October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 7

 

“Engkau tentu tahu bahwa mengurus Thian-li-pang tidaklah mudah, selain harus ketat mengawasi sepak terjang para anak buah Thian-li-pang, juga harus dapat menghadapi ancaman dari luar. Aku sekarang sudah semakin tua dan lemah, kurang bersemangat. Coba katakan, siapakah di antara para anggota Thian-li-pang yang waktu ini memiliki ilmu kepandaian silat paling tinggi sesudah aku, Seng Bu?”

Siapa lagi kalau bukan aku, bisik hati pemuda itu. Bahkan suhu-nya sendiri pun tidak akan mampu menandinginya! Akan tetapi mulutnya menjawab tanpa ragu, “Tentu saja Lu-suci, Suhu.”

“Tepat sekali Seng Bu. Dan oleh karena itu, kurasa engkau pun akan setuju kalau aku mengangkat suci- mu itu menjadi calon penggantiku, menjadi calon ketua Thian-li-pang, bukan?”

“Teecu setuju, Suhu,” katanya sambil menunduk, karena dia harus menyembunyikan lagi tarikan sinis pada mulutnya.

“Melihat hubungan suci-mu dengan suheng-mu Lauw Kin, kurasa mereka akan menjadi pasangan yang akan mampu memimpin Thian-li-pang. Dan engkaulah yang kuharapkan akan dapat membantu mereka. Maukah engkau kini berjanji untuk membantu mereka sekuat tenagamu, Seng Bu? Karena engkaulah orang ke dua yang kupercaya setelah suci-mu.”

“Teecu berjanji akan membantu Lu-suci, Suhu.”

“Bagus! Kini legalah hatiku. Besok kita adakan upacara besar, mengumpukan seluruh anggota untuk mengumumkan pengangkatan Lu Sek menjadi calon ketua Thian-li-pang, Lauw Kin menjadi wakil ketua dan engkau menjadi pembantu utama. Nah, sekarang engkau boleh pergi.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi seluruh anggota Thian-li-pang sudah berkumpul di ruangan besar yang biasa dipergunakan untuk rapat dan juga berlatih silat. Di bawah bimbingan Lauw Kang Hui, Thian-li-pang dalam lima tahun lebih ini sejak kematian Ouw Ban, sudah kembali ke jalan benar. Akan tetapi, banyak anggota yang dikeluarkan dan disaring sehingga kini hanya memiliki sedikit anggota saja. Namun, seluruh anggota itu merupakan orang-orang gagah yang berwatak pendekar dan juga yang berjiwa patriot.

Para anggota yang langsung menjadi murid-murid Lauw Kang Hui hanya ada belasan orang. Yang terutama di antara mereka tentu saja adalah Lu Sek, Lauw Kin, dan Seng Bu. Para murid lain memiliki tingkat yang lebih rendah dari tiga orang ini, walau pun tentu saja mereka jauh lebih lihai dari pada para anggota biasa yang hanya mempelajari ilmu silat Thian-li-pang dari para murid ini.

Selama ini, Lauw Kin yang mewakili pamannya, juga gurunya dan ketuanya, untuk membimbing para anggota dalam berlatih silat. Lu Sek mewakili ketua untuk urusan luar Thian-li-pang. Oleh karena itu, desas-desus tentang akan diangkatnya kedua orang ini menjadi ketua dan wakil ketua, diterima oleh para anggota Thian-li-pang dengan wajar dan gembira karena memang selama ini kedua tokoh itulah yang aktif mewakili sang ketua yang sudah lanjut usia itu mengurusi Thian-li-pang bagian luar dan bagian dalam.

Saat Lauw Kang Hui keluar dari dalam, seluruh anggota Thian-li-pang sudah berkumpul dan tiga belas orang murid ketua itu pun sudah berada di situ. Mereka duduk paling depan dan mereka semua segera bangkit berdiri ketika Lauw Pangcu muncul.

Setelah menerima penghormatan semua murid dan anggota Thian-li-pang, Lauw Kang Hui duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Setelah duduk, dia pun memberi isyarat kepada ketiga belas orang muridnya yang mengambil tempat duduk di bangku yang tempatnya lebih rendah. Sementara itu, para anggota Thian-li-pang lainnya tetap berdiri dengan rapi.

Suasana menjadi hening karena semua anggota tidak berani mengeluarkan suara, siap menanti untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ketua mereka. Juga para murid duduk dengan sikap tenang dan patuh.

“Para murid dan anggota Thian-li-pang semua, dengarlah baik-baik apa yang kukatakan dan laksanakan dengan patuh. Seperti kalian ketahui, lebih lima tahun sejak Sin-ciang Taihiap Yo Han menyerahkan kepemimpinan Thian-li-pang padaku, telah terjadi banyak perubahan. Biar pun dalam hal perjuangan kita belum dapat berbuat banyak, namun kita telah bisa membelokkan arah kemudi dan kembali ke jalan benar sebagai perkumpulan yang membela kebenaran dan keadilan, sesuai dengan apa yang diinginkan Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi, sekarang aku telah semakin tua, usiaku sudah tujuh puluh empat tahun, sudah kekurangan semangat. Sudah lama kita menanti-nanti datangnya Yo Taihiap, akan tetapi dia belum kunjung datang. Oleh karena itu, sekarang aku akan menentukan pilihanku, untuk mengangkat calon-calon pimpinan Thian-li-pang sehingga kalau sewaktu-waktu aku mati, tidak akan terjadi kekacauan karena tidak ada pimpinan. Sementara itu, andai kata nanti Yo Taihiap datang dan tidak setuju dengan pilihanku, maka tentu saja calon yang kupilih ini dapat saja diganti sesuai dengan kehendak Yo Taihiap. Setujukah kalian semua?”

Serentak seratus orang lebih itu menyambut dengan suara yang penuh semangat, “Setujuuuuu…!!”

Sambil tersenyum gembira atas sambutan meriah itu, Lauw Pangcu mengangkat tangan minta supaya semua orang diam, lalu dia melanjutkan dengan suara gembira. “Bagus! Nah, kini hendak kuumumkan siapa yang kupilih menjadi calon pimpinan Thian-li-pang yang akan menggantikan aku sewaktu-waktu jika kukehendaki atau sewaktu-waktu aku meninggalkan dunia. Pertama, yang akan menjadi ketua adalah muridku Lu Sek. Biar pun ia seorang wanita, namun tingkat kepandaiannya adalah yang paling tinggi di antara kalian semua. Pula, dia sudah berpengalaman dan sudah biasa mewakili aku. Ada pun yang menjadi wakilnya kutetapkan murid dan juga keponakanku Lauw Kin. Sedangkan pembantu utama mereka adalah muridku Ouw Seng. Kalau memang kelak dibutuhkan, ketua boleh mengangkat para pembantu lainnya. Setujukah kalian? Kalau ada yang tak setuju, boleh mengajukan pendapatnya!”

Akan tetapi, tidak seorang pun yang menolak dan kembali mereka berseru menyatakan persetujuan mereka. Dan seperti yang telah menjadi kebiasaan perkumpulan itu, segera dilakukanlah upacara sembahyang untuk mengesahkan pengangkatan calon pimpinan Thian-li-pang.

Setelah upacara sembahyang dilakukan, para anggota dipersilakan bubar dan kembali ke tempat masing- masing melakukan tugas sehari-hari. Akan tetapi, tiga orang pimpinan baru itu masih ditahan oleh Lauw Kang Hui untuk diberikan pengarahan serta nasehat-nasehat. Dalam kesempatan ini, Lauw Kang Hui minta kepada tiga orang muridnya itu untuk mulai membawa Thian-li-pang pada cita-cita mereka semula, yaitu menggulingkan pemerintah penjajah Mancu.

“Pemerintah penjajah Mancu sangat kuat, tentu saja dengan jumlah anggota kita yang hanya seratus orang lebih, tak mungkin kita akan mampu melawan bala tentara Mancu. Kita harus bisa menghimpun kekuatan dengan mengajak rakyat jelata untuk menentang penjajah, dan terutama sekali harus bersatu dengan para perkumpulan pejuang lain. Aku ingin sekali mendengar berita dari Thio Cu yang kuutus sebagai wakil Thian-li-pang mengunjungi pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai. Kalau benar Pao-beng-pai merupakan perkumpulan anti penjajah, tentu kita boleh bersekutu dengan mereka. Tapi jika Pao-beng-pai hanya merupakan perkumpulan penjahat yang berkedok perjuangan seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, kita tidak perlu mendekati mereka.”

Mendengar ucapan gurunya itu, Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk-angguk setuju, tapi diam-diam Ouw Seng Bu tidak senang hatinya. Ia berpendapat bahwa itulah kekeliruan Thian-li-pang maka sampai sekarang tidak memperoleh kemajuan, seperti ketika masih dipegang pimpinannya oleh mendiang ayahnya.

Dahulu, Thian-li-pang terkenal dengan keberaniannya, bahkan beberapa kali mencoba untuk membunuh kaisar dan para pangeran Mancu sehingga dulu Thian-li-pang ditakuti dan terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih. Namun sekarang, Thian-li-pang hanya tinggal namanya saja.

Yang penting adalah menggulingkan pemerintah Mancu, dan untuk itu, semua kekuatan harus dikerahkan, tidak peduli dari golongan mana pun juga. Biar penjahat, maling dan perampok sekali pun, jika memang mau harus diajak untuk menentang penjajah, harus dianggap kawan seperjuangan.

Juga dia mempunyai pendapat bahwa sesungguhnya, dialah yang paling berhak untuk memimpin Thian-li- pang. Bukan saja karena dia memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara mereka semua, melainkan terutama sekali karena dialah keturunan ketua yang dulu.

Kalau dia yang menjadi ketua, dia akan membuat Thian-li-pang menjadi perkumpulan pejuang yang paling hebat. Siapa tahu, justru di tangan dialah penjajah Mancu dapat digulingkan. Dan bukan mustahil pula, kalau dia sudah menjadi jagoan nomor satu di dunia, yang paling lihai di antara semua tokoh persilatan, memiliki pengikut yang paling besar, setelah penjajah roboh, dia yang akan diangkat menjadi kaisar baru! Cita-cita ini muncul dalam hati Ouw Seng Bu semenjak dia mempelajari ilmu rahasia di dalam goa bawah tanah.

Selagi empat orang pimpinan Thian-li-pang itu berbincang-bincang, muncullah Thio Cu yang baru pulang dari perjalanan mengunjungi Pao-beng-pai bersama beberapa orang saudaranya. Kedatangannya tentu saja disambut oleh para anggota Thian-li-pang.

Thio Cu sendiri, sesudah mendengar bahwa Lauw Pang-cu berada di ruangan besar bersama ketiga orang yang baru saja dipilih menjadi calon pimpinan baru, segera pergi menghadap. Sedangkan kawan- kawannya sibuk menceritakan apa yang mereka alami dalam pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai.

Lauw Kang Hui gembira sekali ketika melihat Thio Cu datang menghadap. “Aih, baru saja aku membicarakan engkau, Thio Cu,” kata kakek itu kepada Thio Cu yang menjadi seorang di antara murid- muridnya. “Cepat ceritakan bagaimana keadaan Pao-beng-pai. Siapa ketuanya dan bagaimana keadaannya. Kuatkah mereka? Apakah mereka adalah perkumpulan pejuang asli seperti kita? Dan apa yang terjadi dalam pertemuan itu?”

“Banyak hal menarik yang terjadi di sana, Suhu, juga ada hal yang aneh-aneh. Ketua Pao-beng-pai bernama Siangkoan Kok, kabarnya dia masih keturunan keluarga kaisar Kerajaan Beng-tiauw. Isterinya bernama Lauw Cu Si, nama keturunannya sama dengan Suhu, dan kabarnya ia adalah keturunan dari partai Beng-kauw yang telah hancur. Ilmu kepandaian mereka amat tinggi, Suhu. Teecu (murid) menyaksikan sendiri betapa ketua Pao-beng-pai itu dalam beberapa jurus saja mengalahkan Thian Ho Sianjin bersama tiga orang tokoh lain yang maju berbareng mengeroyoknya…”

“Wahhh…! Maksudmu Thian Ho Sianjin ketua Pat-kwa-pai itu?” tanya Lauw Kang Hui terkejut. “Benar, Suhu!”
Lauw Kang Hui terbelalak. Dia sendiri tak akan mampu mengalahkan ketua Pat-kwa-pai itu, dan sekarang, Thian Ho Sianjin dibantu tiga orang kawannya kalah oleh Siangkoan Kok dalam beberapa jurus saja!

“Bahkan kemudian, Kui Thiancu, tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal pandai bermain pedang itu, dikalahkan dengan mudah oleh puteri ketua Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Eng. Beberapa orang tokoh lagi yang maju menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai, semua juga dikalahkan dengan mudah.”

“Bukan main!” seru Lu Sek yang juga tertegun seperti gurunya mendengar kehebatan pimpinan Pao-beng- pai.

Diam-diam Ouw Seng Bu juga kagum sekali. Timbul keinginan hatinya untuk mengenal lebih dekat keluarga Siangkoan yang amat lihai itu. Mampukah dia menandingi mereka?

“Bagaimana dengan para wakil perguruan-perguruan silat besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi- pai, Bu-tong-pai dan lain-lainnya?” tanya pula Lauw Pangcu semakin tertarik.

“Empat partai besar itu dianggap sebagai tamu kehormatan dan dipersilakan duduk di kursi-kursi kehormatan sejajar dengan ketua Pao-beng-pai. Perkumpulan itu mengajak semua aliran, baik dari partai bersih mau pun golongan sesat, untuk secara bersama-sama menggulingkan pemerintah penjajah Mancu…”

“Tepat sekali!” tiba-tiba Ouw Seng Bu berseru nyaring sehingga mengejutkan semua orang yang mengenalnya sebagai seorang pemuda yang biasanya pendiam.

“Apanya yang tepat, Seng Bu? Apa maksudmu?” tanya Lauw Kang Hui.

Wajah Seng Bu berubah merah. Dia menyesali diri sendiri kenapa tidak dapat menahan diri. Akan tetapi berkat kecerdikannya yang luar biasa, dia sudah mampu menguasai dirinya dan menyediakan jawaban yang tepat.

“Maksud teecu, perkumpulan yang amat kuat seperti Pao-beng-pai itu tepat sekali untuk dijadikan sekutu menentang penjajah, bukankah begitu Lu-suci dan Suheng?”

Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk, akan tetapi Lauw Kang Hui menarik napas panjang. “Belum tentu. Kita harus mengenal benar keadaan mereka. Lalu apa pula yang terjadi di sana, Thio Cu?”

“Ada peristiwa yang pasti akan mengejutkan hati Suhu. Teecu melihat Sin-ciang Taihiap Yo Han berada pula di sana.”

“Ahhh…!” Seruan ini keluar dari mulut keempat orang itu. Berita ini sungguh merupakan kejutan besar.

“Apa yang dilakukan Pendekar Tangan Sakti di sana? Ceritakan, Thio Cu, ceritakan!” kata Lauw Kang Hui, tertarik sekali.

“Yo Taihiap termasuk mereka yang ingin menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai. Kui Thiancu dari Pek-lian-kauw mengenalnya dan memaki Yo Taihiap sebagai iblis dari Thian-li-pang. Teecu kemudian maju membelanya, mengatakan bahwa Yo Taihiap ialah pemimpin Thian-li-pang. Kemudian, Yo Taihiap memperkenalkan diri kepada pimpinan Pao-beng-pai dan bahwa dia memusuhi pemerintah Mancu, juga dia memusuhi ketiga keluarga para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman. Juga dia mencela empat partai besar sebagai para pendekar yang tak bersemangat, tidak mau menentang penjajah. Celaannya memarahkan Ciong Tojin dari Kun-lun-pai dan Lo Kian Hwesio dari Siauw-lim-pai, akan tetapi Yo Taihiap menantang mereka. Dua orang pendeta itu lalu mengeroyoknya, tetapi mereka kalah! Kemudian Hoat Cinjin dari Go-pi-pai mengenal Yo Taihiap sebagai Sin-ciang Taihiap. Ketua Pao-beng-pai tertarik dan dia sendiri pun turun tangan menguji kepandaian Yo Taihiap. Mereka mengadu sinkang dan agaknya mereka sama-sama kuat, sehingga Siangkoan Kok menerima Yo Taihiap sebagai tamu agung dan sahabat yang akan bekerja sama.”

Semua orang mendengarkan cerita itu dengan hati tertarik. Kalau tadi mereka kagum terhadap keluarga ketua Pao-beng-pai, kini mereka kagum dan bangga pula terhadap Yo Han yang mereka anggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang…..

“Kalau begitu, Yo Taihiap hendak membawa Thian-li-pang supaya bekerja sama dengan Pao-beng-pai?” tanya Lauw Kang Hui.

“Teecu tidak mengerti, Suhu. Ada yang aneh dalam sikap Yo Taihiap. Pada saat semua tamu berpamitan, ketika teecu bertanya kepadanya kalau teecu bisa membantunya, dia bahkan menyuruh teecu cepat-cepat pergi dan mengatakan agar teecu tak mencampuri urusan pribadinya di sana.”

“Urusan pribadi?” Lauw Kang Hui bertanya heran.

“Suhu, kalau benar begitu, tentunya Yo Taihiap tak bermaksud untuk bergabung dengan Pao-beng-pai untuk urusan perjuangan. Mungkin ia hendak minta bantuan Pao-beng-pai untuk menghadapi musuh- musuhnya. Kalau teecu tidak salah dengar, tadi Thio-suheng mengatakan bahwa dia memusuhi para pendekar dari tiga keluarga besar,” kata Seng Bu.

“Hemmm, mungkin pendapatmu itu benar, Seng Bu. Bagaimana pendapatmu, Thio Cu? Engkau melihat semua peristiwa di sana, tentu lebih tahu.”

“Teecu kira pendapat sute Seng Bu tadi benar. Ketika memperkenalkan diri, Yo Taihiap juga menyatakan bahwa dia amat membenci dan memusuhi dua orang, yaitu Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya yang bernama Can Bi Lan, masih bibi guru sendiri dari Yo Taihiap. Dia mengatakan bahwa ayah ibunya tewas karena kedua orang itu dan dia mendendam kepada mereka.”

“Jelas bahwa Yo Taihiap memang hendak mengurus persoalan pribadi, maka kita pun tidak boleh tergesa- gesa bekerja sama dengan Pao-beng-pai,” kata Lauw Kang Hui.

“Akan tetapi, Suhu, bukankah kalau kita bekerja sama dengan perkumpulan yang kuat itu, maka perjuangan kita akan menjadi lebih berhasil?” Seng Bu bertanya dengan nada memprotes.

“Sute, engkau tahu apa? Kita harus mentaati Suhu dan juga menunggu isyarat dari Yo Taihiap,” Lu Sek menegur sute-nya dengan alis berkerut.

Seng Bu menghela napas. “Baik, maafkan aku, Suci. Oya, Suci, kemarin Suhu memberi petunjuk agar aku mengajak Suci untuk menjadi lawan berlatih supaya ilmu-ilmu yang sedang kulatih dapat memperoleh kemajuan.” Dia mengalihkan perhatian.

“Aihhh, Sute. Sekarang Thio-suheng sedang bercerita tentang pengalamannya, engkau malah membicarakan urusan latihan.”

“Maaf, aku takut lupa…”

Lauw Kang Hui tertawa. “Ha-ha-ha, memang benar, Lu Sek. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi pasangannya berlatih. Dan hanya engkau yang dapat melayaninya.”

Lu Sek mengangguk dan mengerti. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh sute-nya dan suhu-nya. Memang, ada dua macam ilmu silat guru mereka, yaitu Tok-jiuaw-kang dan Kiam-ciang, hanya diajarkan kepada dia dan sute-nya saja. Selain guru mereka, hanya mereka berdua yang dapat memainkan ilmu itu, maka tentu saja hanya mereka berdua yang dapat menjadi pasangan berlatih.

“Baik, kita bicarakan soal latihan itu lain hari saja, Sute,” katanya kepada Seng Bu yang mengangguk sambil tersenyum.

Thio Cu melanjutkan ceritanya mengenai pengalamannya di pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai itu. Akan tetapi tak ada yang menarik lagi bagi para pendengarnya karena yang menarik bagi mereka hanyalah tentang Yo Han dan tentang keluarga Siangkoan.

Tentu saja Thio Cu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda bernama Cia Ceng Sun yang dia ceritakan itu sesungguhnya adalah seorang pangeran Mancu! Jika saja dia tahu dan menceritakan hal itu, sudah pasti peristiwa dan kenyataan ini akan menarik perhatian para pendengarnya.

Demikianlah, mulai hari ini, walau pun mereka belum ditunjuk sebagai ketua dan wakil ketua secara resmi, baru dicalonkan, namun Lu Sek dan Lauw Kin makin berkuasa di Thian-li-pang, sedangkan Lauw Kang Hui hanya menjadi penasehat saja, walau pun dia masih disebut dan dianggap sebagai ketua…..

********************

Ouw Seng Bu menyelinap ke dalam hutan di kaki Bukit Naga itu, lalu dia duduk di atas batu besar. Belum sepuluh menit dia duduk, terdengar gerakan orang dan dia pun cepat menoleh ke arah suara itu. Muncul seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya penuh brewok.

“Paman Su, engkau sudah datang? Bagaimana kabarnya?” tanya Seng Bu tanpa turun dari batu besar.

Laki-laki itu adalah seorang anggota Thian-li-pang, dan dia pun cepat maju menghampiri kemudian memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

“Ouw Kongcu (Tuan Muda Ouw), aku ada membawa kabar baik. Pek Sim Siansu sendiri yang mengirim salam untuk Kongcu dan sebagai tanda persahabatan beliau mengirim benda ini kepada Kongcu, dengan harapan agar pertengahan bulan depan Kongcu suka memenuhi undangannya. Kunjungan Kongcu akan disambut dengan gembira.”

Tiba-tiba Seng Bu melirik ke arah kanan. Dia mendengar gerakan orang, meski gerakan itu hampir tak bersuara. Dia tahu bahwa ada orang yang mengintai dan mendengarkan percakapannya dengan orang itu. Jantungnya berdebar tegang. Celaka, pikirnya.

Su Kian adalah bekas kepercayaan mendiang ayahnya yang sampai sekarang masih tetap setia kepada ayahnya, walau pun ia telah menjadi anggota Thian-li-pang yang ikut bersumpah untuk kembali ke jalan yang benar dan taat kepada ketua Lauw. Su Kian merupakan satu-satunya orang yang dipercayanya dan siap membantu supaya ia dapat menguasai Thian-li-pang dan memimpin perkumpulan ini seperti mendiang ayahnya dulu, melanjutkan perjuangan ayahnya menentang kerajaan Mancu secara kekerasan. Dan dia telah mengutus Su Kian untuk menghubungi Pek-lian-kauw dan menceritakan kepada pimpinan Pek-lian- kauw akan niatnya untuk bekerja sama setelah dia dapat menguasai Thian-li-pang seluruhnya.

Walau pun dia tahu bahwa ada orang mempunyai kepandaian tinggi yang mengintai dan menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian, juga mendengar percakapan mereka tadi, namun Seng Bu bersikap tenang dan mendengarkan laporan Su Kian sampai habis, bahkan ia menerima benda pemberian ketua Pek-lian-kauw kepadanya. Ketika buntalan kain kuning itu dibuka isinya adalah sebuah mainan berbentuk seekor naga yang terbuat dari batu giok! Indah sekali dan tentu berharga mahal bukan main.

Tiba-tiba Seng Bu melemparkan benda indah dan mahal itu ke atas tanah dan dia lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Su Kian sambil memaki-maki dengan suara nyaring dan marah.

“Su Kian, berani engkau membujuk aku untuk menerima uluran tangan Pek-lian-kauw? Engkau pengkhianat, sepantasnya engkau dibunuh!”

Tangannya bergerak cepat sekali dan Su Kian yang terbelalak matanya dan ternganga mulutnya itu tidak sempat mengelak, menangkis atau bahkan mengeluarkan suara apa pun. Totokan itu cepat datangnya dan dia pun terpelanting lemas.

Pada saat itu, muncul sesosok bayangan berkelebat dan Lu Sek sudah berdiri di sana, diikuti Lauw Kin dan di belakang mereka masih nampak bayangan beberapa orang yang berkelebat. Seng Bu hanya mengerling saja, dan pada saat melihat bahwa yang muncul adalah belasan orang saudara seperguruannya yang dipimpin oleh Lu Sek, tangannya kembali bergerak ke depan, mencengkeram ke arah kepala Su Kian dan orang itu pun tewas seketika terkena cengkeraman Tok-jiauw-kang. Mukanya membiru.

“Sute, kenapa engkau membunuhnya?” Lu Sek melompat dekat dan menegur Seng Bu.

Seng Bu mengerutkan alisnya, dia nampak marah sekali. “Pengkhianat ini layak dibunuh seratus kali!” katanya. “Suci, dia mengkhianati kita. Dia mengadakan hubungan dengan Pek-lian-kauw, bahkan membujuk aku untuk bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Lihat, dia hendak menyampaikan pemberian ketua Pek-lian-kauw kepadaku!”

Dia membungkuk dan mengambil mainan berbentuk naga dari batu giok tadi dan sekali mengerahkan tenaga menjempit benda itu di antara kedua tangannya, benda itu pun remuk berkeping-keping dan dilemparkan ke atas tanah dengan pandang mata muak.

Lu Sek masih mengerutkan alisnya dan kini semua murid ketua Thian-lipang sudah berada di situ, menghadapi Seng Bu dengan setengah lingkaran.

“Aku telah mendengarnya. Akan tetapi, kenapa engkau membunuhnya padahal engkau tadi sudah merobohkannya dengan totokan?” bertanya pula Lu Sek dengan sinar mata penuh selidik, sedangkan para tokoh Thian-li-pang lainnya memandang kepada pemuda itu.

Seng Bu memandang ke arah mayat Su Kian dengan alis berkerut. Dia amat marah dan kecewa sekali harus membunuh pembantunya yang paling dipercayanya itu. Terpaksa dia membunuhnya karena yang menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian terlalu banyak. Tak mungkin dia membunuh belasan orang ini untuk menutupi rahasianya.

Tadi pun dia sudah sengaja menotoknya, untuk lebih dahulu melihat siapa yang muncul setelah melakukan pengintaian. Kalau hanya satu dua orang saja yang mengintai, tentu dia akan membunuh mereka dan memulihkan pembantunya. Akan tetapi yang muncul belasan orang sehingga dengan hati berat dia terpaksa cepat membunuh Su Kian untuk membungkamnya dan menyimpan rahasianya.

“Suci, tadinya aku ingin menangkapnya dan menyeretnya ke depan Suci. Akan tetapi melihat Suci sudah datang, aku tak dapat menahan kemarahanku dan membunuhnya!”

“Hemmm, memang dia pantas dibunuh, akan tetapi kenapa harus begitu tergesa-gesa? Semestinya engkau membiarkan dia hidup agar dia dapat membuat pengakuan dan kita akan dapat membongkar semua rahasianya, sudah sampai seberapa jauh ia melakukan pengkhianatan dan hubungan dengan Pek- lian-kauw. Sekarang dia telah mati, tentu kita tidak dapat memperoleh keterangan yang berharga.”

Melihat suci-nya menegurnya, Seng Bu menundukkan mukanya. “Maafkan aku, Suci, dalam kemarahanku, aku tidak ingat lagi akan hal yang penting itu. Akan tetapi, sebelum aku membunuhnya, dia tadi sudah menceritakan betapa dia mengadakan hubungan dengan pimpinan Pek-lian-kauw dan betapa Pek-lian- kauw ingin menyambung kembali hubungannya dengan kita seperti dulu, mengajak kita bekerja sama untuk menghadapi penjajah. Bahkan dia membujukku dengan hadiah naga kemala yang katanya diberikan kepadaku oleh Pek Sim Siansu ketua Pek-lian-kauw.”

“Sudahlah, Sute. Kalau kita bekerja sama dengan Pek-lian-kauw, mereka hanya akan menyeret para anggota kita ke dalam jalan yang sesat, dan melakukan kejahatan demi keuntungan diri sendiri dengan kedok perjuangan. Su Kian sudah menjadi pengkhianat, dan dia sudah terhukum mati. Akan tetapi, satu hal yang membuat aku tidak senang, kenapa engkau melupakan pesan Suhu, Ouw-sute? Lupakah engkau akan pesan Suhu tentang penggunaan Tok-jiauw-kang? Mengapa engkau mempergunakan ilmu itu untuk membunuhnya? Dengan pukulan biasa pun engkau akan sanggup membunuhnya.”

Sikap dan ketegasan serta suara suci-nya membuat Seng Bu diam-diam merasa sangat tersinggung. Hemmm, baru saja diangkat menjadi calon ketua, sudah begini tinggi hati dan angkuh, pikirnya. Akan tetapi dia menunduk menyembunyikan pandang matanya, mengambil sikap mengalah dan mengaku salah.

“Maaf, Suci. Karena marah aku menjadi mata gelap dan tanpa sadar mempergunakan ilmu itu. Karena belum menguasai ilmu itu dengan sempurna maka tadi aku kelepasan tangan.”

Tentu saja ucapan ini sama sekali bohong, akan tetapi menyenangkan hati Lu Sek yang merasa bahwa tingkat kepandaian sute-nya yang merupakan orang nomor dua di antara para murid suhu-nya, masih jauh di bawah tingkatnya sendiri.

“Harap Suci tidak melapor kepada Suhu agar aku tidak mendapat teguran. Cukup Suci yang menegurku dan aku sudah menyadari kesalahanku.”

“Sudahlah, lupakan hal itu. Sekarang ceritakan, bagaimana engkau dapat berada di sini dan mengadakan pertemuan dengan Su Kian. Tadi kami melihat gerakan Su Kian yang mencurigakan, maka diam-diam kami membayanginya karena memang sudah lama aku memperhatikan gerak-geriknya yang mencurigakan.”

“Begini, Suci. Malam tadi dia menemuiku dan mengatakan bahwa pagi hari ini dia ingin membicarakan sesuatu yang teramat penting, yang katanya masih menyangkut urusan Thian-li-pang. Tadinya aku merasa heran mengapa dia tidak bicara secara terbuka saja, akan tetapi dia mengatakan bahwa hanya aku yang dia percaya, maka dia minta agar aku datang ke sini sekarang dan dia akan menceritakan kepentingannya itu. Dapat Suci bayangkan betapa kaget hatiku mendengar pelaporannya tentang hubungannya dengan Pek-lian-kauw, dan saat ia membujukku untuk mau bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan memberikan benda itu, aku menjadi marah sekali. Selanjutnya, Suci mungkin telah mendengar dan melihat sendiri.”

Lu Sek mengangguk-angguk. “Pengalaman ini agar bisa menjadi peringatan kepadamu, Sute, bahkan kita sama sekali tidak boleh menyimpang dari jalan yang sekarang diambil Thian-li-pang, sesuai dengan pengarahan Yo Taihiap dan bimbingan Suhu selama ini.”

Yo Taihiap lagi, Yo Taihiap lagi, demikian Seng Bu mengomel di dalam hatinya. Macam apakah Yo Han itu sehingga semua orang seolah-olah tunduk dan amat taat padanya? Bertahun-tahun tak pernah muncul, tidak melakukan sesuatu untuk Thian-li-pang, akan tetapi semua pimpinan Thian-li-pang selalu menyebut- nyebut namanya penuh hormat!

Mereka lalu kembali ke markas Thian-li-pang setelah Lu Sek menyuruh para sute-nya menguburkan jenazah Su Kian sebagaimana mestinya, di tempat itu juga. Bagi seorang pengkhianat, tidak ada tempat peristirahatan di makam keluarga Thian-li-pang!

Seng Bu ikut pulang dengan wajah biasa, akan tetapi hatinya mengalami tekanan yang berat. Dia terpaksa harus membunuh Su Kian, satu-satunya orang kepercayaannya di Thian-li-pang. Bahkan hanya Su Kian yang tahu bahwa dia telah mewarisi ilmu Bu-kek Hoat-keng. Su Kian pula yang selama ini menjadi perantara baginya untuk berhubungan dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Dia telah mengambil keputusan untuk mengambil alih pimpinan Thian-li-pang, kemudian bergabung dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti dulu ketika ayahnya masih menjadi ketua Thian-li-pang. Dan sudah cukup lama, melalui Su Kian, dia mengadakan hubungan rahasia dengan para pimpinan Pek- lian-kauw.

Ketika mereka berjalan pulang, Seng Bu melangkah mendekati Lu Sek yang berjalan berdampingan dengan Lauw Kin, yang bukan rahasia lagi kini menjadi sahabat baik dan bahkan kedua orang itu telah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Hubungan antara janda dan duda yang tidak mempunyai anak dan masih bersaudara seperguruan ini direstui oleh Lauw Kang Hui.

“Suci, aku merasa menyesal sekali atas kejadian tadi…,” Seng Bu berkata.

Lu Seng mengerutkan alisnya dan menoleh, memandang kepada sute-nya itu dengan sinar mata heran dan penuh selidik. “Sute, apa sih yang mendatangkan perubahan pada dirimu? Biasanya engkau pendiam, akan tetapi hari ini engkau banyak bicara. Bukankah urusan itu sudah selesai?”

“Aku tetap merasa menyesal sekali telah kelepasan tangan, Suci. Hal itu terjadi karena aku belum menguasai Tok-jiauw-kang sepenuhnya. Aku teringat akan pesan Suhu agar aku mengajak engkau untuk memberi petunjuk dalam latihan. Maukah engkau memberi petunjuk kepadaku, Suci?”

“Hemmm, baiklah. Nanti akan kusediakan waktu untuk itu.”

“Bagaimana kalau besok pagi-pagi sekali, Suci? Aku biasa berlatih di dekat sumur tua yang ditutup itu. Di sana amat sunyi dan kurasa latihan ini tidak baik bila sampai terlihat murid lain.”

“Baiklah, besok pagi kusediakan waktu.”

“Aku akan menunggumu pada saat matahari mulai menyingsing, Suci.” Tanpa menanti jawaban suci-nya, Seng Bu kembali menjauhkan diri dan berjalan bersama para murid Thian-li-pang lainnya.

Setelah Seng Bu menjauhkan diri, Lauw Kin berkata kepada Lu Sek, “Kulihat Ouw-sute itu setia kepada Thian-li-pang. Dia tegas dan semangatnya untuk maju besar sekali. Kita beruntung mendapatkan seorang pembantu seperti dia. Kelak ia boleh diharapkan untuk membawa Thian-li-pang maju.”

Lu Sek menghela napas. “Tadinya aku juga mengira bahwa Suhu akan mengangkat dia menjadi calon ketua. Dia memang berbakat dan ilmu silatnya maju pesat, hanya di bawah tingkatku saja. Akan tetapi, agaknya Suhu melihat bahwa dia masih terlalu muda dan kadang-kadang wataknya amat aneh. Seperti yang tadi ia lakukan, ia menggunakan Tok-jiauw-kang untuk membunuh Su Kian, padahal ilmu itu merupakan ilmu simpanan yang hanya boleh dipergunakan kalau terpaksa menghadapi lawan berat dan nyawanya terancam saja. Dan dia bahkan mempergunakannya untuk membunuh seorang anggota Thian- li-pang sendiri begitu saja!”

“Akan tetapi, pengkhianat itu memang sudah sepatutnya dibunuh.”

“Itu memang benar, akan tetapi dia tak perlu mempergunakan Tok-jiauw-kang. Mungkin karena ia memang belum menguasai ilmu itu dengan sempurna. Ilmu itu memang amat sulit, sama sulitnya dengan ilmu Kiam- ciang. Biarlah besok kuberi petunjuk kepadanya, sesuai dengan perintah Suhu.”

Lauw Kin tidak bicara lagi, namun hatinya mengandung kekhawatiran. Tadi dia seperti melihat sinar mata yang aneh dari pandang mata Seng Bu terhadap suci-nya, seperti kilatan mata yang tajam dan dingin…..

********************

Pagi-pagi sekali Lu Sek telah tiba di tempat sunyi itu. Matahari belum nampak di langit timur, akan tetapi sinarnya telah menerangi langit itu dan cuaca sudah mulai terang. Keruyuk ayam jantan hanya terdengar kadang-kadang, tidak sesering tadi, akan tetapi burung masih ramai berkicau membuat persiapan untuk berangkat kerja mencari makan hari itu.

Pada tengah hari saja, tempat ini jarang dikunjungi orang. Apa lagi orang luar, bahkan orang-orang Thian- li-pang sendiri kalau tidak mempunyai keperluan yang penting sekali, merasa segan datang ke tempat ini. Seolah-olah ada hukum tak tertulis dan terucapkan bahwa daerah ini merupakan daerah pantangan.

Tempat itu adalah daerah liar di mana terdapat sumur yang dulu pernah menggegerkan Thian-li-pang. Sumur itu pernah dijadikan hukuman atau siksaan oleh nenek moyang Thian-li-pang. Bahkan seorang tokoh besar Thian-li-pang pernah dibuang hidup-hidup di dasar sumur oleh para suheng-nya sendiri, demikianlah menurut dongeng yang dikenal oleh para murid Thian-li-pang.

Tokoh besar itu dibuntungi kaki tangannya dan dibuang ke sumur itu. Namun dia tidak mati-mati, bahkan sering kali terdengar teriakan dan lolongnya yang mengerikan. Tokoh rahasia ini sangat sakti dan akhirnya, tokoh sakti ini menjadi guru dari Yo Han yang pernah tinggal di Thian-li-pang sehingga Yo Han akhirnya menjadi tokoh yang dianggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang, yang mengubah jalur Thian-li-pang yang tadinya menyeleweng dan sesat.

Biar pun telah dikabarkan bahwa kakek sakti yang bernama Cu Lam Hok itu telah mati, namun tempat itu masih dianggap keramat. Sumur yang telah ditutup oleh para tokoh besar Thian-li-pang untuk membunuh kakek buntung itu, kini dianggap sebagai tempat yang dihuni iblis dan hantu. Bahkan ada murid Thian-li- pang yang berani bersumpah bahwa dia pernah mendengar lolong dan pekik mengerikan itu keluar dari dalam sumur yang sudah ditutup itu.

Tempat ini amat sunyi. Karena para murid Thian-li-pang sendiri menganggap tempat itu amat angker dan keramat, maka tempat itu jarang dijamah tangan dan tidak terpelihara sehingga di situ tumbuh banyak alang-alang dan semak belukar yang membuat tempat itu kelihatan semakin menyeramkan.

Biar pun ia seorang ahli silat tingkat tinggi yang tangguh dan tak pernah mengenal takut, namun diam-diam Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang kalau dia teringat akan dongeng menyeramkan dari tempat itu. Dia mulai menyesal mengapa dia menyanggupi sute-nya untuk berlatih silat di tempat seperti itu.

Akan tetapi, dia tidak terlalu menyalahkan sute-nya yang biasa berlatih di tempat ini. Untuk melatih kedua ilmu simpanan guru mereka yang hanya diajarkan kepada mereka berdua, guru mereka sudah berpesan agar kalau mereka berlatih ilmu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang, mereka harus berlatih di tempat tersembunyi agar tidak kelihatan oleh murid-murid lain dan menimbulkan perasaan iri.

Dia sendiri selalu melatih diri di dalam kamar yang tertutup, dan memang tidak begitu menyenangkan berlatih di kamar tertutup, tidak seperti di tempat terbuka seperti ini. Apa lagi untuk melatih kedua ilmu itu, ia harus mengerahkan tenaga sinkang yang amat kuat dan ini membuat tubuh menjadi panas sehingga banyak mengeluarkan keringat, apa lagi kalau latihan di kamar tertutup yang pengap.

Dia berhenti, menengok ke sekelilingnya. Sumur mengerikan itu masih nampak tembok bibirnya, di antara semak-semak. Di sekitar sumur itu masih terdapat banyak batu-batu besar, agaknya kelebihan batu-batu yang dipakai untuk menutup sumur. Mengerikan!

“Ouw-sute…!” Ia memanggil sambil memandang sumur itu, seolah-olah mengharapkan sute-nya itu akan muncul keluar dari sumur tua itu.

Dia tahu bahwa masih ada sumur ke dua yang tertutup semak belukar sama sekali, beberapa ratus meter dari situ. Akan tetapi sumur ke dua ini lebih menyeramkan lagi karena belum tertutup dan merupakan lubang gelap hitam tak kelihatan dasarnya dan kabarnya mengandung hawa beracun dan menjadi tempat tinggal ular-ular berbisa.

Tiba-tiba ia terbelalak dan merasa bulu tengkuknya dingin meremang. Dia memandang ke arah sesosok bayangan yang benar-benar muncul dari sumur itu! Perlahan-lahan sosok bayangan itu bangkit berdiri tanpa mengeluarkan suara, berdiri tegak seperti iblis yang datang untuk membalas dendam, haus darah!

Lu Sek mentertawakan diri sendiri. Ia seorang pendekar gagah perkasa, tidak takut dan tidak percaya kepada segala macam ketahyulan!

“Sute, engkaukah itu?” serunya dan ia pun melangkah maju agak mendekat.

Bayangan itu meloncat dan ternyata dia benar Ouw Seng Bu. Karena waktu itu cuaca belum terang benar, dan kemunculannya tepat di belakang sumur itu, maka tentu saja membuat ia berkhayal melihat iblis sendiri keluar dari dalam sumur yang sudah tertutup. Akan tetapi, ketika Seng Bu melangkah maju mendekat dan ia dapat melihat wajahnya, Lu Sek mengerutkan alisnya.

“Ouw-sute, engkaukah itu?” kembali ia bertanya.

Memang ia mengenali sute-nya, akan tetapi sinar mata sute-nya itu, senyum pada mulut sute-nya itu. Betapa asing dan aneh baginya. Belum pernah selama ini ia melihat sinar mata dan senyum seperti itu pada wajah Ouw Seng Bu. Sinar mata yang mencorong bagaikan mata binatang buas, penuh kebengisan serta kekejaman. Dan senyum itu! Mengerikan sekali. Senyum itu demikian dingin penuh ejekan, membuat Lu Sek merasa tengkuknya dingin dan bulu kuduknya meremang.

Akan tetapi, bayangan khayal menyeramkan itu membuyar ketika ia mendengar suara sute-nya, “Lu-suci, aku sudah menunggumu sejak tadi.”

“Ouw-sute, kenapa tergesa-gesa? Matahari juga belum muncul, baru nampak sinarnya saja.”

“Suci, latihan kedua ilmu simpanan dari suhu ini merupakan ilmu yang hanya diajarkan kepada kita berdua. Murid lain tidak boleh mempelajarinya, bahkan suheng Lauw Kin juga tidak diajari kedua ilmu itu. Maka, sebaiknya kalau kita latihan secara tersembunyi. Di tempat ini sunyi, juga pagi-pagi seperti ini belum ada anggota Thian-li-pang yang keluar. Amat baik kalau kita berlatih sekarang, Suci. Aku ingin agar dapat menguasai Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang sepenuhnya. Agar aku dapat paham benar, sebaiknya kalau kita melatih dua macam ilmu itu sekaligus. Bagaimana, Suci?”

“Baiklah. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali. Kedua macam ilmu pukulan ini amat berbahaya dan dapat mendatangkan luka beracun atau bahkan kematian. Kita tak boleh kesalahan tangan. Nah, sekarang aku sudah siap, engkau mulailah!” kata Lu Sek sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

Ouw Seng Bu tersenyum dan kembali Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin. Senyum itu sungguh aneh dan tidak wajar, seperti senyum iblis!

“Suci sambutlah seranganku ini!”

Tiba-tiba Seng Bu menyerang dengan pukulan tangan miring. Terdengar suara bersiut dibarengi angin dahsyat. Itulah Kiam-ciang (Tangan Pedang). Ilmu ini membuat tangan yang memukul itu laksana sebatang pedang saja, dapat membuntungi anggota badan lawan, bahkan dapat menyambut senjata tajam lawan seperti sebatang pedang!

Melihat betapa pukulan yang menyambar itu amat dahsyat, Lu Sek segera mengelak. Akan tetapi begitu tangan kiri Seng Bu yang menyambar itu luput, tangan kanannya sudah meluncur ke arah dada suci-nya. Ketika terpaksa Lu Sek menangkis serangan mencengkeram itu, kembali ada angin yang datang menyambar dan itulah sebuah jurus Tok-jiauw-kang yang amat ampuh!

“Ihhh…!!” Lu Sek berseru kaget. “Sute, gerakanmu sudah hebat.”

Dia berseru kaget karena serangan sute-nya ini benar-benar amat kuat. Akan teramat berbahaya, juga tidak sopan karena mencengkeram ke arah dadanya tapi kembali ia merasa ngeri melihat sute-nya. Sinar mata sute-nya yang demikian aneh. Tidak begitu seharusnya dalam latihan, tidak sopan namanya.

Akan tetapi dia masih menganggap bahwa sute-nya tidak sengaja, maka dia pun cepat mengelak, langsung balas menyerang dengan Kiam-ciang yang dikombinasikan dengan cengkeraman Tok-jiauw- kang. Akan tetapi tentu ia menahan dan membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai sute-nya yang ia tahu belum begitu sempurna menguasai kedua ilmu itu!

Akan tetapi, semua serangannya ternyata dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Seng Bu, dan pemuda itu membalas lagi semakin lama semakin dasyat!

“Duk-duk-plakkk!”

Tiga kali beruntun dua tangan mereka saling bertemu ketika terpaksa Lu Sek menangkis serangan sute- nya yang amat dasyat. Karena dia membatasi tenaganya, akibatnya dia terdorong dan terhuyung ke belakang.

“Sute, gerakanmu sudah hebat dan amat kuat!” Ia berseru kaget.

Akan tetapi kembali dia merasa ngeri melihat sinar mata sute-nya yang demikian aneh mencorong, serta senyumnya semakin menakutkan. Bahkan tanpa mengeluarkan kata apa pun, sute-nya kini meloncat ke depan dan menerjang lagi dengan dasyat.

Lu Sek makin kaget. Sute-nya menyerangnya dengan Kiam-ciang atau Tok-jiauw-kang, tetapi dengan tenaga yang dahsyat dan sama sekali bukan seperti orang yang sedang mengajaknya berlatih. Sute-nya menyerangnya bagai orang yang berkelahi, menyerang sungguh-sungguh, dengan pukulan-pukulan maut!

Terpaksa ia mengerahkan tenaganya untuk memukul mundur sute-nya. Ketika sute-nya memukul ke arah dadanya dengan Kiam-ciang, ia pun mengerahkan seluruh tenaga dan menangkis dengan gerakan Kiam- ciang pula.

“Wuuuttt… desss…!!”

Dua tenaga bertemu melalui pukulan tangan miring. Sebagai akibatnya, tubuh Lu Sek terjengkang dan tentu dia terbanting roboh jika saja tidak cepat-cepat membuat gerakan bergulingan. Pada waktu ia meloncat bangun, ia merasa napasnya agak sesak dan ia memandang kepada sute-nya dengan mata terbelalak.

“Sute, kau…!”

“Lu-suci, kita belum selesai latihan. Sambut seranganku ini!” katanya.

Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Lu Sek, kembali Seng Bu telah menerjang lagi dengan pukulan kombinasi antara Kiam-ciang dan Tok-jiauw-kang (Cakar Beracun).

“Hemmm…!”

Sekarang Lu Sek menjadi marah. Kiranya sute-nya ini benar-benar ingin memamerkan kepandaiannya. Biar pun ia terkejut menyaksikan kemajuan sute-nya, namun ia merasa lebih unggul dan ia pun tak mau kalah. Apa lagi, ia adalah orang yang barusan diangkat menjadi ketua Thian-li-pang. Bagaimana ia sampai dapat dikalahkan oleh salah seorang pembantunya, juga sute-nya yang minta petunjuk dalam ilmu silat darinya? Lu Sek kini mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan kedua ilmu itu sebaik mungkin.

Terjadilah serang-menyerang yang hebat dan seru. Memang harus diakui oleh Seng Bu bahwa dalam hal penggunaan dua ilmu itu, dia masih kalah mahir dibandingkan dengan suci-nya. Kalau ia hanya menggunakan kedua ilmu itu tanpa menambah tenaga mukjijat yang dihimpunnya melalui latihan ilmu rahasia Bu-kek Hoat-keng, jelas dia tidak akan mampu menandingi suci-nya.

Karena itu, tiap kali beradu lengan, diam-diam dia mengerahkan tenaga mukjijat itu dan selalu suci-nya terpental dan terhuyung ke belakang. Karena kalah tenaga, maka Seng Bu dapat menutupi kekalahannya dalam kemahiran memainkan kedua ilmu itu, bahkan kini dia yang mendesak hebat!

“Desss…!!”

Kembali kedua tangan mereka saling bertemu dan kembali pula Lu Sek terpental serta terjengkang, dengan dada yang terasa makin sesak. Dan pada saat itu, Seng Bu sudah meloncat ke depan dan mengirim tamparan susulan dengan Kiam-ciang ke arah kepala suci-nya yang masih belum sempat bangun.

“Sute, kau…!” Lu Sek mengangkat tangan menangkis sambil mengerahkan tenaganya. “Plakkk!”
Tubuh Lu Sek terdorong sehingga bergulingan, dan dari mulutnya keluar darah segar, dadanya terasa nyeri.

“Ouw-sute, apa yang kau lakukan ini?” bentak Lauw Kin yang tiba-tiba sudah berada di situ.

Melihat tunangannya terdesak bahkan muntah darah, tentu saja Lauw Kin terkejut dan marah sekali. Dia memang sudah merasa curiga kepada Seng Bu kemarin, maka pagi ini dia sengaja datang ke tempat itu untuk melihat keadaan tunangannya. Dan ternyata kekhawatirannya terbukti. Dalam berlatih melawan Seng Bu, agaknya tunangannya itu sudah terluka, dan latihan itu agaknya menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.

“Dia… dia menjadi gila…!” kata Lu Sek yang sudah dapat bangkit kembali.

“Ouw-sute, apa yang kau lakukan ini? Mengapa engkau melukai ketua kita?” kembali Lauw Kin menegur Ouw Seng Bu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba Seng Bu tertawa dan kedua orang itu saling pandang, merasa ngeri. Itu bukan tawa manusia waras! Mirip tawa iblis, atau tawa orang sinting.

“Heh-heh-ha-ha-hah…! Engkau boleh maju sekalian, Lauw-suheng. Atau engkau tidak berani? Takut berlatih melawan sute-mu seperti Lu-suci? Heh-heh-heh, ketua dan wakil ketua Thian-li-pang begini pengecut! Sungguh tidak pantas!”

Lauw Kin dan Lu Sek terbelalak, terkejut dan heran, akan tetapi juga marah sekali. Gila atau tidak, Ouw Seng Bu ini sungguh merupakan seorang murid yang murtad!

“Ouw-sute, sadarlah! Sudah gilakah engkau?” bentak Lu Sek marah, akan tetapi karena ia tadi telah melihat kenyataan betapa lihai sute-nya ini, ia kini sudah siap waspada dan sudah meraba gagang pedangnya, sedangkan Lauw Kin meraba gagang goloknya.

“Ha-ha-ha, berani atau takut, tetap saja aku akan menyerang kalian! Nah, sambutlah ini!” Dia sudah menyerang lagi dengan tamparan-tamparan Kiam-ciang.

Karena maklum betapa serangan itu sangat berbahaya, Lu Sek meloncat ke belakang, diikuti Lauw Kin dan mereka kini sudah mencabut pedang dan golok.

“Ouw-sute, sadarlah! Atau terpaksa kami akan menghadapimu dengan senjata. Engkau dapat merupakan bahaya besar bagi Thian-li-pang kalau tidak mau sadar dan berubah menjadi gila!”

Ouw Seng Bu tersenyum dan sekali ini bukan hanya Lu Sek yang merasa ngeri, juga Lauw Kin memandang dengan terbelalak karena dia pun tidak lagi mengenal sute-nya dengan senyum seperti itu.

“Kalian mencabut senjata? Bagus, bagus! Inilah kesempatan baik bagiku untuk menguji kepandaianku sendiri. Nah, sambutlah seranganku dengan senjata kalian, he-he-heh!”

Sambil tertawa-tawa Ouw Seng Bu sudah menyerang lagi. Namun kedua orang kakak seperguruannya itu terkejut dan terheran bukan main karena kini gerakan sute mereka itu sama sekali berlainan dengan gerakan ilmu silat yang pernah mereka pelajari.

Gerakan itu aneh sekali dan nampaknya seperti gerakan yang kacau, gerakan pesilat yang mungkin gila! Karena maklum betapa besar bahayanya kalau sute yang gila ini dibiarkan saja, Lu Sek sudah meloncat ke depan dan menyambut serangan itu dengan pedangnya, dengan maksud merobohkan sute-nya, menangkap atau bila perlu bahkan membunuhnya.

Lu Sek yang memiliki gerakan ringan dan cepat itu sudah meloncat ke depan sambil memutar pedangnya, menyambut gerakan kedua tangan sute-nya yang seperti hendak mencakar itu dengan sambaran pedangnya!

“Wuuut… singgg…! Krakkk…!”

Pedang itu bertemu dengan jari tangan kanan Seng Bu dan pedang itu patah-patah. Kemudian tangan kiri Seng Bu menampar ke depan dengan jari tangan terbuka, bukan gerakan Kiam-ciang, melainkan gerakan aneh.

Angin yang panas sekali menyambar ke arah dada Lu Sek dan wanita itu mengeluarkan jerit tertahan, tubuhnya roboh dan tidak bergerak lagi. Ketika Lauw Kin memandangnya, ia pun terbelalak dengan wajah pucat melihat betapa tunangannya itu telah tewas dalam keadaan tubuh menghitam seperti hangus terbakar!

“Kau… jahanam… kau membunuhnya…!”

Lauw Kin menjadi marah dan sedih sekali. Dengan nekat ia maju sambil menggerakkan goloknya, menerjang maju dan menyerang Seng Bu dengan cepat sekali.

“Bagus, memang engkau harus pergi untuk selamanya agar tidak menjadi penghalang bagiku!” bentak Seng Bu dan dia menyambut golok itu dengan kedua tangannya.

Tangan kirinya begitu saja, dengan jari terbuka, menerima dan mencengkeram golok itu. Bukan main hebatnya jari-jari tangan itu karena begitu kena dicengkeram, golok itu pun patah-patah dan remuk! Kemudian, tangan kanan Seng Bu sudah memukul ke depan. Dada Lauw Kin terkena tamparan itu dan dia pun terjengkang dan tewas seketika di dekat mayat tunangannya dengan tubuh hangus pula.

Ouw Seng tertawa bergelak seperti seekor binatang buas, akan tetapi hanya sebentar saja karena kemudian sikapnya itu berubah kembali. Dia tidak tertawa lagi, juga sinar matanya tidak liar dan mulutnya tidak mengandung senyum iblis. Dia nampak tenang dan termenung berdiri memandang ke arah dua mayat suheng dan suci-nya yang telah dibunuhnya.

Pikirannya bekerja, penuh kelicikan. Dia telah berhasil membunuh ketua dan wakil ketua Thian-li-pang. Hanya tertinggal satu lagi pengganjal yang akan menjadi penghalang dia memimpin Thian-li-pang, yaitu gurunya sendiri, Lauw Kang Hui!

Kakek itu tentu tidak akan tinggal diam kalau dia mendengar betapa kedua orang murid tersayang itu tewas, apa lagi kalau tahu bahwa dia membunuh mereka, pikirnya. Kalau penghalang yang tinggal seorang ini disingkirkan, siapa lagi yang akan berani dan dapat menghalanginya menjadi ketua Thian-li-pang?

Tidak lama kemudian, di pagi hari buta itu, dia sudah mengetuk pintu kamar Lauw Kang Hui. Seperti biasa, kakek ini semenjak pagi sekali sudah terbangun dan sudah duduk semedhi. Mendengar ketukan pintu, hatinya merasa tak senang. Siapa berani demikian lancangnya mengganggu semedhinya di pagi hari seperti itu?

“Siapa?” tanyanya, suaranya halus tetapi mengandung ketidak sabaran karena merasa terganggu.

“Suhu, teecu ingin melaporkan hal yang amat penting dan gawat!” terdengar suara Seng Bu dari luar, juga lirih akan tetapi dapat didengar jelas oleh orang pertama Thian-li-pang itu.

“Masuklah, pintunya tidak terkunci,” kata Lauw Kang Hui. Seng Bu masuk dan berlutut di depan gurunya.
“Seng Bu, ada apakah engkau sepagi ini menggangguku dari semedhi?”

“Maaf, Suhu. Sudah terjadi sesuatu dengan suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin. Marilah Suhu tengok sendiri dan melihat keadaan mereka.”

“Hemmm, ada apa dengan mereka?”

“Mereka… ahhh, teecu khawatir sekali, Suhu. Marilah, kita ke sana dan Suhu melihat sendiri!” kata Seng Bu sambil bangkit dan keluar dari kamar itu.

Tentu saja Lauw Kang Hui menjadi heran dan tertarik, lalu dia bangkit dan mengikuti muridnya. Dia menjadi semakin heran ketika muridnya itu pergi ke tempat sunyi yang dikeramatkan, yaitu di daerah yang terdapat sumur yang dahulu dipakai sebagai tempat menghukum kakek Ciu, yaitu mendiang supek-nya (uwa gurunya).

Lauw Kang Hui mengerutkan alisnya. “Seng Bu, kenapa engkau mengajakku ke tempat ini?”

Dia merasa tidak enak juga melihat ke arah dua buah sumur itu, yang sebuah tertimbun batu, yang sebuah lagi tersembunyi di balik semak belukar dan tempat ini merupakan tempat yang mengerikan.

“Lihatlah, Suhu.” kata Seng Bu.

Dia berhenti tidak jauh dari semak yang menyembunyikan sumur ke dua yang masih belum ditimbuni apa- apa. Lauw Kang Hui menghampiri dan dia terbelalak memandang pada tubuh dua orang muridnya yang rebah telentang dengan muka, leher dan tangan menghitam seperti arang!

Kakek itu mengeluarkan suara tertahan, berjongkok untuk memeriksa mereka. Ia makin heran dan terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa kedua orang muridnya itu tewas oleh pukulan beracun yang tidak dikenalnya.

“Apa yang telah terjadi? Siapa yang telah membunuh mereka?” tanyanya sambil berdiri dan memandang Seng Bu dengan muka agak pucat dan mata terbelalak.

Tiba-tiba dia melihat perubahan pada wajah yang tampan itu. Sepasang mata pemuda itu mencorong liar, dan senyum aneh berkembang di bibirnya, senyum iblis!

“Mereka mengajak teecu berlatih silat dan mereka roboh terpukul oleh teecu,” katanya dengan nada suara mengejek walau pun kata-katanya masih menghormat.

Sepasang mata kakek itu semakin dilebarkan. Dia mengamati muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.

“Tidak mungkin! Engkau tak akan mampu mengalahkan mereka, apa lagi memukul mati seperti ini!”

“Hemmm, kalau Suhu tidak percaya, boleh Suhu buktikan sendiri. Jangankan mereka, Suhu pun tidak akan mampu menandingiku, bahkan aku dapat membunuhmu dengan mudah.”

Tentu saja kakek itu menjadi marah bukan main. “Engkau telah gila!” teriaknya marah.

“Dan engkau akan mati bersama mereka!” kata Seng Bu. Dia pun lantas menggerakkan kaki dan tangannya menyerang gurunya sendiri.

Lauw Kang Hui kini sudah menjadi marah sekali. Dua orang muridnya tersayang tewas, padahal mereka baru saja dia angkat menjadi ketua dan wakil ketua. Kalau tadinya dia masih tidak percaya bahwa Seng Bu yang membunuh mereka, bukan saja karena dia tahu betapa tingkat kepandaian Seng Bu masih kalah dibandingkan Lu Sek, juga tidak ada alasan mengapa pemuda ini harus membunuh suci dan suheng-nya, kini tiba-tiba dia teringat. Ketua dan wakil ketua dibunuh! Ini berarti bahwa Seng Bu merasa iri dan ingin merebut kedudukan ketua!

Akan tetapi, dia tak sempat berpikir lagi karena melihat Seng Bu berani menyerangnya. Dia cepat mengerahkan tenaga dan menangkis, dengan maksud sekali tangkis dapat merobohkan dan menangkap murid yang agaknya tiba-tiba menjadi gila itu.

“Dukkk…!!”

Lauw Kang Hui mengeluarkan gerengan kaget dan marah ketika benturan lengan itu membuat dia terhuyung ke belakang! Seng Bu sendiri hanya tergetar saja, namun dapat mempertahankan kuda- kudanya.

Ini tidak mungkin, pikirnya! Tetapi pemuda itu menyeringai dan kini melakukan gerakan yang aneh, lalu kembali menerjang ke depan, tangan kirinya menyambar. Hawa pukulan yang panas sekali menerjangnya! Dan kakek itu cepat-cepat menyambut dengan kedua tangannya.

“Desss…!!”

Dan sekali ini, dia terjengkang! Sambil mengerahkan seluruh tenaganya, Lauw Kang Hui meloncat bangun berdiri dan memandang kepada murid itu dengan mata hampir tidak percaya.

“Ilmu siluman apakah itu…?” Saking herannya, dia bertanya. Keheranannya melampaui kemarahannya.

“Ha-ha-ha-heh-heh-heh, Suhu, engkau selalu memuji-muji Yo Han dengan ilmu Bu-kek Hoat-keng! Nah, inilah Bu-kek Hoat-keng! Bukan hanya Yo Han yang menguasainya, aku pun telah menguasainya. Kalau dia berani muncul, akan kuhancurkan kepalanya. Sekarang, bersiaplah untuk menemani suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin!”

Lauw Kang Hui marah bukan main. Ia pun mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kepandaiannya, bahkan dia melakukan gerakan ilmu silat Tok-jiauw-kang serta Kiam-ciang yang telah mencapai tingkat tinggi.

Maklum bahwa kalau dia mengandalkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari kakek itu, dia tidak mungkin akan menang, maka Seng Bu segera memainkan ilmunya yang didapat dengan rahasia di dalam sumur, yaitu ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dipelajarinya secara ngawur dan terbalik-balik. Dan memang hebat bukan main ilmu ini.

Ilmu Bu-kek Hoat-keng yang aslinya, seperti yang dikuasai Yo Han, sudah merupakan ilmu ajaib, memiliki daya atau pengaruh yang aneh, yaitu selain gerakannya aneh dan lihai, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Bila ada lawan, betapa pun lihainya, menyerang dengan kemarahan dan kebencian di dalam hati, maka serangan itu akan membalik dan menghantam si penyerang sendiri!

Dan sekarang, ilmu aneh yang dipelajari secara ngawur dan terbalik oleh Seng Bu itu, memberinya ilmu yang luar biasa kejamnya, biar pun pengaruh ilmu itu membalik pada dirinya, membuat dia kalau sedang kumat seperti orang gila, atau lebih tepat seperti iblis sendiri.

Lauw Kang Hui adalah seorang datuk yang sudah mempunyai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Jarang ada tokoh yang mampu menandinginya. Akan tetapi sekarang, bertanding mati-matian melawan muridnya sendiri, dia mulai terdesak sesudah mampu bertahan sampai lima puluh jurus. Kedua lengannya sudah terasa panas seperti dibakar setelah beberapa kali bertemu dengan lengan Seng Bu.

Dia merasa menyesal, mengapa tadi tidak membawa golok besar, senjata andalannya. Semenjak melepaskan kedudukan sebagai ketua Thian-li-pang dan bersemedhi, ia telah menyingkirkan golok itu, maka tadi ketika pergi ke tempat ini, dia pun tidak membawa senjata.

“Heh-heh-heh, Lauw Kang Hui, sekarang engkau mati!” kata Seng Bu, sikapnya sama sekali berubah dan tidak lagi menyebut suhu.

Lauw Kang Hui menjadi nekat dan dia pun mengerahkan seluruh tenaganya, menerjang ke depan. “Hyaaaattt…!!” bentaknya dan suara gerengannya bagaikan seekor binatang buas yang terluka.
Seng Bu tersenyum mengejek. Pada saat kedua tangan gurunya yang mendorong itu meluncur ke arah dadanya, tiba-tiba dia merendahkan diri hampir berjongkok sehingga kedua tangan Lauw Kang Hui menyambar lewat atas kepalanya dan pada detik itu juga, tangan kiri Seng Bu sudah mencuat ke depan, menghantam dengan telapak tangannya ke arah dada Lauw Kang Hui.

“Hukkk… !!”

Mata kakek itu melotot, punggungnya melengkung dan dia pun terbanting ke belakang, terjengkang.

“Kau…! Kau…!” Suaranya lalu terhenti karena dia muntah darah. Tubuhnya berkelojotan sebentar, matanya mendelik memandang Seng Bu dan akhirnya dia tidak bergerak lagi. Kulit tubuhnya berubah menghitam seperti dibakar sampai hangus!

Seng Bu mengeluarkan suara tawa yang mengerikan itu lagi sambil berdiri memandangi ketiga buah mayat yang hangus itu. Mendadak sikapnya berubah lagi, termenung dan pendiam. Segera dia berlari ke perkampungan Thian-li-pang, dan dipukulnya kentungan tanda bahaya dengan gencar.

Tentu saja para anggota Thian-li-pang sangat terkejut. Bahkan yang masih tidur segera terbangun. Mereka berlari-larian menuju gardu di mana Seng Bu memukuli kentungan dengan gencar seperti orang kesetanan.

Setelah semua anggota berkumpul, kurang lebih seratus orang banyaknya, dan mereka bertanya-tanya mengapa pembantu ketua baru itu memukuli kentungan tanda bahaya, Seng Bu menghentikan perbuatannya dan dengan napas terengah dia berkata, “Celaka, terjadi pembunuhan besar-besaran!”

“Apa?”

“Siapa yang dibunuh?” “Di mana?”
“Apa yang terjadi?”

Pertanyaan-pertanyaan itu saling susul dengan gencar, ditujukan kepada Seng Bu.

“Mari kalian semua ikut aku dan lihat sendiri!” katanya dan dia pun berlari keluar dari perkampungan, diikuti oleh semua anggota.

Melihat pemuda itu lari menuju ke sumur tua yang merupakan tempat yang ditakuti dan dikeramatkan, para anggota menjadi makin heran. Akan tetapi mereka mengikuti terus sampai akhirnya Seng Bu berhenti di dekat sumur tua yang tertutup semuk belukar.

“Nah, kalian lihatlah sendiri!” katanya sambil menunjuk ke arah tiga sosok mayat di atas tanah.

Ketika para anggota melihat ketiga buah mayat itu, mula-mula mereka tidak mengenal. Akan tetapi setelah mereka mengamati wajah-wajah menghitam itu dan bisa mengenal mereka, tentu saja mereka menjadi gempar.

Ketua lama, ketua baru beserta wakilnya telah mati dibunuh orang, mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan, dengan seluruh tubuh menjadi hangus…..

Segera terdengar jerit tangis dan keadaan menjadi amat gaduh, di samping pertanyaan yang dihujankan kepada Seng Bu.

“Ouw-sute, apa yang telah terjadi?”

“Ouw-suheng, siapa pembunuh mereka?”

Demikian pertanyaan yang datang dari para suheng-nya, sute-nya atau suci-nya, juga para paman dan bibi gurunya. Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas.

“Harap kalian suka tenang dahulu. Dalam keadaan gaduh begini, bagaimana aku dapat bicara? Tenanglah, tenang dan hentikan lolong dan tangis itu!”

Suaranya halus namun tegas dan mengandung kekuatan yang membuat semua orang menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara agar dapat mendengarkan dengan jelas. Setiap orang anggota Thian-li-pang merasa marah, sedih dan ingin sekali tahu apa yang telah terjadi.

“Tadi aku bangun pagi-pagi sekali dan berjalan-jalan, seperti sering kulakukan. Ketika tiba di dekat tempat ini, aku melihat sesosok bayangan berlari cepat menuruni lereng. Aku segera mengejarnya karena curiga, akan tetapi aku hanya dapat mengenalnya dari jauh saja. Pagi masih terlampau gelap dan dia menghilang di dalam hutan di kaki bukit itu. Aku lalu kembali ke sini, untuk melihat mengapa orang itu datang ke sini dan aku menemukan Suhu, Suci dan Suheng telah menggeletak dan tak bernyawa lagi. Aku lalu cepat turun dan memukul kentungan untuk memberi tahu kepada kalian.”

“Tapi siapakah orang yang melarikan diri itu? Apakah dia pembunuh jahanam itu?”

“Meski pun tidak melihat dia membunuh Suhu bertiga, akan tetapi aku yakin dia yang membunuh.” “Siapa dia? Kau tadi mengatakan, mengenalnya dari jauh. Siapakah pembunuh itu?”
“Dia adalah… Si Tangan Sakti Yo Han!” kata Seng Bu dengan suara tegas. “Yo Taihiap…?!”
“Ahh, tidak mungkin!”

“Bagaimana dia yang mengangkat Lauw Pangcu menjadi ketua malah membunuhnya?” “Aku tidak percaya!”

Riuh rendah suara mereka yang menyanggah dan menentang keterangan Seng Bu. Tak seorang pun di antara para anak buah Thian-li-pang percaya bahwa Yo Han yang telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang pimpinan Thian-li-pang itu.

Kembali Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas, minta agar semua orang tenang dan mendengarkannya. Setelah semua orang diam, Seng Bu berkata, “Kalian percaya atau tidak, akan tetapi aku yakin bahwa Yo Han yang telah membunuh Suhu, Suci dan Suheng.”

“Tapi engkau tidak melihat dia dengan jelas!”

Kini majulah Thio Cu, yaitu seorang yang termasuk tokoh Thian-li-pang dan masih adik seperguruan Lauw Kang Hui walau tingkatnya kalah jauh. Thio Cu ini adalah seseorang yang mewakili Thian-li-pang ketika menghadiri pertemuan antara para tokoh di sarang Pao-beng-pai. Dia memberi isyarat kepada semua orang untuk tidak membuat gaduh lagi.

“Ouw Seng Bu, bagaimana engkau dapat merasa begitu yakin bahwa Yo Taihiap yang melakukan pembunuhan itu? Coba jelaskan alasanmu!”

Seng Bu mengangguk. “Begini, Thio-susiok (paman guru Thio). Kita semua mengetahui belaka bahwa Yo Han adalah murid mendiang kakek guru Ciu Lam Hok, bukan? Nah, kakek paman guru Ciu Lam Hok pernah dibuntungi dan dihukum ke dalam sumur tua oleh kedua kakek guru pendiri Thian-li-pang. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau kini kita mencurigai Yo Han. Dia tentu mendendam kepada Thian-li- pang dan kini dia datang membunuh para pimpinannya.”

Semua orang terdiam, akan tetapi Thio Cu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.

“Alasan itu kurang kuat. Kalau memang dia mendendam kepada Thian-li-pang kenapa tidak dari dulu dia membasmi Thian-li-pang? Dia bahkan menunjuk suhu Lauw Pangcu menjadi ketua. Tidak, Seng Bu. Itu bukan merupakan bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo Taihiap.”

Mendengar ucapan Thio Cu ini, para anggota Thian-li-pang menyatakan persetujuan mereka.

“Kalian minta bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo Han? Lihat saja keadaan tiga mayat itu. Tubuh mereka hangus, jelas akibat pukulan beracun yang sangat hebat. Aku yakin bahwa hal itu hanyalah dapat dilakukan oleh seseorang yang sudah menguasai Bu-kek Hoat-keng dan ilmu itu, seperti kita telah mendengarnya, dikuasai oleh Yo Han ketika dia belajar di dalam sumur. Bukti itu sudah amat kuat. Yo Han yang membunuh Suhu, Suci dan Suheng. Dan aku yang kelak akan membalaskan sakit hati ini!”

“Hemmm, Ouw Seng Bu, jangan takabur kau! Andai kata benar pembunuhnya adalah Yo-taihiap, jelas bahwa mereka bertiga ini saja tidak mampu mengalahkan Yo Taihiap, apa lagi engkau! Lagi pula, tidak ada yang dapat membuktikan bahwa mereka ini tewas karena pukulan Bu-kek Hoat-keng yang dilakukan oleh Yo Taihiap.”

“Thio-suciok, lupakah engkau bahwa aku adalah pembantu dari ketua baru, mendiang Lu-suci? Setelah Lu- suci dan Lauw-suheng sebagai ketua dan wakilnya di Thian-li-pang tewas, maka aku sebagai pimpinan ke tiga, berhak untuk menggantikan mereka menjadi pemimpin di Thian-li-pang! Nah, dengan demikian, akulah orangnya yang berhak untuk menyelidiki urusan pembunuhan ini.”

Thio Cu mengerutkan alisnya. “Tidak, urusan ini terlalu besar! Pembunuhan ini harus dibongkar! Dan tentang pemilihan ketua baru, sebaiknya bila kita menunggu munculnya Yo Taihiap agar dia yang mengadakan pemilihan ketua baru!”

“Thio-susiok, aku sudah dipilih Suhu untuk menjadi orang ke tiga di Thian-li-pang, dan engkau berani memandang rendah kepadaku? Sekarang begini saja. Siapa di antara para anggota Thian-li-pang yang menyetujui pendapat susiok Thio Cu, silakan berdiri di belakangnya! Dan yang menganggap aku sebagai pemimpin Thian-li-pang sehubungan dengan kematian Suhu, Suci dan Suheng, harap jangan mendekati mereka!”

Ada lima orang yang kini berdiri di belakang Thio Cu. Mereka adalah orang-orang yang masih disebut paman guru oleh Seng Bu. Tentu karena mereka merasa lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya sebagai anggota Thian-li-pang, mereka berpihak kepada Thio Cu. Kini enam orang itu, dipimpin oleh Thio Cu, berdiri berhadapan dengan Seng Bu.

Melihat sikap mereka yang menantang, Seng Bu mendadak tertawa sehingga semua orang terkejut. Suara tawa itu amat menyeramkan, dan kini mereka melihat betapa mata pemuda itu mencorong aneh, sedangkan senyumnya dingin mengerikan.

“Paman Thio Cu dan kelima Paman lain, kalian berenam tetap tidak percaya bahwa Yo Han yang membunuh Suhu, Suci dan Suheng? Tak percaya bahwa ilmu pukulan Bu-kek Hoat-keng yang telah dipergunakan Yo Han membunuh mereka?”

“Kami tidak percaya karena tidak ada buktinya. Siapa dapat membuktikan tuduhanmu itu?” tanya Thio Cu.

“Akulah orangnya yang dapat membuktikannya! Aku menguasai ilmu itu, bukan hanya Yo Han, maka aku yakin benar bahwa Yo Han menggunakan ilmu Bu-kek Hoat-keng untuk membunuh mereka bertiga!”

Tentu saja ucapan ini sangat mengejutkan dan mengherankan semua orang. Thio Cu dan kawan- kawannya mengerutkan alisnya, kemudian memandang aneh kepada Seng Bu, menyangka bahwa pemuda itu telah menjadi gila.

“Ouw Seng Bu, jangan engkau bicara yang bukan-bukan. Siapa dapat mempercayai omonganmu yang seperti orang gila itu?”

Kembali Beng Bu tertawa dan kini dia menoleh ke arah semua anggota Thian-li-pang. “Kalian semua lihat baik-baik. Thio Cu dan lima orang ini tetap tidak percaya. Biarlah mereka membuktikan sendiri dan kalian menjadi saksi. Aku akan menggunakan Bu-kek Hoat-keng kepada mereka seperti yang dilakukan Yo Han terhadap Suhu, Suheng dan Suci, dan kalian nanti lihat akibatnya!”

“Seng Bu, apakah engkau sudah gila?” Thio Cu berseru lagi.

“Kalian berenam, bersiaplah untuk membuktikan kebenaran tuduhanku!”

Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking yang amat menyeramkan, seperti suara iblis dari neraka atau seekor binatang buas sedang menderita hebat. Tubuhnya bergerak ke depan secara aneh, kedua tangannya bergerak seperti orang mabuk. Thio Cu dan lima orang saudaranya yang mengira Seng Bu telah menjadi gila, cepat bersiap siaga untuk menangkap dan menundukkan murid keponakan yang mendadak menjadi gila itu.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget perasaan hati mereka pada saat mereka dilanda angin topan yang dahsyat. Mereka sudah berusaha menangkis, namun semua tangkisan itu sia-sia belaka, lengan mereka seperti lumpuh dan enam orang itu terkena tamparan tangan kiri Seng Bu pada dada mereka.

Bagaikan daun-daun kering yang dihembus angin badai, tubuh mereka terlempar dan terjengkang, roboh malang-melintang, lalu berkelojotan dan tewas! Dan yang membuat semua anggota Thian-li-pang terbelalak dan memandang ngeri adalah ketika mereka melihat betapa wajah dan tubuh enam orang itu menjadi kehitaman dan hangus!

Seng Bu telah biasa kembali. Kini dengan penuh wibawa dia berdiri bertolak pinggang, menghadapi semua anggota Thian-li-pang dan suaranya terdengar halus namun penuh wibawa. “Ada lagi di antara kalian yang tidak percaya kepadaku bahwa pembunuh Suhu, Suheng dan Suci adalah Yo Han? Dan apakah ada lagi yang tidak setuju kalau aku mulai saat ini menjadi ketua Thian-li-pang dan memimpin kalian?”

Tak ada seorang pun berani menjawab. Peristiwa itu terlampau hebat dan semua orang masih tertegun, hanya berdiri diam seperti patung.

“Hayo jawab, apakah ada yang hendak menentangku?!” Seng Bu membentak, sekarang suaranya terdengar menyeramkan, mengejutkan semua orang.

Mereka itu serentak menjatuhkan diri berlutut menghadap Seng Bu, seakan-akan takut kalau-kalau pemuda itu menjadi marah kemudian menjatuhkan tangan saktinya kepada mereka.

“Tidak ada… tidak ada…”

“Kami semua tunduk kepada Pang-cu…” “Hidup Ouw-pangcu!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo