October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 8

 

Seng Bu tersenyum, senyum biasa yang membuat wajahnya nampak tampan menarik. “Bagus, aku akan memimpin kalian, membawa Thian-li-pang maju, tidak seperti saat sekarang ini. Thian-li-pang akan menjadi perkumpulan terbesar! Kalau Yo Han berani datang, aku akan membunuhnya dengan ilmu yang sama! Sekarang, kita bereskan semua jenazah ini. Tidak perlu dikubur, kita mesukkan saja ke dalam sumur tua itu!”

Semua orang terbelalak dan bergidik, akan tetapi tidak ada yang berani membantah. Melihat sikap para anggota itu ragu-ragu, Seng Bu tidak sabar dan dia menghampiri jenazah-jenazah itu, lalu sekali angkut, kedua tangannya sudah mencengkeram empat batang tubuh, masing-masing tangan mengangkat dua mayat. Dengan langkah lebar dia lalu menghampiri semak belukar, dan melempar-lemparkan empat batang tubuh itu ke dalam sumur tua! Dua kali dia membawa delapan mayat, dan mayat terakhir, yaitu mayat Lauw Kang Hui, dibawanya dan dimasukkannya pula ke dalam sumur tua!

Semua orang hanya terbelalak, bergidik dan takut sekali kepada pemuda yang biasanya lembut dan ramah itu. Mereka kini memandang Seng Bu seolah-olah pemuda itu kini berubah menjadi iblis yang amat menakutkan.

“Kalian tahu mengapa aku tidak mengubur jenazah mereka dan membiarkan mereka menjadi penunggu sumur tua?” tanya Seng Bu kepada para anah buah Thian-li-pang.

Tidak ada seorang pun dapat menjawab, bahkan tidak berani membuka mulut, hanya menggelengkan kepala menyatakan bahwa mereka tidak tahu.

“Aku bukanlah orang yang tak mengenal aturan. Aku melempar semua mayat ke dalam sumur tua dengan maksud tertentu,” kata Seng Bu dengan sikap biasa, ramah lembut dan berwibawa. “Biarlah mereka itu menjadi arwah penasaran, hal ini kusengaja. Nanti kalau aku sudah berhasil menangkap Yo Han, dia akan kulemparkan ke dalam sumur, baik masih hidup atau pun telah mati. Dengan demikian, arwah Suhu, Suci dan Suheng akan merasa senang, bisa membalas dendam kepada Yo Han. Juga arwah enam orang anggota Thian-li-pang semua akan ikut mengeroyok dan menyiksa Yo Han.”

Semua anggota diam saja, masih tertegun dan masih terkejut dan ketakutan.

“Sekarang semua kembali dan berkumpul di ruangan besar. Sebagai ketua baru aku akan mengadakan peraturan baru. Kita harus dapat menjadikan Thian-li-pang sebagai perkumpulan yang besar dan makmur, tidak seperti sekarang ini. Miskin dan tak pernah melakukan apa-apa yang sesuai dengan perjuangan kita dalam menentang pemerintah Mancu.”

Sesudah mereka berada di sarang Thian-li-pang, Seng Bu lalu mengumpulkan seluruh anggota dan dia membuat peraturan baru yang membongkar semua peraturan lama. Dan mulai hari itu, Thian-li-pang kembali seperti sebelum Yo Han memasukinya, yaitu menjadi perkumpulan yang dengan kedok perjuangan melakukan apa saja untuk dapat mengumpulkan harta.

Mereka menguasai tempat-tempat pelesir di kota-kota dan menundukkan jagoan-jagoan yang memimpin kelompok-kelompok penjahat hingga semua penjahat harus mengakui Thian-li-pang sebagai pimpinan dan menyerahkan sebagian dari hasil kejahatan mereka sebagai tanda menakluk atau pajak. Mereka yang berani menentang lalu dihancurkan dengan mudah karena selain Thian-li-pang mempunyai banyak anggota yang tangguh, juga ketuanya adalah seorang yang lihai.

Tidak sukar bagi para anggota Thian-li-pang untuk mengambil cara hidup baru ini, yang sebetulnya hanya merupakan pengulangan atau kambuhan saja dari cara hidup mereka yang terdahulu. Dan memang hasilnya dapat segera dirasakan oleh para anggota, yakni kemakmuran dan serba kecukupan, walau pun uangnya didapat dari hasil kekerasan dan kejahatan. Dalam waktu beberapa bulan saja, nama Thian-li- pang semakin tersohor dan perkumpulan ini menjadi perkumpulan yang amat kaya dan berpengaruh, juga amat ditakuti orang.

Ouw Seng Bu mempunyai alasan sendiri untuk membenarkan tindakannya itu. Pernah ia mengumpulkan semua anggotanya, kemudian dengan panjang lebar ia menandaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.

Mereka yang tadinya merasa penasaran juga melihat bahwa ketua mereka kini menjalin hubungan baik lagi dengan Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai serta gerombolan-gerombolan lainnya yang di dunia kang-ouw dikenal sebagai gerombolan jahat dan golongan hitam, menjadi hilang perasaan penasaran itu setelah mendengar keterangan ketua mereka yang baru dan masih muda itu.

“Perjuangan menentang pemerintah penjajah Mancu adalah perjuangan yang suci,” demikian antara lagi Seng Bu berkata. “Cita-citanya hanya satu, yaitu menentang dan menggulingkan pemerintah penjajah, mengusir penjajah Mancu dari tanah air dan dapat membebaskan bangsa dari belenggu penjajah!

Perjuangan tidak mengenal golongan putih atau golongan hitam. Yang terpenting adalah cita-cita tercapai. Demi tercapainya cita-cita perjuangan, apa pun boleh kita lakukan, tidak ada pantangan lagi!”

Ucapan Seng Bu disambut dengan gembira oleh semua anak buah Thian-li-pang. Cara yang dipakai ketua mereka itu tentu saja membuka kesempatan besar bagi mereka untuk memuaskan keinginan mereka sendiri dengan membonceng perjuangan! Mereka dapat saja menggunakan kekerasan memaksakan kehendak mereka kepada rakyat, dapat melakukan perampokan atau pencurian karena semua itu menjadi benar dan baik kalau mereka menggunakan alasan demi perjuangan!

Tujuan menghalalkan segala cara! Itulah pendirian mereka yang telah dicengkeram oleh nafsu. Nafsu selalu menghendaki supaya keinginannya dapat tercapai, tersalurkan dan terpuaskan. Mengejar keinginan atau ambisi berarti membiarkan nafsu untuk merajalela menguasai diri sehingga kesadaran lenyap, akal sehat menjadi sakit, dan pertimbangan patah-patah. Nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkan menyeret kita melakukan segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang sifatnya merusak.

Tujuan mengumpulkan harta sebanyaknya akan menghalalkan kita melakukan korupsi, perampokan, penipuan, pencurian dan sebagainya, sebab harta akan dianggap sebagai sumber kesenangan. Tujuan mendapatkan kedudukan yang dianggap sebagai sumber kemuliaan, kehormatan dan kesenangan menghalalkan kita melakukan pengkhianatan, kelicikan, penipuan dan menghantam siapa saja yang menghalangi kita, dan kalau perlu membunuh penghalang itu!

Semua ambisi dan semua keinginan, tidak lain hanyalah pengejaran terhadap apa yang dianggap menjadi sumber kesenangan. Sementara itu, pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela semua perbuatan itu, dengan memberi istilah yang indah-indah dan muluk-muluk terhadap pengejaran keinginan itu, misalnya perjuangan, cita-cita dan sebagainya.

Yang terpenting justru terletak kepada cara itu. Cara berarti tindakan, cara berarti saat ini, sekarang. Tujuan hanya merupakan khayal, belum ada. Yang menentukan adalah cara itu, tindakan itu, sekarang ini. Yang sekarang ini menentukan yang nanti, karena yang nanti hanya merupakan akibat dan kelanjutan dari yang sekarang. Tidak mungkin mencapai tujuan yang baik dengan cara yang buruk, tidak mungkin mencapai tujuan yang bersih dengan cara yang kotor. Kalau caranya kotor, akhirnya yang didapat sebagai akibat cara itu pun pasti kotor.

Kalau orang melakukan sesuatu sambil membayangkan tujuan yang hendak dicapai oleh tindakannya itu, maka besar kemungkinan dia terseret oleh nafsu dan dibutakan oleh kemilau tujuan yang hendak dicapai. Tindakan yang benar adalah tindakan yang tidak terbimbing nafsu, melainkan tindakan yang dasarnya penyerahan kepada Tuhan sehingga tindakan itu akan selalu terbimbing oleh kekuasaan Tuhan. Tindakan seperti ini merupakan tindakan yang dilakukan demi tindakan yang penuh kasih terhadap tindakan itu, karena kekuasaan Tuhan berlimpahan dengan kasih.

Kalau kita mencintai apa yang kita lakukan, mencintai apa yang kita kerjakan, demi pekerjaan itu sendiri tanpa membayangkan hasilnya, maka apa yang akan kita lakukan itu sudah pasti benar dan baik, sebagai kemampuan kita. Jika kita belajar dan mencintai apa yang kita lakukan, sudah pasti dengan sendirinya kita memperoleh kemajuan dan ijazah tanpa kita mengejarnya. Ijazah itu hanya merupakan akibat atau buah dari pada pohon yang kita tanam sendiri, yaitu mengerjakan pelajaran itu.

Sebaliknya, kalau kita belajar demi mendapatkan ijazah, maka kita akan mudah terseret karena yang kita pentingkan hanya ijazahnya, bukan pelajarannya sehingga mungkin kita akan melakukan penyelewengan dengan menyontek, dengan membeli, menyogok dan sebagainya.

Bukan berarti bahwa kita harus menolak kesenangan. Sama sekali bukan. Menikmati kesenangan merupakan anugerah dari Tuhan! Kalau Tuhan tidak menghendaki, tentu kita tidak diberi perlengkapan sebagai sarana untuk dapat menikmati kesenangan itu. Kita berhak menikmati kesenangan karena itu pemberian dari Tuhan, tetapi kesenangan yang tidak dibuat-buat, tidak dicari-cari, tidak dikejar-kejar.

Kesenangan letaknya di dalam perasaan hati. Rasa senang yang menyelinap di dalam hati tanpa dikejar- kejar, itulah kesenangan sejati yang biasa kita namakan kebahagiaan. Kesenangan yang dikejar dan diberi adalah kesenangan nafsu. Biasanya kesenangan seperti ini lebih nikmat dikenang dan dibayangkan dari pada dialami pada saatnya. Hal ini timbul karena perbandingan dengan apa yang kita kenang, apa yang kita bayangkan.

Seolah-olah semua kenikmatan itu sudah menjadi hambar, dihisap habis oleh kenangan dan bayangan masa lalu dan masa depan. Tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan, pada saat itu, kalau kesenangan menyelinap di hati, itulah kebahagiaan.

Seperti melihat penglihatan indah, mendengar suara merdu, mencium bau harum. Kita mendapatkan kebahagiaan pada saat itu juga, dan habis pula pada saat itu. Kalau kita menyimpannya dalam ingatan, maka kebahagiaan itu berubah menjadi kesenangan.

Pikiran dan ingatan paling suka menguyah-nguyah pengalaman yang nikmat, kemudian membayangkan dengan latar belakang kenangan. Dari sini timbulnya pengejaran, dan bila yang dikejar sudah dapat, akan terasa hambar karena tidak seindah yang dikenang dan dibayangkan!

Kebahagiaan adalah saat demi saat, tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan. Bahkan hidup adalah sekarang, saat ini, saat demi saat. Yang lalu sudah mati dan hanya kenangan, yang akan datang hanya bayangan khayal.

Ouw Seng Bu telah mendapatkan ilmu yang luar biasa, ilmu yang menjadi aneh karena dia mempelajarinya dari catatan yang tidak lengkap, dipelajari tanpa bimbingan guru sehingga pelajaran yang tidak lengkap dan terbalik-balik itu menyeretnya ke alam yang mendekati kegilaan.

Memang dia menjadi lihai bukan main, akan tetapi, ilmu itu pun mempengaruhi hati akal pikirannya, membuat dia kadang-kadang kumat seperti orang gila, bahkan dapat lebih mengerikan lagi, seperti iblis sendiri yang menjelma ke dalam tubuh manusia…..

********************

“Apa kau bilang? Heh, Sun-ji (anak Sun), lupakah engkau siapa dirimu ini? Engkau adalah cucu Kaisar, tahu? Engkau adalah seorang pangeran, cucu kaisar sendiri! Dan kau berani katakan bahwa engkau jatuh cinta kepada puteri ketua Pao-beng-pai, kaum pemberontak itu? Gila!”

“Ayah, apakah cucu kaisar itu bukan manusia? Dan puteri Pao-beng-pai juga bukan manusia? Kami berdua sama-sama manusia, pria dan wanita, maka apa yang perlu diherankan kalau kami saling jatuh cinta?” bantah Pangeran Cia Sun di depan ayahnya dan ibunya.

Dia baru saja pulang dan langsung melapor kepada ayah ibunya bahwa dia jatuh cinta kepada Siangkoan Eng, puteri ketua Pao-beng-pai dan minta kepada orang tuanya agar meminang gadis itu untuk menjadi isterinya.

“Anakku, bagaimana engkau bisa berkata seperti itu?” Ibunya membujuk dengan lembut dan meletakkan tangannya di pundak puteranya. “Tentu saja engkau tak mungkin dapat disamakan dengan pemuda biasa yang lain, dapat menikah dengan sembarang gadis saja.”

“Akan tetapi, Ibu. Kami sudah saling mencinta, dan cinta tidak mengenal pangkat atau derajat!” bantah Cia Sun.

“Cia Sun!” Ayahnya, Pangeran Cia Yan, membentak marah. “Ingat, sejak engkau masih kecil, kami telah mengikat tali perjodohanmu dengan puteri Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong. Puterinya itu seorang gadis yang cantik jelita, berbudi, gagah perkasa dan bahkan mendapat julukan Si Bangau Merah. Kami bangga sekali mempunyai mantu seperti gadis itu. Baru-baru ini ayah ibu gadis itu datang ke sini. Mereka menantimu, akan tetapi sia-sia saja mereka menanti walau pun kami sudah mengirim orang untuk mencarimu dan memanggilmu pulang. Dalam pertemuan itu kami sudah mematangkan urusan itu, dan dengan resmi kami mengambil keputusan untuk menjodohkan engkau dengan Tan Sian Li. Ialah calon jodohmu, bukan wanita lain!”

“Tetapi, Ayah. Aku dan dia tidak saling mencinta, bahkan bertemu muka pun belum pernah!” Cia Sun membantah.

“Sudah cukup!” Pangeran Cia Yan membentak marah. “Engkau yang belum pernah membalas budi ayah ibumu, sekarang bahkan hendak menjadi anak yang murtad dan tidak berbakti? Pendeknya, Tan Sian Li adalah calon isterimu, bukan perempuan lain!”

Ibunya cepat melerai. “Anakku, kenapa engkau menjadi bingung? Tentu saja engkau dapat mengambil wanita lain sebagai selir kalau engkau menyukai gadis-gadis lain…”

Ayahnya memotong. “Tentu saja engkau boleh memiliki selir, akan tetapi selir-selirmu pun harus gadis baik-baik supaya jangan menodai nama keluarga kita. Kita ini keluarga Cia, keluarga Kaisar, tahu? Kalau engkau mencinta gadis lain, tentu boleh kau jadikan selir, dan gadis itu… siapa tadi kau bilang? Ahhh, puteri dari ketua Pao-beng-pai? Kau maksudkan perkumpulan pemberontak yang baru saja mengadakan pertemuan rahasia dengan para pemberontak lain untuk menggulingkan pemerintah? Gila!”

“Tapi Siangkoan Eng tidak seperti ayahnya, Ayah. Ia sama sekali tidak jahat, bahkan ia berjanji kalau menjadi isteriku, tidak akan mencampuri urusan dunia kang-ouw, tak akan mencampuri urusan pemberontakan lagi…”

“Ihhh, engkau agaknya telah terkena guna-guna. Dan Pao-beng-pai…? Hemmm, kiranya engkaukah pemuda yang ditawan mereka itu?”

“Ayah tahu tentang itu?” Cia Sun memandang ayahnya dengan heran. “Memang aku telah ditawan mereka, dan kalau tidak ada Eng-moi, tentu aku telah mereka bunuh, atau dijadikan sandera untuk mengacau pemerintah, Ayah.”

“Sudah, jangan bicara lagi tentang gadis Pao-beng-pai itu! Sekarang pun pasukan telah bergerak ke sana untuk membasminya sampai ke akar-akarnya dan membunuh seluruh pimpinannya.”

Cia Sun terbelalak. “Ahhh? Apa yang Ayah katakan?”

Pangeran Cia Yan mengangguk-angguk dan tersenyum, merasa menang. Lalu dia pun berkata bangga, “Apa kau kira pemerintah begitu bodoh? Di antara para tamu, terdapat mata-mata kita yang diselundupkan. Jika engkau saja bisa menyelundup menjadi tamu, apa lagi mata-mata yang cerdik. Kini Ciong-ciangkun (perwira Ciong) sudah membawa pasukan untuk membasmi gerombolan pemberontak itu dan…” Pangeran Cia Yan amat terkejut melihat puteranya buru-buru bangkit berdiri dan melangkah pergi.”…Hei, kau mau ke mana?”

Cia Sun menoleh dan berkata, “Ayah, Ibu, aku harus pergi, aku harus menyelamatkan Eng-moi dan ibunya. Mereka tidak bersalah, mereka tidak boleh ikut terbasmi!” Dan pemuda itu pun berlari cepat meninggalkan rumah orang tuanya, tidak mempedulkan teriakan ayah ibunya yang memanggilnya.

Kedua orang tua itu hanya menghela napas panjang dan menggeleng kepala saja. “Itulah sebabnya aku ingin sekali dia menjadi suami seorang wanita perkasa seperti Si Bangau Merah,” kata Pangeran Cia Yan kepada isterinya. “Semenjak dia suka belajar silat, wataknya pun berubah menjadi keras kepala dan berjiwa petualang. Kalau dia tidak mendapatkan seorang isteri yang pandai dan berwibawa, berilmu tinggi, tentu tidak ada yang akan mampu mengendalikannya.”

Cia Sun cepat berlari ke markas pasukan untuk mencari Perwira Ciong yang sudah dikenalnya. Akan tetapi dia terlambat. Perwira itu telah berangkat bersama pasukannya yang berjumlah seribu orang. Cia Sun cepat-cepat melakukan pengejaran, menunggang seekor kuda.

Pada waktu itu memang banyak terdapat perkumpulan atau kelompok orang-orang yang melakukan usaha untuk menentang pemerintah kerajaan Mancu. Akan tetapi, satu demi satu perkumpulan pejuang yang disebut pemberontak oleh kerajaan Mancu itu berhasil dihancurkan.

Kekuatan pasukan Mancu masih amat kuat, sedangkan para pejuang itu tidak memiliki persatuan yang kokoh. Mereka bahkan membentuk kelompok sendiri-sendiri. Bukan hanya itu, bahkan di antara mereka kadang terdapat bentrokan sendiri yang tentu saja melemahkan kekuatan mereka. Banyak pula bermunculan perkumpulan pejuang yang lebih condong menjadi perkumpulan golongan sesat atau golongan hitam, karena mereka melakukan segela macam bentuk kejahatan.

Pao-beng-pai merupakan satu di antara perkumpulan pejuang yang pada hakekatnya memang membenci, bahkan menaruh dendam kepada kerajaan Mancu. Hal ini adalah karena pemimpinnya atau pendirinya, Siangkoan Kok, adalah seorang keturunan dari keluarga kerajaan Beng yang telah dijatuhkan oleh bangsa Mancu.

Oleh karena itu, gerakan perjuangan Pao-beng-pai ini lebih condong kepada gerakan untuk membalas dendam atau merampas kembali tahta kerajaan Beng yang dulu sudah dirampas oleh bangsa Mancu yang kemudian mendirikan kerajaan Ceng. Tetapi, karena Siangkoan Kok, keturunan keluarga kerajaan Beng itu juga seorang datuk sesat, bahkan isterinya, Lauw Cu Si, juga keturunan pimpinan Beng-kauw yang terkenal sebagai suatu perkumpulan sesat, maka Pao-beng-pai juga merupakan perkumpulan yang tak pantang melakukan kekejaman atau kejahatan.

Pihak pemerintah kerajaan selalu mengamati perkembangan perkumpulan-perkumpulan pemberontak seperti itu. Pemerintah memang maklum bahwa tidak mudah membasmi seluruh pemberontak sampai ke akar-akarnya. Sudah sering kali pasukan pemerintah menghancurkan gerombolan pemberontak, namun para anak buahnya yang berhasil meloloskan diri segera bergabung lagi dengan kelompok pemberontak lain. Oleh karena itu, pemerintah hanya memperhatikan kelompok yang besar-besar dan berbahaya saja.

Ketika Pao-beng-pai mengadakan pertemuan dengan para tokoh kang-ouw, tentu saja peristiwa ini tidak terlepas dari perhatian para mata-mata yang disebar oleh pemerintah. Setelah menyaksikan pertemuan itu, serta mendengar betapa Pao-beng-pai menyusun kekuatan, mengajak semua pihak yang menentang pemerintah untuk bergabung dan bekerja sama untuk melakukan pemberontakan, mata-mata cepat memberi kabar ke kota raja dan para panglima yang bertugas menumpas setiap pemberontakan segera mengambil tindakan tegas dan cepat.

Panglima Ciong, yang terkenal sebagai seorang panglima yang gagah perkasa dan pandai, yang sudah sering kali melakukan pembasmian terhadap para pemberontak, segera ditugaskan untuk memimpin pasukan seribu orang menyerbu dan membasmi Pao-beng-pai di Han-kwi-kok, lembah Bukit Iblis…..

********************

Siangkoan Kok marah sekali ketika mendengar bahwa puterinya, Siangkoan Eng, pergi dari Ban-kwi-kok tanpa pamit. Selama belasan hari ini ia memang tak pernah menengok lagi kepada isteri dan puterinya itu, semenjak dia marah-marah dan hampir membunuh Eng Eng. Dia tidak mempedulikan mereka, dan berpengantinan dengan isterinya yang baru, yaitu bekas muridnya yang dipaksanya untuk melayaninya dan menjadi pengganti isterinya.

Dengan kemarahan meluap-luap, lelaki tinggi besar yang berusia lima puluh lima tahun ini, pergi mencari Lauw Cu Si, isterinya yang sedang menangis di ruangan belakang. Mukanya merah sekali dan begitu melihat isterinya, yang menangis, ia pun membentak.

“Ke mana perginya anak durhaka itu? Tentunya engkau sengaja menyuruh dia minggat, bukan?” bentakan ini disertai tangannya menggebrak meja sehingga seluruh ruangan itu bagaikan tergetar.

Lauw Cu Si yang sedang duduk menangisi kepergian puterinya, segera menghentikan tangisnya dan bangkit berdiri. Nyonya berusia empat puluh tahun ini masih cantik. Kalau biasanya dia selalu tunduk dan penurut, kini dia bangkit berdiri dan tegak menghadapi suaminya. Mukanya diangkat dan sepasang matanya bersinar-sinar menatap ke wajah suaminya dengan penuh keberanian dan kemarahan, lalu telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka suaminya dan terdengar suaranya, suara yang menggetar dan mengandung kemarahan yang hebat.

“Kau…! Kau manusia binatang, engkau iblis busuk, engkaulah yang membuat Eng Eng melarikan diri, meninggalkan aku! Engkau yang harus bertanggung jawab. Ia bukanlah anakmu, bukan darah dagingmu, bukan apa-apamu. Ia milikku, anakku, tetapi engkau hampir membunuhnya! Sekarang ia pergi dan engkau yang harus bertanggung jawab!”

Kemarahan Siangkoan Kok meluap-luap. Selama ini isterinya itu belum pernah memaki dirinya seperti itu. “Perempuan busuk tak mengenal budi! Aku telah mengangkatmu dari lembah kehinaan setelah Beng-kauw hancur, juga memelihara anakmu seperti anakku sendiri. Dan begini balasan kalian kepadaku? Kalau tahu akan begini, sudah sejak dulu Eng Eng kubunuh, dan kau juga!”

“Apa? Kau hendak membunuh kami? Cobalah kalau engkau mampu! Kau kira aku takut padamu?”

Saking sedihnya ditinggal pergi anaknya, wanita itu menjadi marah dan nekat. Walau pun ia tahu benar bahwa ilmu kepandaiannrya masih kalah dibandingkan suaminya, dia berani menantang!

“Bagus, kalau begitu mampuslah kau, Lauw Cu Si, perempuan tak tahu diri!” Siangkoan Kok menerjang isterinya dengan dahsyat.

Akan tetapi, Lauw Cu Si yang sudah nekat, cepat mengelak dan membalas dengan tak kalah dahsyatnya. Bahkan wanita ini sudah mencabut pedangnya, lalu menyerang bertubi-tubi. Siangkoan Kok juga mencabut pedangnya dan suami isteri ini lalu berkelahi mati-matian.

Lauw Cu Si adalah seorang tokoh sesat, keturunan ketua Beng-kauw. Ia memiliki ilmu silat yang dahsyat dan keji pula. Tingkat kepandaiannya sudah tinggi dan ia hanya kalah sedikit saja dibandingkan suaminya, maka tidaklah terlalu mudah bagi Siangkoan Kok untuk membunuh isterinya.

Para murid dan anggota Pao-beng-pai yang melihat perkelahian ini, menjadi bingung sekali. Mereka sama sekali tidak berani mencampuri. Orang-orang yang mungkin berani mencampuri hanyalah Siangkoan Eng, atau mungkin juga Tio Sui Lan, murid kepala dari Siangkoan Kok yang kini menjadi selirnya itu.

Akan tetapi pada saat itu, Eng Eng tidak ada, sudah pergi tanpa pamit. Dan ketika para murid mencari Tio Sui Lan, mereka juga tidak dapat menemukan murid utama yang selama beberapa hari ini menjadi isteri ketua mereka. Karena bingung, tidak tahu harus berbuat apa, para murid dan anggota Pao-beng-pai itu bahkan menjauh, sama sekali tidak berani mencampuri perkelahian antara sang ketua dan isterinya, karena mereka tahu bahwa mencampuri berarti akan mati konyol.

Pada saat semua orang menjadi bingung itu, terdengar suara gaduh di lereng bukit, suara tambur dan terompet, suara sorakan riuh rendah. Inilah suara genderang perang yang dibunyikan oleh pasukan pemerintah yang datang menyerbu.

Siangkoan Kok sudah dapat menekan dan mendesak Lauw Cu Si. Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar kemerahan, dan biar pun Lauw Cu Si sudah melawan dengan nekat saking marahnya, tetap saja ia kalah tingkat dan mulai terdesak, bahkan ia telah menderita beberapa luka karena tusukan dan bacokan pedang.

Suara tambur dan terompet itu mengejutkan Siangkoan Kok. Akan tetapi Lauw Cu Si tidak peduli. Satu- satunya perhatian wanita ini hanyalah ingin membunuh pria yang selama ini dipuja dan ditaatinya, karena pria ini hampir saja membunuh puterinya, dan kini ingin membunuhnya.

Namun, Siangkoan Kok yang kini terkejut dan bingung mendengar suara gaduh yang disusul sorak-sorai dan suara pertempuran, cepat menggerakkan kakinya menendang. Karena isterinya memang sudah terdesak oleh pedangnya, maka tendangan itu tidak dapat dielakkan Lauw Cu Si.

“Desss…!”

Kaki Siangkoan Kok yang besar dan kuat itu menghantam perut isterinya, dan Lauw Cu Si terjengkang serta terlempar, roboh terbanting dan pingsan! Siangkoan Kok sudah tak lagi mempedulikan isterinya karena dari teriakan-teriakan para anak buah Pao-beng-pai, dia dengan terkejut sekali mengetahui bahwa sarangnya diserbu pasukan pemerintah!

Pada saat itu, muncul Tio Sui Lan bersama belasan orang perwira! Wanita muda itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah Siangkoan Kok sambil berkata, “Inilah si jahanam Siangkoan Kok, si manusia iblis!”

Melihat munculnya murid yang telah dipaksanya menjadi isterinya itu bersama belasan orang perwira, Siangkoan Kok segera tahu apa yang terjadi. Murid ini ternyata sudah mengkhianatinya! Pantas sejak pagi Sui Lan tidak nampak.

Pada waktu dia bangun tidur tadi, dia tidak melihat Sui Lan di sisinya. Hal ini sudah membuatnya marah- marah, apa lagi ketika mendengar bahwa Eng Eng sudah minggat meninggalkan Pao-beng-bai, kemarahannya semakin memuncak. Selama ini Eng Eng menjadi puterinya yang patuh, bahkan menjadi pembantu utama, menjadi tokoh kedua sesudah dia di Pao-beng-pai. Apa lagi sekarang tahu-tahu murid yang telah dipaksanya menjadi isteri selama belasan hari itu, tiba-tiba muncul dengan belasan orang perwira pemerintah yang membawa pasukan dan yang agaknya kini melakukan penyerbuan ke situ.

“Pengkhianat kau…!” teriaknya sambil melotot memandang kepada wanita yang malam tadi masih menjadi kekasihnya tercinta.

Akan tetapi Sui Lan tersenyum mengejek, dengan kedua matanya bercucuran air mata! “Engkaulah manusia iblis! Dan inilah pembalasanku, Siangkoan Kok!” teriaknya.

Dengan nekat Sui Lan yang telah memegang pedang itu kini menerjang dan menyerang pria yang selama ini menjadi gurunya yang ditaati. Kemudian ketaatannya dihancurkan bersama kehormatannya yang direnggut secara paksa oleh orang yang dihormatinya itu.

Para perwira itu amat terkejut. Tadi ketika mereka memimpin pasukan mendaki lereng Kwi-san menuju Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan), setelah semalaman mengurung ketat tempat itu, mereka bertemu dengan seorang wanita cantik yang menuruni lereng. Segera wanita itu dikepung. Wanita itu adalah Tio Sui Lan!

Pada saat melihat bahwa tempat itu telah terkepung pasukan pemerintah, Sui Lan yang tadinya hendak melarikan diri, menjadi girang sekali. Ia lalu menyatakan bahwa ia ingin membantu pasukan pemerintah menghancurkan Pao-beng-pai. Ia mengatakan bahwa tanpa petunjuk jalan yang mengenal tempat itu, penyerbuan akan menghadapi kesulitan karena di sekeliling Ban-kwi-kok dipasangi jebakan-jebakan yang amat berbahaya.

Usulnya diterima dan demikianlah, berkat petunjuk wanita yang menjadi pengkhianat karena sakit hati itu, pasukan pemerintah dapat naik dengan mudah sampai mengurung sarang Pao-beng-pai. Sekarang, setelah berhasil menyusup dengan diam-diam, mereka melakukan penyerbuan serentak sehingga menggegerkan para anggota Pao-beng-pai.

Sui Lan menjadi petunjuk jalan bagi para perwira untuk mencari pemimpin pemberontak dan sempat melihat pemimpin pemberontak itu baru saja merobohkan isterinya sendiri. Dan melihat Sui Lan tiba-tiba menyerang Siangkoan Kok, para perwira tentu saja amat terkejut dan khawatir karena mereka semua sudah mendengar betapa lihainya ketua Pao-beng-pai itu. Mereka serentak maju, namun terlambat.

Ketika Sui Lan menyerang Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini demikian marahnya sehingga dia langsung menyambut bekas murid dan juga bekas kekasih paksaannya itu dengan pedangnya. Sambutan yang dahsyat dan penuh keberanian hingga pedangnya seperti kilat menyambar.

“Tranggg… crakkk!”

Pedang di tangan Tio Sui Lan terlempar jauh, disusul tubuhnya yang roboh mandi darah karena pedang di tangan Siangkoan Kok sudah menembus ke dadanya! Wanita yang malang itu tewas seketika karena pedang ketua Pao-beng-pai itu beracun, juga pedang itu menembus jantungnya.

Belasan orang perwira cepat menerjang dan mengeroyoknya. Mereka adalah jagoan-jagoan dari kota raja. Biar pun kalau maju seorang demi seorang, mereka bukan lawan Siangkoan Kok, namun karena mereka maju bersama, tentu saja ketua Pao-beng-pai itu menjadi kewalahan dan repot sekali.

Apa lagi melihat keadaan di luar rumah yang amat gaduh. Ia ingin melihat keadaan para anggotanya, maka dia pun meloncat ke belakang dan menghilang melalui sebuah pintu yang segera tertutup sendiri ketika belasan orang perwira itu hendak mengejar.

“Itu isterinya, kita basmi saja sekalian!” teriak seorang perwira.

Ketika itu Lauw Cu Si sudah siuman dari pingsannya dan ia sudah bangkit duduk lalu berdiri sambil memegang pedangnya yang tadi terlepas pada waktu ia roboh tertendang suaminya. Saat melihat belasan orang perwira itu mengepungnya, ia pun melintangkan pedang di depan dada.

“Hemmm, bunuhlah aku. Aku memang telah terperosok, bodoh sekali menjadi isteri Siangkoan Kok!” katanya dengan sikap gagah walau pun tubuhnya sudah luka-luka oleh pedang suaminya dan terutama sekali, tendangan tadi masih terasa dan melemahkan tubuhnya.

“Bunuh dia!” teriak para perwira dan siap hendak mengeroyok. “Tahan, jangan serang!” mendadak terdengar seruan nyaring.

Ketika para perwira menoleh, mereka terkejut dan heran mengenal Pangeran Cia Sun sudah berada di situ dengan pedang di tangan.

“Lebih baik kalian cepat mengejar ketua Pao-beng-pai dan membasmi anak buahnya!” Cia Sun memberikan perintahnya.

Belasan orang perwira itu meragu, “Tapi… tapi… ia bisa berbahaya bagi Paduka…,” kata seorang perwira sambil menunjuk ke arah wanita itu.

“Tidak! Aku mengenalnya, ia tidak jahat. Kalian pergilah!”

Para perwira memberi hormat, lalu segera berloncatan keluar dari ruangan itu, untuk memimpin anak buah mereka yang ketika itu sedang bertempur melawan para anggota Pao-beng-pai.

“Bibi…!” kata Cia Sun. “Di mana Eng-moi…?”

Wanita itu hanya menggeleng kepala. Ia hendak menggerakkan kakinya, akan tetapi ia terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat dirangkul Cia Sun.

“Bibi… menderita luka-luka…? Oleh para perwira itu?”

Wanita itu menggeleng, hendak bicara, akan tetapi tiba-tiba ia muntah darah. Melihat ini, terkejutlah Cia Sun, maklum bahwa wanita itu terluka parah. Dipondongnya Lauw Cu Si yang setengah pingsan itu dan terpaksa dia melangkahi mayat Tio Sui Lan yang tadinya membuat dia terkejut bukan main ketika pertama kali memasuki ruangan itu, mengira itu mayat kekasihnya. Dia merebahkan tubuh Lauw Cu Si ke atas sebuah bangku panjang.

Sekarang Lauw Cu Si dapat bicara, biar pun terengah-engah dan menahan rasa nyeri. “Jahanam itu… Siangkoan Kok… yang memukulku…”

Tentu saja Cia Sun merasa heran sekali. “Bibi, di mana Eng-moi?”

“Ia sudah pergi kemarin, tanpa pamit. Itu yang membuat Siangkoan Kok marah…” “Tapi kenapa Eng-moi pergi?”
“Ketika Siangkoan Kok tahu bahwa Eng Eng membebaskanmu, dia menghajar Eng Eng dan hendak membunuhnya. Aku mencegahnya dan membuka rahasia bahwa dia tidak berhak membunuh Eng Eng yang bukan anaknya…”

“Bukan puterinya?” Tentu saja Cia Sun terkejut dan heran.

“Ketika aku menjadi isterinya, aku membawa Eng Eng yang sudah berusia dua tahun lebih…” “Ahhh, kalau begitu Eng-moi puteri Bibi dengan suami lain?”
Wanita itu kembali menggelengkan kepala, hendak bicara akan tetapi kembali ia batuk-batuk dan muntah darah. Tendangan yang mengenai dadanya itu memang hebat sekali, membuat ia menderita luka dalam yang parah. Sejenak ia terngengah-engah, wajahnya pucat sekali.

Cia Sun sudah merasa bingung sekali mendengar bahwa Eng Eng yang ternyata bukan puteri kandung ketua Pao-beng-pai itu sudah pergi tanpa pamit. Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap ibu Eng Eng yang keadaannya payah itu.

“Engkau… benar… seorang pangeran?”

Cia Sun mengangguk. “Aku memang Pangeran Cia Sun, Bibi, akan tetapi aku mencinta Eng-moi.” “Kalau begitu, dengar baik-baik…,” suaranya makin lemah seperti berbisik.

“Aku… aku tidak dapat bertahan lama, aku akan mati… dan inilah saatnya aku membuka rahasia…, dan engkau tepat orangnya yang kuberi tahu… dengar, Eng Eng bukan puteri Siangkoan Kok juga bukan anakku…”

“Ehhh? Lalu… dia anak siapa, Bibi?”

“Ayah ibunya adalah orang-orang yang selalu dimusuhi oleh golongan kami… golongan Beng-kauw… aku amat membenci ayah ibunya, terutama ayahnya, karena itulah… aku… menculik Eng Eng ketika ia berusia tiga tahun. Akan tetapi, aku… aku amat mencintanya seperti anakku sendiri… juga Siangkoan Kok menyayangnya sampai engkau muncul…”

“Ahhh…!”

Bermacam perasaan mengaduk hati pangeran itu. Ada perasaan kaget, heran, namun juga kasihan dan bahkan ada perasaan girang. Girang bahwa kekasihnya itu bukanlah anak kandung ketua Pao-beng-pai dan isterinya!

“Akan tetapi… ke mana aku harus mencarinya, Bibi? Aku harus mencari dia sampai menemukannya. Aku mencintanya dan akan mengambilnya sebagai isteriku!”

Cia Sun terkejut melihat wanita itu napasnya sudah empas-empis, dan agaknya sudah tidak mampu menjawabnya, matanya sudah terpejam.

“Bibi…! Bibi…! Katakanlah, di mana Eng-moi?” Cia Sun mengguncang-guncang pundak wanita yang sudah sekarat itu.

Wanita itu membuka matanya yang sudah sayu dan suaranya hanya bisik-bisik saja. “Suling Naga… itulah ayah kandungnya… dia tinggal di Lok-yang…cari… cari ke sana…” Leher itu terkulai, mata itu terpejam dan wanita itu pun mati.

Cia Sun bangkit berdiri, termenung. Sebutan ‘Suling Naga’ terngiang di telinganya. Dan dia tertegun. Dia pernah mendengar nama besar Pendekar Suling Naga yang tinggal di Lok-yang. Kalau dia tak salah ingat, namanya Sim Houw, seorang pendekar yang sakti, terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat luar biasa, pedang yang berbentuk suling, pedang suling, atau suling pedang.

Jadi Eng Eng adalah puteri pendekar sakti itu! Ketika masih kecil diculik oleh Lauw Cu Si karena wanita itu sebagai orang Beng-kauw menganggap pendekar itu sebagai musuh besar.

“Ahhh…!!” tiba-tiba dia terbelalak.

Dia teringat pada Yo Han. Bukankah Yo Han mencari puteri pendekar itu yang hilang? Kalau begitu, anak yang dicari oleh Yo Han itu bukan lain adalah Eng Eng! Dia lalu mengingat-ingat. Yo Han, yang telah menjadi saudara angkatnya ketika mereka berdua dikurung sebagai tahanan di sarang Pao-beng-pai, pernah menceritakan bahwa anak yang dicari itu mempunyai ciri-ciri yang khas, dan ada noda merah sebesar ibu jari kaki di tapak kaki kanannya.

Mendengar suara pertempuran di luar, Cia Sun khawatir kalau-kalau gadis itu kembali dan ikut pula bertempur membela Pao-beng-pai melawan pasukan pemerintah. Cepat ia menyelinap keluar dan mencari-cari.

Pertempuran sudah hampir usai. Pihak pemberontak tidak mampu menandingi pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya, apa lagi dipimpin oleh para jagoan istana. Bahkan Siangkoan Kok juga tidak nampak dan ketika dia tanyakan kepada para perwira, mereka pun tidak tahu ke mana perginya ketua pemberontak itu. Ternyata Siangkoan Kok telah meloloskan diri, tidak mempedulikan anak buahnya yang dibantai pasukan.

Setelah mencari keterangan dan merasa yakin bahwa Eng Eng tidak pernah kembali dan tidak terlibat dalam pertempuran itu, Cia Sun segera meninggalkan tempat itu untuk pergi mencari kekasihnya. Banyak anggota Pao-beng-pai yang tewas, sisanya ditawan. Gagallah gerakan Pao-beng-pai, seperti yang dialami oleh banyak kelompok-kelompok pemberontak terdahulu…..

********************

Gadis itu berdiri termenung di lereng itu. Dia memandang lurus ke depan, ke arah bukit menghitam yang disebut orang Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan). Memang nampak menyeramkan dari lereng itu, seolah-olah lembah itu memang sepantasnya dihuni oleh setan dan iblis.

Para penduduk dusun di sekitar kaki Bukit Setan itu menganggap Ban-kwi-kok sebagai lembah yang keramat sehingga tiada seorang pun berani mendaki ke sana. Akan tetapi, menurut keterangan para penghuni dusun, baru sebulan yang silam lembah itu diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.

Kabar itu mengatakan bahwa terjadi pertempuran besar, kemudian pasukan pemerintah turun dan membawa banyak tawanan, kemudian lembah itu nampak terbakar. Biar pun desas-desus mengatakan bahwa gerombolan yang bersembunyi di lembah itu sudah terbasmi habis, dan lembah itu telah kosong, perkampungan gerombolan pemberontak telah dibakar, namun masih saja tidak ada seorang pun yang berani naik ke sana.

Gadis itu masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya. Cantik manis dan nampak gagah dengan pakaiannya yang sederhana namun serasi dengan bentuk tubuhnya yang padat dan ramping, dan pakaian itu bersih.

Wajahnya yang manis, dengan sepasang matanya yang indah dan bersinar tajam, juga sederhana, tanpa dipoles bedak dan gincu. Akan tetapi, kulit mukanya memang sudah halus dan putih, dan kedua pipinya kemerahan karena sehat, demikian pula sepasang bibirnya merah tanpa gincu.

Biar pun dia muda dan cantik manis, namun di sepanjang perjalanan tidak pernah atau jarang sekali ada pria yang berani mengganggunya. Hal ini karena penampilannya yang pendiam dan gagah, dengan sebatang pedang di punggungnya sehingga mudah diduga bahwa ia bukan wanita sembarangan yang boleh diganggu begitu saja, tetapi seorang wanita kang-ouw, seorang pendekar wanita.

Dan memang dugaan itu benar. Gadis muda ini adalah Cu Kim Giok, puteri tunggal dari pendekar Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian.

Cu Kun Tek adalah pendekar yang merupakan keturunan para pendekar Cu, majikan Lembah Naga Siluman. Cu Kun Tek terkenal mewarisi ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman). Juga ilmu tangan kosongnya Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok) dan Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) hebat sekali.

Ada pun ibu gadis itu, yang bernama Pouw Li Sian, bahkan lebih lihai bila dibandingkan suaminya. Pouw Li Sian ini adalah murid mendiang Bu Beng Lokai yang sakti.

Ketika Cu Kim Giok diajak oleh ayah ibunya menghadiri ulang tahun dan pertemuan tiga keluarga besar di rumah Suma Ceng Liong, gadis ini merasa gembira bukan main. Dan bangkitlah keinginannya untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau seperti yang dilakukan para pendekar.

Ayah ibunya tidak merasa keberatan. Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar yang dahulu di waktu mudanya sudah biasa melakukan penjalanan merantau memperluas pengalaman. Pula, puteri mereka sudah mewarisi ilmu kepandaian mereka dan tingkat kepandaian gadis itu hanya sedikit selisihnya dengan tingkat mereka sehingga Kim Giok telah memiliki bekal yang cukup untuk melindungi dan menjaga diri sendiri.

Tentu saja Kim Giok juga sangat tertarik dengan peristiwa yang terjadi di rumah Suma Ceng Liong, yaitu munculnya seorang gadis cantik lihai yang mengaku sebagai seorang puteri tokoh Pao-beng-pai yang memusuhi tiga keluarga besar. Oleh karena itulah, pada siang hari itu, ia tiba di Kwi-san dan sekarang termangu berdiri di lereng itu setelah ia mendengar keterangan penduduk tentang penyerbuan pasukan pemerintah yang sudah membasmi gerombolan Pao-beng-pai di Lembah Selaksa Setan.

Ahh, pikirnya, sayang aku datang terlambat. Andai kata tidak terlambat, tentu akan bisa menyaksikan terbasminya gerombolan itu, dan kalau perlu ia akan membantu pasukan.

Bukan semata karena ia ingin membantu pemerintah. Ayah ibunya berpesan supaya ia tidak melibatkan diri dengan pemerintah Mancu. Akan tetapi, ia dapat mempergunakan kesempatan selagi gerombolan itu ditumpas, untuk bisa membalas sikap sombong dara gadis Pao-beng-pai itu terhadap tiga keluarga besar. Ia lalu menduga-duga, bagaimana dengan nasib gadis cantik itu? Apakah ikut terbunuh? Atau tertawan?

Tidak ada gunanya lagi mendaki ke lembah yang sudah hancur itu. Tentu tidak ada lagi orang di sana. Cu Kim Giok membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan lereng itu. Akan tetapi baru belasan langkah ia berjalan, tiba-tiba pendengarannya yang tajam terlatih mendengar gerakan orang.

Ia berhenti melangkah dan memandang ke sekeliling penuh kewaspadaan dan tiba-tiba bermunculan lima orang laki-laki yang nampak bengis. Mereka itu berloncatan dari balik semak belukar. Melihat bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang cantik manis, mereka cengar-cengir dan menyeringai dengan sikap kurang ajar, dengan mata yang liar dan bengis.

Kim Giok bersikap tenang, akan tetapi matanya yang indah tajam itu menyapu mereka. Lima orang itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Tubuh mereka rata-rata kekar dan kuat. Pakaian mereka butut dan kotor, tentu sudah lama tidak pernah berganti pakaian.

Melihat pakaian kotor itu seperti seragam abu-abu, teringatlah ia akan beberapa orang lelaki yang ikut datang mengawal gadis Pao-beng-pai yang berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong tempo hari. Agaknya mereka ini sisa anggota Pao-beng-pai, pikir gadis yang cukup cerdik ini. Dan memang dugaannya benar.

Lima orang itu adalah mereka yang berhasil lolos dari penyerbuan pasukan pemerintah. Karena takut muncul di tempat umum, lima orang ini bersembunyi saja di Kwi-san, tidak jauh dari bekas sarang Pao- beng-pai.

Mereka mengharapkan dapat bertemu dengan seorang di antara para pimpinan mereka karena mereka tahu bahwa ketua mereka tidak tewas, juga tidak ikut tertawan. Hanya nyonya ketua mereka yang tewas. Bahkan nona puteri ketua juga tidak ikut tertawan.

Ketika dari tempat persembunyian mereka nampak ada gadis yang datang ke tempat itu, mereka tadinya mengira bahwa gadis itu tentulah Siangkoan Eng sehingga mereka merasa girang sekali. Akan tetapi setelah mereka muncul, mereka melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan puteri ketua mereka, melainkan seorang gadis lain yang asing sama sekali, akan tetapi gadis itu cantik manis dan menarik.

Seorang di antara mereka, yang berhidung besar dan bermata lebar, agaknya menjadi pimpinan mereka, melangkah maju sambil tertawa bergelak. Perutnya yang besar itu nampak karena bajunya kehilangan kancing dan terbuka. Perut itu terguncang-guncang naik turun ketika dia tertawa.

“Ha-ha-ha-ha-ha, kawan-kawan, alangkah beruntungnya kita hari ini! Kita kedatangan seorang bidadari yang cantik jelita, yang agaknya menaruh iba kepada kita dan datang untuk menghibur kita. Ha-ha-ha-ha- ha!”

Teman-temannya ikut pula tertawa. Selama sebulan lebih mereka dicekam ketakutan, kekurangan dan kedukaan. Dan hari ini, tiba-tiba saja, tanpa disangka-sangka, mereka berhadapan dengan seorang gadis cantik! Tentu saja mereka bergembira.

Anak buah Pao-beng-pai terdiri dari bermacam-macam orang, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berjiwa sesat. Kalau membutuhkan, mereka tidak segan untuk melakukan perampokan dan berbagai kejahatan lainnya. Dan kini, melihat seorang gadis seorang diri di tempat sunyi itu, tentu saja timbul gairah mereka, seperti lima ekor harimau kelaparan melihat munculnya seekor domba seorang diri.

“He-he-heh-heh, Nona manis, siapakah engkau, siapa namamu dan mengapa engkau berada di sini seorang diri? Apakah engkau sengaja datang hendak menghibur kami berlima? Ha-ha-ha!” Si hidung besar kembali berkata dan kini mereka berlima, sambil tersenyum menyeringai, sudah mengambil posisi mengepung gadis itu agar tidak dapat melarikan diri.

Akan tetapi, sebetulnya lima orang itu harus tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang bukan gadis sembarangan saja. Hal ini sebetulnya dapat dilihat dari sikap Kim Giok. Biar pun sudah dikepung lima orang itu, ia bersikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengancam dirinya, tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti.

“Aneh… aneh sekali…” Kim Giok tidak menjawab pertanyaan, bahkan bergumam sambil menggelengkan kepalanya.

“Apanya yang aneh, Nona manis? Kami bukan orang-orang aneh, kami adalah laki-laki sejati dan engkau sebentar lagi akan membuktikannya sendiri, heh-heh!” kata si hidung besar sambil melangkah maju mendekat.

“Aneh, kenapa masih ada sisa anak buah Pao-beng-pai? Kenapa kalian tidak mampus atau tertawan?” kata Kim Giok, masih tenang saja.

Mendengar ucapan gadis itu, lima orang bekas anak buah Pao-beng-pai nampak sangat terkejut. Mereka saling pandang dan kini mengepung lebih ketat dengan sikap bengis dan mengancam.

“Nona, siapakah engkau sebenarnya dan mau apa engkau datang ke tempat ini?” Suara si hidung besar kini galak dan mengandung ancaman, tidak lagi menggoda seperti tadi.

“Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian. Juga aku tidak mempunyai sangkut paut dengan pembasmian Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah. Aku hanya heran mengapa kalian tidak ikut mampus atau tertawan. Nah, karena di antara kita tidak ada urusan, minggirlah dan biarkan aku lewat!” kata Kim Giok.

Dia memang tidak ingin mencari keributan dengan bekas anak buah Pao-beng-pai yang sudah hancur itu. Tapi kalau ia bertemu dengan gadis tokoh Pao-beng-pai yang pernah mengacau di rumah Suma Ceng Liong, tentu akan lain lagi sikapnya.

Akan tetapi, ketika ia mulai melangkah, lima orang itu cepat menghadangnya dan tetap mengepungnya. Bahkan kini sikap mereka kembali seperti tadi, dengan pandang mata yang tidak sopan.

“Hemmm, engkau tak boleh pergi sebelum menghibur kami, Nona manis!” Dan si hidung besar cepat menggerakkan kedua lengannya yang panjang, jari-jari tangan yang besar panjang itu hendak merangkul.

“Wuuut… plakkk! Aughhh…!”

Tubuh tinggi besar si hidung besar itu terjengkang. Ternyata ketika kedua tangannya sudah hampir menyentuh kedua pundak gadis itu untuk merangkul, gadis itu dengan gerakan cepat sekali menyelinap ke samping sehingga tubrukan itu luput dan sekali Kim Giok menggerakkan tangan kiri menampar, leher di bawah telinga si hidung besar kena ditampar dan orang itu pun terjengkang dan terbanting, melotot dan meraba lehernya dengan mata terbelalak dan mulut mengaduh-aduh.

Empat orang temannya menjadi kaget dan marah. Mereka berempat cepat menyerbu, seolah-olah hendak berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus gadis manis itu. Namun, sekali ini mereka membentur karang. Gerakan Kim Giok cepat bukan main, tangan dan kakinya menyambar-nyambar dan dalam segebrakan saja, empat orang itu pun sudah terpelanting dan roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya!

Kelima orang itu mengaduh-ngaduh dan menyumpah-nyumpah. Dasar golongan kasar yang tidak tahu diri dan yang selalu merasa diri mereka paling pandai, lima orang itu tidak melihat kenyataan bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan gadis manis yang mereka sangka domba itu. Mereka tidak menyadari bahwa yang disangka domba itu sesungguhnya seekor singa betina yang amat tangguh!

Mereka merasa penasaran. Sekarang nafsu birahi mereka terbang lenyap, terganti oleh nafsu amarah yang hanya bisa diredakan dengan darah! Mereka cepat mencabut golok mereka dan berloncatan berdiri.

Kim Giok sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan lima orang lawannya, maka dia pun tidak mau mencabut pedangnya, hanya berdiri tegak sambil tersenyum manis. Kelima orang itu sudah menggerakkan golok mereka. Bagaikan binatang-binatang yang haus darah, mereka sudah menyerang Kim Giok, serangan maut yang dimaksudkan untuk membunuh!

Akan tetapi, pandangan mata mereka menjadi kabur ketika gadis itu bergerak cepat dan lenyap bentuk tubuhnya, hanya nampak bayangannya berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor capung. Itulah Pat-hong Sin-kun yang membuat tubuh gadis itu seolah-olah bergerak dari delapan penjuru angin!

Dan ketika kelima orang itu membacok-bacok secara membabi-buta ke arah bayangan tubuh gadis itu tanpa hasil, Kim Giok kembali membagi tamparan dan tendangan. Kini ia menambah tenaganya hingga lima orang lawan yang terkena tamparan atau tendangan, roboh untuk tidak dapat bangkit dengan cepat, hanya mengaduh-aduh, ada yang patah tulang, ada yang nanar dan ada pula yang mendadak mulas perutnya!

Kim Giok berdiri sambil bertolak pinggang, memandang kelima orang lawan yang masih mengeluh kesakitan itu.

“Hemmm, pantas saja Pao-beng-pai terbasmi oleh pasukan pemerintah. Kiranya kalian ini hanya mengaku sebagai pejuang, akan tetapi sesungguhnya hanyalah segerombolan penjahat kecil yang tidak tahu malu. Perampok dan pengganggu wanita. Orang-orang macam kalian ini berani mengaku pejuang?”

“Nona, ucapanmu itu lancang sekali!” tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan dalam, juga amat berwibawa karena Kim Giok merasa betapa isi dadanya tergetar oleh suara itu.

Ia terkejut dan cepat menoleh ke kanan, ke arah datangnya suara dan semakin kagetlah ia ketika melihat bayangan mendaki lereng itu dari arah kanan. Kalau orang itu yang tadi mengeluarkan suara, alangkah kuatnya khikang dari orang itu. Jelas bahwa dia mampu mengirim suara dari jauh dengan demikian kuatnya, dan hal ini menunjukkan bahwa dia akan berhadapan dengan seorang yang amat lihai.

Gerakan orang itu pun cepat bukan main. Sebentar saja dia telah berada di situ, berdiri tegak berhadapan dengan Kim Giok. Gadis ini memang penuh perhatian.

Seorang pria jantan berusia lima puluh lima tahun yang sangat gagah. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat bagaikan batu karang. Mukanya persegi merah dan jenggotnya terpelihara rapi, di punggungnya nampak gagang pedang dengan ronce merah.

“Pangcu…!” lima orang itu segera memaksa diri untuk memberi hormat dengan berlutut kepada orang yang baru tiba ini.

Tahulah Kim Giok bahwa pria ini adalah ketua Pao-beng-pai! Tentu orang ini ayah dari gadis lihai yang dulu pernah mengacau pesta pertemuan keluarga di rumah Suma Ceng Liong! Biar pun maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang amat lihai, namun puteri dari sepasang pendekar Lembah Naga Siluman ini sedikit pun tak merasa gentar. Hanya ia bersikap waspada.

Pria itu menengok ke arah lima orang anggota Pao-beng-pai itu dan mendengus marah, lalu dia menghadapi Kim Giok lagi. Pandang matanya yang sangat tajam mencorong itu mengamati Kim Giok penuh selidik, dari kepala sampai ke kakinya.

Seperti sudah diceriterakan di bagian depan, pada waktu Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah, Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini, telah dikepung oleh belasan orang jagoan istana yang datang bersama muridnya, Tio Sui Lan, murid utama yang kemudian dia paksa menjadi isterinya setelah dia bercekcok dengan isterinya, Lauw Cu Si.

Dia berhasil membunuh Sui Lan dan melukai Cu Si, akan tetapi ketika dia menghadapi pengeroyokan belasan orang jagoan istana yang membuatnya amat terdesak, kemudian mendengar keributan di luar dengan adanya penyerbuan pasukan pemerintah, dia cepat meninggalkan para pengeroyoknya. Setelah tiba di luar, dia melihat betapa tempat itu diserbu oleh pasukan yang besar sekali jumlahnya. Tahulah ia bahwa semua usahanya telah gagal, gerakannya hancur.

Karena maklum bahwa melawan pasukan itu pun tidak akan ada gunanya dan akhirnya bahkan hanya akan membahayakan diri sendiri, dia pun meninggalkan Ban-kwi-kok! Dia melarikan diri bukan karena takut, melainkan karena maklum betapa akan sia-sianya melakukan perlawanan terus.

Sebagai seorang yang amat cerdik dan licik, dia tidak mau berlaku nekat yang akhirnya mengorbankan dirinya sendiri. Tidak, demi cita-citanya, biar pun sekali ini kelompoknya dihancurkan, apa bila dia masih hidup, dia dapat membentuk dan membangun kembali Pao-beng-pai, berjuang terus sampai dapat menjatuhkan kerajaan Ceng, serta mengusir orang-orang Mancu dari tanah air!

Karena dia ingin mengetahui keadaan bekas markas Pao-beng-pai yang telah dibasmi dan dibakar, maka siang hari itu dia mendaki Kwi-san dan kebetulan dia melihat dan mendengar apa yang terjadi di lereng itu biar pun dia masih jauh.

“Nona, siapakah engkau yang begitu lancang memaki dan menghina Pao-beng-pai?” bentaknya dengan alis berkerut dan wajah bengis.

Kim Giok adalah seorang gadis yang sejak kecil telah dilatih ayah ibunya sendiri. Bukan hanya ilmu silat tinggi, akan tetapi juga kebudayaan sehingga dia tahu sopan santun. Menghadapi seorang yang kedudukannya tinggi seperti ketua Pao-beng-pai, ia memang ada menaruh hormat. Akan tetapi mengingat betapa puteri orang ini pernah menghina dan mengacau dalam pertemuan tiga keluarga besar, ia merasa tidak senang dan ia pun tidak memberi hormat.

“Kalau aku tidak salah duga, tentulah engkau ini ketua Pao-beng-pai yang telah dibasmi pasukan pemerintah!” katanya, dan dia pun menentang pandang mata pria itu dengan penuh keberanian.

“Benar, akulah Siangkoan Kok. Sekarang katakan, siapa engkau dan kenapa engkau menghina Pao-beng- pai!”

“Maaf, Pangcu. Aku sama sekali tak berniat menghina Pao-beng-pai. Bahkan aku akan menghormati Pao- beng-pai jika memang perkumpulan itu sungguh-sungguh merupakan perkumpulan para orang gagah yang berjuang menentang penjajah Mancu. Akan tetapi, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja. Aku mendengar tentang penyerbuan pasukan pemerintah terhadap Pao-beng-pai dan aku ingin melihat keadaan di sini. Aku, Cu Kim Giok, ingin meluaskan pengalaman dan kesempatan ini tidak kulewatkan begitu saja. Akan tetapi, apa yang kudapatkan? Lima orang itu muncul dan mengaku sebagai anggota Pao- beng-pai. Mereka bersikap sebagai penjahat-penjahat kecil yang hendak merampok dan mengganggu wanita. Kalau memang para anggota Pao-beng-pai seperti itu, lalu apa yang harus kukatakan terhadap Pao-beng-pai?”

Siangkoan Kok melirik ke arah anak buahnya yang kini telah bangkit berdiri bergerombol sambil memandang penuh harapan, ingin melihat ketua mereka menundukkan gadis yang sudah menghajar mereka itu. Lalu dia berkata, “Tidak sembarang orang boleh menilai kami. Nona, aku ingin melihat lebih dulu sampai di mana kepandaianmu, baru aku akan mengambil keputusan, apa yang harus kulakukan terhadap dirimu.”

“Pangcu, kalau engkau membela mereka itu, aku berani mengatakan bahwa memang Pao-beng-pai dipimpin oleh orang yang tidak baik!” kata Kim Giok berani.

“Kita bicara lagi setelah kita mengadu kepandaian. Nah, sambutlah seranganku ini!”

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala gadis itu. Angin yang dahsyat menyambar, disusul angin yang menyambar dari samping karena tangannya yang kedua sudah mengikuti serangan pertama itu dengan mencengkeram ke arah perut.

Kim Giok memang kurang pengalaman bertanding, namun dia sudah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil, maka ia segera mengenal serangan yang berbahaya. Cepat dia pun mengerahkan ginkang-nya dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang untuk mengelak sehingga serangan kedua tangan Siangkoan Kok yang beruntun itu luput.

Diam-diam Siangkoan Kok maklum bahwa gadis ini meski pun masih muda, memang cukup berisi, agaknya tak kalah jika dibandingkan dengan mendiang Tio Sui Lan, murid pertamanya. Ia kembali mendesak dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin berpusing.

Kembali Kim Giok menggunakan ginkang dan mengelak dengan gerakan cepat sekali, membuat tubuhnya hanya merupakan bayangan yang berkelebatan mengelak di antara hujan serangan lawan. Oleh karena maklum bahwa lawannya benar-benar tangguh, Kim Giok cepat mencabut pedangnya. Nampaklah sinar berkilat dan terdengar bunyi desing yang aneh, seperti gerengan binatang buas, bagaikan auman harimau. Itulah Koai-liong Pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman), pedang milik ayahnya yang diberikan padanya agar gadis itu dapat melindungi diri dengan baik.

Melihat sinar pedang dan dengungnya yang menyeramkan itu, diam-diam Siangkoan Kok terkejut dan kagum bukan main.

“Ahhh, po-kiam (pedang pusaka) yang hebat!” teriaknya.

Begitu Kim Giok memainkan pedangnya, dia pun semakin kaget dan cepat mencabut pedangnya sendiri. Dia kaget karena dia maklum bahwa walau pun dia memiliki tingkat kepandaian tinggi, namun terlalu berbahaya baginya kalau menghadapi pedang seperti itu dengan tangan kosong saja. Apa lagi gerakan ilmu pedang gadis itu pun hebat dan dahsyat, bagaikan seekor naga yang mengamuk.

Segera terjadi pertandingan pedang yang amat seru.

Setelah lewat belasan jurus, mendadak Siangkoan Kok meloncat jauh ke belakang dan berseru, “Tahan dulu!”

Kim Giok berdiri tegak, pedang juga tegak lurus di depan dadanya.

“Nona, bukankah itu Koai-liong Kiamsut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang barusan kau mainkan? Dan tentu pedang itu Koai-liong Pokiam! Apa hubunganmu dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman?”

Kim Giok tersenyum. “Namaku Cu Kim Giok, tentu engkau bisa menduganya, Pangcu.”

“Ahh, benar! Engkau tentu keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman! Sudah lama aku mendengar tentang keluarga Cu yang gagah perkasa. Ah, sungguh beruntung hari ini dapat menguji kepandaian seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman. Nah, kini sambutlah seranganku ini dan keluarkan seluruh ilmu pedang Naga Siluman itu, Nona!”

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menerjang ke depan dengan dahsyat karena dia tahu betapa lihainya pedang dan ilmu pedang gadis muda itu. Dia memang sejak dahulu ingin sekali menguasai semua ilmu silat tinggi di seluruh dunia, maka dia sejak dahulu memancing para tokoh persilatan untuk mengadu ilmu dan dengan cara itu, dia dapat mempelajari ilmu mereka.

Kini, berhadapan dengan seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja dia tidak mau melewatkan kesempatan baik itu untuk memaksa Kim Giok memainkan ilmu pedang itu. Justru kelihaian Siangkoan Kok terletak kepada kekuatan ingatannya sehingga sekali melihat, dia sudah hampir dapat mengingat dan menguasai gerakan itu. Karena pengetahuannya yang luas tentang ilmu-ilmu dari para tokoh besar, maka dia pun tentu saja menjadi lihai bukan main.

Karena didesak lawan yang lihai, tentu saja terpaksa Kim Giok memainkan Kaoi-liong Kiam-sut sepenuhnya, bahkan ia mengerahkan seluruh tenaganya. Hebat memang ilmu pedang gadis ini. Pedangnya langsung berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung, seolah-olah ada naga yang melayang-layang dan mengamuk.

Melihat hal ini, lima orang anak buah Pao-beng-pai itu diam-diam memaki diri mereka sendiri. Mereka seperti buta, tak melihat bahwa gadis itu adalah seorang yang demikian lihainya. Bergidik mereka membayangkan betapa tadi mereka berani hendak kurang ajar kepada gadis itu. Apa bila tadi gadis itu mencabut pedangnya, mungkin sekarang mereka telah menjadi setan-setan tanpa kepala!

Betapa pun hebatnya ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut, namun ketangguhan seseorang bukan hanya bergantung sepenuhnya pada ilmu silatnya, melainkan lebih banyak pada keadaan orang itu sendiri. Jika dibandingkan Siangkoan Kok, tentu saja Kim Giok kalah segala-galanya, walau pun mungkin ilmu pedangnya tidak kalah bila dibandingkan ilmu pedang lawan. Ia kalah tenaga, kalah pengalaman bertanding, juga jauh kalah matang dalam gerakan ilmu pedang.

Setelah lewat seratus jurus, karena ditekan terus sehingga ia harus berulang-ulang kali memainkan ilmu pedangnya, dia sudah mandi keringat dan napasnya mulai tersengal. Tahulah gadis ini bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan roboh oleh pedang lawan.

Namun, ia sudah dilatih ayah ibunya untuk tidak mengenal takut dan pantang menyerah kepada orang yang jahat. Lebih baik mati dengan pedang di tangan dari pada menyerah kepada pada seorang yang jahat dan yang tentu akan membuat ia lebih menderita dari pada kalau ia roboh dan tewas. Baru lima orang anak buahnya saja sudah seperti itu, apa lagi ketuanya! Maka, ia pun terus menggerakkan pedangnya dengan nekat, walau pun tenaganya sudah banyak berkurang.

Makin lama, semakin repotlah Kim Giok, hanya mampu mengelak dan menangkis saja, itu pun setiap kali menangkis, pedangnya terpental dan lengannya tergetar hebat. Pada saat itu terdengar suara tertawa yang aneh, tawa mengejek yang mengandung getaran yang membuat dua orang yang sedang bertanding itu terpaksa menghentikan gerakan mereka karena mereka merasa betapa jantung mereka terguncang.

Menggunakan kesempatan terlepas dari desakan karena lawan menghentikan gerakan pedangnya, Kim Giok segera melompat ke belakang dan menengok ke arah orang yang tertawa itu. Juga Siangkoan Kok menoleh.

Yang tertawa itu adalah seorang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun, gagah dan tampan sekali. Alisnya hitam tebal dan panjang, matanya mencorong. Hidungnya mancung dan mulutnya yang tersenyum itu manis. Dagunya juga kokoh dan mukanya bersih. Tubuhnya tegap berisi otot yang membuat dia nampak gagah. Pakaian yang dikenakan pemuda itu tidak mewah, namun rapi dan bersih.

Pemuda itu sudah menghentikan tawanya dan kebetulan dia memandang kepada Kim Giok. Dua pasang mata bertemu pandang, melekat, kemudian wajah Kim Giok berubah kemerahan dan ia pun menundukkan mukanya. Hatinya berdebar aneh dan harus diakui bahwa ia merasa amat tertarik kepada pemuda yang tampan dan gagah itu.

Akan tetapi, sebaliknya Siangkoan Kok mengerutkan alisnya, matanya melotot marah. Tentu saja dia memandang rendah kepada pemuda yang tidak dikenalnya itu, yang berarti tidak terkenal pula.

“Heh siapa engkau berani mentertawakan aku dan mencampuri urusanku?”

Pemuda tampan itu bukan lain adalah Ouw Seng Bu yang belum lama ini telah berhasil menguasai Thian- li-pang dan menjadi ketuanya. Dia mendengar mengenai kehancuran Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah. Dia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Pao-beng-pai sekarang karena dia ingin memperkuat Thian-li-pang dengan bersekutu dan bekerja sama dengan para perkumpulan lainnya yang besar seperti Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai, dan Pao-beng-pai.

Biar pun dia sendiri belum pernah melihat Siangkoan Kok, namun dia sudah menyelidiki dan mendengar bagaimana keadaan ketua Pao-beng-pai itu. Maka, ketika melihat pria setengah tua yang gagah perkasa itu bertanding melawan seorang gadis yang juga lihai, akan tetapi gadis itu terdesak, Ouw Seng sengaja mengeluarkan suara tawa yang dilakukan dengan pengerahan khikang sehingga kedua orang yang sedang bertanding itu terkejut dan menghentikan pertandingan mereka.

Mendengar teguran dari Siangkoan Kok, Seng Bu yang datang untuk mencari kawan, tersenyum. “Bukankah kini aku tengah berhadapan dengan Siangkoan Kok, pangcu dari Pao-beng-pai?” tanyanya, kini sikapnya sopan dan ramah.

Siangkoan Kok mengamati pemuda itu. Dia seorang yang berpengalaman. Dari suara tawa pemuda itu tadi saja, dia pun dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang lemah. Akan tetapi karena dia tidak mengenalnya, maka dia memandang rendah.

“Engkau sudah tahu namaku, mengapa masih berani lancang mencampuri urusanku?!” bentaknya. “Siapa engkau?!”

“Namaku Ouw Seng Bu dan seperti juga engkau, aku seorang pengcu (ketua) pula. Aku adalah pangcu dari Thian-li-pang.”

“Bohong!” Siangkoan Kok membentak marah.

Sementara itu, kelima orang bekas anak buahnya kini sudah memegang golok mereka masing-masing dan siap untuk membantu ketua mereka kalau diperintahkan. Ada pun Kim Giok, walau pun tidak mengenal siapa pemuda itu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah condong untuk berpihak kepadanya sehingga kalau sampai pemuda itu terancam bahaya, tanpa diminta pun ia pasti akan membantunya.

“Ha-ha-ha, orang muda. Jangan engkau mencoba untuk membohongi aku. Kau kira aku tidak tahu siapa ketua Thian-li-pang? Ketuanya adalah Lauw Kang Hui, dan pemimpin besarnya adalah Sin-ciang Taihiap Yo Han. Bukankah begitu? Dan engkau ini, orang bernama Ouw Seng Bu tidak pernah dikenal sebagai ketua Thian-li-pang!”

Seng Bu tersenyum dan menggeleng kepala. “Itu menandakan bahwa Pao-beng-pai yang telah hancur tak lagi pandai meneliti keadaan di dunia kang-ouw. Engkau agaknya tidak tahu, Pangcu, bahwa Lauw Pangcu dari Thian-li-pang telah tewas dan akulah yang menjadi penggantinya. Ada pun Yo Han, ahh, dia bukan orang Thian-li-pang dan dia tak mempunyai urusan apa pun dengan Thian-li-pang.”

Siangkoan Kok masih sangsi, akan tetapi karena dia memang tidak tahu perkembangan di dunia kang- ouw, maka dia tidak membantah lagi.

“Walau engkau benar ketua Thian-li-pang, itu pun tidak memberi hak kepadamu untuk mencampuri urusanku! Nah, mau apa engkau datang ke sini?”

“Pangcu, aku mendengar bahwa Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah. Begitulah jadinya kalau kita tidak mau bekerja sama antara perkumpulan pejuang. Aku datang hendak mengulurkan tangan kepadamu, mengajakmu bekerja sama. Thian-li-pang sejak dahulu terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih. Beberapa kali kami sudah menyusup ke istana dan biar pun belum berhasil, namun nama kami cukup ditakuti. Akan tetapi setelah tiba di sini, markas Pao-beng-pai sudah hancur, dan aku melihat Pangcu bahkan sedang bertanding melawan seorang gadis muda. Siapakah Nona ini dan mengapa pula bertanding melawan Pangcu?”

“Huh, dia berani berkeliaran di sini dan memukul anak buahku!” kata Siangkoan Kok dengan singkat karena dia tidak menghendaki orang luar mencampuri urusannya.

Akan tetapi Seng Bu yang amat tertarik kepada gadis cantik manis yang juga lihai ilmu pedangnya itu, kini sudah menghadapi Kim Giok lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

“Nona telah mengenal namaku. Aku Ouw Seng Bu, ketua Thian-li-pang dan kalau boleh aku bertanya, siapakah Nona dan mengapa engkau bertanding melawan Pangcu dari Pao-beng-pai yang amat lihai?”

Kim Giok cepat membalas penghormatan itu dengan senyum ramah, lalu ia menjawab, “Namaku Cu Kim Giok dan aku sedang merantau untuk meluaskan pengalaman. Ketika tiba di sini aku mendengar bahwa Pao-beng-pai dibasmi pasukan pemerintah, maka aku sengaja hendak melihat bekas-bekasnya di sini. Tiba-tiba muncul lima orang itu yang hendak merampok dan bersikap kurang ajar kepadaku. Aku menghajar mereka. Lalu muncul Pangcu dari Pao-beng-pai ini yang memaksaku untuk bertanding.”

Mendengar ini, Seng Bu kembali menghadapi Siangkoan Kok, “Aih, Pangcu semestinya malu terhadap Cu- siocia (nona Cu) ini. Anak buahmu yang bersalah, dan sepantasnya engkau yang minta maaf kepadanya dan menghukum anak-anak buahmu, bukan malah menantang Cu-siocia untuk bertanding.” katanya mencela.

Wajah ketua Pao-beng-pai menjadi merah sekali dan matanya mencorong tajam. “Ouw Seng Bu, engkau ini siapa berani berkata seperti itu kepadaku? Kalau engkau memang mengulurkan tangan ingin bekerja sama dengan aku, setidaknya aku tentu harus tahu orang macam apa engkau ini dan apakah engkau pantas duduk sejajar dengan aku!”

“Hemmm, sudah kudengar bahwa Siangkoan Kok adalah orang yang berwatak angkuh dan selalu memandang rendah orang lain. Baiklah, akan tetapi bagaimana kalau aku mampu menandingi ilmu silatmu?”

“Ouw Seng Bu, jika memang engkau dapat mengalahkan aku, barulah aku mau menjadi sekutumu, bahkan aku akan membantu Thian-li-pang. Akan tetapi, kalau engkau tidak mampu menandingi aku, engkau harus cepat berlutut minta ampun kepadaku dan tidak mencampuri urusanku lagi. Kalau engkau bukan ketua Thian-li-pang, tentu engkau akan kubunuh.”

“Bagus! Nah, aku sudah siap, Siangkoan Pangcu. Tetapi karena aku ingin bersahabat denganmu, bukan bermusuhan, maka sebaiknya kita bertanding dengan tangan kosong saja.”

“Baik, sambutlah seranganku ini, orang she Ouw!”

Setelah berkata begitu, Siangkoan Kok yang sudah menyimpan pedangnya, menerjang dengan pukulannya yang mengandung tenaga sinkang yang dahsyat. Karena dia ingin cepat-cepat mengalahkan lawannya, maka dia mengerahkan tenaganya yang disebut Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi) dan begitu kedua tangan kakinya bergerak menggunakan ilmu ini, terdengar suara berkerotokan pada buku- buku tulangnya!

Walau pun masih menderita nyeri, lima orang anak buah Pao-beng-pai kini memandang dengan wajah gembira. Mereka merasa yakin sekali bahwa ketua mereka yang sakti akan dapat mengalahkan pemuda itu pula.

Akan tetapi, Kim Giok memandang dengan sinar mata penuh khawatir. Pemuda itu jelas muncul dan membantunya, bahkan dia berani menegur bekas ketua Pao-beng-pai untuk membelanya. Dan ia tahu betapa lihainya Siangkoan Kok, apa lagi kini mengeluarkan ilmu yang demikian mengerikan.

Dia tidak dapat maju membantu, karena satu di antara pesan yang ditekankan ayah dan bundanya adalah supaya dia menjadi seorang yang gagah dan pantang untuk bertindak curang. Dan maju melakukan pengeroyokan merupakan suatu perbuatan yang curang dan ia tak mau melakukannya. Maka ia hanya menjadi penonton yang risau, dan hanya siap untuk melindungi kalau pemuda she Ouw itu terancam maut.

Menghadapi serangan yang sangat dahsyat dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu juga maklum bahwa kalau dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Lauw Kang Hui saja, dia tak akan menang. Bahkan mendiang gurunya itu, Lauw Kang Hui, masih kalah setingkat dibandingkan bekas ketua Pao-beng-pai ini.

Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar. Dia sudah cepat mengeluarkan ilmu rahasianya, yaitu Bu- kek Hoat-keng! Begitu kedua tangannya bergerak, terdengar bunyi aneh bersiutan dan angin pukulan dari dua tangannya mendatangkan angin berpusing. Dengan mudah saja dia menangkis lima kali pukulan lawan yang datang beruntun susul menyusul, kemudian dia pun membalas dengan cepat dan tak kalah dahsyatnya!

Siangkoan Kok terkejut bukan main. Sedikit banyak, dia sudah mengenal ilmu andalan dari Lauw Kang Hui. Walau pun dia belum dapat menirukan, namun dia sudah banyak mendengar dua ilmu andalan Thian-li- pang, yaitu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang.

Dia sudah mengenali kedua ilmu ini. Dan karena mengenal, setidaknya dia akan lebih mudah menghadapi dan melawannya. Akan tetapi, gerakan pemuda ini sama sekali tak dikenalnya! Dia hanya merasa ada angin berpusing datang menyambar dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menyambutnya.

“Plak! Desss…!!”

Siangkoan Kok berjungkir balik ke belakang, dan setelah membuat salto tiga kali baru dia terbebas dari dorongan tenaga yang tentu akan membuatnya terjengkang kalau saja dia tidak membuat salto tadi.

Seng Bu sendiri terkejut dan kagum melihat ginkang yang diperlihatkan lawan. Akan tetapi dia menyerang terus dan sekali ini, Siangkoan Kok yang maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang mukjijat, tidak mau mengadu tenaga secara langsung, melainkan menggunakan kecepatan gerakan untuk menghindar kemudian membalas serangan itu dengan sepenuh tenaga.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat! Beberapa kali bila kedua tangan mereka saling bertemu, keduanya terdorong mundur. Tanpa diketahui orang lain, terjadilah perubahan pada diri Seng Bu, seperti biasa kalau dia memainkan ilmunya itu. Sepasang matanya berubah liar, senyumnya menjadi dingin mengerikan dan beberapa kali ia mengeluarkan suara tawa yang aneh.

“Siangkoan Kok, engkau takkan menang melawanku!” beberapa kali dia mengeluarkan ucapan ini yang didahului dan diakhiri suara tawa ha-ha-hi-hi-hi seperti orang gila.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo