October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 2

 

Siapa berani mengganggu pendekar ini yang merupakan keturunan langsung dari Pendekar Super Sakti dari Istana Pulau Es? Suma Ceng Liong adalah cucu mendiang Suma Han si Pendekar Super Sakti. Ada pun isterinya juga bukan orang sembarangan pula. Kam Bi Eng adalah puteri pendekar sakti Kam Hong, ahli ilmu silat suling emas dan terkenal dengan Kim-siauw-kiam (Pedang Suling Emas).

Mereka hanya mempunyai anak tunggal, seorang perempuan bernama Suma Lian yang kini telah ikut suaminya dan tinggal di Ping-san, sebelah selatan Pao-teng. Suami Suma Lian bernama Gu Hong Beng, seorang ahli silat pula, murid Suma Ciang Bun.

Sekarang Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng tinggal berdua saja di dusun Hong-cun. Tadinya mereka oleh ditemani seorang murid bernama Liem Sian Lun yang seolah-olah menjadi anak angkat mereka pula. Akan tetapi sayang, murid mereka itu sudah tewas dalam pertempuran pada saat Liem Sian Lun bersama Tan Sian Li sebagai suheng dan sumoi, melakukan perjalanan ke Bhutan lalu terlibat dalam pertempuran antara para pemberontak Tibet dengan pasukan Tibet.

Mereka yang tadinya hidup berdua dan merasa kesepian setelah puteri mereka menikah dan pergi mengikuti suaminya, lalu muncullah Liem Sian Lun yang kemudian menjadi tumpuan kasih sayang, dan tiba-tiba saja, pemuda itu tewas dalam pertempuran di luar pengetahuan mereka.

Di sini nampak benar kekuasaan Tuhan yang mutlak atas kehidupan manusia. Betapa pun pandai seseorang, kalau memang Tuhan tidak menghendaki, orang itu tak mampu melaksanakan sesuatu sesuai kehendaknya. Manusia berwenang mengatur, tetapi yang berwenang menentukan hanyalah kekuasaan Tuhan! Manusia hanya wajib berikhtiar, berusaha untuk berbuat sebaiknya dalam segala hal.

Kematian Liem Sian Lun yang mendatangkan duka di hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merupakan keputusan Tuhan.

Kelahiran serta kematian sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan, merupakan rahasia Tuhan, merupakan hasil ciptaan Tuhan. Sepandai-pandainya manusia, hanya mampu menelusuri dan mempelajari proses terjadinya penciptaan itu, membantu melancarkan proses itu saja.

Kita harus menyadari bahwa kita ini adalah hasil ciptaan Tuhan, bahwa kita berada di dunia ini adalah karena kehendak Tuhan, bukan karena kehendak kita. Dan Tuhan telah menyertakan pada kita segala macam perlengkapan yang serba sempurna, dari tubuh yang lengkap sampai hati dan akal pikiran. Tentu supaya kita menjadi hasil ciptaan yang baik, yang berguna bagi kelancaran pekerjaan Tuhan.

Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap orang umat-Nya. Baik sesuatu itu dianggap menyenangkan atau pun menyusahkan bagi hati yang sudah bergelimang nafsu yang selalu ingin senang, tapi kita boleh yakin bahwa segala hal yang menimpa diri kita dalam kehidupan ini sudah dikehendaki Tuhan dan merupakan yang terbaik bagi kita. Entah hal itu berupa hukuman atau pun anugerah sebagai pemetikan hasil dari pohon yang kita tanam sendiri melalui perbuatan yang lalu, mau pun berupa ujian dan cobaan.

Demikian besar kemurahan Tuhan kepada kita sehingga kita berwenang untuk memilih, untuk menentukan sendiri langkah hidup kita, kemudian bertanggung jawab atas semua langkah-langkah itu.

Pada pagi hari ini keluarga Suma Ceng Liong yang kini hanya tinggal berdua di dalam rumah besar di dusun Hong-cun itu akan mengadakan pesta perayaan ulang tahun ke enam puluh dari Suma Ceng Liong. Pesta sekali ini merupakan pesta yang diadakan khusus untuk ‘mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan’, istilah yang dipakai Suma Ceng Liong untuk mengartikan bahwa pesta itu diadakan untuk mengumpulkan para anggota keluarga yang terpisah di mana-mana seperti tulang-tulang berserakan.

Suami isteri itu memang mempunyai rangkaian anggota keluarga yang besar, terdiri dari keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir serta keluarga Lembah Naga Siluman! Tiga buah keluarga pendekar yang amat terkenal di dunia persilatan. Bukan hanya keluarga hubungan darah, akan tetapi juga saudara seperguruan.

Tentu saja yang lebih dahulu datang adalah puteri mereka sendiri, yaitu Suma Lian dan suaminya, Gu Hong Beng. Suma Lian sudah berusia empat puluh tahun dan suaminya berusia empat puluh lima tahun, akan tetapi mereka tidak dikaruniai seorang pun anak. Kenyataan ini pun menjadi bukti kekuasaan Tuhan.

Suami isteri ini adalah pendekar-pendekar yang sehat, bahkan dapat dikatakan sehat lahir batin, dan pandai. Tetapi, betapa pun mereka berikhtiar, dengan minum bermacam obat, karena agaknya Tuhan tak menghendaki, maka ikhtiar mereka gagal. Setelah dua puluh tahun mereka menikah dan belum juga memperoleh anak, keduanya tidak lagi mengharapkan dan menerima kenyataan karena agaknya takdir Tuhan menghendaki bahwa mereka tidak mendapatkan keturunan.

Lalu berturut-turut datanglah para tamu yang merupakan anggota tiga keluarga besar. Pertama urutan tamu dari keluarga Pulau Es adalah kakek Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui. Pendekar tua ini sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun dan isterinya enam puluh tujuh tahun, kemudian Suma Ciang Bun yang berusia enam puluh lima tahun bersama isterinya, Gangga Dewi yang berusia enam puluh satu tahun tiba dari Bhutan.

Nyonya Gak yang bernama Souw Hui Lan, isteri mendiang saudara kembar Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, juga merupakan anggota keluarga Pulau Es. Nyonya yang berusia lima puluh tujuh tahun ini datang bersama puteranya, Gak Ciang Hun yang berusia dua puluh sembilan tahun.

Kemudian Tan Sin Hong bersama isterinya, Kao Hong Li, dan puteri mereka, Tan Sian Li, datang dan gadis ini mendapat sambutan hangat dari kakek Suma Ceng Liong dan nenek Kam Bi Eng, karena gadis ini merupakan cucu keponakan akan tetapi juga murid mereka selama lima tahun.

Dari fihak keluarga Istana Gurun Pasir diwakili oleh kakek Kao Cin Liong, kemudian Can Bi Lan yang kini datang bersama suaminya, Sim Houw. Keluarga Gurun Pasir memang hanya tinggal Kao Cin Liong dan sumoi-nya, yaitu Can Bi Lan yang dulu menjadi murid ayahnya.

Can Bi Lan sekarang berusia empat puluh lima tahun dan suaminya, Sim Houw, sudah berusia enam puluh tahun. Tidak ada lagi anggota keluarga Gurun Pasir, bahkan yang masih ada pun telah menikah dengan anggota keluarga yang lain seperti Kao Cin Liong menikah dengan Suma Hui anggota keluarga Pulau Es. Can Bi Lan menikah dengan Sim Houw anggota keluarga Lembah Naga Siluman.

Anggota keluarga Lembah Naga Siluman yang hadir tentu saja diwakili nyonya rumah, Kam Bi Eng, karena ibunya, yaitu nenek Bu Ci Sian isteri mendiang Kam Hong tidak hadir. Nenek itu sama sekali tidak mau meninggalkan makam suaminya dan bertekad untuk menunggui makam itu sampai hayat meninggalkan badan.

Kemudian muncul pula Cu Kun Tek dan isterinya, Pouw Li Sian. Suami isteri ini sudah berusia empat puluh lima tahun dan tiga puluh sembilan tahun. Mereka datang bersama puteri mereka yang bernama Cu Kim Giok, seorang gadis manis berusia delapan belas tahun. Tentu saja, sebagai puteri dari ayah dan ibu pendekar, Cu Kim Giok ini menjadi seorang gadis pendekar yang lihai.

Ada lagi belasan orang yang pernah menerima bimbingan para tokoh itu sehingga dapat dianggap sebagai murid. Mereka datang pula menghadiri pesta perayaan ulang tahun yang khusus diadakan untuk keluarga itu.

Suasana amat meriah pagi hari itu dan sungguh ini merupakan suatu pertemuan yang menggembirakan, dan juga luar biasa. Begitu banyak pendekar-pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan hebat. Masing-masing dari mereka pernah menggemparkan dunia persilatan dengan kepandaian mereka, dan masing-masing memiliki ilmu andalan sendiri yang dahsyat.

Satu demi satu, para anggota keluarga itu memberi selamat kepada Suma Ceng Liong yang merayakan hari ulang tahunnya. Banyak pula yang memberi hadiah tanda mata yang aneh dan berharga.

Ketika sedikitnya dua puluh orang penduduk dusun yang mewakili seluruh penduduk datang pula menghadiri, tentu saja Suma Ceng Liong lalu menyambut mereka dengan gembira. Mereka datang mewakili para penduduk, tentu saja tidak enak kalau harus ditolak, walau pun pesta itu diadakan khusus untuk mengumpulkan anggota keluarga. Mereka mendapatkan tempat sekelompok di samping.

Sedangkan para anggota keluarga itu segera terlibat dalam percakapan hangat karena pertemuan itu merupakan pula pertemuan istimewa, setelah bertahun-tahun mereka yang tadinya akrab saling berpisah. Suasana menjadi gembira dan hiruk-pikuk seperti pasar karena mereka saling bercakap-cakap satu kepada yang lainnya dengan suara gembira, apa lagi para wanitanya.

Ketika Suma Lian bertemu dengan Pouw Li Sian, mereka saling rangkul bahkan sampai menangis saking terharu dan gembira hati mereka. Kedua orang wanita ini ketika kecil pernah menjadi saudara seperguruan, dibimbing oleh mendiang Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng, ayah dari mendiang dua orang saudara kembar Gak. Semenjak kedua orang wanita ini menikah, sembilan belas tahun yang lalu, mereka tidak pernah saling berjumpa.

“Li Sian…!”

“Suci (Kakak Seperguruan) Lian!” dan keduanya lalu bertangisan.

Ketika Suma Lian diperkenalkan kepada puteri sumoi-nya yang bernama Cu Kim Giok, ia merangkul gadis itu dan mencium kedua pipinya.

“Aihhh, aku sudah mempunyai keponakan sebesar dan secantik ini!” katanya dengan wajah berseri gembira.

Kalau saja pertemuan ini terjadi beberapa tahun yang lampau, tentu Suma Lian akan menangis karena sedih melihat sumoi-nya sudah memiliki anak sebesar itu sedangkan ia sendiri tidak mempunyai anak. Akan tetapi sekarang ia dan suaminya sudah dapat menerima kenyataan dan keadaan sebagai kehendak Tuhan dan pertemuan ini tidak membangkitkan rasa kecewa, iri atau sedih, melainkan mendatangkan keharuan dan kegembiraan. Sebaliknya, Li Sian yang tahu bahwa suci-nya tak mempunyai anak, juga bersikap bijaksana dan tidak mau bicara tentang anak.

Pertemuan itu mendatangkan banyak kenangan lama bagi semua anggota keluarga dan terdengar teriakan-teriakan gembira. Banyak di antara mereka yang mendapat kejutan saat mendengar mereka saling menceritakan keadaan dan pengalaman masing-masing selama mereka saling berpisah. Sungguh merupakan pesta yang meriah dan penuh kegembiraan, suatu pertemuan besar yang amat berhasil.

Sian Li juga bergembira dapat bertemu dan berkenalan dengan para anggota keluarga yang selama ini hanya ia dengar nama besarnya saja dari ayah ibunya. Akan tetapi ada satu hal yang membuat ia merasa amat kecewa di dalam hatinya, yaitu bahwa Yo Han tidak nampak di situ.

Akan tetapi dia adalah seorang gadis yang amat cerdik. Diam-diam dia mendekati Sim Houw dan Can Bi Lan yang sedang bercakap-cakap dengan tuan dan nyonya rumah, yaitu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.

Antara Pendekar Suling Naga Sim Houw dengan Kam Bi Eng terdapat hubungan yang dekat. Sim Houw adalah murid mendiang Kam Hong, ayah Kam Bi Eng. Maka, Kam Bi Eng masih terhitung sumoi (adik seperguruan) dari Sim Houw. Ketika empat orang itu melihat Sian Li menghampiri, mereka lalu menyambut dan mempersilakan gadis yang lincah jenaka dan peramah ini duduk bersama mereka.

“Paman Sim Houw, bagaimana kabarnya dengan puterimu? Apakah Paman dan Bibi sudah menemukan jejak enci Sim Hui Eng yang lenyap sejak masih kanak-kanak itu?” Pertanyaan ini diajukan dengan sikap sungguh-sungguh dan penuh perhatian.

Mendengar pertanyaan Sian Li, Sim Houw dan Can Bi Lan saling pandang dengan alis berkerut dan Sim Houw menghela napas panjang.

“Sian Li, terima kasih atas perhatianmu. Tetapi kami berdua sudah tidak mengharapkan lagi akan dapat menemukan anak kami.”

“Aihhh! Paman dan Bibi sama sekali tidak boleh putus harapan!” Sian Li mencela.

Can Bi Lan berkata, “Kami tidak putus harapan, Sian Li. Akan tetapi ingatlah, anak kami itu sudah hilang selama dua puluh tahun! Andai kata kami dapat bertemu dengannya sekali pun, kami tidak akan dapat mengenalinya lagi. Kami tidak menyesal karena agaknya Thian (Tuhan) telah menghendaki demikian. Yang kami sesalkan hanya bahwa kami tidak dapat yakin apakah ia masih hidup ataukah sudah mati. Kami hanya dapat mendoakan agar kalau ia masih hidup, ia akan hidup berbahagia, dan kalau ia sudah mati, semoga mendapat tempat yang layak.”

Meski ucapan ini dikeluarkan tidak dengan suara sedih, tapi Sian Li dapat menangkap kedukaan yang amat mendalam, yang membuatnya terharu dan tidak mampu berkata-kata lagi. Tadinya ia bermaksud mendekati mereka dan memancing perihal lenyapnya Sim Hui Eng untuk mencari keterangan tentang Yo Han. Tidak tahunya pertanyaannya itu telah membuka kembali luka di hati ayah dan ibu itu!

Suma Ceng Liong segera berkata. “Aihhh, kita manusia memang merupakan makhluk-makhluk yang lemah dan tak berdaya. Dalam keadaan seperti ini, setelah segala ikhtiar kita gagal, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan hanyalah berdoa dan menyerahkan kepada kekuasaan Tuhan! Tidak ada hal yang mustahil bagi kekuasaan Tuhan. Segala apa pun dapat saja terjadi kalau Tuhan menghendaki. Oleh karena itu, sikap putus harapan secara tidak langsung merupakan sikap yang kurang yakin akan kekuasaan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, bukan tidak mungkin suatu saat kalian akan dapat bertemu kembali dengan puteri kalian.”

“Sim-suheng, apa yang dikatakan suamiku memang benar sekali. Justru karena kalian belum melihat bukti dan kenyataan bahwa puteri kalian telah meninggal dunia, hal itu berarti bahwa mungkin sekali ia masih hidup. Dan kalau ia masih hidup, bukan mustahil sekali waktu kita akan dapat bertemu dengannya,” kata Kam Bi Eng.

“Nah, benar bukan apa yang kukatakan tadi, Paman dan Bibi!” seru Sian Li, mendapat ‘angin’ dan juga mendapat kesempatan untuk menyampaikan niat hatinya, yaitu bicara tentang Yo Han. “Tidak perlu putus harapan, apa lagi sekarang ada Sin-ciang Taihiap (Pendekar Tangan Sakti) yang berusaha mencari puteri kalian itu!”

“Sin-ciang Taihiap?” Mereka berempat berseru heran.

“Aih, Paman dan Bibi, juga Kakek dan Nenek sudah lupa akan Si Tangan Sakti Yo Han? Percayalah, sekali Han-koko turun tangan, aku yakin enci Hui Eng pasti akan dapat ditemukan!” Sian Li berkata dengan bangga.

Kini teringatlah mereka semua.

“Aihhh, Sian Li! Bagaimana engkau dapat begitu yakin bahwa Yo Han akan mampu menemukan puteri mereka yang sudah hilang dua puluh tahun itu?” Suma Ceng Liong mencela, menganggap gadis itu terlalu yakin akan hal yang amat sulit dilaksanakan itu. Kalau tidak ada kemurahan Tuhan, tidak ada mukjijat Tuhan, bagaimana mungkin dapat menemukannya kembali?

“Ahhh, Kakek tidak percaya? Menurut ayah dan ibu, Han-koko memang mempunyai sesuatu yang mukjijat, semacam indera ke enam. Ketika aku masih kecil dan aku diculik oleh Ang-I Moli, ayah dan ibu sendiri tidak berhasil mencarinya. Akan tetapi Han-koko yang baru berusia belasan tahun tahu-tahu muncul di depan penculik itu dan minta agar aku dikembalikan kepada ayah ibu dan dia sendiri menyerahkan diri menjadi gantinya.”

“Hemmm, pernah aku mendengar ayah ibumu bercerita tentang itu, akan tetapi tadinya kusangka bahwa hal itu hanya kebetulan saja,” kata Suma Ceng Liong.

“Bukan kebetulan,” bantah Sian Li. “Memang Han-koko memiliki kelebihan dari orang lain. Dia memang aneh sekali. Di waktu kecilnya, dia sama sekali tak mau berlatih silat, membuat ayah dan ibu sampai marah dan kecewa. Selama menjadi murid ayah dan ibu, dia hanya mempelajari teorinya saja, akan tetapi tidak suka berlatih silat. Bahkan dia membenci ilmu silat. Katanya dahulu, dia menganggap ilmu silat sebagai suatu bentuk kekerasan yang membuat orang menjadi jahat, suka bermusuhan dan suka membunuh. Ketika kecil dia tidak mau belajar silat, tapi setelah dewasa, tahu-tahu dia telah menjadi Sin-ciang Taihiap. Apakah itu tidak aneh? Tetapi, mengapa dia tidak datang sekarang? Apakah dia tidak dikirimi undangan?”

Suma Ceng Liong tertawa. “Kami tidak melupakan dia karena dia adalah murid orang tuamu. Akan tetapi tiada seorang pun mengetahui di mana dia sekarang. Bagaimana kami dapat mengirim undangan?”

“Betul juga…,” kata Sian Li. “Akan tetapi dia dahulu sudah tahu akan perayaan ini. Kenapa dia tidak muncul dan di mana dia sekarang?” pertanyaan ini ditujukan kepada diri sendiri karena tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya.

Pada saat itu, semua orang yang duduknya agak di depan, menengok ke luar sehingga menarik perhatian mereka yang berada di sebelah dalam. Tak lama kemudian, semua orang, termasuk Suma Ceng Liong dan isterinya, juga Sian Li, ikut pula memandang ke luar…..

Memang ada yang sangat menarik di luar pekarangan sana. Para penduduk yang ikut menonton di luar nampak memberi jalan kepada serombongan orang yang datang. Ada selusin orang laki-laki yang bertubuh kokoh kuat dan berpakaian seragam abu-abu serta empat orang gadis cantik yang mengenakan pakaian dengan warna menyolok. Ada yang serba kuning, serba biru, serba hitam dan serba putih.

Empat orang gadis ini berjalan di kanan kiri sebuah joli tertutup tirai yang dipikul empat orang laki-laki anggota pasukan yang selosin dan berpakaian abu-abu itu. Joli berada di tengah-tengah, seolah-olah dikawal selosin orang laki-laki dan empat orang gadis itu.

Orang yang berjalan paling depan memegang sebuah tombak yang ujungnya dipasangi sehelai bendera. Dasar bendera itu berwarna kuning polos dan di tengahnya ada huruf BENG (TERANG) dari benang sutera merah yang indah dan gagah. Tanpa ragu-ragu, dengan langkah tegap, rombongan itu memasuki pekarangan dan berhenti di depan tangga ruangan depan yang dipenuhi tamu.

Semua orang memandang dengan heran karena tidak ada yang mengenal dari mana dan siapa rombongan itu. Bendera itu pun tidak mereka kenal. Hanya Kao Cin Liong, orang tertua di antara mereka semua, yang memandang dengan alis berkerut dan dia pun menghampiri tuan rumah, lalu berbisik kepada Suma Ceng Liong. Suma Hui juga mengikuti suaminya dan mendekati adiknya.

“Hanya ada sebuah partai yang kiranya dapat memakai tanda bendera seperti itu, yaitu Pao-beng-pai (Partai Pembela Terang).”

“Akan tetapi partai itu tidak pernah terdengar lagi sekarang,” kata Suma Hui.

“Pao-beng-pai? Partai macam apakah itu?” tanya Suma Ceng Liong kepada cihu-nya (kakak iparnya), yaitu suami dari enci-nya yang dahulu pernah menjadi panglima perang dan memiliki banyak sekali pengalaman.

“Pao-beng-pai itu partai yang berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Beng yang sudah jatuh dengan pemberontakan terhadap pemerintah yang sekarang,” kata Kao Cin Liong.

Mereka berhenti bicara dan pada saat itu, seorang di antara para anggota pasukan yang berpakaian warna abu-abu itu berteriak lantang. “Kami utusan dari Pao-beng-pai mohon bertemu dengan pimpinan dari keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir, dan keluarga Lembah Naga Siluman yang kini sedang berkumpul di sini!”

Semua orang terkejut mendengar ini. Suma Ceng Liong kemudian minta kepada suami enci-nya, yaitu Kao Cin Liong sebagai orang tertua yang berada di situ, untuk mewakili seluruh keluarga dan menerima pengunjung yang baru datang.

Karena jelas bahwa rombongan itu ingin bertemu dengan pimpinan tiga keluarga, bukan dengan tuan rumah, Kao Cin Liong yang menjadi orang tertua di situ tidak keberatan untuk mewakili seluruh keluarga. Di dalam hatinya dia merasa heran sekali. Mau apakah orang-orang Pao-beng-pai mencari mereka? Kalau hendak mencari gara-gara, mungkin orang-orang Pao-beng-pai itu sudah gila. Siapa di dunia ini begitu gila mencari perkara dengan para pendekar dari tiga keluarga besar yang saat itu berkumpul di situ?

Kakek yang kini sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun itu melangkah maju ke depan rombongan itu. Para anggota pasukan kecil yang berada di depan membuat gerakan menyibak ke kanan dan kiri sehingga kakek itu kini berhadapan dengan joli yang tirainya masih saja tertutup. Semua orang memandang dari belakang kakek Kao Cin Liong dan suasana menjadi hening sekali karena semua orang memperhatikan.

“Kami sedang berkumpul di sini untuk mengadakan pertemuan keluarga dan kami tidak mempunyai pimpinan. Karena aku kebetulan yang tertua, maka para anggota keluarga kami minta supaya aku mewakili mereka. Nah, apakah yang dikehendaki Pao-beng-pai dengan kunjungan mendadak dan tanpa diundang ini? Di antara kami tidak ada yang mempunyai urusan dengan Pao-beng-pai.” Suara kakek itu cukup berwibawa walau pun sikapnya tenang sekali.

Bahkan dua belas orang anggota pasukan yang tadinya nampak kereng dan kokoh kuat itu kini nampak gentar menghadapi sikap kakek itu yang demikian tenang, berwibawa dan penuh kepercayaan pada diri sendiri. Tadinya mereka mengira bahwa setiap orang di dunia persilatan akan menjadi jeri melihat bendera tanda pengenal partai mereka. Siapa tahu kakek ini bersikap seolah mereka hanyalah sebagai pengganggu biasa saja yang tidak terkenal!

Seperti anak-anak ayam yang mencari perlindungan kepada induknya, mereka semua memandang ke arah joli. Si pemegang bendera segera berkata dengan suara lantang, jelas dimaksudkan agar didengar oleh semua orang karena bila hanya ditujukan kepada penumpang joli, tidak perlu dia berteriak selantang itu.

“Nona yang mulia! Pihak tuan rumah telah datang menyambut, silakan Nona yang mulia keluar untuk bicara dengan dia!”

Tentu saja semua orang menjadi semakin tertarik. Siapakah yang mereka sebut sebagai nona yang mulia itu? Dengan penuh perhatian mereka semua kini memandang ke arah joli yang sejak tadi tidak bergerak, dan yang oleh para pemikulnya sudah diturunkan ke atas tanah. Tirai itu pun semenjak tadi tidak pernah bergoyang. Pada saat empat orang penggotong joli tadi menurunkannya, nampaknya begitu ringan seolah- olah penumpang joli itu teramat ringan, ataukah empat orang pemanggul itu yang amat kuat?

Kini tirai dari sutera hijau itu bergoyang sedikit dan agaknya ini merupakan isyarat bagi empat orang gadis pendamping joli untuk cepat menghampiri bagian depan joli. Mereka menyingkap tirai itu dan ketika melakukan ini, mereka berempat membungkuk sampai dalam, dan yang berpakaian kuning lalu berkata penuh hormat. “Silakan, Siocia (Nona Muda)!”

Semua orang memandang dan ternyata yang duduk di joli itu adalah seorang wanita muda yang cantik dan bersikap agung. Gadis ini mengenakan pakaian berkembang dan cerah, dan ia nampak anggun dan cantik. Ia duduk dengan tegak seperti seorang puteri atau seorang ratu dan sedikit pun tidak merasa gentar atau canggung walau pun banyak pasang mata yang tajam dan mencorong mengamatinya.

Usianya sukar diketahui dengan pasti karena pembawaannya menunjukkan bahwa dia bukan remaja lagi, cukup dewasa dan tentu sudah ada dua puluh tahun. Rambutnya digelung tinggi di atas kepala, dan rambut itu dihias sebuah tiara kecil yang berkilauan karena terhias intan permata. Matanya yang tajam seakan-akan dapat menembus dan menjenguk isi dada orang.

Akan tetapi kecantikannya itu amat dingin. Keanggunannya mengandung keangkuhan. Dingin dan angkuh ini nampak di sudut-sudut bibirnya yang tersenyum sinis. Tangan kirinya memegang sebuah hud-tim (kebutan) yang biasa dipegang seorang pendeta atau pertapa, kebutan pengusir lalat dan nyamuk. Akan tetapi kebutan ini indah, dengan gagang yang terbuat dari emas. Kebutan itu sendiri terbuat dari benang yang mengkilap, entah benang apa, berwarna kemerahan seperti ternoda darah.

Setelah menyapu ruangan itu dengan lirikan matanya yang tajam, ia kini memandang kepada Kao Cin Liong. Bibirnya bergerak, senyumnya semakin merekah dan semakin sinis. Lalu kakinya melangkah turun dari joli, dengan gerakan sopan bagaikan seorang puteri yang menjaga setiap gerakan agar nampak anggun dan sopan.

Setelah turun dari joli dan berdiri berhadapan dengan Kao Cin Liong, nampak tubuhnya yang ramping, dengan pinggang yang kecil laksana pinggang lebah hitam, sedangkan pinggulnya besar menonjol. Dia berdiri dengan tegak dan anggun, seperti seorang ratu di hadapan para hulubalangnya.

“Kiranya Jenderal Kao Cin Liong yang menjadi wakil,” katanya. Suaranya lembut akan tetapi terasa begitu dingin dan datar tanpa nada dan irama. Seperti igauan orang dalam mimpi!

Akan tetapi, kalimat pendek ini mengejutkan semua orang, terutama sekali kakek itu. Bagaimana gadis yang sama sekali tidak dikenalnya ini tahu bahwa dia pernah menjadi panglima?

“Hemm, sekarang tidak lagi menjadi jenderal, Nona. Siapakah Nona?” Kakek ini sudah merasa kalah penampilan, karena gadis itu sudah mengenal namanya akan tetapi dia sama sekali belum mengenalnya, bahkan bertemu pun baru sekali ini.

“Aku biasa dipanggil Siocia (Nona), tak pernah mempunyai nama. Walau pun sekarang engkau bukan lagi jenderal, tetapi engkau pernah menjadi panglima Kerajaan Mancu, bukan?”

Jelas sekali bagi para anggota keluarga besar yang berkumpul di situ bahwa ketika mengucapkan kata Mancu, gadis itu nampak menghina sekali. Mereka pun tidak merasa heran karena biar pun belum pernah berurusan dengan orang-orang Pao-beng-pai yang selalu bergerak secara rahasia, tapi mereka pernah mendengar bahwa partai itu adalah partai yang menentang pemerintah Mancu.

“Sudahlah, tidak perlu kita mempersoalkan apakah aku pernah menjadi panglima, juga apakah Nona mempunyai nama atau tidak. Yang terpenting sekarang, apakah maksud kedatangan Nona sebagai utusan Pao-beng-pai? Seperti kami katakan tadi, kami tidak pernah mempunyai urusan dengan Pao-beng-pai, maka apa maksud kunjungan Nona ini?” kata kakek Kao Cin Liong dengan suara yang tetap tenang dan penuh kesabaran. Sebagian anggota keluarga itu sudah ada yang melotot dan marah, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani mengganggu kakek Kao Cin Liong yang mewakili mereka.

Gadis itu menggerakkan tangan kirinya. Ujung kebutannya bergerak seolah ia mengusir lalat yang datang mendekatinya, kemudian kembali senyumnya mekar penuh ejekan. “Apa maksud kunjunganku? Panglima Kao Cin Liong, sudah lama sekali Pao-beng-pai mendengar bahwa dalam tiga keluarga besar Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga memiliki banyak pendekar yang pandai, yang tidak memandang sebelah mata kepada kelompok dan aliran lain di dunia persilatan. Juga bahwa ketiga keluarga itu berwatak tinggi hati, suka mencampuri urusan aliran lain, tidak segan menggunakan kepandaian mengalahkan kelompok lain, dan yang lebih tidak menyenangkan lagi, mereka menjadi antek-antek bangsa Mancu yang berarti turut membantu kekuasaan para penjajah. Nah, karena itulah Pao-beng-pai ingin sekali membuktikan sendiri apakah berita mengenai kegagahan mereka itu benar, atau hanya omong kosong saja.”

Mendengar ucapan gadis itu, Kao Hong Li dan Tan Sian Li sudah bergerak maju sambil mengepal tinju. Akan tetapi, Tan Sin Hong yang semenjak tadi sudah waspada melihat keadaan isteri dan puterinya, yang dia tahu keduanya memiliki watak keras dan galak, cepat menangkap lengan mereka dan memberi isyarat dengan geleng kepala.

“Ayah mewakili kita semua, jangan diganggu,” bisiknya.

Kao Hong Li lantas teringat, demikian pula Sian Li, maka ibu dan anak ini menahan kemarahannya dalam hati. Sebagai pihak pemilik rumah yang kedatangan tamu, tidak pantas kalau mereka maju mengganggu Kao Cin Liong yang mewakili mereka semua.

Kakek Kao Cin Liong tersenyum mendengar ucapan gadis yang berani itu. Diam-diam dia terheran dan terkejut. Bagaimana seorang gadis semuda ini berani mengeluarkan kata-kata keras mencela tiga keluarga besar, padahal para anggota keluarga lengkap berada di situ? Biar semua datuk persilatan di dunia kang- ouw, para datuk sesat sekali pun, tidak mungkin akan berani senekat itu!

Andai kata Pao-beng-pai mengirim seluruh pimpinan berikut anak buahnya sekali pun, menghadapi seluruh keluarga ini, mereka akan sama dengan ombak samudera ganas yang menghantam bukit karang, akan hancur lebur dengan sendirinya. Apakah gadis ini miring otaknya, ataukah sudah bosan hidup dan sedang mencari cara membunuh diri yang dapat dianggap gagah? Dia mengelus jenggotnya yang sudah putih semua.

“Bu-beng Siocia (Nona Tanpa Nama), kalau Pao-beng-pai hendak membuktikan sendiri berita mengenai kegagahan ketiga keluarga kami, lalu apa yang kau kehendaki dengan kunjungan ini?”

“Aku mewakili Pao-beng-pai sepenuhnya, dan atas nama Pao-beng-pai aku menantang tokoh yang paling tinggi ilmu kepandaiannya dari ketiga keluarga ini untuk mengadu kepandaian. Aku tahu, bahwa aku mendatangi goa penuh singa dan naga, dan kalian semua bisa saja maju dan membunuhku. Akan tetapi hal itu hanya akan membuktikan bahwa kalian hanyalah para pengecut, bukan orang gagah…”

“Tutup mulutmu yang bau busuk, iblis betina tanpa nama!” Tiba-tiba Kao Hong Li yang terkenal galak sudah meloncat maju ke depan wanita itu. “Berani engkau mengeluarkan kata-kata yang menghina ayahku dan seluruh keluarga kami? Bocah sombong macam engkau hendak menantang kami? Majulah, akulah yang akan mewakili semua keluarga untuk menghajarmu!”

Gadis muda itu tersenyum mengejek, lalu mengeluarkan suara dengus dari hidungnya, memandang rendah. “Engkau ini puteri Panglima Kao Cin Liong? Tentu engkau yang bernama Kao Hong Li. Bibi muda, kepandaianmu masih terlalu rendah. Mengapa tidak menyuruh suamimu saja, Si Bangau Putih Tan Sin Hong untuk mewakilimu? Aku ingin bertanding dengan tokoh paling tangguh dari tiga keluarga besar, bukan dengan orang yang ilmu kepandaiannya masih tanggung-tanggung.”

Kembali semua orang terheran. Wanita muda ini agaknya mengenal para anggota tiga keluarga besar itu. Tidak salah lagi, pikir mereka, tentu gadis sombong itu sebelumnya telah mempelajari keadaan mereka, wajah dan nama-nama mereka, dan mungkin sekali mendapat keterangan jelas tentang ilmu yang mereka miliki masing-masing. Sikap gadis itu telah membakar hati para pendekar wanita yang berada di tempat itu.

“Biarkan aku saja yang menghadapinya!” terdengar bentakan nyaring dan nampaklah bayangan berkelebat ketika Can Bi Lan meloncat ke dekat Kao Hong Li.

Gadis itu memandang penuh perhatian. “Hemmm, engkau tentu yang bernama Can Bi Lan dan berjuluk Siauw-kwi (Setan Kecil). Sebaiknya kalau suamimu yang maju, bukan engkau. Kulihat suamimu Pendekar Suling Naga Sim Houw juga berada di sini. Kalau dia yang maju barulah ada harganya untuk melawan aku!”

“Wah, bocah sombong, agaknya otakmu tidak waras!” terdengar bentakan dan tubuh Kam Bi Eng berkelebat cepat mendekati gadis itu. “Hayo engkau cepat menggelinding pergi dari sini, atau aku yang akan menghancurkan mulutmu yang lancang!”

Gadis itu memandang kepada Kam Bi Eng penuh perhatian, kemudian menoleh untuk memandang kepada Suma Ceng Liong. “Bagus, bibi Kam Bi Eng keturunan keluarga Suling Emas dan Naga Siluman! Tapi lebih baik lagi kalau suamimu yang maju karena sudah lama aku mendengar nama besar Suma Ceng Liong, keturunan langsung dari Pendekar Sakti Pulau Es!”

“Ibu, biarkan aku yang menghajarnya!” Suma Lian meloncat dekat pula dengan mata mencorong marah.

“Tidak, lebih baik aku saja yang menghadapinya!” lagi terdengar teriakan yang dibarengi berkelebatnya bayangan merah dan Sian Li sudah pula berada di situ.

Nyonya Gak atau Souw Hui Lian, Suma Hui, yang sudah tua, bahkan juga Gangga Dewi dan para murid perempuan yang hadir di situ, semua maju, mempersiapkan diri untuk melawan tamu yang kurang ajar itu.

Gadis itu kini tertawa. Tawanya lepas dan tidak menutupi mulutnya sehingga nampak deretan giginya yang rapi dan bersih.

“Ha-ha-ha, agaknya para pendekar wanita tiga keluarga besar masih memiliki semangat dan galak-galak. Tetapi aku tetap menghendaki orang terkuat yang maju menandingiku karena aku hanya akan menantang seorang saja, kecuali tentu saja kalau kalian hendak mengeroyokku.”

“Jahanam sombong, kau sambutlah seranganku!” Suma Lian sudah menerjang dengan dahsyat ke arah gadis itu.

Suma Lian tak bisa menahan kemarahannya lagi, maka begitu berteriak memberi tanda penyerangan, dia telah menyerang dengan totokan jari-jari tangannya. Terdengar suara bersuitan ketika tangannya bergerak, menunjukkan betapa kuat tangan yang melakukan serangan totokan itu. Itulah ilmu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang amat lihai.

“Hemmm, bagus!” Gadis itu berseru lembut dan tiba-tiba saja tubuhnya melesat cepat bagaikan kilat dan dia sudah melayang ke belakang, ke tempat terbuka yang lebih luas sambil tadi menghindarkan diri dari totokan maut. “Di sini lebih luas, mari kita main-main sebentar. Engkau ini tentu yang bernama Suma Lian, bukan? Namamu cukup terkenal, pantas untuk menjadi lawanku. Mari!”

Suma Lian yang berusia empat puluh tahun itu adalah puteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Selain telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya, juga bersama Pouw Li Sian ia pernah digembleng oleh Bu Beng Lo-kai atau Gak Bun Beng. Agaknya di antara semua anggota keluarga wanita yang hadir di situ pada saat itu, Suma Lian merupakan orang yang paling tangguh. Si Bangau Merah Tan Sian Li pun masih belum setinggi ia tingkat kepandaiannya dan agaknya hal ini diketahui pula oleh gadis tamu yang aneh itu maka ia suka menerima Suma Lian menjadi lawannya.

Suma Lian meloncat ke depan gadis itu. Semua orang memandang dengan hati tegang dan penuh perhatian karena meski pun gadis itu tidak mau memperkenalkan nama dan mengaku tidak bernama, tetapi dari gerakan silatnya, para pendekar itu ingin mengenal alirannya. Mereka tahu bahwa Pao-beng-pai merupakan partai pemberontak yang selalu menentang pemerintah, sama seperti halnya Thian-li-pang, Pat-kwa-pai, Pek-lian-kauw dan yang lain, akan tetapi Pao-beng-pai bukan perkumpulan silat maka para tokohnya memiliki ilmu silat dari bermacam aliran.

Kedua orang wanita itu sekarang saling berhadapan dalam keadaan siap siaga. Dalam usia empat puluh tahun Suma Lian masih nampak cantik dan ramping, dan selama ini ia tidak pernah bosan untuk berlatih silat bersama suaminya. Oleh karena ia pun seorang pendekar wanita yang berpengalaman, ia dapat menduga bahwa gadis yang bersikap sombong dan berani menantang para anggota tiga keluarga besar itu tentu mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan. Oleh karena itu, ia pun bersikap hati-hati dan diam- diam ia pun sudah mengerahkan tenaga Swat-im Sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) ke dalam kedua lengannya.

Gadis itu bersikap tenang, kini tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Matanya mencorong memandang lawan, mulutnya masih tersenyum dingin dan sinis, namun jelas nampak bahwa ia pun tidak berani main-main. Agaknya ia memang telah mendapat keterangan yang cukup mengenai para anggota keluarga, dan ia maklum bahwa yang dihadapinya adalah pendekar wanita anggota keluarga Pulau Es yang amat tangguh.

Gadis itu bersikap tenang sekali. Melihat lawan bertangan kosong, ia pun melemparkan kebutannya kepada gadis berbaju kuning yang tadi mengawalnya. Kebutan itu meluncur deras bagaikan anak panah ke arah gadis baju kuning, amat mengejutkan semua orang karena seolah-olah gadis itu menyerang pembantunya sendiri!

Akan tetapi, gadis baju kuning dengan tenang namun sigap menjulurkan tangan dan ia sudah berhasil menjepit gagang kebutan itu dengan jari telunjuk dan jari tengah! Diam-diam para pendekar menjadi semakin heran. Kalau si baju kuning itu, yang agaknya hanya merupakan pelayan, memiliki kemampuan seperti itu, mudah diduga bahwa nona majikannya tentu jauh lebih lihai.

Gadis itu sekarang membetulkan ikat sabuk sutera di pinggangnya, menggulung kedua lengan baju sampai ke siku sehingga nampak kedua lengannya yang kecil panjang dan berkulit halus.

“Suma Lian, aku sudah siap. Keluarkan semua kepandaianmu!” Gadis itu menantang.

“Iblis betina sombong, engkau yang datang, engkau yang menantang, engkau pula yang boleh bergerak lebih dulu!” Suma Lian membentak dengan pasangan kuda-kuda tegak. Kedua lengan menyilang di depan dada, sepasang matanya mencorong di antara kedua tangan yang dibuka jari-jarinya.

“Awas, aku mulai menyerang, ha-ha-hi-hi-hi…!”

Gadis itu tertawa dan suara tawanya makin lama semakin meninggi. Dua belas orang pengawalnya dan empat orang pelayan wanitanya mengambil sesuatu dan menyumbat sepasang telinga masing-masing dengan benda kecil itu.

Suma Lian terkejut pada saat merasakan getaran yang amat kuat menyusup ke dalam tubuhnya. Keturunan keluarga Pulau Es ini segera tahu bahwa gadis itu bukan sekedar tertawa, melainkan sudah melakukan penyerangan seperti yang dikatakan olehnya tadi, penyerangan melalui getaran suara tawa!

Ilmu macam ini, menggunakan getaran suara untuk menyerang lawan, merupakan ilmu yang hanya mampu dilakukan oleh orang yang telah mempunyai sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat. Suma Lian sendiri adalah puteri Suma Ceng Liong, keturunan Pulau Es yang selain lihai ilmu silatnya, juga memiliki ilmu sihir dari nenek moyangnya. Tentu saja Suma Lian sudah pernah mempelajari ilmu ini dan menguasai kekuatan sihir.

Maka, menghadapi serangan lawan melalui getaran suara tawa, ia cepat mengerahkan tenaga melindungi diri. Ia ‘menutup’ pendengarannya dari dalam dan memandang gadis yang tertawa itu dengan senyum mengejek.

Para anggota keluarga para pendekar yang hadir di situ juga mengerahkan sinkang dan mereka semua mampu menangkis getaran suara tawa itu. Akan tetapi, belasan orang tetangga yang masih hadir sebagai tamu, tersiksa sekali. Mereka coba untuk menutupi telinga dengan kedua tangan, akan tetapi agaknya getaran itu menembus tangan yang menutupi telinga dan di antara mereka sudah ada yang terjungkal pingsan.

Melihat ini, Suma Lian membentak dengan suara lantang penuh wibawa, mengerahkan kekuatan sihirnya. “Iblis betina, hentikan tawamu yang tidak ada gunanya itu!”
Dan suara tawa itu pun terhenti. Si gadis nampak kaget dan maklum bahwa tawanya tidak mempengaruhi lawan mau pun para anggota keluarga lainnya, hanya merobohkan orang-orang yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga itu.

“Kamu anak kecil sombong! Kau kira dengan sedikit ilmu hitam itu engkau akan dapat menakut-nakuti kami?!” bentak Suma Lian.

Dan nyonya ini pun membalas dengan serangan tamparan tangan kiri. Terdengar bunyi angin menyambar dahsyat. Gadis itu cepat mengelak, lalu membalas dengan pukulan ke arah dada Suma Lian. Pukulan ini dielakkan pula oleh Suma Lian dan segera terjadi perkelahian yang seru di antara kedua orang wanita cantik itu.

Semua pendekar menonton dengan penuh keheranan. Mereka semua tahu betapa lihai Suma Lian. Wanita ini sudah mempelajari banyak ilmu silat tingkat tinggi yang dahsyat. Ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es ditambah pula ilmu-ilmu dari Lembah Naga Siluman.

Tidak tanggung-tanggung Suma Lian mengeluarkan ilmu-ilmu itu. Ia telah mengeluarkan beberapa jurus dari ilmu silat Hong-in Bun-hoat (Silat Sastra Angin dan Awan), juga dari Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti), bahkan sudah menggunakan ilmu totokan Coa-kut-ci dan Toat-beng-ci (Jari Penembus Tulang dan Jari Pencabut Nyawa).

Namun anehnya, gadis itu seolah-olah mengenal semua jurus itu dan mampu mengelak atau menangkis. Ketika para pendekar memperhatikan dasar gerakan yang digunakan gadis cantik wakil Pao-beng-pai itu, mereka merasa heran. Gerakan silat gadis itu sukar dikenal dasarnya karena mengandung dasar banyak macam aliran silat.

Yang jelas kekokohan kuda-kuda Siauw-lim-pai nampak di situ, juga kelincahan gerakan silat Bu-tong-pai. Akan tetapi, gerakan kedua tangan pada waktu mengelak dan balas menyerang, jelas bukan dari kedua aliran itu, dan cara penyerangan yang tiba-tiba dan licik berbahaya itu menunjukkan adanya pengaruh ilmu dari golongan sesat!

Namun, ternyata gadis itu lihai bukan main. Ilmu silatnya yang campuran sukar dikenal, dan agaknya sedikit banyak ia telah mengenal jurus-jurus silat yang dipergunakan Suma Lian untuk menyerangnya sehingga ia mampu mengelak atau menangkis dengan tepat. Sementara itu, dalam hal tenaga sinkang dan keringanan tubuh, ia juga tidak berada di bawah tingkat Suma Lian! Hal ini saja sudah sangat mengagumkan dan mengherankan hati para pendekar yang berada di situ.

Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong dan Suma Ceng Liong, dan juga Pendekar Suling Naga Sim Houw, tiga orang di antara para pendekar yang mempunyai ilmu kepandaian paling tinggi di antara mereka semua, diam-diam merasa heran dan kaget bukan main.

Pada jaman itu, kiranya sukar sekali mencari seorang gadis muda yang akan mampu menandingi ilmu kepandaian Suma Lian. Bahkan Tan Sian Li yang disebut Si Bangau Merah oleh semua anggota keluarga, yang dikagumi sebagai anggota keluarga termuda yang telah mempunyai ilmu kepandaian tinggi, agaknya masih belum dapat menandingi Suma Lian.

Akan tetapi, gadis muda yang hanya dikenal sebagai Nona Tanpa Nama itu bukan saja mampu menandingi, bahkan kini mulai mendesak Suma Lian dengan ilmu silatnya yang aneh. Dia melakukan dorongan-dorongan atau pukulan jarak jauh yang sangat dahsyat, yang mendatangkan angin laksana gelombang samudra sedang membadai.

Suma Lian mengerahkan tenaga dari Pulau Es untuk menahan dorongan-dorongan itu, namun agaknya ia masih kalah kuat sedikit sehingga setiap kali terjadi bentrokan tenaga sakti, jelas bahwa pasangan kuda- kuda kaki Suma Lian tergeser sedikit ke belakang, sedangkan kuda-kuda kaki gadis cantik itu masih tetap teguh.

“Haiiiiittttt…!”

Tiba-tiba gadis itu menyerang lagi dengan kedua tangan didorongkan, akan tetapi kini ia mengubah kuda- kuda kakinya dan menekuk kedua lutut sehingga tubuhnya merendah seperti berjongkok. Pinggulnya yang besar menonjol hampir menyentuh tanah. Gerakan ini aneh sekali, akan tetapi dari kedua tangannya menyambar angin dahsyat ke arah perut Suma Lian.

Suma Lian yang sudah cukup pengalaman itu dapat mengenal serangan dahsyat yang berbahaya. Akan tetapi kalau dia mengelak terus, hal itu akan membuktikan bahwa dia tak berani mengadu tenaga sehingga membuat ia nampak terdesak. Maka, wanita yang keras hati dan pemberani itu tidak mau mengalah.

Ia pun mengerahkan tenaga gabungan dari Tenaga Sakti Inti Api dan Tenaga Sakti Inti Salju dari Pulau Es. Biar kepandaiannya dalam pengerahan sinkang ini belum setingkat ayahnya, namun dibandingkan tokoh- tokoh wanita keturunan keluarga Pulau Es, Suma Lian sudah merupakan yang terkuat. Ia kerahkan tenaga gabungan itu dan menyambut serangan lawannya dengan dorongan kedua tangannya pula.

Benturan dahsyat antara dua tenaga sakti tidak dapat dihindarkan pula. Memang tidak nampak oleh mata, dan dua pasang tangan itu terpisah tidak kurang dari dua meter, akan tetapi keduanya seperti mendorong dinding yang kokoh kuat.

Tubuh Suma Lian nampak terguncang, sedangkan gadis itu masih tak bergerak, bahkan kini bibirnya mengembangkan senyum mengejek. Keduanya tak pernah mengendurkan tenaga, dan sebentar saja nampak betapa Suma Lian berkeringat serta dari kepalanya mengepul uap.

Melihat peristiwa ini, semua orang merasa tegang dan khawatir. Sebagai ahli-ahli silat tinggi, mereka maklum bahwa adu tenaga sinkang itu sudah mencapai titik yang gawat. Seorang di antara mereka akan terancam maut, dan agaknya Suma Lian yang berada di pihak yang terancam. Akan tetapi mereka tidak berani turun tangan melerai, karena hal itu bahkan sangat berbahaya bagi kedua orang wanita perkasa yang sedang mengadu tenaga itu.

Akan tetapi, seorang yang memiliki tingkat lebih tinggi seperti Suma Ceng Liong, melihat bahaya maut mengancam puterinya, segera meloncat ke depan, mengerahkan tenaga dan menggunakan kedua tangannya untuk melerai.

Kakek perkasa yang berusia enam puluh tahun ini menggunakan gerakan yang disebut Mendorong Bukit ke Kanan dan Kiri. Kedua tangannya dikembangkan dan didorongkan dari samping ke arah tengah-tengah di antara dua orang wanita yang sedang mengadu tenaga sinkang itu.

Seperti angin badai meniup dua batang pohon yang kokoh, tenaga itu membuat kedua orang yang sedang bertanding itu terdorong dan hilang keseimbangan. Tenaga mereka yang tadi saling tekan itu terlepas, dan akibatnya Suma Lian terpelanting sedang gadis tanpa nama itu terdorong ke belakang.

Suma Lian cepat menggulingkan tubuhnya dan ia dapat meloncat bangun dengan muka agak pucat dan napas terengah, sedangkan gadis itu pada saat terdorong ke belakang, membuat gerakan jungkir-balik yang indah sampai tiga kali, baru tubuhnya melayang turun dan berdiri tegak. Suma Lian terbebas dari ancaman bahaya, namun dari akibat dorongan kekuatan sinkang Suma Ceng Liong yang melerai, semua orang tahu bahwa dalam adu tenaga sakti tadi, Suma Lian berada di pihak yang terdesak.

Gadis itu menatap wajah Suma Ceng Liong dengan sinar mata yang mencorong. Kulit wajahnya memerah karena marah, mulutnya tersenyum sinis dan tangan kanan bertolak pinggang, telunjuk tangan kiri diluruskan menuding ke arah muka pendekar itu.

“Pendekar besar Suma Ceng Liong tidak malu melakukan pengeroyokan?” Dia berkata mengejek.

Di waktu mudanya, Suma Ceng Liong adalah seorang yang lincah gembira dan bahkan agak ugal-ugalan. Akan tetapi kini dia sudah berusia enam puluh tahun, tentu saja tidak seperti dulu lagi, walau pun dia masih berwatak gembira. Melihat sikap gadis itu yang menuduhnya melakukan pengeroyokan dia hanya tersenyum.

“Bu-beng Siocia, aku tidak melakukan pengeroyokan, hanya melerai. Puteri kami Suma Lian sudah kalah olehmu. Nah, sekarang engkau mau apa lagi? Masih penasaran dan ingin menantang seorang di antara kami?”

Walau pun kata-kata itu membuat pengakuan akan kekalahan Suma Lian, namun juga mengandung penawaran kalau saja gadis itu masih mau menantang lagi. Semua orang juga tahu bahwa menghadapi Suma Lian, gadis itu hanya lebih unggul sedikit. Jelas jika melawan Suma Ceng Liong atau lain tokoh yang setingkat, ia tak akan mampu menang.

“Seperti kukatakan tadi, aku datang mewakili Pao-beng-pai untuk membuktikan sendiri kehebatan serta nama besar para pendekar dari tiga keluarga Pulau Es, Lembah Naga, dan Gurun Pasir. Aku hanya ingin bertanding satu kali saja, kecuali kalau kalian hendak mengeroyokku! Aku hanya ingin meninggalkan pesan bahwa Pao-beng-pai merupakan perkumpulan para patriot yang tidak rela melihat tanah air dan bangsa ini dijajah oleh orang-orang biadab Mancu. Sebaliknya, ketiga keluarga besar kalian hanya terdiri dari antek dan penjilat penjajah asing! Selamat tinggal!”

Gadis itu membalikkan tubuh, dengan sikap angkuh sekali hendak memasuki jolinya, sedangkan dua belas orang laki-laki dan empat orang gadis cantik sudah siap di kanan kiri joli seperti pasukan pengawal. Dia pun menerima kembali kebutannya dari tangan gadis berpakaian kuning yang menyerahkan kebutan itu sambil memberi hormat. Sikap gadis itu tiada ubahnya bagai seorang puteri istana, sedangkan para pengikutnya amat menghormatinya.

Semenjak tadi Tan Sian Li telah terbakar hatinya. Kalau saja tidak ditahan ayah ibunya, sudah sejak tadi sebelum Suma Lian maju, dia sendiri sudah menerjang gadis itu. Kini, mendengar ucapan gadis itu yang dianggapnya sangat menghina tiga keluarga besar, mana mungkin Sian Li mampu menahan diri? Dadanya seperti meledak rasanya, dan sebelum ayah ibunya melarangnya, ia sudah meloncat ke atas.

Bagaikan seekor burung bangau merah, tubuhnya meluncur ke arah gadis di depan joli itu dan mulutnya membentak garang, “Iblis betina sombong! Sambut seranganku!”

Tapi gadis itu memberi isyarat dan empat orang gadis cantik yang menjadi pengawalnya itulah yang menyambut Sian Li. Mereka berempat maju bersama dan tangan mereka menyambut dorongan tangan Sian Li dari atas.

“Dukkk!”

Sian Li terpaksa berjungkir balik untuk mematahkan daya dorongan tenaga empat orang yang digabung itu, dan ia pun melayang turun. Hatinya semakin panas. Gadis sombong itu menyuruh empat orang pelayan mewakilinya, seolah-olah gadis itu menganggap dia tidak cukup berharga untuk menjadi lawannya!

“Jangan mengganggu nona kami yang mulia!” berkata si baju kuning yang sepertinya merupakan pemimpin dari mereka berempat. Mereka sudah mengepung Sian Li serta menghadang Sian Li, melindungi nona mereka. Melihat ini, Sian Li marah bukan main.

“Minggir! Apakah kalian sudah bosan hidup?” bentak Sian Li galak. “Sian Li, jangan membunuh orang!” Ayahnya memperingatkan.

Tiba-tiba gadis cantik di depan joli itu tertawa renyah. Suara tawanya merdu sehingga nampak aneh dan mengerikan, karena suara tertawa seperti itu sepatutnya dikeluarkan oleh wajah yang ramah dan periang, bukan oleh wajah yang biar pun cantik tetapi dingin itu.

“He-he-heh, ingin kulihat apakah engkau mampu membunuh empat orang pelayanku?”

Ditantang seperti itu, Sian Li lalu membentak, “Iblis betina, engkau boleh sekalian maju mengeroyokku, akan kurobohkan kalian semua!”

Setelah berteriak demikian, langsung Sian Li menerjang ke depan, disambut oleh empat orang gadis pelayan yang berpakaian menyolok masing-masing mewakili satu warna itu.

Setelah bergebrak, barulah Sian Li dan semua pendekar mengetahui bahwa empat orang gadis pelayan itu bukanlah pelayan biasa saja, melainkan empat orang yang telah menguasai ilmu silat tinggi dan menjadi lawan yang amat tangguh! Mereka itu, terutama sekali si baju kuning, memiliki gerakan yang cepat seperti empat ekor burung walet, dan rata-rata memiliki sinkang yang cukup kuat.

Ternyata gadis tanpa nama wakil Pao-beng-pai itu tidak membual ketika menertawakan Sian Li. Empat orang pelayannya memang lihai bukan main. Mereka adalah gadis-gadis berbakat yang agaknya telah digembleng secara khusus. Hal ini tidaklah aneh karena mereka berempat adalah empat orang pilihan dari pasukan wanita Pao-beng-pai yang mewakili empat dari tujuh kelompok warna yang ada.

Diam-diam Sian Li juga terkejut dan merasa kecelik. Tadi dia memang memandang rendah kepada empat orang pelayan itu, walau pun ia tidak berani memandang rendah kepada gadis cantik Pao-beng-pai yang tadi ia lihat sendiri mampu menandingi bibinya, Suma Lian. Kini dia sendiri merasa repot ketika empat orang pengeroyoknya bergerak cepat sehingga nampak mereka itu menjadi empat macam bayangan dengan warna menyilaukan mata berkelebatan di sekeliling dirinya.

Mereka pun melakukan serangan bertubi-tubi secara teratur sekali, bergiliran dan setiap kali Sian Li membalas serangan mereka, kalau mereka tidak mampu mengelak, maka mereka mempersatukan tenaga untuk menangkisnya! Dengan demikian, serangan Sian Li selalu gagal dan ia pun dihujani serangan yang membuat ia cukup repot. Dan yang lebih menyakitkan hatinya, suara tertawa merdu itu sering terdengar seakan-akan gadis Pao-beng-pai itu memperhatikan jalannya pertandingan dan menertawakannya!

Panaslah rasa hati Sian Li. Kalau sejak tadi dia belum mampu mendesak empat orang pengeroyoknya dan memperoleh kemenangan, hal itu adalah akibat peringatan ayahnya agar dia tidak membunuh orang. Maka dia pun menahan diri, menahan sebagian tenaga dan tidak pula mengeluarkan semua kepandaiannya. Kini, mendengar suara tawa itu, tiba-tiba ia mengubah gerakannya dan mulai memainkan ilmu andalannya, yaitu Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah).

Tubuhnya melayang ke atas dan bagaikan seekor burung bangau, ia menyambar turun dan menyerang empat orang pengeroyoknya dengan gerakan indah, seindah gerakan burung bangau. Oleh karena pakaiannya serba merah, maka memang tepat sekali dia dijuluki Si Bangau Merah kalau memainkan ilmu itu.

Ilmu yang sangat indah gerakannya ini mengandung kekuatan dahsyat, dan kini empat orang pelayan wanita Pao-beng-pai itu nampak terkejut. Mereka berusaha menahan diri dengan menggabungkan tenaga, namun tetap saja mereka kalah kuat dan empat orang itu pun terpelanting seperti diserang angin badai dan mereka terbanting roboh.

Mereka tidak tewas, tidak pula terluka parah, tapi dari sudut bibir mereka nampak darah, tanda bahwa mereka sudah menderita luka-luka dalam walau pun tidak parah. Hal ini adalah karena tadi Sian Li masih menahan tenaganya, mengingat akan pesan ayahnya tadi.

Dengan senyum mengejek Sian Li menghadapi gadis Pao-beng-pai dan menantangnya. “Iblis betina, sekarang engkau majulah kalau memang engkau memiliki keberanian!”

Gadis itu mendengus. “Huh, aku sudah satu kali bertanding, cukuplah. Lain kali masih banyak waktu untuk memberi hajaran kepada bocah sombong macam kamu!”

Setelah berkata demikian, gadis itu memasuki jolinya dan memberi isyarat kepada para pengawalnya. Empat orang pemikul joli segera mengangkat joli itu dan pergi dari situ dikawal oleh delapan orang pria yang lain bersama empat orang pelayan wanita yang terluka berat setelah tadi kalah oleh Sian Li.

“Heiii, tunggu kau iblis betina!” Sian Li hendak mengejar. “Sian Li, tahan…!” Sin Hong berseru.
Gadis itu terpaksa menahan diri dan tidak jadi mengejar, membiarkan rombongan itu pergi dengan cepatnya. Karena merasa kecewa dan penasaran, ia pun menoleh untuk memandang kepada ayahnya. Semua orang juga memandang ke arah rombongan yang menjauh.

Ketika ia menengok memandang ayahnya itulah Sian Li melihat wajah Suma Lian yang pucat dan sedikit kehijauan. Sebagai seorang ahli pengobatan, murid Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) pertapa di bukit Liong-san, sekali pandang saja Sian Li terkejut.

“Bibi Suma Lian, engkau keracunan…!” katanya sambil menghampiri wanita perkasa itu.

Semua orang menengok dan memandang, terkejut melihat wajah Suma Lian. Akan tetapi Suma Lian tidak merasakan sesuatu.

“Celaka, ini tentu akibat adu tenaga dengan gadis tadi!” kata Suma Ceng Liong.

“Biar kukejar gadis itu untuk minta obat pemunah racunnya!” kata Gu Hong Beng yang mengkhawatirkan keadaan isterinya.

“Jangan!” cegah Suma Lian, maklum bahwa kalau ia sendiri tidak mampu menandingi gadis itu, apa lagi suaminya yang tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi darinya.

“Harap Bibi jangan khawatir, aku mampu mengobati Bibi,” berkata Sian Li setelah dia memeriksa nadi tangan Suma Lian. “Marilah kita ke kamar. Ibu, aku minta Ibu suka membantu dan memperkuat tenaga sinkang-ku,” katanya kepada ibunya, Kao Hong Li. Tiga orang wanita ini lalu memasuki rumah, masuk ke kamar.

Setelah membuka baju atasnya, Suma Lian duduk bersila di atas pembaringan dan Sian Li bersila di belakangnya, bersama ibunya. Atas petunjuk Sian Li, ibunya membantunya dengan menempelkan tangan di punggung Suma Lian, bersama anaknya mengerahkan sinkang dan menyalurkan ke dalam tubuh Suma Lian.

Setelah beberapa lama getaran tenaga ibu dan anak ini menyusup dalam tubuh Suma Lian melalui punggungnya, Sian Li berbisik lirih. “Bibi, harap gerakkan kedua lenganmu melakukan jurus Sepasang Tangan Menyangga Langit, kerahkan tenaga sinkang keluar melalui telapak kedua tangan Bibi.”

Suma Lian yang merasa betapa hawa yang hangat dan amat kuat memasuki tubuhnya melalui punggung, segera mengikuti petunjuk Sian Li. Ia menggerakkan dua lengannya dan mendorong ke atas dengan kedua telapak tangan terbuka. Ada angin pukulan yang keluar dari kedua tapak tangannya. Atas anjuran Sian Li, sampai tiga kali ia melakukan gerakan itu dan Sian Li menghentikan penyaluran tenaganya, minta ibunya melepaskan tangannya pula.

Ketika Kao Hong Li memandang ke arah wajah Suma Lian, dia girang sekali melihat wajah itu tidak lagi pucat kehijauan, melainkan sudah kembali kemerahan. Akan tetapi sepasang alis Suma Lian berkerut karena sekarang ia bisa merasakan sedikit kenyerian pada dadanya. Ketika ia memberi tahukan ini kepada Sian Li, gadis itu tersenyum.

“Itulah bekas pengaruh hawa beracun, Bibi. Akan tetapi sekarang hawa beracun itu sudah keluar dan bahaya sudah lewat. Kalau Bibi menelan tiga butir pil ini, tentu rasa nyeri itu akan lenyap.”

Sian Li mengeluarkan sebuah botol, kemudian mengambil tiga butir pil dari dalam botol, menyerahkannya kepada Suma Lian yang tanpa ragu segera menelannya.

“Hebat, obatmu manjur sekali, Sian Li,” katanya tak lama kemudian sambil merangkul Sian Li.

“Mari kita keluar, mereka semua tentu sedang menanti dengan khawatir, Bibi,” kata Sian Li.

Semua orang bergembira melihat Suma Lian keluar dari kamar dalam keadaan sehat dan sudah sembuh. Mereka memuji ilmu pengobatan Sian Li yang manjur. Sebetulnya, hampir semua di antara mereka akan mampu menyembuhkan Suma Lian yang tidak terluka parah. Akan tetapi cara yang mereka pergunakan hanya cara seorang ahli silat, bukan cara seorang ahli pengobatan seperti Sian Li. Cara seorang ahli silat dapat dikata hanya ngawur, mengandalkan kekuatan sinkang untuk mengusir racun dalam tubuh orang yang terluka. Hal ini bahkan kadang dapat membahayakan si penderita.

Pesta ulang tahun itu dilanjutkan, dan para tetangga yang menjadi tamu juga merasa amat lega bahwa gangguan rombongan gadis cantik tadi bisa diatasi. Suasana menjadi gembira kembali. Akan tetapi setelah pesta selesai dan para tamu meninggalkan tempat itu, keluarga itu sendiri masih berkumpul dan mereka lalu membicarakan gadis wakil Pao-beng-pai yang lihai tadi.

Mereka semua merasa heran dan penasaran mengapa Pao-beng-pai, yang selama ini tidak pernah ada urusan dengan mereka, kini tiba-tiba memperlihatkan sikap memusuhi mereka.

Melihat semua anggota dari tiga keluarga besar itu merasa penasaran, Kao Cin Liong mengangkat kedua tangan, minta supaya mereka semua diam. Kemudian dia berkata, “Mungkin aku dapat menerangkan mengapa Pao-beng-pai bersikap seperti itu.”

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, dan Kao Cin Liong lantas mulai menceritakan dugaannya. “Sesuai dengan namanya, Pao-beng-pai (Partai Pendukung Terang) muncul setelah Kerajaan Beng jatuh dan kekuasaan digantikan oleh Kerajaan Ceng, yaitu pemerintah yang sekarang. Seperti yang kuketahui dan dengar, mula-mula Pao-beng-pai terdiri dari para patriot, orang-orang gagah yang tidak rela melihat tanah air dan bangsa dijajah oleh bangsa Mancu yang mendirikan Dinasti Ceng sekarang ini. Mereka berjuang untuk mendirikan kembali Kerajaan Beng, dan terus berusaha untuk memberontak dan menjatuhkan pemerintah Ceng. Pada mulanya, gerakan ini dipimpin oleh orang-orang pandai, bekas keluarga kaisar Kerajaan Beng dan para pejabatnya. Namun, berkali-kali gerakan itu gagal dan dihancurkan oleh pasukan pemerintah Ceng yang jauh lebih kuat. Akhirnya, tidak terdengar lagi gerakan Pao-beng-pai dan dianggap bahwa partai itu telah hancur dan telah mati.”

“Akan tetapi, mengapa sekarang muncul lagi Pao-beng-pai yang memusuhi kita?” tanya Suma Hui isterinya, dan semua orang mengangguk karena pertanyaan itu muncul pula di dalam hati mereka.

“Aku sendiri baru tahu sekarang, akan tetapi sikap mereka itu agaknya mudah diduga. Kita semua tahu bahwa tiga keluarga kita selalu merupakan golongan yang menentang para penjahat atau golongan sesat. Bila sekarang Pao-beng-pai memusuhi kita, padahal dahulu, ketika masih dipimpin para patriot Beng tidak, hal ini berarti bahwa sekarang Pao-beng-pai bangkit kembali dan dipimpin oleh golongan sesat. Dan ada kemungkinan lain melihat betapa gadis tadi memaki kita sebagai antek pemerintah penjajah Mancu, yaitu bahwa di samping memiliki pimpinan dari golongan sesat, juga Pao-beng-pai yang sekarang masih menentang pemerintah Mancu dan mereka menganggap kita sebagai musuh, bukan hanya karena kita menentang golongan sesat, akan tetapi juga karena tidak dapat disangkal lagi, keluarga kita pernah membantu pemerintah Kerajaan Ceng.” Kao Cin Liong berhenti dan menghela napas panjang.

“Akan tetapi, di antara kita sekarang tidak ada yang membantu pemerintah!” Gak Ciang Hun berseru penasaran.

“Memang benar, akan tetapi kita harus mengakui bahwa keluarga kita pernah terlibat dengan pemerintah Mancu sekarang ini. Kita tahu bahwa pendiri keluarga Pulau Es, yaitu mendiang kakek Suma Han, biar pun tidak pernah membantu pemerintah Mancu, namun beliau menikah dengan puteri Mancu sehingga keturunan beliau sekarang ini berdarah campuran dan masih dapat dikatakan keturunan ibu Mancu. Kenyataan inilah yang agaknya membuat keluarga Pulau Es lantas dianggap sebagai antek Mancu oleh Pao-beng-pai.”

Mereka yang merasa sebagai keturunan keluarga Pulau Es saling pandang, dan tidak dapat membantah kenyataan itu, walau pun dalam hati mereka merasa penasaran. Biar pun nenek mereka seorang puteri Mancu, akan tetapi mereka tidak pernah membantu pemerintah penjajah Mancu…..

“Dan sekarang tentang keluarga Gurun Pasir,” berkata pula Kao Cin Liong melanjutkan. “Memang sekarang ini keluarga Gurun Pasir tidak ada pula yang membantu Kerajaan Ceng. Akan tetapi dulu, ketika aku masih muda, aku pernah menjadi seorang panglima Kerajaan Mancu. Hal ini yang membuat aku sampai kini merasa menyesal, walau pun tugasku dahulu meredakan pemberontakan di daerah perbatasan yang dilakukan oleh suku-suku bangsa lain. Akan tetapi, kemudian aku menyadari tidak baiknya pekerjaanku itu dan aku mengundurkan diri. Semenjak itu, tidak ada lagi keturunan kita yang bekerja pada pemerintah Mancu. Namun, tentu saja kita selalu menentang golongan sesat, dan mungkin sekali inilah yang menyebabkan Pao-beng-pai memusuhi kita.”

“Pendapat paman Kao Cin Liong memang masuk akal,” kini Cu Kun Tek yang berkata. Pendekar yang tinggi besar dan gagah ini dahulu berwatak keras sekali, tapi sekarang, setelah ia menjadi suami Pouw Li Sian dan usianya juga sudah empat puluh lima tahun, ia bersikap sangat tenang. “Akan tetapi, mengapa pula Pao-beng-pai tadi menyinggung keluarga kami?”

Kao Cin Liong memandang kepada pendekar dari Lembah Naga Siluman itu, kemudian berkata. “Keluarga Lembah Naga Siluman memang tidak pernah ada yang membantu pemerintah Ceng, akan tetapi anggota keluarga ini memiliki kaitan dan hubungan yang erat melalui pernikahan dan perguruan dengan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Selain itu, para anggota keluarga Lembah Naga Siluman juga selalu menentang golongan sesat. Tidak mengherankan kalau turut dimasukkan dalam daftar musuh oleh Pao- beng-pai.”

“Jika benar begitu, Pao-beng-pai hanyalah perkumpulan penjahat yang memakai kedok perjuangan, seperti halnya Pek-lian-kauw dan lain-lain!” kata Kao Hong Li.

Ayahnya menghela napas panjang. “Ini baru dugaan saja, belum ada buktinya. Melihat gadis tadi, ia seperti bukan seorang penjahat, akan tetapi jelas bahwa ilmu silatnya lihai dan ia tentu murid orang-orang yang pandai, yang agaknya sedikit banyak telah meneliti keadaan ilmu keluarga kita semua.”

Demikianlah, para pendekar itu ramai membicarakan Pao-beng-pai yang sudah berani mati membikin kacau pesta mereka. Para pendekar yang muda merasa penasaran, akan tetapi mereka yang lebih tua bersikap tenang, bahkan menasehati yang muda agar tidak tergesa-gesa mengambil tindakan.

“Sebaiknya kalau kita bersikap waspada saja dan jangan mengambil tindakan sendiri-sendiri,” kata Sim Houw yang selalu bersikap tenang itu. “Bagaimana pun juga, kalau Pao-beng-pai melakukan gerakan memusuhi pemerintah Ceng, hal itu bukanlah urusan kita. Kalau kita memusuhi mereka, dapat saja mereka menuduh bahwa kita benar-benar membela pemerintah. Hal ini tentu akan mendatangkan kehebohan di dunia persilatan. Sudah untung tadi tidak terjadi hal yang lebih hebat lagi, dan kita juga sudah mampu memperlihatkan bahwa kita tidak boleh dibuat permainan oleh mereka. Kalau mereka tetap memusuhi kita, tentu saja harus kita hadapi. Akan tetapi kalau mereka tidak lagi memusuhi kita, kita lupakan saja apa yang tadi terjadi dan menganggap itu hanya ulah kesombongan seorang gadis Pao-beng-pai yang tidak tahu diri.”

Para tokoh tua membenarkan pendapat Sim Houw. Akan tetapi isterinya, Can Bi Lan, mengerutkan alis dan dia pun mengeluarkan pendapatnya. “Aku melihat dari sikap gadis tadi bahwa ia amat membenci keluarga kita. Hal ini kurasakan amat janggal. Biar pun ia bersikap sombong, hal itu kurasa karena kebenciannya kepada kita. Akan tetapi ia tidak seperti golongan sesat pada umumnya, bahkan sepak terjangnya teratur dan para anak buahnya demikian sopan dan hormat kepadanya seolah ia seorang puteri kerajaan saja. Karena kebenciannya yang meluap itulah kukira ia sengaja mendatangi pesta ini. Dan melihat tingkat kepandaiannya yang sudah cukup tinggi itu, tidak mungkin ia begitu tolol menantang kita selagi semua anggota keluarga kita berkumpul. Tentu keberaniannya terdorong kebencian yang amat besar.”

“Atau mungkin juga ia sengaja diutus oleh Pao-beng-pai untuk melakukan penyelidikan sampai di mana kekuatan kita,” kata Kam Bi Eng, isteri Suma Ceng Liong.

Demikianlah, para anggota tiga keluarga besar itu sampai jauh malam membicarakan gadis Pao-beng-pai itu. Mereka menduga-duga dan merasa heran karena peristiwa itu memang amat aneh dan mencurigakan.

Jika ada pihak golongan sesat yang datang memusuhi seorang atau dua orang di antara mereka, hal itu tidaklah aneh sebab memang mereka selalu menentang kejahatan. Akan tetapi, seorang gadis muda berani mendatangi dan menantang seluruh anggota dari tiga keluarga besar selagi mereka semua berkumpul, sungguh ini hanya bisa dilakukan oleh seorang gila yang tentu saja tidak lagi mengenal apa artinya takut.

Dan gadis itu bersikap demikian tenangnya! Gadis itu merasa yakin bahwa orang-orang gagah dari tiga keluarga itu sudah pasti takkan mengeroyoknya. Agaknya kunjungannya itu telah direncanakan dengan perhitungan yang masak.

Memang, andai kata yang menghadapi gadis tadi adalah Suma Ceng Liong atau Sim Houw, atau Tan Sin Hong, tiga orang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu gadis itu tidak akan menang. Akan tetapi siapa pun di antara tiga orang pendekar ini sudah pasti pula tidak akan mau melukai apa lagi membunuh seorang gadis muda yang menjadi lawan mereka. Hal ini agaknya sudah diperhitungkan oleh gadis Pao-beng-pai itu, maka ia berani menantang sedemikian nekatnya.

Sampai jauh malam barulah para anggota tiga keluarga besar itu beristirahat di kamar masing-masing yang sudah dipersiapkan oleh Suma Ceng Liong dan isterinya.

Pada keesokan harinya, terjadi lagi keributan di rumah yang penuh dengan tamu yang bermalam di situ. Keributan itu terjadi ketika Kao Hong Li mencari puterinya ke sana sini dan bertanya-tanya dengan wajah khawatir apakah ada di antara para anggota keluarga yang melihat gadis itu. Akan tetapi, tidak ada seorang pun melihatnya dan Kao Hong Li menjatuhkan diri dengan lemas di atas kursi, wajahnya muram dan khawatir sekali.

Tan Sin Hong menghiburnya. “Sudahlah, anak kita toh bukan lagi anak kecil yang perlu diasuh. Ia sudah dewasa, dan ia pun sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk menjaga diri sendiri.”

“Tapi anak kita belum berpengalaman dan kalau ia ceroboh dan kurang waspada, dapat terancam bahaya,” isterinya membantah.

Semua anggota kini berkumpul dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi.

Kao Hong Li menghela napas dan memperlihatkan sehelai surat kepada kakek Kao Cin Liong. “Lihatlah Ayah, cucumu telah pergi, meninggalkan surat ini. Bagaimana baiknya? Hatiku merasa gelisah sekali, apa lagi jika mengingat akan peristiwa yang baru kemarin terjadi.”

Dengan tenang Kao Cin Liong menerima surat cucunya itu, lalu membacanya dengan suara cukup keras agar terdengar oleh semua anggota keluarga yang mendengarkan.

Dalam suratnya itu dengan singkat Sian Li memberi tahu kepada ayah dan ibunya bahwa ia pergi untuk membantu Yo Han dalam usahanya mencari Sim Hui Eng, puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan yang hilang semenjak kecil itu. Juga dia ingin melakukan penyelidikan terhadap Pao-beng-pai.

‘Harap Ayah dan Ibu tidak khawatir, aku akan bersikap waspada dan hati-hati,’ demikian ia mengakhiri suratnya.

“Aih, anak itu, kenapa demikian nekat!” seru Can Bi Lan. “Biar pun kami berterima kasih sekali kepada Sian Li, akan tetapi ke mana dia akan mencari anak kami? Kami berdua sendiri pun sudah hampir putus harapan karena bertahun-tahun mencari tanpa pernah berhasil!”

“Memang semenjak kecil anak kami itu keras hati dan keras kepala!” kata Kao Hong Li. “Bagaimana pun juga, ia masih belum matang benar meski pun kepandaiannya sudah lumayan. Bagaimana ia akan dapat menghadapi kecurangan dan kelicikan orang-orang di dunia kang-ouw, terutama golongan sesat?”

Mendengar ucapan keponakannya ini, Suma Ceng Liong tertawa. “Ha-ha-ha, Hong Li, kenapa engkau begitu memandang ringan puterimu sendiri? Ingat, ia adalah Si Bangau Merah Tan Sian Li! Kurasa benar ucapan suamimu bahwa ia sudah cukup mampu untuk menjaga diri sendiri dan tentang pengalaman, lupakah engkau ketika ia pergi ke Bhutan mengikuti pamanmu Suma Ciang Bun dan bibimu Gangga Dewi? Tenangkanlah hatimu, dan biarkan puterimu meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan.”

Gangga Dewi mengangguk-angguk dan dengan lembut wanita keturunan puteri Bhutan ini berkata, “Benar apa yang dikatakan adik Suma Ceng Liong. Sian Li sudah memiliki kemampuan besar untuk menjaga diri. Biar pun ia keras hati, namun ia tidak ceroboh, ia cukup waspada dan pula ia juga cerdik.”

Mendengar ini, Suma Ciang Bun mengangguk-angguk membenarkan.

Setelah para tokoh tua dalam keluarga itu menghibur dan menenangkan hati Kao Hong Li, tiba-tiba terdengar suara lantang dari Gak Ciang Hun. “Ibu, apakah ibu mengijinkan kalau aku pergi mencari dan membantu adik Sian Li untuk mencari adik Sim Hui Eng yang hilang sambil menyelidiki Pao-beng-pai?”

Semua orang merasa heran mendengar ini dan mereka semua menoleh kepada ibu dan anak itu.

Mendengar pertanyaan puteranya yang tiba-tiba itu, wajah Nyonya Gak atau Souw Hui Lian menjadi kemerahan. Ia tahu benar apa yang berada dalam hati puteranya, maka ia pun mengangguk dan menjawab singkat. “Engkau sudah dewasa, aku tidak berhak lagi melarangmu melakukan apa saja asal apa yang kau lakukan itu baik dan benar, Ciang Hun.”

Pemuda itu kelihatan girang bukan main dan cepat dia memberi hormat kepada ibunya. “Terima kasih, Ibu. Kalau begitu, aku akan pergi sekarang juga. Para Locianpwe, para Paman dan Bibi, saya mohon diri!”

Tanpa menanti jawaban lagi, pemuda itu lalu melangkah keluar dari rumah itu, dengan cepat setelah dia menyambar sebuah buntalan yang ternyata sudah ia persiapkan sejak ia mendengar akan kepergian Sian Li pagi tadi!

Tan Sin Hong dan Kao Hong Li lalu saling pandang. Mereka berdua adalah orang-orang berpengalaman, maka tanpa diberi penjelasan sekali pun, peristiwa tadi dapat mereka terka apa artinya. Mereka dapat menduga bahwa Gak Ciang Hun agaknya jatuh cinta kepada puteri mereka.

Bukan karena mereka tidak setuju, karena betapa pun Gak Ciang Hun juga merupakan seorang pendekar gagah perkasa keturunan Beng-san Siang-eng yang juga merupakan anak murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi mereka sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan puteri tunggal mereka dengan Pangeran Cia Sun.

Maka, dengan lirih Kao Hong Li berkata, “Sian Li sebetulnya tidak boleh pergi sekarang karena kami bertiga lagi bermaksud pergi ke kota raja untuk meresmikan pertunangan anak itu dengan Pangeran Cia Sun.”

“Pangeran?” Kao Cin Liong memandang puterinya dengan alis berkerut. “Engkau akan bermenantukan seorang pangeran? Kenapa engkau tidak pernah memberi tahu kami?”

Tentu saja kakek ini merasa terkejut, karena baru saja mereka semua dimaki sebagai antek-antek Kerajaan Mancu. Mereka semua menyangkal karena memang mereka tidak lagi bekerja untuk Kerajaan Mancu. Dan sekarang, puterinya menyatakan bahwa dia hendak bermenantukan seorang pangeran Mancu!

Tentu saja Tan Sin Hong dan isterinya tahu apa yang dipikirkan oleh kakek itu. Sin Hong cepat membantu isterinya. “Ayah, kami memang belum memberi tahu karena hal itu belum resmi. Kami pernah bertemu dan berkenalan dengan Pangeran Cia Yan dan dalam pertemuan itulah kami saling mufakat untuk menjodohkan kedua orang anak itu. Sebetulnya, dari sini kami bertiga hendak berkunjung ke kota raja untuk mengukuhkan itu.”

“Tapi… tapi kenapa seorang pangeran…?” Kao Cin Liong berkata lirih.

Ia tentu saja tahu siapa Pangeran Cia Yan, yaitu putera angkat Kaisar Kian Liong. Maka dengan sendirinya Pangeran Cia Sun adalah cucu kaisar!

Mendengar ini, Kao Hong Li yang menjawab ayahnya. “Jika seorang pangeran, kenapa, Ayah? Kami tidak melihat kedudukannya, melainkan melihat manusianya. Pangeran Cia Yan adalah seorang pangeran yang baik, dan kami pun sudah melihat dan menyelidiki keadaan Pangeran Cia Sun. Dia seorang pemuda yang gagah dan tampan, juga ahli sastra dan ahli silat, sehingga cocok untuk menjadi suami Sian Li.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo