August 1, 2017

Suling Emas (Part 23)

 

Kim-mo Taisu maklum bahwa hanya kaisar kerajaan baru inilah yang dapat diharapkan akan mendatangkan kemakmuran kepada rakyat. Maka dengan rela hati ia mengulurkan bantuannya dan berangkatlah Kim-mo Taisu dengan barisan Kerajaan Sung yang pertama kali mengadakan ekspedisi ke utara untuk melawan musuh besar mereka, yaitu bangsa Khitan. Selain memang suka membantu kaisar ini, juga Kim-mo Taisu memiliki urusan pribadi di utara, yaitu untuk mencari musuh lamanya, ialah Ban-pi Lo-cia si tokoh Khitan yang sakti. Juga ingin ia bertemu kembali dengan musuh lamanya, Bayisan manusia Khitan yang curang. Ingin ia memberi hajaran orang itu untuk kedua kalinya!

Pada masa itu kedudukan bangsa Khitan sudah masuk jauh melewati tembok besar yang tadinya dibangun dengan maksud mencegah masuknya musuh-musuh seperti bangsa Khitan! Hal ini terjadi ketika Dinasti Cin (936-947) berdiri. Kerajaan Cin hanya dapat berdiri dan merebut kekuasaan dari Kerajaan Tang muda karena bantuan barisan Khitan. Untuk jasa ini, Kerajaan Cin memberikan wilayah ujung timur laut di sebelah selatan tembok besar sampai ke kota besar Yen (Peking sekarang), juga wilayah Pegunungan Yin-san. Wilayah yang luas dan jauh lebih subur dari pada daerah kekuasaan bangsa Khitan sendiri jauh di utara.

Ketika barisan besar dari Kerajaan Sung sudah menyeberangi Pegunungan Tai-hang-san di sebelah selatan Peking, tiba-tiba muncullah pasukan-pasukan Khitan dari segala jurusan dan terjadilah perang hebat di sekitar lereng pegunungan Tai-hang-san. Perang yang berlangsung dengan seru dan baru berakhir setelah matahari menyelam di sebelah barat. Pasukan-pasukan Khitan seperti pasukan-pasukan setan melenyapkan diri dan sunyilah keadaan di sekitar bekas tempat peperangan. Mayat-mayat menggeletak bergelimpangan dan udara penuh dengan bau amisnya darah, penuh pula dengan rintihan dan keluhan mereka yang menderita luka.

Para Panglima Sung memerintahkan pasukan-pasukan dalam barisan besar untuk mundur ke balik puncak Tai-hang-san dan membuat perkemahan besar di lapangan terbuka sehingga tidak memungkinkan pihak musuh untuk melakukan penyerbuan serentak. Bendera besar Kerajaan Sung dipasang di tengah-tengah perkemahan, dikelilingi oleh bendera-bendera para panglima yang memimpin barisan itu.

Dalam perang ini Kim-mo Taisu tidak ikut maju karena pendekar ini melihat betapa di pihak Khitan juga tidak ada tokoh bukan tentara yang ikut perang. Ikut sertanya dalam barisan itu adalah untuk menandingi orang- orang sakti seperti Ban-pi Lo-cia. Kalau hanya perang biasa, pasukan lawan pasukan, tidak perlu ia bantu karena selain ia tidak mengerti tentang mengatur pasukan dan siasat perang, juga hal ini selain merendahkan kemampuan pasukan Sung, juga dapat merendahkan namanya sendiri sebagai pendekar sakti.

Malam itu para penjaga perkemahan menjaga dengan penuh kewaspadaan, akan tetapi juga diam tidak berani mengeluarkan suara ribut. Para panglima sudah memberi perintah agar malam itu dipergunakan betul-betul oleh pasukan untuk beristirahat secukupnya agar besok menjadi segar kembali untuk menghadapi lawan. Karena itulah maka tidak ada penjaga yang bermain kartu, tidak ada yang bersenda-gurau dan malam menjadi sunyi sekali.

Namun pada pagi harinya, para penjaga menjadi gempar ketika mereka melihat betapa bendera-bendera itu kini telah lenyap. Di atas tiang bendera yang tengah, yang paling tinggi, tampak sebuah benda kecil bergantung. Dalam keadaan terjaga keras dan rapat, ada orang dapat menyelundup masuk ke dalam perkemahan sudah merupakan hal aneh. Akan tetapi kalau orang itu dapat mengambil semua bendera lalu meninggalkan sesuatu di puncak tiang tanpa merobohkan tiang-tiang bendera, benar-benar merupakan hal yang amat luar biasa.

Beberapa orang penjaga hendak menurunkan tiang untuk mengambil benda yang tergantung di atas, akan tetapi komandan jaga melarangnya. “Jangan sentuh! Biar kita melapor ke dalam agar panglima menyaksikan sendiri hal ini. Siap saja untuk menerima teguran, mungkin hukuman!” Dengan muka pucat dan lesu komandan jaga lalu menghadap para panglima yang juga sudah bangun karena mendengar suara ribut-ribut di luar.

Empat orang panglima yang memimpin barisan itu berlari-lari keluar. Semalam mereka semua dalam barisan, dari prajurit sampai panglima, tidak ada yang menanggalkan pakaian seragam dan selalu berdekatan dengan senjata. Empat orang panglima itu masih dalam pakaian dinas, hanya muka dan rambut mereka kusut karena begitu bangun tidur mereka berlarian ke luar. Mereka berhenti di luar tenda untuk menerima pelaporan komandan jaga yang melapor dengan suara gemetar, menceritakan betapa keras dan ketat mereka melakukan penjagaan semalam, namun ternyata pagi hari itu semua bendera lenyap dan sebagai gantinya di ujung tiang tengah yang paling tinggi terdapat sebuah benda kecil tergantung di atas.

Pada saat itu Kim-mo Taisu dengan tenang juga sudah datang ke tempat itu. Empat orang panglima itu saling pandang dengan kening berkerut, lalu memberi perintah untuk mencatat semua prajurit dan komandannya yang bertugas jaga malam itu untuk dihukum kelak kalau memang mereka bersalah dan lalai. Setelah itu, bersama Kim-mo Taisu mereka melangkah ke luar. Para prajurit yang tadinya ribut-ribut kini semua terdiam melihat muculnya empat orang panglima. Keadaan sunyi dan ketika mereka melihat ke atas, empat orang panglima itu menjadi pucat mukanya.

“Betapa mungkin menyelundup masuk dan melakukan perbuatan itu!” kata Panglima Phang, panglima yang tertua di antara rekan-rekannya, kemudian menoleh kepada Kim-mo Taisu sambil berkata, “Agaknya pihak musuh mempergunakan orang sakti untuk mempermainkan kita. Kami kira hanya Taisu yang dapat menerangkan hal ini.”

Diam-diam Kim-mo Taisu menarik napas panjang. Ia suka kepada kaisar pendiri Kerajaan Sung, maka ia menyambut permintaan bantuan raja itu dengan hati terbuka. Akan tetapi maklum pula bahwa empat orang panglima ini diam-diam di dalam hati mereka memandang rendah kepadanya. Memang hal ini pun tidaklah aneh dan ia tidak terlalu menyalahkan panglima-panglima itu, karena sesungguhnya, apakah artinya dia sebagai seorang pendekar silat dalam perang yang begitu besar? Kepandaiannya tidak berarti banyak. Andai kata ia mampu mengamuk dan membunuh puluhan orang lawan, akan tetapi tidak mungkin ia mengundurkan serbuan ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu orang musuh dengan kepandaian silatnya itu!

Berbeda dengan panglima ini yang memiliki kepandaian ilmu perang, pandai mengatur barisan dan siasat perang. Sesungguhnya di tangan mereka inilah letak dasar kemenangan. Andai kata dia disuruh memimpin seratus ribu orang prajurit dan disuruh melawan perang panglima yang pandai yang hanya mempunyai lima puluh ribu orang prajurit belum tentu dia dapat mencapai kemenangan! Ilmunya hanya berguna untuk pertandingan perorangan, namun hampir tidak ada gunanya dalam perang antara ratusan ribu orang itu.

Akan tetapi, kalau ada peristiwa seperti pagi hari ini barulah ilmu perorangan seperti yang ia miliki dapat dipergunakan, bahkan dibutuhkan. Ia menjura dan berkata, “Phang-ciangkun, permainan itu tidak ada artinya sama sekali. Anak-anak pun kalau dilatih mampu melakukannya. Biar kuturunkan benda itu dan kupasang kembali bendera-bendera tanpa menurunkan tiangnya!”

Setelah berkata demikian, dengan gerakan sembarangan Kim-mo Taisu menggenggam sekepal tanah pasir. Hanya dengan sedikit melirik, dan kembali dengan gerakan yang terlihat sembarangan, ia sambitkan gumpalan tanah itu ke atas, ke arah ujung tiang. Tiang bendera itu tingginya sepuluh meter lebih dan agaknya bagi orang biasa takkan mungkin menimpuk jatuh benda yang berada di tempat setinggi itu hanya menggunakan tanah pasir. Akan tetapi Kim-mo Taisu bukanlah orang biasa! Begitu sinar hitam berkelebat ke atas, benda yang tergantung di puncak tiang itu pun melayang jatuh, disambut sorak sorai para prajurit yang mengagumi kehebatan Kim-mo Taisu.

Phang-ciangkun mengambil benda itu yang ternyata hanyalah surat bersampul kuning. Ketika ia melihat huruf- huruf yang tertulis di luar sampul ia berseru heran. “Haiii! Kiranya sebuah surat ditujukan kepada Taisu!”

Dengan hati heran akan tetapi sikapnya tenang, Kim-mo Taisu menerima sampul kuning itu dan membacanya. Benar saja. Huruf-huruf indah menghias sampul itu dan ditujukan kepadanya. Ia segera mengeluarkan suratnya dan membaca. Kiranya terisi surat tantangan dari… Kong Lo Sengjin! Sungguh hal yang tak tersangka-sangka! Dia mencari-cari Kong Lo Sengjin ke mana-mana, kiranya malah kakek lumpuh itu kini berada di sini dan mengajukan surat tantangan kepadanya!

Tentu saja kalau kakek itu yang datang menyelundup dan melakukan hal-hal itu, bukanlah sesuatu yang aneh. Hanya anehnya, mengapa kakek itu menurunkan semua bendera? Bukankah itu merupakan penghinaan bagi Kerajaan Sung, padahal kakek lumpuh itu dahulu ikut pula membantu para panglima memaksa Cao Kuang Yin menjadi raja dan memberontak? Mungkin untuk memamerkan kepandaian saja?

Saking girang hatinya akan bertemu dengan kakek yang hendak dimintai pertanggungan jawabnya tentang pembunuhan terhadap isterinya, tanpa disadarinya Kim-mo Taisu bergelak, lalu berkata, “Harap diambilkan bendera-bendera baru, biar kupasangkan di tempatnya!”

Di dalam hatinya sama sekali tidak terkandung niatnya untuk memamerkan kepandaian, melainkan hanya untuk menandingi perbuatan Kong Lo Sengjin dan di samping itu juga untuk membesarkan hati barisan. Bukankah ia ditugaskan menyertai barisan itu untuk melawan pihak musuh kalau menggunakan tenaga orang sakti?

Ketika lima buah bendera itu dibawa keluar oleh petugas dan diterima Panglima Phang lalu diberikan kepadanya, Kim-mo Taisu lalu mengayun tubuhnya ke atas. Memang sepandai-pandainya manusia, tak mungkin ia mampu terbang tanpa sayap, maka loncatan Kim-mo Taisu pun tidak dapat mencapai puncak tiang yang tingginya belasan meter itu. Namun dengan tangan menyambar tiang, ia dapat menggunakan tenaga tangannya untuk menekan tiang dan tubuhnya mencelat lagi ke atas. Dengan cara ini akhirnya tubuhnya mencapai ujung tiang, kedua tangannya memasangkan bendera Kerajaan Sung.

Jauh dibawahnya, para prajurit bertepuk-tepuk tangan memuji tiada hentinya. Memang, apa yang dilakukan oleh Kim-mo Taisu itu adalah pertunjukan hebat yang takkan mudah dilakukan oleh orang lain. Hanya seorang sakti yang sudah memiliki lweekang tinggi saja akan mampu melakukan hal ini.

Selesai mengikatkan bendera di ujung tiang sehingga bendera itu berkibar tertiup angin pagi, Kim-mo Taisu menggunakan tenaga loncatan dengan menekan ujung tiang untuk meloncat ke tiang lain yang lebih rendah. Berturut-turut ia memasangkan bendera-bendera tanda pangkat para panglima pada empat batang tiang itu dengan cara berloncatan sehingga dalam waktu singkat saja lima helai bendera itu sudah berada di tempatnya, menggantikan bendera-bendera yang hilang, berkibar megah. Kim-mo Taisu dengan gerak layang yang amat indah dan ringan meloncat turun dari atas tiang terakhir dan hinggap di atas tanah tanpa menimbulkan sedikit pun suara mau pun debu! Kembali sorak-sorai menyambutnya.

“Phang-ciangkun, surat ini adalah surat tantangan dari seorang musuh besar saya. Terpaksa saya harus meninggalkan Ciangkun sekalian sebentar untuk melayaninya!”

Panglima Phang mengerutkan alisnya yang tebal. Sebagai seorang panglima yang tahu akan banyak siasat perang, ia menaruh curiga. “Maaf, Taisu. Kalau Taisu tidak menyeratai kami dan kalau tidak berada dalam kancah perang melawan musuh bangsa Khitan yang terkenal cerdik dan curang, agaknya tantangan untuk Taisu itu sewajarnya saja dalam dunia persilatan. Akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, kami merasa curiga. Jangan-jangan mereka menggunakan siasat memancing naga keluar dari sarang, di satu pihak mereka menggunakan orang-orang pandai untuk mengepung Taisu, di lain pihak mereka hendak menggunakan saat Taisu tidak berada di sini untuk melakukan penyerbuan besar-besaran!”

Kim-mo Taisu mengagguk-angguk. “Benar sekali kecurigaan Ciangkun, dan memang agaknya begitulah. Namun musuhku ini dahulu sama sekali bukan seorang musuh negara, bahkan sejak dahulu ia musuh orang Khitan pula. Entah mengapa kali ini ia merampasi bendera, agaknya hanya untuk memamerkan kepandaian dan menakut-nakuti kanak-kanak saja. Betapa pun juga, memang dia selama ini kucari-cari, maka saya harus menerima tantangannya. Jangan Ciangkun berkhawatir. Saya ditantang untuk mendatangi puncak itu di mana dia menanti. Dari puncak saya akan dapat melihat keadaan barisan di sini dan setiap waktu Ciangkun membutuhkan tenagaku, dapat Ciangkun melepas tanda panah berapi ke udara. Kalau ada tanda itu, berarti saya harus datang, dan saya pasti akan meninggalkan urusan pribadi dan akan kembali ke sini secepatnya! Karena, andai kata orang-orang Khitan mengerahkan barisannya menyerbu, untuk menghadapi mereka tergantung dari keahlian Ciangkun berempat mengatur barisan. Tugas saya hanya menghadapi orang-orang macam yang semalam datang menyelundup ke sini. Bukankah demikian? Nah, sekarang juga saya pergi!” Kim-mo Taisu menjura, kemudian berkelebat dan lenyap dari situ. Yang tampak hanya bayangannya saja berkelebat cepat sekali, bahkan ada kalanya melalui atas kepala sekumpulan prajurit yang berdiri menghadang jalan ke luar!

Semua orang kagum dan untuk beberapa lamanya mereka memandang ke arah puncak gunung yang berada tidak jauh dari tempat perkemahan itu. Betapa kagum hati mereka ketika tak lama kemudian tampak bayangan kecil Kim-mo Taisu bergerak-gerak lari mendaki puncak!

“Puncak itu tidak berapa jauh, mudah saja kita undang ia kembali atau mengirim pasukan menyusul kalau kita memerlukan tenaganya,” kata Phang-ciangkun kepada teman-temannya.

Mereka lalu bersiap-siap menyambut musuh. Memang tidak terlalu kepagian mereka berkemas dan bersiap karena tak lama kemudian terdengar suara derap kaki bercampur sorak-sorai dan suara terompet serta tambur orang-orang Khitan! Cepat Phang-ciangkun dan tiga orang temannya naik ke tempat tinggi untuk mempelajari keadaan, kemudian turun setelah musuh tampak muncul dari depan dan dari kiri.

Phang-ciangkun dahulu pernah menjadi pembantu Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai, dan dia sudah mempunyai banyak pengalaman pula menghadapi barisan Khitan sehingga banyak ia mengenal siasat-siasat barisan Khitan yang mengandalkan kekuatan atau siasat perang gerilya. Maka Phang-ciangkun tidak hanya mencurahkan perhatian ke arah utara dan barat (depan dan kiri), melainkan menaruh perhatian dan penjagaan pula kepada jurusan lain untuk mencegah dan mematahkan serangan gelap.

********************

Dengan ilmu lari cepatnya Kim-mo Taisu mendaki puncak Gunung Tai-hangsan. Setelah tiba di lereng puncak tampaklah matahari rendah di timur, bulat dan besar berwarna merah seperti bola api yang indah sekali. Sejenak Kim-mo Taisu menunda langkah kakinya dan memandang penuh kekaguman. Kemudian ia memutar tubuh dan melihat ke bawah. Tampak barisan Sung yang amat besar jumlahnya itu mulai bergerak dan juga tampak amat megah dan indah.

Barisan itu seperti semut, terpisah-pisah dan terbagi menjadi lima bagian, masing-masing bergerak ke empat penjuru dan yang ke lima tinggal di tengah. Barisan darat, barisan kuda, barisan panah, barisan tombak, dan barisan golok panjang serta golok pendek tampak jelas dari atas karena barisan-barisan itu memakai pakaian seragam yang berbeda-beda. Bendera-bendera berkibar dan suara penyambutan perang dari bawah yang amat gemuruh itu hanya terdengar gemanya saja dari tempat tinggi ini, seperti sekumpulan tawon merah.

Jauh di sebelah utara, tampak samar-samar pasukan-pasukan Khitan, ada pula yang bergerak dari balik puncak. Dibandingkan dengan barisan Sung, pasukan-pasukan Khitan itu tidak berarti jumlahnya dan legalah hati Kim-mo Taisu. Ia percaya akan kemampuan para komandan pasukan Sung, akan keberanian prajurit- prajuritnya.

Dengan hati lega Kim-mo Taisu melanjutkan perjalanannya ke puncak. Sedikit pun ia tidak merasa ragu-ragu atau takut-takut, sesungguh pun ia dapat menduga bahwa Kong Lo Sengjin yang berwatak aneh dan curang itu mungkin sekali membawa pembantu-pembantu.

Tiba-tiba ia terheran ketika dari balik sebatang pohon muncul seorang laki-laki yang bersenandung seorang diri, tangan kanannya memegang sebuah mouw-pit (pena bulu) hitam, tangan kirinya memegang mouw-pit putih. Kiranya ia muncul bukan untuk menghadangnya, karena ia mundur-mundur, memandang ke arah batang pohon yang besar itu, maju lagi dan tangan kirinya bergerak ke depan.

“Rettt!” mouw-pit putih telah membuat coretan pendek pada sehelai kertas putih yang dibentangkan di batang pohon. Kemudian ia mundur lagi sampai tiga meter lebih. Matanya menyipit, menatap ke depan, kepalanya miring-miring, lalu ia maju lagi menggerakkan mouw-pit hitam di tangan kanan.

“Rettt!” lalu ia mundur lagi. Mulutnya yang tadinya bersenandung tidak jelas apa maksudnya, kini bernyanyi, suaranya serak dan suara nyanyian itu tidak enak didengar.

Biar iblis kalau berhati emas, bukan jahat namanya! Biar raja kalau berwatak serigala, dia melebihi iblis!
Biar serigala kalau banyak dan mengandalkan pengeroyokan, seekor harimau pun bisa mengalami bencana!
Karena itu lebih baik lari menjauhkan diri!

Kim-mo Taisu yang sedang menghadapi urusan penting, tadinya tidak ingin menunda perjalanannya. Akan tetapi mendengar nyanyian ini, terutama baris kalimat pertama dan kedua, dia menjadi tertarik. Dia dijuluki Kim-mo Taisu. Guru Besar Iblis Berhati Emas! Sedangkan Kong Lo Sengjin adalah Sin-jiu Couw Pa Ong, seorang raja muda! Jelas bahwa sajak yang dinyanyikan itu bukan hanya kebetulan saja. Apalagi disebut- sebut tentang serigala-serigala yang hendak mengeroyok, maka sang harimau lebih baik pergi jauh.

Tak salah lagi! Orang aneh itu bernyanyi dengan kata-kata memberi peringatan kepadanya agar jangan melayani tantangan Couw Pa Ong yang akan mengeroyoknya! Ketika Kim-mo Taisu mendekat, tampak olehnya bahwa laki-laki yang usianya lima puluh tahun lebih, agak pendek dan matanya lebar itu sedang melukis. Ia memandang ke arah kertas yang dibentangkan dan menempel batang pohon dan… hampir saja Kim-mo Taisu berseru saking kagumnya.

Dia sendiri adalah seorang sastrawan, tentu saja mengenal seni lukis, bahkan sedikit banyak pandai juga melukis. Bukankah menulis huruf sama dengan seni lukis pula? Apa yang dilihatnya di atas kertas itu benar- benar sebuah lukisan yang mengagumkan. Coretan-coretannya kuat sekali, kuat dan hidup. Gambar itu melukiskan empat ekor serigala sedang berkelahi mengeroyok seekor harimau. Biar pun lukisan itu hanya hitam putih, namun hidup sekali.

Mata empat ekor serigala itu seolah-olah hidup dan menyinarkan kelicikan dan kecurangan di samping kebuasan. Mulut mereka seolah-olah tampak hidup mengeluarkan uap amis, dengan air liur menetes-netes, lidah terjulur keluar, gigi runcing-runcing penuh ancaman. Juga harimau itu amat indah, membayangkan kegagahan dan keberanian, akan tetapi keadaannya payah dikeroyok empat ekor serigala yang buas dan berkelahi dengan cara yang curang itu, selalu mengarah kaki belakang sang harimau.

“Lukisanmu indah sekali, Sobat!” Kim-mo Taisu memuji.

Orang itu kelihatan kaget bukan main. Kedua mouw-pit-nya sampai melayang ke atas dan sekali tangan kanannya bergerak ia sudah mencabut sebatang pedang yang bersinar terang kekuningan. Tubuhnya melompat ke belakang membalikkan tubuh dan siap dengan pedang di depan dada. Ketika sepasang mouw-pit hitam putih itu meluncur turun, tanpa mengalihkan pandang mata ke arah Kim-mo Taisu, dengan tangan kirinya bergerak ke depan dan tahu-tahu kedua mouw-pit itu sudah terjepit di antara tangan kirinya!

Mereka saling pandang. Kim-mo Taisu maklum bahwa pelukis aneh ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi pula, maka ia makin kagum dan cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat dan menjura.

“Maafkan saya kalau saya mengganggu Saudara yang sedang enak-enak melukis. Akan tetapi melihat lukisan yang hebat luar biasa ini, dan mendengar nyanyian Saudara, tak mungkin saya lewatkan begitu saja. Kim-mo Taisu bukanlah seorang yang tidak tahu akan maksud baik orang lain, juga tidak buta akan kepandaian melukis yang begini mengagumkan!”

Tiba-tiba orang itu tertawa dan mukanya berubah lucu sekali. Apalagi ketika ia memasang kuda-kuda tadi, pinggulnya lenggak-lenggok seperti orang sedang ber-agogo! Cepat-cepat ia menyimpan pedangnya, lalu balas memberi hormat sambil pecuca-pecucu (mulut digerak-gerakkan meruncing).

“Wah-wah-wah! Akulah yang layak ditampar! Aku yang layak minta maaf karena seperti orang buta saja tidak melihat timbulnya matahari pagi yang demikian indah merajai angkasa raya! Tidak mengenal Kim-mo Taisu yang tersohor sebagai seorang pendekar sakti, terutama baik budi pekertinya. Maaf, maaf!” Ia menghormat lagi lalu berkata, “Aku yang bodoh bernama Gan Siang Kok, akan tetapi anak-anak kecil yang suka melihat gambar-gambarku menyebutku Gan-lopek. Heh-heh-heh, memang aku sudah tua tentu saja suka disebut lopek (paman tua)! Mau pura-pura muda saja, rambut sudah beruban gigi sudah tidak lengkap, Heh-heh, hati sih tinggal muda, tapi rambut dan gigi ini tak dapat disangkal ketuaannya. Ha-ha-ha!”

Kim-mo Taisu tersenyum. Orang ini biar pun aneh, wataknya terbuka dan mempunyai pandangan luas dan selalu gembira. Agaknya memandang dunia dengan hati terbuka dan dari sudut yang mengandung kelucuan.

Memang kalau orang berpemandangan awas dan berhati terbuka, di dunia ini banyak sekali terdapat hal-hal yang membuat hati menjadi geli, seperti melihat badut-badut berlagak di atas panggung. Melihat betapa di dalam kehidupan manusia sehari-hari, selalu manusia tunduk kepada kepalsuan yang disebut kebiasaan umum! Kekeliruan-kekeliruan dan penyelewengan-penyelewengan yang tidak dianggap salah lagi karena orang banyak, bahkan semua orang melakukannya!

Kepalsuan yang kadang-kadang disebut kesopanan, disebut kebiasaan umum, disebut peraturan dan bahkan disebut hukum! Alangkah lucunya manusia-manusia yang berselimut segala yang baik-baik itu membiarkan diri berlagak seperti badut-badut berkedok kepalsuan! Tentu saja hal ini tidak akan tampak oleh manusia sesama badut. Hanya orang yang sudah sadar saja yang akan dapat menjadi penonton. Orang-orang yang masih mabok dan belum sadar, mabok keduniaan, akan terseret dan ikut main di atas panggung menjadi badut- badut, dan bahkan saling berlomba memperebutkan kejuaraan badut paling lucu!

“Kalau begitu, biar pun selisih usia kita tidaklah terlalu banyak, aku yang lebih muda akan menyebutmu Gan- lopek juga.”

“Heh-heh-heh, itu yang paling baik. Merupakan kehormatan besar sekali mempunyai keponakan seorang berwatak pendeta dan bertubuh pendekar yang harus disebut Taisu (guru besar) oleh Paman tuanya. Ha-ha!”

“Gan-lopek, harap sudahi main-main ini. Tidak perlu kiranya kau berpura-pura lagi bahwa yang kau nyanyikan dan yang kau lukis ini kebetulan saja menyangkut diriku. Terima kasih atas peringatanmu bahwa di atas sana menanti musuh-musuhku yang berjumlah banyak hendak mengeroyokku. Akan tetapi agaknya kau lupa bahwa seekor harimau tidak pernah mengenal takut. Nah, aku pun tidak takut karena aku berbekal kebenaran. Sekali lagi terima kasih dan selamat berpisah, Gan-lopek!” Setelah memberi hormat lagi, Kim-mo Taisu melanjutkan perjalanannya.

Gan-lopek melanjutkan corat-coretnya, mulutnya mengomel, “Cari mati…., cari mati…!”

Ketika kemudian Kim-mo Taisu menengok, ia melihat betapa Gan-lopek yang aneh dan lucu itu telah mencoret-coret gambarnya sehingga gambar yang indah itu berubah menjadi hitam semua, seperti seorang kanak-kanak yang ngambul dan sengaja merusak lukisan itu untuk melampiaskan kekecewaan dan kemendongkolan. Kim-mo Taisu tersenyum, mengangkat kedua pundak, lalu melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.

Di atas puncak Tai-hang-san itu terdapat bagian yang rata dan ditumbuhi rumput hijau. Tempat itu cukup luas dan pemandangan dari puncak itu ke bawah amatlah indahnya. Kim-mo Taisu melihat ke bawah dan tampak pemandangan luar biasa karena kini ‘semut-semut’ di bawah itu sudah mulai berperang!

Tiba-tiba dari belakang pohon-pohon di sekitar lapangan itu muncul empat orang yang bergerak cepat menghampirinya. Paling depan ia mengenal Kong Lo Sengjin yang ‘berjalan’ di atas kedua tongkatnya. Akan tetapi alangkah kaget, heran dan juga girangnya ketika melihat bahwa orang ke dua adalah Ban-pi Lo-cia! Tanpa ia cari-cari kini musuh-musuh besarnya telah berkumpul sehingga mudah baginya untuk segera menyelesaikan perhitungan lama!

Dasar seorang yang berwatak pendekar, Kim-mo Taisu hanya teringat akan keuntungan perjumpaan ini, sama sekali tidak ingat bahwa Kong Lo Sengjin dan Ban-pi Lo-cia menjadi satu merupakan lawan yang bukan main beratnya, belum lagi ditambah dua orang yang berada di belakang mereka. Ada pun dua orang itu juga bukan orang sembarangan, karena yang satu adalah Pouw-kai-ong, Si Raja Pengemis yang jahat dan licik, memiliki kepandaian yang aneh sekali. Orang ke dua adalah Lauw Kiat, murid Ban-pi Lo-cia yang tentu saja tinggi ilmunya, dan semenjak terakhir mengeroyoknya, tentu kini telah bertambah ilmunya.

Akan tetapi Kim-mo Taisu sama sekali tidak merasa gentar. Memang harus ia akui bahwa bersatunya Kong Lo Sengjin dengan Ban-pi Lo-cia, merupakan hal yang tidak ia sangka-sangka dan memang kedua orang itu ditambah Pouw-kai-ong dan Lauw Kiat merupakan lawan yang berat sekali, jauh lebih berat ketika ia dikeroyok oleh Ban-pi Lo-cia, Pouw-kai-ong, dan Ma Thai Kun dahulu. Namun selama belasan tahun ini pun ilmunya sendiri sudah mendapat kemajuan pesat. Dahulu ia terhitung masih muda, dan kini ia sudah dapat mematangkan ilmu kepandaiannya, sedangkan dua orang lawannya yang paling pandai, Ban-pi Lo-cia dan Kong Lo Sengjin, sudah terlalu tua sekarang dan karenanya tentu berkurang tenaganya.

“Hemm, siapa duga Sin-jiu Couw Pa Ong yang dahulu terkenal sebagai seorang patriot sejati, seorang pembela tanah air dan negara sampai mengorbankan kedua kakinya, kini menyeberang kepada musuh dan tidak malu dalam usia tua merubah diri menjadi seorang penghianat yang serendah-rendahnya karena bersekutu dengan orang Khitan!” Kim-mo Taisu menegur karena memang hatinya merasa tertusuk dan marah bukan main menyaksikan paman mendiang isterinya itu bersekutu dengan Ban-pi Lo-cia. “Berlaku curang, menggunakan orang Hui-to-pang membunuh keponakannya sendiri dan melemparkan fitnah kepada orang lain adalah biasa, akan tetapi menghianati negara adalah kejahatan yang rendah, yang akan mendatangkan noda yang tak terhapuskan selama tujuh keturunan!”

Marahlah Kong Lo Sengjin mendengar ini. Marah luar biasa sehingga mukanya menjadi pucat, alisnya berdiri dan rambutnya yang sudah awut-awutan itu seketika seperti menjadi kaku. Ia melangkah lebar dengan tongkatnya mendekati Kim-mo Taisu dan memaki dengan bentakan keras. “Tutup mulutmu! Kwee Seng, kau anak kecil tahu apa tentang perjuangan? Ketika kau belum terlahir aku sudah berjuang membela negara. Sekarang kau berani memberi kuliah tentang perjuangan kepadaku? Keparat!”

Kim-mo Taisu tersenyum mengejek. “Justru karena kau sudah terlalu tua maka engkau menjadi pikun. Sudah layak kalau orang dinilai dari perbuatannya paling akhir. Seribu perbuatan baik akan terhapus oleh sebuah perbuatan buruk. Seribu perbuatan buruk dapat saja dicuci oleh sebuah perbuatan baik terakhir. Kong Lo Sengjin, kau sudah tua, mendekati saat kematian, mengapa tidak menyiapkan bekal yang baik malah menumpuk dosa dan kecemaran? Mengapa tidak mencari jalan terang malah tersesat dalam kegelapan? Mengapa seorang patriot berubah menjadi penghianat?”

“Setan neraka!” Kong Lo Sengjin semakin marah. “Aku sudah mengorbankan seluruh keluargaku untuk negara, bahkan mengorbankan kedua kakiku! Aku memang menyuruh bunuh isterimu untuk membangkitkan semangatmu agar kau mengikuti jejakku! Kau yang baru berkorban isteri saja sudah ribut dan hendak membalasku. Jangan kira aku takut. Kini kau menuduhku yang bukan-bukan. Kau anak kecil tahu apa? Semenjak Kerajaan Tang runtuh, selama setengah abad rakyat kita ditindas oleh raja-raja lalim. Mula-mula mereka baik, akan tetapi akhirnya sama saja. Keadaan begini harus diakhiri dan bangsa Khitan yang jaya sajalah yang akan dapat membantu merubah keadaan. Dengan bantuan bangsa Khitan, aku akan mendirikan kembali Kerajaan Tang yang megah! Kau, Kim-mo Taisu, kalau kau mau membantu kami, aku dan sahabat- sahabatku ini akan melupakan segala urusan di antara kita yang sudah lewat, dan mari kita bangun kembali Kerajaan Tang dengan bantuan sahabat-sahabat Khitan. Kelak kau akan menjadi raja muda, karena kau masih terhitung mantu keponakanku!”

Kim-mo Taisu memandang dengan mata terbelalak, kemudian bertanya, suaranya perlahan dan lirih, “Dan kau…kau menjadi kaisarnya?”

“Siapa lagi? Akulah raja muda Kerajaan Tang yang terakhir!” jawab Kong Lo Sengjin sambil membusungkan dada.

“Celaka,” pikir Kim-mo Taisu. Kakek ini sudah menjadi gila! Menjadi Kaisar Kerajaan Tang yang dibangun dengan bantuan bangsa Khitan? Sama saja dengan memasukkan barisan serigala ke dalam rumah. Apakah kalau seandainya bangsa Khitan berhasil, mereka mau menyerahkan kekuasaan kepada Kong Lo Sengjin? Kepada seorang kakek lumpuh? Membayangkan betapa kerajaan dikuasai oleh seorang kaisar lumpuh, Kim- mo Taisu menjadi geli hatinya dan tak tertahankan lagi ia tertawa tergelak.

“Ha-ha-ha! Kong Lo Sengjin, kiranya engkau sudah menjadi gila! Tak usah kau melamunkan yang bukan- bukan karena sekarang juga kau harus menebus kematian isteriku dengan nyawamu! Ada pun teman- temanmu ini, terutama sekali Ban-pi Lo-cia, juga takkan lepas dari tanganku karena dia harus menebus kematian adik isteriku. Kong Lo Sengjin, tahukah engkau bahwa adik kembar Gin Lin yang bernama Khu Kim Lin tewas karena kekejian dan kebiadaban manusia Khitan ini?”

“Tutup mulut! Urusan pribadi tidak penting, yang penting urusan negara!” Kong Lo Sengjin sudah menjadi marah sekali dan menerjang Kim-mo Taisu dengan kedua tongkatnya yang bergerak-gerak bergantian secara dahsyat. Tentu saja kakek yang berubah wataknya ini tidak peduli betapa keponakannya mati karena Ban-pi Lo-cia, karena dia sendiri pun tega menyuruh membunuh keponakannya, isteri Kim-mo Taisu, hanya untuk kepentingan cita-citanya.

Kim-mo Taisu yang kini sudah siap untuk bertanding, cepat mengelak dengan lompatan tinggi ke kanan. Ketika kakinya kembali menyentuh bumi, tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang, tangan kirinya memegang sebuah kipas. Memang semenjak ia mengambil keputusan untuk mencari musuh-musuh besarnya yang terdiri dari orang-orang sakti, dan mengingat akan pengalamannya ketika ia dikeroyok tanpa memegang senjata. Kim-mo Taisu sudah mempersiapkan diri dengan sepasang senjatanya yang lengkap yaitu pedang dan kipas.

Begitu lawannya mendesak maju, sekaligus Kim-mo Taisu menggerakkan pedang dan kipas. Pedangnya mainkan Pat-sian Kiam-hoat dan kipasnya mainkan Lo-hai San-hoat yang merupakan pasangan luar biasa dan hebat. Betapa pun saktinya Kong Lo Sengjin, kakek itu langsung terhuyung ke belakang saat menghadapi serbuan sepasang senjata aneh yang mengeluarkan angin pukulan dahsyat ini.

Akan tetapi pada saat itu, Ban-pi Lo-cia sudah menerjang maju dengan cambuk hitamnya sambil tertawa, “Ha- ha-ha, Kim-mo Taisu, sekali ini kau takkan dapat lolos dari cambukku!”

Betapa kaget hati kakek Khitan raksasa ini ketika ujung cambuknya menyambar dan sudah dekat dengan tubuh lawan, tetapi ujung cambuk itu terpental kembali seakan-akan ada tenaga luar biasa yang menolaknya. Kiranya kebutan kipas di tangan kiri Kim-mo Taisu telah berhasil mendorong kembali ujung cambuk itu. Dari gerakan ini saja dapat dibayangkan betapa hebat tenaga sinkang Kim-mo Taisu dan diam-diam Ban-pi Lo-cia merasa khawatir. Ia maklum bahwa selama belasan tahun ini, Kim-mo Taisu telah mendapat kemajuan pesat sekali dan dalam hal tenaga dalam saja ia sudah tidak dapat menandingi lawannya! Biar pun begitu, kakek raksasa ini tidak takut, apalagi pada saat itu, Pouw-kai-ong dan Lauw Kiat sudah menyerbu maju untuk membantu.

Yang hebat dan tak tersangka-sangka oleh Kim-mo Taisu adalah Pouw-kai-ong. Begitu Raja Pengemis ini bergerak menggunakan sebatang tongkat pengemis, terdengar angin menderu dan serangannya berbahaya sekali. Kiranya Raja Pengemis yang sebaya dengannya itu juga telah memperoleh kemajuan hebat. Hanya Lauw Kiat murid Ban-pi Lo-cia sajalah yang merupakan lawan paling lemah di antara empat orang ini. Namun pengeroyokan mereka cukup berbahaya dan membuat Kim-mo Taisu harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.

Pertandingan berlangsung dengan amat hebatnya. Betapa pun dia dikurung dan tidak diberi kesempatan oleh empat orang pengeroyoknya, namun Kim-mo Taisu kadang-kadang menggunakan kesempatan untuk mengerling ke bawah puncak, untuk melihat kalau-kalau ia dibutuhkan oleh panglima bala tentara Sung.

Di bawah puncak juga terjadi perang hebat antara pasukan-pasukan Khitan melawan bala tentara Sung. Terjadilah penyembelihan manusia besar-besaran oleh kedua pihak. Penyembelihan dan pembunuhan kejam tanpa sebab-sebab pribadi, hanya untuk memenuhi kehendak beberapa gelintir manusia yang ingin melihat cita-citanya terlaksana! Bunuh-membunuh, yang kalah roboh dan harus mati, yang menang tertawa dan hidup. Seolah-olah yang menang lupa bahwasannya mereka pun hanya menang untuk sementara saja, menang untuk waktu yang tidak lama, karena maut tentu akan datang menjemput nyawa mereka untuk menyusul nyawa mereka yang kalah!

Pedang dan golok yang memang haus darah, menusuk membacok mencincang hancur tubuh lawan yang kalah, senang hati menyiksa yang kalah. Seolah-olah mereka ini lupa bahwasanya sebelum maut kelak mencabut nyawa mereka, akan tiba masanya mereka mengalami suka dan derita sebelum mati, mungkin jauh lebih mengerikan dan lebih sengsara dari pada penderitaan mereka yang dicincang dalam perang. Lupa bahwa siksaan dalam bentuk penyakit sebelum mati kadang kala amat mengerikan dan sengsara.

Dalam mengejar hasrat dan nafsu, manusia lupa bahwa tidak ada yang menang atau kalah dalam kehidupan manusia. Yang menang mutlak dan abadi hanya Tuhan. Karena itu bahagialah mereka yang mengabdikan diri sebagai hamba Tuhan, sebagai prajurit Tuhan yang bersenjatakan kasih, yang hanya mengharapkan damai dan tenteram di dunia, tidak ada perang, tidak ada bunuh membunuh, tidak ada benci, tidak ada dendam. Yang ada hanya kasih sayang sesama hidup, bergembira melihat orang lain bersenang, prihatin dan mengulurkan tangan menolong melihat orang lain bersusah.

Kalau hidup antar manusia sudah seperti itu, hidup antar negara tentu menjadi demikian pula. Tidak ada bentrok politik, tiada perang agama, tiada perbedaan di antara bangsa, penuh kasih, penuh toleransi. Amboi, alangkah nikmat hidup di dunia dalam keadaan seperti itu.

Kim-mo Taisu benar-benar seorang pendekar sakti. Empat orang lawannya adalah orang-orang luar biasa, ahli-ahli silat yang sudah mencapai tingkat tinggi. Bahkan yang dua orang, yaitu Kong Lo Sengjin dan Ban-pi Lo-cia adalah dua orang sakti yang merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Namun, sampai sejam lebih mereka bertempur, belum juga empat orang itu dapat merobohkan Kim-mo Taisu.

Betapa pun juga harus diakui bahwa keadaan Kim-mo Taisu amat berbahaya. Selain empat orang itu lihai juga, mereka, terutama Ban-pi Lo-cia dan Kong-lo Sengjin, bertanding penuh semangat dan kebulatan tekad. Agaknya dua orang kakek itu maklum bahwa kali ini harus ada keputusan terakhir, mempertaruhkan nyawa untuk menang atau kalah. Hidup atau mati! Karena kenekatan inilah maka Kim-mo Taisu mulai terdesak. Ia belum mampu melukai seorang di antara empat orang pengeroyoknya yang dapat bekerja sama amat baik dan rapi, saling melindungi dan saling menjaga.

Agaknya Lauw Kiat mulai hilang sabar. Ia bersuit keras dan dari dalam hutan di puncak gunung muncullah dua belas orang Khitan yang bertubuh tinggi besar. Mereka datang membawa sebuah jala ikan. Aneh sekali mengapa sebuah jala ikan dibawa oleh dua belas orang. Sebetulnya jala itu bukan sembarang jala, melainkan sebuah alat untuk menangkap orang sakti. Jala ini terbuat dari pada bahan yang kuat sekali, tidak putus oleh sabetan senjata tajam, dan di sebelah dalamnya terdapat banyak kaitan-kaitan berbentuk pancing sehingga sekali seorang tertutup jala, betapa pun saktinya, akan sukar baginya untuk lolos karena makin keras ia bergerak memberontak akan makin banyak pula kaitan-kaitan kecil berbentuk pancing menancap di tubuhnya!

“Bantu kami tangkap dia!” seru Lauw Kiat dalam bahasa Khitan.

Akan tetapi selagi dua belas orang itu mempersiapkan jala dan mengatur kedudukan mereka yang dipersulit oleh adanya pertandingan yang sedemikian cepat gerakannya, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan. Begitu tiba di situ, bayangan itu tertawa-tawa dan menyerang dua belas orang tinggi besar itu secara kalang-kabut.

Dari sudut matanya Kim-mo Taisu melihat bahwa yang datang menyerang dua belas orang penebar jala itu bukan lain adalah Gan-lopek si pelukis tadi!

Benar saja dugaan Kim-mo Taisu ketika bertemu dengan kakek pelukis ini tadi. Tidak hanya pandai melukis dan melawak, Gan-lopek ini ternyata lihai pula ilmu silatnya. Setidaknya terlalu lihai untuk dua belas orang tinggi besar yang hanya pandai bermain dengan jala itu. Mereka itu adalah orang-orang Khitan yang biasa menjala ikan, biasa pula mereka menangkap anjing laut dengan jala. Tentang ilmu silat, mereka hanya tahu sedikit-sedikit, walau pun bertenaga besar.

Karena penyerbuan Gan-lopek ini tak tersangka-sangka, dua belas orang itu tidak sempat mempergunakan jala mereka, maka mereka mencabut golok besar dan menerjang kakek yang tertawa-tawa itu. Kiranya Gan- lopek hanya melayani mereka dengan sepasang mouw-pit-nya. Pedangnya masih tergantung di pinggang, sama sekali tidak ia pergunakan. Akan tetapi sepasang mouw-pitnya hebat.

Ketika tubuhnya berkelebatan dengan pinggul megal-megol seperti orang menari agogo, kedua tangannya bergerak cepat. Terdengar teriakan-teriakan marah. Sebentar saja enam orang tinggi besar sudah tidak bisa berkelahi lagi karena mereka menggunakan kedua tangan mereka yang menjadi gelap karena dicoret-coret oleh sepasang mouw-pit sehingga muka mereka itu coreng-moreng dengan warna hitam dan putih sedangkan mata mereka penuh tinta! Kemudian mereka roboh seorang demi seorang tertotok gagang mouw-pit.

Sayang Gan-lopek orangnya suka bergurau. Kalau saja ia cepat-cepat merobohkan dua belas orang itu tanpa bergurau seperti itu, agaknya ia masih akan sempat membantu Kim-mo Taisu yang terdesak hebat. Ketika Gan-lopek sedang enak-enaknya membabati roboh dua belas orang tinggi besar itu seperti orang membabat rumput saja, tiba-tiba ia merasa angin menyambar hebat dan dahsyat dari belakangnya, didahului suara Kim- mo Taisu, “Gan-lopek, awas!”

Gan-lopek terkejut, cepat menggerakkan kedua tangan ke belakang, menangkis dengan sepasang mouw-pit- nya. Akan tetapi terdengar suara keras, sepasang mouw-pit-nya patah dan pundak kanannya kena hantam ujung cambuk di tangan Ban-pi Lo-cia yang telah menyerang Gan-lopek ketika melihat Gan-lopek merobohkan dua belas orang tukang jala.

“Aduuhh…!” Gan-lopek roboh terguling dan terus ia menggulingkan tubuhnya untuk menghindari serangan susulan. Sambil bergulingan Gan-lopek muntahkan darah segar, tanda bahwa hantaman pada pundaknya tadi telah mengakibatkan luka berat di sebelah dalam tubuhnya. Akan tetapi cambuk hitam itu bagaikan tangan maut terus mengejarnya untuk memberi pukulan maut terakhir.

Melihat keadaan ini, Kim-mo Taisu berseru keras, pedangnya bergerak menjadi sinar panjang ke depan, membuat para pengeroyoknya kaget dan mundur. Kesempatan ini ia pergunakan untuk menggerakkan tubuhnya, meloncat dan melayang ke arah Ban-pi Lo-cia sambil mengirim tusukan dengan pedang ke arah punggung kakek raksasa itu.

Ban-pi Lo-cia tengah mendesak Gan-lopek yang bergulingan. Mendengar angin serangan dari belakang, raksasa Khitan itu cepat membalikkan tubuh sambil mengayun Lui-kong-pian, yaitu cambuk hitamnya yang ampuh itu. Kim-mo Taisu sudah menduga akan hal ini. Cepat ia menggerakkan kipasnya ketika kakinya sudah turun di atas tanah sambil mengerahkan sinkang, menciptakan tenaga melekat. Begitu bertemu kipas, cambuk Lui-kong-pian itu tak dapat terlepas dari kipas dan pada saat itu pedang Kim-mo Taisu datang menusuk dada.

Ban-pi Lo-cia cepat mengerahkan tenaga Hek-see-ciang di tangan kirinya, menghantam ke arah lambung Kim- mo Taisu tanpa mempedulikan tusukan pedang. Dalam keadaan berbahaya itu, kakek raksasa ini agaknya ingin mengadu nyawa, mengajak mati bersama. Namun Kim-mo Taisu tidak sudi menerima ajakan ini, pedangnya yang menusuk otomatis bergerak membabat ke bawah.

“Crakkk!”” buntunglah lengan kiri Ban-pi Lo-cia sebatas bawah siku. Darah menyemprot akan tetapi sedikit pun tidak terdengar keluhan Ban-pi Lo-cia, bahkan kakek itu tertawa bergelak dan cambuknya yang kini sudah terlepas menyambar pula.

Kim-mo Taisu melihat sambaran cambuk ditambah serangan dari belakang tentu dari seorang di antara para pengeroyok, cepat merebahkan diri ke bawah, bergulingan dan melihat kesempatan baik, ia meloncat ke atas dan mengerjakan pedangnya yang tak dapat dielakkan lagi oleh Ban-pi Lo-cia yang sudah terhuyung-huyung. Pedang menancap di perutnya yang gendut. Kim-mo Taisu menyontek pedang ke atas lalu meloncat sambil mencabut pedang.

Ban-pi Lo-cia makin keras tertawa bergelak, akan tetapi kini ia tertawa sambil memandang ususnya yang keluar dari lubang besar di perut. Dipegangnya usus itu dengan kedua tangannya, akan tetapi ia terhuyung, lalu roboh berkelojotan.

Hasil menewaskan seorang musuh besar ini bukan didapat dengan mudah begitu saja oleh Kim-mo Taisu. Tanpa pencurahan tenaga dan perhatian yang menyeluruh dalam serangan ini, tidak mungkin ia akan mampu merobohkan seorang sakti seperti Ban-pi Lo-cia. Dan karena pencurahan perhatian yang menyeluruh inilah, maka Kim-mo Taisu menebus dengan pengorbanan dirinya.

Ketika Kim-mo Taisu bergulingan ke bawah tadi, dari belakang telah menyambar serangan hebat yang datang dari pukulan tongkat Pouw-kai-ong. Dengan gerakan berguling ia berhasil menghindarkan ancaman tongkat Pouw-kai-ong, bahkan berhasil menusuk dan menewaskan Ban-pi Lo-cia. Namun selagi ia menusuk dan menyontekkan pedangnya ke atas lalu dicabut dan siap meloncat mundur, tiba-tiba datang pukulan yang hebat dari arah kiri, sedangkan dari arah kanannya menyambar tongkat Pouw-kai-ong, dari belakang juga ia ditusuk oleh tongkat di tangan Lauw Kiat, murid Ban-pi Lo-cia yang marah sekali melihat suhu-nya tewas.

Pada saat itu Kim-mo Taisu baru saja meloncat, kedudukan kedua kakinya masih belum menginjak tanah dengan kuat. Terpaksa ia menggerakkan tubuh miring sehingga ia dapat menangkis tongkat Lauw Kiat dengan pedang dan menyampok tongkat Pouw-kai-ong dengan kipas. Maksudnya hendak melanjutkan tangkisan pedangnya itu terus ke kanan membabat pukulan yang anginnya dahsyat dan membuntungkan lengan Kong Lo Sengjin. Namun terlambat.

Kiranya Kong Lo Sengjin tidak memukul ke arah yang tadi, melainkan mengirim pukulan jarak jauh ke arah punggung. Kim-mo Taisu yang sedang menangkis dua tongkat itu tak sempat lagi mengelak. Punggungnya terkena pukulan jarak jauh dan ia terguling! Sebagai seorang ahli silat yang tinggi ilmunya, pukulan jarak jauh itu hanya mampu membuat ia terguling saja. Cepat ia terus menggelinding sambil menggerakkan pedang dan kipasnya menjaga diri. Akan tetapi ketika ia meloncat berdiri, tubuhnya terhuyung-huyung dan ia merasa punggungnya sakit dan kaku!

Inilah hebatnya Kong Lo Sengjin dan ini pula yang menyebabkan ia dahulu dijuluki Sin-jiu (Kepalan Sakti). Kakek ini memiliki ilmu pukulan tangan kosong yang ampuh. Orang-orang yang kepandaiannya rendah, sekali terkena sambaran angin pukulannya akan roboh dan tewas seketika. Kim-mo Taisu memang kuat dan bukanlah seorang lawan berilmu rendah. Akan tetapi tadi ia sedang menangkis dan ternyata kakek lumpuh itu telah mengirim pukulan tepat pada saat ia menangkis dan dengan tepat pula memilih bagian yang pada saat itu ‘koson’”. Tadi Kim-mo Taisu menangkis dengan pengerahan tenaga sinkang karena maklum bahwa kedua tongkat itu digerakkan oleh dua lawan yang lihai. Oleh karena inilah maka tentu saja tenaga sinkang-nya dipergunakan dan disalurkan ke dalam kedua lengan sehingga bagian punggungnya yang amat kuat itu menjadi kosong dan lemah.

Kim-mo Taisu terkejut, maklum bahwa ia telah menderita luka berat. Ia memuntahkan darah hidup, akan tetapi segera dapat mengatur pernapasan dan serangan berikutnya dari ketiga orang itu dapat ia hadapi lagi dengan gerakan yang cukup kuat dan cepat. Memang hebat kekuatan Kim-mo Taisu, kuat dan ulet, berani dan pantang mundur.

“Taisu, mari lari…!” dengan suara lemah Gan-lopek yang sudah terluka pun itu mengajak. Gan-lopek terluka hebat oleh pukulan ujung cambuk Ban-pi Lo-cia, dan tak mungkin kuat lagi menghadapi lawan-lawan yang tangguh itu, maka ia mengajak Kim-mo Taisu melarikan diri. Ia melompat pergi dari tempat itu. Akan tetapi Kim-mo Taisu tidak mau melarikan diri. Ia melawan terus dengan nekat sungguh pun punggungnya terasa makin sakit.

Gan-lopek berlari pergi sambil menarik napas panjang. Tentu saja ia tidak bisa nekat seperti Kim-mo Taisu. Dia adalah orang luar yang tidak tahu-menahu tentang urusan mereka. Kalau tadi ia turun tangan membantu Kim-mo Taisu adalah karena ia melihat dua belas orang Khitan itu hendak menggunakan jala yang ia kenal dan tahu amat berbahaya itu. Pula ia memang merasa simpati dan suka kepada Kim-mo Taisu yang namanya terkenal harum. Ia sudah turun tangan menolong Kim-mo Taisu dengan jalan merobohkan dua belas orang tukang jala. Dan ia pun baru saja tertolong oleh Kim-mo Taisu dari ancaman maut di tangan Ban-pi Lo-cia. Sudah impas. Akan tetapi dia sudah terluka dan tak mungkin nekat memberikan nyawanya tanpa sebab. Kim- mo Taisu boleh nekat, mungkin mempunyai alasan yang kuat untuk tidak melarikan diri.

Memang wawasan Gan-lopek itu benar. Andai kata Kim-mo Taisu tidak berhadapan dengan Kong Lo Sengjin, agaknya ia pun akan melarikan diri. Lawan juga menggunakan kecurangan dengan mengeroyok, maka melarikan diri bukanlah hal yang memalukan. Akan tetapi sekarang ia berhadapan dengan Kong Lo Sengjin. Semua perhitungan harus diselesaikan saat itu juga.

Pertandingan antara Kim-mo Taisu dikeroyok tiga orang lawannya masih berjalan seru. Biar pun Kim-mo Taisu telah terluka berat, akan tetapi pihak pengeroyok juga telah kehilangan Ban-pi Lo-cia. Kini Kim-mo Taisu hanya dapat membatasi diri dengan bertahan karena kalau ia terlalu banyak menghamburkan tenaga untuk menyerang, tentu keadaannya akan makin payah dan berbahaya. Pada saat lawan menyerang saja ia mengandalkan kegesitannya mengelak sambil balas menyerang, dan dengan cara ini ia dapat menghemat tenaganya. Ia sudah bertekad bahwa biar pun akhirnya ia kalah dan tewas, ia harus dapat merobohkan Kong Lo Sengjin lebih dahulu!

Pada saat yang amat berbahaya bagi Kim-mo Taisu itu, tiba-tiba muncullah Bu Song dan sepasukan tentara. Melihat suhu-nya dikeroyok dan keadaannya payah, Bu Song mengeluarkan suara melengking tinggi dan mendahului pasukan itu meloncat ke depan. Munculnya Bu Song mengagetkan tiga orang yang mengeroyok. Kim-mo Taisu seorang diri saja sudah cukup berat dan sukar dirobohkan, apa lagi datang bala bantuan belasan orang banyaknya! Mereka terdiri dari orang-orang yang licik dan curang, maka begitu melihat pihak mereka terancam, tanpa dikomando lagi mereka lalu melompat pergi, dan Luw Kiat yang pergi lebih dulu setelah menyambar jenazah gurunya.

Bu Song cepat menghampiri suhu-nya yang berdiri terhuyung-huyung. “Suhu…!” tegurnya penuh khawatir. Kim-mo Taisu menggeleng kepala. “Tidak apa-apa. Dari mana kau? Mengapa ke sini?”
“Teecu baru saja datang. Di kota raja teecu mendengar akan keberangkatan Suhu bersama barisan. Teecu menyusul dan hendak membantu. Di lereng gunung barisan kita telah berhasil memukul mundur musuh dan kini sedang mengadakan pengejaran. Phang-ciangkun yang melihat Suhu belum juga kembali, menyuruh teecu menyusul ke sini dengan pasukan pengawal. Apakah Suhu terluka?”

Biar pun mukanya pucat dan punggungnya nyeri, Kim-mo Taisu masih sanggup melakukan perjalanan cepat bersama muridnya, mendahului pasukan turun dari puncak. Akan tetapi begitu tiba di perkemahan, pendekar ini kembali muntahkan darah segar dan roboh pingsan. Bu Song menyambar tubuh suhu-nya, memondongnya ke dalam perkemahan dan membaringkannya, lalu merawatnya.

Setelah siuman Kim-mo Taisu berkata, “Kong Lo Sengjin hebat sekali pukulannya. Akan tetapi tidak cukup hebat untuk merenggut nyawaku. Bu Song, kau cepat ceritakan pengalamanmu. Berhasilkah?” Setelah bertanya demikian, Kim-mo Taisu lalu duduk bersila dan mengatur napas.

Bu Song yang maklum bahwa suhu-nya perlu mengaso dan memulihkan kesehatannya, segera menuturkan pengalamannya di Pek-coa-to dan perjumpaannya dengan Bu Tek Lojin. Perjalanannya berhasil baik dan merupakan berita menyenangkan, maka ia berani bercerita kepada suhu-nya.

Benar saja, biar pun matanya dipejamkan, wajah Kim-mo Taisu berseri-seri mendengar penuturan muridnya. Ia masih mengatur napasnya, panjang-panjang menarik napas sehingga dadanya mekar dan perutnya mengempis, ditahannya lama-lama baru dikeluarkan seenaknya. Begitu terus menerus. Kemudian ia membuka kedua matanya, memandang muridnya.

“Keluarkan suling itu,” katanya lirih.

Dengan hati bangga dan girang dapat menyenangkan hati suhu-nya, Bu Song mengeluarkan suling emas dari balik jubahnya, menyerahkan suling itu kepada suhu-nya.

Akan tetapi Kim-mo Taisu tidak memegang suling itu, hanya memandang dan berkata, “Memang betul ini suling emas, hadiah Bu Kek Siansu kepada sastrawan Ciu Bun. Apakah sudah kau pelajari cara meniupnya untuk mengiringi sajak dalam kitab?”

“Sudah, Suhu.”

“Coba kau mainkan suling itu dalam gerakan Pat-sian Kiam-hoat.”

Bu Song melangkah mundur, lalu menggerakkan suling melakukan jurus-jurus Pat-sian Kiam-hoat. Baru tiga jurus suhu-nya sudah berkata, “Cukup! Kau sungguh bernasib baik sekali, muridku. Sekarang aku tidak khawatir lagi. Dengan bantuan Bu Tek Lojin, kau sudah melampaui gurumu….”

“Ah, mana bisa begitu, Suhu? Murid yang bodoh….”

Kim-mo Taisu tertawa dan bertanya memotong kata-kata muridnya, “Coba ceritakan bagaimana keadaan perang ketika kau tiba di sini?”

Ternyata ketika Bu Song tiba di medan perang yang terjadi di sekitar pegunungan Tai-hang-san, pasukan- pasukan Sung berhasil menguasai keadaan dan memberi hajaran kepada pasukan-pasukan Khitan yang jumlahnya jauh kalah banyak. Girang hati Bu Song melihat keadaan ini dan di sepanjang jalan, sambil bertanya-tanya kepada para prajurit tentang suhu-nya, Kim-mo Taisu, ia membuka jalan darah dan merobohkan setiap musuh yang hendak menghalangi jalannya. Akhirnya ia tiba di perkemahan besar itu dan pada saat itu, sedang terjadi penyerbuan hebat di perkemahan.

Keadaan kacau balau dan perang terjadi dengan hebatnya. Keadaan para panglima terancam karena pihak musuh muncul seorang yang luar biasa sekali. Orang itu pakaiannya serba hitam, mukanya tertutup kedok tengkorak mengerikan, senjatanya sebuah sabit dan sepak-terjangnya pun menyeramkan. Gerakannya cepat dan tenaganya mukjijat sehingga setiap orang prajurit yang berani menentangnya tentu roboh dengan tubuh terpotong menjadi dua!

Akan tetapi para prajurit pengawal itu adalah prajurit-prajurit pilihan yang tidak takut mati. Untuk menyelamatkan para komandannya dari ancaman manusia iblis ini, puluhan orang prajurit mengurung iblis itu. Biar pun banyak sekali prajurit yang roboh malang melintang dan tewas di tangan manusia iblis ini, namun sang Manusia Iblis tidak mampu menerobos ke dalam tenda besar untuk membunuh empat orang panglima.

Pada saat itulah Bu Song tiba di tempat itu. Melihat keadaan ini ia menjadi marah, dan sekali melompat ia telah melompati pagar manusia yang mengeroyok manusia iblis, tiba di depan iblis itu lalu menerjang dengan suling emasnya yang ia tahu adalah senjata yang ampuh sekali. Si Manusia Iblis itu tadi mengaku berjuluk Hek-giam- lo (Maut Hitam), kini berseru kaget karena hampir saja lehernya kena hantaman suling yang mengeluarkan sinar kuning. Ia cepat mengayun sabitnya yang tajam, ke arah pinggang Bu Song, akan tetapi dengan mudah Bu Song menangkis dengan sulingnya. Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata ketika kedua senjata itu bertemu. Akan tetapi Hek-giam-lo memekik kesakitan, hampir saja sabitnya terlepas dari pegangan.

Melihat betapa orang muda di depannya ini luar biasa kepandaiannya, Hek-giam-lo merasa khawatir, apalagi para prajurit pengawal yang nekat dan gagah berani itu masih mengepung. Ia mengeluarkan pekik aneh dan tubuhnya mencelat jauh, sabitnya diputar sehingga para pengawal terpaksa mundur. Kesempatan itu dipergunakan oleh Hek-giam-lo untuk melarikan diri! Setelah Hek-giam-lo lari, penyerbuan itu dengan mudah dan cepat dapat dibasmi habis. Selebihnya melarikan diri ke empat penjuru mencari selamat memasuki hutan- hutan di lereng gunung.

“Demikianlah, Suhu. Karena musuh telah dapat diusir mundur, para ciangkun memimpin barisan melakukan pengejaran ke utara dan teecu disuruh menyusul Suhu bersama sepasukan pengawal tadi,” Bu Song mengakhiri ceritanya.

Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, senang hatinya. Lalu ia mengerutkan keningnya dan kemudian bertanya, “Kau bilang tadi bahwa sastrawan tua Ciu Bun dan kakek sakti Bu Tek Lojin bersikap aneh sekali setelah mendengar perpaduan suara antara sajak dalam kitab dan suara suling? Coba jelaskan lagi, karena hal itu amat menarik.”

Bu Song mengulang ceritanya tentang sikap Ciu Bun yang aneh setelah mendengar sajak terakhir dan iringan suara suling, kemudian betapa Bu Tek Lojin bersikap lebih aneh lagi. Dengan penuh perhatian Kim-mo Taisu mendengarkan, kemudian tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana bunyi sajak terakhir itu?”

Bu Song lalu membaca sajak dengan suara bernada tinggi rendah, jelas dan berirama. Gurunya mendengarkan, dan cukup hanya sekali saja mendengar, sebagai seorang sastrawan Kim-mo Taisu sudah hafal. Ia menarik napas panjang dan berkata, “Sajak yang baik dan mengandung kebenaran mutlak, namun terlalu tinggi untuk otak dan terlalu dalam untuk diselami pengertian. Hanya dapat diterima oleh rasa dan getaran. Akan kunyanyikan, coba kau iringi dengan tiupan suling, Bu Song muridku!” tiba-tiba Kim-mo Taisu yang tadinya menanggung nyeri di punggungnya tampak bergembira dan wajahnya berseri.

Diam-diam Bu Song merasa khawatir. Dua orang tokoh golongan sastra dan silat bersikap aneh sekali mendengar perpaduan itu. Jangan-jangan suhu-nya juga akan bersikap aneh seperti mereka! Maka ia menjadi ragu-ragu. Siapa tahu perpaduan suara itu mengandung sesuatu yang mukjijat dan jahat.

“Jangan kau khawatir, Bu Song. Ciu Bun kegirangan seperti gila karena ia memang mencari dan mengharapkan sesuatu sehingga ketika mendapatkannya ia menjadi girang luar biasa. Bu Tek Lojin terlalu banyak melakukan hal-hal yang membuat ia merasa menyesal, mungkin karena sesalnya ia bersikap sedih seperti orang gila pula. Aku tidak mengharapkan sesuatu, juga tidak menyesalkan sesuatu, maka tidak akan apa-apa kecuali mendapatkan penjernihan batin. Mulailah!”

Setelah berkata demikian, sambil duduk bersila dengan tulang punggung lurus, Kim-mo Taisu bernyanyi seperti Bu Song tadi, suaranya merdu dan nyaring.

ADA muncul dari TIADA,
betapa mungkin mencari sumber TIADA? Mengapa cari ujung sebuah mangkok?
Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola? Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Sampai tiga kali Kim-mo Taisu mengulang nyanyian ini, diiringi suara suling Bu Song yang merayu-rayu. Kemudian ia diam dan keadaan menjadi sunyi, sunyi hening dan gaib. Kim-mo Taisu memejamkan matanya. Dua butir air mata menempel di atas pipi. Napasnya tenang dan wajahnya tersenyum, seperti orang yang merasa puas dan lega. Tadinya Bu Song kaget melihat dua butir air mata, akan tetapi hatinya lega melihat wajah yang tenang tenteram itu.

“Bu Song, dengarlah baik-baik,” katanya, suaranya lirih sehingga Bu Song mendekat dan duduk bersila di atas lantai, di bawah gurunya. “Ada muncul dari tiada, akan tetapi tiada itu sendiri adalah suatu keadaan, karenanya, tiada juga muncul dari ada. Maka jangan salah duga, muridku, dan jangan salah laku. Mencari sesuatu dalam arti kata mengejar-ngejar, berarti mencari kekosongan. Segala sesuatu tercipta atau terjadi karena dua kekuatan Im dan Yang di alam semesta ini, yang saling tolak, saling tarik, saling isi-mengisi. Segala sesuatu yang ada dan yang tidak ada dalam pengertian manusia, terjadi oleh Im Yang ini, kemudian segala sesuatu di alam semesta ini saling berkait, saling mempengaruhi sehingga tidak mungkin lagi dipisah- pisahkan. Tidak ada yang paling penting dan tidak ada yang paling tidak penting, tidak ada yang paling tinggi atau pun paling rendah. Semua itu tali-temali dan kait-mengkait, seperti hukum Ngo-heng (Lima Anasir), Kayu, Api, Tanah, Logam, Air, saling mempengaruhi, saling membasmi juga saling menghidupkan, karenanya berputar dan terus berputar merupakan bibir mangkok. Tidak ada ujungnya dan tidak ada pangkalnya, tiada awal tiada akhir, sekali saja terganggu akan menjadi rusak sebentar dan mengakibatkan kekacauan, menjatuhkan korban, baru dapat pulih kembali, kait-mengait, berputar-putar. Semua sudah sewajarnya dan sudah semestinya begitu, jadi tidak perlu dianehkan atau diherankan lagi. Semua itu kosong, lahirmu, hidupmu, sepak terjangmu, susahmu, senangmu, matimu. Semua itu kosong dan hampa belaka karena memang sudah semestinya begitu, sudah wajar, sehingga pengorbanan perasaan dan pikiran itu sia-sia dan kosong belaka. Karena sesungguhnya yang disusah-senangi, ditawa-tangisi manusia, itu bukan apa-apa. Kosong hampa dan sesungguhnya tidak ada apa-apa! Mengertikah engkau, Bu Song?”

Dengan terus terang Bu Song menjawab, “Terlalu dalam untuk teecu, Suhu. Teecu kurang mengerti.”

Kim-mo Taisu tersenyum dan membuka matanya. Sepasang matanya memancarkan sinar aneh dan tajam sekali, bening dan penuh pengertian. “Tidak aneh, Bu Song. Memang kau masih terlalu muda untuk mudah menangkap semua itu, sungguh pun engkau sudah banyak dijadikan permainan perasaan dan jasmanimu sendiri. Nah, contohnya begini. Seorang ibu kematian anaknya yang terkasih. Apakah yang aneh dalam peristiwa ini? Tidak aneh. Anak itu terlahir, tentu saja bisa mati karena sakit atau karena sebab lain. Jadi tidak aneh, dan sewajarnyalah kalau seseorang yang dilahirkan itu akan mati, cepat atau lambat. Kuulangi lagi. Seorang ibu kematian anaknya yang terkasih. Peristiwa wajar, bukan? Kejadian itu wajar, semestinya, tidak ada sifat suka mau pun duka. Sang ibu berduka, menangis dan tersiksa hatinya, merana dan merasa sengsara. Inilah yang tidak wajar!”

Bu Song kaget, terheran, semua jelas membayang di wajahnya.

“Mengapa kukatakan tidak wajar? Memang, karena semua ibu bersikap demikian, bagi umum hal ini adalah wajar. Namun bagi hukum alam tidaklah wajar karena tidak ada kaitannya sama sekali antara dua peristiwa itu. Disusah-senangi, atau ditawa-tangisi, peristiwa kematian itu tidaklah berubah karena tidak ada pertaliannya! Sang ibu berduka sampai jatuh sakit paru-parunya. Nah, ini wajar, karena duka itu ada hubungannya dengan paru-paru, keduanya termasuk kekuasaan Im. Karena hukum kait-mengait, tali-temali inilah maka timbul bermacam peristiwa di dunia ini, semua wajar dan semestinya. Yang tidak semestinya, yang tidak wajar, mendatangkan kekacauan dan karenanya menimbulkan hal-hal lain sehingga meluas sampai menimbulkan perang, menjadikan wabah penyakit, menimbulkan bencana alam dan lain-lain karena perputarannya tidak selaras. Maka, kalau semua manusia dapat menempatkan diri masing-masing selaras dengan kehendak alam, kalau manusia dapat menyesuaikan diri dengan segala apa yang dihadapinya, menyesuaikan diri dengan segala apa yang diperbuatnya, dengan kehendak alam, maka kekuatan Im dan Yang akan berimbang, perputaran Ngo-heng akan sempurna, dunia akan tenteram dan aman.”

Sampai lama keadaan menjadi hening. Akhirnya Bu Song berkata, “Maafkan teecu, Suhu. Teecu yang masih bodoh hanya dapat menangkap secara samar-samar saja. Namun, menurut pendapat teecu, justru menyesuaikan diri dengan kehendak alam itulah yang hanya mudah dibayangkan sukar dilaksanakan. Manusia sudah terlanjur menganggap wajar dan benar akan sesuatu yang sudah dilakukan dan dibenarkan banyak orang, sudah menjadi kebiasaan umum! Daun telinga wanita menurut kehendak alam tidak ada lubangnya, akan tetapi oleh manusia dilubangi untuk tempat perhiasan telinga. Ini sudah wajar dan benar menurut pendapat umum sehingga kalau ada wanita yang daun telinganya tidak dilubangi, dia ditertawai dan dianggap menyeleweng dari kebenaran umum. Pula, manusia terikat oleh wajib, terikat oleh hal-hal yang menyangkut kemanusiaan. Betapa dapat melepaskan diri dari pada kemanusiaan, Suhu? Manusia dikurniai akal budi untuk dipergunakan. Maaf kalau kata-kata teecu keliru.”

“Tidak, kau tidak keliru. Memang semua ucapanku tadi hanya dapat diterima oleh getaran perasaan. Memang manusia mempunyai wajib, yaitu wajib ikhtiar. Dan kau memang betul bahwa sukar bagi kita untuk melepaskan diri dari pada kemanusiaan. Kalau tidak, tentu kita akan dicap sebagai seorang gila karena menyeleweng dari pada kebiasaan umum. Kurasa cukuplah Bu Song, kelak kau akan mengerti sendiri. Kalau kau sudah hafal akan isi kitab itu, kau pelajari dan selami baik-baik. Nah, tinggalkan aku, aku hendak mengaso dan memulihkan tenagaku.”

Bu Song keluar dari tenda suhu-nya. Di luar sunyi karena barisan sudah meninggalkan tempat itu. Hanya belasan orang pengawal tadi masih berjaga di situ, di depan satu-satunya tenda yang sengaja ditinggalkan untuk Kim-mo Taisu. Bu Song lalu menyuruh belasan orang pengawal itu menyusul barisan mereka, melapor kepada Phang-ciangkun bahwa Kim-mo Taisu selamat dan kini sedang beristirahat di situ. Enam belas orang pengawal itu memberi hormat lalu meninggalkan lereng untuk menyusul induk pasukan dan bergabung dengan teman-temannya. Kemudian Bu Song mengaso pula, di bagian belakang tenda.

Lewat tengah hari, Bu Song mendengar suara ribut-ribut di depan tenda. Baru saja ia tadi hening dalam semedhinya sehingga ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Karena terganggu semedhinya, Bu Song melompat bangun dan lari ke depan. Kiranya suhu-nya sudah berdiri di depan tenda dan berhadapan dengan Kong Lo Sengjin, Pouw-kai-ong, Lauw Kiat dan Hek-giam-lo si manusia berkedok tengkorak seperti iblis!

“Hemm, Kong Lo Sengjin! Kau merasa penasaran melihat aku masih hidup dan datang lagi hendak melihat aku mati? Baik, kau majulah dan mari kita selesaikan urusan kita agar lekas beres!” Kim-mo Taisu sudah siap dengan sikap tenang sekali, bahkan pedang di punggung dan kipas di pinggang belum ia ambil. Sikap yang penuh ketenangan dan suara yang sama sekali tidak mengandung nada permusuhan itu agaknya membuat empat orang itu terpukul hati nuraninya.

“Kwee Seng! Kau selalu membawa maumu sendiri, tidak mau menurut kehendakku. Karena itu engkau harus mati, kalau tidak tentu kau hanya akan merintangi usaha kami!” kata Kong Lo Sengjin.

“Kau harus menebus kematian Suhu!” bentak Lauw Kiat sambil menggerakkan tongkatnya.

“Ha-ha, Kim-mo Taisu. Ingatkah akan penghinaan-penghinaanmu belasan tahun yang lalu? Sekarang harus kau tebus!” kata Pouw-kai-ong. Hanya Hek-giam-lo yang diam saja, dan diam-diam Kim-mo Taisu menduga- duga siapa gerangan orang yang bersembunyi di balik kedok tengkorak ini.

Kim-mo Taisu menarik napas panjang. “Menang atau kalah, hidup atau mati, sama saja. Yang penting adalah berdiri di atas kebenaran! Kalau kalian merasa penasaran, majulah!”

Pada saat itu Bu Song sudah tidak sabar lagi. Ia melompat ke luar dan membentak, “Manusia-manusia berhati keji dan curang! Setelah memiliki ilmu kepandaian tinggi, mengapa masih belum dapat membuang sifat pengecut dan curang? Suhu sedang terluka, hal ini kalian semua tahu. Akan tetapi kalian datang berempat untuk mengeroyoknya. Di mana keadilan dan kegagahan kalian?”

“Bu Song, kau mundurlah dan lihat saja. Jangan mencampuri dan melibatkan dirimu dengan urusan kotor ini. Bu Song, jangan kau tiru gurumu yang menanamkan pohon kebencian sehingga menghasilkan buah-buah dendam dan permusuhan,” suara Kim-mo Taisu tenang dan sabar, namun mengandung wibawa sehingga Bu Song terpaksa mundur lagi.

Dada pemuda ini panas dan penuh amarah, namun ditekan-tekannya dan ia hanya dapat memandang dengan hati was-was dan penasaran. Muak ia melihat sikap musuh-musuh gurunya itu yang sama sekali tidak mengindahkan aturan dunia kang-ouw. Orang yang sudah menamakan dirinya pendekar, pantang melawan orang sakit, apalagi mengeroyoknya! Dan empat orang itu, melihat tingkat ilmunya, sudah menempati tingkat lebih tinggi dari pada pendekar-pendekar silat biasa. Sungguh menjemukan dan menyakitkan hati, menimbulkan rasa penasaran.

Di antara empat orang itu, agaknya hanya Lauw Kiat seorang yang masih memiliki harga diri. Lauw Kiat murid kedua Ban-pi Lo-cia ini adalah seorang Khitan peranakan. Ibunya seorang Khitan, ayahnya seorang Han yang bernama keturunan Lauw. Akan tetapi karena sejak kecil ayahnya telah meninggal dunia dan ia ikut ibunya di Khitan, maka ia berjiwa orang Khitan. Ia selain berkepandaian tinggi, juga terkenal sebagai seorang gagah perkasa di Khitan, yang biar pun tidak mengikatkan diri dalam ketentaraan, namun ia setia kepada rajanya dan selalu membantu gerakan bala tentara Khitan. Ia menghargai kegagahan, dan mengenal tata cara, aturan dan sopan santun pendekar dunia persilatan.

Mendengar teguran Bu Song tadi, merah seluruh muka Lauw Kiat. Ditegur tentang aturan oleh seorang pemuda tentu saja benar-benar amat memalukan. Maka ia lalu menerjang maju sambil berseru, “Kim-mo Taisu, aku membela kematian Suhu Ban-pi Lo-cia! Lihat seranganku!” Hebat juga serbuan Lauw Kiat ini, karena tongkatnya yang baru, berat dan terbuat dari pada baja, menyambar ganas dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat.

Kim-mo Taisu yang sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya dan masih belum sembuh tidak mau menghamburkan tenaga dan ingin menyelesaikan pertandingan itu secara secepat mungkin. Maka ia tidak mengelak menghadapi sambaran tongkat baja itu, namun secepat kilat kipas dan pedangnya sudah berada di kedua tangan. Kipas di tangan kirinya menahan tongkat yang menjadi lekat pada kipas, kemudian bagaikan halilintar menyambar pedangnya sudah membabat ke arah leher Lauw Kiat.

Tokoh Khitan ini kaget bukan main. Ia berusaha keras membetot tongkatnya sambil merendahkan tubuh untuk menghindarkan sabetan pedang. Akan tetapi sungguh tak disangkanya bahwa pedang itu sama sekali tidak menyabet leher seperti tampaknya, melainkan membabat kaki. Kasihan sekali Lauw Kiat yang tidak sempat menghindarkan serangan luar biasa ini. Terdengar ia mengeluh dan robohlah tokoh ini dengan kedua kakinya buntung. Darah bercucuran dari kedua lutut yang sudah buntung itu, akan tetapi Lauw Kiat sudah pingsan, tidak merasakan nyeri lagi.

Kim-mo Taisu mengeluarkan suara aneh dari kerongkongannya dan tahu-tahu ia sudah berlutut di dekat tubuh Lauw Kiat, menotok jalan darah di paha untuk menghentikan darah yang mengalir ke luar, kemudian mengeluarkan obat bubuk untuk mengobati luka agar melenyapkan rasa nyeri.

Akan tetapi tiba-tiba Bu Song berseru, “Suhu, awas!”

Seruan peringatan Bu Song ini tidak ada gunanya karena tentu saja pendekar sakti itu sudah tahu bahwa dia diserang hebat oleh Kong Lo Sengjin, Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong secara berbareng, pada saat ia masih berlutut dan hendak mengobati luka kedua kaki Pak-sin tung! Cepat Kim-mo Taisu menggerakkan tubuh melesat pergi dari situ sambil membawa pedang dan kipasnya. Obat bubuk tadi ia sebarkan, merupakan senjata rahasia mengarah mata ketiga orang pengeroyoknya yang terpaksa melompat mundur, karena tahu bahwa jika obat bubuk itu memasuki mata, akan celakalah mereka, mata menjadi pedih dan tak dapat dibuka dan tentu saja akan berbahaya bagi mereka.

Dalam detik-detik selanjutnya terjadilah pertandingan mati-matian yang amat cepat. Kalau tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian yang tinggi sudah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, pertandingan silat berubah menjadi adu nyawa yang cepat dan menyeramkan. Setiap gerak merupakan serangan maut. Cepat dan kuat, sukar diikuti pandangan mata, seakan-akan mereka sudah bergulat menjadi satu.

Tiba-tiba terdengar suara keras, dan empat buah senjata runtuh dan rusak. Tongkat Pouw-kai-ong patah menjadi dua ketika bertemu secara hebat dengan kipas di tangan kiri Kim-mo Taisu yang juga robek tengahnya dan patah gagangnya. Senjata sabit di tangan Hek-giam-lo yang mengerikan itu juga patah menjadi tiga bertemu dengan pedang Kim-mo Taisu yang juga patah menjadi dua.

Terdengar mereka mengeluarkan teriakan-teriakan kaget dibarengi dengan lengking tinggi yang keluar dari mulut Kim-mo Taisu dan tahu-tahu Kim-mo Taisu telah beradu telapak tangan dengan Kong Lo Sengjin. Keduanya berhadapan, Kim-mo Taisu agak merendahkan tubuh dengan lutut ditekuk, kedua lengan diluruskan kedepan, kedua telapak tangan beradu dengan telapak tangan Kong Lo Sengjin yang ‘berdiri’ di kedua tongkatnya. Mereka mengerahkan sinkang dan mengadu tenaga dalam secara mati-matian!

Pouw-kai-ong cepat menempelkan telapak tangan kanan ke punggung Kong Lo Sengjin sebelah kanan, dan Hek-giam-lo juga meniru perbuatan Raja Pengemis itu, menempelkan telapak tangan kiri ke punggung kakek lumpuh yang sebelah kiri. Mereka berdua sebagai ahli-ahli tingkat tinggi maklum bahwa dalam keadaan mengadu tenaga seperti itu, kalau mereka menyerang Kim-mo Taisu dengan pukulan, yang berbahaya justru Kong Lo Senjin sendiri. Pukulan yang mengenai tubuh Kim-mo Taisu dapat ‘ditarik’ dan ‘disalurkan’ oleh lawan kepada Kong Lo Sengjin sehingga sama artinya dengan memukul kawan sendiri sambil meminjam tangan lawan! Satu-satunya cara terbaik untuk membantu adalah seperti yang mereka lakukan. Tenaga sinkang mereka tersalur dan membantu Kong Lo Sengjin menekan lawan.

Hebat akibatnya. Tadinya Kim-mo Taisu masih menang tenaga ketika menghadapi Kong Lo Sengjin yang sudah tua. Kalau dilanjutkan, beberapa menit lagi tentu ia akan sanggup merobohkan kakek itu. Akan tetapi setelah dua orang lawannya yang lain datang mengeroyoknya, bukan main hebatnya tenaga yang tersalur melalui dua telapak tangan Kong Lo Sengjin. Kim-mo Taisu berusaha menahan, namun ia tidak kuat, apalagi karena di sebelah dalam dadanya masih terluka cukup berat. Betapa pun juga, pendekar yang gagah perkasa ini sama sekali tidak mengeluh, dan sama sekali tidak mau menyerah begitu saja. Ia tetap mengerahkan sinkang-nya dan mempertahankan diri sehingga wajahnya pucat, matanya berkilat dan dari kedua ujung bibirnya menetes darah segar!

Melihat keadaan gurunya sedemikian rupa itu, Bu Song tak dapat tinggal diam lagi. Biar pun suhu-nya tadi sudah memesan agar ia tidak turut campur, namun bagaimana ia dapat berpeluk tangan melihat suhu-nya terancam kematian oleh tiga orang lawan itu?

“Maaf, Suhu. Terpaksa teecu harus turun tangan!” Ia membentak dan segera melompat maju.

Seperti juga Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong, Bu Song mengerti bahwa untuk membantu suhu-nya yang sedang mengadu tenaga dalam itu, sama sekali ia tidak boleh menggunakan Iweekang memukul para lawan suhu-nya karena hal ini amat membahayakan suhu-nya sendiri. Maka ia lalu menggerakkan kedua tangannya, keduanya dengan jari-jari terbuka, yang kanan menusuk ke arah mata Pouw-kai-ong sedangkan yang kiri merenggut kedok Hek-giam-lo.

Perhitungan Bu Song tepat. Pouw-kai-ong yang ia serang matanya dan tidak dapat mengelak mau tak mau harus melayaninya dengan tangkisan, yang berarti menarik tenaganya membantu Kong Lo Sengjin, sedangkan Hek-giam-lo yang selalu mengenakan kedok, tentu merupakan pantangan paling besar baginya untuk dibuka kedoknya dan pasti akan melayaninya. Kalau dia menggunakan suling, tentu hasilnya lebih baik. Namun betapa pun juga, Bu Song tak sampai hati dan merasa malu harus menyerang dua orang yang tak bersiap itu dengan senjata!

Pouw-kai-ong dan Hek-giam-lo yang melihat bahayanya serangan, cepat menangkis sambil melompat mundur, melepaskan bantuan mereka pada Kong Lo Sengjin. Bu Song kini baru mau menggunakan sulingnya dan sekali sulingnya bergerak, terdengar suara melengking tinggi dan sinar suling itu membawa hawa pukulan dahsyat. Bukan main kagetnya Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong karena mereka maklum bahwa tenaga dan kepandaian orang muda itu hebat bukan main, jelas tampak dari gerakan serangan itu. Sedangkan mereka berdua sudah tidak bersenjata lagi, yang tadi patah dan rusak sampyuh (sama-sama rusak) dengan senjata- senjata Kim-mo Taisu. Maka mereka hanya mengandalkan gerakan mereka yang cepat untuk mengelak dan mundur-mundur!

Sementara itu, ketika melihat betapa Kong Lo Sengjin ditinggalkan oleh kedua orang pembantunya, Kim-mo Taisu yang sudah terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya cepat mengerahkan tenaga terakhir dan mendorong sekuatnya. Kong Lo Sengjin mengeluh dan tubuhnya terlempar sampai enam tujuh meter ke belakang, seperti daun kering tertiup angin, lalu roboh terbanting. Ketika ia bangkit berdiri di atas kedua tongkatnya, wajahnya pucat sekali, matanya seperti tidak bersinar lagi, dan tanpa berkata apa-apa kakek ini melangkah pergi sempoyongan seperti orang mabok.

“Bu Song, mundur!!” Kim-mo Taisu berseru.

Bu Song girang mendengar suara suhu-nya dan ia mencelat mundur di samping suhu-nya, siap membela orang tua ini. Kim-mo Taisu lalu memandang dua orang musuh itu sambil berkata, suaranya penuh wibawa, “Apakah kalian masih hendak melanjutkan pertandingan?”

Dua orang itu, Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong, tentu saja hati mereka menjadi jeri. Tanpa berkata apa-apa, Hek-giam-lo mengempit tubuh Lauw Kiat dan melompat pergi dari situ bersama Pouw-kai-ong yang juga pergi mengambil jurusan lain. Kedua tokoh ini memang telah dapat dibujuk oleh Kong Lo Sengjin untuk membantunya, bersama Ban-pi Lo-cia, dengan janji-janji muluk seperti biasa. Kini melihat betapa Kong Lo Sengjin sendiri telah dikalahkan Kim-mo Taisu dan pergi meninggalkan gelanggang tanpa mempedulikan mereka, tentu saja mereka pun tiada nafsu lagi untuk menandingi Kim-mo Taisu yang demikian saktinya.

Setelah semua musuh pergi, Kim-mo Taisu terhuyung-huyung dan tentu roboh kalau saja tidak segera dipeluk oleh Bu Song.

“Bagaimana, Suhu? Hebatkah lukamu…?”

Kim-mo Taisu menggeleng kepala, menarik napas dalam lalu berdiri lagi, dibantu oleh Bu Song. “Lukaku memang hebat dan berat, tapi tidak seberat luka Kong Lo Sengjin. Akan tetapi tidak apa, sudah semestinya terjadi dalam pertandingan. Akan tetapi hatiku terasa pedih dan sakit. Bu Song, kau lihatlah baik-baik di sekelilingmu… kau lihatlah mayat-mayat itu….”

Tentu saja sejak tadi Bu Song sudah melihatnya. Ratusan, mungkin ribuan mayat berserakan di sekitar lereng bukit, mayat-mayat tentara Sung dan Khitan yang belum sempat diurus orang karena perang masih terus terjadi, kejar-mengejar. Pemandangan itu amat mengerikan, juga menyedihkan.

“Bu Song, kau berlututlah!” tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata.

Bu Song terkejut, juga merasa heran, akan tetapi ia tidak membantah, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan suhu-nya.

“Bersumpahlah bahwa kau menaati pesanku yang terakhir ini!”

Bu Song menekan perasaannya yang diselimuti kedukaan karena ia maklum akan keadaan suhu-nya. “Teecu bersumpah demi Thian Yang Maha Kuasa akan menaati pesan Suhu.”

“Kau hanya boleh mempergunakan kepandaian silat yang kau miliki untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, untuk menentang yang jahat dan untuk menolong yang lemah tertindas, di samping penggunaan untuk membela diri. Kalau kau mempergunakan ilmu silatmu untuk menyombongkan kepandaian, untuk menanam permusuhan, dan untuk melampiaskan nafsu mencari kemenangan, kau…kau akan terkutuk…!”

“Teecu akan mentaati pesan Suhu ini!” jawab Bu Song, suaranya tegas karena keluar dari hati yang jujur. Tanpa pesan suhu-nya, memang ia pun berpendirian seperti yang diinginkan suhu-nya itu.

“Jangan kau mendendam kepada siapa juga dan untuk dapat melakukan hal ini, kau harus mematikan rasa benci terhadap siapa pun juga. Hati-hatilah terhadap wanita, Bu Song. Sesungguhnya hidup gurumu selama ini jatuh bangun hanya karena wanita, karena kelemahan hatiku terhadap wanita. Jangan mudah menjatuhkan cinta, karena bagi penghidupanku selama ini, cinta itulah yang merupakan pangkal segala derita. Leburkan rasa cintamu menjadi kasih sayang yang merata terhadap semua manusia, dan hidupmu akan penuh bahagia.” Kembali Kim-mo Taisu berhenti dan napasnya terengah-engah. Ia menekan dadanya dan wajahnya menjadi pucat sekali.

Bu Song cepat bangun dan memeluk suhu-nya. “Mari kita masuk ke dalam kemah dan beristirahat, Suhu.”

Kim-mo Taisu tidak membantah diajak masuk dan dibaringkan di dalam, akan tetapi ia masih sempat memberi pesan teakhir, “Sewaktu-waktu… pada hari pertama musim semi… datangilah puncak Thai-san. Siapa tahu kau berjodoh dengan… Bu Kek Siansu…,” kata-katanya terhenti karena Kim-mo Taisu lalu muntahkan darah segar.

Bu Song terkejut dan cepat menolong. Dengan cepat tanpa ragu-ragu ia menotok beberapa jalan darah di leher dan dada suhu-nya seperti yang pernah ia pelajari dari suhu-nya, kemudian ia mengulur tangan, meletakkan telapak tangannya di dada suhu-nya sambil mengerahkan tenaga.

Akan tetapi tak lama kemudian Kim-mo Taisu membuka mata dan tangannya bergerak perlahan menolak tangan muridnya, bahkan memberi tanda dengan tangan agar muridnya keluar dari tenda. Ia bangkit duduk dengan susah payah. Bu song dengan hati terharu membantu gurunya bersila, kemudian melihat gurunya duduk diam meramkan mata, ia tidak berani mengganggu dan hendak keluar memenuhi permintaan gurunya dengan isyarat tangan tadi.

Pada saat itu tampak sinar menyambar-nyambar dari luar tenda. Kiranya benda-benda itu adalah hui-to (pisau terbang) yang dilontarkan dengan kuat, bagaikan anak-anak panah meluncur ke seluruh bagian tubuhnya yang berbahaya. Bu Song terkejut, namun tidak gugup. Dengan cepat dan tenang, kedua tangannya bergerak dan berhasil menyampok runtuh pisau-pisau terbang itu, bahkan kedua kakinya berhasil menendang pergi empat buah hui-to!

“Pengecut keji!” Ia membentak dan ternyata yang muncul adalah Hek-giam-lo bersama sepuluh orang yang semua memegang sebatang pisau seperti yang menyambar tadi. Teringatlah Bu Song ketika beberapa tahun yang lalu melihat dua orang anggota Hui-to-pang yang membunuhi lawan dengan hui-to, kemudian dua orang itu terbunuh oleh Kong Lo Sengjin. Agaknya sepuluh orang yang kini ikut dengan Hek-giam-lo ini adalah anggota-anggota Hui-to-pang.

“Hek-giam-lo, kau kembali mau apa? Dan sobat-sobat ini apakah orang-orang Hui-to-pang?”

“Wah, bocah ini mengenal kita!” seorang di antara pemegang pisau itu berseru dan tiba-tiba pisau di tangannya menyambar ke arah leher Bu Song.

Bu Song sengaja memperlihatkan kepandaiannya untuk mengecilkan nyali lawan. Ia tidak mengelak, melainkan membuka mulut dan ‘menangkap’ pisau itu dari samping dengan giginya! Kemudian sekali meniup, pisau itu meluncur cepat dan menancap pada batang pohon sampai ke gagangnya!

“Jangan mencari perkara, harap kalian pergi!” kata Bu Song, teringat akan pesan suhu-nya.

“Si Tua Bangka sedang terluka, serbu!” teriakan ini keluar dari balik kedok tengkorak dan menyerbulah sepuluh orang itu, juga Hek-giam-lo mengurung Bu Song! Hek-giam-lo sudah mempunyai senjata baru, yaitu sabit bergagang panjang yang mengerikan. Agaknya tokoh ini memang mempunyai banyak senjata macam ini sehingga begitu senjatanya rusak, ia sudah memiliki gantinya.

Oleh karena Hek-giam-lo adalah murid Ban-pi Lo-cia, tentu saja ia mendendam karena Kim-mo Taisu yang telah menewaskan gurunya. Namun hal ini tidak ada seorang pun yang tahu, juga orang-orang yang terkenal di Khitan tidak ada yang tahu, tidak ada yang menduga bahwa Hek-giam-lo yang mengerikan itu sebetulnya adalah Bayisan, bekas Panglima Khitan yang dulunya tampan itu.

Tentu saja hanya Raja Kubakan yang tahu dan menerima sahabatnya itu, juga sute-nya (adik seperguruannya), Lauw Kiat yang kini buntung kedua kakinya oleh Kim-mo Taisu. Tewasnya gurunya dan buntungnya kedua kaki Lauw Kiat membuat Hek-giam-lo marah sekali dan belum merasa puas kalau belum dapat membunuh Kim-mo Taisu! Inilah sebabnya mengapa ia memusuhi Kim-mo Taisu dan Bu Song yang tidak tahu duduk persoalannya, tentu saja kemudian merasa heran dan marah.

Juga orang muda ini tidak tahu mengapa Hui-to-pang memusuhi Kim-mo Taisu, bahkan yang membunuh isteri gurunya, yang disuruh oleh Kong Lo Sengjin, adalah orang Hui-to-pang. Hal ini juga ada sebab-sebabnya. Ketika Kim-mo Taisu masih merantau sebagai seorang pendekar jembel gila, di kota besar Cin-an di Propinsi Shan-tung, Kim-mo Taisu pernah bentrok dengan ketua Hui-to-pang. Persoalannya adalah karena ketua Hui- to-pang menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya merampas dengan paksa seorang gadis yang dicintai puteranya.

Puteranya jatuh cinta kepada seorang gadis anak pedagang kulit di kota itu. Maka diajukannya pinangan. Akan tetapi ayah si gadis menolak pinangan itu dengan alasan bahwa puterinya sejak kecil telah dipertunangkan dengan keluarga lain. Sesungguhnya ayah si gadis menolak karena tidak suka bermantukan putera ketua Hui- to-pang yang terkenal sebagai perkumpulan tukang-tukang pukul.

Kalau saja ketua Hui-to-pang tidak mendengar akan dasar penolakan yang sesungguhnya, agaknya ia pun tidak akan memaksa setelah mendengar gadis itu sudah dipertunangkan dengan orang lain. Akan tetapi begitu mendengar alasan penolakan yang sesungguhnya, ia menjadi marah sekali. Toko si Penjual Kulit diobrak- abrik, si Penjual Kulit dan isterinya mati terbunuh dan anak perempuannya diculik!

Kebetulan pada hari itu Kim-mo Taisu lewat di kota itu. Mendengar peristiwa ini bangkitlah jiwa pendekarnya dan malam hari ia mendatangi gedung ketua Hui-to-pang. Kemarahannya memuncak ketika mendengar betapa gadis itu menggantung diri sampai mati setelah menjadi korban keganasan putera ketua Hui-to-pang.

Pertempuran terjadi dan ketua Hui-to-pang yang tadinya memandang rendah kepada jembel gila itu dan yang marah karena Kim-mo Taisu dianggap terlalu lancang dan usil mengurusi urusan ‘sepele’ orang lain, ternyata kalah dan terluka! Ketika para anggota Hui-to-pang hendak mengeroyok, Kim-mo Taisu berhasil menangkap putera Ketua Hui-to-pang dan dijadikan perisai sehingga ia berhasil keluar. Saking marahnya, ketika hendak meninggalkan tempat itu dan membebaskan putera ketua Hui-to-pang, Kim-mo Taisu membuntungi ujung hidung dan kedua telinga pemuda hidung belang itu!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo