October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 4

 

Melihat pria itu, gadis berpakaian putih segera berkata, “Totiang (Pak Pendeta) tentunya wakil dari Pek- lian-pai. Apa kehendak Totiang?”

“Siancai…! Seperti juga saudara dari Pat-kwa-pai tadi, kami dari Pek-lian-pai ingin pula membuktikan sendiri kelihaian pimpinan Pao-beng-pai. Akan tetapi pinto (aku) tidak mau melakukan pengeroyokan, pinto hanya ingin membuktikan kelihaian kalian bila bermain pedang. Nah, siapa di antara para pimpinan Pao- beng-pai yang berani melayani pinto bermain pedang?”

Sekali tangan kanannya bergerak, pendeta Pek-lian-kauw itu telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya. Cara dia mencabut pedang saja menunjukkan kemahirannya.

Tentu saja dia lihai karena tosu ini adalah Kui Thiancu, seorang tokoh Pek-lian-kauw yang lihai dan dipercaya oleh para pimpinan perkumpulan pemberontak itu. Sekarang ia datang sebagai wakil Pek-lian- pai bersama dua orang sute-nya. Dia tadi sudah melihat betapa hebat tenaga sinkang dari ketua Pao- beng-pai, oleh karena itu, dia menantang untuk bertanding ilmu pedang yang menjadi andalannya…..

Kembali keluarga ketua Pao-beng-pai nampak saling berbisik. Agaknya Siangkoan Eng meminta perkenan kepada ayahnya untuk mewakili ayahnya menyambut tantangan tosu Pek-lian-kauw itu. Siangkoan Kok mengangguk memberi ijin dan dari tempat duduknya, ketua Pao-beng-pai itu berkata kepada Kui Thiancu.

“Sobat, kenapa Pek Sim Siansu tidak datang sendiri?”

Mendengar pertanyaan itu, Kui Thiancu mengerutkan alisnya. Pek Sim Siansu adalah ketua Pek-lian-kauw yang masih terhitung paman gurunya. Kiranya ketua Pao-beng-pai ini mengenal ketua Pek-lian-kauw pula!

“Pangcu, ketua kami mengutus kami untuk datang sebagai wakil Pek-lian-pai, supaya melihat apakah Pao- beng-pai cukup pantas untuk menjadi rekan seperjuangan. Ketua kami adalah paman guru kami.”

“Andai kata Pek Sim Siansu sendiri yang datang, tentu akan kusambut ajakannya untuk berlatih pedang. Akan tetapi sekarang hanya murid keponakannya yang datang. Aku akan mewakilkan saja kepada puteriku untuk bertanding ilmu pedang!”

Siangkoan Eng kemudian bangkit dan dengan tenangnya melangkah menghampiri tosu Pek-lian-kauw itu. Semua orang memandang kagum dan juga tegang. Gadis itu nampak demikian lembut dan anggun, cantik jelita, bagaimana akan dapat menandingi seorang tokoh Pek-lian-kauw yang sudah terkenal akan kelihaiannya?

Kui Thiancu sendiri mengerutkan alisnya dan memandang rendah. Dia sudah pandai bermain pedang sebelum gadis yang usianya baru dua puluh tahun lebih ini lahir! Dia telah menguasai ilmu pedang selama puluhan tahun, sedangkan gadis ini paling banyak hanya belajar silat selama belasan tahun saja.

Apa lagi dalam hal pengalaman bertanding. Sudah ratusan kali dia bertanding melawan orang-orang yang lihai, sedangkan gadis ini? Mungkin belum pernah bertemu tanding yang sungguh-sungguh.

Kui Thiancu tersenyum pahit karena merasa sangat direndahkan dengan kemunculan seorang bocah untuk menandinginya. Diam-diam dia mengerahkan ilmu sihirnya. Setiap orang tosu Pek-lian-kauw yang sudah tinggi kedudukannya tentu pandai menggunakan ilmu sihir.

Ia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya terhadap gadis di depannya. Sepasang matanya bagai menembus mata gadis itu, sedang mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Kemudian terdengar suaranya yang menggetar mengandung penuh wibawa.

“Nona yang begini muda bagaimana hendak bermain-main dengan pedang yang tajam? Bila tergores sedikit saja, kulitmu yang halus akan berdarah dan engkau akan menangis karena ngeri. Nah, sekarang pun engkau sudah ingin menangis. Menangislah, Nona, menangislah karena engkau memang pantas dikasihani! Menangislah…!”

Kui Thiancu merasa diremehkan, maka kini dia hendak membalas dan membikin malu keluarga ketua Pao- beng-pai dengan ilmu sihirnya.

Akan tetapi, gadis itu tidak menangis, malah memandang kepadanya dengan matanya yang mencorong, lalu bertanya dengan suara yang sungguh-sungguh, “Totiang, bagai mana sih caranya menangis itu? Aku tidak pernah menangis, harap Totiang memberi contoh.”

Tentu saja Kui Thiancu merasa heran. Seorang gadis muda tidak pernah menangis? Sungguh aneh.

“Bagaimana caranya menangis? Engkau sungguh belum tahu? Begini, Nona, beginilah caranya orang menangis…”

Dan tosu itu lalu mengeluarkan suara tangis sambil menutupi muka dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tetap memegang pedang.

“Huauuu-uuuuu… huuuuu-uuuhhh…”

Terdengar suara orang-orang tertawa geli karena pertunjukan itu memang lucu sekali. Kakek yang tubuhnya pendek kurus dan mukanya keriputan sehingga nampak amat tua itu, yang mengenakan jubah pendeta, tokoh Pek-lian-kauw, sekarang seperti anak kecil menangis di depan Siangkoan Eng yang cantik dan kini tersenyum-senyum mengejek.

Mendengar suara tawa orang-orang di situ, Kui Thiancu baru menyadari keadaannya. Diam-diam dia terkejut. Sihirnya yang dikerahkan untuk memaksa gadis itu menangis bahkan seperti senjata makan tuan. Gadis itu ternyata tak terpengaruh sihirnya, bahkan menggunakan kekuatan sihir itu, ditambah kekuatannya sendiri, membuat pengaruh itu membalik sehingga dialah yang lalu menangis, tanpa disadarinya sendiri bahwa ia telah melakukan perbuatan yang lucu dan memalukan.

Tentu saja Kui Thiancu marah sekali, akan tetapi ia bukan seorang bodoh atau ceroboh. Dia adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw yang sudah berpengalaman, maka biar pun dia mendapat malu di depan banyak orang, namun dia dapat melihat kenyataan dan tidak menuruti hawa nafsu amarah.

Dia menyadari bahwa dia sudah membuat kesalahan besar, keliru menafsirkan orang dan terlalu memandang rendah gadis puteri tuan rumah itu. Dia pun sudah mendengar bahwa Siangkoan Kok adalah seorang bangsawan keturunan keluarga Kerajaan Beng yang selain tinggi ilmu silatnya, juga menguasai ilmu sihir. Maka tidak mengherankan kalau puterinya juga pandai ilmu sihir.

“Hemmm, Nona masih muda sudah lihai dan juga cerdik sekali sehingga aku terjebak. Nah, sekarang aku ingin melihat kehebatan ilmu pedangmu, Nona.”

Dia menggerakkan tangan dan memutar-mutar pedang di atas kepala, sedemikian kuat dan cepatnya sehingga pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan terdengar bunyi desing yang menyeramkan.

Siangkoan Eng masih tersenyum mengejek. Tangan kanannya bergerak dan dia sudah mencabut pedangnya yang beronce merah, sedangkan tangan kirinya tetap memegang hud-tim (kebutan) yang bergagang emas dan bulunya merah mengkilap itu.

Dengan sikap tenang gadis itu menyilangkan pedang dan kebutan di depan dada, lalu berkata, “Totiang, aku sudah siap, silakan mulai memperlihatkan ilmu pedangmu yang hebat!”

Dalam ucapan yang dingin ini terkandung tantangan dan juga ejekan yang terasa sekali oleh Kui Thiancu sehingga membuatnya marah sekali, akan tetapi hanya ditahannya di dalam hati.

Ini memang merupakan siasat yang cerdik dari Siangkoan Eng. Kemarahan akan dapat melemahkan orang, membuat orang menjadi kurang waspada. Maka bagi seorang ahli silat, marah pada waktu bertanding merupakan pantangan besar karena hanya akan merugikan diri sendiri.

Kui Thiancu yang sudah amat marah itu tidak mau lagi bersikap sungkan. Sebenarnya, sebagai seorang yang jauh lebih tua, apa lagi memiliki kedudukan tinggi sebagai wakil sebuah perkumpulan besar seperti Pek-lian-pai, seharusnya dia merasa malu bila harus menyerang lebih dahulu dalam sebuah pi-bu melawan seorang gadis muda. Akan tetapi karena sudah amat marah, dia tidak lagi peduli dan putaran pedangnya di atas kepala semakin kuat dan cepat.

“Nona, jaga baik-baik seranganku ini!” bentaknya dan pedang itu makin cepat berdesing membentuk sinar yang membentuk gulungan lingkaran, lalu dari lingkaran itu mencuat sinar menyambar ke arah Siangkoan Eng secara bertubi-tubi.

Gadis itu pun menggerakkan pedangnya untuk menangkis sementara kakinya membuat langkah-langkah melingkar sehingga semua serangan itu gagal, luput atau tertangkis. Kemudian sambil menangkis, dia pun membalas dengan serangan hud-tim di tangan kirinya. Begitu digerakkan, bulu hud-tim yang lemas itu berubah kaku seperti kawat baja, dapat dipergunakan untuk menusuk, akan tetapi juga dapat lemas seperti rambut yang dapat membelit lawan.

Pertandingan itu berlangsung dengan seru sekali. Karena merasa dirinya sebagai wakil perkumpulan besar, tentu saja Kui Thiancu tidak mau kalah melawan seorang gadis. Dia pun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya.

Namun agaknya sedikit banyak gadis itu mengenal jurus-jurus ilmu pedang Pek-lian-pai. Buktinya, gadis itu dapat menghindarkan diri dengan mudah dan tepat sekali. Bahkan serangan balasan dengan kebutannya, setelah lewat dua puluh jurus, membuat tokoh Pek-lian-kauw itu mulai terdesak dan sibuk menghindarkan diri.

Diam-diam kakek ini terkejut dan khawatir. Sungguh di luar dugaannya bahwa gadis ini benar-benar amat lihai! Dia semakin memperhebat serangannya, bahkan mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya. Namun tetap saja dia menghadapi benteng pertahanan yang tidak mampu ditembus oleh gulungan sinar pedangnya. Sebaliknya, sambaran bulu-bulu kebutan itu membuat dia semakin repot dengan loncatan ke kanan kiri dan memutar pedang untuk melindungi tubuhnya.

Ketika kembali dia membacokkan pedangnya dengan pengerahan tenaga, bulu kebutan itu menyambut dan melibat pedangnya dengan lilitan bagaikan ular. Dan pada saat yang sama pula, pedang di tangan gadis itu menyambar, membacok ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang!

Serangan ini hebat sekali dan tidak ada lain jalan bagi Kui Thiancu kecuali melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang kalau dia tidak ingin tangannya terbabat buntung di pergelangannya! Dengan muka berubah kemerahan dia meloncat ke belakang dan melepaskan pedangnya yang kini masih terbelit hud- tim.

Siangkoan Eng juga tidak mengejar. Sambil tersenyum dingin gadis ini memandang kepada lawannya, lalu berkata, “Totiang, terimalah kembali pedangmu!”

Dia menggerakkan hud-tim di tangan kiri, dan pedang rampasan itu meluncur ke arah pemiliknya! Wajah tokoh Pek-lian-pai itu berubah pucat, akan tetapi dia menyambut pedangnya dan dia pun maklum bahwa dia tidak akan menang melawan gadis itu. Kalau tadi dia merasa penasaran, kini dia kagum bukan main.

Kalau puterinya saja sehebat itu, apa lagi ayahnya. Dan dia pun mendengar bahwa ibu gadis ini, Lauw Cu Si, ialah seorang keturunan para pimpinan Beng-kauw, perkumpulan yang dahulu amat terkenal sebagai perkumpulan besar kaum sesat yang telah hancur. Dan kabarnya, isteri Siangkoan Kok itu pun memiliki ilmu yang lihai, di samping ilmu sihir.

“Nona memang hebat, pinto mengaku kalah,” lalu dia menghadap ke arah tuan rumah dan memberi hormat. “Pangcu, sekarang pinto yakin bahwa Pao-beng-pai merupakan kawan seperjuangan yang layak dihargai dan pinto dapat memberi kabar kepada para pimpinan Pek-lian-kauw.”

Tentu saja Siangkoan Kok merasa girang. “Terima kasih, Totiang dan silakan duduk.”

Setelah tokoh Pek-lian-kauw itu duduk kembali, bangkitlah seorang di antara tiga orang pemuda yang belum mau memperkenalkan diri. Dia seorang pemuda berusia tiga puluh tahun yang bertubuh tinggi besar, kepalanya botak dan kulitnya kuning dengan mata yang sipit. Gerakannya tangkas ketika dia melompat ke atas ruangan tempat mengadu ilmu itu dan dia pun menjura kepada pihak tuan rumah.

“Melihat kepandaian Nona Siangkoan, hati saya penuh rasa kagum dan sebelum saya memperkenalkan diri sebagai murid Kong-thong-pai, saya ingin berkenalan lebih dahulu dengan ilmu silat puteri tuan rumah! Nona, silakan maju dan melayaniku beberapa belas jurus!” Sikapnya kaku dan agak takabur, seperti bukan sikap seorang ahli silat di dunia kang-ouw yang berpengalaman.

Siangkoan Eng tentu saja tidak mau melayani seorang tamu seperti itu. Kalau tadi dia mewakil ayahnya menandingi Kui Thiancu adalah karena mengingat bahwa Pek-lian-pai sebuah perkumpulan pejuang yang besar dan dia tahu bahwa para tosu Pek-lian-kauw amat lihai. Akan tetapi, biar laki-laki muda itu murid perkumpulan silat Kong-thong-pai, sikapnya demikian hijau dan dungu.

Dia memberi isyarat kepada seorang di antara pelayannya, yaitu yang berpakaian serba kuning, pelayannya yang paling lihai, lalu berkata lantang.

“Sahabat dari Kong-thong-pai, untuk menyambut tantanganmu, aku mewakilkan kepada salah seorang pelayanku. Kalau engkau dapat mengalahkannya, barulah engkau pantas menantangku!”

Sesosok bayangan kuning berkelebat dan wanita muda berpakaian serba kuning yang juga cantik itu tahu- tahu telah berdiri di depan pemuda Kong-thong-pai yang tidak mau mengenalkan diri sebelum menguji kepandaian.

“Kongcu (Tuan Muda), saya mewakili Siocia untuk menandingi Kongcu. Silakan!”

Diam-diam murid Kong-thong-pai ini mendongkol bukan main. Dia adalah seorang murid unggulan dari Kong-thong-pai, dan dia dipercaya para pimpinan perkumpulannya untuk mewakili Kong-thong-pai. Namun di sini dia dipandang rendah sekali, tingkatnya hanya disejajarnya dengan seorang pelayan dari puteri tuan rumah! Keterlaluan sekali!

Maka, dia pun melawan aksi meremehkan dari pihak tuan rumah itu dengan sikap yang angkuh, “Baik, sebagai tamu saya tentu saja menerima semua peraturan tuan rumah. Akan tetapi, saya tidak mau mencari kemenangan dari seorang pelayan! Kalau wakil Nona Siangkoan ini mampu bertahan melawanku selama dua puluh jurus maka aku mengaku kalah!”

Melihat lagak orang yang meremehkan dirinya itu, si baju kuning hanya tersenyum saja. Dengan sikap tetap menghormat sebagai seorang pelayan terhadap tamu majikannya, dia tersenyum dan memberi hormat,

“Kongcu, saya sudah siap. Silakan Kongcu mengalahkan saya sebelum dua puluh jurus itu.”

Melihat sikap si pelayan yang menantang, pemuda Kong-thong-pai itu menjadi semakin penasaran. Mukanya yang kuning kini berubah merah dan dia pun membentak, “Lihat seranganku!”

Dan dia pun sudah menerjang dengan ganas. Ilmu silat yang dia mainkan adalah ilmu silat Kong-thong-pai yang banyak menggunakan gerakan kedua lengan dikembangkan seperti sepasang sayap burung rajawali dan kedua tangan dapat menyambar dari kanan kiri secara cepat sekali. Serangan pertama itu dilakukan dengan gerakan seperti seekor harimau menerkam kambing, kedua lengan yang dikembangkan itu membuat gerakan ke depan, dan kedua tangannya menerkam dari kanan kiri dengan tubuh melompat.

Akan tetapi, nona baju kuning itu adalah pelayan Siangkoan Eng yang nomor satu, serta merupakan pelayan kepercayaan yang telah menguasai ilmu silat paling tinggi di antara rekan-rekannya. Menghadapi terkaman yang dahsyat itu, dia pun bersikap lincah dan meloncat ke belakang, lalu memutar tubuh sehingga serangan lawan luput dan dia pun telah menggerakkan kaki ketika memutar tubuh tadi, membalas serangan lawan dengan sebuah tendangan kaki yang mencuat ke arah dada lawan!

Melihat kelincahan lawan, pemuda Kong-thong-pai itu menjadi semakin penasaran. Dia memutar lengannya dan berusaha menangkap kaki yang menendangnya. Akan tetapi gadis pelayan itu sudah maklum akan niat lawan, maka ia pun menarik kembali kakinya, meloncat dengan gerakan cepat sekali ke kiri, kemudian dari kiri ia mengirim tamparan ke arah kepala lawan!

Sekali ini, pemuda itu tidak berani bersikap lengah. Untuk menangkis tidak ada waktu lagi, maka terpaksa dia melempar tubuh ke belakang agar terhindar dari tamparan yang cukup berbahaya itu karena dia dapat merasakan sambaran angin pukulan yang cukup kuat. Tahulah dia bahwa gadis berpakaian kuning itu, biar pun hanya seorang pelayan, ternyata memiliki ilmu kepandaian tinggi dan merupakan lawan berat.

Maka ia pun tidak berani lagi memandang rendah. Dia mulai menyerang dengan gencar dan tanpa sungkan lagi. Setelah lewat sepuluh jurus dan dia sama sekali belum mampu mengalahkan lawan, bahkan mendesak pun tak mampu, pemuda murid Kong-thong-pai itu menjadi semakin penasaran.

Ia segera mengeluarkan semua jurus pilihan yang paling dia andalkan, namun gadis itu mampu menandinginya, bahkan mampu pula membalas dengan tak kalah kuatnya. Dua puluh jurus lewat dan pemuda Kong-thong-pai itu melompat mundur. Mukanya berubah merah sekali.

“Dua puluh jurus telah lewat, aku mengaku kalah!”

Siangkoan Eng tersenyum, kini senyumnya tidak mengejek lagi karena bagaimana pun juga, dia senang dengan sikap jantan pemuda itu yang tidak malu-malu untuk mengakui kekalahannya sesuai dengan janjinya, walau pun sebenarnya dia belum kalah.

“Lanjutkanlah sampai ada yang kalah karena sesungguhnya engkau belum kalah, sobat dari Kong-thong- pai!” katanya lembut.

“Hemmm, aku Koan Tek adalah seorang lelaki sejati yang menjunjung tinggi nama dan kebesaran nama Kong-thong-pai. Tadi aku sudah berjanji, dan ternyata setelah lewat dua puluh jurus aku masih belum mampu mengalahkannya, berarti aku kalah. Pangcu, terimalah hormatku!” katanya sambil memberi hormat kepada Siangkoan Kok.

Ketua Pao-beng-pai yang tinggi besar ini mengangguk dan membalas penghormatan pemuda wakil Kong- thong-pai itu. “Silakan duduk, saudara Koan Tek!”

Kini tinggal dua orang tamu yang masih belum mau memperkenalkan diri dan mereka adalah dua orang pemuda yang kebetulan tidak saling berjauhan duduknya. Sekarang perhatian semua tamu ditujukan kepada kedua orang pemuda itu, bertanya-tanya siapa kiranya mereka berdua. Di antara mereka yang hadir, tidak ada yang mengenal mereka, maka tentu saja semua orang merasa heran bagaimana ada dua orang pemuda yang tidak terkenal berani bersikap begitu angkuh, tidak mau memperkenalkan diri lebih dulu kepada pihak tuan rumah!

Dua orang pemuda yang merasa menjadi pusat perhatian itu, kini juga saling pandang. Mereka belum saling mengenal, namun mereka berdua seperti merasakan suatu ikatan dan sepenanggungan. Keduanya merasa menjadi pusat perhatian sebab hanya mereka berdua saja yang kini belum lagi memperkenalkan diri, dan diharapkan mereka berdua akan menguji pihak tuan rumah seperti tadi dilakukan oleh wakil-wakil Pek-eng Bu-koan, Pat-kwa-pai, Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai.

Pemuda pertama berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, berperawakan sedang dan tegap. Wajahnya bulat, berkulit putih bersih. Sepasang matanya tajam, hidungnya agak besar dan mancung, mulutnya selalu terhias senyum manis dan alisnya tebal.

Dia seorang pemuda yang tampan. Sikapnya juga sangat anggun, tidak malu-malu dan berwibawa. Pemuda ini bukan lain adalah Pangeran Cia Sun yang sedang melakukan penyamaran!

Dia meninggalkan istana untuk mencari pengalaman, menyamar sebagai pemuda biasa. Karena dia seorang yang semenjak kecil suka mempelajari silat, kini ia ingin meluaskan pengetahuan dan menjelajahi dunia kang-ouw.

Maka, mendengar akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai, apa lagi sesudah mendengar bahwa Pao-beng-pai adalah perkumpulan yang anti terhadap pemerintahan kakeknya, yaitu Kaisar Kian Liong, dia tertarik dan sengaja datang berkunjung. Tentu saja dia tidak akan mengaku bahwa dia adalah seorang pangeran, karena hal itu sama saja dengan mencari kematian.

Kalau perkumpulan Pao-beng-pai itu anti pemerintah Kerajaan Ceng, tentu mereka akan membunuhnya ketika mengetahui bahwa dia seorang pangeran Mancu! Di sepanjang perjalanannya pun ia mengaku bernama Cia Ceng Sun. Dia memakai namanya sendiri, hanya menambahkan huruf Ceng di tengah, yaitu yang berarti kerajaan atau Dinasti Kerajaan Mancu.

Dan karena sejak kecil dia hidup dalam pendidikan seperti orang Han, maka tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia seorang pangeran Mancu. Dalam segala hal ia adalah seorang pemuda Han biasa. Dia pandai silat dan pandai pula dalam hal kesusastraan bangsa Han.

Pemuda yang kedua juga tampan, berusia lebih tua, kurang lebih dua puluh enam tahun dan sikapnya lebih matang dan pendiam. Dia pun tampan, walau pun ketampanannya berbeda dengan ketampanan Pangeran Cia Sun yang kini kita kenal sebagai pemuda Cia Ceng Sun.

Pemuda ke dua ini bermuka lonjong dengan dua mata yang tajam, hidung mancung dan mulutnya ramah tersenyum. Dagunya runcing berlekuk, rambutnya panjang dan hitam, alisnya tebal dengan dahi lebar. Perawakannya juga hampir sama dengan perawakan Cia Ceng Sun, sedang dan tegap. Gerak-geriknya amat tenang, sikapnya seperti acuh tak acuh walau pun wajahnya ramah.

Pemuda ini bukan lain adalah Yo Han, pemuda perkasa yang dijuluki Sin-ciang Taihiap (Pendekar Besar Tangan Sakti). Namun, karena ketika dia dijuluki Tangan Sakti itu tidak pernah ada orang yang melihat wajahnya, maka sekarang tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai pendekar itu di dalam pertemuan orang-orang dunia persilatan di situ.

Berbeda dengan Cia Ceng Sun yang pergi meninggalkan istana dengan tujuan hendak memperdalam pengetahuan dan meluaskan pengalaman, Yo Han datang ke tempat itu dalam rangka menunaikan tugasnya yang teramat sulit, yaitu mencari puteri bibinya Can Bi Lan dan suami bibinya si Pendekar Suling Naga Sim Houw.

Para pembaca kisah Si Bangau Merah tentu mengenal baik siapa Yo Han. Dia seorang yatim piatu. Mendiang ayahnya adalah Yo Jin, seorang petani biasa yang jujur namun berjiwa gagah, sedangkan mendiang ibunya adalah seorang tokoh sesat yang sudah bertobat, berjuluk Bi Kwi (Setan Cantik), su-ci dari Can Bi Lan atau Nyonya Sim Houw.

Semenjak kecil, Yo Han dididik oleh Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li sehingga sejak kecil Yo Han sudah akrab dengan Tan Sian Li Si Bangau Merah sebagai kakak seperguruan. Akan tetapi, ketika kecilnya, Yo Han sama sekali tidak suka belajar atau berlatih ilmu silat.

Biar pun suami isteri Tan Sin Hong Si Bangau Putih dan Kao Hong Li merupakan suami isteri yang sakti dan mengajarkan silat kepadanya, Yo Han hanya mempelajari teorinya saja dan tidak pernah mau berlatih. Dia selalu menganggap bahwa ilmu silat adalah ilmu kekerasan yang hanya dipelajari orang-orang yang suka berkelahi untuk saling bunuh dengan orang lain.

Karena ulahnya ini, maka suami isteri pendekar itu merasa khawatir kalau-kalau puteri mereka yang amat akrab dengan Yo Han kelak akan ketularan sikap itu. Oleh karena itu mereka ingin memisahkan dua orang anak itu dengan menitipkan Yo Han pada sebuah perguruan silat yang baik.

Yo Han mendengar hal ini dan dia pun lebih dahulu meninggalkan keluarga itu. Dengan nekat dia mengikuti seorang iblis betina setelah berhasil membujuk iblis betina itu untuk melepaskan Sian Li kecil yang diculiknya dan dia menyerahkan diri sebagai penukarnya.

Demikianlah, setelah ikut dengan iblis betina itu ia mengalami banyak penderitaan yang aneh-aneh sampai akhirnya dia bertemu dengan mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, namun yang memiliki ilmu luar biasa. Akhirnya Yo Han menjadi pewaris tunggal ilmu Bu-kek Hoat-keng dari kakek itu, yang lalu membuat dia menjadi seorang pendekar sakti.

Ketika Yo Han merantau ke barat dan terkenal dengan julukan Sin-ciang Taihiap yang mukanya tidak pernah dikenal oleh orang lain, secara kebetulan dia bertemu kembali dengan Sian Li yang telah menjadi seorang gadis cantik. Mereka saling mengenal dan kasih sayang yang sejak kecil sudah tumbuh dalam hati mereka, kini berubah menjadi cinta kasih dewasa antara pria dan wanita!

Namun, kembali ayah dan ibu Sian Li tidak menyetujui hubungan mereka karena suami isteri pendekar itu khawatir kalau-kalau Yo Han mewarisi watak mendiang ibunya yang dulu pernah menjadi seorang wanita golongan sesat yang jahat. Maka, terang-terangan mereka memberi tahu kepada Yo Han bahwa Sian Li telah dijodohkan dengan seorang pangeran di kota raja!

Yo Han menjadi sangat terpukul. Pada saat diingatkan akan lenyapnya puteri bibinya, dia pun bertekad untuk mencari puteri bibinya itu sampai dapat dia temukan dan dia kembalikan kepada bibinya.

Demikianlah tentang riwayat singkat Yo Han Si Pendekar Tangan Sakti. Dan pada hari itu, sebetulnya dia mendengar tentang pertemuan para orang gagah yang diadakan oleh Pao-beng-pai, maka dia pun sengaja berkunjung dengan maksud untuk mencari jejak adik misannya yang dicuri penjahat pada waktu masih kecil.

Yo Han maklum sepenuhnya alangkah sulitnya tugas yang dipikulnya. Mencari seorang anak perempuan yang hilang dua puluh tahun yang lalu, dan ketika hilang diculik orang masih berusia tiga tahun!

Dia tidak tahu siapa penculiknya, juga tidak pernah melihat anak perempuan itu. Yang dia ketahui hanya bahwa anak perempuan itu adalah puteri Sim Houw dan Can Bi Lan, nama anak itu Sim Hui Eng dan mempunyai tanda pengenal yang mustahil untuk dapat dilihat orang, yaitu noda merah di tapak kaki kanan dan tahi lalat hitam di pundak kiri.

Bagaimana mungkin melihat kedua tanda itu di tubuh seorang gadis tanpa membuka sepatu dan bajunya? Dan sudah pasti pula anak berusia tiga tahun itu sudah lupa sama sekali akan ayah dan ibu kandungnya, tak tahu lagi bahwa ia adalah anak yang diculik. Itu pun kalau anak itu masih hidup!

Sungguh merupakan suatu usaha yang teramat sulit, bahkan agaknya mustahil untuk bisa menemukan anak yang hilang pada dua puluh tahun yang lalu itu. Akan tetapi, Yo Han mempunyai akal.

Bila dia tidak dapat menemukan kembali anak itu, setidaknya dia berusaha menyelidiki siapa pelaku penculikan itu. Hal ini tentu hanya dapat dia lakukan dengan menyelidiki dunia kang-ouw, bahkan di antara golongan sesat. Maka, untuk tugas itulah sekarang ia sengaja datang menghadiri pertemuan itu dan sengaja dia tidak mau memperkenalkan diri sesuai dengan rencana siasatnya.

Ketika dua orang pemuda itu saling pandang, Yo Han tersenyum dan dengan tangannya dia memberi isyarat, mempersilakan pemuda tampan murah senyum itu untuk bertindak lebih dahulu. Dia hadir di sana karena ingin menyelidiki keberadaan adik misannya yang belum tentu terdapat di tempat itu, tidak memiliki tujuan lain.

Melihat isyarat gerakan tangan itu, Cia Ceng Sun tersenyum lebar dan mengangguk. Pemuda ini pun kemudian mulai melangkah dengan ringan dan santai menuju ke ruang tempat bertanding silat. Dia berdiri di tengah ruangan dan menjura kepada pihak tuan rumah. Terdengarlah suaranya yang halus dan sopan, juga dengan gaya bahasa yang menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang kang-ouw kasar biasa, melainkan seorang yang terpelajar.

“Harap Pangcu dari Pao-beng-pai sekeluarga suka memaafkan saya. Bukan karena ketinggian hati maka saya belum memperkenalkan nama, namun karena tertarik akan kehebatan ilmu silat keluarga Siangkoan yang tadi telah diperlihatkan. Oleh karena saya memang bermaksud meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan, maka saya ingin mempergunakan kesempatan ini untuk sekedar menambah pengetahuan dengan jalan bertanding silat secara persahabatan, sebelum saya memperkenalkan nama saya yang tidak berarti.”

Sikap yang lembut dan kata-kata yang amat sopan seperti biasa dilakukan orang-orang terpelajar dan kaum bangsawan, tidak disuka oleh kebanyakan orang dunia kang-ouw, maka di sana-sini terdengar ejekan terhadap pemuda tampan itu. Bahkan ada pula yang menganggap bahwa pemuda ini tentu tak memiliki kemampuan yang berarti dalam ilmu silat, hanya pandai berlagak saja.

Akan tetapi tidak demikianlah kesan yang didatangkan Cia Ceng Sun kepada keluarga tuan rumah. Siangkoan Kok adalah seorang bangsawan pula, bahkan masih keturunan keluarga Kaisar Beng. Sejak kecil dia terbiasa dengan tata-cara dan sopan-santun yang berlaku di antara para bangsawan, di antaranya sikap yang halus dan kata-kata yang indah. Oleh karena itu, sikap pemuda tampan itu sungguh menarik perhatiannya dan dia merasa senang.

Demikian pula dengan Siangkoan Eng. Biar pun tidak mengalami kehidupan bangsawan istana, namun karena di dalam keluarganya, ayahnya masih memakai peraturan seperti keluarga bangsawan, ia pun tertarik melihat pemuda yang berbeda dari pemuda biasa itu.

Pemuda itu berwajah tampan, anggun dan berwibawa. Sikapnya begitu lemah lembut, akan tetapi telah berani maju untuk menguji ilmu silat. Seketika hatinya tertarik kepada pemuda itu, maka ia berbisik-bisik kepada pelayannya, si baju kuning yang lihai, dengan pesan agar pelayannya itu kembali mewakilinya menguji si pemuda, akan tetapi jangan sekali-kali dilukai atau dibikin malu.

Si baju kuning mengerti dan mengangguk, kemudian ia maju menghadapi Cia Ceng Sun sambil memberi hormat.

“Kongcu, saya bertugas melaksanakan perintah Siocia (Nona) untuk mewakili keluarga Siangkoan dan melayanimu beberapa jurus.”

Cia Ceng Sun tersenyum, ia tidak merasa dipandang rendah. Maka dia pun cepat-cepat membalas penghormatan pelayan yang lihai itu.

“Aku tadi sudah melihat kelihaianmu, Nona pelayan. Tentu nona majikanmu jauh lebih lihai, maka untunglah engkau yang maju sehingga bagaimana pun juga, lawanku lebih ringan. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kelihaianmu.”

Si nona baju kuning juga amat senang melihat sikap pemuda tampan ini yang demikian rendah hati, bahkan sikapnya menghormat terhadap dirinya, padahal ia hanya seorang pelayan.

“Kongcu, silakan mulai, saya sudah siap!” katanya lembut dan memperlihatkan senyum ramah. “Baik, lihat seranganku!” dan Cia Ceng Sun sudah menggerakkan tangan melakukan serangan.
Karena ia maklum bahwa pelayan baju kuning ini cukup lihai, tentu saja ia tidak berani memandang rendah. Begitu bergerak, dia sudah menyerang dengan sungguh-sungguh, memainkan jurus yang ampuh dari ilmu silat aliran Siauw-lim-pai. Kepalan tangan kiri yang memukul lurus ke depan itu mendatangkan angin pukulan yang kuat.

Nona baju kuning itu mengeluarkan seruan kagum dan cepat ia mengelak dengan lincah ke kiri sambil membalas dengan sebuah tendangan. Namun, Cia Ceng Sun yang sudah menguasai banyak macam Ilmu silat itu dapat menghindar dengan baik, bahkan lantas mengirim serangan balasan dengan cepat sekali, mencengkeram pundak gadis pelayan itu dari samping.

Gerakan ini mengejutkan lawan yang kembali terpaksa harus meloncat ke belakang karena serangan pemuda itu sungguh tidak boleh dipandang ringan dan sama sekali tidak boleh disamakan dengan murid Kong-thong-pai tadi. Maka, si nona baju kuning kini mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi, walau pun ia tetap ingat akan pesan nonanya agar tidak melukai atau membikin malu pemuda itu.

Diam-diam dia mengeluh. Bagaimana mungkin? Untuk menang pun tidak akan mudah, pikirnya. Tak disangkanya bahwa pemuda yang tampan dan sopan ini demikian lihainya dan ia pun merasa sangat heran.

Selama ini Pao-beng-pai sudah menyebarkan banyak mata-mata untuk menyelidiki para tokoh dunia persilatan, bahkan mencatat dan mempelajari ilmu-ilmu silat mereka. Akan tetapi, pemuda ini agaknya luput dari pengawasan sehingga tidak dikenal oleh keluarga majikannya. Padahal, kepandaian pemuda ini cukup hebat. Ia sendiri sampai kewalahan setelah mereka bertanding selama tiga puluh jurus. Mulailah ia terdesak hebat!

Para tamu yang menonton pertandingan itu pun menjadi kagum. Apa lagi para tokoh dari aliran persilatan besar seperti wakil Siauw-lim-pai. Mereka tertegun melihat betapa pemuda tampan itu memainkan beberapa jurus dari ilmu silat aliran mereka!

Ilmu silat pemuda itu campur aduk, akan tetapi setiap jurus yang dimainkannya sudah mendekati kesempurnaan! Dan mereka semua tidak pernah mengenal pemuda tampan itu!

Hal ini memang tidak aneh. Sebagai seorang pangeran, Cia Ceng Sun atau Cia Sun tentu saja tidak menjadi murid biasa dalam sebuah perguruan. Dengan kekuasaannya dan kedudukan ayahnya, mudah saja dia mendatangkan guru-guru silat dari berbagai aliran yang melatihnya secara rahasia.

Apa lagi, di antara para jagoan istana bangsa Mancu terdapat banyak tokoh persilatan pandai. Mereka ini sudah berhasil mencari dan menguasai ilmu-ilmu silat dari berbagai aliran itu sehingga mereka dapat mengajarkannya kepada Pangeran Cia Sun tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.

Keadaan pangeran ini tentu saja berbeda dengan kakeknya, yaitu yang kini menjadi kaisar ketika masih muda. Kaisar Kian Liong pun ketika masih muda juga bertualang dan mempelajari ilmu silat, akan tetapi dia mempelajarinya dari para tokoh persilatan secara berterang sehingga namanya dikenal oleh semua tokoh kang-ouw.

Siangkoan Eng memandang kagum dan hatinya semakin tertarik. Bukan main pemuda itu, pikirnya sambil termenung. Ilmu silatnya tinggi, bahkan pandai memainkan jurus dari berbagai aliran persilatan. Wajahnya tampan, sikapnya agung seperti bangsawan, serta gerak-geriknya lembut dan cara bicaranya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

Belum pernah dia bertemu dengan seorang pemuda seperti ini! Dan pemuda itu mampu mengimbangi pelayannya yang utama sampai lebih dari empat puluh jurus, bahkan kini pelayannya sudah terdesak hebat.

“Haiiiiittttt!”

Tiba-tiba Cia Ceng Sun berseru nyaring dan serangannya mendatangkan angin pukulan yang amat kuat, membuat nona baju kuning itu terpaksa menggunakan kedua tangan menangkis.

“Dukkk!”

Dua pasang lengan bertemu dan akibatnya, nona baju kuning itu terdorong ke belakang, terhuyung-huyung dan hampir saja roboh kalau Siangkoan Eng tidak cepat melompat ke depan dan menyambar lengannya.

“Kau mundurlah!” kata Siangkoan Eng.

Pelayan itu pun mundur dan kini nona cantik jelita itu berhadapan dengan Cia Ceng Sun yang cepat memberi hormat.

“Maaf kalau aku kesalahan tangan. Aku sudah puas dapat menguji ilmu silat dan biarlah kini aku mengaku dan memperkenalkan namaku. Aku bernama Cia Ceng Sun, seorang pemuda perantau yang hidup di antara langit dan bumi tanpa tempat tinggal tertentu. Aku pun tidak mewakili golongan mana pun, hanya ingin meluaskan pengalaman.” Dia memberi hormat ke arah ketua Pao-beng-pai dan hendak kembali ke tempat duduknya.

“Cia Kongcu (tuan muda Cia), nanti dulu!” terdengar seruan halus dan Cia Ceng Sun menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya dan memandang kepada gadis jelita yang berhadapan dengannya.

“Nona, aku sudah memperkenalkan diri sebagai tamu, ada urusan apa lagikah yang dapat kulakukan untuk keluarga tuan rumah?”

Siangkoan Eng tersenyum. Nampak giginya yang rata dan putih itu berkilauan sejenak. “Harap jangan salah mengerti, Kongcu. Tadi engkau sudah memperkenalkan diri, tidak sepatutnya jika aku sebagai nona rumah juga tidak memperkenalkan diri. Aku bernama Siangkoan Eng dan aku hendak mewakili orang tuaku dan mewakili Pao-beng-pai untuk berkenalan dengan ilmu silatmu yang tinggi. Ingin sekali aku mengajak engkau berlatih sejenak untuk mengenal ilmu masing-masing. Sudikah engkau memenuhi keinginanku ini, Kongcu?”

Cia Ceng Sun terbelalak. Bukan main gadis ini! Begitu pandai membawa diri dan kalau tadi nampak begitu dingin, kini begitu ramah dan wajahnya cerah seperti matahari baru terbit dari balik gunung.

Dan manisnya bukan main, cantik jelita seperti seorang puteri istana! Lebih lagi karena jika puteri istana dikekang oleh adat istiadat yang kaku, gadis ini demikian bebas seperti bunga mawar hutan yang semerbak harum dan indah.

Dia teringat akan pesan ayahnya agar dia tidak jatuh hati kepada gadis lain, karena dia sudah ditunangkan dengan seorang gadis lain yang juga seorang gadis perkasa dengan julukan Si Bangau Merah. Akan tetapi, dia belum pernah berhadapan dengan Si Bangau Merah. Apakah ia secantik gadis di depannya ini?

“Nona Siangkoan terlalu memujiku. Kepandaian silatku memang hanya sejajar dengan tingkat kepandaian pelayanmu, Nona. Kalau untuk melawanmu, mana mungkin aku bisa mengimbangimu?”

“Cia Kongcu, harap jangan terlalu merendahkan diri. Kita hanya berlatih sebentar untuk menambah pengetahuan masing-masing dan harap jangan sungkan. Marilah, Kongcu.”

Sikap Siangkoan Eng begitu membujuk dan manis sehingga Cia Ceng Sun yang tadinya tidak ingin bertanding lagi, menjadi tertarik.

“Baik, harap jangan terlalu kejam kepadaku, Nona. Nah, aku sudah siap, silakan Nona mulai.”

Pemuda itu maklum bahwa dia menghadapi lawan yang sangat tangguh. Maka kini dia telah memasang kuda-kuda Lo-han-hun dari aliran Siauw-lim-pai, kuda-kuda yang amat kokoh, kuat dan tangguh seperti benteng baja. Ketika melihat kuda-kuda ini, Siangkoan Eng tersenyum.

“Cia Kongcu, awas terhadap seranganku! Hiaaaaattttt…!”

Dan ia pun menyerang dengan jurus ilmu silat Siauw-lim-pai pula! Tentu saja Cia Ceng Sun terkejut dan kagum, maka dia pun menyambut serangan itu dengan tangkisan dan membalas serangan lawan dengan jurus ilmu silat Siauw-lim-pai.

Belasan jurus mereka saling serang dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, kemudian tiba-tiba gadis itu mengubah ilmu silatnya. Kini ia menyerang dengan ilmu silat dari Bu-tong-pai. Dan Cia Ceng Sun juga mengimbangi dengan ilmu silat yang sama!

Demikianlah, pertandingan itu berlangsung seru bukan main. Keduanya menukar-nukar ilmu silat dan selalu diimbangi lawan dengan ilmu yang sama. Gerakan mereka tangkas dan gesit, juga dalam hal tenaga sinkang, mereka seimbang.

Sesungguhnya, kalau Siangkoan Eng menghendaki, tingkatnya masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Cia Ceng Sun dan biar pun pemuda itu merupakan lawan yang tangguh baginya, namun kalau ia bersungguh-sungguh akhirnya pemuda itu akan kalah. Apa lagi kalau gadis itu mau mempergunakan kekuatan sihir atau ilmu pukulan sesat beracun yang amat berbahaya dari didikan ibunya, tentu pemuda itu akan celaka.

Hanya saja, gadis itu memang tidak ingin mencelakai Cia Ceng Sun. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Siangkoan Eng merasa tertarik dan sayang kepada seorang pemuda dan ia sengaja mengalah.

Enam puluh jurus sudah lewat dan pertandingan itu masih ramai dan seru, seolah tidak ada yang menang atau pun kalah, dan nampaknya seimbang dan setingkat. Kecepatan gerakan mereka, keindahan gerakan mereka, membuat semua orang merasa kagum.

Lauw Cu Si, ibu dari Siangkoan Eng, berbisik kepada suaminya, “Anakmu agaknya telah menjatuhkan pilihan hatinya.”

Siangkoan Kok mengelus jenggotnya yang panjang dan rapi. “Jika memang benar, apa salahnya? Pemuda itu cukup tampan dan gagah, dan pembawaannya seperti seorang bangsawan. Kita hanya perlu mengetahui siapa orang tuanya,” suaminya berbisik pula.

Pada saat itu, Cia Ceng Sun merasa penasaran juga. Belum pernah dia dikalahkan oleh seorang wanita dalam pertandingan silat, dan sekarang dia sama sekali tidak mampu mengalahkan gadis ini, bahkan mendesak pun dia tidak mampu. Dia merasa penasaran sekali.

Tiba-tiba dia melompat ke depan, lalu menyerang dengan kedua lengan diluruskan dan kedua tangan terbuka mendorong ke depan dengan jurus Pat-bun Twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung). Kedua kakinya terpentang sedangkan lutut ditekuk, kedua tangan lurus mendorong ke arah lawan sambil mengerahkan tenaga sinkang. Jurus ini merupakan serangan yang mengandalkan tenaga sakti. Hawa dorongannya saja mampu membuat lawan terlempar.

Tetapi melihat serangan ini, Siangkoan Eng tidak mengelak atau menangkis, melainkan meloncat pula ke depan, membuat gerakan yang sama dan menyambut serangan itu dengan dorongan kedua tangan pula, juga dengan kedua kaki terpentang dan ditekuk lututnya. Kedudukan mereka persis sama, dan kini dua pasang tangan yang terbuka itu saling bertemu.

“Plakkk!”

Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan melekat! Keduanya seperti tergetar dan terguncang karena pertemuan tenaga sinkang itu, akan tetapi keduanya dapat bertahan!
Mereka saling pandang dalam jarak dekat, hanya terpisah juluran lengan.

Mereka dapat saling merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh masing-masing, dan keduanya tersenyum. Mereka seperti sedang bercanda atau bercumbu dengan cara yang aneh. Keduanya saling dorong, akan tetapi Siangkoan Eng sengaja membatasi tenaganya sehingga kedudukan mereka seimbang dan dua pasang telapak tangan itu seperti melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi.

Banyak di antara para tamu yang memandang dengan hati berdebar tegang. Adu tenaga seperti itu amatlah berbahaya bagi yang kalah! Salah-salah dapat merenggut nyawa salah seorang di antara mereka.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa hal ini tidak mungkin terjadi karena sebenarnya tenaga sinkang Siangkoan Eng masih lebih kuat sehingga gadis ini dapat mengatur dan mengendalikan adu tenaga itu. Kalau tenaga mereka seimbang, memang berbahaya sekali.

Agaknya Cia Ceng Sun juga menyadari bahwa sebetulnya dia kalah kuat. Buktinya, gadis itu nampak santai saja dan tidak nampak khawatir seperti dia. Maka dia pun kini tersenyum dan maklum bahwa keadaan mereka sama sekali tidak berbahaya karena gadis itu menguasai tenaga mereka. Jantung pangeran ini berdebar pada saat melalui telapak tangan itu ia bisa merasakan suatu kehangatan dan kelembutan yang membuat kedua pipinya menjadi kemerahan.

Pada saat itu nampak Yo Han cepat naik ke tempat pertandingan itu. Tanpa ragu-ragu lagi dia menengahi, menggunakan kedua tangannya mendorong di tengah-tengah, ke arah dua pasang tangan yang saling tempel.

“Cukup, harap kalian mundur!” katanya.

Dari dorongannya muncul tenaga yang sangat dahsyat, yang membuat Siangkoan Eng dan Cia Ceng Sun terdorong mundur sampai tiga langkah. Dengan sendirinya tempelan dua pasang tangan itu terlepas, namun tidak mendatangkan bahaya kepada keduanya. Mereka hanya merasa kedua lengan mereka tergetar dan mereka terdorong hawa pukulan yang dahsyat.

Diam-diam Cia Ceng Sun terkejut dan memandang kepada Yo Han dengan sinar mata penuh kagum.

“Siangkoan Siocia, terima kasih atas pelajaran yang kau berikan kepadaku,” katanya sambil memberi hormat kepada gadis itu.

Siangkoan Eng membalas dan tersenyum. “Cia Kongcu, engkaulah yang telah memberi pelajaran kepadaku. Terima kasih.”

Sekarang Cia Ceng Sun menghadapi Yo Han. Sesudah mereka saling pandang penuh perhatian, pangeran itu berkata, “Sobat, engkau hebat. Terima kasih.”

Lalu dia kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Yo Han yang kini berdiri di situ, berhadapan dengan Siangkoan Eng. Gadis ini mengerutkan alisnya dan nampak marah, akan tetapi pada saat itu, ayahnya berkata dengan suara yang dalam.

“Eng Eng, engkau mundurlah, biar aku sendiri menghadapi sobat muda itu.”

Kiranya ketua Pao-beng-pai ini sudah waspada setelah melihat gerakan Yo Han tadi. Dia tahu bahwa puterinya mempunyai tenaga sinkang yang sudah kuat, dan tahu pula bahwa puterinya tadi mengalah terhadap pemuda she Cia itu sehingga biar pun mereka nampaknya mengadu tenaga sinkang, namun puterinya dapat mengendalikan tenaga mereka dan keadaan keduanya sama sekali tldak berbahaya.

Lalu muncul pemuda yang lain itu, yang dengan sekali dorong saja mampu membuat kedua orang itu terdorong mundur. Ini berarti bahwa pemuda yang baru muncul ini memiliki kekuatan sinkang yang amat hebat, yang dapat sekaligus melawan kekuatan Siangkoan Eng dan Cia Ceng Sun yang bergabung menjadi satu!

Maklum akan hal ini, Siangkoan Kok dapat menduga bahwa pemuda yang baru muncul ini lihai sekali dan mungkin puterinya tak akan mampu menandinginya, maka dia sendiri yang maju. Setelah puterinya mundur, ia pun bangkit dan melangkah maju menghadapi Yo Han.

Dua orang laki-laki itu berdiri berhadapan dalam jarak empat meter. Yo Han bersikap angkuh dan dingin karena sikap ini merupakan pelaksanaan dari siasat yang sudah dia rencanakan.

Untuk dapat mencari jejak penculik puteri bibinya, dia harus berkecimpung dalam dunia kang-ouw, bergaul dengan golongan sesat dan bersikap seperti seorang pemuda sesat pula. Atau setidaknya seorang pemuda yang memusuhi keluarga besar para pendekar, terutama sekali memusuhi ayah dan ibu anak yang diculik itu. Itulah sebabnya dia lalu bersikap bagaikan seorang pemuda yang tinggi hati, dingin serta kejam. Sikap seorang pemuda golongan sesat!

Setelah saling pandang beberapa lamanya, melihat pemuda itu sama sekali tidak mau menghormatinya, Siangkoan Kok mengerutkan alisnya. Dengan suara yang mengguntur dia berkata, “Sobat muda! Engkau datang ke sini, berarti engkau adalah tamu kami. Nah, perkenalkan namamu dan katakan mengapa engkau usil tangan mencampuri adu ilmu yang dilakukan puteri kami tadi?”

Yo Han mengangguk dan dengan sikap congkak dia pun berkata, “Pangcu, aku sudah mendengar bahwa engkau adalah pangcu dari Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Kok. Pertemuan ini memang kupergunakan sebagai kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang sehaluan dan juga segolongan. Dan aku belum memperkenalkan nama, karena memang aku menunggu kesempatan terakhir ini untuk bicara kepada seluruh saudara segolongan yang kini berkumpul di sini!”

Sikap yang congkak ini membuat Siangkoan Kok semakin senang, akan tetapi juga membuat dia ingin sekali tahu siapa pemuda ini dan apa maunya…..

“Hemm, baiklah, kau perkenalkan diri dan katakan apa kehendakmu datang ke sini. Jika memang beralasan kami mau menerimanya, tapi kalau engkau hanya ingin mengacau, jangan salahkan kalau terpaksa kami akan membunuhmu!” Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok kembali duduk di kursinya.

Semua orang memandang dengan hati tegang kepada Yo Han yang kini berdiri seorang diri di atas panggung yang tadi dipergunakan untuk mengadu ilmu silat.

Tiba-tiba terdengar seruan nyaring, “Dia bocah iblis dari Thian-li-pang itu!”

Semua orang menengok dan yang berteriak itu adalah tosu Pek-lian-kauw, Kui Thiancu yang tadi dikalahkan Siangkoan Eng dalam pertandingan. Dia sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan menuding-nuding ke arah Yo Han. Kiranya tosu Pek-lian-kauw ini masih ingat kepada Yo Han yang kurang lebih tiga tahun yang lalu pernah dia jumpai di perkumpulan Thian-li-pang, yaitu pada saat dia berkunjung ke sana bersama rekannya, Kwan Thian-cu.

Belum juga gema suara Kui Thiancu hilang, terdengar seruan nyaring yang lain. “Tosu dari Pek-lian-kauw harap jangan menghina pemimpin kami! Saudara-saudara sekalian, perkenalkanlah, pemuda perkasa ini ialah pemimpin kami dari Thian-li-pang yang telah menyerahkan kedudukan ketua kepada ketua kami yang sekarang!”

Semua orang menengok dan melihat bahwa yang berbicara itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun.

Laki-laki itu tidak peduli kepada semua orang, melainkan kini dari tempat duduknya menghadap ke arah Yo Han dan memberi hormat sambil berkata, “Yo Taihiap, maafkan kelancangan saya. Saya Thio Cu dari Thian-li-pang diutus ketua Lauw untuk mewakili Thian-li-pang hadir di sini.”

Yo Han tidak mengenal orang itu, akan tetapi kini dia tahu bahwa Thio Cu itu tentulah seorang tokoh Thian- li-pang, maka dia pun mengangguk dengan sikap yang angkuh.

Siangkoan Kok memandang kepada Yo Han. “Orang muda, harap cepat perkenalkan diri dan nyatakan apa kehendakmu di sini,” katanya.

Yo Han memandang ke empat penjuru, lalu menghadap pihak tuan rumah dan berkata sambil membusungkan dada. “Cuwi (Anda Sekalian), dengarkan aku memperkenalkan diri. Namaku Yo Han dan seperti dikatakan Paman Thio Cu dari Thian-li-pang tadi, aku adalah seorang pimpinan Thian-li-pang, tapi aku tidak mau memegang kedudukan ketua dan kuserahkan kepada Paman Lauw Kang Hui. Aku lebih senang pergi merantau untuk melaksanakan tugasku yang teramat penting. Kalau tosu Pek-lian-kauw itu merasa tidak suka kepadaku, hal itu tidak aneh karena aku pernah melarang Thian-li-pang untuk bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Kurasa, Thian-li-pang sama dengan Pao-beng-pai, yaitu sekelompok patriot yang menentang penjajah Mancu, bukan kelompok penjahat yang menggunakan kedok perjuangan untuk berbuat jahat. Aku sendiri pun bukan orang bersih, tapi aku pantang mengganggu rakyat jelata. Hendaknya Cuwi ketahui bahwa aku tidak mewakili siapa pun, ayah ibuku sudah tiada. Ayahku bernama Yo Jin dan ibuku tentu Cuwi sudah mengenalnya. Ia bernama Ciong Siu Kwi, berjuluk Bi Kwi.”

Terdengar seruan di sana-sini karena nama Bi Kwi pernah menggemparkan seluruh dunia persilatan. Bi Kwi (Setan Cantik) terkenal sebagai seorang tokoh yang aneh dan kejam.

“Hemmm, Yo Han, kami ingat bahwa Bi Kwi dahulunya memang tokoh kang-ouw yang terkenal, murid Sam Kwi (Tiga Setan). Namun kemudian dia membalik dan bergabung dengan mereka yang menamakan diri para pendekar, memihak kepada orang Mancu!” teriak Siangkoan Kok dan terdengar banyak suara membenarkan.

“Itu hanya kabar bohong, Siangkoan Pangcu (Ketua Siangkoan)! Aku sebagai anaknya yang lebih tahu. Ayahku tewas, ibuku juga tewas membunuh diri, semua itu gara-gara mereka yang menamakan diri pendekar-pendekar keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir serta keluarga Lembah Naga. Aku mendendam kepada mereka, terutama aku benci sekali kepada bekas bibi guruku, adik seperguruan mendiang ibu yang bernama Can Bi Lan berjuluk Siauw Kwi! Can Bi Lan itulah yang telah membujuk suci- nya, yaitu ibuku, untuk bergabung dengan mereka, dan Can Bi Lan sendiri menjadi isteri pendekar Suling Naga Sim Houw! Aku hendak mengajak mereka yang menentang pemerintah Mancu untuk tidak saja menentang pemerintah itu, juga untuk membasmi para antek Mancu, terutama sekali Can Bi Lan dan suaminya, Sim Houw!”

Yo Han berbicara dengan semangat berapi-api, matanya mencorong seolah dia marah besar dan amat membenci nama-nama yang baru saja dia sebutkan. Inilah siasatnya. Dia ingin melacak jejak penculik puteri bibinya itu dengan cara mendekati orang-orang kang-ouw dan bersikap seolah dia memusuhi suami isteri yang kehilangan anaknya itu.

Kembali suasana menjadi gaduh setelah dia berhenti bicara. Para tamu saling bicara sendiri dan karena sebagian besar di antara mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang memang tidak suka kepada para pendekar dari tiga keluarga itu, maka kebanyakan di antara mereka setuju dengan pendapat Yo Han.

Akan tetapi, ada pula yang terkejut mendengar hal itu dan di antara mereka adalah para wakil dari Siauw- lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan Go-bi-pai. Juga Pangeran Cia Sun diam-diam terkejut sekali. Pemuda itu merupakan bahaya bagi kerajaan keluarga kakeknya!

Justru kerajaan di bawah pimpinan kakeknya selalu ingin mendekati para pendekar dan para tokoh kang- ouw untuk memanfaatkan kekuatan mereka, namun pemuda ini malah menghasut. Dia sendiri pun tadinya selain hendak menambah pengetahuan, ingin pula menyelidiki sampai berapa jauhnya gerakan Pao-beng- pai yang kabarnya merupakan perkumpulan yang hendak menentang pemerintah Mancu.

“Omitohud…!” Tiba-tiba terdengar suara halus dan seorang pendeta berkepala gundul yang usianya sudah enam puluh tahun maju menghadapi Yo Han.

Dia adalah seorang di antara utusan Siauw-lim-pai yang merasa penasaran sekali ketika mendengar bahwa Yo Han hendak membasmi keluarga Pulau Es, Gurun Pasir serta Lembah Naga.

“Orang muda, engkau masih begini muda, akan tetapi sungguh tinggi hati dan sombong. Bagaimana mungkin engkau akan menghadapi para pendekar sakti dari ketiga keluarga itu? Lagi pula, mereka adalah pendekar-pendekar sakti yang bertindak demi membela mereka yang tertindas dan menentang kejahatan, sama sekali bukan antek pemerintah. Pinceng (aku) peringatkan agar engkau berhati-hati kalau bicara. Kami adalah sahabat baik dari para pendekar itu.”

“Siancai…! Apa yang dikatakan Lo Kiat Hwesio dari Siauw-lim-pai memang benar sekali. Pemuda ini terlalu sombong dan lancang mulut. Kami dari Kun-lun-pai juga merupakan sahabat para pendekar itu dan pinto (aku) tidak suka mendengar ada orang menghina mereka. Mereka bukan antek pemerintah!”

Semua orang menengok dan yang bicara itu adalah seorang tosu (pendeta To) berusia lima puluh tahun lebih, yang tinggi kurus dan berjenggot panjang.

“Kalau orang muda she Yo tidak mau menghentikan bualannya, pinto Ciang Tojin dari Kun-lun-pai pasti tidak akah tinggal diam saja!”

Yo Han menoleh pula kepada tosu itu, kemudian dia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, kiranya Lo Kian Hwesio dari Siauw-lim-pai dan Ciang Tojin dari Kun-lun-pai mambela para pandakar itu. Mereka itu terang antek Mancu, bahkan Pendekar Super Sakti sendiri masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kerajaan Mancu. Dia pun menikah dengan puteri Mancu! Pantas kalau Ji-wi (Kalian Berdua) membela, karena bukankah selama ini kuil-kuil Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai menjadi makmur berkat bantuan pemerintah Mancu? Sayang sekali, Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang besar itu pun kini menjadi kecil karena diperbudak orang-orang Mancu.”

“Keparat, betapa sombongnya engkau!”

Bayangan berkelebat dan tosu Kun-lun-pai itu sudah berada di depan Yo Han, berjajar dengan Lo Kian Hwesio. Kalau hwesio Siauw-lim-pai itu memegang seuntai tasbih hitam yang matanya besar-besar, tosu itu memegang sebatang tongkat berbentuk ular yang tingginya sepundak dan besarnya sepergelangan tangan.

Melihat mereka berdua, Yo Han sengaja tertawa lagi. “Ha-ha-ha-ha, kalian mau apa? Jangan dikira aku takut menghadapi kalian berdua. Kalian boleh maju berdua untuk mengeroyok aku. Kalau aku kalah, aku tidak akan banyak mulut lagi dan akan pergi dari sini. Kalau kalian kalah, jangan kalian ribut mencampuri urusanku lagi!”

Dua orang pendeta itu terpancing kemarahan mereka karena Yo Han sengaja menghina Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Mereka lupa bahwa tidaklah pantas bagi mereka dua orang tua yang berkedudukan tinggi mengeroyok seorang pemuda! Namun, kemarahan memang membutakan kesadaran dan mendengar tantangan itu, hwesio dan tosu itu semakin marah.

“Omitohud, bocah sombong ini agaknya perlu dibuat sadar dengan kekerasan, To-yu!” kata hwesio itu.

Dia pun mendahului tosu Kun-lun-pai itu, menggerakkan tasbih di tangannya menyerang Yo Han. Tosu itu pun menggerakkan tongkatnya dan memukulkannya ke arah tubuh Yo Han, seperti seorang ayah yang sedang marah-marah dan hendak menghajar anaknya yang bandel.

Yo Han memang sengaja hendak memperlihatkan kepandaian untuk menarik perhatian, terutama sekali perhatian dari penculik puteri bibinya, atau setidaknya yang tahu akan peristiwa itu, dan supaya dia dipercaya dan ditarik sebagai sekutu mereka. Maka, begitu menghadapi serangan dari kedua orang ahli silat kelas tinggi sebagai tokoh-tokoh partai persilatan besar, dia pun meloncat ke belakang, kemudian ketika kedua orang lawannya maju mengejar, dia pun mengerahkan tenaga yang didapat dari Bu-kek Hoat- keng dan mendorongkan kedua tangannya ke depan, menyambut mereka.

Bukan main kagetnya kedua orang tua itu ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari kedua tangan pemuda itu bagaikan badai. Mereka lantas berusaha menyambut dengan dorongan tangan kiri yang disertai pengerahan tenaga sinkang. Pertemuan antara dua hawa pukulan yang amat dahsyat terjadi dan akibatnya, kedua orang tua itu terdorong dan terjengkang roboh!

Tentu saja kejadian ini membuat semua orang terkejut. Bahkan Siangkoan Kok sendiri terbelalak. Dia tahu betapa lihainya tokoh Siauw-lim-pai dan tokoh Kun-lun-pai itu, akan tetapi dalam segebrakan saja mereka roboh oleh pukulan jarak jauh yang dahsyat!

Tiba-tiba terdengar suara lantang. “Ahhh, tidak salah lagi. Dia adalah Sin-ciang Taihiap yang pernah menggemparkan perbatasan barat!”

Semua orang menengok dan ternyata yang bicara itu adalah seorang laki-laki tua yang berjubah pendeta dan dia bukan lain adalah Hoat Cin-jin, tokoh Go-bi-pai!

“Pinto telah mendengar bahwa Pendekar Tangan Sakti yang tak pernah memperlihatkan mukanya itu bernama Yo Han, yang dulu pernah membantu para pendeta Lama di Tibet meredakan pemberontakan!”

Kini semua orang memandang lagi kepada Yo Han dan mereka tertegun. Mereka sudah mendengar kebesaran nama Sin-ciang Taihiap (Pendekar Tangan Sakti) yang membuat gempar di daerah barat itu, seorang pendekar yang tidak pernah mau memperlihatkan mukanya sehingga hanya dikenal namanya saja.

Juga Siangkoan Kok sudah pernah mendengar nama Sin-ciang Taihiap, maka kini dia memandang kepada Yo Han dengan penuh selidik. Sedangkan tokoh Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tadi terpaksa mengakui kekalahan mereka dan mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Siangkoan Kok kini maju menghampiri Yo Han.

“Saudara Yo Han, benarkah engkau ini yang berjulukan Sin-ciang Taihiap?” tanya ketua Pao-beng-pai itu.

Yo Han menghadapi pria tinggi besar yang gagah perkasa itu. “Memang benar, Pangcu. Akan tetapi orang terlalu membesarkannya. Aku bukanlah seorang pendekar seperti tiga keluarga besar itu! Aku hanya ingin menyadarkan orang-orang kang-ouw yang tersesat dan mengganggu rakyat, agar mereka itu tidak memusuhi rakyat melainkan memusuhi pemerintah Mancu dan antek-anteknya. Pernahkah Pangcu mendengar aku membunuh seorang kang-ouw seperti yang dilakukan para anggota tiga keluarga besar itu? Tidak, yang kumusuhi bukanlah orang-orang kang-ouw melainkan pemerintah Mancu bersama antek- anteknya. Karena itulah, maka aku sengaja datang untuk bekerja sama dengan orang-orang seperjuangan dan sehaluan.”

Banyak di antara para tamu, orang-orang kang-ouw yang sudah mendengar akan sepak terjang Sin-ciang Taihiap, menyambut ucapan itu dengan gembira. Hanya mereka yang merasa dekat dengan keluarga para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Naga saja yang memandang dengan wajah muram. Pemuda itu sungguh merupakan bahaya bagi para pendekar, terutama mereka yang tidak menentang pemerintah Mancu.

Sedangkan Siangkoan Kok justru merasa gembira bukan main. Inilah orang yang akan menjadi sekutu yang sangat berguna baginya. “Yo-sicu (orang gagah Yo), sudah lama kami mencari seorang sekutu yang baik dan agaknya engkaulah orangnya. Hayo, aku masih merasa penasaran jika tidak mengukur sendiri kekuatanmu, biar pun tadi engkau sudah memperlihatkan tenagamu yang dahsyat. Kami akan suka sekali menjadi kawan seperjuanganmu, Sicu, tetapi lebih dahulu aku ingin menguji kekuatanmu. Bersediakah engkau?”

“Hemmm, aku mendapatkan kehormatan besar sekali kalau Pangcu dari Pao-beng-pai sendiri suka memberi petunjuk kepada aku yang muda dan bodoh,” kata Yo Han. “Nah, Pangcu, aku sudah siap.”

“Bagus, aku pun hanya ingin mengukur tenagamu saja, Sicu. Sambutlah doronganku ini!”

Setelah berkata demikian, ketua Pao-beng-pai itu menekuk kedua lututnya dengan kaki terpentang, lalu kedua lengannya melakukan dorongan lurus ke depan yang dimulai dari bawah pangkal lengan, kedua tangannya terbuka, jari-jari tangan sedikit ditekuk dan dari kedua telapak tangannya itu lalu menyambar hawa pukulan dahsyat yang mengeluarkan bunyi berciut dan mengandung hawa dingin!

Maklum bahwa dia menghadapi serangan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat dan berbahaya, Yo Han juga cepat menekuk kedua lutut dan seperti tadi ketika menyerang dua orang pendeta, dia pun mengerahkan tenaga dari Bu-kek Hoat-keng dan dari kedua telapak tangannya menyambar hawa pukulan yang tidak kalah hebatnya.

Dua tenaga yang tidak nampak bertemu di antara mereka dan nampak tubuh mereka tergetar hebat. Yo Han sengaja tidak menyerang, hanya mempertahankan ketika tenaga lawan mendorongnya, dan ketua Pao-beng-pai itu merasa betapa dorongannya bertemu dengan perisai yang kokoh kuat seperti batu karang! Dia kagum bukan main, kemudian mengerahkan seluruh tenaganya mendorong, sedangkan dari mulutnya terdengar suara menggereng.

Yo Han tetap mempertahankan. Biar tenaga lawan itu kuat sekali, jika dia menggunakan Bu-kek Hoat-keng dan membalas menyerang, dia merasa yakin akan mampu mengatasi lawan. Namun bukan itu yang dikehendakinya. Maka, dia pun hanya mempertahankan dan walau pun kedua kakinya tetap memasang kuda-kuda, namun tubuhnya terdorong sehingga kedua kaki itu tergeser ke belakang sampai tiga kaki!

Melihat hal ini, ketua Pao-beng-pai semakin kagum. Jarang ada tokoh persilatan mampu menahan dorongannya itu, dan melihat betapa pemuda itu tidak sampai mengangkat kakinya, tidak terjengkang melainkan hanya kedua kakinya tergeser ke belakang dalam keadaan kuda-kuda yang sama, hal ini saja membuktikan betapa kuatnya pemuda itu.

Dia pun segera berseru, “Cukup!” dan keduanya menarik tenaga masing-masing.

Siangkoan Kok agak terengah karena tadi dia sudah mengerahkan seluruh tenaga. Yo Han cepat membuat pernapasannya memburu agar jangan diketahui orang bahwa dia lebih kuat.

“Hebat! Engkau masih muda, tetapi sudah memiliki tenaga yang hebat, Sicu! Cukuplah, biar lain kali saja kita berlatih silat. Engkau cukup berharga untuk menjadi sekutu kami. Mari Yo-sicu, silakan duduk di atas bersama kami. Dan engkau juga, Cia-sicu. Engkau pun sudah mampu menandingi puteri kami, bararti engkau juga cukup berharga dan layak untuk duduk di tempat kehormatan dan semeja dangan keluarga kami!”

Ketua itu girang bukan main bahwa di antara para tamunya terdapat dua orang pemuda seperti Cia Ceng Sun dan Yo Han. Tinggal pilih saja salah satu di antara mereka untuk menjadi calon mantu. Keduanya sama tampannya dan sama gagahnya. Yo Han tentu saja lebih kuat, akan tetapi Cia Ceng Sun lebih berwibawa dan terpelajar.

Pesta pertemuan itu pun dimulai dengan meriah. Sebagai tamu-tamu kehormatan yang duduk di atas adalah tokoh besar dunia kang-ouw termasuk para tokoh Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Bu- tong-pai. Akan tetapi mereka itu duduk di meja lainnya, sedangkan Yo Han dan Cia Ceng Sun duduk semeja dengan Siangkoan Kok, isterinya dan puterinya.

Apa bila sikap Cia Ceng Sun sopan santun dan sungkan seperti seorang pemuda yang diharuskan duduk semeja dengan nyonya dan nona rumah, Yo Han menyesuaikan diri dengan perannya sebagai seorang berandalan kang-ouw. Ia acuh saja, bahkan bersikap agak dingin! Sikap seorang pemuda kang-ouw yang tinggi hati.

Mula-mula Siangkoan Eng juga kagum bukan main melihat kelihaian Yo Han, apa lagi nama besarnya sebagai Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi karena sikapnya itu, maka perhatian gadis itu lebih banyak tertuju kepada Cia Ceng Sun yang bersikap ramah, manis dan pandai membawa diri. Bahkan ibunya pun lebih suka kepada Cia Ceng Sun dari pada kepada Yo Han.

Karena mereka duduk semeja, mau tidak mau Yo Han terpaksa berkenalan pula dengan Cia Ceng Sun. Ketua Pao-beng-pai sambil makan minum dan mendengarkan musik dan nyanyian, mencoba untuk mengorek keterangan tentang riwayat kedua orang pemuda yang menarik hati itu.

Cia Ceng Sun menceritakan bahwa ia adalah seorang yatim piatu yang menerima harta warisan yang banyak dari mendiang orang tuanya yang hartawan di utara, dan sejak kecil ia suka mempelajari ilmu silat dari siapa saja sehingga tidak memiliki guru tertentu.

“Guru saya banyak sekali, tetapi bukan guru tetap. Ilmu silat apa saja saya pelajari, dan untuk itu saya telah menghamburkan hampir semua harta peninggalan ayah.”

Tentu saja dia berbohong. Yang tidak bohong adalah bahwa dia memang mempelajari ilmu-ilmu silatnya dari banyak guru, tanpa ada guru tetap. “Sampai sekarang pun, saya merantau untuk menambah pengetahuan dan meluaskan pengalaman,” tambahnya.

Ketika ditanya, Yo Han mengaku bahwa dia juga yatim piatu seperti telah diceritakannya tadi. Tentang ilmu silat, dia katakan bahwa dia mewarisi ilmu-ilmu ibunya, dan juga dia mempelajari ilmu silat dari para tokoh Thian-li-pang di Bukit Naga.

“Tadinya, aku dipilih untuk menjadi ketua, akan tetapi karena aku tidak suka terikat, aku lalu menyerahkan kedudukan itu kepada suheng-ku, Lauw Kang Hui.” Dia mengakhiri ceritanya.

Siangkoan Kok memandang kagum. “Jadi Lauw Kang Hui adalah suheng-mu? Pantas saja engkau lihai. Kami pernah mendapat kehormatan bertemu dengan dua orang tokoh Thian-li-pang yang sakti, yaitu Ban- tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong.”

Yo Han mengangguk. “Mereka adalah guru-guruku dan kini mereka sudah meninggal dunia.”

Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dan tidak mengherankan kalau sebentar saja, nampak keakraban antara Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng. Kebetulan Cia Ceng Sun duduk di sebelah gadis itu, dan Siangkoan Eng juga bukan seorang gadis pemalu, sehingga mereka pun becakap-cakap membicarakan ilmu silat.

Dari sikap dan pandang mata gadis itu, Yo Han saja dapat mengerti bahwa gadis itu tertarik kepada Cia Ceng Sun yang tampan dan gagah. Apa lagi orang tua gadis itu, mereka tentu saja lebih mengetahui.

Selain mengenalkan diri, di dalam pesta perjamuan itu Pao-beng-pai juga menawarkan kerja sama dengan semua pihak yang menentang penjajah Mancu, tidak peduli mereka itu dari golongan hitam atau putih, dari kelompok mana pun.

“Untuk mengusir penjajah dari tanah air kita, satu-satunya cara adalah bersatu padu di antara seluruh golongan. Bila kita bersatu padu, kita akan menjadi kuat dan pemerintah penjajah pasti dapat kita tumbangkan!” demikian antara lain ketua Pao-beng-pai berkata kepada para tamunya.

Pertemuan itu dibubarkan dengan kesan yang amat baik bagi para tamu. Pao-beng-pai mereka akui, bahkan kini semua orang tahu bahwa Pao-beng-pai dipimpin oleh keluarga yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Semua tamu lalu meninggalkan rumah besar di perkampungan Pao-beng-pai di Ban- kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) itu. Kecuali Yo Han dan Cia Ceng Sun!

Dua orang pemuda ini menerima undangan khusus dari pihak pimpinan Pao-beng-pai untuk tinggal selama beberapa hari di situ dengan alasan supaya perkenalan semakin menjadi akrab. Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Yo Han sebab dia memang ingin sekali memperoleh keterangan tentang penculik puteri bibinya yang dia harapkan dapat mendengar dari perkumpulan itu.

Juga Cia Ceng Sun merasa girang. Ia melihat bahwa Pao-beng-pai merupakan bahaya besar bagi pemerintahan kakeknya, maka sebagai seorang pangeran, dia berkewajiban untuk melakukan penyelidikan yang lebih mendalam agar dia memperoleh bahan untuk membuat pelaporan sehingga pemerintah dapat diselamatkan dan para pemberontak ini dapat dibasmi. Hanya ada sebuah hal yang membuat hati pangeran ini gelisah. Yaitu Siangkoan Eng! Dia merasa menyesal sekali, kenapa seorang gadis seperti itu menjadi puteri kepala pemberontak!

Dua orang pemuda itu masing-masing memperoleh sebuah kamar di bagian belakang, kamar yang cukup mewah. Dan biar pun mereka mendapatkan kamar sendiri, namun dua pemuda itu maklum bahwa diam- diam pihak keluarga tuan rumah selalu mengikuti gerak-gerik mereka.

Beberapa orang selalu memasang mata kalau mereka berada di dalam kamar. Hal ini membuat keduanya berhati-hati dan tidak berani sembarangan bertindak. Juga mereka maklum bahwa betapa pun ramahnya sikap keluarga tuan rumah, namun agaknya mereka masih belum percaya benar…..

********************

Pada senja hari itu, mereka duduk berdua saja di ruang depan. Yo Han dan Siangkoan Kok. Sudah dua hari Yo Han tinggal di rumah keluarga Siangkoan Kok dan dia mulai mengenal ketua itu sebagai seorang yang memiliki cita-cita besar, yaitu menumbangkan pemerintah Mancu.

Juga ketua itu mulai mengaku bahwa ia adalah keturunan keluarga Kerajaan Beng yang sudah dijatuhkan pasukan Mancu seratus tahun lebih yang lalu. Ketua Pao-beng-pai ini bercita-cita untuk membangun kembali Kerajaan Beng!

Yo Han melihat kenyataan bahwa yang dinamakan ‘perjuangan’ oleh Siangkoan Kok ini pada hakekatnya tiada lain hanyalah suatu usaha balas dendam dan ambisi pribadi. Alangkah banyaknya orang yang menggunakan kedok perjuangan, demi bangsa, demi rakyat dan sebagainya, yang pada hakekatnya menyembunyikan kepentingan pribadi.

Siangkoan Kok bukan berjuang melihat penderitaan rakyat, melainkan bercita-cita untuk merampas kembali kerajaan, dan tentu dia bercita-cita menjadi raja kalau dia berhasil membangun kembali Kerajaan Beng.

Perjuangan itu baru asli kalau dilakukan oleh seluruh rakyat sebagai akibat penderitaan atau penindasan. Perjuangan yang mengutamakan rakyat tapi tanpa mengikut sertakan rakyat sendiri, masih diragukan kemurniannya. Siangkoan Kok tidak mengajak rakyat, melainkan memiliki anak buah sendiri, dan merangkul orang-orang dari dunia persilatan, baik golongan hitam mau pun putih.

Akan tetapi bagaimana dengan rakyat jelata? Benarkah mereka itu kini dalam keadaan tertindas? Yang dia tahu, biar pun Kaisar Kian Liong seorang Mancu, namun dia dikenal sebagai seorang kaisar yang bijaksana, yang membangun dan berusaha memakmurkan rakyat, bukan dengan jalan penindasan. Karena itu, nama kaisar itu harum di kalangan rakyat, bukan sebagai kaisar penindas.

Yo Han setuju sekali jika pemerintah dipegang oleh bangsa sendiri, bukan oleh bangsa Mancu. Akan tetapi, dia tidak setuju kalau untuk menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah itu diadakan pemberontakan-pemberontakan kecil di sana sini yang bukan lain merupakan ambisi pribadi dari pemimpin-pemimpin kelompok yang tidak puas dan yang mencari kekuasaan bagi diri sendiri.

Pemberontakan kecil semacam itu hanya akan menyengsarakan rakyat belaka. Seperti halnya yang sudah-sudah, gerombolan pemberontak itu selalu mengganggu rakyat pula. Seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa- pai, bahkan Thian-li-pang juga pernah menyeleweng.

Kalau perkumpulan yang bertujuan menumbangkan penjajah itu dimasuki orang-orang dari golongan sesat, sudah pasti akan terseret ke dalam kejahatan dan mengganggu rakyat dengan dalih perjuangan! Dan dia tidak setuju sama sekali!

Jika ada pemimpin sejati yang dapat membangkitkan rakyat untuk menentang penjajah, maka dia siap untuk berdiri di barisan terdepan! Akan tetapi karena kehadirannya di Pao-beng-pai bukan untuk urusan pemberontakan, melainkan dalam usahanya mencari jejak penculik puteri bibinya, ia pun tak banyak membantah ketika mendengarkan ketua itu bicara penuh semangat tentang gerakannya.

“Nah, bagaimana pendapatmu, Yo-sicu? Setelah engkau mendengarkan semua cita-cita dan rencanaku, bersediakah engkau bekerja sama dengan kami, baik engkau pribadi mau pun engkau sebagai pimpinan Thian-Li-pang? Kita akan berjuang bahu-membahu, menumbangkan penjajah dan kelak kita bersama pula yang akan memetik buahnya, kita yang akan menikmati hasilnya.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo