September 24, 2017

Suling Emas Naga Siluman Part 23

 

Ketika Cin Liong hendak memberi hormat, Sang Pangeran memegang lengannya dan berkata, “Jenderal Muda yang gagah! Kiranya engkau telah datang pula, apakah engkau sengaja mencariku?”

“Tldak, Pangeran, hamba mendengar Paduka di sini hanya kebetulan saja. Hamba sedang mencari Sim Hong Bu untuk minta kembali pedang pusaka kerajaan yang dicuri orang, dan hamba dibantu oleh ayah dan ibu hamba.”

“Ahh, kalau Naga Sakti Gurun Pasir yang turun tangan, segalanya tentu beres!” kata Sang Pangeran dengan gembira. Kemudian Pangeran itu menghadapi Bu-taihiap yang masih bingung melihat munculnya Pangeran itu secara tiba-tiba dan dia merasa ragu-ragu untuk memerintahkan teman-temannya mempergunakan kekerasan.

“Bu-taihiap, harap jangan heran kalau aku telah dibebaskan oleh pendekar sakti ini,” katanya sambil menunjuk kepada Kam Hong. “Para pendekar yang menjagaku sama sekali bukan lawannya, dan dalam segebrakan saja mereka semua telah roboh dan pingsan. Apalagi dia datang bersama sumoi-nya, Nona Bu Ci Sian yang selalu melindungiku, dan meski Nona ini puterimu, namun kurasa tidak sependapat denganmu dalam hal perjuangan dan pemberontakan. Dan di sini kulihat ada Jenderal Kao Cin Liong yang gagah perkasa, dengan ayah bundanya yang lebih perkasa lagi, maka kiranya kalian para pendekar tidak akan mampu menahanku lagi.”

Bu Seng Kin memandang kepada Kam Hong. Jadi pemuda ini suheng dari puterinya? Dia tadi sudah terheran-heran karena biar pun hanya beberapa gebrakan saja, dia sempat menyaksikan puterinya yang menyerang Naga Sakti Gurun Pasir, kemudian menyerang jenderal muda itu! Dia melihat bahwa puterinya itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.

“Bu-locianpwe,” kata Cin Liong yang merasa tidak enak melihat keadaan pemimpin para patriot itu, apalagi tadi dia melihat betapa Ci Sian membantu pendekar itu. Kalau sampai terjadi pertempuran lagi, sungguh dia tidak sanggup untuk melawan Ci Sian, bukan jeri oleh keahlian dara itu, melainkan tidak sampai hati untuk berkelahi melawan gadis ini.

Setelah dia bertanding beberapa gebrakan saja, tiba-tiba Cin Liong melihat kenyataan yang membuatnya terkejut setengah mati, yaitu bahwa selama ini dia tidak pernah dapat melupakan dara ini, dan baru sekarang terasa olehnya bahwa sebetulnya sejak dahulu, sejak pertemuan di antara mereka dalam benteng pasukan Nepal, dia telah jatuh hati kepada Ci Sian!

“Seperti telah saya katakan tadi, kedatangan kami bertiga adalah untuk mencari Sim Hong Bu yang kami tahu berada di sini. Kami membawa perintah Sri Baginda Kaisar untuk minta kembali pedang pusaka kerajaan yang telah dicuri dan sekarang berada di tangannya. Kami bukan datang untuk memusuhi para pendekar. Hanya kebetulan saja kami tahu tentang Pangeran dan setelah beliau sekarang bebas, maka saya ingin mengulang permintaan saya, yaitu agar orang yang bernama Sim Hong Bu suka keluar dan berhadapan dengan saya.”

Bu-taihiap tersenyum pahit. Dia dan kawan-kawannya telah gagal. Mereka, para patriot itu, tentu saja hanya dapat melakukan penahanan terhadap diri Sang Pangeran dengan rahasia saja, dan setelah sekarang Pangeran itu lolos, tak mungkin mempergunakan kekerasan, karena tentu mereka akan dihadapi pasukan besar yang akan membasmi mereka dalam waktu singkat.

“Jenderal Kao, kau carilah sendiri pemuda yang bernama Sim Hong Bu itu.” Dari dalam terdengar suara wanita, “Suheng, jangan….!”
Lalu muncullah seorang pemuda yang gagah, diikuti oleh seorang dara berpakaian wanita yang kelihatan gelisah sekali. Pemuda itu bukan lain adalah Sim Hong Bu! Dia dan Pek In memang disuruh menyembunyikan diri dan jangan memperlihatkan diri ketika keluarga Kao datang berkunjung. Akan tetapi ketika mendengar percakapan tentang dirinya, Sim Hong Bu tidak dapat menahan hatinya lagi dan biar pun dicegah oleh Pek In yang merasa khawatir, dia tetap saja nekad keluar.

Semua orang memandang kepadanya. Dengan sikap tenang Sim Hong Bu menghadap Bu-taihiap dan menjura, lalu berkata dengan suara penuh penyesalan, “Bu-locianpwe, sungguh saya menyesal sekali karena kedatangan saya di sini hanya menimbulkan kegagalan dan kerugian saja bagi para saudara yang perkasa. Kalau saya tidak datang ke sini, tentu tidak akan terjadi keluarga Kao menyusul ke sini. Oleh karena itu, biarlah saya menghadapi mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh pribadi saya!” Setelah berkata demikian, Sim Hong Bu menghadapi Kao Cin Liong dan juga Kam Hong.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kao Cin Liong, tidak kupungkiri bahwa akulah pewaris Koai-liong Po- kiam dan pedang pusaka ini adalah hak milik nenek moyang guruku. Kalau engkau menjadi utusan Kaisar untuk merampas kembali pedang ini, majulah! Pedang ini hanya dapat diambil orang lain melalui mayatku saja!”

Dan sebelum Kao Cin Liong menjawab, Sim Hong Bu juga berkata kepada Kam Hong dengan lebih dulu menjura, “Kam-taihiap, aku menyesal sekali untuk menyatakan ini, akan tetapi karena Taihiap juga sudah berada di sini, biarlah sekalian kusampaikan bahwa aku melaksanakan pesan guruku bahwa kalau aku bertemu denganmu, aku harus menantangmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul antara Suling Emas dengan Kim-siauw Kiam-sut-nya melawan Lembah Naga Siluman dengan Koai-liong Kiam-sut-nya. Karena urusan antara kita hanyalah urusan siapa yang lebih unggul dan pertandingan dapat dilakukan secara persahabatan, maka biarlah aku akan menandingi dulu suling emasmu sebelum aku harus mempertaruhkan pedang pusaka ini dengan nyawaku.”

Setelah berkata demikian, nampak sinar berkelebat dibarengi suara melengking nyaring sekali seperti suling ditiup dan tahu-tahu pemuda itu telah memegang sebatang pedang yang sinarnya berkilauan mengerikan dan sinar kebiruan masih terbayang di dalam pandangan mata semua orang, padahal sinar yang tadi berkelebat itu telah lenyap karena pedang itu kini tidak digerakkan, melainkan melintang di depan dada Sim Hong Bu.

Seperti juga Cin Liong, Kam Hong tertegun dan kagum melihat sikap Sim Hong Bu. Sejak pertemuan pertama dia memang suka dan kagum kepada Sim Hong Bu dan dia pun sudah menyaksikan kehebatan ilmu pedang pemuda ini ketika bersama dengan Ci Sian, Hong Bu mengalahkan Hek-i Mo-ong. Diam-diam, dia tadinya mengharapkan perjodohan antara Sim Hong Bu dan Ci Sian, yang dianggapnya sebagai pasangan yang cocok sekali. Akan tetapi, pemuda itu kini berhadapan dengan dia sebagai wakil keluarga Cu yang hendak menuntut balas atas kekalahan mereka!

Cin Liong sendiri juga meragu. Dia pun sejak mendengar akan riwayat pedang pusaka itu, merasa betapa beratnya tugas yang dipikulnya. Bukan berat karena berhadapan dengan lawan yang tangguh, melainkan merasa berat karena sebetulnya hatinya condong untuk mengembalikan pedang itu kepada pemiliknya yang syah, yaitu keluarga Cu. Akan tetapi, bagaimana pun juga, pedang itu telah dicuri dari istana dan sudah sepantasnya kalau dikembalikan ke tempatnya.

Selagi Cin Liong dan Kam Hong tertegun dan merasa ragu-ragu dan menyesal bahwa mereka harus menghadapi pemuda gagah perkasa itu sebagai lawan tanpa ada urusan pribadi, kesemuanya hanya karena ikatan tugas belaka, tiba-tiba terdengar bentakan Ci Sian dan nampak sinar kuning emas menyambar dan langsung menyerang ke arah Sim Hong Bu.

“Tring-trang-cringggg….!”

Tiga kali suling emas itu bertemu dengan pedang Naga Siluman dan nampak bunga api berpijar. Hong Bu terkejut bukan main dan cepat meloncat ke belakang.

“Nanti dulu…., Ci Sian…. aku…. aku tidak ingin berkelahi denganmu!”

“Tidak, ya? Engkau adalah jagoan yang mewakili Pedang Naga Siluman, dan akulah yang mewakili suheng-ku, mewakili Suling Emas! Hayoh, tidak usah banyak cerewet. Selagi di sini berkumpul banyak Locianpwe, banyak pendekar yang gagah perkasa, mari kita buktikan, siapa yang lebih unggul antara Suling Emas dan Pedang Naga Siluman!”

Ci Sian sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya. Kam Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia memandang sambil tersenyum ketika melihat tarikan muka pemuda itu yang menjadi kebingungan sekali! Kembali amat jelas nampak oleh pendekar ini bahwa pemuda yang gagah perkasa itu sungguh mencinta sumoi-nya! Menghadapi serangan dara yang dicintanya itu agaknya merupakan hal yang paling membingungkan dan menggelisahkan hati Sim Hong Bu. Beberapa kali pedangnya menangkis dan berkali- kali dia minta kepada Ci Sian untuk menghentikan serangannya. Akan tetapi Ci Sian nekat terus dan mendesak terus, suling emasnya mengeluarkan suara menjerit-jerit seperti ditiup oleh orang yang sedang marah!

“Ci Sian…. dengar…. jangan….!” Hong Bu berkali-kali berteriak untuk mencegah dara itu.

Akan tetapi Ci Sian sungguh terlampau marah untuk dapat ditahan lagi. Sulingnya menyerang semakin ganas dan bunyi lengking sulingnya makin hebat. Semua orang yang menyaksikan gerakan suling ini bergidik ngeri dan para Locianpwe yang berada di situ juga menjadi bengong dan kagum sekali. Bahkan Pendekar Sakti Gurun Pasir sendiri mengamati semua gerakan itu dengan sinar mata berkilat saking gembiranya karena baru sekali ini pendekar sakti itu melihat suatu ilmu yang benar-benar hebat luar biasa.

Kalau sampai seorang pendekar sakti seperti Naga Sakti Gurun Pasir ini tercengang kekaguman, maka apalagi para pendekar lain yang hadir di situ. Bu-taihiap sendiri memandang dengan wajah berseri-seri walau pun tadinya dia terkejut dan terheran-heran, juga bingung melihat watak puterinya yang membolak- balik seperti angin itu, tadinya membantunya dan kini malah menyerang Sim Hong Bu! Akan tetapi semua keheranannya itu ditelan oleh rasa kagum menyaksikan ilmu silat dengan suling yang demikian hebatnya. Dia malah terpengaruh juga oleh getaran tenaga khikang yang terbawa oleh suara suling!

Yang bingung adalah Hong Bu sendiri. Tentu saja, biar pun dia tahu bahwa dara itu amat lihai, dia tidak takut dan dapat menandinginya. Akan tetapi, mana mungkin dia menghadapi dara ini sebagai lawan? Dia mencinta Ci Sian! Dia rela mati untuk dara ini! Bagaimana dia dapat mengangkat pedang untuk melawannya, melukainya atau bahkan membunuhnya? Lebih baik dia yang mati. Dengan hati yang perih seperti ditusuk-tusuk rasanya, dan bingung sekali, setelah beberapa kali menangkis dan mengelak, Sim Hong Bu tiba-tiba meloncat dan melarikan diri secepatnya dari tempat itu!

“Ke mana engkau hendak lari?” bentak Ci Sian yang hendak mengejarnya, akan tetapi suara Kam Hong lebih cepat lagi.

“Sumoi, jangan kejar dia!”

Suara Kam Hong merupakan satu-satunya suara di dunia ini yang mempunyai pengaruh besar bagi Ci Sian. Biar pun belum tentu ia selalu taat, akan tetapi setidaknya, suara Kam Hong selalu diperhatikannya dan sekali ini ia pun berhenti dan tidak melanjutkan pengejarannya.

Melihat larinya Sim Hong Bu, Cin Liong khawatir kalau-kalau pemuda itu lenyap dan pedang pusaka itu tidak berhasil dirampasnya kembali. “Ayah, harap suka lindungi Sang Pangeran, aku hendak mengejarnya!” katanya dan tanpa menanti jawaban ayahnya, pemuda ini sudah berkelebat lenyap untuk mengejar Sim Hong Bu.

Keadaan menjadi agak tegang dan suasana menjadi sunyi sekali di tempat itu setelah apa yang terjadi tadi.

“Ah, betapa sayangnya melihat para pendekar yang gagah perkasa kini bersikap seperti anak-anak kecil yang memperebutkan mainan, saling serang untuk saling membunuh. Betapa menyedihkan!” Pangeran Kian Liong berkata sambil menggeleng-geleng kepala.

Mendengar ucapan ini, Bu Seng Kin cepat-cepat menjawab dengan suara mengandung penasaran. “Pangeran, kami adalah pejuang-pejuang rakyat yang tertindas sebagai akibat kesewenang-wenangan Kaisar. Juga kami membela rekan-rekan kami para pendekar yang dikejar, dibunuh dan hendak dibasmi oleh Kaisar, seperti halnya sahabat-sahabat dari Siauw-lim-pai. Kami sama sekali tidak hendak memperebutkan sesuatu, melainkan minta agar kami diperlakukan dengan baik sebagai manusia, sebagai rakyat yang memiliki tanah air ini!”

Jawaban yang bersemangat itu membuat para pendekar yang berada di situ merasa tergugah. Mereka mengangkat dada dan sinar mata mereka pun menjadi berapi penuh semangat.

“Tapi, siapa pun yang hendak mengganggu Pangeran yang tidak mempunyai dosa apa pun dalam urusan Kaisar itu, pasti akan kuhadapi dengan sulingku!” Ci Sian berkata, suaranya juga tegas dan nyaring, dan suling emas itu dilintangkan di depan dadanya.

Bu-taihiap memandang kepada gadis ini dengan alis berkerut. “Ci Sian, sungguh mati kami bingung sekali melihat sikapmu. Siapakah yang engkau bela? Tadi, aku melihat engkau sebagai seorang puteriku yang gagah perkasa dan berbakti, yang membantuku ketika aku terdesak oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Akan tetapi, kemudian engkau bahkan melawan dan menyerang Sim Hong Bu yang berdiri di pihak kami sebagai seorang pendekar patriot! Dan sekarang pula, engkau hendak membantu dan membela Sang Pangeran. Bagaimanakah ini dan sesungguhnya di pihak siapa engkau berdiri?”

“Aku tidak memihak siapa pun juga. Aku bebas dan hanya berpihak kepada kebenaran. Kalau tadi aku membantumu adalah karena mengingat bahwa engkau adalah ayah kandungku, biar pun aku sama sekali tidak menyukai kenyataan itu! Dan aku melawan Sim Hong Bu karena dia menantang Ilmu Suling Emas! Sekarang aku membela Sang Pangeran karena beliau adalah orang yang bijaksana dan sama sekali tidak bersalah!”

“Hemm, Ci Sian, sesungguhnya di manakah engkau berdiri? Apakah engkau seorang pendekar yang berjiwa patriot dan membela tanah air dan bangsa dari penindasan, ataukah engkau hendak menjadi seorang pengkhianat bangsa dan menjadi antek dari Kaisar penjajah?”

Kini wajah Ci Sian menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi!

“Biar pun engkau ayah kandungku, jangan harap untuk dapat memberi kuliah kepadaku! Tengoklah diri sendiri! Seorang di antara isterimu adalah bekas panglima Nepal! Apakah dia pun seorang pecinta rakyat dan tanah air kita? Aku tidak peduli tentang urusan perebutan kedudukan. Aku bukan pengkhianat siapa- siapa, juga bukan pemberontak.”

Pangeran Kian Liong melangkah maju. “Ah, cukuplah kiranya percekcokan ini. Nona Bu, aku telah mengenalmu sebagai seorang dara gagah perkasa dan berjiwa pendekar. Apa pun juga pandanganmu terhadap ayah kandungmu, tidak baiklah kalau membenci orang tua sendiri. Sekarang, Bu-taihiap, dengarlah baik-baik. Tidak perlu diributkan lagi mengenai diriku, dan hentikan semua pertikaian yang tiada artinya ini. Aku berjanji, kalian semua yang hadir di sini menjadi saksi, bahwa aku akan memperjuangkan semua tuntutan kalian itu kepada ayahku, Sri Baginda Kaisar. Biar pun aku tidak menjadi tawanan di sini, biar pun aku tidak menjadi sandera, akan tetapi aku berjanji bahwa aku akan mengajukan tuntutan-tuntutan itu kepada Kaisar dan aku kira semua tuntutan itu akan dikabulkan.”

Bu-taihiap mengerutkan alisnya. Biar pun mereka semua masih berada di dalam sarang para pendekar patriot, akan tetapi keadaan sungguh tidak menguntungkan dirinya. Kini Pangeran telah mempunyai banyak pelindung yang amat tinggi ilmu kepandaiannya. Dia sendiri tadi sudah merasakan kelihaian Naga Sakti Gurun Pasir. Dan biar pun kini Jenderal Kao Cin Liong sudah tidak berada di situ melainkan mengejar Sim Hong Bu, akan tetapi sebagai penggantinya di situ terdapat puterinya, Bu Ci Sian yang dia tahu telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Apa lagi suheng-nya yang membebaskan Pangeran itu, dapat diduga tentu memiliki ilmu yang lebih hebat lagi.

Menggunakan kekerasan dan pengeroyokan berarti hanya akan menggagalkan usaha perjuangan itu sendiri, karena pemerintah tentu akan segera mengirim pasukan dan menghancurkan mereka. Akan tetapi mengalah begitu saja juga amat memalukan dan dapat menimbulkan penafsiran bahwa para pendekar patriot merasa takut!

Selagi Bu-taihiap kebingungan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba saja terdengar teriakan dari para penjaga di luar, “Utusan ke kota raja telah tiba kembali!”

Wajah Bu-taihiap menjadi cerah kembali dan dia cepat berkata kepada Sang Pangeran, “Harap Paduka ketahui bahwa orang yang kami utus ke kota raja menyampaikan tuntutan kepada Sri Baginda Kaisar telah pulang. Kita dengarkan saja bersama apa yang dihasilkan oleh tuntutan itu.”

Ketika dua orang utusan itu memasuki ruangan yang penuh orang itu, apalagi melihat pula Pangeran Kian Liong di situ, mereka menjadi ragu-ragu dan memandang kepada Bu-taihiap dengan sikap bingung.

“Laporkanlah saja apa yang menjadi hasil tuntutan kita kepada Kaisar, biar didengar oleh semua yang berada di sini,” kata Bu-taihiap kepada dua orang utusan itu. “Jangan kalian ragu-ragu lagi.”

“Kami telah menyampaikan surat tuntutan itu kepada kepala pengawal. Setelah disuruh menanti dan di jaga ketat, seolah-olah kami hendak ditangkap dengan kekerasan, tak lama kemudian muncul seorang pembesar istana dan kami menerima jawaban tertulis yang harus kami segera sampaikan kepada Taihiap.”

Dua orang utusan itu mengeluarkan sepucuk surat bersampul yang ada cap istana, menyerahkannya kepada Bu-taihiap.

Pendekar ini menerima dengan hati bangga dan juga wajah berseri. Jawaban dari istana berarti bahwa tuntutan mereka itu dihargai dan disambut. Kalau sebaliknya, tentu dua orang utusan itu sudah ditangkap atau dibunuh! Sambil tersenyum dia membuka sampul dan berkata kepada Sang Pangeran, “Harap Paduka ikut pula mendengarkan jawaban dari istana, juga semua saudara harap mendengarkan.”

Setelah berkata demikian, Bu-taihiap lalu membuka surat itu dan membaca dengan suara keras. Di dalam surat itu tertulis bahwa Kaisar menerima semua tuntutan itu dan berjanji akan mengabulkannya, namun diminta agar Sang Pangeran segera dipersilakan pulang ke istana karena kaisar menderita sakit.

Mendengar ini, semua orang terkejut, juga Sang Pangeran sendiri.

“Ah, kiranya Sri Baginda Kaisar sedang sakit!” katanya. Lalu dia menoleh kepada Kao Kok Cu, “Kao- taihiap, aku harus segera kembali ke kota raja!”

“Kami akan mengantar Paduka pulang,” kata pendekar berlengan satu itu.

Bu-taihiap juga girang sekali melihat isi jawaban yang menyatakan bahwa tuntutan mereka akan dikabulkan, maka dia pun segera menyediakan sebuah kereta dan kuda yang segar untuk dipakai oleh Sang Pangeran ke kota raja. Kao Kok Cu dan isterinya lalu cepat mengawal Pangeran untuk naik kereta menuju ke kota raja, dikusiri sendiri oleh Wan Ceng dan suaminya. Sedangkan Kam Hong segera meninggalkan ternpat itu untuk mengejar Sim Hong Bu pula, bersama sumoi-nya. Bu Seng Kin berusaha untuk menahan puterinya, agar mau tinggal di situ bersamanya, namun dengan sikap angkuh dan keras Ci Sian menolak.

“Biar pun engkau adalah ayah kandungku, akan tetapi sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayangmu. Oleh karena itu, bagiku engkau sama saja seperti orang lain, Ayah. Maka aku tidak mungkin dapat tinggal bersamamu, kecuali…. kecuali….”

“Kecuali apa?”

“Kalau engkau hidup sendirian saja!”

Tang Cun Ciu yang pernah bermusuhan dengan Ci Sian, bahkan pernah mereka berdua itu berkelahi, berkata dengan suara dingin, “Bu Ci Sian, engkau harus dapat melihat kenyataan! Hidup tidaklah semanis yang engkau kira. Ayahmu telah mempunyai isteri-isteri lain, dan ini adalah kenyataan, biar pun hati tidak setuju akan tetapi mana bisa mengubah kenyataan? Betapa pun juga kami adalah isteri-isterinya, mana mungkin dipisahkan begitu saja?”

Ci Sian cemberut. “Aku pun tidak mau merampas Ayah. Boleh kalian semua miliki selamanya, aku tidak membutuhkan dia. Suheng, mari kita pergi! Tidak tahan aku berlama-lama di tempat ini!” katanya sambil melompat keluar, diikuti oleh Kam Hong.

Biar pun Bu-taihiap agak terpukul batinnya oleh sikap puterinya itu, namun kegembiraan karena tuntutan para patriot diterima dan hendak dikabulkan oleh Kaisar merupakan hiburan besar. Bu-taihiap lalu menyebar orang-orangnya untuk menyampaikan berita baik itu kepada seluruh pendekar patriot yang tersebar di banyak kota, dan mereka sekarang tinggal menanti pelaksanaan dari pada janji Kaisar yang hendak mengabulkan permintaan mereka itu…..

********************

Akan tetapi, sementara itu, Kaisar yang menjanjikan pemenuhan tuntutan itu sendiri sedang menderita sakit yang parah karena luka oleh pisau beracun itu menjadi makin membengkak dan mulai meracuni darah dalam tubuhnya!

Ketika Pangeran Kian Liong tiba di istana dan langsung mengunjungi Kaisar, Pangeran ini terkejut bukan main melihat keadaan Kaisar yang amat payah. Dia mendengar akan peristiwa penyerangan selir itu dan Sang Pangeran menghela napas panjang. Ketika mendengar bahwa selir itu sehari sebelum melakukan penyerangan dikunjungi seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai puteranya, tahulah Kian Liong siapa yang dimaksudkan oleh mereka. Pemuda itu pernah dijumpai sebagai seorang pendekar patriot yang bersemangat. Kembali akibat dari pada penyelewengan ayahnya, pikir Pangeran ini. Ayahnya kini memetik buah dari pada pohon yang ditanamnya sendiri.

Biar pun keadaan penyakitnya amat parah, ketika Kaisar mendengar akan kedatangan puteranya, dia membuka matanya dan memberi isyarat kepada Pangeran Kian Liong untuk duduk. Pangeran itu lalu duduk di tepi pembaringan.

“Bagus, engkau sudah dibebaskan?” kata Kaisar itu bersemangat meski suaranya lirih dan lemah dan napasnya agak memburu. “Bagus, sekarang juga akan kuperintahkan agar dikirim pasukan besar untuk membasmi seluruh pemberontak-pemberontak laknat itu!”

“Harap Paduka tenang dan tidak membiarkan kemarahan meracuni diri Paduka yang sedang sakit,” kata Sang Pangeran. “Agaknya Paduka lupa bahwa Paduka telah menjanjikan untuk mengabulkan permohonan mereka….”

“Permohonan? Mereka menuntut! Tidak ada janji dengan para pemberontak! Akan kubasmi sampai ke akar-akarnya!”

Pangeran Kian Liong dengan halus membantah, bahwa yang disebut pemberontak oleh Kaisar itu adalah pendekar-pendekar patriot-patriot sejati yang menjadi sakit hati karena penekanan terhadap mereka oleh pemerintah.

“Terutama sekali pembakaran biara Siauw-lim-si membuat mereka itu menjadi semakin mendendam. Kalau kita bersikap baik kepada mereka, maka kita dapat menggunakan tenaga mereka itu dengan baik dan demi kemakmuran negara. Kalau ditekan, mereka akan melawan dan kita harus ingat bahwa jumlah mereka cukup besar dan gerakan mereka itu didukung oleh hampir seluruh kaum kang-ouw.”

“Kalau perlu akan kubasmi seluruh kaum kang-ouw!” Kaisar membentak marah.

Akan tetapi dengan suara halus, Pangeran Mahkota itu mencoba untuk mengingatkan Kaisar. Kaisar menjadi marah dan jengkel sekali dan hal ini sebetulnya amat tidak baik bagi kesehatannya sehingga Kaisar jatuh pingsan lagi dan penyakitnya menjadi makin berat!

Melihat keadaan Kaisar yang penyakitnya semakin payah itu, para pembesar lalu mengadakan musyawarah, dipimpin oleh Pangeran Kian Liong dan atas persetujuan dari Kaisar yang kadang-kadang siuman itu, maka diangkatlah Pangeran Kian Liong sebagai pelaksana dan penguasa menggantikan Kaisar yang memang menjadi haknya sebagai Pangeran Mahkota. Dan begitu Pangeran muda ini duduk sebagai penguasa tertinggi, maka keluarlah keputusan-keputusan yang amat bijaksana dan melegakan hati para pembesar yang setia, juga melegakan hati rakyat dan para pendekar.

Di antara keputusan-keputusan itu adalah pembangunan biara Siauw-lim, dihentikan pengejaran terhadap para pendekar patriot, peringanan pajak bagi rakyat, terutama di dusun-dusun, pembangunan untuk kesejahteraan rakyat dan sebagainya. Tentu saja keputusan-keputusan baru ini, selain di satu pihak disambut dengan gembira, namun di lain pihak ada orang-orang yang menyambutnya dengan tidak senang.

Dan mereka itu adalah orang-orang yang memang pada dasarnya membenci bangsa Han yang mereka anggap sebagai bangsa yang lebih rendah dari pada mereka. Mereka ini adalah pembesar-pembesar Mancu yang berkuasa di istana, yang merasa sebagai bangsa yang berkuasa di Tiongkok. Selain beberapa orang di antara para pembesar Mancu, hanya beberapa orang saja karena tidak semua pembesar bangsa Mancu berwatak seperti itu bahkan sebagian besar telah melebur diri menjadi bangsa Han pula dengan menerima semua kebudayaan, ada pula pihak lain yang tidak puas dan bahkan marah-marah dengan adanya kebijaksanaan-ke-bijaksanaan baru dari Pangeran Kian Liong ini. Mereka itu adalah pembesar- pembesar, terutama di daerah-daerah, tidak peduli apakah mereka itu berbangsa Mancu atau Han, yang merasa amat dirugikan dengan adanya peraturan-peraturan baru seperti meringankan pajak dan sebagainya itu. Dengan adanya kebijaksanaan baru ini, tertutuplah banyak sumber penghasilan mereka melalui korupsi!

Betapa pun juga, karena Pangeran Kian Liong melaksanakan semua keputusan itu dengan bijaksana, dan tidak ragu-ragu untuk menghukum mereka yang melanggar, maka setuju atau tidak setuju, keputusan- keputusan itu dijalankan juga oleh para pembesar. Dan rakyat bersorak gembira dengan hati agak lega karena mereka merasa agak terangkat dari jurang kesukaran dan terlepas dari himpitan-himpitan yang amat berat.

Penyakit Kaisar semakin payah dan akhirnya Kaisar Yung Ceng meninggal dunia pada tahun 1735. Kaisar ini meninggal dalam keadaan sengsara, oleh karena penyakitnya membuat dia menderita dan rebah tersiksa selama berbulan-bulan, hampir setahun.

Tidak ada kesulitan timbul dalam penobatan Pangeran Kian Liong menjadi kaisar. Sejak tahun 1735 dia memang telah menjadi penguasa penuh, dan pada tahun 1736, hanya beberapa bulan setelah meninggalnya Kaisar Yung Ceng, maka Pangeran Kian Liong dinobatkan sebagai kaisar penuh.

Setelah menjadi kaisar, maka Pangeran Kian Liong makin berani dalam tindakan kebijaksanaannya. Berbagai peraturan yang dianggapnya hanya bersumber kepada keinginan pembesar-pembesar yang bersangkutan untuk menumpuk harta kekayaan dan memperkuat kekuasaan belaka dihapus dan dirubah secara radikal. Pembesar-pembesar digantinya dengan orang-orang yang cakap.

Kaisar muda ini pun mengulurkan tangan kepada para pendekar, siapa saja yang ingin menyumbangkan tenaga demi kemakmuran negara dan rakyat, diterimanya tanpa pilih bulu, dan diberi kedudukan yang sesuai dengan kepandaian masing-masing. Selain ini, juga Kaisar Kian Liong menggunakan tangan besi terhadap para penjahat dan koruptor. Keadaan berubah sama sekali, baik di dalam pemerintahan mau pun keadaan dalam kehidupan rakyat jelata. Kaisar ini berusaha sedapat mungkin untuk menarik simpati rakyat, untuk menghapus kesan bahwa mereka itu terpimpin oleh kaum penjajah. Di dalam istana sendiri, Kaisar mengadakan pembersihan dan mengenyahkan para penjilat dan pembesar-pembesar korup.

Tentu saja semua ini disambut oleh para pendekar dengan hati lega. Memang, perasaan tidak senang bahwa negara dipimpin oleh bangsa Mancu masih ada dalam lubuk hati mereka. Namun, yang terpenting pada waktu itu adalah melihat rakyat hidup sejahtera dan makmur, tidak tertindas. Yang penting adalah kemakmuran lahiriah lebih dulu dan mereka melihat dalam diri kaisar baru ini seorang pemimpin yang adil, yang bahkan lebih baik dari pada kaisar-kaisar bangsa sendiri ratusan tahun yang lalu.

Kaisar Kian Liong selain menghargai tenaga para pendekar, juga tak mengabaikan para ahli sastra. Dia pun mengulurkan tangan kepada kaum sastrawan untuk menyumbang tenaga dan pikiran, tentu dengan imbalan-imbalan yang memadai, dengan kedudukan-kedudukan yang sesuai, sehingga pada masa pemerintahan Kaisar ini, kesusastraan berkembang biak dengan baiknya.

Dan memang tercatat dalam sejarah bahwa Pangeran Kian Liong merupakan satu-satunya kaisar yang berhasil di dalam pemerintahan Mancu, bahkan jarang ada kaisar yang demikian gemilang pada dinasti- dinasti sebelumnya. Kaisar Kian Liong sendiri adalah seorang yang amat mengagumi Kaisar Tang Thai Cung, yaitu kaisar di dalam Dinasti Tang yang dianggapnya sebagai seorang kaisar yang bijaksana dan patut dicontoh.

Maka dalam banyak hal, dia mencontoh Kaisar Dinasti Tang itu yang memerintah selama dua puluh tahun dan telah mencapai banyak sekali kemajuan untuk rakyat dan negaranya. Dan Kaisar Kian Liong ini malah menjadi Kaisar sampai selama enam puluh tahun! Sungguh merupakan masa pemerintahan yang amat lama dan jarang ada kaisar yang seperti dia. Hal ini membuktikan kebijaksanaannya ketika memerintah sehingga tidak banyak terjadi pemberontakan terhadap pimpinannya!

Memang tidak dapat disangkal bahwa jiwa patriot masih belum padam di dalam hati para pendekar. Namun api pemberontakan di dalam hati itu mengecil bahkan hampir padam selama pemerintahan Kaisar Kian Liong karena para pendekar itu segan dan tunduk kepada Kaisar yang bijaksana itu. Semua propinsi dalam keadaan tenteram, bahkan negara-negara yang tadinya suka menyeberang perbatasan dan mengadakan pengacauan, kini menarik pasukan mereka tidak berani mengganggu. Mereka pun maklum bahwa dalam sebuah negara yang tenteram dan makmur, terhimpun kekuatan yang hebat, bukan hanya kekuatan pasukannya, melainkan terutama sekali karena setiap orang rakyat siap sedia untuk mempertahankan ketenteraman hidupnya dan akan bangkit melawan pengacau dari luar.

Pada jaman Kaisar Yung Ceng, telah terjadi kontak-kontak dengan bangsa Rusia dan bangsa ini malah diperbolehkan membuka perwakilan di kota raja. Juga telah lama diadakan hubungan perdagangan dengan bangsa Portugal sebagai bangsa asing yang paling dulu mengadakan hubungan dagang dengan Tiongkok. Kemudian berturut-turut datang pula bangsa Belanda, Inggris dan Perancis. Akan tetapi, Kaisar Kian Liong membatasi gerakan mereka dan menjaga benar-benar agar mereka itu tidak mempengaruhi rakyat di mana mereka tinggal dengan kebudayaan mereka. Setiap gerak-gerik mereka diawasi dan perdagangan pun dibatasi agar rakyat tidak sampai tertipu dan dirugikan.

Demikianlah keadaan pada waktu pemerintah Kaisar Kian Liong, dan kalau pun ada terjadi pemberontakan, maka pemberontakan itu hanya terjadi di daerah pinggiran yang berbatasan dengan negara tetangga, pemberontakan suku bangsa yang masih liar dan yang selalu tidak mau menerima peraturan-peraturan dari pusat. Akan tetapi semua pemberontakan itu pun dengan mudah dapat ditundukkan dan diatasi.

Melihat keadaan ini, kaum pendekar juga bangkit kembali semangat mereka. Kalau dulu, di waktu para pendekar itu kecewa menyaksikan kelaliman Kaisar Yung Ceng sehingga mereka tidak acuh terhadap keamanan rakyat, kini mereka bangkit dan menentang para penjahat yang hendak mengacaukan ketenteraman. Dengan adanya para pendekar ini, makin tenteramlah kehidupan rakyat jelata, berkat kebijaksanaan Kaisar Kian Liong yang pandai mengambil hati kaum cerdik pandai dan gagah perkasa di seluruh negeri.

********************

Diam-diam Kao Cin Liong merasa kagum sekali terhadap Sim Hong Bu yang dalam pertemuannya dengan para pendekar patriot itu telah muncul dengan gagah perkasa, menantang dia dan bahkan menantang suheng dari Ci Sian yang bernama Kam Hong itu. Akan tetapi dia mengerutkan alisnya kalau teringat betapa pemuda itu menjadi demikian bingungnya ketika dihadapi dan diserang oleh Ci Sian, bahkan dia pun melihat dengan jelas betapa Hong Bu terus mengalah, bahkan kemudian melarikan diri, bukan karena takut kepadanya atau kepada Ci Sian, melainkan karena jelas bahwa pemuda itu sama sekali tidak mau menghadapi Ci Sian sebagai musuh.

“Dia mencinta Ci Sian!” demikianlah berkali-kali hatinya berkata dengan perasaan tidak nyaman. Dia sendiri juga jatuh cinta kepada Ci Sian dan agaknya kini dia menemui seorang saingan berat dalam diri Sim Hong Bu, pemuda gagah perkasa ahli waris keluarga Cu yang telah mewarisi pula pedang pusaka Koai-liong Po-kiam itu.

Cin Liong menjadi semakin kagum pada waktu dia melakukan pengejaran dan sampai berpekan-pekan, bahkan lebih dari sebulan, belum juga dia mampu menyusul Hong Bu. Memang dia telah menemukan jejak pemuda itu dengan penyelidikan dan bertanya-tanya, tetapi Hong Bu selalu lenyap dengan cepatnya. Bahkan setelah dia mengejar ke barat, tiba-tiba saja jejak pemuda itu menuju ke utara, ke kota raja! Di dalam perjalanan mencari dan mengikuti jejak Hong Bu ini, Cin Liong mendengar tentang Kaisar yang tengah jatuh sakit berat dan betapa kini Pangeran Kian Liong yang menjadi pejabat dan pelaksana yang tertinggi.

Dia merasa amat gembira dan percaya sepenuhnya bahwa Pangeran itu tentu akan mengadakan perubahan-perubahan bijaksana seperti yang sering kali dikatakan dan dijanjikan oleh Pangeran itu. Keyakinan ini membuatnya menjadi lega dan dengan hati tenang dia melanjutkan pengejarannya.

Dan ketika dia tiba di kota Pao-ting di sebelah selatan kota raja, dia mendengar bahwa pemuda yang dikejarnya itu menuju ke hutan di sebelah barat kota itu, di Pegunungan Thian-hong-san. Keterangan ini didapatnya dari para penjaga kota yang mengenal jenderal muda ini, karena Pao-ting tidak jauh dari kota raja dan nama Kao Cin Liong amat dikenal karena kegagahannya. Dia cepat melakukan pengejaran ke daerah hutan di kaki pegunungan itu dan pada keesokan harinya pagi-pagi dengan hati berdebar dan juga girang dia melihat orang yang diburunya itu berada di bawah pohon bersama seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang berpakaian seperti seorang pemburu.

Siapakah pria berpakaian pemburu itu? Dan mengapa Hong Bu pergi ke tempat itu, di dalam hutan sunyi? Seperti kita ketahui, Hong Bu bingung bukan main ketika melihat Ci Sian menyerangnya kalang-kabut dan bahkan semakin nekat. Dia tidak takut kepada dara ini, akan tetapi melihat betapa dara itu menyerangnya dengan demikian mati-matian seperti seorang musuh besar dan berniat membunuhnya, hatinya terasa seperti ditusuk dan kedukaan membuat dia melupakan semua urusannya. Maka dia pun tidak kuat bertahan dan melarikan diri secepatnya karena dia khawatir kalau-kalau Ci Sian mengejarnya. Setelah melihat dara yang amat dicintanya itu menganggapnya sebagai musuh, Hong Bu menjadi lemas dan lenyap semua semangatnya untuk menghadapi orang-orang yang memusuhinya.

Dia lalu melakukan perjalanan cepat, tidak mau kalau sampai tersusul orang. Dia bahkan tidak bernafsu untuk berkelahi dengan siapa pun, yang teringat hanya Ci Sian, dan hatinya menjadi semakin kacau membayangkan betapa dara itu menyerangnya mati-matian! Hal seperti ini tidak mungkin dibiarkan saja, pikirnya. Dia jatuh cinta kepada Ci Sian dan satu-satunya jalan hanya meminangnya untuk menjadi isterinya! Dan dia mempunyai harapan baik karena agaknya Bu Seng Kin, pemimpin para patriot itu, suka kepadanya dan agaknya tidak akan menolak kalau dia meminang Ci Sian yang ternyata adalah puterinya!

Apa pun hasilnya nanti, berhasil mau pun gagal hal ini akan membuat hatinya lega dan tidak bimbang seperti sekarang ini. Biarlah dia ditolak kalau dara itu memang tidak dapat membalas cintanya. Akan tetapi harus ada ketentuan, ada kepastian, tidak seperti sekarang ini. Dia tahu bahwa sebenarnya dara itu tidak membencinya, bahkan melihat sinar mata dara itu kepadanya, dahulu sebelum terjadi pertikaian tentang permusuhan dan persaingan antara Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut, dia pernah melihat sinar mata dara itu bersinar-sinar mesra kepadanya. Mungkin dara itu juga ada hati kepadanya, hanya karena urusan permusuhan itu, maka kini menjadi marah dan membencinya.

Demikianlah, Hong Bu lalu mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya, yaitu Sim Hok An, juga bekerja sebagai pemburu. Akan tetapi Sim Hok An ini bukanlah paman asli, bukan adik mendiang ayahnya seperti halnya pamannya Sim Tek yang sudah tewas di tangan Su-ok dahulu itu, melainkan adik sepupu yang masih bernama keluarga sama, yaitu she (nama keluarga) Sim. Sim Hok An inilah satu-satunya keluarganya yang dapat menjadi walinya untuk mengajukan pinangan kepada Bu Seng Kin, meminang Ci Sian! Untuk keperluan itulah maka Hong Bu mencari-cari pamannya itu.

Tentu saja tadinya dia mencari ke tempat tinggalnya yang lama, akan tetapi dia mendengar bahwa pamannya telah pindah ke Pao-ting bersama keluarganya, yaitu seorang isteri dan dua orang anak dan cepat dia menyusul ke Pao-ting. Di tempat ini dia mendengar bahwa pamannya sedang bekerja, yaitu seperti biasa, pekerjaan memburu ke dalam hutan. Pekerjaan ini kadang-kadang sampai makan waktu seminggu. Setelah memperoleh banyak hasil buruan barulah pulang untuk menjual hasil buruan ke kota. Maka dia pun segera menyusul ke hutan itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang yang selalu membayanginya atau mengejarnya, ke mana pun dia pergi.

Demikianlah, akhirnya Cin Liong berhadapan dengan Hong Bu dalam hutan yang sunyi, ketika Hong Bu sedang bercakap-cakap dengan Sim Hok An, pada pagi hari itu.

“Sim Hong Bu, akhirnya aku dapat menemukan engkau!” Cin Liong berseru dengan lantang, hatinya girang sekali karena akhirnya pengejarannya berhasil.

Hong Bu yang tidak menyangka sama sekali akan dapat disusul oleh utusan Kaisar yang hendak merampas pedangnya ini terkejut, akan tetapi mukanya segera menjadi merah karena marah. Dia meloncat bangun, berdiri dengan tegak, dan menoleh kepada pamannya.

“Maaf, Paman. Aku mempunyai urusan pribadi dengan orang ini, biarlah kuselesaikan dulu urusanku dengan dia, baru kita sambung percakapan kita tadi.” Sikapnya tenang sekali.

Akan tetapi, melihat sikap dua orang muda yang sama gagahnya itu, Sim Hok An yang juga sudah bangkit berdiri segera menegur, “Hong Bu, apakah yang terjadi? Siapakah dia itu dan ada urusan apakah?”

Tentu saja pamannya dapat melihat sikap yang serius dari keduanya, maka Hong Bu lalu berkata dengan terus terang, “Paman, aku mempunyai sebatang pedang dan orang ini hendak merampasnya, maka hal ini harus kami putuskan dengan perkelahian. Harap Paman jangan mencampuri dan berdiri agak menjauh karena orang ini adalah Jenderal Kao Cin Liong, seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!”

Terkejutlah orang setengah tua itu dan dia pun segera melangkah mundur dan duduk di bawah sebatang pohon agak jauh dari situ. Dia belum tahu bahwa keponakannya yang semenjak kecil telah menghilang, dan kabarnya bersama dengan Sim Tek melakukan perburuan di utara dan baru sekarang pulang itu, telah menjadi seorang yang amat lihai. Setelah pamannya itu mundur, barulah Hong Bu menghadapi Cin Liong.

“Nah, Kao Cin Liong, kita telah berdiri berhadapan sekarang. Di sini tiada orang lain dan Pamanku itu tentu tidak akan mencampuri. Kita adalah sama-sama laki-laki, katakanlah, apa yang kau hendaki maka engkau menyusulku ke tempat ini?”

“Sim Hong Bu, engkau tahu apa yang kukehendaki. Sayang bahwa ketika kita bertemu di rumah para pendekar itu, engkau melarikan diri….”

“Aku sama sekali tidak lari darimu, atau dari Kam-taihiap, atau dari siapa pun!” “Kalau begitu, kenapa engkau melarikan diri?”

“Bukan urusanmu!” bentak Hong Bu dan mukanya berubah merah sekali.

Hatinya sedih karena harus bicara tentang urusan yang mendatangkan duka di hatinya itu, mengingatkan dia bahwa dia sudah dimusuhi oleh Ci Sian dengan mati-matian.

“Engkau tetap menghendaki pedang Koai-liong Po-kiam yang sebenarnya menjadi hak milikku sebagai ahli waris keluarga Cu di Lembah Naga Siluman?”

“Hemm, maksudmu Lembah Suling Emas?”

“Bukan, sekarang namanya telah menjadi Lembah Naga Siluman! Nah, jawablah.”

“Tidak salah, memang aku mencari untuk minta dikembalikannya pedang pusaka itu. Betapa pun juga, pedang itu tadinya adalah pusaka istana dan dicuri orang, maka harus dikembalikan ke sana.”

“Bagus! Dan jawabanku tetap seperti dahulu, yaitu engkau baru dapat merampas dan membawa pergi pedang itu melalui mayatku!”

“Baiklah, akan kucoba untuk merampasnya darimu, Hong Bu. Sesungguhnya, terus terang saja aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, dan bahkan aku tidak benci sama sekali kepadamu. Akan tetapi, engkau tahu bahwa aku adalah seorang petugas yang menerima perintah untuk merampas kembali pedang pusaka istana, dan karena engkau kebetulan orangnya yang membawa pedang itu, dan kalau engkau tidak mau menyerahkannya kepadaku dengan damai, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan.”

“Bagus, kata-kata jantan! Aku pun ingin sekali mencoba sampai di mana lihainya putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang telah mengalahkan keluarga Cu!”

Mendengar disebutnya Naga Sakti Gurun Pasir, Sim Hok An menggigil dan mukanya pucat. Biar pun dia hanya seorang pemburu, akan tetapi keluarga Sim adalah pemburu yang berpengalaman dan banyak sekali kenalan di antara orang-orang kang-ouw, maka nama besar itu tentu saja pernah didengarnya. Juga dia mendengar tentang pedang Koai-liong Po-kiam yang lenyap dari istana itu. Siapa kira, ternyata pedang itu berada di tangan keponakannya, dan kini keponakannya itu akan bertanding melawan putera Naga Sakti Gurun Pasir. Hampir dia tidak percaya akan semua itu dan merasa seperti dalam mimpi.

Melihat betapa jenderal muda itu masih tidak mengeluarkan senjata, Hong Bu yang keistimewaannya hanyalah ilmu pedangnya yang memang luar biasa itu, perlahan-lahan mencabut Koai-liong Po-kiam dan nampaklah sinar kebiruan yang menyilaukan mata. Sim Hok An terkejut dan tidak terasa lagi dia menggeser duduknya di belakang pohon dan mengintai dari balik batang pohon itu!

“Ahhh, memang pedang pusaka yang hebat. Pantas saja dijadikan rebutan!” kata Cin Liong.

Tadinya dia hendak mengadu kepandaian tanpa senjata karena memang di antara mereka tidak ada permusuhan atau kebencian pribadi, tetapi melihat betapa pemuda lawannya itu telah mengeluarkan pedang yang hendak dijadikan rebutan, dia tidak berani menghadapi pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan seperti itu, maka Cin Liong juga mencabut pedangnya, pedang tanda pangkatnya, sebatang pedang yang terbuat dari bahan yang baik pula, yang tidak takut menghadapi keampuhan senjata pusaka. Pedangnya itu mengkilap dan kalau digerakkan mengeluarkan sinar putih seperti pedang biasa yang tajam.

Sejenak mereka berdiri berhadapan, pedang di tangan dan hati ragu-ragu. Seperti juga lawannya, Hong Bu merasa betapa janggalnya keadaan mereka berdua. Tidak saling mengenal, bahkan tidak pernah ada urusan apa pun di antara mereka, tahu-tahu kini berdiri berhadapan sebagai musuh yang mungkin akan saling bunuh! Teringat pula dia kepada Ci Sian yang juga secara tiba-tiba saja berdiri menghadapinya sebagai musuh.

Dan dia pun menarik napas panjang. Sebelum menjadi murid keluarga Cu, dia sama sekali tidak pernah punya musuh! Kalau dia membenci Im-kan Ngo-ok misalnya adalah karena mereka itu jahat dan pula pamannya, Sim Tek, tewas di tangan Su-ok. Akan tetapi apa salahnya orang-orang seperti Ci Sian, Kam Hong, Kao Cin Liong dan ayahnya, Kao Kok Cu? Terutama sekali Ci Sian dan Kam Hong, sama sekali dia tidak ingin memusuhi mereka. Juga Cin Liong ini demikian gagah perkasa. Tapi kini harus berhadapan dengannya sebagai musuh!

“Kao Cin Liong, seperti juga kata-katamu tadi, aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, juga tidak membencimu. Akan tetapi kita berdua, oleh tugas masing-masing, terpaksa kini berhadapan sebagai lawan. Kalau aku sampai kesalahan tangan dan engkau terluka atau tewas di tanganku, harap kau suka maafkan!”

Cin Liong tersenyum dan merasa semakin tertarik. Dia akan lebih suka menjadikan pemuda ini teman dari pada lawan. “Demikian pula aku, Sim Hong Bu. Nah, mari kita mulai saja!”

Entah siapa di antara mereka yang menyerang terlebih dahulu. Serangan yang dilakukan setengah hati dan yang mudah ditangkis lawan, kemudian menanti sampai sang lawan melakukan serangan balasan. Akan tetapi begitu mereka mengadu tenaga dan teringat bahwa lawan yang dihadapi adalah seorang yang amat lihai, mereka menambah kecepatan dan tenaga, dan belasan jurus kemudian keduanya sudah saling mengerahkan kecepatan dan tenaga sinkang mereka sehingga tubuh mereka tidak nampak lagi oleh Sim Hok An yang makin lama semakin bengong dan takjub.

Apalagi ketika terdengar suara mengaung-ngaung mengerikan dari pedang di tangan Hong Bu, orang setengah tua itu semakin menjauhi tempat itu dan memandang dengan hati penuh ketakjuban, ketegangan dan juga kengerian. Dia melihat daun-daun pohon rontok seperti tersambar pisau tajam, dan dua gulungan sinar biru dan putih itu sungguh indah dipandang, tetapi kalau teringat bahwa sinar-sinar itu merupakan cengkeraman-cengkeraman maut, dia menjadi ngeri.

Sementara itu, dua orang pemuda itu sendiri makin kagum terhadap lawannya masing-masing. Rasa kagum yang bercampur rasa penasaran. Serangan-serangan lawan sungguh amat berbahaya, akan tetapi juga pertahanan lawan demikian kokoh kuatnya sehingga sukar ditembus oleh pedang mereka. Hanya ada perbedaan sedikit antara mereka!

Koai-liong Kiam-sut sungguh merupakan ilmu pedang yang amat tangguh dan ampuh. Pedang yang diputar sampai mengeluarkan suara menggeram dan menggereng, mengaum seperti seekor binatang buas itu saja sudah menunjukkan betapa anehnya gerakan-gerakan itu. Dan dalam hal ilmu pedang ini, harus diakui bahwa Cin Liong masih kalah kuat setingkat.

Ilmu Pedang Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) adalah perombakan dari Ilmu Sin-liong-ciang- hoat, bukan ilmu pedang asli, dalam arti kata diciptakan sengaja dengan pedang. Biar pun hebat, namun gerakannya tidaklah sehebat dan seaneh Koai-liong Kiam-sut yang memang diciptakan untuk pedang yang khusus pula.

Akan tetapi, dalam hal sinkang dan ginkang, ternyata Hong Bu masih kalah setingkat pula. Hal ini adalah karena dasar latihan Hong Bu kalah oleh Cin Liong yang semenjak kecil sudah digembleng oleh ayahnya sendiri, yaitu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Dan karena masing-masing mempunyai kelebihan ini, maka keadaan mereka menjadi seimbang! Dengan ilmu pedangnya yang ampuh, Hong Bu berusaha mendesak lawannya, akan tetapi Cin Liong dapat menghalau semua itu dengan kelebihan tenaga sinkang dan juga kelebihan kecepatan gerakannya, dan yang dapat membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Rasa kagum telah tidak terasa lagi kini, yang terasa hanyalah rasa penasaran dalam hati masing-masing! Memang, pementingan diri selalu paling menonjol dalam batin manusia, dan sinar kasih yang menyinar keluar itu tak tampak lagi karena tertutup oleh debu-debu, antara lain yang paling gelap adalah debu pementingan diri ini. Seperti sebuah lampu yang kacanya penuh debu sehingga sinarnya dari dalam tidak dapat menyorot keluar.

Karena penasaran itulah, maka biar pun dalam hati masing-masing tidak ada kebencian, dua orang pemuda itu mengerahkan seluruh daya keampuhan mereka untuk saling mengalahkan, merobohkan, melukai, bahkan membunuh. Dan perkelahian adu pedang itu sudah berlangsung lebih seratus jurus. Mereka sama kuat, sama ulet, dan biar pun sudah sekian lamanya, mereka terus bergerak dengan kekuatan dikerahkan seluruhnya, namun mereka tidak nampak lelah. Saling serang, saling desak, hebat bukan kepalang sehingga Sim Hok An yang menonton sambil bersembunyi di balik batang pohon menjadi pucat sekali wajahnya dan tubuhnya agak gemetar.

Kembali lima puluh jurus telah lewat. Tiba-tiba Hong Bu yang sudah merasa penasaran bukan main, mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedangnya berkelebat seperti halilintar. Sungguh serangan yang luar biasa dahsyatnya, jauh lebih dahsyat dari pada yang sudah-sudah.

Cin Liong terkejut, tidak mengira bahwa lawan masih dapat mengeluarkan jurus yang demikian dahsyatnya, yang agaknya merupakan jurus simpanan. Dia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga dan menangkis, berusaha untuk membikin pedang lawan terpental dengan mempergunakan kelebihan tenaganya.

“Cringgg….!”

Dua pedang bertemu, tetapi agaknya hal ini sudah diperhitungkan oleh Hong Bu karena pedangnya terpental, bukan ke belakang, melainkan menyeleweng dan meluncur ke arah leher Cin Liong dari samping dengan kecepatan kilat!

Cin Liong tidak dapat menangkis lagi karena datangnya serangan itu amat mendadak dan tidak disangkanya semula, maka cepat dia menjatuhkan diri ke depan miring ke kanan dan tangannya memukul ke depan karena dia menjatuhkan diri bukan hanya untuk mengelak, melainkan juga untuk balas menyerang.

“Hiaaattt….!” Bentakan keras dari Cin Liong ini berbareng dengan guratan ujung pedang yang mengenai pundak kanannya, akan tetapi pukulannya tadi yang juga dielakkan oleh Hong Bu masih menyerempet paha kaki lawan.

Keduanya meloncat mundur ke belakang, menahan rasa nyeri. Pundak kanan Cin Liong berdarah, kulitnya terobek berikut bajunya, sedangkan Hong Bu merasa betapa kaki kanannya, di atas lutut, nyeri bukan main, membuatnya agak terpincang! Ternyata dalam gebrakan hebat tadi, keduanya telah sama-sama menderita luka, biar pun tidak berat akan tetapi cukup mengejutkan dan membuat keduanya waspada.

“Engkau hebat, Hong Bu!” Cin Liong memuji.

“Dan engkau pun telah berhasil melukaiku, bukan main!” Hong Bu menjawab.

Tanpa berkata apa-apa kecuali itu, keduanya sudah maju lagi, kini bergerak dengan hati-hati, dan keduanya kembali saling serang dengan ganas. Akan tetapi, sebelum pedang mereka berubah menjadi sinar bergulung-gulung seperti tadi, tiba-tiba terdengar suara halus namun penuh wibawa, “Tahan senjata!”

Cin Liong segera mengenal suara ayahnya, maka dia meloncat ke belakang menjauhi lawan sambil melintangkan pedangnya. Sedangkan Sim Hong Bu yang juga segera mengenal pendekar sakti lengan buntung itu, menarik napas panjang.

“Ahhh, melawan puteramu saja aku tidak mampu menang, apalagi melawan ayahnya, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Betapa pun juga, jangan dikira aku takut. Majulah, Taihiap, dan aku tidak akan penasaran kalau tewas di tanganmu untuk membela nama keluarga Cu yang telah melepas budi kepadaku!” Dia pun melintangkan pedangnya dan memasang kuda-kuda menghadapi Pendekar Sakti Gurun Pasir.

Pendekar berlengan satu ini tersenyum dan juga melangkah maju mendekat “Orang muda, ketika kami datang ke lembah itu, adalah dalam rangka utusan Kaisar untuk mencari kembali pedang yang hilang. Maka bentrokan yang terjadi antara kami dan keluarga Cu hanyalah karena urusan tugas, bukan urusan pribadi. Sampai saat ini kami tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan keluarga Cu. Maka, kalau urusan tugas lalu dijadikan urusan pribadi, jika mereka itu mengalah terhadap kami lalu mendendam dan menyuruh murid mereka membalas kekalahan itu, apakah engkau anggap hal itu benar?”

Dengan jujur Sim Hong Bu menjawab, “Terus terang saja, Taihiap, hal itu memang tidak benar. Akan tetapi kalau seorang murid tidak memenuhi pesan dan permintaan gurunya, apakah hal itu juga benar?” Dia membalas bertanya.

Kao Kok Cu tersenyum, memuji kecerdikan pemuda ini yang menangkis pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan yang tepat pula. “Memang, tentu saja tidak memenuhi permintaan guru pun merupakan hal yang tidak benar, akan tetapi harus ditinjau dulu apa macam permintaan itu! Ada dua macam permintaan, baik yang diajukan dari guru sendiri sekali pun, yaitu permintaan yang pantas dan tidak pantas. Kalau Suhu-mu minta agar supaya engkau melakukan hal yang tidak benar dan tidak pantas dan engkau memenuhinya, bukankah hal itu berarti satu hal yang sama sekali tidak berbakti, malah durhaka sifatnya?”

“Ehhh….?” Sim Hong Bu memandang dengan mata terbelalak. Baru sekarang ini dia mendengar ada orang berfilsafat bahwa memenuhi permintaan seorang guru malah merupakan hal yang durhaka dan tidak berbakti! “Apa maksudmu, Lo-taihiap?”

“Sim Hong Bu, kalau seorang murid melihat tindakan gurunya tidak benar, bukankah murid yang bijaksana akan mengingatkannya dan mencegah supaya gurunya jangan sampai melakukan tindakan itu. Kalau si murid malah membantu melakukan hal yang tidak benar itu, apakah dia dapat dinamakan murid yang baik, berbakti dan benar? Nah, tindakan gurumu mendendam kepada kami adalah tidak benar, hal ini telah kau katakan sendiri tadi. Akan tetapi mengapa engkau bersikeras untuk melaksanakan perintah gurumu yang tidak benar itu?”

Sim Hong Bu menjadi bingung.

Memang, urusan hauw atau ‘berbakti’ merupakah hal yang banyak membingungkan orang. Sejak jaman dahulu, berbakti terhadap guru atau orang tua dianggap sebagai ketaatan si anak terhadap guru atau orang tua. Dan melihat bahwa di sini terdapat suatu hal yang amat menguntungkan maka kata ‘berbakti’ itu dipergunakan oleh guru atau orang tua untuk membuat murid atau anak menjadi tidak berdaya!

Setiap kali seorang anak tidak menurut kata-kata orang tua, maka anak itu akan dicap sebagai anak ‘put- hauw’ (tidak berbakti) sehingga si anak terbiasa untuk mentaati segala perintah orang tua agar menjadi anak berbakti. Dan biar pun pada lahirnya si anak mentaati karena ingin disebut berbakti, di dalam hatinya si anak mengeluh dan memberi cap kepada orang tuanya sebagai ‘tidak mencintanya’. Maka timbullah celah yang besar antara orang tua dan anak.

Si orang tua ingin anaknya mentaatinya, dengan dalih bahwa semua perintahnya itu demi kebahagiaan dan kebaikan si anak, sikap seperti ini sesungguhnya bukan lain hanyalah sikap mementingkan diri sendiri, mencari enaknya sendiri, karena kalau anaknya taat, dialah yang akan merasakan senang dan berbahagia. Si orang tua sudah memastikan bahwa apa yang dianggapnya baik itu MESTI baik pula bagi si anak dan apa yang dianggapnya membahagiakan itu mesti pula membahagiakan si anak! Sikap seperti ini yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh orang-orang tua yang sesungguhnya timbul karena kekurang pengertian, menciptakan apa yang dinamakan ‘gap’ atau celah antara orang tua dan anak.

Adanya celah yang merenggangkan orang tua dan anaknya adalah karena tidak adanya kasih sayang, tidak adanya cinta kasih dalam batin masing-masing. Kalau ada cinta kasih, maka tidak ada lagi istilah berbakti atau durhaka, yang ada hanyalah kerja sama, saling membantu dalam hidup secara wajar, tanpa ingin disebut baik karena bantuan-bantuan masing-masing itu, yang ada hanyalah kasih sayang dan tidak ada sedikit pun keinginan untuk senang sendiri, menang sendiri, atau benar sendiri!

Betapa bahagianya sebuah rumah tangga jika terdapat kasih sayang ini di antara suami, isteri, dan anak- anak mereka! Peraturan-peraturan yang kaku dan dipaksakan hanya menimbulkan kemanisan lahir saja namun di dalam batin masing-masing merasa sakit hati dan menaruh dendam, kebencian terselubung senyum dan sikap ramah tamah palsu. Dan suasana seperti itu hanya dapat tercipta apabila dimulai dari diri sendiri! Bukan ingin mengatur orang lain.

Cinta kasih harus timbul dari batin sendiri, tanpa paksaan, dan cinta kasih sama sekali tidak mengharapkan balas dari orang lain. Akan tetapi cinta kasih mengandung daya mukjijat yang dapat membersihkan dan menerangkan orang lain pula!

Dalam kebingungan mendengarkan kata-kata yang baru sekali ini didengarnya namun yang dapat menusuk perasaannya karena dia merasa betapa semua ucapan itu tak dapat dibantah karena memang benar dan memang keadaannya pun demikian, maka Hong Bu mencari akal bagaimana untuk menjawab. Mendengar ucapan itu, matanya seperti terbuka betapa selama ini, semenjak dia melepaskan pakaian sebagai pemburu dan menjadi murid orang sakti dan memperoleh ilmu-ilmu yang membuat dia menjadi pendekar, dia merasa kehilangan sesuatu, dia merasa hidupnya tidak bahagia lagi, tidak seperti ketika dia masih menjadi seorang pemburu muda yang kasar dan bodoh.

Kini terbukalah matanya. Kiranya dia telah kehilangan kebebasan dan kewajaran! Dia telah terikat, dan dia terpaksa oleh ikatan itu untuk melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan suara hatinya, sehingga semua tindakannya ialah palsu dan menimbulkan konflik dalam batinnya sendiri! Dia harus melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kehendak hatinya!

“Akan tetapi, Taihiap…. bukankah semua hal ini dimulai dari pihakmu? Kalau keluarga Kao tidak datang menyerbu ke lembah untuk merampas pedang, tidak mungkin akan terjadi pertandingan itu yang mengakibatkan guru-guruku kalah dan lalu mendendam!” Bantahannya ini lemah, namun setidaknya merupakan bantahan pula yang bukan tidak benar.

“Semua akibat tentu ada sebabnya, orang muda, dan kalau kita menelusuri sebabnya, maka tidak akan ada habisnya. Kami datang ke lembah karena kami diutus Kaisar, dan kami diutus Kaisar karena pedang dicuri oleh seorang penghuni lembah, dan tentu kalian mempunyai pula sebab-sebabnya atas perbuatan itu. Tidak akan ada habisnya. Maka yang penting sekarang adalah saat ini, apakah kita akan terus menimbulkan sebab-sebab baru dan akibat-akibat baru. Tergantung sepenuhnya di tangan kita.”

“Akan tetapi kalau Taihiap sekeluarga masih terus mengejar-ngejarku, untuk merampas pedang, mana mungkin aku….”

“Tidak lagi! Untung bahwa kedatanganku belum terlambat. Aku ingin memberitahukan kalian berdua bahwa mulai sekarang, pedang Koai-liong Po-kiam itu adalah sah menjadi milikmu, Sim Hong Bu.”

“Ayah….!” Cin Liong berseru heran.

Ayahnya tersenyum. “Tidak tahukah engkau bahwa Pangeran Mahkota telah merubah banyak sekali peraturan dan menyudahi segala macam pertikaian dengan tindakan-tindakan bijaksana? Di antaranya adalah pembangunan kembali biara Siauw-lim dan juga pengakuan bahwa Koai-liong Po-kiam adalah berasal dari keluarga Cu, maka pemerintah tidak menuntut kembalinya lagi.”

“Bagus….!” Cin Liong bersorak gembira dan setelah menyimpan kembali pedangnya dia lantas menghampiri Hong Bu. Pemuda ini pun tersenyum dan menyimpan Koai-liong Pokiam, kemudian melangkah ke depan sambil agak terpincang. Mereka saling berjabat tangan dengan gembira.

“Hong Bu, aku girang sekali bahwa kini kita dapat menjadi sahabat!” “Aku pun girang sekali, Kao-goanswe.”
“Ehhh, apa-apaan menyebut jenderal di antara teman! Aku kagum sekali melihat ilmu kepandaianmu, Hong Bu.”

“Dan aku takluk kepadamu, Cin Liong. Kalau dilanjutkan aku tentu kalah.” “Ahh, engkau terlalu merendah. Belum tentu!”
Suasana menjadi gembira sekali. Juga Kao Kok Cu ikut gembira karena kedatangannya tidak terlambat untuk memisahkan dua orang pemuda yang seperti dua ekor naga sakti sedang berlaga itu. Kalau dilanjutkan, tentu salah seorang di antara mereka akan tewas dan yang seorang lagi juga tentu tak luput dari pada luka-luka hebat.

Begitu mendengar keputusan Pangeran tentang pedang itu, cepat-cepat Kao Kok Cu meninggalkan kota raja, menyuruh isterinya menanti di kota raja dan dia sendiri cepat-cepat pergi menyusul dan mencari Cin Liong yang sedang melakukan pengejaran terhadap Sim Hong Bu. Dan untung dia datang tepat pada waktunya. Di Pao-ting dia mendengar dari penjaga kota tentang puteranya itu, maka dia cepat menyusulnya.

“Sim Hong Bu, kulihat pedangmu itu luar biasa sekali. Itulah yang dinamakan Koai-liong Kiam-sut?”

“Benar, Locianpwe,” jawabnya, kini menyebut Locianpwe kepada Pendekar sakti itu, “Saya diangkat sebagai ahli waris oleh mendiang suhu Ouwyang Kwan yang menyamar sebagai Yeti, dan sayalah satu- satunya orang yang berhak memiliki Koai-liong Po-kiam ini bersama ilmunya yang khas diciptakan untuk itu, yaitu Koai-liong Kiam-sut.” Dengan singkat Sim Hong Bu lalu menceritakan riwayat pertemuannya dengan Yeti sampai dia diangkat menjadi ahli waris.

Kao Kok Cu mengelus jenggotnya yang masih pendek itu, menarik napas panjang. “Di dunia persilatan muncul Koai-liong Kiam-sut dan juga Kim-siauw Kiam-sut, sungguh amat mengagumkan sekali!”

“Sayang sekali bahwa Suling Emas dan Pedang Naga Siluman terpaksa harus berdiri bertentangan….,” Hong Bu mengeluh.

“Ehh, kenapakah begitu, Hong Bu? Aku melihat bahwa engkau juga menantang pewaris Kim-siauw Kiam- sut, mengapa?” tanya Cin Liong.

Hong Bu menarik napas panjang. Memang hal ini amat menyusahkan hatinya, tidak hanya karena dia amat kagum kepada Kam Hong dan tidak ingin memusuhinya, terutama sekali karena Ci Sian juga merupakan pewaris Kim-siauw Kiam-sut. “Kembali karena ikatan dengan keluarga Cu….” dan dia pun menceritakan betapa keluarga Cu kalah oleh Kam Hong maka memesan kepadanya untuk mengadu ilmu dengan pewaris Kim-siauw Kiam-sut.

“Ah, sayang sekali….” kata Kao Kok Cu. “Agaknya masih ada kaitan dekat sekali dengan kedua ilmu itu, setidaknya bersumber sama.”

Setelah bercakap-cakap seperti sahabat-sahabat baik, akhirnya mereka berpisah. Cin Liong bersama ayahnya diperkenalkan kepada Sim Hok An yang bersembunyi sejak tadi. Hong Bu memperkenalkan dia sebagai satu-satunya keluarga yang masih ada, dan Sim Hok An memberi hormat kepada pendekar sakti dan puteranya. Kemudian Kao Kok Cu dan puteranya pamit dan mereka kembali ke kota raja di mana Wan Ceng menanti-nanti mereka.

Di dalam perjalanan, ayah dan anak ini tiada hentinya membicarakan Sim Hong Bu sebagai seorang pemuda yang sederhana, gagah perkasa dan berbudi baik. Seorang pendekar sejati! Dan dalam kesempatan berdua itu, Cin Liong lalu mengaku terus terang kepada ayahnya tentang cintanya kepada Ci Sian.

Kao Kok Cu terkejut dan heran. “Apa? Dara pewaris Kim-siauw Kiam-sut yang…. ehh, galak sekali itu?”

“Di antara ribuan orang gadis yang kujumpai, hanya dialah yang menjatuhkan hatiku, Ayah. Memang ia keras hati, kekerasan hati yang terbuka dan jujur…. ehh, bukankah Ayah juga menyukai keterbukaan dan kejujuran?” Pemuda yang cerdik ini mengingatkan ayahnya secara halus bahwa ibunya juga seorang wanita yang keras hati.

Ayahnya tertawa dan mengerti isyarat itu. “Ceritakanlah perkenalan antara kalian,” katanya.

Cin Liong lalu menceritakan pertemuannya yang pertama kali dengan Ci Sian, ketika dia menyamar dan menyusup ke dalam benteng tentara Nepal yang ketika itu dipimpin oleh Nandini, ibu Siok Lan yang kini ikut Bu-taihiap sebagai satu di antara isteri-isterinya.

“Pada waktu itu pun, sebetulnya aku sudah tertarik kepadanya, maka ketika Siok Lan memperlihatkan kasih sayangnya, aku tidak dapat menerimanya, Ayah. Aku mencinta Ci Sian, dan hal ini baru terasa benar di hatiku ketika ia menyerangku, yaitu ketika ia membela ayah kandungnya yang sedang bertanding denganmu itu.”

Kao Kok Cu mengangguk-angguk. “Lika-liku cinta memang aneh, dan aku tidak heran bahwa engkau jatuh cinta kepadanya. Ia memang seorang dara yang penuh semangat, yang gagah perkasa dan memiliki keberanian istimewa, juga kulihat ilmu silatnya hebat sekali, agaknya tidak di sebelah bawah tingkatmu atau tingkat Hong Bu.”

“Itulah yang amat mengherankan hatiku, Ayah. Saat aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu di Himalaya itu, ilmu silatnya biasa saja. Akan tetapi sungguh heran, ketika kami mengadu senjata, ia memiliki tenaga sinkang yang luar biasa hebat, malah ada dua macam hawa yang bertentangan dalam tenaganya, amat panas dan dingin.”

“Ehhh….? Tenaga sinkang seperti yang dimiliki keluarga Pulau Es?”

“Agaknya begitulah, Ayah. Akan tetapi lepas dari semua itu, bagaimana pendapat Ayah tentang cintaku kepadanya?”

“Bagaimana pendapatku? Ehh, apakah ia juga mencintaimu? Itu yang penting.”

Cin Liong menarik napas panjang. “Sayang, aku tidak tahu dengan pasti, Ayah. Melihat sikap dan sinar matanya, agaknya…. aku boleh berharap demikian. Akan tetapi sungguh sayang, aku sendiri belum pernah menyatakan cinta dan bertanya, karena memang ketika kami bertanding di sarang para pendekar itulah aku sadar bahwa sesungguhnya aku cinta padanya.”

“Ahh, sungguh luar biasa kalau diingat bahwa ia itu kebetulan anak Bu Seng Kin lagi!” “Mengapa, Ayah?”
“Lupakan engkau? Keluarga Bu marah-marah dan mendendam kepada kita karena usul mereka denganmu kita tolak. Dan sekarang agaknya…. kita yang akan berbalik melamar anak perempuan mereka yang lain. Betapa janggalnya ini!”

“Ayah khawatir kalau lamaran kita ditolak? Kukira tidak perlu takut, Ayah. Kita harus mengajukan pinangan kepada Bu-locianpwe, itu adalah menurut kepantasan dan peraturan belaka, karena dia adalah ayah kandung Ci Sian. Akan tetapi, melihat sikap Ci Sian terhadap ayahnya, andai kata keluarga Bu menolak pinangan itu sekali pun, aku masih belum putus asa selama belum mendengar keputusan Ci Sian sendiri. Lagi pula kalau Bu-locianpwe menolak, aku masih dapat meminang kepada Ci Sian sendiri, atau kepada suheng-nya yang agaknya malah lebih dekat dengan Ci Sian dari pada ayah kandungnya sendiri.”

Pendekar sakti itu menarik napas panjang. “Mari kita bicarakan persoalan ini dengan Ibumu, Cin Liong. Baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan dalam urusan ini.”

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja dengan cepat. Betapa pun juga, mereka merasa bergembira bahwa tugas-tugas Cin Liong telah dapat diselesaikan dengan baik. Pertama, Pangeran Kian Liong telah dapat diselamatkan dan ke dua, urusan pedang pun telah selesai dengan baik, sungguh pun kedua hal itu tidak dapat dikatakan bahwa tenaga keluarga Kao saja yang membereskannya…..

********************

Bermacam perasaan teraduk dalam hati Cia Han Beng saat diam-diam meninggalkan kota raja. Ibunya telah tewas! Biar pun hal itu tidak diumumkan, namun dia dapat menduganya dengan jelas. Dia mendengar bahwa Kaisar tiba-tiba menderita sakit, dan menurut desas-desus yang didengarnya, penyakit Kaisar adalah luka yang keracunan. Bagaimana Kaisar tiba-tiba menderita luka yang membuatnya menjadi sakit payah kalau bukan dilakukan oleh ibunya? Tentu ibunya telah menyerang Kaisar, nyaris berhasil, akan tetapi tentu telah menebus dengan nyawa sendiri. Hal ini dia yakin benar karena siapakah yang akan mampu lolos dengan selamat setelah percobaannya membunuh Kaisar?

Dia merasa berduka. Tentu saja! Ibu kandungnya sudah tewas dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana kematian ibunya itu. Ditangkap dan disiksa lebih dulu? Kiranya, tidak demikian. Ibunya bukan seorang bodoh, bahkan Ibunya memiliki ilmu silat yang lumayan. Kalau usahanya gagal, tentu ibunya tidak membiarkan dirinya ditangkap dan disiksa, melainkan membunuh diri. Kiranya hanya ada dua kemungkinan. Ibunya mati bunuh diri setelah gagal, atau tewas di tangan Kaisar yang dia tahu memang memiliki kepandaian silat lebih tinggi dari pada ibunya. Betapa pun juga, Kaisar telah menderita luka parah sekali.

Dia mendengar pula tentang diangkatnya Pangeran Kian Liong sebagai penggantinya dan mendengar tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Pangeran yang bijaksana itu. Hal ini mengurangi kedukaannya dan kedukaan karena kematian ibunya itu terhibur oleh kebanggaan akan jasa ibunya! Ya, ibunya berjasa besar. Ibunya telah berhasil, jauh lebih berhasil dari pada usaha ratusan bahkan mungkin ribuan orang pendekar patriot! Ibunya telah menyerang Kaisar dengan cara langsung, dan telah memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan yang amat baik bagi para patriot! Ibunya seorang patriot sejati! Mengorbankan diri dan menghembuskan nyawa akan tetapi menolong nasib rakyat dan para pendekar! Patut dibanggakan!

Akan tetapi, di samping semua perasaan itu ketika dia meninggalkan kota raja, ada suatu perasaan duka yang masih menyelinap di dalam hatinya kalau dia teringat kepada Ci Sian. Dia mencinta dara itu. Akan tetapi dia melihat kenyataan bahwa dara itu tidak membalas cintanya, bahwa dara itu tidak mencintanya, dan pertentangan paham di antara mereka tentu akan merupakan jurang yang amat lebar yang akan memisahkan mereka. Dengan adanya perbedaan paham tentang perjuangan itu kiranya tidaklah mungkin dapat terjalin pertalian kasih sayang di antara mereka. Dia bukan seorang pemuda yang berpikiran sempit, melainkan orang yang sejak kecil telah digembleng oleh berbagai kepahitan hidup sehingga tidak menurutkan perasaan belaka.

Akhirnya dia berkunjung ke Cin-an, diterima dengan amat ramah-tamah oleh keluarga Bu Seng Kin. Apalagi ketika keluarga Bu mendengar bahwa pemuda itu adalah putera dari selir Kaisar yang telah menyerang Kaisar dan mengakibatkan Kaisar terluka parah kemudian Kaisar tewas oleh lukanya itu, maka pandangan para patriot terhadap Cia Han Beng menjadi naik dan pemuda itu dianggap sebagai putera seorang patriot sejati.

Di dalam pertemuan antara Cia Han Beng dengan para patriot dan terutama dengan keluarga Bu di Cin-an itu, terjadilah kontak antara dua hati melalui sinar mata mereka, yaitu antara pemuda Kun-lun-pai ini dan Bu Siok Lan.

Kontak ini dimulai ketika pemuda itu untuk pertama kalinya datang memperkenalkan diri sebagai seorang sepaham, yaitu golongan patriot yang menentang penjajahan bangsa Mancu. Karena ingin sekali mengukur kelihaian pemuda ini, maka Bu Seng Kin lalu mengajaknya ke lian-bu-thia dan di ruangan ini Bu- taihiap lalu minta kepada Han Beng untuk memperlihatkan ilmu silatnya dan sebagai pasangannya adalah Siok Lan. Tentu saja tadinya kedua pihak ini saling memandang rendah.

Siok Lan memang mempunyai watak keras dan agak tinggi hati. Hal ini mungkin timbul karena ibunya adalah bekas panglima, dan ayahnya adalah seorang pendekar sakti yang amat terkenal. Maka, mendengar bahwa pemuda yang baru datang itu adalah murid Kun-lun-pai, dia memandang rendah. Akan tetapi begitu mereka bergebrak dan saling serang, keduanya terkejut.

Han Beng tidak menyangka bahwa Bu Siok Lan ternyata memiliki kepandaian yang cukup hebat dan tidak mengecewakan menjadi puteri Bu-taihiap, pemimpin para patriot di Cin-an itu. Sebaliknya Siok Lan terkejut bukan main karena hanya dalam beberapa gebrakan saja tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang tinggi, dan bahkan tenaga sinkang-nya jauh lebih kuat dari pada tenaganya sendiri. Dan timbullah kekaguman dalam hatinya, apalagi ketika Han Beng tidak mendesaknya melainkan banyak bersikap mengalah.

Hal ini tidak luput pula dari pandangan Bu-taihiap yang tajam. Seorang pemuda yang lihai sekali, pikir pendekar ini. Dan memiliki watak yang halus dan baik sehingga mau pula mengalah terhadap puteri tuan rumah dalam pibu persahabatan itu.

Setelah lewat seratus jurus, Siok Lan mencabut pedangnya dan minta untuk bertanding ilmu pedang.

“Harap Cia-enghiong suka memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku,” demikian kata Siok Lan sambil mencabut pedangnya. Napasnya agak memburu dan lehernya penuh keringat setelah ia harus melayani lawan sampai seratus jurus tadi.

Cia Han Beng tersenyum. “Ah, Nona Bu sungguh terlalu merendahkan diri,” katanya. “Sebagai puteri Bu- locianpwe, tentu ilmu pedangmu hebat bukan main. Mana berani aku main-main dengan ilmu pedangmu? Biarlah aku mengaku kalah saja.”

Bu-taihiap senang akan sikap ini, dan diam-diam timbul harapan dalam dirinya untuk dapat menjodohkan puterinya itu dengan pemuda ini. Pemuda ini, dibandingkan dengan Jenderal Muda Kao Cin Liong yang pernah menolak perjodohan yang diusulkannya itu, tidaklah kalah terlalu banyak! Dia tahu bahwa pemuda ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang tertinggi dari para pimpinan Kun-lun-pai agaknya.

“Cia-enghiong, harap jangan bersikap sungkan. Anakku yang bodoh ini sudah mohon petunjukmu, dan kami sendiri pun sudah lama tidak pernah melihat Kun-lun Kiam-sut. Maka, harap Cia-enghiong tidak terlalu pelit untuk memperlihatkan sampai di mana kemajuan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat terkenal itu.”

Karena desakan pendekar itu, terpaksa Cia Han Beng menjura kepada Siok Lan sambil berkata, “Maafkan, Nona.”

Dan tangannya sudah mencabut sebatang pedang yang begitu dicabut tampak sinar merah yang seperti warna darah. Itulah pedang Ang-hio-kiam (Pedang Daun Merah) pemberian suhu-nya, sebuah di antara pedang-pedang pusaka dari Kun-lun-pai. Melihat pedang bersinar merah ini, keluarga Bu memandang kagum karena mereka semua sebagai ahli-ahli silat mengenal sebatang pedang pusaka yang baik.

“Siok Lan, engkau pakailah pedangku ini!” Tiba-tiba Nandini berkata sambil mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada Siok Lan.

Karena dara ini mengenal pedang ibunya sebagai pedang hadiah dari Raja Nepal dan merupakan sebatang pedang yang baik pula, maka ia pun cepat menukar pedangnya. Tentu saja di samping ingin meminjamkan pedangnya kepada puterinya agar dapat menandingi pedang merah lawan, juga Puteri Nandini memperkenalkan diri secara tidak langsung bahwa ia adalah ibu Siok Lan.

Dan memang Han Beng memandang dengan rasa heran dalam hatinya. Dari suaranya, dia dapat menduga bahwa wanita itu bukanlah seorang wanita Han, akan tetapi wanita setengah tua itu selain cantik, juga memiliki sikap yang gagah sekali. Dia hanya dapat menduga bahwa tentu ibu Siok Lan itu adalah seorang wanita dari suku bangsa yang jauh di barat atau di utara, tapi sepatutnya dekat daerah Tibet.

“Cia-enghiong, mulailah!” Siok Lan melintangkan pedang ibunya di depan dada sambil tersenyum. Hatinya telah terpikat melihat betapa tadi dengan tangan kosong ia sama sekali tidak berdaya menghadapi pemuda perkasa ini.

“Silakan, Nona, aku sudah siap,” kata Cia Han Beng yang tentu saja sebagai seorang tamu, apalagi sebagai seorang pria yang menghadapi seorang wanita, merasa segan untuk memulai dengan serangan lebih dulu. Hal ini menyenangkan hati Siok Lan dan setelah mengeluarkan seruan panjang yang nyaring akan tetapi juga merdu, ia sudah menggerakkan pedang di tangannya itu membuka serangan.

Han Beng menangkis dan pemuda ini dengan hati-hati sekali menjaga agar jangan sampai pedangnya merusak pedang gadis itu. Terjadilah pertandingan ilmu pedang yang amat indah. Semua orang memandang kagum karena permainan pedang pemuda Kun-lun-pai itu terkandung kekuatan yang dahsyat sekali.

Setelah lewat lima puluh jurus, Siok Lan sudah tak dapat melakukan serangan balasan lagi. Semua gerakannya tertutup, dan walau pun pemuda itu menyerangnya dengan perlahan, dan lambat saja bagi pemuda itu, namun bagi Siok Lan sudah membuatnya repot bukan main. Akhirnya, oleh karena napasnya memburu dan lengannya yang memegang pedang terasa sangat lelah dan kehabisan tenaga karena setiap tangkisan pedangnya mendatangkan getaran hebat yang membuat seluruh buku tulangnya nyeri, Siok Lan meloncat ke belakang.

“Cia-enghiong, aku menerima petunjukmu. Terima kasih!” dan gadis ini lalu menjura dan tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri ke ruangan belakang. Jangan dikira bahwa gadis ini merasa malu karena kalah, melainkan malu karena melihat perasaannya sendiri terhadap pemuda itu.

Pemuda itu sendiri pun tergerak hatinya. Dia melihat seorang dara yang selain cantik manis akan tetapi juga penuh semangat perjuangan, puteri seorang pemimpin pejuang. Tentu saja dia tidak mungkin dapat membandingkan gadis yang mana pun juga dengan Ci Sian yang telah merebut hatinya untuk pertama kalinya, juga dia tidak dapat membandingkan kepandaian Siok Lan dengan Ci Sian yang benar-benar membuatnya kagum sekali. Dia sendiri belum tentu akan mampu mengalahkan Ci Sian seandainya dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya sekali pun. Akan tetapi, dia tertarik kepada Siok Lan yang sepaham dengan dia, yaitu berjiwa patriot menentang penjajahan.

Dan oleh karena itulah, setelah beberapa hari kemudian Bu Seng Kin dan keluarganya mengundangnya untuk bicara tentang perjodohan, dan ketika keluarga itu mengusulkan pertalian jodoh antara dia dan Bu Siok Lan, Han Beng menerimanya dengan girang.

“Karena saya kini telah yatim piatu dan tidak mempunyai anggota keluarga lagi, maka untuk urusan ini sebaiknya kalau saya meminta doa restu dari Suhu di Kun-lun-pai,” demikian saja dia menjawab.

“Tentu saja, hal itu baik sekali!” kata Bu Seng Kin. “Biarlah kita mencari hari baik dan kami akan mengirim utusan menghadap ke Kun-lun-pai dan membicarakan urusan perjodohan ini kepada mereka dengan resmi. Sementara ini, kita anggap bahwa engkau telah bertunangan dengan Siok Lan.”

Tentu saja sebelum membicarakan urusan perjodohan itu dengan Han Beng, lebih dulu Bu Seng Kin dan Nandini telah bicara dengan Siok Lan dan melihat gadis itu agaknya tak menolak, bahkan nampak malu- malu sebagai tanda kalau seorang perawan dilamar orang dan tidak menolak.

Dan untuk pertunangan atau tali perjodohan yang disetujui kedua pihak ini, walau pun belum diresmikan oleh karena mereka belum menghadap pimpinan Kun-lun-pai yang sebetulnya hanya merupakan wakil- wakil atau wali yang tidak langsung saja dari Han Beng dan tidak mungkin akan menolaknya, maka pertunangan itu lalu dirayakan secara sederhana oleh keluarga Bu. Hadir dalam perayaan sederhana itu para patriot pejuang yang menganggap Han Beng sebagai orang yang berjasa besar dalam perjuangan mereka.

Karena pesta berlangsung di antara golongan sendiri, maka biar pun diadakan dengan sederhana tapi amat meriah. Tak ada golongan luar yang diundang, maka percakapan yang terjadi dalam pesta kecil pun itu berjalan dengan lancar dan terbuka. Akan tetapi, betapa heran dan terkejut hati semua orang ketika penjaga di luar dengan suara lantang mengumumkan datangnya keluarga Kao dari kota raja! Semua percakapan terhenti dan pihak tuan rumah, diikuti keluarganya, bangkit dan berjalan ke pintu untuk menyambut.

Keheranan yang tadinya menyelinap di dalam hati Bu Seng Kin berubah menjadi kejutan besar sekali. Alisnya berkerut dan sepasang matanya memandang tajam ketika dia melihat bahwa yang muncul adalah tiga orang yang pernah datang di tempat ini dan menggegerkan semua sahabatnya para patriot. Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu, isterinya yang berwatak keras dan juga lihai itu, dan puteranya, Jenderal Kao Cin Liong! Tentu saja jantungnya berdebar tegang dan biar pun dia pernah kalah oleh pendekar sakti dengan satu lengan itu dan isteri-isterinya juga kalah oleh keluarga Kao, namun dia tidak merasa gentar, bahkan memandang marah.

Bu Seng Kin cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada, menghormat kepada tiga orang tamu itu. “Ah, kiranya keluarga Kao yang gagah perkasa yang telah datang. Harap banyak maaf karena tidak mengetahui terlebih dahulu akan kunjungan Sam-wi, maka kami tidak dapat melakukan penyambutan secara selayaknya.”

Kao Kok Cu tersenyum dan mengangkat tangannya ke depan dada. “Maaf, maaf…., kamilah yang seharusnya minta maaf karena datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu sehingga agaknya kami amat mengganggu Bu-enghiong dan para sahabat yang gagah perkasa, yang agaknya sedang mengadakan pesta.”

“Ahh, sama sekali tidak mengganggu. Malah kebetulan, silakan Sam-wi masuk dan duduk sebagai tamu kehormatan kami. Hendaknya Sam-wi ketahui bahwa malam ini kami sedang merayakan pertunangan puteri kami.”

Mendengar ini, tiga orang itu menjadi girang sekali, meski ada pula perasaan tidak enak dalam hati mereka. Pihak keluarga Bu pernah mengusulkan tali perjodohan dengan keluarga mereka, dan mereka telah menolaknya. Dan kini, setelah gadis yang pernah ditolak itu bertunangan dengan orang lain, mereka datang sebagai tamu yang tidak diundang!

“Maaf, kalau begitu kami tidak berani mengganggu kegembiraan keluarga Bu-enghiong. Biarlah kami datang besok pagi saja,” kata Kao Kok Cu.

“Ahh, kenapa sungkan-sungkan? Silakan, kami tahu bahwa Sam-wi merasa sungkan dan canggung karena kami tidak mengundang. Akan tetapi, biarlah sekarang kami mengundang Sam-wi untuk hadir dan duduk sebagai tamu kami yang terhormat.”

Kao Kok Cu memandang kepada isterinya. Wan Ceng adalah orang yang berhati keras dan terbuka. Kini melihat sikap tuan rumah, ia pun mengangguk kepada suaminya dan wanita gagah ini melepaskan kalungnya yang dihias mainan seekor naga emas mata mutiara biru yang amat indah.

Setelah mereka masuk ke dalam ruangan itu, diikuti pandang mata seluruh tamu, juga pandang mata Bu Siok Lan yang mukanya sebentar berubah pucat dan sebentar berubah merah, Wan Ceng melopori keluarganya, menghampiri Siok Lan dan berkata, “Kami merasa gembira sekali memperoleh kesempatan untuk mengucapkan selamat atas pertunanganmu, Nona Bu Siok Lan. Dan sebagai tanda bahwa kami sekeluarga ikut merasa turut gembira, terimalah sebuah tanda mata dari kami ini!” Wan Ceng menyerahkan kalungnya yang amat indah itu.

Siok Lan girang sekali melihat sikap wanita gagah perkasa ini. Setelah ia memandang kepada ayah bundanya dan melihat isyarat yang menyetujui, dia pun lalu memakai kalung itu dibantu oleh Wan Ceng, lalu menghaturkan terima kasih. Peristiwa ini seolah-olah memecahkan semua dinding pemisah di antara mereka dan tiga orang tamu agung ini segera memberi selamat kepada Bu Seng Kin, kepada Nandini, bahkan mereka bertiga lalu diperkenalkan dengan calon suami Siok Lan, yaitu Cia Han Beng.

Ketika mendengar siapa adanya tamu-tamu agung itu, tentu saja Han Beng terkejut setengah mati dan memandang kepada pria berlengan buntung itu dengan penuh kagum. Nama besar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir tentu saja sudah sering kali didengarnya dan tidak disangkanya bahwa kini dia akan berhadapan dengan pendekar itu, bahkan menerima ucapan selamat atas pertunangannya. Di lain pihak, ketika mendengar bahwa tunangan Siok Lan adalah murid utama dari Kun-lun-pai, keluarga Kao juga merasa kagum.

Mereka bertiga kemudian dijamu sebagai tamu-tamu kehormatan dan semua orang bergembira ria pada pesta sederhana itu. Di dalam percakapan mereka selanjutnya, kedua pihak adalah orang-orang yang berjiwa pendekar, hanya persoalan politik saja yang memisahkan mereka menjadi golongan patriot yang anti pemerintah dan golongan yang membantu pemerintah. Akan tetapi, keluarga Bu ini maklum bahwa belum tentu pembantu-pembantu pemerintah merupakan penjilat-penjilat yang hanya haus akan kekuasaan dan harta belaka. Mereka melihat kenyataan betapa orang seperti Kao Cin Liong itu biar pun menjadi seorang panglima, namun dia menjadi panglima karena ingin menenteramkan kehidupan rakyat, dan dia pun berani menentang ketidak adilan di kalangan atas.

Dalam kesempatan itu pula, pada saat menjelang bubar pesta, Kao Kok Cu mendapat kesempatan baik untuk menyatakan isi hatinya kepada pihak tuan rumah. “Bu-enghiong, sesungguhnya amat janggallah apa yang akan kami kemukakan ini, dan kalau tidak mengingat bahwa keluarga Bu adalah keluarga gagah perkasa, yang seperti juga kami tentu akan lebih dapat menerima keterbukaan dan kejujuran, agaknya kami tidak akan berani mengemukakan maksud hati kami ini.”

Bu Seng Kin memandang tajam penuh selidik, juga penuh keheranan hati. “Ah, urusan apakah gerangan yang dikandung dalam hati Kao-taihiap? Memang lebih baik segala urusan dikeluarkan melalui mulut dan diperbincangkan sampai beres, daripada disimpan di dalam hati dan dapat menimbulkan penyakit.”

Kao Kok Cu menarik napas panjang, lalu memandang kepada Cin Liong yang bersikap tenang saja. Kemudian memandang kepada isterinya. Melihat sikap suaminya yang kelihatan amat sungkan itu, Wan Ceng merasa kasihan dan ia pun berkata dengan terus terang kepada Bu Seng Kin, “Beginilah, Bu- enghiong. Terus terang saja kami datang mengunjungi keluargamu adalah untuk melakukan lamaran terhadap puterimu….”

“Ehhh….!” Puteri Nandini bangkit berdiri dan mukanya menjadi pucat.

Wan Ceng tersenyum. “Maaf, tentu saja kami tidak gila untuk meminang puterimu yang telah mengikat jodoh dengan orang lain. Maksud kami adalah melamar Bu Ci Sian.”

Nandini duduk kembali dan mukanya menjadi merah lagi. Bu Seng Kin terbelalak, lalu pandang matanya nampak muram.

“Untuk putera tunggal Ji-wi?” tanya Bu Seng Kin kepada suami isteri itu sambil memandang kepada Kao Cin Liong.

Kini Kao Kok Cu yang menjawab karena pertanyaan itu terasa amat tidak menyedapkan hatinya, “Bu- enghiong, sekali lagi kami mohon maaf. Tentu engkau sendiri mengerti bahwa soal perjodohan adalah soal hati dari orang yang bersangkutan. Kami orang tua sekali pun tidak berhak mencampuri dan kami sebagai orang tua hanya melaksanakan saja hasrat hati anak yang bersangkutan. Jadi, tentu engkau maklum pula bahwa putera kami telah jatuh cinta kepada puterimu, yaitu Bu Ci Sian, karena inilah kami mengajukan pinangan.”

Ucapan pendekar sakti berlengan satu itu sudah cukup jelas. Di situ terkandung penyesalan bahwa keluarga Kao pernah menolak usul ikatan jodoh dan kini malah mengajukan pinangan untuk puteri keluarga Bu yang lain. Semua itu dilakukan karena permintaan anak, dan juga dia mengingatkan bahwa jodoh adalah urusan hati, urusan cinta kasih antara kedua orang muda, oleh karena itu dapat saja terjadi seperti keadaan mereka, yaitu menolak Siok Lan dan meminang Ci Sian.

Bu Seng Kin mengangguk-angguk, tersenyum dan mengelus jenggotnya. Kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, “Kao-taihiap tentu percaya kalau saya katakan bahwa kami sekeluarga merasa terhormat sekali dengan pinangan ini, dan sekiranya anakku Ci Sian itu setuju, tentu dengan hati dan tangan terbuka akan kami terima pinangan ini. Akan tetapi, hendaknya Sam-wi mengerti keadaan kami dan anak kami itu. Pernah Sam-wi saksikan sendiri sikap anak itu terhadap saya, dan ibunya sudah tiada. Agaknya, dalam urusan perjodohannya, saya pun tidak dapat memutuskannya sama sekali. Anakku itu agaknya…. ahhh, lebih dekat dengan suheng-nya dari pada dengan kami, dan ini…. saya tidak dapat menyalahkannya. Sudahlah, tentu Sam-wi mengerti, yang jelas, saya akan merasa berbangga sekali kalau dapat mempunyai mantu seperti Jenderal Muda Kao Cin Liong. Akan tetapi, saya tidak berkuasa atas diri Ci Sian. Sebaiknya jika Sam-wi menghubungi Ci Sian secara langsung saja. Kalau ia menerima, kami akan berbahagia sekali. Akan tetapi kalau dia menolak, saya pun tidak dapat berbuat apa-apa. Nah, hanya inilah yang dapat saya katakan sebagai jawaban atas pinangan Sam-wi.”

Keluarga Kao merasa puas dan gembira dengan jawaban itu. Memang mereka pun mengerti bahwa antara Ci Sian dan ayah kandungnya ini tidak ada hubungan yang baik. Dan tentang perjodohan gadis itu tentu berada di tangan gadis itu sendiri. Hal ini dimengerti benar oleh Cin Liong yang sudah mengenal watak Ci Sian. Akan tetapi, Bu Seng Kin adalah ayah kandung Ci Sian, dan melewatinya dalam urusan perjodohan Ci Sian sungguh dapat diartikan sebagai penghinaan. Kini, mereka telah menyampaikan pinangan kepada pendekar itu dan biar pun pendekar itu tidak dapat memutuskan, namun pada dasarnya pendekar Bu telah menyetujui kalau puterinya berjodoh dengan Cin Liong dan ini sudah cukup bagi pemuda itu.

Ketika pesta bubar, mereka berpamit dan menghaturkan terima kasih. Setelah keluar dari kota Cin-an, Cin Liong tidak ikut dengan ayah bundanya yang hendak pulang kembali ke utara, ke tempat tinggal mereka, yaitu di Istana Gurun Pasir.

“Aku akan pergi ke kota raja lebih dahulu,” kata pemuda itu, “Setelah melapor kepada Pangeran yang kini telah menjadi Kaisar, aku akan minta cuti dan akan pergi mencari Ci Sian sampai dapat. Setelah bertemu dan memperoleh keputusan, barulah aku akan menyusul Ayah dan Ibu pulang ke utara.”

Ayah dan ibu itu memberi banyak nasehat sebelum mereka berpisah, atau lebih banyak ibunya yang menghujaninya dengan nasehat-nasehat agar berhati-hati dan sebagainya. Ayahnya, Kao Kok Cu, tidak banyak bicara, dan dengan suara yang berwibawa hanya berkata, “Cin Liong, satu hal harus kau ingat baik-baik bahwa perjodohan hanya dapat dilaksanakan apabila keinginan itu terdapat dari kedua belah pihak! Kalau keinginan itu hanya terdapat di satu pihak saja, kelak akan mendatangkan banyak masalah dalam rumah tangga. Dan ingat, cinta kasih bukan berarti harus menikah! Tapi kalau keduanya ada cinta kasih, menikah merupakan jalan yang paling tepat. Syukurlah andai kata gadis itu juga menghendaki perjodohan denganmu. Kalau ia tidak setuju, hal itu wajar saja dan tidak sepatutnya menyengsarakan perasaan hatimu.”

Pesan ayahnya ini meninggalkan kesan mendalam di hati Cin Liong. Dia tahu bahwa kalau sampai Ci Sian menolak cintanya, menolak menjadi isterinya, dia akan menderita pukulan batin, hatinya akan terasa sakit. Akan tetapi dia melihat pula kebenaran ucapan ayahnya, maka dia pun sudah bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekali pun…..

********************

Ketika Sim Hong Bu melarikan diri dari Cin-an, dari sarang para patriot karena dia panik dan berduka melihat betapa Ci Sian menyerangnya kalang-kabut, diam-diam Cu Pek In juga melakukan pengejaran. Akan tetapi kalau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Cin Liong saja tidak mudah dapat menyusul Sim Hong Bu, apalagi Pek In yang ilmunya kalah jauh dibandingkan dengan suheng-nya yang dicintanya itu. Akan tetapi, ia tidak pernah berhenti mencari jejak Hong Bu dan telah mengambil keputusan bahwa baginya hanya ada dua pilihan, yaitu mencari sampai jumpa atau mati dalam usahanya itu!

Berpekan-pekan lamanya Cu Pek In mencari dan mengikuti jejak suheng-nya itu. Tetapi ia pun dibikin bingung ketika ia melihat jejak suheng-nya itu setelah menuju ke timur lalu kembali lagi ke barat, ke kota Cin-an dan menurut penyelidikannya, suheng-nya itu pergi ke Cin-an bersama seorang laki-laki setengah tua. Dan setelah pergi mengejar dan mencari Hong Bu selama hampir dua bulan, akhirnya Pek In kembali ke Cin-an dan bertemu dengan keluarga Bu. Dari Bu-taihiap ia mendengar banyak.

Bu Seng Kin yang mempunyai banyak sekali pengalaman itu dapat memaklumi bahwa gadis ini amat mencinta Hong Bu akan tetapi dia tahu pula bahwa Pek In bertepuk sebelah tangan dalam hal ini. Karena, baru beberapa hari yang lalu, Sim Hong Bu datang bersama seorang pamannya dan mengajukan pinangan atas diri Ci Sian! Dan hal ini terjadi baru beberapa hari setelah dia dan keluarganya menerima kunjungan dan pinangan dari keluarga Kao!

Bu-taihiap dan keluarganya menceritakan bahwa kini keadaan telah banyak berubah setelah Kaisar tua meninggal dan setelah Pangeran Kian Liong memegang kendali pemerintahan. Dia bercerita banyak tentang keadaan para pendekar patriot sekarang, yang sudah tidak dikejar sebagai musuh dan bagaimana pun juga harus mengakui kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan oleh kaisar baru.

Semua itu didengarkan dengan penuh perhatian oleh Cu Pek In, tetapi sesungguhnya di dalam hatinya, gadis ini tidak begitu tertarik. Kalau ia tadinya ikut pula dalam kelompok para pendekar patriot, hal itu hanya dilakukan karena ia mengikuti Hong Bu dan karena suheng-nya itu dianggap buronan dan di dalam pengejaran orang-orangnya Kaisar.

“Bu-locianpwe, saya mencari Sim-suheng sampai jauh, akan tetapi jejaknya malah menuju kembali ke Cin- an. Apakah dia datang ke sini?” akhirnya dia bertanya dan Bu Seng Kin yang memberi isyarat kepada isteri-isterinya itu segera menjawab.

“Dia memang pernah datang ke sini bersama seorang pamannya, tetapi tidak bermalam dan hari itu juga telah pergi lagi. Kurang lebih seminggu yang lalu dia datang. Ada hal yang amat menggembirakan, yaitu bahwa katanya, kaisar baru juga membebaskan dia, dan ia menyatakan bahwa pedang Koai-liong-kiam oleh Kaisar telah dinyatakan sebagai pedang milik keluargamu. Jadi sekarang dia tidak lagi dikejar-kejar.”

Berita ini memang menggembirakan hati Cu Pek In. “Akan tetapi, Locianpwe, setelah meninggalkan Cin- an, dia pergi ke manakah?”

Pendekar itu menarik napas panjang. Tentu saja dia tak tega untuk menceritakan bahwa Hong Bu telah datang melamar Ci Sian. Namun dia dapat menduga ke mana perginya Hong Bu. Ke mana lagi kalau tidak mencari Ci Sian? Untuk mengatakan bahwa Hong Bu kini mencari-cari Ci Sian, apalagi kalau dijelaskan bahwa pemuda itu mencarinya untuk melamarnya, berarti tentu menghancurkan perasaan gadis ini. Maka dia pun lalu berkata, “Setelah dia dibebaskan oleh Kaisar, tentu dia akan memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya oleh gurunya. Apakah engkau tidak dapat menduganya?”

“Tugas itu adalah mengalahkan Kim-Siauw Kiam-sut.”

Bu Seng Kin mengangguk. “Tentu saja. Dia tentu mencari Pendekar Suling Emas Kam Hong untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya, yaitu mengadu ilmu dengan pendekar itu atau…. sumoi-nya.”

Cu Pek In mengepal tinju. “Aku harus membantunya!” Lalu dipandangnya pendekar itu dan ia bertanya, “Ke manakah dia mencari mereka?”

“Kami tidak tahu, Nona, hanya kami mendengar bahwa pamannya itu masih mempunyai keluarga di Lok- yang. Mungkin saja mereka itu pergi ke Lok-yang.”

Keterangan ini memang benar, dan lagi pula, menurut beberapa orang pendekar patriot yang melihatnya, memang paman dan keponakan itu meninggalkan Cin-an menuju ke barat.

“Kalau begitu, saya akan segera menyusul dan mencarinya, Locianpwe.” Cu Pek In berpamit.

Setelah gadis yang selalu berpakaian pria itu pergi, Bu Seng Kin menarik napas panjang dan berkata kepada tiga orang isterinya yang masih duduk di situ bersamanya. “Ahh, betapa cinta telah mengombang- ambingkan kehidupan para muda seperti gelombang samudera mempermainkan perahu-perahu kecil! Betapa cinta menciptakan sorga atau neraka di dunia ini.”

“Cinta memang selalu mendatangkan sorga dan sekaligus juga neraka dalam hidup!” tiba-tiba Nandini berkata. Dan anehnya, dua orang madunya lalu mengangguk-angguk membenarkan. Melihat ini, Bu Seng Kin membelalakkan matanya.

“Ehhh, agaknya kalian bertiga sudah sepakat begitu. Apa maksud kalian?”

“Lihat saja kehidupan kami! Kami mencari sorga bersamamu akan tetapi yang kami dapat neraka!” kata pula Nandini cemberut, dan dua orang madunya juga cemberut.

Mau tidak mau Bu-taihiap tertawa. “Akan tetapi mengakulah, bukankah di samping neraka kalian juga mendapatkan sorga? Bukankah kalau satu di antara kita saling berpisah kita merasa rindu dan menderita?”

Tiga orang isterinya diam saja karena memang mereka harus mengakui bahwa mereka baru merasa berbahagia kalau di samping suami ini, walau pun kadang-kadang mereka harus menahan panas hati karena cemburu.

“Memang demikianlah hidup,” pendekar itu menyambung. “Di mana ada senang tentu ada susah, kalau ada sorga tentu ada neraka. Akan tetapi, jangan dikira bahwa yang pahit-pahit dalam hidup itu tidak perlu. Coba saja bayangkan, tanpa kita merasakan pahit, bagaimana mungkin kita dapat menikmati manis? Tanpa kita merasakan bagai mana yang dinamakan susah itu, bagaimana kita dapat mengenal senang? Demikian pula, kalau kita tidak pernah mengenal neraka, mana mungkin kita dapat menikmati sorga? Ha- ha, selama kita berada dalam cengkeraman Im Yang, tentu saja keduanya itu saling kait-mengait dan tidak mungkin kita dapat terbebas dari kekuasaan dan roda perputarannya.”

Apa yang diucapkan oleh Bu Seng Kin itu memang merupakan kenyataan. Sayang dia tidak menyelami lebih mendalam lagi sehingga dia hanya menerima hal itu sebagai sesuatu yang seharusnya demikian, sehingga dia sendiri masih terseret ke dalam lingkaran setan dari baik dan buruk, senang dan susah dan sebagainya itu.

Senang dan susah adalah dua permukaan dari sesuatu yang sama. Keduanya tak dapat dipisahkan karena memang keduanya itu merupakan dua saudara kembar yang tak terpisahkan. Ada yang satu pasti ada yang lain. Karena itu, setiap pengejaran akan kesenangan sudah pasti akan bertemu pula dengan kesusahan karena kesenangan dan kesusahan itu berbadan satu tapi bermuka dua. Apa yang nampak pada muka itu, baik nampak sebagai senang mau pun sebagai susah, hanya merupakan akibat dari pada pilihan pikiran sendiri belaka. Apa yang hari ini dianggap sebagai menyenangkan, mungkin saja pada hari esok akan dianggap sebagai menyusahkan, dan demikian sebaliknya.

Senang dan susah muncul sebagai akibat dari pada penilaian. Dan penilaian ini selalu bersumber kepada kepentingan si aku. Si aku adalah pikiran, si aku adalah nafsu. Wajarlah bagi seorang manusia untuk dimasuki perasaan-perasaan itu. Senang, susah, takut, malu, marah, dan sebagainya. Namun, dengan pengamatan terhadap diri sendiri secara penuh kewaspadaan dan perhatian, di waktu perasaan-perasaan itu memasuki hati dan pikiran, maka kita tidak akan terseret. Mengamati semua itu, menghadapi semua itu, tanpa menilai-nilai sebagai baik atau buruk. Mengamati saja penuh kewaspadaan tanpa ada si aku yang mengamati. Jadi hanya pengamatan saja yang ada, kewaspadaan saja yang ada.

Menerima semua itu sebagai suatu hal yang sudah semestinya begitu, seperti yang dilakukan oleh Bu Seng Kin, maka tidak akan timbul perubahan dan untuk selama hidup, kita akan selalu terombang-ambing antara suka dan duka, dan biasanya, lebih banyak dukanya dari pada sukanya. Dan selama kita menjadi permainan si kembar ini, kita takkan pernah bahagia. Yang kita anggap kebahagiaan bukan lain hanyalah kesenangan belaka yang pada lain saat sudah akan berubah lagi menjadi kesusahan.

Cu Pek In melakukan perjalanan ke barat dalam usahanya mencari Sim Hong Bu. Dia pergi menuju ke Lok-yang, sebuah kota yang besar dan ramai dan juga kuno di Propinsi Ho-nan. Gadis yang bagi yang tidak tahu dianggap sebagai seorang pemuda remaja yang amat tampan ini, melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya dan menyelidik kalau-kalau ada yang melihat Sim Hong Bu lewat di situ. Akan tetapi, agaknya sampai di Lok-yang, tidak ada seorang pun yang dapat memberi keterangan tentang suheng-nya itu. Tidak ada yang melihat adanya seorang pemuda seperti Sim Hong Bu lewat di jalan yang dilaluinya.

Dengan hati yang gelisah dan berduka, kedua kakinya yang lemas karena melakukan perjalanan jauh dan tubuhnya lelah sekali. Hari telah menjelang senja ketika terpaksa untuk hari itu ia menunda dulu pencariannya dan mencari kamar di sebuah losmen. Karena ia merasa amat lelah dan ingin beristirahat sebaiknya, maka dipilihlah hotel yang paling besar di kota itu. Hotel itu nampak besar dan cukup megah, dengan huruf-huruf besar dengan tinta emas di depannya berbunyi ‘Thian Hok Li Koan’.

Ketika Pek In memasuki ruangan depan hotel itu dan menuju ke kantor di sudut, ia melihat enam orang laki-laki duduk menghadapi meja bercakap-cakap di ruangan itu. Seorang pelayan segera menyambutnya dan sesaat alis pelayan ini berkerut melihat pakaian dan sepatu Pek In yang kotor dan berdebu, akan tetapi ketika dia memandang wajah yang tampan itu, dia segera bertanya dengan suara yang cukup ramah, “Selamat sore, Tuan Muda. Kalau anda mencari kamar, sungguh sayang sekali karena semua kamar telah penuh.”

Cu Pek In memandang pelayan itu dan hatinya menjadi kesal sekali. Ia sudah lelah dan juga jengkel dan berduka karena kehilangan jejak suheng-nya. Dan begitu tiba di hotel, di mana ia ingin cepat-cepat merebahkan diri, pelayan itu mengatakan bahwa semua kamar telah penuh! Ia merasa curiga, karena pelayan itu tadi memandang pakaian dan sepatunya yang berdebu. Karena sedang duka dan jengkel, maka Pek In menjadi mudah berprasangka dan marah-marah. Ia menyangka bahwa tentu pelayan ini tidak percaya kepadanya, pakaiannya berdebu, jangan-jangan ia dianggap tidak punya uang untuk membayar kamar! Hotel ini begitu besar, tentu mempunyai banyak kamar, masa sudah penuh?

“Benarkah tidak ada kamar kosong sama sekali? Aku sanggup membayar sewanya, berapa pun juga!” tanyanya dengan suara yang mengandung kejengkelan.

Ia tidak tahu bahwa enam orang pria yang tadi bercakap-cakap kini berhenti bicara dan semua melirik ke arahnya. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam, seorang pria yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, memandang kepada Pek In dengan sepasang matanya melotot lebar dan mulutnya mengandung senyum penuh arti. Tangannya meraba-raba kumisnya yang melintang ketika sepasang matanya itu menatap ke arah wajah dan tubuh Pek In dari pinggir.

“Sungguh, Kongcu, semua kamar telah penuh. Hari ini memang ramai sekali sehingga tidak ada lagi kamar di hotel kami yang kosong. Harap Anda memaafkan kami,” kata pengurus hotel yang sudah menjenguk keluar dari dalam kantornya.

Cu Pek In menarik napas panjang. Memang dia sedang sial, pikirnya, segala-galanya tidak pernah berhasil. Ingin ia menangis.

“Bung pengurus, biarlah kami mengosongkan sebuah di antara kamar-kamar yang kami sewa dan berikanlah kepada Tuan Muda ini!” Mendadak terdengar suara parau dan kasar, suara dari pria tinggi besar berkulit hitam itu.

“Tapi…. tapi Koa-kauwsu telah membayar semua kamar itu,” Si Pengurus berkata.

“Tidak mengapa, seorang temanku dapat tidur bersama temannya dan mengosongkan kamar itu untuk Kongcu ini. Atau kalau Kongcu ini mau, tempat tidurku cukup lebar dan boleh saja aku membagi tempat tidur dengan dia.”

Wajah Cu Pek In menjadi merah. Kalau didengarnya kata-kata itu sebagai seorang wanita, tentu saja kata- kata itu amat kurang ajar. Hampir saja ia marah sekali kalau tidak diingatnya bahwa ia kini sedang menyamar sebagai seorang pria. Maka ia pun berkata kepada pengurus hotel itu, “Kalau memang sudah penuh, sudahlah, aku bisa mencari kamar di hotel lain.”

Cu Pek In membalikkan tubuh tanpa menoleh kepada enam orang pria itu. Dia hendak meninggalkan ruangan hotel.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara parau itu, “Nanti dulu, Siauwte, aku hendak bicara denganmu!”

Cu Pek In menoleh dan melihat laki-laki tinggi besar itu sudah berdiri dan menjura kepadanya, demi kesopanan ia pun lalu balas menjura.

“Ada urusan apakah yang hendak dibicarakan?” Ia bertanya sambil memandang tajam.

Laki-laki itu bersikap cukup sopan dan ramah, dan sepasang matanya yang lebar memandangnya dengan kekaguman yang tak disembunyikannya. Bukan pandang mata orang jahat, pikirnya, melainkan pandang mata seorang yang mata keranjang. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa ia berpakaian pria dan biasanya jarang ada orang yang dapat mengetahui penyamarannya, maka ia membantah penilaiannya sendiri, karena tidak mungkin pria tinggi besar itu tertarik kepada seorang pemuda!

“Siauwte, maafkan kalau aku mencampuri urusanmu. Akan tetapi melihat bahwa engkau nampak lelah, pakaian dan sepatumu penuh debu menunjukkan bahwa engkau telah melakukan perjalanan jauh, dan agaknya tidak akan mudah bagimu untuk mencari kamar di hotel-hotel lain yang tentu juga penuh, maka aku menawarkan sebuah kamar kami kepadamu. Kami berenam menyewa lima kamar, kalau dikurangi satu kamar kami masih dapat tidur. Sebuah kamar untuk berdua pun tidak mengapa.”

Cu Pek In tersenyum dan tak tahu betapa senyumnya yang membuat wajahnya nampak semakin tampan itu membuat Si Tinggi Besar semakin kagum. “Ahhh, aku tidak ingin merepotkan Paman yang belum kukenal.”

“Sama sekali tidak merepotkan. Atau Adik boleh pilih, memakai sebuah kamar sendirian atau berdua denganku. Tempat tidur di kamar kami cukup besar….”

“Tidak, terima kasih! Aku tak biasa tidur berdua….,” jawab Pek In cepat-cepat memotong perkataan orang.

“Kalau begitu, pakailah sebuah kamar sendirian saja. Temanku dapat mengalah,” kata pula Si Tinggi Besar.

Melihat kebaikan orang, Cu Pek In merasa ragu-ragu untuk menolak.

Dan pengurus hotel itu pun cepat berkata kepadanya, “Kongcu, apa yang dikatakan oleh Koa-kauwsu ini memang benar. Sekarang sedang ramainya orang berdagang hasil bumi. Banyak tamu pedagang dari luar kota ini dan setiap hari semua hotel di kota ini penuh. Agaknya akan sukar bagi Kongcu untuk memperoleh kamar di hotel yang baik, kecuali di hotel-hotel kecil yang kotor.”

Ucapan pengurus hotel ini menghilangkan keraguan Cu Pek In dan ia pun kemudian menghaturkan terima kasih kepada Si Tinggi Besar.

“Ah, tidak perlu sungkan, Adik yang baik. Kita manusia di mana-mana memang harus saling bantu, bukan? Dengan begini, kita menjadi kenalan baru. Aku senang sekali berkenalan denganmu, Siauwte. Perkenalkanlah, aku Koa Cin Gu dari Lo-couw sebelah selatan kota ini.”

“Koa-kauwsu adalah guru silat yang terkenal di Lo-couw, bahkan di kota Lok-yang ini, Tuan Muda,” kata Si Pelayan memuji.

“Koa-kauwsu,” kata Pek In sambil menjura, “Terima kasih atas kebaikanmu. Aku sudah lelah sekali dan ingin beristirahat.” Sambil berkata demikian, Pek In lalu meninggalkan orang tinggi besar itu dan mengikuti pelayan dan seorang teman Si Tinggi Besar yang hendak mengambil barang-barangnya dari kamar yang diberikan kepada Pek In.

Setelah kamar itu bersih, Cu Pek In membersihkan tubuhnya, berganti pakaian dan memesan makan minum dalam kamarnya. Ia sudah lelah dan agak turun semangat, maka ia tidak keluar lagi dan memesan makan di kamarnya saja. Setelah makan dan istirahat sebentar, duduk termenung memikirkan nasibnya, dia pun merebahkan dirinya dan tidur.

Ia sendiri tidak tahu berapa lama ia tertidur, akan tetapi tiba-tiba ia terbangun oleh ketukan di pintu. Cu Pek In membuka matanya dan tanpa turun dari pembaringan ia bertanya, “Siapa di luar?”

Suara parau di luar segera dikenalnya sebagai suara Koa-kauwsu. “Aku Koa Cin Gu, Cu-siauwte!”

“Koa-kauwsu, ada keperluan apakah mengetuk pintu kamarku?” tanya Pek In sambil duduk di tepi pembaringan. Saking lelahnya, tadi dia sudah tertidur dengan pakaian lengkap, hanya sepatunya saja yang dilepaskan.

“Harap buka pintunya, Adik Cu! Aku memiliki hal yang amat penting untuk dibicarakan denganmu.”

Cu Pek In adalah seorang gadis gagah yang tidak pernah mengenal takut, akan tetapi setelah banyak merantau seorang diri meninggalkan lembah, ia sudah mempunyai banyak pengalaman dan bersikap hati- hati. Betapa pun juga, ia harus mencurigai orang yang telah bersikap terlalu baik kepadanya itu. Dipakainya sepatunya dan diselipkan sulingnya di pinggang, tertutup baju, lalu ia pun melangkah ke pintu dan membukanya.

Koa Cin Gu masuk sambil tersenyum ramah. “Sudah tidurkah, Siauwte? Maafkan kalau aku mengganggu, ya?” Ketika dia bicara itu, Pek In mencium bau arak dan biar pun sikap guru silat itu masih biasa saja, namun melihat muka hitam itu kemerahan, juga matanya, ia dapat menduga bahwa orang ini tentu terlalu banyak minum arak dan agak mabok.

Tanpa mempersilakan duduk, ia pun bertanya, “Koa-kauwsu, ada keperluan apakah yang hendak kau bicarakan?”

“Banyak, banyak sekali. Cu-siauwte,” kata guru silat Koa itu dan dia pun menutupkan kembali daun pintu.

Karena mengira bahwa orang itu menutupkan pintu karena memang mempunyai urusan yang penting, maka Pek In juga diam saja, hanya memandang dengan penuh perhatian. Akan tetapi, orang she Koa itu tanpa dipersilakan lagi kini sudah duduk, bukan duduk di atas kursi, melainkan di tepi pembaringan!

Si Muka Hitam itu kini tersenyum menyeringai sambil berkata, “Aku ingin berkenalan lebih baik denganmu, Adik Cu Pek In. Sini duduklah di dekatku sini, agar kita lebih enak bicara. Sejak melihatmu tadi, aku sudah suka sekali kepadamu, Adik yang baik.”

Muka Pek In menjadi merah sekali. Akan tetapi ia masih teringat bahwa orang itu bicara kepadanya sebagai seorang pemuda, bukan seorang gadis!

“Ah, Paman Koa, mengapa begitu? Katakanlah apa yang perlu kau bicarakan sehingga malam-malam engkau datang ke sini. Aku mengantuk sekali.”

“Ha-ha, mengantuk? Tidurlah, tidurlah biar kita bicara sambil merebahkan diri. Ataukah engkau lelah dan perlu kupijati? Ke sinilah, sayang.”

Pek In mulai mengerutkan alisnya. Apakah orang ini sudah tahu akan penyamarannya dan bersikap kurang ajar karena tahu bahwa ia adalah seorang wanita?

Tetapi hatinya belum yakin benar dan ia masih berpura-pura menegur, “Koa-kauwsu, apa artinya sikapmu ini? Lupakah engkau bahwa aku adalah seorang pria?”

“Ha-ha-ha, lupa? Tentu saja tidak, Adik tampan! Kalau engkau seorang wanita, apa kau kira aku sudi mendekatimu? Aku membenci wanita, dan aku sayang kepada pemuda-pemuda tampan seperti engkau ini. Ke sinilah, Adik tampan, akan kupijiti engkau agar lelahmu lenyap dan engkau temani aku tidur. Marilah….!” Dan guru silat bermuka hitam itu sudah mengembangkan kedua lengannya ke arah Pek In!

Pek In memandang dengan mata terbelalak. Betapa pun banyaknya pengalaman yang dihadapinya selama ini, baru sekarang melihat keganjilan ini. Seorang pria yang hendak mencumbu pria lain! Inikah yang dinamakan orang banci? Tubuh guru silat itu demikian tinggi besar, kulitnya kasar hitam dan kumisnya melintang, tubuhnya jelas menunjukkan laki-laki seratus prosen. Akan tetapi mengapa dia menyukai pria muda tampan?

Teringat akan hal ini, Pek In bisa menduga betapa banyaknya pemuda-pemuda tampan yang menjadi korban orang aneh ini. Tentu di antara murid-muridnya yang belajar ilmu silat banyak terdapat pemuda- pemuda remaja yang tampan. Entah dipermainkan secara bagaimana. Tak dapat ia membayangkannya dan ia sudah merasa jijik dan geli, seperti melihat seekor ular.

“Manusia keparat! Keluarlah engkau dari sini!” Pek In membentak marah sekali dan menudingkan telunjuknya ke arah pintu.

Koa-kauwsu memandang bengis, lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang. “Ahhh…. kiranya engkau hanya seorang pemuda yang tak mengenal budi. Beginikah balasannya ditolong orang?”

“Hemm, kalau memberikan kamar kosong kepadaku kau anggap sebagai budi besar yang harus dibalas dengan kemesuman dan kecabulanmu, engkau mimpi, orang berhati binatang. Sudahlah, kau cepat keluar dari sini sebelum kuhancurkan kepalamu!” Pek In sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi.

Guru silat itu membelalakkan kedua matanya, dan dia tersenyum. Barulah kini nampak oleh Pek In betapa senyum pria ini mengandung sifat kegenit-genitan seperti wanita!

Koa Cin Gu sebetulnya bukanlah seorang penjahat, melainkan seorang guru silat yang cukup kenamaan. Akan tetapi, dia mempunyai kelainan dengan orang-orang biasa, yaitu, dia suka bermain cinta dengan pria- pria muda yang tampan. Dia sungguh tidak suka menyukai wanita, karena walau tubuhnya tinggi besar dan kasar seperti pria tulen, adalah hatinya seperti seorang wanita, terutama mengenai selera dan birahi. Dia tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap pria-pria muda, karena dengan pengaruhnya sebagai guru silat, banyaklah murid-murldnya sendiri yang mau melayaninya dengan harapan memperoleh pelajaran silat yang lebih tinggi dari pada murid-murid lain. Maka, terhadap Pek In yang dianggapnya sebagai seorang pemuda yang tampan sekali ini pun Koa-kauwsu tidak bermaksud menggunakan kekerasan. Akan tetapi dia telah dihina dan dimaki, maka bangkitlah kemarahannya.

“Bocah kurang ajar! Engkau ditolong baik-baik, diperlakukan dengan sikap ramah dan manis, dan engkau malah menghina orang. Bocah sombong, benarkah engkau hendak menghancurkan kepalaku? Coba saja kalau engkau mampu!”

“Mampu? Apa sukarnya? Tetapi aku tidak ingin membikin kacau dengan pembunuhan, maka bukan kepalamu yang akan kuhancurkan, melainkan lengan tanganmu saja!” Berkata demikian, Pek In sudah menerjang ke depan dengan pukulan tangan kirinya.

Pukulannya mantap dan cepat sekali, sehingga guru silat itu yang mengenal serangan berbahaya, mengeluarkan seruan dan cepat menangkis dengan lengan kanannya, dan berbareng dengan itu langsung membalas dengan sodokan tangan kirinya ke arah dada Pek In. Walau pun hal ini bukan dimaksudkan untuk kurang ajar, akan tetapi sebagai seorang gadis, Pek In menganggapnya demikian, maka dia pun sudah mengerahkan tenaga sinkang pada lengan kanannya dan dia menghantam ke bawah, ke arah lengan kiri lawan.

“Krakkk….!”

Tulang lengan kiri Koa-kauwsu, dekat pergelangan, patah-patah dan di lain saat Pek In telah menendang tubuhnya sehingga guru silat terpelanting. Pek In cepat membuka pintu dan sekali lagi menendang. Tubuh guru silat itu terlempar keluar pintu kamar!

Tentu saja ia mengaduh-aduh karena bukan hanya lengan kirinya yang patah-patah tulangnya, akan tetapi juga dua kali tendangan itu membuat dadanya sesak dan perutnya mulas. Ribut-ribut ini mendatangkan lima orang temannya dan melihat betapa guru silat itu mengaduh-aduh, memegangi lengan kiri dengan tangan kanan, lima orang itu lalu menyerbu ke dalam kamar Pek In. Akan tetapi Cu Pek In sudah muncul di pintu dan membentak marah.

“Masih ada lagi yang hendak kurang ajar kepadaku?”

“Dia memukulku, dia mematahkan lenganku, pukul dia!” Koa-kauwsu yang merasa kesakitan itu sudah bangkit berdiri dan dengan meringis dia menuding ke arah Pek In dengan telunjuk kanannya.

Lima orang temannya terkejut bukan main, tidak disangkanya bahwa pemuda remaja yang halus tampan itu mampu merobohkan guru silat Koa yang lihai! Mereka berlima dapat menduga bahwa tentu pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, maka mereka sudah mencabut senjata golok mereka dan menyerbu ke dalam kamar!

Akan tetapi Cu Pek In sudah marah sekali. Ketika tangannya bergerak, nampak sinar emas berkelebatan, dan terdengar bunyi nyaring ketika sinar emas itu bertemu dengan golok-golok di tangan lima orang yang mengaduh-aduh, ada yang kepalanya benjol, ada yang lengannya patah, dan ada pula yang mendekap perutnya yang kena ditendang! Keadaan menjadi geger karena semua tamu kini terbangun dan berdatangan ke tempat itu. Tiba-tiba, di antara para tamu itu, muncullah sepasang suami isteri yang gagah perkasa.

“Pek In….!” Mereka menegur.

Cu Pek In yang masih bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan suling di tangan, cepat menengok dan melihat bahwa yang menegurnya itu adalah seorang laki-laki tinggi besar bersama seorang wanita cantik, segera mengenalnya. Pria itu adalah pamannya sendiri, Cu Kang Bu dan wanita itu adalah isteri pamannya, Yu Hwi.

“Paman….!” teriaknya ketika mengenal pamannya. “Pek In, mari kita pergi saja dari sini!” kata Kang Bu.
Pek In begitu girang bertemu dengan pamannya sehingga ia tidak membantah, cepat mengambil pakaiannya dan keluar dari dalam kamarnya bersama paman dan bibinya. Setelah mereka mengambil pakaian dari kamar suami isteri itu, Kang Bu lalu mengajak mereka keluar, berhenti di kantor pengurus, membayar untuk dua kamar mereka dan segera mengajak keponakannya pergi meninggalkan hotel.

Hal ini dilakukan oleh Kang Bu yang tidak mau menghadapi keributan setelah terjadi perkelahian antara keponakannya dan beberapa orang laki-laki tamu hotel itu. Mereka lalu mencari kamar di rumah penginapan kecil di pinggir kota. Di sini mereka lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing. Cu Pek In dengan hati sedih menceritakan betapa ia sudah bertemu dengan Hong Bu, bersama-sama pergi ke Cin-an di mana mereka berdua tinggal di sarang para patriot.

“Aku bertemu dengan Bibi Tang Cun Ciu di sana, Paman. Engkau tahu, yang menjadi pemimpin para pendekar patriot adalah Bu Seng Kin Locianpwe?”

“Hemm, pantas kalau begitu!” Hanya demikian Kang Bu berkata karena dia tidak mau mencampuri kehidupan pribadi bekas kakak iparnya itu.

Pek In lalu melanjutkan ceritanya, betapa Hong Bu bertemu dengan dua orang yang harus dilawannya, yaitu keluarga Kao dan juga Pendekar Suling Emas Kam Hong. Betapa kemudian karena diserang oleh Ci Sian, Hong Bu melarikan diri dan dikejar oleh Jenderal Muda Kao Cin Liong.

“Aku pun mengejarnya, Paman, namun aku tertinggal jauh dan aku terus mencarinya sampai berbulan- bulan. Jejaknya membawaku kembali ke Cin-an. Menurut keterangan Bu-locianpwe mungkin Sim-suheng pergi ke Lok-yang ini.” Kemudian ia menceritakan pengalamannya di hotel itu dan sikap guru silat she Koa yang aneh dan kurang ajar terhadap dirinya.

“Sungguh aneh, Paman. Dia sudah mengatakan bahwa dia menganggap aku pria, akan tetapi mengapa dia hendak merayuku? Apakah dia itu orang-orang gila, Paman?”

Pamannya tertawa, demikian pula Yu Hwi. Yu Hwi yang menjawab. “Pek In, ketahuilah bahwa di dunia ini memang terdapat orang-orang yang sejak lahir telah mempunyai kelainan-kelainan yang mungkin saja diperkuat oleh keadaan sekeliling di waktu dia masih kanak-kanak. Atau mungkin ada sesuatu yang salah dalam tubuhnya sehingga ada orang yang tubuhnya pria akan tetapi perasaan hatinya wanita, seperti orang yang mengganggumu tadi. Akan tetapi ada orang yang tubuhnya wanita akan tetapi perasaan hatinya pria, dan orang begitu hanya suka berdekatan dengan sesama wanita, dan membenci pria.”

“Demikianlah yang dinamakan banci, Bibi?”

“Biasanya, sebutan banci ditujukan kepada seorang pria yang berhati wanita seperti pengganggumu tadi. Pria-pria seperti itu condong untuk menjadi wanita, merasa dirinya sebagai wanita, bahkan yang sudah terlalu berat kecondongannya itu, tidak ragu-ragu lagi untuk berpakaian sebagai wanita dan bersikap sebagai wanita pula. Sebaliknya, wanita yang berhati pria itu pun condong untuk menjadi pria dan berpakaian sebagai pria….”

Tiba-tiba Yu Hwi berhenti dan memandang kepada Pek In dengan muka berubah dan sikap sungkan. Melihat sikap isterinya ini, Kang Bu tertawa.

“Jangan khawatir, Pek In adalah seorang wanita asli, buktinya ia jatuh cinta kepada Hong Bu. Kalau ia suka berpakaian pria adalah karena mendiang orang tuanya memberi pakaian pria kepada Pek In.”

Wajah Cu Pek In menjadi merah sekali. “Ah, jadi ada wanita yang hatinya seperti pria dan lebih suka menjadi pria? Aku tidak mempunyai perasaan seperti itu, Bibi. Akan tetapi setelah mendengar penuturan itu, aku jadi muak untuk memakai pakaian pria, jangan-jangan aku disangka orang banci lagi! Biarlah, mulai sekarang aku akan mengenakan pakaian wanita. Harap Bibi membantuku!”

Demikianlah pada keesokan harinya, kedua orang wanita itu berbelanja dan mulailah Cu Pek In mengenakan pakaian wanita. Dan sungguh harus diakui bahwa setelah ia mengenakan pakaian wanita, mau berbedak dan berhias, ia nampak sebagai seorang dara yang cantik jelita! Bahkan Cu Kang Bu sendiri memuji keponakannya itu dan menyatakan sayangnya, mengapa sejak dahulu keponakannya tidak mau berpakaian sebagai seorang wanita. Kemudian mereka bertiga melanjutkan usaha Pek In untuk mencari Sim Hong Bu…..

********************

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo