, yang lain itu, pakaian cadangan itu harus dikembalikan…”

“Tidak bisa juga, kek. Lihat ini,” dan Suma Lian memperlihatkan cadangan pakaian untuk kakek itu dan untuknya sendiri. Ternyata semuanya telah ditambal-tambal oleh Suma Lian, dilakukan ketika kakek tadi mandi dengan lamanya.

“Wah, wah…! Kau setan cilik…”

“Ehh, kenapa kakek marah-marah dan memaki orang? Kata nenek, kebiasaan memaki itu tidak baik, kelak di neraka lidah akan dicabut keluar oleh malaikat…”

“Hushh! Sembarangan saja kau bicara. Apakah nenekmu Teng Siang In itu juga tidak pernah mengajarkan kepadamu bahwa mencuri adalah perbuatan yang amat tidak baik? Keturunan para pendekar Pulau Es bukan pencuri!”

“Aku selalu dilarang mencuri oleh ayah ibu dan nenekku, kek. Akan tetapi, apa yang kulakukan tadi adalah karena terpaksa. Dan yang kuambil pakaian dan makanannya adalah keluarga yang kaya raya, yang agaknya tidak akan merasa kehilangan apa-apa. Bukankah makanan tadi kuambil karena kita berdua kelaparan dan pakaian ini kuambil karena kita berdua amat membutuhkan? Kek, kalau kita mencuri yang mengakibatkan orang yang kecurian itu menderita, dan barang yang kita curi itu untuk kita pakai berfoya- foya, itu barulah tidak benar dan…”

“Cukup! Sekali mencuri tetap mencuri! Maling tetap maling, biar yang dimaling itu batu koral mau pun batu permata! Mengambil barang orang lain yang bukan menjadi haknya adalah perbuatan jahat. Kita adalah keluarga pendekar, bukan keluarga maling dan pendekar berkewajiban untuk menentang para penjahat, termasuk pencuri. Mulai saat sekarang kau tidak boleh mencuri lagi. Kita belajar ilmu bukan untuk menjadi pencuri. Berjanjilah, kalau tidak, terpaksa aku akan membawamu pulang ke Hong-cun dan…”

Kakek itu berhenti marah-marah ketika melihat betapa ada dua tetes air mata jatuh dari sepasang mata yang memandangnya dengan penuh sesal itu. Dia menarik napas panjang. “Sudahlah, aku sudah melihat bahwa kau benar menyesal dan bertobat. Lebih baik minta-minta untuk menolong diri sendiri kalau memang kita sudah tidak mampu bekerja lagi, dan lebih baik mati kelaparan dari pada menjadi penjahat! Mengertikah engkau, cucuku?”

Suma Lian mengangguk. “Aku mengerti, kakekku yang baik.”

Bu-beng Lo-kai tersenyum dan anak itu pun tersenyum lagi dan cuaca menjadi cerah. “Nah, mari sekarang kita pergi menghadap orang yang kau curi miliknya itu.”

Suma Lian membelalakkan matanya. “Wahh…! Mana aku berani…?”

“Seorang pendekar harus berani bertanggung jawab. Aku pun tadi telah makan barang curian, dan sekarang memakai barang curian, aku pun harus bertanggung jawab. Mari, bawa aku ke rumah di mana engkau melakukan pencurian itu.”

Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Suma Lian terpaksa membawa kakek itu ke rumah besar di mana tadi ia melakukan pencurian. Ia memang seorang anak yang lincah dan karena sejak kecil sudah digembleng oleh ayah ibunya dan neneknya, maka ia memiliki kelincahan dan tidak sukar baginya untuk meloncat naik ke atas tembok rumah itu, kemudian dengan kecepatannya ia menyusup ke dalam kamar- kamar dan dapur, mencuri makanan dan pakaian tanpa diketahui oleh seorang pun di antara para penghuni rumah itu.

Rumah itu besar, terlalu besar untuk ukuran dusun. Suma Lian benar. Memang rumah itu milik orang kaya raya yang takkan merasa kehilangan kalau miliknya hanya diambil sekian saja. Dan ternyata rumah itu milik keluarga bangsawan dari kota raja!

Kadang-kadang, untuk mencari ketenteraman yang tidak bisa mereka dapatkan di kota raja yang ramai itu, keluarga Pouw, pemilik rumah itu, pergi ke dusun di luar kota raja ini dan di rumah mereka inilah mereka tinggal. Jika saja keluarga itu tidak kebetulan berada di situ, tentu tadi Suma Lian hanya dapat mencuri pakaian saja yang ditinggalkan di situ, akan tetapi tidak akan memperoleh makanan-makanan yang lezat, melainkan makanan sederhana yang biasa dimasak oleh para pelayan dan penjaga rumah itu.

Para penjaga pintu, memandang kakek dan anak perempuan itu penuh keraguan ketika mereka minta untuk bertemu dengan pemilik rumah, akan tetapi karena dua orang tamu aneh ini tampak bersih dan majikan mereka pun suka menerima siapa saja yang datang bertamu, para penjaga lalu membuat laporan ke dalam, mengatakan bahwa ada dua orang tamu yang aneh, seorang kakek tua sekali dan seorang anak perempuan yang manis, keduanya memakai pakaian bersih dan tambal-tambalan, minta diperkenankan menghadap.

“Mereka tidak memberi nama dan tidak mengenal nama Taijin, hanya minta menghadap pemilik rumah,” demikian penjaga itu mengakhiri laporannya.

Laki-laki yang disebut Taijin itu tersenyum. Dia seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian longgar dan wajahnya membayangkan kesabaran yang penuh wibawa.

Pemilik rumah itu adalah seorang bangsawan, bahkan dia memiliki pangkat yang cukup tinggi karena dia adalah seorang di antara para menteri pembantu kaisar! Dia pernah menjabat sebagai seorang panglima pasukan keamanan kota raja, dan kini ia menjadi seorang menteri yang mengatur tentang pendapatan istana, yaitu semua pemasukan pendapatan dari pajak dan lain-lain.

Pada waktu itu, Pouw Taijin atau dulu pernah dikenal sebagai Pouw-ciangkun (perwira Pouw), bersama isterinya dan lima orang anak-anaknya, empat laki-laki dan seorang anak perempuan, sedang beristirahat di dusun itu. Akhir-akhir ini, memang dia semakin sering saja berada di dusun itu, karena keadaan di kota raja membuat dia tidak betah di gedungnya di kota raja.

Bu-beng Lo-kai dan Suma Lian disuruh masuk ke ruangan tamu oleh seorang penjaga dan belum berapa lama mereka duduk, muncullah tuan rumah dari pintu sebelah dalam. Bu-beng Lo-kai cepat mengajak cucunya bangkit berdiri dan memberi hormat kepada laki-laki yang memandang kepada mereka dengan mata terbelalak penuh keheranan itu.

“Maafkan kami kalau mengganggu,” kata Bu-beng Lo-kai dan kata-katanya yang teratur menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang gelandangan biasa saja, “cucuku ini ingin membuat pengakuan kepada tuan rumah.”

Pouw Tong Ki, nama dari pembesar itu, semakin heran memandang kepada kakek tua renta dan anak perempuan itu. Dia seorang berpengalaman, dan melihat pakaian kakek dan anak perempuan itu yang baru akan tetapi tambal-tambalan, jelas baginya bahwa pakaian itu bukan membutuhkan tambalan melainkan sengaja ditambal-tambal, ia dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang-orang kang- ouw yang memiliki kebiasan yang aneh-aneh.

“Saya Pouw Tong Ki, pemilik rumah ini. Silakan kalian duduk…”

“Nanti saja kami duduk setelah cucuku membuat pengakuannya,” kata Bu-beng Lo-kai dengan tegas dan dia pun mencowel lengan cucunya.

Suma Lian berdiri dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Bukan main malunya apa lagi melihat betapa tuan rumah itu amat ramah memandang kepadanya.

“Nona kecil yang baik, apakah yang hendak nona katakan? Katakan saja dan jangan ragu-ragu,” katanya sambil tersenyum ramah.

Sikap ini banyak menolong dan setelah beberapa kali menelan ludah, akhirnya Suma Lian berkata, suaranya lirih akan tetapi cukup tegas dan jelas.

“Saya… saya minta maaf karena tadi saya…” sukar sekali baginya untuk mengeluarkan kata-kata pengakuan itu.

Mengaku menjadi pencuri! Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi dirinya, bagi ‘aku’ nya. Makin tinggi orang membentuk gambaran tentang dirinya, semakin sukar pula baginya untuk mengenal dan mengakui kesalahannya.

“Cucuku, apakah engkau ingin menjadi seorang pengecut?” tiba-tiba kakek itu bertanya dan ucapan ini seperti api yang membakar dada Suma Lian!

“Saya datang untuk minta maaf dan mengaku bahwa tadi saya telah mencuri makanan yang sudah kami makan berdua, dan pakaian beberapa stel yang sudah kami pakai dan kami jadikan cadangan-cadangan kami!” katanya dengan sikap gagah dan sepasang matanya yang jernih itu memandang kepada wajah tuan rumah tanpa mengenal takut sedikit pun!

Pouw Tong Ki nampak terkejut dan terheran-heran. “Tapi… tapi… pakaian yang kalian pakai itu bukan milik kami. Kami tidak mungkin memiliki pakaian tambal-tambalan…”

“Memang sengaja telah saya tambal-tambal agar sesuai dengan keadaan kami sebagai pengemis,” jawab Suma Lian.

“Maaf,” sambung Bu-beng Lo-kai. “Kami sudah terbiasa memakai pakaian tambal-tambalan sehingga tidak enak rasanya memakai pakaian utuh tanpa tambalan.”

“Ahh…! Ahh…! Bukan main ji-wi (kalian berdua) ini…! Anakku harus melihat ini, harus dapat mencontoh!” Pouw Taijin bertepuk tangan dan dua orang penjaga muncul di pintu luar.

“Cepat kalian cari siocia dan minta agar datang ke sini dengan cepat!”

“Saya sudah minta maaf, kenapa harus memanggil orang lain?” Suma Lian memprotes karena bagaimana pun juga, ia merasa tidak suka kalau perbuatannya mencuri itu diberi tahukan kepada orang-orang lain!

“Nona, harap jangan salah duga. Yang kupanggil adalah puteriku, puteri tunggal, dan karena pakaiannyalah yang kau ambil dan kau pakai itu, bukankah sudah sepatutnya kalau ia datang sendiri menerima permintaan maaf darimu?”

Suma Lian tak mampu membantah lagi, hanya mukanya berubah merah sekali. Ia harus menebalkan muka lagi, berhadapan dengan orang yang kini pakaiannya ia pakai!

Tidak lama kemudian, dari pintu dalam muncul seorang gadis cilik yang manis, sebaya dengan Suma Lian, pembawaannya tenang sekali akan tetapi sepasang matanya terang membayangkan kecerdikan. Sejenak gadis cilik itu memandang kepada Bu-beng Lo-kai dan Suma Lian, lalu bertanya kepada Pouw Tong Ki,

“Ayah, ada apakah ayah memanggil aku agar cepat datang ke sini dan siapa pula dua orang yang pakaiannya aneh-aneh ini?”

“Li Sian, dengar baik-baik. Ayah pun tak mengenal kedua orang ini, akan tetapi mereka datang minta bertemu dengan kita berdua karena nona kecil ini ingin menyampaikan sesuatu kepada kita. Kepadaku dia sudah sampaikan maksud kedatangannya dan kini dengarlah apa yang akan ia katakan kepadamu.”

Nona cilik itu memandang kepada Suma Lian, memandang penuh perhatian dari rambut sampai ke sepatunya, kemudian ia mengerutkan alisnya dan berkata pada Suma Lian, “Siapakah engkau yang berpakaian seaneh ini dan hendak menyampaikan apa?”

Suaranya halus teratur, tidak galak dan mengandung kelembutan, akan tetapi agaknya ia terkejut dan terheran-heran mendengar kata-kata ayahnya tadi.

Sekarang untuk kedua kalinya Suma Lian mengangkat mukanya, meluruskan kepala dan membusungkan dadanya, lalu berkata, “Aku datang ke sini untuk minta maaf dan membuat pengakuan bahwa tadi aku telah menyelinap ke dalam rumah ini dan mencuri makanan, yaitu dua panci masakan, seguci arak dari dapur, serta dari dalam kamar-kamar aku mengambil… ehhh, mencuri beberapa stel pakaian untuk kakekku ini dan untukku sendiri, juga sepatu ini. Pakaian-pakaian itu sudah kutambal-tambal, jadi tidak mungkin dikembalikan seperti yang dikehendaki kakekku, juga makanan itu terlanjur kami makan habis.”

Pouw Li Sian menjadi bengong, memandang ke arah pakaian Suma Lian. Ia mengenal bajunya sendiri yang sudah ditambal-tambal itu, juga ia mengenal sepatunya. Namun, yang membuat ia bengong, kenapa anak ini, yang sudah berhasil melakukan pencurian tanpa diketahui, kini malah datang membuat pengakuan dan minta maaf?

“Nah, Li Sian. Engkau sendiri menjadi terheran heran mendengar pengakuannya. Sikap seperti inilah yang harus kau tiru, anakku!”

“Maksud ayah… berpakaian pengemis dan… dan mencuri itu?”

“Bukan! Tetapi sikap berani mempertanggung jawabkan segala perbuatan itulah! Aihh, betapa akan baiknya kalau semua pejabat dapat bertanggung jawab seperti anak ini! Li Sian, jika ada orang-orang seperti ini kehabisan pakaian dan kelaparan, lalu mengambil makanan dan pakaian darimu, yang bagi kita tidak ada artinya, apakah engkau rela?”

Li Sian mengerutkan alisnya yang hitam indah itu. Lalu ia menggeleng kepalanya. “Aku tidak rela, ayah. Kalau mereka datang dan minta kepadaku, mungkin aku akan memberi yang lebih baik dan lebih banyak dari pada yang telah diambilnya. Akan tetapi mencuri? Tidak, itu tidak benar dan aku tidak rela!”

“Akan tetapi, mereka sudah datang minta maaf. Lalu bagaimana pendapatmu? Apakah mereka kau maafkan?”

“Aku tidak mau memaafkan orang yang mencuri karena ia tentu kelak akan mencuri lagi. Pencurian harus dihukum dan hukumannya terserah kepada ayah. Akan tetapi kalau mengenai barang-barangku, itu kurelakan dan sekarang juga kusumbangkan kepada mereka, ayah.”

“Bagus!” Tiba-tiba Bu-beng Lo-kai berkata dengan pandang mata kagum kepada puteri tuan rumah. “Itu pun merupakan suatu pendirian yang gagah dan harus dihormati. Lihat, cucuku, puteri tuan rumah ini pantas kau jadikan teladan. Tegas dan adil!”

Pouw Tong Ki yang kini merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, lalu pura-pura bertanya, “Orang tua, apakah hanya itu saja maksud kedatangan ji-wi ke sini? Hanya untuk membuat pengakuan dan minta maaf begitu saja?”

Kakek tua renta itu kini menujukan pandang matanya kepada tuan rumah. Diam-diam Pouw Tong Ki merasa terkejut dan kagum, juga jeri sekali. Sepasang mata itu dapat mengeluarkan sinar mencorong seperti api!

“Benar, akan tetapi aku setuju sekali dengan pendapat puterimu. Yang bersalah harus dihukum. Kami telah bersalah dan kami juga bukan orang yang suka menghindarkan diri dari hukuman. Nah, kami telah mengaku salah, kami telah datang menyerahkan diri, kalau mau menjatuhkan hukuman, silakan!”

“Baik, kami akan menghukum ji-wi dan ji-wi sudah berjanji untuk menerima hukuman itu.”

“Tetapi hukuman itu harus benar-benar adil, jika tidak, aku akan menentangnya! Sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang ketidak adilan, bukankah begitu, kek?” tiba-tiba Suma Lian berkata kepada tuan rumah dan dia pun tegak berdiri menanti hukuman dengan sikap gagah!

“Hukuman untuk ji-wi adalah satu bulan lamanya harus mau menjadi tamu kehormatan kami di rumah ini! Locianpwe ini akan menjadi temanku bercakap-cakap, sedangkan nona cilik ini menjadi teman bermain dari Pouw Li Sian, anak kami ini. Locianpwe, saya bernama Pouw Tong Ki, menjabat Menteri Pendapatan Istana yang sedang beristirahat di sini, harap locianpwe tidak menolak undangan kami untuk menjadi tamu kehormatan kami!”

Kakek dan cucunya itu menjadi bengong! Mana di dunia ini ada hukuman berupa menjadi tamu kehormatan dan menjadi sahabat? Dan tuan rumah ini ternyata seorang menteri! Seorang ‘tiong-sin’ menteri setia dan bijaksana seperti nampak pada sikapnya, dan dapat mengenal dirinya maka bersikap demikian hormat.

“Bagaimana ini, kakek? Hukumannya aneh sekali!” kata Suma Lian bingung.

“Ha-ha-ha, kita sudah berjanji dan sanggup untuk menerima, sekali-kali tidak baik kalau menolaknya, cucuku.”

Pouw Li Sian menjadi girang sekali dengan keputusan ayahnya dan dia pun maju dan memegang tangan Suma Lian. “Engkau anak yang aneh sekali dan aku sangat suka kepadamu. Namaku Pouw Li Sian. Siapakah namamu?”

“Namaku Suma Lian. Dan aku pun merasa heran ada puteri seorang menteri suka bersahabat dengan seorang anak pengemis. Tidak malukah engkau bersahabat dengan aku?”

Pouw Li Sian merangkul pundaknya. “Engkau dahulu lahir telanjang seperti aku, hanya pakaian saja yang memberi sebutan-sebutan itu. Mari kita lihat kebun buah kami, kini sedang musim apel, banyak dan besar- besar. Mari kita petik!” Ia lalu menggandeng tangan Suma Lian yang mengikutinya dengan rasa girang tanpa menoleh lagi kepada kakeknya.

“Locianpwe, mari kita bicara di ruangan dalam. Silakan!” Pembesar itu bangkit dan mengajak kakek itu masuk ke dalam, diikuti oleh Bu-beng Lo-kai yang merasa semakin suka saja kepada laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi akan tetapi berjiwa sederhana itu.

Setelah mereka duduk di ruang dalam, Pouw Tong Ki memperkenalkan isterinya kepada kakek itu, juga empat orang puteranya yang berusia dari sembilan belas tahun sampai enam belas tahun, kakak-kakak dari Pouw Li Sian. Bu-beng Lo-kai semakin hormat kepada keluarga ini, contoh keluarga pembesar yang baik dan ramah.

Sebaliknya, keluarga itu menganggap kakek yang berpakaian tambal-tambalan dan diaku sebagai tamu kehormatan oleh pembesar itu sebagai seorang kakek yang tentu berilmu tinggi. Setelah mereka mundur dan para pelayan menghidangkan minuman arak dan makanan kering, pembesar itu lalu bertanya, suaranya bersungguh-sungguh.

“Kalau saya tidak salah duga, locianpwe tentulah seorang pendekar dari keluarga Pulau Es, bukan?”

Bu-beng Lo-kai terkejut, sama sekali tidak mengira akan ditanya demikian. “Bagaimana Taijin dapat menduga demikian?” Dia balas bertanya sambil memandang tajam.

Jika penghormatan ini didasarkan dugaan tuan rumah bahwa dia dan cucunya keluarga para pendekar Pulau Es, berarti bahwa penerimaan dan penghormatan keluarga ini mengandung suatu pamrih tertentu dan dia harus berhati-hati.

“Tadinya saya tidak menduga apa-apa, akan tetapi setelah cucumu berkenalan dengan puteriku dan mengaku bernama Suma Lian, maka timbullah dugaan itu di hati saya. Bukankah nama marga Suma itu jarang sekali dan dimiliki oleh keluarga Pulau Es?”

Kakek itu menarik napas lega. Dia percaya dan memang benar ucapan pembesar ini. Nama marga Suma yang bukan merupakan keluarga Pulau Es memang ada, akan tetapi tidak banyak dan karena keluarga Pulau Es terkenal di antara para pembesar di kota raja, maka tidak mengherankan kalau pembesar ini segera dapat menduganya demikian.

“Dugaanmu memang tidak keliru, Pouw Taijin. Cucuku Suma Lian itu adalah keturunan langsung dari keluarga Pulau Es.”

“Dan bolehkah saya mengetahui siapa nama locianpwe yang mulia?”

“Aihhh… saya sendiri sudah lupa akan nama saya. Saya hanya orang luar dan saya hanya mempunyai sebutan Bu-beng Lo-kai.”

Pouw Tong Ki tidak merasa kecil hati mendengar ini. Dia berpengalaman luas dan tahu apa artinya itu. Berarti bahwa kakek ini tak mau dikenal oleh siapa pun juga. Memang banyak sekali orang-orang sakti yang ingin menyembunyikan diri dan kepandaiannya. Maka dia semakin kagum dan menduga bahwa tentu kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Dan diam-diam dia pun mempunyai harapan.

Di antara lima orang anaknya, justru Li Sian seorang satu-satunya anak perempuannya yang menaruh minat akan latihan silat, dan juga berbakat sekali. Alangkah akan girang hatinya kalau Li Sian dapat menjadi murid kakek ini, menjadi saudara seperguruan atau saudara angkat dari anak perempuan bernama Suma Lian yang mengagumkan hatinya itu!

Mereka lalu bercakap-cakap. Ternyata oleh tuan rumah bahwa kakek yang kelihatannya saja seperti seorang pengemis tua ini, ternyata memiliki daya tangkap yang tajam dan pengetahuan yang luas sekali. Kakek tua renta itu bahkan pandai menanggapi ketika percakapan menyinggung keadaan kaisar.

Kakek itu amat menyayangkan bahwa seorang kaisar secakap Kaisar Kian Liong itu akhirnya dapat begitu mudah diperdaya oleh seorang menteri durna seperti Hou Seng, hanya karena kaisar itu tergila-gila kepadanya dan menganggapnya penjelmaan dari seorang wanita yang pernah dicintanya.

“Kaisar merupakan mercu suar dari pemerintahan,” demikian antara lain kata kakek tua renta ini. “Jika kaisarnya lemah, maka pemerintahan pun lemah dan hal ini menurunkan kewibawaan pemerintah terhadap rakyat, juga memberi angin kepada para pembesar durna untuk merajalela. Akibatnya, rakyat yang akan tertindas dan kalau sampai rakyat merasa tidak puas dengan suatu pemerintah, itu tandanya bahwa pemerintah itu sudah mulai rapuh dan akan mudah jatuh kalau sampai terjadi pemberontakan, karena rakyat tentu akan lebih condong membantu pemberontak dari pada pemerintah yang tidak disukanya. Dan jika kaisar lemah, sudah menjadi kewajiban para menteri dan pembesar tinggi untuk mengingatkannya.”

“Pendapat locianpwe memang tepat sekali. Namun celakanya, Hou Seng itu agaknya memang sudah membuat persiapan. Selain sukar untuk membuktikan korupsinya yang hanya diketahui beberapa orang yang bersangkutan dengan kekayaan negara saja, juga dia kelihatan amat setia kepada kaisar dan bahkan kini mengumpulkan kekuatan rahasia untuk memperkuat kedudukannya. Menteri-menteri yang kuat disingkirkannya, baik melalui kekuasaan kaisar atau pun melalui kaki tangannya. Menteri-menteri yang mentalnya tidak kuat, dirangkul dengan sogokan-sogokan besar. Siapa pun yang berani menentangnya, tahu-tahu mati dalam keadaan amat menyedihkan dan aneh. Seperti baru saja terjadi pada diri Pangeran

Cui Muda yang kedapatan mati bersama seluruh pengawalnya di sebuah rumah pelesir, tanpa ada tanda- tanda siapa yang melakukan pembunuhan itu. Saya sendiri sudah tahu bahwa itu tentulah perbuatan orang sakti yang menjadi kaki tangan Hou Seng itu. Aihhh… sungguh sedih sekali hatiku melihat keadaan istana. Karena itulah maka saya lebih sering berada di dusun sunyi ini dari pada di kota raja. Kalau saja orang- orang seperti Panglima Kao Cin Liong itu masih menjadi pembesar di kota raja. Ah, hanya orang-orang dengan kepandaian tinggi seperti dialah yang akan mampu membendung kekuasaan Hou Seng yang merajalela. Saya kira locianpwe tahu siapa adanya Panglima Kao Cin Liong itu, bukan?”

Bu-beng Lo-kai mengangguk-angguk. Tentu saja dia sudah mendengar tentang putera dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu!

“Panglima Kao Cin Liong adalah seorang di antara para sahabat baik saya, locianpwe. Ketika dia masih menjabat panglima, saya dapat mengajaknya bertukar pikiran setiap ada keruwetan di istana. Tetapi sekarang, ahh, ia sudah lama sekali mengundurkan diri dan kini hanya menjadi seorang pedagang rempah-rempah di Pao-teng. Betapa saya amat merindukan nasehat-nasehatnya dalam keadaan seperti ini.” Pembesar itu hanya terdengar menarik napas panjang saat mengakhiri keluhannya.

Bu-beng Lo-kai makin suka kepada pembesar she Pouw ini. Kalau menteri ini sahabat baik bekas Panglima Kao Cin Liong yang terkenal itu, jelaslah bahwa dia memang seorang menteri yang baik dan bijaksana, dan dia merasa gembira dapat menjadi tamunya.

“Bagaimana Taijin dapat memastikan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan atas diri para pembesar itu adalah perbuatan kaki tangan Hou Seng?” tanyanya, ingin tahu sekali karena apa yang diceritakan oleh pembesar ini amat penting dan agaknya masih ada hubungannya dengan pengalaman Suma Lian.

“Mereka yang menjadi korban pembunuhan rahasia itu, semua terbunuh oleh orang-orang pandai yang tidak dilihat sepak terjangnya, hanya nampak bayangannya saja. Dan menurut penyelidikan, mereka yang tewas itu semua adalah orang-orang yang menentang kekuasaan Hou Seng. Bahkan mendiang Pangeran Cui Muda juga sering menentangnya karena merasa kalah bersaing dalam istana dan pangeran itu pernah menghinanya di suatu pesta.”

“Lalu apa yang akan Taijin lakukan?”

“Pembunuhan-pembunuhan gelap seperti ini tidak boleh didiamkan begitu saja!” kata menteri itu penuh semangat. “Seolah-olah pemerintah kita terdiri dari algojo-algojo yang boleh saja saling bermusuhan dan saling mengirim pembunuh. Bagaimana kalau nanti semua pembesar memelihara jagoan-jagoan untuk saling bunuh. Sudah terlalu banyak jatuh korban. Saya akan memberanikan diri untuk menghadap kaisar dan menceritakan semua ini, dan kalau perlu saya akan menemui Hou Seng dan akan saya tegur atas perbuatannya yang sewenang-wenang dan kotor itu!”

Bu-beng Lo-kai menarik napas panjang. Percakapan mereka harus terhenti pada saat munculnya Suma Lian dan Li Sian. Mereka masuk sambil bergandengan tangan dan Suma Lian memberi dua buah apel merah kepada kakeknya.

“Kek, Li Sian ini baik sekali kepadaku dan kebun apelnya penuh dengan buah apel yang manis. Ini dua buah untukmu, kek. Aku sudah kekenyangan makan apel!”

“Hushh, bagaimana engkau menyebut namanya begitu saja? Ia puteri seorang menteri, setidaknya engkau harus menyebutnya siocia (nona)!” kata Bu-beng Lo-kai.

“Ia tidak mau, kek. Dan usia kami memang sebaya, akan tetapi aku lebih tua beberapa bulan maka ia malah menyebut enci kepadaku.”

Sementara itu, Li Sian berkata kepada ayahnya. “Ayah, enci Lian ini pandai sekali! Menurut kakak-kakakku, enci Lian pandai silat dan ketika dicoba, semua kakakku kalah olehnya. Aku sendiri pun dalam lima jurus saja sudah keok! Wah, ia lihai dan juga ia pandai menulis sajak. Sungguh seorang anak pengemis yang luar biasa, ayah. Kini aku menganggapnya sebagai saudaraku sendiri!”

Menteri Pouw mengangguk-angguk senang dan memandang kagum pada Suma Lian. “Bagus sekali kalau engkau dapat menghargai orang pandai, anakku. Ketahuilah bahwa ia adalah keturunan langsung dari keluarga Pendekar Pulau Es, tentu saja ia amat lihai.”

“Ehhh? Kakek memperkenalkan keluarga kita?” Suma Lian memandang pada kakeknya dengan mata terbelalak, seperti menegur.

Kakeknya menggeleng kepala sambil tersenyum. “Anak baik, nama keluargamu sudah amat terkenal di sini. Begitu engkau menyebutkan she (nama marga) Suma tadi, Pouw Taijin juga sudah dapat menduga bahwa engkau tentu keturunan dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.”

“Dan engkau…” hampir saja Suma Lian memperkenalkan keadaan diri kakek itu sebagai mantu Pendekar Super Sakti, suami dari mendiang Puteri Milana yang terkenal sekali.

Kakek itu memotong, “aku adalah Bu-beng Lokai dan tidak ada keterangan lain sebagai tambahan.”

Suma Lian mengangguk. Saat itulah digunakan oleh Pouw Tong Ki untuk menyatakan hasrat hatinya. “Locianpwe, kami mohon dengan hormat dan sangat kepada locianpwe, sudilah kiranya locianpwe memberi bimbingan kepada Li Sian, anak kami ini yang suka sekali akan ilmu silat, berbeda dengan kakak- kakaknya yang suka akan ilmu sastera.”

“Benar, kek, Li Sian ini lebih berbakat dari pada kakak-kakaknya. Ia juga minta belajar silat kepadaku. Akan tetapi aku sendiri masih belajar, bagaimana mungkin bisa memberi pelajaran? Kalau kakek mau membimbingnya bersamaku, betapa akan senangnya kami berdua untuk berlatih bersama dan aku yang akan memberi petunjuk kepadanya.”

Kakek itu tersenyum lebar akan tetapi tidak menjawab, melainkan memandang ke arah Pouw Li Sian dan dia melihat bahwa memang anak perempuan itu memiliki bakat yang baik, dapat dilihat dari gerak-geriknya. “Ha-ha-ha, setua aku ini mana bisa menerima murid? Kalau hanya sekedar petunjuk dan bimbingan saja, tentu dengan senang hati…”

“Li Sian, cepatlah berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada locianpwe Bu-beng Lo-kai!” kata Pouw Tong Ki yang cerdik.

Li Sian juga seorang anak yang patuh dan cerdik. Ia sudah dapat mengerti bahwa kalau Suma Lian saja sedemikian lihainya sehingga anak perempuan berusia dua belas tahun itu dapat mengalahkan kakaknya yang paling tua berusia Sembilan belas tahun secara mudah saja, maka apa lagi kepandaian kakek dari Suma Lian! Tentu kakek ini seorang sakti!

Dan ia pun pernah mendengar dongeng tentang para pendekar Pulau Es, tentang Puteri Nirahai, Puteri Milana yang pernah menjadi panglima-panglima perang kerajaan. Maka, mendengar perintah ayahnya, ia cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Locianpwe, saya Pouw Li Sian menghaturkan terima kasih atas bimbingan locianpwe.”

Kakek itu tertawa senang. “Ha-ha-ha, keluarga Pouw sungguh pandai merendah, dan kerendahan hati ini selalu menguntungkan seseorang, lahir mau pun batin. Bangkitlah, anak baik. Suma Lian, ajaklah ia duduk. Aku hanya akan memberi bimbingan, bukan mengangkat murid. Biarlah engkau belajar bersama-sama Suma Lian.”

Suma Lian merangkul sahabatnya itu, kemudian diajaknya duduk. Dalam percakapan berikutnya, sambil tetap menggandeng tangan Suma Lian, Li Sian pun berkata kepada ayahnya, “Ayah, aku sudah mengambil keputusan untuk belajar bersama enci Lian, baik belajar ilmu silat mau pun ilmu baca tulis. Aku minta agar ia dan locianpwe ini suka tinggal selamanya di sini. Kalau mereka tidak mau dan akan pergi dari sini, aku akan ikut bersama mereka! Enci Lian sudah kuanggap enci-ku sendiri, ayah.”

Ayahnya hanya tersenyum dan memandang kepada Bu-beng Lo-kai yang juga hanya tersenyum melihat betapa dua orang gadis cilik itu begitu bertemu terus dapat cocok sedemikian rupa. Padahal, keduanya memiliki watak dan sifat yang berbeda, bahkan mungkin berlawanan.

Suma Lian mempunyai watak yang periang, lincah jenaka dan suka bicara, bahkan agak nakal dan ugal- ugalan. Sebaliknya, Pouw Li Sian berwatak pendiam, tak banyak bicara, sabar namun tegas. Akan tetapi keduanya sama-sama suka kagagahan, menentang hal-hal yang jahat, dan suka membantu orang-orang lemah. Keduanya mempunyai jiwa pendekar!

Demikianlah, mulai hari itu, Bu-beng Lo-kai dan Suma Lian menjadi tamu kehormatan, bahkan sudah dianggap warga dari keluarga Pouw yang ramah tamah itu. Kakek itu mendapatkan sebuah kamar dekat tuan rumah, sedangkan Suma Lian tidur sekamar di kamar Li Sian.

********************

Menyusul percakapan-percakapannya dengan kakek Bu-beng Lo-kai, semangat Pouw Tong Ki semakin berkobar dan dia pun melanjutkan rencananya yang sudah menjadi keputusan hatinya untuk menentang tindakan Hou Seng yang sewenang-wenang. Pada suatu persidangan dengan kaisar, selain melaporkan hal-hal yang mengenai keuangan, dia menggunakan kesempatan ini untuk melaporkan hal lain.

“Hamba mohon paduka suka mengambil perhatian akan keadaan rakyat yang mengeluh karena berulang kali terjadi pemungutan pajak liar dari para tuan tanah yang sudah memperoleh ijin langsung dari istana. Pemungutan pajak harus didasari keadilan, bukan hanya sekedar mendatangkan keuntungan bagi pemerintah. Kalau hal itu merupakan penindasan, maka rakyat akan mengeluh dan tidak merasa tenteram hidupnya.”

Kaisar memandang kepadanya dengan alis berkerut. Dari Hou Seng kaisar ini sudah sering sekali mendengar bisikan-bisikan tentang ‘buruknya’ menteri Pouw ini yang suka melontarkan protes ke atasan.

“Apa yang kau maksudkan dengan keadilan dalam pemungutan pajak itu?” tanya kaisar.

“Begini, Sribaginda. Dalam memungut pajak, besar kecilnya penghasilan para petani itu harus diperhitungkan secara seksama. Kalau sekali waktu hasil panen mereka amat kecil karena datangnya musim kemarau panjang atau terserang hama sehingga hasil keringat mereka itu untuk dimakan keluarga sendiri saja masih belum mencukupi, hendaknya diadakan peraturan agar para tuan tanah tidak memaksakan pemungutan pajak. Dan pemerintah pun memberi kelonggaran kepada para tuan tanah dalam hal membayar pajak. Memang tentu saja pemasukan di istana menjadi berkurang, akan tetapi hal itu disebabkan oleh bencana alam. Biar pun pemasukan berkurang, akan tetapi semua pihak tidak mengeluh dan kalau hasil panen besar dan baik, tentu mereka suka membayar pajak penuh dengan hati rela.”

Kaisar Kian Liong yang tidak begitu beminat lagi untuk memperhatikan keadaan yang dianggap tidak penting itu, hanya mengangguk-angguk. “Pendapat dan usul itu baik sekali untuk diperhatikan.”

“Ampun, Sribaginda yang mulia. Hamba kira bahwa peraturan pajak yang kini diadakan pemerintah telah cukup baik dan adil. Jika pemerintah terlampau longgar, maka mereka yang berkewajiban membayar pajak itu selalu akan mempergunakan kelemahan atau kelonggaran pemerintah untuk menghindarkan diri dari pembayaran pajak. Tanpa ada tekanan, mereka itu tidak akan mau membayar!”

Ucapan yang dikeluarkan Hou Seng ini membuat Kaisar kembali mengangguk-angguk dan dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan ini. Hatinya menjadi bimbang dan dia pun memandang kepada Pouw Taijin, sinar matanya bertanya bagaimana pendapat menterinya yang terkenal pandai itu.

“Ampunkan hamba, Sribaginda yang mulia. Hamba pun sudah mengerti bahwa semua peraturan yang dikeluarkan pemerintah adalah bijaksana dan adil! Tapi biasanya, yang tidak bijaksana dan tak adil adalah pelaksanaannya. Para petugas yang melaksanakan peraturan, sering kali menyalah gunakan kebijaksanaan pemerintah dan menggunakan peraturan-peraturan itu sebagai modal untuk melakukan penindasan dan pemerasan demi kegendutan perut sendiri. Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk melakukan pengamatan terhadap para pelaksana atau petugas itu, Sribaginda. Betapa pun baiknya pemerintah dan semua peraturannya, tanpa didukung pelaksanaan yang baik oleh petugas-petugas yang setia dan jujur, maka pemerintahan takkan berhasil. Dan menurut pengamatan hamba, saat ini pemerintahan paduka sedang dirongrong oleh penguasa-penguasa yang berambisi buruk dan saling bertentangan. Pembunuhan-pembunuhan terjadi di kalangan para pejabat tingkat atas, karena ada penguasa yang memelihara tukang-tukang pukul untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap saingan-saingannya. Kalau paduka tidak segera mencegahnya, keadaan yang buruk ini dapat berlarut-larut dan semakin memburuk, Sribaginda.”

Kaisar mengerutkan alisnya dan melempar pandang ke arah para menteri yang duduk di dalam ruangan sidang itu. “Benarkah sampai demikian parah sehingga ada yang saling bunuh di antara para pembantuku?”

“Apa yang dilaporkan oleh Menteri Pouw itu benar, Sribaginda. Baru-baru ini malah Pangeran Cui Muda menjadi korban pembunuhan yang amat kejam, juga semua saksi mata, pengawal, dibunuh oleh pembunuh rahasia.”

“Kami sudah mendengar bahwa pangeran itu tewas oleh perampok di dalam rumah pelesir,” kata kaisar itu.

“Bukan perampok, Sribaginda, karena tiada barang yang hilang, melainkan pembunuh bayaran yang diutus oleh seorang saingannya,” kata pula Pouw Teng Ki.

Kaisar menggeleng-geleng kepala dengan alis berkerut dan pada saat itu, Hou Seng segera berkata, “Urusan itu adalah urusan yang menyangkut keamanan dan menjadi bagian serta tugas Coa Tai-ciangkun yang menjadi kepala bagian keamanan untuk menyelidiki dan mengurusnya, Sribaginda. Dan Coa Tai- ciangkun juga hadir, kenapa paduka tidak menyerahkan saja kepadanya?”

Kaisar lalu menoleh ke kiri dan memandang kepada seorang panglima tinggi besar bermuka hitam “Bagaimana pendapatmu dalam urusan ini, Coa-ciangkun?”

Panglima tinggi besar itu memberi hormat dan terdengarlah suaranya yang berat dan dalam, amat sesuai dengan bentuk tubuhnya. “Tadinya memang hamba juga menduga bahwa pembunuhan atas diri Pangeran Muda itu merupakan perampokan, akan tetapi kemudian menurut penyelidikan, pembunuhan itu dilakukan orang karena dendam sakit hati urusan perempuan, Sribaginda. Pembunuhnya memiliki kepandaian tinggi dan tidak meninggalkan jejak, akan tetapi hamba masih terus mengutus pembantu-pembantu yang pandai untuk mencari jejaknya.”

Kaisar mengangguk-angguk lega. “Bagus kalau begitu, Coa-ciangkun dan selanjutnya atur dan jagalah agar keadaan tetap aman.”

“Selama ini keamanan dalam kota raja sudah terjaga dengan baik, Sribaginda. Keadaan para penghuni dan kehidupan mereka sehari-hari berjalan seperti biasa, tidak pernah ada gangguan, kecuali pencuri kecil- kecilan yang tidak berarti. Kalau ada orang merasa tidak aman di kota raja, berarti bahwa dia menyimpan kesalahan sehingga merasa tidak sedap makan tidak nyenyak tidur.”

Nampak beberapa pembesar tinggi menahan tawa dan tersenyum-senyum, sedangkan Hou Seng sendiri tidak menyembunyikan senyumnya yang lebar dan dengan pandang mata penuh ejekan dia memandang ke arah Pouw Tong Ki. Pouw Tong Ki dan mereka yang menentang Hou Seng tak mampu berkata apa-apa lagi dan merasa ditertawakan. Mereka hanya tahu bahwa panglima she Coa itu sudah dirangkul oleh Hou Seng dan tentu saja membelanya!

Ketika persidangan itu bubaran, Pouw Tong Ki menyusul Hou Seng yang melangkah menuju ke keretanya. “Hou Taijin, saya mau bicara sebentar!” katanya dengan muka merah karena mendongkol.

Hou Seng menoleh. Melihat betapa Pouw Tong Ki melangkah lebar menghampirinya, dia tersenyum mengejek. Dua orang pengawalnya siap di belakangnya dan dia tidak takut terhadap lawan ini. “Ahh, kiranya Pouw Taijin. Ada apakah?”

“Hou Taijin, di depan Sribaginda saya telah gagal. Akan tetapi, demi peri kemanusiaan, hentikanlah pembunuhan-pembunuhan itu! Kalau engkau hendak bersaing, lakukanlah dengan patut dan bersih, bukan dengan menggunakan tangan pembunuh-pembunuh bayaran! Engkaulah yang menyuruh bunuh Pangeran Cui Muda!”

Hou Seng mamandang dengan mata melotot. “Tutup mulutmu yang lancang itu, orang she Pouw! Engkau melakukan fitnah keji dan aku tidak sudi bicara lagi denganmu!” Dengan marah Hou Seng melangkah lebar dan memasuki keretanya yang segera pergi meninggalkan halaman istana.

“Aihh, engkau telah menanamkan bibit racun yang akan tumbuh mekar dan berbahaya bagimu sendiri, kawan,” kata seorang menteri tua yang kebetulan melihat peristiwa itu.

Akan tetapi Pouw Tong Ki menggerakkan pundaknya dan pergi, sedikit pun tak merasa takut akan bayangan itu. Dia pun bukan tidak tahu bahwa sikapnya terhadap Hou Seng dan pelaporannya terhadap peristiwa pembunuhan-pembunuhan itu di depan kaisar merupakan suatu tantangan terbuka kepada Hou Seng, dan bahwa akibatnya dia akan dimusuhi oleh pembesar yang sedang mabok kekuasaan itu.

Mungkin dia akan terancam bahaya, tetapi betapa pun juga, dia sudah mengeluarkan segala rasa penasaran dalam hatinya. Dia telah memberi contoh kepada para pembesar lainnya untuk secara berterang menentang Hou Seng, dan hatinya merasa lega walau pun dia tahu bahwa semua usahanya tadi tidak berhasil. Dengan cerdik Hou Seng telah bersembunyi di belakang Coa-ciangkun yang memang selaku kepala bagian keamanan paling berkuasa untuk menentukan urusan keamanan, dan Hou Seng telah lebih dahulu merebut Coa-ciangkun untuk berpihak kepadanya!

Sayang sekali bahwa Pouw Tong Ki termasuk orang yang memiliki keangkuhan. Biar pun dia tahu bahwa nyawanya terancam, namun dia tidak takut dan sama sekali tidak mau membicarakan urusan itu dengan Bu-beng Lo-kai karena dia tidak mau mendapat kesan seolah-olah dia minta perlindungan kakek sakti itu!

Tidak, dia tidak akan menyeret orang lain ke dalam urusannya itu. Akan dihadapinya sendiri dan dia tidak takut! Pouw Tong Ki memang bukan orang lemah karena dia juga pernah belajar silat sampai tingkat yang lumayan sehingga dia pernah menjadi seorang perwira tinggi.

Dan peringatan menteri tua ketika dia menyerang Hou Seng dengan kata-kata itu pun bukan hanya omong kosong belaka. Bibit racun itu memang telah tumbuh, dan betapa cepatnya!

Memang Hou Seng membawa pulang perasaan marahnya terhadap Pouw Tong Ki. Di sepanjang perjalanan ke rumahnya, dia mengepal tinju dan berkali-kali memukul telapak tangan kirinya sendiri, seolah-olah Pouw Tong Ki yang dianggapnya musuh besar itu berada di atas telapak tangan itu. Begitu tiba di rumah, dia menjadi gelisah, menimbang-nimbang dan merencanakan apa yang akan dilakukan terhadap Pouw Tong Ki. Orang she Pouw itu jelas merupakan musuhnya, orang yang membencinya dan berusaha memburukkan namanya di depan kaisar.

Malam itu, Pouw Tong Ki tidur agak malam dari biasanya. Sore tadi sampai jauh malam, dia bercakap- cakap dengan Bu-beng Lo-kai dan dengan susah payah dia membujuk kakek itu untuk tinggal lebih lama lagi di dalam gedungnya.

“Terima kasih atas segala kebaikan Taijin,” kakek itu membantah. “Akan tetapi, kami sudah biasa hidup bebas merantau di dunia ini, dan kami tidak ingin membikin repot taijin lebih lama dari pada waktu yang dijanjikan…”

“Ahhh, locianpwe tentu maklum bahwa tentang janji dan hukuman itu hanya main-main saja dari kami. Biar pun sudah sebulan locianpwe dan nona Suma berada di sini, akan tetapi kami sekeluarga telah menganggap ji-wi seperti keluarga sendiri. Terutama sekali Li Sian, bagaimana mungkin dia ditinggalkan nona Suma? Locianpwe melihat betapa akrab hubungan antara dua orang anak itu, betapa Li Sian akan berduka dan merana kalau ditinggalkan.”

“Kalau begitu, biarkan ia ikut merantau dengan kami!” Bu-beng Lo-kai berkata. “Suma Lian sudah berkali- kali membujukku, juga nona Pouw sudah berulang kali minta agar ia kami bawa serta kalau kami terpaksa meninggalkan rumah ini.”

“Membiarkan ia merantau…?” Mata pembesar itu terbelalak.

Dan dia membayangkan betapa anak perempuannya yang satu-satunya itu melakukan perjalanan jauh bersama kedua orang ini, memakai pakaian seperti pengemis! Makan dari sumbangan orang, dan siapa tahu mungkin harus mencuri makanan! Sukar baginya dapat menerima bayangan ini.

Dia seorang bangsawan! Seorang menteri! Dan dia membayangkan isterinya. Betapa akan berat hati ibu itu kalau ditinggalkan oleh puteri satu-satunya, apa lagi ditinggal merantau tak tentu tempat tujuannya. Isterinya pasti berkeberatan dan menentangnya.

Bu-beng Lo-kai tersenyum. “Tentu berat bagi taijin, akan tetapi demikianlah keinginan puteri taijin, juga menjadi keinginan Suma Lian dan saya sendiri. Puteri taijin berbakat baik sekali dalam ilmu silat.”

“Wah, saya menjadi bingung, locianpwe… berilah saya waktu untuk memikirkan hal ini sampai besok. Harus saya rundingkan dulu dengan isteri saya.”

Kembali kakek itu tersenyum. “Segala keputusan sebaiknya dilakukan tanpa ragu-ragu, taijin. Karena itu, besok pagi-pagi sekali kami akan pergi, dan keputusannya hanyalah, puteri taijin ikut bersama kami atau tidak. Saya harap besok sebelum kami pergi, taijin sudah mengambil keputusan yang pasti.”

Demikianlah, dengan hati berat Pouw Tong Ki membicarakan urusan anak perempuan mereka itu dengan isterinya.

“Tidak… ahh, jangan pisahkan aku darinya…!” Isterinya menangis. “Mengapa ia harus merantau seperti seorang pengemis? Kalau mau belajar silat kepada Bu-beng Lo-kai itu, biarlah kita belikan sebuah tempat, kalau dia menghendakinya, kita bangunkan sebuah rumah di mana saja, di tempat tertentu, dan Li Sian boleh belajar bersama Suma Lian di tempat itu. Akan tetapi bukan merantau tanpa tujuan sebagai seorang pengemis. Aku tidak rela…!”

Tentu saja hati Pouw Tong Ki menjadi bimbang, penuh keraguan dan biar pun akhirnya dia dapat menghibur isterinya sehingga tertidur, dia sendiri masih belum dapat tidur.

Sementara itu, di sebuah kamar lain, kamar di mana Li Sian tidur bersama Suma Lian, dua orang gadis cilik itu pun belum dapat tidur dan bercakap-cakap dengan suara lirih. Mereka juga bicara tentang keberangkatan Suma Lian pada besok pagi-pagi bersama Bu-beng Lo-kai dan sejak tadi Li Sian menyatakan bahwa bagaimana pun juga, ia harus ikut bersama mereka pergi merantau kalau Bu-beng Lo- kai berkeras tidak dapat dibujuk untuk tinggal lebih lama lagi di rumah keluarga Pouw.

“Kalau ayah dan ibu melarang, aku akan minggat saja dan ikut bersama kalian!” Li Sian berkata berkali- kali.

“Ahh, kurasa kalau begitu tidak benar, Li Sian,” kata Suma Lian. “Aku yakin kakek tidak akan membolehkan engkau minggat dan ikut bersama kami. Kakek amat memegang aturan, dan tentu dia tidak mau menyusahkan orang tuamu. Pula, kalau engkau minggat dan ikut bersama kami, kami bisa dituduh menculikmu.”

“Siapa yang akan menuduh? Aku dapat bilang bahwa aku ikut dengan suka rela! Biar bagaimana pun juga, aku harus ikut pergi!”

“Adikku yang manis, kau tentu tahu bahwa aku pun tidak suka berpisah darimu, dan akulah orang pertama yang akan merasa gembira bukan main kalau engkau dapat pergi bersamaku. Akan tetapi, cara yang kau akan pakai itu, yaitu dengan minggat, sungguh tidak menyenangkan. Tentu akan menimbulkan perasaan tidak enak dan tidak senang dalam hati ayah ibumu terhadap kami. Padahal, mereka sudah begitu baik terhadap kami. Tenanglah, Sian-moi, aku tadi sudah minta kepada kakek agar supaya dia suka membujuk ayahmu sehingga ayahmu akan memperbolehkan engkau ikut bersama kami dengan baik-baik.”

“Tapi aku khawatir ibuku akan berkeberatan. Ahhh, biarlah aku akan minta keputusan mereka sekarang juga. Aku merasa gelisah dan tersiksa kalau belum diberi keputusan dan kalian berdua akan berangkat besok pagi-pagi!”

Li Sian lalu keluar dari dalam kamar itu, diikuti oleh Suma Lian yang menggandeng tangannya. Li Sian bertekad untuk mengetuk pintu kamar orang tuanya dan bertanya tentang keputusan mereka mengenai keinginannya ikut pergi merantau bersama Suma Lian.

Akan tetapi tiba-tiba Suma Lian menarik tangannya dan diajak bersembunyi di balik sebuah pot bunga besar karena gadis cilik ini melihat ada bayangan berkelebat cepat sekali, melayang turun dari atas genteng! Bayangan itu dengan kecepatan luar biasa telah tiba di jendela kamar Pouw Tong Ki, kemudian menggunakan kedua tangannya, sekali tarik daun jendela itu pun terbuka dan tubuhnya meloncat ke dalam kamar.

Yang amat mengejutkan hati Suma Lian adalah ketika ia mengenal tubuh tinggi besar dan kepala gundul itu. Sai-cu Lama! Karena maklum bahwa pendeta jahat itu tentu mempunyai niat busuk, tanpa berpikir panjang lagi Suma Lian lalu meninggalkan Li Sian dan dia pun lari mengejar. Satu-satunya keinginan adalah untuk membela Pouw Taijin yang ia tahu tidur di dalam kamar itu! Akan tetapi ia masih sempat berteriak sebelum dengan nekat meloncat ke dalam kamar itu melalui jendelanya yang sudah terbuka.

“Kakek, tolong ada penjahat…!”

Ketika kakek yang bukan lain adalah Sai-cu Lama itu tadi meloncat masuk, Pouw Tong Ki belum tidur dan begitu daun jendela terbongkar, dia sudah merasa terkejut sekali dan cepat meloncat keluar dari atas tempat tidurnya. Isterinya juga terkejut oleh gerakan ini dan terbangun.

Pada waktu Pouw Tong Ki melihat seorang kakek tinggi besar berperut gendut sudah meloncat masuk ke dalam kamarnya, dia mengerti bahwa tentu itu orang jahat, maka dia menyambar pedang yang tergantung di dinding kamar.

“Penjahat busuk!” bentaknya dan dia pun sudah lantas menyerang dengan pedangnya, ditusukkan ke arah dada yang telanjang karena bajunya terbuka itu.

“Krakkk…!”

Pedang itu tepat menusuk dada, akan tetapi saking kerasnya Pouw Taijin dan saking kuatnya dada yang ditusuk, pedang itu patah menjadi dua potong! Kakek itu memang Sai-cu Lama yang diutus oleh Hou Seng untuk membunuh Pouw Tong Ki. Ketika tadi melihat serangan pedang, Sai-cu Lama sudah dapat mengukur kekuatan orang, maka dia berani menerima tusukan itu.

“Ha-ha-ha, kiranya orang she Pouw ini hanya begini saja!” katanya dan tangannya menyambar. “Desss…!”

Tangan yang amat kuat itu secara dahsyat telah menyambar dan mengenai leher Pouw Tong Ki, membuat tubuh pembesar itu terbanting ke tepi ranjang.

“Ouhh… tolooongg…!” Isteri Pouw Tong Ki cepat menubruk suaminya yang menggeletak tak bergerak lagi itu.

Pada waktu itulah Suma Lian meloncat masuk. Melihat betapa Pouw Tong Ki sudah menggeletak ditubruk oleh isterinya, dan melihat betapa Sai-cu Lama berdiri sambil tertawa, Suma Lian lupa diri dan dia menjadi marah sekali.

“Pendeta jahanam yang jahat!” bentaknya dan ia pun sudah menyerang Sai-cu Lama dengan pukulan kedua tangannya.

Sai-cu Lama terkejut dan heran, tetapi ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang gadis cilik, apa lagi gadis itu adalah Suma Lian yang segera dikenalnya, ia tertawa dan menerima pukulan- pukulan itu dengan perutnya.

“Pukk! Pukkk!”

Kedua tangan kecil itu mengenai perut gendut, akan tetapi seperti mengenai benda lunak saja sehingga kedua tangan itu masuk ke dalam perut dan tidak dapat ditarik kembali!

“Ha-ha-ha, kiranya engkau, kuda binal cilik! Ha-ha-ha!” Dia tertawa lagi.

Pada saat itu, isteri Pouw Tong Ki menjerit. Sai-cu Lama menjadi marah. Tangan kirinya mencengkeram punggung baju Suma Lian kemudian ditariknya anak itu ke atas, sambil kakinya diayun ke arah kepala nyonya Pouw. Tubuh nyonya itu pun terkulai di samping tubuh suaminya karena tendangan itu seketika merenggut nyawanya!

“Braakkkk…”

Daun pintu kamar itu ambrol dan masuklah seorang kakek tua renta berpakaian tambal-tambalan. Melihat betapa suami isteri itu telah roboh dan kini Suma Lian diangkat ke atas oleh seorang pendeta Lama berperut gendut, Bu-beng Lo-kai terkejut bukan main.

“Aahhhh, kau jahat sekali…,” bentaknya dan kedua tangannya sudah bergerak ke depan dengan amat cepat.

Ketika pintu jebol, Sai-cu Lama juga terkejut, akan tetapi melihat bahwa yang muncul hanya seorang yang sudah amat tua, dia memandang rendah. Baru setelah kedua tangan kakek itu melakukan pukulan ke arah lambung dan lehernya, dia terkejut setengah mati. Angin pukulan yang datang itu bukan hanya amat dahsyat dan kuat sekali, akan tetapi juga yang menuju ke tenggorokannya itu mengandung hawa panas seperti api sedangkan yang menyambar ke arah lambungnya mengandung hawa dingin seperti salju!

“Celaka…!” serunya dan terpaksa dia melepaskan cengkeramannya pada punggung Suma Lian lalu mengerakkan ke dua tangan ke bawah untuk menangkis karena untuk mengelak sudah tidak ada kesempatan lagi sedangkan menerima pukulan-pukulan itu mengandalkan kekebalan, dia tidak berani.

“Dukkk! Dessss…!”

Tubuh Sai-cu Lama hampir saja terjengkang dan dia terhuyung ke belakang, sedangkan Bu-beng Lo-kai sudah berhasil menggandeng tangan cucunya yang selamat. Pada saat itu, Li Sian berlari masuk melalui pintu yang ambrol. Melihat ayah ibunya menggeletak di atas lantai, ia menubruk mereka dan menangis.

Sementara itu Sai-cu Lama terkejut bukan main ketika tubuhnya terpental tadi dan dia pun mengenal ilmu sinkang yang panas dan dingin tadi. Kakek tua renta ini sama sekali tak boleh disamakan dengan nenek yang dulu pernah bertempur dengannya ketika dia menculik Suma Lian. Tentu kakek ini seorang pendekar dari keluarga Pulau Es yang tangguh. Maka dia pun merasa jeri, apa lagi kamar itu terlampau sempit untuk dipakai berkelahi.

Selain itu, Hou Taijin pun sudah mempunyai rencana lain. Tugasnya hanya membunuh Pouw Tong Ki, dan kalau mungkin seluruh keluarganya, lalu pergi. Dia hanya berhasil merobohkan Pouw Tong Ki dan membunuh isterinya, tidak yakin apakah pukulannya tadi sudah cukup untuk merenggut nyawa Pouw Tong Ki. Maka dia pun cepat meloncat keluar dari jendela.

Bu-beng Lo-kai tidak mengejar karena dia ingin lebih dahulu menolong Pouw Taijin dan isterinya, kalau- kalau masih dapat diselamatkan. Dia memeriksa nyonya Pouw yang telah tewas dan ketika dia memeriksa Pouw Tong Ki, hati yang tua itu berduka sekali. Pembesar ini mengalami luka parah oleh pukulan yang amat kuat, dan napasnya sudah empas-empis. Dia hanya dapat mengurut dada Pouw Tong Ki dan menotok beberapa jalan darah untuk menyadarkan pembesar itu.

Pouw Tong Ki membuka matanya dan saat melihat Bu-beng Lo-kai, dia hanya sempat berkata lirih, “… locianpwe… tolong… bawa Li Sian…” dan lehernya terkulai karena dia telah menghembuskan napas terakhir.

Pada saat itu pula, terdengar suara gaduh di luar kamar dan terdengar teriakan-teriakan orang banyak, “Tangkap kakek pengemis itu! Dia pembunuh Pouw Taijin…!”

Bu-beng Lo-kai mengerutkan alisnya, memandang keluar pintu yang berlubang. Dia melihat banyak sekali orang berpakaian seragam berdatangan ke tempat itu dan teriakan-teriakan mereka menunjukkan bahwa mereka itu menuduh dia yang melakukan pembunuhan!

Bu-beng Lo-kai tidak ingin terlibat dalam urusan ini dan banyak repot, maka dia lalu menyambar tubuh Suma Lian dan Li Sian, kemudian sekali dia menggerakkan tubuh, dia sudah membawa kedua orang anak perempuan itu meloncat keluar, kemudian melayang ke atas genteng.

“Itu dia! Dia membunuh Pouw Taijin dan menculik Pouw Siocia!”

Bu-beng Lo-kai tidak tahu siapa yang berteriak, akan tetapi dengan heran dia melihat bahwa pendeta Lama gendut yang tadi berada di kamar, kini berada di antara orang-orang berpakaian seragam itu! Tahulah dia bahwa dia akan kena fitnah, maka dia pun mempercepat gerakannya. Sebentar saja pendekar itu lenyap dari pandang mata para pengejarnya.

Kiranya orang-orang berpakaian seragam itu ialah pasukan tentara penjaga keamanan yang dipimpin oleh Coa Tai-ciangkun sendiri, panglima yang menjadi kepala barisan keamanan! Setelah gagal menangkap pengemis tua itu, Coa Tai-ciangkun ini kemudian menangkapi seluruh sisa keluarga Pouw Tong Ki, yaitu empat orang puteranya dan semua penghuni rumah, lalu membawa mereka sebagai tahanan-tahanan, sedangkan rumah itu pun diduduki sebagai rumah sitaan pemerintah!

Gegerlah kota raja oleh peristiwa yang sangat hebat ini. Coa Tai-ciangkun (Panglima Coa) segera membuat pelaporan kepada Kaisar dan juga memberi keterangan kepada para pejabat lainnya akan jalannya peristiwa, seperti yang memang sudah diaturnya bersama Hou Seng!

Dia menceritakan bahwa dia memperoleh laporan dari para penyelidiknya, bahwa diam-diam Pouw Tong Ki yang di depan kaisar pura-pura mencela orang-orang berkuasa memelihara tukang-tukang pukul, di rumahnya sendiri telah menerima seorang datuk penjahat besar yang belum diketahui jelas siapa namanya dan apa maksudnya. Karena itulah, Coa-ciangkun menjadi curiga sekali, dan apa lagi, menurut ceritanya, ketika dia mendengar laporan yang mengatakan bahwa Pouw Tong Ki pernah bertengkar dengan tamunya yang aneh itu.

Karena merasa khawatir, dia lalu memperlakukan persiapan untuk setiap saat menyerbu tempat kediaman keluarga Pouw itu, dengan tuduhan bahwa keluarga itu bermaksud membuat persekutuan dengan orang kang-ouw untuk melakukan pemberontakan! Lalu, dia melaporkan bahwa Pouw Tong Ki dan isterinya terbunuh oleh tokoh kang-ouw yang mengenakan pakaian pengemis itu, bahkan pengemis yang diduga tentu datuk penjahat besar itu telah melarikan puteri Pouw Tong Ki. Berdasarkan pelaporan ini, maka semua keluarga Pouw yang masih hidup dijatuhi hukuman berat!

Memang demikianlah keadaan masyarakat manusia di seluruh dunia yang dibentuk oleh kita sendiri. Yang menang pasti benar, akan tetapi yang benar belum tentu menang! Kekuasaanlah yang menentukan benar atau salah, hanya kekuasaanlah yang menang dan oleh karena itu, kekuasaan ini diperebutkan oleh seluruh umat manusia di dunia ini.

Kekuasaan dalam pemerintahan, kekuasaan dalam perkumpulan, kekuasaan dalam kelompok atau pun kekuasaan dalam keluarga sendiri. Kita gandrung kekuasaan karena kita tahu bahwa kekuasaan akan membuat kita selalu benar dan menang! Dari sinilah timbulnya kesewenang-wenangan ketika kekuasaan itu disalah gunakan, dipakai demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Dari sini timbul konflik-konflik antara yang menang dan yang kalah, yang menindas dan yang ditindas dan konflik-konflik ini tidak akan pernah berhenti selama manusia masih berlomba untuk mencari kekuasaan. Memang, pengejaran kesenangan jugalah yang sebenarnya melandasi perebutan kekuasaan itu. Dan perebutan kekuasaan ini konon menurut dongengnya sudah terjadi sejak pra sejarah, sejak dongeng di kahyangan di antara para dewata dan malaikat!

Bu-beng Lo-kai mempergunakan ilmu ginkang-nya untuk melarikan Suma Lian dan Li Sian keluar dari bahaya. Baru sekali ini semenjak dia menjadi pertapa di puncak Telaga Warna Pegunungan Beng-san bersama isterinya sampai kemudian kematian isterinya itu, dia mempergunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengerjakan sesuatu secara serius.

Dia kini benar-benar terlibat dan berusaha menyelamatkan dua orang anak perempuan itu. Dan melalui keributan yang terjadi di gedung keluarga Pouw, dia berhasil melarikan dua orang anak perempuan itu keluar bahkan terus dia larikan sampai ke luar kota raja.

Li Sian menangis terisak-isak ketika akhirnya kakek itu berhenti berlari. Suma Lian lalu merangkulnya dan menghiburnya, sedangkan Bu-beng Lo-kai menarik napas panjang berkali-kali.

“Sudahlah, nona Pouw, jangan terlalu menurutkan hati yang bersedih. Ayah ibumu tewas oleh orang yang ilmu kepandaiannya tinggi, dan karena sebelumnya memang ayahmu telah menitipkan engkau kepadaku, maka biarlah mulai sekarang engkau ikut bersama kami.”

Sambil masih terisak-isak, Li Sian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu. “Locianpwe, aku mohon agar locianpwe suka membimbingku dengan ilmu silat tinggi agar kelak aku dapat membalas kematian kedua orang tuaku dan mencari pembunuh itu!”

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya. “Aihh, cita-cita itu buruk sekali, nona Pouw. Engkau ketahuilah, dan ini sebagai pelajaran pertama, bahwa dengan adanya dendam kebencian di dalam hatimu, maka hal itu sudah membuat keruh batin, menjadi racun dalam darahmu dan dalam keadaan seperti itu, mana mungkin engkau akan dapat belajar ilmu yang tinggi? Hanya batin yang tenang saja yang akan mampu menghimpun tenaga yang kuat. Orang tuamu memang sengaja melibatkan diri dalam urusan besar dan kalau dia sekeluarga kini tertimpa bencana sebagai akibatnya, hal itu wajar, bukan? Siapa bermain dengan air menjadi basah, bermain dengan api mungkin saja terbakar. Nona Pouw, kalau engkau dapat melihat kenyataan itu, engkau tentu akan terbebas dari racun dendam kebencian.”

Li Sian yang pendiam itu terlalu cerdik untuk membantah. Ia pun mengangguk-angguk dan untuk mengalihkan percakapan, ia berkata, “Harap locianpwe mulai sekarang tidak lagi menyebutku dengan nona Pouw, melainkan memanggil namaku saja seperti enci Lian.”

“Baiklah, Li Sian. Kita tak akan kembali ke kota raja. Kita cari tempat yang aman di luar kota raja dan jangan sampai kita didapatkan oleh pasukan yang tentu akan disebarkan untuk mencari kita. Mereka tentu akan menangkap kita dengan tuduhan bahwa akulah yang telah membunuh keluarga Pouw dan melarikanmu.”

“Ah, ini fitnah!” teriak Suma Lian. “Kita dapat melaporkan hal yang sebenarnya terjadi, kek! Akulah saksi hidup bahwa mereka dibunuh oleh Sai-cu Lama, dan Li Sian tentu akan menjadi saksi hidup bahwa kakek sama sekali tidak menculiknya melainkan malah menyelamatkannya.”

Kakek tua itu tersenyum. “Aih, engkau belum tahu betapa curang dan liciknya mereka yang sudah terlibat perebutan kekuasaan di dalam pemerintahan, Lian. Biarlah, untuk sementara kita menjauhi keributan dan kita bersembunyi saja di tempat yang aman.”

Dan kakek itu kemudian mengajak dua orang anak perempuan itu untuk melanjutkan perjalanan…..

********************

Pao-teng merupakan kota yang cukup besar dan ramai, terletak di sebelah selatan kota raja. Kemelut yang terjadi di kota raja karena persaingan antara Hou Seng dan para pembesar yang menentangnya, tentu saja menjadi sumber berita dan berita itu sudah tiba di Pao-teng.

Apa lagi akhir-akhir ini, di kota raja dikabarkan bahwa Pouw Taijin dan keluarganya bersekutu dengan orang-orang kang-ouw, bahkan kemudian Pouw Taijin dan isterinya dikabarkan terbunuh oleh orang kang- ouw, sedang keluarganya ditangkap pemerintah dengan tuduhan pemberontak! Semenjak terjadinya peristiwa itu, sering kali di kota raja, di pasar-pasar, di rumah-rumah makan dan di hotel-hotel, juga di pintu- pintu gerbang, diadakan pembersihan dan penangkapan-penangkapan bagi mereka yang dicurigai.

Hal yang sangat ditakuti oleh orang-orang yang merasa pernah belajar ilmu silat adalah munculnya pasukan berpakaian preman yang dipimpin oleh orang-orang pandai. Sudah cukup banyak orang-orang kang-ouw ditangkap dan diperiksa. Mereka yang bersikap anti pemerintah atau anti pembesar Hou Seng, segera dijebloskan penjara dan bahkan banyak pula yang terbunuh dalam pembersihan dan penangkapan- penangkapan itu. Dunia kang-ouw menjadi gelisah.

Orang-orang yang tinggal di kota Pao-teng mendengar pula akan kemelut itu. Mereka khawatir bahwa pembersihan-pembersihan dan penangkapan yang dilakukan pasukan itu akan menjalar sampai ke Pao- teng. Apa lagi melihat betapa banyak keluarga orang kang-ouw meninggalkan kota raja dan lari mengungsi ke selatan. Tentu saja setibanya di Pao-teng mereka itu menyebarkan berita yang simpang siur dan membuat penduduk menjadi semakin gelisah.

Berita seperti itu, yang menyangkut keamanan rakyat dan pergolakan di kalangan atas, tentu saja menarik perhatian Kao Cin Liong yang di waktu mudanya pernah menjabat sebagai seorang panglima muda. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya, Kao Cin Liong bersama keluarganya tinggal di kota Pao-teng dan berdagang rempah-rempah. Semenjak itu dia sama sekali tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, bahkan jarang-jarang menonjolkan diri di dunia kang-ouw.

Bekas jenderal yang juga seorang pendekar perkasa itu kini berusia kurang lebih lima puluh tahun, tinggal di sebuah rumah yang cukup besar dengan isterinya yang tercinta, yaitu Suma Hui yang sekarang juga telah berusia empat puluh tahun, dan puteri mereka yang merupakan anak tunggal, bernama Kao Hong Li, berusia tiga belas tahun.

Apa lagi ketika terdengar berita yang mengatakan bahwa keluarga Pouw Tong Ki yang masih menjadi seorang menteri telah terbunuh, bahkan keluarganya ditangkap dengan tuduhan mengusahakan pemberontakan dengan mengadakan persekutuan dengan orang-orang jahat yang berilmu tinggi, Kao Cin Liong terkejut dan berduka sekali.

Dia mengenal sahabatnya itu sebagai orang yang amat setia dan jujur terhadap kaisar, seorang yang bijaksana dan tidak mau menggunakan kedudukannya untuk mencari keuntungan diri sendiri. Sukar dia dapat percaya bahwa seorang yang begitu setia seperti Pouw Tong Ki berusaha mengadakan pemberontakan! Kecuali kalau keadaan sudah terpaksa sekali dan di istana terjadj hal-hal yang luar biasa. Tentu ada sebabnya, atau kalau tidak, tentu sahabatnya ini hanya kena fitnah saja. Dia mengemukakan rasa penasaran di hatinya itu di depan isterinya.

“Ingin sekali aku menyelidiki kematian sahabatku itu. Tentu ada suatu rahasia di balik peristiwa itu. Dia dan isterinya terbunuh, puterinya diculik orang dan putera-puteranya ditangkap pemerintah dan dihukum! Tak mungkin nasibnya seburuk itu. Dia orang yang baik sekali!”

“Aihh!” Isterinya yang bernama Suma Hui, seorang cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, mengerutkan alis. “Sudah belasan tahun kita hidup dengan tenteram tanpa mencampuri urusan pemerintah mau pun dunia kang-ouw. Kalau sekali kita terjun, kita tentu akan terlibat dan kesulitan-kesulitan, pertentangan dan permusuhan tentu akan datang bertubi-tubi menghancurkan hidup kita yang tenteram. Kau telah mengundurkan diri, mengapa sekarang hendak mencari penyakit? Biarkanlah mereka yang masih haus akan kekuasaan itu bekerja. Aku yakin bahwa urusan yang terjadi di kota raja itu tidak lain hanyalah masalah perebutan kekuasaan belaka. Perlukah kita mencampurinya?”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk dan menyentuh lengan isterinya. “Engkau benar, benar sekali. Kadang-kadang rasa penasaran membuat batinku memberontak! Tetapi apakah kalau aku bercampur tangan lalu keadaan akan menjadi baik? Apakah aku akan mampu mengatasi semua kemelut yang sedang terjadi di kota raja? Ah, aku yakin tidak mungkin bisa. Jangan-jangan pencampur tanganan dariku bahkan menambah besarnya kemelut. Engkau benar. Urusan pemerintahan bukan urusanku, dan sahabatku Pouw Tong Ki itu menjadi korban karena dia masih menjabat menteri. Andai kata dia tidak menjadi pembesar dan hidup seperti kita, kurasa dia pun tidak akan mengalami nasib sedemikian buruknya.”

Pada saat itu, seorang anak perempuan yang bermata lebar dan berwajah manis berlari masuk. Anak perempuan berusia tiga belas tahun yang lincah ini adalah Kao Hong Li, puteri dan anak tunggal suami isteri pendekar itu.

“Ayah, ada seorang tamu ingin bertemu dengan ayah. Dia seorang pemuda berpakaian serba biru, bernama Gu Hong Beng.”

“Hemm, ada keperluan apakah orang muda itu datang?” tanya Kao Cin Liong, merasa terganggu karena dia sedang membicarakan urusan yang penting dan serius dengan isterinya.

“Dia tak mengatakan keperluannya. Orangnya amat pendiam dan kelihatan malu-malu. Mungkin dia datang untuk minta pekerjaan, ayah.”

Dengan gerakan tangan tidak sabar karena merasa terganggu, Kao Cin Liong berkata kepada Hong Li, “Kau tanya apa keperluannya, kalau benar dia datang minta pekerjaan, katakan saja bahwa pada waktu ini aku belum memerlukan bantuan tenaga baru.”

Hong Li lalu berlari ke luar. Gadis cilik yang lincah ini melihat betapa sikap ayah ibunya kaku dan wajah mereka keruh. Tentu ada sesuatu yang mengganggu ayah ibunya dan hatinya ikut merasa tak senang. Ia menganggap bahwa kemunculan pemuda itu hanya mengganggu saja.

Ia kini berhadapan dengan Hong Beng yang masih berdiri di luar pintu depan. Melihat betapa anak perempuan itu kini muncul lagi dan tidak nampak orang lain, Hong Beng memandang dengan heran. Akan tetapi, Hong Li dengan nada suara kesal segera berkata, “Ayah dan ibu sedang sibuk, tidak dapat menerima tamu!”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Menurut penuturan suhu-nya, Kao Cin Liong adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman. Kenapa keluarga ini sekarang bersikap begitu angkuh? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Dia merasa penasaran. Anak perempuan ini kelihatan galak dan pandang mata yang tajam itu mengandung kenakalan. Jangan-jangan ulah anak perempuan ini saja yang mempermainkannya.

“Akan tetapi, penting sekali bagiku untuk bertemu dengan Kao-locianpwe!”

“Hemm, mungkin penting bagimu, tetapi tidak ada artinya bagi kami. Ada keperluan apakah engkau hendak menghadap ayah dan ibu?”

Hong Beng menganggap bahwa sikap anak perempuan ini tinggi hati sekali, maka dia pun menjawab singkat, “Keperluan banyak. Aku singgah di sini dan ingin menghadap adalah untuk memenuhi pesan guruku.”

“Siapa sih gurumu?” tanya Hong Li sambil memandang pemuda itu dengan teliti, dari kepala sampai ke kaki.

“Guruku bernama Suma Ciang Bun…!”

“Bohong!” Hong Li membentak keras sampai Hong Beng menjadi kaget. “Enak saja engkau mengaku murid pamanku. Jika benar muridnya, tentu engkau dapat menyambut seranganku ini!” Tanpa banyak cakap lagi gadis cilik yang galak dan lincah itu sudah menerjang maju, memukul ke arah dada Hong Beng.

Tentu saja Hong Beng mengenal sebuah jurus dari Ilmu Cui-beng Pat-ciang itu, maka dia pun mengelak dengan mudahnya. Bahkan karena mendongkol dan menganggap anak perempuan ini terlalu galak, ketika Hong Li menyerang lagi dengan tendangan kilat, dia mengelak sambil memutar langkahnya dan mendadak saja tangannya sudah menampar ke arah pinggul anak perempuan itu, dengan maksud untuk menghajarnya agar tidak terlalu nakal dan bersikap sopan kepada tamu.

“Plakkk!”

Pinggul itu kena ditampar, cukup keras sehingga mendatangkan rasa panas dan nyeri. Marahlah Hong Li. Sepasang matanya terbelalak dan mukanya menjadi merah saking marahnya.

“Haiiiittt…!” Ia berteriak dan kini ia menghujankan pukulan-pukulan ke arah tubuh Hong Beng, mempergunakan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayah ibunya.

Kalau tadi ia sengaja menyerang dengan jurus dari Cui-beng Pat-ciang yang dilatihnya dari ibunya, kini ia menggunakan ilmu yang didapat dari ayahnya yang tentu tidak akan dikenal oleh seorang murid pamannya karena kalau ibunya merupakan keturunan dari keluarga Pulau Es, ayahnya adalah keturunan majikan Istana Gurun Pasir!

Akan tetapi, Hong Li yang baru berusia tiga belas tahun ini, tentu saja belum menguasai ilmu-ilmu silat tinggi itu dengan matang dan bukan merupakan lawan berat bagi Hong Beng. Kalau pemuda ini menghendaki, tentu dia akan mampu merobohkannya. Akan tetapi Hong Beng dapat menduga siapa adanya gadis cilik ini. Puteri dari Pendekar Kao Cin Liong. Maka dia pun hanya mengalah dan terus main mundur, mengelak dan menangkis, tidak pernah membalas.

Pada saat Hong Li menyerang sambil mengeluarkan bentakan nyaring itu, tentu saja Kao Cin Liong dan Suma Hui yang berada di dalam rumah terkejut sekali dan mereka berdua bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka melihat anak mereka berkelahi dengan seorang pemuda baju biru, Cin Liong sudah hendak melerai, tetapi lengannya dipegang isterinya yang berbisik, “Lihat, bukankah dia menggunakan gerakan ilmu silat keluargaku?”

Cin Liong lalu memperhatikan dan harus mengakui kebenaran isterinya. Pemuda yang selalu mengelak atau menangkis, yang terus mengalah itu, bersilat dengan gerakan ilmu silat keluarga Pulau Es! Setelah mereka melihat jelas, dan juga tahu bahwa pemuda itu lihai sekali dan sengaja mengalah, Suma Hui lalu meloncat ke depan.

“Hong Li, hentikan serangan-seranganmu itu!” bentaknya.

Mendengar bentakan ibunya, Hong Li meloncat ke belakang. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Ia merasa penasaran sekali tadi karena semua serangannya luput atau tertangkis, akan tetapi setelah ayah ibunya muncul, ia pun kini sadar bahwa ialah yang lebih dulu menyerang pemuda itu. Maka sebelum pemuda itu ditanyai, ia lebih dahulu berkata kepada ibunya.

“Siapa yang tidak mendongkol? Orang ini mengaku-ngaku sebagai murid paman Suma Ciang Bun!”

“Anak bodoh! Apakah engkau sudah tak mengenal lagi gerakan-gerakannya yang jelas membuktikan kebenaran pengakuannya?” berkata Suma Hui, dan dengan hati girang ia memandang kepada pemuda itu yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depan ia dan suaminya.

“Harap bibi guru dan paman tidak menyalahkan adik ini. Sayalah yang bersalah dan maafkan kelancangan saya,” kata Hong Beng yang diam-diam teringat betapa dia tadi sudah ‘menghajar’ gadis cilik itu dengan menampar pinggulnya! Ia menjadi khawatir kalau-kalau si kecil itu mengadu kepada orang tuanya.

“Engkau murid adikku Suma Ciang Bun?” Suma Hui bertanya. “Dan siapa namamu tadi? Hong Li sudah memberi tahukan kepada kami akan tetapi kami lupa…”

“Namanya Gu Hong Beng dan kalau dia tidak berhati-hati menjaga kelancangan tangan dan mulutnya, tentu akan kuhajar lagi!” kata Hong Li.

Dari ucapan ini saja sudah membuat Hong Beng semakin gelisah. Kiranya anak ini telah menyindir bahwa kalau dia tidak bersikap baik, tentu gadis cilik itu akan menghajarnya dengan mengadu kepada ayah dan ibunya.

“Adik yang baik, harap maafkan aku.”

Kao Cin Liong tidak senang melihat kemanjaan puterinya. Jelas tadi bahwa yang terus-menerus melakukan penyerangan adalah Hong Li, akan tetapi kini sikap puterinya itu seolah-olah pemuda itu yang bersalah.

“Sudahlah, mari kita masuk dan bicara di dalam.”

Mereka masuk ke dalam rumah dan kemudian duduk di ruangan dalam. Suma Hui bertanya tentang adik laki-lakinya yang sudah lama tidak pernah dijumpainya itu. Hong Beng menceritakan keadaan dirinya, betapa dia diselamatkan oleh Suma Ciang Bun pada tujuh tahun yang lalu, kemudian menjadi muridnya.

“Teecu telah diutus oleh suhu untuk melakukan penyelidikan tentang seorang pembesar bernama Hou Seng karena suhu mendengar betapa pembesar itu menguasai kaisar dan merajalela di kota raja.”

Suami isteri itu saling pandang. “Ah, jadi berita tentang orang she Hou itu sudah sampai sejauh itu?” Kao Cin Liong berseru heran.

“Hal itu tidak aneh. Berita tentang kebaikan seseorang tak akan melewati ambang pintu gerbang, sebaliknya berita mengenai kebusukan seseorang akan terbawa angin dan meluas dengan cepatnya.”

“Lalu apa yang sudah kau lakukan, Hong Beng?” tanya Cin Liong sambil memandang wajah tampan sederhana itu.

Hong Beng lalu menceritakan betapa dia sudah pergi ke kota raja. “Teecu pergi ke kota raja bukan hanya untuk memenuhi perintah suhu, akan tetapi juga untuk mencari jejak seorang pendeta Lama dari Tibet yang sudah melarikan adik Suma Lian, puteri dari susiok (paman guru) Suma Ceng Liong.”

Suami isteri itu terkejut sekali. “Aihh! Apa yang telah terjadi dengan anak itu?” teriak Suma Hui. Tentu saja ia mengenal Suma Lian karena beberapa kali sudah ia bertemu dengan puteri tunggal Suma Ceng Liong itu.

Hong Beng menceritakan mengenai kunjungannya ke dusun Hong-cun dan kebetulan sekali dia sempat membantu nenek Teng Siang In yang berkelahi melawan Sai-cu Lama memperebutkan Suma Lian yang diculik oleh kakek itu, sampai akhirnya nenek Teng Siang In tewas dan Suma Lian dilarikan oleh Sai-cu Lama. Mendengar cerita ini, kedua suami isteri itu menjadi semakin terkejut.

“Bibi Teng Siang In sampai tewas? Aihhh… kami sama sekaii tidak mendengar!”

“Mungkin susiok Suma Ceng Liong tidak sempat memberi kabar karena tentu dia dan isterinya cepat-cepat melakukan penyelidikan dan hendak mencari puteri mereka,” kata Hong Beng.

“Adik Lian diculik orang? Wah, siapa penculiknya itu! Ayah dan ibu, marilah kita pergi mencari adik Lian dan menyelamatkannya!” teriak Hong Li marah mendengar betapa adik misannya itu diculik orang jahat.

Kao Cin Liong memberi isyarat supaya puterinya itu tidak membuat gaduh, lalu dia bertanya kepada Hong Beng, “Kalau sampai bibi Teng Siang In tewas di tangan orang itu, tentu orang itu lihai sekali. Orang macam apakah yang bernama Sai-cu Lama itu?”

“Sai-cu Lama memang lihai sekali, sudah tua, bertubuh tinggi besar, perutnya gendut dan kepalanya gundul. Ia mengenakan pakaian jubah pendeta Lama dari Tibet. Nenek Teng Siang In terluka oleh Ban-tok- kiam sehingga akhirnya tewas…”

“Ban-tok-kiam…?!” Kao Cin Liong dan Suma Hui berteriak hampir berbareng.

Hong Beng teringat bahwa pedang pusaka itu adalah milik subo (ibu guru) dari Bi Lan, yaitu nenek Wan Ceng atau ibu kandung Kao Cin Liong ini. “Benar, pedang pusaka itu adalah milik locianpwe Wan Ceng dan oleh Sai-cu Lama pedang itu dirampasnya dari tangan nona Can Bi Lan.”

“Ehhh, bagaimana pula ini? Siapa itu Can Bi Lan dan bagaimana pedang Ban-tok-kiam milik ibuku bisa berada di tangannya?” Kao Cin Liong bertanya tak sabar lagi. Tak disangkanya bahwa pemuda yang datang ini membawa banyak sekali berita yang amat penting dan mengejutkan.

“Nona Can Bi Lan pernah menerima latihan ilmu dari locianpwe Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, dan nona itu menerima pedang pusaka Ban-tok-kiam yang dipinjamkan oleh subo-nya untuk melindungi diri. Akan tetapi ternyata, di depan teecu sendiri, kakek Sai-cu Lama merampasnya. Kami berdua telah berusaha untuk merampasnya kembali, namun kakek itu amat lihai dan dapat meloloskan diri. Dan kemudian, teecu bertemu pula dengan kakek itu ketika kakek itu bertempur melawan locianpwe Teng Siang In, melukainya dengan Ban-tok-kiam dan menculik adik Suma Lian puteri dari susiok Suma Ceng Liong.”

Suami isteri itu terkejut dan terheran-heran. “Ahhh! Ban-tok-kiam terampas orang dan dipakai membunuh bibi Teng Siang In, dan puteri adik Suma Ceng Liong juga diculik oleh perampas Ban-tok-kiam itu! Ah, kita tidak boleh tinggal diam saja!” kata Suma Hui sambil mengepal tinju.

Cin Liong yang lebih tenang sikapnya itu hanya mengangguk, lalu memandang wajah Hong Beng. “Orang muda, berita yang kau bawa ini sungguh amat penting sekali bagi kami dan kami berterima kasih sekali kepadamu. Karena kami pun mendengar kabar-kabar angin yang buruk sekali mengenai kota raja, maka dapatkah kau menceritakan bagaimana sebenarnya keadaan di sana?”

“Teecu sudah melakukan penyelidikan di kota raja, tetapi tidak menemukan jejak Sai-cu Lama yang telah melarikan Ban-tok-kiam dan adik Suma Lian. Teecu mendengar bahwa pembesar yang bernama Hou Seng itu amat berkuasa di istana dan kini dia dibantu oleh banyak orang sakti. Juga teecu mendengar akan banyaknya pertentangan-pertentangan dan pembunuhan-pembunuhan rahasia yang terjadi di kota raja, di antara orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, Karena teecu tidak tahu apa yang harus teecu lakukan, maka teecu teringat akan pesan suhu agar menemui bibi guru di sini dan minta nasehat dari locianpwe yang lebih tahu akan seluk-beluk para pembesar di kota raja.”

Kao Cin Liong menarik napas panjang. “Sudah belasan tahun aku sendiri tidak pernah mencampuri urusan pemerintah dan dunia kang-ouw sehingga aku sendiri tidak dapat banyak memberi nasehat. Tadinya kami sama sekali tidak menaruh minat dan tak ingin terlibat karena semua kemelut itu terjadi akibat para pembesar yang saling berebut kekuasaan. Namun setelah mendengar bahwa Suma Lian diculik orang, juga pusaka ibuku yang dipinjamkan kepada gadis bernama Can Bi Lan itu dirampas orang pula, dan orang itu agaknya menuju ke kota raja, maka kami tidak akan tinggal diam saja. Setelah melihat sendiri keadaan di kota raja, barulah aku akan dapat menentukan apa yang sebaiknya harus dilakukan.”

“Ayah, aku ikut ke kota raja. Aku harus membantu agar supaya adik Lian dapat segera diselamatkan dan kita hajar penculiknya!” kata Hong Li dengan gemas.

Hong Beng memandang gadis cilik itu dan merasa kagum. Gadis cilik ini biar pun galak, akan tetapi penuh semangat dan keberanian, jiwa seorang pendekar sejati.

“Hong Li, ayah ibumu bukan ingin pergi ke kota raja untuk pelesir. Engkau harus tahu bahwa kita berhadapan dengan orang yang pandai sekali. Lihat, ini suheng-mu yang demikian pandai pun tak mampu menandingi penculik itu! Engkau harus menjaga rumah dan kami yang akan pergi melakukan penyelidikan. Kami harus dapat menolong adikmu Suma Lian,” kata Suma Hui kepada anaknya.

Setelah bercakap-cakap menceritakan pula keadaan gurunya, Hong Beng lalu berpamit untuk melanjutkan penyelidikannya di kota raja. Suami isteri itu tidak menahannya dan berjanji akan segera berangkat juga ke sana.

“Mudah-mudahan kita nanti dapat saling bertemu dan bergabung di sana,” kata Kao Cin Liong.

Setelah pemuda itu pergi dan bicara berdua saja, Kao Cin Liong dan Suma Hui memuji pemuda murid Suma Ciang Bun itu.

“Dia masih muda sekali, kepandaiannya sudah cukup tinggi dan melihat sikapnya, apa lagi ketika melayani kerewelan Hong Li, dia itu orangnya sabar dan bijaksana. Sungguh seorang pemuda yang baik sekali,” kata Kao Cin Liong.

Isterinya mengangguk dan memandang wajah suaminya, seperti ingin menjenguk isi hatinya. “Kau pikir cukup baik untuk anak kita?”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. “Kalau saja anak kita yang hanya satu-satunya itu kelak bisa berjodoh dengan seorang pemuda seperti Gu Hong Beng itu, pasti aku akan merasa bersyukur sekali. Akan tetapi, tentu saja semua itu terserah kepada Hong Li sendiri.”

“Benar,” kata isterinya. “Memang pemuda itu baik, akan tetapi itu menurut pandangan dan pendapat kita. Dalam hal perjodohan, pendapat anak yang bersangkutanlah yang penting, bukan pandangan orang tua.”

Cin Liong mengangguk. “Engkau benar, isteriku. Tidak ada contoh yang lebih baik dari pada perjodohan antara kita sendiri. Anak kita yang harus menentukan kelak, siapa yang akan menjadi suaminya, betapa pun condongnya hati kita untuk bermenantukan seorang pemuda seperti Hong Beng itu.”

“Benar, dan pula, biar pun Ciang Bun itu adik kandungku sendiri, kita sudah tahu akan kelainan pada dirinya. Hal ini yang menimbulkan keraguan. Siapa tahu Hong Beng yang menjadi muridnya itu pun memiliki kelainan yang sama. Ahh, sudahlah. Biar kelak Hong Li memilih sendiri dan kita sebagai orang tua hanya ikut mengamati saja agar pilihannya tidak keliru.”

Pendapat seperti yang diucapkan oleh Suma Hui inilah yang sering kali menjadi pokok dasar pertentangan antara orang tua dan anaknya dalam pemilihan jodoh. Orang tua bilang tidak akan memilihkan, dan membiarkan si anak memilih dan menentukan sendiri jodohnya, dengan embel-embel supaya anaknya tidak KELIRU memilih! Ini sama saja dengan keharusan menurut pilihan orang tua!

Tentu saja kalau orang tua tidak suka dengan calon suami pilihan anaknya, dengan mudah mereka melontarkan kata-kata KELIRU memilih itulah! Kalau orang merasa tidak suka, mudah saja mencari cacat cela orang yang tidak disukainya itu, sebaliknya kalau orang merasa suka, juga mudah pula mencari segi- segi kebaikannya untuk ditonjolkan.

Memang kalau sudah ada penilaian, tidak ada orang yang hanya baik saja tanpa cacat, juga tidak ada orang yang sama sekali busuk tanpa kebaikan sedikit pun. Kalau si anak memilih orang yang disuka, maka dikatakan bahwa pilihannya itu sudah benar, akan tetapi kalau sebaliknya yang dipilih itu tidak disukai, tentu dikatakan bahwa pilihannya keliru dan terjadilah pertentangan.

Ini bukan berarti bahwa orang tua harus membebaskan anaknya sebegitu rupa hingga si anak boleh melakukan apa saja sesuka hatinya! Bebas bukan berarti ‘semau gua’. Bebas dalam arti kata tidak tertekan oleh kekuasaan orang lain, akan tetapi di dalam kebebasan itu terdapat disiplin diri yang tidak terlepas dari pada tata cara pergaulan dalam masyarakat.

Karena itu, orang tua yang bijaksana, di samping memberi kebebasan yang seluasnya kepada si anak, juga sepenuh perhatian memberi bimbingan dan pendidikan kepada si anak, sehingga si anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berakal budi, dan bukan hanya menjadi seorang hamba nafsu belaka. Perjodohan baru benar kalau berdasarkan cinta kasih. Cinta adalah urusan batin yang bersangkutan, yang hanya dapat dirasakan dan diketahui oleh orang yang bersangkutan saja.

Pilihan orang tua tidak mungkin berdasarkan cinta kasih ini karena mereka tidak ikut merasakan. Pilihan orang tua tentu hanya berdasarkan keadaan si calon yang dipilih, wajah dan watak yang baik, dari keturunan keluarga yang baik, kedudukan yang baik dan sebagainya, yang kesemuanya diukur dari keadaan umum atau dari selera mereka sendiri. Sebaliknya, pilihan orang yang bersangkutan biasanya berdasarkan cinta.

Sayang bahwa kebanyakan cinta kasih di antara mereka ini sebenarnya hanyalah nafsu belaka, tertarik karena wajah elok, kepandaian, kedudukan dan sebagainya sehingga kelak mereka akan menemui kegagalan…..

********************

Ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki pintu gerbang kota raja, nampaknya semua berjalan biasa saja dan keadaan di kota raja juga tetap ramai dan tenang. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka sudah diintai dan dibayangi sejak mereka tiba di pintu gerbang!

Bhok Gun dan Bi-kwi, dua orang yang kini bertugas memimpin pasukan berpakaian preman yang melakukan pembersihan sampai di mana-mana, bagaikan dua orang yang hendak menjala ikan, melihat dari jauh betapa Sim Houw dan Bi Lan memasuki kota raja seperti ikan-ikan kakap memasuki jaring yang mereka pasang! Mereka tidak mau turun tangan ketika melihat dua orang muda ini, khawatir kalau sampai dua orang itu dapat meloloskan diri. Maka, mereka hanya menyuruh anak buah membayangi dari jauh segala gerak-gerik dua orang itu, sedangkan mereka sendiri membuat laporan kepada Kim Hwa Nionio dan membuat persiapan.

Kim Hwa Nionio menjadi girang sekali mendengar bahwa orang yang kini menguasai Liong-siauw-kiam telah datang ke kota raja. Ia harus merampas kembali pusaka yang dulu menjadi milik gurunya itu. Ialah yang berhak memiliki pusaka itu, bukan orang lain.

Sim Houw dan Bi Lan melihat bahwa keadaan di kota raja nampak tenang saja, masih ramai dan biar pun hari telah senja, masih banyak toko yang buka dan banyak pula orang yang berlalu lalang memenuhi jalan- jalan raya. Demikian banyaknya orang di kota raja sehingga diam-diam Bi Lan yang selamanya baru sekali itu berkunjung ke kota besar yang ramai itu, menjadi bingung ke mana ia harus mencari Sai-cu Lama yang merampas Ban-tok-kiam itu.

“Wah, ke mana kita harus mencari dia di tempat sebesar dan seramai ini?” katanya lirih ketika mereka berjalan-jalan di sepanjang toko-toko itu.

“Sekarang hari telah hampir malam. Kita perlu beristirahat dulu. Besok kita melakukan penyelidikan ke kuil- kuil karena barang kali ada hwesio yang mengenal pendeta Lama itu. Atau ke pasar-pasar, ke tempat- tempat umum. Mari lebih dahulu kita mencari rumah penginapan.”

Bi Lan yang belum berpengalaman dalam hal ini, hanya menurut saja dan mengikuti kawannya. Mereka memasuki salah sebuah rumah penginapan dan Sim Houw minta disediakan dua buah kamar. Setelah mereka diantar ke kamar masing-masing, Bi Lan segera menyatakan keheranannya.

“Sim-toako, selama dalam perjalanan kita bersama, kita bermalam di dalam kuil-kuil tua, di dalam hutan bawah pohon-pohon, selalu kita berada dalam satu ruangan, tidur dalam satu ruangan. Akan tetapi sekarang, di tempat ini, mengapa mendadak engkau minta disediakan dua kamar dan kita tiduk terpisah? Mengapa?”

Sim Houw tersenyum, terharu melihat kepolosan hati gadis ini. Dia tahu bahwa sejak kecil Bi Lan hidup seperti liar, jauh dari masyarakat umum, jauh dari apa yang oleh masyarakat disebut sebagai kesopanan atau tata-susila. Karena itu maka Bi Lan dapat mengajukan pertanyaan dan demikian terbuka dan polos.

“Lan-moi, agaknya masih banyak sekali hal yang tidak kau ketahui tentang kehidupan bermasyarakat, kehidupan yang sudah dipenuhi dengan berbagai peraturan-peraturan umum, dengan kesopanan dan tata- susila, dengan kebudayaan dan peradaban. Ada garis pemisah antara pria dan wanita di semua bidang, terutama kamar tidur. Hanya suami isteri saja yang boleh tidur di satu ruangan, Lan-moi. Di dalam kehidupan ramai ini, segalanya ada aturannya. Berpakaian pun harus diatur, bahkan cara makan, cara kita bicara, apa lagi bagi wanita, ditentukan oleh peraturan-peraturan. Contohnya, kalau makan kita tidak boleh nongkrong seenaknya, harus duduk dengan sopan dan bahkan saat mengunyah makanan pun ada aturannya. Tak boleh tergesa-gesa memperlihatkan kelahapan, dan tidak boleh sampai mengeluarkan bunyi, sedikit demi sedikit, terutama wanita. Tertawa pun bagi wanita ada aturannya, mulut harus ditutup tangan dan sebisa mungkin jangan sampai terdengar gelak tawa.”

“Hayaaa… repot benar kalau begitu!”

“Memang merepotkan sekali. Akan tetapi umum sudah menentukan demikian dan siapa melanggar ketentuan umum ini dianggap tidak sopan, tidak tahu aturan, bahkan bisa saja dianggap gila!”

“Wah, merekalah yang gila kalau begitu.”

“Memang. Akan tetapi betapa gila pun, kalau umum, menjadi baik, Lan-moi. Kehidupan di masyarakat ramai memang sudah menjadi tidak wajar lagi, penuh dengan kepalsuan. Dan kita, kalau sudah hidup di dalam masyarakat ramai, mau tidak mau kita harus pula ikut-ikutan karena kalau tidak kita akan dicap sebagai orang yang tak tahu aturan, tidak sopan, atau bahkan gila!”

Apa yang dikatakan oleh Sim Houw itu, betapa pun pahitnya, adalah suatu kenyataan yang tak dapat kita bantah lagi kalau kita mau membuka mata. Akan tetapi kita harus waspada dan membuka mata penuh perhatian, karena kalau tidak, kita tidak akan dapat melihat itu semua, karena sejak kecil kita sudah hanyut di dalamnya. Kita sudah menjadi bagian dari tata-cara yang palsu itu, kitalah yang membentuk kepalsuan- kepalsuan itu, yang menjadikan kita ini orang-orang munafik. Betapa pun janggalnya, kalau sudah menjadi kebiasaan, nampaknya wajar dan normal saja karena kebiasaan ini membentuk watak kita.

Peraturan-peraturan dan pandangan-pandangan umum, termasuk kita sendiri, sudah menjadi sifat kehidupan kita. Sering kali kita hidup tidak menurutkan kata hati lagi, tidak menurutkan kebutuhan badan lagi, melainkan harus menyesuaikan hidup kita dengan peraturan-peraturan dan pandangan-pandangan umum. Bahkan agar dianggap ‘umum’ jika perlu kita menyiksa hati dan badan. Kita berlomba untuk mendapat penghormatan dan penghargaan umum, jika perlu dengan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan hati dan badan kita sendiri, bahkan kalau perlu menyiksa diri sendiri.

Banyak sekali nampak kenyataan-kenyataan ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Cara kita berpakaian, yang didahulukan adalah kesopanan menurut pendapat dan peraturan umum. Kalau umum menghendaki bahwa yang dianggap sopan adalah berjas dan dasi, maka kita akan memakainya, walau pun badan merasa tersiksa karena panas dan gerahnya.

Akan tetapi peraturan umum ini berubah-ubah, dan selalu kita mengikutinya dengan membuta. Biar pun hati kita sedang menangis, mulut kita senyum-senyum, hanya untuk menuruti kesopanan umum itulah. Cara kita menghormat dan menghargai orang sudah ditentukan oleh keadaan lahir belaka. Penghormatan dan penghargaan bukan menjadi urusan hati lagi, melainkan urusan lahir, untuk pameran belaka. Kita sudah tak mungkin hidup wajar lagi di masyarakat ramai ini, karena kewajaran seperti yang diperlihatkan Bi Lan, berarti pelanggaran norma-norma susila yang sudah kita tentukan, kita yang dalam hal ini berarti umum.

Setelah mendapat penjelasan dari Sim Houw, Bi Lan dapat mengerti. Terpaksa ia pun tidur dalam kamar sendiri. Setelah makan malam di restoran sebelah, mereka berdua lalu beristirahat di kamar masing- masing. Justru karena tidur terpisah inilah maka mala petaka terjadi! Biasanya, kalau mereka tidur di kuil- kuil kosong atau di dalam hutan, mereka berjaga dengan bergilir. Kini, setelah tidur dalam kamar masing- masing, dengan jendela dan pintu terkunci, mereka merasa aman dan keduanya melepaskan lelah dan mulai tidur.

Hujan yang turun rintik-rintik malam itu membuat Bi Lan tidur nyenyak. Tubuhnya yang lelah membuat ia tidur enak sekali sehingga ia tidak tahu bahwa ada beberapa orang mendekati kamarnya ke arah jendela. Ketika itu menjelang tengah malam, semua tamu sudah tidur nyenyak dan suasana sunyi sekali. Hanya rintik hujan di atas genteng yang terdengar seperti musik yang aneh namun mengasyikkan.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo