August 1, 2017

Suling Emas (Part 11)

 

Biar pun dia merasa mulai lega hatinya karena kini di sekitar bintik-bintik merah itu tidak kelihatan biru lagi, namun setiap kali menusukkan jarum dan ujung jarinya menyentuh kulit punggung atau kulit lambung, Tan Hui menggigil dan terpaksa meramkan kedua matanya.

“Koko, kau kenapakah…?” pertanyaan dengan suara halus merdu ini membuat Tan Hui sadar. Ia membuka matanya dan merahlah kedua pipinya ketika ia melihat betapa Lu Sian kini sudah duduk di depannya dan memandangnya dengan sepasang mata menyatakan kemakluman hati akan keadaannya!

“Aku… aku… ah, aku, telah berdosa besar terhadapmu, Moi-moi. Betapa aku berani berlancang tangan menghadapimu dalam keadaan begini.”

Lu Sian meraih dan memegang lengan Tan Hui. “Aiih, mengapa kau bilang begitu? Koko, kau telah mengobatiku, mengapa lancang? Tentang keadaan kita seperti ini, apa salahnya? Bersamamu aku tidak merasa malu. Tan Hui Koko, bukankah… bukankah kau suka pula kepadaku seperti aku kagum dan suka kepadamu?”

Tan Hui menelan ludah. Bukan main wanita ini. Cantik jelita sukar dicari keduanya, berilmu tinggi pula. Laki-laki mana di dunia ini yang takkan tergila-gila? Apakah dia suka kepada Lu Sian? Pertanyaan gila!

“Moi-moi, tentu saja aku suka kepadamu, aku kagum kepadamu. Akan tetapi ketahuilah, Sian-moi, aku hanya seorang duda yang sama sekali tidak cukup berharga untukmu dan…..”

Tiba-tiba Lu Sian menutupkan jari-jari tangannya yang kecil dan berkulit halus itu di depan mulut Tan hui, mencegahnya bicara lebih lanjut.

Betapa pun hebatnya seseorang, sudah tentu sekali ada kelemahannya. Dan bagi pria, biasanya takkan kuat menghadapi rayuan wanita, betapa kuat pun si pria itu. Bujuk rayu seorang wanita cantik lebih dahsyat dari pada gerak kilat ratusan anak panah atau ribuan mata pedang!

Tan Hui adalah seorang pendekar yang memiliki nama besar. Nama julukan Hui-kiam-eng bukanlah nama kosong belaka. Ia merupakan seorang pendekar penegak keadilan dan kebenaran, penentang kejahatan, ditakuti lawan disegani kawan. Namun ia seorang laki-laki juga, malah ditinggalkan isterinya, seorang laki-laki yang haus akan cinta kasih, yang haus akan kehadiran wanita di dekatnya. Kalau saja ia tidak kematian isterinya, belum tentu ada wanita betapa pun cantiknya akan dapat berhasil menggodanya. Akan tetapi kini keadaannya lain. Ia kehilangan isterinya, sedang haus akan cinta.

Celakanya, ia berjumpa dengan seorang wanita seperti Lu Sian, seorang wanita yang hebat, cantik jelita, apalagi yang sudah menolong puterinya dengan pengorbanan. Wanita muda yang bajunya robek terbuka bagian punggung sampai hampir membuka dadanya, yang memegang tangannya, yang memandangnya dengan sinar mata mesra dan bibir tersenyum menantang. Herankah kita kalau kemudian Tan Hui terjungkal pertahanan batinnya dan tergila-gila membiarkan diri menjadi hamba nafsu asmara?

Begitu tergila-gila pendekar ini sampai ia lupa bahwa perbuatannya ini adalah sebuah pelanggaran besar bagi seorang satria, bagi seorang pendekar! Lupa bahwa ia telah melanggar pantangan, melanggar susila. Lupa pula bahwa ia melanggar hukum keluarganya ketika ia berbisik-bisik menjanjikan kepada Lu Sian untuk menurunkan ilmu ginkang yang luar biasa dari keluarganya!

Tan Hui, pendekar besar berjuluk Hui-kiam-eng itu telah benar-benar menjadi mabok oleh kecantikan wajah dan keharuman tubuh Lu Sian. Mereka berdua lupa akan segala, mengejar kesenangan yang tak kunjung puas. Sampai berpekan-pekan Tan Hui dan Lu Sian berdiam di dusun sunyi itu, setiap hari bermain-main di pinggir anak sungai dalam hutan, bersenda-gurau, tertawa-tawa dan bermain cinta, di samping berlatih ilmu ginkang yang diturunkan oleh Tan Hui kepada kekasihnya.

Ilmu ginkang keturunan keluarga Tan Hui ini memang hebat dan aneh pula cara melatihnya. Rahasia kehebatannya terletak dalam latihan pernapasan dan semedhi, cara penyaluran jalan darah di waktu mempergunakan ilmu ini untuk bergerak atau berlari cepat. Di situlah terletak perbedaannya dengan ginkang dari golongan lain. Dan cara melatihnya pun istimewa, yaitu dengan bersemedhi dalam keadaan telanjang bulat!

Inilah sebabnya mengapa Tan Hui pernah menyatakan keraguannya untuk mengajarkan ginkang, dan menyatakan bahwa hanya orang ‘dalam’ atau keluarga sendiri yang boleh melatihnya, karena untuk mengajar orang lain, bagaimana mungkin dengan syarat seperti itu? Akan tetapi setelah Lu Sian si cantik jelita menjadi kekasihnya, menjadi isteri walau pun di luar pernikahan, tentu saja syarat itu tidak menyusahkan mereka lagi.

Karena Lu Sian memang sudah memiliki ilmu silat tinggi, dan di samping ini juga amat cerdik, dalam waktu kurang lebih dua bulan saja ia sudah berhasil menguasai ilmu ginkang yang diturunkan oleh kekasihnya kepadanya. Ia merasa girang sekali. Bukan hanya girang karena dapat mempelajari ginkang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai ginkang nomor satu itu, juga ia merasa girang karena mendapat kenyataan bahwa Tan Hui adalah seorang kekasih yang menyenangkan hatinya. Seorang kekasih yang cocok dengannya, tidak seperti bekas suaminya, Jenderal Kam Si Ek, yang dalam segala hal ingin menonjolkan disiplin!

Sudah dapat ia membayangkan berapa akan bahagia hidupnya di samping Tan Hui, karena kekasihnya ini sudah menyanggupi untuk berdua dengan dia menjelajah di dunia kang-ouw, mencari ilmu-ilmu yang lebih tinggi lagi dan sedapat mungkin ingin menjadi suami isteri jagoan nomor satu di dunia! Dengan Tan Hui di sampingnya, bukan tak mungkin cita-cita ini akan tercapai. Akan tetapi, betapa pun juga, manusia takkan mampu mengatur nasibnya sendiri kalau perbuatannya bertentangan dengan peri-kebajikan. Mimpi yang muluk-muluk ini ternyata menghadapi kegagalan total yang menyedihkan!

Pagi hari itu, ketika pagi-pagi sekali Lu Sian mendahului kekasihnya bangun dan pergi mandi di anak sungai, kebetulan datang serombongan orang mencari Hui-kiam-eng Tan Hui di dalam dusun. Mereka ini adalah serombongan piauwsu terdiri dari sembilan orang. Ketika bertemu dengan Tan Hui, mereka menceritakan bahwa mereka diminta tolong oleh kakak ipar pendekar ini untuk mencarinya. Sebagai pembalasan budi, tentu saja para piauwsu ini segera mencarinya.

Selain menyampaikan pesan kakak iparnya agar Tan Hui segera pulang, juga para piauwsu ini membawa berita yang membuat Tan Hui hampir pingsan saking kagetnya. Akan tetapi pendekar ini masih mampu menekan perasaannya dan segera ia menyuruh pergi para piauwsu itu secepatnya sambil mengirim pesan kepada kakak iparnya bahwa ia segera pulang.

Demikianlah, ketika Lu Sian pulang dari anak sungai dengan wajah berseri, wajah seorang wanita dalam mabuk cinta, ia disambut oleh Tan Hui dengan muka masam. Jelas sekali bahwa Tan Hui menahan-nahan gelora amarah yang mengamuk di hatinya. Menurutkan kata hatinya, ingin Tan Hui mengamuk. Namun ia mencinta Lu Sian maka yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan singkat.

“Sian-moi, sampai saat ini sajalah hubungan kita. Aku hendak pergi sekarang. Selamat tinggal!”

“Eh-eh-eh, Koko, mengapa senda-guraumu tak enak benar pagi ini?” Lu Sian menangkap lengan kekasihnya yang hendak pergi itu. Ia masih menganggap kekasihnya bergurau.

Akan tetapi Tan Hui tidaklah bergurau. Secara kasar ia merenggut lengannya yang dipegang Lu Sian sambil berkata, “Aku tidak bergurau. Aku benar-benar akan pergi meninggalkanmu karena hendak menikah dengan Siok Lan, gadis dusun yang baik!”

Tiba-tiba sepasang mata Lu Sian berkilat marah. Suaranya dingin sekali ketika ia menghadapi Tan Hui sambil berkata, “Hemm, begitukah? Tan Hui, katakanlah apa yang menyebabkan perubahan pada dirimu ini? Mengapa kau marah-marah kepadaku dan seperti tiba-tiba membenciku? Apakah kesalahanku? Bukankah semalam kau masih memperlihatkan cinta kasih yang besar terhadap diriku dan….”

“Cukup!” Tan Hui membanting kakinya dengan marah, sedangkan mukanya berubah menjadi merah. “Jangan sebut-sebut lagi hal itu, jangan sebut-sebut lagi perbuatan biadab kita yang tak mengenal tata susila. Perbuatan terkutuk!”

“Tan Hui, apa maksudmu? Kita saling mencinta, aku menyerahkan jiwa ragaku sebulatnya kepadamu, dan kau bilang itu terkutuk?”

“Perbuatan jinah yang terkutuk! Apa kau masih ingin memaksa aku bicara? Sudahlah, aku pergi!” Tan Hui memaksa keluar dari pintu depan.

Akan tetapi Lu Sian meloncat dan menangkap lengannya. “Kau bicara! Kau keluarkan isi hatimu! Aku akan mati penasaran kalau kau tidak bicara. Hayo katakanlah, mengapa kau marah-marah dan membenci padaku?”

Dengan kening berkerut dan muka keruh Tan Hui membalikkan tubuhnya. Sejenak ia menunduk dan menarik napas panjang, lalu terdengar ia satu kali terisak. “Setiap kali aku menanyakan riwayatmu, kau selalu mengelak. Kiranya kau menyembunyikan rahasia dan aku menjadi barang permainanmu. Liu Lu Sian! Setelah kau menipuku, mewarisi ginkang dan menyeretku ke dalam hubungan jinah karena kau adalah isteri dari seorang Jederal Kam Si Ek, apakah kau sekarang masih tidak mau melepaskan aku?” Kalimat terakhir ini diucapkan dengan suara pahit sekali oleh Tan Hui, tajam seperti pedang menusuk dada Lu Sian.

“Hemm, kiranya kau sudah tahu bahwa aku puteri Beng-kauwcu dan bekas isteri Kam-goanswe? Bekas isteri, kataku, karena aku sudah meninggalkannya. Tan Hui Koko, semalam kau masih bersikap baik, mengapa pagi- pagi ini kau berubah? Sejak kapankah kau ketahui rahasiaku itu?”

“Tadi para piauwsu datang menyampaikan panggilan Lauw-ko dan mereka itu mendengar dari para pengemis Khong-sim Kai-pang tentang kau….”

“Uh-uh, begitukah? Koko berkali-kali kau bersumpah menyatakan cinta kasihmu. Apakah hal itu akan mudah kau lempar begitu saja? Apakah kau sama saja seperti lelaki-lelaki isi sampah yang bersumpah palsu, seperti kumbang yang terbang pergi begitu saja setelah menghisap madu dari kembang? Apakah kau seorang laki-laki begitu rendah ahlak?”

Tan Hui marah. “Liu Lu Sian, kau cukup tahu laki-laki macam apa aku ini! Aku pasti akan memenuhi janji- janjiku. Aku cinta kepadamu. Sampai detik ini pun aku masih cinta kepadamu, terkutuk! Akan tetapi kau adalah isteri Kam Si Ek, seorang pahlawan yang kuhormati. Aku telah berjinah denganmu, ini saja sudah merupakan perbuatanku yang biadab, yang cukup membuat aku bisa mati karena malu. Akan tetapi engkau… hemm, Lu Sian, bagaimanakah Thian memberkahimu dengan wajah secantik itu dan tubuh seindah itu akan tetapi dengan hati serendah ini? Bagaimanakah kau seorang isteri dari seorang pahlawan terhormat bisa meninggalkan suami dan bermain gila dengan laki-laki lain hanya untuk mencuri ginkang? Kau manusia rendah, wanita tak tahu malu. Biar pun aku cinta kepadamu, namun aku pun muak akan tingkah lakumu. Sudahlah, aku pergi sekarang, aku akan menikah dengan gadis kampung agar tidak dapat terjerat lagi oleh siluman betina macam engkau!” Tan Hui meloncat jauh ke depan.

Terdengar pekik kemarahan dan tangan kiri Lu Sian bergerak. Sinar merah menyambar ke arah Tan Hui disusul bentakannya, “Tan Hui, kau terlalu menghinaku!”

Mendengar sambaran angin dari belakang, Tan Hui cepat mengelak dan tangannya menyambar. Ia berhasil menangkap sebatang di antara jarum-jarum yang tadi menyambarnya. Tan Hui tertegun melihat jarum merah di tangannya itu, kemudian kemarahannya memuncak. Ia tidak jadi lari pergi, malah kini ia kembali dan memaki-maki, “Sungguh perempuan tak tahu malu! Jadi ketika kau terluka dahulu itu, hanyalah akalmu saja untuk merayu aku dan menyeret aku ke dalam jurang perjinahan, ya? Yang melukai punggungmu adalah jarum-jarum merahmu sendiri!”

Lu Sian tersenyum mengejek. “Apa salahnya seorang wanita mempergunakan segala macam akal untuk memperoleh cinta? Tan Hui, sejak semula bertemu denganmu, aku sudah kagum dan hal ini menimbulkan rasa cinta. Akan tetapi kiranya kau hanya seorang laki-laki pengecut, berani berbuat takut bertanggung jawab, melawan suara hati dan perasaan sendiri. Huh, muak perutku melihatmu!”

“Dan aku… aku benci kepadamu! Kau perempuan lacur… kau…” saking marahnya Tan Hui tak dapat melanjutkan kata-katanya, melainkan mencabut pedangnya.

Lu Sian juga sudah mencabut pedangnya dan tanpa berkata-kata lagi, kedua orang muda yang semalam masih saling peluk cium dengan kasih sayang yang semesra-mesranya, kini bertanding pedang dengan hebat dan mati-matian karena hati dipenuhi kemarahan sehingga setiap serangan merupakan tangan maut yang mencari korban.

Julukan Tan Hui adalah Pendekar Pedang Terbang, tentu saja ilmu pedangnya lihai sekali. Akan tetapi sesungguhnya, yang membuat ilmu pedangnya menjadi lihai itu adalah karena ia memiliki ilmu ginkang yang

hebat. Ilmu meringankan tubuh ini membuat ia dapat bergerak cepat bukan main sehingga ilmu pedangnya tentu saja menjadi amat berbahaya karena cepatnya.

Biar pun ilmu pedangnya masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan ilmu pedang Liu Lu Sian yang diwarisi dari ayahnya, pada dasarnya kalah tinggi, namun andai kata Lu Sian belum mempelajari ginkang istimewa itu, agaknya Tan Hui akan dapat mengimbanginya dengan kecepatan. Namun kini Lu Sian telah memiliki ginkang Coan-in-hui (Terbang Terjang Awan) yang dipelajari dan dilatih secara tekun dari Tan Hui. Biar pun dibandingkan dengan Tan Hui ginkang-nya masih kalah sedikit, tapi ginkang ini membuat ilmu pedang Pat-mo Kiam-hoat ciptaan ayahnya menjadi beberapa kali lipat dahsyatnya.

Lu Sian adalah seorang wanita yang berwatak keras dan aneh. Memang tidak dapat disangkal pula bahwa semenjak meninggalkan suaminya, Kam Si Ek, belum pernah ia jatuh cinta lagi kecuali kepada Tan Hui. Ia mencinta Tan Hui dan agaknya akan bersedia menjadi isteri duda pendekar ini kalau saja tidak terjadi perselisihan di pagi hari itu. Karena ia berwatak keras, begitu Tan Hui memperlihatkan sikap membenci dan menghina, maka ia pun memaksa perasaannya untuk balas membenci, dan menganggap Tan Hui seorang musuh yang harus dibasmi.

Pertandingan berlangsung makin hebat dan seru. Berdentingan pedang mereka saling beradu, diseling bersiutnya pedang menyambar membelah angin ketika dielakkan lawan. Setelah berjalan seratus jurus mulailah Tan Hui terdesak. Ilmu pedang yang dimainkan Lu Sian amat aneh dan banyak mengandung gerakan-gerakan yang curang.

Di samping kalah tinggi ilmu pedangnya, juga di dalam hatinya, Tan Hui tidaklah sebulat Lu Sian untuk membunuh lawan. Tan Hui marah hanya terdorong kekecewaan setelah mendengar bahwa kekasihnya yang benar-benar amat dicintanya itu adalah isteri orang! Ia menentang Lu Sian terdorong kemarahan karena kecewa inilah, maka setelah bertanding agak lama, mulai ia merasa menyesal dan tidak menyerang secara sungguh-sungguh.

Berbeda dengan Lu Sian yang makin lama makin bersemangat. Melihat betapa lawannya mulai terdesak, ia berseru keras dan berubahlah pedangnya menjadi segulungan sinar yang amat hebat. Angin menderu-deru keluar dari sinar ini yang tadinya bergulung-gulung, tapi makin lama makin cepat membentuk lingkaran- lingkaran secara cepat sekali mengurung tubuh Tan Hui. Inilah Toa-hong Kiam-sut yang dimainkan oleh Lu Sian. Ilmu pedang yang dimilikinya, biasanya sudah hebat sekali apalagi sekarang setelah ginkang-nya maju pesat. Maka cepatlah gerakannya dan makin hebat hawa pukulan yang keluar dari gerakan senjata itu.

Tan Hui yang sudah terdesak hebat itu berseru keras saking kagumnya menyaksikan ilmu pedang yang demikian dahsyatnya. Cepat ia mempertahankan diri, namun kecepatan pedangnya tidak cukup untuk membendung datangnya lingkaran-lingkaran yang bergelombang seperti ombak badai ini. Baru saja pedangnya berdenting karena bertemu dengan pedang Lu Sian, pedang wanita itu sudah menyelinap dengan kecepatan yang tak dapat disangka-sangka, tahu-tahu sudah memasuki perut Hui-kiam-eng Tan Hui!

“Cepppp!”

Hanya sedetik terjadinya hal ini, bahkan Lu Sian sendiri merasa kaget. Cepat-cepat ia mencabut pedang dan meloncat mundur sejauh empat lima meter, lalu berdiri tegak dengan mata terbelalak memandang bekas kekasihnya yang kini menjadi musuhnya itu.

Tan Hui masih berdiri tegak, tangan kanan memegang pedang, tangan kiri menutup luka di perutnya sambil menekan keras-keras, namun tetap saja darahnya menetes-netes melalui celah-celah jari tangannya. Mukanya pucat, akan tetapi bibirnya tersenyum pahit.

“Tidak penasaran Hui-kiam-eng roboh di tangan puteri Beng-kauwcu karena memang kiam-hoat-mu hebat luar biasa. Akan tetapi sebagai bekas kekasihku, biarlah kunasehatkan kepadamu, bahwa kalau kau melanjutkan kesukaanmu menggoda dan menghancurkan hati laki-laki, hidupmu kelak akan terkutuk, kau akan banyak dimusuhi orang. Sian-moi, kenapa kau tidak kembali saja kepada suamimu sehingga hidupmu kelak akan terjamin…?”

“Cerewet! Kau tak berhak mencampuri urusan hidupku. Kau sudah terluka, aku memberi kesempatan kepadamu untuk pergi mengingat akan perkenalan kita yang lalu!”

Senyum di mulut Tan Hui berubah makin pahit. “Seorang pendekar tidak akan lari dari pada maut. Lukaku memang hebat, tak terobati, akan tetapi aku masih berdiri tegak, pedangku masih di tangan. Siapa bilang aku kalah? Baru kalah kalau pedang ini sudah terlepas dari tangan dan kedua kaki ini sudah tak dapat berdiri. Lihat serangan!” Tan Hui menerjang maju lagi dengan dahsyat, sambil menekan perut dengan tangan kiri. Karena gerakannya dalam menyerang ini mempergunakan tenaga, maka menyemprotlah darah dari luka yang ditutupnya dengan tangan.

Lu Sian cepat mengelak sambil memutar pedangnya. Tadi saja selagi masih belum terluka, Tan Hui tidak mampu menandingi ilmu pedangnya, apalagi sekarang setelah pendekar itu terluka parah. Tiga kali berturut- turut ujung pedang Lu Sian mengenai dada dan leher dan sekali ini Tan Hui terjungkal roboh bergulingan lalu diam telentang, tubuhnya mandi darah, akan tetapi tangan kanan masih memegang pedang dan mulutnya tetap tersenyum! Melihat keadaan bekas kekasihnya ini, Lu Sian menarik napas panjang menyimpan pedangnya.

“Salahmu sendiri, Tan Hui. Kau yang mencari mati…”

Tan Hui menggigit bibirnya menahan sakit, napasnya terengah-engah, kemudian terdengar ia lirih berkata, “Seharusnya aku membencimu… Sian-moi…, tapi… tapi tak mungkin. Aku sudah jatuh… aku terlalu mencintamu. Sian-moi, hanya pesanku… jangan kau turunkan ginkang kepada orang lain… dan kalau kelak anakku… mencarimu untuk membalas…. Jangan kau layani dia… harap kau ampunkan dia…,” makin lirih suara Tan Hui, kemudian hanya terdengar bisik-bisik yang tak dapat dimengerti, dan akhirnya ia diam tak bergerak lagi.

Sejenak Lu Sian berdiri tegak tak bergerak. Ia menekan rasa haru yang hendak mencekam hatinya. Ia seorang yang berwatak keras, tak mau ia dipengaruhi rasa kasihan. Kemudian ia berlutut di dekat mayat Tan Hui. Setelah mati wajah Tan Hui tampak tenang dan tampan sekali. Teringatlah Lu Sian akan malam-malam bahagia bersama pendekar ini. Ia membungkuk dan mencium muka Tan Hui sambil berbisik lirih, “Akan kupenuhi pesanmu, Koko, tenanglah!”

“Celaka ia membunuh Tan-taihiap!” terdengar suara berdesing dicabutnya golok dan pedang.

Perlahan Lu Sian bangkit berdiri, ujung matanya menyapu sembilan orang piauwsu yang sudah mengurungnya. Sinar matanya berkilat-kilat, bibirnya yang merah tersenyum mengejek dan ujung hidungnya agak berkembang kempis. Alamat celakalah mereka yang berhadapan dengan Lu Sian kalau dia sudah seperti itu, karena itu adalah tanda-tanda dari pada kemarahan yang meluap-luap. Tadi Tan Hui dapat mengenalnya dari keterangan para piauwsu, sehingga secara tidak langsung para piauwsu inilah yang merusak kebahagiaannya dengan Tan Hui!

“Kalian piauwsu-piauwsu jahanam inikah yang menceritakan kepada Tan Hui siapa adanya aku?” suaranya terdengar satu-satu perlahan dan jelas, diucapkan dengan mulut setengah tersenyum.

Seorang piauwsu muda menudingkan telunjuknya dan memaki. “Kau siluman betina! Kau puteri Beng-kauwcu dan sudah menjadi isteri Jenderal Kam, akan tetapi kau membunuh Tan-taihiap… ah, perempuan keji, kau…!”

“Syiuuutt, cring… crokkk!”

Piauwsu muda itu sia-sia menangkis ketika sinar berkilauan menyambar ke arahnya. Goloknya yang menangkis patah menjadi dua disusul lehernya yang terbacok sampai putus sama sekali dan kepalanya terpental jauh. Tubuhnya yang tak berkepala lagi roboh dan menyemprotkan darah seperti air mancur!

Ributlah delapan orang piauwsu yang lain dan cepat mereka itu menerjang dari segala penjuru. Namun Lu Sian sudah siap sedia, dan dia sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Pedang Toa-hong-kiam di tangannya berkelebat laksana naga mengamuk. Kini ginkang-nya sudah maju pesat sekali sehingga gerakannya sukar diikuti pandangan mata para piauwsu itu. Sungguh pun delapan orang itu menerjang berbareng, namun mereka masih kalah cepat oleh Lu Sian yang seakan-akan dapat melejit dan menyelinap di antara sinar golok dan pedang para pengeroyok, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa sekali pedang Toa-hong-kiam di tangannya merobohkan mereka seorang demi seorang!

Hanya terdengar bunyi senjata berdencingan diseling bunyi pedang golok menyambar bersiutan, kemudian yang terakhir disusul pekik kesakitan dan robohlah seorang pengeroyok, disusul orang ke dua ke tiga dan seterusnya dengan tangan buntung, perut robek, atau muka terbelah dua. Darah muncrat-muncrat dan tubuh bergelimpangan. Tidak sampai seperempat jam lamanya, sembilan orang piauwsu telah roboh mandi darah di sekeliling mayat Tan Hui! Ada di antara mereka yang tidak tewas, akan tetapi mereka ini tentu akan menjadi orang cacat karena sebelah tangannya atau sebelah kakinya buntung!

Sambil tersenyum mengejek Lu Sian membersihkan pedangnya, menyarungkannya kembali, lalu pergi dari situ tanpa menengok lagi. Hanya beberapa loncatan saja dan ia sudah lenyap dari situ. Setelah Lu Sian pergi, barulah penduduk dusun itu geger, berlarian keluar dari rumah dengan muka pucat. Di halaman pondok yang tadinya dijadikan sarang asmara sepasang orang muda itu, di mana setiap hari orang-orang dusun melihat mereka berkasih-kasihan, kini penuh dengan tubuh bergelimpangan, ada yang sudah mati, ada yang terluka parah, dan kesemuanya mandi darah! Ngeri sekali pemandangan itu, akan tetapi karena tidak ada pertempuran lagi, orang-orang dusun mulai turun tangan menolong mereka sedapatnya.

Semenjak peristiwa ini, mulailah nama Liu Lu Sian dikenal sebagai seorang wanita yang selain cantik jelita dan mudah menggoncangkan batin dan membobolkan pertahanan hati para pria, juga amat ganas dan kejam menghadapi mereka yang ia anggap musuh. Pendeknya, bagi seorang pria yang disuka oleh Lu Sian, wanita ini tentu akan menjadi seorang dewi khayangan yang penuh dengan madu, mesra dan menggairahkan. Sebaliknya bagi pria yang dibencinya, Lu Sian, tentu akan berubah menjadi iblis betina yang haus darah. Para piauwsu yang tidak mati tentu saja merupakan pemberita yang aktif tentang diri Lu Sian sehingga sebentar saja Lu Sian dijuluki Tok-siauw-kwi (Setan Kecil Beracun)!

********************

Seorang anak kecil berusia sembilan tahun pergi dari rumah memasuki dunia luar yang tak pernah dikenalnya, tanpa sanak kadang, tanpa tujuan, sudah tentu merupakan hal yang amat sengsara. Sembilan dari pada sepuluh orang anak kecil tentu akan menangis dan minta diantar pulang oleh siapa saja yang dijumpainya kalau ia sudah kehabisan bekal dan tidak tahu harus makan apa dan minta tolong kepada siapa.

Akan tetapi, biar pun baru berusia sembilan tahun, namun Bu Song bukan anak sembarangan. Semenjak berusia lima tahun ia sudah diajar membaca dan menulis. Setiap hari ia dijejali kitab-kitab. Pada masa itu, yang disebut kitab pelajaran hanyalah kitab-kitab filsafat, kitab-kitab sajak dan agama yang isinya berat-berat, segalanya ada hubungannya dengan kebatinan. Sekecil itu, Bu Song sudah mempunyai pandangan yang luas, sudah dapat mempergunakan kebijakan dan dapat menangkap suara batin.

Ia adalah putera Jenderal Kam Si Ek, seorang pahlawan yang patriotik, yang berdisiplin dan berbudi. Ibunya adalah seorang yang memiliki watak aneh dan keras membaja. Agaknya Bu Song mewarisi watak ibunya ini, maka hatinya keras, kemauannya besar dan kenekatannya bulat. Sekali ia mengambil keputusan, akan diterjangnya terus tanpa takut apa pun juga. Kekerasan hati inilah yang banyak menolongnya dalam perantauan yang tiada tujuan ini, kekerasan hati yang takkan dapat dilemahkan oleh ancaman maut sekali pun.

Kemudian kebijaksanaan dan disiplin diri yang ia warisi dari ayahnya membuat ia dapat saja mencari jalan hidup. Bekalnya tidak banyak, namun sebelum habis sama sekali, ia sudah mempergunakan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ia tidak malu-malu untuk minta pekerjaan betapa kasar pun di setiap dusun, sekedar minta upah sebagai pengisi perutnya. Memotong kayu, menjaga sawah, menggembala kerbau, menggiling tahu, menuai gandum, bahkan mengangkut batu kali, apa saja akan dikerjakannya. Tenaga anak ini memang besar dan tubuhnya juga tegap. Namun tak pernah tinggal terlalu lama di sebuah tempat, karena ia mau bekerja hanya untuk menyambung hidupnya.

Biar pun ayah bundanya adalah jagoan silat yang jarang ditemui tandingannya, namun Bu Song yang berusia sembilan tahun itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Ia pun tidak ingin belajar silat, karena sejak kecil, kitab-kitab filsafat dan nasehat-nasehat ayahnya membuat ia mempunyai pandangan rendah terhadap ahli silat. Ahli silat hanya menyeretmu ke dalam pekerjaan kasar dan kotor, demikian nasehat ayahnya. Menjadi tentara, menjadi tukang pukul, menjadi pengawal, atau menjadi perampok! Kesemuanya membutuhkan ilmu

silat untuk melawan musuh, untuk membunuh orang lain dalam permusuhan pribadi! Memang ada yang dapat mempergunakan ilmu silat untuk menjadi pendekar dan berbakti untuk negera, membasmi musuh negara, akan tetapi berapa banyaknya? Kecil sekali dibandingkan dengan yang menyeleweng menjadi penjahat mengandalkan kekuatan dan kepandaian silatnya.

Inilah sebabnya mengapa Bu Song sama sekali tidak bisa ilmu silat, namun ia pandai bersajak, pandai pula menulis dan menggambar huruf hias. Karena kekerasan wataknyalah maka ia ‘memaksa diri’ untuk membenci ilmu silat, padahal wataknya yang keras, jujur, tubuhnya yang tegap dan tenaganya yang besar itu menunjukkan bahwa ia memiliki bakat baik untuk menjadi pendekar, bukan menjadi seorang sastrawan!

Karena semenjak kecil ia memang hidup sebagai putera seorang pembesar yang serba cukup, maka biar pun sekarang telah menjadi seorang ‘gelandangan’, namun Bu Song selalu dapat menjaga dirinya agar tetap bersih dan sehat. Biar pun pakaiannya kemudian habis dijualnya untuk makan sehingga yang dimilikinya hanya yang menempel pada tubuhnya, namun ia merawat pakaian itu dengan hati-hati, mencucinya setiap kali pakaian itu kotor. Oleh karena inilah, Bu Song selalu tampak sehat dan bersih, tidak seperti seorang anak jembel.

Pada suatu hari dalam perantauannya tanpa arah, tibalah Bu Song di lembah Sungai Huai yang subur daerahnya. Ia meninggalkan kabupaten Jwee-bun di mana ia tinggal selama sebulan dan bekerja membantu seorang pemilik rumah makan. Kini dengan bekal sisa uang gajinya, Bu Song berangkat pagi-pagi meninggalkan Jwee-bun, terus ke timur melalui hutan-hutan kecil sepanjang lembah sungai.

Matahari sudah naik tinggi, sinarnya menerobos celah-celah daun pohon di atas kepalanya. Angin semilir berdendang dengan daun bunga, mengiringi nyanyian burung-burung hutan. Di sana-sini binatang kelinci dengan telinganya yang panjang-panjang berlompatan saling kejar dan bermain ‘sembunyi-cari’ dengan teman-temannya di antara rumpun. Demikian indah pemandangan, demikian merdu pendengaran, demikian nyaman perasaan pada pagi yang cerah itu sehingga Bu Song lupa akan segala kesukaran yang pernah ia alami mau pun yang akan ia hadapi. Anak ini berdiri diam tak bergerak agar jangan mengagetkan kelinci- kelinci itu, menonton mereka bermain-main dengan hati geli.

“Ha-ha-ha-ha! Akulah raja di antara segala raja! Dikawal monyet-monyet berkuda! Ha-ha-ha!”

Bu Song tersentak kaget mendengar tiba-tiba ada suara ketawa yang disambung kata-kata yang dinyanyikan itu. Suara itu datangnya dari belakang, masih jauh sekali. Heran sekali ia, mengapa di dalam hutan sesunyi ini ada seorang bernyanyi seaneh itu. Orang gilakah? Akan tetapi ia menjadi makin heran ketika mendengar suaran kaki kuda, kemudian melihat munculnya lima ekor kuda besar-besar ditunggangi lima orang yang wajahnya kelihatan bengis-bengis.

Kuda terdepan yang ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam menyeret seorang laki-laki yang pakaiannya compang-camping penuh tambalan. Laki-laki aneh inilah yang agaknya bernyanyi tadi, karena memang keadaannya seperti orang gila. Kedua lengannya terikat dengan tali yang cukup besar dan kuat, dan ujung tali ikatan ini dipegang oleh si penunggang kuda. Si gila ini tangan kanannya memegang sebuah paha panggang yang besar, mungkin paha angsa atau kalkun, yang digerogotinya. Biar pun kedua lengannya terikat, ia kelihatan enak-enak saja, diseret kuda ia malah menari dan bernyanyi-nyanyi, sama sekali tidak kelihatan takut.

“Terang dia gila,” pikir Bu Song. Ia memperhatikan lima orang itu. Mereka kelihatan galak dan membawa senjata tajam. Rasa iba menyesak di dadanya. Orang itu jelas gila, berarti dalam sakit. Kenapa harus disiksa seperti itu?

Tentu saja Bu Song tidak tahu bahwa yang ia sangka gila itu adalah seorang sakti yang telah menggemparkan dunia kang-ouw dengan perbuatannya yang hebat dalam menentang kejahatan, disertai tindakannya yang selalu edan-edanan seperti orang tidak waras otaknya. Dan agaknya sangat boleh jadi lima orang itu juga seperti Bu Song, tidak tahu sama sekali bahwa yang mereka tangkap itu adalah Kim-mo Taisu, pendekar sastrawan gila yang dahulu adalah seorang sastrawan tampan dan gagah bernama Kwee Seng dan berjuluk Kim-mo eng!

Terdorong oleh rasa kasihan, Bu Song berlari menghampiri orang gila itu.

“He, bocah! Mau apa kau?!” seorang di antara para penunggang kuda itu membentak, tangannya bergerak dan cambuk di tangannya itu mengeluarkan bunyi bergeletar seperti mercon.

“Aku hanya ingin bicara dengan paman ini, apa salahnya?” Bu Song menjawab dan ia nekat mendekati terus biar pun ia diancam dengan cambuk yang panjang dan dapat berbunyi menakutkan itu.

Laki-laki gila itu dengan enaknya menggigit sepotong daging dari paha panggang yang dipegangnya, melirik ke kanan memandang Bu Song, lalu tertawa dan berkata. “Eh, bocah sinting! Kau lapar? Nih, kau boleh gigit dan makan sepotong!” Sedapatnya ia mengeluarkan tangannya yang terikat untuk memberikan paha panggang itu kepada Bu Song.

“Tidak, Paman, aku tidak lapar. Kau makanlah sendiri.” Bu Song terpaksa harus maju setengah berlari untuk mengimbangi orang gila yang terseret di belakang kuda itu. Orang gila itu terpaksa pula melangkah lebar dan terhuyung-huyung.

“Paman, kenapa kau ditawan? Apakah kesalahanmu? Dan kau hendak dibawa ke mana?” “Bocah gila! Pergi kau! Tar-tar-tar!”
Cambuk di tangan penunggang kuda yang paling belakang melecut ke arah Bu Song dan orang gila itu. Cambuk itu panjang dan tangan yang memegangnya biar pun kurus namun bertenaga sehingga lecutan itu keras sekali, tepat mengenai pundak Bu Song dan leher orang gila. Akan tetapi anehnya, Bu Song sama sekali tidak merasa sakit karena ujung cambuk itu ketika mengenai tubuhnya, terpental kembali seakan-akan tertangkis tenaga yang tak tampak.

“Heh-heh-heh, bocah sinting, kenapa kau bertanya-tanya?” si Gila itu berkata kepada Bu Song sambil tertawa menggerogoti paha panggang pula.

“Aku kasihan kepadamu, Paman. Biarlah kumintakan ampun untukmu…”

“Hush, jangan goblok! Aku memang berdosa, aku mencuri paha panggang ini, ha-ha-ha, dan untuk itu aku harus menerima hukuman. Biarlah aku diseret dan hukum seret ini baru habis kalau paha ini pun habis kumakan.”

“Kau masih tidak mau pergi?!” Kembali si penunggang kuda mencambuk, kini ujung cambuk mengenai pipi Bu Song, terasa sakit dan panas. Namun Bu Song memang keras hati, ia tidak mundur, dan terus berlari di sebelah si Gila.

Kini orang gila itu memandang kepadanya dengan mata bersinar-sinar, memandang ke arah jalur merah di pipi yang tercambuk. “Ha-ha-ha, bocah, kau lumayan! Kau mau tahu? Mereka ini adalah lima ekor monyet yang hendak menangkap anjing, akan tetapi sayang kali ini mereka menangkap harimau. Ha-ha-ha-ha! Nah, pergilah kau, sampai jumpa pula!”

Tentu saja Bu Song sama sekali tidak mengerti akan maksud kata-kata si Gila itu, hanya ia dapat menduga bahwa si Gila ini tentu memaki para penawannya yang disebut sebagai lima ekor monyet. Menurut dugaannya, si Gila ini malah mengumpamakan diri sebagai harimau. Mempergunakan kata-kata bersajak mengandung sindiran yang memaki orang!

“Cerewet, masih pura-pura gila? Bocah setan, apa kau bosan hidup?”

Kembali cambuk itu melecut hingga mengenai kaki Bu Song. Sekali cambuk itu digerakkan, Bu Song terlempar bergulingan ke pinggir jalan. Kulitnya lecet-lecet, akan tetapi Bu Song tidak pedulikan rasa sakitnya. Cepat ia bangun berdiri dan sempat melihat betapa orang gila itu kini terseret-seret karena lima ekor kuda itu dilarikan cepat-cepat. Biar pun terseret-seret jatuh bangun dan terhuyung-huyung, namun si Gila itu masih tertawa-tawa dan bernyanyi dengan suara riang dan nyaring. Bu Song berdiri bengong, penuh iba dan juga penuh kagum kepada orang gila itu.

Biar pun kelihatannya terseret-seret kuda, tentu saja sebetulnya hal itu disengaja oleh Kim-mo Taisu Kwee Seng! Pagi hari itu, baru saja ia bangun dari tidur nyenyak di sebelah kuil bobrok di luar kota kabupaten Jwee- bun ketika lima orang penunggang kuda itu serentak menyergapnya. Karena tidak tahu apa urusannya, Kwee Seng tidak melawan dan memang pada saat itu, gilanya sedang kumat.

Malam tadi ia terlalu banyak minum arak yang dicurinya dari rumah makan terbesar di kota itu, minum-minum sampai mabok dan kalau sudah begini, tentu ia teringat akan semua pederitaannya sehingga membuat ia tertawa-tawa dan menangis seorang diri. Ketika lima orang itu menyergapnya dan mengikat kedua lengannya dengan tali yang khusus dipergunakan ahli-ahli silat untuk membelenggu lawan, ia hanya tertawa-tawa dan memutar-mutar biji matanya.

Setelah membelenggu kedua tangannya, orang tinggi besar muka hitam yang memimpin rombongan lima orang itu lalu bertolak pinggang dan berkata, “Kami adalah murid-murid tertua dari perkumpulan Sian-kauw-bu- koan (Perkumpulan Silat Monyet Sakti). Kami mentaati perintah Suhu menyelidiki dan mengejar penjahat yang tiga malam yang lalu telah mengganggu rumah Suhu. Kau lah agaknya orangnya, karena kaulah orang baru yang kami temui dan jelas bahwa kau pandai ilmu silat, hanya berpura-pura gila. Kami takkan membunuhmu sebelum kau dihadapkan kepada Suhu.”

Demikianlah, Kwee Seng digusur keluar, lalu mereka menunggang kuda dan menarik Kwee Seng yang dibelenggu itu keluar dari Jwee-bun. Akan tetapi, Kwee Seng menari-nari dan bernyanyi-nyanyi. “Akulah raja- diraja! Pengawal-pengawalku monyet-monyet berkuda!”

Ia menari-nari di pinggir-pinggir jalan. Ketika mereka lewat di depan rumah makan, kaki Kwee Seng menendang meja. Anehnya, meja itu tidak roboh, hanya paha panggang yang berada di tempatnya telah berloncatan. Kwee Seng tertawa dan menyambar sebuah paha panggang yang meloncat di dekatnya, terus saja digerogotinya paha panggang yang masih panas itu sambil mulutnya mengoceh, “Enak… enak, gurih sedap…!”

Pemilik warung marah-marah, bersama beberapa orang pembantunya memungut paha panggang yang berjatuhan di tanah, kemudian mereka hendak memukuli orang gila itu.

Akan tetapi Si Muka Hitam membentak. “Jangan sembarangan pukul tawanan kami! Nih, kerugianmu kuganti!” ia melemparkan sepotong uang perak yang diterima oleh pemilik warung dengan girang.

Arak-arakan itu kemudian menjadi tontonan. Anak-anak menggoda Kwee Seng, orang-orang tua mempercakapkan kejadian aneh itu. Menyaksikan tingkah Kwee Seng yang mencuri paha panggang, dan melihat betapa kepala rombongan orang berkuda itu dengan baik membayar kerugian si tukang warung, otomatis semua orang berpihak kepada para penunggang kuda dan menduga bahwa orang gila itu tentulah telah melakukan perbuatan jahat.

Kwee Seng terus diseret berlari-lari di belakang kuda sambil tetap menggerogoti daging paha. Setelah dagingnya habis semua tinggal tulang yang juga ia gigit pecah ujungnya untuk dihisap sumsumnya, mendadak Kwee Seng berhenti dan berkata, “Sudah cukup! Paha curian sudah habis, hukumanku pun habis!”

Kuda di depannya lari terus, akan tetapi penunggangnya, si Muka Hitam yang memegangi ujung tali belenggu tersentak ke belakang dan jatuh melalui ekor kuda! Ia kaget sekali, berseru keras dan tubuhnya membuat salto sehingga ia dapat jatuh berdiri di atas tanah sambil membelalakkan matanya. Empat orang kawannya juga cepat melompat turun dan mencabut senjata masing-masing, sikap mereka mengancam, akan tetapi juga agak jeri.

Kwee Seng menggerakkan kedua tangannya dan….

“Bret, brett!” tali yang mengikat pergelangan kedua tangannya putus dengan mudah.

Kembali lima orang itu terkejut. Si Tinggi Besar muka hitam sudah mencabut goloknya, siap menghadapi tawanan yang memberontak ini.

Kwee Seng tertawa bergelak, menoleh ke kanan kiri memandang lima orang yang mengurungnya. “Heh-heh, habis makan tidak minum, sungguh tak enak sekali. Eh, sahabat-sahabat seperjalanan, siapa di antara kalian yang mempunyai arak? Aku ingin sekali minum!”

Empat orang itu sudah gatal-gatal tangannya hendak menerjang, akan tetapi si Muka Hitam menggeleng kepala, menghampiri kudanya yang sudah dipegang oleh seorang temannya, mengeluarkan sebuah guci arak dan melemparkannya kepada Kwee Seng. Kwee Seng tertawa-tawa menyambut guci arak lalu menuangkan isinya ke mulut, meneguk arak dengan lahap sekali tak kunjung henti sampai akhirnya guci itu kosong!

“Heh-heh, arak tidak baik, tapi cukup menghilangkan dahaga!” katanya sambil mengusap mulut dengan lengan baju. “Nah, sekarang kita bicara. Aku memang mencuri paha panggang, maka aku suka kalian hukum diseret- seret. Akan tetapi sekarang barang curian itu sudah habis, maka sampai di sini pula hukumanku.”

“Tidak perlu segala pura-pura ini!” si Muka Hitam membentak. “Seorang gagah tidak akan menyangkal perbuatannya. Kau jelas seorang kang-ouw yang pura-pura gila, apakah tidak malu kalau bersikap pengecut? Kaulah satu-satunya orang yang mungkin melakukan pengacauan di rumah Suhu, oleh karena itu kami harap supaya kau ikut baik-baik menghadap Suhu untuk menerima pengadilan. Kalau kau berkeras menolak, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan pula!”

“Siapa guru kalian itu?” Kwee Seng bertanya tak acuh.

“Suhu adalah guru silat yang mendirikan Silat Monyet Sakti, namanya terkenal sebagai seorang yang menghargai persahabatan dan tidak pernah mengganggu golongan lain.”

“Aha! Kiranya Sin-kauw-jiu (Kepalan Monyet Sakti) Liong Keng Lo-enghiong di kota Sin-yang.”

Lima orang itu cepat saling pandang dan wajah mereka berubah girang. “Hemm, kau sudah mengenal Suhu, sudah mengacau rumahnya tiga hari yang lalu, masih berpura-pura lagi!” tegur si Muka Hitam.

“Ha-ha-ha! Liong-lo-enghiong memang patut menjadi monyet tua sakti, akan tetapi kalian ini benar-benar monyet buntung yang lancang sekali. Sudah kukatakan tadi, kalian hendak menangkap anjing, akan tetapi keliru menangkap hariamau, bukankah itu amat lucu? Sudahlah, aku hendak pergi!”

Setelah berkata demikian, Kwee Seng melempar guci arak yang sudah kosong ke atas tanah, kemudian tanpa menoleh lagi ia berjalan melewati mereka dengan lenggang seenaknya dan bernyanyi-nyanyi!

Kalau To menyuram, dianjurkan prikebajikan! Prikebajikan muncul, tampak pula kemunafikan!
Kalau rumah tangga hancur berantakan, dianjurkan kerukunan! Setelah negara kacau, baru timbul pahlawan!
Hayaaaaa……! Hayaaaa…! Hayaaaaa……!!!

Nyanyian itu adalah ayat-ayat dalam kitab To-tek-kheng pelajaran Nabi Lo Cu. Kwee Seng amat tertarik oleh pelajaran Agama To-kauw ini setelah selama tiga tahun ia berada di Neraka Bumi. Di sana terkumpul banyak kitab-kitab kuno tentang To-kauw milik nenek penghuni Neraka Bumi, dan banyak pula kitab-kitab ini dibacanya. Agaknya pengaruh pelajaran To ini pulalah yang membuat Kwee Seng kini menjadi tak acuh akan keduniawian, bersikap bebas lepas seperti orang tidak normal!

Ada pun ketika melihat si Gila seperti hendak melarikan diri, lima orang itu cepat lari mengejar dan mengurungnya dengan senjata di tangan, sikap mengancam dan siap menerjang. Si Muka Hitam yang tinggi besar berdiri menghadapi Kwee Seng sambil membentak. “Kau tidak boleh pergi sebelum ikut kami menghadap Suhu!”

“Ha-ha-ha, aku akan menghadap Suhu-mu sekarang juga!” Kwee Seng berkata sambil berjalan terus tanpa mempedulikan mereka.

Tentu saja lima orang itu tidak sudi percaya dan menyangka Kwee Seng mempergunakan siasat untuk dapat melarikan diri. Si Muka Hitam memberi tanda dan menyerbulah mereka semua dengan golok dan pedang mereka. Senjata-senjata itu mereka tujukan pada tempat-tempat yang tidak berbahaya, bahkan ada yang hanya dipakai mengancam karena mereka tidak berniat membunuh si Gila ini yang perlu dihadapkan kepada guru mereka untuk diperiksa.

“Siuuuttt… werr-werr-werrr!”

Lima orang itu menjadi silau matanya melihat sinar menyilaukan mata disambung tubuh mereka terpental ke belakang. Entah apa yang terjadi, mereka tahu-tahu sudah terlempar dan jatuh duduk terjengkang, sedangkan senjata mereka lenyap entah ke mana bersamaan pula dengan lenyapnya orang gila yang mereka serang tadi! Mereka saling pandang dengan penuh keheranan. Mereka adalah murid-murid pilihan dari Sin-kauw-jiu Liong Keng, jagoan Sin-yang! Bagaimana mereka dapat dengan mudah saja, dalam segebrakan dirobohkan seorang lawan tanpa mereka ketahui bagaimana caranya?

“Eh, Twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua)… lihat…!” seorang di antara mereka berkata sambil menudingkan telunjuknya ke belakang.

Si Muka Hitam dan adik-adik seperguruannya menoleh dan ternyata golok dan pedang mereka yang lenyap tadi telah menancap di atas tanah, di sekeliling guci arak yang kosong! Entah bagaimana bisa menancap di situ, dan kapan terjadinya, mereka sama sekali tidak dapat menerka. Mereka bangkit dengan penuh keheranan, kekaguman, juga kekhawatiran karena perguruan mereka menghadapi seorang musuh yang sedemikian saktinya. Setelah membersihkan pakaian, mereka lalu mengambil senjata dan meloncat ke atas kuda yang mereka kaburkan cepat-cepat ke Sin-yang untuk memberi laporan kepada guru mereka.

Dengan cepat lima orang itu membalapkan kuda karena mereka amat khawatir akan keselamatan perguruan mereka. Guru mereka harus diberi peringatan akan datangnya mala-petaka dari tangan si Jembel yang sakti itu. Lima ekor kuda mereka sampai mandi peluh ketika akhirnya mereka memasuki Sin-yang dan cepat-cepat mereka melompat turun di depan rumah besar yang pintu depannya terdapat tulisan ‘Sin-kauw-bu-koan’ (Perguruan Silat Monyet Sakti). Mereka berlima lalu lari masuk tanpa mempedulikan pertanyaan para murid lain yang berada di depan gedung.

“Mana Suhu? Kami harus cepat-cepat menghadap Suhu!” demikianlah ucapan mereka sambil berlari terus menuju ke ruangan dalam.

Akan tetapi begitu mereka membuka pintu ruangan tamu, lima orang murid ini berdiri seperti patung, membelalakkan mata karena hampir tidak percaya kepada pandang mata dan pendengaran telinga sendiri. Suhu mereka, seorang tua berusia enam puluh tahun yang jenggotnya sudah putih semua, duduk di ruangan tamu menjamu seorang tamu yang tertawa-tawa bergelak sambil minum arak, menimbulkan suasana gembira. Sedangkan suhu mereka juga tertawa-tawa. Tamu itu berpakaian compang-camping dan bukan lain adalah…. Jembel Gila yang mereka keroyok tadi!

Orang gila itu kini menoleh ke arah mereka sambil mengangkat cawan arak dan berkata sambil tertawa. “Ha- ha, percayakah kalian sekarang bahwa aku akan menghadap Liong-lo-enghing (Orang Tua Gagah she Liong)?”

Lima orang murid itu masih bingung dan khawatir. Orang gila itu memang sikapnya edan-edanan, jangan- jangan suhu mereka kena ditipu pula. Suhu mereka memang selalu ramah kepada siapa pun juga, siapa tahu bahwa si Gila inilah mungkin orang jahat yang mengacau tiga hari yang lalu.

“Suhu… eh, dia ini…,” si Muka Hitam berkata akan tetapi segera menghentikan kata-katanya ketika melihat sepasang mata suhu-nya memandang marah kepadanya.

“Hemm, apa-apaan kalian ini? Bersikap tolol terhadap tamu agung? Hayo lekas memberi hormat kepada yang terhormat Kim-mo Taisu!”

Lima orang itu merasa seakan-akan kepala mereka disiram air es! Tentu saja mereka sudah mendengar suhu mereka bicara dengan kagum tentang seorang pendekar aneh yang menggemparkan dunia persilatan, yaitu seorang pendekar muda yang amat sakti dan jarang dapat ditemui orang namun perbuatan-perbuatannya membuat namanya menjulang tinggi di antara para pendekar lainnya, yaitu Kim-mo Taisu. Siapa kira nama besar ini dimiliki oleh seorang jembel muda! Patutnya nama julukan Kim-mo Taisu dipakai oleh seoarang tua yang berwibawa. Kalau saja bukan suhu mereka yang memperkenalkan, sampai mati pun mereka takkan dapat percaya. Meremang bulu tengkuk mereka saat mengingat bahwa mereka telah menawan dan menyeret- nyeret Kim-mo Taisu.

Serempak lima orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kwee Seng sambil berkata, “Mohon Taisu sudi mengampuni kekurang-ajaran kami berlima!”

Sin-kauw Liong Keng yang sudah tua itu tercengang dan bercuriga ketika melihat murid-murid kepala ini memberi penghormatan seperti itu kepada tamu-tamunya, maka cepat ia bertanya dengan suara kereng. “Hemm, apakah yang telah kalian perbuat terhadap dia?”

Si Muka Hitam segera menjawab, suaranya penuh penyesalan, “Suhu, teecu berlima dalam menyelidiki penjahat telah salah duga dan kesalahan tangan menangkap Taisu, mohon Suhu dapat mengampunkan teecu.”

“Hah…?? Kalian menangkap Kim-mo Taisu? Wah celaka! Gila betul murid-muridku. Harap Taisu suka memaafkan aku orang tua yang mempunyai murid-murid tolol,” Liong Keng cepat-cepat menjura kepada Kwee Seng.

Kwee Seng tertawa dan balas menjura. “Wah, mengapa begini sungkan? Tidak aneh bila terjadi kesalah- pahaman. Kalau tidak ada kejadian itu, mana aku dapat mengetahui bahwa Lo-enghiong diganggu orang?”

Liong Keng duduk kembali, mengelus jenggotnya dan wajahnya kelihatan murung. Ia menarik napas panjang lalu memberi perintah kepada lima orang muridnya untuk bangun. Dengan taat mereka bangkit dan mengambil tempat duduk di belakang suhu mereka. Kini pandang mata mereka terhadap Kim-mo Taisu berobah sama sekali, penuh keseganan dan kekaguman.

“Memang murid-muridku goblok, akan tetapi dapat dimengerti juga kesalah-dugaan mereka karena musuh yang datang pun seorang muda yang suka memakai pakaian jembel seperti Taisu. Dan dia lihai bukan main… hemm, ataukah agaknya aku yang sudah terlalu tua dan tiada guna…?” kembali guru silat tua itu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tiba-tiba ia bangkit berdiri, gerakannya cepat sekali, lalu ia menghadapi Kwee Seng sambil berkata. “Kim-mo Taisu, aku sudah tahu sampai di mana hebatnya kepandaianmu ketika kau membantuku setahun yang lalu di Hutan Ayam Putih membasmi perampok. Coba sekarang kau uji, apakah kepandaianku sudah amat merosot?”

Setelah berkata demikian, guru silat tua itu tiba-tiba menerjang Kim-mo Taisu yang masih duduk di atas bangkunya. Guru silat tua itu memukul dengan tangan kanannya, pukulan yang antep dan ampuh, namun Kwee Seng hanya duduk tersenyum. Ketika pukulan sudah tiba pada sasarannya, terdengar suara keras dan bangku yang diduduki Kwee Seng tadi hancur berkeping-keping, akan tetapi pendekar sakti itu sendiri sudah tidak berada di situ! Kejadian ini berlangsung cepat sekali, menghilangnya Kwee Seng juga amat luar biasa sehingga guru silat dan lima orang muridnya melongo, lalu celingukan mencari-cari dengan mata mereka.

“Ha-ha, pukulan tanganmu masih ampuh sekali, Lo-enghiong!” tiba-tiba terdengar suaranya.

Ketika semua orang memandang, ternyata Kim-mo Taisu atau Kwee Seng itu telah berada di sudut ruangan, punggungnya menempel pada sudut dinding bagian atas, seperti orang enak-enak duduk saja! Ternyata pendekar sakti itu sekaligus telah membuktikan kehebatan ginkang-nya ketika ia ‘menghilang’ dan juga kekuatan lweekang-nya dengan cara menempelkan punggung pada dinding!

“Hemm, kau anggap pukulan tanganku masih cukup ampuh? Sekarang harap kau suka melihat ilmu toyaku, bagaimana?”

Cepat sekali guru silat itu tahu-tahu sudah menyambar sebatang toya, yaitu senjata tongkat atau pentung terbuat dari pada sebuah kuningan dengan ujungnya baja, sebuah senjata yang berat dan keras bukan main. Toya itu kemudian diputar-putarnya sampai mengeluarkan angin berciutan, toyanya sendiri hilang bentuknya karena yang tampak hanya gulungan sinar kuning yang makin lama makin berkembang lebar. Terdengar suara keras berkali-kali dan di lain saat si Guru Silat sudah meloncat turun, toyanya melintang di depan dada, dan ia bengong memandang ke atas di mana tadi Kim-mo Taisu berada.

Pendekar sakti itu sudah tidak berada di atas. Malah dinding itu memperlihatkan akibat serangan yang hebat tadi, yaitu berlubang-lubang pada tujuh tempat, tepat di bagian tubuh yang berbahaya.

“Wah, ilmu toyamu masih amat luar biasa Lo-enghiong!” tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata dan kiranya pendekar ini tadi melompat ke sudut lain dari ruangan itu dengan gerakan demikian cepatnya sehingga tak tampak oleh mereka yang berada di ruangan itu.

Kini ia menghampiri si Guru Silat tua sambil menjura dan tertawa-tawa, “Kau yang begini tua masih sehebat ini, benar-benar harus diberi ucapan selamat dengan seguci arak wangi.”

Liong Keng tersenyum dan melempar toyanya ke arah muridnya yang cepat menerimanya dan menyimpannya. “Ha-ha-ha, pujianmu kosong, dan orang setua aku ini sudah tidak butuhkan itu lagi. Taisu, kalau kau menganggap bahwa ilmuku masih belum berkurang, maka makin sukarlah penasaran ini dibereskan. Heeei, ambil lagi guci besar arak wangi untuk Taisu!”

Biar pun tadinya guru silat itu tertawa-tawa melayani Kwee Seng minum arak yang baru dibuka dari guci, namun kerut-kerut di dahinya timbul lagi dan ia menarik napas panjang berkali-kali.

“Lo-enghiong, mengapa kau simpan-simpan penasaran di hati? Ceritakanlah, apa yang terjadi dan siapa itu orang muda berpakaian jembel yang lihai sekali?”

Liong Keng kembali menarik napas panjang. “Kalau diceritakan sungguh membikin orang mati penasaran! Aku Liong Keng selama puluhan tahun hidup sebagai guru silat tak pernah mencari permusuhan dengan siapa pun juga, kecuali dengan orang-orang jahat sehingga selama ini namaku tetap disuka dunia kang-ouw. Siapa tahu, sekali ini namaku hancur oleh seorang bu-beng-siauw-cut (orang kecil tak terkenal)!”

Dengan suara penuh penasaran ia lalu bercerita akan peristiwa yang menimpa padanya beberapa hari yang lalu……

Liong Keng seorang guru silat yang terkenal. Walau pun merupakan guru bayaran, namun dalam menerima murid ia tidak asal menerima orang yang mampu membayar saja. Ia memilih calon murid yang berbakat dan yang berkelakuan baik-baik, bahkan banyak di antara muridnya yang karena miskin tidak perlu membayarnya. Ada seorang murid perempuan, anak seorang janda miskin yang amat dikasihinya sehingga ketika janda itu meninggal dunia, murid perempuan yang bernama Bi Loan itu ia pungut sebagai puterinya, karena guru silat itu sendiri memang tidak mempunyai keturunan.

Bi Loan menjadi murid yang pandai dan anak yang berbakti. Wajahnya cukup cantik sehingga guru silat itu tentu saja mengharapkan mantu yang pantas. Sebagai seorang gadis yang pandai silat, puteri Sin-kauw-jiu Liong Keng, Bi Loan bukanlah gadis pingitan yang selalu berada di dalam kamarnya. Ia sudah biasa keluar pintu, bahkan biasa pula menggunakan kepandaiannya untuk membela si lemah yang tertindas. Tidak ada orang yang berani mencoba-coba mengganggunya. Selain gadis itu sendiri pandai silat, juga orang merasa sungkan bermusuhan dengan Sin-kauw-jiu Liong Keng dan murid-muridnya yang banyak jumlahnya.

“Akan tetapi, sepekan yang lalu,” demikian guru silat itu melanjutkan ceritanya. “Bi Loan memasuki sebuah tempat judi karena tertarik. Di tempat itu tentu saja berkumpul banyak penjahat dan di situ pula Bi Loan mendengar ucapan kurang ajar. Terjadilah keributan dan beberapa orang lelaki yang kurang ajar itu dihajar kalang kabut oleh Bi Loan sehingga mereka itu lari tunggang-langgang. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang pengemis muda, kukatakan pengemis karena ia berpakaian jembel. Ia tidak terkenal dan menurut cerita mereka yang menyaksikan kejadian itu, Bi Loan bertanding dengan jembel muda itu yang agaknya membela para penjahat tadi. Pertandingan berjalan seru dan laki-laki muda itu lalu melarikan diri sambil menyindir- nyindir. Bi Loan marah dan mengejar, sebentar saja mereka lenyap dari tempat itu…,” sampai di sini guru silat itu berhenti bercerita dan menarik napas panjang.

“Lalu bagaimana?” Kwee Seng tertarik.

“Tak seorang pun yang tahu ke mana mereka pergi berkejaran, karena sampai sehari semalam Bi Loan tidak pulang. Aku menjadi khawatir dan pada keesokan harinya aku sendiri pergi mencari. Aku mendapatkan Bi Loan di dalam sebuah kuil kosong di hutan sebelah barat kota….”

Melihat wajah guru silat itu merah padam, Kwee Seng menduga-duga. “Dan pengemis itu?”

“Dia tidak ada, entah berada di mana. Akan tetapi sikap Bi Loan luar biasa sekali. Anakku itu dengan sikap yang aneh menyatakan tidak ingin pulang karena ia sudah menjadi isteri Kai-ong!”

“Kai-ong (Raja Pengemis)??” Kwee Seng tertegun.

“Demikianlah pengakuannya. Ia menyebut Kai-ong kepada laki-laki muda jembel itu. Aku marah dan memaksanya pulang karena kuanggap Bi Loan sedang dalam keadaan tidak sadar. Dan setibanya di rumah, ia hanya menangis, tidak mau bicara apa-apa kecuali menyatakan hendak ikut Kai-ong! Malam harinya, tiga hari yang lalu, di depan hidungku sendiri tanpa aku dapat berbuat sesuatu, bangsat itu datang dan membawa pergi Bi Loan!”

“Apa? Bagaimana terjadinya?” Kwee Seng kaget. Ia maklum bahwa guru silat ini kepandaiannya sudah lumayan. Kalau laki-laki muda yang mengaku sebagai raja pengemis itu mampu menculik seorang gadis begitu saja, itu membuktikan bahwa ilmu kepandaian jembel muda itu tentulah hebat!

“Sungguh aku harus merasa malu. Sudah menjadi guru silat puluhan tahun lamanya, tapi aku sama sekali tidak berdaya menghadapi seorang penjahat tak ternama seperti dia. Aku harus tutup perguruanku!”

“Suhu…!” lima orang murid kepala berseru.

“Ahh, perlu apa belajar ilmu silat dari seorang lemah seperti aku?” guru silat itu menghela napas. “Kim-mo Taisu, kau tadi menyatakan sendiri bahwa baik tenagaku mau pun ilmu toyaku masih kuat, namun malam hari itu aku benar-benar seperti anak kecil, dipermainkan orang. Dia itu, tanpa kuketahui padahal aku sama sekali belum tidur, tahu-tahu telah dapat memasuki kamar puteriku, memondongnya ke luar dan meloncat ke atas genteng. Aku mendengar puteriku berkata ‘Selamat tinggal, Ayah’ dan melihat berkelebatnya bayangan itu di atas. Tentu saja aku menyambar toya dan mengejar ke atas, lalu kuhantamkan toyaku pada punggung orang itu. Tepat toyaku mengenai punggung, namun… ahhh… toyaku terlepas dari tanganku dan dia tidak apa-apa! Kemudian menghilang di dalam gelap…!”

Makin kagum hati Kwee Seng. Selama ini baru Bayisan seorang yang ia anggap seorang muda yang berkepandaian hebat, siapa kira sekarang muncul lagi seorang pemuda lain yang menyebut diri raja pengemis yang demikian lihai!

“Nah, selanjutnya kau telah ketahui. Aku menyuruh murid-muridku untuk pergi melakukan penyelidikan, akan tetapi bukannya mengetahui di mana sembunyinya penjahat yang menculik anakku, malah berani berlaku kurang ajar kepadamu. Betapa pun juga, hal ini kuanggap kebetulan sekali, karena kalau tidak kau sahabat muda, siapa lagi yang dapat mencuci bersih namaku ini?” suara guru silat itu terdengar sedih sekali, penuh permohonan sehingga nampak benar bahwa ia telah tua dan telah banyak berkurang semangatnya begitu menderita kekalahan.

“Baiklah, Lo-enghiong,” Kwee Seng menyanggupi. “Mendengar ceritamu, aku jadi ingin sekali bertemu dengan raja pengemis itu! Mudah-mudahan saja aku akan dapat menemukannya. Akan tetapi tentang puterimu, kalau memang betul dia itu telah memilih si Raja Pengemis, apa yang dapat kita perbuat? Lo-enghiong, tentu kau sendiri maklum betapa ruwetnya soal asmara…,” perih hati Kwee Seng berkata demikian, seakan-akan ia menusuk dan menyindir hatinya sendiri yang berkali-kali menjadi korban asmara jahil!

Liong Keng menghela napas dan mengangguk-angguk. “Dia bukan keturunanku sendiri, bagaimana aku bisa mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya? Kalau memang demikian halnya, biarlah ia pergi, memang Thian tidak menghendaki aku mempunyai keturunan.”

Setelah menyatakan janjinya akan pergi mencari penculik puteri guru silat Liong, Kwee Seng lalu berpamit dan pergilah ia dari rumah itu untuk mencari orang yang amat menarik hatinya… si Raja Pengemis!

********************

Dua orang penjaga pintu rumah judi yang bertubuh tinggi besar seperti gajah bengkak itu memandang penuh perhatian, kemudian seorang di antara mereka yang berkepala botak bertanya serius, “Dari mana mau ke mana?”

Pertanyaan singkat ini tentulah merupakan sebuah kode rahasia, pikir Kwee Seng, maka ia tertawa dan menjawab seenaknya, “Dari belakang mau ke depan!”

Sejenak kedua orang penjaga itu tercengang mendengar jawaban ini, kemudian mereka tertawa bergelak. Orang ke dua yang hidungnya bengkok ke atas kemudian menghardik. “Jembel kapiran! Hayo lekas pergi, di sini bukan tempat kau mengemis!”

“Tempat apa sih ini?” Kwee Seng bertanya, berlagak orang sinting.

“Di sini rumah judi, mau apa kau tanya-tanya? Hayo lekas minggat, apa kau ingin kupukul mampus?” bentak si Botak sambil mengepal tinjunya yang sebesar kepala Kwee Seng itu di depan hidung si Pendekar Sakti.

“Waduh, tanganmu bau kencing kuda!” Kwee Seng menutupi hidungnya.

Kwee Seng lalu menjauhkan mukanya dan memandang kepada papan nama di depan pintu, mengerutkan keningnya dan membacanya dengan lagak sukar, sedangkan Si Botak itu otomatis menarik kepalannya dan mencium tangannya itu. Agaknya tangannya itu memang bau karena hidungnya bergerak-gerak seperti hidung kuda diganggu lalat. Kemudian ia marah besar, baru merasa bahwa ia dipermainkan, akan tetapi sebelum ia sempat memukul, ia dan kawannya yang berhidung bengkok itu memandang heran karena pengemis itu sudah membaca papan nama dengan suara keras, “Ban Hwa Po Koan” (Rumah Judi Selaksa Bunga)! Wah, kebetulan sekali, aku paling gemar berjudi!”

Sekaligus kemarahan dua orang itu berubah menjadi keheranan. Mana ada seorang jembel pandai membaca huruf, dan mana mungkin jembel itu masih gemar berjudi pula? “Eh, setan sampah! Makan saja kau harus minta-minta, bagaimana kau bisa berjudi? Apakah taruhannya sisa makanan?” ejek si Botak dan kedua orang penjaga pintu ini tertawa bergelak sambil memegangi perut mereka yang gendut.

Mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mata mereka melotot lebar memandang tangan Kwee Seng yang sudah mengeluarkan sebuah kantung kuning berisi penuh uang perak yang berkilauan! “Apakah modal sekian ini kurang cukup?”

Dua orang itu menelan ludah, menaksir-naksir bahwa kantung itu isinya tidak kurang dari seratus tail perak. Kemudian mereka mengangguk-angguk. “Cukup… cukup… silakan masuk…!”

Kwee Seng menutup kantungnya dan dengan lenggang kangkung ia melangkah masuk, diawasi dua orang penjaga yang terheran-heran. Akan tetapi Kwee Seng tidak mempedulikan mereka, terus saja melangkah masuk ke dalam ruangan yang cukup luas, di mana terdapat banyak orang mengelilingi beberapa buah meja judi. Ngeri hati Kwee Seng ketika menyaksikan orang-orang yang berjudi. Bukan seperti wajah manusia lagi, melainkan seperti sekelompok binatang kelaparan. Muka penuh peluh, berkilauan basah, mata melotot dan seluruh uratnya menegang. Sinar mata penuh kerakusan, kemurkaan, sedangkan yang kehabisan uang kelihatan putus asa, penasaran, dendam, dan iri.

“Tempat setan dan iblis berpesta-pora,” pikir Kwee Seng. Hawa udara terasa panas di dalam Rumah Judi Selaksa Bunga itu. Panas luar dalam. Luar panas karena kurang hawa, dalam panas karena pengaruh uang.

Kwee Seng menghampiri meja tengah yang paling besar dan paling ramai. Semua meja adalah meja permainan dadu. Meja tengah juga tempat bermain dadu, akan tetapi di sini agaknya tempat istimewa di mana taruhannya amat besar. Uang perak bertumpuk-tumpuk, bahkan ada beberapa potong emas.

Yang mainkan dadu adalah seorang laki-laki kurus bermata sipit seperti selalu terpejam. Orang itu usianya empat puluh tahun lebih, lengan bajunya digulung sampai ke siku. Gerakan kedua tangannya cepat sekali

ketika ia memutar biji-biji dadu di dalam mangkok, kemudian secepat kilat ia menutupkan mangkok itu ke atas meja dengan biji-biji dadu di bawah mangkok.

Mulailah orang-orang memasang nomer yang ia duga dengan mempertaruhkan uang. Ketika pemasangan selesai, dengan gerakan tangan cepat sekali pemain itu membuka mangkok, maka tampaklah dua biji dadu di atas meja dengan permukaan memperlihatkan titik-titik merah. Jumlah titik-titik inilah merupakan angka yang keluar.

Bagi yang pasangannya kena, mendapat jumlah taruhannya yang diterima dengan wajah berseri-seri dan mata berkilat-kilat. Bagi yang kalah, dan sebagian besar memang kalah, mereka hanya melihat dengan mata sayu betapa tumpukan uang taruhan mereka digaruk oleh si Bandar yang tertawa-tawa lebar. Agaknya yang nasibnya mujur adalah selalu si Bandar, buktinya yang mendapat atau yang pasangannya terkena selalu hanya yang memasang kecil, sebaliknya yang taruhannya besar selalu tak pernah kena pasangannya!

Kedatangan Kwee Seng tidak ada yang tahu karena memang semua perhatian ditujukan ke atas meja. Setelah melihat tiga empat kali pasangan melalui pundak orang-orang yang bertaruh, Kwee Seng mendesak maju. Dengan lagak dibuat-buat ia mengeluarkan pundi-pundi uangnya dan menaruhkannya di atas meja dengan keras. Jelas tampak bahwa pundi-pundi itu isinya berat dan banyak, maka tertegunlah semua orang. Yang merasa pasangannya hanya kecil-kecilan lalu memberi tempat sehingga akhirnya Kwee Seng dapat duduk berhadapan dengan si Bandar Judi. Pundi-pundi itu belum dibuka, maka si Bandar yang kurus itu memandang tajam dengan mata sipitnya.

“Pasangan dengan uang tunai. Apakah anda punya uang?” tanya si Bandar dan diam-diam ia merasa heran mengapa penjaga pintu memperkenankan seorang jembel masuk ruangan itu.

“Heh-heh-heh, kalau tidak punya uang, tentu aku tidak akan berjudi!” Kwee Seng membuka pundi-pundinya dan terdengar seruan-seruan heran dan kaget ketika kelihatan isi pundi-pundi oleh mereka. “Tapi aku tidak sudi berjudi kecil-kecilan. Aku ingin mengadu untung dengan Bandar sendiri, bertaruh angka ganjil atau genap, dengan hanya sebuah biji dadu saja. Berani?”

Kembali orang-orang berseru heran. Gila benar orang ini, menantang bandar! Ban-hwa Po-koan adalah rumah judi besar, orang-orang yang menjadi bandar adalah ahli-ahli judi yang ulung. Si Bandar kurus kecil ini tersenyum-senyum memperlihatkan giginya yang runcing-runcing seperti gigi tikus.

“Mengapa tidak berani? Berapa uangmu dan berapa akan kau pertaruhkan?” “Isi pundi-pundi ini ada seratus dua puluh tail, kupertaruhkan semua!”
Ramai sekali terdengar seruan kaget ketika para penjudi mendengar ucapan ini. Sekali pasang seratus dua puluh tail perak? Benar-benar hanya orang gila yang dapat melakukan hal ini! Bahkan si Bandar Kurus itu sendiri menjadi basah penuh keringat karena betapa pun juga hatinya menjadi tegang menghadapi taruhan yang begini hebat. Akan tetapi Kwee Seng hanya tersenyum-senyum dan menggaruk-garuk kepalanya seperti orang mencari kutu rambut.

“Eh, Muka Tikus, berani tidak kau?” akhirnya ia berkata kesal melihat bandar itu hanya memandang kepadanya.

Ada yang tertawa geli, ada pula yang khawatir mendengar jembel itu berani menyebut muka tikus kepada bandar. Apalagi ketika mereka melihat betapa empat orang tukang pukul rumah judi itu, yang tegap-tegap tubuhnya, diam-diam mendekati Kwee Seng dan berdiri di belakang si Jembel ini sambil saling memberi tanda dengan mata, siap untuk menerjang kalau perlu.

“Apa? Mengapa tidak berani? Mari kita mulai! Kau bertaruh genap atau ganjil?”

Si Bandar menyisihkan sebuah dadu yang bermuka enam, memasukkannya ke dalam mangkok yang telentang di atas meja. Suasana menjadi tegang, semua orang tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka menanti jawaban Kwee Seng sehingga keadaan menjadi sunyi, dan agaknya sebuah jarum yang jatuh ke lantai akan terdengar pada saat itu.

Kwee Seng masih tersenyum-senyum dan ia mendorong pundi-pundinya ke depan. “Seratus dua puluh tail perak kupasangkan untuk angka ganjil!” katanya nyaring.

Si Bandar tertawa, hatinya girang bukan main karena tiba-tiba ada makanan begini lunak tersodor di depan mulutnya. Jari-jari tangannya sudah terlatih sempurna sehingga sambil memegang mangkok, ia dapat mempergunakan dua jari telunjuk dan tengah yang berada di belakang mangkok untuk membalik-balik biji dadu di waktu ia menutup atau membuka mangkok, tanpa seorang pun dapat melihatnya. Kecurangan ini sudah ia lakukan bertahun-tahun dan tak pernah ada yang tahu.

Dengan jari-jarinya yang terlatih ia dapat membalik-balik dua biji dadu sesuka hatinya, apalagi kalau hanya sebuah! Alangkah mudahnya. Tiap kali ia menutup mangkok, matanya yang seperti terpejam itu sekelebatan dapat melihat angka yang berada di permukaan biji dadu, kemudian di waktu membuka mangkok, cepat jari- jari tangannya yang memegang mangkok dan tersembunyi di belakang mangkok bekerja membalik biji-biji dadu menjadi angka-angka yang hanya dipasangi taruhan-taruhan kecil. Dengan cara demikian, selalu pemasang taruhan besar akan kalah.

Sekarang jembel gila ini bertaruh angka ganjil untuk sebuah biji dadu. Alangkah mudahnya untuk membalikkan biji dadu itu agar permukaannya yang genap berada di atas untuk memperoleh kemenangan seratus dua puluh tail. Alangkah mudahnya!

“Baik!” katanya. “Semua orang di sini menjadi saksi. Kau memasang angka ganjil!”

Kemudian ia menggulung kedua lengan bajunya lebih tinggi lagi, dan memutar-mutar dadu ke dalam mangkok. Gerakannya cepat sekali sehingga dadu yang berputaran di dalam mangkok itu tidak kelihatan lagi saking cepatnya, kemudian dengan gerakan tiba-tiba, ia membalikkan mangkok ke atas meja dengan biji dadu di bawahnya.

“Heh-heh-heh!” si Bandar mengusap peluh di dahinya. “Apakah kau tidak merobah pasanganmu? Tetap ganjil? Boleh pilih, sobat. Selagi mangkok belum dibuka kau berhak memilih. Ganjil atau genap?”

Suasana makin tegang, akan tetapi sambil tersenyum dingin Kwee Seng menaruh kedua tangannya di atas meja, di depannya. Tenang-tenang saja ia menjawab, “Aku tetap memasang angka ganjil!”

Si Bandar dengan tangan agak gemetar memegang mangkok, mulutnya berkata, “Nah, siap untuk dibuka, semua orang menjadi saksi!” Jari-jarinya bergerak dan mangkok diangkat, dibarengi seruan Si Bandar. “Heeeeeiiitt!”

Semua mata memandang kepada biji dadu yang telentang, jelas memperlihatkan lima buah titik merah. “Ganjil…!” semua mulut berseru.
“Aaahhhhh….!” Si Bandar menjadi pucat, berdiri terlongong keheranan memandang ke arah biji dadu, hampir tidak percaya kepada matanya sendiri.

Tadi ketika menutup mangkok, jelas ia dapat mengintai bahwa dadu itu tadi berangka lima, maka ketika membuka mangkok, telunjuknya sudah menyentil dadu itu agar membalik ke angka enam atau empat. Akan tetapi mengapa dadu itu tetap telentang pada angka lima, padahal ia yakin betul bahwa sentilan jarinya tadi berhasil baik? Apakah kurang keras ia menggunakan jarinya?

“Heh-heh-heh, apakah kemenanganku hanya cukup kau bayar dengan seruan ah-ah-eh-eh? Hayo bayar seratus dua puluh tail!” kata Kwee Seng tertawa-tawa.

Empat orang tukang pukul sudah siap dengan tangan di gagang golok, akan tetapi bandar itu tidak memberi tanda, maka mereka tidak berani turun tangan. Bandar itu menggunakan ujung jubahnya untuk mengusap peluh yang memenuhi muka dan lehernya, kemudian ia tertawa.

“Heh-heh-heh… tentu saja dibayar, sobat. Anda mujur sekali! Akan tetapi, apakah kau termasuk botoh kendil?”

Kwee Seng memang bukan seorang penjudi, tentu saja ia tidak mengerti apa artinya istilah ‘botoh kendil’ ini. Botoh berarti penjudi, ada pun kendil adalah perabot dapur untuk masak nasi. Ia mengerutkan kening, mengira istilah itu merupakan makian. “Apa maksudmu? Apa itu botoh kendil?”

Jawaban ini membuat semua orang yang hadir makin terheran. Dari jawaban ini saja mudah diketahui bahwa jembel ini bukanlah seoarang ahli judi, bagaimana mendadak ia begini berani bertaruhan besar dan malah menang?

“Botoh kendil adalah penjudi yang segera lari meninggalkan gelanggang begitu mendapat kemenangan, termasuk golongan yang licik!” jawab si bandar yang juga terheran-heran.

Kwee Seng tertawa, tidak jadi marah. “Wah, belum apa-apa kau sudah takut kalau-kalau aku pergi membawa kemenanganku. Bandar macam apa kau ini, tidak berani menghadapi kekalahan? Jangan khawatir, Tikus, aku tidak akan lari. Hayo bayar dulu kemenanganku!”

Dengan tangan gemetar akan tetapi mulut memaksa senyum, bandar itu memerintahkan pembantunya untuk membayar jumlah taruhan itu, dimasukkan ke dalam pundi-pundi hitam. Ketika menerima pembayaran ini, Kwee Seng lalu menaruh pundi-pundi baru di sebelah pundi-pundi kuningnya sambil berkata, suaranya nyaring. “Sekarang kupertaruhkan semua ini, dua ratus empat puluh tail!”

“Ohhhh…..!!!” Kini orang-orang yang tadinya bermain di meja-meja kecil menjadi tertarik dan berkerumunlah mereka di sekeliliing meja besar.

Perjudian di dalam ruangan itu seakan-akan menjadi terhenti sama sekali. Semua penjudi kini menjadi penonton dan yang berjudi hanyalah Kwee Seng seorang melawan si Bandar bermata sipit. Bandar ini pun kaget, akan tetapi kini wajahnya berseri-seri. Kiranya jembel ini benar-benar gila. Dengan begini, sekaligus ia dapat menarik kembali kekalahannya, bahkan sekalian menarik uang modal si Jembel! Kalau tadi ia mungkin kurang tepat menyentil dadu, sekarang tidak mungkin lagi. Ia akan berlaku hati-hati dan pasti kali ini ia akan menang.

“Bagus! Kau memang benar-benar penjudi jempol!” Ia memuji sambil mulai memutar-mutar biji dadu ke dalam mangkok.

“Huh, aku bukan penjudi, sama sekali tidak jempol,” Kwee Seng membantah, akan tetapi matanya mengawasi dadu yang berputar-putar di mangkok, sedangkan kedua tangannya masih ia tumpangkan di atas meja di depan dadanya.

Si Bandar menggerakkan tangannya dan dengan cepat mangkok itu sudah tertelungkup lagi di atas meja menyembunyikan dadu di bawahnya. “Nah, sekarang ulangi taruhanmu biar disaksikan semua orang!” si Bandar berkata, suaranya agak gemetar karena menahan ketegangan hatinya. Ia tadi melihat jelas bawa biji dadu yang ditutupnya itu telentang dengan angka dua di atas! Jadi genap! Ia mengharapkan Si Jembel ini tidak merobah taruhannya.

“Aku mempertaruhkan dua ratus empat puluh tail untuk angka ganjil!” Kwee Seng berkata tenang tapi cukup jelas.

Muka si Bandar berseri gembira, mulutnya menyeringai penuh kemenangan ketika ia tertawa penuh ejekan. “Bagus, semua orang mendengar dan menyaksikan. Dia bertaruh dengan pasangan angka ganjil. Nah, siap dibuka, kali ini kau pasti kalah!”

Tangannya membuka mangkok dan tentu saja jari tangannya tidak melakukan gerakan apa-apa karena ia sudah tahu betul bahwa dadu itu berangka dua, jadi berarti genap. Begitu tangannya yang kiri membuka dadu, tangan kanan siap untuk menggaruk dua buah pundi-pundi uang penuh perak berharga itu.

“Wah, ganjil lagi…!!” seru semua orang dan si Bandar menengok kaget. Kedua kakinya menggigil ketika matanya melihat betapa dadu itu kini jelas memperlihatkan titik satu! Bagaimana mungkin ini? Ia mengucek- ngucek matanya. Tadi ia jelas melihat titik dua!

“Heh-heh-heh, mengapa kau mengosok-gosok mata? Apakah matamu lamur? Semua orang melihat jelas bahwa itu angka satu, berarti ganjil. Kau kalah lagi dan hayo bayar aku dua ratus empat puluh tail!”

Bandar itu bangkit berdiri, dahinya penuh peluh dingin sebesar kedele. “Ini… ini tak mungkin… bagaimana bisa ganjil lagi…?” Ia sudah memandang ke arah empat tukang pukul, siap untuk memerintahkan menangkap si Jembel, menyeretnya keluar dan memukulinya, kalau perlu membunuhnya.

“Hayo bayar!” Kwee Seng berkata. “Apakah rumah judi ini tidak mampu bayar lagi?”

Selagi si Bandar Judi tergagap-gagap dan empat orang tukang pukul lain sudah siap pula datang mendekat dengan wajah beringas, tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa. Dari sebelah dalam muncullah seorang laki- laki berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi pakaiannya penuh tambal-tambalan, pakaian pengemis!

“Orang muda ini sudah menang mengapa tidak lekas-lekas dibayar?” kata pengemis tua itu.

Heran tapi nyata! Si Bandar kelihatan takut dan cepat-cepat duduk memerintahkan pembantunya membayar dua ratus empat puluh tail perak, sedangkan para tukang pukul itu mundur dengan sikap hormat sekali! Si Kakek Pengemis itu lalu berjalan menghampiri bandar, mengambil tempat duduk di dekat bandar, berhadapan dengan Kwee Seng!

“Baiklah, Pangcu,” kata si Bandar.

Mendengar sebutan Pangcu (Ketua Perkumpulan) ini, diam-diam Kwee Seng melirik dan memandang kakek itu penuh perhatian. Usianya lima puluh lebih, pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi jelas bukan pakaian butut, melainkan kain bermacam-macam yang masih baru sengaja dipotong-potong dan disambung-sambung. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang kini disandarkan di bangkunya, sedangkan kedua tangannya ditaruh di atas meja di depan dadanya.

Diam-diam Kwee Seng menduga bahwa kakek ini tentulah seorang yang berilmu tinggi, maka ia bersikap hati- hati. Tadi ia telah menggunakan tenaga lweekang-nya memperoleh kemenangan, yaitu dengan hawa lweekang disalurkan melalui tangan menekan meja membuat biji dadu itu tetap atau membalik sesuka hatinya. Dua buah pundi-pundi hitam telah dibayarkan kepadanya dan kini di depan Kwee Seng terdapat empat pundi- pundi uang yang isinya semua empat ratus delapan puluh tail!

Setelah membayar, si Bandar ragu-ragu untuk melanjutkan perjudian karena ia takut kalau kalah. Kalau sampai kalah lagi, ia akan celaka, harus mempertanggung-jawabkan kekalahannya yang aneh! Akan tetapi ketika ia melirik ke arah kakek itu, si Kakek berkata perlahan. “Teruskan, biar aku menyaksikan sampai di mana nasib baik orang muda ini.”

Mendengar ini, si Bandar berseri lagi wajahnya. Ucapan itu berarti bahwa si Kakek hendak membantunya dan tentu saja dengan adanya perintah ini, tanggung jawab digeser dari pundaknya.

Siapakah kakek ini? Dia ini bukan lain adalah ketua dari Ban-hwa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Selaksa Bunga). Tadinya rumah judi itu dibuka oleh para pencoleng kota. Kurang lebih setengah tahun yang lalu, secara tiba-tiba rumah judi itu diberi nama Ban-hwa Po-koan karena sesungguhnya terjadi perubahan hebat pada Ban-hwa Kai-pang. Perkumpulan pengemis ini secara tiba-tiba berubah sepak terjangnya dan dengan kekerasan menguasai rumah judi itu pula. Karena para pimpinannya memang berilmu tinggi, tidak ada yang berani menentangnya, bahkan para penjahat menjadi sekutu mereka. Inilah sebabnya mengapa bandar dan para tukang pukul yang mengenal Koai-tung Tiang-lo (Orang Tua Tongkat Setan), ketua Ban-hwa Kai-pang, menjadi ketakutan akan tetapi juga lega karena dengan hadirnya ketua ini mereka menjadi besar hati.

Si Bandar dengan semangat baru telah memutar-mutar dadu di dalam mangkok lagi. Lalu ia membalikkan mangkok di atas meja. Ia melihat jelas bahwa dadu itu berangka tiga, maka dengan ujung kakinya ia menyentuh kaki Koai-tung Tiang-lo tiga kali untuk memberi tahu. Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum dengan ujung mulut ditekuk ke bawah, penuh ejekan.

“Nah, sekarang kau mau bertaruh berapa dan dengan pasangan ganjil atau genap?”

Keadaan menjadi tegang dan sunyi kembali, lebih tegang dari pada tadi. Semua orang yang berada di situ, biar pun sebagian tidak mengenal kakek pengemis, namun dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang berpengaruh dan berpihak kepada rumah judi. Benar-benar amat menarik melihat jembel muda yang rambutnya awut-awutan dan yang bernasib baik itu kini berhadapan dengan seorang pengemis tua yang serba bersih. Baru pertama kali ini terjadi hal begitu menarik di dalam rumah judi sehingga semua orang menonton dengan hati berdebar-debar, bahkan yang tadinya murung karena kalah, sejenak lupa akan kekalahannya.

Sambil melirik ke arah kakek itu Kwee Seng mendorong empat pundi-pundi perak sambil berkata, “Tidak ada perubahan, kupertaruhkan semua, empat ratus delapan puluh tail perak dengan pasangan angka ganjil!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo