October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 5

 

Nah, mulai tersembul sedikit setan itu, pikir Yo Han. Kita yang akan memetik buahnya, menikmati hasilnya! Jadi, apa yang dinamakan perjuangan itu hanya merupakan suatu cara untuk dapat mendatangkan atau menghasilkan buah yang nantinya bisa dinikmati! Dia menahan diri untuk tidak mengucapkan suara hatinya yang ingin membantah dan mencela.

“Pangcu (Ketua)…”

“Aihh, sesudah kita bergaul begini akrab sebagai kawan seperjuangan, engkau tak perlu lagi menggunakan sebutan yang asing itu. Sebut saja paman kepadaku, Yo Han!”

Hemmm, orang ini memang pandai mempergunakan orang lain, pandai memanfaatkan tenaga orang lain dengan sikap yang amat menyenangkan.

“Terima kasih, Paman Siangkoan Kok. Pengangkatan ketua di Thian-li-pang sendiri aku tolak. Bukan karena aku tidak suka kedudukan, melainkan karena aku ingin bebas agar aku dapat melakukan balas dendam untuk kematian ayah ibuku. Mereka tewas karena dijerumuskan oleh Setan Cilik (Siauw Kwi) Can Bi Lan! Sebaiknya aku dalam keadaan bebas dan tidak terikat dalam usahaku membalas dendam ini. Dan setelah aku berhasil membunuh Can Bi Lan beserta suaminya, mungkin saat itu barulah aku akan memimpin Thian-li-pang dan aku akan bekerja sama denganmu.”

Siangkoan Kok mengangguk-angguk, lalu dua matanya menatap tajam wajah pemuda itu. “Yo Han, demikian besarkah kebencianmu terhadap Can Bi Lan dan Sim Houw?”

Yo Han balas memandang, memperlihatkan rasa heran dan alisnya berkerut. “Paman, kenapa Paman masih bertanya lagi? Kalau tidak karena ulah Can Bi Lan dan suaminya, dan seluruh anggota keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga, tentu sampai sekarang ibuku masih menjadi seorang tokoh kang-ouw yang disegani! Hemmm, kalau saja aku bisa mendapatkan seorang teman yang dapat dipercaya dan yang mempunyai ilmu kepandaian yang bisa diandalkan, ingin sekali aku mengajaknya untuk mendatangi suami isteri itu dan membunuh mereka!”

Ketua Pao-beng-pai itu tersenyum. “Heh-heh-heh, Yo Han, alangkah mudahnya engkau bicara! Mungkin kalau hanya Can Bi Lan atau Siauw Kwi, aku atau engkau akan mampu menandinginya bahkan mengalahkannya. Akan tetapi Sim Houw? Dia adalah Pendekar Suling Naga, dengan suling pedangnya yang terkenal di seluruh dunia dan sukar dicari bandingnya! Sungguh berbahaya sekali menghadapinya!”

“Aku tidak takut, Paman. Sudah pernah aku berusaha menyerbu mereka, akan tetapi aku seorang diri tidak mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi, kalau saja aku dapat bertemu dengan seseorang yang kucari- cari dan sampai sekarang sayang sekali belum kutemukan, bersama dia rasanya sanggup aku membasmi keluarga Sim itu!” kata Yo Han penuh semangat.

“Hemmm, siapakah orang itu, Yo Han?”

“Namanya aku tidak tahu, Paman, bahkan aku juga tidak tahu apakah dia pria ataukah wanita. Yang kuketahui adalah bahwa dia pada dua puluh tahun yang lalu telah berhasil menculik puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan itu! Apakah Paman mengetahui siapa penculik itu?”

“Hemmm, apakah engkau datang ke sini sengaja hendak mencari penculik itu?”

“Memang telah lama sekali aku mencarinya, Paman. Aku mengunjungi pertemuan yang Paman adakan untuk mencari tahu tentang penculik itu, dan juga untuk mencari teman sehaluan.”

“Kenapa engkau mencari penculik itu?”

“Karena, kalau dia sudah berani menculik puteri suami isteri itu, berarti dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan juga sangat membenci mereka. Nah, dengan orang seperti itu, kalau aku dapat mengajaknya, kiranya aku akan mampu untuk membalas dendam. Apakah Paman mengetahui siapa orangnya dan di mana aku dapat bertemu dan bicara dengannya?”

Yo Han sengaja menahan diri dan tidak bertanya tentang anak yang diculik, seolah dia tidak peduli dan tidak tertarik tentang anak itu. Yang diperlukan adalah si penculik untuk diajak kerja sama!

Ketua Pao-beng-pai menggeleng kepalanya. “Tentang penculikan itu pun baru sekarang aku mendengar darimu, Yo Han. Bahkan aku pribadi tidak pernah mempunyai urusan langsung dengan Sim Houw dan Can Bi Lan.”

Yo Han mengerutkan alisnya, kecewa. “Kalau Paman tidak tahu, aku akan segera pergi dari sini untuk bertanya kepada tokoh-tokoh kang-ouw lainnya…”

“Nanti dulu, Yo Han. Kau bilang bahwa jika engkau sudah berhasil menemukan penculik itu dan kau ajak dia menyerang musuh-musuhmu, engkau akan memimpin Thian-li-pang dan bekerja sama dengan kami?

Jika memang benar demikian, mungkin saja aku dapat membantumu. Anak buahku banyak, dan kami memiliki hubungan baik dengan dunia kang-ouw. Kalau kusebar mereka untuk melakukan penyelidikan, kiraku dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menemukan siapa penculik itu.”

“Terima kasih, Paman! Sebetulnya aku pun sudah mempunyai pikiran seperti itu, tetapi mana berani aku membikin repot Paman? Kalau Paman suka membantuku, sungguh aku merasa berterima kasih sekali dan aku pasti akan membalas budi itu dengan kerja sama!”

“Baiklah, aku akan membantumu. Sekarang juga akan kuperintahkan para anak buah Pao-beng-pai untuk mencari keterangan dan menyelidiki siapa adanya orang yang telah menculik anak dari Pendekar Suling Naga. Engkau tunggu saja dan tinggal di sini untuk beberapa hari lagi sampai kita mendapatkan hasilnya. Nah, mari kita minum, Yo Han!”

Mereka kemudian minum arak, dan tak lama kemudian Siangkoan Kok memanggil para pembantunya. Dia memerintahkan mereka menyebar anak buah untuk mencari berita tentang penculik anak Pendekar Suling Naga.

Sementara itu, pada senja hari itu juga, di dalam taman yang luas dari perkampungan Pao-beng-pai, nampak Siangkoan Eng berjalan-jalan bersama Cia Ceng Sun. Tidak ada seorang pun anggota Pao-beng- pai berani mengganggu atau mendekati kedua orang muda yang berjalan-jalan di taman sambil bercakap- cakap dan nampak akrab sekali itu. Memang kedua orang muda ini saling tertarik dan saling mengagumi.

Siangkoan Eng adalah seorang gadis yang hidup di tengah keluarga kang-ouw. Biar pun ayahnya seorang bekas bangsawan dan tetap berusaha sekuatnya untuk hidup seperti seorang bangsawan, namun karena lingkungannya adalah orang-orang kang-ouw yang menjadi anak buah ayahnya, maka dia sudah terbiasa hidup bebas tanpa ikatan segala macam peraturan.

Maka, sekarang dia dapat bergaul dengan Cia Ceng Sun dengan bebas tanpa rikuh dan sungkan. Bahkan ayah dan ibunya juga membiarkannya saja karena kedua orang tua ini tak keberatan kalau puteri mereka bergaul dengan seorang pemuda yang demikian baik seperti Cia Ceng Sun.

Setelah tiba di dekat kolam ikan yang indah, mereka lalu duduk di atas bangku panjang. Tempat itu memang sangat indah dan romantis. Bunga-bunga beraneka warna mekar semerbak. Di sana-sini telah dinyalakan lampu-lampu gantung beraneka warna pula dan pada pohon dekat kolam itu tergantung dua buah lampu berwarna kemerahan sehingga dalam keremangan senja, kedua orang muda-mudi itu nampak seperti diselimuti cahaya kemerahan.

“Kongcu, sesudah engkau berada di sini selama dua hari dua malam ini, bagaimana pendapatmu tentang keluarga kami, perkumpulan kami dan tempat ini?” Siangkoan Eng yang oleh ayah ibunya disebut Eng Eng dan oleh semua anak buahnya disebut Siocia (Nona) itu bertanya sambil menatap wajah pemuda yang tampan itu.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bagaimana kalau engkau tidak menyebut aku kongcu (tuan muda) lagi? Terdengarnya begitu asing dan tak sepantasnya jika seorang gadis seperti engkau menyebut aku kongcu.”

Eng Eng tersenyum. “Hemmm, engkau sendiri menyebut aku siocia (nona), tentu saja aku menyebutmu kongcu. Habis, kalau tidak menyebut kongcu, harus menyebut bagai mana?”

“Sebut saja kakak, dan aku akan menyebutmu adik. Bagaimana pendapatmu?” “Tidakkah itu terbalik? Kurasa aku lebih tua darimu!”
“Tidak mungkin. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun!”

“Kalau begitu sama, aku pun dua puluh tiga tahun. Baiklah, mulai sekarang, aku akan menyebutmu toako (kakak), Sun-toako.”

“Dan aku akan menyebutmu Eng-moi (adik Eng).” “Sun-toako…”

“Eng-moi…” Keduanya saling pandang dan tertawa gembira.

“Nah, sekarang kita merasa seperti adik kakak, bukan? Eng-moi, kini aku tidak merasa sungkan lagi untuk menanyakan hal-hal yang lebih bersifat pribadi, dan harap kau tidak marah kepadaku.”

“Tanyalah, Toako.”

“Engkau seorang gadis yang cantik jelita, pandai dan gagah perkasa, puteri seorang ketua pula, dan usiamu sudah dua puluh tiga tahun. Akan tetapi kulihat engkau masih sendiri, belum berkeluarga sendiri. Kenapa, Eng-moi?”

Karena pandainya Cia Ceng Sun mengatur pertanyaan itu dengan sikap bersaudara dan kata-kata yang halus, Eng Eng tidak merasa tersinggung, walau pun kedua pipinya berubah kemerahan juga.

“Aih, itukah? Bagaimana aku dapat membangun rumah tangga sendiri kalau aku belum bertemu dengan orang yang cocok, Toako? Memang banyak pinangan terhadap diriku yang berdatangan, akan tetapi selama ini aku belum bertemu dengan seseorang yang berkenan di hatiku. Kalau aku sudah bertemu yang cocok, mengapa tidak? Dan engkau sendiri, bagaimana, Toako? Tentu engkau sudah berkeluarga dan mempunyai satu dua orang anak.”

“Ha-ha-ha, dugaanmu keliru, Eng-moi. Seperti juga engkau, aku masih hidup sebatang kara, belum mendapatkan jodoh. Mungkin karena selama ini juga belum ada yang cocok bagiku seperti keadaanmu.”

Hening sejenak, seakan keduanya sedang tenggelam dalam lamunan masing-masing. Sementara senja mulai ditelan keremangan menjelang malam tiba. Kemudian terdengar Eng Eng bicara lirih seperti kepada dirinya sendiri,

“Betapa serupa keadaan kita…,” kemudian ia menghela napas panjang dan melanjutkan sambil memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah sinar matanya hendak menembus cuaca yang semakin remang. “Toako, wanita seperti apakah yang kiranya dapat kau anggap cocok untuk menjadi jodohmu?”

Mendengar pertanyaan ini dan melihat sikap gadis itu, berdebar rasa jantung Cia Ceng Sun. Dia merasa seperti ditodong dan rasanya sukar untuk mengelak atau menangkis. Sukar untuk tidak mengaku terus terang.

Sejak dia melihat gadis ini, dia sudah terpesona. Apa lagi setelah melihat sepak terjang gadis itu, kemudian sampai mereka mengadu ilmu, dia telah tergila-gila, dia telah jatuh cinta! Dengan kuat sekali perasaan ini menekannya dan terasa benar olehnya.

Biar pun dia tidak melupakan pesan ayahnya agar dia jangan jatuh cinta kepada wanita lain karena dia sudah ditunangkan dengan Si Bangau Merah, namun tetap saja dia tidak mampu menolak gelora hatinya, tidak dapat menipu diri sendiri. Dia jatuh cinta kepada Siangkoan Eng. Padahal, gadis ini adalah puteri seorang pemimpin pemberontak, masih keturunan keluarga kaisar Kerajaan Beng!

“Eng-moi, aku mau berterus terang saja, harap engkau tidak marah.”

“Eh? Kenapa aku harus marah kalau engkau bicara terus terang tentang seorang wanita yang menurut pendapatmu cocok untuk menjadi jodohmu?”

“Eng-moi, setelah aku tiba di sini, bertemu denganmu, maka tahulah aku bahwa gadis yang kucari-cari untuk menjadi jodohku itu adalah… yang seperti engkau inilah…”

“Seperti aku? Apa maksudmu, Sun-ko?”

“Maksudku… ehhh, mana mungkin ada gadis yang sama denganmu. Maksudku, bahwa yang selama ini kucari-cari itu adalah engkau! Engkaulah gadis yang kuidam-idamkan menjadi jodohku. Eng-moi, tentu saja kalau engkau sudi menerimaku.”

“Hemmm, engkau hendak meminangku? Kenapa? Apa karena aku seperti gadis dalam mimpimu?”

“Bukan begitu maksudku, ehh… ahhh, terus terang saja, sejak aku bertemu denganmu, aku terpesona dan aku jatuh cinta padamu, Eng-moi. Nah, aku sudah berterus terang, terserah kepadamu.”

Hening pula, sekali ini agak lama dan keduanya menundukkan muka. Seakan lenyap semua kegagahan dan keberanian mereka. Untuk dapat mengangkat muka dan saling pandang pun merupakan hal yang bagi mereka membutuhkan keberanian besar sekali pada saat seperti itu.

Dan akhirnya, setelah beberapa kali meragu karena mendengar gadis itu berulang kali menghela napas panjang, Cia Ceng Sun memberanikan diri berkata, “Eng-moi, harap engkau suka memaafkan aku kalau aku menyinggung perasaanmu.”

Memang sungguh aneh sekali pengaruh cinta terhadap diri seseorang. Cia Ceng Sun ialah Pangeran Cia Sun, cucu kaisar! Padahal, dalam kedudukannya sebagai pangeran, dengan kegagahan dan ketampanannya, biasanya seorang pangeran seperti dia tinggal menunjuk saja gadis mana yang disukainya dan gadis itu akan datang kepadanya, baik dengan suka rela mau pun atas kehendak orang tua si gadis.

Dan sekarang, dia bersikap seperti seorang pemuda yang malu-malu dan gelisah ketika menyatakan cintanya pada seorang gadis biasa, bukan puteri bangsawan, bukan puteri istana! Dan sikapnya ini bukan sekali-kali disesuaikan dengan penyamarannya sebagai pemuda biasa. Memang sesungguhnya dia merasa lemah dan tak berdaya menghadapi Siangkoan Eng!

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Toako. Sesungguhnya, aku sendiri merasa bahwa sekarang setelah bertemu denganmu, aku pun telah menemukan pria yang selama ini kuharapkan…”

Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya, malah menundukkan mukanya yang berubah merah. Biar pun Eng Eng seorang gadis yang gagah perkasa yang wataknya dingin dan aneh, namun kali ini ia merasa sedemikian malu dan salah tingkah sehingga jantungnya berdebar keras. Seluruh tubuhnya seperti panas dingin dan kedua kakinya gemetar!

“Eng-moi…!” Bukan main girangnya rasa hati Cia Ceng Sun mendengar pengakuan itu. Dia bukanlah seorang pemuda yang sama sekali belum pernah bergaul dengan wanita, walau pun dia bukan tergolong pemuda yang mata keranjang dan suka pelesir seperti para pangeran lainnya.

Mendengar pengakuan Siangkoan Eng yang sama sekali tidak pernah disangkanya, dia kemudian menggeser duduknya dan memegang kedua tangan gadis itu. Mereka saling berpegang tangan. Gadis itu mengangkat mukanya dan pandang matanya sayu, bahkan seperti hendak menangis. Keempat buah tangan yang saling berpegangan itu menggigil dan menggetar.

“Eng-moi, terima kasih, Eng-moi! Aihhh, engkau membuat aku berbahagia sekali. Aku cinta padamu, Eng- moi.”

Biar pun Eng Eng amat mengharapkan kata-kata itu, tapi setelah diucapkan, ia merasa lucu dan ia pun tersenyum. “Sun-ko, kita baru dua hari ini berkenalan dan sudah saling mengaku cinta.”

“Apa salahnya? Kita saling mencinta, baru bertemu sedetik pun apa bedanya? Aku akan mengirim wali untuk meminangmu kepada orang tuamu, Eng-moi.”

“Aku hanya akan menunggu, Sun-ko…”

Hening kembali sejenak dan mereka masih saling berpegang tangan. Tetapi mendadak Cia Ceng Sun melepaskan tangannya dan menunduk, seperti orang melamun dengan alis berkerut.

“Kenapa, Koko?” tanya Eng Eng khawatir.

“Ada satu hal yang mengganjal hatiku, Eng-moi. Yaitu cita-cita ayahmu. Biar pun sejak kecil aku suka sekali mempelajari ilmu silat, akan tetapi aku tidak pernah dan tidak suka bermusuhan. Aku tak ingin terlibat pemberontakan terhadap pemerintah, juga tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun, maka tidak mungkin aku dapat membantu keluargamu. Aku lebih suka berterus terang, Eng-moi, dari pada berpura- pura dan palsu.”

Gadis itu tersenyum dan kembali dia menangkap kedua tangan pemuda itu yang tadi melepaskan diri. “Koko, aku justru bangga sekali karena sikapmu yang berterus terang ini. Aku sendiri pun hanya melaksanakan kewajiban. sebagai puteri ayah. Aku tak peduli tentang perjuangan dan hanya membantu ayah sebagaimana patutnya seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ada pun tentang permusuhan antara keluarga kami dengan tiga keluarga besar itu, aku sendiri sudah sering memberi tahu kepada ayah betapa tidak wajarnya memusuhi seluruh anggota keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga. Tidak wajar dan juga sangat berbahaya karena tiga keluarga besar itu mempunyai orang- orang yang sakti dan amat sukar untuk dikalahkan.”

“Hemmm, mengapa ayahmu memusuhi mereka?”

“Menurut ayah, semenjak orang-orang Mancu menyerbu dan menumbangkan Kerajaan Beng, semua anggota keluarga-keluarga itu tak pernah menentang, bahkan membantu orang Mancu.”

“Eng-moi, aku adalah orang yang menghargai kejujuran. Aku pun sudah berterus terang kepadamu mengatakan bahwa aku tidak mungkin dapat membantu ayahmu. Nah, bagai mana tanggapanmu, Eng- moi? Bila kita sudah berjodoh, maukah engkau meninggalkan ini semua dan tak lagi mencampuri urusan pemberontakan dan permusuhan, melainkan hidup dalam suasana tenteram dan damai di sampingku?”

“Koko, betapa sudah lama sekali aku merindukan ketenteraman dan kedamaian itu. Aku akan berbahagia sekali kalau hidup dengan tenteram dan damai di sampingmu, akan tetapi… tentu ayah dan ibu tidak akan mau membiarkan…”

“Percayalah kepadaku, Eng-moi. Aku yang akan melindungimu,” berkata Cia Ceng Sun dengan sikap gagah.

Baru sekali ini selama hidupnya Eng Eng merasa lemah sekali dan amat membutuhkan perlindungan orang lain kecuali ayah ibunya. Ketika Cia Ceng Sun menariknya, dia pun merebahkan diri di atas dada pemuda itu, menyembunyikan mukanya di bawah dagu. Mereka pun tenggelam dalam kemesraan. Kelelep…..

********************

Sebagai hasil percakapan dengan Siangkoan Kok, pada keesokan harinya Yo Han telah memperoleh keterangan dari ketua Pao-beng-pai itu bahwa penyelidikan anak buahnya berhasil!

“Penculik anak Pendekar Suling Naga Sim Houw itu ialah Tiat-liong Sam-heng-te (Tiga Kakak Beradik Naga Besi). Mereka adalah orang-orang yang sejak dahulu bermusuhan dengan Pendekar Suling Naga, dan mereka membalas dendam dengan menculik puteri pendekar itu.”

Dapat dibayangkan betapa besar kegirangan hati Yo Han mendengar keterangan itu. Tidak disangkanya akan semudah itu dia mendapatkan jejak penculik puteri bibinya!

“Di mana mereka bertiga, Paman? Ingin sekali aku menemui mereka untuk bisa kuajak bekerja sama! Dan apakah anak itu masih ada pada mereka? Kalau masih ada, dapat kita pergunakan untuk memeras dan memaksa orang tuanya! Hemm, sekali ini aku akan berhasil membalas dendam orang tuaku!”

Melihat kegembiraan Yo Han, Siangkoan Kok tertawa, “Kebetulan sekali mereka tinggal tidak terlalu jauh dari sini. Dalam waktu setengah hari engkau akan tiba di tempat tinggal mereka. Menurut keterangan anak buah Pao-beng-pai yang melakukan penyelidikan, anak perempuan yang dahulu mereka culik masih hidup dan tinggal bersama mereka.”

Hampir Yo Han bersorak saking gembiranya. Ia hanya cukup menekan dan mengurangi saja luapan rasa girang itu. Dalam perannya sebagai musuh bibinya, ia pun sepatutnya bergembira karena memperoleh sekutu yang dapat dipercaya serta menemukan anak perempuan yang akan dapat dipergunakan sebagai sandera yang amat berharga.

Siangkoan Kok lalu memberi keterangan tentang tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te, yaitu di sebuah lereng di bukit yang tidak jauh dari situ, di mana terdapat sebuah goa terowongan yang mereka bangun menjadi tempat tinggal tiga bersaudara itu.

Dengan tulus hati Yo Han mengucapkan terima kasih kepada Siangkoan Kok, kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan mencari tempat itu. Siangkoan Kok mengucapkan selamat jalan sambil berpesan agar pemuda itu tidak melupakan hubungan baik antara mereka dan kelak dapat membantunya dengan bekerja sama antara Pao-beng-pai dan Thian-li-pang. Yo Han menyanggupi, lalu berangkat.

Di pekarangan depan, Yo Han berjumpa dengan Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng yang nampak berjalan berdampingan dalam suasana yang akrab sekali. Yo Han dapat melihat bahwa ada apa-apa di antara keduanya, maka dia pun tersenyum.

Memang mereka merupakan pasangan yang pantas sekali, pikirnya. Namun diam-diam dia menyayangkan bahwa seorang pemuda yang hebat seperti Cia Ceng Sun itu kini terlibat dalam keluarga pimpinan pemberontak, bahkan yang memusuhi tiga keluarga besar. Ah, itu bukan urusannya, pikirnya sambil menggerakkan pundak.

Karena mereka berdua sudah sama-sama tinggal di situ sebagai tamu Pao-beng-pai, tentu saja dua orang pemuda ini sudah saling berkenalan walau pun hubungan mereka tidak akrab sekali. Yo Han lebih sering bercakap-cakap dengan Siangkoan Kok, namun sebaliknya Cia Ceng Sun lebih sering berduaan dengan Siangkoan Eng.

“Ehhh, engkau hendak pergi, saudara Yo?” tanya Cia Ceng Sun ketika melihat pemuda itu hendak pergi meninggalkan pekarangan sambil menggendong buntalan pakaiannya di punggung.

Eng Eng hanya mengangguk saja ketika bertemu pandang dengan Yo Han. Biar pun dia merasa kagum kepada Yo Han, namun ia selalu merasa curiga. Karena bagaimana pun juga dia tahu, bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang yang sangat tangguh dan menurut ayahnya, tenaga sinkang pemuda itu seimbang dengan ayahnya!

Apa lagi pemuda ini pernah membuat nama besar dengan julukan Pendekar Tangan Sakti. Menghadapi orang yang lebih lihai, tentu saja ia merasa khawatir dan juga curiga.

“Benar, saudara Cia. Aku sudah berpamitan kepada Paman Siangkoan Kok dan harus melanjutkan perjalananku hari ini juga. Nah, selamat tinggal dan semoga saja engkau berhasil dalam segala cita- citamu. Selamat tinggal, Nona Siangkoan, dan terima kasih atas kebaikan keluarga Nona selama aku tinggal di sini.”

Dengan sikap tidak terlalu menghormat dan ugal-ugalan seperti tokoh yang perannya dia mainkan, Yo Han tersenyum lalu membalikkan tubuh meninggalkan mereka, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.

“Hemmm, dia seorang pendekar yang hebat! Masih begitu muda tetapi sudah memiliki kesaktian yang dahsyat,” Cia Ceng Sun memuji.

“Tapi aku tidak terlalu percaya kepadanya, bahkan aku mencurigainya, Koko,” kata Eng Eng.

“Ehhh? Mengapa? Bukankah dia tokoh Thian-li-pang dan kini bersahabat baik dengan ayahmu? Bahkan tadi dia menyebut paman kepada ayahmu. Hemmm, aku jadi berpikir jangan-jangan ayahmu lebih condong memilih dia sebagai calon mantu dari pada aku!”

Eng Eng mencubit tangan kekasihnya dengan gemas. “Ihhh! Aku akan minggat kalau ayah memaksa aku menikah dengan pria lain kecuali engkau. Apakah engkau masih belum percaya kepadaku, Koko?”

“Maaf, aku hanya bergurau. Sekarang juga aku akan menghadap ayah dan ibumu untuk menyatakan keinginan kita, menceritakan hati kita, dan kalau ayah ibumu mengijinkan, aku segera akan pergi dan mencari seorang wakil untuk kukirim ke sini dan melakukan pinangan.”

“Nah, begitu lebih baik daripada membicarakan orang lain. Sebaiknya nanti saja, setelah mereka sarapan baru engkau mengatakan isi hatimu kepada mereka. Akan kuusahakan agar engkau diundang sarapan sehingga kita berempat dapat berkumpul dan bercakap-cakap.”

Demikianlah, tidak lama kemudian mereka sudah makan pagi bersama, Cia Ceng Sun, Siangkoan Eng, Siangkoan Kok dan isterinya, Lauw Cu Si. Setelah makan pagi yang agaknya dilakukan oleh Siangkoan Kok dengan sikap tergesa-gesa karena dia hendak bepergian, Cia Ceng Sun mempergunakan kesempatan itu untuk bicara.

“Locianpwe (Orang Tua Gagah), saya ingin mohon sedikit waktu untuk bicara dengan Locianpwe berdua, bersama Eng-moi juga,” katanya dengan sikap sopan dan tenang. Bagaimana pun juga, dia seorang pangeran dan tentu saja memiliki wibawa yang besar sehingga menghadapi ketua Pao-beng-pai itu pun dia dapat bersikap tenang.

“Hemmm, soal apakah yang hendak kau bicarakan, Cia sicu?”

“Soal saya dan adik Eng Eng. Harap Locianpwe berdua mengetahui bahwa kami berdua sudah bersepakat untuk mengaku terus terang kepada Ji-wi (Anda Berdua) sekarang ini bahwa kami saling mencinta dan juga telah mengambil keputusan untuk hidup bersama sebagai suami isteri. Saya segera akan pergi, kemudian mengirim seorang wali untuk melakukan pinangan kepada Ji-wi secara resmi.”

Mendengar pinangan yang diajukan begitu tiba-tiba dengan pengakuan bahwa pemuda itu sudah saling mencinta dengan puteri mereka dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, suami dan isterinya itu saling pandang. Siangkoan Kok menoleh kepada puterinya yang juga sedang memandang kepadanya dengan sikap yang tenang pula.

“Eng Eng, benarkah apa yang dikatakan Cia Ceng Sun barusan? Bahwa kalian saling mencinta dan engkau sudah setuju untuk menjadi isterinya?”

Dengan sikap gagah dan penuh tanggung jawab, Eng Eng mengangguk dan berkata, “Benar, Ayah. Kurasa usiaku sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sekarang, dan dialah pilihan hatiku.”

Siangkoan Kok tertawa bergelak. Sukar menduga apakah suara tawa itu karena girang atau karena geli atau untuk mengejek.

“Ha-ha-ha-ha! Orang muda she Cia! Engkau tahu bahwa Eng Eng adalah puteri tunggal kami yang sangat kami sayang. Ia puteri ketua Pao-beng-pai, cantik dan tinggi ilmunya, masih lebih tinggi dari pada ilmu yang kau kuasai. Kalau ia menghendaki jodoh seorang pangeran sekali pun, hal itu bukan mustahil akan dapat terlaksana. Eng Eng kaya raya, berilmu tinggi dan cantik! Dan engkau ini siapakah berani hendak berjodoh dengannya? Dari keturunan apa? Engkau memang cukup tampan, dan biar pun tidak selihai puteriku, kepandaianmu lumayan dan tidak memalukan. Akan tetapi selain itu, apa lagi yang bisa kau berikan kepada puteri kami?”

Panas juga rasanya perut Cia Ceng Sun mendengar ucapan laki-laki yang akan menjadi ayah mertuanya itu. Betapa dia diremehkan dan dipandang rendah!

“Apakah yang Locianpwe minta? Kalau Locianpwe mengajukan syarat, tentu akan saya coba untuk memenuhinya,” katanya sederhana, namun sikapnya tegas.

Mendengar ucapan yang nadanya menantang itu, Eng Eng mengerutkan alisnya dan merasa khawatir. Bahkan ia lalu mengerling ke arah kekasihnya dan mengedipkan mata mencegah, namun sia-sia karena pemuda itu sudah mengeluarkan kata-katanya.

“Ha-ha-ha-ha, bagus, bagus! Seorang gadis seperti Eng Eng memang tidak sepatutnya didapatkan dengan amat mudah seperti orang memetik buah apel dari pohon saja! Nah, permintaanku tidak banyak. Pertama engkau harus bisa memberi tanda mata yang patut bagi seorang calon isteri macam Eng Eng, dan ke dua, dalam pesta pernikahan kalian nanti, aku minta agar keluarga Kaisar menjadi tamunya!”

“Ayah! Permintaan itu keterlaluan!” teriak Eng Eng, dan Ibunya juga berseru kaget.

“Aihhh, mana ada permintaan seperti itu? Yang pertama mungkin dapat dilaksanakan, akan tetapi yang ke dua mustahil! Kita ini apa dan siapa, minta keluarga kaisar menjadi tamu dalam pesta pernikahan anak kita?” kata Lauw Cu Si.

“Sudahlah, kalian jangan ribut-ribut. Semua ini kulakukan demi menaikkan derajat anak kita, dan itu berarti naiknya derajat kita pula! Bagaimana, Cia-sicu, sanggupkah engkau memenuhi kedua permintaan itu?”

“Saya sanggup!” berkata Cia Ceng Sun dengan suara yang lantang dan tegas sehingga mengejutkan tiga orang itu yang sekarang memandang pada pemuda itu dengan mata terbelalak.

“Sun-koko! Bagaimana engkau berani menyanggupi syarat yang mustahil itu?” teriak Eng Eng.

“Tenanglah, Eng-moi. Demi cintaku kepadamu, aku akan berani menyeberangi lautan api sekali pun. Akan aku usahakan sedapat mungkin untuk kelak mengundang keluarga kaisar. Aku mempunyai banyak kenalan di antara para pembesar dan juga penghuni istana!”

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Setidaknya, kesanggupanmu telah membuktikan adanya cinta kasihmu yang besar terhadap anak kami, Cia-sicu. Dan sekarang, tanda mata apa yang pantas kau berikan kepada Eng Eng sebelum engkau pergi dan mengirirm wakil untuk melakukan pinangan resmi?”

“Harap Locianpwe sekalian menunggu sebentar, akan saya ambil dari kamar saya.”

Pemuda itu lalu bangkit dan meninggalkan ruangan makan. Pada saat Eng Eng hendak mengejar, baru saja ia bangkit, ayahnya sudah melarang.

“Eng Eng, engkau harus pandai menghargai diri sendiri. Tunggu saja di sini, kita lihat bersama apa yang mampu dia berikan kepadamu. Engkau tidak ingin kelak kecewa dengan pilihanmu, bukan? Biarkan Ayah yang mengujinya!”

Eng Eng tidak jadi bangkit. Ia pun tahu bahwa sikap ayahnya yang begitu keras bukan karena ayahnya tidak suka mempunyai mantu Cia Ceng Sun, namun karena ayahnya ingin mendapatkan mantu yang benar-benar mencintainya, seorang mantu yang berani dan pandai.

Agak lama pemuda itu pergi. Ketika dia masuk kembali ke dalam ruangan itu, ternyata dia telah berganti pakaian dan telah pula membawa buntalan pakaiannya.

“Sun-koko! Engkau… kau hendak pergi…?” Eng Eng terkejut sekali karena sebelumnya kekasihnya tidak mengatakan hendak pergi sekarang juga.

“Benar, Eng-moi. Aku harus cepat berusaha untuk memenuhi permintaan ayahmu, yaitu mengirim wali untuk meminang, dan mempersiapkan agar kelak keluarga istana dapat menghadiri pesta pernikahan kita.”

Dia lalu menghadapi Siangkoan Kok dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku bajunya. “Locianpwe, untuk sementara ini, saya tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih berharga dari pada ini. Harap Locianpwe sekalian tidak merasa kecewa dengan pemberian tanda mata yang tidak berharga ini.”

Ketika Siangkoan Kok menerima benda itu, dia dan isterinya yang duduk di dekatnya terbelalak kagum.

“Tidak berharga?!” Lauw Cu Si berseru. “Wah! Belum pernah selama hidupku melihat kalung mutiara seindah ini!”

Siangkoan Kok yang merupakan seorang keturunan bangsawan, juga terbelalak kagum. Dia mengenal barang yang amat berharga dan langka sehingga terlontar pertanyaannya penuh keheranan. “Dari mana engkau memperoleh benda mustika seperti ini?”

“Locianpwe, sudah saya katakan bahwa saya mewarisi harta kekayaan orang tua saya, dan itu merupakan satu di antara benda-benda peninggalan itu.”

“Nah, Ayah jangan memandang rendah kepada Sun-koko!” Eng Eng juga berseru.

Ia bangga sekali walau pun diam-diam ia juga merasa heran bahwa kekasihnya memiliki simpanan benda yang sedemikian langka dan berharga, yang dikatakannya tadi ‘tidak berharga’. Kalau kalung seperti itu tidak berharga, lalu bagaimana yang berharga itu?

Sesudah memeriksa benda berharga itu, Siangkoan Kok lalu menyerahkannya kepada isterinya yang kini mendapat giliran mengaguminya bersama Eng Eng, lalu dia berkata kepada pemuda itu. “Baik, tanda mata itu kami terima dan kami anggap cukup pantas. Sekarang pergilah untuk mengirim utusan dan wali untuk melakukan pinangan resmi, kemudian aturlah supaya dalam pesta pernikahannya, keluarga kaisar dapat hadir. Apa bila engkau membohongi kami, awas, aku tidak akan mengampunimu.”

“Baik, Locianpwe. Nah, saya minta diri. Eng-moi, aku pergi dulu dan doakan saja agar usahaku berhasil.” “Selamat jalan, Koko, dan jangan terlalu lama membiarkan aku menunggumu di sini,” kata gadis itu.
Setelah memberi hormat, Cia Ceng Sun lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Tiba-tiba Siangkoan Kok berkata kepada puterinya, “Eng Eng, aku mempunyai urusan penting, karena itu engkau harus dapat mewakill aku. Kau bawa beberapa anak buah yang boleh diandalkan, dan kau bayangi pemuda itu.”

“Ayah! Apa artinya ini? Kami sudah saling mencinta!”

“Anak bodoh! Justru karena engkau mencintanya, engkau harus mengenal betul siapa dia! Bayangi dia dan buktikan sendiri bagaimana cara dia berusaha untuk kelak dapat menghadirkan keluarga istana di dalam pesta pernikahanmu. Lebih baik kita waspada, jangan sampai kita dibohongi dan ditipu. Mengerti? Jangan percaya dulu sebelum kita melihat buktinya, betapa pun besar cintamu kepadanya. Engkau tidak ingin kelak hidup sengsara, bukan? Dan ingat, engkau bayangi dia, jangan bantu dan jangan perlihatkan diri, jangan khianati ayahmu karena semua ini demi kebaikan masa depanmu sendiri.”

Eng Eng mengerti dan dia mengangguk. Bahkan diam-diam dia merasa gembira karena dengan membayangi Cia Ceng Sun, berarti dia selalu dekat dengan kekasihnya itu, biar pun dia tidak boleh memperlihatkan diri. Dan memang perlu untuk mengetahui siapakah sebenarnya kekasihnya itu yang menyanggupi ayahnya untuk menghadirkan keluarga kaisar dalam pesta pernikahannya!

Dia pun cepat berkemas, lalu mengajak empat orang pelayannya yang ia percaya, yaitu empat orang gadis yang berpakaian kuning, merah, biru dan putih. Mereka berlima lalu segera meninggalkan perkampungan Pao-beng-pai dan dengan mudah mereka dapat menyusul Cia Ceng Sun dan membayangi pemuda itu dari jauh.

Cia Ceng Sun sudah keluar dari Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) melalui jalan keluar yang sudah diberi tanda-tanda sehingga dia tidak akan tersesat ke dalam daerah yang berbahaya penuh rahasia, dan dia kini tiba di lereng paling rendah dari Kwi-san (Bukit Setan). Sunyi saja di situ. Matahari sudah naik tinggi dan sinarnya mulai terasa hangat di badan.

Tiba-tiba Cia Ceng Sun yang penglihatan dan pendengarannya tajam dan peka, melihat berkelebatnya bayangan di balik semak-semak di sebelah kirinya. Dia berhenti, menoleh ke kiri dan membentak.

“Siapa mengintai di sana?! Keluarlah dan jangan bersembunyi seperti binatang liar!”

Sesosok bayangan melompat keluar dari kiri, disusul bayangan lain melayang dari sisi kanan dan dia sudah berhadapan dengan dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dua orang itu cepat-cepat memberi hormat kepadanya dengan berlutut sebelah kaki.

“Mohon maaf kalau hamba berdua mengejutkan hati Pangeran,” kata seorang di antara mereka yang kumisnya tebal.

“Hamba berdua diutus ayah Paduka, Pangeran Cia Yan, untuk menjemput Paduka dan mengawal Paduka pulang sekarang juga karena ada urusan penting,” kata orang ke dua yang kepalanya botak.

“Ssttttt!” Pangeran Cia Sun atau Cia Ceng Sun menaruh telunjuk ke depan bibir untuk memberi isyarat agar dua orang itu menahan kata-kata mereka, kemudian menoleh ke sekeliling.

“Harap Paduka jangan khawatir, Pangeran. Kami berdua telah melakukan pemeriksaan dan tempat ini sangat sunyi,” kata si kumis tebal.

“Andai kata ada yang melihatnya juga, siapa yang akan berani mengganggu Paduka?” sambung si botak.

Tentu saja kedua orang pengawal istana ini merasa heran melihat sikap sang pangeran. Mengapa mesti bersikap begitu hati-hati dan takut? Dia seorang pangeran. Siapa akan berani mengganggunya tentu akan berhadapan dengan pasukan pemerintah!

Pangeran Cia Sun mengerutkan alis. “Ada urusan penting apakah sampai kalian diutus mencari aku? Aku bisa pulang sendiri!” katanya tidak senang. “Pula, bagaimana kalian dapat tahu bahwa aku berada di sini?”

Si kumis tebal tersenyum bangga. “Pangeran, tak percuma kami berdua menjadi jagoan istana, pengawal- pengawal yang dipercaya. Pada waktu Paduka pergi, ayah Paduka Pangeran Cia Yan memerintahkan kami berdua untuk membayangi Paduka dari jauh dan menjaga keselamatan Paduka. Tugas ini amat mudah karena Paduka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan cukup kuat untuk mampu membela diri sendiri. Maka kami hanya menyebar anak buah supaya membayangi dari jauh. Kami mengetahui bahwa Paduka hadir pula dalam pertemuan Pao-beng-pai, walau pun kami tidak mungkin dapat masuk ke tempat berbahaya itu.”

“Untung kalian tidak masuk. Bila hal itu terjadi, selain kalian celaka, tentu penyamaranku akan gagal pula. Lalu bagaimana?” tanya sang pangeran.

Kini si Botak yang melanjutkan. “Kami merasa sangat khawatir karena setelah semua tamu keluar dari Ban-kwi-tok, Paduka tidak keluar-keluar. Kami merasa bahwa tentu ada sesuatu yang terjadi, maka cepat kami mengirim laporan kepada ayah Paduka. Kami menerima perintah agar menjemput Paduka dan mengajak Paduka pulang secepatnya. Ayah Paduka tidak berkenan mendengar Paduka bergaul dengan orang-orang kangouw yang mencurigakan itu, juga Paduka ditunggu karena ada tamu penting.”

“Siapa tamu penting itu?”

Dua orang pengawal itu saling pandang dan tersenyum penuh arti. “Paduka tentu akan senang sekali kalau tiba di rumah. Tunangan Paduka sudah menunggu bersama orang tuanya.”

“Tunanganku ? Jangan bicara sembarangan!”

“Hamba tidak berbohong. Pendekar wanita Si Bangau Merah….”

“Ahhh! Sudahlah, kalian ini sungguh menjengkelkan. Bukankah kalian juga tahu bahwa aku pandai menjaga diri sendiri? Seperti anak kecil saja, di jemput dan dikawal!”

Tiba-tiba sang pangeran terkejut dan membalikkan tubuh dengan cepat, juga dua orang pengawalnya memutar tubuh ke kanan dan terbelalak. Di situ, di hadapan mereka, telah berdiri lima orang gadis yang cantik-cantik, yang empat orang berpakaian empat macam warna, dan yang berdiri paling depan luar biasa cantiknya.

Pakaiannya berkembang, rambutnya digelung ke atas dengan dihias sebuah tiara kecil, tangan kirinya memegang sebatang hudtim atau kebutan berbulu merah dengan gagang emas. Sepasang matanya mencorong memandang kepada Pangeran Cia Sun seperti mengeluarkan api!

“Hmmm… Pangeran Cia Sun!” terdengar suaranya dingin sekali. “Menyerahlah engkau untuk menjadi tawanan kami!”

“Eng-moi !” Pangeran Cia Sun berseru sambil melangkah maju untuk mendekati gadis kekasihnya itu. “Diam! Engkau tak berhak menyebutku seperti itu!” bentak Siangkoan Eng marah.
Si kumis tebal dan si botak menjadi marah. Mereka meloncat ke depan Pangeran Cia Sun seperti melindunginya dan menghadapi lima orang gadis cantik itu.

“Apakah kalian telah menjadi gila? Beliau ini adalah Pangeran Cia Sun, cucu Sribaginda Kaisar! Beranikah kalian bersikap kurang hormat kepada beliau? Apakah kalian sudah bosan hidup?” Sebelum selesai berkata, kedua orang pengawal itu sudah mencabut pedang mereka untuk melindungi sang pangeran.

“Bereskan mereka!” kata Siangkoan Eng.

Empat orang pelayannya telah berloncatan menghadapi dua orang pengawal itu sambil mencabut pedang mereka.

“Kalian yang sudah bosan hidup!” bentak nona baju kuning.

Nona baju kuning itu lalu memimpin penyerangan kepada dua orang jagoan istana itu. Terjadilah pertandingan seru dan hebat. Dua orang jagoan istana itu terkejut setengah mati karena mendapat kenyataan bahwa empat orang gadis cantik itu lihai bukan main dalam menggerakkan pedang mereka, dan sebentar saja mereka berdua terdesak dan terkepung, harus memutar pedang secepatnya untuk melindungi diri.

Sementara itu, Siangkoan Eng melangkah maju menghampiri Pangeran Cia Sun, lantas membentak lagi. “Menyerahtah atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!”

“Eng-moi, ingatlah aku…aku..”

“Tidak perlu banyak cakap lagi!” bentak Siangkoan Eng.

Siangkoan Eng sudah menyerang dengan kebutannya, menotok ke arah leher Cia Sun. Pangeran ini mengelak, akan tetapi Eng Eng menyerang terus, bahkan semakin hebat.

“Eng-moi… ahh, engkau keterlaluan, tidak memberi kesempatan kepadaku,” kata sang pangeran yang terus mengelak sampai beberapa kali.

“Engkau mata-mata busuk, pengkhianat, manusia berhati palsu, tidak perlu bicara lagi!”

Sekarang penyerangan semakin hebat sehingga terpaksa Pangeran Cia Sun menangkis cengkeraman tangan kanan gadis itu. Begitu kedua lengan saling bertemu, dia hampir terjengkang! Cia Sun amat terkejut dan baru dia yakin benar bahwa dalam pertandingan tempo hari, gadis itu selalu mengalah. Sekarang buktinya, pertemuan tenaga mereka membuktikan bahwa gadis itu jauh lebih kuat dari padanya.

Kini Cia Sun melawan setengah hati, tidak mau membalas serangan, hanya mengelak dan menangkis saja. “Engkau keliru, Eng-moi. Aku memang pangeran yang menyamar menjadi orang biasa untuk dapat leluasa memperdalam pengetahuan dan pengalaman. Aku tidak berniat buruk, aku bertemu denganmu dan jatuh cinta.”

Karena berbicara, maka pertahanan pangeran itu kurang kuat dan sebuah totokan jari tangan kanan Eng Eng membuat dia terkulai dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi! Dan pada saat itu pun, dua orang pengawal itu roboh mandi darah dan tewas di ujung pedang empat orang gadis pelayan Eng Eng.

“Belenggu kedua tangannya dan bawa pulang, masukkan ke dalam kamar tahanan dan jangan ganggu dia sampai ayah pulang,” katanya kepada empat orang gadis pelayan itu.

Empat gadis pelayan itu segera meringkus Cia Sun yang sudah tidak mampu bergerak, membelenggu kedua tangannya ke belakang, lalu menggotongnya seperti seekor kijang yang baru saja ditangkap oleh sekawanan pemburu. Mayat kedua orang pengawal itu ditinggalkan begitu saja oleh mereka.

Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah beberapa orang muncul dan membawa pergi dua jenazah jagoan istana itu. Mereka adalah anak buah yang tadi tidak berani muncul. Sang pangeran yang perkasa bersama dua orang jagoan istana itu saja tidak mampu menandingi lawan, apa lagi mereka yang hanya anak buah biasa…..

********************

Dari jauh goa itu nampak hitam gelap, walau pun pada saat itu matahari telah tinggi dan bersinar seterang- terangnya. Tengah hari itu, Yo Han tiba di depan goa di lereng bukit yang menjadi tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te seperti yang sudah diceritakan oleh Siangkoan Kok kepadanya.

Dengan sinar matahari yang sangat terang, maka setelah tiba di depan goa, ternyata tidak begitu gelap seperti nampaknya dari jauh. Inilah salah satu goa yang terbesar dan merupakan sebuah ruangan depan, oleh karena di situ terdapat perabot-perabot seperti bangku dan kursi. Goa itu seperti sebuah rumah besar saja. Di sebelah dalam terdapat sebuah pintu kayu yang memisahkan ruangan depan dengan ruangan dalam.

Beberapa kali Yo Han memanggil-manggil ke arah dalam goa, akan tetapi tidak terdapat jawaban. Dia tidak berani lancang memasuki tempat tinggal orang lain tanpa diketahui oleh pemiliknya. Mungkin goa ini merupakan terowongan yang dalam dan penghuninya berada di bagian belakang sehingga tidak mendengar panggilannya, pikirnya. Dia lalu mengerahkan khikang dan berseru dengan suara yang seperti menembus ke seluruh ruangan di dalam goa terowongan itu.

“Tiat-liong Sam-heng-te! Harap suka keluar untuk bicara dengan aku, Yo Han.”

Suara itu bergema dan gemanya terdengar dari luar. Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Tentu saja sedang keluar, pikir Yo Han. Ia teringat bahwa anak yang diculik itu kabarnya masih hidup dan berada di sini pula. Kebetulan! Kalau Tiat-liong Sam heng-te keluar, tentu anak itu berada seorang diri saja! Inilah kesempatan yang amat baik untuk mengajaknya pergi dari sini, kembali kepada orang tuanya.

“Sim Hui Eng! Apakah engkau berada di dalam?” ia berteriak lagi dengan pengerahan khikang.

Dan sekarang ada tanggapan dari dalam! Ada suara langkah kaki menuju keluar. Daun pintu itu terbuka sedikit dan nampaklah wajah seorang gadis cantik mengintai dari balik daun pintu itu.

“Nona, aku ingin bicara denganmu!”

Yo Han berseru. Akan tetapi wajah itu segera lenyap dari balik pintu dan Yo Han cepat meloncat ke dalam goa lalu lari mengejar. Gadis itu kini berhenti di ruangan tengah dan tidak lari lagi, melainkan memandangnya dengan amat heran ketika Yo Han masuk ke ruangan itu.

“Mengapa engkau masuk ke sini ?” Kini gadis itu menegur, suaranya mengandung rasa takut. “Jangan masuk, nanti ketiga orang ayahku marah!”

Tiga orang ayah! Yo Han merasa kasihan sekali. Agaknya gadis itu seperti orang yang bingung, bahkan mengaku mempunyai tiga orang ayah. Mana mungkin seorang gadis mempunyai tiga orang ayah? Sudah jelas, pasti ini yang namanya Sim Hui Eng, puteri bibinya. Hatinya pun terharu.

“Aku mau bicara denganmu,” kata pula Yo Han sambil mendekat. “Jangan masuk, nanti ayah marah. Dan aku tentu akan dihukum!”
Yo Han mengerutkan alisnya dan mengepal tinju. Tentu tiga orang penculik itu bersikap kejam terhadap gadis ini, pikirnya.

“Kalau begitu, mari kita keluar dan bicara di luar supaya ayahmu tidak marah,” katanya.

Gadis itu mengangguk dan ketika Yo Han melangkah keluar, ia mengikuti. Akan tetapi, kembali gadis itu berhenti, bahkan kini masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di sebelah kiri. Yo Han menengok, dan melihat gadis itu berhenti lagi bahkan memasuki sebuah ruangan yang agak lebih terang, dia pun melangkah kembali menghampiri.

“Nona, kenapa engkau berhenti?”

Gadis itu kelihatan gelisah dan mengerutkan alisnya, pandang matanya tidak percaya dan curiga. “Mau bicara apa sih dengan aku? Aku tidak mengenalmu!”

“Akan tetapi aku mengenalmu. Engkau tentu Sim Hui Eng.”

Gadis yang manis itu menggeleng kepala. “Namaku bukan Sim Hui Eng dan aku tidak mengenalmu.”

“Mungkin engkau sendiri tidak tahu bahwa namamu yang sebenarnya adalah Sim Hui Eng karena engkau diculik orang sejak kecil. Nona, aku hampir yakin bahwa engkaulah gadis yang kucari, dan aku dapat membuktikan kebenaran hal itu.”

“Hemmm, apakah bukti itu?”

“Kalau engkau mau memperlihatkan pundak kirimu dan tapak kaki kananmu kepadaku, di sana ada tanda- tandanya.”

“Ihhh, engkau orang yang kurang ajar! Bagaimana mungkin aku dapat memperlihatkan pundak dan kakiku kepadamu?” Gadis itu berseru marah sehingga mukanya berubah kemerahan.

Yo Han berpikir. Memang sulit juga. Akan tetapi, agaknya Tiat-liong Sam-heng-te, tiga orang yang oleh gadis itu disebut ayah, sedang tidak berada di situ dan ini merupakan peluang yang baik sekali. Dia harus dapat melihat bukti itu dan kalau gadis itu tidak mau memperlihatkannya, dia harus memaksanya. Tidak ada lain jalan. Kalau tiga orang yang diakui ayah gadis itu berada di situ, tentu hal ini akan lebih sulit untuk dilaksanakan. Dia harus memeriksa pundak dan kaki gadis itu agar yakin apakah dugaannya bahwa gadis itu Sim Hui Eng itu benar.

“Nona, aku tidak bermaksud kurang ajar. Akan tetapi aku harus dapat melihat bukti Itu, apakah pundak dan kakimu ada tanda-tanda, kelahiran itu ataukah tidak,” katanya dan dia pun cepat memasuki ruangan yang terang itu.

Gadis itu menyambutnya dengan serangan pisau yang tadi disembunyikan di belakang tubuhnya. Yo Han tidak merasa heran. Tentu gadis ini salah paham dan menganggap dia hendak kurang ajar.

Akan tetapi karena dia tahu bahwa tanpa paksaan, sukar untuk dapat melihat kaki dan pundak seorang gadis, dia pun mengelak dan begitu tangan yang memegang pisau itu menyambar lewat, dia sudah menangkap lengan kanan yang memegang pisau itu dan secepat kilat jari tangan kanannya menotok sehingga gadis itu tidak mampu bergerak lagi! la tentu roboh kalau saja Yo Han tidak cepat merangkulnya dan merebahkannya di atas lantai.

Pada saat dia merangkul itulah, dia mendengar suara yang aneh di belakangnya. Dia menoleh dan terkejut melihat betapa jalan masuk ke ruangan itu, tiba-tiba saja tertutup oleh jeruji besi yang meluncur dari atas. Karena dia sedang merangkul tubuh gadis itu, maka dia tidak sempat lagi untuk meloloskan diri, dan dia pun terkurung dalam ruangan itu bersama gadis yang masih tertotok.

Celaka, tentu mereka yang disebut Tiat-liong Sam-heng-te itu yang menjebaknya, sebab mengira dia akan kurang ajar terhadap puteri mereka. Akan tetapi dia dapat memberi penjelasan nanti dan begitu kedua tangannya bergerak, baju di pundak kiri gadis itu dan sepatu di kaki kanannya telah terbuka. Bajunya dia robek dan sepatunya dia lepaskan.

Akan tetapi, matanya terbelalak ketika melihat kulit pundak dan kulit telapak kaki yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun! Wah mungkin dia lupa, pikirnya. Jangan-jangan terbalik, pundak kanan dan kaki kiri yang harus dia periksa!

Tanpa banyak ragu lagi, Yo Han kembali merobek baju di pundak kanan dan melepas sepatu yang kiri dan dia tertegun. Kulit pundak kanan dan kaki kiri itu pun putih mulus, tidak terdapat tanda apa pun seperti yang diharapkan dan disangkanya. Dia telah keliru!

Kalau begitu, Siangkoan Kok telah berbohong kepadanya. Dan ini tentu berarti suatu tipuan, suatu jebakan! Cepat ia meloncat berdiri untuk mencoba keluar dari situ dengan menjebol jeruji besi, akan tetapi pada saat itu juga, dari arah pintu, kanan kiri dan atas, menyembur masuk asap yang kekuningan.

Yo Han menahan napas dan memaksa diri mendekati jeruji besi untuk menjebolnya. Akan tetapi, di balik asap tebal nampak orang-orang yang menggunakan tombak yang ditusukkan ke dalam melalui celah-celah jeruji sehingga terpaksa dia mundur lagi.

Cepat ia memeriksa ke belakang, kanan dan kiri, akan tetapi dinding goa itu merupakan dinding batu alam, entah berapa tebalnya. Tidak ada jalan lari! Dan dia pun tak mungkin menahan napas terus-terusan. Dia mulai bernapas dan asap sudah memenuhi goa itu. Yo Han terbatuk-batuk, lalu mencium bau yang masam yang menyesakkan dada dan ia pun terguling roboh. Pingsan…..

********************

Yo Han bermimpi. Dalam mimpi itu ia mengejar-ngejar seorang gadis cantik yang dapat berlari kuat sekali, juga kecepatan larinya luar biasa sekali. Akan tetapi akhirnya, di puncak sebuah bukit, dia dapat menyusul dan menangkap gadis itu, dirangkulnya dari belakang, kemudian dia merobek baju gadis itu! Bukan untuk apa-apa melainkan untuk melihat pundaknya! Dia melihat sepasang pundak yang putih mulus, kemudian gadis itu menendangnya dan dia jatuh terjungkal ke dalam jurang yang dalam sekali!

Dia membuka matanya. Tidak, dia tidak mati, tidak jatuh ke jurang. Lalu dia teringat. Heran, dia tidak berada di lantai batu, tidak berada di ruangan goa lagi, walau pun masih ada pintu jeruji besi di depannya. Dia rebah di atas lantai ubin, di sebuah kamar yang cukup luas, kamar yang tidak berjendela, akan tetapi pintunya berjeruji amat kuat dan di luar pintu terdapat banyak penjaga dengan senjata tajam dan runcing di tangan. Dia berada dalam tahanan!

Yo Han bangkit duduk dan terdengar gerakan orang di belakangnya, disusul suara tawa orang itu, tawa kecil yang bukan mengejek, bukan pula mentertawakan, tetapi tertawa karena merasa lucu. Ia cepat-cepat menengok dan melihat orang yang dikenalnya, yaitu pemuda bernama Cia Ceng Sun yang pernah bersama dia menjadi tamu kehormatan keluarga Siangkoan atau perkumpulan Pao-beng-pai!

“Kiranya engkau juga di sini, saudara Cia Ceng Sun. Dan kenapa pula engkau tertawa? Melihat tempat ini, jelas bahwa kita berada di dalam kamar tahanan. Mengapa engkau malah tertawa?”

Yo Han bangkit berdiri dan menghampiri pemuda itu yang duduk di depan kayu panjang, lalu duduk di sampingnya.

Cia Ceng Sun menahan tawanya dan menepuk pundak Yo Han. “He-heh-heh, Yo-toako, lucu akan tetapi menyenangkan melihat engkau dibawa masuk dalam keadaan pingsan ke kamar ini. Berarti aku mempunyai teman yang menyenangkan. Lucunya, kita berdua yang dipilih oleh Pao-beng-pai menjadi tamu kehormatan dan sekutu, dan kita berdua pula yang kini menjadi tawanan. Bukankah itu lucu sekali?”

Yo Han kagum melihat betapa pemuda itu dalam tawanan masih mampu berkelakar dan tertawa demikian gembira. Wajah yang tampan itu sedikit pun juga tak membayangkan perasaan takut, bahkan agaknya pengalaman ini amat menyenangkan hatinya.

“Saudara Cia, kenapa engkau sampai ditawan? Bukankah Siangkoan Kok dan terutama sekali Siangkoan Siocia (Nona Siangkoan) amat suka padamu?”

Cia Ceng Sun menarik napas panjang, namun wajahnya masih cerah. “Ini merupakan rahasia besar yang sukar untuk aku ceritakan kepadamu. Akan tetapi mengapa engkau sendiri yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali sampai dapat tertawan mereka? Ini baru aneh!”

Yo Han memandang dengan serius. “Saudara Cia, kita ini senasib. Bahkan mungkin sekali kita berdua akan terancam bahaya maut. Jika kita tidak bekerja sama, bagaimana mungkin akan mampu lolos dari ancaman bahaya? Dan untuk dapat bekerja sama, kita lebih dulu haruslah dapat saling percaya, bukan?”

Cia Ceng Sun mengangguk. “Engkau benar sekali, Yo-toako.”

“Nah, aku percaya padamu, apakah engkau tidak percaya padaku sehingga tidak dapat menceritakan keadaanmu padaku? Dengan mengetahui keadaan kita masing-masing, barulah kita dapat bekerja sama.”

“Kalau engkau percaya padaku, nah, ceritakanlah mengapa engkau ditawan, Yo-toako.”

Yo Han menghela napas. Pemuda ini selain cerdik, juga agaknya hendak merahasiakan dirinya. Dia harus memperlihatkan kejujuran dulu supaya pemuda itu benar-benar dapat percaya padanya.

“Baiklah. Namaku memang Yo Han dan seperti telah kau ketahui dalam pertemuan itu, memang aku adalah seorang tokoh Thian-li-pang, bahkan dianggap sebagai pimpinan. Hanya sikapku memusuhi tiga keluarga besar para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman adalah palsu. Aku sengaja memperlihatkan sikap bermusuhan karena sedang menyelidiki hilangnya seorang anak dari ketiga keluarga besar itu yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.”

Ceng Sun tertarik sekali. “Wah, sungguh menarik dan aneh. Bagaimana mungkin dapat mencari anak hilang yang sudah lewat dua puluh tahun? Anak siapa yang hilang itu dan bagaimana caranya engkau hendak mencarinya, Yo-toako?”

Yo Han lalu bercerita mengenai hilangnya puteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, yaitu bibi gurunya yang bernama Can Bi Lan, yang hilang diculik orang dua puluh tahun yang lalu.

“Itulah sebabnya aku sengaja menyatakan permusuhanku terhadap suami isteri itu, karena aku menduga bahwa penculiknya tentulah musuh mereka dan musuh mereka itu siapa lagi kalau bukan tokoh kang-ouw, tokoh sesat yang lihai? Aku sengaja memancing untuk mencari penculik itu. Pada waktu kuceritakan hal ini kepada Siangkoan Kok, dia mengatakan bahwa yang menculik puteri dari suami isteri pendekar itu adalah Tiat-liong Sam-heng-te, dan memberi tahu di mana tiga orang tokoh sesat itu tinggal. Aku segera ke sana dan bertemu seorang gadis yang tentu saja kukira anak yang hilang itu. Aku mengajak ia bicara dan kepadanya aku mengaku terus terang bahwa aku mencari anak yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Aku bahkan memaksa membuka bajunya dan sepatunya untuk menemukan tanda kelahiran di pundak dan kaki. Akan tetapi ternyata gadis itu bukan anak yang kucari, dan ternyata ia adalah umpan yang sengaja dipasang oleh Pao-beng-pai untuk menjebak dan menangkap aku.”

Ceng Sun tertawa geli. “He-he-heh, orang-orang Pao-beng-pai memang cerdik dan licik bukan main. Lalu bagaimana cara mereka dapat menangkap dan membuatmu pingsan, Toako?”

Yo Han lalu menceritakan betapa dia dijebak dan ruangan dalam goa tertutup jeruji besi, kemudian ada asap bius yang menyerangnya sehingga dia akhirnya roboh pingsan.

“Agaknya Siangkoan Kok memang sudah mencurigaiku atau mendengar tentang sepak terjangku sebagai Pendekar Tangan Sakti, maka dia memasang jebakan itu. Aku terlalu yakin bahwa gadis itu benar puteri Paman Sim Houw, maka aku ceroboh dan bodoh, menceritakan maksudku hingga aku ketahuan dan dijebak. Kini aku telah menceritakan semua dengan terus terang kepadamu, Saudara Cia. Engkau sudah mengetahui siapa aku dan mengapa aku berada di sini, mengapa pula aku ditangkap. Tiba giliranmu untuk menceritakan siapa adanya engkau dan mengapa pula engkau berada di sini sehingga akhirnya ditawan juga.”

“Yo-toako, ini merupakan rahasia besar yang amat gawat dan hanya dapat kuceritakan kepada orang yang benar-benar dapat kupercaya.”

Yo Han mengerutkan alisnya. “Saudara Cia! Apakah engkau tidak percaya kepadaku, padahal aku sudah menceritakan segala rahasiaku kepadamu yang berarti aku percaya padamu?”

“Bukan begitu, Yo-twako. Akan tetapi karena rahasiaku amat besar dan gawat, aku tidak boleh bercerita kepada orang lain kecuali seorang saudaraku. Nah, kalau engkau mau mengangkat saudara dengan aku, barulah aku mau bercerita.”

Yo Han mengerutkan alisnya. Ia kagum dan suka kepada pemuda ini, akan tetapi sama sekali tak pernah bermimpi akan mengangkat saudara! Akan tetapi, mereka berdua kini menjadi tawanan dan nyawa mereka terancam, kalau tak ada saling percaya dan saling pengertian, maka akan sukar bekerja sama. Padahal, dengan kerja sama pun belum tentu mereka akan dapat lolos menghadapi Pao-beng-pai yang memiliki banyak anggota dan amat kuat itu, apa lagi memiliki pimpinan yang berilmu tinggi.

“Baiklah,” akhirnya dia berkata.

“Bagus, marilah kita bersumpah di sini saja, Toako,” Ceng Sun berkata dan mereka pun berlutut di atas pembaringan.

Yo Han segera mengucapkan sumpahnya. “Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini, saya menganggap saudara Cia Ceng Sun…”

“Namaku yang sebenarnya Cia Sun, Yo-twako,” pemuda itu memotong.

Yo Han membuka mata dan menoleh. Temannya itu juga berlutut di sebelahnya. Nama Cia Sun ini tidak berarti apa-apa baginya. Dia tidak mengenal nama Cia Sun seperti juga dia tidak mengenal nama Cia Ceng Sun. Akan tetapi dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua nama itu, entah apanya. Dia tak peduli dan mengulang.

“Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini saya menganggap saudara Cia Sun sebagai adik angkat saya, akan saling memberi dan saling mengasihi seperti kakak dan adik kandung.”

Cia Sun mengangguk-angguk, kemudian ia pun mengucapkan sumpahnya seperti yang diucapkan Yo Han. Setelah itu, mereka lalu turun dari pembaringan dan saling memberi hormat.

Cia Sun berkata lebih dulu sambil memberi hormat. “Yo-toako, terimalah hormat adikmu Cia Sun.”

“Cia-siauwte, aku merasa berterima kasih sekali. Nah, sekarang, kau ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu supaya kakakmu ini mengetahui segalanya dan kita dapat saling membantu.”

“Mari kita duduk kembali di pembaringan itu.”

Mereka kemudian duduk di tepi pembaringan dan Cia Sun mulai dengan pengakuannya. “Namaku memang benar Cia Sun dan kalau engkau tidak mengenal nama ini adalah karena aku hanyalah putera Pangeran Cia Yan yang tidak begitu terkenal di luar istana.”

“Ahhh, pantas…!” Yo Han berkata sambil menepuk pahanya. “Apanya yang pantas?”
“Ketika mendengar she Cia, aku sudah merasa aneh, seperti ada sesuatu yang kukenal atau yang menarik. Kiranya Paduka adalah cucu Sribaginda Kaisar!”

“Hushhh! Begitukah sikap seorang kakak terhadap adiknya? Yo-toako, aku akan merasa terhina kalau kakakku sendiri menyebutku paduka. Bagimu aku adalah adik Cia Sun, tanpa embel-embel pangeran dan sebagainya!”

Melihat sikap pangeran itu yang kelihatan tidak senang, Yo Han cepat-cepat memegang lengannya. “Maafkan aku, siauwte. Aku hanya bergurau. Nah, coba lanjutkan ceritamu, mengapa engkau sampai tersesat ke tempat ini dan mengapa pula engkau ditawan oleh Pao-beng-pai?”

“Aku memang sedang merantau, Toako. Aku bosan di istana dan karena sejak kecil aku gemar belajar silat, maka aku ingin sekali mengenal dunia persilatan, mengenal dunia kang-ouw. Aku lalu mohon pada orang tuaku untuk merantau meluaskan pengalaman. Demikianlah, aku tiba di sini sesudah mendengar akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai.”

“Hemmm, apakah engkau merantau sekalian hendak menyelidiki tentang gerakan anti pemerintah?”

“Tidak sama sekali. Hanya kebetulan saja aku mendengar. Akan tetapi, begitu bertemu dengan nona Siangkoan, seketika aku jatuh cinta!”

Yo Han tersenyum, akan tetapi sikapnya bersungguh-sungguh. “Aku tak merasa heran, Cia-te (adik Cia), karena ia memang seorang gadis yang luar biasa. Ilmu silatnya tinggi, wajahnya cantik jelita dan anggun, tidak kalah oleh puteri yang mana pun.”

“Akan tetapi, tentunya engkau mengetahui sendiri betapa cintaku kepadanya itu bahkan menyiksa perasaanku mengingat bahwa ayahnya adalah ketua Pao-beng-pai yang tentu saja memusuhi keluargaku.”

“Hemmm, memang liku-liku cinta kadang amat membingungkan. Akan tetapi bagaimana dengan perasaan nona itu sendiri kepadamu, Cia-te?”

“Dia pun tidak menolak cintaku, bahkan setuju ketika aku mengajukan pinangan secara langsung kepada ayahnya.”

Yo Han memandang kaget dan kagum. “Engkau berani langsung meminangnya, Cia-te? Itu membutuhkan keberanian hebat! Meminang puteri orang yang baru saja dikenalnya! Dan bagaimana tanggapan orang tuanya?”

“Eng-moi dan ibunya setuju, dan ayahnya mengajukan syarat, minta tanda ikatan dan juga kelak dalam pesta pernikahan harus dihadiri Kaisar.”

“Gila…!”

“Engkau tahu siapa aku sebenarnya, Twako. Kalau aku menikah, sudah pasti kakekku, Sri baginda Kaisar, akan menghadirinya. Oleh karena itu, aku menerima syarat itu dan sebagai tanda pengikat, aku lalu memberikan seuntai kalung mutiara yang amat mahal harganya.”

“Jadi engkau mengaku sebagai pangeran?”

“Aku tidak sebodoh itu. Tentu saja aku tidak mengaku sebagai pangeran. Dan Eng-moi sudah berjanji kepadaku bahwa kelak setelah menikah dengan aku, dia tidak akan lagi mencampuri urusan pemberontakan dan permusuhan.”

“Aihhh, siauwte! Jika engkau tak mengaku sebagai pangeran, akan tetapi menyanggupi untuk mendatangkan Sribaginda Kaisar dalam pesta pernikahanmu, hal itu tentu akan membuat mereka curiga sekali!”

Cia Sun menghela napas panjang. “Itulah kesalahanku. Aku tidak menduga sedemikian jauhnya. Aku kemudian berpamit kepada mereka, berjanji untuk mengirim utusan dan meminang secara resmi. Dalam perjalanan, muncul tanpa kusangka-sangka dua orang perwira pengawal yang diutus ayah untuk memanggil aku pulang karena aku ditunggu oleh tunanganku dan keluarganya.”

“Ahh, engkau sudah bertunangan dan engkau masih meminang nona Siangkoan Eng?” Yo Han bertanya dengan suara mengandung teguran.

Dia mulai memandang pemuda tampan dan halus itu sebagai adiknya sendiri, maka dia secara otomatis menegurnya…..

“Ahhh, engkau tidak tahu, Twako. Aku ditunangkan oleh orang tuaku dengan gadis itu, akan tetapi bagaimana aku bisa mencinta seorang gadis yang baru sekali kumelihatnya, itu pun ketika ia masih kecil? Aku tidak berani menentang kehendak orang tuaku, akan tetapi biar pun aku sudah ditunangkan, namun aku masih merasa bahwa hatiku bebas. Anehkah kalau aku jatuh cinta kepada Eng-moi? Sudah jelas Eng- moi mencintaku dan aku mencintanya, sedangkan Si Bangau Merah itu, belum tentu ia suka kepadaku atau aku suka kepadanya.”

Sepasang mata Yo Han terbelalak. “Si Bangau Merah…?”

Pangeran itu tersenyum. “Ya, tunanganku adalah seorang gadis pendekar yang berjuluk Si Bangau Merah, namanya Tan Sian Li. Ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong dan ibunya adalah puteri bekas panglima Kao Cin Liong. Ia masih keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Kenalkah engkau kepadanya, Twako?”

Yo Han dapat menenangkan kembali hatinya yang terguncang keras mendengar bahwa tunangan pangeran ini adalah Tan Sian Li, kekasihnya! Ia mendengar keterangan orang tua Sian Li bahwa kekasihnya itu sudah ditunangkan dengan seorang pangeran, akan tetapi siapa dapat menduga bahwa pangeran itu adalah pemuda ini, Cia Sun yang kini menjadi adik angkatnya?

“Aku mengenal nama besarnya. Cia-te, apakah engkau pernah melihatnya sekarang?” tanyanya.

Diam-diam dia membandingkan antara Sian Li dan Siangkoan Eng. Memang keduanya cantik jelita, keduanya memiliki ilmu silat tinggi. Akan tetapi bagi dia, tentu saja Sian Li lebih hebat, lebih segala- galanya. Biar pun demikian, dia yakin bahwa jika pangeran ini sebelumnya telah melihat Sian Li, belum tentu dia akan mudah terpikat oleh gadis lain yang secantik Siangkoan Eng sekali pun.

“Sudah kukatakan tadi bahwa aku baru bertemu satu kali dengannya, itu pun saat kami masih remaja. Bahkan aku sudah hampir lupa bagaimana wajahnya, dan tidak tahu pula bagaimana wataknya.”

“Cia-te, lanjutkanlah ceritamu. Sesudah engkau bertemu dengan kedua orang perwira pengawal itu, lalu bagaimana?”

“Selagi mereka bercakap-cakap dengan aku, mendadak saja muncul Eng-moi bersama empat orang pelayannya. Aku terkejut dan mencoba untuk memberi penjelasan. Akan tetapi dia sudah marah sekali, menganggap aku sebagai pangeran yang menjadi mata-mata dan tentu akan memusuhi Pao-beng-pai. Ia lalu merobohkan aku dan menawanku, sedangkan dua orang perwira itu diserang oleh empat orang pelayannya. Mereka tentu telah tewas. Nah, segala penjelasanku tidak diterima oleh ketua Pao-beng-pai mau pun Siangkoan Eng sendiri, dan aku lalu dimasukkan ke dalam kamar tahanan ini. Eh, belum lama aku berada di sini, engkau digotong masuk dalam keadaan pingsan.”

Setelah saling mendengar pengalaman mereka yang diceritakan dengan sejujurnya itu, segera dua orang pemuda yang mengangkat saudara dalam keadaan aneh itu menjadi akrab sekali. Mereka bercakap-cakap saling menceritakan riwayat mereka.

Akan tetapi ada satu hal yang masih tetap dirahasiakan oleh Yo Han, yaitu mengenai hubungannya dengan Tan Sian Li, Si Bangau Merah yang menjadi tunangan pangeran itu. Dia merahasiakan hal ini karena dia tidak ingin menimbulkan suasana yang tak enak di antara mereka.

Kenyataan bahwa pangeran ini tidak saling mencinta dengan Sian Li, bahkan pangeran itu kini jatuh cinta kepada Siangkoan Eng, menimbulkan perasaan senang dan harapan baru dalam hatinya. Dan timbul pula tekad dalam hatinya untuk membantu pangeran itu supaya dapat melangsungkan perjodohannya dengan Siangkoan Eng. Tentu saja, tanpa dia sadari, tanpa dia sengaja, dibalik sikapnya ini terdapat dasar kuat dari hasrat hatinya agar pangeran itu dapat terlepas dari ikatannya dengan Sian Li…..

********************

Tengah malam telah lewat, akan tetapi Siangkoan Eng masih belum juga tidur. Ia sejak sore tadi mondar- mandir dalam kamarnya dengan wajah muram. Ia menderita tekanan batin dan kebingungan semenjak ia menangkap Cia Ceng Sun dan memasukkannya ke dalam kamar tahanan, kemudian melapor kepada ayahnya bahwa Cia Ceng Sun itu sebenarnya adalah seorang pangeran Mancu. Ayahnya marah bukan main.

“Jahanam, aku sudah curiga! Pantas dia enak saja menerima syaratku bahwa dalam pesta pernikahan harus hadir kaisar! Kiranya kaisar adalah kakeknya sendiri! Dia tentu datang untuk memata-matai kita! Celaka! Kalau begitu, bagus sekali bila engkau sudah menawannya, anakku. Kita dapat mempergunakannya sebagai sandera penting untuk melindungi diri kalau-kalau ada penyerangan dari pemerintah. Dan kalau dia sudah tidak ada gunanya lagi, akan kusiksa dia sampai mampus!”

Setelah Siangkoan Eng berada di dalam kamarnya sendiri, ucapan terakhir ayahnya itu selalu terngiang di telinganya. Cia Ceng Sun yang ternyata adalah Pangeran Cia Sun itu akan disiksa ayahnya sampai mati! Dan dia tidak dapat menipu diri. Dia tetap mencinta pemuda itu, pangeran atau pun bukan!

Apa lagi kalau ia teringat akan percakapannya dengan Cia Sun, teringat betapa pemuda itu berjanji akan membawanya ke dalam kehidupan yang tenteram penuh kedamaian, tak mau terlibat dalam pemberontakan dan permusuhan. Ia bahkan hampir yakin bahwa pemuda itu bukan datang untuk memata- matai Pao-beng-pei.

Akan tetapi, karena terkejut dan marah mendengar pemuda itu seorang pangeran yang menyamar sebagai pemuda biasa, ia telah menangkapnya. Sekarang pemuda itu sudah menjadi tawanan ayahnya, tawanan penting dan dia tidak mungkin dapat minta kepada ayahnya untuk mengampuni atau membebaskan Cia Sun.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo