September 24, 2017

Suling Emas Naga Siluman Part 9

 

Ditanya seperti itu, tentu saja jantung dara itu berdebar dan mukanya berubah merah sekali. Akan tetapi dia adalah keturunan orang gagah yang sejak kecil mengutamakan kegagahan, maka cepat dia membuang rasa malu itu dan memandang wajah pria yang menjadi ayahnya itu dan menjawab, “Aku tidak tahu bahwa dia adalah seorang jenderal muda, lebih tidak tahu lagi bahwa dia putera seorang pendekar sakti dan cucu seorang jenderal terkemuka. Pada waktu itu aku hanya mengenalnya sebagai seorang pemburu muda, Ayah.”

“Tidak peduli tentang itu, yang penting, apakah benar bahwa kalian saling mencinta?” “Aku…. aku cinta padanya…. Ayah.”
“Dan dia? Apakah dia juga cinta padamu?”

“Kukira begitulah.”

“Ehhh, bagaimana ini? Cinta orang tidak, anak baik. Apakah engkau tidak yakin benar bahwa dia cinta padamu?”

“Aku yakin.”

“Lalu mengapa engkau mengira-ngira saja? Apakah dia sudah menyatakan cintanya kepadamu dengan jelas, melalui kata-kata?”

Dara itu menggeleng. “Habis bagaimana? Ayah, perlukah kujelaskan hal ini? Seorang wanita akan dapat mengetahui apakah pria itu mencintanya ataukah tidak, melalui sinar matanya, melalui senyumnya, melalui suaranya, dan…. dan…. pendeknya aku yakin dia pun cinta padaku, Ayah.”

“Hemmm…. kita tidak boleh ceroboh, Anakku. Sekali aku, Ayahmu ini, mengajukan perjodohan, haruslah diterima oleh pihak sana, karena kalau tidak, hal itu akan dapat menimbulkan kesan yang menghina, kecuali kalau pihak sana mengemukakan dua alasan, yaitu pertama, bahwa putera mereka tidak cinta atau jika dia sudah bertunangan dengan orang lain. Oleh karena itu, sebelum aku menemui Naga Sakti Gurun Pasir, hal yang selama hidupku belum pernah kuimpikan, aku harus yakin dulu bahwa pihak sana akan menerima.”

“Jadi engkau mau mengurus perjodohan anak kita?” tanya Nandini dengan girang.

“Tentu saja, itu sudah menjadi kewajibanku. Semenjak Siok Lan kecil, aku tidak pernah memperlihatkan kasih sayang sebagai seorang ayah, maka kini aku berkesempatan membuktikan sayangku kepada anak.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Kita bersama pergi ke kota raja! Ya, kita semua, aku, Siok Lan, dan kalian bertiga. Kalau memang kalian bertiga sudah bertekad untuk hidup bersamaku, suka duka ditanggung berempat, mari kalian ikut bersamaku ke kota raja. Di sana, biar Siok Lan bertemu dengan jenderal muda itu dan memperoleh ketegasan bahwa dia memang mencinta anak kita dan bahwa jenderal muda itu belum terikat jodoh dengan orang lain. Setelah ada ketentuan ini, barulah aku akan pergi menghadap pendekar sakti itu.”

“Baik, Ayah, aku setuju,” kata Siok Lan yang maklum akan maksud ayahnya itu.

“Hemm, belum mau turun jugakah kamu yang berada di atas sejak senja tadi?” tiba-tiba orang she Bu itu berseru sambil memandang ke atas.

Ci Sian mendengar semua urusan yang dibicarakan di bawah itu dan hatinya terasa semakin berduka. Sambil menahan isak dia hendak meloncat turun, maka ketika tiba-tiba dia mendengar suara pria yang sesungguhnya adalah ayah kandungnya sendiri itu, dia seperti didorong saja dan cepat dia melayang turun dari atas genteng.

“Ada orang! Dan kau sudah mengetahui sejak tadi, mengapa diam saja?” Tang Cun Ciu berteriak dan wanita ini sudah berkelebat keluar melalui jendela untuk melakukan pengejaran.

Khawatir kalau kekasihnya yang berhati keras dan berwatak ganas itu akan melakukan sesuatu yang lancang, Bu Seng Kin mengejar dan dua orang wanita lain bersama Siok Lan juga melakukan pengejaran.

Keadaan di luar malam itu ternyata cukup terang karena bulan tersenyum di atas, seolah-olah mentertawakan ulah manusia-manusia di dunia ini. Tidak ada segumpal pun awan menghalangi senyumnya sehingga keadaan cukup terang. Nampaklah bayangan Ci Sian berlari-lari meninggalkan puncak itu, dikejar oleh mereka semua.

Pengejar Ci Sian itu adalah orang-orang yang tinggi ilmunya, maka sebentar saja Ci Sian tersusul, apalagi karena memang dara ini tidak ingin berlomba lari. Dia terpaksa menghentikan larinya dan berdiri tegak menanti orang-orang yang mengejarnya itu. Diam-diam ia lalu mengerahkan tenaga dan ilmunya, terdengar suara melengking tinggi dari mulutnya yang menggetarkan seluruh keadaan sekeliling tempat itu. Mendengar suara ini, Bu Seng Kin mengeluarkan seruan heran, demikian pula Tang Cun Ciu karena mereka berdua mengenal khikang yang tinggi dan aneh.

Dan ketika mereka semua tiba di depan dara yang berdiri tegak itu, mereka terbelalak kaget melihat betapa banyak ular berdatangan dari segenap penjuru dan sekarang mengelilingi tempat di mana dara itu berdiri, seolah-olah merupakan pasukan pengawal yang melindungi dara itu. Sedikitnya ada seratus ekor ular besar kecil berada di situ dan dari jauh masih nampak beberapa ekor ular bergerak datang. Agaknya semua ular yang berada di puncak dan sekitarnya telah memenuhi panggilan dara pawang ular itu!

Tang Cun Ciu merasa seperti mengenal dara itu, akan tetapi begitu melihat Ci Sian, Nandini dan Siok Lan berseru heran.

“Ci Sian….!” Nandini berseru.

“Sian-moi, engkau di sini? Mengapa engkau di sini dan mengapa engkau melakukan pengintaian? Singkirkan ular-ularmu itu, Sian-moi, kita bukanlah musuh!”

Akan tetapi dengan sikap dingin Ci Sian lalu berkata, “Pergilah kalian semua, aku tidak butuh dengan kalian semua. Pergi….!”

“Omitohud, bocah siluman ini berbahaya!” kata Gu Cui Bi yang merasa ngeri melihat begitu banyak ular yang seakan-akan melindungi dara itu.

“Hemm, tak semudah itu, Nona!” Bu Seng Kin membentak. Dia tidak ingin mengganggu nona muda itu, akan tetapi dia tahu bahwa nona muda inilah orang pertama yang mendatangi pondoknya dan sejak tadi mengintai.

“Dia ini yang siang tadi berkeliaran menanyakan tempat tinggalmu!” Gu Cui Bi berseru dan Bu Seng Kin merasa makin curiga, lalu dia bergerak maju hendak menangkap dara itu. Tetapi Ci Sian mengeluarkan suara melengking nyaring dan ular-ularnya bergerak menyerang semua orang itu!

Terdengar jerit-jerit karena jijik, akan tetapi wanita-wanita yang lihai itu tentu saja tidak mudah menjadi korban ular dan mereka pun mengelak dan menendang atau menginjak ular-ular itu. Ci Sian sendiri mengamuk, menyerang orang yang berani mendekatinya dan karena yang berani menyerangnya adalah Tang Cun Ciu dan Bu Seng Kin, maka dia menerjang dua orang ini dengan kemarahan meluap-luap! Dara ini mengeluarkan seluruh ilmunya yang dipelajarinya dari See-thian Coa-ong. Akan tetapi dia berhadapan dengan Cui-beng Sian-li Tang Cu Ciu dan Bu-taihiap yang memiliki ilmu silat tinggi, maka tentu saja dia terdesak hebat dan ular-ularnya pun banyak yang mati. Bahkan kalau saja Bu Seng Kin menghendaki, tentu dalam waktu singkat dia yang dikeroyok dua itu akan roboh.

Akhirnya, semua ularnya mati dan Ci Sian yang melihat ini merasa begitu marah dan berduka sehingga dia menjerit dan tidak dapat mengelak ketika tangan Cui-beng Sian-li menampar ke arah lehernya. Melihat serangan dahsyat yang mengancam nyawa dara muda itu, Bu Seng Kin cepat menyentuh lengan kekasihnya itu sehingga menyeleweng dan hanya mengenai pundak Ci Sian, namun cukup membuat Ci Sian roboh terguling dalam keadaan pingsan karena selain terkena tamparan itu, juga dara ini menderita tekanan batin yang hebat sejak dia tiba di pondok itu.

Tang Cun Ciu memiliki watak yang sangat keras. Melihat betapa tamparannya disentuh oleh kekasihnya sehingga menyeleweng dan hanya mengenai pundak, hatinya tidak puas sekali. “Budak siluman ini harus dibunuh!” Dan dia pun sudah mengirim pukulan lagi ke arah tubuh yang sudah tidak bergerak itu.

“Cun Ciu, jangan….!” Bu Seng Kin mencegah dan dia pun bergerak maju mengulur tangan untuk mendahului wanita itu, menyelamatkan nyawa dara itu.

“Dukkkk!”

Tiba-tiba ada sesosok bayangan berkelebat, sebuah lengan menangkis tangan Cun Ciu dan Bu Seng Kin sekaligus. Pendekar sakti dan kekasihnya yang juga berilmu tinggi itu terkejut bukan main sebab tangkisan lengan itu membuat mereka terdorong ke belakang sampai terhuyung! Ketika mereka memandang ke depan, sudah tidak ada apa-apa lagi di situ kecuali bangkai seratus lebih ular-ular mati. Tubuh dara muda yang tadi menggeletak pingsan itu pun telah lenyap!

“Ehh, ke mana dia….?” Bu Seng Kin berseru kaget.

“Aku hanya melihat bayangan berkelebat,” kata Gu Cui Bi, nikouw itu.
Nandini dan Siok Lan juga melihat berkelebatnya bayangan hitam dan mereka pun tidak melihat ke mana
perginya Ci Sian yang tadi terpukul roboh.

“Ahh…. telah muncul seorang yang memiliki kepandaian luar biasa hebatnya!” seru Bu Seng Kin dengan nada suara penuh kagum dan juga khawatir. “Mudah-mudahan saja dia tidak salah paham, bukan maksud kita untuk mencelakai dara itu. Sungguh heran, siapakah dara itu, dan mengapa ia datang ke sini?”

“Ayah, dia bernama Ci Sian dan….”

“Ah, aku ingat sekarang! Dia adalah gadis murid See-thian Coa-ong itu! Ya benar, gadis yang…. ahhh, sekarang aku mengerti mengapa dia datang ke sini. Apakah engkau tidak sempat melihat wajahnya, Kin- koko?” Tokoh wanita Lembah Suling Emas ini menyebut kekasihnya Kin-koko, sebutan yang mesra.

“Tidak, aku tidak begitu memperhatikan wajahnya.”

“Dia serupa benar dengan mendiang Sim Loan Ci, isterimu….!”

“Ahhh….! Benar, dia Anakku sendiri! Bu Ci Sian, aihh, kenapa aku bisa melupakan dia?” Sekali berkelebat, tubuh pendekar ini sudah lenyap.

Ketiga orang kekasihnya hanya mengangkat pundak, maklum bahwa agaknya pendekar itu hendak melakukan pengejaran terhadap puterinya yang lenyap dibawa orang itu. Mereka lalu kembali ke dalam pondok.

Tak lama kemudian Bu Seng Kin memasuki pondok dengan wajah muram. Dia kelihatan kecewa dan menyesal sekali. “Dia lenyap tak berbekas. Orang yang membawanya sungguh memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Mungkinkah gurunya, See-thian Coa-ong yang membawanya pergi?”

“Tidak mungkin. Aku pernah bertanding melawan kakek itu dan biar pun terus terang saja aku tidak mampu mengalahkan dia, akan tetapi sebaliknya dia pun tidak dapat mengalahkan aku. Sedangkan tangkisan tadi bukan main kuatnya, jauh lebih kuat dari pada tenaga Raja Ular itu,” kata Tang Cun Ciu.

Bu Seng Kin menjatuhkan diri duduk di atas bangku sambil menarik napas panjang, nampaknya dia menyesal bukan main. “Dan dia sudah sejak tadi mengintai di atas, kudiamkan saja. Ahh, dia telah mendengar semuanya, tahu akan kematian ibunya, tentu dia merasa berduka, kecewa dan menyesal sekali. Ah, mengapa tidak dari tadi kusuruh dia turun?”

“Hemm, sesal kemudian tiada gunanya! Semua adalah salahmu sendiri. Karena itu, Bu Seng Kin, kau bertobatlah dan mintalah ampun atas semua dosa-dosamu. Semua yang terjadi adalah karena kesalahanmu sendiri, maka sekarang engkau memetik buah dari pohon yang kau tanam sendiri. Omitohud….!” Nikouw Gu Cui Bi berkata dengan nada menegur.

Pendekar itu hanya menarik napas panjang. Kemudian Gu Cui Bi, wanita nikouw itu, menggandeng tangan Nandini dan berkata, “Marilah Nandini Cici, engkau dan puterimu sebaiknya ikut bersamaku, bermalam di kuilku yang cukup luas, tidak seperti gubuk ini yang terlalu sempit.”

Nandini mengangguk dan bersama Siok Lan dia lalu bangkit dan berjalan menuju ke pintu bersama nikouw itu. Setibanya di pintu, nikouw itu berhenti dan menengok, lalu memandang ke arah Bu Seng Kin yang nampak bingung dan kepada Tang Cun Ciu yang duduk tenang saja di atas bangku, lalu berkata kepada pendekar itu, “Bu Seng Kin, kalau malam nanti engkau tidak datang ke kuil menengok Cici Nandini, berarti engkau seorang laki-laki yang selain tidak punya budi juga tidak adil sama sekali dan tidak pantas mempunyai tiga orang isteri.” Setelah berkata demikian, dia lalu pergi bersama Nandini dan Siok Lan.

“Hemm, jangan khawatir, aku tentu akan datang menengokmu, Cui Bi.”

“Bukan aku, melainkan Cici Nandini!” teriak nikouw itu dari luar, tetapi yang terdengar hanya suara tawa pendekar itu disusul padamnya lampu di dalam pondok itu!

“Sialan, dasar laki-laki mata keranjang!” Cui Bi Nikouw itu mengomel dan melanjutkan perjalanannya bersama Nandini dan puterinya.

Dua orang ini segera dapat akur karena mereka berdua maklum bahwa di antara tiga orang kekasih Bu Seng Kin, kepandaian Tang Cun Ciu paling tinggi dan mereka berdua masing-masing bukanlah tandingan wanita tokoh Lembah Suling Emas itu. Oleh karena itu, mereka segera saling mendekati karena kalau mereka maju berdua, kiranya mereka akan mampu menandingi Cun Ciu! Pula, biar bagaimana rindu hati mereka terhadap Bu Seng Kin, kalau harus bermalam bersama-sama di pondok yang kecil itu, tentu saja mereka merasa malu, apalagi di situ terdapat Siok Lan.

Sementara itu, diam-diam Seng Kin menjadi bingung dan mengeluh sendiri karena dia tahu bahwa bagaimana pun juga, malam itu harus mengunjungi kuil di mana dia tidak tahu bagaimana dia harus melayani tiga orang wanita yang seperti tiga ekor harimau betina yang kelaparan itu! Lempoh…..

********************

Ci Sian merasa terapung-apung di angkasa gelap. Dia melihat seorang pria, ayah kandungnya, bersama seorang wanita yang tidak begitu jelas air mukanya, berjalan di sebelah depan, seperti melayang-layang. Ibunya, pikirnya. Itulah ibunya yang berjalan bersama ayahnya. Tetapi tiba-tiba ayahnya melihat ke depan dan berlari meninggalkan ibunya, mengejar banyak sekali wanita-wanita yang tertawa-tawa genit. Ibunya lalu terhuyung dan terjatuh, melayang turun dari angkasa! Dia terkejut sekali, berusaha hendak lari mengejar sambil menjerit, “Ibu…. Ibu….!” Akan tetapi dia pun tergelincir dan jatuh tergelincir.

“Ibu….!”

Sebuah tangan yang halus menjamah dahinya yang berkeringat dan agak panas.

“Ibu….,“ Ci Sian mengeluh lirih dan tangan yang halus itu mengusap rambut di atas dahinya, dia merasa nyaman dan tidak begitu pening lagi, lalu tertidur kembali, sekali ini tanpa mimpi.

Tak jauh dari situ nampak api unggun bernyala memberi cahaya yang cukup terang dan ternyata bahwa dara itu rebah di dalam sebuah goa yang besar, bertilamkan rumput kering dan berselimutkan jubah panjang. Seorang pria duduk bersila di dekatnya dan setelah dara itu tidur pulas, pria itu memejamkan mata sambil terus bersila sampai pagi.

Pada keesokan harinya, ketika sinar matahari kemerahan telah mulai memasuki goa itu dari samping, Ci Sian mengeluh panjang kemudian membuka matanya. Dia mengejap-ngejapkan matanya sebab silau oleh sinar merah yang menerobos masuk dan menimpa lantai dekat kepalanya, lalu dia terbelalak keheranan ketika melihat bahwa dia berada di sebuah goa yang diketahuinya karena melihat langit-langit batu itu. Lalu dia menoleh dan melihat seorang pria duduk bersila di sebelahnya, seorang pria yang berwajah tampan dan ramah, yang memandang kepadanya sambil tersenyum.

“Ah…. ahh…. aku…. aku masih mimpi….,“ Ci Sian mengejap-ngejapkan dan menggosok-gosok kedua matanya.

“Tidak, Ci Sian, engkau tidak mimpi,” kata pria itu dengan halus.

Ci Sian terbelalak, lalu bangkit duduk, memandang kepada pria itu. “Engkau…. engkau Paman Kam Hong….!”

Pria itu mengangguk dan tersenyum, lalu menambahi kayu bakar sehingga api unggun membesar karena hawa pagi itu amat dinginnya meski sinar matahari telah memasuki goa. Pria itu tentu saja dikenalnya baik- baik. Wajah itu tak pernah meninggalkan lubuk hatinya dan ternyata pendekar itu tidak berubah sama sekali setelah berpisah hampir lima tahun dengan dia! Masih seperti dahulu, tampan, pendiam dan tenang, begitu tenangnya!

“Tapi…. tapi…. mengapa aku di sini? Bukankah aku dikeroyok….”

“Engkau terlalu menuruti nafsu amarah dan engkau pingsan, maka kubawa lari ke tempat ini, Ci Sian.”

Setelah merasa yakin bahwa dia tidak mimpi, tiba-tiba saja Ci Sian menutupi mukanya. Tidak terdengar isaknya, hanya pundaknya terguncang dan di antara celah-celah jari kedua tangannya mengalir air mata. Dia menangis! Akan tetapi dasar hatinya keras, dia menahan tangisnya sehingga tidak mengeluarkan bunyi.

“Kalau engkau sedang merasa berduka, kecewa dan penasaran, menangislah, Ci Sian, menangislah, tidak ada yang mendengarmu di sini,” kata Kam Hong yang memandang dengan penuh iba.

Ci Sian menggeleng kepala dengan kedua tangan masih menutupi mukanya. “Aku tidak mau menangis! Aku tidak mau menangis! Mereka…. mereka telah membunuh semua ular itu….!” Dan kembali dia menunduk dan air matanya menetes-netes.

“Karena itu, lain kali janganlah sembarangan minta bantuan ular-ular untuk menghadapi lawan, Ci Sian. Apa sih kekuatan ular-ular itu kalau menghadapi orang pandai? Hanya bisa menakut-nakuti anak kecil saja dan sayang membuang nyawa ular-ular yang tidak bersalah apa-apa.”

Mendengar suara yang nadanya menegur ini, Ci Sian menurunkan kedua tangannya dan muka yang masih basah air mata itu dihadapkan kepada pendekar itu, sepasang mata yang masih merah basah itu memandang tajam. “Kau salahkan aku….?”

Kam Hong mengangguk. Sejenak Ci Sian memandang dengan penuh penasaran, akan tetapi akhirnya dia pun menangis, sekali ini mewek dan bersuara! “Kau…. kau malah memarahiku…. hu-hu-huuh, ahhh…. Ibuku telah mati…. Ayahku…. Ayahku…. aku benci Ayahku! Aku benci manusia itu, aku benci! Hu-huuh, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini….”

“Hemm, masih ada aku, Ci Sian.”

“Kau…. kau malah memarahiku…. hu-huuhh!”

Diam-diam Kam Hong merasa geli akan tetapi juga terharu sekali. Orang-orang yang sedang dikuasai perasaannya, baik itu perasaan terlalu girang, terlalu marah, atau terlalu duka, suka bersikap seperti kanak-kanak. Dara ini sekarang sudah dewasa, akan tetapi pada saat itu dikuasai oleh himpitan batin yang hebat. Perasaan kecewa, penasaran, marah dan duka menindihnya sehingga dia tidak mampu menguasai dirinya lagi dan bersikap seperti kanak-kanak, sungguh patut dikasihani. Maka dia pun lalu mendekati dan mengelus rambut kepala dara itu bagaikan sikap seorang paman yang menghibur seorang keponakannya yang masih nakal.

“Sudahlah, tenanglah, aku tidak marah padamu, Ci Sian, sama sekali tidak….”

Mendengar ucapan itu, dan merasa betapa tangan yang mengelus kepalanya itu amat lembut dan penuh perasaan sayang, Ci Sian menjerit lalu menyembunyikan mukanya pada dada pendekar itu, lalu menangislah dia sejadi-jadinya. Kam Hong membiarkan saja karena hal itu amat baik bagi Ci Sian. Kekuatan yang mendorong perasaan marah atau duka amatlah kuatnya dan kalau tidak disalurkan keluar melalui tangis, akan terpendam di dalam dan selain dapat meledak menjadi pelampiasan marah yang berbahaya, juga amat berbahaya bagi kesehatan dara itu sendiri.

Setelah menangis sesenggukan tanpa mengekangnya, akhirnya Ci Sian merasa dadanya lapang sekali. Dia teringat betapa dia menangis di atas dada Kam Hong dan membuat baju pendekar itu menjadi basah, maka cepat-cepat dia menjauhkan dirinya dan memandang kepada baju yang basah itu.

“Maaf, Paman…. aku telah membasahi bajumu.”

Kam Hong melihat bajunya dan tersenyum sabar. “Baju basah bisa dijemur, Ci Sian. Yang penting, engkau tidak menyimpan perasaan dalam batin lagi. Nah, mari kita bicara sekarang.”

Ci Sian mengerutkan alis dan menarik napas panjang. Terasa hawa yang disedotnya itu memenuhi paru- paru sampai ke pusar, dan terasa dadanya nyaman sekali. Mengertilah dia kini mengapa pendekar itu membiarkan dia menangis sepuasnya di dadanya tadi, dan dia merasa berterima kasih sekali.

“Aku sedih sekali mengingat nasib Ibuku, Paman. Aku tidak tahu mengapa Ibu dapat menjadi lemah begitu, padahal menurut penuturan Ayah…. ahhh, orang itu, Ibu adalah seorang pendekar wanita. Aku belum tahu jelas mengapa sampai meninggal dunia begitu mudah, hanya karena sakit-sakitan. Tubuh seorang pendekar wanita mana mungkin sakit-sakitan begitu?”

“Aku tahu, Ci Sian.”

“Ehh? Bagaimana kau tahu?”

“Kebetulan saja. Setelah membawamu ke sini, aku berjaga-jaga dan melihat Ayahmu itu….“ “Jangan sebut dia Ayahku lagi! Aku benci mempunyai Ayah macam dia!”
“Membenci bukanlah sikap bijaksana dalam hidup.” “Lanjutkan ceritamu, Paman, apa yang kau lihat dan dengar?”
“Ayahmu itu agaknya mencari-carimu, akan tetapi tanpa hasil dan diam-diam aku lalu membayanginya sebab aku ingin memperoleh keyakinan apakah benar kita tidak dikejar orang. Dan aku membayanginya sampai ke pondoknya di mana dia bicara dengan…. ehh, wanita-wanita yang menjadi isterinya itu dan dia menceritakan bahwa Ibumu yang bernama Sim Loan Ci itu menjadi lemah dan sakit-sakitan semenjak dia dan Ayahmu bertanding melawan gerombolan siluman di Sin-kiang yang terkenal dengan sebutan Hek-i- mo (Iblis Baju Hitam).”

“Siapakah itu Hek-i-mo?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi sudah kudengar nama mereka. Hek-i-mo adalah perkumpulan, atau lebih tepat dinamakan gerombolan yang merajalela di daerah Sin-kiang. Selain berpengaruh dan mempunyai hubungan dekat dengan penguasa, juga gerombolan itu lihai bukan main, dipimpin oleh datuk-datuk kaum sesat dan memiliki pasukan yang kuat.”

“Jadi ibu berpenyakitan setelah bertanding melawan mereka?”

“Begitulah menurut penuturan Ayahmu kepada seorang di antara isterinya, karena dalam pertempuran antara orang tuamu melawan gerombolan itu, mendiang Ibumu menderita pukulan beracun dan pada waktu itu Ibumu sedang mengandung. Hanya itulah yang kudengar dari percakapan mereka dan aku lalu pergi karena merasa tidak enak mendengarkan pembicaraan suami isteri.”

“Kalau begitu, aku akan mencari Hek-i-mo dan akan membasminya untuk membalaskan kematian Ibu!”

“Hemm, jangan kira hal itu mudah saja, Ci Sian. Sepanjang pendengaranku, Hek-i-mo merupakan gerombolan yang amat berbahaya dan sudah banyak pendekar-pendekar berilmu tinggi yang gagal dan bahkan menemui kematian ketika berhadapan dengan mereka. Bahkan Ayah Ibumu yang demikian lihai pun agaknya gagal.”

“Aku tidak takut gagal, aku tidak takut mati!”

Kam Hong menahan senyumnya. Dara ini masih seperti dulu, pemberani dan keras hati sehingga amat mengkhawatirkan karena sikap seperti itu banyak mengakibatkan mala petaka kepada diri sendiri.

“Biar pun engkau berusaha, kalau sudah pasti bahwa engkau akan gagal, apa artinya? Engkau harus memperdalam ilmu kepandaianmu, dan untuk itu, aku mau membantumu, Ci Sian. Ingat, aku masih ada hutang padamu.”

“Hutang? Hutang apa?”

“Hutang ilmu. Lupakah kau akan ilmu yang kita bersama temukan pada tubuh jenazah kakek kuno itu? Aku masih harus mengajarkannya kepadamu dan engkau pun berhak mempelajarinya, karena kita berdualah yang menemukannya.”

Ci Sian mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh pendekar ini memang benar. Biar pun tadinya dia merasa bahwa ilmu kepandaian yang dipelajarinya dari See-thian Coa-ong cukup tinggi, namun ternyata bahwa ilmunya itu masih jauh dari pada cukup jika dia berhadapan dengan orang-orang pandai, juga ular-ularnya itu tidak ada artinya kalau dia bertemu dengan lawan tangguh. Dan dia percaya bahwa pendekar ini memang memiliki ilmu yang tinggi sekali, kalau tidak demikian, mana mungkin dapat melarikan dia dari tangan ayahnya dan isteri-isteri ayahnya yang demikian lihainya?

“Baiklah, Paman, aku akan belajar darimu.”

“Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi denganmu semenjak kita saling berpisah. Ke manakah engkau pergi ketika kita berdua terdampar di lembah tanpa jalan keluar itu? Kau ingat ketika bukit itu longsor dan kita terasing di lembah salju?”

“Aku sedang mencari burung dan aku lalu terpeleset jatuh ke dalam jurang.”

“Hemm, sudah kuduga begitu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat tetap hidup setelah terjatuh ke dalam jurang yang sedemikian dalamnya?”

“Aku ditolong oleh seorang kakek yang bernama See-thian Coa-ong, Paman.” Dara itu lalu menceritakan pengalamannya sampai dia diambil murid oleh kakek Raja Ular itu.

“Bagus sekali, engkau beruntung, selain dapat diselamatkan dari ancaman bahaya maut, juga masih menemukan seorang guru yang pandai. Pantas saja engkau pandai bermain-main dengan ular.”

“Paman, hal itu belum seberapa penting. Yang kuanggap paling menarik dan penting adalah ketika aku diajak oleh guruku itu untuk menemui musuhnya di Lembah Suling Emas, yaitu di luar lembah di mana tinggal musuh Guruku. Di situ aku bertemu degan seseorang yang tentu akan membuat Paman terkejut sekali, dan tak mungkin Paman dapat menduganya siapa.”

Di dalam hatinya, Kam Hong tertarik sekali, akan tetapi dia tetap nampak tenang dan tersenyum, seperti seorang dewasa mendengarkan penuturan seorang anak kecil saja. “Siapakah dia yang kau maksudkan itu?”

“Musuh Guruku itu adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, seorang di antara…. eh, isteri Ayah, wanita yang paling galak dan paling lihai yang hampir membunuhku malam tadi. Dia adalah seorang tokoh Lembah Suling Emas dan ilmunya tinggi sekali.”

“Hemm, sungguh aneh sekali ada lembah yang bernama Lembah Suling Emas.”

“Aku pun tadinya merasa heran, Paman. Menurut Guruku, Lembah Suling Emas itu adalah lembah tempat keluarga yang amat sakti, yaitu keluarga Suling Emas.”

“Hemmm….!” Kam Hong mengelus dagunya dan alisnya berkerut. Apa pula ini?

“Aku pun merasa penasaran, Paman. Bukankah Paman satu-satunya Pendekar Suling Emas dan Paman memiliki sebuah suling dari emas, juga Paman malah memiliki ilmu-ilmu peninggalan Pendekar Suling Emas, namun di Pegunungan Himalaya ada lembah yang yang bernama lembah Suling Emas dan menjadi tempat tinggal keluarga Suling Emas! Akan tetapi Guruku tidak dapat bercerita lebih jelas. Akan tetapi Cui- beng Sian-li Tang Cun Ciu itu memang lihai bukan main sehingga Suhu-ku sendiri hanya mampu mengimbangi dalam ilmu silat tanpa dapat mengalahkannya. Dan yang luar biasa adalah muridnya, Paman.”

“Murid wanita itu? Bagaimana hebatnya?” “Dia itu bukan lain adalah Yu Hwi!”
Sekali ini benar-benar Kam Hong terkejut bukan main dan dia menatap wajah dara itu dengan mata terbelalak. Akan tetapi hanya sekejap saja karena dia sudah bersikap biasa kembali, tenang dan agak dingin. “Sungguh-sungguhkah engkau, Ci Sian?”

“Mengapa tidak, Paman? Aku malah sudah menegurnya, dan mengingatkan dia akan namamu, dan…. ahhh, sungguh aku tidak mengerti akan sikap isterimu itu, Paman. Mengapa dia begitu…. ehhh, agaknya begitu membencimu dan tidak peduli kepadamu? Aku sudah menegurnya, mengingatkan dia tentang engkau, akan tetapi dia malah marah-marah. Dan tahukah engkau apa yang terjadi? Gurunya, Si Cui-beng Sian-li itu, mengadakan perjanjian dengan suhuku, See-thian Coa-ong, untuk mengadukan murid-murid mereka, yaitu Yu Hwi itu dan aku, setelah belajar lima tahun lamanya. Coba pikir, bukankah perjanjian itu gila?”

Kam Hong menarik napas panjang. “Yu Hwi adalah calon isteriku, ikatan jodoh antara kami telah disahkan oleh orang-orang tua yang menjadi wali kami. Dia belum menjadi isteriku, akan tetapi menurut keputusan wali-wali kami, kami harus saling berjodoh. Di manakah dia, Ci Sian? Aku harus menemuinya.”

“Hemm, Paman Kam Hong. Kalau dia tak mau, apakah akan dipaksa menjadi isterimu?”

“Justru aku harus menemuinya untuk membicarakan urusan kami itu. Selain itu, aku pun ingin sekali berkenalan dengan keluarga yang tinggal di Lembah Suling Emas itu, Ci Sian.”

“Baik, aku akan mengantarmu ke sana, Paman. Akan tetapi dengarkanlah lanjutan ceritaku….”

Ci Sian lalu menceritakan tentang semua pengalamannya, betapa dia setelah belajar empat tahun dari See-thian Coa-ong lalu meninggalkan pertapaan gurunya itu dan hendak mencari Kam Hong atau Lauw- piauwsu untuk menanyakan di mana adanya orang tuanya seperti yang diceritakan oleh kakeknya kepada piauwsu itu. Kemudian betapa dia terlibat dalam perang di Lhagat, tentang Jenderal Kao Cin Liong, tentang Siok Lan, panglima wanita Nandini dan lain-lain sampai kemudian perang berakhir dengan kekalahan di pihak tentara Nepal dan dia mendengar tentang tempat tinggal ayahnya dari Lauw-piauwsu yang tewas karena luka-lukanya.

“Begitulah, aku bertemu dengan Ayahku, akan tetapi dalam keadaan yang sama sekali tidak menyenangkan hatiku dan aku tidak sudi bertemu dengan dia! Sekarang, kau ceritakan pengalamanmu semenjak kita berpisah, Paman.”

“Mari kita berangkat, Ci Sian. Di dalam perjalanan nanti akan kuceritakan semua itu kepadamu.”

Mereka melakukan perjalanan lagi, seperti lima tahun yang lalu. Hanya bedanya, kini Ci Sian bukan lagi anak-anak, bukan lagi anak perempuan tiga belas tahun, melainkan seorang dara remaja yang sudah berusia tujuh belas tahun, seorang dara remaja yang amat cantik dengan tubuh yang padat meranum, seperti setangkai bunga yang sedang mulai mekar! Diam-diam Kam Hong harus mengakui bahwa dia kagum sekali kepada dara ini, kagum akan kecantikannya yang sukar dicari keduanya itu, dan diam-diam dia merasa amat bergembira dapat bertemu kembali dengan Ci Sian dan dapat melakukan perjalanan bersama kembali. Lenyaplah segala rasa kesunyian dan nelangsa sebagai akibat perpisahan dengan Yu Hwi semenjak dia bertemu dengan dara ini kurang lebih lima tahun yang lalu.

Sebaliknya, setelah kini berjumpa dengan Kam Hong hati Ci Sian merasa begitu ringan dan gembira. Semua kekecewaan dan rasa penasaran, semua rasa duka yang tertimbun sejak kekecewaannya menyaksikan hubungan antara Siok Lan dan Cin Liong sampai kepada kenyataan yang amat pahit dari keadaan ayah kandungnya, kini lenyap tak berbekas dan wajahnya yang jelita itu berseri-seri! Dia lupa sama sekali kepada bayangan Cin Liong yang tadinya amat dikaguminya itu, dan dia merasa bergembira sekali, gembira dan puas seolah-olah dia memperoleh kembali sesuatu yang hilang dari lubuk hatinya.

Seperti juga dulu, mereka melakukan perjalanan melalui gunung-gunung yang tinggi, lembah-lembah yang dingin dan puncak-pucak bukit yang tertutup es. Seperti juga dulu, Kam Hong yang bersikap pendiam dan tenang, bahkan agak dingin itu, seperti gunung es menghadapi api karena sikap Ci Sian sebaliknya dari pada dia. Dara ini, panas dan penuh semangat, penuh gairah hidup dan selalu jenaka, kocak dan gembira, agak kenakal-nakalan sehingga mulai mencairlah gunung es dalam hati Kam Hong itu!

Sambil melakukan perjalanan seenaknya, Kam Hong bercerita tentang pengalamannya semenjak dia berpisah dari Ci Sian. Akan tetapi tidak banyak yang dapat diceritakan. Seperti kita ketahui, ketika Ci Sian tergelincir ke dalam jurang yang mengelilingi ‘pulau salju’ terpisah dari tempat-tempat lain itu, Kam Hong merasa amat gelisah, khawatir sekali dan berduka. Dia mengira bahwa tentu dara itu telah tewas tergelincir ke dalam jurang.

Akan tetapi dia tidak dapat berbuat sesuatu. Biar pun dia sudah berusaha keras untuk mencari jalan turun, namun dia mendapatkan kenyataan yang makin mendukakan hatinya bahwa tidak mungkinlah menuruni tempat itu dan siapa yang tergelincir ke bawah yang tidak nampak dasarnya saking dalamnya itu, agaknya tidak mungkin dapat diharapkan akan selamat. Pendekar itu selama beberapa hari termenung di tepi jurang, penuh kedukaan dan hampir dia menangis kalau teringat betapa gadis cilik itu kini telah mati! Batinnya yang sudah tertekan selama bertahun-tahun dengan lenyapnya Yu Hwi, kini bertambah berat dengan dugaan bahwa Ci Sian telah mati tergelincir ke dalam jurang.

Sampai hampir sepekan dia merenungi keadaan yang menyedihkan itu, akan tetapi akhirnya dia sadar bahwa membiarkan diri tenggelam ke dalam kedukaan merupakan hal yang tidak baik sama sekali, maka dia lalu menyibukkan diri dengan latihan ilmu yang baru saja dia peroleh dan pelajari dari catatan di tubuh jenazah tua. Dan ilmu itu memang hebat bukan main, merupakan ilmu yang amat tinggi, sakti dan penuh rahasia. Ilmu meniup suling berdasarkan sinkang yang luar biasa tingginya itu dipelajarinya dengan amat susah payah, kemudian dia melatih pula ilmu pedang Kim-siauw Kiam-sut yang dilakukan dengan suling.

Selama setahun lebih Kam Hong terasing di tempat itu, tidak memperoleh kesempatan untuk keluar dari tempat itu. Kemudian, setelah pergantian musim, puncak bukit di atas longsor dan jutaan ton es batu tanah dan salju menutup jurang sehingga tempat itu kembali tertutup dan dia dapat keluar dari pengasingan itu! Maka dipilihnyalah tempat yang amat baik untuk melatih ilmu, di lereng sebuah puncak yang subur, tidak seperti di tempat pengasingan itu yang hanya terdiri dari batu es dan salju yang amat dinginnya. Di tempat ini, Kam Hong melanjutkan latihannya setelah beberapa hari dia mencari-cari di sekitar tempat pengasingan itu dan tidak berhasil menemukan Ci Sian, bahkan tulang kerangkanya pun tak dapat ditemukannya. Dia menduga bahwa tentu gadis cilik itu telah tertimbun es dan tidak mungkin ditemukan lagi kerangkanya.

Selama tiga tahun Kam Hong memperdalam ilmunya sampai dia berhasil menguasai ilmu-ilmu itu, walau pun untuk bersuling tanpa suling dia masih belum sanggup melakukannya. Akan tetapi, kini dia dapat menyuling tanpa menutup lubang-lubang sulingnya dan dapat menyanyikan lagu apa pun juga melalui sulingnya tanpa memainkan jarinya. Bahkan dia dapat mainkan ilmu pedang Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) sedemikian rupa sehingga sulingnya mengeluarkan suara berlagu merdu!

Kemudian dia meninggalkan tempat pertapaannya untuk melanjutkan usahanya mencari Yu Hwi, dan dalam perjalanan inilah dia mendengar tentang perang yang terjadi di Lhagat, dan tentang pasukan pemerintah yang terkepung di lembah oleh pasukan-pasukan Nepal. Kedatangannya tepat sekali, karena pada waktu itu, pasukan Kerajaan Ceng, dibantu oleh pasukan Tibet dan orang-orang kang-ouw yang lihai sedang mulai dengan gerakan mereka.

Melihat betapa pasukan yang terkurung itu mulai membuka bendungan sehingga air dari puncak membanjir, disusul gerakan pasukan yang terkepung itu untuk membobolkan kepungan, Kam Hong segera turun tangan pula membantu, diam-diam dia mengamuk dan mengacaukan pasukan Nepal yang mengepung, seperti yang juga telah dilakukan oleh Si Jari Maut Wan Tek Hoat! Akan tetapi karena mereka berdua itu bergerak di kanan kiri air bah, jadi terpisah, maka mereka tak saling jumpa. Setelah melihat betapa pasukan pemerintah Ceng berhasil merebut Lhagat, Kam Hong tak mencampuri perang tadi dan dia menyingkir tanpa memperlihatkan diri.

Tetapi dia melihat panglima wanita Nepal bersama seorang dara melakukan perjalanan tergesa-gesa dan diam-diam dia membayangi mereka dari jauh sampai ke Pegunungan Kongmaa La.

“Demikianlah, tanpa tersangka-sangka olehku, aku dapat bertemu denganmu, Ci Sian.” Pendekar itu mengakhiri ceritanya. “Mula-mula aku memang pangling, apalagi ketika melihat seorang dara memanggil ular-ular itu. Aku hanya ingin menolongnya karena dia dikeroyok oleh orang-orang yang demikian lihainya, dan baru aku mengenalmu setelah aku membawamu ke dalam goa itu.”

“Dan aku merasa seperti dalam mimpi begitu membuka mata dan melihatmu, Paman. Akan tetapi sekarang, setelah aku yakin bahwa kita benar telah berkumpul kembali, aku merasa seolah-olah perpisahanku denganmu selama hampir lima tahun itu hanya mimpi belaka!”

Kam Hong tersenyum karena ucapan itu sama benar rasanya seperti yang berada dalam hatinya. Dia seolah-olah tak pernah berpisah dari Ci Sian, seolah-olah semua yang dialaminya sendiri tanpa Ci Sian selama ini hanya sebuah mimpi saja…..

********************

Gadis itu bersilat dengan cepatnya. Gerakannya gesit bukan main, pukulan-pukulannya mendatangkan angin bersuitan dan daun-daun pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang, bahkan ada yang rontok tertiup angin pukulan kedua tangan dan kakinya yang berloncatan ke sana sini seperti seekor burung yang sedang berlagak di pagi hari itu. Pagi hari itu cerah dan indah sekali dan lapangan rumput itu amat bersih, kehijauan, segar, hening tidak nampak seorang pun manusia lain di situ.

Gadis itu memang lihai sekali karena dia ini bukan lain adalah Yu Hwi. Usianya sudah dua puluh delapan tahun, akan tetapi dia nampak masih muda, agaknya hanya dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun. Pakaiannya yang serba merah muda itu membuat dia nampak lebih muda dari pada usia yang sebenarnya. Dan memang gadis ini lihai bukan main. Apalagi sekarang setelah dia menjadi murid tersayang dari Cui- beng Sian-li Tang Cun Ciu yang sakti, tentu saja kepandaiannya meningkat dengan amat pesatnya.

Dulu pun dia telah merupakan seorang pendekar wanita yang amat lihai, yang terkenal dengan julukan Ang Siocia karena pakaiannya selalu kemerahan. Dari gurunya yang pertama, yaitu Hek-sim Touw-ong Si Raja Maling, dia telah mewarisi ilmu silat yang tinggi, bahkan ilmunya yang disebut Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok) amat hebatnya. Dengan tangan kosong dia mampu memutuskan benda-benda keras bagai disabet dengan pedang atau golok saja! Di samping ilmu Kiam-to Sin-ciang ini, dia pun terkenal pandai melakukan penyamarannya, dan pandai pula dalam ilmu mencuri atau mencopet, kepandaian khas dari Hek-sim Touw-ong!

Seperti telah kita ketahui dari cerita JODOH RAJAWALI, hati gadis ini merasa kecewa bukan main. Sebagai seorang dara jelita, dia pernah jatuh cinta. Dia jatuh hati kepada seorang pendekar sakti, yaitu Pendekar Siluman Kecil, atau Suma Kian Bu putera dari Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es! Akan tetapi cintanya bertepuk tangan sebelah, pendekar yang dicintanya itu ternyata mencinta dara lain sehingga hati gadis ini menjadi hancur dan patah-patah.

Kemudian Yu Hwi mendengar tentang rahasia dirinya, bahwa ia adalah cucu dari Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek dan bahwa sejak kecil dia diculik oleh gurunya Si Raja Maling. Hal ini tidak menyusahkan hatinya, akan tetapi betapa kaget hatinya ketika dia mendengar bahwa sejak kecil dia telah ditunangkan dengan seorang anak laki-laki yang bukan lain adalah Siauw Hong atau Kam Hong, pemuda yang sudah dikenalnya, bahkan pemuda yang tanpa disengaja pernah membuka rahasia penyamarannya pada saat itu sebagai seorang pemuda (baca cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI).

Maka, karena malu terhadap Kam Hong, juga karena berduka mengingat bahwa hatinya telah jatuh cinta kepada Siluman Kecil, Yu Hwi kemudian melarikan diri, meninggalkan kakeknya, dan mengambil keputusan tidak mau kembali lagi. Dia telah gagal cintanya dengan Siluman Kecil, dan dia tidak sudi dikawinkan dengan orang lain, apalagi yang bukan pilihannya sendiri, sungguh pun harus diakuinya bahwa tunangannya itu adalah seorang pemuda yang hebat pula. Dia sudah terlanjur malu dan tidak mau kembali lagi.

Dan di dalam perjalanannya itulah dia bertemu dengan Cui-beng Sian-Ii Tang Cun Ciu dan diambil sebagai murid. Hatinya menjadi girang sekali, apalagi saat ia diperkenalkan dengan keluarga sakti yang menjadi penghuni Lembah Suling Emas. Hatinya kagum bukan main, terutama sekali kepada seorang di antara para tokoh lembah itu, yang masih terhitung susiok-nya (paman seperguruannya), yaitu yang bernama Cu Kang Bu, pemuda sakti tinggi besar dan gagah itu. Dia merasa kagum bukan main terhadap keluarga yang amat sakti itu, terutama para paman gurunya yang menurut subo-nya bahkan lebih lihai dari pada subo-nya sendiri yang sudah amat dikaguminya itu!

Selama beberapa hari ini, subo-nya nampak murung saja, tetapi hatinya girang karena subo-nya mengatakan bahwa pelajarannya telah tamat, dan bahwa waktu yang lima tahun itu sudah hampir tiba dan dia akan harus berhadapan dengan murid See-thian Coa-ong untuk memenuhi janji dua orang yang bermusuhan secara aneh itu, untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Dahulu, dalam pertempuran mati-matian antara Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu dan See-thian Coa-ong, tiada yang kalah atau menang, kepandaian mereka seimbang. Maka kini, murid-murid mereka yang akan menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka.

Yu Hwi merasa girang, bukan hanya karena dia akan bertanding mewakili subo-nya, melainkan karena dia telah bebas dan setelah melakukan pertandingan itu, dia boleh turun gunung atau pergi dari tempat itu, melanjutkan perjalanan atau perantauannya. Dan dia sudah merasa rindu untuk kembali ke timur, ke dunia ramai. Akan tetapi, harus diakui bahwa ada sesuatu yang membuat dia merasa berat meninggalkan Lembah Suling Emas, dan selama berbulan ini wajah yang gagah dari susiok-nya sering muncul di alam mimpi, menggerakkan gairah di dalam hatinya yang sudah lebih dari dewasa, bahkan yang sudah agak terlambat itu, mengingat usianya sudah dua puluh delapan tahun!

Pagi hari itu, dalam cuaca cerah dari hari yang indah itu, Yu Hwi bersilat dengan tangan kosong, berlatih sebaik-baiknya dan dia merasa girang karena dapat bergerak dengan lancar sekali dan merasa yakin bahwa dalam mewakili subo-nya, dia tentu akan dapat mengalahkan anak perempuan murid See-thian Coa-ong yang bicara lancang tentang Kam Hong itu!

Setelah dia berhenti bersilat dan menghapus keringat di lehernya, tiba-tiba terdengar tepuk tangan. Yu Hwi terkejut bukan main. Kalau ada orang mampu datang ke tempat itu tanpa diketahuinya, tentu ilmu kepandaian orang itu tinggi bukan main. Akan tetapi ketika dia menoleh dengan kaget dan melihat siapa yang bertepuk tangan itu, wajahnya berseri dan kedua pipinya berubah kemerahan.

“Aihh…. kiranya Sam-susiok (Paman Guru ke Tiga)…. ah, gerakanku amat buruk, harap Susiok jangan mentertawakan,” katanya dengan sikap agak genit, tersenyum manis dan mengerling tajam.

Pria yang tinggi besar dan telah berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum dan meloncat turun dari atas sebuah batu besar di mana dia tadi berdiri, menghampiri gadis itu dengan pandang mata penuh kagum.

“Sungguh mati, Yu Hwi, aku tidak mentertawakan. Gerakan-gerakanmu tadi lincah dan hebat, dan amat manis sekali, sungguh pun aku melihat adanya beberapa kelemahan yang agaknya tidak nampak oleh Subo-mu.”

“Ahh, betulkah Sam-susiok? Harap Susiok sudi memberi petunjuk kepadaku. Harap Susiok ingat bahwa beberapa hari lagi aku harus menghadapi murid See-thian Coa-ong mewakili Subo untuk mengadu kepandaian seperti janji mereka lima tahun yang lalu.”

Pria itu menarik napas panjang. “Ahh, Toaso…, Subo-mu itu, selalu menuruti hati panas sehingga suka berjanji untuk mengadu ilmu. Mempelajari ilmu silat bukan untuk diadu seperti ayam jago atau jangkerik.”

Yu Hwi tersenyum. “Betapa pun, janji tetap janji dan apa jadinya kalau Subo melanggar janjinya? Sam- susiok, berlakulah baik untuk memberi petunjuk agar supaya aku dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahan itu. Susiok tidak ingin melihat aku kalah dalam pertandingan itu, bukan?”

“Tentu saja tidak. Nah, dalam jurus ke sebelas dan dua belas, juga jurus ke sembilan belas dan ke dua puluh, kau terlalu menekankan kepada penyerangan, terlalu bernafsu sehingga kau melalaikan pertahananmu hingga pada bagian-bagian itu pertahananmu amat lemah dan mudah sekali dimasuki lawan.”

“Ahhh, begitukah, Susiok? Akan tetapi menurut Subo, permainanku sudah sempurna,” kata Yu Hwi dengan kaget.

“Mari kita coba. Kau seranglah aku dengan jurus ke sebelas itu.”

Karena maklum betapa lihainya susiok-nya yang ganteng dan gagah ini, yang menurut subo-nya memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari subo-nya, dan karena dia akan memperoleh petunjuk, maka Yu Hwi menjadi girang dan tanpa ragu-ragu kemudian dia mengerahkan tenaganya dan menyerang sambil berseru, “Awas Susiok!”

Jurus ke sebelas disebut Lam-hong Tong-te (Angin Selatan Getarkan Bumi), dilakukan dengan pukulan tangan kiri yang disambung dengan langkah kaki kanan ke depan lalu kaki kiri menyambar dari samping dengan jalan memutar. Gerakan yang amat cepat dan tidak tersangka oleh lawan, berbahaya sekali.

“Pinggang kananmu terbuka!” kata Kang Bu.

Dan dengan memutar tubuh, setelah mengelak dan menepuk kaki yang menendang, tahu-tahu tangannya sudah mencengkeram ke arah pinggang kanan Yu Hwi. Tentu saja tidak dia lanjutkan, hanya jari-jari tangannya menyentuh pinggang itu, menimbulkan rasa geli.

“Seharusnya tangan kananmu merapat ke pinggang, seperti ini!” Dengan jelas Kang Bu lalu memberi contoh dan memegang tangan kanan Yu Hwi, merapatkan di pinggang.

“Mengertikah engkau? Setiap serangan sudah tentu membuka sebagian dari tubuh kita, dan hal itu akan dipergunakan oleh lawan yang tangguh untuk mencari titik kelemahan kita, dan oleh karena itu, di samping penyerangan kita harus mengenal titik kelemahan sendiri sewaktu menyerang dan sedapat mungkin melindungi kelemahan itu.”

Yu Hwi mengerti dan mengulang jurus itu sampai beberapa kali sehingga Kang Bu mengangguk-angguk puas. “Nah, sekarang coba seranglah aku dengan jurus ke dua belas,” katanya pula.

“Baik, nah, awas Susiok! Haitttt….!”

Jurus ke dua belas ini memang seharusnya dilakukan dengan bentakan nyaring. Jurus ini disebut Sia- hong-khai-bun (Angin Bawah Membuka Pintu). Serangan ini lebih hebat dari pada tadi karena tiba-tiba dara itu merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lututnya dan kedua tangannya mendorong dari bawah ke atas dengan kekuatan hebat karena didasari tenaga sinkang yang amat kuat sehingga angin pukulannya menyambar dahsyat. Namun tiba-tiba tubuh Kang Bu meloncat ke atas, berjungkir balik dan kedua tangannya dari atas melakukan dua pukulan, yang kiri menusuk ke arah mata Yu Hwi sedangkan yang kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun!

“Aihhhhh….!” Yu Hwi terkejut sekali dan cepat dia membuang tubuh ke belakang dan bergulingan, mukanya berubah pucat.

Kang Bu sudah berdiri di depannya sambil tersenyum. “Bagus sekali cara engkau tadi menyelamatkan diri. Akan tetapi hal itu tidak perlu karena apa kau kira aku hendak mencelakakan engkau dengan sungguh- sungguh?”

“Aku…. aku kaget, Susiok….“ kata Yu Hwi dan dia pun tersenyum malu-malu ketika Kang Bu membantunya membersihkan pakaiannya yang terkena tanah ketika tadi dia bergulingan.

“Nah, engkau lihat betapa berbahayanya jika engkau mencurahkan seluruh tenaga dan perhatianmu untuk menyerang di jurus ke dua belas itu. Memang jurus ini merupakan jurus berbahaya bagi lawan, akan tetapi kalau lawanmu memiliki ginkang yang tinggi dan melihat keterbukaan bagian kepalamu, engkau sebaliknya akan terancam bahaya. Oleh karena itu, pada saat memukul, perhatikan gerakan musuh, kalau dia membalikkan keadaan dengan meloncat dan mengancam kepalamu, kau tinggal melanjutkan pukulan itu ke atas, mendahuluinya, dan menghantamnya dari bawah. Mengertikah engkau?”

“Baik, aku telah mengerti dan terima kasih, Sam-susiok. Memang engkau benar sekali, Susiok.”

“Sekarang jurus ke sembilan belas dan ke dua puluh. Kedua jurus itu merupakan jurus yang bergandengan, yaitu See-hong-coan-in (Angin Barat Menerjang Awan) yang lalu disambung dengan Pak- hong-sang-thian (Angin Utara Naik Langit) dan merupakan dua jurus terampuh dari Ilmu Silat Pat-hong Sin- kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin) itu. Coba kau serang aku dengan dua jurus yang bersambungan itu.”

“Baik, Susiok.”

Yu Hwi kemudian menyerang. Gerakannya cepat bukan main, kedua tangan bergantian melakukan pukulan sambil meloncat, lalu dengan kedua kaki ditekuk dua tangannya menyambar ke depan ke arah leher dan pusar lawan.

“Lihat dadamu terbuka!” terdengar susiok-nya itu berkata dan kedua tangannya telah terpentang oleh tangkisan dan tangan susiok-nya yang besar dan kuat itu tiba-tiba telah mencengkeram ke arah dadanya, hampir saja menyentuh buah dadanya, akan tetapi Kang Bu sudah cepat menarik kembali tangannya. Kemudian Yu Hwi melanjutkan gerakannya, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya menyerang dengan totokan dari atas ke arah pundak dan ubun-ubun kepala lawan. Gerakannya memang cepat bukan main sehingga dalam pertandingan yang sungguh-sungguh, pihak lawan akan terancam bahaya.

“Bagian belakangmu kosong!” teriak pula Kang Bu dan dia sudah menggeser kaki sehingga dua tendangan itu luput dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di sebelah belakang Yu Hwi dan sekali tangannya menyambar, sepatu kiri Yu Hwi telah copot!

“Ihhh….!” Yu Hwi terkejut dan melayang turun dengan muka merah, memandang ke arah kakinya yang hanya tinggal berkaus saja sedangkan sepatu kaki kirinya telah berada di tangan susiok-nya.

“Maaf, ini hanya untuk membuktikan betapa bahayanya jurus-jurus itu kalau engkau tidak hati-hati. Jadi ingat baik-baik, jurus ke sembilan belas jaga baik-baik dadamu dan jurus ke dua puluh memiliki kelemahan di bagian belakang tubuhmu pada saat engkau meloncat.”

Yu Hwi tak dapat berkata-kata, mukanya merah sekali dan jantungnya berdebar-debar ketika dia melihat betapa paman gurunya itu berjongkok dan memasangkan sepatu kirinya. Lebih berdebar lagi rasa jantungnya ketika dia melihat betapa jari-jari tangan yang kokoh kuat dari pendekar yang lihai itu gemetar tidak karuan ketika membantunya memakai kembali sepatunya!

Mereka lalu duduk berhadapan di atas rumput hijau, bercakap-cakap dengan mesranya. Seperti biasa, dalam pertemuan dan percakapan ini, Cu Kang Bu memberi petunjuk-petunjuk dalam hal ilmu silat kepada Yu Hwi, sikapnya amat ramah dan juga mesra, jelas sekali nampak betapa pria muda itu ‘ada hati’ terhadap murid keponakan yang manis itu! Dan diam-diam Yu Hwi juga harus mengakui bahwa dia amat tertarik kepada pemuda ini, seorang pria yang jantan, matang, pendiam, jujur dan tidak pernah berpura- pura, sikapnya terbuka dan ilmu kepandaiannya amat luar biasa. Pria seperti ini dapat dibandingkan dengan Pendekar Siluman Kecil sekali pun!

Tanpa mereka sadari, dari tempat yang agak jauh sepasang mata bening memandang ke arah mereka, dan kemudian sepasang mata itu nampak tidak senang, dan akhirnya lenyap.

Tiba-tiba Yu Hwi berkata, suaranya halus dan lembut, agak mengandung kemanjaan seorang wanita yang yakin bahwa dirinya dicinta. “Sam-Susiok….”

“Ehhh, mengapa? Mengapa tidak kau lanjutkan bicaramu?” Kang Bu bertanya sambil memandang heran, melihat betapa dara itu memanggilnya kemudian menunduk, dan kelihatannya seperti ragu-ragu dan bimbang.

“Aku hendak bertanya sesuatu, akan tetapi takut Susiok marah.”

Kang Bu tertawa, ketawanya bebas lepas. “Ha-ha-ha-ha, engkau aneh sekali, Yu Hwi. Pernahkah aku marah kepadamu? Dan pula, kenapa aku harus marah?”

Yu Hwi mengingat-ingat dan memang belum pernah susiok-nya ini marah. Semenjak dia diperkenalkan kepada para penghui Lembah Suling Emas, dia merasa amat takut kepada toa-susiok-nya, yaitu Cu Han Bu yang sikapnya pendiam, serius dan kelihatan galak. Juga dia tidak pernah bicara dengan ji-susiok-nya, yaitu Cu Seng Bu yang juga pendiam. Hanya kepada sam-susiok ini saja dia merasa suka dan cocok, dan susiok-nya ini selain amat ramah dan baik, juga usianya tidak banyak selisihnya dengan dia. Susiok-nya ini paling banyak baru berusia tiga puluh empat tahun. Apalagi semenjak diperkenalkan, dari sinar mata sam- susiok-nya ini dia tahu bahwa pendekar gagah ini tertarik dan sayang kepadanya. Naluri kewanitaannya amat tajam dan tentu saja dia dapat menangkap hal ini.

“Tapi aku merasa khawatir kalau-kalau engkau marah mendengar pertanyaanku ini, Sam-susiok.”

“Ha-ha, kalau aku marah, biarlah engkau hitung-hitung mengalami satu kali mendapat marah dariku!” Pendekar itu kemudian memandang dengan matanya yang lebar dan mencorong. “Yu Hwi, katakanlah, apa yang akan kau tanyakan kepadaku?”

“Sam-susiok…. aku ingin sekali tahu lebih banyak tentang keluargamu, keluarga Suling Emas yang amat sakti itu. Kulihat Toa-susiok sudah menduda, padahal dia belum tua benar, dan Pek In semenjak kecil tidak beribu. Kenapa Toa-susiok tidak pernah menikah lagi, Susiok? Dan juga Ji-susiok tidak pernah menikah….”

“Ahh, engkau tidak tahu, Yu Hwi. Twako kematian isterinya yang sangat dicintainya dan dia tidak berani menikah lagi, tidak melihat adanya wanita yang dapat menggantikan isterinya, apalagi setelah melihat betapa mendiang Twako Cu San Bu suami Subo-mu itu menderita karena ulah isterinya. Maka dia tidak percaya lagi kepada wanita dan memilih tidak kawin lagi selamanya. Ada pun Ji-ko Cu Seng Bu, dia…. dia itu memiliki penyakit sejak kecil, penyakit yang tak dapat disembuhkan dan jika dia menikah, maka penyakit itu akan membahayakan nyawanya. Selain itu, dia melihat kehidupan yang sengsara dari mendiang Twako Cu San Bu dan Cu Han Bu sehingga dia merasa ngeri untuk menikah.”

“Akan tetapi, keluarga Cu belum memiliki keturunan seorang laki-laki….“

Cu Kang Bu menghela napas panjang. “Memang hal itu kadang-kadang membuat kami gelisah. Akan tetapi semenjak datang Sim Hong Bu, hati kami terhibur. Anak itu baik sekali, dan memiliki bakat yang amat besar. Dia telah dipilih oleh mendiang Toapek, dan ternyata dia dapat mewarisi ilmu kami dengan baik. Biarlah dia yang menjadi murid dan juga keturunan kami, siapa tahu dia kelak akan dapat menjadi suami Pek In seperti yang telah direncanakan dan diharapkan oleh Twako Han Bu….“

“Ahh, apakah di antara Sumoi dan Sute itu ada pertalian cinta….?”

Yang ditanya menggeleng kepada. “Mereka itu masih terlalu muda kiraku untuk itu, akan tetapi hubungan di antara mereka cukup baik. Engkau tahu, murid kami Hong Bu itu memang hebat sekali. Dia bahkan sudah berhasil, atau hampir berhasil melatih ilmu yang ditinggalkan oleh Ouwyang-toapek, ilmu yang amat sukar dan mukjijat itu….“

“Koai-liong Kiam-sut?”

Yang ditanya mengangguk dan sejenak mereka diam. “Sam-susiok….“
“Ya….?”

“Bagaimana dengan kau sendiri?” “Aku mengapa?”
“Maksudku…. eh, apakah engkau juga seperti Ji-susiok yang merasa ngeri menghadapi pernikahan dan menganggap tidak ada wanita yang patut menjadi…. ehh, jodohmu?”

Pertanyaan itu membuat wajah pendekar tinggi besar itu menjadi merah. “Aku…. eh, aku tidak pernah…. aku belum memikirkan soal jodoh….,“ jawabnya gagap. Pendekar sakti yang menghadapi ancaman maut apa pun juga akan bersikap tenang ini, menghadapi pertanyaan tentang jodoh itu menjadi gugup. Sungguh hebat!

“Ahh, Sam-susiok, kenapa?”

“Aku…. ehh, kurasa belum waktunya bagiku untuk memikirkan jodoh.”

“Belum waktunya? Menurut dugaanku, Sam-susiok tentu sudah berusia tidak kurang dari tiga puluh tiga tahun sekarang….”

“Sudah tiga puluh lima.”

“Nah, kenapa masih belum waktunya? Apakah engkau tidak juga hendak menikah kalau sudah berusia setengah abad?”

“Ha, bukan begitu, Yu Hwi, akan tetapi…. selama ini memang belum ada seorang gadis yang cocok untukku…. dan sekarang…. setelah ada yang cocok, hemm…. aku mungkin sudah terlalu tua untuknya.”

Yu Hwi adalah seorang dara yang sudah matang, maka tentu saja dia dapat menduga ke mana tujuan percakapan itu dan siapa yang dikatakannya tidak cocok itu. Dengan sikap seolah tidak tahu dan manja dia bertanya. “Siapakah dara itu, Susiok? Mengapa mengatakan terlalu tua? Aihhh, coba dengar ini kakek- kakek yang berusia seabad mengeluh….“ Dia menggoda.

Kang Bu tidak pandai bicara, akan tetapi sekali ini dia bercakap-cakap sampai sedemikian banyaknya dengan Yu Hwi, sungguh membuat dia sendiri merasa terheran. Mendengar godaan itu dia tersenyum, akan tetapi segera memandang tajam kepada Yu Hwi dan memegang tangan dara itu.

Sekali ini Yu Hwi memang terkejut, tidak dibuat-buat karena tak disangka-sangkanya bahwa pemuda itu akan memegang tangannya dan dia merasa betapa jari-jari tangan yang amat kuat itu menggenggam tangannya dan ada terasa getaran olehnya, getaran hangat dan mesra yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

“Yu Hwi, katakanlah, engkau pun seorang dara yang usianya sudah cukup dewasa, kenapa sampai sekarang engkau belum juga menikah?”

“Aku…. aku sudah ditunangkan dengan orang, Susiok!”

“Ah….!” Tiba-tiba Kang Bu menarik kembali tangannya seolah-olah dia telah memegang bara api, wajahnya pucat dan matanya terbelalak memandang kepada wajah dara itu. “Maafkan aku…. ahhh, mafkan aku….,“ katanya gagap. “Sungguh aku lancang…. nah, habislah harapan Cu Kang Bu!”

“Susiok, aku…. aku ditunangkan di luar kehendakku, di waktu aku masih kecil, dan karena itulah aku pergi minggat dari rumah Kakekku, tidak mau kembali lagi ke sana. Aku tidak sudi dipaksa berjodoh dengan orang yang bukan pilihanku sendiri. Aku telah membebaskan diri, dan yang menyatakan pertunangan itu adalah orang-orang tua, sedangkan aku tidak merasa terikat jodoh dengan siapa pun juga!”

Kata-kata yang tegas ini seakan-akan mengembalikan darah ke muka Kang Bu. Dia memandang dengan sinar mata mencorong, kemudian dia memegang lagi tangan Yu Hwi, harapannya pulih kembali. “Benarkah itu, Yu Hwi?”

“Aku bersumpah bahwa apa yang kukatakan itu setulusnya dari hatiku, Susiok.”

“Kalau begitu biarlah aku berterus terang. Aku…. aku telah menemukan wanita yang cocok dengan hatiku itu, Yu Hwi, dan wanita itu adalah engkau. Aku cinta padamu!”

Bukan main bahagia rasa hati Yu Hwi. Dia balas memegang tangan pemuda itu dan memandang dengan wajah berseri, dan senyum malu-malu. Dari pandangan matanya saja, sudah jelas terlukislah bahwa dia menerima cinta kasih pemuda itu dan bahwa pemuda itu tidak bertepuk tangan sebelah.

“Yu Hwiiii….!” Tiba-tiba terdengar suara panggilan subo-nya.

Yu Hwi terkejut dan melepaskan tangannya. “Sam-susiok, Subo memanggilku. Sampai jumpa nanti…. ah, aku bahagia sekali, Susiok!” Dan dara itu lalu meloncat dan berlari-lari meninggalkan Kang Bu menuju ke pondok subo-nya, diikuti pandangan Kang Bu yang tersenyum dengan hati penuh kebahagiaan.

Ketika ia duduk berhadapan dengan subo-nya, Yu Hwi dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu karena sikap subo-nya tidak seperti biasa. Subo-nya kelihatan berwajah muram, bahkan seperti orang marah ketika memandang wajahnya.

“Yu Hwi, engkau jangan main-main dengan keluarga Lembah Suling Emas,” begitu dia berhadapan dengan Subo-nya, dia mendengar kata-kata yang aneh dan mengejutkan ini.

“Subo, apa maksud Subo dengan kata-kata itu?” tanyanya sambil memandang wajah gurunya dengan heran dan penuh selidik.

Sepasang mata subo-nya yang biasanya jeli dan cemerlang itu sekarang nampak agak muram dan terbayang kemarahan. “Engkau saling mencinta dengan Kang Bu, bukan?”

Yu Hwi tidak merasa terkejut karena dia tahu bahwa subo-nya adalah seorang yang berkepandaian tinggi, maka tentu sudah dapat menduga tentang hubungannya yang mesra dengan Kang Bu. Maka dia tidak mau banyak menyangkal, melainkan hanya mengangguk.

“Hemm, apakah engkau akan mengulangi pengalamanku yang pahit? Engkau jatuh cinta, kemudian menjadi isteri Kang Bu, berarti menjadi keluarga Lembah Suling Emas dan hidup terkurung di situ, seperti seekor burung dalam sangkar, tidak boleh keluar, tidak boleh berhubungan dengan dunia luar sampai engkau tua dan mati di situ!”

“Ehh, Subo! Apa artinya ini? Teecu tidak mengerti….”

“Tidak ingatkah engkau kepada apa yang kualami di lembah itu? Aku menjadi isteri mendiang Cu San Bu, kakak tertua mereka, dan aku hidup seperti boneka di dalam lembah itu, tidak pernah keluar, dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia luar. Siapa kuat? Siapa dapat bertahan? Maka ketika datang tamu yang menarik dan amat ramah, aku mudah tertarik, salah siapa? Dan kau ingat lagi ibunya Pek In! Mana mungkin dia dapat tahan hidup seperti burung dalam sangkar? Keluarga Cu itu adalah keluarga iblis! Mereka mau hidup enak sendiri, mau merahasiakan tempat mereka dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga mereka. Mereka menganggap keluarga mereka sebagai keluarga langit, tak boleh dikotori dengan hubungan bersama manusia lain di luar lembah. Dan engkau mau membiarkan dirimu tersesat ke dalam neraka itu?”

“Ahhh….!” Yu Hwi benar-benar terkejut bukan main mendengar ini.

“Aku sebagai Gurumu, aku sayang kepadamu, maka kuperingatkan engkau tentang hal ini, karena aku akan pergi meninggalkan tempat ini.”

“Subo mau pergi….?”

“Benar, sekarang juga. Dan oleh karena itulah engkau kupanggil, bukan hanya untuk memperingatkanmu tentang hal tadi, akan tetapi juga untuk memberi tahu bahwa hari ini kita saling berpisah. Engkau harus tidak mengecewakan aku. Kau wakililah aku, temui See-thian Coa-ong dan kau kalahkan muridnya agar hatiku puas.”

“Baik, Subo. Akan tetapi, Subo sendiri…. hendak pergi ke manakah?”

Wanita itu menoleh dan memandang keluar pondok, ke arah puncak yang jauh di sana. “Entahlah, aku hendak pergi menurutkan kata hatiku. Aku sudah tidak tinggal dalam Lembah Suling Emas, maka aku bebas pergi ke mana pun juga. Dan aku mungkin tidak akan kembali lagi ke tempat ini untuk selamanya.”

“Tapi…. tapi ke mana Subo pergi? Agar teecu dapat tahu dan dapat menyusul kelak.”

“Mau apa kau menyusulku? Engkau kembalilah ke tempat asalmu, ke dunia ramai di timur. Aku akan merantau di pegunungan ini, Pegunungan Himalaya yang maha luas….”

“Subo akan pergi mencari Bu-taihiap?”

Tiba-tlba wanita itu bergerak dengan cepat dan tahu-tahu lengan tangan Yu Hwi sudah dicengkeramnya, “Bagaimana kau tahu?”

Yu Hwi tidak kaget dan juga tidak takut, melainkan tersenyum. “Subo demikian dekat dengan teecu, sudah seperti Ibu sendiri atau kakak sendiri. Subo pernah bercerita tentang Bu-taihiap, dan teecu tahu bahwa Subo masih mencintanya. Maka begitu Subo mengatakan hendak merantau ke Pegunungan Himalaya, siapa lagi yang Subo cari kecuali Bu-taihiap?”

Wanita itu mengangguk lesu, “Engkau memang cerdik sekali, muridku. Akan tetapi…. aku berhak menikmati hidupku, berhak meraih cintaku….“

“Demikian pula teecu, Subo.”

“Aku tahu, akan tetapi engkau akan sengsara kalau menjadi keluarga di Lembah Suling Emas…. tapi kau cerdik, engkau lebih cerdik dari pada aku, semoga saja kau berhasil mengatasi hal itu. Nah, kau berangkatlah mencari See-thian Coa-ong, muridku, aku pun akan pergi sekarang juga.”

Dua orang wanita itu sejenak saling berpandangan, kemudian mereka saling rangkul untuk beberapa lamanya. “Hati-hatilah engkau, muridku,” kata Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu lirih dan mereka lalu saling melepaskan rangkulan dan berpisahlah mereka.

“Akan tetapi janji itu masih kurang beberapa hari lagi, Subo.” Yu Hwi berkata ketika mereka akan berpisah. “Memang, kurang sebulan lagi. Nah, aku pergi dulu, selamat tinggal, Yu Hwi.”
“Selamat jalan, Subo, harap Subo jaga baik-baik diri Subo,” kata dara itu dengan hati terharu. Memang, subo-nya berhak menikmati hidupnya, berhak meraih cintanya. Akan tetapi, pria yang dicinta oleh subo-nya itu telah beristeri! Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada wanita yang menjadi gurunya itu.

Setelah tiba waktunya, kurang lebih sebulan kemudian, berangkatlah Yu Hwi mencari See-thian Coa-ong di tempat pertapaan kakek itu. Dia berangkat dengan hati besar sebab selain dia percaya kepada diri sendiri dan merasa yakin akan dapat mengalahkan murid Raja Ular itu, juga dia merasa tenang karena dia tahu bahwa diam-diam kekasihnya atau juga paman gurunya, Cu Kang Bu, diam-diam membayanginya dari jauh seperti yang telah dijanjikan oleh pendekar sakti itu. Kang Bu tidak mau datang berterang membantu Yu Hwi karena hal ini amat merendahkan nama keluarga Lembah Suling Emas yang terkenal, maka dia hendak melindungi kekasihnya secara diam-diam saja.

Akan tetapi betapa kecewa hati Yu Hwi ketika dia tiba di tempat pertapaan kakek itu, seperti yang diberitahukan subo-nya, dia hanya mendapatkan kakek itu seorang saja! See-thian Coa-ong bangkit berdiri, menyambut kedatangannya dan kakek ini berkata dengan ramah.

“Jadi engkau adalah murid Cui-beng Sian-li, Nona? Memang hari ini adalah hari perjanjian antara Gurumu dan aku untuk saling menguji kepandaian murid masing-masing, untuk menentukan siapa di antara kami yang lebih becus mengajar murid. Akan tetapi sayang, muridku itu telah pergi setahun yang lalu. Ahh, dia masih kanak-kanak, tidak dapat bertahan menanti sampai lima tahun, Nona, dan dia telah pergi….” Kakek itu menarik napas panjang. “Oleh karena itu, biarlah aku tua bangka yang tiada gunanya ini sekarang mengaku kalah kepada Subo-mu, Cui-beng Sian-li karena aku tidak dapat memenuhi janji.”

Yu Hwi mengerutkan alisnya, hatinya kecewa dan dia merasa penasaran sekali. Dia tahu bahwa gurunya memang suka kepadanya dan suka pula mengajarkan ilmu-ilmu silat kepadanya, akan tetapi di samping itu, gurunya mengajarnya selama lima tahun juga dengan maksud agar dia dapat mengalahkan murid kakek ini. Dan sekarang, harapan dari subo-nya itu dikesampingkan begitu saja, dengan sedemikian mudahnya seolah-olah janji itu hanya main-main belaka. Bagaimana dia akan menjawab kalau subo-nya kelak bertemu dengan dia dan bertanya tentang pertandingan itu? Lalu apa buktinya terhadap subo-nya yang telah dengan susah payah melatihnya selama lima tahun itu?

“See-thian Coa-ong, mana mungkin engkau membatalkan janji selama lima tahun dengan demikian mudahnya? Jika memang muridmu itu takut menghadapi aku, kenapa engkau membuat janji lima tahun yang lalu? Kalau begitu, biarlah engkau saja mewakili muridmu dan aku mewakili Guruku! Pertandingan lima tahun yang lalu kita lanjutkan sekarang.”

“Ahh, jangan begitu, Nona. Mana mungkin aku yang tua bangka ini melawan engkau yang masih muda? Lawanmu adalah muridku, dan karena muridku kini tidak ada….“

“Maka engkaulah yang menjadi wakilnya, See-thian Coa-ong. Nah, majulah!” Yu Hwi menantang. Kakek itu menggeleng kepala. “Aku sudah tua….”
“Kalau begitu kau berlututlah menghadap ke barat dan mengaku kepada Subo bahwa engkau kalah olehnya!” kata Yu Hwi.

Kakek itu tersenyum. “Eh, mana mungkin ini? Aku mengaku kalah cara mengajar murid, bukan kalah bertanding.”

“Kalau begitu sambutlah ini. Haiittt….!” Yu Hwi mengeluarkan suara melengking sebelum menyerang, kemudian dia menerjang maju mengirim serangan kepada kakek itu!

“Ehh….!” See-thian Coa-ong cepat mengelak sehingga serangan pertama itu luput, akan tetapi Yu Hwi sudah menerjangnya lagi kalang-kabut sehingga kakek itu harus cepat mengelak dan menangkis karena serangan-serangan yang dilakukan oleh gadis itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Kepandaian Yu Hwi pada waktu itu telah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga tidak sembarang orang akan mampu bertahan terhadap serangan-serangan yang dilakukan untuk memaksakan kemenangan ini. Akan tetapi See-thian Coa-ong adalah seorang pertapa sakti yang tingkat kepandaiannya seimbang dengan tingkat Cui-beng Sian-li, maka tentu saja dia mampu melindungi dirinya dari serangkaian serangan yang dilakukan oleh Yu Hwi. Akan tetapi karena kakek ini sama sekali tidak pernah membalas serangan- serangan itu, dan hanya bertahan saja, maka sudah tentu dia segera terdesak hebat dan berloncatan mundur sambil beberapa kali menangkis.

Pada saat itu, nampak sesosok tubuh ramping berlari-lari mendatangi dari jauh menuju ke tempat itu dan setelah dekat, terdengar suara orang yang datang ini berseru keras. “Siapa berani menghina Suhu?”

Yang datang itu bukan lain adalah Ci Sian! Seperti kita ketahui, Ci Sian ditolong oleh Pendekar Suling Emas Kam Hong, lalu ketika mereka saling menceritakan pengalaman, Ci Sian bercerita kepada pendekar itu tentang diri Yu Hwi, calon isteri yang dicari-cari oleh pendekar itu. Mendengar ini, Kam Hong menjadi girang sekali dan dia minta kepada Ci Sian untuk mengantarkan dia menemui Yu Hwi di kaki Bukit Lembah Suling Emas. Selain ingin bertemu dengan Yu Hwi, juga Kam Hong tertarik sekali mendengar tentang lembah yang bernama Lembah Suling Emas itu dan ingin menyelidikinya.

Di sepanjang perjalanan, mulailah Kam Hong memberi petunjuk-petunjuk kepada Ci Sian dalam ilmu silat, terutama sekali untuk memberi dasar kepada dara ini agar dapat menerima ilmu-ilmu yang mereka dapatkan bersama dari catatan di tubuh kakek kuno! Kam Hong juga mulai melatih Ci Sian cara memainkan suling, dan untuk memudahkan latihan, Kam Hong membuatkan sebuah suling bambu gading untuk dara itu.

Karena tempat pertapaan See-thian Coa-ong berada di antara perjalanan menuju ke Lembah Suling Emas, maka Ci Sian mengajak Kam Hong untuk singgah di tempat pertapaan kakek itu karena dia hendak menjenguknya. Ketika dari jauh dia melihat suhu-nya sedang diserang oleh seorang wanita, dan suhu-nya itu hanya mengelak dan menangkis tanpa membalas, Ci Sian terkejut dan marah sekali, maka berlarilah dia secepatnya ke tempat itu meninggalkan Kam Hong sambil berteriak-teriak marah.

Mendengar teriakan itu, Yu Hwi meloncat ke belakang dan See-thian Coaong berseru girang sekali, “Ci Sian….!”

Sementara itu, Ci Sian sudah mengenal Yu Hwi dan dia berkata, “Hemmm, kiranya engkau yang menyerang Suhu? Suhu, mengapa dia menyerang Suhu?”

“Ci Sian, lupakah kau? Hari ini adalah hari perjanjian antara Gurumu dan Gurunya. Syukur engkau datang….”

“Ahh, kiranya begitu? Bagus, aku sudah datang. Engkau Yu Hwi murid Ciu-beng Sian-li, bukan? Hayo, akulah lawanmu, jangan menghina orang tua!”

Yu Hwi tersenyum mengejek, memandang kepada dara yang cantik itu, cantik dan muda, kelihatan masih hijau maka tentu saja dia tidak gentar. “Bagus, memang engkau yang kucari untuk menentukan guru siapa yang lebih pandai. Aku menyerang Gurumu sebagai penggantimu, gara-gara engkau ketakutan dan melarikan diri setahun yang lalu!”

“Apa? Aku melarikan diri? Aihhh, engkaulah manusia yang paling sombong di dunia ini, yang paling tak tahu diri, kejam dan angkuh!” Ci Sian teringat betapa wanita ini telah meninggalkan Kam Hong dan menyia- nyiakan kesetiaan Kam Hong, membuat pendekar itu selama bertahun-tahun menderita.

Yu Hwi terbelalak, tidak mengerti mengapa dara remaja itu agaknya amat marah dan benci kepadanya! “Hemm, tidak perlu banyak mulut, kalau memang ada kepandaian, kau majulah!” tantangnya.

“Baik, baik! Aku akan melawanmu sampai selaksa jurus!” bentak Ci Sian dan dua orang wanita yang sama- sama cantik manis itu sudah saling terjang, entah siapa yang lebih dulu menyerang karena keduanya sudah sama-sama menyerang!

Tentu saja mereka berdua juga terkejut dan kini mereka keduanya mengelak. Terjadilah kini pertempuran yang amat seru dan hebat, jauh bedanya dengan tadi ketika Yu Hwi menyerang See-thian Coa-ong karena kakek itu sama sekali tak membalas. Kini kedua orang muda itu saling serang dengan dahsyatnya!

See-thian Coa-ong sudah duduk bersila dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar. Kakek ini memang mempunyai semacam penyakit, yaitu suka sekali menonton orang bertanding silat dan suka pula bertanding sendiri mengadu kepandaian, namun bukan bertanding didasari marah atau benci, melainkan semata-mata karena suka bersilat dan bertanding silat, seperti bertanding olah raga, lupa bahwa bertanding silat sama sekali tidak dapat disamakan dengan pertandingan olah raga atau catur umpamanya karena dalam ilmu silat terdapat ancaman-ancaman maut yang mengerikan. Sedikit pun tidak ada sikap berat sebelah atau ingin membantu muridnya dalam hati Coa-ong, sungguh pun, seperti seorang botoh adu jago, dia ingin melihat muridnya menang. Baginya, kalah menang, luka atau mati sekali pun dalam adu ilmu silat, bukan apa-apa dan bukan hal yang dapat dibuat sesalan!

Pertandingan silat itu sungguh hebat bukan main. Setelah menerima petunjuk-petunjuk dari kekasihnya, yaitu Cu Kang Bu, ilmu kepandaian Yu Hwi telah meningkat hebat. Dia bersilat dengan ilmu silat yang dipelajarinya dari subo-nya, yang memang sengaja dilatihnya dengan tekun untuk menghadapi murid See- thian Coa-ong, yaitu Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun. Di samping memainkan ilmu silat yang banyak ragamnya, dan yang kedudukan kakinya mengatur kedudukan Pat-kwa ini, Yu Hwi juga mempergunakan tenaga sinkang untuk melancarkan pukulan dari Ilmu Kiam-to Sin-Ciang sehingga kedua tangannya itu seolah-olah berubah menjadi pedang dan golok! Hebatnya ilmu ini bukan kepalang!

Akan tetapi lawannya, Ci Sian, biar pun masih muda, namun memang sudah memiliki ilmu kepandaian yang hebat pula. Tak percuma See-thian Coa-ong menggemblengnya selama empat tahun dan menurunkan Ilmu Sin-coa Thian-te-ciang (Ilmu Silat Bumi Langit Ular Sakti) yang hebat. Ilmu ini adalah ciptaan See-thian Coa-ong sendiri, digabung dari Ilmu Silat Thian-te-kun dengan gerakan-gerakan binatang ular yang lincah! Karena dia sendiri merupakan seorang pawang ular yang sudah dijuluki Raja Ular, tentu saja dia mengenal baik gerakan-gerakan ular dan dia mengambil bagian-bagian yang amat lincah dari gerakan-gerakan ular yang bertarung dan menciptakan gerakan-gerakan ini menjadi ilmu silat digabungkan dengan Ilmu Silat Thian-te-kun.

Maka sekarang setelah Ci Sian memainkan Ilmu Silat Sin-coa Thian-te ciang, gerakan-gerakannya amat aneh, lincah dan tidak terduga-duga sehingga Yu Hwi sendiri sampai menjadi kaget dan kagum. Akan tetapi, andai kata dara remaja ini tidak menerima petunjuk-petunjuk dari Kam Hong, tentu dia akan kalah menghadapi ilmu silat Yu Hwi yang lebih matang. Baiknya, latihan-latihan yang diberikan Kam Hong baru- baru ini telah membangkitkan sinkang yang luar biasa dalam diri Ci Sian hingga mampu mengimbangi pukulan-pukulan Kiam-to Sin-ciang dari lawan yang amat berbahaya itu. Maka terkejut dan kagumlah Yu Hwi ketika sambaran angin pukulan Kiam-to Sin-ciang darinya dapat terpental kembali oleh hawa yang keluar dari kedua tangan dara remaja itu ketika menangkisnya.

Bukan main serunya pertandingan antara dua orang gadis itu, sehingga Kam Hong sendiri yang menonton dari jauh merasa kagum. Tidak disangkanya bahwa Yu Hwi, tunangannya yang bertahun-tahun tidak pernah di jumpainya itu, kini sudah menjadi seorang wanita yang matang dan semakin cantik bahkan telah memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi dia juga kagum melihat Ci Sian, kagum dan bangga bahwa dara remaja itu ternyata mampu menghadapi Yu Hwi yang demikian lihainya! Dia melihat bakat yang amat baik pada diri Ci Sian dan mengambil keputusan untuk menurunkan Ilmu-ilmu yang mereka dapat dari tubuh jenazah kuno itu, karena Ci Sian juga berjasa dalam menemukan rahasia ilmu-ilmu itu.

Juga See-thian Coa-ong kegirangan bukan main menyaksikan pertandingan seru itu. Dia menggerak- gerakkan kedua tangannya, seperti seorang anak kecil yang nonton adu jago atau adu jangkerik dan tidak dapat menahan emosinya, ikut menjotos jika melihat muridnya menyerang dan ikut mengelak kalau melihat ada pukulan menyambar ke arah muridnya. Sungguh menggelikan dan lucu sekali tingkah kakek yang gila tontonan adu silat ini!

Hanya seorang yang menonton pertandingan itu dengan alis berkerut dan hati gelisah. Orang ini bukan lain adalah Cu Kang Bu! Dia adalah seorang pendekar sakti dan tentu saja dengan mudah dia dapat mengikuti jalannya pertandingan dan maklum bahwa kekasihnya tidak kalah oleh lawannya. Akan tetapi dia melihat pula bahwa tidaklah mudah bagi kekasihnya untuk mengalahkan lawan, karena dara remaja itu memang lihai sekali, terutama memiliki dasar ginkang dan sinkang yang aneh dan kuat. Sebagai seorang yang sedang jatuh cinta dan tergila-gila, tentu saja dia merasa amat khawatir kalau-kalau kekasihnya itu terluka. Membayangkan Yu Hwi terluka mendatangkan rasa ngeri dalam hatinya, maka diam-diam dia lalu mengerahkan khikang-nya dan bibirnya bergerak-gerak sedikit. Biar pun tiada suara yang keluar, namun nampaklah perubahan pada pertempuran itu!

Yu Hwi terkejut ketika tiba-tiba dia mendengarkan bisikan-bisikan di dekat telinganya. Dia tidak tahu suara siapa itu, karena hanya terdengar lirih berbisik-bisik seperti suara angin bermain pada daun-daun pohon, namun jelas sekali tertangkap olehnya dan ketika dia mendengar bahwa bisikan-bisikan itu merupakan petunjuk-petunjuk untuk gerakan-gerakannya selanjutnya, giranglah hatinya karena dia dapat menduga bahwa siapa lagi jika bukan Kang Bu yang memberi petunjuk kepadanya? Maka dia kemudian bergerak mengikuti petunjuk ini dan dalam beberapa jurus saja dia telah berhasil menampar pundak Ci Sian sehingga dara remaja ini terpelanting. Memang tidak tepat benar kenanya, akan tetapi setidaknya dia telah mampu mengenai tubuh lawan, maka dia mendesak lagi dengan penuh semangat sambil terus mentaati bisikan-bisikan yang memberi petunjuk itu!

Melihat ini, See-thian Coa-ong terkejut dan mengeluh, tetapi tiba-tiba dia merasa girang ketika dalam keadaan terdesak dan terhuyung, mendadak saja kaki Ci Sian bergerak sedemikian rupa dan ujung sepatunya dapat mencium betis lawan, membuat Yu Hwi juga terhuyung! Kiranya dalam keadaan terdesak itu, tiba-tiba Ci Sian mendengar suara bisikan yang amat jelas, memberi petunjuk kepadanya dan dia pun tahu bahwa suara itu tentu suara Kam Hong, oleh karena siapakah yang demikian saktinya untuk memberi petunjuk kepadanya? Suhu-nya tidak mungkin mau melakukan hal itu karena suhu-nya itu memang luar biasa ‘sportifnya’, tidak mau berlaku curang. Dan memang dugaannya itu benar.

Kam Hong amat khawatir menyaksikan keadaannya, apalagi ketika pendekar ini melihat seorang pria muda yang berdiri jauh di belakang Yu Hwi dan dia cepat mengheningkan cipta. Dia dapat merasakan getaran- getaran kuat datang dari pria itu, maka dia terkejut bukan main karena maklumlah dia bahwa pria itu amat lihai dan sedang mengirimkan suara dari jauh untuk membantu Yu Hwi! Maka, dia pun cepat mengerahkan khikang untuk membantu Ci Sian sehingga tanpa diduga-duga oleh Yu Hwi, Ci Sian yang kena ditampar pundaknya itu mampu membalas dan dapat menendang betis lawan.

Kini terjadi pertandingan yang semakin hebat. Gerakan-gerakan mereka menjadi makin aneh, akan tetapi setiap serangan amat hebat dan ganas, menyimpang dari gerakan semula, akan tetapi hebatnya, masing- masing lawan dapat saja menghindarkan diri dan membalas pula dengan serangan yang tidak kalah aneh dan dahsyatnya!

Kini See-thian Coa-ong berhenti menggerak-gerakkan kedua tangannya dan matanya terbelalak memandang ke arah pertempuran itu. Mulutnya ternganga karena dia melihat hal yang luar biasa sekali, yang hampir tak dapat dipercayainya. Dia seperti melihat betapa dua orang wanita itu berubah menjadi dua orang lain karena kini pertandingan itu berlangsung dengan hebatnya, dengan gerakan-gerakan yang amat aneh. Muridnya itu sama sekali tidak lagi menggerakkan ilmu Sin-coa Thian-te-ciang lagi! Dan gerakan lawan muridnya itu pun amat anehnya!

Yu Hwi dan Ci Sian kini hanya bergerak menurutkan petunjuk bisikan-bisikan itu saja, dan ternyata dengan menurut petunjuk-petunjuk itu, mereka masing-masing bisa selalu menghindarkan diri dari serangan lawan yang amat dahsyat, maka mereka lalu menurut secara membuta, maklum bahwa mereka masing-masing sudah dituntun oleh petunjuk-petunjuk yang dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat jauh lebih tinggi dari pada mereka!

Cu Kang Bu merasa terkejut bukan main menyaksikan kelihaian dara remaja itu. Akan tetapi dia segera melihat Kam Hong berdiri jauh di belakang Ci Sian dan maklumlah dia bahwa ada orang pandai yang melakukan hal yang sama dengan dia, yaitu membantu dara remaja itu dengan melalui Ilmu Coa-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh). Dia merasa penasaran dan makin memperhebat petunjuknya, akan tetapi betapa kagetnya ketika melihat bahwa dara remaja itu tetap selalu dapat menghindarkan diri, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya! Juga Kam Hong menjadi kagum dan maklum bahwa orang yang membantu Yu Hwi itu benar-benar sakti dan luar biasa sekali!

Tiba-tiba terdengar suara teriakan nyaring sekali, menggetarkan seluruh tempat itu dan membuat dua orang wanita yang sedang bertanding itu terkejut dan meloncat mundur. Tiba-tiba saja di situ sudah berdiri Cu Han Bu yang tadi mengeluarkan teriakan nyaring, sikapnya tenang, akan tetapi suaranya mengandung penuh wibawa ketika dia berkata. “Hentikan semua pertandingan bodoh ini!”

Semua orang memandang kepada pendekar ini, seorang pria berusia empat puluh lima tahun, berpakaian sederhana, bertubuh tegap dan sedang, rambutnya sudah banyak putihnya dan rambut itu digelung ke atas, tidak dikuncir seperti pada umumnya di jaman itu. Inilah Cu Han Bu yang berjuluk Kim-kong-sian (Dewa Sinar Emas), tokoh pertama dari Lembah Suling Emas. Biar pun pakaian dan sikapnya sederhana, namun sungguh dia berwibawa sekali sehingga Kam Hong yang juga sudah menghampiri tempat itu memandang kagum. Kedua orang itu, Cu Han Bu dan Cu Kang Bu, benar-benar merupakan dua orang pria hebat dengan sinar mata yang mencorong membayangkan tenaga dalam yang amat hebat.

Sementara itu, See-thian Coa-ong juga terkejut melihat munculnya dua orang laki-laki gagah lain, yaitu Cu Kang Bu dan Kam Hong. Cepat-cepat dia bangkit berdiri dan menghampiri Cu Han Bu, memandang penuh perhatian lalu menjura dengan hormat.

“Harap maafkan kalau mataku yang sudah lamur ini tidak salah lihat. Apakah kini saya berhadapan dengan Kim-siauw San-kok-cu (Majikan Lembah Gunung Suling Emas) yang berjuluk dan bernama Kim-kong-sian Cu Han Bu?”

Cu Han Bu memandang pada kakek itu dengan sikap dingin akan tetapi cukup hormat. Dia membalas penghormatan kakek itu dan berkata, suaranya cukup ramah. “Harap See-thian Coa-ong tidak terlalu sungkan. Saya memang Cu Han Bu dan dia itu adik saya Cu Kang Bu.” Ia menuding ke arah adiknya, agaknya yang tinggi besar dan gagah perkasa itu.

“Aihhh, ternyata Ban-kin-sian (Dewa Bertenaga Selaksa Kati)? Sungguh merupakan penghormatan besar bagiku dapat berjumpa dengan tokoh-tokoh besar Lembah Suling Emas!” kata See-thian Coa-ong dan Kang Bu membalas penghormatan orang dengan sikap bersahaja.

Mendengar semua ini, Kam Hong menjadi makin kagum. Dua orang itu memang hebat, pikirnya dan semakin tertariklah dia saat mendengar bahwa mereka berdua itu adalah majikan-majikan atau tokoh-tokoh Lembah Suling Emas.

“Coa-ong, kami sudah mendengar akan persaingan seperti kanak-kanak antara engkau dan Toaso kami.”

“Wah, wah…. Cui-beng Sian-li memang hebat dan bersemangat sekali, telah membuat perlombaan yang menggembirakan, sayang dia tidak hadir…,” kata kakek itu tersenyum.

“Dia sudah pergi dan tidak berada di daerah lembah lagi, Coa-ong. Oleh karena itu, habislah sudah semua perjanjian dan perlombaanmu dengan dia. Dan kami harap agar engkau suka menghentikan persaingan bodoh itu. Engkau dan Toaso telah melakukan permainan berbahaya, sehingga murid-murid diadu, bahkan engkau telah minta bantuan orang pandai. Perbuatanmu itu dapat membuahkan permusuhan- permusuhan!” kata Cu Han Bu dengan suara menegur dan dia menoleh dan memandang ke arah Kam Hong yang sejak tadi memandang kepada mereka dan kepada Yu Hwi yang kini berdiri dekat sekali dengan Kang Bu.

“Minta bantuan orang pandai? Ah, aku tidak minta bantuan siapa pun juga….!” See-thian Coa-ong berseru dan kini dia pun memandang kepada Kam Hong yang berdiri dekat Ci Sian dengan heran. Melihat betapa Ci Sian nampaknya sangat akrab dengan pemuda berpakaian sastrawan itu, dia menegur, “Ci Sian, muridku, siapakah temanmu itu?”

Kini Kam Hong melangkah maju dan dengan penuh hormat dia pun menjura kepada See-thian Coa-ong dan kepada dua orang pendekar sakti itu. Suaranya halus dan tenang ketika dia berkata. “Harap Sam-wi tidak salah mengerti. Sesungguhya saya tidak hendak mencampuri urusan Locianpwe ini, dan kedatangan saya di sini adalah untuk urusan pribadi. Maafkan saya!”

Dia lalu melangkah maju dan berdiri menghadapi Yu Hwi, memandang dengan tajam sampai beberapa lama. Yu Hwi melangkah mudur dan tanpa dia sengaja tangannya menyentuh tangan Kang Bu yang menggenggam tangan itu.

“Moi-moi, kuharap dengan hormat dan sangat agar engkau suka ikut bersamaku,” Kam Hong berkata dengan singkat saja karena dia tidak ingin banyak bicara dengan Yu Hwi di depan begitu banyak orang asing.

Wajah Yu Hwi sebentar pucat sebentar merah memandang kepada Kam Hong, lalu dia menoleh kepada Kang Bu, memegang tangan yang besar itu semakin kuat dan dia memandang lagi kepada Kam Hong, lalu berkata suaranya lirih namun tegas, “Aku tidak mau pergi bersamamu!”

Kam Hong mengerutkan alisnya. Tidak mungkin dia bicara banyak di depan banyak orang yang semua memandang kepadanya dan kepada Yu Hwi itu, karena yang akan dibicarakan adalah urusan pribadi. Dia merasa heran kenapa Yu Hwi tak mau mengerti akan hal ini dan mengapa gadis itu masih bersikap begitu keras kepala seperti seorang anak kecil saja.

“Dinda Yu Hwi, bertahun-tahun aku mencarimu dan setelah kita bertemu, mengapa kau bersikap begini? Aku hanya ingin bicara denganmu, dan orang-orang tua di rumah menanti-nanti.”

“Aku tidak mau pulang! Aku tak mau bicara lagi tentang urusan kita!” Yu Hwi berkata, di dalam suaranya terkandung isak.

“Hwi-moi….,” Kam Hong masih hendak membujuk. Betapa pun juga, baik perjodohan itu dilanjutkan atau dibatalkan, mereka harus dibicarakan dengan baik-baik di depan para orang tua yang menjodohkan mereka.

Mendadak terdengar suara lantang dan nyaring, besar dan kasar tetapi mengandung keterbukaan. “Memaksa seseorang yang tidak mau apalagi kalau yang dipaksa itu seorang wanita, merupakan perbuatan rendah dan pengecut!”

Kam Hong yang tadinya memandang kepada Yu Hwi, perlahan-lahan mengalihkan pandangannya dan kini dia memandang kepada wajah yang gagah perkasa itu. Sejenak dua pasang mata yang mencorong seperti mata naga-naga sakti itu saling pandang, seolah-olah kedua orang pendekar sakti ini sudah saling serang melalui sinar mata mereka dan keduanya tak ada yang mau tunduk, keduanya memiliki kekuatan pandang mata yang luar biasa.

Kam Hong tersenyum tenang dan suaranya juga halus ketika dia berkata, “Mencampuri urusan pribadi orang lain merupakan perbuatan yang lebih rendah lagi selain tidak sopan sama sekali.”

Kembali suasana menjadi hening menegangkan setelah terdengar kata-kata yang sama menusuknya ini. Kang Bu nampak terkejut dan dia memandang kepada kekasihnya yang berdiri di dekatnya, lalu bertanya lirih, “Yu Hwi, diakah orangnya….?” Pertanyaan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua dan Yu Hwi mengangguk.

Melihat kenyataan ini, wajah Kang Bu menjadi merah sekali dan tahulah dia bahwa dia berada di pihak yang salah. Pria yang tampan dan lembut berpakaian sastrawan ini kiranya adalah tunangan Yu Hwi! Tentu saja, sebagai orang luar, dia sama sekali tidak berhak mencampuri pembicaraan atau urusan antara dua orang tunangan! Kang Bu adalah seorang gagah, maka kini dia merasa terpukul dan tidak berani bicara lagi, hanya memandang kepada Kam Hong dengan sinar mata tak senang dan mengepal tinjunya yang besar, tidak tahu harus berkata apa atau bertindak apa!

Sejak tadi Ci Sian memperhatikan kesemuanya itu. Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada Kam Hong dan menyesalkan sikap Yu Hwi yang demikian keras kepala. Apa sih hebatnya perempuan ini sehingga berani bersikap demikian angkuh terhadap Kam Hong? Menurut penilaiannya, Yu Hwi masih belum pantas menjadi calon isteri Kam Hong, sama sekali belum pantas! Lalu dia melihat sikap Kang Bu, melihat betapa Kang Bu dan Yu Hwi saling berpegang tangan dan mengertilah dara ini. Hatinya terasa panas sekali dan tiba-tiba dia terkekeh.

Suara ketawa yang halus nyaring ini tentu saja seperti halilintar memecah kesunyian yang menegangkan itu sehingga semua orang memandang kepadanya. Ci Sian berjebi, bibirnya yang kecil mungil dan merah itu meruncing dan dia memandang kepada Yu Hwi dan Kang Bu, lalu berkata dengan suara mengejek sekali. “Laki-laki yang merebut calon isteri orang dan perempuan yang sudah bertunangan masih bergandeng tangan dengan laki-laki lain, sungguh merupakan pasangan yang setimpal sekali!”

Bukan main hebatnya ejekan ini yang ditujukan kepada Kang Bu dan Yu Hwi. Wajah Yu Hwi sampai menjadi pucat dan wajah Kang Bu menjadi merah bukan main dan tangan mereka yang saling bergandengan itu tiba-tiba terlepas.

“Ci Sian….!” Kam Hong menegur karena dia merasa betapa ejekan itu melampaui batas, terlalu kasar dan menusuk perasaan walau pun dia mengerti bahwa dara itu melakukan ejekan karena kasihan kepadanya dan marah kepada Yu Hwi dan pria gagah perkasa itu.

“See-thian Coa-ong….,” terdengar suara Kang Bu dalam dan berat, menggetar dan membuat jantung yang mendengarnya ikut tergetar, “Jikalau engkau tidak mampu menghajar mulut muridmu, biarlah aku yang akan menghajarnya. Dia menghina orang keterlaluan!”

Dan tiba-tiba saja tangannya bergerak ke depan, dan dia sudah menampar ke arah Ci Sian! Betapa pun Ci Sian memiliki gerakan cepat, namun dia sama sekali tidak mampu mengelak lagi dan hanya terbelalak. Pada saat itu, See-thian Coa-ong meloncat dan menangkis.

“Desss….!” Tubuh kakek itu terbanting keras ke atas tanah sampai bergulingan!

“Hemm, engkau malah melindungi muridmu yang kurang ajar itu?” kata pula Kang Bu dan kembali dia hendak menyerang Ci Sian, kini bahkan meloncat ke depan.

Akan tetapi tahu-tahu di depannya sudah berdiri Kam Hong. Kang Bu sengaja tidak mempedulikan orang ini dan tangan kirinya tetap menampar ke arah Ci Sian yang lari berlindung ke belakang Kam Hong.

Kam Hong berkata, “Sabarlah, Sobat!” Dan dia pun menangkis.

“Dukkk!” Dua lengan beradu dan akibatnya keduanya bergetar, akan tetapi tubuh Kam Hong sama sekali tidak terguncang dan dia memandang dengan sinar mata dingin.

“Hemm, tadi pun engkau telah mengajakku main-main, apakah artinya ini? Dara remaja itu tidak salah karena apa yang dikatakan itu adalah kenyataan belaka. Apakah benar-benar engkau hendak mencampuri urusan antara dua orang yang sejak kecil sudah dijodohkan untuk menjadi calon suami isteri?” berkata Kam Hong sambil memandang tajam.

Kang Bu merasa serba salah. Akan tetapi dia adalah seorang yang jujur, tidak mau berpura-pura karena sopan santun, dan dia suka bertindak atau mengucapkan apa yang terkandung di dalam hatinya. “Engkau tentu yang bernama Kam Hong, tunangan Yu Hwi, bukan? Nah, terus terang saja, aku sudah mendengar tentang engkau dan kini ketahuilah bahwa Yu Hwi tidak suka menjadi tunanganmu, dan kami berdua saling mencinta. Aku akan melindunginya, kalau perlu mempertaruhkan nyawaku untuk itu!”

“Hemm, caramu kasar sekali, sobat!” Kam Hong mencela.

“Tidak peduli, aku sudah bicara terus terang! Kalau engkau hendak memaksa dia, nah, biarlah kita memperebutkan dia melalui kepalan atau ujung senjata. Kita adalah laki-laki, tidak perlu kiranya banyak bicara!” Setelah berkata demikian, Kang Bu memasang kuda-kuda dan siap untuk berkelahi.

Tubuh Cu Kang Bu memang tinggi besar dan kokoh kuat, dan kini dia berdiri dengan tubuh tegak, dua kaki dipentang lebar, kedua tangan tergantung di kanan kiri tubuhnya, agak ditekuk sikunya dan nampak jari-jari tangannya menggetar, tanda bahwa tenaga sinkang dari dalam pusarnya telah mengalir ke seluruh tuhuh, siap untuk dipergunakan menghadapi lawan! Wajahnya membayangkan kemarahan dan kejujuran, kasar namun terbuka sesuai dengan wataknya.

Sebaliknya, Kam Hong sejak kecil telah terdidik dengan budi pekerti dan sopan santun, juga dia telah mendalami kitab-kitab Su-si Ngo-keng, juga pelajaran-pelajaran tentang kebatinan dan kesusastraan. Maka sikap Cu Kang Bu itu terasa amat kasar dan tidak sopan baginya, biar pun sebagai seorang yang berjiwa pendekar dia amat menghargai kejujuran orang itu.

Melihat betapa kekasihnya itu telah memasang kuda-kuda dan menantang Kam Hong berkelahi, hati Yu Hwi merasa khawatir juga. Memang dia tidak mau dijodohkan dengan Kam Hong, akan tetapi hal ini bukan karena dia membenci Kam Hong, melainkan karena kekecewaannya. Dahulu dia tergila-gila kepada Siluman Kecil yang dalam hal ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari pada tingkat Siauw Hong atau Kam Hong, maka kenyataan bahwa dia dijodohkan dengan pemuda ini sedangkan dia jatuh cinta kepada Siluman Kecil amat mengecewakan hatinya. Andai kata dia dulu tidak jatuh cinta lebih dulu pada Siluman Kecil yang dikaguminya, belum tentu dia akan menolak perjodohan yang ditentukan oleh orang-orang tua itu.

Dan kini, dia telah melakukan pilihan hatinya lagi, yaitu kepada Cu Kang Bu, pria yang dianggapnya amat gagah perkasa. Maka melihat betapa Kang Bu menantang Kam Hong, dia merasa khawatir dan dia tidak menghendaki Kang Bu bertempur melawan Kam Hong, yang bagaimana pun juga tidak mempunyai kesalahan apa-apa kepadanya. Wajarlah kalau Kam Hong yang ditunangkan dengan dia kini datang mencarinya dan mengajaknya pulang.

“Sam-susiok….!” Dia berteriak sambil mendekati Kang Bu dan menyentuh lengannya. “Jangan berkelahi….!”

Mendengar ini, Kam Hong menjadi terheran-heran. “Hemm, Susiok-nya, ya?” katanya dengan suara dingin karena dianggapnya amat aneh dan janggal jika kini tunangannya itu jatuh cinta dengan susiok-nya sendiri. Bagi dia yang telah memiliki dasar pelajaran tata susila, seorang susiok (paman guru) tiada bedanya dengan seorang paman sendiri, maka tidaklah pantas kalau terjadi hubungan cinta antara seorang keponakan dan seorang pamannya sendiri.

Mendengar kata-kata yang nadanya mencela atau mengejek itu, Cu Kang Bu segera memandang kepada tunangan kekasihnya dengan sinar mata mencorong dan dia pun berkata dengan suara lantang. “Benar, dia adalah murid Toaso-ku! Dia adalah murid keponakanku, akan tetapi kami saling mencinta dan kami hendak menikah. Hayo, kalau engkau memang seorang jantan, hadapi aku sebagai laki-laki sejati!”

Kam Hong tersenyum. “Hemm, lagaknya seperti seorang jagoan tukang pukul di pasar saja, padahal, kalau aku tak keliru mendengar tadi, engkau adalah seorang tokoh besar dari Lembah Suling Emas yang berjuluk Ban-kin-sian. Tidak tahu apa hubungannya lembah tempat tinggalmu itu dengan Suling Emas! Kalau tokohnya hanya seorang laki-laki yang sekasar engkau, aku menyangsikan apakah suling yang kalian pakai sebagai nama itu benar-benar terbuat dari pada emas, ataukah hanya tembaga yang diselaput emas?”

Ucapan Kam Hong ini selain hendak menyelidiki tentang Lembah Suling Emas, juga sebagai ejekan karena hatinya mulai panas melihat orang menantangnya tanpa ada perkaranya, hanya karena orang ini mengaku cinta kepada Yu Hwi.

“Engkau laki-laki cerewet seperti nenek-nenek! Hayo maju kalau engkau berani!” Cu Kang Bu yang tidak pandai bicara itu semakin marah.

Akan tetapi pada saat itu, Cu Han Bu sudah melangkah maju dan menjura ke arah Kam Hong. Gerakan kedua tangannya memberi hormat itu mendatangkan suara bersuit nyaring sehingga diam-diam Kam Hong terkejut sekali dan dia sudah siap menjaga diri dengan mengangkat kedua tangannya pula ke depan dada. Akan tetapi sambaran angin itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan hal ini membuat Kam Hong kagum bukan main. Hanya orang yang sudah amat kuat sinkang-nya saja mampu menguasai gerakan angin tenaga yang keluar dari gerakan tangan semacam itu, maka dia mulai memperhatikan orang ini.

Seorang pria yang usianya empat puluh lima tahun kurang lebih, berpakaian sederhana sekali seperti seorang petani, bertubuh sedang dan tegap, rambutnya tidak dikuncir seperti kebiasaan orang-orang pada waktu itu melainkan digelung ke atas dan di kanan kiri kepalanya sudah terdapat banyak uban, tetapi sepasang matanya yang bersinar lembut itu mengandung wibawa yang dingin dan kadang-kadang mencorong bagaikan mata harimau.

“Perkenankan saya Cu Han Bu mintakan maaf terhadap sikap adik saya Cu Kang Bu. Maklumlah, orang yang sedang jatuh cinta kadang-kadang berkurang kesadarannya dan mudah marah kalau orang yang dicintanya terancam atau tersinggung. Akan tetapi, Saudara tadi menyinggung-nyinggung tentang Lembah Suling Emas. Ketahuilah bahwa kami keluarga lembah sejak turun-temurun adalah orang-orang yang menjunjung tinggi keluarga Suling Emas yang menjadi nenek moyang kami, maka Saudara yang telah berani meremehkan keluarga Suling Emas, agaknya memiliki kepandaian yang berarti. Maka, biarlah sekarang adikku Cu Kang Bu mencoba kepandaianmu, bukan untuk membela kekasih, melainkan untuk membela nama Lembah Suling Emas. Tentu saja kalau Saudara berani menyambutnya.”

Tadinya Kam Hong sudah hendak minta maaf dan tidak melayani tantangan itu, akan tetapi tak disangkanya sikap sopan dan hormat dari orang itu ditutup dengan ucapan yang kembali mengobarkan kemarahannya. Kalimat ‘tentu saja kalau Saudara berani menyambutnya’ itu merupakan tantangan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi! Maka tersenyumlah dia, senyum yang pahit.

“Jadi kalian adalah keturunan Suling Emas? Hemmm, agaknya keluarga kalian terlalu memandang tinggi kepandaian sendiri, maka mudah saja menantang semua orang. Baiklah, kalau urusannya untuk mempertahankan nama dan menantang pibu, aku menerimanya, asal bukan untuk memperebutkan wanita!” Sambil berkata demikian, dia mengerling ke arah Yu Hwi yang menjadi merah mukanya dan gadis ini pun lalu melangkah mundur, membiarkan kekasihnya menghadapi tunangannya yang sah itu.

Dua orang pendekar itu sudah saling berhadapan. Kang Bu tetap memasang kuda-kuda seperti tadi, sedangkan Kam Hong berdiri biasa saja, namun seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang dan bergetar.

Mendadak Ci Sian melangkah maju dan berkata dengan suara lantang, “Nanti dulu, Paman Kam Hong!”

Suasana yang amat tegang itu menjadi kendur kembali dan semua mata ditujukan kepada dara lincah itu yang telah berani menghentikan dua orang sakti yang hendak mengadu ilmu.

“Paman, kita harus berhati-hati menghadapi mereka ini! Orang-orang yang telah berani menggunakan nama orang lain sebagai nenek moyangnya tentu merupakan orang-orang yang tidak boleh dipercaya! Paman hanya seorang diri saja sedangkan mereka ini begini banyak. Jangan-jangan Paman akan dikeroyok nanti, maka sebaiknya diadakan perjanjian lebih dulu. Hei, orang-orang Lembah Suling Emas! Bagaimana kalau kalian bersumpah dulu bahwa kalian tidak akan mengeroyok Paman Kam Hong?”

Mendengar ucapan ini, See-thian Coa-ong berseru, “Aihhh, Ci Sian….. apakah engkau mau mati? Engkau tak mengenal siapa Kim-siauw-kok-san-cu dan keluarganya! Mereka adalah pendekar-pendekar sakti yang tak pernah terkalahkan, yang gagah perkasa dan yang tidak pernah mencampuri urusan dunia, nama mereka bersih laksana air gunung!”

Tiba-tiba terdengar suara, “Han-ko, apakah yang telah terjadi?”

Dan belum juga gema suara itu lenyap, orangnya sudah nampak di situ seolah-olah dia pandai menghilang saja! Inilah Cu Seng Bu, orang kedua dari keluarga Lembah Suling Emas dan tokoh ini memang memiliki kelebihan diantara saudara-saudaranya dalam hal ginkang. Gerakannya amat cepat sehingga tadi pun suaranya telah datang dan masih bergema ketika tubuhnya tahu-tahu telah berada di situ tanpa nampak bayangannya!

Melihat ini, See-thian Coa-ong yang tadi kata-katanya terputus, kini melanjutkan kata-kata yang ditujukan sebagai teguran kepada muridnya itu, “Ah, ahhh…. kini lengkaplah sudah dan mataku yang memang hari ini untung besar. Ci Sian, lihatlah baik-baik dan kenalilah orang-orang sakti di masa ini. Pemilik Lembah Suling Emas yang pertama itu adalah pendekar Cu Han Bu yang berjuluk Kim-kong-sian (Dewa Sinar Emas), dan yang kedua dan baru datang ini adalah Cu Seng Bu yang berjuluk Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan), kemudian yang ketiga dan tinggi besar itu adalah pendekar Cu Kang Bu yang berjuluk Ban-kin- sian (Dewa Bertenaga Selaksa Kati). Mereka adalah tiga saudara sakti majikan-majikan Lembah Suling Emas, maka jangan kau bicara sembarangan, mana mungkin akan terjadi pengeroyokan?”

“Ahhh, Suhu hanya terkesan oleh julukan-julukan! Biar pun julukannya dewa, apa dikira dewa tidak ada yang jahat? Buktinya tadi ada susiok yang berpacaran dengan murid keponakannya sendiri hendak membunuhku!”

“Ci Sian, sudahlah. Aku percaya bahwa mereka tidak akan terlalu pengecut untuk mengeroyokku. Pula, siapa yang takut dikeroyok?”

“Bagus!” Ci Sian bertepuk tangan memuji. “Itu baru suara seorang gagah sejati! Hayo, kalian penghuni- penghuni Lembah Suling Emas, kalian keroyoklah Paman Kam Hong kalau kalian memang tebal muka!”

“Bocah bermulut kotor!” Tiba-tiba Yu Hwi membentak dan melotot kepada Ci Sian. “Dari pada banyak mulut, mari kita lanjutkan pertempuran tadi sampai seorang di antara kita mampus dan tidak dapat mengoceh lagi!”

“Yu Hwi, kau mundurlah dan jangan layani anak-anak. Sobat Kam Hong, benar seperti yang dikatakan oleh Han-ko tadi, mari kita saling menguji kepandaian untuk menebus kelancanganmu merendahkan keluarga kami tadi,” kata Cu Kang Bu sambil mendorong kekasihnya mundur dengan halus. Suaranya kini tenang dan sabar dan hal ini dianggap berbahaya oleh Kam Hong, maka dia pun tidak berani memandang rendah.

“Silakan, aku sudah siap sejak tadi.”

“Kang-te (Adik Kang), hati-hatilah, lawanmu ini bukan orang lemah,” kata Cu Seng Bu kepada adiknya. “Aku mengerti, Seng-ko,” jawab adiknya.
Dua orang pendekar itu segera saling mendekati dan semua orang memandang dengan penuh perhatian dan hati tegang, karena betapa pun tenang sikap mereka berdua, semua maklum bahwa di balik pibu ini terdapat semacam ‘perebutan’ atas diri Yu Hwi! Yu Hwi sendiri merasakan hal ini dan wajahnya menjadi merah sekali, jantungnya berdebar…. girang dan bangga! Dia merasa bagaikan seorang puteri yang diperebutkan oleh dua orang pahlawan perkasa seperti yang terjadi dalam dongeng!

Memang naluri kewanitaan selalu mendorong perasaan hati wanita untuk condong ke arah ingin dicinta, ingin dikagumi, ingin dimanja, ingin diperhatikan dan tentu saja semua itu memuncak apabila dirinya diperebutkan! Dan dia tidak merasa khawatir karena dia maklum benar akan kelihaian kekasihnya, Cu Kang Bu. Dia sendiri sudah merasakan betapa saktinya pemuda ini sehingga dia sendiri, yang semenjak kecil telah menerima latihan ilmu-ilmu silat tinggi seperti tidak mampu apa-apa berhadapan dengan Cu Kang Bu.

Dan apakah kepandaian Kam Hong? Dahulu, ketika dia mengenalnya sebagai Siauw Hong, kepandaian pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan kepandaiannya sebelum dia menjadi murid Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, bahkan mungkin dia masih unggul sedikit. Andai kata sekarang kepandaian pemuda itu sudah meningkat maju sekali pun, rasanya tidak mungkinlah kalau akan mampu menandingi ilmu kepandaian Cu Kang Bu yang dia anggap tidak akan kalah oleh Pendekar Siluman Kecil sekali pun.

Kam Hong mengerti bahwa lawannya ini merupakan seorang yang memiliki kepandaian tinggi, merupakan lawan terpandai yang pernah dijumpai dan merupakan orang pertama yang baik sekali untuk dipakai menguji ilmu-ilmu yang baru saja dipelajarinya secara tekun sekali dari catatan di tubuh jenazah kakek kuno, selama lima tahun di tempat sunyi itu.

“Majulah!” katanya tenang sambil menghadapi dan menatap wajah lawan.

“Tidak, aku mewakili keluarga Lembah Suling Emas sebagai pihak tuan rumah, engkau mulailah, sobat.” jawab Kang Bu.

Kam Hong tersenyum. Kalau dia tidak ingat lagi tentang urusan Yu Hwi, tentu dia akan merasa kagum dan suka kepada keluarga yang sikapnya gagah ini. “Nah, sambutlah seranganku!” katanya, kemudian tubuhnya sudah bergerak ke depan. Dia mulai dengan tamparan tangan kirinya yang dilakukan dengan kecepatan luar biasa sehingga tahu-tahu tangan pendekar ini sudah menyambar ke arah leher lawan.

Sebelum dia mempelajari ilmu-ilmu yang mukjijat dari catatan di tubuh jenazah kuno, sebetulnya Kam Hong sudah memiliki kepandaian yang luar biasa. Seperti diketahui, di waktu masih remaja dia sudah digembleng oleh seorang tokoh besar dunia persilatan, yaitu Sai-cu Kai-ong yang telah menurunkan ilmu- ilmu silat tinggi Khong-sim Sin-ciang sebagai ilmu warisan dari Khong-sim Kai-pang kepadanya, di samping juga Ilmu Sai-cu Ho-kang yang dilakukan dengan pengerahan khikang pada suara sehingga dapat mengeluarkan suara gerengan singa yang melumpuhkan lawan yang kurang kuat sinkang-nya.

Kemudian dia digembleng pula oleh Sin-siauw Sengjin, yaitu kakek keturunan pelayan keluarga Suling Emas yang menjadi pemegang pusaka ilmu-ilmu Suling Emas, dan kakek ini dengan penuh kesungguhan menurunkan semua ilmu-ilmu itu kepada Kam Hong sebagai keturunan terakhir keluarga Kam, yaitu keluarga Suling Emas. Dari mendiang Sin-siauw Sengjin ini Kam Hong mewarisi ilmu-ilmu yang luar biasa hebatnya, yaitu Hong-in Bun-hoat, Pat-sian Kiam-hong-hoat, Kim-kong Sin-in, dan Lo-hai San-hoat.

Dengan ilmu-ilmu silat yang sangat tinggi itu saja sebetulnya dia sudah merupakan seorang tokoh yang akan sukar dicari tandingannya, apalagi setelah dia menemukan rahasia peninggalan jenazah kuno pembuat suling emas itu! Kim-siauw Kiam-sut merupakan ilmu pedang yang memang khusus diciptakan oleh pembuat suling itu untuk dimainkan dengan suling emas buatannya sehingga merupakan ilmu pedang yang luar biasa dahsyatnya, sedangkan ilmu meniup suling yang diajarkan melalui catatan rahasia di tubuhnya itu pun merupakan ilmu tinggi yang memperkuat khikang hebat pula.

Cu Kang Bu adalah seorang pemuda yang sejak kecil tekun mempelajari ilmu-ilmu warisan keluarganya, ilmu-ilmu silat kuno simpanan yang sudah jarang dilihat di dunia persilatan. Dalam keluarganya, di antara kakak beradik yang tiga orang itu, kiranya Cu Han Bu yang lebih tinggi setingkat kepandaiannya, akan tetapi mereka memiliki keistimewaan masing-masing dan Cu Kang Bu terkenal dengan kekuatan tubuhnya yang hebat sehingga dia dijuluki Ban-kin-sian atau Dewa Bertenaga Selaksa Kati, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. Biar pun dia merupakan seorang pemuda perkasa yang kasar dan jujur, namun dia bukanlah orang bodoh dan dia tidak memandang rendah lawan karena dia dapat menduga bahwa bekas tunangan kekasihnya ini bukan seorang yang lemah.

Maka begitu melihat tamunya sudah mulai menyerang dengan tamparan tangan kiri yang menyambar cepat ke arah lehernya, dia pun sengaja mengerahkan tenaganya yang besar pada lengan kanan dan menangkis sambil membuat gerakan memutar. Maksudnya adalah untuk mengadu tenaga, dan kekuatan yang ditimbulkan oleh lengan yang diputar itu bukan main dahsyatnya, dapat mematahkan tulang lengan lawan yang ditangkisnya. Pendeknya dia mengandalkan kekuatannya untuk mengadu tenaga dan mengalahkan lawan dalam segebrakan saja atau setidaknya dia akan dapat mengukur sampai di mana kekuatan Kam Hong.

Melihat tangkisan kasar ini, Kam Hong tersenyum dan tahulah dia apa yang dikehendaki oleh lawan. Dengan tenang ia melanjutkan tamparannya tanpa mempedulikan tangkisan itu.

“Plakk!”

Tangkisan itu keras dan kuat bukan main. Lengan kanan Cu Kang Bu yang menangkis itu seolah-olah berubah menjadi tongkat baja yang keras dan kuat, yang bukan hanya akan dapat mematahkan tulang, bahkan senjata besi pun kiranya akan dapat dibikin patah atau melengkung. Akan tetapi, ketika lengan itu bertemu dengan lengan Kam Hong, wajah Cu Kang Bu berubah, matanya terbelalak karena dia merasa betapa lengannya yang keras bertemu dengan benda yang lunak dan lentur hingga lengannya itu membalik seolah-olah sepotong besi memukul karet saja! Mengertilah dia dengan kaget bukan main bahwa lawannya telah memiliki tenaga sinkang yang amat tinggi tingkatnya, yang mampu mempergunakan tenaga lemas sedemikian rupa sehingga di balik kelunakan itu terdapat kekuatan dan keuletan yang amat ampuh sehingga dia tidak mungkin lagi dapat mengandalkan kekuatan tenaga besar.

“Bagus!” pujinya dan dia pun kini membalas dengan pukulan-pukulan dahsyat yang datangnya beruntun dan setiap pukulan mengandung hawa pukulan dahsyat, juga kedua tangan yang memukul itu berubah- rubah, kadang-kadang terkepal, kadang-kadang terbuka jari-jari tangannya, sedangkan dari kedua tangan itu menyambar hawa pukulan yang kadang-kadang keras, kadang-kadang lemas, sehingga terasa hawa yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin!

“Hemmm….!” Kam Hong berseru kaget dan juga kagum.

Dia memang sudah menyangka akan kelihaian lawan, namun apa yang diperlihatkan lawan dalam serangkaian serangan ini benar-benar merupakan ilmu yang amat tinggi dan berbahaya. Maka dia pun lalu cepat menyambutnya dengan mainkan ilmu silat tangan kosong Khong-sim Sin-ciang.

Ilmu silat warisan dari Khong-sim Kai-pang ini mengandalkan kepada kekosongan untuk melawan yang berisi, mengandalkan keluwesan menghadapi kekasaran, mengandalkan kelembutan menghadapi kekerasan. Karena lawannya menyerang dengan kekerasan, maka yang paling tepat baginya untuk menghadapi serbuan itu adalah dengan Ilmu Silat Khong-sim Sin-ciang itulah. Dan memang sesungguhnya, semua serbuan itu seolah-olah tenggelam tak berbekas, semua serangan dapat dielakkan atau ditangkis dengan mudah sehingga dalam serangkaian serangan yang tidak kurang dari dua puluh jurus banyaknya, Cu Kang Bu sama sekali tidak berhasil mengenai tubuh lawannya.

Tiba-tiba Cu Kang Bu berseru nyaring dan seruan itu melengking seperti suara suling! Kam Hong terkejut bukan main. Itulah suara lengkingan yang didasari khikang yang mirip dengan yang dipelajarinya, hanya tingkatnya masih belum begitu tinggi, namun sudah tentu akan dapat menggetarkan perasaan orang yang kurang kuat sinkang-nya jika diserang oleh suara ini.

Kang Bu melengking dan terus menubruk, kini gerakan-gerakannya bagaikan seekor harimau, kedua lengannya juga ditekuk di bagian siku, pergelangan tangan dan buku-buku jari persis menyerupai cakar harimau. Itulah semacam Houw-kun (Ilmu Silat Harimau) yang hebat, karena kalau Ilmu Silat Harimau itu biasanya mengandalkan tenaga otot dan jari-jari terlatih saja, kini didasari tenaga sinkang yang amat kuat sehingga sebelum ‘cakaran’ datang lebih dulu telah ada hawa pukulan yang menyerang lawan dan hawanya amat panas sehingga dari kedua tangan yang membentuk cakar harimau itu mengepul uap putih!

Kam Hong maklum akan lihainya Ilmu Silat Harimau yang aneh dan lain dari pada yang lain itu, sementara itu suara melengking-lengking masih kadang-kadang terdengar dari kerongkongan lawan yang mengiringi setiap tubrukan atau cakaran tangan. Melihat gerakan Cu Kang Bu, lawan yang kurang kuat sinkang-nya tentu akan melihat seolah-olah pemuda tinggi besar itu telah benar-benar berubah menjadi seekor harimau yang amat kuat dan ganas!

Kam Hong lalu mengerahkan tenaga dari dalam pusarnya dan ketika dia menggunakan khikang melalui tenggorokan, terdengarlah gerengan singa yang menggetarkan tanah di sekeliling tempat itu! Itulah Sai-cu Ho-kang, ilmu yang dipelajarinya dari Sai-cu Kai-ong, akan tetapi karena tenaga khikang di dalam diri Kam Hong sudah jauh maju setelah dia mempelajari ilmu meniup suling dari ilmu rahasia jenazah kuno, maka kekuatannya sudah sedemikian hebatnya sehingga kalau kalau Sai-cu Kai-ong sendiri mendengarnya dia tentu akan merasa terkejut dan heran.

Hebatnya ilmu ini adalah hawa suara itu dapat dipusatkan dan diarahkan kepada yang hendak diserang saja, sehingga kalau lain orang di situ hanya merasakan getaran hebat saja, tidaklah demikian dengan Cu Kang Bu. Dia terhuyung dan mukanya agak pucat karena suara gerengan itu seolah-olah memasuki tubuhnya dan menyerang jantungnya, dan selagi dia terhuyung itu Kam Hong sudah maju dan melakukan tamparan-tamparan dengan Ilmu Khong-sim Sin-ciang yang lembut namun amat berbahaya itu.

Cu Kang Bu mengeluarkan seruan kaget dan dia cepat melindungi dirinya dengan putaran kedua tangan, akan tetapi tetap saja dia didesak dan dihimpit oleh lawan. Bukan main heran dan kagetnya rasa hati pendekar tinggi besar ini. Dia memang tidak memandang rendah lawan dan dapat menduga bahwa lawannya lihai, akan tetapi sama sekali tidak pernah diduganya akan sedahsyat ini! Maka sambil mengeluarkan bentakan nyaring karena dirinya sudah terdesak dan terancam bahaya, tiba-tiba tangannya meraba ke pinggang dan nampaklah sinar hitam berkelebat disusul suara ledakan yang mengeluarkan asap putih dan tahu-tahu tangan kanan pendekar ini telah memegang sebatang cambuk baja yang tadinya menjadi ikat pinggangnya.

Cambuk baja lemas ini berwarna hitam dan kini meledak-ledak di udara. Akan tetapi, Cu Kang Bu sama sekali tidak menyerang lawan, hanya membunyikan cambuknya di udara tanpa berkata-kata, sikapnya menantang dan penuh rasa penasaran bahwa dia telah dikalahkan oleh bekas tunangan kekasihnya itu dalam adu silat tangan kosong. Di tempatnya dari pinggiran, Yu Hwi memandang dengan mata terbelalak keheran-heranan melihat betapa ‘Siauw Hong’ yang dulu merupakan kacung dari Pendekar Siluman Kecil itu ternyata kini mampu menandingi seorang pendekar sakti seperti Cu Kang Bu yang menjadi kekasihnya.

Sementara itu, biar pun dia agak pening oleh lengkingan-lengkingan dan gerengan-gerengan yang menggetarkan tadi ditambah mengikuti gerakan mereka yang amat cepat, namun Ci Sian dapat menduga bahwa pihak Kam Hong tentu menang karena kalau tidak, tidak nanti pihak lawan mengeluarkan senjata. Melihat cambuk hitam itu meledak-ledak mengeluarkan asap, hatinya gentar bukan main, akan tetapi sambil tertawa dia berkata, “Paman Kam Hong, lawanmu telah kalah dan kini mengandalkan cambuk kerbau! Hati-hati, jangan kena dicurangi olehnya!”

Tentu saja ucapan Ci Sian ini membikin panas perut Cu Kang Bu dan saudara-saudaranya, akan tetapi tetap saja Cu Kang Bu tidak mau menyerang lawan yang masih bertangan kosong. Katanya dengan suara parau karena menahan kemarahan, “Sobat Kam Hong, ilmu silatmu dengan tangan korong hebat sungguh, akan tetapi marilah kita main-main dengan senjata sebentar dan kau hadapi cambukku ini!”

Diam-diam Kam Hong juga kagum. Sukar atau jaranglah mencari orang gagah seperti Cu Kang Bu ini. Ilmu silatnya jelas amat lihai dan tinggi, dan selain tidak sombong, juga sama sekali tidak curang dan tidak mau mempergunakan senjata menyerang dia yang masih bertangan kosong. Betapa pun juga, pria ini agaknya tidak akan mengecewakan kalau menjadi suami Yu Hwi dan pilihan Yu Hwi kiranya tidaklah keliru! Akan tetapi, batinnya terasa panas juga kalau mengingat betapa Yu Hwi adalah tunangannya, calon isterinya yang hendak direbut oleh pemuda tinggi besar ini!

“Hemmm, kau masih penasaran? Hendak mengadu senjata? Baiklah, akan tetapi aku bukan tukang bunuh atau tukang siksa maka tidak membawa senjata mengerikan. Aku hanya membawa sebuah alat pengusir panasnya badan dan batin ini!”

Tangan kirinya bergerak dan seperti sedang main sulap saja, tahu-tahu tangan itu telah memegang sehelai kipas yang dikembangkan dan dipakai mengipasi lehernya seolah-olah dia merasa gerah sekali. Namun, meski kipasnya digerak-gerakkan, tiga pasang mata dari kakak beradik penghuni Lembah Suling Emas yang memiliki penglihatan terlatih dan tajam sekali itu dapat membaca huruf yang tertulis di permukaan kipas yang digoyang-goyangkan itu. Tentu saja untuk dapat melakukan hal ini orang harus memiliki kepandaian yang sudah amat tinggi sehingga mata mereka sedemikian tajamnya dapat mengikuti gerakan kipas yang bagi mata biasa tentu membuat huruf-huruf itu kabur dan tidak terbaca. Diam-diam mereka bertiga memandang dan membaca huruf-huruf itu. Kipas itu permukaannya putih bersih dan huruf-huruf indah itu berwarna hitam, maka jelas sekali bagi mereka.

Hanya yang kosong dapat menerima tanpa meluap Hanya yang lembut dapat menerobos yang kasar
Yang merasa cukup adalah yang sesungguhnya kaya raya!

“Hmm, khong-sim (hati kosong). Sobat Kam Hong masih mempunyai hubungan apakah dengan yang terhormat Sai-cu Kai-ong Ketua Khong-sim Kai-pang?” tiba-tiba terdengar Cu Han Bu bertanya dengan suara halus.

Kam Hong terkejut dan diam-diam kagum akan keluasan pengetahuan orang itu. “Beliau pernah menjadi Guruku,” jawabnya jujur dan sederhana.
“Dia memang pernah menjadi seorang yang disebut Pangeran Pengemis!” Tiba-tiba Yu Hwi berkata dan di dalam suaranya mengandung cemooh.

Kini mulai mengertilah Kam Hong mengapa dara itu tidak setuju menjadi jodohnya. Kiranya latar belakang kehidupannya yang dahulu, pertemuan mereka yang pertama di mana dia menjadi pengemis dan menjadi semacam pelayan dari Siluman Kecil, yang membuat gadis ini memandang rendah kepadanya! Dia tersenyum.

“Benar sekali…. aku hanya seorang pengemis dan sekarang pun bukan majikan yang kaya raya!”

Akan tetapi melihat betapa pemuda itu menyindir kekasihnya, Cu Kang Bu sudah menjadi marah lagi. “Kam Hong, kalau kipas itu merupakan senjatamu, beranikah engkau menghadapi cambuk bajaku dengan kipas itu?”

“Mengapa tidak berani? Aku hanya melayanimu, sobat!” berkata Kam Hong sambil tersenyum.

“Hajarlah dia, Paman Kam Hong! Dia belum mengenal kipas mautmu!” Ci Sian berkata lagi, sungguh pun di dalam hatinya dia merasa kecut sekali melihat senjata pihak lawan yang berupa cambuk hitam panjang terbuat dari baja itu sedangkan ‘senjata’ Kam Hong hanya sebuah kipas yang lebih tepat untuk mengusir kegerahan saja. Namun, kini telah semakin tebal kepercayaannya kepada Kam Hong, maka dia mengusir kekhawatirannya dan diam-diam dia mendekati See-thian Coa-ong, gurunya.

“Suhu…. bagaimana pendapat Suhu….? Apakah Paman Kam Hong dapat menang?” bisiknya.

Sungguh lucu dara ini. Dia berbisik seolah-olah tidak akan dapat terdengar oleh orang-orang yang berilmu tinggi. Ia bicara hanya sambil berbisik-bisik, semua orang termasuk juga Yu Hwi dapat menangkap bisikannya itu, tetapi mereka terlalu tegang memandang ke arah kedua orang pendekar yang sudah siap untuk bertanding lagi itu dan tidak mempedulikan ulah Ci Sian.

“Apa….?” Kakek hitam botak itu berkata, lalu menarik napas panjang. “Aahhhh, aku seperti baru sadar dari mimpi! Sungguh mati, selama hidupku baru ini menyaksikan pertandingan seperti ini! Sungguh beruntung mata ini dapat menyaksikan pertandingan tingkat atas yang demikian hebatnya. Ternyata Pegunungan Himalaya yang tinggi masih ada yang melebihi tingginya….“ kakek itu menarik napas panjang lagi.

“Suhu, bagaimana? Apakah Paman Kam Hong akan dapat menang?” kembali Ci Sian bertanya sambil mengguncang lengan gurunya yang seperti orang sedang terpesona memandang ke arah dua orang pendekar itu.

“Siapakah aku ini yang dapat menentukan kalah menangnya pertandingan antara dua ekor naga? Kita lihat saja, Ci Sian, kita lihat saja….,“ katanya pelan tanpa mengalihkan pandangannya.

Ci Sian menjadi makin gelisah dan diam-diam dia lalu duduk bersila dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk memanggil ular-ular sebanyak mungkin ke tempat itu untuk dapat membantu Kam Hong! Akan tetapi tiba-tiba dia merasa betapa pencurahan kekuatannya itu membuyar dan terdengar suara See-thian Coa- ong, “Anak bodoh kau, pembelamu itu takkan kalah!”

Ci Sian lalu teringat betapa dia pernah memanggil ular-ular ketika menghadapi isteri-isteri ayah kandungnya, dan akibatnya malah ular-ularnya yang tewas dan dia dimarahi oleh Kam Hong! Maka dia tidak jadi melanjutkan usahanya itu dan kini dia memandang ke arah perkelahian yang sudah mulai berlangsung.

“Tar-tar-tarrrr….!”

Cambuk hitam itu melayang-layang ke udara kemudian turun meluncur dan melecut sampai tiga kali ke arah kepala Kam Hong, tetapi dengan tenang pendekar ini mengelak dua kali dan sambaran yang ketiga kalinya dia kebut dengan kipasnya. Aneh sekali, ujung cambuk baja itu begitu kena dikebut lalu menyimpang atau melecut ke samping, menyeleweng seperti sehelai rambut ditiup saja! Dan ujung cambuk itu luput mengenai kepala Kam Hong, menyambar ke bawah dan mengeluarkan ledakan nyaring, mengenai sebuah batu sebesar kepala orang yang pecah berantakan menjadi beberapa potong! Melihat ini, Ci Sian merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan dingin. Batu saja terkena lecutan menjadi pecah berantakan, apalagi kepala manusia!

Akan tetapi Kam Hong masih tetap bersikap tenang, seolah-olah melihat batu pecah berantakan terkena ujung cambuk itu hanya merupakan permainan anak-anak baginya. Dan kini dia tidak membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan cambuk, melainkan kedua kakinya bergerak dengan langkah-langkah indah dan tahu-tahu dia sudah menyusup dekat melalui gulungan sinar hitam dari cambuk itu dan menggunakan ujung kipas untuk membalas serangan lawan dengan totokan-totokan ke arah jalan darah dari ubun-ubun sampai ke lutut lawan! Gerakan kipasnya cepat dan tak terduga-duga datangnya, sebab dia telah mainkan ilmu silat kipas Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang merupakan satu di antara ilmu silat warisan nenek moyangnya, yaitu Pendekar Suling Emas!

Memang satu-satunya jalan untuk melawan musuh yang menggunakan senjata panjang hanya dengan cara melakukan perkelahian jarak dekat, apalagi kalau dia sendiri hanya bersenjata sebuah kipas yang amat pendek. Kam Hong juga melakukan siasat ini, dia menggunakan langkah-langkah Pat-kwa-pouw dari Ilmu Silat Pat-sian-kun-hoat dan dengan langkah-langkah ini dia dapat selalu mendekati lawan hingga dapat menyerang dengan kipasnya.

Akan tetapi Cu Kang Bu adalah seorang tokoh yang sudah mahir sekali menggunakan senjata yang diandalkannya itu, maka biar pun senjatanya merupakan senjata untuk menyerang dari jarak jauh, ujung cambuk bajanya itu dapat membalik dan menyerang dari arah belakang, kanan, kiri atau atas bawah! Hebat bukan main gerakan cambuknya dan ujung cambuk itu seolah-olah hidup menuruti segala gerakan pergelangan tangan Kang Bu.

Bukan main serunya perkelahian itu. Kipas di tangan kiri Kam Hong berubah-ubah, sebentar terbuka untuk mengebut ujung cambuk lawan, kadang-kadang tertutup untuk menyerang dengan totokan-totokan yang amat berbahaya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang mendesak dan siapa yang terdesak karena mereka seolah-olah saling menukar serangan yang selalu dapat dipecahkan dan dilumpuhkan oleh lawan. Kurang lebih seratus jurus telah lewat dan perkelahian itu diikuti oleh semua orang sambil menahan napas karena memang amat menegangkan hati.

Kam Hong sendiri merasa kagum. Semenjak tadi, dia hanya mempergunakan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya dari Sai-cu Kai-ong dan dari Sin-siauw Sengjin, yang telah dikuasainya dengan matang sehingga akan sukarlah mencari lawan yang mampu menandinginya dengan ilmu-ilmu itu. Akan tetapi, dengan ilmu-ilmu itu dia hanya dapat berimbang saja dengan lawannya ini.

Diam-diam dia merasa penasaran juga dan dikumpulkannyalah tenaga khikang yang diperolehnya ketika dia mempelajari ilmu pusaka yang tercatat di tubuh jenazah kuno. Dan tiba-tiba saja suara pernapasannya terdengar mencicit nyaring, makin lama makin tinggi sehingga tidak tertangkap oleh telinga, namun bagi Cu Kang Bu, dia merasakan getaran yang luar biasa hebatnya dari tubuh lawannya! Dia terkejut sekali dan berusaha untuk meloncat mundur sambil menggerakkan pecut bajanya.

Akan tetapi, kini Kam Hong mendesak ke depan, kipasnya terbuka dan begitu kipasnya mengebut, ada angin dingin menyambar ke arah muka lawan dan Cu Kang Bu hampir tidak kuat membuka matanya yang tersambar angin dingin. Begitu matanya berkejap, maka ujung kipas itu telah meluncur dan melakukan totokan-totokan, membuat Kang Bu kaget setengah mati dan terhuyung ke belakang sambil memutar cambuk dan tangan kiri melindungi tubuhnya. Akan tetapi lawannya mendesak dan akhirnya, maklumlah bahwa mempertahankan diri sama dengan mencari mati, Kang Bu meloncat jauh ke belakang lalu turun dan merangkap kedua tangan depan dada.

“Aku Cu Kang Bu mengaku kalah!”

Kam Hong membuka kipas di depan dada dan dia merasa semakin kagum dan suka kepada bekas lawannya itu, seorang yang kasar jujur namun juga tidak keras kepala dan mampu menghadapi kekalahan sendiri secara jantan. Seorang yang benar-benar patut, bahkan terlalu baik mungkin, untuk menjadi jodoh Yu Hwi!

“Saudara Cu Kang Bu, kepandaianmu sungguh amat hebat, aku kagum sekali!” katanya membalas penghormatan orang.

Akan tetapi dengan muka pucat Cu Han Bu melangkah maju. Pendekar ini diam-diam merasa penasaran bukan main melihat kekalahan adiknya. Hampir dia tidak dapat percaya bahwa adiknya dengan cambuk bajanya dapat dikalahkan lawan yang hanya memegang setangkai kipas! Sungguh kekalahan yang menghancurkan keharuman nama besar keluarga Lembah Suling Emas, apalagi di situ ada orang-orang lain yang menyaksikan seperti See-thian Coa-ong dan terutama sekali dara murid Coa-ong yang pandai bicara itu, yang tentu akan menyiarkan berita kekalahan keluarga Lembah Suling Emas ke seluruh dunia kang-ouw! Mukanya menjadi pucat karena penasaran dan marah.

“Saudara Kam Hong, harap jangan membikin kami penasaran dan jangan bertindak kepalang-tanggung. Kau kalahkanlah aku sebagai orang pertama dari Lembah Suling Emas, agar kami yakin benar bahwa di luar lembah ada orang yang lebih pandai dari pada kami!” Setelah berkata demikian, sambil membungkuk dan memberi hormat, Cu Han Bu melolos sebuah sabuk emas dari pinggangnya.

Sikap orang ini sedemikian sungguh-sungguh sehingga Kam Hong maklum bahwa jalan satu-satunya baginya adalah memenuhi tantangan orang pertama dari Lembah Suling Emas ini. Pula, diam-diam dia pun merasa penasaran bahwa dialah yang benar-benar keturunan keluarga Suling Emas dan mereka ini hanya kebetulan saja memakai nama Lembah Suling Emas. Kalau dia dapat menangkan orang pertama dari keluarga lembah yang aneh ini, tentu dia berhak untuk minta dengan hormat kepada mereka agar nama Suling Emas tidak mereka pakai lagi.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo