August 1, 2017

Suling Emas (Part 8)

 

“Aku tidak lapar, Koko, dan aku sudah sembuh.” Mana bisa ia merasa lapar kalau hatinya sebahagia itu? Pula, ketika ia berpura-pura pingsan dan mengigau, bukankah Kam Si Ek dengan amat telaten telah menyuapinya dengan bubur sampai kekenyangan? “Aku merasa seperti baru bangun dari mimpi. Eh, Koko. Kau melayarkan perahu ini ke manakah?”

Girang sekali hati Kam Si Ek melihat kekasihnya benar-benar telah sembuh, wajahnya berseri, pipinya merah dan matanya bersinar-seinar. “Pundakmu tidak nyeri lagi, Moi-moi?”

Dengan gaya manja Lu Sian menggeleng kepalanya lalu berjalan menghampiri. Dengan satu tangan Kam Si Ek memegang tali layar, tangan ke dua meraih lengan gadis itu dan mereka berpegang tangan, saling pandang penuh kasih.

“Sian-moi, kau tahu bahwa aku dipanggil oleh Gubernur Li, akan tetapi aku diculik oleh pasukan yang berkhianat dan bersekongkol dengan Raja Liang. Hal ini harus kulaporkan kepada Gubernur Li, maka aku sekarang hendak pergi ke Shan-si untuk berunding dengan beliau. Kuharap kau suka ikut denganku ke sana.

Selain berunding urusan pengkhianatan itu, aku pun perlu minta bantuannya….” Sampai di sini pemuda itu berhenti bicara dan mukanya menjadi merah.

“Bantuan apa, Koko?” Lu Sian bertanya, pura-pura tidak tahu akan tetapi diam-diam girang sekali karena agaknya akalnya ‘mengigau’ itu berhasil baik.

“Moi-moi.” Tangan Kam Si Ek menggenggam erat-erat tangan Lu Sian. “Aku hendak mohon bantuannya untuk menjadi orang perantara, mengajukan pinangan atas dirimu dari tangan ayahmu, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan di Nan-cao.”

Girang sekali hati Lu Sian. “Koko, ke mana pun juga kau pergi, aku suka ikut!”

Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagi muda-mudi dari pada kegembiraan dua buah hati yang saling bertemu. Berhari-hari mereka menjalankan perahu sambil bersenda gurau, menceritakan keadaan masing- masing, menangkap ikan dan masak-masak lalu makan bersama. Kam Si Ek makin mendalam cinta dan kagumnya terhadap Lu Sian, mengagumi kecantikan dan kelincahan gadis ini, termasuk wataknya yang kadang-kadang aneh. Di lain pihak, Lu Sian juga kagum akan kekasihnya yang sudah tiada orang tua lagi, tentang keturunan keluarga Kam yang semenjak dahulu terkenal sebagai panglima-panglima perang jagoan. Ketika Lu Sian bercerita tentang pertemuannya dengan kakak seperguruan jenderal itu, yaitu Lai Kui Lan di dalam benteng, Kam Si Ek menyatakan kekhawatirannya.

“Suci seakan-akan telah menjadi saudara kandungku. Dia seorang pendiam dan bersungguh-sungguh, banyak membantuku dalam perang. Akan tetapi akhir-akhir ini ia sering kudapati menangis di kamarnya, dan sama sekali tidak mau menceritakan apa sebab-sebabnya. Aku khawatir sekali ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Malah sebelum aku pergi dari benteng, Suci seringkali berkunjung ke Kwan-im-bio di luar benteng, bahkan bermalam di sana. Agaknya ia menjadi kenalan baik dari para nikouw (pendeta wanita) di kuil itu.”

Mendengar ini, Lu Sian dapat menduga dan ia hanya mengeluh di dalam hatinya, tidak mau menceritakan apa yang menjadi dugaannya. Ia menduga bahwa Kui Lan tentu menjadi korban asmara, tentu berduka karena Kwee Seng terjatuh ke dalam jurang dan binasa. Gadis itu mencinta Kwee Seng dan menjadi patah hati. Ia tidak berani bercerita tentang Kwee Seng kepada Kam Si Ek karena cerita ini tentu akan membuka pula rahasia tentang perasaan Kwee Seng kepadanya. Akibat ceritanya ini tentu akan mendatangkan suasana tidak enak di antara mereka, apalagi di situ tersangkut pula diri Lai Kui Lan.

Cinta memang aneh. Biar pun dua orang muda yang amat jauh berbeda sifat dan wataknya, namun kalau sudah dipengaruhi cinta kasih, mereka seperti lupa akan semua perbedaan ini. Seorang yang mabok dicinta, hanya akan melihat yang baik-baik saja dari kekasihnya. Demikian pula dengan Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Kalau saja mereka tidak sedang mabok cinta, tentu mereka akan dapat melihat bahwa mereka mempunyai watak yang jauh berbeda.

Kam Si Ek adalah seorang pemuda yang keras hati, jujur, berdisplin memegang aturan, gagah perkasa dan seorang patriot. Sebaliknya, Lu Sian memiliki dasar watak yang aneh, kadang-kadang licik, dan menjalankan siasat-siasat yang curang bukanlah aneh baginya. Ia tidak peduli akan segala aturan, bebas merdeka dan liar. Tidak mau kalah oleh siapa pun juga, tidak peduli akan orang lain menderita atau tidak, tidak peduli sama sekali tentang negara mau pun bangsa. Baginya, siapa yang menentangnya akan ia hantam!

Perbedaan itu secara mencolok akan tampak kalau kita dapat menjenguk isi hati dan pikiran mereka pada saat mereka duduk melamun. Kam Si Ek melamunkan kebahagiaannya kalau sudah menikah dengan Liu Lu Sian, melamun betapa dengan bantuan isterinya yang memiliki kecerdikan dan kepandaian luar biasa itu, ia akan dapat berjuang dan memilih junjungan yang benar-benar tepat pada jaman itu, seorang calon raja yang akan benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Sebaliknya, Lu Sian di samping melamun tentang kesenangannya menjadi isteri pemuda yang dicintanya, juga ia teringat akan kekalahan-kekalahannya yang diderita selama ini. Hatinya panas bukan main kalau ia teringat betapa ia sama sekali tidak berdaya menghadapi orang-orang sakti seperti Kwee Seng, Ban-pi Lo-cia, Bayisan, dan Kong Lo Sengjin. Alangkah masih jauh ia ketinggalan dalam ilmu silat, pikirnya dengan hati tidak puas. Ia bercita-cita untuk memperdalam ilmu silatnya, mencari kitab-kitab pusaka dan wasiat-wasiat ilmu silat agar ia dapat menjadi seorang tokoh sakti yang akan menjagoi dunia persilatan, mengalahkan orang-orang itu.

Pertama-tama ia akan minta kepada ayahnya untuk mewariskan ilmu-ilmu baru ciptaan ayahnya, kemudian ia akan menitahkan anak buah suaminya untuk menyelidiki dan mencari orang-orang berilmu!

Untung bagi mereka, di dalam perjalanan mereka tidak bertemu dengan Ban-pi Lo-cia mau pun Kong Lo Sengjin. Setelah tiba di wilayah Shan-si, mereka merasa aman, melakukan perjalanan cepat dengan menunggang kuda memasuki ibu kota Shan-si, menghadap Gubernur Li Ko Yung.

Gubernur Li adalah seorang yang cerdik sekali. Dia merupakan seorang di antara pimpinan pemberontakan yang menggulingkan kedudukan kaisar terakhir Dinasti Tang. Akan tetapi ia tidak semaju Gubernur Cu Bun di Ho-nan yang akhirnya berhasil menggulingkan Kerajaan Tang dan mengangkat diri sendiri menjadi kaisar pertama Kerajaan Liang. Terhadap Jenderal Kam Si Ek, Gubernur Li berlaku amat hati-hati. Ia maklum bahwa jenderal muda ini amat setia terhadap negara dan bangsa, dan bahwa jatuhnya Kerajaan Tang tidak mempengaruhi hati Kam-goanswe. Oleh karena itulah maka dengan cerdik ia hendak mempergunakan tenaga dan pikiran jenderal muda itu secara halus.

Ia menyambut kedatangan Kam Si Ek dengan ramah tamah dan penuh penghormatan, juga terhadap Liu Lu Sian yang diperkenalkan sebagai puteri Beng-kauwcu, ia menyambut dengan ramah. Ketika secara singkat Kam Si Ek menceritakan bahwa perwira she Phang yang diutus memanggilnya ke benteng itu telah bersekongkol dengan pasukan Kerajaan Liang untuk menawannya, Gubernur Li menjadi marah sekali.

“Keparat itu berani melakukan kejahatan seperti itu?” Gubernur Li menggebrak meja, memanggil seorang panglima dan memerintahnya segera berangkat membawa pasukan dan surat perintahnya untuk menangkap Phang-ciangkun dan menjatuhi hukuman mati! Setelah itu ia menjamu kedua orang tamu agung ini dengan arak dan hidangan lezat, berkali-kali ia memberi selamat atas pembebasan Kam-goanswe dari pada bahaya.

Kemudian, setelah mereka kenyang makan minum dan mengusir para pelayan, Gubernur Li Ko Yung berkata. “Goanswe, saya ingin sekali bicara empat mata denganmu, untuk merundingkan urusan negara dalam keadaan kacau-balau seperti sekarang ini,” berkata demikian, ia melirik ke arah Liu Lu Sian.

Gadis ini tentu saja maklum bahwa dia merupakan ‘orang luar’, apalagi dia adalah puteri Guru Negara Nan- cao, maka tentu saja ia tidak berhak mendengar. Namun dasar ia berwatak nakal dan kukwai (aneh), ia pura- pura tidak tahu dan enak-enak duduk minum arak wangi! Kam Si Ek merasa tidak enak sekali. Mengusir Liu Lu Sian pergi, tentu saja tidak enak baginya, mendiamkannya saja kekasihnya berada di situ, juga tidak enak terhadap Gubernur Li. Maka dengan memberanikan hati ia lalu berkata sambil bangkit berdiri dan menjura kepada gubernur itu.

“Li-taijin, harap maafkan. Sebelum kita meningkat kepada percakapan urusan negara yang penting, baiklah lebih dulu saya menyatakan terus terang bahwa Nona Liu ini bukanlah orang luar. Dia adalah… adalah… calon isteri saya, yaitu… eh…, kalau saja Taijin sudi melepas budi kebaikan kepada kami berdua untuk menjadi orang perantara dan mengajukan pinangan kepada Beng-kauwcu di Nan-cao.” Setelah berkata demikian, dengan muka merah ia duduk kembali. Liu Lu Sian tersenyum di dalam hati, akan tetapi ia diam saja pura-pura tunduk karena malu.

Sejenak gubernur ini tercengang, kemudian ia tertawa bergelak-gelak saking girangnya. Tidak ada kesempatan sebaik ini! Cocok benar dengan cita-cita hatinya. Mengikat hubungan baik dengan Nan-cao! Melepas budi kepada Jenderal Kam! Mana ada kesempatan yang lebih bagus dari pada ini demi terlaksananya cita-citanya?

“Ha-ha-ha! Bagus…, bagus sekali! Kionghi, kionghi (selamat,selamat)! Memang sudah tiba waktunya Kam- goanswe memilih teman hidup dan Nona Liu yang cantik jelita puteri Beng-kauwcu benar-benar merupakan pasangan yang amat cocok dengan Kam-goanswe. Sekali lagi kionghi, dan tentu saja dengan segala senang hati saya suka menjadi perantara!”

Gubernur Li mengangkat cawan memberi selamat, dan dua orang muda itu cepat menghaturkan terima kasih. Setelah itu Gubernur Li Ko Yung berkata dengan suara bersungguh-sungguh. “Ji-wi (kalian) tentu maklum bahwa bekas Gubernur Cu Bun yang sekarang mengangkat diri sendiri menjadi Raja Dinasti Liang adalah seorang pengkhianat, maka tidak mengherankan pula ia berusaha menculik Kam-goanswe. Memang dahulu kami bekerja sama dalam usaha menggulingkan Raja Tang yang pada waktu itu merupakan raja lalim. Akan tetapi sama sekali bukan menjadi rencana kami untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja, tapi hanya bermaksud menggulingkan raja lalim dan mencari pengganti yang tepat. Siapa kira Cu Bun berkhianat dan mendirikan dinasti baru yang sekarang ini. Maka tidak mengherankan apabila mereka yang tadinya membantu dalam perjuangan, kini memisahkan diri dan terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil. Sekarang, bagaimana dengan daerah kita yang meliputi Propinsi Shan-si? Tentu saja kita tidak akan tunduk kepada Kerajaan Liang atau kerajaan kecil yang mana pun juga. Bagaimana pendapat Kam-goanswe?”

Kam Si Ek mengangguk-angguk, lalu berkata, “Saya setuju dengan pendapat Taijin. Demi kesetiaan leluhur kita yang berjuang untuk negara dan rakyat, saya sendiri tidak akan mudah memilih junjungan, karena sekali kita salah pilih mengabdi kepada raja lalim berarti kita pun membantu kelalimannya.”

“Betul sekali ucapan Kam-goanswe! Kita berjuang di bidang yang lain, saya di bidang sipil, Goanswe di bidang muliter, namun pendapat dan tujuan kita cocok! Kita boleh menanti dan memilih secara hati-hati. Sementara itu, sebelum muncul seorang pemimpin yang betul-betul cocok, kita tidak bisa membiarkan daerah Shan-si yang menjadi tanggung jawab kita ini dicaplok oleh raja kecil palsu yang mana pun juga. Bukankah begitu, Kam-goanswe?”

“Betul sekali, Taijin. Saya akan menyerahkan jiwa raga untuk mempertahankan dan membela Shan-si!”

“Bagus! Nah, ketahuilah, Goanswe. Di antara para raja kecil yang secara lancang mengangkat diri sendiri, kini terjadi perebutan wilayah dan kekuasaan. Bukan hanya dari Kerajaan Liang saja datangnya ancaman terhadap wilayah kita, melainkan dari Se-cuan, dari timur Kerajaan Wu Yue, belum lagi ancaman yang amat membahayakan dari Bangsa Khitan. Untuk mempertahankan wilayah kita, perlu kita membentuk pemerintahan sementara dan kerja sama yang erat antara kita semua yang bertugas di Shan-si. Oleh karena itu, setelah nanti saya menjadi orang perantara dan telah dilangsungkan pernikahan antara Ji-wi berdua, saya minta agar Kam-goanswe sudi memegang tugas panglima di sini dan mengatur semua barisan yang perlu diperkuat untuk mejaga wilayah kita dari ancaman di segala jurusan.”

Pandai sekali Gubernur Li mengatur rencana dengan halus sehingga Kam Si Ek yang berwatak jujur itu percaya seratus prosen. Sama sekali Gubernur Li Ko Yung tidak membayangkan niat untuk mencari kekuasaan sendiri, maka serta merta Kam Si Ek menyatakan kesanggupannya untuk bekerja sama.

Ada pun Lu Sian yang lebih cerdik dan sudah biasa menghadapi kelicikan dan siasat busuk orang, sedikit banyak menaruh curiga, akan tetapi ia tidak mau peduli akan cita-cita gubernur itu. Hasratnya hanya satu, yaitu menjadi isteri Kam Si Ek yang dicintainya, dan kalau gubernur itu dapat menjadi perantara sehingga hasrat hatinya terkabul, ia merasa cukup puas. Baginya sama saja apakah Gubernur Li itu seorang patriot tulen ataukah seorang pengkhianat. Juga ia tidak peduli Kam Si Ek akan membantu siapa, asal jenderal muda yang perkasa ini menjadi suaminya.

Ketika utusan Gubernur Li yang merupakan sepasukan berkuda membawa seorang wakil dan surat pribadi mengajukan pinangan, berikut pula berpeti-peti barang berharga tiba di Nan-cao menghadap kepada Beng- kauwcu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ketua Beng-kauw ini membaca surat dan menarik napas panjang. Betapa pun juga, ia kurang cocok dengan pilihan puterinya ini, dan ia akan lebih senang kalau puterinya mendapat jodoh seorang tokoh kang-ouw seperti Kwee Seng. Puterinya terdidik sebagai seorang ahli silat, sebagai seorang yang biasa terbang bebas seperti burung di udara, sekarang puterinya memilih Kam Si Ek, seorang jenderal yang terkenal sebagai ahli perang yang berdisiplin, bagaimana dapat cocok watak mereka?

Akan tetapi karena surat itu dilampiri surat puterinya, dan ia mengenal baik watak puterinya yang mewarisi wataknya sendiri, yaitu tidak mau mundur sejengkal pun untuk melaksanakan keinginan hatinya, pula mengingat bahwa Kam Si Ek adalah seorang pemuda perkasa yang dijadikan rebutan oleh kaum wanita, keturunan panglima-panglima perkasa pula, terpaksa ia mengalah. Apalagi kalau Ketua Beng-kauw ini sebagai seorang kok-su (guru negara) mengingat akan suasana dan kedudukan Kam-goanswe sebagai panglima di Shan-si, yang tentu saja merupakan kekuasaan yang amat baik untuk dijadikan sekutu, maka ia segera menulis surat balasan menerima pinangan itu dan menetapkan hari pernikahan puterinya di Nan-cao.

Semenjak kerajaan besar Tang yang memerintah selama hampir tiga abad (618-907) roboh oleh Gubernur Cu Bun yang kemudian mengangkat diri sendiri menjadi raja dari Kerajaan Liang Muda, muncul raja-raja kecil di seluruh negara yang jumlahnya sukar dihitung. Di samping perebutan kekuasaan di antara raja-raja kecil ini,

banyak pula keluarga Kaisar Tang yang berhasil menyelamatkan diri, dibantu oleh para bekas panglima dan bangsawan. Kelompok ini tidak lantas berdiam diri, tapi terus berusaha untuk merebut kembali tahta Kerajaan Tang yang sudah roboh itu.

Seorang pangeran Tang secara diam-diam menghimpun kekuatan dan berhasil menarik tenaga-tenaga ahli, di antaranya bahkan telah mendapat bantuan dari bekas Raja Muda Sin-jiu Couw Pa Ong yang sekarang sudah menjadi seorang kakek lumpuh yang sakti dan berjuluk Kong Lo Sengjin. Pangeran ini dapat pula menarik bantuan Gubernur Li Ko Yung yang dibantu oleh Jenderal Muda Kam Si Ek, dan masih banyak pula orang- orang gagah yang menganggap bahwa memang Pangeran Tang itu tepat untuk mendirikan kembali Kerajaan Tang setelah berhasil merampas tahta kerajaan dari Pemerintah Liang Muda.

Setelah mengalami perang hebat, yang merupakan perang saudara, maka berhasillah Pangeran Tang itu merobohkan Kerajaan Liang Muda, menghajar habis bala tentaranya dan merampas kota raja Lok-yang. Hal ini terjadi pada tahun 923 sehingga kerajaan Liang Muda itu hanya tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan pertama dari jaman Lima Dinasti, berumur hanya tujuh belas tahun saja (907-923).

Kini pemerintahan dikuasai lagi oleh keluarga Kerajaan Tang, dimulai pada tahun 923 itu dan diberi nama Kerajaan Tang Muda. Akan tetapi ternyata tidaklah seperti Kerajaan Tang yang telah roboh, Kerajaan Tang Muda ini, karena masih terus-menerus timbul rebutan kekuasaan diantara ‘orang dalam’, juga ancaman serangan dari raja-raja kecil masih terus mengepung Kerajaan Tang Muda.

Gubernur Li yang berjasa dalam perjuangan ini, ternyata tidak diberi kenaikan pangkat, tidak ditarik ke kota raja untuk dijadikan menteri, melainkan oleh Raja Tang Muda ditetapkan menjadi Gubernur di Shan-si seperti biasa dan hanya diberi pengampunan atas dosa-dosanya karena dahulu pernah ikut memberontak kepada raja terakhir Dinasti Tang! Gubernur ini tidak berani membantah secara berterang, namun di dalam hatinya timbul dendam terhadap Kerajaan Tang Muda. Ada pun Kam Si Ek yang tenaganya amat dihargai dan terutama sekali masih amat dibutuhkan oleh kerajaan baru ini, masih tetap tinggal di Shan-si.

Waktu berjalan dengan amat cepatnya. Sementara terjadi pergantian kekuasaan itu, pernikahan antara Kam Si Ek dan Liu Lu Sian sudah berjalan tujuh tahun dan mereka mempunyai seorang putera berusia enam tahun. Anak ini bernama Kam Bu Song, seorang anak yang sinar matanya tajam membayangkan kecerdasan, wajahnya toapan (lebar dan terang), dan mempunyai tulang dan otot yang kuat, menjadi bahan baik untuk menjadi ilmu silat. Akan tetapi, Kam Si Ek lebih suka menggembleng puteranya itu dengan ilmu surat lebih dulu, maka sejak berusia lima tahun, Kam Bu Song sudah pandai membaca ribuan huruf.

Suami isteri ini pada tahun-tahun pertama hidup penuh kebahagiaan, berenang dalam madu cinta kasih. Akan tetapi, seperti yang telah dikhawatirkan oleh Pat-jiu Sin-ong, perbedaan watak mereka mulai terasa setelah lewat beberapa tahun. Dalam soal pendidikan terhadap Bu Song saja, mereka sudah berbeda pendapat dan hal ini sudah menjadi bahan percekcokan. Liu Lu Sian menghendaki puteranya menjadi ahli silat yang kelak akan menjagoi kolong langit, sebaliknya Kam Si Ek berpendapat lain, tidak menyukai puteranya menjadi seorang petualang dunia kang-ouw.

Soal-soal lain yang jelas memperlihatkan perbedaan paham dan kesenangan segera susul-menyusul memperlihatkan diri. Kalau tadinya perbedaan-perbedaan itu masih terselimut cinta kasih mereka yang mesra, lambat laun perbedaan ini terlihat mencolok dan mulai mengganggu perasaan. Lu Sian beberapa kali menyatakan keinginannya merantau, malah mengajak suaminya meninggalkan tugas untuk setahun dua tahun agar mereka dapat mengajak putera mereka merantau dan menambah pengalaman di dunia kang-ouw. Tentu saja Kam Si Ek menolak ajakan ini.

Lu Sian menyatakan bahwa ia ingin sekali memperdalam ilmu kepandaiannya agar kelak dapat diturunkan kepada puteranya atau setidaknya, kelak takkan dapat terhina lagi oleh orang-orang sakti seperti pernah mereka derita ketika mereka bentrok melawan orang-orang sakti. Akan tetapi Kam Si Ek menjawab bahwa bukanlah ilmu silat yang dapat melindungi manusia, melainkan watak yang baik!

Demikianlah, percekcokan-percekcokan kecil timbul, disusul dengan percekcokan-percekcokan besar. Kam Si Ek yang berwatak keras dan jujur tidak mau mengalah, dan akhirnya tak dapat dicegah lagi rumah tangga yang tadinya penuh kebahagiaan itu menjadi berantakan! Pada suatu pagi yang cerah, kegelapan meliputi rumah

Panglima Kam Si Ek karena isterinya tidak berada di dalam kamarnya. Liu Lu Sian berjiwa petualang! Hanya sehelai kertas ditinggalkan berikut beberapa huruf tulisannya.

Kam Si Ek,
Kita berpisah untuk selamanya. Kau boleh menikah lagi dengan seorang yang kau anggap cocok dengan keadaanmu. Aku titip Bu Song, kelak kalau aku sudah berhasil, akan kujemput dia.
Liu Lu Sian

Kam Si Ek menjadi pucat mukanya ketika ia menjatuhkan diri di atas kursi dalam kamar sambil memegang surat itu dengan tangan gemetar. Ia tahu bahwa ia telah salah pilih dalam perjodohan, bahwa watak isterinya itu sama sekali berbeda dengan wataknya, berbeda watak berbeda paham, namun sebagai seorang laki-laki ia menerima penderitaan dari kesalahan ini dengan hati tabah. Betapa pun juga, ia mencinta isterinya itu. Sekarang hatinya menjadi kosong dan perasaannya perih melihat kenyataan pahit bahwa isterinya meninggalkannya. Terbayang percekcokan mereka malam tadi ketika Lu Sian untuk kesekian kalinya membujuknya untuk meletakkan jabatan dan melakukan perantauan…..

“Si Ek!” demikian isterinya berkata marah. Isterinya itu sejak menikah menyebut namanya begitu saja. “Kau sendiri bilang bahwa Kerajaan Tang Muda ini tidaklah sama dengan Kerajaan Tang yang telah roboh, bahwa kerajaan ini menjadi sarang koruptor dan medan perebutan kekuasaan. Apalagi rajanya mengandalkan bimbingan seorang kejam dan jahat seperti Kong Lo Sengjin, mengapa kau masih mau diperkuda oleh pemerintah macam itu?”

“Lu Sian, isteriku, jangan kau salah mengerti. Aku sama sekali bukan menghambakan diriku kepada orang- orang tertentu, melainkan kepada negara dan bangsaku. Itulah sebabnya mengapa aku bisa mengatakan bahwa Kerajaan Tang Muda ini tetap bukan pemerintahan yang baik, dan sesungguhnya aku sama sekali tidak ikut-ikut dengan kelaliman mereka. Aku bertugas menjaga keamanan di perbatasan barat untuk menghalau musuh dari luar yang hendak mengganggu wilayah kita, bertugas mengamankan keadaan daerah ini dari gangguan orang-orang jahat.”

“Apa bedanya?” Lu Sian panas dan mukanya merah menambah kecantikannya. “Kau kurung dirimu dengan tugas, dan kau kurung diriku pula dengan kekukuhanmu. Si Ek, kenapa kau tidak mau menerima permintaanku? Ah, kiranya cintamu terhadapku sudah mulai luntur!” Lu Sian bersungut-sungut, akan tetapi dia tidak menangis, tidak seperti kebiasaan kaum wanita kalau bertengkar.

“Lu Sian, mengapa kau selalu berpemandangan sempit terhadap hubungan suami isteri? Ketahuilah, isteriku. Cinta kasih antar suami isteri haruslah lebih masak, tidak seperti cinta kasih muda-mudi yang belum terikat oleh pernikahan. Cinta muda-mudi masih mentah, hanya terdorong rasa saling suka dan mabuk oleh daya tarik masing-masing. Akan tetapi, cinta kasih suami istri lebih mendalam, lebih matang dan libat-melibat dengan kewajiban, saling berkorban dan mengurangi pementingan diri sendiri. Sekarang ini, aku menjalankan kewajibanku sebagai suami dan ayah, juga sebagai seorang patriot, kau tingal di sisiku melaksanakan kewajiban sebagai isteri dan ibu, apalagi kekurangannya? Kalau kau ajak aku dan anak kita pergi merantau, bukankah itu berarti kita sama-sama melarikan diri dari pada kewajiban? Bagaimana pula dengan pendidikan Bu Song? Kau tahu sendiri, anak kita itu maju sekali dalam ilmu surat.”

Lu Sian menggebrak meja dengan tangannya sehingga ujung meja tebal itu menjadi somplak. “Cukup! Bosan aku mendengar kuliahmu! Kalau aku tahu bahwa cintamu terhadapku hanya untuk membuat aku terikat kewajiban-kewajiban, tidak sudi aku!” Sambil berkata demikian Lu Sian lari memasuki kamar dan membanting pintu keras-keras.

Kam Si Ek berdiri tercengang dan terpaku memandang meja, berulang kali menarik napas panjang. Kemudian ia pun memasuki kamar lain karena tidak mau membuat isterinya makin marah. Ia tahu bahwa kalau sedang marah begitu, isterinya sama sekali tidak suka didekatinya. Di dalam kamar, Kam Si Ek duduk termenung sampai akhirnya ia tertidur dengan duduk, mukanya disembunyikan di atas kedua lengan.

Dan pada pagi harinya, baru ia tahu bahwa isterinya telah pergi meninggalkannya, meninggalkan putera mereka. Dia yang sudah mengenal baik watak isterinya, tahu pula bahwa percuma saja kalau ia mengejar, percuma pula kalau ia menanti. Isterinya tidak akan mau kembali, karena watak isterinya itu, sekali mengeluarkan kata-kata, akan dipegangnya sampai mati!

Baru tujuh tahun mereka menikah. Ia baru berusia dua puluh sembilan tahun. Lu Sian baru berusia dua puluh lima! Mereka berdua masih muda dan sudah harus berpisah. Kam Si Ek merasa betapa berat derita hidup yang dialaminya. Apalagi kalau Bu Song, puteranya yang baru berusia enam tahun itu bertanya tentang ibunya, serasa dicabik-cabik hatinya. Puteranya itu cerdik sekali dan agaknya puteranya yang berusia enam tahun itu sudah dapat menduga apa yang terjadi antara ayah dan bundanya.

“Apakah ibu nakal dan ayah mengusirnya? Apakah kesalahan ibu?” berkali-kali Bu Song bertanya, dan selalu Kam Si Ek menjawab bahwa ibunya sedang pergi ke selatan, menengok kakeknya yang sedang menjadi ketua Beng-kauw di Nan-cao.

Bu Song tidak menangis, hanya menyatakan heran dan tidak percaya mengapa ibunya pergi begitu saja tanpa pamit kepadanya, pergi tidak mengajak ayahnya atau pun dia. Ketika anak itu mendesak-desaknya, Kam Si Ek yang sedang pusing dan duka itu membentaknya dengan keras. Sejak itu Bu Song tidak mau bertanya lagi tentang ibunya, akan tetapi diam-diam anak ini hatinya penuh pertanyaan dan menduga-duga siapa yang bersalah antara ayah dan ibunya. Ia sudah terlalu sering mendengar ayah dan ibunya bercekcok. Ia tahu bahwa mereka bertengkar akan tetapi tidak tahu apa urusannya dan tidak tahu pula siapakah sebetulnya yang salah di antara mereka.

Semenjak isterinya pergi meninggalkannya, hidup seakan-akan hukuman bagi Kam Si Ek. Setelah Lu Sian pergi, barulah ia merasa betapa sunyi rasanya dan betapa tiada kegembiraan sama sekali dalam hidupnya. Kalau keadaan Kerajaan Tang Muda tidak seburuk itu, agaknya ia akan mendapat hiburan dengan pekerjaannya. Akan tetapi keadaan Kerajaan Tang Muda ini benar-benar seperti yang digambarkan Lu Sian dalam pertengkaran mereka.

Memang betul bahwa Kerajaan Liang yang merobohkan Dinasti Tang itu dapat dihancurkan dan dapat pula didirikan Kerajaan Tang Muda dengan pimpinan para keturunan keluarga Raja Tang, namun keadaannya sudah amat buruk dan rusak. Pimpinan muda itu hanya sekelompok orang-orang yang mengumbar nafsu, orang-orang yang mengejar kesenangan belaka, mengejar kedudukan dan kemuliaan. Setelah memperoleh kedudukan dan kemuliaan, orang-orang yang tadinya menjadi pejuang gagah berani menjadi lupa sama sekali akan tujuan perjuangan mereka.

Setiap orang pejuang tadinya bercita-cita menghalau penindas, menghalau kelaliman demi kesejahteraan rakyat jelata, demi nusa dan bangsa. Akan tetapi, begitu para pejuang ini merasakan kenikmatan dari pada kedudukan dan kemuliaan, maboklah mereka dan lupalah mereka akan cita-cita luhur itu. Masa bodoh rakyat yang melarat tertindas. Masa bodoh orang lain. Aku yang berjuang mati-matian. Aku yang bertaruh nyawa. Aku pula yang harus senang. Mengapa memikirkan orang lain? Begitulah kira-kira bantahan dan sanggahan mereka apabila sewaktu-waktu suara hati pejuang menuntut mereka di dalam hati sanubari.

Namun di dunia ini tiada yang kekal. Kesenangan tidak, kedudukan pun tidak. Semua pasti berakhir, kesenangan dan kesusahan silih berganti mengisi hidup. Semua serba berputar. Selama manusia mengenal suka, tentu ia akan bertemu dengan duka. Siapa yang mengabdi kepada duka, pasti sekali waktu akan diperbudak suka. Inilah hukum timbal balik yang tak terbantahkan lagi. Im Yang! Titik kedua ujung poros yang memutar segala sesuatu di alam mayapada ini.

Tiga tahun semenjak Lu Sian meninggalkan Kam Si Ek tanpa pernah ada berita, maka Kam Si Ek mengalami pernikahannya yang kedua. Gadis pilihannya kali ini adalah puteri seorang siucai (gelar sastrawan), bernama Ciu Bwee Hwa. Tentu saja tidak secantik Liu Lu Sian karena puteri Beng-kauwcu itu memang memiliki kecantikan yang sukar dicari keduanya, akan tetapi Ciu Bwee Hwa terdidik sebagai seorang wanita yang halus perangainya, bersusila dan berkebudayaan tinggi. Yang mendesak Kam Si Ek adalah sucinya sendiri, yaitu Lai Kui Lan yang sekarang telah menjadi nikouw (pendeta wanita) di Kelenteng Kwan-im-bio, dan berjuluk Kui Lan Nikouw.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lai Kui Lan ini pun menjadi korban asmara. Ia jatuh hati kepada Kwee Seng, kemudian patah hati melihat Kwee Seng terjungkal di dalam jurang yang pasti akan membawa maut bagi pendekar itu. Inilah sebabnya mengapa Lai Kui Lan kini menjadi seorang nikouw, setelah ia tertarik oleh ajaran dan ceramah para pendeta wanita yang sering dikunjunginya.

Kui Lan Nikouw yang menyaksikan kehancuran rumah tangga sute-nya, menjadi ikut berduka. Maka dari itu, dialah yang mendesak kepada Kam Si Ek untuk menikah lagi, karena hal ini selain perlu bagi Kam Si Ek sendiri, juga amat perlu bagi Bu Song. Anak itu tentu saja memerlukan kasih sayang seorang ibu, dan karena ibunya sendiri sudah pergi meninggalkannya, sebaiknya dicarikan pengganti seorang ibu yang baik budi. Dan pilihan mereka jatuh kepada Ciu Bwee Hwa, puteri tunggal sastrawan Ciu Kwan yang hidup menduda di dusun Ting-chun dikaki Gunung Cin-ling-san di lembah sungai Han.

Upacara pernikahan antara Kam Si Ek dengan Ciu Bwee Hwa, dilangsungkan secara sederhana sekali. Namun karena Kam Si Ek adalah seorang jenderal muda yang terkenal dan disegani, maka tetap saja menjadi meriah dengan datangnya para pembesar dan orang-orang ternama. Akan tetapi, setelah perayaan pesta pernikahan itu selesai, muncullah peristiwa-peristiwa yang membuat hati Kam Si Ek lebih menderita lagi.

Tepat pada malam pernikahannya, ketika para tamu sudah pulang, di waktu malam sunyi dan kedua mempelai sudah memasuki kamar pengantin, tiba-tiba jendela kamar itu diketuk orang dari luar dan ada suara membentak, “Kam Si Ek, kalau kau benar laki-laki, keluarlah!”

Mendengar suara ini, Ciu Bwee Hwa menjadi pucat dan mempelai wanita ini memegang lengan suaminya sambil berkata dengan suaranya gemetar, “Harap jangan layani orang itu…!”

Tentu saja Kam Si Ek menjadi curiga. Sebagai seorang laki-laki yang gagah perkasa, mana mungkin ia tidak melayani orang yang menantangnya seperti itu? Ia memandang tajam wajah isterinya, lalu bertanya, “Mengapa? Siapa dia?” Dalam suaranya jelas terkandung kecurigaan dan penasaran.

Tiba-tiba Ciu Bwee menangis sedih. Lalu terisak-isak berkata, “Dia… dia… itu Giam Sui Lok, orang sekampung denganku. Dia… seorang jago silat muda di kampung kami… dan dia pernah melamarku akan tetapi… ditolak oleh ayah. Biar pun dia seorang pendekar yang terkenal baik, namun ayah tidak suka… karena dia buta huruf. Ah, dia telah bersumpah hendak menjadi suamiku dan kalau aku menikah dengan orang lain, maka dia akan memusuhi suamiku. Harap kau suka menaruh kasihan… dan jangan melayaninya….”

Kam Si Ek mengerutkan keningnya. Mana ada aturan begini? Biar pun disebut pendekar oleh isterinya, jelas bahwa pemuda itu seorang yang tidak tahu aturan. Setelah ditolak lamarannya, bagaimana berani bersumpah hendak memusuhi siapa pun yang menjadi suami Bee Hwa? Dan kalau dia tidak mau melayaninya, bukankah ia akan disangka pengecut dan penakut?

“Kau bilanglah terus terang, apakah sebabnya kau melarangku melayaninya? Apakah kau suka kepadanya?”

Bwee Hwa masih menangis ketika ia menjatuhkan dirinya berlutut di depan suaminya. “Bagaimana kau bisa bilang begitu? Ahh…, bukankah aku sudah menjadi isterimu? Jiwa ragaku kuserahkan kepadamu, bagaimana pikiranku dapat mengingat laki-laki lain? Suamiku, aku memohon kau tidak melayaninya, karena aku tidak ingin kalian bertempur, kemudian seorang di antara kalian terluka atau terbunuh. Kau suamiku, tentu saja aku berpihak kepadamu… akan tetapi, dia terkenal sebagai seorang yang gagah dan baik di kampung kami, dia bukan orang jahat….”

Kam Si Ek mengangkat bangun isterinya dan memeluknya. “Jangan kau khawatir, aku akan menasehatinya. Kalau tidak terpaksa, aku takkan bertanding dengannya.”

Kembali daun jendela diketuk dari luar. “Kam Si Ek, aku Gam Sui Lok dari Cin-ling-san! Ada urusan di antara kita berdua yang harus diselesaikan sekarang juga. Apakah kau benar-benar tidak berani keluar?”

“Hemm, kau tunggulah!” Kam Si Ek lalu melepaskan isterinya, menyambar senjatanya dan membuka daun jendela, terus melompat ke luar.

Di pekarangan belakang rumah, tempat yang sunyi, di bawah sinar bulan purnama, ia melihat seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Sinar mata orang itu muram, akan tetapi wajahnya membayangkan kegagahan dan kejujuran. Biar pun merasa tak senang melihat orang ini begitu tidak tahu aturan, namun sedikitnya Kam Si Ek kagum akan keberanian dan kejujurannya.

“Orang she Giam, baru saja isteriku bercerita tentang dirimu. Kau seorang laki-laki, bagaimana begini tak tahu aturan dan tak tahu malu? Dia sudah menjadi isteri orang, mengapa kau masih saja mengejar-ngejar? Apakah di dunia ini hanya ada dia seorang wanita? Perbuatanmu datang malam ini, benar-benar merupakan penghinaan bagiku. Akan tetapi mengingat bahwa kau bertindak karena kebodohanmu, aku mau maafkan dan harap kau segera pergi dari sini, jangan memperlihatkan diri lagi. Perkara ini habis sampai di sini saja.”

Giam Sui Lok mengertak gigi dan berkata, suaranya lantang penuh kegeraman hati, “Kam Si Ek, enak saja kau bicara! Semenjak kecil aku mengenal Bee Hwa. Belasan tahun aku melihatnya, aku mimpikan dia, dan ayahnya menolak lamaranku karena aku seorang miskin dan bodoh! Karena itu aku sudah tak dapat hidup lagi kalau tidak dapat berjodoh dengan Ciu Bwee Hwa. Aku sudah bersumpah akan mati di ujung senjata siapa yang menjadi suaminya, atau membunuh suami itu. Sekarang dia menjadi isterimu. Nah, mari kita selesaikan persoalan ini. Kau harus mati di tanganku atau aku yang akan mampus di tanganmu untuk mengakhiri penderitaan batin ini!” Sambil berkata demikian, Giam Sui Lok mencabut goloknya.

Kam Si Ek menjadi marah. “Kau benar-benar seorang yang berwatak berandalan dan tidak menggunakan aturan.”

“Tak perlu banyak cakap! Pendeknya berani atau tidak kau mengakhiri urusan ini di ujung senjata? Kalau tidak berani, sudahlah, sedikitnya aku tidak akan menderita lagi karena tahu bahwa ayah Bwee Hwa memilih kau bukan karena kau lebih gagah dari pada aku, melainkan karena kau seorang panglima, biar pun hanya panglima pengecut.”

“Tutup mulut! Lihat golokku siap menandingimu!” bentak Kam Si Ek yang juga sudah mencabut golok emasnya.

Giam Sui Lok tertawa bergelak lalu menerjang maju dan terjadilah pertandingan hebat dan seru antara kedua orang itu. Pemuda tinggi besar bermuka hitam itu bertanding dengan nekat. Goloknya menyambar-nyambar dengan amat cepat dan kuat, agaknya bernafsu sekali untuk segera merobohkan lawan yang amat dibencinya karena telah mengawini wanita yang menjadi idaman hatinya! Kalau saja ilmu silatnya agak lebih tinggi tingkatnya, agaknya Kam Si Ek akan repot menghadapi terjangan penuh nafsu dan nekat ini.

Akan tetapi ternyata tingkat kepandaian Giam Sui Lok tidaklah sehebat nafsunya, dan dibandingkan dengan Kam Si Ek ia kalah jauh. Dengan tenang sekali Kam Si Ek menggerakkan golok emasnya menangkis sampai belasan jurus, kemudian setelah ia melihat kelemahan lawan dan banyaknya kesempatan terbuka karena kenekatan itu, mulailah ia menerjang dan membalas. Akan tetapi Kam Si Ek tidak berniat membunuh lawannya yang sama sekali tidak mempunyai dosa terhadapnya itu, maka setelah melihat kesempatan baik, goloknya menyerempet pangkal lengan kanan lawannya.

Giam Sui Lok mengeluh, pangkal lengannya luka dan goloknya terlepas dari pegangan. Ia tidak mengerang kesakitan, hanya menahan rasa nyeri, lalu berkata, “Kau menang. Nah, lekas bacoklah leherku, aku tidak ingin hidup lagi!”

Kam Si Ek tersenyum dan menyimpan goloknya. “Justru aku hendak membiarkan kau hidup, sobat! Kau masih muda dan biarlah kau hidup lebih lama untuk menyesali perbuatanmu yang lancang ini. Kelak kau akan merasa malu sendiri akan sepak terjangmu yang bodoh ini. Nah, kau pergilah!”

Giam Sui Lok memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan. “Kam Si Ek! Aku mengaku kalah dan minta mati, akan tetapi kau membiarkan aku hidup, agaknya kau ingin lebih menyiksaku. Akan tetapi, akan datang saatnya aku kembali mencarimu. Sebelum aku mati di tanganmu atau kau mati di tanganku, aku takkan mau sudah!” Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri ia menjemput goloknya lalu pergi menghilang di balik gelap malam.

Kam Si Ek berdiri tertegun, hatinya penuh penyesalan. Ia tidak tahu bahwa sejak tadi, seorang anak kecil berusia sembilan tahun mengintai dari balik semak-semak. Anak ini adalah puteranya sendiri, Kam Bu Song! Semenjak beberapa hari ini, Bu Song mengunci diri di dalam kamarnya dan menangis saja. Malam ini ia membawa buntalan pakaian, diam-diam keluar dari kamarnya, dan terkejut menyaksikan pertempuran di pekarangan belakang. Ia bersembunyi dan mengintai, kemudian setelah ayahnya kembali ke dalam rumah, ia cepat berlari ke luar dan lenyap pula di tempat gelap.

Dapat dibayangkan betapa duka dan bingungnya hati Kam Si Ek. Pernikahannya yang ke dua itu amat cepat disusul dua peristiwa yang mengganjal hatinya. Peristiwa dengan Giam Sui Lok sudah cukup menjengkelkan, akan tetapi peristiwa kedua, larinya Kam Bu Song benar-benar membuatnya berduka dan gelisah sekali. Tentu saja ia segera menyebar orang-orangnya untuk mencari, namun hasilnya sia-sia belaka. Anak itu tidak dapat ditemukan, seakan-akan ditelan bumi tanpa meninggalkan bekas. Mula-mula ia menyangka bahwa Giam Sui Lok yang melakukan penculikan, akan tetapi ketika ia menyuruh orangnya menyelidik, ternyata Giam Sui Lok kembali ke Cin-ling-san, merawat luka dan memperdalam ilmu silat, sama sekali tidak tahu-menahu tentang lenyapnya Kam Bu Song!

********************

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Kwee Seng! Sengaja kita lakukan ini agar jalan cerita dapat tersusun baik, karena memang ada hubungannya antara tokoh-tokoh yang diceritakan itu.

Telah kita ketahui betapa dalam keadaan linglung, Kwee Seng telah melayani cinta kasih seorang nenek- nenek di Neraka Bumi selama belasan hari ketika Arus Maut di Neraka Bumi itu meluap airnya dan cuaca menjadi gelap. Setelah cuaca menjadi terang kembali, pikirannya pun menjadi terang dan sadarlah ia bahwa ia telah mencurahkan kasih sayangnya kepada seorang nenek-nenek yang memang menghendaki ia menjadi suaminya! Bagaikan gila Kwee Seng memukuli muka dan kepalanya sendiri, kemudian ia meloncat ke dalam air Arus Maut, menyelam dan berenang melawan arus.

Bukan main kuatnya arus itu, seekor ikan pun agaknya takkan mampu berenang melawan arus itu. Akan tetapi selama tiga tahun berdiam di dalam Neraka Bumi, Kwee Seng telah memperoleh kemajuan yang luar biasa. Berkat latihan semedhi menurut ajaran kitab semedhi, tenaga lweekang-nya meningkat hebat beberapa kali lipat, sedangkan ilmu silatnya juga tanpa ia sadari telah menjadi hebat luar biasa setelah ia memahami kitab Ilmu Perbintangan.

Kini menghadapi terjangan arus yang demikian ganasnya, Kwee Seng dapat mempergunakan lweekang-nya, menyelam dan berenang sepenuh tenaga sambil menahan napas. Beberapa kali ia terpukul kembali, namun dengan gigih Kwee Seng maju terus. Benturan-benturan dengan batu ketika ia dihempaskan Arus Maut, tidak terasa oleh tubuhnya yang sudah menjadi kuat dan kebal. Kadang-kadang ia muncul di permukaan air untuk mengambil napas, lalu menyelam kembali dan bergerak maju terus. Bukan main hebatnya perjuangan melawan Arus Maut ini. Perjuangan mati-matian dan ia tidak tahu bahwa andai kata tiga tahun yang lalu ia harus melakukan perjuangan macam ini, tentu ia akan tewas!

Akhirnya ia dapat keluar dari dalam terowongan dan ketika ia muncul di permukaan air, ia melihat langit menyinarkan cahaya terang benderang, membuat matanya silau karena sudah terlalu lama ia tinggal di tempat agak gelap. Biar pun sudah keluar dari terowongan Arus Maut, namun sungai yang diterjangnya ini diapit-apit dinding batu karang yang amat tinggi. Ia berenang terus dan akhirnya, sejam kemudian, ia melihat dinding yang biar pun masih amat tinggi dan curam, namun tidak selicin dinding yang telah ia lalui. Cepat ia berenang ke pinggir, menangkap celah dinding batu karang dan mengangkat tubuhnya ke atas. Cepat ia bersila di bawah dinding karang untuk memulihkan tenaganya dan pernapasannya.

Akan tetapi, setelah tenaganya pulih, ia teringat akan perbuatannya dengan nenek itu dan… tiba-tiba Kwee Seng menangis, lalu menampari pipinya beberapa kali sampai kedua pipinya bengkak-bengkak matang biru! Sebentar kemudian ia tertawa-tawa, suara ketawanya bergema di sepanjang sungai yang diapit dinding karang. Kemudian ia merayap naik melalui dinding yang tidak rata, menggunakan tangan kirinya menangkap dan menginjak celah-celah karang. Cepat sekali gerakannya, seperti seekor monyet saja. Tak sampai seperempat jam, ia telah berada di atas tanah datar, di lembah sungai di lereng Bukit Liong-kui-san! Tak jauh di sebelah depan, ia melihat puncak di mana tiga tahun yang lalu ia bertanding mati-matian melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, di mana ia dirobohkan secara pengecut oleh jarum-jarum beracun Bayisan.

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba Kwee Seng tertawa bergelak sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Rambutnya riap-riapan karena ketika melawan arus tadi pita rambutnya hilang entah ke mana, bajunya robek-robek, kedua pipinya bengkak-bengkak, akan tetapi matanya bersinar terang biar pun mulutnya tersenyum setengah mewek seperti orang mau menangis!

Masih terdengar suaranya tertawa-tawa ketika tubuhnya berloncatan dengan gerakan yang luar biasa, tidak seperti manusia lagi, melainkan lebih pantas iblis penjaga gunung sedang menari-nari. Memang patut dikasihani Kwee Seng ini. Karena tergila-gila akan kecantikan Liu Lu Sian dan kecewa melihat watak gadis yang ia cinta, ia menjadi seorang pemabok. Kini setiap kali teringat kepada Lu Sian ia masih tertawa-tawa.

Kemudian pengalamannya dengan nenek-nenek di dalam Neraka Bumi benar-benar telah membuat rusak pikirannya, membuat ia tak kuat lagi menahan tekanan batin, membuatnya seperti gila. Kalau teringat kepada nenek-nenek itu, ia menangis. Maka sejak saat itu kembali ke dunia ramai, tawa dan tangis silih berganti dilakukan oleh pendekar muda ini! Seorang pendekar muda yang tadinya terkenal tampan dan gagah perkasa, kini berubah menjadi seorang berpakaian compang-camping yang suka tertawa dan menangis, pendeknya berubah menjadi seorang jembel gila! Dan semua ini karena asmara.

Akan tetapi, sesungguhnya Kwee Seng sama sekali tidaklah gila. Ia hanya seperti orang gila kalau teringat kepada Liu Lu Sian dan teringat pula kepada si Nenek, karena kedua orang itu mengingatkan ia akan semua pengalaman dan perbuatannya. Kalau ia sedang sadar, Kwee Seng tetap merupakan pendekar yang gagah perkasa, yang cerdik dan berpemandangan luas.

Ia tidak pernah pula melupakan Bayisan yang telah berlaku curang dan menyebabkan ia terjungkal ke dalam jurang di puncak Liong-kui-san. Ia tidak pula dapat melupakan guru Bayisan, Ban-pi Lo-cia yang telah membunuh atau lebih hebat lagi, menodai Ang-siauw-hwa sehingga wanita itu membunuh diri. Tidak pula lupa kepada Liu Lu Sian yang telah menolak cintanya dan bahkan menghinanya.

Demikianlah, Kwee Seng mulai dengan perantauannya. Ia tetap berpakaian seperti jembel, pakaian yang compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan, akan tetapi tubuhnya selalu bersih terpelihara! Di dalam perantauannya bertahun-tahun ini, tak pernah ia melupakan tugasnya sebagai seorang gagah, seorang pendekar yang aneh dan sakti. Namun, tetap seperti dahulu, ia melakukan perbuatannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu, semenjak ia keluar dari Neraka Bumi, muncullah di dunia kang-ouw seorang tokoh aneh tak terkenal yang luar biasa, yang menggegerkan dunia kang-ouw karena banyak sekali tokoh-tokoh dunia hitam dihancurkan oleh pendekar gila ini.

Akhirnya ada yang mengenalnya sebagai Kim-mo-eng dan makin terkenallah nama ini yang dahulu malah tidak begitu terkenal. Kalau dulu hanya tokoh-tokoh terbesar di dunia kang-ouw saja yang mengenal Kim-mo- eng sebagai seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi, kini dunia kang-ouw mengenal Kim-mo-eng sebagai seorang pendekar gila, sungguh pun jarang ada orang pernah melihatnya beraksi. Dengan demikian, dalam perantauannya, orang-orang yang bertemu dengan Kwee Seng hanya mengira dia seorang jembel gila, sama sekali tidak ada yang pernah mengira bahwa dia inilah Kim-mo-eng, tokoh kang-ouw yang baru muncul dan membikin geger dunia persilatan itu!

Rasa penasaran di hatinya terhadap Bayisan membuat Kwee Seng mengarahkan perantauannya menuju ke daerah Khitan! Ia hendak meluaskan pengalaman dan sekalian mencari Bayisan atau Ban-pi Lo-cia yang keduanya masih mempunyai perhitungan dengannya.

Bangsa Khitan adalah bangsa nomad (perantau) yang terkenal gagah perkasa, ulet dan pandai perang. Karena iklim dan keadaan tanah di mana mereka hidup, yaitu di daerah timur laut yang penuh gunung-gunung, gurun-gurun pasir, dan salju, maka mereka dipaksa oleh keadaan untuk selalu berpindah-pindah tempat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inilah sebabnya mengapa suku bangsa Khitan amat ulet dan berani.

Dan ini pula agaknya yang menyebabkan Khitan seringkali mengadakan penyerbuan ke selatan dalam usaha mereka mencari tempat yang lebih makmur untuk bangsa mereka. Akan tetapi, berkali-kali mereka terpukul mundur oleh bala tentara kerajaan selatan sehingga akhirnya mereka tidaklah begitu berani melakukan penyerbuan secara liar, melainkan baru berani menyerbu setelah direncanakan terlebih dahulu. Karena usaha mereka yang terus menerus menyerbu ke selatan inilah maka bangsa Khitan selalu dianggap sebagai musuh besar oleh orang selatan, dari jaman dinasti mana pun juga.

Pada waktu Kwee Seng melakukan perantauannya ke daerah Khitan, yang dijadikan ibu kota Khitan adalah kota Paoto di lembah Sungai Kuning, termasuk daerah Mancuria selatan. Rajanya adalah Raja Kulu-khan, seorang raja yang terkenal gagah dan suka perang, namun amat dicinta oleh rakyatnya karena ia selalu bertindak adil dan penuh perhatian terhadap rakyatnya.

Raja Kulu-khan mempunyai belasan orang putera dan puteri, akan tetapi semua itu lahir dari para selir. Ada pun permaisurinya hanya mempunyai seorang anak perempuan, yang dengan sendirinya menjadi Puteri Mahkota. Puteri Mahkota ini bernama Puteri Tayami yang semenjak kecil digembleng oleh ayahnya sendiri, pandai menunggang kuda, pandai bermain panah dan pandai pula mainkan tombak dan pedang. Selain ini, ia pun seorang puteri yang amat cantik jelita, menjadi kenangan dan kembang mimpi semua pemuda Khitan.

Namun tak seorang pun di antara para pemuda berani main-main dengan puteri Tayami. Bukan saja karena Tayami adalah Puteri Mahkota, akan tetapi terutama karena mereka gentar menghadapi kegagahan puteri ini. Kalau Tayami sudah ikut maju perang dengan pedang pusaka di tangan, yaitu Pedang Besi Kuning, dengan gendewa dan anak panah menghias bahu, menyengkelit tombak, bukan main hebatnya puteri ini. Entah sudah berapa banyak tentara musuh yang roboh oleh anak panahnya, pedangnya, mau pun tombaknya.

Khitan memiliki pula banyak panglima-panglima perang yang berilmu tinggi di antaranya adalah Panglima Tua Kalisani dan Panglima Muda Bayisan. Hanya dua orang ini yang paling hebat kepandaiannya di antara semua panglima yang juga memiliki keistimewaan masing-masing. Akan tetapi hanya kedua orang panglima itu yang memiliki ilmu silat dari selatan dan barat. Ada pun Ban-pi Lo-cia, biar pun terkenal namun tidaklah langsung membantu pergerakan bangsanya. Dia adalah guru dari Panglima Muda Bayisan, namun jarang ia tinggal terlalu lama di Khitan. Ia lebih suka merantau ke selatan, ke dunia yang lebih ramai dan lebih banyak terdapat kesenangan-kesenangan yang sesuai dengan selera nafsunya.

Dasar watak manusia jantan, di mana-mana sama saja. Asalkan melihat wanita cantik, tentu mereka itu saling berebutan. Yang kasar yang halus, ya begitu juga. Hanya yang kasar itu mengeluarkan perasaan hatinya melalui kata-kata kasar atau pandang mata kurang ajar, sedangkan yang halus diam-diam menyimpan di hati. Namun hakekatnya, sama juga. Di antara sekian banyaknya pemuda Khitan yang jatuh hati terhadap Puteri Tayami, termasuk juga Bayisan dan… Kalisani!

Kita sudah mengenal Bayisan sebagai seorang tokoh muda yang haus akan wanita cantik, yang jahat dan keji, tidak segan-segan melakukan perkosaan terhadap wanita yang mana pun juga, baik ia isteri orang mau pun anak orang, baik ia mau atau pun tidak. Maka tidak mengherankan apabila Bayisan tergila-gila kepada Puteri Mahkota bangsanya sendiri yang demikian jelita ayu.

Akan tetapi, yang amat mengherankan adalah Panglima Tua Kalisani. Usianya sudah empat puluh tahun lebih, dua kali usia Tayami, namun panglima yang belum pernah menikah ini secara diam-diam tergila-gila pula kepada Tayami. Hanya bedanya, kalau Bayisan mengungkapkan perasaannya melalui senyum dan pandang mata, kadang-kadang kata-kata kurang ajar, adalah Kalisani memendam dalam hati, dan mungkin hanya dapat terlihat oleh Tayami sendiri melalui pancaran sinar mata penuh kasih sayang.

Namun, semua harapan para muda termasuk dua orang panglima itu, sebenarnya sia-sia belaka. Puteri Mahkota Tayami sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Ia telah menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang bekas temannya semenjak kecil, putera dari pelayan pribadi ayahnya. Kini bekas teman itu telah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah. Biar pun pangkatnya hanya perwira menengah, namun kegagahannya dalam pandang mata Tayami tiada yang dapat menandinginya! Pemuda ini bernama Salinga, biar pun keturunan pelayan raja, namun semenjak nenek moyangnya dahulu amat setia dan berdarah patriot.

Raja Kulu-khan amat mencinta puterinya, dan raja ini pun berpemandangan luas, tidak mengukur pribadi seseorang dari kedudukannya. Maka biar pun ia tahu akan hubungan antara puterinya dengan Salinga, raja ini tidak pernah menegur puterinya. Malah ketika Bayisan mengadukan hubungan itu, ia memarahi Bayisan. Bayisan ini biar pun terkenal di luaran sebagai panglima muda, namun adalah putera Raja Kulu-khan juga. Putera yang lahir dari seorang wanita yang telah bersuamikan seorang pembantu raja, akan tetapi oleh suaminya seakan-akan ‘dijual’ kepada raja karena mengharapkan kenaikan pangkat!

Peristiwa ini terjadi ketika Raja Kulu-khan masih muda dan tidak kuat menghadapi godaan isteri ponggawa itu. Namun setelah mengetahui niat licik dari ponggawa yang menjual isterinya sendiri itu, raja ini malah menjatuhkan hukuman kepada si Ponggawa, sedangkan isteri ponggawa itu ia ambil sekalian menjadi selirnya.

Hal ini dilakukan untuk mencuci segala noda. Anak yang lahir dari hubungan inilah yang sekarang menjadi Panglima Muda Bayisan!

“Cinta kasih antara orang muda adalah cinta kasih murni yang timbul dari hati sanubari. Adalah Dewa yang menjodohkan, bagaimana kita manusia hendak merusaknya, Bayisan? Kalau adikmu Tayami memang saling mencinta dengan Salinga, biarlah. Salinga seorang pemuda baik, apa salahnya?”

“Akan tetapi, Sri Baginda. Adinda Tayami adalah seorang Puteri Mahkota, sedangkan Salinga… seorang prajurit biasa…”

“Hemm, dia seorang perwira…”

“Apa artinya? Seorang Puteri Mahkota jodohnya adalah pangeran, atau yang setingkat…”

“Ha-ha-ha, Bayisan. Alangkah sempit pandanganmu. Siapakah yang membuat hati dan menimbulkan cinta? Hanya para Dewa yang tahu. Siapa sekarang yang membuat segala macam pangkat dan kedudukan? Hanya manusia. Apa sukarnya kalau sekarang aku mengangkat Salinga menjadi Pangeran atau Ponggawa yang tinggi kedudukannya? Mudah saja, bukan? Akan tetapi aku tidak mau lakukan itu, sebab kenaikan tingkat harus dilakukan menurut jasa dan pahala. Kalau aku mengangkat Salinga, berarti suatu penghinaan, baik bagi Salinga mau pun bagi keluargaku sendiri. Nah, cukup, tak perlu kau mencampuri urusan dalam hati Tayami!”

Demikianlah, dengan hati mengkal dan penuh dendam Bayisan selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan hati Tayami dan menjatuhkan diri Salinga. Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani secara berterang melakukan hal ini, karena Salinga adalah kekasih Tayami dan bahwa dia tergila-gila pula kepada Tayami, adik tirinya!

Pagi hari itu Kwee Seng memasuki kota raja Paoto yang sedang ramai. Segera ia menarik perhatian karena pakaiannya yang compang-camping dan penuh tambalan itu menunjukkan bahwa dia orang dari selatan. Namun sikapnya yang seperti orang gila membuat orang-orang hanya tertawa kepadanya. Memang pada waktu itu banyak sekali orang Khitan sudah berpakaian seperti orang Han, dengan pakaian yang dapat mereka rampas kalau mereka menyerbu ke selatan, atau pakaian yang mereka tukar dengan kulit dan bulu domba. Banyak juga pedagang-pedagang dari selatan sampai Khitan, mempertaruhkan keselamatan nyawanya. Bagi para pedagang, di mana ada ‘untung’ ke sana ia pergi, tak peduli di sana terdapat bahaya menantang.

Keramaian kota raja Paoto ada sebabnya. Beberapa pekan yang lalu, di bawah pimpinan Panglima Muda Bayisan sendiri, sepasukan orang Khitan menyerbu dan menghancurkan pasukan Kerajaan Cin Muda yang ternyata adalah pasukan yang melarikan diri membawa barang-barang berharga hasil perampasan mereka terhadap Kerajaan Tang Muda yang kalah perang. Banyak sekali barang rampasan ini, belum lagi kuda dan senjata, maka saking gembiranya Raja Kulu-khan lalu mengadakan pesta untuk menghormati pasukan itu.

Dan sebagaimana biasanya, dalam setiap keramaian seperti itu tentu diadakan perlombaan-perlombaan ketangkasan di tepi Sungai Kuning. Perlombaan macam ini bukan hanya sebagai hiburan untuk menggembirakan suasana, namun ada pula maksudnya untuk mengumpulkan tenaga-tenaga muda. Tak jarang dalam kesempatan seperti ini bermunculan perwira-perwira baru yang diangkat karena kemenangannya dalam perlombaan.

Kwee Seng hanyut dalam arus gelombang manusia yang menuju ke tepi sungai, ke tempat perlombaan. Kwee Seng ikut berlari-lari sambil makan roti susu kambing yang tadi dibelinya dari warung dan kini digerogotinya. Lapangan di tepi sungai itu luas sekali dan memang tempat ini sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga rata dan baik untuk tempat perlombaan ketangkasan.

Hati Kwee Seng berdenyut girang ketika ia mengenal seorang di antara para perwira tinggi yang hadir di tempat itu. Seorang Muda yang tinggi kurus, berpakaian panglima, bertopi indah dengan hiasan bulu, bukan lain adalah Bayisan, musuh lama yang dicari-carinya. Matanya tetap mencari-cari dan ia agak kecewa tidak melihat Ban-pi Lo-cia di tempat itu. Di panggung yang sengaja dibuat, duduklah Raja Khitan, ditemani Bayisan, Kalisani, dan belasan orang panglima tinggi lainnya. Di samping raja ini duduk pula seorang gadis yang cantik jelita, pakaiannya serba hijau, pedang yang bergagang indah tergantung di belakang punggung. Inilah Puteri Mahkota Tayami. Kwee Seng juga dapat menduganya karena seringkali ia mendengar nama puteri ini disanjung-sanjung orang dalam perjalanannya di daerah Khitan.

Pada saat itu, enam orang penunggang kuda masing-masing, berdiri sejajar, agaknya menanti tanda untuk segera dimulainya berlomba lari cepat. Kwee Seng melihat betapa di sebelah depan dipasangi tombak berjajar-jajar, antara dua meter tingginya dan ada empat meter lebarnya. Tombak-tombak itu memenuhi jalan dan dipasang amat kuatnya, gagangnya menancap pada tanah dan ujungnya yang runcing di atas. Tak jauh dari situ, di sebelah kiri jalan berdiri belasan orang barisan panah yang siap dengan busur dan anak panah. Kwee Seng tertarik dan bertanya kepada penonton di sebelahnya, seorang Han yang agaknya adalah seorang dari pada para pedagang perantau.

“Inilah saat penentuan bagi para pemenang,” orang itu menerangkan. “Enam orang itu adalah orang-orang pilihan yang telah keluar sebagai pemenang beberapa perlombaan. Kini diadakan perlombaan untuk memilih yang paling gagah di antara mereka. Pertandingan kali ini tentu seru, karena Salinga ikut. Tuh dia yang berbaju kuning!”

Kwee Seng melihat bahwa pemuda yang berbaju kuning adalah seorang muda yang memang tampan dan gagah, kudanya berbulu putih dan ia berada di tempat paling kiri. Lima orang pemuda lain juga gagah-gagah, bertubuh kekar dan sinar matanya penuh semangat.

“Perlombaan apa saja yang akan dipertandingkan?” Kwee Seng bertanya gembira.

Orang itu menengok. Melihat orang yang bertanya, biar pun dari suaranya jelas seorang Han, namun pakaiannya yang compang-camping dan sikapnya yang bebas lepas dan tertawa-tawa menunjukkan bahwa orang ini tak beres otaknya, maka ia lalu menjawab singkat, “Kau lihat saja, tak usah banyak tanya!”

Kwee Seng membelalakkan mata, mengangkat pundak dan tersenyum lebar. Manusia di mana-mana masih belum dapat melempar wataknya yang buruk, yaitu menilai seseorang dari pakaiannya. Makin indah pakaianmu, makin dihormat oranglah kamu! Akan tetapi Kwee Seng tidak peduli dan melongok-longok, mendesak di antara banyak orang untuk dapat menonton lebih jelas.

Sementara itu, di panggung Bayisan memohon kepada Raja untuk mengikuti pertandingan ini.

“Ahh,” jawab Raja Kulu-khan. “Siapa yang tidak tahu bahwa kau adalah Panglima Muda dan memiliki kepandaian tinggi? Apa perlunya kau hendak ikut pertandingan?”

Bayisan tersenyum. “Hamba rasa amatlah perlu, untuk memberi contoh dan menambah kegembiraan para peserta, dan hal ini dapat menarik perhatian para muda kita agar mereka berlatih lebih giat lagi. Bukankah dengan cara ini, Paduka kelak akan mendapatkan banyak pemuda-pemuda perkasa?”

Raja Kulu-khan tersenyum. Di dalam hatinya ia maklum bahwa panglima mudanya ini juga mencari kesempatan ‘jual muka’ memamerkan kepandaian. Akan tetapi karena alasan tadi ada benarnya pula, maka ia mengangguk memberi ijin.

“Heh-heh-heh, Bayisan, hati-hati kalau kau sampai kalah, bisa jatuh nama!” Panglima Tua Kalisani menegur Bayisan dengan suaranya yang penuh kelakar. Memang Kalisani terkenal sebagai seorang yang suka bergurau dan selalu berwatak gembira. Dia juga terhitung masih sanak dengan keluarga raja.

Bayisan hanya tersenyum mengejek, lalu mengerling ke arah Puteri Tayami sambil berkata, “Mana mungkin aku kalah dengan segala macam perwira seperti mereka itu?” setelah berkata demikian, ia memberi hormat kepada raja dan meloncat turun dari panggung. Ucapan ini secara langsung merupakan ejekan terhadap diri Salinga, pemuda pilihan hati Tayami. Hal ini tentu saja dimengerti oleh Tayami sendiri, mau pun Raja Kulu- khan dan juga Kalisani.

Ketika Kwee Seng melihat Bayisan datang menunggang seekor kuda merah, ikut berjajar sebaris dengan enam orang penunggang kuda, tangannya gatal-gatal untuk segera menerjang orang yang telah berbuat curang terhadapnya itu. Akan tetapi ia menahan nafsu hatinya karena maklum bahwa perbuatannya itu tentu akan menimbukan kegemparan. Kalau ia kemudian dikepung oleh semua orang Khitan, bukankah sulit untuk meloloskan diri? Lebih baik ia bersabar dan menanti sampai terbuka kesempatan, turun tangan di waktu malam sunyi.

Raja memberi tanda dengan tangan diangkat ke atas, terompet tanduk menjangan dibunyikan orang dan perlombaan ketangkasan dimulai. Peserta paling kanan dengan kuda hitamnya, seorang pemuda yang tubuhnya kokoh kuat seperti batu karang, berteriak keras. Kudanya dicambuk dan larilah binatang ini cepat laksana terbang. Debu mengepul tinggi dan para penonton mengulur leher mengikuti larinya kuda yang makin mendekati barisan tombak yang menghalang jalan. Kwee Seng sudah tidak tampak lagi di antara penonton, karena ia sudah enak-enak duduk di atas cabang pohon, tertawa-tawa dan dapat menonton dengan enak.

Setelah tiba dekat barisan tombak, pemuda berkuda hitam itu berseru keras dan kudanya melompat ke atas. Hebat lompatan kuda ini. Keempat kakinya hampir menyentuh ujung tombak. Ketangkasan yang luar biasa, akan tetapi juga permainan yang amat berbahaya. Sebuah saja dari keempat kaki kuda itu menyentuh mata tombak, tentu tubuh kuda akan terguling dan jatuh di ‘sate’ ujung banyak tombak, mungkin berikut penunggangnya! Namun kuda hitam bersama penunggangnya amatlah tangkas, secepat kilat kuda itu sudah mewakili barisan tombak dan turun dengan selamat, menimbulkan debu mengebul tinggi dan sorak-sorai tepuk tangan gemuruh dari para penonton. Raja mengangguk puas. Makin banyak ia mempunyai orang-orang setangkas itu, makin kuatlah Kerajaan Khitan.

Akan tetapi lomba ketangkasan itu belum selesai. Ujian bukan hanya sampai pada melompati barisan mata tombak. Ini masih belum berbahaya! Ujian kedua lebih hebat lagi, yaitu melalui barisan anak panah. Penunggang kuda hitam sudah melarikan kudanya cepat-cepat, kembali lagi setelah tiba di ujung sana untuk memasuki lingkungan barisan anak panah yang sudah siap sedia.

Begitu kuda itu memasuki lingkungan itu, busur-busur di pentang dan melesatlah puluhan batang anak panah menyambar ke arah tubuh si Penunggang Kuda. Semua pelepas anak panah adalah ahli-ahli pilihan sehingga tidak sebatang pun anak panah yang akan mengenai tubuh kuda, melainkan menyambar tepat di atas tubuh kuda, lewat dengan cepat, dekat sekali dengan punggung, bahkan ada yang menyerempet pelana di punggung kuda.

Akan tetapi Si Penunggang Kuda yang cekatan itu tahu-tahu telah lenyap dari atas kuda. Demikian cepatnya gerakan itu sehingga ia seolah-olah menghilang, padahal ketika anak-anak panah menyambar, penunggang ini sudah menjatuhkan diri ke kiri, terus tubuhnya menggantung ke bawah perut kuda, hanya kedua kakinya yang menahan tubuh, kedua kaki yang dikaitkan kepada pelana kuda itu.

Kuda lari terus, penunggangnya bergantung di bawahnya, sungguh ketangkasan yang mengagumkan! Tepuk tangan dan sorak-sorai menyambut ketangkasan ini setelah kuda beserta penunggangnya selamat melewati barisan anak panah. Dengan gerakan indah si Penunggang mengayun tubuhnya dan dari sebelah kanan perut kuda ia telah duduk kembali dengan tegaknya!

Ujian ke tiga adalah ujian ketangkasan memanah. Sambil menunggang kuda yang mengitari lapangan, Si Penunggang Kuda hitam itu mementang busur dan berturut-turut ia melepas anak panah yang menancap tepat pada dada dan perut boneka besar berupa manusia yang menjadi sasaran dan ditempatkan di tengah lapangan. Tujuh kali si Penunggang Kuda hitam itu melepas anak panahnya, dan lima di antaranya menancap tepat di tengah dada, yang dua agak meleset, menancap di pundak dan paha. Namun ini saja sudah cukup menyatakan bahwa ia lulus! Dengan bangga si Penunggang Kuda hitam itu lalu menjalankan kudanya ke bawah panggung, melompat turun dan berlutut ke arah raja, kemudian menuntun kudanya berdiri di pinggir ikut menonton peserta-peserta berikutnya.

Peserta ke dua mengalami saat naas baginya. Ketika kudanya melompati barisan tombak, di bagian terakhir kudanya terjungkal jatuh ke bawah. Perut kuda tertembus tombak-tombak itu dan penunggangnya pun mengalami nasib yang sama, perut dan dadanya tembus oleh tombak. Penonton berseru kengerian dan beberapa orang penjaga segera lari mendatangi untuk membawa pergi mayat kuda dan orang. Korban mulai jatuh dalam permainan berbahaya ini, dan penonton mulai tegang!

Peserta ke tiga selamat melampaui barisan tombak, dan ketika melampaui barisan anak panah, kurang cepat ia bersembunyi sehingga pundak dan pahanya terserempet anak panah. Ketika ia memanah orang-orangan dalam keadaan luka ringan ini, di antara tujuh batang anak panahnya, hanya dua yang mengenai sasaran, maka tentu saja ia pun dinyatakan gagal!

Peserta ke empat hanya berhasil melampaui barisan tombak. Ia terjungkal roboh dengan anak panah menancap di perut dan lehernya! Kembali ada korban yang kehilangan nyawanya dalam lomba ketangkasan ini. Namun para penonton tidak lagi menjadi ngeri. Bahkan menjadi makin tegang, karena sekarang ternyata oleh mereka betapa sukarnya olah ketangkasan yang diperlombakan ini.

Peserta ke lima mukanya sudah pucat melihat betapa rekan-rekannya gagal, bahkan ada yang tewas. Semua orang memandang penuh ketegangan ketika pemuda itu membentak kudanya agar mulai lari membalap. Peserta ke lima ini tubuhnya jangkung kurus namun bahunya bidang dan lengannya kelihatan kuat. Ia berhasil melompati barisan tombak, berhasil pula melewati barisan anak panah dengan cara sembunyi di bawah perut kuda seperti dilakukan peserta pertama, akan tetapi ketika ia memperlihatkan keahliannya memanah, di antara tujuh batang anak panahnya hanya dua yang menancap pada perut sasaran, yang lima meleset semua. Kegagalan inilah yang menyebabkan ia dianggap tidak lulus, tidak diterima menjadi calon panglima dan hanya dinaikkan pangkatnya satu tingkat saja. Namun ia masih beruntung kalau dibandingkan dengan rekan- rekannya yang tewas atau terluka parah.

Tibalah kini giliran Salinga. Begitu pemuda berkuda putih ini maju, para penonton bertepuk tangan. Pemuda ini amatlah tampan dan sikapnya tenang, jelas bahwa orangnya rendah hati dan tidak sombong, namun pandang matanya yang tajam itu membayangkan semangat dan keberanian yang luar biasa. Para penonton yang sudah tahu bahwa pemuda ini adalah pilihan Puteri Mahkota, tentu saja simpati dan mengharapkan pemuda ini akan berhasil baik dan lulus. Sebaliknya, Puteri Tayami biar pun kelihatan tenang-tenang saja, diam-diam ia merasa khawatir kalau-kalau kekasihnya takkan berhasil. Perlombaan atau ujian sehebat ini hanya diadakan beberapa tahun sekali kalau Raja berkenan hendak memilih calon-calon panglima yang harus benar-benar gagah perkasa.

Seperti juga yang lain-lain. Salinga membawa kudanya ke depan panggung, lalu ia turun dan memberi hormat sambil berlutut ke arah raja. Kemudian matanya mengerling sekilas ke arah kekasihnya. Alangkah besar hatinya ketika ia menerima kiriman senyum dari Tayami, senyum yang menimbulkan keyakinan di dalam hatinya bahwa demi untuk puteri pujaannya, ia harus dan akan berhasil!

Pada saat ia bangun kembali dan melompat ke atas punggung kudanya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dan tahu-tahu seekor kuda berbulu merah telah berada di dekatnya. Salinga tercengang ketika mengenal penunggangnya yang bukan lain adalah Panglima Muda Bayisan! Segera ia menjura di atas kuda putihnya dan berkata.

“Salam, Tuan Panglima!”

“Salam, perwira Salinga yang gagah!” balas Bayisan.

“Ada pesan apa gerangan yang hendak Tuan sampaikan kepada saya?”

“Tidak ada apa-apa Salinga. Hanya, melihat bahwa peserta terakhir tinggal engkau seorang dan aku yang hendak mencoba-coba sukarnya ujian, sebaiknya kita lakukan itu bersama. Bukankah hal itu akan menambah kegembiraan dan akan membesarkan hati kita, juga menggembirakan para penonton?”

Tentu saja Salinga maklum bahwa di antara para saingannya dalam merebut hati tuan puteri, Bayisan ini merupakan saingan terberat dan juga paling berbahaya. Sudah sering kali kekasihnya, Puteri Tayami, memperingatkan agar ia berhati-hati terhadap Bayisan. Ia tentu saja dapat menduga bahwa panglima muda yang sebetulnya juga pangeran ini mempunyai maksud tersembunyi dalam mengajak ia melakukan ujian bersama.

Terang bahwa Bayisan takkan mungkin berani mencelakainya di depan begitu banyak saksi, di antaranya raja dan Puteri Mahkota sendiri. Salinga menaruh curiga dan tidak suka, akan tetapi betapa pun juga, tak dapat ia menolak, tak dapat ia berlaku tidak hormat kepada Bayisan. Pertama, Bayisan adalah panglima muda, jadi masih termasuk atasannya biar pun ia dimasukkan ke dalam pasukan yang langsung dikepalai panglima tua. Ke dua, Bayisan adalah putera raja sendiri, biar pun hanya putera selir yang tidak begitu harum namanya karena menjadi selir raja atas kehendak suaminya yang kemudian di hukum mati.

“Tuan Panglima amat gagah perkasa, tentu saja bagi Tuan ujian ini hanya sebagai main-main belaka, berbeda dengan saya yang harus mempertaruhkan nyawa untuk dapat lulus,” kata Salinga merendah.

Mendengar ini Bayisan tertawa bergelak dan sengaja berkata dengan suara keras agar terdengar orang lain, terutama tentu saja, agar terdengar Puteri Tayami. “Ha-ha-ha, mempertaruhkan nyawa untuk permainan macam itu saja? Ha-ha, kau berkelakar, Salinga! Siapa yang tidak tahu akan ketangkasanmu? Hayolah, jangan membuang waktu lagi. Kuda kita sama-sama baik, usiamu lebih muda dari pada usiaku, tentu kau lebih tangkas. Ha-ha!”

Bayisan lalu mencambuk kudanya yang melesat maju. Merah muka Salinga karena ia maklum apa yang dimaksudkan oleh Bayisan tadi. Akan tetapi ketika ia mengerling ke arah panggung, ia melihat Tayami kembali tersenyum kepadanya, senyum yang mengatakan berpihak kepadanya. Ia pun tersenyum pula dan mencambuk kuda putihnya yang terbang maju ke depan.

Penonton bersorak riuh rendah. Hebat memang melihat kedua orang gagah itu. Kuda yang mereka tunggangi juga merupakan kuda pilihan. Kuda putih tunggangan Salinga adalah kuda pemberian Puteri Tayami, tentu saja merupakan kuda pilihan dari kandang istana. Ada pun kuda merah tunggangan Bayisan juga datang dari kandang istana, karena kuda ini hadiah dari raja sendiri ketika ia berhasil menumpas pasukan musuh beberapa hari yang lalu. Banyak di antara penonton hanya mendengar kegagahan panglima muda dari cerita para anggota pasukan belaka, jarang ada yang pernah menyaksikan sendiri, maka kesempatan yang amat baik tentu saja menggembirakan hati mereka.

Sementara itu, Kwee Seng yang ikut merasa tegang dan gembira, tiba-tiba terkejut bukan main ketika ia mendengar suara berkeresekan di atasnya. Ketika mengangkat mukanya, ia melihat seorang kakek tua sudah duduk di atas cabang, hanya dua meter di sebelah atasnya! Inilah yang membuat ia merasa kaget bukan main. Biar pun ia tadi memperhatikan ketegangan di bawah, namun bagaimana ia tidak dapat mendengar ada orang yang tahu-tahu berada di atasnya?

Ia memperhatikan kakek itu. Kakek yang aneh sekali. Pendek, luar biasa pendeknya paling-paling satu meter tingginya. Tubuhnya, kaki tangannya, kecil seperti kaki tangan anak berusia sepuluh tahun, akan tetapi kepalanya sebesar kepala orang dewasa, bahkan lebih besar lagi tampaknya karena rambutnya yang penuh uban itu riap-riapan. Kumis jenggotnya memenuhi separuh muka, alisnya juga panjang sampai ke pipi, bibir yang merah tampak membayang di antara kumis jenggot, tersenyum-tersenyum lebar dan matanya yang kecil itu bersinar gembira seperti anak yang nakal. Di pundaknya sebelah kanan bertengger seekor burung, burung hantu atau burung malam yang matanya seperti mata kucing, kelihatan cerdik licik dan menakutkan!

Sekali pandang saja maklumlah Kwee Seng bahwa kakek pendek aneh yang duduk di sebelah atasnya itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia bersikap hati-hati dan waspada. Ia tidak pernah mendengar di dunia kang-ouw ada tokoh macam ini, maka ia tidak tahu dari golongan mana kakek ini dan bagaimana pula sepak terjang serta wataknya.

Karena sejak tadi ia sendiri tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya, bahkan ketika naik ke atas pohon itu pun ia mendaki seperti orang biasa, maka Kwee Seng merasa yakin bahwa tak seorang pun dapat menduga ia berkepandaian, juga kakek itu tentu tidak. Maka ia segera pura-pura tidak melihatnya, atau tidak mempedulikannya, tertawa-tawa dan bertepuk-tepuk tangan melanjutkan keasyikannya tadi menonton perlombaan.

Tangkas sekali Salinga dengan kuda putihnya. Sambil mengeluarkan teriakan nyaring, Salinga mencambuk dan kudanya melompat ke atas melewati barisan tombak. Rambut dan ujung baju Salinga berkibar-kibar bersama ekor kuda ketika mereka melayang di atas barisan tombak, selamat sampai di ujung dan turun kembali ke atas tanah.

Akan tetapi lebih hebat sorak-sorai menyambut lompatan kuda merah yang ditunggangi Bayisan. Panglima muda ini sengaja melompat tepat di belakang Salinga dan begitu kuda merahnya melompat, diam-diam Bayisan mengerahkan lweekang dan ginkang-nya. Ia menjepit perut kudanya dan menambah tenaga loncatan kuda dengan loncatannya sendiri sehingga dia bersama kudanya melayang jauh lebih tinggi dari pada Salinga!

Para penonton dengan jelas melihat betapa kuda merah itu semeter lebih berada di atas kuda putih dan melayang lebih cepat. Kalau saja Bayisan menghendaki, bisa saja ia menurunkan kuda merahnya tepat di atas Salinga sehingga pemuda itu dengan kuda putihnya akan celaka. Kalau hal ini terjadi, tentu merupakan kecelakaan yang tidak disengaja. Namun Bayisan tetap khawatir kalau-kalau Raja dan Tayami mengetahui rahasianya. Selagi para penonton menahan napas dan berseru kaget melihat kuda merah meluncur di atas kuda putih, tiba-tiba Bayisan berseru keras sekali dan tahu-tahu kuda merahnya itu berjungkir balik membuat salto di udara dan turun beberapa meter di sebelah depan kuda putih!

Gemuruh sorak dan tepuk tangan menyambut pertunjukan yang hebat ini. Bahkan Kwee Seng sendiri yang ikut bertepuk tangan, diam-diam terkejut dan kagum menyaksikan kelihaian Bayisan. Ia tahu bagaimana caranya Bayisan melakukan semua itu, dan inilah pula yang menyebabkan ia kagum karena tokoh Khitan itu ternyata amat maju dalam lweekang dan ginkang-nya.

Kalau semua orang bertepuk dan bersorak, adalah kakek di atas Kwee Seng itu bersungut-sungut, “Ah, bau…! Bau…!”

Kwee Seng mendengar ini akan tetapi pura-pura tidak dengar dan tidak tahu, karena sebenarnya ia pun tidak mengerti mengapa kakek itu mengatakan bau. Bau apa sih?

Dengan lagak dibuat-buat Bayisan sengaja minggirkan kudanya dan memberi isyarat dengan tangan agar Salinga melarikan kudanya terlebih dahulu memasuki barisan anak panah. Para penonton sudah diam semua karena kini mereka mulai merasa tegang. Bagaimanakah gerangan cara kedua orang gagah ini menghadapi hujan anak panah? Apakah juga seperti yang dilakukan peserta pertama tadi bersembunyi di bawah perut kuda?

Cara seperti ini memang amat populer di antara orang-orang Khitan. Boleh dibilang setiap prajurit mempelajarinya, walau pun tidak banyak berhasil baik karena cara ini hanya dapat menyelamatkan diri dalam keadaan darurat saja. Dalam keadaan perang sungguh-sungguh, cara ini malah kurang tepat, karena biar pun tubuh sendiri tidak terkena anak panah, kalau kudanya yang terkena dan roboh, bukankah penunggangnya akan tergencet dan memudahkan musuh untuk membunuhnya? Betapa pun juga, cara lain tidak ada dan kini menyaksikan dua orang muda itu memasuki barisan panah, tentu saja para penonton, termasuk Raja sendiri dan juga Puteri Mahkota memandang penuh perhatian dan ketegangan.

Ketika kudanya telah memasuki barisan anak panah, begitu terdengar suara menjepret dan anak panah menyambar-nyambar, sekali menghentakkan tubuhnya, Salinga telah meloncat dan berdiri di atas punggung kudanya, berdiri sambil menekuk lutut membuat tubuhnya sependek mungkin, hampir berjongkok. Dengan begini, anak panah menyambar ke arahnya ke seluruh bagian tubuh dari kepala sampai ke kaki! Para pemanah itu memang diperintahkan untuk memanah si Penunggang Kuda dan sama sekali tidak boleh memanah kudanya.

Begitu puluhan batang anak panah itu sudah menyambar dekat, tiba-tiba Salinga berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas dalam keadaan masih seperti berjongkok. Kudanya lari ke depan, akan tetapi karena Salinga juga mencelat ke depan, ketika ia turun lagi, tepat kakinya tiba di atas pelana kudanya. Kembali anak panah menyambar, akan tetapi kembali tubuh Salinga mencelat ke atas dan demikianlah secara bertubi-tubi anak panah itu dapat dielakkan sambil meloncat ke atas dengan gerakan yang tangkas sekali!

Sorak-sorai menyambut cara menghindarkan anak-anak panah ini, cara yang dianggap lebih tangkas dan lebih berani dari pada cara bersembunyi di perut kuda, akan tetapi sudah tentu saja merupakan cara yang lebih sukar, yang hanya dapat dipelajari orang-orang pandai.

Tiba-tiba sorak-sorai lebih menggegap-gempita ketika Bayisan dengan tenangnya memasuki barisan anak panah bersama kudanya yang ia jalankan seenaknya saja. Anak panah menyambar bagaikan hujan ke arahnya, namun panglima muda ini sama sekali tidak membuat gerakan mengelak. Semua orang termasuk Raja kaget karena bagaimana orang itu begitu enak-enakan sedangkan puluhan anak panah menyambar dengan cepat ke arahnya?

Akan tetapi tiba-tiba Bayisan menggunakan cambuk di tangan kanan yang diputar-putar cepat sekali, menangkis semua anak panah yang runtuh ke kanan kiri begitu terkena sambaran cambuk yang diputar.

Tangan kirinya juga ikut membantu, begitu lengan baju yang kiri menyampok, anak panah menyeleweng atau terpental. Kembali Kwee Seng diam-diam memuji. Kiranya Bayisan sudah banyak maju kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

“Ah, bau…! Tengik dan kecut! Jembel busuk tak pernah mandi!” terdengar makian perlahan di sebelah atas Kwee Seng.

Mendengar makian ini, Kwee Seng mengerutkan kening. Kurang ajar, pikirnya. Kiranya yang dimaki bau tengik dan kecut adalah dia! Dengan hati mendongkol Kwee Seng berdongak, memandang kakek itu yang juga memandang kepadanya sambil menutup lubang hidung dengan telunjuk dan ibu jari yang menjepit hidung.

“Heh-heh, kakek cebol. Bau tengik dan kecut itu datangnya dari jenggot dan kumismu. Coba kau cukur bersih cambang baukmu, tentu lenyap bau tak enak itu, heh-heh-heh!”

Mendengar ini, kakek itu melepaskan dekapan pada hidungnya, lalu tangannya menyambar jenggot dan kumisnya yang panjang, dibawa dekat-dekat ke ujung hidung lalu ia mendengus-dengus dan mencium-cium. Mendadak ia berbangkis dua kali.

“Haching! Haching! Apek… apek! Wah, jembel busuk, kau berani mempermainkan aku, hah? Burung setan, kau wakili aku pancal hidungnya sampai keluar kecap dan tampar kedua pipinya sampai bengkak-bengkak!” kakek itu berkata perlahan.

Kwee Seng memang sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan karena orang takkan dapat menduga apa yang akan dilakukan seorang kakek aneh seperti itu. Akan tetapi ia kaget juga ketika tiba-tiba sesosok sinar abu-abu menyambar ke arah mukanya. Kiranya burung hantu itu telah menyerang dengan gerakan terbang yang sama sekali tidak menimbulkan bunyi, tahu-tahu burung itu telah menggunakan paruhnya untuk mematuk hidungnya, disusul tamparan dengan kedua sayap burung itu ke arah kedua pipinya! Serangan yang hebat sekali, lebih hebat dari pada sambaran anak-anak panah yang betapa laju pun…..

“Plak-plak-plak!!!” beberapa helai bulu burung rontok.

“Huuuk… huuuuk…!” dan burung itu sendiri mengeluarkan suara, lalu terbang ke atas dan lenyap ke atas pohon, mengeluh kesakitan.

Hidung Kwee Seng sama sekali tidak mengeluarkan kecap dan sepasang pipinya tidak bengkak-bengkak seperti yang diharapkan kakek cebol itu. Kwee Seng masih duduk enak-enakan dan tidak pedulikan lagi kakek di atasnya, melainkan menonton kelanjutan perlombaan di bawah. Tadi ia menggunakan sentilan dan tamparan mengusir burung tanpa membunuhnya karena ia tahu bahwa burung itu tidak bersalah apa-apa, hanya memenuhi perintah si Kakek Cebol.

Saat itu Salinga sudah melarikan kuda putihnya mengelilingi lapangan untuk memperlihatkan ketangkasannya melepas anak panah. Pemuda ini biar pun tidak selihai Bayisan namun ketangkasannya sudah cukup untuk menjadi seorang perwira jagoan di dalam barisan Khitan. Gendewanya yang besar dan berat mengeluarkan suara menjepret, hanya dua kali dan tahu-tahu tujuh batang anak panah telah menancap, empat batang anak panah yang kesemuanya tepat mengenai sasaran di bagian yang penting dan mematikan. Tentu saja para penonton, termasuk Puteri Tayami sendiri, menyambut ketangkasan ini dengan tepuk sorak gemuruh, karena jelas bahwa Salinga telah lulus ujian dan patut menjadi calon panglima!

Akan tetapi, apa yang dilihat penonton selanjutnya benar-benar membuat penonton besorak lebih gemuruh lagi, karena pertunjukan Bayisan benar-benar mengagumkan mereka. Seperti juga Salinga, panglima muda ini melarikan kuda merahnya amat cepat mengelilingi lapangan, demikian cepatnya kuda merah itu lari sehingga merupakan bayangan merah yang bagaikan terbang mengelilingi sasaran.

Ketika larinya kuda tiba di depan sasaran, tiba-tiba tampak sinar berkilauan menyambar dari atas kuda menuju sasaran, dan…. tiga belas batang hui-to (pisau terbang) telah menancap di tiga belas bagian tubuh yang mematikan yaitu di antara kedua alis, ditenggorokan, di kedua pundak, di kanan kiri dada, di pusar, di kanan kiri lambung, dikedua paha dan kedua lutut!. Tentu saja ini merupakan demonstrasi ilmu melempar senjata yang amat hebat, yang belum pernah disaksikan oleh mereka semua.

Memang sebenarnya Bayisan merahasiakan kepandaiannya ini, akan tetapi karena ingin mengalahkan Salinga dan memamerkan kepandaiannya di depan Tayami, kini terpaksa ia perlihatkan.

“Bau… bau…! He, jembel muda yang tengik. Kau berada di bawahku, baumu naik memenuhi hidungku. Hayo kau bersamaku memperlihatkan kepada monyet-monyet itu bahwa tidak ada artinya semua pertunjukan ini. Akan tetapi karena kau bau sekali, kau harus berada di atasku, aku menjadi kuda, kau boleh menunggang punggungku!”

Kwee Seng berdongak, ia terkekeh geli. Kakek itu tidak tampak lagi mukanya, ditutup baju yang ditariknya ke atas, kemudian tubuh kakek itu melayang jauh ke bawah. Ketika sampai di depannya, kakek itu menyambar tangannya untuk ditarik turun bersama ke bawah. Kwee Seng terkejut, namun ia cepat mengerahkan ginkang- nya yang ikut melayang ke bawah.

Kwee Seng merasa gembira karena maklum bahwa kakek ini memang hendak main-main dan cari perkara. Begitu melihat kakek itu tiba di tanah dalam keadaan merangkak, yaitu kedua tangan menjadi kaki depan seekor keledai kecil sekali, ia tidak merasa sungkan-sungkan lagi dan melayani kehendak si Kakek. Cepat ia melompat dan tepat tiba di punggung kakek itu dengan ringan!

Begitu merasa tubuh jembel muda itu tiba-tiba di punggungnya, si Kakek memperdengarkan suara meringkik mirip kuda, lalu ia ‘lari’ dengan empat kakinya, lari congklang ke tengah lapangan! Kwee Seng terkekeh-kekeh, rambutnya riap-riapan. Ia menoleh ke kanan kiri dengan lagak congkak, meniru lagak Bayisan dan lain-lain peserta tadi. Seolah-olah ia juga seorang peserta yang gagah perkasa menunggang kuda yang tangkas.

Ributlah para penonton. Terdengar gelak tawa di sana-sini, lalu pecah terbahak-bahak. Lucu sekali memang. Penunggangnya seorang jembel berpakaian compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan bertelanjang kaki, ‘kudanya’ mirip seekor anjing buduk yang pincang kakinya.

Para prajurit penjaga menjadi marah dan hendak menghalangi si Gila itu membikin kacau, akan tetapi raja mengangkat tangan mencegah. Sambil tertawa-tawa Raja Kulu-khan berkata, “Biarkan! Biarkan! Bukankah ini merupakan pertunjukan lawak yang menarik?”

Diam-diam si Kakek aneh itu kagum ketika tadi merasa tubuh jembel muda itu tiba di punggungnya seperti sehelai daun kering. Rasa kagum yang disusul rasa penasaran, karena biar pun ia sudah tua bangka, namun ia adalah seorang yang memiliki watak yang tidak mau kalah oleh siapa pun juga! Maka kini ia lari mencongklang ke arah barisan tombak. Kemudian sekali ia menggerakkan kaki tangannya, tubuhnya mencelat ke atas dan hinggap di atas tombak! Di atas ujung mata tombak yang runcing, yaitu empat buah tombak pertama. Tangan dan kakinya menekan ujung itu seperti seekor burung hinggap di atas cabang! Kwee Seng terkejut sekali dan diam-diam ia merasa amat kagum.

Gelak tawa dari para penonton seketika terhenti, dan kini para penonton melongok terheran-heran. Senyum Raja Kulu-khan sendiri terhenti di tengah-tengah. Puteri Tayami bangkit berdiri, dan para penglima, termasuk Kalisani dan Bayisan berubah air mukanya. Ini bukan pelawak-pelawak gila lagi, melainkan pertunjukan yang hebat! Bayisan segera lari ke arah barisan panah dan memberi perintah dengan suara perlahan, kemudian kembali lagi di tempat semula sambil memandang penuh perhatian.

Tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya, kakek yang menjadi kuda itu melangkahkan ‘empat kakinya’ setapak demi setapak melalui ujung mata tombak yang berjajar-jajar itu, sedangkan Kwee Seng enak-enak duduk di atas punggungnya. Karena Kwee Seng juga merasa panas perutnya melihat kakek ini seakan-akan memamerkan kepandaiannya, maka diam-diam Kwee Seng tidak menggunakan lagi ginkang-nya, membiarkan tubuhnya memberat dan menindih kakek itu.

Akan tetapi kakek itu cerdik juga karena sekarang ia cepat melompat-lompat di atas mata tombak, tidak menekankan tangan kaki lagi seperti tadi melainkan memegang dengan tangan lalu melompat sehingga akhirnya ia sampai di baris terakhir lalu melompat ke bawah.

Para penonton sudah sadar kembali dari kaget dan heran, maka kini suara sorak-sorai mengalahkan yang tadi karena sorakan itu diseling tawa terbahak saking kagum dan lucu. Akan tetapi, suara ketawa mereka itu hanya sebentar karena ‘orang gila’ bersama ‘kudanya’ yang aneh sekali itu telah mendekati barisan anak panah. Apakah mereka benar-benar hendak memasuki barisan itu? Mencari mampus?

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo