October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 6

 

Kini Siangkoan Eng menjatuhkan diri duduk di tepi pembaringan, wajahnya muram dan sedih hampir menangis. Dia bertepuk tangan dua kali, dan sesudah seorang pelayan menjawab dengan ketukan pada pintu dalam, dia memerintahkan pelayan itu memasuki kamar. Pelayan itu kelihatan heran melihat nonanya belum tidur.

“Panggil Sui Lan ke sini!” katanya singkat.

Pelayan itu mengangguk dan cepat keluar. Tak lama kemudian, terdengar ketukan daun pintu sebelah luar dan suara pelayan tadi melapor bahwa Nona Sui Lan telah datang.

“Sui Lan, masuklah!” berkata Siangkoan Eng.

Daun pintu depan terbuka dan masuklah seorang gadis cantik berusia dua puluh satu tahun. Gadis itu kelihatan baru bangun tidur, agaknya tadi sedang tidur ketika pelayan memanggilnya. Gadis bernama Tio Sui Lan ini adalah seorang murid yang pandai dari Siangkoan Kok dan merupakan teman bermain bagi Siangkoan Eng, juga menjadi orang kepercayaannya, bahkan juga sumoi-nya (adik seperguruan).

“Suci, tengah malam begini memanggilku, ada kepentingan apakah gerangan yang bisa kulakukan untukmu?” Dan karena mereka memang bergaul akrab, ia pun menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, di sebelah suci-nya itu.

“Duduklah, dan maaf kalau aku mengganggu tidurmu, Sui Lan.”

“Aih, Suci, kenapa sungkan kepadaku? Engkau kelihatannya belum tidur, dan wajahmu kusut serta muram seperti orang bersedih. Ada apakah, Suci?”

Siangkoan Eng memegang lengan gadis manis itu. “Sumoi, engkau adalah orang yang paling kupercaya. Kini hatiku sedang risau. Engkau tahu sendiri bahwa pemuda yang tadinya kita kenal sebagai Cia Ceng Sun itu sudah ditunangkan denganku. Kami saling mencinta. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa dia seorang pangeran dan aku sendiri yang telah menawannya sehingga kini dia dikurung di dalam tahanan.”

“Akan tetapi, itu sudah benar, Suci. Bukankah dia dapat menjadi orang berbahaya sekali dan sudah merugikan kita? Dia memata-matai kita dan dia bahkan sudah menipu Suci. Aku yakin bahwa cintanya pun hanya pura-pura.”

“Diam! Jangan lagi berkata demikian atau aku akan lupa bahwa engkau sumoi-ku dan akan kuhajar kau!” mendadak Siangkoan Eng membentak dan gadis itu memandang dengan wajah pucat.

“Maafkan aku, Suci…”

Siangkoan Eng menghela napas panjang dan kembali dia memegang lengan gadis itu. “Engkaulah yang harus memaafkan aku. Aku begini bingung sehingga sangat mudah tersinggung. Ketahuilah, sampai detik ini aku tak dapat menghilangkan cintaku padanya, apa lagi membencinya. Aku yakin bahwa dia bukan mata-mata, dan dia benar-benar mencintaiku. Aku menyesal sekali telah terburu nafsu sehingga menangkapnya.”

Diam-diam Siu Lan terkejut, akan tetapi ia tidak berani menyatakan pendapatnya, takut salah. Dia terharu karena suci-nya atau juga nonanya yang biasanya keras hati itu kini menjadi lemah oleh cinta!

“Akan tetapi, Suci sudah terlanjur menangkap dia, lalu hal apa yang dapat aku lakukan untukmu?”

“Engkau adalah satu-satunya murid ayah yang dipercaya oleh ayah. Semua anggota Pao-beng-pai juga tunduk padamu. Apa lagi baru saja engkau berjasa dalam menjebak dan menangkap Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tokoh pimpinan Thian-li-pang itu. Nah, karena Cia Sun ditahan dalam satu kamar tahanan dengan Yo Han, maka aku minta engkau suka berkunjung ke sana dan melihat keadaan Cia Sun.”

Sui Lan membelalakkan matanya. “Malam-malam begini? Saat ini sudah tengah malam, Suci. Lalu apa alasanku tengah malam begini berkunjung ke tempat tahanan?”

“Katakan saja kepada penjaga bahwa engkau sedang mendapat tugas dari ayah untuk mengamati penjagaan supaya kedua orang tahanan itu tidak sampai lolos. Perhatikan apakah Cia Sun telah diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti yang sudah aku perintahkan kepada mereka, apakah ia mendapatkan makanan sepantasnya, bagai mana keadaannya. Kemudian, engkau harus dapat menyerahkan ini kepada Cia Sun tanpa diketahui penjaga.” Siangkoan Eng menyerahkan sebuah surat yang dilipat-lipat menjadi kecil kepada sumoi-nya.

“Suci, engkau melibatkan aku dalam pekerjaan yang amat berbahaya, sebab kalau suhu tahu tentu aku akan dibunuhnya. Setidaknya, aku berhak mengetahui, apa yang akan kau lakukan agar aku dapat menyesuaikan sikapku. Aku pasti akan membantumu, Suci. Akan tetapi, apakah maksudmu memberiku tugas ini? Apa artinya semua ini dan apa rencanamu?”

Siangkoan Eng merangkul sumoi-nya. “Sumoi, kalau engkau berkhianat kepadaku dan melaporkan kepada ayah, aku akan celaka. Engkau saja yang dapat kupercaya. Aku memberi surat kepada Cia Sun, minta supaya dia bersiap-siap menyambut rencanaku malam ini.”

“Dan apa rencanamu itu, Suci?”

Siangkoan Eng mengusir semua keraguannya. Memang berbahaya sekali. Kalau dia memberi tahu kepada sumoi-nya dan gadis itu melaporkan kepada ayahnya, bukan saja rencananya gagal, akan tetapi bahkan amat membahayakan keselamatan Cia Sun dan dia sendiri. Akan tetapi, dia tidak melihat jalan lain.

“Sumoi, setelah larut malam nanti, aku akan membebaskan Cia Sun.” Gadis itu terbelalak, kaget dan heran.
“Suci! Engkau yang menangkapnya dan melaporkannya kepada suhu, dan engkau pula yang kini akan membebaskannya. Bagaimana pula ini?”

“Sudahlah, Sumoi. Ini demi cintaku, dan untuk itu aku siap mempertaruhkan nyawaku. Maukah engkau membantuku? Atau engkau akan melaporkan kepada ayah?”

Sui Lan merangkul suci-nya. “Suci, engkau tahu bahwa aku menganggapmu bagaikan kakak sendiri. Aku hidup sebatang kara dan di dunia ini hanya engkaulah satu-satunya sahabatku, juga saudaraku. Percayalah, aku akan melaksanakan tugasmu dengan baik. Akan tetapi, dia satu kamar dengan orang she Yo itu. Bagaimana?”

“Justru aku ingin memanfaatkan dia. Kita tahu, ilmu silat Si Tangan Sakti itu amat hebat. Kalau mereka berdua melarikan diri bersama, aku yakin ayah sendiri tidak akan mampu menangkap mereka dan Cia Sun tentu akan dapat terbebas.” Siangkoan Eng lalu turun dari pembaringan. “Nah, lakukanlah tugasmu, Sumoi. Hati-hati, jangan ada yang melihat ketika engkau menyerahkan surat itu karena kalau ketahuan penjaga, semua rencanaku dapat gagal sama sekali!”

“Percayalah padaku, Suci.” Sui Lan meninggalkan kamar suci-nya dan setelah Sui Lan pergi, Siangkoan Eng duduk termenung.

Sementara itu, dengan langkah biasa Sui Lan pergi ke sebuah bangunan khusus yang berada di perkampungan Pao-beng-pai itu, bangunan yang digunakan sebagai tempat tawanan. Para penjaga tentu saja tidak melarang dia masuk, bahkan memberi hormat, apa lagi ketika Sui Lan mengatakan bahwa ia mendapat tugas khusus dari ketua untuk memeriksa keadaan tawanan.

Juga para penjaga sebelah dalam yang berlapis-lapis, semuanya mengenal baik siapa gadis ini. Murid tersayang dari Siangkoan Kok, sekaligus orang kepercayaan pimpinan Pao-beng-pai. Bahkan semua orang tahu bahwa Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tokoh Thian-li-pang, dapat ditawan berkat pancingan nona ini.

Diam-diam Sui Lan meragukan kemungkinan berhasilnya rencana yang dibuat suci-nya. Bagaimana mungkin tawanan dapat lolos dari tempat ini? Selain penjagaan ketat yang berlapis-lapis, juga satu-satunya jalan keluar harus melalui rintangan-rintangan berupa jebakan-jebakan rahasia yang sukar ditembus.

Akhirnya tibalah ia di depan kamar tahanan yang berjeruji tebal itu. Dan ia melihat dua orang tawanan itu sedang duduk bersila, saling berhadapan dan mengobrol! Kelihatan mereka demikian tenangnya! Pangeran itu bahkan nampak gembira. Ketika ia berdiri di depan jeruji kamar itu, mereka berdua menoleh kemudian memandang dirinya.

Melihat Sui Lan, Yo Han lalu tersenyum masam. “Nah, itulah dia gadis lihai yang sudah digunakan sebagai umpan sehingga aku terjebak,” kata Yo Han tanpa terdengar suara atau pandang mata yang membenci gadis itu.

Sesuai dengan perintah suci-nya, Sui Lan memperhatikan keadaan dua orang tawanan itu, terutama Cia Sun. Dia melihat betapa mereka dalam keadaan sehat, bahkan wajah mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut atau murung. Jelas bahwa mereka diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti yang telah diperintahkan suci-nya.

Sui Lan memberi isyarat kepada para penjaga untuk menjauh. Mereka mentaati, akan tetapi tentu saja memandang dari jauh sambil mendengarkan. Sui Lan mengambil sikap seperti orang mengejek.

“Hemmm, kalian sudah tertangkap seperti dua ekor tikus, masih berlagak. Akuilah saja bahwa kalian sudah memata-matai Pao-beng-pai. Benar, tidak? Kalian menyamar dan berpura-pura, sungguh licik dan pengecut!”

Sui Lan sengaja mengejek dan memaki dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh para petugas yang melakukan penjagaan di bagian terdalam tempat itu.

Yo Han tersenyum. Dia seorang yang cerdik dan dia melihat sikap yang tidak wajar dari gadis itu, bahkan dapat merasakan betapa suara gadis itu sengaja ditinggikan supaya terdengar oleh semua orang. Apa yang tersembunyi di balik sikap yang disengaja itu? Pasti ada! Karena itu, dia segera menanggapi, disesuaikan dengan sikap gadis itu yang sengaja menghina mereka. Kesengajaan yang dapat dia lihat dari suara dan sikap gadis itu yang tidak sewajarnya.

“Aha, kiranya engkau gadis palsu, gadis licik dan curang! Bukannya kami yang curang, melainkan Pao- beng-pai. Kalau tidak licik, pengecut dan curang, coba bebaskan kami dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Sui Lan semakin marah. “Jahanam! Engkau telah merobek bajuku, engkau pun melepas sepatuku. Engkau laki-laki mesum dan kurang ajar! Kalau tidak dihalangi suhu, tentu engkau sudah kubunuh!”

“Ha-ha-ha, engkau mampu membunuhku? Kita lihat saja!” kata Yo Han.

Cia Sun memandang kakak angkatnya itu dengan mata terbelalak. Ia mengenal Yo Han tidak seperti itu! Begitu kasar kata-katanya terhadap seorang gadis!

“Keparat busuk, rasakan dan makan jarumku ini!”

Tangan kiri gadis itu bergerak dan sinar lembut meluncur ke dalam kamar tahanan itu melalui celah-celah jeruji yang cukup lebar. Jika dipandang oleh para penjaga dari jauh, jelas bahwa gadis itu menyerang Yo Han dengan jarum rahasia yang ampuh!

Akan tetapi, Yo Han menangkap sinar putih yang menyambarnya, dan menyimpannya ke dalam saku bajunya dengan kecepatan yang tidak dapat terlihat oleh para penjaga. Memang jarum yang disambitkan Sui Lan, namun jarum yang membawa lipatan kertas kecil!

Melihat sambitannya tidak mengenai sasaran, Sui Lan memaki-maki lalu meninggalkan tempat itu, memesan kepada para penjaga agar menjaga dengan ketat. “Kecuali Suhu sendiri, suci Siangkoan Eng, dan aku sendiri, siapa pun dilarang memasuki tempat ini! Mengerti?!” bentaknya kepada para penjaga sebelum ia pergi dari situ.

Dua jam kemudian, malam sudah sangat larut dan hawa yang dingin membuat semua orang mengantuk. Demikian pula para penjaga di bangunan tempat tahanan itu. Akan tetapi mereka tidak berani tidur dan melakukan penjagaan ketat secara bergantian.

Ketika Siangkoan Eng muncul dan membentak para penjaga yang sedikit mengantuk, mereka terkejut dan cepat mengambil sikap tegak dan siap. Sikap Siangkoan Eng galak terhadap para penjaga. Dia memarahi setiap orang penjaga yang kelihatan mengantuk atau habis tidur.

“Kalian tak boleh lengah sedikit pun! Dua orang tawanan ini amat lihai dan amat penting. Kini aku harus memeriksa segala kemungkinan, jangan sampai mereka lolos!” katanya dengan suara galak.

Suaranya terdengar sampai kamar tahanan di mana kedua orang pemuda itu sedang duduk bersila. Mendengar suara ini, berubah wajah Cia Sun dan jantung kedua orang tawanan itu berdebar tegang.

Tidak lama kemudian, setelah memeriksa di sepanjang jalan, tibalah Siangkoan Eng di lorong terakhir yang menuju ke kamar-kamar tahanan. Dua belas orang penjaga lorong itu menyambut dengan sikap yang tegak dan siap.

“Tidak ada yang tertidur di antara kalian?” bentak Siangkoan Eng. “Tidak, Nona.”
“Bagus! Siapa yang memegang kunci kamar tahanan?” bentaknya pula. “Ia mempunyai tanggung jawab yang amat penting!”

“Saya, Nona!” kata seorang di antara para penjaga yang bertubuh tinggi besar, bermuka bopeng, yaitu kepala regu yang menjaga kamar tahanan dan lorong itu. “Apakah sudah kau periksa benar bahwa pintu itu terkunci rapat?”

“Sudah, Nona.”

“Berikan kuncinya kepadaku. Hendak aku periksa sendiri!” kata Siangkoan Eng. “Awas kau kalau menguncinya tidak benar!”

“Silakan, Nona!” kata si bopeng sambil menyerahkan sebuah kunci yang besar.

Karena sikap Siangkoan Eng yang amat galak dan keras itu, para penjaga nampak takut kepadanya, tak berani mendekat sehingga ketika gadis itu menghampiri pintu jeruji besi kamar tahanan, para penjaga hanya melihat dari jarak sepuluh meter.

Pada saat gadis itu menghampiri pintu jeruji, mereka melihat betapa dua orang tawanan itu tidur di lantai, di tengah kamar, agak mendekat pintu. Mereka tidur mendengkur, dan Siangkoan Eng mencoba kunci pintu, apakah terkunci dengan benar atau tidak.

Pada saat itu, dua orang tawanan itu bergerak cepat bagaikan kilat dan Yo Han sudah menotok gadis itu melalui celah jeruji, lantas mencengkeram pundaknya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mengancam lehernya. Cia Sun juga cepat mencabut pedang yang terselip di pinggang Siangkoan Eng, lalu menghardik kepada para penjaga yang berloncatan mendekat.

“Semua berhenti dan jangan ada yang bergerak. Kalau ada yang bergerak, kami akan membunuh Siangkoan Eng!”

Bentakan itu berpengaruh karena para penjaga yang dua belas orang banyaknya itu tak berani berkutik, seperti telah berubah menjadi arca di tempat masing-masing. Tentu saja mereka tidak menghendaki nona mereka dibunuh.

Nampaknya nona mereka memang sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri. Sudah ditotok, dicengkeram lagi. Dan mereka semua juga tahu atau sudah mendengar betapa lihainya dua orang tawanan itu, terutama sekali Yo Han yang kini mencengkeram nona mereka.

Cia Sun merampas kunci dan melalui celah jeruji, dia membuka kunci pintu, lalu mereka berdua keluar. Yo Han menelikung kedua lengan gadis itu ke belakang punggung, lalu membebaskan totokannya.

“Hayo antar kami keluar. Bergerak sedikit saja melawan, lehermu akan kupatahkan!” katanya geram.

Siangkoan Eng kelihatan terkejut dan marah, akan tetapi dia pun tahu bahwa dia tidak berdaya. Ketika melihat para penjaga memandangnya dengan bingung, dia pun berkata gemas, “Biar mereka lewat. Lain kali masih ada kesempatan bagi kita untuk menangkap mereka kembali dan kalian akan mendapat bagian menyiksa mereka!”

Para penjaga terpaksa membiarkan gadis itu digiring keluar oleh dua orang tawanan itu. Demikian pula para penjaga di tengah dan di luar, tidak ada yang berani berkutik melihat nona mereka diancam seperti itu. Siangkoan Eng juga menyuruh mereka mundur dan membiarkan dua orang tawanan itu lewat sambil mengeluarkan ancaman bahwa kelak mereka semua pasti akan dapat menangkap kembali dan membalas kedua orang itu.

Karena menggiring Siangkoan Eng, tentu saja para penjaga tidak berani menggunakan alat rahasia untuk menjebak. Nona mereka terancam dan sekali menggerakkan tangan, kedua orang tawanan itu dapat membunuhnya dengan mudah. Tentu saja mereka tidak berani berkutik, bahkan membunyikan tanda bahaya pun tidak berani. Apa lagi nona mereka sudah memerintahkan agar mereka tidak melawan dan membiarkan dua orang tawanan itu lewat.

Karena tidak ada penjaga yang berani menghalangi, dengan sangat mudahnya Yo Han dan Cia Sun dapat keluar dari perkampungan Pao-beng-pai itu menggiring Siangkoan Eng. Setelah mereka keluar dari pintu gerbang, barulah para penjaga berani berlari-lari untuk memberi laporan kepada Siangkoan Kok.

Akan tetapi, ketika Siangkoan Kok terbangun dan terkejut, juga marah sekali mendengar betapa kedua orang tawanan itu lolos bahkan menggiring Siangkoan Eng yang dibuat tidak berdaya, kedua orang tawanan itu telah lari jauh.

Setelah tiba di luar pintu gerbang, agak jauh di tempat sepi, Yo Han melepaskan kedua tangan Siangkoan Eng.

“Eng-moi…” Cia Sun memegang kedua lengan gadis itu.

Siangkoan Eng memandang dengan muka sedih, kemudian berkata dengan suara lirih, “Engkau pergilah…”

“Eng-moi, mengapa engkau tidak ikut kami saja pergi meninggalkan neraka itu?” bujuk Cia Sun.

“Neraka itu tempat tinggal ayah ibuku, Koko. Bagaimana aku dapat meninggalkan ibuku begitu saja? Tidak, kalian pergilah cepat sebelum ayah dan para anggota Pao-beng-pai datang.”

“Eng-moi, aku bersumpah akan kembali dan membawamu sebagai isteriku. Aku cinta padamu, Eng-moi.”

“Aku pun cinta padamu, tidak peduli engkau ini pangeran atau pengemis…,” Siangkoan Eng berkata dalam isaknya, akan tetapi isaknya terhenti ketika Cia Sun, tanpa sungkan dan malu di depan Yo Han, merangkul dan menciumnya.

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari perkampungan itu hingga mereka berdua saling melepaskan rangkulan.

“Pergilah sebelum terlambat,” kata Siangkoan Eng.

“Benar, Cia-te, kita harus cepat-cepat pergi. Nona, maafkan kami, terpaksa aku harus menotokmu.” “Silakan,” kata Siangkoan Eng.
Yo Han cepat menotok gadis itu sehingga lemas tak mampu bergerak, bahkan dia pun menotok mulutnya sehingga gadis itu tidak dapat bersuara pula. Cia Sun menyambut tubuh yang lemas itu agar tidak terjatuh, lalu merebahkannya telentang di atas rumput. Setelah menciumnya sekali lagi, Cia Sun terpaksa melompat dan mengejar Yo Han yang sudah lari terlebih dahulu karena kini terdengar langkah kaki orang-orang berlari datang dan nampak pula mereka membawa obor.

Siangkoan Kok dan isterinya yang memimpin para anak buah Pao-beng-pai melakukan pengejaran, menemukan puteri mereka dalam keadaan telentang di atas rumput, tanpa dapat bersuara mau pun bergerak. Dengan marah Siangkoan Kok memerintahkan anak buahnya mencari dan melakukan pengejaran sampai ke bawah bukit, sementara dia dan isterinya membebaskan totokan pada diri Siangkoan Eng.

Dengan muka merah dan mata berkilat menahan kemarahannya, Siangkoan Kok yang tak mau ribut-ribut memarahi puterinya di tempat terbuka, kemudian mengajak isteri dan puterinya kembali ke rumah mereka, dan memerintahkan semua anak buahnya untuk terus mencari.

Sekarang mereka bertiga berada di dalam rumah, di ruangan dalam di mana tidak ada pelayan yang boleh masuk. Semua pelayan diperintahkan untuk keluar dari ruangan itu, dan mereka menanti di luar dengan wajah pucat karena mereka maklum bahwa ketua mereka marah bukan main.

“Nah, sekarang katakanlah terus terang, apa yang sudah kau lakukan!” Siangkoan Kok membentak puterinya yang telah duduk di samping ibunya.

Siangkoan Eng mengangkat muka menatap wajah ayahnya, sedikit pun tidak merasa takut walau pun ia tahu bahwa ayahnya marah sekali karena kedua orang tawanan itu dapat meloloskan diri.

“Apa yang harus kukatakan, Ayah? Tadi, untuk merasa yakin bahwa dua orang tawanan itu tidak dapat melarikan diri, aku memeriksa tempat tawanan itu. Mendadak, ketika aku memeriksa kunci pintu kamar tahanan itu, Pendekar Tangan Sakti yang tadinya kukira tidur pulas, meloncat dan telah menyergapku melalui celah jeruji besi. Gerakannya tak terduga dan cepat bukan main sehingga aku dapat ditotoknya. Mereka membuka piritu dengan kunci setelah membuat aku tidak berdaya, dan mengancam para penjaga untuk membunuhku apa bila mereka mencoba menghalangi larinya kedua orang tawanan itu. Nah, setelah berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka lalu menotok dan meninggalkan aku, sampai Ayah menemukanku.”

“Kau bohong! Kau pembohong besar!” Siangkoan Kok membentak dan matanya melotot lebar.

Dalam kemarahannya, pria yang tinggi besar dan gagah ini kelihatan semakin besar dan garang menyeramkan. Akan tetapi Siangkoan Eng tenang-tenang saja.

“Ayah, kenapa Ayah mengatakan aku bohong? Untuk apa aku berbohong? Kenapa aku harus membohongi Ayah?”

“Mengapa…?! Karena engkau sudah jatuh cinta kepada pangeran Mancu itu! Karena engkau sudah tergila- gila padanya! Tak tahu malu, merendahkan diri tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu!”

“Hemmm, apa alasan Ayah menuduhku berbohong?”

“Apa alasannya…?! Bocah murtad, pengkhianat! Seumur hidupku, belum pernah aku melihat engkau sedemikian penakut dan bodoh sehingga dapat dikelabui musuh, dapat disergap dan ditundukkan dari dalam kamar tahanan, lalu sedemikian penakut sehingga ketika engkau ditawan dan digiring keluar, engkau memerintahkan para anak buah kita untuk membiarkan kedua orang itu pergi! Kau boleh mengelabui orang lain, akan tetapi tidak mungkin mampu membohongi aku! Aku sudah sangat mengenal watakmu. Engkau tak mengenal takut, engkau cerdik, tak mungkin dapat ditundukkan dua orang tawanan semudah itu, kecuali kalau engkau memang sengaja hendak membantu mereka lolos!”

“Itu hanya dugaan Ayah belaka. Mana buktinya?” tantang Siangkoan Eng yang memang sejak kecil digembleng oleh ayah ibunya agar tidak mengenal takut.

“Bocah setan. Engkau masih mau menantangku untuk menunjukkan bukti? Kau kira aku belum melakukan penyelidikan dan belum membongkar rahasiamu yang busuk dan memalukan?” Siangkoan Kok membentak ke arah pintu memanggil pelayan dan ketika seorang pelayan wanita masuk dengan sikap takut-takut, dia membentak, “Panggil Sui Lan ke sini! Cepat!!”

Pelayan itu lari tunggang langgang dan diam-diam Siangkoan Eng terkejut. Apakah Sui Lan telah mengkhianatinya dan melapor kepada ayahnya? Rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Ia hampir yakin akan kesetiaan sumoi-nya itu kepadanya.

Tidak lama kemudian Sui Lan masuk dan memberi hormat kepada suhu-nya. Dengan suara biasa ia berkata seperti orang melapor, “Maaf, Suhu. Sudah teecu (murid) dengar dari laporan anak buah bahwa pencarian itu tidak berhasil…”

“Diam kau!” Siangkoan Kok membentak. “Jangan bicara kalau tidak kutanya, dan setiap jawaban harus kau jawab sejujurnya!”

“Baik, Suhu.”

Gadis itu pun lalu duduk di atas bangku yang ditunjuk oleh gurunya. Berbeda dengan Siangkoan Eng yang nampaknya masih tenang, Tio Sui Lan kelihatan agak pucat dan matanya mengandung kegelisahan ketika melihat kemarahan gurunya.

Setelah melihat muridnya yang sebenarnya merupakan murid yang paling disayangnya itu duduk, Siangkoan Kok lalu menghadapi puterinya lagi. Dia tetap berdiri, bagaikan gunung karang di depan puterinya yang duduk di samping ibunya. Lauw Cu Sin, wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih cantik itu, mengerutkan alisnya dan hanya mendengarkan, pandang matanya juga gelisah.

“Nah, sekarang Sui Lan telah berada di sini. Eng Eng, apakah engkau masih tidak mau mengakui pengkhianatan terhadap Pao-beng-pai dan bahwa engkau sudah membantu kedua orang itu membebaskan diri?”

“Ayah hanya menuduh tanpa bukti,” kembali Siangkoan Eng atau Eng Eng membantah, sikapnya tetap berani.

“Brakkkk…!!”

Meja di samping kirinya dihantam tangan kiri Siangkoan Kok sehingga papan meja itu hancur berkeping- keping.

“Engkau masih berani mengatakan aku menuduhmu tanpa bukti? Anak durhaka, dengar baik-baik. Aku telah menyelidiki dan menanyai para penjaga. Dua jam sebelum engkau muncul, si iblis cilik Sui Lan ini sudah datang lebih dahulu ke tempat tahanan, memasuki tempat tahanan dan mengatakan kepada para penjaga bahwa aku sengaja memerintah dia agar menjaga para tawanan. Para penjaga lalu melihat Sui Lan cekcok dengan para tahanan, kemudian ia menyambitkan jarum ke arah para tahanan. Para penjaga melihat berkelebatnya sinar putih halus! Sui Lan, jawab. Benarkah itu?”

“Benar, Suhu. Teecu marah dan menyerang orang she Yo dengan jarum teecu dan…”

“Bohong! Ingin kau kurobek mulutmu? Mana mungkin jarum rahasiamu bersinar putih? Tentu bukan jarum yang kau sambitkan, melainkan surat, gulungan kertas atau alat lain untuk mengirim pesan!”

“Suhu…” “Diam!”
Tangan Siangkoan Kok menyambar ke arah muridnya sehingga gadis itu terpelanting dari bangkunya dan bajunya robek lebar memperlihatkan sebagian dadanya. Sui Lan bangkit dan berlutut sambil membetulkan letak bajunya. Untung gurunya tidak berniat membunuhnya sehingga ia tidak terluka.

“Eng Eng, engkau masih hendak membantah? Engkau sudah mengirim pesan lewat Sui Lan kepada pangeran Mancu itu. Kemudian, dua jam setelah itu, engkau sendiri yang datang berkunjung ke sana, berpura-pura melakukan pemeriksaan dan sengaja engkau membiarkan dirimu dibuat tak berdaya! Engkau bahkan membantu mereka lolos karena engkau sudah tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu. Tak tahu malu!”

Kini tahulah Eng Eng bahwa Sui Lan tidak berkhianat. Rahasianya terbongkar semata-mata karena kecerdikan ayahnya yang memang luar biasa. Ia menghela napas panjang.
“Ayah, aku melakukan hal itu demi menjaga baik nama Ayah.”

Mata itu melotot. “Apa kau bilang? Menjaga nama baikku?” Karena heran, maka untuk sementara kemarahannya tertunda.

“Ayah adalah ketua Pao-beng-pai yang baru saja mengenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw, dikenal sebagai pemimpin perkumpulan patriot yang gagah perkasa. Akan tetapi, Ayah sudah menawan Pendekar Tangan Sakti secara curang. Bagaimana kalau sampai terdengar dunia persilatan? Apa lagi aku yakin bahwa Pangeran Cia Sun bukan seorang mata-mata Mancu. Biar pun dia pangeran Mancu, akan tetapi dia bukan mata-mata, melainkan seorang pemuda yang ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman di dunia kang-ouw. Mana mungkin seorang pangeran melakukan pekerjaan mata-mata yang berbahaya? Tentu keluarganya tidak akan menyetujuinya.”

“Cukup! Katakan saja engkau tergila-gila kepada pangeran Mancu itu!”

Siangkoan Eng yang yakin bahwa ayahnya amat menyayangnya dan tidak mungkin dia sampai terancam mala petaka oleh tangan ayahnya, kemudian menjawab dengan sama lantangnya, “Tidak kusangkal, Ayah. Memang aku mencinta Cia Sun dan dia pun amat mencintaku. Akan tetapi, bukankah Ayah juga sudah menerima pinangannya, menerima pula tanda pengikat perjodohannya, dan bahkan Ayah mengajukan syarat yang sudah disanggupinya? Apakah Ayah ingin menarik kembali janji dan ucapan Ayah?”

“Jahanam kau! Kau ingin Ayah mempunyai mantu seorang pangeran Mancu?” “Mengapa tidak, Ayah? Dia pangeran biasa, bukan calon kaisar!”
“Keparat, anak durhaka, engkau memang patut dihajar!” bentak Siangkoan Kok dan dia pun menerjang ke depan, tangannya terayun memukul ke arah kepala Eng Eng.

Gadis itu terkejut. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa ayahnya akan sedemikian marahnya sehingga mau memukulnya, hal yang selama ini belum pernah dilakukan oleh ayahnya. Yang mengejutkan hatinya adalah ketika melihat betapa tangan ayahnya itu memukul ke arah kepalanya. Pukulan maut!

Kalau kepalanya terkena pukulan itu, tentu akan pecah dan ia pun akan tewas seketika! Otomatis, sebagai seorang ahli silat yang gerakannya serba otomatis, dengan cepat dia menggerakkan lengan ke atas untuk menangkis karena untuk mengelak, ia tidak berani dan hal itu tentu akan membuat ayahnya menjadi semakin marah.

“Desss…!!”

Meski ia telah menangkis, karena ia tidak berani pula mengerahkan seluruh tenaganya, hantaman ayahnya itu tetap saja hebat bukan main. Tenaga yang dahsyat menerpa dan menerjang dirinya sehingga membuat kursi yang didudukinya patah-patah dan tubuhnya terjengkang sampai berguling-guling. Sungguh hal ini tidak disangkanya sama sekali.

Kepalanya terasa pening, dadanya pun nyeri karena hawa pukulan itu menerjang masuk lewat lengannya. Dari mulutnya keluar darah segar dan Eng Eng yang kemudian rebah menelungkup itu, menggerakkan tubuh telentang dan ia bertopang pada siku kanannya. Ia kemudian mengangkat tangan kiri ke arah ayahnya, bibirnya berdarah dan matanya terbelalak.

“Ayah…?!” terkandung penasaran, keheranan dan kekagetan dalam suara itu.

Melihat keadaan Eng Eng, kemarahan Siangkoan Kok bukan mereda, namun menjadi semakin marah karena tangkisan puterinya tadi dianggapnya sebagai perlawanan.

“Engkau memang patut dibunuh!” bentaknya lagi dan dia sudah mencabut pedangnya, menerjang ke depan dan mengayun pedangnya untuk memenggal leher Eng Eng yang masih bertopang pada sikunya.

“Singgg…! Tranggg…!”

Pedangnya tertangkis pedang lain dan dia cepat meloncat ke belakang. Mukanya merah sekali saat ia melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah isterinya sendiri, Lauw Cu Si! Wanita cantik itu berdiri dengan pedang di tangan, dan dengan mata mencorong ia menghadapi suaminya.

“Engkau harus melangkahi mayatku terlebih dulu jika hendak membunuhnya!” katanya, suaranya tenang akan tetapi mengandung ancaman yang mengerikan.

Kalau saja yang menantang itu orang lain, tanpa banyak cakap lagi tentu Siangkoan Kok akan membunuhnya. Akan tetapi, isterinya adalah keturunan Beng-kauw. Biar pun Beng-kauw telah hancur, namun di dunia persilatan masih terdapat banyak sekali bekas tokoh Beng-kauw yang lihai sekali. Kalau dia membunuh isterinya, apa lagi tanpa sebab yang kuat, tentu dia akan berhadapan dengan banyak musuh yang amat berbahaya dan ini berarti akan melemahkan Pao-beng-pai.

Melihat keraguan ayahnya, Eng Eng yang masih merasa sesak dadanya dan kini sudah bangkit duduk berkata memelas. “Ayah, bukankah aku ini anakmu, darah-dagingmu? Seekor binatang buas sekali pun tidak akan membunuh anak sendiri…”

“Dia bukan ayahmu! Engkau bukan anaknya!” Tiba-tiba Lauw Cu Si berkata dan wajah Eng Eng seketika pucat sekali, matanya terbelalak dan hampir ia jatuh pingsan.

“Ibu… dia… dia bukan ayahku…?” Ia berbisik-bisik berulang-ulang. Ibunya sudah berlutut dan merangkulnya.

“Tenanglah, tidak akan ada manusia di dunia ini dapat membunuhmu tanpa melangkahi mayatku!” kata ibu itu sambil merangkul puterinya dan memandang suaminya dengan sinar mata menantang.

Siangkoan Kok menjadi merah sekali mukanya. “Baiklah, kalian ibu dan anak memang jahanam! Memang kau bukan anakku! Ketika menjadi isteriku, ibumu telah membawa engkau! Seorang gadis sudah mempunyai anak tanpa ayah. Huh, perempuan macam apa itu! Dan sekarang, kalian hendak mengkhianati aku!”

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menyarungkan pedangnya, kemudian hendak melangkah keluar. Akan tetapi dia melihat Sui Lan yang masih berlutut dengan muka pucat dan baju robek.

“Engkau juga mengkhianatiku. Mestinya engkau kubunuh! Akan tetapi, aku tidak akan membunuhmu, tetapi mulai sekarang, engkau menggantikan perempuan laknat itu dan melayaniku sebagai isteriku!” Sekali tangannya bergerak dia telah menyambar tubuh Sui Lan dan memondongnya keluar dari kamar itu.

“Tidak, Suhu…! Jangan, Suhu…! Tidaaaaakkk…!”

Gadis itu menjerit-jerit, namun Siangkoan Kok tidak peduli dan melangkah lebar menuju ke kamarnya sendiri, menutupkan daun pintu dengan keras dan tangis Sui Lan semakin sayup terdengar.

“Ibu… ahh, Ibu… aku… aku harus menolong sumoi…,” Eng Eng mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi ia terhuyung dan jatuh ke dalam rangkulan ibunya.

“Hemmm, apa yang dapat kau lakukan, Eng Eng? Marilah kurawat lukamu, kita masuk ke kamarmu. Aku tidak sudi lagi memasuki kamar yang tadinya menjadi kamar kami itu. Mulai sekarang aku pindah ke kamarmu.”

“Tapi, Ibu…! Kasihan Sui Lan. Ibu, tolonglah sumoi. Setidaknya, ayah… ahh, suami Ibu masih memandang muka Ibu. Tolonglah, cegahlah agar sumoi tidak menjadi korban.”

Ibunya menggoyang kedua pundak, sikapnya acuh saja. Ia adalah seorang bekas tokoh besar Beng-kauw, sebuah perkumpulan sesat. Ia adalah seorang tokoh sesat sehingga peristiwa seperti itu tidak ada artinya baginya. Ia tidak peduli seujung rambut pun.

“Tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Kalau dia hendak membunuhmu, barulah aku akan bangkit. Akan tetapi Sui Lan? Huh, aku tahu bahwa sudah lama Siangkoan Kok memandang padanya penuh birahi. Agaknya sekarang ini kesempatan baginya. Sui Lan bersalah, kalau aku mencegahnya sekali pun, tentu dia akan dibunuh gurunya. Biarlah, jangan ambil peduli!” Ibu itu menarik Eng Eng ke kamar puterinya yang berada agak jauh di samping kiri.

Eng Eng menangis karena merasa tidak berdaya. “Lebih baik dia mati… lebih baik dia mati…” Ia berulang- ulang berbisik, akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan membawanya ke kamar.

Eng Eng mencoba untuk mengusir bayangan sumoi-nya yang meronta-ronta dalam pondongan pria yang selama ini dianggapnya ayahnya, ditaatinya dan disayangnya.

“Ibu, kenapa selama ini Ibu tidak pernah memberi tahu kepadaku bahwa dia itu bukan ayahku?” tanya Eng Eng ketika ibunya memeriksa tubuhnya, lalu menyalurkan tenaga sinkang untuk menyembuhkan luka di dalam tubuhnya karena terguncang hawa pukulan Siangkoan Kok yang kuat. Kemudian ia pun minum obat yang diberikan ibunya.

Setelah puterinya menelan obat, barulah Lauw Cu Si menjawab. “Untuk apa? Selama ini dia menyayangmu seperti anak sendiri. Baru setelah kalian bertentangan dalam urusan gerakan Pao-beng-pai, dia hampir membunuhmu. Engkau masih terlalu kecil ketika aku menjadi isterinya, maka kupikir sebaiknya tak perlu kau tahu bahwa dia bukan ayahmu, sampai tadi ketika dia hampir membunuhmu.”

“Kalau begitu… nama keluargaku bukan Siangkoan?” “Tentu saja bukan!”
“Lalu siapa? Siapakah nama ayah kandungku dan di mana dia, Ibu?”

“Hemmm, dia sudah mati. Kalau engkau tidak suka nama marga Siangkoan boleh kau pakai nama keluargaku, yaitu Lauw. Namaku Lauw Cu Si dan kalau engkau tidak suka nama Siangkoan, boleh kau ganti Lauw, jadi namamu Lauw Eng.”

“Tapi, siapa nama ayah kandungku, Ibu? Aku ingin menggunakan nama marganya!”

“Sudahlah aku tidak mau bicara tentang dia. Aku tak suka mengingatnya!” Suara wanita itu mulai terdengar ketus sehingga Eng Eng merasa heran sekali.

“Akan tetapi, kenapa, Ibu? Kalau pun ayah kandungku sudah mati, kenapa Ibu tak mau memberi tahukan namanya? Dan di manakah kuburannya? Aku ingin bersembahyang di depan kuburannya.”

“Cukup! Aku tidak sudi menyebut namanya. Aku juga sudah lupa namanya. Aku benci padanya!” Suara itu semakin galak.

Eng Eng terkejut dan semakin heran. “Tapi, dia sudah mati, Ibu…”

“Dia sudah mati atau masih hidup, tetap saja aku paling benci kepadanya. Sudah, kalau engkau bicara tentang dia lagi, aku akan marah sekali!”

Eng Eng tidak berani melanjutkan lagi. Dia sudah kehilangan ayahnya, atau orang yang selama ini dianggap ayahnya yang disayangnya dan ditaatinya, dan kini dia tidak ingin kehilangan ibunya pula. Pasti pernah terjadi sesuatu yang hebat, sesuatu yang sangat menyakitkan hati ibunya yang telah dilakukan ayah kandungnya sehingga ibunya begitu membencinya setengah mati. Kalau benar demikian, berarti ayah kandungnya juga telah melakukan sesuatu yang amat jahat.

Hatinya terasa perih dan nyeri sekali. Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri akan tetapi ternyata hanya ayah tiri itu seorang jahat, dan ayah kandungnya sendiri pun dahulunya orang jahat. Ketika ia terkenang kepada Pangeran Cia Sun, Eng Eng merasa jantungnya seperti ditusuk. Ia merasa rendah diri…..

********************

Dua orang pemuda itu berhasil meninggalkan Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Iblis) yang berada di bagian barat Kwi-san (Bukit Iblis), bahkan kini mereka mulai turun dari bukit itu. Setelah jauh, menjelang tengah hari, mereka lalu duduk beristirahat di bawah pohon besar di dalam sebuah hutan kecil yang sunyi.

Melihat betapa wajah Cia Sun agak murung, Yo Han lantas berkata, “Mengapa engkau kelihatan murung, Cia-te? Bukankah sepatutnya kita bersyukur karena sudah terhindar dari ancaman maut di sana?”

Pangeran itu memandang kakak angkatnya. “Yo-twako, aku takut. Aku khawatir sekali apa yang akan terjadi dengan Eng-moi. Aku amat mencintanya…”

Yo Han tersenyum. “Engkau aneh sekali, Cia-te. Ketika engkau dan aku berada dalam tahanan dan dalam keadaan tidak berdaya, setiap saat dapat saja kita dibunuh, engkau sama sekali tidak merasa takut, bahkan selalu nampak gembira. Akan tetapi sekarang, setelah terbebas dari bahaya, engkau malah begitu takut.”

Cia Sun menghela napas panjang. “Biasanya aku tidak pernah takut, Yo-twako. Akan tetapi sekarang, aku gelisah sekali dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku dapat menghilangkan perasaan takut atau gelisah ini.”

“Tidak ada cara untuk menghilangkan takut, Cia-te. Takut adalah perasaan kita sendiri, dan yang ingin menghilangkan itu pun perasaan kita sendiri. Takut timbul karena ulah pikiran, dan keinginan menghilangkan juga ulah pikiran, Cia-te. Kalau kita tidur, pikiran kita tidak bekerja, maka takut pun tidak ada. Pikiran menimbulkan rasa takut, duka, dan sebagainya. Namun, kesadaran akan rasa takut itu sendiri, tanpa adanya usaha untuk melenyapkan, akan mendatangkan perubahan, mendatangkan kesadaran dan dengan sendirinya takut pun tidak nampak bekasnya.”

Apa yang dikatakan Yo Han bukanlah teori, melainkan pengalaman yang sudah dialami sendiri oleh pemuda itu.

Takut bersumber dari pikiran, dan pikiran bergelimang nafsu, membentuk aku. Keakuan inilah yang menjadi sumber segala perasaan. Aku terancam, pikiran membayangkan segala hal buruk yang dapat menimpa diriku, maka timbullah takut.

Aku yang mengaku-aku adalah pikiran bergelimang nafsu. Nafsu membuat kita selalu ingin senang, tidak mau susah. Maka, membayangkan kesusahan yang akan menimpa diri inilah yang kemudian menimbulkan rasa takut.

Takut adalah ulah pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi, membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa kita. Yang sehat takut sakit. Bila sudah datang sakit, bukan sakit lagi yang ditakuti, melainkan mati, lalu takut akan keadaan sesudah mati dan selanjutnya. Membayangkan hal-hal yang belum terjadi, itulah penyebab rasa takut. Kalau pikiran tidak membayangkan hal-hal yang belum terjadi, takut pun tidak ada.

Iblis menggoda kita manusia melalui nafsu-nafsu kita sendiri. Sebenarnya nafsu adalah anugerah Tuhan yang disertakan pada kita sejak kita lahir. Nafsu diikut sertakan untuk menjadi alat kita, menjadi budak kita yang membantu kita dalam kehidupan di dunia lain. Tuhan Maha Murah, Tuhan Maha Asih.

Dengan memiliki nafsu, kita bisa menikmati kehidupan di dunia ini melalui panca indera kita, melalui semua alat tubuh kita lahir batin. Iblis melihat ketergantungan kita kepada nafsu, mempergunakan nafsu untuk menyeret kita sehingga kita bukan lagi memperalat dan memperbudak nafsu, melainkan kita yang diperalat dan diperbudak. Dan jika sudah begitu, kita tidak berdaya, menjadi permainan nafsu yang akan menyeret kita ke dalam kesengsaraan, menjadi seperti kanak-kanak yang diberi makanan enak, tidak mengenal batas makan sebanyaknya untuk kemudian menderita sakit yang menyengsarakan.

Kalau sudah menderita akibat menuruti nafsu, barulah timbul penyesalan, dan alat lain dalam tubuh memprotes, akal sehat melihat betapa merugikan dan tidak menyenangkan akibat dari menuruti dorongan nafsu tadi. Akan tetapi, usaha menghentikan pengaruh nafsu itu tak akan berhasil, atau sukar sekali mendatangkan hasil.

Usaha itu datang dari hati akal pikiran pula, padahal hati akal pikiran sudah bergelimang nafsu. Bagaimana mungkin nafsu meniadakan nafsu, atau nafsu mengalahkan dirinya sendiri? Tidak mungkin! Bahkan akal pikiran yang sudah dipengaruhi nafsu daya rendah itu membela pekerjaan nafsu.

Contohnya banyak kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan dalam kehidupan kita ini. Adakah manusia yang tidak menyadari akan perbuatannya yang benar? Adakah seorang pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu buruk? Adakah seorang koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu jahat dan buruk? Semua tahu belaka!

Seperti contoh terdekat dan teringan, adakah seorang perokok atau pemabuk yang tidak tahu bahwa merokok atau bermabukan itu tidak baik? Tentu tidak ada! Setiap orang pasti tahu, akan tetapi apa daya? Pengetahuan ini tidak mampu menghentikan ikatan pengaruh nafsu.

Yang berjudi, walau tahu benar bahwa berjudi itu tidak baik, tidak mampu menghentikan kebiasaannya berjudi! Demikian pula halnya dengan perampok, pencuri, koruptor dan sebagainya! Kenapa begitu? Karena pengetahuan itu ada di pikiran, dan pikirannya pun sudah bergelimang nafsu. Bahkan hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela perbuatan-perbuatan itu.

Seorang pencuri dibela pikirannya sendiri bahwa ia mencuri karena terpaksa, karena tak ada pekerjaan, karena ia ingin menghidupi keluarga, dan sebagainya. Seorang koruptor dibela oleh pikirannya sendiri bahwa ia korupsi karena semua orang pun melakukannya, karena gajinya tak mencukupi, karena keluarganya ingin hidup mewah, dan seribu satu macam alasan lagi.

Jika semua usaha sudah gagal, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi pengaruh nafsu kita sendiri? Di dalam pertanyaan ini sudah terkandung jawabannya. Selama kita berusaha melakukan sesuatu, kita tak akan berhasil, karena yang berusaha menundukkan nafsu adalah nafsu itu sendiri. Bila kita sudah ingin menundukkan nafsu, kita hanya waspada mengamati gejolak nafsu kita, tanpa ada keinginan mengubahnya, maka baru akan terjadi perubahan!

Tanpa adanya si-aku yang berusaha, tanpa adanya si-aku alias nafsu melalui pikiran yang merajalela, nafsu menjadi bagaikan api yang tidak ditambah minyak. Kekuasaan Tuhan akan bekerja!

Dalam urusan kehidupan sehari-hari, mencari sandang, pangan, papan, hidup sebagai manusia yang berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tentu saja kita harus mempergunakan hati akal pikiran. Akan tetapi dalam urusan rohanian, alat-alat jasmani kita tidak berdaya. Hanya kekuasaan Tuhan yang mutlak berkuasa. Maka, kita hanya menyerah! Kekuasaan Tuhan yang akan mengembalikan nafsu- nafsu kita pada kedudukan asalnya, yaitu menjadi peserta dan alat kita, bukan sebaliknya kita yang diperalat…..

“Yo-twako, sebenarnya, apa sih yang kita cari di dunia ini? Mengapa dalam kehidupan ini selalu kita dipermainkan senang dan susah, puas dan kecewa? Bahkan apa yang menyenangkan pun menjadi membosankan. Kenyataan hidup terlalu sering berlawanan dengan apa yang kita idamkan dan harapkan. Sekelumit kesenangan segera diseling segunung kesusahan. Bukankah kita manusia ini seperti selalu mencari-cari? Apa yang kita cari? Kebahagiaan? Di mana dan apakah kebahagiaan itu? Pertanyaan ini selalu menggangguku dan sudah kutanyakan kepada banyak sekali orang-orang pandai, tetapi tak pernah aku memperoleh jawaban yang meyakinkan dan memuaskan.”

Yo Han tersenyum lebar. “Pertanyaanmu itu agaknya sudah menjadi pertanyaan dunia sepanjang masa, pertanyaan seluruh manusia di permukaan bumi ini, Cia-te. Kita selalu mencari-cari kebahagiaan, mengejar-ngejar kebahagiaan, akan tetapi tak pernah dapat menemukannya. Kalau ada kalanya merasa menemukan, ternyata dalam waktu singkat yang kita tadinya anggap sebagai kebahagiaan itu berubah menjadi kesengsaraan. Kita mengejar dan mencari terus selama kita hidup.”

“Akan tetapi, adakah orang yang betul-betul telah menemukan kebahagiaan itu, Twako? Dan dimanakah sebenarnya kebahagiaan itu?”

“Cia-te. Marilah kita selidiki bersama. Mungkinkah kita mencari sesuatu yang tidak kita kenal?” “Tentu saja mustahil!” jawab sang pangeran tanpa ragu.
“Tepat. Karena itu, sebelum kita bertanya di mana adanya kebahagiaan yang kita cari, lebih dulu aku hendak bertanya, apakah kebahagiaan itu, Cia-te?”

“Kebahagiaan! Tentu saja kebahagiaan ialah suatu perasaan, yaitu perasaan bahagia!”

“Kalau begitu pertanyaan yang menyusul, apakah engkau pernah mengalami perasaan bahagia itu, Cia- te?”

Pangeran Cia Sun tertegun dan mengingat-ingat, lalu mengangguk-angguk. “Rasanya pernah dan sering malah. Kalau aku merasa bebas dari kepusingan apa pun, merasa bebas dan lega, seperti ketika aku berada seorang diri di tepi laut yang sunyi, seperti kalau aku berada di puncak gunung yang sunyi pada suatu senja memandang matahari tenggelam, seolah-olah aku melayang di antara sinar senja, ketika aku saling tatap dan bercakap-cakap dengan Eng-moi, yah, sering kali aku merasakan itu dan mungkin aku selalu mencari-cari saat atau detik-detik seperti itu…”

“Nah, itulah, Cia-te! Sekali saat kita merasa berbahagia seperti yang kau alami itu. Akan tetapi nafsu menguasai hati akal pikiran. Karena nafsu selalu mengejar keenakan serta kesenangan, maka nafsu di hati akal pikiran membuat kita lantas ingin mengabadikan perasaan bahagia di saat itu! Kita ingin memilikinya!

Dan kita terseret oleh nafsu, yaitu menjadikan saat indah dan suci itu menjadi semacam kesenangan. Jadi, yang kita cari selama ini, yang dicari-cari oleh setiap manusia di dunia ini, hanyalah kesenangan yang mengenakan topeng kebahagiaan. Yang bisa dikejar hanya kesenangan, Cia-te. Mudah saja mengejar kesenangan yang sebenarnya makanan nafsu itu, melalui mata, hidung, telinga, mulut, kulit serta anggota badan luar dan dalam lainnya. Kesenangan timbul dari kenangan, dari pengalaman, yang diulang-ulang, karenanya mati dan selalu disusul oleh kebosanan. Kebahagiaan sudah ada dan selalu ada. Hidup bagaikan awan berarak di angkasa, bagaikan gelombang di samudera, tak dapat ditangkap dan dimiliki, tak dapat diulang-ulang, dirasakan saat demi saat tanpa bayangan kenangan masa lalu.”

Pangeran Cia Sun tertawa dan memegangi kepala dengan kedua tangannya. “Aduh, kepalaku yang pening, Twako. Jika begitu, menurut Twako apakah amat tidak baik bila dalam hidup ini kita bersenang- senang?”

Yo Han tertawa pula. “Wah, bukan begitu, Cia-te! Menikmati keenakan dan kesenangan dalam hidup merupakan anugerah yang sudah sepatutnya kita nikmati. Manusia berhak menikmati kenikmatan dan kesenangan melalui panca-indra. Akan tetapi, diperhamba nafsu lain lagi akibatnya. Kita lalu menjadi hamba, setiap saat hanya mengejar-ngejar dan mencari-cari kesenangan dengan melupakan segala macam cara. Di sini perlunya kita mempergunakan alat kita yang lainnya, yaitu akal budi untuk mempertimbangkan, kesenangan macam apa yang baik dan tidak baik, yang sehat dan tidak sehat. Engkau tentu mengerti apa yang kumaksudkan.”

Pangeran itu mengangguk-angguk. “Sekarang, bagaimana baiknya, Twako? Sebetulnya aku ingin sekali memperisteri Eng-moi, akan tetapi jelas bahwa ayahnya pasti tidak akan menyetujuinya. Ia anti pemerintah, anti Mancu, sedangkan aku justru seorang pangeran Mancu.”

“Memang keadaan kalian itu sulit sekali, Cia-te. Akan tetapi, aku tetap yakin bahwa lahir, jodoh dan mati ditentukan dan sudah diatur oleh kekuasaan Tuhan. Maka, bersabarlah dan sebaiknya sekarang engkau kembali dulu karena dipanggil keluargamu. Sebaiknya kalau kau ceritakan persoalanmu ini kepada orang tuamu. Mungkin mereka akan dapat menemukan jalan sehingga akhirnya engkau akan dapat berjodoh dengan kekasihmu itu.”

Pangeran itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih. “Agaknya mustahil jika ayah mengijinkan aku menikah dengan Eng-moi, kalau ia mengetahui bahwa Eng-moi adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang menentang pemerintah.”

“Kalau begitu, lebih sulit lagi. Tapi percayalah, Cia-te, betapa pun sulit dan mustahilnya suatu urusan bagi kita manusia, kalau Tuhan menghendaki, segala kesulitan itu akan terlampaui dan perkara ini dapat diatasi dengan segala ikhtiarmu, dengan penyerahan diri kepada kekuasaanNya.”

“Dan sekarang, engkau sendiri hendak ke mana, Twako? Aku akan kembali ke kota raja. Maukah engkau ikut denganku ke sana? Akan kuperkenalkan kepada ayah ibuku.”

Diam-diam Yo Han merasa ngeri. Ikut ke sana dan bertemu dengan Sian Li? Ahh, tidak! Dia tidak ingin membuat adik angkatnya ini menjadi terganggu apa bila tahu bahwa dia mempunyai hubungan dekat sekali dengan gadis tunangannya itu. Juga dia tidak mau membuat Sian Li menjadi rikuh. Di samping itu, dia pun tidak ingin menyiksa diri sendiri bila menyaksikan pertunangan antara adik angkatnya dengan gadis yang dicintanya.

“Terima kasih, Cia-te. Akan tetapi, aku harus melanjutkan pelaksanaan tugasku, yaitu mencari puteri bibi guruku yang hilang sejak kecil itu.”

“Pekerjaan yang teramat sukar, Twako. Bagaimana mungkin mencari seseorang yang belum pernah kau kenal sama sekali? Apa lagi dia hilang ketika berusia tiga tahun dan jarak waktunya sudah dua puluh tahun. Ia sendiri mungkin tidak ingat lagi akan keadaan dirinya ketika berusia tiga tahun.”

“Kalau saja aku dibimbing dalam kekuasaan Tuhan, tidak ada perkara yang sulit, Cia-te. Engkau tentu ingat kata-kataku tadi. Aku tidak akan putus asa dan akan terus mencari. Setidaknya, aku mengetahui tanda pada tubuhnya ketika ia lahir, yaitu di pundak kirinya dan di kaki kanannya.”

Pangeran itu tertawa geli. “Ha-ha-ha-ha, sekarang mengertilah aku mengapa gadis yang mengirim surat Eng-moi kepadaku melalui jarum yang disambitkan padamu itu memaki-makimu! Kiranya engkau pernah menyangka gadis itu sebagai gadis yang kau cari dan engkau tentu membuka bajunya untuk melihat pundaknya, juga membuka sepatunya untuk melihat kakinya. Pantas ia marah-marah!” Pangeran itu tertawa geli dan Yo Han juga ikut tertawa dengan muka kemerahan.

“Apa lagi ketika engkau menjawabnya dengan sikap kasar, aku sempat terheran-heran melihat sikapmu, Twako. Ehhh, kiranya engkau bersandiwara dan tahu bahwa gadis itu tentu mempunyai maksud tertentu. Nyatanya ia menyambitmu dengan jarum yang ada surat Eng-moi sehingga kita dapat siap melaksanakan sandiwara ketika Eng-moi datang membebaskan kita.”

“Memang dialah gadis yang disuruh Siangkoan Kok untuk menjebakku. Baru kemudian kuketahui bahwa dia adalah murid terbaik dari ketua Pao-beng-pai itu. Nah, sekarang sebaiknya kita saling berpisah di sini, Cia-te. Percayalah, jika engkau memang berjodoh dengan nona Siangkoan Eng, kelak engkau pasti dapat menjadi suaminya. Dan kalau tugasku selesai, kelak pada suatu hari aku pasti akan mengunjungimu di kota raja.”

Dua orang pemuda itu bangkit dan setelah saling memberi hormat dan saling rangkul, mereka lalu mengambil jalan masing-masing. Pangeran Cia Sun kembali ke kota raja sedangkan Yo Han mengambil jalan yang belum dia ketahui menuju ke mana karena dia pun tidak tahu ke mana harus mencari Sim Hui Eng.

Ia akan melanjutkan ikhtiarnya itu dengan menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw, terutama para golongan sesat untuk menyelidiki siapa pelaku penculikan atas diri puteri bibi gurunya itu…..

********************

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun. Tubuhnya sedang namun tegap. Dadanya bidang dan kekar dengan otot-otot menggelembung sehingga nampak jantan dan gagah. Wajahnya juga tampan dan bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bentuk yang manis, dengan dagu yang kokoh dan mata mencorong seperti bintang. Pakaiannya sederhana bentuknya, namun bersih, dan rambutnya pun tersisir rapi.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Apa lagi pada pagi hari itu, dia berlatih silat seorang diri di bawah pohon besar itu dengan gerakan yang perkasa, cepat tangkas dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga daun-daun pohon itu bergoyang-goyang seperti dilanda angin.

Makin lama gerakan pemuda itu makin cepat. Tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya, tangannya bergerak memukul ke arah sebatang pohon sebesar paha orang. Tangan itu tidak sampai menyentuh batang pohon, masih ada satu setengah meter jaraknya, tetapi kemudian terdengar suara…..

“Kraaakkk!” dan batang pohon itu pun patah dan tumbang!

Sekarang mulut pemuda itu tertarik dan menyeringai aneh, dan pada saat itu, nampak berkelebat seekor burung yang terkejut mendengar robohnya pohon kecil itu. Burung itu terbang ke dekat pohon besar, dan pemuda itu mendadak saja meloncat ke atas serta tangannya bergerak ke arah burung.

Dan sebagai akibatnya, burung itu tiba-tiba terjatuh seperti sebuah batu dan disambar oleh tangan pemuda itu yang juga melayang turun. Sambil membuang bangkai burung itu, dia menengadah, kemudian wajah yang tampan itu menyerigai, dan dia pun tertawa bergelak seperti kesetanan!

Lalu dia berjongkok, memeriksa bangkai burung yang seluruh tubuhnya sudah menjadi hitam, keracunan. Kembali dia tertawa, akan tetapi tawa ini aneh karena berhenti secara tiba-tiba seperti tercekik. Dia lalu memandang ke sekeliling, seolah-olah takut kalau ada yang melihat atau mendengarnya, kemudian dia pun meloncat dan menyelinap ke balik semak belukar dan tahu-tahu tubuhnya lenyap.

Kalau ada orang yang melihat dan mencarinya, menyingkap semak belukar, orang itu tentu akan melihat adanya sebuah sumur yang amat dalam di balik semak belukar itu. Sumur yang tua dan kalau dilihat dari atas, tidak nampak dasarnya, saking dalam dan gelapnya.

Dapatlah dibayangkan betapa besar bahayanya kalau orang berani menuruni sumur itu, dengan tangga atau tali sekali pun, karena dia tidak tahu apa yang berada di dasar sumur. Mungkin gas beracun, atau ular berbisa.

Orang itu tentu akan bertambah heran dan kagum kalau melihat betapa pemuda tadi memasuki sumur dengan cara merayap melalui dinding sumur. Gerakannya cepat bagai seekor cicak saja yang merayap menuruni dinding! Dan kini, pemuda itu sudah berada di ruangan bawah tanah yang mendapat sinar matahari dari celah-celah batu retak di atas.

Pemuda itu tertawa-tawa seorang diri, menghadapi sebuah dinding yang penuh dengan coret-coretan huruf dengan gambar-gambar yang sebagian sudah terhapus.

“Ha-ha-ha-ha, susiok-kong (kakek paman guru) Ciu Lam Hok yang buntung tangan dan kakinya itu mencoba untuk melenyapkan Bu-kek Hoat-keng! Ha-ha-ha, arwahnya tentu sekarang akan cemberut kalau melihat betapa usahanya itu tidak sempurna, dan bahwa ilmu Bu-kek Hoat-keng akhirnya dapat dimiliki orang yang paling berhak, yaitu aku, Ouw Seng Bu, ha-ha-ha!”

Seperti orang sinting pemuda itu tertawa-tawa dan sekarang dia menggunakan kedua tangannya menggaruk-garuk ke permukaan dinding batu. Sungguh hebat bukan main. Gerakan jari-jari tangannya itu membuat dinding batu ini lantas rontok bagaikan tepung saja, seolah-olah dinding batu itu hanya merupakan tanah yang lunak. Sebentar saja, terhapuslah sudah semua huruf dan gambar yang tercoret di dinding itu.

Siapakah pemuda itu? Ia merupakan seorang tokoh muda dari Thian-li-pang dan seperti kata-katanya tadi, ia bernama Ouw Seng Bu. Belasan tahun yang lalu, ketika dia sendiri masih seorang anak laki-laki kecil berusia delapan atau sembilan tahun, Thian-li-pang, perkumpulan orang-orang gagah anti penjajah Mancu itu dipimpin oleh mendiang Ouw Ban sebagai ketuanya.

Ouw Ban mempunyai dua orang putera. Yang pertama adalah Ouw Cun Ki yang dahulu diselundupkan ke istana untuk membunuh kaisar Mancu, akan tetapi dia tertawan dan dihukum mati. Yang ke dua adalah Ouw Seng Bu yang ketika peristiwa itu terjadi, masih kecil.

Kemudian terjadilah perpecahan di kalangan para pimpinan Thian-li-pang sehingga Ouw Ban tewas di tangan guru-gurunya sendiri, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong. Kemudian muncul Yo Han yang secara kebetulan mewarisi ilmu kepandaian kakek yang buntung kaki tangannya di dalam sumur rahasia, yaitu mendiang kakek Ciu Lam Hok, sute dari Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memiliki ilmu kesaktian hebat. (baca kisah Si Bangau Merah)

Munculnya Yo Han akhirnya membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh-pengaruh sesat dan jahat partai- partai lain seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan kehadiran Yo Han menyebabkan pimpinan Thian-li- pang beralih kepada Lauw Kang Hui sebagai ketuanya.

Lauw Kang Hui telah sadar dan membawa kembali Thian-li-pang ke jalan lurus, sebagai perkumpulan orang gagah yang menentang penjajah Mancu. Juga dia merasa iba pada Ouw Seng Bu, putera suheng- nya dan mengajarkan ilmu silat kepada keponakannya itu.

Ouw Seng Bu berlatih dengan rajin. Di depan paman guru yang kini menjadi gurunya dan di depan para tokoh Thian-li-pang, ia selalu memperlihatkan sikap sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan pendiam. Namun, pemuda ini tidak pernah melupakan pesan mendiang ayahnya dahulu ketika dia masih kecil bahwa sekali waktu, dia harus berani memasuki serta menyelidiki sumur di bawah tanah, mencari peninggalan kakek paman gurunya yang sakti.

Demikianlah, setelah ia memiliki ilmu kepandaian dan cukup gagah, dalam usia delapan belas tahun, dia nekat mencari dan menemukan sumur di balik semak belukar itu dan nekat memasukinya dengan tali yang panjang. Setelah mencari-cari dan membongkar-bongkar batu besar di dalam goa dan terowongan di bawah tanah, akhirnya dia berhasil menemukan dinding penuh coretan dan gambaran itu yang tadinya tertutup batu besar.

Agaknya kakek Ciu Lam Hok dahulu pernah membuat coretan dan gambaran di dinding itu, kemudian menghapus sebagian dan menutupi dinding dengan batu besar. Dia pun tahu bahwa itulah ilmu Bu-kek Hoat-keng yang merupakan ilmu rahasia kakek buntung itu, maka dengan penuh ketekunan dia mulai mempelajari ilmu itu secara rahasia.

Selama lima tahun dia rajin belajar tanpa mengetahui bahwa karena ilmu yang aneh itu tidak lengkap, maka ia pun menyimpang dari jalur yang semestinya. Tanpa disadarinya, dia telah melakukan latihan yang salah, bahkan kadang-kadang berlawanan. Berkali-kali dia jatuh pingsan karena salah mengerahkan tenaga sinkang.

Akan tetapi, setelah lima tahun belajar dengan tekun dan rahasia, tanpa diketahui siapa pun juga, akhirnya dia berhasil menguasai ilmu yang aneh dan dahsyat bukan main. Tanpa disadarinya, penyelewengan cara latihan yang salah itu juga telah mendatangkan perubahan pada dasar wataknya, pusat susunan syarafnya.

Dia memang masih nampak pendiam dan lembut, jujur dan baik di depan para pimpinan Thian-li-pang. Akan tetapi pada saat-saat tertentu, bila dia sedang berada seorang diri, terutama sekali sehabis dia berlatih ilmu silat Bu-kek Hoat-keng yang tidak lengkap itu, dia lalu menjadi seperti kesetanan, seperti sinting, tertawa-tawa sendiri, kadang-kadang menangis sendiri, dan pandang matanya yang biasanya lembut dan jujur itu mencorong penuh kecerdikan!

Juga latihan yang salah itu membuat dia berhasil menguasai pukulan yang mengandung hawa beracun yang dapat membuat semua yang dipukulnya menjadi tewas dengan tubuh menghitam seperti menjadi hangus! Hal ini diketahuinya ketika beberapa kali dia menguji kecepatannya, membunuh burung atau binatang lain yang ditemuinya. Dengan sekali pukul, binatang itu akan tewas dengan tubuh hangus!

Pagi hari itu ia merasa telah menamatkan ilmunya. Maka, ia menghapus semua coretan di dinding itu dengan jari-jari tangannya yang memiliki kekuatan demikian dahsyatnya sehingga sekali garuk saja permukaan dinding itu rontok dan semua coretan lenyap.

Setelah merasa puas karena di situ tidak terdapat apa pun juga yang dapat dipelajari orang lain, Ouw Seng Bu lalu merayap keluar dari dalam terowongan goa bawah tanah melalui sumur, dan menutupkan kembali sumur itu dengan semak belukar. Kemudian dia pun berjalan dengan santai kembali ke markas Thian-li- pang yang berada di dekat puncak Bukit Naga.

Matahari sudah mulai meninggi dan cuaca cerah sekali. Wajah pemuda itu kini kembali menjadi lembut dan senyumnya ramah gembira, jauh berbeda dengan ketika dia berlatih silat dan di dalam tanah tadi. Dia kini menjadi seorang pemuda yang nampak ramah dan murah senyum, pendiam dan lembut menyenangkan!

Ketua Thian-li-pang yang bernama Lauw Kang Hui ini telah tua sekali, usianya sudah tujuh puluh tiga tahun. Meski pun dia masih nampak tinggi besar dengan muka merah, gagah dan berwibawa, namun bagaimana pun juga, usia tua membuat semangatnya banyak menurun.

Saat itu diam-diam Lauw Kang Hui tengah melihat-lihat siapa kiranya yang pantas untuk dijadikan penggantinya. Dia sendiri tidak memiliki keturunan, dan di antara para anggota Thian-li-pang dan murid- muridnya, hanya ada dua orang muridnya yang agaknya cukup dapat dipercaya.

Yang pertama adalah murid wanita yang sudah berusia empat puluh tahun, berwajah buruk dan berwatak kasar namun setia kepada Thian-li-pang, bernama Lu Sek. Wanita ini sudah menjadi janda dan tak mempunyai anak. Suaminya tewas dalam pertempuran membela Thian-li-pang.

Bahkan, menurut penilaian Lauw Kang Hui, di antara para muridnya, Lu Sek inilah yang paling lihai, mempunyai tingkat yang paling tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan apa yang dicapai oleh Ouw Seng Bu, yaitu murid ke dua yang dipercayanya dan dianggap merupakan calon penggantinya. Ia masih bimbang, apakah ia harus menunjuk Lu Sek ataukah Ouw Seng Bu untuk menjadi penggantinya, menjadi ketua Thian-li-pang.

Meski pun seorang wanita, Lu Sek sangat berwibawa dan penuh semangat. Juga janda itu memiliki hubungan dekat dengan Lauw Kin, duda yang berusia lima puluh tahun dan tidak mempunyai anak pula. Lauw Kin masih keponakan Lauw Kang Hui sendiri, putera tunggal adiknya yang mati muda.

Hati ketua itu lebih condong memilih Lu Sek untuk menjadi calon penggantinya. Ilmu silatnya paling tinggi di antara semua murid Thian-li-pang, apa lagi kalau dibantu Lauw Kin yang mungkin sekali menjadi suaminya. Selain itu, hatinya sedikit tidak enak kalau mencalonkan Ouw Seng Bu. Bagaimana pun juga, Seng Bu adalah putera mendiang suheng-nya, Ouw Ban yang dahulu pernah menjadi ketua Thian-li-pang, dan yang telah menyelewengkan Thian-li-pang ke jalan sesat.

Lauw Pangcu (Ketua Lauw) telah sarapan pagi dan duduk di ruangan depan ketika dia melihat Seng Bu melangkah masuk dari luar. Kebetulan sekali, pikirnya. Dia harus lebih dahulu memberi tahu muridnya itu agar kalau pada suatu hari dia mengambil keputusan, muridnya ini tidak merasa kecewa.

Beberapa kali dalam sikap muridnya itu ia melihat tanda bahwa Seng Bu mengharapkan kelak akan bisa menjadi ketua Thian-li-pang. Bahkan para tokoh Thian-li-pang sebagian besar juga menyangka bahwa pemuda yang pandai membawa diri ini pantas menjadi calon penggantinya.

Kalau saja di situ terdapat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tentu tidak sukar baginya untuk mengambil keputusan berdasarkan petunjuk pendekar muda yang sakti itu. Tapi sudah lima tahun lebih Yo Han yang dianggap menjadi pemimpin besar atau penasehat Thian-li-pang tak pernah terdengar beritanya. Kini ia harus mengambil keputusan sendiri dan dia harus dapat bersikap bijaksana demi keutuhan para tokoh di Thian-li-pang. Dia berteriak memanggil nama muridnya itu.

Seng Bu cepat memasuki ruangan di mana gurunya duduk seorang diri, dan dia lalu memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi.

“Duduklah di sini, Seng Bu,” kata ketua yang sudah berusia lanjut itu sambil menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya, sebelum muridnya itu berlutut.

“Terima kasih, Suhu,” berkata Seng Bu yang merasa heran.

Dia tahu bahwa tentu ada urusan penting maka suhu-nya mempersilakannya duduk di kursi, tidak membiarkan dia berlutut seperti biasa. Dia duduk dan menundukkan muka dengan sikap siap mendengarkan dan mentaati semua perintah gurunya.

“Seng Bu, apakah engkau sudah sarapan pagi dan dari mana engkau sepagi ini sudah berkeringat?”

“Teecu baru saja berlatih silat, Suhu, nanti setelah mandi teecu akan sarapan di dapur,” jawab Seng Bu dengan sikap hormat.

“Bagus, engkau memang rajin. Kalau engkau mencontoh suci-mu Lu Sek rajinnya dalam berlatih silat, kurasa engkau akan mampu mencapai tingkatnya.”

“Teecu tidak berani, Suhu. Tidak mungkin mengejar Lu-suci yang amat lihai.”

Lauw Kang Hui tersenyum. Muridnya ini selalu bersikap rendah hati dan sopan, selalu menyenangkan hati orang lain. “Seng Bu, apakah dua ilmu simpananku yang terakhir aku ajarkan padamu, sudah dapat kau kuasai dengan baik?”

“Suhu maksudkan Tok-jiauw-kang (Cengkeraman Beracun) serta Kiam-ciang (Tangan Pedang)? Setiap hari teecu sudah berlatih diri dengan tekun dan mohon petunjuk Suhu.”

Lauw Kang Hui menghela napas panjang. “Aku sudah terlalu tua untuk dapat berlatih dengan kedua ilmu itu denganmu, Seng Bu. Sebaiknya engkau minta kepada Lu Sek untuk latihan bersama agar engkau dapat memperoleh banyak kemajuan.”

“Baik, Suhu. Teecu (murid) akan mohon bantuan Lu-suci.”

“Aku ingin sekali lagi mengingatkanmu, Seng Bu. Hanya kepada Lu Sek dan engkau dua orang sajalah aku mengajarkan dua ilmu simpananku itu. Oleh karena itu, jangan dilupakan bahwa dua macam ilmu itu adalah ilmu yang amat berbahaya dan mematikan lawan. Kalau engkau tidak terancam maut atau pun terpaksa sekali, janganlah engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk menyerang lawan. Mengerti?”

“Teecu mengerti, Suhu.”

Lauw Kang Hui menghela napas panjang. “Sampai sekarang kalau teringat aku masih merasa menyesal bukan main karena dahulu aku pernah mempergunakan kedua ilmu itu secara sembarangan sehingga menjatuhkan banyak korban yang tidak semestinya kubunuh. Sekarang aku menghendaki agar seluruh murid Thian-li-pang, selain menjadi patriot-patriot yang menentang penjajah Mancu, juga menjadi pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, dan tidak mempergunakan ilmu untuk memaksakan kehendak dan berbuat kejahatan.”

“Teecu mengerti.”

“Ingat, kalau sampai terjadi penyelewengan oleh siapa pun juga, andai kata aku yang sudah tua tidak mampu lagi menghukum, kelak kalau Sin-ciang Taihiap Yo Han datang berkunjung, dia tentu akan turun tangan dan menindak mereka yang berani melakukan penyelewengan.”

“Teecu mengerti, Suhu.” Seng Bu menunduk menyembunyikan senyum mengejek yang mendesak keluar ke mulutnya. Lalu dia bersikap biasa dan hormat kembali, mengangkat mukanya yang jujur dan bertanya kepada suhu-nya, “Suhu, apakah Sin-ciang Taihiap itu luar biasa lihainya? Apakah Suhu sendiri tidak akan mampu menandinginya?”

Lauw Kang Hui tersenyum.

“Ha-ha-ha, Seng Bu, jangan samakan aku dengan dia! Bahkan dua orang kakek gurumu sekali pun, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, tidak akan mampu menandingi Pendekar Tangan Sakti Yo Han.”

“Luar biasa sekali! Bukankah usia Sin-ciang Taihiap masih sangat muda, Suhu? Hanya beberapa tahun lebih tua dari teecu? Teecu masih ingat ketika masih kanak-kanak, dia tidak banyak lebih tua dari teecu.”

“Benar, dia hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Akan tetapi, dia telah mewarisi ilmu yang mukjijat dari kakek paman gurumu, mendiang supek Ciu Lam Hok di sumur bawah tanah.”

“Maaf, Suhu. Teecu mendengar bahwa kakek itu buntung kaki dan tangannya. Dalam keadaan seperti itu, ilmu silat macam bagaimanakah yang dapat beliau ajarkan kepada Sin-ciang Taihiap?”

Lauw Kang Hui menghela napas panjang. “Ilmu yang mukjijat, ilmu yang luar biasa dan tidak ada keduanya di dunia ini. Ilmu itu disebut Bu-kek Hoat-keng dan hanya Sin-ciang Taihiap seorang saja yang menguasainya. Sukar dicari tandingannya.”

“Suhu maksudkan bahwa kalau memiliki ilmu Bu-kek Hoat-keng itu, orang akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan?”

Lauw Kang Hui mengangguk-angguk. “Mungkin saja. Namun, Yo Han Taihiap bukanlah orang semacam itu. Tidak, dia tidak mau menonjolkan diri, bahkan untuk menjadi ketua Thian-li-pang saja dia menolaknya. Karena dia maka Thian-li-pang harus menjaga diri menjadi perkumpulan yang gagah dan menegakkan kebenaran dan keadilan.”

“Teecu sudah mengerti, Suhu. Bolehkah teecu mengundurkan diri sekarang untuk pergi mandi?” “Nanti dulu, ada satu hal lagi ingin kubicarakan denganmu, Seng Bu.”
“Urusan apakah itu, Suhu? Teecu siap mendengarkan.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo