August 1, 2017

Suling Emas (Part 14)

 

Gin Lin mengusap-ngusap rambut yang terurai itu. “Kwee-koko, kenapa kau sampai menjadi begini?”

“Apa? Seperti jembel ini? Ha-ha-ha, agar tepat dengan keadaanmu sebagai seorang nenek-nenek keriputan. Hanya seorang jembel gila yang begitu buta beristerikan seorang nenek. Kau isteriku, ha-ha-ha! Engkau isteriku tercinta!”

Gin Lin memeluk dan mendekap kepala suaminya dengan terharu sambil menangis, sedangkan suaminya masih memondongnya dan berjingkrak-jingkrak kegirangan, juga dengan pipi basah air mata. Mereka lupa diri, lupa segala sehingga tidak ingat bahwa anak perempuan tadi memandang mereka dengan bengong, dan anak itu menangis pula menyaksikan mereka mengucurkan air mata.

“Ibu… Ibu….!” Anak itu memanggil.

Kim-mo Taisu tersentak kaget seperti terpukul dadanya. Ia menurunkan Gin Lin dan terhuyung-huyung mundur dengan wajah pucat. “Kau.. kau… sudah menjadi isteri orang lain…?”

Gin Lin tersenyum dengan air mata masih bercucuran, lalu menggandeng tangan anak itu. “Eng Eng, dia ini ayahmu, Nak. Kwee-koko, setelah kau pergi, aku… aku melahirkan anak ini. Hanya karena dialah maka aku merobah tekadku untuk mati di Neraka Bumi. Aku membawanya ke luar mencarimu. Dia ini anakmu, Kwee- koko.”

Terdengar rintihan isak di tenggorokkan Kim-mo Taisu. Ia berlutut, memegang kedua tangan anaknya, memandang wajah yang mungil itu, kemudian ia memondongnya sambil tertawa. Tangan kirinya juga menyambar dan memondong tubuh isterinya. Berganti-ganti ia memandang dan menciumi isteri dan anaknya dengan kebahagiaan hati yang sukar dilukiskan. Ia merasa seakan-akan menerima anugerah yang paling besar dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami kebahagiaan seperti saat ini.

“Isteriku…! Anakku…! Ah, Kwee Seng… Kwee Seng… agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadamu…!” katanya, suaranya menggetar penuh keharuan.

“Ayah… sudah lama sekali aku mencari-carimu. Ibu seringkali menangis, katanya kau tidak mau menjadi ayah Eng Eng. Sekarang Ayah sudah di sini, mengapa ibu masih menangis? Apa Ayah betul-betul tidak suka kepada Eng Eng?”

Ucapan yang keluar dari bibir mungil itu seperti pisau mengiris jantung Kim-mo Taisu. Terasa olehnya betapa ia telah melakukan dosa besar terhadap Gin Lin yang selain telah menolong nyawanya di Neraka Bumi, ternyata masih menaruh cinta kasih yang amat besar kepadanya. Sungguh ia telah berdosa. Andai kata Gin Lin benar-benar seorang nenek sekali pun, ia tidak semestinya meninggalkan seorang yang begitu mencintanya.

“Eng Eng. Alangkah manis namamu. Ayah amat cinta dan sayang kepadamu, anakku!” Ia menciumi pipi anaknya.

“Tapi Ayah mengapa menangis? Ibu juga? Mengapa susah?”

“Ayah tidak susah. Lihat, sekarang aku tertawa, dan Ibumu juga!” Anak itu memandang ayah dan ibunya, benar saja mereka tersenyum dengan air mata membasahi pipi.

“Suhu…!”

Kwee Seng memandang dan ternyata Bu Song sudah muncul di situ.

“Teecu menghaturkan selamat bahwa Suhu telah dapat berkumpul dengan Subo (Ibu Guru) dan… dan adik puteri Suhu,” kata Bu Song dengan pandang mata sejujurnya dan muka ikut bergembira.

Kim-mo Taisu menurunkan tubuh isterinya perlahan. Sambil memondong Eng Eng ia menghadapi muridnya berkata, “Bu Song, kenapa kau pergi meninggalkan aku tanpa pamit?”

Mendengar suara ayahnya seperti marah dan melihat Bu Song menundukkan kepala, Eng Eng segera menjawab ayahnya. “Ayah, jangan marah kepadanya. Dialah yang membawa Ibu dan aku ke sini menemui Ayah. Bu Song tidak nakal, dia baik, Ayah!”

“Ehh…??” Kim-mo Taisu memandang isterinya yang tersenyum dan mengangguk, bahkan isterinya lalu memberi penjelasan.

“Muridmu ini bekerja pada kami, mengambil air dari puncak. Ketika mengangsu air untuk kali terakhir, ia melihat kau berhadapan dengan musuh jahat. Maka setibanya di rumah kami ia bertemu denganku dan mengatakan bahwa gurunya Kim-mo Taisu, menghadapi bahaya maka ia harus cepat-cepat pergi dari rumah kami, tanpa mau kutahan lagi. Aku memang ada dugaan bahwa Kim-mo Taisu adalah engkau, maka aku lalu mengajak Eng Eng dan bersama Bu Song pergi menyusulmu ke sini. Kiranya benar-benar kau berhadapan dengan musuh yang tangguh. Baiknya ada Pamanku Couw Pa Ong yang membantumu.”

“Couw Pa Ong…? Dia itu… Pamanmu…?”

“Mari kita pulang dulu, nanti kita bicara sampai jelas.”

“Pulang?” terharu hati Kim-mo Taisu, karena sesungguhnya, entah sudah berapa lamanya ia tidak mengenal arti kata ‘pulang’ lagi. Sambil menggandeng tangan isterinya dan memondong Eng Eng, Kim-mo Taisu mengangguk dan menjawab, “Marilah!”

“Bu Song, kau ikut dengan kami,” kata Khu Gin Lin dengan suara halus, akan tetapi Bu Song masih berdiri dengan kepala menunduk.

“Bu Song, hayo ikut, nanti kita main-main di rumah!” Eng Eng juga berkata, akan tetapi tetap saja Bu Song tidak bergerak dan tidak pula mengangkat muka.

Anak itu sedang dilanda kedukaan hebat. Ia memang ikut bergirang menyaksikan kebahagiaan suhu-nya yang telah berkumpul kembali dengan isteri dan anaknya, akan tetapi sekaligus peristiwa ini pun mengingatkan ia akan keadaannya sendiri yang jauh ayah jauh ibu, seorang anak yang tidak dapat mengecap kebahagiaan seperti Eng Eng karena ayah bundanya cerai berai. Pula agaknya suhu-nya marah kepadanya. Kalau suhu- nya sendiri diam saja, bagaimana ia bisa ikut mereka?

Melihat Bu Song diam saja tidak menjawab, Eng Eng lalu melorot turun dari pondongan ayahnya, lari menghampiri Bu Song dan menarik tangannya. “Hayo, kau ikut! Eh, kau… kau menangis? Kenapa??”

Mendengar ini, kagetlah Kim-mo Taisu. Ia sudah mengenal betul perangai Bu Song, seorang anak yang amat keras hatinya, yang tidak pernah sudi menangis, tabah dan berani luar biasa. Kalau sekarang menangis, benar-benar aneh! Tadinya, perjumpaannya dengan anak isterinya membuat Kim-mo Taisu sejenak melupakan Bu Song, apalagi karena muridnya itu telah meninggalkannya tanpa pamit. Ia menganggap muridnya sudah tidak suka lagi ikut dengannya, maka ia pun tadi tidak mengacuhkannya lagi. Akan tetapi sekarang mendengar bahwa muridnya menangis, ia segera membalikkan tubuh menghampiri Bu Song.

“Bu Song, kau lihat aku!”

Bu Song mengangkat mukanya. Anak ini menggigit bibir menahan air mata dan memandang suhu-nya dengan mata tajam.

“Ketika aku bicara dengan Beng-kauwcu, kenapa kau lalu pergi meninggalkan aku tanpa pamit? Apakah kau sudah bosan ikut gurumu?”

Bu Song menggeleng kepalanya. “Teecu tidak bosan, akan tetapi teecu tidak mau bertemu dengan Pat-jiu Sin- ong Liu Gan.”

“Hehh…?? Kau tahu nama Beng-kauwcu? Mengapa kau tidak mau bertemu dengannya?” Kim-mo Taisu benar-benar tertarik dan merasa heran.

“Karena… karena… dia adalah Kong-kong (kakek) teecu….”

“Apa kau bilang?!” Kim-mo Taisu melangkah maju mendekati muridnya, lalu berjongkok agar dapat memandang wajah muridnya baik-baik. “Dia itu kakekmu? Bu Song, katakanlah siapa nama ayahmu?”

“Ayah teecu Kam Si Ek, akan tetapi teecu tidak mau pulang…, juga teecu tidak mau ikut Kong-kong, teecu hendak mencari ibu….”

Jantung Kim-mo Taisu bedebar-debar keras, lalu ia memeluk Bu Song. “Ah, mengapa ada peristiwa begini kebetulan? Bu Song… jadi kau anak Lu Sian dan Kam Si Ek…??”

Bu Song meronta dari pelukan suhu-nya, memandang dengan mata tebelalak. “Suhu mengenal Ayah dan Ibu?”

“Anak baik, tentu saja aku mengenal mereka!”

“Kalau begitu maaf, teecu tidak dapat ikut Suhu lagi.” Anak ini lalu membalikkan tubuhnya dan lari. Akan tetapi dengan tiga kali lompatan saja Kim-mo Taisu sudah menangkap tangannya. “Kenapa?” “Teecu tidak mau Suhu kembalikan teecu ke rumah Ayah atau Kong-kong. Teecu hendak mencari ibu.”
Kim-mo Taisu mengangguk-angguk. “Baiklah, Bu Song. Aku tidak akan mengantarmu kepada ayah dan kakekmu. Kau ikut saja dengan kami dan kelak kubantu kau mencari Ibumu.”

Kembali ia menghela napas karena teringat akan cerita Pat-jiu Sin-ong Liu Gan bahwa Liu Lu Sian telah meninggalkan suami dan putera, malah telah melakukan hal-hal yang luar biasa di dunia kang-ouw, telah mencuri kitab-kitab dari Beng-kauw sendiri. Sungguh aneh, mengapa secara kebetulan sekali putera Liu Lu Sian menjadi muridnya? Pantas saja begitu berjumpa dengan anak ini, timbul rasa sayang di hatinya. Kiranya anak ini darah daging Lu Sian! Diam-diam ia menjadi girang sekali dan berjanji kepada diri sendiri untuk mengimbangi Bu Song seperti puteranya sendiri.

Maka turunlah mereka berempat dari puncak dengan wajah bahagia. Tangan Kim-mo Taisu tak pernah dilepaskan oleh isterinya, yang kadang-kadang mengucurkan air mata sambil tersenyum-senyum memandangi wajah suaminya yang dirindukannya selama bertahun-tahun. Mereka bergandeng tangan sambil bercakap- cakap menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah. Eng Eng yang sifatnya lincah itu pun menggandeng tangan Bu Song diajak balapan lari atau diajak memetik bunga dan mengejar kupu-kupu di sepanjang jalan, tentu saja sambil tertawa-tawa.

Secara singkat Kim-mo Taisu menceritakan pengalamannya sejak keluar dari Neraka Bumi, pengalaman yang penuh kesengsaraan dan kepahitan sehingga membuat isterinya makin sayang kepadanya. Khu Gin Lin ikut mengucurkan air mata mendengar betapa suaminya menyesali diri sendiri sampai menjadi seperti seorang jembel gila.

Kemudian tiba gilirannya untuk bercerita. Seperti telah diceritakan oleh mendiang Ang-siauw-hwa atau Khu Kim Lin kepada Kwee Seng, Gin Lin dan Kim Lin adalah anak kembar dari seorang pangeran bernama Khu Si Cai, seorang Pangeran Kerajaan Tang. Khu Si Cai ini adalah adik ipar Raja Muda Couw Pa Ong yang terkenal. Ketika terjadi perang yang mengakibatkan tumbangnya Kerajaan Tang, keluarga Kaisar dan para bangsawan menjadi korban. Tak terkecuali keluarga Pangeran Khu yang ikut terbasmi.

Sepasang bocah kembar yang baru berusia lima tahun itu dapat diselamatkan oleh seorang pelayan, dibawa lari ke luar pada saat istana pangeran itu diserbu musuh dan dibakar. Dalam pelarian ini mereka bertemu keributan perang sehingga akhirnya Khu Gin Lin terlepas dari gandengan tangan pelayannya membuat ia terpisah dari saudara kembarnya. Anak ini menangis sambil lari ke sana kemari, jatuh bangun ditabrak orang- orang yang sedang melarikan diri dari perang.

Akhirnya ia jatuh pingsan di tengah jalan hampir saja diinjak-injak orang yang sedang panik itu kalau saja tidak ditolong oleh seorang tosu (pendeta To) yang kebetulan lewat. Tosu ini sudah tua sekali, mukanya pucat dan melihat seorang anak perempuan menggeletak di jalan, hampir terinjak-injak, cepat ia menyambarnya dan membawanya pergi cepat-cepat.

“Tosu itu adalah Kwan Cin Cun, seorang tokoh Thian-san-pai yang terkenal sebagai seorang patriot pembela Kerajaan Tang, sahabat baik dari Paman Sin-jiu Couw Pa Ong,” demikian Gin Lin melanjutkan ceritanya. “Dia tidak tahu bahwa aku adalah keponakan Couw Pa Ong. Seperti juga Pamanku itu yang terluka hebat, dan malah menjadi lumpuh kedua kakinya, Suhu Kwan Cin Cu juga terluka parah di sebelah dalam dadanya, luka yang tak mungkin dapat disembuhkan lagi karena ia telah terkena pukulan beracun yang hebat. Dia membawaku ke Neraka Bumi dan kebetulan sekali saat itu musim kering sehingga lebih mudah memasuki Neraka Bumi. Neraka Bumi sebetulnya adalah tempat bertapa kakek gurunya, yaitu sucouw (kakek guru) dari Thian-san-pai, tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Suhu Kwan Cin Cu. Aku dibawa ke tempat itu, lalu ia melatihku membaca kitab dan juga dasar-dasar ilmu silat. Sayang sekali, ketika aku berusia dua belas tahun, Kwan Suhu meninggal dunia karena lukanya yang memang hebat sekali.”

“Hemm, seorang sakti seperti dia, mengapa menyembunyikan diri dan tidak mau keluar lagi?” Kim-mo Taisu mencela.

“Dia sudah putus harapan. Katanya kepadaku, dari pada keluar dari Neraka Bumi melihat negeri dijajah orang, lebih baik ia bersembunyi dan bertapa sampai mati. Selama mendidikku, ia menanamkan kesan betapa buruknya dunia, betapa jahatnya manusia, betapa berbahayanya hidup seorang gadis muda. Oleh karena itulah maka aku lalu membuat kedok nenek-nenek dan tak pernah mau keluar dari Neraka Bumi, sampai… sampai…. Thian membawamu masuk ke sana dan… dan… lahirnya Eng Eng.” Jari-jari tangan Gin Lin mencengkeram jari-jari tangan suaminya dan keluarlah getaran-getaran kasih dari jari tangan mereka.

Ketika mereka berempat tiba di rumah kediamannya Couw Pa Ong, ternyata kakek lumpuh itu telah berada di situ, bahkan berdiri menanti di depan pintu. Bu Song memandang dengan kagum dan juga serem kepada kakek sakti itu. Ada pun Kim-mo Taisu segera maju dan memberi hormat dengan kikuk. Sebagai tokoh kang- ouw, ia enggan memberi hormat berlebihan, akan tetapi mengingat bahwa orang ini paman isterinya, tidak enak pula kalau tidak memberi hormat.

Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong tertawa bergelak, kelihatannya girang sekali. “Sudahlah, tidak perlu banyak sungkan, kita orang sendiri. Ha-ha-ha! Alangkah girang hatiku mendapat kenyataan bahwa suami keponakanku adalah Kim-mo Taisu! Sungguh menyenangkan, ini berarti bahwa Dinasti Kerajaan Tang masih belum saatnya lenyap dari permukaan bumi! Kim-mo Taisu, dengan adanya engkau sebagai keluarga kami, maka kekuatan untuk memulihkan kekuasaan Kerajaan Tang menjadi makin besar.”

“Maaf, Ong-ya, eh… Paman, akan tetapi saya sama sekali tidak ada minat untuk memikirkan soal kerajaan, saya tidak akan ikut-ikut….”

“Ha-ha-ha, coba saja kita sama-sama lihat! Aku Kong Lo Sengjin adalah seorang buronan, dicap sebagai musuh kerajaan yang sekarang berkuasa. Juga isterimu dianggap sebagai anggota pemberontak, keluarga bekas Kerajaan Tang. Kalau isterimu dimusuhi, apakah kau sebagai suaminya tidak?”

Kim-mo Taisu mengerutkan keningnya. “Kalau begitu, saya akan ajak isteri, anak dan murid saya untuk menjauhkan diri, mengungsi di tempat sunyi, hidup mengasingkan diri di tempat aman tenteram.”

Keng Lo Sengjin membanting-banting tongkatnya ke atas tanah. “Gin Lin! Kau dengar kata-kata suamimu? Apa kau sudah lupa lagi akan keluarga Ayah Bundamu yang terbasmi?”

“Paman, harap bersabar. Aku akan mengikuti suamiku ke mana pun juga ia pergi. Tentang sakit hati keluarga, sampai mati pun keponakanmu ini tidak akan lupa.”

“Haaahhh, pergilah…!” Mulutnya bilang begitu akan tetapi kakek ini sendirilah yang pergi jauh dari rumah itu, dengan gerakan cepat sekali, berloncat-loncatan menggunakan kedua ‘kakinya’ yang berupa sepasang tongkat.

Gin Lin lalu berbenah, dibantu oleh tiga orang pembantu rumah tangga yaitu A-kwi, A-liong, dan Sam-hwa yang ternyata bukanlah pembantu rumah tangga sembarangan, karena ketiga orang ini adalah bekas-bekas panglima pembantu Kong Lo Sengjin ketika kakek ini masih menjadi Raja Muda Sin-jiu Couw Pa Ong! Setelah selesai, dengan terharu Gin Lin berpamit dari tiga orang pembantu ini. Mereka pun kelihatan terharu, apalagi Sam-hwa yang menangisi kepergian Eng Eng yang ia anggap sebagai cucunya.

“Harap kalian bertiga jangan terlalu sedih,” akhirnya Gin Lin berkata. “Betapa pun juga, waktu akan membawa kita berkumpul dalam perjuangan yang sama,” kata-kata ini agaknya menyadarkan mereka dan berserilah wajah mereka, malah mereka mengantar keluarga itu sampai jauh ke luar hutan.

Setelah mereka berpisah, Kim-mo Taisu bertanya apa artinya ucapan isterinya ketika berpisah tadi.

Gin Lin menarik napas panjang. “Mereka itu adalah bekas panglima dan pejuang pembela Kerajaan Tang. Seperti juga Paman dan aku sendiri, kita kehilangan keluarga, menyaksikan betapa keluarga terbasmi habis, betapa kerajaan runtuh diobrak-abrik dan dirampok, diperkosa, dihina oleh musuh. Anehkah kalau di lubuk hati kita masing-masing terpendam perasaan dendam yang tak dapat dipadamkan sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali? Kakek sudah berusaha keras, dan dengan kawan-kawan seperjuangan telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Tang Muda, akan tetapi hanya berhasil mempertahankan selama tiga belas tahun saja, dan Kerajaan Tang Muda kembali jatuh di tangan musuh yang mendirikan Kerajaan Cin Muda. Ah, sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali seperti dahulu, agaknya hati kita masih akan tetap mengandung dendam.”

Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, akan tetapi tidak menjawab apa-apa. Baginya, perasaan dendam itu tidak ada dan tak dapat ia merasakan atau mengerti apa yang diutarakan isterinya itu, karena ia sendiri tidak pernah melibatkan diri dengan urusan negara.

“Yang terpenting kita mendidik Eng Eng dan Bu Song,” akhirnya ia berkata. “Dan kalau kita terlibat urusan perang, bagaimana kita mampu mendidik anak-anak itu? Mari kita pergi ke tempat yang tenteram dan jauh dari pada keributan.”

“Ke manakah? Asal jangan ke Neraka Bumi!” Gin Lin berkata dan meremang bulu tengkuknya kalau ia membayangkan betapa puterinya harus hidup di neraka itu!

“Tempat yang baik dan berjasa,” Kim-mo Taisu berkata sambil melamun. “Ihhh, neraka itu kau anggap baik?”
Suaminya tersenyum dan memegang tangan si Isteri. “Kalau tidak ada Neraka Bumi, bagaimana kita bisa saling berjumpa?”

Gin Lin menjadi merah sekali mukanya, ia membuang senyum dan berkata, “Sudahlah, ke mana kita sekarang pergi?”

“Ke Min-san!”

Selama tinggal di Neraka Bumi dan ditinggal mati Kwan Cin Cu, Gin Lin membaca kitab-kitab dan banyak tahu akan teori ilmu silat sambil melatih diri sedapatnya. Biar pun kurang sempurna karena kurang bimbingan, namun dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga, maka dalam perjalanan jauh itu mereka tidak mengalami banyak kesulitan. Apabila mereka melalui jalan yang sukar, Gin Lin menggendong puterinya sedangkan Kim-mo Taisu menggandeng tangan Bu Song atau kadang-kadang juga memondongnya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa bulan lamanya, akhirnya mereka sampai juga ke Puncak Min-san di mana Kim-mo Taisu lalu membangun sebuah pondok sederhana untuk tempat tinggal mereka, jauh dari pada dunia keramaian. Mulai saat itu, Bu Song dan Eng Eng menerima gemblengan dari Kim-mo Taisu dan isterinya. Akan tetapi oleh karena Bu Song masih saja kukuh tidak mau mempelajari ilmu silat, maka hanya Eng Eng saja yang menerima latihan ilmu silat, sedangkan Bu Song mendapat pelajaran ilmu sastra.

Seperti kita ketahui, Kim-mo Taisu Kwee Seng ini dahulu adalah seorang mahasiswa yang tak pernah lulus dalam ujian. Biar pun ia lebih gemar ilmu silat, namun sesungguhnya ia bukanlah seorang yang bodoh dalam ilmu sastra. Tidak, bahkan ia amat pandai. Hanya pada masa itu, untuk dapat lulus dalam ujian tidaklah mudah. Nafsu korupsi sudah menjadi penyakit wabah yang menyerang seluruh pembesar yang berhak memeriksa ujian. Jangan harap seorang mahasiswa akan dapat lulus dalam ujian bila tanpa memberikan uang sogokan. Kim-mo Taisu Kwee Seng adalah seorang yang berjiwa pendekar, tentu saja ia tidak sudi untuk melakukan penyuapan. Tidak mau ia lulus ujian dengan cara menyogok, inilah yang membuat ia gagal terus dalam ujian.

Karena memang pandai dalam ilmu sastra, tentu saja ia dapat mengajarkan ilmu itu kepada Bu Song. Akan tetapi, di samping ilmu menulis dan membaca sajak ini, diam-diam Kim-mo Taisu menurunkan pelajaran dasar- dasar ilmu silat yang secara cerdik ia masukkan ke dalam pelajaran yang ia sebut ilmu kesehatan dan ilmu pengobatan. Dalam diri Bu Song memang terdapat bakat istimewa, maka segala macam pelajaran dapat ia terima dengan mudah. Bahkan dalam latihan semedhi dan peraturan napas penyaluran jalan darah, ia jauh lebih maju dari pada Eng Eng.

Bertahun-tahun keluarga ini hidup bersunyi, hanya bertetangga penduduk gunung yang tinggal di lereng Min- san. Hanya sepekan sekali keluarga ini dapat bertemu orang, karena penduduk tidak ada yang berani naik ke puncak yang sukar itu. Namun mereka hidup penuh ketenteraman dan kebahagiaan.

********************

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Liu Lu Sian, maka agar jalan ceritera dapat lancar, marilah kita mengikuti perjalanan tokoh wanita kita ini. Di dalam jilid dua telah dituturkan betapa dalam kemarahannya, Lu Sian membunuh kekasihnya sendiri, yaitu Hui-kiam-eng Tan Hui, lalu membunuhi pula atau setidaknya membikin luka berat sembilan orang piauwsu yang ia anggap sebagai gara-gara pertengkarannya dengan Tan Hui.

Setelah ikatan asmara yang mesra dengan Tan Hui selama kurang lebih dua bulan, kini kembali Lu Sian bebas seperti burung liar yang terbang melayang di udara. Agak menyesal hatinya bahwa ia terpaksa harus membunuh Tan Hui, laki-laki yang cukup menyenangkan hatinya. Akan tetapi di samping kekecewaan dan penyesalannya itu, terselip rasa bangga dan girang bahwa ia kini telah mewarisi ilmu ginkang dari kekasihnya itu, yaitu Ilmu Coan-in-hui (Terbang Menerjang Mega). Ginkang ini jauh lebih hebat dari pada ginkang yang pernah ia pelajari. Dengan hati gembira, lupa lagi akan kematian kekasihnya, Lu Sian berlari-lari secepat terbang menggunakan Coan-in-hui.

Selagi ia berlompatan melalui perjalanan yang amat sukar di lereng bukit, tiba-tiba ia melihat sebuah benda bergerak-gerak jauh di depannya. Lu Sian kaget seketika melihat bahwa benda itu bukan lain adalah sebuah bantal atau karung yang dapat berlompatan cepat sekali. Ia mengenal benda ajaib ini karena di dalam rumah Raja Pengemis, benda ini telah menolongnya ketika ia berada dalam bahaya. Maka ia lalu mengerahkan tenaga dan cepat mengejar. Karena kini ginkang-nya memang sudah mulai mahir, gerakannya seperti burung walet menyambar-nyambar dan biar pun gerakan benda ajaib itu juga amat cepat, namun setengah jam kemudian ia berhasil memperdekat jarak di antara mereka.

Akan tetapi benda itu terus berloncatan, seakan-akan melarikan diri, melompati jurang dan mendaki bukit itu. Lu Sian merasa heran. Tak salah lagi, pastilah benda itu terisi orang, akan tetapi mengapa begitu kecil? Apakah seorang anak kecil? Tidak mungkin rasanya. Masa seorang anak kecil memiliki kepandaian sehebat itu? Orang tua pun akan sukar bergerak sedemikian cepatnya kalau bersembunyi di dalam karung.

“Lo-cianpwe, tunggu! Aku mau bicara!” serunya. Namun bantal itu malah makin cepat bergerak maju berloncatan.

Lu Sian menjadi gemas. “Biar pun kau hendak lari ke langit, masa aku tidak mampu mengejarmu?” demikian pikirnya dan ia mengejar terus.

Akhirnya benda itu tiba di puncak sebuah bukit kecil dan Lu Sian telah dapat menyusulnya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam benda itu, “Waduh, waduh…, habis napasku…! Terlalu sekali, mengejar orang terus-terusan. Aku terima kalah!”

Setelah terdengar suara ini, bantal itu pecah dan muncullah seorang kakek yang pendek kecil berjenggot panjang berkepala besar. Tubuhnya pendek seperti kanak-kanak berusia sepuluh tahun, akan tetapi melihat kepala yang besar dan penuh kumis dan jenggot itu, jelas dia seorang kakek yang sudah tua sekali! Napasnya mengkas-mengkis (terengah-engah), dan begitu keluar dari dalam karung, ia seperti tidak melihat Lu Sian, melainkan memandang ke kanan kiri dengan wajah ketakutan, seperti mencari sesuatu.

Lu Sian menahan senyumnya, lalu menjura dan berkata, “Kakek lucu, mengapa kau bersembunyi dalam bantal dan mengapa pula lari terbirit-birit?”

Dengan napas masih tersengal-sengal kakek itu menyusut peluh di dahinya, lalu berkata cemberut, “Kenapa kau mengejar-ngejarku terus? Huh, tentu saja aku kalah napas. Coba aku masih muda, ilmu ginkang Coan-in- hui itu mana mampu mengejarku?”

“Kakek yang baik, harap jangan marah. Aku mengejarmu untuk menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu di rumah Kai-ong.”

“Sudahlah, apa kau melihat Bu Kek Siansu?” tiba-tiba kakek itu bertanya dan kembali matanya jelalatan ke kanan kiri, pada wajahnya tersirat ketakutan.

Lu Sian adalah seorang wanita yang cerdik sekali. Melihat lagak kakek ini ia dapat menduga, bahwa biar pun kakek ini seorang sakti, namun ada yang ditakuti. Dan agaknya Bu Kek Siansu yang amat ditakuti. Tentu saja ia pernah mendengar nama Bu Kek Siansu. Siapa pun orangnya yang berkecimpung dalam dunia kang-ouw, pasti pernah mendengar nama itu, biar pun jarang sekali yang dapat bertemu muka dengan manusia dewa yang sakti itu. Maka ia tidak menjawab, melainkan berkata, “Sekarang tidak melihatnya, akan tetapi siapa tahu gerak-gerik manusia dewa itu? Eh, Kakek, siapakah kau dan mengapa bertanya tentang Bu Kek Siansu?”

“Aku… aku jijik bertemu dengannya!” jawabnya dan kakek itu mengangkat muka dan membusungkan dadanya yang tipis. “Mau tahu siapa aku? Bocah, dengar baik-baik supaya jangan terjungkal karena kaget. Akulah Bu Tek Lojin!”

Belum pernah Lu Sian mendengar nama ini. Ia menganggap orang ini selain lucu juga agak sombong. Baru namanya saja Bu Tek (tidak terlawan)! “Biar kau tidak terlawan, akan tetapi lariku lebih cepat dari pada larimu.”

“Huh, bocah masih bau air susu! Kau sombong. Apakah ayahmu, si gila Pat-jiu Sin-ong Liu Gan itu datang bersamamu?”

“Kalau aku panggil dia, tentu ayah datang!” jawab Lu Sian, sengaja mempergunakan nama ayahnya untuk menakuti orang. Ia percaya bahwa nama ayahnya cukup disegani kawan ditakuti lawan, buktinya Si Raja Pengemis yang lihai itu pun kuncup hatinya mendengar bahwa ia puteri Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

“Ho-ho-ho-hoh! Lekas panggil ayahmu datang. Dia ditambah kau ditambah seorang lawan lagi, akan kupermainkan seperti… seperti… seperti….”

“Seperti apa?” Lu Sian sudah marah, mendongkol hatinya mendengar dia dan ayahnya dipandang ringan.

“Seperti ini!” Kakek itu lalu menggunakan ujung kakinya mencongkel sebuah batu dan… batu itu mencelat terbang ke atas, padahal batu itu besar dan amat berat. “Nah, ini engkau. Dan ini Ayahmu!” ia mencongkel sebuah batu lain yang lebih besar ke atas seperti tadi. “Dan yang ke tiga ini kawan ayahmu!” Batu ke tiga mencelat ke atas dan kini tiga buah batu besar itu melayang turun berturut-turut akan menimpa kepala si Kakek Cebol.

Akan tetapi kakek itu menggerakkan kedua tangannya dengan telapak menghadap ke atas dan… tiga buah batu itu bermain-main di udara, bergerak ke atas dan ke bawah, tak pernah menyentuh telapak tangan kakek itu, seakan-akan ada hawa yang berkekuatan luar biasa menahan dan mempermainkan tiga buah batu itu.

Lu Sian melongo. Ia maklum bahwa itu adalah permainan tenaga sinkang. Akan tetapi untuk dapat mempermainkan tiga batu besar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga sinkang yang hebat luar biasa. Kakek ini sakti sekali dan ternyata kesombongannya bukan kosong belaka.

“Nah, kalian bertiga bisa apa terhadapku?” Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya lalu membentak, “Turun!”

Heran sekali. Tiga buah batu itu bertumpang-tindih bersusun tiga, lalu perlahan-lahan turun ke atas tanah seperti dipegang tangan yang kuat, turunnya pun perlahan-lahan dan tidak menimbulkan debu. Akan tetapi begitu kakek itu melompat mundur, tiga buah batu yang tersusun itu hancur berantakan!

Lu Sian menelan ludah. Hebat bukan main. Timbul keinginannya memperoleh ilmu dari kakek sakti ini, maka ia cepat menjura sambil memuji. “Wah, hebat sekali kepandaian Lo-cianpwe!”

Kakek itu kelihatan girang dan bangga, lalu bertolak pinggang membusungkan dada. Matanya mengedip- ngedip dan hidungnya bergerak-gerak dengan ujung hidung yang mekar! “Nah, maka kau jangan main-main dengan Bu Tek Lojin! Aku pesan kepadamu, dan temannya-temanmu, apabila suling emas terjatuh ke dalam tangan seorang di antara kalian, harus cepat-cepat serahkan kepada Bu Tek Lojin. Mengerti?”

“Tidak, tidak mengerti.” Lu Sian menggeleng kepala.

Kakek itu marah-marah dan mengepal tinjunya, mengamang-amangkan kedua tinjunya di depan hidung Lu Sian. “Kau lihat ini?” bentaknya.

Lu Sian benar-benar merasa ngeri dan takut, dan saking gugupnya ia menjawab sambil mengangguk-angguk. “Aku lihat, dan baunya busuk!” Lu Sian kaget mendengar ucapannya sendiri. Celaka, sifat lincah dan liarnya kumat sehingga ia bicara tanpa dipikir. Ia sudah siap-siap menanti serangan, karena kakek aneh ini tentu marah.

Akan tetapi Bu Tek Lojin malah membawa kedua tangannya ke depan hidungnya sendiri, mencium-cium. Hidungnya dikernyitkan dan ia berkata. “Benar bau tak enak! Habis belum dicuci, berhari-hari bersembunyi dalam karung! Eh, bocah, biar tanganku bau, akan tetapi apakah badanmu lebih keras dari pada batu tadi?”

“Maaf Kek, aku benar-benar tidak mengerti. Apa sih yang kau maksudkan dengan suling emas?”

“Wah, ketanggor (melanggar batu) aku sekali ini! Kau benar bocah hijau tak tahu apa-apa. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan agaknya tidak pernah memberi pengertian kepada bocah ini! Suling Emas adalah pusaka pemberian Bu Kek Siansu kepada Sastrawan Ciu Bun. Sekarang Sastrawan Ciu Bun lenyap, entah mampus atau belum, akan tetapi suling emas itu lenyap, menjadi perebutan orang-orang di dunia. Nah, aku perlu suling itu. Kalau seorang di antara kalian menemukannya, harus diberikan kepadaku. Harus, mengerti?!”

“Tidak, tidak mengerti.” “Tolol! Kau menantang?”
“Tidak, Bu Tek Lojin. Kumaksudkan, aku tidak mengerti mengapa hanya sebuah suling emas saja dijadikan rebutan. Berapa sih harganya suling emas? Agaknya orang-orang kang-ouw sekarang sudah menjadi mata duitan semua!”

Kakek itu tertawa bergelak-gelak, perutnya sampai menjadi keras. Ia memegangi perutnya, tubuhnya ditekuk menjadi lebih pendek lagi. “Ho-ho-ho-hah-hah! Goblok! Sekali goblok tetap tolol. Kau tahu apa? Suling itu menjadi kunci rahasia ilmu kesaktian hebat. Selain itu, emasnya mengandung logam murni yang berasal dari bintang, siapa memegangnya, berarti memegang sebuah senjata yang paling ampuh di dunia ini.”

“Ah, begitukah? Baik, nanti kusampaikan kepada ayah dan kawan-kawan lain,” kata Lu Sian, akan tetapi di dalam hatinya sudah timbul keinginan untuk memiliki sendiri suling emas itu.

Kakek itu kaget. Biar pun sakti, agaknya ia mudah kaget. “Bocah gendeng, bikin kaget saja, kukira Bu… eh!” Ia menghentikan ucapannya, lalu berseru keras. “Muridku! Kau naik ke sini!”

Karena tidak ingin berurusan dengan kakek itu, Lu Sian berkata, “Bu Tek Lojin, sudahlah, aku minta diri, hendak melanjutkan perjalananku.”

“Eh, nanti dulu, kau jumpai muridku yang baik!”

“Hemm, segala murid anak kecil disuruh menjumpai,” pikir Lu Sian. Akan tetapi tidak enak kalau membantah dan membuat marahnya kakek sakti ini, maka ia berdiri menanti.

“Bocah tolol, tidak lekas-lekas naik? Kalau habis sabarku, kujewer telingamu sampai copot!” teriak kakek itu marah-marah.

Diam-diam Lu Sian merasa kasihan kepada bocah murid kakek yang demikian galak ini.

“Teecu datang, Suhu!” terdengar teriakan dari jauh, akan tetapi mendadak berkelebat bayangan dan tahu-tahu di situ berdiri seorang laki-laki yang tubuhnya juga agak cebol gemuk, kepalanya botak dan jenggotnya juga panjang!

Hampir Lu Sian tak dapat menahan ketawanya. Yang disebut bocah dan ia sangka kanak-kanak ini tidak tahunya juga seorang laki-laki yang sudah tua, malah panjang jenggotnya, laki-laki yang seperti juga gurunya, berpakaian tidak karuan dan bertelanjang kaki. Orang botak itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

“Kalisani, hayo kau lawan perempuan ini untuk ujian. Dia puteri Pat-jiu Sin-ong, cukup untuk kau pakai berlatih!”

Kalisani, murid Bu Tek Lojin yang kita kenal sebagai bekas Panglima Khitan itu segera bangkit berdiri memandang Lu Sian, lalu menjura. “Nona, Suhu sudah memerintah kepadaku, terpaksa kuharap Nona suka melayaniku barang sepuluh jurus!”

Setelah berkata demikian, ia memasang kuda-kuda seperti orang hendak membuang air, karena ia berjongkok sampai rendah sekali dan mukanya menahan napas sampai merah seperti orang sakit perut! Kuda-kuda ini lucu sekali.

Seandainya Lu Sian belum menduga bahwa lawan aneh ini seorang yang tak boleh dipandang ringan, tentu ia tidak dapat menahan ketawanya. Lu Sian sendiri memiliki watak aneh, keras hati dan tidak mau kalah. Sekarang ia ditantang terang-terangan. Biar pun ia tahu bahwa kepandaian Bu Tek Lojin jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya, namun ia tidak takut. Apa pun yang akan terjadi ia harus memperlihatkan kepandaiannya. Oleh karena itu, melihat Kalisani sudah memasang kuda-kuda, ia berseru keras, “Orang hutan, jaga seranganku!”

Tubuhnya bergerak cepat sekali dan ia menerjang maju, langsung mengirim tendangan dengan ujung sepatunya ke arah leher orang yang berjongkok di depannya. Ketika lawannya melompat ke belakang sambil mengulur tangan dengan maksud menangkap kakinya yang menendang, Lu Sian menarik kakinya dan tubuhnya condong ke depan, langsung tangan kanannya menghantam dada sedangkan tangan kiri dengan dua jari tangan menusuk ke arah mata. Inilah jurus dari Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ular Sakti) yang amat berbahaya dan ganas.

Akan tetapi Kalisani bukanlah seorang yang masih hijau. Sebelum menjadi murid Bu Tek Lojin, ia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan menjadi panglima tua di Khitan. Tentu saja ia tidak dapat dikalahkan dengan mudah, dan jurus yang berbahaya ini dengan amat mudahnya dapat ia hindarkan dengan cara melompat ke kanan. Malah ia segera membalas serangan lawan dengan pukulan keras dari kanan.

Melihat lawannya juga dapat bergerak dengan gesit sekali, Lu Sian makin bersemangat. Ia mengelak dari pukulan itu dan balas menerjang ganas sambil mengerahkan ginkang-nya dan terus mainkan Ilmu Silat Ular Sakti yang memiliki jurus-jurus ganas dan berbahaya. Berkat ginkang Coan-in-hui yang ia pelajari dari Tan Hui, kini permainan Ilmu Silat Tangan Kosong Ular Sakti menjadi berlipat ganda lebih lihai dari pada sebelum ia memiliki ginkang itu.

Diam-diam Kalisani terkejut sekali. Sedikit pun juga ia tidak mengira bahwa lawannya begini hebat. Tadi ketika ia disuruh suhu-nya menandingi Lu Sian, ia merasa ragu-ragu dan tidak enak hati. Dia seorang yang sudah tua dan berpengalaman banyak, pula memiliki ilmu silat tinggi. Bagaimana harus melawan seorang wanita muda? Akan tetapi karena suhu-nya yang memberi perintah, tentu saja ia tidak berani membantah. Ia tadinya hendak berjaga diri saja dan sedapat mungkin mengalahkan wanita ini dengan lunak, karena Kalisani bukanlah seorang pria yang suka menghina atau menyakiti hati wanita.

Siapa kira, kini menghadapi desakan Lu Sian, ia menjadi bingung dan pandang matanya kabur. Demikian cepatnya wanita ini bergerak! Maka ia lalu tidak sungkan-sungkan lagi, cepat ia pun mainkan ilmu silatnya dan mengerahkan tenaga dalam pada kedua lengannya, mempercepat gerakannya. Alangkah herannya ketika beberapa kali lengan mereka saling bertemu, wanita itu tidak roboh atau mencelat, bahkan dia sendiri merasa betapa hawa pukulan yang amat kuat menggetarkan lengannya! Maklumlah ia kini bahwa biar pun masih muda wanita yang pantas menjadi lawannya ini lihai sekali. Pantas saja suhu-nya mengatakan bahwa wanita ini cukup tangguh untuk diajak berlatih ilmu silat!

Dengan ilmu ginkang Coan-in-hui, Lu Sian benar-benar dapat menguasai lawannya. Ia menang cepat dan sudah tiga kali tangannya berhasil menyerempet tubuh lawan, malah satu kali ia berhasil memukul pundak Kalisani. Akan tetapi tubuh lawannya kebal dan pukulan itu hanya membuat Kalisani terhuyung-huyung sebentar, maka ia berlaku amat hati-hati dan mencari kesempatan untuk dapat memukul tepat. Lu Sian sengaja mempermainkan lawan dengan kecepatannya untuk mengacaukan pertahanannya.

“Bocah tolol! Segala macam ilmu cakar bebek dari Khitan itu mana mampu menghadapi Sin-coa-kun dari Beng-kauw? Tolol! Kau muridku, mengapa tidak menggunakan pelajaran dariku?” Bu Tek Lojin marah-marah, mencak-mencak dan memaki-maki.

Kalisani memang tidak mau mempergunakan ilmu simpanannya yang ia pelajari dari Bu Tek Lojin. Ilmu itu ada tiga macam, yaitu Ilmu Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati) yang merupakan penghimpunan tenaga sinkang yang luar biasa, ke dua adalah Khong-in-liu-san yang merupakan ilmu serangan yang luar biasa hebatnya, dan ke tiga adalah Ilmu Silat Kim-lun-sin-hoat (Ilmu Sakti Roda Emas), semacam ilmu silat yang dapat dimainkan dengan tangan kosong, akan tetapi lebih tepat dengan gelang atau roda emas yang ia terima sebagai tanda mata dari Tayami!

Ilmu-ilmu ini ia tahu amat hebat, maka ia tidak tega untuk mempergunakannya terhadap Lu Sian yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak ada permusuhan dengannya. Kini mendengar seruan gurunya, baru ia ingat. Akan tetapi terlambat. Sebelum ia sempat mempergunakan ilmu itu, sebuah hantaman Lu Sian mengenai lehernya, membuat Kalisani terlempar dan bergulingan, kemudian terbentur pohon dan rebah telentang dengan mata mendelik. Pingsan!

“Uuhhh, tolol, mencari mampus!” Bu Tek Lojin marah dan mendongkol sekali melihat ‘jagonya’ keok. Ia lompat mendekat, dan dua kali menotok leher dan punggung, muridnya sudah merangkak bangun lagi. “Hayo maju lagi, kalau kau tidak bisa menang kulemparkan kau ke dalam jurang!” bentaknya. Memang kakek ini memiliki watak yang luar biasa sekali, sama sekali ia tidak pernah mau mengaku kalah terhadap siapa pun juga.

“Bu Tek Lojin, aku tidak hendak bermusuh!” kata Lu Sian, mendongkol juga karena sudah jelas ia menang, mengapa kakek ini nekat menyuruh muridnya maju lagi? “Aku tadi melayani hanya untuk membuktikan bahwa bukan muridmu saja yang memiliki kepandaian di kolong jagad ini. Sekarang aku tidak ada waktu lagi.”

“E-e-eh, nanti dulu! Siapa bilang muridku kalah? Tadi ia sengaja mengalah, kau tahu? Kalisani, hayo maju lagi!”

Lu Sian gemas. Orang tua ini harus diberi rasa, pikirnya. Kali ini aku akan memukul mampus muridnya, lihat dia hendak berlagak bagaimana lagi? Maka ia cepat berseru keras dan mendahului Kalisani, menerjang dengan cepat.

Kalisani sudah bersiap sedia. Ia sudah merasakan kehebatan kepandaian lawan, maka sekarang ia cepat merobah gerakannya dan mainkan ilmu silat Kim-lun-sin-hoat dan mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin. Tulang-tulangnya berbunyi berkerotokan, ini tanda bahwa sinkang di tubuhnya telah terhimpun. Sebenarnya, ia belum matang dalam latihan Khong-in-ban-kin, maka tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi. Kalau ia sudah berhasil menghimpun tenaga tanpa tulang-tulangnya berbunyi, barulah ilmunya itu sempurna.

Ketika menerjang, Lu Sian disambut dengan hawa pukulan jarak jauh yang luar biasa kuatnya, yang menolak setiap gerakannya sehingga ia tidak dapat mendekati lawannya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Lu Sian. Sebaliknya, kedua tangan lawan yang digerakkan berputar-putar membentuk lingkaran-lingkaran seperti roda itu membingungkan hatinya. Baru belasan jurus, Lu Sian sudah main mundur.

“Hua-hah-ho-ho-ho-hoh!” Bu Tek Lojin tertawa bergelak-gelak menyaksikan betapa muridnya dapat mendesak lawan. “Kalisani, jangan sungkan. Hantam dia sampai babak belur! Comot hidungnya, jewer telinganya, cubit pantatnya, ha-ha-ha!”

Dapat dibayangkan betapa marahnya Lu Sian mendengar ejekan-ejekan ini. “Kakek tua bangka mau mampus,” pikirnya marah.

Pada saat ia meloncat jauh ke belakang, tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan dari kedua tangannya itu menyambar sinar-sinar kemerahan ke arah Kalisani dan Bu Tek Lo Jin! Kakek cebol ini masih tertawa-tawa, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berhenti dan terkejutlah ia melihat sinar merah menyambar. Namun dengan mudah saja ia mengebutkan lengan baju dan semua jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum) yang dilepaskan Lu Sian runtuh ke tanah.

Kalisani sebaliknya kaget sekali. Tahu bahwa dari depan menyambar senjata rahasia berbahaya, ia membanting tubuh ke belakang dan bergulingan, sehingga ia terbebas dari pada ancaman jarum maut. Akan tetapi Lu Sian tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dalam kemendongkolannya, Lu Sian sudah mencabut pedang Toa-hong-kiam dan kini ia memutar pedang menerjang Kalisani dengan Ilmu Pedang Toa- hong Kiam-hoat yang gerakannya seperti angin badai mengamuk. Kasihanlah Kalisani. Ia berloncatan ke sana ke mari menghindar dari gulungan sinar pedang, gerakannya benar-benar seperti monyet berjoget.

“Wah, bocah jahat!”

Tiba-tiba pedang di tangan Lu Sian berhenti di udara, dan ketika Lu Sian menoleh, kiranya pedangnya itu ujungnya sudah dijepit dua buah jari tangan Bu Tek Lojin. Lu Sian marah sekali. Cepat ia mengerahkan tenaga menarik pedang untuk membikin buntung jari tangan orang. Namun sia-sia, sedikit pun pedangnya tidak bergeming, masih tetap terjepit dua buah jari tangan.

“Lepaskan pedangku!” “Heh-heh-hoh!”
“Bu Tek Lojin, lepaskan pedangku!”

“Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa? Mau panggil ayahmu? Panggillah dia, Aku tidak takut!” “Ayah tidak berada di sini. Akan tetapi akan kupanggil Bu Kek Siansu!”
Tangan yang menjepit pedang itu tiba-tiba gemetar dan Lu Sian mempergunakan kesempatan ini untuk menarik pedangnya dan meloncat mundur.

“Kau bohong! Dia… dia… eh, tidak berada di sini…,” biar pun mulut berkata demikian, namun kakek itu jelalatan memandang ke sana ke mari.

“Hemm, kau tidak percaya? Baru tadi aku bertemu dengan beliau, dan aku mendengar beliau mengancam hendak menghajar kepalamu sampai peyok dan gepeng!”

“Oh… ah… tidak… bisa….!”

“Kau tidak percaya? Biar kupanggil beliau. Beliau paling benci melihat kau mengganggu orang muda. Siansu…! Siansu…! Silakan datang ke sini, Bu Tek Lojin menantang Siansu…!!”

“Ohhh… jangan…! Jangan… aku… aku hanya main-main tadi… Eh, murid tolol, hayo pergi!” Kakek aneh itu menyambar lengan muridnya dan sekali berkelebat mereka lenyap dari tempat itu.

Lu Sian berdiri termenung. Untuk ke sekian kalinya ia mendapatkan orang-orang yang jauh lebih lihai dari padanya! Ah, selamanya ia tentu akan menemui kekecewaan dan penghinaan saja kalau ia tidak berhasil memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi di dunia ini. Ia teringat akan ayahnya. Betapa pun juga, tingkat kepandaian ayahnya sudah amat tinggi dan ia ingat bahwa ayahnya menyimpan kitab-kitab ilmu yang tinggi dan dirahasiakan. Ia harus menemui ayahnya, menceritakan perceraiannya dengan Kam Si Ek, kemudian minta kepada ayahnya untuk menurunkan ilmu-ilmu silat yang tinggi kepadanya.

Dengan pikiran ini, Liu Lu Sian lalu berangkat ke selatan, melakukan perjalanan cepat menuju ke Nan-cao, ke rumah ayahnya. Akan tetapi kembali ia kecewa. Ketika ayahnya mendengar bahwa ia meninggalkan Kam Si Ek, ayahnya marah-marah dan memaki-makinya.

“Isteri dan anak macam apa engkau ini?!” antara lain kata-kata Pat-jiu Sin-ong ketika marah-marah memakinya. “Seorang isteri dan ibu meninggalkan suami dan anak begitu saja?! Sungguh celaka!!”

“Kam Si Ek terlalu kukuh dan cinta kepada tugasnya, Ayah. Asal kuajak pindah dan meninggalkan pekerjaannya, dia marah-marah. Aku bosan dan merasa dijadikan bujang dalam rumah!”

“Huh! Sudah menjadi kewajiban seorang isteri untuk mengurus rumah tangga, melayani suami dan memelihara anak. Ke mana pun si suami pergi, si isteri harus mengikutinya. Sebelum menikah denganmu, Kam SI Ek memang sudah terkenal sebagai seorang patriot, mana ia sudi menuruti kehendakmu meninggalkan tugasnya? Sayang dia menjadi orang Shan-si. Kalau dia menjadi penduduk sini dan membantu negara kita, alangkah baiknya. Dan kau meninggalkannya begitu saja? Anak durhaka! Perbuatanmu ini akan mengotori pula namaku sebagai ayahmu. Tahu?!”

Lu Sian tidak tahan mendengar maki-makian ayahnya dan ia lari ke kamarnya dengan muka merah, menutup diri dalam kamar tidak mau keluar lagi. Ia memeras otak. Agaknya tinggal di rumah ayahnya pun tidak akan menyenangkan, pikirnya. Pula, setelah ayahnya marah-marah agaknya tidak mungkin tercapai pengharapannya, yaitu menerima ilmu-ilmu tinggi dari ayahnya. Oleh karena inilah, maka pada malam hari itu juga ia menyelinap masuk ke dalam kamar pusaka ayahnya, mengambil tiga kitab rahasia simpanan ayahnya yang oleh ayahnya disebut Sam-po Cin-keng (Kitab Tiga Pusaka), lalu malam itu juga ia meninggalkan ayahnya!

Tiga buah kitab itu adalah pusaka yang amat dirahasiakan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Sebuah merupakan kitab pelajaran inti Ilmu Khi-kang Coan-im-I-hun-to (Suara Merampas Semangat Orang). Ada pun kitab kedua merupakan inti Ilmu Pukulan Beng-kong-tong-te (Sinar Terang Menggetarkan Bumi) dan kitab ke tiga adalah inti pelajaran Ilmu Silat Beng-kauw-kun (Ilmu Silat Beng-kauw) yang merupakan ciptaan baru dengan maksud untuk dijadikan pegangan bagi para pimpinan Beng-kauw. Ilmu silat ini adalah gabungan dari pada semua ilmu silat yang pernah diajarkan ayahnya kepada Lu Sian, yaitu Pat-mo-kun, Sin-coa-kun, dan Toa-hong-kun.

Dengan semangat besar Lu Sian mempelajari ilmu-ilmu ini. Beng-kauw-kun dapat ia pelajari dengan mudah. Karena ia sudah mengenal tiga macam ilmu silat itu, maka tentu saja lebih mudah baginya untuk menghafal dan melatih diri dengan ilmu silat gabungan yang amat hebat ini. Akan tetapi bukanlah pekerjaan mudah untuk melatih kedua ilmu perampas semangat melalui suara dan pandang mata. Untuk itu ia harus memperkuat sinkang dan khi-kangnya lebih dahulu. Maka setiap kali ada kesempatan, ia lalu bersemedhi dan melatih tenaga dalam menurut petunjuk kitab-kitab itu.

Di samping melatih diri dengan kitab-kitab yang ia curi dari ayahnya, juga Liu Lu Sian mulai mencari keterangan perihal suling emas seperti yang ia dengar dari Bu Tek Lojin. Kakek ini amat sakti, dan kalau kakek itu sendiri menginginkan suling emas yang katanya menjadi rahasia akan ilmu silat yang paling tinggi, tentu suling emas itu merupakan benda keramat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi tak seorang pun di antara orang-orang kang-ouw yang ia tanyai tahu akan benda keramat itu.

Ia merantau terus ke timur dan masuklah ia di daerah yang termasuk wilayah Kerajaan Min (Hok-kian sekarang). Pada suatu hari menjelang senja ia tiba di kota Kim-peng yang ramai dengan perdagangan dan banyak dikunjungi orang luar kota. Lu Sian masuk ke dalam sebuah rumah penginapan An-hoa, tidak mempedulikan pandang mata banyak laki-laki yang berada di ruangan depan. Seorang pelayan terbongkok- bongkok datang menyambutnya, dan langsung bersikap hormat ketika melihat pedang di pinggang Liu Lu Sian.

“Bung Pelayan, sediakan sebuah kamar yang bersih untukku!” kata Lu Sian lantang.

“Maaf, Lihiap (Pendekar Wanita), maaf… semua kamar telah penuh. Dan agaknya di seluruh rumah penginapan dalam kota ini tidak ada lagi kamar kosong karena kota Kim-peng kita kebanjiran tamu yang hendak menyaksikan perayaan besar di kuil Siauw-lim-si.”

Mendongkol sekali rasa hati Lu Sian. Sudah biasa baginya tidur di atas pohon atau di dalam goa kalau ia kemalaman di hutan, akan tetapi kalau ia berada di kota seperti sekarang ini, tentu saja ia ingin bermalam dalam sebuah kamar rumah penginapan.

“Ah, tidak bisakah kau mencarikan sebuah kamar untukku?” tanyanya, suaranya bernada kecewa dan menyesal.

“Sungguh mati, saya merasa menyesal sekali, Nona. Kami akan senang sekali dapat melayani Nona, akan tetapi apa hendak dikata, banyak sekali tamu berkunjung. Sebelum Nona datang, sudah banyak pula tamu yang terpaksa kami tolak karena sudah kehabisan kamar.”

Lu Sian menghela napas panjang. Menurutkan kemendongkolan hatinya, ingin ia memaksa dan menggunakan kekerasan. Akan tetapi ia tekan perasaan ini dan ia sudah membalikkan tubuh hendak meninggalkan rumah penginapan An-hoa tu ketika tiba-tiba terdengar orang berkata.

“Nona, mencari ke mana pun tidak akan ada gunanya. Lebih baik kau bermalam di kamarku, semalam atau selamanya pun boleh!”

Lu Sian memandang. Laki-laki itu usianya sudah tiga puluh tahun lebih, wajahnya bundar gemuk seperti bola, basah oleh peluh. Baju di dadanya terbuka, agaknya karena hawa yang panas sehingga tampak dadanya yang gemuk berdaging. Matanya sipit, mulutnya menyeringai, sikapnya kurang ajar. Dia ini duduk menghadapi meja bersama tiga orang laki-laki lain yang tersenyum-senyum menahan ketawa.

Hati Lu Sian yang sudah mendongkol itu kini mendidih, akan tetapi hanya dugaannya saja laki-laki ini main- main dengannya, kenyataannya belum terbukti. Maka ia lalu berkata, “Terima kasih atas kebaikan tuan memberikan kamar tuan kepada saya. Akan tetapi tuan sendiri lalu hendak tidur di mana?”

Laki-laki gendut itu tertawa menyeringai memandang kepada tiga orang kawannya yang juga tertawa gembira. Kemudian dia bangkit berdiri dan melangkah maju mendekati Lu Sian sambil berkata, “Aiihhh, Nona, mengapa repot-repot? Kamar yang kusewa itu selain bersih, juga cukup lebar sehingga cukup untuk kita berdua. Kalau sudah pulas aku tidak banyak bergerak!”

“Ha-ha-ha-ha! Heh-heh-heh!” Tiga orang kawannya terpingkal-pingkal. “Memang tidak banyak bergerak akan tetapi kalau sudah pulas! Ha-ha!” si Gendut berkata lagi.

Meledak rasanya hati Lu Sian saking marahnya. Pada saat itu muncul seorang pemuda dari kiri, seorang pemuda yang sejak tadi duduk di meja sudut, berpakaian serba kuning. Cepat ia melangkah maju dan menjura kepada Lu Sian sambil berkata, “Nona, harap jangan melayani mereka. Kau pakailah kamarku, aku dapat tidur bersama dua orang suhengku di kamar belakang….”

Akan tetapi Lu Sian sudah tidak sudi mendengarkan omongan orang lain lagi karena matanya sudah memancarkan cahaya berapi ditujukan kepada si laki-laki gendut. Tiba-tiba tubuhnya bergerak ke depan, saking cepatnya sukar diikuti pandang mata, dan….

“Plak-plak-plak-plak!”

Muka dan tubuh laki-laki gendut itu dihajar habis-habisan oleh kedua tangan Lu Sian, tanpa sedikit pun memberi kesempatan pada si Gendut untuk mengelak, membalas, bahkan bernapas. Tubuh si Gendut itu seperti di sambar petir, tersentak ke kanan kiri, ke belakang, terhuyung-huyung dan akhirnya roboh menabrak kursi. Kulit mukanya hancur mandi darah, kedua matanya menonjol ke luar, hidungnya remuk, telinga kirinya hilang dan napasnya empas-empis mau putus!

“Hayo, mana kawan-kawannya? Maju semua, biar kuhabiskan nyawanya! Bedebah! Keparat bermulut kotor! Hayo kalian bertiga kawannya, bukan? Kalian tadi menertawai aku? Maju semua! Pengecut, anjing bernyali tikus kalian kalau tidak berani maju!” Lu Sian dengan kemarahan meluap-luap menantang dan memaki.

Pemuda pakaian kuning itu agaknya terkejut menyaksikan sepak terjang Lu Sian yang demikian ganas, juga amat kaget mendapat kenyataan bahwa Lu Sian memiliki kepandaian sehebat itu, terbukti dari gerakan tubuhnya yang ringan tangkas sekali.

Si Gendut dan tiga orang kawannya adalah sebangsa buaya darat yang biasa mencari perkara dan mencari keuntungan di tempat-tempat ramai. Tiga orang buaya darat itu menjadi kaget dan marah melihat kawannya dihajar setengah mati. Tadi mereka hanya melongo karena sedemikian cepatnya Lu Sian bergerak sehingga mereka tak sempat menolong kawan. Kini mereka bangkit serentak dan….

“Sratt-sratt-sratt!” tangan mereka telah mencabut golok.

“Awas…! Lari…!!” pemuda baju kuning berteriak kaget kepada tiga orang itu.

Namun terlambat! Sinar merah menyambar dari tangan Lu Sian, tidak hanya ke arah tiga orang buaya darat itu, akan tetapi juga ada yang menyambar ke arah pemuda baju kuning. Pemuda itu dengan gerakan tangkas miringkan tubuh dan tangannya menyambar sebatang jarum Siang-tok-ciam sambil melompat mundur. Akan tetapi tiga orang buaya darat itu sudah terjengkang dan merintih-rintih karena dada mereka sudah tertusuk jarum-jarum berbisa yang dilepas oleh Lu Sian tadi!

“Ah, jarum beracun yang hebat!” pemuda baju kuning itu berseru kaget sambil meneliti jarum merah di tangannya. Kemudian ia melangkah maju mendekati Lu Sian, menjura sambil berkata. “Nona, kumohon dengan hormat sudilah kiranya Nona mengampuni mereka ini dan memberi obat penyembuh racun.”

Lu Sian melirik dengan pandang mata dingin. “Hemm, kau memiliki kepandaian juga!” katanya, hatinya panas karena jarumnya dapat ditangkap oleh pemuda itu. “Apakah kau kawan mereka dan hendak membela mereka?” Ucapan terakhir ini dikeluarkan dengan nada suara mengancam.

Pemuda itu tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Sama sekali bukan, Nona. Sebodoh-bodohnya orang macam Yap Kwan Bi ini, masih belum begitu tersesat untuk bersahabat dengan segala macam buaya darat.”

Lu Sian merasa heran sekali mengapa hatinya menjadi lega mendegar bahwa pemuda yang tampan sekali ini bukan sahabat penjahat-penjahat itu. Pemuda ini amat tampan, mukanya halus seperti muka wanita, matanya lebar dan memandang dunia dengan jujur dan berani. Senyumnya manis dan dagunya mempunyai belahan yang membayangkan sifat jantan, alisnya seperti golok dan amat hitam.

“Kalau bukan sahabat, mengapa kau mintakan ampun?” tanyanya, masih mengagumi wajah yang amat tampan dan bentuk tubuh yang tegap dan padat.

“Nona, aku tahu bahwa kau adalah seorang pendekar wanita yang lihai dan orang-orang ini mencari mampus berani mengeluarkan ucapan menghina dan kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi, nyawa manusia bukanlah nyawa ayam yang mudah dicabut begitu saja. Pula, dengan melayani segala cacing kecil macam mereka ini, bukankah berarti merendahkan kepandaian sendiri? Mereka sudah cukup mendapat pengajaran, maka sepatutnya kalau mereka diampuni dan diberi obat penawar racun. Alangkah tidak baiknya kalau kota yang tenteram ini dikotori oleh pembunuhan yang disebabkan hal-hal kecil! Aku Yap Kwan Bi yang bodoh mengharapkan kebijaksanaan Nona.”

Pemuda itu bicara dengan teratur dan sopan, halus dan mengesankan. Seketika lenyap kemarahan di hati Lu Sian, seperti awan tipis tertiup angin. Ia mencibirkan bibirnya dan pemuda itu memejamkan matanya karena jantungnya sudah jungkir balik di dalam dada. Bukan main wanita ini, pikirnya. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan wanita secantik ini. Dan ketika bibir yang kecil mungil dan merah membasah itu mencibir, memuncaklah daya tariknya sehingga ia hampir jatuh berlutut.

Ketika pemuda itu membuka matanya, Lu Sian telah mengeluarkan obat bubuk berwarna kuning, memberikan tiga bungkus kepada tiga orang buaya darat itu sambil berkata, “Cabut jarum-jarum itu dan bersihkan, lalu berikan kepadaku!”

Tiga orang itu dengan tubuh menggigil menahan sakit membuka baju dan mencabut jarum-jarum yang menancap di dada mereka, dua batang seorang. Setelah membersihkan jarum-jarum itu dengan baju, mereka menyodorkannya kepada Lu Sian yang menerima dan menyimpannya.

“Sekarang minum obat ini seorang sebungkus dengan arak!”

Tergesa-gesa mereka membuka bungkusan obat, meminumnya dengan arak dan seketika rasa gatal-gatal dan panas pada tubuh mereka lenyap. Mereka segera menjatuhkan diri, mengangguk-anggukkan kepala sampai dahi mereka membentur lantai di depan Lu Sian.

“Kalian bertiga tidak lekas pergi membawa teman kalian yang sial ini, apakah menanti hajaran lagi?” Yap Kwan Bi berseru, muak menyaksikan sikap mereka itu.

Tanpa banyak bicara lagi tiga orang itu lalu menyeret tubuh teman mereka yang mukanya dirusak oleh Lu Sian tadi, meninggalkan rumah penginapan. Karena semua orang memandangnya dengan mata kagum dan takut, Lu Sian membuang muka dan hendak berjalan keluar meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi Yap Kwan Bi cepat berkata, “Nona, aku tidak main-main ketika menawarkan kamarku. Percayalah, tidak ada niat buruk di hatiku. Pakailah kamarku dan aku akan tidur bersama kedua suhengku yang belum datang. Kami bertiga memakai kamar besar.”

Tak enak hati Lu Sian untuk menampik terus. Memang ia membutuhkan kamar dan pemuda ini amat sopan, amat tampan, amat menarik. Ia segera menjura untuk membalas penghormatan pemuda itu. “Terima kasih. Kau baik sekali, Saudara Yap. Karena aku harus membalas setiap kebaikan atau keburukan orang terhadapku, maka aku persilakan kau suka menerima undanganku untuk makan dan minum bersamaku sore hari ini.”

Yap Kwan Bi adalah seorang pemuda yang belum pernah bergaul dengan wanita. Penawaran ini mendebarkan jantungnya dan membuat kedua pipinya kemerahan. Masa seorang wanita yang datang sendirian mengajak makan minum seorang pemuda? Akan tetapi ia teringat bahwa wanita ini bukanlah gadis sembarangan, melainkan seorang perantauan di dunia kang-ouw, maka hal itu tidaklah amat janggal. Ia cepat- cepat menjura menghaturkan terima kasih. “Kau baik sekali, Nona. Mari kuantar Nona ke kamar Nona,” katanya hormat.

Lu Sian mengangguk dan memanggil pelayan. “Pesankan semeja makanan dan minuman untuk dua orang, pilih masakan yang terbaik dan antarkan cepat ke kamarku.”

“Baik, Lihiap, baik…,” pelayan itu mengangguk-angguk dan pergi cepat-cepat untuk melakukan perintah orang.

Lu Sian bersama pemuda itu memasuki ruangan dalam, diikuti pandang mata banyak orang yang tadi menyaksikan peristiwa hebat itu. Kamar itu tidak besar, namun cukup bersih. Pemuda itu mengambil bungkusan pakaiannya untuk dipindahkan ke kamar lain dan Lu Sian melihat gagang pedang tersembul ke luar dari dalam bungkusan pakaian. Ia tersenyum. Gerak gerik pemuda ini benar-benar sopan, dan ia demikian tampan, ia demikian tangkas.

“Saudara Yap mari kita duduk bercakap-cakap sambil menanti datangnya hidangan. Silakan.”

Mereka duduk menghadapi meja satu-satunya di dalam kamar. Mulut belum berkata apa-apa, mata sudah saling pandang. Sesaat pandang mata mereka bertaut, sukar dilepaskan, lalu muka pemuda itu menjadi merah sekali. Ia menjadi bingung dan gugup sehingga Lu Sian tak dapat menahan senyumnya.

Melihat seorang pemuda terpesona oleh kecantikannya adalah hal yang lumrah, tidak aneh baginya. Akan tetapi biasanya laki-laki yang terpesona oleh kecantikannya itu memperlihatkan sikap kurang ajar, sedangkan pemuda ini sebaliknya malah menjadi malu-malu dan panik! Ia tahu bahwa kalau ia diamkan saja, pemuda itu akan menjadi makin panik, maka ia segera berkata dengan senyum manis menghias bibir. “Saudara Yap memiliki kepandaian yang tinggi, sungguh membuat orang kagum sekali.”

Pemuda itu tersenyum dan cepat-cepat menjawab. “Ah, Nona terlalu memuji. Apakah artinya kebodohanku ini dibandingkan dengan kelihaianmu? Justru Nonalah yang membuat semua orang, terutama aku sendiri, menjadi amat kagum.”

Pada saat itu pelayan datang mengantar hidangan dan arak yang ia atur di atas meja depan sepasang orang muda itu.

Setelah pelayan pergi, Lu Sian menuangkan arak di atas cawan, lalu berkata sambil tersenyum, “Dalam pertemuan ini kita saling cocok dan menjadi sahabat, akan tetapi janggal sekali sebutan yang masing-masing kita gunakan. Saudara Yap, namaku Lu Sian dan kalau kau suka memberi tahu berapa usiamu, kita dapat mengatur tentang sebutan.”

Melihat wanita itu demikian terbuka dan jujur sikapnya, Kwan Bi merasa girang. “Tahun ini usiaku dua puluh satu tahun.”

“Kalau begitu biarlah aku menyebutmu Adik dan kau menyebutku Cici!”

Pemuda itu dengan muka gembira bangkit berdiri dan menjura. “Lu-cici (Kakak Lu)!”

Lu Sian juga bangkit berdiri, tertawa gembira mengingat betapa pemuda ini menyangka dia she Lu bernama Sian. Ia pun menjura dan berkata dengan senyum melebar dan kerling mata menyambar, “Yap-te yang baik…!”

Mereka duduk kembali dan Lu Sian mengangkat cawan arak mengajak minum, menawarkan makan dengan sikap lincah manis sehingga lenyaplah rasa malu-malu dan kikuk di pihak pemuda itu. Mereka makan dan sinar mata mereka saling sambar dan saling lekat di kala sumpit-sumpit mereka tanpa sengaja bertemu dan beradu ketika dalam waktu bersamaan mengambil masakan yang sama. Tadinya memang tidak disengaja, akan tetapi lama kelamaan ada unsur kesengajaan!

Ketika hawa arak mulai membikin sepasang pipi Lu Sian menjadi kemerahan, ujung bibirnya bergerak-gerak manis dan sinar matanya memancarkan kehangatan. Ia berkata, “Adik Yap baru berusia dua puluh satu tahun sudah memiliki kepandaian hebat. Bolehkah aku tahu dari perguruan manakah?”

“Lu-cici terlalu memuji. Kepandaianku amat jelek dan masih rendah, boleh dibilang paling rendah di antara murid-murid Siauw-lim-pai.”

“Ahh! Kiranya murid Siauw-lim-pai?” Lu Sian menepuk kedua tangannya dengan pandang mata kagum, lalu ia tertawa dan berdiri sambil memberi hormat. “Maafkan tadi aku berlaku kurang hormat kepada seorang pendekar besar dari Siauw-lim!”

“Lu-cici jangan mentertawakan Siauw-te!” Pemuda itu pun berdiri dan tertawa. “Kau membikin aku menjadi kikuk saja! Marilah kita duduk kembali dan jangan terlalu mengadakan pujian kosong terhadap diriku yang bodoh.”

Mereka tertawa-tawa gembira dan duduk kembali. Pengaruh arak telah membuat keduanya bicara makin bebas dan gembira, diseling tawa dan senyum serta lirikan mata yang mulai memancarkan dendam birahi.

“Yap-te, siapakah yang belum mendengar tentang kehebatan dan kebesaran Siauw-lim-pai? Ilmu silat dari Siauw-lim-pai adalah warisan langsung dari Tat Mo Couwsu, terkenal sebagai rajanya ilmu silat. Sudah lama aku mendengar akan kebesaran Siauw-lim-pai, dan sejak kecil aku sudah bermimpi-mimpi ingin sekali mendapat kesempatan mengunjungi dan melihat-lihat keadaan dalam kelenteng yang menjadi pusat Siauw- lim-pai!”

“Ah, aku akan merasa bangga dan bahagia sekali andai kata dapat mengantar Lu-cici melihat-lihat ke sana! Sayang, sungguh menyesal hatiku bahwa hal itu tak mungkin karena ada larangan keras wanita memasuki ruangan dalam perguruan kami. Maaf, Lu-cici.”

Lu Sian menarik napas panjang. “Sayang sekali, Yap-te. Akan tetapi kalau kau mau menceritakan tentang keadaan sebelah dalam, aku pun bisa membayangkan dan bukankah itu sama dengan melihat sendiri? Aku bisa melihat-lihat dengan meminjam sepasang matamu yang awas.” Lu Sian tertawa dan pemuda itu pun tertawa.

Maka sambil makan minum berceritalah Yap Kwan Bi tentang keadaan sebelah dalam kuil Siauw-lim-si yang luas, tentang patung-patung besar, tentang ruangan-ruangan latihan, ruangan ujian dan kemudian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Lu Sian, pemuda ini bercerita tentang kamar kitab.

“Kamar kitab ini merupakan satu di antara kamar-kamar yang tidak boleh dimasuki murid, kecuali kalau masuk bersama Suhu, Susiok (Paman Guru) atau mendapat perkenan langsung dari Sukong (Kakek Guru) ketua Siauw-lim-pai sendiri.”

“Adik yang gagah, kau sebagai murid terkasih tentu pernah masuk, bukan?”

Yap Kwan Bi mengangguk. “Sudah belasan kali ketika Suhu menyuruh aku memperdalam Ilmu I-kin-keng untuk membersihkan dan memperkuat otot-otot dalam tubuh dan tentang ilmu semedhi melatih napas.”

“Wah, kalau begitu lengkap sekali perpustakaan Siauw-lim-pai! Ah, betapa inginku menjenguk ke sana sebentar. Adikku yang baik, tidak dapatkah kau mengantar Cici-mu ini masuk sebentar saja ke sana?”

Pemuda itu bergidik. “Mana bisa, Lu-cici? Percayalah, kalau ke tempat lain, biar mempertaruhkan nyawa, akan kuantarkan. Akan tetapi ke ruangan dalam Siauw-lim-si? Ah, hukumannya berat, hukuman mati. Dan di sana sama sekali tidak boleh dibuat main-main. Para Suhu amat keras dan lihai.”

Lu Sian menghela napas penuh kecewa, akan tetapi dalam benaknya telah tergambar keadaan ruangan- ruangan sebelah dalam Siauw-lim-si seperti yang diceritakan Yap Kwan Bi tadi. “Berapa banyakkah kitab-kitab di dalam kamar kitab itu?”

Ia terus menghujani Kwan Bi dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga beberapa saat kemudian Lu Sian sudah tahu betul akan letak dan rahasia kamar ini, betapa kitab tentang semedhi berada di rak terbawah, kemudian Ilmu Silat Lo-han-kun di rak kedua sebelah kiri, ilmu ini di rak itu, ilmu tentang itu di rak ini.

Akan tetapi yang menarik perhatian Lu Sian adalah kitab tentang ilmu menotok jalan darah dari Siauw-lim-pai, yang bernama Im-yang-tiam-hoat. Ilmu ini pernah ia dengar dari ayahnya yang menyatakan bahwa ilmu menotok jalan darah Siauw-lim-pai ini adalah paling hebat, paling kuat dan merupakan dasar pelajaran segala macam ilmu menotok jalan darah. Maka hatinya berdebar ketika ia bertanya kepada Kwan Bi dan mendengar bahwa kitab Im-yang-tiam-hoat itu berada di rak paling atas di ujung kiri.

“Yap-te, aku merasa girang sekali bertemu denganmu dan dapat menjadi sahabat. Kau menyenangkan sekali!”

“Ah, Lu-cici, kaulah yang luar biasa. Kau baik sekali kepadaku dan… aku berhutang budi kepadamu. Entah bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu ini, Lu-cici.”

Keadaan pemuda itu sudah mulai mabok. Tidak biasa ia minum arak sampai banyak, akan tetapi menghadapi seorang wanita cantik jelita seperti Lu Sian, ia menjadi lupa diri dan minum terus setiap kali si Jelita mengisi cawan araknya. Lenyaplah kekakuan sikap Yap Kwan Bi.

Ketika Lu Sian mengulur tangan kirinya di atas meja, dekat dengan tangan kanannya, jari-jarinya merayap mendekati dan menyentuh kulit tangan halus lunak itu. Biar pun yang bersentuhan hanyalah ujung jari dengan punggung tangan, namun seakan-akan ada aliran listrik memasuki tubuh melalui tempat persentuhan sebagai pusat pembangkit tenaga, langsung menyerang jantung yang menjadi berdebar-debar keras. Karena tidak ada reaksi apa-apa dari pihak Lu Sian, tangan pemuda itu makin berani dan di lain saat sepuluh buah jari tangan mereka sudah saling cengkeram!

“Lu-cici… alangkah janggalnya aku menyebutmu Cici. Kau… kau begini cantik jelita dan tentu lebih muda dari padaku. Kau paling banyak delapan belas tahun…,” pemuda itu berkata agak sukar karena cengkeraman jari tangan itu membuat napasnya sesak dan kepalanya pusing!

Lu Sian tersenyum manis dan perlahan-lahan melepaskan jari-jari tangannya, lalu menarik kembali lengannya. Kedua pipinya merah dan kedua matanya terselaput air, bibirnya tersenyum-senyum aneh dan matanya memandang pemuda itu setengah terpejam. Sejenak ia menahan napas untuk menekan desakan nafsu yang menggelora. Dia wanita lemah, mudah dibakar nafsu, akan tetapi dia pun kuat menguasai nafsu yang datang membakar.

“Yap-te, aku memang lebih tua dari padamu.”

“Ah, kau ini seperti Bibi Guruku saja, Lu-cici. Dia sudah berusia lima puluh tahun, akan tetapi semua orang tentu tidak percaya karena ia kelihatan masih muda. Ah, agaknya biar pun Bibi Guru tidak mewarisi kelihaian ilmu silat Siauw-lim-pai, namun ia telah mewarisi Ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Suci Sumsum) dengan sempurna sehingga ia dapat mengalahkan usia tua dan menjadi tetap muda!”

Serentak perhatian Lu Sian terbangkit. “Siapakah Bibi Gurumu yang hebat itu? Apakah aku bisa berkenalan dengannya?”

“Tentu saja bisa, Lu-cici. Dia dahulu bernama Su Pek Hong, dan kini setelah menjadi pendeta wanita disebut Su-nikouw. Ia menjadi ketua kuil wanita di sebelah barat kota. Kau ingin bertemu dengannya, Cici? Mari kuantar!”

“Ah, kau baik sekali! Akan tetapi, aku akan mandi dulu….”

“Mandi? Air persediaan di rumah penginapan ini hanya sedikit, itu pun tidak terlalu bersih, Lu-cici. Di sebelah barat terdapat telaga kecil di sebuah hutan, tidak jauh dari kuil Kwan-im-bio tempat tinggal Bibi Guru Su- nikouw. Airnya jernih sekali dan aku sendiri selalu mandi di sana.”

Lu Sian serentak bangkit berdiri, wajahnya berseri. “Kalau begitu menanti apa lagi? Mari kita ke sana, mandi, lalu mengunjungi Bibi Gurumu Su-nikouw!”

Setelah membereskan perhitungan makanan, mereka berdua keluar dari rumah penginapan. Malam telah tiba ketika mereka berada di luar rumah penginapan. Yap Kwan Bi yang mengenal jalan, tanpa ragu-ragu lagi menggandeng tangan Lu Sian, diajak berjalan cepat melalui lorong-lorong gelap. Mereka setengah berlari menuju ke sebelah barat kota, bahkan setelah keluar dari pintu gerbang sebelah barat, mereka berlari cepat sambil tertawa-tawa seperti dua orang kanak-kanak bergembira. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan yang sunyi dan gelap karena sinar bulan tertutup daun-daun pohon. Jalan yang mereka lalui semakin licin setelah makin dekat dengan telaga kecil yang berada di tengah hutan.

“Hati-hati, jalannya licin..,” baru saja Kwan Bi berkata demikian, Lu Sian terpeleset dan tentu jatuh kalau Kwan Bi tidak cepat memeluknya.

“Eh, hampir jatuh aku…,” Lu Sian tertawa. Akan tetapi pemuda itu tidak melepaskan pelukannya. “Heee, Yap- te, mengapa kau ini….?” tegurnya pura-pura marah.

Dengan dada turun naik dan napas tersendat-sendat, Kwan Bi mempererat dekapannya dan berbisik di dekat telinga Lu Sian, suaranya menggetar, tubuhnya agak menggigil. “Ah… aku telah gila… aku… aku cinta padamu, Lu-cici!”

Lu Sian tertawa dan mencubit dagu yang halus tak ditumbuhi rambut itu sambil melepaskan diri dari pelukan. “Aihhh, kiranya kau nakal!” kemudian sambil tertawa-tawa ia lari menuju ke telaga.

Kini pohon-pohon tidak begitu banyak lagi dan sinar bulan tampak indah sekali menyinari permukaan air telaga dan membuat keadaan sekeliling yang sunyi itu menjadi amat romantis. Sejenak Yap Kwan Bi tertegun, kemudian ia pun tertawa dan mengejar ke telaga. Cinta memang aneh dan luar biasa pengaruhnya. Seorang muda yang sedang dicengkeram cinta, seakan-akan menjadi buta dan linglung. Demikian pula dengan Kwan Bi. Andai kata dia tidak dibikin mabok dan buta oleh perasaan ini, tentu dia akan menjadi curiga dan heran mengapa seorang wanita sedemikian tinggi ilmu kepandaiannya seperti Lu Sian begitu mudah terpeleset hampir jatuh! Mungkin hal ini terjadi bukan hanya karena ia menjadi buta oleh nafsu cinta, melainkan terutama sekali oleh kekurangan pengalamannya.

“Yap-te, mari kita mandi!” seru Lu Sian dengan suara gembira

Yap Kwan Bi berdiri seperti terpaku di atas tanah, tak kuasa bergerak mau pun membuka suara. Matanya memandang ke arah Lu Sian seperti orang terkena pesona, hanya kalamenjingnya yang bergerak perlahan ketika ia menelan ludah. Pemandangan yang tampak olehnya benar-benar merupakan pemandangan yang belum pernah ia saksikan selamanya, pemandangan indah dan menggairahkan hati mudanya. Betapa tidak? Wanita yang cantik jelita seperti bidadari itu dengan gerakan indah seperti dewi menari, menanggalkan pakaian luarnya begitu bebas, seakan-akan dia tidak berada di situ. Setelah menanggalkan pakaian luar dan kaus serta sepatu, wanita itu kemudian melepaskan sanggulnya, menoleh kepadanya sambil tersenyum lebar lalu meloncat ke dalam air!

Suara air muncrat menyadarkan Kwan Bi, dan ia pun lari mendekati telaga dengan hati berdebar-debar. Cepat ia menanggalkan pula pakaiannya dan melompat ke dalam air, berenang menghampiri Lu Sian yang tertawa- tawa dan bermain-main dengan air yang jernih di tengah telaga. Setelah dekat, Kwan Bi menangkap lengan tangan Lu Sian sambil berkata, “Lu-cici, kau… tidak marah kepadaku?”

“Marah? Kenapa mesti marah?” kata Lu Sian tertawa dan memercikkan air. “Kau tidak marah mendengar aku mencintaimu?”
“Hi-hik, kenapa marah? Kau baik sekali, akan tetapi harus kau buktikan dulu cintamu!” jawab Lu Sian manja, dan ia kelihatan cantik luar biasa di bawah sinar bulan. Benar-benar seperti seorang dewi dari langit yang turun dan mandi di telaga ini.

“Oh, Lu-cici… aku mencintaimu… aku berani bersumpah, dan kau minta bukti? Ini buktinya…!” Kwan Bi memeluk, merangkul dan mencium.

“Eiiihhh… ini bukan bukti namanya. Belum apa-apa kau sudah mau enaknya saja!” Lu Sian merenggutkan diri terlepas dari pelukan, lalu tertawa-tawa menggoda, membuat pemuda itu makin gemas, makin bergelora gairahnya. “Adikku yang tampan, sebelum itu kau harus membuktikan bahwa kau benar-benar mencintaku dan suka menolongku.”

“Pertolongan apakah? Katakanlah, kasihku, katakan. Biar dengan taruhan nyawa sekali pun, aku pasti akan memenuhi permintaanmu, membuktikan cinta kasihku kepadamu,” kata Kwan Bi dengan suara gemetar dan tubuh menggigil saking hebatnya golombang nafsu membakarnya.

“Yap Kwan Bi, aku ingin sekali melihat kamar penyimpanan kitab di Siauw-lim-si, memilih sebuah kitab dan meminjamnya. Maukah kau menolongku?”

Bukan main kagetnya hati Yap Kwan Bi. “Ah… ini… ini… agaknya sukar sekali Lu-cici!”

Bibir yang melebihi madu manisnya itu berjebi dan cuping hidung yang bangir itu bergerak-gerak mengejek, “Huhh! Dan kau bilang mencintaku? Berani bersumpah?” Lu Sian berenang ke pinggir telaga dan mendarat, duduk di atas rumput.

Setelah wanita itu keluar dari dalam air, tubuh yang bentuknya ramping padat itu hanya tertutup pakaian dalam yang basah kuyup oleh air pula. Kwan Bi seperti dicabut semangatnya. Sejenak ia menatap pemandangan luar biasa itu, pandang matanya menelan lekuk-lengkung tubuh yang demikian menantang, maka maboklah pemuda ini. Ia lupa segala, tidak peduli akan segala apa di dunia ini, yang teringat olehnya hanyalah wajah jelita dan tubuh menggairahkan. Setiap titik darahnya, setiap hembusan napasnya, seakan-akan berteriak- teriak dalam kerinduan membutuhkan si jelita!

“Lu-cici…, tunggu dulu!” serunya sambil mengejar, berenang ke darat.
Diam-diam Lu Sian tersenyum. Pemuda itu amat tampan, amat menyenangkan dan hatinya memang sudah
tergerak. Tanpa adanya harapan melihat kitab pusaka Siauw-lim-pai sekali pun ia akan merasa senang bersahabat dengan Yap Kwan Bi, si muda remaja yang tampan ini. Apalagi kalau mendapatkan kitab!

“Mengapa lagi? Kau tidak mau menolongku, berarti kau tidak suka kepadaku,” Lu Sian pura-pura marah dan membuang muka dengan gerakan sedemikian rupa sehingga tubuhnya tampak dari samping dan makin menonjol keindahannya.

Yap Kwan Bi menelan ludah beberapa kali, matanya seperti lekat pada lekuk lekung di depannya. “Lu-cici… aku tadi bukan bilang tidak mau menolong, hanya menyatakan sukar sekali.”

“Jadi kau mau menolongku?” tiba-tiba Lu Sian membalik dan memegang lengan pemuda itu. Tentu saja begitu tubuhnya mendekat, dari rambut serta tubuhnya terpancar semerbak bau harum dan wangi yang khas! Menggigil tubuh Kwan Bi dan hampir saja ia menitikkan air mata saking dikuasai haru, kasih dan nafsu.

“Tentu, Lu-cici. Biar pun hal itu merupakan perbuatan yang amat murtad. Kalau ketahuan, tentu akan dihukum mati oleh para Suhu. Namun, demi cintaku kepadamu, Cici, biarlah akan kulakukan juga. Mati untukmu merupakan kebahagiaan bagiku,” suaranya menggetar dan terharulah hati Lu Sian.

Agaknya dalam soal cinta, pemuda yang lebih muda dari padanya ini tidaklah kalah oleh bekas suaminya, Kam Si Ek, dan bekas kekasihnya, Tan Hui. Saking terharunya, ia lalu merangkul leher pemuda itu dan memberi ciuman mesra dengan bibirnya.

“Kau baik sekali, Yap-te, dan aku beruntung mendapatkan sahabat seperti engkau.” Kemudian ia menjauhkan diri ketika melihat betapa pemuda itu terangsang oleh ciumannya dan hendak mendekapnya. “Nanti dulu, Adikku, bersabarlah. Kau ceritakan, bagaimana kita akan dapat memasuki kamar kitab di Siauw-lim-si? Padahal di sana tentu terjaga kuat oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang lihai.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo