August 1, 2017

Suling Emas (Part 4)

 

Kwee Seng tertawa, terseret oleh kenakalan dan kegembiraan gadis itu. “Siapa ingin melihat?” serunya sambil membalikkan tubuh berdiri membelakangi sungai.

Ia hanya mendengar gerakan gadis itu, suara pakaian dilepas, kemudian mendengar gadis itu turun ke dalam air. Semua yang didengarnya ini menimbulkan bayangan yang amat menggodanya sehingga ia meramkan kedua matanya seakan-akan hendak mengusir bayangan itu dari depan mata.

“Sudah, Kwee-koko. Kau sekarang boleh saja melihat ke sini, aku sudah aman tertutup air. Ah, enak benar, Koko. Kau mandilah, segar bukan main.”

Kwee Seng membalikkan tubuhnya dan ia terpaku di tempat ia berdiri. Kedua kakinya menggigil dan matanya berkunang-kunang. “Aduh, Lu Sian! Apakah benar-benar kau sengaja ingin menggodaku?” demikian keluhnya dalam hati.

Ketika ia menengok, ia melihat pakaian gadis itu bertumpuk di pinggir sungai, di atas sebuah batu besar, semua pakaian berikut sepatu dan pita rambut. Kemudian, apa yang dilihatnya di tengah sungai itu benar- benar membuat ia berkunang dan lemas. Memang gadis itu merendamkan tubuhnya di dalam air sehingga yang tampak dari luar air hanya leher dan kepalanya. Akan tetapi agaknya Lu Sian lupa bahwa air itu amat jernih! Ataukah memang sengaja?

Air itu demikian jernihnya sehingga batu-batu di dasarnya tampak. Apalagi tubuh yang duduk di atasnya! Pemandangan aneh tampak oleh Kwee Seng. Tubuh padat berisi, sempurna lekuk-lekungnya, bergoyang- goyang bayangannya oleh air. Cepat-cepat ia menundukkan mukanya. “Kuatkan hatimu! Ah, kuatkan hatimu sebelum kau kemasukan iblis!” Demikianlah dengan kaki gemetar Kwee Seng berdiri menundukkan mukanya, mengerahkan tenaga batinnya untuk melawan dorongan nafsu.

“Moi-moi….” Ia berhenti karena suaranya kedengaran aneh. “Hemm…? Kau mau bilang apa, Koko?”
Kwee Seng menarik napas panjang dan mulai tenanglah gelora isi dadanya. “Sian-moi, aku tidak mandi. Kau mandilah yang puas, biar kunanti kau di sana. Aku khawatir kalau-kalau kuda kita dicuri orang.”

Tanpa menanti jawaban Kwee Seng lalu membalikkan tubuhnya dan lari ke tempat semula, di mana ia menjatuhkan diri duduk termenung memikirkan Lu Sian. Gadis yang aneh! Ia harus mengaku bahwa hatinya sudah jatuh betul-betul. Ia memuja Lu Sian, memuja kecantikannya. Padahal ia maklum sedalam-dalamnya bahwa watak gadis itu sama sekali tidak cocok dengan wataknya, bahwa kalau ia mempunyai isteri seperti Lu Sian, hidupnya akan banyak menderita. “Aku harus dapat menahan diri, semua ini godaan iblis,” pikirnya. “Aku sejak semula tidak menghendakinya sebagai isteri. Hanya karena sudah berjanji dengan Pat-jiu Sin-ong untuk menurunkan ilmu yang mengalahkannya, maka sekarang mengadakan perjalanan bersama.”

Ah, mengapa ia menjanjikan hal itu? Ia kena diakali Pat-jiu Sin-ong yang tentu saja ingin menguras ilmunya. Kalau sudah menurunkan ilmu, aku harus cepat-cepat menjauhkan diri dari Lu Sian, pikirnya. Akan tetapi, teringat akan perbuatannya mencuri ciuman tadi, kembali gelora di dadanya membuat Kwee Seng meramkan mata. Gila! Kau sudah gila! Tiba-tiba Kwee Seng yang masih meram itu menampar kepalanya sendiri!

“Heee! Apakah kau sudah gila?!” teguran ini membuat Kwee Seng terkejut dan meloncat bangun berdiri!

Kiranya Lu Sian sudah berdiri di depannya. Biar pun cuaca sudah mulai gelap, masih tampak gadis itu segar dan berseri-seri, makin cantik setelah mandi. Gadis itu tertawa geli. “Kwee-koko, kukira kau tadi menjadi gila. Apa-apaan itu tadi kau menampar kepalamu sendiri?”

“Aku…? Ah… kau tidak melihat tadi? Banyak nyamuk di hutan ini. Mengiang-ngiang di atas telinga, kucoba menepuk mampus nyamuk-nyamuk itu.”

Baiknya Lu Sian percaya alasan ini. “Kwee-koko, sekarang aku hendak pergi. Kau menanti di sini saja, ya?” “Kemana, Sian-moi?”
“Ke benteng itu. Meyelidik!”

“Ah, apakah perlunya? Jangan mencari perkara….”

“Sudahlah! Kau seperti nenek bawel saja. Kalau tidak suka, kau tidak usah ikut. Aku tahu kau tidak suka, maka aku akan pergi sendiri. Biarlah kau menanti di situ bersama… eh, nyamuk-nyamuk itu. Aku pergi dulu, Koko!” Setelah berkata demikian, Lu Sian mempergunakan kepandaiannya meloncat dan lari cepat, sebentar saja lenyap dari situ.

Kwee Seng mengerutkan keningnya. Gadis aneh. Ia takkan berbahagia hidup di samping gadis itu sebagai suaminya. Akan tetapi… ah, mengapa hatinya seperti ini? Mengapa timbul kekhawatirannya kalau-kalau Lu Sian menghadapi mala-petaka? Biarlah kalau ia tertimpa bencana. Salahnya sendiri. Mencari perkara. Mencampuri urusan orang lain! Kwee Seng mengeraskan hatinya dan mulai membuat api unggun untuk mengusir nyamuk yang memang banyak terdapat di hutan itu. Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak enak. Terjadi perang di dalam hatinya antara membiarkan atau pergi menyusul Lu Sian.

Dengan pengerahan ginkang dan ilmu lari cepatnya, sebentar saja Lu Sian telah tiba di luar tembok benteng. Tembok benteng itu cukup tinggi, pintu gerbangnya berada di tengah, terjaga kuat oleh belasan orang prajurit. Pintu belakang juga terjaga, malah tertutup rapat. Sedangkan di atas tembok itu, pada setiap ujungnya terdapat bangunan kecil di mana tampak pula penjaga yang bersenjata lengkap. Beberapa menit sekali, penjaga-penjaga meronda di sekeliling tembok. Pendeknya, benteng itu terjaga rapat sekali. Untuk melompat tembok, terlampau tinggi dan andai kata dapat juga, pasti akan tampak oleh para penjaga di empat penjuru.

Akan tetapi Lu Sian adalah seorang gadis yang banyak akal, berani dan lihai. Ia memilih bagian yang agak sepi, menanti sampai peronda lewat, kemudian cepat sekali ia menggunakan pedangnya membongkar tembok! Pedangnya bukanlah pedang biasa, melainkan pedang pusaka, pedang buatan daerah Go-bi yang terbuat dari logam baja biru. Oleh ayahnya pedang itu diberi nama Toa-hong-kiam (Pedang Angin Badai) karena Pat-jiu Sin-ong memberikan pedang itu kepada puterinya ketika menurunkan Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-sut.

Pedang baja biru ini dapat dipergunakan untuk memotong besi dan baja. Apalagi tembok yang terbuat dari pada bata itu, dengan mudah saja dapat ditembusi Toa-hong-kiam. Belum lima menit, Lu Sian telah berhasil membuat lubang yang cukup dimasuki tubuhnya. Di lain saat tubuhnya berkelebat menyelinap masuk dan bagaikan seekor kucing ia sudah berloncatan cepat menghilang di antara kegelapan malam, mendekam di tempat gelap sambil memperhatikan keadaan di dalam benteng.

Benteng itu cukup luas, kiranya cukup untuk menampung ribuan orang bala tentara. Di dalamnya selain terdapat lapangan luas untuk berlatih para prajurit, juga terdapat bangunan-bangunan kecil berjajar yang agaknya menjadi tempat bermalam para prajurit. Ada pula bangunan terbuka yang dipakai sebagai dapur, lalu kandang-kandang kuda dan gudang-gudang perlengkapan. Di tengah sendiri terdapat empat buah bangunan besar yang bentuknya kembar. Tak salah lagi, di sinilah tempat para perwiranya.

Maka tanpa ragu-ragu Lu Sian lalu berindap-indap menghampiri empat bangunan ini karena memang kedatangannya ini terdorong oleh rasa hatinya ingin mengintai dan menyelidiki keadaan… Jenderal Muda Kam Si Ek! Di sudut lubuk hatinya memang ia tak pernah melupakan Kam Si Ek, pemuda gagah perkasa dan ganteng yang pernah menggetarkan hatinya di atas panggung adu ilmu. Sayangnya pemuda itu tidak mau melayaninya mengadu kepandaian. Namun sikapnya yang gagah dan keras, wajahnya yang membayangkan kejantanan, telah menggerakkan hati Lu Sian sehingga ketika dalam perjalanan ini ia mendengar disebutnya nama Kam Si Ek, sekaligus bangkit hasrat hatinya untuk menemuinya dan mempelajari keadaannya, kalau perlu mencoba kepandaiannya!

Hati Lu Sian berdebar melihat bendera tanda pangkat jenderal di depan sebuah di antara empat gedung. Ia menyelinap ke belakang gedung ini, kemudian menggerakkan tubuhnya melayang naik ke atas genteng sebelah belakang, dan dengan hati-hati ia merayap di atas genteng menuju ke bagian tengah. Ketika ia melihat sinar api penerangan yang besar dan mendengar suara orang, ia membuka genteng dan mengintai ke bawah. Betapa girang hatinya ketika ia melihat orang yang dicari-carinya, yaitu Kam Si Ek sendiri, berada di dalam sebuah ruangan besar di bawahnya!

Biar pun seorang jenderal, Kam Si Ek ternyata berpakaian biasa, mungkin karena tidak sedang dinas. Pakaiannya serba biru dan rambutnya digelung ke atas, diikat sutera kuning. Tubuhnya yang tegap itu kelihatan gagah dan penuh tenaga. Ia duduk menghadapi meja besar yang penuh hidangan.

Yang membuat hati Lu Sian kaget dan tak senang adalah ketika ia melihat tiga orang gadis cantik yang pernah di lihatnya. Kini tiga orang gadis itu mengenakan pakaian yang lebih mewah lagi, biar pun warna pakaiannya tetap sama, yaitu yang pertama serba merah, yang kedua serba kuning dan yang ketiga serba hijau. Rambut mereka digelung rapi dan dihias emas permata mahal. Muka mereka dilapisi bedak, bibir dan pipi ditambah warna merah dan bau minyak wangi mereka sampai tercium oleh Lu Sian yang mendekam di atas genteng!

Pada saat itu, dengan sikap gagah dan suara tegas Kam Si Ek berkata. “Tidak bisa! Siauwte (aku) bukanlah seorang penghianat! Sejak dahulu, nenek moyangku adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang rela mengorbankan nyawa untuk negara dan bangsa, yang menduduki kedudukan tinggi di dalam ketentaraan tanpa pamrih untuk pribadinya, melainkan semata untuk berbakti kepada negara dan bangsa! Kedatangan Sam-wi Lihiap (Pendekar Wanita Bertiga) saya terima dengan penuh kehormatan, akan tetapi kalau Sam-wi mengajak siauwte sekongkol dengan Cu Bun, terpaksa saya menolak keras!”

Dengan suara manis sekali Si Pakaian Merah yang tertua di antara mereka bertiga, berkata halus, “Kami bertiga enci adik sudah cukup mengenal kegagahan dan kesetiaan keluarga Kam. Kami mana berani membujuk Goanswe (Jenderal) untuk bersekongkol dengan penghianat atau pemberontak? Akan tetapi, bukankah bekas Gubernur Cu Bun kini telah menjadi raja dari kerajaan Liang yang sudah berdiri belasan tahun lamanya? Kini terjadi perebutan kekuasaan, dan raja tidak dapat membiarkan mereka yang memisahkan diri, tidak mau tunduk kepada kekuasaan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Liang yang menggantikan Kerajaan Tang. Karena itu, kami mengajak kepada Goanswe untuk berjuang bersama, menghalau para pemberontak, terutama sekali bangsa buas dari luar yang hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengganas.”

“Maaf, siaute terpaksa membantah. Memang benar bahwa Gubernur Cu Bun berhasil menumbangkan Kerajaan Tang belasan tahun lalu. Akan tetapi, berhasil atau tidaknya sebuah kerajaan baru tergantung dari pada dukungan rakyat. Dan untuk mendapat dukungan rakyat, terutama sekali rakyat harus diberi kehidupan yang tenteram, penghasilan yang wajar dan sumber hidup yang layak. Akan tetapi apakah buktinya? Rakyat selalu menjadi korban. Di mana-mana timbul kejahatan, perebutan kekuasaan, kehidupan rakyat tidak aman, masih ditekan pajak, diperas oleh lintah-lintah darat yang berupa raja-raja kecil di dusun-dusun, masih diganggu oleh para tentara kerajaan yang buas melebihi perampok. Buktinya? Sam-wi dapat melihat betapa banyaknya penduduk dusun mengungsi, bingung mencari tempat aman sehingga di dalam benteng ini saja kami terpaksa menampung seratus orang lebih pengungsi. Bukankah ini sudah membuktikan bahwa Kerajaan Liang tidak didukung rakyat? Dan selama pemerintahan tidak mendapat dukungan rakyat, saya yakin takkan berhasil dan lekas runtuhlah pemerintahan itu.” Muka jenderal muda itu menjadi merah, bicaranya penuh semangat dan wajahnya yang tampan gagah itu mengeluarkan wibawa seperti seekor harimau yang menakutkan.

“Kam-goanswe yang perkasa,” kata nona kedua yang berpakaian kuning. “Bolehkah saya bertanya, Goanswe ini sebetulnya mengabdi kepada siapakah? Dahulu keluarga Goanswe mengabdi kepada Kaisar Tang yang terakhir. Setelah kaisar jatuh, Goanswe mengabdi kepada siapa? Kalau Goanswe tidak mengakui kekuasaan Raja Liang, apakah Goanswe mengabdi kepada gubernur Li?”

Kam Si Ek kini berdiri dari bangkunya. Tubuhnya yang tinggi tegap itu seakan-akan makin besar. Ia mengepal tinjunya dan berkata. “Aku hanya mengabdi kepada tanah air dan bangsa! Siapa saja yang mengganggu rakyatku, akan kulawan! Bangsa apa saja yang berani memasuki tanah airku akan kuhancurkan! Aku tidak mengabdi kepada Raja Liang, dan terhadap Gubernur Li Ko Yung yang menjadi teman seperjuanganku dahulu. Dia tetap teman baik asal saja dia tidak menyeleweng dari pada jalan benar.”

Nona paling muda yang berbaju hijau mengedipkan matanya kepada kedua orang encinya, lalu bangkit berdiri menghampiri Kam Si Ek. Ia menuangkan arak dan menjura kepada jenderal muda itu sambil berkata, suaranya halus merdu penuh rayuan.

“Maaf, maaf… Kam-goanswe. Harap maafkan kedua enciku yang seakan-akan lupa bahwa saat ini bukanlah saat untuk bicara tentang urusan negara yang berat-berat. Kasihan sekali suasana menjadi begini panas, sebaliknya masakan menjadi dingin. Kam-goanswe, mari kita lanjutkan makan minum sambil membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Sudilah kau menerima secawan arak dariku sebagai cawan minta maaf!” Ia melangkah maju.

Tergopoh-gopoh Kam Si Ek balas menjura dan ia pun tersenyum. “Lihiap benar, maaf. Aku sampai lupa diri.” Ia menerima cawan itu dan sekali tenggak habislah isinya.

Si Baju Hijau tersenyum manis dan menuangkan arak lagi. “Untuk kedua kalinya kuharap kau suka menerima secawan sebagai tanda persahabatan….”

Dengan sikap yang amat mesra ia menyerahkan cawan dan dalam kesempatan ini jari-jarinya yang halus menyentuh tangan Kam Si Ek. Pemuda itu kelihatan bingung dan kikuk. Alisnya yang berbentuk golok dan hitam itu bergerak-gerak, agaknya ia ragu-ragu bagaimana harus menghadapi wanita yang tiba-tiba berubah sikap ini.

“Cukup… cukup…,” katanya dan merenggut cawan arak itu agar tidak terlalu lama tangannya terpegang jari-jari halus mungil.

“Ah, Kam-goanswe, masa tidak mau menerima penghormatanku?” Si Baju Hijau berkata manja dan berdiri makin mendekat sehingga sebagian tubuhnya merapat, dadanya sengaja menyentuh lengan kiri Kam Si Ek.

Hampir saja pemuda ini meloncat pergi. Akan tetapi sebagai tuan rumah ia masih mempertahankan diri, hanya mengisar kaki menjauhi, lalu berkata, “Baiklah, kehormatan yang diberikan Lihiap kuterima!” Ia minum lagi arak dari cawannya.

Akan tetapi alangkah terkejut dan kikuknya ketika ia melihat nona muda cantik berpakaian hijau ini tidak kembali ke bangkunya di seberang, melainkan menyeret sebuah bangku dan duduk di sampingnya! Ini dilakukan sambil tersenyum-senyum, matanya mengerling tajam penuh arti.

“Dari pada berdebat yang bukan-bukan, yang sebetulnya tidak ada artinya sama sekali, bukankah lebih baik kita berteman? Kam-goanswe, kami sudah lama mendengar nama besarmu, sudah lama mengagumi Jenderal Muda Kam Si Ek yang gagah perkasa dan menjadi idaman setiap orang wanita di propinsi Shan-si! Kami bertiga enci adik tidak mempunyai niat buruk terhadap jenderal, melainkan hendak membantu usahamu, hendak menyerahkan jiwa raga mengabdi kepadamu, Kam-goanswe!” Sambil berkata demikian, dengan lagak genit si baju hijau ini menggeser bangkunya sampai mepet dengan bangku Kam Si Ek.

Si Baju Merah dan si Baju Kuning segera tertawa-tawa dan mengitari meja, menarik bangku dan mengisi cawan arak. “Betul sekali kata adikku yang bungsu. Kam-goanswe. Kami menyerahkan jiwa raga asal kau suka kami temani!” kata yang tertua sambil menyerahkan secawan arak dan tangan kirinya memegang pundak pemuda tampan itu.

“Percayalah, kami bertiga sanggup mengangkatmu menjadi yang dipertuan di daerah ini,” kata si Baju Kuning yang memeluk leher Kam Si Ek dari belakang!

Dirayu dan dikeroyok tiga orang gadis-gadis cantik yang berbau harum ini, sejenak Kam Si Ek tertegun saking kaget dan herannya. Kemudian ia serentak bangkit dari bangkunya, melangkah mundur tiga tindak, mukanya merah sekali dan ia berkata, suaranya keren. “Sam-wi ini apa maksudnya bersikap seperti ini?”

“Maksud kami sudah jelas, masa Goanswe tidak tahu? Sudah lama kami kagum dan sekarang begitu berjumpa kami jatuh cinta, apakah kau tidak menghargai perasaan suci kami ini?” kata Si Baju Merah tanpa malu-malu lagi.

“Kam-goanswe, ribuan orang pemuda tergila-gila kepada kami dan semua kami tolak. Sekarang melihatmu, kami bertiga sekaligus jatuh hati. Bukankah ini jodoh yang baik sekali?” kata Si Baju Kuning.

“Dengan kepandaian kami bertiga digabung kepandaianmu, apa sukarnya merampas kedudukan raja di waktu orang pandai sedang memperebutkan kekuasaan ini? Goanswe mempunyai tentara yang cukup banyak dan kuat,” kata Si Baju Hijau.

“Gila…!!” Kam-goanswe berseru marah. “Pergilah kalian! Pergi dan jangan ganggu aku lagi. Pergi!” Kam Si Ek marah bukan main, akan tetapi kemarahan ini agaknya belum menyamai kemarahan Liu Lu Sian yang mengintai di atas genteng.

Gadis ini marah sekali kepada tiga orang perempuan yang dianggap tak tahu malu itu. Juga di samping kemarahannya ia pun kagum kepada Kam Si Ek! Sungguh jantan! Sungguh gagah dan keras hati, tidak tunduk oleh gadis-gadis cantik yang tergila-gila kepadanya.

“Singgg!!” tampak kilatan tiga batang pedang yang dicabut berbareng oleh tiga orang gadis jelita itu.

“Pilihan kami hanya dua. Kau menerima kerja sama dengan kami atau kau serahkan kepalamu untuk kami hadiahkan kepada Raja Muda Kerajaan Liang!”

“Bagus!” Kam Si Ek melangkah mundur dua tindak dan mencabut goloknya yang berkilauan saking tajamnya. Telunjuk tangan kirinya menuding dan ia berkata bengis, “Kalian tiga orang wanita muda tak tahu malu. Kalian datang mengaku sebagai See-liong-sam-ci-moi (Tiga Enci Adik Naga Barat), berlagak pendekar wanita yang bermaksud membantu karena melihat kesengsaraan rakyat dalam jaman perang perebutan kekuasaan. Aku menerima kalian dengan baik dan hormat. Kiranya kalian mengandung maksud hati yang kotor dan hina. Kalau aku memberi tanda, alangkah mudahnya anak buahku yang ribuan orang banyaknya datang menangkap kalian untuk dijatuhi hukuman mati. Akan tetapi aku Kam Si Ek seorang laki-laki sejati, tidak mengandalkan jumlah orang banyak. Majulah, dan sudah sepatutnya golokku mengakhiri riwayat kalian yang tersesat ke dalam jurang kenistaan!”

“Manusia sombong!” Si Baju Merah meloncat, dan bagaikan kilat menyambar pedangnya menusuk, berikut tubuhnya yang melayang ke depan, benar-benar seperti seekor naga menyambar.

Hebat serangan ini, akan tetapi Kam Si Ek yang sudah siap dengan goloknya menangkis keras. “Tranggg!!”
Wanita baju merah itu terpental ke samping, akan tetapi dengan gerakan indah ia membuat loncatan salto dua kali. Ada pun kedua orang adiknya juga sudah menerjang maju dengan loncatan-loncatan tinggi dan menyerang dengan pedang selagi tubuh mereka masih di udara. Kam Si Ek terkejut sekali. Tiga orang wanita ini benar-benar patut dijuluki Naga Barat, karena gerakan mereka benar-benar lincah dan cepat laksana naga menyambar. Ia cepat mengelak sambil memutar golok sehingga berhasil menangkis tusukan pedang dari kanan kiri.

Akan tetapi tiga orang enci adik itu sudah mendesaknya dengan serangan pedang bertubi-tubi. Kam Si Ek cepat memutar goloknya dan mainkan ilmu silat keturunan keluarga Kam. Pertahanannya kuat sekali, namun didesak oleh tiga batang pedang yang bekerja sama baik sekali, ia hanya mampu menangkis sambil berloncatan ke sana ke mari, sebentar saja terdesak hebat. Namun sebagai seorang jantan, Kam Si Ek berpegang kepada kata-katanya. Ia tidak mau berteriak minta bantuan para penjaga yang berada di luar gedung itu dan tetap mempertahankan diri dengan goloknya.

Sewaktu pedang si Baju Merah menusuk tenggorokan dan ia menangkis dengan golok, pedang si Baju Kuning sudah membabat pinggangnya. Cepat ia bergerak dengan jurus Burung Walet Membalikkan Tubuh, membuat gerakan memutar untuk mengelak sambil memutar goloknya melindungi tubuh belakang. Ia berhasil mengelak dan sekaligus menangkis babatan pedang si Baju Hijau tepat pada waktunya. Akan tetapi kembali pedang si Baju Merah sudah menerjang datang, disusul dua buah pedang yang lain!

Karena ketiga orang gadis lihai itu kini menghujankan serangan di tiga bagian, yaitu bawah, tengah dan atas, maka sibuk jugalah Kam Si Ek. Dengan ilmu golok emasnya yang diputar merupakan benteng melindungi tubuhnya, ia hanya dapat melindungi bagian atas dan tengah saja, sehingga menghadapi penyerangan pedang di bagian bawah, ia harus meloncat-loncat yang membuat gerakan pemutaran goloknya terganggu. Setelah lewat tiga puluh jurus, pemuda ini mulai berputar-putar dan terdesak ke sana ke mari, semua jalan ke luar telah dihadang oleh tiga orang gadis yang tertawa-tawa mengejek.

“Jenderal sombong, dari pada mati di ujung pedang, bukankah lebih baik kau memeluk tiga orang gadis jelita? Ah, alangkah goblok engkau! Mana bisa engkau melawan See-liong-sam-ci-moi? Kami benar-benar mencintaimu, Kam-goanswe!”

“Lebih baik aku mati!” teriak Kam Si Ek ganas.

Melihat kesempatan selagi si Baju Merah bicara, golok emasnya menyambar dengan pembalasan serangan dahsyat. Namun tiga batang pedang sudah menangkisnya dan kembali ia terkepung tiga gulungan sinar berkilau yang mematikan semua jalan ke luar itu.

Liu Lu Sian yang menonton dari atas genteng segera mengetahui, bahwa biar pun Kam Si Ek memiliki tenaga yang cukup kuat, namun di bidang ilmu silat agaknya belum dapat diandalkan benar, jauh di bawah tingkat tiga orang gadis itu. Kemarahannya memuncak dan kekagumannya terhadap Kam Si Ek juga memuncak.

Ia segera mengambil jarum-jarum rahasianya dan tiga kali tangannya bergerak disertai pengerahan sinkang yang sepenuhnya. Senjata rahasia jarum ini adalah ajaran ayahnya, penggunaannya amat sukar karena jarum- jarum itu kecil dan ringan sekali, harus disambitkan dengan sinkang tertentu baru dapat meluncur cepat melebihi anak panah. Dan sekali jarum-jarum ini meluncur, sama sekali tidak mendatangkan suara, kalau pun ada, suara itu halus sekali sukar ditangkap telinga.

Hebat sekali kesudahannya. Terdengar jerit melengking dan tiga orang gadis iti seperti disambar petir. Si Baju Merah melepaskan pedangnya dan berputar-putar seperti mabok, disusul si Baju Kuning yang melemparkan pedang dan mencekik lehernya sendiri, kemudian si Baju Hijau terjungkal dan melingkar-lingkar di atas lantai. Tiga orang gadis itu berkelojotan di atas lantai, dan beberapa menit kemudian tak bergerak lagi. Si Baju Merah kemasukan jarum tepat di ubun-ubunnya, si Baju Kuning terkena lehernya dan si Baju Hijau terserang dadanya. Jarum-jarum itu mengandung racun kelabang yang gigitannya menewaskan seketika, maka bukan main hebatnya.

Kam Si Ek berdiri dengan golok melintang di depan dada, matanya terbelalak lebar. Pada saat itu berkelebat bayangan memasuki pintu dan muncullah seorang wanita berpakaian serba putih, wajahnya cantik dan terang, usianya sebaya dengan Kam Si Ek. Wanita ini memegang sebatang pedang dan tangan kirinya menjambak rambut dua orang laki-laki berpakaian tentara, lalu ia mendorong dua orang itu sehingga terguling di atas lantai dan terus berlutut di situ dengan tubuh menggigil.

“Eh, Sute siapa mereka ini? Ah, bukankah ini See-liong-sam-ci-moi yang menjadi tamu kita? Dan… ah, mereka sudah tewas dan… kau memegang golok! Apa yang terjadi, Sute?”

Kam Si Ek menggunakan tangan kirinya menggosok mata, lalu menyusut peluh di dahinya dan menggeleng- geleng kepala. “Bukan aku yang membunuh mereka, Suci. Tapi mereka patut tewas, mereka mempunyai niat busuk terhadap aku. Akan tetapi… agaknya ada orang pandai membantuku dan membunuh mereka.”

Wanita itu membanting-banting kakinya. “Celaka! Mereka adalah tamu-tamu kita, mana patut tewas di sini? Kalau ada orang yang membunuh mereka secara bersembunyi, belum tentu berniat baik. Kita harus cari dia untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya!” Wanita baju putih itu meloncat ke luar lagi.

“Nanti dulu, Suci. Dua orang ini… ada apakah?”

“Hemm, sialan benar. Dia dan lima orang lain melakukan pemerasan kepada beberapa orang pengungsi, malah mengganggu wanita. Yang lima kulukai, yang dua ini pemimpinnya, kubawa ke sini untuk kau adili.”

“Jahanam!” Kam Si Ek menggerakkan kakinya menendang dan dua orang yang sial itu terlempar, kepala mereka membentur tembok, pecah dan tewas seketika.

Beginilah watak Kam Si Ek yang benci akan penyelewengan-penyelewengan. Akan tetapi kakak seperguruannya, wanita baju putih itu sudah meloncat pergi ke luar untuk mencari pembunuh See-liong-sam- ci-moi. Kam Si Ek juga cepat lari ke luar setelah menyambar gendewa dan anak panahnya. Dalam ilmu silat boleh jadi dia kurang pandai, akan tetapi ilmu panahnya terkenal di seluruh Shan-si, di samping ilmunya mengatur siasat perang dan ilmu menunggang kuda.

Ketika Kam Si Ek tiba di luar gedung, ia melihat para penjaga sudah ribut-ribut memandang ke atas. Ketika ia berdongak, ia melihat bahwa suci-nya telah bertanding pedang dengan hebatnya melawan seorang gadis yang gerakannya lincah sekali. Bulan malam itu menerangi jagat, akan tetapi dari bawah ia tidak dapat melihat siapa adanya gadis yang bertanding melawan enci seperguruannya itu.

“Goblok!” terdengar wanita itu memaki, suaranya nyaring dan merdu, melengking menembus kesunyian malam. “Beginikah kalian membalas pertolongan orang?”

“Kau harus menyerah, tak boleh sembarangan membunuh orang di tempat kami,” jawab suci-nya dengan suaranya yang tegas.

Pada saat itu, entah mengapa, tiba-tiba suci-nya kehilangan keseimbangan tubuhnya, terhuyung di atas genteng dan sesosok bayangan yang bergerak seperti terbang telah menyambar tubuh wanita itu.

Lu Sian kaget melihat wanita baju putih itu yang menjadi lawannya itu tiba-tiba menghentikan penyerangannya dan terhuyung. Kemudian ia lebih kaget lagi ketika tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan tahu-tahu ia telah disambar orang dan dipanggul pergi! Ketika melihat bahwa yang memanggulnya adalah Kwee Seng, ia meronta-ronta, namun tidak berhasil melepaskan diri. Ingin ia menusukkan pedangnya pada punggung pemuda ini, namun totokan tadi membuat tubuhnya terlalu lemas.

Kam Si Ek sudah sejak tadi merasa berhutang budi kepada wanita yang ternyata telah menolongnya. Kalau tidak segera ditolong, rasanya ia takkan mampu menangkan See-liong-sam-ci-moi. Tadinya ia sudah hendak meloncat naik mencegah suci-nya menyerang wanita itu. Sekarang melihat seorang laki-laki muda berpakaian pelajar memondong wanita itu, ia menyangka bahwa tentulah pemuda itu seorang jahat. Cepat ia memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu dengan anak panah, sedangkan ia sendiri pun lalu mementang gendawanya.

Akan tetapi pemuda itu hanya menengok sambil tersenyum. Wajah yang tampan itu tersinar bulan dan hati Kam Si Ek tercengang. Pemuda itu tampan bukan main dan senyumnya manis sekali! Tentu sebangsa jai-hwa- cat (penjahat cabul) yang hendak melarikan gadis dengan maksud kotor dan rendah!

“Lihat panah!” bentaknya dan sekali gendawanya menjepret, lima batang anak panah menyambar ke arah tubuh belakang Kwee Seng!

“Bagus!” Kwee Seng yang masih menengok itu tersenyum lebar dan memuji, karena kepandaian melepas panah itu benar-benar hebat. Lima anak panah itu menuju ke lima bagian jalan darah di punggung dan kakinya dengan kecepatan yang luar biasa!

Cepat tangan kirinya mencabut kipasnya dan ia harus mengerahkan lweekang-nya untuk mengebut dan meruntuhkan anak-anak panah itu. Akan tetapi kini para prajurit panah sudah pula ikut melepaskan anak panah, sedangkan Kam Si Ek dengan kecepatan luar biasa sudah pula menghujankan anak panahnya. Terpaksa Kwee Seng kembali mengebut sambil mengerahkan sinkang-nya, lalu sekali berkelebat tubuhnya sudah meloncat jauh. Setelah tubuhnya melayang turun segera ia berlari cepat, dan sekali menggerakkan kakinya, ia telah meloncat ke atas tembok benteng.

Terjadi hujan anak panah lagi dari kanan kiri, namun pelepasan anak panah oleh para prajurit itu tentu saja tidak begitu di hiraukan oleh Kwee Seng. Sekali kipasnya mengebut, angin kebutannya sudah membuat semua anak panah menyeleweng arahnya atau runtuh ke bawah. Kemudian ia meloncat ke luar tembok dan lenyap!

“Suci…! Dimana kau…?” Kam Si Ek berseru, akan tetapi ia tidak melihat kakak seperguruannya itu.

Namun Kam Si Ek sedang mempunyai banyak pekerjaan, maka ia tidak mencarinya lagi, melainkan cepat mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan yang lebih kuat dan memerintah orang-orang untuk mengurus lima buah mayat yang menggeletak di lantai ruangan gedung. Malam itu juga ia mengadili lima orang lain yang dilukai encinya dan menggunakan kesempatan ini untuk mengancam para tentara dengan hukuman berat apabila ada yang berani melakukan penyelewengan.

Setelah mengatur semuanya, Kam Si Ek lalu masuk ke dalam kamarnya dan duduk termenung. Ia maklum bahwa tidak semua anggota bala tentaranya setia kepadanya, karena sesungguhnya ia tidak mampu memberi belanja yang cukup kepada mereka. Banyak di antara mereka yang diam-diam ingin rupanya dia mengabdi kepada Raja Liang atau kepada Gubernur Li yang juga sudah mengangkat diri sendiri sebagai raja muda di Shan-si.

“Tidak!” bantah suara hatinya. “Sebelum muncul pemimpin yang betul-betul akan membuat rakyat Shan-si khususnya hidup aman tenteram dan makmur, aku tidak akan mengabdi kepada siapa pun juga!”

Sementara itu, Lu Sian terus meronta-ronta, kedua kakinya di gerak-gerakkan dan akhirnya Kwee Seng menurunkannya di dalam hutan tempat mereka tadi beristirahat sambil membebaskan totokannya.

Dengan pedang di depan dada, Lu Sian meloncat maju dan membentak. “Kwee Seng, kali ini kau terlalu! Mengapa kau mengganggu urusanku? Apakah kau hendak pamer kepandaianmu?”

“Eh, Sian-moi…, aku hanya hendak mencegah kau menimbulkan keributan di tempat orang, aku… aku hanya bermaksud menolongmu….”

“Siapa butuh pertolonganmu? Siapa sudi? Kwee Seng, agaknya di samping kelemahan hatimu, kau juga memiliki kesombongan memandang rendah orang lain. Apa yang kulakukan, kau peduli apakah?”

“Sian-moi, mengapa kau berkata demikian? Bagaimana aku dapat tidak mempedulikan apa yang kau lakukan? Sian-moi… kau sudah tahu akan perasaan hatiku, tak perlu kusembunyikan lagi. Aku cinta padamu! Nah, sekarang terlepaslah sudah ganjalan hatiku. Aku mencintaimu, tentu saja aku tak dapat membiarkanmu terancam bahaya atau melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Kam Si Ek seorang patriot sejati, seorang gagah perkasa, tak boleh diganggu…”

“Cukup! Biar seribu kali kau mencintaku, kau belum berhak untuk mengurusi persoalanku. Aku bukan apa- apamu, tahu? Kau boleh mencintaku sampai mampus, akan tetapi aku tidak mencintaimu! Dengar baik-baik, Kwee Seng. Aku tidak cinta kepadamu! Kau memang tampan, kau memang gagah perkasa, memiliki kesaktian tinggi melebihi aku, akan tetapi kau lemah! Kau bukan laki-laki sejati, hatimu lemah, mudah jatuh. Kau kira aku cinta kepadamu? Ihh! Aku suka ikut bersamamu karena mengharapkan kepandaianmu yang kau janjikan kepadaku di depan ayah. Nah kau dengar sekarang? Setelah kau ketahui pendirianku, apakah kau kini hendak menarik janjimu lagi seperti layaknya seorang pengecut?”

Bukan main hebatnya serangan ini bagi Kwee Seng, seakan-akan ribuan batang jarum berbisa menusuk- nusuk jantungnya. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, tubuhnya gemetar, bibirnya menggigil, matanya sayu dan dua butir air mata membasahi pipinya. Kemudian ia menggertak gigi mengeraskan perasaan, menguatkan hatinya, mengepal tangan dan berkata sambil menengadahkan muka ke langit.

“Bagus sekali! Memang kau patut menjadi puteri Pat-jiu- Sin-ong! Aku yang bodoh. Ha-ha-ha, aku yang tolol. Orang macamku mana berharga menjatuhkan hati padamu? Tidak, Liu Lu Sian, aku tidak menarik janjiku! Kapan saja kau minta, akan kuturunkan ilmuku yang kupakai mengalahkan kau di panggung Beng-kauw ketika itu. Memang aku cinta kepadamu, dan kau tidak mencintaiku sama sekali. Ha-ha-ha, biarlah, biar dirasakan oleh hati yang rakus ini, oleh pikiran yang pendek dan tak tahu diri ini, Si Cebol merindukan bulan, ha-ha-ha!”

Senang bukan main hati Liu Lu Sian. Memang beginilah watak gadis puteri Beng-kauwcu ini. Mungkin karena semenjak kecil terlalu dimanja, atau memang memiliki watak aneh keturunan ayahnya yang terkenal sebagai tokoh aneh di dunia kang-ouw, gadis ini suka sekali melihat sebanyak-banyaknya laki-laki jatuh hati kepadanya. Suka ia menggoda, menonjolkan kejelitaannya agar mereka makin dalam terperosok, kemudian akan ia kecewakan mereka, akan ia permainkan mereka. Dan ketika melihat mereka menderita, ia akan mentertawakannya!

“Untung engkau masih belum terlalu rendah untuk menarik kembali janjimu. Kwee Seng, aku menuntut janjimu itu pada besok malam, tepat tengah malam, di sini juga. Aku akan menjumpaimu di sini dan….”

“Tidak, Liu Lu Sian. Tempat ini kurang sepi, mungkin ada orang lewat dan akan melihat kita. Kau lihat bukit di sana itu. Tampaknya sukar didatangi, terjal dan liar. Jangan kira mudah menerima ilmu. Aku hanya mau menurunkan ilmuku kepadamu di puncak bukit itu. Besok malam tengah malam tepat, aku menantimu di sana!”

Lu Sian menengok ke arah timur. Matahari mulai muncul dan tampaklah bayangan sebuah bukit yang tak berapa jauh dari tempat itu. Bukit yang bentuknya aneh, puncaknya mencuat tinggi, bentuknya seperti kepala naga atau kepala makhluk aneh.

“Baik, besok malam aku akan berada di puncak itu!” Setelah berkata demikian, Lu Sian meloncat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu pergi meninggalkan Kwee Seng.

Pemuda itu berdiri tegak seperti patung, mendengarkan derap kaki kuda yang makin lama makin jauh, lalu ia meramkan matanya. Serasa perih hatinya, serasa jantungnya dirobek dan serasa semangatnya terbang melayang mengikuti suara derap kaki kuda yang membawa lari Lu Sian, gadis yang selama ini memenuhi hatinya. Tiba-tiba ia tertawa dan menampar kepalanya sendiri.

“Ha-ha-ha, tolol! Gila perempuan!!” Kwee Seng lalu mengambil guci araknya dan minum dari guci itu tanpa takaran lagi. Arak menggelogok memasuki kerongkongannya.

Tiba-tiba ia berhenti minum dan menengok memandang ke arah gerombolan pohon kembang kecil yang belum kebagian sinar matahari pagi karena masih gelap. Biar pun perasaannya terganggu, batinnya terpukul hebat, namun telinga pemuda ini masih amat tajam, perasaannya masih amat peka terhadap bahaya. Ia mendengar gerakan orang di situ, maka dia menegur, “Siapakah mengintai di situ?”

Sesosok bayangan putih berkelebat ke luar dari belakang pohon-pohon dan seorang gadis berdiri di hadapan Kwee Seng dengan muka merah dan sinar mata membayangkan rasa malu. Gadis ini cepat menjura dengan hormat sambil berkata, “Harap Taihiap sudi memaafkan. Sesungguhnya bukan maksud saya untuk mengintai, akan tetapi keadaan tadi membuat saya tidak berani untuk keluar memperkenalkan diri.”

Kwee Seng cepat membalas penghormatan gadis yang memakai pakaian serba putih ini. Gadis bermata jernih, bermuka terang dan bersikap gagah, yang belum pernah ia kenal. Akan tetapi ia segera teringat bahwa gadis inilah agaknya si Bayangan Putih yang bertempur melawan Lu Sian di atas genteng benteng tadi.

“Hemm, kalau sudah lama Nona mengintai, agaknya tak perlu lagi memperkenalkan diri. Tentu Nona sudah mengetahui segalanya!” kata Kwee Seng dengan hati mengkal karena adegan dengan Lu Sian yang tadi amat memalukan, amat merendahkan dirinya.

“Sekali lagi maaf, Taihiap. Sesungguhnya saya melihat dan mendengar semua dan sekarang tahulah saya bahwa gadis lihai yang secara aneh mendatangi benteng adik seperguruanku itu bukan lain adalah Nona Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu yang amat terkenal. Sungguh merupakan hal yang tidak pernah kami duga. Andai kata dia datang memperkenalkan diri secara wajar, sudah pasti kami akan menyambutnya dengan segala kehormatan. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur dan saya merasa bersalah terhadap Kwee-taihiap yang amat saya kagumi karena kesaktiannya. Oleh karena itu saya persilakan Kwee-taihiap sudi singgah di benteng kami untuk mempererat persahabatan dan untuk menambahkan pengetahuan kami yang dangkal.”

Diam-diam Kwee Seng kagum. Biar pun hanya seorang wanita, seorang gadis muda, namun nona ini benar- benar jauh bedanya dengan wanita-wanita yang ia temui. Nona ini membayangkan otak tajam, pandangan luas, sopan-santun dan hati-hati, seperti sikap orang yang sudah banyak pengalaman. Ia lalu teringat bahwa ia belum menanyakan nama, dan sebagai seorang yang begitu luas pandangannya seperti nona ini, tentu saja tak mungkin akan memperkenalkan nama kalau tidak ditanya.

“Terima kasih, Nona baik sekali. Setelah Nona mengetahui namaku, agaknya boleh juga aku mengenal nama Nona yang terhormat.”

“Saya yang bodoh bernama Lai Kui Lan, sedang membantu perjuangan Kam-sute (Adik Seperguruan Kam). Saya murid tunggal dari mendiang ayah Kam-sute, akan tetapi saya yang bodoh tak dapat mewarisi sepersepuluhnya dari ilmu silat keluarga Kam.”

Kembali jawaban yang mengagumkan hati Kwee Seng. “Ah, kalau saja Liu Lu Sian mempunyai watak dan sikap seperti nona baju putih ini,” pikirnya.

“Sekali lagi terima kasih atas undangan Nona Liu yang manis budi. Akan tetapi, sebetulnya saya tidak ingin mengganggu ketenteraman Nona dan Kam-goanswe. Tadi pun saya hanya bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang mendatangkan kekacauan, maka maafkan kalau tadi saya melakukan kesalahan turun tangan terhadap Nona, karena maksud saya hanya menghentikan pertandingan.”

Kui Lan menundukkan mukanya dan pipinya merah sekali. Akan tetapi ia menjawab dengan sikap sederhana dan merendah, “Ilmu kepandaian Kwee-taihiap telah membuka mata saya. Saya ulangi lagi, atas nama Kam- sute juga, kami persilakan Kwee-taihiap untuk singgah dan menerima penghormatan kami.”

“Tidak bisa, Nona Lai. Terima kasih. Saya harus pergi sekarang juga.” Setelah berkata demikian, Kwee Seng mengangkat kedua tangan memberi hormat, lalu melompat ke atas kudanya dan meninggalkan guci araknya yang sudah kosong. Hatinya yang penuh rasa nelangsa itu agaknya membuat ia tidak pedulian, sehingga guci arak kosong tidak pula dibawanya.

Setelah pemuda itu pergi, Lai Kui Lan berdiri termenung di tempat itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian pandang matanya bertemu dengan guci arak. Ia melangkah maju, membungkuk dan mengambil guci arak itu. Tanpa ia sadar, ia menekankan guci arak kosong itu pada dadanya, dan ia meramkan matanya seakan-akan guci arak yang tadi ia lihat diminum oleh Kwee Seng itu mewakili diri pemuda sakti yang telah membuat jantungnya menggetar-getar itu. Kalau Lu Sian memandang rendah dan menghina Kwee Seng, sebaliknya Lai Kui Lan ini sekaligus jatuh cinta saking kagumnya melihat Kwee Seng dalam segebrakan merobohkan dia!

Memang aneh-aneh di dunia ini, apa lagi kalau menyangkut asmara yang mengamuk di hati orang-orang muda. Lai Kui Lan yang berwatak gagah dan polos ini sekali jumpa langsung jatuh hati dan mencintai Kwee Seng, akan tetapi yang dicintanya tidak tahu akan hal ini karena Kwee Seng kegilaan Liu Lu Sian. Sebaliknya Lu Sian tidak mau membalas cinta kasih Kwee Seng dan gadis liar ini kagum kepada Kam Si Ek!

Ketika Lai Kui Lan sadar kembali akan keadaan dirinya, mukanya menjadi makin merah dan beberapa butir air mata terlontar ke luar dari pelupuk matanya. Teringat akan keadaan Kwee Seng ia bergidik. Kasihan sekali pendekar itu. Jatuh cinta kepada puteri Beng-kauwcu. Ia sudah mendengar akan Liu Lu Sian puteri Beng-

kauwcu, gadis jelita dan perkasa yang sudah menjatuhkan hati entah berapa banyak pemuda. Ia mendengar pula tentang para muda yang menjadi korban di Beng-kauw. Dan kini agaknya pendekar sakti Kwee Seng menjadi korban pula.

Kemudian ia teingat akan sute-nya, Kam Si Ek. Ada persamaan antara Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Sute-nya itu pun menjadi rebutan para gadis, membuat banyak gadis tergila-gila, akan tetapi sute-nya tetap tidak mau menerima cinta seorang di antara mereka. Banyak pula yang menjadi korban asmara, di antaranya tiga orang enci adik See-liong-sam-ci-moi-itu!

Teringat pula akan janji Kwee Seng untuk menurunkan ilmu pada besok tengah malam di puncak bukit sebelah timur, segera ia merasa ngeri. Bukit itu terkenal dengan nama Liong-kui-san (Bukit Siluman Naga). Biar pun bukan sebuah di antara gunung-gunung besar, namun di daerah itu amat terkenal sebagai bukit yang sukar didatangi orang, seram dan dikabarkan banyak setannya.

Kam Si Ek sendiri melarang anak buahnya naik gunung itu karena memang keadaannya amat berbahaya, dan harus diakui bahwa ada sesuatu yang membuat puncak bukit itu kelihatan aneh. Banyak jurang-jurang yang tak terukur dalamnya, dan di sana mengalir pula sungai yang deras airnya, sungai yang sumbernya dari dalam gunung dan kemudian menggabung dengan sungai Wu-kiang. Sungai ini pun oleh penduduk diberi nama Liong-hiat-kang (Sungai Darah Naga), karena pada saat tertentu sinar matahari membuat sungai itu kelihatan kemerahan seperti darah!

Kemudian Lai Kui Lan mengeluh dan berjalan dengan langkah gontai sambil mendekap guci arak. Semangatnya seolah-olah melayang pergi mengikuti bayangan Kwee Seng, Si Pendekar Muda yang sakti dan tampan!

Kwee Seng yang merana hatinya oleh pengakuan Liu Lu Sian yang tidak membalas cinta kasihnya, membalapkan kudanya menjauhi letak benteng Jendral Kam Si Ek. Karena teringat akan janjinya kepada Liu Lu Sian, ia lalu membelokkan kudanya ke arah timur. Hatinya lega ketika memasuki sebuah dusun tak jauh dari kaki gunung, sebuah dusun yang cukup ramai, bahkan di situ terdapat sebuah rumah penginapan sederhana yang membuka pula sebuah restoran. Untung baginya, rumah penginapan itu dalam keadaan kosong tiada tamu sehingga keadaan sunyi dan ia tidak banyak menunggu.

Kwee Seng menjual kudanya dengan perantaraan pengurus hotel, kemudian ia minum mabok-mabokan sambil bernyanyi-nyanyi untuk mengusir pergi kerinduan dan kesedihan hatinya. Sebentar saja para pelayan hotel memberinya nama Sastrawan Pemabok! Dalam maboknya Kwee Seng menyanyikan sajak-sajak romantis ciptaan penyair terkenal Li Tai Po.

Pada senja hari itu Kwee Seng berdiri di ruangan belakang rumah penginapan, memandang sinar matahari yang mulai lenyap, hanya tampak sinar merah kekuningan menerangi angkasa barat. Tangan kanannya memegang sebuah tempat arak terbuat dari pada kulit labu kering. Ia bersandar kepada langkan, memandangi angkasa barat yang berwarna indah sekali sambil sesekali meneguk arak dari tempatnya. Teringat ia akan sajak karangan Li Tai Po, maka sambil mengangkat muka dan menggerak-gerakkan tempat arak di depannya, Kwee Seng lalu menyanyikan sajak itu.

Kunikmati arak hingga tak sadar akan datangnya senja Rontokan daun bunga memenuhi lipatan bajuku Mabok kuhampiri anak sungai mencerminkan bulan Ohhh, burung terbang pergi, sunyi dan rawan

Kwee Seng berhenti bernyanyi dan meneguk araknya. Biar pun hawa arak sudah memenuhi kepalanya, membuat kepalanya serasa ringan dan hendak melayang-layang, namun sebagai seorang ahli silat yang sakti, telinganya menangkap suara langkah kaki orang. Sambil minum terus dan arak menetes-netes dari bibirnya, Kwee Seng melirik ke sebelah kanan. Ia masih berdiri bersandarkan langkan.

“He-he-he, matahari pergi tentu terganti munculnya bulan…,” ia berkata-kata seorang diri, akan tetapi diam- diam ia memperhatikan orang-orang yang baru datang. Mengapa ada orang datang dari belakang rumah penginapan?

Ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda dan seorang gadis, ia tidak berani memandang langsung, melainkan mengerling dan memperhatikan dari sudut matanya. Alangkah herannya ketika ia mengenal wanita itu. Bukan lain adalah gadis baju putih, Lai Kui Lan, suci (kakak seperguruan) dari Jenderal Kam Si Ek! Pakaiannya masih sutra putih seperti pagi tadi, wajahnya masih terang dan manis seperti tadi, akan tetapi ada keanehan pada diri gadis ini.

Kalau pagi tadi Lai Kui Lan amat peramah dan sinar matanya bening terang, kini gadis itu sama sekali tidak menengok ke arahnya, seakan-akan tidak mengenalnya atau tidak melihatnya, padahal tak mungkin tidak melihatnya karena di tempat itu tidak ada orang lain. Dan sinar mata gadis itu seperti kehilangan semangat, tidak sewajarnya! Apalagi lengan kiri gadis itu digandeng dengan erat oleh Si Pemuda yang memandang penuh curiga kepadanya.

Kwee Seng membalikkan tubuh, menggoyang-goyang kepalanya seperti seorang pemabokan dan mengangkat tempat arak ke arah pemuda itu dengan gerakan menawarkan. Akan tetapi diam-diam ia memperhatikan Si Pemuda.

Seorang pemuda sebaya dengannya, berwajah cukup tampan akan tetapi membayangkan keanehan dan kekejaman, sepasang alisnya yang tebal hitam itu bersambung dari mata atas kiri ke atas mata kanan. Kepalanya kecil tertutup kain penutup kepala yang bentuknya lain dari pada biasa. Pada muka itu terbayang sesuatu yang asing, seperti terdapat pada wajah orang-orang asing. Tubuhnya tidak berapa besar, namun membayangkan kekuatan tersembunyi yang hebat, sedangkan sinar matanya pun membayangkan tenaga dalam yang kuat. Diam-diam Kwee Seng terkejut dan menduga-duga siapa gerangan pemuda ini, dan mengapa pula Lai Kui Lan ikut dengan pemuda ini dengan sikap seolah-olah seekor domba yang dituntun ke penjagalan.

Seekor domba yang dituntun ke penjagalan! Kalimat ini seakan-akan berdengung di telinga Kwee Seng, membuatnya termenung lupa akan araknya. Ketika dua orang itu sudah memasuki kamar tengah, terdengar suara Si Pemuda yang berat dan parau minta kamar yang dijawab oleh pengurus rumah penginapan.

Kemudian, masih lupa akan araknya, Kwee Seng berjalan perlahan menuju ke kamarnya sendiri. Kalimat tadi masih terngiang di telinganya. Mungkin, bisik hatinya. Mungkin sekali Lai Kui Lan menjadi domba dan pemuda itu kiranya patut pula menjadi seorang penyembelih domba, seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul). Kalau tidak demikian, mengapa sikap Lai Kui Lan begitu aneh seperti orang terkena sihir? Seperti seorang yang melek akan tetapi tidak sadar?

Makin gelap keadaan cuaca di luar hotel, makin gelap pula pikiran Kwee Seng menghadapi teka-teki itu. Hatinya penasaran, biar pun beberapa kali ia meyakinkan hatinya bahwa kehadiran Lai Kui Lan bersama seorang pemuda itu sama sekali bukan urusannya dan bahwa tidak patut mengintai keadaan muda-mudi yang mungkin sedang di lautan madu asmara. Namun kecurigaannya mendesak-desaknya sehingga tak lama kemudian, di dalam kegelapan malam, Kwee Seng sudah melayang naik ke atas genteng hotel dan melakukan pengintaian. Hal ini ia lakukan dengan guci arak masih di tangan, karena untuk melakukan pekerjaan yang berlawanan dengan kesusilaan ini ia harus menguatkan hati dengan minum arak.

Akan tetapi, hampir saja ia terjengkang saking marah dan kagetnya ketika ia mengintai ke dalam kamar dua orang itu. Tak salah lagi apa yang dikhawatirkan hatinya! Ia melihat Lai Kui Lan terbaring telentang di atas pembaringan dalam keadaan lemas tak dapat bergerak, mukanya yang pucat itu basah oleh air mata. Terang bahwa gadis itu tertotok hiat-to (jalan darah) di bagian thian-hu hiat dan mungkin juga jalan darah yang membuat gadis itu menjadi gagu! Akan tetapi air mata itu menceritakan segalanya! Menceritakan bahwa keadaan gadis seperti itu bukanlah atas kehendak si gadis sendiri, melainkan terpaksa dan karena tak berdaya. Ada pun pemuda tadi duduk di tepi pembaringan sambil berkata lirih membujuk-bujuk.

“Nona yang baik, mengapa kau menangis?” Dengan gerakan halus dan mesra pemuda itu mengusap-usap kedua pipi yang penuh air mata. “Aku tertarik oleh kecantikanmu, dan andai kata aku tidak tahu bahwa kau adalah suci dari Jenderal Kam Si Ek, tentu aku tidak akan berlaku sesabar ini! Aku ingin kau menyerahkan diri kepadaku berikut hatimu, ingin kau membalas cintaku dan kau akan kuajak ke Khitan, menjadi isteriku, isteri seorang panglima! Dengan ikatan ini, tentu adik seperguruanmu akan suka bersekutu dengan kami. Nona, kau tinggal pilih, menyerah kepadaku dengan sukarela, ataukah kau ingin menjadi orang terhina karena aku menggunakan kekerasan? Kau tidak ingin dinodai seperti itu, bukan? Aku Bayisan, panglima terkenal di Khitan, tidak kecewa kau menjadi kekasihku…” Pemuda itu menundukkan mukanya hendak mencium muka gadis yang tak berdaya itu.

Tiba-tiba pemuda yang bernama Bayisan itu meloncat bangun, membatalkan niatnya mencium karena tengkuknya terasa panas dan sakit. Matanya jelalatan ke sana ke mari, cuping hidungnya kembang kempis karena ia mencium bau arak. Ia meraba tengkuknya yang ternyata basah, dan ketika ia mendekatkan tangannya ke depan hidung, ia berseru kaget.

“Keparat, siapa berani main-main dengan aku?”

“Penjahat cabul jahanam! Di tempat umum kau berani melakukan perbuatan biadab, sekarang bertemu dengan aku tak mungkin kau dapat mengumbar nafsu iblismu!” terdengar suara Kwee Seng dari atas genteng.

Bayisan bergerak cepat sekali, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke luar dari jendela kamar dan beberapa detik kemudian ia sudah meloncat naik ke atas genteng. Akan tetapi ia tidak melihat orang di atas genteng yang sunyi itu! Bayisan celingukan, napasnya terengah-engah karena menahan amarah, sebatang pedang sudah berada di tangan kanannya.

“Heeeei! Jahanam cabul, aku di sini. Mari kita keluar dusun kalau kau memang berani!” Tahu-tahu Kwee Seng sudah berada agak jauh dari tempat itu, melambai-lambaikan guci araknya ke arah Bayisan.

Tentu saja orang Khitan ini makin marah dan sambil berseru keras ia mengejar. Kwee Seng lari cepat dan terjadilah kejar-kejaran di malam gelap itu, menuju ke luar dusun. Di luar dusun inilah Kwee Seng menantikan lawannya.

Mereka berhadapan. Kwee Seng bersikap tenang. Ketika lawannya datang ia sedang meneguk araknya. Bayisan marah sekali, mukanya merah, matanya jalang, pedang di tangannya gemetar. Ketika mengenal pemuda pelajar pemabokan itu, ia makin marah.

“Eh, kiranya kau, pelajar jembel tukang mabok! Kau siapakah dan mengapa kau lancang dan mencampuri urusan pribadi orang lain?” Bayisan membentak menahan kemarahannya karena ia maklum bahwa yang berdiri di depannya bukan orang sembarangan sehingga ia harus bersikap hati-hati dan mengenal keadaan lawan lebih dulu. Bayisan terkenal sebagai seorang pemuda yang selain tinggi ilmunya, juga amat cerdik dan keji. Di Khitan ia terkenal sebagai seorang panglima muda yang tangguh dan pandai.

Kwee Seng tertawa. “Aku orang biasa saja, tidak seperti engkau ini, Panglima Khitan merangkap penjahat cabul! Aku mendengar tadi namamu Bauw I San? Belum pernah aku mendengar nama itu! Pernah aku mendengar nama Kalisani sebagai tokoh Khitan yang dipuji-puji, akan tetapi nama Bouw I San (Bayisan) tukang petik bunga (penjahat cabul), aku belum pernah!”

“Hemm, manusia sombong! Aku memang bernama Bayisan, Panglima Khitan. Kau mendengarnya atau belum bukan urusanku. Aku suka gadis itu dan hendak mengambilnya sebagai kekasih, kau mau apa? Apakah kau iri? Kalau kau iri, apakah kau tidak bisa mencari perempuan lain? Tak tahu malu engkau, hendak merebut perempuan yang sudah menjadi tawananku!”

“Heh-heh-heh, Bayisan hidung belang! Jangan samakan aku dengan engkau! Kau suka mengganggu wanita, aku tidak! Kau penjahat cabul, aku justru membasmi penjahat cabul! Aku Kwee Seng selamanya tidak memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!” kalimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan diam-diam Kwee Seng meringis karena ia teringat akan Liu Lu Sian yang tidak cinta kepadanya.

Di lain pihak, Bayisan kelihatan terkejut dan marah mendengar disebutnya nama ini. “Akhh, keparat! Jadi kau ini Kwee Seng, pelajar jembel tak tahu malu itu? Kau telah terlepas dari tangan maut Suhu-ku Ban-pi Lo-cia, sekarang kau tak mungkin terlepas dari tanganku!”

Setelah berkata demikian, Bayisan menyerang hebat dengan pedangnya. Pedang itu digerakkan ke atas akan tetapi dari atas menyambar ke bawah dengan bacokan ke arah kepala, kemudian disusul gerakan menusuk dada. Hebat serangan ini, karena sekaligus dalam satu gerakan saja telah menjatuhkan dua serangan yaitu membacok kepala dan menusuk dada!

Akan tetapi Kwee Seng menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh dua meter sambil meneguk araknya. Sekaligus dua serangan itu gagal sama sekali! “Aih… aihhh… jadi kau ini murid Ban- pi Lo-cia? Pantas… pantas…. Gurunya hidung belang, muridnya pun mata keranjang!”

Akan tetapi dengan gerakan kilat Bayisan telah menerjang maju. Permainan pedangnya benar-benar hebat. Kiranya Bayisan bukanlah sembarang murid dari Ban-pi Lo-cia, agaknya sudah menerima gemblengan dan mewarisi ilmu silat bagian yang paling tinggi, di samping ilmu silat yang dipelajarinya dari orang-orang pandai di daerah utara dan barat. Pedang di tangannya berkelebatan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan angin yang ditimbulkan mengeluarkan bunyi berdesingan mengerikan.

Diam-diam Kwee Seng kagum juga. Sayang sekali, pikirnya. Jarang ada orang muda dengan ilmu kepandaian sehebat ini, maka amatlah sayang kepandaian begini baik jatuh pada diri seorang pemuda yang bermoral rendah. Orang dengan kepandaian seperti ini tentu akan dapat menjunjung tinggi nama besar suku bangsa Khitan yang memang terkenal sejak dulu sebagai suku bangsa yang kuat dan pengelana yang ulet.

Menghadapi pedang Bayisan yang tak boleh dipandang ringan ini, terpaksa Kwee Seng mengeluarkan kipasnya. Dengan kipas di tangan kiri barulah ia bisa menghalau semua ancaman bahaya dari pedang itu.

Sebaliknya Bayisan kaget sekali. Gurunya pernah bercerita bahwa di dunia kang-ouw muncul jago muda bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-mo-eng, akan tetapi gurunya tidak bicara tentang kehebatan pemuda itu. Maka sungguh kagetlah ia ketika melihat betapa pemuda itu hanya dengan kipas di tangan mampu menghadapi pedangnya, malah kini semua jalan pedangnya serasa buntu, lubang untuk menyerang tertutup sama sekali!

“Celaka!” pikirnya.

Walau pun ia amat meragukan, namun andai kata pun ia dapat menangkan sastrawan muda itu, tentu akan makan waktu lama sekali. Pertandingan melawan sastrawan ini tidak penting baginya, lebih penting lagi diri Lai Kui Lan yang ia tinggalkan dalam kamar hotel. Pengaruh totokannya tidak akan tahan lama, apalagi gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah. Kalau ia terus melayani sastrawan ini dan Lai Kui Lan dapat membebaskan diri dari totokan, tentu akan terlepas dan lari. Kalau sudah lari kembali ke benteng, sukarlah untuk menangkapnya lagi. Ia akan menderita rugi dua kali, pertama kehilangan calon korban yang begitu menggiurkan, dan yang kedua, rencananya menarik Jenderal Kam Si Ek sebagai sekutu Khitan akan gagal sama sekali.

Berpikir demikian, pemuda Khitan yang cerdik ini lalu mengeluarkan seruan keras dan tinggi, hampir merupakan suara lengking yang memekakkan telinga. Pedangnya kemudian bergerak menusuk-nusuk seperti datangnya belasan batang anak panah.

Kwee Seng terkejut. Lengking tadi hampir mencapai tingkat yang dapat membahayakan lawan. Kalau pemuda Khitan ini tekun berlatih dan menerima bimbingan orang pandai, tentu akan berhasil memiliki ilmu pekik semacam Sai-cu-ho-kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan hanya dengan pengerahan suara saja! Apalagi lengking itu disusul serangan pedang sehebat itu. Benar-benar pemuda Khitan ini mengagumkan dan berbahaya.

Kwee Seng cepat memutar kipasnya. Karena khawatir kipasnya akan rusak menghadapi hujan tusukan itu, ia mengalah dan meloncat ke belakang. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Bayisan untuk menggerakan tangan kirinya. Benda-benda hitam menyambar dan Kwee Seng mencium bau yang amat tidak enak ketika ia mengelak hingga jarum-jarum hitam itu lewat di depan mukanya. Jarum-jarum beracun yang lebih jahat dari pada jarum beracun milik Liu Lu Sian! Untuk menghilangkan bau tidak enak, ia meneguk araknya.

Melihat kesempatan yang terbuka itu Bayisan meloncat pergi sambil berkata, “Jembel busuk, Tuanmu tidak ada waktu lagi untuk….” Hanya sampai di sini kata-kata Bayisan karena tiba-tiba ia terguling roboh dan tubuhnya lemas!

Kiranya secepat kilat Kwee Seng tadi telah menyemburkan arak dari mulutnya dan menyusulkan sebuah totokan dengan ujung kipasnya. Gerakannya melompat seperti kilat menyambar sehingga tidak terduga-duga oleh Bayisan yang lebih dulu sudah tersembur arak pada punggungnya. Robohlah tokoh Khitan itu, terguling telentang. Ia berusaha bangkit, namun tak berhasil dan roboh lagi. Di lain saat Kwee Seng sudah berdiri di dekatnya dan menudingkan gagang kipas pada dadanya.

Kini suara Kwee Seng kereng berpengaruh. “Bayisan? Kau terhitung apa dengan Kalisani?”

Bayisan orangnya cerdik sekali. Kalau perlu ia sanggup bersikap pengecut untuk menyelamatkan diri. Seketika ia mengerti bahwa nyawanya tergantung pada jawabannya ini. Tanpa ragu-ragu ia berkata, “Dia kakak misanku, tunggu saja kau akan pembalasannya karena kau berani menghinaku!”

Kwee Seng tertawa bergelak dan melangkah mundur. “Ho-ho-ha-ha! Kau hendak menggunakan nama Kalisani untuk menakut-nakuti aku? Aha, lucu! Justru karena engkau saudara misannya, justru karena memandang mukanya, aku mengampuni jiwamu yang kotor, bukan sekali-kali karena aku takut kepadanya. Huh, manusia rendah yang mencemarkan nama besar orang-orang gagah Khitan!” Kwee Seng meludah, mengenai muka Bayisan, lalu pemuda ini meninggalkan Bayisan, berlari cepat ke dusun.

Ketika memasuki kamar lewat jendela, ia melihat Lai Kui Lan masih telentang di atas pembaringan. Air matanya bercucuran, akan tetapi kini gadis itu sudah mulai dapat bergerak-gerak lemah. Kwee Seng cepat menggunakan ujung kipasnya menotok jalan darah dan terbebaslah Kui Lan.

Gadis ini meloncat bangun, mukanya membayangkan kemarahan besar. Ia bersikap seperti orang hendak bertempur, kedua tangannya yang kecil mengepal, matanya berapi-api memandang ke sana ke mari, mencari- cari. “Mana dia? Mana jahanam terkutuk itu? Aku hendak mengadu nyawa dengan jahanam itu!”

“Tenanglah, Nona. Bayisan sudah pergi. Aku pancing dia keluar dusun dan sekarang dia terbaring di sana, tertotok gagang kipasku. Untung bahaya sudah lewat, Nona, dan kiranya tak baik menimbulkan gaduh di hotel ini sehingga memancing banyak orang datang dan akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang amat tak baik bagi nama Nona….”

Tiba-tiba Lai Kui Lan memandang Kwee Seng dan menjatuhkan diri di depan pemuda itu sambil menangis.

Kwee Seng kebingungan dan menyentuh pundak gadis itu dengan halus. “Ah, apa-apaan ini, Nona? Mari bangkit dan duduklah. Kalau hendak bicara, lakukanlah dengan baik, jangan berlutut seperti ini.”

Lai Kui Lan menahan isaknya, lalu bangkit dan duduk di atas kursi. Kwee Seng tetap berdiri dan menenggak araknya yang tidak habis-habis itu.

“Kwee-taihiap, kau telah menolong jiwaku….”

“Ah, kau tidak terancam bahaya maut, bagaimana bisa bilang aku menolong jiwamu?”

“Kwee-taihiap, bagaimana bisa bilang begitu? Bahaya yang mengancamku di tangan jahanam itu lebih hebat dari pada maut….” Gadis itu menangis lagi, kemudian cepat menghapus air matanya dengan sapu-tangan. “Sampai mati aku Lai Kui Lan tidak dapat melupakan budi Taihiap…” Tiba-tiba sepasang pipinya menjadi merah dan sinar matanya menatap wajah Kwee Seng penuh rasa terima kasih.

Melihat sinar mata itu, Kwee Seng membuang muka dan menenggak araknya lagi. “Lupakanlah saja, Nona, dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kejahatan pasti selalu akan hancur.”

“Ah, di mana dia? Aku harus membunuhnya! Dia tertotok di luar dusun?” Setelah berkata demikian, gadis itu cepat ke luar dan berlari di dalam gelap.

Kwee Seng menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang Bayisan patut di bunuh, akan tetapi ia merasa tidak enak kepada Kalisani, tokoh Khitan yang dikagumi semua orang dunia kang-ouw. Maka ia tidak menghendaki nona itu membunuh Bayisan, dan diam-diam ia mengikuti Lai Kui Lan dari jauh. Akan tetapi hatinya lega ketika ia melihat bahwa ketika Lai Kui Lan tiba di luar dusun, Bayisan sudah tak tampak lagi bayangannya. Kembali ia merasa kagum. Pemuda Khitan itu benar-benar luar biasa, dapat membebaskan diri dari totokan sedemikian cepatnya.

Ketika dengan hati kecewa Kui Lan kembali ke kamar itu, ia tidak lagi melihat Kwee Seng, hanya melihat sehelai kertas bertulis di atas meja. Ia memungutnya dan membaca tulisan yang rapi dan bagus.

Para pelayan telah melihat nona datang bersama dia, tidak baik bagi nona tinggal lebih lama di tempat ini, lebih baik cepat kembali.

Surat itu tak bertanda tangan, akan tetapi Kui Lan maklum siapa orangnya yang menulisnya. Dengan helaan napas panjang, ia lalu meloncat ke luar lagi dan berlari-lari menuju benteng sute-nya. Gadis ini tidak tahu bahwa diam-diam dari jauh Kwee Seng mengikutinya untuk menjaga kalau-kalau gadis ini bertemu lagi dengan Bayisan. Setelah gadis itu memasuki benteng, barulah ia berjalan perlahan kembali ke hotelnya, memasuki kamar lalu tidur dengan nyenyak.

Pada keesokan malamnya Kwee Seng berjalan perlahan mendaki bukit Liong-kui-san. Baiknya malam hari itu angkasa tidak terhalang mendung sehingga bulan yang masih besar bersinar terang, menerangi jalan setapak yang amat sukar dilalui. Diam-diam pemuda ini kagum akan keadaan gunung yang tak dikenalnya ini, bergidik menyaksikan jurang-jurang yang amat dalam, dan merasa menyesal mengapa ia kemarin minta supaya Lu Sian datang ke tempat seperti ini. Kalau ia tahu gunung ini begini berbahaya, tentu ia memilih tempat lain. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan ia maklum pula bahwa Lu Sian cukup pandai untuk untuk dapat mendaki gunung ini, ia melanjutkan pendakiannya.

Tepat pada tengah malam ia tiba di puncak bukit. Puncak ini merupakan tempat datar yang luasnya lima belas meter persegi, ditumbuhi rumput tebal, dan di sebelah selatan dan barat merupakan tempat pendakian yang sukar. Ada pun di sebelah utara dan timur tampak jurang menganga, jurang yang tak dapat dibayangkan betapa dalamya karena yang tampak hanya warna hitam gelap mengerikan. Jauh sebelah bawah, agaknya di jurang sebelah timur, terdengar suara air gemericik, akan tetapi tidak tampak airnya.

Ketika tiba di tempat itu, Kwee Seng menengok ke belakang dan menarik napas panjang. Sejak tadi ia tahu bahwa ada orang mengikutinya, dan tahu pula bahwa orang itu bukan lain adalah Lai Kui Lan. Ketika tiba di bagian yang sukar dan banyak batunya tadi, diam-diam ia menyelinap dan mengambil jalan lain turun lagi, maka ia melihat bahwa orang yang membayanginya tadi itu adalah Lai Kui Lan.

Ia diam saja dan tidak menegur, lalu melanjutkan perjalanannya, malah menjaga agar ia tidak mengambil jalan terlalu sukar agar nona yang membayanginya itu dapat mengikutinya dengan aman. Ia menduga-duga apa maksud nona itu dan akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa nona itu tentu ingin pula melihat kelanjutan dari pada urusannya dengan Lu Sian.

Tiba-tiba ia teringat, Lu Sian seorang yang aneh wataknya. Kalau diketahui bahwa ada orang ketiga hadir, tentu akan marah, bukan tak mungkin timbul keganasannya dan menyerang Kui Lan. Oleh karena inilah maka Kwee Seng tidak jadi naik. Cepat ia berlari turun lagi menyongsong Kui Lan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kui Lan ketika melihat Kwee Seng secara tiba-tiba berdiri di depannya, tak jauh dari puncak. Mereka berdiri berhadapan saling pandang, dan Kui Lan menjadi makin gugup. “Eh… ah… Kwee-taihiap… aku… aku ingin bercerita kepadamu tentang… tentang mengapa aku sampai datang bersama… jahanam itu. Karena aku tidak bisa menjumpai Taihiap di sana, aku… aku lalu datang ke sini karena aku tahu bahwa malam ini Taihiap tentu akan datang di sini.” Kata-kata ini diucapkan tergesa-gesa dan tergagap sehingga Kwee Seng merasa kasihan, tidak mau menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendesak.

“Kau aneh sekali, Nona Lai. Mengapakah kau hendak menceritakan hal itu? Akan tetapi biarlah, karena kulihat bahwa orang yang hendak kujumpai di sini belum datang di puncak, baiklah kau bercerita. Nah, sekarang aku bertanya, bagaimana kau bisa bertemu dan tertawan oleh Bayisan? Duduklah biar enak kita bicara.”

Lai Kui Lan bernapas lega, lalu ia duduk di atas sebuah batu, berhadapan dengan Kwee Seng yang duduk di atas tanah.

“Kemarin, setelah Taihiap meninggalkan aku di hutan itu….” Ia mulai bicara, suaranya menggetar. “Aku tak dapat menahan hatiku yang merasa kasihan dan kagum kepada Taihiap. Aku kecewa Taihiap tidak sudi menerima undanganku, karena sesungguhnya kami membutuhkan petunjuk-petunjuk orang sakti seperti Taihiap. Aku tidak putus asa dan berusaha mengejar Tahiap yang menunggang kuda….” Ia berhenti sebentar untuk melihat dan menunggu reaksi dari Kwee Seng, akan tetapi pemuda ini diam saja, maka ia melanjutkan ceritanya.

“Setelah keluar dari hutan itu, tiba-tiba muncul Bayisan. Dia menyatakan kehendaknya, yaitu bermaksud untuk membujuk sute untuk bersekutu dengan orang-orang Khitan. Tentu saja aku menjadi marah dan memaki. Kami lalu bertempur dengan kesudahan aku kalah dan tertawan. Dia lihai bukan main, orang Khitan keparat itu. Demikianlah, dalam keadaan tak berdaya aku dibawa ke rumah penginapan itu. Untung Tuhan melindungi diriku sehingga dapat bertemu dengan Taihiap. Kwee-taihiap, kuulangi lagi permohonanku, sudilah kiranya Taihiap berkunjung ke benteng, berkenalan dengan Sute-ku dan kami mohon petunjuk-petunjuk dari Tahiap dalam suasana yang kacau balau ini. Kami seakan-akan hampir kehilangan pegangan, Taihiap, demikian banyaknya muncul raja-raja yang membangun kerajaan-kerajaan kecil sehingga sukar bagi kami untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.”

Di dalam hatinya Kwee Seng memuji. Nona ini, seperti juga Kam Si Ek, adalah seorang yang amat cinta kepada negara, orang-orang berjiwa patriot yang akan rela mengorbankan jiwa raga demi negara dan bangsa. Tak enaklah kalau menolak terus.

“Baiklah, Nona Lai. Setelah selesai urusanku di sini, aku akan singgah di benteng Jenderal Kam.” “Terima kasih, Taihiap, terima kasih…!” Dengan suara penuh kegembiraan Kui Lan menjura, berkali-kali.
“Ssttt, ada orang di puncak. Nona Lai, karena kau sudah terlanjur berada di sini, aku ingin berpesan, kau bersembunyilah dan jangan sekali-kali kau keluar, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, apa pun juga yang terjadi. Maukah kau memenuhi permintaanku ini?”

Lai Kui Lan dapat mengerti isi hati Kwee Seng, dengan muka sedih ia mengangguk. Akan tetapi karena muka itu tertutup bayangan, Kwee Seng tidak melihat kesedihan ini. Kwee Seng lalu bangkit dan meninggalkan Kui Lan, mendaki puncak. Benar saja dugaannya, ketika ia tiba di puncak, di sana telah berdiri Liu Lu Sian. Bukan main jelitanya gadis ini. Di bawah sinar bulan yang tak terhalang sesuatu, gadis ini seperti seorang dewi dari khayangan. Sinar bulan membungkus dirinya, rambutnya mengeluarkan cahaya, matanya seperti bintang.

“Kiranya kau tidak lupa akan janjimu. Kwee Seng, aku sudah berada di sini, siap menerima ilmu seperti yang kau janjikan dahulu,” kata Liu Lu Sian, akan tetapi suaranya amat tidak menyenangkan hati karena terdengar dingin, alangkah jauh bedanya dengan pribadinya yang seakan-akan menciptakan kehangatan dan kemesraan.

Kwee Seng tahu bahwa gadis itu selain tidak membalas cinta kasihnya, juga mendendam kepadanya. Karena itu, ia pun tidak mau menggunakan sebutan moi-moi (adinda), karena khawatir kalau-kalau hal itu akan menambah kemarahan si gadis dan akan menimbulkan cemoohan terhadap dirinya yang sudah terang tergila- gila kepada Lu Sian.

“Lu Sian, sebetulnya ilmu yang kupergunakan untuk menandingimu dahulu itu hanyalah Ilmu Silat Pat-sian-kun biasa saja.”

“Tak perlu banyak alasan, Kwee Seng. Kalau ada ilmu yang hendak kau turunkan kepadaku seperti janjimu, lekas beri ajaran!”

Kwee Seng menggigit bibirnya, lalau berkata, “Kau lihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat itu.”

Ia lalu bersilat dengan gerakan lambat dan memang ia mainkan Ilmu Silat Pat-sian-kun-hoat dengan tangan kosong, akan tetapi jelas bahwa gerakan-gerakan ini diperuntukkan senjata pedang. Sebetulnya ilmu silat ini ada enam puluh jurus banyaknya. Akan tetapi ketika Kwee Seng menerima petunjuk dari Bu Kek Siansu si Manusia Dewa, ia hanya meringkasnya menjadi seperempatnya saja, jadi hanya enam belas jurus inti yang sudah meliputi seluruhnya dan mencakup semua gerak kembang atau gerak pancingan, gerak serangan atau gerak pertahanan.

Setelah mainkan enam belas jurus itu, Kwee Seng berhenti dan memandang kepada Lu Sian sambil berkata, “Nah, inilah ilmu silatku yang hendak kuajarkan kepadamu, Lu Sian, Sudahkah kau memperhatikan gerakannya? Harap kau coba latih, mana yang kurang jelas akan kuberi penjelasan.”

“Ah, kau membohongi aku!” Lu Sian berseru marah. “Ilmu silat macam itu saja, dilihat dari gerakannya jauh kalah lihai dari pada Pat-mo Kiam-hoat ciptaan Ayah! Mana bisa kau kalahkan aku dengan ilmu itu? Kwee Seng, aku tahu, setelah kau tidak bisa mendapatkan cintaku, kau hendak membalasnya dengan menyuguhkan ilmu silat pasaran untuk menghinaku!”

Gemas hati Kwee Seng dan perih perasaannya. Gadis ini terlalu kejam kepada orang yang tidak menjadi pilihan hatinya. “Lu Sian, siapa membohongimu? Ketika aku menghadapimu dahulu, aku tidak menggunakan ilmu lain kecuali ini!”

“Aku tidak percaya! Coba kau sekarang jatuhkan aku dengan ilmu itu!”

“Baiklah. Biar kugunakan ini sebagai pedang.” Kwee Seng mengambil sebuah ranting pohon yang berada di tempat itu. “Kau mulailah dan lihat baik-baik, aku hanya akan menggunakan Pat-sian-kun!”

Lu Sian mencabut pedangnya, lalu menerjang dengan gerakan kilat, mainkan jurus berbahaya dari ilmu pedang ciptaan ayahnya, yaitu Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang memang diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa).

Melihat pedang nona itu berkelebat menusuk ke arah dadanya dengan kecepatan luar biasa, Kwee Seng menggeser kakinya ke kiri lalu ranting di tangan kanannya melayang dari samping menempel pedang dari atas dan menekan pedang lawan itu ke bawah disertai tenaga sinkang. Pedang Lu Sian tertekan dan tertempel seakan-akan berakar pada ranting itu! Betapa pun Lu Sian berusaha melepaskan pedang, sia-sia belaka.

“Nah, tangkisan ini dari jurus keempat yaitu Pat-sian-khat-bun (Delapan Dewa Buka Pintu) dan dapat dilanjutkan dengan serangan jurus ke delapan Pat-sian-hian-hwa (Delapan Dewa Serahkan Bunga). Pedang menyambar sesuka hati, boleh memilih sasaran, akan tetapi untuk contoh aku hanya menyerang bahu.”

Tiba-tiba ranting yang tadinya menekan pedang itu lenyap tenaga tekannya dan selagi pedang Lu Sian yang telepas dari tekanan ini meluncur ke atas, ranting cepat melesat dan menyabet bahu kanan Lu Sian!

Lu Sian meringis. Tidak sakit, akan tetapi membuatnya amat penasaran. “Coba hadapi ini!” teriaknya dan pedangnya membuat lingkaran-lingkaran lebar. Dari dalam lingkaran itu ujung pedang menyambar-nyambar laksana burung garuda mencari mangsa, mengancam tubuh bagian atas dari lawan.

“Seranganmu ini kuhadapi dengan jurus ke lima yang disebut Pat-sian-hut-san (Delapan Dewa Kebut Kipas) untuk melindungi diri,” kata Kwee Seng dan tiba-tiba ranting di tangannya berputar cepat merupakan segunduk sinar bulat melindungi tubuh atasnya. “Dan dilanjutkan dengan serangan jurus ke empat belas yang disebut Delapan Dewa Menari Payung!” tiba-tiba gulungan sinar bulat itu berubah lebar seperti payung dan tahu-tahu dari sebelah bawah, ranting telah meluncur dan menyabet paha Lu Sian sehingga mengeluarkan suara keras. Kalau saja ranting itu merupakan pedang, tentu putus paha gadis itu!

“Aduh…!” Lu Sian menjerit karena pahanya yang disabet terasa pedas dan sakit. “Kwee Seng, kau kurang ajar…!”

“Maaf, bukan maksudku menyakitimu. Sudah percayakah kau sekarang?”

“Tidak! Kau akali aku! Aku minta kau ajarkan ilmu-ilmu silatmu yang terkenal, seperti Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Menaklukan Lautan), atau Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang), atau Ilmu Pukulan Bian-sin-kun (Tangan Sakti Kapas)!”

Kwee Seng terkejut. Bagaimana nona ini bisa tahu akan ilmu-ilmu silat rahasia simpanannya itu? Ia menjadi curiga. Kalau Pat-jiu Sin-ong mungkin tahu, akan tetapi nona ini? Suaranya kereng berwibawa ketika ia menjawab. “Liu Lu Sian, harap kau jangan minta yang bukan-bukan. Aku hanya hendak mengajarkan kau Pat- sian-kun, dan kau harus menerima apa yang hendak kuberikan kepadamu.”

“Kau hendak melanggar janji??”

“Sama sekali tidak. Aku berjanji kepada ayahmu hendak mengajarkan ilmu yang dapat mengalahkan ilmu pedangmu itu, dan kurasa Pat-sian-kun yang dapat menjadi Pat-sian Kiam-hoat dapat mengalahkan ilmu pedangmu Pat-mo Kiam-hoat!”

“Hoa-ha-ha-ha! Kau menggunakan akal untuk menipu anak kecil, Kwee-hiante. Sungguh keterlaluan sekali!”

Kwee Seng kaget dan cepat menengok. Kiranya Pat-jiu Sin-ong sudah berdiri di situ, tinggi besar dan bertolak pinggang sambil tertawa. Cepat Kwee Seng memberi hormat sambil berkata, “Ah, kiranya Beng-kauwcu telah berada di sini!”

Akan tetapi di dalam hatinya ia tidak senang dan tahulah ia sekarang mengapa Lu Sian mengenal semua ilmu simpanannya, tentu sebelumnya telah diberi tahu oleh orang tua ini yang hendak mempergunakan puterinya untuk menjajaki kepandaiannya dan kalau mungkin mempelajari ilmu simpanannya.

“Beng-kauwcu, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku menggunakan akal untuk menipu puterimu?”

“Ha-ha-ha! Kau bilang tadi bahwa Pat-sian-kun dapat menangkan Pat-mo Kiam-hoat! Tentu saja kau dapat menangkan Lu Sian karena memang tingkat kepandaianmu agak lebih tinggi dari pada tingkatnya.” Dengan ucapan ‘agak lebih tinggi’ ini terang orang tua itu memandang rendah kepada Kwee Seng, akan tetapi pemuda itu mendengarkan dengan tenang dan sabar. “Andai kata aku yang mainkan Pat-mo Kiam-hoat, apakah kau juga masih berani bilang dapat mengalahkannya dengan Pat-sian-kun?”

“Orang tua yang baik, mana aku yang muda berani main-main denganmu? Kita sama-sama tahu bahwa ilmu silat sama sekali bukan merupakan syarat mutlak untuk memenangkan pertandingan, melainkan tergantung dari pada kemahiran seseorang. Betapa indah dan sulitnya sebuah ilmu, kalau si pemainnya kurang menguasai ilmu itu dapat saja kalah oleh seorang ahli yang mainkan sebuah ilmu biasa saja dengan mahir. Puterimu dahulu kuhadapi dengan Pat-sian-kun, hal ini kau sendiri tahu. Aku berjanji hendak menurunkan ilmu yang kupakai mengalahkan dia, malam ini kuturunkan Pat-sian-kun kepadanya, apalagi yang harus diperbincangkan?”

“Orang muda she Kwee! Dua kali kau menghina kami keluarga Liu!” si ketua Beng-kauw membentak. Suaranya mengguntur sehingga bergema di seluruh puncak, membikin kaget burung-burung yang tadinya mengaso di pohon. Dari jauh terdengar auman binatang-binatang buas yang merasa kaget pula mendengar suara aneh ini.

“Pat-jiu Sin-ong, aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Kwee Seng tetap tenang.

“Dengan setulus hati aku menjatuhkan pilihanku kepadamu, aku akan girang sekali kalau kau menjadi suami anakku. Akan tetapi kau pura-pura menolak ketika berada di sana. Ini penghinaan pertama. Kemudian kau mengadakan perjalanan dengan puteriku, kuberi kebebasan karena memang aku senang mempunyai mantu engkau. Dalam perjalanan ini kau jatuh cinta kepada Lu Sian, sikapmu menjemukan seperti seorang pemuda lemah. Ini masih kumaafkan karena memang kukehendaki kau mencintainya dan menjadi suaminya. Akan tetapi Lu Sian melihat kelemahanmu dan tidak mau membalas cintamu, melainkan mengharapkan ilmumu. Dan sekarang, kau yang katanya mencintainya mati-matian, ternyata hanya hendak menipunya. Kalau betul mencinta, mengapa tidak rela mewariskan ilmu simpananmu? Inilah penghinaan ke dua!”

Panas hati Kwee Seng. Terang sudah sekarang bahwa orang tua ini secara diam-diam mengawasi gerak- geriknya. Ia menjadi malu sekali mengingat akan kebodohan dan kelemahannya. Akan tetapi orang tua ini terang berlaku curang dan tak tahu malu.

“Pat-jiu Sin-ong! Sama kepala lain otak, sama dada lain hati! Kau menganggap aku menipu, aku menganggap kau dan puterimu yang hendak mendesakku dan bahkan kau hendak menggunakan rasa hatiku yang murni terhadap puterimu untuk memuaskan nafsu tamakmu akan ilmu silat. Tidak, Beng-kauwcu aku tetap dengan pendirianku, karena Pat-sian-kun yang mengalahkan Pat-mo-kun yang dipergunakan puterimu, maka sekarang aku hanya dapat menurunkan Pat-sian-kun saja.”

“Singgg!!!” Tanpa diduga kilat menyambar.

Kiranya kilat itu keluar dari pedang di tangan Pat-jiu Sin-ong yang telah dihunusnya secara cepat sekali sehingga seperti main sulap saja, tahu-tahu di tangannya sudah ada sebatang pedang yang kemilau. Inilah Beng-kong-kiam (Pedang Sinar Terang) yang sudah puluhan tahun menemani tokoh ini merantau sampai jauh ke barat, pedang yang minum entah berapa banyaknya darah manusia.

“Kalau begitu, kau cobalah hadapi Pat-mo-kiam dengan Pat-sian-kiam!” teriaknya.

Terkejutlah Kwee Seng. Menghadapi seorang tokoh seperti Pat-jiu Sin-ong, bukanlah hal main-main, karena berarti merupakan pertempuran hidup mati yang makan waktu panjang. Pat-jiu Sin-ong pernah bertanding selama dua hari dua malam melawan Ban-pi Lo-cia dan berkesudahan seri, tiada yang kalah atau menang. Ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya kepandaian kakek ini. Dan sekarang kakek ini mengajak ia bertanding pedang!

Kwee Seng tidak mempunyai pedang. Biasanya ia menggunakan suling sebagai pengganti pedang, akan tetapi sulingnya tidak ada lagi! Namun Kwee Seng adalah seorang pemuda gemblengan yang telah memiliki batin yang kuat sekali. Kalau baru-baru ini batinnya tergoncang dan lemah oleh asmara, hal ini tidaklah aneh karena ia masih muda, tentu saja menghadapi Dewi Asmara ia tidak akan kuat bertahan!

Dengan sikap tenang Kwee Seng mengambil ranting yang tadi ia lepaskan di atas tanah, lalu menghadapi kakek itu sambil berkata, “Pat-jiu Sin-ong, aku tidak mempunyai senjata lainnya selain ini. Kalau kau bertekad hendak memaksaku, silakan.”

“Ha-ha-ha-ha, Kwee Seng. Coba kau keluarkan Pat-sian-kun yang kau agung-agungkan itu menghadapi Pat- mo-kun! Lu Sian, mundur kau jauh-jauh dan jangan sekali-kali campur tangan!”

Lu Sian meloncat mundur, menonton dari pinggir jurang.

Pat-jiu Sin-ong memutar-mutar pedangnya di atas kepala sambil tertawa bergelak. Hebat sekali kakek ini. Pedangnya yang diputar di atas kepala itu berdesingan mengaung-ngaung seperti suara sirene dan lenyaplah bentuk pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang terangnya melebihi sinar bulan.

“Kwee Seng, inilah jurus ke tiga dari Pat-mo-kun, sambutlah!” teriak Pat-jiu Sin-ong, disusul dengan menyambarnya sinar terang ke arah Kwee Seng.

Karena Pat-mo Kiam-hoat ini sengaja diciptakan untuk menghadapi Pat-sian Kiam-hoat, maka tentu saja gerakannya ada persamaannya. Kwee Seng mengenal baik gaya serangan ini, akan tetapi ia maklum bahwa jurus ini kalau dimainkan oleh Pat-jiu Sin-ong amatlah jauh bedanya dengan permainan Lu Sian. Jurus apa saja kalau diperagakan oleh tangan kakek ketua Beng-kauw ini merupakan jurus maut yang amat hebat dan berbahaya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo