August 1, 2017

Suling Emas (Part 1)

 

Pada jaman lima wangsa (tahun 907-960), kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi Yu-Nan sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain, juga oleh kerajaan Sung yang kemudian di bangun.

Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun (semi) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal di dunia kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut di sebut pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, datang membanjiri Nan-cao. Apakah gerangan yang menarik para kelana dan petualang itu mendatangi Nan-cao? Apa pula hal yang menarik mereka berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh?

Pertama adalah pengangkatan Beng-kauwcu (Ketua Agama Beng-kauw) sebagai Koksu (Guru Negara) Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Berlengan Delapan) itu?

Pada masa itu, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya, jarang menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidak mengherankan apabila kini tokoh-tokoh dari partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain mengirim utusan untuk menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan Nan-cao.

Ada pun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai penjuru dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong hendak mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh! Tentu saja hal ini menggegerkan dunia kaum muda, menggerakkan hati mereka untuk ikut datang mempergunakan kesempatan baik mengadu untung. Siapa tahu!

Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis jelita ini telah berani menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera para ketua perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan!

Tentu saja para pemuda ini pun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana wujud rupa dan bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang di antara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang pernah bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutama sekali tentang kecantikannya yang menjadi buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi Liu Lu Sian.

Rambutnya halus licin laksana sutera. harum melambai, meraih cinta asmara!
Mata indah, kerling tajam menggunting jantung, bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung! Hidung mungil, halus laksana lilin diraut,
cuping tipis bergerak mesra menambah patut! Hangat lembut, merah basah juwita.
Gendewa terpentang berisi sari madu Puspita!

Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian seorang dara jelita.

Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak), namun ilmu silatnya amat tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya sayang bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa kasih sayang ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak aneh, riang gembira, lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa saja, tidak mau tunduk kepada siapa pun juga.

Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri ketua Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak gunung yang amat tinggi dan sukar didapatkan. Dara itu puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja menghendaki seorang mantu pilihan, baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, mau pun tingkat kepandaiannya. Bahkan kabarnya dara itu hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu mengalahkan dirinya! Namun, para muda yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang tertarik oleh harum dan manisnya madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biar pun bahaya mengancam nyawa.

Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya, menyatakan harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam di rumah-rumah penginapan di kota raja sambil menanti saat dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu Sin-ong beberapa hari lagi, dimana selain hendak ikut memberi selamat, mereka pun berharap akan dapat menyaksikan kehebatan dara yang mereka percakapkan dan yang menjadi kembang mimpi mereka setiap malam.

Liu Lu Sian bukan tidak tahu akan hal ini. Gadis yang manja ini maklum sepenuhnya bahwa ia menjadi bahan percakapan dan pujian. Maka pada pagi hari itu, dua hari sebelum ayahnya menerima para tamu, ia sengaja mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya mengelilingi kota raja!

Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua pipinya yang bagaikan pauh dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum. Rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung di belakang punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali hingga agaknya dapat dilingkari jari-jari tangan, terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan kuning emas, ketat mencetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak kecil.

Pengait baju terbuat dari pada benang emas yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutera biru yang bergerak- gerak bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutera putih yang seakan membayangkan sepasang kaki indah, padat berisi dan sempurna lekuk-lengkungnya, diakhiri dengan sepasang sepatu hitam yang berlapis perak. Cantik tak terlukiskan! Menyaingi bidadari sorga dengan gerak tubuh yang lemah gemulai dan elok. Akan tetapi rangka pedang yang tergantung di pinggangnya membuat ia lebih patut menjadi seorang Dewi Kwan Im Pouwsat!

Kuda putih tunggangannya berlari congklang dan Lu Sian memandang lurus ke depan, namun ujung matanya menyambarkan kerling tajam kesana-sini, terutama waktu kudanya lewat di depan rumah-rumah penginapan di mana para tamu muda berjajar di depan pintu dengan mata jalang dan mulut ternganga, terpesona mengagumi dewi yang baru lewat.

Setelah dara ayu itu lenyap bayangannya, ributlah para muda taruna itu. Makin parah penyakit asmara menggerogoti jantung. Makin ramai percakapan mereka tentang si Cantik Manis. Rindu dendam dan harapan mereka yang terbawa dari rumah ratusan bahkan ribuan li jauhnya terpenuhi sudah. Mereka dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dewi pujaan hati mereka. Dan betapa tidak mengecewakan pemandangan itu. Bahkan melebihi semua dugaan dan mimpi. Tergila-gila belaka mereka setelah Lu Sian lewat di atas kudanya.

“Aduh…, mati aku…! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama lagi…!” seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas panjang.

“Lebih baik mati di bawah kaki si jelita dari pada pulang bertangan hampa!” sambung pemuda ke dua.

“Siapa tahu, rejekiku besar tahun ini. Menurut perhitungan peramal, jodohku seorang gadis bermata bintang. Dan matanya…! Ah, matanya…, kalah bintang kejora!” kata pemuda lain.

“Mulutnya yang hebat! Amboooiii mulutnya… ah, ingin aku menjadi buah apel agar dimakannya dan berkenalan dengan bibir itu. Aduhhh…!”

Bermacam-macam seruan para muda itu yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati masing-masing yang menggelora. Sudah lazim kalau sekumpulan orang muda bercakap-cakap, mereka lebih berani manyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan kadang-kadang terdengar kata-kata yang kurang sopan. Apalagi para muda yang tergila-gila pada seorang gadis jelita ini adalah orang-orang kang-ouw, pemuda-pemuda kelana dan petualang. Banyak sudah tempat mereka jelajahi, cukup sudah dara-dara jelita mereka saksikan, namun baru sekali ini mereka menjumpai dara secantik Lu Sian. Melampaui semua kembang mimpi.

Tujuh orang pemuda yang berkumpul dalam sebuah rumah penginapan itu adalah pendekar-pendekar muda dari beberapa partai. Seperti biasa, karena merasa segolongan dan setujuan, mereka lekas bersahabat dan selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka tiada habisnya memuji-muji dan membicarakan diri Liu Lu Sian yang diam-diam mereka perebutkan. Setelah Lu Sian lewat di depan rumah penginapan itu, sampai jauh malam para pemuda ini bicara tentang Lu Sian dan masing-masing menyatakan harapan menjadi orang yang terpilih dengan mengemukakan dan menonjolkan keistimewaan masing-masing.

“Sebagai puteri Beng-kauw tentu kepandaiannya amat tinggi, dan belum tentu aku mampu menandinginya. Akan tetapi ilmu golokku yang terkenal dan nama Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru memiliki keindahan yang melebihi keindahan seni tari mana pun juga. Siapa tahu, keindahan seni permainan golokku akan menawan hatinya!” kata pemuda muka putih dengan pandang mata merenung penuh harapan, dan di depan matanya terbayanglah mulut manis Lu Sian, karena dialah yang tadi tergila-gila oleh mulut manis itu dan ingin menjadi buah apel!

“Aku tidak punya kedudukan, orang tuaku miskin dan aku pun tidak berpendidikan, tidak pandai tulis baca. Akan tetapi, biar pun ilmu silatku mungkin tidak setinggi dia, aku memiliki tenaga besar yang boleh diukur dengan tenaga siapa pun juga,” kata pemuda tinggi besar yang matanya lebar.

“Mudah-mudahan nona Lu Sian sudi memandang nama besar Kun-lun-pai sehinga aku sebagai murid kecil Kun-lun-pai akan menarik perhatiannya,” kata pemuda ke tiga yang tampan juga. Demikianlah, tujuh orang pemuda itu menonjolkan keistimewaan masing-masing dengan harapan dialah yang akan terpilih.

Lewat tengah malam barulah mereka memasuki kamar masing-masing, namun tentu saja mereka tak dapat tidur, karena di depan mata mereka selalu terbayang wajah Liu Lu Sian. Maka ketika terdengar ada tamu baru datang dan disambut oleh pengurus rumah penginapan, mereka bertujuh semua keluar dan melihat tamu seorang pemuda berpakaian indah, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang memasuki ruang dalam.

“Maaf, Kongcu (tuan muda), bukan kami kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi, kamar yang patut untuk Kongcu sudah penuh semua. Kecuali kalau di antara para Enghiong (Pendekar) yang terhormat membagi kamarnya….” Dengan ragu-ragu dan penuh harap pengurus penginapan itu memandang ke arah tujuh pemuda yang sudah keluar dari kamar masing-masing

Tujuh orang muda itu memandang si pendatang baru penuh perhatian. Pemuda ini berpakaian seperti orang terpelajar, gerak-geriknya halus, sama sekali tidak membayangkan gerak seorang ahli silat. Otomatis ketujuh orang pendekar muda itu memandang rendah.

Mana ada seorang pendekar suka membagi kamar dengan kutu buku yang tentu akan menjemukan dan bicaranya tentu soal kitab-kitab dan sajak belaka? Pemuda itu agaknya maklum akan pandang mata mereka, maka cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, dan memberi hormat berkata dengan penuh kesopanan.

“Harap Cu-wi Enghiong (Tuan-tuan Pendekar Sekalian) sudi memberi maaf kepada siawte (aku yang muda). Tentu saja siawte tidak berani menggangu para Enghiong, akan tetapi barangkali ada di antara para Cu-wi yang sudi membagi kamar….” Ia berhenti bicara ketika melihat mereka mengerutkan kening, kemudian menanti jawaban. Ketika tidak ada jawaban datang, ia pun tersenyum.

“Saudara siapakah dan dari golongan mana? Apakah tamu dari Beng-kauwcu Liu-lo-cianpwe (Orang Tua Gagah she Liu Ketua Beng-kauw)?” tanya pemuda tinggi besar yang bertenaga gajah.

“Siauwte she Kwee bernama Seng. Orang lemah seperti siauwte yang setiap hari menekuni huruf-huruf kuno tidak dari golongan mana-mana, dan siauwte hanya pelancong biasa.”

“Hmm, maaf, kamarku sempit sekali,” jawab si Tinggi Besar kehilangan perhatian. “Kamarku juga sempit.” jawab orang ke dua.
“Aku tidak biasa tidur berteman,” kata orang ke tiga.

“Maaf, maaf, memang siauwte tidak berani mengganggu Cu-wi. Eh, Lopek. Kau tadi bilang tentang kamar yang patut, apakah masih ada kamar yang tidak patut?” Kwee Seng menoleh ke arah pengurus penginapan, sedangkan tujuh orang pendekar itu sudah kembali ke kamar masing-masing dan menutupkan daun pintunya.

“Ah, ada… Ada, Kongcu. Akan tetapi, itu adalah kamar-kamar kecil di sebelah belakang, dahulu menjadi kamar pelayan. Tidak berani saya menawarkannya kepada Kongcu….”

Kwee Seng tersenyum. “Tidak mengapa, Lopek. Malam sudah begini larut, mencari kamar di penginapan lain pun repot. Biarlah aku bermalam di kamar pelayan itu.”

Dengan tergopoh-gopoh pengurus penginapan itu lalu mendahului Kwee Seng sambil membawa sebuah lampu, mengantar tamunya ke sebuah kamar yang berada jauh di ujung belakang. Benar saja, kamar ini kecil, hanya terisi sebuah pembaringan bambu yang setengah reyot, lantainya tidak begitu bersih pula.

“Ah, cukup baik!” seru Kwee Seng sambil menaruh bungkusan pakaiannya di atas pembaringan. “Tidak usah kau tinggal lampumu, Lopek. Aku biasa tidur gelap.” Dia menjatuhkan dirinya di atas pembaringan yang mengeluarkan bunyi berkereotan.

Pengurus penginapan itu keluar dari dalam kamar membawa lampunya sambil menggeleng-geleng kepala, saking heran melihat seorang kongcu berpakaian indah itu kelihatannya sudah tidur pulas begitu tubuhnya menyentuh pembaringan. Ia menutupkan daun pintu perlahan-lahan.

Sebentar kemudian sekeliling tempat penginapan sunyi. Pengurus dan penjaga pun sudah tidur. Yang terdengar hanya dengkur yang keras dari kamar pemuda tinggi besar. Dari beberapa buah kamar lain terdengar suara orang mengigau menyebut-nyebut nama Liu Lu Sian. Bahkan dalam mimpi pemuda-pemuda ini selalu merindukan Lu Sian!

Suara mengigau ini keluar dari kamar pemuda anak murid Kun-lun-pai. Tiba-tiba sebagai seorang ahli silat, pemuda tampan itu meloncat turun dari pembaringannya ketika pendengarannya, atau agaknya lebih tepat indera keenamnya, mendengar suara yang mencurigakan.

Ketika meloncat tadi sekaligus ia telah mencabut pedangnya, dan sekali menggoncang kepalanya lenyaplah semua kantuk dan ia sudah berada dalam posisi siap siaga, sepasang matanya melirik ke arah jendela kecil kamarnya. Tiba-tiba jendela itu terbuka daunnya dari luar, dan muncullah seorang laki-laki jangkung yang berusia empat puluh tahun lebih, bertangan kosong. Orang ini memasuki kamar melalui jendela dengan gerakan ringan dan sikap tenang saja.

“Siapa kau?! Mau apa….”

“Mau membunuhmu. Manusia macam kau yang berani menyebut-nyebut puteri Beng-kauwcu harus mampus!” berkata bayangan laki-laki itu dengan suara mendesis, lalu menerjang maju.

Biar pun merasa kaget sekali, pemuda Kun-lun-pai itu tentu saja tidak menjadi gentar. Pedangnya berkelebat dan sinarnya bergulung-gulung di depan dada. Dia hanya bermaksud melindungi dirinya saja terhadap orang yang agaknya gila ini. Akan tetapi, tiba-tiba sekali gerakan pedangnya berhenti seakan-akan tertahan oleh tenaga yang tak tampak. Sebelum sempat bersuara, pemuda Kun-lun-pai ini tewas seketika!

Suara mendengkur dari kamar si Tinggi Besar terhenti seketika. Jagoan bertenaga gajah ini pun biar tidurnya mendengkur, sedikit suara saja cukup membuat ia terjaga dari tidurnya. Kamarnya berada di sebelah kamar murid Kun-lun-pai, maka ia mendengar suara dari dalam kamar itu, cukup membuatnya terbangun dan curiga.

Karena pada tiap kamar penginapan terdapat jendela di sebelah belakang, ia cepat membuka daun jendela dan… seperti kilat cepatnya ia meloncat ke luar dan menerkam seorang laki-laki yang berdiri di depan jendela murid Kun-lun-pai. Kedua lengannya yang kuat bergerak, dalam segebrakan saja si Tinggi Besar berhasil mencekik leher orang itu.

“Hayo mengaku, siapa kau dan…uuhhh!” Tubuh yang tinggi besar itu seketika menjadi lemas dan kepalanya miring, lalu ia roboh tak berkutik lagi di depan laki-laki setengah tua yang jangkung itu!

“Apa yang kau lakukan? Penjahat…!”

Sebatang golok menyambar dengan hebatnya membentuk sinar melengkung seperti pelangi. Kiranya pemuda yang memiliki Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru telah turun tangan melihat ada orang merobohkan temannya yang tinggi besar. Memang indah gerakannya, gulungan sinar goloknya seperti gerakan pita dan selendang para bidadari sedang menari-nari.

Namun dengan mudah bayangan itu menyelinap di antara gulungan sinar golok. Dan belum juga empat jurus si pemuda menyerang, ia sudah roboh pula terkena tamparan pada lehernya, roboh untuk selamanya karena nyawanya melayang.

Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, si Bayangan Maut itu menuju ke kamar yang lain. Namun belum sempat ia membuka jendela, empat orang pemuda yang lain sudah berlari datang dan mengepungnya. Mereka lalu berlari ke belakang dan segera mengepung si Bayangan Maut ketika melihat betapa dua orang temannya sudah menggeletak pula tak bernyawa.

“Kalian harus mampus semua…!”

Bayangan itu mendengus, tubuhnya bergerak secara aneh sekali, menyelinap di antara sambaran empat buah senjata para pengurungnya. Hebat memang kepandaian bayangan maut ini.

Empat orang pemuda yang mengeroyoknya bukanlah pemuda-pemuda sembarangan. Mereka itu sudah terdidik dalam ilmu silat yang cukup tinggi, setingkat dengan anak murid Kun-lun-pai dan dengan si Tinggi Besar atau si Golok Pelangi. Namun menghadapi bayangan maut ini, mereka tak mampu berbuat banyak. Lawan yang mereka keroyok ini seakan-akan hanya bayangan kosong yang tak mungkin dapat tersinggung senjata mereka.

Tiba-tiba bayangan itu terkekeh dan….

“Plak-plak-plak-plak!” empat orang pemuda itu pun roboh, terpukul pada leher mereka dan tewas seketika!

Setelah membunuh tujuh orang pemuda itu, bayangan ini berdiri dengan kaki terpentang lebar. Ia mendongakkan mukanya ke atas sambil tertawa. “Ha-ha-hah! Alangkah lucunya! Orang-orang macam ini mengharapkan seorang dewi seperti dia! Ha-ha-hah!”

Kemudian, mendengar suara ribut-ribut dari pengurus penginapan yang agaknya terjaga, sekali meloncat ia sudah berada di atas genteng, lalu bagaikan gerakan seekor kucing, ia berlari ke arah belakang tanpa menimbulkan suara. Akan tetapi mendadak orang itu berseru perlahan ketika kakinya terpeleset karena genteng yang diinjaknya merosot turun. Cepat ia berjongkok di atas bangunan bagian belakang rumah penginapan itu dan membuka genteng, kemudian mengintai.

Kiranya di situ terdapat seorang pemuda yang lagi enak tidur telentang. Sebatang lilin kecil menyala di atas meja. Kepalanya diganjal bantalan pakaian. Tidak tampak senjata di dalam kamar itu sehingga bayangan itu mengerutkan kening. Seorang pemuda pelajar, pikirnya, tak mungkin dia yang main-main denganku. Akan tetapi siapa tahu? Ia mengeluarkan sebatang jarum merah dan sekali jari-jari tangannya bergerak, melesatlah sinar merah ke bawah melalui celah-celah genteng, menuju ke arah leher si pemuda yang tidur telentang.

Pemuda di bawah itu yang bukan lain adalah Si Pelajar Kwee Seng, menggeliat dan mengeluh seperti orang mengigau dalam tidurnya, lalu miring. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu menegang kaget dan tak bergerak-gerak lagi. Bayangan orang di atas genteng tersenyum puas melihat korbannya yang ke delapan, maka ia bangkit berdiri dan cepat ia lari pergi dari tempat itu, menghilang di dalam gelap!

“Tolong…! Pembunuhan… pembunuhan…!!” suara pengurus penginapan ini terdengar lantang sekali di waktu fajar itu, mengagetkan semua orang. Para pelayan bersama para tamu lainnya berbondong keluar dan sebentar saja di tempat pembunuhan sudah penuh dengan orang. Obor-obor dan lampu-lampu dipasang sehingga keadaan menjadi terang sekali. Pembunuhan yang sekaligus mengorbankan nyawa tujuh orang pemuda kang-ouw benar-benar merupakan peristiwa hebat yang mengejutkan sekali.

Ketika pengurus penginapan melihat Kwee Seng berada di antara orang banyak itu, ikut menjenguk dan melihat pemuda-pemuda taruna yang menjadi korban pembunuhan aneh, pengurus itu segera memegang lengannya dan berkata. “Ah, Kongcu benar-benar seorang yang masih dilindungi Thian (Tuhan)! Seandainya Kongcu diterima tidur dengan mereka, ah… tentu akan bertambah seorang lagi korban pembunuh kejam ini!”

Kwee Seng hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum duka. Di dalam hatinya ia menyangkal keras pendapat pengurus rumah penginapan ini. Andai kata ia diterima bermalam dengan mereka, belum tentu iblis maut yang malam itu merajalela dapat menjatuhkan tangan mautnya.

Diam-diam ia meraba jarum kecil yang ia masukkan ke dalam saku bajunya, jarum merah yang malam tadi pun hampir membunuhnya. Menyesallah hati Kwee Seng mengapa malam tadi ia tidak mengejar si penjahat yang mencoba membunuhnya, dan mengapa ia begitu enak tidur sehingga ia tidak tahu di bagian depan penginapan itu menjadi tempat penyembelihan tujuh orang muda.

Kwee Seng adalah seorang mahasiswa gagal. Ia suka sekali akan bun (sastra), bu (silat), namun bakatnya lebih menjurus kepada bu (silat). Seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara merantau tanpa tujuan. Namun ilmu kepandaiannya amat tinggi, ilmu silatnya sukar mendapatkan tandingan. Selain ia telah mempelajarinya dari para pertapa sakti di puncak-puncak gunung sebelah barat, juga ia pernah berjumpa dengan manusia dewa Bu Kek Siansu yang telah menurunkan beberapa macam ilmu kepadanya.

Bu Kek Siansu terkenal sebagai manusia dewa yang sewaktu-waktu muncul untuk mencari bahan baik, tulang pendekar berwatak budiman, dan menurunkan ilmu. Tak seorang pun di dunia ini tahu dari mana asalnya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap.

Kwee Seng pernah mengikuti ujian di kota raja namun gagal. Semenjak itu, ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya, yaitu di sebuah dusun kecil di kaki gunung Luliang-san, karena ayah bundanya sudah lama meninggal dunia oleh wabah penyakit ketika ia masih kecil.

Ia merantau sebagai seorang kang-ouw yang tak terkenal karena semua sepak terjangnya ia sembunyikan. Hanya beberapa orang tokoh besar saja di dunia kang-ouw yang mengenal pendekar sakti muda ini, malah diam-diam ia diberi julukan Kim-mo-eng (Pendekar Setan Emas).

Ia disebut setan karena sepak terjangnya seperti setan, tak pernah memperlihatkan diri. Akan tetapi ia di sebut emas yang mengandung maksud bahwa pendekar ini berhati emas, membela kebenaran dan keadilan, pembasmi kelaliman dan kekejaman. Namun hanya kalangan terbatas saja pernah mendengar nama ini, di dunia kang-ouw nama Kim-mo-eng Kwee Seng tak pernah terdengar.

Kwee Seng tidak berbohong ketika mengatakan kepada ke tujuh orang pendekar pada malam yang lalu bahwa ia adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota raja Nan-Cao. Memang ia tidak mempunyai niat untuk menjadi tamu Beng-kauw, sungguh pun nama Pat-jiu Sin-ong bukanlah nama asing baginya.

Ia tidak suka tokoh besar itu diangkat menjadi koksu, hal yang ia anggap sebagai bukti kerakusan akan kedudukan dan kemuliaan. Maka baginya, hal itu tidak perlu diberi selamat. Apalagi mendengar berita tentang putri Pat-jiu Sin-ong yang hendak memilih jodoh, seujung rambut pun tiada niat di hatinya untuk ikut-ikutan memasuki sayembara, bahkan ingin melihat si jelita pun sama sekali ia tidak ada nafsu.

Memang demikianlah watak Kwee Seng. Ia memandang rendah kepada hal-hal yang dianggapnya tidak benar atau menyimpang dari kebenaran. Padahal harus diakui bahwa ia adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tiga tahun, yang tentu saja sebagai seorang pemuda normal, selalu berdebar-debar apabila melihat seorang gadis cantik.

Ia seorang pemuda yang pada dasarnya memiliki watak romantis, suka akan keindahan, suka akan tamasya alam yang permai, suka akan bunga yang indah dan harum, dan tentu saja bentuk tubuh seorang dara jelita. Akan tetapi, kekuatan batinnya cukup untuk menekan semua perasaan ini dan membuat ia tetap tenang.

Peristiwa pembunuhan di dalam rumah penginapan itu membangkitkan jiwa satrianya. Ia mendengar keterangan sana-sini dan tahu bahwa tujuh orang pemuda itu adalah calon-calon pengikut sayembara untuk meminang puteri Beng-kauwcu. Mendengar pula betapa pemuda-pemuda itu sudah kegilaan akan Nona Liu Lu Sian, dara rupawan yang pada pagi hari kemarin lewat di depan rumah penginapan.

Karena ini, diam-diam Kwee Seng menghubungkan semua itu dengan pembunuhan. Agaknya karena mereka itu tergila-gila kepada Liu Lu Sian maka malam ini menjadi korban pembunuhan keji. Entah apa yang menjadi dasar pembunuhan, entah cemburu atau bagaimana. Namun yang pasti, untuk mencari pembunuhnya ia harus datang menjadi tamu Beng-Kauw! Inilah yang membuat Kwee Seng terpaksa menunda perantauannya dan bersama dengan para tamu lainnya, ia pun melangkahkan kaki menuju ke gedung keluarga Pat-jiu Sin-ong.

********************

Rumah gedung keluarga Liu dihias meriah. Pekarangan yang amat luas itu telah diatur menjadi ruangan tamu. Di bagian tengah agak mendalam yang letaknya lebih tinggi dari pada ruangan depan, kini dipergunakan untuk tempat tuan rumah dan para tamu yang terhormat atau para tamu kehormatan.

Ruangan ini disambung dengan sebuah panggung setinggi satu meter yang cukup luas dan panggung ini diperuntukkan untuk mereka yang hendak bicara mengadakan sambutan, juga dibentuk semacam panggung tempat main silat. Panggung semacam ini memang lazim diadakan setiap kali ada ahli silat mengadakan sesuatu, karena perayaan di antara ahli silat tanpa pertunjukan silat akan merupakan hal yang janggal dan mentertawakan.

Pat-jiu Sin-ong Liu Gan belum tampak di luar. Para tamu disambut oleh tiga orang sute-nya (adik seperguruannya). Yang pertama adalah Liu Mo adik kandungnya sendiri. Liu Mo berusia empat puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan pendiam, sinar matanya membayangkan watak yang serius (sungguh-sungguh) dan berwibawa. Biar pun Liu Mo memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan orang ke dua dalam Beng-kauw, namun ia tetap sederhana dan tidak mempunyai julukan apa-apa. Di dalam Beng-kauw, ia merupakan pembantu yang amat berharga dari kakak kandungnya dan boleh boleh dikatakan untuk segala urusan dalam, Liu Mo inilah yang sering mewakili kakaknya.

Orang ke dua adalah Ma Thai kun. Orangnya tinggi kurus, wajahnya selalu keruh dan biar pun usianya baru tiga puluh enam tahun, namun ia memelihara jenggot dan kelihatan lebih tua. Ia terkenal pemarah dan wataknya keras, kepandaiannya juga tinggi dan ilmu silatnya tangan kosong amat hebat. Segala macam pukulan dipelajarinya dan kedua tangannya mengandung tenaga dalam yang amat dahsyat. Berbeda dengan Liu Mo yang sabar dan berwibawa, orang ke tiga dari Beng-kauw ini menyambut tamu dengan wajah gelap dan tak pernah tersenyum, juga ia memandang rendah kepada para tamunya.

Orang ke tiga dari para wakil ketua Beng-Kauw ini usianya hampir tiga puluh tahun, akan tetapi wajahnya terang dan kelihatan masih muda. Dandanannya sederhana sekali, bahkan lucu karena ia menggunakan sebuah caping (topi berujung runcing) seperti dipakai para petani atau penggembala. Di punggungnya terselip sebatang cambuk yang biasa dipergunakan para penggembala mengatur binatang gembalaannya! Memang murid termuda ini seorang yang ahli dalam soal pertanian dan peternakan. Wajahnya terang dan ia menerima para tamu dengan sikap hormat sekali. Inilah Kauw Bian seorang pemuda desa yang menjadi sute termuda dari Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Biar pun sikapnya sederhana dan seperti seorang desa, akan tetapi jangan dipandang rendah kepandaiannya, dan pecut itu sama sekali bukanlah pecut biasa melainkan senjatanya yang ampuh!

Sebagaimana lazimnya para tokoh besar, mereka ini selalu menahan ‘harga diri’. Tidak sembarangan orang dapat menjumpainya dan dalam menyambut tamu, biasanya diwakilkan dan kalau diperlukan sekali barulah ia sendiri muncul menemui tamunya. Demikian pula Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ia pun menahan harga dirinya. Ketika seluruh para tamu sudah berkumpul semua dan tidak ada lagi yang datang, baru tokoh besar ini muncul di ruangan tuan rumah. Para tamu segera bangkit berdiri memandang ke arah tuan rumah dengan kagum.

Memang patut sekali Liu Gan menjadi seorang tokoh yang terkenal. Tubuhnya lebih tinggi dari pada perawakan seorang laki-laki biasa, kekar dan berdiri tegak. Dadanya lebar membusung, pakaiannya indah, pandang matanya berwibawa. Kepalanya tertutup topi bulu yang terhias bulu burung rajawali.

Ketua Beng-Kauw ini keluar sambil tersenyum-senyum dan menjura ke arah para tamu, lalu duduk. Para tamu juga lalu duduk kembali, akan tetapi semua mata tetap terbelalak lebar memandang gadis yang keluar bersama Pat-jiu Sin-ong. Itulah dia, gadis yang kini menarik semua pandang mata bagaikan besi sembrani menarik logam. Liu Lu Sian, dara jelita yang pada saat itu mengenakan pakaian sutera putih terhias benang emas dan renda-renda merah muda. Cantik jelita bagaikan dewi khayangan!

Para muda melongo, ada yang menelan ludah, ada yang lupa mengatupkan mulutnya, bahkan ada yang menggosok-gosok mata karena merasa dalam mimpi! Namun orang yang menjadikan para muda terpesona itu tetap duduk dengan tegak, dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir. Tapi banyak pula yang memandang dengan hati ngeri. Mereka semua, tua muda, sudah mendengar belaka tentang peristiwa hebat di dalam rumah penginapan, di mana tujuh orang pendekar muda yang tergila-gila kepada gadis ini terbunuh secara aneh.

Para tamu yang duduk di ruangan kehormatan mulai bergerak menghampiri Pat-jiu Sin-ong menghaturkan selamat, diikuti tamu-tamu lain dari ruangan depan. Pat-jiu Sin-ong menyambut pemberian selamat itu sambil tertawa-tawa dan tidak berdiri dari bangkunya, sikap yang jelas memperlihatkan keangkuhannya.

Setelah para tamu memberi selamat, dan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong berdiri dari bangkunya. Ia memandang ke luar dan berseru keras. “Aha, saudara muda Kwee Seng! Kau datang juga hendak memberi selamat kepadaku? Bagus! Menggembirakan sekali. Mari ke sini, kau mau duduk bersamaku?”

Tentu saja semua tamu menoleh ke arah luar untuk melihat tamu agung manakah yang begitu menggembirakan Pat-jiu Sin-ong sehingga tokoh ini sampai berdiri dan berseru menyambut segembira itu? Mereka mengira bahwa yang datang tentulah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw. Akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat seorang pemuda berpakaian sastrawan yang melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah lambat dan sikap lemah-lembut. Seorang pelajar lemah seperti ini bagaimana bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari Pat-jiu Sin-ong yang terkenal angkuh dan tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir di situ?

Pemuda itu bukan lain adalah Kwee Seng. Memang jarang ada orang kang-ouw mengenalnya. Di antara sedikit tokoh besar dunia kang-ouw yang tahu akan kehebatan orang muda ini adalah Pat-jiu Sin-ong, karena Ketua Beng-kauw ini pernah bertemu dengan Kwee Seng ketika dia mengunjungi Ketua Siauw-lim-pai, Kian Hi Hosiang yang sakti, yang memperlakukan pemuda ini sebagai seorang tamu agung pula! Inilah sebabnya maka Ketua Beng-kauw mengenal Kwee Seng. Biar pun belum membuktikan sendiri kehebatan pemuda ini, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda yang di sambut demikian hormatnya oleh Ketua Siauw-lim-pai, yang malah dijuluki Kim-mo-eng, tentulah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Dengan tenang dan tersenyum ramah Kwee Seng menghampiri tuan rumah menjura dengan hormat sambil berkata, “Liu-enghiong (Orang Gagah She Liu), maafkan saya datang mengganggu secawan dua cawan arak. Terus terang saja, saya kebetulan lewat dan mendengar tentang keramaian di sini saya pun ingin menonton. Akan tetapi sama sekali bukan untuk memberi selamat. Makin tinggi kedudukan makin banyak keruwetan, dan makin besar kemuliaan makin besar pula kejengkelan, apa perlunya diberi selamat?”

 

“Ha-ha-ha-ha! Kata-katamu ini memang cocok bagi orang yang mengejar kedudukan dan memperebutkan kemuliaan, yang tentu saja hanya akan menemui kejengkelan dan memperbanyak permusuhan. Akan tetapi aku menjadi koksu (guru negara) untuk membimbing pemerintahan negaraku yang dipimpin oleh keluargaku sendiri. Ini namanya panggilan negara dan bangsa, kewajiban seorang gagah. Aku pun tidak butuh pemberian selamat yang semua palsu belaka, basa-basi palsu, berpura-pura untuk mengambil hati. Ha-ha-ha! Lebih baik yang jujur seperti kau ini, Kwee-hiante. Mari duduk!”

Dengan gembira tuan rumah menggandeng tangan Kwee Seng, diajak duduk semeja dan segera Liu Gan memerintahkan pelayan mengambil arak terbaik dari cawan perak untuk Kwee Seng.

“Liu-enghiong, aku mendengar pula bahwa kau hendak mencari mantu dalam perayaan ini….”

“Ah, anakku yang ingin mencari jodoh. He, Lu Sian. Perkenalkan ini sahabat baikku, Kwee Seng!” Ketua Beng- kauw itu dengan bebas berteriak kepada puterinya.

Liu Lu Sian sejak tadi memang memperhatikan Kwee Seng yang disambut secara istimewa oleh ayahnya. Biar pun pemuda ini gerak-geriknya halus seperti orang lemah, namun melihat sinar matanya, Lu Sian dapat menduga bahwa Kwee Seng adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Mendengar seruan ayahnya ia lalu bangkit berdiri lalu menghampiri Kwee Seng sambil merangkapkan kedua tangannya. “Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee), terimalah hormatku!” katanya dengan suara merdu dan bebas, gerak-geriknya manis sama sekali tidak malu-malu atau kikuk seperti sikap gadis biasa.

Kwee Seng sejak tadi hanya memperhatikan Liu Gan saja maka tidak tahu bahwa di ruangan itu terdapat gadis puteri Liu Gan yang kecantikannya telah membuat banyak pemuda tergila-gila, bahkan agaknya yang telah menjadi sebab dari pada akibat mengerikan di rumah penginapan malam kemarin. Mendengar suara merdu ini ia menengok dan… pemuda itu berdiri terpesona.

Sejenak ia tidak dapat berkata-kata, bahkan seakan-akan dalam keadaan tertotok jalan darah di seluruh tubuhnya, tak dapat bergerak seperti patung batu! Belum pernah selama hidupnya ia terpesona oleh kejelitaan seorang wanita seperti saat itu. Mata itu! Bening bersih gilang-gemilang tiada ubahnya sepasang bintang, kerling tajam menggores jantung, kedip mesra membuat bingung. Bulu mata lentik berseri bagai rumput panjang di pagi hari, sepasang alis hitam kecil melengkung menggeliat-geliat malas di kedua ujung!

“Kwee-kongcu…,” kata pula Liu Sian melihat pemuda itu diam saja seperti patung, dalam hatinya geli bukan main.

“A… oh…, Liu-siocia (Nona Liu), tidak patut saya menerima penghormatan ini…!” jawabnya gagap sambil cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa angin pukulan menyambar dari arah kedua tangan gadis yang dirangkap di depan dada itu. Angin pukulan yang mengandung hawa panas dan yang tentu akan cukup membuat ia terjungkal dan terluka hebat. Alangkah kecewanya hati Kwee Seng! Dara juwita ini, yang dalam sedetik telah membuat perasaannya morat-marit, yang kecantikannya memenuhi semua seleranya, menguasai seluruh cintanya, ternyata memiliki watak yang liar dan ganas!

Sekilas teringat lagi ia akan pembunuhan tujuh orang pemuda tak berdosa dan seketika itu Kwee Seng merasa jantungnya sakit. Ia masih terpesona, masih kagum bukan main melihat dara jelita ini, namun kekaguman yang bercampur kekecewaan. Maka ia pun cepat mengarahkan tenaga ke arah ke dua tangannya yang membalas penghormatan.

“Aiiihhh…! Mengapa Kwee-kongcu demikian sungkan? Penghormatan kami sudah selayaknya!” kata Liu Lu Sian yang berseru untuk menutupi kekagetannya ketika angin pukulan yang keluar dari pengerahan sinkang di kedua tangannya membalik seperti angin meniup benteng baja.

Gadis ini sambil tersenyum manis. Ia menyambar guci arak pilihan dari tangan pelayan bersama sebuah cawan perak, lalu menuangkan arak ke dalam cawan itu. Cawan sudah penuh, terlampau penuh, akan tetapi anehnya arak di dalam cawan tidak luber, tidak membanjir ke luar. Permukaan arak melengkung ke atas berbentuk telur.

Dengan tangan kanan memegang cawan yang terisi arak itu Liu Lu Sian berkata, “Kehadiran Kwee-kongcu merupakan kehormatan besar, harap sudi menerima arak ini sebagai tanda terima kasih kami.”

Kembali Kwee Seng tertegun. Dara juwita ini tidak saja cantik seperti bidadari, akan tetapi juga memiliki kepandaian hebat. Sinkang yang diperlihatkan kali ini lebih halus, sehingga bagi orang biasa tentu merupakan perbuatan yang tak masuk akal, seperti sihir. Akan tetapi makin kecewalah hati Kwee Seng karena ia menganggap bahwa gadis ini terlalu binal dan suka membuat malu orang lain. Kalau yang menerima arak sepenuh itu tidak memiliki sinkang yang tinggi, apakah tidak akan mendatangkan malu karena araknya pasti akan tumpah semua begitu gadis ini melepaskan pegangannya?

“Siocia terlampau sungkan. Terlalu besar kehormatan ini bagi saya…” Kwee Seng menerima cawan sambil mengerahkan tenaganya sehingga ketika Lu Sian melepas cawan itu, arak yang terlalu penuh tetap melengkung di atas cawan tanpa tumpah sedikit pun juga.

Akan tetapi jantung Kwee Seng berdegup keras. Ketika ia menerima cawan tadi, jari tangannya bersentuhan dengan kulit tangan yang halus sekali, sementara itu hidungnya mencium bau harum semerbak yang luar biasa, bau harum bermacam bunga yang baru sekarang ia menciumnya karena tadi ia terlampau terpesona oleh kecantikan Lu Sian. Ia tadi sudah berhati-hati sekali, sebagai seorang yang sopan, agar jari tangannya tidak menyentuh jari gadis itu, akan tetapi toh bersentuhan juga, maka ia tahu bahwa gadis itulah yang sengaja menyentuhkan tangannya!

Berbarengan dengan datangnya degup jantung mengeras dan ganda harum yang memabokkan otak, timbul hasrat hati Kwee Seng untuk memamerkan kepandaiannya pula di depan gadis jelita yang berlagak ini. Ia segera menuangkan arak ke dalam mulutnya, mengangkat cawan tinggi ke atas mulut dan menuangkannya. Akan tetapi, sampai cawan itu membalik, araknya tetap tidak mau tumpah ke dalam mulut! Arak itu seakan- akan sudah membeku di dalam cawan!

“Ah, maaf… maaf… saya memang tidak bisa minum arak baik!” kata Kwee Seng sambil menurunkan lagi cawannya. Tiba-tiba ia membuka sedikit mulutnya dan dari cawan yang sudah berdiri lagi itu tiba-tiba meluncur arak seperti pancuran kecil menuju ke atas dan langsung memasuki mulutnya hingga cawan itu menjadi kering!

“Wah, kehadiran Kwee-kongcu benar-benar menggembirakan. Kalau tadi secawan arak untuk penghormatan kami, sekarang kuharap kongcu sudi menerima secawan lagi, khusus dariku!” kata pula Lu Sian sambil menuangkan lagi arak ke dalam cawan kosong, kali ini lebih penuh dari pada tadi, lalu memberikannya kepada Kwee Seng.

Seketika terbelalak mata Kwee Seng. Kedua pipinya menjadi merah dan sinar matanya berkilat. Lenyap seketika pesona yang menguasai dirinya. Gadis ini benar-benar terlalu liar, aneh, dan ganas! Ia melihat betapa tadi dari tangan gadis itu berkelebat sinar putih memasuki cawan dan sebagai seorang pendekar sakti, ia maklum apa artinya itu. Arak kali ini dicampuri semacam obat bubuk yang biar pun sedikit sekali, namun ia dapat menduga tentu amat hebat akibatnya kalau terminum olehnya. Ia tahu bahwa gadis ini tidak sengaja mencelakakannya, hanya untuk menguji, akan tetapi cara ujian yang amat berbahaya!

“Nona terlalu menghormat…!” jawabnya dan ia menerima cawan itu. Begitu cawan diterimanya, ia berseru, “Ah, nona terlalu banyak mengisi araknya…!” dan tiba-tiba, biar pun cawan itu dipegangnya lurus-lurus, isi cawan berhamburan ke luar dan tumpah semua sampai habis. Anehnya, tangan Kwee Seng yang memegang cawan sama sekali tidak basah karena arak itu tumpahnya ‘melayang’ ke depan dan sebaliknya malah membasahi sebagian celana dan sepatu si jelita!

“Ah, maaf.. maaf..!” kata Kwee Seng sambil menjura penuh hormat.

“Kwee-kongcu terlalu merendah…!” Sepasang pipi Lu Sian menjadi merah sekali dan kilatan matanya membayangkan kemarahan ketika ia menjura dan mengundurkan diri kembali ke bangkunya sambil mengusap noda arak dengan sapu tangannya.

Peristiwa aneh ini hanya disaksikan oleh beberapa orang tamu kehormatan yang duduk berdekatan, akan tetapi para tamu yang jauh tidak melihat jelas, dan hanya mengira bahwa pemuda pelajar itu amat canggung sehingga menumpahkan arak yang disuguhkan orang kepadanya. Namun banyak yang merasa iri hati melihat betapa Si Bidadari sampai dua kali memberi suguhan arak kepada pemuda lemah itu.

“Ha-ha-ha, lama tak jumpa, kau makin hebat, Kwee-hiante! Mari, mari kita minum sampai mabok!”

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong mengajak pemuda itu menghadapi meja penuh hidangan.

“Liu-enghiong tentu maklum bahwa aku tidak biasa minum arak lebih dari tiga cawan,” bantah Kwee Seng.

“Ha-ha-ha! Ocehan burung yang tak patut didengar! Aku percaya, biar pun habis tiga guci, orang macam kau mana bisa mabok? Ha-ha-ha marilah, tak usah sungkan. Kita orang sendiri!”

Karena sikap tuan rumah ini setulus hatinya, Kwee Seng terpaksa melayani. Ia maklum betapa suara tuan rumah yang keras ini terdengar semua orang dan ia sudah melihat sinar mata iri dilempar orang ke arahnya, terutama kaum mudanya. Ia memang tidak suka minum arak terlalu banyak, akan tetapi kali ini hatinya sedang rusak dan kacau.

Harus ia akui bahwa ia tertarik oleh kecantikan Liu Lu Sian yang luar biasa, dan ia tahu bahwa hatinya sudah siap mengaku cinta. Seorang dewa sekali pun akan jatuh hati berhadapan dengan Lu Sian! Akan tetapi di samping perasaan yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya, terselip rasa nyeri yang membuat hatinya perih, yaitu kenyataan bahwa gadis yang menjatuhkan hatinya ini memiliki watak yang liar dan ganas, sama sekali berlawanan dengan pendiriannya.

Karena perasaan yang bertentangan antara perasaan cinta dan benci inilah maka Kwee Seng menjadi seperti orang nekat dan ia menerima terus setiap kali Pat-jiu Sin-ong menyuguhkan arak. Sebentar saja ia sudah minum arak tua belasan cawan banyaknya!

“Lu Sian, hayo kau gembirakan hati para tamu kita dengan tarian pedang!” tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong berseru memerintah puterinya sambil tertawa-tawa karena tokoh ini pun sudah terpengaruh hawa arak.

Lu Sian tersenyum mengangguk, lalu bangkit berdiri dan dengan lenggang yang dapat mengayun hati para muda yang memandangnya, gadis ini ini berjalan menuju ke tengah panggung terbuka. Tepuk tangan riuh gemuruh menyambutnya. Lu Sian menjura dengan hormat sambil berseru, suaranya merdu nyaring mengatasi keriuhan tepuk tangan itu.

“Permainanku masih amat dangkal, harap cu-wi jangan metertawakan!” Setelah berkata demikian, Lu Sian menggerakan tangannya dan…. dalam pandangan mereka yang ilmu silatnya kurang tinggi, gadis itu tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan ke sana ke mari dibungkus sinar putih berkilauan bergulung-gulung dan berkilat-kilat.

Dari sana-sini terdengar seruan kagum, yang muda-muda kagum akan keindahan ilmu silat pedang yang benar-benar merupakan tarian luar biasa itu, ada pun golongan tua kagum karena mereka melihat di dalam gerakan yang indah ini tersembunyi kekuatan yang dahsyat. Setiap kelebatan pedang yang begitu indah tampaknya sebetulnya mengandung jurus maut yang tidak mudah dilawan. Dengan bukti kehebatan gadis ini makin tunduklah mereka akan kelihaian dan nama besar Pat-jiu Sin-ong.

Lu Sian sengaja mainkan Hwa-kiam-hoat (Ilmu Pedang Kembang) yang indah untuk memamerkan kepandaian dan kecantikannya. Ia bersilat sampai lima puluh jurus dan ketika berhenti di tengah panggung sambil berdiri tegak, ia tampak gagah dan cantik jelita, dengan sepasang pipi kemerahan karena denyut darahnya agak kencang setelah bersilat tadi. Bibirnya tersenyum-senyum, matanya yang tajam berseri-seri menyambut tepuk tangan yang seakan-akan hendak merobohkan panggung buatan itu. Akan tetapi begitu Lu Sian kembali duduk di tempatnya, berkelebatlah bayangan orang dan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun sudah berdiri di atas panggung.

Gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya menandakan bahwa ia seorang yang berkepandaian tinggi, sedangkan pakaian dan cara ia menggelung rambut ke atas menyatakan bahwa ia seorang pendeta To atau yang disebut tosu. Di punggungnya tergantung sebuah pedang. Tosu ini terdengar lantang suaranya setelah keadaan tadi kembali sunyi karena terhentinya tepuk tangan.

Sambil menjura ke arah Pat-jiu Sin-ong, tosu itu berkata, “Kauwcu (Ketua Agama), pinto (aku) Ang Sin Tojin dari Kun-lun-pai, merasa kagum akan kebesaran nama Pat-jiu Sin-ong, dan sengaja pinto diutus oleh ketua kami memberi selamat. Akan tetapi tidak nyana bahwa Kawcu dengan puteri Kauwcu menimbulkan hal-hal yang tidak baik! Kauwcu memamerkan kepandaian dan kecantikan puteri Kauwcu. Ada kabar hendak menggunakan kesempatan ini mencarikan jodoh bagi puteri Kauwcu, hal ini sudah sewajarnya. Akan tetapi mengapa banyak pemuda tidak berdosa yang tergila-gila kepada puteri Kawcu menemui kematian yang penuh penasaran?….”

“Sekarang Kauwcu tidak menyelidiki dan membikin terang perkara itu, malah Kauwcu menambah pengaruh agar para pemuda makin tergila-gila. Apakah sesungguhnya kecantikan yang gilang-gemilang seperti puteri Kauwcu? Kecantikan hanyalah timbul dari kelemahan batin melalui pandang mata, sesungguhnya palsu adanya. Kecantikan hanya terbatas sampai di kulit, namun siapa tahu isi hati yang tersembunyi di balik kecantikan. Pat-jiu Sin-ong, Pinto kehilangan seorang anak murid Kun-lun yang terbunuh secara tidak wajar, terpaksa mohon penjelasan!”

Seketika tegang keadaan di situ. Terang bahwa tosu ini menuntut kematian muridnya, dan sekaligus mencela keadaan Beng-kauw dengan adanya kematian tujuh orang pemuda dan mencela pula pameran kecantikan dan kepandaian Liu Lu Sian! Keadaan seketika menjadi sunyi karena semua orang menanti dengan hati berdebar.

Sambil tersenyum Pat-jiu Sin-ong berdiri dari bangkunya, akan tetapi tidak mendekati Ang Sin To Jin. Sambil bertolak pinggang ketua Beng-Kauw yang tinggi besar ini bertanya, “Tosu, Kau ini apanya Ang Kun Tojin?”

“Beliau adalah Suhengku dan Pinto hanyalah murid kedua dari Suhu.”

Pat-jiu Sin-ong tiba-tiba tertawa sambil menengadahkan mukanya ke atas. “Heh, Tosu mentah! Kau kira kematian bocah-bocah tolol itu adalah perbuatanku atau perbuatan anakku?”

“Pinto tak berani menuduh siapa pun juga, akan tetapi setidaknya peristiwa maut itu terjadi karena Kauwcu berhasrat memilih mantu karena kecantikan putrimu dan tentu dilakukan oleh seorang dari Beng-kauw! Karena itu ketuanya harus bertanggung jawab!”

“Ha-ha, bertanggung jawab bagaimana?”

“Kauwcu harus dapat menangkap pembunuh itu dan menghukumnya mati di depan kami semua. Kemudian Kauwcu lakukan pemilihan calon mantu yang tepat dan tidak banyak menimbulkan korban. Pilihlah mantu yang cocok, dan karena ini adalah urusan Kauwcu, terserah caranya, asal tidak dengan cara sekarang ini yang membikin gila banyak orang muda tak berdosa.”

“Wah, lagaknya! Kalau aku tidak menuruti permintaanmu itu, bagaimana?”

“Hmmmmm, kalau begitu, berarti Kauwcu tidak peduli akan kematian murid Kun-lun-pai yang menjadi tamu di sini, dan hal itu tentu saja Pinto tidak dapat tinggal diam saja!”

“Habis, kau mau apa, Tosu mentah?”

“Pinto terpaksa menuntut balas atas kematian murid, dan melupakan kebodohan, minta pelajaran dari Beng- kauwcu Pat-jiu Sin-ong!” Dengan tegak berdiri, Tosu itu siap menghadapi pertandingan.

“Tosu sombong, berani kau menghina ketua kami?” tiba-tiba Ma Thai Kun yang bertubuh jangkung kurus sudah melompat ke atas panggung, tangannya begerak memukul ke arah Ang Sin Tojin. Gerakan Ma Thai Kun cepat sekali sehingga kejadian yang tak tersangka-sangka itu tidak dapat ditunda lagi. Pukulannya hebat, mengeluarkan angin bersiutan dan menuju ke arah dada tosu Kun-lun-pai itu.

Ang Sin Tojin adalah murid kedua dari ketua Kun-lun-pai, Kim Gan Sianjin, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi dan karena itu pula ia tadi berani mengeluarkan tantangan terhadap ketua Beng-kauw. Kini melihat seorang tinggi kurus bermuka hitam telah berada di depannya dan mengirim pukulan maut, ia pun cepat menggerakkan tangannya menangkis, sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).

“Dukkkkk!” dua tangan mengandung tenaga sakti bertemu.

Ma Thai Kun masih berdiri setengah membungkuk, tubuhnya tidak bergoyang. Akan tetapi akibat benturan kedua lengan itu membuat Ang-sin Tojin terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah. Diam-diam tosu Kun-lun-pai ini terkejut bukan main. Harus diakui tenaga sakti Si Muka Hitam ini hebat sekali. Sungguh pun tidak sampai menyebabkan ia terluka parah, namun cukup menggempur kuda-kudanya dan membuat ia terhuyung-huyung.

“Ji-sute (Adik Seperguruan ke Dua), mundurlah! Siapa yang mencari perkara dengan aku dan anakku, biarlah aku menghadapinya sendiri!” Pat-jiu Sin-ong menegur adiknya.

Ma Thai Kun mendengus marah, lalu mengundurkan diri.

“Ang Sin Tojin, apakah kau masih tidak mau menarik kembali tuntutanmu?”

“Seorang laki-laki sekali bicara dipegang sampai mati!” jawab tosu itu dengan suara ketus.

“Ah, ah, benar-benar tosu Kun-lun-pai keras kepala. Eh, tosu mentah, kau tadi bilang kecantikan puteriku sebatas kulit. Apa artinya?”

“Pinto mengakui bahwa puteri Kauwcu cantik jelita dan pandai. Akan tetapi semua itu hanya sampai dikulit, hanya akibat pandangan mata lahir. Mata batin takkan dapat ditipu dan takkan silau oleh kecantikan. Mata batin mencari sampai ke dalam batin pula, mencari kebenaran yang sering tertutup oleh kepalsuan.”

Merah muka Pat-jiu Sin-ong, akan tetapi mulutnya masih tersenyum. “Anakku memang cantik, ini semua orang tahu. Kalau mata melihatnya tidak cantik sekali pun, yang salah bukan dia, melainkan matanya! Tosu mentah, lekas kau pulang ke Kun-lun-san, jangan mencari keributan di sini.”

“Kalau begitu, pinto minta pelajaran dari Beng-kauwcu!” kata tosu itu sambil mencabut pedangnya. Ia tadi sudah membuktikan betapa hebat sinkang dari Ma Thai Kun yang hanya merupakan adik seperguruan ketua Beng-kauw ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan pedang di tangan ia mengira akan dapat mengimbangi lawannya, karena memang Kun-lun-pai terkenal dengan kiam-hoat-nya (ilmu pedangnya).

“Kau menantangku?” Liu Gan bertanya, masih tersenyum. “Pinto siap!”
“Nah, terimalah ini!” Kedua tangan Pat-jiu Sin-ong bergerak. Begitu cepatnya gerakan kedua lengannya itu sehingga kedua tangan itu seakan-akan berubah menjadi delapan! Inilah agaknya maka ia mendapat julukan Pat-jiu (Lengan Delapan). Dalam segebrakan saja Ang Sin Tojin merasa seakan-akan ia diserang oleh delapan pukulan yang kesemuanya merupakan pukulan maut! Cepat ia menggerakkan tubuhnya dan memutar pedangnya melindungi diri.

“Plakk! Tranggg… aduhhh…!”

Hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana tosu itu sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya sudah terpukul, membuat pedangnya terpental dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada telinga dan mata kanannya. Ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter lalu meloncat lagi berdiri. Telinga kanan dan mata kanannya mencucurkan darah! Ternyata daun telinga kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan pelupuk mata kanannya pun robek!

“Tosu mentah! Mengingat akan suhengmu, Ang Kun Tojin, dan memandang muka terhormat Suhu-mu, Kim Gan Sianjin ketua Kun-lun, aku tidak mengambil nyawamu. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan matamu

yang salah lihat dan telingamu yang salah dengar. Hendaknya pelajaran ini membuka matamu bahwa Beng- kauw tidak boleh dibuat main-main oleh siapa pun juga! Nah, pergilah!”

Ang Sin Tojin maklum bahwa orang sakti di depannya ini bukan lawannya, bahkan suhu-nya, ketua Kun-lun-pai sendiri, belum tentu akan dapat menandinginya. Ia bukan seorang bodoh dan nekat. Tanpa banyak cakap ia memungut pedangnya, menjura dan berkata, “Pinto hanya dapat melaporkan kepada Suhu bahwa pinto gagal dalam tugas.” Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

Keadaan di situ sunyi sekali. Ketegangan mencekam dan suasana ini amat tidak enak. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan lalu tertawa dan menghadapi para tamunya. “Cu-wi yang terhormat, harap maafkan gangguan tadi. Nah, karena soal pemilihan calon mantu sudah disebut-sebut oleh tosu mentah tadi, terpaksa kami akui bahwa hal itu memang tidak salah. Cu-wi sudah melihat ilmu silat anakku yang rendah. Oleh karena itu, kalau ada di antara para muda gagah yang hendak memperlihatkan kepandaian, anakku akan sanggup melayaninya. Mereka yang dapat mengalahkan anakku Liu Lu Sian berarti lulus dan akan diadakan pemilihan di antara mereka yang lulus, kalau-kalau ada yang berjodoh menjadi mantukku. “Ha-ha-ha!” setelah berkata demikian dan menjura, ketua Beng-kauw ini duduk lagi di tempatnya.

“Eh, saudara muda Kwee, kau lihat tosu tadi, menjemukan tidak?” “Memang menjemukan! Semuanya menjemukan!” kata Kwee Seng.
“Ha-ha, urusan begitu saja jangan menghilangkan kegembiraan kita. Mari minum!” Keduanya lalu minum lagi dan keadaan di situ menjadi meriah pula.
Sementara itu, Liu Lu Sian sudah meloncat ke tengah panggung lagi setelah meninggalkan pedangnya di atas meja. Hal ini berarti bahwa ia hanya akan melayani pertandingan tangan kosong, tanpa mempergunakan senjata.

Ketika melihat gadis cantik itu sudah berdiri siap di tengah panggung, di antara para tamu muda timbullah suasana gaduh. Sebetulnya banyak sekali pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikan kecantikan gadis yang sudah terkenal itu dengan mata sendiri. Dan sekarang, setelah melihat Liu Lu Sian, hampir semua pemuda yang hadir di situ tergila-gila dan tak seorang pun yang tidak ingin memetik tangkai bunga segar mengharum ini. Akan tetapi, menyaksikan ilmu kepandaian Lu Sian dan kehebatan ayahnya, sebagian besar para muda itu sudah menjadi gentar dan tidak berani mencoba-coba.

Apalagi kalau mengingat akan pembunuhan-pembunuhan aneh di dalam rumah penginapan kemarin malam, mereka merasa ngeri dan membuat sebagian besar di antara mereka mundur teratur! Betapa pun juga, di antara mereka ada juga yang nekat karena mungkin tidak dapat menahan hatinya yang sudah runtuh oleh kecantikan Lu Sian.

Seorang pemuda berpakaian serba hijau dan yang duduknya di bagian bawah, berjalan dengan langkah lebar dan gagah ke arah panggung, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah meloncat ke atas panggung berhadapan dengan Lu Sian. Pemuda ini berwajah cukup ganteng, alisnya tebal dan matanya tajam, hanya mulutnya lebar membayangkan ketinggian hati. Dengan sikap gagah ia menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Liu Lu Sian sambil berkata, suaranya lantang. “Aku bernama Han Bian Ki, dikenal sebagai Siauw-kim-liong (Naga Emas Muda) di lembah sungai Min-kiang, ingin mencoba-coba kepandaian nona Liu yang gagah.”

Lu Sian melirik dan bibirnya melempar senyum manis sekali. Akan tetapi sesungguhnya melihat mulut yang agak lebar itu ia sudah merasa tidak senang kepada pemuda ini. Orang macam ini berani mau coba-coba, pikirnya. Apanya sih yang diandalkan? Tampangnya tidak menarik, dan melihat gerakan loncatannya, juga tidak banyak dapat diharapkan tentang ilmu silatnya.

“Han-enghiong, tak usah ragu-ragu. Mulailah!” katanya dengan suara dingin.

Han Bian Ki orangnya memang agak tinggi hati, mengandalkan kepandaian sendiri, dan ia amat ingin dapat menangkan nona manis yang semalam membuat ia tak dapat tidur pulas ini. Maka mendengar tantangan

orang, ia segera berseru keras dan menggerakkan tangannya, yang kiri mengirim pukulan ke arah lambung, pukulan pancingan karena yang benar-benar menyerang adalah tangan kanannya yang cepat mencengkeram ke arah pundak kiri Lu Sian dengan maksud menangkap gadis itu dan mencapai kemenangan dalam segebrakan saja.

Akan tetapi dengan gerakan indah sekali gadis itu mengelak tanpa menangkis. Gerakannya indah dan kelihatan lambat, namun toh serangan dua tangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Han Bian Ki merasa heran. Cepat ia mengirim pukulan bertubi-tubi dengan ke dua tangannya dengan maksud agar si nona suka menangkis. Andai kata ia tidak dapat menangkan nona ini, sedikitnya ia harus dapat merasakan kehalusan dan kehangatan lengan Si Gadis ketika menangkis pukulan-pukulannya! Sambil memukul bertubi-tubi ia mendesak dengan langkah-langkah cepat. Kali ini dia harus menangkis, pikirnya, kalau tidak tentu akan terdesak ke pinggir panggung.

Akan tetapi benar-benar Lu Sian tidak mau menangkis. Pukulan-pukulan keras yang mengeluarkan angin itu ia hindarkan dengan gerakan-gerakan pinggangnya, ke kanan kiri dan terpaksa ke dua kakinya melangkah mundur karena Si Pemuda terus mendesaknya. Benar seperti dugaan Han Bian Ki, akhirnya Lu Sian terdesak sampai ke pinggir panggung dan mundur tiga langkah lagi tentu akan terjengkang. Pemuda ini sudah menjadi girang. Sekali Si Gadis terjengkang ke bawah panggung, berarti ia menang! Cepat ia memperhebat pukulan- pukulannya sambil mengeluarkan seruan panjang.

Tiba-tiba gadis itu tertawa dan Han Bian Ki kebingungan karena ia tidak melihat gadis itu lagi. Tadi ia hanya melihat bayangan orang berkelebat dan bau harum menusuk hidung, membuat hatinya terguncang. Memang semenjak naik ke panggung ia mencium bau harum keluar dari arah gadis itu. Akan tetapi ketika melihat bayangan orang berkelebat, bau harum itu makin keras tercium dan sekarang tiba-tiba Lu Sian lenyap. Apakah sudah terjengkang ke bawah? Ia melangkah maju dan menjenguk ke bawah, akan tetapi tidak tampak apa- apa. Ketika ia mendengar gelak tawa para tamu, cepat-cepat ia membalikkan tubuh dan terlihat olehnya sang dara jelita sedang tersenyum mengejek!

Seorang yang rendah hati dan tahu diri tentu saja sadar bahwa ia kalah jauh dari gadis itu, akan tetapi Han Bian Ki yang tinggi hati tidak merasa demikian. Malah sebaliknya ia merasa penasaran sekali. Sambil berseru keras ia menerjang maju dengan serangan lebih hebat, kini malah menyelingi pukulan tangannya dengan tendangan kilat!

Lu Sian tertawa dan tubuhnya melejit-lejit seperti ikan di darat, berputar-putar seperti gasing namun semua pukulan dan tendangan lawan mengenai angin belaka. Seperti tadi, tiba-tiba gadis itu lenyap dengan cara melompati atas kepala lawannya yang kembali menjadi kebingungan. Watak Liu Lu Sian adalah manja dan gadis ini pun memiliki kesombongan, suka memandang rendah orang lain. Apalagi pemuda itu yang terang kalah jauh olehnya, segera menimbulkan rasa angkuh dan sombong dalam hatinya.

Setelah melompati kepala lawannya, gadis ini hinggap dan berdiri di tengah panggung. Sambil menanti lawannya yang kebingungan mencari-carinya, ia berkata, “Uhh, begini saja pemuda yang hendak mencoba kepandaianku? Kalau masih ada yang seperti dia, harap maju saja sekalian! Jangan khawatir, aku takkan tuduh kalian mengeroyok. Yang menang di antara kalian tetap dianggap menang. Hayo maju, agar aku tidak lelah, melayani kalian!”

Dua orang pemuda menyambut seruan Liu Lu Sian ini. Mereka ini adalah seorang pemuda yang tinggi besar dan berwajah buruk, seorang lagi adalah pemuda kurus kering, berwajah kekuningan seperti orang berpenyakitan. Dari dua jurusan mereka melompat ke atas panggung. Agaknya mereka ini menganggap bahwa sekarang terbuka kesempatan bagus bagi mereka untuk mencapai kemenangan!

“Saya Bhong Siat dari lembah Yang-ce!” kata Si Muka Kuning yang suaranya seperti orang berbisik atau kehabisan napas.

Makin muak rasa perut Liu Lu Sian menyaksikan majunya dua orang yang berwajah buruk ini. Memang ia sengaja menantang agar mereka maju sekaligus agar ia tidak usah berkali-kali menghadapi mereka seorang demi seorang. Pula, tantangannya ini merupakan akal untuk menilai mereka. Yang mau datang

mengeroyoknya manandakan seorang laki-laki pengecut dan yang tidak boleh dihargai sama sekali, perlu cepat ditundukkan sekaligus.

Han Bian Ki girang melihat majunya dua orang yang semaksud itu. Kini terbuka kesempatan pula baginya untuk mencari kemenangan, atau setidaknya tentu berhasil menyentuh kulit badan Si Nona atau beradu lengan. Maka ia tidak mau kalah semangat dan biar pun sudah sejak tadi ia dipermainkan, kini ia memperlihatkan sikap galak dan menerjang Liu Lu Sian dengan seruan nyaring.

Dua orang yang baru naik itu pun tidak membuang kesempatan ini, membarengi dengan serangan-serangan mereka karena mereka tahu bahwa serangan tiga orang secara berbarengan tentu akan lebih banyak memungkinkan hasil baik.

“Menjemukan…!” Liu Lu Sian berseru dan terjadilah penglihatan yang amat menarik.

Tiga orang pemuda itu menyerang dari tiga jurusan. Serangan mereka galak dan ganas, apalagi Si Muka Kuning Bhong Siat yang ternyata merupakan seorang ahli ilmu silat yang mempergunakan tenaga dalam. Pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan. Namun hebatnya, tak pernah enam buah tangan dan enam buah kaki itu menyentuh ujung baju Lu Sian.

Gadis itu dalam pandangan tiga orang pengeroyoknya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan seperti sambaran burung walet yang amat lincah. Dan dalam pertandingan kurang dari dua puluh jurus, terdengar teriakan-teriakan dan secara susul-menyusul tubuh tiga orang pemuda itu ‘terbang’ dari atas panggung, terlempar secara yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana. Mereka jatuh tunggang-langgang dan berusaha untuk merangkak bangun.

“Hemm, orang-orang tak tahu malu. Hayo lekas pergi dari sini!” terdengar suara keras membentak di belakang mereka dan sebuah lengan yang kuat sekali memegang tengkuk mereka dan tahu-tahu tubuh mereka seorang demi seorang terlempar ke luar. Tanpa berani menoleh lagi kepada Ma Thai Kun yang melemparkan mereka ke luar, tiga orang itu terus saja lari sempoyongan keluar dari halaman gedung.

Para tamu menyambut kemenangan Liu Lu Sian dengan tepuk tangan riuh rendah. Para muda yang tadinya ada niat untuk mencoba-coba, makin kuncup hatinya dan hampir semua membatalkan niat hatinya, menghibur hati yang patah dengan kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat menandingi nona yang amat lihai itu!

Akan tetapi ternyata masih seeorang laki-laki muda yang dengan langkah tegap dan tenang menghampiri panggung, kemudian dengan gerakan lambat melompat naik. Ketika kedua buah kakinya menginjak panggung, Lu Sian merasa tergetar kedua telapak kakinya, tanda bahwa yang datang ini memiliki lweekang yang cukup hebat. Ia menjadi tertarik, akan tetapi ketika mengangkat muka memandang, ia merasa kecewa.

Laki-laki ini sikapnya gagah dan pakaiannya sederhana. Mukanya membayangkan kerendahan hati dan kejujuran, namun sama sekali tidak tampan. Matanya lebar dan alisnya bersambung, sedangkan hidungnya terlalu pesek!

“Saya yang bodoh Lie Kung dari pegunungan Tai-liang. Sebetulnya saya tidak ada harga untuk memasuki sayembara, akan tetapi karena sudah sampai di sini dan saya amat tertarik dan kagum menyaksikan kehebatan ilmu silat Nona, perkenankanlah saya memperlihatkan kebodohan sendiri.” Kata-katanya merendah akan tetapi jujur dan sederhana.

Lu Sian tersenyum mengejek. “Siapa pun juga boleh saja mencoba kepandaian karena memang saat ini merupakan kesempatan. Nah, silakan saudara Lie maju!”

“Nona menjadi nona rumah dan seorang wanita, saya merasa sungkan untuk membuka serangan,” jawab Lie Kung.

“Hemm, kalau begitu sambutlah ini!”

Secara tiba-tiba Liu Lu Sian menyerang, pukulannya amat cepat, gerakannya indah akan tetapi bersifat ganas karena pukulan itu mengarah bagian berbahaya di pusar, merupakan serangan maut! Lie Kung berseru keras

dan kaget. Tak disangkanya nona yang demikian cantiknya begini ganas gerakannya. Maka cepat ia melompat mundur dan mengibaskan tangan, lalu menangkis dengan kecepatan penuh.

Lu Sian tidak sudi beradu lengan. Ia menarik kembali tangannya dan menyusul dengan pukulan tangan miring dari samping mengarah lambung. Sungguh merupakan terjangan maut yang amat berbahaya. Lie Kung ternyata gesit sekali karena dengan jungkir balik ia segera dapat menyelamatkan diri!

Tepuk tangan menyambut gerakan ini karena sekarang para tamu merasa mendapat suguhan yang menarik, tidak seperti tadi di mana tiga orang pemuda sama sekali tidak dapat mengimbangi permainan Liu Lu Sian yang gesit. Pemuda pesek ini benar-benar cepat gerakannya, walau pun tampaknya lambat dan tenang.

Setelah diserang selama lima jurus dengan hanya mengelak, mulailah Liu Lu Sian mengembangkan gerakannya untuk balas menyerang. Telah ia duga bahwa pemuda ini merupakan seorang ahli lweekang, dan ternyata benar. Pukulan pemuda ini berat dan antep, hanya sayangnya pemuda ini berlaku sungkan-sungkan, buktinya yang diserang hanya bagian-bagian yang tidak berbahaya.

Marahlah Lu Sian. Sikap pemuda yang hanya mengarahkan serangan pada pundak, pangkal lengan dan bagian-bagian lain yang tidak berbahaya itu, baginya diterima salah. Dianggap bahwa pemuda ini terlampau memandang rendah padanya, seakan-akan sudah merasa pasti akan menang sehingga tidak mau membuat serangannya berbahaya.

Setelah lewat tiga puluh jurus mereka serang-menyerang, tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara melengking tinggi yang mengejutkan semua orang. Gerakannya tiba-tiba berubah lambat dan aneh, pukulannya merupakan gerakan yang melingkar-lingkar.

“Bagaimana kau lihat pemuda itu?” Pat-jiu Sin-ong bertanya ketika ia melihat Kwee Seng menoleh dan menonton pertandingan, tidak seperti tadi ketika tiga orang pemuda mengeroyok Lu Sian.

Kwee Seng memandang acuh tak acuh. “Lumayan juga. Bakatnya baik dan kalau ia tidak terlalu banyak kehendak, ia dapat menjadi ahli lweekeh yang tangguh.”

“Ha-ha, kau lihat. Puteriku sudah mulai mainkan Sin-coa-kun ciptaanku yang terakhir. Pemuda itu takkan dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus!”

Diam-diam Kwee Seng memperhatikan. Ilmu silat Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti) memang hebat, mengandung gerakan-gerakan ilmu silat tinggi yang disembunyikan dalam gaya kedua tangan yang gerakannya seperti ular menggeliat-geliat dan melingkar-lingkar. Namun dalam ilmu silat ini terkandung sifat yang amat ganas, dan kembali sepasang alis pemuda ini berkerut saking kecewa. Sungguh sayang sekali, kecantikan seperti bidadari itu, dirusak sifat-sifat liar dan ganas, diisi ilmu yang amat keji.

Untuk mengusir kekecewaan yang menggeregoti hatinya, pemuda ini menuangkan arak sepenuhnya dan mengangkat cawan. “Minum biar puas!” lalu sekali tenggak habislah arak itu.

Pat-jiu Sin-ong tertawa bergelak dan minum araknya pula.

Ramalan Pat-jiu Sin-ong ternyata terbukti. Tepat sepuluh jurus setelah pemuda she Lie itu terdesak dan bingung menghadapi dua lengan halus yang seperti sepasang ular mengamuk, lehernya kena dihantam tangan miring. Ia mengaduh dan terhuyung-huyung ke belakang. Akan tetapi tepat pada saat lehernya dihantam, ia dapat mengibaskan tangannya hingga mengenai lengan Lu Sian.

“Plakk!” gadis itu menyeringai kesakitan, lengannya terasa panas sekali.

Biar pun ia sudah tahu bahwa pukulannya mengenai leher lawan dengan tepat, karena lengannya tertangkis tadi, Lu Sian menjadi marah dan cepat ia maju lagi mengirim pukulan yang agaknya akan menamatkan riwayat pemuda itu.

“Cukup…!!” tiba-tiba sesosok bayangan meloncat ke atas panggung dan dengan cepat menangkis tangan Lu Sian yang mengirim pukulan maut.

“Dukkk!” dua buah lengan tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Dengan kemarahan meluap-luap Lu Sian memandang orang yang begitu lancang berani menangkis pukulannya tadi. Ia membelalakkan matanya dan… tiba-tiba ia merasa seakan-akan jantungnya diguncang keras, kemarahannya lenyap dan ia terpesona. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang pemuda yang begini ganteng!

Rambutnya hitam tebal diikatkan ke atas dengan sehelai sutera kuning. Pakaiannya indah dan ringkas, membayangkan tubuhnya yang tegap berisi, dadanya yang bidang. Alisnya berbentuk golok, hitam seperti dicat, hidung mancung, mulut berbentuk bagus membayangkan watak gagah dan hati keras. Pendeknya, wajah dan bentuk badan seorang jantan yang tentu akan meruntuhkan hati setiap orang gadis remaja!

Seketika Lu Sian jatuh hatinya, akan tetapi mengingat perbuatan lancang pemuda ini, untuk menjaga harga dirinya, ia menegur juga, hanya tegurannya tidak seketus yang dikehendakinya. “Kau siapa, berani lancang turun tangan mencampuri pertandingan?”

Pemuda itu menuntun Lie Kung sampai ke pinggir panggung, menyuruhnya mengundurkan diri. Lie Kung menjura ke arah Liu Lu Sian lalu melompat turun, terus pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah itu baru pemuda yang membawa sebuah golok disarungkan dan digantungkan pada pinggangnya itu membalikkan tubuh menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata. “Maaf, Nona. Memang saya tadi berlaku lancang. Akan tetapi sekali-kali bukan dengan maksud hati yang buruk, hanya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sudah terlalu banyak jiwa melayang…. Ah, sayang sekali. Kunasehatkan kepadamu, Nona. Hentikan cara pemilihan suami seperti ini. Tiada guna! Dan kasihan kepada yang tidak mampu menandingimu. Nah, sekali lagi maafkan kelancanganku tadi!” Ia menjura dan hendak pergi.

“Eh orang lancang! Bagaimana kau bisa pergi begitu saja setelah menghinaku? Hayo maju kalau kau memang berkepandaian!” Lu Sian sengaja menantang karena hatinya sudah jatuh dan ingin ia menguji kepandaian laki- laki yang menarik hatinya ini. Kalau memang benar seperti dugaannya, bahwa laki-laki ini memiliki kepandaian tinggi seperti terbukti ketika menangkisnya tadi, ia akan merasa puas mendapat jodoh setampan dan segagah ini.

Kwee Seng memang tampan pula, tetapi terlalu tampan seperti perempuan, kalah gagah oleh pemuda ini. Dan biar pun ia tahu ilmu kepandaian Kwee Seng mungkin hebat, akan tetapi sikap pemuda itu terlalu halus, terlalu lemah lembut, kurang ‘jantan’!

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, kembali menjura kepada Lu Sian sambil berkata dengan suara perlahan. “Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang… akan tetapi… bukan beginilah caranya. Maafkan, Nona. Biarlah aku mengaku kalah terhadapmu!” Sambil melempar pandang tajam yang menusuk hati Lu Sian, pemuda itu hendak mengundurkan diri.

“Apakah engkau begitu pengecut, berani berlaku lancang tidak berani memperkenalkan diri? Siapakah kau yang sudah berani… menghinaku?”

Dimaki pengecut, pemuda itu menjadi merah mukanya. “Aku bukan pengecut! Kalau Nona ingin benar tahu, namaku adalah Kam Si Ek dari Shan-si.” Setelah berkata demikian, pemuda gagah bernama Kam Si Ek itu lalu meloncat turun dari panggung dan cepat-cepat lari ke luar dari halaman gedung.

Sampai beberapa saat lamanya Liu Lu Sian berdiri bengong di atas panggung, merasa betapa semangatnya seakan-akan melayang-layang mengikuti kepergian pemuda ganteng itu.

“Pat-jiu Sin-ong, kau baru saja kehilangan seorang calon mantu yang hebat!” Kwee Seng berkata sambil menyambar daging panggang dengan sumpitnya.

“Kau maksudkan bocah ganteng tadi? Siapakah dia? Namanya tidak pernah kudengar,” jawab Pat-jiu Sin-ong.

“Ha-ha-ha! Kam Si Ek adalah panglima muda di Shan-si dan hanya karena adanya pemuda itulah maka Shan- si terkenal sebagai daerah yang amat kuat dan membuat gubernurnya yang bernama Li Ko Yung terkenal. Cocok sekali dia dengan puterimu. Puterimu menjadi perebutan pemuda-pemuda, sebaliknya entah berapa banyaknya gadis di dunia ini yang ingin menjadi istrinya! Ha-ha-ha!” Terang bahwa Kwee Seng sudah mulai terpengaruh arak.

Memang sebetulnyalah kalau pemuda itu tadi mengatakan bahwa dia tidak bisa minum arak banyak-banyak. Akan tetapi karena kerusakan hatinya menghadapi cinta terhadap Liu Lu Sian berbareng kecewa, ia sengaja nekat minum terus tanpa ditakar lagi.

“Huh, apa artinya panglima bagiku? Dia memang tampan. Akan tetapi kalau disuruh memilih, aku memilih kau, Kwee Seng!”

Liu Lu Sian tersentak kaget dan membalikkan tubuh, masih berdiri di tengah panggung. Juga para tamu mendengar percakapan yang dilakukan dengan suara keras itu. Kini mereka memandang ke arah dua orang itu, terutama sekali Kwee Seng yang menjadi pusat perhatian.

Pemuda ini sudah bangkit berdiri, cawan arak di tangan kanannya. Hatinya berguncang keras ketika ia mendengar ucapan ketua Beng-kauw itu. Betapa tidak? Jelas bahwa Ketua Beng-kauw ini agaknya suka memilih dia sebagai mantu. Dan dia sendiri pun sudah jelas mencintai gadis jelita itu, hal ini tidak dapat ia bantah, seluruh isi hati dan tubuhnya mengakui.

Mau apa lagi? Tinggal mengalahkan gadis itu, apa sukarnya? Akan tetapi di balik rasa cinta, di sudut kepalanya di mana kesadarannya berada, terdapat rasa tak senang yang menekan kembali rasa cinta kasihnya dengan bisikan-bisikan tentang kenyataan betapa keadaan gadis itu dan keluarganya sama sekali tidak cocok, bahkan berlawanan dengan pendirian dan wataknya. Ia jatuh cinta kepada seorang dara yang berwatak liar dan ganas, sombong dan tinggi hati, licik dan keji, gadis yang menjadi puteri tunggal Ketua Beng- kauw yang sakti, aneh dan sukar diketahui bagaimana wataknya. Gadis yang menjadi sebab kematian banyak pemuda yang tak berdosa!

Kesadarannya membisikkan bahwa betapa pun ia mencintai gadis itu, cintanya hanya karena pengaruh kejelitaan gadis itu dan kalau ia menuruti cintanya yang terdorong nafsu, kelak akan tersiksa hatinya. Akan tetapi perasaannya membantah. Kalau ia boleh membawa pergi gadis itu bersamanya, mungkin ia bisa membimbingnya menjadi seorang isteri yang baik dan cocok dengan sifat-sifat dan wataknya.

“Lo-enghiong, jangan main-main!”

“Ha-ha, siapa main-main? Kwee-hiantit hanya kaulah yang agaknya pantas bertanding dengan puteriku. Hayo kau kalahkan dia, kalau tidak, anakku itu akan makin besar kepala saja dan para tamu tentu akan mengira aku hendak menang sendiri! Ha-ha-ha!”

“Hemmm, puterimu berkepandaian tinggi. Terus terang saja, aku pun ingin sekali menguji kepandaiannya. Akan tetapi… hemm, Lo-enghiong, harap jangan salah sangka. Dengan jujur aku mengaku bahwa puterimu telah menarik hatiku. Akan tetapi, perjodohan melalui pertandingan memang kurang tepat, yang perlu hati masing-masing. Bagaimana kalau aku naik ke panggung, tapi bukan untuk memasuki sayembara pemilihan jodoh, hanya sekedar main-main menguji kepandaian belaka?” Ucapan ini dilakukan perlahan tidak terdengar orang lain.

Akan tetapi Ketua Beng-kauw itu tertawa keras dan menjawab dengan suara keras pula. “Ha-ha-ha-ha! Aku mengerti, kau memang seorang yang teliti dan cermat, terlalu berhati-hati! Kalau menyalahi peraturan, berarti melanggar dan siapa melanggar harus didenda!”

Kwee Seng tertawa pula dan menenggak sisa araknya. “Dendanya bagaimana?”

“Kau harus menurunkan ilmu pukulan yang kau pergunakan untuk mengalahkan puteriku itu kepadanya.” “Aku tidak keberatan. Tapi dia harus ikut denganku ke mana aku pergi.”
“Boleh. Nah, orang muda, kau cobalah!”

Hati Liu Lu Sian sudah mendongkolkan sekali mendengarkan percakapan antara ayahnya dan pemuda pelajar yang kelihatan lemah lembut itu. Apalagi ketika ia melihat Kwee Seng berjalan menghampirinya dengan langkah sempoyongan dan mukanya yang berkulit putih halus itu kelihatan merah sekali, tanda-tanda seorang mabuk!

“Apakah Kwee-kongcu juga tidak mau ketinggalan dalam lomba pameran kepandaian?” Liu Lu Sian menegur dengan kata-kata dingin. Ternyata gadis ini masih mendongkol mengingat betapa tadi di depan ayahnya, Kwee Seng sudah membikin basah pakaiannya dengan arak, merupakan bukti bahwa dalam adu tenaga secara diam-diam itu pemuda ini sudah menang setingkat dari padanya.

“Cuma kali ini Kongcu sedang mabuk, tidak enak kalau aku mencari kemenangan dari seorang yang mabok!” dengan kata-kata ketus ini Liu Lu Sian hendak menebus rasa malunya tadi.

Kwee Seng tersenyum dan diam-diam mengagumi wajah yang demikian eloknya. Mulut yang biar pun menghamburkan kata-kata pedas dan pahit, namun tetap manis didengar. Matanya yang agak mabok itu seakan-akan lekat pada bibir itu. Sejenak Kwee Seng terpesona, tak dapat berkata apa-apa, tak dapat bergerak memandang ke arah mulut dara jelita di depannya. Ia hanya berdiri melamun….

Bibir merah basah menantang Bentuk indah gendewa terpentang Hangat lembut mulut juita
Sarang madu sari puspita Senyum dikulum bibir gemetar Tersingkap mutiara indah berjajar Segar sedap lekuk di pipi
Mengawal suara merdu sang dewi!

“Heh, kenapa kau melongo saja?” tiba-tiba Lu Sian membentak, lenyap sikapnya yang menghormat karena ia tak dapat menahan kejengkelan hatinya.

Kwee Seng sadar dari lamunannya. “Eh…, ohh… Nona, kau tahu, aku sebetulnya tidak ingin memasuki sayembara… dan aku… aku lebih suka bertanding dengan si pemilik tangan maut!” Sambil berkata demikian ia menoleh, matanya mencari-cari.

“Cukup! Tak perlu banyak bicara lagi Kwee-kongcu. Aku sudah mendengar bahwa kalau aku kalah, aku harus menjadi muridmu dan ikut pergi bersamamu!” kata pula Lu Sian dengan senyum mengejek. “Akan tetapi jangan kira akan mudah mengalahkan aku!” Setelah berkata demikian, gadis itu berkelebat cepat dan tahu- tahu ia sudah lari menyambar pedangnya yang terletak di atas meja dan secepat itu pula berkelebat kembali menghadapi Kwee Seng.

Pemuda itu tersenyum, senyum yang mengandung banyak arti, setengah mengejek dan setengah kagum. Begitu cepatnya gadis itu bergerak dan menyarungkan pedangnya dengan gerakan indah.

Lu Sian merasakan ejekan ini. Dengan gemas ia berkata,” Menghadapi seorang sakti seperti engkau ini, Kwee- kongcu, tidak bisa disamakan dengan segala cacing tanah tadi. Aku mengharapkan pelajaran darimu dalam menggunakan senjata!” Sambil berkata demikian gadis ini mencabut pedangnya dan tampaklah sinar berkelebat, putih menyilaukan mata.

“Lu Sian, mundurlah! Manusia ini terlalu sombong, biar aku mewakilimu memberi hajaran!” Tiba-tiba bayangan tinggi kurus melayang ke depan Kwee Seng dan sebuah lengan menyambar ke arah dada pemuda itu.

“Wutttt!” Kwee Seng miringkan pundaknya dan pukulan yang hebat itu lewat cepat.

“Hemm, aku senang sekali melayanimu!” kata Kwee Seng dan jari telunjuknya menotok ke arah pergelangan tangan yang lewat di sampingnya.

Akan tetapi secepat itu pula Ma Thai Kun sudah menarik kembali lengannya sehingga dalam dua gebrakan ini mereka berkesudahan nol-nol atau sama cepatnya.

“Ji-sute, mundur kau!” kembali Liu Gan berseru keras, matanya melotot marah.

Ma Thai Kun tidak berani membantah perintah suheng-nya dan ia mundurkan diri dengan kemarahan di tahan- tahan.

“Orang She Kwee, kau terlalu sombong. Lihat pedangku!” bentak Liu Lu Sian sambil menggerakan pedangnya dengan cepat.

Pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang membuat lingkaran-lingkaran lebar, makin lama lingkaran itu makin lebar mengurung tubuh Kwee Seng. Namun pemuda ini hanya menggerakkan sedikit tubuhnya dan selalu ia terhindar dari kilat yang berpencaran ke luar dari sinar pedang itu.

“Lu Sian, jangan pandang ringan dia! Gunakan Toa-hong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Badai)!” seru Liu Gan dengan suara gembira, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.

Begitu gebrakan pertama dan selanjutnya secara cepat berlangsung, Lu Sian sudah mengerti bahwa Kwee Seng ini benar-benar amat lihai. Pedangnya yang menyambar-nyambar seperti hujan cepatnya itu ternyata dapat dielakkan secara aneh dan sama sekali tidak tampak tergesa-gesa, seakan-akan semua gerakannya ini masih terlampau lambat bagi Kwee Seng.

Oleh karena ini, begitu mendengar seruan ayahnya, ia segera mengerahkan tenaga dan berlaku hati-hati. Cepat ia mainkan ilmu pedang ajaran ayahnya, yaitu Toa-hong Kiam-hoat. Gadis ini mengerti bahwa kali ini ia tidak saja harus menjaga harga dirinya, melainkan juga menjaga muka ayahnya.

Diam-diam Kwee Seng kaget dan kagum melihat perubahan ilmu pedang gadis itu yang kini menderu-deru seperti angin badai mengamuk. Tidak percuma ketua Beng-kauw mendapat julukan Pat-jiu Sin-ong, dan tidak percuma pula gadis itu menjadi puteri tunggalnya karena ilmu pedang ini amat cepat, hebat dan berbahaya sehingga tak mungkin dihadapi mengandalkan kecepatan belaka.

Pemuda sakti ini maklum pula bahwa Pt-jiu Sin-ong seorang yang amat licik dan aneh. Tentu sekarang Ketua Beng-kauw itu menyuruh anaknya mengeluarkan ilmu pedang simpanan agar terpaksa ia mengeluarkan ilmunya yang sejati pula untuk mengalahkan Lu Sian. Kwee Seng maklum pula bahwa janji untuk menurunkan ilmunya yang mengalahkan Lu Sian, adalah janji yang amat licik dari Pat-jiu Sin-ong, yang membayangkan sifat loba seorang ahli silat yang ingin sekali menguasai seluruh ilmu yang paling sakti di dunia ini.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo