August 1, 2017

Suling Emas (Part 22)

 

Girang sekali hati Bu Song. Kiranya mendiang Ciu Gwan Liong tidak menipunya. Ia tidak ragu bahwa yang meniup suling itu tentulah sastrawan Ciu Bun yang dicarinya! Cepat ia berlari menuju ke bukit dekat hutan itu. Kini ia tiba di daerah penuh pasir, dan tiba-tiba ia roboh terguling karena pasir yang diinjaknya itu bergerak memutar!

Begitu jatuh, pasir yang menerima tubuhnya itu mengisap dan berputaran. Bu Song kaget bukan main. Cepat ia mengerahkan tenaganya dan memukulkan kedua telapak tangan ke atas pasir, menggunakan daya dorongan ini untuk mengangkat tubuh ke atas dan sambil berjungkir balik ia meloncat jauh ke depan. Mukanya pucat melihat pasir itu masih bergerak-gerak seperti air! Bukan main! Kalau ia tadi tidak cepat membebaskan diri, tentu tubuhnya akan terisap terus ke bawah dan sekali tubuhnya terisap, sukarlah melepaskan diri lagi. Benar-benar tempat yang amat berbahaya.

Kini ia melangkah dengan hati-hati sekali. Kiranya daerah berpasir ini banyak sekali pasir berpusing seperti itu. Akan tetapi karena ia sudah hati-hati, begitu kakinya menginjak pasir bergerak, ia segera meloncat dan dengan demikian terhindarlah ia dari bahaya itu. Akhirnya ia tiba di dekat bukit dari mana suara suling kini terdengar jelas.

Suara suling itu keluar dari sebuah goa. Dengan hati girang Bu Song terus berjalan menghampiri. Goa itu merupakan terowongan yang dalam dan gelap. Merasa bahwa ia berada di tempat orang, Bu Song tidak berani masuk dan hanya berdiri di depan goa, menanti sampai suara suling itu habis dilagukan. Akhirnya suara suling berhenti dan Bu Song segera berseru.

“Apakah Paman Ciu Bun berada di dalam?” Hening, tiada jawaban sampai lama. “Saya datang membawa pesan mendiang Paman Ciu Gwan Liong!”
Segera terdengar jawaban dari dalam, suaranya penuh ejekan, “Sin-jiu Couw Pa Ong, apa artinya semua lelucon ini? Kalau kau mau coba memaksaku, mau menyiksaku atau membunuhku, kau masuk saja. Perlu apa menyebut-nyebut nama Gwan Liong?”

Bu Song terkejut. Mengapa orang di dalam itu menyebut-nyebut nama Sin-jiu Couw Pa Ong? “Paman Ciu Bun, saya bukan Sin-jiu Couw pa Ong. Nama saya Liu Bu Song!” teriaknya. Ia sengaja menggunakan she ibunya, karena ia masih merasa tak senang kepada ayahnya yang dianggap telah menceraikan ibunya dan menikah lagi.

“Orang muda, apakah kau bukan kaki tangan Couw Pa Ong?” Agaknya orang di dalam goa yang gelap itu dapat melihatnya yang berada di luar goa, buktinya dapat mengetahui bahwa dia adalah seorang pemuda.

“Sama sekali bukan, Paman.”

“Kau membawa pesan apa dari Ciu Gwan Liong?”

“Sebelum Paman Ciu Gwan Liong meninggal, dia menyerahkan sebuah kitab kepada saya dan menyuruh saya mencari Paman Ciu Bun di pulau ini.”

“Aaahhh…!” Orang itu mengeluarkan seruan kaget, diam sampai lama lalu berkata, “Orang muda, coba kau bacakan sajak ke tiga dari dalam kitab itu!”

Bu Song sudah sering membaca kitab pemberian Ciu Gwan Liong, maka tanpa membaca pun ia sudah hafal. Maka ia lalu membacakan kalimat dalam sajak ke tiga.

Matahari bersinar miring di tengah hari. Sesuatu mati begitu lahir.
Selatan tiada batas dan ada ujungnya.
Aku pergi ke selatan hari ini dan tiba di sana kemarin! Cintalah semua benda dengan sama.
Alam adalah satu.

Kitab kecil kuno itu memang mengandung sajak-sajak yang amat aneh dan sukar dimengerti. Sajak ke tiga yang dibacakan oleh Bu Song itu adalah sajak dari seorang menteri Kerajaan Wei bernama Hui Su (370-319 BC), seorang tokoh Mohism, yaitu pengikut ajaran-ajaran Mo Cu. Keistimewaan Mohism adalah kata-kata yang saling bertentangan atau saling berlawanan.

Begitu mendengar Bu Song membacakan sajak itu, orang di sebelah dalam goa berseru girang, “Tepat…! Orang muda, engkau dapat sampai di sini tentu memiliki kepandaian, siapakah gurumu?”

“Suhu bernama Kim-mo Taisu.”

“Wah, pantas… pantas saja adikku mempercayaimu. Kau masuklah dan suling ini tentu akan kuberikan kepadamu. Akan tetapi engkau harus bisa menghalau perintang yang menyeramkan itu lebih dulu. Ingin kulihat apakah kepercayaan Gwan Liong kepadamu tidak sia-sia! Masuklah, orang muda, akan tetapi awas terhadap binatang-binatang itu. mereka amat buas!”

Bu Song melangkah masuk. Karena orang di dalam goa sudah memberi peringatan, ia bersikap hati-hati sekali, melangkah perlahan-lahan dan mata serta telinganya siap sedia. Tiba-tiba ia mendengar desis keras dan hidungnya mencium bau yang amis. Baiknya cahaya matahari masih cukup terang memasuki goa itu sehingga ia dapat melihat bayangan hitam merayap datang di depannya dan ternyata yang merayap itu adalah seekor binatang seperti buaya yang luar biasa! Kulitnya tebal, matanya besar bersinar hijau, lidahnya panjang bercabang seperti lidah ular dan dari mulutnya yang mendesis-desis itu keluar uap putih yang berbau amis. Suara mendesis makin hebat dan ternyata binatang itu bukan seekor saja, melainkan ada empat ekor! Mereka datang dari depan, kanan dan kiri dengan sikap mengancam.

Bu Song berdiri memasang kuda-kuda. Begitu melihat binatang yang paling dekat dengannya menyergap dengan kedua kaki depan terangkat dan mulut terbuka lebar, Bu Song segera mengerahkan tenaga ke tangan kanan dan ia memukul dengan jari terbuka.

“Desss!!” binatang seperti buaya itu terlempar, mengeluarkan suara keras akan tetapi lalu merayap pergi, gerakannya lemah dan limbung.

Lega hati Bu Song. Kiranya binatang-binatang ini lebih menakutkan dari pada membahayakan. Ia tidak menanti sampai binatang-binatang itu menyerbunya, melainkan mendahului menerjang maju dan dengan gerakan cepat sekali kedua tangannya membagi-bagi pukulan yang diarahkan kepada tiga ekor binatang yang lain. Terdengar suara keras dan binatang-binatang itu menjerit-jerit lalu lari kacau-balau, bersembunyi di balik batu karang yang gelap di kanan kiri goa.

“Bagus! Kau tidak kecewa menjadi murid Kim-mo Taisu dan kepercayaan adikku Gwan Liong. Tunggulah, orang muda. Setelah empat ekor binatang buruk itu pergi aku dapat keluar sendiri!” Suara orang itu terdengar girang dan tak lama kemudian muncullah sesosok bayangan hitam dari dalam gelap.

Ketika tiba di tempat yang diterangi sinar matahari dari luar, Bu Song melihat seorang laki-laki tua tinggi kurus bermuka pucat. Tubuh dan mukanya menyatakan bahwa kakek ini tidak sehat, atau bahkan sakit, akan tetapi ketika ia berjalan ke luar, langkahnya dan sikapnya membayangkan keangkuhan seorang terpelajar tinggi. Di tangan kanannya terdapat sebatang suling yang berkilauan ketika terkena sinar matahari, sebatang suling berwarna kuning. Tidak salah lagi, itulah suling emas, pikir Bu Song dengan hati penuh ketegangan.

Kakek itu pun memandang Bu Song penuh perhatian. Agaknya ia puas melihat Bu Song. “Mari kita keluar. Kau harus cepat-cepat mempelajari cara meniup suling ini dan menyesuaikan bunyinya dengan sajak-sajak di dalam kitab. Hayo cepat, jangan sampai ia keburu datang!” Tergesa-gesa kakek ini mengajak Bu Song keluar dari dalam goa.

“Apakah Paman maksudkan Kong Lo Sengjin?”

Kakek itu berhenti di depan goa dan memandang. Matanya yang tajam penuh selidik dan membayangkan kecurigaan. “Kau mengenal dia?”

“Tentu saja saya mengenal Kong Lo Sengjin, Paman. Isteri Suhu adalah keponakan Kong Lo Seng Jin, akan tetapi anehnya, kakek yang sakti tapi kejam itu menyuruh bunuh keponakannya sendiri untuk menipu Suhu.”

Kakek yang bukan lain adalah sastrawan Ciu Bun yang selama bertahun-tahun dicari-cari oleh tokoh-tokoh kang-ouw itu tercengang. “Apa…? Kim-mo Taisu menjadi mantu keponakan Couw Pa Ong? Sungguh aneh! Dan tua bangka itu menyuruh bunuh keponakannya sendiri? Orang muda, eh… siapa namamu tadi? Bu Song? Bu Song, kau ceritakan semua kepadaku!”

Mereka pergi ke belakang tumpukan karang tak jauh dari goa. Di situ Kakek Ciu Bun duduk dan Bu Song segera menceritakan keadaan suhu-nya dan Kong Lo Sengjin menipu Kim-mo Taisu bahwa pembunuhnya adalah musuh-musuh Kong Lo Sengjin. Kemudian betapa secara tidak sengaja ia mendengar percakapan antara Kong Lo Sengjin dan tokoh-tokoh Hui-to-pang maka ia tahu akan rahasia itu. Kemudian ia bercerita juga sedikit tentang keadaan dirinya, bahwa selain murid Kim-mo Taisu, dia pun bekas calon mantunya dan betapa calon isterinya puteri Kim-mo Taisu tewas di dalam jurang.

Mendengar penuturan itu, Ciu Bun bengong lalu memaki gemas, “Tua bangka itu benar-benar telah menyeleweng jauh dari pada kebenaran! Untung bukan dia yang mendapatkan kitab di tangan Gwan Liong. Kau tadi bilang Gwan Liong sudah meninggal, bagaimana kau tahu?”

“Bukan hanya tahu, Paman. Bahkan saya yang mengubur jenazahnya.” Kembali Bu Song bercerita tentang nasib Ciu Gwan Liong yang buruk dan betapa kakek sastrawan itu agaknya membunuh diri agar jangan sampai terjatuh ke tangan Kong Lo Sengjin.

Ciu Bun membanting-banting kaki kanannya. “Couw Pa Ong, kau benar-benar patut dimaki dan dikutuk!”

Hening sejenak, kemudian Ciu Bun berkata, “Nah, kau ambil kitab itu, kau baca sajaknya dan aku akan meniup suling itu disesuaikan dengan isi sajak. Kau tahu, setiap huruf itu mengandung bunyi tertentu sesuai dengan maknanya. Suara suling ini harus ditiup sesuai dengan bunyi huruf sehingga merupakan lagu tertentu sesuai dengan bunyi sajak. Kami, yaitu aku dan adikku yang telah meninggal adalah sastrawan-sastrawan yang mengutamakan keindahan seni, maka pemberian anugerah dari Bu Kek Siansu berupa dua buah benda berharga ini bagi kami semata-mata hanyalah mengandung keindahan yang luar biasa. Keindahan seni sastra diselaraskan dengan seni suara. Menurut Bu Kek Siansu, kalau bunyi sajak dan suara suling ini sudah dapat diselaraskan seperti mestinya, maka akan mendatangkan hikmat luar biasa, menenangkan batin, menjernihkan pikiran dan menghalau segala macam pikiran jahat, menindih nafsu dan membawa orang ke tingkat batin yang lebih tinggi. Akan tetapi, selain itu aku yakin bahwa dua benda ini pun mengandung sesuatu yang amat hebat bagi dunia persilatan, karena buktinya tokoh-tokoh kang-ouw dari segala penjuru mencari-cari dan mengejar- ngejar kami. Nah, kau bacakan sajak yang mana saja, biar kutimpali dengan suling ini!”

Mendengar penjelasan itu Bu Song merasa betapa sulitnya mempelajari ilmu menyesuaikan bunyi huruf dan bunyi suling, namun ia menaruh perhatian besar dan segera ia membaca lambat-lambat sederet sajak. Kakek Ciu Bun sudah meniup sulingnya dan terdengarlah bunyi suling mengalun aneh, akan tetapi lebih aneh lagi bagi Bu Song, suara suling itu demikian enak dan cocok dengan suaranya yang membaca huruf-huruf secara lambat.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan suara aneh lucu. “Ngieeehhh… ngieeehhh!”

Seketika Ciu Bun menghentikan tiupan sulingnya. Karena ini Bu Song juga menghentikan bacaannya dan menoleh ke arah suara. Kiranya di depan goa tadi kini tampak sekor kuda yang ditunggangi oleh dua orang. Dua orang laki-laki aneh sekali, karena mereka itu menunggang kuda dengan menghadap ke belakang dan laki-laki yang di belakang memegang ekor kuda sambil mengeluarkan suara “ngieeeeh-ngieeeeh” tadi.

Dua orang laki-laki ini benar-benar luar biasa sekali. Yang seorang bertubuh tinggi kurus seperti rangka terbungkus kulit, berkepala gundul dan bertelanjang baju, hanya memakai celana sebatas lutut dan bertelanjang kaki. Orang ke dua yang memegangi ekor kuda tidak kalah anehnya. Tubuhnya gemuk sekali, punggungnya berpunuk mulutnya besar dan dan kepalanya juga gundul bertelanjang baju dan bercelana seperti orang yang pertama.

“Kiu-ji dan Ciu-ji (Anak Kiu dan Anak Ciu)! Berani kalian mengganggu aku selagi meniup suling? Awas, kuadukan nanti kepada Ong-ya!”

Muka kedua orang gundul itu menjadi ketakutan. Si Gendut lalu menggerak-gerakkan ekor kuda agar kudanya berlari cepat. “Tidak… tidak… tidak…!” Mereka berkata ketakutan.

Benar-benar pemandangan yang luar biasa sekali. Tak dapat Bu Song menahan keingin-tahuan hatinya. “Paman, siapakah mereka tadi?”

“Mereka itu dua orang pelayan dan juga murid Couw Pa Ong. Gigitan-gigitan beracun dari binatang-binatang berbisa membuat mereka tidak waras otaknya. Akan tetapi mereka itu hebat kepandaiannya, mewarisi ilmunya Couw Pa Ong. Memang tua bangka itu aneh sekali, menurunkan ilmunya kepada dua orang gila macam itu.”

“Jadi Kong Lo Sengjin tinggal di pulau ini?” Bu Song bertanya kaget karena hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya.

Ciu Bun mengangguk. “Tentu saja tinggal di sini! Dengarlah, Couw Pa Ong adalah sahabat baikku semenjak dahulu. Kami berdua orang-orang yang setia kepada Kerajaan Tang. Dia banyak belajar ilmu kesusateraan dari aku yang dulu menjabat kedudukan guru sastra di kota raja! Atas ajakannyalah aku tinggal di sini untuk menyembunyikan diri dari orang-orang jahat yang hendak merampas suling ini. Mula-mula Couw Pa Ong memang tetap menjadi sahabat baikku. Akan tetapi agaknya kegilaan kedua orang murid atau pelayannya itu menular kepadanya. Sikapnya mulai berubah dan dia mulai membujuk-bujukku untuk menurunkan rahasia suling dan kitab pemberian Bu Kek Siansu kepadanya! Akan tetapi setelah kutahu bahwa pikiran dan wataknya telah berubah, aku selalu mengatakan bahwa suling ini tidak ada artinya baginya, hanya untuk ditiup melagu menghibur diri. Ia penasaran lalu memasukkan aku ke dalam goa itu, dijaga oleh binatang-binatang liar. Tentu saja aku tidak berani keluar dan yang berani memasuki goa hanyalah dua orang bocah edan tadi yang mengantar makanan setiap hari kepadaku. Kau tahu bahwa Couw Pa Ong tentu hendak mencari dan menangkap adikku untuk memaksa kami kakak beradik membuka rahasia kitab dan suling. Untung sekali adikku bertemu dengan engkau. Nah, tahukah kau sekarang? Hayo kita berlatih lagi. Kau sudah dapat menangkap contohku tadi?”

“Sudah, Paman. Memang mendatangkan perasaan yang hebat, tapi aku masih bingung karena hal ini memang amat sukar dimengerti.”

“Memang. Sekarang biarlah kau belajar meniup suling…”

“Paman, saya sudah biasa bersuling dan mendapat petunjuk Suhu…”

“Bagus! Ah, agaknya memang sudah jodoh. Nah, lekas kau meniup suling ini dan usahakan agar suara sulingmu dapat sesuai dengan bunyi dan sifat huruf yang kubaca!”

Mereka bertukar benda. Kakek itu menyerahkan suling emas dan menerima kitab dari tangan Bu Song. Sastrawan Ciu Bun membacakan sajak terakhir dari kitab itu dan Bu Song segera meniup sulingnya. Hebat tiupan suling anak muda ini. Memang ia berbakat sekali sehingga tiupannya mengandung getaran perasaannya. Pula, karena Bu Song sendiri sudah hafal akan isi kitab, ia segera dapat menyesuaikan bunyi sulingnya, mengarah bunyi huruf. Ketika meniup suling, seluruh perhatiannya dicurahkan kepada makna dari huruf yang ditiupnya. Terdengar perpaduan suara sajak dan suling yang luar biasa, mengalun-alun dan merayu-rayu.

ADA muncul dari TIADA.
Betapa mungkin mencari sumber TIADA? Mengapa cari ujung sebuah mangkok?
Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola? Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Demikianlah bunyi sajak terakhir itu. Sampai tiga kali Ciu Bun membaca sajak itu, terus diikuti oleh tiupan suling Bu Song. Setelah habis, terdengar Ciu Bun berseru, “Ya Tuhan….!!”

Bu Song memegang suling itu dan memandang Kakek Ciu Bun. Ia terkejut melihat wajah kakek itu makin pucat, seperti kehijauan, akan tetapi mata kakek itu bersinar-sinar, mulutnya tersenyum sehingga biar pun wajah itu amat pucat, namun seperti berseri-seri. Kedua kakinya ditekuk dan bersila, kedua tangan memegang kitab, lalu bibirnya bergerak. “Dapat sudah sekarang… ya Tuhan, dapat sudah…”

Bu Song tidak mengerti, lalu bertanya hormat, “Paman, apakah yang Paman maksudkan?”

“Bu Song, kau sudah hafal akan isi kitab?” tiba-tiba kakek itu bertanya, suaranya biasa kembali. “Sudah, Paman.”
“Kalau begitu tinggalkan kitab ini padaku dan kau bawalah suling itu pergi dari sini, cepat! Kau sudah tahu akan rahasia isi kitab dan suara suling. Bahagialah kau, Bu Song.”

Bu Song mendekati. “Akan tetapi, kalau Paman di sini tertawan, marilah Paman ikut pergi dengan saya. Untuk apa tinggal di pulau berbahaya ini?”

“Tertawan? Berbahaya? Ahh, tidak sama sekali. Sudahlah, kau cepat pergi, jangan sampai dia datang mendapatkan kau di sini.”

“Tapi, Paman…”

“Keraguan hati akan merintangi kemajuanmu, orang muda. Pergilah!” Kakek itu berkata dengan suara tegas sehingga Bu Song tidak berani membantah lagi.

Ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek yang bersila di atas batu, menghaturkan terima kasih lalu bangkit berdiri dan berjalan pergi dari situ, menuju ke tempat ia mendarat tadi. Di belakangnya ia mendengar suara kakek itu membaca sajak terakhir dan ketika tiba di dua kalimat terakhir, suara itu seperti berteriak girang.

Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Ketika Bu Song tiba di tepi pulau, di atas batu karang, ia melihat layar perahu nelayan itu dari jauh. Bu Song menaruh kedua tangan di pinggir mulutnya lalu berseru sambil mengerahkan khikang di dadanya, “Kakak nelayan…! Kemarilah…!!”

Layar itu makin besar dan kini tampaklah perahu kecil itu bersama si Nelayan yang berwajah ketakutan. Setelah perahu itu dekat, dalam jarak lima meter Bu Song lalu meloncat ke atas perahu. Akan tetapi si Nelayan memandang ke arah pulau dengan muka pucat dan tubuh menggigil, sehingga kedua tangannya tidak dapat lagi mengemudi perahu. Bu Song terheran dan cepat menoleh. Untung ia sudah berada di atas perahu karena ternyata di tepi pulau itu berdiri dua orang manusia aneh yang tadi menunggang kuda dan mereka itu membawa sebuah batu karang besar yang kini mereka lemparkan ke arah perahu. Dua batu karang itu besarnya seperut kerbau dan dilempar dengan kekuatan dahsyat ke arah perahu!

“Cepat jalankan perahu ke tengah!” Bu Song masih sempat berteriak dan ia melompat ke buntut perahu, memasang kuda-kuda dan ketika dua batu karang itu datang menyambar, ia menggunakan kedua tangannya mendorong sambil mengerahkan sinkang-nya.

“Byurrr…!” dua batu karang itu dapat terdorong menyeleweng dan jatuh ke air, akan tetapi saking hebatnya tenaga lemparan itu, kedua kaki Bu Song melesak ke bawah karena papan atas perahu yang diinjaknya jebol! Selain itu, dua batu karang yang terbanting ke air itu menimbulkan gelombang hebat sehingga perahunya miring dan hampir saja terbalik. Baiknya nelayan itu tahu akan bahaya dan sudah cepat-cepat mengatur keseimbangan perahunya, mengemudi layar dan cepat sekali angin besar mendorong perahu menjauhi pulau! Dua manusia aneh itu meloncat-loncat di tepi pulau dan sebentar saja lenyap.

“Kongcu…. Mereka itu tadi…. siluman…. atau ibliskah…..?”

Bu Song tersenyum. Biarkan para nelayan ini ketakutan agar tidak berani mendekati pulau Pek-coa-to, karena kalau mendekati pulau itu memang besar kemungkinan mereka akan tewas. Selain di pulau itu terdapat banyak binatang buas dan berbisa. Juga di situ tinggal Kong Lo Sengjin dan dua orang pelayannya yang gila dan kejam.

“Agaknya mereka itu iblis pulau. Akan tetapi untung kita dapat melarikan diri!” jawab Bu Song.

Jawaban ini membuat nelayan itu makin ketakutan dan ia mengerahkan seluruh kecakapannya untuk berlayar secepat mungkin menyeberang ke daratan yang aman.

Bu Song menyimpan sulingnya diselipkan di ikat pinggang dan tertutup baju. Ia maklum bahwa suling itu tentu akan menimbulkan perkara kalau sampai terlihat orang jahat. Orang-orang kang-ouw mencarinya, tentu mengharapkan hikmatnya, sedangkan orang-orang jahat tentu juga menginginkannya karena harganya. Suling ini terbuat dari emas yang tentu saja mahal harganya.

Setelah tiba di darat, Bu Song menambah hadiah sepotong perak kepada nelayan itu yang menjadi girang sekali karena hari itu ia benar-benar mendapatkan rejeki besar. Kemudian Bu Song meninggalkan pantai dan melakukan perjalanan cepat ke utara. Ia harus mencari suhu-nya dan menceritakan semua pengalamannya di Pulau Pek-coa-to.
Makin ke utara, makin ramailah ia mendengar orang bicara tentang perubahan besar di kerajaan.

Ia mendengar bahwa seorang panglima besar yang gagah perkasa telah mengambil alih kekuasaan dan medirikan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Sung! Juga mendengar bahwa kaisar baru ini amat murah hati, tidak akan menghukum siapa pun juga asal tidak mengadakan perlawanan. Karena berita inilah maka di kota-kota kecil tidak timbul keributan, dan para pembesar melakukan tugasnya seperti biasa sambil menanti perkembangan lebih lanjut. Pada waktu itu Bu Song berusia dua puluh tiga tahun.

Maklum bahwa suhu-nya tentu memperhatikan perubahan di kota raja, ia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja mencari suhu-nya…..

********************

Kita tinggalkan dulu Bu Song yang melakukan perjalanan menuju ke kota raja, dan mari kita menengok keadaan Suma Ceng, gadis bangsawan yang tak dapat menahan gelora cinta kasihnya sehingga mengadakan hubungan rahasia dengan Bu Song, pegawai ayahnya itu.

Melihat betapa puterinya telah mencemarkan nama keluarga, Pangeran Suma Kong marah bukan main. “Anak macam itu hanya akan menyeret nama orang tuanya ke dalam lumpur kehinaan!” Ia memaki setelah menerima laporan puteranya. “Lebih baik mati dari pada dibiarkan hidup! Boan-ji (Anak Boan), enyahkan saja dia dari muka bumi!”

Suma Boan terkejut. Ia juga merasa tak senang dan marah melihat adiknya melakukan perhubungan gelap dengan Bu Song. Akan tetapi betapa pun juga Suma Boan menyayangi adiknya. Ia tidak mempunyai saudara lain kecuali Suma Ceng. Bagaimana ia tega membunuhnya? Diam-daim ia merasa kecewa dan menyesal sekali mengapa Bu Song sampai dapat lolos dari tangannya.

“Ayah, harap ampunkan Ceng-moi. Betapa pun juga, yang salah besar dan jahat adalah Bu Song. Ceng-moi seorang yang masih muda, tentu saja mudah di bujuk dan dipikat. Ayah, karena hal itu telah terjadi, maka sebaiknya kita mencari jalan ke luar.”

“Jalan ke luar satu-satunya hanyalah menyuruhnya minum racun agar habis riwayatnya dan tidak mengotori nama keluarga kita!” bentak Pangeran Suma Kong marah.

“Bukan begitu, Ayah. Yang kumaksudkan adalah jalan ke luar yang baik dan terhormat. Betapa pun juga, Ceng-moi adalah adikku, mana aku tega kepadanya? Ayah, sahabatku Pangeran Kiang pernah melihat Ceng- moi dan pernah dalam keadaan mabok ia memuji-muji Ceng-moi di depanku. Ayah, aku dapat atur agar Ceng- moi segera dijodohkan dengan dia! Selain sahabat baik, dia pun belajar silat kepadaku, dan dalam segala hal, dia selalu menurut kepadaku.”

Berseri sedikit wajah Suma Kong yang tadinya keruh. Pangeran Kiang yang dimaksudkan puteranya itu memang betul bukan seorang yang cukup ‘berharga’ untuk menjadi mantunya. Seorang pangeran miskin, sudah tiada ayah lagi, hanya mengandalkan Jenderal Cao Kuang Yin yang menjadi pamannya. Akan tetapi betapa pun juga orang muda itu masih seorang pangeran! Tidak buruk!

“Sesukamulah. Akan tetapi atur supaya cepat-cepat menikah, dalam bulan ini juga. Siapa tahu…” Suma Kong mengigit bibir dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Aku mengerti, Ayah.”

Demikianlah, dengan perantaraan Suma Boan, urusan perjodohan itu dibicarakan. Pangeran Kiang adalah seorang pangeran muda yang tidak punya ayah lagi, menganggur, hidupnya hanya bersenang-senang, menjadi sahabat, murid, juga ‘antek’ Suma Boan. Mendengar usul dan bujukan Suma Boan, serta merta ia menyatakan setuju dengan hati girang. Ibunya miskin, pamannya yaitu adik ibunya, Jenderal Cao Kuang Yin yang terkenal, adalah seorang pembesar bu (militer) yang jujur dan setia sehingga hidupnya sederhana dan tidak kaya raya, sehingga bantuan dari paman ini pun hanya sekedarnya.

Kalau di satu pihak Pangeran Kiang Ti girang bukan main atas usul Suma Boan, karena dia sendiri sampai mati pun tidak berani lancang melamar puteri Pangeran Suma Kong yang kaya raya itu, adalah di lain pihak Suma Ceng mendengarkan berita yang disampaikan kakaknya itu dengan banjir air mata.

“Koko… ah, mengapa begini…?” ratap tangisnya. “Dimana… Kanda Bu Song…? Kau apakan dia…?

Suma Boan marah sekali kepada adiknya, akan tetapi kasih sayangnya sebagai seorang kakak membuatnya kasihan juga. Ia mendongkol bahwa dalam keadaan seperti itu adiknya masih saja memikirkan Bu Song!

“Ceng Ceng! Kau ini puteri seorang bangsawan agung! Puteri seorang pangeran besar! Pergunakanlah pikiranmu dan akal sehat. Mengapa kau merendahkan diri sedemikian rupa? Apakah kau hendak menyeret nama baik ayah dan keluarga ke dalam lumpur?”

“Aku… aku… cinta padanya, Koko…”

“Setan! Sudah, jangan sebut-sebut lagi namanya. Bu Song sudah mampus!”

Ceng Ceng menangis tersedu-sedu. “Kau bunuh dia…! Ah, kau bunuh dia, Koko… kenapa kau tidak bunuh aku sekali…?”

“Goblok? Kalau tidak ada kakakmu ini yang berjuang mati-matian, apa kau kira sekarang kau masih hidup? Ayah lebih senang melihat kau mati dari pada kau bermain gila dengan seorang macam Bu Song.”

“Ohhh…, Ayah…!” Suma Ceng makin sedih mendengar hal ini.

“Dengar, Ceng-moi. Mengadakan hubungan gelap, apalagi dengan seorang yang kedudukannya rendah, bagi seorang gadis bangsawan hukumannya hanya mati. Akan tetapi aku berhasil meredakan kemarahan Ayah dan mengusulkan agar kau dijodohkan dengan Pangeran Kian Ti.”

“Aku tidak mau… tidak sudi…!”

“Plak!” Suma Boan menampar pipi adiknya sehingga Suma Ceng hampir terpelanting jatuh.

“Auuhhh!” Suma Ceng berdiri, memegangi pipinya dan memandang dengan mata terbelalak kepada kakaknya. Biasanya, kakak kandungnya ini amat mencintanya, tidak pernah memukulnya. Maka ia menjadi kaget dan heran, lupa akan kesedihannya dan memandang dengan mata terbelalak.

“Ceng-moi, kau tahu apa artinya kalau perbuatanmu yang tak tahu malu ini diketahui orang luar? Cemar yang menimpa keluarga kita berarti menodai nama keluarga raja! Dan akibatnya, tidak hanya kau yang menerima hukuman, juga Ayah dan kita sekeluarga! Mungkin Ayah akan dihentikan, dipecat, dan dibuang! Nah, inginkah kau melihat hal itu terjadi?”

Suma Ceng menundukkan kepala, terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala.

Suma Boan mendekati dan mengelus rambut adiknya. “Kau tahu aku sayang kepadamu, dan aku melakukan ini untuk kebaikanmu pula. Kiang Ti adalah seorang pemuda yang baik, dia keturunan pangeran setingkat dengan ayah. Tentang dia miskin bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Bukankah Ayah keadaannya cukup? Nah, adikku yang manis, kau harus menurut demi kebaikanmu dan kebaikan keluarga kita.”

Suma Ceng menubruk dan menyembunyikan muka di dada kakaknya sambil menangis tersedu-sedu. Suma Boan mengelus rambut adiknya dan tersenyum, maklum bahwa bujukannya berhasil.

Demikianlah, dalam enam bulan itu juga, secara meriah sekali Suma Ceng dikawinkan dengan Kiang Ti, pangeran yang miskin. Di balik tirai yang menutupi mukanya, Suma Ceng menangis. Sebaliknya, Kiang Ti tersenyum-senyum girang. Memang ia pernah melihat Suma Ceng dan mengagumi kecantikan puteri pangeran ini. Kini gadis yang membuatnya rindu dan mabok kepayang itu secara tak terduga-duga dijodohkan dengannya. Ia benar-benar merasa heran karena belum pernah ia mimpi kejatuhan bulan! Ia merasa rejekinya baik sekali!.

Akan tetapi kurang lebih dua tahun kemudian setelah Suma Ceng menjadi isteri Kiang Ti, keadaannya menjadi terbalik sama sekali. Kini keluarga Suma Konglah yang merasa rejekinya baik karena mempunyai mantu Kiang Ti. Seperti telah diketahui, Kiang Ti adalah putera seorang pangeran yang menjadi keponakan Jenderal Cao Kuang Yin. Dan kebetulan jenderal inilah yang menggulingkan tahta kerajaan, kemudian menjadi kaisar pertama dari Dinasti Sung! Tentu saja sebagai keponakan Kaisar, Kiang Ti kini menjadi pangeran yang terhormat dan tinggi kedudukannya, dan karena itu keluarga Suma juga ikut terangkat naik!

Memang hal ini sedikit banyak ada pengaruhnya dan menguntungkan Suma Kong. Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang korup. Akan tetapi kaisar baru, yaitu bekas Jenderal Cao Kuang Yin, walau pun tahu akan watak korup pangeran ini, namun mengingat bahwa masih ada pertalian keluarga melalui Kiang Ti, tidak mau mengutik-utik tentang perbuatan-perbuatannya yang lalu. Kaisar hanya memberi pensiun kepada Pangeran Suma Kong dan membiarkan keluarga pangeran yang sudah kaya raya itu pindah dari kota raja ke kota An-sui.

Ada pun pangeran Kiang Ti yang masih keponakan Sang Kaisar, tentu saja dapat tinggal di kompleks istana yang megah, bersama isterinya yang telah mempunyai seorang putera. Pangeran Kiang Ti amat mencinta isterinya. Karena sikap yang amat baik, penuh cinta dan penuh kesabaran dari Kian Ti ini, maka sedikit banyak kepahitan hati Suma Ceng karena terpisah dari kekasihnya dapat terobati.

Demikianlah keadaan keluarga Suma selama dua tahun itu. Kini biar pun Suma Boan tinggal di An-sui bersama ayahnya, namun karena ia kaya raya dan masih terhitung keluarga kerajaan, di tambah pula dengan ilmu kepandaian yang tinggi sejak ia menjadi murid Pouw-kai-ong, Suma Boan menjadi amat terkenal di kota raja. Siapakah yang tidak mengenal Suma Kongcu yang berjuluk Lui-kong-sian Si Dewa Guntur? Mengandalkan kedudukan keluarganya sebagai sanak kaisar, serta harta benda dan ilmunya, pemuda bangsawan ini malang melintang di kota raja dan sekitarnya tanpa ada yang berani mengganggunya.

********************

Bu Song meninggalkan pantai selatan dan menuju ke utara. Akan tetapi baru saja ia meninggalkan pantai, ia mendengar suara aneh di atas kapalnya. Ketika ia memandang ke atas, ternyata seekor burung yang buruk rupanya terbang melintas dekat kepalanya sambil mengeluarkan bunyi “kuk-kuk-kuk!”

Teringatlah Bu Song bahwa di pulau Pek-coa-to tadi pun serasa pernah ia melihat burung ini, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana. Burung itu adalah burung hantu, atau burung malam yang matanya berkilauan seperti mata kucing, bertelinga seperti kucing pula. Burung itu terbang cepat sekali dan lenyap di dalam sebuah hutan kecil di depan.

Hari telah menjelang senja ketika Bu Song mempergunakan ilmu lari cepat memasuki hutan kecil itu. Hutan itu kecil namun liar dan gelap, hutan belukar yang agaknya tidak pernah didatangi manusia. Banyak bagian yang gelap, apalagi karena di situ terdapat batu karang. Agaknya di jaman dahulu, air laut sampai di bagian daratan ini.

“Aduhhh…! Setan iblis siluman tak bermata! Perut orang diinjak-injak seenaknya. Keparat!”

Bu Song juga kaget bukan main. Tadinya tidak ada apa-apa di depannya, bagaimana ketika ia berlari, kakinya sampai bisa menginjak perut orang tanpa ia ketahui? Betapa pun suram dan agak gelap tempat itu, tak mungkin ia tidak melihat seorang tidur telentang di depannya menghalang jalan. Tak mungkin! Tadinya benar- benar tidak ada siapa-siapa, bagaimana tahu-tahu kakek aneh itu dapat terinjak perutnya oleh kakinya? Ia demikian kaget sampai berjungkir-balik ke belakang. Mendengar suara marah-marah itu ia memandang penuh perhatian.

Seorang kakek yang aneh. Tubuhnya pendek sekali seperti seorang anak berumur belasan tahun. Kakinya yang kecil telanjang, kedua tangannya juga kecil. Akan tetapi kepalanya besar, kepala seorang kakek tua renta penuh jenggot dan kumis panjang. Rambutnya panjang terurai. Benar-benar seorang kakek aneh dan kalau memang di dunia ini ada setan iblis atau siluman seperti makian kakek tadi, kiranya kakek inilah patut menjadi seorang di antaranya. Akan tetapi karena kakek itu pandai mengumpat caci, agaknya ia manusia biasa, pikir Bu Song. Cepat-cepat ia menjura dan memberi hormat.

“Mohon maaf sebesarnya, Kek. Saya tidak buta dan tidak sengaja menginjak perutmu. Akan tetapi aku berani bersumpah bahwa tadi aku tidak melihat ada orang di sini!”

“Memang tidak ada! Kalau aku tidak sengaja membiarkan perutku tersentuh kakimu, apa kau kira akan mampu menginjak perutku? Cih!”

Diam-diam Bu Song terkejut dan juga mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sengaja hendak mempermainkannya, karena ia benar-benar tadi tidak melihat ada orang tidur di tengah jalan. Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian kakek itu sehingga dapat membiarkan dirinya terinjak tanpa dia yang menginjaknya melihatnya!

Karena yakin bahwa kakek itu seorang sakti, ia cepat-cepat memberi hormat lagi dan berkata, “Maafkan saya, Lo-cianpwe (Orang Tua Sakti). Sesungguhnya seorang muda seperti saya mana berani bersikap kurang ajar terhadap seorang tua? Apalagi sampai menginjak perut Lo-cianpwe, selain tidak berani juga takkan sanggup melakukannya. Bolehlah saya bertanya, Lo-cianpwe siapakah dan apakah maksud hati Lo-cianpwe mempermainkan seorang muda seperti saya yang tidak bersalah apa-apa terhadap Lo-cianpwe?”

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak. Suara ketawanya amat tidak enak didengar, bukan seperti suara manusia. Bu Song teringat akan suara burung hantu yang tadi terbang lewat dan… benar saja, dari atas kini terdengar suara burung itu dan sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu burung hantu yang tadi itu kini sudah hinggap di atas pundak kanan kakek pendek itu!

“Siapa main-main? Aku sengaja membiarkan perutku kau injak atau tidak, itu urusanku! Tapi yang jelas dan tak dapat dibantah lagi, kau sudah berlaku kurang ajar menginjak perutku. Betul tidak? Hayo, kau sangkal kalau berani, kau… eh, siapa namamu?” kata-kata dan sikap kakek ini amat menggelikan, tidak karuan dan seperti orang gila, atau seperti anak kecil yang nasar (mau menang sendiri).
“Nama saya Bu Song, Lo-cianpwe, she… Liu.”

“Heh, Bu Song! Hayo bilang, kau tadi menginjak perutku atau tidak?” “Heh… betul… tapi… tapi saya tidak sengaja Lo-cianpwe.”
“Tidak sengaja atau sengaja, apa bedanya? Yang jelas, buktinya kau sudah menginjak perutku. Kau tahu siapa aku?”

“Saya belum mendapat kehormatan mengenal nama Lo-cianpwe yang mulia.”

“Aku adalah Bu Tek Lojin! Dan kau sudah berani menginjak perutku, hukumannya hanya satu, yaitu mati!”

Biar pun tadinya Bu Song menganggap kakek itu seorang sakti yang patut ia hormati, akan tetapi mendengar ucapan-ucapannya dan melihat sikapnya, ia mulai merasa mendongkol sekali. Betapa pun saktinya, kiranya kakek ini bukanlah seorang yang patut dihormati, bukan seorang sakti yang budiman. Akan tetapi ia tetap menahan kemarahannya dan bersikap sabar. Ia belum pernah mendengar nama Bu Tek Lojin. Biar pun tak dapat disangkal bahwa ia tadi telah menginjak perut orang, akan tetapi ia melakukan hal ini tanpa ia sengaja, bahkan si Kakek itu sendiri yang agaknya sengaja mencari perkara.

“Bu Tek Lojin,” jawabnya tanpa menyebut lo-cianpwe lagi karena ia merasa tidak senang melihat sikap kakek yang luar biasa ini. “Yang memberi kehidupan kepadaku adalah Tuhan. Apabila Tuhan yang berkenan mengambil kehidupanku, aku akan pasrah dengan rela, akan tetapi kalau orang lain yang menghendaki kematianku, biar pun orang itu seorang tua terhormat dan sakti seperti kau, bagaimana pun juga akan kupertahankan hak hidupku!”

Kakek itu memandang dengan mata tajam dan tertarik. “Aha, kau pandai bicara. Bicaramu seperti seorang terpelajar, pakaianmu seperti seorang terpelajar pula, agaknya kau seorang sastrawan muda! Dan seorang terpelajar tentu pandai bermain catur. Orang muda, kau pandai main catur?”

Kakek aneh, pikir Bu Song. Bicaranya membolak-balik sukar ditentukan arahnya. Akan tetapi ia melayaninya juga dan menjawab, “Bermain catur tentu saja aku bisa, akan tetapi tidak pandai.”

“Bagus!” Kakek itu terkekeh-kekeh dan dari balik bajunya ia mengeluarkan sehelai kertas yang dilipat-lipat dan segenggam biji catur. Kertas itu ia bentangkan di atas tanah dan ternyata adalah kertas gambar papan catur! “Duduklah, mari kita bertanding catur!”

Kakek itu tidak waras otaknya barangkali, pikir Bu Song. Akan tetapi ia menjadi curiga dan bertanya, “Bu Tek Lojin, apa arti permainan catur ini?”

“Ha-ha-ha, bicara tentang ilmu silat, memalukan sekali kalau aku melayani kau bertanding. Burungku akan mentertawakan aku, akan menganggap aku keterlaluan mendesak orang muda dengan ilmu silatku yang tentu saja jauh lebih unggul karena aku jauh lebih tua, menang pengalaman dan menang latihan. Akan tetapi permainan catur tidak tergantung dari umur, melainkan dari siasat yang muda mengalahkan yang tua! Kalau tadi kukatakan bahwa kau telah berdosa kepadaku dan harus dihukum mati, sekarang aku memberi kesempatan kepadamu untuk menebus nyawamu dengan permaianan catur. Kalau kau menang, kesalahanmu menginjak-injak perutku habislah dan aku tidak menghendaki nyawamu!”

Bu Song diam-diam makin penasaran dan mendongkol. “Kalau aku kalah?” tanyanya, menahan hati panas.

“Ha-ha! Tentu saja kau kalah! Kalau kau kalah, berarti kau hutang dua kali kepadaku. Sebelum kubunuh kau harus menyerahkan suling emas dengan suka rela kepadaku!”

Berdebar jantung Bu Song. Kakek ini tidaklah gila dan tidak bodoh. Kiranya sengaja mencari gara-gara dan mencari perkara karena ingin merampas suling dan untuk itu tidak akan segan-segan membunuhnya. Maklumlah Bu Song bahwa ia menghadapi hal yang amat gawat dan berbahaya dan oleh karena ini seketika timbul ketenangannya. Ia teringat akan nasehat suhu-nya bahwa dalam menghadapi perkara apa pun juga, terutama sekali harus menenangkan hati. Ketenangan akan membuat kita waspada dan hanya dengan ketenangan kita akan dapat menguasai diri dan mengambil tindakan secara tepat. Maka ia lalu mengerahkan tenaga untuk menenangkan hati dan mengusir semua kekhawatiran. Bahkan wajahnya membayangkan senyum ketika ia memandang kakek itu.

“Orang tua, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa seorang perantau miskin seperti aku ini mempunyai sebuah benda dari emas?”

“Ha-ha-ho-ho-ho! Kau datang dari Pulau Pek-coa-to, aku mendengar suara suling di sana. Siapa lagi kalau bukan kepadamu suling itu diberikan oleh Ciu Bun si tua bangka berkepala batu? Ha-ha-ha! Dasar aku yang bodoh, percaya saja si Kepala Batu telah dibunuh Couw Pa Ong!”

Makin kagetlah hati Bu Song. Kiranya kakek ini tahu pula bahwa ia bertemu dengan Ciu Bun di pulau. Kalau begini, tak dapat dihindarkan lagi. Kakek ini tentu luar biasa saktinya dan bertanding ilmu silat dengan kakek ini, jelas ia takkan menang. Namun bertanding catur, belum tentu! Suhu-nya sendiri, Kim-mo Taisu yang juga seorang jago catur, sukar mengalahkan dia dan menurut suhu-nya, ia memiliki bakat yang luar biasa untuk bermain catur.

“Baiklah, kuterima tantanganmu bermain catur, orang tua!” katanya, wajahnya berseri dan matanya bersinar. “Akan tetapi, sebagai seorang kakek yang sudah berusia tua, tidak sepatutnya engkau menipu mentah-mentah seorang muda seperti aku. Biar pun di sini tidak ada orang kecuali kita berdua, setidaknya kau tentu akan malu jika sikapmu itu diketahui oleh burungmu.”

“Apa? Menipumu mentah-mentah? Heh-heh, orang muda, jaga baik-baik lidahmu kalau kau ingin mati dengan lidah utuh nanti!”

“Bu Tek Lojin, orang bertanding apa saja ada taruhannya. Kita akan bertanding catur, jadi kita berdua harus bertaruh pula. Akan tetapi engkau tadi hanya menyuruh aku yang bertaruh, akan tetapi kau sendiri tanpa modal alias bermain tanpa taruhan. Kalau aku kalah, aku harus mati dan memberikan sebuah suling emas kepadamu. Akan tetapi kalau kau yang kalah, harus ada taruhannya pula!”

Mata kakek itu ketap-ketip (berkejap-kejap), agaknya otaknya dikerjakan keras-keras. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan berkata, “Omonganmu cengli (menurut aturan) juga! Nah, kalau aku kalah, kau boleh bunuh aku!”

Kembali Bu Song kaget. Jawaban-jawaban kakek ini benar-benar aneh dan mengagetkan karena tidak disangka-sangka. Akan tetapi melihat betapa sepasang mata itu bersinar-sinar dan biji matanya bergerak- gerak seperti tingkah seorang kanak-kanak nakal yang cerdik dan penuh tipu muslihat, mulut yang tersembunyi di balik jenggot itu bergerak-gerak seperti menahan tawa, Bu Song maklum dan berseru, “Wah, ternyata Bu Tek Lojin tidak hanya pandai ilmunya, akan tetapi pandai pula akal bulusnya. Pantas saja menjadi Bu Tek (Tiada Lawan), kiranya selain mengandalkan kesaktian juga mengandalkan tipu muslihat!”

Kakek itu yang tadinya sudah duduk menghadapi kertas bergambar papan catur, kini meloncat tinggi sehingga burung di pundaknya kaget dan mengembangkan sayapnya menjaga keseimbangan tubuh. Bu Tek Lojin mencak-mencak dan menari dengan kedua kakinya berloncatan, kedua tangannya bergerak seperti orang lari di tempat, mukanya menjadi merah dan matanya bergerak-gerak melotot. “Kurang ajar kau! Tipu muslihat apa yang kau maksudkan sekarang? Awas, jangan bikin aku marah!”

“Habis, taruhanmu benar-benar tidak adil. Kalau kau kalah main catur, kau bilang aku boleh membunuhmu. Tentu saja ini tidak adil sama sekali. Aku boleh membunuhmu, akan tetapi dalam hatimu kau mentertawakan aku dan bilang mana aku sanggup membunuhmu? Wah, Bu Tek Lojin kakek tua, kau memberikan ekor menyembunyikan kepala! Tidak mau aku diakali begitu. Kalau kau mau memenuhi sayarat taruhanku, boleh kau coba-coba melawan aku bermain catur kalau kau becus! Akan tetapi kalau tidak mau memenuhi syarat taruhanku, sudahlah, kalau kau orang tua hendak berlaku sewenang-wenang terhadap orang muda dan tidak malu didengar semua orang kang-ouw betapa kakek yang bernama Bu Tek Lojin beraninya hanya menghina orang muda, terserah kau apakan aku, boleh saja!”

Sejenak kakek itu tidak dapat berkata-kata. Ucapan Bu Song itu benar-benar tepat sekali menghantam apa yang tersembunyi di dalam rencana pikirannya sehingga ia menjadi terkesima, seolah-olah menerima serangan tepat di ulu hatinya. Kembali matanya berkedip-kedip memandang kagum lalu berkata, “Wah, kiranya kau bukan bocah sembarang bocah, cukup cerdik! Tentu akan merupakan lawan catur yang ulet! Coba kau kemukakan syaratmu, orang muda.”

Sebetulnya Bu Song bukanlah termasuk orang muda yang suka banyak bicara, bukan pula pandai berdebat. Kalau sekarang ia bersikap demikian adalah semata-mata terdorong oleh pengertian yang timbul dari ketenangannya bahwa hanya dengan cara ini sajalah agaknya ia dapat menghadapi kakek ini!

“Begini syarat taruhanku, Bu Tek Lojin. Kalau aku kalah bermain catur denganmu, biarlah takluk dan menyerah kepadamu. Akan tetapi kalau kau yang kalah, kau harus pergi tinggalkan aku dan jangan mengganggu lagi, jangan minta benda emas atau suling segala macam dan jangan membunuh atau melukaiku! Coba pertimbangkan, kalau aku kalah, aku hanya minta engkau pergi dan aku tidak mengganggumu. Sebaliknya kalau aku kalah, aku takluk kepadamu dan menyerah. Bukankah ini berarti aku sudah banyak mengalah kepadamu?”

Kakek itu menggaruk-garuk jenggotnya yang putih dan tebal, mendapatkan seekor semut yang entah bagaimana tahu-tahu tersesat ke tempat itu. Dengan gemas ia memencet semut itu hancur di antara kedua jarinya, lalu mengangguk-angguk. “Kongto, kongto (adil, adil). Mari kita mulai!”

Bu Song menarik napas lega. Setidaknya bahaya pertama sudah dapat diatasi, ia dapat menghadapi kakek ini bermain catur dengan tenang. Kalau ia menang nanti, ia bebas. Kalau kalah, ia masih dapat melihat keadaan. Kalau kakek itu tidak membunuhnya, tentu saja hal itu baik sekali. Kalau kakek itu akan membunuhnya, tentu saja ia tidak akan tinggal diam dan mati konyol!

Permainan catur dimulai. Kakek itu mempersilakan Bu Song menggerakkan biji caturnya lebih dahulu. Bu Song berlaku hati-hati dan membuat gerakan sederhana. Akan tetapi gerakan biji catur kakek itu amat luar biasa, terlalu berani, kasar dan sama sekali tidak mempergunakan teknik bermain catur, membabi buta dan asal makan saja! Sibuk juga Bu Song menghadapi perlawanan kasar dan ceroboh macam ini. Kakek itu bermain seperti tidak mempergunakan otak sehingga sebentar saja Bu Song dipaksa saling makan dan dalam waktu singkat biji-biji catur mereka yang berada di atas papan tinggal sedikit.

Sekarang mulailah kakek itu benar-benar bermain catur. Gerakan-gerakan atau langkah-langkah biji caturnya teratur rapi, mendesak dan memancing penuh tipu muslihat dan ternyata merupakan permainan catur tingkat tinggi! Bu Song kaget dan mengertilah ia akan cara bermain lawannya. Ia tetap berlaku hati-hati sebelum menggerakkan biji caturnya. Kening pemuda ini sampai kerut-merut karena pencurahan perhatian yang bulat dan pemerasan otak yang sungguh-sungguh.

Kakek itu pun kini tidak main-main lagi. Duduk tekun menghadapi papan catur, tangan kiri menekan tanah, lutut kaki tangan diangkat untuk menumpangkan tangan kanan. Matanya tidak pernah berkedip memandang papan catur, bibir yang tersembunyi di balik kumis itu berkemak-kemik seperti orang membaca doa atau menghafal sesuatu. Bahkan burung hantu yang hinggap di atas lengan kanannya juga diam tak bergerak seperti mati.

Pertandingan kini menegangkan sekali. Bu Song menang sebuah biji catur. Biji caturnya tinggal empat, akan tetapi biji catur kakek itu tinggal tiga buah lagi! Kini setiap gerakan dilakukan hati-hati dan setelah memakan waktu pemikiran yang cukup lama. Keadaannya tegang. Biar pun mereka berdua kelihatan tenang-tenang dan sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan bergerak pun hanya kalau menjalankan biji catur, namun ketegangannya tidak kalah oleh pertandingan silat. Hal ini adalah karena bagi Bu Song, pertandingan ini sama artinya dengan pertandingan mengadu nyawa!

Dalam keadaan menang kuat satu biji, Bu Song berusaha memancing lawan dengan umpan-umpannya. Ia mengumpankan biji yang kelebihan itu dan apabila lawannya kena dipancing, tentu dalam waktu singkat ia dapat menghabiskan biji catur lawan. Akan tetapi dalam keadaan kalah kuat itu, Bu Tek Lojin ternyata cerdik sekali dan tidak menghiraukan umpan, melainkan main dalam sistem pertahanan yang ulet bukan main.

Bu Song menukar siasat. Karena semua umpan pancingannya tidak berhasil, ia kini mempergunakan kelebihan biji caturnya untuk mendesak dan mengurung, lalu menggiring biji-biji lawan ke sudut sehingga si Kakek itu tidak bisa mendapatkan jalan ke luar lagi kecuali mengadu biji atau saling makan. Dan kalau saling makan, berarti Bu Song akan menang karena ia masih kelebihan sebuah biji catur!

Sampai lama kakek itu memandang ke arah papan di mana tiga buah biji caturnya sudah kehabisan jalan. Keringat besar-besar memenuhi dahinya dan akhirnya ia menarik napas panjang, menggerakkan biji caturnya dan terpaksa makan biji catur lawan. Bu Song tersenyum. Kemenangan sudah pasti berada di tangannya. Dengan gembira ia pun balas memakan, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia hendak mengambil biji catur lawan, biji catur itu lekat pada kertas dan tak dapat diambil kecuali kalau dengan kertasnya. Diam-diam ia mendongkol sekali. Kakek ini mulai curang, pikirnya, atau menggunakan akal bulus. Terpaksa ia lalu mengerahkan sinkang-nya, disalurkan pada jari-jari tangannya dan dapatlah ia kini mengambil biji catur itu dari atas kertas dan tiba-tiba Bu Tek Lojin tertawa bergelak-gelak dan melompat berdiri.

“Ha-ha-ha! Hebat kepandaianmu main catur.”
Dengan girang Bu Song juga bangkit berdiri dan hatinya lega sekali.” “Bu Tek Lojin, apakah kau mengaku
kalah?”

“Eh, Bu Song. Selain ilmu bermain catur, juga tenaga lweekangmu lumayan. Kau murid siapa?” “Suhu Kim-mo Taisu berkenan memberi sedikit pelajaran kepada saya.”
“Oh-oh-oh…! Kiranya murid Kim-mo Taisu? Ha-ha-ha, benar-benar tidak kusangka! Orang gila itu punya murid sebaik ini? Berapa tahun kau belajar ilmu silat dari si Gila itu?”

Tak senang hati Bu Song mendengar suhu-nya disebut orang gila dan sama sekali tidak dipandang mata oleh kakek ini, padahal ia tahu benar betapa di dunia kang-ouw gurunya adalah seorang tokoh besar yang disegani kawan atau lawan. Akan tetapi ia menjawab juga, “Hanya dua tahun. Dibanding dengan Suhu, saya belum ada sepersepuluhnya!”

Mendadak kakek itu menggerakkan tubuhnya dan alangkah kagetnya Bu Song karena tanpa peringatan apa- apa kakek itu sudah menyerangnya dengan pukulan yang hebat sekali karena mendatangkan angin berciutan. Pukulan tangan kiri kakek dengan jari tangan terbuka itu menusuk ke arah dadanya. Cepat Bu Song miringkan tubuh mengelak. Akan tetapi pukulan susulan tangan kanan kakek itu memasuki bagian lambung kiri! Kecepatan serangan susulan ini tidak memungkinkan Bu Song mengelak lagi. Terpaksa ia mengerahkan tenaga pada lengannya dan menangkis.

“Dukkk!” tubuh kakek itu tergetar sehingga burung hantu yang hinggap di pundaknya mengeluarkan suara keras lalu terbang ke atas.

Akan tetapi tubuh Bu Song terlempar ke belakang seperti layang-layang putus talinya! Orang muda itu terhuyung-huyung dan setelah beberapa meter jauhnya barulah ia berhasil mempertahankan diri agar tidak sampai terbanting jatuh. Cepat ia memutar tubuh menghadapi kakek itu, lalu menegur, “Bu Tek Lojin, apakah begitu mudah kau melupakan janji taruhanmu?”

Akan tetapi kakek itu menjawab dengan makian, “Bocah lancang. Berani kau berani main gila dan membohongi seorang tua bangka seperti aku?”

Kakek itu tertawa mengejek. “Kau kira aku begitu bodoh? Jangankan belajar kepada Kim-mo Taisu si gila itu, biar pun kau belajar dari aku sendiri, tak mungkin kau seperti sekarang ini!”

“Aku bersumpah bahwa aku tidak membohong!”

“Sudahlah! Keluarkan suling emas itu dan kau ajari aku meniup suling!”

Bu Song kaget. Tak disangkanya kakek ini seorang yang sama sekali tidak merasa malu untuk melanggar janjinya. Kalau begini, percuma saja ia tadi mati-matian menggunakan otak untuk memenangkan pertandingan catur!

“Bu Tek Lojin! Benar-benarkah kau tidak malu melanggar janjimu? Kau sudah kalah bermain catur, berarti kau harus memenuhi taruhanmu!”

“Huh! Jangan banyak cerewet! Aku minta pinjam suling dan minta kau mengajar tiupan suling, sama sekali tidak pernah kujanjikan. Hayo cepat keluarkan suling emas itu, jangan kau bikin marah orang tua seperti aku!”

Bu Song maklum bahwa kakek ini hanya menggunakan ucapan tipuan, akan tetapi sesungguhnya ingin merampas suling berikut rahasianya. Akhirnya ia toh harus melawan dengan kekerasan juga. Maka ia berdiri tegak, menggeleng kepala dan menjawab, “Bu Tek Lojin! Suling adalah alat musik untuk menenangkan hati dan pikiran, dan menjadi pegangan seorang yang suka akan kesenian dan kesusastraan. Aku sudah berjanji takkan memberikan benda ini kepada siapa pun juga. Harap kau jangan memaksa.”

Kakek itu berjingkrak-jingkrak saking marahnya. “Bocah sial! Semua tokoh kang-ouw tidak ada seorang pun berani membantah perintahku! Apa kau sudah bosan hidup? Serang dia!” Ia membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah Bu Song. Agaknya ini merupakan perintah bagi burung hantu yang terbang berputaran di atas karena tiba-tiba burung itu mengeluarkan pekik menyeramkan, lalu seperti sebuah peluru kendali burung itu meluncur ke arah muka Bu Song, menyerang dengan paruh dan kedua cakarnya ditambah kedua sayapnya yang menampar!

Bu Song sudah siap siaga. Sungguh pun ia tidak mengira bahwa binatang itu yang akan mewakili si Kakek menyerangnya, namun karena ia sudah siap. Dengan mudah saja ia berhasil mengelak dengan merendahkan dirinya. Burung itu menyambar lewat di atas kepalanya, akan tetapi luar biasa sekali burung ini. Begitu sambarannya luput, secara tiba-tiba ia dapat menghentikan luncuran tubuhnya dan dengan gerakan sayap ia sudah membalik, lalu menerjang lagi mengarah sepasang mata Bu Song! Cepat dan tak terduga-duga gerakan ini sehingga biar pun Bu Song sekali lagi mengelak, burung itu masih berhasil menggores pipi kanan Bu Song dengan cakarnya! Luka di pipi itu tidak berbahaya, hanya luka kulit, namun mengeluarkan darah menetes- netes!

Bu Tek Lojin tertawa terkekeh-kekeh dan bertepuk-tepuk tangan. Mendengar ini, bangkit kemarahan di hati Bu Song. Ia mulai panas. Apalagi burung itu kini sudah menyambar pula dari depan. Tadi Bu Song sampai terkena cakaran karena ia kurang hati-hati dan sama sekali tidak menduga bahwa binatang itu dapat bergerak secepat itu, atau ada juga sedikit sikap memandang rendah.

Burung hantu itu hanya seekor burung sebesar ayam, tentu saja ia tadinya memandang rendah. Siapa kira, burung itu ternyata bukanlah burung biasa dan memiliki gerakan cepat dan berbahaya! Bahkan gerak-geriknya seperti seorang ahli silat yang terlatih baik. Kini dengan gerakan ekor dan sayapnya, burung itu sudah membalik lagi dan menerjang Bu Song, seperti tadi menyerang muka, paruhnya menusuk di antara kedua mata, sayapnya menghantam kanan kiri kepala bagian pelipis, kedua cakarnya mencengkeram ke arah tenggorokan! Serangan hebat yang boleh dikatakan serangan maut!

Namun Bu Song selain marah juga sudah siap dan waspada. Kini ia tidak mau mengelak, melainkan mengulur tangan kanan ke depan menyambut burung itu dengan cengkeraman dari samping. Cengkeraman tangan Bu Song ini hebat karena mengandung pengerahan tenaga dalam yang amat kuat. Kalau burung itu kena dicengkeram oleh jari-jari tangan kanan Bu Song, pasti akan hancur!

Burung itu ternyata hebat. Paruhnya mengeluarkan teriakan keras, agaknya ia kaget menghadapi cengkeraman tangan yang amat kuat itu dan secara luar biasa tubuhnya membalik ke atas dan… cengkeraman tangan Bu Song luput! Bahkan susulan hantaman tangan kiri Bu Song yang dilancarkan menyusul cengkeramannya juga tidak dapat menyusul kecepatan gerakan burung itu dan hanya menyerempet ekornya sehingga tiga helai bulu ekor burung itu rontok!

Si burung hantu agaknya menjadi marah sekali. Dari atas ia menyambar turun dengan kecepatan roket, menerjang kepala Bu Song. Kagetlah orang muda ini. Cepat ia miringkan tubuh menggerakkan kepala, namun pita rambutnya masih terkena cengkeraman dan terlepaslah rambutnya! Bu Song tidak diberi kesempatan karena lagi-lagi burung itu sudah menerjangnya sambil mengeluarkan pekik menyeramkan. Benar-benar seekor burung luar biasa, pikir Bu Song. Kali ini Bu Song mengangkat lengan kanan melindungi kepala, akan tetapi ia sengaja tidak balas menyerang, melainkan memberikan lengannya sebagai umpan dan penutup kepala.

Agaknya burung itu yang juga penasaran tak pernah dapat mengenai kepala lawan, kini hendak melampiaskan kemarahannya kepada lengan itu. Ia mencengkeram, mematuk dan menampar lengan kanan Bu Song. Namun, begitu kedua cakarnya mencengkeram lengan kanan Bu Song yang kulitnya keras licin karena penuh hawa sakti sehingga kuku-kuku burung tajam meruncing itu hanya merobek baju, tangan kiri Bu Song bergerak menghantam, tepat mengenai punggung burung itu.

“Bukkk!” burung itu mengeluarkan pekik keras lalu tubuhnya mencelat, kedua sayapnya berusaha terbang namun sia-sia, ia jatuh lagi seperti sebuah batu, berdebuk di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi karena tulang-tulang punggungnya remuk dan dagingnya hancur. Dari paruhnya keluar darah.

“Wah, berani kau membunuh burungku yang kupelihara puluhan tahun?” bentak Bu Tek Lojin marah.

“Aku hanya membela diri,” bantah Bu Song. “Burungmu yang menyerang dan hendak membunuhku!” Bu Song membereskan rambutnya yang terlepas awut-awutan, mengikat kembali dengan sutera pengikat rambut yang tadi terlepas dan jatuh ke tanah.

Kakek itu menarik napas panjang. “Nah, kau keluarkan suling emas itu cepat-cepat!”

Bu Song mendongkol sekali. “Kalau saya tidak mau menuruti permintaanmu, bagaimana Bu Tek Lojin?”

“Mau atau tidak masa bodoh, pokoknya kau harus keluarkan suling emas itu!” jawaban ini disusul tangan kakek itu yang diulur ke depan mencengkeram dada Bu Song.

Dari tangan kakek itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat sehingga belum juga tangan kakek itu mendekati dada, Bu Song sudah merasa betapa dadanya tergetar hebat. Cepat kakek itu terus saja maju hendak mencengkeram pundaknya. Bu Song mengerahkan tenaga dan melawan mati-matian. Dengan gerakan yang gesit ia berhasil mengelak, lalu dari samping ia membalas dengan pukulan tangan kiri. Biar pun baru belajar dua tahun lebih, akan tetapi karena memang dasar-dasar ilmu silat tinggi sudah ada padanya, maka Bu Song sudah berhasil mewarisi ilmu-ilmu simpanan Kim-mo Taisu, yaitu ilmu silat tangan kosong Bian- sin-kun (Tangan Kapas Sakti), Cap-jit-seng-kun (Ilmu Silat Tujuh Belas Bintang), Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) dan Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Mengacau Lautan).

Empat ilmu ini adalah ilmu silat pilihan, tingkatnya tinggi dan hanya dapat dimainkan oleh orang yang memiliki sinkang sempurna karena setiap gerakan selalu harus disertai pengerahan tenaga lweekang. Oleh karena ini maka pukulannya ke arah dada kakek itu pun bukan pukulan biasa, dan sebelum tiba di tubuh orang sudah didahului angin pukulan yang dahsyat pula.

Namun kakek itu amat luar biasa gerakannya. Hanya dengan kepretan jari tangan saja ia berhasil menghalau serangan balasan Bu Song, kemudian dengan gerak ilmu silat aneh sekali ia mulai mendesak Bu Song. Pemuda ini maklum akan kesaktian lawan, maka ia melawan sekuat tenaga. Namun ia kalah cepat sehingga untuk tiga kali serangan lawan ia hanya dapat membalas satu kali saja!

“Wah, kau bohong…! Kau bohong…!” kakek itu menyerang, mendesak sambil memaki-maki.

Bu Song diam saja. Bagaimana ia dapat menjawab kalau seluruh perhatiannya harus ia curahkan untuk menjaga diri agar jangan sampai terkena pukulan lawan yang lihai ini?

“Masa belajar dua tahun sudah memiliki kepandaian seperti ini? Kau bohong atau… memang kau seorang manusia luar biasa!” sambil bicara kakek pendek itu melakukan gerakan yang amat aneh dan cepat. Tanpa dapat dicegah lagi, dalam serangkaian serangan yang susul menyusul, lutut Bu Song terkena ciuman ujung kaki telanjang itu hingga pemuda ini terguling!

Tentu saja Bu Song terkejut sekali. Begitu tubuhnya mencium tanah, dengan gerakan lincah ia gerakkan kaki tangannya menekan dan sekaligus tubuhnya sudah mencelat ke atas dan berdiri kembali. Malah kini ia mengeluarkan suling emas dari balik bajunya dan serta merta Bu Song menyerang dengan Ilmu Silat Pat-sian Kiam-hoat! Ia tidak berpedang, maka suling itu dapat ia pergunakan sebagai pedang.

Hebat sekali gerakan Pat-sian Kiam-hoat ini, dan ternyata suling itu juga merupakan benda mukjijat karena sekali berkelebat telah membentuk segulung cahaya kekuningan yang menyilaukan mata, bahkan mengeluarkan bunyi melengking aneh karena dalam gerakan itu lubangnya kemasukan angin seperti ditiup!

“Aih…!” Bu Tek Lojin mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya ia lempar ke belakang, terus ia bergulingan menjauh di atas tanah. Setelah melompat berdiri, ia memandang kaget dan kagum. “Wah, hebat ilmu pedangmu, tidak kecewa kau menjadi murid Kim-mo Taisu. Akan tetapi dua tahun… ah, tak mungkin! Dan suling emas itu…. hebat pula!”

Akan tetapi sambil bicara, kakek itu sudah menerjang maju lagi. Dengan gerakan aneh dan cepat, tubuhnya miring-miring kemudian menerjang Bu Song dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin menderu. Bu Song yang sudah bertekad bulat tidak hendak menyerahkan sulingnya mentah-mentah dan hendak melawan sekuat tenaga, menyambut bayangan kakek yang berkelebatan itu dengan gerakan sulingnya. Ia tetap mainkan Pat-sian Kiam-hoat bahkan kini tangan kirinya ia gerakkan dengan ilmu Lo-hai San-hoat. Biar pun ilmu silat ini adalah ilmu silat yang khusus diciptakan Kim-mo Taisu untuk mainkan senjata kipas, akan tetapi dapat juga dimainkan dengan tangan kosong. Gerakan kipas menampar dilakukan dengan jari-jari dikembangkan, ada pun totokan ujung gagang kipas dapat diubah menjadi totokan jari tangan.

Kembali Bu Tek Lojin memuji-muji. Kakek yang tak pernah mau kalah dan merasa bahwa dialah orang nomor satu di dunia ini tidak memuji kosong belaka. Dalam hatinya ia benar-benar memuji. Baru sekali ini selama hidupnya ia bertemu dengan seorang muda yang begini hebat kepandaiannya, apalagi kalau diingat bahwa orang muda ini hanya belajar silat selama dua tahun! Dia sendiri merasa tidak sanggup mendidik murid yang bagaimana berbakat pun selama dua tahun menjadi sehebat ini!

Pertandingan kini berlangsung lebih hebat dari pada tadi. Memang Bu Song seorang luar biasa. Dia memang kurang latihan kalau dibandingkan dengan lawannya. Akan tetapi gerakan-gerakannya sudah hampir sempurna, apalagi suling emas di tangannya itu ternyata cocok sekali dipakai mainkan Pat-sian Kiam-hoat. Tubuhnya tidak nampak lagi, lenyap saking cepatnya gerakan kaki tangan dan terselimut gulungan sinar kuning menyilaukan mata dari suling itu. Gulungan sinar ini memanjang dan membentuk lingkaran-lingkaran seperti seekor naga emas bermain-main, sedangkan tangan kirinya melancarkan pukulan-pukulan yang mengeluarkan bunyi angin berciutan.

Namun lawannya adalah seorang sakti dan luar biasa, memiliki sinkang yang jauh melampaui manusia biasa sehingga Bu Song selalu masih terdesak. Ketika tangan kirinya menampar ke arah pelipis kanan kakek itu, Bu Tek Lojin tertawa dan meloncat ke atas, membiarkan jari-jari tangan Bu Song bertemu dengan pundaknya.

“Plakkk!”

Bu Song kaget sekali, tangannya serasa hancur dan panas. Selagi ia hendak melompat ke belakang, kakek itu sudah menyambar ke depan, tangan kanan kakek itu mencengkeram ke arah matanya sedangkan tangan kiri merampas suling! Bu Song terkejut melihat tangan yang menyambar ke arah mata. Lengah sedikit saja tentu matanya akan menjadi buta, atau setidaknya mukanya akan terluka dan bercacat.

Terpaksa ia mengelak. Karena perhatiannya tercurah sepenuhnya menghadapi bahaya mengerikan ini, ia tidak dapat mencegah lagi sulingnya terampas. Ia hanya merasa betapa tiba-tiba pergelangan tangan kanannya tertotok dan menjadi seperti lumpuh, kemudian sulingnya terlepas dari genggamannya. Dengan nekat ia melancarkan tendangannya mengenai pantat kurus si Kakek tua yang sudah membalikkan tubuh setelah berhasil merampas suling, dan… tubuh kakek itu terlempar ke atas tinggi sekali dan tidak turun lagi!

Bu Song terheran dan memandang ke atas. Kiranya kakek itu sudah duduk di atas cabang sebatang pohon, duduk menggantungkan kedua kakinya dan kedua tangannya menimang-nimang suling emas, mengelus- elusnya dan mengintai lubang-lubangnya. Kemudian kakek itu meniup-niup lubang suling. Memang suling itu bisa berbunyi, akan tetapi bunyinya tidak karuan dan menyakitkan telinga.

Memang kakek aneh ini selamanya tidak pernah meniup suling. Beberapa kali ia berusaha meniup, bahkan mengerahkan khikang-nya akan tetapi dalam hal meniup suling, ilmu khikang tidak dapat menolong banyak. Makin kuat angin memasuki lubang, makin tidak karuan bunyi suling, bahkan ketika kakek itu meniup sekerasnya, terlampau banyak tenaga angin memasuki lubang sehingga yang keluar hanya suara mendesis saja! Akhirnya kakek itu berhenti meniup, memijit-mijit kedua pelipisnya yang merasa lelah dan berdenyut, mulutnya merengut kecewa.

“Heiii, hayo kau ajari aku meniup suling! Benda ini diperebutkan semua orang, apa sih kegunaannya kalau aku tidak pandai meniup dan melagukannya?”

Bu Song sudah dapat menguasai dirinya. Ia mendapat kenyataan pahit betapa kesaktian kakek itu mengandalkan kepandaian silat. Mengingat akan kesaktian kakek itu, belum tentu kalau seorang tokoh seperti itu suka melanggar janji. Mungkin kakek ini memang benar-benar hanya ingin meminjam suling emas dan mempelajari bunyinya serta tahu rahasianya. Mungkin kakek ini hanya tertarik karena semua orang memperebutkannya, karena benda ini adalah benda keramat pemberian seorang kakek yang dianggap manusia dewa, yaitu Bu Kek Siansu. Bu Tek Lojin sudah sedemikian saktinya, kiranya sukar dicari tandingnya di atas dunia ini, maka untuk apakah kakek itu menginginkan suling emas? Tentu hanya karena ingin tahu.

Maka Bu Song lalu menjawab, “Bu Tek Lojin adalah seorang Lo-cianpwe yang sakti dan berkedudukan tinggi. Betulkah kali ini tidak melanggar janji, hanya akan meminjam suling dan belajar meniupnya? Kalau betul demikian, saya yang muda tentu saja akan suka sekali memberi petunjuk tentang ilmu meniup suling kepada Lo-cianpwe.”

“Ha-ha-ha, begitu baru anak baik!” tiba-tiba tubuh kakek itu melayang turun dan ia sudah duduk di atas batu besar sambil melambaikan tangan menyuruh Bu Song mendekat. “Coba kau beritahu, bagaimana memegangnya, bagaimana meniupnya dan bagaimana membuka tutup lubang-lubangnya?”

Bu Song memeberi petunjuk sedapatnya, bahkan ia memberi contoh membunyikan suling itu, dari nada rendah sampai nada tertinggi. Akan tetapi dasar kakek itu sudah terlalu tua, sudah terlambat untuk belajar, apa lagi mempelajari seni musik yang membutuhkan bakat! Bukan main sukarnya. Jari-jari tangannya canggung kaku, bibirnya sukar meniup sempurna karena terganggu kumis tebal dan ia tidak memiliki perasaan peka akan bunyi seperti perasaan seniman. Lebih dua jam kakek itu meniup-niup sampai sepasang matanya melotot dan kedua pipinya kembung, hasilnya sia-sia belaka, yang dikeluarkan dari suling hanya suara merengek-rengek seperti kucing terinjak ekornya!

Tiba-tiba kakek itu menghentikan usahanya belajar, mendengus-dengus dan dari matanya keluar dua butir air mata yang besar-besar! Kiranya saking marah dan jengkelnya melihat hasil kosong usahanya, kakek itu sampai mengeluarkan air mata. “Tidak ada gunanya! Suling sialan, tidak ada gunanya. Hanya suara iblis yang keluar dari lubangnya. Untuk apa diperebutkan? Suling keparat lebih baik dihancurkan!”

Setelah berkata demikian, berulang-ulang kakek itu menghantamkan suling itu kepada batu yang didudukinya. Terdengar suara keras dan tampak bunga api berpijar keluar ketika suling bertemu dengan batu.

“Lo-cianpwe, jangan…!” Bu Song kaget dan mencegah sambil melangkah maju karena ia khawatir kalau-kalau sulingnya akan rusak.

Akan tetapi sebuah dorongan tangan kiri kakek itu mengeluarkan angin yang menghantam dadanya dan membuat Bu Song terpelanting ke belakang! Kakek itu agaknya makin marah ketika mendapat kenyataan bahwa suling itu tidak rusak sama sekali biar pun ia pukul-pukulkan ke batu, bahkan batunya yang remuk- remuk di bagian yang dipukul suling.

“Lo-cianpwe, harap jangan marah. Suara suling itu dapat dibarengi bunyi sajak, baru selaras dan nikmat didengar!” dalam gugupnya Bu Song sengaja bicara terus terang akan rahasia suling.

Tangan yang sudah diangkat untuk menghantamkan suling sekuatnya pada batu itu berhenti bergerak. Kakek itu memandangnya seperti orang terheran-heran. “Kau tahu pula akan kitab kuno yang dibawa Ciu Gwan Liong? Apakah begitu kebetulan sehingga engkau mendapatkan kitab itu pula?”

Bu Song menggeleng kepala. “Kitab apakah, Lo-cianpwe? Saya hanya pernah mendengar Suhu bersyair yang katanya Suhu dengar dari Lo-cianpwe Bu Kek Siansu dan yang ternyata menjadi timpalan bunyi suling ini.”

Berubah wajah kakek itu, matanya bersinar-sinar. “Bagaimana bunyinya? Hayo perdengarkan padaku, bagaimana bunyinya?”

“Lo-cianpwe, syair dan bunyi suling harus dilagukan bersama, barulah dapat dinikmati perpaduannya yang luar biasa. Oleh karena hal ini membutuhkan dua orang maka biarlah Lo-cianpwe menghafal bunyi syair, kemudian kita berdua mainkan lagu mukjijat ini, Lo-cianpwe yang membaca syair dan saya yang menyuling.”

“Boleh, boleh!” Kakek itu berkata tak sabar. “Lekas kau perdengarkan, akan kuhafalkan!”

ADA muncul dari TIADA,
betapa mungkin mencari sumber TIADA! Mengapa cari ujung sebuah mangkok?

Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola? Akhirnya semua itu kosong hampa, Sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Bu Song sengaja memilih syair terakhir dari kitab kuno itu yang telah membuat Ciu Bun girang luar biasa. Mula-mula Bu Tek Lojin mengikuti dan meniru bunyi syair sebaris demi sebaris, kemudian setelah hafal, kakek itu berseri-seri wajahnya, sajak itu dihafal berulang-ulang dan makin lama suaranya menjadi makin nyaring!

Tiba-tiba kakek itu menubruk dan meloncat, kedua lengannya merangkul pundak Bu Song dan memeluknya! “Anak baik! Lekas kau tiup suling ini, lekas beri kesempatan telingaku mendengar perpaduannya…!”

Bu Song lalu duduk bersila, sambil berkata, “Mulailah, Lo-cianpwe, saya akan mengiringi dengan bunyi suling.”

Kakek itu pun melompat berdiri di atas batu besar, membusungkan dada, menengadah ke langit, lalu membaca syair itu kuat-kuat dengan suara dilagukan seperti yang dipelajarinya dari Bu Song tadi. Lambat- lambat keluarnya suara itu, dan berirama. Suara suling yang ditiup Bu Song mengiringi, dan karena Bu Song berusaha memenangkan hati kakek itu dengan cara ini, maka ia mencurahkan seluruh perhatian dan perasaannya sehingga suara suling itu luar biasa sekali, menggetar-getar dan mengalun, menggores perasaan.

Mula-mula kakek itu nampak gembira, suaranya makin nyaring dan setelah habis syair itu ia baca, ia mengulanginya lagi dari permulaan, makin lama suaranya makin penuh perasaan, matanya bersinar-sinar, kulit mukanya sebentar pucat sebentar merah dan tak lama kemudian air mata bertitik-titik turun dari kedua matanya. Suaranya mulai menggetar-getar, kemudian menjadi parau dan akhirnya ia tidak melanjutkan nyanyiannya, melainkan jatuh duduk di atas batu terisak-isak menangis, menjambak-jambak rambutnya seperti orang gila, kemudian tertawa-tawa dan menangis lagi!

Bu Song kaget sekali. Sungguh jauh berbeda akibat yang menimpa diri kakek ini kalau dibandingkan dengan Ciu Bun. Sastrawan itu menerima hikmat perpaduan suara mukjijat itu dengan penuh kebahagiaan, sebaliknya kakek ini menjadi seperti orang gila. Bu Tek Lojin masih terisak-isak, kemudian ia meloncat turun dari atas batu, berjingkrak-jingkrak dan tertawa-tawa, meloncat lagi ke atas batu dan akhirnya ia terduduk dengan lemas. Duduk bersila seperti orang bersemedhi, kedua lengannya bersilang di depan dada, mukanya menunduk dan ia tidak bergerak-gerak lagi seperti berubah menjadi arca!

Bu Song melihat semua tingkah kakek itu dengan mata terbelalak. Pemuda ini masih duduk bersila di atas batu lain, tiga meter jauhnya dari tempat kakek itu. Tadinya ia terheran-heran dan tidak dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi. Ia tidak tahu apakah akibatnya nanti akan baik baginya atau tidak. Namun harus ia akui bahwa perpaduan suara itu benar-benar mengandung sesuatu kemukjijatan yang luar biasa. Dia sendiri hanya merasa betapa nikmat paduan suara syair dan suling itu. Tadinya ia girang melihat betapa kakek itu menangis dan menjambaki rambutnya, kini ia merasa khawatir karena kakek itu diam seperti berubah menjadi batu. Dengan hati-hati ia memanggil.

“Lo-cianpwe…!” Kakek itu tidak menjawab.

Bu Song bukan seorang bodoh. Seharusnya ia menggunakan kesempatan ini untuk pergi dengan aman, membawa pergi suing emas yang dicari oleh orang-orang pandai itu. Akan tetapi dia seorang yang memiliki dasar hati penuh welas asih (belas kasihan) kepada orang lain. Melihat kakek itu seperti orang berduka, ia menjadi iba hati dan perlahan ia meniup lagi sulngnya, lirih namun amat merdu karena ditiup dengan penuh perasaan.

Belum habis ia meniup suling, kakek itu bergerak lalu mengangkat mukanya memandang kepada Bu Song. Ternyata kedua matanya merah dan basah.

“Bu Song, lekas kau mainkan semua jurus Pat-jiu Kiam-hoat dengan suling itu! Jangan melawan kalau aku menotok dan memukulmu. Hanya inilah yang dapat kulakukan untuk membalas budimu yang telah membuka mata hatiku. Mulailah, Anak baik!”

Bu Song tidak tahu apa yang akan dilakukan kakek itu. akan tetapi karena ia maklum bahwa menghadapi kakek ini ia sama sekali tidak berdaya, maka ia tidak membantah dan menyerahkan keselamatan dirinya kepada Tuhan. Mulailah ia mainkan suling itu dengan jurus pertama dari Pat-sian Kiam-hoat.

Tiba-tiba berkelebat bayangan kakek itu yang melayang turun dari atas batu dan ketika melakukan gerak jurus pertama, Bu Song merasa betapa lambungnya tertotok. Ia kaget namun tidak melawan dan bukan main herannya karena jurus pertama yang dilakukan dengan tusukan suling dari pinggang itu sama sekali tidak terganggu oleh totokan, malah ia merasa betapa hawa sakti di tubuhnya tersalur keluar melalui lambung yang baru saja terkena totokan sehingga jurus yang ia gerakkan itu mengandung tenaga yang jauh lebih kuat dari pada biasanya.

Bu Song menjadi girang, lenyap semua sisa kekhawatirannya karena ia maklum bahwa kakek ini membantunya, membantu membuka ‘pintu’ dalam tubuh agar hawa sakti yang ia salurkan dari pusat dapat lancar. Ia teringat akan cerita suhu-nya bahwa ilmu semacam ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Penggunaan hawa sakti dalam tubuh untuk disalurkan ke dalam tubuh orang lain, seperti dalam pengobatan, jika dilakukan justru akan membahayakan tubuh penolong itu sendiri.

Namun Bu Song tidak sempat mencegah lagi. Ia sudah bersilat menghabiskan enam belas jurus Pat-sian Kiam-hoat gubahan suhu-nya dan enam belas kali pula ia merasa ditotok dan dipukul di bagian-bagian tertentu dari tubuhnya oleh kakek itu yang melakukannya dengan amat cepat dari belakang, kanan kiri atau dari depan. Begitu selesai mainkan Pat-sian Kiam-hoat, Bu Song menyimpan sulingnya dan cepat menengok.

Kiranya kakek itu sudah bersila lagi di atas batu, mukanya pucat seperti mayat, matanya tertutup dan sama sekali tubuhnya tidak bergerak. Bu Song meloncat mendekati dan memanggil lirih, “Lo-cianpwe…!” Kakek itu tidak menjawab.

Melihat keadaan orang yang pucat dan payah, makin yakin hati Bu Song bahwa kakek itu telah mengorbankan diri dan menurunkan ilmu yang hebat kepadanya. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Lo-cianpwe, banyak terima kasih teecu haturkan atas budi kebaikan Lo-cianpwe!”

Kembali tidak ada jawaban. Sampai lama Bu Song berlutut. Karena tidak ada suara apa-apa dari kakek itu, Bu Song mengangkat muka memandang. Hatinya khawatir. Kakek itu duduk seperti mayat kaku. Ia meloncat ke atas batu dan mengulur tangan meraba. Bukan main kagetnya ketika meraba dada, sama sekali tidak ada tanda-tanda kakek itu bernapas! Juga jantung di dada tidak terasa detiknya. Bu Song meraba pergelangan tangan. Juga tidak berdetik. Tangan yang ditaruh di depan hidung kakek itu pun tidak merasai hembusan napas! Kakek ini telah mati!

Karena menyangka bahwa kakek itu mati kehabisan tenaga setelah membantunya menyempurnakan gerakan dengan bantuan hawa sakti tadi, Bu Song menjadi terharu dan tak terasa lagi ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menitikkan air mata! Kemudian ia melompat turun, mencari tempat yang baik untuk membuat lubang di tanah.

Tak jauh dari situ, sekira sepuluh meter jauhnya, terdapat sebatang pohon. Di bawah pohon itulah Bu Song lalu menggali lubang, hanya menggunakan sebuah batu runcing dibantu tangannya dengan pengerahan tenaga dalam. Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya pekerjaannya selesai. Sebuah lubang yang cukup lebar dan dalam telah terbuka. Selagi ia hendak menghampiri kakek yang duduk bersila dan disangka mati itu, mendadak tubuh itu melayang langsung ke dalam lubang itu dan kini duduk di dalam lubang dalam keadaan bersila!

Bu Song bengong. Lalu berlutut sambil memanggil, “Lo-cianpwe…!”

Hatinya girang karena jelas bahwa Bu Tek Lojin belum mati. Kalau sudah mati, mana mungkin ada mayat bisa meloncat sehebat itu memasuki lubang? Akan tetapi kalau masih hidup, kenapa tidak bernapas dan tidak terasa detik perjalanan darahnya, dan mengapa pula diam saja dan malah masuk sendiri ke dalam lubang kuburan?

Setelah berkali-kali memanggil tanpa jawaban, tahulah Bu Song bahwa kakek itu sudah tidak mau melayaninya, maka dia lalu berlutut memberi penghormatan terakhir sambil berkata, “Lo-cianpwe, sekali lagi terima kasih atas budi kebaikan Lo-cianpwe. Perkenankan teecu pergi melanjutkan perjalanan mencari Suhu.”

Kemudian ia bangkit berdiri, untuk beberapa menit memandang tubuh yang seperti arca duduk bersila di dalam lubang itu, kemudian ia menghela napas dan membalikkan tubuh, pergi dari tempat itu dengan langkah- langkah lebar.

Pergantian kekuasaan terjadi secara lunak. Benar-benar luar biasa, sungguh pun selama jaman Lima Dinasti yang setengah abad lamanya itu (907-960), kerajaan jatuh bangun tanpa ada perang saudara yang cukup serius. Akan tetapi habisnya jaman Lima Dinasti yang diambil alih oleh Kerajaan Sung ini benar-benar merupakan peralihan kekuasaan yang paling lunak. Hal ini adalah karena Jenderal Cao Kuang Yin menguasai sebagian terbesar bala tentara, di samping politiknya yang lunak sehingga dia sama sekali tidak membolehkan anak buahnya melakukan kekerasan dan gangguan di kota raja. Keluarga kerajaan ‘musuh’ pun tak seorang pun diusik, bahkan banyak di antara mereka diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka.

Biar pun keadaan di kota raja sendiri aman tenteram dan tidak terjadi banyak keributan dalam peralihan kekuasaan itu, namun peristiwa itu menarik perhatian suku bangsa Khitan yang sejak dulu menjadi musuh besar. Kerajaan Khitan menduga bahwa tentu keadaan di kota raja menjadi kacau karena peralihan kekuasaan ini. Oleh karena itulah maka bala tentara Khitan lalu menyerbu dari utara. Juga kerajaan-kerajaan lain ingin mengambil keuntungan dari peralihan kekuasaan ini dan mereka mengadakan serangan ke perbatasan untuk memperlebar wilayah mereka, menggunakan kesempatan selagi para pemimpin pasukan di perbatasan kebingungan karena mendengar tentang pergantian kekuasaan di kota raja.

Mendengar tentang serangan-serangan dari empat penjuru ini, Kaisar Sung pertama menjadi marah dan segera mengirim pasukan-pasukan dan utusan-utusan ke perbatasan untuk membantu para pasukan lama di sana sambil mengangkat pemimpin lama menjadi pemimpin baru. Ada pun yang paling diperhatikan adalah serangan dari utara, dari suku bangsa Khitan, oleh karena memang dari suku bangsa Khitan inilah datangnya bahaya yang paling besar.

Untuk menghalau musuh lama ini, Kaisar Sung Thai Cu lalu mengerahkan sebuah barisan besar, dipimpin oleh panglima-panglima pembantunya yang setia dan gagah perkasa, serta pandai mengatur barisan. Selain ini juga kaisar yang bijaksana dan pandai mempergunakan tenaga ini memanggil Kim-mo Taisu dan minta bantuan pendekar ini untuk menyertai barisan besar itu melawan pasukan-pasukan Khitan yang terkenal kuat dan memiliki panglima-panglima yang berkepandaian tinggi pula.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo