October 3, 2017

Suling Naga Part 10

 

Dengan alis berkerut, Kun Tek memandang tajam dan menegur, “Siapakah engkau dan ada urusan apa dengan aku maka engkau datang-datang mengatakan aku tidak tahu malu?”

Pemuda ini bukan lain adalah Gu Hong Beng! Pemuda ini merana sejak ditinggal pergi Bi Lan. Sakit sekali rasa hatinya oleh penolakan Bi Lan terhadap cintanya. Dia merasa hidupnya seakan-akan menjadi kosong dan sunyi. Dia melanjutkan perjalanan untuk memenuhi perintah gurunya, menuju ke kota raja, namun semangatnya sudah menipis sekali.

Malam tadi secara kebetulan sekali dia telah mengambil jalan yang sama dengan Bi Lan sehingga ketika Bi Lan yang ditolong oleh Kun Tek berhenti di tempat mereka kemudian melewatkan malam, dari jauh Hong Beng dapat melihat api unggun mereka. Pemuda ini curiga melihat api unggun itu dan dengan hati-hati dia mendekati. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat Bi Lan sedang tidur dan rebah miring di dekat api unggun, dan hati yang tadinya menjadi girang itu tiba-tiba berubah panas penuh rasa cemburu ketika dia melihat seorang pemuda tinggi besar menggunakan kain untuk menyelimuti tubuh Bi Lan yang tidur pulas!

Dan dia pun segera mengenal pemuda tinggi besar itu sebagai pemuda yang dipuji-puji oleh Bi Lan, pemuda yang turun tangan menghajar Phoa Wan-gwe dan tukang-tukang pukulnya. Dengan hati panas penuh rasa cemburu, Hong Beng lalu bersembunyi dan melakukan pengintaian. Dia merasa tidak enak kalau harus muncul menemui Bi Lan pada saat itu, apa lagi melihat gadis itu sedang tidur nyenyak.

Dia ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan dua orang muda itu, ingin melihat sampai sejauh mana hubungan di antara mereka yang nampaknya sudah akrab itu. Panas sekali hatinya. Tak disangkanya Bi Lan yang baru saja meninggalkannya, kini sudah bersahabat dengan seorang pria lain, dan mengingat betapa Bi Lan memuji-muji pemuda tinggi besar itu, hatinya penuh rasa iri dan cemburu.

Dia melihat segala yang terjadi dari tempat sembunyinya. Dia memang tidak melihat pemuda itu melakukan sesuatu, kecuali menyelimuti tubuh Bi Lan dengan kain, tetapi itu pun dilakukannya dengan sikap sopan. Kemudian melihat betapa mereka berdua itu bercakap-cakap yang tak dapat didengar suaranya karena tempat sembunyinya cukup jauh.

Dan hatinya semakin panas melihat betapa mereka berdua itu makan bersama dengan sikap yang demikian gembira. Namun, ketika dia melihat betapa pemuda itu mengobati pinggang Bi Lan dengan jalan meraba dan memijat pinggang yang telanjang itu, hampir dia tidak dapat menahan diri yang dibakar oleh api cemburu!

Dia dapat menduga bahwa tentu pemuda itu melakukan semacam pengobatan, akan tetapi caranya yang membuat dia tidak kuat menahan kemarahan hatinya. Pemuda itu begitu saja, dengan tangan telanjang, meraba dan memijat pinggang yang tidak tertutup itu. Kenapa Bi Lan membiarkan tubuhnya dipegang- pegang? Dan pemuda itu, betapa kurang ajar dan tidak sopan sekali!

Pada waktu dia melihat Bi Lan pergi meninggalkan pemuda itu dan melihat pemuda itu agaknya hendak mengejar, memanggil-manggil nama Bi Lan begitu saja, dia pun cepat meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan lari menghampiri Kun Tek. Tibalah saatnya untuk turun tangan menghajar pemuda tidak sopan itu, karena kalau Bi Lan masih berada di situ, tentu saja dia merasa malu untuk mencampuri urusan pribadi mereka. Kini Bi Lan tidak ada dan dia boleh menumpahkan semua perasaan hatinya yang panas dan penuh cemburu kepada pemuda itu.

Sejenak dua orang itu berdiri saling berhadapan dan saling memperhatikan dengan sinar mata tajam. Dua orang pemuda yang sebaya dan sama-sama tampan dan gagah. Hanya bedanya, kalau wajah Hong Beng diliputi kemarahan dan kebencian, sebaliknya wajah Kun Tek mengandung keheranan dan penasaran.

“Gadis yang baru pergi tadi, apamukah ia? Isterimukah?” Hong Beng bertanya dengan suaranya yang ketus.

Kerut merut di antara alis yang tebal di wajah Kun Tek semakin mendalam dan sinar matanya menyambar marah ke arah penanya itu. “Hemm, apa sangkut-pautnya hal itu denganmu?”

“Sangkut-pautnya dekat sekali!” kata Hong Beng semakin marah. “Gadis itu, Can Bi Lan, adalah seorang sahabatku!”

Kun Tek terbelalak dan memandang penuh selidik. Kalau pemuda ini sahabat baik Bi Lan, kenapa mengambil sikap bermusuh dengannya? “Begitukah? Akupun sahabat Bi Lan, sahabat baiknya.”

“Tidak perlu engkau mengelabui aku. Engkau baru saja bertemu dengannya, karena ketika kami berdua melihat engkau turun tangan terhadap Phoa Wan-gwe, dia belum mengenalmu.”

“Ah, kiranya engkau pun bersama Bi Lan ketika melihat aku melawan anak buah Phoa Wan-gwe? Kalau begitu tentu benar seorang sahabat. Siapakah engkau, sobat?”

“Aku Gu Hong Beng.” “Namaku Cu Kun Tek.”

“Engkau seorang pemuda yang tidak sopan dan kurang ajar! Engkau sangat tidak tahu malu!”

Tentu saja Kun Tek kembali terbelalak dan dia mulai marah. “Saudara Gu Hong Beng, seingatku, baru sekarang kita saling berhadapan. Aku belum pernah mengganggumu, tapi mengapa engkau datang-datang memaki-maki aku? Jelaskan, apa kesalahanku maka engkau memaki aku?”

“Engkau masih pura-pura tidak tahu? Apa yang kau lakukan terhadap nona Can Bi Lan tadi? Kau kira aku tidak tahu? Sejak semalam aku sudah berada tak jauh dari sini dan menyaksikan semua perbutanmu yang tidak senonoh.”

“Eh-eh-eh, apakah engkau ini orang gila? Aku tidak melakukan sesuatu yang tidak baik, kenapa mulutmu kotor sekali memaki-maki orang?”

“Hemm, dasar muka tebal! Engkau tadi meraba-raba dan memijati pinggang Bi Lan begitu saja, tanpa kain penutup, apakah kau kira perbuatan macam itu pantas dan patut dilakukan oleh seorang yang mengaku sopan? Engkau memang laki-laki ceriwis dan keji, mempergunakan kelemahan seorang gadis yang masih hijau untuk merayu. Orang macam engkau ini harus dihajar!” Berkata demikian, Hong Beng yang menjadi semakin marah karena membayangkan apa yang terjadi tadi, sudah menerjang dengan dahsyat.

“Ahh, manusia tolol!”

Kun Tek mengelak dengan lompatan ke samping. Diam-diam dia terkejut sekali karena serangan Hong Beng tadi benar-benar sangat dahsyat dan berbahaya. Baru angin pukulan saja menyambar sedemikian kuatnya. “Aku mengobatinya karena pinggangnya terkilir, dan kau menuduh yang bukan-bukan!”

“Aku bukanlah anak kecil,” kata pula Hong Beng marah, “aku juga tahu bahwa engkau melakukan pengobatan, akan tetapi itu hanya dalih agar engkau dapat meraba-raba tubuhnya. Keparat, apakah engkau pura-pura tidak tahu bahwa yang boleh melakukan seperti itu hanya antara suami isteri saja? Engkau memang seorang berwatak cabul. Jai-hwa-cat!”

Dimaki jai-hwa-cat atau penjahat pemetik bunga, sebutan bagi penjahat yang suka memperkosa wanita, Kun Tek marah bukan main. “Jahanam bermulut kotor, kau kira aku takut padamu?”

Dan dia pun maju menyerang, membalas serangan Hong Beng tadi. Hong Beng sudah tahu akan kelihaian lawan, maka dia pun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang.

“Dukkkk…!”

Keduanya terpental ke belakang dan Kun Tek terkejut bukan main ketika merasa betapa lengannya dijalari hawa yang amat panas. Cepat dia mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan. Di lain pihak, Hong Beng juga terkejut karena lawannya memiliki tenaga yang amat kuat sehingga dia pun terdorong mundur.

Segera kedua orang pemuda ini terlibat dalam perkelahian seru. Mereka berdua sama sekali tidak sadar bahwa perkelahian yang seru dan mati-matian itu hanya disebabkan oleh hal yang sepele saja! Oleh karena cemburu! Mereka berkelahi seolah-olah sedang saling memperebutkan Bi Lan.

Setelah Hong Beng mengeluarkan ilmu-ilmu silat dari Pulau Es, Kun Tek terkejut dan terdesak. Dia tidak mengenal ilmu silat itu, hanya merasa betapa ilmu silat lawannya itu makin lama semakin kuat. Karena maklum betapa lihainya lawan, Cu Kun Tek yang kini menjadi penasaran dan marah sekali, langsung mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang yang mengeluarkan sinar berkilauan dan hawa yang menyeramkan.

Begitu dia mengelebatkan pedang itu, segera terdengar suara mengaum keras yang amat mengejutkan hati Hong Beng. Pemuda ini segera tahu bahwa lawannya memiliki sebatang pedang pusaka yang amat ampuh. Dia tidak merasa jeri, akan tetapi bersikap hati-hati sekali.

“Tahan senjata…!” Terdengar bentakan halus dan tiba-tiba saja muncullah Bi Lan di situ.

Melihat gadis yang sesungguhnya menjadi penyebab perkelahian mereka, dua orang pemuda itu menjadi terkejut. Muka mereka berubah merah dan keduanya tidak tahu harus berkata apa.

Bi Lan berdiri di antara mereka, memandang ke kanan kiri, bergantian, lalu menatap wajah Kun Tek. Dipandang seperti itu, Kun Tek menjadi gugup dan untuk menenangkan perasaannya yang bingung, dia kemudian menyarungkan kembali pedang pusakanya dan disimpannya ke dalam buntalan pakaiannya.

“Kun Tek, apa artinya semua ini? Baru sebentar saja kau kutinggalkan, tahu-tahu sudah berkelahi mati- matian!” Bi Lan menegur.

“Bukan aku yang mencari permusuhan, akan tetapi dia ini datang-datang seperti orang gila menuduh aku yang bukan-bukan dan menyerangku. Tentu saja aku membela diri, tidak sudi mati konyol dalam serangan tangan yang keji.”

Bi Lan menghadapi Hong Beng yang menunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah. “Dan apa pula artinya perbuatanmu ini, Hong Beng? Datang-datang engkau menyerang Kun Tek, padahal engkau sendiri sudah tahu bahwa dia bukan orang jahat ketika dia membantu keluarga mempelai yang diganggu oleh Phoa Wan-gwe? Apa maksudmu?”

“Bi Lan, aku… aku melihat betapa dia tidak sopan ketika mengobatimu… dan aku… aku tidak tahan. Dia terlalu kurang ajar, maka setelah engkau pergi, aku segera keluar dan menyerangnya.”

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tak senang kepada Hong Beng. Pertama, bahwa Hong Beng diam-diam telah mengintai mereka, dan kedua, ia menganggap Hong Beng hendak mencampuri urusan pribadinya!

“Hong Beng, engkau sungguh lancang tangan. Aku tidak minta perlindunganmu, dan Kun Tek ini sama sekali tidak kurang ajar, melainkan mengobati pinggangku dan apa yang dilakukannya itu atas persetujuanku. Apa sangkut-pautnya dengan dirimu?”

Melihat betapa gadis yang dicintanya itu marah-marah dan memarahinya di depan pemuda lain itu, Hong Beng semakin menundukkan mukanya. Hatinya terasa seperti disayat-sayat dan dia pun sadar bahwa tindakannya tadi sebenarnya terburu nafsu, terdorong oleh cemburu yang berkobar-kobar.

“Bi Lan, memang seharusnya aku tahu diri… saudara Kun Tek, kau maafkanlah aku. Selamat tinggal!” Hong Beng lalu melompat dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu supaya tidak tampak oleh mereka bahwa kedua matanya menjadi panas dan basah.

Kun Tek memandang kagum. “Hebat, dia seorang pemuda yang hebat, ilmu silatnya luar biasa, jauh lebih tinggi dariku dan lihat betapa hebat ginkang-nya ketika dia lari.”

“Tentu saja, dia adalah murid keluarga para pendekar Pulau Es.”

“Ahhh…!” Kun Tek terbelalak dan mengangguk-angguk, “Pantas saja tadi pukulannya mengandung tenaga panas seperti api. Pernah aku mendengar dari ayah tentang dua ilmu sinkang amat hebat dari Pulau Es yang disebut Hwi-yang Sinkang yang panas sekali dan Swat-im Sinkang yang dingin sekali. Sayang aku tidak sempat berkenalan lebih baik dengan dia. Akan tetapi, kenapa dia bersikap begitu aneh dan menyerangku seperti orang gila saja?”

“Karena cemburu.” “Cemburu?”

“Dia mencintaku akan tetapi aku menolaknya. Agaknya dia cemburu ketika melihat cara engkau mengobati pinggangku tadi.”

“Ahhhh…!” Muka pemuda itu menjadi merah. Hening sejenak, dalam suasana yang sunyi menegangkan. “Kun Tek, aku kembali untuk bertanya kepadamu apakah engkau mengenal orang yang sedang kucari.”

“Siapakah dia?” bertanya Kun Tek, merasa lega bahwa percakapan beralih sehingga suasana menegangkan tadi pun terputus.

“Julukannya Suling Naga, Pendekar Suling Naga!”

“Suling Naga…?” Sepasang mata Kun Tek terbelalak. “Tentu saja aku mengenalnya! Bukankah namanya Sim Houw?”

“Mungkin, aku tidak tahu, hanya julukannya Pendekar Suling Naga. Tahukah engkau di mana dia dan di mana aku dapat bertemu dengannya?”

“Bi Lan, ada urusan apakah engkau mencari Pendekar Suling Naga Sim Houw?”

Kembali Bi Lan mengerutkan alisnya. “Urusan pribadi. Kalau engkau tahu, katakan saja di mana aku dapat bertemu dengan dia.”

“Dia seorang pendekar perantau, Bi Lan, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi menurut ayah, pendekar itu suka berkelana dan bertapa di sekitar puncak Tai-hang-san.”

“Terima kasih, Kun Tek dan selamat tinggal.” “Nanti dulu, Bi Lan!”

“Ada apa lagi?”

“Baru saja engkau menyelamatkan diriku dari tangan Hong Beng dan aku sungguh merasa menyesal sekali dengan peristiwa yang terjadi dengan dia. Dia seorang murid keluarga Pulau Es dan sahabat baikmu…”

“Aku tadi dongkol padanya. Dia terlalu cemburu, ada hak apa dia mencampuri urusan pribadiku? Dia cemburu tanpa alasan! Engkau dan aku adalah dua sahabat baik, dan engkau mengobati aku dengan hati jujur dan bersih. Tidak ada alasan baginya untuk mencemburuimu.”

Kun Tek menarik napas panjang. “Dia tak bersalah, Bi Lan, dan memang ada alasannya maka dia mencemburui aku.”

“Heiii? Apa maksudmu?”

“Maksudku, dia beralasan untuk cemburu karena… memang sesungguhnya akupun… jatuh cinta padamu, Bi Lan.”

“Ehh…?”

Ingin Bi Lan tertawa gembira. Inilah saat yang dinanti-nanti. Memang ia sudah berusaha untuk menjatuhkan Kun Tek. Saat meninggalkan pemuda itu pun termasuk siasatnya, akan tetapi tak pernah disangkanya ia akan berhasil secepat dan semudah itu.

“Mana mungkin? Kita baru semalam berkenalan, Kun Tek!”

“Mengenalmu satu malam bagiku seperti telah mengenalmu bertahun-tahun, Bi Lan.” “Tapi… tapi bagaimana engkau bisa begini yakin?”

“Ketika kita bercakap-cakap, ketika kita makan bersama, ketika aku mengobatimu, lalu ketika engkau pergi meninggalkan aku. Perasaanku takkan menipuku, Bi Lan. Ketika engkau pergi, aku merasa begitu hampa dan berduka, aku takut kehilangan engkau, dan sekarang pun aku takut kehilangan engkau karena aku cinta padamu, Bi Lan.”

Bi Lan memandang tajam. “Yakin benarkah engkau, Kun Tek? Ingat, aku hanya seorang perempuan dari darah daging belaka, tidak lemah lembut dan tidak baik budi, tidak pula cantik lahir batin, banyak cacat celanya!”

“Aku yakin sepenuh hatiku, Bi Lan. Aku cinta padamu, terasa benar dalam hatiku.”

Kini Bi Lan tersenyum, senyum sinis dan mengejek. “Hemm… hemmm… lalu ke mana larinya perempuan khayalmu itu, Kun Tek?”

Pemuda itu terbelalak. “Perempuan khayal…?”

“Ya, lupakah engkau bahwa engkau tak akan pernah jatuh cinta kecuali kepada seorang perempuan yang seperti dalam khayalanmu itu, yang tanpa cacat cela dan segalanya itu? Bagaimana engkau sekarang, hanya dalam waktu sehari saja, sudah melupakan perempuan khayalmu itu dan mengatakan jatuh cinta padaku?”

Kun Tek teringat dan dia merasa terpukul sekali. “Aku telah bodoh selama ini, Bi Lan. Perempuan seperti yang kukhayalkan itu tidak ada di dunia ini, bukan dari darah daging, tidak mungkin ada wanita tanpa cacat cela dan…”

“Cukup! Engkau memang tolol, bodoh, dan sombong. Aku tidak sudi… aku tidak dapat menerima cintamu. Engkau cintailah saja wanita khayalanmu yang bukan dari darah daging, dan tidak akan dapat menolakmu. Selamat tinggal!” Dan dengan cepat Bi Lan pergi dan berlari cepat.

Kun Tek menjadi bengong. Dia menjadi bingung, tidak mengerti kesalahan apa yang telah dilakukannya kepada Bi Lan yang menyebabkan gadis itu nampaknya demikian marah kepadanya. Dia tidak berani melakukan pengejaran karena hal itu tentu akan membuat Bi Lan semakin marah. Dia hanya duduk terlongong termenung, tenggelam dalam lamunan. Dia mengingat kembali segala percakapannya tadi dengan Bi Lan, juga percakapan mereka kemarin. Setelah kini dia bisa menenangkan pikirannya, nampaklah dengan jelas semua kesalahannya.

“Aku memang tolol, bodoh dan sombong. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Bi Lan tadi,” bisiknya duka.

Kini nampaklah olehnya betapa sikapnya dan kata-katanya merupakan kebodohan demi kebodohan yang tidak ketulungan lagi. Mula-mula dia menggambarkan bahwa dia tidak akan jatuh cinta kecuali kepada seorang wanita seperti yang digambarkannya itu dan tentu saja ucapan seperti ini di depan seorang gadis menyinggung perasaan dan harga diri gadis itu.

Kemudian dalam pengakuan cintanya, dengan amat tolol dia mengatakan bahwa wanita tanpa cacad itu TIDAK ADA, dengan demikian kembali dia telah menyinggung perasaan wanita yang dicintanya, karena dengan ucapan itu seolah-olah dia sudah mengatakan bahwa Bi Lan tidaklah seperti wanita khayalnya itu, bahwa Bi Lan penuh cacat cela. Sungguh amat tolol! Hatinya sekarang merasa berduka sekali. merasa betapa keadaan sekelilingnya tanpa Bi Lan nampak sunyi mati, segala sesuatu nampak kurang menarik lagi.

Beginilah kalau cinta asmara sudah menyerang orang dan membuat orang itu menjadi korban kegagalan. Yang datang kemudian hanyalah kekecewaan yang melenyapkan gairah hidup sehingga hidup ini nampak amat buruk. Semua ini karena perasaan iba diri yang menikam perasaan. Merasa diri paling celaka karena idam-idaman hatinya terbang melayang meninggalkannya.

Sementara itu, Bi Lan berlari dengan cepat sekali. Tanpa tujuan tertentu, asal dapat meninggalkan Kun Tek secepatnya. Hatinya terasa panas bukan main. Tadinya ia ingin mempermainkan Kun Tek untuk memberi ‘hajaran’ kepada pemuda yang dianggapnya sombong itu, yang seolah-olah menganggap di dunia ini tidak ada wanita yang pantas untuk dirinya, pantas menjadi jodohnya! Kemudian, ia berhasil menggerakkan hati dan kejantanan Kun Tek yang membuat pemuda itu bertekuk lutut dan menyatakan cinta kepadanya.

Tadinya ia hendak mentertawakannya, merasa girang sebab berhasil memberi hajaran. Eh, tidak tahunya kembali pemuda itu mengeluarkan kata-kata yang amat menyinggung perasaannya. Katanya bahwa wanita tanpa cacad itu tidak ada! Padahal ia baru saja menyatakan cinta kepadanya. Bukankah hal itu sama saja dengan membandingkan ia dengan perempuan khayal itu? Perempuan khayal itu yang paling hebat dan ternyata perempuan seperti itu tidak ada! Dan ia sendiri? Dengan demikian ia bukan perempuan yang paling baik bagi Kun Tek. Sombong! Pemuda tolol dan sombong!

Agaknya lari cepat sampai mengeluarkan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya membuat kemarahan Bi Lan mereda pula. Hati yang panas mulai dingin dan ia lalu menghentikan larinya dan duduk di lereng sebuah bukit karena ketika lari tadi tanpa disadarinya ia menanjak sebuah bukit. Pantas saja keringatnya bercucuran, tak tahunya tempat ia berlari tadi menanjak terus.

Lereng bukit itu sunyi sekali dan ia pun duduk di bawah sebatang pohon yang berdaun rindang. Sejuk sekali tempat itu dan angin semilir mengusir kegerahan. Dengan sehelai sapu tangan diusapnya keringat dari leher dan mukanya, kemudian ia duduk termenung, membayangkan hal-hal yang baru saja terjadi.

Ada tiga orang pria berturut-turut menyatakan cinta kepadanya! Pertama adalah Bhok Gun, yang ke dua Gu Hong Beng dan ke tiga adalah Cu Kun Tek. Tanpa disadarinya, ia membanding-bandingkan tiga orang pria itu, dan melamunkan kalau ia menjadi jodoh seorang di antaranya.

Bhok Gun yang tertua di antara mereka, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, seorang pria yang sudah matang dan banyak pengalamannya. Bhok Gun berwajah tampan dan nampak makin menarik karena dia pesolek dan pandai merias diri. Ilmu silatnya juga lihai karena sebagai cucu murid Pek-bin Lo-sian, dia mewarisi ilmu yang satu sumber dengan ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Sam Kwi.

Akan tetapi pria ini mata keranjang, bahkan cabul dan gila perempuan. Juga memiliki sifat-sifat jahat dan curang. Menjadi isteri seorang pria macam Bhok Gun ini memang bisa saja berenang dalam lautan kemewahan, akan tetapi hatinya tentu akan selalu dirongrong karena pria ini takkan berhenti mengejar wanita-wanita lain.

Rayuan-rayuan mautnya itu semua hanyalah palsu belaka, hanya untuk menundukkan wanita yang sebentar lagi akan dicampakkannya begitu saja kalau dia sudah merasa bosan! Tidak, ia tidak akan sudi menjadi jodoh pria macam itu. Apa lagi perkenalannya dengan Bhok Gun itu hanya melalui suci-nya yang menjadi kekasih Bhok Gun.

Masih muak kalau dia mengingat kembali apa yang didengarnya dan dilihatnya antara Bi-kwi dan Bhok Gun, kemuakan yang membuat wajahnya memerah dan jantungnya berdebar aneh. Bagaimana pun juga, Bi Lan sudah mulai dewasa! Belum pernah Bhok Gun melakukan sesuatu yang baik baginya. Tidak, ia tidak sudi menjadi jodoh Bhok Gun.

Lain lagi halnya dengan dua orang pemuda lainnya dan kini diam-diam ia membanding-bandingkan antara Hong Beng dan Kun Tek. Kedua orang pemuda itu, Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek, keduanya sama muda, sama gagah perkasa, sama pendekar dan keduanya pernah menyelamatkannya dari bahaya yang bahkan mungkin lebih hebat dan mengerikan dari pada maut sendiri! Ia sukar membayangkan betapa akan jadinya dengan dirinya kalau tidak ada Hong Beng dan Kun Tek. Tentu sudah dua kali terjatuh ke tangan Bhok Gun jahanam itu.

Gu Hong Beng sudah dikenalnya dengan baik. Ia seorang pemuda yatim piatu yang nasibnya hampir sama dengan nasibnya sendiri. Wajahnya cukup menarik walau pun pemuda ini amat sederhana dengan pakaiannya yang serba biru, seperti seorang petani saja, atau seorang buruh biasa. Akan tetapi kepandaiannya hebat karena pemuda ini adalah murid dari keluarga Pulau Es!

Sayang wataknya terlalu pendiam dan bahkan agak pemalu walau pun budi bahasanya halus. Akan tetapi dia sangat pencemburu, seperti yang sudah dibuktikan ketika dia menyerang Kun Tek hanya karena melihat Kun Tek meraba kulit pinggangnya yang tanpa ditutup kain, yang memang disengajanya untuk ‘menjatuhkan’ Kun Tek sebagai penghajaran! Padahal, sentuhan itu hanya dilakukan oleh Kun Tek untuk mengobatinya, dan hal itu sudah membuat Hong Beng cemburu dan menyerang Kun Tek!

Ahh, ia takkan merasa berbahagia hidup sebagai isteri orang pencemburu seperti itu, yang tidak mempunyai rasa humor sedikit pun dalam hidup. Sama saja dengan memiliki suami patung hidup, betapa pun lihainya dalam ilmu silat!

Bagaimana dengan Kun Tek? Pemuda yang gagah perkasa, tinggi besar dan biar pun mukanya berkulit agak kehitaman, namun dia ganteng dan gagah perkasa. Sayang, selain juga tidak banyak bicara, kalau bicara amat tajam dan galak, juga agak terlalu tinggi menghargai diri sendiri sehingga ada kecondongan kepada sifat sombong dan besar kepala. Tidak, ia pun takkan berbahagia bersuamikan Kun Tek.

Sampai lama gadis itu bengong saja, sampai akhirnya teringat akan nasibnya sendiri. Sebetulnya, dia sendiri tidak mempunyai persoalan, tidak mempunyai musuh karena semua pembunuh orang tuanya sudah dibasmi habis oleh Sam Kwi. Akan tetapi, kalau tadinya ia berhutang budi kepada Sam Kwi, kini budi itu dioper oleh Bi-kwi, suci-nya yang telah menyelamatkannya dan membebaskannya dari bencana diperkosa oleh Sam Kwi.

Dan ia sudah berjanji kepada suci-nya itu untuk merampas Suling Naga dan kelak kalau sempat ia akan membantu pula suci-nya yang ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan dengan Suling Naga di tangannya! Pusaka yang kini menjadi milik Pendekar Suling Naga Sim Houw itu sudah dia ketahui di mana harus dicarinya. Dari Kun Tek ia sudah mendengar bahwa Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw itu kadang-kadang berkeliaran di sekitar puncak Pegunungan Tai-hang-san.

Persoalan merampas pusaka untuk membalas budi suci-nya seperti pernah ia janjikan, sekarang telah mulai nampak jalan keluarnya. Akan tetapi sebelum pusaka itu dapat direbutnya, muncul persoalan baru. Pedang Ban-tok-kiam, yang oleh subo-nya hanya dipinjamkan kepadanya, sekarang dirampas orang! Dan perampasnya adalah seorang pendeta Lama yang demikian lihai!

Dengan dibantu Hong Beng saja dia tidak mampu merampas kembali, apa lagi kalau harus menghadapinya sendiri. Akan tetapi, apa pun resikonya, ia harus bisa merampas kembali Ban-tok-kiam. Ia akan ke Tai-hang-san lebih dulu, akan mencari pendekar Sim Houw yang berjuluk Pendekar Suling Naga dan merampas kembali pedang pusaka itu! Ia akan membujuk pendekar itu untuk mengalah dan menyerahkan kembali pedang itu yang memang menjadi hak dari keturunan Sam Kwi, karena pendekar itu merampasnya atau menerimanya dari Pek-bin Lo-sian, susiok (paman guru) dari Sam Kwi.

Berangkatlah dara yang tabah itu seorang diri dan karena memang pada dasarnya ia berwatak gembira jenaka, maka begitu ia bangkit dan melangkah pergi, semua pikiran mengenai masalah-masalah yang menyulitkan itu pun sudah ditinggalkannya! Ia akan mencari Pendekar Suling Naga dan tentang bagaimana nanti selanjutnya, terserah saja pada keadaan. Ia tidak mau berpusing-pusing tentang hal yang belum terjadi!

Keadaan batin seperti yang dimiliki Bi Lan ini membuat dia dapat menikmati hidup. Kehidupan menjadi indah karena apa yang dilihatnya senantiasa baru. Kebanyakan dari kita tidak mau hidup seperti itu. Kita tergantung kepada hal-hal yang lalu, terikat kepada hal-hal yang akan datang seperti yang kita harap- harapkan.

Kita terluka parah oleh masa lalu dan kita terbuai oleh masa depan yang kita namakan cita-cita. Karena terluka oleh masa lalu, selalu mengingat-ingat masa lalu, maka wajah kita menjadi selalu muram dan seolah-olah selalu diliputi awan gelap. Dan karena kita selalu mengejar-ngejar cita-cita atau yang kita namakan pula kemajuan, yang bukan lain hanyalah keinginan-keinginan yang diharapkan akan terjadi di masa depan, keinginan akan suatu keadaan yang lebih menyenangkan, maka kita terombang-ambing antara masa lalu dan masa depan sehingga kita lupa bahwa HIDUP adalah SEKARANG, saat ini!

Hidup adalah saat demi saat ini. Yang lalu sudah mati, tak perlu diingat lagi, walau pun dari pengalaman- pengalaman masa yang lalu dapat membuat kita lebih waspada dalam menghadapi segala peristiwa hidup. Masa depan adalah khayal. Lebih baik bekerja keras dari pada melamunkan masa depan yang baik. Suatu keadaan yang baik tidak hanya dapat terjadi karena direncanakan atau dilamunkan, melainkan BEKERJA.

Dan bekerja adalah sekarang ini. Hidup adalah sekarang ini. Bahagia adalah sekarang ini! Kalau pikiran kita berhenti berceloteh, berhenti mengoceh mengenai kenangan masa lalu dan harapan masa depan, maka batin kita menjadi tenang dan mata kita menjadi waspada sekali terhadap SAAT INI, yaitu terhadap HIDUP ini. Kita dapat menikmati hidup ini hanya setiap saat sekarang, bukan besok atau lusa. Mengapa pusing-pusing tentang besok atau lusa kalau nanti mungkin saja kita mati?

Ada orang tua yang menasehati anak-anaknya agar sekarang bersusah payah dahulu dan bersenang- senang kemudian? Apa maksudnya ini? Apakah anak-anak kita harus sengsara dulu sekarang ini dan dengan bersusah payah, bersengsara sekarang ini lalu kelak akan senang dan bahagia? Betapa malangnya anak yang disuruh begitu.

Mungkin dia menurut, lalu bersusah payah setengah mati sampai dewasa, kemudian oleh suatu sebab dia mati. Dengan demikian berarti bahwa sejak kanak-kanak sampai matinya, hidupnya hanya diisi oleh jerih payah dan susah payah, tidak pernah diberi kesempatan untuk bersenang atau bersuka!

Orang tua yang bijaksana dan benar-benar mencinta anak-anaknya pasti akan memberi kebebasan pada mereka, membiarkan mereka tumbuh subur, hanya tinggal memupuk dan mungkin meluruskan kalau tumbuhnya bengkok, akan tetapi memberi kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk berbahagia. SEKARANG! Bukan besok atau kelak kalau sudah tua.

Bukan berarti lalu membiarkan mereka bebas semau gue, gila-gilaan, atau bukan berarti lalu acuh terhadap mereka. Sama sekali tidak. Cinta kasih menimbulkan perhatian yang serius, namun tidak mengikat, tidak membelenggu. Kebahagiaan tidak mungkin didapat tanpa kebebasan!

Dalam keadaan gembira dan merasa bahagia karena sama sekali tak ada kotoran yang mengeruhkan batinnya, pikirannya kosong sehingga dapat menerima segala keindahan yang terbentang di depan matanya, segala suara yang tertangkap oleh telinganya dan segala keharuman tanah dan tumbuh- tumbuhan yang tercium oleh hidungnya, Bi Lan melanjutkan perjalanannya menuju ke Tai-hang-san, perjalanan yang amat jauh melalui pegunungan, hutan-hutan serta banyak kota dan dusun…..

********************

Dusun Hong-cun merupakan sebuah dusun yang sangat makmur di luar kota Cin-an. Kemakmurannya, berbeda dengan dusun-dusun lain yang tanahnya gersang, adalah karena letaknya di lembah Huang-ho. Memang, setahun sekali hampir selalu daerah ini mengalami banjir dari luapan air Sungai Huang-ho.

Namun pada musim-musim lainnya, tanah di situ amat suburnya dan menghasilkan panen yang cukup bagi penduduknya.

Ada sebuah rumah besar sederhana yang dikenal bukan hanya oleh seluruh penduduk dusun Hong-cun, bahkan dikenal oleh semua orang di kota Cin-an. Rumah ini adalah rumah keluarga Suma Ceng Liong! Para pembaca tentu belum lupa akan nama ini, Suma Ceng Liong. Baru melihat nama marganya saja, orang akan dapat menduga bahwa ini adalah keturunan keluarga para pendekar Pulau Es.

Suma Ceng Liong adalah putera dari mendiang Suma Kian Bu. Dia cucu langsung dari Pendekar Super Sakti Suma Han dan Puteri Nirahai, jadi masih ada darah bangsawan dari neneknya. Namun, seperti semua keturunan para pendekar Pulau Es, tidak ada seorang pun yang menonjolkan keturunan bangsawan ini dan Suma Ceng Liong juga hidup sebagai petani biasa saja di dusun Hong-cun.

Sebagai cucu Pendekar Super Sakti, Suma Ceng Liong mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari Pulau Es, bahkan ia pernah digembleng selama bertahun-tahun oleh seorang Raja Iblis, yaitu Hek-i Mo-ong. Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa lihainya pendekar yang kini sudah berusia tiga puluh dua tahun itu.

Seperti kita ketahui, kurang lebih tiga belas tahun yang lalu Suma Ceng Liong menikah dengan seorang gadis pujaan hatinya yang bernama Kam Bi Eng. Isterinya ini pun, yang usianya sama dengan dia, bukan orang sembarangan. Ia puteri pendekar sakti Kam Hong yang terkenal pula dengan julukannya Suling Emas. Sebagai puteri pendekar sakti, tentu saja Kam Bi Eng ini juga merupakan seorang pendekar wanita gemblengan yang sukar dicari tandingannya.

Setelah setahun menikah, suami isteri ini mempunyai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Lian, lengkapnya Suma Lian. Lian berarti bunga teratai dan nama ini diberikan oleh karena ketika mengandung, ibunya bermimpi menerima setangkai bunga teratai dari seorang bidadari yang dapat terbang dan bersayap!

Pada waktu itu, Suma Lian telah berusia dua belas tahun, seorang gadis cilik yang mungil, akan tetapi ia mewarisi watak ayah ibunya yang lincah, jenaka, nakal dan juga galak! Akan tetapi di balik watak yang kadang-kadang suka mempermainkan dan menggoda lain orang itu terdapat suatu sifat kegagahan yang diwarisi pula dari ayah ibunya.

Biar pun baru berusia dua belas tahun, Suma Lian akan dapat mencak-mencak saking marahnya dan akan berubah menjadi harimau betina kalau ia melihat ketidak adilan terjadi. Dan ia mudah menaruh hati iba kepada sesama hidup yang menderita. Ibunya pernah marah-marah karena ketika masih kecil, baru berusia delapan tahun, Suma Lian pernah mencuri gandum dan beras dari gudang kemudian membagi- bagikannya kepada orang-orang miskin.

Padahal yang diambilnya itu adalah simpanan keluarga mereka sendiri. Untuk menolong orang-orang miskin, ia bahkan berani mencuri gandum keluarga sendiri. Nakal memang, akan tetapi dasarnya adalah karena ia merasa iba melihat mereka yang menderita dan ia berani mengorbankan diri dimaki-maki ibunya demi kebahagiaan orang-orang lain.

Di samping ayah, ibu dan anak ini, di dalam rumah gedung sederhana itu tinggal pula seorang nenek yang usianya sudah enam puluh enam tahun. Ia juga bukan nenek sembarangan, karena nenek itu adalah Teng Siang In, ibunda dari Suma Ceng Liong! Setelah suaminya (Suma Kian Bu) meninggal dunia dan menjadi janda, Teng Siang In mencurahkan kasih sayangnya kepada Suma Lian, kadang-kadang malah memanjakan cucu itu.

Dusun Hong-cun terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho dan tidak begitu jauh lagi dari Peking atau kota raja yang terletak di sebelah utara kota Cin-an. Karena tanah di lembah itu menghasilkan sayur-mayur yang baik, juga rempah-rempah, dan ikan yang cukup banyak, maka tentu saja keadaannya menjadi makmur dan ramai. Boleh dibilang hampir semua orang dari selatan yang hendak pergi ke kota raja melalui Cin-an, akan lewat dulu di dusun Hong-cun ini.

Semenjak neneknya tinggal di rumah itu, Suma Lian memperoleh guru ke tiga! Nenek ini tidak mau kalah oleh putera dan mantunya dalam mendidik gadis cilik itu berlatih ilmu silat! Bahkan nenek ini sudah mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silatnya yang paling berbahaya bagi lawan, yaitu Soan-hong-twi (Tendangan Angin Puyuh). Akan tetapi Suma Ceng Liong yang maklum betapa ibunya sangat sayang kepada Suma Lian, berpesan kepada ibunya agar nenek itu jangan mengajarkan ilmunya yang lain, yaitu ilmu sihir!

“Terlalu berbahaya ilmu itu bagi perkembangan jiwanya, ibu. Kecuali kelak kalau dia sudah dewasa,” demikian pesannya kepada ibunya.

“Ayaaaa… kau ini anak-anak tahu apa, Ibumu tentu sudah tahu dan akan mengatur sebaik-baiknya,” jawab nenek itu dan diam-diam Suma Ceng Liong mendongkol.

Ibunya ini galak dan keras kepala, dan agaknya masih saja menganggap dia yang sudah berusia tiga puluh dua tahun itu sebagai kanak-kanak saja. Akan tetapi Ceng Liong seorang anak yang berbakti dan patuh, tidak membantah lagi.

Suatu hari, pagi-pagi sekali sudah terdengar bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan suara nenek dan cucunya itu ketika mereka berlatih di kebun belakang. Memang nenek Teng Siang In ini lebih suka melatih cucunya di kebun belakang dari pada di ruangan latihan silat yang tertutup. Di kebun lebih sehat dan baik, katanya, karena di tempat udara terbuka.

Suma Lian yang berusia dua belas tahun itu dilatih berloncatan dan berjungkir balik ke depan, ke belakang, ke kanan atau ke kiri, akan tetapi bukan hanya berjungkir balik sembarangan saja, melainkan jungkir balik sambil menendang. Itulah gerakan-gerakan pertama untuk dapat menguasai ilmu tendangan Soan-hong- twi yang amat sukar dilatih, akan tetapi sekali orang sudah menguasainya, maka tubuhnya akan dapat mengirim tendangan dalam posisi bagaimana pun juga. Kaki lebih panjang dari lengan, maka jika ilmu tendangan dikuasai dengan baik, akan berbahayalah bagi lawan.

Bentakan-bentakan itu dikeluarkan oleh si nenek untuk memberi petunjuk dan teriakan-teriakan yang keluar dari mulut Suma Lian itu memang seharusnya demikian. Gerakan-gerakan itu menggunakan banyak tenaga dari otot-otot bagian perut sehingga perlu dikeluarkan teriakan-teriakan itu untuk mengatur khi (hawa dalam tubuh) yang selain menciptakan tenaga dalam, juga melindungi isi perut.

“Gerakan memantul ke belakang tadi keliru. Kepalamu jangan kau angkat, melainkan didongakkan dan dilempar ke belakang hingga memudahkan tubuhmu berjungkir balik ke belakang karena gerakan itu menambah daya luncur dan menambah lengkungan tubuh!”

Nenek itu lalu memberi contoh beberapa kali dan ternyata tubuh nenek yang usianya sudah enam puluh enam tahun itu masih gesit dan lincah membuat gerakan sukar itu.

Pada saat itu, di tepi dusun Hong-cun nampak seorang kakek tinggi besar. Wajahnya menyeramkan karena penuh dengan rambut, membuat muka kakek itu nampak seperti muka singa. Akan tetapi karena kepalanya gundul dan dia memakai jubah pendeta Lama, keseraman wajahnya itu tertutup, bahkan menimbulkan rasa hormat dalam hati orang-orang yang berjumpa dengannya. Ketika itu, kakek ini menyapa seorang pejalan kaki, seorang setengah tua dengan suara yang halus akan tetapi agak kaku, tanda bahwa dia datang dari daerah barat.

“Selamat pagi, saudara. Semoga Sang Buddha selalu memberkahi anda. Maukah anda menolong saya dan memberi tahukan di kuil atau rumah mana kiranya saya dapat beristirahat untuk melemaskan tubuh dan mendapatkan sekedar semangkuk bubur dan seteguk air?”

Orang yang ditanya itu merasa senang sekali. Pagi-pagi sudah memperoleh doa restu seorang pendeta, sungguh mujur dia! Maka dengan hormat dia memberi hormat dan menjawab, “Losuhu, di dusun ini tidak ada kuil besar, yang ada hanya sebuah kuil kecil untuk pendeta-pendeta wanita. Akan tetapi kalau losuhu mendatangi rumah keluarga pendekar Suma, tentu losuhu akan disambut dengan baik. Keluarga Suma terkenal suka menolong orang, apa lagi seorang suci seperti losuhu.”

“Omitohud…! Suma…? Mungkinkah dia Suma Han? Si Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?” gumamnya dan matanya yang lebar terbelalak.

Orang itu tersenyum. “Saya hanya tahu bahwa nama pendekar itu Suma Ceng Liong dan memang kabarnya dia itu keluarga pendekar Pulau Es.”

“Omitohud, semoga Sang Buddha memberkahi anda untuk kedua kalinya! Terima kasih! Di mana rumah keluarga Suma itu?”

“Tak jauh dari sini. Harap losuhu jalan saja lurus kalau melihat sebuah rumah gedung kuno di tepi jalan sebelah kanan, bercat kuning, itulah rumah mereka. Tak salah lagi karena tidak ada lagi rumah sebesar itu di dusun ini.”

Pendeta Lama itu lalu menjura dan pergi. Siapakah dia yang mengenal Suma Han, Pendekar Super Sakti Pulau Es? Sebetulnya mengenal sih tidak, akan tetapi sebagai seorang bertingkat tinggi di dunia persilatan, tentu saja dia pernah mendengar nama besar keluarga Pulau Es.

Pendeta Lama ini bukan lain adalah Sai-cu Lama, pendeta pelarian dari Tibet yang kini menuju ke kota raja karena diam-diam sudah melakukan hubungan dengan pembesar tinggi Hou Seng di kota raja yang sedang merajalela di istana sebagai kekasih kaisar! Hubungan ini melalui seorang kenalan lamanya yang bernama Kim Hwa Nionio yang sekarang telah menjadi pembantu pembesar Hou Seng itu.

Mendengar bahwa di dusun kecil itu terdapat keluarga Pulau Es, tentu saja hatinya tertarik sekali. Dengan langkah lebar dia lalu mencari rumah gedung besar kuno itu dan dapat menemukannya dengan mudah. Niatnya hanya hendak berkenalan dan melihat sendiri keadaaan keluarga yang terkenal di dunia persilatan itu, bahkan kalau mungkin menguji kepandaian Suma Ceng Liong itu, di samping ingin membuktikan apakah benar mereka itu demikian budiman suka menolong orang.

Akan tetapi, ketika dia sampai di pekarangan depan, lapat-lapat telinganya mendengar bentakan-bentakan yang menunjukkan bahwa orang yang mengeluarkan bentakan itu memiliki khikang yang tinggi. Dia mengerahkan perhatiannya dan tahulah dia bahwa di kebun belakang rumah itu ada orang-orang yang sedang berlatih silat karena dia mendengar juga teriakan-teriakaan seorang anak perempuan yang nyaring sekali.

Niatnya untuk mengetuk pintu dibatalkan dan dengan berindap-indap dia lalu berjalan menuju ke kebun belakang lewat samping rumah. Kalau pun ada orang di atas jalan depan rumah itu, takkan menaruh curiga sama sekali melihat seorang kakek berpakaian pendeta berkepala gundul berjalan di samping rumah itu menuju ke belakang.

Rumah itu adalah rumah keluarga pendekar dan sudah sering menerima kunjungan orang-orang aneh. Bahkan nenek yang tinggal di situ, bagi orang umum juga sudah merupakan seorang yang berwatak aneh sekali.

Pada saat Sai-cu Lama mengintai ke dalam kebun dan melihat Suma Lian, sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong karena kagumnya. Anak perempuan itu hebat, pikirnya! Tepat seperti yang selama ini dicarinya.

Sahabatnya di kota raja, Kim Hwa Nionio, berpesan padanya bahwa majikan mereka, yaitu calon perdana menteri Hou Seng yang menjadi ‘kekasih’ kaisar itu, suka sekali akan anak-anak perempuan yang mungil, yang berusia antara sepuluh sampai lima belas tahun. Dan anak perempuan ini sungguh memenuhi syarat.

Usianya tentu baru dua belas atau tiga belas tahun, dan mempunyai wajah yang cantik manis. Kalau dibawanya dan dipersembahkannya sebagai ‘oleh-oleh’ kedatangannya, tentu akan menyenangkan hati pembesar Hou Seng. Andai kata pembesar itu tidak mau, lebih kebetulan lagi. Anak perempuan itu tepat untuk dirinya sendiri. Bukan, sama sekali bukan untuk menjadi mangsa nafsu birahinya seperti yang akan dilakukan oleh pembesar Hou Seng itu, melainkan untuk dijadikan muridnya.

Sudah lama dia mendambakan seorang calon murid yang baik dan anak perempuan ini memiliki bakat yang luar biasa. Anak sekecil itu sudah pandai menirukan gaya si nenek dalam ilmu tendangan yang demikian sulitnya. Apa lagi kalau diingat bahwa anak ini keturunan adalah keluarga Pulau Es. Sungguh cocok menjadi muridnya dan tidak akan memalukan.

Dia akan bangga jika diketahui orang kelak bahwa muridnya adalah keturunan keluarga Pulau Es. Bukankah dahulu nama besar Hek-i Mo-ong juga terangkat naik karena dia mempunyai murid keturunan keluarga Pulau Es? Pernah dia melihat anak yang menjadi murid Hek-i Mo-ong itu. Kalau tidak salah, namanya pakai Liong begitu.

Tiba-tiba dia terbelalak. Suma Ceng Liong, demikianlah nama pemilik rumah ini. Apakah bukan Suma Ceng Liong ini yang dulu pernah menjadi murid Hek-i Mo-ong? Dia masih muda ketika itu dan ia mendengar betapa nama besar Hek-i Mo-ong semakin menjulang tinggi.

Kalau benar demikian, tentu anak ini ada hubungannya dengan Suma Ceng Liong. Mungkin puterinya! Wah, betapa bangga hatinya kalau sampai puteri Suma Ceng Liong menjadi muridnya! Dan kalau pembesar Hou Seng mau, pembesar itu pun tentu akan merasa bangga dapat memperoleh anak perempuan dari keluarga besar itu!

Pada saat itu, kembali nenek Teng Siang In memberi petunjuk. “Untuk dapat melakukan tendangan jurus ke tiga yang datangnya dari atas, engkau harus menendangkan kaki kiri lebih dulu ke arah muka lawan sambil mengayun tubuhmu. Kalau tendangan itu bisa tertangkis, tenaga tangkisannya dapat kau sambut dan kau pinjam untuk melayangkan tendangan susulan dengan kaki kanan. Delapan bagian dari sepuluh tendangan ke dua itu pasti berhasil. Kalau dielakkan tendangan pertama, tubuhmu langsung mencelat ke atas terbawa tenaga tendangan dan ketika meluncur ke atas itulah engkau jungkir balik tiga kali agar cukup tinggi. Dari atas lalu engkau meluncur turun dengan kedua kaki bergantian menotok ke ubun-ubun dan ke tengkuk.”

“Wah, gerakan itu amat sukar, nek!” Suma Lian yang sudah mulai lelah itu mengeluh.

Nenek itu bertolak pinggang dan memandang cucunya dengan marah. Ia menyayang dan memanjakan Suma Lian, akan tetapi dalam hal melatih ilmu silat, ia memang keras sekali.

“Apa? Baru sebegitu saja engkau mengeluh. Ingatlah, engkau ini Suma Lian, jangan merendahkan dan membikin malu nama keluarga Suma dengan keluhan! Keluarga kita tak pernah mengeluh menghadapi kesukaran yang bagaimana pun juga! Tahu?”

Memang sudah menjadi watak Suma Lian, kalau dihadapi dengan kekerasan, ia pun memperlihatkan sikap keras. Ia hanya memandang wajah neneknya dengan mata tajam menentang dan mulut cemberut!

Melihat sikap cucunya ini, hati nenek itu menjadi luluh. Ia sendiri dulu terkenal sebagai seorang wanita yang keras hati dan keras kepala, juga kekerasan hatinya itu menurun kepada Suma Ceng Liong. Agaknya sekarang diwarisi pula oleh cucunya ini. Nenek itu teringat bahwa menghadapi Suma Lian dengan kekerasan sama saja dengan mencari lawan! Ia lalu tersenyum dan merangkul cucunya.

“Cucuku yang manis, ilmu silat keluarga kita tidaklah mudah untuk melatihnya, harus tekun dan untuk itu kadang-kadang nenekmu ini harus menggunakan gemblengan keras kepadamu. Mengertikah engkau?”

Melihat senyum neneknya, kekerasan hati Suma Lian juga sudah luluh. “Aku mengerti, nek. Akan tetapi aku tadi pun tidak mengeluh, hanya mengatakan yang sebenarnya bahwa gerakan itu amat sukar. Cobalah beri contoh lagi kepadaku, nek.”

“Baik, kau lihat baik-baik, cucuku!”

Dengan teriakan melengking nenek itu lalu menendangkan kaki kirinya ke depan, dan tubuhnya terus melayang ke udara karena tendangan itu tidak ada yang menyambut, seperti dielakkan lawan dan tubuh itu membuat jungkir balik ke atas sampai lima kali, hal yang sungguh sukar untuk dilakukan. Kemudian, bagaikan seekor burung garuda yang turun menyambar korbannya, tubuh itu meluncur ke bawah dan kedua kakinya bergerak melakukan tendangan-tendangan beruntun ke arah ubun-ubun dan tengkuk lawan yang tidak ada!

“Nah, sudah jelaskah sekarang, Suma Lian? Heiii, di mana engkau…?” Nenek itu tidak melihat cucunya di tempat tadi dan tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang yang tinggi besar meloncat keluar dari pagar tembok.

Dengan hati penuh kecurigaan karena setelah memandang ke sekeliling ia tidak melihat cucunya, nenek itu lalu melakukan pengejaran dan mengerahkan seluruh kepandaian ilmu ginkang-nya yang membuat tubuhnya meluncur cepat sekali seperti terbang saja, keluar dari kebun itu meloncati pagar tombok.

Ternyata bayangan itu sudah jauh dan menuju ke luar dusun! Maklumlah nenek Teng Siang In bahwa si tinggi besar yang dari belakang mengenakan jubah lebar itu memiliki ilmu berlari cepat yang hebat. Hatinya menjadi semakin curiga dan gelisah, jangan-jangan orang itu tadi ketika ia melakukan gerakan silat untuk memberi contoh kepada cucunya, telah turun tangan menangkap dan menculik cucunya.

Mungkin saja hal itu terjadi karena ketika tubuhnya meluncur dan berjungkir balik lima kali di udara, banyak kesempatan terbuka bagi orang yang berilmu tinggi untuk menculik cucunya. Ia pun mempercepat larinya, akan tetapi sampai ia jauh meninggalkan dusun, jarak antara ia dan orang itu masih sama saja. Ia belum juga berhasil menyusul kakek itu. Kini ia dapat menduga bahwa orang yang lari cepat di depan itu adalah seorang kakek gundul tinggi besar yang berjubah, agaknya seorang hwesio.

Memang tepat dugaan nenek Teng Siang In. Ketika ia meloncat tinggi tadi, Sai-cu Lama mempergunakan kesempatan itu untuk melayang dan menyambar tubuh Suma Lian sambil menotok anak itu pada tengkuknya, membuat anak itu lemas dan tidak mampu mengeluarkan suara! Dan dia pun terus melompat dan melarikan diri karena dia maklum bahwa nenek itu tentu seorang keluarga Pulau Es yang lihai sekali. Dia mengerahkan seluruh tenaga untuk melarikan diri, akan tetapi tiap kali dia menoleh, nenek itu tetap berada di belakangnya melakukan pengejaran, tak pernah tertinggal jauh!

Hal ini membuat hati Sai-cu Lama menjadi penasaran dan timbullah keinginannya untuk menguji kepandaian nenek itu. Tidak mungkin dia kalah oleh seorang nenek, walau pun nenek itu keluarga pendekar Pulau Es sekali pun! Dia lalu menggunakan tali jubahnya untuk mengikat tubuh Suma Lian di atas punggungnya sambil menanti datangnya nenek itu yang berlari cepat mengejarnya.

Akhirnya mereka berhadapan dan saling pandang penuh perhatian. Hati nenek Teng Siang In merasa lega melihat betapa cucunya yang terikat di punggung pendeta itu dalam keadaan sehat walau pun tak mampu bergerak atau bersuara, agaknya tertotok jalan darahnya.

Dapat dibayangkan betapa marahnya nenek Teng Siang In yang berwatak galak dan keras itu. Sepasang matanya mencorong memandang wajah kakek itu dengan teliti seperti hendak mengenal siapa adanya manusia yang berani sekali menculik cucunya begitu saja di bawah hidungnya! Hal itu dianggapnya sebagai suatu tantangan yang kurang ajar sekali.

Dengan sepasang matanya yang masih awas ia memandang penuh ketelitian dan akhirnya ia yakin bahwa selamanya ia belum pernah bertemu dengan pendeta Lama yang berusia enam puluhan tahun, tinggi besar berperut gendut, berkepala gundul akan tetapi mukanya menyeramkan seperti muka seekor singa itu.

Setelah puas meneliti, ia lalu membentak, “Sebelum aku turun tangan membunuhmu, katakan dulu siapa engkau ini dan mengapa berani menculik cucuku!”

“Omitohud…!” Sai-cu Lama sejak tadi memandang nenek itu dengan mata terbelalak penuh pesona.

Bukan main wanita ini, pikirnya. Biar pun sudah nenek-nenek, akan tetapi tubuhnya masih begitu langsing dan padat, dan wajahnya masih saja membayangkan kecantikan walau pun rambutnya sudah banyak yang memutih. Seorang wanita cantik yang gagah!

“Omitohud apa! Orang semacam engkau ini hanya pakaiannya saja pendeta, hanya kepalanya saja gundul, akan tetapi watakmu persis seperti mukamu yang menyeramkan dan penuh kekejaman itu. Hayo, jawab siapa engkau ini sebelum kau mampus tanpa nama!”

“Omitohud… belum pernah pinceng (aku) menemui yang sehebat ini. Kau malah lebih hebat dari cucumu ini, sayang sudah tua.”

“Keparat jahanam, engkau memang ingin mampus tanpa nama!” bentak Teng Siang In.

Ia sudah menerjang dengan hebatnya. Terjangan nenek ini memang dahsyat, karena ia telah mengirim pukulan yang disambung tendangan bertubi-tubi, tendangan-tendangan dengan ujung kaki, hanya menggunakan sedikit saja tenaga, akan tetapi penuh tenaga sinkang dan ujung sepatunya itu, keduanya berputar-putar menuju ke arah tiga belas jalan darah terpenting dari tubuh depan Sai-cu Lama!

Bukan main kagetnya Sai-cu Lama menghadapi serangan sedahsyat itu. Dia sampai mengeluarkan teriakan kaget ketika menangkis dan mengelak sambil terhuyung ke belakang. Dia tak berani membalikkan tubuh karena maklum bahwa nenek itu memang sengaja menyerangnya dengan demikian cepat dan dahsyat, sehingga sekali saja dia memutar tubuh, tentu anak yang sudah digendongnya itu akan terampas kembali! Maka dia terpaksa menangkis sambil berloncatan mundur dan terhuyung-huyung. Kagetlah kakek ini. Nenek itu sungguh sama sekali tak boleh dipandang ringan.

“Haiiittttt…!”

Tiba-tiba dia berteriak. Tangan kanannya mendorong ke depan penuh dengan tenaga sinkang yang amat kuat. Memang, satu di antara keampuhan kakek gendut ini adalah tenaga sinkang-nya yang mampu menyerang orang dari jarak jauh. Tenaga sinkang yang dibarengi dengan tenaga hitam dari Tibet. Dari telapak tangannya itu, selain menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, juga nampak uap hitam mengepul dan menyambar ke arah muka Teng Siang In.

Akan tetapi nenek itu tertawa. “Heh-heh-heh, pendeta palsu, aku akan menghilang dari depanmu dan menghancurkan kepalamu!”

Nenek itu menggerakkan tangannya dan tiba-tiba lenyap dari pandangan mata Sai-cu Lama! Kakek ini tentu saja kaget bukan main. Cepat dia mencabut Ban-tok-kiam dan memutar pedang itu dengan tangan kanannya, melindungi tubuhnya dengan sinar pedang yang bergulung-gulung membentuk benteng menyelimuti dirinya dan diam-diam dia mengerahkan tenaga batinnya untuk melawan ilmu sihir nenek itu.

Dan mulai nampaklah nenek itu dari sebelah kiri, siap untuk menghantam kepalanya, akan tetapi terhalang oleh sinar pedangnya. Untung dia mempunyai Ban-tok-kiam yang belum lama ini dirampasnya dari gadis itu. Kalau tidak, jangan-jangan hari ini adalah hari ajalnya karena kalau tadi nenek itu benar-benar menghantam kepalanya sebelum dia dapat melihatnya, sukar baginya untuk menyelamatkan dirinya.

“Omitohud, kiranya engkau siluman betina…!” bentak Sai-cu Lama dengan marah dan dia sama sekali tidak berani memandang rendah lagi, cepat mengirim serangan dengan tusukan Ban-tok-kiam ke arah dada nenek itu.

Nenek Teng Siang In meloncat jauh ke belakang sambil berjungkir balik dan dia pun terbelalak melihat pedang itu.

“Ban-tok-kiam…! Bagaimana bisa jatuh ke tanganmu? Siapakah engkau ini, pendeta Lama busuk?” bentaknya dengan terheran-heran.

Tentu saja ia mengenal Ban-tok-kiam, senjata pedang pusaka yang amat terkenal itu, milik isteri dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Kenapa tiba-tiba saja berada dalam tangan hwesio ini dan apa hubungan pendeta Lama ini dengan nenek Wan Ceng, isteri dari pendekar Kao Kok Cu di Istana Gurun Pasir?

“Ha-ha-ha, anggap saja pinceng adalah Giam-lo-ong (Raja Akhirat) yang datang untuk mencabut nyawamu, nenek cantik!” kata Sai-cu Lama dan dia memutar Ban-tok-kiam lagi, lalu menerjang maju dengan dahsyatnya.

Nenek Teng Siang In tak pernah membawa senjatanya. Ilmu silatnya cukup tinggi dan ditambah ilmu sihirnya, tanpa senjata pun ia dapat melindungi dirinya dengan baik. Akan tetapi sekarang ia bertemu dengan seorang lawan tangguh. Maka cepat ia menyambar sebatang ranting, lantas berteriak sambil memutar rantingnya, “Lihat baik-baik jimatku Naga Terbang ini!”

Kembali Sai-cu Lama terbelalak ngeri melihat betapa tiba-tiba saja nenek itu memegang seekor naga pada ujung ekornya dan naga itu beterbangan hendak menyambar dirinya.

“Omitohud…!” Kakek itu berseru.

Kembali dia melindungi dirinya dengan Ban-tok-kiam yang dipakai melindungi tubuhnya. Sambil mengerahkan tenaga dia pun mengumpulkan kekuatan batinnya dan lambat laun tampaklah olehnya bahwa nenek itu hanya menyerang dengan setangkai ranting pohon yang sama sekali tidak mampu menembus benteng gulungan sinar pedangnya.

“Ha-ha-ha-ha, kiranya engkau ini hanya tukang sulap yang biasa menjual obat di pasar…”

Akan tetapi terpaksa dia menghentikan ejekannya dan mengelak cepat ketika tiba-tiba nenek itu menusukkan ujung rantingnya ke arah kerongkongannya disusul serangkaian tendangan yang mengarah kedua kakinya. Cepat dia memutar pedang Ban-tok-kiam ke bawah dan terpaksa nenek itu mundur lagi.

Nenek Teng Siang In mulai khawatir. Lawan ini terlalu tangguh, tak bisa ditundukkannya dengan ilmu sihir, dan terutama sekali pedang Ban-tok-kiam ini membuatnya menjadi repot. Pedang itu mengeluarkan hawa yang menyeramkan dan di tangan seorang sakti seperti pendeta Lama itu, baru sinar pedang itu saja sudah dapat membunuh lawan karena pedang itu mengandung racun-racun yang amat jahat, sesuai dengan namanya, yaitu Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun)!

Menyesallah ia mengapa tadi di kebun ia tidak berteriak. Kalau sekarang ada puteranya dan mantunya, tentu mereka bertiga akan mampu mengalahkan kakek ini. Akan tetapi, nenek Teng Siang In sejak mudanya bukan merupakan orang yang mudah menyerah. Dengan gigih ia mempertahankan diri dan beberapa kali dapat menyelamatkan dirinya melalui ilmu sihirnya.

Sementara itu, Sai-cu Lama sendiri masih bisa menyelamatkan diri karena di tangannya terdapat Ban-tok- kiam yang benar-benar amat ampuh itu. Dan karena memang Sai-cu Lama merupakan seorang ahli silat kelas tinggi yang juga mempelajari ilmu hitam, maka dia pun memiliki kekuatan batin yang mampu menangkis serangan-serangan ilmu sihir dari nenek itu. Akan tetapi, andai kata tidak ada Ban-tok-kiam di tangannya, belum tentu kalau nenek itu terdesak walau pun ilmu silatnya kalah tinggi karena ilmu sihirnya benar-benar membuat Sai-cu Lama kadang-kadang kebingungan.

“Lumpuhlah kau! Kedua kakimu lemas dan lumpuh, hayo berlutut di depan nenekmu!” bentakan-bentakan semacam ini membuat Sai-cu Lama kebingungan karena dia benar-benar merasa kakinya seperti akan lumpuh!

Kalau saja dia tidak memutar pedang Ban-tok-kiam, tentu dengan mudah dia terkena serangan ranting yang di tangan nenek itu bisa berubah lihai sekali. Kemudian, dengan pengerahan tenaga batinnya, dia mampu mempertebal diri, atau setidaknya tidak begitu hebat terpengaruh oleh bentakan-bentakan nenek itu.

“Ha-ha-ha, nenek siluman, sebentar lagi engkau akan mampus. Sekali saja tubuhmu tergores Ban-tok- kiam, selaksa racun akan mengalir dalam darahmu dan engkau akan mampus dengan muka hitam, mata melotot dan mulut ternganga. Ha-ha, engkau akan benar-benar menjadi setan karena tubuhmu akan hangus semua!”

“Jahanam busuk lepaskan cucuku!” dengan nekat nenek Teng Siang In maju lagi.

Ia menyerang dengan ilmu tendangannya yang sakti. Dengan Soan-hong-twi, tubuhnya seperti berpusing dan kakinya seperti berubah menjadi puluhan banyaknya, menendang dari sana-sini mengarah pada bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Tentu saja ia juga membahayakan diri sendiri karena yang diserangnya adalah seorang yang sakti seperti Sai-cu Lama yang memang sudah tinggi tingkat kepandaiannya. Bahkan ketika kakek itu tiba-tiba menghadapi tendangan dari samping, secara mendadak dia memutar tubuh dan memberikan punggungnya untuk menangkis tendangan!

“Ayaaaa!” Nenek Teng Siang In menjerit karena terkejut.

Tendangannya itu kini menuju ke arah kepala cucunya sendiri! Tentu saja hal itu tidak dikehendaki oleh nenek itu. Dalam keadaan yang begitu berbahaya bagi keselamatan cucunya, ia masih mampu melempar diri ke kanan, menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan. Akan tetapi sebelum ia melompat berdiri, tiba-tiba ia merasa pahanya perih dan panas dan ketika kembali ia meloncat ke belakang dan melihat, ia terkejut sekali karena celananya robek sedikit dan berdarah. Sementara itu, lawannya berdiri sambil mengacungkan pedangnya dan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, sekarang racun sudah mulai memasuki tubuhmu, nenek cantik! Engkau akan mampus!”

Nenek Teng Siang In terkejut, cepat ia melihat pahanya dan memang benar, pahanya telah terluka. Ia maklum bahwa sukar menyelamatkan nyawanya lagi. Akan tetapi yang penting bukanlah nyawanya, melainkan keselamatan cucunya. Maka dengan nekat, tanpa mempedulikan kenyataan bahwa dirinya telah terluka oleh Ban tok-kiam, nenek Teng Siang In menubruk lagi dan menyerang dengan tendangan- tendangan, pukulan-pukulan dan cakaran-cakaran maut.

Melihat kenekatan ini, Sai-cu Lama kagum juga. Kalau saja nenek ini masih muda, tentu dia sendiri akan sayang membunuhnya, lebih baik diambil sebagai isteri atau murid atau pembantu! Akan tetapi, dia harus cepat menghabisi nenek ini agar dapat cepat pergi karena kalau sampai keluarga pendekar Suma mengetahui dan dapat menyusul ke sini, dia akan celaka. Ngeri juga dia membayangkan kelihaian mereka. Baru nenek ini saja begitu tangguh, apa lagi para pendekarnya yang masih muda.

Tetapi, baru saja dia memutar pedang hendak memperhebat desakannya, tiba-tiba saja berkelebat bayangan biru dan sebuah tendangan yang mengeluarkan angin pukulan berat telah menyambar ke arah punggung Sai-cu Lama. Akan tetapi kakek ini dapat menghindarkan dirinya dan membabat dengan Ban- tok-kiam sehingga si baju biru yang tadi bermaksud merampas anak perempuan di punggung kakek itu terpaksa menarik kembali tangannya. Ternyata pemuda itu adalah Gu Hong Beng!

Seperti telah kita ketahui pada waktu kakek Sai-Cu Lama merampas Ban-tok-kiam dari tangan Bi Lan, Hong Beng juga melihatnya bahkan sempat ikut mengeroyok kakek yang tangguh itu. Kemudian setelah cintanya ditolak oleh Bi Lan, apa lagi sesudah menerima teguran keras dari Bi Lan karena cemburunya terhadap Kun Tek, dengan hati sedih dia lalu melanjutkan perjalanannya ke kota raja untuk memenuhi perintah gurunya, yaitu melakukan penyelidikan tentang pembesar bernama Hou Seng yang konon merajalela di istana dan membuat kaisar yang semakin tua itu menjadi seperti boneka.

Sesuai dengan petunjuk suhu-nya, dia lalu pergi mencari keluarga Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun dan kebetulan sekali di tengah perjalanan, dia melihat perkelahian itu. Hong Beng tidak mengenal siapa nenek itu, tidak mengenal pula anak perempuan yang nampak lemas terikat di punggung si kakek iblis Sai- cu Lama yang sudah dikenalnya.

Melihat keadaan nenek itu yang sudah terluka pahanya akan tetapi masih dengan mati-matian berusaha merampas anak perempuan itu, tanpa tanya lagi Hong Beng tentu saja segera berpihak kepada si nenek yang tak dikenalnya. Dia tahu bahwa Sai-cu Lama amat jahat, maka tentu lawannya bukan orang jahat. Apa lagi nenek itu terdesak hebat dan berada dalam keadaan berbahaya, maka sekali turun tangan dia sudah bermaksud merampas anak perempuan itu. Sayang usahanya gagal karena memang Sai-cu Lama hebat sekali kepandaiannya.

Teng Sian In semenjak mudanya berwatak angkuh. Apa lagi ia tahu bahwa kepandaian Lama yang kini menjadi lawannya itu hebat bukan main. Ia tidak ingin ada orang yang membantunya untuk kemudian mati konyol. Ia tidak mau ada orang yang mati karena membantunya.

“Orang muda, aku tidak butuh bantuanmu. Pergilah sebelum mati konyol oleh jahanam busuk ini!” teriaknya dan ia masih menyerang dengan tendangan-tendangan ampuhnya.

“Sai-cu Lama ini masih ada urusan dengan aku juga, nek!” kata Hong Beng.

Dia pun sudah menyerang lagi dan kini bersilat dengan Ilmu Hong-in Bun-hoat! Biar pun dia bertangan kosong, namun kedua tangannya itu bergerak-gerak aneh, seperti orang menulis di udara, akan tetapi setiap ‘coretan’ merupakan serangan yang amat ampuh dan mendatangkan hawa dingin seperti es!

Bukan hanya Sai-cu Lama yang terkejut melihat hebatnya serangan pemuda ini, akan tetapi nenek Teng Siang In terkejut dan girang, juga heran “Hong-in Bun-hoat! Kau murid siapa?” tanyanya sambil membentak dan menyerang lagi.

“Guru saya bernama Suma Ciang Bun…”

“Aihh! Dia keponakanku! Mari kita hancurkan pendeta palsu ini dan rampas kembali cucuku!”

Mendengar seruan nenek ini, bukan main girang rasa hati Hong Beng, akan tetapi selain girang juga dia marah kepada kakek pendeta Lama itu. Nenek ini masih bibi dari gurunya! Kalau begitu tentu nenek ini ibu dari Suma Ceng Liong!

“Baik…!” Dan dia pun kini cepat mengerahkan tenaga sinkang yang dilatihnya dari gurunya, tenaga sinkang yang bersumber dari Swat-im Sinkang dan Hwi-yang Sinkang, dua tenaga yang mengandung hawa dingin seperti salju dan panas seperti api.

Akan tetapi, dia belum dapat menyatukan dua unsur tenaga sinkang ini, bahkan gurunya sendiri belum mencapai tingkat itu. Dia hanya dapat mempergunakan salah satu saja, yang panas atau yang dingin. Namun, itu pun sudah hebat karena dia sudah menguasai hampir setengah bagian dari kedua ilmu pengerahan tenaga sakti itu! Apa lagi dia sudah menguasai beberapa ilmu asli dari Pulau Es dan kini dia mengubah gerakannya dan bersilat dengan Ilmu Silat Siang-mo Kun-hoat.

Ilmu ini aslinya adalah ilmu pedang dari Pulau Es yang bernama Siang-mo Kiam-sut dan mempergunakan sepasang pedang. Akan tetapi oleh Suma Ciang Bun, berdasarkan gerakan-gerakan ilmu pedang ini, dia mengajarkan ilmu silat tangan kosong kepada muridnya itu yang diberi nama Siang-mo Kun-hoat (Ilmu Silat Sepasang Iblis). Bukan sepasang pedang yang dipergunakan, melainkan sepasang kaki dan tangan.

Dia mempergunakan ilmu silat ini yang sifatnya lebih keras dan agresip dibandingkan Hong-in Bun-hoat yang halus. Dan benar saja, setelah memainkan ilmu silat ini, dibantu pula oleh nenek Teng Siang In yang masih menyerang dengan tendangan-tendangan mautnya, Sai-cu Lama langsung terdesak mundur!

Hong Beng seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu bahwa selama pedang yang ampuh dan mengandung racun berbahaya itu masih berada di tangan Sai-cu Lama, maka akan sukarlah bagi dia dan nenek itu untuk dapat merampas kembali cucu perempuan nenek itu. Dan kini nampak betapa nenek itu sudah berkurang kecepatannya, agaknya racun dari luka itu sudah mulai menyerangnya.

Hong Beng juga pernah mempelajari penggunaan jarum-jarum halus sebagai senjata rahasia. Memang jarum halus berbau harum merupakan senjata rahasia gurunya yang amat lihai. Akan tetapi Hong Beng tidak suka menyimpan senjata rahasia seperti itu. Selain sifatnya tidak cocok dengan kejantanannya, karena merupakan jarum yang biasa dipakai wanita, juga dia berjiwa pendekar, tidak enak rasa hatinya kalau menggunakan senjata gelap dalam perkelahian.

Sekarang dia merasa bahwa penggunaan senjata rahasia amat penting, bukan untuk merobohkan lawan yang pasti terlalu tangguh untuk diserang dengan senjata rahasia itu, melainkan untuk membebaskan cucu perempuan nenek itu dari pengaruh totokan. Dia percaya bahwa biar pun usianya baru kurang lebih dua belas tahun, sebagai anak keturunan pendekar Pulau Es, anak itu tentu juga pandai silat. Dan kalau ia berhasil dibebaskan, dengan kedua tangan bebas dan berada di punggung kakek itu, siapa tahu anak perempuan itu dapat membantu banyak!

Pikiran inilah yang membuat Hong Beng melakukan serangan dengan tendangan kedua kaki sambil bergulingan. Namanya saja Ilmu Sepasang Iblis, tentu saja kadang-kadang kasar sekali dan bergulingan. Saat bergulingan inilah Hong Beng sudah mencengkeram kerikil-kerikil tanpa diketahui lawan.

Mereka berdua masih berusaha mendesak terus. Tiba-tiba, setelah melihat kesempatan baik, kedua tangan Hong Beng lalu bergerak-gerak ke depan menyambitkan batu-batu kerikil kecil ke arah Suma Lian di punggung kakek itu.

Sai-cu Lama melihat ini dan hampir dia tertawa melihat sambitan-sambitan batu kerikil. Selain batu-batu itu tidak akan melukai tubuhnya yang kebal, juga sambitan-sambitan itu menyeleweng dari sasaran, menuju ke belakang tubuhnya. Dia tidak tahu bahwa dua di antara batu-batu kecil itu dengan tepat mengenai jalan darah di tengkuk dan pundak Suma Lian dan gadis cilik ini kini sudah mampu bergerak lagi.

Suma Lian juga seorang anak yang cerdik bukan main. Walau pun seketika ia dapat bergerak dan mengeluarkan suara, namun ia diam-diam saja, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara. Akan tetapi jari-jari tangannya merayap ke arah rambutnya dan dari situ, jari-jari tangan itu mengambil sebuah jepit penusuk rambut terbuat dari emas yang berujung runcing! Ia lalu berpikir-pikir.

Pernah ia mempelajari anatomi dari ayahnya, letak-letak otot dan jalan darah, tetapi ia belum mempelajari bagian-bagian mana dari tubuh belakang yang paling lemah. Karena itu, ia hanya berpikir bahwa tengkuk yang gemuk itu tentu merupakan pusat dan akan melumpuhkan kakek iblis ini kalau ia dapat menusukkan benda itu dengan tepat. Ia lalu memandang tengkuk yang terbuka itu. Penuh daging dan gajih, seperti punuk babi! Ihh, hampir saja bergidik karena jijik.

Akan tetapi sasaran itu yang paling mudah, tinggal mengangkat dan menusukkan benda runcing itu saja. Ia lalu mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang benda itu. Hal ini tidak diketahui oleh Sai-cu Lama. Dalam keadaan biasa, tentu pendeta ini akan mengetahuinya, akan tetapi pada saat itu, pemuda berpakaian serba biru itu mendesak dan menyerangnya seperti orang kesetanan, sedangkan nenek itu, yang sudah mulai lemah itu, tiba-tiba berteriak, “Sai-cu Lama, kau lihat baik-baik jimatku!”

Dan nenek ini menggerak-gerakkan tangannya. Usaha kedua orang ini tentu saja untuk membantu Suma Lian. Keduanya sudah melihat betapa gadis cilik itu telah mengangkat tangan. Dengan sepasang mata tak pernah terlepas dari tengkuk yang gemuk itu, Suma Lian tiba-tiba menusukkan benda runcing itu pada tengkuk yang gendut.

“Crottt…!”

“Aduhhhh…!”

Kedua tangan Suma Lian tiba-tiba menjadi lemas dan ia tidak mampu lagi menusuk terus, karena ketika benda itu menembus kulit gajih dan daging, darah muncrat-muncrat dan anak perempuan itu merasa jijik akan tetapi juga timbul rasa kasihan dan tidak tega! Bagaimana mungkin ia terus menusukkan benda runcing ke dalam tengkuk gendut itu, yang mirip dengan perut orok? Hampir ia pingsan ketika darah itu muncrat dan sebagian mengenai pipinya, sehingga ia terkulai kembali tanpa dapat menghindar ketika tangan kanan kakek itu menggunakan gagang pedang mengetuk kepalanya. Cukup keras untuk membuat gadis cilik itu roboh pingsan!

Sai-cu Lama telah terluka. Walau pun tidak terlalu dalam, namun dia semakin khawatir. Gadis cilik ini saja demikian lihai. Kalau datang seorang lagi saja, dia tentu akan celaka! Maka dia cepat memutar Ban-tok- kiam sedemikian rupa sehingga dua orang lawannya terpaksa berloncatan ke belakang. Kesempatan ini digunakan olehnya untuk meloncat jauh ke belakang lalu melarikan diri secepatnya!

Hong Beng berseru marah, “Kakek jahat, kau hendak lari ke mana?” Dia meloncat dan hendak mengejar, akan tetapi terdengar suara lemah, “…jangan… kejar…”

Dia menoleh dan melihat nenek itu terguling roboh! Teringatlah Hong Beng bahwa nenek itu sudah terluka parah. Maka dia pun cepat meloncat menghampiri dan berlutut di dekat tubuh nenek itu.

“Bagaimana baiknya, locianpwe…?” tanyanya, bingung.

“Aku…keadaanku…payah…lekas bawa aku pulang… kita laporkan hal ini… kepada… Ceng Liong…” Ia menuding ke barat dan terkulai, pingsan.

Hong Beng cepat memondong tubuh nenek itu dan berlari menuju ke barat seperti yang ditudingkan oleh nenek itu. Dia pun tadi sudah mendapat keterangan bahwa jurusan itu menuju ke dusun Hong-cun.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Suma Ceng Liong dan isterinya ketika mereka melihat seorang pemuda berpakaian serba biru memondong tubuh nenek Teng Siang In yang pingsan. Tadinya mereka yang tidak melihat anak mereka dan nenek itu mengira bahwa nenek itu mengajak cucunya berjalan-jalan seperti biasa, atau bermain ke suatu tempat.

Sedikit pun mereka tidak pernah merasa khawatir kalau anak perempuan mereka pergi bersama neneknya. Akan tetapi sekarang, tahu-tahu nenek itu pulang dalam pondongan seorang pemuda serta dalam keadaan pingsan dan tidak nampak Suma Lian bersama mereka!

“Apa yang terjadi dengan ibu?” Suma Ceng Liong berseru dan terkejut melihat betapa wajah ibunya sudah biru menghitam.

“Di mana anakku, Suma Lian? Di mana ia…?”

Melihat kebingungan suami isteri itu, Hong Beng dapat memakluminya. Begitu melihat munculnya suami isteri itu, dia sudah merasa kagum sekali. Suma Ceng Liong memang gagah perkasa, tepat seperti yang diceritakan suhu-nya kepadanya.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap dengan muka lonjong dan dagu meruncing, mulutnya seperti selalu tersenyum, wajahnya cerah dan sinar matanya begitu tajam seperti mencorong. Menurut keterangan suhu-nya, susiok (paman guru) ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari suhu-nya.

Juga isteri susiok-nya itu menurut gurunya, mempunyai ilmu kepandaian tinggi sekali karena dia mewarisi ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas)! Dan dalam usia yang sebaya suaminya bibi guru itu nampak masih amat cantik menarik seperti seorang gadis saja! Selain cantik, juga sepasang matanya amat tajam dan sikapnya gesit dan gagah sekali. Akan tetapi, saat itu suami isteri yang hebat ini sedang dalam keadaan gelisah dan Hong Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi.

“Saya melihat nenek ini bertanding dengan seorang pendeta Lama, kurang lebih lima li disebelah timur dusun ini dan seorang anak perempuan terikat di punggung pendeta itu. Nenek ini terluka dan saya berusaha membantunya, akan tetapi kami tidak berhasil dan kakek pendeta itu sudah melarikan diri membawa anak perempuan di punggungnya…”

“Cukup! bentak Kam Bi Eng, “ke arah mana larinya kakek yang menculik anakku itu?”

“Dari sini ke timur, setelah lima li ada hutan kecil, dia lari ke arah utara,” jawab Hong Beng. Dan tiba-tiba saja wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ!

Suma Ceng Liong juga akan lari, akan tetapi teringat akan ibunya dan dia berdiri bingung. Dia cepat berjongkok dan memeriksa keadaan ibunya. Alisnya berkerut dan dua titik air mata membasahi matanya. Pendekar ini lalu bangkit berdiri.

“Siapa kau?”

Hong Beng menjatuhkan diri berlutut. “Susiok, nama saya Gu Hong Beng dan teecu adalah murid dari suhu Suma Ciang Bun. Teecu diutus menyelidiki keadaan pembesar Hou Seng di kota raja akan tetapi oleh suhu disuruh singgah dulu di sini untuk minta keterangan dan nasehat dari Susiok.”

“Hemm, kau jaga dulu ibuku ini. Ia sudah… tak mungkin dapat ditolong lagi. Tahukah engkau dengan apa pahanya itu dilukai?”

“Dengan Ban-tok-kiam.”

“Ban-tok-kiam? Bagaimana kau bisa tahu… ah, sudahlah, nanti saja bercerita. Kau jaga ibuku dan aku akan mengejar kakek iblis itu!” Dan tubuhnya berkelebat lenyap pula dari depan Hong Beng.

Pemuda ini semakin kagum dan dia pun memondong tubuh nenek itu, dibawanya ke dalam sebuah kamar menurut petunjuk seorang pelayan yang tadi mendengarkan percakapan mereka dan percaya kepada pemuda ini yang mengaku murid keponakan majikannya. Gu Hong Beng menunggui tubuh nenek itu.

Wajah nenek itu biru kehitaman dan menakutkan sekali, matanya melotot dan mulutnya terbuka. Napasnya masih belum terhenti, namun terengah-engah dan tinggal satu-satu, tubuhnya panas seperti dibakar api. Dia mengingat-ingat pelajaran tentang pengobatan yang pernah dipelajarinya dari gurunya, dan dirabanya pergelangan tangan kiri nenek itu, kemudian yang kanan. Denyut jantungnya lemah sekali di bagian kiri, akan tetapi di lengan kanan itu tidak ada denyut sama sekali.

Dia pun tahu bahwa nenek ini sukar sekali ditolong, kecuali kalau ada obat dewa. Andai kata nenek ini masih dapat ditolong, tidak mungkin pendekar Suma Ceng Liong akan meninggalkannya begitu saja untuk mengejar penculik anaknya. Tentu lebih dahulu dia akan menolong dan mengobati ibunya.

Tiba-tiba timbul pikiran Hong Beng untuk membantu nenek itu agar jalan darahnya lebih cepat dan biar pun hal itu bukan merupakan pertolongan terhadap nyawa nenek itu, namun mungkin saja dapat membuat nenek itu sadar, walau pun hanya untuk beberapa detik lamanya. Siapa tahu, nenek ini hendak meninggalkan pesan. Kasihan orang yang mau mati tidak sempat meninggalkan pesan apa-apa. Dengan hati-hati sekali, dengan tenaga yang dikendalikannya baik-baik, ia lalu menotok beberapa jalan darah di pundak, tengkuk dan punggung, dan mengurut lengan kanan.

Harapannya terkabul. Tak lama kemudian, mata yang terbelalak itu bergerak-gerak dan memandang dengan wajar padanya tanpa menoleh. Hong Beng mendekatkan mukanya karena melihat bibir itu bergerak-gerak. Nenek itu berbisik-bisik.

“Kau… berjanjilah untuk mentaati perintahku…”

Bukan main nenek ini, pikir Hong Beng. Sudah menghadapi maut, masih keras hati dan minta dia mentaati perintahnya! Dia mengangguk-angguk, menghormati pesan seorang di ambang pintu kematian.

“Saya berjanji untuk mentaati, nek.” “…ber… bersumpah!”

Hong Beng terbelalak, akan tetapi tidak berani menolak. Kembali dia mengangguk dan berkata, “Saya bersumpah, nek!”

Wajah yang sudah menghitam itu nampak tenang, mulut yang sudah membiru bibirnya itu tersenyum menyeramkan jadinya! “Bagus! Kelak kau… kau harus menjadi suami Suma Lian…”

Hampir saja Hong Beng terlonjak kaget dan dia cepat membantah, “Akan tetapi, nek! Nenek… ah, nenek…ini tidak bisa… nek…!” Percuma saja dia berteriak-teriak karena nenek itu sudah tak bernapas lagi!

Pelayan yang berada di luar kamar mendengar teriakan-teriakan Hong Beng lalu masuk dan segera terdengar jerit tangis pelayan perempuan itu yang menarik perhatian para tetangga. Tak lama kemudian, terdengar tangis kaum wanita yang menjadi tetangga nenek itu. Sudah menjadi suatu kelajiman, bahwa pada setiap kematian, tentu terdengar tangis wanita. Agaknya kalau tidak terdengar tangis wanita akan menjadi aneh sekali tentu!

Tak seorang pun mempedulikan Hong Beng yang duduk di ruang luar sambil bengong terlongong. Kadang- kadang dia menarik napas panjang, lalu menggeleng-geleng kepala seperti hendak membantah sesuatu, lalu nampak menyesal sekali seperti orang mau menangis. Dia memang merasa menyesal bukan main.

Bagaimana nenek aneh itu meninggalkan pesan seperti itu kepadanya? Dan dia sudah berjanji, bersumpah malah! Bersumpah untuk mentaati perintahnya. Siapa tahu perintah terakhir itu begitu gila? Bagaimana mungkin dia harus menjadi calon suami… siapa lagi nama anak perempuan yang menjadi cucunya itu? Suma Lian, benar, Suma Lian. Mana mungkin ini?

Suma Lian adalah puteri tunggal Suma Ceng Liong. Sedangkan dia? Hanya anak yatim piatu, hanya keturunan tukang kayu sederhana. Seorang pemuda yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Ayah tidak, ibu tidak, uang sepeser pun tidak, rumah tidak dan keluarga pun tidak! Untuk menjadi bujang Suma Lian saja agaknya masih belum tentu diterima, apa lagi menjadi suami!

Dan siapa berani memberi tahukan pesan itu kepada keluarga susiok-nya? Biar sampai mati dia tidak akan berani! Dia tahu tentu akan ditolak, dan mungkin dia tidak dipercaya dan disangkanya dia bikin-bikin saja. Alangkah akan malunya, dan dia akan merasa terhina sekali. Tidak, dia tidak akan bercerita kepada siapa pun juga! Akan tetapi, dia sudah bersumpah untuk mentaati pesan terakhir yang berupa perintah itu!

“Hayaaaa… nenek aneh, kenapa sih engkau meninggalkan pesan yang begitu aneh dan gila? Engkau menambahkan beban pada pundakku, membuat kehidupan ini menjadi semakin berat rasanya…”

Baru saja dia dilanda duka karena penolakan cinta dan sekarang dia dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih rumit lagi. Kalau persoalan mengenai diri Bi Lan, dianggapnya sudah selesai. Cintanya ditolak dan habis perkara! Dia akan menderita atau tidak adalah urusannya sendiri, tidak ada lagi hubungan dan sangkut pautnya dengan orang lain.

Akan tetapi urusan pesan nenek itu? Celaka! Begitu banyaknya orang akan tersangkut. Bukan hanya diri Suma Lian langsung yang terkena pesan itu, akan tetapi juga dia berhadapan dengan ayah ibu anak perempuan itu, dan gurunya sendiri tentu akan ikut terbawa akibat buruknya, dan salah-salah seluruh keluarga Pendekar Pulau Es akan memusuhinya karena menganggap dia menghina keluarga itu!

Akan tetapi, kalau dia diam saja karena pesan terakhir itu hanya diketahui oleh dia dan nenek itu sendiri, selama hidupnya akan ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Selama hidupnya! Karena dia sudah berani bersumpah di depan seorang nenek yang hampir mati dan tidak menetapi janjinya, tidak memenuhi sumpahnya. Dan untuk itu, selama hidupnya dia tentu akan tersiksa oleh batin sendiri.

“Celaka, mengapa nasibku begini aneh dan buruk?” dan hampir saja Hong Beng menangis kalau saja saat itu tidak datang suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.

Mereka pulang dengan tangan kosong dan dengan muka sedikit pucat mengandung kegelisahan hati. Mereka melihat Hong Beng duduk di ruangan depan, akan tetapi melihat banyaknya tetangga dan tangis para wanita, suami isteri itu tidak mempedulikan Hong Beng dan mereka segera lari ke dalam rumah.

Tangis di dalam rumah itu menjadi semakin riuh dengan kedatangan suami isteri itu. Para tamu wanita itu, para tetangga, harus memperlihatkan keprihatinan dan kesedihan mereka di depan tuan dan nyonya rumah. Itu namanya sopan santun. Dan seorang saja menangis, tanpa diperintah lagi yang lain pun turut menangis. Otomatis air mata pun bercucuran! Namanya juga perempuan!

Makin berat rasa hati Hong Beng. Kedatangannya seolah-olah membawa bencana pada keluarga pendekar Suma ini! Melihat betapa suami isteri itu pulang dengan tangan kosong, tahulah dia bahwa mereka kehilangan jejak Sai-cu Lama! Dan dialah pembawa berita buruk tentang diculiknya anak mereka dan bahkan membawa ibu pendekar itu dalam keadaan sekarat. Dan kini, bagaimana mungkin dia, si pembawa berita buruk, si pendatang pembawa sial, akan pernah berani membuka rahasia pesan terakhir nenek itu?

Akan tetapi, ada berita baik yang dapat disampaikannya kepada mereka, yaitu ke mana larinya Sai-cu Lama. Dia tahu hal ini! Bukankah Tiong Ki Hwesio pernah mengatakan bahwa kalau hendak mencari Sai- cu Lama, harus mencarinya di istana kota raja? Wah, sedikitnya dia akan berjasa kalau memberi tahukan hal itu.

Hong Beng sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya, hendak berlari masuk, tetapi pikirannya melarangnya. Mengapa harus memberi tahukan mereka? Biarlah dia sendiri yang akan mengejar ke kota raja. Dia sendiri yang akan menolong anak perempuan itu!

Ya, dia harus menolong Suma Lian, bukan memperisterinya seperti yang dipesankan oleh nenek aneh itu! Kalau dia dapat menyelamatkan Suma Lian, baru dia membuka rahasia itu hanya dengan maksud menyampaikan pesan terakhir, bukan bermaksud menuntut haknya! Tidak, dia tidak akan menuntut haknya, dia tidak akan memaksa Suma Lian menjadi jodohnya.

Sekali saja berhubungan hati dengan wanita sudah cukuplah. Dia sudah jera. Sakitnya bukan alang kepalang kalau cintanya ditolak! Dia tidak mau mengalaminya untuk ke dua kalinya. Biarlah, dia tidak akan membiarkan hatinya jatuh lagi, tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta kepada seorang wanita. Pula, wanita mana sih yang sudi menjadi calon isteri seorang pemuda yang miskin, yatim piatu, tidak punya apa- apa, bahkan memiliki kepandaian pun tidak ada gunanya?

Buktinya, kepandaiannya itu tak mampu menyelamatkan nenek itu, tak dapat merampas Suma Lian. Dia hanya akan mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuannya, bahkan seluruh hidupnya, untuk melaksanakan perintah suhu-nya, dan sekarang ditambah lagi, untuk mencari dan menyelamatkan Suma Lian. Untung bahwa dua tugas hidup yang sudah ditentukannya sendiri itu semua terletak di kota raja.

Dia akan pergi sekarang juga, untuk melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama. Dia tahu betapa tangguhnya pendeta Lama itu, dan belum tentu dia akan berhasil. Akan tetapi, kalau perlu dia akan berkorban nyawa untuk dua tugas itu! Didatanginya seorang pelayan yang berada di luar dan dia berkata lirih,

“Paman, tolong nanti engkau beri tahukan kepada tuan dan nyonya rumah kalau mereka menanyakan aku, bahwa aku pergi untuk mencari nona Suma Lian.” Tanpa menanti jawaban, dia lalu pergi meninggalkan rumah duka itu yang mulai dibanjiri tangis yang datang berlayat.

Kenapa kita selalu menyambut kelahiran dengan tawa dan mengantar kematian dengan tangis? Kenapa dalam urusan hidup dan mati kita pun masih menggunakan perhitungan rugi untung? Merasa beruntung karena memperoleh warga baru dan merasa rugi atau kehilangan kalau ditinggal mati seorang anggota keluarga? Kalau bukan karena merasa rugi atau kehilangan, lalu mengapa menangisi seorang yang mati?

Hanya ada dua jawaban yang akan kita dapat kalau kita bertanya kepada mereka yang menangisi kematian, yang berduka kalau ada seseorang anggota keluarga meninggal dunia. Jawaban itu tentu, pertama: Karena mencinta yang mati dan merasa kehilangan maka mereka berduka. Jawaban ke dua adalah: Karena merasa iba kepada yang mati maka mereka menangis. Akan tetapi, benarkah jawaban itu? Benarkah kita menangis karena kita mencinta si mati? Dan benarkah kita merasa iba kepada si mati maka kita menangis?

Jawaban ke dua itu jelas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita dapat merasa kasihan, dapat merasa iba kepada si mati kalau kita tidak tahu apa dan bagaimana keadaan orang yang mati itu? Sakitkah? Jelas tidak merasa sakit lagi. Menderitakah dia yang mati? Jelas bahwa kita tidak tahu, akan tetapi mana bisa orang menderita kalau dia tidak merasakan apa-apa lagi?

Jadi, merasa iba kepada si mati adalah suatu alasan yang palsu. Yang jelas, bukan iba kepada dia yang mati, melainkan iba kepada dirinya sendiri karena ditinggalkan. Coba dengarkan kalau kita menangisi orang yang mati. Bagaimana keluh kesah dan ratap tangisnya?

Kita mengatakan betapa teganya si mati itu meninggalkan kita! Kita mengatakan lalu bagaimana dengan kita ini setelah ditinggalkan untuk selamanya? Bukankah semua itu menunjukkan bahwa kita ini sebenarnya terlalu mementingkan diri sendiri, bukan iba kepada si mati melainkan iba kepada diri sendiri?

Kemudian jawaban yang pertama tadi. Kita mencinta si mati dan merasa kehilangan ditinggalkan, maka berduka. Benarkah kita mencinta si mati kalau kematiannya kita buat sedih? Bukankah kesedihan muncul karena adanya ikatan kita kepada si mati? Ikatan inilah yang menimbulkan duka. Ikatan batin. Bukan hanya kepada orang lain, melainkan juga ikatan kepada benda, kepada milik. Sekali yang mengikat batin itu hilang, kita akan berduka dan merasa kehilangan.

Cinta bukan berarti belenggu ikatan batin. Cinta seperti itu hanya akan menimbulkan cemburu, iri hati, bahkan dapat mengubah cinta menjadi kebencian, karena cinta yang membelenggu batin hanyalah nafsu belaka. Nafsu yang mendatangkan kesenangan pada diri kita, pada perasaan kita, itulah yang membelenggu, yang membuat kita tidak mau kehilangan dan ingin selamanya merangkul yang menyenangkan itu. Inilah cinta kita yang sesungguhnya hanyalah nafsu belaka.

Cinta membuat kita INGIN MELIHAT YANG DICINTA ITU BERBAHAGIA! Dan yakinkah kita bahwa dia akan lebih berbahagia kalau masih hidup? Ada yang ketika hidupnya sakit parah sampai bertahun-tahun, setelah mati ditangisi, katanya karena sayang dan cinta! Nah, banyak lika-likunya tentang kata ‘cinta’ ini kalau kita mau menyelidiki dan membuka mata meneliti perasaan diri kita sendiri yang selalu ringan mulut mengaku ‘cinta’.

Keluarga Suma tidak dapat berlama-lama menahan peti jenazah nenek Teng Siang In, bahkan tidak sempat menanti kedatangan para keluarga yang tinggal jauh dari situ, karena mereka ingin cepat-cepat mengubur peti jenazah itu agar mereka dapat cepat pergi mencari puteri mereka yang lenyap dibawa lari. Mereka berdua merasa terkejut dan menyesal sekali melihat bahwa Hong Beng telah pergi tanpa pamit kepada mereka, hanya meninggalkan pesan kepada seorang pelayan bahwa pemuda itu pergi untuk mencari Suma Lian.

Mereka merasa sangat menyesal mengapa tadi saking duka hati mereka tertimpa dua kemalangan secara berbareng, yaitu terculiknya Suma Lian dan matinya nenek Teng Siang In, mereka tidak memperhatikan lagi pemuda itu. Mereka sangat memerlukan pemuda itu yang tidak sempat bercerita sejelasnya tentang kakek yang melarikan Suma Lian. Mereka berdua tidak tahu siapa kakek pendeta itu, siapa namanya dan dari mana datangnya.

Walau pun pemuda itu sendiri pun belum tentu tahu, namun setidaknya pemuda itu dapat menceritakan bagaimana bentuk dan rupa kakek itu dan tentang Ban-tok-kiam yang tiba-tiba saja berada di tangan kakek yang membunuh nenek Teng Siang In dan menculik Suma Lian.

Pedang Ban-tok-kiam adalah Pedang pusaka milik nenek Wan Ceng isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak mungkin kalau pendeta itu suruhan mereka. Sungguh tidak mungkin! Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa pedang Ban-tok-kiam itu dicuri dari tangan nenek Wan Ceng oleh kakek penculik Suma Lian itu, mengingat betapa lihainya kakek itu sehingga nenek Teng Siang In juga terluka dan tewas di tangannya.

Tidak ada lain jalan, ke sanalah mereka pergi. Ke Istana Gurun Pasir, tempat tinggal suami isteri sakti itu, di luar Tembok Besar, jauh di utara. Mereka harus menyelidiki dulu tentang Ban-tok-kiam dan mungkin dari sana mereka akan mendengar siapa adanya kakek yang tiba-tiba saja memusuhi keluarga mereka itu.

Setelah penguburan selesai, dengan pakaian berkabung suami isteri ini pun segera meninggalkan rumah, berangkat menuju ke utara…..

********************

Pegunungan Tai-hang-san terkenal sebagai pegunungan yang indah, memanjang dari selatan ke utara. Di pegunungan itu terdapat banyak puncak-puncaknya yang selain amat indah pemandangan alamnya, juga amat sulit didaki orang karena untuk mencapai puncak, orang harus menuruni jurang dan memanjat tebing- tebing yang amat curam. Bahkan para pemburu pun jarang berani mendekati puncak-puncak yang berbahaya itu, melainkan mencari binatang buruan di sekitar lereng pegunungan di mana terdapat banyak hutan-hutan yang luas.

Pegunungan ini terletak di tepi daerah pegunungan yang memenuhi sebagian besar daratan Cina, di tepi timur sehingga dari puncak-puncaknya, nampaklah bagian timur yang datar dan rendah, penuh dengan sungai-sungai besar yang mengalir dari barat dan utara yang penuh dengan pegunungan itu. Tetapi kalau dari puncak Tai-hang-san orang memandang ke utara, selatan dan terutama barat, maka yang nampak hanya pegunungan belaka, dan daerah-daerah tandus yang tinggi.

Karena di bagian timurnya datar dan tidak terhalang gunung, pemandangan matahari terbit di puncak Tai- hang-san amat indahnya. Matahari terbit pagi sekali karena tidak terhalang apa-apa. Ketika pagi hari nampak matahari seperti muncul dari tanah yang merupakan garis di kejauhan sepanjang mata memandang, dan nampak bola merah itu menyembul perlahan-lahan, besar dan merah darah, makin lama makin tinggi sampai mata tidak kuat memandang lagi karena semakin tinggi bola merah itu naik, semakin kuat cahayanya. Warna merah pun berganti keemasan, lalu jika sudah berubah seperti warna perak, matahari itu sudah naik tinggi.

Tapi, ketika bola itu masih berwarna merah darah, pemandangan alam di atas puncak sukar dilukiskan dengan kata-kata. Pokoknya, indah yang mengandung sesuatu yang dapat mendatangkan perasaan damai penuh ketenangan di dalam hati, mendatangkan perasaan takjub dan hening, menggugah kesadaran betapa diri kita ini kecil dan sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebesaran alam. Menyadarkan batin bahwa kita ini merupakan sebagian kecil saja dari alam, yang ikut berputar dalam arus kekuasaan alam yang sudah mengatur segala-galanya secara sempurna.

Betapa kita ini merupakan mahluk yang hanya dapat hidup karena adanya semua yang nampak dan tidak nampak di alam ini. Cahaya matahari, udara, bumi, pohon-pohonan, air. Semua sudah teratur sedemikian sempurna, saling kait-mengait, saling mematikan, saling menghidupkan, tidak boleh kurang satu pun juga, sesuai dengan hukum alam.

Sayang bahwa kesadaran ini hanya kadang-kadang saja memasuki batin kita, dan sebagian besar dari waktu kita terisi oleh pikiran yang menciptakan sang aku, sehingga bayangan aku inilah yang paling besar, paling penting, dan harus dipaling dahulukan!

Padahal, tanpa perlu pergi ke puncak gunung seperti puncak Tai-hang-san sekali pun, dengan meneliti tubuh kita sendiri, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban itu, akan menemukan kekuasaan alam yang bekerja dengan sempurna pada diri kita, karena keadaan diri kita tiada ubahnya dengan keadaan alam!

Lihatlah, rambut kita yang tak dapat kita hitung banyaknya itu, bulu-bulu di tubuh kita, satu demi satu hidup sendiri-sendiri tanpa kita kuasai, ada yang panjang ada yang pendek ada yang rontok ada yang tumbuh lagi. Garis-garis kulit kita, lekuk dan lengkung tubuh kita, badan kita seluruhnya, isi kepala dan perut, otak kita, semua tumbuh sendiri-sendiri tanpa dapat diatur oleh sang aku! Jantung kita berdenyut setiap saat, baik kita sedang sadar mau pun tidak, seolah-olah hidup tersendiri.

Lalu apa sesungguhnya kemampuan sang aku yang begitu kita agung-agungkan? Dan bukankah sang aku itu hanya ciptaan pikiran kita saja yang selalu mengejar hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal- hal yang tidak menyenangkan yang pernah kita alami?

Di mana ada pengejaran kesenangan maka aku menjadi-jadi pentingnya. Segala jenis nafsu mengaku menjadi sang aku. Dan begitu ada pengejaran kepentingan diri untuk kesenangan, mulailah di antara kita saling bertumbukan, saling berebut kesenangan yang kita beri nama kebenaran dan sebagainya yang muluk-muluk. Bahkan perang pun terjadi di antara bangsa karena cetusan keinginan untuk mengejar kesenangan masing-masing itulah, mengejar kepentingan diri pribadi.

Hampir setiap pagi, di atas satu di antara puncak-puncak pegunungan itu, seorang pria selalu menyambut munculnya matahari sambil meniup sulingnya. Keadaan sekitarnya, pemandangan alam yang nampak di matanya, bunyi-bunyian antara binatang-binatang malam yang mulai mengendur dan berganti suara kokok ayam dan kicau burung yang memasuki telinganya, keharuman tanah yang dibasahi air embun, rumput dan daun-daun pohon yang memasuki hidungnya, perasaan hati yang tenang dan hening, semua itu seolah-olah memberi ilham kepadanya untuk mengalunkan suara sulingnya tanpa memainkan suatu lagu tertentu!

Semua yang didengarnya, dilihatnya dan diciumnya itu seolah-olah hendak ia masukkan ke dalam tiupan sulingnya, atau lebih tepat lagi, dia ingin mengiringi semua itu dengan alunan suara yang serasi, dan dia meniup dengan sepenuh perasaan, hanyut ke dalam suara buatan sulingnya sendiri.

Pria itu berusia tiga puluh tiga tahun, bertubuh sedang dan wajahnya bersih tampan, namun sepasang matanya yang tajam itu seperti diselimuti kesayuan, seperti mata orang yang pernah dilanda duka. Pakaiannya sederhana sekali, namun bersih. Dia duduk di atas sebuah batu hitam, menghadap ke timur dan suara sulingnya akhirnya berhenti setelah matahari naik semakin tinggi dan cahayanya mulai menyilaukan mata.

Begitu suara sulingnya berhenti, ramailah terdengar suara burung-burung berkicau dan pergantian suara ini bukan membikin suasana menjadi buruk, bahkan kini suasana menjadi gembira sekali, seakan-akan burung-burung itu bergembira menyambut hari yang cerah. Suara suling tadi mendatangkan kesyahduan dan agaknya banyak burung ikut mendengarkan dan baru sekarang mereka semua berkicau dan ada yang mulai terbang meninggalkan pohon untuk pergi mencari makan.

Melihat sulingnya yang mengeluarkan cahaya ketika tertimpa sinar matahari yang mulai naik tinggi tentu akan membuat orang terkejut karena suling itu terbuat dari pada kayu menghitam yang diukir indah seperti bentuk naga akan tetapi tajam dan runcing seperti pedang. Dan memang benda itu adalah Liong-siauw- kiam (Pedang Suling Naga) dan pemegangnya adalah Pendekar Suling Naga Sim Houw!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sim Houw pernah pergi jauh ke daerah Himalaya untuk mengunjungi keluarga Cu Kang Bu yang masih merupakan keluarga mendiang ibunya. Ibunya, mendiang Cu Pek In, adalah keponakan dari pendekar Cu Kang Bu. Ketika berkunjung itulah dia berhasil mengalahkan mendiang Pek-bin Lo-sian dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam itu. Oleh karena pedang ini amat cocok untuk dipakai sebagai suling dan pedang, maka dia pun menyerahkan kembali suling emas yang diterima dari ibunya dulu, juga mengembalikan Koai-liong Po-kiam yang memang asalnya dari lembah keluarga Cu.

Sejak itu, dia pun merantau selama tujuh tahun. Pedangnya yang sudah mengalahkan entah berapa banyak tokoh-tokoh kaum sesat, membuat nama Pendekar Suling Naga semakin terkenal. Akan tetapi, semakin dia terkenal, Sim Houw menjadi semakin rendah hati. Dia yang sejak muda sudah biasa hidup di alam bebas, menyatukan diri dengan kebesaran alam, dapat melihat bahwa dirinya itu sesungguhnya bukan apa-apa, hanya kebetulan menjadi pewaris ilmu silat yang tinggi dan pusaka yang ampuh begitu saja.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo