September 24, 2017

Suling Emas Naga Siluman Part 8

 

Cin Liong menarik napas panjang ketika mengakhiri ceritanya. “Li-ciangkun, harap suka berhati-hati. Mata- mata itu sungguh amat lihai. Saya dan Nona Ci Sian sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa terhadapnya dan kalau dia menghendaki, agaknya kami berdua sudah tewas sewaktu kami melawannya tadi. Masih untung bahwa kami hanya menderita luka yang tidak parah.”

“Biar dia lihai seperti setan, kalau lain kali bertemu dengan dia, aku akan menantangnya untuk berkelahi sampai seribu jurus!” Ci Sian berseru dan kelihatan amat penasaran.

“Akan tetapi, bagaimana bisa begitu kebetulan bahwa hanya kalian berdua saja yang melihat mata-mata itu pada saat yang sama?” Tiba-tiba Siok Lan bertanya dan dari sikap dan suaranya jelas dapat ditangkap bahwa dara ini merasa cemburu!

“Enci Lan, engkau menyangka apa?” Ci Sian membentak dengan wajar, sesuai dengan wataknya yang memang keras dan sikapnya ini banyak menolong dia dan Cin Liong dari pengamatan dua pasang mata yang memandang tajam dari Siok Lan dan ibunya. “Seperti biasa, malam itu karena gerah aku keluar dari kamar dan aku memang selalu waspada untuk membantumu mengamat-amati gedung kalau-kalau ada tamu yang tak diundang menyelundup. Dan tiba-tiba aku melihat bayangan penjahat itu, dibayangi oleh Liong Cin. Dia memberi isyarat kepadaku bahwa dia mengejar orang di depan, maka aku pun ikut mengejar. Kami membantumu untuk mengejar mata-mata dan kini engkau hendak mencurigai kami?”

“Memang benar demikian, Nona Siok Lan. Malam itu mendengar orang di luar jendela kamarku. Aku lalu mengintai dari jendela dan melihat bayangan orang itu longak-longok seperti maling. Aku sengaja tidak menegur, melainkan diam-diam aku membayanginya, maka ketika dia lari keluar dari gedung dan aku mengejarnya. Nona Ci Sian melihat kami dan ikut mengejar.”

“Biarlah aku pergi saja dari Lhagat kalau sudah tidak kau percaya lagi, Enci Lan!”

Siok Lan memegang lengan Ci Slan. “Maaf, Adik Sian. Bukan kami tak percaya padamu atau kepada Saudara Liong Cin, melainkan…. ehh, kami harus hati-hati dalam keadaan seperti ini…. Sudahlah, kami sungguh berterima kasih kepada kalian berdua, sungguh pun amat sayang bahwa mata-mata itu dapat meloloskan diri.”

“Lain kali, jika kalian melihat hal-hal yang mencurigakan, harap suka berteriak memberi tahu supaya kami semua dapat serentak bergerak menangkapnya.” Puteri Nandini juga berkata, akan tetapi dari sikap panglima ini dan puterinya, mereka berdua agaknya sudah tak curiga lagi dan tentu saja hal ini membuat Ci Sian dan Cin Liong merasa lega.

Akan tetapi, di samping kelegaan hati itu, ada sesuatu perasaan amat tidak enak dalam hati Ci Sian. Semenjak peristiwa itu, kalau kini dia melihat Cin Liong bersama Siok Lan berdua sedang berjalan-jalan atau bercakap-cakap, melihat betapa mesranya sikap Siok Lan kepada pemuda itu, diam-diam dia merasa tidak senang!

Kadang-kadang dia melawan perasaannya sendiri ini. Apakah dia cemburu? Ihh, mana mungkin? Perasaan ini timbul ketika dia merasa betapa Siok Lan cemburu terhadapnya. Dia amat sayang kepada Siok Lan dan merasa bahwa di samping semua keadaan mereka yang berlawanan, namun terdapat perasaan suka dan sayang antara mereka, perasaan suka antara dua orang sahabat yang cocok.

Akan tetapi setelah kini dia merasa yakin bahwa Siok Lan jatuh cinta kepada pemuda itu. Dialah yang kini merasa tidak senang atau setidaknya ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya. Tentu saja dia mengambil sikap tidak peduli dan selalu dia menekankan di dalam hatinya bahwa sikap manis Cin Liong kepada Siok Lan itu merupakan ‘alasan’ dari jenderal muda itu untuk menjauhkan kecurigaan dan untuk menyembunyikan diri, tentu saja.

Tiga hari semenjak terjadinya peristiwa itu, pagi hari itu Siok Lan mendekati Cin Liong dan mengajak pemuda ini berjalan-jalan ke atas sebuah bukit kecil di tepi kota Lhagat. Mereka melakukan perjalanan seenaknya, berjalan berdampingan dan Siok Lan yang beberapa kali menengok dan memandang wajah pemuda itu bertanya, “Liong-ko (Kakak Liong), mengapa kau kelihatan termenung saja sejak tadi?”

Cin Liong terkejut akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu. Dia bukan hanya terkejut karena teguran yang membuktikan ketajaman mata dara ini, akan tetapi juga terkejut mendengar sebutan Liong- ko. Hanya jarang sekali dara ini menyebutnya koko, biasanya hanya menyebut namanya saja, terutama kalau berada di depan ibu dara ini atau di depan Ci Sian.

“Ahh, tidak apa-apa, Nona.”

Mereka berjalan terus melalui tempat penjagaan dan tidak mempedullkan pandangan para prajurit Nepal yang menyeringai. Mereka berdua terus asyik bercakap-cakap dan agaknya sudah bukan rahasia lagi betapa akrabnya hubungan antara puteri panglima itu dengan pemuda ‘pemburu’ itu.

Mereka sekarang tiba di puncak bukit kecil itu dan mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau, memandang ke arah utara di mana nampak bukit yang dikepung tentara Nepal, bukit di mana terdapat lembah di mana tentara Ceng sedang dikepung. Sudah hampir sebulan mereka dikepung tak berdaya di tempat itu! Melihat bukit ini, tak terasa lagi jantung Cin Liong berdebar keras sekali, penuh ketegangan.

Malam nanti saat itu tiba, seperti telah diaturnya dengan matang. Ia telah menghubungi semua pembantunya dan semua pembantu itu tentu telah bersiap-siap melaksanakan semua perintah dan siasatnya sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya. Dia sendiri perlu berada di Lhagat, selain mengamati gerakan panglima musuh, juga untuk membantu lancarnya penyerbuan ke Lhagat setelah malam nanti pasukannya berhasil lolos dari kepungan. Dan dia yakin pasukannya akan berhasil. Semua sudah diperhitungkannya masak-masak.

Dia dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau bendungan di atas itu dibobol dan air yang dipergunakan sebagai pasukan pelopor untuk menghantam dan menjebol kepungan musuh. Dan pada saat yang sama, pasukan-pasukan Tibet yang sudah dipersiapkannya akan bergerak pula menghantam dari arah lain untuk mengalihkan perhatian lawan. Dan pada saat air menipis, pasukan yang terkepung akan meloloskan diri, turun dari bukit, keluar dari lembah melalui jalan yang telah dibikin rata dan aman oleh air bah itu! Dan dengan kekuatan disatukan dengan pasukan-pasukan Tibet, lalu pasukannya akan menggempur Lhagat! Untuk semua itu, dia juga amat mengharapkan bantuan orang-orang pandai yang telah diam-diam diselundupkan ke Lhagat dan sekitarnya!

“Liong-koko….”

Cin Liong terkejut dan sadar dari lamunannya. Dengan enggan dia menarik kembali pandang matanya yang sejak tadi ditujukan ke arah bukit itu dan dia menoleh kepada dara yang duduk di sampingnya. Dia melihat betapa sepasang mata yang jeli itu menatapnya dengan sayu, sepasang mata yang nampaknya seperti setengah terpejam, seperti mata yang mengantuk, akan tetapi ada sinar aneh dari sepasang mata di balik bulu-bulu mata yang lentik itu.

Siok Lan memang cantik sekali, kecantikan yang manis dan aneh seperti biasa terdapat pada kecantikan dara-dara yang berdarah campuran. Siok Lan adalah seorang dara berdarah peranakan Han dan Nepal dan agaknya dara ini menerima kurnia yang luar biasa dari alam, dia agaknya telah mewarisi segi-segi baiknya saja dari ayah bundanya yang berbeda bangsa itu.

Kulitnya putih kuning halus seperti kulit wanita bangsa ayahnya, demikian pula pada kehitaman dan kelebatan rambutnya, ramping dan semampainya bentuk tubuhnya. Dan dia memiliki sepasang mata yang lebar dan indah dengan bulu mata lentik, hidung yang agak mancung dan dagu meruncing seperti kemanisan wajah ibunya.

Cin Liong adalah seorang pemuda yang semenjak kecil mengejar ilmu kepandaian dan belum pernah melibatkan diri dengan hubungan antara pria dan wanita. Hubungannya dengan Siok Lan hanya merupakan hubungan yang berdasarkan siasat perangnya belaka, maka selama ini dia menganggap dara ini sebagai puteri dari panglima pasukan musuhnya, sungguh pun secara pribadi dia amat mengagumi dara ini, juga ibunya yang dianggapnya seorang panglima yang pandai. Dan dara ini memiliki watak yang sangat baik.

Kini, dalam keadaan santai, duduk berdua di tempat sunyi itu, mendengar suara Siok Lan memanggilnya, kemudian setelah menoleh bertemu pandang mata yang demikian indah dan penuh getaran perasaan memandangnya, jantung Cin Liong terasa berdebar aneh. Selama dia hidup baru kini dia merasakan suatu getaran aneh dalam hatinya, dan wajah dara itu seolah-olah baru sekarang dilihatnya, baru sekarang dia menemukan keindahan dan kecantikan luar biasa pada mata dan bibir itu!

Sejenak dua pasang mata itu bertemu pandang, bertaut seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka terpesona dan seolah-olah pandang mata saling melekat tak dapat dipisahkan lagi. Akan tetapi akhirnya Cin Liong dapat menguasai debaran jantungnya dan kedua pipinya menjadi merah ketika dia bertanya lirih. “Ada apakah, Nona?”

Siok Lan juga baru sadar bahwa sejak tadi dia seperti terayun dalam alam mimpi, dan dia menjadi malu sekali. Cepat dia menunduk dan mukanya yang menjadi lebih merah dari pada muka pemuda itu. “Liong- ko, sejak tadi kulihat engkau melamun saja, seperti orang yang berduka, atau seperti orang yang khawatir. Ada apakah?”

Cin Liong tersenyum. “Tidak apa-apa, Nona.”

Dara itu mengangkat muka memandang dan kini sepasang matanya tidak sayu lagi seperti tadi, melainkan bersinar tajam penuh selidik. “Sejak kita datang ke tempat ini, engkau duduk melamun dan memandang ke arah bukit di sana itu, Liong-ko. Aku dapat merasakan bagaimana kedukaan dan kekhawatiran menekan hatimu melihat pasukan kerajaan itu terkepung di sana sudah sebulan….”

“Ahh, tidak….!” Cin Liong cepat membantah dan diam-diam dia terkejut sekali.

Apakah dara ini mengetahui pula rahasianya? Kalau begitu, amat berbahaya dan dia harus cepat turun tangan. Terbongkarnya rahasianya akan berbahaya sekali, dan dapat menggagalkan siasatnya yang akan dilaksanakan malam nanti.

Akan tetapi dara itu nampak tenang saja, bahkan tersenyum pahit. “Aku mengerti, Liong-koko. Engkau adalah seorang bangsa Han, dan tentu saja tidak senang melihat pasukan bangsamu terkepung dan menghadapi kehancuran….”

Karena masih meragu, Cin Liong belum turun tangan, dan ia memancing. “Engkau tahu bahwa aku hanyalah seorang pemburu Nona, aku tidak mencampuri urusan perang….”

“Aku mengerti, Liong-ko, akan tetapi aku pun dapat menduga betapa hatimu duka dan khawatir oleh akibat perang yang mengancam pasukan bangsamu. Aku sendiri pun benci perang! Aneh kedengarannya. Ibu seorang panglima perang, namun aku benci perang. Dan tahukah engkau, Liong-ko, Ibu sendiri pun benci perang!”

“Ehh….?” Cin Liong benar-benar terkejut mendengar ini, dan dia menatap wajah cantik itu dengan heran.

Siok Lan mengangguk kemudian menunduk, merenung. “Ya, Ibuku benci perang. Ibuku adalah seorang puteri Nepal, sejak kecil mempelajari kesenian dan kesusastraan. Akan tetapi dia pun mempelajari ilmu silat dan perang. Walau pun begitu, dia selalu mencela perang!”

“Akan tetapi mengapa dia menjadi panglima?” “Karena…. patah hati…. gagal dalam asmara.” “Ahhh….!”
Dara itu menoleh dan menatap wajah Cin Liong, kemudian dia menggeser duduknya sehingga berhadapan dengan pemuda itu. Sejenak dia menatap tajam, kemudian dia berkata, “Dengarlah, Liong-ko, aku akan menceritakan riwayat kami kepadamu. Akan tetapi harap semua ini dirahasiakan.” Cin Liong hanya mengangguk-angguk dan merasa heran mengapa dara ini demikian percaya kepadanya.

“Ibuku adalah seorang wanita Nepal, puteri dari seorang pendeta yang semenjak kecil mempelajari seni, ilmu sastra, silat dan ilmu perang. Kemudian Ibuku menikah dengan seorang pangeran Nepal, seorang pangeran tua yang menjadi Ayah tiriku.”

“Ayah tirimu….?”

“Ya, aku…. Ayah kandungku adalah seorang pria berbangsa Han, seperti juga engkau, Liong-ko.” “Hemmm…. sudah kuduga itu, melihat keadaanmu.”

“Karena Ibu lebih perkasa dan pandai dari pada Ayah tiriku, maka Ibu lalu diangkat menjadi perwira tinggi dalam ketentaraan. Ibu menerima pengangkatan itu hanya untuk menghibur hatinya, karena…. karena sesungguhnya Ibu tidak mencinta suaminya yang jauh lebih tua, dan hal itu terjadi sampai Ayah tiriku meninggal dunia. Semenjak itu Ibu menjadi panglima dan biar pun dia membenci perang, terpaksa dia melakukan tugas kewajibannya sebaik mungkin.”

“Dan…. Ayah kadungmu?”

Dara itu menggeleng kepala. “Ibu merahasiakannya. Aku bahkan tidak tahu siapa she Ayahku itu. Aku tidak tahu di mana dia, masih hidup ataukah sudah mati. Heran sekali, Ibu agaknya amat membenci Ayah kandungku sehingga setiap kali aku bertanya, dia marah-marah dan bahkan pernah menamparku karena bertanya tentang itu. Agaknya…. agaknya dia akan sanggup membunuhku kalau aku bertanya terus.” Dan sampai di sini Siok Lan, dara yang biasanya lincah gembira itu kelihatan berduka, bahkan ada air mata menitik turun dari kedua matanya.

Diam-diam Cin Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi dia diam saja, masih terheran-heran mendengar cerita yang luar biasa itu. Ibu dara ini, panglima yang pandai dan perkasa itu, ternyata menyimpan rahasia kehidupan yang amat menyedihkan! Siok Lan mengusap air matanya, berhenti menangis, kemudian menarik napas panjang berulang-ulang.

“Liong-ko, betapa inginku pertemuan antara kita tidak terjadi di tempat ini, pada waktu perang seperti ini. Ahhh, betapa akan senangnya duduk bercakap-cakap denganmu di tempat ini kalau tidak ada perang di situ, kalau keadaan tenteram dan damai. Akan tetapi…. betapa pun juga…. oleh karena adanya perang inilah, maka kita dapat saling bertemu.”

Cin Liong diam saja, tidak tahu harus mengatakan apa dan dia pun tidak tahu mengapa dara itu mengeluarkan ucapan seperti itu.

“Liong-ko, di mana adanya Ayah Bundamu?”

Pertanyaan tiba-tiba ini mengejutkan Cin Liong juga, akan tetapi dengan sikap tenang dia menjawab, “Mereka tinggal jauh di utara, Nona.”

“Liong-ko, harap kau jangan menyebut Nona padaku, Panggil saja namaku!” “Akan tetapi, Nona….”
“Apakah engkau tidak mau menganggap aku sebagai seorang…. sahabat baikmu?” bertanya demikian, dara itu mengangkat muka dan menatap wajah Cin Liong dengan sepasang mata yang tajam berseri. Akhirnya Cin Liong menunduk dan mengangguk.

“Baiklah, Lan-moi (Adik Lan). Engkau sungguh baik sekali.”

“Bukan aku, melainkan engkaulah yang baik sekali, Liong-ko. Aku berhutang budi dan nyawa padamu….”

“Cukuplah itu, harap engkau jangan sebut-sebut lagi soal itu. Engkau dan Ibumu telah menerimaku di sini dengan baik sekali, malah akulah yang harus malu….“ Cin Liong teringat betapa kehadirannya itu adalah sebagai mata-mata padahal dara ini demikian baik kepadanya. Nampak makin jelaslah olehnya betapa keji dan kejamnya perang!

“Akan tetapi, peristiwa itu tidak akan terlupakan olehku selama hidup, Liong-ko. Dan…. kalung itu…. apakah masih kau simpan?”

Otomatis tangan kiri Cin Liong meraih ke lehernya, dan gerakan ini saja membuat Siok Lan merasa girang sekali dan dia yakin bahwa kalung itu masih dipakai oleh pemuda ini, maka ia lalu melanjutkan kata- katanya. “Terima kasih jika masih kau simpan. Liong-ko, ketahuilah jika aku…. aku memberikan kalung itu…. dengan sepenuh hati…. kalung itu pemberian Ibu dan…. mewakili diriku….” Tiba-tiba dia menunduk dan mukanya menjadi merah sekali.

Cin Liong juga dapat merasakan kejanggalan kata-kata ini dan makna mendalam yang dikandungnya, maka dia pun tiba-tiba merasa jengah dan malu. Sejenak mereka berdua yang duduk berhadapan itu tidak mengeluarkan kata-kata, keduanya lebih banyak menunduk dan kalau kebetulan saling pandang, lalu tersenyum canggung! Hati Cin Liong tergetar dan tertarik.

Dara ini memang memiliki daya tarik yang kuat sekali, akan tetapi selama ini, biar pun bergaul dengan akrab, dia tidak merasakan daya tarik ini karena seluruh perhatiannya tercurah kepada tugasnya. Kini baru dia merasakan daya tarik itu yang membuat dia ingin sekali memandang wajah itu dan menikmati kejelitaannya, ingin sekali bersikap dan berbicara manis, ingin sekali menyentuh dan merangkul mesra. Akan tetapi Cin Liong masih ingat akan kedudukan dan tugasnya, maka dia mengeraskan hatinya dan akhirnya dia bangkit berdiri. Siok Lan juga ikut bangkit dan memandang heran.

“Nona…. eh, Adik Siok Lan, marilah kita pulang. Ibumu tentu akan mencarimu, dan tidak baik bagimu kalau berlama-lama kita duduk berdua saja di tempat ini.”

Dara itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mengandung kekerasan. “Liong-ko, mengapa tidak baik bagiku? Aku tidak peduli dengan orang lain, dan Ibu tentu tidak akan melarang kalau aku berdua di sini bersamamu.”

Cin Liong tersenyum. Dalam marahnya, dara itu bahkan nampak semakin cantik! “Syukurlah kalau begitu, Lan-moi. Akan tetapi, akulah yang merasa tidak enak, karena aku adalah seorang tamu yang diterima dengan ramah dan baik, dan aku hanya seorang pemburu miskin biasa, sedangkan kau…. kau puteri panglima….“

“Hussshh, jangan ucapkan lagi kata-kata seperti itu, Liong-ko! Ingat, Ibuku hanya anak seorang pendeta sederhana yang miskin dan bodoh. Dan aku…. hemm, aku bahkan tidak pernah kenal siapa Ayah kandungku! Engkau yang mempunyai Ayah Bunda yang jelas dan terhormat, engkau lebih terhormat dari pada aku.”

Kembali Cin Liong tersenyum. Banyak segi-segi yang baik pada diri dara ini, pikirnya. “Baiklah, Lan-moi. Engkau benar, akan tetapi sudah lama kita di sini, mari kita kembali.”

Tanpa disengaja, tangannya menyentuh tangan dara itu. Perbuatan tidak disengaja oleh Cin Liong ini berakibat besar karena dara itu merasa tangannya dipegang dan dia cepat memegang tangan pemuda itu dan jari-jari tangan mereka saling pegang, kemudian sambil bergandeng tangan mereka menuruni bukit itu. Dua orang muda remaja yang selama hidupnya baru pertama kali ini mendekati lawan jenisnya, merasa betapa ada getaran-getaran halus pada jari tangan mereka, getaran yang timbul dari hati mereka yang berdebar-debar tidak karuan, getaran mesra yang menjalar ke seluruh tubuh, yang membuat mereka kadang-kadang saling pandang, saling senyum tanpa kata-kata.

Namun apa artinya lagi kata-kata dalam keadaan seperti itu? Senyum dan pandang mata ini sudah cukup mengeluarkan seluruh apa yang terkandung dalam perasaan masing-masing, yang belum tentu dapat dilukiskan dengan kata-kata yang betapa indah sekali pun.

Tiba-tiba Cin Liong melepaskan tangannya yang saling bergandengan dengan gadis itu dan Siok Lan juga cepat-cepat agak menjauhkan diri dari pemuda itu ketika dia melihat munculnya Ci Sian di tikungan depan.

“Eh, Enci Lan, kucari engkau ke mana-mana tidak tahunya berada di sini. Hemm, maaf ya, aku mengganggu, ya?” kata dara ini sambil tersenyum menggoda, sungguh pun ada perasaan tidak enak di dalam hatinya, perasaan tidak enak yang dia sendiri tidak tahu mengapa.

“Ahh, ada-ada saja engkau, Sian-moi. Siapa mengganggu siapa? Aku bercakap-cakap dengan…. ehhh, Liong-ko….”

Akan tetapi dia berhenti karena teringat bahwa baru sekarang di depan Ci Sian dia menyebut pemuda itu dengan sebutan koko. Mukanya menjadi merah sekali dan melihat ini, Ci Sian tersenyum walau pun hatinya terasa semakin tidak enak. Mereka bertiga kemudian kembali ke gedung di mana Puteri Nandini sudah menunggu karena memang panglima inilah yang menyuruh Ci Sian untuk pergi mencari Siok Lan dan memanggilnya pulang karena dia perlu untuk bicara.

Setelah tiba di dalam gedung, Siok Lan langsung memasuki kamar ibunya dan di situ dia melihat bahwa ibunya sedang berunding dengan para panglima pembantu ibunya, dan sikap mereka menunjukkan bahwa tentu terjadi sesuatu yang gawat.

“Ibu, ada apakah?” tanyanya.

“Duduklah. Dengar baik-baik, Siok Lan. Menurut para penyelidik, ada sesuatu yang aneh sedang direncanakan oleh pihak musuh, entah apa. Ada pergerakan dari pasukan-pasukan Tibet yang telah kita kalahkan. Kita tidak percaya bahwa pasukan Tibet akan berani bergerak menyerang Lhagat tanpa suatu rencana tertentu. Agaknya mereka merahasiakan rencana itu dan keadaan pasukan musuh yang terkepung juga nampak tenang-tenang saja. Ketenangan inilah yang membuat hatiku tidak enak. Maka, siapa pun harus kita curigai. Engkau bertugas selain menjaga keamanan gedung ini, juga untuk memata- matai dua orang tamu kita itu.”

“Apa? Ibu maksudkan Adik Sian dan Liong-koko?”

Mendengar puterinya menyebut koko pada pemuda itu. Puteri Nandini memandangnya dengan sepasang mata penuh selidik dan mata ibu yang tajam ini melihat betapa ada warna kemerahan pada kedua pipi puterinya.

“Ya, dua orang itu adalah orang-orang asing bagi kita. Biar pun sampai kini tidak ada gerakan-gerakan dan bukti-bukti yang menjadikan kecurigaan kita, namun kita harus tetap waspada. Dan karena mereka adalah teman-temanmu, maka sebaiknya engkau yang menyelidiki dan membayangi keadaan mereka agar tidak terlalu mencolok.”

Siok Lan tidak dapat membantah, apalagi di situ hadir banyak pembantu ibunya, maka dia cepat mengangguk dan menjawab, “Baiklah, Ibu.”

Mereka lalu berunding dan Sang Panglima Wanita itu lalu membagi-bagi tugas untuk memperketat penjagaan dan bahkan memutuskan bahwa kalau sampai dua hari lagi pasukan yang terkepung tidak menyerah dan tidak ada tanda-tanda kedatangan orang-orang penting dari kota raja, maka lembah itu akan digempur dan pasukan terkurung itu akan dipaksa untuk menyerah!

Malam itu tiada bulan nampak di langit. Hanya ada bintang-bintang gemerlapan di langit hitam, seperti ratna mutu manikam di atas kain beludru hitam, berkilauan cemerlang, berkedip-kedip seperti ada selaksa bidadari bermain mata kepada manusia di atas bumi. Bima sakti nampak nyata, dibentuk oleh kelompok bintang-bintang yang berderet memanjang putih, sehingga nampaknya seperti awan putih cemerlang, membentuk bayang-bayang hitam yang tetap dan dalam.

Pada malam hari yang indah dan kelihatan penuh ketenteraman itu, dengan angin malam lembut bersilir, orang-orang di Lhagat dan sekitarnya tiba-tiba dikejutkan oleh sinar yang berluncuran dari bawah. Sinar- sinar yang seperti kembang api meluncur tinggi ke atas, berwarna hijau, kuning dan merah. Mula-mula warna merah yang lebih dulu meluncur dari lembah bukit di mana pasukan Ceng terkepung, lalu disusul oleh luncuran warna-warna lain dari bukit-bukit dan bahkan dari dalam kota Lhagat!

Selagi orang-orang menonton kembang api itu dengan heran, kagum hati bertanya-tanya siapa yang meluncurkan ke atas dan apa artinya itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas puncak bukit di mana pasukan musuh terkepung, suara ledakan keras disusul gemuruhnya air membanjir! Itulah permulaan dari gerakan yang dilakukan oleh Panglima Kao Kok Han bersama pasukannya yang terkepung, sesuai dengan siasat yang telah diatur oleh Panglima Kao Cin Liong!

Mula-mula saling diluncurkan anak-anak panah api ke atas oleh para pasukan yang terkepung, yang disambut oleh pasukan-pasukan Tibet, kemudian disambut pula oleh para anggota pasukan gerilya yang telah menyelundup ke dalam kota Lhagat. Lalu, Panglima Kao Kok Han, yaitu paman dari Kao Cin Liong, memimpin anak buahnya membobolkan bendungan air yang telah merupakan danau kecil di puncak karena mereka membendung air yang keluar dari sumber sehingga terkumpul amat banyaknya. Jebolnya bendungan ini tentu saja membuat air yang amat banyak itu membanjir ke bawah dengan derasnya, kemudian langsung menyerbu ke arah pasukan Nepal yang mengepung di bagian barat lembah bukit itu!

Tentu saja pasukan Nepal di sebelah barat bukit ini menjadi kaget, panik dan kacau balau diserang oleh banjir yang datang dari puncak bukit itu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sehingga ada air yang mendadak menyerbu mereka dari atas, menyeret perkemahan mereka, dan membunuh banyak orang serta menyeret orang-orang itu, menghempaskan mereka kepada batu-batu dan pohon-pohon. Mereka masih belum menyangka bahwa ini adalah perbuatan musuh, dan kepanikan menjadi semakin hebat ketika tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan hujan anak panah datang dari sebelah luar kepungan yang merobohkan lebih banyak orang lagi karena mereka tidak sempat berlindung dan masih panik oleh serangan air bah dari atas bukit.

Kepanikan ini menjadi-jadi ketika pasukan dari atas bukit yang terkepung itu tiba-tiba menyerbu turun, mengikuti air yang makin menipis. Pasukan Nepal yang mengepung segera memusatkan kekuatan di tempat itu, akan tetapi karena mereka sudah kena gempuran air dan pasukan Tibet yang menghujankan anak panah tadi, mereka mengira bahwa tentu pasukan Ceng-tiauw memperoleh bantuan barisan Ceng- tiauw yang besar, dan mereka sudah terlalu panik sehingga mereka melakukan perlawanan dengan hati takut.

Makin banyaklah pasukan-pasukan Tibet muncul dari berbagai jurusan, menghadang bagian pasukan Nepal yang tadinya mengepung dari arah lain dan kini berdatangan ke tempat itu untuk membantu kawan- kawan mereka. Pasukan-pasukan gerilya Tibet ini memotong-motong pasukan itu dan terjadilah pertempuran di sana-sini membuat pasukan Nepal yang mengepung itu terpecah-pecah dan kacau-balau.

Mereka mencoba untuk mempertahankan diri, namun akhirnya, menjelang fajar mereka semua terpaksa harus mundur dan memasuki kota Lhagat setelah mereka kehilangan lebih dari separuh jumlah pasukan yang sebagian tewas atau roboh oleh air bah, sebagian pula oleh hujan anak panah dan yang terbesar karena pertempuran yang berat sebelah itu karena kalau pihak Nepal bertempur dengan hati panik dan ketakutan, adalah pihak tentara Ceng-tiauw yang ingin bebas dari kepungan dan tentara Tibet yang ingin mengusir musuh itu bertempur dengan penuh semangat!

Panglima wanita Nandini dengan pakaian perang ternoda banyak darah musuh yang dirobohkannya dalam pertempuran tengah malam itu, dan muka serta leher basah oleh peluh terpaksa memimpin sisa pasukan itu memasuki Lhagat. Siok Lan yang bertugas menjaga kota itu menyambut bersama para pengawalnya dan terkejut melihat keadaan ibunya. Tanpa banyak tanya pun dia tahu bahwa pasukan Ibunya kalah dan kini sisa pasukan itu mundur memasuki Lhagat.

Akan tetapi, baru saja pasukan yang sudah patah semangat itu memasuki kota Lhagat, nampak kebakaran terjadi di semua penjuru kota itu! Orang-orang berteriak-teriak kebakaran dan keadaan menjadi semakin panik ketika dengan marah sekali Panglima Nandini memerintahkan para pembantunya untuk memeriksa kebakaran-kebakaran itu dan memadamkannya.

“Di mana Ci Sian? Di mana Liong Cin?” Panglima itu membentak dengan muka agak pucat kepada Siok Lan.

Siok Lan memandang ibunya, wajahnya juga menjadi pucat dan dia berkata dengan hati tegang. “Tadi mereka membantuku melakukan perondaan, bahkan aku memberi tugas kepada mereka berdua untuk menjaga di sekitar penjara agar jangan sampai tawanan memberontak dan membobol penjara dalam keadaan seperti ini, Ibu.”

Panglima itu mengangguk-angguk, tetapi tetap saja alisnya berkerut karena dia merasa ragu-ragu. Dia sudah memperoleh pukulan hebat dan sama sekali tidak disangkanya bahwa musuh demikian lihai menjalankan siasatnya sehingga dia benar-benar tak dapat menduga sama sekali bahwa pasukan yang terkepung itu akan mampu meloloskan diri. Tentu ada pengaturnya semua siasat itu, dan pengaturnya tentulah jenderal sakti yang dikabarkan orang datang dari kota raja dan yang kabarnya amat lihai itu. Kini baru dia tahu bahwa berita itu tidak berlebih-lebihan, bahwa di pihak musuh terdapat seorang ahli siasat perang yang hebat.

“Celaka, Li-ciangkun..!” Tiba-tiba seorang penjaga dengan tubuh luka-luka parah datang berlari dan langsung roboh di depan kaki panglima itu.

Biar pun orang itu sudah terluka parah, akan tetapi melihat orang itu dalam keadaan ketakutan seperti itu, Panglima Nandini membentak, “Pengecut! Bangun dan ceritakan apa yang terjadi!” Suara panglima ini penuh kemarahan.

“Penjara…. bobol dan semua tawanan…. lolos…. kami tak dapat menahan mereka….“ “Ahh! Bagaimana terjadinya? Siapa yang berkhianat?”
“Mereka…. mereka…. seorang pemuda dan gadis…. tamu Li-ciangkun….”

“Keparat!” Panglima itu membentak marah dan sekali meloncat dia telah berada di atas kudanya kemudian melarikan kudanya itu ke arah penjara, diikuti oleh Siok Lan yang wajahnya menjadi pucat sekali dan ada dua butir air mata meloncat turun ke atas pipinya. Hampir dia tidak percaya, Liong Cin seorang pengkhianat? Seorang mata-mata musuh yang meloloskan para tawanan bersama Ci Sian? Dan Ci Sian….? Ahhh, dia hampir tidak dapat mempercayai hal ini.

Akan tetapi para tawanan memang telah lolos keluar dan terjadilah pertempuran di mana-mana antara para tawanan dan para penjaga, juga di antara para tawanan itu terdapat beberapa orang yang lihai berbangsa Tibet dan Han, dan mereka ini bukanlah tawanan yang lolos, melainkan tenaga-tenaga baru yang entah muncul dari mana!

Puteri Nandini dengan marah lalu mengamuk dan merobohkan empat orang tawanan yang tidak dapat menahan sambaran pedangnya. Akan tetapi pada saat itu terdengar tambur tanda bahaya dari menara dan ternyata pasukan musuh telah mulai menyerang pintu-pintu gerbang kota Lhagat! Hal ini tentu saja mengejutkan Nandini dan terpaksa dia meninggalkan tempat itu untuk pergi ke menara. Penyerbuan musuh dari luar lebih penting dari pada pemberontakan para tawanan itu. Siok Lan juga mengikuti ibunya karena bagaimana pun juga, dalam keadaan yang genting dan gawat itu, dia harus selalu mendekati ibunya untuk membantu ibunya.

Dan memang pasukan Ceng-tiauw yang dibantu oleh banyak sekali pasukan Tibet telah mulai menyerbu benteng tembok Lhagat dari pelbagai jurusan! Serbuan itu dimulai pagi sekali ketika cuaca masih gelap. Tentu saja pasukan-pasukan Nepal menjadi semakin panik karena mereka baru saja mengalami kekalahan dan gempuran hebat. Dalam keadaan lelah lahir batin mereka kini terpaksa dikerahkan untuk mempertahankan kota itu dari kepungan musuh. Celakanya, dari sebelah dalam juga terjadi serbuan- serbuan, pembakaran-pembakaran, yang amat menggelisahkan para pasukan itu.

Terutama sekali Puteri Nandini yang menerima laporan bertubi-tubi tentang adanya serbuan-serbuan pada gedung-gedung pemerintah, pembakaran-pembakaran, bahkan gedung tempat tinggalnya tidak terkecuali mengalami penyerbuan dan para pengawal gedung itu tewas semua. Mendengar laporan-laporan ini, maklumlah Sang Puteri yang menjadi panglima ini bahwa kota Lhagat ternyata penuh dengan mata-mata yang kini dibantu oleh para tawanan yang lolos untuk mengacaukan kota. Kalau kekacauan di sebelah dalam ini tak segera dibasmi, tentu akan membahayakan pertahanan kota dari serbuan musuh di luar.

Oleh karena itu, sambil mengajak puterinya dia lalu turun dari menara, menyerahkan pengaturan penjagaan pintu-pintu gerbang kepada komandannya dan dia bersama puterinya lalu menuju ke tempat- tempat terjadinya penyerbuan para pengacau itu. Akan tetapi para pengacau itu bergerak secara bergerilya. Kalau pihak penjaga terlampau kuat mereka menghilang, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan membakar atau mengacau di bagian lain, dan tujuan mereka agaknya selain untuk mengacaukan penjagaan juga untuk mendekati pintu-pintu gerbang karena mereka bertugas untuk membobolkan pintu itu dari sebelah dalam.

Dirongrong seperti ini dari dalam, para penjaga Nepal menjadi semakin panik dan lelah sekali dan akhirnya, pintu gerbang sebelah selatan bobol dan dengan suara hiruk-pikuk pasukan Kerajaan Ceng-tiauw bersama pasukan Tibet menyerbu masuk bagaikan air bah terlepas dari bendungan yang pecah. Keadaan dalam kota Lhagat menjadi semakin kacau dan bersama dengan terbitnya matahari, pasukan Ceng dan Tibet yang terbagi bagi menjadi beberapa pasukan itu menyerbu dari semua pintu gerbang yang akhirnya dapat dibobolkan.

Terjadilah pertempuran-pertempuran di dalam kota itu dengan hebatnya. Bala tentara Nepal kehilangan kepercayaan diri, dan para pemimpin mereka tak dapat lagi memberi komando secara langsung karena pertempuran telah pecah di mana-mana memenuhi kota itu. Penduduk yang memang banyak bersimpati kepada Tibet, sekarang keluar dan membantu pihak Tibet untuk menggempur pasukan Nepal yang mereka benci! Dan di dalam pasukan mata-mata yang menyelinap di dalam kota dan tadi telah melakukan pembakaran-pembakaran terdapat cukup banyak orang-orang pandai yang mengamuk bagaikan harimau- harimau buas, membuat pasukan Nepal menjadi makin gelisah.

Di antara pertempuran-pertempuran yang pecah di mana-mana secara kacau-balau itu, pertempuran- pertempuran jarak dekat yang amat seru, nampak Panglima Nandini dan Siok Lan mengamuk bahu membahu. Dengan pedang di tangan, ibu dan puterinya ini mengamuk, bukan lagi mempertahankan kota atau demi pasukan Nepal, melainkan untuk mempertahankan diri yang dikepung dan dikeroyok!

Sementara itu, yang membongkar penjara adalah Cin Liong sendiri dibantu oleh Ci Sian. Dara itu ikut membongkar penjara karena dia hendak mencari Lauw-piauwsu yang dia tahu berada di antara mereka yang menjadi tawanan. Setelah penjara terbongkar dan semua tawanan menyerbu keluar, Ci Sian seorang diri memasuki penjara dan bertanya-tanya kepada para tawanan yang lolos itu di mana adanya Lauw- piauwsu. Para tawanan itu yang menjadi gembira sekali memberi tahu bahwa Lauw-piauwsu dalam keadaan sakit payah dan mendengar ini Ci Sian segera berlari-lari menuju ke kamar tahanan orang tua itu.

Akhirnya dia melihat laki-laki tua itu rebah di atas lantai beralaskan rumput kering dalam keadaan mengenaskan sekali. Biar pun selama bertahun-tahun Ci Sian tidak bertemu dengan orang ini dan keadaan Lauw-piauwsu amat menyedihkan, namun Ci Sian segera mengenalnya dan cepat dia berlutut di atas lantai dekat tubuh yang kurus kering itu. Tubuh itu kurus sekali, dengan muka pucat dan mata sayu, napasnya tinggal satu-satu dan tubuhnya amat panas. Kiranya kakek itu diserang demam hebat. Sungguh menyedihkan sekali keadaan Toat-beng Hui-to Lauw Sek yang dulunya adalah seorang kakek yang demikian gagahnya itu!

“Paman Lauw….,” Ci Sian memanggil dengan hati terharu melihat keadaan orang ini.

Lauw Sek membuka matanya yang tadinya dia pejamkan, seolah-olah dalam keadaan mata terbuka sayu tadi dia sama sekali tidak melihat gadis itu memasuki kamarnya setelah mematahkan rantai yang mengunci daun pintu.

Sejenak mata yang sudah kelihatan tidak bersemangat itu memandang, akan tetapi agaknya dia tidak ingat lagi kepada Ci Sian. “Siapa…. siapa engkau….?”

“Paman Lauw, lupakah engkau kepadaku? Aku Ci Sian….” “Ci…. Sian….?”
“Aku Ci Sian atau…. Siauw Goat, cucu dari Kakek Kun, lupakah kau, Paman?”

“Ahhh….” Sejenak mata itu bersinar dan agaknya dia teringat. “Engkau…. ahhh, Nona…. aku…. aku…. amat payah….”

“Paman, tolong kau beritahukan aku menurut penuturan Kakek Kun dahulu itu, siapakah adanya Ayah kandungku, Ibu kandungku, dan di mana aku dapat mencari mereka?”

“Ahhh…. aku…. aku tidak kuat lagi membawamu ke sana….”

“Aku akan mencari sendiri, Paman. Harap kau katakan saja di mana mereka dan siapa mereka itu.”

Lauw Sek terengah-engah, agaknya pertemuannya dengan gadis yang sama sekali tak disangka- sangkanya ini, gadis yang tadinya disangkanya sudah tewas, mendatangkan ketegangan yang menambah berat penyakitnya.

“Paman…. Paman…. tolonglah, kuatkan dirimu, dan beritahu aku….“ Ci Sian memegang pundak orang itu.

Mata yang sudah terpejam itu terbuka lagi. “Ayahmu…. Bu-taihiap…. petualang besar…. Ibu…. Ibumu…. telah meninggal…. kau disia-siakan dan ditinggal…. sebab dia sudah mempunyai isteri lain lagi…. Dia…. dia di….”

Kakek itu terkulai lemas dan Ci Sian cepat meletakkan telapak tangannya pada dada orang tua itu untuk menyalurkan tenaga sinkang dan membantu peredaran darahnya. Mata itu dibuka lagi, nampaknya terkejut dan heran menyaksikan kelihaian dara itu.

“Di mana dia, Paman? Di mana Ayah?”

“Di puncak…. Merak Emas…. di Kongmaa La…. Kakekmu…. dia…. Kiu-bwe Sin-eng Bu Thai Kun…. Ayahmu…. Ayahmu….” Kakek itu mengeluh, terkulai dan Ci Sian menarik kembali tangannya.

Kakek itu telah mengakhiri hidupnya, tanpa sempat memberitahukan nama ayahnya. Dia hanya tahu bahwa ayahnya disebut Bu-taihiap, dan hal ini amat mendatangkan rasa nyeri di dalam dadanya. Teringatlah dia akan sikap dan ucapan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu yang pernah berhubungan dengan seorang pendekar yang disebut Bu-taihiap! Dan juga menurut penuturan mendiang Lauw Sek, ayahnya seorang petualang besar, dan Ibunya sudah meninggal dunia pula. Bahkan dia telah ditinggalkan oleh ayahnya itu, disia-siakan!

Ci Sian mengepal tinjunya. Teringat dia akan pesan kakeknya bahwa dia harus bertemu dengan ayahnya yang bertanggung jawab padanya. Sekarang, ternyata ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab, seorang petualang besar, agaknya gila perempuan karena buktinya, bersama isterinya, dan entah isteri yang mana, entah ibu kandungnya atau bukan, pernah datang menemui Cui- beng Sian-li Tang Cun Ciu yang cantik dan ayah kandungnya itu berjinah dengan Tang Cun Ciu. Betapa memalukan dan rendah! Ayahnya seperti itu! Apa pula perlunya dia mencari ayahnya jauh-jauh?

Dia lalu meninggalkan jenazah itu setelah menggerakkan bibir mengucapkan terima kasih kepada mendiang Lauw-piauwsu, kemudian berlari keluar dari penjara. Di mana-mana terjadi pertempuran dan malam telah terganti pagi, cuaca sudah tidak gelap lagi. Matahari telah terbit disambut oleh aliran darah dan teriakan-teriakan kematian, mayat berserak-serakan, dan di antara suara beradunya senjata terdengar nyaring pekik-pekik kemenangan dan jerit-jerit kesakitan.

Melihat keadaan ini, tahulah Ci Sian bala tentara Ceng sudah berhasil menyerbu dan memasuki kota Lhagat, dibantu oleh pasukan-pasukan Tibet. Maka diam-diam dia merasa kagum bukan main kepada Cin Liong, karena dia tahu bahwa pemuda itulah yang mengatur segala-galanya. Dia lalu teringat kepada Siok Lan dan mengkhawatirkan keselamatan sahabat baiknya itu. Maka dia kemudian mencari-cari, tidak mempedulikan pertempuran yang terjadi di sekelilingnya.

Akhirnya dia dapat menemukan ibu dan anak itu yang sedang mengamuk, dikeroyok oleh kurang lebih dua puluh orang tentara dan perwira yang rata-rata mempunyai kepandaian silat tangguh. Puteri Nandini yang masih berpakaian perang itu kelihatan telah lelah sekali, bahkan pundaknya telah luka berdarah, sedangkan Siok Lan sudah terpincang-pincang karena kaki kirinya terluka. Namun dua orang wanita itu dengan gagahnya, agaknya mengambil keputusan tidak akan sudi menyerah selama masih mampu melawan dan akan melawan sampai titik darah terakhir.

Melihat ini, hati Ci Sian menjadi tidak tega. Dia telah mengenal Siok Lan yang amat baik kepadanya, dan tahu akan kegagahan dara itu, maka melihat sahabat itu dikeroyok, mana mungkin dia mendiamkannya saja?

“Lan-cici, jangan khawatir, aku membantumu!” bentaknya dan dia pun meloncat ke dalam kalangan pertempuran.

Begitu dia maju menubruk, dia telah berhasil menampar dari samping yang mengenai leher seorang pengeroyok. Orang itu berteriak kaget dan jatuh terpelanting tak dapat bangkit kembali, pedangnya telah pindah ke tangan Ci Sian!

“Sian-moi….!” Siok Lan berteriak girang bukan main, bukan girang oleh karena dibantu semata, melainkan girang dan lega melihat bahwa gadis yang oleh ibunya disangka memberontak dan membantu musuh, berkhianat itu, ternyata tidak demikian dan kini dibuktikannya dengan membantu dia dan Ibunya!

Juga Puteri Nandini terkejut, akan tetapi diam-diam girang juga bahwa ternyata dara yang menjadi sahabat puterinya itu bukanlah pengkhianat, melainkan seorang sahabat sejati. Maka dia pun cepat memutar pedangnya dan merobohkan seorang pengeroyok pula.

Akan tetapi kini kepungan makin ketat dengan datangnya pasukan baru dan jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang! Tentu saja tiga orang wanita itu, betapa pun lihai mereka, mulai terdesak dan kepungan semakin sempit sehingga gerakan-gerakan mereka semakin tidak leluasa.

“Adik Sian, cepat panggil ular-ularmu!” Siok Lan berseru, melihat keadaan mereka yang terancam.

“Ahhh, mana mungkin, Enci Lan? Kota penuh orang yang bertempur, ular-ular itu tidak berani muncul!” jawab Ci Sian sambil memutar pedang rampasannya tadi.

Kini dia tak lagi dapat menyerang lawan, melainkan hanya membela diri dan menangkis semua sanjata para pengeroyok yang datang menyambar bagaikan hujan. Demikian pula Siok Lan dan ibunya yang hanya mampu menangkis. Mereka bertiga kini saling membelakangi, membentuk posisi segi tiga dan menahan serbuan senjata-senjata para pengeroyok dari luar. Namun keadaan mereka sungguh sudah sangat terdesak dan mudah dibayangkan bahwa tak lama lagi akhirnya mereka tentu akan roboh juga.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan tiga orang wanita itu, tiba-tiba terdengar bentakan halus, namun nyaring dan penuh wibawa. “Tahan semua senjata! Hentikan pengeroyokan!”

Luar biasa sekali bentakan ini, sebab selain dapat menembus semua suara kegaduhan, juga semua pengeroyok itu seketika berhenti, mundur dan berdiri dengan amat hormat, memberi jalan kepada seorang pemuda yang mengeluarkan perintah yang amat ditaati itu. Panglima Nandini dan Siok Lan memandang kepada orang itu dan mata mereka terbelalak, karena mereka mengenal pemuda yang berpakaian jenderal amat indah dan mentereng ini.

“Liong-ko….!” Siok Lan berseru kaget sekali karena jenderal muda yang gagah itu bukan lain adalah Liong Cin.

“Hemm…, kiranya Liong Cin adalah jenderal sakti yang dikabarkan orang itu?” Puteri Nandini juga berkata dengan kaget dan penasaran.

Akan tetapi Cin Liong yang begitu masuk memandang kepada Ci Sian, berkata kepada dara itu dengan alis berkerut, “Ci Sian, engkau membantu mereka?”

Ditanya dengan suara penuh teguran itu, Ci Sian menegakkan kepalanya, sepasang matanya bersinar marah dan dia menjawab gagah, “Tentu saja! Aku diterima dengan baik di sini, Enci Siok Lan adalah sahabatku, melihat dia dan Ibunya terancam bahaya, tentu saja aku membantu dan membela mereka. Aku bukan seorang yang tidak kenal budi!”

Mendengar jawaban ini, Cin Liong menahan senyumnya dan dia memandang kepada Siok Lan yang masih terbelalak. Ketika dara ini melihat betapa sahabatnya itu agaknya sama sekali tidak heran melihat keadaan Liong Cin yang muncul sebagai jenderal, dia lalu berkata, “Dia…. dia…. jenderal musuh….?”

“Ya, Enci Lan, jangan kaget. Dialah jenderal yang dikabarkan orang itu, jenderal muda sakti yang datang menyelundup dan kalian malah telah menerimanya sebagai tamu dan sahabat! Dan namanya bukanlah Liong Cin, melainkan Kao Cin Liong!” jawab Ci Sian yang tahu bahwa keadaan panglima muda itu tidak perlu lagi disembunyikan sekarang.

Mendengar bahwa nama yang dikenalnya itu hanya nama palsu, atau nama asli yang dibalikkan saja, Siok Lan memandang kepada panglima muda itu dengan heran, akan tetapi ibunya, Puteri Nandini menjadi terkejut bukan main.

“She Kao?” Panglima wanita itu berseru. “Apakah hubungannya dengan Jenderal Kao Liang?”

Cin Liong mengangguk kepada puteri peranakan Nepal yang gagah itu. “Mendiang Jenderal Kao Liang adalah Kakekku.”

“Hemm….” Puteri Nandini mengangguk-angguk, tidak penasaran lagi bahwa dia telah dikalahkan oleh jenderal muda ini karena nama Jenderal Kao Liang telah sangat terkenal dan tentu saja cucunya ini pun mewarisi kepandaian yang hebat dari jenderal besar itu. “Jadi kalau tidak salah, Ciangkun adalah putera pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?”

Kembali Cin Liong mengangguk tanpa menjawab oleh karena dia memang tidak ingin memamerkan keadaan keluarganya.

“Setelah kami kalah, apa yang hendak kau lakukan dengan kami?” kini Puteri Nandini bertanya, dalam suaranya mengandung tantangan.

“Li-ciangkun, dan…. Nona Siok Lan, tepat seperti yang dikatakan oleh Ci Sian tadi, kami bukanlah orang- orang yang tidak mengenal budi. Oleh karena itu, sebagai pembalasan budi, silakan kalian pergi dengan aman.”

“Apa? Engkau berani membebaskan kami?” Puteri Nandini berteriak kaget dan juga heran. Dia adalah seorang panglima musuh yang telah kalah, dan sekarang dibebaskan begitu saja oleh panglima ini!

“Li-ciangkun hanya seorang petugas, bukan biang keladi peperangan ini. Silakan!”

“Mari, Anakku!” kata Nandini sambil menarik tangan Siok Lan. Dara ini masih menoleh dan memandang kepada Cin Liong, mukanya pucat dan sepasang matanya basah.

“Selamat jalan, Nona, mudah-mudahan kita dapat saling bertemu kembali dan maafkan semua kesalahanku,” kata Cin Liong sambil menjura ke arah Siok Lan yang terisak dan menutupi mukanya.

“Ci Sian, engkau sahabat baik kami, apakah engkau tidak mau pergi bersama kami?” Puteri Nandini mengajak Ci Sian akan tetapi dara ini menggeleng kepala dengan sikap yang keras. Kembali ada rasa tidak enak di hatinya menyaksikan sikap Cin Liong dan Siok Lan.

“Tidak, Bibi, aku mau pergi sendiri, aku mempunyai urusan pribadi!” katanya dan tanpa banyak cakap lagi, bahkan tanpa menoleh kepada Cin Liong, dia lalu meloncat dan pergi dari tempat itu.

“Adik Sian….!” Terdengar panggilan Siok Lan dengan suara mengandung isak.

Ci Sian berhenti, menoleh dan berkata kepada sahabatnya itu, “Sampai jumpa, Enci Lan!” Dan dia pun melanjutkan larinya tanpa mempedulikan lagi.

“Mari, Siok Lan!” Puteri Nandini menarik tangan puterinya, akan tetapi Siok Lan masih menoleh dan memandang kepada Cin Liong. Akhirnya, dengan menahan isak, dia pun mengikuti ibunya lari pergi dari tempat itu, diikuti dan dikawal oleh pasukan pengawal atas perintah Cin Liong agar ibu dan anak itu tidak diganggu dan dibiarkan lolos dari kota Lhagat di mana masih terjadi pertempuran-pertempuran dengan sisa pasukan Nepal yang masih melakukan perlawanan. Sebagian besar pasukan Nepal sudah roboh atau melarikan diri.

Setelah Panglima Nandini dan puterinya pergi lolos dari Lhagat, pertempuran pun tak lama kemudian berhenti karena pasukan Nepal sudah kehilangan semangat dan keberanian. Sebagian dari mereka melarikan diri atau membuang senjata dan menaluk. Para taklukan ini oleh Cin Liong diserahkan kepada para pimpinan pasukan Tibet untuk dijadikan tawanan, kemudian Cin Liong yang menduduki gedung bekas tempat tinggal Puteri Nandini mengumpulkan para pembantunya. Di antara mereka itu terdapat pula Wan Tek Hoat yang berjasa besar ketika membantu pasukan membobolkan kepungan karena pendekar sinting ini yang mengamuk sehingga membuat pasukan kocar-kacir.

“Paman, saya telah menerima perintah untuk melanjutkan gerakan ini ke Nepal, untuk menghajar pemerintah Nepal yang telah berani menyerang dan memasuki wilayah Tibet. Saya sedang minta bantuan pasukan dari kerajaan untuk memperkuat barisan. Harap Paman sudi membantu kami.”

Akan tetapi Tek Hoat menggeleng kepala. “Aku tidak mau lewat Bhutan, aku tidak mau perang, aku tidak bisa ikut.”

Cin Liong hanya menarik napas panjang. Dia merasa kasihan sekali kepada pamannya yang gagah perkasa ini dan melihat keadaannya seperti jembel sinting ini dia merasa kasihan sekali.

“Kalau begitu sebaiknya Paman mengunjungi orang tua saya, Ibu tentu akan senang sekali bertemu dengan Paman.”

Cin Liong lalu memberi bekal, kuda, pakaian dan uang secukupnya. Akan tetapi Tek Hoat tertawa bergelak melihat pemberian ini.

“Jenderal muda, kau kira aku masih membutuhkan semua itu? Bukan itu yang sekarang kubutuhkan, sama sekali bukan….” Dia masih tertawa ketika berlari pergi meninggalkan Cin Liong yang menjadi bengong.

Jenderal muda ini lalu menggeleng kepala dan menarik napas panjang berkali-kali. Dia sudah banyak bertemu orang-orang pandai di dunia kang-ouw yang memang wataknya aneh-aneh, dan pamannya itu mempunyai watak yang lebih aneh lagi…..

********************

“Siok Lan, diamlah jangan menangis lagi!” Nandini membentak dengan marah.

Di sepanjang perjalanan puterinya hanya menangis saja, menangis demikian sedihnya. Semenjak kecil, puterinya itu adalah seorang anak yang tabah dan tidak cengeng, bahkan belum pernah dia melihat Siok Lan menangis seperti sekarang ini, menangis demikian sedihnya! Dikiranya bahwa anaknya itu menangis karena kekalahannya yang dideritanya.

“Di dalam perang, kalah menang adalah hal yang lumrah sekali, seperti juga dalam pertempuran dunia persilatan. Harus kita akui bahwa pihak musuh mempunyai seorang ahli yang amat lihai dan siasatnya itu sama sekali tidak pernah kusangka-sangka dan kuperhitungkan. Kita sudah kalah, mengapa harus ditangisi? Biasanya engkau bukanlah seorang anak cengeng!”

Siok Lan tidak menjawab akan tetapi tangisnya semakin sedih.

“Semula memang aku sudah menduga bahwa tidak mungkin bala tentara Nepal akan mampu mengalahkan bala tentara Kerajaan Ceng-tiauw yang amat kuat. Semua adalah kesalahan koksu jahat itu yang membikin Nepal bermusuhan dengan Kerajaan Ceng. Dan kekalahanku ini membuat aku tidak ada muka untuk kembali ke Nepal….! Ahh, kita hanya hidup berdua, Anakku, kita tidak mempunyai apa-apa di Nepal, maka jangan kau terlalu menyusahkan kekalahan ini.”

“Bukan…. bukan itu, Ibu,” kata Siok Lan yang berhenti berjalan dan dara ini duduk di tepi jalan, di antara sebuah batu besar dan kembali air matanya jatuh berderai.

Nandini terkejut dan memandang penuh selidik. “Kalau bukan karena kekalahan itu, habis mengapa kau menangis dan begini berduka?”

“Ibu…. dia ternyata jenderal musuh…. hu-hu-huuuuhhh….“ dan kini Siok Lan menangis sesenggukan dan menubruk kaki ibunya, berlutut sambil menangis.

Nandini terkejut dan sejenak dia termenung, menunduk, kemudian memandang kepala anaknya yang menangis di depan kakinya. Lalu dia mengangkat bangun anaknya itu setengah paksa, merangkul dan membawanya duduk kembali di atas batu, membiarkan anaknya itu menangis di atas dadanya. Puteri itu memejamkan matanya dan tiba-tiba terbayanglah semua pengalamannya di waktu dahulu, di waktu dia masih muda, masih sebaya dengan puterinya ini.

Nandini adalah puteri seorang pendeta bangsa Nepal yang hidup di atas puncak sebuah bukit yang sunyi. Ayahnya adalah seorang pertapa yang sakti dan oleh ayahnya, dia digembleng dengan ilmu-ilmu ketangkasan dan ilmu silat. Pada suatu hari, pada saat Nandini sedang memburu binatang di dalam salah sebuah hutan, dia melihat perampok-perampok sedang merampok seorang Pangeran Nepal.

Nandini menggunakan kepandaiannya menolong pangeran itu, dan Sang Pangeran amat berterima kasih dan sekaligus jatuh cinta kepadanya, lalu melamar Nandini dari tangan ayahnya. Sang pendeta tentu saja merasa terhormat dan menerima lamaran itu dengan girang. Akan tetapi Nandini sendiri merasa berduka karena dia tidak suka kepada pangeran itu.

Biar pun kedudukannya tinggi, sebagai seorang pangeran yang tentu saja terhormat, mulia dan kaya raya, namun pangeran itu sudah berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah kasar buruk dan kabarnya telah memiliki belasan orang selir. Biar pun dia akan diambil sebagai isteri, bukan selir, namun hatinya tidak senang. Akan tetapi sebagai seorang wanita, tentu saja dia tidak berani menolak kehendak ayahnya dan demikianlah, dia menjadi tunangan pangeran tua itu!

Dan pada suatu hari, beberapa bulan sebelum dia menikah, bertemulah dia dengan pendekar itu di dalam hutan! Seorang pendekar bangsa Han yang masih muda, tampan, sakti sekali, dan di samping itu, pandai merayu hatinya sehingga jatuhlah hati Nandini! Apalagi jika dia membandingkan pendekar muda ini dengan calon suaminya, membuat Nandini kehilangan kesadarannya dan dia menyerahkan dirinya kepada pendekar itu yang memang merayunya. Terjadilah hubungan di antara mereka di dalam hutan itu, hubungan mesra yang kini terbayang oleh sepasang mata yang dipejamkan itu.

Akan tetapi hubungan antara mereka itu akhirnya ketahuan! Ayahnya menjadi marah dan menyerang pendekar itu, tetapi ayahnya sama sekali bukan tandingan pendekar itu dan ayahnya malah tewas dalam penyerangan itu, bukan tewas oleh karena tangan Si Pendekar, tetapi tewas karena serangan jantung karena kemarahannya yang meluap-luap.

Kemudian terjadilah hal yang sangat menyakitkan hatinya. Pendekar itu kemudian pergi meninggalkannya! Meninggalkannya begitu saja, padahal dia sudah mengandung! Hasil dari pada pencurahan kasih dan nafsu birahi antara mereka selama hampir satu bulan di dalam hutan!

Namun, pangeran tua itu ternyata amat mencintainya dan bahkan mau memaafkan semua hubungannya dengan Si Pendekar. Pangeran itu tetap saja mengawininya, dan tidak mau menjamahnya sampai dia melahirkan seorang anak perempuan, yaitu Siok Lan! Melihat kebaikan pangeran itu, sungguh pun sebagian dari penyebabnya adalah karena pangeran itu ingin menutupi aib yang akan mencemarkan namanya sendiri, akhirnya Nandini menerima nasib dan mau melayani pangeran itu sebagai suaminya. Kemudian, berkat ilmu kepandaiannya, suaminya memberi jalan kepada Nandini sehingga dia dapat bertugas di dalam ketentaraan dengan pangkat lumayan. Dan ketika pangeran itu meninggal dunia karena suatu penyakit, Nandini terus menanjak dalam kedudukannya sampai akhirnya dia mendapat kedudukan tinggi sebagai seorang panglima perang!

Dan akhirnya kedudukannya itu berakhir dengan kekalahan yang amat memalukan! Dia tidak berani kembali lagi ke Nepal. Kemudian, mendengar tangis puterinya, teringatlah dia akan semua pengalamannya itu, terbayanglah wajah tampan pendekar itu!

“Siok Lan, apa yang sudah terjadi antara engkau dan Jenderal muda itu?” Akhirnya dia bertanya, setengah mengkhawatirkan bahwa peristiwa yang dialaminya dahulu itu kini terulang lagi pada puterinya!

Siok Lan memandang ibunya dan melihat sinar mata ibunya tajam penuh selidik, dia pun membalas dengan pandang mata bersih dan tenang. “Tidak ada terjadi apa-apa kalau itu yang kau maksudkan, Ibu. Akan tetapi kami…. kami telah saling jatuh cinta…. akan tetapi…. tentu saja kusangka bahwa dia seorang pemburu muda biasa, bukan seorang jenderal besar…. hu-huuuhh, apalagi jenderal musuh….”

Nandini mengelus rambut kepala puterinya. “Aku girang bahwa tidak terjadi apa-apa antara engkau dan dia…. dia memang seorang pemuda yang patut mendapat cintamu, Anakku, akan tetapi…. dia jenderal musuh! Mana mungkin dia mau menikah atau berjodoh dengan seorang seperti engkau….”

“Tapi, kami sudah saling mencinta, Ibu!”

Hemm…. dia seorang ahli siasat perang! Siapa tahu bahwa cintanya kepadamu itu pun hanya merupakan siasatnya belaka….“

“Ibu….! Jangan begitu kejam…. ahhh, tidak mungkin itu! Ibu, aku mau susul dia, akan kutanyakan hal itu. Kalau…. kalau benar cintanya itu hanya siasat, aku…. aku akan….”

“Kau mau apa?”

“Aku akan membunuhnya!”

Nandini tersenyum sedih. Dia pun dahulu ingin membunuh pendekar tampan itu, akan tetapi dia tahu bahwa biar pun dia belajar sampai sepuluh tahun lagi, tidak mungkin dia dapat menandingi pendekar itu. Dan puterinya ini, biar belajar puluhan tahun lagi mana mungkin dapat menandingi putera Naga Sakti Gurun Pasir dan cucu mendiang Jenderal Kao Liang?

“Kau takkan menang Anakku.”

“Tidak peduli! Kalau dia menipuku, hanya bersiasat dalam cintanya, biar dia atau aku yang mati!”

“Hemm, itu tidak bijaksana, Siok Lan. Ingat, engkau adalah puteri panglima musuh, selain perbuatanmu menyusul jenderal musuh itu amat memalukan, juga begitu muncul engkau tentu akan dianggap musuh dan dikeroyok para anak buah pasukan….“

“Aku tidak takut!” kata Siok Lan yang nampak amat penasaran mengingat betapa cinta pemuda itu mungkin hanya siasat perang saja! “Lebih baik aku mati dikeroyok dari pada tidak ada harapan berjodoh dengan dia!”

Siok Lan sudah nekat. Memang benar bahwa pemuda itu dan dia masing-masing belum pernah menyatakan cinta dengan kata-kata melalui mulut, akan tetapi dia merasa benar ketika mereka saling pandang, saling senyum dan saling bergandeng tangan. Dia dapat merasakan cinta kasih itu melalui sinar mata, melalui seri senyum, melalui getaran dalam sentuhan jari-jari tangan antara mereka.

“Siok Lan, jangan terburu nafsu. Aku sebagai ibumu dapat memaklumi perasaanmu dan aku setuju sepenuhnya andai kata engkau dapat berjodoh dengan Jenderal muda itu. Dia itu adalah cucu Jenderal Kao Liang, ini saja sudah merupakan suatu jaminan. Apalagi diingat bahwa dia putera Naga Sakti Gurun Pasir, itu lebih lagi. Pula, kita sudah melihat betapa lihainya dia mengatur siasat perang, dan aku yakin bahwa ilmu silatnya pun amat tinggi. Maka, mana mungkin engkau, hanya anak seorang Panglima Nepal yang telah kalah….“

“Ibu, bukankah Ibu pernah mengatakan bahwa aku juga seorang anak kandung dari pendekar yang sakti?” “Ayahmu….?” Wajah wanita yang masih cantik itu berubah merah, kemudian menjadi pucat kembali.
Dia memejamkan matanya dan terbayanglah dia ketika dia belum berangkat memimpin pasukan, pernah ada seorang pengembara datang membawa surat dari pendekar bekas kekasihnya itu, ayah kandung Siok Lan. Surat itu seperti juga watak orangnya, penuh rayuan dan ternyata pendekar itu sudah mendengar bahwa dia telah menjadi seorang janda dan pendekar itu merayunya dalam surat, menyatakan rindunya, menyatakan bahwa pendekar itu kini hidup seorang diri, kesepian dan menanggung rindu, dan membujuknya agar suka datang ke tempatnya, menikmati hidup bersama! Surat itu telah dirobek-robeknya dan dia berangkat memimpin pasukan menyerbu ke Tibet. Akan tetapi kini, ketika puterinya merengek, teringatlah dia akan isi surat.

“Hemmm, memang hanya ada satu jalan. Dan Ayah kandungmu itu, yang selama hidupnya belum pernah menderita jerih payah merawat dan mendidikmu, sekarang dia harus bertanggung jawab! Ya, dia harus membuktikan bahwa dia seorang ayah yang patut dan yang sudah sepantasnya kalau menjodohkan puterinya! Mari kita pergi kepadanya, Siok Lan, dan kita serahkan urusan jodoh ini kepadanya!”

Siok Lan merasa girang sekali dan kedukaannya segera terhapus dari wajahnya dan pada wajah yang cantik itu terbayang penuh harapan ketika dia pun berlari mengikuti ibunya…..

********************

Puncak Merak Emas merupakan satu di antara puncak-puncak Gunung Kongmaa La yang menjulang tinggi di atas awan-awan. Kongmaa La merupakan gunung yang nomor tiga tingginya dari deretan Pegunungan Himalaya, dan mempunyai banyak puncak yang sedemikian tingginya sehingga hampir selalu tertutup es dan salju. Akan tetapi, puncak Merak Emas hanya pada musim salju saja tertutup es dan pada musim-musim lain, terutama di musim semi dan musim panas, puncak Merak Emas amat indahnya dan subur dengan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon besar. Mungkin karena banyaknya terdapat merak dengan bermacam-macam warna, maka puncak itu dinamakan puncak Merak Emas, meski pun jarang sekali ada manusia yang dapat bertemu dengan seekor merak yang bulunya keemasan.

Karena tanahnya yang subur dan keadaannya yang lebih enak ditinggali, tidak seperti puncak-puncak lainnya di Pegunungan Himalaya, maka di kaki dan lereng gunung ini terdapat kelompok-kelompok dusun yang penghuninya bekerja sebagai petani atau pemburu binatang hutan. Namun di puncaknya sendiri hanya terdapat sebuah pondok kayu yang sederhana akan tetapi kokoh kuat dan setiap hari orang dapat mendengar suara seorang pria membaca sajak dengan suara yang lantang dan merdu dari dalam pondok itu. Di belakang pondok itu terdapat kebun yang cukup luas, penuh dengan tanaman sayur-sayuran seperti kobis, sawi, wortel, lobak dan sebagainya lagi, di samping beberapa petak sawah yang ditanami padi gandum.

Semua penghuni dusun di sekitar puncak itu tahu bahwa pondok itu dihuni oleh seorang pria yang hidup menyendiri di situ, di tempat sunyi itu. Seorang pria yang berpakaian seperti petani biasa, usianya sudah empat puluh tahun lebih namun masih nampak gagah dan muda, tampan dan periang. Tubuhnya kokoh kuat biar pun gerak-geriknya halus seperti seorang sastrawan, wajahnya yang gagah dan tampan itu selalu berseri kemerahan, sepasang matanya bersinar-sinar dan jenggot serta kumisnya terpelihara rapi selalu. Meski pakaiannya sederhana, pakaian petani, namun selalu nampak bersih dan rapi, sungguh amat berbeda dengan para petani yang biasanya selalu berlepotan lumpur.

Melihat betapa dia hidup dalam keadaan tenang dan tenteram, nampaknya amat berbahagia, orang akan menganggap dia seorang petani biasa yang berbahagia, tidak butuh apa-apa lagi, hidup sehat dan penuh damai. Akan tetapi kalau malam tiba, dan orang melihat dia duduk di senja kala menikmati matahari tenggelam sambil melamun, kadang-kadang minum arak sendirian dan membaca sajak-sajak yang indah dengan suara lantang, maka, melihat wajahnya yang lantas menjadi berduka, mendengar bunyi rangkaian sajak yang bernada sedih, maka orang akan tahu bahwa sebenarnya ada kedukaan besar tersembunyi di balik kehidupan yang nampak bahagia itu.

Dan kalau sudah begitu, maka akan jelaslah bahwa dia bukanlah seorang petani biasa, baik dilihat dari caranya membaca sajak, dan gerak-geriknya. Bahkan, di waktu keadaan sunyi sekali dan dia merasa yakin tidak ada mata lain memandang, tubuhnya akan berkelebatan seperti kilat pada saat dia berlatih ilmu silat yang sangat hebat sehingga gerakan tangan kakinya dapat membuat daun-daun pohon rontok dan tanah di sekeliling tempat dia berlatih itu tergetar seperti ada gempa bumi!

Akan tetapi ada kalanya, agaknya untuk melarikan diri dari kesepian, orang itu nampak bercakap-cakap dengan orang-orang dusun yang tinggal di lereng. Dia sengaja turun dari puncak membawa arak buatannya sendiri, mendatangi para penghuni dusun yang diajaknya minum arak sambil bercakap-cakap, tentang tanaman atau tentang alam atau juga tentang filsafat kehidupan sederhana menurut pandangan para penghuni dusun.

Ada kalanya pula dia nampak berada di sebuah kuil yang juga berada menyendiri di sebuah lembah di lereng gunung, sebuah kuil yang dihuni oleh hanya seorang nikouw. Keadaan nikouw ini pun aneh, sama anehnya dengan petani yang suka bersajak itu, karena nikouw ini tinggal seorang diri dalam kesunyian pula. Nikouw ini masih muda, kurang lebih tiga puluh lima tahun usianya, berwajah bersih dan cantik, namun jarang dia memperlihatkan wajahnya yang selalu disembunyikan di balik kerudung putih.

Nikouw ini sangat ramah dan manis budi terhadap para penghuni dusun, sering kali berkeliling untuk memberi petunjuk dan pengobatan, dan sering kali menerima orang-orang bersembahyang memohon berkah dari para dewa. Biar pun tidak pernah bertanya dan tidak pernah melihat buktinya, namun semua penduduk dusun dapat merasakan bahwa baik si petani di puncak, mau pun nikouw di kuil sunyi itu tentulah bukan orang-orang sembarangan.

Nikouw itu mendiami kuil lama yang dibersihkan dan diperbaikinya sendiri, juga hidup dari bertanam sayur di belakang kuil. Tiada seorang pun dapat mengatakan kapan dua orang ini muncul di tempat itu, akan tetapi seingat para kaum tua di dusun-dusun itu, kemunculan mereka juga dalam waktu yang sama.

Ada kalanya pula petani itu duduk seorang diri di waktu pagi sekali atau di waktu senja menikmati matahari timbul atau matahari tenggelam, sambil meniup suling bambunya. Dia pandai bermain suling, suara tiupan sulingnya mengalun halus dan lembut sekali, mendatangkan hikmat ke mana pun suara itu dapat terdengar. Melihat para petani itu membaca sajak dan meniup suling, dapat diduga bahwa dia tentu seorang ahli sastra, di samping ahli silat.

Pada senja hari itu, kembali dia meniup sulingnya sambil duduk menghadap ke barat, menikmati keindahan angkasa yang seperti terbakar oleh warna merah, kuning dan biru dari sinar matahari senja. Ketika suara sulingnya melambat dan melirih kemudian hilang ditelan keheningan, petani itu tersenyum dan biar pun dia menunduk, namun matanya mengerling ke kanan dan dia melihat berkelebatnya bayangan orang di bawah puncak. Dia bersikap tidak peduli, bahkan lalu bangkit berdiri dan melangkah lambat-lambat memasuki pintu pondoknya.

Bayangan yang berkelebatan cepat itu adalah Ci Sian. Dara ini, seperti kita ketahui telah meninggalkan Lhagat, kemudian dia melakukan perjalanan menuju ke Pegunungan Kongmaa La, mencari tempat tinggal ayahnya seperti yang diketahuinya dari penuturan mendiang Lauw Sek. Sore tadi, atau lewat tengah hari, dia tiba di kuil sunyi dan melihat seorang nikouw muda dan cantik sedang mencangkul di kebun sayur belakang kuil.

Sejenak Ci Sian merasa terheran melihat seorang nikouw yang muda dan cantik sendirian saja di kuil tua yang sunyi, apalagi melihat nikouw itu melakukan pekerjaan berat mencangkul kebun. Akan tetapi nikouw itu tiba-tiba berhenti mencangkul, menoleh dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, kemudian terdengar suaranya bertanya, suaranya mengandung teguran halus namun tajam.

“Siapakah engkau dan mengapa melihat orang yang sedang bekerja?”

Ci Sian adalah seorang dara yang berwatak keras. Melihat sikap nikouw itu, terutama mendengar nada suara pertanyaannya, dia sudah merasa tidak senang. Tetapi karena dia datang untuk bertanya, maka dia masih bersabar dan dia cepat menghampiri.

“Nikouw yang baik, saya ingin bertanya apakah di tempat ini ada seorang pertapa she Bu?”

Sungguh mengherankan sekali, mendengar pertanyaannya itu, jelas nampak betapa nikouw itu menjadi marah. Mukanya yang putih halus itu menjadi kemerahan, sepasang mata yang bening itu kini berapi-api.

“Mau apa engkau mencari orang she Bu?”

“Ehhh, apa hubungannya hal itu denganmu?” Ci Sian bertanya kembali, kini dia mulai marah. “Beri tahu saja di mana aku dapat bertemu dengan pertapa she Bu itu!”

Sepasang mata yang bening dari nikouw itu makin tajam dan penuh selidik. “Hemm, engkau ini perempuan masih begini muda juga sudah tergila-gila kepadanya?”

Mendengar ini Ci Sian terkejut dan marah bukan main. Mukanya seketika berubah merah dan dia membentak. ”Engkau nikouw yang seharusnya hidup suci dan bersih, kiranya mulutmu begini kotor! Hayo beri tahu di mana adanya orang she Bu itu!”

“Huh, kau tidak mau memberi tahu keperluanmu, aku pun tidak sudi memberi tahu. Kau cari sendiri saja!” Setelah berkata demikian, nikouw itu mengambil kembali cangkulnya dan mulai lagi mencangkul, mengayun cangkulnya kuat-kuat dan mencangkul tanah tanpa mempedulikan lagi kepada Ci Sian.

Ci Sian sudah mengepal tinju untuk memberi hajaran kepada nikouw yang dianggapnya tidak sopan dan menuduhnya yang bukan-bukan itu, akan tetapi dia terbelalak melihat betapa batu-batu yang terkena hantaman cangkul itu terbelah seperti tanah lempung saja! Maklumlah dia bahwa nikouw ini adalah orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka dia pun tak berani bertindak lancang dan ceroboh. Dia hendak mencari ayahnya, dan tempat ini merupakan tempat sunyi di mana dia tahu banyak terdapat pertapa- pertapa yang sakti, maka tidak baik kalau dia mencari keributan dengan sembarang orang. Maka setelah memandang sekali lagi, dia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari pergi meninggalkan kebun dan nikouw yang aneh itu.

Setelah meninggalkan nikouw itu, Ci Sian melanjutkan penyelidikannya dan setelah dia bertanya-tanya kepada para penghuni dusun di sekitar pegunungan itu, akhirnya dia mendengar tentang seorang petani aneh yang berada di puncak Merak Emas, tinggal seorang diri dalam pondok dan biar tidak ada seorang pun di antara mereka yang tahu she dari petani itu, tidak ada pula yang mengenal seorang pertapa she Bu, namun hatinya tertarik untuk menyelidiki petani itu.

Dan pada senja hari itu dia mendaki ke arah puncak. Dari jauh dia telah mendengar suara suling yang amat merdu itu dan diam-diam dia sudah merasa semakin tertarik dan terheran karena bagaimana mungkin seorang petani dapat memainkan lagu-lagu klasik itu? Dia mengenal beberapa buah lagu kuno yang tentu hanya dikenal oleh pemain-pemain musik yang pandai, bukan oleh seorang petani biasa saja. Maka dia pun mempercepat gerakannya untuk mendaki puncak, dan setelah melihat pondok itu, dia mempergunakan suara suling untuk menyembunyikan bunyi gerakannya dan cepat dia meloncat naik ke atas wuwungan rumah, lalu bersembunyi di balik wuwungan sambil menanti datangnya malam untuk mengintai ke dalam.

Petani itu kini duduk di dalam pondok, minum arak seorang diri dan setelah ruangan dalam pondok itu gelap, dia menyalakan lampu minyak sehingga ruangan itu nampak remang-remang namun cukup terang bagi Ci Sian yang mengintai dari atas genteng. Dia melihat dengan jelas kini wajah seorang laki-laki yang tampan dan gagah, wajah yang terpelihara baik-baik dan tidak pantas dengan pakaiannya yang amat sederhana itu.

Perabot rumah itu pun amat sederhana pula, dan pondok itu pun hanya memiliki sebuah ruangan saja, di mana terdapat sebuah meja bundar dengan enam buah bangku, semua terbuat dari pada kayu sederhana, dan di sudut ruangan itu terdapat sebuah dipan dari kayu yang besar. Pria itu duduk di sebuah di antara bangku-bangku itu, menghadap ke arah pintu. Dua buah daun jendela berada di kanan kirinya, sudah tertutup dan kini pria itu agaknya sudah merasa cukup minum arak. Dia meletakkan cawan araknya di atas meja, mengusap bibir dengan saputangan dan jari-jari tangannya membereskan jenggot dan kumisnya yang terpelihara baik-baik itu dan dia kemudian mengambil suling yang menggeletak di atas meja.

Tak lama kemudian, terdengarlah lagi alunan suara suling yang amat merdu, terutama sekali terdengar dengan amat jelasnya oleh Ci Sian yang mengintai di atas genteng. Dia tidak berani turun memperlihatkan diri karena dia masih belum yakin apakah benar orang ini yang dicarinya. Jantungnya berdebar penuh ketegangan kalau membayangkan bahwa ada kemungkinan inilah orangnya, inilah ayah kandungnya! Akan tetapi dia masih ragu-ragu karena dia tidak mempunyai sesuatu yang dapat membuktikan bahwa dugaannya tidak keliru. Bagaimana dia bisa yakin bahwa orang ini adalah benar-benar ayahnya?

Selagi dia merasa bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba matanya yang tajam dapat menangkap berkelebatnya bayangan dua orang di dekat pondok itu. Dia terkejut dan terheran, hatinya merasa semakin tegang karena dia menduga bahwa tentu akan terjadi sesuatu, atau kalau sampai orang di bawah itu menerima tamu dan bercakap-cakap, mungkin saja hal itu akan menjadi jawaban keraguannya apakah benar orang ini ayah kandungnya ataukah bukan.

Ketika Ci Sian melihat betapa dua bayangan yang berkelebat dengan gerakan ringan dan cepat itu kini mendekati pondok dengan hati-hati lalu mengintai ke dalam melalui jendela di sebelah utara, hatinya semakin tegang dan dia memperhatikan. Bukan main kaget dan herannya ketika dia merasa mengenal bentuk tubuh dua orang itu. Dua orang wanita! Dan Ci Sian hampir berani memastikan bahwa mereka itu adalah Siok Lan dan ibunya! Semakin yakin hatinya ketika dia melihat wanita yang sekarang memberi tanda dengan menaruh jari di depan bibir kepada wanita kedua, tanda bahwa mereka tidak boleh membuat suara gaduh. Karena merasa amat tertarik, Ci Sian lalu mengintai lagi ke dalam dan melihat betapa pria itu masih saja enak-enak meniup sulingnya, sekarang dengan suara yang makin merdu dan romantis, juga mengandung suara-suara keluhan duka.

Memang tidak keliru dugaan Ci Sian. Kedua sosok bayangan wanita itu adalah Puteri Nandini dan anaknya, Siok Lan. Seperti diketahui, ibu dan anak ini telah meninggalkan Lhagat dan Puteri Nandini tidak mau kembali ke Nepal setelah kekalahan pasukannya, melainkan mengajak anaknya untuk pergi mencari ayah kandung Siok Lan untuk diajak berunding tentang niat Siok Lan berjodoh dengan Jenderal Muda Kao Cin Liong. Ketika dia mendengar bahwa di puncak itu terdapat seorang petani setengah tua yang hidup menyendiri, dia tidak merasa ragu-ragu lagi dan mengajak puterinya untuk melakukan penyelidikan.

“Hati-hati, jangan kau sembarangan ikut campur kalau terjadi keributan di rumah itu. Urusan antara aku dan siapa pun di sana, jangan kau mencampurinya.”

Siok Lan mengangguk, sungguh pun dia merasa heran dan tidak mengerti. Betapa pun juga, hatinya tegang sekali membayangkan betapa dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selamanya tidak pernah dilihatnya itu.

Dengan jantung berdebar dan tangan terkepal membentuk tinju, perasaannya tidak karuan, Puteri Nandini mendekati jendela dengan puterinya. Mendengar tiupan suling yang merdu sekali itu, hatinya tergetar dan dia memejamkan kedua matanya, wajahnya menjadi merah dan terbayanglah semua pengalamannya di masa lampau, pengalaman penuh kemesraan.

Dia kemudian mengintai melalui jendela itu dan begitu dia melihat petani itu yang duduk meniup suling dengan wajah mengandung duka, diam-diam dia mengeluh dan tubuhnya gemetar, penuh kerinduan yang selama belasan tahun ditahan-tahannya akan tetapi di samping keindahan itu juga terdapat perasaan duka dan penyesalan yang amat pahit. Setelah memejamkan mata sejenak, wanita ini mengintai lagi dan pada saat itu, tiupan suling yang mengalun itu berbunyi panjang dan semakin bernada penuh duka, makin lama makin lambat dan lirih sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

Pria itu mengeluh, lalu melepaskan suling ke atas meja, kemudian memejamkan mata, menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya dan terdengar keluhannya panjang pendek. Tak dapat ditangkap jelas apa yang dikeluhkannya, akan tetapi bekas panglima wanita Nepal itu dengan sangat jelas dapat menangkap namanya disebut-sebut dalam keluhan itu, keluhan yang menyatakan rindu terhadap Nandini!

“Nandini…. kekasihku…. mengapa kau tidak kasihan kepadaku…. aku rindu padamu, kenapa kau tidak mau menemaniku di sini….?” Demikianlah kata-kata di antara keluhan yang dapat tertangkap oleh telinga Nandini.

Tentu saja wanita ini segera menjadi terharu sekali dan tubuhnya terasa panas dingin mendengar suara yang amat dikenalnya dan yang pernah amat dicintanya itu! Suara yang dahulu selalu merayunya dengan kata-kata indah, dan betapa pun besar perasaan marah, sakit hati dan penyesalannya mengingat betapa dia ditinggalkan begitu saja oleh pria ini, namun begitu melihat wajahnya, melihat bentuk tubuhnya, mendengar suara tiupan sulingnya, mendengar suara keluhannya, semua kekerasan hatinya mencair dan kini dia mengintai dengan dua mata basah air mata!

Terbayanglah semua pengalamannya yang mesra bersama pria ini! Suasana romantis penuh kemesraan ketika dia dan pria ini memadu kasih, belasan tahun yang lalu pada waktu mereka berdua masih sama- sama muda. Teringat olehnya betapa ilmu silatnya menjadi selihai sekarang karena dia menerima petunjuk dari pria ini. Berlatih silat, bermain cinta, di antara pohon-pohon dan bunga-bunga di tempat terbuka. Betapa hidup penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan di waktu itu.

Teringat akan semua ini, Nandini ingin sekali membobol daun jendela itu, ingin sekali menghampiri, mendekati, menghibur pria itu. Cintanya yang dulu timbul kembali karena memang tidak pernah padam sama sekali. Bahkan, penyerahan dirinya sebagai isteri pangeran tua itu menambah rindu dan cintanya kepada pria ini. Akan tetapi dia teringat akan Siok Lan yang berada di situ, maka ditahan-tahannya perasaannya, hanya hatinya yang merintih menyebut nama pria yang pernah menjadi kekasihnya ini.

“Nandini…. ahhh, Nandini, tidak terasakah hatimu betapa aku menderita rindu?”

”Omitohud….! Dasar mata keranjang, hidung belang, jahanam ceriwis keparat!” dari luar jendela yang berlawanan, yaitu di sebelah selatan, terdengar suara menyumpah yang nyaring ini.

Mendengar ini, pria itu menoleh ke arah jendela sebelah selatan, tanpa bangkit berdiri, melainkan tersenyum. Dan begitu dia tersenyum, wajahnya nampak semakin menarik, tampan dan kelihatan jauh lebih muda dari pada usianya yang sebenarnya. Memang pria ini amat tampan, di waktu mudanya dahulu sudah tentu amat tampan dan banyak menjatuhkan hati kaum wanita, sedangkan sekarang pun masih nampak sangat tampan menarik.

“Aihh, Bi-moi yang manis, mengapa engkau main sembunyi-sembunyi dan mengintai? Kalau memang kau merasa rindu padaku dan ingin bicara dan bercanda, masuklah, sayang!” Sungguh ucapan ini mengandung rayuan maut bagi seorang setengah tua seperti dia dan terdengar amat menggairahkan dan juga amat menarik hati.

“Omitohud, dasar gila wanita!” terdengar suara dari luar jendela itu dan tiba-tiba jendela itu jebol didorong dari luar dan melayanglah sesosok tubuh ke dalam kamar itu.

Melihat siapa yang masuk ini, Ci Sian terkejut sekali. Tadi dia telah bengong terlongong ketika dia mengenal bahwa dua orang wanita itu adalah Siok Lan dan ibunya. Selagi dia kebingungan dan terheran- heran belum tahu benar siapa pria itu dan mengapa Siok Lan dan ibunya berada di situ mengintai seperti dia, maka ketika mendengar suara wanita dari luar jendela selatan itu dia pun amat kaget. Karena dia sejak tadi mengintai, maka dia tidak melihat munculnya wanita ini di belakang jendela selatan dan tahu-tahu dia mendengar suaranya. Kini, melihat siapa yang muncul di dalam kamar dengan gerakan yang demikian ringan dan cekatan, Ci Sian hampir berseru kaget. Wanita yang masuk ini bukan lain adalah nikouw muda cantik yang dijumpainya siang tadi! Makin bingung dan heranlah dia, akan tetapi dengan penuh perhatian dia terus mengintai dari atas genteng.

Nikouw muda itu kini berhadapan dengan pria itu, wajahnya yang putih halus itu merah sekali, tanda bahwa dia sudah amat marah dan suaranya nyaring ketika dia berkata sambil menudingkan telunjuk kirinya yang berkuku runcing terpelihara itu ke arah hidung pria itu.

“Dasar kerbau hidung belang kau! Katanya hendak bertapa di sini menjauhkan diri dari semua wanita, siapa tahu diam-diam engkau merindukan wanita lain! Keparat, sungguh tak tahu malu engkau!”

“Eh…. ehhh…. sabarlah, sayang. Engkau sendiri yang dulu mengambil keputusan untuk menjadi nikouw sehingga aku terpaksa kekeringan dan kesepian di sini, membuat aku teringat kepada bekas-bekas kekasih lama yang kurindukan. Mengapa kini kau marah? Marilah, sayang, mari kau mendekat, aihhh, tidak tahukah engkau betapa selama ini aku amat rindu kepadamu, dan betapa setelah engkau berpakaian nikouw dan kepalamu gundul engkau menjadi semakin cantik saja?”

“Phuhh, siapa sudi dengan rayuanmu? Dan kepalaku sudah tidak gundul lagi!” Berkata demikian, nikouw itu membuka penutup kepalanya dan memang benar, kepala gundul itu sudah ditumbuhi rambut, walau pun baru setengah jari panjangnya.

“Aduh, engkau makin manis. Ke sinilah, mari minum arak bersamaku, Cui Bi kekasihku yang denok!”

“Brakkkkk!”

Tiba-tiba daun jendela sebelah utara pecah berantakan disusul melayangnya tubuh Nandini! Wanita ini sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi melihat betapa pria itu merayu nikouw itu sedemikian rupa. Hatinya penuh dengan cemburu yang membuat dadanya hampir meledak sehingga dia tak ingat apa-apa lagi lalu menghantam jendela itu dan meloncat masuk.

“Nandini….!” Pria itu berseru, nampaknya kaget akan tetapi mulutnya tersenyum penuh daya pikat. “Engkau baru datang, bidadariku dari Nepal?”

“Laki-laki kejam, mata keranjang dan rendah budi! Jadi untuk nikouw inilah engkau dulu meninggalkan aku?” bentak Nandini sambil menudingkan telunjuknya.

“Bu Seng Kin! Jadi engkau telah mempunyai gendak orang Nepal ini?” bentak nikouw itu dan dua orang wanita itu sejenak saling pandang penuh kebencian dan cemburu, akan tetapi kemarahan mereka itu kini tertumpah kepada pria yang disebut Bu Seng Kin itu dan mereka berdua kini menubruk maju dan menyerang pria dari kanan kiri dengan pukulan-pukulan maut yang amat cepat dan ganas!

“Wah, beginikah kalian memperlihatkan rasa rindu kalian? Heh-heh, mana bisa kalian menyerangku dengan ilmu-ilmu pukulan yang kuajarkan sendiri kepada kalian? Ha-ha, tidak kena! Wah, hampir saja, Nandini! Nah, meleset, Cui Bi!” Biar pun diserang dengan ganas oleh dua orang wanita itu, namun dengan amat mudahnya pria itu menggerakkan langkah-langkah kaki sedemikian rupa sehingga semua serangan itu mengenai tempat kosong belaka!

“Wah, mana bisa kita bicara baik-baik kalau kalian marah-marah begini? Sabarlah, tenanglah….!” pria itu membujuk.

Akan tetapi bagaikan dua ekor singa betina yang marah-marah, dua orang wanita itu terus menyerang semakin hebat. Akhirnya, entah bagaimana Siok Lan yang mengintai dari jendela dan Ci Sian yang mengintai dari genteng itu tidak tahu benar, tiba-tiba saja dua orang wanita yang marah-marah itu telah kena dirangkul pinggang mereka di kanan kiri dan pria itu sambil tersenyum-senyum menarik mereka dan mengajak mereka duduk di atas bangku, di kanan kirinya!

Akan tetapi Ci Sian segera dapat menduga bahwa tentu pria yang amat lihai itu telah berhasil menotok jalan darah dua orang wanita itu sehingga menjadi lemas dan tidak dapat melawan lagi. Dugaannya memang benar karena biar pun mereka tidak melawan ketika dirangkul dan didudukkan ke atas bangku, keduanya memaki-maki kalang-kabut!

“Bu-taihiap, kalau engkau sampai mengganggu dan menghinaku, aku bersumpah akan memusuhimu sampai titik darah terakhir!” Nandini berkata, akan tetapi tidak mampu melepaskan dirinya yang dipaksa duduk di samping pria itu sedangkan pinggangnya yang masih ramping itu dirangkul!

“Bu Seng Kin, aku bersumpah akan membunuh diri kalau engkau berani mengganggu diriku!” nikouw itu juga berkata tanpa mampu melepaskan dirinya yang juga dirangkul pinggangnya.

“Ha-ha-ha, manisku, sayangku, kalian adalah isteri-isteriku, kalian adalah jantung hatiku, aku sayang dan cinta kepada kalian, mana mungkin aku akan mengganggu dan menghina kalian? Akan tetapi kalian juga jangan mengecewakan hatiku lagi, dan suka temani aku makan.”

Sambil tersenyum girang, petani yang bernama Bu Seng Kin itu kemudian melepaskan rangkulannya dan mengeluarkan beberapa makanan dari sudut belakang ruangan yang merupakan dapur. Tak banyak macamnya makanan itu, hanya beberapa macam sayur sederhana, nasi dan daging kering. Akan tetapi dengan lagak sedang pesta besar, Bu Seng Kin kemudian mengatur semua itu di atas meja. Kedua orang wanita itu hanya memandang saja, kadang-kadang saling lirik dan saling menyelidiki keadaan masing- masing.

“Ha-ha, mari kita makan, manis. Nandini sayangku, kau makanlah, sawi putih ini dahulu menjadi kesukaanmu, bukan?” Dan dia lalu mengambil sepotong sayur dari mangkok dengan sumpitnya dan membawa makanan itu ke mulut Nandini. Karena maklum bahwa dia tidak berdaya, juga karena terharu akan sikap yang manis dan menyayang dari pria itu, Nandini tidak dapat menolak, membuka mulut dan makan sayur itu.

“Dan kesukaanmu dahulu adalah daging dendeng asin ini, bukan, Cui Bi?” Dia lalu mengambil sepotong kecil daging dengan sumpitnya dan mendekatkannya ke mulut Cui Bi yang kecil mungil itu.

“Gila! Kau tahu sebagai nikouw aku tidak makan daging!” Cui Bi berkata.

“Ahh, engkau menjadi nikouw karena terpaksa dalam kemarahanmu, bukan sewajarnya. Sekarang setelah berkumpul kembali dengan aku, tidak perlu kau berpantang daging lagi. Hayolah, jangan pura-pura, manisku.” Dengan terpaksa nikouw itu menerima pula daging itu dan memakannya.

Demikianlah, dengan sikap luar biasa gembira Bu Seng Kin kemudian makan minum, menyuapkan makanan secara bergantian kepada dua orang wanita di kedua sisinya itu, juga memberi mereka minum arak. Karena pandainya dia bicara dan merayu, dua orang wanita itu agaknya perlahan-lahan lenyap kemarahan mereka, bahkan kadang-kadang mereka sudah mau tersenyum oleh cerita lucu, walau pun senyum yang ditahan-tahan.

“Hayo ceritakan pengalamanmu semenjak berpisah dariku, Bu-taihiap, ceritakan semua tanpa ada yang kau sembunyikan tentang wanita-wanita yang kau ambil sebagai penggantiku, baru aku mau melanjutkan makan minum bersamamu,” tiba-tiba Nandini berkata sambil melirik ke arah nikouw yang berada di samping kiri pendekar itu.

“Benar! Aku pun harus mendengar semua petualanganmu sebelum bertemu dengan aku yang agaknya merupakan seorang di antara banyak wanita yang kau rayu dan menjadi jatuh!” kata pula nikouw itu. “Kalau tidak, aku pun tidak sudi duduk bersamamu lagi.”

Bu Seng Kin tersenyum lebar dan berdongak ke atas, mengejutkan hati Ci Sian karena dara ini merasa seolah-olah pendekar itu tepat memandang kepadanya yang sedang mengintai. Akan tetapi pendekar itu lalu menunduk kembali dan dia pun mencurahkan perhatiannya.

Biar pun dia merasa muak menyaksikan adegan roman-romanan itu, akan tetapi dia pun ingin mendengar cerita orang yang diduganya adalah pria yang dicarinya, yaitu ayah kandungnya. Hatinya sudah seperti disayat-sayat karena kecewa melihat tingkah pria di bawah itu yang jelas merupakan seorang pria tukang merayu wanita, seorang pria yang hidung belang yang pandai sekali menjatuhkan hati wanita.

“Ha-ha-ha, baiklah, baiklah, akan kuceritakan. Aihh, biar pun sudah lewat belasan tahun, hampir dua puluh tahun, engkau masih nampak cantik jelita saja, Nandini, betapa masih kuingat benar ketika aku terpaksa meninggalkanmu, kasihku.”

“Bohong! Dan jangan sebut aku kekasihmu, kalau engkau benar cinta padaku tidak mungkin engkau meninggalkan aku!” kata Nandini dengan marah karena hatinya masih panas kalau teringat betapa dalam keadaan mengandung dia telah ditinggal pergi oleh kekasihnya ini.

“Aihh, jangan kau berkata begitu. Saat itu aku pergi meninggalkanmu dengan hati yang berdarah, luka parah oleh kedukaan. Ahhh, ya, Cui Bi belum tahu akan riwayat kami, biarlah kuceritakan secara singkat.”

Pendekar itu kemudian bercerita, didengarkan oleh Siok Lan dan Ci Sian yang masih mengintai.

“Biar pun terus terang saja, Nandini bukan merupakan wanita pertama yang pernah menjadi kekasihku, akan tetapi baru kuakui bahwa dialah wanita pertama yang benar-benar membuat aku tergila-gila dan dengan Nandinilah untuk pertama kali aku benar-benar menaruh cinta.”

“Huh, siapa yang percaya?” kata Nandini, akan tetapi sepasang matanya berseri penuh kegembiraan mendengar ini, dan nikouw di sebelah itu memandang iri!

“Sungguh mati! Akan tetapi, seperti kau ketahui, Ayah Nandini marah-marah melihat hubungan antara puterinya dan aku karena Nandini telah ditunangkan kepada seorang pangeran. Ayah Nandini bahkan menyerangku dan berusaha membunuhku, akan tetapi dia sudah tua dan sampai meninggal karena serangan jantungnya sendiri. Aku merasa menyesal sekali, apalagi ketika aku mendengar bahwa kalau Nandini tidak berpisah dariku, maka pangeran itu akan menangkap dan membunuh seluruh keluarganya. Tentu saja aku tidak menghendaki hal itu terjadi, maka aku lalu pergi meninggalkan Nandini, dengan hati hancur berdarah, hanya demi menjaga keselamatan keluargamu, Nandini.”

“Hemm, benarkah itu?” Nandini bertanya, nampaknya terharu.

“Aku berani bersumpah tujuh turunan….“

“Turunanmu jangan dibawa-bawa ke dalam hukuman akibat petualanganmu!” Nandini memotong. “Teruskan ceritamu,” kata Gu Cui Bi, nikouw itu, dengan hati semakin iri dan cemburu.
“Setelah meninggalkan Nepal, tentu saja aku bertemu dengan banyak wanita cantik, di antaranya adalah puteri kepala suku Biauw yang manis, ada pula pendekar-pendekar wanita petualang kang-ouw, ada pula puteri-puteri datuk kaum sesat, akan tetapi semua itu hanya merupakan selingan-selingan saja dan tidaklah sungguh-sungguh seperti yang terjadi antara aku dan Nandini. Kemudian, kurang lebih setahun sejak meninggalkan Nepal dan bertualang dengan belasan orang wanita secara selewat saja, aku bertemu dengan seorang pendekar wanita yang bernama Sim Loan Ci dan kami saling mencinta lalu kami menikah.”

Hampir saja Ci Sian mengeluarkan suara saking kagetnya, akan tetapi dia cepat-cepat menutup mulutnya dan mengerahkan tenaga untuk menekan batinnya yang terguncang ketika dia mendengar nama ibunya disebut-sebut itu! Sim Loan Ci adalah ibunya, ibu kandungnya seperti yang pernah didengarnya dari kakeknya bahwa ibunya she Sim dan ayahnya seorang pendekar besar yang tentu saja she Bu, sama dengan she kakeknya. Dia lalu mendengarkan lagi dengan penuh perhatian.

“Dialah isteriku pertama yang sah, walau pun wanita seperti Nandini ini juga kuanggap isteriku sendiri, dan juga engkau, Cui Bi.”

“Tak perlu merayu, lanjutkan ceritamu,” desak dua orang wanita itu.

“Setelah menikah setahun lamanya, kami mempunyai seorang anak perempuan. Akan tetapi, berbareng dengan kebahagiaan ini, datanglah mala petaka. Kiranya hubunganku dengan puteri-puteri datuk kaum sesat itu, yang kutinggalkan karena memang kuanggap hanya hubungan selewat dan merupakan hiburan belaka, mulai mendatangkan akibat panjang! Aku dicari-cari oleh para datuk kaum sesat, bahkan di antaranya terdapat pula Im-kan Ngo-ok yang mencari-cariku, karena seorang puteri mereka telah membunuh diri setelah kutinggalkan sehingga kini Im-kan Ngo-ok mencariku untuk membunuhku!”

“Huh, sudah sepatutnya engkau dibunuh!” kata Nandini. “Dasar mata keranjang!” Nikouw itu menyambung.
“Biarlah kulanjutkan ceritaku dahulu,” kata pendekar itu setelah menarik napas panjang. “Semenjak melahirkan, kesehatan Loan Ci amat buruk. Hal ini menggelisahkan hatiku, karena dalam keadaan seperti itu, memiliki seorang bayi dan seorang isteri yang tidak sehat, tentu saja amat berbahaya menghadapi ancaman musuh-musuh seperti Im-kan Ngo-ok yang lihai itu. Maka terpaksa aku lalu membawa isteriku dan anakku kepada Ayahku. Ayahku adalah seorang pendekar yang amat terkenal, yaitu Kiu-bwe Sin-eng Bu Thai Kun, seorang tokoh besar di dunia selatan. Ketika itu aku agak takut-takut menghadap Ayah, oleh karena aku pernah diusir oleh Ayah ketika di waktu muda aku bermain-main dengan seorang gadis dusun tempat kami.”

“Dasar hidung belang ceriwis!” Nandini kembali mencela.

“Mata keranjang tak tahu malu, kecil-kecil sudah gila perempuan sehingga diusir Ayah sendiri!” Gu Cui Bi menyambung.

“Wah, kalian ini terus menerus mencelaku,” Bu Seng Kin terkekeh. “Ayahku tidaklah segalak kalian. Dia memaafkan aku dan menerima kedatanganku dengan sangat baik. Kemudian malah Ayah menganjurkan agar meninggalkan anak kami bersama Ayah, kemudian aku bersama isteriku pergi menjauhkan diri agar Im-kan Ngo-ok tidak dapat mencelakai anak kami. Beberapa kali kami tersusul oleh mereka dan aku melakukan perlawanan mati-matian. Kalau saja isteriku tidak dalam keadaan sakit payah, kiranya kami berdua tidak akan takut menghadapi mereka. Akan tetapi karena isteriku sedang sakit, dan aku harus melindunginya, maka terpaksa aku melarikan diri bersama isteriku dan terus dikejar-kejar oleh Im-kan Ngo- ok. Tetapi akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari mereka, kami bersembunyi di Pegunungan Go-bi-san dan di sanalah isteriku meninggal dunia….”

Pendekar itu diam dan di atas genteng, Ci Sian menangis. Air matanya berlinang-linang dan dia menahan isaknya. Jelaslah sekarang bahwa pria di bawah itu, pria yang mata keranjang itu, adalah ayah kandungnya, dan ibunya benar-benar telah meninggal dunia.

“Semenjak itu, kembali aku berkeliaran….” “Dan main perempuan….!” Nandini mencela.
“Habis, mau apa lagi? Agaknya aku tidak boleh berjodoh lama-lama dengan wanita yang kucinta. Aku pindah dari pelukan satu ke lain wanita, akan tetapi semua itu hanya merupakan selingan hidup dan aku tidak pernah bersungguh-sungguh. Paling lama sebulan aku dapat bertahan dalam pelukan seorang wanita dan aku sudah pergi lagi….”

“Mencari yang lain! Phuihh!” Nandini mencela.

“Sampai engkau berjumpa denganku,” tiba-tiba nikouw itu berkata, di dalam suaranya mengandung kebanggaan.

Pendekar itu menarik napas panjang. “Ya, sampai aku bertemu denganmu, Cui Bi. Sekarang biar Nandini mendengar cerita tentang kita. Setelah aku mulai bosan merantau, bosan bertualang, pada suatu malam bertemulah aku dengan seorang nikouw di sebuah kuil Kwan-im-bio, di sebelah lereng bukit. Nikouw itu cantik dan muda dan…. aku jatuh cinta….”

“Pada seorang nikouw? Dan engkau merayunya pula?” Nandini bertanya, alisnya berkerut.

“Ha, apa bedanya? Dia pun seorang wanita, bukan? Dia masuk menjadi nikouw karena patah hati, akan dikawinkan dengan seorang kakek kaya. Dia tidak sudi dan melarikan diri setelah dipaksa menjadi isteri kakek itu selama sepekan. Lalu dia masuk menjadi nikouw dan bertemu dengan aku.”

“Engkau makhluk berdosa, Bu Seng Kin! Engkau merayu pinni dan menyeret pinni ke dalam jalan sesat!” Tiba-tiba nikouw itu berkata dan dalam suaranya mengandung isak penyesalan. Bu Seng Kin cepat merangkul pundaknya.

“Aih, Cui Bi, hal itu telah lama berlalu, bukan? Kita sama-sama mencinta, dan kemudian engkau melarikan diri dari kuil bersamaku, memelihara rambut lagi dan menjadi wanita biasa, kita hidup sebagai suami isteri yang penuh kebahagiaan.”

“Ya, sampai aku tahu bahwa engkau adalah Si Petualang besar, bahkan engkaulah Si Perayu yang pernah membuat Bibiku tergila-gila dan diceraikan oleh Paman sehingga akhirnya Bibiku mati karena nelangsa. Kiranya engkaulah petualang yang telah menghancurkan hati banyak sekali kaum wanita itu. Aku menyesal dan aku lalu kembali menjadi nikouw, untuk minta ampun atas dosaku, juga untuk mintakan ampun atas dosamu. Dan engkau sudah berjanji akan bertapa di sini, untuk menebus dosa!”

Bu Seng Kin tersenyum lebar. “Sudah kuusahakan hal itu, Cui Bi. Engkau tahu betapa bertahun-tahun aku menahan diri, aku hidup kesepian penuh kerinduan, terutama rindu sekali kepada orang-orang yang kucinta. Engkau menyiksaku, Cui Bi, maka sekarang, bertepatan dengan kedatangan Nandini, kita berkumpul di sini bertiga. Marilah kita hidup bersama, menikmati kehidupan kita yang tinggal tidak lama lagi ini, menikmati kebahagiaan hidup kita bertiga di hari tua bersama. Aku cinta kalian….!” Dia lalu merangkul keduanya.

“Bu-taihiap, demi Tuhan, bersumpahlah bahwa engkau tidak akan mengganggu dan menghinaku!” Nandini berseru.

“Orang she Bu, jangan engkau mengotori diriku, telah dua tahun aku menyucikan diri!” Nikouw itu pun berkata.

“Aku bersumpah tak akan mengganggu dan menghina kalian berdua, aku cinta pada kalian, tidak mungkin aku mau menyusahkan kalian,” kata pendekar itu dan tiba-tiba dia menarik leher Nandini dan…. mencium mulut wanita itu dengan penuh kemesraan.

Nandini terkejut sekali, tak mampu bergerak, bahkan tubuhnya menggigil dan naik sedu sedan dari dadanya. Setelah pria itu melepaskan ciumannya, dia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

“Kau…. kau…. manusia busuk…. kau melanggar sumpahmu….!”

“Ha-ha, siapa melanggar sumpah, Nandini yang manis? Aku bersumpah tidak akan mengganggu dan menghina kalian. Engkau adalah isteriku yang kucinta, kalau seorang suami mencium isterinya, apakah itu mengganggu atau menghina namanya?”

“Aku…. aku bukan isterimu, engkau bukan suamiku!”

“Mungkin menurut umum, namun bukankah kita sudah menjadi suami isteri, bukankah engkau pertama kali menyerahkan diri kepadaku, dan bukankah kita saling mencinta, Nandini? Apa salahnya orang yang saling mencinta berciuman?”

“Laki-laki busuk, mata keranjang, hidung belang…. tak tahu malu!” Cui Bi memaki-maki dengan marah, akan tetapi tiba-tiba dia pun harus menghentikan maki-makinya karena mulutnya sudah dicium pula oleh pria itu, dengan sama mesranya seperti ketika dia mencium Nandini tadi! Nikouw itu gelagapan tanpa mampu bersuara, dan dia hanya memejamkan mata dan tanpa disadarinya, kedua lengannya merangkul leher pendekar itu!

“Kau memang tak tahu malu!” Nandini membentak penuh cemburu dan tangannya bergerak menampar, akan tetapi tamparan yang sama sekali tidak bertenaga.

Bu Seng Kin lalu membujuk rayu keduanya dengan kata-kata manis. “Maafkanlah aku, Nandini dan Cui Bi, aku cinta kalian, tidak kasihankah kalian kepadaku? Aku hanya ingin menikmati kehidupan di dunia ini bersama kalian orang-orang yang kucinta sepenuh jiwa ragaku.”

Pendekar itu bahkan berlutut di depan mereka, memohon-mohon dan akhirnya kembali dia merangkul mereka dan sekali ini, ketika dia mencium mereka, dua orang wanita itu hanya dapat memejamkan mata dengan muka berubah merah sekali. Mereka lupa segala! Ternyata pria ini masih hebat kemampuannya untuk merayu dan menundukkan wanita-wanita, dan terutama sekali karena memang dua orang wanita itu tak pernah mampu melupakannya dan masih mencintanya.

Ci Sian yang melihat tontonan ini, di samping merasa heran dan juga malu, terutama sekali dia merasa berduka, teringat akan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia, maka dia menghapus air matanya dan mengambil keputusan untuk pergi saja lagi dari situ. Untuk apa menemui seorang ayah kandung seperti itu? Seorang petualang asmara yang memalukan. Seorang laki-laki hidung belang, mata keranjang yang berwatak gila perempuan!

“Brukkkk….!”

Tiba-tiba saja pintu depan dari pondok itu runtuh ke dalam, tertendang orang dari luar dan muncullah seorang wanita cantik yang kelihatan galak. Seorang wanita yang selain cantik juga berpakaian mewah, dan melihat wanita ini, kembali Ci Sian terkejut bukan main dan dia tidak jadi meninggalkan tempat itu, melainkan mengintai penuh perhatian dengan hati tertarik dan amat tegang karena dia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, wanita tokoh Lembah Suling Emas, musuh dari gurunya See-thian Coa-ong itu! Teringatlah dia akan cerita Tang Cun Ciu. Wanita ini pernah bercerita bahwa dia memiliki wajah seperti isteri Bu-taihiap, dan bahwa berjinah dengan Bu-taihiap ketika pendekar itu bersama isterinya berkunjung ke Lembah Suling Emas! Mengertilah dia sekarang! Tentu wanita isteri Bu-taihiap yang datang bersama pendekar itu ke Lembah Suling Emas adalah ibu kandungnya!

Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu yang sudah marah sekali melihat bekas kekasihnya itu berkasih-kasihan dengan dua orang wanita, kini sudah melangkah masuk dan seketika dia menuding ke arah muka pria itu. “Sungguh sampai sekarang engkau masih mata keranjang dan gila perempuan! Dan engkau mudah melupakan yang lama berganti yang baru, laki-laki tak punya jantung!”

“Eh-ehhh…. lihat siapa yang datang ini! Bidadari dari Lembah Suling Emas! Cun Ciu, kekasihku yang manis. Mari, mari sayang, mari duduk bersama Kakanda….”

“Keparat, engkau sudah main gila dengan wanita asing ini dan dengan seorang nikouw malah, tak tahu malu! Dan engkau masih berani bersikap manis kepadaku! Selayaknya kalau kubunuh engkau, Bu Seng Kin!”

Pada saat itu, sungguh aneh sekali, Nandini dan Gu Cui Bi sudah meloncat dengan sigapnya dari atas bangku mereka dan berdiri di kanan kiri Bu Seng Kin dengan pandang mata dan sikap marah! Diam-diam Ci Sian dan Siok Lan merasa heran sekali. Bukankah dua orang wanita itu seperti tertotok dan kehilangan tenaga, akan tetapi mengapa kini tiba-tiba saja mampu bergerak selincah itu?

Hal ini tidaklah aneh dan merupakan sebab pula mengapa Bu Seng Kin begitu yakin akan dirinya sendiri dalam merayu dua orang wanita itu. Dia hanya menotok dua orang wanita itu untuk membuat mereka kehilangan tenaga sementara saja, sebentar saja. Akan tetapi, melihat dua orang itu tidak pulih-pulih tenaganya, tahulah dia bahwa mereka itu sengaja berpura-pura masih belum bebas dari totokan, tentu hanya dengan maksud agar mereka berdua dapat ‘mendekatinya’ tanpa harus merasa malu, karena berada dalam keadaan ‘tertotok’. Mengetahui rahasia mereka ini maka tadi Bu Seng Kin berani melanjutkan rayuannya, maklum bahwa dua orang wanita itu ternyata menyambut rayuannya dan ternyata bahkan mengharapkan rayuannya. Kini, melihat betapa ada seorang wanita lain mengancam kekasih mereka, dua orang wanita itu tanpa mereka sadari sudah meloncat dan hendak menghadapi wanita itu.

Cun Ciu adalah seorang wanita yang berwatak keras dan juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia masih marah sekali oleh cemburu ketika tadi melihat bekas kekasihnya itu bermesraan dengan dua orang wanita itu, yang dilihatnya sama sekali bukanlah isteri kekasihnya itu. Maka sambil berseru nyaring dia sudah menerjang maju, mengirim pukulan ke arah Bu Seng Kin.

“Ah, jangan marah dong, sayang!” Bu Seng Kin cepat mengelak dan menangkis karena dia tahu betul bahwa wanita ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan, merupakan seorang di antara tokoh-tokoh Lembah Suling Emas yang merupakan keluarga sakti.

“Dukkk!!”

Dua buah lengan bertemu dan akibatnya, baik Bu Seng Kin yang tentu saja tidak mengerahkan seluruh tenaga itu, mau pun Cun Ciu terdorong mundur ke belakang. Diam-diam Bu Seng Kin kagum dan terkejut karena dari pertemuan lengan itu saja maklumlah dia bahwa wanita ini telah memperoleh kemajuan hebat semenjak berpisah darinya belasan tahun yang lalu!

“Cun Ciu Moi-moi, engkau sungguh lihai!” dia memuji, akan tetapi wanita itu sudah menyerangnya lagi kalang kabut. Dan memang wanita ini memiliki ilmu kepandaian hebat, maka terjadilah pertandingan yang amat hebat dan membingungkan Bu Seng Kin.

“Ah, mengapa kau marah-marah, Ciu-moi? Apakah kau datang menemui aku yang rindu kepadamu ini hanya untuk menyerang dan hendak membunuhku?”

“Tutup mulut dan jaga serangan ini!” bentak Cun Ciu yang menyerang terus.

Tingkat kepandaian Bu Seng Kin sudah amat tinggi dan kalau dia bersungguh-sungguh, biar Cun Ciu sendiri pun takkan mampu mengalahkannya. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau bersungguh-sungguh melawan wanita cantik ini, maka dia kelihatan terdesak hebat.

Melihat ini, Nandini membentak, “Dari mana datangnya perempuan liar?” Dan dia pun maju membantu kekasihnya.

“Pinni juga tak mungkin diam saja melihat perempuan ganas hendak membunuh orang!” Dan Gu Cui Bi juga sudah meloncat ke depan dan mengeroyok.

Dua orang wanita ini tentu saja bukan wanita sembarangan, melainkan wanita-wanita lihai yang sudah memiliki tingkat tinggi, maka begitu dikeroyok tiga, Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu menjadi kewalahan dan terdesak juga.

Melihat ini, Bu Seng Kin khawatir kalau-kaiau dua orang kekasihnya itu akan melukai Tang Cun Ciu, maka dia lalu membentak keras, “Tahan….!”

Tang Cun Ciu yang memang sudah terdesak itu kemudian melompat ke belakang dan memandang dengan mata marah. “Mau apa engkau menghentikan pertempuran?” bentaknya. Nandini dan Gu Cui Bi memandang dengan kagum karena mereka berdua tahu bahwa wanita yang baru datang ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian mereka sendiri.

“Cun Ciu, mengingat akan hubungan antara kita dahulu, tidak maukah engkau bicara baik-baik dari pada menyerang dan marah-marah seperti itu?”

“Siapa tidak marah? Aku jauh-jauh meninggalkan lembah, hanya karena tidak betah lagi di sana dan aku rela meninggalkan keluarga di sana untuk mencarimu dan apa yang kudapatkan? Bukan engkau hidup bersama isterimu, melainkan dengan dua orang wanita asing….“

“Ahhh, engkau salah paham, manis. Ketahuilah, dia ini bernama Nandini dari Nepal dan dia merupakan isteriku yang pertama! Dan ini adalah Gu Cui Bi, dia ini adalah isteriku yang terakhir.”

“Hemm…. begitukah….?” Tang Cun Ciu memandang ragu. “Dan di mana isterimu yang dahulu bersamamu mengunjungi lembah?”

“Dia sudah meninggal dunia. Mari, kau duduklah, Cun Ciu, dan kita bicara baik-baik. Sungguh mati, aku akan sedih sekali kalau engkau memusuhiku, aku…. aku cinta padamu, Cun Ciu, dan engkau tentu tahu akan hal ini.”

Dirayu seperti itu, hati Tang Cun Ciu mulai menjadi dingin, kemarahannya mereda dan dia pun langsung duduk menghadapi meja bersama pendekar itu dan dua orang wanita saingannya.

“Bu Seng Kin, kau bilang hanya ada kami berdua, sekarang muncul seorang lagi!” Gu Cui Bi menegur.

“Dia…. dia ini bernama Tang Cun Ciu. Ketika aku datang ke Lembah Suling Emas, aku dan dia…. ehhh, kami saling jatuh cinta. Dan sampai sekarang…. ahh, aku masih cinta kepadanya…. apalagi setelah dia menyusulku ke sini, rela meninggalkan suaminya….”

“Suamiku sudah lama meninggal dunia!” kata Cun Ciu. “Belum ada setahun semenjak engkau pergi, suamiku meninggal dan aku terus tinggal menjanda sampai sekarang. Kutunggu-tunggu beritamu akan tetapi engkau tak kunjung datang atau memberi kabar, sungguh engkau kejam sekali!”

“Ahhh, siapa tahu bahwa engkau sudah menjadi janda, kekasihku? Kalau aku tahu…. hemm, mungkinkah aku membiarkan engkau kesepian sendiri?” berkata Bu Seng Kin sambil memegang tangan yang halus itu di atas meja. Cun Ciu cepat-cepat menarik tangannya karena dia merasa malu melihat tangannya dipegang-pegang di depan dua orang wanita lain.

“Cun Ciu, kalian bertiga ini adalah wanita-wanita yang kucinta sepenuh hatiku. Engkau tinggallah bersamaku di sini, kita hidup bersama, berempat, sampai akhir hayat….“

“Hemm, dan esok atau lusa bermunculan lagi wanita-wanita lain bekas kekasihmu yang tak dapat dihitung banyaknya!” Nandini menegur ketus.

“Aih, Nandini manis. Aku memang belum menceritakan tentang Cun Ciu karena mengira dia masih menjadi isteri orang. Tak baik menceritakan isteri orang, bukan? Berbeda lagi kalau dia sudah menjanda. Dia memang bekas kekasihku, kami saling mencinta….”

“Kalau ada wanita lain lagi yang muncul, bagaimana?” tanya Cun Ciu.

“Aku bersumpah, hanya tiga orang kalian ini saja, tidak ada yang lain!” kata Bu Seng Kin. “Laki-laki macam engkau ini mana bisa dipercaya?” kata Gu Cui Bi.
“Sungguh mati….”

“Begini saja,” kata Cun Ciu, “aku memang meninggalkan lembah untuk tinggal bersama dia. Dan mengingat bahwa kalian berdua sudah datang terlebih dahulu, aku pun mau menerima hidup di sini bersama kalian, asal dia tidak pilih kasih! Dan kalau ada datang wanita lain, kita bertiga maju membunuh wanita itu! Dan kalau perlu, membunuh juga dia ini!”

“Cun Ciu benar, memang dia seorang belum tentu dapat mengalahkan aku, akan tetapi kalau kalian bertiga maju bersama, mana aku bisa menang?” kata Bu Seng Kin sambil tertawa. “Nah, isteri-isteriku yang terkasih, marilah kita rayakan pertemuan ini dengan minum arak. Cun Ciu, aku sungguh rindu padamu!” Dan tanpa malu-malu dia merangkul wanita ini dan menciuminya, di depan Nandini dan Cui Bi yang memandang sambil tersenyum masam tentunya!

Cun Ciu meronta lemah akan tetapi seperti dua orang wanita terdahulu, dia pun tidak mampu melawan rayuan maut dari pria itu dan akhirnya mereka berempat duduk dengan mesra, bercakap-cakap dan sambil makan minum mereka menceritakan riwayat dan pengalaman masing-masing.

Kalau Ci Sian terkejut dan kemudian merasa semakin penasaran dan muak melihat semua yang terjadi itu, adalah Siok Lan yang merasa khawatir ketika melihat ibunya ikut bertempur tadi. Akan tetapi karena dia sudah menerima pesan ibunya agar tidak ikut campur, maka dia hanya menahan diri dan seperti juga Ci Sian, dia merasa kecewa menyaksikan tabiat ayah kandungnya yang demikian mata keranjang dan tukang merayu wanita. Hatinya sendiri penasaran, akan tetapi melihat betapa ibunya sudah mau berbaik dengan pria itu bahkan dengan dua orang madunya, dia pun tidak dapat berkata apa-apa.

Akan tetapi Siok Lan tidak dapat berdiam diri lagi dan meloncatlah dia dari luar jendela, memasuki pondok itu. Semua orang, kecuali Nandini dan Bu Seng Kin, memandang dengan kaget. Kiranya Bu Seng Kin sudah tahu bahwa di balik jendela itu ada orang yang mengintai, bahkan dia sudah tahu sejak tadi bahwa di atas genteng juga ada yang mengintai, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan memandang rendah. Kini, melihat bahwa yang mengintai dari balik jendela ternyata adalah seorang dara yang cantik, wajah pendekar ini berseri gembira.

“Ahhh, seorang dara cantik seperti bidadari! Apakah kedatanganmu juga mencari aku, Anak manis?” “Laki-laki gila, sudah butakah engkau dan hendak merayu anakmu sendiri?” Nandini marah.
“Ehhh, anak sendiri?”

“Dia itu anakmu, anak kita. Lupakah engkau betapa ketika kita hidup bersama selama sebulan itu mengakibatkan aku mengandung? Dan lupakah engkau bahwa ketika aku menyatakan kekhawatiranku itu, engkau meninggalkan dua nama untuk seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yaitu kalau- kalau kekhawatiranku terbukti? Anak ini namanya Bu Siok Lan, nama yang telah kau tinggalkan itu.”

“Ahhh….!” Bu Seng Kin memandang dengan mata terbelalak kepada Siok Lan. “Anakku…. anakku….!” “Siok Lan, inilah macamnya ayah kandungmu!” kata Nandini kepada puterinya.
Biar pun hatinya kurang senang dan meragu, namun Siok Lan lalu melangkah maju dan berlutut di depan kaki pria itu sambil menyebut, “Ayah….”

“Anakku yang baik…. kau maafkan Ayahmu yang berkelakar tadi,” kata Bu Seng Kin dan mendengar kesungguhan dalam suara pria itu, diam-diam Siok Lan merasa terharu juga. Agaknya sikap ayahnya yang mudah merayu wanita itu seolah-olah terlalu dibuat-buat! Beginikah sesungguhnya watak dasar dari pria ini? Dia masih meragu.

“Bu-taihiap,” kata Nandini yang tidak bisa mengubah sebutan Bu-taihiap itu kepada pria yang menjadi ayah kandung puterinya itu, “sesungguhnya, kedatanganku ini bersama anakmu Siok Lan adalah untuk keperluan anak kita itu.”

“Tentu saja,” jawab Bu Seng Kin. “Dia berhak untuk bertemu dengan Ayahnya. Kau duduklah, Siok Lan,” kata Bu Seng Kin sambil menarik bangun puterinya. Dara itu pun lalu duduk di atas sebuah bangku, di dekat ibunya.

“Bukan begitu maksudku. Ketahuilah bahwa seperti yang telah kuceritakan tadi, aku baru saja mengalami kekalahan dalam memimpin pasukanku, kalah melawan pasukan Kerajaan Ceng sehingga terpaksa aku melepaskan Lhagat dan pergi ke sini. Nah, di dalam peristiwa itu, terjadi hal yang menimpa anak kita, yang membuat aku bingung sekali dan terpaksa kami datang untuk minta bantuanmu.”

“Tentu saja aku siap membantu anakku. Urusan apakah itu?”

Nandini lalu dengan singkat menceritakan betapa ketika dia masih memimpin pasukan menduduki Lhagat, di situ kemudian muncul seorang jenderal muda yang menyelinap dan menyamar, dan jenderal muda itu akhirnya telah berhasil mengalahkannya dalam perang. “Ketika Jenderal muda itu menyamar dan menyusup ke Lhagat, dia menjadi seorang pemburu muda dan dengan pandainya dia berhasil menjadi tamu kami karena dia pernah menyelamatkan nyawa Siok Lan. Kemudian…. mereka berdua, Jenderal Muda itu dan Siok Lan, saling jatuh cinta….“

“Bagus sekali! Anakku tentu pantas menjadi isteri Jenderal Muda!” pendekar itu berkata sambil tertawa girang.

“Enak saja kau bicara! Tidak begitu mudah!”

“Apa? Apa kau sendiri tidak setuju? Karena Jenderal itu adalah Jenderal yang pernah menjadi musuhmu?”

“Bukan begitu. Kekalahan itu membuat aku enggan pulang ke Nepal dan memang…. kami hendak mencarimu. Akan tetapi, engkau tidak tahu siapa Jenderal itu.”

“Siapa dia? Seorang jenderal muda, apa sih artinya? Tidak terlalu tinggi untuk puteriku, bahkan andai kata dia Pangeran pun tidak akan terlalu tinggi!”

“Engkau tidak tahu siapa dia. Jenderal Muda Itu bernama Kao Cin Liong, dan dia adalah putera dari Si Naga Sakti Gurun Pasir, cucu mendiang Jenderal Kao Liang!”

“Ahhh….!”

Yang mengeluarkan suara itu adalah Bu Seng Kin, Gu Cui Bi dan juga Tang Cun Ciu karena mereka terkejut bukan main mendengar nama-nama yang sangat terkenal itu. Bahkan pendekar she Bu itu sendiri mengerutkan alisnya yang tebal, termangu-mangu. Lalu dia memandang kepada puterinya dengan penuh perhatian. Dipandang seperti itu, Siok Lan menundukkan mukanya. Pendekar itu menggeleng kepala dan menarik napas panjang berkali-kali.

“Naga Sakti Gurun Pasir…. bukan main….!”

“Apakah sekarang kau hendak mengatakan bahwa dia tidak terlalu tinggi? Apakah kau masih berani memandang rendah?” Nandini bertanya dan yang ditanya seperti orang kahabisan akal karena terkejutnya.

“Ahhh, siapa kira akan terjadi peristiwa aneh ini? Tidak kelirukah kalian? Benarkah Jenderal Muda itu putera Naga Sakti Gurun Pasir?”

“Dia telah diperkenalkan pada saat terakhir. Maka, dapat kau bayangkan betapa kaget dan bingungku ketika anak kita memberitahukan hal itu. Aku hanya seorang wanita Nepal, mana mungkin membicarakan hal ini dengan keturunan Jenderal Kao Liang? Akan tetapi, mengingat bahwa orang tua jenderal itu adalah pendekar yang amat kenamaan, maka sebaiknya engkau yang menemuinya, Bu-taihiap, sebagai sesama pendekar kiranya akan lebih mudah membicarakan urusan jodoh itu.”

Bu Seng Kin mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya masih berkerut. “Akan tetapi aku tidak berani bertindak ceroboh. Siok Lan anakku, benarkah engkau dan putera Naga Sakti Gurun Pasir itu saling mencinta?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo