August 1, 2017

Suling Emas (Part 2)

 

Melalui puterinya, ketua Beng-kauw ini hendak memancing-mancing ilmu silatnya untuk menambah perbendaharaan ilmu Pat-jiu Sin-ong! Karena tidak ingin menggunakan ilmu simpanannya untuk mengalahkan Lu Sian agar ia tidak usah menurunkan ilmu itu pada gadis ini, kembali Kwee Seng mengandalkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lebih tinggi dari pada kepandaian gadis itu untuk melesat ke sana ke mari, menyelinap di antara sambaran pedang Lu Sian yang seperti badai mengamuk itu. Akan tetapi belum lima belas jurus Lu Sian mainkan Ilmu Pedang Toa-hong-kian, ayahnya sudah berseru lagi.

“Lu Sian, pergunakan Pat-mo Kiam-hoat!”

Ilmu pedang Pat-mo-kiam (Pedang Delapan Iblis) ini sengaja diciptakan oleh Pat-jiu Sin-ong untuk mengimbangi Ilmu Pedang Pat-sian-kiam (Pedang Delapan Dewa) yang pernah ia hadapi dahulu. Hebatnya bukan kepalang.

Lu Sian kembali menurut perintah ayahnya dan gerakan pedangnya berubah lagi. Kini pedangnya tidak mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mendasarkan serangan pada penggunaan tenaga sinkang (tenaga sakti). Setiap tusukan atau bacokan mengandung tenaga mukjijat sehingga anginnya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat.

Kembali Kwee Seng kaget dan kagum. Seperti juga sifat Pat-sian-kiam yang ia kenal, ilmu pedang ini rapi sekali, seakan-akan dimainkan oleh delapan orang, namun Pat-mo-kiam mengandung sifat yang lebih ganas dan keji. Mendadak ia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Biar pun Pat-mo-kiam diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kiam, namun ilmu silat hanya sekedar teori atau peraturan gerakan belaka, yang terpenting adalah orangnya. Karena tingkatnya lebih tinggi dari pada tingkat Lu Sian, maka ia merasa sanggup mengalahkan Pat-mo-kiam yang dimainkan gadis ini dengan ilmu pedang Pat-sian-kiam.

Ia berseru keras dan tahu-tahu tangannya sudah mencabut ke luar sebuah kipas yang disembunyikan di dalam bajunya. Cepat ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian-kiam. Kipasnya mengeluarkan angin yang kuat sekali sehingga gulungan sinar pedang putih terdesak dan tiba-tiba Lu Sian berseru keras karena siku kanannya terkena totokan gagang kipas. Seketika tangannya kejang dan hampir saja ia melepaskan pedang, baiknya dengan gerakan yang cepat bukan main Kwee Seng sudah memulihkan totokan lagi sehingga gadis itu dapat menyambar pedangnya yang sudah terlepas tadi. Dasar gadis yang tak dapat menerima kekalahan, begitu pedangnya terpegang lagi ia terus menyerang dengan hebat!

“Aiihh…!” Kwee Seng berseru dan tubuhnya berkelebat.

Terpaksa ia mempergunakan ilmunya yang hebat, yaitu Pat-sian Kiam-hoat yang sudah ia gabung dengan Ilmu Kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Kipasnya mengebut pedang lawan, dan selagi pedang itu miring letaknya, gagang kipasnya menotok dan… kini seluruh tubuh Lu Sian menjadi kaku tak dapat digerakkan lagi! Kwee Seng cepat menempel pedang lawan dengan kipasnya, merampas pedang itu di antara kipas sambil jari tangan kirinya membebaskan totokan!

Lu Sian dapat bergerak lagi, akan tetapi pedangnya sudah terampas. Gadis itu marah bukan main, siap menerjang dengan tangan kosong berdasarkan kenekatan.

“Lu Sian, cukup! Haturkan terima kasih kepada calon suami atau gurumu! Ha-ha-ha!” teriak Pat-jiu Sin-ong sambil melompat ke atas panggung.

Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan Kwee Seng ini, sedangkan Lu Sian lari ke dalam tanpa menoleh lagi.

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong berkata lantang kepada para tamunya. “Sahabat mudaku Kwee Seng telah menang mutlak atas puteriku dan dia berhak menjadi calon mantuku. Akan tetapi, karena dia pun seorang aneh, tidak kalah anehnya dengan aku sendiri, hanya dia yang dapat menentukan apakah perjodohan ini diteruskan atau tidak. Betapa pun juga, ia sudah berjanji akan menurunkan ilmunya yang tadi mengalahkan puteriku kepada Liu Lu Sian. Suami atau guru, apa bedanya? Ha-ha-ha-ha-ha!”

Orang tua itu menggandeng tangan Kwee Seng untuk di ajak minum sepuasnya. Sedangkan para tamu mulai menaruh perhatian dan mempercakapkan pemuda pelajar yang tampaknya lemah-lembut itu. Beberapa orang tokoh tua segera mengenal Kwee Seng sebagai Kim-mo-eng dan mulai saat itu, terkenallah nama Kim-mo-eng Kwee Seng.

Tiga hari kemudian, Kwee Seng dan Lu Sian kelihatan menunggang dua ekor kuda keluar dari kota raja Kerajaan Nan-cao. Seperti telah ia janjikan, setelah memenangkan pertandingan ia akan mengajarkan ilmu kepada Lu Sian dan gadis itu harus menyertai peraturannya sampai menerima pelajaran itu.

Pat-jiu Sin-ong memberi dua ekor kuda yang baik, berikut seguci arak kepada Kwee Seng karena selama tiga hari di tempat itu, pemuda ini siang malam hanya makan minum dan mabuk-mabukan saja, manjadi seorang peminum yang luar biasa. Betapa pun juga, melihat mereka naik kuda berendeng, memang keduanya merupakan pasangan yang amat setimpal.

Wajah Lu Sian nampak berseri, karena betapa pun juga, menyaksikan sikap Kwee Seng, gadis ini dapat menduga bahwa sebetulnya pemuda yang tampan dan sakti ini jatuh hati kepadanya. Pandang mata pemuda itu dapat ia rasakan dan diam-diam merasa girang sekali. Memang sudah menjadi watak Lu Sian, makin banyak pria jatuh hati kepadanya makin giranglah hatinya, apalagi kalau kemudian ia dapat mematahkan hati orang-orang yang mencintainya itu!

“Kwee-koko (Kakanda Kwee), ke manakah kita menuju?” tanya Lu Sian dengan suara halus dan manis, bahkan mesra.

Kwee Seng memeluk guci araknya dan menoleh ke kiri. Melihat wajah ayu itu menengadah, mata bintang itu menatapnya dan mulut manis itu setengah terbuka, hatinya tertusuk dan cepat-cepat ia membuang muka sambil memejamkan matanya. “Ke mana pun boleh!” jawabnya tak acuh, lalu menenggak araknya sambil duduk di punggung kuda tanpa memegangi kendalinya.

“Eh, bagaimana ini? Kau yang mengajak aku. Biarlah kita ke timur, sampai ditepi sungai Wu-kiang yang indah. Bagaimana koko?”

“Hemm, baik. Ke lembah Wu-kiang!” jawab Kwee Seng.

Lu Sian membedal kudanya dan Kwee Seng masih tetap duduk sambil minum arak, akan tetapi kudanya dengan sendirinya mencongklang mengikuti kuda yang dibalapkan Lu Sian. Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari daerah kota raja, memasuki hutan. Kembali Lu Sian menahan kudanya, dan kuda Kwee Seng juga ikut berhenti.

“Kwee-koko, mengapa kau hanya minum saja? Kita melakukan perjalanan sambil bercakap-cakap, kan menyenangkan? Apa kau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku? Kwee-koko, hentikan minummu, kau pandanglah aku!” Mulai jengkel hati Lu Sian yang merasa diabaikan atau tidak diacuhkan.

Kwee Seng menoleh lagi ke kiri, makin terguncang jantungnya dan kembali ia menenggak araknya! “Nona, tidak apa-apa, aku senang melakukan perjalanan ini. Ah arak ini wangi sekali!”

Lu Sian cemberut dan tidak menjalankan kudanya. “Uh, wangi arak yang menjemukan! Masa kau tidak bosan- bosan minum setelah tiga hari tiga malam terus minum bersama ayah? Kwee-koko, aku pernah disebut ayah bunga kecil harum, dan orang-orang di sana semua mengatakan bahwa ada ganda harum sari seribu bunga keluar dari tubuhku. Apakah kau tidak mencium ganda harum itu?”

Kwee Seng tersentak kaget. Alangkah beraninya gadis ini! Alangkah bebasnya dan genitnya! Mengajukan pernyataan dan pertanyaan macam itu kepada seorang pemuda. Dia sendiri yang mendengarnya menjadi merah wajahnya, akan tetapi secara jujur ia berkata, “Memang ada aku mencium bau harum itu, Nona. Semenjak kita bertanding ganda harum itu tidak eh, tidak pernah terlupa olehku. Eh, bagaimana ini?!” Ia tergagap, dan untuk menutupi malunya kembali ia menenggak araknya.

Lu Sian menahan tawanya dan hatinya makin gembira. Kiranya laki-laki ini tiada bedanya dengan yang lain, makhluk lemah dan bodoh, canggung dan kaku kalau berhadapan dengan gadis ayu! Alangkah akan senang hatinya dapat mempermainkan laki-laki ini, mempermainkan pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, yang kesaktiannya menurut ayahnya ketika membisikkan pesan tadi, tidak berada di sebelah bawah tingkat ayahnya!

“Kwee Seng, berhenti!!” tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang pada saat Kwee Seng sedang minum araknya sambil di awasi oleh Lu Sian.

Gadis itu terkejut karena mengenal suara bentakan. Cepat ia membalikkan tubuh di atas punggung kudanya. “Ma-susiok (Paman Guru Ma)! Ada keperluan apakah Susiok menyusul kami?”

Biar pun masih duduk di atas kudanya membelakangi mereka yang baru datang, Kwee Seng tahu bahwa yang datang adalah dua orang. Kemudian ia merasa heran juga ketika mendengar suara Ma Thai Kun berubah sama sekali saat menjawab pertanyaan Lu Sian.

“Lu Sian, kau menjauhlah dulu. Urusan ini adalah urusan antara Kwee Seng dengan aku, Percayalah, tindakanku ini sesungguhnya demi kebaikan dirimu.”

Kwee Seng adalah seorang pemuda yang amat halus perasaannya. Ia maklum orang macam bagaimana adanya sute ke dua dari Pat-jiu Sin-ong ini, seorang kasar dan pemarah, sombong dan tinggi hati. Mengapa tiba-tiba terkandung getaran halus yang amat berlawanan dengan wataknya itu ketika bicara terhadap Lu Sian? Tiba-tiba ia teringat akan semua peristiwa di Nan-cao dan keningnya berkerut. Tahulah ia sekarang sebabnya dan sekaligus terbongkar sudah olehnya semua rahasia pembunuhan di Beng-kauw. Hal ini mendatangkan marah di hatinya.

“Nona, lebih baik kau menuruti permintaan susiok-mu. Kau minggirlah, dan biar aku bicara dengannya,” ujar Kwee Seng.

Liu Lu Sian tersenyum dan menjauhkan kudanya dengan wajah berseri. Hal inilah yang tidak dimengerti oleh Kwee Seng. Mengapa gadis itu malah tersenyum seperti orang bergembira padahal jelas bahwa paman gurunya mempunyai niat tidak baik terhadap dirinya? Ia tidak peduli, lalu meloncat turun dari atas kudanya dengan guci arak masih di tangan kiri, sambil membalik sehingga ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia sudah berhadapan dengan Ma Thai Kun dan seorang laki-laki muda yang sikapnya sungguh-sungguh tenang, berpakaian sederhana memakai caping dan punggungnya terhias sebatang cambuk. Ma Thai Kun merah mukanya, alisnya berkerut dan sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan.

“Ma Thai Kun, katakanlah kehendak hatimu sekarang.”

“Kwee Seng, kau seorang yang telah menghina Beng-kauw! Kau tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh Beng-kauw, mengandalkan kepandaian mengalahkan seorang wanita muda, mengandalkan mulut manis mengelabui seorang tua. Twa-suheng boleh saja kau kelabui, akan tetapi aku Ma Thai Kun takkan membiarkan kau pergi menggondol keponakanku begitu saja untuk melaksanakan niatmu yang kotor!”

“Wah-wah! Hatimu dan pikiranmu sendiri belepotan noda, kau masih bicara tentang niat kotor orang lain. Bagus sekali mengenal tangan mautmu yang telah kau pergunakan untuk membunuh tujuh orang pemuda di rumah penginapan dan tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Nona Liu Lu Sian!”

“Ma-susiok! Betulkah itu?” Tiba-tiba Lu Sian yang mendengar kata-kata ini bertanya dengan suara terdengar gembira. Benar-benar Kwee Seng tidak mengerti dan sekali lagi ia terheran-heran atas sikap Lu Sian ini.

Merah wajah Ma Thai Kun. “Memang betul aku membunuh mereka. Cacing-cacing tanah itu tak tahu malu dan berani mengharapkan yang bukan-bukan. Orang-orang macam mereka mana patut memikirkan Lu Sian? Aku membunuh mereka apa sangkut-pautnya dengan kau, Kwee Seng?”

“Suheng…! Kenapa kau lakukan kekejaman itu? Bukankah Ji-suheng sudah melarang kita…,” orang muda bertopi runcing itu bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.

“Sute, tak usah kau turut campur! Kau anak kecil tahu apa!”

Kwee Seng tertawa bergelak. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa orang muda yang menjadi adik seperguruan Ma Thai Kun ini seorang yang jauh bedanya dengan saudara-saudara seperguruannya, jauh lebih bersih batinnya.

“Ma Thai Kun, memang urusan dengan pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi pembunuhan keji itu tak boleh kudiamkan saja tanpa menegurmu. Apalagi kau masih menitipkan sebuah benda kepadaku, apakah kau tidak ingin memintanya kembali?” Sambil berkata demikian, Kwee Seng mengeluarkan sebatang jarum merah dari saku bajunya. “Kau mengenal ini? Kau menghadiahkan ini kepadaku selagi aku tidur, dan untuk kebaikan hati itu aku belum membalasnya,” Kwee Seng menyindir.

Berubah wajah Ma Thai Kun. “Kau… kaukah jahanam itu…?” bentaknya dan tanpa memberi peringatan lagi ia sudah menerjang ke depan, menggerakkan kedua tangannya mengirim serangan maut dengan pukulan- pukulan yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya.

“Aii… aiih… inikah tangan maut yang mengandung racun merah itu?” Kwee Seng mengelak sambil mengejek.

Tiba-tiba dari dalam guci arak itu melesat ke luar bayangan merah dari arak yang muncrat dan menyerang muka Ma Thai Kun. Biar pun hanya benda cair, karena arak itu digerakkan oleh tenaga lweekang maka terasa seperti tusukan jarum. Ma Thai Kun cepat mengibaskan tangannya dan hawa pukulannya membuat arak itu pecah bertebaran. Akan tetapi mendadak sebuah guci arak yang sudah kosong melayang ke arah kepalanya. Ma Thai Kun menangkis dengan tangan kirinya.

“Brakkk!” guci itu pecah pula berkeping-keping.

Namun Kwee Seng sudah merasa puas. Serangannya yang mendadak dapat memecahkan rahasia gerakan Ma Thai Kun, maka ia sudah dapat menyelami dasarnya. Maka ketika Ma Thai Kun menerjangnya lagi, ia menyambut dengan gerakan kedua tangan yang sama kuatnya. Kwee Seng tidak mengeluarkan senjata melihat lawannya juga bertangan kosong.

Memang di antara para saudara seperguruannya, Ma Thai Kun terkenal seorang ahli silat tangan kosong yang tak pernah menggunakan senjata. Namun kedua tangannya merupakan sepasang senjata yang mengandung racun, menggila dahsyatnya dan ampuhnya! Jarang ia menemui tandingan, apalagi kalau lawannya juga bertangan kosong. Baru beradu lengan dengannya saja sudah merupakan bahaya bagi lawan.

Namun kali ini Ma Thai Kun kecelik. Lawannya biar pun masih muda, namun telah memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi sekali. Tanpa diisi lweekang pun, kedua lengannya itu telah kebal terhadap hawa-hawa beracun yang betapa ampuhnya juga. Ketika ia merantau dan berguru kepada pertapa-pertapa di pegunungan Himalaya, ia telah melatih dan menggembleng kedua lengannya dengan obat-obat mukjijat, juga di dalam pertempuran berat ia selalu ‘mengisi’ kedua lengannya dengan hawa sakti dari dalam tubuhnya.

Pertandingan itu hebat bukan main. Setiap gerakan tubuh, baik tangan mau pun kaki, membawa angin dan menimbulkan getaran. Bahkan tanah yang mereka jadikan landasan serasa tergetar oleh tenaga-tenaga dalam yang tinggi tingkatnya. Beberapa kali Ma Thai Kun menggereng dalam pengerahkan tenaga racun merah, disalurkan sepenuhnya ke dalam lengan yang beradu dengan lengan lawan. Namun akibatnya, dia sendiri yang terpental dan merasa betapa hawa panas di lengannya membalik. Makin merahlah ia dan terjangannya makin nekat.

“Ma Thai Kun, manusia macam kau ini semestinya patut dibasmi. Akan tetapi mengingat akan persahabatan dengan Pat-jiu Sin-ong, melihat pula muka nona Liu Lu Sian yang masih terhitung murid keponakan dan melihat muka adik seperguruanmu yang bersih hatinya, aku masih suka mengampunkan engkau. Pergilah!”

Sambil berkata demikian, tiba-tiba Kwee Seng merendahkan tubuhnya, setengah berjongkok dan kedua lengannya mendorong ke depan. Inilah sebuah serangan dengan tenaga sakti yang hebat. Tidak ada angin bersiut, akan tetapi Ma Thai Kun merasa betapa tubuhnya terdorong tenaga yang hebat dan dahsyat. Ia pun merendahkan diri, mendorongkan kedua lengannya untuk bertahan. Namun akibatnya, terdengar bunyi berkerotokan pada kedua lengannya dan tubuhnya terlempar seperti layang-layang putus talinya, lalu ia roboh terguling dan kedua lengannya menjadi bengkak-bengkak.

“Orang she Kwee, kau melukai suhengku, terpaksa aku membelanya!” kata orang muda bertopi runcing sambil melepaskan cambuknya dari punggung.

“Saudara yang baik, siapakah namamu?” Kwee Seng bertanya, suaranya halus. “Aku bernama Kauw Bian, saudara termuda dari Twa-suheng Liu Gan.”
“Hemm, kulihat kau seorang yang jujur dan baik. Mengapa engkau hendak membela orang yang menyeleweng dari pada kebenaran?”

“Tindakan Sam-suheng memang tidak kusetujui, akan tetapi sebagai sute-nya, melihat seorang suheng-nya terluka oleh lawan, bagaimana aku dapat diam? Kewajibankulah untuk membelanya! Orang she Kwee, hayo keluarkan senjatamu dan lawanlah cambukku ini!” Setelah berkata demikian, Kauw Bian menggerakkan cambuknya keatas dan terdengar bunyi bergeletar nyaring sekali.

Diam-diam Kwee Seng kagum sekali. Cambuk itu biar pun kelihatan seperti cambuk biasa, namun di tangan orang ini dapat menjadi senjata yang ampuh sekali. Dan ia kagum akan isi jawaban yang membayangkan kejujuran budi dan kesetiaan yang patut dipuji. Maka Kwee Seng segera menjura dan berkata. “Kauw- enghiong, sikapmu membuat aku lemas dan aku mengaku kalah terhadapmu. Maafkanlah, aku tidak mungkin mengangkat senjata melawan seorang yang benar, dan aku pun percaya kau tidak seperti Suheng-mu untuk menyerang seorang yang tidak mau melawan.”

Setelah berkata demikian, Kwee Seng melompat keatas kudanya, menoleh kepada Lu Sian sambil berkata, “Nona, terserah kepadamu ingin melanjutkan perjalanan bersamaku atau tidak.” Lalu ia melarikan kudanya pergi dari situ.

Liu Lu Sian tercengang sejenak. Gadis ini lalu tersenyum dan membedal kudanya pula, mengejar kuda pemuda yang sudah cukup jauh. Tinggal Kauw Bian yang masih memegang pecut, tidak tahu harus berbuat apa dan hanya dapat memandang dua buah bayangan yang makin lama makin kecil dan akhirnya lenyap itu.

“Kauw Bian-sute! Adik macam apa kau ini? Kenapa tidak kau serang dia?”

Kauw Bian terkejut dan cepat menoleh. Kiranya Ma Thai Kun sudah berdiri di belakangnya, meringis kesakitan dan ke dua lengannya masih bengkak-bengkak.

“Tidak mungkin, Suheng. Dia tidak mau melawanku, bagaimana aku bisa menyerang orang yang tidak mau melawan?”

“Uhhh, dasar kau lemah….”

Mendadak Ma Thai Kun menghentikan omelannya karena tiba-tiba bertiup angin dan sesosok tubuh tinggi besar melayang turun. Kiranya Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang datang. Jelas bahwa tokoh ini marah, sepasang matanya melotot memandang Ma Thai Kun dan begitu kakinya menginjak tanah, ia lalu membentak.

“Ma Thai Kun! Bagus sekali perbuatanmu, ya? Kau layak dipukul seperti anjing!” Tangan kiri Liu Gan bergerak dan….

“Plakkk, plakkk!” telapak dan punggung tangan Pat-jiu Sin-ong sudah menampar cepat sekali mengenai sepasang pipi Ma Thai Kun yang terhuyung-huyung ke belakang. Pucat muka Ma Thai Kun dan matanya menyipit bercahaya ketika berdongak memandang.

“Twa-suheng, apa kesalahanku?”

“Masih bertanya tentang kesalahannya lagi? Anjing hina kau! Kau, tua bangka, kau berani menaruh hati cinta kepada puteriku, keponakanmu? Penghinaan besar sekali ini, tidak dapat diampunkan!”

“Suheng, apa buktinya?”

“Setan alas! Kau kira aku tidak tahu akan segala perbuatanmu? Sebelum kau membunuhi pemuda-pemuda itu, pada malam hari itu kau membujuk-bujuk Lu Sian dengan kata-kata merayu, kau menyatakan cintamu dan minta kepada Lu Sian agar jangan mau diadakan pemilihan jodoh. Huh, tak malu! Dan kau begitu cemburu dan membunuhi para pemuda yang tergila-gila kepada Lu Sian, malah engkau membunuh tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Lu Sian. Kemudian sekarang kau berani mampus menghadang Kwee Seng sehingga dikalahkan dan karenanya menampar mukaku. Keparat!!”

Mendengar ini semua, Kauw Bian mukanya sebentar merah sebentar pucat saking heran, terkejut, dan bingung mendengar kelakuan Sam-suheng (Kakak Seperguruan ke Tiga). Namun Ma Thai Kun malah tersenyum.

“Twa-suheng, semua itu memang benar! Akan tetapi, apa salahnya kalau aku mencinta Lu Sian? Dia wanita dan aku laki-laki! Agama kita tidak melarang akan hal ini, tidak melarang perjodohan antar keluarga, apalagi antara kita hanya ada hubungan keluarga seperguruan. Twa-suheng, memang aku mencinta Lu Sian dengan sepenuh jiwaku. Lu Sian sendiri tidak marah mendengar pengakuanku, mengapa Suheng marah-marah?”

Gemertak bunyi gigi dalam mulut Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. “Jahanam hina! Apa kau kira menjadi tanda bahwa dia membalas cintamu? Huh, goblok dan hina! Lu Sian selalu akan gembira mendengar orang laki-laki jatuh cinta kepadanya, karena ia ingin menikmati kelucuan badut-badut itu! Kau sama sekali tidak memandang mukaku, maka kau harus binasa sekarang juga!” Liu Gan sudah bergerak maju, akan tetapi ia menarik kembali tangannya ketika melihat Kauw Bian melompat ke tengah menghalanginya.

“Kau… Kauw Bian Sute, mau apa??”

“Maaf, Twa-suheng. Terus terang saja siauwte sendiri tidak setuju perbuatan Ma-suheng itu. Akan tetapi, Twa- suheng, betapa pun besar kesalahannya, kiranya tidaklah baik kalau Twa-suheng menjatuhkan hukuman mati kepada Ma-suheng. Pertama, mengingat akan saudara seperguruan, ke dua hal itu akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw dan merendahkan nama besar Twa-suheng, malah menyeret pula nama Beng- kauw yang kita cintai. Betapa dunia kang-ouw akan gempar kalau mendengar bahwa ketua Beng-kauw membunuh adik seperguruannya sendiri.”

Liu Gan mengerutkan kening, menarik napas panjang dan memeluk sute-nya yang paling muda dan memang paling ia sayangi itu. “Ah, Siauw-sute! Kau masih begini muda namun pandanganmu luas, pikiranmu sedalam lautan. Untung ada engkau yang dapat menahan kemarahanku. Eh, Ma Thai Kun, minggatlah kau! Mulai detik ini, aku tidak sudi lagi melihat mukamu. Dan kalau kau berani muncul di depanku, hemmm, aku tidak peduli lagi, pasti aku akan membunuhmu!”

Ma Thai Kun menjura dalam-dalam lalu membalikkan tubuh dan lenyap di antara pohon-pohon. Kauw Bian menarik napas panjang dan mengusap dua titik air matanya dari pipi.

“Kau menangis, Sute?” Liu Gan bertanya heran.

Dengan suara serak Kauw Bian menjawab, masih membalikkan tubuh memandang ke arah perginya Ma Thai Kun. “Perbuatan manusia selalu mendatangkan kebaikan dan keburukan, Twa-suheng. Kalau kita mengingat yang buruk-buruk saja memang dapat menimbulkan benci. Akan tetapi saya teringat akan kebaikan-kebaikan Ma-suheng selama menjadi kakak seperguruan, dan bagaimana hati saya takkan sedih melihat dia pergi untuk selamanya? Betapa pun juga, beginilah agaknya yang paling baik. Dengan penuh duka adikmu ini melihat betapa pun juga Ma-suheng pergi membawa serta dendam dan kebencian yang hebat, yang tentu akan membuatnya nekat dan melakukan hal-hal yang berbahaya. Akan tetapi karena Twa-suheng mengusirnya, berarti bahwa semua perbuatannya tiada sangkut-pautnya dengan Beng-kauw.”

Mendengar kata-kata ini, berkerut kening Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. “Hemmm, agaknya benar lagi pendapatmu tentang baik buruk yang lekat pada perbuatan manusia. Kwee Seng kelihatan seorang yang pilihan, akan tetapi siapa tahu sewaktu-waktu sifat buruknya akan menonjol pula. Kauw Bian Sute, kau kembalilah dan bantulah Suheng-mu Liu Mo menjaga Beng-kauw dan beri laporan kepada Sri Baginda bahwa aku akan merantau selama dua tiga bulan.”

“Twa-suheng hendak membayangi perjalanan Kwee Seng dan Lu Sian? Itu baik sekali, Twa-suheng, karena perjalanan bersama antara seorang pria dan wanita, sungguh merupakan bahaya besar yang bahayanya lebih banyak mengancam si wanita dari pada si pria.”

“Sute, kau benar-benar berpemandangan tajam. Nah, aku pergi!” Pat-jiu Sin-ong Liu Gan berkelebat, angin menyambar dan ia sudah lenyap dari depan Kauw Bian. Pemuda yang berpakaian sederhana seperti pengembala ini menarik napas panjang saking kagumnya, kemudian ia pun melangkah pergi dari hutan itu.

Musim dingin telah tiba, dan melakukan perjalanan pada musim dingin bukanlah hal yang menyenangkan atau mudah. Apalagi kalau hanya menunggang kuda tanpa ada tempat untuk berlindung dari serangan hawa dingin yang menusuk tulang, tidak mengenakan baju bulu yang tebal, tentu perjalanan itu akan mendatangkan sengsara dan juga bahaya mati kedinginan. Namun, tidak demikian agaknya bagi Kwee Seng dan Liu Lu Sian. Dua orang muda ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan pendekar-pendekar yang sudah gemblengan yang dengan ilmunya telah dapat menyelamatkan diri dari pada serangan hawa dingin tanpa bantuan benda luar seperti baju tebal dan selimut. Mereka melakukan perjalanan seenaknya dan hanya mengaso kalau kuda yang mereka tumpangi sudah lelah dan kedinginan.

Pada siang hari itu, mereka mengaso di pinggir Sungai Wu-kiang yang mengalirkan airnya perlahan-lahan ke jurusan timur. Airnya tampak tenang dan sedikit pun tidak bergelombang, membayangkan bahwa sungai itu amat dalam. Lu Sian menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh dua ekor kuda mereka, juga dengan bantuan api, mereka merasa nikmat dan hangat.

“Kwee-koko, sudah dua pekan kita melakukan perjalanan, akan tetapi belum juga kau penuhi dua permintaanku,” Lu Sian berkata sambil mengorek-orek kayu membesarkan nyala api.

“Nona….”

“Nah, yang dua belum dipenuhi, yang satu dilanggar pula. Berapa kali sudah kukatakan supaya kau jangan menyebut Nona kepadaku? Wah, pelajar apakah kau ini, begitu pikun dan kurang perhatian? Mana bisa maju mempelajari sastra yang begitu sulitnya!”

Kwee Seng menarik napas panjang. Gadis ini memang hebat. Tidak saja benar-benar mempunyai kecantikan yang asli dan gilang-gemilang, yang cukup meruntuhkan hatinya, namun juga memiliki watak yang kadang- kadang membuat ia bertekuk lutut karena ia jatuh hatinya. Watak yang berandalan, namun seakan-akan dapat menambah terangnya sinar matahari, menambah merdu kicau burung, menambah meriah suasana dan menjadikan segala apa yang tampak berseri-seri. Akan tetapi, juga makin yakin hatinya bahwa di balik segala keindahan, segala hal-hal yang menjatuhkan hatinya ini, tersimpan sifat-sifat lain yang amat bertentangan dengan hatinya. Sifat kejam dan ganas, tidak mempedulilkan orang lain, terlalu cinta kepada diri sendiri, dan tidak mau kalah, ingin selalu menang dan berkuasa saja.

“Memang aku seorang pelajar yang gagal, tidak lulus ujian.” Ia menjawab, kemudian menambahkan. “Kau minta aku menceritakan riwayatku, apakah gunanya? Aku tidak ada riwayat yang pantas menjadi cerita. Aku seorang sebatang kara, yatim piatu, miskin dan gagal. Apalagi? Tentang permintaanmu ke dua mempelajari ilmu silat yang sedikit-sedikit aku bisa, nantilah, belum tiba saatnya.”

“Wah, kau jual mahal, Koko!” Lu Sian mengejek dan mengisar duduknya mendekati pemuda itu. Memang demikianlah selalu sikap Lu Sian, terhadap siapapun juga. Jinak-jinak merpati, tampaknya jinak tapi tak mudah didekati! “Hawa begini dingin, kalau ditambah sikapmu, bukankah kita akan menjadi beku? Eh, Kwee-koko, kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah seorang ahli silat yang lihai, kau ini pelajar gagal dan murung mengingatkan aku akan seorang penyair yang sama segalanya dan sama murungnya dengan engkau… hi hik…!” Gadis ini menutup mulutnya dengan tangan, akan tetapi matanya jelas mentertawakan Kwee Seng.

“Penyair mana yang kau maksudkan?” Biar pun tahu gadis itu hanya menggodanya, namun bicara tentang syair dan menyair selalu menimbulkan kegembiraan bagi Kwee Seng.

“Siapa lagi kalau bukan Tu Fu! Pernah aku mendengar ayah bicara tentang syair-syairnya, mengerikan!”

“Mengapa mengerikan kalau dia selalu mencurahkan isi hatinya berdasarkan kenyataan dan terdorong oleh rasa kasihan kepada sesamanya?”

“Bukan rasa kasihan kepada sesamanya, Koko, Melainkan rasa kasihan kepada diri sendiri! Karena keadaannya miskin terlantar, dia pandai bicara tentang kemiskinan. Coba dia itu kaya raya, atau andai kata tidak kaya harta benda, sedikitnya kaya akan cinta kasih kepada alam seperti penyair yang seorang lagi… eh, siapa itu yang suka memuji-muji alam, yang suka… mabok-mabokan, gila arak seperti kau pula….”

“Kau maksudkan penyair Li Po?”

“Ya, dia itulah. Kalau Seperti Li Po yang memandang dunia dari segi keindahan, tentu dalam kemiskinannya Tu Fu takkan begitu pahit dan pedas sajak-sajaknya. Wah, aku seperti mengajar itik berenang! Kau tentu lebih tahu dan pandai. Aku paling ngeri mendengar syair Tu Fu tentang anggur, daging dan tulang. Bagaimana bunyinya, Kwee-koko?”

Kwee Seng meramkan mata, menengadahkan mukanya yang tampan ke atas lalu mengucapkan syair ciptaan Tu Fu dengan suara bersemangat, terpengaruh oleh isi sajak yang memaki-maki keadaan pada waktu itu.

Di sebelah dalam pintu gerbang merah, hangat indah serba mewah,
anggur dan daging bertumpuk-tumpuk, sampai masam rusak membusuk!
Di sebelah luar pintu gerbang merah,
dinding kotor serba miskin,
berserakan tulang-tulang rangka mereka, yang mati kedinginan dan kelaparan!

“Iiiihhh! Itu bukan sajak namanya!” Lu Sian mencela, kelihatan jijik dan ngeri, “Tidak enak benar mendengarkan sajak seperti itu.”

“Memang sajak itu keras dan tegas, agak berlebihan, namun mengandung kegagahan yang tiada bandingnya, Non… eh, Moi-moi.”

Sepasang bibir indah merah terbelah memperlihatkan kilatan gigi seperti mutiara ketika Lu Sian mendengar sebutan moi-moi (dinda) itu. Diam-diam ia mentertawakan Kwee Seng di dalam hatinya. Katakanlah kau menang dalam ilmu silat, boleh kau mengira dirimu gagah perkasa dan tampan, namun alangkah mudahnya kalau aku mau menjatuhkanmu, membuatmu bertekuk lutut di depan kakiku! Demikianlah nona ini berkata dalam hatinya.

“Eh, apakah dia itu pun pandai ilmu silat seperti kau, Kwee-koko?”

“Biar pun aku juga hanya seorang bodoh, akan tetapi sedikit banyak mengerti ilmu silat, sedangkan mendiang Tu Fu benar-benar seorang sastrawan yang tak tahu bagaimana caranya memegang gagang pedang, tahunya hanya memegang gagang pensil.”

“Kalau begitu dia orang lemah. Bagaimana gagah tiada bandingnya?”

“Moi-moi, kau tidak tahu. Biar pun orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali pada waktu itu, tak mungkin ia berani melontarkan kata-kata yang seperti bunyi sajak itu, karena dapat dicap sebagai pemberontak dan di hukum mati!”

“Tapi aku lebih kagum kepada penyair Li Po. Masih teringat aku akan sajaknya yang benar-benar membayangkan kegagahan, kalau tidak salah begini:

Alangkah inginku dapat terbang dengan pedang sakti di tangan, menyebrangi samudera untuk membunuh ikan paus pengganggu nelayan!

Ketika mengucapkan sajak ini, Lu Sian bangkit berdiri. Kedua kakinya terpentang, tubuhnya tegak, dada membusung penuh semangat, serta kelihatan gagah dan cantik jelita. Suaranya bersemangat, merdu dan penuh perasaan sehingga Kwee Seng melihat dan mendengar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga! Ia berada dalam keadaan seperti itu dan baru tersipu-sipu membuang muka ketika Lu sian memandangnya dan bertanya.” Kau kenapa, Koko?”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa… kau pandai membaca sajak, Moi-moi…,” kata Kwee Seng gagap.

Akan tetapi terdengar gadis itu terkekeh tertawa, suara ketawa yang mengandung banyak arti. Gadis itu masih tersenyum-senyum dan sinar matanya mengerling tajam penuh ejekan ketika mereka bangkit berdiri dan berhadapan. Lu Sian menggerakkan kakinya perlahan mendekati, sampai dekat benar, sampai terasa benar oleh hidung Kwee Seng keharuman yang luar biasa keluar dari tubuh gadis itu. Wajah jelita itu dekat sekali dengan wajahnya, wajah yang berseri dengan mata bersinar-sinar dan bibir terbuka menantang dikulum senyum. Serasa terhenti detak jantung Kwee Seng, bobol pertahanannya dan dengan nafsu yang memabokkan pikirannya didekapnya pundak Lu Sian dalam rangkulan dan ditundukkannya mukanya untuk mencium.

Akan tetapi tiba-tiba Lu Sian menundukkan mukanya sehingga yang tercium oleh Kwee Seng hanyalah rambutnya, rambut yang harum menyengat hidung. Tiba-tiba terdengar gadis itu bertanya, suaranya dingin aneh, penuh cemooh. “Hai, Kwee Seng pendekar muda yang sakti, pertapa belia tahan tapa dan si teguh hati, apakah yang akan kau perbuat ini?”

Kwee Seng gelagapan, seakan mukanya disiram air salju. Mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah. Dilepaskannya dekapan tangannya dan ia membuang muka, lalu menundukkannya. “Maaf… ah, maafkan aku. Seperti sudah gila aku tadi… ah, Nona Liu, maafkan aku. Kenapa kau begitu… begitu jelita dan… dan… keji…?”

Liu Lu Sian tertawa. Suara tawanya merdu sekali, akan tetapi juga penuh dengan ejekan. “Kwee-koko, kau ingatlah. Agaknya kemuraman penyair Tu Fu menularimu. Mari kita lanjutkan….”

Tiba-tiba Kwee Seng mendorong gadis itu, yang segera meloncat bermodal tenaga dorongan Kwee Seng. Pemuda itu sendiri juga sudah meloncat ke belakang dengan gerakan cepat. Sambil mengeluarkan bunyi berciutan menyambarlah lima batang senjata piauw (pisau terbang) dan menancap ke dalam batang pohon. Tidak hanya berhenti di situ saja penyerangan gelap ini karena dari tiga penjuru menyambarlah bermacam- macam senjata rahasia menghujani tubuh Kwee Seng dan Lu Sian.

Akan tetapi kini dua orang muda yang berilmu tinggi itu kini sudah siap sedia dan waspada, dengan mudah mereka menyelamatkan diri. Lu Sian sudah mencabut pedangnya dan dengan putaran pedangnya secara indah dan cepat, semua piauw jarum dan senjata rahasia paku beracun dapat ia pukul runtuh. Ada pun Kwee Seng sendiri hanya dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya saja. Ujung lengan bajunya mengeluarkan angin pukulan, cukup membuat semua senjata rahasia menyeleweng dan tidak mengenai dirinya.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, dan ternyata dua ekor kuda mereka telah dilarikan orang.

”Keparat hina dina!” Lu Sian melompat, pedangnya berkelebat dan dua orang yang menunggang kuda mereka terjungkal, tak bernyawa lagi!

“Ah, Moi-moi, kenapa begitu ganas?” Kwee Seng menegur penuh sesal sambil memegangi kendali kudanya yang terkejut dan akan memberontak.

“Penjahat rendah yang telah menyerang secara pengecut, lalu hendak mencuri kuda, sudah sepatutnya dibunuh,” kata Lu Sian dengan suara dingin sambil menyarungkan kembali pedangnya.

Kwee Seng membungkuk sambil memeriksa dua orang itu. Pakaian mereka tidak menunjukkan orang-orang miskin, juga rapi tidak seperti maling-maling kuda biasa. Akan tetapi, bekas tusukan pedang Lu Sian hebat sekali, mereka itu sudah mati dan tak dapat ditanya lagi.

“Justru karena mereka mengandalkan banyak orang dan secara menggelap menyerang kita, perlu kita ketahui apa latar belakangnya. Dua ekor kuda kita, biar pun merupakan kuda pilihan, kiranya belum patut menggerakkan hati orang-orang kang-ouw untuk merampasnya. Tentu saja ada apa-apa di belakang semua ini, namun sayang, mereka sudah mati tak dapat ditanya lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan. Dua mayat ini tentu akan diurus oleh teman-temannya. Melihat datangnya senjata-senjata rahasia tadi, kurasa mereka tidak kurang dari lima orang banyaknya. Kau hati-hatilah, Moi-moi, kurasa orang-orang yang memusuhi kita takkan berhenti sampai di sini saja.”

Lu Sian mengangkat kedua pundak, memandang rendah sekali kepada ancaman musuh, lalu melompat ke atas punggung kudanya. Dua orang muda itu segera menjalankan kuda ke timur mengikuti sepanjang lembah sungai Wu-kiang.

Melihat Kwee Seng naik kuda dengan wajah muram dan alis berkerut, diam saja tanpa mengeluarkan kata- kata dan sama sekali tak pernah menoleh kepadanya, Lu Sian bertanya, “Koko, apakah kau masih marah kepadaku?”

Tanpa menoleh Kwee Seng berkata lirih, “Kenapa marah? Tidak!”

Diam pula sampai lama. Hanya suara derap kaki kuda mereka yang berjalan congklang. Dari jauh tampak tembok sebuah kota. Itulah kota Kwei-siang yang terletak di tepi sungai.

“Kwee-koko….”

“Hemm, ada apakah…?”

“Kau lihat aku. Tidak enak bicara dengan orang yang tunduk saja. Apa kau tidak sudi memandang mukaku lagi?”

Mau tidak mau Kwee Seng menoleh. Wajahnya seketika menjadi merah ketika ia melihat wajah gadis itu berseri-seri, sepasang matanya mengeluarkan cahaya yang bersinar tajam menembusi jantungnya, yang seakan-akan mengandung penuh pengertian, yang menjenguk isi hatinya sehingga Kwee Seng merasa seperti ditelanjangi, seperti telah terungkapkan semua rahasia perasaan dan hatinya.

“Sian-moi, (adik Sian), kau mau bicara apakah?” Kwee Seng mengeraskan hatinya, menekan perasaan. “Kwee-koko, kau telah jatuh hati kepadaku, bukan? Kau mencintaiku sepenuh hatimu!”
Sejenak Kwee Seng menjadi pucat wajahnya. Bukan main, pikirnya. Gadis ini benar-benar berwatak siluman! Pertanyaan macam ini benar-benar tak mungkin diajukan oleh gadis mana pun juga. Ia tahu bahwa pertanyaan ini disengaja oleh Lu Sian, dan ia maklum pula bahwa gadis ini, sepeti seekor kucing, hendak mempermainkannya seperti seekor tikus. Ia merasa betapa jantungnya tertusuk, akan tetapi Kwee Seng adalah pemuda gemblengan. Cepat ia dapat memulihkan ketenangannya dan mukanya berubah merah kembali.

“Tak perlu aku menyangkal, Moi-moi. Aku memang jatuh hati kepadamu. Kau terlalu cantik jelita, pribadimu mengeluarkan daya tarik seperti besi sembrani yang tak dapat kulawan. Kini aku balas bertanya, apakah kau tidak mencintaiku?”

Lu Sian kelihatan gembira dan senang sekali. Gadis ini menggerak-gerakkan kepalanya, matanya bersinar- sinar dan ia tertawa sambil menengadahkan muka ke atas. “Aku? Mencintaimu? Ah, aku tidak tahu, Koko. Aku takkan begitu tergesa-gesa seperti engkau mengambil keputusan tentang cinta. Belum cukup lama aku mengenalmu. Kau terlalu lemah lembut, terlalu muram. Biarlah aku mempelajarimu lebih dulu. Bukankah ayah telah memberi kesempatan kepadamu untuk mengawiniku, mengapa kau menolak dan malah berjanji akan menurunkan ilmu kepadaku?”

“Aku memang cinta kepadamu, Sian-moi, akan tetapi tentang kawin… ah, terlalu banyak aku melihat kekejian- kekejian di Beng-kauw, terlalu banyak aku melihat keganjilan-keganjilan yang mengerikan. Dan kau sendiri… ah, kurasa takkan mungkin kau bisa mencinta pria secara lahir batin. Aku cinta pribadimu, tapi mungkin aku tidak menyukai watakmu dan keluargamu!”

Kembali Lu Sian tertawa sambil menutupi mulut dengan tangannya. Kwee Seng makin heran. Benar-benar gadis yang aneh. Aneh dan berbahaya sekali. Ia tadi sengaja berterus terang untuk membalas agar gadis ini merasa terpukul. Akan tetapi kiranya gadis itu malah mentertawakannya!

“Hi-hik, kau lucu, Kwee-koko. Aku pun belum percaya akan cintamu kalau kau belum buktikan dengan berlutut menyembah-nyembah kakiku!” Setelah berkata demikian, gadis itu berseru keras dan menyendal kendali kudanya sehingga binatang itu terkejut dan membalap ke depan.

Kwee Seng terheran-heran, lebih heran dari pada terhina oleh ucapan aneh itu. Akan tetapi ia merasa lega bahwa gadis itu mengakhiri percakapan yang menyakiti hatinya, maka ia pun lalu membedal kudanya mengejar, memasuki kota Kwei-siang.

Hari telah menjelang senja ketika mereka berdua memasuki kota Kwei-siang. Mereka mencari sebuah rumah penginapan yang juga membuka rumah makan di bagian depan. Seorang pelayan penginapan tergopoh-gopoh menyambut mereka, merawat kuda dan memberi dua buah kamar yang mereka minta. Setelah ke dua orang muda ini membersihkan diri dari debu dan keringat, berganti pakaian bersih, mereka lalu mengambil tempat duduk di rumah makan dan memesan makanan. Kwee Seng yang masih belum lenyap rasa tekanan hatinya, lebih dulu memesan seguci arak yang paling baik.

“Wah, kau mau mabok-mabokan lagi Koko? Benar-benar menjengkelkan! Aku malam ini ingin sekali bercakap- cakap denganmu sampai semalam suntuk!”

Sambil menuangkan arak pada cawannya, Kwee Seng menjawab, memaksa senyum, karena kadang-kadang, seperti sekarang ini sikap Lu Sian yang kekanak-kanakan mengelus dan menghibur hatinya, melenyapkan rasa sakit akibat ucapan-ucapan yang menusuk dari gadis itu pula.

“Biar pun minum arak bukan kebiasaanku dan baru saja hinggap padaku semenjak aku berjumpa denganmu, Moi-moi, akan tetapi aku tak akan begitu mudah mabok. Bercakap-cakap sambil minum kan dapat juga.”

“Ihhh, siapa bilang? Biar kau tidak mabok, akan tetapi kau lebih mencurahkan perhatianmu pada arak, dan… eh, Koko, lihat mereka itu….”

Tiba-tiba Lu Sian menghentikan kata-katanya ketika melihat beberapa orang laki-laki muncul seorang demi seorang dari pintu depan dengan gerak-gerik mencurigakan sekali. Yang pertama masuk adalah seorang laki- laki yang berwajah muram, mukanya licin tidak berjenggot, pakaiannya kumal, di punggungnya terselip sebatang golok telanjang, usianya kurang lebih empat puluh tahun. Orang ini berjalan dengan gerakan kaki ringan seperti seekor kucing, dan ketika memasuki pintu, matanya mengerling ke arah tempat duduk Kwee Seng dan Lu Sian.

Karena Kwee Seng duduk membelakangi pintu, maka Lu Sian yang berhadapan dengannya lebih dulu melihat dan tertarik. Apalagi ketika berturut-turut masuk lima orang laki-laki lain di belakang Si Pembawa Golok. Dua orang berpakaian tosu (pendeta To), seorang laki-laki setengah tua yang tampan dengan rambut digelung ke atas, kemudian seorang pemuda tampan yang pakaiannya seperti pelajar akan tetapi di pinggangnya tergantung pedang, kemudian yang terakhir adalah seorang hwesio (pendeta Buddha) berkepala gundul yang membawa sebatang tongkat besi yang berat. Enam orang ini terang bukanlah orang-orang sembarangan karena gerak-gerik mereka ringan dan gesit.

“Koko, kau lihat mereka…” bisik pula Lu Sian.

“Moi-moi, mari kita minum, hal-hal lain tidak perlu dihiraukan,” kata Kwee Seng yang sikapnya tetap tenang seakan-akan tidak ada apa-apa.

Kemudian pemuda ini minum araknya dari cawan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tahu-tahu sudah mengeluarkan kipas yang diletakkannya di atas meja. Liu Lu Sian tersenyum dan kembali memperhatikan makanan yang tersedia di atas meja tanpa menghiraukan orang-orang itu. Ia maklum bahwa tanpa ia peringatkan, Kwee Seng juga sudah tahu akan masuknya enam orang itu dan sudah siap sedia. Ia kagum akan sikap ini dan mendapat pelajaran bahwa menghadapi segala macam ancaman, lebih baik bersikap tenang sehingga dapat menentukan sikap dengan tepat.

Betapa pun juga, Lu Sian tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat dengan kerling sudut matanya ke arah orang-orang itu. Ternyata mereka sekarang memperlihatkan sikap yang cukup jelas. Orang pertama sudah mencabut golok, Si Hwesio mengangkat tongkatnya sedangkan yang lain juga sudah bersiap seperti orang hendak bertempur. Jelas bahwa enam orang itu hendak mencari perkara karena pandang mata mereka semua kini terarah kepadanya! Dengan gerakan penuh ancaman enam orang itu kini makin mendekat dan akhirnya mereka mengurung meja yang dihadapi Kwee Seng dan Lu Sian.

Namun Kwee Seng tetap tenang sambil minum araknya, melirik pun tidak ke arah mereka. Lu Sian juga bersikap tenang, namun hatinya berdebar. Tidak biasanya ia bersikap seperti yang diambil Kwee Seng ini. Biasanya, begitu ada orang memusuhinya, ia segera menurunkan tangan besi. Baginya, lebih cepat merobohkan lawan, lebih baik.

Para pengurus rumah makan sudah lari ketakutan menyaksikan enam orang itu mengeluarkan senjata. Beberapa orang tamu yang tadinya sedang menikmati hidangan juga cepat-cepat membayar harga makanan dan segera pergi. Semua orang sudah melihat gelagat tidak baik, hanya Kwee Seng yang seakan-akan tidak tahu akan semua kesibukan itu dan masih enak-enak minum.

“Siluman betina! Kau harus mengganti nyawa puteraku!” tiba-tiba Si Pemegang Golok yang berwajah muram itu membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Lu Sian.

Gadis ini mendongkol bukan main, akan tetapi ia tetap duduk dan tersenyum mengejek, kemudian dengan mata berseri-seri memandang kepada pemuda tampan yang membawa pedang. Pandang mata Lu Sian yang tajam, sekali lihat sudah tahu bahwa pemuda tampan itu sejak tadi memandang kepadanya penuh rasa kagum, dan hal inilah yang membuat matanya berseri dan senyumnya mengejek. Sengaja ia mengedip- ngedipkan mata kirinya lebih dulu kepada pemuda tampan itu sebelum menjawab.

“Siapakah puteramu dan siapa engkau? Mengapa pula aku harus mengganti nyawa puteramu?”

“Setan betina! Masih kau hendak berpura-pura tidak tahu sedangkan tadi dengan kejam kau membunuh pula dua orang pembantuku?”

“Aihhh… aihhh… jadi kalian ini golongan pencuri-pencuri kuda? Sungguh sayang…,” gadis ini menggeleng- gelengkan kepalanya sambil memandang kepada pemuda tampan yang tiba-tiba menjadi merah mukanya karena Lu Sian seakan-akan menunjukkan kata-kata ‘sayang’ itu kepadanya.

“Siluman sombong! Puteraku dengan baik-baik memasuki sayembara karena dia begitu bodoh tergila-gila pada kecantikanmu. Andai kata di dalam pertandingan itu dia kalah, apakah salahnya? Kenapa dia masih harus dibunuh secara penasaran? Apakah tiap laki-laki yang gagal mengalahkanmu harus mati seperti anakku Lauw Kong itu?”

Teringatlah kini Lu Sian akan tiga orang pemuda yang mengeroyoknya di atas panggung. Memang seorang di antara mereka bernama Lauw Kong, yang bermuka hitam dan mengaku datang dari kota Kwi-san yang letaknya tidak jauh dari kota Kwei-siang ini.

“Ah, Si Muka Hitam itukah puteramu? Memang aku sudah mengalahkannya, akan tetapi aku tidak membunuhnya!”

“Kau… setan betina! Siluman cantik! Banyak pemuda terbunuh karena engkau tapi kau masih pura-pura, dasar… perempuan… ren….”

“Cukup, ayah. Dengan maki-makian urusan takkan beres!” pemuda tampan yang membawa pedang itu mencela dan maju ke depan menghadapi Lu Sian. Wajahnya yang tampan itu kurang menarik ketika ia bicara, dan setelah mendekat Lu Sian melihat bahwa mata pemuda itu agak kuning.

“Nona, kami tahu bahwa kau adalah nona Liu Lu Sian puteri Ketua Beng-kauw. Aku adalah Lauw Sun, dan kakakku Lauw Kong telah mencoba memenangkan sayembara beberapa pekan yang lalu. Memang dia kalah oleh nona, dan bukan nona pula yang membunuhnya. Akan tetapi ternyata ia terbunuh dengan pukulan beracun dan hal ini tentu saja sepengetahuan nona. Karena itu, ayah dan kami minta pertanggung- jawabanmu!”

Muak rasa perut Lu Sian, dan ia mendongkol sekali melihat Kwee Seng masih enak-enak minum arak saja, seolah-olah tidak perduli dirinya dimaki-maki orang. Hemm, pikirnya, apakah tanpa kau aku tidak mampu membereskan buaya-buaya ini?

Tiba-tiba kakinya menghentak lantai dan tubuhnya sudah melayang ke belakang, kedua kakinya hinggap di atas sebuah meja yang masih penuh sisa hidangan dan arak bekas para tamu tadi, yang tidak sempat dibersihkan oleh para pelayan yang sudah lari ketakutan. Dengan gerakan indah ringan Lu Sian meloncat ke belakang dan kedua kakinya sama sekali tidak menyentuh mangkok cawan, kini ia berdiri di atas kedua ujung kakinya, pedangnya sudah berada di tangan kanan melintang di depan dada, matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum mengejek ketika ia berkata.

“Orang She Lauw, menghadapi orang-orang kasar macam kalian ini aku tidak sudi banyak bicara. Kalau kalian hendak mengeroyokku, inilah aku Liu Lu Sian! Kalau aku tidak berhasil membikin mampus kalian berenam tanpa turun dari meja ini, jangan sebut lagi aku puteri Ketua Beng-kauw!”

Ucapan ini benar-benar membayangkan keangkuhan dan kesombongan. Akan tetapi diam-diam Kwee Seng maklum bahwa ucapan itu sama sekali bukan kesombongan kosong. Ia tahu, kalau enam orang itu nekat mengeroyok, takkan sukar bagi Lu Sian untuk membuktikan ancamannya. Ia dapat menduga mereka bahwa mereka itu adalah jago-jago dari kota Kwi-san. Bahkan agaknya orang she Lauw ini dalam usahanya menuntut balas atas kematian puteranya telah minta bantuan seorang hwesio dan dua orang tosu, agaknya tokoh-tokoh dalam kuil di kota itu.

“Bagus! Kau harus menebus nyawa anakku dan dua orang temanku!” seru si Pemegang Golok dan dengan gerakan cepat ia bersama enam orang temannya menyerbu ke arah meja di mana Lu Sian berdiri.

Gadis itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek. Tiba-tiba sekali gadis itu menggerakkan kakinya tanpa terlihat hingga cawan arak, mangkok dan piring beterbangan ke arah enam orang dibarengi bentakan Lu Sian. “Nih, makanlah sebagai tebusan senjata rahasia kalian tadi!”

Hebat sekali serangan Lu Sian ini. Gadis itu dengan sinkang-nya yang sudah amat kuat hanya menggunakan ujung kakinya menyentil barang-barang di atas meja, dan beterbanganlah mangkok dan cawan berikut isinya, yaitu masakan dan arak, ke arah enam orang lawannya. Demikian cepatnya sambaran benda-benda ini sehinngga enam orang itu sama sekali tidak berhasil menghindarkan diri dan setidaknya pakaian mereka menjadi kotor tersiram kuah sayur dan arak, bahkan muka si Hwesio terkena hantaman mangkok penuh masakan daging! Tentu saja hwesio itu gelagapan karena sebagai seorang yang selamanya pantang makanan berjiwa, kali ini masakan daging menghantam muka dan banyak kuah memasuki mulutnya, membuat ia hampir muntah!

Sebetulnya melihat gerakan ini saja, kalau enam orang itu tahu diri, mereka sudah akan maklum bahwa gadis itu bukan lawan mereka. Akan tetapi agaknya kemarahan meluap-luap membuat mereka mata gelap dan segera menggerakkan senjata masing-masing, mengepung meja itu dan menyerang dari semua jurusan.

Lu Sian tertawa mengejek, tidak bergerak dari atas meja, melainkan pedangnya kadang-kadang menyambar untuk menangkis senjata pengeroyok yang terlalu dekat. Kadang-kadang ia hanya mengangkat sebelah kaki menghindarkan golok yang menyambar atau merendahkan tubuh untuk membiarkan tongkat melayang melalui atas kepalanya. Gadis ini hanya menanti kesempatan baik untuk membuktikan ancamannya, yaitu membunuh mereka tanpa turun dari meja.

Mendadak saja, enam orang itu berturut-turut mengeluarkan teriakan kaget dan senjata mereka semua runtuh ke atas lantai. Tanpa mereka ketahui sebabnya, tahu-tahu tangan mereka yang memegang senjata menjadi kejang yang menyebabkan mereka terpaksa melepaskan senjata masing-masing. Tercium oleh mereka bau arak dan tepat pada jalan darah di siku lengan mereka basah. Dengan kaget dan heran mereka saling pandang dan terdengarlah suara Kwee Seng yang masih saja duduk minum arak.

“Menyerang orang secara menggelap dengan senjata rahasia untuk membunuh sudah termasuk perbuatan pengecut, sekarang mengeroyok seorang gadis mengandalkan tenaga enam orang laki-laki, sungguh amat memalukan. Apakah kalian masih belum mau insyaf dan tidak tahu diri, menantang maut yang sudah membayang di depan mata? Lekas pungut senjata dan pergi, barulah perbuatan orang yang berakal sehat!”

Tahulah enam orang itu sekarang bahwa yang membuat mereka semua terpaksa melepaskan senjata adalah pemuda pelajar yang duduk minum arak dengan tenangnya, sahabat puteri Ketua Beng-kauw itu. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi gentar. Nona itu sendiri sudah cukup berat untuk dikalahkan, apalagi dengan adanya seorang yang demikian saktinya, yang tanpa bergerak dari tempat duduknya, tanpa menghentikan keasyikannya minum arak, sudah mampu mengalahkan mereka dan melucuti senjata mereka!

Orang she Lauw tadi memungut goloknya, diturut oleh teman-temannya, lalu ia menjura ke arah Kwee Seng. “Siauw-enghiong (Pendekar Muda), kepandaianmu membuka mata kami yang bodoh, membuat kami terpaksa menelan hinaan dan menderita kekalahan. Bolehkah kami mengetahui siapa nama dan julukan Siauw- enghiong yang gagah?”

Kwee Seng menarik napas panjang, kemudian ia berdiri dengan cawan penuh arak di tangan kanan, diangkatnya tinggi lalu ia bernyanyi dengan lagak seorang mabok.

Angin kipas mengusir lalat dan menyegarkan diri
Suara suling mengusir harimau dan menentramkan hati Nama, harta, kepandaian tiada artinya

Yang penting adalah pelaksaan kebenaran dalam hidupnya!

Enam orang itu hanya saling pandang, tidak dapat mengenal pemuda ini karena mereka pun tidak pernah mendengar nyanyian itu.

Lu Sian tertawa dan dari atas meja itu ia berkata nyaring. “Sebangsa cacing macam kalian ini mana mengenalnya? Dia bersama Kwee Seng, para lo-cianpwe mengenalnya sebagai Kim-mo-eng. Hanya dia seoranglah yang mampu menandingi aku. Biar pun begitu, masih belum tentu ia bisa menjadi jodohku! Apalagi orang-orang macam anakmu hendak memperisteri aku. Cih! Bukankah itu lucu sekali?”

Enam orang itu kelihatan kaget. Tanpa bicara apa-apa lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu. Pelayan- pelayan mulai muncul kembali, memandang takut-takut ke arah Kwee Seng dan Lu Sian. Setelah Kwee Seng menyatakan kesanggupannya membayar harga barang-barang yang rusak, mereka kelihatan senang dan melayani sepasang orang ini dengan kehormatan berlebihan.

Lu Sian juga kelihatan senang dan gembira sekali. Mulutnya selalu tersenyum, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan tiada hentinya ia menatap wajah Kwee Seng dengan sikap menggoda. Sebaliknya Kwee Seng sama sekali tidak kelihatan gembira. Pemuda ini sudah tidak makan lagi, akan tetapi melihat cara ia berkali-kali memenuhi cawan arak dan meminumnya habis sekali tenggak, terang bahwa perasaan hatinya amat terganggu.

Memang demikianlah. Hati pemuda ini tidak karuan rasanya, hampir ia meloncat bangun untuk lari meninggalkan gadis ini. Ia merasa betapa gadis ini sengaja menggodanya, sengaja hendak mempermainkannya. Ucapan Lu Sian tadi benar-benar menikam jantungnya. Gadis itu di depan orang banyak mengakui bahwa hanya Kwee Seng yang mampu menandinginya, namun betapa pun juga, pemuda itu belum tentu bisa menjadi jodohnya! Ia merasa makin tak senang, muak dan benci menyaksikan sikap Lu Sian, apalagi mengingat betapa tadi gadis itu sudah pasti akan membunuh enam orang lawannya kalau saja ia tidak cepat-cepat turun tangan. Ia makin benci, akan tetapi juga makin cinta! Makin lama ia berdekatan dengan gadis ini, makin besar pula daya tarik gadis itu menguasai hatinya.

“Kwee-koko, dalam nyanyianmu tadi kau menyebut-nyebut tentang kipas dan suling. Tentang kipasmu, aku sudah melihatnya dan sudah tahu kelihaiannya. Akan tetapi tentang suling, adakah kau mempunyai suling? Dan pandaikah kau meniup suling dan mempergunakannya sebagai senjata?”

“Aku seorang bekas pelajar gagal, biasanya hanya berkipas-kipas mendinginkan kepala panas lalu menghibur diri dengan suara suling. Memang tadinya aku memiliki sebuah suling, akan tetapi benda itu hancur ketika aku bertemu dengan Ban-pi Locia (Dewa Locia Berlengan Selaksa) di telaga See-ouw (Telaga Barat).”

Terbelalak sepasang mata yang indah itu, penuh perhatian dan ingin tahu. “Apa? Kau betul-betul bertemu dengan Ok-hengcia (pendeta jahat) itu? Aku pernah mendengar dari ayah bahwa pendeta perkasa itu amat cabul dan keji, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Ayah sendiri pernah bentrok dengan Ban- pi Lo-cia, bertempur sampai dua hari dua malam tidak ada yang kalah atau menang. Hanya karena khawatir kalau pertandingan dilanjutkan keduanya akan tewas, maka mereka menghentikan pertandingan. Dan kau… kau bertemu dengannya? Bertanding? Dan sulingmu hancur olehnya? Ah, Kwee-koko, apakah kau kalah olehnya?”

Kwee Seng mengipas-ngipas lehernya yang terasa panas oleh pengaruh arak. “Dia memang hebat, akan tetapi juga jahat bukan main. Secara kebetulan saja aku bertemu dengannya ketika aku berpesiar di telaga See-ouw.” Pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya seperti berikut.

********************

Beberapa bulan yang lalu, dalam perantauannya yang tidak mempunyai tujuan tertentu, tibalah Kwee Seng di telaga See-ouw. Telaga Barat ini amatlah terkenal semenjak dahulu, karena luasnya, karena indahnya, dan karena segar nyaman hawanya.

Air berkeriput biru sehalus beludru tilam pembaringan berkasur bulu

Bunga teratai aneka warna penghias indah dicumbu rayu Ikan-ikan emas berwarna cerah Berperahu di telaga barat mandi sinar bulan minum arak
sesudah itu mati pun tak penasaran!

Nyanyian ini banyak dinyanyikan tukang-tukang perahu yang menyewakan perahu mereka untuk para pelancong. Pelancong yang tergolong miskin cukup merasa puas dengan berjalan-jalan di sekitar telaga, yang tergolong cukup beruang merasa puas dengan menyewa perahu kecil menghadapi seguci arak. Akan tetapi bagi para pelancong kaya raya, acaranya bermacam-macam. Yang sudah pasti mereka itu akan menyewa perahu besar yang mempunyai bilik yang terlindung dan tertutup, memesan hidangan arak dan masakan lezat mewah, kemudian memanggil pula pelacur-pelacur untuk melayani mereka makan minum sambil mendengarkan beberapa orang perempuan penyanyi menabuh yang-khim dan bernyanyi. Pesta macam ini hampir diadakan setiap malam di waktu musim tiada hujan, sehingga keadaan Telaga Barat amat meriah.

Ketika Kwee Seng tanpa disengaja tiba di telaga See-ouw, keadaan di situ sedang meriah sekali karena musim panas telah tiba. Di waktu musim panas mengamuk, banyak orang-orang kaya dan pembesar-pembesar merasa tidak betah tinggal di kota dan banyak yang mengungsi untuk beberapa hari atau pekan lamanya ke Telaga See-ouw, di mana mereka dapat menghibur tubuh dan pikiran, dan baru ingat pulang kalau uang sudah habis dihamburkan!

Begitu melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian pelajar yang cukup rapi datang seorang diri, segera para tukang perahu merubungnya, menawarkan perahu mereka.
“Mari, Kongcu (Tuan Muda), perahu saya bersih dan kosong!” “Saya pesankan arak Hang-ciu yang paling baik!”

“Kongcu perlu hidangan yang paling lezat? Restoran Can-lok….“

“Atau rombongan penyanyi? Anak buah Bibi Cong… cantik-cantik, muda dan bersuara emas….” “Atau Kongcu suka… ehmm… ditemani bidadari jelita? Tinggal pilih menurut selera Kongcu…”

Demikianlah, ribut mereka menawarkan perahu sampai pelacur. Kwee Seng tersenyum dan menggerak- gerakkan tangan menyuruh mereka agar jangan bicara sambung-menyambung membikin bising.

“Dengar baik-baik, jangan ribut sendiri!” katanya tertawa. “Aku hanya membutuhkan sebuah perahu kecil yang dapat dipakai duduk berdua, tanpa pendayung. Perahu kecil yang bersih dan tidak bocor, terbuka tanpa bilik. Kemudian, boleh sediakan arak dan dua cawannya, beberapa macam masakan yang panas-panas dan kemudian boleh panggil seorang pelacur yang pandai bicara, pandai main yang-khim dan meniup suling, pandai bernyanyi dan pandai bermain catur.”

“Wah, mengajak pelesir seorang bidadari, mengapa pakai perahu kecil terbuka, Siangkong (Tuan Muda)? Saya mempunyai yang besar, ada biliknya yang bersih dan enak, tidak terganggu dari luar….”

Kembali Kwee Seng tersenyum dan kedua pipinya agak merah. Pemuda ini tidak pantang bersenang-senang dengan wanita, akan tetapi hanya sampai pada batas mengobrol dan bercakap-cakap gembira, bersenda- gurau dan main catur atau mendengarkan si cantik bernyanyi atau menabuh yang-khim dan meniup suling saja.

“Aku ingin menyewa perahu kecil terbuka tanpa pendayung, ada tidak?”

“Ada! Ada! Jangan khawatir, Kongcu. Perahu saya kecil bersih, dicat biru dan tanggung tidak bocor. Lima belas cin saja untuk semalam suntuk!”

“Dan perempuan yang kukehendaki itu ada tidak? Pandai bicara, pandai main musik, bernyanyi dan pandai main catur, tidak menolak minum arak!”

“Wah, wah… yang sepandai itu agaknya, hanyalah Ang-siauw-hwa (Bunga Kecil Merah) seorang… seorang bidadari yang tercantik dan termahal di sini!”

“Bagus! Kau panggil Ang-siauw-hwa untukku,” kata Kwee Seng, senang hatinya.

“Ah, tidak mungkin, Kongcu. Biarlah saya memanggil si Kim-bwe (Bunga Bwee Emas) yang juga pandai segala biar pun tidak secantik Ang-siauw-hwa….”

“Atau si Kim-lian (Teratai Emas) yang pandai meniup suling dan cantik jelita, akan tetapi tidak pandai main catur dan tidak suka minum arak….”

Hati Kwee Seng sudah kecewa. “Tidak, aku menghendaki Ang-siauw-hwa itu. Mengapa tidak mungkin memanggil dia? Berapa harganya? Aku sanggup bayar!”

Orang-orang itu menggeleng kepala. Seorang yang setengah tua berkata, suaranya perlahan seperti takut terdengar orang lain, “Kongcu, kau tidak tahu. Ang-siauw-hwa amat terkenal di sini. Setiap ada pembesar pesiar, tentu dia dipesan. Aneh memang, biar pun Ang-siauw-hwa merupakan kembangnya semua wanita disini, namun dia bukanlah pelacur sembarangan. Dia hanya mau melayani bicara dan bernyanyi, main catur atau minum arak, bahkan mengarang syair, akan tetapi belum pernah terdengar Ang-siauw-hwa mau diajak yang bukan-bukan….”

“Bagus, dialah pilihanku! Panggil dia!” Kwee Seng tertarik sekali.

Akan tetapi orang-orang itu menggeleng kepala. “Sekarang dia berada di perahu Lim-wangwe (Hartawan Lim) yang perahunya kelihatan di sana itu.” Ia menuding ke arah tengah telaga di mana tampak sebuah perahu. “Lim-wangwe sendiri yang mengadakan pesta bersama lima orang pendekar yang menjadi tamunya. Sejak pagi tadi Ang-siauw-hwa berada di sana, mungkin sampai semalam suntuk mereka berpesta. Nah, dengar, itu suara suling tiupan Ang-siauw-hwa.”

Kebetulan angin bersilir dari arah telaga dan tertangkaplah oleh telinga Kwee Seng tiupan suling yang merdu dan halus.

“Lebih baik jangan panggil dia, Kongcu. Yang lain masih banyak, boleh Kongcu pilih sendiri. Ang-siauw-hwa hanya mendatangkan ribut belaka.”

“Eh, kenapa?” Kwee Seng terheran.

Beberapa orang memberi isyarat, akan tetapi pembicara itu agaknya sudah terlanjur dan berkata, “Pagi tadi timbul keributan karena dia. Lo Houw (Macan Tua), seorang tukang pukul yang terkenal di daerah ini memaksa hendak mengajak Ang-siauw-hwa biar pun perempuan itu sudah lebih dulu dipanggil Lim-wangwe. Lo Houw tidak mau peduli dan hendak merampas Ang-siauw-hwa, bahkan mengeluarkan kata-kata memaki Lim- wangwe. Kemudian ia mendatangi Lim-wangwe dengan perahunya dan kami semua sudah merasa khawatir. Kami mengenal kekejaman dan kelihaian Lo Houw, dan kami sayang kepada Lim-wangwe yang berbudi halus dan suka menolong kami yang miskin. Akan tetapi, apa yang terjadi? Lo Houw menyerang ke sana dengan perahu, akan tetapi ia kembali ke pantai dengan basah kuyup!”

Orang itu tertawa dan yang lain juga tertawa, biar pun ketawanya sambil menoleh ke kanan kiri, kelihatan takut kalau-kalau mereka terlihat orang.

“Eh, apa yang tejadi?” Kwee Seng makin tertarik.

“Kabarnya menurut tukang perahu yang kebetulan berada di dekat sana, Lo Houw meloncat ke perahu besar dan memaki-maki. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang di antara tamu Lim-wangwe dan dalam beberapa gebrakan saja Lo Houw yang terkenal itu terlempar ke dalam air!”

“Ha-ha, dia harus berenang ke tepi!” kata seorang lain.
Kwee Seng tersenyum. Hal semacam itu tidaklah aneh baginya yang sudah biasa bertemu dengan peristiwa
pertempuran yang lebih hebat lagi. “Biarlah, kalau ia sedang melayani hartawan itu, aku pun tidak jadi mengajaknya menemaniku. Beri saja sebuah perahu kecil yang baik, sediakan satu guci arak dan cawannya bersama sedikit daging panggang, tiga macam sayur dan sedikit nasi. Nih uangnya, lebihnya boleh kau miliki.” Kwee Seng mengeluarkan dua potong uang perak yang diterima dengan tubuh membongkok-bongkok oleh tukang perahu setengah tua itu yang merasa kejatuhan rejeki.

“He, tukang perahu jembel! Lekas sediakan perahu terbaik, lima guci arak wangi, lima kati daging, lima macam sayur, mi lima kati dan nona-nona manis lima orang yang cantik-cantik dan muda-muda! Eh, kembang pelacur yang kalian obrolkan tadi, siapa namanya?”

Kwee Seng membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang besar dan nyaring ini. Ketika melihat orangnya, ia tertegun. Bukan hanya Kwee Seng yang terperanjat, juga semua tukang perahu memandang dengan mata terbelalak tanpa seorang pun yang menjawab.

Pembicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, sekepala lebih tinggi dari pada orang umum yang berukuran tinggi. Melihat pakaiannya yang sederhana dan longgar, apalagi melihat kepalanya yang gundul, orang tentu mengatakan bahwa ia seorang hwesio (pendeta Buddha). Akan tetapi yang meragukan, kalau benar ia seorang pendeta, mengapa ia memesan daging, arak, bahkan pelacur? Anehnya pula, dia itu seorang diri, mengapa memesan demikian banyaknya makanan dan minuman yang serba lima takar? Mengapa juga memesan lima orang perempuan lacur? Pertanyaan-pertanyaan inilah agaknya yang membanjiri pikiran para tukang perahu sehingga sampai lama mereka terheran-heran tak mampu menjawab.

“Heh! Jembel-jembel busuk, mengapa kalian diam saja? Apakah kalian tuli dan gagu?” Laki-laki tinggi besar gundul yang usianya tentu lima puluh tahun itu membentak.

Seorang tukang perahu yang agak tabah hatinya menjura sambil tertawa-tawa. “Maaf… eh, Lo-suhu… tapi… tapi yang Lo-suhu pesan begitu banyak….”

Hwesio itu menyeringai dan melirik ke arah Kwee Seng yang berdiri dengan tenang sambil menaksir-naksir dan mengasah otak untuk mengenal siapa gerangan hwesio aneh ini.

“Heh-heh, seorang pelajar melarat saja mampu menyewa perahu dan membayar arak, apakah kau kira aku seorang perantau lain tidak mempunyai uang?”

Ia menggulung kedua lengan bajunya yang lebar sehingga tampaklah lengannya kekar kuat penuh bulu. Ia merogoh ke balik jubahnya dan keluarlah sebuah pundi-pundi berisi penuh uang. Dibukanya tali pundi-pundi itu dan… hwesio itu memperlihatkan potongan-potongan uang emas dan perak! Para tukang perahu memandang melotot dan menelan ludah. Belum pernah selama hidup mereka tampak sekian banyaknya uang.

“Ah… maaf, maaf, Lo-suhu. Bukan sekali-kali saya meragukan Lo-suhu takkan dapat membayar. Hanya, Lo- suhu seorang diri, pesanannya begitu banyak, apalagi pakai lima orang bidadari….”

“Heh… heh, goblok! Apa salahnya? Malah kembangnya pelacur itu harus pula melayani aku, berapa pun biayanya akan kubayar.”

“Tapi, Lo-suhu, Ang-siauw-hwa telah disewa Lim-wangwe di perahu mewah yang berada di sana…” tukang perahu itu menunjuk.

Hwesio tinggi besar itu memandang dan mulutnya yang berbibir tebal mengejek. “Biarlah nanti kujemput sendiri dia. Sekarang sediakan pesananku semua. Cepat dan nih uangnya, lebihnya boleh kalian bagi-bagi!” Hwesio itu mengeluarkan belasan potong uang perak dan melemparnya kepada tukang perahu seperti orang melempar sampah saja.

Gegerlah para tukang perahu. Benar-benar hari itu mereka kejatuhan rejeki besar. Seperti berlumba mereka lari kesana-kemari untuk memenuhi pesanan hwesio aneh.

Akan tetapi Kwee Seng sudah merasa muak perutnya. Begitu pesanannya tiba, ia segera naik ke perahu kecil yang sudah terisi makanan dan minuman pesanannya, kemudian ia mendayungnya ke tengah telaga tanpa mempedulikan lagi hwesio tadi. “Hemmm… Menjemukan sekali,” pikirnya. “Kalau para pembesar negeri suka mencuri uang negara dan makan sogokan seperti anjing-anjing kelaparan, kalau para pendetanya melanggar pantangan, minum arak, makan daging dan main perempuan, akan bagaimanakah jadinya bangsa dan negara?” berpikir sampai disini hati Kwee Seng merasa kecewa sekali.

Akan tetapi pemandangan telaga itu benar-benar indah sehingga kekecewaannya terobati. Hari menjelang senja dan matahari di ujung barat tampak tenggelam ke dalam air telaga, kemerah-merahan dan indah sekali. Kwee Seng mulai makan daging dan sayur, dan minum araknya sedikit demi sedikit. Ia memang tidak begitu suka minum arak.

Makin gelap cuaca, tanda malam telah tiba. Telaga See-ouw terlihat makin indah. Bulan muncul dengan cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikit pun awan. Permukaan air telaga bermandikan cahaya bulan, berkilauan seakan-akan terbakar menjadi emas. Angin bersilir membuat air emas itu berombak sedikit dan bunga-bunga teratai yang berkelompok di sana-sini mulailah menari-nari menggoyang-goyangkan pinggang ke kanan kiri. Perahu-perahu yang berkeliaran di permukaan telaga mulai memasang lampu yang dihias dengan beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning, menambah indahnya pemandangan di telaga itu.

Tiba-tiba telinga Kwee Seng tertarik oleh lengking suara suling yang sayup sampai, suaranya mengalun tinggi rendah sesuai dengan gerak air. Kwee Seng tertarik dan mendayung perahunya ke arah suara. Ternyata suara suling itu keluar dari sebuah perahu besar dan mewah, dan kini Kwee Seng dapat mendengar suara suling dengan jelas sekali.

Akan tetapi ia segera menjadi kecewa. Suara itu tadi indah kedengarannya karena dipermainkan oleh angin. Setelah mendengar dari dekat, ia mendapat kenyataan bahwa biar pun peniupnya menguasai lagu dan irama, namun tiupannya kurang tenaga dan amat lemah, tidak membawakan perasaan hati peniupnya. Akan tetapi di samping kekecewaannya, timbul dugaan yang mendebarkan jantungnya.

Perahu besar dan mewah inilah agaknya perahu Lim-wangwe yang sedang menyambut lima orang tamunya dan mungkin sekali suling itu ditiup oleh Ang-siauw-hwa seperti yang diceritakan oleh para tukang perahu tadi! Hemm, kalau benar wanita itu yang meniupnya, lumayan juga! Setidaknya, kalau seorang pelacur saja dapat meniup suling seperti itu, benar-benar dia seorang pelacur yang luar biasa. Ketika suling berhenti ditiup, terdengar tepuk tangan dan tertawa-tawa memuji dari dalam perahu, tanda bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu gembira dan kagum.

Tak lama kemudian, kembali suling itu berbunyi, kini mainkan lagu yang menjadi kegemaran Kwee Seng, yaitu ‘Bulan Mengembara Cari Kekasih’. Kalau tadi Kwee Seng hanya kecewa mendengar tiupan suling yang dianggapnya kurang baik, kini telinganya terasa sakit mendengar betapa lagu kesayangannya ‘dirusak’ orang. Karena tidak dapat menahan lagi, pemuda yang sudah terpengaruh oleh hawa arak itu mengeluarkan sebatang suling dari dalam bajunya, dan tak lama kemudian melengkinglah suara sulingnya melayang-layang di permukaan telaga, mendesak suara suling pertama yang keluar dari perahu besar. Karena suara suling Kwee Seng luar biasa sekali kuatnya, maka suara pertama tenggelam dan tak terdengar lagi.

“Sahabat, alangkah indah bunyi sulingmu!”

Kwee Seng yang baru saja menghabiskan bait terakhir cepat memandang. Seorang wanita dengan pakaian serba indah berwarna merah muda berdiri di pinggiran perahu dan kelihatan seperti seorang dewi telaga. “Ah, kalau saja aku bersayap, aku akan terbang membebaskan diri dari sini untuk belajar meniup suling darimu sahabat….”

Kwee Seng tercengang. Inikah pelacur yang berjuluk Ang-siauw-hwa? Pantas saja terkenal menjadi kembangnya sekalian pelacur di daerah Telaga Barat ini, pikirnya sambil memandang kagum. Tentang kecantikannya, tak dapat ia menilai teliti karena keadaan yang remang-remang itu tidak cukup menerangi wajah si gadis. Akan tetapi, selain pandai meniup suling juga kata-katanya begitu halus dan teratur, dari ucapannya itu saja mudah diduga bahwa nona ini tentu pandai bersyair.

Dengan hati tertarik Kwee Seng mendayung maju perahu kecilnya untuk mendekati perahu besar dan agar ia dapat memandang lebih jelas. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara memanggil dari bilik perahu besar. Nona berpakaian serba merah muda itu membalikkan tubuh dan lenyap ke dalam perahu besar.

Kwee Seng sadar dari pada kebodohannya. Perempuan itu sudah disewa hartawan pemilk perahu besar, mau apa ia mendekat? Ah, mengapa ia begitu tertarik kepada seorang wanita pelacur? Kwee Seng sadar akan kebodohannya sendiri dan menggerakkan dayung untuk menjauhi perahu besar.

Akan tetapi pada saat itu ia melihat sebuah perahu meluncur cepat ke arah perahu besar dan di dalam perahu ini terdapat seorang hwesio tinggi besar bersama lima orang wanita pelacur yang sedang minum-minum dan tertawa cekikikan seperti segerombolan kuntilanak. Kwee Seng cepat mendayung perahunya menyelinap dan bersembunyi di belakang perahu besar untuk mengintai karena ia merasa curiga menyaksikan gerak-gerik hwesio tinggi besar yang aneh itu.

Dari balik perahu besar itu Kwee Seng melihat jelas betapa hwesio tinggi besar itu sekali menggerakkan kaki telah melayang naik ke atas papan dek tanpa menimbulkan guncangan sedikit pun juga. Kwee Seng kaget dan kagum. Hwesio ini benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Ketika ia memandang ke perahu hwesio tadi, ia merasa muak. Lima orang wanita pelacur yang memakai bedak tebal itu dalam keadaan setengah telanjang dan awut-awutan rambutnya, tertawa cekikikan dan bersenda gurau, agaknya sudah mabok semua! Perahunya yang tidak di kuasai oleh hwesio telah oleng ke kanan kiri tanpa diketahui lima orang pelacur mabok. Karena merasa muak, Kwee Seng tidak mempedulikan mereka dan ia kembali memandang ke arah hwesio yang berdiri kokoh seperti batu karang di atas papan dek perahu besar.

“Heh, hartawan she Lim!” Hwesio itu berseru dan suaranya yang parau keras itu menembus desir angin. “Lekas serahkan Ang-siauw-hwa kepadaku, kutukar dengan lima orang yang berada di perahuku!”

Tiba-tiba dari pintu bilik perahu besar itu meloncat seorang laki-laki tinggi kurus yang mengenakan pakaian ringkas dan punggungnya terhias sebatang golok. Gerakan laki-laki ini ringan dan cepat, tahu-tahu ia sudah berdiri di depan hwesio itu dengan mata berkilat. “Eh, eh, hwesio jahat dari mana berani mengganggu kesenangan kami? Apakah kau sahabat dari si jahanam Lo Houw yang kulempar ke dalam air?”

Hwesio itu memandang sejenak lalu tertawa. “Heh-heh-heh, aku tidak tahu itu Lo Houw, dan tidak kenal pula tikus kecil macammu. Aku hanya datang untuk mengambil Ang-siauw-hwa, kutukar dengan lima pelacur itu. Wanita macam Ang-siauw-hwa yang disebut-sebut kembang pelacur di telaga ini patut mengawaniku bersenang-senang. Lekas suruh dia keluar dan berikan kepadaku sebelum perahu ini kubikin tenggelam berikut semua penumpangnya!”

“Hwesio sesat! Pergilah!” si Jangkung Kurus menerjang maju dengan gerakan kilat. Cepat sekali gerakannya dan Kwee Seng yang menonton tahu bahwa si jangkung itu memiliki ilmu silat tangan kosong yang cukup hebat.

“Hwesio ini mencari penyakit,” pikirnya. “Penghuni perahu besar itu ternyata bukan orang-orang lemah.”

Pukulan si jangkung itu selain cepat, juga jelas mengandung tenaga yang besar, tampak gerakannya begitu mantap dan sekali pukul, kedua tangan si jangkung itu secara berbareng menyerang dada dan lambung. Anehnya, hwesio tinggi besar itu masih tertawa, sama sekali tidak mengelak.

“Celaka,” pikir Kwee Seng. “Betapa pun lihainya, mana hwesio itu akan dapat menahan pukulan yang mengandung tenaga dalam itu?”

“Buk! “Buk!” dua buah pukulan itu tepat mengenai dada dan lambung.

“Ha-ha-ha-ha!” si hwesio malah tertawa bergelak, sedikit pun tidak terpengaruh dua pukulan itu.

Sejenak si jangkung terbelalak kaget, kemudian tampak sinar bergulung ketika ia mencabut goloknya dan membacok dengan cepat ke arah leher si Hwesio.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo