August 1, 2017

Suling Emas (Part 15)

 

“Kau betul, Cici. Akan tetapi, kebetulan sekali besok lusa diadakan sembahyang besar di Siauw-lim-si. Agaknya Thian memang akan menolong dan melindungi cinta kasih kita. Dalam upacara sembahyang besar itu, semua murid Siauw-lim-si berikut pimpinannya yang telah menjadi hwesio dan nikouw, melakukan upacara sembahyang beramai-ramai dan berbareng. Tidak ada seorang pun hwesio yang tidak ikut dalam upacara itu. Nah, pada saat itulah, selama upacara sembahyang dilakukan, semua tempat dalam lingkungan Siauw-lim-si tidak terjaga. Ada pun penjagaan hanya dilakukan oleh murid-murid bukan pendeta, itu pun yang dijaga hanya sekeliling tembok yang mengurung Siauw-lim-si. Aku pun ikut menjadi penjaga, penjaga pintu gerbang dan tembok bagian selatan. Kalau aku yang menjaga di sana, apakah sukarnya bagimu untuk masuk? Dan selagi para hwesio melakukan upacara sembahyang, kau dapat dengan leluasa memasuki kamar kitab, bukan?”

Girang sekali hati Lu Sian. “Ah, bagus kalau begitu! Masih dua hari lagi? Ah, masih banyak waktu bagi kita untuk….” Lu Sian mengerling tajam.

“…untuk bersenang-senang bersama bukan?” Yap Kwan Bi langsung menyambar kata-kata yang sengaja tidak diselesaikan Lu Sian.

Lu Sian tersenyum. “Ketika kau menawarkan kamarmu untukku, bukankah di sudut hatimu sudah ada maksud itu?”

Wajah yang tampan itu menjadi merah, akan tetapi pemuda ini menggeleng kepala dan berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Tidak, Lu-cici. Ketika itu aku hanya berniat menolong, karena memang sifat pendekar harus selalu dilaksanakan oleh para murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi… ah, entah mengapa, aku tergila-gila kepadamu, dan aku cinta kepadamu! Tak baik kalau kita kembali ke sana bersama, Lu-cici. Orang-orang tentu akan menaruh curiga. Di sinilah tempat kita, bukankah enak dan nyaman sekali di sini?” Yap Kwan Bi memeluknya lagi dan kali ini Lu Sian mendiamkannya saja.

Tiba-tiba wanita ini bangkit berdiri dan menarik tangan Kwan Bi. “Eh, bocah pelupa! Bukankah kau hendak memperkenalkan aku kepada Bibi Gurumu Su-nikouw?”

Yap Kwan Bi tertawa, agak kecewa karena tidak ada keinginan lain di dunia ini baginya kecuali berdua-dua dan bersenda gurau bermain cinta dengan Lu Sian, jauh dari urusan dan orang lain. Akan tetapi ia tidak berani menolak. Setelah mengenakan pakaian luar, mereka berdua bergandeng tangan dan berlari menuju ke Kuil Kwan-im-bio.

Su-nikouw atau Su Pek Hong adalah seorang nikouw yang ramah tamah wataknya. Ia menjadi ketua Kwan-im- bio yang kecil namun bersih dan rapi, hanya diurus oleh tujuh orang nikouw. Ketika Su-nikouw menyambut kedatangan murid keponakannya, Lu Sian memandang dengan heran dan kagum. Nikouw itu tidak cantik, wajahnya biasa saja dan tubuhnya terlalu kurus. Akan tetapi harus diakui bahwa melihat wajah dan tangannya, wanita ini tentu tidak akan lebih dari tiga puluh tahun usianya. Padahal menurut penuturan Kwan Bi, nikouw ini usianya sudah lima puluh tahun lebih! Benar-benar hebat sekali. Timbullah keinginan di hati Lu Sian untuk mendapatkan ilmu awet muda ini.

“Eh, Kwan Bi, kaukah ini? Dari mana kau dan siapakah Nona ini? Apakah kau tidak ikut membuat persiapan di Siauw-lim-si?”

Yap Kwan Bi sudah memberi hormat, lalu menjawab, “Bibi Guru, kedatangan teecu (murid) adalah untuk mengantar Lu-lihiap (Pendekar Wanita Lu) ini, yang ingin berjumpa dan berkenalan dengan Bibi. Teecu menanti kedatangan Sam-suheng dan Ngo-suheng (Kakak Seperguruan Ke Tiga dan Ke Lima) untuk bersama-sama merencanakan tugas jaga besok lusa.” Ia lalu memperkenalkan Lu Sian dan menceritakan betapa Lu Sian memberi hajaran kepada para buaya darat di Kim-peng yang hendak mengganggu.

“Aih kiranya Nona seorang pendekar yang lihai!” Nikouw itu mengangkat kedua tangan di depan dada.

Lu Sian cepat-cepat membalas, menjura dan berkata, “Sudah lama mendengar nama besar Suthai dan setelah bertemu muka, ternyata membuat aku yang muda kagum dan heran luar biasa.”

“Omitohud…! Pinni hanya seorang nikouw yang lemah, kepandaian apa sih yang patut dikagumi? Dahulu pinni terlalu malas berlatih silat sehingga dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang maha hebat itu, tidak ada seperseratus bagian yang dapat pinni miliki.”

“Berhasil melawan usia tua merupakan kepandaian yang paling hebat di dunia ini, yang akan menjadi kebanggaan kaum wanita,” kata Lu Sian.

“Aihh, agaknya si bocah nakal Kwan Bi ini yang membocorkan rahasia, ya? Ah, Nona apa sih artinya awet muda bagi seorang pendeta macam pinni? Pinni memang mempelajari ilmu dan pengobatan untuk melawan usia tua, akan tetapi sekali-kali bukan menghendaki awet mudanya, melainkan menghendaki kesegarannya agar jangan terlalu mudah diganggu penyakit!”

Setelah bercakap-cakap sebentar, Lu Sian minta diri, lalu pergi bersama Yap Kwan Bi. Ke manakah mereka pergi? Kembali ke rumah penginapan? Sama sekali tidak. Dua orang muda hamba nafsu ini menyerah bulat- bulat kepada nafsu mereka sendiri, dan semalaman itu mereka bersenang-senang, bersenda gurau dan bermabok-mabokan dibuai nafsu, di dekat telaga dalam hutan.

Yap Kwan Bi adalah seorang pemuda yang sama sekali belum ada pengalaman. Tentu saja dia benar-benar jatuh ketika bertemu seorang wanita seperti Lu Sian. Kwan Bi dimabok nafsunya sendiri yang baginya sama sekali bukan merupakan nafsu, melainkan berubah menjadi cinta kasih murni, cinta kasih yang tidak hanya terbatas pada darah daging, melainkan menjiwa. Cinta kasih suci murni! Sama sekali ia tidak tahu bahwa ia menjadi permainan nafsu belaka, tidak tahu bahwa perbuatannya itu sudah termasuk perbuatan maksiat, perjinahan yang sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang yang menghargai tata susila dan kesopanan, lebih tidak patut dilakukan oleh seorang pendekar atau satria.

Bagi Lu Sian, dia memang sudah tidak peduli lagi! Kalau ia menyukai seorang pria, siapa pun juga dia, harus dia dapatkan. Bukan untuk dicinta selamanya, melainkan untuk menghibur hatinya, dan untuk kemudian dipermainkan atau dipatahkan cintanya! Lu Sian tidak percaya lagi kepada cinta kasih murni, ia hanya mau tunduk kepada cinta nafsu, hanya cinta untuk sementara waktu saja. Ia tidak mau lagi ditundukkan cinta, sebaliknya ialah yang akan mempermainkan cinta kasih orang!

Dua hari kemudian, tepat seperti yang diceritakan oleh Kwan Bi kepada Lu Sian, di Siauw-lim-si yang besar diadakan upacara sembahyangan. Para tamu yang datang dari segenap penjuru di sekitar wilayah itu terdiri dari bermacam golongan. Nama Siauw-lim-pai sudah amat terkenal sehingga banyak tokoh kang-ouw memerlukan datang pula. Sembahyangan itu diadakan untuk merayakan hari lahir ketua Siauw-lim-pai yang keseratus tahun!

Kian Hi Hosiang, ketua Siauw Lim Pai, kini sudah amat tua dan pikun, namun masih dihormat dan dicinta oleh semua anak muridnya. Memang jasanya amat besar ketika ia masih kuat. Berkat keuletannya dan disiplin keras yang ia jalankan di Siauw-lim-si, maka partai persilatan ini menelurkan banyak murid-murid pandai dan pendekar-pendekar yang terkenal sebagai penumpas kejahatan. Nama Siauw-lim-pai makin harum, disegani kawan ditakuti lawan.

Sekarang Kian Hi Hosiang sudah terlalu tua, sudah pikun, sehingga kerjanya hanya bersemedhi saja. Sementara urusan Siauw-lim-pai diserahkan kepada muridnya yang paling dipercaya, yaitu murid pertama Cheng Han Hwesio, dan murid kedua Cheng Hie Hwesio. Cheng Han Hwesio tepat memang menjadi calon ketua karena ia berwatak tekun, jujur, keras hati, berdisiplin, dan sebagai seorang hwesio (Pendeta Buddha) ia sudah menjauhkan diri dari pada urusan duniawi.

Ada pun Cheng Hie Hwesio, yang usianya juga sudah lima puluh tahun lebih ini biar pun dalam hal disiplin sama dengan Cheng Han Hwesio, namun sikapnya halus dan ramah-tamah. Cheng Hie Hwesio inilah yang terkenal sebagai hwesio pengawas para murid Siauw-lim-pai. Kalau ada seorang murid Siauw-lim-pai melakukan penyelewengan sehingga menodai nama baik Siauw-lim-pai, biar pun murid murtad itu berada di tempat sejauh seribu lie, dia takkan dapat terbebas dari jangkauan tangan besi Cheng Hie Hwesio yang pasti akan datang menangkapnya dan menghukumnya sesuai dengan peraturan perguruan Siauw-lim-pai!

Para tamu disambut oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-si dan dipersilakan duduk di ruangan depan yang amat luas. Setelah terdengar bunyi genta yang keras dan nyaring, semua hwesio berkumpul di ruangan dalam untuk mulai upacara sembahyangan. Asap hio dan nyala lilin membuat suasana menjadi seram. Di barisan belakang para hwesio nampak pula murid-murid bukan hwesio yang terdiri dari laki-laki dan wanita, semua bersikap gagah bersemangat.

Mereka ini adalah murid-murid Siauw-lim-pai bukan pendeta, baik yang masih belajar ilmu silat di kuil besar itu mau pun yang sudah bekerja di luar, yang memepergunakan kesempatan itu untuk ikut memberi hormat dan selamat kepada sukong mereka serta ikut melakukan sembahyang. Hanya beberapa orang murid, kesemuanya murid-murid Kian Hi Hosiang, yang diwajibkan melakukan penjagaan dan perondaan di sekeliling tembok yang memagari Siauw-lim-si.

Seperti telah diceritakan oleh Yap Kwan Bi kepada Lu Sian, pemuda ini termasuk seorang di antara murid- murid yang ditugaskan menjaga. Dia murid termuda Kian Hi Hosiang, murid tersayang, biar pun usianya masih amat muda. Pada saat di ruangan depan kuil Siauw-lim-si penuh tamu dan di ruangan tengah diadakan upacara sembahyangan, maka di bagian belakang bangunan kuil yang besar dan luas itu sunyi senyap, tak terdapat seorang manusia pun.

Akan tetapi pada saat itu kesunyian bagian belakang kuil itu terganggu oleh berkelebatnya bayang-bayang orang yang gerakannya ringan bagaikan burung. Bayangan ini bukan lain adalah Lu Sian. Dengan mudah saja ia tadi muncul dari tembok bagian selatan. Setelah mendapat ‘tanda aman’ dari Yap Kwan Bi yang berjaga di situ, Lu Sian lari melompati tembok selatan dan dengan ringan tubuhnya melayang turun ke pekarangan belakang, terus menyelinap dan berindap-indap masuk melalui bangunan-bangunan kecil di sebelah belakang kuil Siauw-lim-si.

Ia menjadi kagum sekali. Baiknya malam tadi, di antara cumbu rayu, ia telah mendapat gambaran dan keterangan yang amat jelas tentang keadaan Siauw-lim-si ini dari Kwan Bi. Andai kata tidak mendapat keterangan yang jelas lebih dulu, kiranya akan sukar baginya untuk mencari tempat yang dimaksudkan, yaitu kamar kitab. Bukan main luasnya kuil ini, banyak bangunan-bangunan kecil yang sama bentuknya. Akan tetapi ia telah mendapat keterangan jelas, maka ia mulai menghitung dari kiri ke kanan. Bangunan yang ke tujuh belas dari kiri, itulah kamar kitab!

Dengan jantung berdebar Lu Sian mendorong daun pintu. Matanya menjadi silau dan kepalanya pening ketika ia lihat deretan kitab di atas rak buku. Bukan main banyaknya. Kitab-kitab tebal dan sebagian sudah hampir lapuk! Bau di kamar itu amat tidak enak, bau kertas membusuk. Namun ia sudah mendapat keterangan pula di deretan mana letak kitab yang ia kehendaki, maka terus saja ia menghampiri rak dan memeriksa di rak paling atas di ujung kiri.

Wajahnya berseri setelah membuka dua tiga buah kitab. Sebuah kitab yang amat kecil, hanya sebesar telapak tangannya, bersampul kuning. Inilah kitab yang ia kehendaki. Kitab pelajaran Im-yang-tiam-hoat, ilmu menotok jalan darah yang amat terkenal dari Siauw-lim-pai! Cepat ia membuka kancing bajunya sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda. Kitab kecil itu ia masukkan di balik baju dalam, menyelinap di antara buah dadanya. Tempat aman! Dikancingkannya lagi baju luarnya, dan dengan hati girang ia berlompatan menuju ke belakang. Matanya bersinar-sinar dan ia berjanji dalam hati akan menghadiahi Yap Kwan Bi dengan cinta mesra sebagai upahnya!

Bibirnya sudah bergerak hendak memberi tanda dengan suara mendesis seperti yang sudah mereka janjikan ketika ia melihat bayangan tubuh Yap Kwan Bi di atas tembok. Akan tetapi tiba-tiba berobah wajahnya dan ia cepat menyelinap di balik sebuah arca penjaga taman. Orang yang berdiri di atas tembok itu sama sekali bukan Kwan Bi kekasihnya! Melainkan seorang laki-laki lain yang berdiri dengan pedang telanjang di tangan dan matanya menyapu ke arah dalam pekarangan!

Dari luar tembok melayang naik seorang laki-laki lain yang usianya tiga puluh tahun lebih. Dengan gerakan ringan ia berdiri di atas, di sebelah laki-laki pertama, lalu berkata perlahan, “Belum kelihatan?”

“Belum, akan tetapi dia tentu akan keluar melalui sini. Mana Liok-sute?” “Dia menjaga di tembok timur.”
“Dan Yap-sute?”

“Sudah dibawa menghadap ke depan. Ah, siapa kira Yap-sute akan sampai hati berlaku khianat terhadap perguruan kita. Sayang sekali, kasihan dia yang masih amat muda…”

Wajah dua orang laki-laki itu nampak muram dan berkali-kali menarik napas panjang. Dari balik arca itu, Lu Sian menjadi kaget setengah mati. Mendengar percakapan mereka, agaknya perbuatan Yap Kwan Bi menyelundupkannya masuk telah diketahui dan kini Yap Kwan Bi telah ditawan oleh saudaranya sendiri! Tentu saja Lu Sian tidak takut. Ia sudah ingin menerjang naik ke atas mempergunakan kekerasan melawan para penghadangnya.

Akan tetapi ia segera teringat akan Yap Kwan Bi. Pemuda itu dihadapkan di depan, tentu dihadapkan pada para hwesio pimpinan. Tak mungkin ia mendiamkan saja. Ia harus menolong kekasihnya yang tertawan karena dia! Dengan pikiran ini, Lu Sian lalu menyelinap di antara bangunan-bangunan itu menuju ke sebelah dalam, menuju ke depan! Karena maklum bahwa ia berada di tempat berbahaya sekali, ia bersiap-siap dan waspada.

Akan tetapi, di ruangan belakang kuil besar yang menjadi bangunan utama itu tetap sunyi sekali. Setelah ia mendekati ruangan tengah, barulah mulai terdengar suara berisik dari para hwesio yang berdoa. Asap hio menyambutnya ketika Lu Sian memasuki lorong yang menghubungkan ruangan belakang dengan ruangan tengah yang menjadi tempat sembahyang. Dari dalam lorong sudah tampak punggung sebuah arca Buddha yang amat besar. Berdebar jantung Lu Sian. Betapa pun tabahnya, ia merasa ngeri juga kalau memikirkan bahwa ia akan berhadapan dengan para tokoh Siauw-lim-pai yang merupakan tokoh-tokoh nomor satu dalam dunia persilatan!

Hampir saja ia kembali lagi dan nekat menerjang ke luar melalui tembok belakang yang hanya terjaga oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta. Akan tetapi kalau mengingat akan nasib Yap Kwan Bi, ia membatalkan niat ini dan melanjutkan langkahnya berindap-indap menuju ke depan. Ia terlindung dan tertutup oleh arca besar itu, tidak tampak oleh para hwesio yang berlutut di depan arca dan berdoa beramai-ramai.

Lu Sian mencabut pedangnya sambil bersembunyi, agak gelap. Lu Sian memegang pedang dan mengintai dengan hati-hati sekali. Tidak kurang dari lima puluh orang hwesio berlutut dan berdoa. Paling depan tampak seorang hwesio yang amat tua, dengan wajah tekun berlutut dan berdoa, matanya dipejamkan. Melihat usianya, Lu Sian dapat menduga bahwa kakek ini tentulah ketua Siauw-lim-pai, yaitu Kian Hi Hosiang. Di sebelah belakang kakek ini berlutut dua orang hwesio berusia lima puluh tahun lebih. Yang sebelah kanan berwajah keras dan berwibawa, dia menduga tentu Cheng Han Hwesio. Sebelah kiri di belakang kakek itu tentulah Cheng Hie Hwesio yang wajahnya halus tanpa kumis jenggot.

Sejenak Lu Sian meragu. Sulit untuk menerobos ke luar melalui pintu depan tanpa diketahui. Ia sangsi apakah ia akan mampu menerobos di antara sekian banyak tokoh hwesio Siauw-lim-pai yang tersohor sakti. Kemudian ia teringat akan cerita ayahnya tentang para hwesio Siauw-lim-si. Selain terkenal sakti, juga para hwesio Siauw-lim-si adalah pendeta-pendeta yang tekun dalam agama. Maka ia lalu mengambil keputusan. Dengan menekan debaran jantungnya, ia menyarungkan pedangnya, kemudian muncul ke luar dari balik arca dan berjalan dengan langkah tenang, dada dibusungkan, menuju ke luar.

Tentu saja gerakannya ini tidak terlepas dari pendengaran para hwesio yang sedang berdoa. Namun tepat seperti perhitungan Lu Sian, para hwesio itu tidak mau menunda sembahyang mereka, sungguh pun mereka merasa terkejut, heran dan juga marah sekali. Bagaimana ada seorang wanita muncul dari ruangan dalam kuil? Padahal sebuah di antara larangan yang amat keras dari kuil Siauw-lim-si di mana pun juga, adalah hadirnya seorang wanita ke bagian dalam kuil! Merupakan pantangan keras karena para tokoh hwesio maklum bahwa di antara segala godaan, yang paling mudah menjatuhkan keteguhan batin para pendeta adalah wanita.

Akan tetapi deretan anak murid Siauw-lim-pai yang berlutut paling belakang, yaitu golongan murid yang tidak menjadi pendeta, tidaklah setekun para hwesio itu. Melihat munculnya seorang wanita muda cantik berpedang dari balik arca, terkejutlah mereka dan bangkitlah kecurigaan mereka. Enam orang murid Siauw-lim-pai sudah melompat dengan gerakan ringan, menghadang di pintu tengah antara ruangan tengah dan ruangan depan. Para tamu yang hadir di ruangan depan juga menjadi heboh.

Melihat dirinya dihadang, Lu Sian tersenyum dingin. Ingin ia menyerbu ke luar, akan tetapi maklum bahwa cara ini bukanlah cara yang bijaksana. Biarlah ia mempergunakan ketajaman lidahnya sebelum terpaksa mengandalkan ketajaman pedangnya, maka ia berhenti melangkah dan menanti, berdiri tegak dan tetap tersenyum dingin. Ia tahu bahwa murid-murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta itu biar pun masih banyak di antara mereka yang muda-muda, rata-rata memiliki kepandaian tinggi karena mereka ini pun merupakan murid-murid Kian Hi Hosiang ketua Siauw-lim.

Memang sesungguhnyalah dugaan Lu Sian ini. Di antara anak murid yang bukan pendeta, memang banyak yang langsung menjadi murid Kian Hi Hosiang, bahkan murid-murid bukan pendeta inilah yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi karena mereka ini adalah murid ilmu silat, bukan murid agama.

Di antara para hwesio, kiranya hanya dua orang yang menonjol kepandaiannya, yaitu Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio, sungguh pun mereka itu sejak kecil hanya belajar agama dan kebatinan, dan baru setelah tua mempelajari ilmu silat. Bahkan tiga orang di antara para murid yang kini berdiri menghadang, yang usianya di antara tiga puluh dan empat puluh tahun, terhitung suheng (kakak seperguruan) Cheng Han dan Cheng Hie Hwesio, sungguh pun kedua orang hwesio ini lebih tua usianya. Mengapa demikian? Karena tiga orang ini sudah lebih dulu menjadi murid mempelajari ilmu silat dari Kian Hi Hosiang.

Akan tetapi enam orang murid Siauw-lim-pai itu hanya berdiri menghadang dengan sinar mata tajam, tidak turun tangan karena memang mereka hanya bermaksud mencegah wanita cantik itu keluar dari situ. Mereka tidak akan mengganggu suasana hening dan penuh khidmat dalam upacara sembahyang itu. Akhirnya selesailah pembacaan doa dan para hwesio itu bangkit berdiri.

Segera Cheng Han Hwesio yang keras dan jujur itu membentak, “Wanita dari mana berani mati memasuki kuil kami tanpa ijin?!”

Lu Sian menentang pandang mata hwesio itu sambil tersenyum mengejek, tanpa menjawab. Tak sudi ia menjawab. Pertanyaan itu dilontarkan dengan cara begitu kasar. Pada saat itu, para tamu yang melihat sembahyangan telah selesai banyak yang mendekat untuk melihat peristiwa aneh itu.

Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru. “Ah, dia Tok-siauw-kwi…!!”

Mendengar julukan Tok-siauw-kwi (Iblis Cilik Beracun) ini semua orang kaget sekali. Lu Sian dengan tenang mengerling dan melihat dandanan orang itu seperti piauwsu (pengawal). Ia dapat menduga bahwa orang itu tentulah ada hubungannya dengan para piauwsu Hong-ma-piauwkiok yang telah menghancurkan pertalian asmara antara dia dengan Tan Hui.

Para pendeta mendengar julukan yang biar pun masih baru namun sudah terkenal itu, terkejut. Kian Hi Hosiang sendiri lalu berkata, “Omitohud…! Kiranya puteri Beng-kauwcu yang sengaja datang membikin geger! Nona, di antara kami kaum pendeta Siauw-lim-pai tidak pernah ada urusan dengan Beng-kauw, bahkan hubungan antara pinceng dan ayahmu, Beng-kauwcu Pat-jiu Sin-ong tak pernah dikotori oleh permusuhan. Mengapa kau hari ini mengganggu upacara sembahyang kami?”

Mendengar ucapan yang sopan dan sikap yang sabar dari kakek itu, Lu Sian lalu berlagak penuh kehalusan. Ia menjura dengan penuh hormat dan suaranya lemah lembut dan merdu ketika ia menjawab, “Harap Losuhu sudi memaafkan saya yang lancang. Karena mendengar dari Ayah bahwa Siauw-lim-pai paling benci kepada wanita dan memberi pantangan bahwa lantai pedalaman kuil Siauw-lim-pai tidak boleh diinjak kaki wanita, dan sekali terinjak kaki wanita lantai akan dicuci dengan abu dapur, maka saya menjadi tertarik dan tidak percaya. Maka, menggunakan kesibukan di Siauw-lim-si ini, saya sengaja mencuri masuk untuk melihat-lihat. Kiranya tidak ada apa-apanya di dalam, yang macam begitu saja melarang terinjak kaki wanita. Sungguh keterlaluan! Akan tetapi, betapa pun juga saya mohon maaf kepada Losuhu dan biarlah setelah pulang akan saya ceritakan kepada Ayah bahwa biar pun para pendeta lain di Siauw-lim-si galak-galak dan benci wanita, namun ketuanya amat peramah dan baik hati.”

Kian Hi Hosiang tertawa dan menggeleng-geleng kepalanya. “Sungguh cocok dengan ayahnya. Pandai dan keji, baik tangan mau pun mulutnya. Sudahlah, Nona cilik. Melihat muka ayahmu dan mengingat bahwa hari ini adalah hari baik, biarlah pinceng menganggap pelanggaran berat ini seperti tidak pernah ada. Kau boleh pergi.” Ia menghela napas panjang.

“Suhu! Ijinkanlah teecu (murid) mengajukan pertanyaan lebih dulu. Munculnya wanita ini sungguh mencurigakan!”

Kian Hi Hosiang mengangguk. “Boleh, tapi jangan lupa, pinceng telah memberi ampun akan pelanggarannya.”

“Pelanggaran memasuki kuil memang telah Suhu beri ampun. Akan tetapi siapa tahu ada pelanggaran lain yang lebih hebat. He, Tok-siauw-kwi, jawablah lebih dulu pertanyaan pinceng sebelum engkau pergi dari sini!”

Lu Sian membalikkan tubuh dan menghadapi hwesio itu dengan senyum mengejek. Panas dadanya mendengar ia disebut Setan Cilik Beracun, sebuah julukan yang diberikan orang kepadanya di luar kehendaknya. “Heh, Setan Tua Busuk, kalau pertanyaanmu tidak busuk, baru akan kujawab!”

“Kurang ajar, berani kau memaki pinceng?” Cheng Han Hwesio membentak dan matanya melotot.

Lu Sian juga pelototkan matanya. “Kau menyebut aku Setan Cilik Beracun, aku pun menyebut engkau Setan Tua Busuk, apa bedanya. Bukankah itu berarti antara kita sudah impas, satu-satu?”

Bukan main marahnya Cheng Han Hwesio. Ia adalah seorang di antara murid Siauw-lim-pai yang dipercaya suhu-nya, bahkan dialah calon ketua kelak, karena sejak saat gurunya mengundurkan diri untuk bertapa, Cheng Han Hwesiolah yang mewakilinya. Karena ini ia senantiasa bersikap penuh wibawa dan sungguh- sungguh. Siapa nyana hari ini ia dipermainkan seorang wanita muda di depan banyak tamu! Kalau ia tidak ingat akan pesan suhu-nya, tentu ia sudah turun tangan memberi hajaran kepada setan cilik ini!

“Baiklah akan kusebut Nona kepadamu. Nona, tadi Suhu sudah mengampunimu. Akan tetapi, kami tidak percaya engkau akan dapat memasuki pekarangan belakang kuil tanpa diketahui penjaga. Tentu ada yang membantumu masuk. Katakan, siapa dia yang membantumu?”

Diam-diam Lu Sian merasa heran. Para penjaga di belakang tadi sudah tahu agaknya akan perbuatan Kwan Bi, kenapa kepala gundul ini belum tahu? Ah, tentu saja. Mereka ini tadi sedang sibuk berdoa, tentu hal itu belum dilaporkan. Ia tersenyum lebar dan menjawab, “Losuhu, kuil ini adalah kuilmu, yang menjaga adalah penjagamu, bagaimana aku bisa tahu akan kelalaian penjagamu? Tentang bagaimana caranya aku masuk ke pekarangan belakang, ah, itu kewajibanmu untuk mencari tahu dan menyelidik. Sudah, aku mau pergi.”

“Nanti dulu!” bentak Cheng Han Hwesio, suaranya mengguntur.

“Eh, hwesio tua, kau mau apa?” Lu Sian menoleh ke arah Kian Hi Hosiang dan berkata, “Losuhu yang mulia, muridmu yang satu ini benar-benar tidak patut. Terpaksa saya berlaku kurang hormat kepadanya!”

“Cheng Han, mengapa menahan dia? Lebih baik lekas-lekas suruh dia pergi,” hwesio tua itu mengomel dan diam-diam ia mencela muridnya yang hanya mencari perkara saja menghadapi wanita ini. Di depan begini banyak orang, wanita berandalan ini tentu dapat membuat para hwesio Siauw-lim-si menjadi buah tertawaan orang banyak.

“Suhu,” Cheng Han Hwesio memberi hormat kepada gurunya. “Dia baru saja berkeliaran di dalam kuil, siapa tahu dia mengambil sesuatu?”

Mendengar ini, Lu Sian terkejut sekali. Tak disangkanya hwesio galak itu ternyata bukan orang bodoh. Ia lalu cepat melangkah maju, mengedikkan kepala membusungkan dadanya mendekati Kian Hi Hosiang dan berkata nyaring, “Losuhu, apakah ada orang menyangka aku mencuri benda di kuil? Hayo geledahlah aku, geledahlah!!” Ia melangkah maju dan dadanya yang membusung itu menantang, agak berguncang ketika ia menghampiri ketua Siauw-lim-si sampai dekat.

“Omitohud…!” Kian Hi Hosiang melangkah mundur, ngeri menyaksikan dada membusung itu begitu dekat. “Pinceng takkan menggeledah…”

“Kau, hwesio tua? Kau mau menggeledah? Kau menuduh aku mencuri? Hayo geledahlah! Tak tahu malu, geledahlah aku!” Kini ia menghampiri Cheng Han Hwesio yang juga mundur-mundur kewalahan, mukanya berubah merah sekali.

“Menuduh orang mencuri, disuruh menggeledah tidak mau. Cih, benar-benar menyebalkan. Aku tidak mau berdiam lebih lama lagi di sini!” Lu Sian melangkah lebar menuju ke pintu.

Mendadak berkelebat bayangan putih yang tahu-tahu sudah menghadang di depan Lu Sian. Dia adalah seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih, pedangnya di punggung, kelihatan gesit dan gagah. “Cheng Han Suheng benar. Kau harus digeledah!” bentak wanita ini.

Lu Sian memandang dengan mata bersinar marah. “Kau? Hendak menggeledah? Berani kau begini menghinaku?”

Wanita itu adalah seorang anak murid Siauw-lim-si yang kepandaiannya sudah tinggi, bernama Tan Liu Nio. Ia memandang rendah Lu Sian yang kelihatan masih seperti seorang gadis muda, maka sambil tersenyum ia menjawab, “Mengapa tidak berani menggeledahmu?” Kedua tangannya bergerak cepat sekali, hendak meraba tubuh Lu Sian.

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya sudah mencelat jauh ke belakang, mukanya pucat karena hampir saja ia celaka. Ketika ia menggerakkan tangan tadi, Lu Sian juga bergerak dan tahu-tahu secepat kilat dua jalan darah maut di tubuhnya sudah diserang oleh Lu Sian sehingga jalan satu- satunya bagi Tan Liu Nio hanyalah melompat ke belakang secepat mungkin sehingga ia terhindar dari pada mala-petaka yang hebat.

Lu Sian tersenyum mengejek, “Siapa lagi hendak menggeledahku? Orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai memang hanya suka menghina seorang wanita! Hayo kalian hwesio-hwesio perkasa, siapa mau menggeledah? Siapa mau menggunakan kesempatan ini untuk menghina seorang wanita, meraba-raba badannya dengan dalih menggeledah? Tak tahu malu!”

Semua hwesio dan murid Siauw-lim-pai tidak ada yang berani berkutik. Mereka memandang dengan muka merah dan serba salah. Tan Liu Nio merupakan seorang murid perempuan terpandai di Siauw-lim-pai, maka murid perempuan lain tidak ada yang berani maju. Tan Liu Nio sendiri hampir celaka menghadapi wanita berandalan yang lihai itu, apalagi mereka. Ada pun murid-murid pria yang berkepandaian lebih tinggi, menjadi mati kutu setelah mendengar ucapan Lu Sian yang menantang. Memang serba susah kalau harus menggeledah tubuh seorang wanita secantik dan semuda itu, apalagi di depan banyak orang. Padahal ketua mereka sendiri sudah mengampuni wanita ini dan sudah memperkenankannya pergi.

Pada saat itu dari luar menerobos beberapa orang laki-laki, mengiringkan Yap Kwan Bi yang bermuka pucat sekali. Tiga orang laki-laki itu bersama Kwan Bi sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap Kian Hi Hosiang. Terdengar Kwan Bi berkata, suaranya gemetar. “Murid murtad Yap Kwan Bi menghadap Suhu, siap menerima hukuman.”

“…apa…? Ada apa…?” Kian Hi Hosiang terheran dan bertanya dengan gagap karena ia benar-benar tidak pernah meragukan kesetiaan muridnya yang termuda dan tersayang ini.

“Suhu, Yap-sute telah bersekutu dengan orang luar dan lancang menyelundupkan seorang wanita memasuki pekarangan belakang…”

“Keparat!” Cheng Han Hwesio yang membentak ini.

Akan tetapi pada saat itu, cepat bagaikan seekor garuda menyambar, Lu Sian sudah bergerak ke depan dan menangkap lengan Yap Kwan Bi dan terus dibawa meloncat ke luar. Pada saat itu, Cheng Han Hwesio yang melihat hal ini cepat menyusul dengan pukulan maut dari Siaw-lim-pai.

Yap Kwan Bi juga terkejut dan hendak meronta dari tangkapan Lu Sian, namun tak berhasil. Pada saat itu pula pukulan Cheng Han Hwesio tiba. Biar pun tidak menyentuh tubuhnya, namun tiba-tiba ia merasakan dadanya sesak sehingga pemuda ini langsung muntah darah! Melihat Kwan Bi pingsan, Lu Sian lalu memanggulnya dan sambil meloncat ke depan, tangan kirinya bergerak menyambit ke belakang.

Pada saat itu tiga orang murid Siauw-lim-pai tingkatan atas bersama seorang wanita, yaitu Tan Liu Nio sudah mengejar. Mereka berempat terkejut sekali dan cepat-cepat mereka lompat menghindarkan diri dari sambaran sinar merah senjata rahasia Lu Sian. Ketika mereka mengejar terus, mereka telah tertinggal jauh. Tentu saja sukar bagi mereka berempat untuk dapat menyusul Lu Sian karena Lu Sian telah mempergunakan ginkang- nya yang hebat, yang ia pelajari dari mendiang Hui-kiam-eng Tan Hui, yaitu Ilmu Lari Cepat Coan-in-hui (Terbang Menerjang Mega)!

Untung bagi Lu Sian. Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio yang hendak mengejar pula telah dicegah oleh Kian Hi Hosiang yang berkata, “Omitohud… semoga Sang Buddha melimpahkan kesadaran kepada mereka yang sesat. Cheng Han dan Cheng Hie, tak usah mengejar. Ketiga Suheng-mu dan seorang Sumoi- mu sudah cukup. Kita tidak perlu menanam bibit permusuhan dengan golongan lain. Kurasa empat orang muridku itu sudah maklum. Asal dapat menangkap kembali Kwan Bi dan membawanya ke sini untuk menerima hukuman, cukuplah.”

Demikianlah, upacara sembahyang di Kuil Siauw-lim-si yang tadinya akan dibuat besar-besaran dan meriah, ternyata menjadi sunyi dan muram akibat peristiwa itu. Para tamu juga tahu diri, melihat keadaan tuan rumah tertimpa urusan yang tidak menyenangkan mereka lalu berpamit dan meninggalkan kuil itu dalam keadaan suram.

Lu Sian berlari cepat sekali. Setelah memasuki sebuah hutan tiga puluh lie jauhnya dari Kim-peng, ia berhenti dan meletakkan tubuh Kwan Bi di atas rumput, terlindung dari sinar matahari senja oleh pohon besar. Segera ia memeriksa keadaan kekasihnya itu. Ketika membuka bajunya, tampak kulit dada membayang biru, tanda bahwa Kwan Bi telah menderita luka pukulan yang cukup hebat. Cepat ia mencari air untuk membasahi kepala pemuda itu, lalu memberinya pula minum sedikit.

Kwan Bi siuman kembali dan membuka matanya. Melihat Lu Sian, ia tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Lu-cici, aku telah membikin kau banyak susah…”

Lu Sian menggunakan pipinya menutup mulut pemuda itu dan berbisik di telinganya. “Hushhh, kau mengigau, bicara dibolak-balik. Akulah yang membuat kau menderita seperti ini. Akan tetapi jangan takut. Selama ada aku di sini, tidak ada seorang pun boleh mengganggumu, siapa pun juga dia!”

Kwan Bi tersenyum, akan tetapi berbareng dua titik air mata membasahi pipinya, lalu kembali dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Tidak mungkin… dosaku terhadap Suhu dan Siauw-lim-pai tidak boleh kuhindari, aku harus kembali ke sana. Lu-cici kau pergilah, tinggalkan aku. Budimu sudah terlampau banyak. Cin… cinta kasihmu takkan kulupakan selama hidupku. Kau tinggalkanlah aku, biar kuhadapi sendiri kemarahan Suhu.”

Lu Sian menciumnya. Timbul rasa sayangnya kepada pemuda ini, rasa sayang yang terdorong rasa haru mendengar betapa pemuda ini amat mencintainya, cinta sungguh-sungguh, cinta yang membuat pemuda itu sanggup berkorban untuknya. Belum pernah ia dicinta orang seperti ini, kecuali… kecuali agaknya… cinta kasih Kwee Seng yang telah mati!

“Tidak, aku tidak akan pergi dari sampingmu. Mereka itu boleh saja datang dan mereka hanya akan dapat mengganggu dirimu jika aku sudah menjadi mayat!”

“Lu-cici… ah, Lu-cici…!” Kwan Bi merangkul dan roboh pingsan pula. Guncangan jantungnya akibat rasa haru dan kasih ini membuat napasnya sesak dan luka itu menyerangnya lagi, membuatnya pingsan.

Lu Sian cepat menaruh telapak tangan kirinya ke atas dada yang terpukul, lalu sambil duduk bersila ia mengarahkan sinkang-nya untuk membantu kekasihnya memanaskan jalan darah, memperkuat hawa sehingga luka itu akan cepat sembuh. Ia duduk dalam keadaan begini sampai senja terganti malam. Bulan sudah muncul sore-sore dan keadaan menjadi terang seperti siang. Tiba-tiba Lu Sian terkejut oleh suara bentakan.

“Perempuan tak bermalu! Kau serahkan murid Siauw-lim-pai yang murtad itu kepada kami!”

Lu Sian terkejut sekali, akan tetapi ia tidak melepaskan tangannya dari atas dada Kwan Bi. Ia hanya mengerling dan tampaklah olehnya empat orang berdiri tidak jauh dari pohon. Yang seorang adalah wanita yang tadi hendak menggeledahnya, maka ia memandang rendah. Yang tiga adalah laki-laki semua, yaitu murid-murid Siauw-lim-pai yang tadi ia lihat ikut menghadang di pintu.

Dua orang berusia empat puluh lebih. Yang seorang lagi paling banyak berumur empat puluh, mukanya putih halus seperti pemuda belasan tahun, tubuhnya kecil akan tetapi matanya berkilauan terkena cahaya bulan. Orang kedua berkumis kecil panjang bergantung ke bawah, sedangkan orang ke tiga bermuka kurus sehingga tulang-tulang pipinya menonjol ke luar, tampak menyeramkan.

“Cih, perempuan tak tahu malu. Menculik laki-laki!” Wanita yang bukan lain adalah Tan Liu Nio murid Siauw- lim-pai itu mencaci.

Panas hati Lu Sian. Wataknya yang nakal membuat ia sengaja memanaskan hati orang. Ia menunduk, merangkul leher dan mencium Kwan Bi yang masih pingsan dengan mesra dan lama! Dengan hati geli ia mendengar betapa Tan Liu Nio mengeluarkan suara menyumpah-nyumpah dan meludah, sedangkan laki-laki berkumis itu membentak lagi.

“Kami mengingat ayahmu ketua Beng-kauw, dengan baik-baik minta kembalinya adik seperguruan kami. Akan tetapi bukan berarti kami takut kepadamu! Jangan sesalkan kami kalau kami menggunakan kekerasan apabila kau membangkang!”

Lu Sian tertawa mengejek dan ringan bagaikan seekor kupu-kupu ia melompat ke atas cabang pohon dan dari situ ia melayang turun. Indah sekali gerakannya, indah seperti seorang dewi kahyangan menari dan seperti seekor kupu-kupu terbang melayang mencari madu kembang. Dengan ringan sekali ia melompat pula ke depan empat orang murid Siauw-lim-pai itu sambil berkata.

“Betul kalian tidak takut kepadaku? Kalau tidak takut, kenapa kalian mau mengeroyokku berempat?” Lu Sian berkata sambil tersenyum manis.

“Siapa hendak mengeroyok? Tak tahu malu! Kami orang-orang Siauw-lim-pai bukanlah pengecut yang suka mengandalkan jumlah banyak mencari kemenangan!” bentak si Muka Halus yang bernama Long Kiat.

“Aih, aih, begitukah? Jangan-jangan hanya untuk bersombong saja begitu, nanti kalau sudah terdesak lalu melolong-lolong minta bantuan kawan dan sambil menebalkan muka kalian berempat maju berbareng!”

“Cukup, kami datang bukan untuk berdebat!” kata si Kumis yang bernama Lo Keng Siong. “Kuulangi lagi, kami datang untuk membawa pulang Yap Kwan Bi, tidak ada sangkut-pautnya dengan kau!”

“Wah, jangan galak-galak. Bagaimana tidak ada sangkut-pautnya dengan aku? Kalian hendak membawa pulang dia untuk dipukul lagi? Untuk dihukum? Enak saja! Aku yang tidak suka membiarkan dia disiksa.”

Si Muka Kurus yang bernama Tan Bhok, kakak misan Tan Liu Nio, tak sabar lagi. Ia membentak sambil menudingkan telunjuknya yang hanya tulang terbungkus kulit itu ke arah muka Lu Sian, “Bocah setan banyak tingkah! Kami datang berurusan dengan Sute kami sendiri, mengapa kau turut campur? Kau berhak apakah mencampuri urusan dalam orang-orang Siauw-lim-pai seperti kami?!”

“Huh, kalian berempat dan semua orang Siauw-lim-pai yang tak tahu malu! Kalian semua berhak apa mencampuri urusan pribadi Yap Kwan Bi dan aku? Kami saling mencinta, kalian tahu? Kami saling mencinta, dan kami berhak, sama-sama muda sama-sama suka, kalian mau apa? Tentu saja aku tidak membiarkan kalian membawa pergi Yap Kwan Bi yang sudah terluka oleh si Keledai Gundul tadi!”

“Kurang ajar kau! Sekali lagi kuperingatkan, lebih baik kau mundur dan jangan mencampuri urusan Siauw-lim- pai!” kata Lo Keng Siong marah.

“Tidak bisa tidak aku mencampuri urusan Yap Kwan Bi. Pendeknya, aku melarang kalian membawanya pergi, habis perkara!”

“Kau menantang?” kumis Lo Keng Siong bergerak-gerak.

“Terserah! Aku sudah berjanji bahwa orang hanya dapat membawa tubuh Yap Kwan Bi kalau aku sudah menjadi mayat!”

“Iblis betina, kau sudah bosan hidup?”

“Hi-hik, kalian hendak mengeroyok?” Lu Sian mengejek. “Kunasehatkan kalian, kalau memang hendak memaksa dan hendak menyerangku, lebih baik kalian maju berempat mengeroyokku, karena kalau maju seorang demi seorang berarti mengantar nyawa dengan sia-sia!”

“Perempuan sombong!” bentak Liong Kiat marah. “Twa-suheng, biar siauwte mengusir iblis betina ini!”

“Eh, eh, benar-benar hendak maju satu-satu? Awas, aku sudah memberi peringatan. Karena Kwan Bi juga murid Siauw-lim-pai, aku tidak bermaksud memusuhi Siauw-lim-pai, akan tetapi kalau kalian mendesak, jangan salahkan kaki tanganku yang tidak bermata.”

“Sombong!” Liong Kiat sudah menerjang dengan Ilmu Silat Tangan Kosong Lo-han-kun yang terkenal tangguh itu. Dengan kuda-kuda terpentang dan langkah diseret hampir berbareng, ia melancarkan pukulan bertubi-tubi ke arah dada dan pusar. Berat dan mantap pukulan ini, mendatangkan angin pukulan yang mengeluarkan bunyi menderu.

Lu Sian menggerakkan tangannya dengan jari terbuka. Dengan telapak tangannya ia menerima kedua kepalan tangan lawan hingga telapak dan kepalan itu saling menempel. Saat itu juga Lu Sian dapat merasakan tekanan tenaga si Muka Halus amatlah kuatnya. Ia tidak melawan, melainkan meminjam tenaga pukulan Liong Kiat. Kedua kakinya diayun ke belakang sehingga tubuhnya terangkat naik ke atas dengan kedua tangan masih menempel pada kepalan lawan.

Selagi Liong Kiat terkejut sekali menyaksikan penyambutan lawan yang luar biasa ini, tiba-tiba Lu Sian sudah mengirim pukulan dengan sodokan jari tangan kanannya mengarah ubun-ubun kepalanya. Karena pada saat itu tubuh Lu Sian berada tepat di atasnya, maka serangan itu luar biasa dahsyat dan bahayanya, amat cepat datangnya sehingga sukar ditangkis lagi!

“Sute, awas….!” Lo Keng Siong berseru kaget sekali sambil lompat mendekat diikuti Tan Bhok dan Tan Liu Nio.

Pada saat yang amat berbahaya itu, Liong Kiat masih sempat memperlihatkan bahwa murid Siauw-lim-pai tidaklah semudah itu dirobohkan. Ia membuang tubuhnya ke belakang, roboh terjengkang bagaikan sepotong balok kayu. Akan tetapi begitu pundaknya menyentuh tanah, ia sudah melakukan poksai (salto) ke belakang, berjungkir balik sampai tiga kali. Ia berdiri dengan muka pucat dan keringat dingin membasahi dahinya. Bergidik ia kalau teringat betapa dalam segebrakan saja ia tadi sudah hampir tercengkeram maut.

Lu Sian sudah berdiri sambil tersenyum manis. Memang kepandaian Lu Sian sekarang jauh bedanya dengan ketika ia mula-mula meninggalkan suaminya, Kam Si Ek. Sekarang ia telah memperoleh kemajuan yang amat hebat. Ginkang-nya sudah terlatih baik dan yang ia warisi dari Tan Hui adalah ilmu ginkang yang terhebat di jaman itu. Juga ia telah mempelajari tiga macam kitab Sam-po-cin-keng dari ayahnya, maka baik ilmu silat tangan kosong mau pun ilmu pedangnya sudah meningkat beberapa kali lipat, ditambah gerakan yang luar biasa cepatnya berkat ginkang Coan-in-hui.

“Sudah kukatakan, lebih baik kalian mundur dan jangan ganggu aku dan Yap Kwan Bi. Atau kalau kalian nekad mengajak berkelahi, majulah berbareng. Kalau satu-satu, percuma, tidak akan ramai!”

Bukan main pedas dan tajamnya kata-kata ini memasuki dada keempat orang murid Siauw-lim-pai itu. Akan tetapi melihat kenyataan bahwa memang ilmu kepandaian wanita ini seperti iblis, dia memang bukan lawan mereka kalau maju seorang demi seorang. Bahkan seandainya Cheng Han Hwesio sendiri yang maju, belum tentu saudara seperguruan itu akan dapat menandingi Lu Sian.

“Kau menantang kami maju berempat?” kata Lo Keng Siong hati-hati.

“Hi-hik, mengapa tanya-tanya lagi? Majulah bersama, biar lebih asyik aku melayani kalian berempat.”

“Bukan kami takut maju seorang demi seorang, akan tetapi kau menantang dan kau terlalu menghina. Ji-wi Sute (Kedua Adik Seperguruan) dan Sumoi, mari kita basmi iblis betina sombong ini!” seru Lo Keng Siong sambil mencabut senjatanya, sebatang ruyung berwarna hitam yang tadinya ia sembunyikan di bawah bajunya.

Tan Liu Nio dan Liong Kiat mencabut pedang masing-masing, sedangkan Tan Bhok mengeluarkan senjatanya yang hebat, yaitu sehelai rantai baja. Mereka segera mengambil kedudukan empat penjuru, mengurung Lu Sian dengan gerakan perlahan dan langkah teratur, mata tak berkedip memandang lawan yang terkurung di tengah-tengah!

Lu Sian masih tersenyum, kedua kakinya membuat kuda-kuda menyilang. Tubuhnya miring, kedua lengannya diangkat ke atas, melengkung di atas kepala dengan jari-jari tangan terbuka. Pasangan kuda-kudanya ini amat manis seperti orang menari, akan tetapi menyembunyikan kesiap-siagaan yang lengkap dan gagah.

“Keluarkan senjatamu!” bentak Lo Keng Siong yang menjadi pimpinan sambil mengangkat ruyungnya ke atas. “Aku sudah siap, seranglah. Mengeluarkan senjata tak usah kau perintah!” jawab Lu Sian seenaknya.
“Ciuuuttt…. siiing… weeerrrr!!” keempat senjata itu sudah menyambar ganas, sinarnya tertimpa cahaya bulan menyilaukan mata.

Akan tetapi keempatnya hanya mengenai angin karena tubuh Lu Sian sudah lenyap menjadi bayangan yang berkelebatan dan menyelinap di antara sinar keempat senjata itu. Bukan main hebatnya ginkang Coan-in-hui itu! Makin hebat empat senjata itu menyambar dan mengikuti gerakan bayangannya, makin cepat pula Lu Sian bergerak dan mendadak….

“Cranggg… cringgg… tranggg-trang!” bunga api berpijar dan berhamburan.

Tanpa dapat diikuti pandang mata lawan, tahu-tahu Lu Sian sudah memegang Toa-hong-kiam di tangan kanannya dan sekaligus ia telah menangkis keempat buah senjata lawan.

Hanya Tan Liu Nio seorang yang merasa betapa tangan kanannya yang memegang pedang serasa lumpuh karena ia kalah tenaga. Akan tetapi tiga orang murid Siauw-lim-pai yang lain dengan girang mendapat kenyataan bahwa biar pun dalam ginkang mereka kalah jauh oleh Lu Sian, namun mengenai tenaga sinkang, setidaknya mereka dapat mengimbangi. Maka mereka mendesak makin hebat, mengerahkan tenaga dan berusaha mengadu senjata agar pedang di tangan puteri Beng-kauwcu itu terpukul lepas.

Namun Lu Sian adalah seorang yang amat cerdik. Ia maklum bahwa tidak menguntungkan baginya kalau ia mengadu tenaga kekerasan dengan tiga orang laki-laki yang memiliki lweekang hampir sempurna ini, maka ia lebih mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak dan balas menyerang. Karena ia lebih banyak mengelak inilah maka empat orang pengeroyoknya mengira bahwa ia terdesak. Orang-orang Siauw-lim-pai amat berdisiplin dan selalu mentaati guru mereka. Karena tadi mereka berempat sudah mendengar sendiri betapa suhu mereka, Kian Hi Hosiang, tidak menghendaki permusuhan dengan Beng-kauw, bahkan sudah mengampuni Lu Sian, kini mereka merasa tidak enak sekali kalau sampai membunuh Lu Sian.

“Tok-siauw-kwi, kami mentaati guru kami mengampunkan engkau. Pergilah dari sini dan jangan mencampuri urusan Siauw-lim-pai!” kata Lo Keng Siong dengan suara keras.

Inilah salahnya. Tadinya Lu Sian hanya ingin mempermainkan mereka saja, mengalahkan mereka dengan ilmunya kemudian lari lagi membawa pergi Yap Kwan Bi. Akan tetapi mendengar ucapan ini, bangkit kemarahan dan keangkuhannya. Dia memang seorang yang keras hati, pantang dikatakan kalah. Mendengar ini darahnya bergolak dan ia mengeluarkan seruan nyaring, merupakan lengking lebih mirip suara iblis siluman.

Akan tetapi pedangnya kini bergerak secara luar biasa, bergelombang dan berubah menjadi gulungan sinar yang membentuk lingkaran-lingkaran besar lalu berubah lagi menjadi gelombang-gelombang yang datang menerjang ganas. Inilah Toa-hong Kiam-sut yang kini telah menjadi ganas dan luar biasa dahsyatnya. Di tengah-tengah lengkingnya yang belum putus, terdengar teriakan ngeri dan tampak Liong Kiat terguling roboh dalam keadaan mengerikan karena pundaknya telah terbabat putus berikut lengan kanannya. Ia bergelimpangan mandi darah, berkelojotan dan tak dapat mengeluarkan suara lagi.

“Tok-siauw-kwi, hutang jiwa harus dibayar jiwa!” teriak Lo Keng Siong marah sekali.

“Tok-siauw-kwi, berani kau membunuh Sute-ku?!” Tan Bhok juga membentak dan rantainya berdesing-desing menyambar.

Lu Sian tertawa bergelak, lalu melompat mundur. Ketika ketiga orang pengeroyoknya yang menyangka dia hendak kabur itu mendesaknya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan… sinar merah menyambar ke arah mereka!

“Celaka….!” Tan Liu Nio berseru.

Karena dia berada paling belakang, maka ia sempat melihat gerakan ini dan dapat mengelak. Akan tetapi dua orang suheng-nya yang jaraknya terlalu dekat, terlambat mengelak. Mereka dapat melindungi tubuh atas dengan putaran senjata, akan tetapi paha kanan masing-masing telah terkena jarum Siang-tok-ciam! Seketika hidung mereka mencium bau amis akan tetapi harum, maka maklumlah mereka bahwa mereka terkena senjata beracun. Namun keduanya masih belum roboh dan masih memutar senjata.

Lu Sian tidak berhenti sampai di situ. Begitu tangan kirinya menyambitkan jarum, ia telah menerjang maju lagi mainkan pedangnya dengan jurus dari Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-sut yang dahsyat. Dua kali pedangnya berkelebat dan robohlah Lo Keng Siong yang tertembus pedang lehernya, dan Tan Bhok yang hampir putus pinggangnya, perutnya robek dan isi perutnya ke luar. Mereka berdua tidak menderita lama, cepat menghembuskan napas terakhir menyusul arwah Liong Kiat yang tewas lebih dulu.

“Tok-siauw-kwi, kau benar keji dan ganas…!” Tan Liu Nio marah sekali dan menjadi nekat, lalu menyerbu dengan pedangnya.

Sambil tersenyum Lu Sian menangkis dan mengerahkan tenaga.

“Tranggg…!” pedang Tan Liu Nio terlepas dari tangannya.
Dengan kakinya Lu Sian menendang, membuat tubuh Tan Liu Nio roboh terguling, kemudian matanya yang
sudah menjadi beringas itu berkilat ketika pedangnya ditusukkan ke bawah. “Trangggg!”
Lu Sian meloncat ke belakang, wajahnya pucat, matanya terbelalak memandang kepada Yap Kwan Bi yang ternyata telah menangkis pedangnya.

“Kau… kau Tok-siauw-kwi….??” dengan pedangnya Kwan Bi menuding kepada kekasihnya. “Orang menamakan aku begitu, namaku Lu Sian, kau tahu….”
“Kau… kau perempuan hina…! Kau telah membunuh tiga orang Suheng-ku dan hendak membunuh Suci-ku? Keparat jahanam! Kubunuh engkau….!” Yap Kwan Bi menyerang, akan tetapi karena tubuhnya masih lemah, sekali ditangkis ia roboh terguling.

Lu Sian yang mukanya menjadi pucat itu tiba-tiba meludah. “Cih, kiranya kau pun sama saja! Laki-laki berhati palsu! Mual perutku melihatmu!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Lu Sian lenyap dari tempat itu.

Yap Kwan Bi menangis menggerung-gerung ketika menyaksikan keadaan tiga orang suheng-nya yang tewas dalam keadaan demikian mengerikan. Ia menjambaki rambutnya dan memukuli kepalanya sendiri seperti orang gila. Percuma saja Tan Liu Nio menghiburnya.

Akhirnya murid wanita Siauw-lim-pai itu berlari cepat melaporkan ke kuil Siauw-lim-si. Tentu saja berita ini menimbulkan geger. Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio sendiri bersama beberapa orang sute berlari- lari ke arah hutan itu dan apa yang mereka dapatkan? Yap Kwan Bi telah tewas di samping ketiga orang suheng-nya, lehernya hampir putus dan tangan kanan penuh darahnya sendiri. Ia telah membunuh diri karena telah menyesal!

Sementara itu Lu Sian sudah mempergunakan Ilmu Coat-in-hui untuk berlari cepat sekali. Ia merasa kecewa dan menyesal. Ia benar-benar muak mengingat kepalsuan cinta kasih Kwan Bi yang tadinya dikira benar-benar suci murni. Bahkan pengalaman ini membuat ia makin muak terhadap laki-laki, makin tidak percaya, dan makin sakit hati. Di samping kekecewaannya, ia pun merasa girang bahwa ia berhasil mengambil kitab Ilmu Im-yang- tiam-hoat dari Siauw-lim-pai. Ia gemas kepada orang-orang Siauw-lim-pai yang telah menghancurkan ikatan cinta kasihnya dengan Kwan Bi, maka kini pikirannya tertuju kepada Su Pek Hong atau Su-nikouw di Kuil Kwan-im-bio. Ia harus dapat merampas kepandaian nikouw itu, ilmu yang membuat ia selamanya takkan menjadi tua! Ia akan memaksa pendekar wanita Siauw-lim-pai itu untuk menyerahkan rahasia kepandaiannya!

Hari telah malam ketika ia tiba di Kuil Kwan-im-bio. Kuil itu telah menutup daun pintu depan, akan tetapi sebuah lampu gantung menerangi ruangan depan. Lu Sian menghampiri pintu dan mengetuk. Terdengar suara langkah kaki dari dalam menuju pintu dan sebelum daun pintu dibuka, suara lembut seorang pendekar wanita bertanya.

“Siapakah yang datang di luar dan ada keperluan apa malam-malam mengunjungi Kwan-im-bio?” “Aku Lu Sian, mohon bertemu dengan Su-nikouw!”
Ketika Su-nikouw keluar dan melihat Lu Sian, ia tersenyum ramah dan menegur. “Eh, kiranya Lu-lihiap yang datang. Keperluan apakah gerangan yang membawa Lihiap malam-malam datang mengunjungi tempatku yang buruk? Dan di mana adanya Kwan Bi?”

Akan tetapi nikouw ini mengerutkan keningnya ketika melihat pandang mata Lu Sian amat berlainan dengan beberapa hari yang lalu, bahkan ia melihat Lu Sian membanting kaki lalu berkata tak manis. “Tak perlu kita berpanjang kata, Su-nikouw. Kedatanganku ini hanya perlu minta kepadamu agar kau membuka rahasiamu tentang ilmu awet muda!” Lu Sian mengancam dengan suara dan pandang matanya.

Kalau kemarin dulu ketika datang ke sini bersama Kwan Bi ia merasa suka kepada pendeta wanita yang awet muda ini, sekarang ia memandangnya dengan mata benci. Su-nikouw kelihatan tidak menyenangkan hatinya lagi. Memang pengaruh rasa benci amat jahat, membutakan mata. Karena ia merasa sakit hati kepada Siauw- lim-pai, menimbulkan benci di hatinya dan siapa pun orangnya yang sudah mabok rasa benci, pandang matanya akan berbalik!

Akan tetapi Su-nikouw orangnya sabar. Ia sudah mampu menguasai batinnya dan ia memandang Lu Sian dengan senyum wajar. “Lihiap, biar pun pinni merasa heran sekali atas perubahan sikapmu ini, namun penolakan pinni bukan disebabkan oleh sikapmu, melainkan karena rahasia ini kalau terjatuh ke tangan wanita yang belum sadar akan kebenaran, hanya akan merugikan dirinya sendiri saja. Kemudaan dan kecantikan pada usia tua hanya akan menyelewengkan hati, membesarkan nafsu, dan percayalah, kelak di waktu kau sudah berusia tua, kecantikan dan kemudaan yang disertai nafsu itu akan menyeretmu ke lembah kesengsaraan belaka.”

“Tak usah banyak cerewet!” Lu Sian membentak. Lazim, orang yang sudah membenci seorang yang lain, apa pun yang keluar dari mulut orang yang di benci itu selalu diterima keliru dan tak dipercaya. “Kau mau serahkan secara baik-baik atau dengan paksaan, aku tetap harus mendapatkan rahasia itu!”

Su-nikouw menghela napas. “Lu-lihiap, pikiranmu sedang kacau, batinmu sedang gelap. Biarlah lain kali kau datang kembali bersama Yap Kwan Bi, kita bicarakan hal ini perlahan-lahan secara baik-baik.”

Alis yang hitam kecil itu bergerak, disusul gerakan tangan kiri. Su-nikouw cepat mengelak dengan menjatuhkan diri ke belakang, namun terlambat, jalan darah di pundak kirinya tertusuk sebatang Siang-tok-ciam! Nikouw itu terhuyung lalu menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi, memandang pada Lu Sian dengan mata terbuka lebar saking heran dan kagetnya.

Sambil tersenyum dingin Lu Sian berkata perlahan. “Kau sudah terluka Siang-tok-ciam, obat pemunahnya hanya padaku. Lekas kau keluarkan rahasia ilmu awet muda untuk ditukar dengan obat pemunahku.”

Su-nikouw yang masih duduk di atas kursi kelihatan tenang-tenang saja. “Omitihud…. kau ini wanita muda sungguh ganas, kasihan sekali kau tersesat jauh tanpa kau sadari! Seorang pertapa seperti aku ini menganggap kematian sebagai pembebasan jiwa dari pada kurungan raga yang banyak kehendak dan lemah. Racun jarummu yang mengancam nyawaku sama sekali tidak membikin pinni takut.”

Diam-diam Lu Sian menjadi kecewa sekali. Celaka, pikirnya. Ia tidak bermaksud membunuh, hanya mengancam, akan tetapi kalau wanita gundul ini nekat menghadapi kematian, tidak mau menukar obat pemunah dengan rahasia ilmu awet muda, bagaimana?

“Nikouw bandel! Mengapa hendak kau kangkangi sendiri ilmu itu? Apakah kau hanya ingin muda sendiri dan cantik sendiri? Ilmu seperti itu saja mengapa lebih kau hargai dari pada nyawamu?”

Su-nikouw menggeleng kepala. “Ilmu ini adalah ilmu yang bersumber pada ilmu dari Siauw-lim-pai, ilmu menguatkan tubuh pelajaran Siauw-lim-pai yang kuperkembangkan. Merupakan rahasia Siauw-lim-pai, tak boleh sembarangan diajarkan kepada orang luar, apalagi untuk maksud buruk. Tidak, biarlah kau pergi, pinni akan mati tanpa mengeluh!”

Tiba-tiba Lu Sian tertawa. “Hi-hik, enak saja kau ingin mati. Mana aku membiarkan kau mati begitu saja kalau kau tidak mau membuka rahasia itu? Ketahuilah, Su-nikouw, racun jarumku itu memiliki daya pembangkit nafsu birahi! Racun Ngo-tok-hwa (Lima Bunga Beracun) telah mengalir di dalam jalan darahmu. Tidak terasakah olehmu Nikouw tolol, betapa ujung hidungmu mencium bau wangi dan tulang punggungmu berdenyut keras? Sebelum mati oleh racun, kau terserang oleh rangsangan birahi dan aku akan mengerammu dalam kamar bersama seorang laki-laki yang kupaksa menemanimu. Hendak kulihat, bagaimana malunya jiwamu kalau pada saat kematianmu engkau melakukan pelanggaran yang paling besar bagi seorang pendeta wanita!”

Napas Su-nikouw terengah-engah, mukanya pucat dan matanya memandang penuh kengerian. “Ah, jangan…. jangan….! Sebenarnya siapakah engkau ini yang begini keji?”

“Orang menyebutku Tok-siauw-kwi.”

“Aahhh… kiranya engkau Tok-siauw-kwi…?” Nikouw itu makin ketakutan karena ia pernah mendengar nama julukan ini sebagai seorang tokoh kang-ouw yang amat keji dan ganas, maka ancaman tadi bukan tak mungkin dilakukan oleh Tok-siauw-kwi yang terkenal kejam. Pula, sejak terluka tadi ia memang mencium bau harum yang aneh dan memang betul tulang punggungnya berdenyutan keras!

Tentu saja sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lebih mementingkan pelajaran batin, nikouw ini tidak tahu tentang segala racun, dan ia tidak tahu bahwa Lu Sian sebenarnya membohong. Siang-tok-ciam yang merah itu memang berbahaya dan racunnya cukup jahat untuk merampas nyawa korbannya, akan tetapi sekali-kali tidak akan menimbulkan gejala nafsu birahi segala. Dia sengaja mengeluarkan ancaman ini karena dengan tepat ia menduga bahwa hal seperti itu jauh lebih mengerikan dari pada kematian bagi seorang wanita pertapa yang saleh!

“Bagaimana? Aku mengenal seorang kepala rampok dalam hutan, usianya tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, mukanya penuh cambang bauk dan kaki tangan serta dadanya juga penuh bulu seperti monyet. Dia tunduk kepadaku dan dia amat suka kepada wanita yang wajahnya bersih. Tentu dia akan senang sekali mendapatkan engkau yang masih kelihatan muda dan cantik ini!”

Su-nikouw bergidik. Meremang bulu tengkuknya mendengar gambaran tentang laki-laki itu. Tak tertahan lagi ia menangis, hal yang selama sepuluh tahun lebih tak pernah ia lakukan. “Baiklah, baiklah…, kuberikan rahasia ilmu itu kepadamu.”

Ia lalu masuk ke dalam kamar dan keluar lagi membawa sebuah kitab tipis tulisan tangan hasil pekerjaannya sendiri. “Tidak mudah mencapai tingkat seperti aku,” katanya. “Untuk dapat mengalahkan kerusakan kulit daging dan tulang, kau harus memiliki dasar ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Cuci Sumsum) dan untuk pelajaran itu, menyesal pinni tidak dapat memberi karena kitabnya tersimpan di Siauw-lim-pai. Akan tetapi seorang berkepandaian tinggi seperti engkau ini tentu akan dapat mempelajarinya dengan mudah. Hanya saja, ilmu I- kin-swe-jwe yang paling hebat di dunia ini hanyalah dari Go-bi-pai, di samping Siauw-lim-pai tentu saja. Nah, setelah kau memiliki ilmu itu, engkau pelajari semedhi seperti tertunjuk dalam kitab ini, dan makan akar serta daun yang sudah tertulis lengkap pula di situ.”

Cepat Lu Sian menyambar kitab itu dan membuka-bukanya sebentar. Ia percaya bahwa nikouw itu tidak akan membohonginya, maka ia pun lalu mengeluarkan obat pemunah dari sakunya sambil tertawa. “Siang-tok-ciam senjata rahasiaku memang mematikan, akan tetapi mana bisa membangkitkan nafsu birahi?”

Nikouw itu marah sekali, bangkit berdiri dan menahan diri sedapatnya untuk tidak memaki-maki. Akan tetapi setelah memberikan obat pemunahnya, Lu Sian sudah melompat ke luar dan menghilang di tempat gelap sambil membawa kitab yang amat diinginkannya itu.

Su-nikouw kembali menjatuhkan diri di atas kursi dan menarik napas panjang berkali-kali. “Su Pek Hong… Su Pek Hong…. Inilah hukumannya kalau orang tidak mentaati nasehat guru! Mendiang Suhu dahulu pernah bilang bahwa ilmu awet muda ini mengandung sifat berbahaya dan tidak baik karena menentang hukum alam! Betul kau hanya menghendaki awet muda demi kesehatan, namun wanita lain tentu akan menganggapku pesolek dan ingin cantik selalu. Dan wanita yang selalu ingin cantik seperti ingin mendapat perhatian dan pujian laki-laki. Ah, betapa memalukan. Su Pek Hong, kau sudah tua, mengapa tidak mau menerima kekuasaan alam? Jadilah nenek-nenek yang penerima, hadapilah kematian usia tua yang sewajarnya, dan tentu tidak akan mengalami hal yang begini memalukan…” Dengan wajah duka pendeta wanita ini lalu mempergunakan obat pemunah racun yang ditinggalkan Lu Sian.

Harta benda, kepandaian, dan kekuasaan duniawi adalah anugerah, bukti kemurahan Tuhan kepada manusia. Namun dalam anugerah ini terbawa pula ujian yang amat berat. Siapa yang kuat menerima anugerah ini, ia akan dapat menikmatinya lahir batin. Sebaliknya, mereka yang tidak kuat menghadapi ujian ini, hanya akan menikmati pada lahirnya saja, sedangkan pada batinnya mereka akan mengalami kemunduran yang akan membawa mereka kepada kesengsaraan.

Namun di antara tiga macam anugerah itu, yang paling berbahaya akibatnya bagi mereka yang tidak kuat adalah kekuasaan. Harta benda dapat menjadikan orang menjadi hamba nafsunya sendiri, kepandaian dapat

menjadikan orang menjadi sombong, tinggi hati dan memandang rendah orang lain. Akan tetapi kekuasaan yang timbul dari kekuatan atau pun kedudukan, amatlah berbahaya karena dapat menjadikan orang sewenang-wenang terhadap orang lain, mau menangnya sendiri saja tanpa menghiraukan tata-susila dan peri- kemanusiaan.

Liu Lu Sian termasuk orang yang mendapat anugerah kekuatan, hasil dari pada banyaknya macam ilmu silat yang ia kuasai. Makin pandai, makin kuatlah dia dan makin besar kekusaannya terhadap orang lain mentaati kehendaknya. Ia menjadi mabok akan kekuatan sendiri, ingin menang sendiri dan tidak peduli akan peri- kemanusiaan. Makin ia turuti nafsunya, maka makin hebatlah nafsu menggulung dirinya. Makin ia turuti kemurkaannya akan ilmu, ia makin tidak puas dan menghendaki lebih. Sepak terjangnya makin liar menjadi- jadi, sehingga beberapa tahun kemudian nama Tok-siauw-kwi menggemparkan dunia persilatan sebagai seorang tokoh yang ganas, liar, kejam dan ditakuti.

Untuk mematangkan ilmu yang dirampasnya dari Su-nikouw, seorang diri Lu Sian memasuki Go-bi-pai. Ia berhasil mencuri kitab Cap-sha-seng-keng (Kitab Ilmu Tiga Belas Bintang) yang selain mengajarkan latihan lweekang dan langkah-langkah kaki, juga Ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Mencuci Sum-sum) seperi yang ia butuhkan. Ilmu kepandaiannya meningkat cepat sekali dan kini Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian benar-benar menjadi seorang wanita sakti yang sukar dicari tandingannya. Di Go-bi-pai ia dikeroyok para hwesio, akan tetapi sanggup melarikan diri dengan hanya menderita luka ringan setelah merobohkan banyak hwesio Go-bi-pai yang terkenal kosen!

Bukan hanya Go-bi-pai yang ia serbu, juga ia naik ke Puncak Hoa-san, mencuri pedang pusaka Pek-giok-kiam (Pedang Pusaka Kumala Putih) yang menjadi pedang pusaka Hoa-san-pai. Dalam pertempuran di Hoa-san, ia dikeroyok dan berhasil merobohkan lima orang anak murid Hoa-san-pai yang tewas oleh pedangnya yang ganas dan dahsyat. Kemudian ia lari lagi sehingga semenjak saat itu ia menjadi seorang buruan, dicari dan dikejar oleh orang-orang Siauw-lim-pai, Go-bi-pai dan Hoa-san-pai! Namun berkat gerakannya yang lincah, ginkang-nya yang tinggi serta kecerdikannya yang seperti setan, ia selalu berhasil meloloskan diri.

Bukan hanya itu semua kehebohan yang ia perbuat di dunia kang-ouw. Banyak golongan persilatan yang sengaja ia datangi untuk diajak bertanding, mengalahkan ketuanya dan merobohkan banyak sekali tokoh kenamaan sehingga namanya menjulang tinggi, bahkan melewati nama besar ayahnya sendiri, Pat-jiu Sin-ong! Yang paling hebat adalah ketika ia mendatangi Kong-thong-pai karena mendengar berita bahwa Ilmu Pedang Kong-thong-pai amat lihai. Ia datang sengaja hanya untuk menantang ketua Kong-thong-pai bertanding ilmu pedang! Juga di Kong-thong-pai ini Lu Sian merobohkan banyak tokoh, sungguh pun ia belum sanggup mengalahkan ilmu pedang ketua Kong-thong-pai yang bernama Kim Leng Tosu. Namun ia menang cekatan dan lincah sehingga kekalahannya dalam ilmu pedang dapat ia atasi dengan kelincahannya.

Demikianlah selama sepuluh tahun Lu Sian malang-melintang di dunia kang-ouw. Ilmu kepandaiannya makin hebat, akan tetapi berkat ilmunya awet muda, wajahnya masih tetap cantik jelita, tubuhnya menyiarkan keharuman yang khas, sedangkan bentuk tubuhnya masih menggairahkan seperti seorang gadis remaja.

Betapa pun liar dan ganas watak Lu Sian, sebagai seorang ibu kadang-kadang ia merasa rindu kepada puteranya, Bu Song. Rasa rindu inilah yang akhirnya membawa kedua kakinya melangkah menuju propinsi Shansi. Pada waktu itu, Kerajaan Cin Muda telah roboh, terganti dengan kerajaan baru yang disebut Kerajaan Han Muda. Propinsi Shan-si telah berdiri sendiri dan menjadi Kerajaan Hou-han.

Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia mendengar kabar bahwa bekas suaminya, Kam Si Ek, telah meletakkan jabatan dan telah pindah. Tak seorang pun tahu ke mana pindahnya Kam Si Ek, bekas suaminya. Hatinya menjadi dingin kembali dan ia hanya percaya bahwa puteranya, Bu Song, tentu saja hidup aman sentosa di samping bekas suaminya.

Lu Sian termenung sambil makan di sebuah rumah makan di kota raja Hou-han. Ingin ia menangis kalau teringat akan puteranya, namun hatinya yang keras mencegahnya berduka lebih lama lagi. “Lebih baik dia tidak mengenal aku sebagai ibunya,” demikian pikirnya.

Bagaimana kalau puteranya itu bertemu dengannya dan mengenalnya sebagai seorang ibu yang meninggalkan anaknya? Apalagi kalau mengenal bahwa ibunya adalah Tok-siauw-kwi, iblis betina yang ditakuti orang? Lu Sian tersenyum, dan dengan gemas ia meneguk cawan araknya yang ke sembilan kalinya.

Cara ia menuangkan arak ke mulut dan langsung ke perut melalui tenggorokan menandakan bahwa ia sudah biasa dengan minuman keras ini. Memang jarang sekali ada wanita yang dapat minum arak seperti dia itu. Cara ia minum benar-benar cara seorang ‘setan arak’ minum.

Tiba-tiba Lu Sian menengok ke kiri. Perasaannya yang tajam membuat ia tahu bahwa ia diperhatikan orang dari arah kiri. Pemuda yang sedang memandangnya itu nampak gugup, hendak menundukkan muka atau pura-pura tidak melihat, namun pandang matanya seakan-akan lekat pada wajah ayu itu. Lu Sian tersenyum, membuang muka akan tetapi matanya yang tajam mengerling, tajam melebihi pedang. Hatinya pun tergetar.

Betapa tidak? Pemuda itu tampan bukan main. Tubuhnya tinggi tegap, mukanya halus putih seperti muka wanita, namun alisnya hitam tebal, matanya lebar bercahaya terang dan tajam seperti mata harimau. Wajah tampan dan tubuh tegap seorang pria ganteng selalu masih menggerakkan hati Lu Sian, biar pun usianya sudah empat puluh tahun!

Semenjak hatinya yang mengalami cinta kasih telah dikecewakan oleh Kam Si Ek, Tan Hui dan yang terakhir murid Siauw-lim-pai Yap Kwan Bi, ia menganggap pria hanya manusia jenis lain yang menarik, dan hanya tepat dijadikan permainan belaka untuk memuaskan nafsunya. Semenjak ia merantau, banyak sudah pria yang jatuh bertekuk lutut oleh kecantikannya yang luar biasa. Tetapi setelah Lu Sian mempermainkannya dan laki- laki itu benar-benar telah roboh hatinya, selalu Lu Sian meninggalkannya pergi dan tertawa puas melihat bekas kekasih ini menjadi patah hati, menjadi gila atau setengah gila!

Selagi Lu Sian berdebar hatinya bertemu dengan seorang pemuda tampan remaja yang paling tinggi berusia dua puluh dua tahun ini, tiba-tiba terdengar angin mendesir dan pandang mata Lu Sian yang tajam dapat melihat berkelebatnya senjata rahasia halus menyambar ke arah si Pemuda Tampan! Lu Sian merasa khawatir sekali melihat sikap pemuda itu seperti seorang pemuda pelajar yang tak mengerti ilmu silat, maka ia lalu menjemput nasi dengan sumpitnya dan sekali menggerakkan tangan, nasi itu menyambar ke arah sinar senjata rahasia menjadi butiran-butiran nasi dan runtuh ke bawah tanpa mengeluarkan suara!!

Pemuda itu masih enak-enak minum araknya dan memang ia tidak tahu akan adanya bahaya yang tadi mengancam nyawanya.

Setelah senjata-senjata rahasia jarum itu runtuh, terdengar orang berseru di luar rumah makan, “Biar ada yang melindungi, kita harus bunuh pangeran ini!” dan muncullah tiga orang laki-laki tinggi besar yang membawa golok telanjang di tangan.

Pemilik rumah makan dan dua orang pelayannya ketakutan, juga dua orang lain yang sedang duduk makan di situ lari ke luar. Pemuda tampan itu pun kelihatan terkejut sekali mendengar ucapan ini, bangkit berdiri dari kursinya dan mukanya pucat. Gerakan ini saja menyakinkan Lu Sian bahwa pemuda yang diserang tadi benar- benar tak pandai silat, maka ia melirik ke arah tiga orang tinggi besar itu. Orang-orang yang kasar akan tetapi tidak seperti penjahat.

“Tolong! Tolong!” teriak pemuda itu saat melihat tiga orang tinggi besar itu menyerbu ke arahnya.

Lu Sian tidak mau tinggal diam saja. Tangan kirinya bergerak tanpa ia bangkit dari kursinya. Terdengar tiga orang itu berteriak kesakitan dan roboh bergulingan menabrak meja kursi. Mata mereka mendelik, dari dalam hidung dan telinga keluar darah. Nyawa mereka sudah putus!

“Keparat dari mana berani membunuh murid-murid keponakanku?!” terdengar bentakan keras dan melayanglah tubuh seorang tosu yang bersenjata pedang, langsung menghantamkan pedangnya dari atas ke bawah tepat di atas kepala Lu Sian!

Wanita sakti ini hanya tersenyum, sama sekali tidak menoleh, akan tetapi tiba-tiba kursi yang didudukinya mencelat ke samping dan ia masih enak-enak duduk di atasnya. Pedang itu menyambar terus ke bawah dan….

“Crakkkkk!!” meja yang tadi berada di depan Lu Sian terbelah menjadi dua potong!

Pemuda yang sebenarnya seorang pangeran yang menyamar itu menggigil ketakutan, juga tiga orang pengurus rumah makan kini berjongkok bersembunyi di balik meja.

Si Tosu ternyata bertubuh tinggi kurus, usianya hampir lima puluh tahun, wajahnya pucat seperti orang berpenyakitan. Namun menyaksikan betapa sekali bacok ia dapat membelah meja yang tebal, dapat dibayangkan betapa besar tenaganya dan betapa tajam pedangnya. Hampir ia tidak percaya ketika pedangnya hanya mengenai meja sedangkan wanita muda yang ia bacok itu masih enak-enak duduk di atas kursi dekat sebuah meja lain. Ia membalikkan tubuh, mengeluarkan seruan marah dan melompat ke arah Lu Sian, menerjang dengan pedang diputar cepat.

“Trakkk!” pedang itu berhenti di tengah-tengah dan kiranya telah terjepit sepasang sumpit yang berada di tangan Lu Sian.

Si Tosu mengerahkan tenaga membetot, namun sia-sia karena pedangnya seakan-akan terjepit oleh jepitan baja yang amat kuat. Mendadak Lu Sian melepaskan jepitannya sehingga si Tosu terhuyung mundur, dan pada saat itu pula sepasang sumpit itu langsung melayang ke arah lambung dan leher si Tosu. Namun Si Tosu ternyata cukup gesit karena ia mampu membuang diri ke samping dan bergulingan menyelamatkan diri.

Akan tetapi baru saja ia melompat bangun, datang sinar merah menyambarnya. Tosu itu memutar pedang dan banyak jarum runtuh, namun sebatang jarum masih dapat menerobos dan menancap di dadanya. Tosu itu mengeluh dan terguling roboh. Ia mencabut jarum di dadanya dan melihat jarum merah serta mencium bau harum, matanya terbelalak memandang Lu Sian, telunjuknya menuding dan mulutnya berseru, “Kau… Tok- siauw-kwi….!” namun ia tak dapat bicara lebih lanjut karena racun jarum telah mencapai jantungnya dan ia mati dengan mata mendelik.

Lu Sian hanya tersenyum dan masih duduk menghadapi meja.

Tiga orang pemilik dan pengurus rumah makan itu segera keluar dari tempat sembunyi mereka dan berlutut di depan si Pemuda Tampan. “Syukur bahwa Tuhan masih melindungi Paduka….”

“Sssst, sudah jangan banyak ribut. Lebih baik lekas laporkan kepada penjaga keamanan kota dan mengurus empat mayat penjahat itu,” kata si Pemuda, kini sikapnya agung dan sudah tenang kembali.

Ia lalu melangkah menghampiri Lu Sian, merangkap kedua tangan di depan dada sambil membungkuk memberi hormat. “Lihiap (Nona Perkasa) telah menolong nyawa saya, sungguh merupakan budi amat besar dan membuat saya bingung bagaimana saya akan dapat membalas budi itu.” Ucapannya halus dan tutur katanya sopan menyenangkan.

Lu Sian segera bangkit berdiri dan membalas penghormatan orang. Bibirnya tetap tersenyum manis, kerling matanya benar-benar mengiris jantung. “Ah, urusan kecil seperti itu bukan berarti menghutangkan budi. Ada orang-orang jahat hendak membunuh Kongcu, bagaimana saya dapat berpeluk tangan saja?”

Pemuda itu memandang penuh kagum dan ia tidak menyembunyikan rasa kagum ini, bukan hanya kagum akan kehebatan kepandaian wanita ini, namun juga kagum akan kecantikannya yang luar biasa, akan bau harum semerbak yang keluar dari tubuh wanita itu dan memabokkannya. “Hebat sekali, Lihiap! Kalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri, mana mungkin saya percaya di dunia ini ada seorang yang kepandaiannya seperti dewi, sedangkan Lihiap begini can…. eh, muda? Tadi pun merupakan teka-teki bagi saya siapa gerangan yang membuat tiga orang penyerang saya jatuh tersungkur dan tewas seketika. Kalau tidak ada penyerang ke empat tadi, sampai mati pun saya mungkin tidak percaya bahwa Lihiap yang telah menolong saya.”

Berdebar jantung Lu Sian. Laki-laki ini sungguh menarik hati dan menyenangkan. Rasa kagum yang terpancar dari matanya dan pujian yang keluar dari mulutnya sama sekali bukanlah kosong dan menjilat sifatnya, melainkan langsung keluar dari hati. Ia dapat membedakan hal ini. Sambil menjura lagi dan memperlebar senyumnya sehingga tampak sedikit deretan gigi putih berkilau, ia berkata, “Ah, Kongcu terlalu memuji dan membesar-besarkan. Kalau tidak salah pendengaran saya, bukankah Kongcu seorang pangeran? Inilah yang mengagumkan, melihat seorang pangeran berada di luar istananya dengan berpakaian seperti rakyat biasa, benar-benar jarang sekali dapat ditemui pada jaman kini.”

Pemuda itu tersenyum. “Apa sih bedanya pangeran dan orang biasa? Lihiap, sekali lagi, katakanlah bagaimana saya harus membalas budimu?”

“Telah saya katakan tadi, tidak ada penghutangan budi. Kalau Kongcu hendak melakukan sesuatu untuk menuruti permintaanku, saat ini tidak ada keinginan lain di hatiku kecuali keterangan mengapa Kongcu sebagai pangeran diserang oleh empat orang ini dan siapakan mereka?”

Pemuda itu menggerakkan kipasnya untuk mengipas leher, padahal ia menggunakan benda itu untuk menutup mulutnya dari orang lain agar kata-katanya tidak terdengar orang lain kecuali Lu Sian, kemudian berkata perlahan, “Lihiap di sini bukan tempat kita bicara tentang itu. Saya persilakan Lihiap singgah di gedung kami, sudikah Lihiap memberi penghormatan itu?”

“Ayaaa….! Kongcu benar-benar terlalu merendah! Undangan itu justru merupakan kehormatan besar sekali bagiku. Terima kasih, Kongcu, tentu saja saya bersedia memenuhi undangan Kongcu.”

Pada saat itu terdengar langkah kaki banyak orang dan masuklah tujuh orang berpakaian seragam yang serta- merta menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu.

“Bangunlah!” kata sang Pangeran dengan sikap berwibawa. “Urus empat mayat ini dan selidiki kalau-kalau masih ada teman-teman mereka yang berkeliaran dalam kota!”

Mereka bangkit dengan sikap hormat.

“Sediakan dua ekor kuda untuk kami!” kata pula pemuda itu.

Cepat sekali dua orang di antara mereka keluar, dan tak lama kemudian terdengarlah derap kaki dua ekor kuda di depan pintu rumah makan.

“Lihiap, mari kita berangkat,” ajak si Pangeran.

Ketika Lu Sian hendak membayar harga makanan, cepat-cepat si Pemilik Rumah Makan mencegah dengan ucapan manis. “Harap Lihiap tidak usah repot-repot. Semua yang berada di sini hamba sediakan untuk keperluan sang Pangeran dan sahabat-sahabat beliau!”

Pangeran itu tersenyum dan mengajak Lu Sian ke luar. Di sana telah tersedia dua ekor kuda besar beserta perlengkapannya. “Silakan, Lihiap,” ajak pemuda itu.

Lu Sian tidak sungkan-sungkan lagi. Segera ia melompat ke atas pelana kuda, diikuti oleh pangeran itu. Mereka segera menjalankan kuda, diikuti pandang mata kagum dari belakang.

Walau pun jarang keluar, Lu Sian pernah tinggal di kota ini bersama suaminya, karena itu ia mengenal jalan dan tahu pula bahwa pemuda itu mengajaknya memasuki halaman sebuah gedung besar yang dahulu menjadi istana Gubernur Li! Hatinya berdebar tidak enak, khawatir kalau-kalau ada orang mengenalnya. Akan tetapi ia menjadi lega ketika teringat bahwa sudah lewat belasan tahun sejak ia berada di sini, pula dahulu ia tidak pernah keluar rumah dan tak pernah bertemu dengan para pembesar di tempat ini. Selain itu, ia percaya bahwa ilmu awet muda membuat ia takkan dikenal orang. Biar pun usianya sudah empat puluhan, namun ia tetap kelihatan seperti seorang gadis dua puluh tahun lebih!

Bekas gedung Gubernur Li itu memang kini menjadi istana raja. Komplek bangunannya banyak sekali dan pemuda ini bertempat tinggal di sebuah gedung sebelah kiri belakang. Begitu kuda mereka diurus oleh pelayan, mereka lalu memasuki gedung. Banyak sekali pelayan laki-laki dan wanita menyambut mereka penuh penghormatan.

“Sampaikan kepada Thai-thai (Nyonya Besar) bahwa aku hendak menghadap bersama seorang pendekar wanita yang telah menolongku,” kata Pangeran itu dengan sikap gembira kepada seorang pelayan wanita. Mendengar ini, para pelayan memandang Lu Sian penuh perhatian dan kagum.

Pangeran itu mempersilakan Lu Sian duduk di ruang tamu yang amat indah. Dengan kagum Lu Sian memandangi lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan yang bergantungan di sepanjang dinding. Alangkah bedanya dengan suaminya dahulu, pikirnya. Suaminya itu biar pun seorang jenderal ternama, hidupnya sederhana dan gedungnya tidak semewah dan seindah ini.

“Lihiap, bolehkah saya mengetahui nama Lihiap yang terhormat?”

Lu Sian terkejut. Kalau ia mengakui namanya, ada bahayanya orang mengenalnya sebagai bekas isteri Jenderal Kam Si Ek! Ia tersenyum manis dan menjawab, “Saya seorang wanita perantau yang tidak pernah mengingat nama. Seingat saya, nama saya Sian, akan tetapi orang-orang menjuluki saya….”

“Tok-siauw-kwi? Sungguh terlalu ketika aku mendengar tosu keparat itu memakimu Tok-siauw-kwi! Kau patutnya seorang Sian-li (Dewi) dan mungkin Lihiap benar-benar seorang Dewi karena namanya Sian (Dewa). Biarlah bagi saya, Lihiap adalah seorang Sian-li dan selanjutnya kusebut begitu….”

“Ah, Kongcu benar-benar membuat saya malu dengan pujian-pujian muluk. Dan siapakah Kongcu? Apakah Thai-cu (Pangeran Mahkota)?”

“Ah, bukan… bukan! Saya hanya seorang pangeran yang lahir dari seorang selir, ibuku selir ke tiga dari Sri Baginda. Namaku Lie Kong Hian.”

Lu Sian mengangguk-angguk dan pada saat itu muncullah seorang pelayan wanita yang memberitahukan bahwa nyonya besar telah siap menerima puteranya dan seorang sahabatnya. “Marilah kita menghadap ibu. Beliau tentu girang sekali mendengar bahwa kau telah menolong nyawaku,” kata pangeran yang bernama Lie Kong Hian itu.

Lu Sian hanya tersenyum dan mengikuti pemuda itu memasuki ruangan belakang. Gedung ini amat besar dan indah, di sebelah dalamnya terdapat taman yang kecil namun indah sekali. Di sebelah belakang juga terdapat taman bunga yang dihias pintu bulan yang menembus ke taman gedung sebelahnya. Di ruangan belakang, ibu pemuda itu sudah menanti sambil duduk di atas kursi, seorang wanita yang usianya empat puluh tahun lebih namun masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya. Di belakangnya menjaga dua orang pelayan wanita yang memijit-mijit punggungnya akan tetapi segera disuruh berhenti ketika nyonya itu melihat masuknya Kong Hian dan Lu Sian.

“Ibu….!” pemuda itu tanpa memberi hormat lagi merangkul pundak ibunya dengan sikap manja sekali. “Inilah Nona Sian-li yang telah menyelamatkan nyawa puteramu.” Serta-merta Pangeran itu menceritakan betapa di dalam rumah makan ia diserang mata-mata musuh akan tetapi diselamatkan oleh Sian-li (Dewi) yang perkasa ini.

“Nah, itulah jadinya kalau anak tidak mentaati nasehat orang tua,” sang ibu mengomel. “Kau senang sekali keluyuran di luar padahal kau tahu bahwa suasananya sedang tidak aman. Kekuasaan-kekuasaan sedang timbul di mana-mana untuk saling berlumba merebutkan kedudukan. Tentu saja seorang pangeran seperti engkau ini menjadi sasaran gemuk. Kong Hian, tanpa keluyuran di luar, kau di rumah kurang apa lagikah? Aahhh, dasar anak sukar diurus….!” Nyonya itu menarik napas panjang, kemudian menoleh kepada Lu Sian yang berdiri menundukkan muka.

“Nona, banyak terima kasih atas pertolonganmu kepada puteraku. Alangkah akan tenang rasa hatiku kalau dia mempunyai seorang pelindung seperti engkau yang selalu mendampinginya! Agaknya Nona ini seperti Coa Kim Bwee, sayang dia itu menjadi ibu ke tujuh Kong Hian, kalau tidak….”

“Ibu, urusan dalam istana kau sebut-sebut di depan Lihiap, mana dia tahu? Sudahlah, harap ibu beristirahat, aku mau mengajak tamu kita melihat-lihat taman.”

Ibunya tersenyum dan mengedipkan mata, kemudian menggerakkan tangan memberi ijin mereka pergi meninggalkannya.

Sambil berjalan di samping Kong Hian memasuki taman belakang yang lebih besar dari pada taman di dalam tadi, diam-diam Lu Sian merasa heran atas sikap selir raja yang ke tiga itu. Begitu bebas, bahkan ada sifat-sifat genit dan agaknya senang melihat puteranya bergaul dengan wanita. Akan tetapi hanya sebentar saja ia memikirkan hal ini karena segera ia tertarik oleh keindahan taman, kehalusan tutur kata dan ketampanan wajah Kong Hian.

Pemuda pangeran ini pintar sekali mengarang sajak dan mengucapkannya dengan kata-kata berirama sehingga Lu Sian makin tertarik dan teringat kepada Kwee Seng. Tanpa mereka sadari, percakapan menjadi lebih bebas dan kini mereka duduk berhadapan di antara bunga-bunga, di dekat pintu bulan sambil menikmati keindahan tubuh ikan-ikan emas yang berenang di dalam empang teratai.

“Sian-li….”

Lu Sian memandang dengan alis terangkat. Suara pemuda ini menggetar dan baru sekarang menyebutnya Sian-li begitu saja sedangkan tadinya menyebut Lihiap atau kadang-kadang juga nona. Geli hatinya mendengar sebutan Dewi ini, akan tetapi juga senang. Lebih baik Sian-li (Dewi) dari pada disebut Tok-siauw- kwi (Setan Cilik Beracun)!

“Hemmm…?” gumamnya sambil mengerling tajam.

Dengan gagap pangeran muda itu berkata. “Aku… aku akan merasa bahagia sekali kalau ucapan ibuku tadi menjadi kenyataan.”

“Ucapan yang bagaimana?”

“Kalau kau menjadi pelindung yang selalu mendampingiku!” Kong Hian menatap tajam dan melihat Lu Sian tersenyum, sama sekali tidak marah, ia lalu memegang tangan wanita itu. Jari-jari tangan mereka yang mengeluarkan getaran dan saling cengkeram menjadi bukti bahwa hati masing-masing telah menjawab.

Akan tetapi dengan halus dan perlahan Lu Sian menarik tangannya, tersenyum lebar dan berkata, “Apa salahnya? Akan tetapi sebagai calon pelindung, aku harus tahu lebih dulu mengapa kau perlu dilindungi dan siapakah para penyerangmu tadi, lalu apa syaratnya jika aku menjadi pelindungmu?”

Girang sekali wajah pangeran muda itu karena ia mendapat tanda bahwa wanita ini tidak akan menolaknya! Cepat ia bercerita, “Empat orang itu adalah orang-orang yang bergabung dengan pemberontak. Mereka itu bekas anak buah Jenderal Kam Si Ek yang sudah meletakkan jabatan.”

Tentu saja disebutnya nama suaminya ini membuat Lu Sian terkejut. Akan tetapi ia dapat menguasai perasaannya dan bertanya, “Mengapa meletakkan jabatan dan mengapa pula mereka memberontak?”

“Setelah Kerajaan Hou-han didirikan, Jenderal Kam Si Ek menentang karena hal itu ia anggap pengkhianatan terhadap kesetiaan kepada Dinasti Tang yang sudah roboh. Dia masih baik, hanya meletakkan jabatannya dan hidup mengundurkan diri ke dusun. Akan tetapi banyak di antara anak buahnya bersekutu dengan tokoh Tang, yaitu bekas Raja Muda Couw Pa Ong. Mereka memberontak dan selalu berusaha meruntuhkan kerajaan- kerajaan kecil yang sudah berdiri dengan jalan membunuhi para bangsawan dan keluarga raja.”

Diam-diam Lu Sian terkejut. Nama Sin-jiu Couw Pa Ong tentu saja sudah dikenalnya baik-baik, sungguh pun kini ia tidak gentar mendengar nama itu karena ilmu kepandaiannya sudah meningkat hebat, sehingga tidak perlu lagi takut menghadapi orang-orang pandai seperti Couw Pa Ong atau Kong Lo Sengjin yang lumpuh itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo