October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 5

 

Ketika dia berusia enam puluh tiga tahun, Siang Hong-houw tidak muda lagi, sudah sekitar empat puluh tahun usianya. Akan tetapi wanita ini masih cantik menarik penuh pesona, dan keringatnya masih juga berbau harum. Dan ternyata, keharuman keringat Siang Hong-houw memang dari dalam, walau pun bukan tanpa usaha.

Sejak kecil, wanita ini minum ramuan akar wangi dan sari bunga-bunga harum seperti mawar, bahkan kalau mandi selalu tentu menggunakan air yang diharumkan dengan cendana dan bermacam sari kembang yang harum. Bahkan makannya juga tersendiri, tidak mau makan makanan yang dapat mendatangkan bau tidak enak, melainkan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mendatangkan bau sedap!

Daya tahan tubuh manusia itu sangat terbatas dan mempunyai ukuran tertentu. Kaisar Kian Liong sejak mudanya sering menghamburkan tenaganya untuk memuaskan nafsu birahinya, bahkan kadang-kadang dia juga mempergunakan ramuan obat-obatan untuk memperkuat tubuhnya.

Hal ini baru terasa akibat buruknya setelah dia berusia enam puluh tahun lebih. Kini dia merasa betapa tubuhnya lemah, bahkan hampir kehilangan gairahnya. Makin jarang saja ia menyuruh Siang Hong-houw menemaninya, bahkan lebih sering ia menjauhkan diri dari wanita, menyendiri di dalam kamarnya, lebih suka membaca kitab dari pada bermesraan dengan permaisuri yang dicintanya itu.

Kerenggangan sebagai akibat dari kemunduran keadaan kesehatan Kaisar itu memberi banyak waktu luang pada Permaisuri Harum dan menumbuhkan kembali kerinduannya kepada suku bangsanya sendiri. Meski Sribaginda Kaisar tidak melarang ia menunaikan ibadahnya sebagai seorang yang beragama Islam, tapi permaisuri ini merasa kesepian dan ia pun merindukan lingkungan yang lain, lingkungan yang terasa lebih akrab karena persamaan kepercayaan.

Oleh karena kerenggangannya dari Kaisar yang kini lebih banyak mengurus negara dan membaca kitab, Siang Hong-houw menjadi makin akrab dengan seorang thai-kam yang bernama Mo Si Lim. Laki-laki yang dikebiri ini sebetulnya masih terhitung sanak dengan sang permaisuri. Dia seorang peranakan Uighur yang beragama Islam pula. Bahkan namanya merupakan perubahan dari nama kecilnya, yaitu Muslim yang diberikan oleh ayahnya untuk menandakan bahwa dia seorang muslim, seorang yang beragama Islam.

Bahkan Siang Hong-houw pula yang mengusulkan kepada Kaisar agar bisa mempunyai seorang pelayan berbangsa Uighur. Maka belasan tahun yang lalu, pemuda Mo Si Lim dijadikan thai-kam. Dengan adanya Mo Si Lim, maka kerinduan Siang Hong-houw pada bangsanya dapat terhibur. Mo Si Lim melayaninya dan mereka dapat bercakap dalam bahasa mereka, membicarakan tentang keadaan di Sinkiang.

Akan tetapi, beberapa tahun akhir-akhir ini, secara diam-diam Mo Si Lim mengadakan hubungan dengan orang-orang dari perkumpulan rahasia yang memiliki cita-cita untuk mengusir penjajah Mancu dari Cina. Tentu saja mudah bagi orang Uighur ini untuk tertarik dengan cita-cita perjuangan itu, mengingat betapa bangsanya juga tertekan oleh penjajah Mancu, dan banyak kawannya sudah tewas ketika daerah barat diserbu oleh pasukan Mancu.

Mo Si Lim adalah anak buah mendiang suami Puteri Harum. Kesetiaannya jugalah yang membuat dia rela dijadikan thai-kam, supaya dia dapat mendekati dan melayani Puteri Harum.

Sore hari itu Siang Hong-houw duduk sendiri di ruangan duduk dengan santai. Baru saja dia melakukan sholat atau sembahyang maghrib di dalam ruangan sembahyang yang khusus dibuat untuknya. Pada waktu dayang kepercayaannya memasuki ruangan itu, ia memerintahkan dayangnya untuk memanggil Mo Si Lim.

“Suruh dia masuk menghadapku, kemudian engkau berjaga di luar pintu dan melarang siapa saja masuk ruangan ini tanpa kupanggil.”

Dayang itu, seorang peranakan Uighur pula, menyembah lalu keluar dari ruangan itu, memanggil Mo Si Lim, thai-kam (laki-laki kebiri) yang bertugas jaga di bagian depan istana puteri itu. Setelah dayang itu pergi, Siang Hong-houw duduk di atas kursi panjang yang nyaman. Ia masih amat cantik walau pun usianya sudah empat puluh tahun lebih.

Wajah yang putih kemerahan itu masih halus tanpa dibayangi keriput. Hanya beberapa garis lembut di tepi mata dan antara alisnya sajalah yang menjadi bukti bahwa ia bukan gadis muda lagi, melainkan seorang wanita yang sudah matang. Tubuhnya masih padat dengan lekuk lengkung yang sempurna, tidak dirusak oleh kelahiran anak. Dari jarak dua meter orang akan dapat mencium keharuman semerbak yang keluar dari tubuhnya.

Ia seorang wanita yang tidak menghambakan diri kepada nafsu birahi. Ketika dipisahkan dengan paksa dari suaminya, maka bersama dengan kematian suaminya, mati pulalah gairah birahinya. Jika ia melayani Kaisar Kian Liong, hal itu hanya dilakukan karena rasa kasihan kepada Kaisar yang sangat menyayangnya. Dan sekarang, setelah suaminya itu, Kaisar Kian Liong, jarang menggaulinya, Siang Hong-houw merasa lebih enak dan senang.

Ketukan pada pintu ruangan duduk yang luas itu membuyarkan lamunannya. Ketukan tiga kali, pelan keras pelan. Itu adalah ketukan Mo Si Lim.

“Masuklah, Muslim!” kata puteri itu dalam bahasa Uighur.

Thaikam itu membuka daun pintu, lalu masuk dan menutupkan kembali daun pintu. Dia menjatuhkan diri berlutut menghadap sang permaisuri.

“Bangkit dan duduklah. Aku ingin mendengar laporanmu tentang keadaan di luar istana, terutama sekali tentang Thian-li-pang. Bukankah engkau telah menyelidiki Thian-li-pang seperti yang kuperintahkan?”

Mo Si Lim menyembah, bangkit lalu duduk di atas sebuah bangku pendek, sedangkan Siang Hong-houw kini duduk di atas kursi gading yang ukirannya sangat indah. Mereka berhadapan dalam jarak dua meter, terhalang meja kecil sehingga orang kebiri itu dapat menikmati keharuman semerbak dari depannya.

“Kebetulan sekali, hamba memang sedang menunggu perintah dan panggilan Paduka, Puteri. Untuk langsung menghadap, hamba tidak berani karena khawatir menimbulkan kecurigaan. Hamba membawakan sepucuk surat permohonan dari Ketua Thian-li-pang sendiri untuk dihaturkan kepada Paduka.”

“Surat Ketua Thian-li-pang? Cepat berikan kepadaku, Muslim!” kata Siang Hong-houw dan sikapnya berubah, cekatan sekali dan penuh gairah kegembiraan.

Mo Si Lim mengeluarkan sampul surat dari saku dalam bajunya. Setelah menyembah, dia menyerahkan sampul surat itu kepada sang puteri. Siang Hong-houw cepat merobek sampulnya, lalu mengeluarkan sehelai kertas yang memuat huruf-huruf yang coretannya indah. Lalu dia mulai membacanya. Beberapa kali sepasang alis itu berkerut ketika dia membacanya.

“Muslim, apakah engkau juga sudah mengetahui akan isi surat ini?” tanya Sang Puteri setelah dua kali membaca isi surat.

Muslim atau Mo Si Lim menyembah. “Hamba tidak tahu, Puteri. Hanya utusan ketua itu mengatakan bahwa Thian-li-pang ingin mengajukan permohonan pada Paduka melalui surat yang harus hamba sampaikan ini.”

“Muslim, permintaan mereka yang pertama masih wajar, tetapi yang ke dua sungguh berat untuk dapat kusetujui. Cepat kau nyalakan api di tungku perapian itu dulu, surat ini harus dibakar lebih dahulu baru kita bicara.”

Mo Si Lim melaksanakan perintah itu tanpa bicara, dan setelah api bernyala, Siang Hong-houw sendiri yang melemparkan surat dan sampulnya ke dalam api yang segera membakarnya habis menjadi abu dan tidak ada bekasnya lagi. Mereka lalu duduk lagi berhadapan seperti tadi.

“Ketahuilah, Muslim. Pertama Ketua Thian-li-pang memohon kepadaku agar aku suka memberi sumbangan untuk membantu pembiayaan Thian-li-pang. Ke dua, dan ini yang tak dapat kusetujui, mereka mohon perkenan dan persetujuanku agar supaya aku suka membantu mereka dalam usaha mereka membunuh Sribaginda Kaisar.”

Tidak nampak perubahan apa pun pada wajah thai-kam itu. Dia merupakan seorang mata-mata yang pandai bersandiwara. Bahkan suaranya datar saja tanpa dipengaruhi perasaan ketika dia bertanya, “Yang mulia, mengapa pula mereka hendak melakukan pembunuhan? Apakah mereka menjelaskan alasannya?”

“Mereka bukan saja berniat untuk membunuh Sribaginda, akan tetapi juga Pangeran Cia Cing dan Pangeran Tao Kuang. Alasan mereka, bila tidak dibunuh sekarang, beberapa tahun lagi tentu Sribaginda mengundurkan diri dan akan menyerahkan tahta kerajaan kepada seorang di antara kedua pangeran itu. Dan seperti kau ketahui, kedua pangeran itu adalah orang-orang Mancu asli karena ibu mereka pun wanita Mancu. Kalau mereka bertiga itu tidak ada lagi, tentu tahta kerajaan akan terjatuh ke tangan Pangeran Kian Ban Kok yang ibunya orang Kin. Dengan demikian, maka ada darah Han yang menjadi Kaisar, dan mereka akan mendukung pangeran itu.”

Mo Si Lim mengangguk-angguk. “Sekarang, jawaban apa yang akan Paduka berikan dan yang harus saya sampaikan kepada mereka?”

Puteri Harum bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri sebuah almari dan mengeluarkan sebuah kotak hitam, lalu duduk kembali. Ia menaruh kotak kecil hitam itu di atas meja di depannya lalu membukanya. Isinya perhiasan yang gemerlapan.

“Ini perhiasan berharga yang tak pernah kupakai, bawaanku sendiri dari Sinkiang dulu. Berikan kepada Thian-li-pang sebagai sumbangan dariku yang mendukung perjuangan mereka menentang pemerintah penjajah. Mengenai permintaan mereka yang ke dua, sekarang aku masih belum dapat menyetujuinya. Bagaimana pun juga, aku adalah isteri Sribaginda dan merupakan dosa besar bagiku kalau aku bersekutu dengan siapa pun untuk membunuh suami sendiri. Allah akan mengutukku. Jika mereka berkeras hendak melakukannya juga, aku tidak ikut campur. Nah, sampaikan semua itu kepada mereka, dan kalau tidak teramat penting, aku tidak mau lagi diganggu mereka walau pun aku mendukung perjuangan mereka.”

Mo Si Lim menyembah, lalu mengambil peti hitam kecil itu, memasukkannya ke dalam saku jubahnya bagian dalam, menyembah lagi kemudian mengundurkan diri, keluar dari kamar atau ruang duduk itu. Siang Hong-Houw yang ditinggalkan seorang diri bertepuk tangan memanggil dayangnya. Ia pun memasuki kamarnya untuk membuat persiapan karena tadi sudah ada isyarat dari Sribaginda Kaisar bahwa malam ini Sribaginda akan tidur di kamar permaisurinya yang tersayang ini.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mo Si Lim sudah meninggalkan istana tanpa ada yang menaruh curiga. Padahal, di balik jubahnya, thai-kam ini membawa sebuah peti kecil yang isinya amat berharga. Dia berjalan dengan hati-hati dan berkeliling kota. Setelah merasa yakin bahwa dirinya tidak dibayangi orang lain, dia lalu menyelinap masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah besar dan kuno yang berdiri di sudut kota raja.

Sebelum bangsa Mancu datang menjajah, rumah ini dahulu adalah sebuah istana milik seorang pangeran. Kini rumah itu terjatuh ke tangan penduduk biasa yang cukup kaya dan dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Namun, karena rumah itu besar dan kuno juga tidak begitu terawat maka kelihatan menyeramkan. Apa lagi keluarga yang memiliki rumah besar itu jarang menempatinya, maka rumah itu nampak angker dan didesas-desuskan sebagai rumah yang ada hantunya.

Agaknya Mo Si Lim tidak asing lagi dengan rumah ini. Dia tidak menuju ke pintu depan, tapi mengambil jalan samping dan memasuki pintu samping yang kecil dan menembus kebun di samping rumah. Dia lenyap bagaikan ditelan raksasa ketika memasuki rumah itu melalui pintu samping.

Rumah itu nampak kosong, akan tetapi ketika Mo Si Lim tiba di ruangan belakang, tiba-tiba muncul sesosok bayangan dan seorang laki-laki tinggi besar berdiri di depannya. Mo Si Lim berhenti melangkah dan memandang kepada laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun itu. Dia tidak mengenal orang itu, maka dengan hati-hati dia berkata kepada orang itu,

“Selamat pagi, Sobat… saya hendak bertemu dengan Saudara Ciang Sun. Apakah dia berada di sini?”

Akan tetapi tidak terdengar jawaban, bahkan tujuh orang laki-laki lain bermunculan dan delapan orang itu mengepung Mo Si Lim. Mereka itu berusia antara dua puluh sampai empat puluh tahun, rata-rata nampak gagah dan kuat.

“Siapa engkau?” Si Tinggi Besar membentak.

Mo Si Lim adalah seorang yang cerdik. Dia belum tahu siapa adanya delapan orang ini. Pembawa surat Ketua Thian-li-pang adalah Ciang Sun, dan Ciang Sun sudah berjanji akan menantinya di rumah gedung itu seperti biasanya. Akan tetapi pagi hari ini, saat yang sangat penting karena dia membawa sumbangan dan pesan Siang Hong-houw, Ciang Sun tidak muncul, dan sebaliknya muncul delapan orang yang tak dikenalnya ini dengan sikap mengancam. Dia pun segera bersikap angkuh dan hendak mengandalkan kedudukannya untuk menggertak mereka dan menyelamatkan diri.

“Aku adalah kepala thaikam di istana Permaisuri, namaku Mo Si Lim dan harap kalian cepat memanggil Ciang Sun agar menghadap di sini.”

“Hemmm, engkau tentu adalah seorang mata-mata yang hendak berhubungan dengan Thian-li-pang! Hayo mengaku saja!” bentak Si Tinggi Besar. Namun, Mo Si Lim tidak kalah gertak.

“Siapakah kalian? Jangan menuduh sembarangan. Aku seorang petugas di istana dan aku tidak mengenal apa itu Thian-li-pang. Aku hendak bertemu Ciang Sun untuk urusan jual beli perhiasan. Kalau kalian tidak tahu di mana Ciang Sun berada, harap mundur dan jangan menghalangi aku. Ataukah aku harus mengerahkan pasukan keamanan untuk menangkap kalian?”

Pada saat itu muncul seorang laki-laki yang tinggi kurus dan orang itu berseru, “Saudara Mo Si Lim, selamat datang! Maafkan kawan-kawanku. Mereka ingin mengujimu, apakah engkau dapat menyimpan rahasia kami!”

Mo Si Lim mengerutkan alisnya dan memandang Si Tinggi Kurus. “Ah, Saudara Ciang Sun, apakah sampai sekarang engkau masih belum percaya kepadaku? Kalau tidak ada saling kepercayaan, antara kita lebih baik tak ada hubungan saja! Bukankah aku hanya akan membantu Thian-li-pang?”

“Sekali lagi maafkan, Sobat. Nah, duduklah dan bagaimana hasil dan jawaban surat dari pangcu (ketua) kami?” tanya Ciang Sun.

Si Tinggi Kurus ini menjadi orang kepercayaan Thian-li-pang untuk melakukan operasi penting itu, yaitu mencari dana bagi perkumpulan orang-orang gagah yang hendak menentang pemerintah penjajah itu, dan mengatur rencana untuk mencoba melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Kian Liong. Dia mendapat kepercayaan ini karena Ciang Sun adalah seorang di antara pembantu-pembantu utama yang mempunyai kepandaian silat tinggi di samping kecerdikan dan keberanian.

Mo Si Lim duduk di kursi, berhadapan dengan Ciang Sun, sedangkan delapan orang anggota Thian-li-pang berdiri di sudut-sudut ruangan itu, berjaga-jaga dengan sikap gagah. Dengan hati masih merasa mendongkol atas penyambutan tadi, Mo Si Lim lalu mengambil sikap angkuh.

“Saudara Ciang Sun, surat dari ketua kalian telah berkenan diterima oleh Yang Mulia Puteri Siang Hong- houw kemarin sore.”

“Kenapa baru kemarin sore? Bukankah surat itu telah kami serahkan kepadamu lima hari yang lalu?” Ciang Sun bertanya, nada suaranya menegur.

“Hemmm, kalian ingin mudah dan enaknya saja. Menghadap Siang Hong-houw dengan membawa surat rahasia seperti itu tentu saja butuh ketelitian dan kewaspadaan. Kalau sampai diketahui orang lain, berarti hukuman mati bagiku, sedangkan kalian enak-enak saja berada di luar dan tidak terancam bahaya.”

“Baiklah, kami dapat mengerti, Saudara Mo Si Lim. Lalu bagaimana jawaban dari Siang Hong-houw?”

Mo Si Lim memandang kepada Ciang Sun, lalu kepada para anggota Thian-li-pang yang berdiri bagai patung dan dengan suara mengandung kebanggaan ia pun berkata, “Yang Mulia Siang Hong-houw mendukung perjuangan yang hendak membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah. Yang Mulia merasa gembira mendengar bahwa Thian-li-pang berjuang demi kemerdekaan, dan untuk menyatakan dukungannya, maka permohonan Thian-li-pang untuk diberi sumbangan, telah menggerakkan hati Yang Mulia dan beliau mengirimkan ini sebagai sumbangan untuk Thian-li-pang.”

Ia mengeluarkan kotak hitam kecil dari dalam jubahnya dan meletakkan kotak itu di atas meja, lalu membuka tutupnya. Semua mata memandang ke arah peti dan orang-orang Thian-li-pang itu merasa gembira dan kagum. Sekali pandang saja tahulah Cia Sun bahwa isi peti itu merupakan harta yang bernilai cukup besar dan akan banyak membantu kebutuhan Thian-li-pang.

Akan tetapi, bagi Ciang Sun sumbangan ini bukan merupakan tugas utama yang paling penting. “Dan bagaimana dengan rencana besar kami? Apakah Yang Mulia menyetujui dan sudi membantu kami agar tugas kami itu dapat terlaksana dengan lancar?”

Mo Si Lim menarik napas panjang. Orang-orang ini memang hanya mau enaknya saja. Disangkanya membunuh seorang Kaisar, putera Kaisar yaitu Pangeran Cia Cing, dan cucu Kaisar Pangeran Tao Kuang, merupakan pekerjaan yang mudah!

Pangeran Cia Cing merupakan seorang pangeran mahkota yang kedudukannya kuat dan memiliki banyak pendukung, sedangkan Pangeran Tao Kuang, tentu saja dengan sendirinya merupakan calon kalau ayahnya gagal terpilih. Pangeran Cia Cing berusia empat puluh tahun, sedangkan puteranya, Pangeran Tao Kuang berusia dua puluh tahun.

Sedangkan Pangeran Kian Ban Kok yang diusulkan oleh Thian-li-pang untuk menjadi calon Kaisar itu adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang terkenal royal, mata keranjang dan hanya mengejar kesenangan belaka, sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan tidak pantas untuk dijadikan calon Kaisar! Agaknya Thian-li-pang justru memilih pangeran itu yang selain berdarah Han dari ibunya, juga merupakan seorang yang kelak tentu akan mudah dipengaruhi dan dijadikan Kaisar boneka.

“Sayang sekali untuk permohonan Thian-li-pang yang ke dua itu, Yang Mulia Siang Hong-houw belum berkenan menyetujui.”

“Ahh! Justru itulah yang terpenting bagi kami! Jika usaha itu berhasil, berarti perjuangan kami pun berhasil. Bagaimana mungkin Sang Permaisuri tidak menyetujui kalau beliau mendukung perjuangan kami?”

“Hemmm, hendaknya kalian suka mengingat bahwa Yang Mulia Permaisuri adalah isteri dari Sribaginda Kaisar… Isteri mana yang merelakan suaminya dibunuh begitu saja? Bagi kami, orang-orang yang beribadat, yang takut akan kemurkaan Allah, tidak akan berani melakukannya. Yang Mulia telah bersikap tepat dan benar dalam hal ini dan kalian tidak dapat memaksa beliau!”

“Tetapi… beliau hanya kami minta persetujuannya dan beliau tidak perlu ikut campur, hanya memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa menyelundup ke dalam istana tanpa dicurigai dan tanpa dilarang, begitu saja!”

“Apa pun yang kalian katakan, tetap saja Yang Mulia Permaisuri tidak menyetujui niat pembunuhan itu!” Mo Si Lim berkeras.

“Kalau begitu, kita akan menggunakan siasat yang ke dua!” teriak Ciang Sun kepada kawan-kawannya sebagai isyarat. “Apa boleh buat, Sobat Mo Si Lim, demi perjuangan dan demi berhasilnya rencana kami, terpaksa engkau kami korbankan! Salahnya Siang Hong-houw yang tak menyetujui rencana kami!” Dan tiba-tiba saja Ciang Sun mencabut pedang dan menyerang Mo Si Lim!

“Ahhhh!”

Mo Si Lim melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik. Kursi yang didudukinya menjadi korban bacokan pedang di tangan Ciang Sun dan terbelah menjadi dua. Sambil bergulingan Mo Si Lim yang juga mempunyai ilmu silat yang lumayan, telah mencabut pedangnya pula. Akan tetapi pada saat itu, delapan orang anggota Thian-li-pang sudah mengeroyok dan menghujankan serangan kepada thaikam itu, juga Ciang Sun yang lihai sekali sudah menyerang lagi dengan pedangnya.

Mo Si Lim memutar pedangnya membela diri. Namun, melawan Ciang Sun seorang saja dia takkan menang, apa lagi dikeroyok sembilan orang. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dia pun roboh mandi darah dengan tubuh penuh luka dan tewas seketika!

Dan pada siang hari itu, gegerlah di istana ketika ada seorang gagah melapor kepada pasukan pengawal istana bahwa dia telah menangkap dan membunuh seorang pencuri yang membawa perhiasan dari dalam istana. Orang gagah itu bukan lain adalah Ciang Sun yang membawa kepala Mo Si Lim dalam buntalan, bersama peti hitam kecil berisi perhiasan yang amat berharga. Kiranya setelah membunuh Mo Si Lim, Ciang Sun lalu memberi tahu kepada anak buahnya bahwa kini terbukalah kesempatan baginya untuk menyelundup ke dalam istana, dengan bertindak sebagai pembunuh pencuri perhiasan itu dan mengembalikan perhiasan itu kepada istana.

“Perhiasan ini memang mahal harganya dan merupakan sumbangan yang besar bagi kita, akan tetapi kematian Kaisar Mancu itu jauh lebih penting. Aku sendiri yang akan mengembalikan perhiasan ini. Kalian boleh berangkat ke pusat dan melaporkan kepada Pangcu kita!”

Demikianlah, dengan hati penuh semangat kepatriotan, Ciang Sun membawa kepala dan peti hitam kecil itu ke istana. Tentu saja laporannya menggegerkan panglima pasukan pengawal yang langsung menghadap Kaisar dan melaporkan bahwa ada orang datang mengaku telah membunuh pencuri perhiasan milik Siang Hong-houw!

Tentu saja Kaisar Kian Liong terkejut mendengar ini. Dia segera memerintahkan agar pembunuh pencuri itu dibawa menghadap kepadanya, juga dia memerintahkan agar Siang Hong-houw datang pula ketika mendengar bahwa yang dicuri adalah perhiasan milik permaisurinya itu.

Biar pun dia dilucuti dan pedangnya ditahan sebelum menghadap Kaisar, Ciang Sun tetap berjalan dengan gagah dan sedikit pun tidak merasa gentar. Ciang Sun adalah seorang pendekar yang sudah digembleng menjadi seorang patriot yang gagah berani, yang rela mengorbankan apa saja demi cita-citanya, yaitu mengusir penjajah dari tanah air. Semangat ini pun bukan tanpa dorongan penyebab yang membuat dia menyimpan dendam dalam hatinya, yang membuat dia membenci pemerintah Mancu.

Ayah dan ibunya tewas dalam bentrokan antara ayahnya dan seorang pembesar tinggi bangsa Mancu. Dendam ini membuat dia membenci semua orang Mancu. Apa lagi melihat betapa bangsanya diperlakukan dengan tidak adil oleh para penguasa bangsa Mancu, kebenciannya bertambah.

Dia semenjak muda membantu gerakan pemberontakan di mana-mana. Namun semua usaha pemberontakan itu selalu gagal karena pasukan Mancu terlampau kuat, bahkan di antara pasukan itu terdapat jago-jago silat yang amat lihai, baik orang Mancu sendiri atau orang-orang Han yang telah diperalat oleh pemerintah Mancu. Saking bencinya, Ciang Sun bahkan sudah bersumpah tak akan menikah sebelum penjajah Mancu dapat dihancurkan.

Kaisar sudah duduk di singgasana, didampingi Siang Hong-houw ketika Ciang Sun yang dikawal pasukan pengawal dalam, berlutut menghadap Sribaginda. Kaisar Kian Liong memandang pria yang tinggi kurus itu, lalu memandang ke arah buntalan kain kuning dan buntalan kain merah yang dibawa Ciang Sun.

Setelah mengucapkan penghormatannya dengan ucapan ‘ban-ban-swe’ (panjang usia), Ciang Sun tetap berlutut dan menanti perintah.

“Kami telah mendengar laporan tentang dirimu. Namamu Ciang Sun dan engkau telah membunuh seorang pencuri yang membawa sekotak perhiasan milik Hong-houw?”

“Benar sekali laporan itu, Sribaginda.”

“Bagaimana engkau tahu bahwa dia pencuri dan yang dicurinya adalah perhiasan milik Siang Hong- houw?” tanya pula Kaisar Kian Liong.

“Pencuri itu sendiri yang menawarkan barang perhiasannya kepada hamba, dan ia pula yang mengaku bahwa perhiasan itu milik Yang Mulia Siang Hong-houw. Karena hamba ingin berbakti kepada Paduka, maka hamba kemudian menyerangnya, membunuhnya, membawa kepalanya sebagai bukti dan hendak mengembalikan kotak terisi perhiasan ini kepada Yang Mulia Siang Hong-houw!” kata Ciang Sun dengan penuh semangat.

Kaisar Kian Liong mengangguk-angguk dan menoleh pada permaisurinya. Wanita cantik itu mengerutkan alisnya, sejak tadi matanya tidak pernah meninggalkan buntalan kuning yang bulat itu.

Kaisar memberi isyarat kepada pengawal pribadinya. “Bawa peti itu mendekat sini dan buka agar kami dapat melihat isinya. Siang Hong-houw tentu akan mengenal apakah benar peti berisi perhiasan itu miliknya.”

Pengawal memberi hormat, lalu mengambil buntalan kain merah yang ditaruh di atas lantai di depan Ciang Sun, membawanya mendekat dan membuka buntalan itu. Siang Hong-houw tentu saja segera mengenal peti hitam kecil miliknya dan tahulah ia apa yang terjadi. Tentu pembantunya yang setia itu telah terbunuh dan ia bergidik melirik ke arah buntalan kain kuning.

Dan ia pun segera dapat menggunakan kacerdikannya untuk menduga apa yang terjadi. Penolakannya untuk menyetujui rencana pembunuhan atas Kaisar itulah yang menjadi sebabnya. Tentu Mo Si Lim dibunuh untuk dijadikan korban, supaya seorang pembunuh dapat menyelundup masuk!

Ia melirik ke arah Ciang Sun yang kebetulan juga sedang melirik kepadanya, kemudian dia menangkap sinar mata berkilat dari orang kurus itu ke arah Kaisar. Dia pun dapat menduga. Orang ini pembunuh kejam! Kaisar terancam.

“Buka peti itu,” kata Kaisar dan pengawal membukanya. Nampaklah isi peti itu. Perhiasan yang berkilauan dan gemerlapan. “Hong-houw, milikmukah perhiasan itu?” tanya Kaisar Kian Liong.
Siang Hong-houw mengangguk. Kaisar Kian Liong mengerutkan alis dan marah kepada pencuri yang berani mengambil barang perhiasan permaisurinya yang tercinta.

“Buka buntalan itu. Kami ingin melihat siapa yang berani mencurinya!”

Pengawal lalu menghampiri buntalan kuning dan membukanya. Nampaklah kepala Mo Si Lim dengan mata melotot. Siang Hong-houw mengeluarkan seruan tertahan.

“Dia… Muslim, thai-kam yang setia!” teriaknya. “Sribaginda, orang ini tentu pembunuh yang berbahaya! Memang hamba sudah menyuruh Muslim untuk menjual perhiasan itu, perhiasan yang dulu hamba bawa dari Sinkiang, untuk diberikan kepada fakir miskin di Sinkiang karena hamba mendengar mereka hidup sangat sengsara. Sama sekali bukan perhiasan yang pernah hamba dapatkan dari Paduka, melainkan milik hamba pribadi. Akan tetapi, Muslim dibunuh… orang ini tentu penjahat. Mungkin dia mempunyai niat jahat terhadap Paduka!”

Tiba-tiba Siang Hong-houw telah meloncat ke dekat Sribaginda. Ia seorang wanita yang pernah belajar ilmu silat dan cepat ia sudah mencabut pedang yang tergantung di dekat kursi singgasana Kaisar.

Ciang Sun marah sekali ketika mendengar betapa Siang Hong-houw yang tadinya amat diharapkan akan membantunya, dan bahkan sudah menyatakan dukungannya terhadap Thian-li-pang, kini tiba-tiba membuka rahasianya dan menggagalkan kesempatan yang diperolehnya untuk menyelundup ke dalam istana Kaisar agar dapat membunuh Kaisar. Dia maklum bahwa saatnya hanya sekarang. Kalau dia tidak bertindak sekarang, akan terlambat karena dia tentu akan ditangkap dan dihukum.

“Hidup Thian-li-pang! Mampuslah Kaisar penjajah Mancu!”

Teriakan ini melengking nyaring, mengejutkan semua orang sehingga para pengawal tertegun dan tidak bergerak ketika Ciang Sun melompat ke arah Sribaginda Kaisar. Biar pun dia bertangan kosong, namun dengan nekat dia meloncat dan menyerang ke arah Kaisar.

Akan tetapi, Siang Hong-houw sudah memutar pedangnya, merupakan perisai di depan Kaisar sehingga serangan Ciang Sun itu tentu saja tidak berhasil, bahkan terpaksa dia meloncat ke samping. Pada waktu dia hendak menyerang Hong-houw untuk merampas pedang, para pengawal sudah menyerbu dan mengeroyoknya.

“Bunuh penjahat itu!” Siang Hong-houw berseru dan ia lalu menggandeng Kaisar, cepat-cepat dilarikan masuk ke dalam.

Ciang Sun mengamuk. Akan tetapi, yang mengeroyoknya adalah para pengawal dalam yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, bahkan di antara mereka terdapat panglima-panglima yang menjadi jagoan istana, maka dalam waktu singkat saja dia telah roboh dan tewas! Cepat para pengawal menyingkirkan mayatnya, juga menyingkirkan kepala Mo Si Lim, dan ada yang menyimpan peti hitam kecil untuk kelak disampaikan kepada Siang Hong-houw.

Tentu saja peristiwa itu lantas menggagalkan rencana orang-orang Thian-li-pang untuk membunuh Kaisar, bahkan menggagalkan pula usaha mereka mendapat sumbangan dari Siang Hong-houw. Dan di lain pihak, Puteri Harum berjasa besar dan Kaisar makin percaya kepadanya.

Akan tetapi peristiwa itu pun diam-diam membuat Siang Hong-houw menjadi bersedih sekali. Bukan saja bersedih karena kehilangan pembantunya yang setia, Muslim, akan tetapi juga bersedih karena dia terpaksa harus melakukan dua hal yang bertentangan dan meresahkan batinnya sendiri.

Di satu pihak, ia mendukung Thian-li-pang yang ia tahu merupakan perkumpulan para patriot yang hendak mengusir penjajah Mancu, bangsa yang juga telah membasmi suku bangsanya sendiri, bahkan yang telah membunuh ayahnya dan suaminya. Akan tetapi di lain pihak, ia bersetia kepada Kaisar Kian Liong yang telah menjadi suaminya dan yang secara pribadi bersikap amat baik dan penuh kasih sayang kepadanya.

Peristiwa ini sudah demikian mengguncang hati Sang Puteri sehingga sejak terjadinya peristiwa itu, ia tak pernah sehat lagi, selalu sakit-sakitan. Ia hidup dengan batin merana sampai kurang lebih delapan tahun kemudian, dan dalam tahun 1788 meninggal dunia karena penyakit akibat penderitaan batin ini, dalam usia yang belum tua benar.

Demikianlah keadaan kota raja dan istana Kaisar Kian Liong pada waktu itu. Dalam usia tuanya, pemerintahan Kaisar Kian Liong mengalami kemunduran dan pemberontakan-pemberontakan timbul di daerah-daerah perbatasan. Biar pun demikian, dia merupakan satu di antara kaisar-kaisar di Cina yang paling lama memegang tampuk kerajaan, yaitu selama enam puluh tahun (1736-1796)…..

********************

“Betapa indahnya pemandangan alam di pegunungan ini, Yo Han!” seru Gangga Dewi.

Yo Han yang berhenti melangkah pula, memandang kepada wanita itu. Seorang wanita yang nampak gagah berdiri dengan perkasa, cantik dan agung, wajah berseri dan kedua pipi kemerahan tanda sehat. Angin pegunungan bersilir mempermainkan rambut halus yang terlepas dari ikatan dan bermain di depan dahi. Mulut wanita itu tersenyum cerah dan pandang matanya membelai tamasya alam yang terbentang luas di depan mereka, di bawah sana.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Yo Han diselamatkan dari tangan Ang-I Moli oleh Gangga Dewi, dan kini Yo Han melakukan perjalanan bersama Gangga Dewi, membantu wanita Bhutan ini untuk mencari Suma Ciang Bun karena Yo Han merasa yakin bahwa Suma Ciang Bun akan dapat memberi tahu kepada Gangga Dewi di mana ayah wanita itu berada.

Yo Han ikut melayangkan pandang matanya ke bawah sana. Bagaikan sebuah lukisan mukjijat, tamasya alam itu terbentang luas di hadapan kakinya. Lereng bukit itu seperti dilukis dengan indahnya. Memang indah sekali, tetapi Yo Han merasa heran mengapa Gangga Dewi begitu kagum melihat keindahan alam itu.

Bagi dia, di mana-mana terdapat keindahan alam itu. Meski keadaannya berbeda-beda, namun dia selalu menemukan keindahan di mana pun, seperti melihat seribu macam bunga, bentuk dan warnanya berbeda- beda, namun setiap tangkai bunga mengandung keindahan agung!

“Aku telah mendengar bahwa Pegunungan Tapa-san memiliki tamasya alam yang amat indah. Baru sekarang aku menyaksikan kebenaran berita itu. Betapa bahagianya Suma Ciang Bun itu hidup di tempat yang memiliki lingkungan seindah ini.”

Keindahan yang ditemukan oleh nafsu yang bersembunyi di dalam pandang mata tiada lain hanyalah kesenangan. Dan segala macam bentuk kesenangan hanyalah permainan nafsu dan akhirnya selalu membosankan. Nafsu tak pernah mengenal batas, tak pernah mengenal kepuasan yang mutlak, selalu hendak meraih dan menjangkau yang belum dicengkeramnya.

Oleh karena itu, kita cenderung untuk mengagumi dan menikmati sesuatu yang baru kita dapatkan. Namun kalau sesuatu yang baru itu menjadi sesuatu yang lama, akan pudarlah keindahannya sehingga kita tidak mampu menikmatinya lagi. Itulah sebabnya mengapa orang kota dapat menikmati keindahan di alam pegunungan, sebaliknya orang dusun di pegunungan dapat menikmati keindahan kota!

Orang kota akan bosan dengan keadaan di kota, sebaliknya orang dusun juga bosan akan keadaan di dusun. Baik orang kota mau pun orang dusun selalu mengejar yang tidak mereka miliki. Pengejaran ini memang menjadi sifat dari nafsu daya rendah. Dan pengejaran inilah sumber penyebab kesengsaraan.

Kalau tidak tercapai apa yang kita kejar, kecewa dan duka menindih batin kita. Kalau tercapai apa yang kita kejar, hanya sebentar saja kita menikmatinya, kemudian kita merasa bosan atau juga kecewa karena yang kita capai itu ternyata tidaklah seindah yang kita bayangkan semula ketika kita masih mengejarnya.

Karena itu, orang bijaksana tidak akan mengejar sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Kalau sudah begitu, dia akan menikmati segala yang dimilikinya sebagai yang terindah dan terbaik.

Segala keindahan terletak di dalam keadaan batin kita sendiri, bukan terletak di luar badan. Sepiring masakan termahal, akan terasa hambar di mulut kalau batin sedang keruh, sebaliknya sebungkus nasi dengan kecap termurah akan terasa nikmat di mulut kalau batin sedang jernih.

Hal-hal yang paling sederhana pun akan terasa nikmat dan indah bagi panca-indra kita kalau batin kita dalam keadaan jernih. Dan batin yang jernih adalah suatu keadaan, bukan hasil buatan pikiran. Keadaan batin yang jernih timbul oleh kekuasaan Tuhan, dan kita hanya dapat menyerah dan pasrah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan kepada Tuhan Yang Maha Kasih.

Kalau sudah begitu, apa pun yang terjadi kepada diri kita, kita terima dengan penuh rasa syukur dan dengan penuh keyakinan bahwa semua itu sudah dikehendaki Tuhan dan Tuhan tahu apa yang baik bagi kita! Tidak mabok oleh keadaan yang kita anggap menyenangkan, tidak mengeluh oleh keadaan yang kita anggap tidak menyenangkan.

Penyerahan total kepada Tuhan menimbulkan kewaspadaan dan kebijaksanaan hingga kita bisa melihat bahwa di dalam segala peristiwa terkandung kekuasaan Tuhan hingga sebaliknya dari mabok kesenangan dan mengeluh kesusahan, kita akan meneliti untuk menemukan hikmahnya dalam setiap peristiwa.

Setelah sesaat berdiri bagai patung menikmati keindahan alam di sekelilingnya, Gangga Dewi menarik napas panjang, sepanjang mungkin hingga tubuhnya dapat menampung hawa udara yang bersih dan segar sejuk. Beberapa lamanya dia berlatih pernapasan untuk membuang semua hawa kotor dari dalam tubuh, menggantikannya dengan hawa udara yang jernih dan mengandung kekuatan mukjijat itu.

Tiba-tiba Gangga Dewi menangkap pundak Yo Han dan menariknya sambil meloncat ke belakang. “Singgg…!” Sebuah benda mengkilat menyambar lewat.
“Ada apakah, Bibi?” tanya Yo Han.

Gangga Dewi melepaskan Yo Han di belakangnya dan dia pun melangkah ke depan, menjauhi tebing. Yo Han mengikuti dari belakang dan kini dia tidak bertanya lagi karena dia telah melihat pula munculnya tiga orang itu. Seorang di antara mereka adalah Ang-I Moli, hal ini dapat dilihat dengan jelas walau pun mereka itu masih agak jauh, karena pakaiannya yang serba merah.

“Itu mereka!” teriak Ang-I Moli yang tadi telah menyambitkan senjata rahasianya yang berupa jarum beracun dan yang telah dielakkan oleh Gangga Dewi. “Akhirnya kita dapat menemukan mereka!”

Kini tiga orang itu sudah tiba di depan Gangga Dewi yang seolah melindungi Yo Han yang berada di belakangnya. Melihat cara mereka berlari mendaki dengan amat cepat itu, tahulah Gangga Dewi bahwa dua orang yang datang bersama Ang-I Moli itu pun bukan orang-orang lemah. Ia memandang dengan penuh perhatian.

Dua orang itu adalah laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. Yang seorang bertubuh gendut dengan perut seperti perut kerbau dan mukanya bulat, sedangkan yang kedua bertubuh kecil katai seperti anak berusia belasan tahun, tetapi mukanya penuh keriput dan kelihatan jauh lebih tua dari pada usia sebenarnya. Mereka berdua itu mengenakan jubah pendeta dengan rambut digelung ke atas seperti kebiasaan yang dilakukan para tosu (pendeta To).

Tosu yang gendut dengan muka seperti kanak-kanak dan selalu tersenyum cerah akan tetapi sinar matanya kejam itu tertawa.

“Ha-ha-ha, Moli! Engkau sudah mengganggu ketenangan kami, mengajak kami berlari-lari mengejar, kiranya yang kau cari hanya seorang bocah seperti itu, yang dapat kita temukan ratusan orang banyaknya di pasar, tinggal pilih. Kenapa susah-susah?”

“Hemmm, engkau mana tahu? Sudahlah, anak itu urusanku, aku mengajak kalian untuk menghadapi perempuan asing ini!” kata Ang-I Moli.

“Moli, engkau bilang bahwa engkau tidak mampu mengalahkan perempuan ini? Aneh sekali! Apa sih keahliannya?” berkata pula tosu yang katai kecil memandang rendah Gangga Dewi.

Gangga Dewi menegakkan kepala. Sepasang matanya mencorong penuh kemarahan, memandang kepada tiga orang itu dengan sikap angkuh.

“Ang-I Moli, engkau sungguh seorang iblis betina yang tak tahu malu! Anak ini tidak sudi ikut denganmu karena engkau jahat, cabul dan keji, dan engkau hendak memakannya, hendak membunuhnya dengan minum darahnya. Aku mencegah terjadinya kekejaman itu dan hanya menghajarmu agar engkau menyadari kesesatanmu. Kiranya kini engkau datang mengajak dua orang kawanmu! Hemmm, agaknya memang sudah sepantasnya orang macam engkau yang berwatak iblis ini dibasmi dari permukaan bumi!”

“Kwan Suheng dan Kui Suheng, kalian hadapi perempuan asing itu, biar aku yang akan menangkap bocah itu!” Ang-I Moli berseru.

“Heh-heh-heh, Moli Sumoi (Adik Seperguruan) yang baik. Kenapa harus repot-repot? Biar kami menundukkan mereka agar mereka menyerah dengan suka rela, tidak perlu merepotkan dan melelahkan badan,” kata tosu gendut.

“Benar, kami akan tundukkan mereka dengan sihir!” kata tosu katai.

Dua orang tosu itu adalah suheng (kakak seperguruan) Ang-I Moli dalam perkumpulan Pek-lian-kauw, yang gendut bernama Kwan Thian-cu, yang katai bernama Kui Thian-cu. Kini keduanya melepas ikatan rambut sehingga rambut mereka riap-riapan, dan Kwan Thian-cu mencabut golok, Kui hian-cu mencabut pedang.

Akan tetapi mereka tidak menggunakan senjata itu untuk menyerang, melainkan mereka memegang senjata itu lurus di depan muka seperti mencium senjata itu. Mata mereka terpejam, mulut berkemak kemik membaca doa, sedang tangan kiri membuat gerakan melingkar-lingkar di depan dada, kemudian telunjuk kiri membuat coret-coret di udara seperti sedang melukis atau menuliskan sesuatu. Kemudian dengan senjata mereka di kedua tangan, mereka membuat gerakan menyembah ke atas, lalu ke bawah, lalu ke empat penjuru. Barulah mereka membuka mata memandang kepada Gangga Dewi dan Yo Han, dan kini Si Katai mengeluarkan suara yang terdengar penuh wibawa.

“Dengar dan lihatlah, perempuan berkerudung kuning, dan juga engkau anak laki-laki! Semua kekuatan hitam di empat penjuru membantu kami! Kekuasaan langit dan bumi melindungi kami! Kalian berdua akan tunduk dan menurut kepada kami, melakukan apa saja yang kami perintahkan! Sanggupkah kalian?”

Gangga Dewi terkejut bukan main. Ia merasa betapa bulu tengkuknya meremang, tanda bahwa ada hawa atau kekuatan yang tidak wajar sedang menyerang dan berusaha mempengaruhinya. Kata-kata yang keluar dari mulut Si Katai itu menembus hatinya. Ia tahu bahwa kedua orang tosu itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw yang lihai dan ia pernah melatih diri dengan menghimpun kekuatan batin untuk menolak pengaruh sihir. Ia sudah mengerahkan tenaga itu, akan tetapi ada dorongan yang amat kuat membuat ia terpaksa membuka mulut.

“Aku sang… sang…” Ia mengerahkan seluruh tenaga untuk menghentikan pengaruh itu agar ia tidak mengatakan ‘sanggup’.

Pada saat ia bersitegang melawan pengaruh yang semakin kuat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa di belakangnya.

“Ha-ha-heh-heh, lihat, Bibi Gangga Dewi! Dua orang tosu itu sungguh lucu. Apa yang sedang mereka lakukan itu? Apakah mereka itu dua orang anak wayang yang sedang membadut?”

Mendengar suara ketawa dan ucapan Yo Han itu, seketika lenyaplah pengaruh sihir yang hampir menguasai dirinya dan lenyap pula ‘hawa’ yang membangkitkan bulu roma tadi.

Dua orang tosu itu terbelalak memandang ke arah Yo Han. Ketika anak itu tertawa lalu bicara, mereka berdua merasa betapa kekuatan sihir mereka yang mereka kerahkan itu membalik seperti gelombang melanda diri mereka sendiri sehingga mereka menjadi sesak napas dan terpaksa menghentikan ilmu sihir itu!

Ang-I Moli juga melihat semua ini dan ia berkata, “Nah, sudah kukatakan bahwa anak itu bukan anak sembarangan. Dia terkena jarum-jarumku akan tetapi tidak mati, dan segala kekuatan sihir tidak bisa mempengaruhinya. Sekarang baru kalian percaya? Hayo kalian bunuh perempuan asing itu dan aku yang akan menangkap anak itu!”

Kalau Gangga Dewi, Ang-I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw itu amat tercengang keheranan melihat peristiwa tadi, Yo Han sendiri tidak merasakan sesuatu yang aneh. Dia memang tidak merasakan apa-apa, dan kalau tadi dia mentertawakan dua orang tosu itu karena memang dia merasa heran dan geli melihat tingkah mereka. Sama sekali dia tidak mengerti bahwa dua orang tosu itu melakukan sihir, dan sama sekali dia pun tidak tahu bahwa suara ketawanya membuyarkan semua pengaruh sihir mereka.

Di luar kesadarannya sendiri, ada kekuatan mukjijat dari kekuasaan Tuhan yang selalu melindungi anak ini. Kekuatan mukjijat ini mungkin saja timbul karena kepercayaannya yang total kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Bukan sekedar percaya di mulut seperti yang dimiliki kebanyakan orang.

Kita semua mengaku ber-Tuhan, tetapi pengakuan kita itu sungguh amat meragukan, apakah pengakuan itu timbul dari dalam dan sesungguhnya, ataukah pengakuan itu hanya keluar dari pikiran yang bergelimang nafsu. Kalau hanya pengakuan mulut dan pikiran saja, tidak ada gunanya sama sekali. Buktinya, kita mengaku ber-Tuhan tetapi kita masih berani melakukan hal-hal yang tidak benar.

Kita adalah orang-orang munafik yang ingat pada Tuhan hanya bila kita membutuhkan pertolongan atau perlindungan saja, hanya teringat kepada Tuhan kalau kita sedang menderita. Kita melupakan Tuhan begitu nafsu sedang mencengkeram kita, begitu kita berenang di lautan kesenangan duniawi.

Sejak kecil sekali, melalui kitab-kitab yang dibacanya, kemudian dikembangkan oleh perasaan yang peka, Yo Han bukan sekedar mengaku ber-Tuhan, melainkan dia dapat merasakan kekuasaanNya dalam dirinya, yakin dan selalu ingat, selalu pasrah. Begitu mutlak kepercayaannya kepada Tuhan hingga ia pasrah dan menyerah. Hanya kepada Tuhanlah dia berlindung karena dia tidak beribu-bapa lagi dan ancaman maut tak cukup kuat untuk membuat dia takut dan lupa akan kepasrahan dan penyerahannya.

Inilah yang membuat dia di luar kesadarannya, selalu diliputi kekuasaan Tuhan. Dan di dunia ini, kekuatan atau kekuasaan apakah yang dapat menandingi kekuasaan Tuhan? Apa lagi hanya permainan sihir dari dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu, permainan sihir yang bersandar kepada kekuasaan iblis, tentu saja tidak dapat menyentuh Yo Han yang sudah dilindungi kekuasaan maha dahsyat yang tidak nampak.

Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu saling pandang, dan merasa betapa tengkuk mereka dingin. Selama hidup mereka belum pernah ada orang yang mampu membuyarkan kekuatan sihir mereka tanpa pengerahan kekuatan batin.

Kalau hanya lawan yang memiliki kekuatan batin tanggung-tanggung saja, tentu akan menyerah dan tunduk terhadap kekuatan sihir mereka berdua yang disatukan. Akan tetapi anak kecil itu, anak belasan tahun, hanya dengan ketawa polosnya telah mampu membuyarkan kekuatan sihir mereka?

Ataukah wanita peranakan barat itu yang memiliki kemampuan ini? Akan tetapi mereka lihat betapa tadi wanita itu sudah hampir menyerah kepada mereka. Diam-diam mereka bergidik dan jeri terhadap anak kecil itu.

Maka, mendengar permintaan Ang-I Moli, mereka merasa girang. Lebih nyaman di hati menghadapi serta mengeroyok wanita itu dari pada harus menangkap anak ajaib itu! Mereka lalu meloncat dan menyerang Gangga Dewi dengan senjata mereka.

Gangga Dewi mengelak dengan lompatan ke samping sambil menggerakkan tangannya melolos sabuk sutera putihnya.

Akan tetapi dua orang tosu Pek-lian kauw itu mendesak dengan serangan-serangan mereka yang ganas. Sungguh janggal sekali melihat dua orang berpakaian pendeta kini memainkan golok dan pedang, menyerang seorang wanita dengan dahsyat dan buas, dengan muka beringas dan nafsu membunuh menguasai mereka, membuat mereka seperti dua ekor binatang buas yang haus darah.

Mutu batin seseorang tidak terletak pada pakaiannya atau kedudukannya. Akan tetapi, kita sudah terlanjur hidup di dalam masyarakat di mana nilai-nilai kemanusiaan diukur dari keadaan lahiriahnya, dari pakaiannya. Pangkat, kedudukan, predikat dan pekerjaan, harta, bahkan sikap dan kata-kata hanya merupakan pakaian belaka. Semua itu dapat menjadi topeng yang palsu. Namun, kita sudah terlanjur suka akan yang palsu-palsu.

Kita menghormati orang karena hartanya, karena pangkatnya. Kita menilai orang dari kedudukannya, dari sikapnya. Padahal, seorang pendeta belum tentu saleh, seorang pembesar belum tentu bijaksana, seorang hartawan belum tentu dermawan, seorang yang bermulut manis belum tentu baik hati.

Kita tersilau oleh kulitnya, sehingga tidak lagi mampu melihat isinya. Hal ini disebabkan karena batin kita sebagai penilai juga sudah bergelimang nafsu, sehingga penilaian kita pun didasari keuntungan diri kita sendiri. Yang menguntungkan kita lahir batin itulah baik, yang merugikan kita lahir batin itulah buruk!

Karena kita semua tahu bahwa yang dinilai tinggi oleh manusia adalah pakaiannya, yaitu nama besar, harta dunia, kedudukan tinggi, penampilan dan semua pulasan luar, maka kita pun berlomba untuk mendapatkan semua itu. Kita memperebutkan harta, kedudukan dan sebagainya karena dari kesemuanya itulah kita mendapat penghargaan dan penghormatan. Kita lupa bahwa penghargaan dan penghormatan semua itu adalah palsu, kita lupa bahwa yang dihormati adalah pakaian kita, harta kita, kedudukan kita, nama kita! Kita semua makin hari makin lelap dalam alam kemunafikan.

Kita seyogianya bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita termasuk ke dalam kelompok munafik ini? Bilakah kita akan sadar dari kelelapan kemunafikan ini, menjadi penganut peradaban yang tak beradab, kemoralan yang tidak bermoral? Pertanyaan selanjutnya, kalau sudah menyadari keadaan yang buruk ini, beranikah kita untuk keluar dari dunia kemunafikan ini kemudian hidup baru sebagai manusia seutuhnya? Manusia yang patut disebut manusia, makhluk kekasih Tuhan, yang berbudi, berakhlak, bersusila, berakal pikir, dan berbakti kepada Sang Maha Pencipta?

Kesadaran seperti itu hanya dapat timbul apa bila kita mau dan berani mawas diri, bercermin bukan sekedar mematut-matut diri dan memperelok muka, tetapi bercermin menjenguk dan mengamati keadaan batin kita, pikiran kita, isi hati kita. Berani melihat kekotoran yang selama ini melekat dalam batin kita. Kalau sudah begini, baru dapat diharapkan timbulnya kesadaran dan kesadaran ini mendatangkan perasaan rendah diri di hadapan Tuhan!

Pikiran tidak mungkin membersihkan kekotoran ini, karena pikiran sudah bergelimang nafsu, sehingga apa pun yang dilakukannya tentu mengandung pamrih kepentingan diri, demi keenakan dan kesenangan diri, lahir mau pun batin. Akan tetapi, kerendahan diri membuat kita pasrah, membuat kita menyerah total kepada Tuhan Yang Maha Kasih, menyerah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan.

Dan Tuhan Maha Kasih! Pasti Tuhan akan membimbing orang yang menyerah bulat-bulat, menyerah dengan kerendahan diri sehingga di dalam penyerahan ini, pikiran tidak ikut campur. Karenanya, penyerahan itu mutlak dan tanpa pamrih, penuh kerendahan hati, penuh kerinduan dan cinta kasih kepada Tuhan yang telah mengasihi kita tanpa batas! Dari sini akan timbul gerak hidup yang wajar, manusiawi, tidak palsu dan tidak munafik lagi.

Pertempuran hebat segera terjadi setelah Gangga Dewi memutar sabuk sutera putih di tangannya. Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu mengeroyoknya dan setelah lewat hanya beberapa jurus saja, tahulah Gangga Dewi bahwa kedua orang lawannya ini lihai sekali. Menghadapi seorang dari mereka saja belum tentu dia akan menang, apa lagi dikeroyok dua. Namun, bukan hal ini yang merisaukan hatinya, melainkan keselamatan Yo Han. Anak itu kini menghadapi Ang-I Moli, wanita iblis yang amat berbahaya dan keji itu.

Dan memang Yo Han terancam bahaya ketika Ang-I Moli menghampirinya dengan mata bersinar-sinar dan mulut menyeringai. Wajahnya yang cantik tampak menyeramkan dan membayangkan kekejaman yang mengerikan. Yo Han juga maklum bahwa ia terancam bahaya, namun dia sama sekali tidak merasa takut.

Anak berusia dua belas tahun itu sejak mulai ada pengertian, sudah menyerah kepada Tuhan sehingga tidak mengenal arti takut lagi. Dia yakin benar bahwa nyawanya berada di tangan Tuhan dan bahwa kalau Tuhan tidak menghendaki, jangankan baru seorang manusia sesat macam Ang-I Moli, biar semua iblis dan setan menyerangnya, dia tidak akan mati! Keyakinan yang sudah mendarah-daging ini membuat dia tabah, dan dengan sinar mata yang tenang dan jernih, sekarang dia berdiri menghadapi Ang-I Moli yang menghampirinya.

“Hi-hi-hi-hik, Yo Han, engkau hendak lari ke mana sekarang? Tidak ada lagi yang akan mampu meloloskan engkau dari tanganku, heh-heh!” Ang-I Moli menghampiri semakin dekat dan mulutnya berliur karena ia membayangkan betapa seluruh darah dalam tubuh anak ajaib itu akan dihisapnya dan ia akan segera dapat menguasai ilmu dahsyat yang diidamkannya itu.

“Ang-I Moli, aku tidak akan lari ke mana pun. Kalau Tuhan menghendaki, maka Dia yang akan meloloskan aku dari tanganmu!”

Mendengar jawaban itu, Ang-I Moli tertawa terkekeh-kekeh. “He-he-heh! Tuhan? Mana Tuhanmu itu? Suruh dia keluar melawanku, heh-heh!” ia lalu menerjang ke depan, jari tangannya menotok ke arah pundak Yo Han karena ia bermaksud menangkap anak itu dan perlahan-lahan menikmati korbannya.

Yo Han tidak pernah berlatih silat. Walau pun secara teori dia tahu bahwa wanita itu menyerangnya dengan totokan, dan dia tahu pula betapa sesungguhnya amat mudah untuk mematahkan serangan ini, namun karena tubuhnya tak pernah dilatih, maka dia tidak dapat melakukan hal itu dan dia pun diam saja, hanya pasrah kepada Tuhan.

“Tukkk!”

Jari tangan Ang-I Moli menotok jalan darah di pundak. Tubuh Yo Han tiba-tiba menjadi lemas dan dia terkulai roboh. Ang-I Moli terkekeh, akan tetapi ketika ia menengok dan melihat betapa dua orang suheng- nya itu, walau pun sudah dapat mendesak Gangga Dewi namun belum berhasil merobohkan dan membunuhnya, lalu ia meloncat dengan pedang di tangan untuk membantu dua orang suheng-nya.

Tentu saja Gangga Dewi menjadi makin repot melayani pengeroyokan tiga orang lawan yang lihai itu. Tadi pun dikeroyok oleh dua orang tosu itu, ia telah terdesak dan hanya mampu melindungi diri saja tanpa mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Tapi, dengan memainkan gabungan dari ilmu Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sin- kun (Silat Sakti Delapan Dewa) melalui sabuk suteranya, serta sambil mengerahkan tenaga Inti Bumi yang semuanya itu dulu ia dapatkan dari gemblengan ayahnya, ia masih mampu membela diri dan sejauh itu belum ada ujung senjata para pengeroyok mengenai dirinya. Namun, kalau ia harus terus mempertahankan diri tanpa balas menyerang, akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan akan roboh juga.

“Heiii, kalian ini tiga orang yang berwatak amat pengecut! Mengeroyok seorang wanita bertiga. Percuma saja kalian mempelajari ilmu silat kalau hanya untuk mengeroyok secara curang dan pengecut.”

Yang paling kaget mendengar bentakan itu adalah Ang-I Moli. Ia cepat membalik dan terbelalak melihat Yo Han telah berdiri di situ sambil menuding-nudingkan telunjuk dan mencela dia dan kedua orang suheng- nya, seperti seorang kakek yang mencela dan menasehati cucu-cucunya yang nakal dan bandel!

Betapa ia tak akan kaget? Tadi ia telah menotok anak itu, totokan yang ia rasakan tepat sekali. Jangankan seorang anak kecil yang tidak tahu silat, biar pun lawan yang tangguh sekali pun, kalau sudah tertotok seperti itu pasti akan terkulai lemas dan paling sedikit seperempat jam lamanya takkan dapat berkutik. Akan tetapi anak ini tahu-tahu sudah bangkit kembali dan menuding-nudingnya!

“Ehhh, anak setan, akan kubunuh kau sekarang juga!”

Kemarahan membuat wanita iblis itu lupa akan keinginannya memanfaatkan darah anak itu dan saking kaget dan marahnya, kini ia menyerang dengan bacokan pedangnya ke arah leher Yo Han.

“Singgg…!” Serangan itu luput!

Ang-I Moli terbelalak lagi saking herannya. Anak itu seperti didorong angin ke samping dan jatuh bergulingan, dan justru hal ini membuat sambaran pedangnya tidak mengenai sasaran. Ia membalik dan mengejar, akan tetapi mendadak dia terhuyung dan hampir terjungkal karena saking tergesa-gesa dan marah tadi, dia kurang waspada sehingga kakinya terantuk batu.

Ketika ia bangkit kembali, ia melihat Yo Han sudah duduk dengan sikap tenang sekali di atas tanah. Anak itu memang sudah tahu bahwa melawan tiada gunanya dan lari pun akan percuma. Maka dia lalu duduk dan pasrah, menyerahkan nasib dirinya kepada Tuhan.

“Anak setan…!” Kini Ang-I Moli teringat lagi bahwa ia membutuhkan Yo Han, maka ia pun meloncat dekat dan mengayun tangan kirinya, kini menampar ke arah tengkuk.

“Plakkk!”

Tubuh anak itu terguling dan ia roboh pingsan. Setelah memeriksa dan merasa yakin bahwa anak itu sudah pingsan dan tidak akan mudah siuman dalam waktu dekat, ia lalu meloncat lagi dan kembali mengeroyok Gangga Dewi yang sudah kewalahan. Namun pada saat itu nampak bayangan orang berkelebat.

“Dunia tidak akan pernah aman selama ada orang-orang sesat berkeliaran mengumbar nafsunya!” bayangan itu berkata.

Begitu dua tangannya bergerak, segera nampak sepasang pedang yang bersinar putih mengkilap berada di kedua tangannya dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerbu ke dalam perkelahian itu dan membantu Gangga Dewi! Semua orang memandang pada bayangan itu.

Dan ternyata bayangan itu adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh satu tahun dengan wajah yang berbentuk bundar, kulitnya agak gelap, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi. Wajah itu tampan dan mengandung kegagahan, gerak geriknya lembut dan sinar matanya tajam.

Baik Gangga Dewi mau pun tiga orang pengeroyoknya tidak mengenal orang ini, akan tetapi karena jelas bahwa ia membantu Gangga Dewi, maka Ang-I Moli sudah langsung menyambutnya dengan sambitan jarum-jarum beracun merah.

“Hemmm, memang keji!” orang laki-laki itu berseru dan sekali tangan kanan bergerak, pedangnya diputar dan dibantu kebutan lengan baju, semua jarum tertangkis runtuh.

Ang-I Moli sudah menyusulkan serangan dengan pedangnya. Orang itu menangkis dan balas menyerang. Mereka bertanding dengan pedang, dan ternyata ilmu pedang orang itu lihai bukan main, membuat Ang-I Moli terkejut dan terpaksa ia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh ilmu pedang simpanannya untuk melindungi dirinya dari sambaran sepasang pedang lawan yang lihai itu.

Tentu saja orang itu lihai karena dia adalah Suma Ciang Bun! Pria yang sekarang hidup mengasingkan diri di Pegunungan Tapa-san ini adalah seorang cucu Pendekar Istana Pulau Es. Biar pun bakatnya tidak sangat menonjol dibandingkan keluarga Istana Pulau Es yang lain, namun karena dia sudah mempelajari ilmu-ilmu dari ayah dan ibunya, maka dia juga menjadi seorang pendekar yang sangat lihai. Banyak ilmu hebat yang dikuasainya, dan sekarang, dengan sepasang pedangnya dia memainkan ilmu pedang pasangan Siang-Mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) dan dalam waktu belasan jurus saja Ang-I Moli yang lihai telah terdesak hebat.

Akan tetapi, sambil melawan wanita berpakaian merah itu, Suma Ciang Bun melirik ke arah wanita gagah yang dikeroyok oleh dua orang berpakaian tosu. Dia melihat betapa wanita itu terdesak hebat dan berada dalam bahaya karena selain nampaknya sudah lelah sekali, juga paha kirinya sudah terluka dan berdarah. Maka, setelah mendesak Ang-I Moli, tiba-tiba dia meloncat ke dalam arena pertempuran membantu Gangga Dewi yang dikeroyok Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu.

Begitu Suma Ciang Bun menerjang dan membantu Gangga Dewi, dua orang tokoh dari Pek-lian-kauw itu terkejut karena serangan Suma Ciang Bun sangat kuatnya, membuat mereka berdua harus loncat ke belakang dan terpaksa menghadapinya, meninggalkan Gangga Dewi yang sudah payah dan kelelahan.

Karena kini mendapat bantuan yang kuat, timbul kembali semangat Gangga Dewi.

“Terima kasih, Sobat. Mari kita basmi iblis-iblis Pek-lian-kauw yang jahat ini!” serunya dan meski pun paha kirinya sudah terluka, dia memutar pedangnya dan bersama Suma Ciang Bun mendesak tiga orang lawan itu.

Tiba-tiba dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu membaca mantera yang aneh, kemudian Kwan Thian-cu berseru, “Kalian berdua orang-orang bodoh! Lihat baik-baik siapa kami! Kami lebih berkuasa, hayo kalian cepat berlutut memberi hormat kepada kami!” Dalam suara ini terkandung kekuatan sihir. Agaknya mereka berusaha untuk mencoba sihir mereka kembali untuk menundukkan dua orang lawan tangguh itu.

Gangga Dewi terhuyung. Akan tetapi Suma Ciang Bun adalah cucu Pendekar Sakti Pulau Es, ia sudah memiliki kekebalan terhadap sihir. Kakeknya, Pendekar Super Sakti, adalah seorang yang memiliki kepandaian sihir amat kuatnya, dan biar pun ilmu itu tidak dipelajari oleh Suma Ciang Bun, namun dia memiliki kekebalan terhadap segala macam ilmu sihir. Maka, melihat sikap lawan, Suma Ciang Bun tertawa halus.

“Hemmm, kalian tidak perlu menjual segala macam sulap dan sihir di depanku.”

Dua orang tosu itu terkejut dan pada saat itu, Gangga Dewi yang sudah tak terpengaruh sihir, menerjang dengan hebat, disusul Suma Ciang Bun yang menggerakkan sepasang pedangnya. Tiga orang itu terpaksa memutar senjata sambil mundur.

Akan tetapi, Ang-I Moli yang licik sudah meloncat ke dekat tubuh Yo Han yang masih pingsan. Ia menyambar tubuh itu dan dipanggulnya dengan tangan kiri, lalu ia berteriak nyaring,

“Hentikan perlawanan kalian atau aku akan membunuh anak ini!”

Mendengar ucapan itu, Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi terkejut, menahan pedang mereka dan memandang ke arah Ang-I Moli. Mereka melihat betapa wanita iblis itu telah memanggul tubuh Yo Han dan sedang mengancamkan pedangnya ke dekat leher anak itu. Melihat ini, Gangga Dewi menarik napas panjang. Dia tahu bahwa kalau dia dan penolongnya ini bergerak, tentu wanita iblis itu tidak akan ragu-ragu untuk membunuh Yo Han.

“Sudahlah, biarkan mereka pergi,” katanya lirih, namun tegas dan penuh wibawa.

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya. Ketika datang tadi, dia melihat anak itu ditampar pingsan oleh wanita berpakaian merah dan ia bisa menduga bahwa wanita yang gagah perkasa itu tentu melindungi Si Anak sehingga ia dikeroyok. Sekarang, setelah anak itu ditawan dan diancam, wanita itu merasa tidak berdaya dan terpaksa menyerah.

“Mari kita pergi!” Ang-I Moli berkata kepada dua orang suheng-nya dan ia pun meloncat jauh membawa tubuh Yo Han yang masih pingsan. Dua orang takoh Pek-lian-kauw juga cepat-cepat mengejar karena mereka juga merasa jeri setelah Suma Ciang Bun muncul membantu Gangga Dewi.

Melihat betapa tiga orang itu melarikan anak yang dipondong Si Iblis Betina berpakaian merah, Suma Ciang Bun merasa gelisah. “Tapi… mereka membawa pergi anak itu…!” katanya khawatir sambil kakinya melangkah ke depan dengan maksud untuk melakukan pengejaran.

“Jangan dikejar!” kata Gangga Dewi mantap. “Kalau dikejar justru akan membahayakan keselamatan nyawanya. Dan lagi, aku percaya Yo Han mampu menjaga dirinya.”

“Yo Han? Yo… Han…? Anak itu…?”

Gangga Dewi memandang tajam. “Engkau mengenal Yo Han?”

“Kalau benar Yo Han yang kau maksudkan itu, tentu saja aku mengenalnya. Dia pernah tinggal bersamaku di sini…”

“Ahhh, kalau begitu engkau tentu Suma Ciang Bun!” kata Gangga Dewi dengan girang.

Suma Ciang Bun menatap wajah wanita yang gagah perkasa itu. “Benar, dan… kalau boleh aku mengetahui… siapakah… ehhh, Nyonya ini…?”

Gangga Dewi memandang dengan wajah berubah kemerahan, matanya bersinar-sinar dan hatinya dicekam keharuan yang hampir membuat dia menangis. Ingin memang dia menangis! Suma Ciang Bun memang nampak jauh lebih tua dari pada tiga puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi masih tampan, masih lembut dan canggung pemalu!

“Ciang Bun… kau… benarkah engkau sudah lupa kepadaku?” tanyanya.

Wanita yang berhati keras ini telah mampu mengendalikan perasaannya. Meski hatinya menjerit, namun dia dengan gagah dapat menahan diri. Sungguh hal ini menunjukkan betapa Gangga Dewi kini sudah menjadi seorang wanita yang lebih kuat hatinya lagi dibandingkan dahulu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo