September 24, 2017

Suling Emas Naga Siluman Part 4

 

Kemudian, di depan mata Hong Bu yang terbelalak penuh kengerian, Ngo-ok mencabuti kuku ibu jari tiga orang gadis yang rebah diperkosanya itu. Gadis-gadis itu menjerit satu kali dan roboh pingsan. Kemudian, setiap habis mencabut kedua kuku ibu jari tangan, Ngo-ok melemparkan tubuh itu dan dia sengaja membanting secara keras sehingga kepala gadis yang dibantingnya itu menimpa batu dan pecah, tewas seketika! Tiga orang gadis itu tewas dalam keadaan yang amat mengerikan dan menyedihkan.

“Iblis kau! Bukan manusia kau! Terkutuk kau, menjadi intip neraka kelak, jahanam busuk!” Sim Hong Bu memaki-maki dan hampir dia pingsan saking ngeri menyaksikan kekejaman yang belum pernah disaksikan sebelumnya, bahkan belum pernah dia mendengar atau mimpi tentang kekejaman sehebat itu!

“Uhh, mulutmu benar busuk! Kau sungguh pandai memaki, bagus sekali!” Su-ok tidak marah bahkan memuji-muji!

Tentu saja Hong Bu tidak sudi dipuji dan dia memaki-maki makin hebat. “Anjing kau, babi kau! Kalian buas dan keji, melebihi binatang, melebihi iblis!”

“Hemm, suruh dia diam, Su-ko. Biar pun dia pandai bernyanyi, akan tetapi lama-lama bosan juga,” kata Ngo-ok. “Atau biar kurobek saja perutnya dan kita lihat isi perut anak yang begini berani?”

“Ha-ha-ha, nanti dulu, Ngo-te. Di tempat seperti ini kita butuh pembantu, dan anak ini mempunyai bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang tokoh kita kelak. Lihat saja, keberaniannya menonjol, dan mulutnya pun cukup busuk. Kalau saja kelak tindakannya sebusuk mulutnya, wah, dia bisa menandingi kita.”

“Jahanam keparat, siapa sudi ikut kalian? Hayo bunuhlah aku, keparat. Kau kira aku pengecut takut mati? Mau merobek perutku, robeklah, siksalah, kalian memang anjing-anjing serigala yang buas. Lihat saja, kalau ada Pendekar Siluman Kecil di sini, kepala kalian tentu akan dihancurkan!”

Saking marahnya dan karena merasa tidak berdaya melihat orang-orang ini berbuat kejam, dia teringat kepada pendekar yang dikaguminya itu dan menyebut namanya. Akan tetapi, dua orang tokoh sesat itu terkejut bukan main, wajah mereka berubah dan mereka memandang ke kanan kiri, seperti orang ketakutan!

“Di mana Pendekar Siluman Kecil?” bentak Ngo-ok yang biasanya pendiam dan tenang itu, kini kelihatan beringas dan gentar.

Hong Bu adalah seorang anak yang cerdik sekali. Melihat perubahan pada wajah kedua orang manusia iblis ini, tahulah dia bahwa nama pendekar yang dijunjungnya itu kiranya juga sudah dikenal oleh mereka ini dan mereka kelihatan gentar terhadap pendekar itu, maka dia lalu tertawa.

“Kalian masih bertanya lagi? Kalian tentu tahu sendiri kalau sudah mengenal beliau bahwa beliau adalah malaikat yang bisa menghancurkan iblis-iblis macam kalian dan dapat muncul sewaktu-waktu!”

“Kau ingin mampus!” Ngo-ok menghantam ke arah kepala Hong Bu dan anak ini tanpa berkedip menanti datangnya maut.

“Plakkk!” tangan Ngo-ok itu ditangkis oleh Su-ok.

“Ehh, kau mengapa, Su-ko?” Ngo-ok mendengus marah.

“Bodoh, anak ini agaknya memang mengenal dia dan kalau benar dia muncul, kita dapat mempergunakan dia sebagai sandera, tolol!”

Hong Bu juga segera mengerti persoalan ini dan dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, kiranya kalian ini hanya garang kalau menghadapi orang lemah saja. Sekali mendengar nama Pendekar Siluman Kecil, kalian terkencing-kencing dan terkentut-kentut ketakutan dan menggunakan akal licik dan curang untuk menggunakan aku sebagai sandera. Ha-ha-ha lihat siapa di sana itu?” Tiba-tiba dia menuding ke kanan.

Dua orang itu terkejut bukan main, cepat menoleh ke kanan akan tetapi di situ tidak ada siapa-siapa.

“Oho, siapa itu di sana?” Kembali Hong Bu menuding ke kiri, dan secepat itu pula kedua orang itu menengok ke kiri, sikap mereka jelas membayangkan ketakutan sehingga Hong Bu mentertawakan mereka.

“Bocah ini mempermainkan kita!” Ngo-ok mengomel.

“Sudah kukatakan dia berbakat untuk menjadi tokoh golongan kita,” kata Su-ok. “Mari kita pergi!” Dia lalu melompat sambil tetap mencengkeram tengkuk Hong Bu, diikuti oleh Ngo-ok.

“Ehh, kalian tidak tahu? Di depan situ, lihat siapa yang menanti kalian!” kata pula Hong Bu yang sengaja hendak mempermainkan mereka. Dia tidak berdaya, tidak mampu melawan, tidak mampu membalas, maka dia hanya dapat membalas mereka dengan menakut-nakuti mereka saja.

“Bocah tolol, kamu kira dapat menakut-nakuti….”

Tiba-tiba ucapan Ngo-ok ini terhenti dan dia diam berdiri seperti patung, juga Su-ok mengeluarkan seruan kaget. Bahkan Hong Bu sendiri juga terkejut setengah mati ketika pada saat itu terdengar suara geraman yang luar biasa dahsyatnya, suara geraman yang membuat salju berhamburan dan tanah yang mereka injak berguncang! Dan di depan mereka telah berdiri seekor makhluk yang mengerikan dan menakutkan sekali. Tingginya luar biasa sekali, sama dengan tingginya Ngo-ok yang sudah terlalu luar biasa itu, akan tetapi kalau Ngo-ok kecil kurus, makhluk itu sebaliknya tinggi besar, lebih besar dari pada Su-ok yang gendut.

Otomatis Su-ok melepaskan Hong Bu karena dia harus bersiap siaga menghadapi makhluk ini yang mereka sudah dapat menduganya karena selama beberapa pekan ini mereka sudah sering mendengar tentang makhluk ini. Yeti! Sepasang mata makhluk itu kemerahan dan liar, beringas seperti sedang marah sekali. Sebatang pedang menancap di paha kanannya dan dia berdiri agak membungkuk, agaknya siap untuk menyerang!

“Yeti….!” Sim Hong Bu merangkak ke samping, lalu terduduk dengan kedua kaki lemas karena tegang dan ngerinya.

Dia belum pernah merasa takut, walau pun di dalam perburuan semenjak dia kecil, banyak sudah dia menghadapi bahaya maut dan menghadapi binatang-binatang buas yang kuat dan liar. Akan tetapi belum perah dia bertemu dengan makhluk seperti ini! Tidak seperti binatang buas lain, juga jauh dari pada manusia liar, melainkan lebih dekat dengan ujud dari setan neraka sendiri! Ahh, sayang pamannya telah tewas. Kalau ada pamannya di situ, tentu pamannya itu akan terpesona dan hatinya penuh kebanggaan. Kebanggaan seorang pemburu yang menjadi pemburu pertama yang dapat berhadapan dengan Yeti, makhluk yang selama ini hanya terdapat dalam dongeng belaka!

Sementara itu, Su-ok dan Ngo-ok sudah bersiap siap. Sebagai ahli-ahli ilmu silat tinggi, mereka tidak mau mendahului karena mereka sudah mendengar betapa tangguhnya dan berbahayanya makhluk ini. Banyak sudah tersiar berita betapa orang-orang kang-ouw yang pandai-pandai menjadi korban Yeti ini. Hal itu mereka tidak pedulikan, karena sesungguhnya bukan hanya Yeti yang membunuh mereka. Banyak pula yang mati di tangan Im-kan Ngo-ok!

Memang, mereka ini membunuhi banyak orang kang-ouw, terutama dari pihak kaum bersih agar mengurangi saingan dalam memperebutkan pedang pusaka yang terkenal itu. Dan kini, melihat sebatang pedang menancap di paha Yeti, timbullah niat mereka untuk merobohkan makhluk Ini. Dua pasang mata yang tajam itu mengenal pedang yang baik, dan bukan tidak boleh jadi bahwa pedang itulah yang sedang diperebutkan orang-orang kang-ouw. Pedang itulah yang bernama Koai-liong-pokiam! Akan tetapi bagaimana pedang yang diperebutkan oleh semua orang kang-ouw itu menancap di paha Yeti?

Su-ok dan Ngo-ok tidak mempedulikan hal ini. Yang lebih penting bagi mereka adalah merobohkan Yeti dan merampas pedang itu. Dan sekali Yeti terluka oleh pedang itu, agaknya tak akan sukar bagi mereka untuk dapat menundukkannya. Selama ini semua orang yang bertemu dengan Yeti tentu mati, maka tidak ada seorang pun yang pernah bercerita tentang pedang yang menancap di paha Yeti. Kalau pun ada yang melihatnya, agaknya juga tidak akan mau membuka rahasia ini kepada orang lain!

“Ngo-te, bersiaplah kau di belakangnya. Hati-hati, dia nampak kuat, pergunakan semua pukulan mematikan!” kata Su-ok.

Tetapi Ngo-ok adalah seorang yang sombong dan terlalu mengagulkan kepandaiannya sendiri. Dia memandang rendah makhluk ini. Hanya binatang buas yang agak besar, apanya yang berbahaya, pikirnya.

“Mampuslah….!” bentaknya.

Tiba-tiba dia sudah menerjang dari samping, lengannya yang panjang itu terulur dan dengan pengerahan sinkang yang amat dahsyat tangan itu menghantam ke arah kepala makhluk itu dari atas ke arah ubun- ubun yang dianggap tempat yang lemah dan agaknya Ngo-ok ini hendak merobohkan makhluk itu dengan sekali pukul saja maka dia mengerahkan seluruh tenaganya.

Melihat Si Jangkung ini sudah menyerang, Su-ok juga membarengi dengan pukulan dahsyat, Katak Buduk yang dilakukan sambil berjongkok, menghantam ke arah perut makhluk itu. Serangan orang ke empat dan ke lima dari Im-kan Ngo-ok itu dahsyat bukan main dan seorang ahli silat yang jagoan sekali pun kiranya tidak akan begitu mudah untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan yang hebat itu.

Makhluk yang disebut Yeti itu mengeluarkan gerengan dahsyat sekali. Seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang dengan pukulan-pukulan maut dan tanpa mempedulikan serangan lawan, kedua lengannya yang besar panjang berbulu itu tahu-tahu sudah mencengkeram ke arah dua orang lawan yang menyerangnya. Jadi serangan-serangan lawan itu dibalasnya dengan serangan pula dari jari-jari tangan yang berkuku panjang dan runcing tajam melengkung itu!

“Desss! Bukkk!”

Hantaman Ngo-ok pada kepala dan hantaman Su-ok pada perut itu tepat mengenai sasaran, akan tetapi seperti menghantam bola karet saja karena kedua pukulan dahsyat itu membalik begitu menyentuh tubuh Yeti! Kiranya Yeti itu memiliki kekebalan yang sungguh luar biasa dan selamanya belum pernah dilihat oleh dua orang datuk kaum sesat itu. Dan pada saat itu, kedua tangan Yeti sudah menyambar ke arah leher mereka dengan cepat dan kuatnya!

Dua orang datuk kaum sesat itu berseru keras dan melempar tubuh ke belakang, akan tetapi angin sambaran tangan itu menyambar dan membuat mereka merasa leher mereka perih seperti diserempet pedang tajam! Kagetlah kedua orang datuk itu dan mereka tahu bahwa Yeti itu ternyata bukan lawan sembarangan, melainkan makhluk yang memiliki kekebalan sukar dipercaya. Maka mereka berhati-hati dan kini Ngo-ok mengeluarkan suara mendengus dan tubuhnya sudah berjungkir balik, sedangkan Su-ok sudah mengumpulkan kekuatannya dan bergulingan seperti seekor trenggiling!

Yeti menggereng-gereng dan berdiri agak membungkuk, kedua tangan diangkat seperti sikap seekor beruang, dengan gerakan kepala dan lirikan matanya yang merah itu dia mengikuti gerakan aneh dari dua orang pengeroyoknya itu. Yang seorang berjungkir balik dan berloncatan dengan kepala menjadi kaki sehingga terdengar suara dak-duk-dak-duk sedangkan yang seorang lagi bergulingan bagaikan trenggiling atau seperti seorang anak kecil yang rewel!

Mendadak Ngo-ok mendengus lagi dan tubuhnya menyambar ke depan. Mulailah dia menyerang dengan kedua kakinya, dengan ujung kaki dia menotok ke arah jalan darah di leher dan sebelah kaki lagi menusuk ke mata Yeti itu! Sedangkan dari arah lain Su-ok yang tadinya bergulingan itu sekarang telah berjongkok serendahnya sehingga perut gendutnya mengenai tanah, sikapnya seperti seekor kodok tulen, dan dari bawah itu dia mengeluarkan pukulan yang ampuh dengan pengerahan seluruh tenaga sehingga tercium bau amis bukan main ketika terdengar suara mencicit diikuti angin berdesir dari kedua telapak tangannya, menghantam ke arah Yeti.

Agaknya Yeti itu pun tahu bahwa dua orang lawannya ini adalah orang pandai, dan mungkin pengetahuannya ini timbul ketika dia merasakan hantaman mereka yang pertama tadi, yang biar pun dapat diterimanya dengan kekebalan yang luar biasa, namun agaknya juga terasa olehnya. Pukulan kaki Ngo-ok ke arah leher dan mata datang lebih dulu dari serangan Su-ok. Yeti itu tiba-tiba miringkan tubuh atas sehingga totokan itu luput dan dengan cepat dia menyambar dengan tangannya. Gerakannya itu cepat bukan main dan tahu-tahu sebelah kaki Ngo-ok telah dapat dicengkeramnya! Ngo-ok terkejut bukan main, mengerahkan tenaga dan meronta. Pada saat itu, pukulan Su-ok telah tiba dan menghantam dada Yeti.

“Dessss!”

Sekali ini karena Yeti itu membagi tenaganya untuk menangkap kaki Ngo-ok dan Su-ok memukul dengan pengerahan seluruh tenaga, maka Yeti menggereng, pegangannya terlepas dan dia terlempar ke belakang, lalu jatuh terbanting. Akan tetapi hal ini membuatnya semakin marah dan agaknya dia hanya nanar sedikit saja, kemudian dia meloncat dan menubruk ke arah Su-ok!

Bukan main kagetnya orang pendek gendut ini ketika merasa betapa tubrukan ini mengandung tenaga sedikitnya seribu kati. Dia melempar tubuh ke belakang dan bergulingan sehingga terhindar dari tubrukan itu. Sebaliknya, yang kena ditubruk adalah sebuah batu besar terbungkus salju dan terdengar suara keras ketika batu itu pecah berhamburan mencelat ke sana-sini! Su-ok bergidik juga menyaksikan kedahsyatan Yeti itu. Kini dia dan terutama sekali Ngo-ok tidak berani main-main lagi. Mereka berdua lalu menerjang dari depan belakang, mengeluarkan semua ilmu kepandaian mereka, mengandalkan kegesitan dan secara bertubi-tubi namun hati-hati mereka menyerang dengan pukulan-pukulan sakti.

Yeti itu agaknya juga berhati-hati kini. Dan mulailah dia menggerak-gerakkan kedua tangannya dan sungguh aneh sekali, gerakan-gerakannya itu biar pun kelihatan kaku dan lucu, namun ternyata mengandung dasar-dasar ilmu silat tinggi, juga demikian pula gerakan dan loncatan kedua kakinya sambil terpincang-pincang sehingga terjadilah pertempuran yang amat hebat.

Melihat ini, Sim Hong Bu yang sejak tadi merasa kasihan kepada Yeti yang kakinya sudah tertusuk pedang itu, memaki-maki dua orang datuk kaum sesat itu. “Kalian berdua kakek tua bangka yang jahat! Manusia berwatak iblis! Yeti itu sudah terluka pedang, dan kalian masih mendesaknya. Sungguh tidak tahu malu sama sekali! Kalian lebih buas dan liar dari pada binatang! Tak tahu malu! Pengecut, beraninya mengeroyok seekor binatang yang sudah terluka pula. Cih, tak tahu malu!”

Untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, Sim Hong Bu mencari batu-batu sebesar kepalan tangan dan mulailah dia menyambiti dua orang kakek yang mengeroyok Yeti itu! Tentu saja sambitan-sambitan itu tidak ada artinya bagi Su-ok dan Ngo-ok, akan tetapi mereka tidak dapat melayani Hong Bu dan tidak mempedulikan anak itu karena mereka sendiri terdesak hebat oleh Yeti!

Memang hebat sekali makhluk itu. Setiap kali dua orang datuk itu beradu lengan atau kaki Ngo-ok bertemu dengan lengan yang berbulu itu, mereka berdua merasa betapa tubuh mereka tergetar hebat. Diam-diam mereka merasa heran dan juga terkejut, karena mereka tahu bahwa Yeti itu bukan hanya mempergunakan tenaga kasar atau tenaga otot seperti binatang-binatang buas pada umumnya, melainkan tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya! Sungguh sukar dapat dimengerti bagaimana mungkin makhluk yang seperti binatang buas ini dapat menghimpun sinkang yang sedemikian kuatnya!

Dua orang datuk itu telah merasa lelah dan seluruh tubuh sakit-sakit, juga pipi Su-ok telah berdarah terkena cakar, sedangkan telinga kiri Ngo-ok pecah-pecah terkena sambaran pukulannya! Mereka kewalahan sekali dan akhirnya dengan marah Su-ok berkata. “Ngo-te, mari satukan tenaga dan serang dia!”

Ngo-ok yang juga merasa penasaran sekali, lalu meloncat ke dekat Su-ok. Memang mereka merasa penasaran. Masa mereka, dua orang di antara Im-kan Ngo-ok yang menggetarkan dunia persilatan, kini harus mengaku kalah terhadap seekor binatang, padahal mereka maju bersama? Hal ini kalau sampai diketahui oleh dunia kang-ouw, bukankah nama mereka akan runtuh dan terseret ke dalam lumpur?

Su-ok sekarang berjongkok mengerahkan tenaga Katak Buduk, sedangkan Ngo-ok juga mengerahkan tenaganya, kemudian dengan berbareng mereka menghantamkan kedua tangan mereka dengan tangan terbuka ke arah Yeti yang menerjang maju. Angin yang dahsyat bukan main menyambar ke depan, dan inilah pukulan jarak jauh yang disertai penggabungan tenaga sinkang oleh kedua orang datuk kaum sesat itu. Agaknya Yeti itu pun maklum akan hal ini, maka sambil menggereng, gerengan yang menggetarkan jantung dua orang lawannya dia pun mendorongkan kedua tangannya ke arah mereka!

Terjadilah adu tenaga yang amat hebat di tengah udara yang dingin itu dan akibatnya, Yeti itu terhuyung ke belakang akan tetapi dua orang datuk kaum sesat itu terlempar ke belakang seperti dua buah layang- layang putus talinya! Akhirnya mereka terbanting ke atas salju dan keduanya mengeluh panjang, lalu merangkak bangun, menoleh ke arah Yeti dengan muka pucat. Melihat Yeti masih berdiri dengan tubuh agak membungkuk, mata merah penuh kemarahan itu, keduanya lalu lari tunggang-langgang! Adu tenaga yang terakhir itu meyakinkan hati mereka berdua bahwa mereka sungguh kalah kuat dan kalau dilanjutkan pertempuran itu, agaknya mereka akhirnya akan kalah.

Yeti itu tidak mengejar, dan setelah dua orang lawan yang tangguh itu lenyap, dia jatuh terduduk! Yeti itu mengeluarkan suara merintih-rintih dan kedua tangannya memijit-mijit pahanya yang tertusuk pedang. Sim Hong Bu yang masih duduk di atas batu itu memandang dengan bengong. Dia melihat Yeti itu merintih dan dari kedua mata yang merah itu turun beberapa tetes air mata! Yeti itu menangis!

Tadi Hong Bu merasa kagum bukan main menyaksikan sepak terjang Yeti. Sungguh di luar dugaannya bahwa dua orang manusia iblis yang luar biasa lihainya itu bukan hanya tidak mampu menandingi Yeti, bahkan mereka terdesak hebat dan kemudian mereka bahkan lari tunggang langgang. Ingin rasanya dia bersorak-sorai dan bertepuk tangan menyaksikan kesudahan dari perkelahian yang seru dan dahsyat itu karena memang di dalam hatinya dia menjagoi dan berpihak kepada Yeti. Akan tetapi kini melihat Yeti ini merintih-rintih, bahkan menangis, timbul rasa kasihan yang mendalam di hatinya. Dia sendiri tidak perlu melarikan diri, karena merasa percuma saja. Mana mungkin melarikan diri dari makhluk yang amat dahsyat itu? Sekali loncat saja Yeti itu akan dapat menangkapnya, karena itulah maka tadi dia pasrah saja. Akan tetapi Yeti itu tidak mengganggunya, menengok puh tidak, bahkan kini merintih-rintih, memijati kakinya yang tertusuk pedang dan menangis.

“Ah, Yeti itu sesungguhnya tidak jahat!” Kini Hong Bu teringat bahwa tadi pun bukan Yeti itu yang lebih dulu menyerang dua orang datuk sesat itu, melainkan mereka yang lebih dulu menyerang, barulah Yeti bergerak melawan. Makin kasihanlah rasa hatinya.

Luka itu hebat, dan kalau dibiarkan tentu akan membengkak dan membusuk. Sebagai seorang pemburu, tentu saja di dalam saku baju Hong Bu tersimpan obat-obat, terutama sekali obat luka, obat untuk melawan racun dan gigitan binatang berbisa. Bagaimana pun juga, tadi dia telah terjatuh ke dalam tangan dua orang kakek iblis yang telah membunuh pamannya itu, dan tipislah harapannya untuk dapat selamat di tangan mereka itu. Kini dia terbebas dan hal ini tidak dapat disangkal lagi adalah karena pertolongan Yeti ini. Maka, akan malulah dia kalau sekarang tidak membalas budi selagi Yeti itu dalam keadaan yang demikian sengsara!

Maka Hong Bu lalu bangkit berdiri, perlahan-lahan dia melangkah menghampiri Yeti yang masih duduk di atas salju memijit-mijit kaki atau paha kanannya itu. Luka yang tertusuk pedang itu kini mengeluarkan darah yang agak kehitaman.

“Ahhh, dia keracunan,” pikir Hong Bu. “Harus cepat diberi obat.”

Ketika Hong Bu sudah tiba mendekat di depan Yeti itu, tiba-tiba Yeti itu mengangkat kepalanya, sepasang mata merah itu memandang, mata yang masih basah oleh air mata dan tiba-tiba Yeti itu menggereng dengan geram. Hong Bu terkejut sekali, akan tetapi anak ini sudah bertekad untuk menolong makhluk itu, maka dia menuding ke arah paha Yeti sambil berkata, “Yeti…. aku…. aku hanya ingin membantumu, mengobati luka di pahamu itu.”

Yeti itu masih menggereng-gereng, tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi seolah-olah hendak menghantam. Akan tetapi Hong Bu yang sudah nekat itu memandang dengan sepasang matanya yang jernih, terang dan tajam, sedikit pun tidak merasa takut. Dia sudah melampaui rasa takut karena maklum bahwa melawan atau tidak, lari atau tidak, kalau Yeti itu menghendaki, dia tentu akan mudah dibunuhnya!

“Aku memiliki obat untuk luka, dan lukamu itu sudah keracunan. Biarlah aku merawatmu dan mengobatimu untuk membalas budimu telah membebaskan aku dari dua orang jahat tadi.” Hong Bu menuding ke arah larinya dua orang kakek iblis tadi, kemudian dia mengeluarkan bungkusan obat dari dalam saku jubahnya sebelah dalam.

Yeti itu masih menggereng-gereng, akan tetapi hanya perlahan saja dan kelihatannya tidak marah lagi, sungguh pun masih nampak curiga. Ketika Hong Bu mendekati dan berlutut di depannya, dia memandang dengan matanya yang merah basah, kemudian dia mengangguk-angguk! Girang bukan main hati Hong Bu, Yeti ini bukan hanya pandai berkelahi dan amat tangguh melebihi ahli-ahli silat kelas tinggi, akan tetapi juga dapat mengerti kata-katanya agaknya. Buktinya dia mengangguk-angguk!

Hong Bu menyentuh paha itu dan memeriksanya. Luka itu memang sudah agak membengkak, akan tetapi baiknya ketika dipakai berkelahi tadi, lukanya pecah sehingga darah hitam keluar. Tidak ada lain jalan, pedang itu harus dicabut lebih dulu, baru mungkin mengobati luka yang menembus paha itu! Dan Yeti itu perlu diberi minum pel pencuci darah dengan segera! Akan tetapi, mana mungkin mencabut pedang itu selagi Yeti dalam keadaan sadar? Pencabutan pedang itu akan mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa dan kalau hal ini dilakukan, tentu Yeti akan marah dan mungkin salah sangka, mengira dia menyakitinya dan tentu akan membunuhnya sebelum pedang tercabut semua! Serba sulit, pikirnya.

Akan tetapi Hong Bu yang sejak kecil seolah-olah sudah belajar hidup sendiri dan menghadapi sendiri segala macam kesulitan dan bahaya itu telah memiliki kecerdikan luar biasa. Di antara obatnya terdapat bubukan obat bius, yaitu yang kadang-kadang perlu dipergunakan oleh para pemburu yang ingin menangkap binatang buas hidup-hidup memenuhi pesanan langganan, untuk menjebak harimau-harimau atau beruang-beruang atau sebangsa binatang buas dan kuat lainnya, kemudian membius binatang itu agar pingsan sehingga mudah diikat atau dimasukkan kerangkeng dan ditangkap hidup-hidup.

“Yeti, engkau telah keracunan, harus makan obat ini. Maukah?” Hong Bu mengeluarkan sebungkus obat bubuk dan memperlihatkannya kepada Yeti. Obat bubuk itu adalah obat bius yang biasanya dicampur dengan daging atau makanan lain untuk diberikan sebagai umpan kepada binatang buas yang akan ditangkap. Kembali Yeti itu mengangguk-angguk.

Giranglah hati Hong Bu. Dengan sebuah cawan yang selalu dibawanya, dia mencampur obat bubuk itu dengan salju. Biasanya, untuk seekor harimau cukup diberi seperempat bungkus saja. Akan tetapi dia tahu bahwa Yeti ini amat kuat, jauh lebih kuat dari pada seekor binatang yang bagaimana besar pun, maka dia menaruh seluruh isi bungkusan itu ke dalam cawan dan mencampurnya dengan salju. Tentu saja tidak bisa mencair seperti air dan Hong Bu menjadi bingung.

“Ahh, di mana bisa mendapatkan air di tempat yang semuanya serba beku ini?”

Gerakan mulut Yeti itu mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh aneh, kemudian sekali sambar, cawan itu sudah pindah tangan. Hong Bu terkejut sekali.

“Yeti, engkau harus meminumnya!” katanya.

Makhluk itu memandang sebentar ke arah cawan, dalam beberapa detik dia tidak bergerak dan Hong Bu terbelalak melihat betapa cawan itu mengepulkan uap dan salju di dalamnya menjadi cair seolah-olah cawan itu ditaruh di atas api! Kemudian sekali tenggak isi cawan itu pun lenyaplah memasuki perut Yeti melalui mulutnya!

Yeti mengembalikan cawan kepada Hong Bu yang menjadi girang bukan main. Dia masih terheran-heran bagaimana cawan itu dapat mengepulkan uap dan salju itu dapat mencair. Keluarganya yang semua merupakan ahli-ahli silat belum mencapai tingkat setinggi itu sehingga melihat hal itu seperti sulapan saja.

“Yeti yang baik, engkau memang cerdik sekali. Nah, kini percayalah, Hong Bu akan menolongmu, akan menyelamatkan nyawamu seperti engkau tadi telah menyelamatkan nyawaku!”

Hong Bu lalu mengelus-elus paha itu. Agaknya Yeti itu merasa keenakan dan dia diam saja, kemudian dia menguap seperti orang diserang kantuk! Hong Bu kembali terheran-heran. Makhluk ini memang mirip manusia, bisa menguap segala kalau mengantuk, dan dia tahu bahwa obat bius itu sudah mulai bekerja. Maka sambil mengelus-elus paha itu dia berkata halus, “Yeti, kau tidurlah kalau lelah dan mengantuk. Biar aku menjagamu di sini. Tidurlah!” Dengan lembut dia mendorong dada Yeti itu disuruhnya berbaring. Yeti itu agaknya mengerti karena dia lalu merebahkan diri miring, berbantal lengannya yang besar dan tak lama kemudian dia pun sudah tidur atau pingsan karena pengaruh obat bius!

Hong Bu kemudian mengeluarkan perlengkapannya dari dalam saku-saku jubahnya. Dia membuat api, hal yang amat sukar akan tetapi akhirnya dia berhasil juga dan menggodok obat-obat luka dan obat-obat minum. Setelah itu, barulah dia mencoba untuk mencabut pedang itu dari paha Yeti. Agaknya pedang itu terselip antara tulang dan otot, sukar sekali dicabutnya biar dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya. Tiba-tiba Yeti mengeluarkan suara dan terkejutlah Hong Bu, mengira makhluk itu sadar! Akan tetapi ternyata tidak dan agaknya rasa nyeri membuat Yeti mengigau dalam tidur atau pingsannya.

Hong Bu mengerahkan tenaganya lagi. Dia menginjakkan kaki kirinya pada paha Yeti itu, dan kedua tangannya memegang gagang pedang lalu menarik. Dia menahan napas, mengerahkan tenaga sampai mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, dan akhirnya pedang itu mulai dapat ditarik!

Begitu bergerak, maka sekali dia mengerahkan tenaga, pedang itu tertarik keluar dan dia pun jatuh terjengkang! Bukan main girangnya, tetapi matanya silau melihat pedang yang berkilauan itu. Pedang yang hebat, pikirnya, dan dengan hati-hati dia meletakkan pedang itu di dekat tubuh Yeti. Darah mengalir keluar dari depan dan belakang paha, darah yang agak menghitam. Hong Bu memijit-mijit paha itu. Akan tetapi paha itu terlalu besar dan keras sehingga akhirnya dia menggunakan kedua kakinya, menginjak-injak paha itu dan mengenjot-enjotnya agar darah dapat keluar dari dua lubang luka di depan dan belakang paha.

Usahanya ini berhasil dan lebih banyak darah hitam lagi keluar. Lalu darah pun berhenti dan betapa pun dia mengusahakan, tidak ada lagi darah yang keluar. Terpaksa dia lalu menaruh obat-obat luka di kedua luka itu sampai penuh, dan dibalutnya paha itu kuat-kuat dengan robekan kain ikat pinggangnya. Setelah selesai, puaslah hatinya. Kini dia tinggal menanti Yeti itu sadar dan akan diberinya minum obat pencuci darah yang telah digodoknya itu.

Tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya. Cepat Hong Bu menoleh dan dilihatnya seorang tosu yang usianya setengah tua, berwajah tampan dan gagah, tubuhnya tinggi tegap, kedua tangannya memegang sepasang pedang, sudah berdiri di situ sambil memandang dengan penuh perhatian ke arah Yeti yang sedang tidur atau pingsan. Tosu ini bukan lain adalah Hui-siang-kiam Ciok Kam, tosu dari Kun-lun-san itu, yang pernah bertemu dengan Yeti bersama dua orang temannya, yaitu Hok Keng Cu dan Hok Ya Cu yang sudah tewas oleh Yeti. Hanya kebetulan saja tosu ini lolos dari maut, dan dia merasa sakit hati, terus mencari jejak Yeti dan akhirnya tibalah dia di tempat ini, melihat Yeti sedang tidur atau pingsan dan seorang anak laki-laki tanggung duduk di dekat tubuh Yeti yang rebah miring!

Hampir dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Bagaimana ada seorang pemuda tanggung yang berani duduk di dekat Yeti dan tidak apa-apa lagi? Akan tetapi perhatiannya segera tertuju kepada sebatang pedang di dekat tubuh Yeti itu, pedang yang berkilauan indah dan dikenalnya sebagai pedang yang dulu menancap di paha Yeti yang kini dibalut kain putih! Itulah pedang yang dicari-cari oleh semua orang. Tak salah lagi! Jelas bahwa itu adalah sebatang pedang keramat, pedang yang terbuat dari bahan luar biasa, pedang pusaka. Kembali dia mengerling ke arah wajah Yeti yang masih tidur, hatinya berdebar tegang.

“Dia…. dia kenapa….?” Akhirnya dia bertanya kepada Hong Bu karena dia masih ragu-ragu untuk bergerak. Siapa tahu kalau-kalau Yeti itu hanya tidur dan akan bangkit kalau diganggu, dan dia maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi Yeti itu.

Hong Bu tentu saja tidak tahu bahwa tosu yang datang ini mengandung sakit hati yang besar terhadap Yeti dan bermaksud membunuhnya, maka dia lalu menjawab. “Dia sedang tidur, pengaruh obat bius. Sekarang pedang itu telah kucabut dan lukanya telah kuobati.”

Mendengar ini, bukan main girangnya hati Hui-siang-kiam Ciok Kam. “Baguslah! Kalau begitu tibalah saatnya aku membalas dendam! Minggirlah, orang muda, biar kubunuh makhluk iblis kejam ini!”

Dapatlah dibayangkan betapa kaget rasa hati Hong Bu mendengar kata-kata itu dan melihat sikap tosu itu yang sudah melangkah maju dan mengangkat pedangnya. “Ehh, Totiang… eh, jangan! Apa yang hendak kau lakukan itu!” teriaknya sambil bangkit berdiri dan menghadang di depan tosu itu.

“Pinto hendak membunuhnya!”

“Jangan, Totiang! Jangan…. dibunuh….!” Hong Bu berkata dengan kaget dan matanya terbelalak, kedua tangannya diangkat dan digoyang-goyangkan.

“Engkau anak kecil tahu apa! Dua orang sahabatku telah dibunuhnya secara kejam, juga banyak sekali orang kang-ouw telah dibunuhnya. Dia makhluk jahat sekali, kalau tidak dibunuh tentu akan mendatangkan banyak mala petaka.”

Hong Bu menjadi bingung sekali. Ia memang tahu bahwa Yeti telah banyak membunuh orang, akan tetapi melihat betapa Yeti itu baik kepadanya, dan melihat pertempuran antara Yeti dengan dua orang kakek iblis itu, dia dapat menduga bahwa Yeti tentu membunuh siapa yang hendak mengganggunya. Jadi Yeti ini seperti hampir semua binatang buas yang dikenalnya, hanya menjadi buas dan ganas kalau diganggu yang merupakan naluri untuk membela diri dan melindungi keselamatannya. Tetapi kini Yeti masih pulas, tentu takkan mampu melawan dan akan mati kalau dia tidak membelanya. Cepat disambarnya pedang yang tadi menusuk paha Yeti dan dipegangnya erat-erat.

Melihat bocah itu mengambil pedang, Hui-siang-kiam Ciok Kam berseru, “Minggir dan serahkan pedang pusaka itu kepada pinto!”

Mendengar ini, Hong Bu memandang ke arah pedang di tangannya. Pedang ini ringan dan aneh, dan kalau semua orang memusuhi Yeti, apakah bukan untuk memperebutkan pedang ini? Dia pun mendengar desas- desus tentang sebatang pedang keramat yang kabarnya dicuri orang dari kota raja dan dibawa ke Himalaya dan kini orang-orang kang-ouw memenuhi daerah ini hanya untuk mencari pedang keramat itu. Inikah gerangan pedang yang diperebutkan itu?

“Totiang, sesungguhnya…. Totiang hendak membunuh Yeti ataukah hendak merampok pedang ini….?”

Wajah Hui-siang-kiam Ciok Kam berubah merah. Memang tidak dapat disangkal pula, yang mendorong dia membayangi dan mencari Yeti adalah pedang yang menancap di paha Yeti itu, dan tentu saja juga karena dia ingin membalas kematian kedua orang sahabatnya.

“Pinto…. pinto…. wah, engkau anak kecil banyak cerewet. Minggirlah biar kubunuh dia!”

“Tidak! Engkau tidak boleh membunuhnya!” Hong Bu berkata dengan tegas dan berdiri melindungi tubuh Yeti yang masih rebah miring.

“Hemm, bocah setan, engkau hendak melindungi binatang buas seperti itu?” Hui-siang-kiam Ciok Kam mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas, gerakannya ringan dan cepat sekali dan dia bermaksud untuk melampaui Hong Bu dan menyerang ke arah Yeti yang masih rebah.

Hong Bu terkejut bukan main menyaksikan gerakan yang cepat itu dan tahu-tahu tosu itu sudah melewati atas kepalanya. Dia membalik dan melihat betapa tosu itu sudah menusukkan kedua pedangnya ke arah leher dan dada Yeti dengan kecepatan kilat.

“Jangan….!” Hong Bu memekik dengan sekuatnya dan tubuhnya menubruk ke depan, pedang di tangannya digerakkan untuk menangkis dua sinar pedang yang menyerang Yeti itu.

Terdengar suara nyaring pada saat sepasang pedang itu patah-patah bertemu dengan pedang di tangan Hong Bu, disusul jeritan tosu yang roboh mandi darah bergulingan sampai beberapa meter jauhnya, kemudian diam tak bergerak lagi. Hong Bu terbelalak memandang ke arah mayat tosu itu, lalu kepada tangannya sendiri yang memegang pedang. Dia cepat menghampiri tosu itu dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat tosu itu telah tewas dengan dada luka bercucuran darah!

Terdengar suara gerengan dan ketika dia menoleh, dia melihat Yeti itu sudah bangkit duduk, lalu Yeti itu sekali lompat sudah tiba di dekat mayat tosu itu dan melihat tosu itu sudah tewas, Yeti lalu mengeluarkan suara aneh seperti orang tertawa, dan sekali menggerakkan tangan dia telah merampas pedang dari tangan Hong Bu kemudian dia memondong Hong Bu, diangkatnya tinggi-tinggi dan dia menari-nari kegirangan sambil terpincang-pincang. Kiranya Yeti itu tadi telah sadar dan melihat betapa Hong Bu sudah membelanya dan merobohkan tosu yang menyerangnya, maka dia girang bukan main, apalagi melihat bahwa pedang sudah dicabut dari pahanya dan pahanya sudah diobati dan dibalut.

Yeti itu lalu meloncat jauh sekali. Hampir Hong Bu berteriak karena merasa ngeri ketika Yeti itu kini berlompatan dan berlari dengan kecepatan yang luar biasa, melalui tempat-tempat tinggi, melalui jurang- jurang yang curam dan memasuki ‘dunia es’ yang amat aneh bagi Hong Bu. Tempat yang dilalui oleh Yeti ini amatlah sukar dan tidak mungkin dilalui oleh manusia dengan kecepatan seperti itu, maka kadang- kadang Hong Bu memejamkan mata karena merasa ngeri kalau Yeti itu setengah berloncatan melalui tebing-tebing yang curam sekali.

Yeti yang masih memondong tubuh Hong Bu sambil membawa pedang itu terus mendaki puncak Gunung Kongmaa La dan di antara bongkahan-bongkahan es yang besar dan batu-batu gunung raksasa Yeti itu bergerak cepat. Dia tentu sudah hafal akan tempat ini karena dia bergerak di antara batu-batu dan bukit- bukit salju dan es itu dengan cepat tanpa ragu-ragu, kemudian dia menyelinap antara dua buah batu yang berhimpitan dengan miringkan tubuhnya. Akan tetapi baru masuk lima langkah, Yeti itu berhadapan dengan batu bulat yang amat besar dan tidak nampak ada jalan sama sekali.

Hong Bu mengira bahwa tentu Yeti itu tersesat jalan, akan tetapi tiba-tiba Yeti itu menggunakan tangan kanannya untuk mendorong batu itu, sedangkan tangan kirinya masih memondong tubuh Hong Bu. Batu sebesar bukit kecil itu bergerak dan menggelinding beberapa kaki ke kiri, dan nampaklah sebuah lubang yang besarnya hanya satu meter persegi! Yeti itu menurunkan Hong Bu, menuding ke arah lubang dengan isyarat seolah-olah menyuruh Hong Bu masuk.

Pada waktu itu, Hong Bu merasa sendirian saja di dunia ini, sudah tidak ada siapa-siapa lagi setelah pamannya tewas. Maka kini dia pasrah saja kepada Yeti dan dia pun merangkak masuk. Yeti itu pun masuk, akan tetapi lebih dulu dia mengerahkan tenaga dan menggunakan kedua tangannya untuk menarik batu itu menggelinding kembali menutupi lubang.

Mereka lalu merangkak melalui lubang terowongan itu sampai beberapa puluh meter dalamnya dan tiba- tiba saja nampak cahaya terang dan lubang kecil itu berubah menjadi lorong yang besar dan berlantai batu. Kiranya di situ terdapat terowongan rahasia yang besar dan Yeti itu menggandeng tangan Hong Bu, diajaknya masuk terus. Mereka berjalan maju, berlika-liku melalui terowongan yang kadang-kadang gelap sekali akan tetapi ada kalanya terang karena bagian atasnya terdapat lubang-lubang atau celah-celah batu dari mana sinar matahari dapat masuk.

Ketika Yeti itu akhirnya berhenti, mereka tiba di ruangan dalam puncak atau di bawah batu-batu, ruangan yang amat luas. Hong Bu merasa seperti hidup di alam mimpi. Bukan main indahnya pemandangan dari ruangan itu. Terdapat lubang-lubang besar seperti jendela dan dari sini dia dapat melihat puncak-puncak yang diliputi salju, lain bagian memperlihatkan dunia es yang bentuknya bermacam-macam dan berkilauan memantulkan sinar matahari, dan ada lagi bagian yang penuh tumbuh-tumbuhan, hal yang amat aneh sekali di puncak itu. Di sudut ruangan itu, agak tertutup dan sebagai penghalang, dia menemukan dua orang manusia yang sedang duduk bersila!

Akan tetapi ternyata mereka itu duduk di dalam es atau salju yang turun dari atas sehingga tempat itu tidak pernah lepas dari kurungan es. Dua mayat orang yang masih seperti hidup saja, masih lengkap pakaiannya dan melihat pakaian mereka itu, jelas bahwa mereka adalah sepasang orang muda yang tampan dan cantik, juga keduanya menunjukkan sifat gagah!

“Yeti, siapakah mereka ini….?” Tak terasa lagi Hong Bu bertanya kepada Yeti seolah-olah Yeti itu adalah seorang manusia lain yang dapat bicara.

Akan tetapi ternyata anehnya, Yeti menghampiri tempat itu dengan langkah lemas, kemudian melihat mayat wanita yang cantik, yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, tiba-tiba dia menjatuhkan diri di depan kurungan es di mana wanita itu bersila, dan dia pun menundukkan mukanya dan mengeluh panjang pendek, dan dari kedua matanya bercucuran air mata pula! Tentu saja Sim Hong Bu menjadi terkejut, terheran dan juga kasihan. Dia menghampiri Yeti itu, meraba pundaknya dan berkata lirih.

“Yeti, perlu apa menangisi orang yang sudah mati? Yang mati takkan hidup kembali, dan kita yang hidup toh akhirnya akan mati juga seperti mereka ini.”

Yeti itu mengeluarkan suara ah-uh, akan tetapi agaknya dia pun berhenti berduka, lalu dia mengajak Hong Bu dengan menggandeng tangannya meninggalkan arca aneh itu, menghampiri sudut di mana terdapat sebuah peti hitam. Dibukanya peti itu dan lalu dikeluarkannya sebuah kitab catatan yang diserahkannya kepada Hong Bu. Setelah begitu, Yeti itu lalu merebahkan dirinya di sudut lain yang kering dan tak lama kemudian sudah terdengar dengkurnya!

Kasihan, pikir Hong Bu. Semua gerak-gerik dan sikap Yeti itu sama sekali bukan seperti binatang, melainkan seperti seorang manusia yang dirundung malang dan menderita kepedihan hati yang hebat! Maka dia lalu membawa kitab itu ke dekat ‘jendela’ yang terang dan mulailah dia membalik lembaran pertama dari kitab itu. Kitab itu terbuat dari kertas yang sudah tua sekali, sudah menguning dan tulisannya juga sudah kabur, akan tetapi masih dapat dibaca karena ditulis dengan huruf-huruf yang kuat dan jelas. Hong Bu mulai membaca catatan itu dengan asyik, dan tahulah dia bahwa catatan itu adalah catatan yang dibuat oleh mayat pria yang seperti pendekar itu, agaknya menceritakan atau mencatat semua peristiwa yang mereka alami di tempat ini…..

********************

Kami adalah suami isteri yang malang, demikian catatan itu memulai. Percuma saja aku disebut Sin-ciang Eng-hiong (Pendekar Tangan Dewa) kalau ternyata aku tidak mampu melindungi diri sendiri dan isteriku. Aku, Kam Lok, hanyalah seorang laki-laki lemah yang terpaksa melarikan diri bersama isteriku karena dikejar-kejar musuh besarku yang tak dapat kulawan! Kasihan Loan Si, isteriku yang tidak dapat menikmati kehidupan suami isteri dalam rumah tangga yang tenteram karena semenjak menikah harus mengikuti aku melarikan diri.

Kami lari ke Himalaya, namun raksasa itu terus mengikuti jejak kami! Agaknya dia tidak mau menerima kenyataan bahwa dia kalah memperebutkan Loan Si yang lebih dulu suka menjadi isteriku dari pada menjadi isteri raksasa yang tergila-gila kepadanya itu. Ouwyang Kwan, engkau sebagai seorang pendekar yang gagah, bekas sahabat baikku, kenapa tidak mau melihat kenyataan dan masih terus merasa penasaran? Ahh, andai kata aku dapat mengalahkanmu pun, sukar bagiku untuk bertega hati membunuhmu, engkau sahabatku yang amat baik dan yang kutahu benar-benar amat mencinta Loan Si. Akan tetapi apa daya, sahabatku juga musuhku, Loan Si tidak membalas cintamu, cintanya melainkan untukku seorang!

Kami berhasil menemukan lorong rahasia yang tersembunyi ini, dan merasa aman tinggal di sini sampai setahun lebih! Betapa senang kami melewatkan bulan-bulan madu di tempat ini, berdua saja, mencurahkan segala cinta kasih antara kami tanpa ada yang mengganggu. Sayang, karena ancaman Ouwyang Kwan, maka ketegangan mengisi lubuk hati isteriku sehingga hubungan kami tidak dapat menghasilkan keturunan!

Akan tetapi, kehidupan kami yang tenteram itu hanya berlangsung satu tahun saja, karena pada suatu hari, tiba-tiba muncullah Ouwyang Kwan, bekas sahabatku yang kini telah menjadi musuh besar kami itu, atau lebih tepat musuh besarku, karena dia tidak memusuhi Loan Si, bahkan sebaliknya dia amat mencintanya!

Tiada jalan lain bagi kami kecuali bertanding memperebutkan Loan Si! Pertandingan mati-matian di tempat ini, hal itu sudah pasti akan terjadi. Aku terpaksa menghentikan catatan ini karena kami berdua sudah berjanji untuk bertanding sekarang juga, begitu matahari terbit dan sinarnya menerangi ruangan ini. Semalaman ini, mungkin malam terakhir, kuhabiskan untuk mencurahkan seluruh cintaku kepada Loan Si, isteriku. Siapa tahu, malam ini merupakan malam yang terakhir.

Sampai di sini, catatan itu ditulis dengan gaya tulisan lain, gaya tulisan yang halus, tulisan seorang wanita!
Mereka bertanding mati-matian dan amat mengerikan, demikian tulisan wanita ini memulai.

Betapa risau dan gelisah hatiku. Aku tidak dapat membantu, karena selain tingkat kepandaianku jauh lebih rendah, juga suamiku tidak menghendaki demikian. Mereka bertanding sebagai dua orang pendekar yang gagah perkasa, yang tidak menemukan jalan lain kecuali saling bertanding mati-matian untuk memperebutkan aku. Ahh, betapa hancur rasa hatiku. Aku hanya mencinta Kam Lok, suamiku, mana mungkin aku harus mencinta orang lain? Mereka itu setingkat, akan tetapi semalam suamiku telah mengaku bahwa sebetulnya ia masih kalah kuat oleh lawannya itu. Aku hanya dapat memandang dengan gelisah dan berdoa dalam hati semoga suamiku yang akan menang.

Berjam-jam mereka bertanding dan akhirnya, apa yang kutakuti terjadilah. Suamiku roboh dengan muntah darah dan tewas setelah mengucapkan hanya dua buah kata memanggil namaku. Aku menangis, kemudian aku dihibur oleh Ouwyang Kwan yang menyatakan cintanya, yang juga bersumpah bahwa dia akan mencintaku melebihi cinta suamiku. Akan tetapi, aku benci melihat raksasa itu. Aku benci kepadanya!

Aku lalu menyerangnya kalang kabut, akan tetapi dengan mudah dia menghindar dan pergi dari tempat itu. Sesuai dengan pesan suamiku, aku lalu membereskan pakaian jenazah suamiku, lalu mengatur agar dia duduk di sudut ruangan di mana turun salju dan es melalui celah-celah sehingga tubuhnya akan terbungkus salju dan es, dan tidak akan rusak sehingga aku dapat memandangnya setiap hari, seolah-olah dia masih hidup.

Setiap hari Ouwyang Kwan datang, membujukku, mengancamku. Akan tetapi aku bertekad untuk tidak melayaninya. Aku mengatakan kepadanya bahwa lebih baik aku mati dari pada harus menjadi isterinya, bahwa aku sama sekali tidak cinta padanya, bahwa sebaliknya aku benci kepadanya. Akan tetapi orang itu sungguh keterlaluan, dia tak mau melakukan kekerasan, sebaliknya membujuk-bujuk, memohon-mohon sehingga kadang-kadang timbul juga rasa kasihan dalam hatiku. Akan tetapi, aku berkeras tidak mau menjadi isterinya, bahkan tidak mau melayani hasratnya.

Sampai setahun lebih ia terus-menerus membujukku, menyediakan segala keperluanku, bahkan dia memelihara jenazah suamiku sehingga nampak terbungkus es dengan baik, tak pernah rusak. Dia menyatakan menyesal sambil menangis jika dia melihat suamiku. Akan tetapi, aku tetap tidak mau melayaninya, bahkan aku mulai senang menggodanya, melihat dia tersiksa oleh cintanya yang tidak kubalas. Dia jelas amat menderita dan itulah hukumannya! Kadang-kadang dia menangis sendiri di sudut, lalu bicara sendiri.

Aku khawatir dia menjadi gila karena rindunya dan cintanya yang tak terbalas dan tak terpuaskan. Aku makin menggodanya, aku sengaja berganti pakaian di depannya agar dia makin tergila-gila melihat tubuhku setengah telanjang, akan tetapi kalau dia sudah berapi-api aku lalu menghina dan mengejeknya, menyatakan benciku. Aku ingin dia memperkosaku, karena kalau hal itu terjadi, dia tentu akan terpukul hebat batinnya, tentu akan merasa menyesal sekali demi cintanya kepadaku yang kutahu memang benar- benar amat mendalam itu. Godaanku membuat dia semakin gila.

Pada suatu hari, ketika aku berada di luar, aku bertemu dengan makhluk aneh. Agaknya itulah yang bernama Yeti. Aku terkejut dan ketakutan, jatuh pingsan di depan Yeti, akan tetapi Ouwyang Kwan menyelamatkan aku, membawa lari masuk ke dalam goa dan menutup goa dengan batu besar. Yeti itu berkeliaran di luar goa sampai tiga hari dan tiga malam mengeluarkan suaranya yang aneh. Aku ketakutan bukan main.

Dan mulai hari itu, hampir setiap hari aku melihat Yeti dan makin jarang melihat Ouwyang Kwan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku menjadi nekat dan ingin menyerahkan diriku kepada Yeti! Aku ingin mengecewakan hati Ouwyang Kwan karena hatiku sakit mengingat suamiku dibunuh, akan tetapi aku sebetulnya mulai jatuh cinta kepadanya, mungkin karena kebutuhanku kepada pria! Namun, benciku melebihi cintaku sehingga aku lebih suka menyerahkan diri kepada Yeti, makhluk buas menyeramkan itu dari pada kepada Ouwyang Kwan.

Akan tetapi, pengalamanku ketika aku menyerahkan diri kepada Yeti malam itu membuat aku semakin tergila-gila. Aku jatuh cinta kepada Yeti, demikian pikirku. Akan tetapi, ketika pada keesokan harinya aku terbangun dalam pelukan Yeti, ternyata Yeti itu adalah Ouwyang Kwan yang menyamar. Aku malu, aku benci, aku menyesal, apalagi karena aku tahu bahwa seluruh tubuhku jatuh cinta kepada Ouwyang Kwan pembunuh suamiku.

Aku harus mati…! Aku lebih baik mati…! Aku semalam telah mengkhianati suamiku, di depan mata suamiku sendiri aku telah bermain cinta, berjinah semalam suntuk dengan Ouwyang Kwan, musuh dan pembunuh suamiku. Aku harus mati….!

Tulisan itu berakhir, akan tetapi pada lembar berikutnya terdapat tulisan kasar seperti cakar ayam, tulisan yang besar-besar hurufnya dan ditulis oleh tangan yang kaku.

Aku menyebabkan kematiannya. Aku berdosa! Aku binatang, bukan manusia! Aku Yeti yang buas!

Demkianlah isi buku catatan yang dibaca oleh Hong Bu dengan asyiknya. Dia lalu termenung. Hebat sekali pengalaman suami isteri pendekar itu. Dia lalu menghampiri lagi mayat-mayat yang seperti arca itu. Pendekar itu memang tampan, dan setelah dia meneliti, dia melihat memang pada bajunya terdapat lubang bekas tusukan pedang, tepat di ulu hatinya. Kemudian dia meneliti jenazah wanita itu. Terdapat pula lubang bekas tusukan senjata tajam di lambung kirinya. Agaknya wanita itu telah bunuh diri. Dan agaknya tulisan kasar terakhir itu adalah tulisan Ouwyang Kwan yang menaruh mayat Loan Si di dekat suaminya, kemudian tentu saja Ouwyang Kwan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi…. tiba-tiba Hong Bu teringat dan bulu tengkuknya meremang, Yeti itu! Mengapa menangis di depan mayat Loan Si? Dan di dalam catatan Loan Si, Yeti yang diserahi dirinya adalah yang penyamaran Ouwyang Kwan! Dan Ouwyang Kwan mulai menjadi gila! Dan Yeti itu, gerak-geriknya lebih mirip manusia, malah bisa merintih, menangis, dan seolah-olah mengerti dan dapat menangkap kata-katanya. Jangan- jangan Yeti yang sekarang ini pun adalah penyamaran Ouwyang Kwan! Bukankah dalam catatan-catatan itu disebutkan bahwa Ouwyang Kwan bertubuh raksasa? Jadi, tentu tinggi besar, pantas kalau menyamar sebagai Yeti!

Hong Bu berindap mendekati Yeti yang masih tidur. Tidurnya nyenyak dan mendengkur. Dengkurnya seperti dengkur manusia! Berdebar jantung Hong Bu. Benarkah makhluk ini yang dinamakan orang Yeti, ataukah ini adalah Ouwyang Kwan yang menyamar? Bagai mana dia akan dapat membuka rahasia ini? Betapa pun juga, jelas bahwa makhluk ini memperlihatkan sifat-sifat yang liar dan ganas, maka dia harus berhati-hati dan jangan sampai membuatnya marah, karena hal itu amatlah berbahaya. Makhluk buas, atau manusia yang sudah menjadi gila dan merasa dirinya menjadi binatang, sama saja berbahayanya, maka dia harus bersikap halus dan hati-hati.

Malam itu Hong Bu tidur dalam ruangan itu yang tidaklah begitu dingin seperti kalau berada di luar, Yeti tidak nampak, semenjak tadi telah pergi. Hong Bu tidak berani sembarangan mencarinya karena memang dia tidak tahu harus pergi ke mana, dan tak lama kemudian nampak bayangan berkelebat dan Yeti telah berada di dekatnya dan menyerahkan segebung daun-daun yang kekuning-kuningan.

Dia menerimanya dalam keremangan cahaya malam yang berbulan tipis itu, sinar bulan yang memasuki ruangan melalui jendela, tetapi tidak tahu mengapa Yeti memberikan daun-daun itu kepadanya. Untuk tilam tidur? Akan tetapi daun-daun basah itu malah tidak enak kalau untuk tidur, lebih enak tidur di atas tanah dalam ruangan itu yang cukup hangat. Akan tetapi, Yeti itu mengambil setangkai daun lalu memakannya dan memberi isyarat dengan tangan agar Hong Bu makan daun itu pula!

Celaka, pikirnya, kalau Yeti ini termasuk binatang pemakan rumput dan daun, apa dikiranya dia pun harus hidup sebagai kerbau atau kuda? Akan tetapi, agar tidak membikin marah binatang itu, dia pun mengambil sehelai dan dimasukkan ke mulutnya, lalu dikunyahnya. Eh? Rasanya enak! Hong Bu menjadi girang sekali. Daun itu rasanya enak, seperti daun sawi! Maka dia pun lalu makan daun-daun itu. Lumayan untuk mengisi perut kosong. Dan malam itu dia tidur nyenyak, dengan perut kenyang walau pun hanya diisi daun- daun itu.

Pada keesokan harinya, Yeti itu memberi isyarat pada Hong Bu untuk ikut bersamanya keluar dari ruangan itu. Hong Bu menurut saja. Yeti itu keluar melalui jendela dan ketika Hong Bu menjenguk keluar, hampir dia berteriak saking ngerinya. Ternyata di luar ‘jendela’ itu merupakan tebing yang luar biasa curamnya, tak berdasar lagi karena tertutup oleh kabut kebal. Demikian pula semua jendela di ruangan itu dikelilingi tebing yang curam. Akan tetapi Yeti mengajaknya keluar dari situ! Mana mungkin?

Yeti agaknya mengerti dan dengan tangan kirinya dia mengempit Hong Bu sedangkan pedang yang kemarin menancap di pahanya itu diangsurkan kepada Hong Bu. Hong Bu mengerti bahwa dia disuruh memegang pedang itu, maka dia pun memegang pedang itu dengan hati-hati dan mulailah Yeti itu memanjat tebing! Bukan main! Berkuranglah kecurigaan Hong Bu. Kalau Yeti ini manusia yang menyamar, agaknya tidak mungkin ada manusia berani atau dapat memanjat tebing seperti ini!

Hong Bu beberapa kali memejamkan matanya kalau Yeti itu melompat-lompat dan akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang luar biasa. Di sekeliling itu terdapat es yang berkilauan, bermacam-macam betuknya. Ada es yang kemerahan, ada yang berwarna biru, seperti batu-batu akik yang besar-besar. Tetapi kalau Hong Bu membantingnya, maka di dalamnya tidak ada apa-apa dan warna itu pun menghilang. Kiranya itu hanyalah warna sinar matahari yang tertangkap bagian-bagian tertentu saja oleh bentuk-bentuk yang aneh itu.

Dan di situ tumbuh berbagai tanam-tanaman. Sungguh luar biasa ada tanaman dapat hidup di tempat sedingin ini! Yeti lalu berloncatan pergi membawa pedang itu. Hong Bu yang ditinggal sendiri diam saja, menanti dengan tenang karena dia maklum bahwa tentu Yeti itu hendak melakukan sesuatu dan dia disuruh menanti di situ. Benar saja tak lama kemudian Yeti kembali dan tangan kirinya menggenggam dua ekor ular! Ular salju yang berwarna kemerahan. Merah darah! Selain itu, Yeti masih membawa pula sepotong cula, semacam cula badak yang cukup besar.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, Yeti itu mengulurkan tangan memberikan ular itu kepada Hong Bu. Tentu saja Hong Bu melangkah mundur dan menarik tangannya, tidak mau menerima. Untuk apa dia diberi ular? Kalau seperti ketika memberi daun semalam dia disuruh makan ular, maka Yeti atau apa pun adanya makhluk itu sudah benar-benar menjadi gila! Biar pun dua ekor ular itu telah mati, agaknya dipencet oleh jari-jari tangan yang kuat itu, akan tetapi Hong Bu masih merasa ngeri. Bukan dia tidak pernah makan ular. Sering kali malah, akan tetapi daging ular kembang yang besar, diambil dagingnya dipanggang atau dimasak. Bukan ular kecil merah yang agaknya mengandung bisa amat jahatnya ini.

Yeti lalu memisahkan dua ular yang saling belit itu, kemudian membawa seekor ke dekat mukanya, membuka mulut dan….

“Kress!” kepala ular itu digigitnya, putus sampai ke leher dan dikunyahnya, matanya berkedip-kedip, kelihatan enak sekali.

“Huh-huhh!” katanya lagi sambil menyerahkan yang seekor kepada Hong Bu.

Celaka, pikir Hong Bu. Benar-benar sudah gila. Akan tetapi melihat sinar mata yang keras dan seperti memaksa itu, dia takut untuk menolak. Dia harus dapat mengambil hati Yeti dengan halus, dan kalau perlu biarlah dia ikut-ikutan menjadi gila sedikit. Dia menerima ular itu, dan seperti yang dilakukan oleh Yeti tadi, dia membawa, kepala ular itu ke mulutnya, membuka mulut dan menutup matanya, lalu….

“Krekk!” kepala ular itu digigitnya kuat-kuat sampai putus sebatas leher, kemudian sambil memejamkan mata rapat-rapat dia lalu mengunyah kepada ular itu yang hanya sebesar ibu jari kakinya. Terasa agak masam, akan tetapi ada manisnya dan dia terus memakannya sampai habis, menelannya sampai kepalanya bergerak naik turun karena dipaksanya seperti orang minum obat pahit.

Yeti itu kelihatan gembira sekali ketika Hong Bu membuka matanya. Ditangkapnya pinggang Hong Bu dan dilemparkannya tubuh anak itu ke atas, ketika melayang turun, diterimanya tubuh itu lalu dilontarkannya ke atas, makin lama makin tinggi! Hong Bu yang diperlakukan seperti bola itu tadinya gembira, akan tetapi karena makin lama dia dilontarkan semakin tinggi, dia merasa ngeri juga dan dia berteriak-teriak. “Heii! Yeti, turunkan aku….!”

Yeti itu menyambut tubuhnya dan menurunkannya ke atas tanah, sepasang matanya sekarang berseri dan bersinar-sinar, lenyap keliarannya. Kemudian Yeti itu melanjutkan makan ular merah, dan memberi isyarat kepada Hong Bu untuk makan ularnya pula. Biar pun muak, Hong Bu memejamkan matanya dan terus makan ular itu mentah-mentah begitu saja sampai akhirnya habis juga seluruh ular itu dari kepala sampai ekornya ke dalam perutnya!

Dia mau muntah, akan tetapi ditahannya dan tiba-tiba dia merasa kepalanya pening. Dia terhuyung-huyung dan seluruh tubuhnya terasa panas, perutnya mulas dan bergerak-gerak seolah-olah ular yang dimakannya tadi hidup lagi dan meronta-ronta di dalam perutnya.

“Celaka, Yeti! Ular itu beracun….!” Hong Bu sudah terlalu banyak pengalaman dalam pekerjaannya berburu sehingga dia dapat menduga apa yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah mencari-cari di dalam saku bajunya untuk cepat menelan obat penawar racun, akan tetapi Yeti menggereng dan merampas bungkusan obat itu, lalu membuangnya jauh-jauh obat!

“Ahhh!” Hong Bu berseru.

Obat-obatnya telah dibuang ke dalam jurang! Padahal, dia masih membutuhkan untuk memberi obat pencuci darah untuk Yeti, karena makhluk itu belum minum obat pencuci darah, tidak sempat ketika kemarin di serang orang setelah dia bela, kemudian sadar dan terus saja pergi tanpa minum obat pencuci darah! Dan kini semua obatnya telah dibuang, bukan hanya obat pencuci darah untuk Yeti namun juga obat penawar racun untuk menyelamatkan nyawanya.

“Celaka, agaknya engkau hendak membiarkan aku mati!” serunya penuh sesal.

Dengan suara ah-ah-uh-uh, Yeti lalu menarik tangan Hong Bu, disuruhnya menirukan dia. Dan Yeti itu lalu duduk bersila dengan kedudukan kaku berbentuk teratai, yaitu duduk bersila dengan kedua kaki di atas paha kanan kiri! Aneh seekor binatang dapat duduk bersila seperti itu. Akan tetapi Hong Bu lalu mencontohnya. Tentu saja dia pun tidak asing dengan cara bersila seperti itu.

Yeti itu lalu menunjuk ke arah pusarnya. Dan memang di situlah Hong Bu merasakan hawa panas yang luar biasa. Lalu Yeti menarik napas panjang, menahan napas itu, dan menyuruh Hong Bu menirunya. Demikianlah, Yeti lalu memberi contoh cara bernapas kepada Hong Bu, cara menyalurkan hawa panas itu ke seluruh tubuhnya dan dengan jari tangan kirinya yang besar Yeti menotok beberapa jalan darah di tubuh Hong Bu dan terbukalah jalan darah itu sehingga hawa panas dari pusar itu dapat menembus naik. Lalu dengan gerakan tangan dia memberi contoh pengerahan napas untuk membuat hawa itu berputar-putar.

Hong Bu merasa terheran-heran, akan tetapi secara membuta dia menurut petunjuk Yeti dan sungguh luar biasa sekali. Perutnya tidak sakit lagi, peningnya lenyap dan kini bahkan tubuhnya terasa hangat. Yeti itu lalu membuka jubah tebalnya dan dia tetap merasa hangat, padahal hawanya di situ amat dinginnya! Setelah duduk berlatih napas selama satu jam lebih, Hong Bu merasa betapa tubuhnya enak sekali.

Yeti kini melompat bangun dan Hong Bu tersenyum kepadanya. Diam-diam dia makin curiga dan terheran- heran. Yeti ini sama sekali tidak pantas kalau menjadi binatang buas, lebih patut menjadi seorang manusia sakti yang sedang bingung dan berubah ingatannya! Makin tebal dugaannya bahwa Yeti ini tentulah Ouwyang Kwan yang lagi menyamar.

Sekarang Yeti mengambil cula badak salju itu, lalu menggunakan kuku jarinya untuk mengeruknya, dan memberikan kepada Hong Bu isi dari cula itu yang agak empuk, seperti tulang muda, dan menyuruh dia makan cula itu! Hong Bu tidak ragu-ragu lagi kini, disuruh apa pun dia akan menurut dan biar pun agak keras, seperti makan tulang muda, dia pun makan cula itu sampai habis dan ternyata baunya amis-amis harum. Dia tidak tahu bahwa dia sedang diberi makan racun ular, daun salju dan cula badak salju yang dapat menguatkan badannya. Makanan seperti ini dapat membuat tubuh tidak hanya kuat, akan tetapi juga kebal seperti tubuh Yeti itu!

Sampai tiga hari lamanya, setiap hari Yeti mengajak Hong Bu ke tempat ini dan Hong Bu kini ikut pula menangkap ular merah untuk dimakannya mentah-mentah saja, dan juga mencari daun-daun salju dan cula badak salju. Pada hari ke empat, Yeti mengajak Hong Bu keluar dari terowongan itu dan menutupkan lagi batu bundar itu menutupi lubang rahasia itu, kemudian dia mengajak Hong Bu untuk berjalan menuju ke sebuah puncak bukit yang tak jauh dari situ. Tiba-tiba saja bermunculan beberapa orang yang agaknya memang sejak lama telah menanti dan bersembunyi di situ dan agaknya memang mengamat-amati jejak Yeti!

Melihat betapa di antara mereka itu terdapat kakek jangkung dan kakek pendek, yaitu Su-ok dan Ngo-ok, Hong Bu terkejut sekali. Tetapi Yeti lalu menyambar pinggangnya, memanggulnya dan kemudian membawanya lari dari tempat itu. Dengan cepat sekali ia berlompatan, dengan kaki masih terpincang- pincang. Dan para tokoh kang-ouw yang memang mengamati gerak-gerik Yeti dan terutama sekali pedang di tangan Yeti itu, juga menggunakan ginkang mereka, bergerak dengan ringan dan cepat, mengikuti jejaknya yang nampak jelas di atas salju.

Terjadilah kejar-kejaran dan sampai dua hari dua malam Yeti terus berjalan tanpa henti, hanya makan bekal daun yang dibawa Hong Bu ketika mereka keluar dari terowongan. Akan tetapi, setiap kali Yeti berhenti mengaso, nampak sudah orang-orang kang-ouw yang ternyata berilmu tinggi itu berdatangan dan membayangi dari jauh!

Pada hari ke tiga, ketika dia tiba di puncak yang tinggi dari Pegunungan Kongmaa La, di bagian yang penuh rahasia bahkan dia sendiri jarang datang ke tempat berbahaya itu, Yeti yang melihat belasan orang kang-ouw itu tetap saja masih membayanginya, menjadi marah bukan main. Dia menggereng dan meloncat ke balik sebuah bukit salju yang bertumpuk di tepi puncak yang datar itu, akan tetapi dia tidak lari melainkan bersembunyi mendekam di situ sambil tetap memeluk Hong Bu dan memegang pedang.

Benar saja, semua orang kang-ouw kini mengejar ke tempat itu. Hong Bu yang juga ikut bersembunyi mengintai itu melihat banyak orang yang aneh-eneh bentuk mau pun pakaiannya. Bahkan ada pula empat orang laki-laki gundul yang tinggi besar seperti raksasa memikul sebuah tandu yang tertutup sehingga tidak dapat dilihat apa atau siapa isinya. Sungguh lucu sekali kalau dipikir. Mengejar atau membayangi jejak Yeti kenapa mesti naik tandu yang dipikul empat orang? Seperti orang pesiar saja! Sungguh gila!

Akan tetapi begitulah kenyataannya dan Hong Bu memandang terus. Ada beberapa orang kakek yang aneh yang berdekatan dengan Su-ok dan Ngo-ok, dan ada pula seorang nenek yang amat mengerikan, karena nenek ini, atau wanita itu, karena sukar dikatakan tua atau muda, memakai topeng tengkorak manusia tulen! Ada pula seorang kakek tinggi besar yang persis gorila bentuknya, baik bentuk tubuhnya mau pun bentuk mukanya, seperti gorila memakai pakaian! Dan ada pula raksasa berkepala botak yang memakai mantel merah.

Dia tidak tahu bahwa mereka itu adalah Twa-ok Su Lo Ti Si Kakek Gorila, kemudian Ji-ok Kui-bin Nio-nio yang memakai topeng tengkorak, kemudian Sam-ok Ban-hwa Sengjin yang berkepala botak. Mereka itulah, bersama Su-ok dan Ngo-ok merupakan gerombolan lengkap dari Im-kan Ngo-ok, datuk-datuk kaum sesat! Akan tetapi di samping kelima orang ini dan empat orang penggotong joli yang melihat gerakannya juga merupakan orang-orang pandai, masih terdapat lagi beberapa orang sehingga jumlah mereka hampir dua puluh orang! Semua orang itu nampak berilmu tinggi dan berkumpul di puncak datar itu, siap untuk mengejar Yeti.

Akan tetapi, tiba-tiba Yeti mengeluarkan gerengan keras dan melompat keluar dari tempat persembunyiannya, memondong Hong Bu dengan tangan kiri dan memegang pedang berkilauan itu dengan tangan kanan, memutar-mutar pedang ke atas kepala dan menggereng-gereng memperlihatkan kemarahannya karena dia terus dibayangi oleh orang-orang kang-ouw itu.

Akan tetapi, orang-orang kang-ouw itu bersikap tenang dan siap untuk membela diri. Mereka itu semua menanti kesempatan baik. Tentu saja orang-orang seperti Im-kan Ngo-ok yang datang dengan lengkap itu tidak takut terhadap Yeti dan merasa bahwa kalau mereka berlima maju, mereka akan mampu merampas pedang keramat yang amat diinginkan itu. Namun mereka adalah orang-orang cerdik, mereka dapat berpikir secara jauh. Kalau mereka merampas pedang itu, berarti mereka akan menghadapi pengeroyokan orang-orang kang-ouw lainnya dan hal itu merupakan bahaya yang jauh lebih besar lagi. Mereka melihat betapa setiap orang kang-ouw yang melakukan pengejaran ini terdiri dari orang-orang yang amat tinggi kepandaiannya. Oleh karena itulah maka belasan orang kang-ouw itu hanya membayangi Yeti saja, belum mau turun tangan merampas pedang.

Kini tahu-tahu Yeti itu sendiri yang agaknya hendak menyerang mereka maka mereka siap siaga untuk menghadapi amukan Yeti. Betapa pun juga, setelah mendengar betapa banyaknya orang-orang kang-ouw yang tangguh-tangguh binasa di tangan Yeti ini, maka ketika Yeti melangkah maju mengayun-ayun pedang yang berkilauan itu, semua orang menjadi agak gentar juga dan melangkah mundur. Akan tetapi, empat orang gundul tinggi besar seperti raksasa itu agaknya tidak mengenal takut karena mereka tidak melangkah mundur, hanya berdiri diam saja memanggul tandu sambil memandang kepada Yeti dengan muka seperti topeng, sedikit pun tidak membayangkan perasaan apa pun.

Yeti sudah marah sekali karena orang-orang yang mengepungnya itu tidak mau pergi. Dia lalu melemparkan tubuh Hong Bu begitu saja ke samping dan pemuda ini terguling-guling, kemudian bangkit duduk dan merangkak ke belakang sebuah batu besar untuk berlindung. Yeti menggereng-gereng, lalu dengan gerakan tiba-tiba dan cepat sekali, tangan kirinya menyambar ke depan, ke arah rombongan orang terdekat, yaitu ke arah empat orang pemikul tandu itu sendiri.

Meski dia hanya menampar dengan tangan kiri, namun tamparan itu hebat bukan main akibatnya. Empat orang yang tinggi besar dan nampaknya kuat kokoh seperti menara besi itu, kini seperti pohon-pohon cemara dilanda angin kencang. Mereka terpelanting ke kanan kiri dan tandu itu pun terlepas dari pundak mereka dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan berdiri. Akan tetapi tangan kiri Yeti meluncur terus dan dengan tepat dan keras mengenai lagi tandu itu.

“Brakkk….!”

Tandu itu hancur berantakan kena pukulan itu dan bersama dengan hancurnya tandu, nampak pecahan- pecahan tandu berhamburan dan di antara pecahan-pecahan itu nampak berkelebat bayangan yang sedemikian cepatnya sehingga tidak dapat diikuti oleh pandang mata para tokoh kang-ouw yang memandang peristiwa itu, saking cepatnya gerakan bayangan yang meloncat keluar dari tandu itu sebelum tandu itu hancur lebur.

“Yeti keparat!” terdengar bentakan nyaring merdu dan ternyata di situ telah berdiri seorang yang wajahnya amat…. buruknya!

Tubuh wanita itu tinggi ramping dan montok, dengan lekuk lengkung tubuh seorang wanita yang sudah matang dan yang memiliki daya tarik yang menggairahkan. Namun apabila orang melihat wajahnya tanggung semua gairah akan terbang lenyap dari hati orang itu, karena wajah wanita ini benar-benar luar biasa buruknya, bukan hanya buruk bahkan menjijikkan dan menakutkan. Kulit muka ini agak kehitaman, belang-belang dan berlubang-lubang semacam bopeng yang berat, dan selain itu juga pletat-pletot seolah- olah terbuat dari malam yang terkena panas! Sungguh ganas sekali alam memberi wajah cacat sedemikian buruknya pada seorang wanita yang melihat bentuk tubuhnya adalah seorang wanita muda yang sedang- sedangnya berkembang!

Semua orang memandang dengan terheran-heran. Bahkan Im-kan Ngo-ok sendiri tidak mengenal nona buruk muka itu, padahal melihat gerakannya tadi jelas bahwa tingkat ginkang yang dimiliki wanita itu tidak kalah oleh tingkat ginkang dari Ngo-ok sendiri! Gerakannya seperti dapat menghilang saja, sedemikian cepatnya gerakan tadi sampai tidak nampak oleh mata mereka.

Biar pun sinar matanya membayangkan kemarahan karena tandunya dihancurkan Yeti, akan tetapi wanita itu dengan tenang berdiri tegak, kemudian dia menyingsingkan kedua lengan bajunya! Mula-mula nampak kulit lengannya yang halus mulus, montok dan putih bersih, akan tetapi segera semua orang menahan napas, bahkan ada yang menahan seruan karena merasa ngeri. Ternyata bahwa kedua lengan itu penuh dengan ulat-ulat berbulu! Ulat-ulat yang gemuk dan berbulu lebat, ada yang berwarna putih, merah, biru, hijau, hitam, kuning dan sebagainya. Baru melihat saja sudah menimbulkan perasaan gatal-gatal di tubuh, apalagi kalau sampai terkena bulu-bulu lebat yang kesemuanya pasti mengandung racun yang amat hebat itu.

“Binatang liar, berani engkau merusak tanduku? Hayo tukar dengan pedangmu itu!” bentak wanita itu dengan suara yang melengking nyaring.

“Si Ulat Seribu….,” terdengar Ji-ok Kui-bin Nio-nio berseru kaget.

Wanita bermuka buruk itu menoleh kepada wanita bermuka tengkorak. “Heh-heh, Ji-ok Kui-bin Nio-nio kiranya? Huh, kalau tidak bersama-sama dengan Ngo-ok selengkapnya, mana berani keluar?”

Diejek demikian itu, Ji-ok mendengus marah. “Bocah sombong! Siapa yang takut ulat-ulatmu?”

Akan tetapi Si Ulat Seribu tidak mempedulikan Ji-ok lagi karena tiba-tiba, selagi dia bicara kepada Ji-ok dan mukanya agak menengok ke arah wanita bertopeng tengkorak itu, mendadak saja tangannya bergerak menyambar dan dia sudah menyerang Yeti! Sungguh suatu gerakan yang selain cepat, juga tidak terduga- duga sama sekali dan membayangkan kelicikan dan kecurangan hebat dari orang-orang golongan sesat!

Akan tetapi Yeti itu pun memiliki ketangkasan yang luar biasa sekali. Biar pun dia diserang secara tiba-tiba, tangan kiri wanita itu menyambar ke arah pusarnya dan tangan kanan wanita itu langsung menyambar ke atas untuk merampas pedang, akan tetapi dia malah membiarkan saja pukulan ke arah pusarnya itu, sedangkan pedangnya cepat digerakkan ke bawah menyambut lengan kanan Si Ulat Seribu.

“Dukk….! Aihhh….!” Si Ulat Seribu itu untungnya dapat bergerak dengan kecepatan kilat sehingga lengannya tertolong sungguh pun ujung lengan bajunya terbabat putus hanya oleh sinar pedang itu sehingga dia memekik kaget.

Kekagetan akibat putusnya ujung lengan ini ditambah dengan terpentalnya tangannya yang menghantam pusar, seolah-olah bertemu dengan perut dari baja atau bola karet yang amat kuat! Akan tetapi, ulat-ulat dari lengannya itu beterbangan dengan warna-warnanya yang cerah sehingga seperti kembang api berpijar dari percikan ke mana-mana, terutama sekali ke arah tubuh Yeti.

Akan tetapi, tubuh Yeti penuh bulu maka ulat-ulat itu tidak mempengaruhi dirinya. Tidak ada bulu ulat yang dapat membuat gatal kulit yang dilindungi bulu! Yeti itu hanya menggoyangkan tubuhnya dan sungguh aneh, ulat-ulat itu semua beterbangan ke satu jurusan, yaitu ke arah empat orang raksasa gundul para pemikul tandu tadi sehingga terjadilah pemandangan yang mengerikan.

Empat orang itu segera bergulingan, menggunakan kuku jari tangan menggaruki seluruh tubuhnya sampai pakaian mereka robek-robek semua dan dalam waktu singkat mereka itu sudah bertelanjang bulat menggaruki semua bagian tubuh mereka yang bintul-bintul dan bengkak-bengkak! Hebatnya, bagian yang digaruk dan mengeluarkan darah segera dilekati oleh ulat-ulat yang ternyata suka minum darah seperti lintah-lintah! Dan dalam waktu singkat saja empat orang raksasa gundul tukang pikul tandu Si Ulat Seribu itu telah tewas semua, badan mereka yang telanjang bulat itu penuh dengan ulat-ulat yang kini menjadi semakin menggembung gemuk kekenyangan darah!

Semua orang mengkirik karena seram, akan tetapi seorang kakek berjenggot panjang, seorang di antara para tokoh kang-ouw yang datang ke tempat itu, menjadi tidak senang. Dia lalu menggosok kedua telapak tangannya, lalu memukulkan kedua telapak tangan itu ke arah mayat-mayat tadi. Hawa panas menyambar- nyambar dan keempat mayat itu menjadi kehitaman seperti hangus, dan semua bulu berwarna-warni dari ulat-ulat itu rontok terbakar semua, akan tetapi hebatnya, ulat-ulat itu tidak menjadi mati! Kini semua ulat itu menjadi ulat-ulat gundul yang makin menggelikan lagi, juga menjijikkan karena nampak gerakan-gerakan perut mereka yang naik turun.

Si Ulat Seribu menjadi semakin marah, kini kemarahannya ditumpahkan kepada kakek berjenggot panjang itu. “Keparat, berani engkau merusak ulat-ulatku!”

Dan tiba-tiba saja tubuhnya menggeliat roboh ke atas tanah, kemudian seperti gerakan seekor ulat, tubuhnya menggeliat-geliat dan tiba-tiba melenting ke atas, ke arah kakek berjenggot panjang itu dan kedua tangannya sudah mengirim serangan. Bukan main cepatnya gerakan ini, sukar diikuti pandang mata.

Kakek itu sudah kaget setengah mati, tidak mengira bahwa dia akan diserang secepat itu. Akan tetapi, tiba- tiba dari arah belakang muncul seorang laki-laki yang berpakaian seperti pengemis, mukanya ditumbuhi kumis dan jenggot lebat tak terpelihara, sikapnya acuh tak acuh dan mulutnya yang tersembunyi di balik kumis itu terkekeh aneh. “Jangan ganggu orang tua!” dia mendengus dan tiba-tiba jari telunjuk kanannya menuding dan menyambar ke depan, memapaki serangan Si Ulat Seribu itu.

“Dukk! Aihhhh….!” Untuk kedua kalinya Si Ulat Seribu menjerit dan tubuhnya terdorong ke belakang, tubuhnya tergetar hebat. Dia berdiri dan memandang kepada jembel yang ternyata masih muda itu dengan sinar mata penuh kemarahan, akan tetapi juga dengan muka agak pucat karena dia terkejut bukan main.

“Kau…. kau…. Si Jari Maut….?”

Im-kan Ngo-ok juga sangat terkejut mendengar disebutnya nama ini dan mereka semua memandang ke arah jembel muda itu. Mereka sudah mengenal Si Jari Maut Wan Tek Hoat, calon mantu Raja Bhutan! Benarkah jembel muda itu adalah mantu Raja Bhutan? Sungguh mengherankan hati Im-kan Ngo-ok, dan tiba-tiba Sam-ok Ban-hwa Sengjin tertawa bergelak sampai perutnya yang tersembunyi di balik mantel itu bergerak-gerak.

“Ha-ha-ha-ha! Kiranya Si Jari Maut tidak jadi menjadi mantu Raja Bhutan, melainkan menjadi jembel terlantar!” katanya sambil memandang kepada jembel muda yang bukan lain adalah Wan Tek Hoat atau juga dahulu disebut Ang Tek Hoat Si Jari Maut itu. Akan tetapi, orang muda yang menjadi seperti jembel itu hanya ha-ha-he-he saja, terkekeh dan kemudian malah mengguguk dan terisak menangis!

“Oohhh, dia telah menjadi gila….!” kata Twa-ok Su Lo Ti dan semua orang memandang karena merasa aneh. Kakek ini seperti gorila, pantasnya sikap dan kata-katanya tentu kasar, akan tetapi sebaliknya malah, suaranya dan ucapannya itu seperti orang yang mempunyai belas kasihan besar sekali!

Melihat munculnya demikian banyaknya orang lihai, Si Ulat Seribu tidak mau mencari penyakit dan dia sudah menerjang lagi, menerjang Yeti yang semenjak tadi berdiri kebingungan. Mereka berdua segera bertarung lagi, akan tetapi tetap saja Si Ulat Seribu terdesak hebat dan terpaksa harus menggunakan ginkang-nya yang memang istimewa kalau dia tidak mau tubuhnya disayat-sayat oleh pedang di tangan Yeti yang digerak-gerakkan secara aneh dan seperti ngawur namun amat berbahaya itu!

“Twa-ko, biar kucoba sampai di mana Si Jari Maut yang telah menjadi gila ini!” tiba-tiba terdengar Ngo-ok berseru.

“Baiklah, Ngo-te!” kata Twa-ok dengan halus.

Ngo-ok yang jangkung itu lalu berseru keras dan tubuhya sudah menubruk Si Jari Maut Wan Tek Hoat. Akan tetapi ternyata pengemis muda ini juga memiliki gerakan yang amat gesitnya. Dengan mudah dia meloncat ke kiri sambil terkekeh. Akan tetapi tiba-tiba kakek berjenggot panjang yang tadi ditolongnya dari serangan Si Ulat Seribu itu telah meloncat ke depan.

“Siancai, mengapa Im-kan Ngo-ok yang tersohor sebagai jagoan-jagoan cabang atas itu hendak mengganggu seorang muda yang ternyata sedang terganggu jiwanya? Tidak mungkin aku, Sai-cu Kai-ong, mendiamkan saja kekejaman ini!”

Im-kan Ngo-ok terkejut bukan main. Kiranya kakek berjenggot panjang yang berpakaian sederhana, bukan pakaian pengemis itu, adalah Sai-cu Kai-ong yang amat terkenal sebagai keturunan dari ketua Khong-sim Kai-pang yang amat terkenal dan akhirnya telah mengundurkan diri dan kabarnya telah bertapa di Pegunungan Tai-hang-san itu.

Akan tetapi, Ngo-ok adalah orang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Dia pun sudah mendengar nama orang yang terkenal di golongan bersih ini, akan tetapi dia tidak menjadi gentar, apalagi karena di situ ada Im-kan Ngo-ok lengkap, takut apa? Dia mendengus marah. “Kaukah Raja Pengemis? Biar kubikin kau menjadi pengemis mati?” Dan dia sudah berjungkir-balik dan menyerang Sai-cu Kai-ong dengan hebatnya!

Para pembaca cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI tentu tidak lupa kepada tokoh ini. Sai-cu Kai-ong adalah seorang tokoh besar, keturunan dan ahli waris dari ketua-ketua Khong-sim Kai-pang yang amat terkenal, memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia bernama Yu Kong Tek dan tinggal di puncak Bukit Nelayan, di tepi sungai sebelah selatan kota Paoteng, di Pegunungan Tai-hang-san. Seperti telah diceritakan dalam cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI, kakek ini pernah mendidik Kam Hong saat pendekar itu masih kecil, bahkan dasar-dasar ilmu silat yang dimiliki Kam Hong adalah hasil didikan kakek ini.

Kini, menghadapi cara berkelahi dari Ngo-ok yang aneh, dengan jungkir balik itu, Sai-cu Kai-ong tidak menjadi gentar dan dia segera mainkan Ilmu silat Khong-sim Sin-ciang (Tangan Sakti Hati Kosong). Dengan tenang dia menghadapi setiap serangan kaki atau tangan, dan dia membalik keadaan, yaitu menghadapi kedua kaki lawan dengan kedua tangannya, sedangkan kedua tangan lawan dihadapi dengan kedua kakinya! Artinya, dia menangkis tendangan-tendangan kaki dengan tangan, dan sebaliknya menangkis pukulan-pukulan tangan dengan kaki! Terjadilah perkelahian yang amat aneh dan seru sehingga keadaan di situ menjadi semakin ribut.

Setelah kini ada yang berani turun tangan menyerang Yeti, maka mulailah beberapa orang kang-ouw mencoba-coba untuk merampas pedang di tangan Yeti itu. Mereka seolah-olah membantu Si Ulat Seribu, padahal tentu saja maksud mereka tidak demikian, melainkan mereka menyerang Yeti untuk dapat merampas pedang itu. Akan tetapi sungguh akibatnya hebat sekali. Beberapa orang di antara mereka terkena sambar sinar pedang keramat itu dan roboh tewas, ada pula yang dirubung ulat-ulat dari lengan Si Ulat Seribu sehingga jatuh beberapa orang lagi menjadi korban. Akan tetapi ada pula yang masih terus mengurung Yeti sehingga Hong Bu yang melihat keadaan itu menjadi khawatir sekali akan keselamatan Yeti.

Tiba-tiba Wan Tek Hoat tertawa-tawa dan dia pun segera masuk ke dalam medan pertempuran! Memang dia sedang bingung dikarenakan kedukaannya mencari-cari kekasihnya tanpa hasil. Maka dia pun berkelahi seperti orang bingung, kadang-kadang membantu Sai-cu Kai-ong, kadang-kadang dia membantu Yeti, dan ada kalanya juga dia menyerang Yeti! Akan tetapi anehnya belum pernah dia menyerang Sai-cu Kai-ong! Maka terjadilah perkelahian yang simpang-siur akan tetapi karena dilakukan oleh orang-orang yang berilmu tinggi, maka menjadi pertempuran yang amat seru dan timbul angin pukulan yang menyambar-nyambar amat dahsyatnya.

Selagi pertempuran yang kacau itu berlangsung dengan serunya, tiba-tiba terdengar suara nyanyian merdu yang diiringi oleh bunyi musik yang amat indah. Sungguh merupakan hal yang teramat aneh di tempat seperti itu, di tengah-tengah orang yang sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba terdengar suara nyanyian merdu diiringi suara musik yang demikian indahnya. Tentu saja suara aneh ini membuat semua orang terheran-heran dan otomatis yang sedang berkelahi itu dengan sendirinya berhenti dan semua orang berloncatan mundur, membuat Yeti dan Wan Tek Hoat menjadi bingung. Yeti berdiri bengong seperti tidak tahu harus berbuat apa, dan Tek Hoat terkekeh aneh, akan tetapi keduanya lalu diam dan juga seperti terpesona oleh suara nyanyian dan musik itu.

Suara itu adalah suara wanita, amat merdu, akan tetapi juga mengandung tenaga yang mukjijat dan seolah-olah dapat meredakan panasnya hati mereka semua. Semua mata memandang ke arah datangnya suara dan dari bawah puncak datar itu muncullah seorang pemuda yang diiringkan oleh belasan orang dayang yang berpakaian indah dan berwajah cantik-cantik.

Pemuda itu sendiri adalah seorang pemuda tanggung, kurang lebih lima belas tahun usianya, berwajah tampan sekali dan kulit mukanya halus, sepasang matanya yang lebar itu mengandung sinar jernih dan tajam. Di belakangnya ada seorang dayang yang membawa sebuah bendera yang berwarna merah dan ada sulaman benang emas yang berbunyi KIM SIAUW SAN KOK (Lembah Gunung Suling Emas).

Setelah tiba di atas pucak datar yang menjadi tempat pertempuran itu, Si Pemuda Tanggung memandang kepada mereka semua, lalu memandang kepada mayat-mayat di atas tanah, kemudian dia berkata kepada seorang dayang yang berpakaian kuning, “Kui Hwa, lenyapkan mayat-mayat itu untuk membersihkan tempat kita.”

Wanita berpakaian atau berbaju kuning itu mengangguk, kemudian dia mengeluarkan sebuah botol yang bentuknya seperti tubuh ular, membuka tutup botol dan begitu dia memercikkan sedikit cairan berwarna putih seperti perak ke atas tubuh mayat-mayat itu, maka nampaklah asap mengepul tebal dan dalam waktu beberapa menit saja mayat-mayat itu lenyap menjadi cairan kuning dan akhirnya cairan itu pun lenyap masuk ke dalam tanah di antara salju! Semua orang menjadi bengong, apalagi mereka yang tahu akan obat-obatan seperti Sai-cu Kai-ong, karena dia tahu bahwa obat yang dapat mencairkan mayat secepat itu hanya terdapat dalam dongeng saja dan dia sendiri belum pernah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri! Kini tinggal bau yang tidak enak saja tercium di tempat itu, sedangkan mayat-mayat itu lenyap sama sekali, berikut ulat-ulat gundulnya!

“Lan-hwa, lenyapkan bau busuk agar berubah wangi,” kembali pemuda itu berkata, suaranya halus dan tenang seolah-olah di situ tidak ada orang lain kecuali dia dan para dayangnya!

Seorang dayang berbaju hijau yang juga muda dan cantik mengangguk, lalu mengambil sebuah botol merah, menghampiri bekas tempat mayat dicairkan tadi, dan ketika dia membuka tutup botol itu dan memercikkan sedikit isinya ke atas tempat-tempat itu, terciumlah bau yang sedap harum dan lenyap sama sekali bau yang tidak enak tadi, membuat semua orang merasa seakan-akan mereka berada di taman yang penuh dengan bunga!

Kini pemuda itu memandang kepada semua orang yang berada di situ, dan ketika pandang matanya bertemu dengan Yeti, dia membelalakkan sepasang matanya yang lebar dan indah itu, “Aih, kiranya inikah yang selama ini didesas-desuskan sebagai Yeti? Dan dia pula yang telah menemukan pedang kami? Betapa anehnya!”

Pada saat itu, Hong Bu yang sejak tadi khawatir akan keselamatan Yeti yang dikeroyok, kini merasa lega dengan munculnya pemuda yang tampan halus itu. Akan tetapi dia terkejut menyaksikan kelihaian pemuda itu menyingkirkan mayat-mayat dan bau-bau mayat dicairkan, dan dia juga mendengar ucapan terakhir tadi. Maka meloncatlah dia keluar dari balik batu besar, mendekati Yeti dan memegang lengan Yeti seperti hendak melindungi.

“Memang Yeti yang menemukan pedang ini, akan tetapi sama sekali tidak pernah merampas pedang seperti yang akan dilakukan oleh semua orang yang tak tahu malu ini!” Dia menentang pandang mata semua yang hadir dengan penuh keberanian. “Melainkan ada orang yang menusukkan pedang ini di pahanya. Lihat, pahanya masih juga belum sembuh. Dan sekarang, kembali dia dikejar-kejar hendak dibunuh dan dirampas pedangnya! Sungguh manusia merupakan makhluk paling kejam dan licik di dunia ini!”

Pemuda tampan itu seperti tercengang mendengar ini dan sampai lama matanya menatap wajah Hong Bu seperti orang tidak percaya akan apa yang didengarnya. “Siapa kau?” akhirnya pemuda itu bertanya, suaranya mengandung keheranan dan mungkin pula kekaguman.

“Aku Sim Hong Bu, dan aku adalah satu-satunya manusia yang menjadi sahabat Yeti!” jawab Hong Bu dengan bangga dan berani. Yeti agaknya senang mendengar ini, tangan kirinya mengelus-elus rambut kepada Hong Bu dan tangan kanan masih memegang pedang dengan kaku.

“Cukup semua ini!” Tiba-tiba Sam-ok Ban-hwa Sengjin berkata dengan suaranya yang nyaring. “Siapakah engkau, orang muda? Dan mengapa engkau mengatakan bahwa pedang itu adalah pedang kalian?“

Pemuda itu menoleh dan menghadapi Ban-hwa Sengjin. “Aha, kiranya Sam-ok Ban-hwa Sengjin yang bicara! Bukankah engkau pernah menjadi Koksu dari Nepal? Dan semua saudaramu juga turut hadir. Hemm, juga Si Ulat Seribu, Si Golok Setan, dan bukankah Anda Sai-cu Kai-ong?” katanya mengangguk kepada kakek berjenggot itu. “Hem, dan inikah Si Jari Maut? Betapa bedanya dengan yang pernah kami dengar. Yang di sana itu, bukankah kalian bertiga adalah Liok-te Sam-mo (Tiga Iblis Bumi)? Kulihat hadir pula Pat-pi Kim-wan (Lutung Emas Tangan Delapan), dan dia itu Tok-gan Sin-liong (Naga Sakti Mata Satu), mengapa matamu yang sebelah kau tutupi dengan kain? Hemm, masih banyak tokoh-tokoh yang terkenal. Pantas saja tempat ini menjadi ramai!”

Semua orang terkejut bukan main dan mereka memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengenal pemuda ini, akan tetapi pemuda ini mengenal mereka satu demi satu, padahal mereka itu datang dari seluruh pelosok dunia, ada yang dari selatan, dari timur, dari utara dan dari barat! Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi ingin sekali tahu, kecuali tentu saja Si Jari Maut dan Yeti yang tetap tidak peduli sikapnya.

“Siapakah engkau?” tanya pula Ban-hwa Sengjin, kini suaranya menjadi halus, dan hati-hati.

“Anda sekalian yang telah datang ke sini hendaknya jangan membuat ribut di tempat kami ini. Ini termasuk wilayah Lembah Gunung Suling Emas, tempat keluarga kami sejak turun temurun ribuan tahun lamanya. Jika kalian hendak berkunjung ke tempat kami, lakukanlah hal itu dengan sopan seperti layaknya tamu- tamu terkenal. Ayah dan paman-pamanku tentu akan menyambut kalian dengan gembira. Silakan! Juga engkau, Sim Hong Bu. Sahabatmu, Yeti itu, boleh ikut pula, jangan khawatir, kami tidak biasa membeda- bedakan tamu, baik dia itu anjing, beruang, atau pun manusia!” Bibir itu tersenyum dan Sim Hong Bu juga tersenyum karena ucapan itu setidaknya menyatakan bahwa dalam pandangan pemuda tampan itu, derajat Yeti tidaklah kalah oleh manusia mana pun!

Sungguh aneh memang. Kini pemuda itu diikuti oleh para dayangnya yang belasan orang banyaknya itu membalikkan tubuh dan berjalan perlahan pergi dari situ tanpa menoleh sedikit pun juga kepada para tamu itu seolah-olah mereka semua yakin bahwa para tamu yang sudah dipersilakan itu tentu akan mengikuti mereka. Dan memang kenyataannya pun begitu! Para tokoh kang-ouw itu kini melangkah dan perlahan- lahan mengikuti rombongan aneh itu menuruni puncak datar itu.

Orang-orang yang tadinya saling berkelahi itu kini seperti serombongan tamu terhormat, berjalan bersama- sama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di dalam hati masing-masing memang ingin sekali tahu siapa ‘tuan rumah’ yang memiliki tempat seaneh ini. Mereka tidak berani lancang melanjutkan perkelahian yang belum menentu itu, apalagi jika sampai pihak tuan rumah turun tangan. Tentu membuat mereka yang sudah saling berlawan sendiri itu menjadi makin berabe. Maka, mereka semua ingin melihat bagai mana perkembangannya agar mereka dapat mengambil tindakan yang menguntungkan pihak masing-masing. Tentu saja kecuali Si Jari Maut yang hanya ikut-ikutan saja dengan rombongan itu, dan Yeti yang ditarik lengannya oleh Hong Bu.

Pemuda tampan itu bersama rombongannya berjalan terus berliku-liku, melalui lereng-lereng yang terjal, menyelinap di antara bukit-bukit es yang amat banyak terdapat di situ, ada puluhan buah banyaknya dan macamnya sama sehingga orang luar akan sukar sekali untuk mengenal jalan yang dilalui rombongan ini.

Akhirnya mereka berhenti di tepi tebing yang curam sekali. Tidak ada jalan turun atau naik dan semua tamu itu sudah melongo keheranan mengapa rombongan pemuda itu membawa mereka ke tempat seperti itu. Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangannya dan dia sudah memegang sebatang suling. Suling dari emas! Tentu saja melihat ini Sai-cu Kai-ong terbelalak dan hampir saja dia mengeluarkan seruan kaget. Bukankah yang memiliki suling emas itu hanya bekas muridnya dan calon cucu mantunya, Kam Hong keturunan langsung dari keluarga Suling Emas?

Dan kini pemuda tampan itu menyuling. Suara sulingnya merdu bukan main, bernada tinggi sampai melengking dan seperti hendak memecahkan anak telinga. Tiba-tiba pula dia berhenti meniup suling dan dari bawah tebing itu ‘terbanglah’ sehelai tambang yang merentang antara tepi tebing itu sampai ke puncak di depan sana! Kiranya tadinya tambang itu memang sudah ada, hanya tergantung ke bawah sehingga tidak nampak, dan kini, atas isyarat bunyi suling, agaknya para penjaga di sebelah sana, yaitu di puncak depan yang nampak tertutup sebagian oleh awan atau kabut, menarik ujung tambang di sana sehingga kini tambang yang diikatkan ujungnya yang sebelah sini pada batu besar dan ditanamkan di tebing sini, merentang kuat-kuat dan nampak jelas.

“Maaf, Cu-wi yang terhormat. Tiada jalan lain menuju ke lembah kami kecuali melalui jembatan ini. Siapa saja yang ingin mengunjungi tempat tinggal kami, kami persilakan mengikuti kami.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu dengan tenang lalu melangkahkan kaki ke atas tambang itu, diiringkan oleh belasan orang dayang itu dan mereka semua lalu berjalan di atas tambang itu, merupakan barisan yang aneh. Hebatnya, selagi menyeberang jurang tebing yang amat curam itu melalui tambang, mereka yang memegang alat musik itu masih memainkan lagu merdu, seolah-olah mereka bukan sedang berjalan di atas tambang maut, melainkan sedang berjalan-jalan di kebun bunga saja!

Para orang kang-ouw yang berada di situ adalah orang-orang pandai. Berjalan di atas tambang seperti itu saja tentu bukan merupakan hal aneh bagi mereka. Akan tetapi mereka maklum dan bergidik kalau memikirkan bahwa orang luar tidak mungkin dapat melalui tambang ini karena pasti terjaga siang malam dan sekali ada orang luar berani lancang mempergunakan tambang ini tanpa ijin, pihak sana tinggal melepaskan ujung tambang di sana dan orang luar yang lancang hendak memasuki daerah itu, betapa pun saktinya dia, tentu akan menghadapi kematian yang mengerikan di dasar jurang yang luar biasa curamnya sehingga tidak nampak dari atas itu. Mereka lalu melangkah ke atas tambang dan satu demi satu mereka pun berjalan di atas tambang.

Hong Bu juga tidak takut untuk berjalan di atas tambang, akan tetapi hatinya merasa ngeri juga ketika melihat ke bawah dan tidak nampak apa-apa, hanya nampak kabut saja, seolah-olah orang berjalan di atas tambang yang direntang di udara yang amat tinggi. Akan tetapi Yeti agaknya tidak sabar lagi, dan dia sudah menyambar pinggang Hong Bu lalu dipanggulnya dan dia berjalan di atas tambang itu dengan mudah dan enaknya. Tambang itu agak terayun-ayun karena tubuh Yeti yang lebih berat dari pada yang lain.

Akhirnya semua tamu tibalah sudah di tepi sana, yaitu di tebing dari sebuah lembah yang sungguh lain dari pada di seberang sini. Sungguh aneh sekali karena lembah ini biar pun juga tidak terhindar dari hawa dingin dan salju, namun salju tidak begitu tebal dan di sini tumbuh macam-macam tumbuhan yang aneh- aneh, bahkan ada burung-burung dan ada binatang-binatang berkeliaran di lembah itu. Puncaknya juga tertutup salju, akan tetapi diselang-seling warna hijau daun-daun. Dan lembah itu sungguh tak mungkin dapat didatangi orang luar kecuali melalui tambang tadi karena selain terkurung jurang-jurang yang curam, juga melalui daerah-daerah yang mudah sekali terjadi salju dan tanah longsor sehingga merupakan daerah maut!

Semua tamu, kecuali Si Jari Maut dan Yeti yang nampak tidak mengacuhkan apa pun, memandang ke sekeliling penuh takjub. Anehnya, Yeti kelihatan biasa saja, bahkan tenang-tenang sekarang, dan kadang-kadang ada nampak oleh Hong Bu betapa Yeti menarik napas panjang beberapa kali. Dan agaknya daerah ini bukan merupakan daerah asing bagi Yeti, seoah-olah dia berada di rumah atau daerah sendiri. Dan hal ini mungkin saja, pikir Hong Bu. Yeti memiliki kepandaian menjelajahi daerah salju itu jauh lebih hebat dari pada kepandaian manusia mana pun, tentu bukan tidak mungkin kalau Yeti pernah mendatangi tempat ini melalui jalan lain betapa pun tidak mungkin hal itu dilakukan agaknya oleh manusia.

“Cu-wi, silakan,” kata pemuda itu dan para tamu melihat betapa dari tempat penjagaan di tepi tebing sebelah sini, nampak beberapa orang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap memutar alat penggulung tambang dari baja.

Benar dugaan mereka, tempat itu selalu terjaga dan bahkan jembatan tambang itu selalu dijaga orang sehingga tidaklah mungkin orang luar datang melalui tambang itu tanpa seijin pemilik lembah yang dinamakan Lembah Gunung Suling Emas ini! Mereka lalu mengikuti rombongan dayang dan pemuda itu menuju ke tengah lembah di mana nampak bangunan-bangunan mengelilingi sebuah bangunan besar yang megah dan mewah.

Sungguh mengagumkan dan juga mengejutkan sekali bagaimana di tempat seperti itu, yang terasing dari keramaian dunia ada orang dapat membangun bangunan yang seperti istana itu! Dan mereka makin kagum ketika tiba di dekat bangunan-bangunan seperti perkampungan itu karena di situ memang indah, terdapat taman-taman bunga yang aneh-aneh, yang penuh dengan batu-batu ukir-ukiran, arca-arca yang dibuat secara indah sekali.

Ketika melewati sebuah taman, tiba-tiba Yeti mengulur tangannya memetik setangkai bunga merah dan langsung saja memakannya, bahkan memberikan setangkai kepada Hong Bu yang tanpa ragu-ragu juga memakannya. Dan memang seperti yang diduga, Yeti tidak menipunya, bunga merah itu berbau sedap dan rasanya enak, agak masam-masam seperti buah apel! Melihat ini, pemuda itu menengok dan berkata dengan wajah berseri, “Aihhh, kiranya Yeti mengenal Bunga Hati Merah kami!” serunya gembira dan juga kagum.

“Dia adalah penjelajah nomor satu di Himalaya, tentu saja mengenal segalanya,” jawab Hong Bu membanggakan sahabatnya.

Pemuda tampan itu hanya tersenyum, lalu dengan tangannya mempersilakan semua orang untuk melanjutkan perjalanan menuju ke ruangan depan rumah terbesar di perkampungan aneh itu.

Ketika mereka tiba di depan rumah besar dan indah seperti istana itu, nampak papan nama yang besar dan indah tulisannya dipasang orang di depan pintu gerbang. Istana Suling Emas, demikian bunyi tulisan dan kembali Sai-cu Kai-ong tertegun.

Para pembaca tentu juga sama herannya seperti Sai-cu Kai-ong, karena bukankah keluarga Pendekar Suling Emas adalah keluarga yang sudah habis dan kini tinggal diri Kam Hong seorang sebagai keturunan terakhir? Bagaimana di Himalaya, di tempat terasing ini terdapat perkampungan yang disebut Lembah Gunung Suling Emas, dan pemuda yang menyambut mereka itu pun tadi meniup suling emas dan kini istana ini disebut Istana Suling Emas? Apa hubungannya ini dengan nenek moyang dari cucu mantunya itu?

Akan tetapi sebelum menerangkan soal yang aneh ini, lebih dulu sebaiknya kita ketahui bagaimana Sai-cu Kai-ong, tokoh kang-ouw yang sudah lama menutup diri di Tai-hang-san itu, kini tiba-tiba muncul pula bersama orang-orang kang-ouw di Himalaya? Apakah dia juga ingin memperebutkan pedang keramat yang dikabarkan lenyap dari istana itu?

Sesungguhnya tidak demikian. Seorang kang-ouw yang gagah perkasa seperti Sai-cu Kai-ong tidak sudi lagi memperebutkan sesuatu seperti sebagian besar tokoh-tokoh kaum sesat. Dia memang datang ke Pegunungan Himalaya sehubungan dengan berita membanjirnya orang-orang kang-ouw di pegunungan yang tinggi itu, akan tetapi bukan untuk mencari pedang. Andai kata dia dapat memperoleh pedang itu, tentu hanya untuk dikembalikan ke istana kaisar.

Tidak, dia tak ingin berebut pedang, akan tetapi dia mengharapkan untuk dapat bertemu dengan cucu perempuannya yang telah menghilang bertahun-tahun lamanya. Cucu perempuan itu adalah Yu Hwi, atau yang pernah dikenal sebagai Kang Swi Hwa atau Ang Siocia, seorang yang cantik dan lincah, penuh keberanian dan kecerdikan, pandai sekali menyamar menjadi apa pun, dan memiliki ilmu mencopet yang luar biasa. Semua ilmu ini dipelajarinya dari gurunya, yaitu Hek-sim Touw-ong Si Raja Maling yang terkenal itu.

Cucu perempuan yang menjadi tunangan Kam Hong itu sudah melarikan diri, agaknya menolak dijodohkan dengan Kam Hong dan sampai kini tidak pernah ada beritanya! Maka hal ini amat menyusahkan hati kakek ini dan berangkatlah dia ke Pegunungan Himalaya untuk mencari cucunya itu yang diharapkannya akan datang juga ke daerah itu untuk beramai-ramai memperebutkan pedang keramat. Maka, sudah tentu saja kakek ini terheran-heran bukan main ketika disambut oleh pemuda yang bersuling itu dan dibawa ke dalam perkampungan luar biasa yang dinamakan Lembah Gunung Suling Emas, karena keluarga Suling Emas adalah sahabat dari keluarganya sendiri.

Sejak ratusan tahun yang lalu, keluarganya, yaitu keluarga Yu dari Khong-sim Kai-pang adalah sahabat- sahabat dari keluarga Pendekar Suling Emas dan karena mengingat pertalian persahabatan antara nenek moyangnya itulah maka diambil keputusan untuk menjodohkan Yu Hwi, keturunan terakhir dari keluarga Yu, dengan Kam Hong, yaitu keturunan terakhir dari keluarga Kam atau keluarga Suling Emas. Dan kini tiba-tiba muncul keluarga Suling Emas lain di tengah-tengah Pegunungan Himalaya!

Tentu saja Sai-cu Kai-ong tidak tahu akan hal ini. Akan tetapi di lain pihak, keluarga yang tinggal di Lembah Gunung Suling Emas ini adalah keluarga yang benar-benar hebat, sedemikian hebatnya sehingga keluarga ini sudah mengenal semua orang yang mendatangi daerah mereka dan pemuda yang menyambut tadi pun sudah mengenal nama-nama mereka! Meski keluarga ini tidak pernah berkecimpung di dunia kang-ouw, akan tetapi mereka mempunyai banyak sekali penyelidik, apalagi dalam menghadapi perebutan pedang keramat itu, maka mereka sudah menyelidiki semua tokoh yang ikut naik ke Pegunungan Himalaya sehingga gambaran-gambaran tentang mereka telah dikenal oleh semua penghuni lembah itu dan pemuda itu pun dengan mudah dapat mengenalnya satu demi satu!

Keluarga Suling Emas yang berada di lembah ini bukan lain adalah keturunan langsung dari kakek kuno yang ditemukan mayatnya oleh Kam Hong di bagian lain dari lembah itu! Memang aneh sekali. Keluarga ini sendiri tidak tahu bahwa masih ada mayat nenek moyang mereka yang masih utuh dan membawa-bawa rahasia terbesar dari ilmu keturunan mereka dan sama sekali tidak mengira bahwa mayat nenek moyang mereka itu akan ditemukan oleh Kam Hong dan bahkan pemuda ini yang akhirnya mewarisi semua ilmu nenek moyang mereka!

Mereka ini adalah keturunan dari kakek pembuat suling emas yang lihai itu, dan turun temurun tinggal di tempat itu. Karena mereka merupakan keluarga yang pandai, dan berhubungan dekat dengan keluarga Raja Nepal, maka mereka tidak kekurangan sesuatu. Semenjak nenek moyang mereka, mereka itu merupakan sahabat keluarga Raja Nepal dan sering kali memberi nasehat dan petunjuk, dan sebaliknya Raja Nepal juga selalu mencukupi keperluan mereka, bahkan mendirikan istana itu untuk mereka setelah pada puluhan tahun yang lalu keluarga mereka berjasa mengusir musuh-musuh yang datang dari barat Kerajaan Nepal!

Jadi memang ada perbedaan besar antara keluarga Suling Emas yang berada di Himalaya ini dengan keluarga Suling Emas, yaitu keluarga Kam yang menjadi keturunan Pendekar Suling Emas Kam Bu Song. Keluarga Suling Emas di Himalaya ini adalah keturunan dari pembuat suling emas itu, sedangkan keluarga Kam adalah orang yang akhirnya mendapatkan Suling itu dan dipergunakan sebagai senjata sehingga akhirnya terkenal dengan julukan Pendekar Suling Emas. Jadi terdapat perbedaan yang besar sekali, dan tidak ada hubungannya sama sekali, kecuali hubungan melalui suling emas yang kini dipegang Kam Hong itu, hubungan antara pembuat suling dan pemakai suling. Sungguh pun terdapat suatu keistimewaan yang sama, yaitu ahli menggunakan suling sebagai senjata.

Keluarga Suling Emas di lembah ini adalah dari keluarga Cu, yaitu nama keturunan dari kakek pembuat suling emas, yang sebetulnya masih seorang pangeran dari Kerajaan Cin yang suka merantau dan akhirnya menetap di Himalaya, yaitu di lembah itu. Menurut dongeng keluarga Cu, setelah berkeluarga dengan puteri Nepal, kakek ini menetap di situ dan hidup sampai beranak cucu. Akan tetapi pada suatu hari dia menghilang, katanya untuk pergi bertapa dan tidak ada lagi yang mendengar tentang dirinya.

Anak cucunya hidup terus di lembah itu, ada pula yang pergi merantau, akan tetapi lembah itu tetap dipelihara, bahkan sekarang, keturunan terakhir yang tinggal di situ terdapat tiga orang laki-kaki. Yang pertama bernama Cu Han Bu, pria sederhana berusia empat puluh tahun, ayah dari pemuda tampan yang menyambut para tamu tadi. Yang ke dua bernama Cu Seng Bu, pria berusia tiga puluh lima dan yang ke tiga bernama Cu Kang Bu, pria berusia tiga puluh tahun. Kedua orang ini belum menikah. Tiga orang inilah merupakan keturunan terakhir dari keluarga Suling Emas she Cu itu.

Cu Han Bu baru mempunyai seorang anak saja, yaitu ‘pemuda’ yang menyambut para tamu tadi. Akan tetapi anak itu sebetulnya bukan seorang laki-laki, melainkan seorang anak perempuan. Karena ingin sekali mempunyai anak laki-laki, maka untuk menutupi kekecewaannya, Cu Han Bu dan isterinya memperlakukan anak mereka seperti anak laki-laki, bahkan sejak kecil anak itu memakai pakaian laki-laki, sungguh pun dia sadar sepenuhnya bahwa dia seorang perempuan. Sebagai seorang anak yang berbakti, Cu Pek In, demikian nama anak itu, dia ingin menyenangkan hati orang tuanya dan selalu berpakaian pria sehingga dia menjadi seorang pemuda cilik sekarang! Sebagai keturunan dari kakek sakti pembuat suling emas itu, sudah tentu saja keluarga Cu ini mewarisi ilmu-ilmu yang mukjijat dan tinggi sekali.

Sudah belasan tahun semenjak ayah mereka meninggal, keluarga yang terdiri dari tiga orang pria perkasa ini tidak lagi berhubungan dengan Nepal. Mereka melihat betapa Nepal mulai melakukan penyelewengan, mulai mencampuri urusan kaisar di Tiongkok, maka mereka tidak mau mencampuri. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa Raja Nepal yang baru mempunyai seorang Koksu yang kabarnya merupakan orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok, keluarga Cu ini makin mengundurkan diri dan tidak pernah berhubungan. Oleh karena itu, maka mereka tidak mengenal Sam-ok Ban-hwa Sengjin, sungguh pun mereka mendengar namanya, dan mungkin juga Koksu Nepal itu pernah mendengar tentang nama mereka.

Dan memang demikianlah kenyataannya. Ketika pemuda tampan yang sesungguhnya adalah Cu Pek In itu bersama rombongan dayangnya menyambut dan menyebut nama Lembah Gunung Suling Emas, berdebar rasa jantung Sam-ok. Dia sudah mendengar tentang keluarga di Himalaya ini, yang menurut berita di Nepal merupakan keluarga yang turun temurun bersahabat dengan keluarga Raja Nepal, tetapi yang semenjak raja yang sekarang, yaitu raja yang mengangkat dirinya sebagai koksu, tidak pernah lagi terdengar beritanya dan agaknya putus hubungan antara keluarga Cu itu dengan keluarga Kerajaan Nepal.

Sam-ok tidak peduli akan hal itu ketika dia masih menjadi koksu, apalagi mendengar bahwa tempat tinggal keluarga itu merupakan rahasia besar dan tidak ada seorang pun tahu persis di mana letak tempat tinggal mereka. Yang diketahui umum hanyalah bahwa tempat itu berada di Pegunungan Himalaya. Dan kini, tanpa disangka-sangkanya, dia telah ikut rombongan orang kang-ouw memasuki daerah itu, tempat tinggal keluarga Cu yang menjadi sahabat keluarga raja sejak ratusan tahun yang lalu! Dengan demikian, maka ada dua orang dalam rombongan itu yang berdebar-debar hatinya, yaitu Sai-cu Kai-ong dan Sam-ok Ban- hwa Sengjin.

Ketika para tamu yang mengikuti Cu Pek In dan rombongan dayang itu sudah tiba di ruangan depan yang luas dan terhias gambar-gambar dan tulisan-tulisan indah, Cu Pek In mempersilakan mereka menanti di situ dan para dayang lalu masuk ke dalam melalui pintu besar di depan dan di tengah ruangan itu. Tidak lama kemudian, para tamu yang masih berdiri karena belum dipersilakan duduk itu melihat pintu itu terbuka dari dalam dan keluarlah tiga orang laki-laki. Semua orang memandang dengan penuh perhatian.

Akan tetapi tidak ada sesuatu yang mengesankan pada diri tiga orang pria itu. Mereka itu berpakaian biasa saja, dengan sikap yang sederhana pula, akan tetapi wajah dan pandang mata mereka serius dan penuh wibawa, sedangkan sinar mata mereka yang mencorong itu mengejutkan orang karena hal itu menunjukkan bahwa mereka itu memiliki kekuatan dalam yang hebat!

“Ayah, inilah mereka yang membikin ribut di puncak datar. Semua, kecuali yang tewas dalam keributan antara mereka, telah kuundang datang sebagai tamu sesuai dengan perintah Ayah,” kata Cu Pek In sambil menyelipkan sulingnya di ikat pinggangnya.

Tentu saja Sai-cu Kai-ong dan Ban-hwa Sengjin, lebih-lebih dari para tamu lainnya, memandang dengan penuh perhatian dan dengan hati tertarik sekali. Tiga pasang mata dari pihak tuan rumah itu dengan tajamnya memandang para tamunya seorang demi seorang, dan paling lama mereka memperhatikan Sam- ok Ban-hwa Sengjin yang menjadi tidak enak hati, kemudian mereka juga memandang Yeti sampai lama, terutama ke arah pedang yang berada di tangan Yeti.

“Tidak salah lagi, itulah Koai-liong-pokiam keluarga kami!” Tiba-tiba orang termuda di antara mereka, Cu Kang Bu berseru. Orang ke tiga ini bertubuh tinggi besar, bermata lebar dan selain sikapnya gagah, juga dia kasar dan jujur. “Dan inilah Yeti seperti yang diceritakan Toaso (Kakak Ipar Perempuan Tertua)!”

Tiba-tiba terdengar suara merdu, “Tidak salah, dialah binatang itu!”

Semua orang menengok karena terkejut. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi, akan tetapi tiada yang mendengar datangnya seorang wanita di tempat itu, tahu-tahu wanita itu telah muncul saja di situ, entah sejak kapan. Wanita itu usianya kurang lebih tiga puluh tahun, cantik sekali, dengan pinggang ramping dan gerak geriknya luwes dan lemah gemulai seperti gerakan seorang penari pandai atau gerakan tubuh seekor ular saja, dan pakaiannya juga mentereng dan mewah, rambutnya yang hitam gemuk digelung ke atas seperti gelung rambut puteri-puteri istana!

“Dialah binatang itu, dan itulah pedang kami! Kalian harus merampasnya dari tangan Yeti keparat itu!” bentak lagi wanita ini.

Akan tetapi tiba-tiba Cu Pek In berkata, “Pek-bo, Ayah, Yeti itu adalah milik pemuda itu. Sebaiknya pedang itu diminta kepadanya.”

Mendengar ini, Cu Han Bu memandang kepada Hong Bu dengan penuh perhatian, seolah-olah tidak percaya pada omongan puterinya. Mana mungkin Yeti, makhluk yang selama ini menjadi dongeng dan ditakuti semua orang, yang amat sakti sehingga Toaso-nya sendiri kewalahan menghadapinya, menjadi milik bocah ini?

“Siapakah namamu, orang muda?” tanyanya hati-hati. Memang tokoh ini selalu bersikap hati-hati, tidak seperti Kang Bu.

Sim Hong Bu maklum bahwa dia berhadapan dengan keluarga yang berilmu tinggi, dan juga mereka adalah tuan rumah, maka sebagai tamu yang tahu diri dan mengenal kesopanan, dia lalu melangkah maju, memberi hormat dan menjawab, “Nama saya Sim Hong Bu, Locianpwe.”

Sikap dan ucapan Hong Bu ini menyenangkan hati Han Bu yang mengangguk-angguk. Bocah ini sungguh mengagumkan dan jarang pada jaman itu menemukan bocah yang begini matang, begini tabah dan berani berdiri di atas kakinya sendiri seperti orang yang sudah dewasa benar. Juga, sekali pandang saja dia dapat mengukur bahwa bocah ini memiliki bakat yang baik sekali, sinar matanya begitu tajam, gerak-geriknya begitu tenang.

“Benarkah bahwa Yeti ini adalah milikmu, peliharaanmu?”

Hong Bu melirik ke arah pemuda tampan itu, lalu menjawab lantang. “Harap jangan ada yang menghina Yeti! Dia ini sama sekali bukan binatang peliharaan, bukan binatang liar yang jahat, harap semua mengetahui betul hal ini!”

“Huh, omongan apa itu! Kami semua sudah merasakan kebuasannya!” Tiba-tiba Ngo-ok mendengus marah, tangannya meraba daun telinganya yang pecah-pecah ketika dia berkelahi melawan Yeti itu.

“Benar!” Su-ok berteriak, “Yeti itu makhluk buas seperti iblis!”

Sepasang alis tuan rumah ini berkerut dan sinar matanya seperti kilat menyambar ke arah dua orang itu. “Tuan-tuan berada di tempat sopan, harap Tuan-tuan menjaga kesopanan dan bicara menanti giliran!” kata Cu Han Bu, suaranya berwibawa. Su-ok dan Ngo-ok berdiam diri dan wajah mereka agak merah.

“Bagaimana jawabanmu, Sim Hong Bu? Banyak orang kang-ouw mengabarkan bahwa Yeti ini jahat, kejam dan telah membunuh dan melukai banyak orang,” kata pula Cu Han Bu. Mereka semua masih berdiri dan semua orang kini memandang kepada Hong Bu.

“Yang mengatakan bahwa Yeti jahat dan kejam, suka menyerang atau membunuh orang adalah bohong, Locianpwe!” kata Hong Bu. “Yeti ini bukan binatang buas, bukan peliharaan saya, melainkan sahabat saya yang paling baik. Manusialah yang jahat, yang mengganggunya, menyerangnya sehingga dia membela diri dan untuk membela diri, tentu saja ia harus mengalahkan lawannya, jika perlu mungkin membunuhnya. Pahanya dilukai orang ditusuk pedang, tentu saja dia menjadi marah. Semua orang agaknya hendak membunuhnya untuk merampas pedang yang ditusukkan di pahanya. Siapa yang tidak akan menjadi marah dan membela diri?”

“Toaso,” tiba-tiba Cu Han Bu menoleh kepada wanita cantik tadi, “Apakah dia tidak menyerangmu dan apakah Toaso yang mendahului menyerangnya?”

Wanita cantik itu berjebi, bibirnya yang penuh dan merah itu bermain sebentar, kemudian dia berkata, “Memang aku yang menyerangnya lebih dulu, akan tetapi siapa yang tidak menjadi kaget melihat dia tiba- tiba muncul dan kelihatan begitu buas? Aku menyerangnya dan dia melawan, ternyata dia lihai sekali dan walau pun aku berhasil menusuk pahanya, pedang itu tertinggal di pahanya, dia menjadi buas dan aku terpaksa melarikan diri. Lalu dia menghilang….“

Cu Han Bu mengangguk-angguk, lalu menghadapi semua orang kang-ouw yang berdiri di hadapannya. “Apakah Cu-wi sengaja berdatangan ke Himalaya untuk mencari pedang Koai-liong-pokiam itu?” Dia menuding ke arah pedang yang masih dipegang oleh Yeti.

“Hemm, terus terang saja, siapakah yang tidak ingin mendapatkan pedang itu?” jawab Toa-ok dengan suara halus.

“Ketahuilah, Cu-wi. Pedang pusaka itu adalah milik keluarga kami sejak turun menurun. Nenek moyang kami yang membuatnya dan menciptakannya. Pada suatu hari pedang itu hilang dan setelah kami mendengar pedang itu berada di istana kaisar, Toaso-ku ini pergi ke sana dan mengambilnya kembali. Akan tetapi malang baginya, di tengah jalan bertemu dengan Yeti dan pedang itu tertinggal di paha Yeti. Pedang itu adalah hak kami dan hendaknya Cu-wi tidak memperebutkan lagi. Untuk itu kami dapat menjelaskannya, dan untuk jeri payah Cu-wi kami bersedia mengganti sekedar ongkos perjalanan yang telah dikeluarkan.”

“Ah, mana ada aturan seperti itu?” Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring, suara Si Ulat Seribu. Wajahnya yang buruk menjadi semakin buruk karena marahnya. Dialah yang merasa paling dirugikan dalam perebutan pedang itu, karena selain empat orang pemikul tandu yang menjadi pembantu- pembantunya itu tewas oleh ulat-ulatnya sendiri, juga sebagian ulatnya telah mati dan lenyap pula. “Bagaimana bisa enak saja mengakui pedang tanpa bukti-bukti yang jelas? Kalau hanya penjelasan saja, setiap orang pun mampu mengisap jempol!”

Wanita cantik kakak ipar keluarga Cu itu melangkah maju dan suaranya lantang ketika dia berseru, “Perempuan buruk! Apakah kini Si Ulat Seribu sudah mempunyai nyawa rangkap berani berkata seperti itu di sini?” Dia sudah melangkah maju, akan tetapi Cu Han Bu lalu melerai dan berkata dengan suara berwibawa.

“Harap Toaso suka memaafkan bicaranya. Ingat, siapa dia dan sudah patutlah kalau orang seperti dia bicara demikian.” Agaknya Sang Toaso itu cukup segan terhadap adik iparnya ini maka dia mundur lagi dengan mulut cemberut.

Cu Han Bu lalu berkata kepada Sim Hong Bu, suaranya ramah dan halus. “Orang muda, apakah engkau percaya kepada kami keluarga dari Lembah Gunung Suling Emas? Kalau percaya, serahkan pedang itu kepadaku untuk dipergunakan sebagai bukti bahwa memang kami yang berhak atas pedang itu.”

Sim Hong Bu cepat berkata. “Tentu saja, Locianpwe. Saya kira, Yeti pun tidak akan serakah mengukuhi pedang bukan miliknya, apalagi saya. Hanya kami mohon agar pedang benar-benar dikembalikan kepada yang berhak.” Setelah berkata demikian, dia menoleh kepada Yeti dan berkata halus. “Sahabatku Yeti, tolong pinjamkan sebentar pedang itu.”

Aneh sekali, sejak tadi Yeti diam saja seperti termenung, dan mendengar ucapan Hong Bu itu dia segera menurunkan tangannya yang memegang pedang dan menyerahkan pedang itu kepada Sim Hong Bu. Hong Bu mengambil pedang itu dan menyerahkannya dengan sikap hormat kepada Cu Han Bu.

Tuan rumah ini mengangkat pedang tinggi-tinggi di atas kepalanya. “Pedang Koai-liong-pokiam ini adalah pedang pusaka buatan nenek moyang kami, oleh karena itu kami tahu segala hal-ihwalnya, riwayatnya dan rahasia-rahasianya. Ada rahasia pada pedang ini. Cu-wi sekalian boleh mencoba dan mencarinya. Kalau tidak ada yang tahu, barulah kami akan menunjukkan rahasianya sebagai bukti bahwa pedang itu adalah milik dan pusaka keluarga kami.”

Kemudian tanpa ragu-ragu lagi, Cu Han Bu menyerahkan pedang pusaka itu kepada orang yang berdiri paling dekat dengannya, yaitu Si Ulat Seribu tadi. Wanita bermuka buruk itu menerima pedang itu. Semua mata memandang dan tidak ada seorang pun yang mempunyai pikiran untuk melarikan pedang itu, bahkan Im-kan Ngo-ok pun tidak berani. Karena siapa yang melarikan pedang itu tentu akan berhadapan dengan mereka semua, ditambah lagi pihak tuan rumah! Dan jalan keluar dari tempat itu hanya melalui tambang. Tidak mungkin melarikan diri dengan pedang itu!

Maka kini Si Ulat Seribu meneliti pedang itu, digerak-gerakkan, ditekan sana-sini, akan tetapi karena dia memang tidak tahu rahasianya, dia tidak menemukan sesuatu yang aneh pada pedang itu, kecuali bahwa pedang itu benar-benar amat hebat, sebatang pedang yang terbuat dari pada logam yang aneh sekali, agak kemerahan dan ada sinar-sinar kehijauan, amat ringannya namun membayangkan kekerasan yang tak terlawan oleh apa pun!

“Sebatang pedang yang luar biasa!” katanya kemudian dan dia pun mengembalikannya kepada tuan rumah. “Akan tetapi aku tidak melihat apa-apa yang aneh padanya.”

“Nah, jelas bahwa Si Ulat Seribu tidak dapat menunjukkan rahasianya, maka sekarang giliran orang berikutnya.” Dan dia lalu menyerahkan pedang itu kepada tokoh lain.

Pedang itu terus berpindah-pindah tangan setelah setiap orang meneliti dengan penuh kecermatan, namun biar Im-kan Ngo-ok sendiri yang terkenal sebagai orang-orang licik dan cerdik, tidak dapat menemukan rahasia itu. Orang terakhir adalah Sam-ok Ban-hwa Sengjin yang memegang pedang itu, menerimanya dari Cu Han Bu sambil berkata.

“Sudah lama sekali kami mengenal nama penghuni Lembah Gunung Suling Emas sebagai orang-orang terhormat dan gagah perkasa, maka kini kami percaya bahwa dalam urusan pedang ini penghuni Lembah Gunung Suling Emas tidak akan berlaku curang.”

Cu Han Bu tersenyum tenang. “Sam-ok Ban-hwa Sengjin, kami pun mendengar akan namamu sebagai bekas Koksu Nepal yang pandai. Cobalah pergunakan kepandaianmu untuk mengetahui rahasia pedang yang menjadi milik nenek moyang kami ini. Bahkan Kaisar Ceng sendiri yang menyimpan pedang ini sejak dua keturunan, tidak tahu akan rahasianya. Hanya kami, pemilik sah dari pedang ini yang akan dapat menunjukkan rahasianya.”

Sam-ok memeriksa dengan teliti sekali, dari ujung pedang sampai ke gagangnya. Akan tetapi dia pun tidak dapat menemukan rahasia pedang itu. Akhirnya dia mengembalikan kepada tuan rumah sambil berkata, “Kami tidak melihat ada rahasia apa pun pada pedang ini.”

Cu Han Bu menarik napas panjang, lalu berkata. “Nah, Cu-wi sekalian melihat sendiri bahwa tidak ada seorang pun yang tahu akan rahasia pedang ini. Sekarang hendak kami perlihatkan.”

Tuan rumah memegang batang pedang itu dan mengacungkan pedang ke atas, ke arah udara. “Cu-wi, lihatlah baik-baik!”

Tiba-tiba pedang itu mengeluarkan bunyi dan tergetar, lalu nampaklah sinar berkilat keluar dari gagang pedang, melalui dua bagian meruncing yang mengapit pedang dan tak lama kemudian, jatuhlah dua ekor burung yang tadi beterbangan di atas, kemudian menggelepar-gelepar sekarat! Semua orang terkejut dan kagum. Kiranya pedang itu mengandung rahasia, dapat mengeluarkan senjata rahasia seperti itu!

“Bagus sekali!” Sim Hong Bu berteriak memuji. “Locianpwe, bagaimana hal itu dapat terjadi?”

Tuan rumah tersenyum, menjawab pertanyaan itu akan tetapi ditujukan kepada semua tamunya, “Cu-wi lihat, tanpa mengenal rahasia pedang ini mana mungkin melakukan hal tadi? Nenek moyang kami membuat pedang ini dengan menyimpan rahasia itu. Gagang pedang menyimpan jarum-jarum halus yang digerakkan oleh alat rahasia di dalam gagang, dan untuk menggerakkan alat rahasia itu kita harus mengerahkan tenaga sinkang yang mengandung hawa panas sampai suhu tertentu, barulah alat itu bergerak dan jarum-jarum itu dapat keluar dengan kecepatan yang mematikan.”

Semua orang merasa kagum sekali. Akan tetapi dengan terheran-heran mereka melihat betapa tuan rumah itu menyerahkan pedang itu kembali kepada Sim Hong Bu sambil berkata, “Nah, terimalah kembali pedang yang kami pinjam tadi. Pedang ini telah terjatuh ke tangan Yeti dan hal ini terus terang saja terjadi karena kelengahan pihak kami sendiri.” Dia tidak terang-terangan menyalahkan Toaso-nya sungguh pun semua tamu maklum wanita itulah yang lengah sehingga pedang menancap di paha Yeti. “Oleh karena itu, kalau Yeti tidak ingin mengembalikan, kami tidak menyalahkan dia dan kelak kami akan mempergunakan kepandaian untuk merampasnya kembali dari tangannya.”

Sim Hong Bu juga terkejut sekali melihat pedang dikembalikan kepadanya. Akan tetapi dia mengerti dan makin kagumlah hatinya terhadap tuan rumah yang ternyata selain gagah perkasa, juga jujur dan budiman. Maka dia kemudian menerima pedang itu, dan menyerahkan kepada Yeti sambil berkata, “Yeti, kalau engkau telah menganggap aku sahabatmu, aku minta keikhlasanmu agar engkau mengembalikan pedang ini kepada yang berhak, yaitu kepada Locianpwe majikan dari Lembah Suling Emas ini. Akan tetapi kalau engkau tidak rela, aku pun tidak berani memaksa, hanya aku akan kecewa.”

Yeti itu mengeluarkan suara aneh, nampak ragu-ragu, sebentar memandang kepada pedang itu, kepada wajah Hong Bu, kemudian menoleh ke arah wanita cantik yang telah melukai pahanya, dan akhirnya pedang yang telah diterimanya itu dikembalikannya kepada Hong Bu dan dia menunduk, sikapnya tak acuh!

“Yeti, engkau merelakan pedang ini dikembalikan kepada pemiliknya yang sah?” tanya Hong Bu dengan suara girang sekali. Yeti itu tidak menjawab, hanya mengangguk dan tetap diam saja.

Girang dan legalah hati Hong Bu. “Bagus, engkau sahabatku yang sejati, Yeti, jauh lebih budiman dari pada manusia-manusia yang jahat di dunia ini!” Maka Hong Bu tidak ragu-ragu lagi menyerahkan pedang itu dengan kedua tangannya kepada Cu Han Bu sambil berkata, “Inilah pedang itu, Locianpwe. Yeti mengembalikannya kepada Locianpwe sebagai pemilik yang sah. Seorang gagah tidak akan menginginkan barang orang lain, dan Yeti, biar pun bukan termasuk manusia, namun berjiwa tidak kalah gagahnya dengan para pendekar.”

Cu Han Bu memandang dengan kagum kepada Hong Bu, lalu menarik napas panjang, “Amat sukar menemukan makhluk seperti Yeti, namun lebih sukar lagi menemukan seorang anak seperti engkau, Sim Hong Bu.” Kemudian dia menerima pedang itu dan menyerahkannya kepada Cu Kang Bu untuk disimpan. Cu Kang Bu menerima pedang itu dengan sikap hormat, lalu membawanya masuk ke dalam.

Dengan wajah cerah kini Cu Han Bu mempersilakan semua tamunya duduk. “Silakan Cu-wi sekalian duduk untuk menerima hidangan penghormatan kami dan untuk mendengarkan kisah tentang pedang itu sekadarnya dari kami.”

Semua orang diam-diam merasa kecewa sekali karena pedang itu telah kembali kepada majikan Lembah Suling Emas ini dan akan sukarlah bagi mereka untuk mengharapkan memperoleh pedang keramat itu. Akan tetapi terdapat hiburan bahwa mereka berhasil memasuki daerah terlarang dan rahasia ini. Hal ini sudah merupakan pengalaman yang luar biasa bagi mereka. Maka mereka pun tanpa malu-malu lagi lalu mengambil tempat duduk dan berkelompok memilih teman masing-masing. Sim Hong Bu mengambil tempat duduk di sudut bersama Yeti yang tidak mau duduk di atas kursi, melainkan mendeprok di atas lantai. Sejak tadi Yeti nampak seperti orang yang lemas dan kesal, lebih banyak menunduk seperti orang termenung.

Hidangan pun dikeluarkan oleh para dayang yang muda dan cantik dan berbau harum itu. Dan semua orang semakin kagum karena arak yang dihidangkan adalah arak yang amat baik, masakan-masakan mengepulkan uap itu pun bukan masakan sembarangan dan terbuat dari bahan dan bumbu yang mahal- mahal! Tentu saja di tempat itu terdapat ruangan es yang dingin dan yang dapat dipakai menyimpan daging atau apa saja sehingga berbulan-bulan dalam keadaan masih segar!

Setelah semua tamu dipersilakan makan minum, semua orang merasa puas kecuali Yeti yang tidak mau makan apa-apa sehingga Hong Bu pun merasa tidak begitu lezat makan sendirian saja, dan dayang- dayang sudah menyingkirkan mangkok piring meninggalkan cawan dan guci arak berikut penganan, tuan rumah kemudian bercerita tentang pedang keramat itu. Semua orang mendengarkan dengan asyik karena memang cerita itu agak aneh.

Kakek buyut dari ketiga orang saudara Cu itu, yang bernama Cu Hak, mewarisi kepandaian nenek moyangnya dalam hal kesenian memasak dan membentuk logam, pendeknya kepandaian seorang pandai besi yang luar biasa. Akan tetapi, kalau di antara nenek moyangnya itu ahli dalam hal pembuatan benda dari logam emas, ada yang ahli perak, dan ada pula yang ahli ukir-ukir batu atau kayu, Cu Hak ini adalah seorang ahli pembuat pedang yang amat baik.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Cu Hak yang sudah berusia lanjut itu bangun dalam keadaan lemah dan agaknya penyakit jantungnya kumat. Dia mengeluh panjang pendek dan tidak bangkit dari tempat tidurnya. Anak cucunya datang menjaganya, akan tetapi kakek itu tetap gelisah dan akhirnya berkata bahwa malam tadi dia bermimpi melihat seekor naga terbang melayang turun dan kemudian menghilang ke belakang rumahnya, masuk ke bawah sebuah batu sebesar rumah yang berada di belakang rumah mereka.

“Cari di bawah batu itu…. carilah…. tentu ada apa-apa di situ,” pintanya berkali-kali.

Karena melihat kakek itu keadaannya payah, maka anak cucunya lalu beramai-ramai mencari. Dengan kekuatan yang disatukan, keluarga yang memang lihai dan berilmu tinggi ini mendorong batu sehingga menggelinding beberapa meter dari tempat semula, lalu digalilah tanah di bawah batu itu. Dan mereka menemukan sebongkah batu yang berwarna hijau kemerahan. Mereka membawa batu itu kepada kakek Cu Hak.

Kakek yang sedang sakit itu seketika bangkit dari tidurnya, memegang batu itu dan berseru girang. “Hebat….! Ini adalah logam mulia! Ini adalah logam pusaka keramat. Ah, pantas saja bersemangat naga.”

Kakek itu seperti sembuh seketika dan dia pun menyibukkan dirinya di dalam dapur perapian tempat dia membuat pedang itu. Bongkahan batu yang ternyata merupakan logam mulia itu dibakar dan digemblengnya menjadi sebatang pedang yang diberi nama Koai-liong-pokiam. Diberi nama Pedang Naga Siluman karena ternyata ‘naga’ itu ternyata tidak mendatangkan berkah. Semenjak membuat pedang itu, Kakek Cu Hak menderita sakit. Akan tetapi dia memaksa diri menyelesaikan pedang itu, dan kemudian pedang itu selesai dan sempurna, dia pun meninggal dunia setelah meninggalkan pesan tentang rahasia yang terkandung dalam gagang pedang.

“Nah, demikianlah riwayat pedang kami itu,” Cu Han Bu melanjutkan. “Akan tetapi, hanya beberapa bulan setelah pedang itu jadi, pedang itu pun lenyap dari sini. Kami tahu siapa yang mengambilnya, akan tetapi itu merupakan rahasia keluarga kami dan tidak dapat kami ceritakan kepada siapa pun juga. Karena itu kami tak pernah ribut-ribut dan menganggap bahwa pedang itu telah lenyap begitu saja. Sampai kemudian setelah kami bertiga saudara menjadi dewasa, kami mendengar bahwa pedang itu tahu-tahu sudah berada di gudang pusaka istana Kaisar! Setelah mengetahui akan pedang kami itu, Toaso kami lalu turun tangan, datang ke kota raja dan mengambil kembali pedang pusaka kami itu. Akan tetapi, dia bertemu dengan Yeti dan selanjutnya Cu-wi telah mengetahui. Demikianlah riwayat pedang itu, yang berada di tangan kaisar selama puluhan tahun tanpa kami ketahui dan sekarang pedang pusaka itu telah kembali ke dalam lingkungan keluarga kami. Maka harap Cu-wi maklumi dan tidak menjadi penasaran. Tentu saja untuk jerih payah Cu-wi, kami tidak akan tinggal diam dan kami hendak membekali Cu-wi dengan hadiah sekadarnya.”

“Nanti dulu….!” Tiba-tiba Si Ulat Seribu, wanita muda bermuka mengerikan itu berkata dan dia sudah bangkit dari kursinya. Mukanya yang bopeng dan pletat-pletot kelihatan merah, tanda bahwa arak tua telah mulai mempengaruhinya. Semua orang memandang kepadanya dan pihak tuan rumah juga memandangnya dengan penuh perhatian.

“Kami berterima kasih kepada keluarga Cu yang telah menerima kami sebagai tamu. Tetapi kami, terutama aku sendiri, bukanlah sebangsa pengemis yang datang untuk minta-minta sedekah!” Dia melirik ke arah Sai-cu Kai-ong yang tadi telah merugikannya. Kemudian, melihat betapa kakek ini tidak mempedulikannya, dia melanjutkan. “Tetapi kami adalah orang-orang gagah yang terus terang saja tertarik untuk memperebutkan pedang pusaka yang dicuri dari istana kaisar. Kini ternyata pedang itu adalah milik keluarga Cu di sini. Biar pun kami melihat buktinya, namun tentu saja sebagai orang-orang yang biasa memandang kepada kegagahan, kami merasa ragu-ragu apakah pedang pusaka itu patut dimiliki oleh keluarga Cu. Oleh karena itu, ingin sekali aku melihat apakah sudah selayaknya dan sepantasnya keluarga Cu menjadi majikan pedang itu.” Setelah berkata demikian, tanpa nampak dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke tengah ruangan itu. Memang Si Ulat Seribu ini adalah seorang ahli ginkang yang luar biasa. Tubuhnya dapat bergerak sedemikian ringannya seolah-olah dia pandai terbang saja!

Bagi para tokoh yang hadir, ucapan itu sudah cukup jelas. Wanita bermuka aneh mengerikan ini jelas menantang pihak tuan rumah itu untuk mengadu ilmu! Memang ada semacam ‘penyakit’ yang hinggap di dalam batin hampir semua tokoh kang-ouw, yaitu mereka ini haus sekali akan ilmu silat dan adu kepandaian. Mereka belum merasa puas kalau belum menguji ilmu orang lain yang terkenal pandai, bahkan untuk kesenangan mengadu ilmu ini mereka tidak akan menyesal andai kata harus kehilangan nyawa dalam pi-bu (adu kepandaian silat) itu!

Sebelum Cu Han Bu menjawab, terdengar suara tertawa merdu dan Tang Cun Ciu, wanita yang cantik dan berpakaian mewah berlagak genit itu, yang disebut toanio oleh pihak tuan rumah, telah bangkit dari duduknya.

“Hi-hi-hik, Si Ulat Seribu boleh berlagak di luar tempat ini, akan tetapi di sini tidak akan laku lagakmu. Akulah yang mencuri pedang dan kalau ada yang tidak terima dan meragukan kemampuan kami, boleh menguji kepandaiannya dengan aku. Toa-cek (Paman Terbesar), biarkan aku menandingi Si Ulat Seribu!” kata-kata terakhir ini ditujukan kepada Cu Han Bu.

Wanita ini adalah isteri dari kakak angkat Cu Han Bu, maka dia memanggil Han Bu dengan sebutan toa- cek, kemudian kepada Seng Bu dia menyebut ji-cek (paman ke dua) dan kepada Kang Bu menyebut sam- cek (paman ke tiga), yaitu sebutan lazim dari seorang kakak ipar untuk menyebut adik-adik suaminya, yang menyebutnya untuk anaknya, sungguh pun Tang Cun Ciu ini tidak mempunyai anak dalam pernikahannya dengan mendiang suaminya, yaitu Cu San Bu, anak angkat dari ayah keluarga Cu itu.

Si Ulat Seribu sudah menghadapi Tang Cun Ciu dan memandang tajam sekali. Dia tahu bahwa orang yang mampu mencuri pedang dari dalam gedung pusaka istana tanpa diketahui orang, tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Akan tetapi anehnya, dia belum pernah mendengar nama wanita ini atau bertemu dengannya, padahal hampir semua nama orang-orang kang-ouw yang terkenal telah dikenalnya.

“Orang menamakan aku Si Ulat Seribu, dan aku tidak pernah melakukan pi-bu (adu ilmu silat) dengan orang yang tidak kukenal namanya,” kata Si Ulat Seribu dengan sikapnya yang kereng.

Tang Cun Ciu tertawa dan semua orang harus mengakui bahwa di samping gesit, wanita ini memang cantik dan mempunyai daya tarik atau daya pikat yang amat kuat. Apalagi kalau tertawa nampak deretan giginya yang seperti mutiara, biar pun usianya sudah tiga puluh tahun akan tetapi dia nampak masih seorang gadis remaja saja!

“Hi-hi-hik, Ulat Seribu! Sungguh julukan yang menjijikkan. Aku Tang Cun Ciu memang tidak suka memamerkan nama di dunia kang-ouw, akan tetapi orang-orang menyebutku dahulu Cui-beng Sian-li. Nah, kalau engkau ada kepandaian, majulah.”

Diam-diam Si Ulat Seribu terkejut. Ternyata dia pernah mendengar nama Cui-beng Sian-li (Dewi Pengejar Arwah)! Akan tetapi sudah lama sekali, sedikitnya sepuluh tahun yang lalu, di perbatasan Sin-kiang muncul nama ini yang amat menggemparkan, lalu nama itu lenyap bersama orangnya. Kiranya orangnya telah berada di Lembah Suling Emas!

“Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu! Bagus, ternyata aku melakukan pi-bu dengan orang yang telah bernama besar dan memiliki kepandaian yang pantas untuk bertanding melawanku. Nah, mari kita mencoba ilmu silat masing-masing! Awas serangan!” Baru saja ucapan itu berhenti, orangnya sudah mencelat ke depan dan mengirim serangan dengan kecepatan yang mengejutkan sekali.

Akan tetapi, hanya terdengar Tang Cun Ciu tertawa merdu dan tubuh wanita cantik ini pun sudah mencelat dan lenyap, tahu-tahu dia sudah berada di tempat tinggi dan kini tubuhnya sedang melayang turun dan melakukan serangan balasan dengan tendangan dahsyat!

“Bagus….!” Si Ulat Seribu memuji.

Selain terkejut Si Ulat Seribu juga gembira sekali karena ternyata lawannya ini pun merupakan seorang ahli ginkang yang hebat. Dia cepat mengelak dan kini kedua orang wanita yang wajahnya sungguh amat berlawanan itu, yang seorang amat buruk dan yang seorang lagi amat cantik, mulai serang-menyerang dengan gerakan-gerakan yang cepat sekali. Bukan hanya cepat, akan tetapi juga dari setiap serangan mereka itu menyambar hawa pukulan yang kadang-kadang mengeluarkan suara bercuitan saking kuatnya!

Berbeda dengan tadi ketika berkelahi untuk memperebutkan pedang pusaka, Si Ulat Seribu tidak menggunakan ulat-ulatnya. Dia tahu bahwa dia berada di tempat musuh, di tempat berbahaya dan bahwa pertandingan ini hanya merupakan adu ilmu silat belaka, untuk menguji siapa yang lebih pandai. Maka dia hanya mengandalkan ilmu silatnya yang aneh dan ginkang-nya yang tinggi. Ilmu silat dari wanita bermuka buruk ini memang luar biasa sekali. Tubuhnya melejit-lejit ke atas dengan tubuh melengkung-lengkung, seperti loncatan semacam ulat. Dan gerakannya amat gesitnya sehingga beberapa kali Tang Cun Ciu sendiri sampai terkejut.

Akan tetapi, ternyata bahwa tingkat kepandaian silat Dewi Pengejar Arwah ini masih lebih unggul, dan dasar ilmu silatnya lebih asli dan lebih tinggi. Bahkan dalam gerakan yang mengandalkan ginkang yang lihai, ternyata Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu juga lebih tinggi dan matang. Si Ulat Seribu hanya menang aneh saja, namun intinya kalah kuat.

Itulah sebabnya maka setelah lewat lima puluh jurus, Si Ulat Seribu mulai terdesak hebat dan tidak mampu balas menyerang lagi karena dia sibuk harus menghindarkan diri dari serangan yang amat cepat, bertubi- tubi dan teratur baik, kuat dan indah. Dan akhirnya, Cui-beng Sian-li mengeluarkan lengking panjang yang menggetarkan jantung, tubuhnya mencelat ke atas menukik turun dan seperti garuda menyambar ular dia menyerang dari atas. Si Ulat Seribu berusaha menghindar, namun dia kalah cepat dan pundaknya kena didorong oleh Cui-beng Sian-li. Tidak dapat dihindarkan lagi, Si Ulat Seribu terpelanting roboh bergulingan. Lawannya meloncat dan hendak menyusulkan tamparan berikutnya, akan tetapi terdengar bentakan Cu Han Bu, ”Cukup, Toaso!”

Aneh sekali, biar pun dia amat dihormat dan disebut kakak ipar, wanita itu agaknya taat kepada adik mendiang suaminya ini, karena dia pun menahan serangannya dan berdiri memandang kepada Si Ulat Seribu dengan senyum mengejek. Si Ulat Seribu maklum bahwa kalau tadi pihak tuan rumah tidak menahan dan dia diserang lagi, tentu dia akan celaka, maka dia hanya melangkah mundur dan duduk kembali di atas kursinya tanpa mengeluarkan sepatah kata. Wajahnya yang buruk itu nampak semakin buruk.

“Siapa lagi di antara para tamu yang masih meragukan kepandaian kami? Boleh maju!” Karena kemenangannya, Cui-beng Sian-li menantang.

Para tamu itu terdiri dari orang-orang pandai, Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek melihat benar betapa lihainya wanita itu, memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi sehingga dia sendiri pun tidak berani sembrono untuk maju dalam pi-bu dan mencari penyakit seperti Si Ulat Seribu tadi. Akan tetapi di antara mereka terdapat Im-kan Ngo-ok, lima orang datuk kaum sesat yang merasa bahwa merekalah yang merupakan orang-orang paling pandai di dunia persilatan.

Lima orang kakek sakti ini sudah saling pandang. Tentu saja diam-diam mereka pun merasa tidak puas bahwa perjalanan susah payah mereka untuk merebut pedang pusaka itu berakhir seperti ini, hanya menjadi tamu di Lembah Suling Emas dan melihat pedang pusaka yang diinginkan itu kembali kepada pemiliknya. Tentu saja diam-diam mereka mencari akal untuk dapat merampas pedang itu, bahkan begitu mereka tahu bahwa tempat itu adalah Lembah Suling Emas yang tentu menyimpan banyak macam pusaka, diam-diam mereka merasa girang dan timbul keinginan mereka untuk dapat merampas pusaka- pusaka yang berada di tempat tersembunyi itu.

Akan tetapi mereka pun bukan orang-orang bodoh yang sembrono. Mereka maklum bahwa mereka berada di tempat berbahaya, tempat yang hanya mempunyai hubungan dengan dunia melalui jembatan terbang itu, dan bahwa pihak tuan rumah terdiri dari orang-orang yang lihai, maka semenjak mereka datang, mereka belum melihat cara yang baik untuk dapat memetik keuntungan dari kunjungan ini. Ketika melihat Si Ulat Seribu beraksi, diam-diam mereka menjadi girang. Mungkin inilah kesempatan itu, ialah dengan cara berpibu! Dalam pi-bu itu, kalau mereka berlima dapat mengalahkan pihak tuan rumah, bukankah mereka memperoleh kekuasaan? Dan menguji kepandaian pihak tuan rumah melalui pi-bu adalah cara yang halus dan tidak kentara!

Betapa pun juga, kegirangan mereka itu dikejutkan dan disapu pergi ketika mereka menyaksikan sepak terjang wanita cantik yang berjuluk Cui-beng Sian-li itu. Wanita itu saja sudah demikian lihainya! Dari gerakan Cui-beng Sian-li ketika melayani Si Ulat Seribu, Im-kan Ngo-ok maklum bahwa tingkat kepandaian wanita itu saja sudah mampu mengimbangi tingkat Su-ok atau Ngo-ok! Dan hal ini berarti bahwa yang agaknya dapat dipastikan untuk dapat menghadapi Cui-beng Sian-li hanya Sam-ok, Ji-ok atau Toa-ok sendiri. Dan di pihak tuan rumah masih ada tiga orang saudara Cu itu yang mereka belum dapat mengukur sampai di mana kelihaian mereka.

Sam-ok Ban-hwa Sengjin adalah orang yang cerdik, paling cerdik di antara lima Im-kan Ngo-ok. Karena kecerdikannya itulah maka dia pernah diangkat menjadi Kok-su dari Negara Nepal. Dan di antara lima orang Im-kan Ngo-ok itu, dialah yang dianggap sebagai pengatur siasat, bahkan Toa-ok sendiri mengakui kecerdikan adik ke tiga ini. Maka kini empat pasang mata itu pun memandang kepada Sam-ok seolah-olah mereka menyerahkan tindakan selanjutnya kepada Si Jahat Nomor tiga ini untuk mengaturnya.

Sam-ok lalu bangkit dan sambil tersenyum dia menjura dan memuji. “Hebat…. hebat sekali. Sudah lama kami mendengar kebesaran nama majikan Lembah Suling Emas dan ternyata nama besar itu bukan kosong belaka. Si Ulat Seribu sungguh tak tahu diri sehingga membentur batu karang! Karena itu kami Im- kan Ngo-ok amat kagum sekali. Dan kami percaya bahwa tidak ada seorang pun di antara para tamu yang akan berani menganggap pihak tuan rumah kurang patut memiliki pedang pusaka itu.”

Cui-beng Sian-li yang masih berdiri itu tersenyum. Dia paling tidak suka mendengar orang bicara bertele- tele dan berputar-putar, maka dia lalu tertawa dan berkata dengan suara mengejek. “Kalau Im-kan Ngo-ok hendak menguji kepandaian kami pun boleh saja! Perlu apa banyak bicara memuji-muji kosong? Kami tidak butuh pujian.”

Tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu dan nyaring, disusul suara melengking tinggi. “Cui-beng Sian-li bicara besar! Apa dikiranya Im-kan Ngo-ok terdiri dari bocah-bocah penakut? Biar aku mencobanya, Sam- te!” Dan Ji-ok Kui Bin Nio-nio sudah berada di depan Cui-beng Sian-li.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo