October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 22

 

Dia merasa seakan-akan dia sudah mendapatkan kebahagiaan hidup yang selama ini didambakan dan diimpikannya. Dia percaya bahwa tiga orang wanita kakak beradik itu amat mencintanya dan memanjakannya hingga dia dengan amat mudahnya melupakan Sian Li, gadis yang biar pun pernah membuatnya tergila-gila namun yang tak terjangkau olehnya itu!

Hanya dalam waktu satu malam, Sian Lun sudah berubah sama sekali. Dia kini telah menyerah, dan di dalam pelukan tiga orang wanita itu dia bersumpah untuk bekerja sama dengan mereka, mentaati semua keinginan tiga orang wanita yang dianggapnya amat mencintanya dan yang dapat membuat dia seperti terbuai dalam kemesraan dan kenikmatan yang tanpa batas.

Dalam keadaan seperti inilah, Pangeran Gulam Sing datang mendekati dan menjanjikan kedudukan tinggi, pangkat yang besar di Nepal kalau perjuangannya kelak berhasil! Dan Sian Lun menganggap ini sebagai suatu cita-cita yang teramat besar dan mulia.

Demikianlah, ketika dia dalam keadaan terpengaruh sihir, dan diperintah oleh Pek-lian Sam-li untuk berpura-pura menjadi tawanan dan agar dia menawan sumoi-nya sendiri, dia lalu melakukannya dengan suka rela dan senang hati. Dia ingin membuat jasa untuk menyenangkan hati Pek-lian Sam-li dan juga para pimpinan Hek-I Lama dan Pangeran Gulam Sing.

Sian Li tentu saja merasa terkejut bukan main, juga merasa heran ketika secara tiba-tiba suheng-nya menotoknya. Karena sama sekali tak menyangka bahwa suheng-nya yang hendak ditolongnya itu malah menotoknya, gadis itu dapat dirobohkan dengan mudah. Sian Li hanya dapat merasa heran dan penasaran sekali ketika tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya itu dipondong dan dilarikan Sian Lun.

Makin besar keheranan Sian Li pada saat dia dibawa oleh suheng-nya ke sarang Hek-I Lama! Dalam perjalanan tadi, saat suheng-nya melarikannya, ia masih diam saja karena mengira bahwa suheng-nya tentu bermaksud akan menyelamatkannya, mengira bahwa suheng-nya akan melarikannya ke tempat yang aman. Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika dia melihat Sian Lun membawanya masuk ke pintu gerbang sarang perkumpulan pendeta Lama jubah hitam itu!

“Suheng, apa yang kau lakukan ini?” tanyanya dengan suara lemah karena totokan itu selain melumpuhkan kaki tangannya, juga membuatnya lemah tanpa tenaga sehingga untuk mengeluarkan suara pun tidak dapat keras.

“Kau diam sajalah, Sumoi. Semua ini kulakukan demi kebaikan kita,” jawab Sian Lun.

Anehnya, ketika melihat Sian Lun masuk memondong tubuh gadis yang lemas itu, para pendeta Lama yang berada di situ hanya menonton saja, bahkan ada di antara mereka yang tersenyum atau menyeringai. Dan agaknya Sian Lun sudah hafal akan tempat di situ. Dia langsung saja membawa sumoi-nya ke sebuah kamar dan merebahkan tubuh gadis itu ke atas sebuah pembaringan dalam kamar itu.

Sian Li membelalakkan mata ketika melihat suheng-nya mengambil sehelai tali sutera dan mulai mengikat pergelangan kaki dan kedua tangannya.

“Suheng, apa yang kau lakukan ini?” kembali ia bertanya.

Kini suaranya mulai menguat, tanda bahwa pengaruh totokan itu mulai mengendur, juga ia mulai dapat menggerakkan kaki tangan walau pun masih lemah. Namun, ikatan tali sutera itu kuat bukan main dan ia pun tidak mampu melepaskan diri.

Sian Lun tidak menjawab, melainkan melanjutkan pekerjaannya. Setelah dia merasa yakin bahwa ikatan kaki tangan sumoi-nya itu kuat, barulah dia berkata, suaranya datar saja, seperti tanpa perasaan. “Sumoi, terpaksa aku mengikat kaki tanganmu agar kalau sudah pulih dari totokan, engkau tidak melakukan kebodohan dan memberontak.”

“Suheng, lepaskan aku! Sudah gilakah engkau? Apa artinya semua ini, Suheng?”

Pemuda itu menundukkan muka, dia tidak berani menentang pandang mata sumoi-nya secara langsung! Bagaimana pun juga, masih tertinggal kesan lama, dan dia merasa canggung dan salah tingkah, walau pun di dalam hatinya dia membenarkan tindakannya ini.

“Sumoi, tiada pilihan lagi bagi kita. Kita harus membantu perjuangan mereka menentang penjajah Mancu. Tak percuma kita sejak kecil mempelajari ilmu silat kalau kita gunakan untuk membela negara dan bangsa.”

Sian Li membelalakkan matanya. Kini totokan itu sudah pulih, dan jalan darahnya telah normal kembali. Akan tetapi tentu saja ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya yang terbelenggu. Dia mencoba mengerahkan tenaga untuk membikin putus belenggu pergelangan kaki tangan itu, namun sia-sia.

Sian Lun maklum bagaimana harus membuat sumoi-nya tidak berdaya. Tali sutera itu lentur, tidak mudah dibikin putus. Andai kata belenggu itu terbuat dari rantai baja yang tidak terlalu kuat saja, mungkin Sian Li dapat mematahkannya. Akan tetapi tali sutera yang lentur? Tidak mungkin dibikin putus, kecuali dengan senjata tajam. Dan senjatanya juga sudah dilucuti suheng-nya.

Pada saat itu, terdengar langkah kaki dan masuklah tiga orang wanita yang bukan lain adalah Pek-lian Sam-li, yaitu tiga kakak beradik tokoh Pek-lian-kauw. Ji Kui yang hitam manis, yang paling tua, tersenyum dan menepuk pundak Sian Lun.

“Bagus, engkau telah berhasil baik, Sian Lun.”

“Tentu saja berhasil, kalau tidak, percuma dia menjadi kekasihku,” berkata pula Ji Hwa yang putih mulus, orang ke dua, dan dengan mesra dia lalu merangkul Sian Lun dan mencium pipi pemuda itu penuh gairah dan dengan sikap genit.

“Nih upah untuk kekasih yang gagah!” kata pula Ji Kim yang termuda, cantik jelita dan ia pun dengan sikap genit mencium Sian Lun pada bibirnya.

Sian Li terbelalak, akan tetapi gadis yang cerdik ini sekarang tahu atau dapat menduga apa yang kiranya telah terjadi. Suheng-nya telah jatuh ke tangan tiga orang wanita genit mesum ini. Suheng-nya yang selama ini sebagai murid paman kakeknya seperti seekor serigala berbulu domba, kini meninggalkan kulit domba dan nampaklah keasliannya! Ia pun memandang kepada Sian Lun dengan mata melotot.

“Jahanam busuk! Liem Sian Lun, kiranya kau hanyalah seorang murid murtad, seorang keparat berhati busuk yang selama ini berpura-pura menjadi pendekar! Phuih, muak aku melihat mukamu!” Dan Sian Li membuang muka, dia tidak sudi lagi memandang wajah suheng-nya yang merupakan pria pertama yang hampir menjatuhkan hatinya.

“Sian Lun, sudah jangan pedulikan bocah ingusan ini!” kata Ji Kui sambil menggandeng tangan Sian Lun. “Biarkan saja Pangeran Gulam Sing yang menjinakkannya.”

Tiga orang wanita itu terkekeh genit dan mereka bertiga menggandeng Sian Lun, diajak meninggalkan kamar. Ketika Sian Li melirik ke arah pintu, ternyata sekarang nampak beberapa orang bertubuh tinggi hitam, orang-orang Nepal, berjaga di luar pintu kamar.

Sian Li berusaha sekuatnya untuk melepaskan ikatan pada pergelangan tangan dan kakinya, namun hasilnya sia-sia belaka. Akhirnya, ia maklum bahwa usahanya itu hanya akan menghabiskan tenaga, maka ia pun diam saja, bahkan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan tenaga dan ia termenung.

Hal yang amat menyakitkan hatinya yaitu bila ia teringat kepada Sian Lun. Suheng-nya itu telah menyeleweng! Kalau paman kakeknya mendengar, tentu dia dan isterinya akan marah sekali. Akan tetapi bagaimana mereka akan dapat mendengar hal ini? Hanya ia seorang yang tahu dan dapat melaporkan, dan untuk itu ia harus dapat membebaskan diri. Akan tetapi bagaimana?

Sian Li tak merasa gentar, tidak merasa putus asa. Sebagai seorang gadis yang cerdik, ia pun tahu bahwa gerombolan itu tidak ingin membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu ia sudah sejak tadi dibunuh. Tidak, mereka tidak akan membunuhnya, dan yang jelas, mereka akan membujuknya agar ia suka membantu mereka, bekerja sama dan menjadi sekutu mereka. Seperti Sian Lun! Akan tetapi ia tidak sudi!

Hanya ada satu hal yang membuat hatinya terasa cemas dan ngeri juga, yaitu ucapan tiga orang wanita Pek-lian-kauw tadi bahwa ia akan diserahkan pada Pangeran Gulam Sing untuk dijinakkan! Bergidik juga ia kalau teringat pada pangeran Nepal itu. Memang seorang pria yang tinggi besar, brewok dan gagah, nampak jantan. Akan tetapi matanya sungguh menyeramkan, seperti mata seekor harimau kelaparan melihat domba!

Sian Li menghela napas panjang. Ia tidak perlu membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Membayangkan hal-hal mengerikan yang belum datang hanya akan menimbulkan rasa cemas saja. Ia masih memiliki kemampuan untuk membela diri, dan di sana masih ada Yo Han! Yo Han yang dibantu oleh Nyonya Gak dan juga Gak Ciang Hun.

Mereka bertiga adalah orang-orang sakti, tidak mungkin kalau sampai tertawan musuh. Bukankah Bibi Gak telah mengatur pelarian untuk mereka kalau bahaya mengancam? Pula, ia percaya sepenuhnya kepada Yo Han! Dobhin Lama sendiri yang demikian sakti masih tidak mampu menandinginya!

Sungguh mengherankan sekali kenyataan itu. Yo Han, yang dahulu tidak pernah mau belajat silat, yang membenci kekerasan, kini tiba-tiba saja muncul sebagai Sin-ciang Taihiap yang demikian saktinya.

Terdengar suara laki-laki di depan pintu sedang bicara dalam bahasa asing yang tidak dimengertinya, lalu beberapa orang Nepal itu meninggalkan pintu kamar. Jantungnya berdebar tegang. Apakah pangeran itu yang muncul?

Ketika orang itu berdiri di ambang pintu, ternyata bukan pangeran Nepal yang datang melainkan Cu Ki Bok, pemuda peranakan Han Tibet, murid Lulung Lama. Pemuda yang tinggi tegap dan tampan itu berdiri di situ memandang kepadanya. Sian Li yang sedang menghadap ke arah pintu juga memandang kepadanya dengan sinar mata yang penuh kemarahan dan kebencian.

Pemuda itu tersenyum, melirik ke kanan kiri lalu melangkah memasuki kemar dengan ringan dan cepat. Dia duduk di tepi pembaringan lalu berbisik.

“Nona, dengarkan baik-baik dan jangan membantah. Dengarlah, engkau telah tertawan dan aku akan melepaskan ikatan tangan kakimu. Akan tetapi, engkau harus bersikap damai, tidak memberontak karena percuma saja kalau engkau hendak melarikan diri. Di sini terjaga kuat dan kami berjumlah banyak. Engkau tidak akan diganggu, dan aku bertugas mengawasimu. Nah, kalau engkau berjanji tidak akan memberontak atau lari, aku akan melepaskan ikatanmu. Maukah engkau berjanji?”

Sian Li mengerutkan alisnya. Ia tahu akan benarnya ucapan pemuda itu, walau pun ia tidak dapat percaya sepenuhnya karena menduga bahwa sikap dan ucapan ini tentu sebuah tipu muslihat. Ia harus berhati-hati. Akan tetapi, tentu saja lebih baik kalau kaki tangannya tidak terikat. Setidaknya ia dapat leluasa dan dapat membela diri lebih baik kalau terancam bahaya.

Melihat keraguan gadis itu, Cu Ki Bok melanjutkan bisikannya. “Nona tentu mencurigai aku. Akan tetapi ingatlah, kalau Nona dalam keadaan terbelenggu, bagaimana engkau akan dapat membela diri kalau Pangeran Gulam Sing datang dan mengganggu dirimu? Pula, dalam keadaan terbelenggu ini, bagaimana mungkin engkau akan membebaskan diri? Berjanjilah bahwa engkau tidak akan memberontak atau melarikan diri, maka aku akan melepaskan ikatan tangan kakimu dan engkau akan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat.”

Sian Li mengangguk. “Aku berjanji, akan tetapi janjiku ini bukan berarti bahwa aku tidak akan membebaskan diri dan lari dari sini kalau ada kesempatan.”

Cu Ki Bok memandang kagum. Gadis ini terlalu gagah untuk berbohong, maka berjanji pun dengan terus terang karena tidak ingin melanggar janjinya sendiri. Bukan main!

“Tentu saja, Nona. Dan aku sendiri akan membantumu kalau kesempatan itu tiba. Untuk itu engkau harus memperlihatkan sikap lunak supaya para pimpinan percaya bahwa kau tidak akan memberontak dan lari.” Pemuda itu lalu melepaskan ikatan tali sutera dari kaki dan tangan gadis itu.

Sian Li bangkit duduk, mengurut-urut pergelangan tangan dan kaki untuk melancarkan jalan darah sambil mengamati wajah Cu Ki Bok dengan tajam dan penuh selidik. Karena merasa tidak enak bicara dengan pemuda itu selagi dia duduk di atas pembaringan, gadis itu lalu berpindah duduk di atas kursi yang terdapat di kamar itu.

“Cu Ki Bok, apa artinya ini? Katakan saja terus terang, mengapa engkau menolongku? Dengan pamrih apa? Kalau ini merupakan siasat busukmu, lebih baik aku mengamuk sekarang dan tewas di tangan kalian!”

“Sabar dan tenanglah, Nona. Percayalah, kali ini aku tidak bersiasat. Apa perlunya aku bersiasat dan membebaskanmu dari belenggu kalau tadi engkau sudah tidak berdaya?”

“Lalu, kenapa engkau membebaskan aku dari ikatan kaki tanganku?”

Tentu saja Cu Ki Bok tidak berani menyatakan secara terang bahwa sejak pertama kali berjumpa, dia sudah jatuh hati pada gadis muda perkasa ini. Tak mungkin dia mengaku cinta begitu saja, karena selain hal itu mentertawakan, juga sudah pasti gadis itu tidak akan percaya dan menganggap dia merayu atau bersiasat.

“Ada dua hal yang memaksa aku tak bisa membiarkan engkau tertawan dalam keadaan tersiksa dalam belenggu, Nona. Pertama, engkau seorang pendekar gagah perkasa, bukan penjahat, bahkan tenagamu dibutuhkan oleh rakyat untuk membebaskannya dari belenggu penjajahan. Kalau pun menjadi tawanan, engkau patut diperlakukan dengan hormat dan tidak dibelenggu seperti itu. Dan ke dua, terus terang saja aku merasa muak dan tidak suka melihat cara engkau ditawan oleh Liem Sian Lun.”

Bagaimana pun juga, hati Sian Li masih merasa curiga dan ia tetap waspada terhadap pemuda tampan murid Lulung Ma itu.

“Apa yang terjadi dengan Liem Sian Lun? Mengapa dia bersikap seperti itu, berpihak kepada kalian dan mengkhianatiku?”

Cu Ki Bok menghela napas panjang. “Ia bukan seorang jantan. Dia lemah dan bertekuk lutut terhadap rayuan Pek-lian Sam-li yang bekerja sama dengan Pangeran Gulam Sing. Berjuang menentang penjajah Mancu memang tugas seorang gagah dan boleh saja dia bergabung dengan kami untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu. Akan tetapi dia bukan orang gagah, dia menaluk karena terbujuk rayuan tiga orang wanita itu.”

“Hemmm, kau sendiri, orang baik-baikkah? Kenapa engkau menjadi antek para Lama dan juga bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan orang Nepal?”

“Aku murid Suhu Lulung Lama, tentu saja aku membantu Suhu. Kami memang pejuang, akan tetapi bukan penjahat. Kerja sama dengan Pek-lian-kauw dan orang Nepal hanya kerja sama di bidang menghadapi musuh, bukan untuk urusan lain. Aku amat tidak suka cara-cara pengecut dan curang.”

Sian Li mengamati wajah pemuda itu dengan tajam penuh selidik. Ada benarnya pula ucapan pemuda itu. Jujurkah dia dalam usahanya menolongnya? Memang benar juga bahwa tidak ada gunanya mempergunakan muslihat. Ia tadi sudah tidak berdaya. Andai kata ada muslihat di balik pertolongan pemuda ini tentulah hanya untuk menyenangkan hatinya supaya dia mau bekerja sama, membantu mereka dalam perjuangan melawan penjajah Mancu. Dan seperti juga Yo Han, ia tidak melihat sesuatu yang buruk dalam urusan membantu menentag pemerintah Mancu.

“Hemm, kalau begitu, sekarang aku menjadi tawanan, dan tidak boleh keluar dari tempat ini? Apakah aku boleh keluar dari kamar ini dan dengan bebas melihat-lihat keadaan di dalam sarang kalian ini?”

“Nona, akulah yang bertugas menjaga dan mengamatimu, dan aku sudah memberi tahu kepada semua anggota Hek-I Lama agar engkau dibiarkan tinggal di sini dengan bebas, asalkan engkau tidak membikin ribut, tidak pula berusaha melarikan diri. Akulah yang bertanggung jawab atas dirimu, maka kalau Nona melarikan diri, berarti membikin susah padaku. Aku telah berusaha menghindarkan dirimu dari keadaan yang tidak enak, maka kuharap engkau juga suka menjaga agar aku tidak sampai mendapat kesusahan karena engkau lari.”

Sian Li lantas mengangguk-angguk. “Baiklah, Cu Ki Bok. Akan tetapi aku ingin bertemu dengan Liem Sian Lun, jahanam itu. Aku harus membuat perhitungan dengan dia!” Sian Li mengepal tinju, marah sekali kalau teringat kepada suheng-nya itu.

Cu Ki Bok mengerutkan alisnya. “Nona Sian Li, jika kebetulan engkau bertemu dengan suheng-mu itu tentu saja…”

“Dia bukan suheng-ku lagi! Mungkin aku akan membunuh jahanam itu kalau bertemu dengan dia!”

“Nah, itulah yang kurisaukan. Kalau Nona bertemu dan bicara dengan dia, hal itu masih tidak mengapa. Akan tetapi kalau sampai Nona menyerangnya, padahal kini Sian Lun sudah menjadi sekutu kami, tentu semua orang akan membantunya dan Nona akan dipersalahkan. Oleh karena itu, mengingat bahwa urusan antara Nona dengan Sian Lun merupakan urusan pribadi, sebaiknya Nona bersabar hati dan menunggu sampai kelak setelah kalian berada di luar lingkungan kami, barulah Nona bisa membuat perhitungan. Jangan di sini, Nona.”

Sian Li mengangguk-angguk. Benar juga, pikirnya. Sian Lun kini telah menjadi sekutu mereka. Kalau dia menyerang Sian Lun, tentu mereka akan membantunya, bahkan pemuda di depannya ini tentu saja terpaksa harus berpihak kepada Sian Lun pula.

“Baiklah, aku tidak akan menyerangnya. Akan tetapi setidaknya ajaklah dia ke sini agar aku dapat bertanya sendiri kepadanya. Dengan begitu, hatiku baru akan puas dan yakin bahwa dia benar-benar telah menyeleweng.”

“Akan kuusahakan, Nona.”

Pemuda itu lalu mengajak Sian Li keluar dari kamarnya. Dan kini, dalam keadaan sadar dan tidak terbelenggu, gadis itu mendapat kesempatan mengamati keadaan di sarang Hek-I Lama itu.

Tempat itu merupakan perkampungan besar dan di tengah-tengah terdapat bangunan induk yang bentuknya seperti kuil. Bangunan induk itu besar sekali, sedangkan tempat di mana ia dikurung merupakan bangunan di sebelah kiri bangunan induk.

Di dalam perkampungan itu terdapat banyak rumah-rumah yang bentuknya sama, dan itulah tempat tinggal para anggota Hek-I Lama. Terdapat pula bangunan baru berupa pondok-pondok yang menjadi tempat tinggal para anggota pasukan Nepal, juga tempat para tamu dari pengemis tongkat hitam.

Setelah keluar dari rumah tempat ia di tahan, nampaklah oleh Sian Li betapa melarikan diri dari situ merupakan hal yang tidak mungkin. Banyak sekali anggota gerombolan itu berkeliaran, dan penjagaan juga diadakan dengan amat ketatnya. Baru rumah di mana ia dikurung itu saja dijaga oleh sedikitnya dua puluh orang! Tak mungkin ia dapat pergi tanpa diketahui dan sekali ketahuan, tentu ia akan dikeroyok puluhan, bahkan ratusan orang.

Cu Ki Bok berkata benar. Alangkah bodohnya bila ia berusaha melarikan diri. Sebaiknya bersabar menunggu kesempatan yang lebih baik. Selama tak diganggu, ia akan tinggal di situ, menanti kesempatan melarikan diri, atau menunggu sampai munculnya Yo Han karena dia merasa yakin bahwa Yo Han pasti tidak akan membiarkan saja dia menjadi tawanan gerombolan. Teringat akan Yo Han, Sian Li tersenyum. Bekas suheng-nya itu hebat bukan main!

“Kenapa Nona tersenyum?” tanya Cu Ki Bok. Ketika gadis itu memandang kepadanya, pemuda itu pun tersenyum. “Senang melihat Nona gembira,” sambungnya.

“Tempat ini indah sekali, dan penjagaannya sangat kuat. Engkau benar sekali, Ki Bok. Aku harus menunggu dengan sabar dan tidak akan mencoba kebodohan melarikan diri. Dan kalau engkau beritikad baik, jangan sebut Nona kepadaku. Namaku Sian Li.”

Wajah pemuda itu berseri. “Aku tahu bahwa engkau adalah gadis yang selain gagah perkasa dan cerdik, juga berhati mulia, Nona… ehh, Sian Li. Sungguh aku akan merasa bahagia sekali kalau akhirnya akan dapat menjauhkanmu dari bencana dan ancaman bahaya. Nah, sekarang engkau akan kutinggal. Akan tetapi sekali lagi kuperingatkan, jangan mencoba untuk membuat keributan. Nona… eh, kau akan selalu diawasi, Sian Li. Dan seperti yang kukatakan tadi, aku yang diserahi tugas menjagamu dan bertanggung jawab.”

Sian Li mengangguk tegas. “Baiklah, Ki Bok. Dan aku sudah berjanji, bukan? Aku tidak akan suka melanggar janjiku sendiri.”

Ki Bok tersenyum dan pergi meninggalkannya. Hemm, pemuda itu semakin tampan bila tersenyum, pikir Sian Li. Sayang pemuda sebaik itu berada di tengah orang-orang Hek-I Lama, tempat yang sungguh tidak sesuai dengan dirinya. Dan ia teringat betapa Ki Bok juga telah menguasai ilmu kepandaian silat yang tangguh.

Sian Li berjalan-jalan, dan kemana pun ia pergi di dalam kampung para pendeta Lama itu, ia tahu bahwa semua mata mengamatinya. Dia selalu dibayangi secara diam-diam.

Pada saat ia tiba di pintu gerbang, satu-satunya pintu gerbang di perkampungan itu, ia melihat betapa di situ terdapat puluhan orang penjaga! Dan perkampungan itu dikelilingi pagar tembok yang tinggi, bahkan di sudut-sudutnya terdapat menara di mana terdapat penjaga pula. Seperti benteng saja. Belum lagi perondaan yang dia lihat dilakukan oleh pasukan kecil Hek-I Lama.

Sukarlah untuk dapat melarikan diri dari perkampungan itu, dan agaknya lebih sukar lagi untuk menyusup masuk! Walau pun demikian, dia yakin bahwa Yo Han akan mampu menyerbu masuk dan menemukan dirinya.

Benar seperti dikatakan Ki Bok, kemana pun ia pergi, sampai ke pintu gerbang pun, tidak ada orang yang melarangnya, namun makin dekat dengan pintu gerbang, semakin banyak orang membayangi dan mengamatinya. Agaknya semua anggota Hek-I Lama sudah mendapat perintah untuk mengamatinya, akan tetapi tanpa mengganggunya.

Diam-diam dia bersyukur dan berterima kasih kepada Cu Ki Bok. Akan tetapi karena teringat betapa ia ditipu Sian Lun, bahkan lalu dibelenggu oleh bekas suheng-nya itu, ia amat membenci Sian Lun. Ia berusaha untuk menemui bekas suheng itu, sekarang ia tidak sudi lagi mengaku suheng kepadanya, namun usahanya sia-sia saja.

Ia sampai pula di pemondokan para orang Nepal, dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu lagi ketika melihat betapa mata orang-orang Nepal itu memandang padanya seperti sekumpulan serigala memandang seekor domba muda yang gemuk. Juga ia merasa jijik ketika melihat sekelompok anggota pengemis tongkat hitam yang berpakaian butut dan dekil, kotor sekali dan jorok.

Dengan berindap-indap ia kini menghampiri bangunan yang berbentuk kuil. Baru tiba di pekarangan saja sudah mendengar suara orang berdoa, diiringi ketukan kayu berirama. Dan ketika ia tiba di ambang pintu gerbang masuk, nampak asap tebal mengepul tebal dari ruangan depan yang menjadi ruangan sembahyang seperti pada kuil-kuil biasa.

Kiranya bangunan induk ini di bagian depannya memang merupakan kuil yang luas dengan ruangan sembahyang yang mewah. Dan di tempat ini, penjagaan lebih ketat lagi walau pun penjaganya tidak tampak berjaga, melainkan para pendeta yang bertugas di situ.

Ia dibiarkan masuk ke ruangan ke dua di belakang ruangan sembahyang dan ternyata ruangan ini lebih luas lagi. Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia melihat sebuah peti mati berada di tengah ruangan ini, lengkap dengan meja sembahyang dan dikelilingi pendeta-pendeta Lama yang berdoa. Ada orang mati di sini!

Dan setelah dia menjenguk ke dalam, barulah dia tahu mengapa tadi dalam perjalanan berkeliaran di perkampungan itu, dia tidak bertemu dengan tokoh-tokoh persekutuan itu. Kiranya mereka semua berkumpul di ruangan ini, agaknya melayat yang mati!

Dan semua orang itu agaknya tidak mempedulikan Sian Li yang berada di luar pintu. Dengan terang- terangan Sian Li memandang ke arah kelompok yang duduk di ruangan itu. Ia melihat mereka lengkap semua! Lulung Lama, Cu Ki Bok, Hek-pang Sin-kai ketua perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam, Pangeran Gulam Sing dengan dikawal oleh dua orang jagoannya yaitu Badhu dan Sagha. Ada pula Pek- lian Sam-li bersama Liem Sian Lun yang duduk di tengah-tengah antara mereka.

Ia melihat lagi ke arah peti mati besar itu. Aih! Semua orang melayat dan Dobhin Lama tidak nampak di antara mereka. Siapa lagi kalau bukan ketua para Lama Jubah Hitam itu yang berada di dalam peti mati? Tentu kakek tua renta itu tewas setelah bertanding melawan Yo Han!

Ia melihat Sian Lun mengangkat muka memandang kepadanya, akan tetapi suheng-nya itu menunduk kembali. Sian Li ingin menghampiri bekas suheng itu, memaki-makinya, atau menyeretnya dan menyerangnya. Akan tetapi ia teringat akan janjinya kepada Ki Bok.

Pada saat itu, dia melihat Ki Bok juga memandang kepadanya. Bahkan pemuda itu lalu bangkit dan dengan tenang menghampirinya, keluar dari pintu kemudian dengan suara lirih berkata,

“Harap jangan memasuki ruangan berkabung ini, Sian Li. Kecuali kalau engkau hendak melayat.” “Dobhin Lama?” tanya Sian Li, juga berbisik sambil memandang ke arah peti mati.
Ki Bok mengangguk. “Supek sudah terlalu tua. Pertandingan dengan Sin-cang Taihiap telah menghabiskan tenaganya. Ia meninggal akibat kehabisan tenaga dan napas, tidak terluka. Pendekar aneh itu terlalu lihai baginya…”

Diam-diam Sian Li merasa bangga dan girang bukan main. Akan tetapi dia diam saja, bahkan lalu melirik ke arah Sian Lun yang masih menunduk, dan berkata, “Aku masih ingin bicara dengan jahanam itu.”

Ki Bok mengangguk. “Tentu akan kuusahakan, akan tetapi tidak sekarang. Nanti setelah selesai pengurusan jenasah Supek. Engkau tidak hendak melayat dan duduk di dalam?”

Sian Li menggeleng kepala. Untuk apa ia masuk ke ruangan itu dan melihat Sian Lun di antara tiga wanita cabul itu? Ia khawatir tidak akan dapat menahan hatinya untuk tidak menyerang bekas suheng-nya itu. Pula, tidak perlu berkabung terhadap kematian Ketua Hek-I Lama yang menyebabkan Sian Lun tersesat dan ia sendiri tertawan. Ia kemudian meninggalkan ruangan itu, keluar lagi.

Senja telah mendatang, dan lampu-lampu penerangan mulai dipasang di perkampungan itu. Sian Li kembali ke kamarnya. Seorang pelayan wanita setengah tua menyerahkan pakaian pengganti kepadanya, juga mempersiapkan air untuk mandi.

Sian Li merasa senang. Ternyata Ki Bok memegang janjinya. Dia diperlakukan seperti seorang tamu terhormat, dilayani semua keperluannya walau pun diam-diam ia tidak pernah dilepaskan dari pengamatan tajam. Kepada pelayan itu ia pun dapat memesan semua keperluannya, minta disediakan makan malam.

Bagaimana pun juga, Sian Li tetap berhati-hati, lebih dulu memeriksa semua makanan dan minuman sebelum memakan dan meminumnya. Penerangan dalam kamarnya juga cukup terang dan suasana cukup menyenangkan.

Malam itu sore-sore bulan sudah muncul. Udara cerah dan langit pun bersih, bulan tiga perempat menyinarkan cahaya lembut. Sian Li tidak betah berada di kamarnya. Dia keluar dan berjalan-jalan di taman bunga dalam perkampungan itu. Sebuah taman yang cukup luas dan terpelihara baik-baik. Agaknya, para pendeta Lama ini bukanlah orang-orang kasar, melainkan suka pula akan kedamaian dan keindahan.

Agaknya para tokoh masih berada di ruangan berkabung, dari mana terdengar doa-doa untuk si mati. Sian Li melihat banyak pula penjaga di taman itu, bahkan ia bisa menduga bahwa begitu ia memasuki taman, maka tempat itu telah dikepung para anggota Hek-I Lama yang bertugas mengamatinya. Ia kemudian menduga-duga, apakah Ki Bok juga ikut mengamatinya, ataukah pemuda itu sudah begitu percaya kepadanya sehingga ikut berkabung di ruangan itu.

Di dekat empang ikan emas terdapat bangku-bangku yang terlindung oleh atap. Sian Li duduk di situ sambil termenung. Bulan menari-nari di air yang digerakkan perlahan oleh ikan-ikan yang berkejaran. Dia teringat akan Yo Han dan kembali bibirnya tersenyum.

Senang sekali mengingat pemuda itu, orang yang paling disayangnya ketika dia masih kecil. Dan sekarang, sesudah mereka kembali saling berjumpa dalam keadaan sudah sama dewasa, ia tidak tahu!

Yang jelas, penyelewengan Sian Lun hanya membuatnya marah, sama sekali tidak membuat ia bersedih. Diam-diam ia malah merasa gembira sebab hal ini membuktikan bahwa meski pun tadinya ia sayang kepada Sian Lun, kesayangan itu adalah keakraban antara kakak beradik seperguruan yang selalu ingin akrab dalam pergaulan, dalam latihan bersama. Ia tidak pernah mencinta Sian Lun! Dan Yo Han? Dia tidak tahu, yang jelas, ia merasa bangga, kagum dan juga senang sekali dapat bertemu kembali dengan Yo Han!

Yo Han takkan membiarkan ia terancam bahaya! Ia yakin bahwa pemuda itu pasti akan datang menyelamatkannya. Ia teringat betapa sejak kecil, ketika ia baru berusia empat tahun, dan Yo Han juga hanya seorang anak remaja yang lemah, Yo Han sudah berani membelanya mati-matian, bahkan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri dengan menukar dirinya menjadi tawanan iblis betina Ang-I Moli. Kali ini pun Yo Han pasti akan menolongnya!

Kini ia mencoba mengenang kembali apa yang dapat diingatnya ketika ia masih kecil, ketika Yo Han masih menjadi murid ayah ibunya. Samar-samar masih teringat olehnya betapa dahulu ia sering digendong oleh Yo Han, diajak bermain-main, dihibur dan selalu disenangkan hatinya.

“Nona, alangkah cantiknya engkau…!”

Tentu saja Sian Li terkejut dan serentak sadar dari lamunan ketika tiba-tiba mendengar kata-kata pujian yang lembut itu. Ia meloncat berdiri dan membalik karena suara itu tadi datang dari belakang dan ia berhadapan dengan pria tinggi besar gagah perkasa itu. Pangeran Gulam Sing! Kalau saja ia tidak ingat akan janjinya kepada Cu Ki Bok, tentu Sian Li sudah menerjang dan menyerang pangeran Nepal yang dibencinya ini.

“Mau apa engkau? Pergi, aku tidak ingin bicara denganmu!” bentaknya, lalu dia duduk kembali, membelakangi pangeran itu.

“Aduh, alangkah cantiknya! Marah-Marah semakin cantik jelita. Bukan main!” Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Han yang patah-patah sehingga terdengar lucu, namun cukup membuat kedua pipi Sian Li menjadi merah oleh perasaan malu dan marah.

“Manusia biadab! Jangan mencari perkara, atau aku akan kehilangan kesabaran dan akan membunuhmu!” Sian Li membentak lagi.

Sekarang dia memutar duduknya, menghadapi pangeran itu dengan sinar mata berapi. Wajahnya tertimpa sinar bulan dan nampak cantik bukan main.

Pangeran itu mengerutkan alis. Sebelum bangsa Han dijajah Mancu, memang Kerajaan Beng menganggap orang asing adalah bangsa yang biadab. Maka tentu saja Pangeran Gulam Sing merasa dihina sekali. Akan tetapi dia malah tertawa, suara tawanya bening dan aneh.

“Nona Tan Sian Li, aku seorang pangeran! Pandanglah wajahku baik-baik, aku seorang pangeran Nepal, bukan bangsa biadab. Seluruh bangsa Nepal akan menghormati dan memuliakan aku kalau melihatku, bahkan tidak mampu bergerak. Engkau juga, Nona! Pandang aku baik-baik, aku seorang pangeran dan engkau harus tunduk kepadaku!”

Pangeran tinggi besar itu kini melangkah maju menghampiri Sian Li.

Gadis itu hendak meloncat bangun, akan tetapi aneh, ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya! Terngiang di dalam telinganya perintah pangeran itu bahwa ia harus tunduk dan tidak mampu bergerak. Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga sinkang-nya pada saat pangeran itu sudah memegang kedua tangannya dan menariknya bangkit berdiri.

Di lain saat, ia sudah didekap dalam pelukan kedua lengan yang panjang dan besar itu, dan ia mencium bau keharuman yang aneh keluar dari dada pangeran itu, di mana wajahnya didekap rapat.

“Pangeran, lepaskan nona itu!” tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Pangeran Gulam Sing terkejut, lalu menoleh. Kiranya Cu Ki Bok yang membentak itu.

“Nona Tan Sian Li, mundurlah engkau!”

Sungguh aneh, baru sekarang Sian Li dapat bergerak, seolah tenaga tak nampak yang tadi mempengaruhi dirinya telah lenyap. Tahulah dia bahwa dia tadi di bawah pengaruh sihir pangeran Nepal itu, dan agaknya Cu Ki Bok yang membebaskannya dari pengaruh sihir.

“Pangeran Iblis! Keparat busuk engkau!” Ia pun membentak dan sudah menerjang serta menyerang Pangeran Gulam Sing.

Pengeran itu mengelak dengan loncatan ke belakang. Ketika Sian Li hendak menyerang lagi, Ki Bok telah menghadang di depannya.

“Sian Li, ingat akan janjimu. Jangan membuat keributan di sini!”

Sian Li teringat dan ia pun menahan diri, mukanya merah dan matanya masih berkilat.

Sementara itu, Pangeran Gulam Sing tertawa, “Ha-ha-ha, saudara Cu Ki Bok, engkau malah membela Si Bangau Merah ini? Sungguh aneh sekali!”

“Pangeran,” kata Cu Ki Bok dan suaranya mengandung kemarahan. “Kalau Ketua Hek-I Lama mendengar akan apa yang sudah kau lakukan ini, tentu beliau akan menjadi tidak senang.”

“Hemm, Ketua Hek-I Lama sudah mati, bahkan petinya juga belum diangkat dari ruang berkabung!” kata pangeran itu membantah.

“Pangeran! Engkau tentu tahu bahwa wakil ketua adalah guruku, Lulung Lama, dan setelah kini Supek Dobhin Lama meninggal dunia, gurukulah yang menjadi ketua! Nona Tan Sian Li ini menjadi tamu yang dihormati, dan Ketua Hek-I Lama yang menugaskan aku untuk menjaganya. Kuharap Pangeran tidak membuat keributan di sini dan bersikap sebagai tamu serta sahabat yang baik.”

“Aku protes!” Pangeran itu marah-marah. “Saudara Liem Sian Lun dan ketiga Pek-lian Sam-li sudah berjanji akan menghadiahkan gadis ini kepadaku, dan sekarang mengapa engkau hendak menghalangiku?! Beginikah sikap seorang sahabat?”

“Pangeran, lupakah Pangeran siapa itu Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li? Mereka pun hanya tamu-tamu dari Hek-I Lama seperti juga engkau. Sedangkan Nona Tan ini adalah seorang tawanan kami, dan yang berhak memutuskan mengenai dirinya adalah ketua kami. Ketua kami menganggap Nona ini seorang pendekar wanita gagah perkasa yang patut diajak bekerja sama berjuang menentang orang Mancu. Bagaimana mungkin para tamu seperti Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li tiba-tiba dapat menghadiahkan Nona ini kepadamu? Mereka tidak berhak!”

“Orang muda, berani engkau bersikap seperti ini terhadap aku? Bagaimana kalau aku memaksa untuk memiliki gadis ini?”

Sepasang mata pemuda itu berkilat. Dia meraba pinggangnya di mana terdapat sabuk bajanya yang kedua ujungnya dipasangi pisau, senjatanya yang ampuh, dan dia berkata dengan tegas.

“Pangeran, aku adalah utusan Ketua Hek-I Lama dan aku melaksanakan tugas yang diperintahkan untuk menjaga Nona ini. Kalau ada yang berani mengganggunya, berarti dia melanggar peraturan di sini dan aku akan menghadapinya sebagai wakil ketua Hek-I Lama!”

“Bocah sombong…!”

Akan tetapi pada saat itu, entah dari mana datangnya, nampak beberapa orang pendeta Lama Jubah Hitam bermunculan. Mereka hanya berdiri memandang, akan tetapi sikap mereka jelas siap untuk membantu Cu Ki Bok.

Melihat ini, Pangeran Gulam Sing sadar bahwa dia berada di tempat orang sebagai tamu. Dia memandang kepada Sian Li dan mengepal tinju. Daging lunak yang sudah berada di depan bibir, terpaksa harus dia lepaskan! Dengan bersungut-sungut, memaki-maki dalam bahasanya sendiri, dia pun meninggalkan taman itu.

Beberapa orang pendeta Lama itu pun seperti bayangan-bayangan saja, lenyap pula dari dalam taman. Tahulah Sian Li bahwa andai kata Cu Ki Bok tidak berada di situ pun, para pendeta Lama itu tentu akan melihat ulah Pangeran Gulam Sing dan mereka akan turun tangan membantunya dan melapor kepada Cu Ki Bok.

Betapa pun juga, dia berterima kasih kepada pemuda ini dan dia bergidik kalau teringat betapa tadi ia didekap oleh pangeran Nepal yang tinggi besar itu tanpa mampu berkutik! Sian Li mulai percaya pada Cu Ki Bok, bahwa pemuda murid Lulung Lama ini memang benar-benar hendak melindunginya.

“Ki Bok, terima kasih atas pertolonganmu tadi. Apa yang telah terjadi denganku tadi? Kenapa aku tidak mampu bergerak? Apakah jahanam itu mempergunakan sihir?”

“Benar, Sian Li. Maafkan, aku agak terlambat. Akan tetapi, seperti kau lihat tadi, selalu ada beberapa orang anggota Hek-I Lama yang membayangimu sehingga engkau selalu aman. Para anggota tadi tidak mengira bahwa pangeran itu akan menggunakan sihir.”

“Kalau begitu, engkau pun ahli sihir, Ki Bok?” tanya Sian Li dan pemuda itu tersenyum, merasa girang bukan main melihat sikap gadis itu terhadapnya kini berubah, tidak lagi angkuh dan ketus seperti sebelumnya, kini nampak ramah bersahabat!

“Sian Li, engkau sudah tahu bahwa aku murid Suhu Lulung Lama, murid seorang tokoh pendeta Lama. Karena itu, selain ilmu silat, aku pun mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan juga ilmu kebatinan sehingga tidak aneh kalau aku pun mempelajari ilmu sihir.”

“Hemm, kata orang tuaku dan juga paman kakek yang menjadi guruku, ilmu sihir dapat membuat orang menjadi sesat. Kenapa engkau mempelajari ilmu seperti itu, Ki Bok?”

Pemuda itu tertawa. “Aihh, engkau ini yang aneh sekali, Sian Li. Engkau sendiri masih keturunan keluarga Pendekar Pulau Es, bahkan juga pendekar Gurun Pasir! Padahal, menurut yang kudengar, dahulu Pendekar Super Sakti Pulau Es adalah seorang sakti yang selain hebat ilmu silatnya, juga ahli dalam ilmu sihir!”

Sian Li tersenyum. “Memang engkau benar, namun menurut orang tuaku, mempelajari ilmu sihir amatlah berbahaya karena ilmu seperti itu condong untuk menyeret orangnya kepada kesesatan.”

Pemuda itu kini duduk di bangku, berhadapan dengan Sian Li yang juga sudah duduk. “Segala macam ilmu mengandung daya tarik yang dapat menyesatkan orang, Sian Li. Ilmu apa pun juga membuat orang merasa lebih pandai dari pada orang lain, dan ada kecondongan mempergunakan ilmu yang dikuasainya itu untuk berkuasa atau mencari pengaruh atas orang-orang lain. Ilmunya sendiri tidak baik, tidak pula pun buruk. Baik buruknya tergantung dari dia yang mempergunakannya. Betapa baik pun sebuah ilmu, jika dipergunakan untuk mencelakai orang lain, ilmu itu menjadi jahat. Sebaliknya, ilmu yang dianggap jahat, kalau dipergunakan untuk menolong orang lain, akan menjadi ilmu yang baik. Bukankah begitu?”

Sian Li pernah mendengar ini, maka dia pun mengangguk. Kini pandangannya terhadap pemuda itu sama sekali berubah. Ia tidak tahu benar bahwa semua agama di dunia ini mengajarkan orang agar hidup baik serta bijaksana. Pelajaran agama yang dipelajari Ki Bok dari pendeta Lama tentu juga mengatakan yang baik-baik. Kalau terjadi kejahatan dilakukan orang beragama, maka hal itu berarti bahwa orang itu telah menyeleweng dari pada pelajaran agamanya sendiri.

Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan orang untuk menjadi jahat. Justru yang disebut agama adalah pelajaran tentang budi pekerti, mengajarkan orang untuk menjadi manusia yang baik dan berguna bagi manusia lain.

Cu Ki Bok yang semenjak kecil menjadi murid pendeta Lama, tentu saja juga membaca kitab-kitab agama yang pada hakekatnya tiada bedanya dengan kitab-kitab agama lain, yaitu menuntun manusia ke arah jalan hidup yang benar.

“Sebenarnya, dari orang tuaku serta paman kakekku, aku pun sudah menerima latihan kekuatan batin yang dimaksudkan menolak pengaruh sihir. Akan tetapi, tadi aku sama sekali tidak mengira bahwa pangeran Nepal itu akan menggunakan ilmu sihir sehingga aku menjadi lengah. Ki Bok, apakah kau kira Sian Lun juga terpengaruh sihir?” Tiba-tiba timbul dugaan ini dalam pikiran Sian Li.

Ki Bok menarik napas panjang. “Mungkin saja, tetapi yang jelas suheng-mu itu seorang pria yang lemah dan mudah dirayu. Sungguh sayang sekali karena sesungguhnya dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kalau dia mau bekerja sama dengan kami untuk menentang penjajah Mancu, hal itu baik-baik saja. Akan tetapi aku khawatir kalau dia sampai terseret oleh Pek-lian-kauw, melakukan hal-hal yang tidak patut.”

Hening sejenak. Kemudian Sian Li mengangkat muka memandang pemuda itu. “Ki Bok, engkau kini kuanggap sebagai seorang sahabat. Aku percaya kepadamu. Katakanlah, apa maksud gurumu dengan menahanku di sini? Berterus terang sajalah supaya hatiku tidak menjadi ragu kepadamu.”

“Mudah sekali diduga, Sian Li. Engkau pasti tahu bahwa Hek-I Lama sedang menyusun kekuatan…”

“Hemm, untuk memberontak kepada pemerintah Dalai Lama di Tibet?”

“Benar, akan tetapi selain hal itu merupakan urusan dalam para pendeta Lama, juga satu di antara penyebabnya karena pemerintah Tibet mengakui kekuasaan pemerintah Mancu. Nah, Hek-I Lama dianggap memberontak karena tidak menyetujui hal itu. Oleh karenanya, Hek-I Lama yang kini dipimpin oleh Suhu Lulung Lama menyusun kekuatan sambil mengharapkan bantuan dari orang-orang kuat, untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu, juga untuk menentang pemerintah Tibet yang mau menjadi taklukan orang Mancu.”

“Jadi aku ditahan untuk dibujuk agar mau bekerja sama dengan Hek-I Lama?”

“Begitulah. Suhu mengharapkan engkau akan suka membantu pula. Bukankah penjajah Mancu merupakan penjajah yang menindas bangsa kita? Aku sendiri pun mempunyai darah Han, Sian Li. Aku akan merasa gembira sekali kalau engkau suka bekerja sama dengan kami.”

“Dan bagaimana kalau aku menolak kerja sama? Apakah aku akan dibunuhnya?” Cu Ki bok mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala keras-keras.
“Suhu tak akan memaksa orang untuk bekerja sama. Paksaan itu akhirnya hanya akan merugikan kami sendiri, karena orang yang dipaksa bekerja sama akhirnya mudah saja menjadi pengkhianat. Tidak, engkau tidak akan dipaksa. Andai kata pun ada yang akan memaksa atau mengganggumu, demi Tuhan, aku akan membelamu dengan taruhan nyawaku, Sian Li!”

Pemuda itu bicara penuh semangat, membuat Sian Li terheran dan ia menatap wajah pemuda itu penuh selidik. Namun, sinar bulan tidak cukup terang sehingga tidak melihat betapa wajah pemuda itu berubah kemerahan.

“Akan tetapi… kenapakah, Ki Bok? Mengapa engkau hendak membelaku seperti itu? Mengapa engkau begini baik kepadaku? Padahal, bukankah sejak pertama kali saling bertemu, kita berhadapan sebagai musuh?”

Pemuda itu menggelengkan kepala. “Hanya salah paham, Sian Li, hanya karena saling memperebutkan kebenaran masing-masing. Sudahlah, sebaiknya engkau kembali saja ke dalam kamarmu untuk beristirahat. Besok, sesudah jenazah Supek diperabukan, bila mungkin Suhu akan bicara denganmu tentang ajakan bekerja sama itu.”

“Apa yang harus kujawab?”

“Sudah kukatakan, kalau engkau suka bekerja sama, aku akan merasa bahagia sekali, Sian Li.” “Kalau aku menolak?”
Pemuda itu menghela napas panjang. “Aku akan merasa kecewa sekali. Akan tetapi tentu saja terserah kepadamu, dan aku yang akan membantumu agar dapat pergi dari sini dalam keadaan bebas dan aman.”

Tentu saja hati Sian Li menjadi girang bukan main. “Sungguh mati, amat sukar menilai keadaan hati atau watak asli seseorang,” dia berkata. “Tadinya kukira engkau seorang yang luar biasa jahat, Ki Bok, tidak tahunya engkau adalah seorang yang berhati mulia. Sebaliknya, suheng-ku yang dulu kunilai sebaik- baiknya orang, ternyata malah seorang manusia yang budinya rendah!”

Pemuda itu tersenyum. “Karena itu, jangan tergesa-gesa menilai seseorang, Sian Li. Yang hari ini kau nilai baik, mungkin besok akan kau cela, sebaliknya yang kemarin kau cela, hari ini akan kau puji. Mungkin kalau hari ini aku kau nilai baik, besok lusa akan kau nilai jahat lagi, siapa tahu?”

Sian Li tertawa. “Aku sudah mengerti, Ki Bok. Penilaian seseorang tergantung dari pada kepentingan si penilai, kalau dia diuntungkan, tentu menilai baik, kalau dirugikan, akan menilai buruk. Akan tetapi, juga tergantung kepada orang yang dinilai. Setiap perbuatan baik tentu mendatangkan kekaguman, sebaliknya perbuatan buruk akan mendatangkan celaan. Bukankah demikan?”

“Engkau memang cerdik, Sian Li. Nah kau bersabar dan tenanglah saja, dan harap kau menjaga diri supaya jangan sampai terpancing keributan sebelum Suhu Lulung Lama bicara denganmu. Selamat malam dan selamat tidur.”

Sian Li yang sudah bangkit, tersenyum. “Selamat bermimpi, Ki Bok.”

Mereka berpisah dan Sian Li sama sekali tidak mengira bahwa ucapannya tadi sungguh terjadi. Ia mengatakan selamat bermimpi hanya untuk berkelakar, tidak tahunya malam itu Ki Bok telah benar-benar bermimpi semalam suntuk, mimpi bertemu dengannya dan berkasih sayang dengannya…..

********************

Gak Ciang Hun, ibunya, dan Yo Han langsung bekerja dengan cepat. Yo Han segera menghubungi para tokoh di perbatasan yang pernah disadarkannya, sedangkan Nyonya Gak dan puteranya juga pergi menghadap para pendeta Lama dan pasukan pemerintah yang berada di benteng daerah perbatasan tak jauh dari tempat itu.

Panglima yang menjadi komandan pasukan Tibet itu menerima laporan Gak Ciang Hun dan ibunya. Dia segera berunding dengan para pendeta Lama. Tentu saja mereka telah mendengar akan adanya gerakan Hek-I Lama, akan tetapi karena gerombolan itu tidak melakukan kekacauan, pasukan pemerintah pun tadinya mendiamkan saja. Bagaimana pun juga para pimpinan Hek-I Lama dahulunya adalah tokoh-tokoh pendeta Lama yang terkenal.

Akan tetapi, ketika mendengar laporan Gak Ciang Hun dan ibunya bahwa gerombolan pendeta Lama jubah hitam itu kini bersekutu dengan orang-orang Nepal yang menjadi pelarian dari negara mereka, juga bersekutu dengan kaum pengemis sesat dan orang-orang Pek-lian-kauw, komandan itu merasa khawatir dan dia pun cepat mengerahkan pasukan, siap untuk melakukan penyerbuan terhadap gerombolan yang kini merupakan persekutuan besar dan hendak melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Tibet itu.

Sementara itu, para tokoh sesat yang kini sudah sadar akibat kebijaksanaan Sin-ciang Taihiap, ketika pendekar aneh itu minta bantuan mereka, tentu saja mereka menjadi gembira dan mereka seakan berlomba untuk membuktikan bahwa kini mereka bukanlah penjahat-penjahat lagi, tetapi orang-orang gagah yang siap mengganyang pemberontak dan penjahat yang mengganggu ketenteraman.

Setelah menerima kesanggupan para tokoh kang-ouw itu, Yo Han yang ketika menemui mereka mengenakan capingnya yang menyembunyikan mukanya dan mengurai rambut, cepat kembali ke bukit yang dijadikan sarang Hek-I Lama. Dia pun lalu menanggalkan penyamarannya dan ketika muncul di depan pintu gerbang yang seperti benteng itu, dia sudah menjadi seorang pemuda biasa, bukan lagi sebagai pendekar Sin-ciang Taihiap yang selalu menyembunyikan mukanya itu.

Yo Han maklum bahwa dia tidak perlu menyamar kalau ingin memasuki perkampungan yang dijadikan sarang gerombolan itu dengan aman. Pemuda murid Lulung Lama itu pernah melihat dia bersama Sian Li, pernah pula bicara dengan dia. Oleh karena itu, ketika para penjaga pintu gerbang menghadang dan membentaknya, dia pun berkata dengan suara tenang.

“Aku bernama Yo Han, dan aku ingin bertemu dengan saudara Cu Ki Bok. Aku sudah mengenalnya.”

Yo Han dipersilakan menunggu. Dua orang penjaga lalu berlari masuk untuk memberi kabar kepada Cu Ki Bok. Selama dua hari ini, sejak jenazah Dobhin Lama diperabukan, ketua baru mereka, Lulung Lama, memerintahkan supaya penjagaan diperketat dan semua anggota Hek-I Lama diharuskan bersiap siaga.

Lulung Lama maklum bahwa Sin-ciang Taihiap tentu tidak akan tinggal diam dan akan datang menyerbu untuk membebaskan Tah Sian Li. Dan oleh karena ingin memancing munculnya Sin-ciang Taihiap inilah maka dia pun memerintahkan supaya gadis itu tetap menjadi tawanan, walau pun diperlakukan dengan baik.

Dia sudah membujuk agar gadis itu suka membantu perjuangannya, dengan harapan kalau gadis itu mau bekerja sama seperti halnya Sian Lun, mungkin Sin-ciang Taihiap akan mau pula membantunya. Dan mengingat bahwa gadis itu dan suheng-nya adalah murid keluarga Pulau Es, maka kalau mereka bekerja sama dengan perkumpulannya, tentu lebih mudah menarik tokoh-tokoh kang-ouw untuk bekerja sama pula.

Ketika dua orang penjaga itu melapor bahwa ada orang bernama Yo Han mencarinya, Cu Ki Bok yang sudah lupa lagi akan nama itu, lalu menduga-duga siapa orang yang mencarinya di tempat itu. Apa lagi nama orang itu menunjukkan bahwa dia tentu orang Han.

Dia sedang bingung memikirkan Sian Li. Gurunya tidak berhasil membujuk gadis itu untuk bekerja sama. Sian Li selalu menolak, dengan halus mau pun kasar. Akan tetapi gurunya tetap belum mau membebaskan Sian Li. Menurut gurunya, gadis itu sengaja ditahan untuk memancing datangnya Sin-ciang Taihiap. Agaknya Lulung Lama masih penasaran dan belum puas kalau belum mendapatkan bantuan pendekar aneh itu.

Sian Li juga bertahan, tidak mau bekerja sama. Ia selalu mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri, dan harapan satu-satunya hanya pada Cu Ki Bok yang selama ini bersikap baik dan tidak mencurigakan.

Kemarin, ketika ia kebetulan bertemu dengan Sian Lun di taman bunga, ia tidak mampu mengendalikan kemarahannya.

“Keparat busuk, penghianat jahanam!” bentaknya. “Orang macam engkau layak untuk mampus!”

Dan Sian Li langsung saja menyerang bekas suheng-nya itu dengan penuh kebencian. Saking dahsyatnya serangan gadis itu, biar pun Sian Lun sudah menangkis, tetap saja dia terhuyung ke belakang.

“Sumoi, nanti dulu…!” teriaknya.

“Siapa sumoi-mu? Aku tidak sudi menjadi sumoi seorang pengkhianat jahanam!”

Dan Sian Li sudah menyerang lagi, mengerahkan seluruh tenaganya dan kembali Sian Lun terhuyung ke belakang.

“Sumoi…!”

Sian Li tidak memberi kesempatan kepada bekas suheng-nya untuk banyak cakap lagi karena ia sudah menerjang lagi, dengan serangan-serangan yang dimaksudkan untuk membunuh! Sian Li bukan hanya membenci Sian Lun karena sudah mengkhianatinya, membantu pihak musuh untuk mencurangi dan menangkapnya, akan tetapi juga karena ia mendengar dan melihat sendiri betapa bekas suheng itu telah bermain gila dengan tiga orang wanita cabul dari Pek-lian-kauw!

Ketika Sian Lun terhuyung dan Sian Li terus mendesaknya, dan berhasil menendang paha Sian Lun sehingga pemuda itu terpelanting, tiba-tiba muncul Pek-lian Sam-li yang segera turun tangan membantu Sian Lun dan mengeroyok Sian Li!

Melihat munculnya ketiga orang wanita yang memang dibencinya ini, Sian Li menjadi semakin marah dan ia pun mengamuk. Akan tetapi, tiga orang wanita itu juga memiliki ilmu kepandaian yang hebat, apa lagi mereka maju bertiga sehingga begitu mereka membalas dan mendesak, Sian Li mulai terdesak mundur.

“Tahan! Jangan berkelahi!” Tiba-tiba muncul Cu Ki Bok melerai. “Sam-li, ajak Sian Lun manyingkir,” katanya.

Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu tidak berani membantah. Mereka tahu bahwa Ki Bok adalah seorang pemuda yang berdisiplin. Setelah kini Lulung Lama menjadi Ketua Hek-I Lama, maka pemuda itu berarti menjadi wakilnya. Mereka bertiga lalu menggandeng tangan Sian Lun dan diajak pergi dari situ. Sementara itu, Ki Bok menghampiri Sian Li dan menghiburnya.

“Sian Li, apa gunanya membuat ribut dengan bekas suheng-mu itu? Bila engkau sudah tidak menyukainya dan tidak mau berhubungan dengannya, lebih baik kau diamkan saja dia. Membikin ribut di sini sungguh tak menguntungkan dirimu, dan pula, jangan-jangan orang akan menganggap engkau…”

“Menganggap aku kenapa?” Sian Li mendesak, muka gadis itu masih kemerahan akibat marah.

“Maaf, mungkin saja orang akan menganggap engkau cemburu melihat keakrabannya dengan Pek-lian Sam-li…”

“Gila! Akan kuhancurkan mulut orang yang menganggap aku cemburu! Siapa pula yang cemburu? Biar pun dia menggandeng seratus orang perempuan, apa peduliku? Biar dia mampus! Yang membuat aku marah adalah karena dia adalah murid paman kakekku. Kalau guru-gurunya mengetahui akan kelakuannya, tentu dia pun akan mereka hukum berat!”

“Sudahlah, kelak dapat saja engkau membuat laporan kepada guru-gurumu, atau boleh saja engkau menghukum dia, akan tetapi kalau kalian sudah tidak berada di sini. Kalau engkau membuat ribut di sini, tentu aku akan ikut repot menanggung akibatnya.”

Demikianlah, sampai hari itu, Lulung Lama masih belum memberi keputusan mengenai diri Sian Li. Dan Ki Bok sedang menimbang-nimbang dan mencari jalan terbaik untuk membebaskan gadis itu. Dia jatuh cinta kepada Sian Li, akan tetapi kalau gadis itu tidak mau bekerja sama dengan Hek-I Lama, terpaksa mereka harus berpisah dan dia harus mencarikan jalan terbaik agar gadis itu dapat keluar dari perkampungan yang menjadi pusat Hek-I Lama itu secara aman.

Pada waktu dua orang penjaga melapor tentang munculnya seorang bernama Yo Han mencarinya, Ki Bok segera menuju ke pintu gerbang. Begitu melihat Yo Han, teringatlah dia akan pemuda yang dia temui bersama Sian Li tempo hari. Pemuda yang menjadi perantara menyampaikan tantangan mendiang Dobhin Lama kepada Sin-ciang Taihiap.

Alisnya berkerut karena pertemuan ini sungguh mengejutkan hatinya. Akan tetapi ia pun diam-diam merasa gembira dan menaruh harapan untuk dapat mengadakan hubungan dengan Sin-ciang Taihiap melalui ‘perantara’ ini.

“Ahh, kiranya saudara Yo Han yang datang berkunjung! Selamat datang, dan benarkah bahwa engkau hendak bicara dengan aku?” tanya Ki Bok.

Yo Han memberi hormat. “Benar sekali, dan saya datang untuk bicara tentang nona Tan Sian Li.”

“Silakan masuk, saudara Yo Han. Kita bicara di dalam,” ajak Ki Bok, mempersilakan tamunya untuk memasuki pondok penjagaan di dekat pintu gerbang.

Dengan lagak seorang yang jujur dan tidak curiga, Yo Han melangkah masuk mengikuti pemuda tinggi tegap yang tampan gagah itu, dan mereka lalu duduk berhadapan di atas bangku, di dalam pondok atau gardu penjagaan.

Ki Bok sudah memberi isyarat kepada para petugas jaga untuk menjauhi gardu supaya mereka berdua dapat berbicara dengan leluasa tanpa terdengar orang lain. Karena pemuda itu merupakan seorang tokoh penting dalam perkumpulan Lama Jubah Hitam, maka para petugas menghormatinya dan mentaati perintahnya.

“Saudara Yo Han, selamat datang. Aku girang sekali menerima kunjunganmu ini. Angin baik apakah yang membawamu ke sini?”

Diam-diam Yo Han mendongkol, akan tetapi juga waspada sekali. Pemuda di depannya ini sudah dia kenal ilmunya, dan ternyata selain lihai, juga cerdik dan licin bagaikan ular, pandai pula bersikap manis budi seperti ini.

Yo Han mengerutkan alis. “Aku datang karena diutus oleh Sin-ciang Taihiap…,” katanya sengaja berhenti, untuk melihat tanggapan orang itu.

Wajah Ki Bok tampak berseri mendengar disebutnya pendekar itu. Agaknya harapannya akan semakin besar dan kesempatan semakin terbuka untuk dapat mengajak pendekar sakti itu bekerja sama. “Aihh, sungguh merupakan kehormatan sekali dan terima kasih atas perhatian Sin-ciang Taihiap yang kami kagumi.”

“Sudahlah, tidak perlu bersandiwara lagi,” kata Yo Han. “Taihiap marah sekali karena kecurangan kalian. Tak pernah kami duga bahwa Hek-I Lama, perkumpulan besar yang terhormat itu dapat melanggar janji dan melakukan kelicikan dan kecurangan. Bukankah janjinya sebelum bertanding, kalau ketua kalian kalah oleh Taihiap, maka Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan dikembalikan? Mutiara itu memang telah diberikan kepada Taihiap, akan tetapi kenapa Sian Lun tidak dibebaskan, sebaliknya adikku Sian Li malah ditangkap pula? Pantaskah hal securang itu dilakukan oleh orang-orang Hek-I Lama yang gagah?

Sepatutnya hanya dilakukan orang-orang pengecut, bukan anggota perkumpulan pejuang yang menganggap dirinya pahlawan.”

Ki Bok tidak marah mendengar umpat caci ini. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia memang cerdik dan mampu mengendalikan perasaan hatinya. Dia malah tersenyum ramah.

“Harap tenang dan bersabar, saudara Yo Han, atau lebih baik kusebut Yo-toako (Kakak Yo) saja karena tadi engkau mengatakan bahwa engkau adalah kakak Nona Sian Li. Benarkah itu?”

Yo Han mengangguk. “Aku adalah kakak misan Tan Sian Li,” jawabnya.

Dia tidak berterus terang, akan tetapi juga tidak terlalu membohong, karena bukankah dia juga termasuk kakak dari gadis itu, walau pun bukan kakak misan melainkan kakak seperguruan? Dia juga merasa seperti anak sendiri dari orang tua gadis itu, maka sudah sepatutnya kalau dia mengakui gadis itu sebagai adiknya.

“Bagus, kalau begitu aku pun dapat bicara terus terang. Sesungguhnya, Sian Lun telah setuju untuk membantu perjuangan kami melawan orang-orang Mancu. Oleh karena itu, dia sengaja menawan sumoi- nya agar suka pula bekerja sama dengan kami. Sekarang, Nona Sian Li menjadi tamu kami, bukan tawanan dan diperlakukan dengan baik dan terhormat. Kami menunggu sampai Nona Sian Li juga menyetujui sikap suheng-nya, dan mau pula bekerja sama dengan kami. Bahkan kami mengharapkan agar engkau suka menyampaikan himbauan kami kepada Sin-ciang Taihiap untuk bergabung dengan kami, bersama-sama menentang penjajah Mancu.”

“Hemm, aku tidak tahu apakah Taihiap suka menerima ajakan itu atau tidak. Yang jelas, dia marah sekali karena janji yang merupakan taruhan pertandingan itu dilanggar. Pula, bagaimana aku dapat percaya bahwa adikku Sian Li diperlakukan dengan baik di sini sebelum aku bertemu dengannya dan melihatnya sendiri?”

“Engkau ingin bertemu dengan adikmu itu, Yo-toako? Baik, baiklah, tentu saja engkau boleh dan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi tentu saja kita harus terlebih dahulu menghadap Suhu dan minta persetujuannya.”

“Menghadap ketua kalian Dobhin Lama?”

“Tidak, menghadap Suhu Lulung Lama,” jawab Ki Bok singkat.

Yo Han merasa heran, akan tetapi diam saja tanpa bertanya lagi. Dia mengikuti Cu Ki Bok yang mengajaknya memasuki perkampungan itu. Di rumah induk, dia dibawa Cu Ki Bok ke ruangan depan rumah besar itu, dan di situ Yo Han tidak saja melihat Lulung Lama, akan tetapi juga para tokoh lain. Di tengah ruangan depan itu tergeletak sebuah peti mati.

Diam-diam Yo Han terkejut. Kini mengertilah dia mengapa dia diajak menghadap Lulung Lama, bukan Dobhin Lama. Kiranya ketua perkumpulan Hek-I Lama itu telah meninggal dunia! Padahal, kemarin masih bertanding dengan dia.

Jika begitu, agaknya kakek yang sudah tua renta itu terlalu memaksa diri mengerahkan tenaga pada waktu bertanding sehingga tubuh yang sudah tua itu kehabisan tenaga dan tewas. Mungkin ketika dia duduk bersila sesudah selesai bertanding kemarin, dan diam saja melihat kecurangan anak buahnya yang mengeroyok, kakek itu sudah tewas.

Kalau benar demikian, bukan Dobhin Lama yang curang, melainkan Lulung Lama dan anak buahnya. Juga penangkapan atas diri Sian Li tentu telah diatur oleh Lulung Lama. Buktinya, sesudah Dobhin Lama merasa kalah, kakek tua itu mengembalikan mutiara hitam dan menyuruh Lulung Lama membebaskan Sian Lun.

“Siapa yang meninggal dunia itu?” tanya Yo Han, pura-pura terkejut dan tidak tahu. “Dia adalah ketua kami…“
“Dobhin Lama yang bertanding melawan Sin-ciang Taihiap?” Yo Han bertanya.

Cu Ki Bok menganggukkan kepala. Kesempatan ini digunakan oleh Yo Han untuk cepat menghampiri peti mati dan berlutut di depan peti mati sambil mengeluarkan kata-kata yang bernada sedih penuh penyesalan.

“Losuhu, maafkan saya. Sungguh saya menyesal sekali bahwa Losuhu tewas karena pertandingan melawan Sin-ciang Taihiap. Bagaimana pun, saya turut merasa menyesal karena saya yang menjadi perantara. Akan tetapi, Taihiap tak sengaja melukai Losuhu, Taihiap tidak pernah mau membunuh lawannya. Sayangnya, setelah Losuhu tidak ada, para anak buah Losuhu berbuat curang, tidak menepati janji. Bukan saja Sian Lun tidak dibebaskan, bahkan adikku Sian Li ditawan. Losuhu, saya menyesal sekali. Andai kata Losuhu tidak meninggal, tentu adik saya tidak ditawan…“

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo