August 1, 2017

Suling Emas (Part 16)

 

Melihat Lu Sian tidak terkejut disebutnya tokoh sakti ini, Kong Hian bertanya. “Apakah Sian-li belum mendengar nama Couw Pa Ong?”

Lu Sian mengangguk. “Kakek tua bangka lumpuh itu tentu saja pernah aku mendengar namanya, bahkan pernah bertemu dengannya.”

Kagetlah hati Pangeran. “Dan kau tidak gentar menghadapinya?” “Ah, kakek seperti itu, hanya patut menakut-nakuti anak kecil.”

Kong Hian memandang kagum sungguh pun hatinya masih meragu apakah wanita cantik ini benar-benar akan sanggup menghadapi seorang sakti menakutkan seperti Couw Pa Ong. “Kalau begitu benar-benar aku mendapat perlindungan dewi dari kahyangan!” ia berseru girang.

“Kongcu, tadi ibumu menyebut-nyebut nama Coa Kim Bwee yang menjadi ibu ke tujuh darimu, siapakah dia dan mengapa ibumu membandingkan dia dengan aku?”

“Ah, dia itu selir ke tujuh dari Sri Baginda, maka terhitung ibu ke tujuh dariku. Dia masih amat muda, akan tetapi di antara semua penghuni istana, dialah yang paling lihai ilmu silatnya. Dia itu dahulu puteri seorang jenderal yang berguru kepada orang-orang pandai. Memang dia hebat… eh, betapa pun juga dibandingkan denganmu, dia bukan apa-apa!”

Lu Sian tersenyum lagi dan memainkan biji matanya. “Kau belum tahu sampai di mana kepandaianku, bagaimana bisa menyatakan begitu? Agaknya Coa Kim Bwee itu amat lihai dan kau mengenal baik ibu tirimu itu!”

Wajah Pangeran ini mendadak menjadi merah sekali dan mata tajam Lu Sian dapat menduga bahwa di antara pemuda tampan dan selir ayahnya tentulah ada hubungan mesra. Sudah banyak ia mendengar tentang selir- selir raja yang masih muda mengadakan hubungan dengan putera-putera raja yang muda dan tampan. Akan tetapi ia tidak peduli akan hal ini karena sepanjang pengalamannya, tak pernah ia mendapatkan seorang pun laki-laki yang benar-benar hanya mencinta seorang wanita dan benar-benar ‘setia’ seperti yang seringkali terdengung dari mulutnya.

“Lie-kongcu, sekarang apakah syarat-syaratnya kalau aku menjadi pengawal pribadimu?”

“Syaratnya? Eh… syaratnya tentu saja kau tidak boleh berpisah dari sampingku, siang… malam… jadi… eh, kau selalu mendampingiku dan kalau kau suka menerimanya, aku… aku akan berterima kasih sekali. Biar aku berlutut di depanmu….!” Pangeran muda yang sudah tergila-gila oleh kecantikan Lu Sian itu benar-benar hendak berlutut!

Dengan halus Lu Sian menyentuh pundaknya, melarangnya berlutut. “Nanti dulu, Kongcu. Kau mempunyai syarat, aku pun mempunyai permintaan sebagai syarat. Pertama, aku harus mendapat kebebasan bergerak di dalam istana ini, kecuali tempat tinggal Raja tentu saja.”

“Baik, baik, hal itu dapat dilaksanakan.”

“Ke dua, di luar kehendakku, orang lain tidak boleh bertanya-tanya tentang diriku, dan ke tiga, segala permintaanku harus kau turuti. Juga setiap saat aku meninggalkan tempat ini, tak boleh ada yang menghalangiku.”

“Baik, baik, asal Sian-li suka menjadi pelindungku, pengawal pribadiku yang tak pernah meninggalkanku siang malam…”

“Dan tentang berlutut itu, nanti malam saja boleh kau berlutut sepuas hatimu!”

Mendengar ini, si Pangeran Muda menjadi girang dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu bangkit dan merangkul leher Lu Sian yang mandah saja terbuai dalam belaian si Pangeran Muda yang muda dan tampan. Bahkan dengan halus ia berbisik. “Senja telah lewat, di sini sudah mulai gelap dan dingin, lebih baik kita masuk saja.”

Pangeran muda itu bertekuk lutut dan benar-benar jatuh menghadapi rayuan seorang wanita yang berpengalaman seperti Lu Sian. Sampai-sampai di dalam kamar Pangeran yang mewah dan bersih itu, ketika mereka makan minum menghadapi meja, si Pangeran menuruti segala perintah Lu Sian, biar pun ia disuruh minum arak dari sepatu Lu Sian yang dijadikan cawan! Disuruh berlutut, disuruh mengambilkan perhiasan apa saja yang dikehendaki Lu Sian. Memang tidak ada kegelian yang lebih menggelikan dapat menghinggapi seorang pria dari pada kalau ia sudah tergila-gila kepada seorang wanita!

Dua hari dua malam Lu Sian dan Pangeran Lie Kong Hian tak pernah meninggalkan kamar, tenggelam ke dalam permainan nafsu. Pada pagi hari ke tiga, ketika Lu Sian terbangun dari tidurnya, pangeran itu sudah

tidak berada di dalam kamar. Ia bangkit dan dengan malas-malasan Lu Sian duduk menghadapi cermin yang besar, mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang dilepas sanggulnya dan terurai panjang sampai ke pinggul. Rambutnya hitam halus, berombak dan berbau harum. Sambil tersenyum-senyum puas dan girang karena kini ia merasai kenikmatan hidup seperti seorang puteri istana, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di luar. Cepat ia bangkit dan mengintai dari balik pintu kamar.

Kagetlah hatinya ketika ia melihat Pangeran Lie Kong Hie berdiri dengan muka pucat dan kedua lengan terpentang. Di depannya berdiri seorang wanita muda yang cantik bersikap galak, membawa pedang di tangan dan di belakangnya terdapat seorang gadis lain berpakaian pelayan, juga membawa pedang telanjang! Lu Sian cepat meraba kantung jarumnya. Sambil mengintai ia bersiap dengan jarum-jarum merahnya. Ia tidak segera turun tangan karena hendak melihat dan mendengar dulu apa yang terjadi. Kalau gadis cantik itu hendak membunuh Kong Hian, tentu ia akan mendahuluinya dengan jarum-jarum yang tak pernah meleset!

“Kau bersekongkol dengan pemberontak!” si Gadis membentak dengan suara yang nyaring, sedangkan matanya memancarkan sinar berapi. “Hayo, serahkan dia kepadaku, ataukah kau benar-benar hendak membelanya karena ia kabarnya cantik jelita? Mata keranjang! Kau rela bersekongkol dengan pemberontak hanya karena dia cantik?”

“Tidak… tidak… Kim Bwee… eh, ibu… dia bukan pemberontak. Dia… dia pengawal pribadiku, dan malah menolongku dari pada serangan kaum pemberontak!”

“Tapi dia Tok-siauw-kwi…!”

“Orang-orang jahat menamakan dia begitu akan tetapi dia seorang Dewi! Dia bukan pemberontak. Kim… eh, ibu… harap suka bersabar dan jangan menuruti hati cemburu…”

“Siapa cemburu?? Biar engkau kumpulkan… eh, seribu orang perempuan lacur, aku tidak peduli! Akan tetapi sekali engkau bersekongkol dengan pemberontak, pedangku sendiri yang akan menembus dadamu…!” Wanita itu mengancam dan menodongkan pedangnya ke depan dada Lie Kong Hian. Sedangkan pelayan yang juga berpedang itu sudah bergerak mengurung.

“Chit-moi (Adik ke Tujuh)… tahan pedangmu…!” tiba-tiba terdengar jerit tertahan dan selir raja ke tiga, ibu Lie Kong Hian sudah datang berlari-lari dan memeluk puteranya, kemudian menghadang di depan puteranya memandang kepada wanita berpedang itu. “Chit-moi, jangan engkau main-main dengan senjata tajam! Mengapa kau bersikap begini?”

“Sam-cici (Kakak ke Tiga), puteramu yang bagus ini bersekongkol dan menyembunyikan seorang perempuan pemberontak dalam kamarnya. Bagaimana aku dapat mendiamkannya saja? Bukankah hadirnya seorang pemberontak, betapa cantiknya pun, berarti membahayakan kita semua, terutama Sri Baginda?”

“Tenanglah, Chit-moi. Memang betul ada datang seorang wanita yang telah menolong nyawa Hian-ji (Anak Hian) ketika ia diserang pemberontak. Tentu saja kami percaya kepada penolong itu dan hatiku malah lega ketika mendengar bahwa ia suka menjadi pengawal pribadi anakku. Kalau ia pemberontak, mengapa ia menolong anakku? Dan andai kata ia pemberontak sekali pun, hal itu bukanlah salahnya anakku, melainkan dia yang menyelundup dengan tindakan palsu. Mengapa kau tidak menyelidikinya lebih dulu sebelum bertindak terhadap puteraku?”

“Memang aku akan menyelidikinya! Dia Tok-siauw-kwi, berarti dia pemberontak. Dia di kamarmu bukan?” pertanyaan ini ditujukan kepada Kong Hian yang menjadi merah sekali wajahnya dan akhirnya mengangguk.

Wanita berpedang yang cantik dan galak ini memang Coa Kim Bwee, selir ke tujuh Sri Baginda. Memang mudah diduga bahwa selain berkepandaian tinggi, Coa Kim Bwee yang masih amat muda dan cantik itu tentu saja merasa tidak puas menjadi selir ke tujuh. Wataknya memang berandalan dan genit, dan Lie Kong Hian bukanlah satu-satunya ‘anak tiri’ yang ia jadikan kekasihnya! Ada pun tindakannya sekarang ini selain menaruh curiga, juga sebagian besar terdorong oleh rasa cemburu, mendengar bahwa seorang di antara kekasihnya yang paling ia sayangi ini mengeram seorang wanita cantik dari luar sampai dua hari dua malam!

Coa Kim Bwee bersuit dan muncullah lima orang wanita pelayan lain yang memang sudah siap dengan pedang di tangan masing-masing. Kini enam orang pelayan wanita itu mengikuti Coa Kim Bwee melangkah perlahan menuju ke kamar Pangeran Lie Kong Hian!

Lu Sian tersenyum setelah mendengar dan melihat semua yang terjadi di luar. Ia sudah senang tinggal di istana pangeran ini dan memang ia mulai bosan dengan perantauan yang kadang-kadang amat sengsara. Kalau ia turun tangan membunuh Coa Kim Bwee dan enam orang pembantunya, tentu ia tak mungkin dapat tinggal dalam istana lebih lama lagi. Coa Kim Bwee adalah selir terkasih dari Raja, tentu kematiannya akan menimbulkan geger. Dan melihat betapa Coa Kim Bwee agaknya berpengaruh dan dapat bertindak sesukanya di istana, ia rasa lebih baik wanita ini ia dekati. Untuk dapat melaksanakan niat ini, ia harus mampu menaklukkan wanita ini yang dilihat dari langkahnya memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Maka melihat Coa Kim Bwee dan enam orang pembantunya yang semua memegang pedang telanjang itu menuju ke kamarnya, ia cepat duduk kembali di depan cermin dan menyisir rambutnya dengan sikap tenang.

Coa Kim Bwee muncul di sebelah belakangnya. Mereka bertemu pandang melalui cermin. Tanpa menyembunyikan rasa kagumnya melihat wajah cantik terhias rambut hitam panjang itu, Coa Kim Bwee memandang lalu membentak. “Apakah engkau Tok-siauw-kwi?” bentakannya mengandung keraguan karena ia benar-benar tidak mengira akan menemui seorang wanita yang demikian cantik jelita, lagi masih muda. Sepanjang pendengarannya, Tok-siauw-kwi tentu telah berusia empat puluh tahun, karena ketika Tok-siauw- kwi masih menjadi isteri Jenderal Kam Si Ek, dia sendiri baru berusia sepuluh tahun! Karena inilah ia ragu-ragu dan bertanya.

Tanpa menoleh Lu Sian menjawab melalui cermin. “Kalau betul, mengapa? Mau apakah engkau datang bersama enam orang pembantumu dengan pedang di tangan?”

Kembali Coa Kim Bwee tertegun. Sikap wanita ini demikian tenang dan manis, namun sinar mata melalui cermin itu membuat tengkuknya berdiri. Banyak sudah Coa Kim Bwee menghadapi lawan tangguh, namun belum pernah ia merasa jeri seperti pada saat ini. Akan tetapi ia memberanikan hati dan membentak lagi. “Aku datang untuk menangkapmu. Menyerahlah baik-baik sebelum pedang kami memaksamu!”

Lu Sian tersenyum makin lebar. Giginya berkilat putih. “Adik yang manis, kalau ada urusan yang hendak dibicarakan, mengapa tidak masuk sendiri dan bicara baik-baik tanpa diganggu enam orang pelayanmu yang menjemukan?”

Coa Kim Bwee marah. Ia memberi isyarat dengan pedangnya kepada enam orang pembantunya sambil berkata, “Tangkap dia!”

Juga enam orang pelayan itu marah karena dikatakan ‘menjemukan’ dan sama sekali tidak dipandang mata oleh wanita berambut panjang itu. Mereka berenam adalah pelayan perempuan yang bertugas sebagai pengawal, memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi. Biasanya penjahat pria saja masih mampu mereka hadapi dan kalahkan, apalagi hanya seorang perempuan tak bersenjata yang sedang bersisir rambut? Mereka bahkan merasa malu untuk mengeroyok. Akan tetapi mereka tidak berani membantah karena telah menerima perintah.

Coa Kim Bwee melangkah masuk dan berdiri di pinggir untuk memberi jalan kepada mereka. Enam orang pelayan itu segera melangkah masuk menghampiri Lu Sian dari belakang dengan sikap mengancam. Akan tetapi Lu Sian tetap tidak menoleh, hanya menatap mereka dengan pandang mata tajam melalui cermin di depannya.

“Serbu!” seorang di antara mereka memberi komando dan dengan bermacam gerakan menyerbulah keenam orang pelayan itu ke depan.

Lu Sian menggerakkan kepala sambil memutar tubuh. Rambutnya yang panjang itu bagaikan cambuk yang banyak sekali menyambar ke depan, menggulung keenam orang penyerangnya. Terdengar ia berseru, “Pergi kalian, tikus-tikus busuk!”

Hebat bukan main. Enam orang pelayan itu sama sekali tidak berdaya karena dalam sedetik saja tubuh mereka, terutama tangan dan kaki, telah terbelit rambut dan tiba-tiba bentakan itu ditutup dengan gerakan

kepala. Akibatnya, enam orang pelayan itu terlempar ke luar pintu bagaikan daun-daun kering terhembus angin keras. Mereka menjerit-jerit dan jatuh tunggang-langgang di luar kamar, babak-bundas dan ada yang terluka oleh senjata pedang mereka sendiri!

“Nah, Adik yang manis. Tutuplah daun pintu dan mari kita bicara baik-baik tanpa gangguan orang lain,” kata Lu Sian sambil tetap tersenyum dan menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian mukanya.

Coa Kim Bwee berdiri melongo. Selama hidupnya, belum pernah ia menyaksikan kepandaian seperti ini. Ia kagum dan gentar. Kagum menyaksikan betapa seorang bertangan kosong, sambil masih enak-enak duduk dapat menghalau ke luar enam orang penyerangnya hanya mengandalkan rambut yang panjang dan harum! Pula, bau harum yang merangsang ke luar dari tubuh Lu Sian membuat ia makin kagum. Hebat wanita ini, pikirnya, dan patut ia jadikan guru! Ketika melihat enam orang pembantunya itu merangkak bangun memungut pedang dan melongok ke dalam, ia memberi perintah singkat menyuruh mereka mundur! Kemudian ia menutup daun pintu dan melangkah dekat, pedangnya masih di tangan.

“Engkau hebat! Ilmu siluman apakah yang kau gunakan? Akan tetapi jangan mengira bahwa aku takut….”

“Adik yang manis, ilmu lweekang begitu saja kau herankan? Mari, mari kita main-main sebentar agar kau tidak menyangka aku seorang siluman. Akan kuhadapi pedangmu dengan duduk saja, hanya kugunakan rambutku, bagaimana?”

“Hemm, kau mencari mampus. Jangan samakan aku dengan pelayan-pelayanku yang lemah!”

“Kalau aku kalah dan tewas di ujung pedangmu, aku takkan mengeluh karena hal itu menandakan bahwa kepandaianku masih rendah. Akan tetapi, kalau kau yang kalah bagaimana?”

Coa Kim Bwee bukan seorang bodoh. Tidak, ia bahkan cerdik sekali. Dia dahulu adalah puteri seorang jenderal, yaitu Jenderal Coa Leng yang bertugas di Shan-si, tangan kanan Gubernur Li Ko Yung. Akan tetapi semenjak kecil Coa Kim Bwee mempunyai pula dua kesukaan, yaitu mengumbar nafsu mencari menang sendiri dan mengejar ilmu silat. Banyak orang pandai menjadi gurunya, dan karena memang ia berwajah cantik jelita, banyaklah pemuda tergila-gila kepadanya.

Sebagai puteri tunggal yang amat dimanjakan, Kim Bwee wataknya makin menjadi-jadi, bahkan ia berani mulai bermain gila dengan pemuda-pemuda tampan. Ketika terjadi perang, ayahnya tewas dalam perang dan begitu Kerajaan Hou-han bangkit, Kim Bwee yang terkenal cantik dan pandai mengambil hati itu dipilih menjadi selir ke tujuh oleh Raja Hou-han! Di dalam istana inilah terkabul semua nafsunya. Selain kedudukannya yang tinggi sebagai selir raja, juga kepandaian silatnya yang lihai membuat ia sebentar saja menjadi orang paling berpengaruh. Di samping ini nafsunya yang buruk membuat ia makin binal dan cabul dan mulailah di belakang punggung suaminya, Sang Raja, ia bermain gila dengan para pangeran dan pengawal yang tampan!

Kini bertemu dengan Lu Sian ia merasa kagum dan juga penasaran. Diam-diam ia berpikir bahwa kepandaiannya yang sudah tinggi ini, apalagi ilmu pedangnya, kalau sampai kalah oleh wanita yang melawannya sambil duduk dan hanya mempergunakan rambut, benar-benar hebat! Kalau benar ia kalah, jalan paling baik adalah menarik wanita cantik ini sebagai sahabat, bahkan kalau mungkin sebagai guru. Maka tanpa bersangsi lagi ia berkata. “Kalau pedangku ini kalah menghadapi rambutmu, biarlah aku mengangkatmu menjadi guruku!”

Lu Sian tertawa. “Bagus,” pikirnya. “Wanita ini agaknya mempunyai pengaruh yang besar di istana. Jika menjadi gurunya, berarti kedudukanku akan tetap menyenangkan. Selain itu, sebagai guru aku dapat melarang wanita selir raja ini memberitakan di luar bahwa aku adalah Nyonya Jenderal Kam Si Ek.”

“Baik, nah, kau mulailah!” katanya tenang sambil duduk menghadapi lawannya dengan rambut panjang tergantung di kanan kiri.

Coa Kim Bwee tidak mau sungkan-sungkan lagi karena maklum bahwa wanita di depannya ini memang memiliki kepandaian tinggi. Kalau ia menang dan pedangnya membunuh wanita ini, berarti ia menyingkirkan seorang ‘saingan’ berat, sebaliknya kalau benar-benar ia kalah, ia akan mengambil hati wanita ini untuk mendapatkan pelajaran ilmunya.

“Lihat pedang!” bentaknya nyaring.

Tubuhnya langsung bergerak, didahului sinar pedangnya yang berkelebat. Terdengar suara berdesing tanda bahwa gerakannya cepat sekali dan tenaga yang menggerakkan pedang memiliki sinkang cukup kuat. Lu Sian memandang rendah kepada lawannya, namun menyaksikan kecepatan gerakan ini, timbul niatnya mencoba sampai di mana kekuatan si Wanita Cantik. Maka ia menggerakkan kepalanya sedikit dan….

“Werrrr!” segumpal rambut panjang menyambar ke depan.

Hebat memang tingkat kepandaian Lu Sian sekarang. Setelah ia melatih diri dengan tekun menurut isi kitab- kitab yang dicurinya, selain kepandaiannya meningkat tinggi juga tenaga sinkang-nya menjadi hebat luar biasa. Rambut yang lemas dan halus itu sekali digerakkan dapat menjadi benda keras seperti kawat-kawat baja dan kini rambut segumpal itu telah menangkis pedang Coa Kim Bwee dan ujung rambut melibat pedang. Berbahaya sekali perbuatan ini.

Betapa pun tinggi kepandaian dan betapa pun kuat sinkang-nya, namun rambut tetap merupakan benda yang lemah, hanya menjadi kuat oleh gerakan beberapa detik. Mungkin cukup kuat untuk melibat benda tumpul dan merupakan pengikat yang ampuh, akan tetapi menghadapi mata pedang yang amat tajam, sungguh sebuah permainan yang banyak resikonya.

Coa Kim Bwee kaget sekali melihat betapa pedangnya tertangkis sehingga tangannya gemetar tadi, terutama setelah ia merasa pedangnya terlibat dan tak dapat ditarik kembali. Cepat ia mengerahkan lweekang-nya dan berseru keras sambil mendorong pedang dengan mata pedang ke depan. Mereka bersitegang sebentar, dan tiba-tiba Lu Sian melepaskan libatan rambutnya. Coa Kim Bwee terhuyung ke pinggir terdorong oleh tenaganya sendiri, akan tetapi belasan helai rambut rontok karena putus terbabat mata pedang yang tajam!

“Boleh juga kau!” Lu Sian berkata sambil tertawa, tetap duduk tenang dan rambutnya sudah tergantung kembali ke depan dadanya.

Coa Kim Bwee penasaran. Tentu saja ia tidak merasa puas melihat hasil gebrakan pertama tadi, hanya beberapa helai rambut yang terbabat putus, sedangkan dia sendiri terhuyung-huyung. Kalau dinilai, malah dia yang berada di bawah angin, maka seruan Lu Sian tadi di anggap sebagai ejekan yang membuat pipinya berubah merah karena marah.

“Aku masih belum kalah!” bentaknya dan kembali ia menerjang maju, kini ia memutar pedangnya cepat sekali untuk mencegah libatan rambut lawannya.

Kelihatannya Lu Sian diam saja, akan tetapi ketika pedang menyambar ke arah lehernya, tubuh Lu Sian yang duduk di atas bangku pendek itu seperti hendak roboh ke kiri sehingga pedang lewat di pinggir tubuhnya, dan pada saat itu juga kaki kanannya menyambar bagaikan kilat cepatnya ke arah pusar Coa Kim Bwee. Hebat sekali serangan balasan yang tiba-tiba dan tak tersangka-sangka ini, namun hebat pula reaksi selir raja itu. Untung bahwa ia tidak memandang rendah kepada Lu Sian, bahkan sudah merasa yakin bahwa wanita cantik ini memang berilmu tinggi sehingga dalam penyerangannya yang kedua ini ia tidak membuta, tidak hanya mencurahkan seluruh perhatiannya kepada penyerangan, melainkan membagi perhatian untuk menjaga diri dengan memperhatikan gerakan lawan.

Maka begitu melihat berkelebatnya kaki dari bawah mengancam perutnya, Kim Bwee cepat menarik kembali pedangnya yang gagal, memutar pedang itu ke bawah membabat kaki sambil melompat ke kanan belakang. Tendangan gagal, namun penyerangan Kim Bwee juga gagal. Mereka kini saling pandang tanpa bergerak, berpisah dua meter lebih. Seorang berdiri dengan pasangan kuda-kuda, tangan kiri ditekuk di depan dada, tangan kanan memegang pedang di atas kepala, sedangkan yang seorang lagi duduk enak-enak, kaki kanan bertumpang ke atas kaki kiri, tangan kiri mengelus rambut dan tangan kanan menggaruk-garuk belakang telinga. Lu Sian kelihatan enak-enak saja menghadapi pasangan kuda-kuda lawan yang siap menyerang lagi.

“Awas, Adik manis, sekali ini kau akan jatuh!” kata Lu Sian dengan suara perlahan, pandang mata berseri dan mulut tersenyum.

Diam-diam ia merasa girang karena telah menciptakan ilmu berkelahi mempergunakan rambutnya ini. Melihat gerakan-gerakannya tadi, selir raja ini sudah memiliki ilmu silat yang cukup tinggi sehingga untuk merobohkannya tentu memerlukan waktu yang agak lama. Namun dengan ilmunya mempergunakan rambut sebagai senjata, ia sudah dapat memastikan bahwa ia akan dapat menjatuhkannya, karena sebagai seorang ahli, ia dapat melihat kelemahan dalam gerakan pedang Kim Bwee.

Diejek demikian, makin panas hati Kim Bwee. Matanya memancarkan sinar bengis dan liar, bibirnya bergerak- gerak, cuping hidungnya berkembang-kempis. Tiba-tiba ia mengeluarkan jeritan nyaring, tubuhnya menerjang ke depan dan pedangnya diputar seperti kitiran angin di depan dada! Hebat penyerangan ini karena gulungan sinar pedang tidak memberi kesempatan kepada rambut Lu Sian untuk melibat pedang, sedangkan tubuh Kim Bwee seakan-akan terlindung dari atas ke bawah, tak mungkin diserang seperti tadi.

Lu Sian duduk, memperhitungkan detik yang paling baik lalu berseru, “Lihat senjataku!”

Dan kini sekali kepalanya bergerak, semua rambutnya berkelebat ke depan merupakan ratusan ribu batang kawat-kawat halus yang amat lemas. Tentu saja ada sebagian rambut bertemu pedang, akan tetapi karena Lu Sian mempergunakan ‘tenaga halus’ sehingga rambutnya menjadi lemas dan ulet, maka rambut itu tidak dapat terbabat putus, bahkan sebagian lagi terus membelit ke arah pergelangan lengan tangan yang memegang pedang, sebagian membelit lengan kiri, sebagian lagi membelit leher terus mencekik!

Kim Bwee kaget setengah mati. Kedua lengannya serasa lumpuh dan lehernya tercekik membuat ia tidak mampu bernapas lagi. Ia meronta-ronta, persis seperti seekor lalat tertangkap sarang laba-laba dan terdengar suara ketawa cekikikan lalu disusul robohnya tubuh Kim Bwee, terpelanting dan pedangnya sudah terlempar ke sudut kamar!

Sejenak nanar rasa kepala Kim Bwee. Kamar itu serasa berputaran. Ia telah mengalami kekalahan hebat dan andai kata bukan Lu Sian yang melakukan hal itu, andai kata dalam hati Kim Bwee tidak ada maksud hendak mengeduk ilmu, tentu penghinaan ini takkan dibiarkan begitu saja. Seorang selir raja tersayang dihina seperti ini! Sekali ia menjerit minta tolong tentu istana ini akan dikepung pengawal istana.

Akan tetapi Kim Bwee tidak mau melakukan perbuatan bodoh ini. Ia maklum bahwa seorang sakti seperti perempuan itu, belum tentu akan dapat ditawan dan sebelum para pengawal datang, dia sendiri tentu akan dibunuh. Pula, perempuan ini bersikap baik kepadanya dan lebih banyak untungnya dari pada ruginya kalau ia dapat menjadi murid wanita ini. Memang ia amat cerdik, dan demi tercapainya maksud hati ia rela melakukan hal apa saja, yang kejam, yang rendah, yang hina pun akan ia jalani. Maka setelah berpikir sejenak dalam pertemuan pandang ini, Kim Bwee tanpa ragu-ragu lagi serta-merta menjatuhkan diri berlutut.

Lu Sian tertawa senang dan berkata, suaranya berwibawa. “Kau mengakui keunggulanku? Nah, bangkitlah, dan mari kita duduk dan bicara yang baik.” Lu Sian sendiri menggerakkan tangan menyentuh pundak Kim Bwee dan seketika Kim Bwee terangkat naik! Kim Bwee memandang kagum lalu duduk, sikapnya menjadi jinak, tidak galak seperti tadi, malah pandang matanya penuh penyerahan.

“Adikku yang manis, kau bernama Coa Kim Bwee dan menjadi selir ke tujuh dari Raja?” Kim Bwee mengangguk. “Dan kau tahu siapakah aku ini?”
“Kau isteri bekas Jenderal Kam Si Ek…”

“Bekas isterinya, sudah belasan tahun kami bercerai! Dan kau tahu siapa namaku?”

“Kau… kau puteri Beng-kauwcu dan kau bernama Liu Lu Sian dengan julukan Tok-siauw-kwi.”

“Semua memang benar dan tepat! Akan tetapi sekarang aku mengajukan syarat, kalau kau menerimanya kita tetap bersahabat dan aku mau menurunkan beberapa macam ilmu kepadamu.”

“Ilmu mempergunakan rambut sebagai senjata?” tanya Kim Bwee penuh gairah. Ia kagum sekali akan ilmu itu yang dianggapnya amat hebat.

Lu Sian mengangguk. “Boleh, dan beberapa macam ilmu lagi yang hebat-hebat. Pendeknya, setelah belajar dariku, kau akan menjadi seorang tokoh yang sukar dikalahkan lawan.”

Girang sekali hati Kim Bwee dan kembali ia telah berlutut.

Akan tetapi Lu Sian mencegahnya dan membentak. “Duduk kau!” Kim Bwee terkejut dan cepat ia duduk lagi menghadapi Lu Sian.
“Kau menerima syaratku? Nah, dengar baik-baik. Pertama, kau tidak boleh menyebut guru kepadaku dan tidak boleh berlutut seperti murid terhadap guru. Kita tetap hanya sahabat baik, kau panggil Cici kepadaku dan aku panggil adik padamu. Kita kakak beradik yang sama-sama mencari kesenangan di dalam istana ini. Mengerti?”

Tentu saja makin girang hati Kim Bwee. Sambil tersenyum ia mengangguk dan matanya bersinar-sinar ketika ia menjawab. “Enci Liu Lu Sian yang baik, tentu saja aku mentaati semua permintaanmu.”

“Bukan Cici Liu Lu Sian, melainkan Enci Sian begitu saja. Syarat ke dua, tidak boleh kau memberitahukan orang lain tentang namaku yang sebenarnya. Kalau kau memberitahukan orang lain, aku akan membunuhmu lalu pergi dari sini. Mengerti?”

Kembali Kim Bwee mengangguk, kini tidak berani tersenyum karena ia dapat melihat pandang mata Lu Sian bahwa wanita itu sungguh-sungguh dan ancamannya bukan main-main belaka.

“Syarat ke tiga, kau tidak boleh menghalangi semua perbuatanku dalam istana ini. Aku tahu bahwa di antara engkau dan Kong Hian terjadi hubungan gelap. Pemuda itu menjadi pilihanku, engkau tidak boleh mengganggunya atau mendekatinya. Mengerti?”

Kembali Kim Bwee mengangguk. Ah, kiranya antara dia dan wanita ini terdapat persamaan! Sekilas terbayang dalam benaknya betapa mudahnya untuk membaiki wanita ini. Ia tahu caranya. Dalam lingkungan istana, terdapat banyak sekali pangeran yang tampan, pengawal yang muda dan gagah. Mudah untuk mencari muka dan menyenangkan hati ‘gurunya’ ini, mudah menyuguhkan muda remaja tampan ganteng untuk ditukar dengan ilmu!

“Baiklah, Cici yang cantik, baiklah. Dalam gedungku terdapat sebuah kamar dengan taman bunganya yang indah. Lebih baik Cici pindah ke sana agar lebih mudah kita bertemu. Tentang Kong Hian… tentu saja aku suka mengalah. Dan…jangan khawatir…” Ia mengedipkan matanya, “masih banyak aku mengenal pangeran- pangeran muda dan pengawal-pengawal yang menarik dan pasti menyenangkan!” Ia tertawa genit.

Lu Sian tersenyum manis. Terhadap perempuan liar ini tidak perlu ia menyembunyikan perasaannya. Ia mengangguk tanda setuju.

Demikianlah, Lu Sian hidup bergelimang dalam kemewahan dan pengejaran kesenangan, pemuasan nafsu dalam istana Kerajaan Hou-han. Ia tidak mendapat gangguan karena dilindungi oleh Coa Kim Bwee yang menganggap dia seorang kakak misan sendiri. Setahun lebih Lu Sian hidup memuaskan nafsunya, disuguhi pangeran-pangeran dan pengawal-pengawal muda yang tampan, yang menarik hatinya. Selain itu, untuk membalas ‘jasa’ dan kebaikan selir muda raja itu, ia menurunkan beberapa macam ilmu yang hebat kepada Kim Bwee. Di antaranya adalah ilmu mempergunakan rambut sebagai senjata, bahkan Ilmu I-kin-swe-jwe yang mendasari ilmu awet muda serta latihan dan obat untuk membikin keringat dan rambut berbau harum!

Segala macam perjalanan ke arah kemaksiatan dimulai dengan langkah kecil ke arah itu. Sekali keliru melangkah, orang akan tersesat makin jauh, tenggelam makin dalam. Semua perbuatan maksiat dimulai dengan iseng-iseng, dengan kecil-kecilan lebih dahulu, seperti orang mencicipi arak. Mula-mula setetes dua tetes, setelah termakan racunnya, makin lama makin banyak dan akhirnya menjadi pemabok lupa daratan.

Tidak ada seorang penjudi di dunia ini yang membuka langkah perjudian dengan taruhan besar. Mula-mula kecil-kecilan, makin lama makin mencandu dan menjadilah ia penjudi besar. Tidak ada pencuri yang mulai ‘pekerjaannya’ dengan pencurian besar-besaran. Mula-mula kecil-kecilan, makin lama makin nekat. Demikian

pula dengan segala macam nafsu, termasuk nafsu birahi. Makin dituruti, makin tak kenal puas, makin menggila dan makin haus!

Salah langkah pertama yang dilakukan Lu Sian adalah kebosanannya berumah tangga dengan Kam Si Ek. Kalau di waktu itu ia kuat bertahan, mempergunakan kebijaksanaan dan kesadarannya, ingat kewajibannya, ia takkan tersesat. Akan tetapi sekali ia salah langkah, ia tersesat makin dalam dan akhirnya tenggelam oleh gelombang permainan nafsunya sendiri!

Manusia memang makhluk lemah, maka perlu manusia selalu ingat dan waspada. Ingat selalu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan waspada selalu akan langkah hidupnya sendiri. Jalan menuju kehancuran kelihatan lebar dan menyenangkan, padahal amat lincah menyembunyikan jurang-jurang kehinaan di kanan kirinya. Sebaliknya jalan menuju kesempurnaan hidup kelihatan amat buruk dan sukar dilalui. Sekali salah pilih, sesal pun tiada gunanya. Dalam kesadaran dan penyesalan, hendak bertaubat sekali pun akan merupakan perjuangan yang lebih sukar lagi!

Seperti telah disebut-sebut di bagian depan, pada masa itu yang menguasai daratan adalah Dinasti Cin yang berhasil meruntuhkan Kerajaan Tang Muda (923-936). Oleh perang saudara yang tiada henti-hentinya ini, banyak timbul kerajaan-kerajaan kecil yang mempergunakan kesempatan perebutan kekuasaan itu untuk berdiri sendiri, di antaranya adalah Kerajaan Hou-han di Propinsi Shan-si ini. Melihat perubahan itulah Jenderal Kam Si Ek yang berjiwa patriotik dan setia kepada Kerajaan Tang mengundurkan diri dan rela hidup bertani di dusun Ting-chun di kaki gunung Cin-ling-san.

Akan tetapi tidak demikian dengan sebagian besar pendukung Tang yang dipimpin oleh Kong Lo Sengjin atau Couw Pa Ong bekas Raja Muda Kerajaan Tang lama. Ketika Kerajaan Tang baru berhasil merobohkan Kerajaan Liang, ia memperoleh lagi kedudukan yang baik sebagai pimpinan para panglima dan penasehat raja. Akan tetapi perang saudara tak pernah berhenti. Raja Tang baru atau Tang Muda yang belum lama berdiri ini roboh kembali dalam waktu tiga tahun saja dan kedudukannya diganti oleh Kerajaan Cin Muda (936- 947).

Kong Lo Sengjin tentu saja tidak mau tinggal diam. Biar pun kerajaan yang dibelanya telah runtuh, ia tidak putus asa dan masih terus melakukan perlawanan untuk merebut kekuasaan. Banyak orang-orang pandai menggabungkan diri dengan jago tua ini. Selain berkali-kali menyerang Kerajaan Cin Muda, mereka ini juga selalu mengadakan gangguan kepada kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Hou-han yang tidak mau diajak bekerja sama meruntuhkan Kerajaan Cin Muda.

Inilah sebabnya mengapa terjadi pernyerangan atas diri Pangeran Lie Kong Hian. Karena sudah tidak mempunyai pusat kerajaan, para pendukung Tang itu melakukan gerakan liar, mengacau setiap kerajaan yang tidak mau bekerja sama. Dan karena ancaman-ancaman ini pula maka Raja Hou-han dan para panglima- panglimanya ketika mendengar akan adanya seorang wanita sakti yang menjadi kakak misan dan juga guru selir ke tujuh, diam-diam merasa girang dan tidak pernah mengganggu. Dengan hadirnya Lu Sian di dalam istana, keselamatan raja sekeluarga lebih terjamin. Hal ini terbukti ketika terjadi penyerbuan di malam hari, tiga bulan setelah Lu Sian tinggal di dalam istana.

Malam itu gelap dan sunyi. Menjelang tengah malam, terjadilah pertempuran di dekat tembok sebelah selatan yang mengelilingi istana ketika lima orang penjaga diserbu oleh tiga orang berpakaian hitam. Dalam waktu singkat saja lima orang penjaga ini roboh binasa, akan tetapi sebelum roboh, seorang di antara mereka sempat berteriak-teriak minta tolong. Tiga orang itu secepat burung telah terbang melompat pagar tembok dan lenyap ke dalam lingkungan istana!

Para penjaga dan pengawal istana menjadi heboh melihat lima orang penjaga itu malang-melintang mandi darah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Segera tanda bahaya dibunyikan. Regu penjaga yang malam hari itu mendapat giliran berjaga terdiri dari tiga puluh orang, dibagi di luar dan di dalam. Kini tinggal dua puluh lima orang lagi dan mulailah mereka mengadakan pengejaran dan mencari-cari di sekitar bangunan-bangunan istana. Namun tidak tampak bayangan seorang pun penjahat.

Mendadak di istana pusat yang menjadi tempat tinggal Raja terdengar suara wanita menjerit-jerit. Para pengawal ini menyerbu masuk dan mereka terkejut melihat empat orang wanita pelayan telah mati pula. Akan tetapi di ruangan tengah, tak jauh dari kamar Raja sendiri, tampak selir raja ke tujuh dengan pedang di tangan

tengah melawan keroyokan tiga orang berpakaian hitam. Seorang wanita lain yang cantik dan biar pun jarang terlihat penjaga, namun dapat diduga oleh mereka bahwa inilah kakak misan Coa Kim Bwee yang kabarnya sakti, berdiri di sudut dengan sikap tenang menonton pertempuran.

Ketika para penjaga hendak menyerbu dan membantu selir Raja itu menghadapi tiga orang penjahat, Lu Sian menggerakkan tangan mencegah mereka sambil berkata, “Jangan bantu!”

Para penjaga kaget dan heran. Biar pun sudah dicegah mereka tetap maju dengan senjata di tangan. Karena Lu Sian bukan anggota istana, mereka menjadi ragu-ragu untuk mentaati pencegahannya, bahkan dua orang penjaga sudah menerjang maju untuk membantu. Namun, sekali tampak kelebatan sinar pedang seorang di antara tiga penjahat itu, dua orang penjaga itu berteriak dan roboh mandi darah!

“Tolol! Mundur dan jangan bantu aku!” bentak Coa Kim Bwee.

Kini para penjaga itu terkejut dan cepat mundur. Tiga orang lawan itu amat lihai dan kini selir raja yang berpengaruh itu sendiri melarang mereka, maka mereka hanya berdiri menonton dengan hati gelisah. Betapa mereka tidak akan gelisah menyaksikan kehebatan tiga orang tamu malam itu yang mainkan pedang mereka begitu ganas sehingga selir ke tujuh itu sendiri terdesak hebat!

“Siauw-moi, keluarkan ular!” tiba-tiba Lu Sian berkata.

Gerakan pedang Coa Kim Bwee tiba-tiba berubah. Pedangnya berlenggak-lenggok gerakannya, kadang- kadang ujungnya berkelebat seperti ular mematuk. Inilah Ilmu Pedang Sin-coa Kiam-hoat yang mulai dipelajarinya dari Lu Sian. Memang Coa Kim Bwee memiliki dasar yang kuat serta sudah menguasai gerakan ilmu silat tinggi, maka gerakan pedangnya sudah amat berbahaya biar pun baru belajar beberapa bulan.

Tiga orang lawannya itu terkejut dan mereka pun mengubah gerakan pedang, bahkan kini mereka mengurung dalam bentuk segitiga yang disebut Sim-seng-tin (Barisan Bintang Hati). Bintang Hati adalah tiga buah bintang yang kedudukannya di ujung segitiga. Karena Sin-coa Kiam-hoat itu gerakannya menyerang langsung ke depan dengan perubahan yang amat aneh dan sukar di duga, maka kini dikurung dengan barisan ini kedudukan Coa Kim Bwee menjadi terdesak. Setiap kali ujung pedangnya menyerang seorang lawan, yang dua sudah menerjangnya, agaknya rela mengorbankan seorang kawan akan tetapi berhasil merobohkan yang dikeroyok. Tentu saja Kim Bwee tidak mau mengadu nyawa sehingga serangannya selalu ia tarik kembali dan gagal. Ia menjadi sibuk sekali dan akhirnya kembali hanya menggerakkan pedangnya diputar cepat melindungi tubuhnya.

“Siauw-moi, mundur!” teriak Lu Sian sambil melompat maju. Sekali sambar, ia menarik dan melempar tubuh Kim Bwee ke belakang, kemudian menyerbu dengan tangan kosong!

Tiga orang berpakaian hitam itu kaget sekali karena begitu tangan Lu Sian bergerak tiga batang jarum meluncur cepat menuju dada mereka. Namun dengan gerakan tangkas ketiganya berhasil menyampok jarum itu dengan pedang. Pada saat itu pula mereka mencium bau harum dari jarum itu dan lebih semerbak lagi bau harum keluar dari rambut Lu Sian tercium hidung mereka.

“Tok-siau-kwi…!” seorang di antara mereka berseru kaget.

Memang nama besar Tok-siauw-kwi pada waktu itu sudah amat terkenal di mana-mana setelah Lu Sian melakukan perbuatan-perbuatan menghebohkan di pelbagai perkumpulan silat. Selain ilmu silatnya yang tinggi dan wataknya yang ganas, yang juga membuat ia terkenal terutama sekali bau harum dari tubuhnya dan Siang-tok-ciam (Jarum Beracun Harum) yang amat berbahaya. Maka sekali melihat jarum merah yang wangi serta bau harum dari tubuh wanita cantik ini, tahulah tiga penyerbu istana itu bahwa mereka berhadapan dengan Tok-siau-kwi!

“Tok-siau-kwi, kau orang Beng-kauw, mengapa mencampuri urusan kami?!” bentak pula seorang di antara mereka sambil melintangkan pedang di depan dada.

“Hemmm, aku mencampuri atau tidak, kalian peduli apa? Sekali menyebut nama julukanku, berarti harus mati. Tahukah kalian akan hal ini?” kata Lu Sian sambil tersenyum dingin.

Tiga orang itu menjadi marah. Mereka adalah patriot-patriot pengikut Kerajaan Tang yang setia, maka biar pun menghadapi tokoh seperti Tok-siauw-kwi, mereka tidak menjadi takut. Kini bahkan mereka berbareng menerjang dengan gerakan pedang yang dahsyat.

“Kau menghianati suamimu…!”

Begitu ucapan itu keluar dari mulut seorang penyerbu, tiba-tiba orang ini menjerit dan roboh tak bernyawa lagi. Ternyata secepat kilat Lu Sian telah menggunakan Ilmu Totokan Im-yang-ci (Totokan Im Yang) yang ia pelajari dari kitab yang ia curi dari kuil Siauw-lim-pai! Hebat sekali gerakannya dan kini dua batang pedang telah menusuk, sebuah dari depan mengarah dada kirinya, sebuah lagi dari belakang membacok kepalanya. Diserang dari depan dan belakang ini, Lu Sian tiba-tiba menggenjot tubuhnya mencelat ke atas.

“Wuuuttt! Singggg!” dua batang pedang itu meluncur lewat dari atas.

Lu Sian menggerakkan kepalanya. Rambutnya yang panjang itu terurai dan menyambar, terpecah menjadi dua gumpal rambut hitam halus panjang yang secara tiba-tiba telah berhasil melibat leher kedua orang pengeroyoknya. Ketika Lu Sian meloncat ke belakang, kedua orang itu ikut terbanting dan dua kali tangan Lu Sian bergerak.

“Plak! Plak!” terdengar suara dan robohlah dua orang itu. Pada punggung mereka tampak tanda jari-jari tangan yang berwarna merah, tapak tangan yang membakar baju di punggung, menembus kulit dan terus hawa pukulannya yang penuh racun merusak isi dada membuat mereka tewas seketika!

“Hebat, Cici…!” Coa Kim Bwee berseru girang sekali. Lu Sian hanya tersenyum dan menggeleng kepala. “Cici, harap kau suka ajarkan pukulan-pukulan itu…” “Mari kita pulang,” kata Lu Sian tenang saja.
Coa Kim Bwee memberi perintah kepada para pengawal untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan, lalu berkata. “Harap Cici suka pulang dulu dan mengaso, saya harus memberi laporan kepada Baginda.”

Memang pada waktu itu pengawal dalam dari Kaisar telah keluar, yaitu dua orang thaikam (orang kebiri) yang mewakili junjungan mereka untuk memeriksa keributan di luar istana.

Ketika Coa Kim Bwee kembali ke kamar Lu Sian, ia memeluk gurunya ini dengan penuh kagum. “Cici kepandaianmu hebat sekali! Raja sendiri telah mendengar akan jasamu dan beliau memerintahkan saya memanggil Cici menghadap.”

Lu Sian mengerutkan kening. “Ehhh…? Aku… tidak suka…”

“Akan tetapi, Cici. Sepak terjangmu tadi disaksikan banyak pengawal dan para thaikam tentu memberi laporan. Bukan aku yang membocorkan kehadiranmu di sini. Jangan khawatir, beliau hanya akan menyampaikan penghargaannya, dan akulah yang menanggung bahwa Cici takkan mendapat susah dan tetap akan bebas. Pula… eh…,” wanita itu tertawa genit. “Bukan hanya raja yang kagum kepadamu, Cici. Juga di sana akan hadir semua pangeran dan panglima muda, bukankah ini kesempatan baik untuk… eh, belajar kenal dengan mereka?”

Lu Sian tersenyum dan mengerling genit. “Iihhh! Tentu hanya pangeran-pangeran pucat dan panglima- panglima bopeng (cacat) saja!”

“Hi-hi-hik! Siapa bilang? Masa saya berani berdusta? Cici lihat saja. Ada Pangeran Kang yang tampan seperti gadis cantik berpakaian pria, ada pula Pangeran Liang yang gagah perkasa, bertubuh seperti seekor harimau jantan. Dua orang pangeran ini termasuk pangeran-pangeran yang sukar didekati, saya sendiri tidak pernah berhasil. Barangkali Cici…”

“Ihh! Kalau kau saja mereka tolak, apalagi aku yang lebih tua!”

“Lain lagi engkau dan aku, Cici. Kau lebih cantik, lebih menarik, pula kepandaianmu istimewa. Masih ada lagi beberapa orang panglima yang tampan dan ganteng, pendeknya Cici takkan kecewa, tinggal pilih….”

“Sudahlah, kita tidur. Besok saja kita lihat….”

Demikianlah, dua orang wanita yang menjadi hamba nafsu itu tidur mengaso.

Pada keesokan harinya, Lu Sian diajak Coa Kim Bwee menghadap Raja dan benar saja, Lu Sian menjadi pusat perhatian, bukan hanya oleh Raja, akan tetapi juga oleh para pangeran dan panglima yang merasa amat kagum. Dan benar pula seperti yang dikatakan Kim Bwee, di situ hadir pangeran-pangeran yang amat tampan dan panglima-panglima yang amat gagah. Raja sendiri amat ramah menyambut Lu Sian.

Raja kerajaan Hou-han ini amat pandai dan cerdik. Ia maklum bahwa kerajaannya selalu dimusuhi pihak yang ingin meruntuhkannya, oleh karena ini ia perlu membaiki para tokoh pandai. Dengan ucapan manis ia menyatakan syukur dan terima kasihnya atas bantuan Lu Sian dan melihat kenyataan bahwa Lu Sian adalah kakak angkat selirnya yang ke tujuh, raja menganugerahkan gelar Pelindung Dalam Istana kepada Lu Sian dan memberi kebebasan kepada Lu Sian untuk pergi ke mana saja dalam istana tanpa ijin lagi. Kehormatan besar yang hanya dimiliki permaisuri dan kepala pengawal! Kemudian ia memberi hadiah sutera-sutera halus dan perhiasan ketika Lu Sian diberi perkenan mengundurkan diri.

Setelah kembali ke kamar sendiri, Kim Bwee berseru girang. “Wah, Raja suka kepadamu, Cici. Kalau kau mau….”

“Hush! Kau mau samakan aku denganmu? Selera kita berbeda, Kim Bwee. Siapa suka melayani laki-laki setengah tua yang jenggotnya kasar itu? Tidak, aku tidak mau. Kalau Raja memaksa, aku akan minggat dari sini.”

Coa Kim Bwee tertawa. “Jangan khawatir, Cici. Saya dapat membujuk Raja dan menyatakan bahwa kau sudah menjauhkan diri dari pada pria. Beliau membutuhkan kepandaianmu, tentu tidak akan memaksa. Bagaimana pendapat Cici tentang para pangeran dan panglima muda? Hebat, kan?”

Lu Sian tersenyum, memainkan biji matanya. “Hebat sih hebat, akan tetapi sebagai wanita, bagaimana aku dapat mendekati mereka? Kau sendiri bilang, mereka itu sukar didekati.”

“Ihh, siapa berani menolak Cici? Tadi pun kulihat mereka melirak-lirik ke arah Cici penuh kagum dan mengilar! Kalau memang Cici ada hasrat berkenalan, aku ada jalan untuk mempertemukan Cici dengan mereka.”

Selir ke tujuh Kaisar ini benar-benar pandai mengambil hati sehingga Lu Sian merasa gembira sekali. Setelah berjanji akan menurunkan Ilmu Pukulan Tangan Api Merah kepada Kim Bwee, Lu Sian lalu mengatakan tanpa malu-malu lagi bahwa di antara para muda yang hadir tadi, ia tertarik kepada dua orang pangeran dan seorang panglima muda.

“Hi-hi-hik! Siapa bilang selera kita tidak cocok?” Kim Bwee bersorak. “Dan dua orang pangeran itu adalah Pangeran Kang yang kulit mukanya halus seperti wanita, dan Pangeran Liang yang gagah seperti harimau. Cocok, bukan? Dan panglima muda itu adalah seorang jejaka asli, usianya baru dua puluh tahun, kuat seperti seekor kuda jantan dan pandai mainkan golok. Ganteng, ya? Terutama sekali kumisnya yang tipis dan dagunya. Hemm…!” dengan lagak genit Kim Bwee meramkan matanya dan menelan ludah.

“Cihh! Genit benar engkau, Kim Bwee. Bagaimana kau hendak atur agar aku dapat berkenalan dengan mereka?”

“Mudah saja, mudah saja! Setelah Cici menjadi Pelindung Dalam Istana ini, sudah sewajarnya Cici mengadakan makan-makan dalam pesta perkenalan. Aku akan mengundang mereka dalam pesta, siapa bilang mereka akan berani menolaknya?”

Malam hari itu, ditemani oleh Coa Kim Bwee, Lu Sian tercapai hasrat hatinya, makan minum semeja dengan tiga orang muda yang ganteng tampan, Pangeran Kang, Pangeran Liang dan Panglima Muda Cu Bian. Ketiga orang muda ini tentu saja tidak enak untuk menolak undangan Lu Sian yang kini dikenal sebagai Sian-toanio (Nyonya Besar Sian), pelindung istana yang memiliki kepandaian tinggi. Biar pun dengan malu-malu, mereka merasa girang juga dapat berkenalan dengan tokoh hebat ini. Dan bau semerbak harum di kala mereka makan bersama membuat hati muda mereka berdebar-debar. Memang mereka semua maklum akan kegenitan selir ke tujuh kaisar yang sudah lama menggoda mereka, akan tetapi mereka tidak berani melayani karena mereka adalah orang-orang gagah yang tidak melakukan perbuatan hina. Akan tetapi, kecantikan dan kesaktian Sian- toanio benar-benar mengguncangkan hati dan pertahanan mereka.

Karena kini Lu Sian bebas mengunjungi bagian mana saja dalam lingkungan istana, akhirnya kedua orang Pangeran Kang dan Liang roboh dalam pelukannya, tidak kuat menahan goda dan bujuk rayunya. Orang- orang muda yang kurang pengalaman ini tentu saja mudah dipermainkan Lu Sian yang sewaktu-waktu di waktu malam dapat mengunjungi kamar mereka, dapat melakukan semua ini tanpa terlihat pengawal atau orang lain karena ia mempergunakan kepandaiannya yang tinggi.

Akan tetapi dasar moralnya sudah bejat dan rusak, Lu Sian masih belum puas dengan hasil kemenangan- kemenangan ini. Sudah banyak ia berhasil menjadikan pangeran-pangeran dan panglima muda tunduk dan menjadi kekasihnya, setiap saat ia dapat berpesta pora dengan pangeran-pangeran ganteng dan panglima- panglima gagah, namun satu hal membuat ia kecewa dan penasaran. Yaitu Panglima Muda Cu Bian yang sampai berbulan-bulan belum juga mau menyerah! Panglima muda ini benar-benar keras hati. Setiap kali Lu Sian datang, dia melayani wanita ini dengan sopan dan keras, tidak mau tunduk dan tak pernah menyatakan tanda-tanda runtuh di bawah sikap manis dan bujuk rayu.

Malam itu untuk kesekian kalinya Lu Sian yang merasa penasaran mendatangi kamar Panglima Muda Cu Bian. Pemuda ini tengah membaca kitab di dalam taman di luar kamarnya, di bawah penerangan lampu kehijauan. Ketika melihat bayangan berkelebat, Cu Bian cepat melompat berdiri dan bersiap karena pada masa itu memang tidak aneh kalau ada musuh datang di waktu tengah malam. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang datang adalah Lu Sian, ia tersenyum dan berkata. “Ah, kiranya Sian-toanio yang datang. Silakan duduk!”

Lu Sian tersenyum manis dan duduk di atas bangku depan pemuda itu sambil berkata, “Cu-ciangkun benar- benar rajin sekali, asyik mempelajari kitab apakah?”

Cu Bian tersenyum dengan muka merah. “Ah, Toanio, sungguh malu kalau bicara tentang ilmu di depanmu. Aku terlalu bodoh untuk memahami isi kitab ini.”

“Ilmu apakah yang berada dalam kitab itu?” “Ilmu Sia-kut-hoat (Ilmu Pelemas Tulang).”
“Ah, Ciangkun sudah begini lihai masih mempelajari Sia-kut-hoat?”

Cu Bian cepat berdiri dan menjura. “Harap Toanio jangan mentertawakan aku yang masih bodoh.”

Lu Sian menutupi mulutnya menyembunyikan tawa. “Para panglima di sini benar-benar pandai merendahkan diri. Ciangkun, apakah kau menemui kesukaran dalam pelajaran Sia-kut-hoat?”

“Benar, Toanio.”

“Hemm, apakah sukarnya? Kurasa mudah saja mempelajari ilmu ini. Kalau Ciangkun suka, boleh saja aku mengajarmu sampai berhasil.”

“Sungguh? Ah, terima kasih, Toanio, terima kasih.” “Ciangkun suka?”
“Tentu saja saya suka, kalau tidak terlalu mengganggu Toanio.”

“Ilmu Sia-kut-hoat berinti kepada penggunaan hawa sakti dalam tubuh. Akan tetapi untuk mengetahui sampai di mana tingkat Ciangkun, harap Ciangkun memberi petunjuk sebentar. Mari kita main-main sebentar, Ciangkun boleh saja menggunakan golokmu yang terkenal ampuh, dan akan kuperlihatkan betapa Sia-kut-hoat dapat melawannya.”

“Mana saya berani? Tak usah dengan senjata, baik dengan tangan kosong saja, akan tetapi harap Toanio jangan mentertawai kebodohanku.”

Lu Sian berdiri dan tersenyum manis. “Tangan kosong pun boleh. Nah, silakan, Ciangkun.”

Karena mendapat janji akan diberi pelajaran Ilmu Sia-kut-hoat yang amat ia inginkan, pemuda ini memenuhi permintaan Lu Sian. Ia lalu menyimpan bukunya dan berdiri menghadapi Lu Sian. Akan tetapi karena masih merasa sungkan-sungkan, ia menjura dan memberi hormat. “Harap Toanio maafkan kelancanganku.”

“Tak usah Ciangkun sungkan, mulailah.”

“Toanio, awas serangan!” sambil berkata demikian Cu Bian menyerang dengan pukulan ke arah pundak.

Pukulan ini seharusnya menuju ke dada, akan tetapi Cu Bian yang pemalu merasa tidak pantas memukul dada dalam latihan, maka memukul pundak. Diam-diam Lu Sian menjadi gemas. Pemuda ini amat pemalu dan terlalu sopan, pikirnya. Ia segera mengangkat tangannya menangkis, sengaja bergerak perlahan dan lambat. Sebagai seorang ahli silat yang sudah pandai, tentu saja Cu Bian melihat kelambatan ini. Betapa pun juga ia seorang panglima muda yang sudah terkenal, tentu saja dalam pertandingan ilmu silat, ia ingin mencari kemenangan.

Melihat tangkisan lambat ini, kepalan tangannya dibuka dan ia menangkap lengan Lu Sian sambil menariknya. Tepat sekali tangannya berhasil mencengkeram kulit lengan yang halus dan hangat. Akan tetapi mendadak sekali pegangan yang erat itu terlepas seakan-akan lengan itu seekor belut atau ular yang licin, dan seakan- akan tulang lengan itu lenyap. Ia kaget sekali.

“Nah, itulah kegunaan Sia-kut-hoat, Ciangkun. Kau boleh menangkapku lagi di mana saja!” tantang Lu Sian sambil tersenyum.

Cu-ciangkun masih belum mau percaya. “Maaf, Toanio!” katanya dan ia bergerak maju. Kedua tangannya cepat sekali berhasil menangkap kedua lengan Lu Sian dan kini ia mengerahkan tenaga, jari-jari tangannya mencengkeram.

Dengan mulut tetap tersenyum Lu Sian berkata, “Yang keras, Ciangkun, lebih keras lagi.”

Cu Bian penasaran sekali dan mempererat pegangannya, tidak peduli lagi apakah pegangannya itu akan meyakitkan, bahkan ia lalu mempergunakan cengkeraman dari Ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Ilmu Cakar Garuda). Dengan ilmu ini ia berani mencengkeram senjata tajam lawan, maka kini memegang lengan halus, dapat dibayangkan betapa kuatnya. Namun tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara lirih dan… tahu-tahu kedua lengannya sudah terlepas lagi dari cengkeraman Cu Bian!

“Hebat…!” Cu Bian berseru girang.

“Cu-ciangkun, kalau hanya mencoba dengan lengan saja, tentu akan dikira bahwa Sia-kut-hoat hanya dapat dipakai untuk melemaskan tulang lengan. Cobalah sekarang Ciangkun menangkapku seperti orang menangkap pencuri, boleh Ciangkun menjepit tubuhku dengan kedua lengan boleh kau rangkul dan jepit.”

Seketika wajah Cu Bian menjadi merah. “Ini… ini… mana saya berani…?”

“Ihh, Ciangkun mengapa sungkan-sungkan dan malu-malu? Bukankah kita ini sedang berlatih menguji ilmu? Hayo, lakukanlah jangan ragu-ragu. Sebaiknya Ciangkun menggunakan ilmu menangkap yang paling kuat, membekuk leherku melalui bawah kedua lenganku ke atas.”

Berdebar jantung Cu Bian. Di lubuk hatinya ia amat mengagumi wanita ini, kagum akan ilmu kepandaiannya, juga kagum akan kecantikannya. Akan tetapi dia bukanlah seorang pemuda hidung belang, dan ia selalu menjaga kesopanan dan menjaga nama. Kalau saja ia tidak amat ingin mempelajari Sia-kut-hoat, agaknya ia akan berkeras menolak. Merangkul seperti itu sama saja dengan memeluk, pikirnya.

“Aku… aku… tidakkah itu berarti saya berani kurang ajar terhadap Toanio?” Ia masih membantah dan ragu- ragu.

Makin gemas hati Lu Sian. Benar-benar seorang pemuda istimewa. Belum pernah ia bertemu dengan pemuda yang begini pemalu dan tahan uji dan kuat menahan perasaan.

“Cu-ciangkun, bagaimana ini? Aku sedang memberi petunjuk tentang Sia-kut-hoat yang ingin kau pelajari, mengapa begini saja kau keberatan? Ada apakah terselip dalam hatimu?”

Makin bingung dan guguplah Cu Bian mendengar ini. Celaka, pikirnya. Keraguanku ini bahkan menimbulkan kesan bahwa memang hatiku memikirkan hal-hal kurang layak! Ia segera melangkah maju dan berkata tegas, “Baiklah, Toanio!”

Lu Sian tersenyum mengejek, lalu membalikkan tubuhnya, mengangkat kedua lengannya ke atas, “Nah, kau bekuklah aku!”

Cu Bian mendorong kedua lengannya melalui bawah lengan Lu Sian, lalu membalikkan tangan ke atas dan kedua tangannya bertemu di atas tengkuk Lu Sian. Jantungnya berdebar makin keras dan pemuda ini memejamkan matanya menggigit bibir! Kasihan sekali pemuda yang masih hijau ini. Mana bisa ia tidak merasa ‘tersiksa’ ketika kedua lengannya merasakan kulit leher yang halus, dadanya merapat pada punggung yang lunak, hidungnya dekat sekali dengan rambut yang harum semerbak? Demi kesopanan ia agak mengundurkan tubuhnya dan pelukannya pada leher mengendur.

“Eh-eh, bagaimana ini? Kalau cara Ciangkun membekuk pencuri selemah ini, tanpa Sia-kut-hoat sekali pun akan mudah lepas. Jangan sungkan-sungkan, Ciangkun. Atau… khawatirkah engkau kalau-kalau leherku akan patah?”

Cu Bian makin bingung dan terpaksa sekali ia mengerahkan tenaga mempererat kedua lengannya yang membekuk leher. Untuk melakukan ini, terpaksa pula ia merapatkan dadanya ke punggung Lu Sian. Jantungnya berdebar kencang sekali, darahnya berdenyut-denyut, kepalanya menjadi pening, dan napasnya terengah-engah!

Lu Sian tersenyum, hampir terkekeh geli. Tentu saja ia dapat merasakan betapa dada bidang dan keras yang merapat punggungnya itu berdenyut-denyut keras, betapa kedua lengan yang berotot dan kuat itu menggigil, betapa napas di belakang tengkuknya itu panas sekali dan terengah-engah! Makin kagumlah ia. Alangkah kuatnya pemuda ini, kuat lahir batin. Tubuhnya kuat, juga batinnya kuat sehingga biar pun nafsu muda yang sudah selayaknya itu mulai bergelora, namun ia masih dapat bertahan dan berusaha menekannya.

“Yang lebih kuat lagi, Ciangkun!” Ia menggoda dan sengaja berlama-lama melepaskan diri sehingga pemuda itu merasa semakin ‘tersiksa’.

“Sudah cukup, Toanio. Lekaslah gunakan Sia-kut-hoat…” “Kenapa sih Ciangkun terburu-buru?” Lu Sian menggoda terus. “Saya… eh… saya khawatir kalau-kalau… Toanio akan terluka…”
Karena sudah yakin bahwa diam-diam pemuda ini tidak dapat menahan daya tarik kewanitaannya, Lu Sian lalu berkata, “Nah, yang kuat, kerahkan tenagamu, aku akan melepaskan diri!” sambil berkata demikian, ia menggerakkan tubuhnya, menggeliat-geliat dan… dengan mudah ia dapat ‘merosot’ ke luar dari pelukan ketat itu!

Cu Bian masih berdiri agak membongkok dengan kedua lengan memeluk seperti tadi, akan tetapi yang dipeluknya sudah terlepas dan ia masih terengah-engah dan meramkan matanya!

“Bagaimana, Ciangkun?” Lu Sian tertawa dan menggigit bibir menahan geli.

Cu Bian cepat sadar dan ia segera membungkuk dan memberi hormat. “Benar-benar Toanio lihai sekali, saya merasa takluk. Dan amat beruntunglah saya akan mendapat bimbingan Toanio dalam mempelajari Sia-kut- hoat.”

“Ciangkun, Ilmu Sia-kut-hoat mudah dipelajari, akan tetapi dasarnya harus kuat. Seperti kukatakan tadi, berdasarkan penggunaan hawa sakti dalam tubuh yang disalurkan pada sambungan tulang. Untuk mempelajari ini, kita harus berada dalam ruangan tertutup dan biarlah aku membantu penyaluran hawa dalam tubuh Ciangkun agar lebih cepat hasilnya. Sanggupkah Ciangkun?”

Makin merah muka Cu Bian, akan tetapi ia percaya betul bahwa Sian-toanio ini bersungguh-sungguh hendak melatihnya. Kalau memang caranya demikian, apa mau dikata lagi? Toh ini hanya latihan, demi memenuhi syarat agar berhasil! “Baiklah, Toanio, apakah kamar saya cukup memenuhi syarat?”

“Cukuplah, asal di tempat tertutup,” jawab Lu Sian menahan geli hatinya.

Mereka lalu meninggalkan taman dan memasuki kamar Cu Bian yang cukup luas dan bersih. Sebuah tempat tidur lebar berdiri di sudut kamar. Lu Sian tidak mau tergesa-gesa, karena ia tidak ingin membuat pemuda ini terlalu sungkan, malu dan bercuriga. Maka ia pun berkata, “Ciangkun harus duduk bersila menyatukan perhatian dan mengerahkan hawa sakti dalam tubuh. Biar saya yang membantu penyaluran hawa sakti itu. Akan tetapi agaknya Ciangkun akan merasa tidak pantas kalau kita berlatih di atas… sana itu!” Ia menuding ke arah ranjang dan Cu Bian menundukkan muka, tak berani memandang wajah Lu Sian. “Karena itu, biarlah kita duduk bersila di lantai ini saja.”

Cu Bian tidak berani menjawab. Ia benar-benar merasa amat sungkan dan malu. Selama hidupnya belum pernah ia berdua dengan seorang wanita di dalam kamar, apalagi berada di atas satu ranjang, biar pun hanya bersila!

“Terserah… kepada Toanio…,” jawabnya dan ia lalu mendahului duduk bersila di atas lantai.

Lu Sian pun duduk bersila di depannya, kemudian wanita itu menempelkan kedua telapak tangannya kepada tangan Cu Bian sambil berkata, “Atur napas kerahkan tenaga, biar nanti aku yang membantumu menyalurkan tenaga ke sambungan-sambungan tulang. Kau menurutlah saja dan lihat hasilnya.”

Cu Bian mengangguk karena sukarlah baginya mengeluarkan suara setelah kedua tangan mereka saling menempel. Betapa takkan berdebar jantungnya karena tapak tangan yang halus lunak itu menyalurkan hawa mukjijat yang seperti membanjir ke dalam tubuhnya membuat tubuhnya penuh getaran-getaran aneh. Dan bau yang semerbak harum itu!

Cu Bian cepat memejamkan kedua matanya, mencurahkan perhatiannya dan mengerahkan sinkang (hawa sakti) dalam tubuhnya. Terasa olehnya betapa satu kekuatan hebat yang masuk ke tubuhnya melalui telapak tangan itu menguasai hawa saktinya dan mendorongnya menembus seluruh tulang dalam tubuh. Mula-mula lengan kanannya berbunyi berkeretakan, lalu lengan kiri, kedua kaki, kedua pundak, leher dan punggung.

“Sia-kut-hoat dapat membuat tubuh menjadi kecil, tulang-tulang seperti dapat dilipat sehingga kita mudah lolos dari ikatan apa pun juga,” Lu Sian berbisik. “Tanpa menggerakkan tubuh sekali pun kita dapat meloloskan diri dari cengkeraman apa saja. Lihatlah buktinya!”

Tiba-tiba Cu Bian yang masih meramkan mata itu merasa betapa tulang pundaknya bergoncang. Ia tidak melawan karena tadi sudah dipesan, menurut saja. Pundaknya serasa tak bertulang lagi sehingga ia terkejut.

“Cu-ciangkun, lihat hasilnya, buka matamu…,” kembali Lu Sian berbisik perlahan.

Cu Bian membuka kedua matanya dan… terbelalak ia memandang tubuh bagian atas yang tak tertutup apa- apa lagi itu. Kulit yang putih halus memerah terkena sinar lampu, dada yang montok padat dengan lekuk lengkung sempurna. Dia sendiri pun bertelanjang di tubuh bagian atas. Entah bagaimana, baju mereka berdua telah terlepas dan bergantungan di pinggang, sedangkan kedua tangan mereka masih saling menempel dan tak pernah lepas. Pemuda yang selama hidupnya belum pernah menyaksikan pemandangan seperti ini, tak dapat menahan lagi. Tubuhnya menggetar, mukanya menjadi merah dan terasa panas, dadanya menggelora menyesakkan napas. Kedua tangan Lu Sian kini memegang kedua tangan pemuda itu dan memijit-mijitnya mesra.

“Tak senangkah hatimu karena hasil ini?” Ia berbisik dengan senyum memikat dan mata basah penuh nafsu.

Makin berombak dada Cu Bian, ia hanya mengangguk-angguk tanpa dapat berkata apa-apa, matanya tidak berani langsung bertemu pandang dengan Lu Sian melainkan tak pernah berkedip menatap ke arah dada! Tiba-tiba Lu Sian tertawa lirih dan menubruknya, merangkul dan menciumnya.

“Eh… eh… Toanio….” Cu Bian terengah-engah dan tubuhnya menggigil, akan tetapi kedua lengannya yang kuat itu memeluk dan mendekap tubuh yang menggairahkan, mendekap sekuat tenaganya sehingga kalau yang dipeluknya itu wanita lain tentu akan remuk-remuk tulang iganya.

Akan tetapi Lu Sian bukannya wanita biasa. Didekap sekuat itu, ia hanya tertawa dan kini ia menoleh ke arah lampu, tampak senyumnya melebar, senyum kemenangan ketika bibirnya meruncing untuk meniup ke arah lampu di sudut kamar sehingga padam…..

Karena di dalam istana Kaisar Cin Muda ini Lu Sian mengalami kehidupan yang penuh kesenangan di mana ia dapat memuaskan semua nafsunya, hidup bergelimang harta dunia dan kesenangan, maka ia merasa seakan- akan tercapai semua yang menjadi cita-citanya. Sampai delapan tahun ia tinggal di dalam istana, dan selama itu Coa Kim Bwee berhasil menyenangkan hatinya dengan pelayanan-pelayanan manis sehingga banyak pula ilmu yang ia turunkan kepada selir raja ini. Bahkan ilmu awet muda ia turunkan pula kepada Coa Kim Bwee yang tentu saja menjadi amat girang.

Biar pun maklum bahwa wanita yang di dalam istana dikenal sebagai Sian-tonio itu sesungguhnya adalah puteri Beng-kauwcu yang berjuluk Tok-siauw-kwi dan yang menghabiskan pangeran-pangeran dan panglima- panglima muda yang tampan untuk dijadikan kekasihnya, namun Raja tidak mau menghalanginya. Hal ini adalah karena hadirnya Lu Sian di dalam istana itu pun merupakan hal yang menguntungkan. Semenjak ada Lu Sian di dalam istana, jarang sekali terjadi penyerbuan musuh dan kalau pun ada, tentu akan disapu bersih oleh wanita sakti itu.

Karena istana sudah terjaga dengan adanya Lu Sian, para panglima yang tadinya bertugas menjaga keselamatan raja, kini memindahkan perhatiannya ke luar istana dan mulai membantu melakukan pembersihan dalam kota raja. Banyak sudah mata-mata musuh ditangkap dan dibunuh, bahkan belum lama ini belasan orang pengikut atau anak buah Couw Pa Ong yang masih selalu berusaha merampas kekuasaan dapat dibasmi habis dalam sebuah kuil kosong di sebelah selatan kota raja.

Yang memimpin pembasmian ini adalah Panglima Muda Cu Bian yang kini telah memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silatnya semenjak ia menjadi kekasih Lu Sian. Panglima muda ini banyak berhasil dalam usaha membasmi musuh, karena dia melakukan penyelidikan dengan menyamar sebagai penduduk biasa, tidak berpakaian sebagai panglima. Dalam penyelidikannya, Cu Bian tahu bahwa komplotan mata-mata yang paling aktif di kota raja adalah gerombolan anak buah Couw Pa Ong atau Kong Lo Sengjin, bekas Raja Muda Kerajaan Tang yang masih setia kepada dinasti yang sudah runtuh itu. Dan ia tahu pula bahwa di dalam kota raja terdapat sebuah tempat yang dijadikan tempat pertemuan mereka, di samping kuil kosong di mana ia telah membasmi tiga belas orang mata-mata belum lama ini.

Pada suatu pagi, seorang diri Cu Bian yang berpakaian sebagai seorang penduduk biasa pergi menyelidiki rumah tua di ujung kota yang sunyi di sebelah barat itu. Goloknya ia sembunyikan di balik baju dan ia mendekati rumah tua itu dengan hati-hati dan menyelinap di antara pohon-pohon di belakang rumah. Biasanya rumah tua ini kosong, akan tetapi tadi ia melihat berkelebatnya bayangan orang melalui jendela yang tidak berdaun lagi itu.

Setelah dekat ia mengintai dan terdengar suara orang bercakap-cakap. Hatinya tergerak ketika ia melihat seorang kakek tua duduk di atas kursi sedang marah-marah kepada seorang laki-laki yang berdiri ketakutan. “Siapakah kakek ini?” pikirnya. Kakek yang mukanya penuh cambang, pakaiannya longgar dan wajahnya berwibawa!

“Goblok! Tolol sekali kalian! Bagaimana sampai berhasil disergap dan dibunuh? Benar-benar tidak berotak. Dan semua usaha ke istana gagal belaka, mengantar nyawa dengan sia-sia! Ah, baru beberapa tahun aku mengaso di Pek-coa-to (Pulau Ular Putih), usaha kita macet karena ketololan kalian. Kalau para pembantuku adalah patriot-patriot konyol seperti kalian ini, mana mungkin Kerajaan Tang yang jaya dapat bangkit kembali?”

“Ampun, Ong-ya, sesungguhnya kami cukup hati-hati, akan tetapi semenjak Tok-siauw-kwi berada di sini, kami tidak berdaya apa-apa. Semua serbuan ke istana gagal dan teman-teman kita banyak yang mati konyol. Gerakan kita di sini menjad macet sama sekali.”

Diam-diam Cu Bian terkejut. Kiranya inilah Sin-jiu Couw Pa Ong yang terkenal pula dengan julukannya Kong Lo Sengjin! Ia memandang penuh perhatian. Melihat betapa kedua kaki yang tergantung di kursi itu lemas dan lumpuh, ia tidak ragu-ragu lagi. Hatinya berdebar dan ia menoleh ke belakang. Kalau saja ada pembantu, ah, kalau saja ada Sian-toanio! Akan tetapi masa ia tidak akan dapat mengalahkan seorang kakek yang lumpuh kedua kakinya? Dan orang kedua itu pun kelihatan lemah.

“Huh, menghadapi Tok-siauw-kwi saja takut? Biarlah, setelah aku datang, akan kuhancurkan kepala siluman betina itu. Hemm, kau lihat baik-baik!” Tiba-tiba kakek itu menggerakkan lengannya dan angin besar menyambar ke arah jendela di mana Cu Bian mengintai.

“Brakk!” runtuhlah sebagian dinding jendela itu, akan tetapi Cu Bian sudah melompat ke samping, terus ia memutar golok yang sudah dicabutnya sambil menyerbu ke dalam rumah melalui jendela.

“Pemberontak tua bangka! Lebih baik kau menyerahkan diri untuk diadili dari pada harus berkenalan dengan golokku!” bentaknya.

Kong Lo Sengjin tidak mempedulikan panglima muda ini, bahkan menoleh ke arah laki-laki temannya tadi sambil bertanya, “Siapakah budak ini?”

Laki-laki itu meloncat ke pinggir, gerakannya cukup ringan, dan ia berkata, “Ong-ya, inilah dia Cu-ciangkun, panglima muda yang memimpin pembasmian teman-teman kita di kuil tua…!”

“Oho! Bagus sekali kau mengantarkan nyawa ke sini, budak. Lekas berlutut agar kau dapat terbebas dari kematian mengerikan!” suara Kong Lo Sengjin berubah menyeramkan.

“Ong-ya, dia ini seorang di antara kekasih Tok-siauw-kwi!” laki-laki itu berkata pula.

Sementara itu Cu Bian sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. “Pemeberontak rendah! Rasakan golokku!”

Ia menerjang maju, membacok dengan goloknya, gerakannya cepat dan kuat sekali. Goloknya lenyap berubah sinar putih seperti kilat menyambar ke arah leher kakek itu.

“Singgg…!!”

Namun goloknya mengenai angin belaka karena kakek yang sakti itu telah mencelat ke atas bersama kursinya! Dengan masih duduk diatas kursi, Kong Lo Sengjin telah berhasil mengelakkan sambaran golok! Gerakan luar biasa ini dibarengi suara tertawa bergelak-gelak.

Cu Bian penasaran sekali. Sambil berseru keras ia menerjang terus kemana pun berkelebatnya bayangan kakek bersama kursinya. Ia sudah memperoleh pelajaran dari wanita cantik itu, tidak hanya pelajaran bermain cinta, melainkan juga pelajaran untuk memperhebat ginkang-nya, lweekang dan ilmu goloknya. Namun menghadapi kakek lumpuh ini, ia benar-benar tidak berdaya. Goloknya selalu membacok angin belaka dan pada detik terakhir, kakek itu selalu dapat berpindah tempat bersama kursinya dan masih tetap tertawa-tawa.

“Ha-ha, disuruh berlutut tidak mau, kau menghendaki kematian yang mengerikan!” kakek itu berkata dan lengan bajunya yang panjang itu berkibar menyambar ke depan, yang kanan menangkis golok, yang kiri menyambar ke arah kepala Cu Bian.

Bukan main kagetnya pemuda ini ketika goloknya hampir saja terlepas dari pegangan ketika bertemu dengan ujung lengan baju. Akan tetapi ia lebih memperhatikan sambaran ujung lengan baju ke dua yang mengarah kepalanya. Cepat ia miringkan tubuh membuang diri, akan tetapi tetap saja pundaknya kena dihantam ujung lengan baju.

“Plakk!” perlahan saja tampaknya hantaman itu, namun akibatnya cukup hebat karena tubuh Cu Bian terhuyung-huyung ke belakang dan kepalanya serasa hampir pecah saking hebatnya rasa nyeri di pundaknya.

Namun orang muda ini mempunyai keberanian besar. Ia meloncat bangun dan kini dengan kemarahan meluap, ia menerjang maju lagi dengan dahsyat sambil menahan rasa nyeri yang menusuk jantung.

“Hah, rebahlah kau!” bentak Kong Lo Sengjin tanpa berpindah dari kursinya.

Hanya dengan menggerakkan kedua tangannya, di lain saat ia telah dapat merampas golok dan merobohkan Cu Bian dengan totokan yang membuat tubuh pemuda itu lemas dan seperti lumpuh. Cu Bian mengerahkan tenaga hendak bangun, akan tetapi begitu bangun duduk ia terbaring kembali karena tubuhnya menjadi amat lemas. Akan tetapi matanya tetap melotot memandang kakek ini, sedikit pun tidak membayangkan ketakutan.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan di luar dan menerobos masuklah tiga orang berpakaian perwira diikuti oleh belasan orang anak buahnya. Mereka ini adalah pasukan keamanan di kota raja yang tadi melihat gerakan Cu Bian menyelidiki rumah kosong dan kini datang memberi bantuan.

“Kau hadapi mereka!” teriak si Kakek dan sekali mengulur tangan, ia telah menyambar Cu Bian berikut goloknya, kemudian tubuhnya melayang ke arah pintu.

“Serbu! Tolong Cu-ciangkun!” teriak seorang perwira.

Mereka yang berada dekat pintu segera memapaki tubuh kakek yang melayang itu dengan tombak dan golok. Terdengar suara berkerontangan disusul robohnya empat orang prajurit ketika Kong Lo Sengjin menangkis dengan kebutan ujung lengan bajunya sambil mengibaskan tangan mengirim tamparan. Tubuhnya sudah mencelat ke luar dengan mempergunakan sepasang tongkat yang tadinya ia sambar dari dekat meja. Ia telah melesat jauh ke depan, sebentar saja lenyap dari tempat itu sambil membawa tubuh Cu Bian yang tak dapat bergerak sama sekali dalam kempitannya.

Yang celaka adalah anak buah Kong Lo Sengjin yang tertinggal dalam rumah tua. Dia lihai juga, melawan mati-matian dengan golok rampasan, akan tetapi tiga orang perwira itu adalah pengawal-pengawal istana yang tangkas. Maka setelah mengalami pertempuran hebat, akhirnya orang itu tewas di bawah bacokan banyak senjata dan tubuhnya hancur.

Peristiwa tertawannya Cu-ciangkun oleh seorang kakek pemberontak amat menggegerkan kota raja. Penjagaan diperketat, di seluruh kota tampak para prajurit hilir mudik mengadakan pemeriksaan dan penjagaan. Juga sekitar istana dijaga keras. Namun semua itu tidak menghalangi Kong Lo Sengjin yang menyelundup ke dalam istana, mempergunakan kepandaiannya yang luar biasa. Bagaikan seekor burung saja ia melompati pagar tembok yang mengurung istana tanpa terlihat oleh para penjaga, kemudian menyelinap dalam gelap, meloncat ke atas bangunan istana. Cu-ciangkun masih berada dalam kempitannya ketika ia tiba di atas istana sambil mencari-cari.

Lu Sian juga mendengar tentang tertawannya Cu-ciangkun. Ia ikut merasa gelisah karena Cu Bian merupakan seorang di antara kekasihnya yang menyenangkan hatinya. Ia menduga-duga siapa gerangan kakek tua lihai itu, dan samar-samar ia teringat akan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong. Diam-diam ia bergidik. Pernah beberapa tahun yang lalu ia menyaksikan sepak terjang kakek lumpuh yang amat lihai itu. Akan tetapi ia tidak takut sekarang. Bahkan ingin ia mencoba kepandaian kakek itu. Agaknya sekarang ia takkan kalah

menandingi kesaktian si Kakek yang ia tahu amat lihai ilmu silat tangan kosong dan amat kuat tenaga sinkang- nya untuk melakukan pukulan jarak jauh.

Malam itu Lu Sian tak dapat tidur. Ia duduk dalam kamarnya termenung menghadapi meja. Karena hawa udara agak panas, ia membuka jendela kamarnya yang berbentuk bulat seperti bulan purnama. Telinganya yang terlatih itu dapat menangkap suara perlahan di luar kamar. Akan tetapi ia hanya tersenyum mengejek dan tidak bergerak dari bangku yang didudukinya, pura-pura tidak tahu bahwa ada seorang tamu malam yang tinggi ginkang-nya, sehingga gerakan kakinya hampir tidak menerbitkan suara, tengah mendekati kamarnya. Selama ini ia tak pernah berhenti berlatih sehingga Lu Sian merasa amat percaya akan kepandaiannya sendiri.

Tiba-tiba sinar putih menyambar dari luar jendela memasuki kamar. Biar pun sinar itu menyambar dari belakangnya, namun Lu Sian maklum bahwa senjata itu tidak akan mengenai tubuhnya, maka ia tetap duduk tidak bergoyang sama sekali.

“Capp…!”

Sinar itu ternyata sebatang golok yang kini menancap di atas meja di depannya, golok yang indah dan di ujung golok itu terdapat sebuah benda merah kebiruan yang kini tertancap golok di atas meja. Benda yang berlumur darah. Sebuah jantung manusia! Melihat golok itu, jantung Lu Sian berdebar. Inilah golok Cu Bian, kekasihnya. Dan jantung itu…??

Tiba-tiba terdengar berkesiurnya angin dan sesosok tubuh melayang masuk melalui jendela, menubruk Lu Sian. Wanita ini bangkit berdiri, tangan kirinya menyampok dan tubuh itu terbanting ke atas lantai. Ketika ia memandang, ternyata itu adalah sesosok mayat seorang laki-laki yang telentang dengan dada robek dan mata terbelalak. Mayat Cu Bian!

“Ha-ha-ha! Tok-siauw-kwi, kukirim pulang tubuh kekasihmu! Wanita tak tahu malu, kau mengotori nama besar Beng-kauw!” terdengar suara memaki dan mengejeknya di luar.

Hampir meledak rasa dada Lu Sian saking marahnya. Mukanya menjadi merah sekali, sepasang matanya berkilat dan ia menyambar pedangnya, terus melayang ke luar dari jendela. Ketika ia turun di dalam taman bunga di pinggir rumah, ternyata di situ telah berdiri seorang kakek, berdiri di atas kedua tongkatnya yang menggantikan kaki. Sin-jiu Couw Pa Ong alias Kong Lo Sengjin!

“Hemmm, kiranya engkau tua bangka keparat! Bukankah engkau ini si pemberontak Couw Pa Ong yang juga bernama Kong Lo Sengjin!”

“Ha-ha-ha! Betul sekali, Tok-siauw-kwi. Kau boleh menyebut aku pemberontak, akan tetapi aku memberontak kepada kerajaan-kerajaan yang dahulunya memberontak dan merobohkan Dinasti Tang. Aku seorang patriot sejati! Tidak seperti engkau ini! Suamimu, Jenderal Kam Si Ek juga seorang patriot sejati, akan tetapi engkau telah mengkhianatinya, mencemarkan namanya. Apalagi kalau diingat bahwa engkau puteri Beng-kauwcu Pat- jiu Sin-ong Liu Gan…, benar-benar menyebalkan dan merendahkan nama ayahmu dan Beng-kauw!”

“Tutup mulutmu yang kotor! Kong Lo Sengjin, orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak!”

“Ha-ha-ha, sombongnya! Ayahmu sendiri tidak akan berani kurang ajar terhadapku, kau ini bocah sombong bisa apakah? Mengingat muka Ayahmu, biarlah aku mengampuni dirimu dan lekas kau minggat dari Kerajaan Hou-han ini dan jangan membelanya. Ada hubungan apakah Hou-han denganmu maka kau membelanya mati- matian?”

“Kakek tua bangka! Apa yang kulakukan, ada hubungan apa denganmu? Kau peduli apa?!”

“Wah, benar keras kepala! Kau kira aku tidak tahu bahwa kau di sini mengumpulkan pemuda-pemuda tampan untuk memuaskan nafsumu yang kotor dan hina? Kau….”

“Keparat!” Lu Sian sudah menerjang maju dengan pedangnya karena tidak tahan lagi mendengar kata-kata Kong Lo Sengjin. Pedangnya berkelebat cepat bagaikan kilat menyambar, dengan gerakan dahsyat sekaligus telah menyerang dengan tiga kali bacokan dan dua tusukan berubi-tubi.

“Trang-trang-trang-trang-trang….!” lima kali pedang bertemu tongkat dan keduanya meloncat ke belakang sampai mereka terpisah dalam jarak enam meter.

Hebat serangan Lu Sian, akan tetapi hebat pula tangkisan si Kakek Tua. Keduanya merasa telapak tangan mereka tergetar dan diam-diam Kong Lo Sengjin terheran-heran. Tangkisannya tadi telah ia gerakkan dengan pengerahan sinkang dengan maksud membuat pedang lawan terpental, akan tetapi jangankan terpental, bahkan pedang itu masih dapat menyerang terus sampai lima kali. Hal ini membuat Kong Lo Sengjin menjadi marah dan penasaran.

Di lain pihak, Lu Sian juga bersikap hati-hati. Ia maklum bahwa kakek ini pandai sekali serta kuat tenaganya. Serangannya tadi merupakan jurus yang lihai dari Toa-hong Kiam-sut, akan tetapi dapat ditangkis dengan baik oleh lawan dan tangannya terasa gemetar, tanda bahwa tenaga yang tersalur pada tongkat itu amat kuatnya.

Tangan kiri Lu Sia bergerak dan sinar merah menyambar ke depan. Itulah jarum-jarum Siang-tok-ciam yang ia lepas dengan pengerahan tenaga. Belasan batang jarum halus yang mengeluarkan bau harum itu menyambar ke arah jalan darah yang mematikan, sukar sekali dielakkan lawan karena begitu tangannya bergerak, sinar berkelebat dan jarum-jarum itu sudah sampai di tempat sasaran!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo