October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 25

 

“Apa yang barusan diucapkan Suma Locianpwe memang benar. Thian-li-pang adalah perkumpulan yang anti pemerintah, anti penjajah, akan tetapi setelah Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memegang pimpinan, perkumpulan itu dibawa menyeleweng ke jalan sesat. Memang mula-mula teecu dipaksa menjadi murid dua orang datuk itu. Akan tetapi kemudian teecu bertemu dengan orang ke tiga dari para datuk Thian-li-pang yang kemudian menjadi guru teecu yang sebenarnya. Beliau bernama Ciu Lam Hok dan di sana beliau menjadi orang hukuman yang disiksa oleh dua orang suheng-nya Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong itu. Kaki dan tangannya dibuntungi dan beliau dihukum di dalam sumur yang amat dalam. Teecu berhasil bertemu dan menjadi muridnya. Setelah beliau meninggal karena usia tua, teecu berhasil keluar. Ban-tok Mo-ko serta Thian-te Tok-ong lalu saling menyalahkan ketika mendengar kematian Suhu Ciu Lam Hok dan mereka saling serang sendiri sampai keduanya tewas. Teecu yang menerima tugas dari mendiang Suhu untuk meluruskan kembali Thian-li-pang, berhasil menundukkan serta membujuk para pimpinan dan sekarang teecu yakin bahwa Thian-li-pang telah kembali ke jalan benar.”

“Ciu Lam Hok…? Hemm, tidak pernah aku mendengar nama itu. Yang terkenal hanyalah Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong,” kata Suma Ceng Liong.

“Ayah, nama Han-ko sebagai Sin-ciang Taihiap sudah sangat terkenal di daerah barat. Dibandingkan dengan dia, kemampuanku tidak ada artinya…”

“Aih, Li-moi, harap jangan terlalu memuji. Engkau membuat aku menjadi malu saja.”

Pujian yang tiada hentinya dari Sian Li membuat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li kagum, akan tetapi juga penasaran. Rasanya tidak mungkin Yo Han memiliki kepandaian yang melebihi Sian Li. Akan tetapi mereka tidak memperlihatkan rasa penasaran ini, hanya tersenyum gembira.

“Sian Li, ceritakan yang lebih jelas tentang kematian suheng-mu,” Kam Bi Eng yang masih belum dapat menghilangkan perasaan dukanya atas kematian Sian Lun, tiba-tiba berkata. Suma Ceng Liong mengangguk-angguk membenarkan permintaan isterinya.

Sian Li mengerutkan alisnya. Berat tugas ini terasa olehnya. Ia seorang yang tidak suka berbohong, tidak biasa membohong akan tetapi sekali ini, terpaksa ia harus berbohong. Yo Han yang mengajarkan kepadanya bahwa untuk urusan ini, amat bijaksanalah kalau dia berbohong.

Bagaimana pun juga, Sian Lun sudah tewas, dan harus dia akui bahwa pada saat-saat terakhir, Sian Lun sudah menebus penyelewengannya dengan perbuatan gagah, yaitu membelanya sampai mengorbankan nyawa. Jika dia menceritakan penyelewengan Sian Lun, hal itu sama sekali tidak ada manfaatnya, bahkan tentu akan membuat kakek dan nenek itu merasa menyesal bukan main. Tapi bagaimana pun juga, amat sukar baginya untuk berbohong seluruhnya, maka ia pun mengambil ‘jalan tengah’.

Sian Li menceritakan lebih jelas tentang semua pengalamannya bersama Sian Lun saat mereka terlibat dalam pertentangan dengan persekutuan pemberontak itu.

“Aku bersama Suheng tertawan musuh yang selain lihai juga amat banyak jumlahnya,” katanya. “Kemudian mereka itu, dengan kekuatan sihir mereka, menyihir Suheng dan mempengaruhi Suheng sehingga nampaknya Suheng suka membantu mereka. Apa lagi mereka itu menggunakan dalih perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi, pada saat terakhir, Suheng bisa membebaskan diri dari pengaruh sihir, kemudian Suheng mengamuk dengan gagah perkasa. Tapi lawannya, Pangeran Gulam Sing dari Nepal memang tangguh bukan main sehingga akhirnya Suheng roboh dan tewas. Aku sendiri dapat terbebas dari maut karena ada Han-ko yang mengamuk di dekatku dan yang selalu melindungi aku.”

Suma Ceng Liong menghela napas panjang. “Sudahlah, memang sudah nasibnya mati muda. Bagaimana pun juga, kita tidak perlu menyesali kematiannya karena dia gugur sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Aku bahkan kecewa tidak dapat ikut melawan gerombolan itu disamping Sian Lun.”

“Hemm, ingin aku mencoba kepandaian pangeran Nepal itu!” kata Kam Bi Eng dengan gemas dan dengan kedua mata agak merah karena ia menahan tangisnya.

“Kita tidak perlu mengingat lagi pangeran itu karena dia sudah tertangkap oleh pasukan Tibet dan sudah pasti akan dihukum mati,” kata Sian Li.

Setelah tinggal di situ selama dua hari dua malam, Sin Hong dan Hong Li lalu mengajak puteri mereka dan Yo Han untuk pulang ke Ta-tung. Mereka berjanji akan membantu Suma Ceng Liong untuk menyebar undangan kepada para sanak keluarga yang akan diundang menghadiri perayaan ulang tahun sekalian mengadakan pertemuan keluarga besar itu.

Di sepanjang perjalanan, Sin Hong dan Hong Li kembali minta kepada Sian Li dan Yo Han untuk menceritakan lagi dengan terperinci semua pengalamannya. Bahkan Yo Han juga terpaksa menceritakan semua pengalamannya secara lengkap, yang didengarkan pula oleh Sian Li karena kepada gadis itu, sebelumnya Yo Han hanya menceritakan garis besarnya saja…..

********************

Ada rasa khawatir di dalam hati Tan Sin Hong dan Kao Hong Li ketika mereka melihat sikap yang diperlihatkan Sian Li terhadap Yo Han di sepanjang perjalanan menuju pulang itu. Mereka melihat betapa mesra dan manisnya sikap Sian Li kepada Yo Han.

Memang mereka mengetahui bahwa sejak kecil, Sian Li amat sayang kepada Yo Han yang juga menyayangnya. Akan tetapi, dahulu rasa sayang mereka adalah seperti rasa sayang antara kakak dan adik, dan hal itu pun tidak aneh karena sejak Sian Li masih bayi, Yo Han yang mengasuhnya dan menjadi teman bermain. Tetapi ketika itu mereka masih kecil dan sekarang mereka bukan kanak-kanak lagi.

Yo Han sudah menjadi seorang laki-laki yang dewasa, sedangkan Sian Li telah berusia tujuh belas tahun, seperti setangkai bunga yang mulai berkembang dan mekar menjadi dewasa. Kemesraan yang diperlihatkan Sian Li terhadap Yo Han membuat suami isteri itu khawatir, apa lagi melihat betapa sinar mata Sian Li demikian penuh rasa kagum ketika memandang Yo Han.

Dan Yo Han telah merupakan seorang laki-laki yang tampan, gagah dan halus budi, sifat yang mudah sekali menjatuhkan hati setiap orang gadis. Mereka berdua dilanda kekhawatiran yang sama seperti dulu ketika Sian Li masih kecil. Khawatir kalau Sian Li terpengaruh! Walau pun yang mereka khawatirkan itu berbeda.

Dahulu mereka khawatir kalau Sian Li ketularan watak Yo Han yang tidak suka belajar ilmu silat sehingga Sian Li juga akan malas belajar silat dan menjadi seorang gadis yang lemah. Sekarang mereka khawatir kalau puteri mereka itu akan jatuh cinta kepada Yo Han, cinta seorang wanita terhadap seorang pria!

Setiap kali mendapat kesempatan berbicara berdua, yaitu pada waktu malam di dalam sebuah kamar rumah penginapan di mana mereka berdua berada, mereka berbisik-bisik membicarakan puteri mereka dan Yo Han, dan keduanya memang sudah sepakat dan satu hati.

“Tidak dapat disangkal bahwa Yo Han memang sudah menjadi seorang pemuda yang ganteng, tampan dan halus budi. Kalau dilihat dari keadaan lahiriahnya, memang tidak akan mengecewakan andai kata dia menjadi suami anak kita,” kata Hong Li.

“Engkau benar. Dan meski pun aku sendiri belum membuktikan, akan tetapi dari cerita Sian Li, aku percaya bahwa Yo Han memang sudah mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi. Memang jika dilihat keadaan wajahnya, tubuhnya, kepandaiannya, kita tidak akan malu mempunyai seorang mantu seperti dia.”

Isterinya mengangguk. “Memang sungguh sayang sekali. Sayang bahwa ibunya adalah Bi Kwi. Masih ngeri hatiku kalau mengenang kembali kejahatan yang pernah dilakukan ibunya. Seorang iblis betina yang kejam dan amat jahat, walau pun pada waktu-waktu terakhir dia telah menyadari kesalahannya dan bertobat. Siapa tahu, sifatnya yang jahat itu akan diwarisi oleh puteranya.”

Sin Hong menghela napas panjang. “Aku pun merasa berat sekali untuk berpikir seperti itu, akan tetapi apa boleh buat, demi kebahagiaan anak tunggal kita. Tidak mungkin kita membiarkan anak kita kelak hidup menderita bila suaminya berubah wataknya menjadi jahat. Kita tidak dapat yakin bahwa Yo Han tidak mewarisi watak jahat ibunya. Memang nampaknya selama ini dia mirip dengan watak mendiang Yo Jin, ayahnya yang walau pun petani sederhana dan tidak pandai silat namun berjiwa gagah. Kita tidak mungkin mempertahankan nasib Sian Li secara untung-untungan.”

Hong Li termenung dan nampak khawatir sekali. “Akan tetapi aku melihat sinar mata Sian Li kalau memandang kepadanya. Ah, aku khawatir kalau anak kita telah jatuh cinta kepada Yo Han…”

“Aaahh, kalau pun demikian, cintanya itu hanyalah cinta monyet. Sian Li belum dewasa benar, usianya baru tujuh belas tahun, cintanya akan mudah goyah dan berubah. Justru karena itu maka mereka harus cepat dipisahkan, kalau dibiarkan mereka bergaul lebih dekat dan akrab, bukan tidak mungkin mereka akan saling jatuh cinta.”

Hong Li menghela napas panjang. “Sebetulnya aku merasa malu dan tidak enak sekali. Yo Han demikian baik, akan tetapi klta… ahhh, dulu kita juga ingin memisahkan mereka, sekarang pun kita masih tidak menghendaki mereka bergaul dekat. Kalau dipandang sepintas saja, kita yang keterlaluan. Akan tetapi, demi kebahagiaan anak kita…”

“Ya, demi kebahagiaan anak kita. Akan tetapi kita harus mencari cara agar tidak kentara, dan terutama sekali agar Yo Han tidak sampai tersinggung.”

“Itulah yang merisaukan hatiku. Alasan apa pula yang dapat kita pergunakan sekarang? Dahulu, kebetulan muncul Ang-I Moli yang mengajak Yo Han pergi sebagai pengganti Sian Li. Akan tetapi sekarang? Bagaimana mungkin kita mengusir dia begitu saja?”

“Memang tidak boleh kita mengusirnya begitu saja. Dulu aku telah berjanji kepada ayah ibunya untuk merawat dan mendidik Yo Han, dan andai kata tidak ada permasalahan dengan Sian Li, janji itu sudah pasti akan kupegang teguh!”

“Lalu bagaimana kita harus bertindak supaya pengusiran itu tidak menyinggung hatinya, akan tetapi berhasil baik?”

“Aku ada akal. Ingatkah engkau akan cerita Sian Li tentang puteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw? Nah, hilangnya anak itu dapat kita pergunakan untuk membujuk Yo Han! Ibu anak itu, siapa namanya… oh ya, Sim Hui Eng, ibunya Can Bi Lan adalah sumoi dari Bi Kwi, ibu Yo Han. Aku tahu benar betapa erat dan baiknya hubungan antara suci dan sumoi itu, seperti dua saudara kandung saja. Nah, kita ingatkan kepada Yo Han bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk membela keluarga Can Bi Lan yang dahulu berjuluk Siauw Kwi itu, sebagai pengganti ibunya. Melihat hubungan yang amat baik antara ibunya dan Can Bi Lan, maka dia seperti keluarga sendiri saja dan sudah sepatutnya jika ia menggunakan kepandaiannya untuk berusaha mencari sampai dapat Sim Hui Eng yang kini hilang itu, atau setidaknya, memperoleh keterangan bagaimana jadinya dengan anak yang hilang itu.”

Kao Hong Li mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut. “Memang itu boleh kita jadikan pendorong agar dia pergi. Akan tetapi rasanya masih kurang kuat. Bagaimana kalau aku memberi tahu kepadanya, tentu saja dengan lembut dan hati-hati, bahwa sekarang dia sudah dewasa, sudah sepantasnya kalau berdiri sendiri dan bahwa kini Sian Li sudah mulai besar dan dewasa sehingga tidak pantaslah kalau dia serumah dengan Sian Li? Juga dapat kusindirkan dengan halus kepadanya bahwa kita sudah menerima usul dan sedang menjajaki dan mempertimbangkan ikatan jodoh antara anak kita dengan seorang pangeran…”

Tan Sin Hong menatap tajam wajah isterinya. “Pangeran…?”

Kao Hong Li tersenyum. “Lupakah engkau akan Pangeran Cia Sun? Dulu kita pernah berjumpa dengan dia dan aku tidak dapat melupakan betapa engkau kagum kepadanya, dan pernah melontarkan harapan agar anak kita dapat menjadi jodohnya?”

“Ihh, engkau melamun dari mengkhayal, terlalu jauh dan tinggi! Bagaimana mungkin kita mendapat mantu seorang pangeran seperti dia?” Tan Sin Hong tersenyum, akan tetapi matanya bersinar-sinar penuh harapan.

Pangeran Cia Sun memang bukan putera mahkota, bukan seorang pangeran yang nanti ada harapan untuk menjadi Kaisar. Walau pun demikian, dia adalah seorang pangeran yang tentu saja hidup mulia dan berkecukupan, juga lowongan jabatan dan kedudukan tinggi terbuka lebar untuk seorang pangeran.

Apa lagi Pangeran Cia Sun masih muda, terpelajar tinggi, dan pandai ilmu silat, bahkan pernah minta petunjuk kepada mereka tentang ilmu silat. Meski pun masih belum dapat dinamakan murid mereka karena hanya menerima petunjuk dan baru dilatih selama beberapa bulan saja ketika suami isteri itu pergi ke kota raja, namun mereka mengenal pangeran itu sebagai seorang pemuda yang baik, berbakat dan pantas menjadi mantu mereka.

Yang membuat mereka mengharapkan terjadinya hal ini adalah pernah ayah pangeran muda itu, yaitu Pangeran Cia Yan, secara berkelakar mengatakan bahwa ia akan amat senang jika dapat berbesan dengan Pendekar Bangau Putih, ketika mendengar bahwa pendekar itu mempunyai seorang puteri yang kini sedang memperdalam ilmu silatnya di rumah paman kakeknya.

Pangeran Cia Sun memang hanya seorang cucu dari Kaisar Kian Liong, namun karena dia pangeran, tentu saja dalam pandangan suami isteri itu, dia lebih segala-galanya dari pada pemuda lain.

Akhirnya mereka tiba di kota Ta-tung dan Sian Li merasa gembira sekali tiba kembali di rumah orang tuanya yang telah ia tinggalkan selama lebih dari lima tahun…..

********************

Sin Hong dan Hong Li mempergunakan kesempatan selagi puteri mereka, Sian Li pergi berbelanja untuk keperluan menyambut hari sin-cia yang akan tiba sepekan lagi, untuk mengajak Yo Han berbicara. Mereka memanggil Yo Han untuk bicara di ruangan depan. Hal ini mereka maksudkan supaya kalau Sian Li pulang, mereka dapat melihatnya dan puteri mereka itu tidak sempat ikut mendengarkan percakapan mereka.

Sin Hong memulai percakapan itu dengan suara yang serius tapi juga ramah. “Yo Han, sudah beberapa hari ini engkau berada di sini, dan setelah engkau beristirahat, barulah hari ini aku ingin membicarakan suatu hal yang sejak kami bertemu kembali denganmu dan mendengar cerita Sian Li selalu menjadi ganjalan di hati kami.”

Yo Han memandang Sin Hong dengan sepasang matanya yang tajam seperti hendak menembus dan menjenguk hati orang yang dianggapnya sebagai guru pertama, bahkan sebagai pengganti ayahnya itu. “Suhu, katakanlah apa yang menjadi ganjalan hati Suhu dan Subo, mudah-mudahan teecu dapat membantu melegakan hati Suhu dan Subo.”

“Memang hanya engkau yang bisa melegakan hati kami, Yo Han. Ganjalan di hati kami itu adalah saat kami mendengar tentang hilangnya Sim Hui Eng, puteri bibi gurumu Can Bi Lan. Kami merasa kasihan sekali kepada Pendekar Suling Naga dan isterinya. Putera mereka meninggal dunia ketika masih kecil, kemudian puteri mereka yang menjadi satu-satunya anak yang ada, semenjak berusia tiga tahun sudah diculik orang. Kami dapat membayangkan betapa sengsara hidup mereka dan pantaslah mereka itu seperti hidup mengasingkan diri, tidak pernah menghubungi keluarga dan para handai taulan. Apakah engkau tidak merasa kasihan, Yo Han?”

“Yo Han, tahukah engkau betapa akrab dulu hubungan antara mendiang ibumu dengan sumoi-nya, yaitu Can Bi Lan?” Hong Li ikut bicara.

Yo Han mengangguk. “Tentu saja teecu juga merasa kasihan sekali mendengarkan nasib mereka yang kehilangan anak tunggal. Dan teecu masih ingat bahwa mendiang Ibu amat sayang kepada Bibi Can Bi Lan.”

“Syukurlah kalau engkau masih ingat,” kata Sin Hong. “Nah, sekarang tentang ganjalan di hati kami itu, Yo Han. Ayah dan ibumu dahulu menitipkan engkau kepadaku, dan aku akan merasa berdosa sekali kalau tidak menganjurkan supaya engkau sekarang pergi mencari Sim Hui Eng sampai dapat! Siapa lagi kalau bukan engkau yang membantu bibimu Can Bi Lan itu menemukan kembali puterinya? Dan aku yakin bahwa arwah ibumu akan bersyukur dan berterima kasih sekali kalau engkau dapat melakukan hal itu kepada bibimu Bi Lan. Mereka akan merasa berbahagia sekali, dan kami berdua juga akan merasa bangga. Setidaknya, bukan hal yang sia-sia saja Ibumu dahulu menitipkan engkau kepadaku.”

Yo Han mengangguk-angguk mengerti, walau pun diam-diam dia mengeluh karena ke mana dan bagaimana dia akan mungkin dapat menemukan anak yang sudah dua puluh tahun menghilang itu? Dia ingat bahwa anak perempuan itu mempunyai ciri-ciri yang khas di pundak dan telapak kakinya, namun alangkah akan sukarnya mencari seorang gadis yang mempunyai ciri-ciri di tempat yang tertutup dan tersembunyi itu!

“Ada sebuah hal lagi yang ingin kusampaikan kepadamu, Yo Han. Bagaimana pun juga, kami berdua sudah menganggap engkau seperti keluarga sendiri, karena dahulu oleh orang tuamu engkau diserahkan dan dititipkan kepada suamiku. Nah, sekarang usiamu sudah dewasa, kalau tidak salah, usiamu sudah dua puluh lima tahun. Karena itu, kami ingin melihat engkau berumah tangga. Kalau kami berhasil merayakan pernikahanmu, barulah suamiku akan merasa puas dan lega, menganggap bahwa tugasnya merawat dan mendidikmu baru sempurna. Selain itu, karena engkau sudah kami anggap seperti anak sendiri, tidak baiklah kalau sampai adikmu Sian Li menikah lebih dahulu…,” kata Hong Li seperti sambil lalu saja.

Yo Han memandang kepada suami isteri itu dengan wajah yang berubah kemerahan. Anjuran kepadanya untuk segera menikah dianggapnya wajar saja, akan tetapi yang mengejutkan hatinya adalah berita tentang Sian Li dan pernikahan!

“Tapi… Li-moi… kalau tidak salah baru berusia tujuh belas tahun…” katanya hanya untuk mengucapkan sesuatu agar tidak diam dan bengong saja.

“Sudah mulai dewasa, dan bukan kanak-kanak lagi. Bahkan kami pernah menerima usul perjodohannya dengan seorang pangeran… ahhh, hal itu belum resmi, tidak perlu kami beri tahukan sekarang,” kata Hong Li.

Yo Han merasa betapa dadanya bagaikan ditekan sesuatu yang berat. Sian Li sudah dipilihkan calon suami? Seorang pangeran? Wah…! Entah kenapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi berita ini sama sekali tidak mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya, bahkan membuat dia merasa tidak tenang.

“Nah, kami harap engkau segera bersiap-siap untuk mulai dengan tugasmu itu, Yo Han, dan tidak mengecewakan kami. Kalau hal ini ditunda lebih lama lagi, kami khawatir akan terlambat. Dan ketahuilah bahwa andai kata engkau dapat menemukan puteri bibimu Can Bi Lan itu, selain hal itu akan amat membanggakan hati kami, juga kalau gadis itu memang baik dan pantas, kami akan merasa berbahagia sekali untuk berbesan dengan Pendekar Suling Naga.”

“Maksud Suhu…?”

“Akan baik sekali kalau engkau dapat menemukan kembali puteri mereka dan kemudian engkau menikah dengannya.”

“Ahh, Suhu…!” Yo Han tersipu.

Betapa muluknya jalan pikiran gurunya ini. Mencari saja belum tentu bisa dapat, sudah hendak menjodohkannya. Ayah bunda gadis itu sendiri yang merupakan suami isteri yang sakti, selama dua puluh tahun mencari anak mereka tanpa hasil. Apa lagi dia yang sekarang baru hendak mulai.

“Sudahlah, hal itu kita bicarakan kelak saja. Akan tetapi, sanggupkah engkau memenuhi permintaan suhu- mu untuk mencari Sim Hui Eng sampai dapat?” tanya Hong Li.

“Teecu akan berusaha sekuat tenaga.”

“Jadi engkau sanggup?” Sin Hong mendesak. “Teecu sanggup, Suhu.”
“Bagus! Engkau membuat lega hati kami, Yo Han. Andai kata kelak tidak berhasil sekali pun, namun engkau sudah berusaha sekuat tenaga dan itu saja sudah melegakan hati kami terhadap arwah orang tuamu.”

“Nah, lebih baik engkau membuat persiapan. Semakin cepat dimulai pencarian itu akan semakin baik, Yo Han,” kata Hong Li.

Yo Han mengangguk lalu mengundurkan diri, masuk ke kamarnya membuat persiapan. Dia tidak boleh bersikap lemah. Meski pun hari sin-cia kurang sepekan lagi, akan tetapi rasanya amat cengeng kalau dia harus menunda tugasnya itu sampai lewat hari sin-cia. Seperti anak kecil saja, padahal tugas itu penting sekali.

Akan tetapi dia harus meninggalkan Sian Li! Hal inilah yang membuat dia termenung sedih. Rasanya sangat berat untuk berpisah lagi dari gadis itu setelah berpisah selama tiga belas tahun dan kini saling jumpa dan berkumpul kembali. Dia tahu bahwa gadis itu pun tentu akan merasa bersedih kalau dia tinggalkan lagi.

Selagi dia sedang mengumpulkan pakaian untuk dijadikan sebuah buntalan, daun pintu kamarnya diketuk orang. Dia membuka daun pintu itu, berharap Sian Li yang datang walau pun gadis itu tak pernah mengetuk pintunya melainkan langsung masuk saja bila hendak bicara. Akan tetapi ternyata yang datang berkunjung adalah Kao Hong Li!

“Subo…,” kata Yo Han dengan sikap hormat.

“Yo Han, ada satu hal penting yang tadi kami lupa untuk memesan kepadamu.” “Hal apakah itu, Subo?”
“Engkau tahu, Sian Li kadang-kadang suka kekanak-kanakan. Ia lupa bahwa ia bukan kanak-kanak lagi, melainkan sudah menjadi seorang gadis dewasa. Karena itu, mungkin sekali kalau engkau memberi tahu kepadanya bahwa engkau akan pergi mencari Sim Hui Eng, ia akan rewel dan ingin ikut. Kalau ia rewel seperti itu, kuharap engkau suka dan dapat membujuknya agar dia tidak ikut pergi. Engkau tentu cukup maklum bahwa tidak mungkin kami membolehkan ia pergi lagi meninggalkan kami, apa lagi sekarang ia sudah dewasa. Bagaimana kalau sampai calon suaminya mendengar bahwa dia pergi merantau berdua saja dengan seorang pemuda, walau pun pemuda itu adalah engkau, yang dapat dibilang sebagai kakak angkatnya? Engkau maklum, bukan?”

Yo Han merasa betapa hatinya pedih mendengar ini, akan tetapi tentu saja dia dapat memaklumi apa yang dimaksudkan oleh subo-nya itu. “Baik, Subo. Kalau sampai Li-moi hendak ikut, tentu akan teecu bujuk ia agar tidak melakukan hal itu.”

Akan tetapi, pelaksanaan selalu lebih sulit dari pada rencana. Sore hari itu, pada waktu mereka berdua bicara dalam taman bunga di belakang rumah, Yo Han berpamit dari Sian Li bahwa sore hari itu juga dia akan pergi meninggalkan rumah itu.

Sian Li terbelalak menatap wajah Yo Han. “Pergi? Engkau hendak pergi, Han-ko? Pergi ke mana dan mengapa?” Sian Li menghampiri Yo Han dan memegang kedua tangan pemuda itu. Ia memang selalu bersikap akrab, bahkan manja kepada pemuda itu.

“Li-moi, ingatkah engkau akan Sim Hui Eng?”

Sian Li membelalakkan mata. “Sim Hui Eng? Siapa yang kau maksudkan? Ahhh, she Sim! Ingat aku sekarang, bukankah ia puteri Paman Sim Houw yang hilang dua puluh tahun yang lalu itu?” Kini matanya memandang tajam penuh selidik. “Mengapa engkau tiba-tiba menyebut namanya, Han-ko?”

“Nah, aku harus pergi karena aku berkewajiban membantu Bibi Can Bi Lan menemukan kembali puterinya. Mendiang Ibuku sangat akrab dan sayang kepada Bibi Bi Lan, maka arwah Ibuku akan senang sekali kalau aku membantu Bibi Bi Lan untuk menemukan kembali puterinya yang hilang itu.”

Sian Li menatap wajah pemuda itu dan mukanya agak berubah. “Han-ko, baru saja kita berkumpul kembali dan kini engkau akan meninggalkan aku lagi? Sampai berapa lama Han-ko?”

“Entahlah, Li-moi. Engkau pun tahu bahwa aku juga ingin selalu berada di sampingmu. Akan tetapi tugas ini penting sekali. Pula, tidak ada perjumpaan tanpa diakhiri dengan perpisahan, Li-moi. Engkau tentu tidak ingin melihat aku menjadi seorang yang tidak mengenal budi dan tidak mau mewakili mendiang Ibu untuk menolong Bibi Bi Lan.”

Sian Li merasa kepalanya nanar. Berita kepergian Yo Han demikian tiba-tiba datangnya. Baru saja dia bergembira, berbelanja untuk keperluan sin-cia dan sin-cia kali ini terasa amat istimewa baginya karena di situ terdapat Yo Han yang akan merayakan sin-cia bersamanya. Dan kini, mendadak Yo Han menyatakan hendak pergi meninggalkannya, entah untuk berapa lama!

“Han-ko, kapan engkau akan berangkat?” Sian Li bertanya, suaranya mulai terdengar sumbang.

“Sekarang juga, Li-moi. Aku sudah berkemas dan siap berangkat, tadi hanya menanti engkau untuk berpamit saja.”

Sian Li terbelalak dan tiba-tiba dia merangkulkan kedua lengannya pada leher pemuda itu. “Han-ko, aku ikut engkau pergi!” katanya mantap dan bersungguh-sungguh.

Yo Han terkejut, tetapi juga merasa betapa hatinya berdebar penuh perasaan bahagia, girang dan terharu. Dia memejamkan kedua matanya ketika merasa betapa lingkaran kedua lengan gadis itu amat ketat, dan dia menguatkan hatinya agar jangan menuruti kehendak batinnya yang ingin membalas, ingin mendekap kepala yang disayangnya itu ke dadanya.

“Li-moi, janganlah begitu. Tidak mungkin engkau ikut bersamaku. Perjalanan ini tidak menentu kapan berakhirnya. Engkau tak boleh meninggalkan ayah ibumu. Biarkan aku pergi, Li-moi.”

“Tidak… tidak… aku tak mau kau tinggalkan, aku tak mau berpisah lagi darimu, Han-ko!” Sian Li berkata, kini gadis itu menangis di atas dada Yo Han dan rangkulannya semakin kuat. Yo Han menjadi bingung, apa lagi pada saat itu muncul Sin Hong dan Hong Li!

“Yo Han, apa yang kau lakukan ini?!” terdengar Tan Sin Hong membentak marah.

“Suhu, Subo… maafkan teecu…,” berkata Yo Han tanpa berdaya karena Sian Li masih merangkulnya. “Yo Han, sungguh tidak pantas kelakuanmu ini. Sian Li, lepaskan dia!” Hong Li juga berseru marah.
Sian Li tidak melepaskan rangkulannya, akan tetapi ia mengangkat mukanya dari dada Yo Han dan menoleh kepada orang tuanya.

“Ayah, Ibu, Han-ko tidak bersalah apa-apa. Aku… aku ingin ikut dengannya, aku tidak mau ditinggalkannya lagi…”

Yo Han menguatkan hatinya, melepaskan rangkulan Sian Li dengan lembut. Dia harus mengambil keputusan yang tepat. Tidak boleh ia menyenangkan hatinya sendiri dengan mengorbankan perasaan Sin Hong dan Hong Li, dua orang yang dihormatinya itu.

“Li-moi, lepaskanlah. Aku tak mau mengajak engkau pergi. Engkau hanya akan menjadi beban saja, dan aku mempunyai tugas penting.”

“Han-ko…!” Sian Li berseru dan dengan mata basah oleh air mata memandang kepada Yo Han seperti orang yang tidak percaya. “Engkau… engkau…?”

Yo Han menunduk sambil menghela napas pandang. “Sudahlah, Li-moi, engkau tidak boleh membikin marah ayah ibumu. Suhu dan Subo, teecu berangkat sekarang. Li-moi, jaga baik-baik dirimu!” Pemuda itu lalu melangkah lebar memasuki rumah, mengambil buntalannya dan akan segera pergi.

“Han-koko…!”

Sian Li hendak mengejar, akan tetapi ibunya sudah memegang lengannya. “Sian Li, sungguh memalukan sekali sikapmu ini!”
Akan tetapi Sian Li meronta, melepaskan pegangan ibunya dan berlari ke dalam rumah mengejar Yo Han. Ayah ibunya saling pandang, menggeleng kepala, kemudian berlari mengikuti. Akan tetapi setelah tiba di kamar Yo Han, Sian Li tidak melihat lagi pemuda itu.

Yo Han telah pergi dengan cepat sekali. Sian Li mencari ke sana sini dan memanggil-manggil, namun percuma, yang dipanggilnya sudah pergi tanpa meninggalkan bekas.

“Han-ko…! Han-koko…!” Ia berteriak-teriak dan hampir bertubrukan dengan ayah ibunya di ruangan tengah. “Sian Li!” bentak Sin Hong marah.

“Sian Li, kelakuanmu ini sungguh tidak patut,” ibunya juga mengomeli anaknya. “Yo Han telah pergi, ia pergi melaksanakan tugas. Engkau bukan anak kecil lagi yang begitu saja hendak ikut pergi. Engkau sudah dewasa, seorang gadis dewasa. Bagaimana mungkin seorang gadis pergi begitu saja, berdua dengan seorang pemuda? Memalukan!”

Sian Li memandang ayah dan ibunya, wajahnya pucat dan basah air mata. “Ayah dan Ibu yang melakukan semua ini! Ayah dan Ibu yang mengusahakan supaya dia pergi meninggalkan aku. Dahulu, Ayah Ibu pula yang memisahkan kami, sekarang ayah dan Ibu pula yang mengulangi hal itu. Aku ingin dekat Han-ko! Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu? Aku cinta kepada Han-ko. Aku cinta padanya…!” Sian Li menjatuhkan diri di atas bangku dan menangis.

Sin Hong dan Hong Li saling pandang, kemudian menggeleng-geleng kepala. Hong Li mendekati anaknya, merangkulnya. Sian Li menoleh, lalu merangkul ibunya.

“Ibu…!” Dan ia menangis tersedu-sedudi dada ibunya.

“Sian Li, kami juga mencinta Yo Han. Akan tetapi engkau dan Yo Han sudah seperti saudara sendiri. Dia cinta padamu sebagai seorang kakak, dan engkau masih terlalu kecil untuk mencinta sebagai seorang wanita. Ingatlah, kita semua akan ternoda aib bila sebagai seorang gadis baik-baik, engkau pergi merantau bersama seorang pemuda. Tugasnya berat. Dia harus membantu bibinya mencari puteri mereka yang hilang. Kita sendiri pun harus membantu pamanmu Sim Houw. Kita bertiga juga akan pergi mencari keterangan. Kita akan pergi ke kota raja, siapa tahu kita akan dapat menemukan Sim Hui Eng.”

Dihibur ayah ibunya dan dijanjikan akan diajak pergi membantu pencarian Sim Hui Eng, Sian Li menghentikan tangisnya.

“Sian Li, ingatlah bahwa sebetulnya tidak tepat sama sekali jika engkau memperlihatkan kecengengan seperti ini.” Sin Hong berkata, “Engkau bukanlah seorang anak kecil lagi. Engkau seorang gadis hampir dewasa dan usiamu sudah tujuh belas tahun. Lebih dari pada itu, engkau telah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Bahkan engkau sudah pantas dijuluki Si Bangau Merah sebagai imbangan ayahmu yang dijuluki orang sebagai Pendekar Bangau Putih. Karena itu engkau harus memperdalam ilmu silat keluarga kita, yaitu Pek-ho Sin-kun. Dan untuk menyesuaikan kesukaanmu akan warna merah dan julukanmu Si Bangau Merah, aku akan mengubah sedikit dalam Pek-ho Sin-kun supaya lebih tepat dinamakan Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah), khusus untukmu.”

Akhirnya Sian Li dapat melupakan kesedihannya. Apa lagi karena dia mengharapkan bahwa kelak dia akan dapat bertemu kembali dengan Yo Han. Mungkin dalam pesta perayaan dan pertemuan besar yang diadakan oleh Kakek Suma Ceng Liong, atau jika Yo Han tak muncul di sana, tentu pemuda itu akan muncul setelah berhasil menemukan Sim Hui Eng.

Juga janji ayah ibunya untuk mengajak dia membantu pencarian Sim Hui Eng, dimulai di kota raja, mendatangkan kegembiraan di hatinya yang pada dasarnya memang lincah gembira, tidak dapat menyimpan kesedihan terlalu lama…..

>>>>> T A M A T <<<<<

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo