October 29, 2017

Si Tangan Sakti Part 14

 

Ketika dia terjebak di dalam sumur tua, dan sumur itu ditimbuni batu-batu dari atas, Yo Han mengerahkan segala daya hati akal pikirannya. Sebagai manusia, memang sudah tugasnya untuk mempertahankan agar tetap dapat hidup di dalam dunia ini. Dia berhasil menutup terowongan di dalam sumur itu dengan batu besar sehingga batu-batu yang dilemparkan dari atas sumur itu tertahan oleh batu besar itu.

Yo Han duduk bersila di atas gulungan tali, memusatkan semua rasa diri, seolah-olah dia tenggelam. Dia membiarkan dirinya tenggelam ke dalam lautan penyerahan. Sampai malam lewat, dia tidak menyadari dan dia merasa seperti hidup di dalam lautan, atau di dalam udara tanpa dataran. Tubuhnya ringan, tidak ada secuil pun pikiran mengganggu batin, bahkan tidak ada lagi rasa enak atau tidak enak.

Seperti orang tidur atau orang mati, begitu kiranya keadaan Yo Han. Hanya bedanya, dia sadar. Dia menyadari bahwa dia berada di dasar sumur tua dan tidak ada jalan keluar. Namun pada saat dia duduk bersila seperti itu, dia tidak merasa khawatir, tidak merasa apa-apa seolah-olah tidak peduli dan tiada bedanya baginya.

Malam sudah lewat dan setelah ada sinar matahari menyorot masuk melalui celah-celah di antara batu- batu di atas, dia seperti terbangun. Dan teringatlah dia akan semua yang terjadi kemarin. Kemarin? Hanya samar-samar dia teringat bahwa malam telah lewat, berarti dia telah semalaman berada di terowongan sumur itu.

Lima orang pimpinan Thian-li-pang telah tewas dan mayat mereka dilempar ke dalam sumur yang sekarang ditimbuni batu-batu. Kini semuanya jelas baginya. Ouw Seng Bu membunuhi para pimpinan Thian-li-pang karena ingin menguasai perkumpulan itu. Gila!

Bukankah Ouw Seng Bu murid Lauw Kang Hui, bahkan merupakan murid tersayang? Kalau dia hanya murid mendiang Lauw Kang Hui, lalu bagaimana mungkin dia mampu membunuh lima orang tokoh pimpinan Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi itu? Bagaimana pula para murid Thian-li-pang mau menerima dia sebagai ketua baru? Dan yang membuat dia lebih terheran-heran lagi, bagaimana gadis yang diperkenalkan kepadanya sebagai puteri Cu Kun Tek, pendekar sakti dari Lembah Naga Siluman, dapat berada di Thian-li-pang, bahkan bersahabat baik dengan Ouw Seng Bu?

“Aku harus dapat keluar dari sini. Harus! Aku harus dapat membongkar semua rahasia Ouw Seng Bu, kalau tidak Thian-li-pang akan diselewengkan, dan dunia kang-ouw akan kacau balau karena kejahatan akan menjadi-jadi. Semoga Tuhan memberi bimbingan kepadaku,” katanya dalam hati.

Perutnya mulai terasa lapar, akan tetapi dia menampung rembesan air yang menetes turun dari atas dengan kedua tangan dan setelah minum air beberapa teguk, laparnya hilang. Mulailah dia memeriksa semua dinding terowongan itu. Dinding itu terjal ke atas, licin dan keras, tidak mungkin dipanjat, apa lagi di atasnya tidak nampak lubang yang cukup besar seperti mulut sumur, melainkan tertutup dan sinar yang masuk pun melalui celah-celah dari samping atas yang tidak nampak dari situ.

Tiba-tiba terdengar suara mencicit dan Yo Han melihat seekor tikus yang cukup besar, sebesar anak kucing, berlari keluar dari sebuah lubang sambil menggigit sebuah benda hitam kehijauan. Dia merasa heran bagaimana binatang itu mampu membawa sesuatu dengan gigitan, dan mengeluarkan bunyi mencicit pula. Tikus itu lenyap menyelinap ke dalam lubang kecil dan tak lama kemudian terdengar suara mencicit-cicit anak tikus.

Yo Han tersenyum. Betapa besar kekuasaan Tuhan, pikirnya. Bahkan di tempat seperti ini pun terdapat makhluk hidup. Belum yang tidak nampak olehnya, seperti cacing dan kutu-kutu lainnya, bahkan mungkin dalam tetesan-tetesan air itu pun terdapat makhluk hidupnya! Hatinya semakin tenang karena dia yakin bahwa kekuasaan Tuhan berada di mana-mana, sehingga kalau memang Tuhan menghendaki dia tidak mati, tentu ada jalan keluar dari situ!

Tikus itu! Dia membawa benda hitam kehijauan dan kembali ke sarang, memberi makan kepada anak- anaknya. Benda tadi tentulah makanan. Teringat ia akan jamur-jamur atau tanaman dalam air yang terdapat di terowongan goa di mana dia pernah mempelajari ilmu dari Kakek Ciu Lam Hok!

Kini Yo Han memandang ke arah lubang dari mana tikus tadi keluar. Bukan lubang sesempit kepalan tangan ke mana tikus tadi menghilang, melainkan lubang yang cukup besar, agaknya dia akan dapat memasuki lubang itu dengan merangkak rendah. Siapa tahu, itu merupakan jalan keluar, setidaknya jalan menuju ke tempat makanan! Andai kata bukan jalan keluar sekali pun, kalau dari sana dia bisa mendapatkan makanan sebagai penyambung hidup, itu sudah lumayan namanya.

Akan tetapi, baru dua meter lebih dia merangkak melalui lubang sempit itu, lubang itu mengecil dan tubuhnya tak dapat maju lagi. Terpaksa Yo Han menggunakan tenaganya untuk membongkar batu-batu di depannya, memperbesar terowongan itu sehingga dia dapat maju lagi.

Tentu saja pekerjaan ini memakan waktu dan setelah sehari penuh bekerja, dia baru dapat maju sejauh empat meter dan terpaksa menghentikan pekerjaannya karena lelah dan gelap. Dia merangkak mundur dan minum air dengan menadah air rembesan dari atas dengan kedua tangannya sampai kenyang.

Malam itu, Yo Han mengatur tali sehingga merupakan tempat tidur darurat, lumayan untuk membiarkan tubuhnya beristirahat dengan rebah terlentang.

Sudah menjadi lajim bagi kita bahwa dalam keadaan menderita sengsara, kalau semua daya kita sudah tidak mampu menolong keadaan kita, maka kita baru teringat kepada Tuhan! Kita lalu merengek-rengek dan memohon kepada Tuhan agar kita dibebaskan dari penderitaan.

Tentu saja setiap orang dari kita tidak mau kalau dikatakan bahwa kita hanya teringat kepada pencipta kita bila kita sedang membutuhkan saja. Di waktu kita dalam keadaan senang, sewaktu kita berhasil, maka kita tidak ingat lagi kepada Tuhan dan merasa bahwa semua hasil itu adalah karena kepintaran kita!

Keberhasilan mendatangkan kesombongan, kita menjadi tinggi hati dan merasa diri kita hebat. Sebaliknya, dalam keadaan gagal dan menderita, baru kita merasa betapa kita lemah tak berdaya, dan kita baru berdoa dan meminta-minta kepada Tuhan.

Segala macam permintaan kita ajukan. Kita mohon diberi rejeki, mohon diberi kenaikan pangkat, mohon diluluskan ujian, mohon disembuhkan dari penyakit, dan segala macam permohonan lagi. Kita lupa bahwa segala sarana yang lengkap telah diberikan Tuhan kepada kita untuk mencapai itu semua.

Untuk mendapat rejeki, kita sudah diberi anggota tubuh lengkap, berikut hati akal pikiran untuk kerja dan mencari rejeki. Untuk naik pangkat kita harus bekerja dengan jujur, setia dan baik. Untuk lulus ujian kita harus belajar dengan rajin. Untuk sembuh dari penyakit kita harus berobat dan untuk mencegah datangnya penyakit kita harus hidup bersih dan sehat, dan sebagainya.

Akan tetapi, kesenangan merupakan semua penggunaan sarana tidak sehat. Karena penggunaan akal pikiran secara tidak sehat sehingga melahirkan perbuatan yang tidak sehat pula, maka timbullah semua akibat buruk. Kalau sudah begitu, kita minta-minta kepada Tuhan agar kita dibebaskan dari pada akibat perbuatan kita sendiri itu.

Berbahagialah manusia yang lahir batinnya menyerah dengan tawakal dan ikhlas pada Tuhan, mendasari semua ikhtiar sehat di atas penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Bagi seorang yang sudah dapat menyerah lahir batin, maka segala apa pun yang datang menimpa diri, merupakan kehendak Tuhan yang penuh rahasia.

Tuhan mengetahui apa yang paling tepat untuk kita, baik itu merupakan hukuman atau ujian. Hukuman memang tepat untuk mengingatkan kita akan dosa kita dan ujian akan memperkuat batin dan iman kita. Orang yang menyerah kepada Tuhan hanya mengenal ucapan terima kasih dan syukur kepada Tuhan, dan hanya mengenal satu permohonan, yaitu permohonan ampun atas segala dosa yang sudah diperbuatnya di masa lalu dan bimbingan di masa depan. Tidak banyak mengeluh kalau sedang ditimpa duka, dan tidak mabuk kalau sedang dijenguk suka.

Pada keesokan harinya, begitu ada cahaya memasuki terowongan itu, Yo Han sudah bekerja lagi dengan rajin. Dia tidak tergesa-gesa, tidak terlalu memeras tenaganya agar tidak sampai kehabisan tenaga dan kelelahan sebab perutnya yang kosong mengurangi banyak tenaganya.

Setelah tiga hari lamanya membongkar tumpukan batu dan hanya minum air, setelah tenaganya hampir habis, lubang itu membesar lagi sehingga dia dapat melanjutkan merangkak ke depan dan menemukan jamur atau tumbuhan di antara dinding batu yang basah, jamur liar seperti yang dibawa oleh induk tikus untuk memberi makan kepada anak-anaknya. Yo Han pernah makan jamur ini atas petunjuk mendiang kakek Ciu Lam Hok, maka tanpa ragu lagi dia pun makan beberapa potong jamur.

Dan terhindarlah dia dari bahaya kelaparan! Kini dia dapat melanjutkan usahanya untuk mencari jalan keluar dengan menjelajahi lubang-lubang yang banyak terdapat di bawah permukaan bukit itu, merupakan lubang dan terowongan bawah tanah dari batu karang yang kuat.

Sambil mengerahkan seluruh anggota badannya, seluruh panca inderanya, didasari penyerahan diri kepada Tuhan, yakin bahwa kekuatan Tuhan akan membimbingnya, Yo Han terus bekerja dengan tekun, tak pernah putus asa walau pun beberapa kali lubang yang diikutinya tiba di dinding buntu dan terpaksa dia harus mencari lubang lain…..

********************

Kalau Yo Han dengan penuh semangat mencari jalan keluar, maka di atas sumur, di permukaan bukit itu, terjadi hal-hal yang hebat, yang tentu akan menggelisahkan hati Yo Han kalau dia mengetahuinya.

Bayangan tubuh Sim Hui Eng yang ramping padat itu berkelebat cepat, menyelinap di antara pohon-pohon. Dia sedang melakukan penyelidikan terhadap Thian-li-pang, untuk mengetahui lebih banyak tentang perkumpulan itu dan bila mungkin menyelidiki apakah benar Yo Han telah tewas, ataukah ditahan di dalam rumah perkumpulan itu.

Gadis yang anggun dan cantik ini tidak lagi bersikap dingin dan angkuh seperti dulu saat dia masih menjadi puteri ketua Pao-beng-pai. Dia gunakan ginkang-nya dan gerakannya sedemikian cepat sehingga tidak akan kelihatan oleh orang-orang Thian-li-pang.

Akan tetapi, hal ini hanya dugaannya saja karena ia mengira bahwa musuh tidak tahu akan kedatangannya. Padahal, sejak ia bersama Sian Li dan Cia Sun berada di dekat sumur tua itu, para murid Thian-li-pang telah melakukan penjagaan dan Ouw Seng Bu sendiri telah mengamati gerak-gerik ketiga orang itu.

Tentu saja gerakan Hui Eng sekarang juga sudah selalu diamati. Setelah gadis itu kini berpisah jauh dari Sian Li dan Cia Sun, dan dia melihat bagian kanan perkampungan itu nampaknya tidak terjaga ketat, dengan berani ia melompati pagar dan memasuki bagian belakang sebuah bangunan besar yang akan diselidikinya. Mungkin ia dapat mendengar percakapan murid Thian-li-pang, atau syukur kalau menemukan sesuatu yang akan bisa menunjukkan tentang Yo Han.

Akan tetapi baru saja ia tiba di ruangan terbuka yang tadinya sepi itu, tiba-tiba terdengar gerakan orang. Ketika ia cepat memutar tubuhnya, ia melihat dirinya sudah terkepung oleh puluhan orang anak buah Thian-li-pang yang semuanya menyeringai dengan gaya mengejek!

“Hemmm…!” Hui Eng tidak menjadi gentar dan ia sudah mempersiapkan pedang dan kebutannya.

Dua orang pria yang agaknya menjadi pimpinan dari tiga puluh orang lebih anak buah Thian-li-pang itu melangkah maju dan berkata dengan suara yang mengandung ejekan.

“Nona, sebaiknya engkau menyerah dan akan kami hadapkan kepada pangcu dari pada tubuhmu yang mulus itu halus lecet-lecet dan mungkin terluka.”

Sinar mata Hui Eng mencorong marah. “Aku? Menyerah kepada kalian? Makanlah ini!” Pedangnya menyambar ganas.

Dua orang anggota Thian-li-pang yang memimpin rombongan itu merupakan murid yang sudah agak tinggi tingkatnya. Mereka terkejut melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyambar, akan tetapi mereka masih dapat melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari maut. Para anggota Thian-li-pang yang lainnya sudah mengepung ketat sambil menggerakkan senjata mereka mengeroyok gadis itu.

“Tar-tar-tarrr…!”

Sinar merah menyambar-nyambar dan bulu-bulu kebutan yang halus itu langsung saja merobohkan empat orang pengeroyok. Hui Eng mengamuk. Pedang serta kebutannya menyambar-nyambar menjadi dua gulungan sinar putih dan merah, dan dalam waktu belasan jurus saja sudah ada belasan orang anggota Thian-li-pang roboh!

“Semua mundur!” terdengar bentakan dan muncullah Siangkoan Kok! Datuk ini dengan muka merah karena marah menghadapi bekas puterinya, juga muridnya yang tadinya amat disayangnya. “Eng Eng, cepat menyerah!”

Akan tetapi Hui Eng memandang kepada orang yang dulu dianggap guru dan ayahnya itu dengan mata mencorong. “Kenapa aku harus menyerah kepadamu? Aku tidak sudi!”

Siangkoan Kok melotot. “Eng Eng, lupakah engkau bahwa aku adalah gurumu, juga pernah menjadi ayahmu yang menyayangmu?”

“Aku tidak lupa, semuanya aku tidak lupa, juga betapa engkau dengan kejam hampir membunuhku, dan engkau membunuh pula sumoi Tio Sui Lan, membunuh pula isterimu yang pernah menjadi ibuku. Aku tidak lupa dan sekaranglah saatnya aku membalaskan semua itu!” Setelah berkata demikian, dengan nekat Hui Eng sudah menerjang maju menyerang datuk yang pernah menjadi guru dan ayahnya itu.

“Keparat, kalau begitu engkau tak layak dikasihani!” Siangkoan Kok membentak sambil menangkis, lalu balas menyerang.

Guru dan murid itu segera saling serang dengan dahsyat dan terjadilah pertandingan yang amat seru karena keduanya menyerang untuk membunuh.

Melawan bekas gurunya sendiri itu saja Hui Eng sudah kewalahan, karena betapa pun juga, semua ilmunya ia dapatkan dari Siargkoan Kok, sehingga semua gerakannya telah diketahui oleh datuk itu. Biar pun ia mengenal pula gerakan lawan, akan tetapi ia kalah pengalaman dan ilmunya kalah matang.

Apa lagi kini muncul dua orang tosu dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang tanpa banyak cakap sudah maju membantu Siangkoan Kok. Hui Eng terdesak hebat dan ia hanya mampu memutar pedang dan kebutannya untuk menangkis saja, tidak mendapat kesempatan lagi untuk membalas serangan tiga orang lawannya.

Melihat kedua orang tosu yang membantunya itu menyerang dengan sungguh-sungguh, timbul kekhawatiran di hati Siangkoan Kok bahwa gadis itu akan roboh dan tewas, atau akan terluka berat. Hal ini tidak dikehendaki oleh Ouw-pangcu, juga dia sendiri tidak ingin melihat bekas murid dan puterinya itu tewas.

Dia masih sayang kepada Eng Eng. Bahkan kini, setelah gadis itu bukan lagi puterinya, timbul keinginan di hatinya untuk menarik gadis itu sebagai pengganti isterinya. Ia masih sayang kepada Eng Eng dan rasa sayang sebagai guru dan ayah itu dapat dialihkan menjadi kasih sayang seorang pria terhadap seorang wanita yang menjadi isterinya.

“Jangan lukai atau bunuh gadis ini. Kita tangkap hidup-hidup sesuai perintah pangcu!” kata Siangkoan Kok dengan suara lantang.

Dan mendengar seruan ini, kedua orang tusu lalu mengubah gerakan mereka, tidak lagi menyerang dengan pedang mereka, melainkan menggunakan pedang untuk menangkis dan menyerang dengan totokan tangan kiri untuk merobohkan gadis itu tanpa melukai atau membunuhnya.

Setelah melakukan perlawanan mati-matian, akhirnya Hui Eng terkena totokan dan roboh terkulai lemas! Siangkoan Kok cepat menelikungnya dan membawanya ke dalam, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kamar tahanan yang terbuat dari besi.

“Jaga baik-baik dan jangan sampai ia bisa meloloskan diri!” pesannya kepada beberapa orang Thian-li- pang yang sedang melakukan penjagaan. “Akan tetapi, siapa yang berani mengganggunya pasti akan dihukum berat!”

Siangkoan Kok, Im Yang Ji dan Kui Thiancu kemudian meninggalkan tempat tahanan itu sebab mereka sudah mendengar berita bahwa sekarang Ouw-pangcu sedang berusaha untuk menawan Si Bangau Merah.

Seperti juga Hui Eng, Sian Li melakukan penyelidikan melalui samping perkampungan Thian-li-pang. Ia pun meloncati pagar dan sama sekali tidak mendapatkan perlawanan karena di balik pagar tembok itu tidak nampak seorang pun anggota Thian-li-pang.

Akan tetapi, sungguh tak mudah untuk menjebak Si Bangau Merah. Ia cukup waspada. Dan melihat keadaan yang sepi itu, ia pun maklum bahwa agaknya pihak musuh sudah mengetahui akan kedatangan dirinya dan kini sengaja mengosongkan tempat itu untuk memasang perangkap.

Dengan ginkang-nya yang sudah mencapai tingkat tinggi, Sian Li berkelebat, kemudian menyelinap ke dalam sebuah taman kecil dan dari sini ia pun meloncat ke atas genteng dan bersembunyi di balik wuwungan. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga para anggota Thian-li-pang yang mengawasinya kehilangan jejaknya. Bahkan Ouw Seng Bu yang diam-diam juga mengamatinya dari dalam, menjadi terkejut dan bingung karena Si Bangau Merah itu tidak nampak lagi.

Dari balik wuwungan, Sian Li mengintai ke bawah dan dia tersenyum mengejek ketika melihat beberapa orang anak buah Thian-li-pang yang mulai bermunculan dari tempat sembunyi mereka. Seperti telah diduganya, orang-orang Thian-li-pang telah mengetahui akan kedatangannya dan sengaja bersembunyi untuk membiarkan dia masuk ke dalam jebakan mereka. Akan tetapi karena ia lenyap bersembunyi di wuwungan, mereka mulai menjadi bingung dan ada yang keluar mencari-cari.

Sian Li mengambil jalan memutar. Ia melihat seorang anggota Thian-li-pang mencari ke arah belakang dengan pedang terhunus di tangan sambil melongok-longok. Sian Li lalu bergerak mendekati dari atas. Setelah cukup dekat, ia menggerakkan tangan kanannya dan sepotong genteng yang ia patahkan dari ujung wuwungan menyambar dan tepat mengenai tengkuk orang itu. Dia hanya sempat mengeluh pendek, pedangnya terlepas kemudian roboh terkulai, pingsan.

Sian Li menanti beberapa lamanya. Setelah yakin tidak ada orang melihat penyerangan itu, ia melayang turun dan menarik lengan orang yang tak mampu bergerak itu ke dalam sebuah ruangan kosong, dan ia menutupkan daun pintu ruangan itu.

Anggota Thian-li-pang itu terkejut bukan main ketika totokannya punah dan dia siuman. Ia melihat gadis berpakaian merah itu menodongkan pedang tajam yang menggigit kulit lehernya. Pedangnya sendiri!

“Kalau engkau tidak mau mengaku terus terang, pedang ini akan langsung menembus tenggorokanmu!” Sian Li mendesis.

Mata orang itu terbelalak, mukanya berubah pucat. Apa lagi ketika dia merasa perihnya kulit leher di mana ujung pedangnya sendiri menempel.

“Saya… saya mengaku terus terang…,” katanya lirih.

“Hayo katakan, di mana Sin-ciang Taihiap Yo Han? Jangan bohong!” Orang itu semakin ketakutan. “Dia… dia… di tempat… tahanan…”
Berdebar-debar rasa hati Sian Li karena lega. Seperti sudah diduganya, Ouw Seng Bu hanya membohonginya.

“Di mana tempat itu? Hayo antar aku ke sana!” “Saya… saya tidak berani… ahhh…!”
Pedang itu menusuk, masuk ke kulit lehernya sampai setengah senti, mendatangkan rasa nyeri dan ketakutan hebat. Sedikit saja nona baju merah itu menusukkan pedang itu, tentu lehernya akan tembus dan matilah dia.

“Baik… baik…,” katanya.

Sian Li menarik pedangnya. “Hayo jalan dulu, awas, kalau engkau memberi tanda atau berteriak, akan kucincang tubuhmu.”

Dengan tubuh gemetar ketakutan, anak buah Thian-li-pang itu lalu membawa Sian Li menyelinap melalui sebuah lorong kecil. Setiap kali melihat ada anak buah Thian-li-pang lainnya, orang itu ditarik oleh Sian Li untuk bersembunyi dengan pedangnya menodong pada punggung orang itu.

Akhirnya, setelah melalui jalan yang berliku-liku, orang itu membawa Sian Li memasuki ruangan bagian belakang. Bangunan di situ cukup besar dan mereka memasuki lorong sehingga tiba di depan pintu sebuah kamar yang terbuat dari besi dan ada jerujinya yang kokoh kuat. Pintu kamar itu dipasangi rantai yang dikunci.

“Dia… dia ada di sana…” Orang itu menuding ke dalam kamar tahanan itu.

Sian Li menggerakkan tangan kirinya dan orang itu terkulai lemas, tak mampu bergerak lagi karena tertotok. Sian Li menghampiri jeruji pintu kamar itu dan melihat ke dalam. Jantungnya berdebar.

“Han-koko…!” Ia berseru, akan tetapi lirih karena tidak ingin membuat gaduh.

Ia melihat Yo Han duduk bersila, membelakangi pintu. Ia memang tidak melihat wajah orang itu, akan tetapi perawakannya membuat ia mengenal pemuda itu, apa lagi anak buah Thian-li-pang tadi mengatakan bahwa Yo Han ditawan di kamar itu.

“Han-koko…!” Ia memanggil lagi.

Akan tetapi orang yang bersila membelakanginya itu tidak menjawab dan tak bergerak. Agaknya Yo Han terluka parah dan sedang menghimpun hawa murni, maka tidak dapat menjawabnya, pikir Sian Li. Dia melihat betapa Yo Han menarik napas panjang dan menahan napas itu sampai lama.

Ahhh, Yo Han tentu terjebak musuh dan menderita luka, maka bisa tertawan, pikir Sian Li. Sekaranglah saatnya membebaskannya, karena kalau sampai Ouw Seng Bu dan sekutunya muncul, tidak akan mudah baginya untuk membebaskan kekasih hatinya itu.

“Han-koko, jangan khawatir, aku akan menolongmu!” katanya.

Ia memperhitungkan bahwa kalau kamar tahanan itu dipasangi jebakan, tentu Yo Han akan memperingatkannya. Sian Li lalu mengeluarkan sulingnya.

Suling itu hanya disaput emas, akan tetapi sebetulnya di sebelah dalamnya terbuat dari baja pilihan yang sangat kuat. Dia mengerahkan tenaganya, tenaga gabungan Im-yang Sinkang dari keluarga Pulau Es seperti yang ia pelajari dari Suma Ceng Liong, memutar sulingnya dengan ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan sinar emas menyambar ke arah lantai yang membelenggu daun pintu kamar tahanan itu.

“Tranggg… trakkk!”

Rantai itu patah dan Sian Li mendorong daun pintu kamar tahanan itu sehingga terbuka. Dengan cepat, namun hati-hati dan tidak kehilangan kewaspadaan, dia pun memasuki kamar tahanan itu. Pada saat itu terdengar suara gaduh di luar dan ketika ia menengok, nampak banyak anak buah Thian-li-pang memasuki rumah tahanan itu.

Hemmm, ia telah ketahuan musuh, pikirnya. Ia harus cepat membebaskan Yo Han.

“Han-koko, mari kita pergi…” Ia menahan kata-katanya dan terbelalak ketika orang yang tadinya bersila membelakanginya itu meloncat ke depan, membalikkan tubuhnya dan ia berhadapan dengan Ouw Seng Bu!

Kiranya, ketua baru Thian-li-pang yang tadi duduk bersila membelakanginya. Memang perawakan ketua baru ini mirip dengan perawakan Yo Han, dan agaknya sang ketua ini sengaja menyamar sehingga rambut yang dikucir bergantung dan melingkar leher itu pun sama, juga pakaiannya.

“Ha-ha-ha, Bangau Merah! Sudah kukatakan bahwa Yo Han telah berkhianat, dan dia sudah mati di dalam sumur tua, dan engkau masih juga tidak percaya? Sekarang, lebih baik engkau menyerah dan membantu kami berjuang melawan penjajah, sesuai dengan nama besar keluargamu sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa.”

“Keparat Ouw Seng Bu! Engkau tentu telah menjebak Han-koko! Sekarang aku harus membalas dendam kepadamu!” Setelah berkata demikian, Sian Li memutar suling dan menerjang maju. Akan tetapi, Ouw Seng Bu menghindar dengan loncatan ke kiri.

“Ha-ha-ha, engkau sudah terkepung dan masih bicara besar? Lihatlah, di luar kamar ini anak buahku sudah menghadang dan mengepung. Engkau tidak akan dapat lolos, Tan Sian Li. Melawan pun tiada gunanya karena kalau Yo Han saja tak mampu menandingi aku, apa lagi engkau.”

“Jahanam busuk yang sombong!” Sian Li berteriak dan ia pun menyerang lagi dengan dahsyat.

Diam-diam Ouw Seng Bu terkejut karena serangan Si Bangau Merah itu memang kuat dan dahsyat bukan main. Sulingnya berubah menjadi sinar emas yang mengeluarkan suara melengking-lengking aneh. Ia melompat ke tepi kamar, tangannya cepat menekan tombol di dinding sehingga dinding di belakangnya terbuka. Dan ia melompat masuk.

“Pengecut, hendak lari ke mana kau?” bentak Sian Li yang cepat-cepat mengejar. Dia pun ikut meloncat masuk ke dalam kamar lain di mana Ouw Seng Bu sudah menunggu sambil tersenyum mengejek.

Pemuda itu menggerak-gerakkan kedua lengan tangannya secara aneh dan terdengar bunyi tulang- tulangnya berkerotokan! Dia telah menghimpun tenaga dari ilmunya yang sesat, yaitu Bu-kek Hoat-keng yang salah latih. Kini wajahnya berubah, masih tampan, tapi senyumnya yang tadinya ramah dan manis itu berubah menjadi wajah menyeringai yang amat menyeramkan, sadis dan dingin. Matanya liar dan suara tawanya bagaikan setan tertawa.

Ketika Sian Li melihat keadaan Ouw Seng Bu seperti itu, ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang yang tidak waras, atau miring otaknya! Ia tidak tahu bahwa keadaan itu merupakan akibat dari ilmu Bu-kek Hoat-keng yang salah latihan.

“Iblis gila!” bentaknya dan ia menyerang lagi dengan sulingnya.

Kamar yang ini berbeda dengan kamar tahanan di depan tadi. Dinding yang tadi terbuka menembus ke kamar tahanan sekarang sudah menutup kembali dengan sendirinya dan kamar ini lebih luas.

Sian Li menghantamkan sulingnya ke arah kepala pemuda itu. Akan tetapi, Seng Bu meloncat ke samping dan ketika suling itu mengejar dengan sambaran ke samping, dia menangkis dengan tangan kirinya.

“Takkk…!”

Dua tenaga dahsyat bertemu dan akibatnya tubuh Sian Li terdorong ke belakang hingga tiga langkah. Gadis itu terkejut bukan main. Sulingnya yang ditangkis tadi tergetar hebat. Ada tenaga aneh yang amat dingin menyusup melalui suling dan tangannya dan tenaga itu amat kuat sehingga dia terdorong dan terhuyung. Baiknya dia masih mengerahkan tenaga sinkang untuk menolak pengaruh hawa dingin aneh itu.

“Ha-ha-he-he-he!” Ouw Seng Bu terkekeh menyeramkan dan membusungkan dadanya. “Si Bangau Merah, engkau tidak akan menang melawan aku. Ilmuku yang amat hebat ini tidak dapat ditandingi siapa pun juga. Sebentar lagi aku akan menjadi jagoan nomor satu di dunia dan mengusai dunia kang-ouw. Bahkan setelah menjatuhkan pemerintah penjajah Mancu, akulah yang layak dan pantas menjadi kaisar. Ha-ha- ha!”

“Gila, dia gila akan tetapi memiliki ilmu yang ajaib,” pikir Sian Li.

Ia harus dapat merobohkan orang ini, kalau tidak, ia tentu akan celaka. Baru orang ini saja sudah demikian hebat, kalau para sekutunya datang mengeroyok, ia tahu bahwa ia tidak akan mampu menandingi mereka.

Sian Li mengeluarkan pekik melengking. Kini dia memutar suling emasnya, memainkan ilmu pedangnya yang paling ampuh, yaitu Ang-ho Sin-kun (Silat Bangau Merah) yang ia pelajari dari ayahnya, Pendekar Sakti Bangau Putih.

Sulingnya berubah menjadi sinar emas bergulung-gulung yang menyilaukan mata, dan tubuhnya juga lenyap berubah menjadi bayangan merah yang berkelebatan terbungkus sinar emas. Dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang menyerang ke arah Ouw Seng Bu.

Namun, sambil terkekeh-kekeh aneh, Ouw Seng Bu berdiri tegak dan kedua tangannya membuat gerakan- gerakan aneh, kadang diputar seperti baling-baling, dan dari kedua tangan itu menyambar hawa dahsyat yang membuat semua serangan Sian Li tertolak kembali, mental sebelum mengenai tubuh lawan! Ketika Ouw Seng Bu melangkah maju mendekat, hawa pukulan kedua tangannya semakin kuat sehingga kini gulungan sinar emas itu makin menyempit, tanda bahwa Si Bangau Merah terdesak oleh tenaga aneh itu.

Pada saat itu terdengar suara wanita berteriak, “Bu-ko, jangan bunuh atau lukai dia!”

Mendengar teriakan itu, Ouw Seng Bu lalu terkekeh. “Heh-heh-heh, tidak, tidak, sayang, jangan khawatir!”

Setelah berkata demikian, mendadak dia meloncat ke belakang dan berlari keluar dari ruangan itu melalui sebuah lorong yang lebarnya sekitar dua meter dan panjang.

“Jangan lari!” bentak Sian Li yang mengejar.

Terdengar suara keras dan lorong itu sudah tertutup dari depan dan belakang oleh pintu rahasia. Sian Li terkejut, merasa terjebak dalam lorong yang tertutup, akan tetapi karena Ouw Seng Bu masih berada di situ bersamanya, ia tidak takut dan memutar suling lebih cepat untuk menjaga agar orang itu tidak melarikan diri melalui sebuah pintu rahasia.

“Heh-heh-heh, engkau takkan dapat lolos, Bangau Merah!” kata Ouw Seng Bu.

Mendadak dari lantai lorong itu keluar asap kemerahan yang memenuhi lorong. Sian Li mencium bau harum menyengat dan tahulah dia bahwa asap itu mengandung racun pembius! Akan tetapi, tidak ada jalan keluar dan jalan satu-satunya hanya menyerang mati-matian pada lawan yang masih terus tertawa- tawa walau pun asap merah semakin menebal.

Gadis perkasa yang cerdik ini menyesal akan kebodohan dirinya sendiri. Tentu saja, pikirnya. Ouw Seng Bu telah memakai obat penawar! Asap sudah terpaksa disedotnya ketika ia bernapas.

“Keparat keji, pengecut, curang…!” Ia menyerang kembali akan tetapi kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang dan ia pun roboh terkulai pingsan.

Ketika siuman kembali, Sian Li mendapatkan dirinya sudah rebah di atas sebuah dipan. Dia melihat betapa kaki tangannya diikat oleh rantai baja yang panjang. Cepat ia turun dari pembaringan itu dan mengerahkan tenaga sinkang untuk mematahkan rantai kaki tangannya.

“Jangan, Sian Li. Jangan patahkan rantai kaki tanganmu,” terdengar suara orang.

Sian Li menengok dan melihat Hui Eng juga berada di kamar itu. Juga gadis ini dirantai kaki tangannya, dengan rantai panjang yang membuat ia mampu bergerak ke sana sini, mampu mempergunakan tangan kakinya, akan tetapi rantai itu tidak sampai pintu kamar tahanan yang beruji.

“Ahh, kiranya engkau pun sudah tertawan. Bagaimana dengan pang…” Sian Li teringat. Mereka berada di tangan pemberontak Thian-li-pang, sungguh berbahaya kalau mereka mengetahui bahwa Cia Sun adalah pangeran Mancu. “Di mana Sun-toako?”

“Entah, kami berpencar, bukan? Aku dikepung dan dikeroyok, lalu tertangkap.”

“Tapi mengapa engkau melarang aku mematahkan rantai ini! Kurasa engkau pun akan mampu mematahkan rantai kaki tanganmu.”

“Agaknya aku akan mampu mematahkan rantai ini, akan tetapi apa gunanya? Mereka jelas tidak ingin membunuh kita, dan rantai ini bagaimana pun juga masih memberi kebebasan bergerak kepada kita. Dengan mematahkannya, belum berarti kita bebas. Kamar ini kokoh kuat dan terjaga kuat, juga mereka dapat mempergunakan perangkap untuk menangkap kita kembali. Kalau sampai mereka menggantikan rantai ini dengan belenggu yang membuat kita tidak mampu bergerak leluasa, bukankah hal itu lebih menyiksa? Kita harus tenang dan sabar, tidak menuruti kemarahan.”

Sian Li mengangguk membenarkan. “Mereka itu lihai, dan orang she Ouw itu agaknya miring otaknya. Dia itu gila, akan tetapi memiliki ilmu seperti iblis sendiri. Belum pernah selama hidupku bertemu dengan lawan setangguh itu yang memiliki ilmu seaneh itu.”

“Aku… aku mengkhawatirkan pangeran…” kata Hui Eng lirih.

“Agaknya dia tidak seperti kita, tidak tertangkap. Mudah-mudah saja begitu karena kalau dia masih bebas, berarti kita masih mempunyai harapan akan dapat tertolong. Aku sekarang mengerti bahwa anggota Thian- li-pang yang kutangkap tadi sengaja dipasang sebagai umpan perangkap. Mereka itu amat lihai dan licik sekali. Sekarang aku sungguh mencemaskan keadaan Han-koko.”

Mereka terdiam karena mendengar langkah kaki yang ringan menghampiri dari luar kamar tahanan. Muncullah Cu Kim Giok, gadis manis dengan mata indah, akan tetapi kini wajahnya agak muram dan matanya mengandung penyesalan.

“Hemmm, engkau sungguh tidak tahu malu masih berani muncul di depan kami!” Sian Li langsung menyambut dengan ucapan keras. “Ingin aku melihat wajah Paman Cu Kun Tek serta Bibi Pouw Li Sian yang gagah perkasa kalau melihat puterinya seperti ini, membantu orang-orang jahat!”

Cu Kim Giok memandang sedih. “Aihhh, tidak kusangka akan begini jadinya. Sungguh, aku bersumpah, Sian Li, aku bukan orang yang membela orang jahat. Semua ini hanya salah sangka dari pihakmu saja. Aku berani menanggung bahwa Ouw Seng Bu adalah orang yang gagah perkasa, seorang pendekar yang berjiwa pahlawan. Bahkan dia mau mengorbankan apa saja dengan perjuangan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah. Salahkah aku kalau aku membantu perjuangan yang suci ini? Engkau terlalu berprasangka dan menganggap buruk. Tentang kematian Pendekar Tangan Sakti Yo Han, sungguh bukan kesalahan Ouw-toako. Aku sendiri menjadi saksinya. Yo Han yang berusaha membunuh Ouw-koko seperti yang telah dilakukannya kepada para pimpinan Thian-li-pang, dan Ouw-koko hanya membela diri. Jika Yo Han tidak tergelincir ke dalam sumur, dan tidak ditimbuni batu, tentu Ouw-koko yang tewas di tangannya. Percayalah, Ouw-koko adalah seorang yang baik, seorang pendekar yang…”

“Gila! Ya, dia seorang yang miring otaknya, Kim Giok. Tidak tahukah engkau akan hal itu atau pura-pura tidak tahu? Cu Kim Giok, katakan kepada iblis gila Ouw Seng Bu itu bahwa kalau benar Han-koko tewas di tangannya, aku Tan Sian Li akan mengerahkan seluruh keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir untuk membalas dendam! Aku tidak akan berhenti berusaha sampai aku dapat memenggal lehernya serta membawa kepalanya dan hatinya untuk sembahyang kepada Han-koko!”

Berkata demikian, karena sambil membayangkan kematian Yo Han, kedua mata Sian Li lantas menjadi basah dan suaranya gemetar, walau pun mengandung ancaman yang membuat Kim Giok merasa ngeri.

“Sian Li, engkau rela mengorankan apa pun untuk membela Yo Han, karena engkau menganggap dia benar dan mencintanya. Apakah aku tidak boleh membela orang yang kuanggap benar dan yang kucinta?”

Dengan muka penuh kesedihan Kim Giok meninggalkan tempat itu dengan cepat. Dua orang gadis perkasa itu masih sempat mendengar isak tangis yang dibawa lari gadis dari Lembah Naga Siluman itu.

“Sungguh aneh! Ia mencinta Ouw Seng Bu…!” kata Sian Li lirih.

“Ihhh, kenapa hal itu kau anggap aneh, Sian Li?” tanya Hui Eng, tersenyum. “Akan tetapi Ouw Seng Bu itu orang gila! Iblis gila!”
Hui Eng tertawa geli dan Sian Li memandang heran. Memang nampak aneh dan lucu melihat gadis itu tertawa-tawa geli, padahal mereka kini berada dalam tahanan musuh dengan kaki tangan dipasangi rantai! Sungguh-sungguh merupakan keadaan yang patut mendatangkan tangis, bukan tawa geli! Ini saja sudah membuktikan betapa tabah hati Sim Hui Eng menghadapi keadaan yang gawat. Dan hal ini membesarkan pula hati Sian Li. Mempunyai seorang kawan sependeritaan setabah ini memang membesarkan hati.

“Hemmm, apa yang perlu ditertawakan? Apanya yang lucu?” tanya Sian Li.

“Engkau yang lucu,” kata Hui Eng. “Mengapa engkau seperti orang kebakaran jenggot melihat gadis itu mencintai Ouw Seng Bu?”

“Hushhh! Mana aku berjenggot?” cela Sian Li, akan tetapi kini ia pun tertawa geli.

“Sian Li, cinta membuat orang yang kita cinta nampak selalu benar selalu baik, selalu menarik, sebaliknya benci membuat orang yang kita benci nampak selalu salah, selalu buruk, selalu menyebalkan. Buktinya, engkau ditunangkan dengan pangeran Cia Sun, tapi engkau malah memilih Yo Han. Dan pangeran malah memilih aku, padahal saat itu aku masih puteri ketua Pao-beng-pai yang memberontak kepada kerajaan keluarganya. Dan aku pun memilih dia, padahal aku selalu tak suka kepada penjajah Mancu, dan aku yakin, Yo Han juga tak akan suka memilih lain gadis kecuali engkau. Nah, apa anehnya kalau sekarang gadis itu mencinta Ouw Seng Bu dan menganggap dia selalu baik dan benar?”

Sian Li termenung. Kebenaran ucapan Hui Eng meresap dalam hatinya. Memang apa yang dikatakan Hui Eng patut direnungkan.

Kita semua selalu mengambil kesimpulan dan mempunyai pendapat mengenai sesuatu berdasarkan penilaian kita, dan kita menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk. Kita lupa bahwa sesuatu itu tiada yang abadi, tak ada yang tetap dan selalu akan berubah-ubah.

Kita tidak mungkin dapat menentukan seseorang itu baik atau buruk, karena si orang yang kita nilai itu sudah pasti akan mengalami perubahan, dan perubahan ini akan mendatangkan kesan berbeda-beda bagi kita, ada kalanya kita anggap baik dan ada kalanya pula kita anggap buruk. Orang yang hari ini kita anggap sebaik-baiknya orang, mungkin pada suatu saat kelak akan kita anggap seburuk-buruknya orang, demikian sebaliknya.

Mengapa demikian? Pertama, karena tidak ada apa atau siapa pun di dunia ini yang tidak mengalami perubahan. Dan kedua, karena pendapat tentang sesuatu berdasarkan penilaian, dan setiap penilaian, diakui atau pun tidak, disadari mau pun tidak, selalu berdasarkan kepentingan si-aku, si penilai.

Penilaian muncul dengan pertimbangan untung rugi, disenangkan atau tak disenangkan. Jika seseorang atau sesuatu benda itu menguntungkan dan menyenangkan, bagaimana mungkin kita menilainya jelek dan jahat? Sebaliknya, kalau seseorang atau sesuatu itu merugikan dan tidak menyenangkan, sudah pasti kita menilainya tidak baik, tak mungkin kita menilainya bagus atau baik.

Biar pun orang sedunia mengatakan bahwa seorang yang baik dan patut dipuji, akan tetapi kalau memusuhi kita, merugikan dan tidak menyenangkan kita, mungkinkah kita menilainya sebagai seorang yang baik dan patut dipuji? Sebaliknya, andai kata orang sedunia mencaci sebagai seorang yang jahat dan patut dikutuk, akan tetapi kalau baik terhadap kita, menguntungkan dan menyenangkan kita, dapatkah kita mengutuknya dan menilainya sebagai seorang yang jahat?

Bahkan seorang kekasih yang dicinta setengah mati pun, karena dia menyenangkan kita, kita puja karena menguntungkan perasaan kita. Seandainya pada suatu hari dia itu melakukan sesuatu yang merugikan kita dan tidak menyenangkan kita, misalnya menipu kita, menyeleweng dengan orang lain, tak mau melayani kita sebagai kekasih, dapatkah kita tetap menilainya baik dan mencintanya? Biasanya, cinta itu berubah menjadi benci!

Mengapa? Sebab benci itu merupakan akibat penilaian yang buruk terhadap seseorang! Kalau menyenangkan, dinilai baik dan dicinta, kalau sekali waktu tidak menyenangkan, dinilai buruk dan dibenci!

Hujan tinggal tetap hujan, air yang jatuh dari atas. Akan tetapi jika hujan itu merupakan sesuatu yang merugikan kita seperti banjir, atau menghalangi kesenangan, kita akan menganggapnya buruk dan mengomel. Namun kalau hujan itu datang dan kita anggap menyenangkan dan menguntungkan, seperti para petani yang berharap datangnya air untuk sawah ladang mereka, maka kita akan menilainya baik dan hati kita senang, mulut tidak lagi mengomel dan cemberut, melainkan tertawa-tawa dan bersyukur!

Demikianlah panggung sandiwara dalam kehidupan ini, lebih lucu dan konyol dari pada panggung para pelawak. Kita dipermainkan nafsu yang sudah menyusup dalam diri kita lahir batin, dan karena nafsu selalu mengejar kesenangan, maka timbullah suka duka dan penilaian baik buruk, persahabatan permusuhan dan segala macam kebalikan-kebalikan yang mendatangkan konflik lahir batin pula.

Dapatkah kita hidup tanpa menilai dan menerima kenyataan apa adanya? Apa pun yang terjadi dan menimpa kehidupan kita merupakan suatu kenyataan hidup yang patut kita hadapi dengan segala kewaspadaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan!

Tuhan Maha Pencipta. Seluruh isi alam maya pada adalah milik Sang Maha Pencipta, jadi Dialah yang menentukan segala. Kewajiban kita hanyalah berusaha dan berikhtiar untuk mempertahankan hidup ini yang berarti membantu kodrat Tuhan yang sudah menghidupkan kita, dan mengisi kehidupan ini supaya hidup kita bermanfaat bagi diri sendiri, bagi keluarga dan bagi lingkungan. Bermanfaat berarti tidak merusak.

Dengan pasrah, dengan menyerahkan kepada Tuhan yang menciptakan kita, menyerah penuh keiklasan dan ketawakalan, barulah mungkin bagi kita untuk menerima segala yang terjadi dengan penuh kesadaran, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu, pada akhirnya ditentukan oleh kekuasaan-Nya.

“Aku mengerti sekarang, enci Eng, dan aku merasa kasihan kepada Kim Giok. Aku hampir yakin bahwa dia sudah terbujuk, bahwa Ouw Seng Bu itu seorang yang tidak waras, orang gila yang teramat cerdik dan licik, juga memiliki ilmu silat yang aneh dan berbahaya sekali.”

“Kita lihat perkembangannya, adik Sian Li. Kita harus bersabar dan melihat apa yang akan mereka lakukan terhadap kita. Aku yakin mereka akan menghubungi kita, mungkin melalui Cu Kim Giok tadi. Tidak perlu kita bergerak dengan sia-sia, sebaiknya menanti datangnya kesempatan baru kita mematahkan rantai ini dan mencoba untuk lolos.”

Sian Li mengangguk, diam-diam dia merasa lega dan girang karena mempunyai teman seperti ini boleh diandalkan…..

********************

Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tiba di kaki Bukit Naga. Terdapat sebuah kuil tua yang kosong di kaki bukit sebelah itu. Dan karena hari menjelang senja, mereka mengambil keputusan untuk melewatkan malam di kuil tua itu. Tadi mereka telah membeli bekal makanan dari dusun terakhir.

Di luar kuil tua yang tidak digunakan lagi itu, mereka berhenti dan terkejut melihat ada seorang tosu duduk bersila di bagian depan kuil. Ciang Hun yang telah berpengalaman tidak berani lancang dan dia menghampiri tosu itu. Bi Kim mengikutinya dari belakang, bersiap menghadapi segala kemungkinan karena tahu bahwa mereka telah berada di daerah Bukit Naga.

“Harap Totiang memaafkan kami berdua. Karena kemalaman di perjalanan kami ingin melewatkan malam di kuil tua ini, kalau saja tidak mengganggu Totiang.”

“Siancai, silakan, Kongcu dan Siocia,” kata pendeta itu dengan sikap acuh.

Pada saat kedua orang muda itu hendak melangkah masuk, dari dalam keluar empat orang tosu lainnya. Tentu saja hal ini membuat Ciang Hun sangat terkejut.

“Ahhh, maafkan kami, Cuwi Totiang. Kiranya kuil ini sekarang menjadi tempat tinggal Totiang sekalian?”

Tosu tertua yang tadi duduk bersila di luar berkata lembut, “Sama sekali bukan, Kongcu. Kami berlima juga sedang berteduh dan melewatkan malam di sini. Kuil ini kosong dan tidak dipergunakan lagi.”

“Ahh, kalau begitu kebetulan dan terima kasih Totiang.”

Ciang Hun dan Bi Kim lalu membersihkan lantai di sudut ruangan depan karena ternyata hanya ruangan depan itu saja yang masih agak utuh dan bersih, sedangkan ruangan tengah dan belakang kuil itu sudah rusak dan kotor.

Lima orang tosu itu duduk bersila, dan dua orang muda di sudut itu lalu menyalakan lilin yang tadi mereka beli sehingga ruangan itu tidak menjadi gelap lagi. Malam tiba dan hawa udara amat dinginnya. Dua orang di antara para tosu itu lalu membuat api unggun dari kayu-kayu yang agaknya sudah mereka cari dan kumpulkan siang tadi. Keadaan menjadi semakin terang oleh cahaya api unggun dan timbul kehangatan di situ.

Bi Kim mengeluarkan buntalan makanan yang mereka beli tadi, dan dengan ramah dan hormat Ciang Hun dan Bi Kim menawarkan makanan kepada lima orang tosu itu.

“Cuwi Totiang, mari silakan Cuwi Totiang makan malam bersama kami. Kita makan seadanya, Totiang,” kata Bi Kim.

“Silakan, Totiang, kami akan gembira sekali untuk menjamu Cuwi dengan makanan kami yang sederhana,” kata pula Ciang Hun.

“Siancai, Ji-wi adalah dua orang muda yang ramah dan baik. Terima kasih, Kongcu dan Siocia, kami tadi sudah makan dan sekarang merasa kenyang. Silakan Ji-wi makan, harap jangan sungkan-sungkan,” kata tosu tertua.

Karena maklum bahwa mereka berdua menghadapi perjalanan yang mungkin sukar dan membutuhkan banyak pengerahan tenaga, maka kedua orang muda itu tidak merasa sungkan-sungkan lagi dan mulai makan bak-pao dan dendeng yang tadi mereka beli sebagai bekal. Setelah mereka selesai makan, membersihkan mulut dan tangan dengan air yang mereka bawa, mereka diundang duduk dekat api unggun oleh para tosu.

Dengan gembira dua orang muda itu duduk mengelilingi api unggun bersama lima orang pendeta itu.

“Kalau pinto (saya) tidak salah lihat, Ji-wi bukanlah dua orang muda biasa, melainkan dua orang muda yang memiliki kepandaian silat. Bolehkah pinto mengetahui nama Ji-wi dan apa keperluan Ji-wi mendatangi daerah yang berbahaya ini?”

Karena yakin bahwa lima orang pendeta ini adalah orang-orang beribadat yang baik, maka Ciang Hun tidak merasa perlu untuk menyembunyikan keadaan mereka. “Totiang, saya bernama Gak Ciang Hun dan nona ini adalah Gan Bi Kim. Kami berdua melakukan perjalanan ke sini untuk mencari seorang sahabat kami yang jejaknya menuju ke bukit ini.”

Tiba-tiba Gan Bi Kim berkata, “Mungkin sekali Cuwi Totiang ada yang melihat sahabat kami itu lewat di sini!”

“Aihh, benar juga!” seru Ciang Hun girang. “Apakah Cuwi Totiang melihat sahabat kami itu lewat di sini? Dia seorang gadis muda…”

“Pakaiannya serba merah?” potong seorang tosu. “Benar, benar!” Ciang Hun berseru girang.
“Siancai, yang kalian cari itu bukankah Si Bangau Merah, nona Tan Sian Li?” Dua orang muda itu hampir berteriak karena girangnya.
“Benar sekali, Totiang!” kata Gak Ciang Hun. “Apakah Totiang melihatnya? Di mana?” tanyanya dengan penuh gairah.

“Nanti dulu, kalau Ji-wi mengenal Si Bangau Merah, tentulah Ji-wi bukan orang-orang sembarangan. Kongcu she Gak? Hemmm…? Pinto sudah pernah mendengar tentang Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Beng-san), apakah hubungan Kongcu dengan para pendekar she Gak itu?”

“Saya adalah puteranya…”

“Ahh! Sungguh kami merasa beruntung bertemu dengan putera Beng-san Siang-eng!”

“Kalau boleh kami mengetahui, siapakah Cuwi Totiang?” Ciang Hun bertanya, sekarang sambil memandang penuh perhatian.

Tosu tertua itu menghela napas panjang. “Pinto disebut Thian Tocu, seorang murid dari Bu-tong-pai dan empat orang ini adalah para sute pinto. Baru kemarin pinto berlima bertemu dengan Si Bangau Merah, bahkan dialah yang mengobati pinto dari pukulan beracun. Karena kekuatan pinto masih belum pulih, maka kami berhenti di sini untuk memulihkan tenaga.”

“Lalu, ke manakah perginya adik Sian Li?” tanya Ciang Hun.

Tosu itu menghela napas panjang. “Kami khawatir sekali. Ia pergi mendaki Bukit Naga dan hendak berkunjung ke Thian-li-pang, padahal keadaan Thian-li-pang telah berubah sama sekali. Perkumpulan itu telah menyeleweng dan dipimpin oleh seorang ketua baru yang seperti Iblis. Kami sungguh mengkhawatirkan keselamatan pendekar wanita itu.”

“Totiang, apakah yang sudah terjadi?” Gan Bi Kim bertanya, ikut pula merasa khawatir mendengar ucapan tosu itu.

Thian Tocu lalu menceritakan semua pengalaman mereka berlima. Mereka sengaja mendatangi Thian-li- pang karena mendengar berita tentang sepak terjang Thian-li-pang yang menyeleweng, yang menundukkan para tokoh-tokoh kang-ouw dengan kekerasan dan melakukan pemerasan.

“Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah berita mengenai terbunuhnya Pendekar Tangan Sakti Yo Han oleh ketua baru Thian-li-pang…”

“Ahhh…! Benarkah itu, Totiang?” Ciang Hun berseru kaget.

“Kami pun tidak percaya. Ketika kami tanyakan hal itu kepada Ouw-pangcu, ketua baru Thian-li-pang, dia bahkan mengatakan bahwa Yo Han telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang, kemudian Yo Han juga menyerang dia. Dalam perlawanan yang dibantu anak buahnya, Yo Han akhirnya tewas. Demikian keterangan Ouw-pangcu. Kami tidak percaya sehingga terjadi perkelahian, akan tetapi ketua baru itu seperti iblis, lihai bukan main dan pinto terkena pukulan beracun darinya. Kami merasa kalah dan turun bukit, lalu bertemu di jalan dengan Si Bangau Merah yang mengobati pinto. Kami sungguh mengkhawatirkan Si Bangau Merah yang hendak melakukan penyelidikan ke tempat berbahaya itu.”

“Kalau begitu, adik Sian Li terancam bahaya. Kita harus cepat ke sana, Kim-moi!” kata Ciang Hun, khawatir sekali.

“Gak-taihiap, sebaiknya bila kita berhati-hati menghadapi Thian-li-pang. Selain ketuanya sangat lihai, juga kini Thian-li-pang bergabung dengan tokoh-tokoh sesat yang berilmu tinggi seperti Siangkoan Kok bekas ketua Pao-beng-pai, juga para tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai berada di sana. Sebaiknya kalau Ji-wi bersabar sampai lewat malam ini dan besok pagi-pagi barulah kita mendaki ke sana.”

“Kita?” Ciang Hun bertanya.

“Kongcu, melihat Ji-wi yang muda-muda tetapi begitu bersemangat untuk membantu Si Bangau Merah, menentang bahaya dengan gagah berani, kami yang tua-tua merasa malu kalau hanya tinggal diam saja. Kami akan menemani Ji-wi membantu pendekar wanita Bangau Merah, walau pun kami tahu bahwa kekuatan kita ini tidak ada artinya dibandingkan kekuatan mereka yang mempunyai ratusan orang anak buah.”

“Kita tidak bermaksud menyerang Thian-li-pang, Totiang, tapi hanya hendak menyelidiki kalau-kalau adik Sian Li terancam bahaya. Kita harus membantunya.”

“Kami siap membantu, Kongcu.”

Demikianlah, malam itu mereka lewatkan dengan beristirahat dan menghimpun tenaga karena siapa tahu, besok mereka akan menghadapi musuh dan bahaya yang harus ditentang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciang Hun, Bi Kim dan lima orang tosu dari Bu-tong-pai telah mendaki Bukit Naga. Mereka bergerak cepat akan tetapi dengan hati-hati sekali dan tosu-tosu itu yang memimpin pendakian karena mereka lebih mengenal daerah itu dari pada kedua orang muda yang baru pertama kali itu berkunjung ke situ.

Akan tetapi gerak-gerik tujuh orang ini tidak terlepas dari pengintaian para anak buah Thian-li-pang. Ouw Seng Bu maklum bahwa sebelum pemuda yang datang bersama Sian Li dan Hui Eng itu tertangkap, tentu Thian-li-pang akan terancam bahaya.

Apa lagi ketika dia mendengar dari Siangkoan Kok bahwa pemuda itu adalah seorang pangeran Mancu! Maka dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan tersembunyi, siang malam harus melakukan pengamatan terhadap seluruh permukaan bukit itu. Karena itu begitu tujuh orang itu mendaki bukit, para anak buah Thian-li-pang telah mengetahuinya dan diam-diam setiap gerak-gerik mereka telah diamati dan diikuti.

Sementara itu, di dalam rumah tahanan Cu Kim Giok kembali datang mengunjungi dua orang tawanan, Hui Eng dan Sian Li. Kini Sian Li sudah dapat menekan kemarahan hatinya dan melihat munculnya Kim Giok, ia bertanya, suaranya tenang saja. “Kim Giok, apa lagi yang hendak kau katakan kepada kami?”

“Sian Li, engkau melihat sendiri betapa Thian-li-pang bersikap baik kepada kalian yang bahkan tidak dianggap sebagai musuh, melainkan sebagai tamu. Aku berharap dengan sepenuh hatiku supaya kalian berdua juga bisa melihat kenyataan bahwa Thian-li-pang sesungguhnya mengharapkan persahabatan dan kerja sama dengan kalian berdua, bukan permusuhan.”

“Kim Giok, sekarang aku mengerti bahwa engkau saling mencinta dengan Ouw Seng Bu, maka engkau membantu dan membelanya. Aku tidak akan mempersoalkan baik buruknya Ouw-pangcu itu, tetapi kalau memang benar Thian-li-pang hendak berbaik dan bersahabat dengan kami, mengapa kami dijebak, dikeroyok dan ditahan di dalam kurungan ini? Kenapa kami tidak dibebaskan saja?”

“Sian Li, percayalah, aku sudah minta-minta kepada pangcu supaya kalian dibebaskan, akan tetapi dia mengajukan alasan kuat sehingga aku sendiri pun tidak berdaya karena alasannya memang tepat. Ia mengatakan bahwa di dalam perjuangan, kita harus dapat membedakan mana kawan dan mana lawan. Sekarang ini, kalian memperlihatkan sikap sebagai lawan, dan kalau kalian dibebaskan, sungguh amat berbahaya bagi perjuangan Thian-li-pang. Kalian lihai dan dapat mendatangkan bencana kepada kami, kecuali tentu saja kalau kalian suka bekerja sama dengan kami dan sama-sama berjuang menentang pemerintah penjajah Mancu. Karena itu, aku mohon kepada kalian, jangan memusuhi Thian-li-pang, jangan memusuhi Ouw-pangcu, jangan memusuhi kami. Sungguh aku bersumpah, kami tidak mempunyai niat buruk terhadap kalian, hanya ingin mengajak kalian bekerja sama.”

“Cu Kim Giok, tidak perlu engkau membujuk kami, tentu engkau sudah tahu bahwa kami tak akan sudi untuk bekerja sama dengan golongan sesat. Sebetulnya, melihat engkau membantu Ouw-pangcu, hatiku tidak rela, dan aku tidak ingin lagi berbicara denganmu. Akan tetapi mengingat ayah ibumu, orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, aku minta engkau berterus terang mengenai satu hal. Benarkah Yo Han telah tewas di sumur tua itu?”

Kim Giok menghela napas panjang. Jawaban itu memang sudah diduganya. Akan tetapi bagaimana pun juga, apa pun yang terjadi, ia akan tetap membela Seng Bu karena ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu.

“Sian Li, dengan menyesal sekali terpaksa kukatakan bahwa memang benar Yo Han telah tewas di dalam sumur,” katanya lirih.

Mendengar keterangan ini, Sian Li menahan jeritnya. Mukanya menjadi pucat dan dia hanya berdiri termangu-mangu bagaikan patung. Kedua tangan yang dipasangi rantai pada pergelangannya itu menggenggam…..

Melihat keadaan Si Bangau Merah itu, Hui Eng bertanya kepada Cu Kim Giok dengan suara yang tegas.

“Cu Kim Giok, katakan terus terang, demi nama baik nenek moyangmu yang terkenal sebagai pendekar- pendekar besar Lembah Naga Siluman, apa engkau melihat sendiri kematian Yo Han itu?”

Kini Cu Kim Giok memandang kepada Hui Eng dengan alis berkerut, “Hemmm, tidak perlu aku menjawab pertanyaanmu. Engkau sendiri adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang pernah mengacau dan memusuhi keluarga besar kami, bahkan kemudian menurut ayahmu, engkau menjadi seorang pengkhianat dan anak yang durhaka. Aku mau bicara dengan Tan Sian Li, bukan denganmu!”

“Kim Giok, engkau tidak tahu dengan siapa engkau bicara. Ketahuilah bahwa enci Eng ini adalah Sim Hui Eng, puteri Paman Sim Houw yang hilang itu dan sekarang dia telah mengetahui siapa dirinya.”

“Ahhh…! ” Cu Kim Giok terkejut. “Kalau… kalau begitu, kalian berdua harus mau bekerja sama, aku tidak ingin melihat kalian celaka. Aku mohon kepada kalian, terimalah uluran tangan Ouw Pangcu untuk bekerja sama dan berjuang, atau setidaknya, kalian jangan memusuhi kami. Kalau kalian berdua mau berjanji di depan pangcu, maka aku yang akan menanggung…”

“Sudahlah, Kim Giok. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaan enci Hui Eng tadi. Apakah engkau melihat sendiri tewasnya Han-koko di sumur tua itu?” tanya Sian Li tak sabar.

“Pada saat Yo Han datang, aku memang melihatnya, bahkan kami berkenalan. Dia pun bicara dengan baik-baik kepada Ouw-pangcu, kemudian dia bicara empat mata dengan Ouw-pangcu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi tahu-tahu aku mendapatkan Ouw-pangcu sudah terluka parah terkena pukulan di dadanya, sedangkan para anggota Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam sumur tua. Barulah aku tahu bahwa Ouw-pangcu hampir dibunuh oleh Yo Han dan karena bantuan para anak buah, Yo Han dapat didesak dan terjerumus ke dalam sumur. Para anggota Thian-li-pang menimbuni sumur itu dengan batu karena maklum bahwa kalau Yo Han dapat keluar, tentu akan mengamuk dan semua orang dibunuhi.”

Keterangan bahwa Kim Giok tidak melihat sendiri kematian Yo Han, membuat hati Sian Li merasa lega kembali. Ia tetap tidak percaya bahwa Yo Han telah tewas. Lebih tidak percaya lagi bahwa Yo Han telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang dan berusaha membunuh Ouw Seng Bu. Ia mengenal pria yang dikasihinya itu.

Yo Han tidak mau membunuh orang, apa lagi para pimpinan Thian-li-pang di mana dia menjadi ketua kehormatan. Tidak masuk di akal semua berita itu, walau pun ia percaya bahwa puteri Lembah Naga Siluman ini tidak bohong. Tentu gadis ini telah dipengaruhi Ouw Seng Bu dan tertipu!

Pada saat itu ada dua orang pengawal masuk dan berkata kepada Cu Kim Giok dengan sikap hormat, “Nona, pangcu minta agar Nona suka menemuinya di ruangan dalam.”

Sikap dan ucapan penjaga itu saja sudah membuktikan bahwa ketua baru Thian-li-pang amat menghormati gadis itu. Ia bukan dipanggil, melainkan diminta!

Cu Kim Giok menoleh kepada dua orang gadis tawanan, kemudian pergi meninggalkan tempat tahanan itu, diikuti dua orang penjaga dengan sikap hormat. Setibanya di ruang dalam, Ouw Seng Bu sudah menyambutnya dan kedua orang penjaga itu pun segera mengundurkan diri.

“Ada urusan apakah, Bu-Ko?” tanya Kim Giok.

“Giok-moi, ada lagi orang-orang yang menyelidiki tempat kita tetapi kini mereka telah tertangkap.” “Siapakah mereka?” Kim Giok mengerutkan alisnya.
Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju kalau Thian-li-pang menangkapi orang, apa lagi kalau mereka yang ditawan itu tokoh-tokoh pendekar seperti Sian Li dan Hui Eng. Kalau sampai Thian-li-pang memusuhi para pendekar dan perkumpulan para pendekar dunia persilatan, hal itu sungguh tidak baik dan tidak benar. Seluruh keluarganya tentu akan marah dan menyalahkan dia membantu perkumpulan yang memusuhi dunia persilatan dan menawan para pendekar.

“Lima di antara mereka adalah para tosu Bu-tong-pai yang tempo hari, dan dua yang lain adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Bagaimana dengan hasil pembicaraan dengan Si Bangau Merah dan puteri Paman Siangkoan Kok tadi?”

Kim Giok mengerutkan alisnya. “Mereka masih belum mau berbaik, dan puteri Paman Siangkoan Kok itu ternyata adalah puterinya Paman Sim Houw yang dulu hilang dicullik orang ketika masih kecil. Hal ini menambah gawat keadaan, Koko, karena Paman Sim Houw adalah Pendekar Suling Naga yang sakti, pendekar besar dan tokoh di Lok-yang. Kalau ayah Sian Li, Pendekar Bangau putih dan Pendekar Suling Naga mengetahui puteri mereka ditawan di sini, lalu memusuhi kita, sungguh amat berbahaya bagimu, Koko. Lalu siapa pula dua orang pemuda dan gadis yang tertawan bersama lima orang tosu Bu-tong-pai itu?”

Ouw Seng Bu kelihatan muram dan berduka. “Giok-moi, sesungguhnya engkau sendiri pun tahu bahwa aku tidak pernah mencari perkara dan tidak pernah memusuhi mereka. Adalah mereka sendiri yang datang memusuhi Thian-li-pang. Aku pun merasa heran mengapa para pendekar itu tidak mau menyadari dan mereka bahkan berpihak kepada kerajaan Mancu, penjajah yang mencengkeram tanah air dan bangsa? Nah, cobalah engkau temui dua orang muda itu dan syukur kalau dapat membujuk mereka dan lima orang tosu itu, menyadarkan mereka akan pentingnya persatuan antara kita untuk dapat membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah.”

Kim Giok merasa lemas karena pekerjaan membujuk ini merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya. Akan tetapi, ia yakin bahwa kekasihnya benar, maka ia pun siap untuk membelanya.

Bagaimana lima orang Bu-tong-pai dan dua orang muda itu dapat tertawan? Seperti kita ketahui, Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu itu mendaki Bukit Naga untuk melakukan penyelidikan terhadap Thian-li-pang karena dicurigai kebersihannya. Mereka tidak menyadari bahwa gerak-gerik mereka telah diikuti oleh para anggota Thian-li-pang. Seorang di antara para anggota itu melapor kepada Seng Bu yang segera ditemani Siangkoan Kok, Im Yang Ji dan Kui Thiancu, juga beberapa orang tokoh sesat lain yang telah bergabung, menyambut rombongan yang mendaki bukit itu.

Sebelum sampai di perkampungan Thian-li-pang, Gak Ciang Hun dan kawan-kawannya secara tiba-tiba saja sudah dikepung oleh puluhan orang Thian-li-pang sehingga mereka berhadapan dengan Ouw Seng Bu dan kawan-kawannya.

Dengan sikap hormat Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat kepada lima orang tosu dan dua orang muda itu. “Selamat pagi Ngo-wi Totiang dan kalian berdua sobat muda. Tidak tahu, entah angin baik apa yang meniup kalian datang ke sini. Kami harap saja Ngo-wi Totiang sudah menyadari bahwa akhirnya kita semua, tanpa peduli dari golongan apa, mempunyai tekad yang sama, yaitu bersatu padu menghadapi penjajah Mancu dan mengusir mereka dari tanah air kita.”

Thian Tocu, tokoh Bu-tong-pai yang menjadi pemimpin rombongan tokoh Bu-tong-pai yang lima orang itu, membalas penghormatan Ouw Seng Bu dan berkata dengan sikap dan suara yang amat dingin, “Ouw- pangcu, kami berlima datang kembali bukan dengan maksud untuk menyerah, walau pun kami mengakui bahwa kami sudah kau kalahkan dalam pertandingan. Kami bertemu dengan dua orang sahabat muda ini dan kami ingin menemani mereka untuk berkunjung ke Thian-li-pang. Ketahuilah bahwa saudara muda ini adalah saudara Gak Ciang Hun, putera dari mendiang Beng-san Siang-eng, dan ini adalah nona Gan Bi Kim.”

“Ahhh, kiranya Gak-enghiong yang datang berkunjung. Kami dari Thian-li-pang merasa mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Gak-enghiong dan nona Bi Kim. Kami memang sedang menghimpun tenaga dari seluruh penjuru tanah air untuk segera mengadakan persiapan menyerang penjajah Mancu dan mengusirnya. Kami mendengar bahwa keluarga Gak dari Beng-san adalah pendekar- pendekar dan pahlawan-pahlawan besar dan gagah yang tentu saja akan suka bekerja sama dengan kami untuk mengusir penjajah Mancu.”

Gak Ciang Hun sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai betapa cerdik dan liciknya ketua baru Thian- li-pang itu. Kini begitu bertemu, ketua itu ternyata telah menunjukkan dua macam kelihaiannya.

Pertama, dia serombongannya mendadak saja sudah dikepung, ini berarti bahwa sejak mendaki bukit, mereka telah diketahui dan dibayangi. Dan ke dua, begitu bertemu, ketua itu sudah bersikap demikian ramah dan hormat sehingga dia sendiri andai kata belum mendengar dari para tosu, tentu akan terpikat hatinya oleh keramahan pemuda tampan itu.

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah mendengar bahwa pemuda ini seorang yang palsu dan dikabarkan telah membunuh Yo Han, dia pun menyambut dingin saja.

“Pangcu, kami sengaja datang ke Thian-li-pang dengan tujuan untuk mencari nona Tan Sian Li. Apakah ia berada di sini?”

“Ahh, apakah kau maksudkan Si Bangau Merah? Benar, ia berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami. Ia sudah menyatakan setuju untuk membantu kami, untuk bekerja sama menentang penjajah Mancu. Kalau Gak-enghiong ingin bertemu dengannya, mari, silakan masuk ke perkampungan kami!” kata Seng Bu dengan wajah cerah berseri.

Mendengar jawaban ini, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tercengang. Jawaban yang tidak mereka sangka- sangka sama sekali dan mereka berdua sudah merasa gembira.

Akan tetapi, Thian Tocu, tosu Bu-tong-pai itu sudah berkata dengan suara lantang.

“Ouw-pangcu, tidak perlu engkau membohongi Gan-taihiap dan kami. Kami sama sekali tidak percaya bahwa nona Tan Sian Li mau bekerja sama denganmu. Kami pun sudah berjumpa dengannya dan mendengar bahwa engkau telah membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han, bagaimana mungkin ia mau bekerja sama denganmu? Kalau kau mengatakan bahwa engkau telah menjebaknya dan menawannya, kami akan lebih percaya!”

Wajah Seng Bu berubah merah dan matanya kini mencorong memandang kepada tosu Bu-tong-pai itu. Dia merasa heran bagaimana tosu ini dapat sembuh demikian cepatnya, padahal dia tahu benar bahwa tosu ini sudah terkena tangan beracun sehingga terluka parah.

“Totiang, kalau pihakmu hendak menjadi antek penjajah Mancu dan tidak mau bekerja sama dengan kami para pejuang patriot bangsa, itu urusanmu. Akan tetapi tidak perlu banyak mulut di sini. Kami pernah mengampuni kalian dan membiarkan kalian pergi. Apakah kini kalian minta mati?”

Perubahan sikap ketua Thian-li-pang ini membuat Gak Ciang Hun yang tadinya tertarik, menjadi terkejut dan tidak senang. Sikap ketua Thian-li-pang itu sangatlah aneh. Baru saja wajahnya nampak tampan dan ramah ceria, akan tetapi sekarang kelihatan begitu bengis, dingin dan sadis. Bahkan sepasang matanya yang mencorong itu mengandung nafsu membunuh yang mengerikan.

“Ouw-pangcu, agaknya membunuh merupakan pekerjaan biasa bagimu dan mungkin menjadi kegemaranmu. Kalau memang engkau merasa sebagai seorang yang gagah, jangan menyangkal perbuatanmu sendiri dan akui sajalah apa yang telah terjadi dengan nona Tan Sian Li. Kecuali jika engkau memang pengecut, tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu…”

“Tutup mulutmu, tosu jahanam!” Seng Bu membentak.

Seng Bu sudah menggerakkan tangannya. Dia menampar ke arah Thian Tocu sambil mengerahkan ilmunya yang sangat dahsyat. Hawa beracun yang amat kuat menyambar ke arah tosu Bu-tong-pai itu.

Melihat hal ini, Gak Ciang Hun yang mengenal pukulan ampuh, meloncat ke depan dan menangkis dari samping untuk menolong tosu itu.

“Dukkk…!”

Mendapat tangkisan ini, Seng Bu mengeluarkan seruan kaget. Dia mundur dua langkah, akan tetapi Gak Ciang Hun lebih terkejut lagi karena dia sempat terhuyung! Padahal, putera pendekar kembar Gak ini memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, sebab pernah menerima pemindahan tenaga sinkang dari kakeknya, mendiang Bun-beng Lo-jin Gak Bun Beng! Tetapi, ketika menangkis, dia merasa betapa dari tangan ketua Thian-li-pang itu menyambar hawa dingin yang aneh sekali, yang membuat dia sampai terhuyung.

“Pangcu dari Thian-li-pang, kalau memang ucapan Thian Tocu Totiang tadi tidak benar, engkau berhak menyangkal, akan tetapi jika benar, memang sudah sepatutnya engkau berterus terang, bukan malah lalu menyerang seperti yang kau lakukan tadi!” Ciang Hun menegur.

Senyum iblis muncul di mulut Ouw Seng Bu. “He-he-he, kami hendak menerima kalian sebagai sahabat, akan tetapi kalau kalian menghendaki kekerasan baiklah. Seperti yang kami lakukan terhadap Si Bangau Merah, kami menawarkan persahabatan dan kerja sama, akan tetapi kalau kalian menolak dan bersikap memusuhi kami, terpaksa kami harus menawan kalian seperti yang telah kami lakukan terhadap Si Bangau Merah!”

Mendengar ini, Ciang Hun lalu mengerutkan alisnya. “Pangcu, kami tidak menghendaki persahabatan, juga tidak mencari permusuhan. Akan tetapi bila engkau telah menawan nona Tan Sian Li, kami menuntut agar engkau suka membebaskannya sekarang juga.”

“Heh-heh-heh, bagaimana kalau kami tidak mau membebaskannya?”

“Ouw Seng Bu, kalau engkau tidak mau membebaskan Tan Lihiap, kami akan mengadu nyawa denganmu!” bentak Thian Tocu marah. Lima orang tosu Bu-tong-pai itu sudah mencabut pedang mereka masing-masing, siap bertanding mati-matian untuk menolong Si Bangau Merah.

“Ouw-pangcu, kami harap engkau suka membebaskan nona Tan Sian Li, supaya kami tidak harus menggunakan kekerasan.”

Siangkoan Kok yang sejak tadi mendengarkan saja, kini menjadi tidak sabar. “Pangcu, serahkan saja kepadaku untuk menelikung pemuda sombong ini!”

“Dan lima orang tosu Bu-tong-pai ini serahkan kepada kami!” kata Kui Thiancu dan Im Yang Ji. Ouw Seng Bu mengangguk dan para pembantunya itu segera bergerak menyerang.
Lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun beserta Bi Kim menggerakkan senjata mereka menyambut dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Baru tiga orang pembantu Seng Bu itu saja, bekas ketua Pao- beng-pai, wakil Pek-lian-kauw dan wakil Pat-kwa-pai sudah merupakan lawan berat bagi lima orang tosu. Sementara itu masih banyak pula anggota Thian-li-pang tingkat tinggi yang melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi, bagaimana pun juga Gak Ciang Hun adalah keturunan pendekar sakti. Permainan pedangnya mantap dan kuat, tenaga sinkang-nya pun mampu menandingi lawan yang bagaimana pun sehingga Siangkoan Kok yang menandinginya, tidak dapat mendesaknya dengan cepat.

Gan Bi Kim juga terdesak hebat oleh Kui Thiancu yang mengejeknya, sedangkan lima orang tosu kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Thian-li-pang.

Melihat betapa Siangkoan Kok belum juga mampu menundukkan Ciang Hun, Seng Bu menjadi tidak sabar lagi. Dia tahu bahwa bekas ketua Pao-beng-pai itu cukup tangguh dan tidak akan kalah, akan tetapi dia tidak ingin perkelahian itu berlangsung terlalu lama.

Kalau sampai Kim Giok mengetahui, gadis itu tentu akan merasa tidak senang. Juga, tidak baik kalau mereka ini sampai terbunuh. Kalau dia dapat membujuk orang-orang yang lihai itu untuk bersekutu dengannya, hal itu akan amat menguntungkan dan akan memperkuat kedudukannya.

Maka ia pun segera meloncat ke depan dan menyerang Gak Ciang Hun dengan totokan jari tangannya, menggunakan ilmunya yang aneh, akan tetapi dia membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai berat atau membunuh pemuda itu.

Dengan lengking yang aneh menyeramkan, Seng Bu menyerang dan Ciang Hun yang menghadapi Siangkoan Kok saja sudah merasa sibuk karena ilmu kepandaian kakek tinggi besar itu memang hebat, kini merasa ada sambaran angin dingin dari samping. Dia mengelak ke kiri dan pada saat itu, Siangkoan Kok menyerangnya dengan pedang, dibarengi pula dengan tamparan tangan kiri. Ciang Hun menangkis pedang lawan, lalu memutar tubuh dan menyambut tamparan tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula.

“Trang… plakkk!”

Kedua tangan itu bertemu dan melekat dan pada saat itu, totokan kedua yang dilakukan Seng Bu tiba. Ciang Hun tak mampu menghindar lagi dan dia pun roboh lemas terkena totokan ampuh jari tangan Seng Bu.

“Tangkap mereka, jangan bunuh!” teriaknya dan teriakan Seng Bu ini menolong.

Gan Bi Kim yang sudah terdesak, juga lima orang tosu itu, akhirnya roboh. Hanya lima orang tosu itu yang luka-luka, namun bukan luka yang terlalu parah. Sedangkan Gan Bi Kim juga roboh terkena totokan Im Yang Ji.

Demikianlah, lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun, dan Bi Kim lantas tertawan oleh Thian-li-pang. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang cukup lebar, tidak dirantai seperti halnya Sian Li dan Hui Eng. Akan tetapi kamar tahanan itu berjeruji tebal dan kokoh kuat, sedangkan di depannya terdapat penjagaan yang ketat terdiri dari belasan orang anak buah Thian-li-pang…..

********************

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo