August 1, 2017

Suling Emas (Part 24)

 

Inilah sebab-sebab permusuhan dan dendam Hui-to-pang kepada Kim-mo Taisu. Tokoh yang berhasil dihasut Kong Lo Sengjin dan akhirnya membunuh isteri Kim-mo Taisu adalah adik kandung Hui-to-pangcu (Ketua) sendiri. Demikianlah tidak mengherankan apabila kini mereka bersekongkol dengan Hek-giam-lo untuk mengeroyok Kim-mo Taisu. Apalagi ketika mendengar dari Kong Lo Sengjin bahwa dua orang tokoh mereka yang berusaha menawan sastrawan Ciu Gwan Liong dalam usaha mereka merampas dan mencari kitab dan suling pemberian Bu Kek Siansu itu terbunuh oleh Kim-mo Taisu! Dendam mereka makin mendalam. Memang kakek tua renta yang lumpuh, Kong Lo Sengjin, bekas raja muda itu amat licin, penuh tipu muslihat dan curang. Pandai ia melempar batu sembunyi tangan, melemparkan kesalahan ke pundak orang untuk mengadu domba!

Biar pun dua orang anggota pimpinan Hui-to-pang sudah roboh oleh totokan suling dan pukulan tangan kiri Bu Song, namun jumlah mereka masih delapan orang dan karena kini mereka bergerak hati-hati dan tidak berani memandang rendah lawan muda ini, keadaan mereka menjadi lebih kuat dari pada tadi. Apalagi Hek-giam-lo juga mendesak dengan terjangan-terjangan dahsyat. Pertandingan di luar tenda itu benar-benar seru dan mati- matian.

Namun Bu Song seperti seekor burung garuda yang mengamuk. Gerakannya luar biasa sekali setelah mendapat gemblengan Bu Tek Lojin. Apalagi senjatanya merupakan senjata yang ampuh dan aneh, terbuat dari pada logam yang tampaknya seperti emas, akan tetapi sesungguhnya merupakan logam campuran yang ajaib, yang menjadi lebih ampuh lagi karena benda ini tadinya milik Bu Kek Siansu, seorang pertapa yang sudah dijuluki dewa oleh tokoh-tokoh besar persilatan. Sepak terjangnya hebat menggetarkan para pengeroyoknya dan beberapa kali orang-orang Hui-to-pang itu kehilangan golok mereka yang terbang atau runtuh begitu terbentur suling yang mengandung tenaga sinkang mukjijat!

Tiba-tiba orang-orang Hui-to-pang ini meloncat mundur, dan begitu tangan mereka bergerak, golok terbang melayang dan meluncur cepat menghujani tubuh Bu Song! Bu Song kaget dan marah sekali. Ia memutar sulingnya dan menerjang maju, dengan tidak terduga-duga ia menggunakan kedua kakinya melakukan tendangan berantai dan robohlah dua orang Hui-to-pang setelah tubuh mereka mencelat sampai lima meter lebih!

Namun pada saat itu, selagi Bu Song masih memutar sulingnya melindungi tubuh dari hujan hui-to dari empat penjuru, tiba-tiba terdengar angin keras dan berkelebatlah belasan batang hui-to yang mengeluarkan sinar menyilaukan mata! Inilah Cap-sha-hui-to (Tiga Belas Golok Terbang) yang dilontarkan oleh Hek-giam-lo! Ketika Bayisan menyembunyikan diri, ia pernah mempelajari ilmu golok terbang dari ketua Hui-to-pang, yaitu melontarkan golok sebagi senjata rahasia. Dan karena tingkat kepandaiannya memang amat tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada ketua Hui-to-pang sendiri, maka begitu ia mendapatkan rahasia ilmu melontarkan golok terbang ia dapat menciptakan ilmu ini yang lebih hebat dari pada orang yang mengajarnya. Ia dapat menciptakan golok yang gagangnya melengkung sehingga kalau ia melontarkannya, golok itu dapat terbang kembali kepadanya apabila tidak mengenai lawan dan dapat ia sambut dan pergunakan lagi! Lebih hebat pula, kedua tangannya dapat melontarkan tiga belas batang golok terbang sekaligus! Ini memang hebat luar biasa, karena Hui-to-pangcu sendiri, ketua Perkumpulan Golok Terbang, hanya dapat melontarkan sebanyak tujuh batang golok!

Bu Song terkejut menghadapi serangan ini, dan tentu saja ia memutar sulingnya menangkis sambil mengelak. Akan tetapi ia sama sekali tidak mengira bahwa golok yang tidak mengenai sulingnya dapat terbang membalik. Ada tiga batang yang terbang membalik sehingga ia amat kaget dan berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi kurang cepat dan sebatang golok milik Hek-giam-lo menancap di pundak kirinya!

Melihat hasil ini, enam orang Hui-to-pang menyerbu serentak dengan tusukan dan bacokan golok yang datang bagaikan hujan ke arah tubuh Bu Song. Bu Song mengeluarkan suara keras dari kerongkongannya, suara keras yang mengiringi pengerahan tenaga dalam, memutar sulingnya untuk melindungi tubuh karena Hek- giam-lo pun sudah menerjangnya lagi. Pundaknya terasa sakit dan panas sekali sehingga lengan kirinya hampir lumpuh. Keadaannya berbahaya sekali, namun Bu Song menggigit bibir dan memutar suling, mengambil keputusan akan melindungi suhu-nya sampai titik darah terakhir.

Pada saat itu tiba-tiba Kim-mo Taisu muncul di pintu tenda. Mukanya tidak kelihatan pucat, matanya berkilat penuh wibawa, sikapnya menantang dan dia membentak, “Hek-giam-lo, kau masih tidak mau pergi? Orang- orang Hui-to-pang, belum puaskah kalian dengan pertumpahan darah dan pengorbanan nyawa?” Sambil berkata demikian, dengan mudah saja Kim-mo Taisu menggunakan ujung lengan bajunya menyampok beberapa buah hui-to yang menyambar ke arahnya, karena orang-orang Hui-to-pang sudah menyerangnya dengan hui-to begitu melihat musuh besar ini muncul. Golok-golok terbang itu runtuh dan patah semua menjadi dua potong!

Gentarlah hati Hek-giam-lo dan sisa orang-orang Hui-to-pang ketika melihat Kim-mo Taisu yang ternyata masih gagah perkasa itu. Jelas bagi mereka bahwa kalau pendekar sakti ini maju, dengan bantuan muridnya yang pandai, pihak mereka akan mengalami kekalahan besar. Maka Hek-giam-lo mendengus dan membalikkan tubuh lalu berlari pergi, diikuti oleh enam orang anggota Hui-to-pang yang tidak pedulikan empat orang temannya yang tewas.

Begitu orang-orang itu lenyap dari pandangan, Kim-mo Taisu roboh terguling di depan pintu tenda! Bu Song cepat melompat dan berlutut memeriksa keadaan suhu-nya. Akan tetapi ternyata Kim-mo Taisu Kwee Seng, pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan itu telah menghembuskan napas terakhir. Bu Song menundukkan kepalanya, termenung sejenak, lalu ia mengangkat jenazah suhu-nya dibawa ke dalam tenda dan dibaringkan.

Bu Song lalu mencabut hui-to yang menancap di pundak kirinya. Darah mengucur ke luar, akan tetapi segera berhenti setelah Bu Song menekan jalan darah di pundaknya dan menaruh obat bubuk pada luka di pundak. Ia tidak khawatir akan racun, karena menurut suhu-nya, tubuhnya sudah kebal terhadap racun. Kemudian Bu Song mencari dan memilih tempat yang baik di lereng gunung Tai-hang-san, menggali lubang dan mengubur jenazah suhu-nya, menaruh sebuah batu besar di depan kuburan. Kemudian ia mengerahkan tenaga, dengan jari telunjuk kanan Bu Song mencorat-coret pada permukaan batu itu. Terciptalah goresan sedalam dua senti meter yang membentuk huruf-huruf indah.

MAKAM PENDEKAR BUDIMAN KIM-MO TAISU KWEE SENG

Setelah itu Bu Song lalu mengubur pula jenazah empat orang Hui-to-pang, lalu mendaki puncak mengubur mayat yang dilihatnya berserakan. Tak lama kemudian muncullah penduduk daerah pegunungan Tai-hang- san. Mereka beramai-ramai lalu mengubur semua jenazah, baik mayat tentara Sung mau pun mayat orang Khitan. Bu Song membantu sekuat tenaga. Saking banyaknya mayat di sekitar pegunungan, pekerjaan dilanjutkan sampai keesokan harinya dengan mengubur lima sampai sepuluh mayat dalam satu lubang. Ketika pada keesokan harinya akhirnya semua mayat terkubur, penduduk dusun tidak melihat lagi pemuda tampan yang ikut bekerja mati-matian tanpa mengeluarkan sepatah kata pun itu.

Bu Song telah pergi dengan diam-diam, hatinya trenyuh memikirkan keadaan perang dan segala akibatnya. Rakyat dusun, rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa, yang selalu taat dan patuh serta takut, mereka inilah yang selalu menjadi korban terakhir. Tanpa diperintahkan mereka mengubur semua mayat. Mereka harus mengubur semua mayat itu karena kalau tidak, keselamatan mereka terancam oleh bahaya menjalarnya wabah penyakit yang hebat.

Setelah gurunya meninggal dunia, barulah Bu Song merasa betapa hidupnya sunyi dan sebatang kara. Ada timbul ingatan dalam hatinya untuk pergi ke Nan-cao, menjumpai kakeknya, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ayah dari ibunya yang sampai kini tidak pernah ia jumpai. Tentu saja ia tidak pernah mimpi bahwa pernah ia bertemu dengan ibunya, bahkan ia berani menegur dan menasehati ibunya itu yang hendak membunuhnya! Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa karena sikap dan kata-katanya maka ibunya menjadi sadar dan insyaf, membuat ibunya lalu menyembunyikan diri tidak mau muncul lagi di dunia ramai untuk menebus dosa- dosanya!

Akan tetapi Bu Song tidak dapat melupakan Suma Ceng. Betapa pun juga, cinta kasih yang terpendam dalam hatinya takkan dapat lenyap. Betapa mungkin ia dapat melenyapkan rasa cinta kasihnya terhadap Suma Ceng, gadis yang telah merampas hatinya, yang telah menyerahkan jiwa raga kepadanya? Karena rasa rindunya kepada Suma Ceng tak tertahankan lagi, maka ia menunda niatnya pergi ke Nan-cao mencari keluarga ibunya, sebaliknya ia lalu pergi lagi ke kota raja. Tadinya memang ia sudah ke kota raja, akan tetapi ketika itu ia hendak mencari suhu-nya. Mendengar bahwa suhu-nya pergi bersama tentara Sung ke utara, ia segera keluar dari kota raja untuk menyusul suhu-nya. Sekarang ia pergi ke kota raja dengan tujuan lain, yaitu mencari tahu tentang diri kekasihnya, Suma Ceng.

Hatinya berdebar ketika ia memasuki pintu gerbang kota raja. Ia tahu betapa hubungannya dengan Suma Ceng kurang lebih tiga tahun yang lalu telah menimbulkan kegemparan di dalam rumah tangga keluarga Pangeran Suma Kong. Dia sendiri telah disiksa dan kalau tidak ditolong suhu-nya, tentu ia akan tewas tersiksa. Akan tetapi bagaimanakah dengan Suma Ceng? Darahnya naik dan mukanya menjadi panas kalau ia membayangkan jangan-jangan kekasihnya itu mengalami siksa dan derita pula, jangan-jangan malah telah mati! Ia menggereget giginya. Ia harus menyelidiki dan membuktikan bahwa Suma Ceng kekasihnya tidak sengsara hidupnya.

Ia memasuki pintu gerbang kota raja ketika hari sudah menjelang senja. Keadaan mulai sepi, apalagi karena Bu Song masuk dari pintu gerbang bagian selatan, ia melalui pinggiran kota raja yang paling sunyi. Mendadak ia mendengar suara ribut-ribut di sebelah depan. Bu Song melihat seorang laki-laki muda, berpakaian penuh tambalan akan tetapi baik baju mau pun tambalannya terbuat dari kain baru dan bersih sekali sehingga lebih patut disebut pakaian berkembang aneh, sedang berdiri bertolak pinggang dan memaki-maki belasan pengemis berpakaian penuh tambalan dan butut.

Tertarik hati Bu Song dan ia segera mendekat. Pengemis baju bersih itu usianya kurang lebih tiga puluh tahun, sedangkan sebelas orang pengemis baju kotor paling muda berusia tiga puluh lima tahun. Akan tetapi sungguh mengherankan betapa belasan pengemis itu yang kelihatan murung dan muram wajahnya, sama sekali tidak berani membalas atau marah saat dimaki-maki oleh si Pengemis Baju Bersih. Bahkan seorang di antara mereka yang usianya sudah amat tua dengan muka sabar berkata,

“Sudahlah, Sahabat muda. Harap kau suka maafkan kami orang-orang tua yang tadi tidak mengenal siapa adanya engkau.”

“Huh, memang kalian ini jembel-jembel busuk! Biar pura-pura sudah menerima kalah dan menjadi jembel, masih bersikap sombong-sombongan. Kau kira engkau masih guru silat kenamaan dan anggota-anggota Sin- kauw-bukoan? Huh!” Pengemis muda baju bersih itu lalu menggerakkan kaki menendang. Tendangan keras dan mengandung tenaga mengenai perut kakek jembel itu hingga mengeluarkan suara berdebuk keras.

Bu Song terkejut. Tendangan itu keras sekali dan dapat diduga bahwa pengemis baju bersih itu memiliki tenaga kasar yang amat kuat. Akan tetapi ketika mengenai perut si Kakek, agaknya tidak terasa apa-apa oleh kakek itu. Diam-diam ia merasa kagum dan heran. Terang bahwa ilmu kepandaian kakek jembel berbaju kotor itu jauh lebih tinggi dari pada kepandaian si Pengemis Baju Bersih, akan tetapi mengapa dihina diam dan mengalah saja?

Bahkan kini pengemis baju bersih itu marah-marah dan memaki-maki, “Kau hendak melawan? Mengandalkan ilmu kepandaianmu?” Sambil memaki, pengemis baju bersih ini menggerakkan kaki tangannya, menghantam dan menendang.

Biar pun kakek itu dapat menerima tendangan dan pukulan ini tanpa terluka, namun ia terhuyung-huyung dan ketika ia mundur-mundur, tak diketahuinya bahwa di belakangnya terdapat selokan. Kakinya terpeleset dan ia jatuh ke dalam selokan yang airnya kotor!

Pengemis baju bersih itu tertawa bergelak, lalu pergi dari situ dengan lagak sombong. Para pengemis baju kotor yang lain hanya memandang lalu menundukkan kepala sambil menarik napas panjang. Jelas bahwa mereka ini pun menahan kemarahan hati dan melihat gerak-gerik mereka, Bu song dapat menduga pula bahwa mereka ini pun bukan orang sembarangan dan belum tentu kalah oleh pengemis baju bersih yang sombong tadi. Akan tetapi mengapa mereka itu, seperti juga kakek yang dipukulinya tadi, diam saja dan mengalah?

Setelah pengemis baju bersih itu pergi tak tampak lagi, kakek pengemis yang jatuh ke dalam selokan tadi membanting banting kaki dan menarik napas panjang berulang-ulang sambil mengeluh, “Aahhh… heh…!”

“Suhu, mengapa Suhu menerima terus-menerus penghinaan macam ini? Mari kita serbu saja dan mengadu nyawa dengan si bedebah!” seorang pengemis yang termuda berkata, suaranya mengandung penasaran.

“Hushh, jangan bicara sembarangan!” kakek itu menegur, lalu kembali menghela napas dan menggeleng- geleng kepalanya.

Seorang pengemis lain yang lebih tua berkata, “Twa-suheng (Kakak Tertua), ada benarnya juga ucapan muridmu. Seorang gagah lebih baik mati dari pada mengalami penghinaan dalam hidupnya!”

“Sudahlah, Sute (Adik Seperguruan). Melawan tanpa perhitungan kepada lawan yang jauh lebih kuat sehingga lebih merupakan bunuh diri, bukanlah gagah namanya, melainkan bodoh. Siapa orangnya mau mengalami penghinaan? Aku pun tidak suka, akan tetapi kita harus mencari jalan keluar yang baik, menanti kesempatan yang tepat!”

“Akan tetapi sampai kapan kita menanti lagi, Suhu?” Si murid mendesak, “Mungkin Suhu cukup sabar menghadapi semua penghinaan itu, akan tetapi teecu (murid) tidak dapat bertahan lagi, Suhu. Lain kali, kalau mereka itu berani sekali lagi melakukan penghinaan terhadap Suhu, teecu tidak berani tanggung apakah teecu akan dapat menahan diri. Agaknya pasti akan teecu lawan dengan taruhan nyawa! Teecu rasa, biar pun akhirnya kita kalah oleh si Bedebah she Pouw, namun sebelum kita mati, kita tentu dapat membunuh puluhan orang musuh sehingga mati pun tidak penasaran!”

Si Kakek kembali menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Percuma… tidak ada gunanya…!”

Bu Song adalah seorang yang masih muda. Melihat sikap pengemis baju bersih tadi pun hatinya sudah merasa mendongkol. Kini mendengarkan perbantahan antara guru dan murid ini, ia merasa penasaran dan tanpa disadarinya ia lalu berkata, “Muridnya begitu bersemangat, gurunya begini melempem, sungguh lucu. Kalau seseorang sudah kehilangan keberaniannya menentang si jahat, dia tidak patut menjadi guru lagi!”

Pengemis termuda yang menjadi murid kakek itu tiba-tiba melompat ke depan Bu Song dan semua pengemis kaget dan heran. Mengapa ada orang mendekati mereka tanpa mereka ketahui?

“Eh, orang muda, lancang sekali mulutmu berani menegur Suhu! Tidak tahukah engkau dengan siapa kau berhadapan? Suhu adalah Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu (Guru Silat Liong berjuluk Kepalan Monyet Sakti), dahulu jagoan kota Sin-Yang! Hayo lekas kau minta maaf dan menarik kembali omonganmu yang lancang kalau kau tidak ingin merasai pukulanku!”

“Aihh… aihh…! Kenapa mendadak menjadi begini galak? Tadi kau diam saja ketika ada pengemis tolol memaki-maki lalu memukul dan menendang Kakek ini sampai masuk selokan bau!”

Sejenak mereka itu memperlihatkan muka malu, akan tetapi pengemis muda itu, yaitu yang termuda di antara mereka, baru tiga puluh lima tahun, lalu membentak marah. “Urusan sesama kaum kai-pang (perkumpulan pengemis) tidak ada hina-menghina, pula merupakan urusan dalam, bukan urusanmu. Akan tetapi engkau ini orang luar berani menghina kami? Tidak tahukah bahwa kami adalah bekas orang-orang Sin-kauw-bukoan yang terkenal?”

Bu Song tersenyum. Tentu saja dia tidak pernah mendengar Sin-kauw-bukoan (Perguruan Monyet Sakti). Kalau mereka ini bekas orang-orang perguruan silat ternama, mengapa sekarang menjadi pengemis? Bahkan agaknya golongan pengemis yang paling rendah tingkatnya. Buktinya tadi mereka ini tidak berani melawan walau pun diperhina oleh pengemis lain yang jelas kepandaiannya tidak berapa tinggi.

“Aku bicara sejujurnya. Siapa menghina? Dan kau ini galak amat, mau apa?” Bu Song sengaja memancing kemarahan orang.

Cepat sekali pengemis itu menerjangnya dengan pukulan ke arah dada, disusul dengan tangan kiri mencengkeram ke arah lambung. Memang Bu Song hendak menguji kepandaian mereka ini, terutama kepandaian mereka yang menjadi guru dan setingkatnya. Dengan tenang ia menggerakkan kakinya mundur dua langkah, sengaja berlaku lambat untuk memancing lawannya. Benar saja, lawannya terkena pancingannya karena menyangka bahwa ia tidak begitu lihai sehingga dengan girang lawannya sudah menubruk maju, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada dengan keyakinan pasti kena. Bu Song memiringkan tubuhnya, menyampok dari samping dan mengerjakan kakinya, yaitu ujung sepatunya menotok sambungan lutut. Tak dapat dicegah lagi pengemis itu terguling!

Terdengar teriakan keras dan tahu-tahu orang yang disebut adik seperguruan kakek itu tadi menyerbu. Pukulannya jauh lebih cepat dan berat jika dibandingkan dengan murid keponakannya yang kini sudah merangkak bangun sambil memijit-mijit lututnya. Diam-diam Bu Song makin terheran. Kepandaian murid tadi, apalagi paman guru ini, agaknya sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan pengemis baju bersih yang menghina tadi. Apalagi kepandaian si Kakek yang berjuluk Sin-kauw-jiu itu!

Mengapa mereka sama sekali tidak melawan tadi dan kini terhadap seorang luar seperti dia, biar pun kata- katanya sejujurnya dan sama sekali tidak bisa dibilang menghina, mereka sudah turun tangan? Di samping keheranannya ini, hatinya pun tertarik dan suka kepada para pengemis baju kotor ini. Jelas bahwa jika maju seorang demi seorang, mereka itu bukan tandingannya. Namun mereka tidak mau maju mengeroyok. Hal ini saja membuktikan bahwa mereka ini bukan golongan orang-orang jahat yang mengandalkan kepandaian atau teman banyak untuk berlaku sewenang-wenang dan menghina orang lain. Sikap mereka terhadapnya adalah sikap orang gagah yang hendak memperebutkan kebenaran dan kehormatan dengan ilmu kepandaian secara gagah pula.

Karena tertarik dan ingin berkenalan, Bu Song tidak mau mempermainkan lawannya terlalu lama. Dengan gerakan indah, ia berhasil merobohkan lawannya dengan sebuah dorongan yang disertai tenaga dalam. Biar pun dorongannya tidak menyentuh dada orang, namun pengemis itu tetap saja tanpa dapat ia pertahankan lagi, roboh terjengkang ke belakang dan hanya dengan berjungkir balik saja ia dapat menyelamatkan diri tidak terbanting keras! Namun hal ini sudah cukup membuka matanya bahwa orang muda yang kelihatan lemah ini sama sekali bukan tandingannya. “Kau hebat, orang muda!”

Orang ketiga yang lebih tua sudah menyambar ke depan. Orang ini adalah kakak seperguruan dari yang tadi roboh, merupakan orang ke dua di Sin-kauw-bukoan. Pukulannya mengandung tenaga Iwee-kang yang ampuh dan kuat sehingga setiap ia menggerakkan tangannya, terdengar suara angin menyambar. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba lawannya berkelebat dan lenyap dari depannya! Pengemis yang berwajah muram ini kaget dan bingung, lalu mendengar suara ketawa di belakangnya. Ketika ia membalikkan tubuh, kiranya lawannya sudah berada di situ, enek-enak saja tersenyum dan memandangnya.

Ia menjadi penasaran dan cepat menerjang lagi, kini menggunakan kedua tangan yang dibuka jari-jarinya, seperti tangan monyet hendak mencengkeram. Hebat tubrukannya ini karena tangan itu tidak segera mencengkeram, melainkan menanti ke mana lawan akan mengelak. Gerak tipu Ilmu Silat Monyet Sakti ini amat hebat dan jarang sekali gagal. Namun kembali matanya mejadi kabur karena lawannya yang muda itu berkelebat tanpa dapat ia duga ke mana, hanya tahu-tahu sudah melewati atas kepalanya. Ketika ia memutar tubuh, kembali orang muda itu berkelebat menyelinap dari samping, kemudian pada detik selanjutnya, sebelum ia sempat membalikkan tubuh, ia merasa tengkuknya disentuh oleh jari-jari tangan yang hangat. Pengemis ini kaget sekali dan berseru, “Hebat… aku mengaku kalah…!” Ia melompat ke pinggir dan memandang dengan mata terbelalak keheranan.

Kini kakek tua renta itu berjalan maju. Langkahnya sudah membayangkan usia tua. Matanya memandang Bu Song, berkedip-kedip penuh keheranan. “Melihat gerakanmu, orang muda, kau mengingatkan aku akan seseorang… ah, seseorang yang tadinya kukagumi, akan tetapi ternyata mengecewakan hatiku….”

Makin tertarik hati Bu Song. “Siapakah orang itu, Sin-kauw-jiu Liong-kauw-su?

“Ah, jangan sebut-sebut julukanku yang kosong melompong. Dan aku bukan kauwsu lagi melainkan seorang jembel busuk yang tiada harganya. Sebut saja aku Lokai (Pengemis Tua). Nama orang itu selalu kusimpan sebagai rahasia, biar pun dia sudah mengecewakan hatiku, namun tidak akan kusebut-sebut. Akan tetapi karena gerakanmu mirip dia, kalau kau bisa mengalahkan toyaku, biarlah hitung-hitung aku kalah bertaruh dan akan kusebut namanya di depanmu. Kau jagalah, orang muda!” Kakek itu menerima sebatang toya kuningan yang kedua ujungnya dilapis baja. Begitu toya itu berada di kedua tangannya, benda itu seakan-akan menjadi hidup dan bergerak-gerak amat cepatnya.

“Orang muda, keluarkan senjatamu, mari kita main-main sebentar!”

Sesungguhnya, biar pun kakek ini kelihatannya jauh lebih lihai dari pada si murid atau sute-nya tadi, Bu Song tidak takut menghadapinya dengan tangan kosong. Akan tetapi mengingat bahwa kakek ini adalah seorang yang dahulunya tentu ternama, ia pun segan untuk memandang rendah. Ia tidak mempunyai permusuhan dengan mereka, apalagi Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu, dan ia bahkan menaruh iba kepada bekas guru silat dan murid-muridnya ini yang telah merosot derajatnya menjadi pengemis-pengemis yang dihina orang. Di samping rasa iba ini, ada pula rasa penasaran mengapa semangat si guru demikian melempem dan tidak layak menjadi sikap seorang gagah?

“Kauwsu, bukan aku yang mengajak berkelahi. Kalau tidak terdesak, untuk apa aku mengeluarkan senjata? Aku tidak mau melukai orang!” jawabnya. “Kalau kau hendak main-main, silakan mulai.”

Kakek itu kelihatan marah sekali. “Sudah terlalu lama dihina orang tanpa berani membalas! Sekarang ada engkau ini orang muda yang datang-datang menghina kami. Orang muda, jangan salahkan aku kalau toyaku tidak mengenal kasihan. Kau sambutlah!” Tampak gulungan sinar kuning ketika toya itu menyambar dahsyat, menyerang dengan pukulan menyamping ke arah lambung kiri Bu Song disusul gentakan ujung lain yang menyusul dengan hantaman ke arah kepala andai kata pukulan pertama dapat dielakkan.

Akan tetapi, sekali berkelebat tubuh orang muda itu lenyap dari depannya! Liong-kauwsu terkejut, cepat membalikkan tubuh menggerakkan toyanya, lalu menerjang ke belakang tubuh. Benar saja dugaannya, orang muda yang dapat bergerak luar biasa cepatnya itu tadi telah berada di belakangnya sehingga serangan susulannya ini tepat sekali.

Dengan tusukan kuat ujung toyanya menyambar ke arah dada, kemudian ketika orang muda itu mengelak ke kiri, toyanya mengejar terus dengan sontekan ke kanan, menghantam leher lalu disontekkan lagi, menggunakan ujung yang lain menyerampang kaki. Semua ini dilakukan oleh kakek itu dengan kecepatan kilat, dan biar pun ia sudah tua, namun tiap kali digerakkan, kedua ujung toya itu menggetar dan dilihat dengan mata biasa ujungnya berubah menjadi puluhan batang.

“Ilmu toya yang bagus!” Bu Song memuji akan tetapi kembali tubuhnya lenyap tanpa diketahui kakek itu saking cepatnya.

Dari belakangnya Liong-kauw-su merasa betapa ujung toyanya disentuh lawan. Ia cepat membalikkan tubuh dan melihat lawannya itu tersenyum-senyum berdiri di belakangnya, kini sudah mengeluarkan sebuah benda kuning berkilauan di tangan. Bukan main kaget dan kagumnya hati kakek itu. Ia tadi maklum bahwa lawannya akan mudah merobohkannya, atau merampas toyanya, karena bukankah tadi lawannya sudah menyentuh ujung toya dari belakang sebelum ia mampu membalikkan tubuh?

Akan tetapi orang muda itu tidak melakukan hal ini, bahkan mengeluarkan senjata, padahal dengan tangan kosong sekali pun agaknya akan sukar baginya untuk mengalahkan orang muda ini. Ketika ia memperhatikan senjata di tangan orang muda itu, ia berseru kaget, juga sute-nya berseru, “Kim-siaw (Suling Emas)…!”

Bu Song memandang suling emas di tangannya dan pada saat itu jantungnya berdebar aneh. Nama yang bagus! Kim-siauw! Namanya sendiri sudah lapuk, sudah terlalu banyak mendatangkan hal-hal yang menyedihkan! Namanya sendiri, Bu Song, selalu terkait dengan hal-hal yang mematahkan hati, mengingatkan ia akan ayah bundanya yang cerai-berai, akan hidupnya yang sebatang kara. Mengingatkan ia akan pengalaman-pengalamannya yang pahit-getir, akan kematian Kwee Eng yang sudah dicalonkan menjadi isterinya, wanita pertama yang merampas hatinya. Kemudian, yang masih membekas dalam sekali di kalbunya, mengingatkan ia akan Suma Ceng, wanita kekasihnya yang tadinya ia anggap sebagai pengganti Kwee Eng yang tewas. Nama Bu Song sungguh diselimuti kegelapan, nama yang sial.

Akan tetapi ia tidak dapat melamun terus karena kembali toya yang berat itu menyambar dibarengi seruan Liong-kauw-su. Tampak sinar emas bergulung-gulung ketika Bu Song menggerakkan sulingnya. Sinar ini seakan-akan merupakan tali emas yang menggulung dan melibat-libat toya, kemudian tanpa dapat dicegah lagi oleh Liong-kauwsu, juga tanpa ia ketahui bagaimana caranya, toyanya terlepas dari tangannya, melayang tinggi ke atas dan ketika turun, disambut oleh suling di tangan Bu Song, diputar-putar sampai berhenti melintang di atas suling yang disodorkan kepada Liong-kauwsu, diikuti kata-kata. “Terimalah kembali toyamu, Liong-kauwsu!”

“Hebat…! Kau lebih hebat dari pada Kim-mo Taisu…!” kakek itu berkata dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Juga murid-muridnya serta sute-nya memandang penuh kekaguman.

“Dan suling emas itu…! Orang muda, bolehkah kami mengetahui, siapakah namamu yang mulia?”

Bu Song tersenyum pahit, memandang sulingnya yang ia pegang di tangan kanan, ditegakkan lurus depan muka, kemudian berkata, “Suling emas… suling emas… inilah namaku… Suling Emas!”

Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu adalah seorang kang-ouw yang sudah banyak pengalaman. Ia maklum bahwa orang muda ini adalah seorang sakti yang tidak mau namanya dikenal. Timbul harapan dalam hatinya bahwa orang muda yang luar biasa ini akan dapat membantunya menebus semua penghinaan dan sakit hati yang selama puluhan tahun ia derita.

Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang yang datang-datang membentak, “Lagi-lagi ada manusia tak berbudi yang berani menghina kaum jembel mengandalkan kepandaiannya?”

Para kakek pengemis dan juga Suling Emas (karena Bu Song sendiri merubah namanya, mulai sekarang kita mengenalnya sebagai Suling Emas) menoleh dan melihat bahwa yang datang itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannya tambal-tambalan dan bahkan kedua lengan bajunya buntung compang-camping, memakai caping (topi petani) lebar yang menutupi sebagian mukanya. Juga capingnya itu butut, compang-camping pinggirnya. Namun tubuh orang itu tampak kuat, matanya bersinar-sinar, mukanya bersih tidak berjenggot. Celananya yang butut juga buntung sebatas lutut. Setelah berkata demikian, serta merta orang yang baru tiba ini menerjang Suling Emas dengan serangan-serangan kilat.

“Eh, sahabat… jangan salah kira. Dia… Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) tidak…” Liong-kauwsu tidak melanjutkan kata-katanya karena Suling Emas sudah memotong.

“Biarlah, Kauwsu. Orang ini lihai, biarkan kami main-main sebentar!”

Memang Suling Emas kagum menghadapi serbuan orang yang baru datang ini. Baru bergebrak sejurus saja tahulah bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada tingkat kakek guru silat itu. Pukulan kedua tangan dan tendangan kedua kakinya mendatangkan angin halus, seakan-akan tidak mengandung tenaga, namun ternyata penuh dengan tenaga sinkang yang amat kuat. Juga gerakan-gerakannya aneh dan membingungkan serta cepat sekali, membuktikan bahwa ginkang orang ini pun sudah mencapai tingkat tinggi!

Suling Emas sudah menyimpan sulingnya dan cepat ia mengelak lalu balas menyerang, juga mempergunakan kecepatan gerakannya. Ia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut sampai hampir berjongkok untuk menghindarkan hantaman kedua tangan kearah dada dan leher tadi, sambil secepat kilat membalas dengan tusukan jari-jari tangannya ke arah pusar lawan. Dengan amat cepatnya tubuh lawannya itu sudah melambung tinggi sehingga tusukannya tak berhasil. Dari atas pengemis itu sudah berjungkir balik dan kini melakukan serangan dari atas, dengan kepala di bawah kaki di atas, tangan kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dan tangan bergerak membentuk lingkaran-lingkaran untuk mencegah jalan ke luar!

Suling Emas maklum bahwa menghadapi serangan ini, tidak ada jalan untuk mengelak. Satu-satunya jalan hanyalah mengadu tenaga. Karena lawan ini melayang turun sehingga tenaganya ditambah oleh berat tubuh serta tenaga luncuran turun, tentu saja orang itu lebih menguntungkan keadaannya. Namun ia tidak gentar, bahkan ia lalu memasang kuda-kuda. Kedua kakinya seakan berakar di atas tanah, membiarkan lawan melayang turun sampai dekat lalu tiba-tiba kedua tangannya bergerak mengimbangi kedudukan kedua tangan lawan untuk menangkis.

“Dukkk…!!” dua pasang tangan bertemu dan akibatnya tubuh pengemis itu mencelat ke atas sampai lima meter lebih, sedangkan kuda-kuda Suling Emas sungguh pun tidak tergeser, namun kedua kakinya melesak ke dalam tanah sampai lewat sepatunya!

Pengemis ini memang hebat. Walau pun tubuhnya terlempar begitu tinggi, namun ia tidak kehilangan akal. Beberapa kali pinggangnya bergerak, tubuhnya melentik seperti ular dan ia sudah berhasil memulihkan keseimbangan tubuhnya, lalu meloncat turun dengan gerakan ringan, tepat berdiri menghadapi Suling Emas. Keduanya saling pandang penuh kekaguman.

“Kepandaianmu luar biasa sekali, sobat!” kata Suling Emas sambil tersenyum. Kata-kata ini keluar dari hatinya yang tulus karena memang ia kagum menyaksikan kepandaian pengemis ini. Ketika tadi terlempar ke atas, caping pengemis itu terlepas dan tampaklah kini wajahnya yang cukup tampan dan gagah. Wajah yang banyak membayangkan kepahitan hidup, rambutnya awut-awutan, namun bersih dan mengandung cahaya bersemangat.

Di lain pihak, pengemis itu agaknya merasa penasaran, kagum, dan juga kaget. Tentu saja ia tidak menyangka akan berhadapan dengan orang yang begini sakti. Mendengar ucapan Suling Emas dan melihat senyum itu, ia salah sangka, mengira bahwa lawannya mengejek. Maka ia lalu memandang dengan sinar mata tajam, mulutnya berkata penuh geram, “Orang muda, kau memang hebat! Akan tetapi jangan kau tertawa-tawa lebih dahulu. Aku Yu Kang baru menerima kalah kalau kau mampu mengalahkan senjataku ini!”

Suling Emas sudah menaruh hati sayang kepada pengemis yang amat lihai ini, maka ia tidak ingin menanam permusuhan. Akan tetapi sebelum ia mampu menjawab, pengemis yang bernama Yu Kang itu dengan jari-jari kaki telanjang telah menggenjot tanah dan tubuhnya melayang ke depan Suling Emas, tangan kanannya sudah memegang sebatang tongkat rotan kecil. Tongkat itu tadinya terselip di belakang punggungnya.

Kelihatannya sederhana sekali, besarnya hanya seibu jari kaki, panjangnya dua lengan. Namun melihat betapa ‘senjata’ yang lebih patut disebut senjata kanak-kanak bermain perang-perangan itu setelah berada di tangan pengemis ini menggetar-getar dan mengeluarkan suara melengking tiada hentinya. Diam-diam Suling Emas kaget dan cepat ia pun mencabut sulingnya. Gerakan tongkat rotan yang mengeluarkan suara melengking itu mengandung tenaga lweekang yang hebat, maka Suling Emas segera memutar sulingnya pula dan terdengarlah suara melengking lebih tinggi dan nyaring.

“Bagus! Sambutlah seranganku!” Yu Kang berseru keras dan tubuhnya menyambar maju, tongkatnya bekelebatan dan membentuk sinar kilat menyambar amat cepatnya.

Suling Emas pun maklum akan bahayanya serangan ini, maka ia lalu menggerakkan sulingnya dan lenyaplah bentuk suling, berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang membentuk lingkaran-lingkaran. Ia telah mainkan jurus-jurus Pat-sian Kiam-hoat yang luar biasa ampuhnya. Harus diakui bahwa di antara para tokoh persilatan, banyak kiranya yang mengenal tokoh persilatan, banyak kiranya yang mengenal Pat-sian Kiam- hoat, bahkan banyak yang ahli. Namun Pat-sian Kiam-hoat yang dimainkan oleh Suling Emas ini lain dari pada yang lain.

Kalau Pat-sian Kiam-hoat biasa mempunyai enam puluh empat jurus, akan tetapi Pat-sian Kiam-hoat yang diwariskan oleh Kim-mo Taisu kepada Suling Emas hanya mempunyai enam belas jurus. Enam belas jurus yang sudah mencakup semua inti sari Pat-sian Kiam-hoat, bahkan sudah pula meliputi bagian-bagian terpenting yang terpendam. Di samping ini, setelah semua pintu dalam tubuh Suling Emas dibuka oleh Bu Tek Lojin, maka sinkang di tubuhnya dapat bergerak lancar sehingga permainan ilmu pedang ini menjadi makin hebat. Setiap gerakan dan getaran mengandung hawa sakti yang dahsyat.

Sin-kauw-jiu Liong Kong, guru silat yang telah menjadi pengemis itu, bersama murid-muridnya dan sute-nya, menjadi penonton yang bengong terlongong. Terheran-heran mereka menonton pertandingan luar biasa ini. Tak dapat mata mereka mengikuti gerakan kedua orang muda itu, yang tampak hanyalah gulungan sinar kuning bercampur aduk dengan kilatan ujung tongkat yang menjadi ratusan banyaknya, membungkus bayangan dua orang yang tidak kelihatan bentuknya dan kabur saking banyaknya!

Diam-diam guru silat itu menarik napas panjang dan insyaf betapa ilmu kepandaian di dunia itu tiada batasnya. Dahulu ia amat kagum kepada sahabatnya, Kim-mo Taisu yang gerakannya sama dengan Pendekar Suling Emas ini. Kemudian ia dibikin penasaran akan tetapi tidak berdaya oleh seorang tokoh muda yang baru, dua puluh tahun yang lalu, yaitu orang yang mengaku menjadi raja pengemis, berjuluk Pouw-kai-ong (Raja Pengemis Pouw) yang memiliki ilmu kepandaian hebat pula. Kini di depan matanya, bertanding dua orang muda yang begini hebat, benar-benar membuat ia merasa betapa tingkat kepandaiannya sendiri sebenarnya bukan apa-apa!

“Wah-wah-wah, kau hebat! Aku mengaku kalah!” tiba-tiba terdengar Yu Kang berseru keras dan tubuhnya terlempar sejauh enam tujuh meter di mana kedua kakinya berhasil menahan robohnya, akan tetapi ia masih tetap saja terhuyung-huyung!

Suling Emas sudah menyimpan sulingnya, melangkah maju sambil menjura. “Yu-twako, kau benar-benar hebat! Aku kagum sekali.”

Pengemis muda itu menghela napas, berjalan maju, meyelipkan tongkatnya di belakang punggung sambil berkata, “Sudahlah, tak perlu kau merendah. Sudah jelas aku bukan tandinganmu. Andai kata si keparat she

Pouw itu selihai engkau, biarlah aku mati di tangannya dan mendiang ayah takkan dapat tenang dalam kuburnya!” Setelah berkata demikian, Yu Kang melangkah pergi.

“Yu-enghiong (Orang Gagah she Yu), nanti dulu…!” tiba-tiba Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu berseru sambil mendekat.

Yu Kang membalikkan tubuhnya. “Kau orang tua mau apa lagi? Aku melihat betapa kalian jembel-jembel tiada guna dipermainkan orang-orang, akan tetapi aku sendiri juga seorang jembel tiada guna, tak dapat membela kalian.”

“Bukan demikian, Yu-enghiong. Ketahuilah bahwa kami sama sekali tidak dihina oleh Kim-siauw-eng, sama sekali tidak! Yang menghina kami adalah si keparat she Pouw yang kau sebut tadi! Dua puluh tahun kami dihina dan ditindas, karena itu mohon bantuan Yu-enghiong. Marilah kita bersatu untuk menghadapi Pouw-kai- ong yang jahat!”

Yu Kang melotot, terheran. “Kalian ini pun mendendam kepada Pouw-kai-ong si jahat?”

Tiba-tiba Suling Emas yang mendengarkan percakapan itu berkata, “Ah, kiranya kita adalah orang-orang segolongan. Aku sendiri pun boleh dianggap sebagai seorang musuh besar Pouw-kai-ong, bahkan beberapa kali pernah aku bertanding melawan dia dan kawan-kawannya!”

Kakek itu berseru girang, lalu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang muda gagah itu, diturut oleh teman-temannya. “Mohon bantuan Ji-wi Enghiong membasmi Pouw-kai-ong yang jahat…”

“Lo-kai (Pengemis Tua), harap jangan banyak tingkah. Kita dapat saling bantu dalam hal ini. Bangunlah! Lo-kai ini dari kai-pang (perkumpulan pengemis) yang manakah? Aliran apa?” Pertanyaan Yu Kang ini diajukan dengan sikap penuh wibawa yang menunjukkan bahwa dia agaknya mengenal baik akan peraturan perkumpulan pengemis.

Orang tua itu bangkit berdiri dan sukar untuk menjawab. Timbul kekhawatiran di hatinya bahwa pengemis muda yang perkasa ini takkan mau bekerja sama kalau mendengar bahwa dia sebetulnya bukan pengemis sama sekali, melainkan pengemis paksaan!

Melihat keadaan kakek itu meragu, Suling Emas lalu berkata, “Saudara Yu Kang, Lopek (Paman Tua) ini sama sekali bukan pengemis. Dia dahulu adalah kedua dari Sin-jiu-bu-koan, berjuluk Sin-kauw-jiu bernama Liong Keng.”

“Nama kosong belaka…, nama kosong belaka…,” Liong-kauwsu menggoyang-goyang kedua tangan dengan perasaan malu.

“Hemm, kalau begitu bukan golongan pengemis? Mengapa berpakaian pengemis? Mau main-main dengan pengemis, ya? Liong-kauwsu, kalau kau dan kawan-kawanmu ini hanya pura-pura menjadi pengemis untuk mencapai tujuan, aku tidak sudi bekerja sama!”

“Tidak… tidak… ah, Yu-enghiong salah sangka. Memang kami terpaksa menjadi pengemis, akan tetapi andai kata pembalasan dendam kami sudah terkabul, kami pun tetap akan menjadi pengemis. Kami sudah tidak punya apa-apa, dan untuk selanjutnya, kami rela menjadi pengemis asal saja si Keparat Pouw-kai-ong sudah mendapat hukumannya!”

“Kalau begitu, boleh kita bekerja sama,” kata Yu Kang mengangguk-angguk.

“Marilah Ji-wi Enghiong, kita bicara sambil berunding di tempat kami, di bawah jembatan Tembok Merah.”

Yu Kang mengangguk dan Suling Emas juga menerima baik undangan ini. Mereka lalu berangkat menuju ke jembatan besar di pinggir kota itu dan turunlah mereka ke kolong jembatan. Di tempat sederhana inilah Liong- kauwsu beserta anak buahnya tinggal! Biar pun kolong jembatan, karena dirawat maka tanahnya cukup bersih dan baunya tidak busuk. Beberapa orang murid Liong-kauwsu sibuk menyembelih angsa besar yang mereka

tadi tangkap, entah dari mana. Tak lama kemudian bau harum paha angsa dipanggang membuat air liur memenuhi mulut. Beberapa orang lagi mengeluarkan cawan retak dan seguci besar arak!

Mereka bercakap-cakap sambil memegangi paha angsa panggang yang gurih dan berlemak, menggerogoti daging yang lezat didorong masuk arak keras. Mereka duduk seenaknya, ada yang berjongkok, ada yang bersandar pada dinding jembatan, ada pula yang berdiri, ada pula yang sambil rebah-rebahan dan mencari kutu pada baju mereka yang rombeng! Suling Emas duduk bersila di tengah-tengah dan ikut makan dengan enaknya.

Yang mendapat giliran pertama untuk bercerita adalah Liong-kauwsu. Kakek ini menghentikan makannya, melempar tulang paha angsa ke tengah air kali yang mengalir di dekat mereka, mengusap minyak lemak dari bibir dengan ujung bajunya yang kotor, kemudian menarik napas dan bercerita. “Belasan tahun yang lalu terjadinya mala-petaka itu, yang merubah semua jalan hidupku dan murid-muridku serta keluarga kami….” Ia menarik napas panjang lagi, kemudian ia menceritakan pengalamannya secara jelas singkat seperti berikut.

Perguruan Sin-kauw-bu-koan di kota Sin-yang cukup terkenal karena baik gurunya, yaitu Sin-kauw-jiu Liong Keng, mau pun para murid-muridnya merupakan orang-orang gagah yang biar pun kuat tidak mempergunakan kekuatannya untuk melakukan penindasan, bahkan membela kebenaran dan keadilan. Liong-kauwsu tidak mempunyai anak keturunan sendiri, akan tetapi ia mengangkat seorang murid wanita sebagai anak. Wanita itu bernama Liong Bi Loan, seorang gadis cantik yang pandai silat.

Pada suatu hari, Liong Bi Loan bertemu dengan Pouw-kai-ong yang ketika itu masih muda dan tampan. Dalam pertandingan Bi Loan dikalahkan dan gadis ini terpikat, lalu lari bersama Pouw-kai-ong. Liong-kauwsu tidak mampu mencegahnya karena terhadap Pouw-kai-ong, ia sama sekali tidak berdaya, jauh kalah lihai kepandaiannya.

Seperti telah kita ketahui, dalam kesedihan dan kebingungannya, Liong-kauwsu bertemu dengan Kim-mo Taisu, kemudian minta pertolongan Kim-mo Taisu untuk menghadapi Pouw-kai-ong. Akan tetapi Kim-mo Taisu tidak dapat berbuat sesuatu terhadap Pouw-kai-ong ketika pendekar ini melihat betapa gadis puteri guru silat itu dengan suka rela ikut Pouw-kai-ong! Hal inilah yang membuat kecewa hati Liong-kauwsu yang tadinya amat mengharapkan Kim-mo Taisu berhasil membawa pulang puteri angkatnya. Terpaksa ia menerima keadaan dan tidak mau merintangi lagi puteri angkatnya yang ikut Pouw-kai-ong.

Akan tetapi dua tahun kemudian, luka dihatinya menjadi robek kembali ketika Liong-kauwsu mendengar kabar betapa anak angkatnya itu hidup merana dan sengsara di samping Pouw-kai-ong yang mulai nampak ‘belangnya’. Pouw-kai-ong sudah mulai bosan dan memperlakukan Liong Bi Loan seperti seorang budak belian, bahkan tidak jarang memukulinya. Kemudian secara berterang Pouw-kai-ong main gila dengan wanita- wanita lain dengan memaksa Liong Bi Loan melayani dia berpesta dengan perempuan-perempuan lain yang menjadi kekasih baru. Akhirnya Liong Bi Loan tak kuat menahan, untuk melawan ia kalah kuat, dan wanita ini mengambil jalan terakhir dengan menggantung diri!

Mendengar ini Liong-kawsu dan beberapa orang muridnya yang setia, juga dua orang sute-nya, secara nekat menyerbu ke tempat yang dijadikan markas besar Pouw-kai-ong, yaitu sebuah kuil tua di luar kota Kang-hu, bekas markas besar perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang. Namun, mereka ini sama sekali bukanlah tandingan Pouw-kai-ong. Bahkan bukan Pouw-kai-ong sendiri yang turun tangan, baru anak buahnya saja sudah membuat Liong-kauwsu dan anak buahnya kocar-kacir dan dihajar habis-habisan.

Pouw-kai-ong tidak membunuh Liong-kauwsu, namun merampas semua miliknya, kemudian memaksa bekas Ketua Sin-kauw-bu-koan ini bersama anak buahnya hidup sebagai anggota kai-pang, berpakaian seperti pengemis! Lebih hebat lagi, rombongan Liong-kauwsu ini selalu dihina oleh anak buah Pouw-kai-ong yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih, atau terkenal dengan sebutan pengemis baju bersih, sebaliknya dari pada rombongan Liong-kauwsu dan para pengemis taklukan lain yang disebut rombongan pengemis baju kotor.

“Demikianlah, Kim-siauw-hiap (Pendekar Suling Emas),” Liong Keng mengakhiri ceritanya dengan muka berduka. “Bertahun-tahun kami menderita penghinaan dan sepatutnya penderitaan ini kami akhiri dengan bunuh diri saja seperti yang dilakukan puteriku. Akan tetapi dalam hati ini masih belum mau menerima, masih menyimpan penasaran dan dendam setinggi langit, masih selalu mengharapkan kesempatan untuk membalas!

Oleh karena itulah, sampai begini tua saya tetap mempertahankan nyawa untuk menanti datangnya kesempatan itu. Untung sekali hari ini mempertemukan kami dengan Ji-wi Taihiap (Kedua Pendekar Besar) sehingga boleh diharapkan cita-cita akan tercapai juga sebelum nyawa meninggalkan badan.”

Yu Kang melompat berdiri, membanting tulang paha angsa ke kanan. Tulang itu melesak ke dalam dinding tembok jembatan yang keras! “Harap Paman Tua Liong tidak berkecil hati. Dengan bekerja sama, masa si Keparat Pouw itu tidak akan dapat ditundukkan? Dengarlah baik-baik, aku Yu Kang juga sudah bersumpah, takkan berhenti berusaha sebelum si jahat Pouw Kee Lui menerima hukumannya. Seluruh keluargaku habis dibasmi keparat itu, dan hanya karena Tuhan menghendaki saja aku bebas dari pada pembasmian sehingga setidaknya ada keturunan ayah yang berusaha membalaskan dendam keluarga ini.”

Yu Kang lalu bercerita. Dia adalah putera bungsu mendiang Yu Jin Tianglo ketua perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang. Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, pada belasan tahun yang lalu ketika Pouw Kee Lui yang memiliki kepandaian tinggi itu muncul dari timur, dia telah menyerbu Khong-sim Kai-pang, merobohkan semua yang melawannya, membunuh Ketua Khong-sim Kai-pang sekeluarga, membunuh tokoh- tokoh Khong-sim Kai-pang pula dan merampas kedudukan ketua Khong-sim Kai-pang. Para anggota yang tidak mau tunduk dibunuhnya sehingga akhirnya para anggota lain menjadi ketakutan dan mengakui kekuasaan ketua baru ini, yang kemudian memakai julukan Pouw-kai-ong si Raja Pengemis Pouw. Bersama anak buahnya yang dilatihnya, ia menundukkan hampir seluruh perkumpulan pengemis sehingga julukannya ‘raja pengemis’ benar-benar tepat.

Akan tetapi sama sekali di luar dugaan Pouw-kai-ong yang cerdik bahwa ketika ia melakukan pembasmian terhadap keluarga Yu Jin Tianglo ketua Khong-sim Kai-pang, Yu Kang putera bungsu ketua pengemis itu yang baru berusia tiga belas tahun dan kebetulan sekali pada waktu peristiwa hebat terjadi, sedang bermain-main di luar kota sehingga terbebas dari pada maut. Ketika Yu Kang melihat keadaan keluarganya yang terbasmi habis, tidak seorang pun masih hidup, ayah bundanya, kakak-kakaknya, semua tewas di tangan Pouw-kai-ong, ia segera melarikan diri. Selama belasan tahun Yu Kang putera ketua pengemis Khong-sim Kai-pang ini menggembleng diri dengan ilmu silat, belajar dari tokoh-tokoh pengemis yang telah mengasingkan diri bertapa di gunung-gunung. Ia selalu berpakaian sebagai pengemis dan hidup sebagai pengemis pula, tetap setia kepada cara hidup ayahnya dan dendam di hatinya terhadap Pouw Kee Lui tak pernah terlupa sehari pun!

Setelah tujuh belas tahun menggembleng diri, kini dalam usia hampir tiga puluh tahun, barulah Yu Kang turun dari puncak gunung-gunung dan mulai mencari musuh besarnya, Pouw Kee Lui yang kini sudah menjadi Pouw-kai-ong. Karena tidak tahu harus mencari di mana, maka ia langsung menuju ke kota raja, oleh karena untuk mencari seorang ‘raja’ pengemis, kiranya paling tepat menyelidiki dari kota raja, pusat segala macam kegiatan.

“Demikianlah sedikit riwayatku, dan kebetulan aku bertemu dengan kalian yang kukira adalah pengemis- pengemis yang mengalami penghinaan. Di sepanjang perjalanan banyak aku mendengar akan perpecahan golongan pengemis menjadi dua, pengemis baju bersih dan pengemis baju kotor, dan tentang penindasan yang dilakukan pengemis baju bersih terhadap pengemis baju kotor. Siapa kira, pengemis baju bersih adalah pengikut-pengikut setia dari Pouw-kai-ong, musuh besarku! Di sepanjang jalan, tidak ada yang berani menyebut-nyebut tentang Pouw-kai-ong.”

Liong-kauwsu yang kini sudah berubah sebutan menjadi Liong-lokai (Pengemis Tua Liong) itu menarik napas panjang. “Memang demikianlah. Tidak ada yang berani membicarakan perihal Pouw-kai-ong, apalagi bicara buruk karena kaki tangannya banyak sekali dan hukumannya amatlah berat mengerikan.” Kakek itu kini menoleh kepada Suling Emas dan berkata, “Setelah kini saya dan Yu Tai-hiap bercerita, saya harap Kim-siaw Tai-hiap sudi pula memberi sedikit penuturan dan penjelasan.”

“Sesungguhnya tidak ada apa-apa yang patut kuceritakan,” Suling Emas berkata dan tiba-tiba wajahnya yang tampan itu seperti diselubungi awan gelap. Betapa tidak akan keruh hatinya kalau ia diingatkan akan riwayatnya yang sembilan puluh persen terisi hal-hal menyedihkan itu? Pula ia sudah tidak mau mengingat hal- hal lampau, bahkan hendak melupakan namanya. Setelah berhenti sejenak, ia menyambung. “Pertemuanku dengan Pouw-kai-ong dalam pertempuran hanyalah secara kebetulan saja. Akan tetapi karena aku tahu betapa jahatnya Pouw-kai-ong, maka aku bersimpati kepada orang-orang yang telah menjadi korbannya seperti kalian. Dan untuk bicara terus terang, Yu-twako menduga tepat. Pouw-kai-ong amat lihai dan… maaf, kurasa Yu-twako sendiri tidak akan dapat mengalahkannya!”

Yu Kang mengangguk-angguk, sepasang alisnya yang tebal berkerut-kerut. “Aku pun sudah menyelidiki dan mendengar bahwa si Keparat she Pouw itu amat lihai. Kau yang sudah bertanding dengannya, tentu dapat menilainya dengan tepat, Kim-siauw-eng. Dan aku percaya, kalau kau yang begini lihai masih mengaguminya, tentulah ia merupakan lawan yang amat tangguh. Akan tetapi aku tidak akan mundur setapak juga, kalau perlu nyawaku kupertaruhkan untuk membalas kematian seluruh keluarga ayahku.” Yu Kang mengepal tinju, mukanya merah dan matanya berapi-api.

“Yu-taihiap….”

“Harap Liong-lokai jangan menyebut aku Taihiap (Pendekar Besar)!” Yu Kang memotong kata-kata kakek itu dengan sengit. “Aku hanyalah seorang pengemis jembel yang tiada guna!” Memang watak Yu Kang keras dan jujur, tanpa dipalsukan tata cara dan sopan santun. Mungkin sakit hatinya dan mala-petaka yang menimpa keluarganya membuat ia berwatak seperti itu.

“Baiklah, Yu-hiante. Harap jangan berkecil hati. Kalau kita maju bersama dan minta bantuan Kim-siauw-eng dan orang-orang gagah lainnya, kiranya si Keparat Pouw itu akan dapat dibasmi.”

“Hemm, terserah kau orang tua yang mengaturnya,” akhirnya Yu Kang berkata sambil duduk kembali, menyambar paha angsa panggang dan menenggak araknya.

Liong-lokai lalu menjura kepada Suling Emas. “Kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Kim-siauw-eng membantu usaha kami membalas dendam, mengeroyok si Keparat she Pouw yang jahat.”

Suling Emas tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Mana bisa begitu, Lo-kai? Tak mungkin aku mengeroyok lawan.”

“Akan tetapi, bukankah Kim-siauw-enghiong juga memusuhinya?”

“Betul. Seperti telah kukatakan tadi, aku bolehlah dimasukkan sebagai seorang di antara musuh-musuhnya. Akan tetapi aku tidak mempunyai dendam pribadi dengannya. Siapa saja yang jahat, boleh dianggap musuhku, karena kalau dia tidak bisa diinsyafkan, tentu akan kugunakan kekerasan mencegah si jahat merajalela menindas si lemah. Karena itu, berbeda sekali dengan kalian, aku tidak menaruh dendam dan aku hanya akan menghadapinya satu lawan satu. Tak mungkin aku sampai hati melakukan pengeroyokan terhadap lawan yang betapa pun juga lihainya.”

Tiba-tiba Yu Kang menghentikan gerakannya makan paha panggang. Ia memandang tajam ke arah Suling Emas, lalu mengangguk-angguk dan berkata murung, “Benar sekali, Suling Emas! Aku sendiri pun, kalau tidak dimabok dendam kesumat, tidak sudi mengeroyok orang. Akan tetapi, kalau maju sendiri tidak bisa menang sampai kapan dapat membalas dendam? Dendamku jauh lebih besar dari pada segala macam aturan pertandingan.” Agaknya ucapannya ini berlawanan dengan wataknya yang gagah, maka untuk mencuci rasa malu, Yu Kang menggelogok arak sebanyaknya ke dalam perutnya!

“Akan tetapi, menghadapi seorang penjahat keji macam Pouw-kai-ong, bagaimana harus mengingat akan peraturan? Dia membunuhi orang, merampas kai-pang, mengangkat diri sendiri menjadi raja pengemis, kemudian merampas anak gadis orang tanpa melamar, memaksa kami menjadi pengemis, apakah semua perbuatannya itu menurutkan aturan? Bukankah orang bijaksana jaman dahulu mengatakan bahwa kebaikan dibalas dengan kebaikan berganda, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan? Dan terhadap seorang keji jahat macam Pouw-kai-ong, apakah yang lebih adil dari pada mengeroyoknya dan menghukumnya bersama?”

“Sudahlah, Liong-lokai!” tiba-tiba Yu Kang berkata keras. “Orang yang tidak mau, apa gunanya dipaksa-paksa? Biarlah siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan! Apalagi urusan ini adalah urusan kita para pengemis, mana seorang kongcu terpelajar mau mencampuri urusan segala jembel?”

Hening sejenak setelah Yu Kang mengeluarkan kata-kata yang keras, jujur tanpa tedeng-tedeng lagi ini. Para pengemis tua itu merasa khawatir, kalau-kalau Suling Emas akan menjadi marah. Namun Suling Emas bukanlah seorang yang mudah marah. Gemblengan hidup membuat ia kuat bertahan akan segala serangan.

Pula ia dapat membedakan mana emas mana tembaga dan tahu bahwa di balik sikap kasarnya, Yu Kang adalah seorang gagah.

“Yu-twako, ucapanmu memang benar sekali. Untuk mengeroyok orang, biar dipaksa-paksa aku tentu tetap tidak akan mau. Pula, aku justru paling tidak mau mencampuri urusan orang lain karena aku menghormati kalian golongan pengemis yang biar pun berpakaian kotor namun berhati bersih. Akan tetapi kau keliru sangka kalau aku akan mendiamkan saja kejahatan merajalela.”

“Hemm, omongan Suling Emas seperti omongan guru sekolah berbelit-belit! Pendeknya, kau mau membantu kami atau tidak?” Yu Kang mencela.

“Tentu saja, akan tetapi tidak secara keroyokan. Biarlah dia nanti kuhadapi sendiri, kalian lihat saja. Kalau aku kalah dan tewas di tangannya, anggap saja hal itu urusanku, dan barulah kalian boleh turun tangan terhadap Pouw-kai-ong.”

Tiba-tiba Yu kang melompat lagi ke atas. “Mana bisa?? Liong-lokai, mari kita berangkat. Urusan ini adalah urusan kita, urusan antara para pengemis, bahkan Pouw-kai-ong sendiri pun seorang pengemis yang jahat dan menyeleweng. Kitalah yang harus menghukumnya, bagaimana kita bisa menyerahkan hal ini kepada orang luar? Suling Emas, kami tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Marilah, Liong-lokai. Engkau tahu di mana si Jahanam itu?”

Kakek jembel itu mengerling kepada Suling Emas dengan mata kecewa, akan tetapi ia lalu bangkit berdiri diikuti teman-temannya dan menjawab pertanyaan Yu Kang, “Kebetulan dia berada tak jauh dari sini. Marilah, Yu-hiante. Kami ada sebelas orang, bersama Hiante jadi dua belas. Masih ada lima orang saudara Bhong, pengemis-pengemis dari Yu-nan yang telah lama menanti-nanti kesempatan untuk mengeroyok musuh besar mereka. Seperti juga engkau, Hiante, kelima Bhong-heng-te (Persaudaraan Bhong) itu pun keturunan ketua kai-pang (perkumpulan pengemis) yang dibasmi oleh Pouw-kai-ong.”

“Bagus, kalau begitu marilah kita berangkat!” kata Yu Kang.

Rombongan pengemis itu meninggalkan kolong jembatan. Hanya Liong-lokai seorang yang menjura kepada Suling Emas. Yu Kang melangkah pergi tanpa menoleh. Suling Emas berdiri terlongong, akan tetapi tersenyum pahit melihat rombongan pengemis itu pergi dari situ. Sejenak ia termangu dan mengangkat pundak. Memang benar ucapan Yu kang bahwa urusan di antara pengemis adalah urusan dalam, orang luar tidak berhak mencampuri.

Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas mengerutkan keningnya. Mereka itu seperti domba-domba digiring ke pejagalan! Ia tahu benar bahwa biar pun dikeroyok oleh mereka, Pouw Kee Lui masih tetap merupakan lawan yang terlalu kuat. Mereka itu seakan-akan mengantar nyawa dengan sia-sia, akan mati konyol. Dan ia tahu bahwa mereka adalah orang baik-baik. Mana mungkin ia mendiamkan Pouw-kai-ong membunuh mereka begitu saja? Kedua kakinya bergerak dan di lain saat Suling Emas sudah mengikuti rombongan itu dari jauh.

Malam itu terang bulan. Rombongan pengemis yang tadinya hanya dua belas orang itu kini sudah bertambah lima lagi, yaitu lima orang Bhong-heng-te yang tubuhnya tinggi-tinggi dan dari langkah kaki mereka dapat diketahui bahwa mereka ini pun bukan orang-orang lemah. Tujuh belas orang pengemis ini berangkat ke luar kota, menuju ke sebelah utara kota raja. Di kaki gunung yang sunyi, jauh dari kota raja dan jauh dari dusun- dusun, mereka berhenti lalu bergerak sembunyi mengurung sebuah pondok kecil yang berdiri sunyi di tempat itu.

Dua orang di antara kelima Bhong-heng-te melompat ke luar dari tempat persembunyian, lalu menghadapi pintu pondok dan seorang di antara mereka berseru nyaring, “Pouw Kee Lui, keparat busuk! Kami telah datang hendak menagih hutangmu kepada keluarga Bhong, hayo keluar!”

Suling Emas yang bersembunyi di balik batu-batu besar tak jauh dari tempat itu mengerutkan kening. Kalau memang mereka hendak mengeroyok, mengapa tidak langsung saja mendatangi pondok dan menyerbu? Dengan pengeroyokan tujuh belas orang, agaknya Pouw-kai-ong akan kewalahan juga. Apakah mereka terlalu memandang rendah kepandaian si Raja Pengemis?

Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh dan dari atas gunung kecil melayang turun sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, bayangan itu tertawa bergelak dan berkata, “Ha- ha-ha, tikus-tikus busuk berani mengantar nyawa?!”

Ucapan ini disusul gerakan yang hebat sekali. Sebelum dua orang she Bong itu mampu menjawab, bayangan yang bukan lain adalah Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong ini, telah menerjang maju dengan gerakan seperti kilat dan… dua orang saudara Bhong yang sudah berusaha menangkis itu terpental ke belakang dan roboh tak dapat bergerak lagi!

Pada saat itu muncul tiga orang saudara Bhong yang lain, muncul dari samping kiri, disusul munculnya tiga orang dari depan dan tiga orang dari kanan. Tampak Liong-lokai ikut pula dari kanan sedangkan Yu Kang tampak di antara tiga orang dari depan. Enam orang pengemis lain mengambil jalan memutar hendak menyerbu dari belakang punggung Pouw-kai-ong.

“Ha-ha-ha! Kiranya tikus tua she Liong ikut pula. Bagus!!” Seruan ini disusul suara bersiutan dan Pouw-kai-ong telah memutar sebatang tongkat yang berubah menjadi segulung sinar hitam.

Ketika Pouw-kai-ong menerjang ke kanan sambil menggerakkan tongkatnya, terdengar seruan kaget dan kesakitan. Liong-lokai dan dua orang temannya sudah mengeluarkan senjata masing-masing. Akan tetapi begitu sinar bergulung-gulung berwarna hitam itu datang, dan mereka menangkis, ternyata tubuh Liong-lokai berikut toyanya terlempar ke belakang sedangkan dua orang muridnya roboh dan tewas! Baiknya Liong-lokai tadi dapat menangkis dengan toyanya dan ketika terlempar masih dapat menggulingkan tubuh, kalau tidak tentu ia menjadi korban pula.

“Ha-ha-ha, tikus-tikus busuk!” Pouw-kai-ong berseru sambil tertawa-tawa dan memutar tongkatnya sambil membalikkan tubuh karena pada saat itu belasan orang telah maju mengeroyok.

Hanya Yu Kang seoranglah yang merupakan lawan berat dalam pengeroyokan ini. Yang lain-lain hanyalah lawan lunak bagi Pouw-kai-ong sehingga enak saja ia membabat dengan tongkatnya. Dalam waktu kurang dari seperempat jam, sepuluh orang anggota pengemis telah roboh terluka berat atau tewas. Kini tinggal Liong- lokai, Yu Kang, dua orang saurdara Bhong, dan tiga orang pengemis lain yang masih bertahan. Namun mereka terdesak hebat, hanya mampu menangkis saja karena tongkat di tangan Pouw-kai-ong benar-benar luar biasa sekali!

Suling Emas tidak tega melihat ini. Kalau ia diamkan saja, tentu tujuh orang itu lama-lama akan roboh semua. Ia mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat ke depan dan begitu ia menggerakkan sulingnya menangkis tongkat, Pouw-kai-ong berseru keras dan meloncat mundur sampai empat lima meter jauhnya.

“Siapa kau?!” bentaknya.

Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan menoleh ke belakang dan berkata, “Harap rawat teman- temanmu yang terluka, biar kulayani dia sendiri!” Setelah berkata demikian, Suling Emas menerjang maju, menyerang dengan sulingnya sambil berkata, “Keparat she Pouw, dosamu sudah bertumpuk!”

Pouw-kai-ong terkejut menyaksikan berkelebatnya sinar kuning emas yang begitu cepatnya, dan lebih kaget lagi karena tangan kanannya tergetar ketika menangkis dengan tongkat. Hebat lawan ini, pikirnya. Ia merasa penasara ketika memandang dan mendapat kenyataan bahwa lawannya hanya seorang muda yang takkan lebih dari dua puluh lima tahun usianya. Melihat suling emas itu, tiba-tiba ia teringat.

“Setan! Kau murid Kim-mo Taisu…??”

“Orang tua jahat, tak usah banyak cerewet!” Suling emas merasa ngeri menyaksikan muka Raja Pengemis itu yang menyeringai menyeramkan.

Pouw-kai-ong berusia lima puluh tahun kurang lebih. Pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi amat indah kembang-kembangnya. Mukanya sudah berkeriput, rambutnya licin ditutup pembungkus kepala dari sutera, matanya berkilat-kilat seperti mata setan dan gerakan tongkatnya memang luar biasa cepat dan beratnya.

Pertandingan antara dua orang sakti ini hebat luar biasa. Yu Kang sendiri yang sudah banyak menerima gemblengan orang-orang sakti, berdiri tertegun dan diam-diam harus ia akui bahwa seorang diri, tak mungkin ia dapat menangkan Raja Pengemis itu. Dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, kalau ia maju membantu Suling Emas, tentu kakek jahat itu dapat dirobohkan dengan mudah. Akan tetapi ia tahu dan mengenal watak Suling Emas yang tentu tidak mau dibantu. Maka ia hanya menonton penuh kekaguman, sedangkan Liong- lokai dan anak muridnya merawat mereka yang terluka dan tewas.

Suling Emas sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat yang hebat. Gerakannya selain cepat, juga mengandung tenaga mukjijat sehingga sulingnya mengeluarkan suara melengking seperti ditiup orang. Namun, kelebihannya dalam ilmu silat sakti ini diimbangi oleh kelebihan Pouw-kai-ong dalam pengalaman dan kematangan. Suling Emas belum lama menguasai ilmunya, sedangkan Pouw-kai-ong sudah matang, sudah digembleng dalam pertandingan-pertandingan berat. Maka hebatlah pertandingan ini yang sekaligus merupakan ujian berat bagi Suling Emas. Tubuh kedua orang sakti itu sudah tak dapat dilihat lagi, lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka! Biar pun pertandingan itu mengerikan dan merupakan pertandingan mati-matian, namun kelihatannya amat indah di malam bulan purnama itu!

Perawatan terhadap mereka yang terluka sudah selesai dan kini Liong-lokai dan Yu Kang berdiri dengan mata terbelalak kagum. “Bukan main… sungguh hebat…!” Bisik kakek jembel itu penuh keheranan dan kekaguman.

“Suling Emas benar,” kata Yu Kang. “Kepandaian iblis itu benar-benar hebat sekali. Pantas saja ayah sekeluarga terbasmi habis…!”

“Mengapa kita tidak menyerbu sekarang? Kesempatan baik terbuka…”

“Tidak, Liong-lokai. Tidak boleh kita menggunakan keadaan ini mencari kemenangan. Hal itu akan merupakan penghinaan bagi Suling Emas. Dia berwatak aneh, akan tetapi patut dihormati. Mari kita kurung si Iblis agar dia jangan sampai dapat melarikan diri!”

Tujuh orang sisa rombongan pengemis itu segera mengurung, siap dengan senjata masing-masing. Yu Kang bersenjatakan sebatang pedang, Liong-lokai bersenjatakan toya kuningan, tiga orang muridnya juga bersenjatakan toya, sedangkan dua orang saudara Bhong yang kehilangan tiga saudaranya itu bersenjatakan golok.

Suling Emas masih kurang matang latihannya untuk mengalahkan Pouw-kai-ong dengan ilmu silatnya. Akan tetapi berkat tenaga sinkang yang hebat di dalam tubuhnya, ia berhasil mendesak lawannya itu yang mulai terengah-engah dan bermandi peluh.

“Bocah setan, mampuslah!” Saking marahnya, Pouw-kai-ong lalu mengerahkan tenaganya dan menghantam dengan tongkatnya ke arah kepala Suling Emas dengan gerakan memutar. Sebuah serangan yang luar biasa hebatnya, merupakan jurus maut tanpa memperhatikan pertahanan diri lagi. Agaknya Pouw-kai-ong sudah nekat, apalagi melihat betapa sisa rombongan pengemis tadi sudah mengurungnya.

Suling Emas mengangkat sulingnya menangkis.

“Plakk…!!” sepasang senjata ampuh bertemu dan… tubuh Pouw-kai-ong terhuyung ke belakang, tongkatnya patah-patah! Suling Emas juga tidak mengejar, hanya berdiri sambil meramkan kedua mata mengumpulkan tenaga. Pertemuan tenaga lewat senjata tadi benar-benar hebat, membuat dadanya sesak dan agak sakit.

Mendadak terdengar suara hiruk-pikuk dan ketika Suling Emas membuka matanya, ia melihat tujuh orang itu sudah menyerbu sambil berteriak-teriak. Suling Emas menarik napas panjang dan melompat mundur, menonton dari tempat persembunyiannya yang tadi. Setelah ia tidak bertanding dengan Raja Pengemis itu, tentu saja ia tidak dapat menghalangi mereka mengeroyok Pouw-kai-ong. Agaknya rombongan pengemis yang dipimpin Yu Kang dan Liong-lokai itu segera menyerang ketika melihat Pouw-kai-ong terhuyung mundur dan tongkatnya sudah patah-patah.

Namun Si Raja pengemis adalah seorang yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Memang kini senjatanya sudah rusak dan dadanya terasa sesak sekali, akan tetapi menghadapi pengeroyokan tujuh orang itu ia sama sekali tidak gentar. Bahkan di antara hujan senjata itu ia bergerak sambil memekik, kedua kaki tangannya bergerak dan… kembali dua orang murid Liong-lokai roboh terguling!

Pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh dan bermunculanlah puluhan, bahkan ratusan orang pengemis yang serta merta mengeroyok Pouw-kai-ong! Mereka ini adalah rombongan-rombongan pengemis yang tadi sudah diberi kabar melalui teman-teman oleh Liong-lokai sehingga dari pelbagai penjuru datanglah mereka yang ingin sekali melihat si Raja Pengemis yang dibenci menemui kematiannya.

Pouw-kai-ong terkejut sekali. Matanya jelalatan hendak mencari jalan ke luar, namun ia sudah terkurung rapat. Biar pun ia lihai, namun menghadapi ratusan orang pengemis yang mengurungnya rapat dengan senjata di tangan, benar-benar merupakan ancaman maut yang mengerikan. Ia mengamuk dan lagi-lagi ia merobohkan beberapa orang. Bahkan Yu Kang yang maju paling dekat, telah kena pukulan tangannya sehingga tulang pundak kiri Yu Kang patah! Juga Liong-lokai kena hantaman lambungnya, membuat kakek ini terlempar dan roboh tak bernyawa lagi di saat itu juga. Masih banyak lagi korbannya, ada belasan orang.

Namun ia sendiri mulai terkena pukulan, dari kanan kiri, dari depan belakang. Pouw-kai-ong terhuyung-huyung, mandi darah tapi masih terus mengamuk. Bacokan-bacokan dan hantaman-hantaman ruyung datang bagaikan hujan, bajunya sudah compang-camping, tubuhnya penuh darah. Akhirnya ia roboh! Masih saja mereka menghujani senjata.

“Berhenti…!!” tiba-tiba Suling Emas melayang dan tiba di dekat Pouw-kai-ong. Sekali sulingnya bergerak, tampak sinar kuning emas dan semua senjata yang ditujukan kepada tubuh yang mandi darah itu terpental.

“Wah, ini konconya! Keroyok…!!” teriak seorang pengemis.

“Jangan! Mundur semua!!” Yu Kang berseru sambil menggunakan tangan kanannya yang tidak terluka untuk mendorong minggir beberapa orang pengemis yang menghalang jalan. “Dia bukan konco iblis Pouw, bahkan dialah yang memungkinkan kita merobohkan iblis itu!”

Suara Yu Kang nyaring dan penuh wibawa. Apalagi ketika para pimpinan pengemis mengenal bahwa pengemis kosen ini adalah putera mendiang Yu Jin Tianglo seperti yang diperkenalkan oleh Liong-lokai. Mereka lalu mundur.

Yu Kang mendekati Suling Emas dan bertanya, suaranya nyaring. “Suling Emas! Apa maksudmu menghalangi kami membunuh iblis ini?”

Suling Emas menggeleng kepala, memandang kepada tubuh yang mandi darah di depannya. Muka itu hancur, bahkan sebuah dari pada matanya remuk! Bibirnya robek hidungnya bengkok. Muka yang mengerikan! Andai kata dapat hidup terus tentu menjadi seorang yang cacad mukanya.

“Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak suka akan pengeroyokan. Biar pun dia roboh oleh kalian, akan tetapi lebih dulu aku telah membikin dia tidak berdaya dengan merusak tongkatnya. Kalau ia masih bersenjata, apakah kalian kira akan dapat dengan mudah merobohkannya? Tentu dia akan dapat melarikan diri. Karena itu aku merasa seakan-akan ikut mengeroyoknya! Dia sudah mendapat hajaran keras, lebih mati dari pada hidup. Lihat mukanya! Lihat mukanya! Lihat badannya! Urusannya dengan kalian adalah urusan pribadi, aku tidak mau terseret dalam pengeroyokan dan pembunuhan begini curang.”

Sejenak Suling Emas beradu pandang dengan Yu Kang. Kemudian Yu Kang menunduk dan melihat keadaan Pouw-kai-ong. Ia agaknya merasa puas, berdongak ke udara, mulutnya berkemak-kemik seperti membaca doa. Kemudian ia meloncat ke atas batu besar tak jauh dari situ. Tangan kirinya sengkleh, tergantung lepas karena tulang pundak kirinya patah. Akan tetapi sikapnya gagah dan suaranya nyaring.

“Kawan-kawan! Dengarkan aku bicara. Aku adalah Yu Kang, putera mendiang Yu Jin Tianglo ketua Khong-sim Kai-pang. Bicara tentang dendam kepada si Jahat Pouw, agaknya di antara kita akulah yang paling parah. Akan tetapi aku puas melihat dia kini dirobohkan, dan… harus kita akui bahwa tanpa bantuan Pendekar Suling Emas belum tentu kita akan berhasil. Oleh karena itu, biarlah kita jangan membunuhnya sesuai dengan permintaan Pendekar Suling Emas. Tanpa kita turun tangan lagi, kurasa dia pun akan mampus! Bergembira dan bersoraklah bahwa mulai detik ini kita terbebas dari pada cengkeraman seorang jahat seperti Pouw-kai- ong!”

Ratusan orang pengemis baju kotor itu bersorak gegap-gempita. Ada pula yang berseru, “Hancurkan pengemis baju bersih!”

“Angkat Saudara Yu Kang menjadi ketua seluruh kai-pang!”

“Mari saudara-saudara, kita iringkan Saudara Yu Kang mengumpulkan semua pengemis baju kotor untuk membasmi pengemis baju bersih!”

Sorak-sorai makin menjadi-jadi dan ratusan pasang tangan diulur ke depan sehingga Yu Kang tak kuasa lagi mencegah para pengemis itu mendukungnya dan mengaraknya pergi dari situ sambil bersorak-sorak! Hanya beberapa orang pengemis tua yang tinggal untuk mengurus penguburan para korban dan merawat mereka yang terluka.

Suling Emas berdiri memandang semua ini dengan hati terharu. Ia kagum akan kegagahan Yu Kang yang biar pun kasar dan jujur, namun memiliki jiwa pendekar. Ia terharu menyaksikan jembel-jembel itu bersatu padu untuk membasmi penindas dan memperbaiki nasib, menggantungkan harapan mereka kepada Yu Kang, satu- satunya pengemis yang boleh diharapkan akan dapat memimpin mereka, melepaskan diri dari pada penindasan orang-orang jahat.

Setelah semua mayat dikubur dan para pengemis tua pergi membawa teman-teman yang terluka sehingga di situ sunyi sepi, Suling Emas kembali memandang tubuh Pouw Kee Lui yang masih menggeletak mandi darah. Suling Emas menarik napas panjang, lalu menyambar tubuh itu, membawanya ke dalam pondok. Ia merebahkan tubuh yang masih pingsan itu ke atas pembaringan, kemudian pergilah ia dari tempat itu.

Belum jauh ia pergi, ia mendengar suara orang dan cepat ia menyelinap lalu mengintai. Kiranya beberapa orang wanita cantik dan beberapa orang laki-laki, semua berpakaian seperti pelayan-pelayan, berindap-indap memasuki pondok dari belakang. Ia kembali menghela napas. Kiranya orang she Pouw itu menjadikan pondok itu sebagai tempat istirahat dan bersenang-senang, ditemani beberapa orang wanita cantik dan mempunyai pelayan-pelayan secukupnya. Biarlah, biar mereka itu merawatnya. Suling Emas tidak jadi mencari daun obat di dalam hutan, menyerahkan nasib bekas Raja Pengemis itu kepada para selir dan pelayannya. Ia hanya mengharap mudah-mudahan pelajaran pahit itu tadi akan membuat Pouw-kai-ong menjadi bertobat.

Suling Emas melanjutkan perjalanannya, kembali menuju ke kota raja. Ia merasa girang mendengar percakapan rakyat yang merasa puas dengan adanya raja baru yang adil dan tidak suka menjalankan kekerasan terhadap rakyatnya. Ia tidak melihat perubahan apa-apa ketika pada keesokan harinya memasuki pintu gerbang kota raja, sehingga ia makin gembira. Saat pertama kali ia masuk kota raja ketika ia menyusul suhu-nya, ia tidak mendapat kesempatan untuk melihat-lihat kota raja. Kini ia menggunakan kesempatan untuk keliling kota sehingga bertambah kegembiraannya menyaksikan keadaan yang makmur dan ramai.

Akan tetapi kegembiraan ini musnah seketika setelah ia mendengar berita tentang keluarga Suma. Ia mendengar berita bahwa Pangeran Suma Kong sudah pindah ke An-sui, kota kecil yang letaknya cukup jauh dari kota raja, sekitar empat atau lima hari perjalanan cepat. Kegembiraan ini bahkan berubah menjadi kedukaan ketika ia mendengar berita lain yang menusuk perasaannya. Berita bahwa Suma Ceng telah menikah dengan seorang pangeran she Kiang yang menghancurkan hatinya. Bahkan ia mendengar bahwa Suma Ceng, bekas kekasihnya, kini hidup di lingkungan istana raja, bersama suaminya dan dua orang anaknya! Suma Ceng sudah menjadi isteri seorang pangeran dan malah sudah menjadi ibu dari dua orang anak!

Hancur hatinya, perih seperti tertusuk seribu batang jarum. Setelah mendapatkan keterangan ini, Suling Emas meninggalkan kota raja, berjalan di tengah malam buta sambil meramkan mata, menahan air mata yang hendak jatuh berderai. Akhirnya ia berhenti di jalan yang sunyi, duduk di pinggir jalan, menyembunyikan mukanya di antara kedua lutut, jari-jari tangan mencengkeram rambutnya. Habislah sudah harapannya. Padamlah semua cahaya hidupnya. Apa lagi yang boleh dipandang? Kekasih pertama direnggut maut. Kekasih berikutnya direnggut laki-laki lain! Ayah kandung menikah lagi. Ibu kandung tak tentu rimbanya, mungkin sudah mati karena tidak pernah lagi ia mendengar beritanya. Siapa lagi yang dapat dijadikan teman dalam hidupnya?

Kakeknya! Ya benar. Kakeknya masih ada. Kakeknya bukanlah sembarang orang. Kakeknya adalah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ketua Beng-kauw, bahkan menduduki tempat tinggi di Kerajaan Nan-cao! Mengapa ia tidak pergi ke negara kakeknya? Siapa tahu kalau-kalau ibunya juga pulang ke sana? Selain menghubungi keluarga terdekat yang masih ada, juga ia maklum bahwa di sana ia akan dapat banyak belajar untuk memperdalam ilmunya. Gurunya sendiri seringkali bicara tentang Pat-jiu Sin-ong dengan penuh kagum.

Setelah duduk termenung dalam keadaan duka cita seperti itu sampai sinar matahari memerah menjelang fajar, Suling Emas mengangkat mukanya. Orang lain akan kaget kalau menyaksikan perubahan wajah pendekar ini. Tampak tua dan tidak ada lagi sinar pada mukanya. Hanya kemuraman yang tampak. Pandang matanya sayu.

Tiba-tiba ia meloncat bangun dan cepat menyelinap, bersembunyi di balik sebatang pohon besar di pinggir jalan. Biar pun keadaan hati Suling Emas sedang mengalami kehancuran dan dirinya tenggelam dalam duka nestapa, namun naluri kependekarannya tak pernah menjadi tumpul. Panca inderanya peka sekali dan gerakan tiga sosok bayangan yang berlari-lari ke luar dari kota raja menimbulkan kecurigaannya sehingga ia cepat-cepat bersembunyi untuk mengintai.

Tiga orang yang berlari amat cepat itu tidak berlari lagi, kini tampak berjalan sambil bercakap-cakap. Suling Emas cepat menyelinap dan mendekati mereka untuk mendengarkan. Setelah dekat, dari balik pohon ia melihat seorang nenek dan dua orang kakek. Nenek itu berwajah galak penuh keriput, memondong sebuah bungkusan kain kuning dari sutera halus. Kakek pertama sudah tua, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan nampak kuat, tubuh atasnya tidak berbaju. Serasa ia mengenal tiga orang tua ini, akan tetapi di mana ia pernah bertemu? Akan tetapi begitu mereka bertiga bercakap-cakap segera ia ingat.

“A-liong, kau yang paling kuat dan dapat menempuh perjalanan jauh, kau sajalah yang mengantarkan pangeran cilik ini kepada Ong-ya. Biar aku dan A-kwi menyambut para pengejar sehingga kau dapat pergi jauh takkan terkejar lagi,” kata si Nenek Tua.

“Betul ucapan Sam Hwa,” kata kakek pertama yang bertongkat. “Langkahmu lebih lebar dari pada kami berdua, dan aku pun malas kalau harus berlari-lari dikejar-kejar seperti maling.”

“Ihh…, aksinya! Memang kita bertiga maling, siapa tidak tahu?” bentak nenek itu sambil menyerahkan bungkusan sutera kuning kepada kakek tinggi besar yang disebut A-liong. Kakek A-liong agaknya tidak senang dengan tugas ini, akan tetapi karena ‘kalah suara’ ia menerima juga bungkusan itu. Begitu bungkusan itu dipondongnya, tiba-tiba terdengar tangis anak kecil yang nyaring sekali.

“Eh-eh, kau apakan dia? Sejak tadi diam saja, begitu kau sentuh lalu menangis!” kata si Nenek Tua mengomel.

“Wah, celaka. Kalau menangis seperti itu tentu kau akan menjadi tontonan di sepanjang jalan,” kata A-kwi. “Bagaimana kau akan menjawab pertanyaan orang-orang di jalan? Bahwa anak ini anak selirmu? Ataukah cucumu yang kematian ayah bundanya?”

Namun A-liong sudah menggigil ngeri, agaknya semua bulu di badannya berdiri semua ketika ia merasa betapa anak kecil meronta-ronta dan menjerit-jerit keras. Cepat ia mengulurkan tangan ke depan, memberikan bungkusan itu kembali kepada Sam Hwa sambil berkata, “Tidak baik…, tidak baik…! Dalam pondongan tangan halus dia diam saja. Tanganku kasar, tidak sehalus tanganmu, Sam Hwa.”

“Cihh! Omongan tua bangka tak bermalu!” kata Sam Hwa dengan muka agak merah sambil menerima kembali bungkusan sutera kuning yang ternyata berisi seorang anak kecil itu.

“Ha-ha-ha! Bukan karena tanganmu kasar, A-liong, melainkan bau keringatmu yang terlalu keras sehingga anak itu tidak tahan!” A-kwi menggoda.

Suling Emas mengenal tiga orang ini sebagai pelayan-pelayan Kong Lo Sengjin! Setelah ia mendengar percakapan mereka, ia menjadi kaget sekali. Sam Hwa si nenek tua tadi menyebut ‘pangeran cilik’ yang harus diantarkan kepada Ong-ya! Keonaran apalagi yang akan dilakukan Kong Lo Sengjin dan anak buahnya? Mereka itu bicara tentang pengejaran. Tak salah lagi, tentulah mereka bertiga menculik pangeran kecil itu dari dalam istana raja atas perintah Kong Lo Sengjin yang berwatak aneh. Teringat akan percakapan rakyat yang memuji-muji kaisar baru dari Kerajaan Sung, Suling Emas segera mengambil keputusan untuk menolong anak kecil itu.

Dengan gerakan ringan sekali Suling Emas melompat dan melayang ke luar dari tempat sembunyinya, tangan kirinya langsung menerjang dengan serangan maut ke arah kepala Sam Hwa. Serangan ini sengaja ia lakukan dengan pengerahan tenaga sehingga terdengar suara angin bersiut menyambar.

Sam Hwa terkejut sekali. Sebagai seorang ahli silat pandai, maklum ia bahwa bayangan yang menyambar dan menyerangnya ini melakukan serangan maut yang berbahaya. Maka cepat ia membuang diri ke belakang sambil mengangkat tangan kanan melindungi kepala. Akan tetapi pada saat itu, bocah yang dipondongnya telah diserobot penyerang itu yang menggunakan tangan kanan menotok pundaknya lalu merampas bungkusan sutera kuning. Tak dapat Sam Hwa mencegah perampasan ini karena totokan pada pundak itu melumpuhkan lengan kirinya yang memondong. Di lain saat, Suling Emas sudah melompat ke belakang, bocah dalam selimut kuning itu dalam pondongannya. Bocah itu menangis lagi, lebih nyaring dari pada tadi!

“Kembalikan anakku…!” Sam Hwa memekik marah. Setelah melihat bahwa yang merampas bocah itu bukan seorang pengawal istana, melainkan seorang bocah laki-laki muda berpakaian seperti sastrawan, Sam Hwa tidak ragu-ragu untuk mengakui pangeran cilik itu sebagai anaknya!

A-liong dan A-kwi juga melangkah maju dengan sikap mengancam. “Kurang ajar, berani sekali kau merampok anak orang di tengah jalan?”

Suling Emas tersenyum mengejek. “Bibi Sam Hwa, kau yang sudah nenek-nenek mana mungkin mempunyai anak yang masih begini kecil? Paman A-liong dan Paman A-kwi, sesungguhnya siapa yang merampok anak orang? Kalian bertiga ataukah aku? Aku tidak merampok Pangeran Kecil ini, melainkan hendak mengembalikannya di tempat yang semestinya, yaitu di dalam istana.”

Tentu saja tiga orang tua itu kaget sekali. Tiga buah nama tadi adalah nama kecil mereka, yang hanya mereka ketahui, tak pernah diperkenalkan ke luar. Bagaimana orang muda ini bisa mengenal mereka? Biar pun mereka bertiga itu kini bekerja sebagai pelayan, namun sesungguhnya mereka bukan orang biasa. A-liong dan A-kwi adalah bekas perwira-perwira tinggi di bawah Kong Lo Sengjin, sedangkan Sam Hwa juga seorang ahli silat tinggi, janda seorang panglima seangkatan dengan dua orang temannya itu. Mereka ini tetap setia kepada Kong Lo Sengjin.

Karena maklum bahwa orang muda itu sudah mengetahui rahasia mereka, maka Sam Hwa yang lebih pandai bicara segera bertanya, “Orang muda, siapakah kau yang berani mencampuri urusan pribadi kami? Andai kata benar kami menculik seorang Pangeran Kecil, apa sangkut-pautnya hal itu denganmu?”

“Bibi Sam Hwa dan kedua Paman A-liong dan A-kwi. kukira tidak perlu lagi berpura-pura. Kalian bertiga sudah pernah bertemu denganku, hanya agaknya kalian sudah lupa lagi. Akan tetapi aku tahu bahwa kalian adalah anak buah Kong Lo Sengjin, dan bahwa anak itu adalah seorang pangeran yang kalian culik dari istana atas perintah Kong Lo Sengjin. Secara pribadi memang urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi setelah mempelajari ilmu, apa gunanya kalau tidak untuk menumpas perbuatan buruk? Aku tidak ingin bermusuh dengan kalian yang pernah bersikap baik kepadaku, akan tetapi aku pun tidak bisa membiarkan kalian menculik anak orang semaunya. Apalagi untuk dibawa ke depan Kong Lo Sengjin yang kejam. Aku harus mengembalikan anak ini kepada orang tuanya.”

Sejenak tiga orang tua itu tertegun, terbelalak dan tidak dapat bicara saking kaget dan herannya. Akhirnya Sam Hwa bertanya, suaranya agak gemetar, “Siapakah kau? Pengawal istana? Siapa?”

Suling Emas menggeleng kepala dan tersenyum. “Kalian sudah terlalu tua sehingga pikun. Mengapa masih mau saja diperalat Kong Lo Sengjin untuk melakukan hal-hal yang tidak baik? Seyogianya orang-orang setua kalian ini menenteramkan pikiran membersihkan hati menanti kematian.”

“Eh, bocah gila! Lancang mulutmu!” bentak A-liong sambil melangkah maju. “Tak peduli ia pengawal atau bukan, anak itu hars kita rampas kembali. Serbu!” bentak pula A-kwi sambil menggerakkan tongkatnya.

Karena merasa bahwa rahasia mereka telah terbuka dan jelas bahwa orang muda itu tidak mau mengembalikan pangeran kecil yang mereka culik, tiga orang ini serentak menyerang Suling Emas dengan gerakan yang dahsyat. Sambil menyerang mereka berusaha merampas anak kecil dalam pondongan Suling Emas yang masih terus menangis keras. Kalau A-kwi mempergunakan senjata tongkat, A-liong dan Sam Hwa masing-masing menggerakkan sebatang pedang tipis. Serangan mereka cepat dan mengandung tenaga yang hebat.

Namun tiba-tiba mereka terkejut dan menjadi silau pandang matanya oleh sinar kuning emas yang bergulung- gulung dan melingkar-lingkar. Dalam saat berikutnya serbuan tongkat dan dua batang pedang sudah terlempar jauh dan ketiga orang anak buah Kong Lo Sengjin itu terpekik kesakitan, melompat mundur dan memegangi tangan kanan yang terasa kaku nyeri dengan tangan kiri. Terbalalak kagum mereka berdiri memandang Suling Emas yang kini berdiri dengan tangan kiri memondong anak kecil, tangan kanan memegang sebatang suling yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo