September 24, 2017

Suling Emas Naga Siluman Part 18

 

Semua orang memang sudah mendengar berita angin bahwa Thio-thicu juga telah mendapatkan seekor kuda pilihan yang kabarnya akan mampu menandingi kuda hitam milik Bouw-thicu. Akan tetapi tidak ada yang mengira bahwa kuda itu pun adalah seekor kuda hitam yang sama benar, bahkan agak lebih tinggi dibandingkan dengan kuda milik Bouw-thicu. Dan yang membuat mereka gembira dan terheran-heran karena sama sekali lebih tidak mereka sangka lagi adalah bahwa penunggangnya juga seorang wanita, bahkan seorang dara remaja yang demikian cantik dan gagahnya!

Biar pun dari jauh Lui Shi nampak cantik sekali, akan tetapi semua orang tahu bahwa kecantikan wanita yang lebih tua itu banyak dibantu oleh bedak dan gincu, sedangkan kecantikan dara remaja itu adalah kecantikan asli. Maka, kenyataan bahwa kuda kedua orang tuan tanah yang saling bersaing itu serupa, dan juga penunggangnya sama wanita cantik, tentu saja para penonton menjadi gembira sekali dan suasana menjadi tegang, apalagi mereka yang bertaruh. Sibuklah mereka ini untuk menambah atau merubah taruhan mereka setelah kedua ‘jago’ itu keluar.

Sementara itu, melaLui wakil masing-masing, terjadi pertaruhan yang luar biasa antara Bouw-thicu dan Thio-thicu. Mereka itu saling mempertaruhkan tanah di perbatasan antara wilayah mereka, tanah yang luasnya lebih dari separoh milik mereka, masih ditambah lagi dengan sejumlah perak dan emas yang membuat salah satu di antara mereka rudin kalau kalah! Dan pertaruhan besar ini disyahkan dan disaksikan oleh kepala daerah sendiri!

Ci Sian tidak berlagak seperti yang diperlihatkan Lui Shi tadi. Akan tetapi tanpa berlagak sekali pun dara ini sudah nampak gagah sekali. Hek-liong-ma berlari congklang dan Ci Sian langsung melarikan kudanya ke dalam tempat berkotak yang diperuntukkan para pembalap itu. Ia membawa kudanya memasuki tempat yang bertuliskan huruf Thio.

Sementara itu, semua kuda sudah memasuki kotak masing-masing sebab para petugas perlombaan sudah mengibarkan bendera, pertanda bahwa perlombaan akan dimulai dan semua kuda harus bersiap-siap di dalam kotak masing-masing. Semua pembalap memandang ke arah petugas yang memegang sebuah bendera merah dan yang berdiri di tempat yang agak tinggi. Petugas inilah yang akan memberi tanda dimulainya balap kuda itu. Kalau bendera yang diangkatnya tinggi itu sudah dikelebatkan turun, itulah tandanya.

Dan Si Petugas itu pun masih memegang tangkai bendera dengan kedua tangannya dan dia sejak tadi memandang ke atas panggung, ke arah kepala daerah. Karena kalau para pembalap itu menanti tanda dari dia, maka dia pun menanti tanda dari pembesar itu. Hanya kepala daerah saja yang berhak memberi tanda bahwa perlombaan boleh dimulai.

Agaknya kepala daerah itu sedang menerima laporan-laporan dari para petugas dan penyelidikannya bahwa segala sesuatunya berjalan beres, tidak ada apa apa yang mencurigakan dan tidak ada permainan curang dilakukan orang dalam perlombaan itu. Maka, setelah merasa yakin bahwa tidak ada hal yang patut dicurigai, kepala daerah itu lalu bangkit dari tempat duduknya, lalu mengangkat tangan ke kanan, ke atas dan menggerakkan tangan itu tiba-tiba ke bawah. Inilah tanda bahwa perlombaan boleh dimulai, yang merupakan isyarat bagi Si Petugas pemegang bendera merah.

Semua mata penonton hampir tak pernah berkedip memandang ke arah kotak-kotak itu, menanti dengan hati berdebar saat dimulainya perlombaan yang menegangkan hati itu, terutama yang akan terjadi di antara dua penunggang kuda wanita itu. Akan tetapi, di dalam ketegangan ini ada saja penonton yang berkelakar mengatakan bahwa jangan-jangan yang dinanti-nanti dengan tegang, yaitu dua orang pembalap wanita itu, ternyata akan menjadi pemenang dari belakang!

“Bagaimana pun juga, mereka hanyalah wanita-wanita!” tambahnya.

Kelakar ini mengurangi ketegangan dan terdengar suara ketawa. Bagaimana pun juga, kelakar itu masuk di akal dan bukan hal yang tidak mungkin akan terjadi seperti yang diramalkan oleh orang itu. Dan betapa akan lucunya kalau kedua penunggang kuda wanita itu, yang kini dikagumi dan dijadikan pusat pertaruhan yang amat ramai, di akhir perlombaan itu akan menjadi juara dari belakang, yaitu nomor satu dan nomor dua paling akhir!

Begitu kepala daerah itu menggerakkan tangannya, petugas yang memegang bendera merah pun berseru dengan suara nyaring, suara yang sudah dinanti-nanti oleh para peserta perlombaan.

“Perlombaan dimulaiiiii!” Dan bendera merah itu pun berkelebat turun dari atas.

Para pembalap itu menggebrak kuda masing-masing pada saat para petugas menarik palang yang menutup kotak-kotak itu dan mulailah terdengar derap kaki kuda yang diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai para penonton. Binatang-binatang itu seperti mendapatkan semangat tambahan, atau memang ketakutan mendengar sorak-sorai itu dan mereka pun lari semakin kencang.

Menurut peraturan perlombaan, para pembalap harus mengelilingi arena balap itu sebanyak tiga kali putaran, dan setelah memutar lapangan itu tiga kali, lalu membelok ke depan panggung para pembesar di mana telah disediakan seikat bunga dengan pita merah yang digantungkan. Peserta yang paling dulu meraih dan mengambil seikat bunga inilah yang dinyatakan sebagai pemenang pertama. Adapula di situ digantungkan ikatan bunga untuk diambil oleh pemenang ke dua dan ke tiga. Dan di sepanjang arena perlombaan itu, di tengah jalan diadakan rintangan-rintangan seperti pagar dan parit yang mesti dilompati oleh kuda peserta. Jadi, yang diperlombakan bukan sekedar hanya kecepatan, melainkan juga ketangkasan dan kemahiran si penunggang kuda.

Pada tengah putaran pertama, sembilan ekor kuda itu masih kelihatan sama cepatnya. Mereka lari kencang berdampingan seolah-olah mereka itu sudah bersepakat untuk lari bersama, tidak saling mendahului. Akan tetapi begitu mereka tiba di rintangan-rintangan di mana mereka harus mengerahkan kekuatan kaki dan kemahiran penunggang kuda masing-masing untuk melompat agar tidak sampai tersandung pagar atau jatuh ke dalam parit lumpur, mulailah nampak keunggulan Lui Shi. Wanita ini mengeluarkan teriakan melengking dan agaknya ini merupakan tanda bagi kuda hitamnya untuk meloncati parit dengan loncatan yang amat indah dan tinggi, jauh melampaui para saingannya dan ketika tiba di seberang parit, kuda itu lalu lari membalap dengan cepat sekali seolah-olah keempat kakinya tidak lagi menyentuh bumi!

Sorak-sorai meledak dari para penonton di luar arena balap itu, terutama sekali dari anak buah Bouw-thicu dan dari mereka yang berpihak dan bertaruh atas kuda hitam milik Bouw-thicu. Dan seolah-olah didorong oleh suara sorak-sorai ini, kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi makin membalap sehingga jauh meninggalkan para saingannya.

Sedangkan Hek-liong-ma yang ditunggangi Ci Sian masih bersama-sama dengan para pembalap lain, hanya berada paling depan saja. Makin cepat juga kuda hitam Lui Shi meluncur sehingga ketika putaran pertama habis, ia telah meninggalkan para lawan sejauh hampir seperempat putaran! Tentu saja para penonton menjadi gegap-gempita, bersorak-sorak dan mencemooh kuda lain, terutama Ci Sian yang tadinya diharapkan akan dapat mengimbangi kecepatan kuda milik Bouw-thicu itu. Hal ini membuat Lui Shi timbul kesombongannya dan mulailah ia berlagak.

Ia berloncatan di atas punggung kudanya, berjungkir-balik, berjongkok dan menari-nari di atas punggung kudanya yang berlari kencang itu. Memang harus diakui bahwa wanita ini pandai sekali menunggang kuda. Berdiri di atas punggung kudanya yang berlari kencang itu agaknya bagi wanita itu tiada bedanya dengan berdiri di atas tanah saja!

Para penonton tentu saja menjadi semakin gembira, ada yang tertawa dan bertepuk tangan riuh, bahkan mereka yang berpihak kepada kuda lain pun mau tidak mau harus mengagumi kepandaian wanita itu dan kecepatan lari kuda hitam yang ditungganginya. Mereka semua tahu bahwa apa yang dipertontonkan wanita itu bukanlah main-main, berbeda dengan pertunjukan komedi kuda di mana kudanya tidak berlari sekencang itu dan bukan sedang dalam suatu perlombaan besar. Sekali saja salah perhitungan dan wanita itu terjatuh dari punggung kuda, akibatnya maut!

Thio-thicu memandang semua itu dan wajahnya berubah agak lesu. Dia adalah seorang yang sudah sering mengadakan perlombaan kuda dan setelah melihat betapa dalam putaran pertama, jadi sepertiga jarak perlombaan, pihak musuh sudah mendahului dengan seperempat putaran, harapannya sudah menipis. Tak mungkin ada kuda yang akan dapat menyusul ketinggalan sejauh itu. Dan diam-diam dia pun harus mengakui bahwa kuda hitam milik orang she Bouw itu memang luar biasa sekali. Belum pernah dia melihat ada kuda dapat berlari secepat itu, juga belum pernah melihat penunggang kuda sepandai wanita yang bekerja untuk lawan itu.

Maka dia pun menoleh ke arah Suma Kian Bu dan Teng Siang In yang duduk di sebelah kirinya dan dia terheran-heran. Suami isteri pendekar ini nampak tenang-tenang saja! Hal ini membuat dia penasaran, maka dia pun tak dapat menahan hatinya bertanya kepada Siang In yang duduknya paling dekat dengannya, “Bagaimana pendapat Toanio? Kuda kita agaknya akan kalah….”

Betapa herannya hati tuan tanah itu ketika mendengar jawaban pendekar wanita itu dengan suara tenang, “Ia tidak akan kalah. Adik Ci Sian adalah seorang penunggang kuda yang baik dan mencinta kudanya. Ia tidak mau menguras tenaga kudanya, tetapi menanti saat baik. Lihatlah….!”

Tuan tanah itu menengok, apalagi karena tepat pada saat itu terdengar sorak-sorai yang riuh-rendah, dan tepuk tangan gegap-gempita. Ketika dia menoleh ke arah perlombaan, wajahnya segera berubah, kalau tadinya lesu kini menjadi berseri-seri dan saking lupa diri dia sampai bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia melihat kuda hitam yang ditunggangi Ci Sian mulai ‘terbang’! Ya, memang lebih pantas disebut terbang karena kuda hitam itu berlompatan atau berlari seperti terbang saja, meninggalkan kelompok teman- temannya yang tadinya tertinggal jauh oleh kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi!

Lui Shi tadinya masih enak-enakan, masih mengira bahwa semua tepuk sorak itu adalah untuknya. Memang dia sudah yakin akan kemenangannya dan memandang rendah kepada semua lawannya. Bukankah ia sudah menang seperempat putaran dan dua putaran lagi ia akan meninggalkan mereka lebih jauh lagi!

Akan tetapi ketika dia iseng-iseng menoleh ke arah panggung dan melihat betapa rombongan Thio-thicu juga bersorak-sorak, bahkan Thio-thicu sendiri yang gendut itu bangkit berdiri dan berjingkrak-jingkrak, dia terkejut dan heran sekali. Cepat Lui Shi menoleh dan ketika ia melihat seekor kuda hitam meluncur cepat sekali dari belakang, tahulah ia bahwa kuda hitam yang ditunggangi dara remaja itu, milik Thio-thicu, telah mulai berusaha untuk mengejar dan menyusulnya!

“Setan!” Ia memaki.

Kalau tadinya ia enak-enakan jongkok di atas punggung kudanya, kini ia turun lagi dan duduk di atas punggung, lalu membedal kudanya agar berlari lebih cepat lagi. Kuda hitam tunggangannya itu bukan lain adalah kuda hitam milik suami isteri dari Pulau Es itu, dan kuda ini memiliki ketangkasan yang seimbang dengan Hek-liong-ma. Maka begitu dibedal, kuda ini meringkik dan me-luncur ke depan lebih cepat lagi.

Terjadilah kejar-mengejar antara dua ekor kuda hitam ini. Kejar-mengejar dalam putaran yang kedua dan pada saat menghadapi rintangan, mereka berlompatan dengan amat cekatan. Karena kuda hitam Lui Shi dibedal sekuatnya, maka kembali Hek-liong-ma tidak dapat menyusulnya dan jarak di antara mereka masih cukup jauh, sungguh pun Hek-liong-ma juga sudah jauh sekali meninggalkan para lawan yang lain! Dan ketika putaran kedua habis, jarak antara mereka masih ada sedikitnya lima puluh meter!

Tentu saja kejar-kejaran ini membuat para penonton panas dingin rasanya, apalagi di pihak Bouw-thicu dan Thio-thicu. Mereka dari kedua rombongan ini sudah bangkit berdiri semua dan tiada yang tidak menggerakkan kaki tangan dan mulut mereka untuk memberi dorongan semangat. Seolah-olah nampak semangat mereka beterbangan ke arah dua kuda jagoan masing-masing dan semangat itu ikut mendorong pantat kuda agar lebih cepat lagi!

Tinggal satu putaran lagi dan di sinilah letak keuntungan Ci Sian. Kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi telah lebih dulu diperas tenaganya, dipaksa berlari sekencangnya dan pada putaran terakhir ini, nampak betapa kuda itu menjadi lemah. Mulutnya mulai berbuih dan hidungnya mendengus-dengus, tanda bahwa kuda itu mulai kelelahan. Tidak demikian dengan Hek-liong-ma yang kelihatan semakin gembira untuk mengejar kuda di depan itu.

Lomba itu kini seolah-olah hanya dilakukan oleh dua ekor kuda hitam itu. Yang lain-lain sudah tidak masuk hitungan lagi. Bahkan para thicu yang memiliki kuda lain itu sama sekali tidak lagi memperhatikan kuda mereka sendiri yang jauh tertinggal di belakang, melainkan menujukan perhatian mereka kepada dua ekor kuda yang berlari secepat terbang itu. Dan para petaruh mulai berteriak-teriak untuk menambah taruhan mereka.

Kini, lambat namun jelas sekali, Hek-liong-ma mulai dapat mengurangi jaraknya dari kuda hitam di depan. Dan Lui Shi yang sejak tadi sering menoleh ke belakang, melihat pula akan hal ini. Telinganya dapat menangkap derap kaki kuda di belakangnya itu, yang merupakan suara seperti ancaman setan, makin lama semakin jelas.

Sekarang mereka berdua tiba di tempat di mana ada rintangan-rintangan pagar dan parit dan mulailah kini Hek-liong-ma memperlihatkan ketangkasannya. Lompatan demi lompatan dilakukannya dan perlahan- lahan kuda ini mulai dapat menyusul kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi! Ketika semua rintangan dapat dilompati oleh dua ekor kuda itu, kini dua ekor kuda itu sudah hampir sejajar, dan Hek-liong-ma hanya kalah setengah badan saja!

Sekarang Lui Shi dapat melihat wajah Ci Sian yang tersenyum tenang, wajah yang menimbulkan benci dan iri dalam hati Lui Shi. Tiba-tiba Lui Shi mengeluarkan suara nyaring yang bunyinya seperti ringkikan kuda.

“Hiiii-yehh…. hiii-yehhh….!”

Dan akibatnya memang hebat. Hek-liong-ma mengurangi kecepatan gerakan kakinya dan berlari di belakang kuda hitam betina itu! Mereka kini sudah melalui separuh dari putaran terakhir!

Ci Sian terkejut sekali dan ia teringat bahwa wanita ini adalah seorang penjinak kuda. Tentu teriakannya tadi merupakan teriakan yang khas, yang merupakan bahasa kuda yang agaknya menahan Hek-liong-ma! Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara lain di dekat mereka. Suara ini seolah-olah berada dekat sekali dengan dua orang wanita itu, dan seperti suara setan yang tidak nampak.

“Hek-liong-ma…. ckk, ckk…. hyaaakkk….!”

Mendengar suara ini, Hek-liong-ma tiba-tiba meloncat ke depan dan dengan beberapa kali loncatan saja kuda ini sudah dapat menyamai lagi sehingga lari berendeng dengan kuda hitam! Penonton seperti gila, berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan menyaksikan peristiwa ini, kejar-mengejar yang mendebarkan dan menegangkan hati ini. Ada beberapa orang petaruh yang jantungnya lemah sudah jatuh pingsan di tempat dia berdiri!

Melihat ini, Lui Shi terkejut bukan main dan beberapa kali ia berusaha untuk menguasai Hek-liong-ma dengan teriakan-teriakan aneh. Akan tetapi selalu ada suara lain yang menentangnya dan agaknya Hek- liong-ma lebih taat kepada suara tanpa rupa ini. Diam-diam Ci Sian kagum bukan main dan tahulah dia bahwa suara itu tentulah suara Pendekar Siluman Kecil yang mempergunakan khikang yang amat kuat, mengirim suara dari jauh untuk menguasai Hek-liong-ma.

Melihat betapa Hek-liong-ma kini malah telah menang setengah badan dibandingkan dengan kudanya, Lui Shi marah bukan main. Tangan kirinya mengambil sesuatu dari balik bajunya dan tangan itu bergerak. Sinar lembut menyambar ke arah belakang kuda Hek-liong-ma.

Akan tetapi, sejak tadi Ci Sian tidak pernah lengah. Ia tahu akan kecurangan lawan, maka sejak tadi pun ia sudah bersiap. Melihat tangan kiri lawan merogoh saku saja ia sudah curiga, maka begitu tangan kiri itu bergerak dan jarum-jarum meluncur ke arah belakang tubuh Hek-liong-ma, cepat dara ini mencondongkan tubuhnya ke belakang.

Dengan tangan kiri ia mengebut dan mengerahkan tenaga khikang sehingga jarum-jarum itu runtuh, akan tetapi dia masih sempat menyambar dan menangkap beberapa batang jarum dengan tangan kirinya, lalu langsung menyambit dan jarum-jarum itu terbang kembali kepada pemiliknya. Akan tetapi berbeda dengan Lui Shi, Ci Sian tidak menyerang kuda, melainkan langsung menyambitkan jarum-jarum itu ke arah tubuh Lui Shi!

Lui Shi kaget bukan main. Tak disangka bahwa dara remaja yang menjadi penunggang kuda hitam itu ternyata adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali! Disangkanya hanya seorang penunggang kuda yang mahir ilmu menunggang kuda saja. Siapa tahu, dengan kebasan tangannya, bukan saja dara itu mampu meruntuhkan jarum-jarumnya, bahkan dapat menangkap jarum-jarumnya dan kini sambitan cepat seperti kilat menyambar! Wanita ini mengeluarkan seruan kaget dan mendadak saja tubuhnya lenyap dari atas kuda.

“Ehhh….?!” Ci Sian terkejut, akan tetapi ia menjadi kagum ketika wanita itu muncul kembali dan ternyata tadi ketika mengelak dari serangan jarumnya, wanita itu telah menjatuhkan dirinya ke bawah perut kuda dengan kedua kaki tetap mengait tubuh kuda itu. Sungguh merupakan ilmu menunggang kuda yang hebat, yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli pemain sirkus yang amat mahir.

Kini mereka terus membalapkan kuda mereka dan dua ekor kuda itu masih terus lari berendeng, sungguh pun Hek-liong-ma menang setengah badan. Sorak-sorai masih menggegap-gempita di kalangan penonton, bahkan para pembesar yang juga ikut-ikutan merasa tegang, sudah berdiri semua di atas panggung dan ikut bertepuk-tangan.

Kini putaran terakhir hampir habis! Melihat kudanya akan kalah begini terus, tiba-tiba Lui Shi mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menaburkan benda putih di atas pinggul dan ekor kudanya. Tiba-tiba Hek-liong- ma mengeluarkan suara meringkik aneh dan…. kuda ini menahan larinya, lalu berlari di belakang kuda hitam itu sambil mendengus-dengus!

Ci Sian menjadi terkejut dan juga bingung. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia tidak tahu bahwa Lui Shi yang ahli itu telah menaburkan obat yang membuat kuda-kuda jantan seolah-olah menganggap kuda betina itu sedang dalam waktu birahi! Dan hal ini merangsang kuda Hek-liong-ma yang sudah mengenal kuda hitam itu sebagai kawan lamanya, lalu lari di belakangnya, tidak mau mendahului.

Tentu saja para penonton bersorak-sorak lagi melihat ramainya perlombaan itu, melihat betapa kini kembali kuda tuan tanah Thio tertinggal di belakang, kalah satu badan! Bahkan Suma Kian Bu dan isterinya juga berdiri saling pandang dengan bingung, tidak tahu apa yang telah terjadi dan tidak tahu pula harus berbuat apa. Pendekar Siluman Kecil telah mengirim aba-aba kepada Hek-liong-ma, akan tetapi tetap saja kuda ini tidak mau mendahului kuda betina.

Putaran terakhir sudah habis dan kini tinggal membelok untuk merebutkan ikatan bunga dengan pita merah sebagai tanda pemenang atau juara pertama! Dan Hek-liong-ma masih ketinggalan satu badan! Pada saat terakhir itu, saking penasarannya, tiba-tiba Ci Sian mengeluarkan suling emasnya, meniup suling itu dengan nada yang begitu tinggi sehingga tidak terdengar oleh telinga manusia. Akan tetapi karena dia mengerahkan khikang dan menujukan suara suling dengan ilmu yang dipelajarinya bersama Kam Hong, menujukan suara itu menyerang kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi, tiba-tiba saja kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi itu meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas dan tentu saja otomatis larinya terhenti!

Kuda itu telah terserang pendengarannya oleh suara lengkingan tinggi yang menggetar dan seolah-olah menusuk kedua telinganya, membuat binatang itu meringkik kesakitan dan juga amat terkejut. Tentu saja kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh Ci Sian. Ia membedal kudanya, Hek-liong-ma meloncat ke depan dan sebelum Lui Shi mampu menguasai kembali kuda hitamnya yang ketakutan, dengan mudahnya Ci Sian sudah meraih dan menyambar ikatan bunga dengan pita merah sebagai tanda bahwa ia keluar sebagai juara.

Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh memenuhi lapangan itu dan Lui Shi yang akhirnya berhasil menguasai kembali kudanya karena kini tidak ada lagi suara suling yang membikin takut kuda itu, baru dapat melihat ketika mendengar sorak-sorai itu bahwa kejuaraan telah direbut oleh Ci Sian dan kuda hitamnya.

“Keparat….!” ia mengutuk dan membalapkan kudanya ke depan dengan muka merah penuh geram.

Ia tahu bahwa dara remaja itu tentu telah melakukan sesuatu yang membuat kudanya tadi ketakutan. Ia pun tadi melihat dara itu meniup suling yang mengkilap, dan biar pun telinganya tidak menangkap suara apa-apa, namun getaran yang halus sekali terasa olehnya maka tahulah ia bahwa dara itu menggunakan siasat untuk membuat kudanya ketakutan dan berjingkrak tadi. Maka ia menjadi marah sekali sehingga ia tidak ingat lagi bahwa di samping hadiah sebagai juara pertama, masih ada juara ke dua dan ke tiga. Ia membalapkan kudanya untuk mengejar Ci Sian yang sudah mengambil ikatan kembang dengan pita merah itu.

“Iblis curang!” bentak Lui Shi sambil mengejar.

Melihat sikap wanita ini, Ci Sian maklum bahwa ia terancam serangan, maka cepat ia melemparkan ikatan bunga sebagai tanda juara itu ke arah Thio-thicu karena ia sudah tiba di depan rombongan itu, lalu ia pun meloncat turun ke atas tanah, dan membiarkan Hek-liong-ma dirawat oleh beberapa orang tukang kuda pembantu Thio-thicu yang segera menyelimuti kuda itu dengan selimut bulu dan menyeka keringat kuda itu.

Melihat betapa Ci Sian sudah menantinya dengan berdiri tegak, Lui Shi menjadi makin marah, merasa kalau ditantang. Maka ia pun meloncat turun dari atas kudanya ke depan Ci Sian.

“Lui Shi…. ambil juara ke dua!” terdengar Bouw-thicu dan anak buahnya berteriak.

Akan tetapi Lui Shi seperti tidak mendengar seruan-seruan itu, dan Ci Sian yang diam-diam merasa marah kepada wanita curang ini, sengaja mengejek agar Bouw-thicu kehilangan semua kejuaraan.

“Hemm, wanita tak tahu malu. Engkau sudah kalah, masih banyak lagak mau apakah?” Setelah berkata demikian, sambil tersenyum mengejek Ci Sian lalu meloncat ke atas panggung.

Panggung itu memang memanjang ke depan, tempat para petugas tadi menyampaikan pengumuman dan lain-lain, dan kini ditinggalkan kosong karena semua pembesar dan petugas sudah duduk di kursi masing- masing. Dan Ci Sian melompat ke tempat ini dengan sengaja, untuk memancing Lui Shi menjauhi kejuaraan yang ke dua dan ke tiga, dan juga agar mereka berdua dapat nampak oleh semua orang yang berada di bawah, terutama sekali oleh para pembesar yang duduk di atas panggung.

Diejek oleh Ci Sian, kemarahan Lui Shi meluap, membuatnya menjadi mata gelap dan tanpa peduli apa- apa lagi, melihat lawannya itu melompat naik ke atas panggung, ia pun lalu menggunakan ginkang-nya meloncat ke atas panggung. Semua ini dapat dilihat dengan jelas oleh para penonton, juga oleh para pembesar dan tentu saja semua orang tertarik dan tegang. Kini semua mata memandang ke arah dua orang wanita itu yang sudah saling berhadapan di ujung panggung, dan agaknya tidak ada seorang pun yang mempedulikan jalannya perlombaan lagi. Ada pertunjukan yang lebih menarik dan menegangkan di atas panggung.

“Eh, engkau berani mengejarku?” Ci Sian terus menggoda dan mengejek. “Sudah kalah tidak mau menyadari kebodohan sendiri, malah mengamuk-ngamuk. Sungguh engkau ini nenek-nenek tak tahu malu, tebal muka….!” Ci Sian terus menggoda.

Sepasang mata wanita itu mendelik dan kini wajahnya tidak kelihatan terlalu cantik lagi. Bahkan mengarah buruk, karena keringatnya membasahi dahi, membuat pupur tebal itu luntur dan kulit mukanya yang tertutup bedak tidak rata itu malah menjadi coreng-moreng.

“Keparat, kubunuh engkau…. kubunuh engkau….” Lui Shi berkata, suaranya mendesis dan napasnya agak memburu saking marahnya.

“Aha, begitu mudahkah? Benarkah engkau akan mampu?” Ci Sian tetap saja mengejek.

Ucapan dan sikap dara remaja ini bagaikan angin yang mengipasi api kemarahan Lui Shi, maka wanita ini menjadi lupa diri. Ia lupa bahwa ia berada di tempat yang gawat, di depan para pembesar dan pejabat setempat, bahkan di depan kepala daerah Propinsi Sin-kiang! Dengan mata gelap ia sudah melolos keluar senjatanya, yaitu sebatang pedang lemas yang dapat digulungnya dan disembunyikannya di balik bajunya, dan dengan pedang di tangan ini ia menerjang maju, mulutnya mendesis, “Kucincang engkau…. kucincang dan kupenggal kepalamu….!”

Akan tetapi ia terlalu memandang rendah kepada Ci Sian, terkecoh oleh keadaan dara remaja itu. Meski dalam pandangan orang-orang lain yang menyaksikannya, serangan pedang dari Lui Shi itu amat cepat dan kuat serta amat berbahaya, namun dalam pandangan Ci Sian tidaklah demikian. Ia dapat mengikuti gerakan pedang itu dengan baik, dan dengan mudahnya ia mengelak sampai tujuh kali beruntun ketika pedang itu menyerang bertubi-tubi.

Tenaga manusia itu terbatas dan tidak mungkin serangan dilanjutkan terus tanpa henti, karena si penyerang perlu memulihkan tenaga dan mengatur napas. Ketika pedang itu berhenti bergerak menyerang setelah semua bacokan dan tusukannya mengenai angin belaka, detik ini dimanfaatkan oleh Ci Sian. Tangan kirinya menyambar dan biar pun Lui Shi juga seorang wanita yang gesit, namun sehabis menyerang bertubi-tubi itu, ia belum mampu menjaga diri, maka dengan kecepatan sekejap mata, tahu- tahu pipinya telah berkenalan dengan telapak tangan Ci Sian yang menyambar.

“Plakkk….!”

Telapak tangan Ci Sian itu halus lembut dan hangat, telapak tangan seorang dara yang terpelihara dan terawat baik-baik, yang tidak pernah atau jarang bekerja berat. Akan tetapi karena tangan itu terlatih, mengandung kekuatan sinkang yang amat hebat, maka biar pun tamparan itu dilakukan oleh Ci Sian dengan perlahan saja, bukan dengan niat membunuh, tidak urung tubuh Lui Shi terputar seperti disambar halilintar, dan setelah berjungkir balik dan memutar pedang mengatur keseimbangan, barulah ia terhindar dari keadaan terpelanting dan roboh. Seluruh mukanya terasa berdenyut-denyut dan panas sekali, dan ternyata pipi kanannya telah membengkak dan merah, sedangkan ujung bibirnya pecah berdarah! Sejenak ia terbelalak, saking terkejut, heran dan penasaran. Akan tetapi segera semua itu ditelan oleh kemarahannya yang berkobar-kobar.

Orang marah sama dengan orang mabuk. Dalam keadaan marah, kewaspadaan kita tertutup, seolah-olah tertutup oleh asap dari api kemarahan, membuat kita buta dan tidak dapat melihat kenyataan dengan terang. Kemarahan membutakan mata menulikan telinga. Dalam keadaan mabuk seperti itu, orang dapat melakukan apa saja, terutama melakukan hal-hal yang kejam, karena satu-satunya tujuan hanyalah melampiaskan kemarahan yang hanya dapat terlaksana dengan membalas dendam kepada orang yang menimbulkan kemarahan itu. Kemarahan merupakan penghamburan energi batin yang amat besar dan amat kuat sehingga banyaknya kemarahan akan mempengaruhi jasmani, menjadi lekas lapuk dan tua.

Dalam kemarahannya, Lui Shi seperti tidak melihat apa-apa lagi kecuali wajah dara remaja yang dianggapnya seperti setan yang amat dibencinya itu. Ia mengeluarkan pekik melengking tinggi yang menyeramkan dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Dari tangan kiri itu menyambar sinar yang sama ketika ia menyerang kuda, dan tahulah Ci Sian bahwa lawannya yang curang ini kembali mempergunakan senjata rahasia jarum-jarum halus.

Namun, senjata rahasia seperti itu tentu saja merupakan permainan kanak-kanak bagi pendekar wanita remaja yang telah memiliki kesaktian ini. Dengan kebutan tangan kirinya, Ci Sian membuat semua jarum itu runtuh, sedangkan yang melesat dan sempat mengenai kulit tubuhnya setelah menembus pakaian, hanya bertemu dengan kulit yang dilindungi sinkang amat kuat sehingga tidak terasa sama sekali! Ci Sian mencabuti empat lima batang jarum yang menancap di pakaiannya, dan membuangnya ke atas lantai seperti membuang kutu busuk.

Lui Shi terbelalak. Kalau saja tidak dimabokkan oleh kemarahan yang berkobar, semua kenyataan ini saja tentu telah menyadarkannya bahwa dara remaja itu bukan lawannya, terlalu tangguh baginya. Namun ia sudah mabok dan ia sudah menubruk lagi dengan pedangnya, menyerang dengan tusukan kilat ke arah dada Ci Sian.

Kini Ci Sian tidak mau memberi hati lagi. Ia miringkan tubuh, tangan kirinya mengikuti gerakan lawan menusuk dengan jari tangan ke arah lambung. Tusukan ini amat cepat dan berbahaya, mengeluarkan angin bersuit mengejutkan Lui Shi yang cepat menarik pedang dan hendak membacok tangan yang menusuk itu. Akan tetapi tiba-tiba saja tangan Ci Sian Sian menyambar dan tanpa dapat dihindarkan lagi, untuk kedua kalinya pipi Lui Shi ditampar. Sekali ini pipi kiri.

“Plakkk!”

Tamparan yang keras sekali, membuat tubuh itu terputar dan terpelanting, dan ketika Lui Shi mampu bergulingan untuk mematahkan kejatuhan tubuhnya dan ia melompat bangun, pipi kirinya bengkak lebih besar dari pada pipi kanannya dan ujung mulut kirinya juga berdarah. Mukanya menjadi buruk sekali setelah kedua pipinya bengkak itu, bahkan bengkak-bengkak itu sampai membuat kedua matanya nampak sipit dan lucu, dan hidungnya terjepit antara dua bukit membengkak dari kedua pipinya.

“Anak setan….!” Ia memaki dan menerjang lagi.

Ci Sian memapaki dengan tendangan hingga akhirnya Lui Shi terjengkang. Akan tetapi kembali wanita itu bangkit dan menyerang. Kembali Ci Sian menendang dan sekali ini ia mengerahkan lebih banyak tenaga.

“Dessss….!”

Tubuh Lui Shi terlempar dan terguling-guling sampai ke depan kursi kepala daerah yang sudah menjadi marah sekali. Semua orang melihat betapa Lui Shi yang mulai lebih dulu berkelahi itu. Lui Shi yang melakukan penyerangan-penyerangan sedangkan Ci Sian hanya melindungi diri saja. Maka kepala daerah itu lalu membentak.

“Tangkap perempuan pengacau ini!”

Lui Shi bukanlah wanita sembarangan. Ialah yang menghubungkan Bouw-thicu dengan para pemberontak Mongol. Kini melihat bahwa dirinya hendak ditangkap, kemarahannya yang sudah meluap itu membuat ia meloncat berdiri dan hendak menyerang pembesar itu! Akan tetapi tiba-tiba dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu Suma Kian Bu dan Teng Siang In telah berdiri di depannya!

Lui Shi mengenal suami isteri yang menjadi pemilik kuda yang dicurinya. Akan tetapi ia tidak mengenal mereka ini siapa dan belum tahu bahwa pemilik kuda itu adalah sepasang suami isteri yang kepandaiannya malah lebih tinggi dari pada kepandaian gurunya sekali pun! Maka ia tidak takut.

“Maling kuda, engkau menyerahlah!” Kian Bu berkata.

“Huh! Mampuslah!” kata Lui Shi dan ia pun menubruk dengan tusukan pedangnya. “Takkkk!”
Pedang itu dengan tepat mengenai dada pendekar berambut putih itu, akan tetapi pedang itu melengkung! Pedang lemas, akan tetapi kalau dipergunakan oleh Lui Shi dengan pengerahan sinkang, pedang itu dapat menjadi keras atau lemas. Kini, dia menggunakan tenaga keras dan ternyata ketika mengenai dada orang, pedangnya melengkung seperti sebatang daun saja! Dan tahu-tahu pedangnya itu telah dijepit oleh dua jari tangan pria itu.

Lui Shi mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya terlepas dari jepitan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pendekar itu, namun hasilnya sia-sia belaka, pedangnya itu seolah-olah sudah berakar pada kedua jari itu! Bukan main kagetnya hati Lui Shi. Baru sekarang ia tahu bahwa pemilik kuda yang memiliki wajah tampan gagah namun amat menyeramkan ini kiranya memiliki kepandaian lebih hebat lagi! Kian Bu mengerahkan tenaga pada jari-jari tangannya, membuat gerakan menekuk dan memuntir.

“Krekkkk!” Pedang itu patah menjadi dua!

Pucatlah wajah Lui Shi. Pedangnya itu adalah sebuah pedang pusaka yang terbuat dari baja pilihan, yang mampu membabat putus besi dan baja biasa. Akan tetapi kini pedang itu patah oleh tekukan dua jari tangan orang ini! Tubuhnya mulai gemetaran karena tahulah ia bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang sakti!

“Maling busuk, sebaiknya engkau menyerah,” kata lagi Suma Kian Bu.

“Aku…. aku tak mencuri apa-apa….” Dalam gugupnya Lui Shi mencoba untuk membela diri.

“Bagus! Sudah mencuri, membohong pula!” Siang In mencibir. “Sungguh pengecut tak tahu malu. Kuda hitam betina itu adalah kuda milik kami yang sudah kau curi dari kami, menggunakan kepandaianmu menjinakkan kuda. Dan kini engkau masih berani hendak menyangkal?”

Tiba-tiba dari samping terdengar suara orang, suara yang berat dan berwibawa, “Harap jangan ada fitnah- fitnah yang tidak sehat di sini! Kuda hitam itu adalah milik kami, dan kami menerimanya dari Lui Shi dengan syah. Kuda itu sejak dahulu adalah milik Lui Shi, bagaimana kini tiba-tiba ada orang menuduhnya mencuri?”

Suara ini adalah suara Bouw-thicu yang sudah tiba di tempat itu bersama beberapa orang pengawal pribadinya. Tuan tanah yang bertubuh tinggi besar ini naik ke panggung dan setelah memberi hormat kepada para pembesar, terutama kepala daerah yang dikenalnya dengan baik, lalu mengeluarkan teguran itu kepada Suma Kian Bu dan Teng Siang In.

Mendengar teguran tuan tanah yang tinggi besar itu, Kian Bu berkata, “Bouw-thicu, mungkin engkau sendiri juga tertipu oleh wanita ini. Akan tetapi kuda hitam itu benar milik kami. Kuda kami adalah sepasang, dan yang betina hilang dalam perjalanan kami, dan ternyata di curi oleh wanita ini.”

“Bohong….!” Lui Shi berkata dengan suara teriakan, sikapnya sudah pulih karena ia dibela oleh Bouw-thicu. Kini ia kelihatan marah dan penasaran, “Kuda itu sejak kecil kukenal dan kupelihara, bagaimana tiba-tiba ada orang mengakuinya?”

“Taijin, kami mohon keadilan!” Bouw-thicu berkata kepada Kepala Daerah Propinsi Sin-Kiang yang langsung menghadapi pertikaian ini.

Kepala daerah itu tersenyum dan memandang kepada Suma Kian Bu.

“Kalau ada dua pihak mengakui seekor kuda sebagai miliknya, maka jalan satu-satunya hanyalah agar kedua pihak memperlihatkan bukti akan kebenaran pengakuan masing-masing. Kalau ada bukti, barulah benar bahwa dia pemiliknya.“

Bouw-thicu tersenyum. Biar pun dia tadi kecewa karena kekalahan Lui Shi, bahkan kejuaraan kedua dan ketiga telah direnggut peserta lain, namun kini agaknya terbuka kesempatan baginya untuk menjatuhkan nama Thio-thicu, atau setidaknya orangnya tuan tanah lawan itu, di hadapan semua pembesar dan semua penonton. Biar pun dia kalah bertaruh, kekalahannya yang amat besar, baik dalam hal tanah yang luas mau pun jumlah uang yang amat banyak, namun dia akan menang muka.

“Nah, pihak kami telah dapat membuktikan, lalu apakah bukti pihak lain yang mengaku-ngaku kuda hitam itu sebagai kudanya?”

Ucapan ini jelas ditujukan kepada pihak Thio-thicu yang juga sudah naik ke atas panggung itu, dan Thio- thicu tentu saja hanya dapat menoleh kepada Suma Kian Bu dan menyerahkan jawabannya kepada pendekar ini. Suma Kian Bu bersikap tenang saja, dan mengangguk-angguk.

“Memang adil sekali, pemiliknya yang asli harus dapat menunjukkan bahwa kuda itu taat kepadanya, dan itu dapat menjadi bukti. Nah, untuk membuktikan hal itu, aku akan menyuruh kuda itu melemparkan siapa pun juga yang berani menungganginya!” kata pendekar itu dengan tenang.

“Baik, aku akan menungganginya!” Tiba-tiba Lui Shi sudah berseru dengan cepat dan wajahnya berseri- seri.

Di dalam hidupnya, selama ini Lui Shi tidak pernah terpisah dari kuda yang menjadi kegemarannya, juga memang keahliannya adalah menunggang kuda. Selain itu, dia merasa yakin bahwa ia telah benar-benar menguasai kuda hitam itu yang tentu takkan pernah mau membangkang terhadap perintahnya. Maka ia menerima tantangan ini. “Biarlah masing-masing pihak membuktikan bahwa ia pemilik sejati. Siapa yang mampu menungganginya selama terbakarnya sebatang hio maka dialah pemiliknya!”

“Itu sudah adil!” Siang In berseru pula.

Kepala daerah itu merasa gembira dan minta kepada para pembantunya membuat pengumuman di ujung panggung itu akan adanya pertunjukan yang cukup menarik ini, untuk membuktikan siapa pemilik asli dari kuda hitam itu. Seorang petugas dengan suaranya yang nyaring segera membuat pengumuman dan para penonton menjadi gembira sekali karena setelah perlombaan yang sangat menarik dan ramai itu, kini terdapat lagi sebuah pertunjukan yang akan cukup menegangkan.

Dan kembali ramailah orang saling bertaruh, yaitu bertaruh untuk siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dan seperti juga tadi, kini banyak yang berani menjagoi Lui Shi, setelah mereka tadi melihat ketangkasan wanita ini dalam menunggangi kudanya. Mereka, para penonton ini, tidak peduli siapa sesungguhnya pemilik kuda hitam itu, maka mereka bertaruh untuk siapa yang akan menang dalam menundukkan kuda itu dan tetap dapat menungganginya selama terbakarnya sebatang hio.

“Biarlah aku yang akan menungganginya,” bisik Ci Sian kepada suami isteri itu.

Akan tetapi sekali ini Siang In menggeleng kepala. “Jangan Ci Sian. Aku sendiri pun tidak berani untuk melayaninya menunggang kuda. Satu-satunya yang akan dapat mengalahkannya hanyalah suamiku.”

Mendengar bisikan kembali dari Siang In ini, Ci Sian tidak banyak cakap karena dia percaya penuh kepada suami isteri ini. Apalagi karena memang kuda itu adalah milik mereka.

Apa yang diucapkan oleh Siang In memang tepat sekali. Mereka mempunyai dua ekor kuda, yang keduanya sama benar, sama-sama hitam dan merupakan sepasang kuda yang sukar dicari bandingnya dan merupakan binatang-binatang yang luar biasa. Yang jantan mereka sebut Twa-liong, sedangkan yang betina mereka sebut Siauw-liong (Naga Kecil), dan keduanya merupakan jenis kuda Hek-liong-ma (Kuda Naga Hitam) yang dahulu pernah dimonopoli oleh keluarga Kerajaan Mongol pada saat berkuasa di Tiongkok.

Di jaman itu, boleh dibilang Hek-liong-ma hanya dimiliki oleh keluarga Raja dan orang lain tidak diperbolehkan memilikinya. Kalau ada yang memilikinya tentu dirampas. Setelah Kerajaan Goan (Mongol) roboh dan hancur, diperkirakan orang bahwa keluarga Raja itu pun membasmi kuda-kuda Hek-liong-ma. Dan memang kenyataannya juga demikian, akan tetapi ternyata ada beberapa ekor kuda yang dapat lolos dan dua ekor kuda yang dimiliki oleh pendekar penghuni Pulau Es dan isterinya itu adalah keturunan dari kuda-kuda Hek-liong-ma yang lolos itu.

Twa-liong (Naga Besar) yang jantan menjadi tunggangan Siang In, sedangkan Siauw-liong menjadi tunggangan Suma Kian Bu. Oleh karena itulah, maka biar pun Siauw-liong juga tidak asing dengan Siang In, namun nyonya ini maklum bahwa kuda itu akan lebih akrab dan mudah mengenal bau badan orang lain. Pula, dengan membiarkan suaminya yang menunggangi kudanya itu, ia sendiri dapat berjaga-jaga untuk menolak pengaruh ilmu sihir atau ilmu hitam, kalau-kalau pihak lawan mempergunakannya untuk mencapai kemenangan.

“Untuk menentukan siapa yang lebih dulu harus mencoba menunggangi kuda itu, akan diadakan undian,” kata seorang petugas yang telah ditugaskan oleh pembesar Kepala Daerah untuk mengurus pertandingan ini dan Sang Petugas ini memang ahli dalam mengurus segala macam perlombaan atau pertandingan.

“Tidak adil!” kata Lui Shi. “Dialah yang menuduhku maling kuda dan dia yang mengakui kudaku ini sebagai kudanya, maka dia yang harus lebih dulu membuktikan kebenaran omongannya bahwa kuda ini akan taat kepadanya!”

Petugas itu hendak membantah karena peraturan perlombaan tidak peduli akan semua alasan. Yang penting, para peserta perlombaan harus mentaati peraturan dan berlaku bagi semua peserta, itu barulah adil namanya.

Akan tetapi Kian Bu segera berkata, “Baiklah, biar aku yang menunggangi kudaku itu lebih dulu!”

Karena pihak yang lain sudah setuju, maka petugas itu pun tidak banyak ribut lagi dan wajah Lui Shi berseri, walau pun wajah itu kini tidak dapat nampak manis lagi setelah bedak dan gincunya luntur dan bengkak-bengkak bekas tamparan Ci Sian tadi. Memang wanita ini amat cerdik.

Ia memang sudah yakin akan kemampuannya sendiri yang membuat ia percaya bahwa ia tidak mungkin dapat terjatuh dari punggung kuda hitam itu untuk selama terbakarnya sebatang hio (dupa) saja. Akan tetapi ia belum tahu sampai di mana kemahiran lawan menunggang kuda. Kalau lawan ini pun berhasil bertahan sampai selama itu, bukankah hal itu masih belum membuat ia keluar sebagai pemenang?

Oleh karena itu, ia mencari jalan untuk memaksa lawan lebih dulu menunggang kuda dan ia akan menggunakan semua kepandaiannya untuk membuat lawan ini tidak dapat bertahan sampai habisnya hio itu terbakar. Kalau lawan gagal, barulah ia dengan enak akan dapat memetik kemenangan itu! Sebaliknya, andai kata lawannya berhasil, ia pun dapat mempelajari rahasia apa yang dimilikinya atas kuda itu sehingga ia akan dapat menguasai rahasia itu pula! Memang ia seorang wanita cerdik! Setidaknya, ia sendiri menganggap dirinya amat cerdik.

Karena perlombaan balap kuda sudah selesai, maka kini para penontan tanpa dapat dicegah lagi telah mendesak maju mengerumuni panggung dan para pasukan penjaga hanya dapat mencegah mereka terlalu mendekat panggung dan memberi arena pertandingan menunggang kuda yang cukup luas di bawah panggung. Para pembesar sudah berpindah duduk, kini di tepi panggung itu agar dapat menyaksikan dengan jelas pertandingan kemahiran menunggang kuda yang akan berlangsung antara dua orang wakil dari Thio-thicu dan Bouw-thicu itu.

Biar pun persoalannya kini tidak ada sangkut-pautnya dengan kedua orang tuan tanah itu, melainkan lebih merupakan persoalan pribadi antara Lui Shi dan Suma Kian Bu, akan tetapi karena mereka berada di pihak dua orang tuan tanah itu, maka umum menganggap bahwa pertandingan ini merupakan kelanjutan dari pada balap kuda tadi.

Untuk memberi kesempatan kedua orang itu memperlihatkan bukti bahwa seorang di antara mereka adalah pemilik kuda yang sah, maka ketika yang seorang menunggang kuda, pihak lain diperbolehkan memberi aba-aba kepada kuda itu, akan tetapi harus dengan duduk di pinggiran dan tidak boleh mendekati kuda untuk mengganggunya dengan gerakan. Aba-aba saja sudah merupakan bukti cukup, kepada orang yang mana kuda itu akan lebih taat.

Seorang petugas yang ahli tentang kuda telah memeriksa kuda hitam itu dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, yang mengkhawatirkan dipasangkan kepada kuda itu. Ia memegangi kendali kuda dan mengelus kuda itu, menanti seorang rekannya membuat persiapan menyalakan sebatang dupa. Setelah dari atas panggung, pembesar kepala daerah yang bertindak sebagai juri itu memberi tanda dengan tangannya, maka petugas yang memegang dupa lalu menyalakannya dan Suma Kian Bu diberi tanda untuk mulai menunggang kuda yang diperebutkan itu.

Kian Bu menghampiri kuda hitam, merangkulnya dan berbisik lirlh, “Siauw-ma….!”

Kuda itu mendengus-dengus, kemudian seperti mengenal bau badan pendekar itu dan kegirangan, kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ke atas, membuat petugas yang memegang kendali kuda menjadi kewalahan dan terpaksa melepaskan kendali kuda. Kian Bu girang sekali dan karena petugas sudah memberi isyarat kepadanya untuk mulai menunggang, sedangkan hio sudah dinyalakan, dia pun lalu melompat dengan gerakan ringan sekali ke atas punggung Siauw-ma.

Tiba-tiba, dari tempat duduknya Lui Shi mengeluarkan suara aneh, teriakan parau seperti yang biasa dipergunakan oleh bangsa Tibet kalau membentak binatang yak mereka. Mendengar suara ini, Siauw-ma nampak terkejut dan mengangkat kedua kaki depannya, akan tetapi Kian Bu masih duduk dengan tenang di atas punggung kuda itu dan membisikkan suaranya memanggil nama kuda itu dan menepuk-nepuk lehernya.

Kuda itu tenang kembali walau pun matanya masih terbelalak. Suara Kian Bu telah dikenalnya benar, dan bukan hanya suaranya, juga bau badannya dan bahkan cara pendekar itu duduk di atas punggungnya telah dikenalnya kembali dan membuat kuda itu menjadi jinak dan taat. Dengan tenang Kian Bu menjalankan kudanya berputaran di depan panggung itu, namun dia tidak menjadi lengah dan diam-diam dia memperhatikan kepada lawannya, yaitu Lui Shi yang menjadi mulai penasaran karena kuda hitam itu tidak mau mentaati perintahnya.

Kembali ia mengeluarkan bentakan-bentakan aneh, yaitu perintah-perintah kepada kuda itu untuk melemparkan penunggangnya dari atas punggungnya. Perintah-perintah ini memang ada pengaruhnya terhadap Siauw-ma, bahkan sebuah perintah membuat kuda itu sempat bertekuk lutut kedua kaki ke depannya dan membuat kuda itu mendekam! Akan tetapi, Pendekar Siluman Kecil itu masih saja enak- enak duduk di atas punggung kuda, dan dengan suara halus Kian Bu memerintahkan kudanya bangkit kembali dan Siauw-ma juga menurut!

Bertubi-tubi Lui Shi membentakkan perintahnya dan mengeluarkan semua keahliannya untuk menjinakkan dan menaklukkan kuda itu, namun selalu kuda itu menjadi tenang kembali setelah mendengar suara Kian Bu. Sementara itu, dupa yang dinyalakan terus menyala dan sudah hampir habis, tanda bahwa sepuluh menit sudah hampir dilewati. Lui Shi menjadi semakin penasaran dan tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara mendesis-desis seperti datangnya ratusan ekor ular!

Mendengar suara ini, Siauw-ma menjadi terkejut sekali, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan meringkik-ringkik, matanya liar terbelalak dan nampaknya ketakutan sekali. Akan tetapi kuda itu tetap tidak mampu membuat Kian Bu terlempar dari punggungnya. Pendekar itu lalu merangkul leher kuda, mendekatkan mulutnya ke telinga kuda itu dan berbisik-bisik serta membujuk-bujuk dengan lemah-lembut. Akhirnya, perlahan-lahan Siauw-ma menjadi tenang kembali dan menurunkan lagi kedua kaki ke depan, walau pun binatang itu masih nampak takut-takut dan tubuhnya masih gemetar.

Sementara itu, hio telah terbakar habis dan petugas memberi tanda. Kian Bu tersenyum dan di bawah tepuk sorak mereka yang menjagoi pihak Thio-thicu, dia pun meloncat turun dari atas kudanya.

Kini tibalah giliran Lui Shi untuk memperlihatkan kemahirannya berkuda, dan terutama untuk memperlihatkan sebagai bukti bahwa kuda itu akan taat kepadanya dan ia akan dapat bertahan di atas punggungnya selama terbakarnya sebatang hio. Dengan penuh keyakinan akan kemampuannya sendiri, wanita ini pun menghampiri kuda itu. Dengan lagak yang genit ia merangkul leher kuda lalu mencium muka kuda itu.

Akan tetapi ketika wanita itu meloncat ke atas punggung kuda, pandang mata yang tajam dari Kian Bu dan yang selalu waspada itu telah dapat melihat betapa wanita itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku baju dalamnya. Dia tidak tahu benda apakah itu, akan tetapi dapat menduga bahwa tentu wanita itu akan menggunakan kecurangan dan dia menduga bahwa benda itu tentu semacam alat atau obat untuk membuat Siauw-ma menjadi penurut dan seperti lumpuh sehingga akan kehilangan semangat dan mau saja diperlakukan apa pun oleh wanita itu. Inilah agaknya yang membuat kuda itu dahulu dengan mudah dapat dicurinya.

Memang dugaan Kian Bu itu benar. Lui Shi sudah melihat tadi betapa pria berambut panjang putih itu memiliki kepandaian hebat dan juga benar-benar memiliki pengaruh yang besar terhadap kuda hitam itu. Agaknya, dalam soal mempengaruhi kuda itu, ia akan kalah. Tadi pun ia tidak berhasil membuat kuda itu mengamuk dan menjatuhkan penunggangnya.

Biar pun ia percaya akan ketrampilannya sendiri dalam hal menunggang kuda, akan tetapi tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi melihat betapa kuda itu begitu taat kepada pemiliknya. Untuk mencegah terjadinya kemungkinan yang akan membuat ia kalah, maka ia telah mengeluarkan akar pembius kuda. Dengan akar ini, ia akan dapat menundukkan kuda hitam dan membuatnya terbius sehingga tidak memiliki semangat dan kemauan lagi.

Caranya, selain membiarkan kuda itu mencium akar itu, juga menotok beberapa jalan darah di belakang telinga dan menusukkan jarumnya di atas kepala di antara kedua matanya. Hal itu akan dapat dilakukannya dengan mudah saja, akan tetapi ia baru akan melakukan kalau benar-benar ia nanti tidak dapat lagi menguasai kuda itu dan terancam bahaya dipaksa turun dari punggungnya.

Tiba-tiba wanita itu terkejut bukan main. Ada suara di dekat telinganya, seolah-olah ada orang bicara di dekatnya, dekat sekali dengan telinganya sehingga biarpun suara itu seperti bisikan saja, namun terdengar jelas satu-satu.

“Kalau engkau pergunakan benda itu terhadap Siauw-ma, sebelumnya engkau akan roboh dan binasa!”

Lui Shi terkejut bukan main dan cepat menengok ke arah Suma Kian Bu. Pada saat itu ia melihat pendekar itu menggerakkan tangan kanannya dengan telunjuk menuding ke arahnya sambil terdengar pendekar itu berkata, “Jangan bermain curang!”

Bagi orang lain, agaknya pendekar itu hanya menuding dan memperingatkannya agar lawan tidak bermain curang. Akan tetapi bagi Lui Shi berbeda sekali akibatnya. Dia merasakan adanya sambaran tenaga yang amat kuat dari telunjuk pendekar itu dan mendadak saja ia merasakan dekat tenggorokannya tersentuh sesuatu! Maklumlah ia bahwa kalau pendekar itu menghendaki, dari jarak jauh pendekar itu akan mampu membunuhnya! Mukanya berubah pucat dan dengan cepat ia sudah mengantongi kembali benda akar yang tadinya hendak dipergunakan untuk membius kuda hitam! Dan ia melihat pendekar itu tersenyum!

Lui Shi menenangkan hatinya yang terguncang. Ia maklum bahwa dalam menghadapi pendekar ini, dia harus hati-hati sekali dan tidak boleh sembrono. Kalau dia nekat menggunakan akal curang, tentu pendekar itu akan turun tangan dan agaknya akan sukar baginya untuk menyelamatkan diri. Tetapi ia masih percaya akan kemampuannya menunggang kuda. Jangankan kuda hitam itu yang sudah terbiasa dengannya, biar pun seekor kuda liar yang belum pernah dikenalnya sekali pun, tentu dia akan mampu menungganginya! Maka, dengan penuh kepercayaan akan kemampuannya sendiri, ia pun membalas senyuman itu, dengan senyum mengejek.

Dengan lagak yang genit Lui Shi menjalankan kudanya berputaran di depan panggung seperti yang dilakukan oleh Kian Bu tadi. Tiba-tiba terdengar suara Kian Bu, terdengar oleh semua orang, akan tetapi dengan khikang-nya, Kian Bu dapat membuat suaranya itu langsung terdengar oleh Siauw-ma dengan jelas sekali. Ketika kuda itu masih berada padanya, memang Kian Bu mengajarnya dengan aba-aba yang biasa saja sehingga kuda itu dapat mengenal baik suara dan maksud kata-kata Kian Bu, tentu saja kata- kata tertentu yang sudah biasa didengarnya ketika kuda itu dilatih.

“Siauw-ma, lemparkan penunggangmu dari punggungmu!”

Dan reaksi yang menjadi tanggapan kuda itu memang seketika. Binatang itu meringkik dan mula-mula ia mengangkat kedua kaki depan ke atas, kemudian berloncatan ke kanan kiri sambil menggoyang-goyang tubuhnya. Dan para penonton bersorak-sorak karena melihat pemandangan yang mendebarkan. Kuda itu membuat segala macam gerakan aneh dan kuat untuk melemparkan penunggangnya dari atas punggung.

Mula-mula Lui Shi berusaha menenangkan kuda itu dengan belaian-belaian tangan pada leher, dengan bisikan-bisikan, dengan bentakan-bentakan dan dengan tendangan-tendangan kakinya pada perut dan tubuh kuda. Akan tetapi, segera dia memperoleh kenyataan bahwa kuda itu sama sekali tidak mau mentaati semua perintah lawannya yang menyuruh binatang itu melemparkannya dari punggungnya.

“Setan hitam! Bagaimana pun engkau tidak akan mungkin dapat melemparkan aku!” Akhirnya ia berseru marah dan menempel di punggung kudanya seperti seekor lintah menempel di perut kerbau!

Kuda itu berjingkrak-jingkrak, menggoyang-goyang tubuhnya dan berusaha menggigit ke arah penunggangnya. Namun dengan kemahirannya yang mengagumkan, Lui Shi tetap dapat bertahan terus. Tubuh wanita itu terguncang-guncang, miring ke kanan kiri, depan belakang, namun ia tetap dapat bertahan di atas punggung Siauw-ma.

Diam-diam Suma Kian Bu, Teng Siang In dan Ci Sian harus mengakui bahwa memang wanita itu memiliki kemahiran menunggang kuda yang hebat! Sukar dicari orang lain yang akan mampu bertahan setelah kuda hitam itu membuat usaha mati-matian seperti itu, untuk melemparkan penunggangnya! Dan dupa itu pun terbakar perlahan-lahan, mendekat gagangnya. Sebentar lagi akan habis, namun Lui Shi tetap dapat bertahan di atas punggung Siauw-ma. Melihat ini, Pendekar Siluman Kecil mengangguk-angguk.

“Keras kepala!” gumamnya dan tiba-tiba terdengar lagi suaranya yang sangat nyaring. “Siauw-ma, bergulinglah engkau!”

Lui Shi terkejut sekali. Tak disangkanya pendekar itu pernah mengajarkan Siauw-ma untuk bergulingan! Maka ketika kuda itu menjatuhkan diri, ia berusaha menahannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun ia tidak dapat menahan dan ketika kuda itu akhirnya rebah miring dan hendak bergulingan, tentu saja Lui Shi tidak mau tubuhnya terhimpit oleh badan kuda itu. Akan remuk-remuk tulangnya kalau terjadi hal itu! Maka ia pun meloncat ke atas tanah sebelum kuda itu bergulingan dan dengan demikian ia pun kalah! Dupa itu belum habis terbakar dan ia sudah turun dari atas punggung kuda!

Sorak-sorak dan tepuk tangan yang riuh menyambut kemenangan pihak Thio-thicu ini dan wajah Bouw- thicu menjadi merah sekali. Habislah sudah dia! Balapan kuda kalah, dan untuk itu dia telah kalah taruhan yang amat banyak, lebih dari setengah hartanya. Dan sekarang, dalam lomba ketangkasan kuda yang sekaligus juga menentukan siapa pemilik kuda dan siapa pencurinya, dia pun kalah. Hal ini berarti bahwa namanya akan tercemar sebagai orang yang memelihara pencuri kuda! Kekecewaan demi kekecewaan membuat dia menjadi marah sekali dan diam-diam dia telah mempersiapkan para tukang pukulnya yang berkepandaian tinggi.

“Orang asing ini mempergunakan ilmu siluman! Dia orang asing yang datang untuk mengacau di Sinkang. Bunuh dia!” teriaknya.

Dan lebih dari dua puluh orang tukang pukulnya dengan senjata di tangan sudah menerjang kepada Suma Kian Bu! Akan tetapi pada saat itu, Ci Sian dan Teng Siang In sudah berloncatan, demikian pula Suma Kian Bu sendiri sudah menyambut serangan orang-orang itu dengan tangkas sekali. Semua penonton yang tadinya menjadi panik dan ketakutan, kini berdiri melongo dan kagum sekali melihat betapa pendekar dan dua orang wanita cantik itu dengan mudahnya merobohkan semua pengeroyok!

Bagaikan tiga ekor naga sakti mengamuk, mereka itu bergerak ke sana-sini di antara kilatan senjata para pengeroyok dan ke mana pun tiga orang ini bergerak menyambar, tentu ada seorang pengeroyok yang roboh! Dalam waktu singkat saja, lebih dari dua puluh orang itu roboh semua. Lui Shi yang tadinya juga ikut mengeroyok, hendak melarikan diri, demikian pun Bouw-thicu. Akan tetapi Siang In sudah meloncat dengan cepat menghadang Lui Shi.

“Engkau ini hanya tikus busuk, bisanya hanya merayap lari, sekarang hendak merayap ke manakah?”

Terjadilah keanehan yang luar biasa. Lui Shi sejenak terbelalak, kemudian…. wanita ini pun kemudian menurunkan kedua lengannya dan…. merangkak-rangkak dan hendak melarikan diri dengan merangkak seperti seekor tikus besar! Tentu saja semua orang terheran-heran melihat ini, bahkan ada yang tertawa geli.

Di lain saat, Siang In yang tadinya menguasai wanita itu dengan kekuatan sihir, sudah menotok pundaknya, membuat Lui Shi roboh dan tak mampu bergerak lagi. Sementara itu, Bouw-thicu juga dihadang oleh Suma Kian Bu. Tuan tanah yang tinggi besar itu ternyata bukanlah orang lemah. Melihat bahwa segala usahanya gagal, dia menjadi nekat. Sambil berteriak memberi aba-aba kepada semua orangnya untuk menyerang, dia sudah menyerang Kian Bu. Akan tetapi, sekali tangkis dan sekali totok saja, Kian Bu membuatnya terjungkal dan ketika anak buah tuan tanah ini hendak bergerak maju, tiba-tiba pasukan pemerintah sudah bergerak dan mengepung mereka.

Pembesar kepala daerah yang sudah berdiri di tepi panggung lalu berkata dengan suara nyaring, dan karena keadaan amat menegangkan sedangkan baru sekarang Kepala Daerah mengeluarkan suara, maka suaranya terdengar dengan jelas dan menjadi perhatian semua orang.

“Perhatian para tamu dan penonton! Suami-isteri pendekar yang memiliki kuda hitam ini adalah adik kandung dari Panglima Puteri Milana! Sudah terbukti bahwa Thio-thicu memenangkan perlombaan balapan kuda, dan bahkan kuda hitam yang dikeluarkan Bouw-thicu ternyata adalah milik Suma-taihiap ini! Bouw- thicu sudah sengaja membuat keributan dan dia akan diadili. Kalau ada yang berani berbuat keributan, mereka akan dianggap pemberontak dan akan ditumpas!”

Tentu saja semua orang terkejut sekali mendengar pengumuman pembesar ini. Bahkan Thio-thicu sendiri menjadi terkejut. Tak pernah disangkanya bahwa tamunya itu adalah adik kandung Panglima Puteri Milana yang amat terkenal itu. Siang In dan Ci Sian sendiri juga terkejut dan mengertilah mereka bahwa semalam, ketika mereka pergi menyelidiki keadaan Bouw-thicu, diam-diam pendekar itu telah pergi menghubungi pembesar Kepala Daerah dan menceritakan segala hal tentang dirinya dan tentang Bouw-thicu.

Bouw-thicu dan Lui Shi ditangkap, demikian pula para pengawal Bouw-thicu yang tadi membikin ribut dengan menyerang Kian Bu dan akhirnya semua roboh oleh Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian. Setelah pembesar Kepala Daerah membagi-bagi semua hadiah kejuaraan, pertemuan itu dibubarkan dan semua penonton pulang ke rumah masing-masing dengan hati puas karena banyak hai yang dapat mereka saling bicarakan dan ceritakan kepada orang lain, yang telah terjadi di padang rumput tempat perlombaan itu.

Malam hari itu, Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian diundang dan dijamu makan oleh Pembesar Kepala Daerah! Dalam pesta ini diundang pula Thio-thicu dan semua tuan tanah yang telah ikut perlombaan. Memang Pembesar Kepala Daerah Sin-kiang itu cukup cerdik.

Setelah malam tadi Kian Bu menjumpainya dan memperkenalkan diri, diam-diam dia terkejut sekali dan khawatir kalau-kalau pendekar ini adalah utusan dari kerajaan untuk menyelidiki hasil pekerjaan atau tugasnya di Sin-kiang. Oleh karena itulah maka dia siang tadi bersikap keras terhadap Bouw-thicu, sungguh pun tuan tanah ini merupakan seorang di antara para sahabatnya, bahkan yang paling royal terhadap dirinya.

Dan pada malam hari ini, selain mengundang pendekar itu dan keluarganya sebagai penghormatan, juga sekalian memanggil atau mengundang semua tuan tanah karena kesempatan ini hendak dipergunakan untuk dua hal. Pertama, agar pendekar itu, kalau benar utusan pemerintah pusat, dapat melihat betapa para tuan tanah sudah dapat dipersatukannya, dan kedua, kehadiran pendekar itu hendak dipergunakannya untuk mempengaruhi para tuan tanah agar mereka tidak lagi menimbulkan keributan satu sama lain.

Pesta itu berlangsung meriah dan dalam kesempatan ini Suma Kian Bu juga mencari keterangan tentang berita angin adanya ular naga hijau di daerah itu.

Mendengar pertanyaan pendekar ini, Sang Kepala Daerah terbelalak dan berkata, “Ah, memang ada ular raksasa itu, Suma-taihiap! Bukan hanya dongeng dan berita bohong belaka. Bahkan kami sendiri pernah mengirim pasukan untuk membasminya, akan tetapi sebaliknya kami malah kehilangan belasan orang yang tewas oleh amukan ular naga itu!”

Suma Kian Bu, Teng Siang In dan Ci Sian tertarik sekali. Apalagi suami isteri itu yang memiliki kepentingan pribadi dengan ular naga itu.

“Bagaimana ceritanya Taijin?” tanya Kian Bu.

“Dua tahun yang lalu, ketika baru-baru kami dipindahkan ke sini, kami mendengar akan adanya ular naga hijau yang sering kali makan manusia. Mula-mula kami tidak percaya akan adanya berita itu dan hanya mengira bahwa yang dikabarkan itu tentulah seekor ular besar biasa saja dan sangat boleh jadi kalau ada ular besar makan manusia yang kebetulan lewat di dekatnya. Tetapi karena semakin banyak orang yang mengabarkan akan hal itu, sebagai seorang pembesar baru kami kemudian mengirim pasukan untuk menyelidiki dan kalau memang benar, membasmi ular itu. Dan akibatnya, belasan orang anggota pasukan kami tewas dalam keadaan mengerikan.” Pembesar itu berhenti sebentar dan menarik napas panjang.

“Apakah yang terjadi dengan mereka, Taijin?” tanya Siang In, tertarik sekali.

Ia dan suaminya telah datang dari tempat yang demikian jauh ke Sin-kiang ini. Selain merantau juga terutama sekali tertarik oleh cerita atau dongeng tentang naga hijau itu, dan kini mendengar keterangan yang demikian jelas dari pembesar kepala daerah, tentu saja ia merasa amat tertarik. Kiranya dongeng itu memang ada sungguh-sungguh!

Kembali pembesar itu menarik napas panjang dan untuk menenteramkan hatinya, dia minum arak dari cawannya. “Mengerikan sekali dan sampai sekarang kami tidak lagi berani mengirim pasukan, hanya menganjurkan agar orang-orang di daerah itu jangan sekali-kali berani melewati daerah hutan itu, agar mengambil jalan memutar saja karena ular naga itu benar-benar amat berbahaya dan agaknya memang siluman yang bertapa. Bayangkan saja, semua jenis senjata tajam dari pasukan kami tidak ada yang dapat melukainya sedikit pun juga! Dan semburan dari mulutnya, bahkan suaranya saja cukup membuat banyak prajurit kami pingsan! Dan yang lebih mengerikan, ular itu setiap kali memperoleh korban manusia, yang dimakan hanya kepalanya saja. Jadi belasan orang prajurit kami itu tewas dengan kepala lenyap dan badan masih utuh!”

Semua orang, juga para tuan tanah yang mendengar cerita ini bergidik. Mereka memang sudah mendengar akan semua hal itu, dan sudah lama tidak ada orang berani bercerita tentang ular naga itu, karena didesas-desuskan bahwa kalau disebut-sebut, maka malamnya siluman ular itu akan datang dan mencelakakan orang yang menyebut namanya.

Diam-diam Suma Kian Bu dan isterinya girang sekali mendengar bahwa dongeng tentang ular naga itu ternyata benar-benar terjadi dan ular naga itu memang benar ada! “Taijin, kami ingin sekali melihat ular naga hijau itu dan kalau perlu kami akan mencoba untuk menundukkannya agar ia tidak lagi mengganggu rakyat. Bagaimana kami dapat menemukannya?”

Semua orang merasa tegang dan juga gembira mendengar bahwa pendekar yang masih adik kandung Panglima Puteri Milana yang terkenal itu hendak membasmi ular naga siluman itu.

“Ular naga itu tempatnya di daerah Pegunungan Kun-lun-san, di bagian selatan yang jarang dilalui orang, sudah termasuk wilayah Tibet. Dan jalan menuju ke sana bukan mudah, dan kiranya, tanpa penunjuk jalan akan sukarlah bagi Taihiap untuk dapat menemukannya. Akan tetapi, siapakah yang akan berani menjadi penunjuk jalan?” kata pembesar itu.

“Tidak perlu penunjuk jalan, Taijin. Asal kami mendapatkan gambaran dan peta yang jelas menuju ke tempat itu, kami akan dapat mencarinya sendiri,” jawab Kian Bu penuh semangat.

“Itu mudah diatur. Komandan pasukan dua tahun yang lalu itu masih ada dan dia tentu dapat membuatkan gambaran dan peta menuju ke tempat itu. Ya, dialah satu-satunya orang yang akan dapat membuatkan peta itu untukmu.”

Dan memang demikianlah. Setelah komandan pasukan itu ditemui, komandan tua ini dapat bercerita banyak dan juga dapat membuatkan peta yang cukup jelas menuju ke tempat yang baginya sangat mengerikan itu. Kian Bu membuat gambar dan catatan-catatan, sementara itu Siang In terus mendengarkan penuh harapan dan Ci Sian juga mendengarkan penuh perhatian karena hatinya merasa amat tertarik.

Setelah mereka bertiga berada di ruangan istirahat, Ci Sian berkata kepada Siang In, “Enci In, biarlah aku ikut dengan kalian dan membantu kalian menaklukkan ular naga hijau itu!”

Suami isteri pendekar itu memandang kepadanya dan nampak kaget. “Tapi, Nona…. perjalanan ini berbahaya sekali….,” kata Suma Kian Bu sambil mengerutkan alisnya.

“Benar, Adik Sian. Engkau sudah mendengar sendiri betapa dahsyat dan berbahayanya ular itu. Sungguh kami akan merasa menyesal bukan main kalau sampai terjadi apa-apa denganmu….,” sambung Siang In.

Ci Sian mengerutkan alisnya dan memandang kepada suami isteri itu bergantian. Kemudian ia berkata, suaranya tegas, “Harap Taihiap dan Enci menenangkan hati. Aku hendak pergi ikut atas kehendakku sendiri dan bukan karena bujukan kalian, jadi kalau terjadi apa-apa denganku, tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang akan menyalahkan kalian. Setelah melakukan perjalanan seorang diri dan bertemu dengan kalian, dan setelah apa yang kita alami bersama di sini, bagaimana mungkin aku meninggalkan kalian begitu saja? Akan tetapi, kalau kalian tidak menghendaki aku ikut, kalau aku hanya merupakan gangguan bagi kalian berdua, biarlah aku pergi sendiri mencari ular itu, untuk mencoba menandinginya. Siapa tahu aku dapat melenyapkan suatu bahaya bagi rakyat….”

Mendengar ini dan melihat sikap Ci Sian yang mukanya merah seperti mau menangis itu, Siang In lalu merangkulnya. Ia tahu akan isi hati dara yang keras wataknya ini. Ia tahu bahwa Ci Sian merasa amat cocok dengan ia dan suaminya, maka dara itu masih ingin bekerja sama dengan mereka dan agaknya merasa enggan berpisah. Apalagi karena dara itu sedang kesepian dan menderita batinnya ditinggalkan suheng-nya.

“Adikku yang baik, sama sekali bukan karena kami menolakmu. Kami sendiri pun sangat suka bersamamu akan tetapi…. engkau tahu bahwa kami pergi mencari ular itu untuk kepentingan kami pribadi…. jadi, kalau sampai…. terjadi apa-apa denganmu….”

Ci Sian balas merangkul. “Enci Siang In, kau kira aku ini orang macam apa? Setelah lama mempelajari ilmu, apakah aku terlalu menyayangi nyawa? Mati dan hidup bukan urusan manusia, kenapa takut kalau sudah berani hidup? Aku ingin membantu kalian…. aku…. aku kesepian….”

“Baiklah, dan tentu saja, dengan bantuanmu, kami merasa lebih yakin akan dapat menaklukkan ular naga hijau itu!”

Ci Sian merasa girang sekali dan Suma Kian Bu hanya menarik napas panjang saja dan tidak membantah lagi. Dia mengerti bahwa antara dua orang wanita itu tentu ada ikatan yang lebih mendalam, dan kalau dia berkeras menolak, bukan hanya dara itu yang akan merasa sedih dan kecewa, akan tetapi juga dia akan menyinggung hati isterinya.

Pada keesokan harinya, berangkatlah tiga orang itu meninggalkan rumah Thio-thicu. Siang In menunggang Hek-liong-ma sedangkan Kian Bu menunggang seekor kuda yang baik pula, pemberian Thio-thicu. Biar pun Siang In menyuruh Ci Sian agar tetap menunggangi Hek-liong-ma, dara ini menolak dengan halus dan mengatakan bahwa kuda itu adalah milik suami isteri pendekar ini dan jika ia menunggangi, ia akan merasa seperti menunggang sesuatu yang bukan haknya.

Dengan diantar oleh Thio-thicu dan para anak buahnya sampai keluar perkampungan mereka, ketiga orang pendekar ini meninggalkan tempat itu dengan hati puas karena mereka telah melakukan sesuatu yang sangat berguna untuk kesejahteraan rakyat setempat. Mereka percaya bahwa selanjutnya, para thicu itu tidak lagi akan menurutkan hati dendam untuk saling gempur.

Ular hijau yang amat besar itu dikabarkan orang yang suka tahyul sebagai seekor ular siluman yang sudah bertapa ratusan tahun. Sudah lajim terjadi di antara manusia di dunia ini yang suka sekali akan hal yang aneh-aneh dan menambah sesuatu yang mereka tidak mengerti menjadi semakin aneh dengan dugaan- dugaan dan reka-rekaan mereka sendiri yang kemudian menjadi semacam tahyul.

Menurut dongeng atau berita angin itu, ular yang sangat besar itu kabarnya memiliki mustika di dalam kepalanya yang kalau malam gelap mencorong. Bahkan ada orang berani bersumpah mengatakan bahwa pada suatu malam dia melihat ular itu terbang ke angkasa dan dari mulutnya keluar mustika yang bernyala- nyala. Tentu saja cerita orang ini mirip dengan dongeng tentang naga yang beterbangan di angkasa, seperti yang dimainkan orang pada hari-hari pesta, yaitu naga dengan mustikanya.

Tentu saja semua itu hanyalah khayalan orang-orang yang dihantui oleh rasa takut yang amat sangat. Ular itu memang ada, dan memang merupakan seekor ular yang amat besar. Jarang ada orang dapat menjumpai ular sebesar itu. Perutnya melebihi besarnya paha manusia yang gemuk sekali pun, dan kalau binatang itu sudah menelan korban perutnya menggembung sebesar tubuh korban yang ditelannya. Panjangnya tidak lebih dari lima belas meter!

Ular ini kulitnya kehijauan dan saking tuanya, kulitnya itu gelap menghitam dan amat keras. Entah sudah berapa kali ular ini berganti kulit. Ular ini semenjak lama sekali, entah berapa tahun atau belas atau berapa ratus tahun tak seorang pun tahu, berdiam dari pohon besar ke pohon besar lainnya dalam sebuah hutan lebat di Pegunungan Kun-lun-san. Dan setiap kali berdiam di sebatang pohon besar, binatang ini seperti bertapa bertahun-tahun lamanya.

Akan tetapi ada sesuatu keanehan pada binatang yang sudah amat tua ini. Kalau ada binatang lain seperti kijang, kelinci atau bahkan harimau sekali pun, dan kebetulan perutnya lapar, tentu dia langsung menyambar binatang itu dari atas pohon. Dengan melibatkan ekornya pada cabang besar di atas, kepalanya bergantung di bawah, ular yang amat besar itu menyambar korbannya yang sama sekali tidak menduga karena tidak mendengar sesuatu dan tidak dapat mencium bau ular yang berada di atasnya itu.

Ada kalanya, kalau yang disambarnya itu binatang besar lain seperti harimau dan lain-lain yang lebih buas, maka korban itu tentu saja melakukan perlawanan. Dan kalau sudah begini, ular itu akan melepaskan ekornya yang melilit cabang sehingga tubuhnya meluncur ke bawah, lalu ekornya melilit tubuh korbannya, melilit dengan tenaga raksasa dan binatang yang betapa kuatnya akan patah-patah tulangnya kalau dililit oleh ekor dan tubuh ular yang amat kuat ini.

Biasanya, perlawanan para korban itu tidak akan berjalan lama karena selain memiliki tenaga lilitan yang amat kuat, juga ular itu dapat menyemburkan uap yang membius dan beracun, juga gigitannya amat kuat dengan taring yang mengerikan dan mengandung racun pula. Keanehan ular itu adalah, kalau korbannya binatang lain, maka setelah melilitnya dan membuat tulang-tulang tubuh korban itu patah-patah lalu korban itu ditelannya dan tubuh yang tulangnya sudah patah-patah itu menjadi lemas dan dapat melalui kerongkongannya yang tidak begitu besar.

Akan tetapi, kalau korbannya manusia, maka ia hanya mencaplok kepala orang itu saja, menggigit putus lehernya dan menelan kepalanya, sedangkan badan para korban manusia itu dibiarkannya membusuk begitu saja! Dengan adanya tulang-tulang manusia tanpa kepala di bawah pohon-pohon besar yang pernah dijadikan tempatnya bertapa, maka dapat diketahui bahwa banyak sudah manusia-manusia yang menjadi korban ular ini.

Jangan dikira bahwa hanya pasukan yang dikirim Pembesar Kepala Daerah Sin-kiang itu saja yang merupakan manusia-manusia yang menjadi korbannya. Banyak sudah manusia yang kepalanya telah masuk ke dalam perut ular ini. Para pemburu yang belum tahu akan adanya ular ini, juga orang-orang yang tidak tahu dan kebetulan lewat di hutan itu. Selain mereka ini yang tidak tahu akan adanya ular itu dan menjadi setan penasaran, banyak pula seperti para anggota pasukan itu yang tewas ketika sengaja datang untuk melawan ular itu. Mereka ini adalah para pendekar yang sengaja datang di tempat itu untuk membasmi ular ini, akan tetapi akhirnya bahkan mereka sendiri yang tewas dalam keadaan mengerikan, yaitu kepala mereka lenyap ke dalam perut ular dan tubuh mereka membusuk sampai tinggal rangkanya saja di bawah pohon tanpa ada yang berani mengurusnya.

Bahkan ada beberapa orang pertapa di Kun-lun-san, ada pula beberapa orang pendekar Kun-lun-pai sendiri yang pernah mencoba untuk menaklukkan ular itu, namun akibatnya payah, ada yang tewas, ada pula yang luka-luka dan masih untung bagi mereka yang dapat menyelamatkan dirinya dan hanya menderita luka-luka yang cukup parah.

Semenjak kegagalan para pendekar Kun-lun-pai, maka Ketua Kun-lun-pai lalu membuat pengumuman kepada rekan-rekan di dunia kang-ouw agar jangan mengganggu ular itu yang dianggap sebagai ular keramat tak terkalahkan, bahkan ada yang menyebutnya siluman ular yang bertapa. Sebetulnya bukan karena ular itu sakti, ular dewa, atau ular siluman, ular itu memang kuat sekali dan hal ini tidaklah mengherankan. Sedangkan ular sebesar lengan saja sudah amat kuat, apalagi sebesar dan sepanjang itu!

Dan harus diingat bahwa ular ini sudah tua sekali, kulitnya demikian kerasnya sehingga kebal terhadap senjata tajam, melebihi kerasnya kulit buaya tua. Dan karena kulit ular itu merupakan sisik yang bertumpuk, maka sukar ditembusi senjata tajam. Orang-orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi itu sudah berusaha membunuhnya, namun tidak ada senjata yang mampu menembus kulitnya dan hal inilah yang membuat ular itu sukar dikalahkan. Selain itu, ternyata ular ini mempunyai racun sehingga dapat mengeluarkan hawa beracun melalui semburan dan juga gigitannya mengandung racun yang amat kuat.

Perjalanan menuju ke hutan di mana ular hijau itu berada merupakan sebuah perjalanan yang tidak mudah. Apalagi karena hutan yang dimaksudkan itu berada di dekat puncak, yang kini terkenal dengan nama Puncak Naga Hijau, sebuah di antara puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan Kun-lun-san yang terkenal itu. Mereka bertiga melakukan perjalanan berpekan-pekan, dan akhirnya mereka tiba di dusun terakhir yang berada di lereng bawah puncak.

Dari dusun itu ke atas, selain tidak ada dusun lagi karena orang-orang tidak berani tinggal terlalu dekat dengan hutan itu, perjalanan amatlah sukarnya melalui jalan setapak yang kadang-kadang harus melalui jurang dan bergantungan pada akar-akar pohon dan batu-batu, maka terpaksa tiga ekor kuda itu mereka titipkan pada kepala dusun.

Dusun itu kecil dan sederhana sekali, jauh dari pada tempat ramai, bahkan jauh dari peradaban kota sehingga kepala daerahnya pun merupakan orang yang diangkat oleh kelompok dusun itu sendiri, bukan merupakan seorang pejabat pemerintah. Dan dusun itu hanya dihuni oleh beberapa puluh keluarga yang miskin, yang hidup dengan jalan bertani dan berburu. Tentu saja kedatangan tiga orang yang berpakaian indah menurut mereka itu, merupakan hal yang luar biasa sehingga tiga orang pendekar ini disambut dengan gembira.

Kepala Dusun itu merupakan satu-satunya orang yang sudah pernah hidup di kota dan lebih beradab dibandingkan dengan yang lain-lainnya, dan Kepala Dusun inilah yang menyambut Kian Bu dan dua orang wanita itu.

“Sungguh luar biasa sekali kami dapat menerima kunjungan Sam-wi,” katanya setelah mempersilakan mereka duduk di atas bangku-bangku kayu yang kasar buatannya, di ruangan depan yang terbuka dan keadaannya miskin sekali di mana para penduduk dusun itu berkerumun dan mendengarkan percakapan mereka. “Bertahun-tahun sudah tidak ada orang asing yang datang ke dusun ini. Sam-wi hendak pergi ke manakah maka sampai di tempat terpencil ini?”

Suma Kian Bu maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang dusun yang jauh dari dunia ramai, dan biasanya, orang-orang di dalam dusun yang terpencil seperti ini jauh pula dari kebiasaan orang-orang kota yang suka berpalsu-palsu, dan biasanya orang-orang seperti ini adalah terbuka dan polos, jujur. Oleh karena itu, dia pun tidak merasa perlu untuk menyembunyikan maksud kunjungannya.

“Lopek, kami jauh-jauh datang dengan hanya satu tujuan, yaitu menuju ke Puncak Naga Hijau itu. Karena perjalanan ke atas puncak menurut keterangan yang kami peroleh amat sukar dan tak bisa dilakukan dengan berkuda, maka kami bermaksud untuk selain beristirahat sehari di sini melewatkan malam, juga untuk menitipkan tiga ekor kuda kami di sini.”

Para penduduk dusun itu, yang mendengarkan kata terjemahan dari seorang laki-laki tua yang mengerti bahasa Han, satu-satunya orang yang tahu bahasa itu di samping kepala dusun, yang tadinya berisik, tiba- tiba berhenti bicara dan semua mata kemudian memandang kepada Suma Kian Bu dengan terbelalak dan wajah mereka berubah, kini penuh ketegangan!

Kepala Dusun itu sendiri pun mengerutkan alisnya dan pandang matanya kepada Kian Bu kehilangan keramahannya, namun mulutnya masih bicara dengan ramah, “Tentu saja Sam-wi boleh menitipkan tiga ekor kuda itu di sini dan kami akan merawatnya dengan baik. Tetapi belum pernah ada orang naik ke puncak itu. Apakah keperluan Sam-wi hendak mendaki puncak?”

“Kami bertiga bermaksud untuk mencari ular naga hijau dan membasminya,” kata Suma Kian Bu dengan terus terang karena dia merasa yakin bahwa penduduk dusun ini, yang berada di lereng puncak di mana terdapat hutan tempat tinggal ular itu, tentu sudah tahu akan ular besar itu.

Akan tetapi, akibatnya sungguh membuat tiga orang pendekar itu terkejut bukan main. Kepala Dusun itu mengeluarkan teriakan panjang, wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak dan terdengar bentakan- bentakan keras ketika semua penduduk dusun yang mendengarkan terjemahan ucapan Suma Kian Bu itu serentak bangkit dan maju dengan senjata perburuan mereka siap di tangan, jelas hendak mengeroyok Suma Kian Bu dan dua orang wanita pendekar itu!

Dengan mengeluarkan teriakan-teriakan aneh, puluhan orang yang memenuhi tempat itu serentak maju menerjang. Melihat ini, Suma Kian Bu, Siang In dan Ci Sian terkejut sekali dan tentu saja mereka pun cepat meloncat dari bangku mereka.

“Jangan lukai orang!” Kian Bu berseru cepat kepada isterinya dan dara itu, karena dia menduga bahwa tentu ada kesalah pahaman dalam hal ini.

Tiga orang pendekar ini menghadapi para penyerang dengan tangan kosong saja, akan tetapi para penyerang yang terdepan segera berteriak-teriak kaget, senjata mereka terampas dan tubuh mereka sendiri terlempar ke belakang menimpa teman-temannya yang berada di belakang. Suma Kian Bu sendiri sudah menangkap lengan tangan kepala dusun itu, menjatuhkan golok yang dipegangnya, kemudian menekuk lengan kepala kampung itu ke belakang dan cepat dia berseru dengan suara nyaring sekali, menggetarkan seluruh tempat itu karena dia mengerahkan khikang-nya.

“Tahan semua, atau pemimpin kalian akan mati!”

Meski ucapannya tidak diterjemahkan, namun mudah saja menangkap artinya, apalagi melihat betapa lengan Kepala Dusun itu sudah ditekuk ke belakang sehingga dia tidak berdaya!

“Hayo, ceritakan, apa artinya semua ini?!” bentak Suma Kian Bu kepada Kepala Dusun itu. “Mengapa engkau dan orangmu mendadak mengeroyok kami?”

Kepala Dusun itu menyeringai kesakitan, akan tetapi dengan suara tegas dia berkata, “Kau bunuhlah aku, kau bunuhlah kami, karena kalau tidak kau bunuh sekali pun, kami semua akan mati! Dan lebih baik mati di tanganmu, seorang manusia, dari pada mati di tangannya….“

Kian Bu makin heran. “Sungguh aneh, apa sih maksudmu, Lopek? Harap kau menyuruh teman-teman mundur dulu dan jelaskan pada kami kenapa kalian tiba-tiba mengeroyok kami, dan mengapa pula engkau begini putus asa dan minta mati. Kesalahan apakah yang telah kami lakukan?”

Dengan wajahnya yang masih bersungut-sungut, setelah dilepaskan oleh Kian Bu dan semua penghuni dusun sudah agak tenang walau pun mereka masih mengurung dan sikap mereka masih marah dan bermusuhan, kepala dusun itu berkata, “Kalian bertiga hendak mengganggu dewa ular, hal itu berarti sama saja dengan hendak membunuh kami orang sedusun!”

“Dewa ular….? Membunuh kalian sedusun? Lopek, jelaskan, apa maksudmu dengan kata-kata itu?” Kian Bu mendesak.

“Dengan susah payah selama bertahun-tahun kami orang-orang sedusun meredakan kemarahan dewa ular, bahkan kami rela mengorbankan seorang di antara kami setiap tahun untuk menjadi korban. Semua itu adalah untuk melindungi kehidupan kami agar tidak sampai terancam. Akan tetapi, hari ini kalian datang untuk mengganggunya dan sudah pasti bahwa kami semua yang akan menerima hukuman akibat kemarahannya.”

Tentu saja tiga orang pendekar itu menjadi terkejut bukan main. “Apa katamu, Lopek? Kalian memberikan korban setiap tahun?”

“Ya…. bahkan…. tahun lalu…. seorang di antara anak-anakku perempuan kurelakan…. dan tahun ini, telah tiba saatnya, kami masih bingung untuk memilih siapa lagi yang harus kami korbankan. Dan kalian datang untuk mengganggunya, berarti kami semua akan mati….“

Suma Kian Bu mengepal tinjunya, tiba-tiba dia marah sekali kepada ular itu. Tahulah dia bahwa saking tangguhnya, ular itu mendatangkan rasa takut sedemikian rupa kepada para penghuni dusun ini sehingga mereka menganggapnya sebagai dewa yang akan mendatangkan mala petaka kalau tidak diberi korban seorang manusia setiap tahun. Kepala Dusun ini bahkan telah menyerahkan anak perempuannya untuk korban!

“Lopek, dan Saudara-saudara semua. Janganlah khawatir, kali ini kami datang untuk membasminya, untuk membunuhnya agar kalian semua terbebas dari pada ancaman binatang laknat itu!”

“Ahhh, tiada guna…. entah sudah berapa banyak orang sombong yang bersumbar sebelum bertemu dengan dewa ular, dan akhirnya mereka itu tewas satu demi satu! Kalian pun akan tewas dan sesudah itu, karena gangguan kalian, maka ular itu akan mengamuk dan akan menghabiskan kami semua!” Kembali Kepala Dusun itu nampak marah dan penasaran.

Melihat betapa orang-orang itu sukar sekali diberi penjelasan, akhirnya Suma Kian Bu memperoleh akal. “Engkau tadi mengatakan bahwa untuk tahun ini belum ada korban yang dipilih? Kapankah biasanya diadakan korban?”

“Setiap setahun sekali, pada permulaan musim rontok. Pada saat itu dewa ular akan meninggalkan pohon yang mulai rontok daunnya, dan pada saat itu pulalah kami harus menyerahkan seorang korban. Kalau tidak, dewa ular tentu akan mendatangi dusun untuk mencari korban sendiri dan kalau sudah begitu, kami akan dihukum sehingga sedikitnya dia akan mengambil dua tiga orang korban!”

“Kapankah hari penyerahan korban itu?”

“Dua hari lagi, tepat pada saat bulan purnama,” jawab Si Kepala Dusun.

“Bagus! Kalau begitu, sekali ini kalian bukan menyerahkan seorang korban, melainkan tiga orang korban, yaitu kami bertiga. Biar dia kekenyangan dan puas sehingga tidak akan menganggu kalian lagi!” kata Suma Kian Bu.

Aneh, mendengar ucapan ini yang segera diterjemahkan, semua orang memandang dengan wajah berseri kepada Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian. Sinar mata mereka penuh dengan harapan dan rasa syukur. Kalau begini lain lagi soalnya, pikir mereka. Kalau tiga orang itu mengatakan hendak membasmi dewa ular, hal itu sungguh tak masuk di akal dan selain tiga orang itu akhirnya akan tewas, yang lebih celaka lagi ular itu akan menimpakan kutuk dan pembalasannya kepada mereka sedusun. Sebaliknya kalau tiga orang itu mau menjadi korban, tentu saja hal ini melepaskan mereka dari pada bahaya amukan ular itu, setidaknya untuk waktu setahun dan mereka tak perlu bingung-bingung mencari dengan hati berat, anak siapa yang akan dikorbankan!

Akan tetapi, Kepala Dusun itu masih memandang penuh keraguan. “Benarkah kalian bertiga mau menjadi korban untuk dewa?”

“Benar, Lopek. Kami bertiga bersedia untuk dikorbankan demi menyelamatkan dusun ini dari ancamannya,” jawab Kian Bu dengan suara tegas.

“Tapi…. biasanya para korban itu dibelenggu kaki tangannya, dan direbahkan dalam goa sebelum dewa ular pindah dari pohon ke dalam goa….”

Mendengar ini wajah Siang In menjadi merah dan hampir saja nyonya ini menjadi marah karena dianggapnya sebagai penghinaan kalau ia harus membiarkan dirinya dibelenggu kaki tangannya! Akan tetapi suaminya memandang kepadanya dan isteri yang sudah mengenal dengan baik segala pandang mata suaminya ini dapat menerima isyarat suaminya yang kemudian menjawab.

“Kalau begitu, biarlah kalian boleh mengikat dan membelenggu kaki tangan kami dan merebahkan kami di dalam goa itu.”

Mendengar ini, lenyap semua keraguan dari pandang mata Kepala Dusun itu, terganti dengan ketakjuban dan kegirangan. “Ahh, sungguh hampir tak dapat dipercaya. Kalian bertiga seperti utusan dewa yang datang untuk menolong kami saja!” serunya.

Dari percakapan dan sikap mereka itu, Suma Kian Bu yang amat cerdik itu sudah dapat menangkap keadaan dan watak mereka. Dia tahu bahwa orang-orang ini adalah orang-orang dusun yang jujur dan polos, bodoh dan amat tahyul. Oleh karena itu, dengan suara garang dengan pengerahan khikang sehingga suaranya bergema di ruangan itu dan amat mengejutkan semua orang dia berkata, “Kalian sangka siapa kami ini? Kami memang utusan dewa untuk datang ke dusun ini dan menyelamatkan kalian!”

Siang In juga sudah dapat menanggapi kata-kata suaminya. Maka selagi semua orang terbelalak mendengar terjemahan kata-kata Kian Bu tadi, dan kepala dusun itu tengah memandang dengan muka pucat saking kagetnya, mendadak nyonya yang cantik ini mengeluarkan suara melengking tinggi, menggetarkan jantung semua pendengarnya. Kemudian dengan suara yang amat berpengaruh karena disertai kekuatan sihirnya, dengan pandang mata mencorong ketika semua orang menoleh dan memandangnya, tertarik oleh lengkingan tinggi tadi, ia berkata. “Apakah kalian semua sudah buta? Lihat baik-baik! Kami adalah utusan dari Kwan Im Pouwsat sendiri! Aku adalah Dewi Api, lihat tubuhku mengeluarkan api bernyala! Lihat baik-baik!”

Dan terdengar semua orang yang terbelalak itu tiba-tiba berteriak-teriak ketakutan ketika mereka melihat betapa tubuh nyonya yang cantik itu tiba-tiba berkobar-kobar di tengah-tengah api! Bahkan Ci Sian sendiri juga terkena pengaruh sihir itu dan ia kaget sekali melihat tubuh Siang In terbakar. Akan tetapi, ia segera mengerahkan sinkang-nya dan mengusir pengaruh itu sehingga ia melihat betapa nyonya itu tetap berdiri biasa saja, sama sekali tidak ada api keluar dari tubuhnya!

Akan tetapi kini semua penduduk dusun itu, dipimpin oleh Kepala Dusun mereka, sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu!

“Ampunkan hamba sekalian…. hamba tidak tahu bahwa Paduka bertiga adalah para dewa-dewa….“

Kian Bu merasa kasihan dan tidak tega untuk mempermainkan orang-orang yang jujur dan bodoh ini. Dia tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. “Bangkitlah kalian dan jangan berlutut. Ketahuilah bahwa biar pun kami ini utusan pada dewa, akan tetapi pada saat ini, kami memakai tubuh manusia biasa, maka kalian juga harus memperlakukan kami sebagai manusia biasa. Nah, kami sudah siap untuk menjadi korban. Kapan hal itu dapat dilaksanakan?”

“Biasanya yang kami lakukan setiap tahun, pada hari bulan purnama penuh. Siangnya korban dibawa ke goa dan ditinggalkan, karena pada malam harinya dewa ular akan datang, pindah dari pohon yang mulai rontok daunnya ke dalam goa itu. Dan tahun ini, bulan purnama penuh akan muncul dua hari lagi.”

“Baiklah, kami bertiga boleh kalian bawa ke goa itu pada besok lusa siang, agar malamnya kami dapat bertemu dengan dewa ular itu,” kata Kian Bu.

Sebetulnya, setelah para penghuni dusun itu dapat ditundukkan oleh ilmu sihir Siang In, mereka semua itu sudah percaya dan tentu saja mau membantu. Akan tetapi Kian Bu berpikir lain.

Menghadapi ular yang lihai itu tidak perlu bantuan orang-orang dusun yang sudah ketakutan itu, karena selain mereka itu tiada gunanya, juga bahkan di antara mereka mungkin saja akan tewas dan hal ini tidak dikehendakinya. Selain itu, ular yang sudah amat tua itu agaknya jauh lebih cerdik dari pada ular-ular biasa.

Dia khawatir kalau-kalau ular itu mencari tempat lain dan tidak akan datang ke goa kalau tidak disediakan korban, yaitu calon mangsanya yang mudah. Dan menghadapi ular itu di tempat terbuka jauh lebih menguntungkan dari pada menghadapinya di dalam goa. Atau kalau ular itu datang, sebelum memasuki goa, mereka bertiga dapat lebih dulu menyambutnya di depan goa, di tempat terbuka dengan diterangi oleh sinar bulan purnama, dan mereka bertiga akan siap untuk memegang obor di tempat itu. Mengenai belenggu kaki tangan itu, tentu saja bukan merupakan persoalan bagi mereka bertiga.

Kini para penduduk dusun itu amat menghormati mereka bertiga yang dianggap selain utusan dewa, juga merupakan penolong mereka. Baru mau menjadi pengganti korban saja sudah membuat mereka bersyukur dan berterima kasih! Maka, kini ketiga orang pendekar itu dijamu oleh para penduduk dan dilayani dengan sikap hormat sekali.

Pada dua hari berikutnya, setelah matahari condong ke barat, Suma Kian Bu, Sian In dan Ci Sian sudah siap. Semua penghuni dusun, laki-laki perempuan tua muda, sudah berkumpul di depan rumah Kepada Dusun. Dengan dibantu oleh beberapa orang dan disaksikan oleh semua penghuni, Kepala Dusun mulai mengikatkan tali-tali yang kuat pada kaki tangan tiga orang pendekar itu. Tiga orang pendekar itu sudah makan sore dan sudah mandi bersih, suatu keharusan bagi para calon korban, memakai pakaian bersih dan lalu pengikatan kaki tangan mereka dilakukan dengan penuh khidmat oleh Kepala Dusun dan para pembantunya.

“Lihatlah, agar kalian semua yakin bahwa kami adalah utusan para dewa!” kata Suma Kian Bu untuk memberikan kesan terakhir. Dia menggerakkan kedua lengannya dan….

“Kreekkk….!” Putuslah tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya, dan sekali dia menggerakkan kedua kakinya, putus pula belenggu kedua kakinya!

Semua orang terkejut sekali dan wajah Kepala Dusun menjadi pucat. Akan tetapi Kian Bu sudah memasangkan kembali kaki tangannya untuk diikat kembali dengan tali-tali baru.

Setelah mengikatkan kaki tangan itu selesai, Kian Bu berkata, “Dengar baik-baik pesan kami. Setelah menaruh kami di mulut goa, harap kalian semua pergi dan bersembunyi di rumah masing-masing. Kalau ada suara apa pun jangan sekali-kali keluar dan biarkan kami bertiga menghadapi ular itu. Dan jangan lupa, sediakan obor, minyak dan lilin bernyala di goa.”

Kepala Dusun mengangguk-angguk dan tidak lama kemudian, tiga orang pendekar itu yang kaki tangannya terbelenggu, sudah digotong di atas tandu seperti yang setiap tahun biasa terjadi. Akan tetapi kalau biasanya yang digotong hanya seorang korban saja, kini ada tiga orang calon korban yang digotong ramai- ramai. Dan seperti biasanya, para penghuni dusun itu dengan dipimpin seorang pendeta yang menganut agama campuran antara Bhudis dan Taoism, menyanyikan lagu-lagu pujaan untuk para dewa.

Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian duduk di atas tandu dengan kaki tangan terbelenggu, akan tetapi mereka tersenyum-senyum dan merasa bagaikan menjadi pengantin saja karena mereka berpakaian baru, diberi kalungan bunga, dipikul di dalam tandu, dan diiringkan oleh banyak orang yang bernyanyi-nyanyi dipimpin oleh pendeta satu-satunya yang berada di dusun itu.

Iring-iringan mengantar calon korban untuk dewa ular ini tiap tahun biasanya dilakukan dengan iringan air mata keluarga Si Korban. Akan tetapi sekali ini, suasananya gembira dan semua wajah orang dusun itu cerah dan berseri. Hal ini bukan hanya karena di antara mereka tidak ada yang kehilangan sanak keluarga, akan tetapi juga karena ada harapan dalam hati mereka untuk dapat terbebas selamanya dari pada rasa takut terhadap Si Dewa Ular. Akan tetapi di antara harapan dan kegembiraan ini, ada pula kekhawatiran menyelinap di dalam hati mereka. Bagaimana kalau tiga utusan dewa itu gagal? Dan andai kata mereka berhasil dan dewa ular dapat dienyahkan, bukankah hal itu berarti bahwa berkah dari dewa ular untuk mereka pun akan ikut lenyap?

Kepercayaan tahyul seperti yang dimiliki oleh para penduduk dusun di dekat Puncak Naga Hijau di Pegunungan Kun-lun-san itu bukan hanya merupakan peristiwa yang dapat terjadi dan menimpa sekelompok manusia yang masih terbelakang atau yang peradabannya belum tinggi.

Kalau kita mau mengamati keadaan sekeliling kita, mau mengamati kehidupan kita sendiri, bahkan di jaman modern ini sekali pun, kita masih terikat dan terbelenggu oleh berbagai kepercayaan dan ketahyulan! Kelompok ini percaya akan ini dan tidak percaya akan itu. Golongan lain percaya akan itu dan tidak percaya akan hal yang dipercaya oleh kelompok pertama ini. Bahkan kepercayaan-kepercayaan yang merupakan adat pusaka keturunan nenek moyang itu dapat menjadi bahan untuk saling bertentangan dan bermusuhan!

Kepercayaan akan hal-hal yang di luar jangkauan pikiran merupakan ketahyulan yang lama-lama lalu berubah menjadi tradisi. Dan biasanya, hal-hal seperti itu hanya untuk dipercaya saja, bukan untuk dimengerti! Dan kita pun takut untuk melanggarnya atau meninggalkannya dari batin kita. Tentu saja rasa takut ini timbul oleh suatu kepercayaan pula bahwa memegang teguh tradisi kepercayaan tahyul itu mendatangkan selamat, berkah, yang pada pokoknya adalah menyenangkan atau menguntungkan. Sebaliknya kalau kita menanggalkan atau membuangnya, maka kita akan kehilangan apa yang kita namakan selamat, berkah atau hal-hal yang menyenangkan itu. Kita takut akan dilanda kesusahan karenanya. Inilah sumber rasa takut menanggalkan atau membuangnya.

Lalu bagaimanakah timbulnya kepercayaan akan tahyul yang menjadi tradisi itu? Semua kepercayaan, jika kita mau merenungkannya dengan penuh kebebasan dan perhatian, timbul karena kebodohan, karena ketidak mengertian. Kepercayaan itu pasti timbul oleh karena kita tidak mengerti, tidak tahu, lalu kita mendengar pengertian itu dari mulut orang yang kita hormati, kita kagumi, kita anggap lebih tahu dari pada kita, atau dari kitab yang ditulis oleh orang yang kita muliakan, maka kita pun lalu percayalah! Kalau ketidak mengertian kita tentang sesuatu itu diterangkan oleh orang yang tidak kita agungkan, tidak kita hormati atau kagumi, maka kita pun kemudian tidak percaya! Jadi, percaya atau tidak percaya itu timbul dari sumber yang sama, yaitu dari kebodohan atau ketidak mengertian.

Sebagai contoh misalnya, kita belum pernah melihat sendiri, belum pernah membaca, belum pernah mendengar, pendeknya kita tidak mengerti sama sekali tentang Kutub Utara. Lalu datanglah seseorang yang menulis atau bercerita kepada kita tentang Kutub Utara, tentang keanehan-keanehannya, keajaiban- keajaibannya dan sebagainya. Nah, di sinilah asal mula timbulnya percaya atau tidak percaya.

Karena kita sendiri tak mengerti, maka kita lalu mendengarkan orang itu dan tanggapan kita tentu saja dipengaruhi oleh perasaan kita terhadap orang itu. Kalau orang itu kita agungkan, kita akan percaya, dan kalau sebaliknya kita tidak mengagungkannya, kita tidak percaya! Dan kepercayaan atau ketidak percayaan ini kita turunkan kepada murid-murid atau anak-anak keturunan, dan selanjutnya menjadi kepercayaan turun temurun.

Sebaliknya kalau orang itu, atau siapa pun juga adanya, datang lalu bercerita atau menulis tentang sesuatu yang sudah kita mengerti atau ketahui, sudah tentu tidak akan timbul percaya atau tidak percaya lagi. Yang ada hanyalah kenyataan bahwa apa yang diceritakan itu benar atau bohong. Kalau ada orang mengatakan bahwa darah manusia itu hijau warnanya atau matahari itu timbul dari barat, maka di sini tidak ada percaya atau tidak percaya, karena kita sudah tahu dan mengerti benar bahwa keterangan orang itu bohong! Sebaliknya, kalau ada orang mengatakan bahwa pohon besar itu dihuni setan atau dewa, maka keterangan ini menimbulkan percaya atau tidak percaya, karena kita tidak mengerti dan tidak mengetahui benar akan hal itu.

Maka, dapatkah kita hidup bebas dari segala macam kepercayaan dan ketahyulan ini? Beranikah kita mengakui dengan rendah hati bahwa kalau timbul pertanyaan akan sesuatu yang tidak kita mengerti, yang tidak terjangkau oleh akal budi pikiran kita, lalu kita menjawab bahwa kita TIDAK TAHU? Biasanya, kita takut atau malu untuk mengakui bahwa kita tidak tahu. Kita selalu ingin mengaku bahwa kita tahu segalanya, padahal sebagian besar dari hal-hal yang kita katakan kita tahu itu sebenarnya hanyalah pengetahuan mati yang kita dengar dari keterangan orang lain, yang tidak kita hayati sendiri.

Karena, sesungguhnya hanya orang yang tidak tahu sajalah yang dapat membuka mata, yang dapat menyelidiki, dapat menyelami, dapat mempelajari dengan otak dan hati kosong sehingga penyelidikan itu dapat dilakukan seteliti-telitinya, tidak dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan mati yang hanya akan menjadi batu penghalang bagi penyelidikannya akan hal-hal yang baru. Sayang bahwa mereka yang tidak tahu itu begitu ingin untuk dianggap tahu sehingga dengan mudah mereka menerima segala pengetahuan dari orang lain melalui kepercayaan.

Setelah tiba di depan goa, semua penghuni dusun nampak ketakutan dan sejak mendekati tempat itu tadi pun sudah tidak ada lagi yang berani mengeluarkan suara. Suasana memang amat menyeramkan karena tempat itu terpencil, jauh dari dusun, jauh dari manusia dan tidak nampak bekas-bekas tangan manusia di situ dan selama dalam perjalanan mereka itu, mereka tidak melihat tapak seorang pun manusia.

Tiga buah joli atau tandu itu diturunkan dan tiga orang pendekar digotong dengan hati-hati dan dengan sikap penuh hormat, lalu satu demi satu direbahkan di mulut goa yang gelap. Kepala Dusun lalu menyalakan sebatang lilin di sudut goa, obor-obor yang belum dinyalakan ditinggalkan di sudut pula, yaitu obor yang sudah diberi minyak pembakar. Kemudian, setelah mereka semua memberi hormat ke arah tiga orang pendekar yang rebah di mulut goa, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kepala Dusun itu lalu mengajak orang-orangnya untuk pergi meninggalkan goa seperti yang telah dipesankan oleh Suma Kian Bu kemarin.

Setelah semua orang pergi, Kian Bu, Siang In dan Ci Sian lalu memutuskan semua tali yang membelenggu kaki tangan mereka.

“Akan tetapi, kita harus tetap tinggal di sini,” kata Kian Bu kepada dua orang wanita itu. “Jangan lengah dan harus tetap waspada. Biar pun aku sendiri tidak percaya bahwa ular itu adalah siluman, iblis atau dewa, akan tetapi dia tentu seekor binatang yang sudah tua, kebal, dan cerdik sekali. Maka, biarlah kita tinggal rebah agar tidak membuat dia curiga, dan siap untuk menyerbu kalau dia sudah berada di depan goa. Sebelum aku menyerangnya, harap kalian jangan bergerak dulu. Kita belum tahu sampai di mana kelihaiannya, maka kita tidak boleh sembrono.”

Karena memang sudah mendengar betapa banyaknya orang-orang lihai menjadi korban ular itu, maka Siang In dan Ci Sian mengangguk. Tadi pun dua orang wanita ini merasa agak ngeri saat melihat adanya rangka-rangka manusia di dalam goa. Tentu itu adalah rangka-rangka para korban, karena rangka-rangka itu hanya merupakan tulang-tulang tubuh manusia, semua tanpa kepala!

Menanti merupakan pekerjaan yang amat berat. Dalam menanti, sang waktu seolah-olah menjadi luar biasanya lambannya, seperti gerakan maju seekor keong. Mereka bertiga ditinggalkan di tempat itu menjelang senja dan kini mereka menanti datangnya sang malam yang dirasakan amat lambatnya. Akan tetapi akhirnya cuaca menjadi gelap, malam mulai datang menyelubungi bumi, mengusir lenyap sinar-sinar matahari. Kegelapan menyelubungi hutan dan satu-satunya sinar hanyalah lilin yang bernyala di dalam goa.

Mereka yang berada di dalam goa itu menanti dengan hati tegang. Belum ada tanda pergerakan yang luar biasa, dan yang terdengar hanyalah bunyi belalang dan binatang malam, jauh di dalam hutan. Nyamuk- nyamuk mulai berdatangan dan mengganggu mereka, tertarik oleh nyala lilin. Tapi berkat ilmu kepandaian mereka yang sudah tinggi, gangguan itu tidak menyiksa benar. Dengan kibasan tangan saja mereka telah mampu meruntuhkan nyamuk-nyamuk yang berani menyerang mereka. Gangguan itu lebih dirasakan oleh mengiangnya nyamuk di dekat telinga dari pada penyerangan sengatan mereka.

Bulan purnama mulai menyinari bumi pada saat mereka mulai merasakan datangnya ancaman yang sejak tadi dinanti-nanti itu. Ada bau amis yang aneh yang memasuki hidung mereka. Apalagi kalau ada angin bersilir, bau itu makin tercium keras sekali, membuat Ci Sian merasa muak sekali.

“Awas…. agaknya dia mulai datang….,” kata Kian Bu dengan suara berbisik.

Pendekar ini adalah putera Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es, dan pendekar ini memiliki ilmu kesaktian hebat, telah mengalami segala macam pertempuran dan bahaya yang hebat-hebat. Akan tetapi malam itu dia merasakan ketegangan luar biasa juga. Demikian pula dengan Siang In. Terutama sekali, Ci Sian yang belum begitu banyak pengalaman hidupnya. Dara ini merasakan jantungnya berdebar penuh ketegangan dan keringat dingin membasahi lehernya.

Andai kata ia berada di situ seorang diri saja, tentu ia sudah meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Tetapi adanya Pendekar Siluman Kecil dan isterinya membesarkan hatinya dan dara ini memandang keluar goa dengan penuh perhatian, siap menghadapi segala kemungkinan.

Bau amis bercampur harum aneh yang keras itu makin terasa. Tak lama kemudian, terdengar bunyi kresek-kresek dan tumbangnya sebatang pohon seperti dilanda sesuatu yang berat.

“Kalau aku menyerangnya, kalian cepat nyalakan obor itu dan menancapkan obor-obor itu di luar goa, di empat penjuru agar kita dapat menghadapinya dengan baik,” bisik Kian Bu kepada dua orang wanita itu yang hanya mengangguk tanda mengerti. Dua orang wanita ini seperti kehilangan suara saking tegangnya.

Kian Bu memandang keluar goa dengan penuh perhatian. Cahaya bulan cemerlang menerangi keadaan di luar goa, dan sesungguhnya, tanpa obor sekali pun cuaca sudah cukup terang. Akan tetapi Kian Bu menyuruh menyalakan obor bukan hanya agar cuaca menjadi terang, akan tetapi untuk berjaga-jaga saja, kalau-kalau ada awan yang akan menutupi bulan dan membuat tempat itu menjadi gelap. Sangatlah berbahaya kalau bertanding melawan ular ganas di tempat gelap. Jadi obor-obor yang disuruhnya untuk dinyalakan itu hanya bertugas sebagai cadangan kalau-kalau sang bulan tertutup awan.

Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu, yang menimbulkan ketegangan luar biasa itu! Mula-mula hanya nampak bayangan panjang menggeleser di atas tanah, membuat rumput-rumput tersibak. Saat tiba di depan goa, tiba-tiba ular itu mengangkat kepalanya, dan lehernya terangkat, kepalanya naik sampai satu meter di atas tanah. Nampaklah mukanya yang mengerikan itu!

Mukanya memang seperti muka ular biasa, hanya lebih besar dan yang mengerikan sekali adalah mulutnya yang mengeluarkan suara mendesis dibarengi hawa seperti uap putih mengepul. Sepasang cabang lidahnya bergerak-gerak keluar, lidah yang merah kehitaman. Sepasang mata yang besar itu mencorong seperti mengeluarkan api, dan kepalanya yang tertimpa sedikit cahaya bulan itu nampak berkilauan. inilah agaknya yang menimbulkan dongeng bahwa kepalanya mencorong padahal sebenarnya karena kulit kepalanya mengkilap seperti berminyak, tentu saja nampak berkilauan.

Betapa pun juga, Suma Kian Bu yang sudah banyak mengalami hal-hal yang luar biasa itu diam-diam terkejut dan harus mengakui di dalam hatinya bahwa selama hidupnya belum pernah dia melihat ular yang demikian besar dan panjangnya, dan juga yang kelihatan ganas dan menyeramkan. Akan tetapi, karena dia pun tahu bahwa binatang ini bukanlah sebangsa siluman atau dewa, juga bukan seekor naga seperti yang sering terdapat dalam dongeng, yang bisa terbang dan memiliki kesaktian lain, maka dia pun tidak menjadi gentar.

Agaknya ular besar itu memang sudah biasa pindah ke dalam goa di awal musim rontok seperti yang diceritakan oleh Kepala Dusun, juga agaknya telah terbiasa memperoleh mangsa yang mudah di dalam goa itu. Maka sekarang pun binatang ini berhenti di depan goa dan mengangkat kepalanya, agaknya untuk menjenguk lebih tinggi agar dapat melihat jelas apakah sudah tersedia mangsa baginya kali ini.

Sejak tadi Kian Bu memang sudah bersiap sedia. Seluruh urat syaraf di dalam tubuhnya telah menegang, terisi oleh pengerahan sinkang untuk menghadapi lawan yang tangguh dan berbahaya.

“Nyalakan obor!” tiiba-tiba Kian Bu berseru.

Dan belum juga gema suaranya itu lenyap, dia sudah meloncat keluar dari dalam mulut goa itu dan langsung saja dia menerjang ke arah kepala ular yang diangkat tinggi itu. Pendekar Siluman Kecil ini memiliki sebuah senjata yang luar biasa, yaitu sebatang tongkat sakti yang terbuat dari akar pohon yang hanya terdapat di sebuah pulau tak jauh dari Pulau Neraka. Akar kayu ini amat keras dan ulet, tidak rusak oleh baja yang tajam sekali pun, dan lebih peka untuk disaluri tenaga sinkang dari pada logam lainnya.

Biasanya, hampir tidak pernah pendekar ini menghadapi lawan dengan senjatanya ini yang lebih pantas dipergunakan untuk pegangan atau iseng saja. Hal ini adalah karena dengan dua pasang kaki dan tangan saja dia sudah lebih dari kuat menghadapi lawan. Kedua tangannya itu lebih dahsyat dari pada senjata lawan yang bagaimana pun.

“Dukkkk!”

Tongkat yang dipukulkan ke arah kepala ular itu tepat mengenai sasarannya, tetapi Kian Bu kaget sekali karena tongkatnya terpental dan seluruh lengan kanannya tergetar hebat. Ia memang sengaja hendak mengukur sampai di mana kekuatan dan kekebalan ular itu dan akibatnya dia terkejut.

Tiba-tiba, sebagai balasan serangan itu, ular itu menggerakkan kepalanya dan mulutnya terbuka. Terdengarlah bunyi mendesis nyaring dan Kian Bu harus meloncat jauh ke kiri untuk menghindarkan diri ketika dia merasakan sambaran angin dahsyat yang panas dan berbau amis! Pada saat itu, Ci Sian dan Siang In sudah menyalakan obor pada nyala lilin dan meloncat keluar, tepat pada saat ular itu menyembur kepada Kian Bu. Dua orang wanita ini terkejut karena tiba-tiba ada angin keras yang menyambar dan membuat obor mereka itu bergoyang-goyang apinya dan hampir padam, juga mereka merasakan hawa panas terkandung dalam angin itu, di samping bau amis yang memuakkan.

“Taruh obor itu agak jauh!” Kian Bu berseru lagi.

Kini pendekar ini yang sudah merasakan kekuatan ular yang amat besar itu meloncat maju sambil menggerakkan tongkatnya, kini menusuk ke arah mata kanan ular. Dia terkejut dan heran karena ular itu sama sekali tidak mengelak! Tetapi kegirangannya lenyap pada saat ujung tongkatnya bertemu dengan benda yang amat keras dan licin sehingga tusukannya meleset!

Kiranya, tanpa menggerakkan kepala, ular itu mampu membuat gerakan sedikit yang cukup untuk membuat ujung tongkat itu mengenai pinggiran mata yang sama kuatnya dengan kulit kepala mau pun badannya. Kulit bersisik itu amat keras dan licin, sehingga ketika tusukan tongkatnya meleset, Kian Bu terdorong ke depan. Dan pada saat itu dia merasa adanya angin pukulan yang amat kuatnya menimpanya dari arah kiri. Cepat Kian Bu mengerahkan ginkang-nya dan meloncat. Untung dia dapat bergerak cepat karena begitu dia menghindar, ekor ular yang besar dan berat itu, dengan kekuatan dahsyat yang ratusan kati beratnya, menimpanya dan karena luput, ekor itu menimpa batu yang pecah berantakan seperti dipukul palu godam yang amat berat!

Seperti juga tadi, begitu diserang ular itu membalas dengan cepatnya, maka kini Kian Bu bersikap hati-hati sekali. Dia sudah mencoba tongkatnya untuk memukul dan menusuk, dan akibatnya, bahkan serangan balasan ular itu tidak kalah hebatnya dan berbahayanya. Dan begitu serangannya luput, ular itu tidak melanjutkan serangan, tapi menanti seperti tadi, dengan kepala diangkat dan sepasang matanya yang mencorong memantulkan sinar obor-obor yang dipasang oleh Ci Sian dan Siang In di sekitar tempat itu. Dua orang wanita itu kini mendekat dan mengepung ular. Siang In sudah memegang senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang payung yang berujung runcing, sedangkan Ci Sian sudah memegang suling emasnya.

“Ci Sian, kita serang dari kanan kiri! Tujukan serangan ke arah matanya!” kata Siang In yang tadi sudah melihat betapa dua kali serangan suaminya gagal.

Wanita perkasa ini maklum bahwa kulit ular itu benar-benar sangat kebal sehingga menyerang kulitnya akan sia-sia belaka, bahkan amat berbahaya, maka dengan cerdik ia menganjurkan Ci Sian untuk melakukan serangan berbareng ke arah kedua mata binatang itu dari kanan kiri.

Ci Sian mengangguk dan dua orang wanita itu seperti berlomba cepat, menerjang dari kanan kiri. Ci Sian lalu menusukkan sulingnya ke arah mata kiri, sedangkan Siang In menusukkan ujung payungnya ke arah mata kanan.

Akan tetapi, tiba-tiba ular itu menurunkan kepalanya dan menyembunyikan kepala itu di bawah perut dan tiba-tiba saja ekornya sudah datang menimpa dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan.

“Awas….!” Suma Kian Bu berseru.

Dua orang wanita itu sudah meloncat pergi dengan cepat. Akan tetapi, angin pukulan yang amat kuat masih mendorongnya dan membuat mereka berdua terbanting dan bergulingan sampai jauh. Tentu saja mereka terkejut bukan main pada saat melompat berdiri lagi. Pada saat itu, Kian Bu sudah meloncatn dengan kecepatan kilat sehingga yang nampak hanya bayangannya saja dan tahu-tahu dia sudah mendekati kepala ular itu dan memukul dengan kepalan tangan kirinya.

“Dessss….!”

Pukulan itu dahsyat bukan main, mengandung tenaga Swat-im Sinkang dari Pulau Es, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya. Karena tahu bahwa ular itu sungguh kebal dan tidak dapat dilukai oleh senjata, maka Kian Bu kini mempergunakan tenaga Swat-im Sinkang, yaitu tenaga dalam yang dingin, berkat latihan di Pulau Es. Biar pun tangannya tidak akan dapat melukai kulit binatang itu, namun dia mengharapkan bahwa getaran tenaga pukulannya akan dapat melukai sebelah dalam kepala binatang itu. Dan memang agaknya harapannya ini tidak sia-sia, karena ular itu ternyata menderita berat oleh pukulannya yang mengguncangkan isi kepalanya. Ekor ular itu membelit dan menghantam sehingga Kian Bu terpaksa menangkis dengan tangan kanannya yang memegang tongkat!

“Dessss….!”

Tubuh Kian Bu terlempar dan tongkatnya terlepas dari tangannya! Pendekar ini tidak terluka, hanya terlempar saking besarnya tenaga pukulan ekor ular itu. Begitu meloncat bangun, Kian Bu sudah menerjang lagi, meloncat dan memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sinkang di tangan kiri, dan tenaga Hwi-yang Sinkang di tangan kanan.

Kedua pukulan yang mengandalkan tenaga sinkang yang berlawanan ini, yaitu dingin dan panas, dilakukannya berganti-ganti. Dan serangan-serangan ini memang hebat sekali. Satu kali pukulan tangan kanan atau tangan kiri pendekar itu sudah cukup untuk merobohkan, bahkan menewaskan seorang lawan tangguh. Biar pun berkali-kali terkena pukulan, namun nampaknya ia tak merasakan nyeri, bahkan kini ia mulai mengeluarkan teriakan-teriakan yang menyeramkan. Teriakannya itu seperti teriakan seekor burung gagak yang nyaring, parau dan menyeramkan sekali. Agaknya ia marah bukan main terkena pukulan- pukulan yang mendatangkan rasa nyeri itu.

Melihat betapa suaminya sudah mulai menyerang dengan bertubi-tubi, Siang In segera membantunya dengan menggerakkan payungnya, menerjang dan menusukkan ujung payungnya, kembali mengarah mata ular itu. Sedangkan Ci Sian juga membarenginya dan menghantamkan suling ke belakang kepala ular itu sambil mengerahkan semua tenaga dalamnya.

Kian Bu yang sudah menyerang bertubi-tubi itu berada dekat dengan ular dan dia tahu betapa ular itu tiba- tiba menggerakkan ekornya.

“Awas! Mundur….!” Dia berteriak, akan tetapi agaknya isterinya serta Ci Sian tidak menghiraukannya karena kedua orang wanita itu memang hendak membantunya dan tentu saja tidak tega melihat dia sendiri saja melawan ular yang amat tangguh itu. Melihat dua orang wanita itu tidak menghiraukannya, Kian Bu yang maklum akan dahsyatnya sambaran ekor ular, sudah meloncat dan menggunakan kedua lengannya untuk menangkis sambaran ular yang tadinya menghantam ke arah dua orang wanita itu.

“Dessss….!”

Hebat sekali pertemuan antara ekor ular dan kedua lengan Kian Bu. Pendekar ini merasa seolah-olah seluruh tulangnya remuk dan tak dapat bertahan lagi, terpelanting, sedangkan dua orang wanita itu terdorong oleh hawa pukulan yang dahsyat ini, kembali bergulingan. Sedangkan tusukan suling dan ujung payung itu pun tidak melukai ular, bahkan membuatnya menjadi semakin marah. Ular itu merasakan ekornya nyeri sekali, maka kemarahannya dipusatkan kepada Kian Bu yang telah banyak mendatangkan rasa nyeri kepadanya. Sebelum Kian Bu sempat meloncat, ular itu sudah menubruk dan tahu-tahu tubuh Kian Bu telah terkena libatan ekornya!

Pendekar itu terkejut, mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang, memberontak. Tenaga ini besar sekali. Belenggu baja saja kiranya akan patah-patah oleh tenaga Hwi-yang Sinkang yang panas ini. Akan tetapi, tubuh ular itu jauh lebih kuat dari pada baja, karena tubuh itu dapat melentur seperti karet, namun mengandung kekuatan libatan yang amat luar biasa.

Betapa pun juga, karena Kian Bu memberontak itu, libatannya berkurang kekuatannya dan Kian Bu berhasil menarik kedua lengannya keluar dari libatan sehingga hanya pinggangnya ke bawah saja yang terlibat. Dia merasa betapa tenaga libatan itu makin kuat saja, seperti ada tenaga dalam yang makin lama makin besar hendak meremukkan tulang-tulangnya dengan tekanan yang dahsyat. Dan kini kepala ular itu membalik dan dengan moncong terbuka lebar ular itu hendak mencaplok kepala Kian Bu!

“Dessss….!” Kian Bu memapaki kepala itu dengan pukulan tangan kanannya. “Plakkk!” tangan kirinya juga menampar.
Ular itu terkejut dan kesakitan, kembali menggeluarkan teriakan parau yang nyaring sekali. Kian Bu merasa seolah-olah telinganya ditusuk-tusuk, maka ia pun mengerahkan khikang-nya dan melengking nyaring. Ular itu terkejut dan terdiam, akan tetapi tidak melepaskan lilitannya.

Siang In dan Ci Sian terkejut bukan main melihat Kian Bu terlilit ular dan tidak mampu melepaskan diri. Wajah Siang In menjadi pucat dan dengan nekat wanita ini lantas menyerang dengan senjata payungnya. Terjangannya hebat sekali dan ujung payung itu seperti kilat cepatnya menyambar ke arah kedua mata binatang itu. Dan Ci Sian pun cepat membantunya, memukul-mukulkan sulingnya dengan pengerahan khikang-nya yang amat kuat itu ke arah moncong ular, maksudnya andai kata tidak dapat melukai ular pun ia akan mencegah ular itu menggigit Kian Bu.

“Tak-tak….!” Ujung payung itu mengenai kulit yang keras ketika ular itu menggerakkan kepalanya sehingga tusukan-tusukan itu meleset, tidak mengenai mata melainkan mengenai bagian muka yang tertutup kulit keras.

“Trakkk!” Hantaman suling di tangan Ci Sian bertemu dengan gigi dan ada sebuah gigi ular itu yang patah terkena pukulan suling.

Kembali ular itu berteriak parau dan keras dan Kian Bu merasa betapa lilitan tubuh ular itu menjadi makin kuat. Dia pun menggunakan kedua tangannya untuk memukuli tubuh ular yang melilitnya, menggunakan pukulan-pukulan tangan miring seperti membacok-bacok. Tenaganya yang luar biasa kuatnya itu pun tidak dapat membuat kulit ular itu rusak, akan tetapi setidaknya tenaga pukulannya mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa sehingga ular itu berteriak-teriak atau mengeluarkan suara parau dan serak. Lilitannya menjadi semakin kuat.

Karena maklum bahwa dia tidak mampu melepaskan diri dari belitan maut itu, dan bahwa isterinya mau pun Ci Sian bisa terancam bahaya, maka Kian Bu cepat berteriak, “Mundurlah…. jangan dekat-dekat….!”

Tetapi, sebagai seorang isteri yang amat mencinta suaminya, tentu saja Siang In tidak mau meninggalkan suaminya yang sedang dibelit ular dan dalam keadaan terancam hebat itu. Pendekar wanita ini pun sudah menjadi panik penuh kekhawatiran, maka dengan muka pucat ia sudah menyerang lagi sambil membentak nyaring, “Lepaskan suamiku….!”

Payungnya menyambar seperti kilat, kembali menyerang ke arah mata kanan ular itu. Ular itu memang luar biasa sekali. Dia tidak mengelak, melainkan mempergunakan kepalanya untuk menangkis.

“Dessss….!”

Tubuh Siang In terlempar sampai beberapa meter jauhnya karena ditumbuk oleh kepala yang amat kuat itu. Siang In tidak terbanting hebat karena ia cepat menggulingkan tubuhnya, akan tetapi kepalanya agak pening juga oleh benturan keras itu. Sementara itu, Ci Sian melihat dengan penuh kengerian ketika ular itu kini mengangkat tinggi kepalanya dan mulutnya terbuka lebar, siap untuk mencaplok kepala Suma Kian Bu yang masih meronta-ronta seperti seekor lalat dalam perangkap sarang laba-laba itu. Agaknya tidak akan ada apa pun yang dapat menyelamatkan nyawa pendekar sakti itu.

“Mundurlah…. biarkan aku….” kata pula Kian Bu yang terkejut menyaksikan isterinya terlempar tadi.

Akan tetapi Siang In menjadi semakin nekat. Biar pun kepalanya masih pening dan tubuhnya sakit-sakit, terutama sekali pundak kirinya yang terkena hantaman langsung oleh kepala ular itu, namun kekhawatirannya akan keselamatan suaminya membuat ia lupa akan diri sendiri. Ia sudah hendak menyerbu lagi ketika tiba-tiba lengannya dipegang oleh tangan Ci Sian Sian.

“Enci, biarkan aku mencoba ini….”

Siang In menahan gerakannya dan memandang Ci Sian yang sudah menempelkan suling emasnya di depan mulut dan terdengarlah suara suling yang aneh dan suara itu melengking tinggi mengalun dan mengandung getaran yang amat halus namun amat kuat.

Ternyata dara ini teringat akan pelajaran tiupan sulingnya, dan menurut suheng-nya, tiupan suling itu mengandung suara yang penuh dengan kekuatan khikang, dan menurut suheng-nya, suara itu selain dapat mengusir pengaruh gaib atau juga segala macam kekuatan sihir dari lawan, dapat dipergunakan untuk menyerang atau mempengaruhi lawan pula. Dan Ci Sian juga teringat akan pelajaran dari gurunya, yaitu Si Raja Ular See-thian Coa-ong tentang kelemahan ular.

Dia sendiri dapat memanggil ular-ular dengan getaran suara meninggi dalam nada tertentu, yaitu ilmu yang didapatnya dari See-thian Coa-ong. Dengan menggabungkan ilmunya meniup suling dan ilmunya menguasai ular itu, ia ingin mencoba kepandaiannya untuk mempengaruhi dan menundukkan ular raksasa ini. Tentu saja Ci Sian belum yakin akan hasilnya, sebab pelajaran menaklukkan ular dari suhu-nya, yaitu See-thian Coa-ong itu, hanya ditujukan terhadap ular-ular biasa, terutama ular beracun. Belum pernah selama hidupnya dia melihat ular seperti yang mereka lawan ini. Ular yang menyelamatkannya ketika terjatuh dari tebing dahulu, yaitu ular peliharaan See-thian Coa-ong, tidak ada setengahnya dibandingkan dengan besar ular raksasa ini!

Dengan senjata payung di tangan, siap untuk menerjang, dan sepasang matanya tak pernah berkedip memandang ke arah ular yang melilit tubuh suaminya, Siang In berdiri memandang. Pendekar wanita ini sendiri bergetar mendengar suara suling melengking tinggi ini, sehingga ia harus mengerahkan sinkang untuk melindungi jantungnya yang seperti ikut tergetar.

“Bagus, teruskan…. teruskan….!” Tiba-tiba terdengar Kian Bu berkata girang.

Terjadilah keanehan. Mendengar suara melengking tinggi yang beralun itu, ular yang tadinya sudah membuka mulut, dengan marah sekali hendak mencaplok kepala Kian Bu, tiba-tiba menghentikan gerakan kepalanya dan mengangkat kepala tinggi-tinggi, diam tak bergerak, seolah-olah terpesona! Kemudian, mulailah kepala itu bergerak-gerak ke kanan kiri, mulutnya masih terbuka dan kadang-kadang ular itu menyemburkan uap yang panas dan berbau amis!

Giranglah hati Ci Sian ketika melihat hasil tiupan sulingnya ini. Ia pun cepat meniupkan nada-nada suara yang telah dipelajarinya dari See-thian Coa-ong untuk membuat ular itu berlutut atau mendekam di depan kakinya. Ada bermacam-macam perintah yang dapat dilakukannya terhadap ular, sesuai dengan yang diajarkan See-thian Coa-ong, melalui nada suara tertentu yang biasanya dikeluarkan dari kerongkongannya dengan pengerahan khikang. Akan tetapi, kini dengan tiupan sulingnya, tentu saja kekuatan itu lebih hebat lagi.

Namun Ci Sian terkejut dan juga bingung. Ular raksasa itu tidak mentaati perintah melalui sulingnya, tetapi nampak panik dan bingung, juga seperti ketakutan. Agaknya, suara melengking yang langsung ditujukan kepadanya oleh dara perkasa itu amat mengganggu telinganya, membuat kepalanya rasanya seperti ditusuk-tusuk dari dalam! Ular itu kebingungan, ketakutan, dan membuka mulutnya lebar-lebar, mendesis- desis dan menggeliat-geliat, menggerakkan kepala seperti menari-nari, akan tetapi tarian yang tidak teratur, tarian kebingungan!

Ci Sian melanjutkan tiupannya, menduga bahwa agaknya ‘alat penerima’ ular raksasa ini sudah berbeda dengan ular-ular pada umumnya. Akan tetapi, melihat betapa tubuh ular itu menggeliat dan karenanya lilitannya juga mengendur, ia terus meniup sulingnya, bahkan menggunakan nada yang makin meninggi sampai tidak dapat ditangkap oleh anak telinga lagi! Dan ular itu semakin tersiksa!

Dalam keadaan kebingungan itu, ular raksasa ini agaknya melupakan Kian Bu sehingga lilitannya mengendur dan ketika memperoleh kesempatan baik, Kian Bu berhasil meloloskan diri, sekali meloncat sudah terbebas dari lilitan ular. Akan tetapi ketika kedua kakinya tiba di atas tanah dekat isterinya, dia terhuyung dan tentu akan terpelanting kalau tidak dipeluk isterinya. Kiranya pendekar ini tadi terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk berusaha melepaskan diri dari lilitan ular itu, dan juga untuk menjaga agar tulang-tulangnya tidak remuk terhimpit.

Setelah mengatur napas sebentar dan keadaannya pulih kembali, Suma Kian Bu lalu mengambil payung isterinya, matanya tak pernah terlepas memandang ular itu. Ketika tadi ular itu membuka mulut lebar-lebar hendak mencaplok kepalanya, dia melihat betapa bagian dalam dari mulut ular itu merupakan daging yang kemerahan, dan dia percaya bahwa tidak mungkin daging di sebelah dalam rongga mulut itu kebal. Di situlah agaknya kelemahan ular ini, pikirnya. Di bagian luar tubuhnya, ular itu kebal, terlindung sisik yang amat tebal dan kuat. Akan tetapi kalau mulutnya terbuka, maka di dalam rongga mulutnya itu merupakan bagian yang lemah dan tidak terlindung.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo